Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

BAB 11 ANALISIS DAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL (ARPLS)

11.1 UMUM Dokumen Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ARPLS) merupakan acuan pengelolaan lingkungan dan sosial dalam Strategic Roads Infrastruture Project (SRIP). Dokumen ini disusun berdasarkan rekomendasi lingkungan dan sosial yang dikembangkan selama Studi Persiapan Proyek/Project Preparation Study SRIP dan di updated CTC SRIP. Secara umum, dokumen ARPLS terdiri atas: 1. Jenis sub proyek yang diusulkan 2. Gambaran umum aspek lingkungan dan sosial di wilayah proyek 3. Penyaringan lingkungan dan sosial 4. Konsultasi masyarakat 5. Rencana/proses Pengadaan Tanah dan pemberian kompensasi untuk tanah dan bangunan serta aset lainnya yang melekat. 6. Rencana/proses Pemukiman kembali dan penanganan warga yang terkena proyek 7. Rencana/proses Pemantauan lingkungan dan sosial 8. Rencana kerja pelaksanaan analisis dan rencana pengelolaan lingkungan dan sosial. Secara singkat, Tabel 11.1 menjelaskan isi pokok dokumen ARPLS tersebut. Rekomendasi penanganan yang diusulkan merupakan perbaikan dan penyempurnaan dari pendekatan penanganan sebelumnya dan disesuaikan dengan kebutuhan proyek SRIP dan kemampuan yang ada saat ini.

11 - 1

Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

Tabel 11.1

Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ARPLS)

Analisis dan rencana pengelolaan lingkungan dan sosial (ARPLS) awalnya disiapkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga dan tim konsultan Studi Persiapan SRIP. ARPLS merupakan perpaduan kebijakan yang terkait dengan lingkungan dan sosial antara peraturan perundangan Pemerintah Indonesia yang berlaku dan pedoman-pedoman dari Bank Dunia. ARPLS memuat prosedur-prosedur mengenai: Penyaringan Lingkungan dan Sosial : terdiri atas proses penyaringan lingkungan dan sosial yang telah ditetapkan untuk menjamin bahwa semua sub proyek yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan sosial memiliki mekanisme penanganan lingkungan yang tepat. Hasil penyaringan berupa: UKL & UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan) AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) SPPL (Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup) ANDAS (Analisis Dampak Sosial, pada program SRIP tidak ada yang memerlukan studi ANDAS) SLARAP/LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan – Rencana Tindak Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali) - Tracer (Studi Penelusuran Kembali) Konsultasi Masyarakat: menetapkan prinsip-prinsip konsultasi masyarakat untuk menjamin bahwa semua warga yang terkena dampak proyek memiliki informasi sedini mungkin mengenai rencana proyek jalan dan jembatan. Konsultasi dilakukan terhadap rumah tangga yang terkena dampak langsung, dan dilaksanakan survai yang tepat untuk menentukan potensi dampak. Proses konsultasi harus bersifat transparan kepada semua pihak yang terkena proyek. LSM dan pihak lain yang terkait juga akan dilibatkan dalam proses konsultasi. Pengadaan Tanah dan Pemberian Kompensasi untuk Tanah dan Bangunan serta Aset Lainnya yang Melekat: Pada prinsipnya, seluruh tanah dan bangunan serta aset lainnya yang melekat yang terkena proyek pembangunan jalan (termasuk ruang milik jalan/Rumija) yang dimiliki oleh warga terkena proyek (WTP), akan diberikan kompensasi berdasarkan harga pasar yang akan ditetapkan oleh tim penilai harga tanah (independen) atau harga penggantian (real replacement cost). WTP dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Warga yang mempunyai sertifikat yang sah, girik, atau hak adat (perorangan atau kelompok); Warga yang menguasai tanah pada lahan pemukiman, komersial, atau industri di lokasi proyek, tetapi belum mempunyai sertifikat atau bukti pemilikan yang sah; Warga yang menduduki tanah pada lahan prasarana dan fasilitas umum seperti: di atas sungai, jalan, taman atau fasilitas umum lainnya di daerah proyek; dan Warga yang berstatus sebagai penyewa.

Penanganan Pemukiman Kembali: Bagian ini menjamin bahwa semua warga yang secara langsung terkena dampak oleh usulan proyek jalan dan terpaksa harus dipindahkan akan diberi kesempatan untuk dimukimkan kembali oleh pemerintah daerah (Pemda). Jika WTP lebih dari 200 orang atau 40 KK dan terdapat warga yang secara fisik terpindahkan harus dilengkapi LARAP lengkap untuk menjamin bahwa semua warga terkena proyek diberikan kompensasi dan perlakuan yang wajar. Bila WTP kurang dari 200 orang atau 40 KK dan jika aset produktif yang hilang kurang dari 10% dan tidak terdapat warga yang secara fisik terpindahkan maka disiapkan LARAP sederhana (SLARAP). Namun ketentuan dilakukannya LARAP Sederhana atau LARAP Lengkap harus dikaji secara kasus per kasus. Pemantauan (Monitoring): Suatu sistem pemantauan berkala terhadap seluruh proses dan kegiatan yang tercakup dalam ARPLS, akan disusun berdasarkan hasil konsultasi dengan semua pihak yang berkepentingan. Rencana Tindak Pelaksanaan: Institusi pemerintahan yang memiliki peranan kunci di bidang lingkungan di tingkat provinsi atau kabupaten/kota adalah BLH, dan institusi tersebut memiliki tanggungjawab dalam beberapa aktivitas terkait dengan pelaksanaan ARPLS.

11 - 2

Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

11.2 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN a. Undang-Undang Republik Indonesia No.5 Tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria b. Undang-Undang Republik Indonesia No.5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. c. Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1992, tentang Kesehatan d. Undang-Undang Republik Indonesia No.38 Tahun 2004, tentang Jalan. e. Undang-Undang Republik Indonesia No.26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang. f. Undang-Undang Republik Indonesia No.22 Tahun 2009, tentang Lalu - Lintas dan Angkutan Jalan. g. Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.27 Tahun 1999, tentang Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. j. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. k. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.34 Tahun 2006, tentang Jalan. l. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

m. Peraturan Presiden Republik Indonesia No.36 Tahun 2005, tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. n. Peraturan Presiden Republik Indonesia No.65 Tahun 2006, tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden No. 36 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

11 - 3

tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.11 Tahun 2006.10 Tahun 2008 tentang Penetapan Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan UKL/UPL. v. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.Kep-056 Tahun 1994. Keputusan Kepala BAPEDAL No.13 Tahun 2010 tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup dan Surta Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.KEP-49/MENLH/XI/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). q. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 3 Tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi 11 . y. tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses AMDAL. z. x. 229 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL.08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. s. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. r. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.KEP-48/MENLH/XI/1996 tentang Baku Tingkat Getaran.4 . w. t.416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Keputusan Kepala BAPEDAL No. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Peraturan Menteri Kesehatan No. Keputusan Kepala BAPEDAL No.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial o. p. u.

PROSEDUR DAN PERATURAN 11. Pemukiman kembali (Involuntary Resettlement OP 4. 65/2006 tentang perubahan atas Peraturan Presiden No. 11. KERANGKA KEBIJAKAN.1 Sebagai Kebijakan dan Prosedur ’Safeguard’ Bank Dunia persyaratan penilaian dan persetujuan pinjaman.2 dan Tabel 11. Kebijakan dan prosedur safeguard dari Bank Dunia memiliki ruang lingkup yang bersifat luas sehingga ARPLS disusun dan dipersiapkan sebagai adaptasi serta penerapan safeguard dalam kerangka proyek SRIP. berikut ini safeguard yang penting bagi proyek SRIP: a.5 . dimana sebagian besar subproyek yang diusulkan merupakan kegiatan pembangunan jalan baru dan pengembangan kapasitas jalan (capacity expansion).12) Ringkasan safeguard dari Bank dan usulan penerapannya dalam proyek SRIP disajikan dalam Tabel 11.01) b. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan/AMDAL (Environmental Assessment OP 4. Berdasarkan kajian Tim Project Preparation Missions and Safeguard dari Bank Dunia. diperhitungkan dan ditangani secara cermat dalam siklus proyek.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Pembangunan Untuk Kepentingan Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden No.12 dan BP 4.3.3.11) d. SRIP merupakan proyek yang sebagian besar termasuk dalam “Kategori A” (mempunyai dampak signifikan terhadap lingkungan hidup) yang memerlukan studi AMDAL.04) c.3. Bank Dunia telah mengembangkan berbagai kebijakan dan prosedur safeguard sebagai ”pengamanan” untuk menjamin bahwa setiap potensi dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial dari proyek-proyek berbantuan Bank Dunia.36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 11 . Habitat Alami (Natural Habitats OP 4. Peninggalan Budaya (Cultural Property OP 4.

2 Ringkasan Persyaratan Persetujuan Safeguard dan Keterbukaan SRIP Sebelum Persetujuan Pinjaman Persetujuan Pemerintah Indonesia / Bank Dunia Washington DC Keterbukaan “Infoshop” Bank Dunia (www.6 .org): dokumen lengkap (dalam Bahasa Inggris) Sesudah Persetujuan Pinjaman Persetujuan Sebelum persetujuan pinjaman Keterbukaan “Infoshop” Dokumen lengkap (dalam Bahasa Inggris) dan Pemerintah Indonesia (dalam Bahasa Indonesia) Lokal (Pemerintah Indonesia) Dokumentasi ARPLS Menyeluruh Safeguard Sosial LARAP Perwakilan Bank Dunia Jakarta Infoshop /Pusat Informasi Masyarakat (PIC): SK Bupati/Walikota (dalam Bahasa Inggris) PIC: 1 contoh SK Bupati/ Walikota (dalam Bahasa Inggris) Infoshop / PIC: 1 contoh SK Bupati / Walikota (dalam Bahasa Inggris) PIC: 1 contoh SK Bupati/ Walikota (dalam Bahasa Inggris) Infoshop / PIC: Dokumen lengkap (dalam Bahasa Inggris) PIC: Ringkasan (dalam Bahasa Inggris) PIC: Laporan UKL & UPL untuk inter-urban dan urban masing-masing 1 buah (dalam Bahasa Inggris) Perwakilan Bank Dunia Jakarta LARAP Sederhana (SLARAP) Full Tracer Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Lokal (Pemerintah Indonesia) Lokal (Pemerintah Indonesia) Tracer Sederhana Lokal (Pemerintah Indonesia) Safeguard Lingkungan AMDAL/EIA (Kategori A) AMDAL / UKL&UPL (Kategori B) UKL&UPL Bank Dunia Washington DC Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Bank Dunia Washington DC Perwakilan Bank Dunia Jakarta Perwakilan Bank Dunia Jakarta Lokal (Pemerintah Indonesia) Lokal (Pemerintah Indonesia) Lokal (Pemerintah Indonesia) SPPL Lokal (Pemerintah Indonesia) 11 .worldbank.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tabel 11.

Section 1.7 . palaentologis. Aspek Lingkungan ). Kompensasi/Ganti Rugi yang Layak Pemerintah Indonesia telah menetapkan beberapa peraturan tentang proses pengadaan tanah termasuk kelayakan kompensasi/ganti rugi. (iii) OP 4. Syarat Kontrak. Prosedur Operasi Standar/Standard Operating Procedures (SOPs) untuk pengelolaan lingkungan disebutkan dalam Dokumen Lelang SRIP untuk semua sub proyek (lihat Section V.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tabel 11.12. sejarah. akan menjamin bahwa proyek tidak akan menimbulkan perubahan terhadap habitat alami penting atau perubahan dalam skala besar terhadap habitat alami disekitar proyek.17.3. 55 tahun 11 . prosesnya akan dilaksanakan sesuai dengan Kerangka Kerja Kebijakan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali/Land Acquisition and Resettlement Policy Framework yang digunakan oleh proyek.12 and BP 4.3 Ringkasan Pendekatan Untuk Penerapan Prosedur dan Petunjuk Pelaksanaan dari Bank Dunia.12 (Pemukiman Kembali). ARPLS bagi sub proyek yang berdekatan dengan habitat alami akan mencakup penanganan mitigasi untuk mencegah atau meminimalkan penurunan kualitas habitat alami. (v) Seluruh warga yang terkena proyek harus sudah mendapatkan ganti rugi atau disediakan lahan permukiman pengganti dan biaya pindah sebelum pengambilalihan asset mereka. Untuk sub proyek yang membutuhkan kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. (iv) OP 4.04 (Habitat Alami). Keputusan Presiden No. Untuk setiap usulan sub proyek dimana jumlah warga yang terkena proyek lebih dari 200 orang atau 40 KK dan terdapat warga yang terpindahkan maka perlu disusun dokumen sesuai pedoman Bank Dunia OP 4. Dokumen tersebut disahkan oleh Bank dan dilaksanakan hingga pembayaran kompensasi selesai untuk kemudian dapat dilanjutkan dengan proses pelelangan untuk kontraktor bagi sub proyek tersebut. Penyaringan lingkungan dan proses persetujuan AWP akan menjamin bahwa proyek tidak mengakibatkan kerusakan pada situs-situs yang memiliki nilai arkeologis. (ii) OP 4. Proyek akan mencakup pendekatan penyaringan untuk mengidentifikasi seluruh sub proyek yang melibatkan pengadaan tanah dan/atau pemukiman kembali. memuat prinsip ”kewenangan pemerintah” dimana tanah milik pribadi dapat diambil alih oleh pemerintah demi ”kepentingan umum”.11 (Peninggalan Budaya). Penyaringan lingkungan dan proses persetujuan Program Kerja Tahunan (AWP). Berdasarkan Undang-undang Agraria No 5 tahun 1960.2 Peraturan Pemerintah yang Relevan untuk Kebijakan Pengelolaan Lingkungan dan Sosial a. (i) OP 4. Dokumen lelang standar SRIP mengatur “Penemuan” dalam Section III. Proyek mencakup penyaringan lingkungan untuk mengidentifikasi sub proyek yang masuk kedalam kategori A menurut Bank Dunia atau diperlukan studi AMDAL dan untuk mengidentifikasi bahwa sub proyek memerlukan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL & UPL) yang spesifik. 11. keagamaan atau keunikan alam.01 (Environmental Assessment).12 dan BP 4.

10 0.26 0.7. 41 tahun 1999 dan KepMenLH No 48 tahun 1996 disajikan pada Tabel 11. 82 tahun 2001. Baku Mutu Kualitas Udara.4 dan 11.06 11 .05 0. Pendekatan Pemerintah Indonesia untuk Pemukiman Kembali Keputusan Presiden No. 55 tahun 1993 yang diganti dengan Peraturan Presiden No 36 tahun 2005 dan Peraturan Presiden No.4 Baku Mutu Kualitas Udara Ambien di Indonesia No 1 2 3 4 5 6 Parameter SO2 CO NOx O3 Debu Pb Satuan Ppm Ppm Ppm Ppm mg/m3 mg/m3 Baku Mutu 0. 65 tahun 2006 yang memuat prinsip pengadaan tanah dan pemukiman kembali pada proyek-proyek besar.1 20.0 0. Kebisingan dan Kualitas Air Pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Lingkungan Hidup (MENLH) telah menetapkan baku mutu kualitas udara.5. Namun peraturan perundangan tersebut belum mengatur prosedur yang rinci untuk pemukiman kembali bagi warga terkena proyek.6 dan 11. b.8 . Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. tingkat kebisingan dan kualitas air sebagai parameter evaluasi dampak proyek pembangunan jalan atau proyek-proyek lainnya yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Baku mutu kualitas udara dan tingkat bising yang ditetapkan Peraturan Pemerintah No. sedangkan baku mutu kualitas air sumur (PerMenKes No 416 tahun 1990) serta baku mutu kualitas air permukaan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. disajikan pada Tabel 11. 3/2007 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden No 36/2005 menetapkan prosedur untuk pengadaan tanah namun tidak untuk pemukiman kembali. Tabel 11.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial yang diganti dengan Peraturan Presiden No 36 tahun 2005 mensyaratkan penyelenggaraan konsultasi masyarakat dan persetujuan kesepakatan atas ganti rugi yang layak atas tanah dan hak milik tak bergerak lainnya.

Peruntukan kawasan : 1. Ruang hijau terbuka 5. Rekreasi 8. Perkantoran dan perdagangan 4.9 . Lingkungan Kegiatan: 1.Stasiun kereta api .6 Baku Mutu Kualitas Air Sumur No.Pelabuhan laut . Tempat ibadah Tingkat Kebisingan dB (A) 55 70 65 50 70 60 70 70 70 70 60 55 55 55 Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (MENLH) No.03 2.0 0.Perkebunan b. Rumah sakit 2. Khusus : . Perdagangan dan jasa 3. Pemerintahan dan fasilitas umum 7.24 - Sumber: Peraturan Pemerintah No.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial No 7 8 9 11 12 13 Parameter H2S NH3 HC Temperatur Basah Kecepatan Angin Arah Angin Satuan Ppm Ppm Ppm 0 C/% Knot/ - Baku Mutu 0. 1 2 3 4 5 Parameter I. Perumahan dan pemukiman 2. FISIK Zat padat tersuspensi Kekeruhan Rasa Temperatur Warna Satuan mg/l Scale NTU Visual 0 C TCU Baku Mutu *) 1500 25 No teste N±3 50 11 .Bandar udara/airport . 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara Tabel 11.5 Baku Mutu Tingkat Kebisingan di Indonesia Peruntukkan Kawasan / Lingkungan Kesehatan a. Industri 6. 48 /MENLH/11/1996 Tabel 11. Sekolah 3.

3.II.KES/Per/IX/90. 10.05 0.IV) No. 1. 9. ANORGANIK Merkuri Arsen Ion Fluorida Kadmium CaCO3 Klorida Kromium (VI) Mangan (Mn) Nitrat as N Nitrit. 3.5 Sumber : Peraturan Menteri Kesehatan No. 6.2 (-) 1 Temperatur Residu terlarut Residu tersuspensi II.5 10 1 6.2 1 1 II Deviation 3 1000 50 6–9 3 25 4 0.001 0. FISIKA Satuan °C mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L Kelas I Deviation 3 1000 50 6–9 2 10 6 0. 5.05 0.2 (-) 1 IV Deviation 3 1000 400 6–9 12 100 0 5 20 (-) 1 0.5 0.0 0.10 .05 10 0. Parameter I. as N pH Selenium Zn / Seng Sianida Sulfat Timbal III.05 1 1.2 (-) 1 III Deviation 3 1000 400 6–9 6 50 3 1 20 (-) 1 0.5 – 9.416/MEN.1 400 0. 1. 8. KIMIA AN ORGANIK pH BOD COD DO Total Posfat as P NO3 as N NH3 – N Arsen (As) Cobalt (Co) Barium (Br) Boron (B) 11 . 2.5 0. Tabel 11. 4.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial No. 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 1 2 Parameter Daya hantar listrik II.005 500 600 0.01 15 0.2 10 (-) 1 0.7 Baku Mutu Kualitas Air Permukaan/Sungai (Kelas I.2 10 0. 2. ORGANIK Organik (KMn04) Detergen Satuan Umhos/cm mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l Baku Mutu *) 1000 0.III. 11. 7.

23. 6.02 (-) 0.06 (-) 0.002 1000 200 1 210 17 3 2 0. 24.05 (-) 0.03 0.03 0.02 1. 26. 4. 7. 26. 22.03 (-) 0.06 (-) 0.05 0. 16.05 0. 25.3 0.06 400 0. 17.002 0.05 0. 19.82 Tahun 2001 11 .5 0. 13.02 0.05 (-) 0.002 1000 200 1 210 (-) (-) 2 0.01 1 0.002 1000 200 1 210 (-) (-) 2 0. 1.01 0.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 12.2 (-) 1 (-) 0.03 0. 14.03 (-) 0.03 0.02 1.11 .05 0.5 0. 21.005 2 (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) 2 Minyak dan Lemak Detergen as MBAS Fenol BHC Aldrin/Dieldrin Clordane DDT Sumber: Baku Mutu air permukaan / sungai kategori II berdasarkan Peraturan Pemerintah No.001 0.05 0.01 0. 15.02 0. 3. 20.02 (-) 0.1 0. 5. 2.05 600 0.5 0.01 0. 18.002 0.01 0. Selenium (Se) Kadmium (Cd) Khrome (Cr) Kopper (Cu) Besi (Fe) Timbal (Pb) Mangan (Mn) Merkuri (Hg) Seng (Zn) Khlorida (Cl) Sianida (CN) Fluorida (F) Nitrit as N (NO2) Sulfat (SO4) Klorin bebas (Cl2) Belerang as H2S III.05 0. KIMIA ORGANIK mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L ug/L ug/L ug/L ug/L ug/L ug/L ug/L 0.

1 Jadwal Umum Tahapan Usulan Proyek per Program Kerja/Work Program (WP) Strategic Roads Infrastructure Project (SRIP) 2005 2006 2007 PEN DAAN GA 2008 2009 2003 Konsep Rencana SRIP/ Persiapa n Tim Pengada an dengan PPDA 2004 LING SOSI K/ AL RUM IJA AWP WP 1 LING SOSI K/ AL RUM IJA PENG DAA ▲ A N WP 2 PENG DAAN ▲ A WP 3 LING SOSI K/ AL RUMI JA ▲Loan Agreement SRIP Penyerahan Pengaturan WP and Studi Lingkungan Studi Dampak Lingkungan dan Sosial dan Konsultasi di Tingkat Lokal Studi Detail Menyeluruh dan Pengadaan Tanah Rumija (jika ada) Pengadaan/Periode Konstruksi dengan Pelaksanaan dan Pemantauan Dampak akan Dikoordinasikan Dengan Pemerintah Daerah 11. 11.4. sejumlah 46 sub proyek menjadi prioritas usulan melalui kegiatan persiapan TASRIP sampai Desember 2004. Ringkasan deskripsi usulan sub proyek disajikan di Lampiran C dari dokumen ARPLS.12 . Sejumlah 22 sub-proyek dari seluruh sub-proyek SRIP saat ini diusulkan dibawah Program Kerja Tahun Pertama (Work Programme 1). Studi persiapan SRIP dan ARPLS difokuskan 11 .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Gambar 11.1 RONA LINGKUNGAN DAN SOSIAL DI WILAYAH PROYEK Diskripsi Wilayah Sub-proyek Berdasarkan sasaran dari SRIP yang telah disepakati serta kriteria seleksi dan evaluasi sub proyek.4.

lahan basah. Satu tim tenaga ahli mencakup Ahli Lingkungan dan Ahli Sosial. Diskripsi usulan sub proyek WP-1 juga disajikan di Lampiran C. tambak. photo-photo yang mewakili usulan alinyemen. Hasil identifikasi disajikan pada Tabel 11. data lalu lintas. ruas jalan yang diusulkan dalam sub proyek biasanya memiliki tingkat kepadatan lalu lintas dan kemacetan yang tinggi. kawasan lindung dan cagar budaya. : 11 sub-proyek. daerah pemukiman padat.13 . Sub-proyek WP-1 berdasarkan jenis pekerjaan yang diusulkan dan klasifikasi (jalan perkotaan atau jalan antar kota) adalah sebagai berikut: Peningkatan kapasitas/Capex Perbaikan jalan/Betterment Jalan Baru/New Bypass Road Jembatan/Bridge : 9 sub-proyek. : 4 sub-proyek. Oleh sebab itu. : 8 sub-proyek. : 1 sub-proyek. perkotaan antar-kota : 11 sub-proyek. 11 . sungai. rumah sakit. yang persiapan dan informasinya tersedia. sebagai bagian dari jaringan jalan strategis nasional.8. detil disain. didukung lembaran ringkasan data.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial pada sub-proyek WP-1. akan mengadakan kunjungan lapangan ke masing-masing sub proyek untuk mengidentifikasi area sensitif lingkungan meliputi sekolah. Semua pekerjaan fisik dari sub proyek yang diusulkan dalam SRIP terbatas pada jalan nasional. peta umum lokasi.

lebar standar w/ median tengah& perbaikan junction Jalan existing naik lebih dari 600 mm.4 Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (dekat ke 15 Ya (sungai : sungai sekolah dan 4 Boyolali ) rumah sakit) Tidak Tidak Ya (6 sungai : K. Soekarno .panjang < dari 10 km. banyak penduduk terkena proyek.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tabel 11. Cianjur Leutik.1 Pelapisan perkerasan dan perkerasan bahu jalan sepanjang area industri Pelebaran jalan 8.Kartosuro 15. < dari 40 LARAP. Jenis pekerjaan Ya (2 sungai : Kali Tracer.Losari. Sragilama. Tidak diperlukan pembebasan tanah. Randu.11 dengan jalan depan atau jalur lambat Ya 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (3 sekolah. UPL Ya (1 sungai Cengkareng Drain) 2 Banten / Jakarta Jawa Tengah Betterment (U) Jl. Banger.45 Pelapisan Struktur dengan perkerasan rigid/beton. Siderpa. Diperlukan pembebasan tanah untuk disain intersection.Sp Labuhan : Sect 1 17.5 Baru. Tuntang. lebar standar. Buyaran. Gede. AW-2. diperlukan pembebasan Simple Ya (1 sungai : Kali LARAP.4 Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (3 sekolah) Ya (4 sungai: K. tidak dijumpai isu lingkungan yang serius.14m. jumlah masyarakat terkena proyek > dari 200 orang. perluasan jembatan & culverts Pelebaran jalan 12 m . Bekasi 3. Jenis pekerjaan perbaikan jalan. Panjang jalan > 10 km. Cikaret and Cisarua Gede) SOP 11 Jawa Barat Jalan baru (U) Jl. Tidak diperlukan pembebasan tanah. Lahan Produktif. UKL / Peningkatan jalan. lebar standar.14m . AMDAL Tracer.) Ya (3 sungai: K. tambak dan lahan basah Dokumen Pengaman yang diperlukan Alasan Rasional Hasil Penyaringan AWP 1 1 RECOMMENDED CANDIDATE PROJECTS Jl.05 Pelebaran jalan 7 m. perbaikan struktur.Pasauran . Sebelumnya tanah sudah dibebaskan Pemda.Jumlah KK terkena proyek < 40 KK. Pekanbaru Jl. K. > dari 40 KK akan LARAP. jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan.pelapisan ulang &perbaikan simpang Pelebaran jalan dari 9 m menjadi 14 m. bridge JL.43 Pelapisan perkerasan 2 x 7 m (4 lajur) pembagian badan jalan dengan penggantian jembatan (Kabuyutan) Pelebaran 7. dll.75 drainage& perbaikan simpang jalan existing.simpel LARAP disiapkan oleh TA SRIP. Tidak diperlukan pembebasan tanah. Wonoboyo. lebar standar. ) SOP Jawa 18 Tengah Capex (I) Semarang . Kemiri. AMDAL 6 Jawa Timur Jalan baru (U) Ngawi Ring Road 10. Garong. jenis pekerjaan peningkatan kapasitas UPL jalan.07 standard w/ median tengah Pelebaran jalan dari 7 m menjadi 14 m. Lahan produktif/sawah.35 km). UKL / tanah<10 Ha. dan 2 jembatan (430 m & 150 m long) Jawa Barat Capex (U) Ya 95% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Ya (1 Universitas) Panjang jalan<10 km. w/ median tengah. Cianjur.5 km section dengan rigid pavement Lebar eksisting 7 m pelebaran jalan menjadi 14 m. Tracer. Pelebaran baru 7 m dan jembatan. tambahan drainase & jalur pejalan kaki. standard w/ median tengah dan 2 jalan Kereta Api Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (2 sungai ) Ya (2 sungai : Panjang dan Campang) Tidak UKL / UPL Lahan produktif. panjang < dari 10 km. Batas DKI .Tegal Bypass 17.Pekalongan Semarang .termasuk jalan perkotaan tidak diperlukan pembebasan tanah.Bawen (includes additional 5 km link to Toll) 19.ada dampak penting pada tahap konstruksi jalan baru.dengan drainage &perbaikan bahu jalan Tidak 100% Ya (1) Tidak Tidak Tidak Tidak Ya ( 2 sungai : Musi & Kemasah) Ya (6 sungai : Cibalu. standard sepanjang 6. jumlah masyarakat terkena proyek > dari 200 orang. Cikululu. perbaikan jembatan & junction Lebar eksisting 7 m pelebaran jalan menjadi 14 m. jenis Malang) pekerjaan Peningkatan jalan. jenis pekerjaan Peningkatan kapasitas jalan. Erbei. III P-2 2. dll.05 Lebar eksisting 7 m.Hatta.Tangerang) 2.LARAP sederhana disiapkan oleh TA SRIP. Cut Meutia. panjang jalan >dari 10 km. dan perkerasan bahu jalan Pelebaran 10 m menjadi 14 m. 13 Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Capex (I) Boyolali . standar untuk pembagian lebar badan jalan sepeda Ya 60% Tidak Tidak Tidak Ya (1 kuburan) Ya (3 Sekolah) UKL / UPL 17 Betterment (I) 22. Diperlukan pembebasan tanah. jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan. Lingkar Cianjur 7. 2 Rumah Sakit) UKL / UPL 11 . sepanjang 2. UKL / KK akan terkena proyek. w/ median tengah. 8 Lampung Capex (U) 18. Tidak diperlukan pembebasan tanah. berdampak penting pada tahap pra-konstruksi dan konstruksi jalan.terkait survey intersection diperlukan pembebasan tanah. Diperlukan pembebasan tanah untuk disain intersection.diperlukan pembebasan tanah.) Ya (6 sungai: K. AMDAL 12 Banten Betterment (I) Cilegon .14 .9 Realignment dan pelebaran. Sederhana jenis pekerjaan perbaikan /Betterment UKL / UPL / LARAP Sederhana UKL / UPL Diperlukan pembebasan tanah untuk disain intersection. 9 Riau Capex (U) 15. Ya 40% Ya (2) Tidak Tidak Tidak Tidak 10 Sumatera Selatan Betterment (U) 8. pelebaran 7 m (Tahap I) dengan jembatan & gorong-gorong /box culverts Ya 100% Ya (2) Tidak Tidak Ya (3 kuburan) Ya (1 sekolah) LARAP. jenis pekerjaan penggantian jembatan.diperlukan pembebasan tanah.1 Tidak 95% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (1 sekolah) Diperlukan pembebasan tanah < dari 10 ha. Bancang.diperlukan pembebasan tanah. tidak ditemui dampak besar dan penting terhadap lingkungan.median. Ringkasan Hasil Penyaringan Dampak Lingkungan Terhadap Paket-paket SRIP (AWP-1.88 drainage. Sibelis.LARAP sederhana disiapkan oleh TA SRIP. dll. Sayung. panjang jalan >dari 10 km. Kabuyutan.) 5 Jawa Tengah Jalan baru (U) Brebes .14 m untuk pembagian2 x 7 m. Cocorbebek. jalur pejalan kaki.5 Tidak 100% Ya (1) Tidak Tidak Tidak Tidak SOP Panjang jalan < dari 5 km.) SOP 4 Jawa Tengah Capex (U) Semarang Northern Ring Road. dengan drainage.5 m menjadi 14 m. jenis pekerjaan pemeliharaan.05 Penggantian jembatan Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak 15 Betterment (I) Pejagan . pelebaran jalan menjadi 14 m.perbaikan dengan realignmen Tidak 100% Ya (1) Tidak Tidak Ya (1 kuburan) Ya (3 sekolah) Ya (1 sungai : sungai Madiun ) 7 Jambi Betterment (U) Palmerah ( Ring Road I & II Jambi) Bandar Lampung Bypass + 2 No. Lajar. Daan Mogot (incl. berdampak penting pada tahap prakonstruksi dan konstruksi jalan. UKL / terkena proyek. jenis pekerjaan perbaikan jalan / Betterment. AWP-3) No. (Sec 1) 9. Palembang 22. jalur pejalan kaki Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (5 sungai: K.simpel LARAP disiapkan oleh TA SRIP. Jantur.55 perbaikan drainase. jenis pekerjaan perbaikan jalan. 2 universitas. Propinsi Jenis : (U = perkotaan I = antar kota Nama Sub-proyek Pjg (km) Lahan Berada di Terdapat Kebutuhan Terdapat Terdapat wilayah kawasan Damija Diskripsi Kegiatan Usulan Sub. dll.23 Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Panjang jalan < dari 10 km. jenis pekerjaan peningkatan UPL kapasitas jalan. Banjir Kanal Timur UPL dan Kali Tenggang) Ya (10 sungai: Kaligangsa. Wangandalam. 3 Capex (U) Demak Bypass 4. baru (Tahap 1) Ya 100% Ya (1) Tidak Tidak Tidak Ya (2 sekolah) LARAP. Panjang jalan < dari 10 km.Demak 20.8. Dolog.pembebasan kawasan peninggalan pemukiman konservasi proyek tanah untuk sudah lindung cagar budaya padat habitat alam Damija dibebaskan Terdapat sekolah dan rumah sakit Terdapat sungai. LARAP sederhana disiapkan oleh TA SRIP. Unter) 14 Jembatan (I) Kabuyutan (1 bridge) 0.lahan Damija yang diperlukan sekitar 30 ha.perluasan / culverts & jembatan Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya ( sungai ) Diperlukan pembebasan tanah untuk disain SOP / LARAP intersection. Tambahan Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak SOPs 16 Capex (I) Pemalang . Lingkar Barat.

14 m untuk dibagi 2 x 7m standard dengan median perkerasan bahu jalan Tidak 0% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (sungai) SOP 10 Capex (I) Trengguli .) Ya (15 sungai: K. drainase. UKL / proyek berada di daerah pasang surut dan banjir. Tidak diperlukan pembebasan tanah. (tanpa PKL dan pasar tumpah) 11 Yogyakarta Capex (I) Yogyakarta . Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak ND Tidak ada data None 4 Jawa Tengah Flyover (I) Kaligawe Flyover (on Semarang-Demak) 0.8 Ya Tidak ada data Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (sekolah) Ya (sungai. SOP Sebelumnya tanah sudah dibebaskan. 5 Jawa Tengah Fly Over (U) Kalibanteng Flyover 0. merupakan lahan UPL Utara) produktif. Catatan : Daan Mogot akan masuk projek Busway DKI Cut Meutia akan masuk projek JBIC AWP-2 Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah RECOMMENDED CANDIDATE PROJECTS Pelapisan perkerasan dan pekerjaan saluran drainase banjir 1 Betterment (I) Semarang . perlu penataan jalan berwawasan lingkungan.Kendal 10. 1 Tenggang and K. tidak ditemui dampak besar dan penting pada lingkungan. Winang. Katapangragas. tidak ditemui dampak besar dan penting pada lingkungan.Pilang 32. ada dampak penting Ya (sungai : Tarum Tracer.Hatta. diperlukan pembebasan tanah.81 pelebaran area pasar dan pekerjaan Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak 20 Jawa Timur Capex (I) Widang .Sleman Yogyakarta (Sec 1) 10.4 Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak ND Tidak ada data SOP Tidak diperlukan pembebasan tanah.47 1 fly over (termasuk dalam sub proyek Bekasi-Karawang-Cikampek) Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (1 sekolah) Tidak ada pembebasan tanah.43 Jalan layang / Flyover baru Ya 0% Ya (3) Tidak Tidak Ya (kuburan) Tidak Tidak 6 Jawa Barat Capex (U) Jl. Jenis pekerjaan pemeliharaan 2 Capex (I) Batang . 21 Jawa Barat Betterment (I) Karangampel . UPL Rumah sakit) Banjir Kanal Timur) Panjang < dari 2 km.Konsultan disain belum ditunjuk Ya 100% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Panjang < dari 2 km.8Km) 9.15 .Jati 10. K. tidak ditemui dampak besar dan penting terhadap lingkungan. peningkatan kapasitas jalan.0 Pelapisan ulang perkerasan Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak ada data SOP 11 .Tegal Pemalang 3. merupakan jalur Pantai Jawa Selatan.terkait survey intersection diperlukan pembebasan tanah. Ketiwon.Trengguli 6.7 m. Tracer. panjang > dari 10 km. panjang < 10 km.lebar jalan 7 dan 12 m.0 Pelebaran badan jalan dari 7 m menjadi 14m w/ median tengah Ya 0% Ya (1) Tidak Tidak Ya ND Ya (6 rumah sakit dan ada sekolah Ya 8 Capex (I) 43. UKL / merupakan areal komersil. 1 universitas. Bondet. lalu lintas sangat sibuk.0 Ya 30% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (sekolah) Ya (sungai) Diperlukan pembebasan tanah di lokasi pasar Karang UKL & UPL Anyar.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial No. diperlukan pembebasan tanah ±3 km (pasar Anyar) Ruas jalan ini akan menjadi koridor Jawa bagian selatan. dll) Diperlukan pembebasan tanah untuk disain jalan raya Simple dan intersection. dll. Tanah sudah dibebaskan. Bett-3. Medana. lebar standar. diperlukan pembebasan tanah.8 Perkerasan beton / Rigid pelebaran menjadi 4 jalur dengan tanggul / retaining wall Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak ND Tidak ada data SOP 3 Routine Maintenance (I) Semarang . UKL / pada pek. Cacaban. saluran irigasi di kiri dan kanan badan jalan. Ya (2 sungai: K. UKL / lokasi proyek berbatasan dengan kuburan Belanda. dll. UKL / jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan UPL Tidak diperlukan pembebasan tanah.tambahan drainase dan jalur pejalan kaki dan perluasan culverts Pelapisan perkerasan. Kedung. Turatis.Pekalongan 100. belum disiapkan UKL & UPL. Elon.diperlukan pembebasan tanah. UPL Panjang < dari 10 km. Ya (1 sekolah. Sepaser.Cirebon 28.Lamongan 5. penduduk terkena proyek < dari 40 LARAP. panjang > dari 10 km.kiri kanan jalan berbatasan dengan saluran serta LARAP irigasi.jenis pek.0 Tidak 100% Ya (2) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak ada data SOP Tidak diperlukan pembebasan tanah. Lawean. Propinsi Jenis : (U = perkotaan I = antar kota Nama Sub-proyek Pjg (km) Kebutuhan Lahan Berada di Terdapat Terdapat Terdapat Diskripsi Kegiatan Usulan Sub. Sidowayah.32 Masih dalam penyelidikan . LARAP.6 Eksisting sudah 4 lajur.18 Pelebaran badan jalan dari 7 m to 14m Tidak 100% Ya (2) Tidak Tidak Tidak SOP 9 Betterment (I) Demak . w/median tengah.Weleri (Capex-6KM. SOP orang.Kebumen 30. Tidak diperlukan pembebasan tanah. panjang > dari 10 km. Tracer. 19 Jawa Timur Betterment (I) Pasuruan .0 pelaksanaannya berdasarkan kontrak Pemeliharaan jalan rutin.jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan. Taman.) Dokumen Pengaman yang diperlukan SOP Alasan Rasional Hasil Penyaringan Tidak diperlukan pembebasan tanah. Bandung Pemalang Bypass (Sections 1 & 2) Brebes .8 Pelebaran dari 7 m menjadi 14 m Ya 100% Ya (3) Tidak Tidak Tidak ND Tidak ada data YES (6 sungai: K. LARAP. Konstruksi jalan baru. Bayeman.pembebasan Damija wilayah kawasan kawasan peninggalan proyek tanah untuk sudah pemukiman konservasi lindung cagar budaya Damija dibebaskan padat habitat alam Perbaikan pelebaran badan jalan 7 m mencakup perkerasan bahu jalan. tidak ditemui dampak besar dan penting terhadap lingkungan. panjang 23 km.jenis pek.usulan pelebaran dengan jembatan menjadi 14 m. Lingkung. tidak ditemui dampak besar dan penting terhadap lingkungan. diperlukan pembebasan tanah. panjang < dari 10 km. peningkatan kapasitas jalan. Perbaikan jalan. tambak dan lahan basah Ya (9 sungai: K.Sentolo 13. 13 Jawa Tengah Betterment (I) Buntu .51 struktur & perlakuan khusus untuk satu jalur Jalan baru bypass New bypass dengan Tidak 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak 22 Jawa Barat Jalan Baru (I) Karawang Bypass 11. LARAP sederhana disiapkan oleh TA SRIP.) 7 Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Tengah Capex (U) 7. UPL Panjang < dari 10 km.5 Ya 100% Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (1 sekolah) Tidak Ya (18 sungai: Kijing. dll. Soekarno . K. kali progo) UKL&UPL 12 Yogyakarta Betterment (I) Tempel . tidak ditemui dampak besar dan penting pada lingkungan. Sibangkang. Tidak diperlukan pembebasan tanah. Baros. tidak ditemui dampak besar dan penting terhadap lingkungan. diusulkan jembatan kembar disamping jembatan Kali Progo dgn rentang 150 m Pelebaran badan jalan 12 . drainase kiri & kanan. Pelebaran badan jalan dari 7m menjadi 14 m. LARAP. terdapat saluran irigasi di kiri jalan Eksisting perkerasan 6 . panjang > dari 30 km. Sibelis.jenis pek.perbaikan Terdapat sekolah dan rumah sakit Terdapat sungai.

Karawang 3.Piyungan (Sec 1) Jl. AMDAL Diperlukan pembebasan tanah.16 . dll.7 m standar.) LARAP. Diperlukan pembebasan tanah. drainase. K.Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan AWP.. ada dampak penting terhadap lingkungan.ada dampak penting terhadap lingkungan.ada dampak penting UPL terhadap lingkungan. Sosakjarang. Panjang < dari 10 km.3 Jalan baru. UKL / tanah. 2: Sedang: 3 : Padat/Tinggi ND . K.Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Tracer .ada penebangan pohon&jalan KA. lebar 7 m Ya 0% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak ada data 5 Jawa Timur Capex (U) Probolinggo Bypass 9.Keprekan 8.53 Pelebaran jalan dari 8 m menjadi 14 m Ya 0% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak ada data 6 Jawa Barat Capex (I) Cileunyi .Tidak ada data 11 . Carung. ada pelebaran jembatan.jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan UPL LARAP.1 Jalan baru. UKL / tanah.Program Kerja tahunan SOPs .jenis pekerjaan LARAP. diperlukan pembebasan tanah di beberapa bagian.mencakup bahu jalan.00+Km60. Gajahbarong.2 Pelebaran jalan eksisting Ya 50% Ya (2) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak AMDAL . 1 Jalan baru (U) Ambarawa Ring Road 7.lebar perkerasan antara 7 sp 15 m sebagian badan jalan sudah dibagi. diperlukan pembebasan tanah.1 Pelebaran dari 14 m menjadi 21 m Ya 0% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Tidak Ya (1 sungai: Cakung Drain) Panjang < dari 10 km. 3 Jakarta Capex (U) 9.7 Pembangunan jalan baru Ya 0% Ya(1) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Ya (sawah.rumah.diperlukan pembebasan bangunan. terdapat dampak besar UKL & UPL & penting terhadap lingkungan&sosial.Standar Prosedur Operasi Populasi (A) . dll.jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan.pembebasan kawasan peninggalan pemukiman konservasi sudah tanah untuk proyek lindung cagar budaya habitat alam padat dibebaskan Damija Pelebaran dari 7 . AMDAL Panjang < dari 10 km. 4 Jawa Timur Jalan baru (U) Sidoarjo Eastern RR 5.diperlukan pembebasan LARAP.Cikampek 4..0 Pelebaran badan jalan dari 7m menjadi 14 m. lokasi proyek LARAP melalui lahan produktif (sawah).ada UPL dampak penting terhadap lingkungan. Tracer. pohon dan jalan AMDAL & merupakan jalan perkotaan dan diindikasikan ada LARAP (Full) pencemaran udara. Tidak ada data Soko.14 m. 2x2 m perkerasan bahu jalan. usulan pelebaran menjadi 14 m Ya 0% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak Ya (3 sungai: K.diperlukan pembebasan LARAP. Terdapat sekolah dan rumah sakit Terdapat sungai.jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan UPL Panjang < dari 10 km. panjang < dari 10 km. UPL 7 Jawa Barat Capex (I) Bekasi .8 Ya 75% Ya(2) Tidak Tidak Tidak Ya (sekolah) Ya (sungai) 9 Jawa Barat Capex (I) Karawang . toko.Sub proyek termasuk Karawang bypass Peningkatan kapasitas sudah selesai oleh proyek sebelumnya. 15 Jawa Barat New Road (U) AWP-3 Jawa Tengah Jalan Lingkar Sukabumi 9. Raya Cakung Cilincing 5. ada dampak penting pada saat konstruksi jalan baru. Panjang < dari 10 km. melewati lahan produktif.jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan. jembatan &pekerjaan culvert. K. tidak ditemui dampak besar dan penting terhadap lingkungan..Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial No. UKL / tanah.Nagreg 7.Rencana Tindak Pembebasan Tanah dan Pemukiman UKL / UPL .6 Ya 0% Ya(3) Tidak Tidak Tidak Ya Ya (sungai) Diperlukan pembebasan lahan. Tidak 100% Ya (2) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data Tidak ada data SOP Tidak diperlukan pembebasan tanah.00). sebagian rumah & utilitas akan LARAP dipindahkan.diperlukan pembebasan LARAP. lebar 7 m Ya 0% Ya (1) Tidak Tidak Ya 2 Yogyakarta Betterment (I) Yogyakarta . UKL / peningkatan kapasitas jalan. tegalan) RECOMMENDED CANDIDATE PROJECTS Ya (5 sungai: K. standar dengan perbaikan kemiringan. tambak dan lahan basah Dokumen Pengaman yang diperlukan Alasan Rasional Hasil Penyaringan 14 Jawa Tengah Capex (I) Magelang .diperlukan pembebasan LARAP.0 Pelebaran badan jalan 6 .usulan 2x7 m dengan median. Pelebaran badan jalan dari 7m menjadi 14 m. Jambe.jenis pekerjaan peningkatan kapasitas jalan.1: Rendah.) Diperlukan pembebasan tanah. Propinsi Jenis : (U = perkotaan I = antar kota Nama Sub-proyek Pjg (km) Terdapat Berada di Lahan Kebutuhan Terdapat Terdapat kawasan wilayah Damija Diskripsi Kegiatan Usulan Sub. Kemacetan (Km34.Pasuruan 12. banyak bangunan UKL& UPL & terkena proyek.Laporan Penelusuran pembebasan tanah LARAP . lebar standar.65 Ya 0% Ya (3) Tidak Tidak Tidak Tidak ada data 8 Jawa Timur Capex (I) Gempol . UKL / tanah.

di Pulau Jawa juga terdapat dua wilayah administratif khusus yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. termasuk perbaikan persimpangan jalan dan solusi rekayasa lalu lintas. Fokus geografis dari sebagian besar sub proyek SRIP merupakan Koridor Transportasi Pantai Utara Jawa (Pantura).4. Mengacu kepada pedoman Bank Dunia.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. Melakukan sinkronisasi dengan disain ruas yang ada. dan Jawa Timur. Pantura terbentang sepanjang garis pantai utara Pulau Jawa yang meliputi empat provinsi: Banten.tugas sebagai berikut: 1. proyek harus melaksanakan pengadaan tanah dan studi LARAP tambahan pada sebagian besar persimpangan dalam sub-proyek. Selain empat provinsi tersebut. 4). Jawa Barat.4. penyiapan studi dan sosialisasi terkait pengadaan tanah untuk persimpangan. serta terdapat juga di Pulau Sumatera antara lain Lampung. Survai lapangan. Kegiatan tambahan ini akan mencakup: a. 11 .3 Gambaran Wilayah Sub-proyek Ringkasan lokasi wilayah sub-proyek yang diusulkan dan Pemerintah Daerah (pemerintah provinsi. Sosialisasi. Studi LARAP akan dilaksanakan oleh Konsultan SRIP. b. perbaikan lalu lintas dan meningkatkan keselamatan lalu lintas. 3. Hal ini mencakup tugas.16 . yang merupakan jaringan jalan yang paling sering dilalui kendaraan di Indonesia. Sumatera Selatan dan Jambi. Survai. Menyiapkan laporan studi LARAP. Konsultan harus menyiapkan kajian disain untuk usulan sub-proyek WP – 1. Dalam melaksanakan tugas tersebut. 2. Jawa Tengah. putaran dan persimpangan utama. yang mana tujuan utamanya untuk mengatasi masalah kapasitas. pemerintah kota/kabupaten) akan mencakup 8 provinsi dan 29 kota/kabupaten.2 Pengadaan Tanah untuk Persimpangan (Intersection) Sesuai permintaan Bank Dunia (dinyatakan dalam Addendum No. 11. tim Konsultan melakukan survey terhadap seluruh persimpangan jalan dan mendapatkan bahwa terdapat kebutuhan tanah untuk konstruksi persimpangan.

11. d.1 Pendekatan Penyaringan Lingkungan Proses penyaringan lingkungan proyek jalan dan jembatan di Kementerian Pekerjaan Umum adalah untuk menentukan apakah dibutuhkan kajian studi lingkungan dan sosial diperlukan (AMDAL. yaitu: a.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Pantura secara umum merupakan dataran pantai yang relatif sempit dan terbentuk oleh kekuatan vulkanik. Berdasarkan hasil penyaringan awal ini dan konfirmasi dari BLH dan Pemda.5. Penyaringan tahap awal adalah dengan memanfaatkan detail disain. Apakah ada proses pembebasan tanah di luar Rumija c. Penyaringan tahap kedua untuk menentukan tingkat kedalaman kajian lingkungan dan sosial (UKL/UPL atau AMDAL. Proses penyaringan dua tahap. konsultasi dan konfirmasi dari BLH serta instansi daerah terkait akan diperlukan 11 . Penyaringan tahap kedua memerlukan kajian lebih rinci tentang karakteristik proyek. Apakah ada pemukiman kembali (resettlement) yang disebabkan oleh pembangunan sub proyek jalan dan jembatan. Kunjungan lapangan. PENYARINGAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL 11. Pantura mempunyai sejarah sebagai pusat pemukiman. Penyaringan tahap awal untuk menentukan apakah diperlukan kajian lingkungan dan sosial. pengembangan budaya dan pertanian.5. data awal dari pemerintah daerah dan peta yang tersedia. Dengan hanya 6% areal lahan pedesaan. Karakteristik penanganan perkerasan jalan b.17 . SLARAP/LARAP dan Tracer) atau hanya cukup SPPL. sehingga menjadikan wilayah ini dipertimbangkan sebagai salah satu wilayah terpadat penduduknya di dunia saat ini. Apakah usulan sub proyek berada di dalam atau berdekatan dengan areal sensitif. diperlukan kajian penyaringan tahap kedua. Pertimbangan pokok yang dibutuhkan untuk proses penyaringan awal ini adalah sebagai berikut: a. SLARAP/LARAP dan /atau Tracer ). detil disain dan tingkat potensi dampak. b. sekitar 60% dari jumlah penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. UKL&UPL.

Proyek-proyek yang memerlukan UKL & UPL karena penanganannya tidak begitu intensif dikelompokkan dalam Kategori B.3 dan Tabel 11.18 . Pada dasarnya proyek-proyek wajib AMDAL termasuk Kategori A.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial untuk menyusun data yang lebih rinci. Proses penyaringan ini digunakan untuk menentukan apakah proyek termasuk dalam Kategori A menurut Klasifikasi Bank Dunia. Gambar 11. Pengecualian dari ketentuan untuk memutuskan Kategori A atau B akan menjadi kasus khusus yang memerlukan diskusi di Kementerian Pekerjaan Umum dan pihak Bank Dunia. termasuk kriteria pelaksanaan studi analisis dampak lingkungan yang lebih rinci. 11 . Hasil semua kegiatan penyaringan sub proyek dari masing-masing WP akan dipaparkan ke Bank Dunia untuk dikaji dan disetujui. Gambar 11.2.9 mengilustrasikan proses dan kriteria penyaringan lingkungan dan sosial untuk diterapkan dalam SRIP.

Peningkatan dengan pelebaran di dalam Rumija: a Kota Besar / Metropolitan . 21. 11 Tahun 2006: Pembangunan Jalan Tol ≥ 5 km Pembangunan subway/underpass. atau pembebasan lahan > 5 Ha •Kota Sedang. panjang > 5 km atau luas > 5 ha d. 19. panjang ≥ 30 km atau pembebasan lahan ≥ 30 Ha •Pembangunan Jembatan ≥ 500 m Apakah proyek akan melewati salah satu atau lebih daerah sensitive berikut : 1. Kota sedang kebawah. 8. 17. 11. panjang 5 km s/d < 30 km f. atau pembebasan lahan >10 Ha •Pedesaan. 22. 4. Pembangunan jalan layang dan subway. Kota besar. Kota Sedang. terowongan/tunnel ≥ 2 km Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran yang membutuhkan pengadaan tanah : •Kota Besar/Metropolitan. Daerah Pemukiman. 18. panjang < 5 km c. 6. Pembangunan/peningkatan jalan dengan pelebaran di luar Rumija : a. 5. Ibadah Cagar Alam (Usulan yang ada) Suaka Marga Satwa Hutan Konservasi Daerah Perlindungan Plasma Muftah Daerah Pengungsian Satwa Kawasan Bergambut / Lahan Basah Kawasan Resapan Air Sempadan Pantai / Sungai Kawasan Sekitar Danau / Waduk Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan Lain Kawasan Pantai berhutan Bakau Taman Nasional Taman Hutan Raya Taman Wisata Alam Kawasan Cagar Alam Budaya & Ilmu Pengetahuan Kawasan Rawan Bencana Alam Tanah dengan Kemiringan ≥ 40% Komunitas Adat Terpencil Berdampak Penting ? Ya AMDAL Ya Permen PU No. Kota Besar / Metropolitan. 20. panjang > 20 m b. panjang > 60 m 11 . Jembatan (pembangunan baru) a. 9. Komersial Lahan Produktif Bangunan monumental. panjang > 10 km. 14.Arteri / kolektor (panjang) > 10 km g. 3. 10. 16. Peningkatan jalan tol (up grade). 7. Peningkatan jalan tol tanpa pembebasan > 10 km e.2 Sesuai Permen LH 11/2006 Bagan Proses Penyaringan Lingkungan Ya Sesuai Permen LH No. 10/PRT/M/2008: UKL / UPL Tidak Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (SPPL) a. 13. panjang ≥ 5 km. 10/PRT/M/2008 Permen PU No. 15. panjang < 2 km b.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Gambar 11. 2.19 . panjang 3 km s/d < 10 km atau luas 5 ha s/d 10 ha c. Adat. Pedesaaan. panjang: 1 km s/d < 5 km atau luas 2 ha s/d < 5 ha b. Peningkatan jalan tol dengan pembebasan. 12.

≥ 2 km ≥ 500 m 4.000.000 . Pembangunan Jalan Tol Pembangunan dan/atau Peningkatan Jalan dengan Pelebaran yang membutuhkan pengadaan tanah : a. 1 PerMen LH No. 11 / 2006 Cat : Daerah Metropolitan Kota Besar Kota Sedang Kota Kecil Kota di Pedesaan Populasi > 1.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tabel 11.000 jiwa Populasi 200.200.000 jiwa Populasi 20. Bagan Proses Penyaringan Sosial 11 . Kota Sedang Panjang atau Pembebasan Lahan c.000 .20 . Kota Besar/Metropolitan Panjang atau Pembebasan Lahan b.000 – 1.20.3.9 Kriteria Usulan Proyek Jalan dan Jembatan Yang Memerlukan Studi AMDAL Tipe dari Aktivitas Proyek 1. terowongan/tunnel Panjang Pembangunan Jembatan Membutuhkan AMDAL1 Panjang ≥ 5 km 2. ≥ 5 km ≥ 5 ha ≥ 10 km ≥ 10 ha ≥ 30 km ≥ 30 ha 3.000 jiwa Populasi 3.000 .000 jiwa Gambar 11.500.000 jiwa Populasi 500.000. Pedesaan Panjang atau Pembebasan Lahan Pembangunan subway/underpass.

21 .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial RENCANA KEGIATAN MEMERLUKAN LAHAN Ya SURVEI SOSIAL EKONOMI SLARAP/ LARAP Tidak LAHAN SUDAH BEBAS < 2 tahun > 2 tahun SURVEI SOSIAL EKONOMI TRACER STUDY TIDAK MEMERLUKAN STUDI SOSIAL 11 .

2 Ringkasan Hasil dan Rekomendasi Penyaringan dan Pengelolaan Lingkungan Berdasarkan pelaksanaan proses penyaringan dan kajian oleh Kementerian Pekerjaan Umum.5. Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Misi Persiapan Proyek Bank Dunia.22 . studi pendukung yang diperlukan adalah sebagai berikut: Program Kerja (WP-1): Studi Kelayakan Studi LARAP Studi Tracer Studi AMDAL UKL & UPL Program Kerja (WP-2 dan 3): Studi Kelayakan Studi LARAP Studi Tracer Studi AMDAL UKL & UPL : Diperlukan untuk 10 sub proyek : Diperlukan untuk 15 sub proyek : Diperlukan untuk 2 sub proyek : Diperlukan untuk 3 sub proyek : Diperlukan untuk 13 sub proyek : Diperlukan untuk 14 sub proyek : Diperlukan untuk 1 sub proyek : Diperlukan untuk 10 sub proyek : Diperlukan untuk 3 sub proyek : Diperlukan untuk 10 sub proyek Salinan seluruh studi yang telah selesai dikirimkan kepada Bank Dunia dan Instansi Pemerintah Daerah terkait untuk dikaji dan disetujui sebelum persetujuan akhir pendanaan sub proyek dan penerbitan No Objection Letter oleh Bank.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. 11. Seluruh sub proyek yang membutuhkan studi detail tersebut dilengkapi dengan rencana aksi pengelolaan dampak lingkungan dan sosial.5. beberapa sub-proyek yang diusulkan dalam SRIP membutuhkan UKL&UPL dan/atau studi AMDAL dan/atau SLARAP/LARAP dan/atau Studi Tracer. yang perlu dikaji dan disetujui oleh Bank sebelum dikeluarkannya No Objection Letter (NOL) oleh Bank agar proses tender dan konstruksi dapat dilaksanakan.3 Rekomendasi Pendekatan Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Berdasarkan informasi yang ada dan hasil penyaringan. Langkah-langkah pengelolaan lingkungan untuk sebagian besar sub-proyek SRIP yang tidak membutuhkan studi yang lebih detail akan dilengkapi dengan dokumen SOP sebagai bagian dari Dokumen Standar Pelelangan SRIP untuk lelang internasional dan lelang 11 .

Isu utama kegiatan dan tanggung jawab pengelolaan lingkungan selama siklus konstruksi disajikan dalam Gambar 11. kota dan kabupaten. Bagian khusus dokumen tender SRIP ini disiapkan di lampiran ARPLS sebagai referensi. yang didukung oleh Core Team Consultant (CTC) dan Construction Supervision Consultant (CSC). Ringkasan dari bagian tentang pengelolaan lingkungan yang terdapat pada dokumen standar pelelangan SRIP disajikan di Lampiran E dari dokumen ARPLS. Pengawasan dan bantuan pelaksanaan ARPLS akan disediakan oleh Unit Pengelolaan Proyek (PMU) SRIP. Isi dokumen ARPLS ini termasuk 11 . supervisi konstruksi dan pemantauan di lapangan sesuai dengan persyaratan kontrak dalam dokumen tender SRIP yang mencakup langkah-langkah pengelolaan lingkungan yang umum sebagai standar ketentuan operasi (SOP). diperkirakan sebagian sub proyek akan melibatkan kegiatan pengadaan tanah dan bangunan atau pemukiman kembali untuk kebutuhan ruang milik jalan (rumija). CSC akan bertanggung jawab dalam mendukung penyiapan disain.5. Kerangka kerja proyek dan proses khusus untuk kegiatan tersebut disiapkan secara detail. Sebagai hasilnya.4 Peran dan Tanggung Jawab dalam Pengelolaan Lingkungan Keefektifan pelaksanaan ARPLS akan menjadi tanggung jawab Instansi Pemerintah terkait di tingkat provinsi. dokumen standar pelelangan SRIP menyediakan langkah-langkah pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang menyeluruh yang dapat menjawab kebutuhan khusus untuk setiap sub-proyek. 11.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial nasional. Berdasarkan jenis kegiatan dan wilayah sub proyek yang diusulkan.23 . Dokumen tersebut disiapkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dan mengacu pada standar FIDIC dengan bagian khusus mengenai langkah pengelolaan lingkungan. dan karenanya mempunyai konsekuensi hukum terhadap kontraktor dan tenaga ahli. Penting untuk dicatat bahwa persyaratan-persyaratan ini merupakan bagian dari kontrak yang telah disetujui dan ditandatangani. Team CTC akan terdiri dari Ahli Lingkungan yang akan terlibat langsung dalam proses penyaringan lingkungan sub proyek untuk mengidentifikasi dampak potensial dan melaksanakan pemantauan.4.

kerangka kerja dan prosedur pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Salinan akan ditembuskan ke BLH dan stakeholder untuk mendukung kebijakan pengelolaan lingkungan di daerah. telah diusulkan program pelatihan di tingkat daerah yang bertujuan untuk melakukan diseminasi kebijakan safeguard Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia. salinan ARPLS final akan tersedia di Website (www. Peserta pelatihan adalah pemerintah provinsi. Dinas PU. 11 .worldbank. SPPL. Untuk mendukung pelaksanaan ARPLS ini. kabupaten/kota seperti BLH. yang berisi tentang kebutuhan studi sosial dan lingkungan seperti AMDAL. SLARAP/LARAP dan Tracer. Dalam rangka mendukung semua pelaksanaan proyek.24 . UKL & UPL. serta dokumen lainnya yang dibutuhkan proyek.org) dan didistribusikan pula pada pusat informasi umum (PIC) Bank Dunia di Jakarta. Selanjutnya ARPLS yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan didistribusikan ke Instansi Pelaksana dan Tim Konsultan sebagai bagian dari Petunjuk / Manual Pengelolaan Proyek (PMM). Bappeda dan stakeholder lainnya yang terkait.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial didalamnya pengadaan tanah yang disusun berdasarkan Kerangka Kerja Kebijakan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali yang akan menjadi bagian dari Loan Agreement SRIP dan dapat dilihat dalam Lampiran D dari dokumen ARPLS.

Masukan CSC / detil disain 2.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Gambar 11.25 .Tracer) dengan pembinaan dari Subdit Tek Lingk. Pemantauan CTC dan laporan pada semua proyek.4 Usulan Proses untuk Penilaian Progresive. Pemeriksaan dan evaluasi CTC 3. dan CTC SubDit Pemeriksaan World Bank reviews CTC Pemeriksaan Penyiapan Studi oleh Pemerintah Daerah / dengan dukungan dan pedoman CTC Penerbitan NOL ? Dinas PU / BLH / Bupati Pemeriksaan / Input / Penerbitan Surat Rekomendasi Persetujuan studi termasuk Dokumen Tender Ka-SNVT / Kasatker P2JN / Kontraktor melaksanakan Sub proyek dengan Laporan Pemantauan yang disiapkan oleh CSC / BLH. Pemeriksaan dan Dokumentasi Dampak dan Pengukuran Pengelolaan Sub-proyek SRIP Daftar panjang Sub proyek potensial Daftar pendek usulan sub proyek CTC melaksanakan penyaringan awal kelayakan dan safeguard Program Kerja Tahunan (AWP) Persiapan dan pengiriman untuk No Objection Letter (NOL) PMU / pemeriksaan bank dan persetujuan 1. Konfirmasi hasil penyaringan dengan BLH dan lainnya 4. Kunjungan lapangan & Rapat Pelaksanaan Studi detil (AMDAL. UKL&UPL. meliputi kebutuhan /rencana tindak Studi detil 11 . LARAP.

Bank mensyaratkan bahwa warga yang terpindahkan diinformasikan sedini mungkin. Untuk proyek Kategori A. perlu disiapkan pula ringkasan kesimpulannya.6. Warga yang terpindahkan harus diinformasikan dan dilakukan konsultasi selama masa penyiapan 11 . Bank mensyaratkan bahwa seluruh rumah tangga yang terkena proyek diberikan informasi yang lengkap mengenai peraturan yang berkaitan dengan jumlah ganti rugi terhadap hak milik serta informasi mengenai kompensasi khusus sedini mungkin.26 . konsultasi harus dilaksanakan sekurangnya dua kali: pertama setelah penyaringan lingkungan dan sebelum Kerangka Acuan ANDAL penyusunan AMDAL diselesaikan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. Setelah draft laporan AMDAL disusun. Draft AMDAL juga harus tersedia untuk dipelajari oleh LSM dan warga yang terkena dampak. Konsultasi sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin. Sebagai tambahan. Untuk seluruh hal yang berkaitan dengan pengadaan dan kompensasi tanah. agar dibuat ringkasan usulan proyek. Pada dasarnya Bank menginginkan adanya konsultasi dan partisipasi pada setiap tahapan proses perencanaan dan desain serta merekomendasikan dilaksanakan konsultasi sedini mungkin: Untuk Analisis Lingkungan. harus disiapkan materi yang relevan dalam waktu yang mencukupi sebelum dilaksanakan konsultasi serta dalam bentuk dan bahasa yang mudah dimengerti oleh kelompok masyarakat peserta konsultasi. Untuk proyek kategori A. Bank mensyaratkan bahwa peminjam (dalam hal ini Pemerintah Indonesia) melakukan konsultasi kepada warga yang terkena proyek dan LSM terpilih mengenai aspek lingkungan sub proyek dan bahwa tanggapan mereka dipertimbangkan. Agar konsultasi dapat berjalan efektif.1 Pedoman Bank Dunia Bank Dunia menggambarkan bermacam proses konsultasi yang dibutuhkan bagi Analisis Dampak Lingkungan dan Pemukiman Kembali. uraian dampakdampak yang potensial.6. Dalam menghadapi kegiatan pemukiman kembali (involuntary resettlement). konsultasi dapat dilaksanakan sesuai keperluan selama masa pelaksanaan proyek untuk menangani masalah yang terkait dengan AMDAL. dan kedua setelah draft AMDAL disiapkan. untuk konsultasi. tujuan. KONSULTASI MASYARAKAT 11.

Untuk penyusunan AMDAL. Konsultasi untuk penyusunan AMDAL. d. 08/2006 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.27 . Konsultasi untuk pengadaan tanah dan kompensasi untuk lahan. sedangkan Keputusan Kepala Bapedal No. Mereka harus dapat memilih dari beberapa alternatif yang layak. Pemrakarsa harus mengumumkan rencana penyusunan AMDAL kepada masyarakat melalui media/koran maupun melakukan konsultasi publik (sebelum dilakukan penyusunan KA-ANDAL) dengan BLHD.3 Konsultasi Masyarakat untuk Penyusunan AMDAL Keputusan Kepala Bapedal No. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok masyarakat yang sensitif seperti etnik minoritas. Pemrakarsa kemudian menyusun Kerangka 11 . masyarakat dan seluruh stakeholder diajak berkonsultasi pada berbagai tahapan proses AMDAL. 09 Tahun 2000 yang telah diganti dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. Konsultasi dapat dilakukan terhadap pemimpin serta perwakilan resmi atau tidak resmi dari masyarakat atau LSM. bangunan dan hak milik yang tidak bergerak lainnya.6.6. Konsultasi untuk pemukiman kembali. warga yang bukan pemilik lahan serta kepala keluarga perempuan. c. e. b. Warga penerima juga harus diinformasikan pada setiap tahap pelaksanaan.2 Ringkasan Proses Konsultasi Masyarakat oleh Pemerintah Pemerintah Indonesia mempunyai berbagai proses konsultasi masyarakat yang relevan dengan perencanaan dan desain proyek jalan yaitu: a. Konsultasi pada saat persiapan suatu program jalan daerah dan pada perencanaan dan desain setiap ruas jalan. Konsultasi untuk rehabilitasi. 08 Tahun 2000 mengatur tentang prosedur konsultasi (Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses penyusunan AMDAL). seperti yang diuraikan sebagai berikut: a.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial dokumen rencana pemukiman kembali mengenai pilihan dan hak mereka. 11. 11.

Konsultasi sebaiknya dilaksanakan bersama stakeholder dan LSM. c.10 dibawah ini. serta menjelaskan masukan-masukan dari masyarakat pada saat pembahasan KA-ANDAL. 11 . disajikan pada Tabel 11. Pimpinan proyek harus memperoleh data dan kemudian menyiapkan KA-ANDAL. e.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL) dan menginformasikannya kepada masyarakat dan BLHD. d. Konsultasi terhadap seluruh stakeholder yang telah dilaksanakan pada setiap sub proyek dalam WP 1. Masyarakat dapat memberikan berbagai tanggapan terkait rencana pekerjaan jalan sampai dengan dalam waktu 30 hari kerja setelah dilakukan pengumuman di media kepada BLHD dan Pemrakarsa. b. KAANDAL kemudian diserahkan kepada Komisi Penilai (yang terdiri dari BLHD.28 . Kementerian Pekerjaan Umum dan instansi terkait) untuk dinilai. Pemrakarsa/Konsultan harus menjelaskan proses pelaksanaan konsultasi masyarakat/pulbik.

masyarakat. Pemilik bangunan liar ilegal Pemda akan memberi semacam kompensasi kepada pemilik bangunan liar dalam Damija berdasarkan SK Walikota bandar lampung dan pemilikbangunan liar harus pindah sebelum pelaksanaan konstruksi. Semarang ANDAL RINGKASAN KONSULTASI MASYARAKAT UNTUK SUB PROYEK SRIP Dihadiri (Orang) LSM 4 Pemda 12 Konstruksi akan Pemda melalui Bappedalda akan memonitor pelaksanaan konstruksi dan mempertimbangkan ARPLS / ESAMP. mekanisme keluhan 6 Jl. dan kompensasi akan diberikan berdasarkan persetujuan masyarakat terkena proyek dan panitia pengadaan tanah. Konsultasi masyarakat Masyarakat dapat berpartisifasi dalam pemantauan dan pengawasan Anti dalam Anti Korupsi. Land acquisition will be conducted appropriate with World Bank and GOI procedures and there will be a recalculation for PAP numbers in SoekarnoHatta Pekanbaru. Tata Northern Ring Ruang Rapat Wakil Road Walikota.10 AMDAL TOR 1 Jl.konstruksi akan dilaksanakan pada th 2005. Sub Proyek Tanggal & Tempat UKL/ UPL ? Isu Utama Komentar 2 18 66 3 Semarang 13 April 2004.gangguan terhadap saluran irigasi akan di kurangi dan akan dibangun kembali disesuaikan dengan alinyemen jalan. Aula Kantor Andal Kab. Proyek di Jawa Pondok Serata. Penanganan pencemaran kualitas air yang disebutkan di dokumen RKL & RPL dan ini akan dilaksanakan dibawah pengawasan Bapedalda. SoekarnoHatta. Pekanbaru Cianjur Ring Road 10 October 2003. Pembebasan tanah akan dilaksanakan dengan prosedur tepat dari Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tabel 11. Jika ini tidak dilaksanakan. Cianjur 19 May 2004. tetapi jumlahnya tergantung kebijakan Pengelolaan lingkungan Pemda. Pengelolaan lingkungan berupa penerapan UKL & UPL selama selama tahap konstruksi. Bekasi Ruang Rapat Bappeda Semua Sub 1 September 2004.masyarakat dapat langsung menyampaikan keluhan ke Bapedalda. Ibis Hotel Pekanbaru ? 7 13 5 10 25 Pembebasan tanah. Pemindahan sekolah yang terkena proyek sudah direncanakan dan Pemda telah menyiapkan lahan penggantinya.29 . Korupsi dengan menjadi anggota Komite Anti Korupsi atau tidak. Hotel Sanggabuana. Kantor Kecamatan Kedaton Bandar Lampung 12 October 2004. Pemda keluhan. Aula Kantor Camat Tampan 16 March 2004. Cut Meutia. 13 February 2004. Cipanas ? ? 5 14 Pembebasan tanah 7 2 22 Kualitas air ? 4 19 Jaringan irigasi dan pemindahan sekolah 11 . bahwa konstruksi akan berdampak terhadap pemukiman sekitarnya pengurangan pemukiman. Isu sosial akan ditangani dengan sosialisasi untuk menampung persepsi masyarakat. mekanisme dan akan membentuk suatu Badan independen yang akan menangani keluhan isu sosial. No. Public can directly or indirectly complain to project manager and it will be followed up with appropriate UKL/UPL docs. Pemilik bangunan liar Disarankan bahwa Pemda memberikan semacam kompensasi kepada dalam Damija. pemilik bangunan liar dalam Damija. Semarang ? 4 20 4 Bandar Lampung Bypass Semua Sub Proyek di Sumatera 25 Maret 2004. masa konstruksi dan diawasi Bapedalda.

Dampak penting konstruksi akan ditangani berdasarkan dokumen UKL & UPL. Pembebasan tanah sudah dilaksanakan pada th 2001 . Jambi √ - 11 13 Widang-Gresik 29 Desember 2003 √ 6 26 Penghijauan. tapi masih ada sebagian kecil penduduk terkena proyek belum dibebaskan. 1 Mengganggu jaringan irigasi. Kec. Kecelakaan lalu lintas akan dikurangi dengan penambahan traffic signal dan traffic managemen. 11 Ngawi Ring Road 24 April 2004 √ 12 Palmerah Ring 22 June 2004 Road.30 . Brebes .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial No. kecelakaan Pemda meyakinkan bahwa konstruksi tidak akan mengganggu jaringan lalu lintas.Tegal 14 January 2004. Kec. Kantor Kecamatan Wanasari 9 Pemalang Pekalongan 11 May 2004. Prosesnya akan dilakukan dengan peraturan Pemerintah yang tepat dan kesepakatan dengan penduduk terkena proyek. 8 Sub Proyek Tanggal & Tempat AMDAL TOR √ ANDAL UKL/ UPL Dihadiri (Orang) LSM Pemda 16 Isu Utama Pelaksanaan Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ARPLS) Sistem drainase Komentar ARPLS / ESAMP akan dilaksanakan oleh Konsultan independen dibawah pengawasan Bapedalda dan Pemda akan membentuk Badan independen untuk menangani setiap keluhan masyarakat terkait pelaksanaan ARPLS / ESAMP Perencanaan Detil Disain (DED) bypass termasuk sistem drainase dan tidak akan mengalihkan arus aliran sistem drainase. Dampak yang timbul dikarenakan adanya perubahan fungsi lahan.artinya sawah-sawah yang ada masih akan mengambil air dari sistem yang akan dibangun di masa depan. Caatan : Cut Meutia akan masuk projek JBIC 11 . managemen lalu lintas. drainase irigasi dan kecelakaan lalu lintas dan akan dikurangi oleh perbaikan untuk sawah. Pimpinan proyek berjanji untuk menjaga beroperasinya utilitas umum sesuai biasanya selama tahap konstruksi dan tidak akan membuat kerugian dikarenakan gangguan operasional utilitas umum.2003. Pelaksanaan perkiraan konstruksi proyek adalah pada awal 2006. Sayung Kota Semarang 13 January 2004 √ √ Pelaksanaan proyek. penurunan kecelakaan lalu lintas. Proyek akan membangun kembali jaringan irigasi dan tidak akan menyebabkan gangguan terhadap sawah eksisting. tapi masih tentatif. penanganannya dengan menetapkan perencanaan baru kota dan pengendalian tata ruang. Kauman √ - 22 √ Pembebasan tanah 10 SemarangDemak 12 February 2004. Bypass Kantor Kecamatan Brebes 15 January 2004. Dampak kegiatan konstruksi terhadap pengoperasian utilitas umum. Perubahan fungsi lahan setelah pengoperasian jalan.

4 Rekomendasi Untuk Konsultasi Masyarakat Proyek ISEM (Institutional Strengthening Environmental Management) dan SCRIM (Strengthening Capabilities in Environmental and Social Impact Management in Road Development) telah menyiapkan satu set prosedur. daerah maupun masyarakat. 11. Pendekatan yang dibuat ISEM dan SCRIM (Strengthening Capabilities in Environmental and Social Impact Management in Road Development) telah disempurnakan dan disederhanakan sebagai dasar pembentukan ARPLS. Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah yang tepat untuk memastikan bahwa seluruh kelompok dan institusi mengetahui isi dari ARPLS serta implikasinya secara nasional dan khususnya pada pembangunan jalan.31 . Balai kerja proyek akan menyediakan langkah awal dalam proses keterbukaan masyarakat namun masih akan diadakan konsultasi dan kegiatan penyebaran informasi dan diseminasi mengenai seluruh isi ARPLS sebagai bagian dari petunjuk /manual pengelolaan proyek SRIP. proses dan pedoman yang berhubungan dengan konsultasi masyarakat. Pedoman tersebut merupakan gabungan persyaratan antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia dan telah diterima oleh kedua belah pihak sebagai pendekatan bagi pelaksanaan konsultasi di masa mendatang.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Laporan ARPLS menetapkan prosedur umum yang disepakati dan akan menjadi acuan untuk seluruh sub-proyek jalan dan jembatan pada SRIP. 11 . Konsultasi dengan seluruh stakeholder yang terkena dampak pada seluruh tahapan proses pembangunan jalan. Sesuai dengan prosedur Bank Dunia. sehingga dapat diketahui secara luas (khususnya bagi LSM dan kelompok masyarakat serta seluruh tingkat pemerintahan). Dokumen ini dijadikan sebagai acuan utama yang dipublikasikan di Indonesia baik di tingkat nasional.6. Pokok Pokok proses konsultasi tersebut adalah: a. dokumen ini menjadi dokumen publik dan akan tersedia dalam internet ataupun hard copy untuk umum.

Melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kelompok stakeholder lainnya dalam seluruh tahapan konsultasi di tingkat bawah.32 . k. sampai lembagalembaga di Pemda. Sosialisasi dan konsultasi akan dilaksanakan bersamaan dengan survey sosial ekonomi bagi seluruh warga terkena proyek (WTP) dan pihak terkait. i. dialog atau metode lainnya sesuai dengan kondisi masyarakat. Penyediaan waktu yang cukup untuk proses konsultasi termasuk waktu untuk menyelesaikan masalah dan perselisihan-perselisihan. diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion). serta menyediakan dukungan teknik bilamana diperlukan. c. dan koordinasi BLH Provinsi/Kabupaten/Kota melalui rapat-rapat berkala. survey dari rumah ke rumah. Konsultasi dengan seluruh stakeholder tersebut termasuk menginformasikan seluruh perundang-undangan dan peraturan. j. publikasi melalui brosur. Kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui diskusi terbuka. h. Pemda akan melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada warga terkena proyek (WTP) untuk memberikan informasi tentang aktivitas sub proyek yang direncanakan. f. e. d. manfaat dan kemungkinan dampak yang timbul akibat sub proyek.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial b. 11 . seluruh stakeholder diberi informasi lengkap mengenai proyek disertai penjelasan tentang hak-hak stakeholder. Konsultasi dimaksudkan untuk mengakomodasi pendapat/aspirasi dan usul warga terkena proyek (WTP) dan pihak terkait. Melibatkan secara aktif unsur-unsur Universitas/Perguruan Tinggi yang berdekatan dengan lokasi proyek dan diharapkan dapat membantu proses konsultasi. mengenai strategi dan kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Melibatkan seluruh tingkatan pemerintahan dalam proses konsultasi mulai dari lembaga-lembaga di tingkat provinsi (khususnya Dinas PU). Konsultasi dapat dilakukan melalui berbagai rapat. dan lain-lain. g. koran daerah. radio. Konsultasi akan dilakukan secara terbuka.

5 KONSULTASI MASYARAKAT PADA TAHAP STUDI KELAYAKAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINYA KETERANGAN Mempelajari koridor Jalan terpilah ……(1) 1). 6) Melalui media rapat teknis yang diselenggarakan oleh pemrakarsa Menilai hasil studi ANDAL. 4). ……(4) Memberi masukan tentang areal sensitif.33 .. RKL. nilai lahan dll……(5) Melakukan studi lingkungan (apabila diperlukan) misal : studi ANDAL dan mengajukan ke komisi penilai untuk dinilai ….10).5 menunjukkan rekomendasi pendekatan untuk Prosedur Konsultasi Masyarakat sesuai dengan tahapan proyek. Hasil Pra Kelayakan Membuat studi kelayakan terhadap alternatif rute jalan ……(2) 2) Sesuai dengan pedoman yang berlaku Melakukan konsulasi kelayakan terhadap alternatif rute jalan……(3) Memberikan masukan tentang keserasian program dan kepentingan spesifik daerah. GAMBAR 11. RPL ……(8) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL……(9) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilaian AMDAL……(10) Memberikan tanggapan dan masukan dalam proses penilai AMDAL ……(11) 7). 5).Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Gambar 11..9).(7) Memberikan masukan sesuai keterkaitannya misal : BPN/KEHUTANAN ?DLL memeriksa kesesuaian Tata Guna Lahan……(6) 3).8).11) Mengikuti bagan pelaksanaan penyusunan ANDAL Menetapkan rute terpilih ……(12) 11 .

6) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait..(1) 11 . dan wakil masyarakat terkena Membuat Konsep LARAP apabila diperlukan ….10).(5) 5).(4) 2). LSM dan penduduk terkena dampak. listrik. dan wakil masyarakat terkena 12) Disertai konsep SK untuk ditanda tangani oleh Finalisasi dokumen LARAP proyek Jalan …………. 3). Melaksanakan kegiatan sesuai kesepakatan dengan masyarakat. Mengacu pada perencanaan jalan yang Melakukan konsultasi Konsep perencanaan Teknis Jalan ……….(9) 7).(10) Melaksanakan kegiatan konstruksi dan tindakan oenanganan dampak ….(1) 1). aparat desa atau kelurahan.(5) Memberi masukan sesuai keterkaitannya misal: pengadaan tanah daerah pariwisata ….5). peralatan dan bahan bangunan Menyiapkan rencana detail pelaksanaan pekerjaan konstruksi ….(3) 4). 8). 9) Dijabarkan dari dokumen RPL dan LARAP 10) Penyiapan terhadap hal-hal yang telah disepakati 11) Sesuai dengan pedoman pelaporan konstruksi Evaluasi pelaksanaan kegiatan konstruksi ….(6) 3). Mis: RKL.4).34 Melakukan Konsultasi Persiapan Implementasi LARAP dalam forum musyawarah…... 6). Dokumen yang telah ditetapkan Komisi Penilai 2). Termasuk jadwal pengadaan tenaga kerja. (14) 13) Dengan instansi terkait 14) Legalisasi dokumen LARAP Koordinasi Rencana Pelaksanaan ….(13) Menetapkan Desain Jalan ………(15) KONSULTASI MASYARAKAT PADA TAHAP KONSTRUKSI JALAN DAN JEMBATAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINYA KETERANGAN Mempelajari rencana dan jadwal konstruksi ….(2) 2).(2) Menyepakati jadwal kompensasi dan cara pengosongan lahan serta alih kepemilikan dalam forum musyawarah…. Termasuk Detailed Disain dan Laporan Paniatia Pembebasan Mempelajari Dokumen LARAP….(7) Melakukan monitoring ….(1) 1).(3) Mensepakati jadwal dan rencana cara pelaksanaan pengosomham lahan mis : tanah instansi lain. Konsultasi rencana kegiatan konstruksi termasuk pemberitahuan hal-hal tabu dilokasi …. Terutama kegiatan kegiatan yang dapat menggangu kegiatan umum sehingga perlu diumumkan kepada masyarakat luas 3).(7) 7).(11) 8).(4) Menyepakai cara pelaksanaan pekerjaan…..(12) Bupati/Walikota mengesahkan Dokumen LARAP….. Menyepakati cara pelaksanaan pekerjaan termasuk kepada para pekerja/buruh….(10) Memberikan masukan tentang cara pelepasan hak. apabila lahan yang diperlukan milik suatu instansi ….(3) Memberikan masukann tentang pengendalian pemanfaatan ruang dll……(4) Memberikan informasi detail tentang area sensitif misal: makam dll……. Dilakukan Forum musyawarah yang dikoordinasi oleh Paniatia Pengadaan Tanah dan dihadiri oleh para wakil instansi terkait.11) Melalui forum rapat yang dihadiri para wakil instansi terkait.9). Sesuai pedoman penyusunan LARAP Memberikan masukan tentang tata cara dan evaluasi monitoring ……(8) Memberikan masukan tentang keterpaduan program implementasi LARAP ……. RPL dlm Perencanaan Teknis Jalan ….(8) Memberi masukan apabila ada gangguan….Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial KONSULTASI MASYARAKAT PADA TAHAP STUDI PERENCANAAN ` PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINYA KETERANGAN Melakukan penjabaran rekomendasi studi lingk.(6) Melakukan monitoring….(9) Memberi masukan tentang data asset dan kondisi sicial ekonomi………. Termasuk penyulukan terhadap para pekerja Memberi masukan apabila ada penyimpangan dari rencana dan koordinasi pelaksanaan proyek …. PDAM. Menyetujui dan mengesahkan . telpon….4).(11) KONSULTASI MASYARAKAT PADA TAHAP PENGADAAN TANAH PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN 1).

….(1) Melakukan monitoring terhadap tertib pemanfaatan jalan dan lahan sekitarnya….(8) Tertib pemanfaatan jalan ….(4) Melakukan koordinasi antar instansi agar jalan dimanfaatkan sesuai fungsinya.35 .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial KONSULTASI MASYARAKAT PADA TAHAP KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN PEMRAKARSA BAPPEDALDA BAPPEDA MASYARAKAT STAKEHOLDER LAINNYA KETERANGAN Mempelajari laporan perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan lahan…..(3) Melakukan monitoring lingkungan sesuai RPL/UPL….(7) Bekerja sama dengan instansi terkait agar bagian-bagian jalan/jbt dipergunakan sesuai fungsinya. pengunaan lahan sekitar jalan sesuai tata ruang dsb…... berkembangnya lahan sekitar jalan yang tidak sesuai tata ruang…..(5) Berpartisipasi dalam mencegah penyimpangan pemnafaatan jalan….(2) Melakukan konsultasi tentang pemanfaatan jalan dan jembatan….(9) 11 ..(6) Memberi masukan dan mengupayakan pencegahan penyimpangan sesuai keterkaitannya mis : adanya penyerobotan lahan damija.

26 / 2007 tentang Penataaan Ruang. proses dan pedoman yang berhubungan dengan pengadaan dan kompensasi/ganti rugi tanah. Petunjuk ISEM telah disempurnakan dan disederhanakan sebagai dasar ARPLS. PENGADAAN TANAH DAN KOMPENSASI UNTUK TANAH DAN BANGUNAN SERTA ASET LAINNYA YANG MELEKAT 11.12 (Lampiran D dari dokumen ARPLS).Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. 2. Pra-Studi Kelayakan Kegiatan Awal Pengadaan Tanah a. Disamping itu kerangka kebijakan tentang pengadaan Tanah dan pemukiman kembali telah disiapkan dalam Kebijakan Operasional Bank Dunia 4. Meninjau keadaan lahan dan sosial khususnya identifikasi masyarakat. Perencanaan Umum Kegiatan Utama Menghindari lahan budidaya dan lahan yang dilindungi berdasarkan kriteria pada pasal 5 UU No.7. Tabel 11. Namun demikian prosedur terbaru yang diperkenalkan oleh proyek SESIM (Strengthening Environmental and Social Impacts Management) lebih sesuai untuk diadopsi. Memperkirakan luas tanah yang diadakan serta potensi dampak dan resikonya. Tabel 11. Rekomendasi Pendekatan Untuk Pengadaan Tanah dan Kompensasi Proyek ISEM (Institutional Sthrengthening in Environmental Management) dan SCRIM (Strengthening Capabilities in Environmental and Social Impact Management in Road Development) telah mempersiapkan satu set prosedur. 11 .36 .11 menunjukkan rekomendasi untuk Pengadaan Tanah (dan Pemukiman Kembali). b. Prosedur tersebut telah menggabungkan persyaratan Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia sehingga bisa diterima oleh kedua belah pihak sebagai pendekatan untuk ganti rugi dimasa depan.1.7.11 Pendekatan Umum untuk Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali Lingkup Kegiatan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali Pertimbangan Pengadaan Tanah Tahapan Projek 1.

b. jadwal dan pendanaan). Desain Teknis Persiapan Rencana Kerja Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 5. c. Pelaksanaan pengadaan tanah c. Survey sosial-ekonomi dan konsultasi masyarakat.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tahapan Projek Lingkup Kegiatan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali Identifikasi Tanah yang dibebaskan dan Pemukiman Kembali. e. Persiapan administrasi b. Identifikasi lokasi alternatif untuk pemukiman kembali. Penyiapan kerangka dan strategi untuk pelaksanaan f. Perumusan kebijakan tentang pemukiman kembali d. Pra-Konstruksi Pelaksanaan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali 11 . a.37 . a. pemukiman kembali termasuk pengaturan kelembagaan dan rehabilitasi pendapatan. Peniapan anggaran biaya dan sumber pendanaan. Kegiatan Utama 3. c. Perumusan kelembagaan pembina masyarakat yang dimukimkan kembali. Merencanakan program pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (komponen kegiatan. Pelaksanaan pemukiman kembali 4. Identifikasi potensi dampak/kerugian termasuk penilaian tipe pemukiman kembali melalui survey tata guna lahan dan sosial ekonomi (secara acak). program & prosedur kerja. survai aset masyarakat yang terkena proyek dan konsultasi masyarakat. Kaji ulang kebijakan pengadaan tanah. b. Studi Kelayakan a.

a. Pasca Konstruksi Pemantauan & Evaluasi 8. Seluruh warga yang terkena proyek yang memiliki hak atas tanah yang sah akan menerima ganti rugi untuk seluruh tanah dan bangunan berdasarkan nilai penggantian. b. c. Evaluasi Akhir yang Independen Evaluasi Pasca Proyek Ketentuan pokok untuk pengadaan tanah dan ganti rugi adalah sebagai berikut: a. Mempertimbangkan sasaran kelompok sensitif dan rentan. Konstruksi Rehabilitasi Ekonomi Masyarakat Setempat a. Mengevaluasi perbaikan kebijaksanaan dan rencana masa depan. Pemantauan dan evaluasi proses khususnya dalam pembangunan lokasi pemukiman kembali b. Memperbaiki proses dan memperhatikan kondisi pembangunan. Sosialisasi program pemulihan pendapatan b. 11 . a. Perlu dipertimbangkan juga nilai pajak atas tanah dan bangunan serta aspirasi warga yang terkena proyek. Pemantauan yang efektif diperlukan untuk menjamin dilaksanakannya pembayaran yang benar dan adil bagi stakeholders/warga terkena proyek.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tahapan Projek Lingkup Kegiatan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali Kegiatan Utama 6. 7.38 . Dana ganti rugi tanah dan bangunan serta pemukiman kembali pendanaannya harus tersedia di tingkat pemerintah kabupaten/kota agar prosesnya cepat dan lancar. Evaluasi akhir yang independen b. Nilai penggantian untuk tanah akan ditentukan berdasarkan harga pasar yang akan ditetapkan oleh Tim Penilai Harga Tanah (Independen).

f. atau hak adat (perorangan atau kelompok). penyusutan aset dan nilai sisa material tidak diperhitungkan. Warga yang menduduki tanah pada lahan prasarana dan fasilitas umum seperti: di atas sungai. 11 . Warga yang menguasai tanah pada lahan pemukiman. Melakukan konsultasi dengan seluruh warga terkena proyek yang akan menginformasikan seluruh perundang-undangan dan peraturan yang berhubungan dengan penaksiran dan ganti rugi. tetapi belum mempunyai sertifikat atau bukti pemilikan yang sah.2.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial d. jalan. Penduduk terkena proyek dapat dikelompokan kedalam: a.39 . Warga yang mempunyai bukti surat kepemilikan secara tradisional atau lainnya akan mendapat ganti rugi sesuai persetujuan dan prosesnya dilakukan secara terbuka. taman atau fasilitas umum lainnya di daerah proyek. Warga yang berstatus sebagai penyewa. komersial. c. begitu pula dengan kerugian akibat pertambahan nilai aset sebagai akibat kegiatan proyek. Perumusan Terhadap Berbagai Pilihan Kompensasi/Ganti-rugi dan Pengelompokan Warga yang Terkena Proyek (WTP) Warga terkena proyek (WTP) akan menerima kompensasi/ganti-rugi yang layak berdasarkan perhitungan biaya penggantian riil (real replacement cost). Warga yang mempunyai sertifikat yang sah. d. Dalam menentukan biaya penggantian ini. Melakukan konsultasi dengan seluruh warga terkena proyek yang akan diselenggarakan pada seluruh tahapan proses pengadaan lahan dan ganti rugi. girik. atau industri di lokasi proyek. b. e.7. 11.

rencana pemukiman kembali harus dilaksanakan sedemikian rupa agar warga yang dipindahkan mendapat peluang menikmati manfaat proyek. e.1 Pedoman Bank Dunia Pedoman Bank Dunia OP 4.8. d. Rencana pemukiman 11 .12 memuat prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Diadakannya konsultasi masyarakat pada seluruh tahapan dalam perencanaan dan pelaksanaan pemukiman kembali. Penyediaan lahan.8. Harus ada integrasi sosial dan ekonomi bagi warga yang dimukimkan dengan warga setempat. Apabila pembangunan jalan akan mencakup pemindahan warga di atas 200 orang atau 40 KK dan terdapat warga yang secara fisik terpindahkan maka harus disiapkan full LARAP/LARAP namun jika warga terkena proyek kurang dari 200 orang atau 40 KK dan jika aset produktif yang hilang kurang dari 10% dan tidak terdapat warga yang secara fisik terpindahkan maka disiapkan LARAP Sederhana/SLARAP hal ini untuk menjamin telah terpenuhinya persyaratan-persyaratan yang telah disepakati. Dimana pemindahan warga tidak dapat dihindarkan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Tiap-tiap kelompok warga terkena proyek sebagaimana tersebut diatas akan diperlakukan berbeda sesuai dengan hak masing-masing seperti yang dijelaskan dalam Kerangka Kebijakan Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali (Lampiran D). c.40 . b. Hal ini termasuk ganti rugi yang wajar atas kerugiannya. Pemukiman kembali secara tidak sukarela harus sedapat mungkin dihindari atau diminimalkan melalui berbagai alternatif. prasarana dan kompensasi lainnya bagi warga yang dimukimkan jika diperlukan dan sesuai persyaratan. termasuk merubah alinyemen jalan. serta bantuan dalam pemindahan dan dalam membangun kembali kehidupannya di lokasi yang baru. PEMUKIMAN KEMBALI WARGA TERKENA PROYEK (WTP) 11. 11. perumahan.

Terbatasnya pengalaman pelaksanaan pemukiman kembali di Indonesia yang sesuai dengan persyaratan internasional.12. 65 Tahun 2006. Belum adanya PP atau pedoman yang mengatur secara khusus pemukiman kembali. Petunjuk operasional melalui Peraturan Kepala BPN No 3/2007 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perpres No 36/2005 menetapkan prosedur untuk pengadaan lahan. e. menyiapkan pedoman detil rinci untuk pengadaan tanah dan pemukiman kembali untuk proyek berbantuan Bank Dunia. Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 dan Peraturan Presiden No. tetapi tidak mencakup prosedur pemukiman kembali. 11 . Permasalahan pokok menyangkut pemukiman kembali dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi proyek adalah sebagai berikut: a. Prosedur Bank (BP) 4. Belum adanya prosedur yang efektif untuk memberikan alternatif akomodasi bagi warga yang terpindahkan (selain dari prioritas penawaran perumahan Perumnas). atau sekurang-kurangnya mengembalikan kondisi sosial dan ekonomi WTP agar sama dengan kondisi sebelum dipindahkan.2 Pendekatan Pemerintah dalam Prosedur Pemukiman Kembali Keputusan Presiden No. Namun peraturan tersebut diatas. serta OP 4. Pelaksanaan pemukiman kembali merupakan tanggung jawab pemerintah daerah setempat yang memiliki sumber dana dan sumberdaya manusia yang terbatas. d. 11. 55 Tahun 1993.8.12.41 . tidak mengatur prosedur secara rinci untuk pemindahan warga yang terkena proyek. b. Belum ada lembaga yang khusus menangani pemukiman kembali. mengatur prinsip-prinsip untuk pengadaan tanah dan pemindahan warga bagi proyek-proyek besar.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial kembali harus dibuat dalam suatu strategi pembangunan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi WTP. Penggantian uang saja seringkali tidak mencukupi. c.

42 . e. c. g. Mengadakan konsultansi secara luas selama proses pemukiman kembali terhadap warga yang terkena proyek (juga dalam proses pengadaan tanah). b. serta memantau masyarakat yang dipindahkan. Rencana kegiatan pengadaan tanah dan pemukiman kembali (LARAP) agar disiapkan jika keluarga yang harus dimukimkan kembali / dipindahkan tersebut lebih dari 200 orang. untuk membantu dalam mengatur lingkungan pemukiman baru mereka. proses dan pedoman yang berhubungan dengan pemukiman kembali. Konsultansi termasuk mengadakan survey terhadap seluruh masyarakat terkena proyek untuk mengetahui kebutuhan dan kondisinya. Disamping itu.3 Rekomendasi Untuk Pemukiman Kembali Proyek ISEM dan SCRIM telah menyiapkan seperangkat prosedur. warga terkena proyek akan menerima bantuan pemukiman kembali. Sebagai tambahan untuk ganti rugi lahan. 11 .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. untuk keperluan SRIP sendiri telah dipersiapkan bentuk kerangka kebijaksanaan menyangkut pengadaan tanah dan pemukiman kembali sebagai bagian persetujuan bantuan (Lampiran D). LSM agar secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiatan konsultasi d. Petunjuk ISEM dan SCRIM telah di sempurnakan dan disederhanakan ke dalam suatu format yang menjadi dasar ARPLS. agar melibatkan warga setempat di lokasi pemukiman kembali.8. Prosedur tersebut adalah gabungan dari persyaratan Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia yang telah disepakati oleh kedua belah pihak sebagai pendekatan konsultasi dimasa yang akan datang. Dalam proses konsultasi. Seluruh masyarakat terkena proyek akan diberi pilihan apakah menerima pembayaran ganti rugi uang tunai atau dimukimkan kembali f. bangunan dan aset yang tak terpindahkan. bantuan dapat disiapkan sejalan dengan konstruksi dan pelaksanaan sub proyek. Hal-hal pokok dalam kerangka kerja proses pemukiman kembali adalah sebagai berikut: a.

43 . 4. Jika warga terkena proyek dan Pemerintah Daerah tidak menyetujui rencana tindak pemukiman kembali setelah lebih dari 1 tahun. Survai fisik dan sosial di desa atau di lokasi Tahap Perencanaan Umum proyek . Tahap Studi Kelayakan Rapat untuk diseminasi dan penyampaian informasi proyek di Kelurahan / Desa Rapat Desa Kedua Tahap Perencanaan Teknik Survai Baseline fisik dan sosial Rapat Desa Ketiga dan Konsultasi dengan warga sekitar pemukiman kembali Inventarisasi aset / penetapan tanah yang dibebaskan Menyiapkan Rencana Kerja pemindahan warga (LARAP). jika diperlukan. Tabel 11.12 Rekomendasi untuk Pemukiman Kembali Pada Pembangunan Jalan dan Jembatan Kegiatan Pemukiman Kembali Tahapan Proyek pada Kementerian Pekerjaan Umum 1. 7. Tahap pengadaan tanah dan pemindahan warga Tahap Pra–Konstruksi atau dan bantuan pemindahan Tahap Konstruksi Pemantauan partisipasi warga yang pindahkan pada lokasi pemukiman baru di Tahap O & P 2. Jenis bantuan secara rinci.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial h.12 menggambarkan rekomendasi pendekatan untuk pemukiman kembali. yang dapat dipilih oleh warga yang terkena proyek sesuai dengan pendapat dan kebutuhannya. Terdapat banyak jenis bantuan. 9. serta penyuluhan dan mempertimbangkan sanggahan. i. dan Desain lokasi Resettlement. 6. 8. 5. maka sub proyek akan dihapus dari SRIP. dipaparkan di Kerangka Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali. Konsultasi Masyarakat lebih lanjut dengan Tahap Pra-Konstruksi warga terkena proyek dan warga pemukiman setempat. 3. Evaluasi seluruh proses dan kesesuaian dengan Tahap Evaluasi safeguard dan ARPLS 11 . Pada Tabel 11.

penilaian dampak lingkungan. LARAP dan Tracer untuk sub proyek yang sensitif. beberapa aspek kunci sistem pemantauan disajikan pada bagian berikut: 11 . c. konsultasi. Tujuan utama pemantauan dalam hal ini adalah: a. Adanya kekurangan dalam proses atau hasil kegiatan. d. atau prosedur pengelolaan dan pemantauan khusus yang disiapkan sebagai bagian dari studi UKL & UPL. Laporan pemantauan ini akan tercakup dalam persyaratan laporan proyek yang disiapkan oleh seluruh manajemen proyek dan tim konsultan dengan salinan lengkap diserahkan ke Bank Dunia. menerima ganti rugi dan bantuan yang layak dalam proses pemukiman kembali sesuai kebijakan kerangka pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Memastikan bahwa penduduk yang terkena dampak langsung oleh pembangunan jalan.44 . pengelolaan lingkungan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. pengadaan tanah dan pemukiman kembali. PEMANTAUAN Pemantauan ARPLS merupakan salah satu unsur penting dari keseluruhan proses. Ketepatan langkah-langkah pengelolaan lingkungan yang diterapkan berdasarkan persyaratan terkait yang disusun dalam dokumen kontrak SRIP. Memastikan bahwa persyaratan-persyaratan Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia diikuti secara keseluruhan selama proses pembangunan jalan dengan mempertimbangkan secara khusus proses penyaringan. AMDAL. b. akan dimitigasi dalam proyek yang akan datang melalui perubahan dan peningkatan proses pelaksanaan dan perbaikan lainnya.9.

11. UKL&UPL. 11. b. Diserahkan oleh Satker terkait di Propinsi. Dikaji dan dikonsolidasikan oleh Construction Supervision Consultant (CSC) c.9. Untuk itu. dan didukung dengan kunjungan lapangan jika 11 .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial 11. Sebelum menyusun rencana pemantauan untuk studi detail tersebut. perlu ditetapkan terlebih dahulu tanggung jawab kelembagaannya. perlu diupayakan agar BLH yang terlibat memiliki pengetahuan terhadap persyaratan proyek dan tanggung jawab mereka. Pengawasan.9.9. akan: a. LARAP dan Tracer.2 Waktu dan Pemantauan Berkala Sebagai tambahan atas laporan bulanan pelaksanaan sub proyek.1 Tanggung Jawab Pemantauan Laporan Kemajuan Bulanan masing-masing sub proyek. Dalam hal pemantauan keluarga yang terpindahkan. Diperiksa dan dihimpun oleh Core Team Consultant (CTC) CTC dan CSC keduanya akan melibatkan staf lingkungan untuk mendukung pemantauan sub proyek Sub proyek spesifik yang memiliki dampak penting akan memerlukan pemantauan dan studi detail seperti UKL & UPL. kajian dan rekomendasi terhadap laporan tersebut akan dilakukan oleh ahli lingkungan CTC. LARAP dan Tracer.45 . Lembaga yang paling tepat adalah BLH yang diharapkan mempunyai pemahaman yang luas terhadap keseluruhan proses dan dampak sosial ekonomi proyek. dapat disertakan dalam sistem pelaporan bulanan proyek. diperlukan pemantauan lebih dari satu kali untuk memungkinkan melakukan tinjauan jangka panjang terhadap kondisi keluarga. pemantauan detail diperlukan bagi sub proyek sensitif yang memerlukan studi AMDAL. AMDAL. Pemantauan terhadap subproyek tersebut harus dimulai sedini mungkin untuk menyusun sebuah informasi dasar/baseline sebelum pelaksanaan proyek.3 Metoda Pemantauan Pemantauan bagi sub proyek yang berdasarkan penyaringan diketahui tidak terdapat dampak penting lingkungan dan sosial.

Indikator utama pemantauan terhadap sub proyek tersebut akan mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Penganggaran dan Penjadwalan: Apakah seluruh kegiatan telah dilaksanakan dalam kerangka waktu dan dalam program dan anggaran biaya yang telah disepakati? 11 . Sampai batas yang memungkinkan. Kementerian Pekerjaan Umum akan melaporkan ke Bank Dunia tiga kali setahun untuk laporan pemantauan AMDAL dan dua kali setahun untuk laporan pemantauan UKL & UPL.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial diperlukan. kajian dan rekomendasi tambahan terhadap hasil pemantauan dapat dimintakan kepada BLH untuk sub proyek yang sensitif. Salinan seluruh laporan kemajuan pemantauan akan diserahkan ke Bank Dunia dan Instansi terkait lainnya. Laporan yang lebih detail akan diperlukan untuk sub proyek sensitif yang membutuhkan AMDAL. Format standar wawancara atau kuesioner sederhana harus dipersiapkan. bangunan dan aset lainnya. Laporan studi lingkungan dan sosial akan dirinci dalam dokumen laporan studi lingkungan dan sosial yang dibutuhkan. LARAP dan Tracer. Survey-survey fisik juga akan diperlukan untuk mengkaji standar kompensasi tanah. Perhatian khusus akan diberikan pada sebagian besar sub proyek yang terkait isu ganti rugi pengadaan tanah untuk rumija dan pemukiman kembali. Pemantauan dampak-dampak sosial akan membutuhkan dilaksanakannya wawancara dengan para pejabat pemerintah. Seluruh studi lingkungan dan sosial terlebih dahulu akan dikaji dan disetujui oleh Bank Dunia. dengan salinan yang dikirimkan ke Bank Dunia. pemukiman kembali dan/atau bantuan penghidupan. organisasi terkait dan komunitas yang terkena dampak. 11.9.4 Laporan Pemantauan Pemantauan lingkungan yang sesuai akan disertakan dalam laporan proyek.46 .

Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial b.10. b. atau konsultasi perorangan yang mencukupi? d. RENCANA TINDAK PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL Secara singkat. Penyaringan: Untuk menetapkan dan memisahkan dampak-dampak penting sosial dan lingkungan yang merugikan melalui penyaringan yang efektif. pertemuan dengan masyarakat. Dampak Sosial Ekonomi terhadap Masyarakat Luas: Apakah dampak yang memiliki pengaruh yang bersifat lama dan luas terhadap seluruh komunitas? Pemantauan dan laporan menyeluruh terhadap proyek akan dilaksanakan sebagai bagian dari Indikator Kinerja Utama dari SRIP. dan pembinaan? c. ganti rugi yang layak. Prosedur Tanggapan dan Keluhan: Apakah warga yang memiliki keluhan ditangani serta diberikan akses kepada pejabat senior? g. Tingkat Kepuasan: Apakah setiap orang dalam komunitas merasa puas dengan keseluruhan proses perencanaan dan desain? e. Perbaikan Standar Hidup dan Mata Pencaharian: Apakah seluruh keluarga yang terkena dampak dapat diperbaiki standar hidup dan penghasilannya? f. keseluruhan tujuan ARPLS adalah untuk menetapkan proses dan tanggung jawab yang disetujui untuk kegiatan-kegiatan berikut: a. Pengelolaan Dampak : Untuk mempersiapkan dan selanjutnya melaksanakan langkah-langkah untuk menanggulangi atau menghilangkan dampak-dampak penting yang merugikan.47 . melalui berbagai studi khusus 11 . 11. Kondisi Penanganan Pemukiman Kembali dan Pembebasan Lahan: Apakah seluruh keluarga mengetahui pilihan-pilihan dalam hal pemukiman kembali. Proses Konsultasi: Apakah telah ada keterbukaan.

13 / 2010. Dengan pendekatan terdesentralisasi berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Kerangka kerja legal penting yang menetapkan peran utama BLH dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan adalah UU No.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial lingkungan dan sosial (misalnya AMDAL. SRIP akan melibatkan ahli-ahli lingkungan baik dalam konsultan pusat dan daerah. Ahli-ahli lingkungan yang didukung oleh sumber daya proyek. 11 .13. Untuk membantu memudahkan dan mendukung tugas dan tanggungjawab masingmasing BLH.48 . masukan desain. 32 / 2009. LARAP. penyiapan laporan. 27 / 1999 dan Peraturan Bapedal No. c. bertanggungjawab untuk menjamin kordinasi yang erat pada proyek serta keterlibatan masing-masing Bapedalda. Ringkasan usulan peran dan tanggungjawab pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada SRIP disajikan di Tabel 11. PP No. ARPLS menyoroti pentingnya menjamin suatu proses yang cermat dan metodis pada penyaringan. Pemantauan: Untuk memantau berbagai langkah dalam menangani atau menghilangkan dampak-dampak yang merugikan pada tahap desain dan kontruksi. 165 / 1997 serta Peraturan Menteri Negara LH No. UKL & UPL. Tracer) dan/ atau Standar Operating Prosedur (SOP)/Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL). lembaga yang bertanggungjawab secara keseluruhan dalam mengawasi kegiatankegiatan lingkungan adalah BLH (Badan Lingkungan Hidup) pada tingkat Propinsi / Kota dan Kabupaten. penanganan dan pemantauan.

Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

Tabel 11.13 Ringkasan Usulan Peranan dan Tanggungjawab Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan pada SRIP Keseluruhan Tujuan Lingkungan Proyek: • • Proyek akan dilaksanakan sesuai dengan Analisis Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ARPLS) dan Loan Agreement. Setiap BLH dan Bappeda (hanya untuk kegiatan pengadaan tanah) harus memiliki pemahaman ARPLS dan keterlibatan yang memadai dalam proyek.

Sub-Direktorat Teknik Lingkungan dan Keselamatan Jalan, Ditjen Bina Marga: • • Menyiapkan pedoman dan pengawasan aspek-aspek lingkungan proyek. Melakukan kordinasi dengan Pemkab/Kota/Propinsi/Pusat dan Bank Dunia dan instansi pemerintah nasional dan daerah terkait.

Core Team Consultant (CTC), yang ditugaskan oleh Direktorat Bina Teknik, Dirjen Bina Marga): • • Memberi bantuan serta menjamin kesesuaian dengan ketentuan-ketentuan ARPLS, terutama selama perencanaan dan penilai subproyek. Menjamin kordinasi yang erat dengan BLH termasuk workshop konsultasi dan kordinasi, dukungan training dan penyebaran informasi yang dibutuhkan.

Construction Supervision Consultant (CSC), dibawah Dirjen Bina Marga): • • • Memimpin kajian desain subproyek, pemantauan dan pelaporan pelaksanaan berkordinasi dengan CTC . Memberikan dukungan lapangan selama pelaksanaan sub proyek. Mendukung keperluan-keperluan bagi kunjungan pemantauan dan pertemuan-pertemuan konsultasi.

Ka-SNVT/Kasatker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) • • Memimpin perencanaan dan pengawasan proyek di tingkat propinsi. Berperan sebagai ujung tombak dalam koordinasi dan komunikasi dengan BLH dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya yang terkait.

Badan Lingkungan Hidup (BLH), bertugas dibawah pemerintah Propinsi/Kota dan/atau Kabupaten): • • Membimbing pengelolaan, pemantauan dan konsultasi lingkungan di masing-masing wilayah administrasi pemerintahannya. Konfirmasi proses penyaringan, menetapkan kebutuhan dan kaji-ulang/persetujuan studistudi selanjutnya (misalnya SPPL, UKL & UPL, AMDAL, ANDAS, SLARAP/LARAP dan atau Tracer) untuk semua subproyek yang diusulkan.

11 - 49

Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

11.10.1 Ruang Lingkup Kegiatan Lingkungan Aspek lingkungan proyek ini perlu dipertimbangkan sebagai elemen pokok dari proses perencanaan dan desain. Beberapa sub proyek jalan dan jembatan dapat menyebabkan dampak siginifikan setempat pada lingkungan alami dan manusia. Dengan manajemen yang cermat selama tahap perencanaan, desain dan konstruksi, banyak dampak yang merugikan dapat dikurangi dan pada beberapa kasus dapat dihilangkan. Sasaran utama kegiatan lingkungan secara singkat adalah sebagai berikut: a. Penyaringan semua sub-proyek jalan dan jembatan untuk menjamin bahwa peraturan dan persyaratan yang ditetapkan, yaitu SPP, RKL & RPL, UKL & UPL, SLARAP/LARAP dan Tracer dapat dipenuhi dan digunakan sebagai alat yang efektif untuk mengurangi dan menghilangkan berbagai dampak negatif yang merugikan; b. Memberikan masukan dalam proses desain untuk mengurangi atau mengurangi berbagai dampak lingkungan yang merugikan pada semua sub-proyek SRIP; c. Membangun dan memelihara hubungan dengan lembaga lingkungan penting seperti BLH untuk menjamin suatu pemantauan dan kajian yang efektif atas seluruh aspek program jalan; d. Memaksimalkan koordinasi berbagai proyek dan tim-tim konsultan untuk menjamin adanya pengelolaan lingkungan yang efektif selama pelaksanaan konstruksi seluruh sub-proyek. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, SRIP akan menyediakan bantuan teknis terhadap kegiatan berikut guna mendukung pengelolaan lingkungan dan peran BLH dalam proyek: a. Penyaringan sub-sub proyek SRIP; b. Penyiapan laporan pemantauan dan pengelolaan pada sub proyek SRIP;

11 - 50

Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial

c. Masukan untuk proses desain seluruh sub-proyek; d. Penyempurnaan atau pemutakhiran ARPLS sesuai keperluan; e. Hubungan dengan BLH untuk seluruh sub-proyek; f. Hubungan dan bimbingan mengenai materi-materi lingkungan diantara konsultan; g. Partisipasi lingkungan dan sosial dalam studi kelayakan; h. Penyiapan studi lanjutan SRIP; Ringkasan dari pelaksanaan ARPLS yang didukung oleh SRIP ini akan disampaikan pada bagian selanjutnya. Disamping itu, Bagian 11.3 menggambarkan jenis dukungan yang akan disediakan oleh proyek dalam kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang merupakan tanggung jawab BLH. 11.10.2 Penyaringan Sub-proyek SRIP Tahap awal yang penting dalam proses pengelolaan dampak lingkungan dan sosial adalah menjamin bahwa setiap sub-proyek dilakukan penyaringan secara tepat berdasarkan tingkat besaran dampak. Berdasarkan proses penyaringan ini, sub proyek yang menimbulkan dampak secara signifikan akan diidentifikasi dan akan diikutkan pada penyaringan tahap kedua atau studi detail selanjutnya. Sebagai tambahan dari langkah-langkah pengelolaan dan pemantauan lingkungan standar yang diatur dalam proyek dan dokumen kontrak, studi-studi berikut mungkin diperlukan bagi beberapa sub-proyek sensitif berdasarkan kriteria penyaringan yang disepakati: a. Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup. b. Laporan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan

Lingkungan (UKL dan UPL). c. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). 11 - 51

pemantauan seluruh sub-proyek disertakan dalam laporan-laporan kemajuan yang disiapkan oleh tim pengelola dan konsultan proyek. Sebagai tindak lanjut persetujuan dari Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia. yang perlu disusun sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. Sebelum melaksanakan studi tersebut. Rencana Tindakan Pembebasan Tanah dan Pemukiman (SLARAP/LARAP) e.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial d. proses penyaringan ini akan mempertimbangkan masukan dari BLH setempat dan stakeholder terkait. presentasi.3 Penyiapan Laporan Pengelolaan dan Pemantauan Sub-proyek SRIP Laporan Penyiapan dan Kemajuan Program Kerja (WP): Seluruh usulan sub-proyek dilakukan penyaringan oleh CTC berkenaan dengan dampak dan isu lingkungan dan sosial sebagai bagian dari proses persiapan. Penyusunan Laporan UKL & UPL: 11 . Disamping laporan WP. Sebagaimana disepakati untuk proyek ini.10. Studi Penelusuran Kembali (Tracer) Ringkasan hasil penyaringan lingkungan dan rekomendasi yang disiapkan oleh CTC disajikan pada Lampiran C. Sedapat mungkin. semua studi AMDAL harus melalui kajian dan persetujuan World Bank sebelum penerbitan Surat Persetujuan (No Objection Letter) sebelum penerbitan kontrak subproyek. KA-ANDAL juga harus diserahkan kepada Bank untuk mendapatkan kajian dan komentar Bank. RKL dan RPL: Beberapa subproyek SRIP saat ini diperkirakan membutuhkan penyiapan analisis mengenai dampak lingkungan atau AMDAL. 11. Proses menyeluruh ini diperlukan sebelum masingmasing sub proyek dalam WP disetujui oleh Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia. Penyiapan laporan ANDAL.52 . 11/2006. peninjauan ulang dan kajian lingkungan lanjutan perlu dilaksanakan untuk final desain teknik seperti yang disiapkan pada setiap sub-proyek. pengkajian dan persetujuan WP.

Penyusunan Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKPPL) Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Seperti yang disepakati. 17. beberapa sub proyek perlu dilengkapi UKL & UPL. Penjabaran garis besar laporan LARAP disajikan di Tabel 11. UKL & UPL dan SPPL yang diperlukan akan disiapkan berdasarkan peraturan yang ditetapkan dalam Permen PU No 10/PRT/M/2008 dan Peraturan Menteri Negara LH No. maka perlu disiapkan LARAP Sederhana/SLARAP. 13 Tahun 2010 . atau bahkan cukup dengan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (SPPL) yang merekomendasikan pengelolaan dan pemantauan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pekerjaan jalan serta cara penanganannya. Untuk sub proyek dimana WTP kurang dari 200 orang atau 40 KK dan jika aset produktif yang hilang kurang dari 10% dan tidak terdapat warga yang secara fisik terpindahkan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Berdasarkan kriteria penyaringan sesuai dengan Keputusan Menteri Kimpraswil No. 11 tahun 2006. maka harus dilengkapi dengan full LARAP/LARAP. 11 . maka perlu disusun suatu rencana kerja penanganan dampak lingkungan pada tahap konstruksi yaitu berupa penyusunan Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKPPL). semua studi LARAP akan dikaji dan disetujui oleh Bank Dunia sebelum dikeluarkan No Objection Letter (NOL) untuk penyelenggaraan proses tender sub proyek. bahwa terdapat kegiatan proyek yang wajib dilengkapi dengan studi AMDAL atau cukup dengan studi UKL-UPL.14.53 . Untuk memberikan pemahaman dan perhatian dari pihak-pihak yang terlibat khususnya kontraktor. Rencana Tindak Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali (LARAP) : Untuk sub proyek dimana WTP lebih dari 200 orang atau 40 KK dan terdapat warga yang secara fisik terpindahkan. Tahun 2003 yang diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 10/PRT/M/2008.

Tabel 11. Untuk itu. Pedoman dan format studi sosial yang diusulkan.14 Standar Garis Besar Rencana Tindak Pengadaan Tanah dan Pemukiman Kembali (LARAP) Unsur-unsur penting yang termasuk ke dalam LARAP adalah sebagai berikut: Tujuan-tujuan pengadaan tanah. disajikan dalam Lampiran D dari dokumen ARPLS ini. staf Ditjen Bina Marga dan staf BLH. Mekanisme pemantauan dan evaluasi Anggaran dan sumber pendanaan Jadwal pelaksanaan 11. perlu adanya kesempatan dalam setiap tahapan pelaksanaan untuk mengkaji ulang desain serta memasukkan langkah-langkah untuk menghilangkan potensi dampak lingkungan. Kebijakan pemukiman kembali dan bantuan kepada warga yang terpindahkan Kriteria penentuan warga yang terpindahkan Definisi jenis-jenis aset yang akan diberikan ganti rugi. 11 . akan diperlukan studi Tracer untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut. pemukiman dan pembinaan Karakteristik dan aspirasi WTP berdasarkan hasil survey sosial-ekonomi dan sumber-sumber lainnya. Bantuan dan pelatihan untuk warga yang terpindahkan Prosedur-prosedur penyelesaian keluhan masyarakat. penting bagi ahli-ahli lingkungan CTC dan CSC untuk terlibat aktif dengan kajian desain dan proses pemeriksaan serta berhubungan erat dengan staf-staf perekayasa dalam berbagai tim konsultan.4 Masukan Lingkungan Bagi Proses Desain untuk Seluruh Sub-proyek Agar proses pengelolaan lingkungan dapat berjalan efektif. metode penilaian dan tingkat ganti rugi yang layak. Lembaga dan tanggungjawab pelaksanaan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Untuk sub proyek yang kegiatan pengadaan tanahnya telah diselesaikan dalam 2 (dua) tahun terakhir.54 . Alternatif ganti rugi.10.

Menjamin bahwa pola aliran air.5 Bekerjasama dengan BLH dalam seluruh Sub-proyek Badan Lingkungan Hidup (BLH) adalah lembaga yang bertanggung jawab atas keseluruhan pengawasan semua aspek yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan di pemerintahan daerahnya masing-masing. 11.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Beberapa aspek lingkungan yang dapat dipertimbangkan selama kajian ulang desain dan proses pemeriksaan adalah sebagai berikut: a. b. salah satu fungsi tim CTC/CSC berkaitan dengan dukungan terhadap BLH adalah sebagai berikut: 11 . drainase dan habitat kawasan pantai dipertimbangkan secara tepat pada kegiatan yang diusulkan dan. Menjamin ketersediaan akses pada area sekitarnya. Tanggungjawabnya meliputi evaluasi penyaringan dan pemantauan seluruh aspek lingkungan dalam sub proyek SRIP. Melalui koordinasi erat dengan Satker terkait. AMDAL. Ahli-ahli lingkungan CTC dan CSC akan bertanggungjawab dalam mendukung dan memperkuat peran BLH dalam SRIP. Adalah penting bagi ahli lingkungan CTC/CSC untuk mengunjungi semua sub-proyek yang diidentifikasi memerlukan studi yang lebih rinci (UKL & UPL.10. tanah longsor.55 . Kajian ulang terhadap kuantitas dan penanganan terhadap galian dan timbunan (embankment) untuk menilai dampak keperluan quarry dan transportasi. Kunjungan lokasi ini harus dilaksanakan bersama tenaga ahli rekayasa (engineer) setempat yang sudah familiar dengan sub proyek yang diusulkan guna memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dan penjelasan aspek desain. dan juga memperhatikan kemungkinan erosi. dan stabilitas areal penggalian dan penimbunan. c. Kajian ulang terhadap usulan ruang milik jalan (Rumija) berkaitan dengan struktur bangunan yang ada dan/atau wilayah sensitif . LARAP dan atau Studi Tracer) untuk mendukung persiapan kerangka acuan (TOR) berdasarkan kondisi yang ada saat ini dan kepentingan setempat. d.

kecuali jika tim tersebut memiliki ahli lingkungan didalamnya. 11. seperti misalnya studi LARAP atau AMDAL. Workshop dengan seluruh BLH. kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara: a. Serupa dengan proyek-proyek sebelumnya. Dianggap penting agar penyaringan lingkungan dilaksanakan secara tepat. sumber pendanaan harus disediakan oleh Pemerintah Daerah 11 .56 . CTC akan bertanggungjawab dalam memberikan bimbingan dalam penyaringan dampak lingkungan dan sosial serta mengawasi tim studi kelayakan. Memberikan arahan kepada BLH mengenai Program Kerja (WP).8 Penyiapan Studi-Studi Lanjutan SRIP Jika untuk selanjutnya studi-studi yang lebih rinci diperlukan. 11. status dan kemajuan masing-masing subproyek. 11.6 Kerjasama dan Bimbingan tentang Materi Lingkungan oleh Konsultan (CTC) CTC akan dilengkapi dengan spesialis untuk memberikan bimbingan dan pengawasan manajemen lingkungan dan sosial yang dibutuhkan dalam setiap tahapan proyek. Melakukan diskusi dan penjelasan kepada BLH b. b. Peranan penting CTC adalah dalam menjamin bahwa CSC tanggap tentang ketentuanketentuan lingkungan selama tahap desain akhir dan pengawasan konstruksi.10. Arahan dan penjelasan yang lebih rinci mengenai sub proyek spesifik dapat dilakukan secara khusus dengan BLH dan anggota tim konsultan sesuai kebutuhan. Memberikan arahan kepada BLH tentang prosedur umum yang dijabarkan dalam ARPLS dan agar BLH menyadari tanggung jawabnya sehubungan dengan SRIP.10. hasil penyaringan.10. Melakkukan workshop melibatkan kelompok BLH (provinsi terkait) c. adanya masukan lingkungan dan sosial kedalam kajian desain dan agar ketentuan-ketentuan dalam ARPLS dipenuhi.7 Partisipasi Lingkungan Dalam Studi-Studi Kelayakan Beberapa sub proyek khusus mungkin memerlukan studi kelayakan mendetail.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial a.

Juga memberikan kesempatan yang luas kepada pemerintah provinsi.10 Desentralisasi dan Kerjasama Antara Pemerintah Pusat dan Provinsi Kerangka dan proses menuju desentralisasi pemerintahan saat ini.9 Pemantauan Program Kampanye Pencegahan IMS dan HIV-AIDS Secara umum program ini adalah sebagai upaya untuk mencegah atau menanggulangi penyebaran penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrom (HIV-AIDS) pada pekerja di sektor konstruksi khususnya pembangunan jalan dan jembatan. memberikan kesempatan kepada Pemerintah Daerah untuk merencanakan dan mengelola programprogram mereka. Sementara untuk Core Team Consultant (CTC) sendiri berperan melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program tersebut. Beberapa kegiatan spesifik dimana BLH mungkin memerlukan bantuan untuk memenuhi kebutuhan proyek dan ketentuan dalam ARPLS antara lain: 11 .Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial sesuai dengan keperluan proyek. mungkin perlu untuk menyediakan berbagai jenis bantuan kepada BLH guna mendukung tugas mereka dalam pelaksanaan ARPLS. 11.57 . Program ini sendiri pelaksanaannya akan dikoordinasikan oleh Construction Supervision Consultant (CSC) dengan melibatkan personil dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai narasumber atau penyuluh yang memiliki kompetensi dibidang tersebut. kabupaten/kota untuk menentukan prioritas dan secara langsung terlibat dalam aspekaspek pengelolaan dan pemantauan lingkungan. CTC akan bertanggung jawab atas penyiapan Kerangka Acuan Kerja untuk studi-studi tersebut dan konsultan lokal yang terpisah. Konsultansi eksternal tambahan mungkin diperlukan untuk melaksanakan studi tersebut. dapat ditunjuk untuk melaksanakan studi atau memberikan bantuan teknis sesuai yang dibutuhkan dan disetujui oleh proyek. Selama pelaksanaan proyek. Upaya tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran. 11.10.10. dan perhatian para pekerja terhadap kesehatan.

pendanaan dan pengadaan tanah). pengaturan. d. dalam hal ini Direktorat Jenderal Bina Marga. Meningkatkan koordinasi dan konsultasi dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan stakeholder. b. Kegiatan-kegiatan yang disusun oleh Direktorat Jenderal Bina Marga antara lain meliputi: 11 .58 . 11.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial a.11 KESELAMATAN JALAN 11. c. Menyelenggarakan pertemuan berkala dengan semua lembaga terkait di daerah untuk memperbaiki proses perencanaan dan kordinasi proyek. beserta kesimpulan-kesimpulannya untuk mendukung perbaikan pelaksanaan proyek. terutama Bappeda dan BPN (yang bertanggungjawab dalam perencanaan. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.11. bahwa Pembinaan lalu lintas yang menjadi tanggungjawab pemerintah pengawasan. Melaporkan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan kepada masingmasing pemerintah daerah. pengendalian dan Pembinaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (2) dilaksanakan oleh instansi pembina sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. meliputi kegiatan perencanaan. maka kementerian yang bertanggung jawab di bidang Jalan adalah Kementerian Pekerjaan Umum. manajemen lingkungan dan pemantauan.1 Kebijakan Terkait Penyelenggaraan Jalan Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang No. Meningkatkan kordinasi dan konsultasi dengan semua lembaga/instansi terkait di tingkat pemerintahan di daerah. Dalam hal urusan pemerintahan di bidang Jalan.

investigasi.59 . misalnya dengan melakukan pengecekan keselamatan suatu desain jalan (road safety audit in design stage). 11 . b. f. Pedoman pelaksanaannya merujuk pada peraturan perundang-undangan baik dari Pemerintah Pusat maupun instansi-instansi terkait. hingga penanganan fisik. Rancangan Peraturan Presiden tentang Unit Pengelola Dana Preservasi Jalan. Menyiapkan Unit Pengelola Dana Preservasi Jalan. Penyempurnaan meninggalkan standar dan manual lama perencanaan yang kurang jalan dengan metoda-metoda memperhatikan keselamatan pengguna jalan. Membentuk Forum Koordinasi Kesiapan Prasarana Jalan. Membentuk unit pengelola dana preservasi jalan yang secara eksklusif merespon kebutuhan preservasi guna menjamin terpeliharanya jalan yang berkeselamatan. e. Sosialisasi peraturan-peraturan. d. sedangkan di lingkup Kementerian Pekerjaan Umum sendiri telah dan sedang disiapkan perangkat-perangkat pendukung antara lain : a. d. Melakukan perbaikan lokasi-lokasi rawan kecelakaan dan lokasi defisiensi jalan yang merupakan suatu proses kegiatan dimulai dari inventarisasi.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial a. Membentuk Unit Keselamatan Jalan. c. e. Penyusunan NSPM Standar Pelayanan Minimal Bidang Jalan. b. Penyusunan pedoman dan manual keselamatan jalan yang akan menuntun penyelenggara jalan dalam menciptakan dan memelihara jalan yang berkeselamatan. c. penyusunan rekomendasi. Mengintegrasikan keselamatan sedini mungkin dalam tahapan pembangunan jalan.

Memperoleh ganti rugi yang layak akibat kesalahan dalam pembangunan jalan. a. i.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial g. Masyarakat berhak memperoleh informasi mengenai penyelenggaraan jalan. Selain dari pada itu Undang-undang Jalan no 38 tahun 2004 menyangkut peran masyarakat menyebutkan bahwa: a. jalan dan/atau lingkungan.60 . kendaraan. Implementasi program keselamatan jalan pada program Strategic Roads Infrastructure Project (SRIP) merujuk pasal 93 Peraturan Pemerintah No. Mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap kerugian akibat pembangunan jalan. Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia. b.2 Keselamatan Jalan pada Tahap Konstruksi Yang dimaksud dengan keselamatan jalan pada Tahap Konstruksi adalah memastikan bahwa semua lokasi pekerjaan jalan adalah “safe” untuk pekerja & pengguna jalan. h. Perambuan Sementara pada Zona Kerja Di Jalan. 36 Tahun 2006 tentang Jalan bahwa penyelenggara jalan wajib menjaga kelancaran dan keselamatan lalu lintas 11 .11. Petunjuk Praktis Analisis Data Lalulintas Di Jalan Raya. Selanjutnya Undang-undang Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan no 22 tahun 2009 menyebutkan. c. Pemerintah bertanggung jawab atas terjaminnya Keselamatan Lalu lintas dan Angkutan Jalan 11. b. Petunjuk Praktis Tanda/Rambu Sementara untuk jalan rusak dan Tanda/Rambu untuk Defisiensi.

Diulang dan/atau duplikasi seperlunya d. Division 1 General article 1. Tinggi Posisi Rambu Tinggi posisi rambu dari sisi bagian bawah sampai permukaan perkerasan didasarkan atas kecepatan operasional kendaraan. meliputi : a. Penjabaran dari program keselamatan jalan tersebut dilaksanakan dengan fokus pada tahap konstruksi. lokasi yang benar – tidak terlalu dekat. mudah dilihat c. dimana lalulintas operasional tidak boleh terganggu.8. jalan (t). Pekerjaan jalan berada di daerah manfaat jalan (Rumaja) akan berdampak kepada kinerja lalulintas jalan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial selama pelaksanaan konstruksi jalan. Rambu peringatan yg baik harus: a. artinya pelaksana wajib menjamin keselamatan dan kelancarannya. dirawat dengan baik 11. Dapat dilihat pada malam hari reflektif atau lampu (utk keselamatan malam hari) e. Spesifik (tidak umum) b. 11 . Pada proyek SRIP tercantum pada Dokumen Kontrak Specification. pelaksanaan pekerjaan. karena adanya penyempitan lajur jalan dan hambatan samping.3 Perambuan Sementara Ketentuan Teknis Perambuan Sementara. tidak terlalu jauh.61 . Untuk itu maka dalam setiap dokumen tender pekerjaan jalan selalu mencantumkan bahwa.11.4 tentang Temporary Traffic Control. Kriteria untuk mendapatkan kondisi kinerja lalulintas jalan tersebut seyogyanya harus dipandu oleh sistem perambuan sementara dengan memasang rambu-rambu peringatan dengan benar.

62 . 11 . Pemasangan rambu selain di tempat. 2. bahu. Keterbatasan daerah rumaja. trotoar. dapat dipasang dengan pertimbangan : 1. dan median.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial b. Bahu jalan digunakan untuk lajur lalulintas sementara.60 meter dari tepi perkerasan jalan. Pemasangan Rambu dan Ukuran Rambu Rambu sementara dipasang pada trotoar atau bahu minimal jarak d = 0.

Daerah Taper Akhir ( D ) 11 . Daerah Taper Awal (B) 3. Secara umum bentuk daerah pengaturan lalu lintas adalah : 1. Daerah Pendekat (A) 2. Daerah Menjauh ( C ) 4.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial c. Perancangan Perambuan Sementara Perambuan sementara diperuntukan bagi pengaturan lalulintas selama ada kegiatan pekerjaan jalan.63 .

kelancaran lalu-lintas.64 . Kementerian Pekerjaan Umum 11 . Pengaturan Lalu-lintas Pengaturan lalulintas pada lokasi ada kegiatan/pekerjaan jalan harus mempertimbangkan kapasitas jalan. Mengenai rambu sementara dan pengamanan pada lingkup kerja jalan merujuk kepada “Petunjuk Praktis Tanda. Rambu Sementara dan Pengamanan pada Zona Kerja di Jalan” dan ”Tanda dan Rambu Sementara untuk Jalan Rusak dan Tanda dan Rambu untuk Defisiensi Jalan” Interim 2010 yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Teknik. Direktorat Jenderal Bina Marga. keselamatan baik pekerja maupun pemakai jalan.Bab 11 Analisis dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial Contoh Perambuan sementara untuk jalan yang memiliki 2 Lajur 2 arah d.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful