Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-

kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manikmanik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus - motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar, menggelayut, sehingga nampak sangat unik dan khas. Ada beberapa macam kalung, penghias leher, pada masyarakat Dayak Taman. Misalnya saja kalong manik pirak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang, kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki, tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dikenal, antara lain, dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak, ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat, seperti galang bontok yang dibuat dari perak, galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan, galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas, dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku, kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang, bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik, clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan, masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan, baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek, clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju

Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. clan orang tua. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. dan wanita lanjut usia. . Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. clan berlengan pendek. baju burai king burai clan baju manik king manik. Sekarang. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. dewasa.kuurung sesungguhnya sudah tua. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. agaknya. Terutama baju burai king burai. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Dahulu. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita.

.

yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. yaitu sandal kalipik. belini dan friend ship. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Menjadi aturan. Pasangannya digunakan tapih. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. yang lazim disebut tapih kaling. yaitu lam jalalah. sandal tali silang. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). kain Pagatan. kuning muda. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. seperi biru muda. dominan warna kuning. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. satu di dada kiri. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. salawar kiyama dan sandal silang. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. baju kiyama. berbentuk segi tiga. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Ada dua pilihan sabuk. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. hanya tanpa saku. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Alas kakinya ada berbagai jenis. lurus tanpa kantong. ekstrimin. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). dan selop. dua di bagian bawah kiri dan kanan. tanpa kantong. Motif ini melambangkan sikap waspada. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. dan krem. Dilengkapi kantong tiga buah. Kantongnya ada tiga buah. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. dan jenis lain yang . Baju ini berkancing lima biji. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Bahan baju dari kain lena. dan jenis lain yang agak tebal. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an.

dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). bunga jepun berbentuk jepitan. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Perhiasannya berupa samban. kalung bermotif bunga-bungaan. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Kaki mengenakan selop dari beludru. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. . Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan.agak keras. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. kalung. dan untaian bunga warna keemasan. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. terdiri dari daun sirih. untaian metalik. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. untaian bunga depan dan belakang. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. bunga melati yang diatur berbaris. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. bunga mawar merah dan bunga melati. sabuk pinggang warna emas. dengan segitiga lebih tinggi. Cincin dari bunga mayang. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Pagatan. dan air guci. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan.

Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. giwang dari kayu keras. menjadi corak hias busana adat.misalnya upacara tiwah. warna asli kayu. misalnya. kalung. bunga. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. Akan tetapi naluri berdandan. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. Biji-bijian. dan ahli pengobatan. warna hitam dari jelaga. panglima perang. harimau akar. warna putih dari tanah putih dicampur air. . manusia. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). yang bermakna sangat filosofis. lalu tenunan serat alam yang "kasar". untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. Misalnya saja. yang cenderung animistik. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . yang disebut ewah. kepala suku. selain tampil artistik. para tetua adat. warna kuning dari kunyit. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Selain itu. dan sebagainya. sehingga kesannya sangat alamiah. pun punya makna simbolik. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. Awalnya kulit kayu. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring.berbeda untuk perempuan dan lelaki . warna merah dari buah rotan. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. kemudian kain tenun halus. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. gelang. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . giwang (suwang). Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. dan sebagainya. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. tak diberi hiasan. upacara meminta hujan. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. kulit kerang. burung. dalam kepercayaan Kaharingan. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. dedaunan. Busana itu berwarna coklat muda. ketika dikenakan. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. akar pohon.bagi para pemuka kelompok. Celananya adalah cawat yang. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. tak pula diwarnai. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan.

Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. juga dari beludru atau satin. Busana pengantin. disebut salui. Dan kini pucuk rebung. satin. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. kayu. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. tampil pula dalam ekspresi yang lain. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. celana . dan aplikasi manik-manik dan arguci. keramik. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. celana. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. dan mitologi. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. untuk kostum tarian. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. Betapa tidak. kostum taritarian. model baju pria Melayu tapi berkerah. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. dan bagian dada. fauna. akar tumbuhan. pakaian acara-acara adat. Pada kerah. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. koleksi museum. dan kelengkapan lainnya. Celananya disebut selawar gobeh. Akan tetapi. Teknik menenun. kebanyakan dibuat dari kain beludru. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. dan tulang. dan sebagainya. sumpit. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. awan.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Selain untuk aksesori. Mereka kemudian melirik rotan. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. jenis rumputrumputan. lawung bawi. batang garing. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". dari kain satin atau beludru. jalinan serat alam. manusia. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. ujung lengan baju. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. konon. Masyarakat Ngaju. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. ular. ikat kepala. atau sutra. atau cendera mata. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. dan anting-anting atau suwang. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. dan tombak. diberi hiasan. berhiaskan gambar pewarna alam. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. burung enggang. umpamanya saja. Paduannya rok panjang sebatas betis. harimau akar.

panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Penulis Aat Soeratin . Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.

Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain. dari bahan katun untuk baju. umur. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. pakaian pesta/upacara adat. Akan tetapi kini. Saat upacara pernikahan berlangsung. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. dan sebagainya. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara. dihiasi gerak . Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. antara lain. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing. masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. berdasarkan fungsinya. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis. berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. mempelai wanita memakai baju takwo. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. disebut jelapah. yang dipakai sehari-hari. yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai. linen. sebagian diantaranya. Busana tradisional Kutai. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. atau kain sarung pelekat. dipakai oleh kaum lelaki. Dahulu. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya. semacam kebaya tidak berkerah. baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. namun tidak tembus pandang. celana. dari kain batik. sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput. Jika bepergian memakai ikat fepala. mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. pakaian bepergian. destar. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Agar tampil rapi. masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. Akulturasi itu. Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka. pakaian kerja. masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina. dan diberi kerudung ketika bepergian.Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. kain panjang. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul. atau beludru. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. Baju pelembangan. salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun. yang modelnya seperti piyama. dan status sosial pemakainya. jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari.

Tenggarong. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. terutama di desa Tanjung Isuy. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. semacam lencana. yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. kopiah. bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. leher baju. fauna.gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. dipadukan dengan celana panjang. Di bagian depan sentorong dipasang wapen. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. . Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. dan warna coklat muda. Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. dan alam mitologi. dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen. dipadukan dengan celana panjang. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. sarung. dan sebagainya. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput.5 meter dan direndam di dalam air. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Alhasil. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. baju. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. hitam. dan Lempunah. serta sebagian di Kec. bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. diimbuh hiasan kembang gempa. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar. Motifnya stilasi dari bentuk flora. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. Muara Nayan. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Pada bidang yang berwarna terang. Pentat. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna.

Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat. dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Maknanya. memakai cawat. kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. sedang nguku berarti berarak. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat. kain panjang yang berhias pada ujungnya. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. taring binatang buruan. dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. upacara panen hasil bumi. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik. diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. taring beruang. bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. manik-manik. dan sebagainya. Kini tak ada lagi raja. Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. upacara pengobatan. hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi. Pada pinggang dililitkan sempilit. misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). kepala suku. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Atau motif waniq ngelukng. . Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. taring harimau dahan. dan tanpa alas kaki. Jautn berarti awan. dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana.Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. Misalnya motif jautn nguku. baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang.

taring binatang. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. dan uang logam kuno. ragam hias. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. . Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. biasanya terbuat dari logam. Busana adat. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam.

berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. dan ikat kepala. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan.upacara adat. celana panjang. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. Sementara itu. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. serta kain panjang. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. upacara injak tanah atau joko kaha. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. pembantu permaisuri. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Sementara itu. Sudah tentu. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. anting dua susun. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. atau diselaraskan dengan usia mereka. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. . baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. remaja contohnya. serta alas kaki yang disebut tarupa. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. berikut toala polulu di kepalanya. Selain busana adat yang disebutkan tadi. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Di samping itu. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Tidak lupa. ujung tangan. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. berlian. baik sebagai permasuri. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. leher jas. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. dan peniti yang terbuat dari intan. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. oranye. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Selain itu. atau emas. bros. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka.

Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. celana dino. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. . yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah.Busana kerja dalam keadaan bersih. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. lengkap dengan lengso duhu. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. dan celana popoh. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. Adakalanya. Sama halnya dengan busana wanita.

atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. dengan leher agak tertutup. kole. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. Jenis busana lain. Bila mereka akan bepergian. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. lengkap dengan kain pelekat. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Dilengkapi dengan kaeng pikol. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. Celana kes atau hansop. Keberadaan busana adat Ambon. Bila akan bepergian. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. dipakai .Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. lenso pinggang. kebaya hitam. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. Kebaya manampal. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Mereka biasanya mengenakan baju cele. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. dan celana panjang. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. Walaupun model bajunya sama. khususnya dalam upacara sidi. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing.

sepatu berwarna putih. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. patala di pinggang. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. celana panjang atau celana Makasar. Busana raja terdiri atas baju hitam. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. pembersihan negeri. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. dan kaus tangan berwarna putih. lenso bodasi dililitkan di leher. celana hitam. . busana rok. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. dan topi. salempang. patala disalempang di dada. penerimaan tamu. ikat poro atau ikat pinggang. bersepatu dengan kaus kaki putih. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing.

itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. Saat ini. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. dan sebagainya. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. somalea. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. pelepasan arwah. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Kalaupun ada yang masih mengenakannya.terbatas pada gelang atau bel usu. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. yaitu anting-anting. upacara-upacara gerejani. yakni sinune dan somalea. yang berlengan pendek maupun panjang. pernikahan. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. Misalnya. Kalaupun ada yang mengenakannya.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. Bahkan. yang menggantung dengan indah di telinga. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. memakai rantai maupun tidak. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. belusu. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. Artinya. dan hitam. Meskipun begitu. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. . Misalnya noras aboyenan. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. Pada masa lalu. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. berbagai kalung atau ngore. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. serta lean. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. meliputi sinune. penghormatan jenazah. dan lekbutir. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. ketua adat misalnya. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. hitam kebiru-biruan. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. Selain itu. Pada dasarnya.

Mereka sudah merasa berbusana tradisional. Konon pada masa lalu. Namun lebih dalam lagi. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. kebesaran. atau para tua adat. berhiaskan somalea. dan keperkasaan seorang pemimpin. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. . yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. atau ketua adat. kain penutup kepala. pahlawan. tutuban ulu melambangkan keberanian. prajurit. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan.Sementara itu. sinune. tutuban ulu. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. Kecenderungan yang tampak sekarang.

arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. Utan lewak. fauna dalam lajur-lajur bergaris. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. bahkan di. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. Belanda. biru dan kuning secara melintang. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Arab dan India. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. putih. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. ragi werung. Destar.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. dihiasi dengan ragam-ragam flora. Diatas labu dikenakan dong. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . Portugis. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. utan lewak. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. coklat. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Indonesia. kuning atau merah. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. bergaris biru melintang. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Cina. Kain sarung wanita.

Paduan warna juga menunjuk pada usia. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. apabila gelap mencerminkan duka. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. Demikian pula hal dengan warna dong. . Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain.tinggi. delapan dan seterusnya. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. pesta dan sebagainya.

udang. penyu. pesta-pesta dan sejenisnya. ikan. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. upacara. setengah dewa. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. buaya.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. rusa. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Warna hinggi juga . alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. cumi-cumi. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. Kepercayaan khas daerah Marapu. Sumba Barat dan Sumba Timur. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. naga. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. ular. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. setengah leluhur. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. kuda. bendera tiga warna. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. Di kepala dililitkan tiara patang. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. ekonomi serta religi suku sumba. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). ayam. mahkota dan singa. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. burung.

Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Busana Tradisional Amarasi. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. menjurai ke bagian dada. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Kabiala adalah lambang kejantanan. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. lau pahudu. Timor. lau mutikau dan lau pahudu kiku. wujud tertinggi penguasa jagad raya. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. Timor Amarasi. putih dan biru. telinga. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. merah bata.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. coklat. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. keperkasaan serta budi baik seseorang. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. dewasa ini sudah jauh berkurang. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. dikenal dengan sebutan iteke. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. dan po`uk. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm.

Kedua telinga dihiasi falo noni. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. dalam membalas pihak lelaki. Sebaliknya pun. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. pihak wanita menyerahkan kain tenunan.hiasannya. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. perak. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. . Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. kuning. Emas. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga.

Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Konon, pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai, estetika pun berkembang, lalu terciptalah corak hias simbolik, pada bentangan kain-kain tenunan mereka, yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Stilasi pohon mawar, burung, ular naga, tokoh pewayangan, kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya - maka pemakainya akan ditimpa kemalangan, misalnya saja kehilangan kewibawaan, kesaktian, dan semacamnya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat, sehari-hari maupun upacara, masyarakat Sasak. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI, seperti yang telah disinggung di muka, memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak, meski tentu, tak menghilangkan identitas jatidirinya. Untuk mengikuti acara adat, misalnya upacara potong gigi, upacara kematian, menghadiri perkawinan, masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga, dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek, panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Penahan kereng adalah lilitan kain, berfungsi seperti ikat pinggang, disebut bebet. Pada kening tersaput ikat kepala, dinamai sapu, biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Busana Pengantin Sasak

Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/pending) emas, gelang tangan (teken), ali-ali (cincin), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. ikat pinggang dari logam keemasan. sebutan untuk kain songket (tembe songke). sehingga tampil lebih sederhana. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke. ikat pinggangnya. Selepe. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa.Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. . Kemudian siki. dipakai. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang). yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro. sarung songket. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak. seperti memakai sarung. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. sebatas lutut. dan ponto (gelang tangan). diselipkan pada baba. Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. Rambutnya disanggul. Penahan siki adalah baba. Di atas baba dilingkarkan selepe mone. diberi hiasan unik yang dinamai karaba. seperti ditulis di muka. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. berwarna keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.

berdasarkan jenis kelamin pemakainya. dan yang melanggar adat. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. masyarakat menyebutnya mbiring. bentuk maupun corak. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Pangkajene. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Khusus untuk tutup kepala. Meskipun demikian. saku di kanan dan kiri baju. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. atau hari-hari besar adat lainnya. Pada dasarnya. Dalam kebudayaan Makasar. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Gowa. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. tidak mampu membayar utang. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. . busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. ada beberapa ciri. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. dan Kepulauan selayar. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. Maros. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. Biasanya. Jeneponto. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. tu maradeka. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. celana atau paroci. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. dan atu atau golongan para budak. Sementara itu. dan tutup kepala atau passapu. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. Namun dewasa ini.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. Pada masa dulu. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. Bantaeng. pasapu guru sebutannya. berwarna terang dan mencolok seperti merah. dan hijau. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. leher berkrah. kain sarung atau lipa garusuk. penjemputan tamu. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju.

Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. sisi samping kain dijahit. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. kalung panjang (rantekote). maka diberi pengikat yang disebut talibannang. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. dan anting panjang (bangkarak). Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. selempang atau rante sembang. gelang. Baju bodo berbentuk segi empat. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. dan berbagai aksesori lainnya. berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Sama halnya dengan pria. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). coklat tua. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. . Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. sapu tangan berhias atau passapu ambara. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. Sementara itu. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. dan kalung besar (geno sibatu). atau biru tua. tidak berlengan. Namun pada umumnya.

dengan hiasan liontin atau medalion besar. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Dalam kehidupan sosialnya. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. Untuk tata rias rambut dan kepala. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. kalung emas yang berjuntai agak panjang. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. tua maupun muda. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. Makassar dan Toraja. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. Semua kalangan masyarakat Mandar. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Untuk wanita yang usianya agak tua. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Pada bagian pinggang. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. Dalam berbusana . menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. Ada pula sanggul agak rendah. Majeng. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. remaja dan orang tua. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. Menurut catatan sejarah. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya.

secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. busana misalnya. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Misalnya dalam upacara panen padi. berdasarkan adat rambu solo. . Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. Untuk penututp kepala. yakni busana pria dan busana wanita. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. dan upacara pernikahan. Pada kesempatan seperti itu.pantovel berwarna hitam. Sementara itu. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. memasuki rumah baru.

dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. tali pang`kabi. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. atau pakaian pesta. sepu. dan passapo timbo. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Misalnya sambuk busa. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. khususnya para sesepuh masyarakat. yang disebut sambuk langkan. seperti di sawah dan membangun rumah. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. yaitu hiasan pada sanggul. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. Selain memperlihatkan fungsi estetis. pakaian resmi. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. tutup kepala. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. bahu. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. Berdasarkan fungsinya. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. Selain itu. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Sementara itu. hingga jari jemari.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. perak. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. pinggang. atau tembaga dan. dan sarong atau tudung kepala. lengan. sebagai bagian integral dari busana adat pria. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. Passapu. dan sarung atau sambuk. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. Pertama bayu poko. celana atau sepa tallu buku. dan tali banu . Sementara itu. Kedua bayu bussuk siku. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. ada juga tas kecil atau sepu. yakni ikat kepala. Celana yang dipakai oleh kaum pria. mulai dari hiasan di kepala. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. dan pa`toko. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. yakni . diikatkan di pinggang atau. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. yang khusus digunakan pada saat bekerja. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. tali-tali biang. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. yakni kalung yang terbuat dari emas. Sama halnya dengan sarung. atau hanya disampirkan di bahu. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. manik kata. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. Sarung. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. Selain itu. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. leher. Secara umum. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. rara. dalam acara adat orang meninggal.

ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. busana . Bintauna. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. Pada masa itu. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. menerima tamu-tamu kerajaan. Bolaang Uki. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. dan Kerajaan Kaidipang Besar. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Adapun keris atau gayang. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. menghadiri undangan-undangan resmi. Aktualisasi dari semua itu. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. busana bayi. Oleh karena itu. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow.

Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. serta kualitas bahan yang paling baik. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. Pada umumnya. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. celana dan sarung tenun. serta kualitas bahan yang digunakan. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. sistem religi. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. busana simpal. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. serta aksesorinya. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. Sementara itu. Dalam hal ini. Khusus mengenai perhiasan. Busana kerja guha-ngea. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Misalnya. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Sedangkan menurut asal-usulnya. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Ada . Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. Secara umum. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. Di samping itu. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. Sama halnya dengan busana kohongian. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Selain busana kebesaran seperti itu. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. keemaasan. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. busana kohongian. baju atau baniang. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. Selain itu. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. Akan tetapi. Dalam hal ini. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. pengantin wanita maupun pengantin pria. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan.pengantin. kuning. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. ungu. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. detil busana. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan.

ikat pinggang. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. Hingga saat ini.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. Selain pada kelengkapan busana pengantin. Khusus untuk ikat kepala. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. dan hijau tua. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Sementara itu. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Baju jenis ini. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. yakni warna terang dan mencolok. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. kuning. pada zaman dulu terbuat dari kain . penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Dalam hal ini. antinganting. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. kuning tua. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. ungu. krah baju berbentuk bulat. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . serta berlengan panjang. Khusus untuk selendang. penasbihan desa. hijau. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. dan ikat kepala berbentuk segitiga. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Sementara itu. Namun saat ini. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). serta selendang (bawandang liku). Saat ini. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. Nama busana tersebut adalah laku tepu. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. Namun terlepas dari semua itu. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. atau merah darah. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. peminangan. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. gelang. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. celana panjang. penduduk keturunan bangsa Filipina. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang.

biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. . dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Sementara itu. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. paporong datu bouwawina. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. paporong tingkulu. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. Selendang tersebut dinamakan kaduku. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. Cara memakainya. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. yang disebut hulontalangi.

Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. Sehingga. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. ungu dan merah hati. tetapi kerahnya berdiri tegak. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). celana panjang (talala) dan aksesori. disebut hotu. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. selimut (waluto). Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. brokat atau bahan kain lainnya. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. hijau dan ungu. kain sarung dan berbagai aksesori. kalau berbicara mengenai busana adat. Seperti halnya baju. merah. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. disebut hamsei. . Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. Pada upacara ini. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. hijau. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. kuning. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). disebut wolimomo. beludru. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. oleh karena itu disebut sunthi burungi. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. seperti kuning.

Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. seperti motif biasa. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. .Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. sarong motif kaki seribu. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. leher baju. disebut laborci-laborci. bintang. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. aksesori dan perhiasan. terdapat juga sarong motif sarang burung. selendang pinggang dan topi (porong). Selain itu. disebut model salimburung. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. yang terdapat pada hiasan topi. terdiri atas baju lengan panjang. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. anting dan gelang. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. kalung mutiara (simban). sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. Celana yang dipakai masih sederhana. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. Busana pengantin baju jas tertutup ini. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. disebut busana tatutu. celana panjang. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. tidak memiliki krah dan saku. selendang pinggang dan kedua lengan baju. Semua motif berwarna kuning keemasan. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Busana kebesaran ini disebut biliu. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. mahkota (kronci). Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Selain baju karai. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. potongan baju lurus. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. berkancing tanpa saku. berwarna hitam terbuat dari ijuk. kalung leher (kelana). Motif Mahkota pun bermacam-macam. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). memakai krah dan saku disebut baju baniang.

Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. Sarung kedua untuk membalut baju. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. Dilengkapi topi porong nimiles. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). saku. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. hitam.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . yaitu terdapat kancing. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. hanya saja lebih panjang seperti jubah. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. biru. juga untuk menyelipkan senjata tajam. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. sarung (bheta). Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. yaitu langit dan bumi. dunia dan alam baka. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. bheta. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. kalung leher dan sanggul. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. Warna baju umumnya putih. dan berkerah. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. selop. Sarung yang dipakai. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. Sedangkan Walian Wangko wanita. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Umumnya. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Baju katango ini. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara.

Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). Dalam upacara ini.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. bheta. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Pada upacara tersebut. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). gelang kaki (kurondo). Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. sarung dua lapis. yang disebut biru-biru. kalung (tongko). terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Penulis Mira Indiwara Pakan . Mahkota dibuat dari kain merah. ikat pinggang. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. sarung berhias (bia ibolaki). Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam.. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. dan ikat pinggang (sulepe). dan perhiasan logam. cincin dan anting yang terbuat dari emas. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Selain pakaian sehari-hari. Sarung yang dikenakan ada dua. perhiasan yang dipakai adalah gelang. Tandaki adalah mahkota. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). tusuk konde (panto). khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. Selain itu. dan sanggul. perkawinan misalnya. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. selendang (salenda). anting-anting (dali). Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). dan ikat pinggang (sulepe). maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. Agar sarung tampak kuat. manik-manik.

Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Busana wanita Kaili. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. dan budak (batua). pembungkus hasta dan pergelangan tangan. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. dan hiasan untuk penutup rambut. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. pending. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. kain fuya yang digunakan agak kasar. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. dan baju pasua. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. dengan jenis yang cukup beragam. sekalipun itu tidak banyak. baju gembe. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. Sementara itu. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. . Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. Sementara itu. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. Paling tidak. Pertama adalah unte tandu. kalung panjang. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. Secara fisik. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. yakni baju poko. Meskipun saat ini. Pada zaman dahulu. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Biasanya.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. bangsawan (toguua mungana). kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. Selain memiliki busana yang cukup beragam. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Selain baju-baju tersebut. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. rakyat kebanyakan (todea). Oleh karena itu. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. Ada golongan raja (maradika). yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek.

ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Selain kedua unsur busan tersebut. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. yang dikenal dengan istilah mengayau. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. Pada masa itu. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. yakni kain sarung. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Unsur yang pertama adalah sarung. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Namun bila akan bepergian. ikat kepala dan kampuh. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Secara historis. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya.

umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Beberapa lembah yang terkenal, antara lain, lembah Baliem (Lembah Agung), Illaga, Dwart, Konda, Illu, Sinak, Mulia, Pas Valley dan Piet River. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926, sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat, yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege", artinya "Kami orang Baliem". Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya, di antaranya koteka (holim), yokal dan sali. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah, sejenis labu Cina. Buah labu yang sudah tua, dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi buah labu dikeluarkan, dikorek dengan kayu yang diruncingkan, kemudian dibersihkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Ketika dikenakan, agar tidak jatuh, penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem, terutama di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Jenis holim ini halus, berwarna kuning kemerah-merahan. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi, misalnya "uang merah" (eka merah). Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem, Ilaga, Tiom, Yalimo, Apalahapsili, Welarak, Kosarek, dan Oholim. Ada tiga pola penggunaan koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan, pria yang memakainya masih perjaka, belum pernah melakukan persebadanan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan, bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani, laki-laki sejati, pemilik harta kekayaan yang melimpah, memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja, keterampilan memipin, dan pengayom rakyat. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian, seperti waktu mengerjakan ladang, saat berada di honai, ketika berternak babi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu, upacara adat misalnya, mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi, disebut yokal. Biasanya yokal berwarna hitam, kuning, dan kemerah-merahan. Bahan pewarna tersebut

didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan, seperti mengerjakan kebun, menyiapkan makanan, memelihara babi, mengasuh anak, menjual hasil pertanian, bepergian, termasuk saat mengikuti upacara adat. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya, diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Seperti proses membuat yokal, bahan tersebut dijemur atau diasapi, setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis, misalnya saat ke ladang, ke sekolah, ke gereja. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Konon, karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani, sehari-hari atau saat upacara adat, antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan, dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Selain sebagai aksesori, noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga untuk membawa babi. Sedemikian besar fungsinya, sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya, antara lain: swesi, sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Siluki inon, topi dari bulu kuskus warna hitam, yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Sekan, gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Walimo yaitu hiasan dada, dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan, berderet-deret dan disusun rapi, puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung, atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Cipat, kalung berupa tali penangkal guna-guna. Wayeske, anak panah dan busur, senjata ampuh pria sejati Dani. Mul, semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati.

Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu, Marind, Asmat, dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian, bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats, Sawa Erma, Atsy, dan Pantai Kasuari. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya, masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat pinggang dari anyaman rotan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai oleh istri panglima perang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus, mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet, bulu bangau yang diikatkan pada

terutama kaum lelaki. pemukul tifa. dan tombak. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. penyanyi. Kaum wanita Asmat. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. terutama saat melaksanakan upacara adat. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Topi ini disebut juprew.lidi. pergelangan tangan. pemimpin tungku (keluarga luas). panah. disebut wisaper. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). Senjata ini diselipkan pada sinenke. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. disebut betan. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. dan penyanyi pengiring upacara. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. subang penghias hidung. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. . melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. Hingga sekarang. Sedangkan para lelaki memakai bipane. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. dari bahan yang sama. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). penyanyi. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. panjangnya kira-kira 30 cm. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. konon. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. dan gelang yang dipakai pada lengan. Masyarakat Asmat. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. dan pemukul tifa. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. biasanya dipakai oleh panglima perang. kalung. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. masyarakat Asmat. Sebagai kalung. Pada kebudayaan Asmat. dan biasanya disandang oleh panglima perang. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). tanpa membedakan status sosial. kepala adat. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. pemukul tifa. dan pangkal betis. sokmet masih dipakai pria Asmat.

Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. putih. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Tombak kayu besi dinamai viwu. Dan. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Penulis Aat Soeratin. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. disebut vom. Anak panahnya agak beragam. sowen. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. dan tombak logam besi disebut frin. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air.Senjata lainnya adalah tombak. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. panjangnya sekitar 1. dari bambu dinamai firokom. yang dari besi dikenal sebagai sok. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Warna hitam dari arang pembakaran. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. hitam. Komposisi warna merah. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. fum.5 meter. seperti relung kua yang bergambar burung. Konon. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. . Agar lebih variatif.

konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Kuntum cempaka 5. Daun bambu 4. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Gelang 12. Pagar tenggalung 7.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Kembang goyang 3. Anting panjang 11. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Pending untuk pinggang . Sepit udang 6. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Kalung 10. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Kembang cempaka 2. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Sari bulan 8.

Untuk perempuan. kain sampin. busana ini terdiri celana. 4. pakaian adat Indragiri. kenanga dan irisan daun pandan. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). Melayu Bengkalis Riau. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Untuk pakaian pria. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. Melayu Siak Riau dan lain-lain. Selain itu. 6. 2. 3. 2.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Tata Rias dan Hiasan: 1. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. melati. kain dan . Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. dan songkok atau penutup kepala. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. 5.

serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. sarung berwarna kuning. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. . baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang.selendang. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. hijau. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). dengan leher baju berbentuk bulat. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). pakaian haruslah menutup aurat. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu.

. kain selempang dan sarung. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. sarung sebatas dengkul. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. dan celana panjang. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. diletakkan ditengah-tengah sanggul.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. pending. kalung dan gelang. baju model jas tertutup. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting.

Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. 5. warnanya juga antara hijau dan kuning. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Baju Cele Kain Salele. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. 6. adalah pakaian sesehari kaum wanita. pesta. Pakaian petani. acara resmi lainnya. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. 4. Pakaian ini bercirikan Islam. kalung. 3. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. melayu. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. 2. • • • . atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. serta merupakan pakaian yang dianggap baik.

Selain itu. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Sebagaimana batik kebanyakan. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. ruangan. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. Selain celana komprang dan baju pangsi. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. dan karakter kuat. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Menurut keterangan warga setempat. termasuk Banten ketika masih belum terpisah.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. Sebagian penggembala kerbau misalnya. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. jenis dan pemakaiannya. semangat. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. . Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan.

Model baju. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. jangka pendek tak dapat singkat. Salawar. belah sampai ke dada tanpa kancing. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. keris. dan tongkat. artinya ukur panjang tak dapat singkat. Jenis pakaian ini bermacammacam. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. baju hitam longgar. Dikenakan pula kain samping . Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. kain sandang. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Baju Kubaya. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. celana hitam lebar. Baju Taluk Balanga. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. namun secara umum terdiri dari destar. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita.• • • • • Lampin. sesamping. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. jangko singkek tak dapek panjang. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. seperti penghulu dan bundo kanduang. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. Pada masa lalu.

biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Variasi lain dikenakan tengkuluk. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Lambak atau kodek. kalung gadang. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. sarung bugis ataupun kain pelekat. kalung pinyaram. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. seperi kalung. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. anting-anting serta cincin. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Kaum prianya. Ia juga merupakan peti ambon puruak . sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. kain selempang. merah. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. gelang bapahek dan gelang ular. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. lambak/kodek atau kain sarung. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. baju kurung.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Baju kurungnya berwarna hitam. Kalung dari beberapa macam. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. dan kalung kaban. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. sementara selendang tersampir di bahu. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Seperti juga pada pakaian penghulu. Pakaian sehari-hari Para wanita. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. batik. Khusus pada pakaian penghulu. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. yaitu kalung kuda. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. dan selendang pendek. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). kain sarung. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. kata-katanya didengar. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut.

perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. bertanggan naik. penutup aurat. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). Pagai Utara dan Pagai Selatan. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. Sipora. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. perikehidupan serta ungkapan budayanya. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. disebut sokgumai. Budisme. Selain kabit dan sokgumai. binatang atau manusia memiliki roh. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. peristiwa. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. pimpinan atau anak buah. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Islam dan Barat. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai.baiknya.

rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. gelang-gelang. bergantung pada kalung depan dada. Lalu disusul dengan tangan. Tato merupakan simbol kejantanan. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. bunga-bungaan dan daundaunan. suatu kegiatan perdukunan. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. dada. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. kuning. Tato adalah busana kebanggaan. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Ikat kepala ini dinamakan sorat. lei-lei . Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah).benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. biasanya merah. paha dan pantat. pakalo. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. cermin raksa. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. Selain itu tato. sejenis subang pada kedua telinga. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. putih dan hitam atau hijau. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. ikat pinggang dari lilitan kain polos. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. rakgok. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. terbuat dari gelas berwarna merah. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. ogok. mulai dari busana sampai dengan .

Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. sekar sukun. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. gelang ikol dan keroncong. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Gelang juga dipakai pada kaki. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. berseluar (celana panjang) dan bersamping. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. renda. cincin bermata. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. mastura. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. dari bahan brokat (kain senduri). gelang kana. sutera. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. kain bertabur atau destar. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. ikatan serdang dan sebagainya. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. gogok rantai lilit. Diberi hiasan gerak gempa. Pakaian ini tidak memakai selendang. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. rantai serati. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. . Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. berwarna sesuai dengan baju dan celananya.perlengkapan perhiasannya. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket.

bulang-bulang. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. kain dan ulosnya. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu .Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. ragi hotang. Pada suku Batak Toba. dipakai hingga batas dada. dilengkapi dengan sarung. khususnya pada ikat kepala. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Muangthai dan Laos. serta tutup kepala yang disebut saong. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. sabesabe atau detar. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. sadum. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Misalnya ulos jugia. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. tanpa alas kaki. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Untuk tutup kepala disebut saong. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. Sebelum orang Batak (Toba. Karo. dan runjat. baju dan celana. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. mereka memakai pakaian biasa. ragidup. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Dalam keseharian. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. dan dilengkapi dengan sarung suji. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. bagian bawah disebut haen. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba.

Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). terbuat dari kain lakan berwarna hitam. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Bulang terbuat dari emas. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. dan dililit dengan ulos ragi hotang. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Untuk selendang pengantin. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. tergantung selera pemakai. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Baju Godang mengandung makna keagungan. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Pada masa lalu. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Baju. Pada masa lalu. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Bulang terdiri dari tiga macam. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Pada suku bangsa Batak Simalungun. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. Pada masa dahulu.

kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. yaitu baru lema`a. Selain itu. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. tanpa busana atas (baju penutup dada). merah dan putih. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. dan hitam. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. yaitu anting logam besar. rotan dan pelepah kelapa. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). aya ba mbagi bobotora. terbuat dari daun palem. Untuk menghadiri upacara adat. Bagian bawah . Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. perak atau emas. yang disebut takula. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. yang berwarna merah. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. Untuk upacara. dan saro dalinga. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Sementara itu. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. kuning. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. busana kaum laki-laki Nias. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. khususnya busana kaum prianya. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. Ada juga tutup kepala. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu.

yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. terbuat dari . adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. yang disarungkan arah ke kiri. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. tampak adanya unsur-unsur Melayu. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). Demikian pula rai ni woli woli. Apabila di masa lalu. Warna hitam. separuh leher dan lengan.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Dalam busana pengantin ini. Selain itu. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. sebelum mengenal pengaruh luar. Gela gela dan tali hu. kuning di bagian depan. merah. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. Selembar ondora. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. kala bobu. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Busana pengantin Nias secara� keseluruhan pun nampak sederhana.busana wanita Nias disebut mukha. Lembe. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. Sebagai kelengkapan busana upacara. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. kuning. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. masih ada bola-bola. Fondruru ana`a. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris.

Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. sepit rambut. Untuk bagian dada. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. satin atau sutera. gelang tangan. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. jurai. sanggul biasa atau sanggul dua. Dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. Selendang tidak mutlak dipakai.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. meliputi juga kelengkapan kepala. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. sering pula digunakan kain tudung kepala. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. Meski fungsinya sama. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. antinganting. . sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. kembang goyang. tusuk sanggul. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Untuk menghadiri acara formal. Berbeda dengan busana kaum pria. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. Dalam pandangan masyarakat Riau. cincin yang terbuat dari emas. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana.

Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Bagian pinggir . Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. propinsi Jambi. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. dan sebagainya. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Sumatera Selatan. karena ia mendapat julukan raja sehari. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. begitu juga dengan perhiasan. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. tangkai clan bunga yang akan mekar. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. seperti Riau. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya.

Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. bunga matahari. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. kembang cempaka. Bunga cempaka. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Tutup dadanya disebut teratai dada. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. seperi pohon beringin. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. clan bunga pandan. Konon. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. bungo runci. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. dan pucuk rebung. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. kembang tagapo. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Kalungnya terdiri dari tiga . Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. bunga matahari. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu.

gelang ceper dan gelang buku beban. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. selendang. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. yaitu kalung tapak. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Penulis : Dewi Indrawati . Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Selebihnya polos. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Terlebih saat menuai. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Kesemuanya di pasang di lengan. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. pending dan sabuk (ikat pinggang). dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong.jenis. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. khususnya yang dikenakan para gadis. yang disebut baselang atau pelarian. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Masih ditambah dengan gelang kano. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. kecil dan besar. kecuali bagian leher sebelah depan. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain.

sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. lembayung atau hitam. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. . diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. cokonde balon. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. biru tua. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. menyentuh bahu. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. Jambi dan Riau. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. bertabur corak-corak. sarung. dipadukan dengan tusuk konde. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. celana panjang.

menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Alas kaki memakai selop bersulam emas. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. kain tenun bersulam benang emas yang indah. Bahannya dari kain batik. Bugis atau batik Jawa. seperti perkawinan. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Pada penyelenggaraan upacara adat. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Bagian bawah mengenakan senjang. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Kain ini dibuat oleh wanita. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis.

Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Selambok/rattai galah. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Kelai pungew. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. Pada waktu mandi di sungai. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). kain ini dipakai sebagai kain basahan. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang).dililitkan. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Untuk menghadiri upacara adat. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. memiliki bentuk seperti baju kurung. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Dikenakan pula kalai kukut. Selain itu. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. seperti perkawinan kaum wanita. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. kecuali saat pergi ke ladang. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. menyanggul rambutnya (belatung buwok). juga dapat dikenakan selekap balak. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Selain itu. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Khusus bagi wanita yang baru menikah. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. perak atau suasa diberi mata dari permata. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri.

Lasem. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. atau Eropa. Pelengkap busana yang lain adalah keris. diberi pinggiran benang emas. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Sebagai pakaian sehari-hari. atau membeli bahan baju dari Jawa. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. India. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Indramayu. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). rambi ayam. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). dan ukuran celananya lebih lebar. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. terbuat dari suasa. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. maupun diperadan. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. disulam.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. memakai kantong biasa. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. dan memakai kantong terawangan. yang terbuat dari kain yang ditenun. atau tembaga yang dilapisi emas. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. Badong yang terkenal disebut badong jadam. perak. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. terbuat dari kain yang ditenun. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. baju (kelambi). atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. atau jembio. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. atau Betawi. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. suasa. badeek. serta diberi tumpal benang emas. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. seperti keris. iket-iket atau kopiah (kopca). celana yang panjangnya sebatas lutut). Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Ada juga yang diberi batu permata. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. . Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Cina. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. tumbak lado. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh.

Pada masa lalu. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. dan Singapura. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. atau las. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. dan terompah atau selop. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Pada saat menghadiri suatu upacara adat.Pada saat akan bepergian. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. India. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. dan dahi. rambut disanggul. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. dada. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. Sebagai pakaian sehari-hari. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. berasal dari Jawa). Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. dan tutup kepala (tengkoolook). yang dikenakan pada kepala. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). kamhar. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. Semakin halus songket yang dimilikinya. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. Cina. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. bahu. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak.

Zaman dahulu. polekat). Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. warna hitam atau putih. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. . Sebagai penyambung belahan kebaya. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. baik di Priangan maupun di Cirebon. dan dihiasi dengan pasmen. Di kalangan istri pembesar. digunakan peniti. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Yang membedakan keduanya adalah. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Adapun masyarakat Cirebon. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay.Dari masa ke masa. Adakalanya dikerudungkan. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Sama halnya dengan kebaya. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. dilepas sampai pergelangan kaki. Pada masa pemerintahan Belanda. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. mereka lebih suka memakai kain batik halus. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut.

Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Dalam berbagai kesempatan khusus. gelang emas dan giwang emas. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. namun kini sandal. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. ali meneng. Dengan demikian. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. gelang bahar. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Untuk alas kaki. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya.

Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Mereka tidak memakai celana. yaitu Baduy Luar. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. model maupun corak busana Baduy Luar. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. dengan ciri sub dialek Banten. Lebak. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. radio dan televisi. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai� � � budaya� � � warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. . perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. tingkat umur maupun fungsinya. yaitu tangtu Cibeo. Dalam pandangan suku Baduy. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. Penduduknya menjaga. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Oleh karena itu. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Semuanya itu tabu (pamali). karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. yang memiliki keyakinan. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Barangbarang "modern" seperti sabun. kosmetik. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. kecamatan Leuwidamar. desa Kanekes. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Bagi suku Baduy Luar. Agar kuat dan tidak melorot. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. Melihat warna. Potongannya tidak memakai kerah. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. Tak ada listrik. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. piring. Baduy Dalam.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. cita-cita. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. tingkah laku. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. mereka berasal dari satu keturunan. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. sarung tadi diikat dengan selembar kain. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. model dan warnanya saja. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Baduy Dalam.

potongan dan warna pakaian. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. potongan dan cara berbusananya saja. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Untuk pakain bepergian. Bagi wanita yang sudah menikah. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. baju. Memang. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. biru. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. kain wanita. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. kemuduan dipanen. biru tua dan putih. Selain itu. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. kain ikat pinggang dan selendang. sedangkan selendang berwana putih. Sedangkan. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. Dimulai dari menanam biji kapas. dipintal. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. karembong. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. Model. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah.20 cm dan dililit dengan . pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. yang dipadukan dengan warna merah. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. Dari model. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. kain sarung. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. selendang dan ikat kepala. kecuali baju adalah sama.

bagian bawah baju sangat bervariasi. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. karena aslinya terbuat dari emas. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. baik dari bahan satin ataupun beludru. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. atau bahan perak. Biasanya dihiasi batu-batu permata. dan model baju kurung (Melayu). Tuaki. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Padanan tuaki adalah kun. Bagian jubah ini. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. bunga-bunga sampai motif burung hong. Mengenai tata rias wajah. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Teratai. Sebelum mengenakan jubah. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. bunga-bungaan. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. daerah sekitar dada. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki.sorban kain. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. kehidupan dan kematian. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Panjang cadarnya 30 cm. Aslinya adalah emas. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. yaitu model shianghai (Cina). Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. Panjang lengan agak longgar. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Warna-warna cerah yang dipilih. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. yang agak longgar dan besar. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. panjangnya sebatas pinggul. Selain yang bercadar. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. Sebagai alas kaki. warna putih. Motif-motif hiasan emas. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Namun. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . namun saat ini umumnya menggunakan mute. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. Siangko bercadar selalu berwarna emas. kubah mesjid dan lain sebagainya. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Dari ragam hias geometris. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. tidak ada yang khusus. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Di atas Siangko bercadar ini. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. terbuat dari manik-manik. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Tuaki bentuk baju kurung. gading atau kadang-kadang kuning.

yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. selendang dan celemek. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Namun saat ini. pisau raut. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. Penulis Endang Mariani . celana panjang. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. Sementara itu. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. sarung songket. atau mute. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. kuat seperti pohon kelapa. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. Sebelum rerurub atau ruruban. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Busana pengantin rias bakal. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. Selain sunting. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. Nabi Besar Muhammad SAW. Seperti misalnya di daerah pinggiran. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Selain perhiasan untuk kepala. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. gelang bahar. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. Gelang listring dan gelang selendang mayang. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. sejahtera dan bahagia. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. bros dan untaian melati. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi.

Dewasa ini. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. sutera yang berbunga maupun . brokat. nilon. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. Panjangnya kebaya bervariasi. seperti pada upacara adat misalnya. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. kuning. ketiak dan punggung. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. kain sunduri (brocade).Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. putih. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. lurik atau bahan-bahan sintetis. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. Jawa Tengah adalah baju kebaya. Oleh karena itu. hijau. Sedangkan. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). cincin. Saat ini.

dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. panggih dan sesudah upacara panggih. sutera maupun nilon yang bersulam. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Kepulauan Sumbawa. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. biru sedang dengan hitam.nilon yang bersulam. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. ungu dengan hitam. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Jawa Tengah. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Sedangkan. ijab. Sedangkan. cincin. Potongan dan model kebaya Jawa. Kalangan wanita di Jawa. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Pada upacara midodareni. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Bali dan Madura. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Namun pada saat upacara perkawinan. kain samping jarik. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. serta dua buah lengan baju. perhiasan yang dipakai juga sederhana. Dewasa ini. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Sedangkan busana di kalangan pria. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. yaitu midodareni. keris dan alas kaki (cemila). Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. daerah pantai Kalimantan. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. ikat pinggang besar. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. stagen untuk mengikat kain samping. Sebab. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. brokat. pada kepala memakai destar (blankon). baju lengan panjang. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Selain kain lurik.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung.

stagen dan selop. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. alis. kain jarik. ular. yang terdiri dari kuluk kanigoro. celana panjang warna putih. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. jungkat. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. Sedangkan kain sido mukti. kain jarik. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. Bagi pengantin pria. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. Pada upacara panggih ini. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. naga). pengatin pria pun memakai busana adat basahan. subang dan timang atau epek. Sama halnya dengan pengantin wanita. misalnya untuk menutup aurat. hewan (misal : burung. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. selop dan perhiasan kalung ulur. keris warangka ladrang. keris warangka ladrang dan selop. kain jarik. bros. Busana basahan adalah tidak memakai baju. Fungsi pakaian. pipi dan bibir. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. kolong karis. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. gelang. stagen. sabuk timang. celana cinde sekar abrit. baju takwo. cincin. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. Sedangkan bagi pengantin wanita. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. Sebagai kelengkapan. dodot bangun tulak. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. yang melambangkan kesuburan. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. kalung. yang terdiri dari baju atela. dalam busana adat perkawinan. centung. dodot bangun tulak. mata. pengantin wanita memakai busana kanigaran. sikepan. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. stagen. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. sabuk timang. bros dan buntal. Saat upacara ijab. keris dan selop. stagen dan kain jarik dengan corak batik. sabuk timang. udeng. swastika (misalnya bintang dan matahari). pada upacara setelah panggih. ikal rangkap dan pilin ganda. kerbau. . yaitu terdiri dari baju kebaya. keris warangka ladrang dan selop. basahan. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. melati) maupun alam dan manusia. cincin. timang/epek. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. berupa dodot bangun tulak. dodot bangun tulak atau kampuh. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. pilin.warna sawitan. epek. stagen. terdiri dari kuluk matak biru muda. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara.

Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. saat bekerja. Namun demikian. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. serta bagian bawah berupa alas kaki. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. fungsi estetis. dan bagian bawah. dan saat bepergian. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Dalam perkembangan selanjutnya. religius. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. dan sebagainya). pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. bagian tengah. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. kapan dikenakan. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. usia. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. di man dikenakan.Pada masyarakat di Jawa Tengah. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. Sejalan dengan perkembangan zaman. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. dan status sosial. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. dan status sosial pemakainya. . bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). usia. estetis. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. konde. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. dan siapa yang mengenakannya. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi.1945). sosial dan simbolik. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . Oleh karena itu.

Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. kain batik dengan wiru di tengah. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. burung garuda. serta sapu tangan merah. tanpa baju. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. semekan tritik. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. Agustusan. lonthong tritik. tingalan dalem tahunan. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. Kainnya bermotif parang. lonthong tritik. serta sedan (pemakaman jenazah raja). serta mengenakan perhiasan berupa subang. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. cincin. memakai lonthong tritik. moga renda berwarna kuning. yang khusus dikenakan para putra Sultan. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. rante. gelang. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. Perhiasannya berupa subang. dan keris branggah. kamus songketan. kain batik. atau gringsing. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. gelang. Penulis Dewi Indrawati . dan perkawinan. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. jumenengan dalem (penobatan raja). dan kaprajuritan. baju kebaya katun. baju katun. jumenengan dalem. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. kanigaran. dana cindhe gubeg. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. timang. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. baju kebaya katun. kamus. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. garebeg. karset. baju surjan. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. atau merak. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. pethat jeruk sak ajar. Sebagai perhiasannya adalah subang. kamus songketan. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. lonthong tritik. dan cincin. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. perkawinan. berfungsi sebagai penutup dada. kalung dinar. supitan. ceplok. timang (kretep). Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. tingalan dalem tahunan. kampuh konca setunggal. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar.

kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Kalangan pedagang kecil. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. bera` songay atau toh biru. tutup kepala yang dikenakan. jenis kelamin. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. Dalam penggunaannya. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. baju pesa`an. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. di dalamnya. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. Sebenarnya. dalam menghadapi segala hal. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. Pada masa sekarang. yaitu hitam dan putih. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. Perlengkapan busana . dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. teguh dan keras. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. Garis-garis tegas merah. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Jaman dahulu. Sebaliknya para nelayan. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. status sosial maupun kegunaannya. Perbedaannya adalah pada odheng. terutama kaos bergaris yang digunakan.

bermata selong dengan . Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. yang sangat menghargai keindahan tubuh. bermotif modang. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Arloji rantai acap digunakan. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. dulcendul. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Pada odheng peredhan. motif maupun cara pemakaian. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". baik dari ukuran. Sementara itu. kuning atau hitam. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. pemberani. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Adapun cucuk dinar. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. keduanya terbuat dari emas. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Semakin miring kelopaknya. storjan atau lasem. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. jam saku. pada odheng tongkosan kota. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. jepit kain. terbuat dari tenunan bermotif polos. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. Harnal bubut dari emas.seperti sap osap (sapu tangan). namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. juga memiliki daya tarik yang unik. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. mulai dari kepala sampai kaki. Sementara di daerah Madura Timur. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Odhet adalah semacam stagen Jawa. serta bersifat terbuka dan terus terang. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. kemudian digelung sendhal. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Pada saat menghadiri acara resmi. stagen. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. garik atau jingga. biasanya disisir ke belakang. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. serta pemakaian penggel. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. Untuk penguat kain digunakan odhet. Warna biasanya merah. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Letak sanggul umumnya agak tinggi.5 meter. Sebum dhungket atau tongkat. Bentuknya agak bulat dan penuh. Rambut wanita Madura itu sendiri. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. Bentuknya seperti busur. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. sabuk katemang. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks.

serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. telinga. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. namun adapula yang mencapai 100 gram. terbuat dari emas dan bermotif polos. Bahan kebaya biasanya beludru. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. Mata dihiasi dengan celak Arab. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. leher. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Semakin banyak jumlah dinarnya. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Alas kakinya berupa selop tutup. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. digunakan peniti dinar renteng. kiri atau dahi. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Namun. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Warna gelap dan tidak bermotif. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. Tergantung kemampuan si pemakai. bahkan lebih. Saat ini. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. tangan dan kaki umumnya kecil. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Sebuah tutup kepala. penggel adalah salah satu yang paling unik. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. digunakan gelung mager sereh. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Bentuknya sama dengan gelung malang. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Rambut wanita muda digelung malang. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina.

menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. berwarna hitam. Setidaknya ada dua upacara besar. yaitu : Lumajang.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. Di bagian dalam. memakai kaos oblong. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. kemudian digantungkan di pundak. yaitu upacara adat kasada dan karo. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. sebagaimana yang digunakan di Jawa. Kedudukan seorang dukun.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. Saat bertamu. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. sehingga yang terlihat hanya mata saja. baju warna putih. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. celana panjang warna gelap dan selempang . dan Pasuruan. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. Sementara itu. Malang. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. di Jawa Timur. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. yang disebut sampiran. Cara ini disebut kakawung. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Cara lain yang sangat khas. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . Setelah disarungkan pada tubuh. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. jarik (kain) batik yang dibebatkan.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. Probolinggo. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. kain wiron dan udeng. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Pengaruh Hindu . Udeng dan sarung tidak tertinggal. genta dan talam. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Cara ini disebut Sempetan. dengan segala perlengkapannya. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Masing. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Untuk bekerja. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Keluhuran budi. Dalam hal berbusana. jas tutup warna gelap. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. termasuk wisatawan.

Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. berupa kain pembalut tubuh. Adapun pada geringsingan barak atau . saput dan kemben. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. Untuk kebaya berlengan panjang hingga pergelangan tangan. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. sedangkan warna merah tidak terlihat. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. Kemben. kemben bukanlah penutup dada. disebut potongan Bali. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. Demikian pula pada kaum pria. perada. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. Setelah ujub upacara. saput dan anteng. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. sabuk. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. hitam dan merah. Menurut sejarah. endek. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. Songket. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. maupun putih dan ke arah krem. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Berdasarkan warna. mereka sebut potongan Jawa. Namun. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. Selempang pun ada yang berwarna hitam. yaitu putih susu atau kuning muda. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. kuning. Pada masa lalu. maupun dari kasta manapun mereka berasal. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. dari segala jenis usia. Bagi wanita Bali. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya.panjang warna hitam batikan. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). baik untuk pria maupun wanita. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali.

tidak ada perbedaan yang menyolok. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. cempaka putih. merah dan hitam. madya. seluruh busana dibuat dari bahan perada. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsurunsur ragam hias dari kebudayaan asing. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. Gelung kucir. seperti India (patola). tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. yaitu nista. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. Bagi kaum pria. Dalam upacara perkawinan. patlikur. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). cempaka kuning dan mawar. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. wayang putri. kain geringsing. untuk hiasan kepala atau petitis. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. kebo. Secara keseluruhan. cecepakan. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. cemplong. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. tampak tiga warna dominan. Sementara itu. serta cincin. dan sebagainya. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. lubeng. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. Penulis Endang Mariani . masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. seperti kenanga. Berdasarkan corak busana yang dipakai. di balik kemben. Sementara dalam tata busana. dari bahu ke bawah. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. Selain warna.geringsing merah. Wanitanya memakai kemben songket. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. yang disebut umpal. Geringsing sabuk. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. Untuk menahan kapuh. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. Cina. yaitu kuning muda. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. juga dibedakan menurut ukurannya. Untuk tingkat utama. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. bebekeng atau pending.

Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. clan sebagainya. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. tak jarang. Sebagai busana bawahnya. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. dari bahan yang sama dengan baju. kulit kerang atau keong kecil. Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. juga dari kain yang sama. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. untuk koleksi cendera mata. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Dulu. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda.Busana Tradisional Dayak Taman Penulis Aat Soeratin. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. . Kini. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. putih. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. merah muda. baju. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. celana. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. baba = lakilaki) untuk laki-laki.

atau batik. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. juga sangat sedikit para perempuan. 1 cm. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah . Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. tapi kini hampir tak ada lelaki. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. subang penghias telinga. menggelayut. maupun kambu. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. Dulu. ketelitian. jelas. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Dibuat dari logam perak clan rotan. Misalnya saja kalong manik pirak. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. perunggu/tembaga. hitam atau kuning. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dikenal.6 cm. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Maka. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. atau kaca. antara lain. yang memakainya. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. sehingga nampak sangat unik dan khas. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. indulu manik. Sebagai pelengkap busana.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. tak mengherankan. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. kalung. atau semacam rumput. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. kaum wanita clan para pria memakai poosong. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . pada masyarakat Dayak Taman. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. gelang-gelang. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Kalung ini dipakai saat upacara adat. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. lebih-kurang. penghias leher. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan .menjadi bentuk kerawang. yang dianyam menjadi bentuk topi. topi atau kopiah. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. dibutuhkan kesabaran. dengan ketebalan. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Ada beberapa macam kalung. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. disebut tajuk bulu aruae. dan sebagainya. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. perak. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas.Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki.

dan wanita lanjut usia. clan orang tua. clan berlengan pendek. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. Sekarang. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. agaknya. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. baju burai king burai clan baju manik king manik. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Dahulu. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. . Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya.gelang pada bagian lengan di atas siku. Terutama baju burai king burai. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. kiri clan kanan. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. dewasa. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang.

Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Pasangannya digunakan tapih. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. dua di bagian bawah kiri dan kanan. sandal tali silang. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Bahan baju dari kain lena. ekstrimin. yaitu lam jalalah. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Dilengkapi kantong tiga buah. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. belini dan friend ship. yang lazim disebut tapih kaling. kain Pagatan. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). satu di dada kiri.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Banjar People Traditional Dress Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). dan selop. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. dan jenis lain yang . salawar kiyama dan sandal silang. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). lurus tanpa kantong. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Lengan baju sampai pergelangan tangan. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Alas kakinya ada berbagai jenis. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. berbentuk segi tiga. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. seperi biru muda. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Menjadi aturan. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). kuning muda. baju kiyama. Baju ini berkancing lima biji. hanya tanpa saku. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. dan jenis lain yang agak tebal. yaitu sandal kalipik. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Motif ini melambangkan sikap waspada. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. dan krem. Ada dua pilihan sabuk. dominan warna kuning. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Kantongnya ada tiga buah. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). tanpa kantong. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda.

Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. . Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. bunga jepun berbentuk jepitan. kalung bermotif bunga-bungaan.agak keras. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. untaian metalik. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Pagatan. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. untaian bunga depan dan belakang. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. dan untaian bunga warna keemasan. Cincin dari bunga mayang. sabuk pinggang warna emas. terdiri dari daun sirih. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. bunga melati yang diatur berbaris. Perhiasannya berupa samban. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. dan air guci. dengan segitiga lebih tinggi. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. bunga mawar merah dan bunga melati. kalung. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kaki mengenakan selop dari beludru. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful