P. 1
Quantum Mentoring

Quantum Mentoring

|Views: 878|Likes:
Published by Ridho Simanungkalit

More info:

Published by: Ridho Simanungkalit on Dec 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2013

pdf

text

original

Sections

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

-Peserta memahami cara berinteraksi dengan Al Qur'an
-Peserta mengetahui hubungan Al Qur'an dengan sains modern
-Peserta memahami fungsi Al Qur'an
-Peserta memahami kewajiban seorang muslim terhadap Al-Qur'an
-Peserta mengetahui pengaruh Al-Qur'an terhadap kehidupan seorang muslim

II. PENDAHULUAN

Dan sekiranya Kami menurunkan Al Qur-an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu
akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-
perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (59:21)
Setiap orang merindukan cinta dan kasih sayang. Bila cinta datang menyapa, maka
akan terbetik rasa memiliki yang sangat mendalam. Pautan dua hati melahirkan rasa rindu
dan suka. Bila ia berjumpa maka hatinya akan bahagia, bila keduanya berpisah maka sedih
dan duka lara yang akan dirasakannya. Perpisahan adalah pertemuan yang tertunda. Maka
hubungan surat biasanya merupakan jalan bertemunya hati.
Seorang gadis mengunci dirinya di kamar. Ia asyik membaca sesuatu. Diatas
pembaringan ia mengamati untaian kata dalam secarik kertas dengan penuh ceria.
Sebentar-bentar dari bibirnya tersungging senyuman. Itulah pertama kali dia mendapatkan
surat cinta dari kekasihnya yang ada di luar negeri. Betapa senang hatinya, betapa gembira
jiwanya. Kerinduan yang lama terpendam kini agak terobati dengan kedatangan surat itu.
Berbahagiakah gadis itu? Atau hanya sekedar senang?
Bila cinta pada seseorang manusia dapat menyenangkan manusia sedemikian rupa
seperti gambaran diatas, maka bagaimanakah cinta dan kasih sayang Allah?
Dapatkah cinta dari lawan jenis memenuhi kebutuhan kita terhadap kasih sayang?
Tidak, cinta manusia hanyalah cinta yang sifatnya sementara. Tidak kekal abadi dan akan
lenyap ditelan masa. Kebahagiaan gadis itupun bersifat semu... Bayangkan, bila nanti sudah
bertemu, ternyata pemuda itu hanya pandai merangkaikan kata-kata diatas kertas. Sifat dan
perbuatannya kasar, kelakuannya memuakkan.
Manusia merindukan cinta abadi dan sejati ...Cinta tulus ikhlas. Apakah cinta yang
dirindukan seorang muslim atau muslimah? Cinta yang paling utama adalah cinta Allah Yang
Maha Pencipta. Dialah yang memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman
dengan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan apa-apa.
Mungkin timbul pertanyaan : Bagaimanakah Allah menyayangi manusia?
Jawabnya : Pada dasarnya, Allah Yang Pengasih Lagi Maha Penyayang mencintai seluruh
manusia tanpa pandang bulu. Kasih Allah kepada manusia terrealisir dengan diberikan-Nya
berbagai nikmat yang tiada terkira banyaknya. Fisik kita adalah nikmat Allah, makanan dan
minuman kita adalah nikmat Allah, kesehatan kita adalah nikmat. Allah bahkan setiap tarikan
nafas dan detak jantung kita adalah nikmat Allah pula.
Ditempatkannya kita di bumi dengan berbagai fasilitas juga nikmat. Segala potensi
alam dan kekayaannya diperuntukkan Allah bagi manusia. Kemudian Allah menjadikan akal
dan kecerdasan sebagai nikmat. Dengan akal manusia diberi ilham oleh Allah untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka produksi dari pengembangan
teknologi membuat manusia hidup semakin nikmat. Pendeknya, nikmat atau tanda kasih
sayang Allah sangat banyak, tidak terhingga! (14:34)

Quantum Mentoring

41

© 2011 Ilham Publishing

Itulah nikmat Allah yang disebarkan-Nya secara merata kepada manusia, tanpa
apakah dia muslim atau kafir. Sayangnya, banyak manusia lalai berterima kasih dan
menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang dikehendaki Allah. Padahal semua pemberian
Allah ini bersifat sementara karena akan berakhir bila mereka mengalami kematian.
Dalam nikmat yang banyak itu, ada satu nikmat yang utama. Nikmat inilah yang
akan mengantarkan kita pada nikmat yang abadi dan kekal. Itulah hidayah atau bimbingan
Allah. Berbeda dengan nikmat lain yang diberikan kepada semua orang, nikmat hidayah ini
hanya diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Lantas siapakah orang-orang yang
dipilih Allah untuk memperoleh nikmat hidayah?
Selain dari para nabi dan rasul, diantara umat manusia pun ada yang memperoleh
nikmat hidayah sebagai karunia Allah. Mereka adalah pengikut para rasul, utusan Allah. Saat
sekarang, Al Quranul Kariim merupakan nilmat hidayah yang tiada taranya. Inilah mukjizat
abadi yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW agar beliau senantiasa dapat
memimpin umatnya. Umat Islam yang memperoleh hidayah ini adalah mereka yang dalam
hidupnya selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat:
1. Ikhlas, yaitu hidup bertauhid, tidak mensyarikatkan Allah baik dalam hati, lidah maupun
perbuatan. Orang yang ikhlas adalah mereka yang senantiasa mencari ridha Allah saja
dalam setiap langkah hidupnya. Al Quran merupakan "rumus-rumus menuju kerhidaan
Allah" atau "rambu-rambu jalan menuju syurga ". (5:16)
2. Mengimani dan mencintai Allah dengan sebenar-benarnya. Iman yang didasari cinta
kapada Allah tidak akan bertepuk sebelah tangan. Allah akan membuat dia dekat dengan
diri-Nya. Jalannya tentu saja dengan memberikan hidayah dalam hatinya. (2:165 /
64:11).

3. Berjihad, yaitu mengamalkan semua kehendak Allah. Atau bersungguh-sungguh dalam
mencari keridhaan Allah itu. (29:69).
4. Sabar, yaitu tidak pernah putus asa, mengeluh atau berhenti karena ada suatu halangan.
Terus dengan mewujudkan upaya mencari ridha Allah setiap langkah kehidupan. Duka
cita yang menimpa tidak akan melemahkan, kesenangan yang diperoleh tidak membuat
lupa daratan, itulah sabar menghadapi berbagai situasi. (2:157)
Dari itu, mana mungkin orang yang tujuan hidupnya bersenang-senang, bergelimang
dalam dosa atau enggan mentaati Allah akan mendapat hidayah Al Quran. Bimbingan Allah
tidak datang begitu saja tanpa usaha kita. Mereka yang tidak mendapat hidayah itu
disebabkan kerena kelalaiannya sendiri!
Cobalah renungkan, berapa banyaknya manusia yang enggan meraih kasih sayang
Allah ini. Kedua matanya tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah,
kedua telinganya tidak dipakai untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, mereka mempunyai
hati dan akal, tetapi malas berpikir! Mereka tidak berupaya menghidupkan iman dalam
jiwanya. Mereka asyik bergumul dengan cinta antara sesama manusia yang rendah dan
melalaikan.

Maka petunjuk Allah pun enggan mampir dihatinya. Padahal, tanpa bimbingan dan
hidayah Allah, manusia menjadi sesat. Ia tidak menemukan jalan menuju ridha-Nya.
Hidupnya akan ngelantur, bertentangan dengan fitrah kemanusiaan dan fitrah dirinya
sendiri. Ia pun akan menjadi orang yang dibenci oleh alam semesta dan Pencipta dirinya.
Alangkah hina hidup tanpa petunjuk! Sekali lagi Allah hanya akan memberikan hidayah-Nya
kepada yang bermotivasi ikhlas, mencari keridhaan Allah, bersabar dan berusaha sungguh-
sungguh kearah itu!

Dengan Al Quran, Allah senantiasa memimpin dan membimbing hamba-hamba-Nya
yang beriman dengan penuh kasih sayang. Kitabullah mengelus-ngelus jiwa mereka,

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

42

© 2011 Ilham Publishing

membuka mata hati mereka untuk melihat kebenaran, membisiki mereka tentang makna
kahidupan dengan penuh mesra, menghibur sekaligus memberikan jalan keluar bagi setiap
persoalan hidupnya.

Maka berbahagialah orang yang mencintai Al Quran. Ia akan hidup dalam petunjuk
dan naungan kasih sayang Allah. Kitabullah bagaikan surat cinta Allah yang ditujukan bagi
hamba-hamba-Nya yang beriman. Siapa yang membacanya, ia akan merasakan kelezatan
iman yang tiada tara, kenikmatan perbincangan dengan Allah. Kelezatan audiensi dengan
Rabb - Pencipta, Pemilik, Pemelihaara semesta alam. (8:2)

III. BACAAN YANG MULIA DAN ILMU YANG BERGUNA

Apakah Al Quran itu? Secara bahasa Al Quran berasal dari kata qa-ra-a artinya
"Bacaan". Kata Al Quran berbentuk masdhar dengan arti isiim maf'ul yaitu "maqru" (yang
dibaca). Didalam Al Quran itu sendiri Allah menggunakan kata qa-ra-a dalam membaca
ketika Dia menjelaskan kepada Rasul-Nya. (75:17-18).
Secara syariat, Kitabullah ini didefinisikan para ulama sebagai "Kalam Allah yang
merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW
diriwayatkan secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah".
Tidak semua kalam Allah merupakan Al Quran. Hanya yang diwahyukan kepada
Rasulullah dan diriwayatkan secara mutawatir saja yang Al Quran. Juga tidak semua wahyu
Allah kepada Rasulullah Al Quran, sebab ada hadits qudsi yang redaksinya dari Rasulullah
sendiri. Adapun Kitabullah, sebagaimana definisi diatas, sama sekali tidak kemasukan
perkataan manusia. Kitab suci Al Quran adalah mukjizat Rasulullah SAW dan membacanya
merupakan ibadah. Sabda Rasulullah," Barangsiapa yang membasa satu huruf dari
Kitabullah ini maka baginya satu pahala dan kebaikan yang sepuluh kali lipatnya. Aku tidak
katakan aliif-lam-mim satu huruf tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan mim satu huruf."
(HR. Tirmidzi)

Ayat Al Quran yang pertama turun merupakan perintah membaca," Iqra'
bismirabbikal ladzii khlaq" (bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan).
Memang Al Quran diberikan kepada kita untuk senantiasa dibaca dan dibaca. (96:1-5).
Iqra' (bacalah)!! Renungkanlah, betapa canggihnya perintah ini ! Siapa pun di dunia
ini mengetahui bahwa membaca adalah kunci ilmu pengetahuan dan pembuka jalan bagi
peningkatan ilmu. Membaca dilakukan dengan menyatukan simbol-simbol (ayat-ayat)
bacaan, huruf, kata dan kalimat sehingga membentuk pengertian. Buku-buku yang kita baca
adalah kumpulan simbol- simbol bacaan ini. Al Quran juga dipenuhi simbol-simbol Allah.
Tetapi simbol disini bukan sekedar huruf yang dirangkai menjadi kata atau kalimat. Dibalik
setiap ungkapan Al Quran terkandung untaian hikmah Ilahiyah yang tinggi. Siapakah yang
ingin memperolehnya?

Apakah yang dibaca? Yang dibaca adalah semua ciptaan Allah (seluruh makhluk-
Nya). Maka perintah membaca Al Quran mengandung dua pengertian sekaligus.
Pertama, membaca alam semesta sebagai ayat-ayat Allah al-kauniyah yang tersebar di alam
semesta.
Kedua, membaca Kitabullah yaitu ayat-ayat Allah al-qauliyah, sebagai bimbingan dalam
membaca alam semesta tersebut.
Ketika membaca Al Quran kita menemukan kesatupaduan antara ayat-ayat Allah
dalam firman-firman-Nya dengan ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta.
Bukankah seluruh isi alam ini merupakan ciptaan dan milik Allah. Bukankah Kitabullah itu
juga merupakan wahyu Allah yang tiada diragukan lagi kebenarannya!
Membaca fenomena alam semesta adalah jalan mencapai ilmu pengatahuan. Bila

Quantum Mentoring

43

© 2011 Ilham Publishing

membaca ini ditafsirkan lebih dalam maka ia berarti menyelidiki, menganalisa, bahkan
sampai melakukan eksperimen terhadap atau ayat-ayat kauniyah itu. Allah Yang Maha
Pencipta memberi ilmu melalui cara ini," Dia mengajar manusia dengan peranaraan pena
(tulis baca).

Tetapi hakikat ilmu hanya bisa ditemukan bila alam semesta dibaca dengan Nama
Allah Yang Maha Menciptakan. Melalui Kitabullah akan terungkap karunia dan kasih sayang
Allah yang Maha Pemurah, Yang maha memberi dengan tanpa perhitungan. Bacalah! Dan
Rabbmu Yang Maha Pemurah. Pemberian Allah semakin sempurna dengan dibukakan-Nya
ilmu pengetahuan dan teknologi... Rahmat dan kasih sayang Allah menjadi berkembang dan
semakin banyak." Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya". Maka nikmat Allah
yang manakah yang dapat kita dustakan?
Kesatupaduan Al Quran dengan fenomena alam (ilmu pengetahuan) ini membuat
para pembaca Kitabullah semakin yakin akan kebenaran firman-firman Allah. Ia merasa Allah
semakin dekat, memberi kenikmatan berupa hidayah yang sempurna, membukakan hakikat
ilmu yang dipelajarinya dari alam semesta dan mencurahkan kasih sayangnya ke dalam jiwa.

IV. AL QURAN DAN SAINS MODERN

Sains merupakan salah satu bidang manusia yang menjadi nikmat Allah yang besar
bagi kita. Dengan izin Allah sains itu manusia dapat membuat berbagai fasilitas yang
memberikan kemudahan dalam hidupnya. Karena Kitabullah berasal dari Allah yang
menjadikan sains ini sebagai nikmat-Nya, maka ia pun banyak menyinggung masalah sains.
Hebatnya, apa yang diungkapkan Al Quran tentang ilmu pengatahuan modern baru
dapat terungkap pada masa kita sekarang ini setelah orang-orang menggunakan alat-alat
canggih dalam berbagai keperluan ilmiah semisal: mikroskop, pesawat ruang angkasa,
satelit komunikasi, kapal selam dll. (41: 53)
Dalam bagian ini, kita lihat bagaimana Kitabullah menjelaskan beberapa hal yang
baru dapat dicernakan pengertiannya setelah berkembangnya sains modern.
1.Tak seorang pun ahli ilmu pengetahuan mengira bahwa langit, bintang dan planet itu
dasarnya adalah kabut (dukkhaan) setelah alat-alat ilmiah modern berkembang pesat.
Para peneliti menyaksikan sisa-sisa kabut yang hingga kini selalu membentuk bintang
gemintang. (41: 11)
Para pakar sains modern kini menemukan bahwa bintang gemintang di langit senantiasa
diciptakan dan gugusan bintang-bintang ini satu sama lain saling berjauhan. Dengan
demikian dapat diketahui selalu dalam perluasan. (51: 47)
2. Para pakar ilmu astronomi pada saat ini telah menemukan bahwa rembulan (dulunya)
menyala kemudian padam dan sinarnya sirna. Cahaya yang keluar dari rembulan di
malam hari hanyalah pantulan dari lampu (Siraj) lain, yaitu matahari. (17: 12).
Para ahli tafsir mengatakan," Tanda bagi malam hari adalah rembulan sedangkan tanda
bagi siang hari adalah matahari". ibnu Abbas berkata," Rembulan bersinar seperti halnya
matahari". Para ahli tafsir mengatakan bahwa," Lalu Kami hapuskan tanda malam"
berarti Kami sirnakan sinarnya.
Kemudian Allah menyebutkan bulan dan pelitanya. (25: 61)
Dari sini Allah menyatakan bahwa matahari bersinar, sehingga dikatakan "pelita/lampu".
Jika bulan bersinar tentu pula Allah akan berkata "dua lampu" (as sirojain) dan bukannya
"satu lampu"( assiroj).
3. Dahulu orang-orang beranggapan orang yang naik keatas merasa sesak nafas karena
udara buruk yang tidak sehat. Tetapi manakala manusia berhasil membuat pesawat ruang
angkasa super canggih dan ia mampu naik kelangit. Maka diketahuilah bahwa orang naik

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

44

© 2011 Ilham Publishing

ke langit dadanya terasa sesak, bahkan amat sesak, dikarenakan udara (oksigen)
berkurang tatkala manusia tubuhnya naik. (6:125)
4. Para pakar botani menemukan bahwa dalam semua jenis tumbuhan, terdapat jenis jantan
dan betina atau berpasangan. Tak seorang pun sebelumnya mengetahui kenyataan ini,
kecuali dari apa yang diungkapkan Kitabullah. (36:36)
5. Para dokter kini menemukan bahwa pusat rasa adanya di kulit. Urat syaraf yang terluka
bakar dan merasakan sakitnya luka tersebut hanya di lapisan kulit saja. Karena itu orang
disuntik merasa sakit di bagian kulit. Setelah jarum suntik masuk menembus daging tidak
terasa lagi sakitnya. Ini secara tidak langsung juga dijelaskan Al Quran. (4:56)
Setelah mengkaji beberapa contoh hubungan Kitabullah dengan sains modern,
pahamlah kita bahwa Al Quran benar-benar suatu mukjizat yang tiada bandingnya. Mereka
yang mempunyai hati nurani akan merasa takjub dengan keagungannya. (7:52)
Dari itu, tidak mengherankan bila Al Quran merupakan Kitab yang dibela dengan
tumpahan darah para syuhada Islam sepanjang kurun. Orisinalitas dan keutuhannya
senantiasa dipelihara dengan garansi Allah. Setiap huruf katanya merupakan nilai mutiara
hikmah yang tak habis-habisnya dikaji dan dibahas. Setiap kalimat dan ayat-ayatnya
merupakan petunjuk operasional kehidupan mereka yang memilih syurga. Cobalah cari
sebuah buku yang lebih tua usianya dari Al Quran, yang sering dibaca dan tidak ada
perubahan dalam isi maupun susunan katanya.
Al Quran adalah Kitab yang menggetarkan hati orang-orang yang beriman dan
beramal soleh. Setiap membacanya bertambahlah iman dalam hati mereka. Al Quran
membuat para pencintanya menjadi manusia bernilai dan berkualitas tinggi, menjadikan
suatu bangsa yang tadinya lemah tertindas mampu memimpin dan menguasai dunia.
(21:10)

V. TUJUH FUNGSI AL QURAN

Bila Al Quran selaras dengan ilmu pengetahuan, apakah berarti Kitab ini merupakan

buku ilmiah?
Tidak, fungsi Al Quran yang utama bukan menjadi Kitab Ilmu Pengetahuan, tetapi sebagai
petunjuk (Hudan). Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, manusia dipersilahkan
menalar dan mengembangkan sendiri. Sedangkan Al Quran hanya memberikan rangsangan
agar manusia senantiasa menggunakan akalnya serta fenomena melihat alam yang menjadi
sumber inspirasi bagi mereka.

Bagi muslim atau muslimah, Kitabullah adalah bimbingan hidup yang paripurna. Ia
tidak hanya menunjuki jalan yang mesti ditempuh dalam mengarungi lautan kehidupan,
memberikan obor dalam kepekatan zaman, tetapi juga menjadi hiburan di sepanjang jalan.
Dalam suatu doa, Rasulullah menjelaskan kapada kita bahwa Kitabullah adalah
petunjuk hidup setiap muslim. Renungkanlah doa Rasulullah berukit ini,

Ya Allah rahmatilah aku dengan Al Quran
Jadikanlah dia itu pemimpin, cahaya, petunjuk dan tanda kasih sayang(Mu) bagiku
Ya Allah ingatkanlah aku sesuatu yang aku lupa darinya
Dan ajarkanlah aku segala yang aku belum ketahui daripadanya.
Rizkikanlah kepadaku untuk selalu membacanya baik diwaktu malam maupun siang
Jadikanlah dia argumen bagiku, wahai Rabb semesta alam

Inilah doa yang unik dan istimewa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Doa ini dapat kita baca seusai membaca Al Quran dengan harapan Allah mengabulkan
permohonan kita yang terkandung di dalamnya. Dari doa ini kita memahami bahwa

Quantum Mentoring

45

© 2011 Ilham Publishing

Kitabullah Al Quran mengandung fungsi,

1. Pemimpin (Imam).

Kitabullah bagaikan perintah harian yang datang dari Raja Alam Semesta, Allah Azza
wa Jalla. Kepemimpinan Allah sangat dominan pada orang-orang yang beriman karena ia
selalu berinteraksi dengan Al Quran. Ia mengetahui bagaimana Allah mengatur hidupnya:
menyuruh, melarang, menganjurkan, menghibur dirinya melalui Kitabullah. Dari Kitab ini
mereka menemukan kepastian apa yang harus diperbuatnya dalam kegiatan sehari-hari baik
bagi kehidupan individu maupun dalam masyarakat. (17:71-72)

2. Cahaya (Nuur)

Yaitu cahaya yang menerangi kegelapan hidup. Hidup tanpa cahaya pastilah berada
dalam gelap gulita, tidak mengenal kebenaran, tidak mengenal Allah dan kekuasannya
sehingga seperti orang buta yang tidak tahu jalan. Meraba-raba tak tahu arah dan tujuan.
Dengan Kitab ini Allah menjadikan hidup ditaburi cahaya iman. Al Quran menerangi jalan
yang harus ditempuh sehingga kita tidak akan sesat atau keliru jalan. (42:52)

3. Petunjuk (Al Huda)

Yaitu bumbingan Allah yang terus menerus menunjuki jalan kebenaran dan lurus. Ia
memberikan rambu-rambu yang harus dilalui sepanjang jalan dan memberikan pedomannya
agar tidak sesat. Dengan petunjuk ini orang beriman akan mampu membedakan mana yang
haq dan mana yang bathil, yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk. Ia
tidak akan terperosok pada kebhatilan dengan meninggalkan kebenaran. Jalan yang dilalui
dalam hidupnya akan pasti, tiada keraguan atau syubhat, seluruhnya serba jelas. (2:185)

4. Kasih Sayang Allah (Rahmah)
Kitabullah adalah tanda (simbol) dari cinta Ilaahi kepada hamba-Nya yang beriman.
Karena cinta-Nya dibimbinglah orang-orang yang mukmin itu mengenal kebesaran dan
kemuliaan-Nya, mengenal hakikat hidup dunia dan akherat. Tatkala dibaca, terasalah
resapan kasih sayang Allah yang sangat besar. Kasih sayang dari Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang, yang dirasakan di dunia ini dan yang dijanjikan-Nya di akherat. (16:89)

5. Pengingat (Adz Dzikru)

Kitabullah ini bernama juga "Adz Dzikru". Al Quran adalah metoda Ilahi untuk mengi-
ngatkan manusia pada hukum dan undang-undang-Nya, menyadarkan manusia akan adanya
hari berbangkit dan pembalasan. Tilawah (membaca) Al Quran adalah dzikir yang lebih
utama daripada menyebut-nyebut nama Allah. Melaksanakan Kitabullah ini adalah
melakukan dzikir dalam bentuk amal. Disamping itu, membaca Al Quran dengan berulang-
ulang menggairahkan manusia untuk balajar dan bekerja guna mencapai kebahagiaan hari
akherat.(54:17, 22, 40)

6. Penerangan (Hidayat)

Yaitu penerangan kepada manusia tentang berbagai rahasia kehidupan serta misteri
ghaib yang menjadi pertanyaan di benaknya. Kitabullah menerangkan hakikat hidup, hakikat
ketuhanan (Rububiyah), hakikat penghambaan, hakikat manusia dll yang sangat bermanfaat
bagi manusia. Semua yang diterangkan Kitabullah merupakan ilmu sejati yang membuat
manusia hidup tentram dan bahagia. (3:138)

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

46

© 2011 Ilham Publishing

7. Argumentasi (Hujjah) atau Bukti (Burhan)
Al Quran penuh berisi argumentasi yang akurat untuk mematahkan segala bentuk
logika kekufuran yang dimiliki orang-orang kafir. Setalah memahami Kitabullah, tidak ada
satu jalanpun untuk mengingkari kebenaran atau menyimpang daripadanya. Kitabullah ini
juga akan menjadi bukti di hari kiamat nanti terhadap perjalanan hidup mu'min. (11:17)
Sebenarnya, fungsi Al Quran lebih banyak lagi. Kitabullah tidak hanya menjadi
hidayah dan bimbingan bagi orang-orang yang beriman. Ia pun bisa menjadi obat (syifa)
bagi penyakit- penyakit hati, penghibur dikala duka dan penghapus segala kesedihan. Siapa
yang membacanya akan merasakan sentuhan dan belaian kasih sayang Allah yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang. Karena itu, Rasulullah mengajarkan doa memohon agar
Kitab ini menjadi hiburan bagi orang yang beriman. Doa itu begitu mesra, khusyu' dan
tawadlu.

Inilah doa beliau yang wajib kita hafalkan dan amalkan.

Ya Allah, aku ini hamba-Mu anak dari hamba-Mu, anak hamba-Mu
Ubun-ubunku berada di dalam genggaman-Mu
Berlaku atasku hukum-hukum-Mu
dan adil bagiku keputusan-Mu
Aku memohon kepadamu dengan setiap Nama-Mu
yang Engkau namakan diri-Mu dengannya
atau nama yang Engkau turunkan di dalam Kitab Suci-Mu
atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu
atau nama yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu...
Agar Engkau menjadikan Al Quran yang agung itu bunga hatiku
cahaya mataku
penghapus duka laraku
penghilang kekawatiran dan kedukacitaan

VI. KENIKMATAN INTERAKSI DENGAN AL QURAN

Untuk memperoleh kemuliaan melalui Al Quran, seorang muslim hendaknya menjadi
pencinta Kitabullah. Dengan mencintainya, hati akan senantiasa lekat dan selalu ingin
berhubungan dengannya. Para pencinta Al Quran adalah mereka yang selalu membaca
Kitabullah dalam hidupnya baik di berbagai kesempatan. Hatinya telah tertambat untuk
mentadabburkan dan memahami kendungan maknanya. (2:121)
Membaca Kitabullah dengan bacaan yang sebenarnya maksudnya membaca sesuai
hukum-hukum tajwid, metadabburkan (mengkaji) isinya, serta mengamalkan kandungannya.
Inilah bentuk interaksi yang sebenarnya dengan Kitabullah.
Al Quran sendiri menyatakan bahwa umat terdahulu, khususnya Rasulullah dan para
sahabat, begitu mendalam cintanya pada Al Quran Mereka senantiasa menerima bimbingan
Kitabullah dan menangis tatkala menerima peringatan Allah. (17:107-109)
An Nawawy dalam Al Quran meriwayatkan sabda Rasulullah," Bacalah Al Quran dan
menangislah, jika kamu tidak dapat menangis paksakanlah untuk menangis."
Dalam hadits lain disebutkan," Sesungguhnya Al Quran diturunkan dalam
keheningan, maka menangislah dikala membacanya, bila tidak dapat, maka berpura-puralah
(berusaha) menangis."

Para pencinta Al Quran membaca Kitabullah ini dengan penghayatan yang sangat
tinggi. Diantara mereka bahkan banyak yang menghafalkan seluruh isinya. Rasulullah SAW
sering menangis ketika menerima wahyu Allah. Ayat yang beliau peroleh dihafalkan dan
diulang-ulang dalam sholat bagaikan memperoleh harta yang sangat mahal herganya.

Quantum Mentoring

47

© 2011 Ilham Publishing

Setalah itu beliau menyampaikannya kepada masyarakat.
Suatu ketika Rasulullah bangun untuk sholat malam, Aisyah, istri beliau melihat hal
ini. Beliau berkata kepada Aisyah," Biarlah, aku akan melakukan ibadat dan audensi dengan
Rabbku." Lebih sepertiga malam Rasulullah melakukan sholat dengan membaca Al Quran.
Suara beliau syahdu dan merdu, diselingi isak tangis.
Dekat waktu shubuh datanglah Bilal untuk melakukan adzan. Ia melihat Rasulullah
tengah bersujud dan menangis, janggut beliau basah, bumi tempatnya bersujud pun basah.
Setelah Rasulullah usai shalat itu, Bilal bertanya," Apakah yang menyedihkan engkau ya
Rasulullah? Bukankan Allah telah menghapus dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun
yang kemudian!"

Rasulullah menjawab," Bagaimana engkau ini Bilal. Bagaimana aku tidak menangis,
pada malam ini Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku". (3:190,191,…)
Kemudian Rasulullah berkata," Celakalah yang membaca ayat ini kemudian ia tidak

mentadabburkan isinya".

Karena cintanya pada Kitabullah, Rasulullah SAW sendiri senang mendengar bacaan
Al Quran dari para sahabatnya. Beliau meminta Abdullah bin Mas'ud yang suaranya merdu
untuk membaca dihadapannya. Tentu saja Abdullah merasa risih. "Bukankah Kitabullah
turun kepadamu ya Rasulullah?", tanya Abdullah.
Rasulullah menjawab," Aku senang mendengar bacaan Al Quran dari selainku". lantas
Abdullah pun membaca Kitab itu secara tartil. Suara merdunya masuk ke sanubari, dari surat
Al Baqarah berpindah berpindah ke surat Ali Imran kemudian memasuki surat An Nisa'.
Sampai ayat ke-41 Abdullah mendengar isak tangis Rasulullah menggemuruh. Rasulullah
berkata," Cukup...cukup". Rupanya beliau sangat terharu dengan tanggung jawab yang
telah Allah bebankan diatas pundak beliau. (4: 41)
Para sahabat Nabi sangat terkenal dengan kecintaan mereka terhadap Kitabullah.
Siang malam tiada waktu yang terlewatkan tanpa membaca Al Quran. Mereka hapalkan di
luar kepala, sedangkan yang lemah hapalannya menggantungkan mushaf dalam lembaran-
lembaran kulit hewan atau pelepah pohon kurma di lehernya. Mereka membaca berulang-
ulang ayat-ayat tertentu sambil menangis karena takut ancaman siksaan Allah. Pribadi-
pribadi sahabat memang sangat lekat dengan Kitabullah. Suatu malam, ketika sedang
melakukan ronda, khalifah Umar bin Khattab ra mendengar seseorang membacakan ayat-
ayat Al Quran. (52:1-7).

Ketika terdengar ayat ini, beliau bergumam," Sungguh inilah sumpah yang benar,
demi Rabb (Pemilik, Pemelihara, Penguasa) ka'bah...", setelah itu beliau terjatuh pingsan.
Salah seorang sahabat yang sempat menyaksikan, lalu mengangkat dan membawa beliau ke
rumahnya. Setelah kejadian itu khalifah sakit beberapa hari. Umar bin Khattab r.a. memang
terkenal dengan penghayatannya yang sangat dalam terhadap Kitabullah. Beliau masuk
Islam setelah mendengar lima ayat permulaan Surat Thaha.
Sahabat Utsman bin Affan r.a. dikenal sebagai pengumpul mushaf Al Quran. Beliau
sangat mencintai Kitabullah, sehingga membaca dan mentadabburkannya merupakan
kegiatan paling pokok dalam hidupnya. Utsman bin Affan mencapai syahid terbunuh ketika
beliau menjadi Khalifah III. Saat itu beliau dalam keadaan membaca Kitabullah sehingga
mushfah ditangan beliau terpecik darah. Mushaf itu sampai kini masih ada tersimpan di
Musium Turki, sebagai salah satu bukti kekuasaan Allah.
Penghayatan ini bukan hanya dilakukan Nabi dan para sahabatnya, tetapi oleh para
penguasa Islam. Khalifah Umar bin Abdul Aziz tergolong cucu Umar bin Khattab. Dalam
menjalankan pemerintahannya, khalifah ini selalu mengutip Kitabullah ketika berbicara.
Beliau tidak mau meninggalkan Kitabullah dalam setiap urusan yang dihadapinya. Salah satu

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

48

© 2011 Ilham Publishing

kebiasaannya, seusai isya' kemudian qiyamul lail sampai shubuh. Bila sampai membaca ayat
(37:22-24).

Beliau selalu mengulang ayat," waqifuuhum innahum mas'uuluun" (Dan tahanlah
mereka karena sesungguhnya mereka akan ditanya) dengan menangis dan menunjukkan
penyesalan. Sholat ini dilakukan sampai menjelang adzan shubuh.
Imam Hasan Al Basri, salah satu ulama tabiin suatu ketika membaca Surat Al A'raaf
dengan tartil dan syahdu. Ketika sampai sepertiga ayat, tiba-tiba beliau pingsan. Setelah
siuman, sahabat-sahabatnya menanyakan mengapa beliau pingsan. Imam Hasan Al Basri
berkata dengan penuh kerendahan hati," Saya tadi membaca Surat Al A'Raaf sampai ayat
50.

Dari itu, para ulama Islam sepanjang kurun telah mereguk kenikmatan berinteraksi
dengan Kitabullah dalam hidup mereka. Imam Akhdory penyusun kitab Jauhar Al Maknun
berkata tentang hal ini," Maka oleh karena itu, mata hati para ulama dapat melihat mukjizat
Al Quran degan terang, dan dalil yang jelas. Dengan pandangan bathinnya itu para ulama
dapat menyaksikan sumber cahaya (ilmu Allah) dan segala sesuatu yang tercakup
didalamnya. Terdiri dari bermacam-macam rahasia ilmu. Hati mereka merasa gembira,
terpesona dan asyik dalam menyelami makna Al Quran, bagaikan melihat taman yang indah
dan permai. Maka mereka mencurahkan pemikirannya dan perhatiannya pada Al Quran yang
ilmunya bagaikan danau yang luas."
Didalam muqaddimah Tafsir Fi Zhilalil Quran (Dibawah naungan Al Quran), yang
disusun Sayyid Qutb menulis," Hidup di bawah naungan Al Quran merupakan suatu nikmat.
Yaitu nikmat yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh mereka yang merasakannya dan
menjadikan sebagai pedoman hidup"

VII. PENGARUH AL QURAN

Kitabullah Al Quran telah memberi pengaruh yang sangat hebat pada dunia ini.
Sejarah mengakui keunggulan dan keutamaan Al Quran dibanding dengan kitab-kitab lain
atau pun buku-buku karangan manusia. Saat ini, inilah kitab yang dibaca lebih dari satu
seperempat milyar manusia setiap hari, tanpa bosan-bosan. Mereka membacanya dengan
penuh khusyu dan tawadlu, dengan harapan mendapat pahala dan keridhaan Penguasa
alam semesta. Sungguh ajaib, karena Kitab ini telah berusia lebih dari 14 abad, tanpa
perubahan dan penyimpangan.

Inilah perkataan yang difirmankan Allah kepada Jibril, wahyu Allah yang dibawa Jibril
kepada Rasulullah, yang dibacakan beliau kepada para sahabatnya, yang dibaca berulang-
ulang dan dihafalkan oleh milyaran manusia yang pernah hidup didunia dan mengaku
muslim! Tidak ada perubahan redaksi meskipun hanya satu huruf...
Kitab ini telah menjadikan manusia yang berpribadi lemah menjadi kuat, manusia
yang akhlaknya bobrok menjadi mulia. Bahkan suatu bangsa yang tadinya rendah menjadi
tinggi dan berwibawa. Keberadaan umat Islam di seluruh dunia beserta sejarah panjang
mereka merupakan bukti nyata tentang keagungan Kitabullah ini. Benarlah sabda
Rasulullah," Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al Quran ini suatu Bangsa dan
merendahkan bangsa yang lain). (HR Muslim)
Untuk menunjukkan kedahsyatan pengaruh Al Quran ini, Allah menyatakan

(13:31,59:21).

Getaran yang ditimbulkan Kitabullah bukan hanya pada Kitabullah bukan hanya pada
manusia tetapi pada seluruh makhluk Allah, yang hidup maupun yang mati. Bila gunung saja
sudah tunduk terpecah belah ketika menerima Kitabullah ini, maka bagaimanakah jika
manusia yang menerimanya! Tidakkah mereka merenungkan!

Quantum Mentoring

49

© 2011 Ilham Publishing

Muhammad bin Abdullah SAW dengan membawa Al Quran diutus untuk merubah
kondisi umat manusia. Perubahan ini bukan hanya berlangsung di Jazirah Arab saja, tetapi
berlangsung di seluruh dunia. Bukan hanya di abad ke tujuh dimana beliau hidup, tetapi
berlangsung terus hingga akhir masa.
Rasulullah sendiri berhasil membentuk suatu generasi yang menjadi pangkal dari
perubahan umat manusia, itulah generasi sahabat beliau ra. Nabi membentuk suatu generasi
perubah (jailut taghyir) yang belum pernah dimunculkan sejarah, baik sebelum maupun
sesudahnya. Generasi ini dibangun oleh bimbingan wahyu Allah yang terhimpun dalam
Kitabullah, Al Quran. Itulah generasi Qurani, generasi yang mentalitasnya merupakan
mentalitas Robbaniyah yang terjadi pada generasi pertama pengikut dakwah Nabi ini
dilukiskan oleh Al Quran dengan perumpamaan, (6:122)
Para sahabat yang menerima bimbingan Al Quran dan Sunnah, tadinya merupakan
orang-orang yang terbelakang baik dalam ilmu, teknologi maupun kebudayaan. Keberhalaan
membuat mereka bagaikan hidup dalam gelap gulita. Tetapi dalam jangka waktu 23 tahun,
Rasulullah berhasil mencabut jahiliyyah dari akar-akarnya, membentuk suatu peradaban
manusia di muka bumi.

Untuk menggambarkan pengaruh Kitabullah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad,
baiklah kita dengarkan Ja'far bin Abdul Mutholib, salah seorang sahabat Nabi, melukiskannya
dihadapan Najasy raja Habasyah,
"Paduka dahulu kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah berhala,
memakan bangkai, berzina, mengerjakan segala perbuatan keji, saling bermusuhan,
memutuskan hubungan persaudaraan, berlaku buruk terhadap tetangga dan yang kuat
menindas yang lemah...Begitulah keadaan kami dahulu, sebelum Allah mengutus Rasul-Nya
kepada kami. Kemudian Allah mengutus seorang Rasul kepada kami, orang yang kami kenal
asal keturunannya, kesungguhan tutur katanya, kejujuran dan kesucian hidupnya yang tidak
sedikitpun ternoda...Dia mengajak kami supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga...dan supaya meninggalkan aturan
hidup kami yang lama, yaitu tradisi nenek moyang kami yang menyembah batu dan berhala.
Bahkan dia memerintahkan kami supaya selalu berbicara benar, senantiasa menunaikan
amanat, memelihara persaudaraan, berlaku baik terhadap tetangga, menjauhkan diri dari
segala perbuatan haram dan pertumpahan darah, melarang kami berbuat jahat, berdusta
dan makan harta milik anak yatim...Ia memerintahkan kami supaya menyembah Allah
semata tanpa menyekutukan-Nya, melakukan shalat, zakat dan puasa.
Lebih jauh Ja'far menerangkan,"...Kami kemudian beriman kepadanya, membenarkan
semua tutur katanya, menjauhi apa yang diharamkan olehnya dan menghalalkan apa yang
dihalalkan bagi kami..."

Itulah pengaruh Al Quran terhadap para sahabat Nabi sehingga memunculkan
perubahan total yang belum pernah dikenal oleh sejarah. Setelah perubahan ini para
sahabat Nabi melesat bagaikan anak panah yang keluar daru busurnya. Mereka menjadi
guru dunia di bidang peradaban, moralitas, ilmu pengetahuan, teknologi dsb. Setelah para
sahabat berkiprah dan meninggalkan warisan sejarah yang teramat luhur untuk diteladani,
maka perjuangan mereka dilanjutkan oleh tabiin. Selanjutnya oleh tabiit tabiin dan
seterusnya...

Kaum muslimin menghancurkan kepongahan imperium Romawi dan Persia.
Memancangkan panji Islam sehingga hampir mencapai empat perlima bagian bumi. Al Quran
menghancurkan kajahiliaan di berbagai pelosok dunia. Dimana Al Quran hadir dan
membentuk suatu umat dakwah disitu berhala-berhala tumbang, konsepsi nenek moyang
dirobek-robek dan kejahatan dibumihanguskan.

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

50

© 2011 Ilham Publishing

Kaum muslimin muncul sebagai umat pertengahan (ummatan washotan) dan
memimpin dunia di bidang keruhanian dan peradaban. Lembaran sejarah Islam
menunjukkan bahwa umat ini tetap bertahan 14 abad lamanya di tengah-tengah jatuh
bangunnya sistem-sistem jahiliyah. Umat ini akan tetap ada dengan menyimpan kekayaan
khasanah budayanya sepanjang Kitabullah tetap mereka tegakkan. Al Quran akan terus
menerus menghasilkan umat yang terbaik sepanjang ia dijadikan pedoman hidup dan
manhaj (konsep) asasi dalam perjuangan kaum muslimin.

VIII. KEWAJIBAN KITA TERHADAP AL QURAN

Setiap muslim yang bertaqwa menyadari sepenuhnya apa yang menjadi
kewajibannya terhadap hidayah Allah ini. Kewajiban itu dilaksanakan dengan penuh cinta
dan ridha tanpa sara keberatan maupun keraguan. Ia senantiasa bersedia meluangkan
waktu, mencurahkan pemikiran dan tenaganya.

1. Membaca Al Quran

Kitabullah ini, membacanya merupakan ibadah. Allah memberikan pahala untk setiap
huruf yang dibaca dengan kabaikan (hasanat). Membaca kitabullah merupakan ibadah yang
paling utama dari seluruh rangkaian ibadah yang ada. Membaca Al Quran menjadi inti dan
kewajiban di dalam melaksanakan sholat, menjadi kebiasaan yang disunnahkan di siang
maupun malam. (35:29 / 10:61)
Rasulullah tidak bosan-bosannya mengingatkan kaum muslimin agar senantiasa
membaca Al Quran. Banyak hadits Rasulullah memerintahkan umat ini selalu membaca
Kitabullah atau belajar membacanya dengan makhroj yang baik dan ilmu tajwid yang benar.
Misalnya rangsangan Rasulullah berikut ini,

"Orang yang membaca Al Quran dan ia mahir membacanya bersama dengan safarotil kiro,il
baroroh (malaikat yang mulia) dan orang membaca Al Quran tetapi ia terbata-bata dalam
lafalnya dan tertahan-tahan maka dia mendapat dua pahala". (HR. Mutafaq alaihi)
Dikatakan kepada para pencinta Al Quran di hari akhirat,"Bacalah dan naiklah (derajatmu di
syurga) dan tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkan Quran di dunia. Karena
sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca".(HR. Abu Daud dan
At Tirmidzi)

Tidak boleh hasad (iri dengki) kecuali kepada dua unsur, seseorang yang diberi Allah
Al Quran kemudian dibacanya baik pagi maupun malam hari dan seseorang yang
diberi Allah rezeki kemudian diinfakkannya siang maupun malam. (HR. Mutafaq
alaihi)

2. Mentadabburkan Isi Al Quran
Metadabburkan artinya mengkaji dan mempelajari kendungan hikmah yang Allah
ajarkan didalamnya. Membaca saja belum cukup, karena mungkin orang membaca tetapi
tidak memahami kandungan isinya. Karena itu harus dilakukan pengkajian dan pendalaman
isinya melalui tadabur. Hikmah Al Quran tidak akan pernah habis digali dan sangat
bermanfaat bagi orang-orang yang mengimaninya. Inilah perintah Allah. (47:24 / 38:29)

3. Mengamalkan Isi Kitabullah

Yaitu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah didalamnya serta menjauhi apa
saja yang dilarang Allah. Karena amal itu merupakan asas diberikannya pahala (jaza-u) oleh
Allah. (9:105)Tak ada satu pun dari ketiga kewajiban ini yang boleh ditinggalkan, semua
wajib dilakukan. Setiap saat Al Quran mesti membimbing kita. Sikap lalai dan cuek terhadap

Quantum Mentoring

51

© 2011 Ilham Publishing

Al Quran merupakan dosa dan perbuatan yang dibenci oleh Allah.
Kita sangat prihatin, karena dalam kenyataan banyak juga kaum muslimin yang lalai
dari Al Quran. Mereka hanya mengagungkan fisiknya tetapi isi dan kandungannya
ditinggalkan. Al Quran hanya dibaca bila ada kematian atau selamatan. Tidak ada upaya
untuk mengkaji isinya secara mendalam. Ada lagi orang yang merubah fungsi Kitabullah ini.
Ia dijadikan alat untuk mencari kesenangan kehidupan dan bukan pedoman hidup. Al Quran
dinyanyikan dan diperlombakan, demi meraih gelar juara dan kemasyhuran, tetapi hukum
dan undang-undangnya ditinggalkan.
Karena itu, tidak ada jalan lain yang lebih utama selain senantiasa membaca,
mentadabburkan, mengajarkan dan mengamalkan. Bukankah Rasulullah bersabda,
"Sebaik-baik kamu adalah orang-orang yang mempelajari dan mengajarkan Al Quran). (HR.
Bukhari & Muslim)

Bila ketiga kewajiban ini dilaksanakan, maka mukmin atau mukminah akan
merasakan kenikmatan hidup bersama Al Quran. Kemiknmatan yang tidak mungkin
dirasakan oleh orang yang tidak mengimani Kitabullah ini. Hanya dengan menjadikan
Kitabullah sebagai petunjuk jalan, manusia akan selamat di dunia maupun akhirat. Al Quran
akan menjadi suatu hujjah (argumen) dihadapan pengadilan Allah. Ia akan memberi syafaat
kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah,

"Bacalah Al Quran karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya
di hari Kiamat. (HR Bukhari & Muslim)

Reference:

·Materi BP LBKB Manarul Ilmi Surabaya
·Materi Mentoring ITS

Bab

XI

Urgensi Shahadatain

Quantum Mentoring

Quantum Mentoring

53

© 2011 Ilham Publishing

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->