P. 1
Sebuah Ijtihad

Sebuah Ijtihad

|Views: 667|Likes:
Published by De Ewo Asmoro
Review buku ini dapat dilihat pada alamat berikut:
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2236932-sebuah-ijtihad-islam-kristen-dan/
Review buku ini dapat dilihat pada alamat berikut:
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2236932-sebuah-ijtihad-islam-kristen-dan/

More info:

Published by: De Ewo Asmoro on Dec 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2012

pdf

text

original

Sections

Seperti halnya dengan kata “ajal” yang berasal dari bahasa Arab ajalu dan sekarang oleh umat
Islam Indonesia diartikan sebagai “maut” atau “kematian” tetapi sebenarnya berarti “masa”, dalam
perbendaharaan bahasa kita ada pula kata Indonesia lain yang berasal dari bahasa Arab dan
sekarang diberi pengertian yang menyimpang dari arti aslinya (sehingga mengacaukan sebagian
besar penafsiran Al-Quran).
Yang saya maksudkan ialah perkataan “hari kiamat”.
Seperti telah saya singgung pada awal buku ini, saya bukanlah seorang ulama, baik fungsional
maupun profesional, dan bukan pula ahli bahasa. Tetapi dari ajaran-ajaran Al-Quran yang saya
tekuni secara mandiri (tidak terpengaruhi atau terikat oleh orang lain), telah saya temukan bahwa
penafsiran perkataan “hari kiamat” sebagai “kehancuran dunia pada akhir zaman” tidaklah tepat.
Sebab dipandang dari sudut semantik atau etimologi, kata Arab qiyaamatu (sinonimnya: ba'tsu,
nusyuuru), yang menghasilkan kata Indonesia “kiamat”, sebenarnya berarti “kebangkitan
(kembali)”. Ini dapat saya buktikan dari kamus Arab, dari The Holy Qur-an, susunan Abdullah
Yusuf Ali, dan The Glorious Koran, susunan Mohammed Marmaduke Pickthall, yang
menerjemahkan qiyaamatu dengan resurrection. Dan resurrection berarti “kebangkitan kembali”.
Dalam konteks buku ini, “kebangkitan” atau “kebangkitan kembali” berarti “kebangkitan ruh
orang mati di alam gaib”, yaitu peristiwa yang sekarang pun, tiap hari, tiap saat, sudah menjadi
kenyataan. Qiyaamatu bukanlah peristiwa yang baru akan datang kelak pada akhir zaman. Surah 75,
Al-Qiyaamah, yang akan saya kutip selengkapnya di bawah ini, saya anggap sebagai ayat-ayat yang
mendukung pendapat saya.

Surah 75. AL-QIYAAMAH
(KEBANGKITAN KEMBALI)

Bismillaahir rahmaanir rahiim.
1. Aku bersumpah demi hari kebangkitan
2. Dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela diri.
3. Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya?
4. Sungguh, sungguh Kami berkuasa memulihkan ujung-ujung jarinya secara sempurna.
5. Tetapi manusia hendak mengingkari apa yang akan datang.
6. Ia bertanya: Bila hari kebangkitan datang?
7. Tetapi bilamana penglihatan (mulai) kabur
8. Dan bulan hilang cahayanya
9. Dan matahari dan bulan bertaut,
10.Pada hari itu manusia akan berkata: Ke mana melarikan diri?
11.Tidak! Tiada tempat berlindung.
12.Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali.
13.Pada hari itu manusia diberi tahu tentang apa yang dikirimkannya dahulu dan apa yang
dilalaikannya
.
14. Ya, manusia menjadi saksi terhadap dirinya sendiri.
15. Meskipun ia mengemukakan dalih-dalihnya.
16. Janganlah gerakkan lidahmu untuk mempercepatnya.
17. Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya dan membacakannya.

18. Dan bilamana Kami membacakannya, ikutilah bacaannya.
19. Dan sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskannya.
20. Tapi tidak, tidak! Kamu menyukai (hidup) yang fana ini.
21. Dan mengabaikan (hidup) akhirat.
22. Hari itu wajah-wajah akan berseri-seri.
23. Memandang kepada Tuhannya.
24. Dan pada hari itu wajah-wajah lain (nampak) suram.
25. Karena tahu bencana akan menimpa mereka.
26. Tapi tidak! Bila nyawa telah sampai di kerongkongan,
27.Dan orang-orang berkata: Mana tukang jampi (yang akan menyelamatkannya?)
28.Dan ia tahu perpisahan telah tiba,
29.Dan kaki yang satu bertaut dengan kaki yang lain (suatu kiasan untuk penderitaan
sakaratulmaut)

30.Kepada Tuhanmulah hari itu (ia) akan digiring.
31. Sebab (dahulu) ia tidak percaya, dan tidak pula bersembahyang.
32. Tetapi ia mendustakan dan mencemoohkan.
33. Kemudian ia pergi ke kaumnya penuh kesombongan.
34. Celakalah kau, celakalah!
35. Sekali lagi, celakalah kau, dan celakalah.
36.Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai
pertanggungjawabannya?
37.Bukankah ia (dahulu) setetes air mani yang dipancarkan?
38.Kemudian menjadi suatu gumpalan; kemudian (Allah) membentuknya dan
menyempurnakannya.
39. Dan membuatnya suatu pasangan laki-laki dan perempuan.
40.Bukankah Ia (yang berbuat demikian) kuasa menghidupkan (kembali) orang-orang mati?
Surah di atas melukiskan secara dramatis dan allegoris saat-saat perpindahan ruh orang yang
akan mati dari alam fisik ke alam gaib; melukiskan penderitaan atau perasaan orang yang
menghadapi sakaratulmaut sebelum ia dibangkitkan kembali di alam gaib; melukiskan kepanikan
batin (bagi sebagian orang) yang disebabkan oleh rasa takut menghadapi kematian.
Ayat-ayat di atas sama sekali tidak melukiskan hal yang berhubungan dengan suatu bencana
alam pada akhir zaman. Seandainya benar hari kiamat itu sinonim dengan saat tibanya malapetaka
dunia pada akhir zaman, maka tidaklah logis bila dalam keadaan yang mengerikan itu masih ada
orang-orang yang berseri-seri seperti dinyatakan dalam ayat Q. 75:22-23 di atas, sedangkan orang-
orang lain meratap ketakutan dan menderita. Tidak, para pembaca yang budiman, orang-orang baik
itu akan terlalu sibuk memikirkan keselamatan sanak saudaranya. Karena itu, hari kiamat bukanlah
hari bencana dunia pada akhir zaman, melainkan saat dibangkitkannya ruh orang mati di alam
akhirat tak lama sesudah kematian,
sebagai permulaan kehidupan akhirat yang sering disinggung
baik dalam khotbah-khotbah maupun dalam Al-Quran.
Karena itu pula, kiamat atau kebangkitan dalam arti yang asli dan murni - sepanjang saya
dapat menelitinya dalam Al-Quran - sebenarnya terjadi setiap saat, ya, sekarang juga, bagi orang
yang bersangkutan, bukan kelak pada akhir dunia.
Bahwasanya kata kiamat itu sekarang berarti “akhir dunia”, akhir zaman”, atau “kehancuran
dunia pada akhir zaman”, itu merupakan suatu gejala perubahan arti kata yang biasa terjadi dalam
sejarah bahasa mana pun, sebagaimana juga halnya dengan kata Arab ajalu yang sebenarnya berarti
“masa” tetapi kemudian menjadi sinonim dengan “kematian”.

Bahwasanya hari kebangkitan itu bukan peristiwa yang baru akan tiba pada akhir dunia atau
akhir zaman, melainkan tak lama setelah kematian, dapat saya buktikan dengan mempergunakan
ayat Q. 23:99-100, yang berbunyi sebagai berikut:

99. Hingga bila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata: “Hai Tuhanku!
Kembalikanlah aku (ke dunia)”
,
100.“Agar aku dapat beramal saleh dalam hal-hal yang telah kulalaikan“. Sekali-kali tidak!
Itu hanya perkataan yang diucapkannya saja. Di belakang mereka ada suatu
dinding/batas sampai hari mereka dibangkitkan.
Kita perhatikan khusus kalimat “Di belakang mereka ada suatu dinding/ batas sampai hari
mereka dibangkitkan”. Kalimat itu mengisyaratkan kepada kita bahwa si orang mati itu telah
bangkit dan tidak dapat kembali ke dunia oleh karena di belakangnya ada penghalang yang
menghalanginya kembali, atau, dengan perkataan lain, ia tidak dapat kembali ke dunia karena ia
telah melewati “dinding” penghalang antara alam fisik dan alam akhirat.
Bahwasanya si orang mati itu telah bangkit kembali di alam akhirat, dapat kita simpulkan
dengan mudah dari permintaannya,

“Ya Tuhanku! Kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh dalam hal-hal
yang telah kulalaikan”
Sebab, seandainya ia belum bangkit di alam akhirat itu, niscaya ia tidak dapat mengajukan
permintaan di atas itu, bukan? Jadi, berdasarkan logika yang diterapkan secara jujur dan konsekuen,
kita dapat meyakinkan diri bahwa setiap kebangkitan ruh orang yang telah mati itu berlangsung tak
lama selelah kematian, bukan kelak pada akhir dunia atau akhir zaman.
Bagi orang-orang Islam yang selama ini sudah biasa berpikir bahwa hari kiamat atau hari
kebangkitan/penghisaban itu baru akan berlangsung kelak pada akhir dunia atau akhir zaman,
pernyataan saya di atas itu mungkin sulit diterima - apalagi, jika diingat bahwa penulis bukan
seorang ulama - tetapi itulah kesimpulan yang mau tak mau harus diterima oleh akal sehat yang
jujur. Saya persilakan anda merenungkannya kembali baik-baik, seandainya anda masih ragu-ragu.
Hanya oleh karena kata “kiamat” atau qiyaamah diartikan sebagai “akhir dunia” dan hanya
oleh karena kata Arab ajalu dalam ayat Q. 6:2, yang antara lain menyatakan “wa ‘ajalum
musamman ‘indahuu
“ (“dan ada [lagi] masa tertentu di sisi-Nya”) diartikan sebagai “kematian”,
maka umat Islam akhirnya menarik kesimpulan bahwa hidup di akhirat itu benar-benar untuk
selama-lamanya dan bahwa dalam Islam tidak terdapat ajaran tentang reinkarnasi atau siklus hidup
dan mati.

Sebagai akibat logis dari kesimpulan keliru itu, dan untuk mempertahankan kesimpulan itu,
maka semua ayat lain yang sebenarnya begitu jelas menunjukkan reinkarnasi dan siklus hidup dan
mati, secara menyolok dibelok-belokkan pula artinya.
Sebaliknya, oleh karena kepada kita selalu diajarkan bahwa dalam agama Islam tidak terdapat
ajaran mengenai reinkarnasi atau siklus hidup dan mati bagi manusia, maka kata Arab qiyaamatu,
yang sebenarnya berarti “kebangkilan”, diasosiasikanIah dengan kehancuran dunia pada akhir
zaman; dan kata Arab ajalu, yang dalam berpuluh-puluh ayat dipakai dengan pengertian “masa”,
khusus dalam hal ayat Q. 6.2 dan juga dalam ayat Q. 7:34, dibelokkanlah artinya menjadi
“kematian”, padahal “kematian” dalam bahasa Arabnya jelas adalah mautu.

Di antara para pembaca, tentu ada yang belum yakin bahwa hari kiamat atau hari kebangkitan
itu bukan berarti “akhir zaman”. Karena itu, izinkanlah saya menulis tentang itu lebih lanjut.
Kebanyakan orang, termasuk orang-orang sebelum Islam, biasa beranggapan bahwa hari
kebangkitan itu sinonim dengan akhir zaman:
Sudah barang tentu Allah s.w.t. mengetahui hal itu. Mungkin oleh karena itulah Allah s.w.t.

menurunkan ayat Q. 30:55-56:

55. Dan pada hari saatnya (kebangkitan) tiba, orang-orang berdosa bersumpah bahwa
mereka telah berdiam hanya sesaat saja. Dengan demikian, terkecohlah mereka
.
56. Tetapi orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata: Sebenarnya kamu berdiam,
dengan keputusan Allah, hingga hari kebangkitan. Inilah hari kebangkitan.
Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).
Perhatikanlah kalimat “Inilah hari kebangkitan“ di atas.
Menurut tafsiran saya, ayat Q. 30:55 di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa pada saat
arwah orang mati bangkit di alam akhirat setelah mengalami tidur-kematian, mereka menyangka
bahwa mereka telah tertidur hanya sebentar saja, padahal sebenarnya mereka tak sadarkan lebih
lama daripada itu, mungkin beberapa jam mungkin beberapa hari. Bahwa sangkaan mereka itu
salah, dapat disimpulkan dari perkataan “Dengan demikian, terkecohlah mereka.”
Dalam ayat 56 di atas, Tuhan seolah-olah berfirman kepada ruh orang mati yang baru bangkit
di akhirat, “Nah, inilah sebenarnya apa yang disebut 'hari kiamat' atau 'hari kebangkitan' itu. Tetapi
dahulu, ketika masih hidup di dunia, kamu selalu mengira hari kiamat atau hari kebangkitan itu baru
akan berlangsung kelak pada akhir zaman! Itu tak benar!”
Agar para pembaca jangan menyangka saya hanya mengada-ada saja dengan maksud
menyesuaikan penafsiran ayat dengan pendapat pribadi, saya akan memberikan contoh lain dari
Al-Quran. Bacalah ayat Q. 35:9:

Allahlah yang mengirimkan angin, lalu (angin itu) menggerakkan awan, dan Kami halau
angin itu ke arah tanah mati, dan dengan itu Kami hidupkan bumi (tanah) setelah
kematiannya. Demikianlah kebangkitan.
Dapat anda lihat di atas bahwa dalam kebangkitan itu tidak ada disebut-sebut suatu bencana
alam atau kematian manusia secara besar-besaran, pengadilan orang-orang mati sekaligus, gempa
bumi yang menggemparkan, gunung-gunung api yang meletus, sebagaimana orang biasa berpikir
bila mengartikan “hari kiamat”.
Sebaliknya, ayat di atas melukiskan suatu proses atau peristiwa yang tenang dan damai,
seolah-olah mengisyaratkan kepada kita apa sebenarnya arti kata “kiamat” atau “kebangkitan” itu:
Tanah mati (karena kehabisan mineral dan elemen-elemen kimiawi yang diperlukan untuk
pertumbuhan tanam-tanaman dan benda-benda hidup lainnya); kemudian hujan turun; airnya

merembes ke dalam tanah; proses-proses kimiawi terjadi; mineral-mineral terbentuk kembali; tanah
dan tumbuh-tumbuhan hidup kembali. Demikianlah kebangkitan, kata Al-Quran, meskipun sama
sekali tiada bencana alam atau pun malapetaka lainnya yang mendahului atau membarengi peristiwa
kebangkitan itu.

Demikianlah pula, seorang insan mati. Badannya dikuburkan; ruhnya secara otomatis
“dihisab” dan bangkit di tingkat alam akhirat yang sesuai dengan tingkat perkembangan
rohaniahnya, Sekali lagi: Demikianlah kebangkitan. Tidak perlu ada bencana alam, tidak perlu ada
kematian bersama berjuta juta orang, tidak perlu ada gempa bumi, tidak perlu ada punung api
meletus, dan semacamnya yang membarengi peristiwa kebangkitan itu. Sebaliknya, hanyalah
peristiwa atau proses yang tenang dan damai, suatu peristiwa wajar seperti peristiwa-peristiwa
wajar lainnya.

Untuk memperkuat uraian di atas, saya akan mengutip ayat Al-Quran lainnya, yaitu ayat

Q. 19:93-95:

93.Setiap (makhluk) yang ada di langit dan di bumi pasti datang kepada Yang Maha
Pemurah sebagai hamba.
94.Sungguh Ia mengetahui mereka dan menghitung (amalan-amalan) mereka dengan
hitungan (yang benar).
95.Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri
Sekali lagi, itulah hari kiamat atau hari kebangkitan. Setiap orang yang meninggal akan
“datang seorang diri kepada-Nya” untuk menyerahkan diri. Ayat-ayat di atas sama sekali tidak
melukiskan penghisaban massal olah Tuhan yang duduk di sebuah singgasana pada suatu hari kelak
di akhir zaman, tetapi menunjukkan suatu peristiwa biasa yang berlangsung setiap hari.
Penghisaban dan kebangkitan berlangsung tak lama setelah kematian, secara individual - sekali lagi,
“seorang diri”, kata Al-Quran - secara otomatis, berkat kemahabesaran dan kemahaefisienan Allah
s.w.t. Kebangkitan bukanlah berarti “akhir dunia” atau “bencana dunia pada akhir zaman”. Bencana
pada akhir zaman adalah soal lain yang memang disebut-sebut dalam Al-Quran dan Kitab Injil,
tetapi tidak akan saya singgung di sini, karena di luar ruang lingkup tulisan ini.
Berdasarkan hal-hal di atas, saya merasa dibenarkan berkesimpulan bahwa perkataan yaumil
qiyaamah
atau “hari kiamat” yang sering dipakai dalam Al-Quran harus ditafsirkan sebagai saat ruh
dalam badan astralnya bangkit di alam astral (akhirat bagian rendah) setelah ia meninggalkan alam
fisik. Dan seandainya ada disebut-sebut penghisaban massal dalam Al-Quran, maka, menurut hemat
saya, hal itu hendaknya ditafsirkan sebagai suatu peristiwa insidental di mana banyak orang mati
terbunuh sekaligus, seperti biasa terjadi dalam suatu bencana alam.
Tetapi seandainya pula hal itu bukan menunjukkan suatu bencana alam, maka tokh masih
ratusan atau ribuan orang meninggal setiap hari sebagai akibat dari kecelakaan, penyakit, atau
ketuaan di seluruh dunia.

Di antara para pembaca mungkin ada yang tetap berpendapat bahwa kata “saat” dalam ayat
Q. 30:55 tadi harus ditafsirkan sebagai “akhir dunia”, bukan sebagai saat kebangkitan setelah tidur-
kematian sebagaimana telah saya jelaskan.
Sudah barang tentu kata “saat” itu dapat diartikan berlain-lainan, bergantung kepada situasi
dan kebutuhan. Tetapi seandainya benar kata “saat” tadi berarti akhir dunia, maka akan timbul suatu
keganjilan; sebab menurut logika, sebelum orang mati hidup kembali di alam gaib, ia, atau badan
rohaniahnya, tentu harus bangkit lebih dahulu, bukan? Bahwasanya kebangkitan itu tidak harus

menunggu dahulu tibanya akhir zaman, tetapi sekarang pun telah berlangsung, dapat kita simpulkan
dari kenyataan bahwa sekarang pun orang-orang mati sedang atau telah aktif hidup di alam akhirat
atau, menurut istilah Al-Quran “di sisi Allah”. Kata ayat Q. 2:154:
Dan janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa
mereka) mati. Tidak! mereka itu hidup, cuma kamu tidak menyadarinya.
Dan ayat Q. 3:169:
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Tidak!
mereka itu hidup.
Di sisi Tuhan mereka, mereka mendapat rezeki.
Dari uraian sederhana di atas, anda pun dapat melihat bahwa kebangkitan atau kiamat bagi
orang-orang yang telah meninggal itu tidak harus ditangguhkan sampai tibanya akhir dunia yang
entah kapan akan tiba.

Orang-orang mati itu sekarang tidak sedang berbaring tidur di “alam barzakh” menunggu
tibanya “hari kiamat” dalam arti akhir zaman, sebagaimana sering diajarkan oleh beberapa kalangan
guru agama, melainkan sudah bangkit dan hidup di alam akhirat. Bagi kita, manusia yang sedang
hidup di alam fisik, orang-orang mati itu adalah orang-orang yang sekarang tinggal dan hidup di
alam akhirat.

Umat Kristen di Indonesia juga mempergunakan kata Indonesia “kiamat” dengan arti kata
yang sama dengan arti yang digunakan-oleh kaum Muslimin, yaitu dalam arti bencana dunia pada
akhir zaman, atau apa yang disebut “Hari Kiamat Besar”. Gereja Kristen konon mengajarkan bahwa
“kebangkitan orang-orang mati akan terjadi pada waktu Yesus kembali ke dunia, yang akan
terlaksana sesudah 'hari kiamat' pada akhir zaman, dengan maksud mendirikan Kerajaan Allah yang
kekal dan abadi”.

Everyman's Encyclopaedia, fourth edition, volume 7, halaman 382, di bawah judul Judgment,

The Final, misalnya, menulis:

According to Rom. Catholic theology every soul individually, at the instant of death, is
committed by God to its final destiny, in what is called a private judgment. The term F.J.,
however, is more commonly applied to the general judgment, a public vindication of God's
justice which is to take place at the end of the world. At that moment the dead will rise again
with bodies transformed like Christ's at His Resurrection, a transformation which will affect
the living also. Then all alike will behold the everlasting fate of each and every one.

Terjemahannya:
Menurut agama Katolik Roma, setiap ruh secara individual, pada saat kematiannya,
ditentukan nasibnya yang terakhir oleh Tuhan dalam apa yang dinamakan pengadilan
perseorangan. Tetapi istilah The Final Judgment atau Pengadilan Terakhir, lebih biasa
diterapkan kepada pengadilan umum, suatu usaha umum untuk mempertahankan
(memelihara) keadilan Tuhan yang akan terjadi pada akhir dunia. Pada saat itu, orang-orang
mati akan bangkit lagi dengan tubuh yang telah berubah seperti tubuh Kristus pada waktu
Kebangkitan-Nya, suatu transformasi yang juga akan berlaku bagi orang-orang hidup. Ketika
itu, semuanya akan melihat nasib abadi masing-masing.
Selain itu, seperti juga halnya dengan kaum Muslimin, Gereja Kristen berpendapat bahwa
hukuman dalam neraka itu bersifat kekal dan abadi. (Tetapi seorang Kristen terkenal dan
berpengaruh - namanya Oregon dan lahir di Alexandria, Afrika Utara, dan hidup antara tahun 186
dan 254 Masehi - menyangkal pendapat demikian dan, antara lain, mempertahankan bahwa semua
orang, bahkan setan sekalipun, akhirnya akan diselamatkan oleh Tuhan. Karena keyakinannya yang
gigih itu, ia dihukum sebagai seorang murtad, dipenjarakan; dan disiksa oleh Gereja yang berkuasa
ketika itu. Ia akhirnya meninggal dunia karena penderitaannya.)

Menurut sejarah, sebelum Nabi Muhammad s.a.w. muncul di jazirah Arab, para misionaris
Nasrani telah berada di sana selama 600 tahun untuk menyebarluaskan agamanya, tetapi tidak
begitu berhasil. Hadirnya mereka di sana agaknya menjadi salah satu sebab mengapa orang-orang
Muslimin dahulu - setelah wafat Nabi Muhammad s.a.w. - menafsirkan ayat-ayat Al-Quran
mengenai kebangkitan orang-orang mati persis seperti orang-orang Kristen, yaitu bahwa
kebangkitan dan penghisaban orang-orang mati baru akan berlangsung pada akhir dunia atau “hari
kiamat” pada akhir zaman.

Pada dewasa ini pun (sebagian?) umat Islam beranggapan bahwa setelah “Pengadilan
Besar”(?) pada akhir zaman, ruh orang-orang yang telah meninggal dan sekarang konon tinggal di
“alam barzakh” untuk sementara, akan dimasukkan ke alam akhirat (neraka atau surga) untuk
kemudian tinggal di sana selama-lamanya; sedangkan menurut hemat saya - yang saya dasarkan
kepada hasil penelitian saya mengenai ayat-ayat Al-Quran yang bersangkutan - tidaklah demikian
halnya. Saya berpendapat, bukanlah sifat Tuhan s.w.t. untuk membiarkan makhluk-makhluk-Nya
merana di neraka untuk selama-lamanya. Tuhan Yang Maha Pengampun pasti akan mengampuni
mereka, meskipun memang tidak segera.
Lagi pula, jika kita berani memakai akal pikiran dan rasa keadilan kita sendiri, kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa tidaklah mungkin seseorang yang bersalah hanya selama beberapa
tahun atau beberapa puluh tahun saja harus dibalas dengan siksaan yang kekal dan abadi. Tuhan
tidak irrasional. Tuhan Maha Adil, Maha Pengampun, Murah Hati terhadap makhluk-makhlukNya
yang bertaubat. Allah s.w.t. adalah Al-Ghafuurur Rahiim. Saya persilakan anda membaca lagi ayat-
ayat berikut:
Ayat Q. 39:53:

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri!
Janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah Yang akan mengampuni segala dosa.
Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat Q. 3:88-89:

88.Mereka menetap di dalamnya (dalam neraka). Tidak akan diringankan baginya siksaan,
dan tidak pula mereka ditangguhkan (siksaannya).
89.Kecuali mereka yang kemudian bertaubat dan berbuat baik. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat Q. 3:185.

Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepadamu
ganjaranmu. Barangsiapa dipindahkan dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga,
sesungguhnya ia beroleh kemenangan
. Dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang
memperdayakan.

Ketiga ayat di atas itu jelas menunjukkan bahwa Allah s.w.t. akhirnya akan mengampuni
orang-orang berdosa, apa pun kesalahannya, apa pun kepercayaannya, apa pun agamanya. Yang
merupakan bukti nyata bagi saya, ialah pengampunan itu diberikan-Nya kepada kita berupa
kesempatan dilahirkan kembali di dunia sebagai tempat ujian hidup yang baru dan tempat menerima
pembalasan atas perbuatan kita, baik ataupun buruk, pada masa atau masa-masa hidup yang lalu.
Selama orang masih beranggapan bahwa kiamat atau hari kebangkitan itu sama artinya
dengan kehancuran dunia pada akhir zaman, maka pastilah ia akan menemukan ajaran-ajaran yang
seolah-olah bertentangan satu sama lain pastilah ia akan tetap kacau dalam pengertian mengenai
hidup dan mati.

Sayang sekali, konsep keliru itu telah berlangsung demikian lamanya, sehingga sulitlah bagi
siapa pun untuk meluruskannya kembali. Namun meskipun demikian, menurut hemat saya,
penyalahtafsiran atau salah kaprah itu terlalu fundamental untuk dibiarkan begitu saja tanpa adanya
usaha meluruskannya kembali. Selama kita membiarkan salah kaprah itu berjalan terus seperti
sekarang, yaitu membiarkan orang mengira hari kiamat atau hari kebangkitan adalah identik dengan
akhir dunia, maka besarlah kemungkinan orang berulang-ulang kembali membuat kesalahan yang
sama dalam penafsiran baik Al-Quran maupun Kitab Injil. Saya menghimbau para alim ulama
memikirkan hal itu.

Usaha ke arah itu telah saya rintis dengan penyajian tulisan ini. Usaha selanjutnya saya
serahkan kepada para pencinta Kebenaran lainnya yang lebih berwibawa daripada saya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->