Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-

kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manikmanik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus - motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar, menggelayut, sehingga nampak sangat unik dan khas. Ada beberapa macam kalung, penghias leher, pada masyarakat Dayak Taman. Misalnya saja kalong manik pirak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang, kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki, tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dikenal, antara lain, dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak, ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat, seperti galang bontok yang dibuat dari perak, galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan, galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas, dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku, kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang, bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik, clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan, masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan, baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek, clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju

dan wanita lanjut usia. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. baju burai king burai clan baju manik king manik. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. clan orang tua. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Sekarang. dewasa.kuurung sesungguhnya sudah tua. Dahulu. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. agaknya. . Terutama baju burai king burai. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. clan berlengan pendek.

.

dan jenis lain yang . Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. baju kiyama. dominan warna kuning. salawar kiyama dan sandal silang. Alas kakinya ada berbagai jenis. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Bahan baju dari kain lena. Pasangannya digunakan tapih. dan jenis lain yang agak tebal. Motif ini melambangkan sikap waspada. berbentuk segi tiga. dan krem. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. dua di bagian bawah kiri dan kanan. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. lurus tanpa kantong. sandal tali silang. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). dan selop. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Menjadi aturan. ekstrimin. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang).Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. kain Pagatan. Dilengkapi kantong tiga buah. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Bentuknya sama dengan pantalon biasa. yang lazim disebut tapih kaling. kuning muda. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Ada dua pilihan sabuk. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. tanpa kantong. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. hanya tanpa saku. belini dan friend ship. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. yaitu sandal kalipik. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). satu di dada kiri. Baju ini berkancing lima biji. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Kantongnya ada tiga buah. Lengan baju sampai pergelangan tangan. seperi biru muda. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Bagian dada terbelah berkancing tiga. yaitu lam jalalah.

untaian bunga depan dan belakang. sabuk pinggang warna emas. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Perhiasannya berupa samban. kalung. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. bunga melati yang diatur berbaris. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Kaki mengenakan selop dari beludru. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. kalung bermotif bunga-bungaan. dengan segitiga lebih tinggi. . bunga mawar merah dan bunga melati. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. untaian metalik. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. terdiri dari daun sirih. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Pagatan. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Cincin dari bunga mayang. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar.agak keras. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. bunga jepun berbentuk jepitan. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. dan air guci. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. dan untaian bunga warna keemasan. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem.

rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. Akan tetapi naluri berdandan. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju. Biji-bijian. sehingga kesannya sangat alamiah. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka. kepala suku. Celananya adalah cawat yang. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. giwang (suwang). Selain itu. misalnya. dan sebagainya. lalu tenunan serat alam yang "kasar". yang cenderung animistik. giwang dari kayu keras. warna merah dari buah rotan. dedaunan. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. panglima perang. dan ahli pengobatan. pun punya makna simbolik. ketika dikenakan. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). . warna kuning dari kunyit. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. kulit kerang. warna putih dari tanah putih dicampur air. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional.misalnya upacara tiwah. dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. manusia. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. menjadi corak hias busana adat. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. gelang. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana. akar pohon. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju.bagi para pemuka kelompok. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. para tetua adat. harimau akar. warna asli kayu. Busana itu berwarna coklat muda.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. diatur pula pemakaian corak hias busana adat .berbeda untuk perempuan dan lelaki . kemudian kain tenun halus. burung. Misalnya saja. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. tak diberi hiasan. warna hitam dari jelaga. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Awalnya kulit kayu. bunga. dalam kepercayaan Kaharingan. kalung. tak pula diwarnai. yang bermakna sangat filosofis. upacara meminta hujan. selain tampil artistik. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. dan sebagainya. yang disebut ewah. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun.

Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. ujung lengan baju. Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. batang garing. Celananya disebut selawar gobeh. jenis rumputrumputan. Busana pengantin. celana. tampil pula dalam ekspresi yang lain. kayu. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. disebut salui. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. berhiaskan gambar pewarna alam. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. Betapa tidak. dan sebagainya. Teknik menenun. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. Pada kerah. dan bagian dada. lawung bawi. atau sutra. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. dari kain satin atau beludru. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. jalinan serat alam. konon. kebanyakan dibuat dari kain beludru. dan mitologi. ular. keramik. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. umpamanya saja. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. dan kelengkapan lainnya. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Mereka kemudian melirik rotan. burung enggang. awan. juga dari beludru atau satin. pakaian acara-acara adat. dan tulang. manusia. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. celana . Selain untuk aksesori. ikat kepala. Masyarakat Ngaju. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. akar tumbuhan. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. dan anting-anting atau suwang. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. model baju pria Melayu tapi berkerah. satin. harimau akar. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. fauna. untuk kostum tarian. sumpit. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. kostum taritarian. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. diberi hiasan. Akan tetapi. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. koleksi museum. Paduannya rok panjang sebatas betis. dan aplikasi manik-manik dan arguci. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. dan tombak. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. atau cendera mata. Dan kini pucuk rebung.

Penulis Aat Soeratin . Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam.panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya.

Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing. sebagian diantaranya. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya. linen. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. pakaian kerja. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. Baju pelembangan. dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. semacam kebaya tidak berkerah. kain panjang. destar. Jika bepergian memakai ikat fepala. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis. Akulturasi itu. disebut jelapah. salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. namun tidak tembus pandang. jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari. Saat upacara pernikahan berlangsung. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain. dan sebagainya. pakaian pesta/upacara adat. celana. baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. Dahulu. mempelai wanita memakai baju takwo. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun. Agar tampil rapi. yang modelnya seperti piyama. dihiasi gerak . Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput. dipakai oleh kaum lelaki. berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. atau beludru. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. antara lain. Busana tradisional Kutai. pakaian bepergian. dari bahan katun untuk baju. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. yang dipakai sehari-hari. masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai. dari kain batik. masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul. masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. dan status sosial pemakainya. Akan tetapi kini. atau kain sarung pelekat. yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka.Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin. celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas. dan diberi kerudung ketika bepergian. umur. mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. berdasarkan fungsinya. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun. yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul.

Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. dan sebagainya. dipadukan dengan celana panjang. Tenggarong. Muara Nayan. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. Di bagian depan sentorong dipasang wapen. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1. hitam. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. kopiah. pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo. diimbuh hiasan kembang gempa. sarung. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. serta sebagian di Kec. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Motifnya stilasi dari bentuk flora. Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. leher baju. pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. dan Lempunah.5 meter dan direndam di dalam air. dan alam mitologi.gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar. dipadukan dengan celana panjang. Alhasil. . dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah. Pentat. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. semacam lencana. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun. atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Pada bidang yang berwarna terang. baju. dan warna coklat muda. terutama di desa Tanjung Isuy. bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). fauna.

. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. dan sebagainya. Jautn berarti awan. dan tanpa alas kaki. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki. misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Maknanya. upacara pengobatan. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. upacara panen hasil bumi. Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat. memakai cawat. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. manik-manik. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. kain panjang yang berhias pada ujungnya. Atau motif waniq ngelukng. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Pada pinggang dililitkan sempilit. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat. Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. sedang nguku berarti berarak. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik. kepala suku. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka.Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang. dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. taring beruang. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan. Kini tak ada lagi raja. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah. dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Misalnya motif jautn nguku. taring binatang buruan. Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. taring harimau dahan. dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq.

Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. dan uang logam kuno. Busana adat. taring binatang. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. . ragam hias. biasanya terbuat dari logam.

yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. upacara injak tanah atau joko kaha.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. celana panjang. ujung tangan. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara.upacara adat. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. serta kain panjang. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Sementara itu. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. pembantu permaisuri. berikut toala polulu di kepalanya. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri. Sudah tentu. anting dua susun. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. atau emas. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. remaja contohnya. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. . Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. berlian. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . Selain busana adat yang disebutkan tadi. Baju tersebut umumnya berwarna polos. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Selain itu. bros. Di samping itu. oranye. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. leher jas. dan ikat kepala. serta alas kaki yang disebut tarupa. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Tidak lupa. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. dan peniti yang terbuat dari intan. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Sementara itu. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. baik sebagai permasuri. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. atau diselaraskan dengan usia mereka. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning.

busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. celana dino. dan celana popoh. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. lengkap dengan lengso duhu. Adakalanya. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. Sama halnya dengan busana wanita.Busana kerja dalam keadaan bersih. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. . Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa.

yakni sejenis kebaya berlengan pendek. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. khususnya dalam upacara sidi. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Kebaya manampal. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. kole. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. dipakai . Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. Walaupun model bajunya sama. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Mereka biasanya mengenakan baju cele. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. Bila akan bepergian. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. lenso pinggang. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. Bila mereka akan bepergian. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. kebaya hitam. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Celana kes atau hansop. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. Keberadaan busana adat Ambon. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Jenis busana lain. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. Dilengkapi dengan kaeng pikol. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam. dan celana panjang. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. lengkap dengan kain pelekat. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. dengan leher agak tertutup. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. melainkan tampak juga dalam busana seharihari.

Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. pembersihan negeri. patala di pinggang. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. Busana raja terdiri atas baju hitam. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. patala disalempang di dada.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. sepatu berwarna putih. busana rok. ikat poro atau ikat pinggang. celana hitam. dan topi. salempang. penerimaan tamu. . yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. lenso bodasi dililitkan di leher. celana panjang atau celana Makasar. bersepatu dengan kaus kaki putih. dan kaus tangan berwarna putih.

yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. yaitu anting-anting. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. memakai rantai maupun tidak. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. ketua adat misalnya. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Pada dasarnya. Misalnya. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. dan hitam. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. Meskipun begitu. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. pelepasan arwah. Artinya. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. pernikahan. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan. Kalaupun ada yang mengenakannya. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. dan sebagainya. meliputi sinune. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. yakni sinune dan somalea. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. Misalnya noras aboyenan. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. upacara-upacara gerejani. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. somalea. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. yang menggantung dengan indah di telinga. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. hitam kebiru-biruan. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. belusu.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. Pada masa lalu. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. penghormatan jenazah. dan lekbutir. .terbatas pada gelang atau bel usu. Saat ini. Selain itu. yang berlengan pendek maupun panjang. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. berbagai kalung atau ngore. serta lean. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati.

atau ketua adat. Namun lebih dalam lagi. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. pahlawan. kebesaran. dan keperkasaan seorang pemimpin. Kecenderungan yang tampak sekarang. sinune. . misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. tutuban ulu melambangkan keberanian. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. kain penutup kepala. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. atau para tua adat.Sementara itu. Konon pada masa lalu. berhiaskan somalea. kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. tutuban ulu. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. prajurit.

kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. biru dan kuning secara melintang. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. Indonesia. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . fauna dalam lajur-lajur bergaris. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga. dihiasi dengan ragam-ragam flora. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. bergaris biru melintang. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. bahkan di. ragi werung. utan lewak. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. Utan lewak. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. coklat. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Kain sarung wanita. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Diatas labu dikenakan dong. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. Cina. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. kuning atau merah. Arab dan India. Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. putih. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Portugis. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. Destar. Belanda. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada.

Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak.tinggi. delapan dan seterusnya. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. pesta dan sebagainya. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. Demikian pula hal dengan warna dong. Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. apabila gelap mencerminkan duka. .

setengah leluhur. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. cumi-cumi. setengah dewa. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. ayam. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. mahkota dan singa. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. bendera tiga warna. penyu. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. Warna hinggi juga . udang. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Kepercayaan khas daerah Marapu. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). ular.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. upacara. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. ikan. ekonomi serta religi suku sumba. Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. burung. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. kuda. buaya. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. Sumba Barat dan Sumba Timur. pesta-pesta dan sejenisnya. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Di kepala dililitkan tiara patang. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. naga. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. rusa.

Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai . lau pahudu. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. keperkasaan serta budi baik seseorang. Timor Amarasi. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. merah bata. Kabiala adalah lambang kejantanan. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. coklat. lau mutikau dan lau pahudu kiku. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. telinga. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Di kepala dikenakan pilu dari batik.mencerminkan nilai estetis dan status sosial. menjurai ke bagian dada. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Timor. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. putih dan biru. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. dewasa ini sudah jauh berkurang. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. dikenal dengan sebutan iteke. dan po`uk. Busana Tradisional Amarasi. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya.

Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. dalam membalas pihak lelaki. kuning. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. perak. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang.hiasannya. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. Kedua telinga dihiasi falo noni. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Sebaliknya pun. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. . Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. Emas.

Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Konon, pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai, estetika pun berkembang, lalu terciptalah corak hias simbolik, pada bentangan kain-kain tenunan mereka, yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Stilasi pohon mawar, burung, ular naga, tokoh pewayangan, kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya - maka pemakainya akan ditimpa kemalangan, misalnya saja kehilangan kewibawaan, kesaktian, dan semacamnya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat, sehari-hari maupun upacara, masyarakat Sasak. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI, seperti yang telah disinggung di muka, memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak, meski tentu, tak menghilangkan identitas jatidirinya. Untuk mengikuti acara adat, misalnya upacara potong gigi, upacara kematian, menghadiri perkawinan, masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga, dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek, panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Penahan kereng adalah lilitan kain, berfungsi seperti ikat pinggang, disebut bebet. Pada kening tersaput ikat kepala, dinamai sapu, biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Busana Pengantin Sasak

Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/pending) emas, gelang tangan (teken), ali-ali (cincin), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima. sebutan untuk kain songket (tembe songke). Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit. Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang). semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. berwarna keemasan. dipakai. yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. . sebatas lutut. Di atas baba dilingkarkan selepe mone. seperti ditulis di muka. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. Selepe. Penahan siki adalah baba. diselipkan pada baba. ikat pinggangnya. Rambutnya disanggul. ikat pinggang dari logam keemasan. sehingga tampil lebih sederhana.Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. dan ponto (gelang tangan). seperti memakai sarung. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak. Kemudian siki. diberi hiasan unik yang dinamai karaba. sarung songket.

Dalam kebudayaan Makasar. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. dan atu atau golongan para budak. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. penjemputan tamu. Pada dasarnya. Maros. pasapu guru sebutannya. tidak mampu membayar utang. Biasanya. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. ada beberapa ciri. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. Bantaeng. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. Khusus untuk tutup kepala. busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. tu maradeka. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. leher berkrah. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. celana atau paroci. atau hari-hari besar adat lainnya. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. dan Kepulauan selayar. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Meskipun demikian. kain sarung atau lipa garusuk. bentuk maupun corak. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Namun dewasa ini. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. Jeneponto. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita. Gowa. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. berwarna terang dan mencolok seperti merah. Pada masa dulu. dan tutup kepala atau passapu. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Sementara itu. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. masyarakat menyebutnya mbiring. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. saku di kanan dan kiri baju. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. dan hijau. . yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. dan yang melanggar adat. Pangkajene.

Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. atau biru tua. dan berbagai aksesori lainnya. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. dan anting panjang (bangkarak). Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. coklat tua. kalung panjang (rantekote). Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. Baju bodo berbentuk segi empat.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. sisi samping kain dijahit. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). Sama halnya dengan pria. Namun pada umumnya. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. gelang. Sementara itu. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. selempang atau rante sembang. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. . tidak berlengan. sapu tangan berhias atau passapu ambara. Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. dan kalung besar (geno sibatu). bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin.

Untuk tata rias rambut dan kepala. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. Untuk wanita yang usianya agak tua. dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. Ada pula sanggul agak rendah. tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. Dalam kehidupan sosialnya. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya. Makassar dan Toraja. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. Pada bagian pinggang. Semua kalangan masyarakat Mandar. Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Menurut catatan sejarah. tua maupun muda. dengan hiasan liontin atau medalion besar. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Dalam berbusana . kalung emas yang berjuntai agak panjang. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Majeng. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). remaja dan orang tua. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung.

busana yang dikenakan akan tampil warna-warni. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. Untuk penututp kepala. Misalnya dalam upacara panen padi. . Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit.pantovel berwarna hitam. dan upacara pernikahan. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. yakni busana pria dan busana wanita. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. memasuki rumah baru. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. busana misalnya. berdasarkan adat rambu solo. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Sementara itu. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Pada kesempatan seperti itu. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi.

manik kata. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. Selain itu. sepu. atau pakaian pesta. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. mulai dari hiasan di kepala. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. yakni . seperti di sawah dan membangun rumah. Sementara itu. dan passapo timbo. atau hanya disampirkan di bahu. yang khusus digunakan pada saat bekerja. lengan. yaitu hiasan pada sanggul. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. tutup kepala. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. Misalnya sambuk busa. dan tali banu . dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. Berdasarkan fungsinya. Sarung. sebagai bagian integral dari busana adat pria. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda. khususnya para sesepuh masyarakat. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. Celana yang dipakai oleh kaum pria. dan sarong atau tudung kepala. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. celana atau sepa tallu buku.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. Passapu. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. leher. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. yakni kalung yang terbuat dari emas. dan sarung atau sambuk. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. perak. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. Selain itu. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. pakaian resmi. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. Pertama bayu poko. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. yang disebut sambuk langkan. dan pa`toko. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. atau tembaga dan. Sementara itu. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. yakni ikat kepala. Selain memperlihatkan fungsi estetis. pinggang. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. Sama halnya dengan sarung. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. rara. ada juga tas kecil atau sepu. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. diikatkan di pinggang atau. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. dalam acara adat orang meninggal. yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. tali-tali biang. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. Secara umum. Kedua bayu bussuk siku. bahu. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. tali pang`kabi. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. hingga jari jemari.

yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. Bolaang Uki. Oleh karena itu. Adapun keris atau gayang. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas. atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. busana . sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. dan Kerajaan Kaidipang Besar. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. menghadiri undangan-undangan resmi. busana bayi.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Pada masa itu. menerima tamu-tamu kerajaan. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Bintauna. Aktualisasi dari semua itu. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri.

Khusus mengenai perhiasan. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. kuning. celana dan sarung tenun.pengantin. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. Busana kerja guha-ngea. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. serta aksesorinya. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. Di samping itu. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Ada . juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. Selain itu. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. pengantin wanita maupun pengantin pria. Pada umumnya. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. keemaasan. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi. serta kualitas bahan yang paling baik. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. Dalam hal ini. Selain busana kebesaran seperti itu. busana simpal. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. baju atau baniang. serta kualitas bahan yang digunakan. ungu. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Secara umum. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Dalam hal ini. Sedangkan menurut asal-usulnya. sistem religi. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. detil busana. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Sementara itu. Sama halnya dengan busana kohongian. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. Akan tetapi. Misalnya. busana kohongian.

kuning tua. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. Sementara itu. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). serta selendang (bawandang liku). sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. ungu. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. Selain pada kelengkapan busana pengantin. dan ikat kepala berbentuk segitiga. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . serta berlengan panjang. celana panjang. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. krah baju berbentuk bulat. penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. penasbihan desa. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. pada zaman dulu terbuat dari kain . Baju jenis ini. Nama busana tersebut adalah laku tepu. atau merah darah. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. Dalam hal ini. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Hingga saat ini. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. Namun saat ini. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. peminangan. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16. Khusus untuk selendang. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. penduduk keturunan bangsa Filipina. yakni warna terang dan mencolok. hijau. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. antinganting. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. dan hijau tua. gelang. Khusus untuk ikat kepala. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Sementara itu. Saat ini. ikat pinggang. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. kuning. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. Namun terlepas dari semua itu. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria.

yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Sementara itu. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. Selendang tersebut dinamakan kaduku. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. paporong tingkulu. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. yang disebut hulontalangi. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. paporong datu bouwawina. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. Cara memakainya. . selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit.

Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. . dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. oleh karena itu disebut sunthi burungi. tetapi kerahnya berdiri tegak. sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. Sehingga. kain sarung dan berbagai aksesori. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. disebut hotu. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. disebut wolimomo. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. Seperti halnya baju. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. ungu dan merah hati. beludru. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. seperti kuning. celana panjang (talala) dan aksesori. kalau berbicara mengenai busana adat. selimut (waluto). demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. hijau. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). hijau dan ungu. Pada upacara ini. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. kuning. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. disebut hamsei. Bahan yang digunakan biasanya kain satin. merah. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. brokat atau bahan kain lainnya. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang.

selendang pinggang dan topi (porong). Motif Mahkota pun bermacam-macam. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. . seperti motif biasa. potongan baju lurus. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. Selain baju karai. lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. aksesori dan perhiasan. selendang pinggang dan kedua lengan baju. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Semua motif berwarna kuning keemasan. sarong motif kaki seribu. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. terdiri atas baju lengan panjang. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). anting dan gelang. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. disebut model salimburung. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. tidak memiliki krah dan saku. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Busana pengantin baju jas tertutup ini. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. disebut busana tatutu. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. Celana yang dipakai masih sederhana. Selain itu. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. yang terdapat pada hiasan topi. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. terdapat juga sarong motif sarang burung. disebut laborci-laborci. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. celana panjang. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. kalung leher (kelana). berkancing tanpa saku. mahkota (kronci). Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. bintang. leher baju. kalung mutiara (simban). Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. Busana kebesaran ini disebut biliu.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan.

Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. Dilengkapi topi porong nimiles. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. saku. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. yaitu langit dan bumi. Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . Warna baju umumnya putih. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. dunia dan alam baka. hitam. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas.Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. Sedangkan Walian Wangko wanita. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. biru. sarung (bheta). yaitu terdapat kancing. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Sarung kedua untuk membalut baju. Baju katango ini. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. juga untuk menyelipkan senjata tajam. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. selop. hanya saja lebih panjang seperti jubah. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. bheta. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. kalung leher dan sanggul. dan berkerah. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Sarung yang dipakai. Umumnya. untuk pakaian sehari-hari di rumah. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut.

Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. Selain pakaian sehari-hari. ikat pinggang. Tandaki adalah mahkota. gelang kaki (kurondo). Penulis Mira Indiwara Pakan . selendang (salenda).. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. cincin dan anting yang terbuat dari emas. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). sarung berhias (bia ibolaki). Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). bheta. sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki. dan ikat pinggang (sulepe). Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). perhiasan yang dipakai adalah gelang. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. dan sanggul. Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. Pada upacara tersebut. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia). Sarung yang dikenakan ada dua. anting-anting (dali). Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. yang disebut biru-biru. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. dan ikat pinggang (sulepe). gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. Agar sarung tampak kuat. sarung dua lapis. Mahkota dibuat dari kain merah. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. kalung (tongko). Selain itu. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. manik-manik. Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. perkawinan misalnya. tusuk konde (panto). Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. dan perhiasan logam. Dalam upacara ini. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam.

dengan jenis yang cukup beragam. Oleh karena itu. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. Sementara itu. pending. bangsawan (toguua mungana). bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. dan budak (batua). Pada zaman dahulu. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan. Sementara itu. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. Meskipun saat ini. baju gembe. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Ada golongan raja (maradika). yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. sekalipun itu tidak banyak.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. rakyat kebanyakan (todea). Busana wanita Kaili. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. kain fuya yang digunakan agak kasar. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. Pertama adalah unte tandu. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Paling tidak. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. Secara fisik. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. . Selain memiliki busana yang cukup beragam. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. kalung panjang. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. dan hiasan untuk penutup rambut. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. Selain baju-baju tersebut. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. yakni baju poko. dan baju pasua. Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. Biasanya.

Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. Namun bila akan bepergian. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. Selain kedua unsur busan tersebut. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Secara historis. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. yakni berperang dan tradisi pengayauan. yang dikenal dengan istilah mengayau. Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Unsur yang pertama adalah sarung. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. yakni kain sarung. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. Pada masa itu. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. ikat kepala dan kampuh. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin.

umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Beberapa lembah yang terkenal, antara lain, lembah Baliem (Lembah Agung), Illaga, Dwart, Konda, Illu, Sinak, Mulia, Pas Valley dan Piet River. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926, sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat, yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege", artinya "Kami orang Baliem". Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya, di antaranya koteka (holim), yokal dan sali. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah, sejenis labu Cina. Buah labu yang sudah tua, dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi buah labu dikeluarkan, dikorek dengan kayu yang diruncingkan, kemudian dibersihkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Ketika dikenakan, agar tidak jatuh, penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem, terutama di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Jenis holim ini halus, berwarna kuning kemerah-merahan. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi, misalnya "uang merah" (eka merah). Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem, Ilaga, Tiom, Yalimo, Apalahapsili, Welarak, Kosarek, dan Oholim. Ada tiga pola penggunaan koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan, pria yang memakainya masih perjaka, belum pernah melakukan persebadanan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan, bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani, laki-laki sejati, pemilik harta kekayaan yang melimpah, memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja, keterampilan memipin, dan pengayom rakyat. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian, seperti waktu mengerjakan ladang, saat berada di honai, ketika berternak babi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu, upacara adat misalnya, mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi, disebut yokal. Biasanya yokal berwarna hitam, kuning, dan kemerah-merahan. Bahan pewarna tersebut

didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan, seperti mengerjakan kebun, menyiapkan makanan, memelihara babi, mengasuh anak, menjual hasil pertanian, bepergian, termasuk saat mengikuti upacara adat. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya, diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Seperti proses membuat yokal, bahan tersebut dijemur atau diasapi, setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis, misalnya saat ke ladang, ke sekolah, ke gereja. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Konon, karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani, sehari-hari atau saat upacara adat, antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan, dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Selain sebagai aksesori, noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga untuk membawa babi. Sedemikian besar fungsinya, sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya, antara lain: swesi, sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Siluki inon, topi dari bulu kuskus warna hitam, yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Sekan, gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Walimo yaitu hiasan dada, dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan, berderet-deret dan disusun rapi, puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung, atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Cipat, kalung berupa tali penangkal guna-guna. Wayeske, anak panah dan busur, senjata ampuh pria sejati Dani. Mul, semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati.

Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu, Marind, Asmat, dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian, bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats, Sawa Erma, Atsy, dan Pantai Kasuari. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya, masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat pinggang dari anyaman rotan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai oleh istri panglima perang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus, mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet, bulu bangau yang diikatkan pada

melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. tanpa membedakan status sosial. . Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). kalung. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. Senjata ini diselipkan pada sinenke. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). Pada kebudayaan Asmat. Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Topi ini disebut juprew. Masyarakat Asmat. pemukul tifa. penyanyi. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. Kaum wanita Asmat. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. biasanya dipakai oleh panglima perang. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. sokmet masih dipakai pria Asmat. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka.lidi. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. disebut betan. Hingga sekarang. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). Sedangkan para lelaki memakai bipane. pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. panah. dan penyanyi pengiring upacara. untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. dari bahan yang sama. konon. terutama saat melaksanakan upacara adat. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. masyarakat Asmat. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. pergelangan tangan. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. kepala adat. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. dan biasanya disandang oleh panglima perang. disebut wisaper. terutama kaum lelaki. Sebagai kalung. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. dan tombak. subang penghias hidung. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. dan pemukul tifa. penyanyi. pemimpin tungku (keluarga luas). dan gelang yang dipakai pada lengan. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. pemukul tifa. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. dan pangkal betis. Yang dikenakan pada pergelangan tangan. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. panjangnya kira-kira 30 cm. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet.

ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz.Senjata lainnya adalah tombak. Anak panahnya agak beragam. Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. panjangnya sekitar 1. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. dari bambu dinamai firokom. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. Konon. hitam. Agar lebih variatif. Warna hitam dari arang pembakaran. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Dan. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. Tombak kayu besi dinamai viwu. Penulis Aat Soeratin. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. putih. dan tombak logam besi disebut frin. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. yang dari besi dikenal sebagai sok. disebut vom. fum. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. sowen. Komposisi warna merah. seperti relung kua yang bergambar burung. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat. yang dibuat dari kayu keras disebut fir.5 meter. .

Sepit udang 6. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut.Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Anting panjang 11. Daun bambu 4. Pending untuk pinggang . pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Gelang 12. Kuntum cempaka 5. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Kembang cempaka 2. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Kembang goyang 3. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Sari bulan 8. Kalung 10. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Pagar tenggalung 7. Tutup sanggul atau kembang hong 9.

dan songkok atau penutup kepala. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. 5. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. 2. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. kenanga dan irisan daun pandan. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Melayu Siak Riau dan lain-lain. Selain itu. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. 6. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat. Untuk perempuan. seperti pakaian adat Kepulauan Riau.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Untuk pakaian pria. Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). 3. Melayu Bengkalis Riau. 4. kain sampin. melati. busana ini terdiri celana. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Tata Rias dan Hiasan: 1. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). 2. kain dan . pakaian adat Indragiri. Variasi pakaian adat Riau diantaranya.

busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). hijau. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. dengan leher baju berbentuk bulat. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. . selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. pakaian haruslah menutup aurat. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka.selendang. Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'. sarung berwarna kuning. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'.

kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. sarung sebatas dengkul. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. kain selempang dan sarung. diletakkan ditengah-tengah sanggul. kalung dan gelang. dan celana panjang. Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. pending. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. . yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. baju model jas tertutup.

Pakaian ini bercirikan Islam. pesta. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. Baju Cele Kain Salele. serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. melayu. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. • • • . warnanya juga antara hijau dan kuning. 3. 2. Pakaian petani. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. 6. 4. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. 5. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. kalung. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. acara resmi lainnya. adalah pakaian sesehari kaum wanita. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu.

ruangan. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata. Sebagaimana batik kebanyakan. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. Selain celana komprang dan baju pangsi. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. Sebagian penggembala kerbau misalnya. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. dan karakter kuat. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. Menurut keterangan warga setempat. . jenis dan pemakaiannya. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. Selain itu. Batik Banten mempunyai padu padan warna. Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. semangat. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat.

celana hitam lebar. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. seperti penghulu dan bundo kanduang. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. terdiri dari destar sebagai penutup kepala. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Model baju. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). jangka pendek tak dapat singkat. Pada masa lalu. keris. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Salawar. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. kain sandang. dan tongkat. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. Baju Taluk Balanga. baju hitam longgar. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. Baju Kubaya. namun secara umum terdiri dari destar. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. belah sampai ke dada tanpa kancing. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. Dikenakan pula kain samping . Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. jangko singkek tak dapek panjang. walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. artinya ukur panjang tak dapat singkat.• • • • • Lampin. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. sesamping. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. Jenis pakaian ini bermacammacam. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Termasuk menghadiri suatu upacara adat.

Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. Lambak atau kodek. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. kalung pinyaram. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. kata-katanya didengar. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). sementara selendang tersampir di bahu. Kaum prianya. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Kalung dari beberapa macam. dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. kalung gadang. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Pakaian sehari-hari Para wanita. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. kain sarung. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. yaitu kalung kuda. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Khusus pada pakaian penghulu. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . kain selempang. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. seperi kalung. sarung bugis ataupun kain pelekat. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. anting-anting serta cincin. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. merah. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Ia juga merupakan peti ambon puruak . dan selendang pendek. baju kurung. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. lambak/kodek atau kain sarung. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. dan kalung kaban. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Baju kurungnya berwarna hitam. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. Seperti juga pada pakaian penghulu. gelang bapahek dan gelang ular. Variasi lain dikenakan tengkuluk. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). batik.

Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Selain kabit dan sokgumai. binatang atau manusia memiliki roh. Sipora. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. perikehidupan serta ungkapan budayanya. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). Islam dan Barat. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. bertanggan naik. pimpinan atau anak buah. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. peristiwa. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. disebut sokgumai. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. lepas pantai propinsi Sumatera Barat. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya.baiknya. Budisme. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. Pagai Utara dan Pagai Selatan. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. penutup aurat. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai.

kuning. ogok. gelang-gelang. botol kecil tempat ramuan obat-obatan.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Selain itu tato. lei-lei . mulai dari busana sampai dengan . Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. cermin raksa. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Lalu disusul dengan tangan. sejenis subang pada kedua telinga. rakgok. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. ikat pinggang dari lilitan kain polos. terbuat dari gelas berwarna merah. Ikat kepala ini dinamakan sorat. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. Tato merupakan simbol kejantanan. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. paha dan pantat. Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. suatu kegiatan perdukunan. bergantung pada kalung depan dada. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Tato adalah busana kebanggaan. putih dan hitam atau hijau. dada. pakalo. biasanya merah. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. bunga-bungaan dan daundaunan. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Pakaian ini tidak memakai selendang. sekar sukun. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. cincin bermata. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. gogok rantai lilit. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. rantai serati. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. dari bahan brokat (kain senduri). Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. kain bertabur atau destar. sutera. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. gelang ikol dan keroncong. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan.perlengkapan perhiasannya. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Diberi hiasan gerak gempa. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. renda. Gelang juga dipakai pada kaki. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. mastura. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. ikatan serdang dan sebagainya. gelang kana. berseluar (celana panjang) dan bersamping. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. yaitu ikatan bendahara (Kedah). Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. . Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju.

Muangthai dan Laos. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. sadum. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . ragidup. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. ragi hotang. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. dilengkapi dengan sarung. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. sabesabe atau detar. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Untuk tutup kepala disebut saong. mereka memakai pakaian biasa. juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. tanpa alas kaki. Dalam keseharian. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. serta tutup kepala yang disebut saong. khususnya pada ikat kepala. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. bagian bawah disebut haen. kain dan ulosnya. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Pada suku Batak Toba. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam. dan dilengkapi dengan sarung suji. Misalnya ulos jugia. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. dipakai hingga batas dada. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Karo. dan runjat. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. baju dan celana.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. Sebelum orang Batak (Toba. bulang-bulang.

Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. dan dililit dengan ulos ragi hotang. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Baju Godang mengandung makna keagungan. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Pada suku bangsa Batak Simalungun. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Pada masa lalu. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). tergantung selera pemakai. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Bulang terbuat dari emas. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. Untuk selendang pengantin. Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Bulang terdiri dari tiga macam. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Baju. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Pada masa lalu. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. Pada masa dahulu. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan.

rotan dan pelepah kelapa. Sementara itu. terbuat dari daun palem. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. dan hitam. Ada juga tutup kepala. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. yang disebut takula. kuning. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. Selain itu. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. Untuk menghadiri upacara adat. khususnya busana kaum prianya. busana kaum laki-laki Nias. dan saro dalinga. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). yang berwarna merah. merah dan putih. perak atau emas. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. yaitu baju dengan motif kulit harimau. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias. aya ba mbagi bobotora. Bagian bawah . tanpa busana atas (baju penutup dada). yaitu baru lema`a. Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. yaitu anting logam besar. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. Untuk upacara. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani.

Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang).busana wanita Nias disebut mukha. Busana pengantin Nias secara� keseluruhan pun nampak sederhana. Selembar ondora. Fondruru ana`a. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. Gela gela dan tali hu. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). kuning di bagian depan. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. Warna hitam. Demikian pula rai ni woli woli. merah. tampak adanya unsur-unsur Melayu. terbuat dari . sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). hanya bahannya bukan terbuat dari emas. Lembe. masih ada bola-bola. maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yang disarungkan arah ke kiri. Sebagai kelengkapan busana upacara. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. sebelum mengenal pengaruh luar.lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. kuning. Dalam busana pengantin ini. Selain itu. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . kala bobu. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. separuh leher dan lengan. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. Apabila di masa lalu.

semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. jurai. Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Untuk menghadiri acara formal. . satin atau sutera. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. kembang goyang. Selendang tidak mutlak dipakai. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. sepit rambut. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. Untuk bagian dada. Meski fungsinya sama. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau. sering pula digunakan kain tudung kepala. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Dalam kehidupan sehari-hari. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. gelang tangan. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. meliputi juga kelengkapan kepala. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Berbeda dengan busana kaum pria. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. antinganting. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. Dalam pandangan masyarakat Riau. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. cincin yang terbuat dari emas. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. tusuk sanggul. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi. sanggul biasa atau sanggul dua.

Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. propinsi Jambi. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Bagian pinggir . Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. tangkai clan bunga yang akan mekar. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. Dalam sistem kemasyarakatan Riau. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. begitu juga dengan perhiasan. seperti Riau.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. karena ia mendapat julukan raja sehari. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. Sumatera Selatan. dan sebagainya. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun.

Konon. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. bungo runci. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. seperi pohon beringin. bunga matahari. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. Bunga cempaka. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. kembang tagapo. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. bunga matahari. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Kalungnya terdiri dari tiga . sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. clan bunga pandan. dan pucuk rebung. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. kembang cempaka. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Tutup dadanya disebut teratai dada. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong.

yaitu kalung tapak. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. gelang ceper dan gelang buku beban. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. kecuali bagian leher sebelah depan. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus.jenis. Penulis : Dewi Indrawati . dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. khususnya yang dikenakan para gadis. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). kecil dan besar. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Selebihnya polos. yang disebut baselang atau pelarian. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). pending dan sabuk (ikat pinggang). Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Masih ditambah dengan gelang kano. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. selendang. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Kesemuanya di pasang di lengan. Terlebih saat menuai.

Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. lembayung atau hitam. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. bertabur corak-corak. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan. . biru tua. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. dipadukan dengan tusuk konde. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. sarung. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. menyentuh bahu. celana panjang. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Jambi dan Riau. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. cokonde balon. dan jumbaijumbai kiri dan kanan.

yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. Bahannya dari kain batik. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Bagian bawah mengenakan senjang. Alas kaki memakai selop bersulam emas. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. kain tenun bersulam benang emas yang indah. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. seperti perkawinan. Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Pada penyelenggaraan upacara adat. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Bugis atau batik Jawa. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. Kain ini dibuat oleh wanita.

Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Selambok/rattai galah. Pada waktu mandi di sungai. juga dapat dikenakan selekap balak. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. menyanggul rambutnya (belatung buwok). Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. Selain itu. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Untuk menghadiri upacara adat. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung.dililitkan. Selain itu. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Khusus bagi wanita yang baru menikah. memiliki bentuk seperti baju kurung. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. seperti perkawinan kaum wanita. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. kecuali saat pergi ke ladang. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. perak atau suasa diberi mata dari permata. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Dikenakan pula kalai kukut. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. Kelai pungew. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan.

Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). diberi pinggiran benang emas. Indramayu. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. maupun diperadan. Badong yang terkenal disebut badong jadam. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. atau membeli bahan baju dari Jawa. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. . dan memakai kantong terawangan. Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. dan ukuran celananya lebih lebar. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. baju (kelambi). Cina. perak. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. celana yang panjangnya sebatas lutut). atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. badeek. terbuat dari suasa. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. seperti keris. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. India. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. atau jembio. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. terbuat dari kain yang ditenun. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. atau Betawi. atau Eropa. atau perak dengan tatahan bermotif bunga. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Ada juga yang diberi batu permata. serta diberi tumpal benang emas. yang terbuat dari kain yang ditenun. memakai kantong biasa. disulam. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. rambi ayam. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. atau tembaga yang dilapisi emas. Pelengkap busana yang lain adalah keris. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). Sebagai pakaian sehari-hari. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. Lasem. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. suasa. tumbak lado. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. iket-iket atau kopiah (kopca).

Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). atau las. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. berasal dari Jawa). dan terompah atau selop. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. Pada masa lalu. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sebagai pakaian sehari-hari. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). Cina. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. bahu.Pada saat akan bepergian. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. rambut disanggul. Semakin halus songket yang dimilikinya. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. dan Singapura. kamhar. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. yang dikenakan pada kepala. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. dada. busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). India. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. dan dahi. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. dan tutup kepala (tengkoolook). Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga.

mereka lebih suka memakai kain batik halus. dilepas sampai pergelangan kaki. Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. baik di Priangan maupun di Cirebon. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Sebagai penyambung belahan kebaya. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. Di kalangan istri pembesar. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Sama halnya dengan kebaya. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Adapun masyarakat Cirebon. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. Pada masa pemerintahan Belanda. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. warna hitam atau putih. Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. polekat). Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan. Zaman dahulu. Adakalanya dikerudungkan. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Yang membedakan keduanya adalah.Dari masa ke masa. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. dan dihiasi dengan pasmen. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Jawa dan Eropa terutama Belanda. digunakan peniti. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. . sebatas lutut dan sedikit di atas lutut.

Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. Dalam berbagai kesempatan khusus. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Untuk alas kaki. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. ali meneng. gelang emas dan giwang emas. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. gelang bahar. namun kini sandal. untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Dengan demikian.

Dalam pandangan suku Baduy. yang memiliki keyakinan.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. Semuanya itu tabu (pamali). Penduduknya menjaga. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. model dan warnanya saja. Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Lebak. desa Kanekes. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Barangbarang "modern" seperti sabun. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. kecamatan Leuwidamar. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. yaitu Baduy Luar. Agar kuat dan tidak melorot. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. kosmetik. Bagi suku Baduy Luar. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. dengan ciri sub dialek Banten. cita-cita. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. yaitu tangtu Cibeo. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. Tak ada listrik. Mereka tidak memakai celana. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. tingkat umur maupun fungsinya. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. Potongannya tidak memakai kerah. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. . melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai� � � budaya� � � warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. mereka berasal dari satu keturunan. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Baduy Dalam. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Melihat warna. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. radio dan televisi. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. sarung tadi diikat dengan selembar kain. tingkah laku. Baduy Dalam. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. model maupun corak busana Baduy Luar. Oleh karena itu. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. piring.

biru tua dan putih. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. Model. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. Bagi wanita yang sudah menikah. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. potongan dan cara berbusananya saja. karembong. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. kemuduan dipanen. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. selendang dan ikat kepala. baju. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Dari model. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. kain ikat pinggang dan selendang. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. Dimulai dari menanam biji kapas. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. kain wanita. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja.20 cm dan dililit dengan . yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. dipintal. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . yang dipadukan dengan warna merah. Sedangkan. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. Memang. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. potongan dan warna pakaian. kecuali baju adalah sama. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy. sedangkan selendang berwana putih. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Untuk pakain bepergian. biru. Selain itu. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. kain sarung. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya.

Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. Panjang cadarnya 30 cm. Bagian jubah ini. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Padanan tuaki adalah kun. Aslinya adalah emas. yang agak longgar dan besar. tidak ada yang khusus. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. gading atau kadang-kadang kuning. Selain yang bercadar. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. yaitu model shianghai (Cina). Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. bagian bawah baju sangat bervariasi. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model.sorban kain. serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. bunga-bungaan. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. atau bahan perak. Biasanya dihiasi batu-batu permata. Motif-motif hiasan emas. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Warna-warna cerah yang dipilih. Sebagai alas kaki. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi. Panjang lengan agak longgar. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Di atas Siangko bercadar ini. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. Mengenai tata rias wajah. terbuat dari manik-manik. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Siangko bercadar selalu berwarna emas. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Dari ragam hias geometris. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. Teratai. Tuaki. baik dari bahan satin ataupun beludru. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. karena aslinya terbuat dari emas. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. daerah sekitar dada. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. Sebelum mengenakan jubah. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. dan model baju kurung (Melayu). merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. kehidupan dan kematian. bunga-bunga sampai motif burung hong. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Tuaki bentuk baju kurung. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. panjangnya sebatas pinggul. warna putih. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Namun. kubah mesjid dan lain sebagainya.

Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. sarung songket. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. Selain sunting. Sementara itu. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. atau mute. pisau raut. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Busana pengantin rias bakal. Penulis Endang Mariani . Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. bros dan untaian melati. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi. Gelang listring dan gelang selendang mayang. Seperti misalnya di daerah pinggiran. selendang dan celemek. Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. celana panjang. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. Namun saat ini. Selain perhiasan untuk kepala.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. Nabi Besar Muhammad SAW. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. kuat seperti pohon kelapa. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. sejahtera dan bahagia. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. gelang bahar. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. Sebelum rerurub atau ruruban. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan.

Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. Jawa Tengah adalah baju kebaya.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. kain sunduri (brocade). kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. Dewasa ini. seperti pada upacara adat misalnya. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. brokat. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. Saat ini. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. hijau. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan. ketiak dan punggung. putih. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. nilon. Oleh karena itu. lurik atau bahan-bahan sintetis. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja. Panjangnya kebaya bervariasi. cincin. kuning. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. sutera yang berbunga maupun .

Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. perhiasan yang dipakai juga sederhana. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . Namun pada saat upacara perkawinan. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. keris dan alas kaki (cemila). Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Kepulauan Sumbawa. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. Potongan dan model kebaya Jawa. biru sedang dengan hitam. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris. Pada upacara midodareni. cincin. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. sutera maupun nilon yang bersulam. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. kain samping jarik. brokat. Sedangkan. panggih dan sesudah upacara panggih. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. Dewasa ini. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. serta dua buah lengan baju. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. yaitu midodareni. daerah pantai Kalimantan. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. stagen untuk mengikat kain samping. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. Sedangkan. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Dalam adat busana perkawinan misalnya. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. Selain kain lurik. ungu dengan hitam. Kalangan wanita di Jawa. Sebab. yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. Sedangkan busana di kalangan pria. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana.nilon yang bersulam. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. ikat pinggang besar. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. Jawa Tengah. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Bali dan Madura. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). baju lengan panjang. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. pada kepala memakai destar (blankon). dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. ijab. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan.

Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. cincin. kain jarik. Busana basahan adalah tidak memakai baju. sabuk timang. pada upacara setelah panggih. terdiri dari kuluk matak biru muda. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. yang melambangkan kesuburan. swastika (misalnya bintang dan matahari). Fungsi pakaian. centung. jungkat. kalung. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. . yang terdiri dari kuluk kanigoro. Sedangkan kain sido mukti. kain jarik. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. dodot bangun tulak. selop dan perhiasan kalung ulur. berupa dodot bangun tulak. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. udeng. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. celana panjang warna putih. bros. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. keris dan selop. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. misalnya untuk menutup aurat. gelang. celana cinde sekar abrit. hewan (misal : burung. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. ular. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. bros dan buntal. stagen. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. mata. Sedangkan bagi pengantin wanita. subang dan timang atau epek. sabuk timang. naga). melainkan terdiri dari semekan atau kemben. stagen dan selop. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. melati) maupun alam dan manusia. yaitu terdiri dari baju kebaya. keris warangka ladrang dan selop. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. keris warangka ladrang. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. sabuk lengkap dengan timang dan cinde.warna sawitan. Pada upacara panggih ini. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. keris warangka ladrang dan selop. dalam busana adat perkawinan. pengantin wanita memakai busana kanigaran. kolong karis. stagen. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. basahan. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. kerbau. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. pipi dan bibir. alis. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Sebagai kelengkapan. baju takwo. dodot bangun tulak atau kampuh. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. sabuk timang. epek. Sama halnya dengan pengantin wanita. pilin. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. Bagi pengantin pria. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. stagen. sikepan. Saat upacara ijab. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. cincin. dodot bangun tulak. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. kain jarik. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. timang/epek. yang terdiri dari baju atela. ikal rangkap dan pilin ganda.

Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. Sejalan dengan perkembangan zaman. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. kapan dikenakan. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta.Pada masyarakat di Jawa Tengah. fungsi estetis. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. dan siapa yang mengenakannya.1945). di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan. dan bagian bawah. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. dan sebagainya). bagian tengah. di man dikenakan. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). konde. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. estetis. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. Namun demikian. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. usia. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. serta bagian bawah berupa alas kaki. Dalam perkembangan selanjutnya. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. saat bekerja. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap. sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. usia. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. Oleh karena itu. religius. . dan status sosial. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat. dan saat bepergian. dan status sosial pemakainya. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa.

Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. dan perkawinan. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. baju surjan. karset. kamus. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. timang (kretep). serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. baju kebaya katun. kain batik. jumenengan dalem (penobatan raja). kamus songketan. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. moga renda berwarna kuning. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. kanigaran. yang khusus dikenakan para putra Sultan. memakai lonthong tritik. atau merak. burung garuda. lonthong tritik. dan cincin. dana cindhe gubeg. dan keris branggah. cincin. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang). gelang. Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. tingalan dalem tahunan. Sebagai perhiasannya adalah subang. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. tingalan dalem tahunan. semekan tritik. supitan. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. lonthong tritik. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. kain batik dengan wiru di tengah. jumenengan dalem. berfungsi sebagai penutup dada. Penulis Dewi Indrawati . sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Perhiasannya berupa subang. atau gringsing. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. rante. ceplok. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. garebeg. kampuh konca setunggal. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). timang. baju katun. serta sapu tangan merah. Kainnya bermotif parang. perkawinan. kalung dinar. dan kaprajuritan. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). serta mengenakan perhiasan berupa subang. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. pethat jeruk sak ajar. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). tanpa baju. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. serta sedan (pemakaman jenazah raja). Agustusan. gelang. kamus songketan. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. baju kebaya katun. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. lonthong tritik. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan.

Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. baju pesa`an. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. teguh dan keras. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. tutup kepala yang dikenakan. Pada masa sekarang. bera` songay atau toh biru. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. yaitu hitam dan putih. Kalangan pedagang kecil. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. Jaman dahulu. Warna hitam ini melambangkan keberanian. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. di dalamnya. Sebenarnya. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. status sosial maupun kegunaannya. Dalam penggunaannya. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Perlengkapan busana . Garis-garis tegas merah. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Perbedaannya adalah pada odheng. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. dalam menghadapi segala hal. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. Berbeda dengan rakyat kebanyakan. terutama kaos bergaris yang digunakan. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. jenis kelamin. Sebaliknya para nelayan.

bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Sementara di daerah Madura Timur. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. stagen. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. garik atau jingga. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. sabuk katemang. keduanya terbuat dari emas. motif maupun cara pemakaian. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. pemberani. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Pada odheng peredhan. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Rambut wanita Madura itu sendiri. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. serta pemakaian penggel. jepit kain. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. Adapun cucuk dinar. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. bermotif modang. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. mulai dari kepala sampai kaki. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Pada saat menghadiri acara resmi.seperti sap osap (sapu tangan). bermata selong dengan . Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. juga memiliki daya tarik yang unik. Untuk penguat kain digunakan odhet. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". Bentuknya seperti busur. Arloji rantai acap digunakan. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif. Semakin miring kelopaknya. baik dari ukuran. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Bentuknya agak bulat dan penuh. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. Warna biasanya merah. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. pada odheng tongkosan kota. Harnal bubut dari emas. Odhet adalah semacam stagen Jawa. biasanya disisir ke belakang. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Sebum dhungket atau tongkat. dulcendul. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. kemudian digelung sendhal. jam saku. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Sementara itu. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. terbuat dari tenunan bermotif polos. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya.5 meter. serta bersifat terbuka dan terus terang. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. storjan atau lasem. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. kuning atau hitam. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan.

Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. namun adapula yang mencapai 100 gram. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. Mata dihiasi dengan celak Arab. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. digunakan peniti dinar renteng. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Alas kakinya berupa selop tutup. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. telinga. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. kiri atau dahi. Tergantung kemampuan si pemakai. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Saat ini. digunakan gelung mager sereh. penggel adalah salah satu yang paling unik. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Semakin banyak jumlah dinarnya. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. leher. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Sebuah tutup kepala. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . bahkan lebih. terbuat dari emas dan bermotif polos. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Namun. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. Warna gelap dan tidak bermotif.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Bentuknya sama dengan gelung malang. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. Bahan kebaya biasanya beludru. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. tangan dan kaki umumnya kecil. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Rambut wanita muda digelung malang. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah.

Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. berwarna hitam. Setelah disarungkan pada tubuh. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. Dalam hal berbusana. Malang. Setidaknya ada dua upacara besar. jas tutup warna gelap. Pengaruh Hindu . Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Cara lain yang sangat khas. Udeng dan sarung tidak tertinggal. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. jarik (kain) batik yang dibebatkan. Sementara itu. kain wiron dan udeng. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. sehingga yang terlihat hanya mata saja. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. Di bagian dalam. memakai kaos oblong. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . genta dan talam. Untuk bekerja. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. Saat bertamu.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. kemudian digantungkan di pundak. yang disebut sampiran. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. Cara ini disebut kakawung. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Keluhuran budi. celana panjang warna gelap dan selempang . yaitu upacara adat kasada dan karo. termasuk wisatawan. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. Cara ini disebut Sempetan. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Probolinggo. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. sebagaimana yang digunakan di Jawa. dengan segala perlengkapannya. Masing. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. melainkan juga yang berhubungan dengan alam. yaitu : Lumajang. Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. baju warna putih.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. dan Pasuruan. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Kedudukan seorang dukun. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. di Jawa Timur. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger.

Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. Pada masa lalu. Untuk kebaya berlengan panjang hingga pergelangan tangan. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. yaitu putih susu atau kuning muda. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. kuning. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . mereka sebut potongan Jawa. kemben bukanlah penutup dada. Menurut sejarah. Bagi wanita Bali. maupun putih dan ke arah krem. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. endek. disebut potongan Bali. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. sedangkan warna merah tidak terlihat. Namun. dari segala jenis usia. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. hitam dan merah. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. sabuk. Selempang pun ada yang berwarna hitam. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. perada. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. Demikian pula pada kaum pria.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. saput dan kemben.panjang warna hitam batikan. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Adapun pada geringsingan barak atau . baik untuk pria maupun wanita. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Berdasarkan warna. Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. maupun dari kasta manapun mereka berasal. saput dan anteng. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. Songket. Kemben. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. berupa kain pembalut tubuh. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Setelah ujub upacara.

Penulis Endang Mariani . yang disebut umpal. kebo. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. Berdasarkan corak busana yang dipakai. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. tampak tiga warna dominan. Untuk menahan kapuh. yaitu nista. seperti kenanga. Cina. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar.geringsing merah. cecepakan. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. madya. seluruh busana dibuat dari bahan perada. Untuk tingkat utama. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsurunsur ragam hias dari kebudayaan asing. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan. seperti India (patola). kain geringsing. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. dari bahu ke bawah. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. lubeng. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. di balik kemben. wayang putri. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. merah dan hitam. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. cemplong. Dalam upacara perkawinan. Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. Bagi kaum pria. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. dan sebagainya. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. cempaka putih. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. untuk hiasan kepala atau petitis. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. cempaka kuning dan mawar. Sementara dalam tata busana. Gelung kucir. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. bebekeng atau pending. serta cincin. patlikur. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. Geringsing sabuk. yaitu kuning muda. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. Selain warna. Secara keseluruhan. Wanitanya memakai kemben songket. tidak ada perbedaan yang menyolok. Sementara itu. juga dibedakan menurut ukurannya. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul).

sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. putih. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. juga dari kain yang sama. Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. celana. baju. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Kini. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. kulit kerang atau keong kecil. baba = lakilaki) untuk laki-laki. Dulu. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. . dari bahan yang sama dengan baju. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. untuk koleksi cendera mata. tak jarang. clan sebagainya. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang.Busana Tradisional Dayak Taman Penulis Aat Soeratin. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. merah muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air.

indulu manik. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar. lebih-kurang. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. disebut tajuk bulu aruae. gelang-gelang.menjadi bentuk kerawang. yang dianyam menjadi bentuk topi. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Misalnya saja kalong manik pirak. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. topi atau kopiah. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang.6 cm. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah . kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Maka. penghias leher.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. subang penghias telinga. yang memakainya. atau kaca. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. jelas. kaum wanita clan para pria memakai poosong. Sebagai pelengkap busana. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. perak. pada masyarakat Dayak Taman. 1 cm. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. antara lain. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. hitam atau kuning. dengan ketebalan. dan sebagainya. maupun kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. atau batik.Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. dibutuhkan kesabaran. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Dulu. Dibuat dari logam perak clan rotan. atau semacam rumput. menggelayut. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. Dikenal. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. kalung. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Kalung ini dipakai saat upacara adat. tak mengherankan. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. juga sangat sedikit para perempuan. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. ketelitian. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. tapi kini hampir tak ada lelaki. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Ada beberapa macam kalung. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang. sehingga nampak sangat unik dan khas. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. perunggu/tembaga. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung.

Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. kiri clan kanan. . Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. baju burai king burai clan baju manik king manik. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. clan orang tua. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. dewasa. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Terutama baju burai king burai. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Sekarang. agaknya. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Dahulu. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna.gelang pada bagian lengan di atas siku. dan wanita lanjut usia. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. clan berlengan pendek. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung.

kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. tanpa kantong. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Alas kakinya ada berbagai jenis. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Dilengkapi kantong tiga buah. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Ada dua pilihan sabuk. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. yang lazim disebut tapih kaling. Kantongnya ada tiga buah. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. salawar kiyama dan sandal silang. dominan warna kuning. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. yaitu sandal kalipik. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Bahan baju dari kain lena. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. baju kiyama. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. dan jenis lain yang agak tebal. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. berbentuk segi tiga. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). dan selop. belini dan friend ship. lurus tanpa kantong. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). kuning muda. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. satu di dada kiri.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Banjar People Traditional Dress Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Motif ini melambangkan sikap waspada. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. ekstrimin. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. hanya tanpa saku. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. sandal tali silang. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. dan jenis lain yang . kain Pagatan. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. Lengan baju sampai pergelangan tangan. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Baju ini berkancing lima biji. Pasangannya digunakan tapih. dan krem. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. seperi biru muda. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. yaitu lam jalalah. Menjadi aturan. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an.

Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. Pagatan. bunga mawar merah dan bunga melati. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Kaki mengenakan selop dari beludru. dengan segitiga lebih tinggi. untaian bunga depan dan belakang. terdiri dari daun sirih. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Perhiasannya berupa samban. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. . Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. dan air guci. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Cincin dari bunga mayang. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan.agak keras. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. kalung. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. dan untaian bunga warna keemasan. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. untaian metalik. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. bunga melati yang diatur berbaris. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. bunga jepun berbentuk jepitan. kalung bermotif bunga-bungaan. sabuk pinggang warna emas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful