P. 1
Fistum Pengaruh Cahaya Thd Transpirasi

Fistum Pengaruh Cahaya Thd Transpirasi

|Views: 877|Likes:
Published by Purwo Cheymaqie

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Purwo Cheymaqie on Dec 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

PENGARUH CAHAYA DAN SUHU TERHADAP LAJU TRANSPIRASI

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FISIOLOGI TUMBUHAN
OLEH

PURWO SUSILOWATI (083204007) PENDIDIKAN BIOLOGI 2008 PLUS

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air merupakan salah satu faktor penentu bagi berlangsungnya kehidupasn tumbuhan. Air juga mengandung zat terlarut berupa unsur hara. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada kecepatan proses masuknya air kedalam tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk gas ke udara disekitar tumbuhan dinamakan transpirasi. Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Secara umum, proses transpirasi berlangsung dalam 2 tahap, yaitu evaporasi air dan difusi air. Pada dasarnya transpirasi ditentukan oleh seberapa besar antara dua sel penutup stomata, sehingga proses-proses yang menyebabkan membuka dan menutupnya stomata juga menentukan besarnya transpirasi. Beberapa factor lingkungan yang mempengaruhi proses transpirasi diantaranya adalah radiasi cahaya, kelembaban, suhu, angin dan keadaan air tanah. Berdasarkan hal diatas maka kami melakukan eksperimen tentang pengaruh cahaya terhadap kecepatan transpirasi dengan menggunakan tanaman pacar air (Impatien balsemia)

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang diatas adalah : Bagaimanakah pengaruh lingkungan (intensitas cahaya dan suhu) terhadap kecepatan transpirasi?

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

2

C. Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah : Untuk mengetahui pengaruh lingkungan (intensitas cahaya dan suhu) terhadap kecepatan transpirasi.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

3

BAB II LANDASAN TEORI
Tanpa air dan cahaya matahari, tumbuhan tidak dapat melakukan proses fotosintesis. Air diperoleh tumbuhan dengan mengirimkan sistem akar ke dalam tanah. Sedangkan cahaya didapatkan oleh tumbuhan dengan mengarahkan daundaunnya ke udara. Pengangkutan bahan-bahan dan air pada tumbuhan dinamakan translokasi, yang terjadi dalam sistem khusus pembuluh-pembuluh pengangkut. Semua ini terdapat berkelompok dan disebut berkas vaskuler yang meluas ke seluruh organ tumbuhan mulai dari akar, batang, daun (dalam tulang/uratnya), serta bunga sehingga transport antara organ-organ terlaksana dengan cepat dan efisien. Di dalam berkas vaskuler ditemukan dua macam jaringan yang berlainan, yaitu xilem dan floem yang merupakan jaringan pada tumbuhan yang digunakan untuk mengangkut air dan unsur-unsur hara serta hasil dari fotosintesis. Selain pengangkutan air dan bahan-bahan yang dilakukan oleh tumbuhan, tumbuhan juga melakukan penguapan air. Penguapan air pada tumbuhan dinamakan transpirasi. Harus begitu banyak air yang hilang melalui proses transpirasi untuk membesarkan tumbuhan. Karena rangka molekul semua bahan organik pada tumbuhan terdiri dari atom karbon yang harus diperoleh dari atmosfer. Karbon masuk ke dalam tubuh tumbuhan sebagai karbon dioksida (CO2) melalui stomata, yang paling banyak terdapat di permukaan daun, dan air keluar secara difusi melalui pori yang sama ini pada saat stomata terbuka. Faktor lingkungan mempengaruhi tidak hanya pada proses fisika penguapan dan difusi, tetapi juga mempengaruhi membuka-menutupnya stomata pada permukaan daun yang dilalui lebih dari 90% air yang yang ditranspirasikan dan CO2. Naiknya suhu daun, misalnya, sangat banyak menaikkan penguapan dan sedikit difusi, namun mungkin menyebabkan stomata menutup dan membuka

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

4

lebih lebar, bergantung pada spesies dan faktor lain. Waktu matahari terbit, stomata membuka karena meningkatnya pencahayaan, dan cahaya menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih cepat. Naiknya suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembaban, maka transpirasi meningkat dan barangkali bukaan stomata pun terpengaruh. Angin membawa lebih banyak CO2 dan mengusir uap air. Hal ini menyebabkan penguapan dan penyerapan CO2 meningkat, tapi agak kurang dari yang diduga, karena meningkatnya CO2 menyebabkan stomata menutup sebagaian. Bila daun dipanaskan oleh sinar matahari dengan panas yang melebihi suhu udara, angin akan menurunkan suhunya. Akibatnya, transpirasi menurun. Bila kandungan air tanah terbatas, transpirasi dan penyerapan CO2 terhambat, karena stomata menutup. A. Stomata Pada daun terdapat lapisan kutikula berlilin dipermukaan daun sehingga dapat menghambat difusi, sehingga sebagian uap air dan gas lainnya melewati bukaan di antara sel penjaga, bukaan tersebut disebut pori stomata. Air menguap dalam daun, dari dinding sel parenkima palisade dan parenkima bunga karang, yang secara bersama disebut mesofil, ke dalam ruang antar sel yang sinambung dengan udara diluar, saat stomata membuka. Karbon dioksida mengikuti lintas difusi sebaliknya, yaitu masuk ke dalam daun. Kadang stomata hanya terdapat di permukaan bawah daun, tapi sering kita temui di kedua permukaan, meskipun lebih banyak terdapat di bagian bawah. Stomata juga berada di dalam cekungan stomata, dan stomata yang seperti ini di sebut stomata tersembunyi, stomata seperti ini tampaknya merupakan adaptasi untuk mengurangi transpirasi. Stomata tumbuhan pada umumnya membuka saat matahari terbit dan menutup saat matahari tenggelam, sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari. Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba. Tingkat cahaya yang tinggi

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

5

mengakibatkan stomata membuka lebih besar. Pada sebagian besar tumbuhan, konsentrasi CO2 yang rendah didaun membuat stomata membuka. Stomata pada banyak (tetapi tidak semua) spesies sangat peka terhadap kelembapan atmosfer. Stomata menutup bila selisih kandungan uap air di udara dan di ruang antar sel melebihi titik kritis. Potensial air di daun juga sangat berpengaruh pada pembukaan dan penutupan stomata. Bila potensial air menurun (rawan air meningkat), stomata menutup. Pengaruh dapat dilawan oleh tingkat CO2 rendah dan cahaya terang. Pada beberapa tumbuhan, suhu yang tinggi mengakibatkan pembukaan stomata dan bukan penutupan, akibatnya transpirasi meningkat dan mengusir bahang dari daun. Angin juga mampu meningkatkan transpirasi, menjadikan keadaan rawan air dan penutupan stomata. B. Mekanisme Transpirasi Melalui Stomata Daun tersusun atas sel-sel epidermis atas, jaringan mesofil yang terdiri atas jaringan palisade dan jaringan bunga karang dengan ikatan pembuluh diantara sel epidermis bawah dengan stomata. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah yang banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Selsel yang menguapkan airnya kerongga antar sel tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan air ini akan diisi oleh air yang berasal dari xylem tulang daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar. Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar sel tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang keluar menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer. Kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel, uap air dari rongga antar sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

6

Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel. Transpirasi dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu (1) stomater yaitu penguapan air yang terjadi secara langsung dari stomata, besarnya 80 – 90% total trasnpirasi; (2) kutikuler yaitu pengupan yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis, besarnya 20 % total transpirasi; (3) lentikuler yaitu penguapan yang terjadi melalui lentisel, besarnya 0,1 % total trasnpirasi.

Pada dasarnya stomata akan membuka apabila turgor sel penutup tinggi dan stomata akan menutup apabila turgor sel penutup rendah. Mekanisme membuka dan menutupnya stomata dapat dijelaskan dengan tiga teori, yaitu teori perubahan pati menjadi gula, teori pengangkutan proton K+, dan bukaan stomata pada tanaman sukulen. Teori perubahan pati menjadi gula • Siang hari terjadi fotosintesis, CO2 diserap, kandungannya dalam ruang antar sel menurun, pH naik (7), pati dalam sel penjaga terhidrolisis menjadi gula, Ψs sel penjaga turun, Ψw turun, endoosmosis di sel penjaga, Ψp naik, dinding sel penjaga tertekan ke arah luar, stomata terbuka Teori pengangkutan proton (K+) • Pada siang hari, saat fotosintesis di sel penjaga terbentuk zat antara fotosintesis yaitu asam malat, kemudian dipecah menjadi H+ dan ion malat, H+ keluar dari sel penjaga, kedudukannya digantikan K+, terjadi

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

7

ikatan K+ dg ion malat membentuk kalium malat, Kmalat masuk ke vakuola sel penjaga dan menurunkan Ψs nya. Terjadi endoosmosis ke dalam sel penjaga, Ψp sel penjaga naik, turgor, dinding sel dari sel penjaga tertekan ke arah luar, stomata membuka C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Transpirasi Proses transpirasi yang terjadi pada suatu tumbuhan sangatlah mungkin dipengaruhi oleh faktor lingkungan, faktor lingkungan tersebut berpengaruh terhadap laju transpirasi yang terjadi pada tumbuhan. Faktor-faktor lingkungan tersebut antara lain : 1. Cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya dibandingkan dengan dalam gelap. Hal ini terutama karena cahaya mendorong/merangsang tumbuhnya stomata dan dengan demikian sangat meningkatkan pemindahan udara berisikan uap air dari ruang-ruang udara lapisan bunga karang ke luar. Cahaya juga meningkatkan transpirasi dengan menghangatkan daun. 2. Suhu. Tumbuhan bertranspirasi lebih cepat pada suhu lebih tinggi. Pada 30oC daun dapat bertranspirasi tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan pada suhu 20oC. Hal ini disebabkan air menguap lebih cepat pada suhu lebih tinggi, dan dalam hal ini, juga meningkatkan kelembaban udara dalam ruang udara dibandingkan dengan yang di luar. 3. Kelembaban. Laju transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembaban nisbi udara sekitar tumbuhan. Laju difusi setiap substansi menurun karena perbedaan konsentrasi substansi dalam kedua daerah tersebut menurun. Kebalikannya pun benar. Karena itu difusi air dari ruang udara pada daun yang berisikan uap ke luar agak perlahan-lahan apabila udara disekitarnya

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

8

agak lembab. Bila udara di sekelilingnya kering, maka difusi berlangsung jauh lebih cepat. 4. Angin. Adanya angin lembut juga meningkatkan laju transpirasi. Jika tidak ada angin, udara dekat dengan daun yang sedang bertranspirasi makin lembab. Karena itu menurunkan laju transpirasi. Akan tetapi jika ada hembusan angin lembut, udara lembab itu terbawa dan digantikan oleh udara segar yang lebih kering. 5. Air tanah. Tumbuhan tidak dapat terus bertranspirasi dengan cepat jika kelembabab yang hilang tidak digantikan oleh air segar dari tanah. Bila penyerapan air oleh akar tidak dapat mengimbangi laju transpirasi, maka terjadi kekurangan turgor, dan stomata pun menutup. Hal ini dengan segera sangat mengurangi laju transpirasi. Selain faktor-faktor lingkungan diatas yang dapat ,mempengaruhi laju transpirasi, masih banyak lagi faktor internal dari tumbuhan tersebut yang dapat mempengaruhi laju transpirasi. Seperti tekanan akar, daya isap daun, dan daya kapilaritas batang. Meskipun tumbuhan kehilangan air dari proses transpirasi, tetapi ada pula manfaat yang diperoleh tumbuhan tersebut diantaranya : • • • • • • Pengangkutan air ke daun dan difusi air antar sel Penyerapan dan pengangkutan air, hara Pengangkutan asimilat Membuang kelebihan air Pengaturan bukaan stomata Mempertahankan suhu daun Selain transpirasi bermanfaat bagi kehidupan tumbuhan, tetapi dapat juga berakibat negative pada tumbuhan diantaranya : • Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapan air tidak mampu mengimbangi laju transpirasi, Ψw sel turun, Ψp menurun, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman menurun • Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi, meningkatkan lengas tanah, pada kisaran layu tetap – kapasitas lapangan

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

9

BAB III METODE PERCOBAAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 27 September 2010 pukul 14.00 sampai 16.30 wib di laboratorium fisiologi tumbuhan C10 FMIPA UNESA. B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimental, karena dilakukan percobaan untuk menjawab rumusan masalah, dan terdapat variabel-variabel dalam penelitian yang dilakukan.

C. Variabel percobaan
Variabel yang digunakan dalam melekukan percobaan ini antara lain :  Variabel kontrol :     Jenis tumbuhan (Impatien balsemia) Lama percobaan (30 menit sekali diamati) Volume air di dalam tabung erlenmeyer Tinggi tanaman Impatien balsemia  Variabel manipulasi :  Kondisi lingkungan (intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban)  Variabel respon :  Massa tanaman beserta erlenmeyernya  Kecepatan transpirasi

D. Alat dan Bahan
 Alat 1. Erlenmeyer 250 mL 2. Sumbat erlenmeyer dengan lubang ditengahnya 3. Timbangan 4. Termometer 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

10

5. Higrometer 6. Lux meter 7. Bohlam lampu 40 watt 8. Pisau tajam 9. Penggaris 10. Kertas milimeter

1 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah

 Bahan 1. Air 2. Vaselin 3. Dua pucuk tanaman Pacar air (Impatien balsemia) yang memiliki kondisi hampir sama sepanjang 30 cm.

E. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan bahan dan alat yang diperlukan. 2. Menyediakan 2 buah erlenmeyer, mengisinya dengan air volume 150 mL. 3. Memotong miring pangkal pucuk batang tanaman pacar air dalam air, dan segera memasukkan potongan tanaman tersebut pada tabung erlenmeyer melalui lubang pada sumbat sampai bagian bawahnya terendam air. Membuang bunga, kuncup, daun yang rusak dan mengolesi luka tumbuhan pacar air tersebut dengan vaselin. Demikian pula mengolesi celah-celah yang ada dengan vaselin (misalnya sekitar sumbat penutup). 4. Menimbang kedua erlenmeyer tersebut lengkap dengan tanaman pacar air dan air yang ada di dalamnya dan mencatat hasilnya. 5. Meletakkan erlenmeyer 1 di dalam ruangan dan erlenmeyer 2 pada tempat dengan jarak 20 cm dari lampu pijar 2 x 40 watt. Mengukur kondisi lingkungan kedua tempat tersebut meliputi suhu, intensitas cahaya dan kelembaban. 6. Setiap 30 menit menimbang erlenmeyer beserta perlengkapannya dan mencatat hasilnya. 7. Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

11

8. Setelah penimbangan terakhir, mengambil daun-daun pada tanaman tersebut, kemudian mengukur luas total daun tersebut dengan kertas milimeter/grafik, caranya sebagai berikut : • • Membuat pola masing-masing daun pada kertas grafik. Menghitung luas daun dengan ketentuan: apabila kurang dari ½ kotak dianggap nol, dan apabila lebih dari ½ kotak dianggap satu.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel Hubungan antara Faktor Lingkungan (Cahaya, Suhu, dan Kelembaban) terhadap Kecepatan Transpirasi Intensitas Cahaya (cd/m ) 1600 (terang) 600 (gelap)
2

Suhu (0C) 33 31

Kelembaban (%) 76 79

Berat Awal (g) 336,9 336,1 0,5 30’

Selisih Berat (g) 30’’ 0,3 (336,1) 0,1 (336,0) 30’’’ 0,2 (335,9) 0,1 (335,9)

Rata-Rata Selisih berat (g)

Kecepatan Transpirasi (g/menit/cm2) 1,06 x 10-4 0,247 x 10-4

(336,4) 0 (336,1)

0,3 0,06

Tabel luas permukaan daun
Erlenmeyer Daun ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Luas daun 5 12 8 8 14 9 11 2 6 6 13 11 11 14 15 11 11 3 4 4 Rata-rata

A (600 cd/m )
2

81

B (1600 cd/m2)

94

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

13

Gra Pe fik ngaruh Fa tor Lingk k unga (Int nsit s Ca ya Suhu, da Ke m n e a ha , n le baban t rhadap Ke pa a T e ce t n ranspira si

0,0003
Kecepatan Transpirasi (g/menit/cm2)

0,00025 0,0002 0,00015 0,0001 0,00005 0 600 1600 Intensitas Cahaya (lux)

Ket: A: tanaman pacar air yang tidak diberi cahaya Suhu: 310C Kelembaban: 79% Intensitas cahaya: 600 lux Kecepatan transpirasi: tanaman A= 0,3/30/81 = 1,06 x 10-4 g/menit/cm2 B: Tanaman pacar air yang diberi cahaya (lampu) Suhu: 33oC Kelembaban: 76% Intensitas cahaya: 1600 lux Kecepatan transpirasi: tanaman B= 0,06/30/94 = 0,247 x 10-4 g/menit/cm2

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

14

B. Analisis Data
Dari data percobaan dan grafik yang diperoleh pada percobaan ini dapat diambil suatu analisis bahwa pada kondisi gelap dengan suhu sebesar 31 oC, kelembaban udara sebesar 79%, dan intensitas cahaya sebesar 600 lux didapatkan kecepatan transpirasi pada tanaman pacar air adalah sebesar 0,0000247 gram/menit/cm2. Dan pada kondisi terang dengan suhu sebesar 33oC, kelembaban udara sebesar 76%, dan intensitas cahaya sebesar 1600 lux didapatkan kecepatan transpirasi pada tanaman pacar air sebesar 0,000106 gram/menit/cm2. Dari analisis ini dapat diketahui bahwa intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban yang dalam hal ini merupakan faktor lingkungan dapat mempengaruhi kecepatan transpirasi pada tanaman.

C. Pembahasan
Dari analisis data didapatkan bahwa kecepatan transpirasi pada tanaman pacar air dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang dalam hal ini yang mempengaruhi kecepatan transpirasi adalah intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban. Pada kondisi gelap dengan intensitas cahaya sebesar 600 lux dengan suhu sebesar 31oC, kelembaban udara sebesar 79% kecepatan transpirasi tanaman adalah 0,0000247 gran/menit/cm2. Hal ini terjadi karena pada tanaman tidak mengeluarkan banyak uap air atau yang disebut dengan transpirasi, sehingga kecepatan transpirasinya juga rendah. Pada kondisi terang dengan intensitas cahaya yang lebih besar yaitu sebesar 1600 lux dengan suhu sebesar 33oC, kelembaban udara sebesar 76% kecepatan transpirasi tanaman adalah sebesar 0,000106 gram/menit/cm2. Hal ini terjadi karena pada tanaman tersebut terjadi laju transpirasi yang tinggi sehingga banyak uap air yang dikeluarkan oleh tanaman melalui daun. Oleh karena banyaknya uap air yang dikeluarkan oleh tanaman akibat dari laju transpirasi yang tinggi maka kecepatan transpirasi juga tinggi dibandingkan dengan kecepatan transpirasi tanaman pada keadaan gelap. Hal ini disebabkan karena pada kondisi lingkungan dengan intensitas cahaya tinggi (80 watt/pada siang hari) maka stomata pada tanaman pacar air akan lebih cepat membuka sehingga proses transpirasi berjalan lebih cepat.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

15

Membukanya stomata karena pengaruh dari sel penutup yang mempunyai klorofil dan melakukan aktivitas fotosintesis dengan hasil terbentuk gula (larut dalam cairan sel penutup) sehingga menyebabkan Potensial Air (PA) cairan sel penutup turun dan Potensial Osmotik (PO) cairan sel penutup turun, yang selanjutnya terjadi turgor pada sel penutup kemudian stomata membuka dan terjadi transpirasi. Saat stomata membuka, maka akan ada penghubung antara antara rongga antar sel dengan atmosfer sehingga uap air akan keluar. Akibatnya PA di stomata lebih rendah dari pada di rongga antar sel, sehingga uap air yang ada di rongga antar sel akan masuk ke stomata dan terjadi transpirasi. Jika hal ini terus berlangsung, maka sel-sel yang menguapkan airnya ke rongga antar sel akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan air ini akan diisi oleh air yang berasal dari xylem tulang daun, selanjutnya tulang daun menerima air dari batang, dan batang menerima dari akar, begitu seterusnya. Jadi, dapat dikatakan jika intensitas cahaya yang mengenai tanaman itu tinggi, maka stomatanya akan lebih cepat membuka sehingga mempercepat jalannya air dari akar ke batang kemudian ke xylem tulang daun selanjutnya ke rongga antar sel dan samapi ke stomata hingga terjadi transpirasi. Sedangkan pada intensitas cahaya 600 cd/m2 mempunyai kecepatan transpirasi lebih kecil karena tidak banyak stomata yang membuka, sehingga uap air yang dialirkan ke udara lebih sedikit. Hal ini menjadikan potensial air dalam rongga antar sel tidak banyak mengalami penurunan. Sedangkan pada stomata, Potensial Osmotik (PO) dan Potensial Air (PA) cairan sel penutup tinggi. Sehingga terjadi osmosis dari sel penutup ke sel-sel sekitar yang mempunyai potensial air rendah sehingga stomata menutup dan terjadi aliran air yang menyebabkan sel penutup kekurangan air atau mengkerut. Hal ini mengakibatkan kecepatan transpirasi berjalan lambat. Hal ini juga berlaku untuk suhu, dimana pada suhu 330C kecepatan transpirasinya lebih cepat dibandingkan dengan suhu 310C, hal ini terjadi karena kenaikan suhu udara akan mempengaruhi kelembaban relatifnya. Meningkatnya suhu pada siang hari, biasanya akan menyebabkan kelembabab relative udara menjadi makin rendah. Sehingga akan mengakibatkan perbedaan tekanan uap air

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

16

di dalam rongga daun dengan di udara menjadi makin besar yang akhirnya dapat meningkatkan laju transpirasi. Sebaliknya pada suhu 310C kelembaban relatifnya tinggi sehingga perbedaan tekanan uap air di udara menjadi makin kecil yang akhirnya menjadilan laju transpirasi makin lambat. Laju transpirasi maupun kecepatan transpirasi pada suatu tumbuhan atau tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan internal maupun eksternal tumbuhan itu sendiri. Faktor lingkungan eksternal yang sering mempengaruhi kecepatan transpirasi adalah keadaan intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban udara yang ada di lingkungan luar tumbuhan. Tumbuhan akan bertranspirasi lebih cepat apabila cahaya atau suhu di lingkungan luar tumbuhan itu tinggi. Dan tumbuhan akan bertranspirasi lebih cepat apabila kelembaban udara di lingkungan luar tumbuhan itu rendah atau dalam kata lain udara tersebut kering.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

17

BAB V SIMPULAN
Cahaya dan suhu yang berada di lingkungan luar tumbuhan sangat berpengaruh terhadap kecepatan transpirasi tumbuhan tersebut. Semakin besar intensitas cahaya maupun suhu maka makin tinggi/besar kecepatan transpirasi tumbuhan. Semakin rendahintensitas cahaya maupun suhu maka makin rendah/kecil kecepatan transpirasi tumbuhan.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

18

DAFTAR PUSTAKA
Kimball, John W. 1983. Biologi Edisi 5. Bogor : Airlangga. Rahayu, Yuni Sri, dkk. 2008. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya: Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Unesa. Sasmitahardja, Dradjat, dkk. 1997. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : Depdikbud. Soerdikoesoemo, Wibisono, dkk. 1995. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->