P. 1
JURNALISME SASTRAWI

JURNALISME SASTRAWI

4.79

|Views: 4,756|Likes:
Published by pry s
Referensi ilmiah yang berangkat dari penelitian saya mengenai praktik penggunaan jurnalisme sastra di Majalah Berita Mingguan Tempo. penelitian ini tergolong interdisipliner antara kajian ilmu komunikasi dengan ilmu sastra
Referensi ilmiah yang berangkat dari penelitian saya mengenai praktik penggunaan jurnalisme sastra di Majalah Berita Mingguan Tempo. penelitian ini tergolong interdisipliner antara kajian ilmu komunikasi dengan ilmu sastra

More info:

Published by: pry s on Oct 24, 2008
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

original

Istilah paradigma diperkenalkan pertama kali oleh Thomas Kuhn dalam

menjelaskan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia merumuskan bahwa paradigma

adalah ”serangkaian asumsi-asumsi teoritis yang umum serta hukum-hukum ilmiah

beserta tehnik-tehnik penerapannya yang diterima oleh komunitas ilmiah tertentu.”1

Dalam konteks penelitian ilmiah, Bogdan dan Biklen merumuskan bahwa

paradigma adalah “kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama,

konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.”2

Dari dua keterangan di atas, penulis memahami bahwa paradigma merupakan

arah cara berpikir dalam penelitian ilmiah, yang sesuai dengan asumsi teoritis, hukum

ilmiah, dan tehnik penerapan tertentu yang digunakan oleh komunitas ilmiah tertentu.

Maka sebuah paradigma berfungsi untuk mendasari dan memediasi praktik-praktik

ilmiah dalam masyarakat ilmiah tertentu.

Kuhn juga mengatakan jika praktik-praktik ilmiah yang berlaku di masyarakat

ilmiah tersebut mulai mengalami kegagalan dan tidak sanggup lagi mempertahankan

klaim-klaim teoritisnya, maka akan terjadi sebuah krisis ilmiah. Krisis inilah yang

1

Rachmad Hidayat, Ilmu yang Seksis; Feminisme dan Perlawanan
terhadap Teori Sosial Maskulin.
, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2004, hal.77

2

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya,

Bandung, 2000, hal.49

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

85

menurut Kuhn dapat diatasi bukan dengan jalan memperbaiki paradigma yang sudah

ada, melainkan menggantikannya dengan sebuah paradigma yang baru:

Untuk selanjutnya paradigma tersebut dipercaya dengan janji-janji ilmiahnya,
dan mulai berfungsi membimbing praktik-praktik ilmu yang baru hingga akhirnya
menemui masa krisisnya sendiri. Siklus pergantian antar paradigma yang berjalan
terus menerus serta bersifat bersifat terputus-putus itulah yang disebut Kuhn
sebagai revolusi ilmiah.3

Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa kekuatan dasar yang

mampu mempertahankan eksistensi sebuah ilmu pengetahuan adalah paradigma.

Paradigma memberikan sistematisasi dan sekaligus konstruksi cara pandang untuk

menangkap objek realitas kebenaran yang ada pada seluruh bagian ilmu pengetahuan.

Paradigma tidaklah bersifat tunggal, universal, dan abadi, melainkan majemuk,

temporer, dan berganti-ganti dalam masa tertentu.

Paradigma yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kritis.

yang bersumber dari Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Paradigma kritis sendiri

merupakan paradigma baru yang lahir setelah paradigma positivisme dalam ilmu

pengetahuan mengalami krisis ilmiah.

Teori Kritis lahir sebagai kelanjutan dari kultur perkembangan pemikiran-

pemikiran kritis sejak Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx, dan psikoanalisa Sigmund

Feud. Dari keempat pemikiran kritis para filsuf besar inilah, pemikir-pemikir

kelompok Sekolah Frankfurt di Jerman (yang kemudian dikenal sebagai Mazhab

3

Rachmad Hidayat, Loc.Cit.

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

86

Frankfurt) melahirkan Teori Kritis sebagai ‘kritik ideologi’ terhadap ilmu

pengetahuan.

Martin Jay mengatakan bahwa, “Teori Kritis menolak memberhalakan

pengetahuan sebagai sesuatu yang terpisah dan lebih penting dari tindakan. Selain

itu, ia mengakui bahwa penelitian ilmiah yang nir-kepentingan tidak mungkin

dilakukan dalam suatu masyarakat di mana anggotanya belum otonom.”4

Penulis memahami bahwa pada dasarnya peneliti sebagai individu merupakan

bagian dari masyarakat itu sendiri. Karena individu tidak mungkin terlepas dari

lingkungan sosial masyarakatnya, maka individu tersebut tidak mungkin terbebas dari

kepentingan atau pengaruh sosialnya. Maka, jelas artinya bahwa pengetahuan tidak

bisa terlepas dari kepentingan atau ideologi tertentu.

Adalah Max Horkheimer, generasi pertama Mazhab Frankfurt, yang

merumuskan empat karakter dialektis Teori Kritis, yakni:

Pertama, Teori Kritis bersifat historis, artinya Teori Kritis dikembangkan
berdasarkan situasi masyarakat yang konkret dan berpijak di atasnya. Kedua,
karena Teori Kritis dibangun atas kesadaran penuh dan keterlibatan penuh para
pemikirnya, maka Teori Kritis juga kritis pada dirinya sendiri dengan demikian
membuka dari segala kritik, evaluasi dan refleksi terhadap dirinya. Ketiga, Teori
Kritis selalu mempunyai kecurigaan penuh terhadap masyarakat aktual, karena
secara mendasar ia selalu akan mempertanyakan segala kenyataan yang ada di
balik kedok-kedok ideologis. Keempat, Teori Kritis dibangun untuk mendorong
terjadinya transformasi masyarakat dengan jalan praksis.5

4

Martin Jay, Sejarah Mazhab Frankfurt: Imajinasi Dialektis dalam
Perkembangan Teori Kritis
, Kreasi Wacana, 2005, h.115

5

St. Tri Guntur Narwaya, Matinya Ilmu Komunikasi, Resist Book,
Yogyakarta, Mei, 2006, hal.163-164

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

87

Di sisi lain, kelahiran Teori Kritis sebagai salah paradigma ilmu juga banyak

dipengaruhi situasi sosial politik di Jerman saat itu. Hal ini diungkapkan Tri Guntur

Narwaya:

Kemunculan Teori Kritis sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik pada
waktu itu, yaitu ketika rezim Stalinisme dan Nazisme Jerman dianggap
menghancurkan peradaban kemanusiaan.. para pemikir Frankfurt berusaha untuk
melakukan upaya pembongkaran terhadap totalitarisme dan selubung-selubung
ideologis yang dibangunnya.6

Hal ini berarti, tugas utama Teori Kritis merupakan upaya untuk menelanjangi

usaha-usaha dominasi total, sekaligus membongkar praktik ideologi yang dilakukan

oleh rezim dominan tersebut. Realitas sosial-politik di Jerman saat Teori Kritis

berkembang, tengah dalam kondisi masyarakat yang dipenuhi propaganda Hilter

lewat media. Media menjadi alat pemerintah untuk mengontrol publik. Paradigma

kritis kemudian memandang media bukan lagi sebagai entitas yang netral, tetapi bisa

dikuasai oleh kelompok dominan.

Dalam konteks penelitian tentang media massa, Ibnu Hamad menguraikan

bahwa paradigma kritis adalah salah satu dari banyak paradigma penelitian:

Paradigma kritikal melihat realitas yang teramati (vitual realiy), dalam hal ini
realitas media, adalah realitas ‘semu’ yang terbentuk oleh proses sejarah dan
kekuatan-kekuatan sosial budaya dan ekonomi politik. Dengan demikian… yang
menjadi objek dalam riset ini, adalah realitas yang teramati sebagai konstruksi
para pembuatnya (wartawan) yang dipengaruhi oleh faktor sejarah media di
mana para wartawan bekerja dan oleh kekuatan-kekuatan lain itu.7

6

Ibid., hal.165

7

Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa; Sebuah
Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik
, Penerbit Granit,
Jakarta, 2004, hal.38

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

88

Dari penjelasan di atas penulis memahami bahwa secara ontologis, paradigma

kritis memandang objek realitas yang diamati dalam penelitian adalah realitas semu

yang terbentuk oleh faktor sejarah kekuatan-kekuatan lain yang mengelilingi media

tersebut.

Hamad kemudian menjelaskan bahwa pada tataran epistemologis, “paradigma

kritik melihat hubungan antara peneliti dan realitas yang diteliti selalu dijembatani

oleh nilai-nilai tertentu (transactionalist/ subjectivist).”8

Penulis memahami bahwa posisi peneliti dalam paradigma ini tidaklah

terlepas dari kepentingan atau pengaruh sosial. Sebab pada dasarnya peneliti sebagai

individu merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri dan paradigma kritis

berasumsi bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang terpisah dan lebih penting dari

tindakan.

Kemudian pada level metodologi, Hamad mengusulkan penggunaan multi

level methods yang mengacu pada model Norman Fairclough:

Seraya menempatkan diri sebagai aktivis/ partisipan dalam proses
transformasi sosial, penulis melakukan analisis secara komprehensif, kontekstual,
dan dalam berbagai tingkatan (mulati-level analysis) . . . yang mengacu pada
pemikiran Fairclough guna memenuhi tuntutan methodologis paradigma kritis itu.
Teknik penelitian seperti ini dilakukan tiada lain agar dapat diperoleh pemahaman
secara empatif (empathic understanding atau verstehen) dalam menemukan
makna di balik teks atau tanda dengan memperhatikan konteks dalam berbagai
tingkatannya.9

8

Ibid., hal.43

9

Ibid., hal.44

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

89

Sejalan dengan paradigma kritis yang lahir dari keterbatasan paradigma

positivisme, maka pendekatan metodologi yang tepat dalam menjalankan penelitian

ini adalah pendekatan metodologi kualitatif. Emy Susanti Hendrarso menjelaskan

sebagai berikut:

Penelitian kualitatif yang berakar dari ‘paradigma interpretatif’ pada awalnya
muncul dari ketidakpuasan atau reaksi terhadap ‘paradigma positivist’ yang
menjadi akar penelitian kuantitatif. Ada beberapa kritik yang dilontarkan terhadap
pendekatan positivist, di antaranya adalah pendekatan kuantitatif mengambil
model penelitian ilmu alam untuk penelitian sosial sehingga tidak dapat
digunakan untuk memahami kehidupan sosial sepenuhnya.10

Hendrarso kemudian melanjutkan bahwa penelitian kualitatif dapat diterapkan

apabila, “topik penelitiannya merupakan hal yang sifatnya kompleks, sensitif, sulit

diukur dengan angka, dan berhubungan erat dengan interaksi sosial dan proses

sosial.”11

Mengenai pendekatan kualitatif, Lexy J. Moleong dengan mengutip Bogdan

dan Taylor, menjelaskan bahwa penelitian metodologi kualitatif sebagai “prosedur

penelitian yang menghasikan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. . . pendekatan ini diarahkan pada latar

dan individu tersebut secara holistik (utuh).12

10

Emy Susanti Hendrarso, “Penelitian Kualitatif: Sebuah Pengantar”,
dalam Bagong Suyanto dan Sutinah (Ed.), Metode Penelitian Sosial: Berbagai
Alternatif Pendekatan
, Penerbit Kencana, Jakarta, 2005, hal.166

11

Ibid., hal.170

12

Lexy J. Moleong, Op.Cit., hal.3

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

90

Dari keterangan di atas, penulis pahami bahwa penggunaan pendekatan

kualitatif lahir karena keterbatasan pendekatan kuantitatif dan paradigma positivisme.

Karenanya penulis mendapati kesesuaian dalam menggunakan pendekatan kualitatif

dengan paradigma kritis sebagai landasan metodologis penelitian ini.

Dari keterangan tersebut penulis juga memahami bahwa penggunaan

pendekatan kualitatif dalam penelitian ini sesuai dengan topik Jurnalisme Sastra yang

sifatnya kompleks, sulit diukur dengan angka, dan berhubungan erat dengan interaksi

sosial dan proses sosial. Karenanya, penelitian yang penulis jalankan di sini tidak

semata menghasilkan data yang dapat diukur berupa angka, namun akan menghasikan

data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat

diamati.

Penggunaan paradigma kritis dan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini

membuat hubungan penulis sebagai peneliti dengan objek penelitian adalah hubungan

yang interaktif, dan sarat penilaian. Interpretasi penulis sebagai peneliti terhadap

objek penelitian tak bisa dilepaskan dari latar subjektif sosio-kultur penulis.

Mengenai subjektifitas dalam interpretasi ini, Agus Sudibyo mengungkapkan,

”mesti disadari bahwa proses pemaknaan itu tak bisa dilepaskan dari unsur

subyektivitas sang pemberi makna. Namun tak perlu khawatir, sebab teori-teori jenis

ini memang mengizinkan seorang peneliti melakukan interpretasi atas teks secara

subyektif akibat pengaruh pengalaman hidupnya.”13

13

Agus Sudibyo, Ibnu Hamad dan Muhamad Qadari, Kabar-Kabar
Kebencian: Prasangka Agama di Media Massa
, ISAI, Jakarta, 2001, h.18

http://prys3107.blogspot.com
prys.3107@gmail.com

91

Hal di atas penulis pahami sebagai karakteristik pendekatan kualitatif yang

memungkinkan intepretasi dan subjektivitas peneliti merupakan syarat dalam

menggunakan metode analisis wacana kritis. Kemudian dalam kaitannya dengan

metode penelitian yang akan penulis gunakan, Alex Sobur mengemukakan

karakteristik pendekatan kualitatif dalam metode analisis wacana kritis sebagai

berikut:

Pertama, analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks ketimbang
jumlah unit kategori seperti dalam analisis isi. Kedua, analisis wacana berpretensi
memfokuskan pada pesan latent (tersembunyi). Ketiga, analisis wacana bukan
sekedar bergerak dalam level makro (isi dari satu teks), tetapi juga pada level
mikro yang menyusun suatu teks, seperti kata, kalimat, ekspresi, dan retoris.
Keempat, analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi.14

Dari keterangan di atas, penulis memahami bahwa pada dasarnya setiap teks

dapat dimaknai secara berbeda dan ditafsirkan secara beragam. Karenanya, metode

Analisis Wacana Kritis tidak berpretensi melakukan generalisasi, namun lebih

menekankan pada pemaknaan pesan laten dalam teks sesuai kemampuan interpretasi

peneliti. Dari hal tersebutlah kualitas penelitian dapat dinilai.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->