MENTERI PEKERJAAN REPUBUK

UMUM

INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANGINFRASTRUKTUR

Daftar lsi
Hal.
Peraturan Menter; Pekerjaan Umum NO.15jPRTjMj2010 Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Lampiran - 1 Lampiran - 2 Lampiran - 3 Lampiran - 4 Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Jalan Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Irigasi Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Air Minum Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Sanitasi Lingkungan Masyarakat. Mekanisme Pelaporan Pemantauan, Evaluasi dan Penilaian Kinerja Berbasis .. . .. Tentang Petunjuk Teknis 1 .. .. .

11

23 35
45

Lampiran - 5 Lampiran - 6

57 75

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER! PEKERJAAN UMUM NOMOR: 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA

MENTER! PEKERJAAN UMUM, Menirnbang a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 59 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Menteri Pekerjaan Urnurn telah menetapkan Peraturan Menteri Pekerjan Umum Nomor 42/PRTjM/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang da!arn pelaksanaannya sudah tidak sesuai lagi; b. bahwa dengan adanya perubahan organisasi Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/Mj2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur, perlu dilakukan penyempurnaan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perirnbangan (Lernbaran Negara Republik Indonesia Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Republlk Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah KabupatenjKeta (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomer 4737); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nemor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 2010 tentang

Mengingat

1.

2. 3.

4.

5. 6. 7.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84jP Tahun 2009; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum; 1 tentang

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

PERATURAN MENTERl TEKNISPENGGUNAAN INFRASTRUKTUR.

PEKERJAAN UMUM TENTANG PETUN1UK DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG

BABI KETENTUAN UMUM Pasall
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. 2. Menter] adalahMenteri Pekerjaan Umum. 3. Kementerian adalah Kementerian Pekerjaan Umum. 4. Unit Kerja Eselon 1 adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Bina Marga, dan Dkektorat Jenderal Cipta Karya di Kementerian Pekerjaan Umum. 5. Bidang Infrastruktur adalah kegiatan yang rneliputi Subbidang Jalan, Subbidang Irigasi, Subbidang Air Minum, dan Subbidang Sanitasi. 6.. Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya disebut DAK Bidang Infrastruktur, adalah dana yang bersumber dari APBN yang dlelokaslkan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk rnembantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional khususnya untuk membiayai kebutuhan prasarana dan sarana Bidang Infrastruktur masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. 7. Satuan disebut kepada Alokasi Kerja Perangkat Daerah Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya SKPD DAK adalah organisasijlembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab Gubernur/BupatijWalikota yang menyelenggarakankegiatan yang dibiayai dari Dana Khusus Bidang Infrastruktur.

8. Efisiensi adalah dersjat hubungan antara barang/jasa yangdihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumberdaya untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output) 9. Efektifitas adalah ukuran yang menunjukkan hasll/rnanfaat yang diharapkan seberapa jauh program/kegiatan mencapai dapat

10. Kemanfaatan adalah kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) diselesaikan tepat waktu, tepat lokasl, dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal

11. Keluaran (output) adalah baranq/jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dllaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan

12. Hasil (outcome) adalah seqala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari Ikegiatankegiatan dalam satu program 13. Periode pelaporanakhir triwulan pertama adalah 31 Maret, triwulan kedua adalah 30 Juni, triwulan ketiga adalah 30 September, triwulan keempat adalah 31 Desember.

Pasal2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Kementerian, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaiksanaan, pemantauan dan evatuasi, penllaian kinerja, pemanfaatan serta pembinaan dari segi teknis terhadap kegiatan yang dibiayai melalui OAK BidanglIntrastruktur; (2) Tujuan disusunnya petunjuk teknis lnl untuk: 2

persampahen. c. dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: fungsi jaringan jalan. yang memenuhi kriteria prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2). terkait kesesuaiannya dengan prioritas nasional.. mempertahankan tingkat pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) di provinsi dan kabupaten/kota guna mendukung program ketahanan pangan. serta penilaian kinerja. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. (2) Melakukan evaluasi dan sinkronisasi atas usulan Reneana Kegiatan (RK) dan perubahannva. monitoring dan evaluasi. PERENCANAAN (1) B. meningkatkan terrsolast dan terpeneil. koordlnasl penyelenggaraan. Subbidang Sanitasi memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah. b. Gubernur/Bupati/Walikota penerirna DAK Bidang Infrastruktur membuat Reneana Kegiatan (RK) secara partisipatif berdasarkan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan. sistem penyediaan air minum kepada perkotaan dan di perdesaan termasuk d . Subbidang Jalan meningkatkanintegrasi daerah potensial.okasi DAK darl Menteri Keuangan. pelaksanaandan penqelolaan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi. dan pariwisata. dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dl perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. Subbidang Air Minum memberikan akses pelayanan masyarakat berpenghasilan rendah di kawasankumuh daerah pesisir dan permukiman nelayan. pelaporan keqlatan/fisik dan keuangan. b. serta mensinergikan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan kegiatan prioritas nasional. Subbidang Irigasi. pengelolaan.AB II DAN PEMROGRAMAN Pasal3 membantu Kementerian melalui Unit Kerja Eselon 1 terkalt untuk masing-masing subbidang proses pereneanaan kegiatan yang dibiayal DAK Bidang Infrastruktur daJam hal: a. dan eakupan pelayanan sanltasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. pemantauan. dan dinas teknis di kabupaten/kota dalam pelaksanaan.a. pengendalian. penyusunan dalarn bentuk c. e. tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan. membuka daerah kawasan perbatasan. pelaksanaan. dinas teknis di provinsi. Pembinaan teknis dalam proses pendampingan dan konsultasi. pemantauan. (3) Berdasarkan penetapan al. Rencana Kegiatan (RK) b. (4) 3 . mendukung akses-akses ke pengembangan Prioritas nasional sebaqalmana a. d. kinerja pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) yang merupakan kewenangan provtnsl/kabupeten/kcta. dan meningkatkan kinerja prasarana dan sarana bidang lnfrastruktur seperti kinerja jalan provinsi/kabupaten/kota. yang menjamin terlaksananya koordinasi antara Kementerian. dan penentuan lokasi kegiatan yang akan ditanga_ni.. menjamin tertib pemanfaatan. Penyusunan penyaringan. Rencana Kegiatan (RK) harus memperhatikan tshapan penyusunan program. dan pembinaan teknis kegiatan yang dlbieyai dengan DAK Bidang Infrastruktur. meningkatkan cakupan pelayanan air minum. Merumuskan krlterla teknis pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. Kementerian terkalt. PemerintBh Kabupaten/Kota. (3) Ruang IIngkup pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi perencanaan dan pemrograman. penyusunan pembiayaan.

daerah jaringan reklamasi rawa): Irigasi (4) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c untuk prasarana Air Minum diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi. pemerintah daerah.untuk Subbidang. yang harus mengacu pada rencana tata ruang. sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. Panjang jalan. reklamasi rawa): alokasi DAK adalah Kriteria Teknls yang meHputi: Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk prasarana Jalan diutamakan untuk program Konektivitas Domestlk yang mempertlmbangkan antara lain . harus mengacu pada RPIJM Bidang Pasal 5 (1) Salah satu komponen dalam menentukan a. Lampiran 2. Penyusunan Infrastruktur Rencana Kegiatan dan Usulan Perubahannya yang telah disepakati. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum. maupun oleh masyarakatjswasta. b. c. Subbidang Irigasi. dan Subbidang Sanitasi. ke Unit Kerja Mekanisme perencanaan dan pemroqrarnan untuk maslno-mastno subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbldang Jalan. Kondisi Luas Daerah Irigasi. 4 . pemerintah daerah harus menyusun Rencana dan Program Investasi Jangka. peraturan. untuk menjamtn keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dHaksanakan secara terpadu Pemerintah provinsl harus menyusun Jalan dan Subbidang IrigasL RPDM Bidang Infrastruktur khususnya untuk Subbidang untuk (2) (3) (4) (5) Pernerintah Kabupaten/Kota harus menyusun RPUM Bidang Infrastruktur khususnya Subbidang Jalan. Luas Daerah Irigasi (termasuk b. b. RPIJM adalah rencana dan program investasi pembangunan infrastruktur tahunan dalam periode tiga hingga lima tahun.: a. Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah. (3) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk prasarana diutamakan untuk program ketahanan pangan yang mempertimbangkan antara lain: a. b. Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi (terrnasuk jaringan Kriteria Teknis untuk prasarana air minum. Irigasi. balk yang dilaksanakan Pemerintah. Pasal 4 (1) Dalam rangka menslnergikan dan mensinkronisasikan proqram-prooram Bi.serta metoda berlaku. (5) (6) pelaksanaan yang berpedoman pada standar. dan Kriteria Teknis untuk prasarana sanitasi. d.dan ketentuan yang Rencana Kegiatan (RK) dan usulan perubahannya terlebih dahulu dikonsultasikan Eselon 1 dan/atau Dinas Provins! terkait dengan prioritas nasional . Tingkat kerawanan air rninum.. Subbidang Air Minum. Menengah (RPIJM) Bidang Infrastruktur. (2) Kriteria Teknis untuk prasarana jalan. Kondisi panjang jalan mantap dan tidak mantap. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri lnl.dang Infrastruktur.

kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap pelaksanaan OAK pada subbidang terkait. dan Kementerian Teknis. Membantu pelaksanaan sosiallsasi. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK subbidang terkait. BAB III KOORDINASIPENYELENGGARAAN Pasal 6 (1) Menteri membentuk Tim Koordinasi Kementerian Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian.(5) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d untuk prasarana Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. Memfasilitasi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur oleh daerah. Pasal7 (1) Unit Kerja Eselon 1 terkait masing-masing subbidang membentuk Tim Teknis Penyelenggaraan OAK subbidang terkait. (3) Biaya operasional Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada masingmasing unit Eselon 1 terkait. Menyusun petunjuk teknis penggunaan DAK Bidang Infrastruktur. c. Inspektorat Jenderal. yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal. dan c. Kerawanan sanitasi. d. Menyiapkan laporan tahunan Kementerian penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur. b. disernlnasi. kepada Menteri Keuangan terkait (3) Biaya operasional Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Satuan Kerja di masing-masing Unit Kerja Eselon 1 dan Biro Perencanaan dan KLN. Memberikan saran. dan Unit Kerja Eselon 1 terkait. Cakucan pelayanan sanitasi. masukan. 5 . (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b. yang terdiri dari unsur 8appeda provinsi. maupun rekomendasi kepada Menteri dalam mengambil kebijakan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur. (6) Kriteria Teknis lain untuk masing-masing Subbidang disesuaikan dengan Rencana Kerja Pemerintah pada tahun berjalan dan dibahas dalam Trilateral Meeting antara Bappenas. Kementerian Keuangan. dinas teknis terkait. Memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi dan konsultasi serta pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK Bidang Infrastruktur. Pasal 8 (1) Gubernur membentuk Tim Koordinasi Provinsi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provlnsl. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan selai/satuan Kerja Pusat yang ada dl daerah terkait. e. Menyiapkan dan menyampaikan laporan tahunan subbidangnya. b.

d. Membantu pelaksanaan sosialisasi. dan tahunan terkait penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur di provinsinya. Memberikan jawab Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan OAK Bidang Infrastruktur. semesteran. (3) Pe!aksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dima. dan menyampaikannya kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian sebagaimana mekanisrne pelaporan dalarn Peraturan Menteri ini. Kinerja Pengelolaan Ungkungan Air 'Minum. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. c. semesteran. (4) Subbidang Jalan oleh Balai Besar/Ba:lai Pelaksanaan Jalan Nasional cq. b. dan pembinaan DAK pelaksanaankepada Bidang daerah di Membantu pelaksanaan sosialisasi. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait sebagaimana mekanisme pelaporan dalam Peraturan Menteri tnt. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap Bidang Infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota: d. 6 . Subbidang Sanitasi oleh Satuan Kerja Pengembangan di provinsi yang bersangkutan . Subbidang Air Minum oleh Satuan Kerja Pengembangan provinsi yang bersangkutan. Memberikan saran dan masukan atas Rencana Kegiatan provinsi dan kabupatenjkota kepad'a Tim Koordinasi Infrastruktur tingkat Kementerian. dan pelaksanaan Infrastruktur Menyiapkan laporan triwulanan. Tugas dan tanggung (1) meliputi: a. terdiri dari unsur Bappeda kabupatenjkota dan dinas teknis terkait. Melaksanakan kabupatenjkota pemantauan terhadap yang bersangkutan.. d. c. dan menyampaikan kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provinsi dan tingkat Kementerian. jawab Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Memberi masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. c. di Permukiman Penyehatan Biaya operasional Tim Koordinasl Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah dan pemermtah provinsl sesuai dengan kewenangannya. b.ksud pada ayat (1) dibantu oleh BalaijSatuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-masing subbidang sebagai berikut : a. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah b. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait. dan tahunan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur di kabupatenjkota sesuai kewenangannya. Pelaksanaan OAK (RK) yang disusun pemerintah Penyelenggaraan DAK Bidang e. diseminasi.(2) Tugas dan tanggung meliputi: a. Subbidang Irigasi oleh Balai Wnayah Sungai atau Satuan Kerja Pengeiolaan Sumber Daya Air terkait di Provinsi yang bersangkutan. Pasal 9 (1) BupatljWalikota membentuk Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat kabupaten/kota. oleh Satuan Kerja Perencanaandan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) di provinsi yang bersangkutan.. diseminasi. dimaksud pada (3) Pelaksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana ayat (1) dldukung SKPO OAK di kabupatenjkota yang bersangkutan. Menyiapkan laporan triwulanan.

dan penyelesaian pembangunan jalan/jembatan. (2) 7 .(4) Biaya operasional Tim Koordinasi Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan rehabilitasi merupakan kegiatan perbaikan sistem jaringan Irigasi guna mengembaflkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti desain semula. pemeliharaan berkala/rehabllltasl jembatan. maka prioritas kegiatan selanjutnya untuk pengembangan fasilitas pengurangan sampah berbasis masyarakat dengan pola 3R (Reduce. meliputi: a. Lampiran 2 untuk Subbidang Irigasi. Pada daerah Rawa tidak ada kegiatan peningkatan jaringan reklamasi rawa. penggantian jembatan. Peningkatan sistem jaringan irigasi untuk meningkatkan fungsi dan kondisi atau menambah luas areal pelayanan jaringan yang sudah ada. Reuse. Prasarana jalan. Prasarana air mlnum. Prasarana irigasi. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BABS). peningkatan jalan. KepaJaSKPD OAK Bidang Infrastruktur bertanggung jawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayal dari OAK Bidang Infrastruktur. BABV TUGAS DAN TANGGUNG lAWAB PELAKSANAAN KEGIATAN Pasal 11 (1) SKPO OAK Bidang infrastruktur bertugas melaksanakan kegiatan yang dananya bersumber dari OAK Bidang Infrastruktur sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. d. Ruas jalan provinsi dan kabupaten/kota yang dapat ditangani adalah ruas-ruas jalan sebagaimana telah ditetapkan atau dalam proses penetapan keputusan gUbernur/bupati/walikota tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan sebagai Jalan Provinsi dan Jalan kabupaten/kota: b. untuk kegiatan mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum Terbangun (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru Sistem Penyediaan Air Minum non-POAM bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa-desa rawan air minum dan kekeringan. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. atau untuk mencapai pelayanan maksimum yang pernah dicapai. untuk kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan. Recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan Iingkungan. Kegiatan operasi dan pemeliharan (OP) tidak didanai dengan OAK Bidang Infrastruktur. untuk kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) yang priontas pertamanya untuk kegiatan pengembangan prasarana dan sarana air timbah komunal berbasis masyarakat dalam rangka menghllangkan kebiasaan masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS). BABIV PELAKSANAAN DAN CAKUPAN KEGIATAN Pasal 10 (1) OAK Bidang Infrastruktur diarahkan untuk membiayal kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang menjadi kewenangan daerah yang merupakan program prioritas nasional Bidang Infrastruktur. (termasuk jaringan reklamasi rawa) untuk kegiatan rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan. Prasarana sanitasi. (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan diatur pada Petunjuk Teknis untuk masing-masing subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbidang Jalan. c. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum.

(e) efisiensi dan efektifitas kegiatan. BupatijWalikota melakukan pemantauan pelaksanaan DAK yang meliputi dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pasal15 (1) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota menggunakan laporan triwulanan 13 Ayat (2). menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK yang Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dan Balai/Satker terkait.BABVI PEMANTAUAN. pelaksanaan program pelaksanaan meliputi Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. (d) pencapaian sasaran. 8 . EVALUASI DAN PENILAIAN KINERlA Pasal12 (1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. (b) proses pelaksanaan pengadaan barangjjasa. dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) disusun (7) Pasal13 (1) (2) Kepala SKPO Kabupaten/Kota yang dikelolanya. Hasil pemantauan sebagaimana dalam bentuk laporan triwulanan. dampak dan manfaat kegiatan yang dllaksenekan. Pasal16 (1) Kepala Bappeda Provinsi menyusun laporan triwulanan dengan menggunakanlaporan triwulanan provinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan laporan triwulanan kabupatenjkota sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2). pelaksanaan (2) (3) (4) (5) (6) Gubernur melakukan pemantauan dan evaJuasi pelaksanaan DAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dilakukan terhadap: (a) kesesuaian dan pelaksanaan Rencana Kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. (c) kesesuaian hasil pelaksanaan fisik dengan dengan kontrak/spesitlkasi teknis yang ditetapkan. Cf) kepatuhan dan ketertiban pelaporan. P·asal14 (1) (2) Kepala SKPD Provinsi dikelolanya. menyusun laporan SKPD Kabupaten/Kota triwulanan KabupatenjKota dengan sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh BupatijWalikota kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Kepala SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja sete!ah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPO Provinsi dan BalaijSatker dengan tugas dan kewenangannya sama.

Menteri melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap Infrastruktur. Pasal 17 Mekanisme pelaporan dan format laporan pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 5 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. keuangan DAK 9 . (2). Pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur yang tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri ini dapat berakibat pada penilaian kinerja yang negatif. b. pelaksanaan DAK Bidang (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pasal19 Peniiaian kinerja untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan DAK Bidang Infrastruktur meliputi: a. Daerah. Pasal18 (1) Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan (efisiensi. dan Dewan Perwakilan Rakyat.Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas. Evaluasi pelaksanaan Rencana Kegiatan dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dan dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun pelaksanaan kegiatan Dana Alokasi Khusus. dan (3) di atas digunakan untuk menilai kinerja pelaksanaan Dana Alokasi Khusus di. Kinetja penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur akan dijadikan salah satu pertimbangan dalam usulan pengalokasian DAK oleh Kementerian pada tahun berikutnya. Gubernur melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap pelaksanaan Dana Alokasi Khusus yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Evaluasi dilakukan terhadap program prioritas nasional untuk menilai keberlanjutan suatu program. c. Pasal21 Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dilakukan oleh instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Gubernur kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderai dengan tembusan Direktur Jenderal terkait paling lambat 14 (em pat belas) hari ketja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Gubernur menyampaikan laporan hasil evaluasi dan penilaian kinerja kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Penyimpangan dalam pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Hasil evaluasi dimaksud pada ayat (I). efektivita 5/ kemanfaatan dan dampak) berdasar output dan indikator kinetja kegiatan. Menteri Dalam Negeri. Pasal20 Mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 6 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. ke Menteri Keuangan. yang akan dituangkan dalam laporan Menter.

daerah dapat mengubah peng:gunaan DAK untuk keqiatan dl luar yang telah diatur dalam Peraturan Menter! Keuangan dan Petunjuk Teknis lnl. KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal22 (1) Dalam hal tetjadi bencana alam. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. Pasal24 Peraturan 'Menteri ini mula! berlaku pada tanggaJ diundangkan. merupakan bencana alam yang (3) Perubahan penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang dalam bidang yang sarna dan tidak mengubah besaran alokasi DAK pada bidang tersebut. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 23 Dengan ditetapkannya peraturan Menteri ini. (4) Persetujuan iMenteri Keuangan dan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. (1). 01 November 2010 MENTER! PEKE'RJAANUMUM. (2) Bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat dinyatakan secara resmi oleh Kepa!a Daerah terkait. Peraturan Menteri nomor 42jPRT/Mj2007 tentang Petunjuk Teknls Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. ttd DlOKO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASIMANUSIA KIRMANTO PATRIALIS AKBAR 10 . setetah sebelumnya mengajukan usulan perubahan dan mendapat persetujuan tertulls dariMenteri Keuangan dan Menteri.BABVII.

Undang Undang No. Penyusunan Rencana Kegiatan (RK). sampai dengan proses monitoring dan evaluasi. Tahapan penanganan jalan meliputi: • provinsi dan kabupatenjkota dalam pemanfaatan OAK. (2) pembinaan secara umum antara lain pemberian sosialisasl. Kegiatan Pemograman dan penganggaran terdiri atas: 1. 38 Tahun 2004 tentang Jalan. antara lain penyusunan petunjuk teknis. Penyusunan Daftar Ruas Jalan Prioritas. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Jalan Bantuan Dana Alokasi Khusus ini sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur. (3) pembangunan secara umum antara lain kewajiban penyelenggaraan jalan memprioritaskan pemeliharaan jalan. Dengan demikian diharapkan peJaksanaanpenanganan infrastruktur Subbidang Jalan dapat menghasilkan kualitas sesuai umur rencana yang. perencanaan teknik. mulai dari proses perencanaan dan pemrograman. 34 Tahun 2006 tentang Jalan. Penyusunan Daftar Ruas Jalan. Petunjuk Teknis Subbidang Jalan disusun untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan pelaksanaan OAK. Pasal 23 Undang Undang No. Penyusunan Program Penanganan. PENDAHULUAN L 1. 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta Peraturan Pemerintah No. • • • • Perencanaan Teknis Jalan Pelaksanaan Konstruksi Monitoring dan Evaluasi Pelaksaaan. pelaksanaan konstruksi. menyatakan bahwa Pembinaan Jalan Umum meliputi pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional. 3. Pelaporan Peniiaian kinerja 11 . jalan provinsi. digunakan sebagai acuan hukum dalam kaitan pembagian wewenang antara Pemerintah (Pusat) dengan Pemerintah KabupatenjKota. Pasal 14 Undang Undang No.diharapkan. 2. 4.LAMPIRAN1: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PETUNlUK PELAKSANAAN SUBBIDANG JALAN I. 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyatakan bahwa wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan jalan meliputi penyelenggaraan jalan nasional dan penyelenggaraan jalan secara umum yang mencakup (1) pengaturan secara urnum. jalan kabupaten dan desa serta jalan kota.

1. Pengaturan Jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan. yang berada pada permukaan tanah. Pemeliharaan Rutin CPR) adalah Kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakankerusakan yang terjadi pada ruas-ruas jalan dengan kondisi pelayanan mantap. 1. Pembangunan Jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran.2.3. kecuali jalan kereta api. Pengertian 1. 5. pembinaan. dan pembangunan [alan: untuk mewujudkan tertib 7. baik menambah maupun tidak menambah jumlah lajur. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang rnellputi segala bagian jalan. 4. pelaporan sampai dengan evaluasi dan penilalan kinerja pengelolaan jaringan jalan. penyusunan perencanaan umum. dan jaJan kabel. pelaksanaan konstruksi. Pembangunan Jalan adalah kegiatan membangun jalan tanahjjalan setapak menjadi standar jalan minimum sesuai dengan tlngkat kebutuhan lalu lintas dan sesuai dengan standar/pedoman yang berlaku. Rehabilitasi Jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. yang berakibat menurunnya kondisi kemantapan pada bagianjtempat tertentu dari suatu ruas jalan dengan kondisi rusak ringan. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan dengan pelebaran perkerasan. serta penelitian dan pengembangan jalan.5. di bawah permukaan tanah danjatau air. di atas permukaan tanah. serta dl atas permukaan air. Pengawasan Jalan adalah kegiatan yang dilakukan pengaturan. pembinaan. Peningkatan Jalan (PK) adalah kegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan ruas-ruas jalan dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas jalan tersebut dalam kondisi mantap sesuai dengan umur rencana. Pembinaan Jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis. serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. pemberdayaan sumber daya manusia. 10. 11. 3. dan pengawasan jalan. 12 . 2. 9. Tujuan Petunjuk Teknis ini bertujuan untuk menjamin pelaksanaan/pengeiolaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan sesuai dengan ketentuan. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. agar penurunan kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan rencana. Pemeliharaan Berkala (PM) adalah kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain. dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan. pelayanan. Ruang Llngkup Petunjuk Teknis ini memuat tata cara pengelolaan jaringan jalan mulai dari perencanaan pemrograman. 104. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah sebagai acuan dan pegangan bagi para pelaksana dan pihak terkait lainnva dalam penyelenggaraan kegiatan Subbidang Jalan. tertib dalam pelaksanaan dan tepat sasaran. rneltputl pengaturan. Penyelenggaraan Jalan adalah kegiatan yang pembangunan. perencanaan teknis. perencanaan teknis. pelaksanaan. jalan lori. 1. 6. agar kondisi kemantapan tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan rencana. 8.

menjelaskan pemanfaatan anggaran penyusunan program penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan.2. e e penanganan jalan provinsi yang merupakan akses ke jalan nasional atau strategis nasional. Penentuan program penanganan jalan provinsi 1. • Prioritas Nasional untuk meningkatkan akses-akses ke daerah potensial.II. meningkatkan integrasi fungsi jaringan jalan. Penyusunan Program Penanganan Petunjuk Teknis ini. Ruas-ruas prioritas yang ditangani diambil darl hasil keluaran program IRMS atau dapat menggunakan eara seperti pada butir 2. untuk provinsi maupun kabupaten/kota. 11. • Rehabilitasi. terpeneil. Penentuan nilai RCI berdasarkan jenis permukaan dan kondisi seeara visual dapat dilihat pada tabel berikut: 13 . • Pembangunan. Penyusunan Usulan Ruas Jalan Prioritas Penyusunan ruas jalan prioritas jalan provinsi dan kabupaten/kota. n. sesuai form Data Dasar Prasarana Jalan dan Jembatan. 11.Ol (terlampir).1. yang dimaksudkan adalah prioritas nasional dengan mempertimbangkan aspek-aspek: • Prioritas nasional. Langkah-Iangkah dalam penentuan program penanganan adalah sebagai berikut: A. Penentuan Program Penanganan Program/kegiatan penanganan jalan ditentukan oleh tingkat kerusakan jalan. Penanganan Jembatan • Pemeliharaan Berkala: • Rehabilitasi. adalah menyusun daftar ruas jalan provinsi serta. 2. penanganan daerah rawan beneana serta pendukung pengembangan kawasan perbatasan.1. • Penqqantian: • Pembangunan. Klasifikasi program/kegiatan penanganan adalah: Penanganan Jalan • Pemeliharaan Berkala.1. membuka daerah terisollr.3. ruas kabupaten/kota. Penyusunan Dafta r Ruas Jalan Provinsi serta Kabupaten/kota Tahap awal yang perlu dipersiapkan oleh Pelaksana Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota.1. Menentukan nilai ReI (Road Condition Index) dengan melakukan survey kekasaran permukaan jalan seeara visual dengan menggunakan form SKV.1. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN 11. penanganan jalan kabupaten/kota yang merupakan akses ke jalan provinsi atau strategis provinsi serta akses ke jalan nasional atau strategis nasional. • Peningkatan.

Penentuan program/kegiatan kondisi pada tabel berikut ini: penanganan suatu ruas jalan berdasarkan Tabell. Penentuan program penanganan Jalan KabupatenjKota 1.000. 1. kondisi ruas 14 . Laston).m 6.000 .3.. R R R R R8 R8 . 3.24 3.27 2. Latasbum lama S. Lasbutag setelah pemakaian t:=lhlln Kondisi ditinjau secara visual Tidak bisa dilalui Nilai ReI 0-2 2.-:! 2~R..54 0.54 3 c IRI . Lapis tipis lama dari hotmix.22 :: RCI -e.ZB 6. 7._ :: IRl ~ ___!_ 7.000 B 7. Penentuan kondisi ruas jalan berdasarkan matriks berikut: nilai RCI dan volumelalunntas Tabel 1.5 ::: IRJ e 0-50 8 B 50 -100 B B B B 100.£.53 RCI :: IRI" -.61 .91 3.000 8 >10.:. umumnya rata Sangat rata dan teratur 3.- RB RB RB R8 R8 Fe R8 R8 RB RB R9 R9 4. lenis Permukaan Jalan tanah dengan drainase yang jelek.Tabel 1. banyak lubang dan seluruh daerah loerkerasan Rusak bergelombang.200 200-300 B B B 300-1.3 Penentuan Program Penanganan lalan Provinsi Program Penanganan Pemeliharaan Rutin (PR} PemeHharaan Berkata /Rehabi Iitasi Peningkatan (PK) Pembangunan (PM) Kondisi Baik (B) Sedang (5) Rusak (R) Rusak Berat eRB) - B.10. 1.96 :: RC~2. Peningkatan dengan menaaunakan lebih dari 1 lanls berdasarkan ada lubang. PM baru.1 Penentuan Nilai RCI No.c 3. Latasbum baru.87 5.2 Penentuan Kondisi Ruas lalan dari Nilai RCI Lalu U ntas harian Rata-Rata T ahunan (LHRT) (dua I 'urduaarah) Rei Dari 7.71 3.::_ :: IRI e IRI'" --&25 _- -B 8 8 B B B S S e 5 5 S R R 5 5 5 R s -5 R R 5 J 20 < 0.000 3. Rusak berat. 8. ~ 8 B B 8 B s 5 S R R R8 :: Rei" J. permukaan ialan aaak tidak rata Baik Sangat 5-6 6-7 7-8 8 -10 balk. Rei" :: Rei IRI Ke 10.!.74 < II B B B B I B B S :: Rei '" -c Rei < 4.94 ::: RCI 3..94 : Ii 8 s R -~S B . 4.~ _. Melakukan survey persentase kerusakan untuk menentukan jalan. dan semua tipe nermukaan vana tidak Semua tipe perkerasan yang tidak diperhatikan sejak lama (45 tahun atau lebih) PM lama.69 4. Hotmix tipis diatas PM Hotmix baru (Lataston.5 7.76 :: Rei'" -----'" 3. kadang-kadang 2 6.000 B B 1.. banyak 2-3 3-4 4-S lubanc Agak rusak. batu kerikil PM setelah pemakaian 2 tahun.Bl 5. Latasbum lama. permukaan tldak rata Cukup tidak ada atau sedikit sekali lubang.24 -c Rei -e + 10 12 16 4 ::: IRl « __£_ ~ IRJ .___!!_ AS AS AS - ! S B. Latasbum baru Lasbutaa baru Hotmix setelah 2 tahun.: « IRJ '" ::: IRI e.

Untuk pekerjaan pelebaran melebihi ketentuan di atas harus disertai dengan justifikasi teknis dan mendapat persetujuan dari SNVT P2JJ setempat. kemudian. 34 Tahun 2006. serta di sahkan oleh Gubernur untuk jalan provinsi.2.5 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 5. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan ada!ah usulan program penanganan jalan yang disusun terkait. Tabel Rencana Kegiatan DAK (Rupiah) dan dan oleh dinas untuk jalan • Tujuan/Sasaran • Volume • Satuan Biaya • Dana Pagu Format Rencana Subbidang Jalan. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan CRAB). dan Bupati/Walikota kabupaten/kota. 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No.4 Penentuan Program Penanganan lalan Kabupaten/Kota Persentase Batasan Kerusakan <11% 11. Rencana Kegiatan.lebar (km) harga satuan/km DAK. mengenai lebar badan jalan dan lebar jalur lalu lintas bahwa lebar badan jalan untuk jalan lokal/kabupaten adalah 7. panjang fungsional untuk panjang efektif/fungsional (APBD) minimum pad a Lampiran 10%. serta harga satuan. tentang Jalan. Sesuai Undang Undang No. sesuai penjelasan pada bagian Pelaksanaan Konstruksi. 15 . target fungsional. sedangkan lebar badan jalan untuk jalan provinsi adalah 9 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 7 meter. berisi informasi-informasi: • Kegiatan kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi. Untuk optirnalisasi bantuan DAK Subbidang Jalan maka kegiatan peningkatan [alan yang berupa pelebaran jalan menjadi persyaratan minimal lebar jalur lalu lintas yaitu 5.2.<23% Kondisi Baik (8) Sedang (S) Rusak (R) Rusak Berat (RB) Program Penanganan Pemeliharaan Rutin CPR) Pemeliharaan Berkala (PM) /Rehabilitasi Peningkatan (PK) Pembangunan >23% Catatan: Kegiatan Rehabilitasi dilakukan yang tidak diperhitungkan dalam desain. apabila terdapat kerusakan 11. panjang efektif (km).5 meter untuk jalan lokal/kabupaten dan 7 meter untuk lebar jalur lalu lintas pada jalan provinsi. Penentuan program/kegiatan penanganan suatu ruas jalan atas dasar hasil survey persentase kerusakan dengan batasan-batasan di bawah ini: Tabell. peningkatan pembangunan jalan serta pemeliharaan berkala/rehabilitasi penggantian/pembangunan jembatan usulan ruas mengacu prloritas nasional sesuai ketentuan Juknis panjang (km). karena RAB berisi penjelasan jenis-jenis pekerjaan yang termasuk dalam lingkup kegiatan yang diusulkan. target efektif. pendamping Kegiatan dapat dilihat (m). Rencana Kegiatan (RK).5 meter.<16% 16 . Jumlah.

..c II r-. ftI fa %E ....... :::.... :5 :E ~ a:: . VI fIJ a. < " 2 Lrl ::E Q Do Z w :::II:: Q ~ 0 . :I ftI""'. ::eftl:l I. ...::1....!! ftI a. c ra c ftI :J ::::l a. :J ~ VI a... ra c aJ C aJ en CO "C' ~ (l) e. c "5 0'1 c....... -.-I =:10 C "~ VI fIJ C . ~ ...rae::: Ul:. e 0 Z ._. = e::: M E 0. "Vi e E E c re fIJ .. C ~ 0 Z z......: ... >U) Z < <2 X::5 CC< 'iii 'S.. CC CC '<T ! ra B C . ro D.. "a 1-1 U) E .....-I ...en c l! :::II:: C ftI 0 ...... Z . E w_ =-. 1-1 co :I ...! C .S! fa .....: .. ra "....... N :s ::c ::E: a:I til ::. ftlCQ.. . % = ::5 :l = ... ~ ¥:~ .::: (l) ......::::l ::e M is C fIJ .

.__.. ::::. Ia ..:: >U') M E Z Ia Ia 1m C ':I c:CZ IX e a.: .!: Ul 0 .:::~ "" ::.....2 w ~ ::::. '....0 ~ 2 m ~~ a... r!! 0 .g vi ~ . E 0..B «I 0 Z U') = ti Ie ~ e..::: e «I e ~ 0'1 is 0 ::am ~ E ::J E => IX) 0.. 'C' c ro ro z laea.....::.!5! ra c: Ul co O II I'- ~ a .. ::J '- .-I => ::J ra Ul c . Ia e.. :2: :E t:Q :3 ::c :t III co :'E ra . S ...:1a= Ul cn«l~ -M ~ Cl) CL 6 .S!! Ia e en (I) e «I e cu e. ....::: 0 Z . Ia 1000 .::: c:C Q ~ .e fa en c: ~ ..... g IX S . «I ::::.CII LLI ..... 3.. . ':I ...!! :3 :E ':I 1"\ :::E: ~ . c:C . B Ia e r--... lio=fI Ia . => a..s cu .....rg c 2 ro .... ~~ cc ::J .- :EE ':1.. ..a z " E Ia ~ 1-1 :E c:C IJ'l I~ 1-1 U') Z Q ~ e l- Ia 0 _.c = o ~ M 'iii ~ e Z"" Cct olI :2::3 N ::::. ....

Pemeliharaan Berkala Jalan Merupakan pekeljaan perbaikan dan pembentukanjpelapisan ulang permukaan yang diperlukan untuk menjaga agar permukaan jalan selalu dalam kondisi baik.3. III. 1. Khusus Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Subbidang Jalan di tingkat provinsi dibantu oleh Balai/SNVT P2JJ untuk bantuan DAK jalan provinsi dan kabupatenjkota. Konstruksi Jalan III. b.6 (terlampir). Menunjuk Permen PU tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur mengenai Koordinasi Penyelenggaraan. permukaan perkerasan. menjelaskan bahwa koordinasi penyelenggaraan dilakukan secara berjenjang. retak.3. III. Kegiatan Pemeliharaan Jalan Pekerjaan pemeliharaan jaian berpedoman pada Standar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum seperti Tabel 1.1. Pada panjang efektif: • • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang. ambias. d.3.Perencanaan Teknik Perencanaan teknis jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota didasarkan pada 5tandar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. campuran aspal).III. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan 8elanja Negara dan perubahannva: c.2. dll). ]8 . Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Daftar Standar dan Pedoman yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. kemudian tingkat pemerintah provinsi.2. PembentukanjPelapisan ulang (agregat. Umum Setelah teralokasinya dana mulai dari Tingkat PusatjKementerian.t.3. sedangkan bantuan DAK jalan kota metropolitan dibantu oleh SNVT P2JJmetro.2. Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan BarangjJasa Pernerintah. dana untuk penanganan jalan baik itu pemeliharaan danjatau peningkatan. yang hasilnya menjadi acuan daJam pelaksanaan penanganan jalan. 111.1. Pelaksanaan Konstruksi III. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI 111. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik jalan atau jembatan. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan dengan mengacu pada: dapat a. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. Kegiatan pemeliharaan berkaia.6. meliputl jenis pekerjaan: a.

b. rambu/perlenqkapan jalan. retak. amblas. Pada daerah perkerasan lama : • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang.2. amblas. III.• • • Perbaikan permukaan bahu jalan (penambahan material dan pemadatan/perataan): Pembuatan/Perbaikan dralnase/saluran gorong-gorongi Penggantian. Kegiatan Peningkatan Pekerjaan peningkatan jalan merupakan kegiatan penanganan jalan yang dapat berupa peningkatan/perkuatan struktur atau peningkatan kapasitas lalu lintas berupa pelebaran jalur lalu Iintas. campuran aspal/ATB). Pada peningkatan meliputi: jalan jenls pekerjaan dan pengecatan kegiatan seperti berupa pelebaran. Pekerjaan peningkatan juga dapat berupa peningkatan dari jalan tanah ke jalan kerikil/jalan aspal atau dari jalan kerikilfagregat ke jalan aspal. • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. 2. Rehabilitasi Merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap jenis kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. • Penambahan material bahu jalan menyesuaikan permukaan perkerasan. dan pemadatan/ perkerasan lama • Perbaikan drainasejsaluran tepi jalan dan gorong-gorong. Pada panjang fungsional. Kegiatan peningkatan jalan. retak. jenis pekerjaan seperti kegiatan pemeliharaan rutin. • Pematongan rumput. perbaikanjpembersihan rambu/ perlengkaan jalan. meliputi jenis pekerjan: a. Pada panjang efektif : • Perbaikan permukaan perkerasan (Lubang.2. perkerasan lama (agregat. • Persiapan lapis pondasi diatas (agregat.pembersihan ruang milik jalan. b. tepi jalan dan b. campuran • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. • Pelapisan permukaan aspal.3.campuran aspal/ATB).dll). • Penggantian. adapun jenis pekerjaannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan yang terjadi. • Perataan/leveling aspaIjATB). 19 . dll): • Persiapan lapis pandasi diatas perkerasan lama (agregat. jenis pekerjaannya a. Pada daerah pelebaran : • Persiapan tanah dasar/subqrade (galianjtimbunan tanahjmaterial dan pembentukanjpemadatan). pemeliharaan rutin. Pada panjang fungsianal.

Disarankan memakai HRS setebal 30 mm atau dengan lapisan semen tahan aus dan kedap air. • Perbaikan drainasejsaluran tepi [alan dan gorong-gorong. Konstruksi Jembatan Untuk Kegiatan penanganan jembatan hanya diperuntukan bagi kegiatan rehabilitasijpemeliharaan berkala dan penggantianjpembangunan jembatan. c) Pembersihan menyeluruh jembatan. e) Penggantian siar muai (sambungan star muai). dan penggantian lantai jembatan dan perbaikan oprit jembatan).3. Kegiatan Pembangunan Pekerjaan pembangunan jalan rneliputi pembuatanjpembukaan jalan baru sesuai dengan kebutuhan lalu lintas yang diperkirakan dan mengacu pada standar teknis jalan dengan umur rencana minimal 10 tahun. • Pemotongan rumput. LapIsan aspal permukaan sebaiknya dikupas terlebih dulu dari lantai sebelum lapisan yang baru dipasang. penahan erosi dan perlindungan gerusan pada pondasi. b) Pelapisan permukaan aspal. Pada daerah diluar perkerasan : • Penambahan material bahu jalan dan pemadatan atau menyesuaikan pelebaran perkerasan. a) Pengecatan ulang. Lapisan permukaan jalan pada jembatan memerlukan penggantian secara berkala. abutment. pembersihan ruang miJikjalan.2. dan pengecatan 20 . j) Perbaiki longsor dan erosi tebinq.c. III. i) Perkuat bagian struktural. Rehabilitasijberkala jembatan meliputi perbaikan railing. h) Jalankan bagian-bagian yang dapat bergerak.3. perbaikan kerusakan pada jembatan (pilar.3.3. Ketebalan lapisan aspal tidak boleh melebihi 50 mm.1. k) Perbaiki pekerjaan pengalihan aliran sungai. III.3. Pekerjaan pembangunan ini tidak menyangkut pembebasanj permasalahan lahan danjatau yang melintasi hutan lindung. f) Perbaharui bagian-bagian dan elemen-elemen kecil. 111. • Penggantian. perbaikanjpembersihan rambujperlengkaan jalan. d) Pemeliharaan pelekatanjlandasan. g) Perbaiki pegangan sandaran dan pagar pengaman. Permukaan aspal yang berada di atas lantai baja atau lantai beton akan tahan sekitar 5 tahun sampai 8 tahun sebelum memerlukan penggantian.3. Pemeliharaan Berkala Jembatan Pemeliharaan berkala mencoba untuk mengembalikan jembatan pada kondisi dan daya layan yang mempunyai atau seharusnya dipunyai jembatan segera setelah pembangunan dan mencakup tipe kegiatan dibawah ini.

perletakan.3. dan sebagainya. contoh : sambungan siar-rnual.33. jika diperlukan contohnya elemen lantai. bangunan bawah dan bangunan atas.III. sebagai. Pembangunan Jembatan Pembangunan jembatan baru rnellputl pekerjaan yang menghubungkan dua ruas jalan yang terputus akibat adanya rintangan atau pemindahan lokasi jembatan mulai dari pekerjaan pandasi.. Kadang-kadang bagian struktur juga diganti.G JALAN NO 1 2 3 4 lUDUL STAttDAR/PEDOMAN NOMOR Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya ~NI 03-1732-1989 dengan Analisa Metode Komponen Tat:a Cara Perencanaan Permukaan Jalan. g.3.2.3.. 111. pembatas. Penggantian Jembatan Pekerjaan mengganti bagi'an elemen atau struktur yang telah rnenqalarni kerusakan berat dan tldak berfunqsl. bagian-bagian sekunder atau elemen pengaku.elagar memanjang secara individu. Tabel 1. Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal untuk Jalan Raya. Penggantian keseluruhan jembatan merupakan pertimbangan terakhir dalam proses peningkatan prasarana yang ada. Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan denqan Alat Ukur Kerataan NAASRA Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pandasi Jalan dengan Batu Pecah Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Langsung untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Sumuran untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Tiang untuk Jembatan Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/KerikiI Tata Cara Pelaksanaan Survai Kandisi Jalan Beraspal Tata Cara Perencanaan Persimpangan Sebidang Jalan Perkotaan Gambar Perencanaan Teknik Jalan Kabupaten Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pandasi Ga'iarKayu Tata Cara Pelaksanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu ~NI 03-3424-1994 ~NI 03-3425-1994 SNI03-3426-1994 SN 103-2853-1992 SNI03-3446-1994 SNI03-3447-1994 SNI03-6747-2002 Pt T-Ol-2002~B 008fT/BM/1999 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ~NI 03-2843-1992 SNI 03-2844-1992 a 1fT/BNKT/1992 014/T/BT/1995 008/T /BM/1999 009/T/BM/1999 14 15 16 21 . dsb.6 DAFTAR BUKU STAN DAR DAN PEDOMAN BIDAN.

Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Kabupaten.IRMANTO 22 . Panduan Survey Kekasaran Permukaan Jalan Secara Visual T-02-2002-8 012/S/BNKT /1990 RSNI T-13-2004 013jT /8tj199S o 16/t/Bt/1995 SK.737-1991 SNI 03-2843-1992 SNI03-2844-1992 Pd T-IO-200S-8 Pd T-11-2005-B 038jT /BM/1997 pt Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/ Kerikil Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Beraspal Penanganan Tanah Ekspansif untuk Konstruksi Jalan 5tabilisasi Dangkal Tanah Lunak untuk Konstruksi Timbunan Jalan (dengan Semen dan Cerucuk) Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antal' Kota Tata Cara Perencanaan Geometrik Persimpangan Sebidang Petunjuk Perencanaan Marka Jalan Geometri Jalan Perkotaan Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan Perencanaan Teknls Jalan Kabupaten Petunjuk Teknik untuk Perencanaan Jembatan Kabupaten Petunjuk teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten Panduan Perhibungan Analise Siaya dan Harga Satuan Pekerjaan Jalan. No 77/KPTS/Db/1990 015jT /Bt/1995 30 31 32 024/T/Bt/1995 Agustus 1998 MENTERI PEKERJAAN UMUM.NO 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 I Kesalahan JUDUL STANDARI PEDOMAN NOMOR Umum Pelaksanaan Jalan dan Jembatan SNI03-1. ttd DlOKO K.

Sesuai Keputusan Menteri Nomor 390jKPTSjMj2007. Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2008 tentang Air Tanah. terpadu dan berwawasan Iingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan dalam UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. irigasi air bawah tanah.109 daerah irigasi dengan luas 1. Dari total tersebut. PENDAHULUAN I. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas 1.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengatur kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah dan Pernerintah Daerah dalam pengembangan sistem irigasi. pemerintah provinsi berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1.000 .000 Ha.000 Ha dan yang utuh dalam kabupatenjkota menjadi tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota yang bersangkutan. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Irigasi (termasuk reklarnasl rawa) sebagai lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur disusun dan diterbitkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan Umum. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.1. yang pada pasal 59 (1) menyatakan bahwa Menteri Teknis Menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus.3. Jaringan reklamasi rawa yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota seluas kurang !ebih 226. dan irigasi tambak. irigasi rawa. Pengeloiaan Sumber Daya Air dilakukan secara menyeluruh.000 Ha yang !intas kabupaten menjadi tanggungjawab dan kewenangan pemerintah provinsi.305 hektar yang terdiri dari 815 daerah reklamasi rawa.3.000 Ha atau daerah irigasi yang bersifat lintas kabupatenjkota. Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air. irigasi pompa. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupatenjkota Menurut definisinya Irigasi adalah usaha penyediaan. Pemerintah kabupatenjkota berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1.197 hektar yang terdiri dari 344 daerah reklamasi rawa.210 daerah irigasi dengan totalluasan 7. terdapat 33. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas < 1.000 . Sedangkan beberapa turunan peraturannya antara lain: Peraturan Pemerintah No 20 tahun 2006 tentang Irigasi.423. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.860 daerah irigasi dengan luas 3.469. 31.000 Ha dan sistem irigasi dengan luas < 1. Undang Undang No.796 Ha. dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan.222 Ha merupakan kewenangan provinsi.LAMPIRAN 2: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG IRIGASI I. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 390jPRTjMj2008 tentang Penetapan status daerah irigasi yang pengelolaaannya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah. dan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah provinsi adalah kurang Iebih 432.568 Ha merupakan kewenangan kabupatenjkota dan 1. pengaturan.195. 23 .

pemberian. pemograman. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini agar semua pihak yang terlibat dalam proses perencanaan. irigasi air bawah tanah. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya.2. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang dlperlukan untuk penyediaan.Pemerintah menyediakan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur untuk membantu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendanai pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan reklamasi rawa (tidak termasuk kegiatan 0 dan P) yang menjadi tanggungjawab daerah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. irigasi pornpa dan iri. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis ini mencakup: • Pendahuluan • Perencanaan dan Pemrograman Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Penyusunan Program Penanganan Penyusunan Rencana Kegiatan (RK) • Perencanaan Teknik dan Pelaksanaan Konstruksi Umum Perencanaan Teknik Pelaksanaan Konstruksi 1. bangunan bagi. bangunan bagi. 1. 24 . saluran pembuangannya. pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi penggunanaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi dapat lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya sehingga penggunaan dana dapat menghasilkan infrastruktur jaringan irigasi yang ditingkatkan dan atau direhabilitasi dengan kualitas dan umur rencana sesuai yang diharapkan. pemeliharaan. Jaringan Irigasi adalah saluran. pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya rnellputi irigasi permukaan. penggunaan dan pembuangan air irigasi. Pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan.gasitambak. saluran induk/primer. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya.5. bangunan bagi-sadap. pembagian. irigasi rawa. Jaringan Irigasi Sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder. perencanaan teknis dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan peningkatan serta untuk pemantauan dan evaluasi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi. 1. bangunan bagisadap. 104. Maksud Penyusunan Petunjuk Teknis ini dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai acuan dan petunjuk dalam penyusunan perencanaan.3. Jaringan Irigasi Primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama. dan rehabilitasi jaringan irigasj di daerah irigasi. Pengelolaan Jaringan Irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi. penyusunan program. saluran pembuangannya. Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi.

menyusun system golongan. mengumpulkan data. Operasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya pengaturan air termasuk membukamenutup pintu bangunan air. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan fungsi yang diperlukan untuk pengelolaan air di daerah reklamasi rawa. dan membangun prasarana sistem irigasi. II.Pemeliharaan Jaringan Irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. Pengelolaan laringan Rektamasi Rawa meliputi kegiatan operasi. Pengembangan laringan Reklamasi Rawa meliputi kegiatan pembangunan jaringan baru dan peningkatan jaringan reklamasi rawa. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. mengoptimalkan fungsi. menyusun rencana kegiatan operasi. termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi kewenangan kab/kota dan provinsi khususnya daerah lumbung pangan nasional dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang ketahanan pangan. menyusun pola tanam dan rencana tata tanam. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK) Mengacu pada kebijakan prioritas nasional. memantau dan mengevaluasi. yang terdiri antara lain saluran sekunder dan saluran primer. pemeJiharaan dan rehabilitasi jaringan reklamasi rawa. Daerah Reklamasi Rawa adalah kesatuan lahan yang dilengkapi dengan jaringan reklamasi rawa berdasarkan tahapan akhir pengembangan. Saluran Utama adalah saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan sungai. yang ditujukan untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat jaringan reklamasi rawa. maka kegiatan-kegiatan Subbidang Irigasi yang dapat didanai dengan OAK adalah kegiatan fisik yang masuk kategori Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi serta pembangunan baru yang selektif yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Pemeliharaan laringan Reklamasi Rawa adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan reklamasi rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan mempertahankan kelestariannya Rehabilitasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya memperbaiki jaringan reklamasi rawa untuk mengembalikan fungsi dan kinerjanya seperti yang direncanakan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk pengelolaan air. Saluran Tersier adalah saluran yang berhubungan langsung dalam pelayanan air dengan lahan pertanian. Daerah Rawa adalah areal rawa yang dibatasi garis sempadan rawa Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan manfaat rawa melalui teknologi hidraulik dalam bentuk jaringan reklamasi rawa. Rehabilitasi Jaringan Irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula. irigasi guna Peningkatan Jaringan Irigasi ialah kegiatan meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan. 25 . alokasi DAK untuk Subbidang Irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan. Sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan DAK. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran.

luas. Oaerah Irigasi COl) dengan luas 1000 Ha sampai dengan 3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab provinsi dalam pengel. Adapun kewenangan pengelolaan jaringan irigasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Peningkatan. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan provinsi maka kabupaten/kota tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA Provinsi. Penyusunan data dasar ini mengacu pada form data dasar prasarana jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa). Penyusunan Program Penanganan 11. 3. dan 3. 2. Inventarisasi jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun. OAK ditujukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yang sudah ada. Penyusunan Usulan Jaringan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Prioritas Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survey identifikasi permasalahan dan kebutuhan rehabilitasi/pemeliharaanjpeningkatan secara partisipatif.2. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan kabupatenjkota maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA KabupatenjKota. Alokasi OAK Subbidang. II.1. maka alokasi OAK 2. Rehabilitasi.Untuk mencapai tujuan Alokasi OAK Subbidang Irigasi tersebut. Pembangunan baru yang selektif. Oaerah Irigasi (01) dengan luas <1000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupatenjkota dalam pengelolaannya. Jika provinsi mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang IrigasI untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. Subbidang Irigasi arah pemanfaatannya adalah sebagai berikut: 1.2.olaannya. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka kabupatenjkota tersebut harus mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Sumber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Balai Wilayah Sungai Terkait.2. Irig. dan dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun dengan skala prioritas. Ini dilakukan untuk mendapatkan data jumlah.asi tersebut kernudlan dialokasikan kepada provinsi dan kabupatenjkota.2. Jika kabupatenjkota mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang Irigasi untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. Daerah Irigasi (D!) dengan luas >3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pusat dalam pengelolaannya. 26 . lokasi. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Oirektorat Jenderal Surnber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Salai Wilayah Sungai Terkait. Oalam menentukan kriteria penanganan (rehabilitasijpeningkatan) dilihat dari kondisi kerusakan fisik jaringan irigasi. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dan Kepmen PU No 390jKPTSjMl2007 adalah sebagai berikut: 1. dilakukan dengan menentukan indeks kondlsi jaringan irigasi. untuk kemudian digunakan dalam penanganan (rehabilitasi dan peningkatan) jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Penyusunanan Daftar Jarinan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Kegiatan penyusunan program penanganan diawaJi dengan kegiatan inventarisasi jaringan irigasi. Untuk menilai kondisi kerusakan fisik. dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi. bilamana jaringan irigasi yang menjadi kewenangan provinsijkabupatenjkota sudah berfungsi dengan batk. 11.

siphon. dalam jangka waktu tertentu perlu dilakukan upaya-upaya rehabilitasi guna mengembalikan kemampuan lavanan jaringan irigasi sesuai dengan desain rencana. • Bangunan utama (bendunq/lntake. secara alami jaringan irigasi cenderung mengalami penurunan tingkat layanan akibat waktu (umur prasarana dan sarana) sampai pada tahapan kritis tingkat layanan menurun tajam dari rencana semula yang berakibat pada penurunan kinerja. di bawah 60 maka jaringan irigasi Adapun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan irigasi rawa) yang dapat diusulkan menjadi usulan program prioritas adalah sebagai berikut: II. Tujuan pekerjaan peningkatan Daerah Irigasi untuk mengurangi kehilangan air pada saluran. atau di bendung yang mercunya terbuat dari bronjong dilakukan peningkatan mercunya menjadi pasangan batu sehingga dan tampungan air lainnya 27 .2. jembatan dan jalan inspeksi. pintu bilas. • Saluran (induk. Perencanaan peningkatan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi dilaksanakan oleh Dinas/Pengelola Irigasi bersama perkumpulan petani pemakai air (P3A. Kegiatan Peningkatan Jaringan Irigasi Pelaksanaan kegiatan Peningkatan jaringan Irigasi hanya dilaksanakan pada Daerah Irigasi. talang.1. II.dll). Rehabilitasi adalah suatu proses perbaikan sistem jaringan yang meliputi perbaikan fisik atau non-flsik untuk mengembalikan tingkat pelayanan sesuai desain semula.) berdasarkan rencana prioritas hasil inventarisasi jarlngan irigasi dengan katagori rusak berat. Untuk menangulangi hal tersebut. sekunder. goronggorong. sedangkan pada Daera Rawa tidak ada kegiatan Peningkatan jaringan irigasi. pembuang/drainase.Indeks kondisi jaringan irigasi merupakan indlkator kondisi fisik jaringan irigasi yang dinyatakan dengan suatu angka dari 0 hingga 100. Apabila indeks kondisi suatu jaringanirigasi tersebut diarahkan untuk direhabilitasi. • Bangunan pelengkap lainnya (bangunan baqi/sadap. suplesi. tersier. dll).2. dll).2.2. pintu air. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah dana DAK untuk kegiatan rehabilitasi sistem irigasi yang menjadi kewenangan dan tangung jawab pemerintah daerah hanya dikhususkan untuk kegiatan fisiko Kegiatan rehabilitasi sistem irigasi secara umum dilakukan antara lain untuk jenis-jenis bangunan: • Bendungan/waduk/reservoir/embung/situ untuk keperluan air irigasi. got. saluran drainase. Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Meskipun telah dilakukan Operasi dan Pemeliharaan yang sebaik-baiknya. primer.2. Kriteria penanganan berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi ini adalah sebagai berikut: • • Apabila indeks kondisi suatu jaringan iriqari di atas 60 atau sama dengan 60 maka jaringan irigasi tersebut diarahkan untuk pemeliharaan. sehingga diharuskan untuk dibuat saluran pasangan batu. maksimurn yang pernah dkapai atau sesuai dengan kondisi lapangan. kantong lumpur.

antara P3A dengan pemerintah diantaranya bagian mana bisa ditangani P3A dan bagian mana yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama. b). Hasil rancangan detail desain ini didiskusikan kembali dengan perkumpulan petani pemakai air sebagai dasar pembuatan desain akhir yang dituangkan dalam berita acara. untuk memastikan bahwa jaringan irigasi dapat berfungsi dengan baik dan air dapat dibagi/dialirkan sesuai dengan ketentuan. Dalam rencana Pelaksanaan Peningkatan jaringan irigasi terdapat pembagian tugas. Selanjutnya Pengamat akan menghimpun semua berkas usulan dan menyampaikannya ke dinas pada awal bulan berikutnya. perbaikan berat maupun penggantian harus menggunakan alat ukur waterpass atau theodolit untuk mendapatkan elevasi yang akurat. Survey dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Irigasi Survey dan pengukuran untuk pemeiiharaan jaringan irigasi dapat dilaksanakan secara sederhana oleh petugas dinas/penqelola irigasi bersamasama perkumpulan petani pemakai air dengan menggunakan roll meter. Penelusuran dilaksanakan setahun dua kall yaitu pada saat Penqerinqarr. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Setelah mengetahui proqram-proqrarn penanganan apa saja yang akan dilakukan. selanjutnya dilakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya CRAB). Kerusakan ringan yang dijumpai dalam inspeksi rutin harus segera dilaksanakan perbaikannya sebagai pemeliharaan rutin. untuk mengetahui endapan dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi di bawah air normal.menambah debit air (memaksimalkan) yang tersedia atau yang tadinya Irigasi Sederhana menjadi irigasi Semi Teknis.3. Penyusunan rencana peningkatan jaringan irigasi meliputi: 1. Juru/Mantri. se!ang air. dan pada saat air normal (saat Pengolahan Tanah) untuk mengetahui besarnya rembesan dan bocoran jaringan. Pembuatan Detail Desain Berdasarkan hasil survey dan pengukuran disusun rancangan detail desain dan penggambaran. Hasil survey dan pengukuran ini selanjutnya digunakan oleh petugas Dinas/pengelola irigasi dalam penyusunan detail desain. dicatat dan diklrim ke pengamat setiap akhir bulan. RAB dihitung berdasarkan perhitungan volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah setempat. I1. alat bantu ukur. Penelusuran dilakukan bersama secara partisipatif antara Pengamat/ UPT/Ranting. 2. dilakukan penelusuran jaringan untuk mengetahui tingkat kerusakan dalam rangka pembuatan usulan pekerjaan tahun depan. Sedangkan untuk pekerjaan perbaikan. Pengukuran dan Pembuatan Detail Desaln Perbaikan Jaringan Irigasi a). dan GP3A/IP3A. Penelusuran Jaringan Irigasi Berdasarkan usulan kerusakan yang dikirim oleh juru secara rutin. 3. Hasil survai dituangkan dalam gambar skets atau diatas gambar as built drawing.2. Inspeksi Rutin Dalam melaksanakan tugasnya juru pengairan harus selalu mengadakan inspeksi/perneriksaan secara rutin di wilayah kerjanya setiap 10 hari atau 15 hari sekali. atau tali. 28 .

II. bangunan terjun. Nama Daerah Irigasi. pintu penguras. II. 4. 2. bendung. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Irigasi 29 .3. Diisi berapa alokasi biaya dari Dana Alokasi Khusus dan Dana Pendamping OAK (minimum 10% dari alokasi DAK tahun berjalan) serta total biaya yang diperlukan untuk tiap-tiap jenis kegiatan/paket pekerjaan. Jenis Kegiatan/Paket Pekerjaan. Satuan. Penentuan Program Penanganan Penentuan program penanganan dilakukan dengan memperhatikan prioritas penanganan (berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi) dan juga Rencana Anggaran Siaya. Program dengan prioritas tertinggi dan dengan Rencana Anggaran Biaya yang realistis tentunya akan mendapat prloritas utama. bangunan pengatur (bagijsadap/bagi-sadap). Volume Kegiatan. dengan mencantumkan bagian dari jaringan yang direhab/ditingkatkan. dan lain-lain. Bagian dari jaringan tersebut dapat berupa: saluran primer/sekunder. Berisi volume dari nap-nap jenis kegiatan/paket pekerjaan. Merupakan satuan ukur dari volume kegiatan. Kelompok kegiatan dapat berupa: rehabilitasi dan peningkatan jaringan. 3. Jenis kegiatan/paket pekerjaan merupakan uraian dari kelompok kegiatan. saluran pembuang. Kelompok Kegiatan. 5.2. 6. Siaya.4. kantong lumpur. talang. Hasil penentuan program penanganan ini kemudian disusun dalam bentuk Rencana Kegiatan (RK). Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan berikut: (RK) sekurang-kurangnya mencakup informasHnformasi sebagai 1.

n ~ g :.i ..._ . 0 'C' <V 'C' II:] cu 'C' ro '5.... III e n:I 1:1 III III :::I C ...12 QJ C 'S' .0 r....J!2 Vl c .. . ItIC::o.~ CII D.... a...:: . ..!: E rt:I 0 iii 1:1 :c ~ gtj <C .._ . ** C ... Will :c N s % c ~.... III 'a :elii 1111:1 E 'C' CII 0.. I:G :I x :I ~ . 00 f-- '" = z ............Z . . 0 :I r-. :::I 0 ("') Q. ci .. . .._ ~QlIII 13.._ . III . E a ~ E ... E II:] .. en .... :a . Lf'l~ c cu :::I 't:l ..§! til . rtI :J2l c:c e ~ ~ ._ ... G c 0:'::': . CII_ CII B .w I a. III III D. j J:I... M "':::I~ 1t11ij l:1Il:..IS c c CI it: 1:1 C It! III c: ro ::I~ ..c:: f'IJ 0 :i2' f'IJ .t! III. :::I en c :::I ~ c en C :::I . Lf'l 'c CII C Ia C rt:I io~ ..Q a :....... iU c 'C .......Q ro Ai =a :~ :~ =a =a '<T'~ E: ¢~ .."0 ~.. ... ~ '.. ""'E......J .0 n:I .< :c f'IJ s: cu a:: ~ :::I "0 z w J:I. a u :.s ... E .. Vl & ..e E II:] 'ffi "0 a........ ::a: w g III :... VI ~ a.c :g '" 0>- cu ....: ........< OJ c.........: 0 .0 Z v .... l: ZW .... .. III {2 c n:I E n:I J ..... ~ ~ (f) cu .c VI 'Uj ...IS ~ C III c <~ Xc( < .!: :c c ~i 0 z Z = ..c rn III .... ..... 'S: '" Lf'l e en r..._.I ::I rtI a. '<T' :~ .j.)..... ::!: .' III M .:: .. .< c <V :::I "0 C ::a: N ...a n:I III >- .: ItI C 'a.......5 III III Ec c til CII .. e 'C '" .J!2 ~ :c N =a '::I f'IJ ] ro a c '2: ~ C cu ~ C §J!i ..... . ..). ._...)..i . zCl w E Z Ia 'iii ::! "S III III :I :.n1tlG:: c E . J!i .....:! 9E <.~ U'l . lie" 1'11~ ........:: 2E 2 . c: ..i: f'IJ L- a.:1Il ..... E a "0 :.. :::I .. ::l II:] a..c .."!:::::!' Q.... C ..IS 10 1:1 £0 :.... e m DD 'iij :::I <V I VI j .... n:I c QI <C Cl M:!i! ~.. 'iii c CII Ia >. rc c ~ c ~ :::I ro (f) v . ~~...........0 ...... loot c <V P' 'Uj ......n e a......< .... E w ~ (f) ~ :!Zi ::a: .. :J c ro c ::I OJ C II:] c:c f'IJ fil OJ ..10 n:I - .... :i < ~ III ~ .n C m QJ .....::) .:::.....).. '" rtJ c 'S a... c: s: tn . r.~ :::I ..5 III . ~ O'l ~~ III iii~ <:I 0 !- g .. r.!!! ~ III ~ ::!: :I ....

..0 Qj .._ 0 .. w_ III~ !~ ::::IQI c C..~E 'DW .. .. «I C r:J III Q...Q :J ~~~ LD. ... ::J ~~._ to 0::": ..:: ~ ::::J III ....!:9 "'~ ::::I ___ 10 c: .. In ::::I III ~ «I ~ ... "'c".. ..a s II! II:! III C ...c . . D.a .. ".. .o 0.. 'iii c s C «I :e: ::::J 1""1 :3 ...J E iti (JJ o.. '5.. . ::::I C l!! QI QI g... ..a g ... ro :::I Q) .c ~ ... c .. c 10 ro Q) o._ IJ)ro.0 '0 0.. GJ ...E -:r.a ~I-------~I~~~--~--+---r---~~---.9 Q (II E III iii 'D . E l!! !II WW :e . -::::I ·co «I'D C ~ d z ..... ItI ItI ~ ..... II! 'D C III ::::I (""\ j ~ . ::::12 ro :J 0........ . c: co N·_ E:!.... ~ 0... .::._. III . _!]:I '6 J::... «I 'D II! :J LI'I '" . E II! II! ~ III '51 :i QI ... 'I: III ItI ia {2 C 01 tJ1 C E E -2 j fI ItI III '61 'D III ._ ro .. to .....---..' :3 ~ :&: :::I ::c S N ..c II! 01 ::::I III ro 2.c . U] a c.: ro P ro :::I (JJ __ -~ ... .. III 'c _!]:I E u c: '" E Ul ~ ~ ... ** : i:ii:t .... (II C.~I---':""".a III f--- c r:J >- 01 'I: 'iii 'D C ClJ II! co 'iti Q) c ~ :J ~ ~ '5' -.c .. C II! C III «I III (II C .0... C.......10 ". (JJ ro ..:..l!! * . -'" LI'I E (JJ ~ ... 0E E o E o ~ ~ ~ s ::::I c 01 C .._ 1'......::c ~ -. 'S.e III QI C 0:: 19 C C Z II! 'iii III ..II! C C..._. ~... .. .. .-lf-lI---+--+----1--I--+--I---1 ge eel!! z W D. r:J s 0D -'" .fU~ ~ ro ro--'" c:. c 01 C . . ....-. . II ....£ is '...""" ..LI'I .e . vi >- 'Ii: 'ji .....ui co>ro._....... c:. ::: ~1~~--~~~~--~-+--+--+--4-~~~ g8 II! a ~.. co 2 ro '...

Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktua1. sesuai kemampuannya. peralatan yang akan digunakan.2. tentang waktu. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang menggambarkan lokasi. Pelaksanaan Konstruksi III. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi suatu jaringanirigasi secara umum tidak berbeda d.engan pembangunan baru. Metoda Peiaksanaan III. Perencanaan Teknik Perencanaan teknis Jaringan irigasi (terrnasuk jaringan reklamasi rawa) provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada standar dan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.3. a). 1.2. Persiapan Pelaksanaan Rehabilitasi Sebelum kegiatan rehabilitasi dilaksanakan perlu dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3AjGP3A/IP3A. Pelaksanaan Rehabilitasi Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis. III. III. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. Kegiatan Rehabilitasi Untuk kegiatan rehabilitasi suatu jaringan irigasi dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material darilokasi setempat. Pekerjaan rehabilitasi yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3AjIP3A/petani setempat. jems pekerjaan. Setelah teralokasinya dana DAK untuk penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) baik itu rehabilitasi maupun peningkatan. jum!ah tenaga. b). namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarlkan pemecahan permasa!ahannya. jenis kegiatan. kemudian dilakukan pelaksanaan konstruksi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.1. 8erdasarkan dokumen hasil perencanaan teknik ini. III. rencana biaya dan waktu pelaksanaannya. 3.III. Ill.3.1.2.3. bahan.2. Dalam perjanjian kontrak antara 32 . maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik kegiatan rehabilitasi dan peningkatan.l. III. Umum Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi mengacu pada Norma Standar Pedoman dan Manual (kriteria) yang telah ditetapkan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.1. sifat rehabilitasi dan tingkat kesulitannya. Kegiatan Peningkatan Untuk kegiatan peningkatan suatu jaringan irigasi tidak termasuk reklamasi rawa dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi (termasuk reklamasi rawa) bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material dari lokasi setempat.3. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan.3. 1.

perlu adanya bimbingan teknis. III. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktual. sesuai kemampuannya.3. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan peningkatan suatu jaringan irigasi (tidak termasuk reklamasi rawa) secara umum tidak berbeda dengan pembangunan baru. Pelaksanaan Rehabilitasi Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3A/GP3A/IP3A dalam melaksanakan pekerjaan rehabilitasi wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh Dinas/Pengelola Irigasi. b).3. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan. Persiapan Pelaksanaan Peningkatan Sebelum kegiatan peningkatan dilaksanakan per!u dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3A/GP3A/IP3A. 111.2. Pelaksanaan Peningkatan Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis.3. jumlah tenaga. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor.3. Dinas/Pengelola Iirigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. jenis kegiatan.1. upah kerja dan halhallainnya. a).2.Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • Kontraktor harus kemampuannya. artinya peJaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dan giliran air. melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai • Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarikan pemecahan permasalahannya. pelaksanaan rehabilitasi tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. sifat peningkatan dan tingkat kesulitannya. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang 33 . • adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3A/GP3A/IP3A mengenai jam kerja.3. peralatan yang akan digunakan. Pekerjaan peningkatan yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3A/IP3A/petani setempat. tentang waktu. 111. bahan.

Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan. melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. artinya pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dangiliran air. III. rencana biaya dan waktu pelal<sanaannya. Pelaksanaan Peningkatan Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3AjGP3AjIP3A dalam melaksanakan pekerjaan peningkatan wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknls yang telah ditetapkan oleh DinasjPengelola Irigasi. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. Da!am perjanjian kontrak antara Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • • • Kontraktor harus kemampuannya. pelaksanaan peningkatan tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman.3. ttd ClOKO KIRMANTO 34 .3.2. MENTERI PEKERJAAN UMUM. jenis pekerjaan. upah kerja dan hal-hal lainnya. Dlnas/Penqelola Irigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. perlu adanya bimbingan teknis. Setelah pekerjaan peningkatan selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan peningkatan telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik.menggambarkan lokasi. Adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3AjGP3AjIP3A mengenai jam kerja. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor.

1. terlebih dahulu sistem yang sudah ada. menyusun Petunjuk Teknis Petunjuk teknis ini dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada para pelaksana dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan perencanaan prasarana air minum sederhana. yaitu menurunkan separuh proporsi penduduk yang belurn terlayani fasilitas air rninurn. dengan demikian akan diperoleh arah. Ruang Lingkup Dalam melakukan pemilihan kegiatan DAK subbidang air melakukan review atau kajian terhadap sistem eksisting atau Petunjuk teknis inl menjelaskan kriteria. Besaran alokasi DAK ditentukan berdasarkan kriteria umum. seperti air minum. Penyediaan air minum untuk kawasan kurnuh perkotaan. meliputi minum. baik untuk aparat pemerintah terkait maupun untuk masyarakat sebagai aktor utama pelaksanaan program. khusus. 1. pengertian dan pengetahuan yang sama dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. dan ketepatan dalam pembangunan prasarana air minum sederhana sehingga prasarana yang dibangun dapat dimanfaatkan secara andal dan berkelanjutan. data dan dalam perencanaan prasarana air minum sederhana.1. Menteri Teknis Penggunaan DAK.LAMPIRAN 3 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG AIR MINUM I.2. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan bahwa: • • • DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional. Selain itu. Maksud Sesuai Peraturan Pemerintah No. Hal tersebut mempertimbangkan agar prasarana air minum yang dibangun dapat dikelola oleh masyarakat pengguna itu sendiri dalam skala komunal. memotivasi Pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) khususnya bagi masyarakat perdesaan yang notabene merupakan masyarakat dengan tingkat pelayanan SPAM terendah. tahapan yang diperlukan pembangunan baru dan 35 . PENDAHULUAN I. Tujuan Petunjuk teknis ini bertujuan untuk menjamin kesesuaian. Menter! teknis menyampaikan Kriteria Teknis yang dirumuskan melalui indeks teknls. 104. perhitungan. maka perlu diberikan acuan petunjuk bagi para pelaksana program. permukiman nelayan dan perdesaan dapat dilakukan melalui sistem penyediaan air minum dengan teknologi sederhana (untuk selanjutnya disingkat Air Minum Sederhana). ketertiban. Sesuai dengan data BPS. Latar Belakang Kewajiban Pemerintah dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia. cakupan pelayanan SPAM di perdesaan hanya 8%. operasional dan pemeliharaan serta pengelolaannya. serta teknis.3. Memperhatikan bahwa prioritas lokasHokasi yang akan menjadi lingkup pelaksanaan adalah desajkelurahan yang belum pernah mendapat pelayanan air minum secara formal (pelayanan oleh perusahaan daerah air minum setempat). Pemerintah 'juga terpacu untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) Tahun 2015. bersifat mudah dan ekonomis dalam pembangunan. Berdasarkan Penetapan alokasi OAK.

keuangan. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun. Seeara rinei petunjuk teknis air minum sederhana ini agar menggunakan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana yang antara lain terdiri darl: Petunjuk Teknls Pembangunan Penangkap Mata Air (PMA). Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. Petunjuk Teknis Pembangunan Pompa Hidram.perluasan jaringan pelayanan. 3. Petunjuk Teknis Pemasangan Perpipaan. manajemen. Kegiatan penyediaan air minum merupakan kegiatan pada Bidang Infrastruktur yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu prioritas nasional. perplpaan. rnenqelola. memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik(teknik) dan non fisik (kelembagaan. Ketentuan lainnya mengenai kegiatan yang dapat didanai DAK adalah kegiatan tersebut harus diusulkan daerah yang berhak mendapatkan alokasi DAK. memantau. dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. peran masyarakat. Oleh karenanya kegiatan pada Subbidang Air Minum merupakan salah satu kegiatan yang berhak mendapatkan alokasi dana DAK dari APBN. Oleh karena itu 36 . unit pengolahan. merehabilitasi. Berdasarkan pernyataan di atas. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan.5. Pembangunan infrastuktur baru meliputi perencanaan bangunan pengambilan air baku. Pengertian 1. Petunjuk Teknis Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)i Petunjuk Teknis Pembangunan Bangunan Pengambilan Air Baku. melaksanakan konstruksi. dan produktif. setelah berkoordinasi dengan Kementerian teknis terkait. Petunjuk Teknis Pembangunan Sumur Dalam (SATD) komunal. 1. rnemetihara. 2. 4. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentrallsast untuk (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukan pemerintah atas dasar prioritas nasional. Petunjuk Teknls Pembangunan Hidrarn Umum. perpompaan. Petunjuk Teknis Operasional dan Pemeliharaan. bersih. syarat kegiatan yang dapat didanal DAK adalah kegiatan yang sesual dengan prioritas nasional. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAMmerupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. dan unit pemanfaatan sesuai lingkup program. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Merujuk pada Pasal 162 ayat 1 UU No. II. dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. 5. Adapun besaran alokasi dana DAK ini ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat.

Unit Distribusi Perpipaan. Program-program Subbidang Air Minum yang dapat diusulkan untuk dibiayai DAK Bidang Infrastruktur pada saat ini. d. perlu dilihat apakah sudah ada pengembangan SPAM atau belum.2. Ii. Gambut.2.1. Terminal Air.Pemerlntah Pemerintah daerah harus mengajukan usulan kegiatan yang akan didanai oleh DAK l<epada Pusat. c. IV. Pompa Hidram. Destilasi Atap Kaca (DSAK) untuk air asin. Adapun langkah-Iangkah pengajuan usulan dijelaskan dl bawah inl.2. perlu dilakukan juga inventarisasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. Sambungan Selain inventarisasi fasilitas SPAM yang ada. Penyusunan Daftar Fasilitas SPAM Dalam mempersiapkan program. dilakukan identifikasi usulan program prioritas. Perlu dilakukan inventarisasi/penyusunan daftar fasilitas pengembangan SPAM yang ada. Sumur Air Tanah Dalam (SATD). Daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM ini akan mendapat prioritas untuk pembangunan fasilitas baru. Perpompaan untuk sistem tinggi dari unit produksi. iii. beberapa prasarana sebagai kelengkapan dari SPAM yang perlu diidentifikasi berupa: a. Sistem PengolahanAir vii. Reverse Osmosis eRO) untuk air asin. Mata air ePMA) iii. v. Prasarana tersebut adalah sebagai berikut: a. Sumur GaiL c.2. Sumur Pompa Tangan. Penyusunan Usulan Program Prioritas Setelah melakukan penyusunan daftar fasilitas yang ada saat ini dan identifikasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. Program Penanganan n. dengan topografi dimana wilayah pelayanan lebih Unit pelayanan yang terdiri dari: l. vi. 37 . terbatas hanya untuk program-program pembangunan fasilitas SPAM baru pada daerah-daerah yang memenuhi kriteria. 1I. Paket Instalasi Pengolahan Air (IPA). Adapun fasilitas-fasilitas yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah jenis prasarana sistem penyediaan air minum berdasarkan jenis sumber air baku. Penyusunan 1I. ii. Ii. Mata air: Perlindungan Air tanah i. Instalasi Pengolahan Air Mlnum Sederhana (IPAS) lii. Hidram Umum. b. b. Air permukaan i. Air hujan: Penampungan Air Hujan (PAH) Selain unit produksi sebagaimana hal tersebut di atas. Saringan Pipa Resapan (SPR). Rumah Murah.

Daerah rawan sanitasi. Penentuan Program Penanganan kualitas dan kuantitasnya. Daerah rniskin: Aksessibilitas. fasilitas SPAM baru. hendaknya memperhatikan Jenis prasarana yang tepat untuk suatu wilayah rencana pelayanan dengan mempertimbangkan parameter-parameter sebagai berikut: Jenis sumber air baku. Volume kegiatan. dapat dilihat pad a Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Format Rencana Kegiatan Subbidang Air Minum. 5. dilakukan sesuai diagram ahr n.1.3. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupaten/kota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. termasuk Kondisi topografi. Jarak dengan sumber air. 38 .2.3. 4. Tujuan dan sasaran. Jenis keqlatan: 2. Daerah rawan penyakit. ditentukan Penentuan program (pembangunan baru) tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik dan sumber daya yang ada di daerah perencanaan tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas pelayanan air minum yang direncanakan. Nama paket kegiatan. Usulan program pengembangan SPAM Sederhana kemudian Rencana Kegiatan (RK) yang mencakup informasi sebagai berikut: 1. 6.Usulan program pembangunan kriteria-kriteria berikut ini: Daerah rawan air. Daerah terpencil. pengembangan air minum. Perkiraan alokasi DAK dan dana pendamping. Proses seleksi program pada Gambar 3.a. disusun dalam bentuk 3. Nama lokasi. 11.

o N '5 .c: j9 Q) :a: C'l C Q) .

III. Mata air.1. 40 . D. C.III. Air permukaan. langkah selanjutnya adalah memilih prasarana SPAM sebagai solusl teknis yang sesuai dengan kondisi setempat. Tata cara pengukuran debit air baku dapat dilihat pada pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. B. yaitu: .Jumlah penduduk. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM dan pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Prasarana Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. Perencanaan Teknik 1. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Umum Setelah alokasi dana ditetapkan serta pemilihan program sudah dilaksanakan. Pengukuran Debit Air Baku Sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku meliputi: A.2. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. Peraturan Menter! Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2009 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. Pengukuran debit air baku dilakukan untuk menghitung patensi sumber air yang akan digunakan. Penentuan Kebutuhan Air Kebutuhan air minum yang diperlukan untuk suatu daerah pelayanan ditentukan berdasarkan 2 (dua) parameter. Perencanaan teknik prasarana SPAM harus mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum diantaranya adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Namor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Air hujan.Tingkat konsumsl air. . Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selanjutnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Air tanah. 2.

.5 2: '" :( . .s . o . __E-m ...S .." ~~ fiji: :!_" 2 E E ::J c ~ 'iii ~ "" != . . E :::I . .... "'" F 'Q ~'C ~ii .." 'a! . til ttl C 41 "E '" '<j" OIl 'w c: ::> ::l E II> a..0 E "" '" '" F .. E <II a.. '0 j:: .:.8..... ~ ~ rn c = .=. E ::> . '" .:. u "C 00 ....: '" ~ ~ a..a ~ >'= . .t:II ......!Y :2 '1l m E E 'til .~ .. '" c:... E ::<:: c: to 0> c: to .: '" .: '" = :§ <'<I = =-~ 0:: 'f .. "'" j:: " .

c. modul secara umum terdiri dari: Perencanaan teknis masing-masing a.3.3. 42 dapat . di lapangan. kualitas dapat ditinjau dari parameter-parameter • • • Rasa: Kekeruhan. Perencanaan Teknis Penyusunan perencanaan teknis sistematika sebagai berikut: • • • • Unit produksl yang pengolahan fisik/kimia dari alternatif salusi teknis disusun pengambilan air berdasarkan dan unit meliputi bangunan Uika diperlukan).3. Hasil yang akurat dari kualitas air baku dapat dlperoleh melalui pemeriksaan sampel air baku di laboratarium yang telah ditunjuk sebagai laboratorium rujukan. 4. Standar kualitas air di peralran umum yang digunakan sebagai sumber air baku sesuai Peraturan Pemerintah No. Perpompaan. Pe!aksanaan Kanstruksi II!. Pemeriksaan Kualitas Air Baku Pemeriksaan kualitas air baku dilakukan terhadap kualitas fisik. baku Unit Distribusi Perpipaan. Peralatan.1. d. Cara pengerjaan • • Pekerjaan persiapan. Bahan. Pelaporan. Perbaikan/rehabilitasi. Operasi dan pemeliharaan • • • • Operasi. b. Warna. Untuk pemeriksaan berikut: • Bau. Pemellharaan. 907/MENKES/SK/VII/2002 atau perubahannya. dan mikrobialagis. klmlawl. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan dilaksanakan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan cara swakelola atau kontraktual. Komponen prasarana dan sarana Perhitungan dimensi Spesifikasi teknis • • • Persyaratan umum. Pekerjaan konstruksi. Unit pelayanan. sedangkan untuk persyaratan kualitas air minum sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. III. 82 Tahun 2001. e.

yang terdiri dari oranq-oranq yang mempunyai keahlian yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan air minum. Untuk dapat menciptakan mekanisme pengelolaan yang bertumpu pada masyarakat.Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. III. 2. 3. penyelenggaan pengelolaan prasarana air minum terbangun dilaksanakan oleh Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM). Kelembagaan 1. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. Kewajiban dan hak. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan perubahannya. Koperasi Air Minum.1. Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) adalah badan pelaksana dan pengelola pelayanan air minum yang anggotanya ditunjuk oleh OMS-AM atau Koperasi Air Minum. i<operasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. Pedoman d. Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Pengadaan BarangjJasa Pemerintah. yang merupakan forum demokrasi dan wadah proses pengaambilan keputusan tertinggi yang mencerminkan aspirasi masyarakat pengguna air minum. IV. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000. koperesi Air Minum Koperasi Air Minum merupakan bentuk lain dari OMS·AM. Pelaksanaan Konstruksi Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selengkapnya dapat dulhat pada Permen PU No. mekanisme pemilihan. tugas kewenangan dan pengaturan lainnya berkenaan dengan OMS-AM ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. b. Ol/PRT/Mj2009. Keanggotaan dan susunan penqurus. Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) adalah lembaga legislatif dari suatu wilayah pelayanan air minum dan merupakan nama generik dari lembaga di tingkat masyarakat. pengurus. Pembentukan. maka perlu dibentuk lembaga di tingkat masyarakat sebagai penyelenggara SPAM. 18jPRTjMj2007 dan Permen PU No. e.3.2. serta ketentuan lain berkenaan koperasi alr minum ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. c. khususnya sektor air minum. IV. Peraturan . keanggotaan.Pelaksanaan kegiatan tersebut harus mengacu pada: a. sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. namun bentuk perkoperasian ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1995. dan Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KP2) Air Minum sebagaimana diuraikan pada bagian berikut. PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM TERBANGUN Untuk menjaga agar SPAMsederhana ini berkelanjutan. Lembaga ini selain berupa lembaga legislatif juga lembaga pengelola dan pemelihara SPAM. 43 .

ttd ClOKO KIRMANTO 44 . Besarnya harga air rninurn tersebut harus lebih rnurah dart harga air yang harus dibayar oleh masyarakat sebelum dilaksanakannya pengembangan sistem penyediaan air minum tersebut. Insentif kepada petugas pengelOia prasarana sesuai kesepakatan. e. tugas. dan kewenangan. yaitu pengelolaan yang dilaksanakan oleh masyarakat pengguna itu sendiri. Uraian lebih lanjut tentang pengelolaan SPAM diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 dan PeraturanMenteri Pekerjaan Umum Nomor 01{PRT IM{2009. aspek pengelolaannya. Penetapan Besaran luran Penggunaan Air Lembaga pengelola mengadakan rembug warga untuk menentukan besarnya harga air minum per-m3 atau per-jerigen 20 liter dan 10 liter yang harus dibayar oleh masyarakat untuk keperluan antara lain: a. MENTERI PEKERJAANUMUM. Kontribusi untuk RT (hila diperlukan). c.3. perlu dicciptakan mekanisme pengelolaan yang berbasis masyarakat. susunan pengurus. mekanisme pernilihan anggota. aspek hukum dan hal-hal lalnnya diuraikan dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Perpipaan Sederhana. Membayar harga air minum. IV. Prlnsip Dasar dan Aspek Pengeloiaan Berbasis Masyarakat Dalam upaya pemanfaatan prasarana dan sarana air minum yang berkelanjutan.2.Keanggotaan. Oleh karena itu perlu dipahami prinsipprinsip dasar pengeJolaan. IV. b. Biaya operasi dan pemeliharaan prasarana. serta ketentuanlain berkenaan dengan KP2-AM diuraikan lebih rinci dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Sederhana. Insentif kepada pemilik tanah (bUa diperlukan): d.

LAMPIRAN 4

: PERATURAN MENTER' PEKERJAAN UMUM NOMOR 15JPRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010

PETUNJUK PELAKSANAAN SUBBIDANG SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT (SLBM)
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Petunjuk Teknis DAK Sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana AJokasi Khusus Bidang Infrastruktur, dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, pada pasal 59 ayat (1) menyatakan bahwa Menteri Teknls menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum beserta Jampirannya tersebutdapat digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan OAK. Agar pelaksanaan penanganan infrastruktur sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dapat menghasilkan kualitas yang diharapkan perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk teknis yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan DAK ini, untuk itu maka petunjuk teknis sub bidang sanitasi lingkungan ini disusun. Sesuai dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pada Pasal 21 ayat (1) bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia; serta ayat (2) bahwa Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: (d) pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. Berdasarkan PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Air Minum pada Pasal 14 ayat (1) bahwa perlindungan air baku dilakukan melalui keterpaduan pengaturan pengembangan SPAM dan PS Sanitasi; serta ayat (2) bahwa PS Sanltasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi PS Air Limbah dan PS Persampahan. 1.2. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) ini adalah menyediakan bahan sebagai aeuan bagi Pemerintah KabupatenjKota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai dari tahap persiapan, pereneanaan, pelaksanaan konstruksi hingga pengelolaan (operasi dan pemeliharaan), dalam rangka meningkatkan pelayanan sanitasi skala kawasan di daerah perkotaan yang rawan sanitasi dengan penduduk berpenghasilan rendah. 1.3. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat sesuai dengan kaidah serta ketentuan teknis yang ada. 104. Ruang Lingkup Petunjuk teknis ini memuat pengertlan, perencanaan dan pemragraman, pengorganisasian pelaksanaan serta pembiayaan penyelenggaraan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang efektif, dan berkelanjutan secara tepat untuk kawasan kumuh perkotaan. 45

1.5.

Pengertian Sanitasi lingkungan berbasis masvarakat, adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat, terdiri dari (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal, (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3 R (reduce, reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.

1. Pengembangan

prasarana dan sarana air lirnbah komunal berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Pengertian air lirnbah dalam petunjuk teknis ini adalah air buangan yang be rasa I dari WC, kamar mandi dan dapur/ternpat cuei pakaian. Pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat terdiri dari tangki septik komunal, atau Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) atau sistem perpipaan air limbah komunal;

• Tangki septik komunal adalah tangki septik yang dibangun untuk melayani beberapa rumah yang berkelornpok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Setiap tangki septik kornunal melayani 5~10 KK. • Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) terdiri dari sejumlah kamar mandi dan WC, sarana cuci yang dilengkapi dengan unit pengolahan air limbah. Pengolahan air limbah yang digunakan adalah bio-dtqeste« dan baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic fi/teJjtangki septik bersusun dengan filter). Setiap MCK Plus++ melayani 100 KK. • Sistem perpipaan air lim bah kornunal adalah sistem yang menggunakan sistem pemipaan PVC dan unit pengolahan air limbah baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic filter/tangki septik bersusun dengan filter). Pipa biasanya diletakkan di halaman depan, gang atau halaman belakang. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 rn dan di titik-titik pertemuan saluran. Setiap sistem perpipaan air limbah komunal dapat melayani 100 KK. 2. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R adalah penyelenggaraan prasarana persampahan berbasis masyarakat yang meliputi kegiatan mengurangi (R1 :::: reduce), mengguna-ulang (R2 :::: reuse) dan mendaur-ulang sampah (R3 :::: recycle). • Kegiatan Mengurangi Sampah CR1) adalah upaya meminimalkan produk sampah. kembaii kembali sampah

• Kegiatan Mengguna-uiang sampah secara langsung.

Sampah CR2) adaiah upaya untuk menggunakan

• Kegiatan Mendaur-ulang Sampah (R3) adalah upaya untuk memanfaatkan sampah setelah melalui proses dan dilengkapi dengan prasarana pengangkut dan IPST (Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu), 3,

Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah penyelenggaraan prasarana drainase berbasis masyarakat yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai:

• Po/a detensi (menampung
penampungan sementara

air sementara), misalnya dengan untuk menjaga keseimbangan tata air. antara lain dengan membuat kegiatan konservasi air. bidang

membuat resapan

kolam (Iahan

• Pola retensi (meresapkan),
resapan) untuk menunjang

1.6.

Prinsip-Prinsip

Penyelenggaraan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

Prlnslp Dasar DAK Sanitasi Lingkungan

1. Program

lnl bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan

46

ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. 2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, sedangkan peran pemerintah atau Swasta, hanya sebatas sebagai fasilitator. 3. Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan Iimbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial. 4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. 2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. 3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. 4. Berkelanjutan, pengelolaan keglatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.
1.

II. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN II.1. Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK)
Mengacu pada kebijakan Kementerian Keuangan bahwa kebijakan bantuan DAK adalah mendorong penyediaan lapangan kerja, mengurangi jumlah penduduk miskin, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalul penciptaan sel-sel pertumbuhan di daerah. Mengalihkan kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang telah menjadi urusan daerah seacara bertahap ke DAK. Berdasarkan ketentuan yang disebutkan di atas bahwa untuk kegiatan yang dibiayai DAK akan dititikberatkan pada pembangunan baru. Program Pemeliharaan merupakan prioritas utama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah, sehingga sumber pendanaan pemeliharaan dibebankan pada APBD murni. 11.2. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupatenjkota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Sanitasi.

47

....
D. I--

E
ra

DD
~
c
..0

'iii

'co

III ~

= -ro <II
E
0
(J)

&
:::J -;:: n,
(J)

....

:J Vl

.lII:

....

~, ~

U)

,

e

~ I: {2.
ra .c ra

.fI
1"\

I:

ra

ra Z

E

;2
It! ~ ,_

'-

~

'! ~ ~--O-·--~I-~~--~~~~--+-4--+--~+-~-4--1 a '~
G. ~
z .....

S

r::

..
111'

......

(J)

-- 0 aJ D. >-~ ~ ...... It! :J ero c, c..."Oro "0

.- -_ Vi"~(J) 0.. It! ::::10 :::J ..__.. Vlt:; ...... ..0 III ..... C-l1J

rap

c: (J)

~

£? OJ .....

'0 ::.::

It!

.g'
...... ::.::: "co --.. •
~C
'-

vi

rn
Vl

J6
(J)

.... :::l

'-

C C I:C It! :::l :::l .._.. I:C

Vllt!..!!!

:::l

~~ 0..--

(J)

..... ~
Vl

Il.l .....

m.g

Rvi

~..o .- ro

:l

O~

adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat.3. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunalberbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. 2. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce.3. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Fasilitas drainase. terdiri dari: 1. Perlu dilakukan lnventarlsasl/penvusunan data dasar mengenai daerah-daerah yang sudah maupun yang belum mengembangkan fasilitas sanitasi lingkungan. Modul B berupa 1 unit MCK PlUSH yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandl. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatlhan sekitar Rp. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal berbasis masyarakat. reuse dan recycle) dan 3. Modul ini merupakan modul yang disarankan. Adapun fasilitas-fasilitas sanitasi yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah: 1.3. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. 11. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air llmbah skala lingkungan (100200 KK).300 juta 49 . Fasilltas persampahan. pengembangan prasarana dan sarana dralnase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. dan unit pengolahan air limbahnya.2.11. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a. pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal. Penyusunan Data Dasar Prasarana Sanitasi Dalam mempersiapkan program. sarana cuci. Penyusunan Program Penanganan 11. 2.1. Fasilitas air limbah. Penyusunan Usulan Kegiatan Prioritas Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. Modul lni dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. persampahan dan drainasenya) atau be!um.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. 2. perlu dilihat apakah di suatu daerah sudah ada pengembangan fasilitasi sanitasi lingkungan (air !imbah permukiman. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce).

_._. - _._._.. _._._II _ . . Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp.-~-.-._.._._... Pemberdayaan Masyarakat Pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini diselenggarakan secara swakelola melalui proses pemberdayaan masyarakat._.._._.-. III._. . RAB dan Jadwal Kegiatan . PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG _ . _·i·· Pelelangan Material . ._. _. KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasanl pengendalian oleh masyarakat '-'-'-'_'---'-'I'-'-' 1--+ _._ -..300 juta/Ha.-.50 _._._-_ _ ~ ._. Pemeliharaan Pendampingan O&M . _. Prioritas ke-3 Pengembangan prasarana dan sarana drainase rnandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Pelatlhan) r -. .... .-.- -" . . OED.. Penyusunan P etunju k Pelaksanaan Sanitasi Li n 9 ku I1gan Be rbas is Masyarakat ~ .-._ ._..-. _ . II. ._ .... - ._ PELATIHAN OPERATOR SOSIAUSASI PENGGUNA r-. _ . Sarana Siap Digunakan -·l· Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. - .._._ . Sosialisasi Kepada Pemerintah Pralli ns il Ka b upaten/ Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi..._.. _ ._._&_. SELEKSI LOKASI Longlist. _. _._. PENYUSUNAN RKM Organisasi. r Bagan Alir Pelaksanaan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat .3.-. _..._..J. • Air Umbah l<omunal Berbasis Masyarakat • Sarnpah Pola 3R Berbasis Masyarakat • Drainase Mandirl Berwawasan Ungkungan Berbasis Masyarakat H ._.-. Umum PELAKSANAAN KEGIATAN Setelah teralokasinya dana untuk pembangunan prasarana sarana Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat. ._.-~-. pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan. mulai dari tahap persiapan._._. maka proses berikutnya adalah melakukan meiakukan pengorganisasian pe!aksanaan kegiatan.PENGORGANISASIAN IIL1.-.-.-._. _ . . Shortlist Lokasi terpilih I ~' Penyiapan Masya ra kat Dokumen RKM • • • • . perencanaan. _. -+ . _ -. _. Pilihan Teknologi dan Sarana.4. f-.

ke Ditjen. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. Penyiapan Tenaga Fasilltator Lapangan 1. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. Kementerian Pekerjaan Umum ke masingmasing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasllitator lapangan sesuai kriteria. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8 lIlA. persampahan dan drainase 7. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. 3. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping (LSM atau Konsultan) akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. Persiapan Persiapan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat meliputi : 1. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat.. Cipta Karya Ditjen. Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dar! TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat. 2. I diseJenggarakan oleh Cipta Karya. 3. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akanlebih tepat saseran dan skala prioritas. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3. dan recycle) berbasis masyarakat. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah. 4. Seleksi Lokasi 1. 3.IIL2. 5. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi. Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. III. 3. Penyampaian surat oleh Ditjen Cipta Karya. Memiliki cukun waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6. 2. 51 (syarat tambahan oleh Masyarakat) . Pelatihan tenaga fasilitator lapangan Kementerian Pekerjaan Umum. reuse. Penandatanganan Rencana Kegiatan antara Pemerintah Pusat. Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. 2. Sehat jasmani dan roharn 4. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan.

7. Tenaga Teknis dan anggota. Konstruksi dilakukan setelah RKM selesai disusun dan disahkan oleh para wakil stakeholder (SKPD. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan KabupatenjKota. Sekretaris. KSM merupakan wakil masyarakat calon penerima manfaat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. IlLS. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman. pembentukan forum pengguna. Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran lirnbah. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat diusulkan dan disahkan dalarn forum musyawarah di lokasi pelaksanaan. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). Adanya saluran/sungaijbadan air untuk menampung efluen pengolahan air llrnbah. Kegiatan konstruksi dapat dilakukan oleh pihak ketiga jika ada kesepakatan bersama dari masyarakat melalui kerjasama operasional (KSO). Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasls Masyarakat dimana proses 52 .Syarat Lokasi : a. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. c. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. Tahapan pelaksanaan konstruksi dilakukan oleh masyarakat calon pengguna (swadaya) dengan didampingi o!eh TFL. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. f. Bendahara. Susunan pengurus KSM minimal terdiri dari Ketua. Tersedia lahan yang cukup. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat CRKM) 1. KSMdan TFL). pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). 2. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasll musyawarah masyarakat pengguna. d. Operasi dan Pemeliharaan Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat oleh KSM atau KPPyang ditunjuk oleh masyarakat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan balk dan berkelanjutan. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) b. Pelaksanaan Konstruksi 1. rencana kontribusi. calon penerima manfaat. Detail Engineering Design (DED) dan Rencana Anggaran Biaya CRAB). jadwal konstruksi. rencana pelatihan KSM serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas sanitasi lingkungan yang dibangun. 3. 3. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. KSM dibentuk dan ditetapkan dalam Musyawarah Masyarakat calon penerima manfaat. e. 2. Masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. 1. III. baik dalam bentuk uang. 2. IIL6. Kawasan permukiman padat. barang maupun tenaga. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 1. Masyarakat di lokasi terpilih dengan didampingi fasiHtator menyusun RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat berupa pemilihan prasarana sanitasi lingkungan beserta teknologi sanitasi lingkungan yang dibutuhkan. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK++. IIL8.

dan penerapan Perilaku Hidup Sehat dalam bentuk pelatihan dan sosialtsesl yang meliputi : 1. Biaya Konstruksi Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh pengelola yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP).9. Sosialisasi terhadap masyarakat pengguna : dalam kegiatan ini kelompok masyarakat calon pengguna diberi penjelasan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan tata cara penggunaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbangun. untuk menjaga dilaksanakannya prinsip-prinsip dasar Sanitasi Jingkungan berbasis masyarakat. tenaga kerja. mandor. PEMBIAYAAN IV. IV. Swadaya Masyarakat c. Umum Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini berasaI dari berbagai sumber pembiayaan. material dan lain-lain. III. identifikasi.musyawarah. 2. Dana pihak swasta lainnya dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling 53 . Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD.1. akuntabilitas publik maupun kontrol soslal tetap berjalan. Pengawasan dan Pengendalian Kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat inj merupakan kegiatan milik masyarakat sehingga diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian oleh seluruh komponen masvarakat dengan didampingi aparat serta dibantu aleh tenaga fasilitatar. 4. b. swasta dan atau LSM. 2. swadaya masyarakat. IIL10. 3. tukang dan pengelola dibiayai dari dana APBD. 5. IV. 3. Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut: 1. Pelatihan terhadap KSM : dalam pelatihan ini KSM dibekali pengetahuan tentang organisasi dan pengelolaan administrasi keuangan. OAK dan Pemerintah Kabupaten/Kota (APBD). bendahara. Pelatihan terhadap Mandor: dalam pelatihan ini mandar disiapkan untuk membangun prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terpilih sesuai dengan OED yang telah disusun. Biaya sosialisasi DAK dan pelatihan TFL dibiayai dari dana APBN 2. Penguatan Kelembagaan Masyarakat Penguatan kelembagaan masyarakat berupa pengorganisasian masyarakat & pengembangan institusi lokal. 4. seleksi dan implementasi pilihan-pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat. Pelatihan terhadap TFL (RPA & RKM): dalam pelatihan inl para TFL disiapkan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penilaian kandisi sanitasi secara cepat dan mendampingi masyarakat dalam menyusun RKM. DAK. Pengawasan dan pengendalian dilakukan sejak tahap rembug warga tahap pertama. Pemerintah Kabupaten/Kota. Pelatihan terhadap Pengelola : dalam pelatihan ini pengelola (KSM/KPP) disiapkan untuk mengoperasikan dan memelihara sarana Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. d. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Pelatihan KSM. transparansi. Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunal (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan.2.

. Komponen Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Kegiatan APBN DAK APBD Masyarakat I -. -.. 5.j -. label 1. -. -.j -..j -... -. II Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif List.j -.meng untungkan... -. -.. . -.. III Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED -.. Biaya Operasl dan Pemeliharaan Biaya operasi dan pemeliharaan di tanggung oleh masyarakat. -... -. VI Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) -.. -... -..j -. -...j V Konstruksi Material Upah pekerja Lahan -.. -. Rincian pembiayaan dapat dilihat pada tabel1. -. -.. IV Pemberdayaan Pelatihan KSM Pe!atihan Bendahara Pelatihan Mandor Pelatihan Penqelola Kampanye kesehatan -.. -.j -. (Rapid Participatory Assessment) -. Pembiayaan per Komponen Kegiatan No. + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi RKM dan legalisasi Masyarakat -.j -..j 54 VII VIII Pengoperasian Monitoring & Pemeliharaan & Evaluasi -...j -.....

IV.3.!.IV.3. IV. Perwaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian PU di Provinsi yang digunakan untuk melakukan soslallsasl. Dana APBD dialokasikan sebagai pendamping fisik DAK serta bantuan pendampingan pemberdayaan masyarakat (termasuk gaji TFL) dan pelatihan KSM. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSMsesuai perencanaan dengan pengawasan dari SKPDdan fasilitator. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2. 2. Dana DAK dan APBD diwujudkan dalam bentuk mekanisme kegiatan swakelola oleh SKPD bersama masyarakat (KSM). Penyaluran Dana Dana APBN 1.3.3. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. tukang dan pengelola serta masyarakat pengguna. IV. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyara kat/RKM. SKPDKabupaten/Kota dan fasilitator. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasll musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. IV.2. Dana LSM (jika ada) Dana LSM adalah dalam bentuk keahlian (expertise) sebagai bentuk kontribusi kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat. 3. Dana DAK dan APBD 1. dlsampaikan setiap minggu kepada masyarakat. 3. Pelaporan 1. 3.s. pelatihan TFL. Dana Swasta/Donor (jlka ada) 1.3. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah (SKPD).3. Dana Masyarakat I. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. IV.3. IV. mandor. KSM membuat laporan keglatan harlan yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan.4. monitoring dan evaluasi. 3. 2. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM. 2. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM IV. bendahara.4.s. Fasilitator dan KSM membuat laporan secara periodik kepada SKPD sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan 55 .

MENTER! PEKERJAAN UMUM.TO 56 . PENUTUP Penjelasan leblh lengkap mengenai tata cara dan persyaratan teknis dijelaskan terpisah pada petunjuk pelaksanaan. ttd DlOKO KIRMAN.V.

Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 5 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/WaIi kota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPD Provinsi dan BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sama. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KabupatenlKota Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasl Khusus. 100%) 1. Laparan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dengan tembusan kepada BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sarna.LAMPIRAN 5 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRTlM/2010 TANGGAL: 01 November 2010 MEKANISME I. Materi laporan yang disampaikan: a. Materi laparan yang disampaikan: 57 . Data dasar seluruh prasarana jalan Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana irigasi Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana air minum Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Proses dan Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kandisi 0%. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar dilaporkan sekall yaitu pada Trlwulan I yang berlsl: 1) Data Umum (Form KDU): • • • • • • Nama Kelurahan/Desa Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kelurahan/Desa terse but (pantaijpegunungan/ Potensi Kelurahan/Desa (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk masing-masing subbidang 2) Data Dasar (Form DO): • • • • b.2. PELAPORAN Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) 1.1. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus. 50%.

1. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (m 2 ) sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di KabupatenjKota tersebut (pantaijpegununganj Patensi Kabupaten/Kata Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) subbidang untuk masing-masing 2) Data Dasar (Form ~O): • • • • b. Kabupaten/Kota Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) untuk subbidang jalan Data Dasar (Form ~O): 58 . Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi Data dasar seluruh prasarana irigasi Provinsi Data dasar seluruh prasarana air minum Per Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Per Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaparkan selama 4 Triwulan (Prasarana Jalan dan Irigasi) 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegi. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Bina Marga cq Direktur terkait. 50%. 100%) II. Balai/Satuan Kerja Pusat 11. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan menyusun dan menyampaikan laparan triwulanan penyelenggaraan OAK subbidang jalan yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • Nama KabupatenjKota Luas wilayah (rrr') sekali yaitu pada Triwulan I yang berisl: • • • • 2) Jurnlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Patens. Materi laporan yang disampaikan: a.a.atan (kaardinat dan kondisi 0%.

8alai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Oaya Air BaJai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Daya Air melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang irigasi yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPDKabupatenjKota. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 han kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq.• b. Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantai/pegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang irigasi Data dasar seluruh prasarana jrigasi Provlnsi dan Kabupaten/Kota 2) Data Dasar (Form DD): Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Irigasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Materi laporan yang disampaikan: a. 50%. Materi laporan yang disampaikan: a.2. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi dan Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pela.3. 50%.ksanaankegiatan Prasarana Jalan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Direktur Pengembangan Air Minum. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderai Sumber Daya Air cq Direktur terkait. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • • b. 100%) II. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penye!enggaraan OAK subbidang air mtnurn yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasll pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. Data umum dan data dasar 59 . 100%) II.

Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq. SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang sanitasi yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. Materi laporan yang disampaikan: a. Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kata Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kata tersebut (pantaijpegunungan/ Patensi Kabupaten/Kata (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang sanitasi 2) Data Dasar (Form DO): • b. 100%) II.Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr) Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pettanian/pettambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang air minum 2) Data Dasar (Form ~O): • b. Data dasar seluruh prasarana Air Minum Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Air Minum dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. 50%.4. Data dasar seluruh prasarana sanitasi KabupatenjKota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Sanitasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 60 .

0.....ng 'l I I _I ---Il1o...=.....---_ KepalaSKPD PI'oVlnII aub 10 hari kerja " bld... Sekretarfs Jenderal ~~--~~--~~~I J I 14 hari kerja 14 hari kerja Dlrektorat lenderal tetkalt -.... Kepala Rappeda . ------- Satker Terkait Kepala &alall V - BU PAn/WAU KOTA cq Kepala Sappeda Tembusan 5 harl kerja Kepal SKPD Kab/Kota sub bldang 61 . 50%....1 Mekanisme Pelaporan - MENTERI cq. GUBERNUR 10 hari kerja 1:0 hari Tembusan kerja 1---....2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinatdan kondisi 0%.. --= cq..... 100%) Gambar 5.

SKPO melakukan . Manfaat . Pelaporan DAKOn Line III. Mekanisme Pelaporan DAK On Line .2.Laporan dapat dikirimkan III.Tempat penyimpanan data .SKPO mengunduh .web.Pengecekan silang hasit pengiriman 62 .SKPD mengirimkan registrasi DAK format laporan laporan setiap saat apabila ada perubahan data dan informasi .emonitoring-PU.l.Sarana Komunikasi Pusat-Daerah .III.Pelaporan OAK On Line melalui http://www.id .

.....::&: OJ eo Ul co CO >C s: {5 :~ i! .. 0 .. :::l C E ::::I E =s . COl co .o E :a E ..c M CO CO . ::::I ............. OJ OJ 0.. Lt) c: ~ ...j ..¥ '1:1 1::J :J ::::I .C3 ~ "Oc roc .. r. ..::&: u Dr ....: ta c:'t. c ra .. II C ..c~ v l .I ~S ta 2 ro "'0 OJ 0.. ......CO'" . E CO 011: C...... co 01 CO ... ...c . 0..c ~ fa .....0 J9 tU e E J. C ::::I fa \0 ..'in cu D.c fa >~~ C . co Ul 0 C CU N I! :::J E !! {:. CO co =s OJ .

5 E I~ ! Ia Q) E 0:I~ 'iii C III I~ III U m EU (J) ~ '5 2J c Ul '5 .0 u D ttl rol.c III v III III CL a.o ::oF c .01 u a..Q Ig !:! 19 III I'll III III ~c * 'tii 'iii ~ III cc 'iii Ul III . c I: IIJ Z' ::J " 0... ~ E c C mcm . §c m Ic m I Q III .CL e :c 'tI E .ol u D r I! ~I'iJ I.B gm c C III :J "0 "0 -m 00 'iii 'tii IIJ 0.....r::.Q E s: 'c E....:.. lil "ai ~c ~ III !l Ie 1111 Ij 'It III . 'c E 0) 0) 'ii '" ro .~ H c: c III m .'.. c c: m ro !:! !:! !:! Ul c ~ . " !:! ~ s g cc III III C C III 'ii'ii c CLo.g o.: I c: 1II.111 i ~~ Qj :0 II:! s: ~ I'\Im . EE (J)Q) 9 a.!9 c .a :8 ::t .0..'Q)(j) :::I III D(J) . III III 0 0 ill ill .. E 0). II A- 0 C Co iM c 'Vi Ul III III ~ III ..!: ~ .':: E II:! :I Ecc c :J E :I 'f ._ . r~ III III m m 'tI . lfl .0 ~ E E . := 11 Z0 .c....Z&IO ftI ':.... 'iii .. 'tI "§ E~ :6 .r::...= C ~ '. m E f Ia II:! 8' A- i et::co ftI :J III c.:J I'll e .r::. III Il ~ III '.o: E..c:t . s: . C 1- E C :I ~ I: III III e C C A1\'1 I: ILl N ~§ :l c mill UlCO cc 'iii m 'E m '....~ .r::.~ ~ i i~ .r::. '16 c 'iii I~ c c III . E I~ 'tii t: c ~ . ccc men § c III ro !:! ~ .~. ::L.-III ~ 'ii -m CL '. C aI ~ ~ ~~ ~ III J "' B" ::t III E «II ~ c 0 :~ .Q (J) (J) (J) ::::I III &: e::: CL 0...0 CL ro c '- ~ lc m .0 ~~ o. 'f c: II:! III 'f c: III ::::I cE ::J ir 0) 'c 'iii m ....g !:! m .. a. 'E':J: i III «I ...

::. e a..:E . ( 'S I'" IV ..: m ! g Ci ~ c III ra . ::I ~D: g! c· . r:: III D- m c: l . -aJ2 ~i~ Sa ftI::I'§ ::I Q> «>. f» ..t III III:: & ~ li I! '-¥ Do '..oJ liII: f» '. ~ C s ar: Do.1:1 ::I . e '" ~ ::I in QI C III III III . 'iii ':...s: :Q'! ftI ftI 0 III m D: 0 :::I z .. . :~ ~ -Ell! .Q Z ::.. IQ !:l i-. iii E r-.!! -__ .!! III ~ ra ...l!2 3:l >c: .. fa fa 1ft . I: '"' Ia..: O. j:: III OJ -2 ~ -111111 I! ~ D..:.'I :6 D .. 19o I'~ r:: ra !:It.... C III III III . III :::I a: ~ Z Z III ..t ~ ~ c( .....!illl a. .m III :Ii!: IJ= Ql'V r:: . c fa .!!! c: '"' % .. .9... :!! ~ ~ III i= c " 0 D:.. ra ~ :::I IV c ! A.. ...... ".. is i9 c: U 19 ftI .:a.J: C til I'll .. ...-.. liB ... :J ~ :::I IV ~ fl!1D .....

._ .. 0' ~~ 0 e:....1J ~ <D . II: III .::: = .g fI 'I'll' E aJ II: N Z Z "" 0 .. '" !I !... m ~ a IV ~Q dlJ! E en ID v c E Z IV I'II'... . C dli a:l1 !. .... c ro ro '" . 2 ro ro OJ 0-0 en ~E lDo. ~ e C ~ ~ C m dI § aI II: ~ en v..III 'CI E c: I: ~ 0 .Cl III 'iii Q . Vi iii t:l I: 'iii Vi 16 e " If I: I'll' i1 ~ j::: ~ ::l i .. Q..c 'Vi t! I'll' .. ."..mE E !f':.Q M ~ E O.. s 121 si "" " L:.

. III a.: c ~ E ! ~ ~! 111'- ftI'..I Q.'- "at! Dl_ men 'iii . .... a Z J!l c: 19 U to .. .... '.: e .

... I- I: m I- 1! m II) m • ~ Q Q m .I :c m m w A. m = ._ I- e I: N :::E cC Z ~ Q ~ ..

_.fo E 1"'\ C..:i! .C "iiJ Ul ._ "t' .:II:: "C ::I 'CI ::J'.~ Cl Z 0 ~ a I9 ro .~ UJ . ra~ a. i~ c 'C~ CLJ ::1. ~ . v co ClJ ~ ::J U C .:.~ \.. ro .c::: ::::I 100 M 1'1 ..0 i'..._ L. IV ::J Cl.. >oCf mc c tnfJ] j:: ~-.. 1'1 fa en CLJ . ..a ro ro .._ . .::: N ro IV Ul ~ 0 .I ~ ~ C 1'1 f'. ro ro ro 3: v o....m ::J "~ c Oa._.. or c ro .c >C n::l Z .('l Ei • VI 1"'\ D.c co .. c .:!:: ~ra D...

2 z ~ ... .~ w · : : · 6 c::: 0. z 0:::: o. « ~ Z <C ~ a. ~ « 0 Z ::J L9 Z (/) z £3 § co ~ ~ a.2~ v.. L w o.. r-- ~=>l!iz CO u. => OJ I~ ~ a. ~~ 0 s Z 0 ::Ja.. (/) z · · · : : .zCC z<c _0 ~. 9 ~ ::J<i.. I~ ~~ o::::z .

UJ E 0... AI g ~ C U rtl (]) rn c ro _Q c ES-6 .. "' .- m.. ez COra Z Q ..:ac: . ::l -e :: A... 't: C Sen CI ...o .

.. ..c q ro 0'\ 0'\ C .11:1 01 C :::...:.._ C n:I Ln f c III .:: ~ 'IXI :~ 0'\ 10 01 c r::: "0 ro ~ = i£ S2' 01 (I) Ei _n f'" :::I ~ :::I ... Q...=. "C til CD_ :c V" '-0 ro :::I '" >III AI cQI ... E j! QI Z Q .e AI Q.... :i.c c c ta. u:::: O'l "Vi I. c rc III 10 . .:: . 'U. r::: U1 N r--- U C CD ID til ..e IG c IG~.ro 0. i:~..a ~ <t" ~ B aJ VI III U) til i !II :::.. 'I:' CD III ~ .... !j Qj A.. o ::I :a ~ "0 C 10 0...:: 2 (U \! C ~ ::Iep% A. AI til c ... o. ii ... I.. --< ~ 1'0 I.. 0'\ m a.III :E =s AI ftiI :0 :10 . III III U '§- :::....:: 3 "'1 III -i:: _!g ro c: 0...... '§- ::i ~ ~ 'iii Q . "~ iii D:: ....= c IT:! l!:! N r::: IU z a..

. fa f E l- . era :::::II ~ = E :) Q e . Lfl ..._ 'It' J:~ 10 . ro In .. .. In 10 ::::I o..c......._ U) I- ~ 0- e E fa C ::::I 'a ::::I f1) '0 A.. .....c ~ . 1'0 .. QI ........ "C 1'0 ro 0 ~ I ......- :I a.•• S 0 ~ III C \0 .e ~ 'Vi .::J o 1'0 c:: c: Z 0 .c:: ro Q) _.... 1"11 ..0 :l I- c:: ro .. J9 0 l- 0::1- >.c ID C ~ D c: ~ .. IQ C N ...-j . H E ... I'll IV') ~ ......

~ ::l iE. 0 ::.1 iE..::: E :e: a:: !.:::..!.. 1 c 1: J:! III CO 2 Q} III III Cl. I 1J . 0 c:c UJ 0.. :=l Z g Z ~ ~ UJ :::.. C2 UJ ~ UJ a iE.

akukan pemantauan dan evaluasi berkoordinasi dengan gubernur selaku wakil pemerintah di daerah. Organisasi pelaksana provinsi yang beranggotakan wakil-wakil dari Bappeda. Organisasi pelaksana pusat yang beranggotakan wakil-wakil dari Kementerian Keuangan.Tujuan Tujuan pemantauan teknis pelaksanaan DAK adalah: 75 . dan SKPDterkait. maka OAK Bidang Infrastruktur juga tidak terlepas dar! kewajiban menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERJA IV. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Organisasi pelaksana pusat d. efektif dan efisien agar terjadi kesesuaian antara masukan (inpuO. dan SKPDterkait. untuk mengoptimalkan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK perlu dibentuk: 1. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perlmbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian/Lembaga (K/L) teknis terkait. khususnya Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kementerian Negara PPN/Bappenas. Organisasi pelaksana kementerian yang beranggotakan wakil-wakil dari Oirektorat Jendera! terkait di bawah koordinasi Sekretariat Jenderal.2. proses. Satuan Pengelola Keuangan Daerah. 4.Latar Belakang Dana Alokasi Khusus (OAK) Bidang Infrastruktur merupakan dana bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Menteri Keuangan dan Menteri Oalam Negeri tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK). 2. Sehubungan dengan hal tersebut. kegiatan yang dibiayai OAK. Bagian Administrasi Pembangunan/sebutan lain. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah. Organisasi pelaksana kabupaten/kota yang beranggotakan wail-wakil dari Bappeda.l. Biro Administrasi Pembangunan/sebutan lain. 3. IV.LAMPIRAN 6: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PEMANTAUAN. Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK) bertujuan untuk mengoordinasikan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK secara terpadu. PENDAHULUAN IV.alam mel. hasil (outcome) dan kemanfaatan (benefit. keluaran (outpuO.

Memastikan pelaksanaan DAK di daerah tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan penatapan alokasi DAK dan petunjuk teknis. 3) Subbidang prasarana air minum adalah Satuan Ketja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. V. 6. 4. Kesesuaian hasil pelaksanaan kegiatan dengan dokumen kontrak/spesifikasi yang telah ditetapkan. 4) Subbidang Sanitasi adalah Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Mengidentifikasi permasalahan yang muncu! dalam peJaksanaankegiatan dalam rangka perbaikan pelaksanaan DAK tahun betjalan.Ruang Lingkup Ruang lingkup pemantauan. b) Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal dikoordinir oleh Direktorat Bina Program. 5.1. Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. IV. Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.1. c) Tim Pemantau Provinsi. 7. 2) Subbidang irigasi adalah Balai Wilayah Sungai.1. Pencapaian sasaran. hasll dan kemanfaatan kegiatan yang dilaksanakan. terdlrt atas Tim Koordinasi Provinsi dan Balai/Satuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-rnasing subbidang yaitu : 1) Subbidang jalan adalah Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ).3. Kepaturan dan ketertiban pelaporan. Pemantauan Pelaksanaan pemantauan dari segi teknis oleh Kementerian Peketjaan Umum terhadap kegiatan yang dibiayai oleh DAK Bidang Infrastruktur dilakukan secara betjenjang oleh Tim Pemantau sebagai berikut : a) Tim Pemantau Kementerian. Evaluasi dan Penilaian Klnerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan. Pelaksana Pemantauan dan Evaluasi V. terdiri atas Tim Koordinasi Kementerian dan Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal. Evaluasi Pelaksanaan evaluasi pemanfaatan/kinerja DAK Bidang Infrastruktur dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum melalui Tim Koordinasi Kementerian dengan dibantu oleh : 76 . V.1.1. 3. PEMANTAUAN DAN EVALUASI V. evaluasi dan penilaian kinerja adalah: 1. 2. 2.2. Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan.

Evaluasi V.L Pemantauan V. dan TIm Koordinasi KabupatenjKota melakukan pemantauan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V.2.2. Jenderal Cipta Karya I untuk sub bidang air minum dan Oirektorat Jenderal Sumber Oaya Air.2.1. c) Tim Teknis Direktorat sanitasi.2.2. 77 . Kabupaten/Kota melakukan pemantauan secara berkala. Tim koordinasi Provinsi melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oIeh SKPD laporan Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan triwulan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: • Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. DAK disampaikan oleh Gubernur kepada Laporan hasil evaluasi pelaksanaan Menteri cq Sekretaris Jenderal empat belas (14) hari kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. b) Tim Teknis kabupaten.2.1.LL Tim koordinasi kabupaten/kota secara melakukan berkala pemantauan yang meliputi pelaksanaan hal-hal OAK oleh SKPO Kabupaten/Kota sebagai berikut: • • • Kesesuaian paket pekerjaan dengan Rencana Kegiatan (RK) Proses pengadaan paket pekerjaan tersebut Proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang meliputi antara lain: rencana dan reallsasi fisik & keuangan • Rencana dan realisasi kemanfaatan TIm koordinasi Provinsi berkoordinasi dengan Tim Koordinasi V. untuk sub bidang jalan Provinsi/Kabupaten/Kota.3.L2. dokumen kegiatan dengan kontrak/spesifikasi • • • yang telah ditetapkan. • Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. Kepaturan dan ketertiban pelaporan.2. pelaksanaan DAK o!eh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V. kegiatan yang dilaksanakan.2.a) Tim Teknis Direktorat Jenderal Bina Marga.2. Tim koordinasi Kementerian berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Provinsi pelaksanaan OAK secara berkala. • • Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan Kesesuaian hasil pelaksanaan perundangan yang ber!aku. Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi V. untuk sub bidang irigasi V. Pencapaian sasaran. hasil dan kemanfaatan Evaluasi dan Penilaian Kinerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan.

Nilai 60-80 = Buruk 78 . Tim koordinasi Provinsi Provinsi Tim koordinasi Provinsi melakukan penilaian kinerja Kabupaten dan Kota penerima DAK berdasarkan aspek penilaian kinerja pada Tabel 6.V.1 secara semesteran yang disampaikan pating lambat 14 (empat belas) had kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan.PENlLAIAN KINERJA VI.2.i Angka 10 6-8 <6 Huruf Baik Cukup Buruk Balk CukuQ Buruk Baik Cukup Buruk Baik Cukup Buruk Baik CukuQ_ Buruk Baik Cukup Buruk Aspek Penilaian Dukungan kegiatan terhadap Program Prioritas Nasional Kesesuaian Rencana Kegiatan dengan arahan pemanfaatan OAK Kesesuaian pelaksanaan fisik dengan Spek. VI.1 No Aspek Penilaian Kinerja PemanfaatanDAK Sobot 0/0 20 Peniiaiall Nila. Tim Koordinasi Kementerian Tim Koordinasi Kementerian melakukan penilaian kinerja Provinsi dan KabupatenjKota penerima OAK yang meliputi Provinsi dan Kabupaten/Kota penerima DAK.80% progress fisik <60% >80% 60% .Teknis/ Dokumen kontrak Pencapaian Sasaran Kegiatan Oampak dan Manfaat (Rerata a -d) Kepatuhan dan Ketertiban Pelaporan (empat triwulan) a b c 20 15 d 15 e 15 > 80% kegiatan 60% .80% <60% 4 Triwulan dan lengkap 2 . Tim koordinasi Kementerian melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oleh SKPD Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan hasil evaluasi oleh Tim Koordinasi Provinsi dan laporan triwulanan.2.2.80% sesuai < 60% sesuai > 80% sesuai 60% .2. Tabel6. VI.1. Nilai < 60 Klasifikasi Penilaian Akhir : Nilai > 80 = Balk.3 Triwulan dan lengkap 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 f 15 o100 1 Triwulan dan lengkap TOTAL Nitai Total = [20% * Nilai (a) + 20% * Nitai (b) 15% * Nilai (e) + 15% * Nilai (f)] + 15% * * Nilai (c) + 15% * Nilai (d) ::= + 10 Cukup.80% kegiatan < 60% kegiatan > 80% sesuai 60% .80% sesuai < 60% sesuai progress fisik >80% progress fisik 60% .

. Tim Koordinasi Kementerian Tim Teknis Sb Irigasi I 1 1 I--I--~ Tim Teknis Sb Sanitasi _I 1 1 I I GUBERNUR I Hasil Pemantauan dan E.=K=a=b=/K=o=ta=.1 Pemantauan dan Evaluasi . Sekretaris Jenderal Gambar 6..valuasi Kinerja (Semesteran) r._ ___. ..--I I .....====~~ 79 .-_. Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~c==S=K=P=D=..Mekanisme MENTERI cq.- L...--------1 I I I Bappeda ------Dinas Teknis 1 Tim Koordinasi Kab/Kota I I ---------------.-Tim Teknis Sb Jalan Tim Teknis Sb Air Minum -- . - - - - - ---I I : i Tim Koordinasi Provinsi sappedal BaIO::~::ker I DinasTeknis --------~~-------Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~====S=K=p=D=p=r=O=v=in=s=i ====rW~ BUPATIJWALIKQTA Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) .--.~ Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) Hasil Pemantauan dan Evaluasi Klnerja (Semestera n) r ..

....J ~ 0"1 0 "-' ::::II J: ~ .... ra z Z 0 e !'II ... c 0 ::.. .. CD ~ ee c = a: ._....:.t " ~ . N A..lII: \0 c CO ""15 .--I .J V e I'D ~ = M I'D CD C fa III CD ..L S :c C :IIi'! 0 'iii i U'I c \0 . CO ""CI c co :....... " 19 CO '... ca III I.::.. ::I ..::: . e ilJ 0 N ....0 . .: 'ii ca U"l "iii CO "~ en en .~ III ::::I C {! CK:ji ii C ID m~ I:n .:c IZ~ tV ID IX ro OJ OJ :s ~ c( ~ . ...:......:>L.. ~ ~ ti~ II I! ..... 1lIC'1 =r: tft r-... C CO :::l :J 0 00 I <:. 2 "iii c co ..t"l C (I) I! Dl m (fl .o I/) ::I ...lII: . .c c ~c ::::II ......

...j en" J-~ oW :::I 00 'iii '..~ 1VCl' IV~ > ...(1) '1'1 1111 '&'C C j:: 0loi c'= CUI. ~ r: .... 0 ..1.-I I .! N z .....: rt'l ~s ~g....5 IV r: co ~i ~Q.. Z laJ E CIJ lao.- G 1! v ~c c.!!! 0.!..:: Ilc ._ a c: c._ me.c s :=. r: ftI GTU)i ~~ ..' ~. . c: LrI ..::: CIJ e ~ ~ r: ~ 0 N .. '--' ~ r: % r:~ . Ia CIJ ~ .1. IV gse 01 01 co ...- 0.. (g§ 0... 1E '6 c: "0 ro ta 0..

. ~III 111'- -c A. ~ ~ .. C z N 00 ..o N CL. £~ 1:L.. c <II X i· III Vl .c CL.~ III~ Z 1'1:1 E . c ~ ~ • ftj ~ ~ C' al !!I 'iii ~ !!IIIL----. 0::: ~ w e 0 . ... 'c ::I "III <II .. e X '$ -e CL...-.U LU £l ~ 0:: ~ a..5 ...c: z i J I) . .!!! · · III · ::E: ::::> :2: ::::> z ~ IZ c:[ 0 ~ ::2 LU L... .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful