Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-

kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manikmanik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus - motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar, menggelayut, sehingga nampak sangat unik dan khas. Ada beberapa macam kalung, penghias leher, pada masyarakat Dayak Taman. Misalnya saja kalong manik pirak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang, kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki, tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dikenal, antara lain, dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak, ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat, seperti galang bontok yang dibuat dari perak, galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan, galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas, dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku, kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang, bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik, clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan, masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan, baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek, clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju

Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. agaknya. . Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. clan orang tua. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. baju burai king burai clan baju manik king manik. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. dan wanita lanjut usia. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Terutama baju burai king burai. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Sekarang. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. clan berlengan pendek.kuurung sesungguhnya sudah tua. Dahulu. dewasa.

.

ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. tanpa kantong.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Dilengkapi kantong tiga buah. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. yang lazim disebut tapih kaling. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. seperi biru muda. sandal tali silang. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). satu di dada kiri. kain Pagatan. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. hanya tanpa saku. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Bahan baju dari kain lena. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. yaitu sandal kalipik. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Motif ini melambangkan sikap waspada. Baju ini berkancing lima biji. yaitu lam jalalah. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). ekstrimin. dominan warna kuning. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Ada dua pilihan sabuk. salawar kiyama dan sandal silang. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dan jenis lain yang agak tebal. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Pasangannya digunakan tapih. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. dan krem. berbentuk segi tiga. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Kantongnya ada tiga buah. baju kiyama. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). belini dan friend ship. dua di bagian bawah kiri dan kanan. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). lurus tanpa kantong. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Menjadi aturan. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. dan selop. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Alas kakinya ada berbagai jenis. Lengan baju sampai pergelangan tangan. kuning muda. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. dan jenis lain yang . Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron.

Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Pagatan. dan untaian bunga warna keemasan. terdiri dari daun sirih. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). . Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna.agak keras. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. bunga jepun berbentuk jepitan. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. bunga mawar merah dan bunga melati. Cincin dari bunga mayang. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. dan air guci. Kaki mengenakan selop dari beludru. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. kalung bermotif bunga-bungaan. sabuk pinggang warna emas. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. kalung. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. bunga melati yang diatur berbaris. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. untaian metalik. untaian bunga depan dan belakang. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. dengan segitiga lebih tinggi. Perhiasannya berupa samban. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang.

warna merah dari buah rotan. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. bunga. dedaunan. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. pun punya makna simbolik. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. Celananya adalah cawat yang. lalu tenunan serat alam yang "kasar". gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. kemudian kain tenun halus. yang bermakna sangat filosofis. . gelang dibikin dari tulang binatang buruan. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. kalung. Selain itu. misalnya. Misalnya saja. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. gelang. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. sehingga kesannya sangat alamiah. Awalnya kulit kayu. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. Akan tetapi naluri berdandan. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. Biji-bijian. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. para tetua adat. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. warna hitam dari jelaga. kulit kerang.bagi para pemuka kelompok. dan sebagainya. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan.berbeda untuk perempuan dan lelaki . selain tampil artistik. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. akar pohon. warna kuning dari kunyit.misalnya upacara tiwah. warna putih dari tanah putih dicampur air. dan sebagainya. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. harimau akar. menjadi corak hias busana adat. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. tak diberi hiasan. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. panglima perang. yang disebut ewah. dalam kepercayaan Kaharingan. dan ahli pengobatan. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting .Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). warna asli kayu. giwang dari kayu keras. tak pula diwarnai. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. yang cenderung animistik. burung. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. kepala suku. Busana itu berwarna coklat muda. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . ketika dikenakan. manusia. upacara meminta hujan. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. giwang (suwang).

melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. akar tumbuhan. tampil pula dalam ekspresi yang lain. diberi hiasan. batang garing. kebanyakan dibuat dari kain beludru. disebut salui. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. koleksi museum. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. dan tulang. dan bagian dada. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. lawung bawi. Busana pengantin. Teknik menenun. celana . Masyarakat Ngaju. Dan kini pucuk rebung. juga dari beludru atau satin. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Celananya disebut selawar gobeh. dari kain satin atau beludru. Selain untuk aksesori. pakaian acara-acara adat. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. konon. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. dan aplikasi manik-manik dan arguci. Betapa tidak. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. berhiaskan gambar pewarna alam. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. fauna. burung enggang. dan mitologi. kayu. Paduannya rok panjang sebatas betis. Akan tetapi. keramik. Pada kerah. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. dan sebagainya. awan. sumpit. dan kelengkapan lainnya. atau sutra. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". harimau akar. satin.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Mereka kemudian melirik rotan. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. ikat kepala. ular. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. manusia. celana. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. jalinan serat alam. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. atau cendera mata. jenis rumputrumputan. ujung lengan baju. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. umpamanya saja. untuk kostum tarian. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. kostum taritarian. model baju pria Melayu tapi berkerah. dan tombak. dan anting-anting atau suwang.

panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Penulis Aat Soeratin . Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.

baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong. pakaian pesta/upacara adat. Agar tampil rapi. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya. Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka. berdasarkan fungsinya. Akan tetapi kini. dipakai oleh kaum lelaki. dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina. Akulturasi itu. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul. celana. dan sebagainya. dan diberi kerudung ketika bepergian. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain. rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai. jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. mempelai wanita memakai baju takwo. dihiasi gerak . Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana.Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Baju pelembangan. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. linen. yang dipakai sehari-hari. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun. kain panjang. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. atau beludru. celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas. semacam kebaya tidak berkerah. yang modelnya seperti piyama. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. namun tidak tembus pandang. dari kain batik. sebagian diantaranya. dan status sosial pemakainya. pakaian bepergian. dari bahan katun untuk baju. salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. disebut jelapah. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis. umur. antara lain. Dahulu. destar. sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. pakaian kerja. Busana tradisional Kutai. mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Jika bepergian memakai ikat fepala. masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. atau kain sarung pelekat. yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Saat upacara pernikahan berlangsung. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing.

Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Pentat. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. fauna. pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. serta sebagian di Kec. Pada bidang yang berwarna terang. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. semacam lencana. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. dan sebagainya. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Muara Nayan. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Tenggarong. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. dan alam mitologi. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo. Motifnya stilasi dari bentuk flora. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. kopiah. dipadukan dengan celana panjang. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah.5 meter dan direndam di dalam air. sarung. dan warna coklat muda. dipadukan dengan celana panjang. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Di bagian depan sentorong dipasang wapen. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Alhasil. sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. baju. pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. hitam. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. leher baju. dan Lempunah. diimbuh hiasan kembang gempa. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil.gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. terutama di desa Tanjung Isuy. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. . dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong.

diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. manik-manik. . Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik. kain panjang yang berhias pada ujungnya. Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Maknanya. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat. dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi. taring harimau dahan. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang. bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Kini tak ada lagi raja. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. dan tanpa alas kaki. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat. Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. taring beruang. Jautn berarti awan. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. memakai cawat. hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. dan sebagainya. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq. Misalnya motif jautn nguku. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat. dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. sedang nguku berarti berarak. dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). upacara panen hasil bumi. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik. kepala suku. kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). upacara pengobatan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi.Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. taring binatang buruan. Pada pinggang dililitkan sempilit. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki. Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Atau motif waniq ngelukng. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa).

Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. ragam hias. . biasanya terbuat dari logam. taring binatang. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Busana adat. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. dan uang logam kuno. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam.

Sudah tentu. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Sementara itu. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. Tidak lupa. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. anting dua susun. Selain itu. Di samping itu. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. Selain busana adat yang disebutkan tadi. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. dan ikat kepala. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. upacara injak tanah atau joko kaha. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . oranye. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. baik sebagai permasuri. serta kain panjang. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. pembantu permaisuri. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. . Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. bros. atau emas. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. serta alas kaki yang disebut tarupa. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. remaja contohnya. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. leher jas. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. celana panjang.upacara adat. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. atau diselaraskan dengan usia mereka. ujung tangan. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. berlian. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. berikut toala polulu di kepalanya. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Sementara itu. dan peniti yang terbuat dari intan. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma.

Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. lengkap dengan lengso duhu. dan celana popoh. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. . Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. celana dino. Sama halnya dengan busana wanita. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning.Busana kerja dalam keadaan bersih. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. Adakalanya. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket.

baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. Bila mereka akan bepergian. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. lenso pinggang. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. Kebaya manampal. Keberadaan busana adat Ambon. dengan leher agak tertutup. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. dan celana panjang.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Mereka biasanya mengenakan baju cele. kole. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. Jenis busana lain. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. dipakai . Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. lengkap dengan kain pelekat. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. Celana kes atau hansop. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. kebaya hitam. Dilengkapi dengan kaeng pikol. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. khususnya dalam upacara sidi. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Walaupun model bajunya sama. Bila akan bepergian. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri.

Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. salempang. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. penerimaan tamu. celana hitam. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. . sepatu berwarna putih. dan kaus tangan berwarna putih. patala di pinggang. bersepatu dengan kaus kaki putih. dan topi. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. pembersihan negeri. Busana raja terdiri atas baju hitam. ikat poro atau ikat pinggang. lenso bodasi dililitkan di leher. patala disalempang di dada. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. busana rok. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele .oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. celana panjang atau celana Makasar.

penghormatan jenazah. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya.terbatas pada gelang atau bel usu. dan sebagainya. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. upacara-upacara gerejani. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. Kalaupun ada yang mengenakannya. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. yang menggantung dengan indah di telinga. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. berbagai kalung atau ngore. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. Pada dasarnya. Misalnya noras aboyenan. yakni sinune dan somalea. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. hitam kebiru-biruan. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. somalea. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. serta lean. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. Misalnya. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. meliputi sinune. pelepasan arwah. belusu. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. . Artinya. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. ketua adat misalnya. Pada masa lalu. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. yang berlengan pendek maupun panjang. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. Selain itu. Meskipun begitu. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. pernikahan. dan hitam. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Saat ini. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. memakai rantai maupun tidak.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. yaitu anting-anting. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. Bahkan. dan lekbutir. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang.

mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. prajurit. dan keperkasaan seorang pemimpin. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. atau para tua adat.Sementara itu. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. atau ketua adat. . yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. berhiaskan somalea. Namun lebih dalam lagi. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. kain penutup kepala. sinune. Konon pada masa lalu. kebesaran. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. Kecenderungan yang tampak sekarang. tutuban ulu. tutuban ulu melambangkan keberanian. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. pahlawan.

Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. Diatas labu dikenakan dong. ragi werung. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. bahkan di. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. bergaris biru melintang. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Kain sarung wanita. coklat. dihiasi dengan ragam-ragam flora. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Indonesia. fauna dalam lajur-lajur bergaris. Destar. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. kuning atau merah. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. putih. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. Utan lewak. utan lewak. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. Belanda. Arab dan India. Portugis. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. biru dan kuning secara melintang. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. Cina.

Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. pesta dan sebagainya. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. delapan dan seterusnya.tinggi. . Demikian pula hal dengan warna dong. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. apabila gelap mencerminkan duka. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka.

Warna hinggi juga . burung. buaya. naga. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. udang. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). ikan. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. pesta-pesta dan sejenisnya. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. upacara. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. mahkota dan singa. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Di kepala dililitkan tiara patang. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. cumi-cumi. penyu.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. setengah leluhur. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Sumba Barat dan Sumba Timur. ular. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. ekonomi serta religi suku sumba. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu. bendera tiga warna. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. setengah dewa. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. kuda. ayam. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. rusa.

muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Kabiala adalah lambang kejantanan. Timor Amarasi. Busana Tradisional Amarasi. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. coklat. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. putih dan biru. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. keperkasaan serta budi baik seseorang. lau pahudu. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. dikenal dengan sebutan iteke. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. merah bata. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. menjurai ke bagian dada. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. lau mutikau dan lau pahudu kiku. dan po`uk. dewasa ini sudah jauh berkurang. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. telinga. Timor.

putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. . berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Sebaliknya pun. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. perak. dalam membalas pihak lelaki. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Kedua telinga dihiasi falo noni. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. Emas. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. kuning.hiasannya. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde.

Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Konon, pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai, estetika pun berkembang, lalu terciptalah corak hias simbolik, pada bentangan kain-kain tenunan mereka, yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Stilasi pohon mawar, burung, ular naga, tokoh pewayangan, kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya - maka pemakainya akan ditimpa kemalangan, misalnya saja kehilangan kewibawaan, kesaktian, dan semacamnya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat, sehari-hari maupun upacara, masyarakat Sasak. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI, seperti yang telah disinggung di muka, memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak, meski tentu, tak menghilangkan identitas jatidirinya. Untuk mengikuti acara adat, misalnya upacara potong gigi, upacara kematian, menghadiri perkawinan, masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga, dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek, panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Penahan kereng adalah lilitan kain, berfungsi seperti ikat pinggang, disebut bebet. Pada kening tersaput ikat kepala, dinamai sapu, biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Busana Pengantin Sasak

Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/pending) emas, gelang tangan (teken), ali-ali (cincin), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. diselipkan pada baba. dipakai. ikat pinggang dari logam keemasan. diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang). Selepe. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. seperti memakai sarung. Di atas baba dilingkarkan selepe mone. sarung songket. sebutan untuk kain songket (tembe songke). Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak. dan ponto (gelang tangan). Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. sehingga tampil lebih sederhana. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima. kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa. seperti ditulis di muka. Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Penahan siki adalah baba. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit. yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. Rambutnya disanggul. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar. berwarna keemasan. mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. ikat pinggangnya. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. sebatas lutut. . Kemudian siki.

dan yang melanggar adat. Biasanya. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. penjemputan tamu. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. atau hari-hari besar adat lainnya. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. ada beberapa ciri. Pangkajene. kain sarung atau lipa garusuk. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. . berwarna terang dan mencolok seperti merah. bentuk maupun corak. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. tu maradeka. Khusus untuk tutup kepala. Jeneponto. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. Pada masa dulu. Sementara itu. tidak mampu membayar utang. celana atau paroci. dan atu atau golongan para budak. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. Maros. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. dan tutup kepala atau passapu. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Pada dasarnya. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. pasapu guru sebutannya. Meskipun demikian. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. Bantaeng. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. Dalam kebudayaan Makasar. dan Kepulauan selayar. Namun dewasa ini. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. saku di kanan dan kiri baju. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. leher berkrah. masyarakat menyebutnya mbiring. Gowa.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. dan hijau.

Namun pada umumnya. selempang atau rante sembang. tidak berlengan. berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. sapu tangan berhias atau passapu ambara. sisi samping kain dijahit. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. Sementara itu. . warna dasar sarung Makasar adalah hitam. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. coklat tua. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). kalung panjang (rantekote). bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. Sama halnya dengan pria. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. Baju bodo berbentuk segi empat. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. dan anting panjang (bangkarak). Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. dan berbagai aksesori lainnya. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. dan kalung besar (geno sibatu). gelang. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. atau biru tua. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan.

Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. Dalam kehidupan sosialnya. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Untuk wanita yang usianya agak tua. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Dalam berbusana . Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. tua maupun muda. dengan hiasan liontin atau medalion besar. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Menurut catatan sejarah. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Majeng. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. Untuk tata rias rambut dan kepala. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Ada pula sanggul agak rendah. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Makassar dan Toraja. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Semua kalangan masyarakat Mandar. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Pada bagian pinggang. remaja dan orang tua. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana.

mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. memasuki rumah baru. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. yakni busana pria dan busana wanita. berdasarkan adat rambu solo. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. . Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Misalnya dalam upacara panen padi. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Pada kesempatan seperti itu. busana misalnya. Sementara itu.pantovel berwarna hitam. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. Untuk penututp kepala. dan upacara pernikahan.

Secara umum. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. seperti di sawah dan membangun rumah. atau tembaga dan. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. khususnya para sesepuh masyarakat. yakni . Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. yakni kalung yang terbuat dari emas. dan passapo timbo. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. yaitu hiasan pada sanggul. Misalnya sambuk busa. tutup kepala. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Selain memperlihatkan fungsi estetis. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. hingga jari jemari. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. Selain itu. atau hanya disampirkan di bahu. manik kata. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. yang khusus digunakan pada saat bekerja. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. dan pa`toko. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. Celana yang dipakai oleh kaum pria. sebagai bagian integral dari busana adat pria. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. diikatkan di pinggang atau. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Passapu. Sementara itu. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. Kedua bayu bussuk siku. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. leher. dalam acara adat orang meninggal. dan sarong atau tudung kepala. dan tali banu . Sarung. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. ada juga tas kecil atau sepu. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. perak. tali-tali biang. bahu. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. pinggang. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. tali pang`kabi. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. atau pakaian pesta. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. yakni ikat kepala. dan sarung atau sambuk. celana atau sepa tallu buku. Sementara itu. lengan. rara. Sama halnya dengan sarung. Berdasarkan fungsinya. Selain itu. pakaian resmi. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. Pertama bayu poko. yang disebut sambuk langkan. sepu. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. mulai dari hiasan di kepala. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi.

Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. busana . Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Oleh karena itu. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. menghadiri undangan-undangan resmi. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. Pada masa itu. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. dan Kerajaan Kaidipang Besar. Adapun keris atau gayang. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. Bolaang Uki. Bintauna. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. menerima tamu-tamu kerajaan. Aktualisasi dari semua itu. busana bayi. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu.

ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Khusus mengenai perhiasan. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. Busana kerja guha-ngea. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. ungu. Dalam hal ini. busana kohongian. Sama halnya dengan busana kohongian. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. Sedangkan menurut asal-usulnya. baju atau baniang. Di samping itu. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. Ada . Sementara itu. serta kualitas bahan yang digunakan. detil busana. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. sistem religi. Akan tetapi. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. serta kualitas bahan yang paling baik. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. keemaasan. Misalnya. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. Dalam hal ini. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. kuning. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. Selain itu. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. Secara umum. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. pengantin wanita maupun pengantin pria. serta aksesorinya. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. celana dan sarung tenun. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. Selain busana kebesaran seperti itu. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi.pengantin. Pada umumnya. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. busana simpal.

sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. celana panjang. antinganting. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. kuning. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. gelang. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. dan hijau tua. hijau. yakni warna terang dan mencolok. pada zaman dulu terbuat dari kain . Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. Khusus untuk selendang. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Dalam hal ini. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Baju jenis ini. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. kuning tua. Nama busana tersebut adalah laku tepu. atau merah darah. Namun saat ini. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. serta berlengan panjang. Saat ini. serta selendang (bawandang liku). Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. peminangan. ungu. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. krah baju berbentuk bulat. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . penasbihan desa. Namun terlepas dari semua itu. Sementara itu. ikat pinggang. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Sementara itu. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. dan ikat kepala berbentuk segitiga. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. Selain pada kelengkapan busana pengantin. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). Khusus untuk ikat kepala. Hingga saat ini. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. penduduk keturunan bangsa Filipina.

dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. paporong tingkulu.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. Selendang tersebut dinamakan kaduku. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. yang disebut hulontalangi. paporong datu bouwawina. Cara memakainya. . hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. Sementara itu. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo.

Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). satu di kiri atas dan sisanya di bawah. kalau berbicara mengenai busana adat. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. hijau dan ungu. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. brokat atau bahan kain lainnya. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. disebut wolimomo. tetapi kerahnya berdiri tegak. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. merah. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. kain sarung dan berbagai aksesori. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. disebut hotu. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. oleh karena itu disebut sunthi burungi. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. Sehingga. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. celana panjang (talala) dan aksesori. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. disebut hamsei. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. . brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. Seperti halnya baju. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. ungu dan merah hati. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. beludru. Pada upacara ini. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). seperti kuning. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. kuning. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. selimut (waluto). hijau.

kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). sarong motif kaki seribu. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). celana panjang. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. potongan baju lurus. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Selain baju karai. yang terdapat pada hiasan topi. Selain itu. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. aksesori dan perhiasan. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. seperti motif biasa. disebut busana tatutu. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. kalung mutiara (simban). ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. disebut laborci-laborci. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Busana kebesaran ini disebut biliu. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. selendang pinggang dan kedua lengan baju. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. terdapat juga sarong motif sarang burung. Semua motif berwarna kuning keemasan. . Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Celana yang dipakai masih sederhana. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. selendang pinggang dan topi (porong). Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. bintang. tidak memiliki krah dan saku. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. mahkota (kronci). disebut model salimburung. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Motif Mahkota pun bermacam-macam. anting dan gelang. leher baju. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. terdiri atas baju lengan panjang. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. berkancing tanpa saku. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. Busana pengantin baju jas tertutup ini. kalung leher (kelana). Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus.

selop. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. dunia dan alam baka. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. yaitu terdapat kancing. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. Sedangkan Walian Wangko wanita. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. juga untuk menyelipkan senjata tajam. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. Baju katango ini. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. bheta. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. yaitu langit dan bumi. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. Umumnya. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. perlambang penyatuan 2 unsur alam. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. Warna baju umumnya putih. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. Dilengkapi topi porong nimiles. hanya saja lebih panjang seperti jubah. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. dan berkerah. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. Sarung yang dipakai. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. hitam. kalung leher dan sanggul. biru. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. sarung (bheta). gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. Sarung kedua untuk membalut baju. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. saku.

Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). dan sanggul. cincin dan anting yang terbuat dari emas. kalung (tongko). manik-manik. Penulis Mira Indiwara Pakan . dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). dan perhiasan logam. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. dan ikat pinggang (sulepe). Sarung yang dikenakan ada dua.. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. dan ikat pinggang (sulepe). khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Tandaki adalah mahkota. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. tusuk konde (panto). Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. selendang (salenda). Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Selain pakaian sehari-hari. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. yang disebut biru-biru. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. anting-anting (dali). Pada upacara tersebut. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Dalam upacara ini. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Agar sarung tampak kuat. perkawinan misalnya. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. ikat pinggang. sarung berhias (bia ibolaki). Mahkota dibuat dari kain merah. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. perhiasan yang dipakai adalah gelang. gelang kaki (kurondo). anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. bheta. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Selain itu. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. sarung dua lapis.

kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. dan budak (batua). kain fuya yang digunakan agak kasar. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Biasanya. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. Oleh karena itu. Selain baju-baju tersebut. baju gembe. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. sekalipun itu tidak banyak. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. dan hiasan untuk penutup rambut. pending. Secara fisik. Meskipun saat ini. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. . masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Sementara itu. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. Sementara itu. Paling tidak. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. dan baju pasua. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. Ada golongan raja (maradika). Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Selain memiliki busana yang cukup beragam. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. Busana wanita Kaili. Pada zaman dahulu. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. kalung panjang. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. yakni baju poko. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. bangsawan (toguua mungana). Pertama adalah unte tandu. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. rakyat kebanyakan (todea). dengan jenis yang cukup beragam. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki.

Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Secara historis. Pada masa itu. Unsur yang pertama adalah sarung. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. Selain kedua unsur busan tersebut. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. yakni berperang dan tradisi pengayauan.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). ikat kepala dan kampuh. yang dikenal dengan istilah mengayau. Namun bila akan bepergian. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. yakni kain sarung. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang.

umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Beberapa lembah yang terkenal, antara lain, lembah Baliem (Lembah Agung), Illaga, Dwart, Konda, Illu, Sinak, Mulia, Pas Valley dan Piet River. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926, sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat, yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege", artinya "Kami orang Baliem". Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya, di antaranya koteka (holim), yokal dan sali. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah, sejenis labu Cina. Buah labu yang sudah tua, dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi buah labu dikeluarkan, dikorek dengan kayu yang diruncingkan, kemudian dibersihkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Ketika dikenakan, agar tidak jatuh, penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem, terutama di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Jenis holim ini halus, berwarna kuning kemerah-merahan. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi, misalnya "uang merah" (eka merah). Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem, Ilaga, Tiom, Yalimo, Apalahapsili, Welarak, Kosarek, dan Oholim. Ada tiga pola penggunaan koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan, pria yang memakainya masih perjaka, belum pernah melakukan persebadanan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan, bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani, laki-laki sejati, pemilik harta kekayaan yang melimpah, memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja, keterampilan memipin, dan pengayom rakyat. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian, seperti waktu mengerjakan ladang, saat berada di honai, ketika berternak babi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu, upacara adat misalnya, mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi, disebut yokal. Biasanya yokal berwarna hitam, kuning, dan kemerah-merahan. Bahan pewarna tersebut

didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan, seperti mengerjakan kebun, menyiapkan makanan, memelihara babi, mengasuh anak, menjual hasil pertanian, bepergian, termasuk saat mengikuti upacara adat. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya, diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Seperti proses membuat yokal, bahan tersebut dijemur atau diasapi, setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis, misalnya saat ke ladang, ke sekolah, ke gereja. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Konon, karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani, sehari-hari atau saat upacara adat, antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan, dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Selain sebagai aksesori, noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga untuk membawa babi. Sedemikian besar fungsinya, sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya, antara lain: swesi, sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Siluki inon, topi dari bulu kuskus warna hitam, yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Sekan, gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Walimo yaitu hiasan dada, dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan, berderet-deret dan disusun rapi, puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung, atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Cipat, kalung berupa tali penangkal guna-guna. Wayeske, anak panah dan busur, senjata ampuh pria sejati Dani. Mul, semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati.

Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu, Marind, Asmat, dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian, bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats, Sawa Erma, Atsy, dan Pantai Kasuari. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya, masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat pinggang dari anyaman rotan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai oleh istri panglima perang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus, mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet, bulu bangau yang diikatkan pada

Senjata ini diselipkan pada sinenke. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. pemukul tifa. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). terutama kaum lelaki. dan penyanyi pengiring upacara. subang penghias hidung. Topi ini disebut juprew. panah. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. penyanyi. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. dan pangkal betis. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. Pada kebudayaan Asmat. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. konon. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. panjangnya kira-kira 30 cm. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. masyarakat Asmat. tanpa membedakan status sosial. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. pemimpin tungku (keluarga luas). dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). disebut wisaper. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. penyanyi. dari bahan yang sama. . Masyarakat Asmat. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. biasanya dipakai oleh panglima perang. disebut betan. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. kalung. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. sokmet masih dipakai pria Asmat. pergelangan tangan. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. Sebagai kalung. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. Sedangkan para lelaki memakai bipane. dan tombak. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. Hingga sekarang. dan biasanya disandang oleh panglima perang. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. dan gelang yang dipakai pada lengan. terutama saat melaksanakan upacara adat. pemukul tifa. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. kepala adat. dan pemukul tifa. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. Kaum wanita Asmat.lidi. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja.

Dan. fum. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. Anak panahnya agak beragam. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Warna hitam dari arang pembakaran. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. Penulis Aat Soeratin. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Konon. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. dari bambu dinamai firokom. . disebut vom. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. putih. panjangnya sekitar 1. seperti relung kua yang bergambar burung. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. Agar lebih variatif. yang dari besi dikenal sebagai sok. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. Komposisi warna merah. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek.Senjata lainnya adalah tombak. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. sowen. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. hitam. Tombak kayu besi dinamai viwu.5 meter. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. dan tombak logam besi disebut frin. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau.

Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Kembang goyang 3. Kuntum cempaka 5. Pagar tenggalung 7. Kalung 10. Sari bulan 8. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Daun bambu 4. Sepit udang 6. Anting panjang 11. Pending untuk pinggang . Gelang 12. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Kembang cempaka 2.

pakaian adat Indragiri. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). 4. kain sampin. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. 6. 5. Selain itu. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. Melayu Bengkalis Riau. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. busana ini terdiri celana. 3. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. kenanga dan irisan daun pandan. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). melati. Untuk pakaian pria. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. dan songkok atau penutup kepala. Tata Rias dan Hiasan: 1. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. 2. Melayu Siak Riau dan lain-lain. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. kain dan .Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). 2. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Untuk perempuan. Variasi pakaian adat Riau diantaranya.

merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. hijau. . Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. sarung berwarna kuning. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam.selendang. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. pakaian haruslah menutup aurat. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. dengan leher baju berbentuk bulat. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya.

sarung sebatas dengkul. kalung dan gelang. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. . kain selempang dan sarung. pending. diletakkan ditengah-tengah sanggul. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. baju model jas tertutup. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. dan celana panjang. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin.

3. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. 5. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. 2. melayu. kalung. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. pesta. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Pakaian ini bercirikan Islam. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. warnanya juga antara hijau dan kuning. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. Pakaian petani. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. 6. 4. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. • • • . atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. adalah pakaian sesehari kaum wanita. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Baju Cele Kain Salele. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. acara resmi lainnya. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci.

Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. semangat. Menurut keterangan warga setempat. Selain celana komprang dan baju pangsi. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. ruangan. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Sebagian penggembala kerbau misalnya. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. . termasuk Banten ketika masih belum terpisah. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Selain itu. dan karakter kuat. jenis dan pemakaiannya. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Sebagaimana batik kebanyakan.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu.

Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. namun secara umum terdiri dari destar. Dikenakan pula kain samping . artinya ukur panjang tak dapat singkat. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. Jenis pakaian ini bermacammacam. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. baju hitam longgar. Salawar. Baju Kubaya. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. Model baju. belah sampai ke dada tanpa kancing. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. seperti penghulu dan bundo kanduang. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Pada masa lalu. keris. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. kain sandang. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. celana hitam lebar. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. jangka pendek tak dapat singkat. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. dan tongkat. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. sesamping. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Baju Taluk Balanga. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. jangko singkek tak dapek panjang.• • • • • Lampin. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. terdiri dari destar sebagai penutup kepala.

bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . yaitu kalung kuda. dan selendang pendek. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. baju kurung. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Lambak atau kodek. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. kain selempang. Kaum prianya. anting-anting serta cincin. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. dan kalung kaban. Khusus pada pakaian penghulu. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. merah. batik. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. Baju kurungnya berwarna hitam. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. kain sarung. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. Variasi lain dikenakan tengkuluk. Pakaian sehari-hari Para wanita. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . sementara selendang tersampir di bahu. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. sarung bugis ataupun kain pelekat. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Kalung dari beberapa macam. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. kata-katanya didengar. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). gelang bapahek dan gelang ular. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. seperi kalung. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. lambak/kodek atau kain sarung. kalung pinyaram. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. kalung gadang. Seperti juga pada pakaian penghulu.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung.

disebut sokgumai. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. pimpinan atau anak buah. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Pagai Utara dan Pagai Selatan. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. perikehidupan serta ungkapan budayanya. binatang atau manusia memiliki roh. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. tidak terpengaruh oleh Hinduisme.baiknya. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Islam dan Barat. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. penutup aurat. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. peristiwa. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . bertanggan naik. Selain kabit dan sokgumai. Sipora. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Budisme. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu.

Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. bergantung pada kalung depan dada. mulai dari busana sampai dengan . Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. ogok. Tato merupakan simbol kejantanan. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. ikat pinggang dari lilitan kain polos. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. putih dan hitam atau hijau.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Ikat kepala ini dinamakan sorat. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. bunga-bungaan dan daundaunan. biasanya merah. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). pakalo. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. cermin raksa. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. sejenis subang pada kedua telinga. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. Selain itu tato. terbuat dari gelas berwarna merah. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. dada. Lalu disusul dengan tangan. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. lei-lei . paha dan pantat. kuning. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. gelang-gelang. Tato adalah busana kebanggaan. botol kecil tempat ramuan obat-obatan. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. rakgok. suatu kegiatan perdukunan.

renda. mastura. Gelang juga dipakai pada kaki. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. sutera. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. gelang ikol dan keroncong. berseluar (celana panjang) dan bersamping. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. . Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. gelang kana. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan.perlengkapan perhiasannya. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. yaitu ikatan bendahara (Kedah). kain bertabur atau destar. rantai serati. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. Diberi hiasan gerak gempa. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. dari bahan brokat (kain senduri). yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. ikatan serdang dan sebagainya. sekar sukun. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. gogok rantai lilit. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Pakaian ini tidak memakai selendang. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. cincin bermata. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar.

Misalnya ulos jugia. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. bagian bawah disebut haen. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. dan runjat. khususnya pada ikat kepala. dipakai hingga batas dada.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. ragi hotang. Muangthai dan Laos. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). serta tutup kepala yang disebut saong. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. bulang-bulang. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Sebelum orang Batak (Toba. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. ragidup. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. baju dan celana. sadum. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . dan dilengkapi dengan sarung suji. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. Dalam keseharian. tanpa alas kaki. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. kain dan ulosnya. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. mereka memakai pakaian biasa. Pada suku Batak Toba. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. Karo. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. dilengkapi dengan sarung. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. sabesabe atau detar. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Untuk tutup kepala disebut saong.

Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Pada masa lalu. Pada masa dahulu. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Pada suku bangsa Batak Simalungun. Baju Godang mengandung makna keagungan. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. tergantung selera pemakai. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Bulang terbuat dari emas. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Baju. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Pada masa lalu. Bulang terdiri dari tiga macam. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). dan dililit dengan ulos ragi hotang. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Untuk selendang pengantin. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan.

yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. yang berwarna merah. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Untuk upacara. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. dan saro dalinga. dan hitam. rotan dan pelepah kelapa. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. aya ba mbagi bobotora. tanpa busana atas (baju penutup dada). penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. yaitu anting logam besar. yang disebut takula. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. yaitu baru lema`a. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. khususnya busana kaum prianya. Selain itu. kuning. merah dan putih. perak atau emas. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. Ada juga tutup kepala. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. terbuat dari daun palem. busana kaum laki-laki Nias. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). Sementara itu. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Untuk menghadiri upacara adat. Bagian bawah .

Apabila di masa lalu. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. masih ada bola-bola. merah. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan.busana wanita Nias disebut mukha. sebelum mengenal pengaruh luar. Fondruru ana`a. Gela gela dan tali hu. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. Selain itu. tampak adanya unsur-unsur Melayu. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. Lembe. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. Dalam busana pengantin ini. separuh leher dan lengan. Selembar ondora. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Demikian pula rai ni woli woli. kuning. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yang disarungkan arah ke kiri. kuning di bagian depan. kala bobu. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. Warna hitam. Busana pengantin Nias secara� keseluruhan pun nampak sederhana. Sebagai kelengkapan busana upacara. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). terbuat dari .

Untuk bagian dada. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. meliputi juga kelengkapan kepala. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Selendang tidak mutlak dipakai. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Dalam pandangan masyarakat Riau. antinganting. cincin yang terbuat dari emas. sanggul biasa atau sanggul dua. jurai. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. sepit rambut. gelang tangan. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. sering pula digunakan kain tudung kepala. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. Dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. kembang goyang. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Berbeda dengan busana kaum pria. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. . Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. Meski fungsinya sama. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. tusuk sanggul. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. satin atau sutera. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. Untuk menghadiri acara formal.

Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. begitu juga dengan perhiasan. dan sebagainya. tangkai clan bunga yang akan mekar. karena ia mendapat julukan raja sehari. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. propinsi Jambi. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Sumatera Selatan. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Bagian pinggir . Meskipun bentuk dan coraknya sama. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. seperti Riau.

Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. seperi pohon beringin. Bunga cempaka. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. Tutup dadanya disebut teratai dada. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. bunga matahari. bunga matahari. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. bungo runci. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Konon. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. kembang tagapo. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). clan bunga pandan. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. dan pucuk rebung. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. kembang cempaka. Kalungnya terdiri dari tiga .

Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Terlebih saat menuai. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. yang disebut baselang atau pelarian. gelang ceper dan gelang buku beban. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Selebihnya polos. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. Kesemuanya di pasang di lengan. kecil dan besar.jenis. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. selendang. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. kecuali bagian leher sebelah depan. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Penulis : Dewi Indrawati . di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. khususnya yang dikenakan para gadis. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. pending dan sabuk (ikat pinggang). Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. Masih ditambah dengan gelang kano. yaitu kalung tapak. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung.

alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. biru tua. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. menyentuh bahu. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. sarung. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. celana panjang. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. lembayung atau hitam. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. Jambi dan Riau. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. . Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. dipadukan dengan tusuk konde. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. cokonde balon. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. bertabur corak-corak. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua.

berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. Bahannya dari kain batik. Bagian bawah mengenakan senjang. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Bugis atau batik Jawa. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Kain ini dibuat oleh wanita. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. Alas kaki memakai selop bersulam emas. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. kain tenun bersulam benang emas yang indah. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Pada penyelenggaraan upacara adat. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. seperti perkawinan.

tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. juga dapat dikenakan selekap balak. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Untuk menghadiri upacara adat. Selain itu. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Kelai pungew. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Selambok/rattai galah. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. menyanggul rambutnya (belatung buwok). Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. Pada waktu mandi di sungai. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. Selain itu. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling.dililitkan. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. seperti perkawinan kaum wanita. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. kain ini dipakai sebagai kain basahan. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. Khusus bagi wanita yang baru menikah. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. memiliki bentuk seperti baju kurung. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Dikenakan pula kalai kukut. kecuali saat pergi ke ladang. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. perak atau suasa diberi mata dari permata.

sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Indramayu. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Pelengkap busana yang lain adalah keris. diberi pinggiran benang emas. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. atau Eropa. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. Badong yang terkenal disebut badong jadam. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. disulam. serta diberi tumpal benang emas. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. perak. atau Betawi. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. tanjak meler dan tanjak bela mumbang.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. rambi ayam. . tumbak lado. terbuat dari suasa. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. iket-iket atau kopiah (kopca). Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. atau membeli bahan baju dari Jawa. dan memakai kantong terawangan. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. dan ukuran celananya lebih lebar. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. badeek. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. atau jembio. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. Sebagai pakaian sehari-hari. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. suasa. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). seperti keris. Ada juga yang diberi batu permata. baju (kelambi). Kain ini dibuat dengan cara ditenun. India. terbuat dari kain yang ditenun. maupun diperadan. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. memakai kantong biasa. celana yang panjangnya sebatas lutut). Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. Cina. Lasem. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. yang terbuat dari kain yang ditenun. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. atau tembaga yang dilapisi emas. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas.

dada. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Sebagai pakaian sehari-hari. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. berasal dari Jawa). mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. kamhar. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. dan dahi. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. dan terompah atau selop. Pada masa lalu. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. bahu. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. atau las. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. Cina. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. rambut disanggul. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Semakin halus songket yang dimilikinya. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan.Pada saat akan bepergian. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. yang dikenakan pada kepala. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). India. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. dan tutup kepala (tengkoolook). Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. dan Singapura. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress .

Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Adakalanya dikerudungkan. Adapun masyarakat Cirebon. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. dan dihiasi dengan pasmen. Pada masa pemerintahan Belanda. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Sama halnya dengan kebaya. Sebagai penyambung belahan kebaya. digunakan peniti. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. baik di Priangan maupun di Cirebon. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. dilepas sampai pergelangan kaki. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu.Dari masa ke masa. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Zaman dahulu. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. mereka lebih suka memakai kain batik halus. warna hitam atau putih. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Di kalangan istri pembesar. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. . baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Yang membedakan keduanya adalah. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. polekat). Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai.

Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. gelang bahar. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Dengan demikian. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Dalam berbagai kesempatan khusus. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. gelang emas dan giwang emas. ali meneng. Untuk alas kaki. namun kini sandal. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu.

Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai� � � budaya� � � warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. desa Kanekes. piring. . untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. sarung tadi diikat dengan selembar kain. Tak ada listrik. Melihat warna. Kehidupan sehari-harinya bersahaja.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Potongannya tidak memakai kerah. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Bagi suku Baduy Luar. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. cita-cita. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. yaitu tangtu Cibeo. mereka berasal dari satu keturunan. tingkah laku. Oleh karena itu. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. Baduy Dalam. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Agar kuat dan tidak melorot. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Semuanya itu tabu (pamali). tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. Dalam pandangan suku Baduy. yang memiliki keyakinan. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. model dan warnanya saja. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. Mereka tidak memakai celana. dengan ciri sub dialek Banten. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. kosmetik. Penduduknya menjaga. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. radio dan televisi. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. Baduy Dalam. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. Barangbarang "modern" seperti sabun. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. yaitu Baduy Luar. tingkat umur maupun fungsinya. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Lebak. kecamatan Leuwidamar. model maupun corak busana Baduy Luar. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar.

ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. biru. kecuali baju adalah sama. Dari model. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. baju. Dimulai dari menanam biji kapas. kain ikat pinggang dan selendang. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. Model. dipintal. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. yang dipadukan dengan warna merah. selendang dan ikat kepala. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. biru tua dan putih. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. kain sarung. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. potongan dan warna pakaian. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. kain wanita. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Memang. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Bagi wanita yang sudah menikah. potongan dan cara berbusananya saja. Selain itu. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata.20 cm dan dililit dengan . Untuk pakain bepergian. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. sedangkan selendang berwana putih. karembong. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . Sedangkan. kemuduan dipanen. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas.

bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Tuaki. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Selain yang bercadar. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. bunga-bungaan. Di atas Siangko bercadar ini. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. warna putih. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. terbuat dari manik-manik. atau bahan perak. Motif-motif hiasan emas. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. Aslinya adalah emas. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. Panjang cadarnya 30 cm. yang agak longgar dan besar. bagian bawah baju sangat bervariasi. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. dan model baju kurung (Melayu). Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Sebelum mengenakan jubah. Warna-warna cerah yang dipilih. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Padanan tuaki adalah kun. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Dari ragam hias geometris. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Sebagai alas kaki. kubah mesjid dan lain sebagainya. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. yaitu model shianghai (Cina). panjangnya sebatas pinggul. baik dari bahan satin ataupun beludru. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. bunga-bunga sampai motif burung hong. daerah sekitar dada. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Tuaki bentuk baju kurung. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. Bagian jubah ini. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Teratai. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Panjang lengan agak longgar. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. tidak ada yang khusus. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang.sorban kain. Biasanya dihiasi batu-batu permata. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . kehidupan dan kematian. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. gading atau kadang-kadang kuning. Siangko bercadar selalu berwarna emas. Namun. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. karena aslinya terbuat dari emas. Mengenai tata rias wajah. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah.

pisau raut. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. sejahtera dan bahagia. Busana pengantin rias bakal. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. bros dan untaian melati. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. selendang dan celemek. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. kuat seperti pohon kelapa. Gelang listring dan gelang selendang mayang. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. Sebelum rerurub atau ruruban. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. Seperti misalnya di daerah pinggiran. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. atau mute. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. Sementara itu. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. celana panjang. gelang bahar. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. Nabi Besar Muhammad SAW. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. Namun saat ini. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. Selain perhiasan untuk kepala. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Selain sunting. Penulis Endang Mariani . Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. sarung songket. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah.

brokat. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. putih. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. sutera yang berbunga maupun . Saat ini. Panjangnya kebaya bervariasi. cincin. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). nilon. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. kain sunduri (brocade). dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. hijau. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. kuning.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. Dewasa ini. Oleh karena itu. Jawa Tengah adalah baju kebaya. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Sedangkan. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. lurik atau bahan-bahan sintetis. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. seperti pada upacara adat misalnya. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. ketiak dan punggung. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul).

baju lengan panjang. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. sutera maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini. pada kepala memakai destar (blankon). khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. cincin. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. perhiasan yang dipakai juga sederhana. Kepulauan Sumbawa. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. panggih dan sesudah upacara panggih. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Potongan dan model kebaya Jawa. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. ikat pinggang besar. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. brokat. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Sedangkan. Sedangkan busana di kalangan pria. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. yaitu midodareni. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini.nilon yang bersulam. Selain kain lurik. Kalangan wanita di Jawa. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . keris dan alas kaki (cemila). Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Sebab. Sedangkan. Namun pada saat upacara perkawinan. serta dua buah lengan baju. Bali dan Madura. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. daerah pantai Kalimantan.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. biru sedang dengan hitam. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Pada upacara midodareni. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. ijab. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. Jawa Tengah. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. ungu dengan hitam. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. kain samping jarik. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. stagen untuk mengikat kain samping.

Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. . swastika (misalnya bintang dan matahari). Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). gelang. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. stagen. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. celana panjang warna putih. Bagi pengantin pria. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. Saat upacara ijab. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. stagen. alis. pilin. sabuk timang. melati) maupun alam dan manusia. bros dan buntal. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. yaitu terdiri dari baju kebaya. cincin. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. sikepan. dalam busana adat perkawinan. jungkat. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. dodot bangun tulak atau kampuh. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. subang dan timang atau epek. kain jarik. udeng. kolong karis. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. centung. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. dodot bangun tulak. Sama halnya dengan pengantin wanita. Sebagai kelengkapan. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. terdiri dari kuluk matak biru muda. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. kalung. kain jarik. dodot bangun tulak. yang terdiri dari kuluk kanigoro. basahan. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. sabuk timang. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. yang melambangkan kesuburan. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. keris warangka ladrang dan selop. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. hewan (misal : burung.warna sawitan. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. pengantin wanita memakai busana kanigaran. mata. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. Busana basahan adalah tidak memakai baju. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Sedangkan kain sido mukti. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Pada upacara panggih ini. kerbau. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. keris warangka ladrang. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. ular. celana cinde sekar abrit. pipi dan bibir. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. bros. keris warangka ladrang dan selop. Fungsi pakaian. stagen dan selop. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. Sedangkan bagi pengantin wanita. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. kain jarik. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. sabuk timang. pada upacara setelah panggih. selop dan perhiasan kalung ulur. yang terdiri dari baju atela. naga). ikal rangkap dan pilin ganda. keris dan selop. berupa dodot bangun tulak. cincin. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. timang/epek. stagen. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. epek. baju takwo. misalnya untuk menutup aurat.

usia. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. serta bagian bawah berupa alas kaki. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. konde. . Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. dan sebagainya). Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. Oleh karena itu. fungsi estetis. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. dan status sosial. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. estetis. Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. dan status sosial pemakainya. Namun demikian. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. di man dikenakan. kapan dikenakan. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. Sejalan dengan perkembangan zaman. usia. bagian tengah. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat.Pada masyarakat di Jawa Tengah. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. dan saat bepergian. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. religius. dan siapa yang mengenakannya. saat bekerja. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Dalam perkembangan selanjutnya. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi.1945). dan bagian bawah. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan.

ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. semekan tritik. kanigaran. baju kebaya katun. Sebagai perhiasannya adalah subang. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. pethat jeruk sak ajar. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. kain batik. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. serta sedan (pemakaman jenazah raja). ceplok. jumenengan dalem (penobatan raja). Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. lonthong tritik. serta sapu tangan merah. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. moga renda berwarna kuning. Perhiasannya berupa subang. atau merak. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. cincin. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. timang (kretep). supitan. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. gelang. dan keris branggah. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). yang khusus dikenakan para putra Sultan. baju katun. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. kalung dinar. dan perkawinan. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. baju surjan. kain batik dengan wiru di tengah. rante. gelang. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. serta mengenakan perhiasan berupa subang. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. timang. dana cindhe gubeg. Penulis Dewi Indrawati . Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. atau gringsing. burung garuda. Agustusan. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). lonthong tritik. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. berfungsi sebagai penutup dada. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. perkawinan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. garebeg. tingalan dalem tahunan. Kainnya bermotif parang. memakai lonthong tritik. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. kamus songketan. kampuh konca setunggal. lonthong tritik. karset. tingalan dalem tahunan. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. baju kebaya katun. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. dan cincin. jumenengan dalem. kamus. tanpa baju. dan kaprajuritan. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. kamus songketan.

Perlengkapan busana . Pada masa sekarang. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. Dalam penggunaannya. di dalamnya. bera` songay atau toh biru. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Jaman dahulu. tutup kepala yang dikenakan. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. jenis kelamin. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Perbedaannya adalah pada odheng.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Sebaliknya para nelayan. Sebenarnya. Warna hitam ini melambangkan keberanian. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. dalam menghadapi segala hal. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. status sosial maupun kegunaannya. yaitu hitam dan putih. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. terutama kaos bergaris yang digunakan. Kalangan pedagang kecil. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. Garis-garis tegas merah. baju pesa`an. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. teguh dan keras. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya.

Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. Sebum dhungket atau tongkat. Sementara itu. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. serta pemakaian penggel. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. baik dari ukuran. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. jepit kain. storjan atau lasem. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. garik atau jingga. bermata selong dengan . jam saku. stagen.5 meter. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. pemberani. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. kuning atau hitam. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal.seperti sap osap (sapu tangan). Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Arloji rantai acap digunakan. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. pada odheng tongkosan kota. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. biasanya disisir ke belakang. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. keduanya terbuat dari emas. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. Rambut wanita Madura itu sendiri. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. mulai dari kepala sampai kaki. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. motif maupun cara pemakaian. kemudian digelung sendhal. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. Bentuknya seperti busur. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. Pada saat menghadiri acara resmi. Odhet adalah semacam stagen Jawa. Bentuknya agak bulat dan penuh. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. terbuat dari tenunan bermotif polos. serta bersifat terbuka dan terus terang. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. Semakin miring kelopaknya. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yang sangat menghargai keindahan tubuh. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Harnal bubut dari emas. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. Adapun cucuk dinar. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. Pada odheng peredhan. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). bermotif modang. Untuk penguat kain digunakan odhet. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Warna biasanya merah. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Sementara di daerah Madura Timur. dulcendul. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. juga memiliki daya tarik yang unik. sabuk katemang.

penggel adalah salah satu yang paling unik. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. digunakan peniti dinar renteng. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. kiri atau dahi. telinga. tangan dan kaki umumnya kecil. Sebuah tutup kepala. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Bahan kebaya biasanya beludru. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Namun. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. Alas kakinya berupa selop tutup. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. terbuat dari emas dan bermotif polos. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. Semakin banyak jumlah dinarnya. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. namun adapula yang mencapai 100 gram. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani .panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Warna gelap dan tidak bermotif. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. leher. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Mata dihiasi dengan celak Arab. bahkan lebih. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. digunakan gelung mager sereh. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. Saat ini. Tergantung kemampuan si pemakai. Rambut wanita muda digelung malang. Bentuknya sama dengan gelung malang. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan.

Untuk bekerja. Masing. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Pengaruh Hindu . pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. Cara ini disebut Sempetan. kain wiron dan udeng. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Setidaknya ada dua upacara besar. kemudian digantungkan di pundak. jarik (kain) batik yang dibebatkan. dan Pasuruan. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. yang disebut sampiran. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. di Jawa Timur. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. Cara lain yang sangat khas.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. yaitu : Lumajang. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. Dalam hal berbusana. Kedudukan seorang dukun.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. sehingga yang terlihat hanya mata saja. termasuk wisatawan. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Setelah disarungkan pada tubuh. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. genta dan talam. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Saat bertamu. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. Sementara itu. sebagaimana yang digunakan di Jawa. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Malang. berwarna hitam. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. Cara ini disebut kakawung. Di bagian dalam. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. celana panjang warna gelap dan selempang . jas tutup warna gelap. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Keluhuran budi. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . dengan segala perlengkapannya. memakai kaos oblong. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. baju warna putih. yaitu upacara adat kasada dan karo. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Probolinggo. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul.

Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. Adapun pada geringsingan barak atau . batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. mereka sebut potongan Jawa. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Bagi wanita Bali. sedangkan warna merah tidak terlihat. Demikian pula pada kaum pria. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. disebut potongan Bali. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. berupa kain pembalut tubuh. kemben bukanlah penutup dada. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . saput dan kemben. yaitu putih susu atau kuning muda. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. Untuk kebaya berlengan panjang hingga pergelangan tangan. Pada masa lalu. Selempang pun ada yang berwarna hitam. Songket. Menurut sejarah. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. maupun dari kasta manapun mereka berasal. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. kuning. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. hitam dan merah. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Setelah ujub upacara. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. saput dan anteng. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Berdasarkan warna. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian.panjang warna hitam batikan. maupun putih dan ke arah krem. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. endek. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. Namun. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. sabuk. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Kemben. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. perada. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. dari segala jenis usia. baik untuk pria maupun wanita.

Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. kebo. madya. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. untuk hiasan kepala atau petitis. Untuk menahan kapuh. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. tampak tiga warna dominan. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. lubeng. Bagi kaum pria. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. cemplong. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. serta cincin. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. merah dan hitam. Wanitanya memakai kemben songket. cempaka kuning dan mawar. dari bahu ke bawah. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. tidak ada perbedaan yang menyolok. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. Secara keseluruhan. Penulis Endang Mariani . wayang putri. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsurunsur ragam hias dari kebudayaan asing. Cina. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. seluruh busana dibuat dari bahan perada. Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. yaitu nista. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. Selain warna. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. cecepakan. Berdasarkan corak busana yang dipakai. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. di balik kemben. Geringsing sabuk. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. cempaka putih. Dalam upacara perkawinan. Morif geringsing cukup banyak ragamnya.geringsing merah. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. juga dibedakan menurut ukurannya. Sementara itu. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. patlikur. Untuk tingkat utama. seperti kenanga. seperti India (patola). bebekeng atau pending. yaitu kuning muda. dan sebagainya. yang disebut umpal. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. Sementara dalam tata busana. kain geringsing. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. Gelung kucir.

baju. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. baba = lakilaki) untuk laki-laki. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. kulit kerang atau keong kecil. Sebagai busana bawahnya. Kini. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. juga dari kain yang sama. celana. Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. putih. tak jarang. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. . clan sebagainya.Busana Tradisional Dayak Taman Penulis Aat Soeratin. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dulu. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). dari bahan yang sama dengan baju. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. untuk koleksi cendera mata. merah muda. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan.

clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Dibuat dari logam perak clan rotan. gelang-gelang. kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Kalung ini dipakai saat upacara adat. antara lain. dengan ketebalan. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. perunggu/tembaga. penghias leher. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. tak mengherankan. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. atau semacam rumput. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. subang penghias telinga. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. perak. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. pada masyarakat Dayak Taman. menggelayut. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Dulu. lebih-kurang. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan.Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. yang memakainya. dan sebagainya. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. yang dianyam menjadi bentuk topi. Dikenal. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah . Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. Sebagai pelengkap busana.menjadi bentuk kerawang. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. disebut tajuk bulu aruae. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. maupun kambu. ketelitian. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. jelas. atau batik. indulu manik. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. kalung. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. topi atau kopiah. kaum wanita clan para pria memakai poosong. atau kaca. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. dibutuhkan kesabaran. juga sangat sedikit para perempuan. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Misalnya saja kalong manik pirak. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. hitam atau kuning. 1 cm. sehingga nampak sangat unik dan khas. Maka. Ada beberapa macam kalung.6 cm. tapi kini hampir tak ada lelaki. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai.

Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. baju burai king burai clan baju manik king manik. kiri clan kanan. . bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. clan orang tua. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. clan berlengan pendek. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Terutama baju burai king burai. dan wanita lanjut usia. dewasa. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. agaknya. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. Sekarang. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang.gelang pada bagian lengan di atas siku. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Dahulu. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek.

Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. dan jenis lain yang . kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Menjadi aturan. yaitu lam jalalah. Pasangannya digunakan tapih. satu di dada kiri. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. dan jenis lain yang agak tebal. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. kain Pagatan. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. dominan warna kuning. berbentuk segi tiga. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. sandal tali silang. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung).Busana Tradisional Masyarakat Banjar Banjar People Traditional Dress Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. dan krem. Motif ini melambangkan sikap waspada. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. yang lazim disebut tapih kaling. baju kiyama. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Lengan baju sampai pergelangan tangan. dan selop. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. lurus tanpa kantong. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Baju ini berkancing lima biji. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Bagian dada terbelah berkancing tiga. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. salawar kiyama dan sandal silang. Bahan baju dari kain lena. hanya tanpa saku. kuning muda. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . belini dan friend ship. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. yaitu sandal kalipik. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. tanpa kantong. Kantongnya ada tiga buah. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. ekstrimin. seperi biru muda. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Alas kakinya ada berbagai jenis. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. Dilengkapi kantong tiga buah. Ada dua pilihan sabuk.

Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. untaian bunga depan dan belakang. dengan segitiga lebih tinggi. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. bunga jepun berbentuk jepitan. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. untaian metalik. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Cincin dari bunga mayang. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. terdiri dari daun sirih. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kaki mengenakan selop dari beludru. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. bunga melati yang diatur berbaris. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. kalung. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Pagatan. dan air guci. kalung bermotif bunga-bungaan. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. . bunga mawar merah dan bunga melati. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Perhiasannya berupa samban. dan untaian bunga warna keemasan. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. sabuk pinggang warna emas.agak keras.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful