Bela Negara biasanya selalu dikaitkan dengan militerisme, seolah-olah kewajiban dan tanggung jawab untuk membela

negara terletak pada TNI. Padahal berdasarkan Pasal 30 UUD 1945, bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara NKRI. Bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk mempertahankan NKRI terhadap ancaman baik dari dalam maupun luar negeri. Ancaman dari dalam. Potensi yang dihadapi NKRI dari dalam negeri, antara lain : 1. Disintegrasi bangsa, melalui gerakan-gerakan separatis berdasarkan sentimen kesukuan atau pemberontakan akibat ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat. 2. Keresahan sosial akibat ketimpangan kebijakan ekonomi dan pelanggaran Hak Azasi Manusia yang pada gilirannya dapat menyebabkan huru hara/kerusuhan massa. 3. Upaya penggantian ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang ekstrim atau tidak sesuai dengan jiwa dan semangat perjuangan bangsa Indonesia. 4. Potensi konflik antar kelompok/golongan baik perbedaan pendapat dalam masalah politik, maupun akibat masalah SARA. 5. Makar atau penggulingan pemerintah yang sah dan konstitusional. Di masa transisi ke arah demokrasi sesuai tuntutan reformasi, potensi konflik antar kelompok/golongan dalam masyarakat sangatlah besar. Perbedaan pendapat justru adalah esensi dari demokrasi akan menjadi potensi konflik yang serius apabila salah satu pihak berkeras dalam mempertahankan pendapat atau pendiriannya, sementara pihak yang lain berkeras memaksakan kehendaknya. Contoh kasus FPI dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKB). Namun cara yang sesungguhnya merupakan ciri khas budaya bangsa Indonesia itu tampaknya sudah dianggap kuno. Masalahnya, cara pengambilan keputusan melalui pengambilan suara terbanyakpun (yang dianggap sebagai cara yang paling demokratis dalam menyelesaikan perbedaan pendapat) seringkali menimbulkan rasa tidak puas bagi pihak yang ”kalah”, sehingga mereka memilih cara pengerahan massa atau melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Tidak adanya kesadaran hukum di sebagian kalangan masyarakat serta ketidakpastian hukum akibat campur tangan pemerintah dalam sistem peradilan juga merupakan potensi ancaman bagi keamanan dalam negeri. Pelecehan terhadap hukum/undang-undang ini jelas menimbulkan kekacauan/anarki dan merupakan potensi konflik yang

serius. Contoh nyata adalah insiden Semanggi dimana para pengunjuk rasa yang tidak mematuhi UU no 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum akhirnya bentrok .

Dapat dikatakan bahwa ancaman dalam bentuk agresi dari luar relatif kecil. maka ketegangan regional di dunia umumnya. film-film porno atau berbagai kegiatan kebudayaan asing yang mempengaruhi bangsa Indonesia. untuk kepentingan mereka. 2. Potensi ancaman dari luar tampaknya akan lebih berbentuk upaya menghancurkan moral dan budaya bangsa melalui disinformasi. Meskipun masih terdapat potensi konflik perbatasan khususnya di wilayah Laut Cina Selatan. dan di kawasan Asia Tenggara khususnya dapat dikatakan berkurang. antara lain : 1. adil dan tanpa pandang bulu adalah satu-satunya jalan untuk mengatasi potensi konflik ini. Seandainya semua pihak menyadari pentingnya kepatuhan terhadap hukum. Semua potensi ancaman tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan Ketahanan Nasional melalui berbagai cara. Upaya peningkatan perasaan cinta tanah air (patriotisme) melalui pemahaman dan penghayatan (bukan sekedar penghafalan) sejarah perjuangan bangsa. dsb. seperti illegal loging.dengan aparat keamanan yang justru ingin menegakkan hukum. Potensi ancaman lainnya adalah dalam bentuk ”penjarahan” sumber daya alam melalui eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkontrol sehingga merusak lingkungan. propaganda. Tidak adanya kesadaran hukum juga menyebabkan sering timbulnya tawuran antar warga atau tawuran antar pelajar/mahasiswa yang pada gilirannya menimbulkan keresahan masyarakat dan menyebabkan instabilitas keamanan lingkungan. namun diperkirakan semua pihak terkait tidak akan menyelesaikan masalah tersebut melalui kekerasan bersenjata. Dengan berakhirnya Perang Dingin pada awal tahun 1990an. Potensi ancaman dari dalam negeri ini perlu mendapat perhatian yang serius mengingat instabilitas internal seringkali mengundang campur tangan pihak asing. illegal fishing. dan merusak budaya bangsa. peredaran narkoba. Sosialisasi berbagai peraturan dan perundang-undangan serta penegakkan hukum yang tegas. terutama generasi muda. . tentunya insiden tersebut tidak akan terjadi. baik secara langsung maupun tidak langsung. misalnya sengketa kepulauan Spratly yang melibatkan beberapa negara di kawasan tersebut. Ancaman dari luar negeri. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma kehidupan bangsa Indonesia.

Pengawasan yang ketat terhadap eksploitasi sumber daya nasional serta terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa (legitimasi.3. dan konsisten melaksanakan peraturan/undang-undang). . bebas KKN.

tentu saja dapat menggunakan komponen cadangan dan komponen pendukung (UU komponen cadangan dan komponen pendukung masih dalam proses persetujuan anggota Dewan yang terhormat).4. selain menggunakan unsur komponen utama (TNI). Namun potensi ancaman yang lebih besar adalah dari dalam negeri. Dapatlah disimpulkan bahwa potensi ancaman terhadap keamanan nasional dan pertahanan negara dapat datang dari mana saja. Pengalaman menunjukkan bahwa instabilitas dalam negeri seringkali mengundang campur tangan asing baik langsung maupun tidak langsung. bangsa dan tanah air serta mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara dan UUD 1945 sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Untuk menghadapi potensi agresi bersenjata dari luar. meskipun kemungkinannya relatif sangat kecil. 5. Oleh karena itu …WASPADALAH… dan PEDULIlah terhadap lingkungan. . Kegiatan yang bersifat kecintaan terhadap tanah air serta menanamkan semangat juang untuk membela negara.

dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi obyektif bangsa dan negara Indonesia. Dengan Wawasan Nusantara ini ABRI tidak menonjolkan kepentingan suatu matra dan kepentingan salah satu bidang perjuangan (politik. terutama politik keamanan nasional. menjadi dua doktrin yaitu: a. 3 tahun 2002. 11. 12 dan Bab XII Pasal 30 telah ditetapkan UU No. Di era reformasi berdasarkan UUD RI 1945 (Amandemen) Bab III Pasal 10. Pertahanan Negara Indonesia merupakan instrumen dari politik nasional. Perjuangan Bangsa Indonesia dalam merebut. memberikan pengalaman sejarah yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan perjuangan selanjutnya. Pengalaman sejarah perjuangan tersebut khususnya selama perang kemerdekaan telah mewujudkan tradisi yang selanjutnya menjadi nilai penting sebagai dasar penyelenggaraan pertahanan dan keamanan untuk melindungi segenap bangsa dari berbagai kemungkinan ancaman baik yang bersifat kasar (ancaman militer) maupun yang halus (ancaman terhadap pemikiran dan persepsi). Doktrin "Pertahanan Keamanan Negara" sebagai Doktrin Dasar yang disahkan oleh Menteri Pertahanan. sebagai Doktrin Induk yang disahkan oleh Pangab. Doktrin "Perjuangan TNI ABRI (Catur Dharma Eka Karma)". mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. . Selanjutnya mengacu pada UU No. 1. sosial budaya dan hankam). Sepanjang perjalanan sejarahnya doktrin Hankam selalu mengalami pengembangan. 34 Tahun 2004 tentang TNI Doktrin Perjuangan TNI ABRI Cadek diubah menjadi Doktrin TNI "Tri Dharma Eka Karma" (Tridek). pandangan hidup bangsa dan budaya bangsa. Salah satu nilai tadi adalah "Perang Wilayah/Perang Rakyat Semesta" (Perata) yang dirumuskan dalam Seminar Seskoad II pada Januari 1962 dan ditetapkan pada Agustus 1966 dalam Seminar AD II sebagai Doktrin Perang Wilayah/Perang Rakyat Semesta. dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi obyektif bangsa dan negara Indonesia.SISTEM PERTAHANAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Pertahanan NKRI merupakan masalah bangsa Indonesia yang akan dilakukan dengan cara (Indonesia) sendiri (yang spesifik). pada Nopember 1966 Seminar Hankam menetapkan Doktrin Hankamnas dan Doktrin Perjuangan ABRI "Catur Dharma Eka Karma" disingkat Cadek.Umum Pertahanan NKRI merupakan masalah bangsa Indonesia yang akan dilakukan dengan cara (Indonesia) sendiri (yang spesifik). 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan dan UU No. pandangan hidup bangsa dan budaya bangsa. Seminar Hankam tersebut juga menghasilkan Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Hankamnas dan Wawasan Nasional. dan b. Pada tahun 1991 Cadek ditata kembali dan disesuaikan dengan perkiraan perkembangan masa mendatang. Dalam rangka integrasi ABRI. ekonomi. Sishankamrata diubah menjadi Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).

b.Apakah Sishankamrata dapat diimplementasikan? Padahal dalam jangka panjang kondisi TNI sebagai kekuatan inti Sishankamrata jumlah dan kualitas pasukannya yang dapat dikatagorikan profesional serta anggaran latihan.Dengan melihat berbagai implementasi Sistem Pertahanan Total di negara lain pelajaran apa yang dapat diperoleh yang dapat diimplementasikan di Indonesia.Gambaran tentang Sistem Pertahanan Total Indonesia. oleh sebab itu untuk memenuhi aspek legalitas. tetapi juga sebagai tumpuan untuk memperkuat pemerintahan yang berkuasa. c. Beberapa isu lain yang sering dikemukakan para pemikir di bidang pertahanan NKRI antara lain adalah: a.Apakah Sishankamrata masih relevan untuk dipertahankan sebagai konsep pertahanan NKRI? Atau diambil konsep lain seperti yang dikehendaki oleh mereka yang terobsesi oleh sistem pertahanan negara asing (adikuasa). Tulisan hasil sarasehan Alumni Akmil ini diharapkan dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut dan dapat pula memberikan pencerahan kepada generasi muda TNI untuk dijadikan bekal pengabdiannya kepada Negara dan Bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. atau ancaman lintas nasional lainnya)? d.Landasan Filosofis dan Landasan Hukum Indonesia merupakan negara hukum.Apakah Sistem Pertahanan Total di Indonesia telah memenuhi prinsip-prinsip demokrasi? c. dewasa ini diperlukan kejelasan bagaimana kehendak bangsa dalam menjalankan pertahanan negara.Menghadapi berbagai isu tersebut. Doktrin Hankamrata sebagai strategi dari Hankamnas yang merupakan penjabaran dari Pancasila sebagai falsafah bangsa adalah doktrin dasar yang digali. b. sistem senjata yang tergolong modern masih terbatas dan tidak memadai dihadapkan pada luasnya posisi-posisi strategis yang harus dipertahankan di seluruh Nusantara. dikembangkan oleh TNI(AD) dari hasil . Isu-isu tersebut antara lain sebagai berikut: a. d.Dewasa ini Sishankamrata yang bertumpu pada perlawanan teritorial mengundang tanggapan dari kalangan masyarakat khususnya mereka yang meragukan relevansi Sishankamrata dengan TNI sebagai kekuatan utama menghadapi tantangan di era globalisasi. 2.Apakah Sistem Pertahanan Total yang ada mampu mengatasi hakikat ancaman masa kini yang dapat berupa ancaman konvensional atau ancaman lainnya (misalnya terorisme.Adanya kekhawatiran bahwa Komando Teritorial yang mendampingi Pemerintahan Sipil akan digunakan tidak hanya untuk maksud penyelenggaraan pertahanan. kejahatan terorganisir. Sebagai contoh dapat dikemukakan beberapa isu yang dikemukakan pada Seminar "Democratic Total Defence" yang diselenggarakan oleh beberapa LSM dengan Dephan RI pada tanggal 28 Agustus 2007 yang fokus bahasannya adalah perbandingan penyelenggaraan Sistem Pertahanan Total di negara-negara demokratis. sistem pertahanan keamanan yang merupakan bagian dari sistem pemerintahan negara diselenggarakan berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

individualisme dan kapitalisme. pegangan. terutama yang mengarah pada demokrasi liberal. Meskipun ketentuan perundang-undangan pada hakikatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari daya rangkum doktrin. 34 tahun 2004 tentang TNI. Di era reformasi ‘pesta-pora’ demokrasi yang kebablasan telah menghasilkan berbagai ketentuan perundang-undangan di bidang Hankam yang mengalir dari Batang Tubuh UUD 1945 yang sudah diamandemen sehingga mengandung pasal-pasal yang rawan distorsi terhadap nilai-nilai dasar/falsafi yang terkandung dalam Pembukaannya. dan konsep yang terkandung pada Pembukaan UUD 1945 yang melahirkan patokan. Sebagai ajaran. sedangkan doktrin TNI(AD) mengalir dari nilai-nilai falsafi. 12 dan Bab XII Pasal 30. Sebagai akibatnya ruang gerak TNI dalam upayanya untuk mengimplementasikan Hankamrata akan selalu terkendala oleh berbagai ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang disusun berdasarkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jatidiri bangsa. Peraturan perundangundangan mengalir dari Batang Tubuh UUD 1945 yang dijiwai oleh Pembukaannya. merupakan sumber hukum yang melahirkan berbagai ketentuan hukum. prinsip serta konsep yang mendasar dan diyakini kebenarannya. namun keduanya berkembang dengan sifat dan keberadaan fungsional yang berbeda. dan keduanya bersumber dari nilai-nilai falsafah. ajaran. berdasarkan hasil pemikiran terbaik. dan konsep yang terkandung pada Pembukaan UUD 1945. Di pihak lain. . c. tetapi doktrin memberikan panduan instrumental bagi proses mencapai sasaran. doktrin ini mengalir dari pandangan hidup bangsa dan dikembangkan secara nalar dan dinamis dengan pengalaman dan teori sehingga kebenarannya bersifat relatif hakiki dan berjangka panjang. Oleh karena itu Doktrin Hankamrata harus menjiwai ketentuan perundang-undangan penyelenggaraan pertahanan negara. Seharusnya UU memberikan kekuatan hukum pada pelaksanaan doktrin.UUD RI 1945 (Amandemen) BAB III Pasal 10. ajaran. d. b. apabila ketentuan perundang-undangan memberikan kekuatan hukum terhadap upaya-upaya dalam segenap dinamika tata kehidupan nasional sesuai doktrin. Ketentuan perundang-undangan di bidang Hankam yang diberlakukan di era reformasi adalah: a. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. petunjuk. Dengan kata lain. merebut dan mengisi kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. KEP/2/I/2007 tgl. pedoman.Keputusan Panglima TNI No. 11. 12 Januari 2007 tentang Tri Dharma Eka Karma (Tridek). tidak malahan membatasi ruang gerak dan menghambat implementasi doktrin. doktrin dasar dan doktrin induk pertahanan dikembangkan dan dijabarkan oleh TNI berdasarkan nilai-nilai yang mendasari jatidiri bangsa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.UU No. asas.UU No.pengalamannya dalam memperjuangkan.

sebuah negara memiliki Sishan di mana kekuatan riil yang dimilikinya lebih unggul daripada . harus ada ada berbagai instrumen bangsa yang memang perlu untuk digunakan dalam kerangka tersebut seperti falsafah bangsa. dilindungi dan diimplementasikan? Jawabannya. seperti dipaparkan pada bab-bab sebelumnya. Idealnya. Dengan apakah Kepnas dikawal. dijaga/dikawal dan diimplementasikan yakni berbagai Kepentingan Nasional (Kepnas). politik. Oleh karena bersifat saling terkait dan tidak dapat saling meniadakan (mutually exclusive) tetapi justru saling komplementer dan interdependen. Israel. budaya serta pertahanan dan keamanan (Hankam). isi dan tata laku pertahanan nasional di masa depan dengan revisi nilai instrumental agar tetap relevan dan kontekstual. Dengan demikian. dan dalam konteks ini adalah Sishankamnas. Pertama. Kedua.3. Sishankamrata merupakan konsep dan doktrin yang tetap relevan dalam kehidupan bangsa kita sebagai wadah. Menghadapi kondisi kehidupan bangsa yang memiliki sekian banyak ancaman potensial. dengan sistem kehidupan nasional (Sisnas). sosial. maka pembangunan dimensi-dimensi tersebut harus digulirkan secara maksimal untuk mencapai hasil optimal dengan prinsip “saling mendukung dan menguatkan”. Logika atau basis argumentasi Sihankamrata dapat digambarkan sekilas dengan mengacu pada kebiasaan umum (habitus universal) dalam Rekayasa Sishan. bagaimakanakah Sishankamnas sebagai bagian integral dari Sisnas itu didesain? Ada dua hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan. harus dilakukan penilaian (assesment) atau telah tajam terhadap lingkungan strategis (Lingstra) yang terus berkembang secara dinamis termasuk mengikuti kemajuan Ilpengtek.Relevansi Sishankamrata Saat Ini Sebagai landasan logis bagi pemahaman tentang Sishankamrata adalah persepsi yang komprehensif bahwa sistem kehidupan berbangsa-bernegara mencakup berbagai dimensi yang fundamental dan eksistensial seperti ideologi. Apalagi Sishan semacam ini juga dijadikan konsep pertahanan di banyak negara maju seperti Swiss. Pertanyaan berikutnya. Sishankamnas – sebagaimana sistem kehidupan bangsa lainnya (politik. niscaya perlu pembangunan dan pengerahan total potensi dan kekuatan bangsa secara efektif. ekonomi dan sebagainya) – dibangun dan digerakkan untuk menunjang upaya pembangunan atau transformasi nasional menuju tercapainya Cita-Cita/Tujuan Nasional. Untuk mencapai Tujuan Nasional (Tunas) tersebut terdapat banyak aspek yang harus dilindungi. yang darinya kita dapat merumuskan potensi ancaman atau ancaman potensial terhadap bangsa-negara. Misalnya pembangunan politik dan ekonomi dapat berjalan baik manakala situasi Hankamnas bersifat positif-kondusif. Sebaliknya. ekonomi. falsafah bangsa tentang perang. Prancis dan lain-lain. politik luar negeri dan sebagainya. pembangunan Sishankamnas tidak mungkin berjalan tanpa dukungan dimensi-dimensi lainnya. Singapura.

Bagi Indonesia. negara yang dijadikan acuan dalam perumusan Sistem Hankamrata adalah Vietnam. Selain Yugoslavia. Berdasarkan pengalaman perjuangannya menghadapi Jerman. isu tentang relevansi Sishankamrata dengan dinamika perubahan situasi dan kondisi sudah terjadi sejak lama. penghayatan para perumusnya yang langsung mengalami sendiri perjuangan TNI(AD) dalam merebut. Beberapa negara yang dijadikan acuan dalam perumusan hankamrata antara lain adalah Yugoslavia1 yang pada Perang Dunia II. mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 tetap harus dipertahankan. kepemimpinan Yugoslavia mewaspadai ancaman yang sama sesewaktu dapat menjadi kenyataan terhadap Yugoslavia. Namun bila hal itu pun tidak dapat dilakukan maka tidak ada pilihan lain selain “Perang Rakyat”. Disadari bahwa Doktrin memang harus berkembang sejalan dengan perkembangan situasi dan kondisi khususnya perkembangan Ilpengtek. mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Untuk itu TNI-AD pernah mengirimkan suatu misi militer ke Hanoi mempelajari sistem pertahanan serta perlawanan rakyat sebagai bahan perbandingan. Seperti disinggung di atas. langkah realistis yang merupakan pilihan logis adalah Sishankamrata (total defence).kekuatan yang mengancam (ancaman potensial). Dengan demikian. Untuk beraliansi membangun pakta pertahanan pun tidak mungkin karena prinsip politik luar negeri yang bebas-aktif. Invasi terhadap Czechoslovakia menunjukkan bahwa bala siap dari negara yang lemah tidak mungkin dapat menghadapi serangan masif dari agresor yang secara kualitatif dan kuantitatif lebih unggul. Dengan berpedoman pada pengalaman perang merebut. membangun kekuatan ideal masih jauh dari mungkin karena terhadang kendala anggaran. Setelah invasi Sovyet ke Czechoslovakia tahun 1968. namun dari segi lain Sishankamrata yang merupakan hakikat dari Doktrin Dasar Hankamnas dan dirumuskan berdasarkan pengalaman. Jika belum dapat mencapai kekuatan ideal tersebut maka biasanya dibangun aliansi dalam rangka memelihara balance of power. Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta merupakan pengembangan dari doktrin perang wilayah yang pertama kali dicetuskan pada seminar Seskoad I pada Desember 1960. setelah disesuaikan dengan kondisi baru dirumuskan Konsep Doktrin Perang Wilayah/Perang Rakyat Semesta. Memang.2 . khususnya negara-negara dunia ketiga untuk menghadapi negara-negara adikuasa yang pada umumnya memiliki keunggulan dalam sistem persenjataan dan profesionalisme. sesungguhnya strategi perang wilayah/perang rakyat semesta telah dilaksanakan di berbagai negara. pada tahun 1969 Yugoslavia menetapkan Undang-undang Pertahanan yang didasarkan pada Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta. menggunakan pertahanan teritorial (territorial defence) serta melakukan pertahanan rakyat semesta (total people’s defence) berhasil mengalahkan tentara pendudukan fasis Jerman dan sekutu-sekutunya yang unggul dalam persenjataan dan profesionalisme.

baik yang bersifat kasar (ancaman militer) maupun yang halus (ancaman terhadap pemikiran dan persepsi).Pasukan AS tidak dapat mentuntaskan hasil serangannya ke Irak. pada Mei 1954 pejuang Vietnam di bawah pimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap dengan transportasi yang sederhana (sepeda dan kuda) mengangkut artileri berat dan artileri pertahanan udara melalui hutan lebat dimalam hari untuk menempati kedudukan di pegunungan sekitar Dien Bhien Phu.Meskipun politis Rusia tetap menguasai Chechnya tetapi gangguan dari gerilyawan Chechnya yang mengakibatkan korban-korban yang besar di pihak pasukan Rusia terus terjadi. kalah jauh dari kekuatan bersenjata Israel.Serangan masif yang dilakukan oleh tentara AS yang dilakukan untuk menangkap pemimpin pemberontak Somalia ternyata gagal. Bahkan dengan melakukan Perang Rakyat Semesta yang berkepanjangan (berlarut) dari tahun 1959 sampai tahun 1975. dari aspek ekonomi. Dengan mengandalkan kekuatan rakyat. bahkan korban besar terus berjatuhan. namun perlawanan rakyat semesta Palestina yang berupa gerakan Intifada (Sissos) masih menyulitkan Israel dalam mengendalikan wilayah Palestina di West Bank dan Gaza Strip. Bahkan dewasa ini Pemerintah AS dibayangi kegagalan tujuan invasinya ke Irak karena ketidaksanggupannya mengatasi kekacauan yang terus terjadi. industri jasa dan pariwisata telah menimbulkan kerugian dalam jumlah yang besar di pihak Israel. Di era globalisasi dimana hakekat ancaman telah berkembang menjadi multidimensi mencakup semua bidang kehidupan bangsa (Ipoleksosbudhankam). d. . baik fisik maupun psikis. People's Army of Vietnam (PAVN) berhasil mengusir tentara AS yang jauh unggul dalam persenjataan. Bahkan Afganistan berpotensi untuk perang saudara kembali apabila pasukan NATO ditarik dari Afganistan. Vietnam melakukan perang rakyat semesta berhasil mengusir tentara pendudukan Perancis. Di samping korban fisik.Kekuatan bersenjata Palestina dari segi persenjataan dan profesionalisme militer (Sistek). barikade di jalanan. Beberapa contoh perang terkini yang menjadi bukti keberhasilan Sishanrata antara lain adalah: a. tidak hanya berupa kemampuan militer (Sistek). dan pelemparan batu dalam demonstrasi oleh para pemuda serta boikot terhadap industri mikro. c. pemogokan umum. b. grafitti.Meskipun pasukan NATO berhasil meruntuhkan pemerintahan Taliban di Afghanistan namun sisa-sisa pasukan Taliban masih tetap aktif dan merupakan ancaman aktual bagi pasukan NATO di Afganistan. kemudian menyerang dan mengusir tentara Perancis yang jauh lebih unggul dalam teknologi dan persenjataan. e.Dengan menggunakan pertahanan teritorial. berkat kepemimpinan Ho Chi Minh yang kharismatik. Oleh sebab itu maka kekuatan yang dikembangkan untuk menghadapi ancaman tersebut juga harus mempunyai kemampuan yang multi demensi pula. Korban tentara AS yang tewas dalam perang Irak dewasa ini telah mendekati angka 3000 orang sebagian besar justru terjadi setelah Saddam Hussein tertangkap. gerakan intifada yang berupa ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum penjajah. bahkan tentara AS yang unggul dalam persenjataan dan profesionalisme itu harus ditarik mundur karena besarnya korban dan kerugian yang dialami. tetapi juga juga kemampuan non-militer (Sissos) yang melibatkan seluruh potensi bangsa.

bahkan negara-negara jiran.Contoh-contoh tersebut di atas membuktikan bahwa keunggulan persenjataan dan profesionalisme bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan. diyakini mempunyai prospek untuk dapat digunakan menghadapi musuh yang kuat yang berhasil menduduki bagian-bagian tertentu dari wilayah darat NKRI. tentara nasional dan tentara profesional. . daya juang dan semangat tidak mengenal menyerah serta taktik dan strategi yang tepat dan cerdik. bagi Indonesia yang dalam jangka pendek masih belum mampu mengembangkan sistek yang modern mengungguli negara-negara adidaya. Pengalaman menunjukkan bahwa ternyata keunggulan teknologi persenjataan dan profesionalisme dapat diimbangi oleh strategi perlawanan rakyat semesta yang dilengkapi dengan patriotisme. demografi dan budaya bangsa Indonesia yang dikenal dengan Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Hankamrata). tentara pejuang. Sishankamrata erat kaitannya dengan jatidiri TNI sebagai kekuatan utama. tetapi telah diyakini oleh TNI kebenarannya. Bahwa pengalaman TNI dengan ke-khas-an jatidirinya dalam merebut. dan sebaliknya keberhasilan doktrin Hankamrata tergantung kepada kadar komitmen TNI terhadap jatidirinya sebagai tentara rakyat. doktrin Hankamrata bukan hanya relevan. Menghadapi kenyataan tersebut di atas. Oleh sebab itu maka Sishankamrata yang dilaksanakan melalui Sistem Perang Berlarut yang mengkombinasikan penggunaan Sistem Senjata Teknologi (Sistek) didukung oleh sikap politik seluruh rakyat yang anti agressor sebagai Sissos. Dengan demikian maka pada dasarnya antara jatidiri TNI dengan doktrin Hankamrata terdapat kaitan timbal balik yang erat. mempertahankan dan mengisi kemerdekaan secara bersamaan telah melahirkan suatu sistem pertahanan yang sesuai dengan kondisi geografi. karena doktrin Hankamrata disusun dengan memperhatikan jatidiri TNI sebagai komponen utama sistem.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful