P. 1
Busana Tradisional

Busana Tradisional

|Views: 4,551|Likes:
Published by itamodon

More info:

Published by: itamodon on Dec 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2013

pdf

text

original

Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-

kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manikmanik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus - motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar, menggelayut, sehingga nampak sangat unik dan khas. Ada beberapa macam kalung, penghias leher, pada masyarakat Dayak Taman. Misalnya saja kalong manik pirak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang, kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki, tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dikenal, antara lain, dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak, ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat, seperti galang bontok yang dibuat dari perak, galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan, galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas, dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku, kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang, bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik, clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan, masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan, baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek, clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju

Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. clan orang tua. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Sekarang. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. clan berlengan pendek. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan.kuurung sesungguhnya sudah tua. . agaknya. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Dahulu. Terutama baju burai king burai. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. baju burai king burai clan baju manik king manik. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. dan wanita lanjut usia. dewasa. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku.

.

Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Pasangannya digunakan tapih. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Ada dua pilihan sabuk. berbentuk segi tiga. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. dua di bagian bawah kiri dan kanan. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Baju ini berkancing lima biji. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. sandal tali silang. dan jenis lain yang agak tebal. yang lazim disebut tapih kaling. hanya tanpa saku. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. dan selop. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. satu di dada kiri. yaitu sandal kalipik. salawar kiyama dan sandal silang. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Kantongnya ada tiga buah. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Dilengkapi kantong tiga buah. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. kuning muda. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. dominan warna kuning. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Alas kakinya ada berbagai jenis. dan jenis lain yang . biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. baju kiyama. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Menjadi aturan. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. ekstrimin. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. dan krem. Bahan baju dari kain lena. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. yaitu lam jalalah. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Motif ini melambangkan sikap waspada. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. tanpa kantong. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. lurus tanpa kantong. kain Pagatan. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. belini dan friend ship.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. seperi biru muda. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan.

bunga jepun berbentuk jepitan. dan untaian bunga warna keemasan. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Kaki mengenakan selop dari beludru. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. sabuk pinggang warna emas. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Cincin dari bunga mayang. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. bunga melati yang diatur berbaris. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. untaian bunga depan dan belakang. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Pagatan. kalung. kalung bermotif bunga-bungaan. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). . sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. dengan segitiga lebih tinggi. terdiri dari daun sirih. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang.agak keras. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. bunga mawar merah dan bunga melati. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. dan air guci. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Perhiasannya berupa samban. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. untaian metalik. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian.

para tetua adat. menjadi corak hias busana adat. giwang dari kayu keras. dedaunan.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. . Busana itu berwarna coklat muda. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. tak diberi hiasan. warna asli kayu. gelang. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. Biji-bijian. giwang (suwang). lalu tenunan serat alam yang "kasar". dan sebagainya. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . panglima perang. dalam kepercayaan Kaharingan. yang disebut ewah. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. pun punya makna simbolik.berbeda untuk perempuan dan lelaki . Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. upacara meminta hujan. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). kepala suku. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. Celananya adalah cawat yang.misalnya upacara tiwah. misalnya. harimau akar. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. Akan tetapi naluri berdandan. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. kulit kerang. selain tampil artistik. akar pohon. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. ketika dikenakan. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. warna kuning dari kunyit. Misalnya saja. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. dan ahli pengobatan.bagi para pemuka kelompok. yang bermakna sangat filosofis. burung. kemudian kain tenun halus. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. yang cenderung animistik. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. sehingga kesannya sangat alamiah. kalung. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. manusia. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. Awalnya kulit kayu. warna hitam dari jelaga. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. tak pula diwarnai. bunga. warna putih dari tanah putih dicampur air. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. Selain itu. warna merah dari buah rotan. dan sebagainya. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya.

Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. koleksi museum. disebut salui. dan tulang. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. model baju pria Melayu tapi berkerah. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. berhiaskan gambar pewarna alam. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. dari kain satin atau beludru. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. fauna. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. keramik. Akan tetapi. dan anting-anting atau suwang. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. dan bagian dada. konon. dan mitologi. burung enggang. kostum taritarian. sumpit. Betapa tidak. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. ular. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. Mereka kemudian melirik rotan. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. atau cendera mata. akar tumbuhan.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. tampil pula dalam ekspresi yang lain. dan tombak. celana . lawung bawi. celana. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. Masyarakat Ngaju. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. dan sebagainya. harimau akar. pakaian acara-acara adat. dan aplikasi manik-manik dan arguci. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. jenis rumputrumputan. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. satin. Busana pengantin. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. awan. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. Pada kerah. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. ikat kepala. ujung lengan baju. umpamanya saja. batang garing. untuk kostum tarian. kayu. Celananya disebut selawar gobeh. diberi hiasan. manusia. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. Paduannya rok panjang sebatas betis. Dan kini pucuk rebung. juga dari beludru atau satin. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. dan kelengkapan lainnya. Selain untuk aksesori. Teknik menenun. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. jalinan serat alam. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. atau sutra. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya.

Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam. Penulis Aat Soeratin .panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya.

Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong. Saat upacara pernikahan berlangsung. dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis. masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akulturasi itu. yang dipakai sehari-hari. sebagian diantaranya. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya. rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai. umur. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. dan status sosial pemakainya. mempelai wanita memakai baju takwo. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina. berdasarkan fungsinya. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. dari bahan katun untuk baju. pakaian bepergian. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain. dari kain batik. kain panjang. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. namun tidak tembus pandang. yang modelnya seperti piyama. dihiasi gerak . Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing. Agar tampil rapi. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Baju pelembangan. sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. disebut jelapah. linen. pakaian kerja. berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya.Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput. antara lain. pakaian pesta/upacara adat. masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. semacam kebaya tidak berkerah. Dahulu. yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari. dan diberi kerudung ketika bepergian. Jika bepergian memakai ikat fepala. atau kain sarung pelekat. mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Busana tradisional Kutai. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas. dan sebagainya. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun. celana. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Akan tetapi kini. destar. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara. atau beludru. dipakai oleh kaum lelaki. masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka.

Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Tenggarong. semacam lencana. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. sarung. baju. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam.5 meter dan direndam di dalam air. dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. serta sebagian di Kec. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar. leher baju. Pentat. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. diimbuh hiasan kembang gempa. dipadukan dengan celana panjang. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. fauna. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah. dipadukan dengan celana panjang. yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Di bagian depan sentorong dipasang wapen. hitam. pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo. Alhasil. dan alam mitologi. dan sebagainya. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah.gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Pada bidang yang berwarna terang. dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen. bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. dan Lempunah. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. terutama di desa Tanjung Isuy. sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. . Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Muara Nayan. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. kopiah. dan warna coklat muda. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Motifnya stilasi dari bentuk flora. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar.

dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi. Atau motif waniq ngelukng. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik. Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat.Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Jautn berarti awan. dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. manik-manik. sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki. Kini tak ada lagi raja. dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. taring harimau dahan. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. kain panjang yang berhias pada ujungnya. Maknanya. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. dan tanpa alas kaki. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. memakai cawat. upacara panen hasil bumi. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik. sedang nguku berarti berarak. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. kepala suku. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat. taring binatang buruan. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. taring beruang. . dan sebagainya. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Misalnya motif jautn nguku. dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). upacara pengobatan. bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Pada pinggang dililitkan sempilit.

Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Busana adat. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. dan uang logam kuno. biasanya terbuat dari logam. taring binatang. . ragam hias. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib.

memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. berlian. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . atau emas. leher jas. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. celana panjang. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. dan ikat kepala. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. Sementara itu. dan peniti yang terbuat dari intan. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. upacara injak tanah atau joko kaha. Sudah tentu. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. atau diselaraskan dengan usia mereka. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. serta alas kaki yang disebut tarupa. remaja contohnya. ujung tangan.upacara adat. pembantu permaisuri. bros. baik sebagai permasuri. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. berikut toala polulu di kepalanya. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. Selain busana adat yang disebutkan tadi. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. Di samping itu. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. Tidak lupa. Baju tersebut umumnya berwarna polos. serta kain panjang. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. . mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Selain itu. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. oranye. Sementara itu. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. anting dua susun.

Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. dan celana popoh. . celana dino. Adakalanya. lengkap dengan lengso duhu. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang.Busana kerja dalam keadaan bersih. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Sama halnya dengan busana wanita. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning.

Dilengkapi dengan kaeng pikol. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. khususnya dalam upacara sidi. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. Keberadaan busana adat Ambon. kole. Kebaya manampal. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. dan celana panjang. lengkap dengan kain pelekat. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. kebaya hitam. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. dipakai . Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. Jenis busana lain. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. Bila akan bepergian. lenso pinggang. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. Walaupun model bajunya sama. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. Mereka biasanya mengenakan baju cele. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. dengan leher agak tertutup. Celana kes atau hansop. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. Bila mereka akan bepergian. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu.

bersepatu dengan kaus kaki putih. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. sepatu berwarna putih. . ikat poro atau ikat pinggang.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. dan topi. pembersihan negeri. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. penerimaan tamu. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. lenso bodasi dililitkan di leher. celana hitam. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. celana panjang atau celana Makasar. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . patala di pinggang. salempang. Busana raja terdiri atas baju hitam. dan kaus tangan berwarna putih. patala disalempang di dada. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. busana rok.

meliputi sinune. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. dan hitam. somalea. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. ketua adat misalnya. memakai rantai maupun tidak. Kalaupun ada yang mengenakannya. Meskipun begitu. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. Pada masa lalu. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Bahkan. belusu.terbatas pada gelang atau bel usu. upacara-upacara gerejani. dan lekbutir. dan sebagainya. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. . umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. hitam kebiru-biruan. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. berbagai kalung atau ngore. Selain itu. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. yang menggantung dengan indah di telinga. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. yaitu anting-anting. penghormatan jenazah. yakni sinune dan somalea. Saat ini. Artinya. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. Pada dasarnya. serta lean. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. yang berlengan pendek maupun panjang. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. pelepasan arwah. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. Misalnya noras aboyenan. Misalnya. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. pernikahan.

Kelengkapan tersebut meliputi umpan. tutuban ulu. prajurit. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. pahlawan. atau para tua adat.Sementara itu. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. kebesaran. Kecenderungan yang tampak sekarang. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. Namun lebih dalam lagi. kain penutup kepala. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. berhiaskan somalea. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. dan keperkasaan seorang pemimpin. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. atau ketua adat. tutuban ulu melambangkan keberanian. . sinune. Konon pada masa lalu. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut.

dihiasi dengan ragam-ragam flora. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. bahkan di. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. kuning atau merah. utan lewak.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. coklat. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. bergaris biru melintang. Utan lewak. Cina. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Kain sarung wanita. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. Portugis. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. ragi werung. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. fauna dalam lajur-lajur bergaris. Diatas labu dikenakan dong. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Indonesia. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. biru dan kuning secara melintang. Arab dan India. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Belanda. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Destar. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . putih. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru.

Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. pesta dan sebagainya. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. . apabila gelap mencerminkan duka. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Demikian pula hal dengan warna dong. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria.tinggi. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. delapan dan seterusnya. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan.

burung. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Warna hinggi juga . Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. naga. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. cumi-cumi. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. bendera tiga warna. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). ayam. kuda. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. buaya. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. udang. mahkota dan singa. Kepercayaan khas daerah Marapu. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. setengah dewa. Di kepala dililitkan tiara patang. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. penyu. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. upacara. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. setengah leluhur. rusa. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. ekonomi serta religi suku sumba. ular. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. ikan. Sumba Barat dan Sumba Timur. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. pesta-pesta dan sejenisnya. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu.

putih dan biru. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. merah bata. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. coklat. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. keperkasaan serta budi baik seseorang. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. dewasa ini sudah jauh berkurang. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Kabiala adalah lambang kejantanan. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. dan po`uk. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. dikenal dengan sebutan iteke. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Timor. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Timor Amarasi. telinga. Di kepala dikenakan pilu dari batik. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. lau pahudu. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. menjurai ke bagian dada.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . lau mutikau dan lau pahudu kiku. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Busana Tradisional Amarasi. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas.

Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan.hiasannya. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. perak. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. . Emas. kuning. dalam membalas pihak lelaki. Kedua telinga dihiasi falo noni. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. Sebaliknya pun. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke.

Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Konon, pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai, estetika pun berkembang, lalu terciptalah corak hias simbolik, pada bentangan kain-kain tenunan mereka, yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Stilasi pohon mawar, burung, ular naga, tokoh pewayangan, kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya - maka pemakainya akan ditimpa kemalangan, misalnya saja kehilangan kewibawaan, kesaktian, dan semacamnya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat, sehari-hari maupun upacara, masyarakat Sasak. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI, seperti yang telah disinggung di muka, memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak, meski tentu, tak menghilangkan identitas jatidirinya. Untuk mengikuti acara adat, misalnya upacara potong gigi, upacara kematian, menghadiri perkawinan, masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga, dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek, panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Penahan kereng adalah lilitan kain, berfungsi seperti ikat pinggang, disebut bebet. Pada kening tersaput ikat kepala, dinamai sapu, biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Busana Pengantin Sasak

Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/pending) emas, gelang tangan (teken), ali-ali (cincin), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

diberi hiasan unik yang dinamai karaba. dipakai. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. sebatas lutut. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. sebutan untuk kain songket (tembe songke). ikat pinggang dari logam keemasan. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima. Selepe.Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. diselipkan pada baba. Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. Penahan siki adalah baba. ikat pinggangnya. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit. kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa. mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Di atas baba dilingkarkan selepe mone. semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang). dan ponto (gelang tangan). seperti ditulis di muka. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. seperti memakai sarung. Kemudian siki. . Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar. Rambutnya disanggul. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. sehingga tampil lebih sederhana. yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. sarung songket. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak. berwarna keemasan. yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke.

dan hijau. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. Gowa. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. masyarakat menyebutnya mbiring. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. pasapu guru sebutannya. Bantaeng. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. ada beberapa ciri. leher berkrah. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. penjemputan tamu. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. Khusus untuk tutup kepala. tu maradeka. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. . yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. Pada masa dulu. Namun dewasa ini. Maros. dan atu atau golongan para budak. Sementara itu. dan tutup kepala atau passapu. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. Jeneponto. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. celana atau paroci. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. Biasanya. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. saku di kanan dan kiri baju. berwarna terang dan mencolok seperti merah. Dalam kebudayaan Makasar. tidak mampu membayar utang. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. kain sarung atau lipa garusuk. Meskipun demikian. atau hari-hari besar adat lainnya. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. Pada dasarnya. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. dan Kepulauan selayar. Pangkajene. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. dan yang melanggar adat. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. bentuk maupun corak.

yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. kalung panjang (rantekote). Baju bodo berbentuk segi empat. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. Namun pada umumnya. sapu tangan berhias atau passapu ambara. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. tidak berlengan. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Sementara itu. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. selempang atau rante sembang. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. gelang. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. . yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. dan berbagai aksesori lainnya. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). coklat tua. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. atau biru tua. sisi samping kain dijahit. Sama halnya dengan pria. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. berwarna tua dengan corak bunga-bunga. dan anting panjang (bangkarak). Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. dan kalung besar (geno sibatu). Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas.

wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. Makassar dan Toraja. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Untuk tata rias rambut dan kepala. Dalam kehidupan sosialnya. remaja dan orang tua. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. Ada pula sanggul agak rendah. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. tua maupun muda. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Untuk wanita yang usianya agak tua. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. Majeng. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. Dalam berbusana . Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. dengan hiasan liontin atau medalion besar. Semua kalangan masyarakat Mandar. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. Menurut catatan sejarah. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Pada bagian pinggang. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri.

Sementara itu. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. Untuk penututp kepala. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. Misalnya dalam upacara panen padi. berdasarkan adat rambu solo. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. memasuki rumah baru. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar.pantovel berwarna hitam. yakni busana pria dan busana wanita. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. busana misalnya. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. dan upacara pernikahan. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. . tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. Pada kesempatan seperti itu.

Kedua bayu bussuk siku. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. rara. sebagai bagian integral dari busana adat pria. pinggang. pakaian resmi. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. ada juga tas kecil atau sepu. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. celana atau sepa tallu buku. Selain itu. dan sarong atau tudung kepala. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. dan sarung atau sambuk. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. atau hanya disampirkan di bahu. mulai dari hiasan di kepala. khususnya para sesepuh masyarakat. sepu. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. lengan. dan passapo timbo. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. dan pa`toko. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. leher. atau pakaian pesta. tali pang`kabi. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. Sarung. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. Misalnya sambuk busa. atau tembaga dan. manik kata. perak. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. yakni ikat kepala. Berdasarkan fungsinya. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. Passapu. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. bahu. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. tutup kepala. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. hingga jari jemari. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. yaitu hiasan pada sanggul. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. Sementara itu. tali-tali biang. yang disebut sambuk langkan. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. dan tali banu . busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. yakni kalung yang terbuat dari emas. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. Selain itu. Sama halnya dengan sarung. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. dalam acara adat orang meninggal. yang khusus digunakan pada saat bekerja. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. seperti di sawah dan membangun rumah. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Selain memperlihatkan fungsi estetis. Pertama bayu poko. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. yakni . bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. diikatkan di pinggang atau. Celana yang dipakai oleh kaum pria. Sementara itu. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. Secara umum.

Adapun keris atau gayang. busana . tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. Bintauna. Oleh karena itu. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. busana bayi. Aktualisasi dari semua itu. menghadiri undangan-undangan resmi. Pada masa itu.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. dan Kerajaan Kaidipang Besar. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. Bolaang Uki. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. menerima tamu-tamu kerajaan. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah.

terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. kuning. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. Misalnya. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. keemaasan. detil busana. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Busana kerja guha-ngea. celana dan sarung tenun. Selain busana kebesaran seperti itu. serta aksesorinya. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. Dalam hal ini. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. serta kualitas bahan yang digunakan. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. Akan tetapi. Secara umum. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Khusus mengenai perhiasan. busana kohongian. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Sama halnya dengan busana kohongian. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Dalam hal ini. baju atau baniang. pengantin wanita maupun pengantin pria. Sedangkan menurut asal-usulnya. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. Di samping itu. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Ada . yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. serta kualitas bahan yang paling baik. Sementara itu. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. Selain itu. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. busana simpal. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. Pada umumnya. sistem religi.pengantin. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. ungu.

dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. peminangan. Khusus untuk selendang. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). Baju jenis ini. Saat ini. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. kuning tua. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. Nama busana tersebut adalah laku tepu. Sementara itu. serta berlengan panjang. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. dan hijau tua. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. Khusus untuk ikat kepala. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. ikat pinggang. Namun saat ini. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. hijau. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. serta selendang (bawandang liku). Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. celana panjang. Sementara itu. penasbihan desa. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. krah baju berbentuk bulat. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. antinganting. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. kuning. yakni warna terang dan mencolok. Namun terlepas dari semua itu. Selain pada kelengkapan busana pengantin. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. penduduk keturunan bangsa Filipina. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. gelang. pada zaman dulu terbuat dari kain .kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. Hingga saat ini. ungu. atau merah darah. Dalam hal ini. dan ikat kepala berbentuk segitiga. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. . Selendang tersebut dinamakan kaduku. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Sementara itu. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. paporong datu bouwawina. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. yang disebut hulontalangi. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. paporong tingkulu. Cara memakainya. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi.memiliki kedudukan di dalam masyarakat.

disebut hamsei. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. celana panjang (talala) dan aksesori. Seperti halnya baju. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V".Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. hijau. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. kain sarung dan berbagai aksesori. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. merah. disebut wolimomo. . Bahan yang digunakan biasanya kain satin. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. kuning. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). hijau dan ungu. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. disebut hotu. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. ungu dan merah hati. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Pada upacara ini. beludru. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. kalau berbicara mengenai busana adat. Sehingga. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. brokat atau bahan kain lainnya. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). seperti kuning. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. selimut (waluto). seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. tetapi kerahnya berdiri tegak. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. oleh karena itu disebut sunthi burungi. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai.

selendang pinggang dan kedua lengan baju. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. disebut model salimburung. kalung mutiara (simban). ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. Busana pengantin baju jas tertutup ini. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. selendang pinggang dan topi (porong). . disebut busana tatutu. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. berkancing tanpa saku. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. seperti motif biasa. terdapat juga sarong motif sarang burung. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. potongan baju lurus. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. Busana kebesaran ini disebut biliu. aksesori dan perhiasan. Selain baju karai. tidak memiliki krah dan saku. anting dan gelang. terdiri atas baju lengan panjang. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. disebut laborci-laborci. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. mahkota (kronci). leher baju. kalung leher (kelana). disebut wuyang (pakaian kulit kayu). celana panjang. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. Celana yang dipakai masih sederhana. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. bintang. Selain itu. Semua motif berwarna kuning keemasan. sarong motif kaki seribu. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Motif Mahkota pun bermacam-macam. yang terdapat pada hiasan topi.

Sedangkan Walian Wangko wanita. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. Umumnya. dunia dan alam baka. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Sarung yang dipakai. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. sarung (bheta). hanya saja lebih panjang seperti jubah. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. biru. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. yaitu langit dan bumi. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. hitam. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. juga untuk menyelipkan senjata tajam. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). kalung leher dan sanggul. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. saku.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Warna baju umumnya putih. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). yaitu terdapat kancing. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. Baju katango ini. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. bheta. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. selop. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. dan berkerah. Dilengkapi topi porong nimiles. Sarung kedua untuk membalut baju.

dan sanggul. perhiasan yang dipakai adalah gelang. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). manik-manik. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). ikat pinggang. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. sarung berhias (bia ibolaki). Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. dan ikat pinggang (sulepe). Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. cincin dan anting yang terbuat dari emas. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Sarung yang dikenakan ada dua. selendang (salenda). dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Selain itu. Selain pakaian sehari-hari. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. gelang kaki (kurondo). bheta. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Dalam upacara ini. tusuk konde (panto). Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. dan ikat pinggang (sulepe). Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu.. yang disebut biru-biru. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. dan perhiasan logam. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. perkawinan misalnya. Tandaki adalah mahkota. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. sarung dua lapis. Agar sarung tampak kuat. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. kalung (tongko). maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. Pada upacara tersebut. Mahkota dibuat dari kain merah. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. anting-anting (dali). Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Penulis Mira Indiwara Pakan . sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan.

Sementara itu. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. Meskipun saat ini. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. baju gembe. Paling tidak. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. Biasanya. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. kalung panjang. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. Pertama adalah unte tandu. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Ada golongan raja (maradika). pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. rakyat kebanyakan (todea). pending. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. Pada zaman dahulu. sekalipun itu tidak banyak. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. Oleh karena itu. dengan jenis yang cukup beragam. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. dan budak (batua). dan baju pasua. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. . tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. Secara fisik. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. bangsawan (toguua mungana). dan hiasan untuk penutup rambut. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Selain baju-baju tersebut. Sementara itu. yakni baju poko. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Busana wanita Kaili. kain fuya yang digunakan agak kasar. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. Selain memiliki busana yang cukup beragam. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna.

Pada masa itu. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. yakni kain sarung. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Selain kedua unsur busan tersebut. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Secara historis. yang dikenal dengan istilah mengayau. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. Unsur yang pertama adalah sarung. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. Namun bila akan bepergian. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. ikat kepala dan kampuh. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin.

umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Beberapa lembah yang terkenal, antara lain, lembah Baliem (Lembah Agung), Illaga, Dwart, Konda, Illu, Sinak, Mulia, Pas Valley dan Piet River. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926, sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat, yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege", artinya "Kami orang Baliem". Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya, di antaranya koteka (holim), yokal dan sali. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah, sejenis labu Cina. Buah labu yang sudah tua, dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi buah labu dikeluarkan, dikorek dengan kayu yang diruncingkan, kemudian dibersihkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Ketika dikenakan, agar tidak jatuh, penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem, terutama di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Jenis holim ini halus, berwarna kuning kemerah-merahan. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi, misalnya "uang merah" (eka merah). Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem, Ilaga, Tiom, Yalimo, Apalahapsili, Welarak, Kosarek, dan Oholim. Ada tiga pola penggunaan koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan, pria yang memakainya masih perjaka, belum pernah melakukan persebadanan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan, bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani, laki-laki sejati, pemilik harta kekayaan yang melimpah, memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja, keterampilan memipin, dan pengayom rakyat. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian, seperti waktu mengerjakan ladang, saat berada di honai, ketika berternak babi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu, upacara adat misalnya, mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi, disebut yokal. Biasanya yokal berwarna hitam, kuning, dan kemerah-merahan. Bahan pewarna tersebut

didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan, seperti mengerjakan kebun, menyiapkan makanan, memelihara babi, mengasuh anak, menjual hasil pertanian, bepergian, termasuk saat mengikuti upacara adat. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya, diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Seperti proses membuat yokal, bahan tersebut dijemur atau diasapi, setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis, misalnya saat ke ladang, ke sekolah, ke gereja. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Konon, karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani, sehari-hari atau saat upacara adat, antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan, dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Selain sebagai aksesori, noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga untuk membawa babi. Sedemikian besar fungsinya, sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya, antara lain: swesi, sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Siluki inon, topi dari bulu kuskus warna hitam, yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Sekan, gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Walimo yaitu hiasan dada, dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan, berderet-deret dan disusun rapi, puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung, atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Cipat, kalung berupa tali penangkal guna-guna. Wayeske, anak panah dan busur, senjata ampuh pria sejati Dani. Mul, semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati.

Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu, Marind, Asmat, dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian, bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats, Sawa Erma, Atsy, dan Pantai Kasuari. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya, masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat pinggang dari anyaman rotan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai oleh istri panglima perang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus, mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet, bulu bangau yang diikatkan pada

dan penyanyi pengiring upacara. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. kepala adat. terutama saat melaksanakan upacara adat. pemukul tifa. . Masyarakat Asmat. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. panjangnya kira-kira 30 cm. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). disebut wisaper. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Sedangkan para lelaki memakai bipane. dan biasanya disandang oleh panglima perang. Sebagai kalung. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. masyarakat Asmat. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. dari bahan yang sama. disebut betan. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. penyanyi. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. pergelangan tangan. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. panah. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. tanpa membedakan status sosial. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. subang penghias hidung. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. Topi ini disebut juprew. kalung. Kaum wanita Asmat. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). dan pemukul tifa. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja.lidi. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). biasanya dipakai oleh panglima perang. sokmet masih dipakai pria Asmat. dan tombak. Pada kebudayaan Asmat. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. Senjata ini diselipkan pada sinenke. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. pemimpin tungku (keluarga luas). pemukul tifa. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. penyanyi. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. konon. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. Hingga sekarang. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. dan pangkal betis. dan gelang yang dipakai pada lengan. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). terutama kaum lelaki.

Tombak kayu besi dinamai viwu. .Senjata lainnya adalah tombak. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. putih. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. dan tombak logam besi disebut frin. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. hitam. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. disebut vom. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. seperti relung kua yang bergambar burung. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. Agar lebih variatif. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi.5 meter. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. panjangnya sekitar 1. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. fum. Warna hitam dari arang pembakaran. dari bambu dinamai firokom. Penulis Aat Soeratin. Anak panahnya agak beragam. sowen. Konon. Dan. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. yang dari besi dikenal sebagai sok. Komposisi warna merah.

Kembang goyang 3. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Daun bambu 4. Pending untuk pinggang . dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Sari bulan 8. Gelang 12. Sepit udang 6. Kuntum cempaka 5. Kalung 10. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Pagar tenggalung 7. Anting panjang 11. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Kembang cempaka 2.

Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Untuk pakaian pria. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. 6. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. pakaian adat Indragiri. kain sampin. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Variasi pakaian adat Riau diantaranya. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. 4. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Melayu Siak Riau dan lain-lain. kenanga dan irisan daun pandan. melati. Melayu Bengkalis Riau. 2. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Selain itu. 3. kain dan . busana ini terdiri celana. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. 5. Untuk perempuan. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Tata Rias dan Hiasan: 1. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. dan songkok atau penutup kepala. 2.

selendang. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. hijau. sarung berwarna kuning. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. pakaian haruslah menutup aurat. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. dengan leher baju berbentuk bulat. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. . Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam.

yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. baju model jas tertutup. sarung sebatas dengkul. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. kalung dan gelang. kain selempang dan sarung. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. . dan celana panjang. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. pending. diletakkan ditengah-tengah sanggul. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar).

melayu. Pakaian ini bercirikan Islam. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. 6. warnanya juga antara hijau dan kuning. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. Baju Cele Kain Salele. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. kalung. 3. 5.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. pesta. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. adalah pakaian sesehari kaum wanita. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. acara resmi lainnya. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. 4. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. 2. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. • • • . pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Pakaian petani.

Selain itu. Sebagaimana batik kebanyakan. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. ruangan. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. semangat. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. Selain celana komprang dan baju pangsi. Sebagian penggembala kerbau misalnya. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. dan karakter kuat. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Menurut keterangan warga setempat. . namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. jenis dan pemakaiannya. termasuk Banten ketika masih belum terpisah.

Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang.• • • • • Lampin. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Model baju. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. dan tongkat. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. namun secara umum terdiri dari destar. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Salawar. sesamping. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Pada masa lalu. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. jangko singkek tak dapek panjang. Baju Taluk Balanga. kain sandang. baju hitam longgar. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. seperti penghulu dan bundo kanduang. keris. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. jangka pendek tak dapat singkat. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. celana hitam lebar. belah sampai ke dada tanpa kancing. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. artinya ukur panjang tak dapat singkat. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Baju Kubaya. Dikenakan pula kain samping . Jenis pakaian ini bermacammacam. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai).

Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Lambak atau kodek. Pakaian sehari-hari Para wanita. kalung gadang. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. kalung pinyaram. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. lambak/kodek atau kain sarung. Kaum prianya. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Seperti juga pada pakaian penghulu. seperi kalung. Kalung dari beberapa macam. anting-anting serta cincin. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. dan selendang pendek. Variasi lain dikenakan tengkuluk. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. baju kurung. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. kata-katanya didengar. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. gelang bapahek dan gelang ular. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Baju kurungnya berwarna hitam. kain selempang. dan kalung kaban. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Khusus pada pakaian penghulu. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Ia juga merupakan peti ambon puruak . yaitu kalung kuda. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. sementara selendang tersampir di bahu. batik. merah. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. kain sarung. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. sarung bugis ataupun kain pelekat. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang.

Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. pimpinan atau anak buah. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. disebut sokgumai. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Pagai Utara dan Pagai Selatan. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. penutup aurat. Selain kabit dan sokgumai. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Budisme. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. bertanggan naik. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. perikehidupan serta ungkapan budayanya. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. peristiwa. Islam dan Barat. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun.baiknya. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. binatang atau manusia memiliki roh. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. Sipora.

Ikat kepala ini dinamakan sorat. pakalo. suatu kegiatan perdukunan. rakgok. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. lei-lei . terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Tato adalah busana kebanggaan. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. gelang-gelang. sejenis subang pada kedua telinga. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. terbuat dari gelas berwarna merah. ogok. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Lalu disusul dengan tangan. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. kuning. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. biasanya merah. bunga-bungaan dan daundaunan. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. Selain itu tato. bergantung pada kalung depan dada. cermin raksa. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Tato merupakan simbol kejantanan. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. ikat pinggang dari lilitan kain polos. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. putih dan hitam atau hijau. paha dan pantat. dada. mulai dari busana sampai dengan .

Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. kain bertabur atau destar. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. sekar sukun. ikatan serdang dan sebagainya. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. rantai serati. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. gelang ikol dan keroncong. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. dari bahan brokat (kain senduri). Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. cincin bermata. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. renda. Gelang juga dipakai pada kaki. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. Diberi hiasan gerak gempa. . Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. gogok rantai lilit. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. gelang kana. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. yaitu ikatan bendahara (Kedah). yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. mastura. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Pakaian ini tidak memakai selendang. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar.perlengkapan perhiasannya. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. berseluar (celana panjang) dan bersamping. sutera.

Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. Karo. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Muangthai dan Laos. dan dilengkapi dengan sarung suji. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. dilengkapi dengan sarung. Sebelum orang Batak (Toba. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. sabesabe atau detar. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. kain dan ulosnya. baju dan celana. ragidup. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. sadum. Pada suku Batak Toba. bagian bawah disebut haen. Dalam keseharian. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. mereka memakai pakaian biasa. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. dipakai hingga batas dada. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. serta tutup kepala yang disebut saong. Misalnya ulos jugia. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. dan runjat. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . bulang-bulang. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. khususnya pada ikat kepala. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. tanpa alas kaki. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Untuk tutup kepala disebut saong. ragi hotang. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit.

Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Pada masa lalu. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Bulang terdiri dari tiga macam. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Baju. Baju Godang mengandung makna keagungan. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Pada masa dahulu. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. dan dililit dengan ulos ragi hotang. Pada masa lalu. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Untuk selendang pengantin. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Bulang terbuat dari emas. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. tergantung selera pemakai. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Pada suku bangsa Batak Simalungun. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga).

Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. yaitu baru lema`a. yaitu anting logam besar. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). busana kaum laki-laki Nias. yaitu baju dengan motif kulit harimau. dan saro dalinga. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. aya ba mbagi bobotora. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. khususnya busana kaum prianya. Untuk menghadiri upacara adat. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. yang berwarna merah. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Untuk upacara. dan hitam. terbuat dari daun palem. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. perak atau emas. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. Ada juga tutup kepala. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. tanpa busana atas (baju penutup dada). yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Selain itu. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. rotan dan pelepah kelapa. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. kuning. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. merah dan putih. Bagian bawah . Sementara itu. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. yang disebut takula. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara.

tampak adanya unsur-unsur Melayu. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. yang disarungkan arah ke kiri. masih ada bola-bola. Lembe. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. kuning. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Gela gela dan tali hu. Selembar ondora. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Sebagai kelengkapan busana upacara. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. kala bobu. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. Dalam busana pengantin ini. Apabila di masa lalu. separuh leher dan lengan. terbuat dari . Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan.busana wanita Nias disebut mukha. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. sebelum mengenal pengaruh luar. Warna hitam. merah. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. Busana pengantin Nias secara� keseluruhan pun nampak sederhana. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Fondruru ana`a. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. kuning di bagian depan. Selain itu. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. Demikian pula rai ni woli woli. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan.

Selendang tidak mutlak dipakai. cincin yang terbuat dari emas. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. sering pula digunakan kain tudung kepala. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. gelang tangan. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Dalam pandangan masyarakat Riau. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. jurai. . akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. antinganting. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Untuk menghadiri acara formal. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Untuk bagian dada. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. tusuk sanggul. Meski fungsinya sama. sepit rambut. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Berbeda dengan busana kaum pria.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. kembang goyang. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. sanggul biasa atau sanggul dua. Dalam kehidupan sehari-hari. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. meliputi juga kelengkapan kepala. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. satin atau sutera. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. dan gelang kaki untuk bagian bawah.

Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. seperti Riau. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. begitu juga dengan perhiasan. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. karena ia mendapat julukan raja sehari. propinsi Jambi. tangkai clan bunga yang akan mekar. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Bagian pinggir . dan sebagainya. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Sumatera Selatan. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri.

Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. kembang cempaka. seperi pohon beringin. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. bunga matahari. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Konon. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Tutup dadanya disebut teratai dada. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. bungo runci. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Kalungnya terdiri dari tiga . Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. kembang tagapo. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. bunga matahari. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. clan bunga pandan. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). dan pucuk rebung. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Bunga cempaka. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas.

kecuali bagian leher sebelah depan. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Terlebih saat menuai. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. yaitu kalung tapak. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar.jenis. selendang. Selebihnya polos. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. pending dan sabuk (ikat pinggang). gelang ceper dan gelang buku beban. kecil dan besar. khususnya yang dikenakan para gadis. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Masih ditambah dengan gelang kano. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Kesemuanya di pasang di lengan. yang disebut baselang atau pelarian. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Penulis : Dewi Indrawati . dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan.

Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. lembayung atau hitam. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. biru tua. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. Jambi dan Riau. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. sarung. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. . Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. bertabur corak-corak. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. menyentuh bahu. dipadukan dengan tusuk konde. cokonde balon. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. celana panjang.

yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Bagian bawah mengenakan senjang. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. Kain ini dibuat oleh wanita. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Alas kaki memakai selop bersulam emas. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Pada penyelenggaraan upacara adat. Bugis atau batik Jawa. kain tenun bersulam benang emas yang indah. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. seperti perkawinan. Bahannya dari kain batik.

yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Pada waktu mandi di sungai. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Khusus bagi wanita yang baru menikah. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas .dililitkan. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Selain itu. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. Untuk menghadiri upacara adat. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. juga dapat dikenakan selekap balak. Dikenakan pula kalai kukut. Selain itu. Kelai pungew. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. perak atau suasa diberi mata dari permata. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Selambok/rattai galah. kecuali saat pergi ke ladang. seperti perkawinan kaum wanita. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. memiliki bentuk seperti baju kurung. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. menyanggul rambutnya (belatung buwok). kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil.

. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. dan memakai kantong terawangan. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). celana yang panjangnya sebatas lutut). Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. India. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Lasem. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. terbuat dari kain yang ditenun. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. suasa. atau membeli bahan baju dari Jawa. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. atau Betawi. tumbak lado. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. serta diberi tumpal benang emas. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. atau jembio. baju (kelambi). Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. diberi pinggiran benang emas. maupun diperadan. Pelengkap busana yang lain adalah keris.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. terbuat dari suasa. Badong yang terkenal disebut badong jadam. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). rambi ayam. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. atau Eropa. memakai kantong biasa. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. perak. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. badeek. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Sebagai pakaian sehari-hari. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. atau tembaga yang dilapisi emas. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. disulam. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. dan ukuran celananya lebih lebar. iket-iket atau kopiah (kopca). Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. yang terbuat dari kain yang ditenun. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Indramayu. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Ada juga yang diberi batu permata. Cina. seperti keris. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya.

Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. kamhar. dan tutup kepala (tengkoolook). kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. dan terompah atau selop. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. rambut disanggul. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. dan dahi. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. dada. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . Pada masa lalu.Pada saat akan bepergian. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). dan Singapura. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). Cina. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. bahu. berasal dari Jawa). Semakin halus songket yang dimilikinya. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. India. atau las. yang dikenakan pada kepala. Sebagai pakaian sehari-hari. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan.

Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. Sebagai penyambung belahan kebaya. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. dan dihiasi dengan pasmen. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. mereka lebih suka memakai kain batik halus. Pada masa pemerintahan Belanda. polekat). Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi.Dari masa ke masa. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. digunakan peniti. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. dilepas sampai pergelangan kaki. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. baik di Priangan maupun di Cirebon. Adapun masyarakat Cirebon. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Adakalanya dikerudungkan. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Yang membedakan keduanya adalah. . warna hitam atau putih. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Sama halnya dengan kebaya. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Zaman dahulu. Di kalangan istri pembesar.

sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. Dengan demikian. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya .Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. ali meneng. gelang emas dan giwang emas. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. Untuk alas kaki. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. namun kini sandal. gelang bahar. Dalam berbagai kesempatan khusus. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian.

Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Oleh karena itu. Melihat warna. Potongannya tidak memakai kerah. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. . Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. dengan ciri sub dialek Banten. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai� � � budaya� � � warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. yaitu tangtu Cibeo. radio dan televisi. desa Kanekes. yaitu Baduy Luar. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. yang memiliki keyakinan.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. model maupun corak busana Baduy Luar. Dalam pandangan suku Baduy. model dan warnanya saja. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. Agar kuat dan tidak melorot. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. sarung tadi diikat dengan selembar kain. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. tingkat umur maupun fungsinya. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Semuanya itu tabu (pamali). Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. Baduy Dalam. Baduy Dalam. piring. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Mereka tidak memakai celana. kecamatan Leuwidamar. Tak ada listrik. Bagi suku Baduy Luar. mereka berasal dari satu keturunan. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. tingkah laku. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Barangbarang "modern" seperti sabun. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Lebak. cita-cita. kosmetik. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. Penduduknya menjaga.

kain ikat pinggang dan selendang. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. biru tua dan putih. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Bagi wanita yang sudah menikah. Model. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. Untuk pakain bepergian. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. selendang dan ikat kepala. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman.20 cm dan dililit dengan . baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. kecuali baju adalah sama. kain wanita. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. Dimulai dari menanam biji kapas. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. potongan dan cara berbusananya saja. kemuduan dipanen. Selain itu. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. potongan dan warna pakaian. Sedangkan. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. karembong. dipintal. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. kain sarung. Dari model. baju. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. biru. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. yang dipadukan dengan warna merah. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. sedangkan selendang berwana putih. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. Memang. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri.

serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Motif-motif hiasan emas. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. Di atas Siangko bercadar ini. Warna-warna cerah yang dipilih. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. dan model baju kurung (Melayu). bunga-bunga sampai motif burung hong. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. namun saat ini umumnya menggunakan mute. baik dari bahan satin ataupun beludru. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. Panjang lengan agak longgar. Aslinya adalah emas. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. Namun. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. daerah sekitar dada. tidak ada yang khusus. gading atau kadang-kadang kuning. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. yaitu model shianghai (Cina). masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. atau bahan perak. Siangko bercadar selalu berwarna emas. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. Sebelum mengenakan jubah. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Teratai. yang agak longgar dan besar. kehidupan dan kematian. kubah mesjid dan lain sebagainya. panjangnya sebatas pinggul. Padanan tuaki adalah kun. Sebagai alas kaki. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. bagian bawah baju sangat bervariasi. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. terbuat dari manik-manik. warna putih. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Tuaki. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. Panjang cadarnya 30 cm. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Mengenai tata rias wajah. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Dari ragam hias geometris. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Tuaki bentuk baju kurung. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. karena aslinya terbuat dari emas. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Selain yang bercadar. bunga-bungaan.sorban kain. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Biasanya dihiasi batu-batu permata. Bagian jubah ini. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala.

umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. atau mute. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. selendang dan celemek. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. Seperti misalnya di daerah pinggiran. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. sarung songket. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. sejahtera dan bahagia. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. Sebelum rerurub atau ruruban. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. pisau raut. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. Sementara itu. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. Selain sunting. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. kuat seperti pohon kelapa. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. gelang bahar. Nabi Besar Muhammad SAW. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Selain perhiasan untuk kepala. Busana pengantin rias bakal. Gelang listring dan gelang selendang mayang. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Namun saat ini. celana panjang. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. bros dan untaian melati. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Penulis Endang Mariani . maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. dengan busana wanita Betawi sehari-hari.

baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. hijau. nilon. seperti pada upacara adat misalnya.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Saat ini. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. cincin. Jawa Tengah adalah baju kebaya. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. lurik atau bahan-bahan sintetis. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. sutera yang berbunga maupun . ketiak dan punggung. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. Sedangkan. brokat. Dewasa ini. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. kuning. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. putih. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). Oleh karena itu. Panjangnya kebaya bervariasi. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. kain sunduri (brocade).

Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. pada kepala memakai destar (blankon). gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. Potongan dan model kebaya Jawa. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. Dalam adat busana perkawinan misalnya. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Kepulauan Sumbawa. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Namun pada saat upacara perkawinan. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. brokat. cincin. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. ijab. yaitu midodareni. stagen untuk mengikat kain samping. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Jawa Tengah. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. panggih dan sesudah upacara panggih. biru sedang dengan hitam. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Dewasa ini. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Sedangkan. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. serta dua buah lengan baju. Pada upacara midodareni. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. perhiasan yang dipakai juga sederhana. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Sedangkan busana di kalangan pria. Sebab. kain samping jarik. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. ungu dengan hitam. Bali dan Madura. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. baju lengan panjang. Kalangan wanita di Jawa. ikat pinggang besar. Sedangkan. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Selain kain lurik. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. sutera maupun nilon yang bersulam.nilon yang bersulam. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. keris dan alas kaki (cemila). seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. daerah pantai Kalimantan. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan.

Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. Bagi pengantin pria. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. terdiri dari kuluk matak biru muda. ikal rangkap dan pilin ganda. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. centung. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. stagen. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. kain jarik. pipi dan bibir. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. baju takwo. pada upacara setelah panggih. alis. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. bros dan buntal. Sedangkan bagi pengantin wanita. keris warangka ladrang. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. naga). dodot bangun tulak. berupa dodot bangun tulak.warna sawitan. ular. cincin. sabuk timang. pengantin wanita memakai busana kanigaran. jungkat. Sama halnya dengan pengantin wanita. timang/epek. gelang. stagen. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. melati) maupun alam dan manusia. keris warangka ladrang dan selop. swastika (misalnya bintang dan matahari). biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. keris warangka ladrang dan selop. sabuk timang. basahan. Busana basahan adalah tidak memakai baju. yang terdiri dari baju atela. epek. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. udeng. yang terdiri dari kuluk kanigoro. kain jarik. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. sabuk timang. stagen dan selop. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. yaitu terdiri dari baju kebaya. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. cincin. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. dalam busana adat perkawinan. kalung. misalnya untuk menutup aurat. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. sikepan. selop dan perhiasan kalung ulur. kerbau. mata. yang melambangkan kesuburan. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. Sebagai kelengkapan. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. dodot bangun tulak. pilin. stagen. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. celana cinde sekar abrit. Pada upacara panggih ini. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. kain jarik. dodot bangun tulak atau kampuh. subang dan timang atau epek. celana panjang warna putih. . hewan (misal : burung. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Saat upacara ijab. keris dan selop. Fungsi pakaian. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. bros. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. kolong karis. Sedangkan kain sido mukti. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul.

Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. usia. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. dan status sosial pemakainya. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. kapan dikenakan. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. konde. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. estetis. dan siapa yang mengenakannya. saat bekerja. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting.1945). Sejalan dengan perkembangan zaman. dan bagian bawah. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. usia. bagian tengah. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. dan sebagainya). sosial dan simbolik. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. . fungsi estetis. Namun demikian. dan saat bepergian. Dalam perkembangan selanjutnya. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. dan status sosial. di man dikenakan. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. Oleh karena itu. serta bagian bawah berupa alas kaki.Pada masyarakat di Jawa Tengah. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. religius. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan.

udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). serta pisowanan dalam upacara perkawinan. dan keris branggah. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. serta sapu tangan merah. serta mengenakan perhiasan berupa subang. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. kain batik. gelang. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. memakai lonthong tritik. ceplok. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. dan cincin. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. dana cindhe gubeg. kampuh konca setunggal. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. timang. pethat jeruk sak ajar. kanigaran. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. kamus songketan. yang khusus dikenakan para putra Sultan. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. supitan. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. Sebagai perhiasannya adalah subang. semekan tritik. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. gelang. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. lonthong tritik. atau merak. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. rante.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. Kainnya bermotif parang. kalung dinar. timang (kretep). garebeg. baju kebaya katun. baju katun. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. baju surjan. karset. lonthong tritik. tingalan dalem tahunan. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. cincin. Perhiasannya berupa subang. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. moga renda berwarna kuning. dan perkawinan. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. atau gringsing. perkawinan. berfungsi sebagai penutup dada. tanpa baju. lonthong tritik. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. dan kaprajuritan. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. jumenengan dalem. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). kamus songketan. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. kamus. burung garuda. tingalan dalem tahunan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. serta sedan (pemakaman jenazah raja). Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. jumenengan dalem (penobatan raja). Agustusan. Penulis Dewi Indrawati . serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). baju kebaya katun. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. kain batik dengan wiru di tengah.

Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. terutama kaos bergaris yang digunakan. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. baju pesa`an. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. status sosial maupun kegunaannya. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. Pada masa sekarang. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. tutup kepala yang dikenakan. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. di dalamnya. Kalangan pedagang kecil. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Sebaliknya para nelayan. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. bera` songay atau toh biru. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. dalam menghadapi segala hal. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Perbedaannya adalah pada odheng. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Perlengkapan busana . Sebenarnya. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Warna hitam ini melambangkan keberanian. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. Dalam penggunaannya. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Jaman dahulu. Garis-garis tegas merah. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. jenis kelamin. yaitu hitam dan putih. teguh dan keras.

Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Sebum dhungket atau tongkat. terbuat dari tenunan bermotif polos. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. stagen. Odhet adalah semacam stagen Jawa. Sementara di daerah Madura Timur. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. juga memiliki daya tarik yang unik. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. keduanya terbuat dari emas. dulcendul. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Letak sanggul umumnya agak tinggi. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. jam saku. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Bentuknya seperti busur. Untuk penguat kain digunakan odhet. Bentuknya agak bulat dan penuh. Arloji rantai acap digunakan. pemberani. mulai dari kepala sampai kaki. pada odheng tongkosan kota. Harnal bubut dari emas. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. baik dari ukuran. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. jepit kain. sabuk katemang.seperti sap osap (sapu tangan). Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. kuning atau hitam. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Rambut wanita Madura itu sendiri. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Pada odheng peredhan. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Warna biasanya merah. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. bermotif modang. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. garik atau jingga. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. serta pemakaian penggel. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. biasanya disisir ke belakang. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. motif maupun cara pemakaian. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. Adapun cucuk dinar. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. serta bersifat terbuka dan terus terang. Semakin miring kelopaknya. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. kemudian digelung sendhal.5 meter. storjan atau lasem. Pada saat menghadiri acara resmi. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). bermata selong dengan . Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Sementara itu.

aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. tangan dan kaki umumnya kecil. Saat ini. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. terbuat dari emas dan bermotif polos. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. bahkan lebih. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Mata dihiasi dengan celak Arab. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. digunakan gelung mager sereh. Bentuknya sama dengan gelung malang. digunakan peniti dinar renteng. leher. Tergantung kemampuan si pemakai. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Semakin banyak jumlah dinarnya. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Namun. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. telinga. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. penggel adalah salah satu yang paling unik. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. Alas kakinya berupa selop tutup. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. namun adapula yang mencapai 100 gram. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Warna gelap dan tidak bermotif. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. Rambut wanita muda digelung malang. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Bahan kebaya biasanya beludru. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Sebuah tutup kepala. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. kiri atau dahi.

seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Di bagian dalam. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. Cara ini disebut kakawung. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. yaitu : Lumajang. celana panjang warna gelap dan selempang . sebagaimana yang digunakan di Jawa. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Masing. Cara lain yang sangat khas. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Saat bertamu. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. Pengaruh Hindu . Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. dengan segala perlengkapannya. jas tutup warna gelap. sehingga yang terlihat hanya mata saja. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Setidaknya ada dua upacara besar. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. kemudian digantungkan di pundak. yaitu upacara adat kasada dan karo. Udeng dan sarung tidak tertinggal. baju warna putih. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Cara ini disebut Sempetan. dan Pasuruan. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. berwarna hitam. memakai kaos oblong. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. Setelah disarungkan pada tubuh. Malang. Sementara itu. yang disebut sampiran. kain wiron dan udeng. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Untuk bekerja.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. Kedudukan seorang dukun. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Dalam hal berbusana. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. Probolinggo. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. genta dan talam. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. termasuk wisatawan. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Keluhuran budi. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. di Jawa Timur.

serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . meskipun ada juga yang khusus menenunnya. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. kuning. Kemben. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. yaitu putih susu atau kuning muda. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. disebut potongan Bali.panjang warna hitam batikan. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. dari segala jenis usia. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Demikian pula pada kaum pria. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. Bagi wanita Bali. maupun dari kasta manapun mereka berasal. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. Setelah ujub upacara. sedangkan warna merah tidak terlihat. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Selempang pun ada yang berwarna hitam. Adapun pada geringsingan barak atau . Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. saput dan kemben. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. Menurut sejarah. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. saput dan anteng. Untuk kebaya berlengan panjang hingga pergelangan tangan. baik untuk pria maupun wanita. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. kemben bukanlah penutup dada.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. Songket. mereka sebut potongan Jawa. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. Berdasarkan warna. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. hitam dan merah. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. perada. Namun. endek. maupun putih dan ke arah krem. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. berupa kain pembalut tubuh. Pada masa lalu. sabuk.

Selain warna. cemplong. seperti kenanga. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. merah dan hitam. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Geringsing sabuk. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. Cina. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur.geringsing merah. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. Gelung kucir. patlikur. cecepakan. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. Wanitanya memakai kemben songket. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. Berdasarkan corak busana yang dipakai. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. tidak ada perbedaan yang menyolok. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. dari bahu ke bawah. Sementara dalam tata busana. lubeng. Secara keseluruhan. Untuk tingkat utama. juga dibedakan menurut ukurannya. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. kebo. yaitu nista. Untuk menahan kapuh. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. seperti India (patola). Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. kain geringsing. cempaka kuning dan mawar. Sementara itu. dan sebagainya. serta cincin. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. Dalam upacara perkawinan. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsurunsur ragam hias dari kebudayaan asing. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. seluruh busana dibuat dari bahan perada. untuk hiasan kepala atau petitis. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. Bagi kaum pria. Penulis Endang Mariani . wayang putri. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. bebekeng atau pending. madya. yaitu kuning muda. yang disebut umpal. cempaka putih. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. tampak tiga warna dominan. di balik kemben. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah.

Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. baju. Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Dulu. dari bahan yang sama dengan baju. celana. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. juga dari kain yang sama. . clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. untuk koleksi cendera mata. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. merah muda. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. putih. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. Sebagai busana bawahnya. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. kulit kerang atau keong kecil. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. clan sebagainya. baba = lakilaki) untuk laki-laki. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Kini. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita).Busana Tradisional Dayak Taman Penulis Aat Soeratin. tak jarang. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman.

jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. kalung. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. subang penghias telinga. perak. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. jelas. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. gelang-gelang. pada masyarakat Dayak Taman. antara lain. tak mengherankan.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. atau kaca. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Maka. dan sebagainya. maupun kambu. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. kaum wanita clan para pria memakai poosong.Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. menggelayut. sehingga nampak sangat unik dan khas. Dulu. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah . Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. indulu manik. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. dengan ketebalan. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. disebut tajuk bulu aruae. atau semacam rumput. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. 1 cm. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Dikenal. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. penghias leher. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. yang memakainya. ketelitian. lebih-kurang.6 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. topi atau kopiah. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Misalnya saja kalong manik pirak. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. dibutuhkan kesabaran. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. yang dianyam menjadi bentuk topi. hitam atau kuning. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. atau batik. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Sebagai pelengkap busana. Ada beberapa macam kalung. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . juga sangat sedikit para perempuan.menjadi bentuk kerawang. tapi kini hampir tak ada lelaki. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . Dibuat dari logam perak clan rotan. perunggu/tembaga.

clan orang tua. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. . baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. dan wanita lanjut usia. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. agaknya. Sekarang. kiri clan kanan. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. dewasa. Terutama baju burai king burai. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Dahulu. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. baju burai king burai clan baju manik king manik. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat.gelang pada bagian lengan di atas siku. clan berlengan pendek. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku.

yaitu lam jalalah. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. salawar kiyama dan sandal silang. Bahan baju dari kain lena. dua di bagian bawah kiri dan kanan.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Banjar People Traditional Dress Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. seperi biru muda. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. kuning muda. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. dan jenis lain yang agak tebal. Bagian dada terbelah berkancing tiga. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. satu di dada kiri. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Baju ini berkancing lima biji. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. tanpa kantong. lurus tanpa kantong. Menjadi aturan. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Ada dua pilihan sabuk. Pasangannya digunakan tapih. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Alas kakinya ada berbagai jenis. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. belini dan friend ship. ekstrimin. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. dominan warna kuning. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Dilengkapi kantong tiga buah. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Kantongnya ada tiga buah. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). berbentuk segi tiga. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. sandal tali silang. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Motif ini melambangkan sikap waspada. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. yaitu sandal kalipik. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). baju kiyama. kain Pagatan. dan selop. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. dan jenis lain yang . ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . hanya tanpa saku. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. yang lazim disebut tapih kaling. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. dan krem. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna.

Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. kalung. Kaki mengenakan selop dari beludru. kalung bermotif bunga-bungaan. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Cincin dari bunga mayang. terdiri dari daun sirih. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. untaian bunga depan dan belakang. bunga jepun berbentuk jepitan. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. untaian metalik. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Pagatan. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. sabuk pinggang warna emas. . Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. dan untaian bunga warna keemasan.agak keras. bunga melati yang diatur berbaris. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. dan air guci. dengan segitiga lebih tinggi. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Perhiasannya berupa samban. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). bunga mawar merah dan bunga melati.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->