P. 1
Sebuah Ijtihad

Sebuah Ijtihad

|Views: 667|Likes:
Published by De Ewo Asmoro
Review buku ini dapat dilihat pada alamat berikut:
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2236932-sebuah-ijtihad-islam-kristen-dan/
Review buku ini dapat dilihat pada alamat berikut:
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2236932-sebuah-ijtihad-islam-kristen-dan/

More info:

Published by: De Ewo Asmoro on Dec 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2012

pdf

text

original

Meskipun saya telah berusaha sebaik-baiknya untuk meyakinkan para pembaca yang budiman
akan keotentikan paham reinkarnasi, saya sadar bahwa tentu masih banyak di antara mereka yang
lebih suka berpegang kepada ajaran yang tradisional: Reinkarnasi bukan ajaran Islam. Mereka dapat
mengatakan, reinkarnasi bertentangan dengan ajaran Islam lainnya yang menyatakan bahwa hidup
di akhirat itu untuk selama-lamanya. Karena itu, pertanyaan yang paling crucial (yang paling
penting dan menentukan) ialah, “Adakah ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa hidup di
akhirat itu tidak untuk selama-lamanya?” Orang-orang yang menentang reinkarnasi tentu saja
menjawab, “Tidak ada!” Tetapi saya katakan, “Ada.”
Untuk membuktikan kebenaran pernyataan saya itu, saya akan menyajikan ayat Q. 6:2, yang

berbunyi sebagai berikut:

Huwal ladzii khalaqakum min thiinin tsumma qadhaa 'ajalan, wa 'ajalum musammaa
'indahuu tsumma 'antum tamtaruun.
Ayat itu diterjemahkan dalam Al-Quran dan Terjemahnya, susunan Yayasan Penyelenggara
Penterjemah/Pentafsir Al-Quran yang direstui Departemen Agama Republik Indonesia, sebagai
berikut:

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu), dan ada
lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit), yang ada pada sisi-Nya (yang Dia
sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).
Dalam Al-Quranu’l Karim - Bacaan Mulia, H.B. Yassin:
Ialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian menentukan ajal(mu) - Dan ajal
ditentukan pada-Nya - Namun kemudian kamu ragu.
Dalam Al-Qur'aan Terjemah Indonesia, karya Angkatan Darat R.I.:
Ialah yang menciptakan dirimu dari tanah, kemudian Ia menentukan satu ajal, dan satu ajal
lagi ada di sisiNya. Akan tetapi kamu tetap ragu.
Dalam Tafsir Al-Quran, karya Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy:
Dialah Tuhan yang telah menjadikan kamu daripada tanah, kemudian menentukan ajal,
sedang tempo (batas) ajal itu sudah tertentu di sisinya, tidak diketahui oleh selain-Nya,
kemudian kamu meraguinya pula.
Dalam Tafsir Al-Quranu’l Karim, susunan Mahmud Yunus:
Dia yang menjadikan kamu daripada tanah, kemudian ditetapkanNya ajalmu, dan ajal yang
ditentukanNya pada sisiNya, kemudian itu kamu orang-orang kafir menaruh syak wasangka
jua kepadaNya.
Dalam Terjemah Al-Quran Secara Lafzhiyah, terbitan Yayasan Pembina Masyarakat Islam
“ALHIKMAH” Jakarta:

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan waktu (kematianmu),
dan (ada lagi) waktu yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada di sisi-Nya, kemudian
kamu masih ragu-ragu (tentang kebangkitan itu).
Dalam Terjemah & Tafsir AL-QUR AN, susunan Bachtiar Surin:
Dialah yang menciptakan kamu dari unsur tanah, kemudian Dia tentukan batas waktu
kematian kamu
. Di samping itu ada pula batas waktu lainnya yang akan ditetapkan kemudian
oleh-Nya. Namun begitu kamu masih saja meragukannya.

Dengan catatan: Ada dua macam batas waktu yang ditetapkan Tuhan:
a. Batas waktu dalam hidup bagi setiap diri manusia.
b.Batas waktu untuk kebangkitan hidup kembali dari semua manusia, ialah pada Hari
Kiamat (batas waktu umur dunia).
Para pembaca dapat melihat dari kutipan-kutipan di atas bahwa kata Arab ajalu itu selalu
diterjemahkan dengan kata “ajal” dalam arti “kematian”, kecuali dalam dua terjemahan terakhir.
Tetapi sayang sekali, dalam terjemahan-terjemahan itu pun konotasinya, menurut hemat saya, tidak
seluruhnya benar. (Hari Kiamat, pada waktu ayat-ayat Al-Quran diturunkan empat belas abad yang
lalu, bukan berarti batas waktu umur dunia, melainkan saat kebangkitan ruh di akhirat tak lama
setelah mati).

Adapun menurut hemat saya, ayat Q. 6:2 itu secara obyektif harus diterjemahkan sebagai

berikut:

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah. Kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa
(waktu). Dan suatu masa (lagi) ditentukan di sisi-Nya. Kemudian masih kamu ragukan!

Dan bilamana saya menerjemahkan dan mengkonotasinya:
Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah (= dari elemen-elemen kimiawi yang terdapat
dalam tanah). Kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa (untuk hidup di dunia, yaitu
masa hidup yang akan berakhir dengan kematian). Dan suatu masa (yang lain)
ditentukan
(-Nya) di sisi-Nya (= di alam akhirat, yaitu masa akhirat yang akan berakhir dengan
dilahirkannya kamu kembali ke dunia). Kemudian (Namun) masih kamu ragukan (bahwa
tinggal hidup di akhirat itu hanya selama masa yang terbatas atau tertentu).
Jadi yang diragukan oleh para peragu itu bukanlah kebangkitan, melainkan adanya masa
tertentu di alam akhirat bagi manusia yang telah meninggal.
Dapat anda lihat bahwa ada perbedaan makna amat besar antara terjemahan saya dan
terjemahan-terjemahan yang saya kutip tadi mengenai ayat Q. 6:2. Saya terjemahkan kata Arab
ajalan dan ajalun dengan “masa”, sedangkan para penerjemah dan mufassir Indonesia tadi dengan
“kematian” atau “ajal” dalam arti kematian.
Dari penelitian kata Arab termaksud dalam Al-Quran, saya memperoleh kesimpulan bahwa
arti kata ajalu pada masa Nabi Muhammad s.a.w. masih hidup, ialah “masa” atau “jangka waktu”,
bukan “kematian”. Dan saya rasa amatlah logis bila sekarang pun, dalam menelaah Al-Quran, kita
harus menafsirkan kata Arab ajalu itu dengan arti kata yang berlaku pada masa Nabi Muhammad
s.a.w, hidup, bukan dengan arti sekarang.
Sebenarnya saya merasa diri melampaui batas karena berani-berani melancangi para ahli
bahasa dan jutaan orang Muslimin di Indonesia yang berpendapat bahwa kata ajal yang berasal dari
kata Arab itu berarti “kematian”. Dan atas kelancangan itu, saya mohon maaf sebesar-besarnya
kepada anda sekalian. Tetapi demi Kebenaran, saya mohon pula sudi apalah kiranya anda
mengizinkan saya menjelaskan apa yang telah mendorong saya mengemukakan pendapat yang amat
bertentangan dengan pendapat umum itu.
Pertama-tama, pengambilan kata “masa” atau “jangka waktu” sebagai terjemahan kata Arab
ajalu atau kata-kata imbuhannya saya dasarkan pada Kamus Al-Quran terbitan Ghalia dan pada
terjemahan ayat Q. 6:2 dalam bahasa Inggris oleh Mohammad Marmaduke Pickthall dalam
bukunya The Glorious Koran dan oleh A. Yusuf Ali dalam bukunya, The Holy Qur'an. Untuk
jelasnya, saya sajikan terjemahan mereka secara lengkap. Terjemahan Mohammad Marmaduke
Pickthall:

He it is Who hath created you from clay and hath decreed a term for you. A term is fixed with
Him. Yet ye still doubt.

Terjemahan A. Yusuf Ali:

He it is Who created
You from clay, and then
Decreed a stated term
(For you). And there is
In His Presence another
Determined term; yet
Ye doubt within yourselves!

Ingin saya tambahkan pula terjemahan Soedewo dalam bukunya, De Heilige Qoeran, yang

berbahasa Belanda:

Hij is het, Die u uit
Klei heeft geschapen, daarna
Heeft Hij een termijn bepaald;
en er is een termijn bij Hem genoemd;
toch twist (twijfelt) gij.

Sebagaimana dapat kita lihat di atas, ketiga penerjemah itu menerjemahkan kata-kata Arab
ajalan dan ajalun (kata imbuhan dari ajalu) dengan kata term atau termijn, yang semuanya, dalam
bahasa Indonesia, berarti “masa” atau “jangka waktu”. Tidak ada di antara mereka yang
menerjemahkannya dengan death atau dood (kematian atau maut).
Seandainya saya harus mengandalkan tafsiran saya kepada terjemahan-terjemahan yang
dibuat oleh para mufassir dan penerjemah Indonesia yang menerjemahkan ajalan dan ajalun dengan
“kematian” atau kata pinjaman “ajal”, maka saya akan terpaksa menarik kesimpulan, misalnya,
bahwa setelah mati kita akan tetap di alam “barzakh”(?), dan bila kematian kedua(?) tiba pada
“akhir zaman”, baru kita akan dibangkitkan, dihisab, dan dimasukkan ke “neraka” atau “surga”,
untuk kemudian tinggal di sana selama-lamanya. Selain itu, terpaksa pula saya tafsirkan bahwa
kebangkitanlah yang diragukan oleh para pengingkar itu.
Tetapi oleh karena saya mendasarkan penafsiran saya kepada terjemahan yang berbahasa
Inggris dan Belanda tadi - yang bagi saya nampak lebih obyektif dan sesuai dengan kata aslinya -
kesimpulan saya adalah sebagai berikut:
Setelah menghabiskan masa waktu di dunia yang ditetapkan oleh Tuhan bagi kita, tak lama
setelah meninggal, kita akan bangkit untuk kemudian dihisab dan hidup di alam akhirat, juga
selama suatu masa waktu tertentu, sebagaimana dimaksudkan dalam ayat Q. 6:2 itu. Dan setelah
masa waktu tertentu di “sisi Tuhan” itu selesai, kita akan dilahirkan kembali.
Menurut hemat saya, kesimpulan demikian sangat sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran yang
menyatakan bahwa Tuhan mengeluarkan orang-orang hidup dari orang-orang mati (ayat Q. 3:27)
atau bahwa kita akan dihidupkan kembali bila kita telah menjadi debu seperti nenek moyang kita
(Q. 27:67) dan ayat-ayat lainnya yang telah saya bahas terdahulu.
Dan saya berharap anda ketahui pula bahwa yang menyebabkan Tuhan mengecam manusia
dengan kata-kata “Namun masih kamu ragukan!” itu ialah ketidakpercayaan sebagian umat manusia
kepada adanya masa waktu di alam akhirat (“di sisi Allah”), bukan ketidakpercayaan kepada
kebangkitan. Semua orang Muslimin percaya bahwa di alam akhirat kita akan dibangkitkan dan
kemudian hidup di sana; tetapi tidak semua orang percaya bahwa hidup di akhirat itu (umumnya)
terbatas pada suatu masa waktu tertentu.
Dengan memberikan kecaman “Namun masih kamu ragukan!” itu, Tuhan seolah-olah ingin
menyerukan agar manusia percaya bahwa hidup di akhirat dengan pelbagai alamnya itu bukanlah
untuk selama-lamanya, melainkan untuk suatu waktu tertentu - dalam bahasa Arabnya, ‘ajalum
musamman
- yang lamanya bergantung kepada kebutuhan dan perkembangan jiwa masing-masing.

Untuk memperkuat pernyataan bahwa kata Arab ajalu itu sama sekali bukan berarti
“kematian”, saya akan mengutip ayat Q. 2:231, yang berbunyi sebagai berikut:

Wa 'idzaa thallaqtumunnisaa'a faba laghna ajalahunna fa 'amsikuu hunna bima'ruufin aw
sarrihuuhunna bima'ruuf…

Artinya:

Bila kamu menceraikan perempuan-perempuan dan mereka telah memenuhi masa waktunya,
ambillah mereka kembali dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik ….
Kata imbuhan Arab ajalahunna di atas menunjuk kepada suatu masa, dalam hal khusus ini,
kepada masa waktu yang telah ditetapkan oleh agama Islam bagi seorang janda untuk menunggu
sebelum ia diperbolehkan kawin lagi, yaitu masa 'iddah.
Seperti dapat anda maklumi, ayat suci tadi akan hilang rasionalitasnya bilamana kita
terjemahkan ajalahunna dengan “kematiannya”, sebagaimana dapat anda lihat dari terjemahan di
bawah ini:

Bila kamu menceraikan perempuan-perempuan dan mereka telah memenuhi kematiannya,
ambillah mereka kembali dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik
Terjemahan di atas amat irrasional, bukan? Sebab bagaimana mungkin seorang menikahi
kembali bekas isterinya yang telah meninggal!
Contoh lain ayat Q. 2:282:
Yaa 'ayyuhal-ladziina 'aamanuu 'idzaa tadaa yantum bi-dainin ilaa 'ajalim musamman
faktubuuhu …

Artinya:
Hai, orang yang beriman. Jika kamu berjual beli atas dasar utang piutang untuk waktu yang
ditentukan, tuliskanlah …
Juga di sini kata Arab ajalu jelas menunjuk kepada suatu masa waktu yang telah ditetapkan
bagi seseorang, kali ini, untuk membayar utangnya. Kata Arab itu sama sekali bukan berarti
“kematian”.

Contoh lain lagi, ayat Q. 22:5:

Hai, manusia! Jika kamu ragu-ragu tentang kebangkitan, (ketahuilah) bahwa Kami ciptakan
kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari suatu gumpalan daging yang
berbentuk dan tidak berbentuk, agar Kami dapat menjelaskan kepadamu. Dan Kami
tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu, dan kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai anak, dan kamu menjadi dewasa …

Seperti dapat anda lihat di atas, seandainya kita ganti perkataan “masa tertentu” - dalam
bahasa Arabnya, 'ajalim musamman - dengan “kematian tertentu”, maka kalimat itu pun akan
kehilangan rasionalitasnya. Sebab mana mungkin janin yang telah mati dalam rahim dapat
dikeluarkan sebagai anak hidup dan kemudian menjadi dewasa!
Untuk lengkapnya, mari kita ambil lagi. terjemahan ayat Q. 6:2 yang dibuat oleh para
penyusun Al-Quran dan Terjemahnya susunan Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir
Al-Quran yang direstui Departemen Agama Republik Indonesia:
Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukanNya ajal (kematianmu),
dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia
sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).
Jika kita menganggap terjemahan di atas benar dan kita menelaahnya secara jujur dan
konsisten, maka kita terpaksa harus percaya bahwa setelah hidup fisik kita berakhir, ada dua kali
atau dua macam kematian: kematian pertama, ketika kita meninggalkan dunia fana ini; dan kedua,
bila kita dibangkitkan pada akhir zaman(?). Tetapi benarkah kesimpulan itu? Menurut hemat saya,
terjemahan di atas bertentangan dengan ajaran Al-Quran yang menyatakan bahwa hanya ada satu
macam kematian, yaitu kematian yang pertama saya sebut tadi. Saya mohon anda baca lagi ayat
Q. 44:56 di bawah ini:

Di sana (akhirat, surga) mereka tidak akan merasakan kematian, kecuali kematian pertama (di
dunia). Dan Ia akan memelihara mereka dari azab neraka.
Jelas bahwa terjemahan ayat Q. 6:2 seperti di atas itu salah, bukan? Tetapi cobalah
terjemahkan kata Arab ajalan dan ajalun itu dengan “masa waktu”, maka akan timbul
rasionalitasnya dan akan anda sadari bahwa benarlah ajaran yang menyatakan hidup di akhirat atau
“di sisi Allah” Itu tidak untuk selama-lamanya, dan akan anda akui kebenaran ajaran universal
reinkarnasi.

Saya dapat mengutip banyak ayat lagi untuk menunjukkan kepada anda bahwa kata Arab
ajalu yang menghasilkan kata pinjaman ajal itu sama sekali bukan berarti “kematian”. Akan tetapi,
agar jangan berkepanjangan, saya akan menyebutkan saja nomor-nomor surah dan ayatnya, yaitu
Q. 4:77, Q. 5:32, Q. 6.128, Q. 7:34, Q. 7:185, Q. 10:11, Q. 10:49, Q. 11: 104, Q. 15:5, Q. 20:129,
Q. 63:10, untuk anda teliti sendiri dalam Al-Quran bila ada waktu terluang.
Seorang kenalan baru yang beriktikad baik tetapi tidak setuju dengan gagasan reinkarnasi
menulis kepada saya sebagai berikut:
“Saya tidak apriori menolak pengertian “ajal” yang anda tafsirkan. Tetapi saya yakin anda
juga akan menerima satu pengertian di dalam bahasa bahwa ada kalanya satu kata bermakna
banyak. Jadi bisa saja “ajal” berarti “mati” asal didukung oleh dalil-dalil lainnya. Dalam hal
yang anda tunjukkan, saya (sekali lagi) tidak otomatis menolak. Tetapi bagaimana anda
artikan “ajal” dalam ayat berikut? (Idza ja-a ajaluhum fa la yasta-khiruna saatan wala
yastaqdimun
?). Apakah di situ juga berarti “waktu”. Lalu apa arti tak dapat dimundurkan atau
dimajukan barang sesaat? Jelas bukan waktu.”
Sudah barang tentu, saya pun tahu bahwa suatu kata dapat mempunyai beberapa makna.
Makna mana yang harus dipilih bergantung kepada maksud si pengucap, bukan kepada si penerima
atau pendengar. Tetapi apakah kata Arab ajalu mempunyai pelbagai makna? Dalam Kamus
Al-Qur'an terbitan Ghalia saya hanya menemukan satu makna, yaitu “waktu” atau “masa”. Ajalu
bukan mautu (kematian).

Memang kata Arab ajalu itu dapat dipergunakan sehubungan dengan pelbagai hal, seperti
misalnya masa ‘iddah (Q. 2:231), masa janji utang piutang (Q. 2:282), waktu tibanya azab
(Q. 29:53), waktu pemberian sedekah (Q. b3:10), dan sebagainya. Tetapi itu bukan berarti kita
boleh mengidentikkan/menerjemahkan kata ajalu itu dengan ‘iddah,” dengan “janji” atau “utang
piutang”, dengan azab, dengan “sedekah”, bukan?

Demikian pula, dalam ayat Q. 6:2. Oleh karena dalam kalimat “tsumma qadhaa 'ajalan” yang
dimaksudkan dengan 'ajalan itu masa berada di dunia (yang berakhir dengan kematian), kita tidak
boleh mengidentikkan/menerjemahkan kata Arab ajalun dengan “kematian”. Juga kita tidak boleh
menerjemahkan ajalun dalam 'Wa 'ajalum musamman indahuu” dengan “kematian”, karena kalimat
itu, menurut hemat saya, harus ditafsirkan sebagai “Dan suatu masa (yang lain) ditentukan (untuk
berada) di sisi-Nya ( di alam akhirat).”
Sayang sekali terjemahan yang salahlah yang sekarang beredar, sebagaimana dapat anda lihat
di pelbagai terjemahan Al-Quran. Akibatnya, hampir semua orang Muslimin mengingkari adanya
masa hidup terbatas di akhirat!
Bahwasanya sekarang kata pinjaman ajal itu selalu diidentikkan dengan “kematian”, adalah
akibat selalu dipakainya terjemahan salah itu secara umum, baik oleh para awam maupun para ahli
agama.

Kembali kepada pertanyaan Saudara Penyanggah, apakah “ajal” dalam kalimat Arab yang
dikemukakannya juga berarti “waktu”, saya jawab dengan positif, “Ya”.
Bahwasanya dalam hal di atas kata ajalu atau waktu itu dapat diasosiasikan dengan kematian,
memang benar, sebagaimana kata itu pun dapat diasosiasikan dengan waktu ‘iddah, dengan masa
janji utang-piutang, dengan waktu tibanya azab, dengan waktu pemberian sedekah, dan sebagainya.
Tetapi - ini saya ulangi sebagai penegasan - itu bukan berarti bahwa ajalu itu lalu berarti
“kematian”, ‘iddah, “janji” atau “utang-piutang”, “azab”, atau “sedekah”, atau boleh diartikan
sebagai demikian? Saya rasa itu bukan cara berpikir yang ilmiah. Ajalu tetap berarti “waktu” atau
“masa”.

Ayat yang dikemukakan Saudara Penyanggah di atas adalah sebagian dari ayat Q. 7:34, yang

lengkapnya berbunyi:

Walikulli ummatin 'ajalun fa’idzaa jaa’a 'ajaluhum laa yasta’khiruuna saa'ataw walaa
yastaqdimuun.

yang saya terjemahkan sebagai berikut:
Dan bagi setiap umat ada suatu masa. Maka bilamana tiba masanya, tidak bisa mereka
mengundurkannya (memperlambatnya) sesaat pun, dan tidak bisa pula mereka memajukannya
(mempercepatnya) (sesaat pun).
“Masa” dalam ayat itu saya tafsirkan sebagai masa-waktu bagi setiap umat untuk
bereksistensi, masa-waktu yang terbatas dan karena itu pasti akan berakhir.
Untuk memperkuat kebenaran terjemahan di atas, saya akan mengutip terjemahan Abdullah
Yusuf Ali dalam The Holy Qur-an, yang berbunyi sebagai berikut:
To Every People is a term
Appointed: when their term
Is reached, not an hour
Can they cause delay,
Nor (an hour) can they
Advance (it in anticipation).
Dan mengenai kata term (“masa” atau “waktu”) di atas, beliau membuat footnote (catatan di
bawah halaman) sebagai berikut:

... There is only a limited time for an individual or for a group of people ('ummat). If they do
not make good during that time of probation, the chance is lost, and it cannot come again. We
cannot retard or advance the march of time by a single hour or minute. (“Hour” in the text
expresses an indefinite but short period of time.)

Terjemahannya:
... Setiap individu atau umat mempunyai suatu masa yang terbatas. Jika mereka tidak
mempergunakan masa percobaan itu dengan baik, maka kesempatan itu akan hilang dan tidak
dapat datang lagi. Kita tidak dapat memperlambat atau mempercepat gerak waktu barang
sejam atau semenit pun. (“Jam” dalam teks di atas menyatakan suatu jangka waktu yang tidak
tentu tapi singkat.)
Jadi dalam ayat Q. 7:34 itu pun, Abdullah Yusuf Ali, seorang ahli bahasa Arab yang tak
diragukan lagi otoritas dan integritasnya, menerjemahkan ajaluhum tidak dengan “kematian”,
melainkan dengan “masa” atau “waktu” karena memang ajalu bukan berarti “maut” atau
“kematian”. Meskipun beliau nampaknya tidak percaya kepada reinkarnasi - ini dapat saya
simpulkan dari pelbagai footnote dalam The Holy Qur-an - beliau cukup jujur dan ilmiah untuk
tidak membelokkan arti kata ajalun menjadi “kematian”
Menurut hemat saya, penggeseran arti kata ajalu dari “waktu” atau “masa” menjadi
“kematian” atau “ajal” (dalam arti kematian) merupakan suatu kesalahan yang amat fatal, karena
mengakibatkan hilangnya ajaran Ilahi yang mendasar, yaitu ajaran yang menerangkan hal adanya
waktu yang terbatas di alam akhirat bagi manusia umumnya. Kesalahan itu memungkinkan orang-
orang yang tidak percaya menyanggah reinkarnasi dengan pertanyaan. “Bagaimana mungkin orang
yang telah mati dapat dihidupkan kembali ke dunia sekarang, sedangkan menurut para alim ulama
hidup di alam akhirat itu untuk selama-lamanya?” Suatu pertanyaan yang amat logis, tetapi oleh
karena didasarkan pada suatu premise salah, menimbulkan konsepsi yang salah pula.
Berhubungan dengan hal di atas, saya menghimbau agar para pembaca, baik yang awam
agama maupun yang ahli agama, berkenan mempertimbangkan gagasan saya ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->