MENTERI PEKERJAAN REPUBUK

UMUM

INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANGINFRASTRUKTUR

Daftar lsi
Hal.
Peraturan Menter; Pekerjaan Umum NO.15jPRTjMj2010 Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Lampiran - 1 Lampiran - 2 Lampiran - 3 Lampiran - 4 Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Jalan Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Irigasi Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Air Minum Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Sanitasi Lingkungan Masyarakat. Mekanisme Pelaporan Pemantauan, Evaluasi dan Penilaian Kinerja Berbasis .. . .. Tentang Petunjuk Teknis 1 .. .. .

11

23 35
45

Lampiran - 5 Lampiran - 6

57 75

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER! PEKERJAAN UMUM NOMOR: 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA

MENTER! PEKERJAAN UMUM, Menirnbang a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 59 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Menteri Pekerjaan Urnurn telah menetapkan Peraturan Menteri Pekerjan Umum Nomor 42/PRTjM/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang da!arn pelaksanaannya sudah tidak sesuai lagi; b. bahwa dengan adanya perubahan organisasi Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/Mj2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur, perlu dilakukan penyempurnaan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perirnbangan (Lernbaran Negara Republik Indonesia Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Republlk Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah KabupatenjKeta (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomer 4737); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nemor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 2010 tentang

Mengingat

1.

2. 3.

4.

5. 6. 7.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84jP Tahun 2009; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum; 1 tentang

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

PERATURAN MENTERl TEKNISPENGGUNAAN INFRASTRUKTUR.

PEKERJAAN UMUM TENTANG PETUN1UK DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG

BABI KETENTUAN UMUM Pasall
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. 2. Menter] adalahMenteri Pekerjaan Umum. 3. Kementerian adalah Kementerian Pekerjaan Umum. 4. Unit Kerja Eselon 1 adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Bina Marga, dan Dkektorat Jenderal Cipta Karya di Kementerian Pekerjaan Umum. 5. Bidang Infrastruktur adalah kegiatan yang rneliputi Subbidang Jalan, Subbidang Irigasi, Subbidang Air Minum, dan Subbidang Sanitasi. 6.. Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya disebut DAK Bidang Infrastruktur, adalah dana yang bersumber dari APBN yang dlelokaslkan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk rnembantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional khususnya untuk membiayai kebutuhan prasarana dan sarana Bidang Infrastruktur masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. 7. Satuan disebut kepada Alokasi Kerja Perangkat Daerah Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya SKPD DAK adalah organisasijlembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab Gubernur/BupatijWalikota yang menyelenggarakankegiatan yang dibiayai dari Dana Khusus Bidang Infrastruktur.

8. Efisiensi adalah dersjat hubungan antara barang/jasa yangdihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumberdaya untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output) 9. Efektifitas adalah ukuran yang menunjukkan hasll/rnanfaat yang diharapkan seberapa jauh program/kegiatan mencapai dapat

10. Kemanfaatan adalah kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) diselesaikan tepat waktu, tepat lokasl, dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal

11. Keluaran (output) adalah baranq/jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dllaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan

12. Hasil (outcome) adalah seqala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari Ikegiatankegiatan dalam satu program 13. Periode pelaporanakhir triwulan pertama adalah 31 Maret, triwulan kedua adalah 30 Juni, triwulan ketiga adalah 30 September, triwulan keempat adalah 31 Desember.

Pasal2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Kementerian, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaiksanaan, pemantauan dan evatuasi, penllaian kinerja, pemanfaatan serta pembinaan dari segi teknis terhadap kegiatan yang dibiayai melalui OAK BidanglIntrastruktur; (2) Tujuan disusunnya petunjuk teknis lnl untuk: 2

kinerja pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) yang merupakan kewenangan provtnsl/kabupeten/kcta. Gubernur/Bupati/Walikota penerirna DAK Bidang Infrastruktur membuat Reneana Kegiatan (RK) secara partisipatif berdasarkan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan. serta penilaian kinerja. dan meningkatkan kinerja prasarana dan sarana bidang lnfrastruktur seperti kinerja jalan provinsi/kabupaten/kota. b. d. Subbidang Irigasi. tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan. dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: fungsi jaringan jalan. e. serta mensinergikan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan kegiatan prioritas nasional. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. pemantauan. pelaksanaan. pelaksanaandan penqelolaan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi.. meningkatkan cakupan pelayanan air minum. meningkatkan terrsolast dan terpeneil. dinas teknis di provinsi. sistem penyediaan air minum kepada perkotaan dan di perdesaan termasuk d . monitoring dan evaluasi. membuka daerah kawasan perbatasan. terkait kesesuaiannya dengan prioritas nasional. pengendalian.. penyusunan dalarn bentuk c. Pembinaan teknis dalam proses pendampingan dan konsultasi. yang memenuhi kriteria prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2). PemerintBh Kabupaten/Kota. dan pariwisata. (4) 3 . koordlnasl penyelenggaraan. (3) Berdasarkan penetapan al. Kementerian terkalt. menjamin tertib pemanfaatan. mendukung akses-akses ke pengembangan Prioritas nasional sebaqalmana a. Subbidang Sanitasi memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah. dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dl perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. PERENCANAAN (1) B. Subbidang Jalan meningkatkanintegrasi daerah potensial. mempertahankan tingkat pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) di provinsi dan kabupaten/kota guna mendukung program ketahanan pangan. persampahen. Rencana Kegiatan (RK) harus memperhatikan tshapan penyusunan program.a. yang menjamin terlaksananya koordinasi antara Kementerian. Merumuskan krlterla teknis pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. pelaporan keqlatan/fisik dan keuangan. Rencana Kegiatan (RK) b. dan penentuan lokasi kegiatan yang akan ditanga_ni. b. Penyusunan penyaringan. (2) Melakukan evaluasi dan sinkronisasi atas usulan Reneana Kegiatan (RK) dan perubahannva. pengelolaan. Subbidang Air Minum memberikan akses pelayanan masyarakat berpenghasilan rendah di kawasankumuh daerah pesisir dan permukiman nelayan. dan pembinaan teknis kegiatan yang dlbieyai dengan DAK Bidang Infrastruktur. dan eakupan pelayanan sanltasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. penyusunan pembiayaan. pemantauan. c.AB II DAN PEMROGRAMAN Pasal3 membantu Kementerian melalui Unit Kerja Eselon 1 terkalt untuk masing-masing subbidang proses pereneanaan kegiatan yang dibiayal DAK Bidang Infrastruktur daJam hal: a. (3) Ruang IIngkup pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi perencanaan dan pemrograman. dan dinas teknis di kabupaten/kota dalam pelaksanaan.okasi DAK darl Menteri Keuangan.

Irigasi. Kondisi panjang jalan mantap dan tidak mantap. b. Subbidang Irigasi.dan ketentuan yang Rencana Kegiatan (RK) dan usulan perubahannya terlebih dahulu dikonsultasikan Eselon 1 dan/atau Dinas Provins! terkait dengan prioritas nasional . balk yang dilaksanakan Pemerintah. Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah. dan Kriteria Teknis untuk prasarana sanitasi. reklamasi rawa): alokasi DAK adalah Kriteria Teknls yang meHputi: Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk prasarana Jalan diutamakan untuk program Konektivitas Domestlk yang mempertlmbangkan antara lain . Menengah (RPIJM) Bidang Infrastruktur.serta metoda berlaku. Pasal 4 (1) Dalam rangka menslnergikan dan mensinkronisasikan proqram-prooram Bi. pemerintah daerah harus menyusun Rencana dan Program Investasi Jangka. Penyusunan Infrastruktur Rencana Kegiatan dan Usulan Perubahannya yang telah disepakati. 4 . dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri lnl. Luas Daerah Irigasi (termasuk b. harus mengacu pada RPIJM Bidang Pasal 5 (1) Salah satu komponen dalam menentukan a. Tingkat kerawanan air rninum. Subbidang Air Minum. b. sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. (3) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk prasarana diutamakan untuk program ketahanan pangan yang mempertimbangkan antara lain: a. Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi (terrnasuk jaringan Kriteria Teknis untuk prasarana air minum. Kondisi Luas Daerah Irigasi.dang Infrastruktur. c.: a. untuk menjamtn keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dHaksanakan secara terpadu Pemerintah provinsl harus menyusun Jalan dan Subbidang IrigasL RPDM Bidang Infrastruktur khususnya untuk Subbidang untuk (2) (3) (4) (5) Pernerintah Kabupaten/Kota harus menyusun RPUM Bidang Infrastruktur khususnya Subbidang Jalan. maupun oleh masyarakatjswasta. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum.untuk Subbidang. yang harus mengacu pada rencana tata ruang. ke Unit Kerja Mekanisme perencanaan dan pemroqrarnan untuk maslno-mastno subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbldang Jalan. (5) (6) pelaksanaan yang berpedoman pada standar. pemerintah daerah. b. Panjang jalan. (2) Kriteria Teknis untuk prasarana jalan. Lampiran 2. peraturan. dan Subbidang Sanitasi.. daerah jaringan reklamasi rawa): Irigasi (4) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c untuk prasarana Air Minum diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi. RPIJM adalah rencana dan program investasi pembangunan infrastruktur tahunan dalam periode tiga hingga lima tahun. d.

5 . Menyusun petunjuk teknis penggunaan DAK Bidang Infrastruktur. e. Memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi dan konsultasi serta pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK Bidang Infrastruktur. masukan. dan c. kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b.(5) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d untuk prasarana Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. Kementerian Keuangan. Menyiapkan dan menyampaikan laporan tahunan subbidangnya. b. (3) Biaya operasional Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada masingmasing unit Eselon 1 terkait. Pasal 8 (1) Gubernur membentuk Tim Koordinasi Provinsi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provlnsl. Kerawanan sanitasi. Memfasilitasi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur oleh daerah. maupun rekomendasi kepada Menteri dalam mengambil kebijakan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur. disernlnasi. dinas teknis terkait. dan selai/satuan Kerja Pusat yang ada dl daerah terkait. (6) Kriteria Teknis lain untuk masing-masing Subbidang disesuaikan dengan Rencana Kerja Pemerintah pada tahun berjalan dan dibahas dalam Trilateral Meeting antara Bappenas. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Menyiapkan laporan tahunan Kementerian penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur. dan Kementerian Teknis. dan Unit Kerja Eselon 1 terkait. yang terdiri dari unsur 8appeda provinsi. d. b. BAB III KOORDINASIPENYELENGGARAAN Pasal 6 (1) Menteri membentuk Tim Koordinasi Kementerian Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal. Membantu pelaksanaan sosiallsasi. Memberikan saran. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap pelaksanaan OAK pada subbidang terkait. kepada Menteri Keuangan terkait (3) Biaya operasional Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Satuan Kerja di masing-masing Unit Kerja Eselon 1 dan Biro Perencanaan dan KLN. c. Cakucan pelayanan sanitasi. Inspektorat Jenderal. Pasal7 (1) Unit Kerja Eselon 1 terkait masing-masing subbidang membentuk Tim Teknis Penyelenggaraan OAK subbidang terkait. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK subbidang terkait.

dan pembinaan DAK pelaksanaankepada Bidang daerah di Membantu pelaksanaan sosialisasi. Memberikan jawab Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan OAK Bidang Infrastruktur. Subbidang Sanitasi oleh Satuan Kerja Pengembangan di provinsi yang bersangkutan . dan tahunan terkait penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur di provinsinya. jawab Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Memberi masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. c. Membantu pelaksanaan sosialisasi. Kinerja Pengelolaan Ungkungan Air 'Minum. Pelaksanaan OAK (RK) yang disusun pemerintah Penyelenggaraan DAK Bidang e. dan menyampaikan kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provinsi dan tingkat Kementerian. diseminasi. Menyiapkan laporan triwulanan. 6 . Pasal 9 (1) BupatljWalikota membentuk Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat kabupaten/kota. dan pelaksanaan Infrastruktur Menyiapkan laporan triwulanan. Subbidang Irigasi oleh Balai Wnayah Sungai atau Satuan Kerja Pengeiolaan Sumber Daya Air terkait di Provinsi yang bersangkutan. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap Bidang Infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota: d. d. terdiri dari unsur Bappeda kabupatenjkota dan dinas teknis terkait. b. dan menyampaikannya kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian sebagaimana mekanisrne pelaporan dalarn Peraturan Menteri ini. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. c. dimaksud pada (3) Pelaksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana ayat (1) dldukung SKPO OAK di kabupatenjkota yang bersangkutan. (3) Pe!aksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dima. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. di Permukiman Penyehatan Biaya operasional Tim Koordinasl Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah dan pemermtah provinsl sesuai dengan kewenangannya. semesteran. Subbidang Air Minum oleh Satuan Kerja Pengembangan provinsi yang bersangkutan. dan tahunan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur di kabupatenjkota sesuai kewenangannya. (4) Subbidang Jalan oleh Balai Besar/Ba:lai Pelaksanaan Jalan Nasional cq. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait. diseminasi. semesteran. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah b.(2) Tugas dan tanggung meliputi: a.. Memberikan saran dan masukan atas Rencana Kegiatan provinsi dan kabupatenjkota kepad'a Tim Koordinasi Infrastruktur tingkat Kementerian. oleh Satuan Kerja Perencanaandan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) di provinsi yang bersangkutan. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait sebagaimana mekanisme pelaporan dalam Peraturan Menteri tnt.. Tugas dan tanggung (1) meliputi: a.ksud pada ayat (1) dibantu oleh BalaijSatuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-masing subbidang sebagai berikut : a. Melaksanakan kabupatenjkota pemantauan terhadap yang bersangkutan. c. b. d.

Recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan Iingkungan. untuk kegiatan mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum Terbangun (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru Sistem Penyediaan Air Minum non-POAM bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa-desa rawan air minum dan kekeringan. Ruas jalan provinsi dan kabupaten/kota yang dapat ditangani adalah ruas-ruas jalan sebagaimana telah ditetapkan atau dalam proses penetapan keputusan gUbernur/bupati/walikota tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan sebagai Jalan Provinsi dan Jalan kabupaten/kota: b. Prasarana air mlnum. BABIV PELAKSANAAN DAN CAKUPAN KEGIATAN Pasal 10 (1) OAK Bidang Infrastruktur diarahkan untuk membiayal kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang menjadi kewenangan daerah yang merupakan program prioritas nasional Bidang Infrastruktur. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BABS). Prasarana jalan. Peningkatan sistem jaringan irigasi untuk meningkatkan fungsi dan kondisi atau menambah luas areal pelayanan jaringan yang sudah ada. penggantian jembatan. Kegiatan operasi dan pemeliharan (OP) tidak didanai dengan OAK Bidang Infrastruktur. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Sedangkan rehabilitasi merupakan kegiatan perbaikan sistem jaringan Irigasi guna mengembaflkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti desain semula. (termasuk jaringan reklamasi rawa) untuk kegiatan rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan. (2) 7 . peningkatan jalan. maka prioritas kegiatan selanjutnya untuk pengembangan fasilitas pengurangan sampah berbasis masyarakat dengan pola 3R (Reduce. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi. meliputi: a. atau untuk mencapai pelayanan maksimum yang pernah dicapai. untuk kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) yang priontas pertamanya untuk kegiatan pengembangan prasarana dan sarana air timbah komunal berbasis masyarakat dalam rangka menghllangkan kebiasaan masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Prasarana sanitasi. untuk kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan. dan penyelesaian pembangunan jalan/jembatan. Prasarana irigasi. BABV TUGAS DAN TANGGUNG lAWAB PELAKSANAAN KEGIATAN Pasal 11 (1) SKPO OAK Bidang infrastruktur bertugas melaksanakan kegiatan yang dananya bersumber dari OAK Bidang Infrastruktur sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. pemeliharaan berkala/rehabllltasl jembatan. d. c.(4) Biaya operasional Tim Koordinasi Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada pemerintah kabupaten/kota. (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan diatur pada Petunjuk Teknis untuk masing-masing subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbidang Jalan. KepaJaSKPD OAK Bidang Infrastruktur bertanggung jawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayal dari OAK Bidang Infrastruktur. Pada daerah Rawa tidak ada kegiatan peningkatan jaringan reklamasi rawa. Lampiran 2 untuk Subbidang Irigasi. Reuse. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum.

pelaksanaan (2) (3) (4) (5) (6) Gubernur melakukan pemantauan dan evaJuasi pelaksanaan DAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya.BABVI PEMANTAUAN. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja sete!ah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPO Provinsi dan BalaijSatker dengan tugas dan kewenangannya sama. Kepala SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. (b) proses pelaksanaan pengadaan barangjjasa. Pasal16 (1) Kepala Bappeda Provinsi menyusun laporan triwulanan dengan menggunakanlaporan triwulanan provinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan laporan triwulanan kabupatenjkota sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2). menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK yang Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dan Balai/Satker terkait. BupatijWalikota melakukan pemantauan pelaksanaan DAK yang meliputi dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. menyusun laporan SKPD Kabupaten/Kota triwulanan KabupatenjKota dengan sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh BupatijWalikota kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. dampak dan manfaat kegiatan yang dllaksenekan. (c) kesesuaian hasil pelaksanaan fisik dengan dengan kontrak/spesitlkasi teknis yang ditetapkan. Pasal15 (1) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota menggunakan laporan triwulanan 13 Ayat (2). Hasil pemantauan sebagaimana dalam bentuk laporan triwulanan. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERlA Pasal12 (1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. pelaksanaan program pelaksanaan meliputi Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. 8 . (e) efisiensi dan efektifitas kegiatan. Pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dilakukan terhadap: (a) kesesuaian dan pelaksanaan Rencana Kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. (d) pencapaian sasaran. Cf) kepatuhan dan ketertiban pelaporan. dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) disusun (7) Pasal13 (1) (2) Kepala SKPO Kabupaten/Kota yang dikelolanya. P·asal14 (1) (2) Kepala SKPD Provinsi dikelolanya.

Gubernur menyampaikan laporan hasil evaluasi dan penilaian kinerja kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir.Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas. Menteri Dalam Negeri. Pasal21 Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dilakukan oleh instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan (3) di atas digunakan untuk menilai kinerja pelaksanaan Dana Alokasi Khusus di. b. Pasal18 (1) Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan (efisiensi. Evaluasi pelaksanaan Rencana Kegiatan dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dan dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun pelaksanaan kegiatan Dana Alokasi Khusus. ke Menteri Keuangan. Pasal20 Mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 6 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Gubernur kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderai dengan tembusan Direktur Jenderal terkait paling lambat 14 (em pat belas) hari ketja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. yang akan dituangkan dalam laporan Menter. Menteri melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap Infrastruktur. Gubernur melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap pelaksanaan Dana Alokasi Khusus yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Kinetja penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur akan dijadikan salah satu pertimbangan dalam usulan pengalokasian DAK oleh Kementerian pada tahun berikutnya. Evaluasi dilakukan terhadap program prioritas nasional untuk menilai keberlanjutan suatu program. dan Dewan Perwakilan Rakyat. c. keuangan DAK 9 . (2). Pasal 17 Mekanisme pelaporan dan format laporan pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 5 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur yang tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri ini dapat berakibat pada penilaian kinerja yang negatif. Daerah. efektivita 5/ kemanfaatan dan dampak) berdasar output dan indikator kinetja kegiatan. Penyimpangan dalam pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. pelaksanaan DAK Bidang (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pasal19 Peniiaian kinerja untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan DAK Bidang Infrastruktur meliputi: a. Hasil evaluasi dimaksud pada ayat (I).

BABVII. 01 November 2010 MENTER! PEKE'RJAANUMUM. Peraturan Menteri nomor 42jPRT/Mj2007 tentang Petunjuk Teknls Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. Pasal24 Peraturan 'Menteri ini mula! berlaku pada tanggaJ diundangkan. merupakan bencana alam yang (3) Perubahan penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang dalam bidang yang sarna dan tidak mengubah besaran alokasi DAK pada bidang tersebut. setetah sebelumnya mengajukan usulan perubahan dan mendapat persetujuan tertulls dariMenteri Keuangan dan Menteri. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. (4) Persetujuan iMenteri Keuangan dan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. (1). KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal22 (1) Dalam hal tetjadi bencana alam. daerah dapat mengubah peng:gunaan DAK untuk keqiatan dl luar yang telah diatur dalam Peraturan Menter! Keuangan dan Petunjuk Teknis lnl. ttd DlOKO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASIMANUSIA KIRMANTO PATRIALIS AKBAR 10 . BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 23 Dengan ditetapkannya peraturan Menteri ini. Agar setiap orang mengetahuinya. (2) Bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat dinyatakan secara resmi oleh Kepa!a Daerah terkait.

Penyusunan Rencana Kegiatan (RK). Pasal 23 Undang Undang No. Petunjuk Teknis Subbidang Jalan disusun untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan pelaksanaan OAK. sampai dengan proses monitoring dan evaluasi. mulai dari proses perencanaan dan pemrograman. perencanaan teknik. Penyusunan Daftar Ruas Jalan Prioritas. (3) pembangunan secara umum antara lain kewajiban penyelenggaraan jalan memprioritaskan pemeliharaan jalan. Undang Undang No. digunakan sebagai acuan hukum dalam kaitan pembagian wewenang antara Pemerintah (Pusat) dengan Pemerintah KabupatenjKota. 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta Peraturan Pemerintah No. jalan kabupaten dan desa serta jalan kota. 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyatakan bahwa wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan jalan meliputi penyelenggaraan jalan nasional dan penyelenggaraan jalan secara umum yang mencakup (1) pengaturan secara urnum. 4. antara lain penyusunan petunjuk teknis. jalan provinsi. • • • • Perencanaan Teknis Jalan Pelaksanaan Konstruksi Monitoring dan Evaluasi Pelaksaaan. menyatakan bahwa Pembinaan Jalan Umum meliputi pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional. Kegiatan Pemograman dan penganggaran terdiri atas: 1. 3. Tahapan penanganan jalan meliputi: • provinsi dan kabupatenjkota dalam pemanfaatan OAK. Pasal 14 Undang Undang No. PENDAHULUAN L 1. 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Dengan demikian diharapkan peJaksanaanpenanganan infrastruktur Subbidang Jalan dapat menghasilkan kualitas sesuai umur rencana yang. Penyusunan Daftar Ruas Jalan. Penyusunan Program Penanganan. 38 Tahun 2004 tentang Jalan. 2.LAMPIRAN1: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PETUNlUK PELAKSANAAN SUBBIDANG JALAN I. pelaksanaan konstruksi. (2) pembinaan secara umum antara lain pemberian sosialisasl. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Jalan Bantuan Dana Alokasi Khusus ini sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur.diharapkan. Pelaporan Peniiaian kinerja 11 .

3. dan pembangunan [alan: untuk mewujudkan tertib 7. 9. serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Pemeliharaan Rutin CPR) adalah Kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakankerusakan yang terjadi pada ruas-ruas jalan dengan kondisi pelayanan mantap. 6. yang berada pada permukaan tanah. perencanaan teknis. Pembangunan Jalan adalah kegiatan membangun jalan tanahjjalan setapak menjadi standar jalan minimum sesuai dengan tlngkat kebutuhan lalu lintas dan sesuai dengan standar/pedoman yang berlaku. pemberdayaan sumber daya manusia.2. yang berakibat menurunnya kondisi kemantapan pada bagianjtempat tertentu dari suatu ruas jalan dengan kondisi rusak ringan. tertib dalam pelaksanaan dan tepat sasaran. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. pelayanan. Pembangunan Jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran. agar penurunan kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan rencana. perencanaan teknis. 8. dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan. Ruang Llngkup Petunjuk Teknis ini memuat tata cara pengelolaan jaringan jalan mulai dari perencanaan pemrograman. di atas permukaan tanah. Tujuan Petunjuk Teknis ini bertujuan untuk menjamin pelaksanaan/pengeiolaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan sesuai dengan ketentuan. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang rnellputi segala bagian jalan. 104. 1. Pengertian 1. pembinaan. serta dl atas permukaan air. penyusunan perencanaan umum. 5. rneltputl pengaturan. pelaksanaan konstruksi. Peningkatan Jalan (PK) adalah kegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan ruas-ruas jalan dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas jalan tersebut dalam kondisi mantap sesuai dengan umur rencana. 1. dan jaJan kabel.5. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah sebagai acuan dan pegangan bagi para pelaksana dan pihak terkait lainnva dalam penyelenggaraan kegiatan Subbidang Jalan. Pengaturan Jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan. Pembinaan Jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis. 2. 10. dan pengawasan jalan. 11. serta penelitian dan pengembangan jalan. 4. kecuali jalan kereta api.1. jalan lori. baik menambah maupun tidak menambah jumlah lajur. pelaporan sampai dengan evaluasi dan penilalan kinerja pengelolaan jaringan jalan. agar kondisi kemantapan tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan rencana. pelaksanaan. Pemeliharaan Berkala (PM) adalah kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain. Penyelenggaraan Jalan adalah kegiatan yang pembangunan. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan dengan pelebaran perkerasan. 12 . 3. di bawah permukaan tanah danjatau air. pembinaan. Pengawasan Jalan adalah kegiatan yang dilakukan pengaturan. Rehabilitasi Jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain.

Ol (terlampir).2. • Pembangunan. e e penanganan jalan provinsi yang merupakan akses ke jalan nasional atau strategis nasional.II. • Peningkatan. Penyusunan Usulan Ruas Jalan Prioritas Penyusunan ruas jalan prioritas jalan provinsi dan kabupaten/kota. Penanganan Jembatan • Pemeliharaan Berkala: • Rehabilitasi.1. penanganan daerah rawan beneana serta pendukung pengembangan kawasan perbatasan. Penyusunan Dafta r Ruas Jalan Provinsi serta Kabupaten/kota Tahap awal yang perlu dipersiapkan oleh Pelaksana Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota.1.1. n. Penentuan Program Penanganan Program/kegiatan penanganan jalan ditentukan oleh tingkat kerusakan jalan. • Penqqantian: • Pembangunan. yang dimaksudkan adalah prioritas nasional dengan mempertimbangkan aspek-aspek: • Prioritas nasional. meningkatkan integrasi fungsi jaringan jalan. Ruas-ruas prioritas yang ditangani diambil darl hasil keluaran program IRMS atau dapat menggunakan eara seperti pada butir 2. penanganan jalan kabupaten/kota yang merupakan akses ke jalan provinsi atau strategis provinsi serta akses ke jalan nasional atau strategis nasional. Penentuan program penanganan jalan provinsi 1. untuk provinsi maupun kabupaten/kota. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN 11. ruas kabupaten/kota. 2. menjelaskan pemanfaatan anggaran penyusunan program penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan. Menentukan nilai ReI (Road Condition Index) dengan melakukan survey kekasaran permukaan jalan seeara visual dengan menggunakan form SKV.3. Klasifikasi program/kegiatan penanganan adalah: Penanganan Jalan • Pemeliharaan Berkala. Penentuan nilai RCI berdasarkan jenis permukaan dan kondisi seeara visual dapat dilihat pada tabel berikut: 13 . • Rehabilitasi. Langkah-Iangkah dalam penentuan program penanganan adalah sebagai berikut: A. Penyusunan Program Penanganan Petunjuk Teknis ini. 11. 11. sesuai form Data Dasar Prasarana Jalan dan Jembatan. • Prioritas Nasional untuk meningkatkan akses-akses ke daerah potensial.1. adalah menyusun daftar ruas jalan provinsi serta.1. membuka daerah terisollr. terpeneil.

Penentuan kondisi ruas jalan berdasarkan matriks berikut: nilai RCI dan volumelalunntas Tabel 1.-:! 2~R.ZB 6. banyak lubang dan seluruh daerah loerkerasan Rusak bergelombang...200 200-300 B B B 300-1. R R R R R8 R8 .94 ::: RCI 3. 1.74 < II B B B B I B B S :: Rei '" -c Rei < 4. Rusak berat. dan semua tipe nermukaan vana tidak Semua tipe perkerasan yang tidak diperhatikan sejak lama (45 tahun atau lebih) PM lama. Lasbutag setelah pemakaian t:=lhlln Kondisi ditinjau secara visual Tidak bisa dilalui Nilai ReI 0-2 2.24 3. Latasbum baru..000 8 >10.m 6. Laston).- RB RB RB R8 R8 Fe R8 R8 RB RB R9 R9 4. permukaan tldak rata Cukup tidak ada atau sedikit sekali lubang.96 :: RC~2.27 2.___!!_ AS AS AS - ! S B.3. kondisi ruas 14 .94 : Ii 8 s R -~S B .2 Penentuan Kondisi Ruas lalan dari Nilai RCI Lalu U ntas harian Rata-Rata T ahunan (LHRT) (dua I 'urduaarah) Rei Dari 7. banyak 2-3 3-4 4-S lubanc Agak rusak.000 .1 Penentuan Nilai RCI No. ~ 8 B B 8 B s 5 S R R R8 :: Rei" J.c 3.::_ :: IRI e IRI'" --&25 _- -B 8 8 B B B S S e 5 5 S R R 5 5 5 R s -5 R R 5 J 20 < 0.76 :: Rei'" -----'" 3. batu kerikil PM setelah pemakaian 2 tahun.Bl 5. Latasbum baru Lasbutaa baru Hotmix setelah 2 tahun. Penentuan program penanganan Jalan KabupatenjKota 1.000 B B 1.24 -c Rei -e + 10 12 16 4 ::: IRl « __£_ ~ IRJ . lenis Permukaan Jalan tanah dengan drainase yang jelek.22 :: RCI -e.10. permukaan ialan aaak tidak rata Baik Sangat 5-6 6-7 7-8 8 -10 balk.5 ::: IRJ e 0-50 8 B 50 -100 B B B B 100. 8.000. Latasbum lama.87 5.: « IRJ '" ::: IRI e.Tabel 1. Peningkatan dengan menaaunakan lebih dari 1 lanls berdasarkan ada lubang. Rei" :: Rei IRI Ke 10.91 3._ :: IRl ~ ___!_ 7.54 3 c IRI .71 3. 3.!..53 RCI :: IRI" -.54 0. Penentuan program/kegiatan kondisi pada tabel berikut ini: penanganan suatu ruas jalan berdasarkan Tabell. kadang-kadang 2 6. 7.~ _. 4.:.61 . Latasbum lama S.5 7.3 Penentuan Program Penanganan lalan Provinsi Program Penanganan Pemeliharaan Rutin (PR} PemeHharaan Berkata /Rehabi Iitasi Peningkatan (PK) Pembangunan (PM) Kondisi Baik (B) Sedang (5) Rusak (R) Rusak Berat eRB) - B. Melakukan survey persentase kerusakan untuk menentukan jalan.000 B 7.£.69 4. Hotmix tipis diatas PM Hotmix baru (Lataston.000 3. PM baru. umumnya rata Sangat rata dan teratur 3. Lapis tipis lama dari hotmix. 1.

34 Tahun 2006. serta di sahkan oleh Gubernur untuk jalan provinsi. 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No.4 Penentuan Program Penanganan lalan Kabupaten/Kota Persentase Batasan Kerusakan <11% 11.2. target efektif. apabila terdapat kerusakan 11.5 meter untuk jalan lokal/kabupaten dan 7 meter untuk lebar jalur lalu lintas pada jalan provinsi. karena RAB berisi penjelasan jenis-jenis pekerjaan yang termasuk dalam lingkup kegiatan yang diusulkan. target fungsional. Penentuan program/kegiatan penanganan suatu ruas jalan atas dasar hasil survey persentase kerusakan dengan batasan-batasan di bawah ini: Tabell. peningkatan pembangunan jalan serta pemeliharaan berkala/rehabilitasi penggantian/pembangunan jembatan usulan ruas mengacu prloritas nasional sesuai ketentuan Juknis panjang (km).lebar (km) harga satuan/km DAK. tentang Jalan.5 meter. pendamping Kegiatan dapat dilihat (m). sedangkan lebar badan jalan untuk jalan provinsi adalah 9 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 7 meter. serta harga satuan. Untuk pekerjaan pelebaran melebihi ketentuan di atas harus disertai dengan justifikasi teknis dan mendapat persetujuan dari SNVT P2JJ setempat.2. Rencana Kegiatan (RK). kemudian. berisi informasi-informasi: • Kegiatan kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi. Sesuai Undang Undang No. panjang efektif (km). Jumlah. dan Bupati/Walikota kabupaten/kota. Untuk optirnalisasi bantuan DAK Subbidang Jalan maka kegiatan peningkatan [alan yang berupa pelebaran jalan menjadi persyaratan minimal lebar jalur lalu lintas yaitu 5. Tabel Rencana Kegiatan DAK (Rupiah) dan dan oleh dinas untuk jalan • Tujuan/Sasaran • Volume • Satuan Biaya • Dana Pagu Format Rencana Subbidang Jalan.<23% Kondisi Baik (8) Sedang (S) Rusak (R) Rusak Berat (RB) Program Penanganan Pemeliharaan Rutin CPR) Pemeliharaan Berkala (PM) /Rehabilitasi Peningkatan (PK) Pembangunan >23% Catatan: Kegiatan Rehabilitasi dilakukan yang tidak diperhitungkan dalam desain. Rencana Kegiatan. sesuai penjelasan pada bagian Pelaksanaan Konstruksi. mengenai lebar badan jalan dan lebar jalur lalu lintas bahwa lebar badan jalan untuk jalan lokal/kabupaten adalah 7.5 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 5.<16% 16 . 15 . Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan ada!ah usulan program penanganan jalan yang disusun terkait. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan CRAB). panjang fungsional untuk panjang efektif/fungsional (APBD) minimum pad a Lampiran 10%.

:5 :E ~ a:: .. CC CC '<T ! ra B C .::::l ::e M is C fIJ ...::1. N :s ::c ::E: a:I til ::. Z . VI fIJ a...... >U) Z < <2 X::5 CC< 'iii 'S.. "Vi e E E c re fIJ ... ~ ¥:~ .. .. % = ::5 :l = ..._. c "5 0'1 c. ftlCQ. ::eftl:l I. :::.. ftI fa %E ... ra c aJ C aJ en CO "C' ~ (l) e.... ro D....S! fa . "a 1-1 U) E ...::: (l) ..... ~ ....-I =:10 C "~ VI fIJ C ...-I . ..c II r-.! C ... = e::: M E 0..: .. C ~ 0 Z z...!! ftI a.. c ra c ftI :J ::::l a..: .... :J ~ VI a.en c l! :::II:: C ftI 0 ...... < " 2 Lrl ::E Q Do Z w :::II:: Q ~ 0 ... ra "..rae::: Ul:........ e 0 Z . E w_ =-..... 1-1 co :I ... -. :I ftI""'.

CII LLI .2 w ~ ::::.. c:C .... .... . .0 ~ 2 m ~~ a...!5! ra c: Ul co O II I'- ~ a .g vi ~ .... Ia e...S!! Ia e en (I) e «I e cu e...__.rg c 2 ro . 'C' c ro ro z laea.... ':I ... Ia ..c = o ~ M 'iii ~ e Z"" Cct olI :2::3 N ::::. ::J '- . ::::..- :EE ':1. B Ia e r--.: .!! :3 :E ':I 1"\ :::E: ~ .!: Ul 0 .:: >U') M E Z Ia Ia 1m C ':I c:CZ IX e a... '. g IX S . r!! 0 .. E 0.::: 0 Z ...... lio=fI Ia . Ia 1000 ..:1a= Ul cn«l~ -M ~ Cl) CL 6 .. => a..::: c:C Q ~ .. ~~ cc ::J ..::: e «I e ~ 0'1 is 0 ::am ~ E ::J E => IX) 0... «I ::::.... 3.::.:::~ "" ::..B «I 0 Z U') = ti Ie ~ e. S . ...s cu ..e fa en c: ~ ....... :2: :E t:Q :3 ::c :t III co :'E ra .a z " E Ia ~ 1-1 :E c:C IJ'l I~ 1-1 U') Z Q ~ e l- Ia 0 _..-I => ::J ra Ul c .

1. retak. Umum Setelah teralokasinya dana mulai dari Tingkat PusatjKementerian. Khusus Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Subbidang Jalan di tingkat provinsi dibantu oleh Balai/SNVT P2JJ untuk bantuan DAK jalan provinsi dan kabupatenjkota. III.6.6 (terlampir). maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik jalan atau jembatan. ]8 . Menunjuk Permen PU tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur mengenai Koordinasi Penyelenggaraan. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan 8elanja Negara dan perubahannva: c.III. Konstruksi Jalan III.3. ambias. sedangkan bantuan DAK jalan kota metropolitan dibantu oleh SNVT P2JJmetro. Kegiatan Pemeliharaan Jalan Pekerjaan pemeliharaan jaian berpedoman pada Standar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum seperti Tabel 1. dana untuk penanganan jalan baik itu pemeliharaan danjatau peningkatan. d.1.2.3.1. 111. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI 111. yang hasilnya menjadi acuan daJam pelaksanaan penanganan jalan. meliputl jenis pekerjaan: a.2. Daftar Standar dan Pedoman yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. kemudian tingkat pemerintah provinsi. Pelaksanaan Konstruksi III. III. b. Kegiatan pemeliharaan berkaia. Pada panjang efektif: • • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang.2. Pemeliharaan Berkala Jalan Merupakan pekeljaan perbaikan dan pembentukanjpelapisan ulang permukaan yang diperlukan untuk menjaga agar permukaan jalan selalu dalam kondisi baik. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. campuran aspal).3.3. permukaan perkerasan.t. PembentukanjPelapisan ulang (agregat. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. menjelaskan bahwa koordinasi penyelenggaraan dilakukan secara berjenjang. Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan BarangjJasa Pernerintah.Perencanaan Teknik Perencanaan teknis jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota didasarkan pada 5tandar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan dengan mengacu pada: dapat a. dll).

• Penggantian.3. jenis pekerjaannya a. meliputi jenis pekerjan: a. retak. • Pelapisan permukaan aspal. amblas. amblas. Pada daerah perkerasan lama : • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang. pemeliharaan rutin. Pada panjang fungsianal. perkerasan lama (agregat. adapun jenis pekerjaannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan yang terjadi. b. tepi jalan dan b. Kegiatan peningkatan jalan. Pada panjang efektif : • Perbaikan permukaan perkerasan (Lubang. jenis pekerjaan seperti kegiatan pemeliharaan rutin.• • • Perbaikan permukaan bahu jalan (penambahan material dan pemadatan/perataan): Pembuatan/Perbaikan dralnase/saluran gorong-gorongi Penggantian. • Penambahan material bahu jalan menyesuaikan permukaan perkerasan. III. b. • Perataan/leveling aspaIjATB). 19 . Kegiatan Peningkatan Pekerjaan peningkatan jalan merupakan kegiatan penanganan jalan yang dapat berupa peningkatan/perkuatan struktur atau peningkatan kapasitas lalu lintas berupa pelebaran jalur lalu Iintas.dll). • Persiapan lapis pondasi diatas (agregat. dll): • Persiapan lapis pandasi diatas perkerasan lama (agregat. campuran • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. Pada daerah pelebaran : • Persiapan tanah dasar/subqrade (galianjtimbunan tanahjmaterial dan pembentukanjpemadatan). perbaikanjpembersihan rambu/ perlengkaan jalan. rambu/perlenqkapan jalan. • Pematongan rumput. Pada panjang fungsional. retak. Rehabilitasi Merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap jenis kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. campuran aspal/ATB).2.campuran aspal/ATB). • Pelapisan permukaan perkerasan aspal.2. Pekerjaan peningkatan juga dapat berupa peningkatan dari jalan tanah ke jalan kerikil/jalan aspal atau dari jalan kerikilfagregat ke jalan aspal. dan pemadatan/ perkerasan lama • Perbaikan drainasejsaluran tepi jalan dan gorong-gorong.pembersihan ruang milik jalan. Pada peningkatan meliputi: jalan jenls pekerjaan dan pengecatan kegiatan seperti berupa pelebaran. 2.

1.c. b) Pelapisan permukaan aspal. j) Perbaiki longsor dan erosi tebinq. Permukaan aspal yang berada di atas lantai baja atau lantai beton akan tahan sekitar 5 tahun sampai 8 tahun sebelum memerlukan penggantian. i) Perkuat bagian struktural. e) Penggantian siar muai (sambungan star muai). • Penggantian.3.2. Kegiatan Pembangunan Pekerjaan pembangunan jalan rneliputi pembuatanjpembukaan jalan baru sesuai dengan kebutuhan lalu lintas yang diperkirakan dan mengacu pada standar teknis jalan dengan umur rencana minimal 10 tahun. 111. k) Perbaiki pekerjaan pengalihan aliran sungai. perbaikanjpembersihan rambujperlengkaan jalan. dan pengecatan 20 . abutment. Konstruksi Jembatan Untuk Kegiatan penanganan jembatan hanya diperuntukan bagi kegiatan rehabilitasijpemeliharaan berkala dan penggantianjpembangunan jembatan. Pada daerah diluar perkerasan : • Penambahan material bahu jalan dan pemadatan atau menyesuaikan pelebaran perkerasan. III.3. f) Perbaharui bagian-bagian dan elemen-elemen kecil. h) Jalankan bagian-bagian yang dapat bergerak.3. • Pemotongan rumput. • Perbaikan drainasejsaluran tepi [alan dan gorong-gorong. Disarankan memakai HRS setebal 30 mm atau dengan lapisan semen tahan aus dan kedap air. Ketebalan lapisan aspal tidak boleh melebihi 50 mm.3.3. penahan erosi dan perlindungan gerusan pada pondasi. pembersihan ruang miJikjalan. Rehabilitasijberkala jembatan meliputi perbaikan railing. Pemeliharaan Berkala Jembatan Pemeliharaan berkala mencoba untuk mengembalikan jembatan pada kondisi dan daya layan yang mempunyai atau seharusnya dipunyai jembatan segera setelah pembangunan dan mencakup tipe kegiatan dibawah ini.3. perbaikan kerusakan pada jembatan (pilar. Lapisan permukaan jalan pada jembatan memerlukan penggantian secara berkala. d) Pemeliharaan pelekatanjlandasan. c) Pembersihan menyeluruh jembatan. III. a) Pengecatan ulang. g) Perbaiki pegangan sandaran dan pagar pengaman. dan penggantian lantai jembatan dan perbaikan oprit jembatan). LapIsan aspal permukaan sebaiknya dikupas terlebih dulu dari lantai sebelum lapisan yang baru dipasang. Pekerjaan pembangunan ini tidak menyangkut pembebasanj permasalahan lahan danjatau yang melintasi hutan lindung.

Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan denqan Alat Ukur Kerataan NAASRA Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pandasi Jalan dengan Batu Pecah Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Langsung untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Sumuran untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Tiang untuk Jembatan Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/KerikiI Tata Cara Pelaksanaan Survai Kandisi Jalan Beraspal Tata Cara Perencanaan Persimpangan Sebidang Jalan Perkotaan Gambar Perencanaan Teknik Jalan Kabupaten Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pandasi Ga'iarKayu Tata Cara Pelaksanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu ~NI 03-3424-1994 ~NI 03-3425-1994 SNI03-3426-1994 SN 103-2853-1992 SNI03-3446-1994 SNI03-3447-1994 SNI03-6747-2002 Pt T-Ol-2002~B 008fT/BM/1999 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ~NI 03-2843-1992 SNI 03-2844-1992 a 1fT/BNKT/1992 014/T/BT/1995 008/T /BM/1999 009/T/BM/1999 14 15 16 21 . Penggantian keseluruhan jembatan merupakan pertimbangan terakhir dalam proses peningkatan prasarana yang ada. sebagai. Kadang-kadang bagian struktur juga diganti. contoh : sambungan siar-rnual. Penggantian Jembatan Pekerjaan mengganti bagi'an elemen atau struktur yang telah rnenqalarni kerusakan berat dan tldak berfunqsl.33... perletakan.3.3.2.6 DAFTAR BUKU STAN DAR DAN PEDOMAN BIDAN. dsb. bangunan bawah dan bangunan atas.III. Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal untuk Jalan Raya. jika diperlukan contohnya elemen lantai. bagian-bagian sekunder atau elemen pengaku. Pembangunan Jembatan Pembangunan jembatan baru rnellputl pekerjaan yang menghubungkan dua ruas jalan yang terputus akibat adanya rintangan atau pemindahan lokasi jembatan mulai dari pekerjaan pandasi.G JALAN NO 1 2 3 4 lUDUL STAttDAR/PEDOMAN NOMOR Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya ~NI 03-1732-1989 dengan Analisa Metode Komponen Tat:a Cara Perencanaan Permukaan Jalan. g. Tabel 1. dan sebagainya.3.elagar memanjang secara individu. pembatas. 111.

Panduan Survey Kekasaran Permukaan Jalan Secara Visual T-02-2002-8 012/S/BNKT /1990 RSNI T-13-2004 013jT /8tj199S o 16/t/Bt/1995 SK. ttd DlOKO K.NO 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 I Kesalahan JUDUL STANDARI PEDOMAN NOMOR Umum Pelaksanaan Jalan dan Jembatan SNI03-1.IRMANTO 22 . Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Kabupaten.737-1991 SNI 03-2843-1992 SNI03-2844-1992 Pd T-IO-200S-8 Pd T-11-2005-B 038jT /BM/1997 pt Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/ Kerikil Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Beraspal Penanganan Tanah Ekspansif untuk Konstruksi Jalan 5tabilisasi Dangkal Tanah Lunak untuk Konstruksi Timbunan Jalan (dengan Semen dan Cerucuk) Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antal' Kota Tata Cara Perencanaan Geometrik Persimpangan Sebidang Petunjuk Perencanaan Marka Jalan Geometri Jalan Perkotaan Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan Perencanaan Teknls Jalan Kabupaten Petunjuk Teknik untuk Perencanaan Jembatan Kabupaten Petunjuk teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten Panduan Perhibungan Analise Siaya dan Harga Satuan Pekerjaan Jalan. No 77/KPTS/Db/1990 015jT /Bt/1995 30 31 32 024/T/Bt/1995 Agustus 1998 MENTERI PEKERJAAN UMUM.

000 Ha atau daerah irigasi yang bersifat lintas kabupatenjkota. 31. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas < 1.195.000 Ha.210 daerah irigasi dengan totalluasan 7.3.LAMPIRAN 2: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG IRIGASI I. Pemerintah kabupatenjkota berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1. terdapat 33.000 Ha yang !intas kabupaten menjadi tanggungjawab dan kewenangan pemerintah provinsi.568 Ha merupakan kewenangan kabupatenjkota dan 1.000 . yang pada pasal 59 (1) menyatakan bahwa Menteri Teknis Menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. PENDAHULUAN I. Sedangkan beberapa turunan peraturannya antara lain: Peraturan Pemerintah No 20 tahun 2006 tentang Irigasi. dan irigasi tambak.000 Ha dan sistem irigasi dengan luas < 1. pengaturan.305 hektar yang terdiri dari 815 daerah reklamasi rawa. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas 1.860 daerah irigasi dengan luas 3. Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air. irigasi pompa.423. dan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah provinsi adalah kurang Iebih 432. irigasi air bawah tanah. Undang Undang No. terpadu dan berwawasan Iingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan dalam UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupatenjkota Menurut definisinya Irigasi adalah usaha penyediaan.222 Ha merupakan kewenangan provinsi. 23 .3.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengatur kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah dan Pernerintah Daerah dalam pengembangan sistem irigasi. dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan.1.109 daerah irigasi dengan luas 1. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Pengeloiaan Sumber Daya Air dilakukan secara menyeluruh.000 Ha dan yang utuh dalam kabupatenjkota menjadi tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota yang bersangkutan.469. irigasi rawa. Dari total tersebut.000 . Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Irigasi (termasuk reklarnasl rawa) sebagai lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur disusun dan diterbitkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan Umum. Sesuai Keputusan Menteri Nomor 390jKPTSjMj2007. pemerintah provinsi berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1.796 Ha. Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2008 tentang Air Tanah.197 hektar yang terdiri dari 344 daerah reklamasi rawa. Jaringan reklamasi rawa yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota seluas kurang !ebih 226. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 390jPRTjMj2008 tentang Penetapan status daerah irigasi yang pengelolaaannya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah.

Pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan. bangunan bagisadap. dan rehabilitasi jaringan irigasj di daerah irigasi. penggunaan dan pembuangan air irigasi. 104. saluran pembuangannya. 24 . Jaringan Irigasi Primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama. Jaringan Irigasi Sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder.2. bangunan bagi-sadap. bangunan bagi. penyusunan program. bangunan bagi.3. 1. perencanaan teknis dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan peningkatan serta untuk pemantauan dan evaluasi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi. irigasi rawa. Maksud Penyusunan Petunjuk Teknis ini dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai acuan dan petunjuk dalam penyusunan perencanaan. Pengelolaan Jaringan Irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi. saluran induk/primer. pembagian.Pemerintah menyediakan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur untuk membantu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendanai pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan reklamasi rawa (tidak termasuk kegiatan 0 dan P) yang menjadi tanggungjawab daerah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi penggunanaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi dapat lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya sehingga penggunaan dana dapat menghasilkan infrastruktur jaringan irigasi yang ditingkatkan dan atau direhabilitasi dengan kualitas dan umur rencana sesuai yang diharapkan. pemeliharaan. irigasi pornpa dan iri.gasitambak. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini agar semua pihak yang terlibat dalam proses perencanaan. pemograman. Jaringan Irigasi adalah saluran. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis ini mencakup: • Pendahuluan • Perencanaan dan Pemrograman Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Penyusunan Program Penanganan Penyusunan Rencana Kegiatan (RK) • Perencanaan Teknik dan Pelaksanaan Konstruksi Umum Perencanaan Teknik Pelaksanaan Konstruksi 1. pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya rnellputi irigasi permukaan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang dlperlukan untuk penyediaan. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya. pemberian. irigasi air bawah tanah. Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. 1.5. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya. saluran pembuangannya.

Rehabilitasi Jaringan Irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula. maka kegiatan-kegiatan Subbidang Irigasi yang dapat didanai dengan OAK adalah kegiatan fisik yang masuk kategori Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi serta pembangunan baru yang selektif yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Operasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya pengaturan air termasuk membukamenutup pintu bangunan air. mengumpulkan data. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. Daerah Rawa adalah areal rawa yang dibatasi garis sempadan rawa Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan manfaat rawa melalui teknologi hidraulik dalam bentuk jaringan reklamasi rawa. memantau dan mengevaluasi.Pemeliharaan Jaringan Irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi kewenangan kab/kota dan provinsi khususnya daerah lumbung pangan nasional dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang ketahanan pangan. 25 . alokasi DAK untuk Subbidang Irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan. Pemeliharaan laringan Reklamasi Rawa adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan reklamasi rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan mempertahankan kelestariannya Rehabilitasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya memperbaiki jaringan reklamasi rawa untuk mengembalikan fungsi dan kinerjanya seperti yang direncanakan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk pengelolaan air. pemeJiharaan dan rehabilitasi jaringan reklamasi rawa. II. yang terdiri antara lain saluran sekunder dan saluran primer. dan membangun prasarana sistem irigasi. Saluran Utama adalah saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan sungai. yang ditujukan untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat jaringan reklamasi rawa. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. Pengembangan laringan Reklamasi Rawa meliputi kegiatan pembangunan jaringan baru dan peningkatan jaringan reklamasi rawa. irigasi guna Peningkatan Jaringan Irigasi ialah kegiatan meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK) Mengacu pada kebijakan prioritas nasional. mengoptimalkan fungsi. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan fungsi yang diperlukan untuk pengelolaan air di daerah reklamasi rawa. Sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan DAK. Pengelolaan laringan Rektamasi Rawa meliputi kegiatan operasi. Saluran Tersier adalah saluran yang berhubungan langsung dalam pelayanan air dengan lahan pertanian. menyusun system golongan. menyusun pola tanam dan rencana tata tanam. Daerah Reklamasi Rawa adalah kesatuan lahan yang dilengkapi dengan jaringan reklamasi rawa berdasarkan tahapan akhir pengembangan. menyusun rencana kegiatan operasi.

Irig. Oalam menentukan kriteria penanganan (rehabilitasijpeningkatan) dilihat dari kondisi kerusakan fisik jaringan irigasi.2. Penyusunanan Daftar Jarinan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Kegiatan penyusunan program penanganan diawaJi dengan kegiatan inventarisasi jaringan irigasi. 2. Daerah Irigasi (D!) dengan luas >3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pusat dalam pengelolaannya. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan kabupatenjkota maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA KabupatenjKota. Rehabilitasi. Alokasi OAK Subbidang.Untuk mencapai tujuan Alokasi OAK Subbidang Irigasi tersebut. Penyusunan Usulan Jaringan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Prioritas Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survey identifikasi permasalahan dan kebutuhan rehabilitasi/pemeliharaanjpeningkatan secara partisipatif. luas. Penyusunan Program Penanganan 11. dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi. untuk kemudian digunakan dalam penanganan (rehabilitasi dan peningkatan) jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) sesuai dengan kewenangannya masing-masing. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Oirektorat Jenderal Surnber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Salai Wilayah Sungai Terkait. lokasi. 3.olaannya. Inventarisasi jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun. Penyusunan data dasar ini mengacu pada form data dasar prasarana jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa). II. Jika provinsi mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang IrigasI untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. bilamana jaringan irigasi yang menjadi kewenangan provinsijkabupatenjkota sudah berfungsi dengan batk. dilakukan dengan menentukan indeks kondlsi jaringan irigasi. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan provinsi maka kabupaten/kota tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA Provinsi. OAK ditujukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yang sudah ada.1. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dan Kepmen PU No 390jKPTSjMl2007 adalah sebagai berikut: 1.asi tersebut kernudlan dialokasikan kepada provinsi dan kabupatenjkota. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka kabupatenjkota tersebut harus mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Sumber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Balai Wilayah Sungai Terkait. 11. dan dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun dengan skala prioritas. Pembangunan baru yang selektif. Oaerah Irigasi COl) dengan luas 1000 Ha sampai dengan 3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab provinsi dalam pengel.2. Untuk menilai kondisi kerusakan fisik. Subbidang Irigasi arah pemanfaatannya adalah sebagai berikut: 1. 26 . Oaerah Irigasi (01) dengan luas <1000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupatenjkota dalam pengelolaannya. Jika kabupatenjkota mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang Irigasi untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya.2.2. Peningkatan. maka alokasi OAK 2. dan 3. Adapun kewenangan pengelolaan jaringan irigasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Ini dilakukan untuk mendapatkan data jumlah.

Tujuan pekerjaan peningkatan Daerah Irigasi untuk mengurangi kehilangan air pada saluran. saluran drainase. sedangkan pada Daera Rawa tidak ada kegiatan Peningkatan jaringan irigasi. goronggorong. kantong lumpur.dll). maksimurn yang pernah dkapai atau sesuai dengan kondisi lapangan. dll). dll). dalam jangka waktu tertentu perlu dilakukan upaya-upaya rehabilitasi guna mengembalikan kemampuan lavanan jaringan irigasi sesuai dengan desain rencana. atau di bendung yang mercunya terbuat dari bronjong dilakukan peningkatan mercunya menjadi pasangan batu sehingga dan tampungan air lainnya 27 . di bawah 60 maka jaringan irigasi Adapun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan irigasi rawa) yang dapat diusulkan menjadi usulan program prioritas adalah sebagai berikut: II. Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Meskipun telah dilakukan Operasi dan Pemeliharaan yang sebaik-baiknya. jembatan dan jalan inspeksi. Perencanaan peningkatan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi dilaksanakan oleh Dinas/Pengelola Irigasi bersama perkumpulan petani pemakai air (P3A. tersier. Untuk menangulangi hal tersebut.2.) berdasarkan rencana prioritas hasil inventarisasi jarlngan irigasi dengan katagori rusak berat. pintu air. Kegiatan Peningkatan Jaringan Irigasi Pelaksanaan kegiatan Peningkatan jaringan Irigasi hanya dilaksanakan pada Daerah Irigasi. pembuang/drainase. • Bangunan utama (bendunq/lntake.2. Rehabilitasi adalah suatu proses perbaikan sistem jaringan yang meliputi perbaikan fisik atau non-flsik untuk mengembalikan tingkat pelayanan sesuai desain semula. pintu bilas. got. suplesi. secara alami jaringan irigasi cenderung mengalami penurunan tingkat layanan akibat waktu (umur prasarana dan sarana) sampai pada tahapan kritis tingkat layanan menurun tajam dari rencana semula yang berakibat pada penurunan kinerja. sekunder. Kriteria penanganan berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi ini adalah sebagai berikut: • • Apabila indeks kondisi suatu jaringan iriqari di atas 60 atau sama dengan 60 maka jaringan irigasi tersebut diarahkan untuk pemeliharaan. talang. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah dana DAK untuk kegiatan rehabilitasi sistem irigasi yang menjadi kewenangan dan tangung jawab pemerintah daerah hanya dikhususkan untuk kegiatan fisiko Kegiatan rehabilitasi sistem irigasi secara umum dilakukan antara lain untuk jenis-jenis bangunan: • Bendungan/waduk/reservoir/embung/situ untuk keperluan air irigasi.2.2. Apabila indeks kondisi suatu jaringanirigasi tersebut diarahkan untuk direhabilitasi.2.Indeks kondisi jaringan irigasi merupakan indlkator kondisi fisik jaringan irigasi yang dinyatakan dengan suatu angka dari 0 hingga 100.1. • Bangunan pelengkap lainnya (bangunan baqi/sadap. primer. II. sehingga diharuskan untuk dibuat saluran pasangan batu. siphon. • Saluran (induk.

Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Setelah mengetahui proqram-proqrarn penanganan apa saja yang akan dilakukan. Hasil survey dan pengukuran ini selanjutnya digunakan oleh petugas Dinas/pengelola irigasi dalam penyusunan detail desain. Penyusunan rencana peningkatan jaringan irigasi meliputi: 1. RAB dihitung berdasarkan perhitungan volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah setempat. Juru/Mantri. Penelusuran dilaksanakan setahun dua kall yaitu pada saat Penqerinqarr.menambah debit air (memaksimalkan) yang tersedia atau yang tadinya Irigasi Sederhana menjadi irigasi Semi Teknis. 28 . Survey dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Irigasi Survey dan pengukuran untuk pemeiiharaan jaringan irigasi dapat dilaksanakan secara sederhana oleh petugas dinas/penqelola irigasi bersamasama perkumpulan petani pemakai air dengan menggunakan roll meter. 3. alat bantu ukur. Hasil survai dituangkan dalam gambar skets atau diatas gambar as built drawing. Penelusuran dilakukan bersama secara partisipatif antara Pengamat/ UPT/Ranting. untuk memastikan bahwa jaringan irigasi dapat berfungsi dengan baik dan air dapat dibagi/dialirkan sesuai dengan ketentuan. atau tali. 2. dan GP3A/IP3A. selanjutnya dilakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya CRAB). perbaikan berat maupun penggantian harus menggunakan alat ukur waterpass atau theodolit untuk mendapatkan elevasi yang akurat. antara P3A dengan pemerintah diantaranya bagian mana bisa ditangani P3A dan bagian mana yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama.2. Penelusuran Jaringan Irigasi Berdasarkan usulan kerusakan yang dikirim oleh juru secara rutin. Inspeksi Rutin Dalam melaksanakan tugasnya juru pengairan harus selalu mengadakan inspeksi/perneriksaan secara rutin di wilayah kerjanya setiap 10 hari atau 15 hari sekali. b). Sedangkan untuk pekerjaan perbaikan. Hasil rancangan detail desain ini didiskusikan kembali dengan perkumpulan petani pemakai air sebagai dasar pembuatan desain akhir yang dituangkan dalam berita acara. Pembuatan Detail Desain Berdasarkan hasil survey dan pengukuran disusun rancangan detail desain dan penggambaran. dilakukan penelusuran jaringan untuk mengetahui tingkat kerusakan dalam rangka pembuatan usulan pekerjaan tahun depan. Dalam rencana Pelaksanaan Peningkatan jaringan irigasi terdapat pembagian tugas. se!ang air. dicatat dan diklrim ke pengamat setiap akhir bulan. untuk mengetahui endapan dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi di bawah air normal.3. Kerusakan ringan yang dijumpai dalam inspeksi rutin harus segera dilaksanakan perbaikannya sebagai pemeliharaan rutin. I1. Selanjutnya Pengamat akan menghimpun semua berkas usulan dan menyampaikannya ke dinas pada awal bulan berikutnya. dan pada saat air normal (saat Pengolahan Tanah) untuk mengetahui besarnya rembesan dan bocoran jaringan. Pengukuran dan Pembuatan Detail Desaln Perbaikan Jaringan Irigasi a).

Jenis Kegiatan/Paket Pekerjaan. 5. Kelompok kegiatan dapat berupa: rehabilitasi dan peningkatan jaringan. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Irigasi 29 . bangunan terjun. kantong lumpur. Diisi berapa alokasi biaya dari Dana Alokasi Khusus dan Dana Pendamping OAK (minimum 10% dari alokasi DAK tahun berjalan) serta total biaya yang diperlukan untuk tiap-tiap jenis kegiatan/paket pekerjaan. dengan mencantumkan bagian dari jaringan yang direhab/ditingkatkan. Satuan. II. bangunan pengatur (bagijsadap/bagi-sadap). Nama Daerah Irigasi. Merupakan satuan ukur dari volume kegiatan. bendung. 2. talang. 6. Penentuan Program Penanganan Penentuan program penanganan dilakukan dengan memperhatikan prioritas penanganan (berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi) dan juga Rencana Anggaran Siaya. Siaya. Hasil penentuan program penanganan ini kemudian disusun dalam bentuk Rencana Kegiatan (RK). 3. dan lain-lain.4. Program dengan prioritas tertinggi dan dengan Rencana Anggaran Biaya yang realistis tentunya akan mendapat prloritas utama. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan berikut: (RK) sekurang-kurangnya mencakup informasHnformasi sebagai 1. 4. Bagian dari jaringan tersebut dapat berupa: saluran primer/sekunder.2. saluran pembuang. Volume Kegiatan. Jenis kegiatan/paket pekerjaan merupakan uraian dari kelompok kegiatan. Kelompok Kegiatan.II.3. Berisi volume dari nap-nap jenis kegiatan/paket pekerjaan. pintu penguras.

Vl & .0 .).... :::I 0 ("') Q._. r... E w ~ (f) ~ :!Zi ::a: ...w I a. .. Lf'l 'c CII C Ia C rt:I io~ . :J c ro c ::I OJ C II:] c:c f'IJ fil OJ ..J!2 Vl c .10 n:I - ... :::I en c :::I ~ c en C :::I . iU c 'C .. e m DD 'iij :::I <V I VI j ...... ~~..... ::l II:] a. 'iii c CII Ia >._ .. loot c <V P' 'Uj ..n e a.)..:1Il .....i ......IS 10 1:1 £0 :..§! til . l: ZW .c VI 'Uj . ......IS ~ C III c <~ Xc( < ...... G c 0:'::': ........ Will :c N s % c ~. ..: ..:: ...... 'S: '" Lf'l e en r. ::!: ..J . ItIC::o..:! 9E <. n:I c QI <C Cl M:!i! ~.._ . CII_ CII B .Q ro Ai =a :~ :~ =a =a '<T'~ E: ¢~ . E a ~ E ...j.< OJ c..:::.' III M .. a..c .Q a :. III {2 c n:I E n:I J ... 00 f-- '" = z . 0 :I r-. 0 'C' <V 'C' II:] cu 'C' ro '5........ zCl w E Z Ia 'iii ::! "S III III :I :........ lie" 1'11~ .< :c f'IJ s: cu a:: ~ :::I "0 z w J:I....... ... J!i . . c: s: tn .... C . ..... '" rtJ c 'S a.: 0 .t! III.... ::a: w g III :.:: 2E 2 .. e 'C '" ......c :g '" 0>- cu ..:: .. M "':::I~ 1t11ij l:1Il:. r.... :a . III e n:I 1:1 III III :::I C ...s .. Lf'l~ c cu :::I 't:l ..... ~ '.... rc c ~ c ~ :::I ro (f) v .. ~ O'l ~~ III iii~ <:I 0 !- g ... E II:] ..c:: f'IJ 0 :i2' f'IJ .< ..c rn III .. a u :. I:G :I x :I ~ ..0 r...5 III III Ec c til CII ...12 QJ C 'S' ..... :i < ~ III ~ ...J!2 ~ :c N =a '::I f'IJ ] ro a c '2: ~ C cu ~ C §J!i ......e E II:] 'ffi "0 a.. ..~ CII D...._... ....). .. E a "0 :......_ . III III D.... ...0 Z v ...i: f'IJ L- a. III .IS c c CI it: 1:1 C It! III c: ro ::I~ .::) .. rtI :J2l c:c e ~ ~ . '<T' :~ ..5 III ........ :::I ... ...~ U'l ..... ** C .!: :c c ~i 0 z Z = .....I ::I rtI a. ci ....n ~ g :........_ . ""'E...a n:I III >- ...Z ... .. III 'a :elii 1111:1 E 'C' CII 0.......)...~ :::I ....!!! ~ III ~ ::!: :I . en .: ItI C 'a.. VI ~ a.."0 ~......... ~ ~ (f) cu ._ ~QlIII 13.. c: ..!: E rt:I 0 iii 1:1 :c ~ gtj <C .i . E .0 n:I . j J:I.n C m QJ ..n1tlG:: c E .< c <V :::I "0 C ::a: N .."!:::::!' Q..

~I---':""".a ..""" .---._ to 0::": . .' :3 ~ :&: :::I ::c S N ..... «I C r:J III Q. -::::I ·co «I'D C ~ d z . III 'c _!]:I E u c: '" E Ul ~ ~ .. "'c". .... c .. _!]:I '6 J::.::c ~ -.LI'I . "... ItI ItI ~ ..._ 1'. ::J ~~.. «I 'D II! :J LI'I '" ..c ....e .... . .. U] a c... ::: ~1~~--~~~~--~-+--+--+--4-~~~ g8 II! a ~..... . 'iii c s C «I :e: ::::J 1""1 :3 ....0 Qj . ro :::I Q) ..... .._ 0 . co 2 ro '.~E 'DW ...:: ~ ::::J III .... .ui co>ro.-lf-lI---+--+----1--I--+--I---1 ge eel!! z W D..c .c II! 01 ::::I III ro 2... c:......9 Q (II E III iii 'D ..: ro P ro :::I (JJ __ -~ ..._ IJ)ro..... C II! C III «I III (II C .a g . ::::I C l!! QI QI g.c ~ . to ... ... ~ 0.!:9 "'~ ::::I ___ 10 c: . In ::::I III ~ «I ~ . III ..e III QI C 0:: 19 C C Z II! 'iii III .. ::::12 ro :J 0....J E iti (JJ o. II .a s II! II:! III C ...... ** : i:ii:t ..l!! * . ... II! 'D C III ::::I (""\ j ~ ._......fU~ ~ ro ro--'" c:. '5.E -:r.. . C. .. 0E E o E o ~ ~ ~ s ::::I c 01 C ... c: co N·_ E:!.. .. .....£ is '.....:.0 '0 0. 'S.0. ~...... c 01 C ...._..a III f--- c r:J >- 01 'I: 'iii 'D C ClJ II! co 'iti Q) c ~ :J ~ ~ '5' -. 'I: III ItI ia {2 C 01 tJ1 C E E -2 j fI ItI III '61 'D III .::.. .. -'" LI'I E (JJ ~ .. c 10 ro Q) o.II! C C.c . r:J s 0D -'" . E l!! !II WW :e .. E II! II! ~ III '51 :i QI ... w_ III~ !~ ::::IQI c C. (II C._.a ~I-------~I~~~--~--+---r---~~---.._ ro . D....o 0... (JJ ro ...Q :J ~~~ LD.... vi >- 'Ii: 'ji ...10 ". . GJ .-.. ......

8erdasarkan dokumen hasil perencanaan teknik ini.3. 3.3. III. 1. jenis kegiatan. Kegiatan Peningkatan Untuk kegiatan peningkatan suatu jaringan irigasi tidak termasuk reklamasi rawa dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi (termasuk reklamasi rawa) bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material dari lokasi setempat. Setelah teralokasinya dana DAK untuk penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) baik itu rehabilitasi maupun peningkatan.2.3.2. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!.engan pembangunan baru. Pelaksanaan Rehabilitasi Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis.l. Persiapan Pelaksanaan Rehabilitasi Sebelum kegiatan rehabilitasi dilaksanakan perlu dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3AjGP3A/IP3A. bahan. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang menggambarkan lokasi. Ill.2.III. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik kegiatan rehabilitasi dan peningkatan. III. 1. sifat rehabilitasi dan tingkat kesulitannya. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. Pekerjaan rehabilitasi yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3AjIP3A/petani setempat. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi suatu jaringanirigasi secara umum tidak berbeda d. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktua1. tentang waktu. jems pekerjaan. III. Umum Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi mengacu pada Norma Standar Pedoman dan Manual (kriteria) yang telah ditetapkan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. Perencanaan Teknik Perencanaan teknis Jaringan irigasi (terrnasuk jaringan reklamasi rawa) provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada standar dan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. kemudian dilakukan pelaksanaan konstruksi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.3. III.2. sesuai kemampuannya. rencana biaya dan waktu pelaksanaannya. b). a).3. Metoda Peiaksanaan III. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarlkan pemecahan permasa!ahannya. Kegiatan Rehabilitasi Untuk kegiatan rehabilitasi suatu jaringan irigasi dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material darilokasi setempat.1.1. peralatan yang akan digunakan. Dalam perjanjian kontrak antara 32 . Pelaksanaan Konstruksi III.1. jum!ah tenaga.

sesuai kemampuannya. tentang waktu. perlu adanya bimbingan teknis. 111.3. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. sifat peningkatan dan tingkat kesulitannya.3. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktual.2. pelaksanaan rehabilitasi tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan peningkatan suatu jaringan irigasi (tidak termasuk reklamasi rawa) secara umum tidak berbeda dengan pembangunan baru. bahan. 111. b). a). jumlah tenaga.2.Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • Kontraktor harus kemampuannya.3. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarikan pemecahan permasalahannya. jenis kegiatan. III. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang 33 . melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai • Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan.3. Pelaksanaan Rehabilitasi Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3A/GP3A/IP3A dalam melaksanakan pekerjaan rehabilitasi wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh Dinas/Pengelola Irigasi.3. Pelaksanaan Peningkatan Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis. Persiapan Pelaksanaan Peningkatan Sebelum kegiatan peningkatan dilaksanakan per!u dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3A/GP3A/IP3A.1. peralatan yang akan digunakan. Pekerjaan peningkatan yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3A/IP3A/petani setempat. upah kerja dan halhallainnya. • adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3A/GP3A/IP3A mengenai jam kerja. artinya peJaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dan giliran air. Dinas/Pengelola Iirigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan.

rencana biaya dan waktu pelal<sanaannya. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. Setelah pekerjaan peningkatan selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan peningkatan telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik.menggambarkan lokasi. pelaksanaan peningkatan tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. ttd ClOKO KIRMANTO 34 . Da!am perjanjian kontrak antara Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • • • Kontraktor harus kemampuannya. III.3. artinya pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dangiliran air. melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. upah kerja dan hal-hal lainnya. Dlnas/Penqelola Irigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. Pelaksanaan Peningkatan Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3AjGP3AjIP3A dalam melaksanakan pekerjaan peningkatan wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknls yang telah ditetapkan oleh DinasjPengelola Irigasi. jenis pekerjaan.3. perlu adanya bimbingan teknis. Adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3AjGP3AjIP3A mengenai jam kerja. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan.2. MENTERI PEKERJAAN UMUM.

pengertian dan pengetahuan yang sama dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. data dan dalam perencanaan prasarana air minum sederhana. tahapan yang diperlukan pembangunan baru dan 35 . seperti air minum. Menteri Teknis Penggunaan DAK. serta teknis. Pemerintah 'juga terpacu untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) Tahun 2015. dengan demikian akan diperoleh arah.1. Sesuai dengan data BPS. Tujuan Petunjuk teknis ini bertujuan untuk menjamin kesesuaian. operasional dan pemeliharaan serta pengelolaannya. Memperhatikan bahwa prioritas lokasHokasi yang akan menjadi lingkup pelaksanaan adalah desajkelurahan yang belum pernah mendapat pelayanan air minum secara formal (pelayanan oleh perusahaan daerah air minum setempat). Maksud Sesuai Peraturan Pemerintah No. 1. yaitu menurunkan separuh proporsi penduduk yang belurn terlayani fasilitas air rninurn. baik untuk aparat pemerintah terkait maupun untuk masyarakat sebagai aktor utama pelaksanaan program.2.3. terlebih dahulu sistem yang sudah ada. Ruang Lingkup Dalam melakukan pemilihan kegiatan DAK subbidang air melakukan review atau kajian terhadap sistem eksisting atau Petunjuk teknis inl menjelaskan kriteria. perhitungan. khusus. PENDAHULUAN I. meliputi minum. 1. Besaran alokasi DAK ditentukan berdasarkan kriteria umum. 104. cakupan pelayanan SPAM di perdesaan hanya 8%. menyusun Petunjuk Teknis Petunjuk teknis ini dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada para pelaksana dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan perencanaan prasarana air minum sederhana. memotivasi Pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) khususnya bagi masyarakat perdesaan yang notabene merupakan masyarakat dengan tingkat pelayanan SPAM terendah. Hal tersebut mempertimbangkan agar prasarana air minum yang dibangun dapat dikelola oleh masyarakat pengguna itu sendiri dalam skala komunal. ketertiban. Selain itu.LAMPIRAN 3 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG AIR MINUM I. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan bahwa: • • • DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional. maka perlu diberikan acuan petunjuk bagi para pelaksana program. Latar Belakang Kewajiban Pemerintah dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia. Menter! teknis menyampaikan Kriteria Teknis yang dirumuskan melalui indeks teknls. bersifat mudah dan ekonomis dalam pembangunan. permukiman nelayan dan perdesaan dapat dilakukan melalui sistem penyediaan air minum dengan teknologi sederhana (untuk selanjutnya disingkat Air Minum Sederhana). Berdasarkan Penetapan alokasi OAK. dan ketepatan dalam pembangunan prasarana air minum sederhana sehingga prasarana yang dibangun dapat dimanfaatkan secara andal dan berkelanjutan. Penyediaan air minum untuk kawasan kurnuh perkotaan.

rnemetihara. keuangan. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat. 2. dan produktif. perpompaan. Adapun besaran alokasi dana DAK ini ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. syarat kegiatan yang dapat didanal DAK adalah kegiatan yang sesual dengan prioritas nasional. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Merujuk pada Pasal 162 ayat 1 UU No. perplpaan. Kegiatan penyediaan air minum merupakan kegiatan pada Bidang Infrastruktur yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu prioritas nasional. Petunjuk Teknis Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)i Petunjuk Teknis Pembangunan Bangunan Pengambilan Air Baku. Petunjuk Teknis Operasional dan Pemeliharaan. dan unit pemanfaatan sesuai lingkup program. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAMmerupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. 1. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Seeara rinei petunjuk teknis air minum sederhana ini agar menggunakan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana yang antara lain terdiri darl: Petunjuk Teknls Pembangunan Penangkap Mata Air (PMA). Pengertian 1. Berdasarkan pernyataan di atas. memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik(teknik) dan non fisik (kelembagaan. merehabilitasi. Ketentuan lainnya mengenai kegiatan yang dapat didanai DAK adalah kegiatan tersebut harus diusulkan daerah yang berhak mendapatkan alokasi DAK. bersih. Oleh karena itu 36 . rnenqelola.perluasan jaringan pelayanan. Petunjuk Teknis Pemasangan Perpipaan. 4. unit pengolahan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentrallsast untuk (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukan pemerintah atas dasar prioritas nasional. Petunjuk Teknis Pembangunan Pompa Hidram. Petunjuk Teknls Pembangunan Hidrarn Umum. memantau. 5. Oleh karenanya kegiatan pada Subbidang Air Minum merupakan salah satu kegiatan yang berhak mendapatkan alokasi dana DAK dari APBN. melaksanakan konstruksi. dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. manajemen.5. setelah berkoordinasi dengan Kementerian teknis terkait. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan. 3. II. Pembangunan infrastuktur baru meliputi perencanaan bangunan pengambilan air baku. (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. peran masyarakat. Petunjuk Teknis Pembangunan Sumur Dalam (SATD) komunal.

Terminal Air. b. dengan topografi dimana wilayah pelayanan lebih Unit pelayanan yang terdiri dari: l. beberapa prasarana sebagai kelengkapan dari SPAM yang perlu diidentifikasi berupa: a. Pompa Hidram. Prasarana tersebut adalah sebagai berikut: a. Sambungan Selain inventarisasi fasilitas SPAM yang ada.2. Adapun langkah-Iangkah pengajuan usulan dijelaskan dl bawah inl. Destilasi Atap Kaca (DSAK) untuk air asin. Program Penanganan n. Paket Instalasi Pengolahan Air (IPA). 37 . Penyusunan Usulan Program Prioritas Setelah melakukan penyusunan daftar fasilitas yang ada saat ini dan identifikasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. v. Mata air ePMA) iii. Reverse Osmosis eRO) untuk air asin. Saringan Pipa Resapan (SPR).2. d. Ii. Sumur Air Tanah Dalam (SATD). Air permukaan i.1. Mata air: Perlindungan Air tanah i.Pemerlntah Pemerintah daerah harus mengajukan usulan kegiatan yang akan didanai oleh DAK l<epada Pusat. Sumur GaiL c. Ii. Instalasi Pengolahan Air Mlnum Sederhana (IPAS) lii.2. perlu dilakukan juga inventarisasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. Perpompaan untuk sistem tinggi dari unit produksi. ii. Rumah Murah. Perlu dilakukan inventarisasi/penyusunan daftar fasilitas pengembangan SPAM yang ada. Program-program Subbidang Air Minum yang dapat diusulkan untuk dibiayai DAK Bidang Infrastruktur pada saat ini. Daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM ini akan mendapat prioritas untuk pembangunan fasilitas baru. 1I. Penyusunan Daftar Fasilitas SPAM Dalam mempersiapkan program. c. perlu dilihat apakah sudah ada pengembangan SPAM atau belum. Hidram Umum. iii. Unit Distribusi Perpipaan. Adapun fasilitas-fasilitas yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah jenis prasarana sistem penyediaan air minum berdasarkan jenis sumber air baku. b. IV. terbatas hanya untuk program-program pembangunan fasilitas SPAM baru pada daerah-daerah yang memenuhi kriteria. Penyusunan 1I.2. vi. Sumur Pompa Tangan. Sistem PengolahanAir vii. Gambut. Air hujan: Penampungan Air Hujan (PAH) Selain unit produksi sebagaimana hal tersebut di atas. dilakukan identifikasi usulan program prioritas.

5. Usulan program pengembangan SPAM Sederhana kemudian Rencana Kegiatan (RK) yang mencakup informasi sebagai berikut: 1.1. Daerah rniskin: Aksessibilitas. ditentukan Penentuan program (pembangunan baru) tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik dan sumber daya yang ada di daerah perencanaan tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas pelayanan air minum yang direncanakan.3. Proses seleksi program pada Gambar 3. Daerah rawan penyakit. Daerah terpencil. 6. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupaten/kota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati.3. Nama lokasi.2. Perkiraan alokasi DAK dan dana pendamping. dapat dilihat pad a Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Format Rencana Kegiatan Subbidang Air Minum. fasilitas SPAM baru. termasuk Kondisi topografi. Jenis keqlatan: 2. 38 . Tujuan dan sasaran. Daerah rawan sanitasi. pengembangan air minum. Penentuan Program Penanganan kualitas dan kuantitasnya.Usulan program pembangunan kriteria-kriteria berikut ini: Daerah rawan air. Nama paket kegiatan. 4. 11. hendaknya memperhatikan Jenis prasarana yang tepat untuk suatu wilayah rencana pelayanan dengan mempertimbangkan parameter-parameter sebagai berikut: Jenis sumber air baku. disusun dalam bentuk 3.a. dilakukan sesuai diagram ahr n. Volume kegiatan. Jarak dengan sumber air.

o N '5 .c: j9 Q) :a: C'l C Q) .

40 . Perencanaan teknik prasarana SPAM harus mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum diantaranya adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Namor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Pengukuran debit air baku dilakukan untuk menghitung patensi sumber air yang akan digunakan. Perencanaan Teknik 1. . Umum Setelah alokasi dana ditetapkan serta pemilihan program sudah dilaksanakan. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM dan pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Prasarana Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. C. Tata cara pengukuran debit air baku dapat dilihat pada pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Mata air. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!.Tingkat konsumsl air. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM.1. Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selanjutnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Air tanah. Air permukaan. Penentuan Kebutuhan Air Kebutuhan air minum yang diperlukan untuk suatu daerah pelayanan ditentukan berdasarkan 2 (dua) parameter. langkah selanjutnya adalah memilih prasarana SPAM sebagai solusl teknis yang sesuai dengan kondisi setempat. Air hujan.III.Jumlah penduduk. Pengukuran Debit Air Baku Sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku meliputi: A.2. D. Peraturan Menter! Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2009 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. III. 2. B. yaitu: .

~ ~ rn c = .. ...~ ..: '" . til ttl C 41 "E '" '<j" OIl 'w c: ::> ::l E II> a. .s . u "C 00 .0 E "" '" '" F ... '" .t:II ." 'a! ... "'" j:: " .:.: '" ~ ~ a... '0 j:: . __E-m ..a ~ >'= . E :::I ...=.8.5 2: '" :( .: '" = :§ <'<I = =-~ 0:: 'f .S ... o . "'" F 'Q ~'C ~ii ..... '" c:. ... E <II a.... E ::<:: c: to 0> c: to ...!Y :2 '1l m E E 'til ... ." ~~ fiji: :!_" 2 E E ::J c ~ 'iii ~ "" != .:. E ::> .

Peralatan. Unit pelayanan. 4. Pekerjaan konstruksi. Pemeriksaan Kualitas Air Baku Pemeriksaan kualitas air baku dilakukan terhadap kualitas fisik. Hasil yang akurat dari kualitas air baku dapat dlperoleh melalui pemeriksaan sampel air baku di laboratarium yang telah ditunjuk sebagai laboratorium rujukan. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan dilaksanakan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan cara swakelola atau kontraktual.3. di lapangan. Pelaporan. d. e. 42 dapat . III. modul secara umum terdiri dari: Perencanaan teknis masing-masing a. Perbaikan/rehabilitasi. Bahan. Untuk pemeriksaan berikut: • Bau. kualitas dapat ditinjau dari parameter-parameter • • • Rasa: Kekeruhan. Perencanaan Teknis Penyusunan perencanaan teknis sistematika sebagai berikut: • • • • Unit produksl yang pengolahan fisik/kimia dari alternatif salusi teknis disusun pengambilan air berdasarkan dan unit meliputi bangunan Uika diperlukan). Perpompaan. c. Operasi dan pemeliharaan • • • • Operasi.1. klmlawl. Warna. sedangkan untuk persyaratan kualitas air minum sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 atau perubahannya. Komponen prasarana dan sarana Perhitungan dimensi Spesifikasi teknis • • • Persyaratan umum.3. Pemellharaan. Cara pengerjaan • • Pekerjaan persiapan. baku Unit Distribusi Perpipaan. dan mikrobialagis. b. Standar kualitas air di peralran umum yang digunakan sebagai sumber air baku sesuai Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001. Pe!aksanaan Kanstruksi II!.3.

Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM.Pelaksanaan kegiatan tersebut harus mengacu pada: a.3. penyelenggaan pengelolaan prasarana air minum terbangun dilaksanakan oleh Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM). 43 . Peraturan . sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. IV. khususnya sektor air minum. yang terdiri dari oranq-oranq yang mempunyai keahlian yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan air minum. Ol/PRT/Mj2009. pengurus. 18jPRTjMj2007 dan Permen PU No. b. namun bentuk perkoperasian ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1995. c. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000. 2. maka perlu dibentuk lembaga di tingkat masyarakat sebagai penyelenggara SPAM. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM TERBANGUN Untuk menjaga agar SPAMsederhana ini berkelanjutan. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan perubahannya. keanggotaan. III. IV.2. Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) adalah lembaga legislatif dari suatu wilayah pelayanan air minum dan merupakan nama generik dari lembaga di tingkat masyarakat. Koperasi Air Minum. mekanisme pemilihan. Lembaga ini selain berupa lembaga legislatif juga lembaga pengelola dan pemelihara SPAM. Keanggotaan dan susunan penqurus. Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Pengadaan BarangjJasa Pemerintah. serta ketentuan lain berkenaan koperasi alr minum ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. koperesi Air Minum Koperasi Air Minum merupakan bentuk lain dari OMS·AM. Untuk dapat menciptakan mekanisme pengelolaan yang bertumpu pada masyarakat. Kelembagaan 1. e. 3. Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) adalah badan pelaksana dan pengelola pelayanan air minum yang anggotanya ditunjuk oleh OMS-AM atau Koperasi Air Minum. yang merupakan forum demokrasi dan wadah proses pengaambilan keputusan tertinggi yang mencerminkan aspirasi masyarakat pengguna air minum. dan Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KP2) Air Minum sebagaimana diuraikan pada bagian berikut. tugas kewenangan dan pengaturan lainnya berkenaan dengan OMS-AM ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. Pembentukan. i<operasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. Kewajiban dan hak. Pelaksanaan Konstruksi Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selengkapnya dapat dulhat pada Permen PU No. Pedoman d.1.

yaitu pengelolaan yang dilaksanakan oleh masyarakat pengguna itu sendiri. tugas. Oleh karena itu perlu dipahami prinsipprinsip dasar pengeJolaan.3. aspek hukum dan hal-hal lalnnya diuraikan dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Perpipaan Sederhana. Insentif kepada petugas pengelOia prasarana sesuai kesepakatan. Penetapan Besaran luran Penggunaan Air Lembaga pengelola mengadakan rembug warga untuk menentukan besarnya harga air minum per-m3 atau per-jerigen 20 liter dan 10 liter yang harus dibayar oleh masyarakat untuk keperluan antara lain: a. Insentif kepada pemilik tanah (bUa diperlukan): d.Keanggotaan. susunan pengurus. Kontribusi untuk RT (hila diperlukan). MENTERI PEKERJAANUMUM. perlu dicciptakan mekanisme pengelolaan yang berbasis masyarakat. ttd ClOKO KIRMANTO 44 .2. aspek pengelolaannya. Membayar harga air minum. b. serta ketentuanlain berkenaan dengan KP2-AM diuraikan lebih rinci dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Sederhana. Prlnsip Dasar dan Aspek Pengeloiaan Berbasis Masyarakat Dalam upaya pemanfaatan prasarana dan sarana air minum yang berkelanjutan. IV. e. Uraian lebih lanjut tentang pengelolaan SPAM diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 dan PeraturanMenteri Pekerjaan Umum Nomor 01{PRT IM{2009. mekanisme pernilihan anggota. IV. Biaya operasi dan pemeliharaan prasarana. Besarnya harga air rninurn tersebut harus lebih rnurah dart harga air yang harus dibayar oleh masyarakat sebelum dilaksanakannya pengembangan sistem penyediaan air minum tersebut. c. dan kewenangan.

LAMPIRAN 4

: PERATURAN MENTER' PEKERJAAN UMUM NOMOR 15JPRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010

PETUNJUK PELAKSANAAN SUBBIDANG SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT (SLBM)
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Petunjuk Teknis DAK Sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana AJokasi Khusus Bidang Infrastruktur, dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, pada pasal 59 ayat (1) menyatakan bahwa Menteri Teknls menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum beserta Jampirannya tersebutdapat digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan OAK. Agar pelaksanaan penanganan infrastruktur sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dapat menghasilkan kualitas yang diharapkan perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk teknis yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan DAK ini, untuk itu maka petunjuk teknis sub bidang sanitasi lingkungan ini disusun. Sesuai dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pada Pasal 21 ayat (1) bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia; serta ayat (2) bahwa Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: (d) pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. Berdasarkan PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Air Minum pada Pasal 14 ayat (1) bahwa perlindungan air baku dilakukan melalui keterpaduan pengaturan pengembangan SPAM dan PS Sanitasi; serta ayat (2) bahwa PS Sanltasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi PS Air Limbah dan PS Persampahan. 1.2. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) ini adalah menyediakan bahan sebagai aeuan bagi Pemerintah KabupatenjKota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai dari tahap persiapan, pereneanaan, pelaksanaan konstruksi hingga pengelolaan (operasi dan pemeliharaan), dalam rangka meningkatkan pelayanan sanitasi skala kawasan di daerah perkotaan yang rawan sanitasi dengan penduduk berpenghasilan rendah. 1.3. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat sesuai dengan kaidah serta ketentuan teknis yang ada. 104. Ruang Lingkup Petunjuk teknis ini memuat pengertlan, perencanaan dan pemragraman, pengorganisasian pelaksanaan serta pembiayaan penyelenggaraan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang efektif, dan berkelanjutan secara tepat untuk kawasan kumuh perkotaan. 45

1.5.

Pengertian Sanitasi lingkungan berbasis masvarakat, adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat, terdiri dari (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal, (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3 R (reduce, reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.

1. Pengembangan

prasarana dan sarana air lirnbah komunal berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Pengertian air lirnbah dalam petunjuk teknis ini adalah air buangan yang be rasa I dari WC, kamar mandi dan dapur/ternpat cuei pakaian. Pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat terdiri dari tangki septik komunal, atau Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) atau sistem perpipaan air limbah komunal;

• Tangki septik komunal adalah tangki septik yang dibangun untuk melayani beberapa rumah yang berkelornpok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Setiap tangki septik kornunal melayani 5~10 KK. • Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) terdiri dari sejumlah kamar mandi dan WC, sarana cuci yang dilengkapi dengan unit pengolahan air limbah. Pengolahan air limbah yang digunakan adalah bio-dtqeste« dan baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic fi/teJjtangki septik bersusun dengan filter). Setiap MCK Plus++ melayani 100 KK. • Sistem perpipaan air lim bah kornunal adalah sistem yang menggunakan sistem pemipaan PVC dan unit pengolahan air limbah baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic filter/tangki septik bersusun dengan filter). Pipa biasanya diletakkan di halaman depan, gang atau halaman belakang. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 rn dan di titik-titik pertemuan saluran. Setiap sistem perpipaan air limbah komunal dapat melayani 100 KK. 2. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R adalah penyelenggaraan prasarana persampahan berbasis masyarakat yang meliputi kegiatan mengurangi (R1 :::: reduce), mengguna-ulang (R2 :::: reuse) dan mendaur-ulang sampah (R3 :::: recycle). • Kegiatan Mengurangi Sampah CR1) adalah upaya meminimalkan produk sampah. kembaii kembali sampah

• Kegiatan Mengguna-uiang sampah secara langsung.

Sampah CR2) adaiah upaya untuk menggunakan

• Kegiatan Mendaur-ulang Sampah (R3) adalah upaya untuk memanfaatkan sampah setelah melalui proses dan dilengkapi dengan prasarana pengangkut dan IPST (Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu), 3,

Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah penyelenggaraan prasarana drainase berbasis masyarakat yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai:

• Po/a detensi (menampung
penampungan sementara

air sementara), misalnya dengan untuk menjaga keseimbangan tata air. antara lain dengan membuat kegiatan konservasi air. bidang

membuat resapan

kolam (Iahan

• Pola retensi (meresapkan),
resapan) untuk menunjang

1.6.

Prinsip-Prinsip

Penyelenggaraan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

Prlnslp Dasar DAK Sanitasi Lingkungan

1. Program

lnl bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan

46

ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. 2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, sedangkan peran pemerintah atau Swasta, hanya sebatas sebagai fasilitator. 3. Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan Iimbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial. 4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. 2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. 3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. 4. Berkelanjutan, pengelolaan keglatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.
1.

II. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN II.1. Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK)
Mengacu pada kebijakan Kementerian Keuangan bahwa kebijakan bantuan DAK adalah mendorong penyediaan lapangan kerja, mengurangi jumlah penduduk miskin, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalul penciptaan sel-sel pertumbuhan di daerah. Mengalihkan kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang telah menjadi urusan daerah seacara bertahap ke DAK. Berdasarkan ketentuan yang disebutkan di atas bahwa untuk kegiatan yang dibiayai DAK akan dititikberatkan pada pembangunan baru. Program Pemeliharaan merupakan prioritas utama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah, sehingga sumber pendanaan pemeliharaan dibebankan pada APBD murni. 11.2. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupatenjkota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Sanitasi.

47

....
D. I--

E
ra

DD
~
c
..0

'iii

'co

III ~

= -ro <II
E
0
(J)

&
:::J -;:: n,
(J)

....

:J Vl

.lII:

....

~, ~

U)

,

e

~ I: {2.
ra .c ra

.fI
1"\

I:

ra

ra Z

E

;2
It! ~ ,_

'-

~

'! ~ ~--O-·--~I-~~--~~~~--+-4--+--~+-~-4--1 a '~
G. ~
z .....

S

r::

..
111'

......

(J)

-- 0 aJ D. >-~ ~ ...... It! :J ero c, c..."Oro "0

.- -_ Vi"~(J) 0.. It! ::::10 :::J ..__.. Vlt:; ...... ..0 III ..... C-l1J

rap

c: (J)

~

£? OJ .....

'0 ::.::

It!

.g'
...... ::.::: "co --.. •
~C
'-

vi

rn
Vl

J6
(J)

.... :::l

'-

C C I:C It! :::l :::l .._.. I:C

Vllt!..!!!

:::l

~~ 0..--

(J)

..... ~
Vl

Il.l .....

m.g

Rvi

~..o .- ro

:l

O~

Perlu dilakukan lnventarlsasl/penvusunan data dasar mengenai daerah-daerah yang sudah maupun yang belum mengembangkan fasilitas sanitasi lingkungan.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing.300 juta 49 . Salah satu modul pengelolaan air limbah komunalberbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. persampahan dan drainasenya) atau be!um. 11. Fasilitas air limbah. Penyusunan Program Penanganan 11. reuse dan recycle) dan 3. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatlhan sekitar Rp. dan unit pengolahan air limbahnya. pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. Adapun fasilitas-fasilitas sanitasi yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah: 1. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. pengembangan prasarana dan sarana dralnase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1.3. Modul ini merupakan modul yang disarankan.3. 3. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Modul B berupa 1 unit MCK PlUSH yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandl. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air llmbah skala lingkungan (100200 KK). Penyusunan Usulan Kegiatan Prioritas Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). sarana cuci. perlu dilihat apakah di suatu daerah sudah ada pengembangan fasilitasi sanitasi lingkungan (air !imbah permukiman.1. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). 2. Modul lni dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. 2. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a.11. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal berbasis masyarakat.2. 2. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. Fasilitas drainase. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Penyusunan Data Dasar Prasarana Sanitasi Dalam mempersiapkan program. terdiri dari: 1. Fasilltas persampahan. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri.3.

J.. PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG _ .3.._... _._.-.-.. . f-. PENYUSUNAN RKM Organisasi.-~-._II _ ._ . Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Sarana Siap Digunakan -·l· Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. ._. .- -" . _·i·· Pelelangan Material ._. _..4.-._.-._ -.... Penyusunan P etunju k Pelaksanaan Sanitasi Li n 9 ku I1gan Be rbas is Masyarakat ~ . ._._._._._ . • Air Umbah l<omunal Berbasis Masyarakat • Sarnpah Pola 3R Berbasis Masyarakat • Drainase Mandirl Berwawasan Ungkungan Berbasis Masyarakat H . _. III.-. _ . . Prioritas ke-3 Pengembangan prasarana dan sarana drainase rnandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Pemberdayaan Masyarakat Pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini diselenggarakan secara swakelola melalui proses pemberdayaan masyarakat.-. KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasanl pengendalian oleh masyarakat '-'-'-'_'---'-'I'-'-' 1--+ _. - ..._._.-. mulai dari tahap persiapan. perencanaan. - . II. maka proses berikutnya adalah melakukan meiakukan pengorganisasian pe!aksanaan kegiatan. _ .PENGORGANISASIAN IIL1._&_._..._._. RAB dan Jadwal Kegiatan . ._ . _ -._. Pilihan Teknologi dan Sarana. _ . .300 juta/Ha._.50 _. Shortlist Lokasi terpilih I ~' Penyiapan Masya ra kat Dokumen RKM • • • • ._. _. _..-. Pemeliharaan Pendampingan O&M ._._-_ _ ~ .-. .-. .._. SELEKSI LOKASI Longlist._._.. -+ . _..-~-._ PELATIHAN OPERATOR SOSIAUSASI PENGGUNA r-. OED.._. - _._.. _. Pelatlhan) r -. _. Umum PELAKSANAAN KEGIATAN Setelah teralokasinya dana untuk pembangunan prasarana sarana Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat. Sosialisasi Kepada Pemerintah Pralli ns il Ka b upaten/ Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi._. pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan.-.._. r Bagan Alir Pelaksanaan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat . _ .._.

. Cipta Karya Ditjen. Kementerian Pekerjaan Umum ke masingmasing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasllitator lapangan sesuai kriteria. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah. Penyiapan Tenaga Fasilltator Lapangan 1. ke Ditjen. dan recycle) berbasis masyarakat. Penyampaian surat oleh Ditjen Cipta Karya. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping (LSM atau Konsultan) akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. Seleksi Lokasi 1. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8 lIlA. 51 (syarat tambahan oleh Masyarakat) . persampahan dan drainase 7. 3. 2. Persiapan Persiapan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat meliputi : 1. III. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. reuse. I diseJenggarakan oleh Cipta Karya. Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dar! TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat. 5. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. Sehat jasmani dan roharn 4. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan. Memiliki cukun waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6. 3. Pelatihan tenaga fasilitator lapangan Kementerian Pekerjaan Umum. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. Penandatanganan Rencana Kegiatan antara Pemerintah Pusat. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1. Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akanlebih tepat saseran dan skala prioritas. 3. Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum. 4. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3.IIL2. 2. 2. 3.

jadwal konstruksi. Pelaksanaan Konstruksi 1. 2. Bendahara. Tersedia lahan yang cukup. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. Tahapan pelaksanaan konstruksi dilakukan oleh masyarakat calon pengguna (swadaya) dengan didampingi o!eh TFL. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK++. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. 3. barang maupun tenaga. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. 1. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. d. pembentukan forum pengguna. KSM dibentuk dan ditetapkan dalam Musyawarah Masyarakat calon penerima manfaat. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan KabupatenjKota. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat diusulkan dan disahkan dalarn forum musyawarah di lokasi pelaksanaan. IIL6. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasll musyawarah masyarakat pengguna. c. Tenaga Teknis dan anggota. KSMdan TFL). Operasi dan Pemeliharaan Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat oleh KSM atau KPPyang ditunjuk oleh masyarakat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan balk dan berkelanjutan. baik dalam bentuk uang. 3. Detail Engineering Design (DED) dan Rencana Anggaran Biaya CRAB). rencana kontribusi. calon penerima manfaat. IlLS. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. Susunan pengurus KSM minimal terdiri dari Ketua. 2. Sekretaris. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 1. 2.Syarat Lokasi : a. Kegiatan konstruksi dapat dilakukan oleh pihak ketiga jika ada kesepakatan bersama dari masyarakat melalui kerjasama operasional (KSO). pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). rencana pelatihan KSM serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas sanitasi lingkungan yang dibangun. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat CRKM) 1. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasls Masyarakat dimana proses 52 . f. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) b. Masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. KSM merupakan wakil masyarakat calon penerima manfaat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran lirnbah. III. 7. Masyarakat di lokasi terpilih dengan didampingi fasiHtator menyusun RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat berupa pemilihan prasarana sanitasi lingkungan beserta teknologi sanitasi lingkungan yang dibutuhkan. e. Konstruksi dilakukan setelah RKM selesai disusun dan disahkan oleh para wakil stakeholder (SKPD. Kawasan permukiman padat. IIL8. Adanya saluran/sungaijbadan air untuk menampung efluen pengolahan air llrnbah.

Umum Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini berasaI dari berbagai sumber pembiayaan. seleksi dan implementasi pilihan-pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut: 1. b.musyawarah. Pelatihan KSM. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh pengelola yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). untuk menjaga dilaksanakannya prinsip-prinsip dasar Sanitasi Jingkungan berbasis masyarakat. transparansi. 2. tukang dan pengelola dibiayai dari dana APBD. bendahara. PEMBIAYAAN IV. Pelatihan terhadap TFL (RPA & RKM): dalam pelatihan inl para TFL disiapkan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penilaian kandisi sanitasi secara cepat dan mendampingi masyarakat dalam menyusun RKM. Biaya sosialisasi DAK dan pelatihan TFL dibiayai dari dana APBN 2. swasta dan atau LSM.1. 4. Pelatihan terhadap Pengelola : dalam pelatihan ini pengelola (KSM/KPP) disiapkan untuk mengoperasikan dan memelihara sarana Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Pemerintah Kabupaten/Kota. d. 5.9. IV. IIL10. DAK. Pengawasan dan Pengendalian Kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat inj merupakan kegiatan milik masyarakat sehingga diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian oleh seluruh komponen masvarakat dengan didampingi aparat serta dibantu aleh tenaga fasilitatar. 4. Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD. tenaga kerja. Dana pihak swasta lainnya dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling 53 . dan penerapan Perilaku Hidup Sehat dalam bentuk pelatihan dan sosialtsesl yang meliputi : 1. 3. Pengawasan dan pengendalian dilakukan sejak tahap rembug warga tahap pertama. OAK dan Pemerintah Kabupaten/Kota (APBD). Pelatihan terhadap Mandor: dalam pelatihan ini mandar disiapkan untuk membangun prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terpilih sesuai dengan OED yang telah disusun. Biaya Konstruksi Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. Pelatihan terhadap KSM : dalam pelatihan ini KSM dibekali pengetahuan tentang organisasi dan pengelolaan administrasi keuangan.2. mandor. 3. akuntabilitas publik maupun kontrol soslal tetap berjalan. 2. IV. Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunal (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. III. material dan lain-lain. swadaya masyarakat. identifikasi. Penguatan Kelembagaan Masyarakat Penguatan kelembagaan masyarakat berupa pengorganisasian masyarakat & pengembangan institusi lokal. Swadaya Masyarakat c. Sosialisasi terhadap masyarakat pengguna : dalam kegiatan ini kelompok masyarakat calon pengguna diberi penjelasan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan tata cara penggunaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbangun.

-. -. -.. -... + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi RKM dan legalisasi Masyarakat -.. -. label 1...j -. II Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif List. -... -. -.. -. -. -.j V Konstruksi Material Upah pekerja Lahan -..j -..... Komponen Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Kegiatan APBN DAK APBD Masyarakat I -. III Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED -.meng untungkan. IV Pemberdayaan Pelatihan KSM Pe!atihan Bendahara Pelatihan Mandor Pelatihan Penqelola Kampanye kesehatan -....j -. Rincian pembiayaan dapat dilihat pada tabel1..j -.j -.j -. . (Rapid Participatory Assessment) -.. -. -..j 54 VII VIII Pengoperasian Monitoring & Pemeliharaan & Evaluasi -.. 5. -.. Biaya Operasl dan Pemeliharaan Biaya operasi dan pemeliharaan di tanggung oleh masyarakat.j -... -. -. Pembiayaan per Komponen Kegiatan No..j -.... VI Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) -.

Fasilitator dan KSM membuat laporan secara periodik kepada SKPD sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan 55 . Dana DAK dan APBD 1.3. bendahara. Dana Swasta/Donor (jlka ada) 1.3. Dana Masyarakat I. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasll musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. dlsampaikan setiap minggu kepada masyarakat. monitoring dan evaluasi.3. Pelaporan 1. 3. Dana LSM (jika ada) Dana LSM adalah dalam bentuk keahlian (expertise) sebagai bentuk kontribusi kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat.2.!. 3.4. SKPDKabupaten/Kota dan fasilitator. Perwaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian PU di Provinsi yang digunakan untuk melakukan soslallsasl. 2.3. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. 2.s.3. KSM membuat laporan keglatan harlan yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan. IV. IV. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2.IV. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyara kat/RKM. 2. pelatihan TFL. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM. mandor. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah (SKPD).3. Dana DAK dan APBD diwujudkan dalam bentuk mekanisme kegiatan swakelola oleh SKPD bersama masyarakat (KSM).4. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. IV. 3. Penyaluran Dana Dana APBN 1. Dana APBD dialokasikan sebagai pendamping fisik DAK serta bantuan pendampingan pemberdayaan masyarakat (termasuk gaji TFL) dan pelatihan KSM.3. 3. IV. IV. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM IV. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSMsesuai perencanaan dengan pengawasan dari SKPDdan fasilitator.s. IV. tukang dan pengelola serta masyarakat pengguna.

PENUTUP Penjelasan leblh lengkap mengenai tata cara dan persyaratan teknis dijelaskan terpisah pada petunjuk pelaksanaan.V.TO 56 . MENTER! PEKERJAAN UMUM. ttd DlOKO KIRMAN.

Materi laporan yang disampaikan: a.LAMPIRAN 5 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRTlM/2010 TANGGAL: 01 November 2010 MEKANISME I. 50%.2. Laparan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dengan tembusan kepada BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sarna. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar dilaporkan sekall yaitu pada Trlwulan I yang berlsl: 1) Data Umum (Form KDU): • • • • • • Nama Kelurahan/Desa Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kelurahan/Desa terse but (pantaijpegunungan/ Potensi Kelurahan/Desa (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk masing-masing subbidang 2) Data Dasar (Form DO): • • • • b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 5 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/WaIi kota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPD Provinsi dan BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sama. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus. Data dasar seluruh prasarana jalan Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana irigasi Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana air minum Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Proses dan Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kandisi 0%. PELAPORAN Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) 1.1. Materi laparan yang disampaikan: 57 . Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KabupatenlKota Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasl Khusus. 100%) 1.

a. 100%) II. Kabupaten/Kota Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) untuk subbidang jalan Data Dasar (Form ~O): 58 . Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Bina Marga cq Direktur terkait. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan menyusun dan menyampaikan laparan triwulanan penyelenggaraan OAK subbidang jalan yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi Data dasar seluruh prasarana irigasi Provinsi Data dasar seluruh prasarana air minum Per Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Per Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaparkan selama 4 Triwulan (Prasarana Jalan dan Irigasi) 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegi. 50%. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (m 2 ) sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di KabupatenjKota tersebut (pantaijpegununganj Patensi Kabupaten/Kata Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) subbidang untuk masing-masing 2) Data Dasar (Form ~O): • • • • b. Materi laporan yang disampaikan: a. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • Nama KabupatenjKota Luas wilayah (rrr') sekali yaitu pada Triwulan I yang berisl: • • • • 2) Jurnlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Patens. Balai/Satuan Kerja Pusat 11.atan (kaardinat dan kondisi 0%.1.

3. 50%. Materi laporan yang disampaikan: a. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi dan Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pela. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penye!enggaraan OAK subbidang air mtnurn yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasll pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota.• b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 han kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq. Data umum dan data dasar 59 . Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • • b. 8alai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Oaya Air BaJai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Daya Air melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang irigasi yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPDKabupatenjKota. Materi laporan yang disampaikan: a. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderai Sumber Daya Air cq Direktur terkait. 100%) II.2. 50%.ksanaankegiatan Prasarana Jalan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantai/pegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang irigasi Data dasar seluruh prasarana jrigasi Provlnsi dan Kabupaten/Kota 2) Data Dasar (Form DD): Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Irigasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. 100%) II. Direktur Pengembangan Air Minum.

4. Materi laporan yang disampaikan: a. Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang sanitasi yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kata Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kata tersebut (pantaijpegunungan/ Patensi Kabupaten/Kata (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang sanitasi 2) Data Dasar (Form DO): • b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq.Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr) Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pettanian/pettambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang air minum 2) Data Dasar (Form ~O): • b. 100%) II. Data dasar seluruh prasarana sanitasi KabupatenjKota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Sanitasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 60 . 50%. Data dasar seluruh prasarana Air Minum Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Air Minum dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%.

0.. Kepala Rappeda ..1 Mekanisme Pelaporan - MENTERI cq. Sekretarfs Jenderal ~~--~~--~~~I J I 14 hari kerja 14 hari kerja Dlrektorat lenderal tetkalt -.---_ KepalaSKPD PI'oVlnII aub 10 hari kerja " bld... 100%) Gambar 5. ------- Satker Terkait Kepala &alall V - BU PAn/WAU KOTA cq Kepala Sappeda Tembusan 5 harl kerja Kepal SKPD Kab/Kota sub bldang 61 ....... --= cq........2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinatdan kondisi 0%... GUBERNUR 10 hari kerja 1:0 hari Tembusan kerja 1---....ng 'l I I _I ---Il1o...=... 50%.

emonitoring-PU.Tempat penyimpanan data .Sarana Komunikasi Pusat-Daerah . Manfaat .id .Pengecekan silang hasit pengiriman 62 .Pelaporan OAK On Line melalui http://www.Laporan dapat dikirimkan III. Pelaporan DAKOn Line III.SKPO melakukan .SKPO mengunduh . Mekanisme Pelaporan DAK On Line .SKPD mengirimkan registrasi DAK format laporan laporan setiap saat apabila ada perubahan data dan informasi .III.web.l.2.

.c M CO CO .. OJ OJ 0....... 0 . .c fa >~~ C .. 0. C ::::I fa \0 ... ::::I .'in cu D. co Ul 0 C CU N I! :::J E !! {:.. ... c ra ... CO co =s OJ .c~ v l .. COl co . E CO 011: C.: ta c:'t..I ~S ta 2 ro "'0 OJ 0.::&: u Dr .c .o E :a E ...CO'" .C3 ~ "Oc roc . II C .::&: OJ eo Ul co CO >C s: {5 :~ i! ................... r.. Lt) c: ~ .¥ '1:1 1::J :J ::::I . :::l C E ::::I E =s ... co 01 CO . .........c ~ fa .j ...0 J9 tU e E J..

....B gm c C III :J "0 "0 -m 00 'iii 'tii IIJ 0.c... 'c E 0) 0) 'ii '" ro .0 ~ E E . ccc men § c III ro !:! ~ .0.:.0 CL ro c '- ~ lc m .._ .!: ~ . lil "ai ~c ~ III !l Ie 1111 Ij 'It III ...Q (J) (J) (J) ::::I III &: e::: CL 0..Q E s: 'c E. C 1- E C :I ~ I: III III e C C A1\'1 I: ILl N ~§ :l c mill UlCO cc 'iii m 'E m '.. r~ III III m m 'tI .r::.~ H c: c III m .:J I'll e .!9 c . E I~ 'tii t: c ~ . a. III III 0 0 ill ill .r::..5 E I~ ! Ia Q) E 0:I~ 'iii C III I~ III U m EU (J) ~ '5 2J c Ul '5 . c I: IIJ Z' ::J " 0.Q Ig !:! 19 III I'll III III ~c * 'tii 'iii ~ III cc 'iii Ul III .~ ~ i i~ .~.. ~ E c C mcm ..o: E. 'tI "§ E~ :6 .: I c: 1II.. 'f c: II:! III 'f c: III ::::I cE ::J ir 0) 'c 'iii m .c:t .r::..~ . " !:! ~ s g cc III III C C III 'ii'ii c CLo.. c c: m ro !:! !:! !:! Ul c ~ .... 'iii ..CL e :c 'tI E ..0 u D ttl rol. II A- 0 C Co iM c 'Vi Ul III III ~ III .. 'E':J: i III «I .ol u D r I! ~I'iJ I.'. '16 c 'iii I~ c c III ..01 u a.. C aI ~ ~ ~~ ~ III J "' B" ::t III E «II ~ c 0 :~ . := 11 Z0 ..111 i ~~ Qj :0 II:! s: ~ I'\Im ..o ::oF c .0 ~~ o.Z&IO ftI ':..= C ~ '.g !:! m . E 0).-III ~ 'ii -m CL '..r::. EE (J)Q) 9 a. m E f Ia II:! 8' A- i et::co ftI :J III c.'Q)(j) :::I III D(J) ... s: .. lfl . §c m Ic m I Q III .a :8 ::t ..r::. III Il ~ III '. ::L...':: E II:! :I Ecc c :J E :I 'f .c III v III III CL a..g o.

.!! -__ .oJ liII: f» '..'I :6 D ..!illl a..-.: m ! g Ci ~ c III ra . :~ ~ -Ell! . .. e a. ( 'S I'" IV .l!2 3:l >c: . III :::I a: ~ Z Z III . c fa . :J ~ :::I IV ~ fl!1D ...t III III:: & ~ li I! '-¥ Do '...:E .. is i9 c: U 19 ftI . I: '"' Ia. ". ra ~ :::I IV c ! A. .!! III ~ ra .9. -aJ2 ~i~ Sa ftI::I'§ ::I Q> «>..Q Z ::. r:: III D- m c: l . iii E r-.1:1 ::I .J: C til I'll ....m III :Ii!: IJ= Ql'V r:: . ........ :!! ~ ~ III i= c " 0 D:.. e '" ~ ::I in QI C III III III .. .. fa fa 1ft .:... ::I ~D: g! c· .: O.. . f» . ~ C s ar: Do. 19o I'~ r:: ra !:It. liB ..:a.s: :Q'! ftI ftI 0 III m D: 0 :::I z .. IQ !:l i-.. j:: III OJ -2 ~ -111111 I! ~ D.....t ~ ~ c( .. C III III III .::...!!! c: '"' % ... 'iii ':.....

s 121 si "" " L:. m ~ a IV ~Q dlJ! E en ID v c E Z IV I'II'..1J ~ <D .. Q...._ .. Vi iii t:l I: 'iii Vi 16 e " If I: I'll' i1 ~ j::: ~ ::l i . c ro ro '" . 2 ro ro OJ 0-0 en ~E lDo.::: = ...c 'Vi t! I'll' .g fI 'I'll' E aJ II: N Z Z "" 0 ..III 'CI E c: I: ~ 0 .. '" !I !..mE E !f':. 0' ~~ 0 e:... C dli a:l1 !. . ~ e C ~ ~ C m dI § aI II: ~ en v... ..Q M ~ E O.."...Cl III 'iii Q . . II: III .

...: e . .. a Z J!l c: 19 U to .. '.'- "at! Dl_ men 'iii . III a.. ...I Q.: c ~ E ! ~ ~! 111'- ftI'..

..I :c m m w A.. I- I: m I- 1! m II) m • ~ Q Q m .. m = ._ I- e I: N :::E cC Z ~ Q ~ .

_ "t' .. .~ UJ .~ \._ L.c co . v co ClJ ~ ::J U C .0 i'.fo E 1"'\ C.. i~ c 'C~ CLJ ::1.::: N ro IV Ul ~ 0 . ~ ... ro .._.. .c::: ::::I 100 M 1'1 ..:i! .c >C n::l Z ._ . IV ::J Cl.:!:: ~ra D.:.._. c ...C "iiJ Ul .m ::J "~ c Oa.. >oCf mc c tnfJ] j:: ~-. 1'1 fa en CLJ .. ra~ a..~ Cl Z 0 ~ a I9 ro .I ~ ~ C 1'1 f'. ro ro ro 3: v o..a ro ro ... or c ro .:II:: "C ::I 'CI ::J'.('l Ei • VI 1"'\ D.

~~ 0 s Z 0 ::Ja. . L w o. => OJ I~ ~ a.~ w · : : · 6 c::: 0. (/) z · · · : : . « ~ Z <C ~ a.zCC z<c _0 ~.. r-- ~=>l!iz CO u.. I~ ~~ o::::z . ~ « 0 Z ::J L9 Z (/) z £3 § co ~ ~ a. 9 ~ ::J<i... z 0:::: o..2 z ~ .2~ v..

...o . ez COra Z Q .. UJ E 0.- m..:ac: . "' .. ::l -e :: A.. 't: C Sen CI .. AI g ~ C U rtl (]) rn c ro _Q c ES-6 ..

.... '§- ::i ~ ~ 'iii Q .11:1 01 C :::. . E j! QI Z Q ............ ii .. :i..ro 0.. Q.. 0'\ m a.=..:: 3 "'1 III -i:: _!g ro c: 0.= c IT:! l!:! N r::: IU z a. !j Qj A. u:::: O'l "Vi I. "~ iii D:: ...c c c ta... III III U '§- :::.. I.e IG c IG~.a ~ <t" ~ B aJ VI III U) til i !II :::.:: ..:. o... i:~. --< ~ 1'0 I..... r::: U1 N r--- U C CD ID til . c rc III 10 .c q ro 0'\ 0'\ C . o ::I :a ~ "0 C 10 0... 'I:' CD III ~ .e AI Q._ C n:I Ln f c III ....:: 2 (U \! C ~ ::Iep% A...:: ~ 'IXI :~ 0'\ 10 01 c r::: "0 ro ~ = i£ S2' 01 (I) Ei _n f'" :::I ~ :::I . "C til CD_ :c V" '-0 ro :::I '" >III AI cQI .. AI til c . .III :E =s AI ftiI :0 :10 ... 'U.

.0 :l I- c:: ro .c ID C ~ D c: ~ ...c ~ . Lfl ... fa f E l- ...-j .._ 'It' J:~ 10 . ro In . I'll IV') ~ . 1"11 ..........::J o 1'0 c:: c: Z 0 . QI ..•• S 0 ~ III C \0 ..- :I a...c. ... 1'0 .. ....... H E ... IQ C N .... In 10 ::::I o.. "C 1'0 ro 0 ~ I .. era :::::II ~ = E :) Q e ......c:: ro Q) _.._ U) I- ~ 0- e E fa C ::::I 'a ::::I f1) '0 A.e ~ 'Vi ... J9 0 l- 0::1- >.

1 iE. :=l Z g Z ~ ~ UJ :::.!. C2 UJ ~ UJ a iE. I 1J .~ ::l iE.::: E :e: a:: !..:::. 0 ::. 0 c:c UJ 0.. 1 c 1: J:! III CO 2 Q} III III Cl....

Kementerian Negara PPN/Bappenas. 3.Tujuan Tujuan pemantauan teknis pelaksanaan DAK adalah: 75 . Organisasi pelaksana kementerian yang beranggotakan wakil-wakil dari Oirektorat Jendera! terkait di bawah koordinasi Sekretariat Jenderal. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. 2. kegiatan yang dibiayai OAK. untuk mengoptimalkan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK perlu dibentuk: 1.LAMPIRAN 6: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PEMANTAUAN. maka OAK Bidang Infrastruktur juga tidak terlepas dar! kewajiban menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.Latar Belakang Dana Alokasi Khusus (OAK) Bidang Infrastruktur merupakan dana bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERJA IV. dan SKPDterkait. Biro Administrasi Pembangunan/sebutan lain. dan SKPDterkait. Bagian Administrasi Pembangunan/sebutan lain. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah. Sehubungan dengan hal tersebut. Organisasi pelaksana provinsi yang beranggotakan wakil-wakil dari Bappeda.akukan pemantauan dan evaluasi berkoordinasi dengan gubernur selaku wakil pemerintah di daerah. Menteri Keuangan dan Menteri Oalam Negeri tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK). IV.alam mel. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian/Lembaga (K/L) teknis terkait.l. 4. Organisasi pelaksana pusat d. keluaran (outpuO. Organisasi pelaksana kabupaten/kota yang beranggotakan wail-wakil dari Bappeda.2. proses. hasil (outcome) dan kemanfaatan (benefit. PENDAHULUAN IV. khususnya Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK) bertujuan untuk mengoordinasikan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK secara terpadu. Satuan Pengelola Keuangan Daerah. efektif dan efisien agar terjadi kesesuaian antara masukan (inpuO. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perlmbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Organisasi pelaksana pusat yang beranggotakan wakil-wakil dari Kementerian Keuangan.

6. 2) Subbidang irigasi adalah Balai Wilayah Sungai. 2. IV. Pencapaian sasaran. 4) Subbidang Sanitasi adalah Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.1. 7. terdlrt atas Tim Koordinasi Provinsi dan Balai/Satuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-rnasing subbidang yaitu : 1) Subbidang jalan adalah Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ). Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.2. Pelaksana Pemantauan dan Evaluasi V. 3) Subbidang prasarana air minum adalah Satuan Ketja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. Pemantauan Pelaksanaan pemantauan dari segi teknis oleh Kementerian Peketjaan Umum terhadap kegiatan yang dibiayai oleh DAK Bidang Infrastruktur dilakukan secara betjenjang oleh Tim Pemantau sebagai berikut : a) Tim Pemantau Kementerian. 2. V.1.3.1. Evaluasi Pelaksanaan evaluasi pemanfaatan/kinerja DAK Bidang Infrastruktur dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum melalui Tim Koordinasi Kementerian dengan dibantu oleh : 76 . Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. PEMANTAUAN DAN EVALUASI V. 3. b) Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal dikoordinir oleh Direktorat Bina Program. Memastikan pelaksanaan DAK di daerah tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan penatapan alokasi DAK dan petunjuk teknis.Ruang Lingkup Ruang lingkup pemantauan. 4. V. 5. Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. terdiri atas Tim Koordinasi Kementerian dan Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal. evaluasi dan penilaian kinerja adalah: 1. Mengidentifikasi permasalahan yang muncu! dalam peJaksanaankegiatan dalam rangka perbaikan pelaksanaan DAK tahun betjalan. Kepaturan dan ketertiban pelaporan. c) Tim Pemantau Provinsi. Evaluasi dan Penilaian Klnerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan. hasll dan kemanfaatan kegiatan yang dilaksanakan.1.1. Kesesuaian hasil pelaksanaan kegiatan dengan dokumen kontrak/spesifikasi yang telah ditetapkan.

77 . hasil dan kemanfaatan Evaluasi dan Penilaian Kinerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan.2. Kepaturan dan ketertiban pelaporan. c) Tim Teknis Direktorat sanitasi. b) Tim Teknis kabupaten. Kabupaten/Kota melakukan pemantauan secara berkala. • • Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan Kesesuaian hasil pelaksanaan perundangan yang ber!aku.2.2.L Pemantauan V. dokumen kegiatan dengan kontrak/spesifikasi • • • yang telah ditetapkan.LL Tim koordinasi kabupaten/kota secara melakukan berkala pemantauan yang meliputi pelaksanaan hal-hal OAK oleh SKPO Kabupaten/Kota sebagai berikut: • • • Kesesuaian paket pekerjaan dengan Rencana Kegiatan (RK) Proses pengadaan paket pekerjaan tersebut Proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang meliputi antara lain: rencana dan reallsasi fisik & keuangan • Rencana dan realisasi kemanfaatan TIm koordinasi Provinsi berkoordinasi dengan Tim Koordinasi V.L2.2. Jenderal Cipta Karya I untuk sub bidang air minum dan Oirektorat Jenderal Sumber Oaya Air.2. untuk sub bidang irigasi V. dan TIm Koordinasi KabupatenjKota melakukan pemantauan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V. Tim koordinasi Kementerian berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Provinsi pelaksanaan OAK secara berkala.2.2.1.3. • Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan.1. kegiatan yang dilaksanakan.2. Pencapaian sasaran. DAK disampaikan oleh Gubernur kepada Laporan hasil evaluasi pelaksanaan Menteri cq Sekretaris Jenderal empat belas (14) hari kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi V. Evaluasi V.a) Tim Teknis Direktorat Jenderal Bina Marga.2. Tim koordinasi Provinsi melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oIeh SKPD laporan Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan triwulan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: • Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. untuk sub bidang jalan Provinsi/Kabupaten/Kota. pelaksanaan DAK o!eh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V.

Tim koordinasi Kementerian melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oleh SKPD Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan hasil evaluasi oleh Tim Koordinasi Provinsi dan laporan triwulanan.1 secara semesteran yang disampaikan pating lambat 14 (empat belas) had kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. Nilai < 60 Klasifikasi Penilaian Akhir : Nilai > 80 = Balk.80% sesuai < 60% sesuai > 80% sesuai 60% .V.2.1. VI.Teknis/ Dokumen kontrak Pencapaian Sasaran Kegiatan Oampak dan Manfaat (Rerata a -d) Kepatuhan dan Ketertiban Pelaporan (empat triwulan) a b c 20 15 d 15 e 15 > 80% kegiatan 60% . VI.80% sesuai < 60% sesuai progress fisik >80% progress fisik 60% . Tim Koordinasi Kementerian Tim Koordinasi Kementerian melakukan penilaian kinerja Provinsi dan KabupatenjKota penerima OAK yang meliputi Provinsi dan Kabupaten/Kota penerima DAK.2.80% progress fisik <60% >80% 60% . Tabel6.80% <60% 4 Triwulan dan lengkap 2 .80% kegiatan < 60% kegiatan > 80% sesuai 60% .1 No Aspek Penilaian Kinerja PemanfaatanDAK Sobot 0/0 20 Peniiaiall Nila.i Angka 10 6-8 <6 Huruf Baik Cukup Buruk Balk CukuQ Buruk Baik Cukup Buruk Baik Cukup Buruk Baik CukuQ_ Buruk Baik Cukup Buruk Aspek Penilaian Dukungan kegiatan terhadap Program Prioritas Nasional Kesesuaian Rencana Kegiatan dengan arahan pemanfaatan OAK Kesesuaian pelaksanaan fisik dengan Spek.PENlLAIAN KINERJA VI.2.3 Triwulan dan lengkap 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 f 15 o100 1 Triwulan dan lengkap TOTAL Nitai Total = [20% * Nilai (a) + 20% * Nitai (b) 15% * Nilai (e) + 15% * Nilai (f)] + 15% * * Nilai (c) + 15% * Nilai (d) ::= + 10 Cukup.2. Tim koordinasi Provinsi Provinsi Tim koordinasi Provinsi melakukan penilaian kinerja Kabupaten dan Kota penerima DAK berdasarkan aspek penilaian kinerja pada Tabel 6. Nilai 60-80 = Buruk 78 .

.~ Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) Hasil Pemantauan dan Evaluasi Klnerja (Semestera n) r ... Sekretaris Jenderal Gambar 6.Mekanisme MENTERI cq.--------1 I I I Bappeda ------Dinas Teknis 1 Tim Koordinasi Kab/Kota I I ---------------. ..--I I ._ ___..=K=a=b=/K=o=ta=. - - - - - ---I I : i Tim Koordinasi Provinsi sappedal BaIO::~::ker I DinasTeknis --------~~-------Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~====S=K=p=D=p=r=O=v=in=s=i ====rW~ BUPATIJWALIKQTA Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) .....--.valuasi Kinerja (Semesteran) r. Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~c==S=K=P=D=. Tim Koordinasi Kementerian Tim Teknis Sb Irigasi I 1 1 I--I--~ Tim Teknis Sb Sanitasi _I 1 1 I I GUBERNUR I Hasil Pemantauan dan E..====~~ 79 .-_.- L..-Tim Teknis Sb Jalan Tim Teknis Sb Air Minum -- .1 Pemantauan dan Evaluasi .

.. ...lII: ..t"l C (I) I! Dl m (fl ...:.. C CO :::l :J 0 00 I <:.t " ~ .0 .... ~ ~ ti~ II I! .......... .--I .: 'ii ca U"l "iii CO "~ en en . e ilJ 0 N ....lII: \0 c CO ""15 .. CO ""CI c co :......:>L. .:c IZ~ tV ID IX ro OJ OJ :s ~ c( ~ . .:... 2 "iii c co .. CD ~ ee c = a: .o I/) ::I . ra z Z 0 e !'II . c 0 ::.._.......::.~ III ::::I C {! CK:ji ii C ID m~ I:n ... ::I . 1lIC'1 =r: tft r-. N A..J ~ 0"1 0 "-' ::::II J: ~ ..J V e I'D ~ = M I'D CD C fa III CD .c c ~c ::::II ....::: . ca III I.L S :c C :IIi'! 0 'iii i U'I c \0 .... " 19 CO '...

.:: Ilc .j en" J-~ oW :::I 00 'iii '....-I I ..... ._ a c: c. 1E '6 c: "0 ro ta 0..- 0. ~ r: ... . 0 ..' ~..1.- G 1! v ~c c..~ 1VCl' IV~ > ..(1) '1'1 1111 '&'C C j:: 0loi c'= CUI.! N z .5 IV r: co ~i ~Q. r: ftI GTU)i ~~ ._ me....!.c s :=.. Z laJ E CIJ lao....::: CIJ e ~ ~ r: ~ 0 N ..: rt'l ~s ~g... c: LrI .!!! 0. '--' ~ r: % r:~ . Ia CIJ ~ ... IV gse 01 01 co . (g§ 0.1.

!!! · · III · ::E: ::::> :2: ::::> z ~ IZ c:[ 0 ~ ::2 LU L.-.o N CL.. .. c <II X i· III Vl . ..c: z i J I) . 0::: ~ w e 0 . £~ 1:L.~ III~ Z 1'1:1 E .. e X '$ -e CL. 'c ::I "III <II ...c CL.. . ~ ~ .. c ~ ~ • ftj ~ ~ C' al !!I 'iii ~ !!IIIL----... C z N 00 .5 .... ~III 111'- -c A.U LU £l ~ 0:: ~ a..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful