PUTUSAN PROVISI

Putusan Provisi atau provisioniladalah putusan yang dijatuhkan sehubungan dengan tuntutan dalam pokok perkara, dan sementara itu diadakan tindakan-tindakan pendahuluan untuk kefaedahan salah satu pihak atau kedua belah pihak. Putusan semacam itu banyak dipergunakan dalam acara singkat dan dijatuhkan oleh karena segera harus diambil tindakan. Putusan provisi ini tergolong dalam kategori putusan sela yang berbeda dengan putusan akhir. Di dalam hukum acara perdata, selain putusan provisi terdapat putusanpraeparatoir yaitu putusan sela yang dipergunakan untuk mempersiapkan perkara. Juga terdapat putusan insidentil, yaitu putusan sela yang diambil jika terdapat insiden seperti misalkan memperbolehkan seseorang masuk dalam perkara, atau atau adanya penggabungan gugatan yang harus segera diputus, dan lain sebagainya. (Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata,Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Mandar Maju, Cet keX, 2005, hlm. 46-57, 106-107) Sedangkan Sudikno Mertokusukumo (1988) menyatakan putusan provisionil adalah putusan yang menjawab tuntutan provisionil, yaitu permintaan pihak yang bersangkutan agar sementara diadakan tindakan pendahuluan guna kepentingan salah satu pihak, sebelum putusan akhir dijatuhkan. Selain putusan praeparatoir dan insidentil, menurut Sudikno adapula menurut Rv yang dikenal dengan putusan interlocutoir, yakni putusan yang isinya memerintahkan pembuktian, misalkan pemeriksaan saksi atau pemeriksaan setempat. Putusan interlocutoir ini dapat mempengaruhi putusan akhir. Pengertian kedua ahli hukum ini hampir sama. Sebagaimana putusan sela lain, putusan provisionil ini bersifat sementara sampai adanya putusan akhir yang nantinya memutuskan bagaimana pokok perkara yang bisa memutus menolak, mengabulkan dan tidak dapat menerima. Dalam praktek peradilan perdata, permohonan untuk meminta putusan provisi dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan/gugatan atas pokok perkara atau terpisah, yaitu dengan permohonan yang diajukan lisan atau tertulis setelah permohonan atas pokok perkara diajukan di pengadilan. Kalau permohonan digabung, maka dasar permohonan (fundamentum petendi ) dan pokok permohonan (petitum) diajukan bersama-sama sebagai satu kesatuan. Sedangkan jika dipisah, maka setelah permohonan atas pokok perkara dimajukan, maka permohonan provisi diajukan tersendiri tentunya disertai dengan fundamentum petendi dan petitum yang jelas. Oleh karena permohonan provisi ada karena adanya pokok perkara, maka tidak ada putusan provisi tanpa adanya permohonan terhadap pokok perkara yang dipersengketakan. Putusan provisi di dalam peradilan perdata, hanya dapat dilakukan oleh hakim pada tingkat pertama dan tidak dapat diajukan kepada pengadilan tingkat banding. Jadi ada batasan-batasan karena sifat sementara putusan ini, maka tidak diperkenankan permohonan provisi ini justru mempermasalahkan soal yang sudah masuk kepada pokok perkara atau tidak ada kaitannya atau keluar jauh atau menyimpang dari tuntutan pokok. Upaya hukum bisa dilakukan atas putusan provisi ini, yaitu dengan melakukan banding 14 hari setelah diucapkan oleh hakim pertama atau sejak diberitahukan kepada para pihak. Putusan ini sangat ketat dilakukan sebagaimana putusan serta merta untuk menghindari penyalahgunaan dengan diharuskan pelaksanaan putusan provisi atas perintah dan dibawah pimpinan ketua pengadilan tingkat pertama dan setelah mendapatkan ijin dari ketua pengadilan tingkat banding. Dalam permohonan putusan provisi oleh Amrozi dkk dalam perkara pengujian UU No.2/Pnps/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati, Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menerima permohonan tersebut. MK mempertimbangkan: UU MK tidak mengenal permohonan provisi dalam pengujian undang-undang (UU); dalam setiap pengujian UU, UU yang diuji tersebut

Chandra. perlakuan yang sama di hadapan hukum [vide Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945]. meskipun dalam UU MK tidak dikenal putusan provisi dalam perkara pengujian undang-undang. kehati-hatian. Bahwa proses hukum yang sedang dihadapi oleh para Pemohon adalah proses hukum pidana yang juga menggunakan instrumen hukum pidana yang bukan menjadi ranah kewenangan Mahkamah. Mahkamah memandang terdapat cukup potensi terjadinya pelanggaran atas kepastian hukum yang adil.(Putusan No. dan penafsiran yang dianut dan telah berlaku tentang kewenangan Mahkamah dalam menetapkan putusan sela.30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK) yang diajukan oleh Bibit. Pertimbangan hukum MK adalah sebagai berikut: “………. 21/PUU-VI/2008. Mahkamah memandang perlu menjatuhkan putusan provisi dalam perkara a quo dengan mendasarkan pada aspek keadilan. kejelasan tujuan. Dalam perkara a quo putusan sela diperlukan untuk mencegah kemungkinan kerugian konstitusional para Pemohon apabila menjadi terdakwa karena diberhentikan (tetap) oleh Presiden . sementara di pihak lain justru akan memperkuat perlindungan hukum. Mahkamah tidak dapat mengabulkan permohonan provisi sejauh menyangkut penghentian proses pidana di kepolisian dan kejaksaan.Ol e h karenanya. terlepas apakah pasal yang dimohonkan penguj ian nant inya akan dinyatakan bertentangan atau tidak dengan UUD 1945. dan kebebasan dari ancaman dari rasa takut untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi [vide Pasal 28G ayat (1)]. dalam permohonan pengujian UU No. seiring dengan perkembangan kesadaran hukum. Sehingga MK mengganggap permohonan provisi yang diajukan tidak berdasar dan beralasan hukum. Karenanya.tetap berlaku sebelum dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. dan permohonan provisi adalah permohonan yang bersifat sementara dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pokok permohonan. Permohonan yang dikabulkan terbatas yang terkait dengan pengujian UU. yakni tindakan administrative berupa pemberhentian Pimpinan KPK yang menjadi terdakwa karena melakukan tindak pidana kejahatan. permohonan provisi dikenal dalam sengketa kewenagan lembaga negara yang diatur dalam Pasal 63 UU MK. Mahkamah tidak berwenang memberikan penilaian terhadap proses hukum yang sedang berjalan sehingga Mahkamah tidak berwenang untuk memerintahkan Kepolisian Negara Republik Indonesia maupun Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk menghentikan sementara proses hukum pidana para Pemohon yang sedang berjalan. keseimbangan. sehingga Mahkamah harus memainkan peran yang besar dalam mempertegas dan memberikan rasa keadilan dalam perkara a quo melalui putusan provisi yang selengkapnya akan dimuat dalam amar putusan ini. Oleh karena itu. Menimbang bahwa dalam perkara a quo.Bahwa dalam praktik pemeriksaan perkara pengujian undang-undang seringkali untuk kasus-kasus tertentu dirasakan perlunya putusan sela dengan tujuan melindungi pihak yang hak konstitusionalnya amat sangat terancam sementara pemeriksaan atas pokok pemohonan sedang berjalan. yakni menunda penerapan Pasal 32 Ayat (1) huruf c Jo Pasal 32 Ayat (3) UU KPK oleh Presiden. tanggal 21 Oktober 2008) Dalam perkembangan selanjutnya. Menimbang bahwa relevansi dan signifikansi diterbitkannya putusan provisi dalam perkara pengujian undang-undang terhadap UUD adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia apabila suatu norma hukum diterapkan sementara pemeriksaan atas pokok permohonan masih berjalan padahal hak-hak konstitusional Pemohon yang dirugikan tidak dapat dipulihkan dalam putusan akhir. MK mengabulkan sebagian permohonan provisi yang diajukan dan menolak permohonan selebihnya. bahwa mekanisme permohonan provisi sifatnya harus penting dan mendesak. Bahwa Mahkamah berpendapat putusan sela perlu untuk diterapkan apabila dengan putusan tersebut tidak akan menimbulkan kerancuan hukum di satu pihak. kebutuhan praktik dan tuntutan rasa keadilan masyarakat serta dalam rangka memberikan perlindungan dan kepastian hukum yang adil.

Jika sengketa mengenai jual beli. hutang piutang dsb. berkas-berkas lain yang muncul dan dibuat para pihak seperti Replik. yang isinya merupakan dalil-dalil atau argumenargumen untuk memperkuat Gugatan atau Jawaban. untuk itu dibutuhkan “bukti”. letak dan batas tanah serta bukti surat tanah. tanggal 29 Oktober 2009) (Miftakhul Huda) TEKNIK MEMPERSIAPKAN LITIGASI TEKNIK MEMPERSIAPKAN GUGATAN & JAWABAN DALAM PERKARA PERDATA Dalam konteks perkara perdata. Mempersiapkan Gugatan Dalam hal akan mengajukan suatu gugatan.” (Putusan Sela (provisi) No. pada dasarnya merupakan turunan atau kelanjutan dari apa-apa yang dikemukakan dalam Gugatan (Penggugat) atau Jawaban (Tergugat). Demikian juga tentang jika sengketa itu mengenai perceraian. hukum adat.Landasan hukum gugatan (legal grounds) Setelah ceritera kejadian yang menjadi pokok sengketa diketahui maka harus dikaitkan dengan hukum positif yang ada (perundang-undangan. Cerita kejadian saja tidak/belum cukup untuk menjadi bahan gugatan. . hukum islam. sebaliknya bukti saja tanpa dilengkapi kejadian yang sebenarnya akan mengaburkan gugatan. Landasan hukum yang akan menjadi dasar hukum gugatan mutlak harus diketahui dan dikuasai. Sebagai contoh bila yang menjadi persoalan sengketa mengenai tanah.padahal dasar hukum atau pasal undang-undang tentang itu sedang diperiksa dalam pengujian terhadap UUD 1945 di Mahkamah. . Ceritera kejadian tanpa disertai bukti akan melemahkan gugatan. maka harus jelas ada data tentang hal tersebut ic perjanjian.Alasan/dasar gugatan (fundamentum petendi) Untuk ini kita harus memperoleh secara lengkap kisah atau kejadian yang sebenarnya dari calon penggugat yang akan kita wakili sebagai Penggugat. Cerita tentang kejadian yang tidak lengkap dan tidak diberikan secara jujur akan mempengaruhi kualitas gugatan dan pada gilirannya tidak mustahil juga akan merugikan. beberapa hal penting yang perlu dipersiapkan antara lain : Persiapan awal : . Bukti tertulis ataupun bukti berupa saksi sangat dibutuhkan dalam mendukung kebenaran ceritera tentang kejadian atau hubungan hukum tersebut. karena dari kajian antara fakta dengan ketentuan hukum ini dapat ditarik kesimpulan apakah persoalan yang dikaji ada dasar hukumnya atau tidak. 133/PUU-VII/2009. Keterangan tentang bukti dan Kesimpulan. maka harus diperoleh data yang jelas mengenai tanah tersebut seperti luas. dari kejadian-kejadian tersebut akan dapat diketahui sejauh mana hubungan hukum antara calon Penggugat dengan calon Tergugat. maka data bukti tentang adanya perkawinan ic Surat nikah menjadi sangat penting sebagai bukti. Duplik. I. yurisprodensi-yurisprodensi) yang berkaitan dengan pokok sengketa.

jika klien tidak bisa tanda tangan dapat dilakukan dengan cap jempol tetapi harus dilakukan didepan pejabat yang berwenang (Notaris atau didepan hakim). Kepada Pengadilan mana gugatan didaftarkan. apakah bertindak mewakili dirinya sendiri atau mewakili orang lain atau dalam kedudukan sebagai Direktur suatu perusahaan atau Ketuan sebuah Yayasan dan lain sebagainya. 2. Dalam surat kuasa maupun gugatan harus jelas kedudukan Penggugat atau Tergugat. Ketidak jelasan dan ketidak lengkapan surat kuasa bisa menjadi factor yang merugikan gugatan. Klien harus diberitahu mengenai hal ini agar posisinya sebagai Penggugat bias dipahami. Persiapan akhir Setelah persiapan awal selesai. Pihak yang akan digugat (Tergugat). Pihak yang akan digugat (Tergugat) . Surat Kuasa: Surat kuasa merupakan dasar hukum bagi seorang advokat/penasehat hukum mewakili kliennya bertindak sebagai penggugat di pengadilan dalam mengajukan gugatan. ketidak jelasan atau kekurang lengkapan dapat menyebabkan / mempengaruhi diterima tidaknya sebuah gugatan.Dari landasan hukum ini dapat diketahui pokok-pokok sengketa hukumnya. tahap selanjutnya adalah membuat/menyusun gugatan. Penggabungan antara alasan gugatan dengan dasar/landasan hukum gugatan akan dapat ditarik satu kesimpulan apakah gugatan dapat diajukan atau tidak dapat diajukan. Surat Kuasa. 5. untuk itu beberapa hal perlu dipersiapkan: 1. 4. dalam hal ini Tergugat dapat menggunakan ketidak jelasan dan ketidak lengkapan surat kuasa sebagai bahan eksepsi bahwa gugatan tidak jelas atau tidak lengkap. Format dan isi gugatan. serta di di pengadilan mana gugatan didaftarkan. nama dan tempat tinggal Tergugat. • Isi surat kuasa. • Nama dan domisili kantor/tempat penerima kuasa. Demikian juga tanda tangan pemberi kuasa. 2. ataukah Wanprestasi atas suatu perjanjian dan sebagainya. 3. tanggal penandatanganan surat kuasa mutlak harus diperhatikan. Dalam isi surat kuasa harus jelas persoalan / sengketa apa yang akan digugat (PMH/Wanprestasi/Perceraian dsb). antara lain : apakah sengketa tentang perbuatan melawan hukum (Psl 1365 dan 1372 KUHPerdata). Kejelasan dan kelengkapan itu antara lain mengenai: • Nama dan tempat tinggal pemberi kuasa. 1. Lain-lain. Isi surat kuasa harus jelas dan lengkap.

maka jika penggugat suka dapat mengajukan pada wilayah PN yang dipilih.Jika tempat berdiam dan tempat tinggal sebenarnya Tergugat tidak diketahui. Ketidak akuratan tentang tempat tinggal Tergugat bisa menyebabkan kekeliruan dalam mendaftarkan gugatan. Ketidak jelasan kedudukan pihak yang akan digugat/Tergugat bias menyebabkan diskwalifikasi gugatan karena ketidak tapatan pihak dalam gugatan. yang kehadirannya dalam suatu perkara dimaksudkan agar pihak tersebut mengetahui dan mentaati putusan sepanjang yang menyangkut dirinya atau kewenangannya. akan menyebabkan salah orang (eror in persona). 4. .Pihak yang akan digugat atau Tergugat harus tegas. maka gugatan disampaikan di wilayah PN diamana barang tak bergerak itu berada. . Instansi pengadilan dimana gugatan didaftarkan Menentukan ke pengadilan mana gugatan didaftarkan merupakan hal yang harus jelas dan tegas. Biasanya pihak yang terkait tapi tidak mempunyai hubungan langsung dengan Penggugat.Jika ada dua pihak antara yang berhutang dan penanggung.Jika ada pilihan forum dalam sebuah akta perjanjian. demikian juga jumlah pihak yang akan digugat apakah satu orang atau lebih tergantung pada persoalan yang menjadi dasar sengketa. dalam suatu gugatan ditempatkan sebagai Turut Tergugat. baik menyangkut nama dan tempat tinggal maupun kedudukannya. Ke pengadilan mana gugatan diajukan tergantung dimana pihak Tergugat bertempat tinggal. Format dan isi gugatan Tidak ada bentuk atau format baku sebuah surat gugatan. Penggugat boleh memilih disalah satu tempat tinggal Tergugat. pihak yang akan digugat / Tergugat harus mempunyai hubungan hukum langsung dengan Penggugat atau dengan pokok sengketa.Jika gugatan mengenai barang tidak bergerak. serta ketidak lengkapan pihak bias menyebabkan gugatan tidak dapat diterima (niet on vankelijk) Namun satu hal yang jelas dan pasti. Apakah Pengadilan Negeri atau Pengadilan Agama atau Pengadilan Tata Usaha Negara (kompetensi absolute) atau di wilayah Pengadilan Negeri mana gugatan harus didaftarkan (kompetensi relatief). Ketidak jelasan nama pihak yang akan digugat / Tergugat. maka gugatan diajukan di wilayah hukum PN yang berutang utama. 3. Hal ini menyangkut kompetensi / kewenangan mengadili sebagaimana diatur hukum acara. gugatan disampaikan di wilayah PN dimana Penggugat tinggal. . . jelas dan lengkap. Namun pasal ini juga menentukan : . namaun dua hal yang harus ada dalam sebuah gugatan : .Jika lebih dari satu Tergugat yang tidak bertempat tinggal dalam daerah hukum Pengadilan Negeri (PN) yang sama. Pasal 118 HIR menentukan bahwa gugatan harus disampaikankan atau didaftarkan kepada ketua Pengadilan Negeri dimana tergugat berdiam atau setidak-tidaknya di tempat tinggal yang sebenarnya.

Setiap peristiwa yang mendukung hubungan hukum dilukiskan secara kronologis dan sistematis. maka kita akan kehilangan kesempatan atas tuntutan tersebut. yaitu a) Primair. yang penting bisa dimengerti pokok permasalahan yang disengketakan. tidak ditepatinya ketentuan dalam perjanjian.Dalil adanya kerugian yang disebabkan oleh tindakan Tergugat atau prsetasi apa yang tidak dipenuhi oleh Tergugat. Hal yang paling penting adalah dapat diusahakan setiap dalil / argument yang dikemukakan didukung baik oleh bukti-bukti maupun dasar hukum (baik peraturan perundangan maupun yurisprodensi). Tuntutan dapat dirinci menjadi dua. dalam perjanjian jual beli. Dalam bentuk yang paling standard. Memerintahkan Tergugat melakukan atau tidak melakukan sesuatu (menyerahkan barang. dsb) . sehingga mudah menentukan isi petitum (hal-hal yang dituntut). karena Hakim dalam memutuskan perkara akan tergantung pada permintaan para pihak secara formal ic yang dikemukakan secara tertulis. . .Dalil pernyataan yang didukung bukti bahwa Penggugat mempunyai hak hukum atas sesuatu. Dinyatakannya sah sita jaminan (kalau diminta). Demikian juga jumlah rincian kerugian yang ditimbulkan baik materiil maupun immaterial. sebuah gugatan berisi : .Jika diperlukan juga digambarkan kepentingan dimintakannya sita jaminan (conservatoir beslag) atas harta atau asset Tergugat. demikian juga jika diperlukan dalil mengenai alasan kepentingan dimohonkannya provisi. Sebagai contoh penggugat memiliki sertifikat tanah atau sebuah perjanjian dan lain semacamnya. - Dalam bentuknya yang standar. biasanya dirumuskan dengan kaliman “mohon putusan yang seadil-adilnya” (ex aequo et bono). Hal ini berarti jika kita keliru atau lupa menuliskan suatu tuntutan secara jelas dalam petitum. Posita gugatan harus jelas dan tegas. tidak perlu bertele-tele. Misalnya supaya Tergugat dinyatakan ingkar janji dan dihukum menyerahkan suatu barang. yang juga harus diukung oleh bukti tertulis atau saksi. petitum dirumuskan sebagai berikut: Primair: Permohonan gugatan diterima seluruhnya. hal ini juga harus didukung bukti tertulis atau saksi. 2) Petitum (petition) merupakan bagian gugatan yang berisi permohonan atau tuntutan Penggugat agar diputuskan oleh Hakim.Dalil pernyataan yang membuktikan adanya hubungan hukum (perbuatan melawan hukum/PMH.1) Posita yang berisi bagian gugatan yang menyangkut alasan dan dasar / landasan hukum gugatan. Sebagai contoh peristiwa penyerobotan tanah. atau wanprestasi). Dalam menyusun petitum ini juga harus dirumuskan secara jelas apa yang dituntut. Menyatakan Tergugat telah melakukan tindakan (PMH/Wanprestasi) yang merugikan Penggugat. . dan tuntutan subsidair. melaksanakan perjanjian. .

walaupun tanpa menyebutkan nama anggota kelompok satu persatu 3) Keterangan tentang anggota kelompok yang diperlukan dalam kaitan dengan kewajiban melakukan pemberitahuan. Dalam menyusun gugatan perwakilan kelompok (class action) selain harus memenuhi persyaratan-persyaratan formal surat gugatan sebagaimana diatur dalam Hukum Acara Perdata yang berlaku. maka sesuai dengan prinsip class action tersebut. Karena kepentingan sekelompok orang identik. 4) Posita dari seluruh keompok baik wakil kelompok maupun anggota kelompok. 1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok . seorang atau lebih yang maju ke pengadilan sebagai penggugat atau tergugat mewakili kepentingan seluruh anggota kelompok lainnya didasarkan atas adanya kesamaan kepentingan serta permasalahan. . surat gugatan perwakilan keompok harus memuat : 1) Identitas lengkap dan jelas wakil kelompok 2) Defenisi kelompok secara rinci dan spesifik. 6) Tuntutan atau petitum tentang ganti rugi harus dikemukakan secara jelas dan rinci. b) Subsidair: . baik berkepentingan secara hukum maupun berkepentingan untuk suatu manfaat atau keuntungan. 5) Dalam satu gugatan perwakilan dapat dikelompokkan beberapa bagian kelompok atau sub kelompok jika tuntutan tidak sama kkarena sifat dan kerugian yang berbeda. Biaya perkara dibebankan kepada Tergugat. Gugatan Perwakilan Kelompok diartikan sebagai suatu cara pengajuan gugatan. yang memiliki kesamaanfakta atau dasar hukum antara wakil kelompok dan anggota kelompok dimaksud. Dalam gugatan class action. sejak putusan.mohon putusan yang seadil-adilnya. karena kepentingan pihak yang maju dengan kelompok yang diwakilinya adalah sama. maka seseorang atau beberapa orang yang maju sebagai pihak di pengadilan mengajukan gugatan untuk kepentingannya sendiri sekaligus untuk kelompoknya. yang teridentifikasi maupun yang tidak teridentifikasi yang dikemukakan secara jelas dan terinci. tuntutan cukup diajukan oleh salah satu atau beberapa dari anggota kelompok tersebut.[3] Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. memuat usulan tentang mekanisme atau tata cara pendistribusian ganti kerugian kepada keseluruhan anggota kelompok termasuk usulan tentang pembentukan tim atau panel yang membantu memperlancar pendistribusian ganti kerugian. dalam mana satu orang atau lebih yang mewakili kelompok mengajukan gugatan untuk diri atau diri-diri mereka sendiridan sekaligus mewakili sekelompok orang yang jumlahnya banyak. Berdasarkan syarat tersebut.- Memerintahkan Tergugat membayar ganti rugi (dan bunga bila wanprestasi) kepada Penggugat. GUGATAN CLASS ACTION Pengertian class action menurut Law Reform Commission (1982:5) adalah berkepentingan pada suatu perkara adalah berkepentingan secara langsung.

termasuk jenis eksepsi ini antara lain: eksepsi kaburnya gugatan. Eksepsi yang merupakan jawaban diluar pokok perkara dapat dibedakan menjadi dua.TEKNIK MENYUSUN JAWABAN Persiapan untuk menyusun Jawaban tidak berbeda jauh dengan cara mempersiapkan gugatan. . yaitu: 1) Eksepsi kompetensi (kewenangan) pengadilan. tentu saja harus didukung oleh alasan alasan dan bukti. Tergugat menyerahkan segala tuntutannya kepada kebijaksanaan hakim. Dalam membuat jawaban dapat dibagi menjadi 3 bagian antara lain: . untuk meminta fotocopy dari Surat Kuasa Penggugat (jika Penggugat menggunakan Kuasa) dan bukti-bukti jika Penggugat telah melampirkan bukti-bukti. Dalam kedudukan sebagai pihak Tergugat yang paling pokok harus dilakukan sebelum membuat suatu jawaban adalah : Membuat surat kuasa antara klien dengan penerima kuasa. Sebagai contoh: seharusnya gugatan diajukan di PN Jakarta Timur. 2) Eksepsi kompetensi relatief. kareana tempat kediaman Tergugat di wilayah PN Jakarta Utara. sedangkan referte merupakan jawaban Tergugat yang tidak membantah ataupun membenarkan isi gugatan.Gugatan balik (reconvensi). keterangan dari klien atas isi gugatan dan surat kuasa lawan/Penggugat (dan/atau bukti-bukti lawan) sudah diperoleh barulah kita mengarah kepada isi Jawaban yang akan dituangkan dalam surat Jawaban yang dapat berupa pengakuan. membenarkan atau mungkin menggugat balik atas gugatan tersebut. Juga saksi-saksi sekiranya bias memperkuat jawaban kita. Setelah surat kuasa dibuat. bantahan/tangkisan dan dapat berupa referte.Jawaban dalam pokok pperkara. diusahakan menghubungi pengadilan terlebih dahulu. yaitu jawaban keberatan atas wewenang pengadilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu yang secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh pengadilan umum. biasanya terdiri dari antara lain : . data dan bukti-bukti yang diperlukan untuk menjawab gugatan tersebut harus kita peroleh dari klien. pada saat menerima gugatan. Bantahan / tangkisan merupakan pernyataan yang tidak membenarkan atau tidak mengakui isi gugatan. eksepsi perkara telah pernah . Keterangan.Eksepsi tolak (declinator exceptie) yaitu eksepsi yang bersifat menolak. Sebagai contoh gugatan pembatalan sertifikat yang diajukan ke Pengadilan Negeri yang seharusnya menjadi wewenang PTUN. . yang juga dibagi dua: eksepsi kompetensi absolute. yaitu jawaban keberatan atas wewenang pengadilan dalam memeriksa perkara di wilayah kediaman Tergugat.Eksepsi / jawaban diluar pokok perkara. Perbedaannya kita harus membantah. Pengakuan merupakan jawaban yang membenarkan gugatan. Eksepsi non kompetensi. menyangkal.

secara mutatis mutandis mohon dianggap merupakan bagian tak terpisahkan dengan pokok perkara ini. gugatan atas pembayaran yang belum jatuh waktu. Alasan/argument pendapat ini karena Pasal 132. karena Penggugat juga pernah melakukan wanprestasi terhadap Tergugat. karenanya jawaban dalam pokok perkara ini dalam bentuknya yang standard selalu didahului dengan pernyatan-pernyataan sebagai berikut : . termasuk eksepsi ini antara lain: eksepsi lampau waktu/ kadaluarsa. . kecuali yang secara tegas diakui kebenaranya.Tergugat menolak seluruh dalil Penggugat. Pada dasarnya sama dengan menyusun dalil gugatan.b HIR). yaitu jawaban atas dalil / argumen-argumen yang diajukan dalam gugatan.Eksepsi tunda (dillatoir exceptie) yaitu eksepsi yang bersifat menunda diteruskannya perkara. eksepsi tentang penghapusan hutang. dan sementara itu “duplik” merupakan sebagian dari jawaban. saksi atau dasar hukum (peraturan perundangan. Tujuan reconvensi ini ialah untuk mengimbangi atau menetralisir gugatan Penggugat. atau perkara masih diperiksa dalam perkara lain. . . tetapi juga dapat pada waktu mengajukan Duplik Tergugat.diputus (nebis in idem). GUGATAN BALIK (RECONVENSI) Reconvensi (gugat balik) pada dasarnya merupakan jawaban Tergugat yang secara kebetulan mempunyai peluang untuk menggugat Penggugat. termasuk jenis eksepsi ini.b HIR hanya menyebutkan kata “Jawaban” saja. jawabanpun harus dilakukan terhadap satu persatu pernyataan dalam gugatan yang harus juga didukung oleh bukti-bukti. Dsb. Tidak jarang jawaban yang dikemukan dalam bagian eksepsi merupakan juga jawaban dalam pokok perkara.Apa yang dikemukakan dalam jawaban eksepsi.a dan Pasal 132. namun ada yang berpendapat dapat juga diajukan tidak hanya pada jawaban pertama. .Eksepsi halang (premtoir exceptie) yaitu eksepsi yang menghalangi dikabulkannya gugatan. yurisprodensi dsb).. Jawaban dalam Pokok Perkara. eksepsi Penggugat tidak berhak / tidak berkualitas mengajukan gugatan dsb. Gugatan reconvensi harus diajukan bersama-sama jawaban pertamaTergugat (Pasal 132 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful