Busana Tradisional Dayak Taman

Penulis Aat Soeratin, Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat; baba = laki-laki) untuk laki-laki, clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat, celana, baju, clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi, kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan, tak jarang, untuk koleksi cendera mata. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Dulu, yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati, warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman, serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning, merah muda, putih, clan sebagainya, dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Kini, kulit kerang atau keong kecil, yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu, sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Sebagai busana bawahnya, kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut, dari bahan yang sama dengan baju, juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut, juga dari kain yang sama, dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik, jelas, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. Maka, tak mengherankan, jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Sebagai pelengkap busana, pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala, topi atau kopiah, subang penghias telinga, kalung, gelang-gelang, dan sebagainya. Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-

kembang, garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik, atau batik, clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah, hitam atau kuning. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manikmanik disebut indulu manik. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai, sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan, atau semacam rumput, atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih, yang dianyam menjadi bentuk topi. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan - menjadi bentuk kerawang, tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus - motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas, indulu manik, maupun kambu, disebut tajuk bulu aruae. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. Dulu, kaum wanita clan para pria memakai poosong, tapi kini hampir tak ada lelaki, juga sangat sedikit para perempuan, yang memakainya. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 - 6 cm, dengan ketebalan, lebih-kurang, 1 cm. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas, perak, perunggu/tembaga, atau kaca. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat, yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar, menggelayut, sehingga nampak sangat unik dan khas. Ada beberapa macam kalung, penghias leher, pada masyarakat Dayak Taman. Misalnya saja kalong manik pirak. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang, kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki, tapi umumnya hanya dipakai perempuan. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. Kalung ini dipakai saat upacara adat. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Dikenal, antara lain, dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Dibuat dari logam perak clan rotan. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak, ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat, seperti galang bontok yang dibuat dari perak, galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan, galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas, dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah gelang pada bagian lengan di atas siku, kiri clan kanan. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang, bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik, clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan, masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan, baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek, clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Model baju

agaknya. Terutama baju burai king burai. clan orang tua. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. . baju burai king burai clan baju manik king manik. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa.kuurung sesungguhnya sudah tua. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya. dewasa. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting sepertiperhelatan adat atau perkawinan. Dahulu. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. clan berlengan pendek. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. Sekarang. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. dan wanita lanjut usia.

.

Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). yang lazim disebut tapih kaling. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. satu di dada kiri. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. yaitu sandal kalipik. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. dan jenis lain yang . sandal tali silang. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). ekstrimin. salawar kiyama dan sandal silang. Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). dan selop. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . Ada dua pilihan sabuk. Dilengkapi kantong tiga buah. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. kain Pagatan. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). kuning muda. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. Menjadi aturan. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam. Lengan baju sampai pergelangan tangan. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Bahan baju dari kain lena. Kantongnya ada tiga buah. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. baju kiyama. yaitu lam jalalah. Motif ini melambangkan sikap waspada. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. hanya tanpa saku. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. dan krem. Bagian dada terbelah berkancing tiga. lurus tanpa kantong. Alas kakinya ada berbagai jenis. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. Pasangannya digunakan tapih. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. dominan warna kuning. belini dan friend ship. dan jenis lain yang agak tebal. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). seperi biru muda. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. berbentuk segi tiga. Baju ini berkancing lima biji. tanpa kantong. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an.

Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. kalung. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. sabuk pinggang warna emas. Pagatan. dan air guci.agak keras. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. bunga jepun berbentuk jepitan. serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. . untaian bunga depan dan belakang. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Perhiasannya berupa samban. terdiri dari daun sirih. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. bunga melati yang diatur berbaris. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. dengan segitiga lebih tinggi. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. kalung bermotif bunga-bungaan. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. dan untaian bunga warna keemasan. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Cincin dari bunga mayang. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. Kaki mengenakan selop dari beludru. untaian metalik. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). bunga mawar merah dan bunga melati. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang.

Model busananya sangatlah sederhana dan semata fungsional. warna hitam dari jelaga. lalu tenunan serat alam yang "kasar". Bajunya berupa rompi unisex tanpa hiasan apapun. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang mereka lihat di alam sekelilingnya. upacara pengobatan belian obat kelengkapannya adalah busana dengan corak hias batang garing. para tetua adat.berbeda untuk perempuan dan lelaki . giwang (suwang). harimau akar. pun punya makna simbolik. Salah satu mitologi masyarakat Dayak Ngaju yang terkenal adalah tentang penciptaan alam yang melahirkan simbolisasi "pohon hayat" atau "pohon kehidupan" dalam bentuk corak hias yang dikenal dengan nama batang goring. giwang dari kayu keras. sehingga kesannya sangat alamiah. kemudian kain tenun halus. yang bahannya juga dipungut dari alam sekitar. menjadi corak hias busana adat. tak pula diwarnai. Celananya adalah cawat yang. bunga. warna asli kayu. dan ahli pengobatan. panglima perang. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak Ngaju pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. Maka baju kulit kayu sederhana itu pun lalu dilengkapi dengan aksesori ikat kepala (salutup hatue untuk kaum lelaki dan sal utup bawi untuk para perempuan). dan berbagai aksesori lainnya yang mendaurulangkan limbah keseharian mereka. warna kuning dari kunyit. Misalnya saja. burung. mengusik hasrat masyarakat Dayak Ngaju untuk "mempercantik" penampilan. dan sebagainya. Sinkretisme itu melahirkan pelbagai keyakinan dan mitologi dan mengilhami lahirnya corak hias naga. selain tampil artistik. Setelah dianggap halus "kain" itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. dalam kepercayaan Kaharingan. yang disebut ewah. yang cenderung animistik. kulit kerang. Akan tetapi naluri berdandan. warna putih dari tanah putih dicampur air. kalung. Busana Kulit Kayu Beratus tahun lalu masyarakat Dayak membuat busana dengan bahan dasar kulit kayu yang disebut kulit nyamu. Rompi sederhana ini dalam bahasa Ngaju disebut sangkarut. . warna merah dari buah rotan. yang bermakna sangat filosofis. ketika dikenakan. manusia. dan sebagainya. kemudian desain yang tak lagi sekadar fungsional. semua itu adalah fenomena yang menyiratkan bergesernya nilai-nilai tata cara berbusana dan seni berdandan masyarakat Dayak Ngaju.Busana Tradisional Dayak Ngaju Mengalirnya waktu dan berbaurnya pelbagai budaya menyebabkan perkembangan estetika masyarakat Dayak Ngaju yang semakin bergeser dari nilai-nilai asalnya meski tak menghilangkan substansinya. Pengaruh agama Hindu pada kepercayaan asal masyarakat Ngaju. dedaunan. melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai agama Hindu Kaharingan. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari yang tersedia pada alam sekitar mereka.bagi para pemuka kelompok. Dan kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warnawarni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana.misalnya upacara tiwah. gelang dibikin dari tulang binatang buruan. Busana itu berwarna coklat muda. Biji-bijian. Corak hias ini sangat berarti bagi masyarakat Dayak Ngaju sehingga busana adat untuk upacaraupacara penting . kepala suku. untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya. misalnya. Awalnya kulit kayu. bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang. gigi dan taring binatang dirangkai menjadi kalung. rajah (tatoo) pada bagian-bagian tubuh tertentu. tak diberi hiasan. Keyakinan dan alam mitologi juga memberi inspirasi pada penciptaan ragam corak hias busana adat sehingga gambar-gambar itu. Maka tampillah stilasi bentuk flora dan fauna. upacara meminta hujan. yang konon telah bangkit pada hati setiap manusia sejak ribuan tahun silam. akar pohon. diatur pula pemakaian corak hias busana adat . Selain itu. Hal itu nyata terlihat dengan berkembangnya seni berbusana masyarakat asli Pulau Kalimantan ini. gelang.

Pakaian yang dibuat bukan lagi hanya untuk fungsi yang paling mendasar yakni baju dan celana untuk melindungi bagian tubuh yang dianggap paling penting saja. Busana kaum perempuan terdiri dari baju kurung ngasuhui berlengan panjang atau pendek. dan tulang. kayu. Temuan-temuan baru itu kemudian dikembangkan lagi secara kreatif oleh para perancang busana masyarakat Ngaju. tampil pula dalam ekspresi yang lain. awan. dari kain satin atau beludru. Kain-kain tersebut ditenun dari serat kapas atau sutra. dari kain yang sewarna dengan baju dengan sehelai bulu burung haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang. dan kelengkapan lainnya. dan anting-anting atau suwang. Maka diadaptasilah teknik menenun kain halus itu dan kreativitas para penenun masyarakat Ngaju kemudian melahirkan juga kain tenun halus. Maka busana masyarakat Ngaju jadi semakin ornamentik dan semarak warna. Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai dihias ikat kepala. Mereka kemudian melirik rotan. satin. atau sutra. model baju pria Melayu tapi berkerah. melengkapi yang sebelumnya telah dibuat masyarakat Ngaju dari biji-bijian. kini diolah dengan teknik yang memerlukan kesabaran dan konsentrasi tinggi. Dan aksesori yang dikenakannya adalah kalung manik-manik. manikmanik itu juga kemudian diaplikasikan menjadi hiasan busana. dan mitologi. hiasannya tetap mengekspresikan keakraban mereka dengan alam. ikat kepala.Busana Jalinan Serat Alam Inovasi yang paling signifikan pada rancangan busana masyarakat Dayak adalah penguasaan keterampilan menjalin serat alam. untuk kostum tarian. umpamanya saja. Paduannya rok panjang sebatas betis. Corak hiasnya masih menampilkan alam flora. jalinan serat alam. Maka kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran "kain". Masyarakat Ngaju. fauna. diberi hiasan. Orang-orang Cina dan India memperkenalkan manik-manik yang terbuat dari logam. tapi diperluas untuk keperluan lainnya. dan tombak. Rancangan dan fungsi busana pun turut berkembang. akar tumbuhan. ular. Jenis-jenis busana seperti ini sekarang pun masih bisa dibuat untuk berbagai keperluan. jenis rumputrumputan. keramik. memberikan apresiasi positif terhadap bahan busana yang sebelumnya tidak ada pada khasanah karya tenun mereka itu. terutama yang bermukim di daerah pesisir dan pusat kerajaan. kostum taritarian. sumpit. atau cendera mata. koleksi museum. sehingga "kain" yang dihasilkan menjadi beragam. juga dari beludru atau satin. Busana Kain Tenun Halus Para pedagang Gujarat dari India yang datang ke Nusantara membawa serta kain-kain tenun halus sebagai barang dagangan. dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk flora atau fauna. kebanyakan dibuat dari kain beludru. lawung bawi. Umpamanya saja sangkarut perang dari jalinan rotan (sangkarut perang) untuk penahan tusukan anak panah. disebut salui. Celananya disebut selawar gobeh. Betapa tidak. ujung lengan baju. batang garing. Pakaian tradisional masyarakat Ngaju yang sekarang dianggap sebagai busana daerah Kalimantan Tengah untuk pelbagai upacara adat adalah pengembangan dari busana tradisonal masa lampau. Akan tetapi corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya. Akan tetapi. Selain untuk aksesori. dan aplikasi manik-manik dan arguci. yang pada bagian bawahnya diberi corak hias stilasi bentuk flora atau fauna. Eksplorasi terus dilakukan untuk mencari bahan-bahan lain yang bisa dibuat benang. konon. harimau akar. dan sebagainya. manusia. Busana tradisional masyarakat Ngaju yang beredar sekarang ini hampir seluruhnya dibuat dari kain tenun halus serat kapas atau sutra. Mereka pun lalu menciptakan alat penjalin untuk "merangkai" serat demi serat menjadi bentangan bahan busana untuk baju. celana . celana. pakaian acara-acara adat. Busana pengantin. dan bagian dada. Pada kerah. Baju kaum lelaki disebut baju palembangan. Teknik menenun. Hasilnya adalah tata busana yang memadukan kulit kayu. burung enggang. Dan kini pucuk rebung. Dari kulit kayu yang telah dihaluskan mereka membuat serat yang dicelup oleh bahan pewarna alam sehingga dihasilkan benang yang tak tunggal warna. diperkenalkan kepada masyarakat Ngaju oleh orang-orang Bugis. karena ternyata alam Nusatara yang kaya raya juga menyediakan kapas dan sutra. berhiaskan gambar pewarna alam.

panjang "komprang" (tidak ketat) dari kain yang sama dengan bajunya. Sedangkan penutup kepala dibuat dari kain yang dibentuk seperti peci atau kopiah yang disebut lawung siam. Penulis Aat Soeratin .

Pakaian bawahnya adalah seluar sekoncong. Di bagian pinggir kiri dan kanan jelapah diimbuhkan lima pasang kancing. Tenun sutra dengan ragam hias floral yang dikenal sebagai "Kain Samarinda" misalnya. Busana keseharian khas masyarakat Kutai yang hingg sekarang masih sering dijumpai adalah pelembangan dan baju Cina. pakaian kerja. pakaian bepergian. yaitu kain panjang batik yang sudah dijahit berbentuk sarung. dipakai oleh kaum lelaki. Kain panjang ini dipakai hingga menutup mata kaki dan dibebatkan sedemikian rupa sehingga sisi kain yang berumbai berlipat-lipat di bagian depan dan nampak artistik. Rambut mempelai wanita disanggul berbentuk gelung siput. Masing-masing fungsi busana itu juga dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Busana tradisional Kutai. Baju Takwo Pakaian adat Kutai yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan pakaian adat suku-suku lain di Kalimantan Timur ialah baju takwo. dihiasi gerak . antara lain. celana panjang dengan pipa celana yang longgar agar tak terasa panas. namun tidak tembus pandang. Agar tampil rapi. Paduannya adalah kain panjang biasanya bermotif parang rusak yang bagian sisinya diberi ornamen berupa rumbai-rumbai keemasan. yang dipakai sehari-hari. Di bagian depannya diimbuhkan sepotong kain. celana. Seperti lazim berlaku pada setiap kelompok etnik manapun. masyarakat banyak pun mengenakan baju takwo sebagai busana pengantin. yang modelnya seperti piyama. dari kain batik. pakaian pesta/upacara adat. atau kain sarung pelekat. Jika bepergian paduan busana itu dilengkapi dengan babat (kain pinggang) dari kain Samarinda. Para gadis atau ibu-ibu muda memakai sarung caul. Oleh karenanya dipilih kain yang tipis. berkancing lima buah dan dipasangi dua buah kantong/saku di kiri-kanan bagian bawah bajunya. mempelai wanita memakai baju takwo. Jonny Purba Seperti telah disinggung di muka. dan diberi kerudung ketika bepergian. Pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Kutai disesuaikan dengan suhu udara daerah itu yang relatif panas. Baju takwo kerap dibuat dari kain katun. linen. Dan di antara beragam pakaian adat atau busana upacara. yang menutup bagian tengah dada dari bawah leher hingga pinggul. rambut kaum wanita disanggul bentuk gelung Kutai. sebagian diantaranya. Akan tetapi kini amat jarang para lelaki Kutai yang sehari-harinya memakai destar. Akulturasi itu. Saat upacara pernikahan berlangsung. Sedangkan wanita lanjut usia biasanya memakai sarung pelekat. Dan sejalan dengan luruhnya perbauran antar budaya terlahirlah beragam hasil tenunan yang menunjukkan keindahan tersendiri yang kemudian semakin memperkaya khasanah kain tenun Nusantara. dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan Melayu. baju takwo adalah pakaian kaum bangsawan atau busana para penari saat mengikuti upacara adat. masyarakat Kutai mengalami persentuhan budaya dengan masyarakat Bugis yang datang dan menetap di daerah pesisir. Bentuk baju takwo mirip jas tutup tapi berleher tinggi. salah satu yang paling kerap dijumpai adalah pakaian pengantin yang dikenal sebagai baju takwo dan baju kustim. destar. kain panjang. mewartakan adanya tradisi menenun yang ekspresinya sangat berlainan dengan yang telah dikenal oleh masyarakat asli Kalimantan Timur. dan sebagainya. jenis-jenis pakaian dapat dibedakan sebagai pakaian sehari-hari. sedang pada bagian lehernya dipasang dua buah kancing. berdasarkan fungsinya. Akan tetapi kini. dari bahan katun untuk baju. atau beludru. Pakaian adat tradisional inilah yang hingga kini relatif masih bertahan dari pengaruh perkembangan mode busana. dan status sosial pemakainya. umur. semacam kebaya tidak berkerah. Kaum perempuannya mengenakan baju Cina. disebut jelapah.Busana Tradisional Kutai Kutai Tradional Dress Penulis Aat Soeratin. masyhur sebagai hasil tenunan yang khas Kalimantan Timur. Dahulu. Jika bepergian memakai ikat fepala. Baju pelembangan.

Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. Pasmen yang terbuat dari benang serat logam mulia (emas) tak bisa dikerjakan sembarang orang. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Kain itu dibebatkan seputar pinggang. Ketika akad nikah mereka mengenakan busana dengan baju takwo. dan tatkala perayaan pernikahan memakai pakaian pengantin berbaju kustim. sebagaimana lazimnya motif hias masyarakat Dayak lainnya. Bentuk baju kustim sama dengan baju takwo hanya saja untuk baju kustim pada sisi jelapah. Tenggarong. dan warna coklat muda. pasmen dan wapen inilah yang mebedakan baju takwo dan baju kustim sebagai busana pengantin masyarakat Kutai. dan ujung lengan baju dihiaskan pasmen. kopiah. atau lambang yang menunjukkan derajat sosial pemakainya. Titik-titik hitam inilah yang hampir tak ditemui pada tenun ikat manapun di daerah lain. Daun doyo dipotong sepanjang 1-1. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. dan alam mitologi. Muara Nayan. Ada perajin khusus yang menekuni profesi membuat pasmen benang logam emas ini. dipadukan dengan celana panjang. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. tingginya 15 cm dan dibuat dari kain beludru hitam. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam.5 meter dan direndam di dalam air. Alhasil.gempa (kembang goyang) berwujud bunga melati yang dibuat dari emas atau perak bersepuh emas. dan Lempunah. Di bagian depan sentorong dipasang wapen. Baju Kustim Busana pengantin yang sekarang biasa dipakai oleh golongan menengah-atas masyarakat Kutai disebut baju kustim. dipadukan dengan celana panjang. Pentat. Maka tak jarang pengantin Kutai masa kini menggunakan kedua jenis busana ini. sejenis peci atau kopiah berbentuk bundar. Bahan yang terkenal untuk pakaian adat tradisional Dayak Benuaq adalah kain tenunan serat daun doyo (Curculigo latifolia). serta sebagian di Kec. baju. Selop atau alas kaki yang digunakan biasanya berwarna hitam atau coklat. semacam lencana. Mempelai pria juga mengenakan baju takwo. Prianya memakai sentorong dengan pasmen benang keemasan. Rambut wanita disanggul bentuk gelung siput. Daerah persebarannya mencakup Kecamatan Danau Jempang. terutama di desa Tanjung Isuy. leher baju. BUSANA ADAT DAYAK BENUAQ Aat Soeratin J onny Purba Salah satu suku bangsa yang mendiami daerah hulu sungai Mahakam adalah suku bangsa Dayak Benuaq. Ulap doyo dianggap sebagai tenun ikat yang sangat khas Dayak Benuaq. Kain panjang yang sama motifnya dengan yang dipakai mempelai wanita difungsikan sebagai dodot. hitam. . pada kain bercorak hias itu muncul titik-titik hitam yang dihasilkan dari pengikatan sebelum dicelup bahan pewarna. bagian depannya hanya sebatas lutut dan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Biasanya warna tenunan kain doyo (ulap doyo) memiliki tiga warna: merah. bagian depannya hanya sebatas lutut clan bagian sisi yang berumbai menjuntai dari bagian belakang hingga ke mata kaki. Setelah daging daun hancur lalu seratnya diambil. Nama kustim berasal dari kata "kostum" yang bermakna "baju tanda kebesaran". dan sebagainya. Sebagai hiasan kepala dipakai sentorong. fauna. yaitu sulaman stilasi bentuk bunga atau flora dari benang emas. Dari kain tenun serat doyo ini dibuatlah destar. Pada bidang yang berwarna terang. diimbuh hiasan kembang gempa. sarung. Sedangkan selop yang dipakai berwarna coklat atau hitam. Motifnya stilasi dari bentuk flora. Dari tumbuhan inilah masyarakat Dayak Benuaq membuat benang yang kuat untuk ditenun.

manik-manik. Ulap yang dikenakan sehari-hari biasanya berwarna hitam sedangkan yang dikenakan saat mengikuti upacara adat. baju perang dari kulit kayu atau kulit harimau dahan. Maknanya. Para pemeliaten tampil dengan ekspresi lain. Sedangkan kaum pria biasanya menggunakan tenunan serat doyo ini untuk baju tanpa lengan dan celana pendek. Ragam hias ini dilukiskan pada templaq/ tinaq tempat tulang belulang orang mati untuk golongan orang merantikaq tapi bisa juga untuk golongan bangsawan. Ragam hias ini menggambarkan kebesaran seseorang dalam suasana kebahagiaan. Waniq berarti lebah dan ngelukng berarti menyerupai sarang lebah.Akulturasi dengan budaya lain juga meresap hingga ke pedalaman. Dahulu kepala adat menggantungkan jimat-jimat. Busana bawahannya berupa tapeh bel ian yaitu kain panjang serupa rok maksi yang menutup hingga mata kaki. bahwa orang yang sudah mempunyai cukup harta benda dapat melaksanakan upacara kematian. Dan dengan sangat kreatif masyarakat Benuaq mengaplikasikan kain-kain tersebut pada karya tenun ikat mereka. Dan memakai cawat atau cancut yang juga dibuat dari tenunan serat doyo. sedangkan masyarakat kebanyakan dinamakan kelompok merantikaq (keturunan orang-orang biasa). Busana Adat Dalam pelbagai upacara adat seperti misalnya upacara kematian. Ulap yang berbelah ini disebut ulap sela. Sarung mandaunya berukir dan pada ujungnya juga dihias bulubulu burung yang indah. Atau motif waniq ngelukng. dan sebagainya. Ragam hias pada tapeh dan sempilit belian juga menunjukkan tingkat pengetahuan atau "kesaktian" pemakainya. sedang nguku berarti berarak. dan berjuntai sepanjang kiri dan kanan kaki. upacara panen hasil bumi. misalnya busana adat yang dipakai oleh para pemeliaten (ahli pengobatan tradisional). Di pinggangnya tesengkelit sebilah mandau perang (parang/golok panjang) yang hulunya dihiasi dengan aneka warna bulu burung. Agar bebas bergerak ulap ini diberi belahan yang jika dipakai belahan itu berada di bagian belakang. . taring harimau dahan. Maka yang dianggap sebagai pemuka masyarakat adalah kepala adat. dan para ahli belian (ahli penyembuhan penyakit) yang disebut pemeliaten. Maka masyarakat Benuaq pun kemudian mengenal kain tenun kapas dengan warna-warni yang sangat kontras dengan warna serat tenun mereka. kepala suku. kain panjang yang berhias pada ujungnya. memakai cawat. dan patungpatung yang mempunyai kekuatan magis atau disebut tonoi. Misalnya motif jautn nguku. Sebagai baju biasanya dipakai kebaya tanpa lengan atau yang berlengan panjang. taring beruang. motif ini biasanya dilukis pada templaq/tinaq (tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah) golongan bangsawan atau raja-araja. dan diberi hiasan aplikasi berupa tempelan kain warnawarni motif floral yang sangat artistik. Pada pinggang dililitkan sempilit. Jautn berarti awan. Turunan para raja kemudian menurunkan para bangsawan yang disebut golongan mantiq. diberi hiasan kain perca warna-warni bermotif bunga atau dedaunan. taring binatang buruan. Golongan mantiq dan merantikaq dapat dibedakan dari ragam hias yang diimbuhkan pada pelbagai pelengkap acara adat. dan tanpa alas kaki. Dalam masyarakat Dayak masa lalu terjadi pelapisan sosial karena dulu masih terdapat raja pada setiap sukunya. kaum perempuan mengenakan ulap doyo yang berfungsi seperti kain panjang (tapeh). Perisai di tangan kiri dan tombak digengggam di tangan kanan. Mereka biasanya memakai destar atau leukng dari serat doyo atau kain biasa. Kini tak ada lagi raja. dan patung-patung kayu kecil (jorokng) yang dipercaya sebagai sebagai tonoi. Hasilnya adalah busana upacara yang dibuat dari kombinasi tenunan serat doyo dengan kain warna-warni sebagai corak hias yang artistik. hampir tidak nampak atribut tanda status pada busana yang dikenakannya. Mereka tidak mengenakan baju tapi di bagian dadanya disilangkan kalung manik-manik. Jika terdapat hiasan berupa garis-garis pada bagian bawah tapeh menunjukkan bahwa pemeliaten itu berilmu tinggi. Berbaju kemeja tanpa lengan dari kain serat doyo berwarna merah atau hitam. Kepala adat yang merangkap kepala suku mengenakan topi yang berhiaskan bulu burung enggang. Kepala adat suku Benuaq sekarang tampil lebih sederhana. upacara pengobatan.

ragam hias. yang juga berfungsi sebagai musik pengiring saat upacara. Busana adat. Laukng berwarna hitam menandakan bahwa pemakainya (pemeliaten) mampu menangkal berbagai bentuk sihir hitam. Di pergelangan tangannya dipakai gelang-gelang berukuran relatif besar. dan uang logam kuno.Untuk menahan tapeh dan sempilit dikenakan babat (semacam ikat pinggang) yang dihiasi dengan manikmanik. Pemeliaten juga memakai destar (laukng) yang warnanya juga mempunyai arti simbolik. Babat ini berfungsi pula sebagai tempat menyimpan pelbagai jimat penolak pengaruh jahat sihir hitam. biasanya terbuat dari logam. Jika laukng hitam itu berimbuhkan garis-garis putih bermakna pemeliaten tersebut belum mampu menolak ilmu hitam. taring binatang. . dan perhiasan yang dikenakan pada pelbagai upacara adat itu adalah sarana untuk memudahkan hubungan dengan mahluk-mahluk gaib. Bunyi-bunyian magis sebagai musik repetitif ditimbulkan oleh beradunya gelang-gelang ketika pemeliaten menggucang-guncangkan tangannya.

dan peniti yang terbuat dari intan. Tidak lupa. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal. celana panjang. Baju tersebut umumnya berwarna polos. yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning. sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka. Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut. Selain busana adat yang disebutkan tadi. remaja contohnya. ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat. memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. serta alas kaki yang disebut tarupa. yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo. dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. . pembantu permaisuri. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. berlian. merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. dan ikat kepala. mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma. baik sebagai permasuri. berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. oranye. Sudah tentu. yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran. upacara injak tanah atau joko kaha. Selain itu. keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka. bros. Sementara itu. berikut toala polulu di kepalanya. anting dua susun. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah. atau emas. penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung. mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar. atau diselaraskan dengan usia mereka. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam. serta kain panjang. baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan .upacara adat. Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara. ujung tangan. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya.Busana Tradisional Ternate dan Tidore Penulis Ria Andayani Somantri Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Di samping itu. Sementara itu. leher jas. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya. sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri.

sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah. celana dino. . Adakalanya. dan celana popoh.Busana kerja dalam keadaan bersih. lengkap dengan lengso duhu. Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang. mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa. busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning. yakni tutup kepala berwarna kuning muda. Sama halnya dengan busana wanita. yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang.

Walaupun model bajunya sama. kebaya hitam. Kebaya manampal. yakni sapu tangan berwarna putih yang kini telah jarang diletakkan di pinggang melainkan hanya dipegang saja. melainkan tampak juga dalam busana seharihari. dengan leher agak tertutup. Dilengkapi dengan kaeng pikol. Busana wanitanya terdiri atas baju dan kain hitam atau kebaya dan kain hitam. tidak hanya didominasi oleh busana yang dikenakan pada saat menghadiri upacaraupacara saja. dari bagian leher ke arah dada terbelah sepanjang 15 sentimeter tanpa kancing. biasanya dipakai sebagai busana kerja yang disebut kebaya waong. Kecuali pada saat upacara sidi yakni upacara pengukuhan pemuda clan pemudi untuk menjadi pengiring Kristus yang setia. tapi kualitas bahan yang digunakan berbeda. lenso pinggang. atau masyarakat menyebutnya baju cele tangan sepanggal. lengkap dengan kain pelekat. Sementara itu kaum pria di Ambon mengenakan busana yang terdiri atas baju kurung yang berlengan pendek dan tidak berkancing. baju cele tersebut dijahit dengan panjang lengan hingga sikut. dan celana panjang. Busana dalam upacara keagamaan biasanya lebih lengkap lagi. Untuk busana kerja di rumah atau dikebun. jenis busananya masih tetap berupa kebaya cita berlengan panjang hingga ujung jari yang kemudian dilipat. mereka akan melengkapinya dengan sapu tangan. yaitu kebaya cita berlengan hingga sikut yang dijahit dengan cara menambal beberapa potong kain yang telah diatur dan disusun sedemikian rupa dengan rapih. yakni baju dalam atau kutang yang dipakai sebelum mengenakan baju atau kebaya hitam. biasanya terdiri atas baju baniang yakni baju berbentuk kemeja yang berlengan panjang dan berkancing. Sedangkan busana yang dikenakan pada saat bepergian. Busana adat yang dikenakan dalam kesempatan tersebut biasanya hitam polos atau warna dasar hitam.Busana Tradisional Busana Tradisional Ambon Ambon Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku Tengah. Jenis busana lain. Celana kes atau hansop. Penampilan gaya berbusana warga masyarakat Ambon pada saat menghadiri upacara adat clan upacara keagamaan berbeda dengan yang dikenakan sehari-hari. Ada beberapa contoh busana yang pada zaman dahulu pernah menjadi busana sehari-hari yang digunakan untuk bekerja atau di rumah. yang sudah tidak dipakai untuk berpergian oleh kaum wanita. Pasangannya adalah celana panjang berikut topi yang dikenakan di kepala. kole. Mereka biasanya mengenakan baju cele. keberadaannya tetap penting untuk diungkapkan sebagai gambaran kekhasan busana mereka di masa lalu. Bila mereka akan bepergian. dilengkapi dengan celana kartou yakni celana yang pada bagian atasnya terdapat tali yang dapat ditarik dan diikatkan. masih ada lagi busana lain yang khususnya dipakai oleh untuk kaum wanita yang merupakan pendatang dari kepulauan Lease dan telah menetap di Ambon ratusan tahun lamanya. Pada saat itu busana hitam ini ditabukan atau dilarang digunakan. khususnya dalam upacara sidi. Kebaya jenis ini bisanya berpasangan dengan kain palekat. Meskipun busana adat yang biasa dipakai dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari termasuk jarang digunakan lagi saat ini. yakni celana anak-anak yang dibuat dari beraneka macam kain dan dijahit sesuai dengan selera masing-masing. Sementara itu busana prianya terdiri atas baniang. Keberadaan busana adat Ambon. yakni sejenis kebaya berlengan pendek. Bila akan bepergian. Kebaya manapal yang sudah tampak jelek atau sudah tidak pantas lagi untuk dikenakan di rumah. celana yang dipakainya disebut celana Makasar yang panjangnya sedikit di bawah lutut dan sangat longgar. Khusus untuk kaum pria yang telah lanjut usia. Selain busana sehari-hari yang telah disebutkan tadi. yakni kain hitam berhiaskan manik-manik yang disandang di bahu kiri. dipakai .

celana hitam. pembersihan negeri. Busana raja terdiri atas baju hitam. dan kaus tangan berwarna putih. Para tua-tua adat mengenakan baju hitam. celana panjang atau celana Makasar. Begitu pula kaum wanitanya yang memakai baju hitam seperti baju cele . ikat poro atau ikat pinggang. sepatu berwarna putih. dan lain-lain pada dasarnya hampir sama. patala disalempang di dada. Hanya ada penambahan tertentu pada kelengkapan busana mereka. yang terdiri atas kebaya putih berlengan panjang dan berkancing pada pergelangannya. yakni baju cele berlengan panjang dengan kancing pada pergelangan tangannya. . lenso bodasi dililitkan di leher. Adapun busana yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat seperti pelantikan raja. dan topi. dan seperangkat busana yang terdiri atas baju putih panjang. penerimaan tamu. busana rok. Sedangkan pria dewasa lainnya hanya mengenakan baju hitam dan celana panjang hitam tanpa menggunakan alas kaki.oleh kaum remaja yang berasal dari golongan bangsawan diantaranya baju tangan kancing. pending pengikat pinggang yang terbuat dari perak. bersepatu dengan kaus kaki putih. salempang. patala di pinggang.

belusu. hitam kebiru-biruan. Para penari yang terdiri atas kaum ibu tersebut. yakni seperangkat busana terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. somalea. keberadaan warna-warna tersebut memang memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan status sosial seseorang. yakni untaian yang tergantung di belakang leher. meliputi sinune. Mengingat saat ini sudah tidak ada lagi pengrajin yang membuat gelang-gelang besar seperti itu. setiap orang boleh mengenakan kain dengan warna apa saja. Wanita Tanimbar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan. Kalaupun ada yang mengenakannya. ketentuan tersebut sudah tidak berlaku lagi. yang bernuansa keagamaan ataupun yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Pemakaiannya sangat bergantung pada kemampuan dari orang yang akan mengenakannya. Saat menghadiri upacara-upacara tersebut. dan hitam. Pada dasarnya. yakni baju sejenis kebaya untuk bagian atasnya. yakni sinune dan somalea. Busana adat wanita Tanimbar biasanya dipakai pada saat mereka menghadiri atau terlibat dalam penyelenggaraan upacara adat. selain mengenakan busana adat juga memakai aneka perhiasan yang lengkap. pelepasan arwah. Pada masa lalu. umumnya hampir tidak ada yang memakai perhiasan. Tidak heran bila belusu yang beredar saat ini merupakan salah satu benda warisan dari nenek moyang mereka. Saat ini. Misalnya noras aboyenan. Meskipun jumlah mereka saat ini sudah mulai menyusut. Warna dasar tais pada umumnya adalah coklat. Mereka biasanya menari dalam upacara penghormatan jenazah dan upacara pelepasan arwah orang-orang yang dihormati. yakni selempang atau selendang yang disampirkan pada bahu sebelah kiri. ada kalanya belusu pun dijadikan sebagai mas kawin. serta lean. busana adat masyarakat Tanimbar kini tidak lagi digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. dan lekbutir. Meskipun begitu.terbatas pada gelang atau bel usu. yaitu kalung yang terdiri atas lima lapis dan diletakkan di bagian depan. Misalnya. yaitu hiasan dari cendrawasih yang telah dikeringkan dan menjadi hiasan yang diletakkan di kepala atau dahi. penghormatan jenazah. dan sebagainya. Keberadaan belusu yang terbuat dari gading gajah ini cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. upacara-upacara gerejani. ketua adat misalnya. pernikahan. Busana yang dipilih terdiri atas kutang liman malawan. atau barang bawaan seorang wanita sewaktu meninggalkan keluarganya untuk pindah dan menetap bersama suaminya. yang berlengan pendek maupun panjang. Kalaupun ada yang masih mengenakannya. hitam kebirubiruan mencerminkan golo-ngan menengah. kaum wanita biasanya mengenakan busana adat yang khas. dan warna hitam melambangkan pemakainya adalah golongan rakyat biasa. yang menggantung dengan indah di telinga. Artinya. berbagai kalung atau ngore. Masyarakat menamakan kain tenunan seperti itu dengan sebutan tais maran. yaitu anting-anting. keberadaannya tetap merupakan aset potensial yang dapat memberikan daya dukung positif bagi pelestarian dan pengembangan keberadaan busana adat tradisional di kawasan tersebut. memang ada salah satu yang tampak paling lengkap yakni busana penari. memakai rantai maupun tidak. mereka menyempurnakan penampilannya dengan mengenakan sejumlah asesoris yang khas. ~ Kain tenun dengan warna dasar coklat melambangkan kedudukan pemakainya sebagai golongan bangsawan. . maka belusu kini menjadi barang yang cukup langka. Adapun busana bagian bawahnya berupa kain sarung yang biasanya ditenun sendiri.Busana Tradisional Tanimbar Tanimbar Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Wilayah Tanimbar sejak duhulu dikenal sebagai sentra pengrajin busana tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara. ada kelengkapan khusus yarig senantiasa digunakan oleh kaum wanita dalam berbagai upacara. Di antara berbagai busana yang dikenakan oleh kaum wanita dalam sejumlah acara. Selain itu. Berbagai kelengkapan busana dan perhiasan tradisional tersebut memang tidak mutlak digunakan.

Sementara itu. tutuban ulu melambangkan keberanian. mengandung makna simbolis tertentu yang barangkali saat ini sudah mulai terlupakan keberadaannya. Konon pada masa lalu. busana adat pria Tanimbar terdiri atas celana panjang dan kemeja panjang. tutuban ulu. sinune. prajurit. Kecuali bagi mereka yang memiliki tugas khusus. berhiaskan somalea. Mereka sudah merasa berbusana tradisional. Tidak lupa mereka pun menambahnya dengan berbagai kelengkapan busana lain yang sama khasnya dengan apa yang dikenakan oleh kaum wanita. Melihat gambaran busana adat tradisonal masyarakat Tanimbar secara umum memang tidak hanya menampakkan fungsi alamiah semata. Kecenderungan yang tampak sekarang. . kaum pria tidak mengenakan busana adat selengkap itu pada berbagai upacara keagamaan atau upacara adat. kain penutup kepala. Kelengkapan tersebut meliputi umpan. misalnya yang membacakan syair dalam upacara tersebut. dan keperkasaan seorang pemimpin. kebesaran. Namun lebih dalam lagi. yakni untuk melindungi anggota tubuh dari berbagai keadaan cuaca yang tidak menguntungkan. atau para tua adat. atau ketua adat. pahlawan. Selain itu kepada jenazah dalam upacara adat pelepasan jenazah biasanya dipakaikann busana tradisional secara lengkap. yakni selembar kain tenun yang diikatkan di pinggang. walaupun hanya dengan menambahkan umpan yang diikatkan di pinggang.

Hitam misalnya biasanya dipakai untuk melayat orang meninggal. putih. Istilah untuk sarung selain utan adalah lipa. Indonesia. Namun dewasa ini hal tersebut sudah ditinggalkan. Merah dan coklat melambangkan keagungan dan status sosial yang . busana adat wanita Sikka tidak (lagi) mengenal perbedaan strata sosial yang mencolok. Selembar lensu sembar diselendangkan pada dada. utan lewak. Pada bagian pinggang dikenakan utan atau utan werung yaitu sejenis sarung berwarna gelap. Dimasa lalu bangsawan memakai lipa dengan ragi yang masih baru. biasanya berwarna putih mirip kemeja gaya barat. biru dan kuning secara melintang. bergaris biru melintang. bahkan di. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher guna memudahkan pemakaian sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya. Cina. Perhiasan yang penting tetapi jarang dikenakan adalah keris yang disisipkan pada pinggang sebagai pertanda keperkasaan dan kesaktian. Kain atau baju penutup badan terdiri atas labu bertangan panjang. kecuali mungkin pada halus tidaknya tenunan. Diatas labu dikenakan dong. fauna dalam lajur-lajur bergaris. Sedangkan pengaruh India amat nyata pula hasil tenunan. ragi werung. coklat. mendiami daerah kabupaten Sikka di pulau Flores dengan kota terbesar sekaligus ibukota yaitu Maumere. berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang bagus mutunya. berwarna dasar gelap dengan paduan-paduan antara warna-warna merah. Bagianbagian busana wanita Sikka terdiri atas penutup badan berupa labu liman berun. Busana Adat Wanita Seperti halnya pada kaum pria. bercorak flora atau fauna dalam teknik ikat lungsi. Belanda. jahitan dan ukiranukiran perangkat perhiasannya. yakni pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola.Busana Tradisional Busana Tradisional Sikka Sikka Traditional Dress Penulis Biranul Anas Masyarakat Sikka atau suku Sikka. Dibidang agama tampak benar pengaruh Portugis dan Belanda yang membawa agama Katolik dan Protestan serta tatabusana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari masyarakat. Utan lewak. Portugis. Kain sarung wanita. Seperti halnya dengan daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. arti harfiahnya adalah kain tiga lembar. kebudayaan masyarakat Sikka mencerminkan adanya pengaruhpengaruh asing seperti Bugis. kuning atau merah. Pada tatacara berbusana tampak jelas bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok antara keturunan ningrat dan rakyat. Arab dan India. Tatawarna kain Sikka umumnya tampil dalam nada-nada gelap seperti hitam atau biru tua dengan ragi yang lebih cerah berwarna putih. Warna-warna kain wanita melambangkan berbagai suasana hati atau kekuatan-kekuatan magis. dihiasi dengan ragam-ragam flora. sejenis selendang yang diselempangkan melintang dada. Busana Adat Pria Perangkat busana adat pria secara umum terdiri atas kain penutup badan dan penutup kepala. Walaupun demikian masyarakat Sikka tetap mampu mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat busana serta tatariasnya. Dimasa lalu suku Sikka mengenal tingkatan sosial yakni bangsawan dan masyarakat umum. Destar. tutup kepala pria terbuat dari kain batik soga dan dikenakan dengan pola ikatan tertentu sehingga ujungujungnya turun menempel pada kedua sisi wajah dekat telinga.

Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap. Yakni dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. delapan dan seterusnya. pesta dan sebagainya. Perhiasan lainnya adalah kilo yang tergantung pada telinga. Perhiasan pada rambut dewasa ini sudah amat bervariasi karena pengaruh-pengaruh dari sukusuku lainnya di Nusa Tenggara Timur.tinggi. Paduan warna juga menunjuk pada usia. Cara mengenakan utan selain sebagaimana tersebut di atas juga dengan menyampirkan sebagian pinggir kain di atas bahu dengan melintangkan tangan kanan (atau kiri sesuai pembawaan masing-masing) di bawah dada seperti hendak menjepit kain. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading dan perak. Kaum berada atau ningrat biasanya mengenakan lebih banyak namun tetap dalam bilangan genap seperti enam. sebaliknya warna-warna muda adalah untuk suasana suka ria. Demikian pula hal dengan warna dong. . Hiasan kepala tersemat pada sanggul atau konde dalam bentuk tusuk konde biasanya terbuat dari ukiran keemasan. sedangkan warna-warna cerah digemari oleh kaum muda. apabila gelap mencerminkan duka. Perlambang warna dan cara-cara menyandang utan berlaku pula pada kaum pria Sikka. Warna-warna yang gelap biasanya dipakai oleh orang tua. Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat.

Sedangkan busana lama atau usang biasanya dipakai di rumah atau untuk bekerja sehari-hari. tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata. Jambul inilah dapat diletakkan di depan. Busana pria Sumba terdiri atas bagianbagian penutup kepala. walaupun tidak setajam dimasa lalu dan jelas juga tidak pula tampak lagi secara nyata pada tata rias dan busananya. udang. Di kepala dililitkan tiara patang. rusa. bendera tiga warna. mahkota dan singa. ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti kain-kain hinggi dan lau serta perlengkapan perhiasan dan senjata. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. ekonomi serta religi suku sumba. upacara. Dari kain-kain hinggi dan lau tersebut. kuda. penyu. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. masih amat hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba ash. kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga. Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak). Sumba Barat dan Sumba Timur. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu. setengah leluhur. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat.Busana Tradisional Sumba Timur East Sumba Traditional Dress Penulis Biranul Anas Pulau Sumba didiami oleh suku Sumba dan terbagi atas dua kabupaten. yang terbuat dalam teknik tenun ikat dan pahikung serta aplikasi muti dan hada terungkap berbagai perlambangan dalam konteks sosial. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan. ayam. pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku. alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. setengah dewa. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Busana pria Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa mi cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Menilik halhal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar. rumahrumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya. buaya. Kepercayaan khas daerah Marapu. sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. ikan. cumi-cumi. penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. burung. Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba). ular. naga. pesta-pesta dan sejenisnya. upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponenkomponen busana yang dipakai adalah buatan baru. Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Warna hinggi juga .

telinga. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Timor. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. keperkasaan serta budi baik seseorang. memanjang dalam paduan warna-warna jingga. coklat. Kain-kain tenunan dalam teknik futus dan sotis dalam paduan warna-warna putih. Timor Amarasi. putih dan biru. Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Hal ini tampak nyata pada ungkapan berbusana masyarakatnya yang sehari-hari memakai pakaian bergaya barat akibat pengaruhpengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut sudah lama. namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. lau pahudu. dewasa ini sudah jauh berkurang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Bentuk-bentuk kepercayaan lokal masih mewarnai kehidupan sehari-hari seperti ritus-ritus penghormatan terhadap Usi Neno. Kainkain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung. Namun hal-hal tersebut tidak menghilangkan tradisi untuk mengungkapkan ungkapan budaya asli mereka. Sebagian besar penduduknya dewasa ini pun memeluk agama Nasrani. dan po`uk. sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher. Masyarakat Amarasi merupakan bagian dari suku Dawan yang tersebar di seluruh kabupaten di Timor bagian barat. biru dan merah bata yang ditunjang oleh berbagai aksesoris di kepala. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai .mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Kabiala adalah lambang kejantanan. dikenal dengan sebutan iteke. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki. Pakaian Adat Pria Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti. merah bata. wujud tertinggi penguasa jagad raya. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga. Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Busana Adat Wanita Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu. lau mutikau dan lau pahudu kiku. muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Sebagaimana dengan kebiasaan serta budaya yang ada pada daerahdaerah lain di Nusa Tenggara Timor pelapisan sosial kemasyarakatan yang dahulu kala amat kuat dianut. Busana Tradisional Amarasi. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Selain itu manifestasi tradisi kebudayaan asli juga masih hidup dalam tatacara berpakaian khususnya dalam menghadapi pesta-pesta adat atau upacara-upacara penting lainnya. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis. menjurai ke bagian dada. tangan dan pinggang diperagakan dengan keindahan yang amat mempesona pada peristiwa-peristiwa seperti tersebut di atas. pencipta mahluk hidup sumber segala yang ada. Timor Traditional Dress Penulis Biranul Anas Amarasi termasuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang.

Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Pakaian Adat Wanita Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. dalam membalas pihak lelaki. Kedua telinga dihiasi falo noni. kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya. perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang. baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan. pihak wanita menyerahkan kain tenunan. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan. Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga. Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. kuning. sedangkan pinggang dililit oleh futi noni.hiasannya. putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan. Emas. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit. Sebaliknya pun. Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas. Perhiasan dan bahanbahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya. gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi. berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. . perak.

Busana Tradisional Sasak Sasak Traditional Dress Penulis Aat Soeratin Diperkirakan sejak abad XIV masyarakat Sasak telah mengenal teknik menenun kain. Konon, pengetahuan itu dibawa para pedagang Gujarat dari India. Dan ketika keterampilan menenun semakin dikuasai, estetika pun berkembang, lalu terciptalah corak hias simbolik, pada bentangan kain-kain tenunan mereka, yang dieksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi. Stilasi pohon mawar, burung, ular naga, tokoh pewayangan, kerap muncul menjadi ragam hias yang artistik pada tenunan masyarakat Sasak. Corak hias pada kain untuk perempuan pun dibedakan dengan ragam hias kain bagi laki-laki. Bahkan kemudian ditumbuhkan kepercayaan jika kaum lelaki memakai kain dengan corak hias yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kaum perempuan begitu pula sebaliknya - maka pemakainya akan ditimpa kemalangan, misalnya saja kehilangan kewibawaan, kesaktian, dan semacamnya. Kain-kain tenun inilah yang digunakan sebagai busana adat, sehari-hari maupun upacara, masyarakat Sasak. Busana Adat Sehari-hari Persentuhan dengan suku Bali yang datang sekitar abad XVI, seperti yang telah disinggung di muka, memberikan nuansa pada tata cara berbusana adat keseharian suku Sasak, meski tentu, tak menghilangkan identitas jatidirinya. Untuk mengikuti acara adat, misalnya upacara potong gigi, upacara kematian, menghadiri perkawinan, masyarakat Sasak mengenakan busana yang khusus dirancang untuk keperluan tersebut. Kaum perempuan mengenakan lamung (baju) berwarna hitam yang modelnya relatif sederhana: selembar kain dilipat sehingga berbentuk segi empat lalu diberi "lubang leher" berbentuk segi tiga, dan pertemuan kedua sisinya dijahit sehingga hasil akhirnya menjadi semacam kebaya longgar berlengan pendek, panjangnya sebatas pinggang. Busana bagian bawahnya adalah kemben (sarung) yang juga berwarna hitam dan pada bagian tertentu diberi hiasan motif flora. Untuk memperkuat kemben dipakai sabuk anteng (ikat pinggang). Sebagai pelengkap penampilan dipakai aksesori berupa sengkang (anting-anting), teken ima (gelang tangan), dan teken nae (gelang kaki). Para lelaki memakai kelambi (baju) model kemeja pria berlengan pendek atau panjang. Dipadukan dengan kereng (kain panjang) yang dililitkan seputar pinggang, memanjang hingga sebatas betis dan pada bagian muka ujung kain dibuat berlipat-lipat menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Penahan kereng adalah lilitan kain, berfungsi seperti ikat pinggang, disebut bebet. Pada kening tersaput ikat kepala, dinamai sapu, biasanya berwarna hitam tapi tak jarang menggunakan kain batik. Busana Pengantin Sasak

Yang akan diuraikan berikut ini adalah busana pengantin yang umum dikenakan oleh masyarakat Sasak. Mempelai wanitanya memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tapi dalam perkembangannya ada yang diberi imbuhan hiasan pada pinggiran bajunya. Sebagai pakaian bawahya dipakai kain panjang yang disebut kereng. Yang banyak dipakai adalah kain songket. Hiasan pelengkap penampilannya adalah kancing baju (buak tangkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/pending) emas, gelang tangan (teken), ali-ali (cincin), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan kelambi dari bahan yang sama dengan mempelai wanita, bermodel jas tutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya, untuk mempermudah menyengkelitkan keris. Kereng (kain panjang) yang dipakai adalah songket dengan motif khas Lombok. Kemudian ditambahkan dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita. Kelengkapan lainnya adalah sapu (destar/ikat kepala) dari kain songket yang biasanya diberi tambahan hiasan keemasan yang diselipkan pada ikatan sapu bagian depan. Dan dari balik punggungnya, sedikit melewai bahu sebelah kanan, tersembul keris panjang.

Busana Tradisional Semawa dan Bima Semawa and Bima Traditional Dress Penulisi Aat Soeratin Masyarakat asli Pulau Sumbawa terkenal memiliki kain songket hasil keterampilan para penenun yang diperoleh akibat persentuhannya dengan kebudayaan masyarakat Bugis. Songket Sumbawa umumnya menggunakan benang emas, benang perak, juga benang katun. Yang kita kenal sebagai kain selungka, misalnya, adalah songket yang menggunakan benang emas dan perak, dan tampilannya menyiratkan pengaruh kebudayaan Bugis. Jenis lainnya, antara lain, kain tenun motif kotak-kotak yang disebut mbali pida, dan ^. Seperti halnya saudara mereka di Pulau Lombok, estetika masyarakat Sumbawa pun melahirkan corak hias simbolis, stilasi bentuk flora untuk kain perempuan dan penggayaan bentuk fauna atau manusia pada kain kaum lelaki. Kain songket inilah yang kemudian memberi aksentuasi yang khas pada pakaian adat masyarakat Sumbawa. Dalam kesehariannya kaum perempuan masyarakat Semawa mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak (tembe lompa) warna hitam dan merah. Bajunya disebut lamung pene, baju serupa kebaya polos sederhana, berlengan pendek. Para prianya memakai sarung pelekat, baju lengan panjang, dan berkopiah. Sedangkan para wanita masyarakat Bima dan Dompu memakai baju poro, baju polos tanpa hiasan, berkain sarung palekat yang ditenun dengan hiasan corak kota-kotak kecil. Terkadang mengenakan rimpu (kerudung penutup rambut). Adapun para lelakinya memakai sarung pelekat, disebut tembe ngguli, berkemeja lengan pendek atau panjang, dan kadangkala memakai ikat kepala yang dinamai sambolo songke. Akan tetapi, untuk acara-acara adat seperti upacara potong gigi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, masyarakat Semawa pun masyarakat Bima merancang busana adat tersendiri. Busana Adat Suku Semawa

Busana adat masyarakat Semawa, dulu, biasanya dikenakan saat mengikuti pelbagai upacara tradisional seperti upacara turun tanah bagi balita yang diharapkan segera bisa berjalan; tradisi potong gigi; naik dewasa (inisiasi) untuk remaja yang memasuki masa akil balig; upacara adat eneng hujan (memohon hujan); dan sebagainya. Sekarang, upacara-upacara tersebut masih dilakukan dan pakaian adat pun masih dikenakan para peserta upacara meski tak seketat kebiasaan masa lalu. Lamung pene adalah sebutan untuk baju adat kaum perempuan, semacam kebaya berlengan pendek dari kain halus. Paduannya adalah kre alang, kain sarung songket yang dipakai sebatas mata kaki dan ikat pinggang (pending) perak. Pada bahu kiri disampirkan sapu to`a, sejenis sapu tangan dan aksesorinya berupa kalung leher, bengkar troweh (hiasan telinga), gelang tangan. Dan para gadis yang belum menikah biasanya memakai kerudung. Kaum prianya memakai lamung seperti jas tutup berlengan panjang, saluar belo (celana panjang) polos tanpa hiasan, ditambah pabasa alang, semacam selendang songket berukuran agak lebar ketimbang selendang biasa, yang difungsikan sebagai dodot. Dan ikat kepala, yang disebut sapu, dibuat dari tenunan benang katun bermotif kotak-kotak. Buhul ikatan sapu pada kening ada di bagian belakang kepala sedangkan untuk bagian depan kepala sudut sapu dipasang tegak sehingga tampak tinggi dan meruncing.

Busana Pengantin Suku Semawa Mempelai wanita dari golongan bangsawan mengenakan busana adat berupa lamung (baju) lengan pendek bermodel baju bodo Sulawesi dari kain halus dan berhiaskan sulaman benang emas berbentuk cepa (bunga) hampir di seluruh bidang baju. Pada bahu sebelah kiri disampirkan kida sanging, semacam saputangan yang diberi hiasan motif dedaunan dari benang perak atau emas. Pakaian Bawahnya tope belo (rok panjang) dan tope pene (rok pendek), juga berhiaskan cepa, yang dipakai secara bertumpuk. Aksesori lainnya adalah sua`, hiasan kepala dilengkapi kembang goyang. Sanggul rambutnya disebut puyung lakang. Dan perhiasan yang dipakai berupa gelang tangan bernama ponto atau kelaru, kalung, anting-anting, dan hiasan kuku ibu jari tangan kiri dari emas yang dibentuk seperti kuku panjang, yang disebut sisin kuku. Kakinya beralaskan selop. Pengantin prianya memakai gadu, baju berlengan panjang warna hitam berhiaskan cepa emas. Simbangan adalah selempang kain yang disilangkan di atas baju, terbuat dari kain merah diberi hiasan motif bunga. Pakaian bawahnya saluar celana panjang berwarna hitam dengan aplikasi hias pada pinggiran kaki celananya. Ditambah tope, semacam rok dari kain halus berwarna merah berhiaskan cepa emas yang agak besar. Ikat pinggang (pending) emas dikenakan untuk menahan tope. Kepalanya bertutup mahkota yang dibuat dari kain yang dilipat-lipat, dibentuk seperti kipas, berhiaskan cepa emas sehingga tampil sangat artistik. Mahkota itu disebut pasigar. Dan keris disengkelitkan pada pending, disimpan di bagian muka badan.

Busana Adat Suku Bima Untuk menghadiri upacara adat inisiasi, potong gisi, kematian, perkawinan, dan sebagainya, kaum wanita masyarakat Bima mengenakan busana adat yang selengkapnya terdiri dari baju, kain panjang, berbagai aksesori, dan alas kaki. Bajunya disebut baju poro yang dibuat dari kain tipis namun tidak tembus pandang, biasanya berwarna hitam, biru tua, coklat tua, ungu. Bersarung pelekat, tembe kafa, corak mbali pida hingga menutup mata kaki. Aksesorinya berupa gelang tangan, anting-anting, dan semacamnya, namun tidak boleh berlebihan. Kaum prianya memakai kemeja lengan pendek atau model jas tutup berlengan panjang berwarna hitam, putih, atau warna-warna cerah lainnya. Bersarung pelekat tembe kafa mbali pida, dipinggangnya dililitkan salampe berwarna dasar putih, kuning, merah, atau hijau. Dan lelaki dewasa biasanya menyengkelitkan pisau mone (pisau khas Bima), pada salampe, di bagian depan badan.

diselipkan pada baba. seperti ditulis di muka. Karaba ini kemudian ditempelkan pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya nampak mencolok di atas hitamnya rambut. yang berhiaskan cepa dan sulaman benang emas. Selepe. semacam jubah hitam dihiasi cepa berwarna keemasan. dipakai. Sedangkan aksesori lainnya juga berwarna keemasan berupa bangka dondo (anting-anting panjang). berwarna keemasan. ikat pinggang dari logam keemasan. Mahkotanya disebut siga (sama dengan pasigar. dan ponto (gelang tangan). Kemudian siki. Hanya saja kelengkapan busana atau aksesori yang dipakai pengantin dari golongan menengah relatif lebih sedikit. Baju pengantin laki-laki lainnya adalah karoro. seperti memakai sarung. Karoro biasanya hanya dimiliki oleh sultan atau para petinggi Kesultanan Bima.Busana Pengantin Suku Bima Pakaian pengantin yang banyak dipakai masyarakat Bima sekarang adalah jenis busana tradisional yang dulu hanya untuk golongan bangsawan dan golongan menengah saja. . Tangan kanannya memegang pasapu (saputangan) dari kain sutra bersulamkan benang perak. Rambutnya disanggul. diberi hiasan unik yang dinamai karaba. Mempelai wanitanya mengenakan baju poro rante yang dibuat dari kain halus berwarna merah dengan taburan cepa benang emas di seluruh permukaan baju dan memakai tembe songke. mahkota pengantin pria Semawa) Namun ada tata cara yang agak khusus untuk pemakaian karoro Yakni mempelai pria tidak boleh memakai karoro sekaligus dengan siki. kain berukuran lebih lebar ketimbang ikat pinggang biasa. Berikut ini uraian serba singkat mengenai busana tradisional pengantin golongan bangsawan Suku Bima. Keris yang pada hulunya diikatkan saputangan berhiaskan sulaman benang perak. yang juga berfungsi untuk menyelipkan keris. Pengantin pria memakai pasangi yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama. sebutan untuk kain songket (tembe songke). Karaba dibuat dari gabah (bulir padi yang belum dikelupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak sehingga mekar dan nampak warna putih berasnya secara dominan. Di atas baba dilingkarkan selepe mone. sehingga tampil lebih sederhana. Tataan rambut berhiaskan karaba ini disebut wange. Penahan siki adalah baba. sebatas lutut. ikat pinggangnya. Busana pengantin golongan menengah dan golongan bangsawan Bima pada dasarnya hampir tidak berbeda. sarung songket.

busana adat orang Makasar dapat menunjukkan status perkawinan. atau hari-hari besar adat lainnya. Hanya dalam hal warna dan bahan yang dipakai terdapat perbedaan di antara keduanya. Bila tutup kepala pada busana adat pria Makasar dihiasi dengan benang emas. Ketiga strata sosial tersebut adalah ono karaeng. dan tutup kepala atau passapu. tidak mampu membayar utang. tu maradeka. bahkan juga status sosial pemakainya di dalam masyarakat. penjemputan tamu. sebenarnya dapat dikatakan bahwa busana adat Makasar menunjukkan kemiripan dengan busana yang biasa dipakai oleh orang Bugis. Khusus untuk tutup kepala. Dalam kebudayaan Makasar. Yang dimaksud dengan busana adat di sini adalah pakaian berikut aksesori yang dikenakan dalam berbagai upacara adat seperti perkawinan. yakni lapisan yang ditempati oleh kerabat raja dan bangsawan. Adapun bahan baju bella dada tampak lebih tipis. Masing-masing busana tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Busana adat pria Makasar terdiri atas baju. berwarna terang dan mencolok seperti merah. dan atu atau golongan para budak. Namun dewasa ini. Model baju yang tampak adalah berlengan panjang. yakni lapisan orangorang yang kalah dalam peperangan. tetapi juga sebagai kelengkapan suatu upacara adat. busana adat merupakan salah satu aspek yang cukup penting. Bahan untuk jas tutu biasanya tebal dan berwarna biru atau coklat tua. busana adat Makasar tentu saja dapat dibedakan atas busana pria dan busana wanita.Busana Tradisional Makassar Makassar Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Di wilayah Sulawesi Selatan suku bangsa Makasar menempati daerah Kabupaten Takalar. Gambaran model tersebut sama untuk kedua jenis baju pria. Pada dasarnya. Bukan saja berfungsi sebagai penghias tubuh. . ada beberapa ciri. bahan yang biasa digunakan berasal dari kain pasapu yang terbuat dari serat daun lontar yang dianyam. saku di kanan dan kiri baju. Sementara itu. Hal itu disebabkan masyarakat Makasar terbagi atas tiga lapisan sosial. Gowa. yang mengenakan pasapu guru adalah mereka yang berstatus sebagai guru di kampung. Maros. Meskipun demikian. Jeneponto. Pemakaian tutup kepala pada busana pria mempunyai makna-makna dan simbol-simbol tertentu yang melambangkan satus sosial pemakainya. Pada masa dulu. kain sarung atau lipa garusuk. keberadaan dan pemakaian busana adat pada suatu upacara tertentu akan melambangkan keagungan upacara itu sendiri. Melihat kebiasaan mereka dalam berbusana. Pangkajene. busana adat pria dengan baju bella dada dan jas tutunya sedangkan busana adat wanita dengan baju bodo dan baju labbunya. serta diberi kancing yang terbuat dari emas atau perak dan dipasang pada leher baju. Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutup atau jas tutu dan baju belah dada atau bella dada. dan hijau. melainkan lebih menunjukkan selera pemakainya. yakni lapisan orang merdeka atau masyarakat kebanyakan. dan Kepulauan selayar. baik untuk jas tutu maupun baju bella dada. Bantaeng. pasapu guru sebutannya. busana yang dipakai tidak lagi melambangkan suatu kedudukan sosial seseorang. berdasarkan jenis kelamin pemakainya. celana atau paroci. yaitu berasal dari kain lipa sabbe atau lipa garusuk yang polos. bentuk maupun corak. dan yang melanggar adat. leher berkrah. Namun jika keadaan sebaliknya atau tutup kepala tidak berhias benang emas. Biasanya. busana yang khas milik pendukung kebudayaan Makasar dan tidak dapat disamakan dengan busana milik masyarakat Bugis. masyarakat menyebutnya mbiring.

Namun pada umumnya. yakni baju bodo dan baju labbu dengan kekhasannya tersendiri. dan pada bagian atas dilubangi untuk memasukkan kepala yang sekaligus juga merupakan leher baju. hanya saja perhiasan yang dikenakannya tidak selengkap itu. tidak berlengan. Begitu pula halnya dengan para pengiring pengantin. selempang atau rante sembang. coklat tua. bahkan dapat digantungi sejenis jimat yang disebut maili. Perhiasan di leher antara lain kalung berantai (geno ma`bule). Sementara itu. gelang. tampak jelas pada seorang pria yang sedang melangsungkan upacara pernikahan. sanggul berhiaskan bunga dengan tangkainya (pinang goyang). Gambaran busana adat pria Makasar lengkap dengan semua jenis perhiasan seperti itu. biasanya berbentuk baju kurung berlengan panjang dan ketat mulai dari siku sampai pergelangan tangan. Bahan dasar yang kerap digunakan untuk membuat baju labbu seperti itu adalah kain sutera tipis. atau biru tua. Ada dua jenis baju yang biasa dikenakan oleh kaum wanita. sisi samping kain dijahit. Agar keris tidak mudah lepas dan tetap pada tempatnya. yang terbuat dari benang biasa atau lipa garusuk maupun kain sarung sutera atau lipa sabbe dengan warna dan corak yang beragam.Kelengkapan busana adat pria Makasar yang tidak pernah lupa untuk dikenakan adalah perhiasan seperti keris. dan anting panjang (bangkarak). Keris yang senantiasa digunakan adalah keris dengan kepala dan sarung yang terbuat dari emas. busana adat wanita Makasar terdiri atas baju dan sarung atau lipa. maka diberi pengikat yang disebut talibannang. Baju bodo berbentuk segi empat. kalung panjang (rantekote). berwarna tua dengan corak bunga-bunga. Jenis keris ini merupakan benda pusaka yang dikeramatkan oleh pemiliknya. biasanya berbentuk ular naga dan terbuat dari emas atau disebut ponto naga. Lebih tepatnya dikenakan sebagai busana pengantin pria. wanita makasar pun memakai berbagai perhiasan untuk melengkapi tampilan busana yang dikenakannya Unsur perhiasan yang terdapat di kepala adalah mahkota (saloko). . dan hiasan pada penutup kepala atau sigarak. dan berbagai aksesori lainnya. dikenal dengan sebutan pasattimpo atau tatarapeng. sapu tangan berhias atau passapu ambara. warna dasar sarung Makasar adalah hitam. Adapun gelang yang menjadi perhiasan para pria Makasar. dan kalung besar (geno sibatu). Pasangan baju bodo dan baju labbu adalah kain sarung atau lipa. Penggunaan busana adat wanita Makasar yang lengkap dengan berbagai aksesorinya terlihat pada busana pengantin wanita. Sama halnya dengan pria. Kaum wanita dari berbagai kalangan manapun bisa mengenakan baju labbu. dengan hiasan motif kecilkecil yang disebut corak cadii. Adapun baju labbu atau disebut juga baju bodo panjang.

Namun dalam keadaan yang lebih resmi. Pada bagian pinggang. terbuat dari bahan sutera atau kain halus lain tetapi tidak tembus pandang. pada abad ke-XV wilayah Mandar ini meliputi Kerajaan Balanipa. Orang-orang Mandar menempati wilayah administratif kabupaten Mamuju. wanita Mandar pada umumnya mengenakan perhiasan meliputi. masyarakat Mandar sangat memperhatikan ketentuan adat dan tradisi yang telah dijalani selama berabad-abad lamanya. dengan ukuran panjang melampaui pinggul atau kurang lebih lima centimeter di bawah pusar. begitu pula busana rakyat biasa dengan kalangan bangsawan akan berbeda.Busana Tradisional Busana Tradisional Mandar Mandar Traditional Dress Penulis Siti Dloyana Kusumah Suku Bangsa Mandar terbilang penduduk asal di propinsi Sulawesi Selatan. Dalam berbusana . tata rias rambut dan kepala akan ditambah dengan beberapa aksesori seperti. wanita Mandar akan mengenakan sarung sutera berwarna hitam atau putih. Pembauang dan Cenrana di pantai utara Teluk Mandar. serta wilayah di bagian utara Selat Makassar. Dalam kehidupan sosialnya. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat suku bangsa Mandar mempunyai tradisi berbusana yang sangat indah dan mencerminkan kebesaran suku ini di masa silam. Makassar dan Toraja. Salah satu contoh yang tetap bertahan hingga kini antara lain adalah tata cara berbusana. setelah mengencangkan lilitan sarung dengan tali kain. Masyarakat Mandar sangat membedakan busana untuk anak-anak. menggunakan giwang emas berukuran besar dan di antara lubang telinga dengan giwang diselipkan sejumput kapas putih. Semua kalangan masyarakat Mandar. Untuk wanita yang usianya agak tua. kabupaten Majenen dan kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). menggunakan alas kaki berupa selop atau sepatu . dan mempunyai peranan sama pentingnya dengan tiga suku bangsa lainnya yaitu Bugis. wanita Mandar membuat sanggul yang letaknya agak rendah dengan hiasan tusuk sanggul emas dan kembang goyang. Tali ikat dari kain yang berfungsi untuk mengencangkan lilitan sarung. dengan hiasan liontin atau medalion besar. Majeng. Bajunya kebaya pendek berlengan tiga oerempat. Untuk tata rias rambut dan kepala. Sederet bunga serampa dan bunga seruni menghiasi seputar sanggul. Menurut catatan sejarah. Ada pula sanggul agak rendah. rambut ditata dengan model sasak sedikit tinggi (sigara). Kelengkapan busana lainnya adalah penggunaan sehelai selendang tipis yang ujung-ujungnya dihiasi dengan bundaran-bundaran emas atau perak. kemudian ditutup dengan pending yang terbuat dari logam berwarna emas dengan gesper berhias di bagian depan. Ciri khas sarung tenun Mandar adalah motif kotak-kotak besar dan kecil dengan hiasan warna emas pada garisgarisnya. Gelang berukuran besar yang dipakai masing-masing lima buah di tangan kanan maupun di tangan kiri. Hiasan yang mempercantik penampilan adalah penambahan kepingankepingan logam warna emas di seluruh pinggiran kebaya atau kepingan-kepingan bulat di seluruh permukaan kebaya. kalung emas yang berjuntai agak panjang. Dalam kesempatan menghadiri upacara adat. berhias tusuk konde dan di bagian pelipis kanan diselipkan serangkaian kembang goyang berwarna emas. tua maupun muda. remaja dan orang tua. kipas dan berbagai perhiasan dari emas. adapun wanita muda umumnya lebih menyukai anting-anting yang berderet-deret dan menjuntai di kedua telinganya.

yakni pelaksanaan upacara adat yang erat kaitannya dengan suasana kegembiraan atau memiliki makna kebahagiaan. secara tidak langsung juga dapat mempertahankan keberadaan berbagai aspek yang terkait erat di dalamnya. Hiasan tersebut diselipkan sebagian di saku jas tutupnya dan sebagian lagi dibiarkan menjuntai ke luar. Ria Andayani Somantri Toraja merupakan salah satu suku bangsa terbesar yang menempati kawasan Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai kelompok masyarakat yang cukup konsisten dalam memelihara dan mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang mereka. Ketentuan adat di Toraja membedakan dua suasana yang menyertai penyelenggaraan berbagai upacara adat. pria Mandar menggunakan kopiah atau lazim disebut songkok tobone dengan warna yang serasi antara baju bagian atas dengan jas atau sarungnya. dengan kekuatan tradisi dan adat istiadat sebagai daya tarik utamanya. mulai dari aktivitas seharihari hingga yang bersifat ritual. Untuk penututp kepala. busana misalnya. Busana Tradisional Tana Toraja Tana Toraja Traditional Dress Penulis Mira Indiwara Pakan. Hanya saja hal penting yang memberi nuansa pada karakteristik busana tersebut adalah berkaitan dengan tujuan atau makna acaranya. . Pertama adalah yang berdasarkan adat rambu tuka. Misalnya dalam upacara panen padi. Bagaimana pun juga busana merupakan salah satu kelengkapan yang cukup penting dalam penyelenggaraan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi. Sementara itu. aktivitas sosial dan stratifikasi sosial. terutama menggunakan warna kuning sebagai warna dasarnya. Tana Toraja yang menjadi tempat menetap sebagian besar suku tersebut. tercatat sebagai tempat tujuan wisata budaya yang memiliki keunikan tersendiri. Pria Mandar melengkapi busananya dengan melekatkan rantai emas yang diberi liontin atau medalion dari taring macan bahkan bisa juga terbuat dari taji ayam. tentu saja tidaklah heran bila hingga saat ini mereka masih tetap menyelenggarakan berbagai upacara adat dan tradisi lainnya. berdasarkan adat rambu solo. yakni busana pria dan busana wanita. Pada kesempatan seperti itu. dan upacara pernikahan. pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Alas kaki yang dipakai biasanya sepatu pantovel atau sandal yang dibuat dari kulit. Paduannya kain sarung tenun Mandar atau seringkali ada yang memakai celana panjang kemuidian ditutup dengan sarung hingga sebatas lutut. Busana yang dikenakan oleh warga masyarakat Toraja dalam berbagai kesempatan. busana yang dikenakan akan tampil warna-warni.pantovel berwarna hitam. Busana pria Mandar lebih sederhana karena hanya terdiri dari baju jas tutup terbuat dari bahan sutera bercorak bebas dengan warna hitam atau warna cerah. Dengan tetap memelihara adat istiadat seperti itu. memasuki rumah baru.

yakni tas kecil untuk menyimpan sirih. yakni semacam tutup kepala yang terbuat dari kulit bambu dan dipakai oleh anak muda.upacara-upacara yang diadakan memiliki makna kesedihan. atau pakaian pesta. Selain itu. Sama halnya dengan sarung. rara. yaitu keris yang dibawa pada waktu mereka akan menikah. Sementara itu. yaitu hiasan pada sanggul. Selain memperlihatkan fungsi estetis. Cara memakai sarung untuk kaum wanita pun sangat sederhana. yaitu jenis baju yang biasa digunakan oleh wanita tua pada saat cuaca sedang dingin. Beberapa contoh asesoris yang terletak di kepala di antaranya sa`pi. Selain itu. tali pang`kabi. Terbukti dari beragamnya aksesori yang biasa dikenakan oleh mereka. yaitu baju dengan bentuk lengan yang sangat ketat atau pas menempel di tangan serta tingginya di atas sikut. hingga jari jemari. bila penampilannya dilengkapi dengan jas hitam dan destar atau tutup kepala. terutama digunakan pada acara-acara yang bersifat resmi seperti pertemuan dan pesta. berhubungan erat dengan kedudukan sosial seseorang di dalam lingkungan masyarakatnya. Bila baju tersebut berlengan pendek maka dinamakan kondi limanan. Misalnya sambuk busa. Perhiasan dari manik-manik yang dipakai di bahu disebut sokong bayu. yakni . yang bisa dikenakan oleh siapa pun disebut pote. dengan perbedaan hanya terletak pada kualitas bahannya. tali-tali biang. oran-oran atau kalung berbentuk batang padi yang terbuat dari logam dan manik-manik. busana adat wanita Toraja terdiri atas baju atau bayu untuk bagian atasnya. Berdasarkan fungsinya. Penggunaan semua jenis baju yang telah disebutkan tadi. Perhiasan di leher meliputi beraneka macam kalung seperti rnastura. sebagai bagian integral dari busana adat pria. dan tali banu . atau hanya disampirkan di bahu. dan pa`toko. Secara umum. dalam acara adat orang meninggal. Pertama bayu poko. dan sarung atau dodo untuk bagian bawahnya. baju wanita dibedakan ke dalam tiga model. Sarung. yakni ikat kepala. yakni kalung yang terbuat dari emas. yang disebut sambuk langkan. Kaum wanita Toraja tampaknya cukup gandrung mengenakan perhiasan untuk menambah keindahan penampilan mereka dalam berbusana. tutup kepala. Adapun jika berlengan panjang disebut kalando limanan. Passapu. Baju tersebut dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. hanya dengan cara melipatnya dari sebelah kiri ke sebelah kanan. busana adat pria Toraja terdiri atas baju atau bayu. pinggang. yang khusus digunakan pada saat bekerja. ada juga tas kecil atau sepu. keberadaan tutup kepala pun beragam pula jenisnya dan berbeda pula peruntukannya. dan passapo timbo. tas pinggang yang berfungsi sebagai ikat pinggang tempat menaruh pedang atu parang. biasanya disertai dengan sarung yang dinamakan dodo. pakaian resmi. manik kata. Perhiasan dan kelengkapan busana lainnya yang dipakai oleh para pria Toraja meliputi manik kata dan rara atau perhiasan sejenis kalung. seperti yang terlihat pada penyelenggaraan upacara kematian dikenakan busana serba hitam. Kedua jenis tutup kepala yang disebutkan terakhir pun hanya dikenakan oleh mereka yang termasuk ke dalam lapisan atas. diikatkan di pinggang atau. ada kalanya unsur perhiasan yang dikenakan oleh mereka pun memiliki makna simbolis tertentu. Ikat kepala ini biasanya dipakai oleh kaum pria dari keluarga yang sedang berkabung. yakni baju berlengan sangat pendek hingga mendekati bahu pemakainya dan dipakai untuk bekerja di dapur atau di sawah. Aksesori di lengan terdiri atas gelang atau komba dalam berbagai bentuk dan cincin. Bahkan akan disebut busana adat resmi para bangsawan Toraja. Cara mengenakan sarung-sarung tersebut cukup beragam. adalah tutup kepala yang terbuat dari kain batik dan hanya digunakan oleh golongan bangsawan. leher. lengan. seperti di sawah dan membangun rumah. celana atau sepa tallu buku. Sementara itu. yaitu tutup kepala dari jenis tanaman tertentu yang dikenakan oleh para orang tua atau orang yang telah dewasa. Kedua bayu bussuk siku. khususnya para sesepuh masyarakat. sepu. ada juga sarung yang hanya berfungsi sebagai penghangat badan. yakni sarung berwarna putih yang hanya dapat dipergunakan oleh kaum pria yang menempati kedudukan sosial tinggi. Baju yang dikenakan oleh kaum pria Toraja dapat dibedakan ke dalam dua model. dan yang diletakkan di pinggang dinamakan ambero. Ketiga adalah bayu kalandon limanan. bahu. Celana yang dipakai oleh kaum pria. dan sarong atau tudung kepala. jenisnya dapat dibedakan menurut aktivitasnya. mulai dari hiasan di kepala. atau tembaga dan. bisa dibiarkan terjurai hingga mata kaki. Untuk bekerja menggunakan celana pendek dan untuk kesempatan resmi memakai celana panjang. perak. dan sarung atau sambuk.

atau busana yang khusus digunakan untuk bekerja. Oleh karena itu. tampak jelas antara lain pada busana warga masyarakat daerah Bolaang Mongondow yang dikenakan pada kesempatan-kesempatan tertentu. melahirkan stratifikasi sosial yang tegas.tempat menyimpan peralatan menginang yang biasanya digantungkan di bahu. Masyarakat terbagi ke dalam beberapa lapisan sosial. Bintauna. menghadiri undangan-undangan resmi. tidaklah heran bila busana adat mereka relatif lebih banyak karena setiap lapisan masyarakat memiliki busana tersendiri. sangat erat kaitannya dengan latar belakang kehidupan masyarakat pada masa lalu. busana bayi. Aktualisasi dari semua itu. busana . menerima tamu-tamu kerajaan. merupakan kelengkapan busana yang harus dibawa pada saat seorang wanita menikah. ketentuan adat mengatur setiap anggota masyarakat agar menggunakan busana sesuai dengan kedudukan nya. mulai dari golongan rakyat biasa hingga kaum bangsawan yang menempati kedudukan paling tinggi di dalam masyarakat. Adapun keris atau gayang. Beberapa contoh di antaranya adalah busana kebesaran raja atau busana yang dipakai oleh golongan bangsawan pada saat berlangsung upacara penobatan raja. Hal ini dikarenakan kegiatan sosial mereka yang sarat dengan acaraacara seremonial. Keempat kerajaan tersebut terdiri atas Kerajaan Bolaang Mongondow. Struktur masyarakat dengan kehidupan bernuansa kerajaan pada waktu itu. Busana yang pada umumnya dikenakan oleh kaum bangsawan terlihat lebih beragam bila dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Secara historis wilayah ini terbentuk dari penggabungan empat kerajaan yang hidup pada masa penjajahan Belanda. dan Kerajaan Kaidipang Besar. Pada masa itu. atau yang kini lebih dikenal sebagai busana adat tradisional mereka. yang berhubungan dengan kegiatan kerajaan maupun yang berkaitan dengan upacara di seputar lingkaran hidup mereka. Bolaang Uki. Busana Tradisional Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Busana adat tradisional daerah Bolaang Mongondow.

tentu saja tampilannya berbeda dengan busana milik para bangsawan. pengantin wanita maupun pengantin pria. mereka yang termasuk ke dalam lapisan kohongian atau golongan simpal tidak mengenakan perhiasan yang terbuat dari emas melainkan perhiasan perak. juga ada larangan untuk mengenakan berbagai perhiasan jenis apa pun. yaitu busana kerja para pemangku adat yang dipakai pada saat berlangsung upacara-upacara kerajaan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan sistem kepercayaan. celana dan sarung tenun. seakan ingin mengukuhkan kedudukan mereka yang menempati tingkatan sosial tertinggi. Di samping itu. Salah satunya tampak pada busana kebesaran raja berikut busana pengantinnya. busana kohongian. Selain busana kebesaran seperti itu. Selain itu. nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. kelengkapan aksesori yang menempel pada tubuh. baju atau baniang. ketinggian ikat kepala akan lebih rendah daripada ikat kepala yang dipakai oleh kaum bangsawan. tepatnya digunakan pada upacara perkawinan. Busana kerja guha-ngea. ada bagian busana yang dapat membedakan kedudukan seseorang. memang tidak terlepas dari simbolisasi sebuah makna yang ingin disampaikan. detil busana. busana simpal pun dikenakan pada upacara perkawinan. busana yang dikenakan oleh kaum wanita terdiri atas kain dan kebaya atau salu. busana adat tradisional kaum bangsawan tampil dengan satu citra tersendiri. busana adat yang dikenakan oleh kaum bangsawan maupun golongan masyarakat lainnya tampak serupa. Akan tetapi. Sama halnya dengan busana kohongian. Kesederhanaan tersebut tampak dari kulitas bahan yang dipakai. Melihat wujud busana adat tradsional daerah Bolaang Mongondow. serta aksesorinya. Pada umumnya. Sama pula halnya dengan aksesorinya yang demikian lengkap. sistem religi. semakin sederhana pula busana yang mereka miliki. dan busana yang dikenakan pada saat upacara kehamilan dan kematian. Dalam hal ini. pemilihan warna sangat dominan untuk mengekspresikan emosi mereka pada saat-saat seperti itu. informasi di balik keberadaan busana tersebut memang selayaknya tidak sirna. ada juga busana rakyat biasa yang kerapkali tampak pada saat melakukan panen padi. serta kualitas bahan yang digunakan. Adapun busana yang biasa dikenakan oleh anggota masyarakat di luar golongan bangsawan. para bangsawan pun memiliki busana kedukaan. yakni busana berwarna hitam yang dikenakan pada waktu menghadiri upacara kematian. Bahkan akan jauh lebih sederhana lagi pada busana adat yang boleh dikenakan oleh rakyat biasa. Detil yang tampak pada busana mereka memang lebih banyak bila dibandingkan dengan busana dari kelompok masyarakt lainnya. Hal tersebut terletak pada detil pakaian. serta kualitas bahan yang paling baik. yakni busana yang pada masa itu dikenakan oleh anggota masyarakat yang menempati status sosial satu tingkat di bawah kaum bangsawan. Semakin rendah status seseorang di dalam tingkatan sosial masyarakatnya. sedangkan busana kaum prianya meliputi ikat kepala atau mangilenso. atau bahkan berhubungan erat dengan sejumlah fenomena sosial pada masa itu. Sementara itu. Ada . Pemilihan dan penentuan unsur berikut kelengkapan busana adat tradisional daerah tersebut. dan hijau dipadu dengan aksesori yang terbuat dari emas. terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. yaitu busana yang khusus digunakan oleh warga masyarakat yang termasuk ke dalam golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. ungu. Busana Tradisional Sangir-Talaud Sangir-Talaud Traditional Dress Penulis Ria Andayani Somantri Menurut asal katanya. Sedangkan menurut asal-usulnya.pengantin. tidak diragukan lagi melahirkan satu sosok busana yang cukup indah dan menawan. Khusus mengenai perhiasan. Keberanian dalam memilih warna-warna busana yang terang dan mencolok seperti merah. Misalnya. ada beberapa contoh busana adat lainnya yang dipakai oleh mereka yang berasal dari golongan di luar bangsawan. Dalam hal ikat kepala pria misalnya. busana simpal. Meskipun saat ini pemahaman warga masyarakat Bolaang Mongondow terhadap fungsi busana adat tradisional mereka tidak setegas dahulu. tampak pengaruh Melayu begitu kental dan dominan mewarnai tampilannya. Secara umum. keemaasan. kuning. Dalam hal ini. Kekhasan lain yang tampak istimewa terletak pada ikat kepala pria yang menjulang tinggi.

Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap. krah baju berbentuk bulat. Namun terlepas dari semua itu. yakni warna terang dan mencolok. Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki. Selain pada kelengkapan busana pengantin. Dalam hal ini. dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang. Hingga saat ini. keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah. dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah. celana panjang. di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul. kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi). Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal.kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Baju jenis ini. sebagai penduduk asli Sulawesi Utara. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua. untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya. penasbihan desa. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut. dan ikat kepala berbentuk segitiga. peminangan. serta berlengan panjang. Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan. Khusus untuk ikat kepala. hijau. Khusus untuk selendang. atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya. Saat ini. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala. pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah. ungu. penduduk keturunan bangsa Filipina. Sementara itu.yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate. kuning. yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua. ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang. pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya. dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. ikat pinggang. kuning tua. bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Nama busana tersebut adalah laku tepu. sunting (topotopo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan. serta selendang (bawandang liku). atau merah darah. Sementara itu. busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang. keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan. ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak . penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru. pada zaman dulu terbuat dari kain . dan hijau tua. gelang. antinganting. dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis. Namun saat ini. orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara Sekitar abad ke-16.

dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari. yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi. yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah. busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria. paporong tingkulu. Mereka percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit. Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri. selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya.memiliki kedudukan di dalam masyarakat. yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Selendang tersebut dinamakan kaduku. yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan. hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. yang disebut hulontalangi. Cara memakainya. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah. . Busana Tradisional Gorontalo Gorontalo Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Utara. daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh dari Ternate. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang. Sebelum kedatangan bangsa Eropa. Sekarang wilayah itu termasuk dalam wilayah administratif Daerah Tingkat II Kabupaten Gorontalo dan Kodya Gorontalo. yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Sementara itu. biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. paporong datu bouwawina.

Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga. Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan rambut) pada bagian kepala. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori. Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat dari logam yang disepuh keemasan terdiri dari 12 buah. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah baju madipungu. demikian juga dengan busana yang dipakai oleh pengantin wanita. brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. yaitu tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. Hat ini terlihat dari agama Islam yang dianut dan cara berpakaian. disebut wolimomo. satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju. Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang. ungu dan merah hati. kain beludru warna hitam yang menempel di leher. Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas. beludru. yaitu penyerahan sejumlah harta berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. kain sarung dan berbagai aksesori. Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi. Pada upacara ini. hijau. yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di bagian depan pinggang. . sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. Sehingga. Busana Adat Perkawinan Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo. Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu). Seperti halnya baju. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga. pengantin wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara. hijau dan ungu. oleh karena itu disebut sunthi burungi. seperti kuning. celana panjang juga diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). kuning. seperti kain lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas. Busana wolimomo terdiri dari baju blus berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat lima kerajaan di Gorontalo. Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang dikenakannya. Tahap kedua dalam masa perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Warna baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok. disebut hamsei. rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di kedua pergelangan tangan. Pada bagian depan baju diberi selembar kain yang dirempel. Di bagian depan baju diberi kancing dan tiga buah saku. kalau berbicara mengenai busana adat. sedangkan mempelai wanita memakai busana pengantin. Bentuk sunthi biasanya menyerupai kepala burung. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan corak kain krawang dengan memakai benang emas. merah. Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju. Busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau takowa. dan hiasan emas pada baju dan kain (tambio). disebut hotu. maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi. biasanya mempelai pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang (etango). Bahan yang digunakan biasanya kain satin. Bentuk baju madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dengan model pada bagian leher membentuk huruf "V". cara berbusana orang Gorontalo pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo tunggohu. selimut (waluto). seperti menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan. celana panjang (talala) dan aksesori. tetapi kerahnya berdiri tegak. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah. brokat atau bahan kain lainnya. Bentuk baju sama dengan baju kemeja lengan panjang. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan status pemakainya.Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Bahan baju wolimomo terbuat dari jenis kain beludru. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju.

lebih lengkap dan menunjukkan keagungan. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula. Busana pengantin baju jas tertutup ini. Konde yang menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung. mahkota (kronci). Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi pada leher baju. ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah. Motif Mahkota pun bermacam-macam. memakai krah dan saku disebut baju baniang. Busana Tradisional Minahasa Minahasa Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi Utara. berkancing tanpa saku. Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka. selendang pinggang dan topi (porong). kalung mutiara (simban). yang terdapat pada hiasan topi. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih. Busana Pemuka Adat Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Selain sarong yang bermotifkan ikan duyung.Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan (mopo pipide). tidak memiliki krah dan saku. pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik ikan. baju tanpa lengan dan bentuknya lurus. kalung leher (kelana). terdapat juga sarong motif sarang burung. mereka pun memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan. selendang pinggang dan kedua lengan baju. Busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana kebesaran yang dipakai oleh istri raja di jaman dulu. anting dan gelang. disebut wuyang (pakaian kulit kayu). Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi. aksesori dan perhiasan. celana panjang. kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang. disebut busana tatutu. Celana yang dipakai masih sederhana. Sedangkan pengaruh Cina adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-bungaan. terdiri atas baju lengan panjang. leher baju. Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa Eropa dan Cina. Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk konde. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak Baju Ikan Duyung Pada upacara perkawinan. disebut laborci-laborci. Perbedaannya terletak pada aksesori dan perhiasan yang digunakan. . Semua motif berwarna kuning keemasan. Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya. berwarna hitam terbuat dari ijuk. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. sayap burung cendrawasih dan motif ekor burung cendrawasih. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk menyebut diri mereka sebagai orang Manado. Selain itu. sedangkan Konde yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang. sarong motif kaki seribu. yaitu sama dengan baju takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. seperti motif biasa. ada juga bentuk baju yang berlengan panjang. Busana kebesaran ini disebut biliu. bintang. yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk celana piyama. disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga. Sedangkan kaum pria memakai baju karai. yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. Selain baju karai. disebut model salimburung. potongan baju lurus. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif.

Baju yang dipakai berlengan pendek dengan model baju seperti sekarang. hanya saja lebih panjang seperti jubah. saku. Baju katango ini. Sarung ketiga atau paling atas digulung melilit dada terkepit ketiak. Umumnya. selain dipakai untuk bepergian dapat juga dipakai untuk menghadiri . memakai baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Dilengkapi topi porong nimiles. Bahan baju terbuat dari kain satin warna merah atau biru. hitam. Bentuk baju dapat berupa baju berlengan pendek dan baju berlengan panjang dengan lubang pada bagian atas baju untuk memasukkan kepala. Lapisan dalam adalah sarung atau rok warna putih yang dililitkan di pinggang. untuk pakaian sehari-hari di rumah. dan ujung lilitannya dipegang oleh salah satu tangan. gelang yang terbuat dari logam warna putih atau kuning dikenakan pada kaki. Sarung yang mereka pakai umumnya berwarna merah. yang dililitkan di dada menjurai sampai dengan di atas lutut. Ikat kepala yang dipakai berupa kain bercorak batik. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet. busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakatnya. Gelang yang terbuat dari emas dipakai pada tangan. Sarung yang dipakai. kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci). kalung leher dan sanggul. yaitu langit dan bumi. biru. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah. Sedangkan Walian Wangko wanita. dan berkerah. selop. wanita Muna memakai baju berlengan pendek yang disebut kuta kutango. dunia dan alam baka. Baju berlengan pendek ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan. sarung (bheta).Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Fungsi ikat pinggang ini selain untuk penguat sarung agar tidak mudah lepas. Kalangan wanita mengenakan busana yang terdiri atas bhadu. Selain sebagai penunjuk identitas kebudayaan. Sedangkan ikat pinggang terbuat dari logam berwarna kuning. dan kain ikat pinggang yang disebut simpulan kagogo. Busana Tradisional Muna Muna Traditional Dress Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian sehari-hari atau di rumah yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas baju (bhadu). Warna baju umumnya putih. Sarung kedua untuk membalut baju. celana (sala) dan kopiah (songko) atau dapat diganti dengan ikat kepala (kampurui). Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi. perlambang penyatuan 2 unsur alam. Busana ini dapat juga dipakai pada saat berpergian. coklat atau warna gelap lainnya dengan corak garis-garis horizontal. yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna merahhitam dan kuning-emas. biasanya berwarna merah bercorak geometris horizontal berwarna hitam. yaitu terdapat kancing. juga untuk menyelipkan senjata tajam. bheta. Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara. sedangkan lubang leher dengan warna kuning emas. bagi warga maupun aparatur pemertintah setempat. Perhiasan yang dipakai sebagai kelengkapannya adalah kalung bulat yang terbuat dari logam untuk bagian leher. Sarung yang dipakai oleh wanita terdiri atas tiga lapis.

anting-anting (dali). Sarung dililitkan di pinggang membalut atau menutupi sebagian baju. Pakaian sehari-hari di kalangan wanita disebut baju kombowa. gadis yang dipingit diharuskan memakai busana kalambe yang terdiri atas baju kambowa. anting-anting di telinga dan kalung menghiasi leher. perkawinan misalnya. sarung dua lapis. Sarung yang di dalam dililitkan pada pinggang lebih panjang dari pada sarung yang di luar (tampak berlapis). perhiasan yang dipakai adalah gelang. Perbedaannya hanya pada tata rias dan perhiasan yang dikenakannya. Cara melilitkan ikat pinggang tersebut diatur sedemikian rupa agar rumbai-rumbai tersebut berada di depan. kalung (tongko). dan perhiasan logam. tusuk konde (panto). dan ikat pinggang (sulepe). Bentuk bhadu dan bheta yang dikenakan pada upacara ini. dan kain bersulam benang emas berbentuk pita (kabunsale). dengan penguat lilitan selembar kain ikat pinggang. Dalam upacara ini. Perhiasan yang dipakai terdiri atas gelang tangan (simbi). bheta. Selain itu. ikat pinggang. Dua diantaranya yang adalah upacara memingit gadis yang disebut posuo dan upacara sunatan. Tandaki adalah mahkota. Penulis Mira Indiwara Pakan . Bentuk baju berlengan pendek dan tidak berkancing. Busana Tradisional Buton Penulis Jaya Purnawijaya Pakaian keseharian orang kebanyakan (golongan walaka) disebut pakaian biru-biru. Kedua sarung tersebut dililitkan di atas pinggang. maka dililitkan kain ikat pinggang yang diberi hiasan jambuljambul atau rumbai-rumbai disebut kabokena tango. dan sanggul. masyarakat Buton pun memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada saat berlangsung upacara adat tertentu. Anak yang akan disunat ini memakai busana adat yang dinamakan ajo tandaki.pesta-pesta upacara adat atau menerima tamu. Mahkota dibuat dari kain merah. Perhiasan yang dipakai adalah ikat pinggang (sulepe) terbuat dari logam. Selain pakaian sehari-hari. Sarung yang dikenakan ada dua. Pakaian ajo tandaki terdiri atas mahkota. Pada upacara tersebut. dan anak yang boleh memakainya harus berasal dari golongan masyarakat bangsawan (kaomu). sebetulnya tidak berbeda dengan busana sehari-hari wanita Muna. yang disebut biru-biru. Hiasan sanggul terbuat dari kain atau logam yang berwarna kuning membentuk kembang cempaka. terdiri atas unsur pakaian baju dan kain sarung motif kotak-kotak kecil yang disebut bia-bia itanu. Ikat kepala dililitkan di tengah kepala sehingga membentuk lipatan-lipatan yang meninggi di sebelah kanan kepala. Kelengkapan busana ini hanya dipakai oleh kalangan wanita bangsawan (kaomu). manik-manik. Berbusana secara lengkap berikut berbagai perhiasannya juga dikenakan oleh kaum wanita yang akan menghadiri upacara resmi. Upacara posuo merupakan salah satu upacara yang harus dilalui oleh seorang gadis yang telah menginjak dewasa. Agar sarung tampak kuat. Mereka memakai baju kambowa serta sarung yang bermotif (bia-bia itanu kumbea). Perhiasan lainnya adalah gelang di kedua belah tangan. terdiri atas sarung dan ikat kepala tanpa baju. Pada sanggul dililitkan pita dari kain berwarna merah atau warna baju yang dipakainya. Perhiasan yang digunakan adalah sanggul yang diberi hiasan. Sedangkan perhiasan yang terdapat pada sanggul adalah pita pengikat konde (kawutu). Sementara itu upacara sunatan sebagai bagian penting dari upacara daur hidup seorang pria sbelum mencapai usia remaja atau dewasa. bulu burung cendrawasih dan berbagai hiasan dari logam. Ciri seorang gadis yang sudah dipingit adalah memakai gelang yang sudah dihiasi manik-manik pada pergelangan kirinya disebut kabokena limo. sarung berhias (bia ibolaki). seorang gadis memakai busana adat beserta perhiasannya yang terdiri dari bhadu. Sanggul seperti ini disebut popungu kelu-kelu. cincin dan anting yang terbuat dari emas. gelang kaki (kurondo). selendang (salenda). khususnya yang berhubungan dengan daur hidup manusia. dan ikat pinggang (sulepe).. Adapun yang membedakannya dengan busana untuk upacara lain adalah terletak pada penggunaan perhiasan. bercorak sama tetapi dengan warna berbeda. Salah satu upacara adat yang hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Muna adalah upacara pingitan gadis (karia).

Baju gembe adalah baju yang memiliki bentuk dan potongan sejenis dengan baju bodo yang terdapat dalam kebudayaan Bugis. baju gembe. Bahan yang digunakan untuk membuat ikat kepala tersebut adalah rotan yang tipis atau fuya. Keduanya sama-sama berleher bundar dan tanpa krah pada baju bagian atasnya. Selain baju-baju tersebut. sekalipun itu tidak banyak. Model sanggul seperti ini akan tampak pada saat wanita Kaili melakukan berbagai rutinitas kegiatan sehari-hari mereka. berlengan panjang dengan kancing pada bagian pergelangan tangannya. Busana wanita Kaili. Namun kini kain fuya telah ditinggalkan dan diganti dengan bahan katun atau jenis kain lainnya yang dapat dibeli dengan mudah. Masyarakat di tempat tersebut menamakan ikat kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dengan sebutan tali bonto. dengan bahan bakunya berasal dari rotan yang dianyam sedemikian rupa. yakni bentuk sanggul tanduk yang biasanya diletakkan di bagian belakang kepala. tak lupa dikenakan perhiasan-perhiasan sebagai pelengkapnya. kelengkapan busana berikut aksesori lainnya pun tidak kalah bervariasinya. Untuk keperluan pakaian sehari-hari. mereka mengenakan tudung kepala pada saat melakukan kegiatan sehari-hari. dan hiasan untuk penutup rambut. pada zaman dahulu terdiri atas kain sarung lengkap dengan bajunya yang berupa blus berlengan pendek. Untuk mempercantik penampilan mereka dalam berbusana. pembungkus hasta dan pergelangan tangan. Selain memiliki busana yang cukup beragam. yakni model sanggul dengan ciri khasnya terletak pada ujung rambut yang disanggul sedikit diuraikan ke bagian samping hingga mencapai bahu. dan budak (batua). dengan jenis yang cukup beragam. tidak heran bila di daerah tersebut terdapat beraneka ragam jenis sanggul.Kaili merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Secara fisik. Pertama adalah unte tandu. Busana adat wanita Kaili dapat dibedakan ke dalam tiga jenis model baju. Biasanya. yakni bentuk sanggul yang didapatkan dengan cara menyisipkan gulungan rambut mereka ke dalam rambut itu sendiri. Berbicara mengenai perhiasan yang biasa dipasang pada bagian kepala kaum wanita Kaili. perhiasan yang dipilihnya terbuat dari manik-manik atau bahkan juga terbuat dari emas. sangat erat dengan kebiasaan mereka yang gemar menyanggul rambut. gambaran mengenai busana adat pria Kaili tampak jauh lebih sederhana. Pada zaman dahulu. kain fuya yang digunakan agak kasar. rakyat kebanyakan (todea). tudung kepala yang biasa dikenakan oleh kaum wanita tersebut berbentuk seperti kerucut. pending. yakni baju yang berlengan panjang dan baju yang berlengan pendek. . Jenis sanggul seperti ini hanya diperuntukkan bagi para pengantin wanita saja. ada tiga model sanggul yang senantiasa ditampilkan oleh para wanita kaili. Salah satunya tampak pada unsur busana adat yang menjadi milik masyarakat Kaili. Pada setiap lapisan sosial biasanya terdapat sejumlah atribut berupa lambang atau simbol-simbol tertentu. lebih halus dan dilengkapi dengan hiasan yang berupa aplikasi beraneka warna. Adapun gambaran mengenai baju pasua adalah jenis baju yang memiliki bentuk leher bundar. dan baju pasua. Ada golongan raja (maradika). bangsawan (toguua mungana). kaum wanita Kaili kerapkali mengenakan kelengkapan busana lainnya yang cukup khas seperti ikat kepala dan tudung kepala. Jenis sanggul yang kedua bernama unte pompule pasiki. keberadaan tudung kepala memang mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan kaum wanita Kaili. yakni baju poko. Paling tidak. bermacam-macam gelang mulai dari lengan hingga siku mereka. Sementara itu. Busana yang disebut dengan baju poko itu sendiri ada dua macam. Jenis-jenis perhiasan itu sendiri pada umumnya berupa kalung bersusun. Sementara itu. atribut tersebut masih dapat ditemukan dalam beberapa hat. masyarakat Kaili mengenal sistem pelapisan sosial dengan empat tingkatan sosial di dalamnya. yakni kain yang terbuat dari serat kulit kayu. sistem pelapisan tersebut tidak lagi bertahan sepenuhnya. kalung panjang. Bahan baju tersebut beradal dari kain fuya. Berbicara mengenai busana adat masyarakat Kaili tampaknya akan lebih didominasi oleh busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanitanya. Model rambut yang paling terakhir disebut unte pambeo. ada belahan pada bagian dadanya dan diberi sejumlah kancing. Meskipun saat ini. Lain halnya dengan kain fuya yang digunakan untuk membuat busana pesta. Oleh karena itu. Bahkan khusus untuk kaum wanita bangsawan.

memang ada satu kebiasaan masyarakat Kaili untuk memenggal kepala musuh pada saat berperang. Ikat kepala yang dipakai oleh kaum pria tersebut memiliki warna yang beragam serta bermotif. yakni kain sarung. sebelah Barat Laut dengan kabupaten Paniai. yakni untuk menghangatkan tubuh atau berfungsi sebagai penahan hawa dingin. Kelengkapan busana lain yang tidak kalah pentingnya adalah ikat kepala. Tentu saja bukannya tanpa alasan bila mereka mengenakannya seperti itu. baru mereka memakai baju untuk menutupi anggota tubuh bagian atasnya. Busana Tradisional Masyarakat Dani Dani People Traditional Dress Penulis Aat Soeratin. dan sebelah Timur berbatasan dengan negara Papua Niugini (Papua Neuw Guinea/ PNG). ada juga kelengkapan busana lainnya yang senantiasa dikenakan oleh mereka. Jonny Purba Masyarakat Dani mendiami wilayah kabupaten Jayawijaya. ikat kepala dan kampuh. Unsur yang pertama adalah sarung. Busana yang digunakan kaum pria untuk menutupi anggota badan bagian bawah adalah cawat dan celana pendek yang pipa celananya sedikit di atas lutut. Ada satu tujuan utama yang hendak dicapai. justru berbeda dengan kondisi mengenai busana adat kaum pria Kaili. Salah satu di antaranyanya adalah biji jagung kering. Kampuh yang sarat dengan berbagai macam benda tersebut biasanya dikalungkan pada leher mereka. yakni berperang dan tradisi pengayauan. Pusat-pusat permukiman orang Dani . Di sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Yapen-Waropen. Tentu saja pemilihan warna dan motif tersebut akan disesuaikan dengan status sosial pemakainya. yang dikenal dengan istilah mengayau. Selain kedua unsur busan tersebut. Ada beberapa jenis kelengkapan busana adat pria Kaili.Bila gambaran mengenai busana adat wanita Kaili begitu kaya akan berbagai informasi di seputar masalah tersebut. Adapun pada anggota tubuh bagian atas kerapkali hanya bertelanjang dada. Pada masa itu. akan tampak bagaimana sebenarnya busana adat mereka yang pernah ada selama ini. pemakaian ikat kepala ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas mereka di masa lalu. Secara historis. Namun bila akan bepergian. sebelah Timur Laut dengan kabupaten Jayapura. sebelah Barat Daya dengan kabupaten Fakfak. yang pemakaiannya tidak dilakukan untuk menutupi badan bagian bawah melainkan hanya disampirkan di bahunya. Satu kelengkapan lainnya yang senantiasa dibawa oleh kaum pria Kaili adalah kampuh yang berisi sirih pinang dan beraneka macam benda-benda yang digunakan untuk meramal oleh pemiliknya. sebelah Selatan dengan kabupaten Merauke. Dengan mengungkapkan profil pria Kaili.

umumnya berada di wilayah lembah dan lereng-lereng gunung. Beberapa lembah yang terkenal, antara lain, lembah Baliem (Lembah Agung), Illaga, Dwart, Konda, Illu, Sinak, Mulia, Pas Valley dan Piet River. Kehidupannya mengelompok berbentuk desa yang dinamakan silimo (asilimo). Bentuk rumah tinggalnya disebut honai (honae) untuk laki-laki dan obe-ae rumah khusus kaum perempuan. Di samping itu biasanya terdapat juga humila sebagai dapur tempat memasak dan wam aele sebagai kandang babi. Istilah "Dani" digunakan oleh ekspedisi Sterling tahun 1926, sedangkan sebelumnya disebut "Ndani". Istilah "Ndani" berasal dari kata "Lani" yang digunakan oleh penduduk lembah Baliem Utara dan Barat, yakni masyarakat Moni dan Damal untuk menunjukkan suku tetangganya (masyarakat Dani). Secara etnis masyarakat Dani dikenal dalam dua kelompok yaitu Wita dan Waya. Masyarakat Dani sendiri menamakan dirinya "Nit Baliemege", artinya "Kami orang Baliem". Busana Adat Masyarakat Dani Ada beberapa jenis busana dan tata rias Masyarakat Dani yang sangat khas bila dibandingkan dengan kelompok etnis lainnya di Irian Jaya, di antaranya koteka (holim), yokal dan sali. Koteka (Holim) Koteka atau disebut juga holim adalah pakaian laki-laki masyarakat Dani dan Ekari. Busana penutup alat kelamin pria ini dibuat dari kalabasah, sejenis labu Cina. Buah labu yang sudah tua, dipetik lalu dikeringkan di perapian. Setelah kering, isi buah labu dikeluarkan, dikorek dengan kayu yang diruncingkan, kemudian dibersihkan. Setelah itu buah labu kembali dikeringkan di sekitar perapian. Ketika dikenakan, agar tidak jatuh, penutup kelamin pria ini diikatkan ke seputar pinggang dengan tali halus yang biasanya berwarna hitam. Ada dua ukuran koteka yakni holim kecil (halus) dan holim pendek besar. Jenis koteka kecil terdapat di daerah lembah Baliem, terutama di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Asologaima dan Kecamatan Kurulu. Ukuran bagian bawahnya sedang dan atasnya runcing. Kadang-kadang bagian ujungnya diberi hiasan bulu burung atau bulu ayam hutan. Hiasan itu untuk menimbulkan daya tarik bagi kaum perempuan. Jenis holim ini halus, berwarna kuning kemerah-merahan. Sebagian masyarakat Dani mengenakan koteka yang ukurannya pendek dan besar. Kalabasah yang berdiameter relatif besar itu dipotong hampir setengahnya sehingga ujungnya bolong (terbuka) yang ketika dipakai biasanya bolong itu ditutup dengan daun. Banyak kemudian yang menambahkan semacam sekat di antara pangkal dan ujung "selongsong" koteka bolong itu untuk tempat menyimpan benda-benda yang dianggap keramat atau bendabenda yang dianggap bernilai tinggi, misalnya "uang merah" (eka merah). Sedangkan jenis holim besar terdapat di lembah Baliem, Ilaga, Tiom, Yalimo, Apalahapsili, Welarak, Kosarek, dan Oholim. Ada tiga pola penggunaan koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya koteka, yaitu tegak lurus: menandakan bahwa pemakainya adalah "pria sejati". Makna simbolik lainnya mengisyaratkan, pria yang memakainya masih perjaka, belum pernah melakukan persebadanan. Miring ke samping kanan: simbol kejantanan, bermakna bahwa penggunanya adalah pria gagah berani, laki-laki sejati, pemilik harta kekayaan yang melimpah, memiliki status sosial yang tinggi atau mempunyai kedudukan sebagai bangsawan. "Kanan" menandakan kekuatan bekerja, keterampilan memipin, dan pengayom rakyat. Miring ke samping kiri: bermakna pria dewasa yang berasal dari golongan menengah dan memiliki sifat kejantanan ejati. Juga menunjukkan pemakainya adalah keturunan Panglima Perang (apendabogur). Holim sebagai pakaian sehari-hari digunakan dalam seluruh kegiatan keseharian, seperti waktu mengerjakan ladang, saat berada di honai, ketika berternak babi. Dalam perkembangannya fungsi dan kegunaan holim mulai digantikan dengan pakaian sehari-hari yang terbuat dari tekstil. Namun dalam kegiatan tertentu, upacara adat misalnya, mereka menggunakan holim sebagai pakaian adat sekaligus sebagai perlengkapan upacara. Yokal Sejenis rok wanita masyarakat Dani yang dibuat dari serat tali hutan (tumbuhan rambat) yang dipintal dengan rapi, disebut yokal. Biasanya yokal berwarna hitam, kuning, dan kemerah-merahan. Bahan pewarna tersebut

didapat dari getah kulit atau bunga anggrek. Yokal biasanya dikenakan oleh wanita dewasa yang sudah menikah. Yokal digunakan sehari-hari untuk melakukan pelbagai pekerjaan, seperti mengerjakan kebun, menyiapkan makanan, memelihara babi, mengasuh anak, menjual hasil pertanian, bepergian, termasuk saat mengikuti upacara adat. Yokal melambangkan wanita pemakainya sudah tidak gadis lagi atau wanita yang telah menikah. Yokal dibuat dari kulit kayu wam. Kulit kayu tersebut dikelupas dari batangnya, diambil seratnya kemudian dikeringkan pada perapian atau dijemur pada panas matahari. Selanjutnya dipintal dan dirajut menjadi rok. Diwarnai dengan getah kulit atau bunga anggrek. Pekerjaan ini biasanya dilakukan wanita dewasa. Sali Pakaian sehari-hari anak gadis masyarakat Dani adalah sali yang dibuat dari bahan serat kem atau dari sejenis daun pandan. Seperti proses membuat yokal, bahan tersebut dijemur atau diasapi, setelah kering dianyam pada seutas tali sepanjang seputar pinggang. Sali dipakai dengan cara melilitkannya ke seputar pinggang dan menyimpulkan kedua ujung tali penahannya pada bagian perut (pusar). Sali dipakai sehari-hari oleh anak gadis, misalnya saat ke ladang, ke sekolah, ke gereja. Sali mengisyaratkan pemakainya Tata Rias Masyarakat Dani Yang lebih banyak merias diri pada masyarakat Dani adalah kaum laki-laki. Pada tubuh para lelaki nampak lebih banyak aksesori ketimbang yang dikenakan para perempuan. Konon, karena para lelakilah yang lebih kerap tampil ketika harus berinteraksi dengan masyarakat di luar kelompoknya. Oleh karena itu aksesori yang digunakan mengandung makna simbolik sekaligus menunjukkan identitas pemakai maupun masyarakatnya. Aksesori yang dikenakan para wanita Dani, sehari-hari atau saat upacara adat, antara lain: sekan yaitu gelang yang dibuat dari rotan, dikenakan pada lengan maupun pergelangan tangan. Noken (su labak yapma) yaitu sejenis tas dibuat dari serat kulit kayu yang dianyam menyerupai karung. Biasanya seorang wanita Dani mengenakan sejumlah noken yang digantungkan pada kening dan berjuntai ke punggungnya hingga menutup bagian pinggul. Selain sebagai aksesori, noken berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut bahan makanan, gendongan bayi, juga untuk membawa babi. Sedemikian besar fungsinya, sehingga seorang wanita Dani biasanya membawa beberapa noken dengan isi yang berlainan. Noken juga dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan. Perlengkapan merias diri kaum lelaki masyarakat Dani yang dikenakan saat upacara dan aktivitas sehari-hari lainnya, antara lain: swesi, sejenis topi berbentuk bulat dibuat dari bulu burung. Siluki inon, topi dari bulu kuskus warna hitam, yang melambangkan kemahiran berburu dan keberanian. Sekan, gelang anyaman rotan yang dipakai pada lengan maupun pergelangan tangan. Walimo yaitu hiasan dada, dibuat dari anyaman serat kulit kayu yang ketika dikenakan akan nampak seperti dasi. Pada sepenuh permukaan walimo ditempelkan, berderet-deret dan disusun rapi, puluhan rumah siput kecil yang dianggap mampu mendatangkan kekuatan gaib. Benda laut ini didatangkan ke daerah pegunungan melalui sistem barter. Wam maik adalah aksesori dengan bahan taring babi. Dibuat berupa untaian sebagai kalung, atau dibentuk menjadi pipih dan diselipkan pada cuping hidung bagian tengah yang dilubangi sehingga mirip seperti misai panjang. Akseori ini biasanya warisan turun-temurun dari nenek moyang. Ngisi adalah rambut yang dianyam rapi dan dilumuri dengan lemak babi. Ngisi mengisyaratkan pemuda yang telah siap untuk menikah. Wali moken sebutan untuk kulit kerang yang diikat hingga seolah menempel pada dahi seorang laki-laki. Banyaknya kulit kerang menunjukkan jumlah musuh yang dibunuhnya dalam perang suku. Cipat, kalung berupa tali penangkal guna-guna. Wayeske, anak panah dan busur, senjata ampuh pria sejati Dani. Mul, semacam "baju besi" dibuat dari serat rotan yang dianyam rapat sehingga berfungsi sebagai perisai dari tusukan anak panah dan tombak. Sege adalah tombak panjang yang melambangkan pria sejati.

Busana Tradisional Asmat Asmat Traditional Asmat Wilayah pantai (Selatan) Irian Jaya didiami sukubangsa Muyu, Marind, Asmat, dan Mimika. Suku bangsa Asmat adalah suku bangsa terbesar di antara suku-suku bangsa lainnya di bagian selatan Irian, bahkan di kawasan propinsi Irian Jaya. Mereka bermukim di daerah rawa yang sangat luas. Daerah persebarannya meliputi Kecamatan Agats, Sawa Erma, Atsy, dan Pantai Kasuari. Seperti halnya sukusuku bangsa lainnya, masyarakat Asmat merancang dan mengembangkan berbagai jenis busana dan tata rias untuk dipakai seharihari maupun untuk keperluan upacara adat. Jenis atau ragam busana Asmat tidaklah banyak. Sejauh ini yang ditemukan hanya yang berupa "rok mini" dan cawat sebagai penutup aurat kaum lelaki dan perempuan. Laki-laki Asmat biasanya memakai pummi semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai di sekeliling pinggul dan paha. Penahan pummi adalah asenem, ikat pinggang dari anyaman rotan. Sedangkan kaum perempuannya memakai tok, semacam cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat. Untuk menutup payudara, wanita Asmat membuat semacam kutang dari anyaman daun sagu muda yang disebut peni atau samsur. Tali pengikatnya dibuat dari akar pandan, disebut tali bow. Dan peni, dahulu, hanya dipakai oleh istri panglima perang. Busana dan tata rias yang dikenakan juga menunjukkan status sosial maupun jenis kelamin. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak ragam rias yang dikenakannya, dan masing-masing aksesori itu memiliki makna simbolik. Rambut orang Asmat pada umumnya keriting atau bergelombang. Ketika menginginkan rambutnya nampak lurus, mereka menjalinnya hingga bisa "berdiri". Menjalin rambut ini disebut wi atau owusapor dan biasanya dilakukan pria remaja. Pada rambut diselipkan hiasan yang disebut sokmet, bulu bangau yang diikatkan pada

sokmet masih dipakai pria Asmat. biasanya dipakai oleh panglima perang. dan pemukul tifa. sangat mengagumi burung kakatua raja lantaran satwa ini nampak elok dan gagah. kaum wanita dan lelaki Asmat memakai tisen pe. terutama kaum lelaki. penyanyi. kalung. Masyarakat Asmat. aksesori yang dibuat dari kulit siput/ kerang yang dibentuk mirip bulan sabit atau ada juga yang menyerupai misai panjang gergulung. Dulunya barok hanya dipakai oleh panglima perang. Sof betan atau sinenke adalah gelang untuk pangkal lengan dari anyaman rotan. dan diberi hiasan bulu burung kakatua atau burung bangau yang disebut panicep solme. Aksesori lainnya yang sangat khas adalah subang penghias telinga. panah. Noken yang polos tanpa hiasan dipakai oleh wanita dan laki-laki kebanyakan sedangkan yang dibubuhi hiasan. Sedangkan yang dipakai pada pangkal lutut dinamakan barok. dan tombak. biasanya diimbuh hiasan beberapa tangkai sokmet. Pada kebudayaan Asmat. subang penghias hidung. Kaum wanita Asmat. sehingga bila saat berduka benda ini tidak ditampilkan. tapi sekarang dipakai juga oleh para tetua adat. Juwursis biasanya dipakai oleh panglima perang. Sebagai masyarakat peramu yang hidup dari berburu. Hingga sekarang. kepala adat. Ada pula o effo yakni ekor babi hutan yang dililitkan di bagian pangkal tangan. dari bahan yang sama. Atau pomak camkan yang dibuat dari anyaman daun sagu muda yang biasa dipakai saat pesta ulat sagu dan upacara patung mbis (patung leluhur). semacam pisau belati dibuat dari tulang kering burung kasuari yang salah satu ujungnya diruncingkan dan pangkalnya dihias oleh bulu-bulu halus burung kasuari. Topi ini disebut juprew. Subang penghias telinga disebut jemcankan yang dibuat dari kayu fum atau dari semacam manik-manik biji tumbuhan dek atau omdu atau tisen. Sebagai kalung. menggunakan gulungan daun sagu atau daun nipah yang disebut bi awok sebagai penghias hidung mereka. panjangnya kira-kira 30 cm. Tali penahan agar kasuomer tidak jatuh dibuat dari jalinan daun sagu muda. tanpa membedakan status sosial. dan pangkal betis. Begitu pentingnya fungsi senjata-bagi lelaki Asmat sehingga bukan hanya dipakai sebagai peralatan berburu belaka tapi juga sebagai alat pelengkap penampilan agar nampak berwibawa. Ekor babi untuk o effo harus berasal dari babi hutan yang terkena perangkap (siso). dan penyanyi pengiring upacara. Masyarakat Asmat juga menciptakan semacam topi berbentuk kopiyah/peci/songkok yang terbuka bagian atasnya yang dibuat dari bulu kuskus. sejenis tas yang disandang di leher laki-laki atau di kening perempuan. yang supaya nampak indah dihias bulu burung cendrawasih (jabopan). . untaian gigi taring anjing yang dikombinasikan dengan taring babi hutan. terutama istri panglima perang dan para tetua adat. terutama ketika mereka berada di dalam jew (rumah panjang). Yang dikenakan pada pergelangan tangan. dituntut untuk mahir menggunakan senjata: pisau. Senjata ini diselipkan pada sinenke. Benda pakai yang juga kerap dijadikan pelengkap penampilan adalah noken. konon. terutama saat melaksanakan upacara adat. agar ujung hidung tertarik sehingga mancung dan melengkung seperti paruh kakatua raja. Kalung lainnya adalah juwursis (juwur = anjing). pemimpin tungku (keluarga luas). pun kebanyakan masyarakat asli Irian Jaya. Sedangkan para lelaki memakai bipane.lidi. disebut wisaper. yang dibuat dari biji tumbuhan tisen. pemukul tifa. sehingga seringkali digunakan sebagai mas kawin seperti halnya kapak batu. bukan hasil buruan dengan bantuan anjing atau tombak. dan kepala-kepala tungku (kepala keluarga luas). Wanita yang mengenakan benda ini adalah istri dari orang yang gemar berburu babi hutan. Ada juga penutup kepala yang dibuat dari anyaman daun sagu dan akar kayu. 0 effo juga dipakai sebagai cerminan perasaan sukacita. Topi ini disebut kasuomer dan kerap dihiasi bitwan (kulit kerang). penyanyi. disebut betan. Maka untuk bisa tampil segagah burung yang elok itu mereka. melubangi cuping tengah hidung mereka dan "menyumpalnya" dengan aksesori berupa benda yang terkadang berukuran lebih besar daripada lubang hidung. dan biasanya disandang oleh panglima perang. Bipane biasanya dipakai oleh panglima perang. Senjata yang hampir selalu disandang sebagai aksesori pada pelbagai upacara adat ialah pisuwe. Noken dibuat dari anyaman daun pandan dan pada salah satu sisinya diberi hiasan bulu sayap burung kakak tua atau bulu sayap burung bangau. pergelangan tangan. juwursis merupakan benda yang bernilai tinggi. pemukul tifa. dan gelang yang dipakai pada lengan. masyarakat Asmat.

5 meter. batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII. dari bambu dinamai firokom. fum. seperti relung kua yang bergambar burung. Tombak yang pertama kali digunakan dibuat dari kayu nibung yang dinamai ocan atau kamen. Agar lebih variatif. Warna hitam dari arang pembakaran. yang dibuat dari kayu keras disebut fir. . Batik Besurek sudah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Kota Bengkulu. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. Busurnya dibuat dari jenis kayu bakau. sedangkan warna hijau dari dedaunan. Warna putih didapat dengan cara membakar kulit siput. Konon. disebut vom. Jonny Purba Busana tradisional Bengkulu Tidak hanya terkenal di pulau Jawa saja. Warna merah berasal dari tanah merah yang diperoleh dari pegunungan Lorentz. kemudian ditumbuk hingga halus dan dicampur dengan air. sowen.Senjata lainnya adalah tombak. Dan. Anak panahnya agak beragam. Kemudian panah yang disebut ces atau jimar. ternyata Provinsi Bengkulu juga memiliki kerajinan tradisional batik yang cukup mumpuni yaitu Besurek. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan yang tradisinya sudah diwariskan secara turun temurun. putih. Komposisi warna merah. Ada juga jenis tombak khusus untuk berburu buaya. Namun juga mengombinasikan beberapa motif. Hingga kini batik Besurek tidak hanya digunakan oleh kalangan bangsawan saat upacara adat saja. relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis. yang dari besi dikenal sebagai sok. melainkan sudah menjadi seragam tetap beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah setempat. Penulis Aat Soeratin. dan hijau tampil kuat pada latar kulit yang hitam berkilat. dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Tombak kayu besi dinamai viwu. dan tombak logam besi disebut frin. hitam. panjangnya sekitar 1. Masyarakat Asmat mengenal beberapa jenis tombak dan masingmasing dinamai sesuai dengan bahannya. saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. yang tak boleh dilupakan adalah wasse mbi. yakni rias tubuh berupa gambar corak hias garis sejajar atau liris yang sangat ekspresif di sekujur tubuh terutama saat melaksanakan upacara adat.

Busana Tradisional Pangkalpinang Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris : 1. Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina. Daun bambu 4. Kembang cempaka 2. Pakaian tersebut terdiri dari : * Pakaian Pengantin Perempuan * Pakaian Pengantin Laki-laki * Tata Rias dan Hiasan Pakaian Pengantin Perempuan: Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”. Gelang 12. Kembang goyang 3. Kuntum cempaka 5. Sari bulan 8. pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut. Tutup sanggul atau kembang hong 9. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Pagar tenggalung 7. Pending untuk pinggang . Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Kalung 10. Anting panjang 11. Sepit udang 6.

5. Pakaian adat Kepulauan Riau memiliki variasi pakaian adat.Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Melayu Siak Riau dan lain-lain. Jubah panjang sebatas betis Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan Celana Penutup kepala seperti sorban (sungkon) Pending Selop / Sendal Arab Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan). Pada zaman dahulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul. baju yang dipakai adalah baju Melayu berupa atasan yang disebut Teluk Belanga. kenanga dan irisan daun pandan. pakaian adat Indragiri. Hiasan Dahi: Hiasan DahiMemakai penutup dahi yang diberi nama “Paksian” dan di dahi dipasang Saribulan. Pagar Tanggalung dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga (Godeg). busana ini terdiri celana. pakaian adat Riau terdiri dari busana Melayu. Sebagai salah satu daerah yang kental dengan budaya Melayu. Pakaian adat ini disebut dengan baju Melayu teluk belanga. 2. Melayu Bengkalis Riau. kain sampin. Variasi pakaian adat Riau diantaranya. 4. 2. pakaian yang dipakai berupa baju kurung. Selain itu. Busana Tradisional Kepulauan Riau Pakaian adat merupakan salah satu ciri budaya suatu daerah dan setiap daerah tentunya memiliki pakaian adat yang beragam. Tata Rias dan Hiasan: 1. 3. Kain sampin biasanya meiliki warna dan corak yang sama dengan baju atasannya. seperti pakaian adat Kepulauan Riau. Untuk pakaian pria. Pakaian Pengantin Laki-laki: Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari : 1. melati. 6. Untuk perempuan. dan songkok atau penutup kepala. Bentuk Sanggul: Konde tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari mawar. kain dan .

dengan leher baju berbentuk bulat. Busana Tradisional Sulawesi Tengah Secara tradisional.selendang. Selain itu agar pakaian tampak pas di tubuh. Sebagai pelengkap dikenakan hiasan berupa kalung susun (geno kambora). Sedangkan kaum wanita mengenakan pakaian yang disebut 'patimah lola' berupa baju 'gamba' yang panjangnya sampai di pinggul. Pada umumnya kaum pria mengenakan pakaian adat yang terdiri dari: ikat kepala (siga) yang dihias dengan manik-manik. baju jas dengan leher tertutup (jas tutup) dan keris yang terselip di pinggang. serta ikat kepala yang disebut 'dadasa'. selain berfungsi melindungi tubuh dari cuaca. masyarakat Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pakaian adat yang dibuat dari kulit kayu 'ivo' (sejenis pohon beringin) yang halus dan tinggi mutunya. Selendang dipakai dengan disampirkan dibahu. Busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Gunting Cina dipakai saat tidak resmi atau saat dirumah. baju tangan pendek dengan leher baju terbuka. hijau. dikenakan ikat pinggang (pending) terbuat dari besi kuningan. Busana Tradisional Yogyakarta Dalam hal berpakaian masyarakat Yogyakarta membedakan antara yang dikenakan kaum pria dan kaum wanita. Busana Melayu Riau ini identik dengan nilai-nilai Islam. Ia juga mengenakan kain batik yang mempunyai motif sama dengan yang dipakai wanitanya. Pakaiannya yang tertutup mencerminkan makna. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria terdiri atas tutup kepala (destar). busana yang disebut dengan istilah baju Melayu Cekak Musang dipakai saat acara keluarga. gelang (pontade) dan anting-anting (dali). sarung berwarna kuning. sarung yang dikenakan sampai menutup kaki. Variasi pakaian adat Riau membedakan pula waktu pemakaiannya. Pakaian adat ini dibedakan untuk kaum pria dan wanita. serta dilengkapi dengan sebilah keris yang terselip dipinggang. Tradisi melayu Riau memang bersumber dari nilai-nilai Islam. yang disekelilingnya dihias dengan benang emas. . pakaian haruslah menutup aurat. celana panjang warna gelap yang juga dihias dengan benang emas. merah atau biru dengan motif 'subi' atau 'bomba'.

Sebagai hiasan kepala digunakan kembang serta perhiasan antara lain berupa antinganting. Pakaian adat kaum pria biasanya berupa mahkota. diletakkan ditengah-tengah sanggul. gelang di kedua belah tangan dan songket yang melingkar di bagian tengah badan. sarung sebatas dengkul.Sedangkan pakaian kaum wanitanya terdiri atas kebaya dan kain batik dengan rambut yang disanggul dan diberi hiasan konde. pending. baju model jas tertutup. . Sedangkan pakaian yang di kenakan oleh kaum wanita mirip dengan yang dikenakan oleh kaum pria yaitu mahkota serta kalung bersusun. yaitu pakaian kaum laki-laki dan kaum wanita. Busana Tradisional Sulawesi Tenggara Pakaian adat yang bias digunakan oleh orang Kendari untuk pria biasanya berupa tutup kepala (destar). dan celana panjang. Perhiasan lain yang dikenakan biasanya berupa anting-anting dan cincin. kalung dan gelang. Sedangkan untuk kaum wanitanya berupa baju kebaya. kain selempang dan sarung. Busana Tradisional Sumatera Selatan Masyarakat daerah Sumatera Selatan secara tradisional membagi pakaian adat mejadi dua macam. kalung bersusun dengan baju khas dengan memakai celana panjang dan kain songket pada bagian tengah badan.

serta emas perak yang kesemuanyaterbuat dari gading atau kerang laut. Pakain ini kelihatan lebih anggun berwarna merah menyala dihiasi manic-manik serta kombinasi kebaya cele putih. Pakaian petani.Busana Tradisional Maluku Utara Pakaian daerah Maluku dilihat dari segi motif dan cara memakainya cukup sederhana. ada juga pakaian untuk ke gereja yang disebut pakaian Itang. acara resmi lainnya. Sekarang sudah merupakan pakaian yang dimodifikasi dan dipakai sebagai pakaian untuk pakaian upacara adat. Hiasan yang dipakai untuk menambah anggunnya pakaian ini adalah gelang. 4. atau dipakai oleh anak-anak keturunan raja. Biasanya dipakai untuk upacara dan hari besar lainnya. Pakaian pengantin Maluku Tengah disebut baju Pono atau dapat juga disebut Mistisa. warnanya juga antara hijau dan kuning. pesta. Pakaian ini sudah menjadi pakaian nasional untuk seluruh masyarakat Maluku. Pakain pengantin ini mirip dengan pakaian pengantin Donggala. Selain pakaian-pakaian tersebut diatas. pakaian nelayan serta pakaian sesehari lainnya yang tidak disebut satu persatu. Pakaian-pakaian pengantin: Pakaian pengantin Maluku Utara disebut pakaian Koci-koci. 5. Nona rok adalah sejenis pakaian wanita yang dulunya dipakai oleh kalangan atas. kalung. Kain kebaya merah adalah jenis pakaian daerah lain yang menjadi pakaian sesehari gadis dan ibu-ibu di desa. • • • . 6. Baju Cele Kain Salele. serta merupakan pakaian yang dianggap baik. Baniang dan kebaya dansa adalah pakaian sesehari untuk kaum pria. adalah pakaian sesehari kaum wanita. 2. hal ini tergambar dari beberapa contoh pakaian daerah dibawah ini: 1. Pakaian ini kebanyakan dibuat dari tenunan tradisional Tanimbar dikombinasi dengan kain satin putih. melayu. pakaian ini juga sering dipakai oleh kalangan menengah kebawah seperti mereka yang berjualan di pasar dan lain sebagainya. Pakaian pengantin Maluku Tenggara disebut sanikir. Alas kaki yang dipakai disebut Canela dimana bagian depannya melingkar keatas. Pakaian ini bercirikan Islam. juga sudah merupakan pakaian konsumsi sesehari masyarakat Maluku. biasanya dipakai untuk acara pesta atau acara besar lainnya. 3.

Hal inilah yang mengubah warna motif meriah berubah lembut pada saat proses pencelupan. . Banten ternyata memiliki busana khas dengan pola Batik. Namun tidak hanya di Provinsi Banten saja. tetapi dipakai di seluruh Provinsi itu. Komprang tidak berasal dari daerah tertentu di Jawa Barat. Batik Banten juga memiliki motif yang menjadi ciri khas. Konon warna tersebut memang sesuai dengan watak masyarakat Banten yang penuh dengan harapan. mengenakan pangsi dan komprang dengan menambahkan sarung yang dikalungkan di bahu. dimana dan oleh siapa pakaian tersebut dapat digunakan. maka dipilihlah nama yang diambil dari bangunan. Selain celana komprang dan baju pangsi. namun tetap menjunjung tinggi sikap kemudahan hati. Batik Banten mempunyai padu padan warna. dan karakter kuat. Cara menggunakan pakaian itu bermacam-macam. Untuk mempermudah penyebutan nama-nama motif batik dan gampang diingat. ruangan. pengambilan nama motif juga ada yang berasal dari nama gelar kesultanan. baju pangsi biasa digunakan masyarakat Sunda ketika berlatih pencak silat. Perpaduan ini ternyata sangatlah erat kaitannya dengan pengaruh air di bawah tanah. Menurut keterangan warga setempat. pakaian tradisional tersebut juga merupakan salah satu pakaian khas dari Jawa Barat. ataupun nama lokasi seluruh lapisan warga keraton berada semasa kesultanan yang ada di Banten lama. Sebagian penggembala kerbau misalnya. dan pada zaman dulu komprang biasa dikenakan masyarakat Sunda setiap harinya.Busana Tradisional Banten Baju pangsi dan celana komprang menjadi salah satu busana tradisional di Banten. termasuk Banten ketika masih belum terpisah. Sedangkan masyarakat Sunda lain mengikat sarung pada bagian pinggangnya. Busana Tradisional Kalimantan Selatan Suku bangsa Banjar mengenal berbagai jenis pakaian tradisional menurut fungsi. semangat. Pada pakaian-pakaian tertentu makna simbolis dari motif ragam hias dan perhiasan yang melengkapi menentukan kapan. Sebagaimana batik kebanyakan. jenis dan pemakaiannya. Selain itu. Warna Batik Banten cenderung meriah namun tetap terasa hangat dipandang dan lembut di mata.

Salawar. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Salawar panjang ini biasanya digunakan sebagai pasangan baju taluk balanga. terdiri dari destar sebagai penutup kepala.• • • • • Lampin. Dikenakan pula kain samping . walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda. Penggunaan baju kubaya juga dilengkapi dengan tutup kepala berupa kakamban (serudung) yang dibuat dari kain sutra atau sejenisnya yang tembus pandang. Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek. Sebagai pakaian sehari-hari baju taluk balanga ini dilengkapi dengan tutup kepala berupa kopiah beludru hitam atau kopiah jangang. lampin dibuat dari tapih (sarung) atau bahalai (kain sarung) yang dipotong menjadi beberapa bagian dengan bentuk segi empat panjang. artinya ukur panjang tak dapat singkat. Umumnya tiap ornament disulamkan dalam hitungan ganjil. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan. Masyarakat juga mengenal adanya salawar panjang atau celana panjang semata kaki yang tidak berkantong. Bagi masyarakat Banjar pada umumnya bilangan ganjil mengandung makna kebai Busana Tradisional Minangkabau Minangkabau Traditional Dress Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional. Model baju. seperti penghulu dan bundo kanduang. adalah kemeja bertangan panjang dengan leher baju bulat dan sedikit kerah keras mencuat ke atas. Termasuk menghadiri suatu upacara adat. dan tongkat. Jenis pakaian ini bermacammacam. jangko singkek tak dapek panjang. pakaian sehari-hari ini digunakan oleh para wanita. Bagian depan terbelah dan diberi kancing. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Pasangan baju kubaya ini adalah tapih atau sarung. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak. sesamping. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. keris. Untuk tapih ini biasanya didatangkan dari pekalongan. Di bagian bawah baju diberi sulaman dengan mempergunakan benang emas atau air guci. celana hitam lebar. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Baju Taluk Balanga. merupakan pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan pada seorang bayi. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk. Baju Kubaya. Biasanya pakaian ini digunakan oleh kaum pria baik yang berusia remaja maupun pria dewasa. yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat. namun secara umum terdiri dari destar. yang di beberapa masyarakat lain dikenal dengan ‘baju kodok’ ini dapat digunakan oleh anak laki-laki maupun anak wanita. Untuk wanita dewasa biasanya digunakan kubaya basawiwi (basujab). Pada masa lalu. kain sandang. baju hitam longgar. adalah baju yang dipakai anak-anak kecil sehari-hari. jangka pendek tak dapat singkat. Baju Kurung Basisit: Adalah jenis pakaian lain yang biasanya digunakan oleh kaum wanita jika bepergian. belah sampai ke dada tanpa kancing. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya. yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Jenis lainnya yang juga disukai adalah kubaya barenda. yang menjadi pakaian sehari-hari kaum pria.

dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Baju kurungnya berwarna hitam. merah. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Lambak atau kodek. khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Pakaian sehari-hari Para wanita. Ia haruslah orang yang arif bijaksana. anting-anting serta cincin. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk. sarung bugis ataupun kain pelekat. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Kaum prianya. menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. seperi kalung. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar). baju kurung. Kalung dari beberapa macam. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan. kalung pinyaram. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Ia juga merupakan peti ambon puruak . Khusus pada pakaian penghulu. dan kalung kaban. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik- . batik. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. gelang bapahek dan gelang ular. yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket. artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. lambak/kodek atau kain sarung. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. kain selempang. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya. masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. dan selendang pendek. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak. yaitu kalung kuda. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan. pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. sementara selendang tersampir di bahu. untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas.(sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Variasi lain dikenakan tengkuluk. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. kata-katanya didengar. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Seperti juga pada pakaian penghulu. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis. kain sarung. kalung gadang.

baiknya. yang terdiri dari pulau-pulau Siberut. pimpinan atau anak buah. Sipora. bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. perikehidupan serta ungkapan budaya material masyarakat Mentawai patut dikemukakan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang unik. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan. perikehidupan serta ungkapan budayanya. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun. Walaupun dewasa ini sudah semakin jarang dijumpai. Budisme. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian. yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat. Pagai Utara dan Pagai Selatan. dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial. orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar- . Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen). lepas pantai propinsi Sumatera Barat. Sebagian besar dari mereka menganut kepercayaan animistik dimana setiap benda apakah itu batu. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih). Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter. Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai. berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. bertanggan naik. Selain kabit dan sokgumai. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Islam dan Barat. binatang atau manusia memiliki roh. penutup aurat. terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. Sampai dengan ± 50 tahun yang lalu masyarakat Mentawai masih hidup dalam kebudayaan neolitik berikut segenap tata cara adat istiadat. disebut sokgumai. peristiwa. tidak terpengaruh oleh Hinduisme. Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis. yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Penulis : Dewi Indrawati/Biranul Anas Busana Tradisional Mentawai Mentawai Traditional Dress Penulis : Biranul Anas Suku bangsa Mentawai mendiami rangkaian kepulauan Mentawai.

Ini berpengaruh pada busana upacara pernikahan Melayu yang tampil secara lengkap dan indah. suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. gelang-gelang. dada. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia. atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. biasanya merah. Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat. botol kecil tempat ramuan obat-obatan.benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. suatu kegiatan perdukunan. kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai. Tato adalah busana kebanggaan. mulai dari busana sampai dengan . terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen. rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan. Selain itu tato. Lalu disusul dengan tangan. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. ogok. Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei. Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan. terbuat dari gelas berwarna merah. Tato merupakan simbol kejantanan. diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. kuning. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi • • • • • • sobok. sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" Busana Tradisional Melayu Malay Traditional Dress Penulis : Bernau Ompusunggu Biranul Anas Pakaian Upacara Tradisi Melayu menempatkan upacara pernikahan sebagai peristiwa yang penting. bergantung pada kalung depan dada. Ikat kepala ini dinamakan sorat. paha dan pantat. sejenis subang pada kedua telinga. rakgok. pakalo. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu. ikat pinggang dari lilitan kain polos. lei-lei . bunga-bungaan dan daundaunan. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. cermin raksa. putih dan hitam atau hijau.

Kaum pria memakai dua pilihan tutup kepala. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis seperti gelang tepang. Lengan bajunya sangat lebar dan panjangnya sampai pergelangan tangan. Terbuat dari rotan yang berbentuk parabola. mastura. sedangkan bagi pria kebanyakan memasangnya dengan posisi belah utak. ikatan serdang dan sebagainya. Kadang-kadang baju dan kain kedua-duanya terbuat dari bahan yang sama. Pakaian ini tidak memakai selendang. berlapis tiga dan dibalut dengan beludru atau kain berwarna kuning. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Diberi hiasan gerak gempa. Tengkulok adalah lambang kebesaran dan kegagahan seorang pria Melayu. Baju panjang ini dipakai dengan sehelai kain yang terbuat daripada katun biasa berwarna polos. Bagian kepala disalut oleh selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi tata rambut dalam gaya sanggul khusus yakni sanggul lipat padan atau sanggul tegang. berwarna sesuai dengan baju dan celananya. yaitu tengkulok yang terbuat dari kain songket. Bagian pinggang dihiasi oleh bengkong dan pending. sutera. gelang kana. hijau atau kuning dan dililit dengan sarung songket. Keris dianggap lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masa depan yang penuh tantangan. bunga mas dan hiasan batu permata sehingga menampilkan kesan kebesaran dan kegagahan. Sementara untuk pakaian laki-laki berupa pakaian Teluk Belanga: Pakaian ini terdiri dari tutup kepala berupa kopiah atau topi dari bahan sutra berbentuk kepala kapal. muslin atau viole yang halus yang bercorak kotak-kotak besar. sekar sukun. rantai panjang dan tanggang walaupun dewasa ini sudah amat jarang dijumpai. Di daerah Deli untuk kaum bangsawan mengenakannya secara melintang.perlengkapan perhiasannya. gogok rantai lilit. Pakaian Sehari-hari Wanita-wanita Melayu dari Medan di sebelah pantai timur Sumatera Utara membuat baju mereka sangat panjang (baju panjang). Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Penutup badan pria adalah teluk belanga yang terdiri dari atas baju berkrag kocak musang. Di Serdang cara-cara pemakaiannya justru kebalikan dari daerah Deli. Pada jari terpasang aneka ragam cincin seperti cinci-n genta. cincin patah biram dan cincin pancaragam. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Hiasan rambut berupa sanggul yang sederhana. berseluar (celana panjang) dan bersamping. Sebagaimana pada kaum wanita kain pembuat teluk belangapun adalah dari jenis yang bermutu seperti satin atau sutra. . yaitu ikatan bendahara (Kedah). Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan. Alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Bajunya berupa kemeja kurung terbelah dibagian dada saja dari bahan sutra berwarna merah. Celana panjang lebar dengan bahan dan warna yang sama dengan baju. Gelang juga dipakai pada kaki. renda. cincin bermata. dari bahan brokat (kain senduri). Di daerah leher dan dada biasanya tergantung kalung dari corakcorak rantai mentimun. Tutup kepala yang sejak dulu dipakai disebut destar. sarung yang bercorak kotakkotak besar atau kain songket. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. gelang ikol dan keroncong. kain bertabur atau destar. rantai serati. Ikatan tengkulok ini ada beberapa jenis. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia. Pada upacara ini Wanita Melayu mengenakan Kebaya panjang atau baju kurung yang terbuat dari jenis-jenis kain yang bermutu tinggi seperti brokat atau sutra bersematkan peniti-peniti emas.

dan dilengkapi dengan sarung suji. tali-tali (tutup kepala) serta baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam. dilengkapi dengan ulos di kepala (biasanya ulos mangiring) dan setengah badan. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak disebut parompa. memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar. dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. sedangkan bagian bawah memakai ulos dari jenis ragi pane. khususnya pada ikat kepala. ragidup. Saat ini kain blacu hitam selain diganti dengan ulos. kain dan ulosnya. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Misalnya ulos jugia. sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. bagian bawah disebut haen. Sebelum orang Batak (Toba. sabesabe atau detar. Pada suku Batak Simalungun pakaian yang dipakai antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Pada suku Batak Toba. Simalungun) mengenal tekstil buatan luar. Dalam upacara perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Khusus pada perempuan suku bangsa Batak Pak pak/Dairi. ragi hotang. penutup kepala dan juga sebagai penutup dada. Sudah barang tentu tidak semua ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keseharian. Untuk penutup punggung disebut hoba-hoba. serta tutup kepala yang disebut saong. dilengkapi dengan sarung. Mempelai laki-laki memakai baju jas tutup warna putih. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat. Karo dan Simalungun menggunakan ulos yang berbentuk tudung sebagai pelindung panasnya matahari. ulos yang digunakan dominan berwarna hitam. tidak terlepas dari penggunaan kain ulos. Karo. dan bila dipakai berupa selendang disebut ampe-ampe. Pada upacara secara umum wanita Batak menggunakan ulos sebagai penghias bahu/selendang. dipakai hingga batas dada. Pada busana pengantin perempuan Batak Toba hampir semua pakaian yang dipakai terdiri dari kain ulos yang salah satunya diselempangkan pada kedua bahu . juga telah diganti dengan sarung tenunan bercorak kotak-kotak. Disamping bulang ada juga ulos surisuri sebagai tutup kepala. hanya dapat dipakai pada waktu-waktu tertentu. umumnya diselempangkan di pinggangnya atau juga sebagai selendang. Bila dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut ande-hande. Kain ulos yang dipakai orang-orang Batak pada upacara-upacara adat. bulang-bulang. tanpa alas kaki. sedangkan bagian bawah memakai sarung sungkit yang dililit dengan kain ulos. Muangthai dan Laos. baju dan celana.Busana Tradisional Batak Batak Traditional Dress Penulis : Biranul Anas / Jonny Purba Kehidupan masyarakat suku bangsa Batak. sadum. laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak (terkadang diganti dengan ulos yang disebut singkot). dan runjat. Khusus bagi suku Batak Pak pak dan Dairi. Pakaian pengantin perempuan Batak Karo terdiri dari baju tutup dengan lengan panjang. ulos (disebut Uis oleh suku bangsa Batak Karo ) adalah pakaian sehari-hari. Bila ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba. Untuk tutup kepala disebut saong. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak. Kadang-kadang diselempangkan (menggunakan ulos ragihotang). mereka memakai pakaian biasa. Dalam keseharian perempuan Batak aslinya memakai kain blacu hitam (dapat diganti dengan ulos disebut haen ) dengan dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam.

Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis). Pada masa sekarang menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi. Pada pesta perkawinan wanita suku bangsa Mandailing/Angkola menurut adat menggunakan tata busana yang terdiri dari : bulang yang diikatkan pada kening. seperti sulaman benang emas yang hanya berfungsi estetika tanpa arti perlambang. Cara memakainya hampir sama dengan destar atau tengkuluk (topi). Tetapi sekarang menggunakan kain songket. Arti perlambang pada selendang adalah lambang dalihan na tolu. Baju pengantin ini disebut baju godang atau baju kebesaran. Pada masa lalu. bertingkat dua atau disebut bulang hambeng (bulang kambing) dan tidak bertingkat. dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis). Warna hitam ampu mengandung fungsi magis sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Dua lembar selendang yang disilangkan pada bagian dada sampai ke punggung. godang (baju kebesaran) yang pada masa lalu berbentuk jas tutup. Bagian atas badan tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu dibuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Bulang terbuat dari emas. Sisamping (kain sesamping) yang dibelitkan dari batas pinggang sampai ke lutut. Bulang mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat. Ampu merupakan mahkota yang biasanya dipergunakan oleh raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Bagian penutup selop kadangkadang diberi hiasan. Pada daerah pinggang dipakai Bobat atau ikat pinggang yang dahulu terbuat dari emas dan kadang-kadang berkepala dengan ornamen kepala ular naga yang melambangkan keagungan. Untuk si samping pada masa dahulu menggunakan abit Bugis (kain Bugis) atau kain sarung. pengantin pria kadangkadang mengenakan tutup kepala yang dinamakan serong barendo yang terbuat dari kain warna hitam yang diberi renda atau rumbairumbai. Belakangan ini baju pengantin wanita kadang-kadang diberi sulaman. masing-masing bertingkat bertingkat tiga disebut bulang harbo (bulang kerbau). Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Selop hanya berfungsi praktis tanpa mengadung arti perlambang. Penamaan bulang ini dikaitkan dengan jenis hewan yang disemblih. Sepatu sebagai alas kaki dahulu menggunakan alas kaki atau selop yang dinamakan capal yang terbuat dari kulit. tergantung selera pemakai. Untuk selendang pengantin. Dewasa ini selendang terbuat dari kain songket. ikat pinggang terbuat dari emas atau perak sebagai lambang kebesaran. sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga). tetapi ujungnya dilipat ke arah kening sehingga terjuntai sedikit di atas kening bersama renda atau rumbai yang terbuat dari benang emas. Bagian samping kanan ampu yang salah satu ujungnya mengarah ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. tetapi kini sudah banyak yang terbuat dari logam yang diberi sepuhan emas. Pengantin pria menggunakan busana yang terdiri dari : ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Baju. kadang-kadang juga menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Bobat (ikat pinggang) yang dahulu biasanya terbuat dari emas atau perak. Pada suku bangsa Batak Simalungun.sampai ke badan (biasanya jenis ulos sadum). Baju Godang mengandung makna keagungan. terbuat dari kain lakan berwarna hitam. Diberi ornamen warna emas makna simbolik sebagai lambang keagungan orang yang memakainya. Bulang terdiri dari tiga macam. tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Tetapi sekarang sudah umum menggunakan ikat pinggang biasa. dan dililit dengan ulos ragi hotang. Misalnya penggunaan bulang bertingkat tiga bila hewan yang disemblih adalah kerbau. selendang terbuat dari kain tonun petani (kain tenunan petani). Pada masa dahulu. Alas kaki menggunakan selop atau sandal yang biasanya tertutup pada bagian depan atasnya. kedua pengantin memakai tudung kepala yang terbuat dari ulos suri-suri. Celana panjang atau pantalon tanpa warna tertentu. Pada masa lalu.

Untuk upacara. yang terbuat dari rajutan rotan dilengkapi dengan daun pelem sebagai penutup di bagian belakang. aya ba mbagi bobotora. yaitu baju dengan motif kulit harimau. penduduk pulau Nias di pantai Selatan Sumatera memiliki variasi busana tradisional yang menambah keanekaragaman busana sukubangsa-sukubangsa di Sumatera Utara. Selain itu. yang berwarna merah. Sementara itu. namun saat ini sudah merupakan gabungan dengan kain katun. Bagian bawah . kuning. tanpa busana atas (baju penutup dada). Dalam keseharian masyarakat Nias mengenal busana asli yang belum memperoleh pengaruh luar. Baju berbentuk rompi tidak berkancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dan dengan ornamen berwarna merah. yaitu cawat atau celana yang terbuat dari bahan kulit kayu. dan hitam. Kalabubu adalah kalung untuk lakilaki yang terbuat dari kuningan dan dilapis dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Selain model rompi ada juga baju berlengan tanpa kancing yang juga terbuat dari bahan kulit kayu. dan saro dalinga. kalung yang terbuat dari lempengan kuningan. Baik dari jenis yang hanya dikenakan oleh kaum bangsawan serta tutup kepala khusus untuk kepala wilayah. kalung yang terbuat dari lilitan perak atau emas dan nifato-fato. yang biasanya hanya dikenakan pada telinga kanan saja. Dunia peperangan yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakatnya membentuk "budaya perang" yang juga perpengaruh pada busana tradisional orang Nias.Busana Tradisional Nias Nias Traditional Dress Penulis : Bernali Ompusungu Orang Nias. biasanya dikenakan baju berbentuk jaket atau jubah berbahan katun. salah satu jenis tutup kepala khusus untuk perang disebut tete naulu. terdiri dari baru atau baju yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu. yaitu gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai 1 kilogram (khusus untuk perempuan dewasa mengenakan dua buah gelang). Salah satu bentuk tutup kepala yang digunakan adalah saembu oti. berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari bahan batubatuan. Cara penggunaannya adalah hanya dengan melilitkannya di pinggang dan kekenakan tanpa baju. Perlengkapan busana ini adalah tombak dan pisau kecil. khususnya busana kaum prianya. yang disebut takula. Tutup kepala ini digunakan pada saat upacara saja. busana kaum laki-laki Nias. Busana asli wanita suku bangsa Nias hanya terdiri dari lembaran kain (bahan blacu hitam atau kulit kayu). Ada juga tutup kepala. Busana ini dilengkapi dengan aja kola. Busana ini dilengkapi dengan balahogo sokondra. Untuk menghadiri upacara adat. rotan dan pelepah kelapa. Selain itu masih ada jenis lain seperti balahogo rate. terbuat dari daun palem. perak atau emas. merah dan putih. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni`ola`a harimao. yaitu baru lema`a. Tutup kepala ini terbuat dari bahan rotan dililit kain akantun berwarna biru. Orang-orang Nias pada masa lampau adalah prajurut-prajurit perang yang gagah berani. Jenis kalung lainnya adalah nifatali. yaitu anting logam besar. masih banyak lagi jenis tutup kepala lainnya. Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan kalabubu sebagai penghias leher.

masih ada bola-bola. yaitu selendang warna kuning dililitkan di pinggang. hanya bahannya bukan terbuat dari emas. kala bobu. yaitu kalung warna hitam dan yang tidak boleh ketinggalan adalah talogu atau pedang. Warna hitam. alga kala bubu (kalung) dan gala (gelang). kuning. baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah. Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornament barisan koin emas memanjang horizontal dan ditengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daundaunan. terbuat dari .lingkaran terbuka dari bahan perunggu dengan hiasan batubatuan atau kerang. yang terbuat dari panel warna kuning dihiasi oleh bermacam ornamen dipinggirnya. Sumber : Buku Indonesia Indah Jilid ke-10 "Busana Tradisional" . Lembe. yang hanya digunakan oleh wanita bangsawan. Dalam busana pengantin ini. tampak adanya unsur-unsur Melayu. Selembar ondora. mahkota berbentuk ikat kepala dengan ujung meruncing segitiga ke atas. Demikian pula rai ni woli woli. kuning di bagian depan. Gela gela dan tali hu. Adapun kelengkapan busana ini adalah rai. sebagaimana menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. separuh leher dan lengan.busana wanita Nias disebut mukha. dan emas mendominasi busana pengantin Nias. wanita Nias mengenal beberapa jenis asesoris. adalah salah satu jenis anting terbuat dari emas. Kemudian dihias dengan mahkota atau rai. Untuk perlengkapannya mempelai wanita mengenakan seledra (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). maka kini untuk busana pengantinnya digunakan bahan beludru. Saat ini mahkota ini banyak digunakan sebagai bagian dari pakaian tari. yaitu asesoris wanita berbentuk tas berbahan bambu dengan hiasan manik-manik berwarna-warni. Fondruru ana`a. adalah nama jenis anting yang digunakan oleh masyarakat kebanyakan. yang disarungkan arah ke kiri. Busana pengantin Nias secara� keseluruhan pun nampak sederhana. Apabila di masa lalu. dikenakan untuk menutupi pinggang ke bawah (bentuknya mirip dengan kain panjang). Perhiasan yang dipergunakan adalah sialu fondreun (anting-anting). Sebagai kelengkapan busana upacara. kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya. Pengantin pria mengenakan celana hitam selutut. yang juga banyak digunakan oleh kaum bangsawan. sebuah selendang katun bermotif bunga berwarana kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna gelap kehitaman menjadi pelengkap busana ini. Baju berbentuk jubah hitam ayng berhiaskan motif binatang dari beludru merah dipadukan dengan kabo. Selain itu. merah. pakain tradisional Nias menggunakan bahan Wit kayu. sebelum mengenal pengaruh luar. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya.

Perbedaan busana pengantin Riau daratan dengan Riau kepulauan terletak pada hiasan kepala sebagai mahkota. sedangkan kaum wanitanya menutup kepala dengan sepotong kain yang berupa selendang. yakni dengan adanya kebiasaan untuk memakai celana dan kemeja yang dilengkapi dengan jas. sanggul biasa atau sanggul dua. badan dan tangan masing-masing dilengkapi dengan kain selempang. jurai. Akan tetapi baju teluk belanga ini biasa dilengkapi dengan sebilah keris yang diselipkan di pinggang. Bagian kepala ditutupi dengan peci atau songkok. atau baju pesak sebelah dengan kain sarung atau celana. Hiasan kepala yang dipakai pada upacara perkawinan Riau kepulauan terlihat lebih sederhana dibanding dengan Riau daratan. Biasanya busana macam ini bahannya terbuat dari kain songket. Dalam kehidupan sehari-hari. penggunaan busana dan kelengkapannya sangat tergantung pada si pemakai. meliputi juga kelengkapan kepala. satin atau sutera. kaum pria dan wanita di Riau biasa mengenakan baju kurung yang disebut baju gunting cina. Busana ini umumnya dipakai ketika badan sudah bersih dan akan menunaikan shalat atau hendak menerima tamu yang berkunjung kerumahnya. akan tetapi kain tudung kepala menutupi hampir seluruh tubuh pemakainya. Selain memakai selendang untuk menutup kepala. Berbeda dengan busana kaum pria. Untuk menghadiri acara formal. kita kenal juga istilah baju teluk belanga. Cincin dari emas dan perhiasan lainnya biasa dipakai kaum pria Riau terutama pada saat menghadiri pertemuan formal atau perhelatan. Pengaruh kebudayaan barat tampak juga pada busana kaum pria. semakin banyak perhiasan yang dipakai seseorang ia akan semakin disegani dan dikagumi. Pada kesempatan yang lebih formal atau ketika menghadiri upacara. cincin yang terbuat dari emas. namun pemakainya terbatas pada kalangan rakyat kebanyakan. Sesungguhnya busana tersebut bentuknya tidak jauh berbeda dengan baju cekak musang. antinganting. Namun jika akan memakai selendang warnanya harus disesuaikan dengan warna baju kurung. . tusuk sanggul. Meski fungsinya sama. dalam pemakaian maupun kelengkapan yang dipakai. Adakalanya perhiasan tersebut terbuat dari bahan suasa. kaum wanita Riau umumnya memakai baju kurung satu sut. Dalam pandangan masyarakat Riau. Kaum pria biasa menggunakan tutup kepala yang disebut kopiah atau songkok. Penggunaan selendang biasanya dipadukan dengan baju kebaya pendek. kelengkapan busana kaum wanita Riau umumnya lebih semarak. baju kurung leher tulang belut atau cekak musang dengan celana berikut kain samping dari bahan songket yang digunakan menutupi celana hingga sebatas lutut. Sandal atau kasut merupakan alas kaki yang lazim dipakai oleh kaum wanita dan pria Riau. sering pula digunakan kain tudung kepala. Untuk bagian dada. kaum wanita di Riau juga memakai perhiasan yang terdiri dari kalung. sepit rambut. kembang goyang. dan gelang kaki untuk bagian bawah. Di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Adapun busana yang dikenakan kaum pria Riau adalah baju gunting cina. Selendang tidak mutlak dipakai. gelang tangan. Kelengkapan pada kepala tersebut meliputi. sapu tangan kecil dan di pinggang melilit sebuah pending. Pakaian seharihari baik untuk di rumah atau di luar rumah berbeda dengan busana dan kelengkapannya untuk peristiwa khusus seperti upacara atau perjamuan resmi.Busana Tradisional Riau Riau Traditional Dress Penulis : Siti Dloyana Kusumah Bagi masyarakat Melayu Riau.

Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun. Bagian pinggir . Pakaian Adat Pria Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya. tangkai clan bunga yang akan mekar. bagian kepala dan rambut menggunakan penutup kepala yang disebut tanjak laksmana atau bisa juga bentuk tanjak temenggung dan tanjak menyongsong angin. dan sebagainya. Menurut anggapan mereka warna kuning adalah simbol warna kerajaan oleh sebab itu hanya boleh digunakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja Riau. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya. propinsi Jambi. begitu juga dengan perhiasan. namun bahan pembuatannya benar-benar berbeda. Lacak ini terbuat dari kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras.Aturan pemakaian keris ini adalah tidak nampak menonjol. hanya bagian hulu yang menyembul dari balik kain. Dalam berbusana sehari-hari pada awalnya hanya dikenal kain dan baju tanpa lengan. Busana Tradisional Melayu Jambi Jambi Malay Traditional Dress Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. karena ia mendapat julukan raja sehari. Warna kuning pun dipakai untuk busana pengantin. seperti Riau. Setelah adanya proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan. Sebutan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan suku Melayu yang berdiam di daerah lain. Meskipun bentuk dan coraknya sama. Kain sutera sangat biasa dijumpai dalam pembuatan busana kaum bangsawan. kepangkatan atau garis keturunan menjadi dasar pada perbedaan cara berbusana. Perbedaannya yakni tambahan mutu manikam atau intan berlian yang dibubuhkan pada perhiasan kaum bangsawan tersebut. Perbedaan bentuk ikat kepala tersebut. Masyarakat awam atau rakyat kebanyakan tidak diperbolehkan menggunakan warna kuning sebab dianggap tidak beradab. orang Riau pun mempunyai ketentuan khusus dalam menggunakan warna. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi. dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya. Selain dari segi kualitas yang membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat. sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Sumatera Selatan. pakaian sehari-hari berkembang menjadi baju kurung dan selendang sebagai penutup kepala untuk kaum perempuan. Pada umumnya ketika seorang pria mengenakan baju teluk belanga. biasanya disesuaikan dengan kedudukan seseorang dalam masyarakat atau bisa juga bentuk acara yang akan dihadiri. Dalam sistem kemasyarakatan Riau.

Sementara bunga pandan digunakan sebagai hiasan kepala bagian belakang yang dibuat menjurai ke bawah dan dilekatkan pada sanggul lintang. kembang tagapo. Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. bunga matahari. yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang. Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. dapat berupa bunga asli atau tiruannya. Bunga cempaka. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana). Hiasan kepala ini masih dilengkapi dengan berbagai macam tumbuhan. Kalungnya terdiri dari tiga . Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Tutup dadanya disebut teratai dada. Dalam mengikat tali ini digunakan teknik ikatan kajut untuk memudahkan dalam membuka nantinya. bunga matahari. Penempatan pohon beringin lebih tinggi dari bunga-bunga lain di sekeliling pesangkon. karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Pakaian Adat Wanita Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket clan selendang songket warna merah. Selain itu juga melambangkan sepucuk Jambi sembilan lurah. Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan. Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. seperi pohon beringin. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. bungo runci. sejenis kalung bermakna adanya pembagian kerja clan harus tolong-menolong. Bentuknya bergerigi menyerupai pucuk rebung atau bambu yang baru tumbuh. Konon. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning. Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan. dan pucuk rebung. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Keris diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati. clan bunga pandan. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul.sebelah kanan diberi lukisan tali runci. kembang cempaka. Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. bungo runci letaknya dibagi rata untuk mengisi bagian sebelah kiri clan kanan. Sebagai hiasan dada dikenakan rantai sembilan. ini dimaksudkan untuk menjaga sopan santun clan kehormatan kaum wanita (permaisuri raja). Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria.

selendang. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus. pending dan sabuk (ikat pinggang). yang disebut baselang atau pelarian.jenis. khususnya yang dikenakan para gadis. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung. Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada). Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. kecil dan besar. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani clan kiding (tempat padi). Pakaian Baselang Masyarakat suku Melayu Jambi yang mendiami sepanjang sungai Batang Hari sebagian besar hidup dari bertani. gelang ukuran sedang dua buah clan ikat pinggang yang berbentuk kotakkotak berangkai satu sama lainnya. Masih ditambah dengan gelang kano. Terlebih saat menuai. Motifnya digunakan daun pakis dan terawang yang diletakkan memanjang dari ujung ke ujung. Selebihnya polos. Kain songketn berwarna merah tua bermotifkan kembang melati pecah dan bagian pinggir bermotifkan daun pakis. Kesemuanya di pasang di lengan. yaitu kalung tapak. gelang ceper dan gelang buku beban. Teknik clan cara pertanian yang dijalankannya masih terhitung sederhana. Penulis : Dewi Indrawati . Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending. kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Kemudian baju kurung tanggung warna merah agak keungu-unguan dari beludru yang diberi sulaman pada bagian setengah badan ke bawah dengan motif bola-bola kecil berukir. di mana sebagian besar kegiatan dilakukan oleh bujang clan gadis. Acaranya sendiri dibedakan menjadi dua. Dilengkapi dengan selempang warna kuning dari bahan tetoron. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakan berfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain. Kelengkapannya terdiri dari sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung). dan karenanya memerlukan kerja sama atau bergotong-royong. Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan. kecuali bagian leher sebelah depan. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan. dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja.

celana panjang. yang sebenarnya merupakan kepanjangan dari kembang goyang di kepala sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergantung disebelah daun telinga. alas kaki beludru dengan corak-corak keemasan. sulaman emas berbentuk lempengan�lempengen bulat seperti uang logam. Sebagian pelengkap busana pada kepala dipakai detar dari kain songket emas atau perak. . Hiasan di sanggul atau konde biasanya terdiri dari sikek berbentuk bulan sabut. diselempang pada bagian dada kebelakang punggung membentuk huruf V. Jas tersebut dari kain bermutu seperti wol dan sejenisnya dan biasanya berwarna gelap seperti hitam atau biru tua. Sarung songket benang emas atau perak dalam warna serasi dari sutra merupakan perangkat busana yang dikenakan dari pinggang sampai dengan mata kaki. Demikian pula untuk celananya terbuat dari bahan dan warna yang sama. dipadukan dengan tusuk konde. Sarung dikenakan sebagai samping di bawah jas sampai sedikit di atas lutut. merah tua atau biru tua yang bertaburkan corak-corak sulaman atau lempeng-lempeng emas. mirip dasi dengan hiasan-hiasan benang emas. lembayung atau hitam. Pakaian adat pria Susunan busana adat pria terdiri atas jas. Jambi dan Riau. bersama-sama dengan antinganting berukir dari emas.Busana Tradisional Bengkulu Bengkulu Traditional Dress Dimasa kini busana adat Bengkulu yang populer adalah gaya Melayu Bengkulu yang tampak mendapat pengaruh dari gaya-gaya Melayu yang pada dasarnya terdapat dari seluruh Sumatera khususnya Minangkabau. Celana paduannya terbuat dari beludru dengan taburan corak�corak benang emas juga walaupun tidak selalu dalam warna yang sama dengan jas. Bahan baju kurung umumnya beludru dalam warna-warna merah tua. Perhiasan keemasan disematkan sebagai sunting-sunting pada sanggul di kepala. Pada bagian dada tergantung sebentuk lidah penutup. menyentuh bahu. biru tua. bertabur corak-corak. Pakaian adat wanita Kaum wanita Melayu Bengkulu mengenakan baju kurung berlengan panjang. Versi lain dari jas adalah sejenis jas tertutup dari bahan beludru hitam. alas kaki yang dilengkapi dengan tutup kepala dan sebuah keris. dan jumbaijumbai kiri dan kanan. Gaya busana ini dikenakan masyarakat untuk menghadiri pesta-pesta adat yang penting. sarung. Samping biasanya terbuat dalam teknik songket benang emas atau perak dan disebut sarung segantung. Sehelai kampuh dari satin sutra bersulam emas. cokonde balon. sebilah keris dan gelang emas di tangan kanan.

Bahannya dari kain batik. Alas kaki memakai selop bersulam emas. yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Bugis atau batik Jawa. Penulis : Biranul Anas Busana Tradisional Lampung Lampung Traditional Dress Daerah Lampung dikenal sebagai penghasil kain tapis.Di dada pada bagian atas kampuh bergantungan gelamor berukir. berlapis-lapisan dalam jumlah banyak. yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger. seperti perkawinan. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung. kain tenun bersulam benang emas yang indah. menurun sampai daerah pinggang yang dilingkari oleh sebuah pending berangkai yang terbuat dari emas. Pada penyelenggaraan upacara adat. Kain ini dibuat oleh wanita. yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin. Bagian bawah mengenakan senjang. Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang . Pergelangan tangan dan jari jemari dilingkari dengan mandering dan cincin permata. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain. yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. tapis yang dipenuhi sulaman benang emas dengan motif yang indah merupakan kelengkapan busana adat daerah Lampung. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija. yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal. ketika menghadiri upacara adat sekalipun. Dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh. Sebagai penutup badan dikenakan kawai. apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain.

menyanggul rambutnya (belatung buwok). Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Cara menyanggul seperti ini memerlukan rambut tambahan untuk melilit rambut ash dengan bantuan rajutan benang hitam halus. memiliki bentuk seperti baju kurung. perak atau suasa diberi mata dari permata. bunga cengkeh dan hiasan berupa ayam jantan. biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). seperti perkawinan kaum wanita. sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Kemudian rajutan tadi ditusuk dengan bunga kawat yang dapat bergerak-gerak (kembang goyang). Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid. pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Busana Tradisional Palembang Palembang Traditional Dress Penulis Sri Murni Biranul Anas . Pakaian mewah dipenuhi dengan warna kuning keemasan dapat dijumpai pada busana yang dikenakan pengantin daerah Lampung. Para ibu muda dan pengantin baru dalam menghadiri upacara adat mengenakan kain tapis bermotif dasar bergaris dari bahan katun bersulam benang emas dan kepingan kaca. Pada waktu mandi di sungai. tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain. Selambok/rattai galah. di tengahnya bermotifkan siger yang di kelilingi bunga tanjung. yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. juga dapat dikenakan selekap balak. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap. yaitu selendang sutra bersulam benang emas dengan motif tumpal dan bunga tanjung. Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling. kain ini dipakai sebagai kain basahan. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa. Di bahunya tersampir tuguk jung sarat. Khusus bagi wanita yang baru menikah. kecuali saat pergi ke ladang. Dikenakan pula kalai kukut. Selain itu. yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. yaitu selendang sutra disulam dengan emas dengan motif pucuk rebung. kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil. Mulai dari kepala sampai ke kaki terlihat warna kuning emas. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang). Selain itu. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. baik yang gadis maupun yang sudah kawin. Kelai pungew. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera.dililitkan. Untuk menghadiri upacara adat. yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan. yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri.

Setelah celana panjang dikenakan selembar kain yang disebut sewet bumpak. atau Eropa. seperti keris. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm. Semuanya terbuat dari kain songket (kain tenunan tradisional) Palembang. Pakaian sehari-hari Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet). Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo. dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. tumbak lado. Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan sejenis senjata tajam. badeek. Lasem. Kain ini dibuat dengan cara ditenun. Ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (lok cuan). tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas. Sebagai pakaian sehari-hari. atau bisa juga mengenakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga di bawah lutut. Tutup dada biasanya diberi hiasan permata. Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam. seperti kayu meranti payo atau ngerawan. Badong yang terkenal disebut badong jadam. Demikian juga baju (kelambi) biasa ditenun sendiri. diberi pinggiran benang emas. suasa. karena mereka menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala. Tutup kepala juga dibuat sendiri dengan cara ditenun. atau membeli bahan baju dari Jawa. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab. atau dapat juga dicap dengan cairan emas perada (diperadan). Sarung keris (pendok) terbuat dari emas. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki disulam (diangkeen) dengan benang emas. Pakaian kebesaran untuk lakilaki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan.Busana ini sebenarnya berasal dari masa-masa kesultanan Palembang sekitar abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 19. Pelengkap busana yang lain adalah keris. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan benang emas maupun benang biasa yang berwarna. dan ukuran celananya lebih lebar. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu. serta diberi tumpal benang emas. yang terbuat dari kain yang ditenun. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah. sebagai gantinya dikenakan kopiah sebagai penutup kepala. Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa. memakai kantong biasa. rambi ayam. baju (kelambi). tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah. ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas. Pakaian untuk di rumah tidak dilengkapi dengan alas kaki. India. Ada juga yang diberi batu permata. orang laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju beta booloo. Cina. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang. maupun diperadan. dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut Priyai. atau jembio. terbuat dari kain yang ditenun. dan memakai kantong terawangan. yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai ke mata kaki dengan motif lajur. yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh. Jenis celana yang lain disebut dengan celano lok cuan (celana pangsi. celana yang panjangnya sebatas lutut). . terbuat dari suasa. yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben). perak. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong. baik waktu bepergian maupun ketika sedang di rumah. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Saat ini sudah jarang orang yang memakai tanjak. iket-iket atau kopiah (kopca). atau perak dengan tatahan bermotif bunga. atau tembaga yang dilapisi emas. Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek. disulam. tanjak meler dan tanjak bela mumbang. atau Betawi. Indramayu. dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri. Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celano belabas.

rambut disanggul. sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua. yang dikenakan pada kepala. Pada saat menghadiri suatu upacara adat. Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan. Sebagai pakaian sehari-hari. berasal dari Jawa). sehingga yang nampak hanya mata dan hidung pemakainya. baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri). yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak.Pada saat akan bepergian. yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu. mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salah satu mas kawin. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak pernah dipakai lagi. dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang dikenakan. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya. dan dahi. atau las. Pada masa lalu. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam kantong dengan medalion. pakaian yang lazim dikenakan terdiri atas kain sarung (sewet saroong) batik yang halus. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya. kamhar. Semakin halus songket yang dimilikinya. Kemudian rambut ditata dengan sanggul. dada. Selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe rumbe). Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga. Busana untuk perempuan (wong betino) terdiri dari kain (sewet saroong). India. Mereka biasa mengenakan kain pelekat. dan tutup kepala (tengkoolook). dan untuk orang muda mengenakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo). busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang yang dikenakan melilit perut. dan Singapura. rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak. Busana Tradisional Priangan dan Cirebon Priangan and Cirebon Traditional Dress . baju kurung (kooroong) dengan panjang sebatas lutut. kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa). Busana ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Mereka juga mengenakan selendang (kemben). Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. serta dicampur dengan bunga-bunga yang harum). Sedangkan sebagai alas kaki dikenakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua. semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Jawa. yang halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. dan terompah atau selop. menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus. Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. serta gelang kaki (yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago). Baju yang dikenakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen. bahu. Cina.

Umumnya yang digunakan mereka adalah kain-kain batik buatan setempat seperti batik garutan. diikatkan pada pinggang atau dililitkan. Jawa dan Eropa terutama Belanda. Bentuk pakaian/busana tersebut merupakan perpaduan antara tradisi Sunda. Adakalanya dikerudungkan. Yang membedakan keduanya adalah. Kaum laki-laki di Priangan dan Cirebon mengenakan iket sebagai penutup kepala. baik di Priangan maupun di Cirebon. Untuk memperkuat dililitkan beulitan atau sabuk pada pinggang pemakai. Meskipun bentuk dasarnya sama namun terdapat variasi terutama dalam hiasan yang disesuaikan dengan keinginan/kebutuhan pemakainya. warna hitam atau putih. Zaman dahulu. bahan kebaya yang digunakan berbeda dari rakyat biasa. dilepas sampai pergelangan kaki. baik rakyat biasa maupun kalangan Keraton mengenakan baju sorong atau baju kurung. Laki-laki di Priangan dan Cirebon pada umumnya mengenakan sarung (poleng. masyarakat Jawa Barat khususnya di Priangan dan Cirebon terus mengembangkan model busana sesuai dengan perkembangan zaman dan berbagai ketentuan pemerintah yang turut pula mengatur tata cara berbusana masyarakat Jawa Barat. Di kalangan istri pembesar. sebatas lutut dan sedikit di atas lutut. Busana jajaka adalah baju takwa dan celana warna hitam dilengkapi dengan kain dodot dan tutup kepala bendo terbuat dari kain batik halus bermotif sama dengan kain dodot. Berkain kebaya pada dasarnya digunakan oleh kaum perempuan disemua lapisan. Untuk kesempatan resmi busana resmi wanita priangan dilengkapi dengan sehelai selendang berwarna sama dengan kebaya dan alas kakinya berupa sandal selop. dan dihiasi dengan pasmen. ciamisan bagi masyarakat Priangan dan batik dermayon atau trusmi untuk orang Cirebon Penggunaan kain batik yakni dililitkan pada bagian bawah badan. Di kalangan rakyat kebanyakan terbuat dari batik kasar. Yang membedakannya hanyalah bahan dasar iket tersebut. Di kalangan rakyat biasa baju yang dikenakan adalah potongan kampret. Pada masa pemerintahan Belanda. Adapun masyarakat Cirebon. . Namun demikian kalangan bangsawan tidak pernah menggunakan sarung pada kesempatan resmi. Khusus para bangsawan Cirebon menggunakan kain wulung. Biasanya mereka menggunakan bahan yang berkualitas tinggi seperti sutera atau beludru serta corak hias yang lebih anggun. polekat). Pada bagian kebaya dari leher sampai ujung bawah kebaya surawe terdapat hiasan dari pasmen. dari rakyat biasa sampai kalangan bangsawan Priangan maupun Cirebon. digunakan peniti. Cara memakai kain batik tersebut ada beberapa bentuk. Model ini sesungguhnya adalah bentuk dasar celana kaum bangsawan yang dihias dengan pasmen memanjang dari atas ke bawah pada bagian tengah samping sekeliling lubang celana. perempuan di Priangan dan Cirebon tidak mengenal lamban atau lepe (melipat bagian pinggir kain) namun kebiasaan tersebut baru dikenal sekitar dekade ketiga atau keempat abad 20 ini. demikian pula pada sekeliling lengan dan pada seputar bawah kebaya. pada busana pejabat terdapat lidah-lidah pada bagian leher yang berkancing kait atau kancing pentul. Bentuk kampret tersebut juga menjadi bentuk dasar dari model busana para pejabat dan kalangan bangsawan. Sama halnya dengan kebaya. dari pinggang hingga ke pergelangan kaki. pernah dikeluarkan peraturan tentang bentuk dan cara berpakaian bagi para bangsawan dan pejabat pemerintah pria saat itu. Iket tersebut kemudian berkembang menjadi bendo yakni tutup kepala yang terbuat dari kain batik yang dicetak menurut ukuran kepala tertentu. Sebagai penyambung belahan kebaya.Dari masa ke masa. baik di kalangan rakyat biasa maupun di kalangan bangsawan. sedangkan kaum bangsawan menggunakan kain batik halus. Adakalanya peniti itu terbuat dari logam mulia yang disambung-sambungkan dengan rantai kecil disebut panitih rantay. mereka lebih suka memakai kain batik halus. Cara mengenakan sarung ini sangat bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Celana panjang model komprang digunakan oleh laki-laki di Priangan dan Cirebon. kain batik pun digunakan pula oleh semua lapisan masyarakat. Aturan tersebut berupa keseragaman pakaian pada saat-saat tertentu. Oleh karena itulah pada busana pejabat atau bangsawan terdapat hiasan dari pasmen yang disesuaikan dengan tinggi rendahnya jabatan.

Dalam berbagai kesempatan khusus. berpengaruh kuat pada penggunaan kelengkapan busananya seperti perhiasan dan alas kaki. Seringkali pula perhiasan tersebut terdiri bukan hanya dari emas tetapi ditaburi dengan kilauan intan berlian. suweng pelenis baik yang terbuat dari emas atau perak. Bendo biasa digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat pemerintahan. gelang bahar.Bendo di Priangan dan Cirebon berbeda terutama pada bagian depan. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa zaman dahulu mereka tidak menggunakan alas kaki. mereka memakai selop yang pada bagian ujung atasnya dihiasi dengan manik-manik. Jika perhiasan kaum perempuan agak kompleks dan beragam. sebaliknya cara berbusana kalangan atas/bangsawan lebih banyak memperhatikan fungsi estetisnya. gelang emas dan giwang emas. ali meneng. Dengan demikian. tidak demikian halnya dengan kaum laki-laki. Untuk alas kaki. Kaum perempuan di kalangan rakyat kebanyakan. Penulis : Siti Dloyana Kusumah Busana Tradisional Baduy Baduy Traditional Dress Penulis : Jaya Purnawijaya . untuk tampil cantik cukup memakai busana sederhana dengan perhiasan gelang emas /perak. mereka baru memakai perhiasan dalam batas-batas tertentu. Kelengkapan Busana Priangan dan Cirebon Pada kalangan rakyat kebanyakan mengenakan busana biasanya lebih ditekankan kepada fungsi praktisnya. Sebagai alas kaki bisa memakai selop atau sepatu. Adapun perempuan di kalangan bangsawan Priangan dan Cirebon melengkapi busananya dengan seperangkat perhiasan yang terdiri dari kalung emas. Bagian depan bendo Cirebon terdapat garis selebar 4 cm yang makin ke dalam makin kecil. Di bagian belakang bendo Priangan terdapat ikatan simpul ujung-ujung kain. selop atau kelom sudah menjadi bagian dari berbusana. sedangkan rakyat kebanyakan tetap memakai iket. Perhiasan tersebut umumnya berupa cincin emas. namun kini sandal. hiasan jas di bagian dada terdiri dari rantai emas/perak dengan liontin dari kuku harimau.

Penduduknya menjaga. Banten Selatan adalah masih kokohnya tradisi yang diwariskan oleh karuhun mereka. . Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. radio dan televisi. disebut Panamping yang tinggal di 36 kampung luar dan Baduy Dalam. Perbedaan busana hanya didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat kepatuhan pada adat saja. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok masyarakat. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Tak ada listrik. termasuk busana yang dikenakannya pun adalah sama. disebut Kajeroan yang tinggal di tiga kampung utama. Potongannya tidak memakai kerah. tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. mengelompok menurut asal keturunan (tangtu) mereka. gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. melindungi pohon dan hutan di sekitarnya dengan baik. Bagi suku Baduy Luar. yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. baik untuk keseimbangan hidup antar sesama maupun kelestarian kehidupan alamnya. ada yang beranggapan bahwa busana suku Baduy saat ini merupakan bentuk busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam. Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi. busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna hitam. Barangbarang "modern" seperti sabun. yaitu Baduy Luar. model maupun corak busana Baduy Luar. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. desa Kanekes. Baduy Dalam. sarung tadi diikat dengan selembar kain. tangtu Cikertawana dan tangtu Cikeusik. Agar kuat dan tidak melorot. yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Kemudian dipadukan dengan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. model dan warnanya saja. Mereka bertutur dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno. tingkat umur maupun fungsinya. Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong. kelengkapan busana pada bagian kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Cara berpakaian suku Baduy Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. seluruh penduduknya adalah suku Baduy dan tidak bercampur dengan penduduk luar. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang sudah mulai mengenal kebudayaan luar. Oleh karena itu. kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. perbedaan itu hanya terletak pada bahan dasar. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar seperti itu dapat dilihat dari cara busananya berdasarkan status sosial. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggi-rendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat. tingkah laku. seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Kehidupan sehari-harinya bersahaja. Kalaupun ada perbedaan dalam berbusana. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang. cita-cita. kecamatan Leuwidamar. yang memiliki keyakinan. menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. karena pakaian tersebut dianggap barang tabu. piring. kosmetik. mereka berasal dari satu keturunan. Mereka tidak memakai celana. Baduy Dalam merupakan paroh masyarakat yang masih tetap mempertahankan dengan kuat nilai-nilai� � � budaya� � � warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh kebudayaan luar. Wilayah desa Kanekes merupakan tanah adat suku Baduy. Baduy Dalam. Peraturan adat sangat menentukan dalam sikap hidup suku Baduy. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah menenun dan cara berbusana. dengan ciri sub dialek Banten. Semuanya itu tabu (pamali). Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian dada saja. Lebak. yaitu tangtu Cibeo.Ciri khas suku Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng. Dalam pandangan suku Baduy. untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang. karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah. Melihat warna.

Bertenun biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. kain sarung. kain ikat pinggang dan selendang. Bagi wanita yang sudah menikah. Jenis busana yang dikerjakan antara lain. yang dipadukan dengan warna merah. biru. biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas. kecuali baju adalah sama. melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang melekatnya. yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup. Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Dimulai dari menanam biji kapas. karembong. Topi pengantin laki-laki yang berasal dari tanah suci Mekah ini tingginya 15 . kain wanita. biru tua dan putih. selendang dan ikat kepala. Dari model. biasanya wanita Baduy memakai kebaya. Memang. ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja. dipintal. kemuduan dipanen. Busana Tradisional Betawi Betawi Traditional Dress Pengantin laki-laki dengan dandanan cara haji. kain tenunan sarung berwarna biru kehitamhitaman. baik Kajeroan maupun Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Rasanya busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada.Kelengkapan busana bagi kalangan kali-laki Baduy adalah amat penting. Model. potongan dan cara berbusananya saja. potongan dan warna pakaian. baju. masyarakat suku Baduy menenun sendiri dan dilakukan oleh kaum wanita. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya. sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup.20 cm dan dililit dengan . yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih. pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar untuk melindungi tubuh saja. biasanya menggunakan tutup kepala yang disebut alpia atau alpie. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya. Sedangkan. Untuk pakain bepergian. ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Selain itu. busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy. Bagi Baduy Dalam maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya. sedangkan selendang berwana putih. Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya. Warna baju untuk Baduy Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. secara sepintas orang akan tahu bahwa itu adalah suku Baduy.

Sebelum mengenakan jubah. yang kemudian dirangkai menjadi susunan delapan daun teratai yang simetris. sehingga membentuk 3 (tiga) tingkat lingkaran. yang disimbolkan dengan tidak boleh dilihatnya wajah mempelai putri oleh orang lain. Motif-motif hiasan emas. Ron je atau untaian bunga melati yang ujung bawahnya ditutup bunga cempaka dan ujung atasnya diberi sekuntum mawar merah. Siangko bercadar selalu berwarna emas. atau bahan perak. bunga-bunga sampai motif burung hong. Kun juga di beri hiasan benang tebar dengan kombinasi sesuai tatahan motif pada tuaki.sorban kain. Lengan panjangnya diberi benang karet pada pergelangan. merupakan pertanda apakah pengantin wanita mampu menjadi ibu rumah tangga yang mampu memelihara kebersihan fisik dan rohani dalam kehidupan berumah tangga atau tidak. Salah satunya yang unik adalah siangko bercadar yang melambangkan kesucian seorang gadis. biasanya digunakan sepatu kulit dengan kaos kaki yang merupakan pengaruh Belanda sejak abad ke 19. diletakkan sigar atau mahkota dengan motif bungabungaan yang dipenuhi permata. adalah baju bagian atas (blus) yang dikenal memiliki 2 (dua) model. Biasanya kumis dan cabang juga dirapihkan agar tampak bersih. Tuaki. gading atau kadang-kadang kuning. yaitu perhiasan penutup dada dan bahu adalah salah satu ciri yang sangat khas. baik dari bahan satin ataupun beludru. daerah sekitar dada. Ketiga tingkat lingkaran ini melambangkan siklus kehidupan yang dimulai dari kelahiran. masih ada pula pengantin yang mengenakan selop atau terompah. Panjang cadarnya 30 cm. Terkadang di bagian atas disematkan sepasang kembang goyang. tampil begitu meriah dengan perlengkapan yang serba unik. Dipakai di belakang sanggul sebagai penutup ikatan siangko bercadar. Tuaki bentuk baju kurung. Bagian jubah ini. kubah mesjid dan lain sebagainya. panjangnya sebatas pinggul. kehidupan dan kematian. Warna yang terbuat dari bahan polos ini pun disesuaikan dengan warna tuaki. Biasanya diberi pemanis dengan tambahan kain pada pinggiran bawah tuaki yang dirimpel keliling. Panjang lengan agak longgar. Saat ini banyak digunakan mote pasir dengan gumpalan benang wol merah di ujungnya. warna putih. Busana yang dikenakan berupa jubah terbuka. Mengenai tata rias wajah. mote atau manik-manik yang diletakan di ujung lengan. tidak ada yang khusus. dan model baju kurung (Melayu). serta gemerlapan hiasan tuaki dan kun ini melambangkan suka cita dan keceriaan kedua pengantin dan seluruh kelua-rganya. bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. terbuat dari manik-manik. siangko lainnya jumlah 3 (tiga) buah. Gamis lebih panjang sekitar 10 cm dari jubah. Padanan tuaki adalah kun. Teratai ini berjumlah 8 (delapan) lembar kecil. modelnya seperti baju kurung Melayu umumnya. Aslinya adalah emas. Hiasan rambut lainnya adalah tusuk paku atau kembang paku berjumlah . Biasanya dihiasi batu-batu permata. biasanya dihiasi dengan emas dan manik-manik bermotif burung hong. Di atas Siangko bercadar ini. diletakkan sebanyak 3 (tiga) untai di pinggir kiri alpia. Bersih atau tidaknya tengkuk yang tampak. yang kemudian dipadatkan dengan tusuk konde. Warna-warna cerah yang dipilih. Sebagai alas kaki. Caranya adalah dengan melilitkan secara berputar. Keunikan lainnya terdapat pada tata rias di bagian kepala. bunga-bungaan. Dari ragam hias geometris. Ciri khas model shianghai adalah krahnya yang tertutup. Siangko bercadar yang berfungsi menutupi wajah pengantin wanita merupakan lambang kesuciannya. Hiasan ini terbuat dari bahan beludru bertatahkan hiasan logam pada permukaannya dengan motif bunga tanjung. Model baju yang sangat sederhana pada busana adat pengantin wanita Betawi ini. Namun. Model yang mengikuti bentuk badan sipemakai. Syarat utama dari tuaki ini adalah bahannya yang polos. bagian bawah baju sangat bervariasi. yaitu model shianghai (Cina). karena aslinya terbuat dari emas. Sebuah selempang berhiaskan mute sebagai tanda kebesaran pun dikenakan boleh di dalam maupun di luar jubah. yaitu rok melebar ke bawah dengan panjang sampai ke mata kaki. Teratai. namun saat ini umumnya menggunakan mute. Hiasan kepala yang digunakan cukup kompleks. Keterpaduan berbagai unsur budaya muncul dalam kekayaan busana pengantin wanita Betawi yang terkesan meriah. yang agak longgar dan besar. Selain yang bercadar. Rambut disanggul dengan model buatun atau konde cepol tanpa sasakan. Letak sanggul di tengah-tengah agak ke atas memperlihatkan tengkuk pengantin. biasanya seorang pengantin laki-laki memakai gamis (baju dalam) polos berwarna muda yang panjangnya kira-kira sampai mata kaki -dan tidak boleh melebihnya. Hanya sedikit bedak yang ditaburkan di wajah agar terkesan rapi.

Letak burung hong ini juga memiliki arti tersendiri. Tusuk bunga atau kembang tancep berjumlah 5 buah yang melambangkan rukun Silam. Mempelai putri menggunakan baju kurung tabur. yang berkaitan dengan kecocokan antara pihak keluarga kedua pengantin. Hiasan burung hong atau dikenal dengan sebutan kembang besar atau kembang gede adalah hiasan lain yang tidak boleh ketinggalan. juga dikarenakan sebagai hiasan rambut bersama dengan 2-4 buah kembang kelapa yang dipasang di kiri dan kanan sanggul. dengan ujung melengkung ke atas dan dihias dengan tatahan emas dan manikmanik. Apabila kembang goyang melambangkan pengakuan terhadap 20 sifat kebesaran Allah. Keunikan juga tampak pada alas kaki yang digunakan. Kembang goyang yang berjumlah 20 buah. Dari hiasan kepala pengantin wanita yang telah dikemukakan. sebagai pelengkap yang menunjang keserasian. Sementara itu. Selain perhiasan untuk kepala. Apabila sunting ini dipakai oleh seorang pengantin yang tidak perawan atau tidak gadis lagi.10 buah atau lebih yang dimaksudkan sebagai penolak bala. Selain sunting. Jumlahnya yang empat buah melambangkan 4 (empat) sahabat Rasullullah. pisau raut. sarung songket. sejahtera dan bahagia. pengantin laki-laki mengenakan stelan jas lengkap dengan kopiah hitam dan kacamata hitam. biasanya telinga pengantin dihias dengan sepasang kerabu. ikat pinggang dan iiskoi motif lokcan. atau mute. kuat seperti pohon kelapa. umumnya hanya merupakan sepuhan warna emas. bagi mempelai pria terdiri dari jas tutup. pergelangan tangan dan jari pengantin wanita. Busana pengantin rias bakal. gelang bahar. Gelang listring dan gelang selendang mayang. dengan busana wanita Betawi sehari-hari. celana panjang. Namun saat ini. Adapun pakaian yang kini dikenal dengan busana "Abang dan None Jakarta" merupakan kombinasi dari busana pengantin rias bakal untuk pria. pengantin wanita juga mengenakan perhiasan berupa kalung tebar yang dipakai melingkar leher di atas teratai Betawi. Sementara ruruban merupakan tanda kesuciannya. Tusuk konde berupa pasak berbentuk huruf leam (huruf Arab) merupakan simbol pengakuan akan keesaan Allah ditusukkan di atas siangko kecil penutup simpul tali cadar. Variasi pakaian pengantin Betawi ini dapat ditemui di beberapa daerah. Penulis Endang Mariani . kewajiban yang harus dijalankan oleh pengantin sebagai seorang Muslim. bros dan untaian melati. selendang dan celemek. Tanda bulan sabit berwarna merah ini merupakan perlambang bahwa di gadis telah menjadi pengantin. maka si pemakai akan pusing-pusing dan bahkan pingsan. Sebelum rerurub atau ruruban. Busana ini biasanya dikenakan setelah akad nikah. burung hong sendiri dianggap sebagai simbol burung surga yang melambangkan kebahagiaan kedua pengantin. Sementara hiasan kepalanya tidak serumit dandanan rias besar putri. sedangkan hiasannya lebih banyak menggunakan mute. yang wajib diturunkan dan diajarkan pada anak keturunannya kelak. Kerabu ini merupakan perpaduan anting dan giwang yang dijadikan satu. Mempelai wanita mengenakan selop berbentuk perahu kolek. maka kembang kelapa merupakan simbol pengharapan agar perkawinan yang dilakukan tetap kokoh. yaitu sebuah kerudung dari kain halus dan tipis. sehingga akan menjadi perkawinan yang langgeng. Aslinya seluruh perhiasan yang dikenakan oleh pengantin wanita Betawi terbuat dari emas dan dihiasi intan permata. di beberapa daerah di atas dahi pengantin diberi tanda berbentuk bulan sabit. Nabi Besar Muhammad SAW. satu bentuk perhiasan yang dipercaya memiliki kekuatan magis adalah sunting atau sumping telinga. Seperti misalnya di daerah pinggiran. serta cincin emas yang berhiaskan permata menjadi hiasan lengan. ditutupkan ke seluruh riasan wajah pengantin wanita. Perlengkapan busana ini adalah kuku macan. yang juga dilengkapi dengan mahkota dan kacamata. Sementara pengantin wanita memakai slayer dan sarung tangan putih.

Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. kuning. yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut. seperti pada upacara adat misalnya. bagian kepala rambutnya digelung (sanggul). Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. wanita Jawa mengenal dua macam kebaya. baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada harihari tertentu saja.Busana Tradisional Jawa-Solo Javanese Solo Traditional Dress Busana Kebaya Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa. Jawa Tengah adalah baju kebaya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). lurik atau bahan-bahan sintetis. baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah. dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang. baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik. sutera yang berbunga maupun . Saat ini. Panjangnya kebaya bervariasi. ketiak dan punggung. Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun. kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru. khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas. brokat. hijau. sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Oleh karena itu. putih. mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Dewasa ini. Kemben dipakai untuk menutupi payudara. cincin. kain sunduri (brocade). kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera. biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. nilon. Sedangkan. kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen.

Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda. yang disesuaikan dengan tahapan upacara. Bali dan Madura. Selain kain lurik. seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana. pengantin wanita memakai busana kejawen dengan . Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa.nilon yang bersulam. Kepulauan Sumbawa. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut. brokat. Sedangkan. Jawa Tengah. perhiasan yang dipakai juga sederhana. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi. panggih dan sesudah upacara panggih. lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. pada kepala memakai destar (blankon). kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton. dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam. Dewasa ini. Potongan dan model kebaya Jawa. Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru. Namun pada saat upacara perkawinan. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar. ijab. Sedangkan. gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul. biru sedang dengan hitam. dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. tetapi biasanya tanpa memakai selendang. kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. keris dan alas kaki (cemila). yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang. khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya. sutera maupun nilon yang bersulam. Busana ini dinamakan Jawi Jangkep. bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. stagen untuk mengikat kain samping. Kalangan wanita di Jawa. serta dua buah lengan baju. dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam. yang juga dipakai di Sumatera Selatan. daerah pantai Kalimantan. biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di . Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. yaitu midodareni. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua. tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Busana Basahan Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta. baju lengan panjang. Pada upacara midodareni. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. cincin. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa. ikat pinggang besar. tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan. Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka. ungu dengan hitam. Dalam adat busana perkawinan misalnya. kain samping jarik. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Sedangkan busana di kalangan pria. Baju ini terdiri dari dua helai potongan. Sebab. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini.bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung. maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde. baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.

perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul. sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. stagen. Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. keris dan selop. cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka. berupa dodot bangun tulak. Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis. melainkan terdiri dari semekan atau kemben. pilin. sabuk timang. warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kirakira 4-5 meter. sabuk lengkap dengan timang dan cinde. subang dan timang atau epek. yang terdiri dari baju atela. celana cinde sekar abrit. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan. pipi dan bibir. Sedangkan bagi pengantin wanita. Saat upacara ijab. gelang. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep. tumbuh-tumbuhan (bunga teratai. hewan (misal : burung. pada upacara setelah panggih. udeng. mata. seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. pengatin pria pun memakai busana adat basahan. Pengantin wanita memakai busana adat bersama. dodot bangun tulak. awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai. Bagi pengantin pria. basahan. sikepan. sabuk timang. . Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam. stagen. yang melambangkan kesuburan. misalnya untuk menutup aurat. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal. stagen. Fungsi pakaian. cincin. keris warangka ladrang dan selop. Busana basahan adalah tidak memakai baju. biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. alis. selop dan perhiasan kalung ulur. dodot bangun tulak. kain jarik. cincin. kolong karis. Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. melati) maupun alam dan manusia. yang terdiri dari kuluk kanigoro. maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak. ular. jungkat. stagen dan selop. keris warangka ladrang. keris warangka ladrang dan selop. dalam busana adat perkawinan. maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. kain jarik. dodot bangun tulak atau kampuh. epek.warna sawitan. bros. yaitu terdiri dari baju kebaya. baju takwo. sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. naga). swastika (misalnya bintang dan matahari). ikal rangkap dan pilin ganda. Sama halnya dengan pengantin wanita. stagen dan kain jarik dengan corak batik. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur. dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Pada upacara panggih ini. bros dan buntal. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. timang/epek. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. centung. celana panjang warna putih. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang. pengantin wanita memakai busana kanigaran. Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya. sabuk timang. terdiri dari kuluk matak biru muda. kalung. Sebagai kelengkapan. kain jarik. kerbau. sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris. Sedangkan kain sido mukti.

khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam. dan siapa yang mengenakannya. usia. kemudian disusul dengan masa kemerdekaan. Mereka terdiri dari golongan-golongan sesuai dengan fungsi dan jabatannya. serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas. di samping pakaian sehari-hari yang secara rutin dikenakan.1945). Bagian atas meliputi tutup kepala dan tata rias rambut (sanggul. pakaian ini diterima di kalangan masyarakat Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu. Dalam perkembangan selanjutnya. seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. dan bagian bawah. serta bagian bawah berupa alas kaki. dan status sosial. tetapi tetap terpelihara dengan baik dan selalu dimunculkan pada saat-saat penting. sosial dan simbolik. Pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian yang memiliki unsur unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Misalnya pada masa penjajahan Jepang (1942 . dan lain-lain) dan perhiasan (aksesori). Lebih-lebih pada saat penyelenggaraan upacara adat pakaian tersebut dikenakan secara lengkap. Sejalan dengan perkembangan zaman. pakaian adat tradisional kraton Yogyakarta yang sempat dikenal di kalangan masyarakat luas banyak dikenakan oleh golongan masyarakat biasa. diantaranya melalui bentuk pakaian yang harus dikenakan. yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. Pemakainya dapat digolongkan berdasarkan jenis kelamin. saat bekerja. Namun demikian. Pakaian tersebut dikenal sebagai pakaian adat tradisional yang resmi dan khas Yogyakarta. Sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status individu lainnya. fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin. yang mana pada waktu itu ekonomi negara kita dalam keadaan kacau. usia. dan saat bepergian. dan status sosial pemakainya. Pakaian khusus itu akan muncul secara menarik dan berwibawa. dan yang pada gilirannya jarang dijumpai lagi. Dari pembagian tersebut dapat digolongkan lagi jenis-jenis pakaian berdasarkan jenis kelamin. cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat.Pada masyarakat di Jawa Tengah. merupakan lembaga resmi yang dipimpin oleh seorang raja dan para kerabatnya yang disebut pegawai istana atau abdidalem. religius. Secara keseluruhan seperangkat pakaian terdiri atas bagian atas. bagian tengah. Penulis Jaya Purnawijaya Busana Tradisional Yogyakarta Yogyakarta Traditional Dress Kraton sebagai suatu pusat institusi dan tata pemerintahan. di man dikenakan. sebagai miliknya sendiri dan pemberi identitas. Demikianlah secara keseluruhan pakaian adat itu tidak pernah musnah dilanda kemajuan zaman. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. dan sebagainya). konde. bagian tengah terdiri dari baju (kebaya. Pakaian adat tradisional Kraton Yogyakarta yang sudah jarang dijumpai lagi akhir-akhir ini. estetis. yang secara visual ditandai pula oleh cara dan bentuk pakaian. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. pada saat-saat tertentu akan muncul kembali dalam suatu upacara adat yang meriah dan menarik perhatian masyarakat umum. fungsi estetis. pakaian atau busana menurut kepangkatan tidak begitu diperhatikan lagi. Adapun yang dimaksud dengan pengertian pakaian sehari-hari di sini adalah seperangkat pakaian yang dikenakan di rumah. kapan dikenakan. . Demikian pula pakaian dari suatu daerah dapat dibedakan atas pakaian sehari-hari/kerja dan pakaian upacara/pesta adat. pakaian resmi semacam itu lama kelamaan tidak lagi dikenakan secara lengkap.

gelang berbentuk ular (gligen) atau model sigar penjalin. berfungsi sebagai penutup dada. jumenengan dalem. Sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. dan cincin. yang panjangnya diukur dari dada sampai di atas pusar. yang menunjukkan status sosial pemakainya sebagai putri Sultan sampai dengan cicit Sultan. baju surjan. kalung dinar. Kelengkapan pinjung padintenan terdiri atas kain batik. Kelengkapan busana kanigaran pada dasarnya sama dengan busana dodotan. burung garuda. kamus. dan kaprajuritan. dan perkawinan. Busana untuk anak laki-laki model kencongan terdiri dari kain batik yang dikenakan dengan model kencongan. kamus songketan. rante. Hanya saja jika busana dodotan dikenakan tanpa baju. garebeg. Jenis busana ini dibedakan atas busana dodotan. yang khusus dikenakan para putra Sultan. tanpa baju. atau gringsing. serta mengenakan perhiasan berupa subang. perkawinan. serta sedan (pemakaman jenazah raja). lonthong tritik. Rangkaian busana ini terdiri dari nyamping batik. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan model konde. Rangkaian busana dodotan terdiri dari kuluk biru dengan hiasan mundri (nyamat). Busana ini lazim dikenakan pada upacara garebeg. Sedangkan busana seharihari bagi pria remaja dan dewasa terdiri dari baju surjan. serta mengenakan cathok dari perak berbentuk kupu-kupu. gelang. Agustusan. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai penutup dada. dan keris branggah. pethat jeruk sak ajar. cincin. kamus songketan. lonthong tritik. serta mengenakan dhestar sebagai tutup kepala. Busana kebesaran yang dikenakan dalam semua kegiatan ini disebut busana keprabon. timang. maka busana kanigaran ini dilengkapi dengan baju sikepan bludiran. Penulis Dewi Indrawati . kanigaran. ikat pinggang kamus songketan bermotif flora atau fauna. baju kebaya katun. Busana Kebesaran Untuk Upacara Ageng Pengertian upacara ageng adalah kegiatan seremonial dari rangkaian upacara supitan. atau merak. Sebagai perhiasannya adalah subang. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. moga renda berwarna kuning. Untuk putri yang sudah dewasa mengenakan busana semekanan dalam kesehariannya. kampuh konca setunggal.Busana yang dirancang untuk anak-anak terdiri dari busana kencongan untuk anak laki-laki. baju kebaya katun. tingalan dalem tahunan. jumenengan dalem (penobatan raja). dana cindhe gubeg. serta pisowanan dalam upacara perkawinan. Lipatan kain (wiru) berada di sebelah kiri. memakai lonthong tritik. kain batik dengan wiru di tengah. baju katun. ceplok. dan busana sabukwala untuk anak perempuan. supitan. timang (kretep). Remaja putri mengenakan busana yang disebut pinjung. lonthong tritik. Pengertian kata semekan berupa kain panjang yang lebarnya separuh dari lebar kain panjang biasa. sanggul tekuk polos tanpa hiasan. semekan tritik. Perhiasan yang dikenakan sebagai pelengkap terdiri dari subang. karset. gelang. tingalan dalem tahunan. Sedangkan busana harian bagi putri raja yang sudah menikah terdiri atas semekan tritik dengan tengahan. kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang (dinar). serta sapu tangan merah. Jenis busana ini lazim dikenakan pada upacara Agustusan. Kainnya bermotif parang. Rangkaian busana ini terdiri dari kain (nyamping) batik. Perhiasannya berupa subang. ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). kain batik. Busana sabukwala padintenan dikenakan oleh anak perempuan berusia 3-10 tahun. udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang).

umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong. celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. status sosial maupun kegunaannya. terutama kaos bergaris yang digunakan. baju pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Perbedaannya adalah pada odheng. baju pesa`an. Dalam penggunaannya. Sebenarnya. lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. baik sebagai busana sehari-hari maupun untuk keperluan upacara.Busana Tradisional Madura Madura Traditional Dress Penulis Endang Mariani Meskipun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang. Kalangan pedagang kecil. Jaman dahulu. bera` songay atau toh biru. Garis-garis tegas merah. dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat. Oleh karena kebudayaan Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa. tutup kepala yang dikenakan. Warna hitam ini melambangkan keberanian. baik sebagai busana sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Masyarakat umum mengenal pakaian khas Madura. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya. secara umum sebagaimana busana Solo dan Yogya. maka jenis dan bentuk busananya pun memiliki beberapa kesamaan dengan busana dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Secara umum masyarakat sukubangsa Madura mengenal perbedaan busana berdasarkan usia. jenis kelamin. dalam menghadapi segala hal. Sebaliknya para nelayan. yaitu hitam dan putih. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai. masyarakat mengenal baju pesa`an dalam dua warna. Untuk sehari-hari odheng yang digunakan adalah odheng peredhan dengan motif storjan. di dalamnya. Bentuk baju yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. pakaian yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. kalangan bangsawan biasanya menggunakan rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah. Perlengkapan busana . Berbeda dengan rakyat kebanyakan. teguh dan keras. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. Pada masa sekarang. seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih. kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam. ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya.

Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek dan ada pula yang sampai perut. Oleh karenaitu mereka tidak mengenal warna-warna lembut. garik atau jingga. Sebagaimana senjata bagi laki-laki Madura. Adapun cucuk dinar. motif maupun cara pemakaian. Hiasan rambut berupa cucuk sisir dan cucuk dinar. Termasuk dalam memilih warna pakaian maupun aksesoris lainnya. yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. termasuk kelengkapan pakaian yang membedakan penampilan dan kewibawaan seorang bangsawan dengan rakyat biasa. Hampir sama dengan gelung wanita Bali. Pada saat menghadiri acara resmi. serta bersifat terbuka dan terus terang. Ramuan jamu-jamu Madura diberikan semenjak seorang gadis cilik hendak berangkat remaja. Warna biasanya merah. pelintiran ujung simpul bagian belakang yang tegak lurus melambangkan huruf alif.seperti sap osap (sapu tangan). Alas kaki yang digunakan adalah sandal jepit. Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan. Untuk orang yang sudah sepuh (tua). sehingga membuat si pemakai harus sedikit mendongak ke atas agar odheng tetap dapat bertengger di atas kepalanya. dulcendul. Kaum wanita Madura umumnya mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. mengandung makna "betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapangan dada". namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan. Rambut wanita Madura itu sendiri. dengan ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan. sabuk katemang. maka derajat kebangsawanan semakin rendah. pada odheng tongkosan kota. Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura. jepit kain. Bentuknya agak bulat dan penuh. bermata selong dengan . pemberani. keduanya terbuat dari emas. Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak. Keindahan lekuk tubuh si pemakai akan tampak jelas dengan bentuk kebaya rancongan dengan kutang pas badan ini. yang sangat menghargai keindahan tubuh. Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah. Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura. Semakin miring kelopaknya. Kutang ini ukurannya ketat pas badan. terdiri dari beberapa keping mata uang dollar. Harnal bubut dari emas. Semuanya dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang indah dan padat. Pada odheng peredhan. Sementara itu. Untuk penguat kain digunakan odhet. Ikatan odheng juga memiliki arti tertentu. bentuknya agak lonjong dan pipih letaknyapun miring. Sebum dhungket atau tongkat. kemudian digelung sendhal. Perhiasan yang dikenakan oleh wanita Madura. semakin tinggi dewajat kebangsawananan. yaitu huruf awal dalam bahasa Arab. Bentuknya seperti busur. Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. kuning atau hitam.5 meter. Warna dasarnya putih dengan motif didominasi warna merah. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai. baik dari ukuran. umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal. hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya yang tipis tembus pandang atau menerawang. juga memiliki daya tarik yang unik. jam saku. rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota. storjan atau lasem. perhiasanpun menjadi pelengkap yang utama bagi busana kaum wanitanya. sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. bermotif modang. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan. mulai dari kepala sampai kaki. Ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Cucuk sisir biasanya terdiri dari untaian mata uang emas atau uang talenan dan ukonan. Demikian pula berbagai pantangan makanan yang tidak boleh dilanggar. padat dengan kuncir sisa rambut yang terletak tepat di tengah-tengah rambut. terbuat dari tenunan bermotif polos. dan perhiasan lainnya terutama selok (seser) atau cincin geleng akar (gelang dari akar bahar). Sementara di daerah Madura Timur. biasanya disisir ke belakang. serta pemakaian penggel. Letak sanggul umumnya agak tinggi. Odhet adalah semacam stagen Jawa. simpul mati di bagian belakang dibentuk menyerupai huruf lam alif. stagen. yang merupakan simbol dari kalimat pengakuan akan keesaan Allah (Laa illaahaillallaah). Arloji rantai acap digunakan.

Bahan kebaya biasanya beludru.panjang sekitaar 12 cm berukuran agak lebih besar dari harnal pada umumnya juga dipakai untuk menghiasi rambut. tatarias wajah wanita Madura pun cukup unik. Perhiasan lain yang umumnya dikenakan sebagai kelengkapan busana adalah anteng atau shentar penthol yang terbuat dari emas. bahkan lebih. dengan berat perak ada yang mencapai 3 kg. Dahulu leng pelengan dibuat dengan cubitan tangan. Liontin atau bandul yang digunakan biasanya berbentuk mata uang dollar (dinar) atau bunga matahari. Bentuknya sama dengan gelung malang. telinga. lebih banyak dihiasi intan atau berlian. Untuk wanita yang sudah berumur dan berpangkat. Rambut wanita muda digelung malang. Wajah dihiasi dengan jimpit di bagian kening kanan. Warna gelap dan tidak bermotif. bermotif polos dengan berbentuk bulat utuh sebesar biji jagung. Berat kalung itu rata-rata 5-10 gram. Ujung bawah kebaya berbentuk bulat. Sebagai pelengkap kebaya rancongan. penggel adalah salah satu yang paling unik. sedangkan gigi dihiasi dengan apa egan. Sementara sepasang cincin dengan motif yang sama dengan gelang dikenakan sebagai hiasan jari. Tergantung kemampuan si pemakai. semakin panjang untaiannya berarti semakin tinggi kemampuan ekonomi pemakainya. penggel juga berfungsi untuk membentuk keindahan tubuh wanita Madura. Selain itu masih ada motif pale obi yang menyerupai batang ubi melintir. Giwang kerambu dan kalung rantai berliontin markis yang terbuat dari emas bertaburan berlian juga dikenakan. wanita bangsawan tidak menonjolkan kekayaannya melalui bentukbentuk perhiasan yang menyolok dan cenderung berat. Penggel merupakan hiasan kaki dari emas atau perak yang dipakai pada pergelangan kaki kiri dan kanan. terbuat dari emas dan bermotif polos. digunakan gelung mager sereh. yang terbuat dari handul besar atau kain tebal disebut leng o leng. Untuk acara resmi wanita bangsawan Madura mengenakan kebaya panjang dengan kain batik tulis Jawa atau khas Madura. Sebuah tutup kepala. Saat ini. Tempat yang dijimpit disebut leng pelengan. Berbeda dengan yang dikenakan rakyat kebanyakan. Demikian pula gelang tangan dan hiasan jari berupa cincin emas bermata berlian. tetapi semua ukelnya diisi kembang tanjung dan kembang pandan. Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri dengan motif tebu saeres. tangan dan kaki umumnya kecil. menjadi ciri tersendiri pada kelengkapan wanita Madura. Alas kakinya berupa selop tutup. di dalamnya diberi potongan daun pandan sebagai penguat. kiri atau dahi. berbentuk seperti keratan tebu merupakan kelengkapan lain yang sering dipakai. dilengkapi dengan karang melok dan duwek remek. Motif hiasan kalung Madurapun terkenal karena ciri khasnya. namun adapula yang mencapai 100 gram. Bentuknya seperti angka delapan melintang yang melambangkan tulisan Allah. Namun. leher. Selain fungsi ekonomi yang juga dapat menunjukkan status ekonomi si pemakai. Semakin banyak jumlah dinarnya. kebanyakan berupan olesan alat kosmetik berupa garis membujur sekitar 1-2 cm dan berwarna merah. Penggel adalah simbol kebanggaan wanita Madura. yaitu hiasan dari bunga-bungaan. Kalung brondong yang berupa rentangan emas berbentuk biji jagung adalah kalung khas Madura yang biasanya dikenakan bersama liontin. baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat biasa. Hiasan rambut terdiri dari cucuk emas dengan motif ular atau bunga matahari. Peniti cecek atau pako malang adalah hiasan kebaya berbentuk paku yang melintang bersusun tiga dan dihubungkan dengan rantai emas. Gelang kaki yang terbuat dari emas atau perak. Dari seluruh jenis perhiasan yang biasa dikenakan wanita Madura. aapabila digunakan untuk berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari tentunya akan menguatkan otot-otot tertentu. Busana Tradisional Tengger Tengger Traditional Dress Penulis Endang Mariani . Selain busana dan perhiasan khas wanita Madura. Bentuk perhiasan yang digunakan untuk rambut. berupa lapisan gigi yang terbuat dari emas atau platina. Mata dihiasi dengan celak Arab. Anteng atau anting ini dikenakan di telinga. digunakan peniti dinar renteng. serta motif mon temon berupa untaian emas berbentuk biji mentimun.

Pengaruh Hindu . Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kawasan ini meliputi 4 (empat) Wilayah Kabupaten. mereka menggunakan kain sarung yang dilipat dua. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Dalam hal berbusana. Untuk bekerja. kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. yaitu yang disebut baju anta kusuma atau rasukan dukun.masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri. Saat bertamu. membuat masyarakat Tengger memiliki ciri khas yang berbeda dengan masyarakat Jawa. mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat. yang disebut sampiran. yang tetap dilaksanakan dan mengundang perhatian masyarakat luar. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. yaitu : Lumajang. dan Pasuruan. Kedudukan seorang dukun. yang juga merupakan pemimpin upacara adat di Tengger sangat dihormati oleh masyarakat. Keunikan pakaian sehari-hari masyarakat Tengger adalah cara mereka bersarung (memakai sarung) yang berfungsi sebagai pengusir hawa dingin yang memang akrab dengan keseharian mereka. kemudian digantungkan di pundak. Di bagian dalam. bahkan dengan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. Cara ini disebut Sempetan. yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Busana yang digunakan seorang dukun pada saat memimpin upacara cukup unik. seperti bekerja diladang atau pekerjaanpekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar. Setidaknya ada dua upacara besar. pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Malang. Setelah disarungkan pada tubuh. Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat yang sangat diyakini dan telah dilaksanakan secara turun menurun. Biasanya busana yang dikenakan oleh seorang dukun adalah ikat kepala atau udeng batik. sehingga yang terlihat hanya mata saja. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di dada) agar tidak mudah terlepas. Cara ini disebut kakawung. bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. berwarna hitam. Upacara-upacara adat yang secara turun menurun telah dilaksanakan selama ratusan tahun serta kondisi alam dan geografis yang spesifik. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya. Banyak legenda dan mitologi yang dimiliki oleh masyarakat Tengger. yaitu upacara adat kasada dan karo. Salah satunya yang sangat dikenal adalah mitologi Resi Ki Dadap Putih serta Rara Anteng dan Djaka Seger. genta dan talam. jarik (kain) batik yang dibebatkan. kedamaian dan kesederhanaan tergambar sebagai etos budaya masyarakat Tengger. Sementara itu. Keluhuran budi. di Jawa Timur. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya. Masing. yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat . Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. sebagaimana yang digunakan di Jawa. yang memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit. masyarakat Tengger memiliki banyak upacara yang tidak saja berkaitan dengan siklus kehidupan.Masyarakat Tengger merupakan penduduk ash yang mendiami daerah Lereng Pegunungan Tengger dan Semeru. termasuk wisatawan. Cara lain yang sangat khas. memakai kaos oblong. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki. Probolinggo. Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap. baju warna putih. dengan segala perlengkapannya. jas tutup warna gelap. celana panjang warna gelap dan selempang . kain wiron dan udeng.tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. lengkap dengan peralatan upacara seperti prasen. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala. menciptakan suatu keunikan masyarakat yang religius. Udeng dan sarung tidak tertinggal. mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan. melainkan juga yang berhubungan dengan alam.Budha yang terpadu dengan adat kepercayaan lokal yang oleh sebagian masyarakat disebut Agami Jawi dan dihayati oleh masyarakat Tengger.

Pada masa lalu.selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. termasuk kaum wanitanya adalah hal yang biasa. maupun putih dan ke arah krem. serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian.panjang warna hitam batikan. saput dan anteng. dari segala jenis usia. umumnya selempang ini dilepas dan disimpan kembali. yaitu tutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai alas penjunjung beban . Namun. pemerintah Belanda lah yang memperkenalkannya. baik untuk pria maupun wanita. Meskipun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkuluk sebagai anteng penutup dada. Demikian pula pada kaum pria. proses pewarnaan kain geringsing sangat menentukan kualitas dan keindahannya. yaitu putih susu atau kuning muda. sehingga keindahan bentuknya tetap terjaga. mereka sebut potongan Jawa. Pada geringsing selem warna merah tampak pada bagian ujung geringsing saja. Adapun pada geringsingan barak atau . Pakaian untuk pria secara lengkap adalah destar. sementara yang berlengan longgar sampai di bawah siku. sabuk. Untuk kebaya berlengan panjang hingga pergelangan tangan. Sementara anteng adalah selembar kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Bagi wanita Bali. Selempang ini dianggap sebagai lambang keagungan dan tanda jabatan yang dipangkunya. endek. Budaya memakai baju ini tumbuh dan hidup umumnya pada lingkungan masyarakat yang telah mendapat pengaruh dari luar. Warna hitam dan putih saja yang tampak pada bagian geringsing ini. saput dan kemben. kemben bukanlah penutup dada. disebut potongan Bali. meskipun ada juga yang khusus menenunnya. Selempang pun ada yang berwarna hitam. Kancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput. atau pegawai pada masa pemerintahaan Belanda. maupun dari kasta manapun mereka berasal. hitam dan merah. geringsing dapat dibedakan menjadi geringsing selem (geringsing hitam) dan geringsing barak (geringsing merah). Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk. Menurut sejarah. kuning. berupa kain pembalut tubuh. meskipun dimasa lalu perangkat busana Bali lazimnya tanpa baju. Namun ada pula dukun yang menggunakan jas tutup dan celana panjang warna putih. Setelah ujub upacara. Kain batik sebagai kemben dan destar adalah pelengkapnya. perada. Kaum wanitanya sering mengenakan kebaya. Umumnya kain geringsing memiliki tiga warna dasar. sedangkan warna merah tidak terlihat. bepergian ataupun beraktivitas tanpa penutup dada pada masyarakat Bali. Kain-kain yang digunakan sebagai bagian dari busana Bali terdiri dari beragam jenis. yang menjadi bentuk dan model dasar busana tradisional Bali. Kebiasaan bertelanjang dada pada masyarakat Bali adalah tradisi yang telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Berdasarkan warna. Songket. Busana Tradisional Bali Bali Traditional Dress Kemben merupakan jenis pakaian. Selain cara menenun dan proses pemintalan benangnya yang cukup memerlukan kesabaran dan ketelitian. tetapi lebih berfungsi sebagai penyangga payudara. batik dan sutra adalah beberapa di antaranya. Kebaya ini umumnya terbuat dari bahan yang dibeli di pasar. Jas tutup dan kemeja biasa digunakan. Kemben. yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. pemakaian baju dimulai oleh para ambtenaar. masyarakat Bali mengenal dengan baik kebiasaan mengenakan baju. Kain geringsing merupakan salah satu yang terkenal karena keindahan dan keunikannya.

seperti kenanga. tidak ada perbedaan yang menyolok. di balik kemben. Bagi kaum pria. Gelung biasanya dihias dengan bunga-bungaan.geringsing merah. Untuk menahan kapuh. Morif geringsing cukup banyak ragamnya. Untuk tata rias wajah tubuh dan kaki. Warna-warna ini juga muncul pada pinggiran kain. Mesir yang berasimilasi dengan pengaruh Hindu yang kuat. lubeng. Umpal geringsing adalah yang paling dikagumi. cempaka kuning dan mawar. dari bahu ke bawah. tampak tiga warna dominan. cemplong. saput atau kapuh dan kemben atau wastra. Sementara itu. kebo. anteng dan cawat adalah geringsing dengan ukuran paling kecil. tidak digunakan lagi bunga-bunga hidup. dan sebagainya. Secara keseluruhan. dapat diketahui status sosial dan ekonomi seseorang. Berdasarkan corak busana yang dipakai. Beberapa motif geringsing adalah motif wayang. Cina. karena proses pengikatannya yang berjarak lebih longgar. Pada saat melakukan suatu upacara seperti potong gigi atau pernikahan. Sebagian besar inspirasinya diperoleh dari dunia flora dan fauna. di ujungnya diikatkan secarik kain panjang sejenis selendang. Pola ragam hiasnya pun tampak lebih lebar. Penulis Endang Mariani . sementara yang lebih kecil adalah geringsingan patlikur. kain geringsing. patlikur. cempaka putih. penggunaan gelung kuncir ini berfungsi sebagai penambahan hiasan. perbedaan terletak pada bahan yang digunakan. Gelung kucir. sabuk prada yang membelit dari pinggul sampai dada dan selendang songket untuk menutup tubuh. kain geringsing merupakan perwujudan dari kebudayaan Bali yang memiliki unsur keindahan seni yang tinggi dan terkesan mewah. melainkan bunga-bunga yang terbuat dari emas. gelang kana untuk lengan atas dan badong untuk leher semuanya terbuat dari emas demikian pula sepasang gelang naga satru. dan utama atau yang juga dikenal dengan payes agung. yang memiliki ciri keistimewaan pada teknik tenun dobel ikatnya ini. seluruh busana dibuat dari bahan perada. cecepakan. yang disebut umpal. masyarakat biasanya mengenakan kain tenunan Bali tradisional sebagai busana lengkap dari bahan songket dan peperadan. untuk hiasan kepala atau petitis. dikenakan selembar penuh tapih atau sinjang dari sutra berornamen penuh peperadaan mengurai ke luar melewati kemben. Wanitanya memakai kemben songket. Dalam mapusungan (pembuatan sanggul). Pelengkap petitis yaitu tajug dan perhiasan lain seperti subeng cerorot. yaitu sanggul tambahan berbentuk bulat melingkar dan terbuat dari ijuk menjadi salah satu pembeda. juga dibedakan menurut ukurannya. madya. Dalam upacara perkawinan. wayang putri. masyarakat Bali mengenal adanya tiga jenis busana dan tata rias pengantin. Geringsing berukuran menengah disebut geringsing wayang. Geringsing sabuk. Perhiasan yang dikenalkan oleh sepasang pengantin payes agunglah yang tampak jelas membedakan dengan tata rias dan busana tingkat nista maupun madya. Geringsing dengan ukuran yang paling besar disebut geringsingan perangdasa. yaitu kuning muda. serta cincin. yaitu nista. merah dan hitam. Sementara dalam tata busana. namun tetap berpadu dengan nilai-nilai budaya Indonesia asli. busana tersebut terdiri dari udeng atau destar sebagai ikat kepala. Selain warna. Motif ragam hias kain geringsing dari Tenganan Pageringsingan menampakan pengaruh unsurunsur ragam hias dari kebudayaan asing. Untuk tingkat utama. Perhiasan tingkat ini utama ini memang memperlihatkan suatu kekhususan. bebekeng atau pending. seperti India (patola).

juga dari kain yang sama. Baju burai king burai terbuat dari bahan beludru berwarna hitam. Baju burai king burai dipakai oleh para pendamping pengantin sedangkan kedua mempelai mengenakan baju manik king manik. Kulit kayu yang bisa difungsikan sebagai kain untuk membuat cawat. Sebagai hiasannya dijahitkan kulit kerang kecil berwarna putih disusun membentuk motif daun dan bunga. kaum perempuan mengenakan semacam rok yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Kedua macam busana itu disebut baju burai king burai clan baju manik king manik. dan memakai semacam dodot dari kain yang telah diberi hiasan. clan king bibinge untuk perempuan (bibinge = wanita). baju. celana. dari bahan yang sama dengan baju. merah muda. yang konon harus didatangkan dari Kalimantan Selatan itu.Busana Tradisional Dayak Taman Penulis Aat Soeratin. clan sebagainya. Namun kebudayaan kelompok etnik lain yang datang bergelombang menciptakan akulturasi yang setidaknya juga berimbas pada perkembangan tata busana masyarakat Dayak Taman. Dulu. clan selimut itu disebut kapua atau ampuro. tak jarang. Hiasan ini diterapkan pada seluruh permukaan kain namun masih menyisakan bidang polos sehingga masih tampak kain dasarnya. Pakaian tersebut terbuat dari kulit kayu yang diproses hingga menjadi lunak seperti kain. warna yang dominan pada tenunan tradisional Dayak Taman. kulit kerang atau keong kecil. Jonny Purba Pada awalnya orang Dayak Taman mulai mengenal pakaian yang disebut king baba (king = cawat. yang ditenun adalah serat benang yang dihasilkan dari kulit pohon tengang. Kini telah sangat jarang dijumpai tenunan yang dibuat dari serat tengang sehingga busana adat masyarakat Taman pun menggunakan tenunan benang kapas. Dibentuk seperti kebaya atau rompi panjang mirip baju tanpa lengan. Sebagai busana bawahnya. serat tengang itu dicelup dengan getah pohon yang dilarutkan dalam air. dibuat dari benang kapas yang diperoleh dari luar daerah. baba = lakilaki) untuk laki-laki. kecuali dibuat sebagai hiasan atau perlengkapan kesenian clan. . untuk koleksi cendera mata. Sedangkan para lelaki memakai celana panjang sebatas lutut. Maka jenis busana king baba clan king bibinge kini sudah hampir tak tampak dipergunakan lagi. Busana Pengantin Ada dua jenis busana adat tradisional yang biasa dipakai oleh pengantin dalam masyarakat Dayak Taman. sulit didapatkan sehingga sebagai gantinya dipakai kancing kecil berwarna putih mengkilap. Untuk memperoleh warna hitam atau merah hati. putih. Warna dasar serat yang kuat clan liat ini coklat sangat muda. juga diberi hiasan sejenis dengan hiasan bajunya. Tenunan yang beredar sekarang dengan warna-warna kuning. Bahkan hingga kini masyarakat Dayak Taman dikenal sebagai penenun yang terampil. Kini. Masyarakat Dayak Taman pun mengenal teknik menenun untuk membuat busana.

6 cm. Kaum lelaki memakai satu hingga tiga buah . kalung yang biasa dipakai perempuan dan lelaki. Pada tengkulas atau indulu manik ditambahkan bulu burung ruai. Misalnya saja kalong manik pirak. Maka. Bahan clan hiasannya sama dengan baju. Sebagai pemanis disematkan bulu burung ruai sekeliling kambu pirak itu. Kemudian diukir dan dilapisi plat emas. perunggu/tembaga. dan sebagainya. Kalung ini dipakai saat upacara adat. jika mempelai mengenakan baju manik king manik sedangkan para pendamping pengantin "hanya" memakai baju burai king burai. Untuk lelaki dikenal semacam topi yang bernama kambu manik dan kambu pirak. sehingga nampak sangat unik dan khas. atau batik. tak mengherankan. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik. ketelitian. 1 cm. indulu manik. penghias leher. atau semacam rumput. tapi umumnya hanya dipakai perempuan.motif-motif bunga dan dedaunan pada permukaan luar kambu. perak. kalung. topi atau kopiah. clan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi daripada baju burai king burai. galang manik yaitu untaian manik-manik pada serat daun nenas. Ada beberapa macam gelang-gelang yang biasanya dipakai pada upacara adat. Kalung ini dibuat dari logam perak yang dicairkan kemudian dicetak pada solongsong bambu berdiameter kecil. gelang-gelang. tapi bisa juga hanya takikan yang tidak tembus . hitam atau kuning. subang penghias telinga. maupun kambu. Dulu. jelas. dua macam sasawak: sasawak lampit karumut dan sasawak tali murung. clan lebih disukai yang berwarna mencolok: merah. Dibuat dari logam perak clan rotan. pada masyarakat Dayak Taman dikenal pula berbagai ragam perhiasan berupa ikat kepala. Dikenal. Dibuat dari manikmanik yang diuntai oleh tali akar tengang. dengan ketebalan. Pada seputar ujung rok dan baju digantungkan untaian logam perak. Ada juga yang dinamakan kalong manik lawang.menjadi bentuk kerawang. Ada beberapa macam kalung. yang dianyam menjadi bentuk topi. Hiasan baju manik king manik adalah rangkaian manik-manik halus yang menutup hampir seluruh bidang baju sehingga kain dasarnya nyaris tak tampak lagi. lebih-kurang. atau kaca. yang memakainya. tapi kini hampir tak ada lelaki. Poosong yang tidak berlapis logam disebut poosong surat. Untuk membuat motif hias pada baju manik king manik jelas dibutuhkan kesabaran. Rotan yang sudah dibelah dimasukkan pada lobang "manik-manik perak" itu. Poosong dibuat dari kayu yang dibentuk bulat berdiameter 3 . Penghias kepala clan rambut kaum wanita disebut tengkulas yang dibuat dari kain bermotif kembang-kembang. menggelayut. Sedangkan kambu pirak dibuat dari lempengan tipis logam perak yang dibentuk menjadi topi kemudian ditatahkan . Jika tali penguntainya juga dibuat dari kawat logam perak. Jika tengkulas itu sepenuhnya dibuat dari anyaman untaian manik-manik disebut indulu manik. Sebagai pelengkap busana. Pada seputar ujung bawah baju atau rok digantungkan untaian uang logam perak sehingga baju manik king manik lebih berat ketimbang baju burai king burai. Sasawak lampit karumut dipakai oleh kaum perempuan. Poosong pernah dianggap sebagai identitas wanita dayak Taman. atau dari rotan yang diserit tipis clan pipih. disebut tajuk bulu aruae. Perak dilebur hingga cair kemudian dicetak menjadi semacam manikmanik. juga sangat sedikit para perempuan. seperti galang bontok yang dibuat dari perak. dibutuhkan kesabaran. yang dilapisi dengan emas dinamai poosong emas. garis-garis diagonal dan horisontal berbentuk wajik. Hiasan manik-manik yang mengisi seluruh bidang membuat baju manik king manik lebih berat daripada baju burai king burai. ketelitian dan waktu yang relatif lama sehingga baju manik king manik kerap dianggap "berderajat" lebih tinggi dari baju burai king burai. Lalu dibekukan dan dikalungkan pada leher. galang pasan berupa anyaman serat tumbuhan. ikat pinggang itu disebut sasawak tali murung. Lalu diimbuhkan untaian manik sepenuh bidang kambu. Bulu burung ruai yang disematkan pada tengkulas. pada masyarakat Dayak Taman.Baju manik king manik bisa dikatakan sebagai pengembangan dari baju burai king burai. Bagian depan rok bawah baju manik king manik yang panjangnya sampai sedikit di bawah lutut. Penghias telinga berupa subang disebut poosong. kaum wanita clan para pria memakai poosong. dan galang gading yang dibuat dari gading gajah. Kambu manik dibuat dari jalinan serat sejenis pohon pandan. sejenis burung merak yang hidup di haerah hulu Kapuas. antara lain. Ikat pinggang untuk mempercantik penampilan dinamai sasawak. Cuping telinga yang dipasangi poosong menjadi lebar.

agaknya.gelang pada bagian lengan di atas siku. baju kalaawat ini dipakai oleh setiap wanita remaja. Busana Adat Lainnya Meskipun kini sudah jarang ditemukan. Sebagai kancing untuk mempertemukan kedua sisi baju dibuat dari tali kain berwarna. Gelang-gelang ini biasanya dipakai saat upacara adat keagamaan. clan orang tua. masyarakat Dayak Taman juga menciptakan beberapa jenis busana untuk pelbagai keperluan acara adat. Ketika masyarakat dayak Taman baru mengenal baju dari kulit kayu modelnya berbentuk baju kuurung. Dari berbagai ragam busana tradisional yang dimiliki masyarakat Dayak Taman. Yang dipakai oleh para balien wanita disebut bulang kalaawat. Gelang itu disebut tangkalae atau sumpae. Yang dibuat dari kayu tapang dinamai tangkalae tapang. clan baju kuurung langke tangan ialah baju kuurung lengan panjang. Kain berupa pita berwarna lain daripada warna bajunya dijahitkan pada bagian tepi baju. . Sekarang. dan wanita lanjut usia. baju kuurung dokot tangan yakni baju kuurung lengan pendek. Baju berlubang leher bentuk bulat atau segitiga ini tidak berkerah clan polos tidak bersaku. Sekarang hanya dipakai oleh dukun-dukun wanita. yang kerap digunakan pada peristiwa-peristiwa penting seperti perhelatan adat atau perkawinan. Di antaranya adalah bulang (baju) kuurung. clan berlengan pendek. Bentuknya sama dengan bulang kuurung hanya bagian depannya terbelah seperti kemeja pria biasa. Yada pita itu dipasang kancing-kancing yang hanya berfungsi sebagai hiasan. kiri clan kanan. baju burai king burai clan baju manik king manik. bila terbuat dari untaian manik disebut tangkalae manik. Dahulu. Ada beberapa macam model: baju kuurung sapek tangan yaitu baju kuurung tidak berlengan. Terutama baju burai king burai. Model baju kuurung sesungguhnya sudah tua. clan yang dari jalinan tali ijuk dikenal sebagai tangkalae ijuk. dewasa. baju kuurung hanya dipakai oleh para balien (dukun) dengan memilih warna hitam clan pada bagian-bagian pinggir bajunya diberi les atau pita kain warna merah yang lebarnya sekitar 3 cm. yang paling popular sehingga hampir setiap keluarga Dayak Taman memilikinya.

Alas kakinya ada berbagai jenis. Bagian dada terbelah berkancing tiga. Sedangkan dalam acara-acara resmi seperti menghadiri upacara adat salawar diganti dengan tapih. Bahan baju dari kain lena. yang mengacu pada lam alif dalam Al-Qur`an. Fungsinya untuk menolak bahaya atau maksud-maksud jahat lainnya. satu di dada kiri. dari bahan kain poplin babalur (bergaris-garis vertikal) atau tetoron. Menjadi kebiasaan di daerah ini setiap perempuan menata rambutnya dengan cara disanggul (galung). yang lazim disebut tapih kaling. Baju kiyama berbentuk baju lengan panjang dengan kerah berlipat neyerupai jas. Tetapi sekarang banyak dipakai kain wool. tajam pemandangan dan kekuasaan yang tinggi. Lengan baju sampai pergelangan tangan. Pada saat-saat tertentu kelengkapan pakaian ini ditambah dengan tapih (kain sarung) yang disampirkan di bahu. sandal tali silang. kuning muda. seperi biru muda. Ada dua pilihan sabuk. dua di bagian bawah kiri dan kanan. Warna yang digunakan oleh remaja lebih mencolok. Kantongnya ada tiga buah. Mengikatnya harus mengikuti pola yang berlaku. Buntut pada sanggul menunjukkan pemakainya masih gadis. salawar kiyama dan sandal silang. Alas kakinya adalah selop dari beludru dan berkerudung kain sutra atau sasirangan. kain Pagatan. baju kiyama. yaitu kemeja berlengan panjang dengan leher baju bulat tanpa kerah dilengkapi dengan kancing lima dan berkantong tiga buah. tanpa kantong. Bagian tumpal sabuk yang bermotif pucuk rebung harus diletakkan di belakang. Laki-laki tua Banjar sehari-hari mengenakan baju palimbangan. yaitu lam jalalah. dan selop. Tutup kepala ini terbuat dari bahan beludru. yaitu sabuk air guci (payet) dan sabuk kain tenun Pegatan dengan berbagai pilihan warna. Sebagai penutup kepala digunakan kopiah (kupiah) dari kain beludru. Sebagai pasangannya dikenakan baju taluk balanga (kemeja lengan panjang) dengan leher baju bulat dan sedikit mencuat ke atas. Baju ini berkancing lima biji. dan krem. Busana Upacara Adat Dalam menghadiri upacara resmi para lelaki remaja sampai dewasa mengenakan baju jas tutup. kebaya biasa yang diberi variasi kain yang memanjang di bagian depan yang dinamakan sawiwi atau sujab selebar 10 cm. Baju ini dipadukan dengan celana panjang (salawar panjang). Untuk mengikat digunakan tali yang dimasukkan pada lubang (uluh-uluh). dominan warna kuning. kalau mengenakan jas tutup harus bersabuk di pinggang. Yang kerap dipakai para remaja dan orang tua kaum perempuan Banjar adalah baju kubaya (kebaya) berpasangan dengan tapih batik bakarung (kain batik). Dilengkapi kantong tiga buah. Sebagai tutup kepala dikenakan laung tajak siak. yaitu sandal kalipik. Warna pakaian ini biasanya dipilih yang muda. Pasangannya digunakan tapih. ujungnya diberi hiasan tiga biji kancing . baju yang dilengkapi dengan tali pengikat di belakang leher dan kedua ujung lengan. Ada dua cara menata rambut yang disebut galung malang babuntut dan galung malang. Untuk wanita dewasa dikenakan baju kubaya basawiwi (basujab). lurus tanpa kantong. Pasangannya disebut celana kiyama memiliki bentuk sederhana. biasanya dipilih yang kontras dengan warna baju. Bagi laki-laki dewasa yang ingin bepergian mengenakan kopiah hitam.Busana Tradisional Masyarakat Banjar Banjar People Traditional Dress Penulis Dewi Indrawati Busana tradisional yang biasa dipakai sehari-hari oleh remaja dan orang dewasa kaum lelaki Banjar adalah salawar panjang (celana panjang) yang menutup kaki sampai ke mata kaki. Ujung tangan dan kantong diberi piIit (les) dengan warna berbeda dari bahan baju. berbentuk segi tiga. Menjadi aturan. dan jenis lain yang agak tebal. hanya tanpa saku. di depan dada dan kiri-kanan bawah dengan model masuk (bukan kantong tempel). dan jenis lain yang . Lehernya bundar dengan kerah kecil agak tegak. Sanggul ini berbentuk bundar seperti angka delapan. belini dan friend ship. kain satin (kupiah Padang) atau kupiah jangang. Bentuknya sama dengan pantalon biasa. Motif ini melambangkan sikap waspada. Pada waktu bepergian mereka mengenakan baju kurung basisit. sejenis sarung terbuat dari katun atau sutra bermotif garis-garis melintang dan membujur. ekstrimin.

Warna laung tajak siak harus sama dengan warna sabuk yang dikenakan. Pakaian Pengantin Baamar Galung Pancaran Matahari merupakan pakaian pengantin yang paling digemari oleh semua golongan masyarakat Banjar. Aksesori penghias rambut terdiri dari kembang goyang (kambang goyang) dibedakan antara yang berapun (berumpun) dan tunggal berbentuk melati sebagai lambang kesucian. Kakinya beralaskan selop beludru bersulam benang emas. yang dipenuhi oleh rangkaian bunga (palimbaian). serta bangle dipakai di lengan atas dan pergelangan kaki terbuat dari karet berbentuk lekuk akar atau irisan buncis. Pantalon terbuat dari bahan dan warna yang sama dengan jas. Kaki mengenakan selop dari beludru. dengan segitiga lebih tinggi. Kepalanya dibalut destar model siak melayu. Pemakaiannya rnulai dikembangkan dalam masyarakat Banjar sejak abad XIX. Bahan baju dapat dibuat dari kain sutra atau sasirangan. Terakhir dikenakan selop pada kedua kakinya dari bahan beludru dan kulit. kalung bermotif bunga-bungaan. bunga melati yang diatur berbaris. bunga jepun berbentuk jepitan. Mempelai wanita mengenakan baju poko berlengan pendek ditutupi dengan kida-kida. sedangkan jari manisnya berhias cincin litring. Disebut baju kurung basisit karena pada bagian leher dan tangan dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). sabuk pinggang warna emas. Bagian depan dihias dengan berbagai hiasan diikat di bagian belakang dengan buhul lam jalalah. Ornamen lain untuk rambut antara lain baquet dengan pita rambut. Kemudian dikenakan jas terbuka tanpa kancing. terdiri dari daun sirih. dari kain sutra amban (sutra tipis) atau kain sasirangan yang dihiasi motif gigi haruan pada kedua sisinya. Kalung panjang bogam dan liris-liris bunga. Pada telinga dipasang anting-anting beruntai. Sementara kalung samban rangkap tiga dan kalung marjan menghiasi bagian leher. Kepalanya ditutup dengan kakamban/serudung (kerudung) berbentuk segi empat. untaian metalik. . Pagatan.agak keras. Kelengkapan lainnya meliputi kerabu menganyun. Masyarakat Hindu dan Jawa banyak mempengaruhi pemakaian busana ini. Sepasang pengantin ini dipersandingkan di ba-tatai. dan untaian bunga warna keemasan. Dikenakan sarung dan penutup pinggang (tali gapu) berhiaskan air guci. Sebagai pengikat digunakan tali wenang berupa kain berwarna. Pada bagian dada dihias renda menutupi semua kancing. Bagi kaum perempuan dalam upacara resmi dikenakan baju kurung basisit lengkap dengan tapihnya. Baju ini dikombinasi dengan tapih Lasem. Galang (gelang) karuncung melingkar di lengan. Kemudian keris yang dihiasi bogam bermotif bunga merah diselipkan di pinggang. Cincin dari bunga mayang. Rambutnya disanggul model amar galung bertahtakan mahkota dihias dengan kembang goyang. Hiasan ini ditancapkan pada sanggul. untaian bunga depan dan belakang. Perhiasannya berupa samban. Sebagai hiasan digunakan sulaman benang emas dan air guci dengan motif pucuk rebung. yaitu mantel sempit berhias yang berfungsi untuk menutup dada. Sabuk berhias air guci dengan motif lelipan dipakai sebagai simbol kekuasaan dan kemuliaan. bunga mawar merah dan bunga melati. Mempelai laki-laki mengenakan kemeja putih lengan pendek. dan air guci. kalung.