Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-

kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manikmanik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus - motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar, menggelayut, sehingga nampak sangat unik dan khas. Ada beberapa macam kalung, penghias leher, pada masyarakat Dayak Taman. Misalnya saja kalong manik pirak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang, kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki, tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dikenal, antara lain, dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak, ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat, seperti galang bontok yang dibuat dari perak, galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan, galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas, dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku, kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang, bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik, clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan, masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan, baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek, clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju

yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju.kuurung sesungguhnya sudah tua. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. . Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Terutama baju burai king burai. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. clan berlengan pendek. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. dan wanita lanjut usia. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. dewasa. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. agaknya. clan orang tua. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Dahulu. Sekarang. baju burai king burai clan baju manik king manik.

.

di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). dua di bagian bawah kiri dan kanan. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. yaitu sandal kalipik. kain Pagatan. yang lazim disebut tapih kaling. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Bahan baju dari kain lena. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Motif ini melambangkan sikap waspada. sandal tali silang. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. ekstrimin. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). belini dan friend ship. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. baju kiyama. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Pasangannya digunakan tapih. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Ada dua pilihan sabuk. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Bagian dada terbelah berkancing tiga. seperi biru muda. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. lurus tanpa kantong. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Alas kakinya ada berbagai jenis. Menjadi aturan. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). satu di dada kiri. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Kantongnya ada tiga buah. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. yaitu lam jalalah. Dilengkapi kantong tiga buah. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). salawar kiyama dan sandal silang. dan selop. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. dan krem. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. dan jenis lain yang agak tebal.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. tanpa kantong. dominan warna kuning. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dan jenis lain yang . Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. hanya tanpa saku. kuning muda. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Baju ini berkancing lima biji. berbentuk segi tiga.

Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. dengan segitiga lebih tinggi. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. untaian bunga depan dan belakang. untaian metalik. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas.agak keras. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. . Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Pagatan. bunga mawar merah dan bunga melati. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. sabuk pinggang warna emas. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Cincin dari bunga mayang. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. bunga melati yang diatur berbaris. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. dan air guci. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. bunga jepun berbentuk jepitan. kalung bermotif bunga-bungaan. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. terdiri dari daun sirih. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Perhiasannya berupa samban. kalung. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Kaki mengenakan selop dari beludru. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. dan untaian bunga warna keemasan. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah.

bunga.bagi para pemuka kelompok. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. warna kuning dari kunyit. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. kepala suku. kalung. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. upacara meminta hujan. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. pun punya makna simbolik. giwang dari kayu keras. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Busana itu berwarna coklat muda.berbeda untuk perempuan dan lelaki . gelang dibikin dari tulang binatang buruan. selain tampil artistik. para tetua adat. Akan tetapi naluri berdandan. panglima perang. Celananya adalah cawat yang. Misalnya saja. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. ketika dikenakan. Awalnya kulit kayu. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. burung. gelang. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. warna merah dari buah rotan. kemudian kain tenun halus. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. warna asli kayu. warna putih dari tanah putih dicampur air. dan ahli pengobatan. manusia. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. dan sebagainya. giwang (suwang). Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. dedaunan. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. akar pohon. warna hitam dari jelaga. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. Selain itu. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. misalnya. kulit kerang. dalam kepercayaan Kaharingan. harimau akar.misalnya upacara tiwah. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. . Biji-bijian. tak pula diwarnai. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. yang bermakna sangat filosofis. tak diberi hiasan. sehingga kesannya sangat alamiah. lalu tenunan serat alam yang "kasar". yang disebut ewah. yang cenderung animistik. dan sebagainya. menjadi corak hias busana adat. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka.

Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. dan sebagainya. harimau akar. Masyarakat Ngaju. dan kelengkapan lainnya. Mereka kemudian melirik rotan. celana . sumpit. tampil pula dalam ekspresi yang lain. ikat kepala. juga dari beludru atau satin. dan tombak. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. awan. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. satin. keramik. burung enggang. dari kain satin atau beludru. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. pakaian acara-acara adat. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. dan tulang. untuk kostum tarian. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. Dan kini pucuk rebung. Busana pengantin. ujung lengan baju.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Celananya disebut selawar gobeh. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. berhiaskan gambar pewarna alam. diberi hiasan. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. koleksi museum. ular. manusia. Akan tetapi. Pada kerah. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Betapa tidak. kebanyakan dibuat dari kain beludru. batang garing. konon. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. kostum taritarian. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. disebut salui. umpamanya saja. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. fauna. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. lawung bawi. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Paduannya rok panjang sebatas betis. Selain untuk aksesori. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. dan anting-anting atau suwang. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". akar tumbuhan. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. model baju pria Melayu tapi berkerah. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. dan aplikasi manik-manik dan arguci. jenis rumputrumputan. jalinan serat alam. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. kayu. atau cendera mata. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. atau sutra. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Teknik menenun. celana. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. dan bagian dada. dan mitologi.

Penulis Aat Soeratin .panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.

dihiasi gerak . yang modelnya seperti piyama. semacam kebaya tidak berkerah. jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari. destar. Busana tradisional Kutai. dan status sosial pemakainya. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis. linen. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya. mempelai wanita memakai baju takwo. Dahulu. yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. berdasarkan fungsinya. antara lain. yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jika bepergian memakai ikat fepala. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. dari bahan katun untuk baju. sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. pakaian bepergian. masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Akan tetapi kini. Saat upacara pernikahan berlangsung. mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. dan sebagainya. dan diberi kerudung ketika bepergian. celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas. disebut jelapah.Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. dipakai oleh kaum lelaki. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong. atau beludru. kain panjang. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina. celana. Baju pelembangan. berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Akulturasi itu. masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. pakaian pesta/upacara adat. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. yang dipakai sehari-hari. pakaian kerja. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. atau kain sarung pelekat. rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai. namun tidak tembus pandang. umur. Agar tampil rapi. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. dari kain batik. dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. sebagian diantaranya. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun.

fauna. pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. diimbuh hiasan kembang gempa. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. dan alam mitologi. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. baju. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Alhasil. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. hitam. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang. . Tenggarong. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Di bagian depan sentorong dipasang wapen. leher baju. dan warna coklat muda. bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. dan sebagainya. dan Lempunah. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Pada bidang yang berwarna terang. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. semacam lencana. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah.5 meter dan direndam di dalam air. dipadukan dengan celana panjang. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. kopiah. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. terutama di desa Tanjung Isuy. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Motifnya stilasi dari bentuk flora. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar.gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. dipadukan dengan celana panjang. Pentat. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. sarung. serta sebagian di Kec. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Muara Nayan. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot.

dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Jautn berarti awan. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. memakai cawat. diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat. bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Atau motif waniq ngelukng. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Kini tak ada lagi raja. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. . Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Maknanya. taring binatang buruan. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. kain panjang yang berhias pada ujungnya. Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. taring harimau dahan. kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Misalnya motif jautn nguku. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. manik-manik. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq. Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi.Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. dan sebagainya. taring beruang. hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. upacara pengobatan. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik. misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). upacara panen hasil bumi. dan tanpa alas kaki. Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik. sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). kepala suku. dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana. baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan. sedang nguku berarti berarak. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya.

Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. biasanya terbuat dari logam. dan uang logam kuno. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Busana adat. taring binatang. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. ragam hias. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. .

pembantu permaisuri. atau diselaraskan dengan usia mereka. bros. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung.upacara adat. Di samping itu. Tidak lupa. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. berikut toala polulu di kepalanya. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. upacara injak tanah atau joko kaha. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. dan ikat kepala. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Sementara itu. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . serta alas kaki yang disebut tarupa. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. Sudah tentu. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. celana panjang. . keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. oranye. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. leher jas. Sementara itu. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. berlian. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. remaja contohnya. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Selain itu. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. ujung tangan. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. atau emas. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. serta kain panjang. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. dan peniti yang terbuat dari intan. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. Baju tersebut umumnya berwarna polos. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. anting dua susun. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Selain busana adat yang disebutkan tadi. baik sebagai permasuri. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo.

yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. lengkap dengan lengso duhu. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. Sama halnya dengan busana wanita. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. dan celana popoh. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. .Busana kerja dalam keadaan bersih. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. Adakalanya. celana dino.

kole. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Jenis busana lain. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. khususnya dalam upacara sidi. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. lengkap dengan kain pelekat. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. lenso pinggang. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. Celana kes atau hansop. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. Mereka biasanya mengenakan baju cele. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. dengan leher agak tertutup. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Keberadaan busana adat Ambon. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. kebaya hitam. Kebaya manampal.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Walaupun model bajunya sama. dipakai . yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. Bila mereka akan bepergian. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. dan celana panjang. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Dilengkapi dengan kaeng pikol. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Bila akan bepergian.

sepatu berwarna putih. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. celana panjang atau celana Makasar. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. pembersihan negeri. patala disalempang di dada. bersepatu dengan kaus kaki putih. busana rok. lenso bodasi dililitkan di leher. dan kaus tangan berwarna putih. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. Busana raja terdiri atas baju hitam. salempang. dan topi. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . patala di pinggang. ikat poro atau ikat pinggang. celana hitam. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. penerimaan tamu. .oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing.

yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Artinya. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. Pada masa lalu. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. ketua adat misalnya. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. Selain itu.terbatas pada gelang atau bel usu. memakai rantai maupun tidak. yaitu anting-anting. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. pelepasan arwah. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. dan sebagainya. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. yang menggantung dengan indah di telinga. penghormatan jenazah. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. dan hitam. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. belusu. . memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. Meskipun begitu. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. serta lean. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. somalea. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. Saat ini. Misalnya noras aboyenan. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. hitam kebiru-biruan. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. yakni sinune dan somalea. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. Kalaupun ada yang mengenakannya. Misalnya. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. berbagai kalung atau ngore. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Bahkan. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. meliputi sinune. dan lekbutir. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. yang berlengan pendek maupun panjang. pernikahan. upacara-upacara gerejani. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. Pada dasarnya. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut.

Namun lebih dalam lagi. atau ketua adat. kain penutup kepala. dan keperkasaan seorang pemimpin. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. sinune. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. .Sementara itu. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. prajurit. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. kebesaran. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. pahlawan. berhiaskan somalea. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. tutuban ulu melambangkan keberanian. Kecenderungan yang tampak sekarang. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. atau para tua adat. tutuban ulu. Konon pada masa lalu.

Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. coklat. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. putih. dihiasi dengan ragam-ragam flora. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. Cina. Indonesia. biru dan kuning secara melintang. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Belanda. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. bergaris biru melintang. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. Utan lewak. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Portugis. kuning atau merah. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. ragi werung. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. Destar. utan lewak. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Arab dan India. Kain sarung wanita. bahkan di. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. Diatas labu dikenakan dong. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. fauna dalam lajur-lajur bergaris.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat.

Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. delapan dan seterusnya. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. pesta dan sebagainya. apabila gelap mencerminkan duka. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. Paduan warna juga menunjuk pada usia. . Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Demikian pula hal dengan warna dong. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua.tinggi.

Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. Kepercayaan khas daerah Marapu. upacara. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). bendera tiga warna. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. ekonomi serta religi suku sumba. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. buaya. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Warna hinggi juga . ayam. setengah dewa. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. mahkota dan singa. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. penyu. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. burung. Di kepala dililitkan tiara patang. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. cumi-cumi. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. rusa. Sumba Barat dan Sumba Timur. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. ikan. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. udang. setengah leluhur. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. ular. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. naga. kuda. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba).Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. pesta-pesta dan sejenisnya.

Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. dewasa ini sudah jauh berkurang. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. coklat. Timor. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Busana Tradisional Amarasi. lau mutikau dan lau pahudu kiku. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. Kabiala adalah lambang kejantanan. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. menjurai ke bagian dada. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. merah bata. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. dikenal dengan sebutan iteke. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. keperkasaan serta budi baik seseorang.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. telinga. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. putih dan biru. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. lau pahudu. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Timor Amarasi. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. dan po`uk. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara.

gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Sebaliknya pun. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. Kedua telinga dihiasi falo noni. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. perak. Emas. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. dalam membalas pihak lelaki. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. . Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan.hiasannya. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. kuning.

Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Konon, pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai, estetika pun berkembang, lalu terciptalah corak hias simbolik, pada bentangan kain-kain tenunan mereka, yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Stilasi pohon mawar, burung, ular naga, tokoh pewayangan, kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya - maka pemakainya akan ditimpa kemalangan, misalnya saja kehilangan kewibawaan, kesaktian, dan semacamnya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat, sehari-hari maupun upacara, masyarakat Sasak. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI, seperti yang telah disinggung di muka, memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak, meski tentu, tak menghilangkan identitas jatidirinya. Untuk mengikuti acara adat, misalnya upacara potong gigi, upacara kematian, menghadiri perkawinan, masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga, dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek, panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Penahan kereng adalah lilitan kain, berfungsi seperti ikat pinggang, disebut bebet. Pada kening tersaput ikat kepala, dinamai sapu, biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Busana Pengantin Sasak

Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/pending) emas, gelang tangan (teken), ali-ali (cincin), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

dipakai. ikat pinggangnya. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke. kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa. Penahan siki adalah baba. yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. sebutan untuk kain songket (tembe songke). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit. sehingga tampil lebih sederhana. sebatas lutut. . yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Kemudian siki.Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Di atas baba dilingkarkan selepe mone. mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak. ikat pinggang dari logam keemasan. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang). Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar. seperti memakai sarung. berwarna keemasan. diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. sarung songket. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. dan ponto (gelang tangan). Selepe. Rambutnya disanggul. seperti ditulis di muka. diselipkan pada baba. semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan.

Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. dan hijau. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. Dalam kebudayaan Makasar. berwarna terang dan mencolok seperti merah. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. tidak mampu membayar utang. Jeneponto. Maros. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Pada dasarnya. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. dan Kepulauan selayar. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. Pada masa dulu. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. celana atau paroci. tu maradeka. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. atau hari-hari besar adat lainnya. bentuk maupun corak. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. pasapu guru sebutannya. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. Khusus untuk tutup kepala. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. ada beberapa ciri. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. Meskipun demikian. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. Pangkajene. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. masyarakat menyebutnya mbiring. . leher berkrah. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. dan atu atau golongan para budak. Namun dewasa ini. dan yang melanggar adat. Bantaeng. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. Sementara itu. dan tutup kepala atau passapu. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Gowa. kain sarung atau lipa garusuk. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. penjemputan tamu. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. Biasanya. saku di kanan dan kiri baju.

maka diberi pengikat yang disebut talibannang. sapu tangan berhias atau passapu ambara. Baju bodo berbentuk segi empat. atau biru tua. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. selempang atau rante sembang. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. dan kalung besar (geno sibatu). Namun pada umumnya. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. . berwarna tua dengan corak bunga-bunga. kalung panjang (rantekote). wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. Sama halnya dengan pria. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. dan berbagai aksesori lainnya. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. tidak berlengan. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). warna dasar sarung Makasar adalah hitam. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. sisi samping kain dijahit. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. coklat tua. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Sementara itu. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. gelang. dan anting panjang (bangkarak).

Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. Makassar dan Toraja. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Ada pula sanggul agak rendah. Semua kalangan masyarakat Mandar. Dalam kehidupan sosialnya. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Majeng. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. tua maupun muda. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Pada bagian pinggang. Dalam berbusana . Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. dengan hiasan liontin atau medalion besar. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Untuk tata rias rambut dan kepala. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Untuk wanita yang usianya agak tua. remaja dan orang tua. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Menurut catatan sejarah. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam.

Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. dan upacara pernikahan. berdasarkan adat rambu solo. memasuki rumah baru. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Sementara itu. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. busana misalnya. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya.pantovel berwarna hitam. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Misalnya dalam upacara panen padi. Untuk penututp kepala. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. Pada kesempatan seperti itu. . terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. yakni busana pria dan busana wanita. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya.

Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. Passapu. hingga jari jemari. dalam acara adat orang meninggal. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. dan sarung atau sambuk. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Celana yang dipakai oleh kaum pria. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. Sarung. tutup kepala. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. Kedua bayu bussuk siku. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. Selain memperlihatkan fungsi estetis. ada juga tas kecil atau sepu. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. celana atau sepa tallu buku. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. tali-tali biang. yang disebut sambuk langkan. atau tembaga dan. tali pang`kabi. Sementara itu. khususnya para sesepuh masyarakat. Sementara itu. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. leher. Berdasarkan fungsinya. lengan. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. dan passapo timbo. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. dan pa`toko. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. atau hanya disampirkan di bahu. yakni ikat kepala. sepu. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. mulai dari hiasan di kepala. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. atau pakaian pesta. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. sebagai bagian integral dari busana adat pria. Misalnya sambuk busa. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. yaitu hiasan pada sanggul. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. bahu. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. pakaian resmi. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. dan tali banu . keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. Selain itu. diikatkan di pinggang atau. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. perak. yakni . dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. manik kata. dan sarong atau tudung kepala. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. seperti di sawah dan membangun rumah. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Sama halnya dengan sarung. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. Selain itu. pinggang. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. Secara umum. yakni kalung yang terbuat dari emas. yang khusus digunakan pada saat bekerja. rara. Pertama bayu poko.

Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. Aktualisasi dari semua itu. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. dan Kerajaan Kaidipang Besar. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. busana bayi. Adapun keris atau gayang. Oleh karena itu. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. menghadiri undangan-undangan resmi. menerima tamu-tamu kerajaan. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. Pada masa itu. Bintauna. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. busana . Bolaang Uki. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow.

Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. baju atau baniang. Selain busana kebesaran seperti itu. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. sistem religi. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak.pengantin. serta kualitas bahan yang paling baik. Busana kerja guha-ngea. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. kuning. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. Sementara itu. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. celana dan sarung tenun. Sama halnya dengan busana kohongian. Secara umum. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Khusus mengenai perhiasan. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. Selain itu. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. Akan tetapi. serta kualitas bahan yang digunakan. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. ungu. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. busana simpal. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Pada umumnya. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. Ada . yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Di samping itu. Misalnya. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. keemaasan. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. Dalam hal ini. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. Dalam hal ini. detil busana. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. busana kohongian. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. Sedangkan menurut asal-usulnya. pengantin wanita maupun pengantin pria. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. serta aksesorinya. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh.

Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. dan hijau tua. Selain pada kelengkapan busana pengantin. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Hingga saat ini. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. kuning. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. hijau. serta berlengan panjang. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. Dalam hal ini. penduduk keturunan bangsa Filipina. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. antinganting. pada zaman dulu terbuat dari kain . kuning tua. Namun terlepas dari semua itu. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. ikat pinggang. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Khusus untuk ikat kepala. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). Nama busana tersebut adalah laku tepu. penasbihan desa. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. Sementara itu. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. yakni warna terang dan mencolok. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. atau merah darah. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. celana panjang. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. dan ikat kepala berbentuk segitiga. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. ungu. gelang. krah baju berbentuk bulat. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. Sementara itu. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Saat ini. peminangan. Khusus untuk selendang. serta selendang (bawandang liku). Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. Baju jenis ini. Namun saat ini. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu.

paporong datu bouwawina. paporong tingkulu. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. Selendang tersebut dinamakan kaduku. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Cara memakainya. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. yang disebut hulontalangi. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Sementara itu. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. . daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah.memiliki kedudukan di dalam masyarakat.

Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. Pada upacara ini. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). tetapi kerahnya berdiri tegak. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). merah. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. selimut (waluto). Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. kalau berbicara mengenai busana adat. kuning. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. hijau. Sehingga. ungu dan merah hati. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. disebut wolimomo. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. disebut hotu. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. oleh karena itu disebut sunthi burungi. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. celana panjang (talala) dan aksesori. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. . pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). seperti kuning. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. brokat atau bahan kain lainnya. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. kain sarung dan berbagai aksesori. hijau dan ungu. beludru. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. disebut hamsei. Seperti halnya baju. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu.

Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. selendang pinggang dan topi (porong). kalung mutiara (simban). Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Busana pengantin baju jas tertutup ini. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. kalung leher (kelana). Motif Mahkota pun bermacam-macam. disebut laborci-laborci. Busana kebesaran ini disebut biliu. berwarna hitam terbuat dari ijuk. tidak memiliki krah dan saku. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. Selain baju karai. Celana yang dipakai masih sederhana. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. disebut busana tatutu. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. seperti motif biasa. . aksesori dan perhiasan. Semua motif berwarna kuning keemasan. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. celana panjang. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. potongan baju lurus. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). terdapat juga sarong motif sarang burung. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. anting dan gelang. bintang. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. selendang pinggang dan kedua lengan baju. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. leher baju. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. disebut model salimburung. terdiri atas baju lengan panjang. Selain itu. memakai krah dan saku disebut baju baniang. sarong motif kaki seribu. berkancing tanpa saku. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. mahkota (kronci). yang terdapat pada hiasan topi. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde.

Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Sarung kedua untuk membalut baju. dan berkerah. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Umumnya. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. biru. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. Dilengkapi topi porong nimiles. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. selop. hanya saja lebih panjang seperti jubah. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. bheta. Sedangkan Walian Wangko wanita.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. yaitu langit dan bumi. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. juga untuk menyelipkan senjata tajam. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Sarung yang dipakai. yaitu terdapat kancing. hitam. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. saku. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Baju katango ini. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. sarung (bheta). Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. dunia dan alam baka. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. Warna baju umumnya putih. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. kalung leher dan sanggul. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu).

Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). selendang (salenda). Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Mahkota dibuat dari kain merah. tusuk konde (panto). gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. sarung dua lapis. yang disebut biru-biru. Dalam upacara ini. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. perkawinan misalnya. dan ikat pinggang (sulepe). Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. cincin dan anting yang terbuat dari emas. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. bheta. Tandaki adalah mahkota. anting-anting (dali). Sarung yang dikenakan ada dua. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). ikat pinggang. manik-manik. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). Selain itu. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Penulis Mira Indiwara Pakan . Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini.. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. kalung (tongko). Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). sarung berhias (bia ibolaki). dan sanggul. Pada upacara tersebut. gelang kaki (kurondo). Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. Agar sarung tampak kuat. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. dan ikat pinggang (sulepe). Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. dan perhiasan logam. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). perhiasan yang dipakai adalah gelang. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Selain pakaian sehari-hari.

Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. Secara fisik. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. Paling tidak. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Pada zaman dahulu. Ada golongan raja (maradika). Untuk keperluan pakaian sehari-hari. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. dengan jenis yang cukup beragam. Selain memiliki busana yang cukup beragam. Meskipun saat ini. Busana wanita Kaili. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. kalung panjang. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. dan budak (batua). perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. . Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. dan hiasan untuk penutup rambut. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. pending. dan baju pasua. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Pertama adalah unte tandu. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. baju gembe. Sementara itu. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. bangsawan (toguua mungana). tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. Biasanya. rakyat kebanyakan (todea). yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. Selain baju-baju tersebut. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Sementara itu. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. Oleh karena itu. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. kain fuya yang digunakan agak kasar. yakni baju poko. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. sekalipun itu tidak banyak.

Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. yakni kain sarung. yang dikenal dengan istilah mengayau. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Pada masa itu. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Namun bila akan bepergian. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Selain kedua unsur busan tersebut. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. Unsur yang pertama adalah sarung. ikat kepala dan kampuh.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. Secara historis.

umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Beberapa lembah yang terkenal, antara lain, lembah Baliem (Lembah Agung), Illaga, Dwart, Konda, Illu, Sinak, Mulia, Pas Valley dan Piet River. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926, sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat, yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege", artinya "Kami orang Baliem". Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya, di antaranya koteka (holim), yokal dan sali. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah, sejenis labu Cina. Buah labu yang sudah tua, dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi buah labu dikeluarkan, dikorek dengan kayu yang diruncingkan, kemudian dibersihkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Ketika dikenakan, agar tidak jatuh, penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem, terutama di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Jenis holim ini halus, berwarna kuning kemerah-merahan. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi, misalnya "uang merah" (eka merah). Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem, Ilaga, Tiom, Yalimo, Apalahapsili, Welarak, Kosarek, dan Oholim. Ada tiga pola penggunaan koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan, pria yang memakainya masih perjaka, belum pernah melakukan persebadanan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan, bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani, laki-laki sejati, pemilik harta kekayaan yang melimpah, memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja, keterampilan memipin, dan pengayom rakyat. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian, seperti waktu mengerjakan ladang, saat berada di honai, ketika berternak babi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu, upacara adat misalnya, mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi, disebut yokal. Biasanya yokal berwarna hitam, kuning, dan kemerah-merahan. Bahan pewarna tersebut

didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan, seperti mengerjakan kebun, menyiapkan makanan, memelihara babi, mengasuh anak, menjual hasil pertanian, bepergian, termasuk saat mengikuti upacara adat. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya, diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Seperti proses membuat yokal, bahan tersebut dijemur atau diasapi, setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis, misalnya saat ke ladang, ke sekolah, ke gereja. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Konon, karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani, sehari-hari atau saat upacara adat, antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan, dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Selain sebagai aksesori, noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga untuk membawa babi. Sedemikian besar fungsinya, sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya, antara lain: swesi, sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Siluki inon, topi dari bulu kuskus warna hitam, yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Sekan, gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Walimo yaitu hiasan dada, dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan, berderet-deret dan disusun rapi, puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung, atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Cipat, kalung berupa tali penangkal guna-guna. Wayeske, anak panah dan busur, senjata ampuh pria sejati Dani. Mul, semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati.

Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu, Marind, Asmat, dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian, bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats, Sawa Erma, Atsy, dan Pantai Kasuari. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya, masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat pinggang dari anyaman rotan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai oleh istri panglima perang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus, mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet, bulu bangau yang diikatkan pada

dan penyanyi pengiring upacara. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. panjangnya kira-kira 30 cm. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. pemimpin tungku (keluarga luas). Masyarakat Asmat. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. Sebagai kalung.lidi. Hingga sekarang. dan pemukul tifa. terutama kaum lelaki. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. Topi ini disebut juprew. terutama saat melaksanakan upacara adat. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. konon. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). disebut wisaper. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. . aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). dan biasanya disandang oleh panglima perang. sokmet masih dipakai pria Asmat. penyanyi. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. Sedangkan para lelaki memakai bipane. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. dan tombak. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. pergelangan tangan. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. pemukul tifa. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. pemukul tifa. tanpa membedakan status sosial. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). kepala adat. Pada kebudayaan Asmat. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. dan gelang yang dipakai pada lengan. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. subang penghias hidung. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). penyanyi. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. biasanya dipakai oleh panglima perang. dari bahan yang sama. masyarakat Asmat. panah. Kaum wanita Asmat. dan pangkal betis. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. kalung. Senjata ini diselipkan pada sinenke. disebut betan.

saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. yang dari besi dikenal sebagai sok. dari bambu dinamai firokom. Komposisi warna merah. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. Tombak kayu besi dinamai viwu. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. Warna hitam dari arang pembakaran. seperti relung kua yang bergambar burung. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. Agar lebih variatif. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat.Senjata lainnya adalah tombak. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Anak panahnya agak beragam. disebut vom. putih. sowen. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. yang dibuat dari kayu keras disebut fir.5 meter. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. dan tombak logam besi disebut frin. Konon. Penulis Aat Soeratin. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. . panjangnya sekitar 1. fum. Dan. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. hitam.

Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Pending untuk pinggang . Tutup sanggul atau kembang hong 9. Gelang 12. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Sari bulan 8. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Pagar tenggalung 7. Sepit udang 6. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Anting panjang 11. Kuntum cempaka 5. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Kembang goyang 3. Daun bambu 4.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Kembang cempaka 2. Kalung 10. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1.

pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. kain dan . Untuk perempuan. kenanga dan irisan daun pandan. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. kain sampin. Untuk pakaian pria. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. 2. 3. Selain itu. 6. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Tata Rias dan Hiasan: 1. Melayu Bengkalis Riau. dan songkok atau penutup kepala. Melayu Siak Riau dan lain-lain. 2. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). melati. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. busana ini terdiri celana. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. 5. 4. pakaian adat Indragiri.

busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. hijau.selendang. dengan leher baju berbentuk bulat. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. . Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. pakaian haruslah menutup aurat. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. sarung berwarna kuning. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik.

baju model jas tertutup.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. dan celana panjang. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. kalung dan gelang. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. . pending. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. sarung sebatas dengkul. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. kain selempang dan sarung. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. diletakkan ditengah-tengah sanggul. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita.

Baju Cele Kain Salele. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. 2. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. pesta.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. adalah pakaian sesehari kaum wanita. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. Pakaian ini bercirikan Islam. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. melayu. acara resmi lainnya. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. 3. Pakaian petani. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. 6. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. 5. 4. warnanya juga antara hijau dan kuning. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. kalung. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. • • • . Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1.

Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. jenis dan pemakaiannya. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. . dan karakter kuat. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Selain itu. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. Selain celana komprang dan baju pangsi. Menurut keterangan warga setempat. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Sebagian penggembala kerbau misalnya. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. Sebagaimana batik kebanyakan. semangat. ruangan. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja.

adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. celana hitam lebar. Model baju. Baju Taluk Balanga. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Pada masa lalu. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Baju Kubaya. kain sandang. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Salawar. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. Bagian depan terbelah dan diberi kancing.• • • • • Lampin. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. Dikenakan pula kain samping . Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. sesamping. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. baju hitam longgar. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. keris. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. jangka pendek tak dapat singkat. belah sampai ke dada tanpa kancing. dan tongkat. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. artinya ukur panjang tak dapat singkat. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. jangko singkek tak dapek panjang. namun secara umum terdiri dari destar. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. seperti penghulu dan bundo kanduang. Jenis pakaian ini bermacammacam. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab).

Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. lambak/kodek atau kain sarung. baju kurung. kata-katanya didengar. yaitu kalung kuda. kain sarung. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Lambak atau kodek. sarung bugis ataupun kain pelekat. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Khusus pada pakaian penghulu. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Seperti juga pada pakaian penghulu. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. sementara selendang tersampir di bahu. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. batik. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. merah. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Kaum prianya. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. kalung pinyaram. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Kalung dari beberapa macam. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. seperi kalung. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. kain selempang. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). kalung gadang. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. gelang bapahek dan gelang ular. anting-anting serta cincin. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Pakaian sehari-hari Para wanita. Baju kurungnya berwarna hitam. Variasi lain dikenakan tengkuluk. dan kalung kaban. dan selendang pendek. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- .

Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. perikehidupan serta ungkapan budayanya. disebut sokgumai. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Selain kabit dan sokgumai. Budisme. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. binatang atau manusia memiliki roh. peristiwa. Islam dan Barat. Pagai Utara dan Pagai Selatan. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen).baiknya. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Sipora. bertanggan naik. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). lepas pantai propinsi Sumatera Barat. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. pimpinan atau anak buah. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. penutup aurat. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian.

diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. bergantung pada kalung depan dada. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. gelang-gelang. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Tato adalah busana kebanggaan. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. biasanya merah. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). lei-lei . Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. suatu kegiatan perdukunan. ogok. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. rakgok. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. cermin raksa. mulai dari busana sampai dengan . pakalo. Lalu disusul dengan tangan. sejenis subang pada kedua telinga. kuning. Selain itu tato. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. putih dan hitam atau hijau. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. ikat pinggang dari lilitan kain polos. Ikat kepala ini dinamakan sorat. dada. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. bunga-bungaan dan daundaunan. terbuat dari gelas berwarna merah. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. paha dan pantat. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Tato merupakan simbol kejantanan.

gelang ikol dan keroncong. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. ikatan serdang dan sebagainya. berseluar (celana panjang) dan bersamping. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. renda. gogok rantai lilit. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. mastura. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Pakaian ini tidak memakai selendang. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. cincin bermata. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. Gelang juga dipakai pada kaki. sutera. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Diberi hiasan gerak gempa. . Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. gelang kana. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. kain bertabur atau destar. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. rantai serati. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. sekar sukun.perlengkapan perhiasannya. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. dari bahan brokat (kain senduri). Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket.

Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Pada suku Batak Toba. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. Untuk tutup kepala disebut saong. sabesabe atau detar. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. mereka memakai pakaian biasa. kain dan ulosnya. Muangthai dan Laos. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Misalnya ulos jugia. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. dan dilengkapi dengan sarung suji. Sebelum orang Batak (Toba. sadum. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Dalam keseharian. bagian bawah disebut haen. ragi hotang. khususnya pada ikat kepala. dilengkapi dengan sarung. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. ragidup. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Karo. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. dan runjat. baju dan celana. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . serta tutup kepala yang disebut saong. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. dipakai hingga batas dada. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. bulang-bulang. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. tanpa alas kaki. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat.

Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Pada masa dahulu. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. dan dililit dengan ulos ragi hotang. Pada masa lalu. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Baju. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Pada masa lalu. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Baju Godang mengandung makna keagungan. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Pada suku bangsa Batak Simalungun.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Untuk selendang pengantin. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Bulang terbuat dari emas. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Bulang terdiri dari tiga macam. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. tergantung selera pemakai. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas.

biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. Bagian bawah . yaitu anting logam besar. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. merah dan putih. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). yang disebut takula. Sementara itu. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. aya ba mbagi bobotora. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. dan saro dalinga. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. Selain itu. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. tanpa busana atas (baju penutup dada).Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. busana kaum laki-laki Nias. Untuk upacara. terbuat dari daun palem. Ada juga tutup kepala. yang berwarna merah. dan hitam. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. perak atau emas. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. yaitu baru lema`a. kuning. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. rotan dan pelepah kelapa. khususnya busana kaum prianya. Untuk menghadiri upacara adat. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. yaitu baju dengan motif kulit harimau. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja.

sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. Sebagai kelengkapan busana upacara. Apabila di masa lalu. Gela gela dan tali hu. tampak adanya unsur-unsur Melayu. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Warna hitam. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. Demikian pula rai ni woli woli. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. kuning di bagian depan. Lembe. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. kuning. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). Dalam busana pengantin ini. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. Selembar ondora. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas.busana wanita Nias disebut mukha. Selain itu. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. Fondruru ana`a. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. Busana pengantin Nias secara� keseluruhan pun nampak sederhana. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). kala bobu. terbuat dari . yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. yang disarungkan arah ke kiri. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. separuh leher dan lengan. merah. sebelum mengenal pengaruh luar. masih ada bola-bola. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang).lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang.

Berbeda dengan busana kaum pria. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Untuk bagian dada. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. kembang goyang. dan gelang kaki untuk bagian bawah. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. jurai. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. tusuk sanggul. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. Dalam kehidupan sehari-hari. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. Untuk menghadiri acara formal. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Dalam pandangan masyarakat Riau. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. sanggul biasa atau sanggul dua. meliputi juga kelengkapan kepala. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. . satin atau sutera. Meski fungsinya sama. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. sering pula digunakan kain tudung kepala. sepit rambut. cincin yang terbuat dari emas. gelang tangan. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. antinganting. Selendang tidak mutlak dipakai. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending.

orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. Sumatera Selatan. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. propinsi Jambi. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. begitu juga dengan perhiasan. seperti Riau. dan sebagainya. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. karena ia mendapat julukan raja sehari. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. tangkai clan bunga yang akan mekar. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Bagian pinggir . kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut.

sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. bunga matahari. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. dan pucuk rebung. Tutup dadanya disebut teratai dada. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. kembang tagapo. Konon. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Kalungnya terdiri dari tiga . Bunga cempaka. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. seperi pohon beringin. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. bunga matahari. kembang cempaka. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. bungo runci. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. clan bunga pandan. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan.

dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. gelang ceper dan gelang buku beban. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Kesemuanya di pasang di lengan. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. pending dan sabuk (ikat pinggang). Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. kecil dan besar. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. kecuali bagian leher sebelah depan. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). Penulis : Dewi Indrawati . Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. Terlebih saat menuai. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. khususnya yang dikenakan para gadis.jenis. selendang. Selebihnya polos. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. yaitu kalung tapak. Masih ditambah dengan gelang kano. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. yang disebut baselang atau pelarian.

Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. celana panjang. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. . biru tua. Jambi dan Riau. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. bertabur corak-corak. lembayung atau hitam. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. dipadukan dengan tusuk konde. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. cokonde balon. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. sarung. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. menyentuh bahu. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki.

seperti perkawinan. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Bugis atau batik Jawa. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. Alas kaki memakai selop bersulam emas. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. Bagian bawah mengenakan senjang. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. kain tenun bersulam benang emas yang indah. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Kain ini dibuat oleh wanita. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Pada penyelenggaraan upacara adat. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Bahannya dari kain batik.

Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Selain itu. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Dikenakan pula kalai kukut. seperti perkawinan kaum wanita. Selambok/rattai galah. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Pada waktu mandi di sungai. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. kecuali saat pergi ke ladang. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. perak atau suasa diberi mata dari permata. Untuk menghadiri upacara adat. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. menyanggul rambutnya (belatung buwok). Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. memiliki bentuk seperti baju kurung. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. Khusus bagi wanita yang baru menikah. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Selain itu. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. kain ini dipakai sebagai kain basahan. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. Kelai pungew. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. juga dapat dikenakan selekap balak. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher.dililitkan.

Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. atau Eropa. atau Betawi. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. atau jembio. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. serta diberi tumpal benang emas. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Indramayu. Cina. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. tumbak lado. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. dan memakai kantong terawangan. Lasem. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Sebagai pakaian sehari-hari. baju (kelambi). disulam. rambi ayam. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. India. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). suasa. perak. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). atau tembaga yang dilapisi emas. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. dan ukuran celananya lebih lebar. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. yang terbuat dari kain yang ditenun. maupun diperadan. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. diberi pinggiran benang emas. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Pelengkap busana yang lain adalah keris. celana yang panjangnya sebatas lutut). atau membeli bahan baju dari Jawa. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. seperti keris. memakai kantong biasa. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. Ada juga yang diberi batu permata. . Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Badong yang terkenal disebut badong jadam. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. badeek. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. iket-iket atau kopiah (kopca). atau perak dengan tatahan bermotif bunga. terbuat dari kain yang ditenun. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. terbuat dari suasa. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya.

Semakin halus songket yang dimilikinya. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . Cina. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). dan terompah atau selop. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. yang dikenakan pada kepala. atau las. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. India. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). kamhar. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. dada. dan tutup kepala (tengkoolook).Pada saat akan bepergian. dan Singapura. Pada masa lalu. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. rambut disanggul. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. berasal dari Jawa). rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. dan dahi. Sebagai pakaian sehari-hari. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. bahu. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot.

warna hitam atau putih. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. Adapun masyarakat Cirebon. Sama halnya dengan kebaya. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Sebagai penyambung belahan kebaya. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. polekat). demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Pada masa pemerintahan Belanda. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. . Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. digunakan peniti. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng.Dari masa ke masa. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. baik di Priangan maupun di Cirebon. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. Zaman dahulu. Di kalangan istri pembesar. dilepas sampai pergelangan kaki. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. Yang membedakan keduanya adalah. dan dihiasi dengan pasmen. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. mereka lebih suka memakai kain batik halus. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. Adakalanya dikerudungkan. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan.

untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. ali meneng.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. Untuk alas kaki. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Dengan demikian. gelang emas dan giwang emas. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Dalam berbagai kesempatan khusus. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. namun kini sandal. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. gelang bahar. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya.

Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Agar kuat dan tidak melorot. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. kecamatan Leuwidamar. Semuanya itu tabu (pamali). Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. yaitu Baduy Luar. Oleh karena itu. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. yaitu tangtu Cibeo. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. mereka berasal dari satu keturunan. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Barangbarang "modern" seperti sabun. piring. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. . seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. Bagi suku Baduy Luar. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. kosmetik. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. radio dan televisi. sarung tadi diikat dengan selembar kain. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. Lebak. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. tingkat umur maupun fungsinya. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. Potongannya tidak memakai kerah. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Tak ada listrik. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. yang memiliki keyakinan. desa Kanekes. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. model maupun corak busana Baduy Luar. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Baduy Dalam. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. Penduduknya menjaga. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai� � � budaya� � � warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. model dan warnanya saja. Melihat warna. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. cita-cita. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. tingkah laku. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Baduy Dalam. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Mereka tidak memakai celana. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. Dalam pandangan suku Baduy. dengan ciri sub dialek Banten.

sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. Memang. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. yang dipadukan dengan warna merah. Bagi wanita yang sudah menikah. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. kecuali baju adalah sama. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. kain wanita. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. Sedangkan. baju. selendang dan ikat kepala. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy.20 cm dan dililit dengan . Untuk pakain bepergian. Dimulai dari menanam biji kapas. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Dari model. karembong. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. Selain itu. kain ikat pinggang dan selendang. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. sedangkan selendang berwana putih. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. biru. kemuduan dipanen. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . potongan dan cara berbusananya saja. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. Model.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. potongan dan warna pakaian. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. biru tua dan putih. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. kain sarung. dipintal.

bagian bawah baju sangat bervariasi. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. baik dari bahan satin ataupun beludru. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Tuaki. Aslinya adalah emas. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. kubah mesjid dan lain sebagainya. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Mengenai tata rias wajah. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. panjangnya sebatas pinggul. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. karena aslinya terbuat dari emas. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Bagian jubah ini. Padanan tuaki adalah kun. Dari ragam hias geometris. atau bahan perak. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Sebagai alas kaki. tidak ada yang khusus. Selain yang bercadar. Di atas Siangko bercadar ini. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. yaitu model shianghai (Cina). mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi.sorban kain. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. terbuat dari manik-manik. kehidupan dan kematian. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. dan model baju kurung (Melayu). Biasanya dihiasi batu-batu permata. Panjang cadarnya 30 cm. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Tuaki bentuk baju kurung. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. warna putih. Panjang lengan agak longgar. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. yang agak longgar dan besar. Siangko bercadar selalu berwarna emas. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. bunga-bungaan. Motif-motif hiasan emas. Namun. bunga-bunga sampai motif burung hong. daerah sekitar dada. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Teratai. Warna-warna cerah yang dipilih. gading atau kadang-kadang kuning. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Sebelum mengenakan jubah.

sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. Selain sunting. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. Busana pengantin rias bakal. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. sarung songket. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. bros dan untaian melati. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. Gelang listring dan gelang selendang mayang. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. celana panjang. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. Seperti misalnya di daerah pinggiran. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. Sementara itu. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. atau mute. gelang bahar. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. selendang dan celemek. Namun saat ini. Penulis Endang Mariani . serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. sejahtera dan bahagia. Nabi Besar Muhammad SAW. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. pisau raut. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Sebelum rerurub atau ruruban. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Selain perhiasan untuk kepala. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. kuat seperti pohon kelapa. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute.

Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Oleh karena itu. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. brokat. Panjangnya kebaya bervariasi. ketiak dan punggung. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. Sedangkan. Dewasa ini. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini. nilon. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. lurik atau bahan-bahan sintetis. hijau. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. kain sunduri (brocade). baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. sutera yang berbunga maupun . kuning. seperti pada upacara adat misalnya. putih.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. cincin. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. Jawa Tengah adalah baju kebaya. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik.

Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Kepulauan Sumbawa. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. cincin. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. Sedangkan. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Kalangan wanita di Jawa. brokat. ikat pinggang besar. Dewasa ini.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. serta dua buah lengan baju. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. keris dan alas kaki (cemila). Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. panggih dan sesudah upacara panggih. pada kepala memakai destar (blankon). kain samping jarik. Dalam adat busana perkawinan misalnya. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. daerah pantai Kalimantan. Sebab. sutera maupun nilon yang bersulam. Sedangkan busana di kalangan pria. Sedangkan. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. stagen untuk mengikat kain samping. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Selain kain lurik. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). ungu dengan hitam. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. Pada upacara midodareni. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. ijab. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. yaitu midodareni. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. Jawa Tengah. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. perhiasan yang dipakai juga sederhana. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka.nilon yang bersulam. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. biru sedang dengan hitam. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Namun pada saat upacara perkawinan. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. baju lengan panjang. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Potongan dan model kebaya Jawa. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Bali dan Madura. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju.

Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. dodot bangun tulak atau kampuh. . keris warangka ladrang dan selop. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. stagen. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. stagen dan selop. sabuk timang. Pada upacara panggih ini. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. selop dan perhiasan kalung ulur. kain jarik. kalung. bros. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. dalam busana adat perkawinan. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. yang terdiri dari baju atela. kain jarik. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. bros dan buntal. sabuk timang. sikepan. basahan. yang melambangkan kesuburan. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. naga). celana cinde sekar abrit.warna sawitan. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. kolong karis. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. centung. subang dan timang atau epek. Sama halnya dengan pengantin wanita. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. timang/epek. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. yang terdiri dari kuluk kanigoro. Fungsi pakaian. gelang. ikal rangkap dan pilin ganda. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. cincin. keris dan selop. Sedangkan kain sido mukti. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. dodot bangun tulak. Bagi pengantin pria. pengantin wanita memakai busana kanigaran. jungkat. mata. Sebagai kelengkapan. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. cincin. stagen. kerbau. baju takwo. stagen. melati) maupun alam dan manusia. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. epek. hewan (misal : burung. pilin. ular. kain jarik. terdiri dari kuluk matak biru muda. celana panjang warna putih. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. berupa dodot bangun tulak. dodot bangun tulak. sabuk timang. keris warangka ladrang. pada upacara setelah panggih. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. swastika (misalnya bintang dan matahari). Sedangkan bagi pengantin wanita. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. misalnya untuk menutup aurat. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Saat upacara ijab. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. keris warangka ladrang dan selop. udeng. Busana basahan adalah tidak memakai baju. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. alis. yaitu terdiri dari baju kebaya. pipi dan bibir.

bagian tengah. Oleh karena itu. kapan dikenakan. dan bagian bawah. dan status sosial pemakainya. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. di man dikenakan. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . dan saat bepergian. saat bekerja. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. dan sebagainya). yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. Namun demikian. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap.Pada masyarakat di Jawa Tengah. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). Dalam perkembangan selanjutnya. . Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. usia. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. fungsi estetis. religius. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. dan siapa yang mengenakannya. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. dan status sosial. Sejalan dengan perkembangan zaman. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. sosial dan simbolik. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. estetis. serta bagian bawah berupa alas kaki. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta.1945). yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. usia. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. konde. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya.

gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. memakai lonthong tritik. dan cincin. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. baju katun. tingalan dalem tahunan. serta sedan (pemakaman jenazah raja). karset. ceplok. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. berfungsi sebagai penutup dada. kalung dinar. pethat jeruk sak ajar. atau merak. Agustusan. lonthong tritik. gelang. kampuh konca setunggal. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. yang khusus dikenakan para putra Sultan. semekan tritik. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). cincin. burung garuda. Sebagai perhiasannya adalah subang. dan keris branggah. jumenengan dalem. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. lonthong tritik. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. timang (kretep). serta mengenakan perhiasan berupa subang. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. supitan. jumenengan dalem (penobatan raja). dan perkawinan. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. Kainnya bermotif parang. rante. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. kamus songketan. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. serta sapu tangan merah. baju surjan. dana cindhe gubeg. kain batik. lonthong tritik. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. baju kebaya katun. Perhiasannya berupa subang. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. Penulis Dewi Indrawati . maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. gelang. garebeg. atau gringsing. kain batik dengan wiru di tengah. moga renda berwarna kuning. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. baju kebaya katun. perkawinan. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. timang.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. kanigaran. kamus songketan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. tanpa baju. dan kaprajuritan. tingalan dalem tahunan. kamus.

Berbeda dengan rakyat kebanyakan. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. status sosial maupun kegunaannya. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. Pada masa sekarang.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Perbedaannya adalah pada odheng. Warna hitam ini melambangkan keberanian. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. jenis kelamin. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Garis-garis tegas merah. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. terutama kaos bergaris yang digunakan. yaitu hitam dan putih. Jaman dahulu. dalam menghadapi segala hal. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. di dalamnya. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. bera` songay atau toh biru. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. Perlengkapan busana . tutup kepala yang dikenakan. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Sebenarnya. Dalam penggunaannya. teguh dan keras. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Sebaliknya para nelayan. Kalangan pedagang kecil. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. baju pesa`an.

Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi.5 meter. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. Harnal bubut dari emas. Arloji rantai acap digunakan. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Sementara di daerah Madura Timur. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. kuning atau hitam. storjan atau lasem. kemudian digelung sendhal. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". serta pemakaian penggel. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. bermata selong dengan . maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. sabuk katemang. pemberani. Sebum dhungket atau tongkat. Bentuknya seperti busur. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Pada saat menghadiri acara resmi. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Bentuknya agak bulat dan penuh. bermotif modang. Pada odheng peredhan. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Untuk penguat kain digunakan odhet. garik atau jingga. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. keduanya terbuat dari emas. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Warna biasanya merah. biasanya disisir ke belakang. juga memiliki daya tarik yang unik. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Semakin miring kelopaknya. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). jam saku. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. stagen. motif maupun cara pemakaian. Odhet adalah semacam stagen Jawa. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. Sementara itu.seperti sap osap (sapu tangan). Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. serta bersifat terbuka dan terus terang. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). terbuat dari tenunan bermotif polos. Adapun cucuk dinar. mulai dari kepala sampai kaki. jepit kain. pada odheng tongkosan kota. baik dari ukuran. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). dulcendul. Rambut wanita Madura itu sendiri. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura.

Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. telinga. Mata dihiasi dengan celak Arab. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. kiri atau dahi. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. leher. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. bahkan lebih. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Warna gelap dan tidak bermotif. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. terbuat dari emas dan bermotif polos. Tergantung kemampuan si pemakai. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Namun. penggel adalah salah satu yang paling unik. digunakan gelung mager sereh. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. Rambut wanita muda digelung malang. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. tangan dan kaki umumnya kecil. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Bentuknya sama dengan gelung malang. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Bahan kebaya biasanya beludru. namun adapula yang mencapai 100 gram. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Saat ini. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. digunakan peniti dinar renteng. Semakin banyak jumlah dinarnya. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Alas kakinya berupa selop tutup. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Sebuah tutup kepala. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani .

Sementara itu. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. kemudian digantungkan di pundak. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. Probolinggo. di Jawa Timur. kain wiron dan udeng. celana panjang warna gelap dan selempang . seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. yaitu upacara adat kasada dan karo. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. termasuk wisatawan. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. sebagaimana yang digunakan di Jawa. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Dalam hal berbusana. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Cara lain yang sangat khas. Untuk bekerja. Masing. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. sehingga yang terlihat hanya mata saja. jas tutup warna gelap. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. memakai kaos oblong. Malang. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Setelah disarungkan pada tubuh. Keluhuran budi.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Kedudukan seorang dukun. yaitu : Lumajang. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Pengaruh Hindu . Di bagian dalam. Setidaknya ada dua upacara besar. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . Cara ini disebut Sempetan. berwarna hitam. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Cara ini disebut kakawung. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Saat bertamu. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. baju warna putih. genta dan talam. yang disebut sampiran. dengan segala perlengkapannya. Udeng dan sarung tidak tertinggal. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. dan Pasuruan.

Berdasarkan warna. kuning. sedangkan warna merah tidak terlihat. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. maupun putih dan ke arah krem. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. Demikian pula pada kaum pria. kemben bukanlah penutup dada. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. saput dan kemben. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. berupa kain pembalut tubuh. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan.panjang warna hitam batikan. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. dari segala jenis usia. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. yaitu putih susu atau kuning muda. Adapun pada geringsingan barak atau . Namun. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. sabuk. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. mereka sebut potongan Jawa. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. Untuk kebaya berlengan panjang hingga pergelangan tangan. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Selempang pun ada yang berwarna hitam. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. hitam dan merah. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. disebut potongan Bali. perada. Menurut sejarah. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. endek. Setelah ujub upacara. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Songket. maupun dari kasta manapun mereka berasal. Pada masa lalu. Kemben. baik untuk pria maupun wanita. saput dan anteng. Bagi wanita Bali. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga.

di balik kemben. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. Bagi kaum pria. cecepakan. Untuk menahan kapuh. Berdasarkan corak busana yang dipakai. dari bahu ke bawah. patlikur. wayang putri. tampak tiga warna dominan. Sementara itu.geringsing merah. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. serta cincin. seperti India (patola). sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. Secara keseluruhan. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. yaitu nista. cemplong. Dalam upacara perkawinan. bebekeng atau pending. seperti kenanga. Selain warna. yang disebut umpal. merah dan hitam. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. Gelung kucir. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. madya. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. juga dibedakan menurut ukurannya. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. Cina. Untuk tingkat utama. Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. Geringsing sabuk. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. dan sebagainya. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. seluruh busana dibuat dari bahan perada. Sementara dalam tata busana. cempaka putih. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. cempaka kuning dan mawar. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. Wanitanya memakai kemben songket. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. tidak ada perbedaan yang menyolok. untuk hiasan kepala atau petitis. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. Penulis Endang Mariani . gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). kebo. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsurunsur ragam hias dari kebudayaan asing. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. yaitu kuning muda. lubeng. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. kain geringsing.

baba = lakilaki) untuk laki-laki. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. juga dari kain yang sama. Sebagai busana bawahnya. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. celana. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. tak jarang. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. putih. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman.Busana Tradisional Dayak Taman Penulis Aat Soeratin. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. baju. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. dari bahan yang sama dengan baju. Dulu. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. untuk koleksi cendera mata. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. . warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. kulit kerang atau keong kecil. Kini. merah muda. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. clan sebagainya. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan.

Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. maupun kambu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. kaum wanita clan para pria memakai poosong. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. sehingga nampak sangat unik dan khas. tak mengherankan. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. gelang-gelang. disebut tajuk bulu aruae. Sebagai pelengkap busana. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah . Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. tapi kini hampir tak ada lelaki. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. juga sangat sedikit para perempuan. antara lain. Kalung ini dipakai saat upacara adat. atau batik. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Maka. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. penghias leher.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar.Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai.6 cm. 1 cm. Misalnya saja kalong manik pirak. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. atau semacam rumput. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. dengan ketebalan. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. yang dianyam menjadi bentuk topi. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. atau kaca. indulu manik. Dibuat dari logam perak clan rotan. Ada beberapa macam kalung. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. jelas. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Dikenal. dibutuhkan kesabaran. lebih-kurang. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. hitam atau kuning. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. kalung. menggelayut. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. ketelitian. yang memakainya. perak. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. topi atau kopiah. pada masyarakat Dayak Taman. perunggu/tembaga. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. subang penghias telinga.menjadi bentuk kerawang. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Dulu. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. dan sebagainya.

bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. baju burai king burai clan baju manik king manik. agaknya. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. dewasa. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. clan berlengan pendek. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. . Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung.gelang pada bagian lengan di atas siku. kiri clan kanan. clan orang tua. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. dan wanita lanjut usia. Terutama baju burai king burai. Sekarang. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. Dahulu. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku.

belini dan friend ship. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Baju ini berkancing lima biji. dominan warna kuning. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. dan krem. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. berbentuk segi tiga. hanya tanpa saku.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Banjar People Traditional Dress Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Bahan baju dari kain lena. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). lurus tanpa kantong. Alas kakinya ada berbagai jenis. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). yaitu sandal kalipik. Motif ini melambangkan sikap waspada. satu di dada kiri. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. ekstrimin. baju kiyama. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). sandal tali silang. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. tanpa kantong. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Lengan baju sampai pergelangan tangan. kuning muda. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Dilengkapi kantong tiga buah. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. dua di bagian bawah kiri dan kanan. yaitu lam jalalah. Kantongnya ada tiga buah. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. seperi biru muda. kain Pagatan. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Pasangannya digunakan tapih. dan jenis lain yang . yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. dan jenis lain yang agak tebal. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. yang lazim disebut tapih kaling. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. salawar kiyama dan sandal silang. Menjadi aturan. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. dan selop. Ada dua pilihan sabuk.

Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. bunga jepun berbentuk jepitan.agak keras. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. bunga melati yang diatur berbaris. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. dengan segitiga lebih tinggi. kalung. untaian metalik. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. sabuk pinggang warna emas. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Cincin dari bunga mayang. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. . Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Kaki mengenakan selop dari beludru. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Perhiasannya berupa samban. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. dan air guci. terdiri dari daun sirih. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. dan untaian bunga warna keemasan. untaian bunga depan dan belakang. bunga mawar merah dan bunga melati. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. kalung bermotif bunga-bungaan. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Pagatan. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful