MENTERI PEKERJAAN REPUBUK

UMUM

INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANGINFRASTRUKTUR

Daftar lsi
Hal.
Peraturan Menter; Pekerjaan Umum NO.15jPRTjMj2010 Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Lampiran - 1 Lampiran - 2 Lampiran - 3 Lampiran - 4 Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Jalan Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Irigasi Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Air Minum Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Sanitasi Lingkungan Masyarakat. Mekanisme Pelaporan Pemantauan, Evaluasi dan Penilaian Kinerja Berbasis .. . .. Tentang Petunjuk Teknis 1 .. .. .

11

23 35
45

Lampiran - 5 Lampiran - 6

57 75

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER! PEKERJAAN UMUM NOMOR: 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA

MENTER! PEKERJAAN UMUM, Menirnbang a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 59 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Menteri Pekerjaan Urnurn telah menetapkan Peraturan Menteri Pekerjan Umum Nomor 42/PRTjM/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang da!arn pelaksanaannya sudah tidak sesuai lagi; b. bahwa dengan adanya perubahan organisasi Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/Mj2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur, perlu dilakukan penyempurnaan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perirnbangan (Lernbaran Negara Republik Indonesia Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Republlk Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah KabupatenjKeta (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomer 4737); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nemor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 2010 tentang

Mengingat

1.

2. 3.

4.

5. 6. 7.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84jP Tahun 2009; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum; 1 tentang

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

PERATURAN MENTERl TEKNISPENGGUNAAN INFRASTRUKTUR.

PEKERJAAN UMUM TENTANG PETUN1UK DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG

BABI KETENTUAN UMUM Pasall
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. 2. Menter] adalahMenteri Pekerjaan Umum. 3. Kementerian adalah Kementerian Pekerjaan Umum. 4. Unit Kerja Eselon 1 adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Bina Marga, dan Dkektorat Jenderal Cipta Karya di Kementerian Pekerjaan Umum. 5. Bidang Infrastruktur adalah kegiatan yang rneliputi Subbidang Jalan, Subbidang Irigasi, Subbidang Air Minum, dan Subbidang Sanitasi. 6.. Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya disebut DAK Bidang Infrastruktur, adalah dana yang bersumber dari APBN yang dlelokaslkan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk rnembantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional khususnya untuk membiayai kebutuhan prasarana dan sarana Bidang Infrastruktur masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. 7. Satuan disebut kepada Alokasi Kerja Perangkat Daerah Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya SKPD DAK adalah organisasijlembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab Gubernur/BupatijWalikota yang menyelenggarakankegiatan yang dibiayai dari Dana Khusus Bidang Infrastruktur.

8. Efisiensi adalah dersjat hubungan antara barang/jasa yangdihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumberdaya untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output) 9. Efektifitas adalah ukuran yang menunjukkan hasll/rnanfaat yang diharapkan seberapa jauh program/kegiatan mencapai dapat

10. Kemanfaatan adalah kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) diselesaikan tepat waktu, tepat lokasl, dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal

11. Keluaran (output) adalah baranq/jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dllaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan

12. Hasil (outcome) adalah seqala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari Ikegiatankegiatan dalam satu program 13. Periode pelaporanakhir triwulan pertama adalah 31 Maret, triwulan kedua adalah 30 Juni, triwulan ketiga adalah 30 September, triwulan keempat adalah 31 Desember.

Pasal2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Kementerian, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaiksanaan, pemantauan dan evatuasi, penllaian kinerja, pemanfaatan serta pembinaan dari segi teknis terhadap kegiatan yang dibiayai melalui OAK BidanglIntrastruktur; (2) Tujuan disusunnya petunjuk teknis lnl untuk: 2

Subbidang Jalan meningkatkanintegrasi daerah potensial. dan pariwisata. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. (3) Ruang IIngkup pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi perencanaan dan pemrograman. dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: fungsi jaringan jalan. persampahen. (2) Melakukan evaluasi dan sinkronisasi atas usulan Reneana Kegiatan (RK) dan perubahannva. pengendalian. dan penentuan lokasi kegiatan yang akan ditanga_ni. serta mensinergikan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan kegiatan prioritas nasional. pelaporan keqlatan/fisik dan keuangan. (3) Berdasarkan penetapan al. mempertahankan tingkat pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) di provinsi dan kabupaten/kota guna mendukung program ketahanan pangan. dan dinas teknis di kabupaten/kota dalam pelaksanaan. PemerintBh Kabupaten/Kota. c. dan pembinaan teknis kegiatan yang dlbieyai dengan DAK Bidang Infrastruktur. b. Rencana Kegiatan (RK) b. pelaksanaandan penqelolaan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi. koordlnasl penyelenggaraan. yang menjamin terlaksananya koordinasi antara Kementerian. d. dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dl perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. yang memenuhi kriteria prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2). penyusunan pembiayaan. Penyusunan penyaringan. Gubernur/Bupati/Walikota penerirna DAK Bidang Infrastruktur membuat Reneana Kegiatan (RK) secara partisipatif berdasarkan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Subbidang Sanitasi memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah. monitoring dan evaluasi. b. Subbidang Irigasi. mendukung akses-akses ke pengembangan Prioritas nasional sebaqalmana a. meningkatkan terrsolast dan terpeneil.AB II DAN PEMROGRAMAN Pasal3 membantu Kementerian melalui Unit Kerja Eselon 1 terkalt untuk masing-masing subbidang proses pereneanaan kegiatan yang dibiayal DAK Bidang Infrastruktur daJam hal: a. pemantauan. (4) 3 . Pembinaan teknis dalam proses pendampingan dan konsultasi. pelaksanaan. dan eakupan pelayanan sanltasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di kabupaten/kota.a. pengelolaan. tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan. membuka daerah kawasan perbatasan. dinas teknis di provinsi. penyusunan dalarn bentuk c. dan meningkatkan kinerja prasarana dan sarana bidang lnfrastruktur seperti kinerja jalan provinsi/kabupaten/kota. e. Merumuskan krlterla teknis pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. terkait kesesuaiannya dengan prioritas nasional. sistem penyediaan air minum kepada perkotaan dan di perdesaan termasuk d .. menjamin tertib pemanfaatan.. pemantauan. PERENCANAAN (1) B. Kementerian terkalt. Rencana Kegiatan (RK) harus memperhatikan tshapan penyusunan program. serta penilaian kinerja.okasi DAK darl Menteri Keuangan. meningkatkan cakupan pelayanan air minum. Subbidang Air Minum memberikan akses pelayanan masyarakat berpenghasilan rendah di kawasankumuh daerah pesisir dan permukiman nelayan. kinerja pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) yang merupakan kewenangan provtnsl/kabupeten/kcta.

c. untuk menjamtn keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dHaksanakan secara terpadu Pemerintah provinsl harus menyusun Jalan dan Subbidang IrigasL RPDM Bidang Infrastruktur khususnya untuk Subbidang untuk (2) (3) (4) (5) Pernerintah Kabupaten/Kota harus menyusun RPUM Bidang Infrastruktur khususnya Subbidang Jalan. Irigasi. d. pemerintah daerah. Tingkat kerawanan air rninum. RPIJM adalah rencana dan program investasi pembangunan infrastruktur tahunan dalam periode tiga hingga lima tahun. Lampiran 2. Penyusunan Infrastruktur Rencana Kegiatan dan Usulan Perubahannya yang telah disepakati. Kondisi Luas Daerah Irigasi. Luas Daerah Irigasi (termasuk b. Pasal 4 (1) Dalam rangka menslnergikan dan mensinkronisasikan proqram-prooram Bi.untuk Subbidang. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri lnl. Panjang jalan. Subbidang Air Minum. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum. dan Kriteria Teknis untuk prasarana sanitasi. ke Unit Kerja Mekanisme perencanaan dan pemroqrarnan untuk maslno-mastno subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbldang Jalan. reklamasi rawa): alokasi DAK adalah Kriteria Teknls yang meHputi: Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk prasarana Jalan diutamakan untuk program Konektivitas Domestlk yang mempertlmbangkan antara lain . (2) Kriteria Teknis untuk prasarana jalan. Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah. Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi (terrnasuk jaringan Kriteria Teknis untuk prasarana air minum. Kondisi panjang jalan mantap dan tidak mantap. balk yang dilaksanakan Pemerintah. peraturan. b. b. daerah jaringan reklamasi rawa): Irigasi (4) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c untuk prasarana Air Minum diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi. (5) (6) pelaksanaan yang berpedoman pada standar.dang Infrastruktur. Subbidang Irigasi. maupun oleh masyarakatjswasta. pemerintah daerah harus menyusun Rencana dan Program Investasi Jangka.: a. b. Menengah (RPIJM) Bidang Infrastruktur.. sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. harus mengacu pada RPIJM Bidang Pasal 5 (1) Salah satu komponen dalam menentukan a. dan Subbidang Sanitasi. (3) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk prasarana diutamakan untuk program ketahanan pangan yang mempertimbangkan antara lain: a. yang harus mengacu pada rencana tata ruang. 4 .dan ketentuan yang Rencana Kegiatan (RK) dan usulan perubahannya terlebih dahulu dikonsultasikan Eselon 1 dan/atau Dinas Provins! terkait dengan prioritas nasional .serta metoda berlaku.

Memberikan saran. kepada Menteri Keuangan terkait (3) Biaya operasional Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Satuan Kerja di masing-masing Unit Kerja Eselon 1 dan Biro Perencanaan dan KLN. Menyusun petunjuk teknis penggunaan DAK Bidang Infrastruktur. Kementerian Keuangan. Membantu pelaksanaan sosiallsasi. d.(5) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d untuk prasarana Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (6) Kriteria Teknis lain untuk masing-masing Subbidang disesuaikan dengan Rencana Kerja Pemerintah pada tahun berjalan dan dibahas dalam Trilateral Meeting antara Bappenas. dan selai/satuan Kerja Pusat yang ada dl daerah terkait. dinas teknis terkait. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK subbidang terkait. Menyiapkan laporan tahunan Kementerian penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur. yang terdiri dari unsur 8appeda provinsi. yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal. (3) Biaya operasional Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada masingmasing unit Eselon 1 terkait. 5 . Cakucan pelayanan sanitasi. b. Memfasilitasi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur oleh daerah. dan Kementerian Teknis. dan c. masukan. Pasal 8 (1) Gubernur membentuk Tim Koordinasi Provinsi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provlnsl. Kerawanan sanitasi. Menyiapkan dan menyampaikan laporan tahunan subbidangnya. maupun rekomendasi kepada Menteri dalam mengambil kebijakan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur. c. e. disernlnasi. b. Pasal7 (1) Unit Kerja Eselon 1 terkait masing-masing subbidang membentuk Tim Teknis Penyelenggaraan OAK subbidang terkait. b. Inspektorat Jenderal. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap pelaksanaan OAK pada subbidang terkait. Memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi dan konsultasi serta pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK Bidang Infrastruktur. BAB III KOORDINASIPENYELENGGARAAN Pasal 6 (1) Menteri membentuk Tim Koordinasi Kementerian Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. dan Unit Kerja Eselon 1 terkait. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.

jawab Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Memberi masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. Tugas dan tanggung (1) meliputi: a. (3) Pe!aksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dima. Subbidang Sanitasi oleh Satuan Kerja Pengembangan di provinsi yang bersangkutan . c. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. semesteran. d. Subbidang Air Minum oleh Satuan Kerja Pengembangan provinsi yang bersangkutan. 6 . yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. oleh Satuan Kerja Perencanaandan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) di provinsi yang bersangkutan. dan menyampaikan kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provinsi dan tingkat Kementerian. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait. dan menyampaikannya kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian sebagaimana mekanisrne pelaporan dalarn Peraturan Menteri ini. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait sebagaimana mekanisme pelaporan dalam Peraturan Menteri tnt. diseminasi. dan tahunan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur di kabupatenjkota sesuai kewenangannya. dan pelaksanaan Infrastruktur Menyiapkan laporan triwulanan.. Menyiapkan laporan triwulanan.. Melaksanakan kabupatenjkota pemantauan terhadap yang bersangkutan. dan pembinaan DAK pelaksanaankepada Bidang daerah di Membantu pelaksanaan sosialisasi. b. Membantu pelaksanaan sosialisasi. terdiri dari unsur Bappeda kabupatenjkota dan dinas teknis terkait.(2) Tugas dan tanggung meliputi: a. d. dan tahunan terkait penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur di provinsinya. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah b. Pasal 9 (1) BupatljWalikota membentuk Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat kabupaten/kota.ksud pada ayat (1) dibantu oleh BalaijSatuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-masing subbidang sebagai berikut : a. (4) Subbidang Jalan oleh Balai Besar/Ba:lai Pelaksanaan Jalan Nasional cq. Memberikan saran dan masukan atas Rencana Kegiatan provinsi dan kabupatenjkota kepad'a Tim Koordinasi Infrastruktur tingkat Kementerian. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap Bidang Infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota: d. Memberikan jawab Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan OAK Bidang Infrastruktur. diseminasi. dimaksud pada (3) Pelaksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana ayat (1) dldukung SKPO OAK di kabupatenjkota yang bersangkutan. Kinerja Pengelolaan Ungkungan Air 'Minum. c. b. di Permukiman Penyehatan Biaya operasional Tim Koordinasl Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah dan pemermtah provinsl sesuai dengan kewenangannya. Subbidang Irigasi oleh Balai Wnayah Sungai atau Satuan Kerja Pengeiolaan Sumber Daya Air terkait di Provinsi yang bersangkutan. semesteran. Pelaksanaan OAK (RK) yang disusun pemerintah Penyelenggaraan DAK Bidang e. c.

(termasuk jaringan reklamasi rawa) untuk kegiatan rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan. atau untuk mencapai pelayanan maksimum yang pernah dicapai. BABV TUGAS DAN TANGGUNG lAWAB PELAKSANAAN KEGIATAN Pasal 11 (1) SKPO OAK Bidang infrastruktur bertugas melaksanakan kegiatan yang dananya bersumber dari OAK Bidang Infrastruktur sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Prasarana air mlnum. Kegiatan operasi dan pemeliharan (OP) tidak didanai dengan OAK Bidang Infrastruktur. Peningkatan sistem jaringan irigasi untuk meningkatkan fungsi dan kondisi atau menambah luas areal pelayanan jaringan yang sudah ada. d. Pada daerah Rawa tidak ada kegiatan peningkatan jaringan reklamasi rawa. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BABS). Recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan Iingkungan. untuk kegiatan mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum Terbangun (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru Sistem Penyediaan Air Minum non-POAM bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa-desa rawan air minum dan kekeringan. (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan diatur pada Petunjuk Teknis untuk masing-masing subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbidang Jalan. pemeliharaan berkala/rehabllltasl jembatan. Prasarana jalan. untuk kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) yang priontas pertamanya untuk kegiatan pengembangan prasarana dan sarana air timbah komunal berbasis masyarakat dalam rangka menghllangkan kebiasaan masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS). penggantian jembatan. (2) 7 . yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum.(4) Biaya operasional Tim Koordinasi Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada pemerintah kabupaten/kota. Lampiran 2 untuk Subbidang Irigasi. BABIV PELAKSANAAN DAN CAKUPAN KEGIATAN Pasal 10 (1) OAK Bidang Infrastruktur diarahkan untuk membiayal kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang menjadi kewenangan daerah yang merupakan program prioritas nasional Bidang Infrastruktur. Sedangkan rehabilitasi merupakan kegiatan perbaikan sistem jaringan Irigasi guna mengembaflkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti desain semula. Ruas jalan provinsi dan kabupaten/kota yang dapat ditangani adalah ruas-ruas jalan sebagaimana telah ditetapkan atau dalam proses penetapan keputusan gUbernur/bupati/walikota tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan sebagai Jalan Provinsi dan Jalan kabupaten/kota: b. Prasarana irigasi. maka prioritas kegiatan selanjutnya untuk pengembangan fasilitas pengurangan sampah berbasis masyarakat dengan pola 3R (Reduce. meliputi: a. untuk kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan. Prasarana sanitasi. c. Reuse. peningkatan jalan. KepaJaSKPD OAK Bidang Infrastruktur bertanggung jawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayal dari OAK Bidang Infrastruktur. dan penyelesaian pembangunan jalan/jembatan.

P·asal14 (1) (2) Kepala SKPD Provinsi dikelolanya. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK yang Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dan Balai/Satker terkait. Hasil pemantauan sebagaimana dalam bentuk laporan triwulanan. Pasal15 (1) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota menggunakan laporan triwulanan 13 Ayat (2). pelaksanaan program pelaksanaan meliputi Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya.BABVI PEMANTAUAN. Kepala SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dilakukan terhadap: (a) kesesuaian dan pelaksanaan Rencana Kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja sete!ah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPO Provinsi dan BalaijSatker dengan tugas dan kewenangannya sama. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERlA Pasal12 (1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. dampak dan manfaat kegiatan yang dllaksenekan. BupatijWalikota melakukan pemantauan pelaksanaan DAK yang meliputi dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pasal16 (1) Kepala Bappeda Provinsi menyusun laporan triwulanan dengan menggunakanlaporan triwulanan provinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan laporan triwulanan kabupatenjkota sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2). 8 . menyusun laporan SKPD Kabupaten/Kota triwulanan KabupatenjKota dengan sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh BupatijWalikota kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. (c) kesesuaian hasil pelaksanaan fisik dengan dengan kontrak/spesitlkasi teknis yang ditetapkan. (b) proses pelaksanaan pengadaan barangjjasa. (d) pencapaian sasaran. (e) efisiensi dan efektifitas kegiatan. dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) disusun (7) Pasal13 (1) (2) Kepala SKPO Kabupaten/Kota yang dikelolanya. pelaksanaan (2) (3) (4) (5) (6) Gubernur melakukan pemantauan dan evaJuasi pelaksanaan DAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Cf) kepatuhan dan ketertiban pelaporan.

Pasal 17 Mekanisme pelaporan dan format laporan pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 5 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Menteri Dalam Negeri. Penyimpangan dalam pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. dan Dewan Perwakilan Rakyat. yang akan dituangkan dalam laporan Menter. b. Gubernur melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap pelaksanaan Dana Alokasi Khusus yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pasal18 (1) Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan (efisiensi. keuangan DAK 9 . Daerah. Menteri melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap Infrastruktur.(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Gubernur kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderai dengan tembusan Direktur Jenderal terkait paling lambat 14 (em pat belas) hari ketja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir.Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas. dan (3) di atas digunakan untuk menilai kinerja pelaksanaan Dana Alokasi Khusus di. (2). efektivita 5/ kemanfaatan dan dampak) berdasar output dan indikator kinetja kegiatan. c. Pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur yang tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri ini dapat berakibat pada penilaian kinerja yang negatif. Hasil evaluasi dimaksud pada ayat (I). Pasal21 Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dilakukan oleh instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Evaluasi dilakukan terhadap program prioritas nasional untuk menilai keberlanjutan suatu program. Kinetja penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur akan dijadikan salah satu pertimbangan dalam usulan pengalokasian DAK oleh Kementerian pada tahun berikutnya. Pasal20 Mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 6 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Evaluasi pelaksanaan Rencana Kegiatan dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dan dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun pelaksanaan kegiatan Dana Alokasi Khusus. ke Menteri Keuangan. pelaksanaan DAK Bidang (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pasal19 Peniiaian kinerja untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan DAK Bidang Infrastruktur meliputi: a. Gubernur menyampaikan laporan hasil evaluasi dan penilaian kinerja kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

(2) Bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat dinyatakan secara resmi oleh Kepa!a Daerah terkait. ttd DlOKO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASIMANUSIA KIRMANTO PATRIALIS AKBAR 10 .BABVII. setetah sebelumnya mengajukan usulan perubahan dan mendapat persetujuan tertulls dariMenteri Keuangan dan Menteri. KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal22 (1) Dalam hal tetjadi bencana alam. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 23 Dengan ditetapkannya peraturan Menteri ini. daerah dapat mengubah peng:gunaan DAK untuk keqiatan dl luar yang telah diatur dalam Peraturan Menter! Keuangan dan Petunjuk Teknis lnl. merupakan bencana alam yang (3) Perubahan penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang dalam bidang yang sarna dan tidak mengubah besaran alokasi DAK pada bidang tersebut. Peraturan Menteri nomor 42jPRT/Mj2007 tentang Petunjuk Teknls Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. (1). (4) Persetujuan iMenteri Keuangan dan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. 01 November 2010 MENTER! PEKE'RJAANUMUM. Pasal24 Peraturan 'Menteri ini mula! berlaku pada tanggaJ diundangkan.

Undang Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Tahapan penanganan jalan meliputi: • provinsi dan kabupatenjkota dalam pemanfaatan OAK. Pasal 23 Undang Undang No. mulai dari proses perencanaan dan pemrograman. digunakan sebagai acuan hukum dalam kaitan pembagian wewenang antara Pemerintah (Pusat) dengan Pemerintah KabupatenjKota. Pelaporan Peniiaian kinerja 11 . Penyusunan Daftar Ruas Jalan Prioritas. 3. Dengan demikian diharapkan peJaksanaanpenanganan infrastruktur Subbidang Jalan dapat menghasilkan kualitas sesuai umur rencana yang. PENDAHULUAN L 1. Pasal 14 Undang Undang No. perencanaan teknik.LAMPIRAN1: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PETUNlUK PELAKSANAAN SUBBIDANG JALAN I. jalan provinsi. Petunjuk Teknis Subbidang Jalan disusun untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan pelaksanaan OAK. 34 Tahun 2006 tentang Jalan. jalan kabupaten dan desa serta jalan kota. • • • • Perencanaan Teknis Jalan Pelaksanaan Konstruksi Monitoring dan Evaluasi Pelaksaaan. (2) pembinaan secara umum antara lain pemberian sosialisasl. Kegiatan Pemograman dan penganggaran terdiri atas: 1. (3) pembangunan secara umum antara lain kewajiban penyelenggaraan jalan memprioritaskan pemeliharaan jalan. Penyusunan Program Penanganan. Penyusunan Daftar Ruas Jalan. 4. 2. 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyatakan bahwa wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan jalan meliputi penyelenggaraan jalan nasional dan penyelenggaraan jalan secara umum yang mencakup (1) pengaturan secara urnum. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Jalan Bantuan Dana Alokasi Khusus ini sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur. Penyusunan Rencana Kegiatan (RK). 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta Peraturan Pemerintah No.diharapkan. pelaksanaan konstruksi. menyatakan bahwa Pembinaan Jalan Umum meliputi pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional. antara lain penyusunan petunjuk teknis. sampai dengan proses monitoring dan evaluasi.

Pembangunan Jalan adalah kegiatan membangun jalan tanahjjalan setapak menjadi standar jalan minimum sesuai dengan tlngkat kebutuhan lalu lintas dan sesuai dengan standar/pedoman yang berlaku. Pengawasan Jalan adalah kegiatan yang dilakukan pengaturan. di bawah permukaan tanah danjatau air. tertib dalam pelaksanaan dan tepat sasaran. dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan. 8. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah sebagai acuan dan pegangan bagi para pelaksana dan pihak terkait lainnva dalam penyelenggaraan kegiatan Subbidang Jalan. 2. Ruang Llngkup Petunjuk Teknis ini memuat tata cara pengelolaan jaringan jalan mulai dari perencanaan pemrograman. 104. Pengertian 1. yang berada pada permukaan tanah. Pemeliharaan Rutin CPR) adalah Kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakankerusakan yang terjadi pada ruas-ruas jalan dengan kondisi pelayanan mantap. perencanaan teknis. pelayanan. kecuali jalan kereta api. 11. serta penelitian dan pengembangan jalan. 9. pelaporan sampai dengan evaluasi dan penilalan kinerja pengelolaan jaringan jalan. 1.1. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan dengan pelebaran perkerasan. jalan lori. agar kondisi kemantapan tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan rencana. penyusunan perencanaan umum. 6. agar penurunan kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan rencana. pelaksanaan. 10. Tujuan Petunjuk Teknis ini bertujuan untuk menjamin pelaksanaan/pengeiolaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan sesuai dengan ketentuan. dan pengawasan jalan. Pembangunan Jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran. pemberdayaan sumber daya manusia. pembinaan. baik menambah maupun tidak menambah jumlah lajur. 4. pelaksanaan konstruksi. serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Peningkatan Jalan (PK) adalah kegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan ruas-ruas jalan dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas jalan tersebut dalam kondisi mantap sesuai dengan umur rencana. serta dl atas permukaan air. rneltputl pengaturan. pembinaan.5. 1. Pemeliharaan Berkala (PM) adalah kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain. perencanaan teknis. 12 . termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. 5. Penyelenggaraan Jalan adalah kegiatan yang pembangunan. yang berakibat menurunnya kondisi kemantapan pada bagianjtempat tertentu dari suatu ruas jalan dengan kondisi rusak ringan. dan pembangunan [alan: untuk mewujudkan tertib 7. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang rnellputi segala bagian jalan. 3. Pengaturan Jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan. di atas permukaan tanah. Rehabilitasi Jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain.2.3. dan jaJan kabel. Pembinaan Jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis.

• Rehabilitasi. adalah menyusun daftar ruas jalan provinsi serta. Penentuan nilai RCI berdasarkan jenis permukaan dan kondisi seeara visual dapat dilihat pada tabel berikut: 13 . Penyusunan Program Penanganan Petunjuk Teknis ini. • Pembangunan. penanganan daerah rawan beneana serta pendukung pengembangan kawasan perbatasan. e e penanganan jalan provinsi yang merupakan akses ke jalan nasional atau strategis nasional. untuk provinsi maupun kabupaten/kota.1. • Peningkatan. Penentuan program penanganan jalan provinsi 1.1. 11. Penyusunan Usulan Ruas Jalan Prioritas Penyusunan ruas jalan prioritas jalan provinsi dan kabupaten/kota.Ol (terlampir). yang dimaksudkan adalah prioritas nasional dengan mempertimbangkan aspek-aspek: • Prioritas nasional. terpeneil. 2. menjelaskan pemanfaatan anggaran penyusunan program penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan.2. Langkah-Iangkah dalam penentuan program penanganan adalah sebagai berikut: A. • Prioritas Nasional untuk meningkatkan akses-akses ke daerah potensial.3. Penentuan Program Penanganan Program/kegiatan penanganan jalan ditentukan oleh tingkat kerusakan jalan. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN 11. Penyusunan Dafta r Ruas Jalan Provinsi serta Kabupaten/kota Tahap awal yang perlu dipersiapkan oleh Pelaksana Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota. • Penqqantian: • Pembangunan.1.1. Ruas-ruas prioritas yang ditangani diambil darl hasil keluaran program IRMS atau dapat menggunakan eara seperti pada butir 2. Klasifikasi program/kegiatan penanganan adalah: Penanganan Jalan • Pemeliharaan Berkala. meningkatkan integrasi fungsi jaringan jalan. penanganan jalan kabupaten/kota yang merupakan akses ke jalan provinsi atau strategis provinsi serta akses ke jalan nasional atau strategis nasional. 11. membuka daerah terisollr. Penanganan Jembatan • Pemeliharaan Berkala: • Rehabilitasi.II. sesuai form Data Dasar Prasarana Jalan dan Jembatan. n.1. Menentukan nilai ReI (Road Condition Index) dengan melakukan survey kekasaran permukaan jalan seeara visual dengan menggunakan form SKV. ruas kabupaten/kota.

Bl 5.:.£.69 4. Lapis tipis lama dari hotmix. Latasbum lama.24 -c Rei -e + 10 12 16 4 ::: IRl « __£_ ~ IRJ .~ _.27 2.c 3. 3. Penentuan program/kegiatan kondisi pada tabel berikut ini: penanganan suatu ruas jalan berdasarkan Tabell.. Hotmix tipis diatas PM Hotmix baru (Lataston. ~ 8 B B 8 B s 5 S R R R8 :: Rei" J. kondisi ruas 14 . Latasbum baru Lasbutaa baru Hotmix setelah 2 tahun.96 :: RC~2. Rei" :: Rei IRI Ke 10.10.000 .: « IRJ '" ::: IRI e. Rusak berat. batu kerikil PM setelah pemakaian 2 tahun.2 Penentuan Kondisi Ruas lalan dari Nilai RCI Lalu U ntas harian Rata-Rata T ahunan (LHRT) (dua I 'urduaarah) Rei Dari 7.000 3. permukaan ialan aaak tidak rata Baik Sangat 5-6 6-7 7-8 8 -10 balk.54 3 c IRI .000.!.71 3. 8.-:! 2~R. 4.53 RCI :: IRI" -. Lasbutag setelah pemakaian t:=lhlln Kondisi ditinjau secara visual Tidak bisa dilalui Nilai ReI 0-2 2. Penentuan program penanganan Jalan KabupatenjKota 1.54 0.000 B B 1. banyak 2-3 3-4 4-S lubanc Agak rusak.ZB 6. dan semua tipe nermukaan vana tidak Semua tipe perkerasan yang tidak diperhatikan sejak lama (45 tahun atau lebih) PM lama.91 3. Melakukan survey persentase kerusakan untuk menentukan jalan..::_ :: IRI e IRI'" --&25 _- -B 8 8 B B B S S e 5 5 S R R 5 5 5 R s -5 R R 5 J 20 < 0. Laston).61 . 1.94 ::: RCI 3.- RB RB RB R8 R8 Fe R8 R8 RB RB R9 R9 4. R R R R R8 R8 . lenis Permukaan Jalan tanah dengan drainase yang jelek. banyak lubang dan seluruh daerah loerkerasan Rusak bergelombang. permukaan tldak rata Cukup tidak ada atau sedikit sekali lubang.22 :: RCI -e. Penentuan kondisi ruas jalan berdasarkan matriks berikut: nilai RCI dan volumelalunntas Tabel 1. Peningkatan dengan menaaunakan lebih dari 1 lanls berdasarkan ada lubang.87 5.76 :: Rei'" -----'" 3. kadang-kadang 2 6.Tabel 1.24 3. 1.000 B 7.5 ::: IRJ e 0-50 8 B 50 -100 B B B B 100. Latasbum lama S.000 8 >10.1 Penentuan Nilai RCI No..m 6. Latasbum baru. umumnya rata Sangat rata dan teratur 3._ :: IRl ~ ___!_ 7.___!!_ AS AS AS - ! S B.94 : Ii 8 s R -~S B .74 < II B B B B I B B S :: Rei '" -c Rei < 4.3 Penentuan Program Penanganan lalan Provinsi Program Penanganan Pemeliharaan Rutin (PR} PemeHharaan Berkata /Rehabi Iitasi Peningkatan (PK) Pembangunan (PM) Kondisi Baik (B) Sedang (5) Rusak (R) Rusak Berat eRB) - B.200 200-300 B B B 300-1..5 7. PM baru.3. 7.

Penentuan program/kegiatan penanganan suatu ruas jalan atas dasar hasil survey persentase kerusakan dengan batasan-batasan di bawah ini: Tabell. tentang Jalan. kemudian. Untuk pekerjaan pelebaran melebihi ketentuan di atas harus disertai dengan justifikasi teknis dan mendapat persetujuan dari SNVT P2JJ setempat. Rencana Kegiatan (RK). panjang fungsional untuk panjang efektif/fungsional (APBD) minimum pad a Lampiran 10%. Untuk optirnalisasi bantuan DAK Subbidang Jalan maka kegiatan peningkatan [alan yang berupa pelebaran jalan menjadi persyaratan minimal lebar jalur lalu lintas yaitu 5. berisi informasi-informasi: • Kegiatan kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi. 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006. Tabel Rencana Kegiatan DAK (Rupiah) dan dan oleh dinas untuk jalan • Tujuan/Sasaran • Volume • Satuan Biaya • Dana Pagu Format Rencana Subbidang Jalan.2. apabila terdapat kerusakan 11. sesuai penjelasan pada bagian Pelaksanaan Konstruksi. 15 . Rencana Kegiatan. sedangkan lebar badan jalan untuk jalan provinsi adalah 9 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 7 meter.5 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 5. Jumlah.5 meter. karena RAB berisi penjelasan jenis-jenis pekerjaan yang termasuk dalam lingkup kegiatan yang diusulkan. pendamping Kegiatan dapat dilihat (m). target fungsional. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan CRAB).4 Penentuan Program Penanganan lalan Kabupaten/Kota Persentase Batasan Kerusakan <11% 11.lebar (km) harga satuan/km DAK. serta harga satuan. mengenai lebar badan jalan dan lebar jalur lalu lintas bahwa lebar badan jalan untuk jalan lokal/kabupaten adalah 7.5 meter untuk jalan lokal/kabupaten dan 7 meter untuk lebar jalur lalu lintas pada jalan provinsi.<23% Kondisi Baik (8) Sedang (S) Rusak (R) Rusak Berat (RB) Program Penanganan Pemeliharaan Rutin CPR) Pemeliharaan Berkala (PM) /Rehabilitasi Peningkatan (PK) Pembangunan >23% Catatan: Kegiatan Rehabilitasi dilakukan yang tidak diperhitungkan dalam desain. peningkatan pembangunan jalan serta pemeliharaan berkala/rehabilitasi penggantian/pembangunan jembatan usulan ruas mengacu prloritas nasional sesuai ketentuan Juknis panjang (km). dan Bupati/Walikota kabupaten/kota. target efektif.2. serta di sahkan oleh Gubernur untuk jalan provinsi. Sesuai Undang Undang No.<16% 16 . Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan ada!ah usulan program penanganan jalan yang disusun terkait. panjang efektif (km).

..rae::: Ul:. Z .. >U) Z < <2 X::5 CC< 'iii 'S. ~ ... :::. E w_ =-..-I ..S! fa . ftI fa %E ..!! ftI a. ::eftl:l I. ..... :I ftI""'. ra "... c ra c ftI :J ::::l a.en c l! :::II:: C ftI 0 .._. "Vi e E E c re fIJ .... -. "a 1-1 U) E .: .... e 0 Z .. CC CC '<T ! ra B C ..... VI fIJ a.. < " 2 Lrl ::E Q Do Z w :::II:: Q ~ 0 ...........::: (l) ..! C ...... ro D. 1-1 co :I . ftlCQ.::::l ::e M is C fIJ ....::1... c "5 0'1 c. :J ~ VI a........ ~ ¥:~ .... C ~ 0 Z z..... ra c aJ C aJ en CO "C' ~ (l) e. % = ::5 :l = .c II r-. N :s ::c ::E: a:I til ::. = e::: M E 0.... ..-I =:10 C "~ VI fIJ C .: . :5 :E ~ a:: ...

....CII LLI . Ia 1000 .2 w ~ ::::.. '. .::.. S ..... . Ia e. ::::..::: c:C Q ~ .. . :2: :E t:Q :3 ::c :t III co :'E ra .0 ~ 2 m ~~ a.:: >U') M E Z Ia Ia 1m C ':I c:CZ IX e a.!5! ra c: Ul co O II I'- ~ a .. ~~ cc ::J .- :EE ':1....: . lio=fI Ia ..a z " E Ia ~ 1-1 :E c:C IJ'l I~ 1-1 U') Z Q ~ e l- Ia 0 _..g vi ~ .. ::J '- ..e fa en c: ~ ...::: 0 Z .. «I ::::.!! :3 :E ':I 1"\ :::E: ~ ... ':I .B «I 0 Z U') = ti Ie ~ e.!: Ul 0 ..:::~ "" ::..__..:1a= Ul cn«l~ -M ~ Cl) CL 6 .. 3... g IX S .. Ia ...::: e «I e ~ 0'1 is 0 ::am ~ E ::J E => IX) 0. => a....c = o ~ M 'iii ~ e Z"" Cct olI :2::3 N ::::.-I => ::J ra Ul c ... 'C' c ro ro z laea... B Ia e r--.. c:C ...s cu .... r!! 0 ..S!! Ia e en (I) e «I e cu e. E 0. ...rg c 2 ro ...

PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI 111. sedangkan bantuan DAK jalan kota metropolitan dibantu oleh SNVT P2JJmetro. dll). Menunjuk Permen PU tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur mengenai Koordinasi Penyelenggaraan. Pelaksanaan Konstruksi III. permukaan perkerasan. III.Perencanaan Teknik Perencanaan teknis jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota didasarkan pada 5tandar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Pemeliharaan Berkala Jalan Merupakan pekeljaan perbaikan dan pembentukanjpelapisan ulang permukaan yang diperlukan untuk menjaga agar permukaan jalan selalu dalam kondisi baik. III. retak.3.6 (terlampir). maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik jalan atau jembatan. campuran aspal). Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan dengan mengacu pada: dapat a. meliputl jenis pekerjaan: a. Pada panjang efektif: • • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan 8elanja Negara dan perubahannva: c. d.3. ambias. 111.3.2. menjelaskan bahwa koordinasi penyelenggaraan dilakukan secara berjenjang. Daftar Standar dan Pedoman yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.1. Umum Setelah teralokasinya dana mulai dari Tingkat PusatjKementerian. Konstruksi Jalan III.6.t.2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. b. yang hasilnya menjadi acuan daJam pelaksanaan penanganan jalan.1. PembentukanjPelapisan ulang (agregat. 1. ]8 .2. Kegiatan Pemeliharaan Jalan Pekerjaan pemeliharaan jaian berpedoman pada Standar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum seperti Tabel 1. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. Khusus Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Subbidang Jalan di tingkat provinsi dibantu oleh Balai/SNVT P2JJ untuk bantuan DAK jalan provinsi dan kabupatenjkota. Kegiatan pemeliharaan berkaia. dana untuk penanganan jalan baik itu pemeliharaan danjatau peningkatan.III. Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan BarangjJasa Pernerintah.3. kemudian tingkat pemerintah provinsi.

jenis pekerjaannya a. Pada panjang fungsianal. amblas. • Pematongan rumput. adapun jenis pekerjaannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan yang terjadi. 19 . b.3. III. • Pelapisan permukaan perkerasan aspal.2. b.campuran aspal/ATB). retak. Pada daerah pelebaran : • Persiapan tanah dasar/subqrade (galianjtimbunan tanahjmaterial dan pembentukanjpemadatan). campuran • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. Pada panjang efektif : • Perbaikan permukaan perkerasan (Lubang. amblas. • Persiapan lapis pondasi diatas (agregat. perbaikanjpembersihan rambu/ perlengkaan jalan. Rehabilitasi Merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap jenis kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain.pembersihan ruang milik jalan. pemeliharaan rutin. campuran aspal/ATB). • Perataan/leveling aspaIjATB). Kegiatan Peningkatan Pekerjaan peningkatan jalan merupakan kegiatan penanganan jalan yang dapat berupa peningkatan/perkuatan struktur atau peningkatan kapasitas lalu lintas berupa pelebaran jalur lalu Iintas. • Penggantian. • Pelapisan permukaan aspal. Kegiatan peningkatan jalan. perkerasan lama (agregat. 2. tepi jalan dan b. Pada daerah perkerasan lama : • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang. rambu/perlenqkapan jalan. meliputi jenis pekerjan: a. dan pemadatan/ perkerasan lama • Perbaikan drainasejsaluran tepi jalan dan gorong-gorong. Pada peningkatan meliputi: jalan jenls pekerjaan dan pengecatan kegiatan seperti berupa pelebaran.dll). Pekerjaan peningkatan juga dapat berupa peningkatan dari jalan tanah ke jalan kerikil/jalan aspal atau dari jalan kerikilfagregat ke jalan aspal. • Penambahan material bahu jalan menyesuaikan permukaan perkerasan. dll): • Persiapan lapis pandasi diatas perkerasan lama (agregat. jenis pekerjaan seperti kegiatan pemeliharaan rutin.2. Pada panjang fungsional.• • • Perbaikan permukaan bahu jalan (penambahan material dan pemadatan/perataan): Pembuatan/Perbaikan dralnase/saluran gorong-gorongi Penggantian. retak.

j) Perbaiki longsor dan erosi tebinq. • Penggantian. perbaikan kerusakan pada jembatan (pilar. Lapisan permukaan jalan pada jembatan memerlukan penggantian secara berkala.3. Pemeliharaan Berkala Jembatan Pemeliharaan berkala mencoba untuk mengembalikan jembatan pada kondisi dan daya layan yang mempunyai atau seharusnya dipunyai jembatan segera setelah pembangunan dan mencakup tipe kegiatan dibawah ini. • Pemotongan rumput. d) Pemeliharaan pelekatanjlandasan. Kegiatan Pembangunan Pekerjaan pembangunan jalan rneliputi pembuatanjpembukaan jalan baru sesuai dengan kebutuhan lalu lintas yang diperkirakan dan mengacu pada standar teknis jalan dengan umur rencana minimal 10 tahun. pembersihan ruang miJikjalan. g) Perbaiki pegangan sandaran dan pagar pengaman. III. III. Pekerjaan pembangunan ini tidak menyangkut pembebasanj permasalahan lahan danjatau yang melintasi hutan lindung. • Perbaikan drainasejsaluran tepi [alan dan gorong-gorong. Rehabilitasijberkala jembatan meliputi perbaikan railing. abutment. perbaikanjpembersihan rambujperlengkaan jalan.3. Ketebalan lapisan aspal tidak boleh melebihi 50 mm.1. i) Perkuat bagian struktural.3. Permukaan aspal yang berada di atas lantai baja atau lantai beton akan tahan sekitar 5 tahun sampai 8 tahun sebelum memerlukan penggantian. k) Perbaiki pekerjaan pengalihan aliran sungai.3. e) Penggantian siar muai (sambungan star muai). dan pengecatan 20 .c.2. Disarankan memakai HRS setebal 30 mm atau dengan lapisan semen tahan aus dan kedap air. a) Pengecatan ulang. LapIsan aspal permukaan sebaiknya dikupas terlebih dulu dari lantai sebelum lapisan yang baru dipasang. b) Pelapisan permukaan aspal. Konstruksi Jembatan Untuk Kegiatan penanganan jembatan hanya diperuntukan bagi kegiatan rehabilitasijpemeliharaan berkala dan penggantianjpembangunan jembatan. dan penggantian lantai jembatan dan perbaikan oprit jembatan). Pada daerah diluar perkerasan : • Penambahan material bahu jalan dan pemadatan atau menyesuaikan pelebaran perkerasan. 111.3. h) Jalankan bagian-bagian yang dapat bergerak. c) Pembersihan menyeluruh jembatan. penahan erosi dan perlindungan gerusan pada pondasi.3. f) Perbaharui bagian-bagian dan elemen-elemen kecil.

Kadang-kadang bagian struktur juga diganti.G JALAN NO 1 2 3 4 lUDUL STAttDAR/PEDOMAN NOMOR Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya ~NI 03-1732-1989 dengan Analisa Metode Komponen Tat:a Cara Perencanaan Permukaan Jalan.III. Penggantian Jembatan Pekerjaan mengganti bagi'an elemen atau struktur yang telah rnenqalarni kerusakan berat dan tldak berfunqsl.3. Penggantian keseluruhan jembatan merupakan pertimbangan terakhir dalam proses peningkatan prasarana yang ada. Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal untuk Jalan Raya. g. perletakan. sebagai. dsb. Pembangunan Jembatan Pembangunan jembatan baru rnellputl pekerjaan yang menghubungkan dua ruas jalan yang terputus akibat adanya rintangan atau pemindahan lokasi jembatan mulai dari pekerjaan pandasi. bagian-bagian sekunder atau elemen pengaku. Tabel 1.. bangunan bawah dan bangunan atas.3.6 DAFTAR BUKU STAN DAR DAN PEDOMAN BIDAN. contoh : sambungan siar-rnual.3.2. 111. Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan denqan Alat Ukur Kerataan NAASRA Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pandasi Jalan dengan Batu Pecah Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Langsung untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Sumuran untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Tiang untuk Jembatan Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/KerikiI Tata Cara Pelaksanaan Survai Kandisi Jalan Beraspal Tata Cara Perencanaan Persimpangan Sebidang Jalan Perkotaan Gambar Perencanaan Teknik Jalan Kabupaten Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pandasi Ga'iarKayu Tata Cara Pelaksanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu ~NI 03-3424-1994 ~NI 03-3425-1994 SNI03-3426-1994 SN 103-2853-1992 SNI03-3446-1994 SNI03-3447-1994 SNI03-6747-2002 Pt T-Ol-2002~B 008fT/BM/1999 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ~NI 03-2843-1992 SNI 03-2844-1992 a 1fT/BNKT/1992 014/T/BT/1995 008/T /BM/1999 009/T/BM/1999 14 15 16 21 . jika diperlukan contohnya elemen lantai.. dan sebagainya.elagar memanjang secara individu.33. pembatas.

IRMANTO 22 .NO 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 I Kesalahan JUDUL STANDARI PEDOMAN NOMOR Umum Pelaksanaan Jalan dan Jembatan SNI03-1.737-1991 SNI 03-2843-1992 SNI03-2844-1992 Pd T-IO-200S-8 Pd T-11-2005-B 038jT /BM/1997 pt Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/ Kerikil Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Beraspal Penanganan Tanah Ekspansif untuk Konstruksi Jalan 5tabilisasi Dangkal Tanah Lunak untuk Konstruksi Timbunan Jalan (dengan Semen dan Cerucuk) Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antal' Kota Tata Cara Perencanaan Geometrik Persimpangan Sebidang Petunjuk Perencanaan Marka Jalan Geometri Jalan Perkotaan Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan Perencanaan Teknls Jalan Kabupaten Petunjuk Teknik untuk Perencanaan Jembatan Kabupaten Petunjuk teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten Panduan Perhibungan Analise Siaya dan Harga Satuan Pekerjaan Jalan. No 77/KPTS/Db/1990 015jT /Bt/1995 30 31 32 024/T/Bt/1995 Agustus 1998 MENTERI PEKERJAAN UMUM. Panduan Survey Kekasaran Permukaan Jalan Secara Visual T-02-2002-8 012/S/BNKT /1990 RSNI T-13-2004 013jT /8tj199S o 16/t/Bt/1995 SK. Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Kabupaten. ttd DlOKO K.

Sesuai Keputusan Menteri Nomor 390jKPTSjMj2007. irigasi rawa. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. irigasi air bawah tanah. Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2008 tentang Air Tanah. terpadu dan berwawasan Iingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan dalam UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Irigasi (termasuk reklarnasl rawa) sebagai lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur disusun dan diterbitkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan Umum. Dari total tersebut.305 hektar yang terdiri dari 815 daerah reklamasi rawa. dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas 1.000 . PENDAHULUAN I. yang pada pasal 59 (1) menyatakan bahwa Menteri Teknis Menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengatur kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah dan Pernerintah Daerah dalam pengembangan sistem irigasi.3. irigasi pompa. dan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah provinsi adalah kurang Iebih 432. Pengeloiaan Sumber Daya Air dilakukan secara menyeluruh.796 Ha.1.195. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas < 1. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.109 daerah irigasi dengan luas 1. Jaringan reklamasi rawa yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota seluas kurang !ebih 226. pengaturan.423.860 daerah irigasi dengan luas 3. dan irigasi tambak.000 Ha.000 Ha dan yang utuh dalam kabupatenjkota menjadi tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota yang bersangkutan.210 daerah irigasi dengan totalluasan 7.LAMPIRAN 2: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG IRIGASI I.469.222 Ha merupakan kewenangan provinsi. Pemerintah kabupatenjkota berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 390jPRTjMj2008 tentang Penetapan status daerah irigasi yang pengelolaaannya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah.000 .197 hektar yang terdiri dari 344 daerah reklamasi rawa.000 Ha atau daerah irigasi yang bersifat lintas kabupatenjkota. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupatenjkota Menurut definisinya Irigasi adalah usaha penyediaan.000 Ha dan sistem irigasi dengan luas < 1. Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.3. Undang Undang No.568 Ha merupakan kewenangan kabupatenjkota dan 1. pemerintah provinsi berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1.000 Ha yang !intas kabupaten menjadi tanggungjawab dan kewenangan pemerintah provinsi. 31. Sedangkan beberapa turunan peraturannya antara lain: Peraturan Pemerintah No 20 tahun 2006 tentang Irigasi. terdapat 33. 23 .

Maksud Penyusunan Petunjuk Teknis ini dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai acuan dan petunjuk dalam penyusunan perencanaan. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya. irigasi rawa. saluran induk/primer. 104. penggunaan dan pembuangan air irigasi. pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya rnellputi irigasi permukaan. 24 . pembagian. Pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan. bangunan bagi. bangunan bagisadap. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini agar semua pihak yang terlibat dalam proses perencanaan.gasitambak. Pengelolaan Jaringan Irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi. pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi penggunanaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi dapat lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya sehingga penggunaan dana dapat menghasilkan infrastruktur jaringan irigasi yang ditingkatkan dan atau direhabilitasi dengan kualitas dan umur rencana sesuai yang diharapkan.5. irigasi pornpa dan iri. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya.2. pemberian. saluran pembuangannya. 1.Pemerintah menyediakan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur untuk membantu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendanai pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan reklamasi rawa (tidak termasuk kegiatan 0 dan P) yang menjadi tanggungjawab daerah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. saluran pembuangannya.3. perencanaan teknis dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan peningkatan serta untuk pemantauan dan evaluasi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi. irigasi air bawah tanah. bangunan bagi. penyusunan program. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis ini mencakup: • Pendahuluan • Perencanaan dan Pemrograman Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Penyusunan Program Penanganan Penyusunan Rencana Kegiatan (RK) • Perencanaan Teknik dan Pelaksanaan Konstruksi Umum Perencanaan Teknik Pelaksanaan Konstruksi 1. dan rehabilitasi jaringan irigasj di daerah irigasi. Jaringan Irigasi adalah saluran. pemeliharaan. Jaringan Irigasi Primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama. Jaringan Irigasi Sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder. pemograman. 1. bangunan bagi-sadap. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang dlperlukan untuk penyediaan. Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi.

bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk pengelolaan air. irigasi guna Peningkatan Jaringan Irigasi ialah kegiatan meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan. Pemeliharaan laringan Reklamasi Rawa adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan reklamasi rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan mempertahankan kelestariannya Rehabilitasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya memperbaiki jaringan reklamasi rawa untuk mengembalikan fungsi dan kinerjanya seperti yang direncanakan. mengoptimalkan fungsi.Pemeliharaan Jaringan Irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. Saluran Utama adalah saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan sungai. pemeJiharaan dan rehabilitasi jaringan reklamasi rawa. dan membangun prasarana sistem irigasi. menyusun rencana kegiatan operasi. Sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan DAK. Rehabilitasi Jaringan Irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula. menyusun system golongan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan fungsi yang diperlukan untuk pengelolaan air di daerah reklamasi rawa. yang ditujukan untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat jaringan reklamasi rawa. Operasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya pengaturan air termasuk membukamenutup pintu bangunan air. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. alokasi DAK untuk Subbidang Irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan. menyusun pola tanam dan rencana tata tanam. Saluran Tersier adalah saluran yang berhubungan langsung dalam pelayanan air dengan lahan pertanian. Daerah Reklamasi Rawa adalah kesatuan lahan yang dilengkapi dengan jaringan reklamasi rawa berdasarkan tahapan akhir pengembangan. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. II. termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi kewenangan kab/kota dan provinsi khususnya daerah lumbung pangan nasional dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang ketahanan pangan. yang terdiri antara lain saluran sekunder dan saluran primer. maka kegiatan-kegiatan Subbidang Irigasi yang dapat didanai dengan OAK adalah kegiatan fisik yang masuk kategori Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi serta pembangunan baru yang selektif yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Pengembangan laringan Reklamasi Rawa meliputi kegiatan pembangunan jaringan baru dan peningkatan jaringan reklamasi rawa. mengumpulkan data. 25 . Daerah Rawa adalah areal rawa yang dibatasi garis sempadan rawa Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan manfaat rawa melalui teknologi hidraulik dalam bentuk jaringan reklamasi rawa. Pengelolaan laringan Rektamasi Rawa meliputi kegiatan operasi. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK) Mengacu pada kebijakan prioritas nasional. memantau dan mengevaluasi.

Peningkatan. Penyusunanan Daftar Jarinan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Kegiatan penyusunan program penanganan diawaJi dengan kegiatan inventarisasi jaringan irigasi. Untuk menilai kondisi kerusakan fisik. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dan Kepmen PU No 390jKPTSjMl2007 adalah sebagai berikut: 1. untuk kemudian digunakan dalam penanganan (rehabilitasi dan peningkatan) jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) sesuai dengan kewenangannya masing-masing. lokasi. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan provinsi maka kabupaten/kota tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA Provinsi. Subbidang Irigasi arah pemanfaatannya adalah sebagai berikut: 1.2. OAK ditujukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yang sudah ada. Rehabilitasi. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka kabupatenjkota tersebut harus mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Sumber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Balai Wilayah Sungai Terkait. dan 3. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan kabupatenjkota maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA KabupatenjKota. luas. dilakukan dengan menentukan indeks kondlsi jaringan irigasi. Daerah Irigasi (D!) dengan luas >3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pusat dalam pengelolaannya. Jika kabupatenjkota mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang Irigasi untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. Ini dilakukan untuk mendapatkan data jumlah. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Oirektorat Jenderal Surnber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Salai Wilayah Sungai Terkait. 2. dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi. Oalam menentukan kriteria penanganan (rehabilitasijpeningkatan) dilihat dari kondisi kerusakan fisik jaringan irigasi. Pembangunan baru yang selektif. Penyusunan Usulan Jaringan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Prioritas Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survey identifikasi permasalahan dan kebutuhan rehabilitasi/pemeliharaanjpeningkatan secara partisipatif.2. 3. Irig. Jika provinsi mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang IrigasI untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya.Untuk mencapai tujuan Alokasi OAK Subbidang Irigasi tersebut. bilamana jaringan irigasi yang menjadi kewenangan provinsijkabupatenjkota sudah berfungsi dengan batk.1. Penyusunan Program Penanganan 11.asi tersebut kernudlan dialokasikan kepada provinsi dan kabupatenjkota. Oaerah Irigasi COl) dengan luas 1000 Ha sampai dengan 3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab provinsi dalam pengel. II. 26 . dan dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun dengan skala prioritas. Adapun kewenangan pengelolaan jaringan irigasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Inventarisasi jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun. Penyusunan data dasar ini mengacu pada form data dasar prasarana jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa).olaannya.2. Oaerah Irigasi (01) dengan luas <1000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupatenjkota dalam pengelolaannya. 11.2. maka alokasi OAK 2. Alokasi OAK Subbidang.

Apabila indeks kondisi suatu jaringanirigasi tersebut diarahkan untuk direhabilitasi. pintu air. dalam jangka waktu tertentu perlu dilakukan upaya-upaya rehabilitasi guna mengembalikan kemampuan lavanan jaringan irigasi sesuai dengan desain rencana. saluran drainase. maksimurn yang pernah dkapai atau sesuai dengan kondisi lapangan. • Bangunan pelengkap lainnya (bangunan baqi/sadap. Tujuan pekerjaan peningkatan Daerah Irigasi untuk mengurangi kehilangan air pada saluran. goronggorong. di bawah 60 maka jaringan irigasi Adapun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan irigasi rawa) yang dapat diusulkan menjadi usulan program prioritas adalah sebagai berikut: II. dll).Indeks kondisi jaringan irigasi merupakan indlkator kondisi fisik jaringan irigasi yang dinyatakan dengan suatu angka dari 0 hingga 100.1. • Saluran (induk.dll). dll). suplesi. tersier. sedangkan pada Daera Rawa tidak ada kegiatan Peningkatan jaringan irigasi. II. jembatan dan jalan inspeksi. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah dana DAK untuk kegiatan rehabilitasi sistem irigasi yang menjadi kewenangan dan tangung jawab pemerintah daerah hanya dikhususkan untuk kegiatan fisiko Kegiatan rehabilitasi sistem irigasi secara umum dilakukan antara lain untuk jenis-jenis bangunan: • Bendungan/waduk/reservoir/embung/situ untuk keperluan air irigasi. pembuang/drainase. sehingga diharuskan untuk dibuat saluran pasangan batu. talang. got. Untuk menangulangi hal tersebut. Kegiatan Peningkatan Jaringan Irigasi Pelaksanaan kegiatan Peningkatan jaringan Irigasi hanya dilaksanakan pada Daerah Irigasi. sekunder.2.2.2. Rehabilitasi adalah suatu proses perbaikan sistem jaringan yang meliputi perbaikan fisik atau non-flsik untuk mengembalikan tingkat pelayanan sesuai desain semula. siphon. Kriteria penanganan berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi ini adalah sebagai berikut: • • Apabila indeks kondisi suatu jaringan iriqari di atas 60 atau sama dengan 60 maka jaringan irigasi tersebut diarahkan untuk pemeliharaan. kantong lumpur. pintu bilas.2. • Bangunan utama (bendunq/lntake.2. Perencanaan peningkatan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi dilaksanakan oleh Dinas/Pengelola Irigasi bersama perkumpulan petani pemakai air (P3A. atau di bendung yang mercunya terbuat dari bronjong dilakukan peningkatan mercunya menjadi pasangan batu sehingga dan tampungan air lainnya 27 .) berdasarkan rencana prioritas hasil inventarisasi jarlngan irigasi dengan katagori rusak berat. secara alami jaringan irigasi cenderung mengalami penurunan tingkat layanan akibat waktu (umur prasarana dan sarana) sampai pada tahapan kritis tingkat layanan menurun tajam dari rencana semula yang berakibat pada penurunan kinerja. Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Meskipun telah dilakukan Operasi dan Pemeliharaan yang sebaik-baiknya. primer.

Sedangkan untuk pekerjaan perbaikan. selanjutnya dilakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya CRAB). Juru/Mantri. Penelusuran dilakukan bersama secara partisipatif antara Pengamat/ UPT/Ranting. Penyusunan rencana peningkatan jaringan irigasi meliputi: 1. untuk memastikan bahwa jaringan irigasi dapat berfungsi dengan baik dan air dapat dibagi/dialirkan sesuai dengan ketentuan. Hasil survai dituangkan dalam gambar skets atau diatas gambar as built drawing. Pengukuran dan Pembuatan Detail Desaln Perbaikan Jaringan Irigasi a). 2. dan GP3A/IP3A. b). Dalam rencana Pelaksanaan Peningkatan jaringan irigasi terdapat pembagian tugas. Hasil rancangan detail desain ini didiskusikan kembali dengan perkumpulan petani pemakai air sebagai dasar pembuatan desain akhir yang dituangkan dalam berita acara. Kerusakan ringan yang dijumpai dalam inspeksi rutin harus segera dilaksanakan perbaikannya sebagai pemeliharaan rutin. 3. Survey dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Irigasi Survey dan pengukuran untuk pemeiiharaan jaringan irigasi dapat dilaksanakan secara sederhana oleh petugas dinas/penqelola irigasi bersamasama perkumpulan petani pemakai air dengan menggunakan roll meter. alat bantu ukur. se!ang air.menambah debit air (memaksimalkan) yang tersedia atau yang tadinya Irigasi Sederhana menjadi irigasi Semi Teknis. antara P3A dengan pemerintah diantaranya bagian mana bisa ditangani P3A dan bagian mana yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama.3. Inspeksi Rutin Dalam melaksanakan tugasnya juru pengairan harus selalu mengadakan inspeksi/perneriksaan secara rutin di wilayah kerjanya setiap 10 hari atau 15 hari sekali. Penelusuran Jaringan Irigasi Berdasarkan usulan kerusakan yang dikirim oleh juru secara rutin. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Setelah mengetahui proqram-proqrarn penanganan apa saja yang akan dilakukan. Hasil survey dan pengukuran ini selanjutnya digunakan oleh petugas Dinas/pengelola irigasi dalam penyusunan detail desain. 28 . RAB dihitung berdasarkan perhitungan volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah setempat. Pembuatan Detail Desain Berdasarkan hasil survey dan pengukuran disusun rancangan detail desain dan penggambaran. untuk mengetahui endapan dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi di bawah air normal. dan pada saat air normal (saat Pengolahan Tanah) untuk mengetahui besarnya rembesan dan bocoran jaringan. Selanjutnya Pengamat akan menghimpun semua berkas usulan dan menyampaikannya ke dinas pada awal bulan berikutnya. dicatat dan diklrim ke pengamat setiap akhir bulan. Penelusuran dilaksanakan setahun dua kall yaitu pada saat Penqerinqarr.2. I1. atau tali. perbaikan berat maupun penggantian harus menggunakan alat ukur waterpass atau theodolit untuk mendapatkan elevasi yang akurat. dilakukan penelusuran jaringan untuk mengetahui tingkat kerusakan dalam rangka pembuatan usulan pekerjaan tahun depan.

Berisi volume dari nap-nap jenis kegiatan/paket pekerjaan.3. Satuan. bangunan pengatur (bagijsadap/bagi-sadap). 3. II. 2. pintu penguras. Kelompok kegiatan dapat berupa: rehabilitasi dan peningkatan jaringan. dengan mencantumkan bagian dari jaringan yang direhab/ditingkatkan. 4. Program dengan prioritas tertinggi dan dengan Rencana Anggaran Biaya yang realistis tentunya akan mendapat prloritas utama. Diisi berapa alokasi biaya dari Dana Alokasi Khusus dan Dana Pendamping OAK (minimum 10% dari alokasi DAK tahun berjalan) serta total biaya yang diperlukan untuk tiap-tiap jenis kegiatan/paket pekerjaan. dan lain-lain.II. kantong lumpur. Volume Kegiatan. bangunan terjun. Jenis Kegiatan/Paket Pekerjaan. Merupakan satuan ukur dari volume kegiatan.2. Nama Daerah Irigasi. Kelompok Kegiatan. Hasil penentuan program penanganan ini kemudian disusun dalam bentuk Rencana Kegiatan (RK). saluran pembuang. 5. bendung. Bagian dari jaringan tersebut dapat berupa: saluran primer/sekunder. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan berikut: (RK) sekurang-kurangnya mencakup informasHnformasi sebagai 1. talang.4. 6. Jenis kegiatan/paket pekerjaan merupakan uraian dari kelompok kegiatan. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Irigasi 29 . Siaya. Penentuan Program Penanganan Penentuan program penanganan dilakukan dengan memperhatikan prioritas penanganan (berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi) dan juga Rencana Anggaran Siaya.

._ ~QlIII 13.. VI ~ a...... zCl w E Z Ia 'iii ::! "S III III :I :.. loot c <V P' 'Uj ._.. . III {2 c n:I E n:I J .c:: f'IJ 0 :i2' f'IJ .."!:::::!' Q. c: ....)... G c 0:'::': . ** C ..!!! ~ III ~ ::!: :I .....:: .c :g '" 0>- cu . .... Lf'l 'c CII C Ia C rt:I io~ .n e a._ . ::l II:] a.: .... ""'E......)....i .... '" rtJ c 'S a..... ::a: w g III :. :::I 0 ("') Q...j... 'iii c CII Ia >.. r.......w I a. Will :c N s % c ~.Q ro Ai =a :~ :~ =a =a '<T'~ E: ¢~ ....!: E rt:I 0 iii 1:1 :c ~ gtj <C .0 n:I ... I:G :I x :I ~ ...... ...... Lf'l~ c cu :::I 't:l . ::!: ."0 ~. E ... e m DD 'iij :::I <V I VI j ... CII_ CII B .. 0 :I r-.. :J c ro c ::I OJ C II:] c:c f'IJ fil OJ ..........). :::I ....c rn III .... J!i .J!2 Vl c .._ .....J!2 ~ :c N =a '::I f'IJ ] ro a c '2: ~ C cu ~ C §J!i ....~ CII D._ ..5 III III Ec c til CII .........Z ....12 QJ C 'S' .... III 'a :elii 1111:1 E 'C' CII 0. ~~... rc c ~ c ~ :::I ro (f) v . lie" 1'11~ . .. 0 'C' <V 'C' II:] cu 'C' ro '5... ~ O'l ~~ III iii~ <:I 0 !- g .... iU c 'C ...... l: ZW .... ItIC::o.t! III. j J:I...........IS c c CI it: 1:1 C It! III c: ro ::I~ . ~ '..IS ~ C III c <~ Xc( < . a.:: 2E 2 ..:: . E a "0 :. C ...n ~ g :..!: :c c ~i 0 z Z = ..< :c f'IJ s: cu a:: ~ :::I "0 z w J:I.....: ItI C 'a....a n:I III >- ... :a . E II:] ._.. r.... a u :.)........ ci ...0 r. n:I c QI <C Cl M:!i! ~..... E a ~ E .c .....0 .. M "':::I~ 1t11ij l:1Il:.....e E II:] 'ffi "0 a.. III III D.n C m QJ .IS 10 1:1 £0 :.' III M . .. rtI :J2l c:c e ~ ~ ....:! 9E <.. ... ......i: f'IJ L- a... E w ~ (f) ~ :!Zi ::a: ..:::.c VI 'Uj . III .§! til .. e 'C '" ......< OJ c........i . en .: 0 . 00 f-- '" = z ...:1Il . c: s: tn .s .5 III .::) ..n1tlG:: c E ....I ::I rtI a.0 Z v .. :i < ~ III ~ ....10 n:I - . .J .< . .~ U'l . . ..Q a :. 'S: '" Lf'l e en r. ~ ~ (f) cu . .. Vl & ._ .~ :::I ..... III e n:I 1:1 III III :::I C .< c <V :::I "0 C ::a: N ........ '<T' :~ . :::I en c :::I ~ c en C :::I .

.0 '0 0.. GJ .c . .c .....a g . co 2 ro '..._ 1'..::.: ro P ro :::I (JJ __ -~ ..ui co>ro. ** : i:ii:t ...9 Q (II E III iii 'D .. . ::::12 ro :J 0.. C II! C III «I III (II C .. .LI'I .. 'S. 'I: III ItI ia {2 C 01 tJ1 C E E -2 j fI ItI III '61 'D III ...fU~ ~ ro ro--'" c:... (II C. ::::I C l!! QI QI g._.... c 01 C .~I---':""".. .. c 10 ro Q) o.. .. U] a c..c II! 01 ::::I III ro 2... ::J ~~..Q :J ~~~ LD... «I 'D II! :J LI'I '" .. «I C r:J III Q... c: co N·_ E:!.. ~. "'c".---.a s II! II:! III C .. c:..... In ::::I III ~ «I ~ .. -::::I ·co «I'D C ~ d z . ... -'" LI'I E (JJ ~ . ...e . ".""" ...a III f--- c r:J >- 01 'I: 'iii 'D C ClJ II! co 'iti Q) c ~ :J ~ ~ '5' -.........._ ro ...10 ".. E l!! !II WW :e . III . ....0... (JJ ro ..l!! * ....~E 'DW ....::c ~ -..0 Qj . to ._.:: ~ ::::J III .J E iti (JJ o.. II .._ to 0::": . 0E E o E o ~ ~ ~ s ::::I c 01 C .. ........e III QI C 0:: 19 C C Z II! 'iii III ..II! C C.....a ~I-------~I~~~--~--+---r---~~---. 'iii c s C «I :e: ::::J 1""1 :3 .!:9 "'~ ::::I ___ 10 c: . ro :::I Q) ....-. .. ...... .... .. ItI ItI ~ ..._ IJ)ro. vi >- 'Ii: 'ji .. .c ~ . c .. ::: ~1~~--~~~~--~-+--+--+--4-~~~ g8 II! a ~... _!]:I '6 J::._ 0 . ... E II! II! ~ III '51 :i QI . II! 'D C III ::::I (""\ j ~ ...£ is '. w_ III~ !~ ::::IQI c C.:.o 0. r:J s 0D -'" ..' :3 ~ :&: :::I ::c S N . ~ 0. '5..._. C......c ..a .E -:r. III 'c _!]:I E u c: '" E Ul ~ ~ ...... .. D.-lf-lI---+--+----1--I--+--I---1 ge eel!! z W D.

2.l. bahan. Dalam perjanjian kontrak antara 32 . jenis kegiatan.3. III. Ill. 8erdasarkan dokumen hasil perencanaan teknik ini.III. sesuai kemampuannya. kemudian dilakukan pelaksanaan konstruksi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.2.2. sifat rehabilitasi dan tingkat kesulitannya. Perencanaan Teknik Perencanaan teknis Jaringan irigasi (terrnasuk jaringan reklamasi rawa) provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada standar dan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.3. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktua1. Pelaksanaan Konstruksi III. a). Kegiatan Peningkatan Untuk kegiatan peningkatan suatu jaringan irigasi tidak termasuk reklamasi rawa dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi (termasuk reklamasi rawa) bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material dari lokasi setempat. 1.engan pembangunan baru.3. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik kegiatan rehabilitasi dan peningkatan.1. Persiapan Pelaksanaan Rehabilitasi Sebelum kegiatan rehabilitasi dilaksanakan perlu dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3AjGP3A/IP3A. peralatan yang akan digunakan. III. Kegiatan Rehabilitasi Untuk kegiatan rehabilitasi suatu jaringan irigasi dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material darilokasi setempat. tentang waktu. jum!ah tenaga. III. Setelah teralokasinya dana DAK untuk penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) baik itu rehabilitasi maupun peningkatan. Pelaksanaan Rehabilitasi Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang menggambarkan lokasi. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarlkan pemecahan permasa!ahannya. III.2. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. Umum Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi mengacu pada Norma Standar Pedoman dan Manual (kriteria) yang telah ditetapkan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum. jems pekerjaan. rencana biaya dan waktu pelaksanaannya. Pekerjaan rehabilitasi yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3AjIP3A/petani setempat. 1. Metoda Peiaksanaan III.1.3.1. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi suatu jaringanirigasi secara umum tidak berbeda d.3. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. b). 3.

jumlah tenaga. melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai • Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. • adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3A/GP3A/IP3A mengenai jam kerja. 111. 111. Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktual.1. sesuai kemampuannya. tentang waktu.3. a). Persiapan Pelaksanaan Peningkatan Sebelum kegiatan peningkatan dilaksanakan per!u dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3A/GP3A/IP3A. III. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarikan pemecahan permasalahannya. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan.3. bahan. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. jenis kegiatan. Dinas/Pengelola Iirigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan.3. sifat peningkatan dan tingkat kesulitannya. artinya peJaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dan giliran air. pelaksanaan rehabilitasi tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. perlu adanya bimbingan teknis.3. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan peningkatan suatu jaringan irigasi (tidak termasuk reklamasi rawa) secara umum tidak berbeda dengan pembangunan baru. upah kerja dan halhallainnya.2. b). Pekerjaan peningkatan yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3A/IP3A/petani setempat. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang 33 . Pelaksanaan Peningkatan Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis.3. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. Pelaksanaan Rehabilitasi Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3A/GP3A/IP3A dalam melaksanakan pekerjaan rehabilitasi wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh Dinas/Pengelola Irigasi. peralatan yang akan digunakan.Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • Kontraktor harus kemampuannya.2.

Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. jenis pekerjaan.3. ttd ClOKO KIRMANTO 34 . melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. upah kerja dan hal-hal lainnya. Adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3AjGP3AjIP3A mengenai jam kerja.3. Pelaksanaan Peningkatan Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3AjGP3AjIP3A dalam melaksanakan pekerjaan peningkatan wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknls yang telah ditetapkan oleh DinasjPengelola Irigasi. MENTERI PEKERJAAN UMUM. perlu adanya bimbingan teknis. artinya pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dangiliran air. rencana biaya dan waktu pelal<sanaannya. Dlnas/Penqelola Irigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. Da!am perjanjian kontrak antara Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • • • Kontraktor harus kemampuannya.2. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan.menggambarkan lokasi. Setelah pekerjaan peningkatan selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan peningkatan telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik. III. pelaksanaan peningkatan tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman.

memotivasi Pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) khususnya bagi masyarakat perdesaan yang notabene merupakan masyarakat dengan tingkat pelayanan SPAM terendah. Hal tersebut mempertimbangkan agar prasarana air minum yang dibangun dapat dikelola oleh masyarakat pengguna itu sendiri dalam skala komunal. khusus. perhitungan. tahapan yang diperlukan pembangunan baru dan 35 . Maksud Sesuai Peraturan Pemerintah No. baik untuk aparat pemerintah terkait maupun untuk masyarakat sebagai aktor utama pelaksanaan program. ketertiban. 1. permukiman nelayan dan perdesaan dapat dilakukan melalui sistem penyediaan air minum dengan teknologi sederhana (untuk selanjutnya disingkat Air Minum Sederhana). 1. 104.2. terlebih dahulu sistem yang sudah ada. data dan dalam perencanaan prasarana air minum sederhana. Menteri Teknis Penggunaan DAK. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan bahwa: • • • DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional. Latar Belakang Kewajiban Pemerintah dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia. Selain itu. Pemerintah 'juga terpacu untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) Tahun 2015. seperti air minum.3. Menter! teknis menyampaikan Kriteria Teknis yang dirumuskan melalui indeks teknls. Penyediaan air minum untuk kawasan kurnuh perkotaan.LAMPIRAN 3 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG AIR MINUM I. pengertian dan pengetahuan yang sama dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Besaran alokasi DAK ditentukan berdasarkan kriteria umum. operasional dan pemeliharaan serta pengelolaannya. Ruang Lingkup Dalam melakukan pemilihan kegiatan DAK subbidang air melakukan review atau kajian terhadap sistem eksisting atau Petunjuk teknis inl menjelaskan kriteria. Sesuai dengan data BPS. Memperhatikan bahwa prioritas lokasHokasi yang akan menjadi lingkup pelaksanaan adalah desajkelurahan yang belum pernah mendapat pelayanan air minum secara formal (pelayanan oleh perusahaan daerah air minum setempat). Tujuan Petunjuk teknis ini bertujuan untuk menjamin kesesuaian. meliputi minum. yaitu menurunkan separuh proporsi penduduk yang belurn terlayani fasilitas air rninurn. Berdasarkan Penetapan alokasi OAK. menyusun Petunjuk Teknis Petunjuk teknis ini dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada para pelaksana dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan perencanaan prasarana air minum sederhana.1. dengan demikian akan diperoleh arah. PENDAHULUAN I. cakupan pelayanan SPAM di perdesaan hanya 8%. bersifat mudah dan ekonomis dalam pembangunan. maka perlu diberikan acuan petunjuk bagi para pelaksana program. serta teknis. dan ketepatan dalam pembangunan prasarana air minum sederhana sehingga prasarana yang dibangun dapat dimanfaatkan secara andal dan berkelanjutan.

melaksanakan konstruksi. Oleh karenanya kegiatan pada Subbidang Air Minum merupakan salah satu kegiatan yang berhak mendapatkan alokasi dana DAK dari APBN. Oleh karena itu 36 . Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAMmerupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. Petunjuk Teknis Pemasangan Perpipaan. manajemen. Ketentuan lainnya mengenai kegiatan yang dapat didanai DAK adalah kegiatan tersebut harus diusulkan daerah yang berhak mendapatkan alokasi DAK. peran masyarakat. rnenqelola. 5. 1. memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik(teknik) dan non fisik (kelembagaan. Petunjuk Teknis Pembangunan Sumur Dalam (SATD) komunal. merehabilitasi. dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun. dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum.perluasan jaringan pelayanan. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat. perpompaan. keuangan. perplpaan. Petunjuk Teknis Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)i Petunjuk Teknis Pembangunan Bangunan Pengambilan Air Baku. Berdasarkan pernyataan di atas. rnemetihara. bersih. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentrallsast untuk (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukan pemerintah atas dasar prioritas nasional. dan unit pemanfaatan sesuai lingkup program. Petunjuk Teknis Pembangunan Pompa Hidram. dan produktif. Adapun besaran alokasi dana DAK ini ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. II. unit pengolahan. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Merujuk pada Pasal 162 ayat 1 UU No. (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. Pembangunan infrastuktur baru meliputi perencanaan bangunan pengambilan air baku. Seeara rinei petunjuk teknis air minum sederhana ini agar menggunakan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana yang antara lain terdiri darl: Petunjuk Teknls Pembangunan Penangkap Mata Air (PMA). memantau. Kegiatan penyediaan air minum merupakan kegiatan pada Bidang Infrastruktur yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu prioritas nasional. 4. 2.5. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Petunjuk Teknls Pembangunan Hidrarn Umum. syarat kegiatan yang dapat didanal DAK adalah kegiatan yang sesual dengan prioritas nasional. Petunjuk Teknis Operasional dan Pemeliharaan. Pengertian 1. setelah berkoordinasi dengan Kementerian teknis terkait. 3. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan.

Perpompaan untuk sistem tinggi dari unit produksi. Sambungan Selain inventarisasi fasilitas SPAM yang ada. b. Instalasi Pengolahan Air Mlnum Sederhana (IPAS) lii. Mata air ePMA) iii. vi.2. Destilasi Atap Kaca (DSAK) untuk air asin. Perlu dilakukan inventarisasi/penyusunan daftar fasilitas pengembangan SPAM yang ada. Air permukaan i. Sumur Air Tanah Dalam (SATD). Adapun fasilitas-fasilitas yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah jenis prasarana sistem penyediaan air minum berdasarkan jenis sumber air baku. Penyusunan Daftar Fasilitas SPAM Dalam mempersiapkan program. Penyusunan Usulan Program Prioritas Setelah melakukan penyusunan daftar fasilitas yang ada saat ini dan identifikasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. Adapun langkah-Iangkah pengajuan usulan dijelaskan dl bawah inl.1. c. Sumur Pompa Tangan. v. IV. dilakukan identifikasi usulan program prioritas. Air hujan: Penampungan Air Hujan (PAH) Selain unit produksi sebagaimana hal tersebut di atas. beberapa prasarana sebagai kelengkapan dari SPAM yang perlu diidentifikasi berupa: a. b. 37 . Program-program Subbidang Air Minum yang dapat diusulkan untuk dibiayai DAK Bidang Infrastruktur pada saat ini. Gambut. perlu dilakukan juga inventarisasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. ii.2. Unit Distribusi Perpipaan. 1I. Prasarana tersebut adalah sebagai berikut: a. Penyusunan 1I. Saringan Pipa Resapan (SPR). Ii. Daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM ini akan mendapat prioritas untuk pembangunan fasilitas baru. d. dengan topografi dimana wilayah pelayanan lebih Unit pelayanan yang terdiri dari: l. Mata air: Perlindungan Air tanah i. terbatas hanya untuk program-program pembangunan fasilitas SPAM baru pada daerah-daerah yang memenuhi kriteria.2. Sumur GaiL c. Program Penanganan n. Reverse Osmosis eRO) untuk air asin. perlu dilihat apakah sudah ada pengembangan SPAM atau belum. Sistem PengolahanAir vii.Pemerlntah Pemerintah daerah harus mengajukan usulan kegiatan yang akan didanai oleh DAK l<epada Pusat. Pompa Hidram. Hidram Umum. Paket Instalasi Pengolahan Air (IPA). Ii.2. iii. Rumah Murah. Terminal Air.

Nama paket kegiatan. fasilitas SPAM baru. dilakukan sesuai diagram ahr n. Perkiraan alokasi DAK dan dana pendamping. Daerah rawan sanitasi. Nama lokasi. Daerah rawan penyakit.1. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupaten/kota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati.2.Usulan program pembangunan kriteria-kriteria berikut ini: Daerah rawan air. 6. disusun dalam bentuk 3. ditentukan Penentuan program (pembangunan baru) tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik dan sumber daya yang ada di daerah perencanaan tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas pelayanan air minum yang direncanakan. Volume kegiatan.3. Penentuan Program Penanganan kualitas dan kuantitasnya. Daerah terpencil. 38 . 5. hendaknya memperhatikan Jenis prasarana yang tepat untuk suatu wilayah rencana pelayanan dengan mempertimbangkan parameter-parameter sebagai berikut: Jenis sumber air baku. Daerah rniskin: Aksessibilitas. Proses seleksi program pada Gambar 3. Tujuan dan sasaran. 4. dapat dilihat pad a Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Format Rencana Kegiatan Subbidang Air Minum. 11. pengembangan air minum. termasuk Kondisi topografi. Jenis keqlatan: 2.a.3. Usulan program pengembangan SPAM Sederhana kemudian Rencana Kegiatan (RK) yang mencakup informasi sebagai berikut: 1. Jarak dengan sumber air.

c: j9 Q) :a: C'l C Q) .o N '5 .

Perencanaan Teknik 1.Tingkat konsumsl air. Pengukuran debit air baku dilakukan untuk menghitung patensi sumber air yang akan digunakan. Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selanjutnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM dan pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Prasarana Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Air permukaan. Penentuan Kebutuhan Air Kebutuhan air minum yang diperlukan untuk suatu daerah pelayanan ditentukan berdasarkan 2 (dua) parameter. langkah selanjutnya adalah memilih prasarana SPAM sebagai solusl teknis yang sesuai dengan kondisi setempat. .Jumlah penduduk. Umum Setelah alokasi dana ditetapkan serta pemilihan program sudah dilaksanakan. C. 2. Peraturan Menter! Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2009 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. B. 40 . Pengukuran Debit Air Baku Sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku meliputi: A. Air tanah. Perencanaan teknik prasarana SPAM harus mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum diantaranya adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Namor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM.III. Mata air. Air hujan. D. yaitu: . III. Tata cara pengukuran debit air baku dapat dilihat pada pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!.2.1.

..... ...8...5 2: '" :( .. "'" j:: " . .s ..~ ." 'a! .. . __E-m ." ~~ fiji: :!_" 2 E E ::J c ~ 'iii ~ "" != .:... '0 j:: ..: '" ...:.0 E "" '" '" F .t:II . E ::<:: c: to 0> c: to ... u "C 00 . E <II a.: '" = :§ <'<I = =-~ 0:: 'f ..S . . '" c:. E :::I .=. '" ..: '" ~ ~ a.. ~ ~ rn c = .a ~ >'= .... E ::> . o . "'" F 'Q ~'C ~ii .!Y :2 '1l m E E 'til .... til ttl C 41 "E '" '<j" OIl 'w c: ::> ::l E II> a.

Perbaikan/rehabilitasi.3. modul secara umum terdiri dari: Perencanaan teknis masing-masing a. e. Untuk pemeriksaan berikut: • Bau. b. Unit pelayanan. Pemellharaan. Perencanaan Teknis Penyusunan perencanaan teknis sistematika sebagai berikut: • • • • Unit produksl yang pengolahan fisik/kimia dari alternatif salusi teknis disusun pengambilan air berdasarkan dan unit meliputi bangunan Uika diperlukan). Pekerjaan konstruksi. c. III. 42 dapat .3. 4. dan mikrobialagis.3. baku Unit Distribusi Perpipaan. 82 Tahun 2001. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan dilaksanakan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan cara swakelola atau kontraktual. Perpompaan. Pemeriksaan Kualitas Air Baku Pemeriksaan kualitas air baku dilakukan terhadap kualitas fisik. kualitas dapat ditinjau dari parameter-parameter • • • Rasa: Kekeruhan. Warna. Peralatan. Pelaporan. di lapangan. Hasil yang akurat dari kualitas air baku dapat dlperoleh melalui pemeriksaan sampel air baku di laboratarium yang telah ditunjuk sebagai laboratorium rujukan. Pe!aksanaan Kanstruksi II!. 907/MENKES/SK/VII/2002 atau perubahannya.1. Standar kualitas air di peralran umum yang digunakan sebagai sumber air baku sesuai Peraturan Pemerintah No. Komponen prasarana dan sarana Perhitungan dimensi Spesifikasi teknis • • • Persyaratan umum. Bahan. klmlawl. d. Operasi dan pemeliharaan • • • • Operasi. sedangkan untuk persyaratan kualitas air minum sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Cara pengerjaan • • Pekerjaan persiapan.

i<operasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. Pembentukan. maka perlu dibentuk lembaga di tingkat masyarakat sebagai penyelenggara SPAM. c.Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. dan Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KP2) Air Minum sebagaimana diuraikan pada bagian berikut. b. Lembaga ini selain berupa lembaga legislatif juga lembaga pengelola dan pemelihara SPAM. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. yang terdiri dari oranq-oranq yang mempunyai keahlian yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan air minum. III. Untuk dapat menciptakan mekanisme pengelolaan yang bertumpu pada masyarakat. serta ketentuan lain berkenaan koperasi alr minum ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. Kewajiban dan hak. IV. khususnya sektor air minum. keanggotaan. yang merupakan forum demokrasi dan wadah proses pengaambilan keputusan tertinggi yang mencerminkan aspirasi masyarakat pengguna air minum. penyelenggaan pengelolaan prasarana air minum terbangun dilaksanakan oleh Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM). mekanisme pemilihan. IV. Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) adalah lembaga legislatif dari suatu wilayah pelayanan air minum dan merupakan nama generik dari lembaga di tingkat masyarakat. namun bentuk perkoperasian ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1995. PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM TERBANGUN Untuk menjaga agar SPAMsederhana ini berkelanjutan. koperesi Air Minum Koperasi Air Minum merupakan bentuk lain dari OMS·AM. pengurus. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan perubahannya.1. sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000.3. Pelaksanaan Konstruksi Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selengkapnya dapat dulhat pada Permen PU No. Koperasi Air Minum. Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) adalah badan pelaksana dan pengelola pelayanan air minum yang anggotanya ditunjuk oleh OMS-AM atau Koperasi Air Minum. Peraturan . e.2.Pelaksanaan kegiatan tersebut harus mengacu pada: a. Keanggotaan dan susunan penqurus. Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Pengadaan BarangjJasa Pemerintah. 43 . Kelembagaan 1. Ol/PRT/Mj2009. 18jPRTjMj2007 dan Permen PU No. tugas kewenangan dan pengaturan lainnya berkenaan dengan OMS-AM ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. 3. 2. Pedoman d.

3. Insentif kepada petugas pengelOia prasarana sesuai kesepakatan. yaitu pengelolaan yang dilaksanakan oleh masyarakat pengguna itu sendiri. dan kewenangan. tugas. Besarnya harga air rninurn tersebut harus lebih rnurah dart harga air yang harus dibayar oleh masyarakat sebelum dilaksanakannya pengembangan sistem penyediaan air minum tersebut. Biaya operasi dan pemeliharaan prasarana. Membayar harga air minum. MENTERI PEKERJAANUMUM. aspek pengelolaannya. serta ketentuanlain berkenaan dengan KP2-AM diuraikan lebih rinci dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Sederhana. susunan pengurus. Penetapan Besaran luran Penggunaan Air Lembaga pengelola mengadakan rembug warga untuk menentukan besarnya harga air minum per-m3 atau per-jerigen 20 liter dan 10 liter yang harus dibayar oleh masyarakat untuk keperluan antara lain: a. perlu dicciptakan mekanisme pengelolaan yang berbasis masyarakat. Insentif kepada pemilik tanah (bUa diperlukan): d. mekanisme pernilihan anggota. IV. b. c. e. Kontribusi untuk RT (hila diperlukan). aspek hukum dan hal-hal lalnnya diuraikan dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Perpipaan Sederhana. Prlnsip Dasar dan Aspek Pengeloiaan Berbasis Masyarakat Dalam upaya pemanfaatan prasarana dan sarana air minum yang berkelanjutan.2. IV. ttd ClOKO KIRMANTO 44 .Keanggotaan. Uraian lebih lanjut tentang pengelolaan SPAM diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 dan PeraturanMenteri Pekerjaan Umum Nomor 01{PRT IM{2009. Oleh karena itu perlu dipahami prinsipprinsip dasar pengeJolaan.

LAMPIRAN 4

: PERATURAN MENTER' PEKERJAAN UMUM NOMOR 15JPRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010

PETUNJUK PELAKSANAAN SUBBIDANG SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT (SLBM)
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Petunjuk Teknis DAK Sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana AJokasi Khusus Bidang Infrastruktur, dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, pada pasal 59 ayat (1) menyatakan bahwa Menteri Teknls menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum beserta Jampirannya tersebutdapat digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan OAK. Agar pelaksanaan penanganan infrastruktur sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dapat menghasilkan kualitas yang diharapkan perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk teknis yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan DAK ini, untuk itu maka petunjuk teknis sub bidang sanitasi lingkungan ini disusun. Sesuai dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pada Pasal 21 ayat (1) bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia; serta ayat (2) bahwa Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: (d) pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. Berdasarkan PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Air Minum pada Pasal 14 ayat (1) bahwa perlindungan air baku dilakukan melalui keterpaduan pengaturan pengembangan SPAM dan PS Sanitasi; serta ayat (2) bahwa PS Sanltasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi PS Air Limbah dan PS Persampahan. 1.2. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) ini adalah menyediakan bahan sebagai aeuan bagi Pemerintah KabupatenjKota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai dari tahap persiapan, pereneanaan, pelaksanaan konstruksi hingga pengelolaan (operasi dan pemeliharaan), dalam rangka meningkatkan pelayanan sanitasi skala kawasan di daerah perkotaan yang rawan sanitasi dengan penduduk berpenghasilan rendah. 1.3. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat sesuai dengan kaidah serta ketentuan teknis yang ada. 104. Ruang Lingkup Petunjuk teknis ini memuat pengertlan, perencanaan dan pemragraman, pengorganisasian pelaksanaan serta pembiayaan penyelenggaraan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang efektif, dan berkelanjutan secara tepat untuk kawasan kumuh perkotaan. 45

1.5.

Pengertian Sanitasi lingkungan berbasis masvarakat, adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat, terdiri dari (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal, (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3 R (reduce, reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.

1. Pengembangan

prasarana dan sarana air lirnbah komunal berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Pengertian air lirnbah dalam petunjuk teknis ini adalah air buangan yang be rasa I dari WC, kamar mandi dan dapur/ternpat cuei pakaian. Pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat terdiri dari tangki septik komunal, atau Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) atau sistem perpipaan air limbah komunal;

• Tangki septik komunal adalah tangki septik yang dibangun untuk melayani beberapa rumah yang berkelornpok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Setiap tangki septik kornunal melayani 5~10 KK. • Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) terdiri dari sejumlah kamar mandi dan WC, sarana cuci yang dilengkapi dengan unit pengolahan air limbah. Pengolahan air limbah yang digunakan adalah bio-dtqeste« dan baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic fi/teJjtangki septik bersusun dengan filter). Setiap MCK Plus++ melayani 100 KK. • Sistem perpipaan air lim bah kornunal adalah sistem yang menggunakan sistem pemipaan PVC dan unit pengolahan air limbah baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic filter/tangki septik bersusun dengan filter). Pipa biasanya diletakkan di halaman depan, gang atau halaman belakang. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 rn dan di titik-titik pertemuan saluran. Setiap sistem perpipaan air limbah komunal dapat melayani 100 KK. 2. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R adalah penyelenggaraan prasarana persampahan berbasis masyarakat yang meliputi kegiatan mengurangi (R1 :::: reduce), mengguna-ulang (R2 :::: reuse) dan mendaur-ulang sampah (R3 :::: recycle). • Kegiatan Mengurangi Sampah CR1) adalah upaya meminimalkan produk sampah. kembaii kembali sampah

• Kegiatan Mengguna-uiang sampah secara langsung.

Sampah CR2) adaiah upaya untuk menggunakan

• Kegiatan Mendaur-ulang Sampah (R3) adalah upaya untuk memanfaatkan sampah setelah melalui proses dan dilengkapi dengan prasarana pengangkut dan IPST (Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu), 3,

Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah penyelenggaraan prasarana drainase berbasis masyarakat yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai:

• Po/a detensi (menampung
penampungan sementara

air sementara), misalnya dengan untuk menjaga keseimbangan tata air. antara lain dengan membuat kegiatan konservasi air. bidang

membuat resapan

kolam (Iahan

• Pola retensi (meresapkan),
resapan) untuk menunjang

1.6.

Prinsip-Prinsip

Penyelenggaraan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

Prlnslp Dasar DAK Sanitasi Lingkungan

1. Program

lnl bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan

46

ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. 2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, sedangkan peran pemerintah atau Swasta, hanya sebatas sebagai fasilitator. 3. Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan Iimbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial. 4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. 2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. 3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. 4. Berkelanjutan, pengelolaan keglatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.
1.

II. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN II.1. Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK)
Mengacu pada kebijakan Kementerian Keuangan bahwa kebijakan bantuan DAK adalah mendorong penyediaan lapangan kerja, mengurangi jumlah penduduk miskin, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalul penciptaan sel-sel pertumbuhan di daerah. Mengalihkan kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang telah menjadi urusan daerah seacara bertahap ke DAK. Berdasarkan ketentuan yang disebutkan di atas bahwa untuk kegiatan yang dibiayai DAK akan dititikberatkan pada pembangunan baru. Program Pemeliharaan merupakan prioritas utama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah, sehingga sumber pendanaan pemeliharaan dibebankan pada APBD murni. 11.2. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupatenjkota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Sanitasi.

47

....
D. I--

E
ra

DD
~
c
..0

'iii

'co

III ~

= -ro <II
E
0
(J)

&
:::J -;:: n,
(J)

....

:J Vl

.lII:

....

~, ~

U)

,

e

~ I: {2.
ra .c ra

.fI
1"\

I:

ra

ra Z

E

;2
It! ~ ,_

'-

~

'! ~ ~--O-·--~I-~~--~~~~--+-4--+--~+-~-4--1 a '~
G. ~
z .....

S

r::

..
111'

......

(J)

-- 0 aJ D. >-~ ~ ...... It! :J ero c, c..."Oro "0

.- -_ Vi"~(J) 0.. It! ::::10 :::J ..__.. Vlt:; ...... ..0 III ..... C-l1J

rap

c: (J)

~

£? OJ .....

'0 ::.::

It!

.g'
...... ::.::: "co --.. •
~C
'-

vi

rn
Vl

J6
(J)

.... :::l

'-

C C I:C It! :::l :::l .._.. I:C

Vllt!..!!!

:::l

~~ 0..--

(J)

..... ~
Vl

Il.l .....

m.g

Rvi

~..o .- ro

:l

O~

2. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a. Perlu dilakukan lnventarlsasl/penvusunan data dasar mengenai daerah-daerah yang sudah maupun yang belum mengembangkan fasilitas sanitasi lingkungan. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce.300 juta 49 . Modul ini merupakan modul yang disarankan. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. 11.1. sarana cuci. reuse dan recycle) dan 3. dan unit pengolahan air limbahnya. Modul lni dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. pengembangan prasarana dan sarana dralnase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce).2.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. 2. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal berbasis masyarakat. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatlhan sekitar Rp. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunalberbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Penyusunan Usulan Kegiatan Prioritas Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce.3.3. Penyusunan Data Dasar Prasarana Sanitasi Dalam mempersiapkan program.3. Fasilltas persampahan. pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal. Fasilitas drainase. Modul B berupa 1 unit MCK PlUSH yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandl.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. Fasilitas air limbah. perlu dilihat apakah di suatu daerah sudah ada pengembangan fasilitasi sanitasi lingkungan (air !imbah permukiman. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan.11. 3. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air llmbah skala lingkungan (100200 KK). 2. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Adapun fasilitas-fasilitas sanitasi yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah: 1. terdiri dari: 1. persampahan dan drainasenya) atau be!um. Penyusunan Program Penanganan 11. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat.

_. PENYUSUNAN RKM Organisasi._._.50 _. Shortlist Lokasi terpilih I ~' Penyiapan Masya ra kat Dokumen RKM • • • • . Pelatlhan) r -. _._._._. • Air Umbah l<omunal Berbasis Masyarakat • Sarnpah Pola 3R Berbasis Masyarakat • Drainase Mandirl Berwawasan Ungkungan Berbasis Masyarakat H . Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp.-.-._._. Pemeliharaan Pendampingan O&M .4. _. ._.-._. ._. _.. _.-. OED._.-. mulai dari tahap persiapan._II _ . ._._._.._.3. Penyusunan P etunju k Pelaksanaan Sanitasi Li n 9 ku I1gan Be rbas is Masyarakat ~ . - ._. . ._. _ . _ . - _._.._.. _. _._ .. Pemberdayaan Masyarakat Pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini diselenggarakan secara swakelola melalui proses pemberdayaan masyarakat. Sosialisasi Kepada Pemerintah Pralli ns il Ka b upaten/ Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi. II.. Sarana Siap Digunakan -·l· Pelaksanaan Fisik O&M Operasi._ ... _ -.._.. maka proses berikutnya adalah melakukan meiakukan pengorganisasian pe!aksanaan kegiatan.-. III. pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan.-._ .-._.. Pilihan Teknologi dan Sarana. PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG _ .-. - ..-. RAB dan Jadwal Kegiatan .._. r Bagan Alir Pelaksanaan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ... _._ PELATIHAN OPERATOR SOSIAUSASI PENGGUNA r-. _ . Umum PELAKSANAAN KEGIATAN Setelah teralokasinya dana untuk pembangunan prasarana sarana Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat._ -._. .PENGORGANISASIAN IIL1._-_ _ ~ .-~-. ... _. _ . perencanaan.300 juta/Ha._. KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasanl pengendalian oleh masyarakat '-'-'-'_'---'-'I'-'-' 1--+ _. . -+ . f-..- -" .. _·i·· Pelelangan Material . SELEKSI LOKASI Longlist.-~-.J.._&_.. Prioritas ke-3 Pengembangan prasarana dan sarana drainase rnandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan.-. ._.

persampahan dan drainase 7. reuse. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah. 5. 2. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akanlebih tepat saseran dan skala prioritas. Sehat jasmani dan roharn 4. Persiapan Persiapan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat meliputi : 1. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. 2. Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Cipta Karya Ditjen.IIL2. 4. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. 2. Kementerian Pekerjaan Umum ke masingmasing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasllitator lapangan sesuai kriteria. 3. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. Penandatanganan Rencana Kegiatan antara Pemerintah Pusat. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8 lIlA. Pelatihan tenaga fasilitator lapangan Kementerian Pekerjaan Umum. Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. I diseJenggarakan oleh Cipta Karya. dan recycle) berbasis masyarakat. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping (LSM atau Konsultan) akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. Penyiapan Tenaga Fasilltator Lapangan 1. Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dar! TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1. Seleksi Lokasi 1. 3.. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3. ke Ditjen. Penyampaian surat oleh Ditjen Cipta Karya. 51 (syarat tambahan oleh Masyarakat) . 3. III. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. 3. Memiliki cukun waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6.

2. f. e. pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). barang maupun tenaga. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan KabupatenjKota. 2. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat diusulkan dan disahkan dalarn forum musyawarah di lokasi pelaksanaan. Tahapan pelaksanaan konstruksi dilakukan oleh masyarakat calon pengguna (swadaya) dengan didampingi o!eh TFL. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat CRKM) 1. d. IIL8. Tenaga Teknis dan anggota. Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran lirnbah. III. Operasi dan Pemeliharaan Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat oleh KSM atau KPPyang ditunjuk oleh masyarakat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan balk dan berkelanjutan. rencana pelatihan KSM serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas sanitasi lingkungan yang dibangun. calon penerima manfaat. Masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. Detail Engineering Design (DED) dan Rencana Anggaran Biaya CRAB). 3. Masyarakat di lokasi terpilih dengan didampingi fasiHtator menyusun RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat berupa pemilihan prasarana sanitasi lingkungan beserta teknologi sanitasi lingkungan yang dibutuhkan. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasls Masyarakat dimana proses 52 . tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. Bendahara. Konstruksi dilakukan setelah RKM selesai disusun dan disahkan oleh para wakil stakeholder (SKPD. pembentukan forum pengguna. c. Susunan pengurus KSM minimal terdiri dari Ketua. 1.Syarat Lokasi : a. Kegiatan konstruksi dapat dilakukan oleh pihak ketiga jika ada kesepakatan bersama dari masyarakat melalui kerjasama operasional (KSO). IlLS. jadwal konstruksi. Pelaksanaan Konstruksi 1. baik dalam bentuk uang. Tersedia lahan yang cukup. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman. Sekretaris. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK++. 7. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasll musyawarah masyarakat pengguna. Adanya saluran/sungaijbadan air untuk menampung efluen pengolahan air llrnbah. KSM dibentuk dan ditetapkan dalam Musyawarah Masyarakat calon penerima manfaat. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) b. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. rencana kontribusi. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. Kawasan permukiman padat. KSMdan TFL). 2. KSM merupakan wakil masyarakat calon penerima manfaat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 1. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). 3. IIL6.

Sosialisasi terhadap masyarakat pengguna : dalam kegiatan ini kelompok masyarakat calon pengguna diberi penjelasan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan tata cara penggunaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbangun. Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunal (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. Umum Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini berasaI dari berbagai sumber pembiayaan. Biaya Konstruksi Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. tenaga kerja.musyawarah. III. 2. dan penerapan Perilaku Hidup Sehat dalam bentuk pelatihan dan sosialtsesl yang meliputi : 1. OAK dan Pemerintah Kabupaten/Kota (APBD). Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh pengelola yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). Biaya sosialisasi DAK dan pelatihan TFL dibiayai dari dana APBN 2. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Pengawasan dan pengendalian dilakukan sejak tahap rembug warga tahap pertama. seleksi dan implementasi pilihan-pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat. Pelatihan terhadap Mandor: dalam pelatihan ini mandar disiapkan untuk membangun prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terpilih sesuai dengan OED yang telah disusun. identifikasi. 3. Pemerintah Kabupaten/Kota. IV. DAK. mandor. 4.2. b. Pelatihan terhadap TFL (RPA & RKM): dalam pelatihan inl para TFL disiapkan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penilaian kandisi sanitasi secara cepat dan mendampingi masyarakat dalam menyusun RKM. 3. Dana pihak swasta lainnya dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling 53 . 4. Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD. tukang dan pengelola dibiayai dari dana APBD. Pelatihan KSM. Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut: 1. Pelatihan terhadap KSM : dalam pelatihan ini KSM dibekali pengetahuan tentang organisasi dan pengelolaan administrasi keuangan. Penguatan Kelembagaan Masyarakat Penguatan kelembagaan masyarakat berupa pengorganisasian masyarakat & pengembangan institusi lokal. Pelatihan terhadap Pengelola : dalam pelatihan ini pengelola (KSM/KPP) disiapkan untuk mengoperasikan dan memelihara sarana Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. untuk menjaga dilaksanakannya prinsip-prinsip dasar Sanitasi Jingkungan berbasis masyarakat. Pengawasan dan Pengendalian Kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat inj merupakan kegiatan milik masyarakat sehingga diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian oleh seluruh komponen masvarakat dengan didampingi aparat serta dibantu aleh tenaga fasilitatar. 2. bendahara. akuntabilitas publik maupun kontrol soslal tetap berjalan. Swadaya Masyarakat c. material dan lain-lain. swadaya masyarakat. swasta dan atau LSM. IV. d. PEMBIAYAAN IV. transparansi. 5. IIL10.1.9.

. III Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED -.. VI Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) -... Rincian pembiayaan dapat dilihat pada tabel1... -.. -. -. -..j V Konstruksi Material Upah pekerja Lahan -.. -..j -. -.j -..... 5. + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi RKM dan legalisasi Masyarakat -.meng untungkan.j -. Komponen Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Kegiatan APBN DAK APBD Masyarakat I -. label 1... -. (Rapid Participatory Assessment) -.j -.... -.j -..... Pembiayaan per Komponen Kegiatan No. -. -.j -. IV Pemberdayaan Pelatihan KSM Pe!atihan Bendahara Pelatihan Mandor Pelatihan Penqelola Kampanye kesehatan -. -. Biaya Operasl dan Pemeliharaan Biaya operasi dan pemeliharaan di tanggung oleh masyarakat. -.. -.. -.. .j 54 VII VIII Pengoperasian Monitoring & Pemeliharaan & Evaluasi -. -. II Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif List.j -.j -.. -..

2.4. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah (SKPD).IV. pelatihan TFL.3. IV. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM IV. dlsampaikan setiap minggu kepada masyarakat. Dana APBD dialokasikan sebagai pendamping fisik DAK serta bantuan pendampingan pemberdayaan masyarakat (termasuk gaji TFL) dan pelatihan KSM. Perwaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian PU di Provinsi yang digunakan untuk melakukan soslallsasl. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyara kat/RKM. IV. Pelaporan 1. IV. Dana DAK dan APBD diwujudkan dalam bentuk mekanisme kegiatan swakelola oleh SKPD bersama masyarakat (KSM). tukang dan pengelola serta masyarakat pengguna. Dana Masyarakat I. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2. IV. mandor. 3. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasll musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSMsesuai perencanaan dengan pengawasan dari SKPDdan fasilitator.3.3.s.!.s. monitoring dan evaluasi. SKPDKabupaten/Kota dan fasilitator. 2. Penyaluran Dana Dana APBN 1.3. Dana DAK dan APBD 1. KSM membuat laporan keglatan harlan yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan. IV. Dana LSM (jika ada) Dana LSM adalah dalam bentuk keahlian (expertise) sebagai bentuk kontribusi kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. Fasilitator dan KSM membuat laporan secara periodik kepada SKPD sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan 55 . Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM. 2.4. 3. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. bendahara.3. 3. 2. 3.3.3. IV. Dana Swasta/Donor (jlka ada) 1.

MENTER! PEKERJAAN UMUM.TO 56 .V. ttd DlOKO KIRMAN. PENUTUP Penjelasan leblh lengkap mengenai tata cara dan persyaratan teknis dijelaskan terpisah pada petunjuk pelaksanaan.

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KabupatenlKota Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasl Khusus. 100%) 1. Data dasar seluruh prasarana jalan Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana irigasi Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana air minum Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Proses dan Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kandisi 0%. Materi laporan yang disampaikan: a. PELAPORAN Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) 1.LAMPIRAN 5 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRTlM/2010 TANGGAL: 01 November 2010 MEKANISME I. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 5 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/WaIi kota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPD Provinsi dan BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sama. Materi laparan yang disampaikan: 57 . Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar dilaporkan sekall yaitu pada Trlwulan I yang berlsl: 1) Data Umum (Form KDU): • • • • • • Nama Kelurahan/Desa Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kelurahan/Desa terse but (pantaijpegunungan/ Potensi Kelurahan/Desa (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk masing-masing subbidang 2) Data Dasar (Form DO): • • • • b. 50%.2.1. Laparan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dengan tembusan kepada BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sarna.

Kabupaten/Kota Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) untuk subbidang jalan Data Dasar (Form ~O): 58 .atan (kaardinat dan kondisi 0%. 100%) II.a. Balai/Satuan Kerja Pusat 11. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Bina Marga cq Direktur terkait. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (m 2 ) sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di KabupatenjKota tersebut (pantaijpegununganj Patensi Kabupaten/Kata Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) subbidang untuk masing-masing 2) Data Dasar (Form ~O): • • • • b.1. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan menyusun dan menyampaikan laparan triwulanan penyelenggaraan OAK subbidang jalan yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi Data dasar seluruh prasarana irigasi Provinsi Data dasar seluruh prasarana air minum Per Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Per Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaparkan selama 4 Triwulan (Prasarana Jalan dan Irigasi) 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegi. Materi laporan yang disampaikan: a. 50%. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • Nama KabupatenjKota Luas wilayah (rrr') sekali yaitu pada Triwulan I yang berisl: • • • • 2) Jurnlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Patens.

Data umum dan data dasar 59 . Direktur Pengembangan Air Minum. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • • b.ksanaankegiatan Prasarana Jalan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi dan Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pela. Materi laporan yang disampaikan: a. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penye!enggaraan OAK subbidang air mtnurn yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasll pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. 100%) II.3. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderai Sumber Daya Air cq Direktur terkait. 8alai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Oaya Air BaJai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Daya Air melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang irigasi yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPDKabupatenjKota. 50%. Materi laporan yang disampaikan: a. 100%) II.• b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 han kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq. Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantai/pegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang irigasi Data dasar seluruh prasarana jrigasi Provlnsi dan Kabupaten/Kota 2) Data Dasar (Form DD): Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Irigasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. 50%.2.

50%. 100%) II. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq. Data dasar seluruh prasarana sanitasi KabupatenjKota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Sanitasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 60 .4. Data dasar seluruh prasarana Air Minum Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Air Minum dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang sanitasi yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota.Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr) Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pettanian/pettambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang air minum 2) Data Dasar (Form ~O): • b. Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Materi laporan yang disampaikan: a. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kata Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kata tersebut (pantaijpegunungan/ Patensi Kabupaten/Kata (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang sanitasi 2) Data Dasar (Form DO): • b.

.2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinatdan kondisi 0%.. Sekretarfs Jenderal ~~--~~--~~~I J I 14 hari kerja 14 hari kerja Dlrektorat lenderal tetkalt -... ------- Satker Terkait Kepala &alall V - BU PAn/WAU KOTA cq Kepala Sappeda Tembusan 5 harl kerja Kepal SKPD Kab/Kota sub bldang 61 ...---_ KepalaSKPD PI'oVlnII aub 10 hari kerja " bld.....=.1 Mekanisme Pelaporan - MENTERI cq.. Kepala Rappeda . --= cq....0... 100%) Gambar 5. 50%.... GUBERNUR 10 hari kerja 1:0 hari Tembusan kerja 1---........ng 'l I I _I ---Il1o.

id .Pengecekan silang hasit pengiriman 62 . Mekanisme Pelaporan DAK On Line . Pelaporan DAKOn Line III.Sarana Komunikasi Pusat-Daerah .Laporan dapat dikirimkan III.Tempat penyimpanan data . Manfaat .2.SKPD mengirimkan registrasi DAK format laporan laporan setiap saat apabila ada perubahan data dan informasi .Pelaporan OAK On Line melalui http://www.l.web.emonitoring-PU.SKPO mengunduh .III.SKPO melakukan .

:::l C E ::::I E =s ..0 J9 tU e E J. Lt) c: ~ .: ta c:'t.. 0.CO'" .C3 ~ "Oc roc ...c fa >~~ C ..... OJ OJ 0.. 0 .....c~ v l .. r.I ~S ta 2 ro "'0 OJ 0..o E :a E . c ra .. .....::&: OJ eo Ul co CO >C s: {5 :~ i! .. ::::I ....... II C ... ...'in cu D.. ..c .. co Ul 0 C CU N I! :::J E !! {:. CO co =s OJ .. COl co . co 01 CO ... E CO 011: C....c ~ fa ...j ...... C ::::I fa \0 ..¥ '1:1 1::J :J ::::I ...c M CO CO ..::&: u Dr ..

ccc men § c III ro !:! ~ .0 u D ttl rol. III III 0 0 ill ill . := 11 Z0 . r~ III III m m 'tI .0 CL ro c '- ~ lc m ..CL e :c 'tI E .':: E II:! :I Ecc c :J E :I 'f .'Q)(j) :::I III D(J) ._ .c.'.= C ~ '.Q (J) (J) (J) ::::I III &: e::: CL 0.!9 c . C 1- E C :I ~ I: III III e C C A1\'1 I: ILl N ~§ :l c mill UlCO cc 'iii m 'E m '.. lil "ai ~c ~ III !l Ie 1111 Ij 'It III .5 E I~ ! Ia Q) E 0:I~ 'iii C III I~ III U m EU (J) ~ '5 2J c Ul '5 . C aI ~ ~ ~~ ~ III J "' B" ::t III E «II ~ c 0 :~ .... c c: m ro !:! !:! !:! Ul c ~ . 'f c: II:! III 'f c: III ::::I cE ::J ir 0) 'c 'iii m .ol u D r I! ~I'iJ I.c III v III III CL a...0 ~~ o. '16 c 'iii I~ c c III ...c:t ..: I c: 1II...0 ~ E E ..Q E s: 'c E.....111 i ~~ Qj :0 II:! s: ~ I'\Im .. s: .. a.. II A- 0 C Co iM c 'Vi Ul III III ~ III .!: ~ .01 u a.... c I: IIJ Z' ::J " 0.g !:! m . m E f Ia II:! 8' A- i et::co ftI :J III c.. E I~ 'tii t: c ~ ..:.-III ~ 'ii -m CL '.:J I'll e ..r::..o ::oF c . 'iii .. 'E':J: i III «I .~ ..r::.. 'tI "§ E~ :6 .g o. lfl .. ::L. ~ E c C mcm .Z&IO ftI ':.. " !:! ~ s g cc III III C C III 'ii'ii c CLo...~ H c: c III m .r::. III Il ~ III '.Q Ig !:! 19 III I'll III III ~c * 'tii 'iii ~ III cc 'iii Ul III . §c m Ic m I Q III .B gm c C III :J "0 "0 -m 00 'iii 'tii IIJ 0. 'c E 0) 0) 'ii '" ro .r::..0. E 0).r::.~ ~ i i~ . EE (J)Q) 9 a.a :8 ::t .o: E..~.

19o I'~ r:: ra !:It. is i9 c: U 19 ftI ...1:1 ::I ..... IQ !:l i-.oJ liII: f» '. I: '"' Ia.!illl a... c fa ..t ~ ~ c( . r:: III D- m c: l . . fa fa 1ft .: m ! g Ci ~ c III ra . ra ~ :::I IV c ! A. -aJ2 ~i~ Sa ftI::I'§ ::I Q> «>.. :J ~ :::I IV ~ fl!1D .. 'iii ':. f» ..'I :6 D .::..... C III III III . e a.l!2 3:l >c: . j:: III OJ -2 ~ -111111 I! ~ D..... . e '" ~ ::I in QI C III III III .....m III :Ii!: IJ= Ql'V r:: .. :!! ~ ~ III i= c " 0 D:. III :::I a: ~ Z Z III .: O.. .... ".:a. ..s: :Q'! ftI ftI 0 III m D: 0 :::I z ...!!! c: '"' % .:E .!! -__ . :~ ~ -Ell! .9.J: C til I'll .. .!! III ~ ra . ( 'S I'" IV .Q Z ::. liB . ::I ~D: g! c· ......t III III:: & ~ li I! '-¥ Do '....-..:. ~ C s ar: Do.. iii E r-.

Q M ~ E O. . ~ e C ~ ~ C m dI § aI II: ~ en v. c ro ro '" ....c 'Vi t! I'll' .._ . C dli a:l1 !. II: III . Q... ..III 'CI E c: I: ~ 0 .mE E !f':..".... 2 ro ro OJ 0-0 en ~E lDo.... m ~ a IV ~Q dlJ! E en ID v c E Z IV I'II'..::: = .Cl III 'iii Q .. s 121 si "" " L:.1J ~ <D ... ..g fI 'I'll' E aJ II: N Z Z "" 0 . Vi iii t:l I: 'iii Vi 16 e " If I: I'll' i1 ~ j::: ~ ::l i . 0' ~~ 0 e:. '" !I !.

..: e . a Z J!l c: 19 U to ....'- "at! Dl_ men 'iii ...I Q.. . III a. .: c ~ E ! ~ ~! 111'- ftI'. '..

m = ..I :c m m w A... I- I: m I- 1! m II) m • ~ Q Q m ._ I- e I: N :::E cC Z ~ Q ~ ..

a ro ro ..:!:: ~ra D.... ro ro ro 3: v o.('l Ei • VI 1"'\ D.c >C n::l Z .~ Cl Z 0 ~ a I9 ro ._ L._.C "iiJ Ul .~ \.~ UJ . . >oCf mc c tnfJ] j:: ~-.c co ._ .. v co ClJ ~ ::J U C .. i~ c 'C~ CLJ ::1.::: N ro IV Ul ~ 0 .:i! .0 i'.fo E 1"'\ C._. ro .. . ~ .:. 1'1 fa en CLJ ._ "t' .. ra~ a.c::: ::::I 100 M 1'1 . IV ::J Cl......I ~ ~ C 1'1 f'..m ::J "~ c Oa.. or c ro .:II:: "C ::I 'CI ::J'.. c .

z 0:::: o..~ w · : : · 6 c::: 0.. ~ « 0 Z ::J L9 Z (/) z £3 § co ~ ~ a. 9 ~ ::J<i. « ~ Z <C ~ a. r-- ~=>l!iz CO u.. I~ ~~ o::::z .2~ v. . L w o. => OJ I~ ~ a.2 z ~ . (/) z · · · : : .. ~~ 0 s Z 0 ::Ja.zCC z<c _0 ~...

..o . 't: C Sen CI .... "' . AI g ~ C U rtl (]) rn c ro _Q c ES-6 ... UJ E 0.- m.. ::l -e :: A.:ac: .. ez COra Z Q .

ii ...ro 0. III III U '§- :::.e IG c IG~. "~ iii D:: ... 'U...:: ~ 'IXI :~ 0'\ 10 01 c r::: "0 ro ~ = i£ S2' 01 (I) Ei _n f'" :::I ~ :::I . --< ~ 1'0 I.. "C til CD_ :c V" '-0 ro :::I '" >III AI cQI ..III :E =s AI ftiI :0 :10 ... I.... u:::: O'l "Vi I.:: 2 (U \! C ~ ::Iep% A. 0'\ m a..... 'I:' CD III ~ ..:: 3 "'1 III -i:: _!g ro c: 0..c q ro 0'\ 0'\ C ...e AI Q.=... '§- ::i ~ ~ 'iii Q .... .:: .:. .. :i.. o ::I :a ~ "0 C 10 0...11:1 01 C :::. AI til c .= c IT:! l!:! N r::: IU z a. c rc III 10 ..._ C n:I Ln f c III ..... !j Qj A... E j! QI Z Q . i:~.a ~ <t" ~ B aJ VI III U) til i !II :::. r::: U1 N r--- U C CD ID til ...c c c ta.. Q.. o.

. .. Lfl .. In 10 ::::I o. ro In ..._ U) I- ~ 0- e E fa C ::::I 'a ::::I f1) '0 A.c ID C ~ D c: ~ .::J o 1'0 c:: c: Z 0 ..c. IQ C N ....e ~ 'Vi ... H E ... 1'0 .. "C 1'0 ro 0 ~ I .... 1"11 ..c:: ro Q) _.. . J9 0 l- 0::1- >........•• S 0 ~ III C \0 ......._ 'It' J:~ 10 ....... QI ..... era :::::II ~ = E :) Q e . fa f E l- ..-j .- :I a. I'll IV') ~ .c ~ .0 :l I- c:: ro ...

.:::. C2 UJ ~ UJ a iE... 1 c 1: J:! III CO 2 Q} III III Cl..!.::: E :e: a:: !. 0 ::..1 iE. :=l Z g Z ~ ~ UJ :::. I 1J .~ ::l iE. 0 c:c UJ 0.

4.Latar Belakang Dana Alokasi Khusus (OAK) Bidang Infrastruktur merupakan dana bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. 3. Menteri Keuangan dan Menteri Oalam Negeri tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK). Organisasi pelaksana kabupaten/kota yang beranggotakan wail-wakil dari Bappeda.2. proses.l. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERJA IV. Kementerian Negara PPN/Bappenas. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perlmbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. IV.LAMPIRAN 6: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PEMANTAUAN. untuk mengoptimalkan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK perlu dibentuk: 1. Organisasi pelaksana provinsi yang beranggotakan wakil-wakil dari Bappeda. kegiatan yang dibiayai OAK. dan SKPDterkait. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah. Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK) bertujuan untuk mengoordinasikan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK secara terpadu. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian/Lembaga (K/L) teknis terkait. Organisasi pelaksana kementerian yang beranggotakan wakil-wakil dari Oirektorat Jendera! terkait di bawah koordinasi Sekretariat Jenderal. Organisasi pelaksana pusat yang beranggotakan wakil-wakil dari Kementerian Keuangan. maka OAK Bidang Infrastruktur juga tidak terlepas dar! kewajiban menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. keluaran (outpuO. dan SKPDterkait. Bagian Administrasi Pembangunan/sebutan lain. Satuan Pengelola Keuangan Daerah.Tujuan Tujuan pemantauan teknis pelaksanaan DAK adalah: 75 . Biro Administrasi Pembangunan/sebutan lain. PENDAHULUAN IV. hasil (outcome) dan kemanfaatan (benefit. Organisasi pelaksana pusat d.akukan pemantauan dan evaluasi berkoordinasi dengan gubernur selaku wakil pemerintah di daerah.alam mel. Sehubungan dengan hal tersebut. khususnya Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. efektif dan efisien agar terjadi kesesuaian antara masukan (inpuO. 2.

Pelaksana Pemantauan dan Evaluasi V. Pemantauan Pelaksanaan pemantauan dari segi teknis oleh Kementerian Peketjaan Umum terhadap kegiatan yang dibiayai oleh DAK Bidang Infrastruktur dilakukan secara betjenjang oleh Tim Pemantau sebagai berikut : a) Tim Pemantau Kementerian. Kesesuaian hasil pelaksanaan kegiatan dengan dokumen kontrak/spesifikasi yang telah ditetapkan. Evaluasi Pelaksanaan evaluasi pemanfaatan/kinerja DAK Bidang Infrastruktur dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum melalui Tim Koordinasi Kementerian dengan dibantu oleh : 76 . 4) Subbidang Sanitasi adalah Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Kepaturan dan ketertiban pelaporan. Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. c) Tim Pemantau Provinsi. V.1. 5. IV.1. 2) Subbidang irigasi adalah Balai Wilayah Sungai.1.Ruang Lingkup Ruang lingkup pemantauan. Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. 3. b) Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal dikoordinir oleh Direktorat Bina Program. Mengidentifikasi permasalahan yang muncu! dalam peJaksanaankegiatan dalam rangka perbaikan pelaksanaan DAK tahun betjalan. Evaluasi dan Penilaian Klnerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan. PEMANTAUAN DAN EVALUASI V. 2.2. 3) Subbidang prasarana air minum adalah Satuan Ketja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. Pencapaian sasaran. terdiri atas Tim Koordinasi Kementerian dan Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal. 4. Memastikan pelaksanaan DAK di daerah tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan penatapan alokasi DAK dan petunjuk teknis.3. V. 7. 2. 6. terdlrt atas Tim Koordinasi Provinsi dan Balai/Satuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-rnasing subbidang yaitu : 1) Subbidang jalan adalah Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ). hasll dan kemanfaatan kegiatan yang dilaksanakan.1.1. evaluasi dan penilaian kinerja adalah: 1.

Pencapaian sasaran.2. DAK disampaikan oleh Gubernur kepada Laporan hasil evaluasi pelaksanaan Menteri cq Sekretaris Jenderal empat belas (14) hari kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan.2.2. untuk sub bidang irigasi V.3.2. kegiatan yang dilaksanakan.2. 77 .1. Tim koordinasi Provinsi melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oIeh SKPD laporan Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan triwulan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: • Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional.1. • Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. Jenderal Cipta Karya I untuk sub bidang air minum dan Oirektorat Jenderal Sumber Oaya Air. Kepaturan dan ketertiban pelaporan. b) Tim Teknis kabupaten. Evaluasi V.2.a) Tim Teknis Direktorat Jenderal Bina Marga. • • Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan Kesesuaian hasil pelaksanaan perundangan yang ber!aku.2. Kabupaten/Kota melakukan pemantauan secara berkala.LL Tim koordinasi kabupaten/kota secara melakukan berkala pemantauan yang meliputi pelaksanaan hal-hal OAK oleh SKPO Kabupaten/Kota sebagai berikut: • • • Kesesuaian paket pekerjaan dengan Rencana Kegiatan (RK) Proses pengadaan paket pekerjaan tersebut Proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang meliputi antara lain: rencana dan reallsasi fisik & keuangan • Rencana dan realisasi kemanfaatan TIm koordinasi Provinsi berkoordinasi dengan Tim Koordinasi V.L Pemantauan V.2.2. c) Tim Teknis Direktorat sanitasi. Tim koordinasi Kementerian berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Provinsi pelaksanaan OAK secara berkala. dan TIm Koordinasi KabupatenjKota melakukan pemantauan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V. Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi V. dokumen kegiatan dengan kontrak/spesifikasi • • • yang telah ditetapkan. untuk sub bidang jalan Provinsi/Kabupaten/Kota.L2. pelaksanaan DAK o!eh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V. hasil dan kemanfaatan Evaluasi dan Penilaian Kinerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan.

80% sesuai < 60% sesuai > 80% sesuai 60% .80% <60% 4 Triwulan dan lengkap 2 .2.PENlLAIAN KINERJA VI.2. Nilai < 60 Klasifikasi Penilaian Akhir : Nilai > 80 = Balk.2. Tabel6.3 Triwulan dan lengkap 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 f 15 o100 1 Triwulan dan lengkap TOTAL Nitai Total = [20% * Nilai (a) + 20% * Nitai (b) 15% * Nilai (e) + 15% * Nilai (f)] + 15% * * Nilai (c) + 15% * Nilai (d) ::= + 10 Cukup.i Angka 10 6-8 <6 Huruf Baik Cukup Buruk Balk CukuQ Buruk Baik Cukup Buruk Baik Cukup Buruk Baik CukuQ_ Buruk Baik Cukup Buruk Aspek Penilaian Dukungan kegiatan terhadap Program Prioritas Nasional Kesesuaian Rencana Kegiatan dengan arahan pemanfaatan OAK Kesesuaian pelaksanaan fisik dengan Spek. Nilai 60-80 = Buruk 78 .1 secara semesteran yang disampaikan pating lambat 14 (empat belas) had kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan.1 No Aspek Penilaian Kinerja PemanfaatanDAK Sobot 0/0 20 Peniiaiall Nila.80% sesuai < 60% sesuai progress fisik >80% progress fisik 60% . Tim koordinasi Provinsi Provinsi Tim koordinasi Provinsi melakukan penilaian kinerja Kabupaten dan Kota penerima DAK berdasarkan aspek penilaian kinerja pada Tabel 6.1.80% progress fisik <60% >80% 60% . Tim koordinasi Kementerian melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oleh SKPD Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan hasil evaluasi oleh Tim Koordinasi Provinsi dan laporan triwulanan. Tim Koordinasi Kementerian Tim Koordinasi Kementerian melakukan penilaian kinerja Provinsi dan KabupatenjKota penerima OAK yang meliputi Provinsi dan Kabupaten/Kota penerima DAK.Teknis/ Dokumen kontrak Pencapaian Sasaran Kegiatan Oampak dan Manfaat (Rerata a -d) Kepatuhan dan Ketertiban Pelaporan (empat triwulan) a b c 20 15 d 15 e 15 > 80% kegiatan 60% . VI.2.V.80% kegiatan < 60% kegiatan > 80% sesuai 60% . VI.

====~~ 79 ._ ___.=K=a=b=/K=o=ta=.Mekanisme MENTERI cq.- L...-_.valuasi Kinerja (Semesteran) r. Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~c==S=K=P=D=. - - - - - ---I I : i Tim Koordinasi Provinsi sappedal BaIO::~::ker I DinasTeknis --------~~-------Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~====S=K=p=D=p=r=O=v=in=s=i ====rW~ BUPATIJWALIKQTA Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) .--------1 I I I Bappeda ------Dinas Teknis 1 Tim Koordinasi Kab/Kota I I ---------------....~ Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) Hasil Pemantauan dan Evaluasi Klnerja (Semestera n) r .1 Pemantauan dan Evaluasi ..--... . Sekretaris Jenderal Gambar 6.-Tim Teknis Sb Jalan Tim Teknis Sb Air Minum -- ....--I I . Tim Koordinasi Kementerian Tim Teknis Sb Irigasi I 1 1 I--I--~ Tim Teknis Sb Sanitasi _I 1 1 I I GUBERNUR I Hasil Pemantauan dan E.

.J V e I'D ~ = M I'D CD C fa III CD .: 'ii ca U"l "iii CO "~ en en .......c c ~c ::::II .. C CO :::l :J 0 00 I <:....t"l C (I) I! Dl m (fl . ~ ~ ti~ II I! .t " ~ ..::: ..~ III ::::I C {! CK:ji ii C ID m~ I:n . ra z Z 0 e !'II .:c IZ~ tV ID IX ro OJ OJ :s ~ c( ~ ....... e ilJ 0 N .--I ..0 .....L S :c C :IIi'! 0 'iii i U'I c \0 . .o I/) ::I . .. 1lIC'1 =r: tft r-. CO ""CI c co :...:.::. ca III I... c 0 ::.. " 19 CO '.J ~ 0"1 0 "-' ::::II J: ~ ...... CD ~ ee c = a: .... ....:>L.... .lII: ...... N A._.:.lII: \0 c CO ""15 .. ::I . 2 "iii c co ..

r: ftI GTU)i ~~ ..._ a c: c.- G 1! v ~c c.(1) '1'1 1111 '&'C C j:: 0loi c'= CUI.. ..c s :=.::: CIJ e ~ ~ r: ~ 0 N .5 IV r: co ~i ~Q.. '--' ~ r: % r:~ .1.1..j en" J-~ oW :::I 00 'iii '...-I I ...! N z . Z laJ E CIJ lao._ me... Ia CIJ ~ ..... . IV gse 01 01 co .!!! 0....~ 1VCl' IV~ > ... (g§ 0.. ~ r: .. c: LrI .:: Ilc . 1E '6 c: "0 ro ta 0... 0 ..' ~.- 0.: rt'l ~s ~g.!..

~III 111'- -c A... 'c ::I "III <II . . c ~ ~ • ftj ~ ~ C' al !!I 'iii ~ !!IIIL----... ~ ~ .~ III~ Z 1'1:1 E .5 .!!! · · III · ::E: ::::> :2: ::::> z ~ IZ c:[ 0 ~ ::2 LU L. C z N 00 .-..U LU £l ~ 0:: ~ a..c CL.... ....c: z i J I) . £~ 1:L.o N CL. c <II X i· III Vl . e X '$ -e CL.. 0::: ~ w e 0 .. .