MENTERI PEKERJAAN REPUBUK

UMUM

INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANGINFRASTRUKTUR

Daftar lsi
Hal.
Peraturan Menter; Pekerjaan Umum NO.15jPRTjMj2010 Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Lampiran - 1 Lampiran - 2 Lampiran - 3 Lampiran - 4 Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Jalan Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Irigasi Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Air Minum Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Sanitasi Lingkungan Masyarakat. Mekanisme Pelaporan Pemantauan, Evaluasi dan Penilaian Kinerja Berbasis .. . .. Tentang Petunjuk Teknis 1 .. .. .

11

23 35
45

Lampiran - 5 Lampiran - 6

57 75

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER! PEKERJAAN UMUM NOMOR: 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA

MENTER! PEKERJAAN UMUM, Menirnbang a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 59 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Menteri Pekerjaan Urnurn telah menetapkan Peraturan Menteri Pekerjan Umum Nomor 42/PRTjM/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang da!arn pelaksanaannya sudah tidak sesuai lagi; b. bahwa dengan adanya perubahan organisasi Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/Mj2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur, perlu dilakukan penyempurnaan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perirnbangan (Lernbaran Negara Republik Indonesia Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Republlk Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah KabupatenjKeta (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomer 4737); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nemor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 2010 tentang

Mengingat

1.

2. 3.

4.

5. 6. 7.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84jP Tahun 2009; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum; 1 tentang

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

PERATURAN MENTERl TEKNISPENGGUNAAN INFRASTRUKTUR.

PEKERJAAN UMUM TENTANG PETUN1UK DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG

BABI KETENTUAN UMUM Pasall
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. 2. Menter] adalahMenteri Pekerjaan Umum. 3. Kementerian adalah Kementerian Pekerjaan Umum. 4. Unit Kerja Eselon 1 adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Bina Marga, dan Dkektorat Jenderal Cipta Karya di Kementerian Pekerjaan Umum. 5. Bidang Infrastruktur adalah kegiatan yang rneliputi Subbidang Jalan, Subbidang Irigasi, Subbidang Air Minum, dan Subbidang Sanitasi. 6.. Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya disebut DAK Bidang Infrastruktur, adalah dana yang bersumber dari APBN yang dlelokaslkan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk rnembantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional khususnya untuk membiayai kebutuhan prasarana dan sarana Bidang Infrastruktur masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. 7. Satuan disebut kepada Alokasi Kerja Perangkat Daerah Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya SKPD DAK adalah organisasijlembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab Gubernur/BupatijWalikota yang menyelenggarakankegiatan yang dibiayai dari Dana Khusus Bidang Infrastruktur.

8. Efisiensi adalah dersjat hubungan antara barang/jasa yangdihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumberdaya untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output) 9. Efektifitas adalah ukuran yang menunjukkan hasll/rnanfaat yang diharapkan seberapa jauh program/kegiatan mencapai dapat

10. Kemanfaatan adalah kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) diselesaikan tepat waktu, tepat lokasl, dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal

11. Keluaran (output) adalah baranq/jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dllaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan

12. Hasil (outcome) adalah seqala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari Ikegiatankegiatan dalam satu program 13. Periode pelaporanakhir triwulan pertama adalah 31 Maret, triwulan kedua adalah 30 Juni, triwulan ketiga adalah 30 September, triwulan keempat adalah 31 Desember.

Pasal2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Kementerian, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaiksanaan, pemantauan dan evatuasi, penllaian kinerja, pemanfaatan serta pembinaan dari segi teknis terhadap kegiatan yang dibiayai melalui OAK BidanglIntrastruktur; (2) Tujuan disusunnya petunjuk teknis lnl untuk: 2

penyusunan dalarn bentuk c. pemantauan. b. Subbidang Irigasi. dan pembinaan teknis kegiatan yang dlbieyai dengan DAK Bidang Infrastruktur. dan eakupan pelayanan sanltasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. Subbidang Air Minum memberikan akses pelayanan masyarakat berpenghasilan rendah di kawasankumuh daerah pesisir dan permukiman nelayan. dan pariwisata. pelaporan keqlatan/fisik dan keuangan. pengendalian. kinerja pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) yang merupakan kewenangan provtnsl/kabupeten/kcta. (2) Melakukan evaluasi dan sinkronisasi atas usulan Reneana Kegiatan (RK) dan perubahannva. serta penilaian kinerja. PemerintBh Kabupaten/Kota. (3) Berdasarkan penetapan al. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. penyusunan pembiayaan. sistem penyediaan air minum kepada perkotaan dan di perdesaan termasuk d . pelaksanaandan penqelolaan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi. dan meningkatkan kinerja prasarana dan sarana bidang lnfrastruktur seperti kinerja jalan provinsi/kabupaten/kota. monitoring dan evaluasi. koordlnasl penyelenggaraan. mendukung akses-akses ke pengembangan Prioritas nasional sebaqalmana a. Rencana Kegiatan (RK) harus memperhatikan tshapan penyusunan program. dinas teknis di provinsi.. Penyusunan penyaringan.okasi DAK darl Menteri Keuangan. Kementerian terkalt. e. dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: fungsi jaringan jalan. meningkatkan terrsolast dan terpeneil. yang menjamin terlaksananya koordinasi antara Kementerian. tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan. terkait kesesuaiannya dengan prioritas nasional. d. (4) 3 .a. c. yang memenuhi kriteria prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan dinas teknis di kabupaten/kota dalam pelaksanaan. Merumuskan krlterla teknis pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. meningkatkan cakupan pelayanan air minum.AB II DAN PEMROGRAMAN Pasal3 membantu Kementerian melalui Unit Kerja Eselon 1 terkalt untuk masing-masing subbidang proses pereneanaan kegiatan yang dibiayal DAK Bidang Infrastruktur daJam hal: a. b. menjamin tertib pemanfaatan. (3) Ruang IIngkup pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi perencanaan dan pemrograman. Gubernur/Bupati/Walikota penerirna DAK Bidang Infrastruktur membuat Reneana Kegiatan (RK) secara partisipatif berdasarkan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan.. membuka daerah kawasan perbatasan. Pembinaan teknis dalam proses pendampingan dan konsultasi. Rencana Kegiatan (RK) b. dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dl perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. pengelolaan. PERENCANAAN (1) B. mempertahankan tingkat pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) di provinsi dan kabupaten/kota guna mendukung program ketahanan pangan. serta mensinergikan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan kegiatan prioritas nasional. persampahen. Subbidang Sanitasi memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah. dan penentuan lokasi kegiatan yang akan ditanga_ni. Subbidang Jalan meningkatkanintegrasi daerah potensial. pemantauan. pelaksanaan.

harus mengacu pada RPIJM Bidang Pasal 5 (1) Salah satu komponen dalam menentukan a. b. Lampiran 2. c. pemerintah daerah harus menyusun Rencana dan Program Investasi Jangka. Menengah (RPIJM) Bidang Infrastruktur. dan Kriteria Teknis untuk prasarana sanitasi. (3) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk prasarana diutamakan untuk program ketahanan pangan yang mempertimbangkan antara lain: a. Subbidang Air Minum. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri lnl. Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi (terrnasuk jaringan Kriteria Teknis untuk prasarana air minum. pemerintah daerah. Panjang jalan. b.dang Infrastruktur. Kondisi panjang jalan mantap dan tidak mantap.untuk Subbidang. Pasal 4 (1) Dalam rangka menslnergikan dan mensinkronisasikan proqram-prooram Bi. Irigasi. maupun oleh masyarakatjswasta. 4 ..serta metoda berlaku. b. peraturan. d. reklamasi rawa): alokasi DAK adalah Kriteria Teknls yang meHputi: Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk prasarana Jalan diutamakan untuk program Konektivitas Domestlk yang mempertlmbangkan antara lain . daerah jaringan reklamasi rawa): Irigasi (4) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c untuk prasarana Air Minum diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi. Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah. balk yang dilaksanakan Pemerintah. sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a.dan ketentuan yang Rencana Kegiatan (RK) dan usulan perubahannya terlebih dahulu dikonsultasikan Eselon 1 dan/atau Dinas Provins! terkait dengan prioritas nasional . yang harus mengacu pada rencana tata ruang. Subbidang Irigasi. Penyusunan Infrastruktur Rencana Kegiatan dan Usulan Perubahannya yang telah disepakati. (2) Kriteria Teknis untuk prasarana jalan. Tingkat kerawanan air rninum. Kondisi Luas Daerah Irigasi. dan Subbidang Sanitasi. Luas Daerah Irigasi (termasuk b. untuk menjamtn keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dHaksanakan secara terpadu Pemerintah provinsl harus menyusun Jalan dan Subbidang IrigasL RPDM Bidang Infrastruktur khususnya untuk Subbidang untuk (2) (3) (4) (5) Pernerintah Kabupaten/Kota harus menyusun RPUM Bidang Infrastruktur khususnya Subbidang Jalan. (5) (6) pelaksanaan yang berpedoman pada standar.: a. RPIJM adalah rencana dan program investasi pembangunan infrastruktur tahunan dalam periode tiga hingga lima tahun. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum. ke Unit Kerja Mekanisme perencanaan dan pemroqrarnan untuk maslno-mastno subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbldang Jalan.

yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal. Menyusun petunjuk teknis penggunaan DAK Bidang Infrastruktur. dan Kementerian Teknis. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. disernlnasi. Menyiapkan dan menyampaikan laporan tahunan subbidangnya. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Kementerian Keuangan. (3) Biaya operasional Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada masingmasing unit Eselon 1 terkait. maupun rekomendasi kepada Menteri dalam mengambil kebijakan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur. 5 . b. dan selai/satuan Kerja Pusat yang ada dl daerah terkait. Memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi dan konsultasi serta pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK Bidang Infrastruktur. Pasal 8 (1) Gubernur membentuk Tim Koordinasi Provinsi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provlnsl. Inspektorat Jenderal. (6) Kriteria Teknis lain untuk masing-masing Subbidang disesuaikan dengan Rencana Kerja Pemerintah pada tahun berjalan dan dibahas dalam Trilateral Meeting antara Bappenas. e. Memberikan saran. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK subbidang terkait. Kerawanan sanitasi. Pasal7 (1) Unit Kerja Eselon 1 terkait masing-masing subbidang membentuk Tim Teknis Penyelenggaraan OAK subbidang terkait. Memfasilitasi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur oleh daerah. masukan. Menyiapkan laporan tahunan Kementerian penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur. c. BAB III KOORDINASIPENYELENGGARAAN Pasal 6 (1) Menteri membentuk Tim Koordinasi Kementerian Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. Membantu pelaksanaan sosiallsasi. kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. Cakucan pelayanan sanitasi. b. b. dan Unit Kerja Eselon 1 terkait. d. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap pelaksanaan OAK pada subbidang terkait. dinas teknis terkait.(5) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d untuk prasarana Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. yang terdiri dari unsur 8appeda provinsi. dan c. kepada Menteri Keuangan terkait (3) Biaya operasional Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Satuan Kerja di masing-masing Unit Kerja Eselon 1 dan Biro Perencanaan dan KLN.

Subbidang Sanitasi oleh Satuan Kerja Pengembangan di provinsi yang bersangkutan . d. dan tahunan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur di kabupatenjkota sesuai kewenangannya. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. dan tahunan terkait penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur di provinsinya. semesteran. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait. Pasal 9 (1) BupatljWalikota membentuk Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat kabupaten/kota. dimaksud pada (3) Pelaksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana ayat (1) dldukung SKPO OAK di kabupatenjkota yang bersangkutan.. Menyiapkan laporan triwulanan. oleh Satuan Kerja Perencanaandan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) di provinsi yang bersangkutan. terdiri dari unsur Bappeda kabupatenjkota dan dinas teknis terkait. Membantu pelaksanaan sosialisasi. Melaksanakan kabupatenjkota pemantauan terhadap yang bersangkutan. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait sebagaimana mekanisme pelaporan dalam Peraturan Menteri tnt. c.ksud pada ayat (1) dibantu oleh BalaijSatuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-masing subbidang sebagai berikut : a. jawab Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Memberi masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. diseminasi. dan menyampaikannya kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian sebagaimana mekanisrne pelaporan dalarn Peraturan Menteri ini. Subbidang Air Minum oleh Satuan Kerja Pengembangan provinsi yang bersangkutan. b. Memberikan saran dan masukan atas Rencana Kegiatan provinsi dan kabupatenjkota kepad'a Tim Koordinasi Infrastruktur tingkat Kementerian. Memberikan jawab Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan OAK Bidang Infrastruktur. dan pelaksanaan Infrastruktur Menyiapkan laporan triwulanan. d. diseminasi.(2) Tugas dan tanggung meliputi: a. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. 6 . Pelaksanaan OAK (RK) yang disusun pemerintah Penyelenggaraan DAK Bidang e. c. semesteran. b. di Permukiman Penyehatan Biaya operasional Tim Koordinasl Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah dan pemermtah provinsl sesuai dengan kewenangannya. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah b.. Tugas dan tanggung (1) meliputi: a. Kinerja Pengelolaan Ungkungan Air 'Minum. dan pembinaan DAK pelaksanaankepada Bidang daerah di Membantu pelaksanaan sosialisasi. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap Bidang Infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota: d. Subbidang Irigasi oleh Balai Wnayah Sungai atau Satuan Kerja Pengeiolaan Sumber Daya Air terkait di Provinsi yang bersangkutan. (4) Subbidang Jalan oleh Balai Besar/Ba:lai Pelaksanaan Jalan Nasional cq. dan menyampaikan kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provinsi dan tingkat Kementerian. (3) Pe!aksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dima. c.

Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum. peningkatan jalan. BABIV PELAKSANAAN DAN CAKUPAN KEGIATAN Pasal 10 (1) OAK Bidang Infrastruktur diarahkan untuk membiayal kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang menjadi kewenangan daerah yang merupakan program prioritas nasional Bidang Infrastruktur. (termasuk jaringan reklamasi rawa) untuk kegiatan rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan. maka prioritas kegiatan selanjutnya untuk pengembangan fasilitas pengurangan sampah berbasis masyarakat dengan pola 3R (Reduce. Prasarana jalan. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi. untuk kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan. BABV TUGAS DAN TANGGUNG lAWAB PELAKSANAAN KEGIATAN Pasal 11 (1) SKPO OAK Bidang infrastruktur bertugas melaksanakan kegiatan yang dananya bersumber dari OAK Bidang Infrastruktur sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. untuk kegiatan mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum Terbangun (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru Sistem Penyediaan Air Minum non-POAM bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa-desa rawan air minum dan kekeringan. Ruas jalan provinsi dan kabupaten/kota yang dapat ditangani adalah ruas-ruas jalan sebagaimana telah ditetapkan atau dalam proses penetapan keputusan gUbernur/bupati/walikota tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan sebagai Jalan Provinsi dan Jalan kabupaten/kota: b. Sedangkan rehabilitasi merupakan kegiatan perbaikan sistem jaringan Irigasi guna mengembaflkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti desain semula. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Pada daerah Rawa tidak ada kegiatan peningkatan jaringan reklamasi rawa. Kegiatan operasi dan pemeliharan (OP) tidak didanai dengan OAK Bidang Infrastruktur. Peningkatan sistem jaringan irigasi untuk meningkatkan fungsi dan kondisi atau menambah luas areal pelayanan jaringan yang sudah ada.(4) Biaya operasional Tim Koordinasi Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada pemerintah kabupaten/kota. d. Prasarana irigasi. untuk kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) yang priontas pertamanya untuk kegiatan pengembangan prasarana dan sarana air timbah komunal berbasis masyarakat dalam rangka menghllangkan kebiasaan masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS). (2) 7 . Prasarana sanitasi. Lampiran 2 untuk Subbidang Irigasi. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BABS). meliputi: a. Reuse. pemeliharaan berkala/rehabllltasl jembatan. Recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan Iingkungan. atau untuk mencapai pelayanan maksimum yang pernah dicapai. dan penyelesaian pembangunan jalan/jembatan. c. penggantian jembatan. KepaJaSKPD OAK Bidang Infrastruktur bertanggung jawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayal dari OAK Bidang Infrastruktur. (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan diatur pada Petunjuk Teknis untuk masing-masing subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbidang Jalan. Prasarana air mlnum.

Hasil pemantauan sebagaimana dalam bentuk laporan triwulanan. pelaksanaan (2) (3) (4) (5) (6) Gubernur melakukan pemantauan dan evaJuasi pelaksanaan DAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. (e) efisiensi dan efektifitas kegiatan. dampak dan manfaat kegiatan yang dllaksenekan. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK yang Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dan Balai/Satker terkait. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERlA Pasal12 (1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja sete!ah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPO Provinsi dan BalaijSatker dengan tugas dan kewenangannya sama. (b) proses pelaksanaan pengadaan barangjjasa. Kepala SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pasal16 (1) Kepala Bappeda Provinsi menyusun laporan triwulanan dengan menggunakanlaporan triwulanan provinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan laporan triwulanan kabupatenjkota sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2). (d) pencapaian sasaran.BABVI PEMANTAUAN. 8 . Cf) kepatuhan dan ketertiban pelaporan. Pasal15 (1) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota menggunakan laporan triwulanan 13 Ayat (2). menyusun laporan SKPD Kabupaten/Kota triwulanan KabupatenjKota dengan sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh BupatijWalikota kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. P·asal14 (1) (2) Kepala SKPD Provinsi dikelolanya. pelaksanaan program pelaksanaan meliputi Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dilakukan terhadap: (a) kesesuaian dan pelaksanaan Rencana Kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. BupatijWalikota melakukan pemantauan pelaksanaan DAK yang meliputi dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. (c) kesesuaian hasil pelaksanaan fisik dengan dengan kontrak/spesitlkasi teknis yang ditetapkan. dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) disusun (7) Pasal13 (1) (2) Kepala SKPO Kabupaten/Kota yang dikelolanya.

pelaksanaan DAK Bidang (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pasal19 Peniiaian kinerja untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan DAK Bidang Infrastruktur meliputi: a. (2). Menteri melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap Infrastruktur. Menteri Dalam Negeri. Gubernur melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap pelaksanaan Dana Alokasi Khusus yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Pasal21 Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dilakukan oleh instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah.(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Gubernur kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderai dengan tembusan Direktur Jenderal terkait paling lambat 14 (em pat belas) hari ketja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Pasal18 (1) Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan (efisiensi. b. Penyimpangan dalam pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 17 Mekanisme pelaporan dan format laporan pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 5 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. c.Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas. Pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur yang tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri ini dapat berakibat pada penilaian kinerja yang negatif. efektivita 5/ kemanfaatan dan dampak) berdasar output dan indikator kinetja kegiatan. Gubernur menyampaikan laporan hasil evaluasi dan penilaian kinerja kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pasal20 Mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 6 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. dan Dewan Perwakilan Rakyat. Evaluasi dilakukan terhadap program prioritas nasional untuk menilai keberlanjutan suatu program. Kinetja penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur akan dijadikan salah satu pertimbangan dalam usulan pengalokasian DAK oleh Kementerian pada tahun berikutnya. Hasil evaluasi dimaksud pada ayat (I). ke Menteri Keuangan. dan (3) di atas digunakan untuk menilai kinerja pelaksanaan Dana Alokasi Khusus di. Evaluasi pelaksanaan Rencana Kegiatan dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dan dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun pelaksanaan kegiatan Dana Alokasi Khusus. yang akan dituangkan dalam laporan Menter. keuangan DAK 9 .

KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal22 (1) Dalam hal tetjadi bencana alam. merupakan bencana alam yang (3) Perubahan penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang dalam bidang yang sarna dan tidak mengubah besaran alokasi DAK pada bidang tersebut. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 23 Dengan ditetapkannya peraturan Menteri ini.BABVII. (1). Pasal24 Peraturan 'Menteri ini mula! berlaku pada tanggaJ diundangkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. daerah dapat mengubah peng:gunaan DAK untuk keqiatan dl luar yang telah diatur dalam Peraturan Menter! Keuangan dan Petunjuk Teknis lnl. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Menteri nomor 42jPRT/Mj2007 tentang Petunjuk Teknls Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 01 November 2010 MENTER! PEKE'RJAANUMUM. setetah sebelumnya mengajukan usulan perubahan dan mendapat persetujuan tertulls dariMenteri Keuangan dan Menteri. (4) Persetujuan iMenteri Keuangan dan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. (2) Bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat dinyatakan secara resmi oleh Kepa!a Daerah terkait. Agar setiap orang mengetahuinya. ttd DlOKO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASIMANUSIA KIRMANTO PATRIALIS AKBAR 10 .

34 Tahun 2006 tentang Jalan. 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyatakan bahwa wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan jalan meliputi penyelenggaraan jalan nasional dan penyelenggaraan jalan secara umum yang mencakup (1) pengaturan secara urnum. Dengan demikian diharapkan peJaksanaanpenanganan infrastruktur Subbidang Jalan dapat menghasilkan kualitas sesuai umur rencana yang. perencanaan teknik. Petunjuk Teknis Subbidang Jalan disusun untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan pelaksanaan OAK. Penyusunan Daftar Ruas Jalan Prioritas. menyatakan bahwa Pembinaan Jalan Umum meliputi pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional. mulai dari proses perencanaan dan pemrograman. Kegiatan Pemograman dan penganggaran terdiri atas: 1. Penyusunan Program Penanganan. Penyusunan Daftar Ruas Jalan. 3. 38 Tahun 2004 tentang Jalan.diharapkan. 2. (3) pembangunan secara umum antara lain kewajiban penyelenggaraan jalan memprioritaskan pemeliharaan jalan. Tahapan penanganan jalan meliputi: • provinsi dan kabupatenjkota dalam pemanfaatan OAK. 4. Pelaporan Peniiaian kinerja 11 . Penyusunan Rencana Kegiatan (RK). Undang Undang No. Pasal 14 Undang Undang No. pelaksanaan konstruksi.LAMPIRAN1: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PETUNlUK PELAKSANAAN SUBBIDANG JALAN I. digunakan sebagai acuan hukum dalam kaitan pembagian wewenang antara Pemerintah (Pusat) dengan Pemerintah KabupatenjKota. jalan kabupaten dan desa serta jalan kota. PENDAHULUAN L 1. jalan provinsi. antara lain penyusunan petunjuk teknis. sampai dengan proses monitoring dan evaluasi. • • • • Perencanaan Teknis Jalan Pelaksanaan Konstruksi Monitoring dan Evaluasi Pelaksaaan. 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta Peraturan Pemerintah No. Pasal 23 Undang Undang No. (2) pembinaan secara umum antara lain pemberian sosialisasl. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Jalan Bantuan Dana Alokasi Khusus ini sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur.

serta dl atas permukaan air. serta penelitian dan pengembangan jalan. pemberdayaan sumber daya manusia. pelaporan sampai dengan evaluasi dan penilalan kinerja pengelolaan jaringan jalan. Peningkatan Jalan (PK) adalah kegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan ruas-ruas jalan dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas jalan tersebut dalam kondisi mantap sesuai dengan umur rencana. tertib dalam pelaksanaan dan tepat sasaran. di atas permukaan tanah. dan jaJan kabel. pelaksanaan konstruksi. dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan. 3. yang berada pada permukaan tanah. pelaksanaan. 2. perencanaan teknis. pembinaan. penyusunan perencanaan umum. agar kondisi kemantapan tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan rencana. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. yang berakibat menurunnya kondisi kemantapan pada bagianjtempat tertentu dari suatu ruas jalan dengan kondisi rusak ringan. Pengawasan Jalan adalah kegiatan yang dilakukan pengaturan. Penyelenggaraan Jalan adalah kegiatan yang pembangunan. Pengaturan Jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan. Pembinaan Jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis. dan pengawasan jalan. 1. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah sebagai acuan dan pegangan bagi para pelaksana dan pihak terkait lainnva dalam penyelenggaraan kegiatan Subbidang Jalan. kecuali jalan kereta api. 8. 1. serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. jalan lori. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang rnellputi segala bagian jalan. di bawah permukaan tanah danjatau air. perencanaan teknis.5. 104.1. Pembangunan Jalan adalah kegiatan membangun jalan tanahjjalan setapak menjadi standar jalan minimum sesuai dengan tlngkat kebutuhan lalu lintas dan sesuai dengan standar/pedoman yang berlaku. 12 . 4. 5. dan pembangunan [alan: untuk mewujudkan tertib 7. Rehabilitasi Jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. pembinaan. pelayanan. rneltputl pengaturan. Ruang Llngkup Petunjuk Teknis ini memuat tata cara pengelolaan jaringan jalan mulai dari perencanaan pemrograman. Pembangunan Jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran.3. 10. Pengertian 1. Pemeliharaan Berkala (PM) adalah kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan dengan pelebaran perkerasan. 9. 11.2. Pemeliharaan Rutin CPR) adalah Kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakankerusakan yang terjadi pada ruas-ruas jalan dengan kondisi pelayanan mantap. Tujuan Petunjuk Teknis ini bertujuan untuk menjamin pelaksanaan/pengeiolaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan sesuai dengan ketentuan. 6. baik menambah maupun tidak menambah jumlah lajur. agar penurunan kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan rencana.

terpeneil. n. 2. Penyusunan Usulan Ruas Jalan Prioritas Penyusunan ruas jalan prioritas jalan provinsi dan kabupaten/kota. ruas kabupaten/kota. penanganan daerah rawan beneana serta pendukung pengembangan kawasan perbatasan. Penanganan Jembatan • Pemeliharaan Berkala: • Rehabilitasi. meningkatkan integrasi fungsi jaringan jalan. 11.2. adalah menyusun daftar ruas jalan provinsi serta. sesuai form Data Dasar Prasarana Jalan dan Jembatan. menjelaskan pemanfaatan anggaran penyusunan program penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan. • Penqqantian: • Pembangunan. • Pembangunan. Ruas-ruas prioritas yang ditangani diambil darl hasil keluaran program IRMS atau dapat menggunakan eara seperti pada butir 2. Penentuan nilai RCI berdasarkan jenis permukaan dan kondisi seeara visual dapat dilihat pada tabel berikut: 13 .II. membuka daerah terisollr. 11.1. penanganan jalan kabupaten/kota yang merupakan akses ke jalan provinsi atau strategis provinsi serta akses ke jalan nasional atau strategis nasional. e e penanganan jalan provinsi yang merupakan akses ke jalan nasional atau strategis nasional. Penentuan Program Penanganan Program/kegiatan penanganan jalan ditentukan oleh tingkat kerusakan jalan. Langkah-Iangkah dalam penentuan program penanganan adalah sebagai berikut: A.1. Klasifikasi program/kegiatan penanganan adalah: Penanganan Jalan • Pemeliharaan Berkala. untuk provinsi maupun kabupaten/kota. • Rehabilitasi. • Peningkatan. Penyusunan Program Penanganan Petunjuk Teknis ini.1. • Prioritas Nasional untuk meningkatkan akses-akses ke daerah potensial. yang dimaksudkan adalah prioritas nasional dengan mempertimbangkan aspek-aspek: • Prioritas nasional. Penyusunan Dafta r Ruas Jalan Provinsi serta Kabupaten/kota Tahap awal yang perlu dipersiapkan oleh Pelaksana Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota.1. Penentuan program penanganan jalan provinsi 1. Menentukan nilai ReI (Road Condition Index) dengan melakukan survey kekasaran permukaan jalan seeara visual dengan menggunakan form SKV. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN 11.Ol (terlampir).1.3.

94 : Ii 8 s R -~S B . Rusak berat.27 2.3 Penentuan Program Penanganan lalan Provinsi Program Penanganan Pemeliharaan Rutin (PR} PemeHharaan Berkata /Rehabi Iitasi Peningkatan (PK) Pembangunan (PM) Kondisi Baik (B) Sedang (5) Rusak (R) Rusak Berat eRB) - B.61 . kadang-kadang 2 6.. Lasbutag setelah pemakaian t:=lhlln Kondisi ditinjau secara visual Tidak bisa dilalui Nilai ReI 0-2 2.71 3. lenis Permukaan Jalan tanah dengan drainase yang jelek.54 3 c IRI .___!!_ AS AS AS - ! S B.:.000 B 7. Latasbum baru.~ _.24 -c Rei -e + 10 12 16 4 ::: IRl « __£_ ~ IRJ .2 Penentuan Kondisi Ruas lalan dari Nilai RCI Lalu U ntas harian Rata-Rata T ahunan (LHRT) (dua I 'urduaarah) Rei Dari 7.24 3. Latasbum lama S.-:! 2~R. permukaan ialan aaak tidak rata Baik Sangat 5-6 6-7 7-8 8 -10 balk. Hotmix tipis diatas PM Hotmix baru (Lataston.76 :: Rei'" -----'" 3.!. 8. Melakukan survey persentase kerusakan untuk menentukan jalan.::_ :: IRI e IRI'" --&25 _- -B 8 8 B B B S S e 5 5 S R R 5 5 5 R s -5 R R 5 J 20 < 0..54 0. banyak 2-3 3-4 4-S lubanc Agak rusak. banyak lubang dan seluruh daerah loerkerasan Rusak bergelombang.000 B B 1. permukaan tldak rata Cukup tidak ada atau sedikit sekali lubang.000 8 >10. umumnya rata Sangat rata dan teratur 3. Peningkatan dengan menaaunakan lebih dari 1 lanls berdasarkan ada lubang. Laston). 3.000 3. 1.. Lapis tipis lama dari hotmix.000 .1 Penentuan Nilai RCI No.5 7.5 ::: IRJ e 0-50 8 B 50 -100 B B B B 100.22 :: RCI -e.: « IRJ '" ::: IRI e.£.10. PM baru.m 6. kondisi ruas 14 . Penentuan kondisi ruas jalan berdasarkan matriks berikut: nilai RCI dan volumelalunntas Tabel 1.53 RCI :: IRI" -. batu kerikil PM setelah pemakaian 2 tahun. ~ 8 B B 8 B s 5 S R R R8 :: Rei" J._ :: IRl ~ ___!_ 7.ZB 6. 4.Bl 5.3.c 3. R R R R R8 R8 .000.200 200-300 B B B 300-1. 7.96 :: RC~2. Latasbum baru Lasbutaa baru Hotmix setelah 2 tahun.- RB RB RB R8 R8 Fe R8 R8 RB RB R9 R9 4. Penentuan program/kegiatan kondisi pada tabel berikut ini: penanganan suatu ruas jalan berdasarkan Tabell. Penentuan program penanganan Jalan KabupatenjKota 1.Tabel 1. 1.74 < II B B B B I B B S :: Rei '" -c Rei < 4.94 ::: RCI 3.69 4. dan semua tipe nermukaan vana tidak Semua tipe perkerasan yang tidak diperhatikan sejak lama (45 tahun atau lebih) PM lama. Latasbum lama.91 3. Rei" :: Rei IRI Ke 10.87 5..

2. Sesuai Undang Undang No. Rencana Kegiatan (RK).2.<16% 16 . sedangkan lebar badan jalan untuk jalan provinsi adalah 9 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 7 meter. dan Bupati/Walikota kabupaten/kota. 34 Tahun 2006. serta harga satuan. panjang efektif (km). 15 .<23% Kondisi Baik (8) Sedang (S) Rusak (R) Rusak Berat (RB) Program Penanganan Pemeliharaan Rutin CPR) Pemeliharaan Berkala (PM) /Rehabilitasi Peningkatan (PK) Pembangunan >23% Catatan: Kegiatan Rehabilitasi dilakukan yang tidak diperhitungkan dalam desain.5 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 5.5 meter. berisi informasi-informasi: • Kegiatan kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi. Untuk optirnalisasi bantuan DAK Subbidang Jalan maka kegiatan peningkatan [alan yang berupa pelebaran jalan menjadi persyaratan minimal lebar jalur lalu lintas yaitu 5. target fungsional. Untuk pekerjaan pelebaran melebihi ketentuan di atas harus disertai dengan justifikasi teknis dan mendapat persetujuan dari SNVT P2JJ setempat. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan CRAB). tentang Jalan. apabila terdapat kerusakan 11. sesuai penjelasan pada bagian Pelaksanaan Konstruksi. 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. Jumlah.4 Penentuan Program Penanganan lalan Kabupaten/Kota Persentase Batasan Kerusakan <11% 11. mengenai lebar badan jalan dan lebar jalur lalu lintas bahwa lebar badan jalan untuk jalan lokal/kabupaten adalah 7. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan ada!ah usulan program penanganan jalan yang disusun terkait. Rencana Kegiatan. panjang fungsional untuk panjang efektif/fungsional (APBD) minimum pad a Lampiran 10%.5 meter untuk jalan lokal/kabupaten dan 7 meter untuk lebar jalur lalu lintas pada jalan provinsi. peningkatan pembangunan jalan serta pemeliharaan berkala/rehabilitasi penggantian/pembangunan jembatan usulan ruas mengacu prloritas nasional sesuai ketentuan Juknis panjang (km). serta di sahkan oleh Gubernur untuk jalan provinsi. kemudian. Penentuan program/kegiatan penanganan suatu ruas jalan atas dasar hasil survey persentase kerusakan dengan batasan-batasan di bawah ini: Tabell. pendamping Kegiatan dapat dilihat (m).lebar (km) harga satuan/km DAK. karena RAB berisi penjelasan jenis-jenis pekerjaan yang termasuk dalam lingkup kegiatan yang diusulkan. target efektif. Tabel Rencana Kegiatan DAK (Rupiah) dan dan oleh dinas untuk jalan • Tujuan/Sasaran • Volume • Satuan Biaya • Dana Pagu Format Rencana Subbidang Jalan.

! C .: ..!! ftI a.._...rae::: Ul:... N :s ::c ::E: a:I til ::.. CC CC '<T ! ra B C .... :::. :5 :E ~ a:: .. "a 1-1 U) E .. ftI fa %E .-I . :I ftI""'.. c "5 0'1 c. VI fIJ a. 1-1 co :I .....: .. Z ... :J ~ VI a.. ftlCQ.... C ~ 0 Z z. ::eftl:l I.. % = ::5 :l = .. ... "Vi e E E c re fIJ ... ~ .S! fa .::::l ::e M is C fIJ . < " 2 Lrl ::E Q Do Z w :::II:: Q ~ 0 .. -.. >U) Z < <2 X::5 CC< 'iii 'S....::: (l) ...... . ro D..-I =:10 C "~ VI fIJ C ..... E w_ =-.. ~ ¥:~ .en c l! :::II:: C ftI 0 .... ra ".c II r-.. c ra c ftI :J ::::l a.::1. ra c aJ C aJ en CO "C' ~ (l) e. = e::: M E 0.......... e 0 Z ..........

::: 0 Z ...:::~ "" ::... B Ia e r--. .2 w ~ ::::.!! :3 :E ':I 1"\ :::E: ~ ..:1a= Ul cn«l~ -M ~ Cl) CL 6 ..::: c:C Q ~ . ':I .::: e «I e ~ 0'1 is 0 ::am ~ E ::J E => IX) 0....rg c 2 ro . Ia 1000 .c = o ~ M 'iii ~ e Z"" Cct olI :2::3 N ::::.g vi ~ ...... '.. ::::. ..::..CII LLI .. E 0. ::J '- ... ~~ cc ::J .-I => ::J ra Ul c .s cu . 'C' c ro ro z laea.:: >U') M E Z Ia Ia 1m C ':I c:CZ IX e a.. .. ..!5! ra c: Ul co O II I'- ~ a . g IX S . S .... 3... Ia e.... c:C .a z " E Ia ~ 1-1 :E c:C IJ'l I~ 1-1 U') Z Q ~ e l- Ia 0 _..0 ~ 2 m ~~ a...: ...- :EE ':1. r!! 0 .. => a. Ia ... «I ::::...__.S!! Ia e en (I) e «I e cu e.e fa en c: ~ .!: Ul 0 .... :2: :E t:Q :3 ::c :t III co :'E ra .....B «I 0 Z U') = ti Ie ~ e.... lio=fI Ia ..

sedangkan bantuan DAK jalan kota metropolitan dibantu oleh SNVT P2JJmetro. dll). III. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.3. campuran aspal). d.3. 1. Pada panjang efektif: • • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang.2. meliputl jenis pekerjaan: a. Khusus Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Subbidang Jalan di tingkat provinsi dibantu oleh Balai/SNVT P2JJ untuk bantuan DAK jalan provinsi dan kabupatenjkota.2.1.3. retak.Perencanaan Teknik Perencanaan teknis jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota didasarkan pada 5tandar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan dengan mengacu pada: dapat a. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan 8elanja Negara dan perubahannva: c.t.1. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI 111. Konstruksi Jalan III.6 (terlampir). permukaan perkerasan. Umum Setelah teralokasinya dana mulai dari Tingkat PusatjKementerian. menjelaskan bahwa koordinasi penyelenggaraan dilakukan secara berjenjang. Daftar Standar dan Pedoman yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik jalan atau jembatan. Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan BarangjJasa Pernerintah. III. Menunjuk Permen PU tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur mengenai Koordinasi Penyelenggaraan. kemudian tingkat pemerintah provinsi.III. Pemeliharaan Berkala Jalan Merupakan pekeljaan perbaikan dan pembentukanjpelapisan ulang permukaan yang diperlukan untuk menjaga agar permukaan jalan selalu dalam kondisi baik. Kegiatan Pemeliharaan Jalan Pekerjaan pemeliharaan jaian berpedoman pada Standar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum seperti Tabel 1. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. dana untuk penanganan jalan baik itu pemeliharaan danjatau peningkatan. ambias. Pelaksanaan Konstruksi III. ]8 .6. PembentukanjPelapisan ulang (agregat.3. yang hasilnya menjadi acuan daJam pelaksanaan penanganan jalan. b.2. 111. Kegiatan pemeliharaan berkaia.

Rehabilitasi Merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap jenis kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. • Pelapisan permukaan aspal. meliputi jenis pekerjan: a. Pada panjang efektif : • Perbaikan permukaan perkerasan (Lubang.dll). amblas.3. retak.campuran aspal/ATB). b. pemeliharaan rutin. Pada panjang fungsional.• • • Perbaikan permukaan bahu jalan (penambahan material dan pemadatan/perataan): Pembuatan/Perbaikan dralnase/saluran gorong-gorongi Penggantian. campuran • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. retak. rambu/perlenqkapan jalan. Pekerjaan peningkatan juga dapat berupa peningkatan dari jalan tanah ke jalan kerikil/jalan aspal atau dari jalan kerikilfagregat ke jalan aspal. campuran aspal/ATB). perkerasan lama (agregat. • Perataan/leveling aspaIjATB). amblas. Pada panjang fungsianal. dan pemadatan/ perkerasan lama • Perbaikan drainasejsaluran tepi jalan dan gorong-gorong. Pada daerah pelebaran : • Persiapan tanah dasar/subqrade (galianjtimbunan tanahjmaterial dan pembentukanjpemadatan). 19 . Pada peningkatan meliputi: jalan jenls pekerjaan dan pengecatan kegiatan seperti berupa pelebaran. Pada daerah perkerasan lama : • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang. b. III. • Pematongan rumput. • Penggantian. • Persiapan lapis pondasi diatas (agregat. dll): • Persiapan lapis pandasi diatas perkerasan lama (agregat.2. 2. Kegiatan Peningkatan Pekerjaan peningkatan jalan merupakan kegiatan penanganan jalan yang dapat berupa peningkatan/perkuatan struktur atau peningkatan kapasitas lalu lintas berupa pelebaran jalur lalu Iintas. Kegiatan peningkatan jalan.pembersihan ruang milik jalan. jenis pekerjaan seperti kegiatan pemeliharaan rutin. perbaikanjpembersihan rambu/ perlengkaan jalan. jenis pekerjaannya a. • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. adapun jenis pekerjaannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan yang terjadi. tepi jalan dan b. • Penambahan material bahu jalan menyesuaikan permukaan perkerasan.2.

penahan erosi dan perlindungan gerusan pada pondasi. perbaikanjpembersihan rambujperlengkaan jalan. Lapisan permukaan jalan pada jembatan memerlukan penggantian secara berkala.c. g) Perbaiki pegangan sandaran dan pagar pengaman. pembersihan ruang miJikjalan. i) Perkuat bagian struktural. Konstruksi Jembatan Untuk Kegiatan penanganan jembatan hanya diperuntukan bagi kegiatan rehabilitasijpemeliharaan berkala dan penggantianjpembangunan jembatan. a) Pengecatan ulang.3. f) Perbaharui bagian-bagian dan elemen-elemen kecil. k) Perbaiki pekerjaan pengalihan aliran sungai. Pekerjaan pembangunan ini tidak menyangkut pembebasanj permasalahan lahan danjatau yang melintasi hutan lindung. 111. LapIsan aspal permukaan sebaiknya dikupas terlebih dulu dari lantai sebelum lapisan yang baru dipasang. h) Jalankan bagian-bagian yang dapat bergerak. Pemeliharaan Berkala Jembatan Pemeliharaan berkala mencoba untuk mengembalikan jembatan pada kondisi dan daya layan yang mempunyai atau seharusnya dipunyai jembatan segera setelah pembangunan dan mencakup tipe kegiatan dibawah ini. j) Perbaiki longsor dan erosi tebinq. III.3. • Penggantian. b) Pelapisan permukaan aspal.1. c) Pembersihan menyeluruh jembatan. • Pemotongan rumput. • Perbaikan drainasejsaluran tepi [alan dan gorong-gorong. d) Pemeliharaan pelekatanjlandasan. dan penggantian lantai jembatan dan perbaikan oprit jembatan). Kegiatan Pembangunan Pekerjaan pembangunan jalan rneliputi pembuatanjpembukaan jalan baru sesuai dengan kebutuhan lalu lintas yang diperkirakan dan mengacu pada standar teknis jalan dengan umur rencana minimal 10 tahun. e) Penggantian siar muai (sambungan star muai). Disarankan memakai HRS setebal 30 mm atau dengan lapisan semen tahan aus dan kedap air. III. dan pengecatan 20 .2. abutment. Rehabilitasijberkala jembatan meliputi perbaikan railing. Pada daerah diluar perkerasan : • Penambahan material bahu jalan dan pemadatan atau menyesuaikan pelebaran perkerasan.3. Ketebalan lapisan aspal tidak boleh melebihi 50 mm.3.3.3. Permukaan aspal yang berada di atas lantai baja atau lantai beton akan tahan sekitar 5 tahun sampai 8 tahun sebelum memerlukan penggantian. perbaikan kerusakan pada jembatan (pilar.

dan sebagainya. bagian-bagian sekunder atau elemen pengaku..3.3.6 DAFTAR BUKU STAN DAR DAN PEDOMAN BIDAN.2.III. Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan denqan Alat Ukur Kerataan NAASRA Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pandasi Jalan dengan Batu Pecah Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Langsung untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Sumuran untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Tiang untuk Jembatan Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/KerikiI Tata Cara Pelaksanaan Survai Kandisi Jalan Beraspal Tata Cara Perencanaan Persimpangan Sebidang Jalan Perkotaan Gambar Perencanaan Teknik Jalan Kabupaten Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pandasi Ga'iarKayu Tata Cara Pelaksanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu ~NI 03-3424-1994 ~NI 03-3425-1994 SNI03-3426-1994 SN 103-2853-1992 SNI03-3446-1994 SNI03-3447-1994 SNI03-6747-2002 Pt T-Ol-2002~B 008fT/BM/1999 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ~NI 03-2843-1992 SNI 03-2844-1992 a 1fT/BNKT/1992 014/T/BT/1995 008/T /BM/1999 009/T/BM/1999 14 15 16 21 .. dsb. pembatas. Penggantian Jembatan Pekerjaan mengganti bagi'an elemen atau struktur yang telah rnenqalarni kerusakan berat dan tldak berfunqsl. jika diperlukan contohnya elemen lantai. contoh : sambungan siar-rnual.3. g. 111. bangunan bawah dan bangunan atas. Pembangunan Jembatan Pembangunan jembatan baru rnellputl pekerjaan yang menghubungkan dua ruas jalan yang terputus akibat adanya rintangan atau pemindahan lokasi jembatan mulai dari pekerjaan pandasi. Tabel 1. perletakan. Penggantian keseluruhan jembatan merupakan pertimbangan terakhir dalam proses peningkatan prasarana yang ada. sebagai.G JALAN NO 1 2 3 4 lUDUL STAttDAR/PEDOMAN NOMOR Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya ~NI 03-1732-1989 dengan Analisa Metode Komponen Tat:a Cara Perencanaan Permukaan Jalan.33. Kadang-kadang bagian struktur juga diganti. Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal untuk Jalan Raya.elagar memanjang secara individu.

IRMANTO 22 .737-1991 SNI 03-2843-1992 SNI03-2844-1992 Pd T-IO-200S-8 Pd T-11-2005-B 038jT /BM/1997 pt Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/ Kerikil Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Beraspal Penanganan Tanah Ekspansif untuk Konstruksi Jalan 5tabilisasi Dangkal Tanah Lunak untuk Konstruksi Timbunan Jalan (dengan Semen dan Cerucuk) Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antal' Kota Tata Cara Perencanaan Geometrik Persimpangan Sebidang Petunjuk Perencanaan Marka Jalan Geometri Jalan Perkotaan Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan Perencanaan Teknls Jalan Kabupaten Petunjuk Teknik untuk Perencanaan Jembatan Kabupaten Petunjuk teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten Panduan Perhibungan Analise Siaya dan Harga Satuan Pekerjaan Jalan. Panduan Survey Kekasaran Permukaan Jalan Secara Visual T-02-2002-8 012/S/BNKT /1990 RSNI T-13-2004 013jT /8tj199S o 16/t/Bt/1995 SK.NO 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 I Kesalahan JUDUL STANDARI PEDOMAN NOMOR Umum Pelaksanaan Jalan dan Jembatan SNI03-1. ttd DlOKO K. Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Kabupaten. No 77/KPTS/Db/1990 015jT /Bt/1995 30 31 32 024/T/Bt/1995 Agustus 1998 MENTERI PEKERJAAN UMUM.

Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Irigasi (termasuk reklarnasl rawa) sebagai lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur disusun dan diterbitkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan Umum. 23 . Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2008 tentang Air Tanah. Pemerintah kabupatenjkota berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas < 1.305 hektar yang terdiri dari 815 daerah reklamasi rawa.000 Ha yang !intas kabupaten menjadi tanggungjawab dan kewenangan pemerintah provinsi.3.423. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.000 .222 Ha merupakan kewenangan provinsi. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupatenjkota Menurut definisinya Irigasi adalah usaha penyediaan.000 Ha dan yang utuh dalam kabupatenjkota menjadi tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota yang bersangkutan.860 daerah irigasi dengan luas 3. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 390jPRTjMj2008 tentang Penetapan status daerah irigasi yang pengelolaaannya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah. yang pada pasal 59 (1) menyatakan bahwa Menteri Teknis Menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus.210 daerah irigasi dengan totalluasan 7.109 daerah irigasi dengan luas 1.000 Ha dan sistem irigasi dengan luas < 1.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengatur kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah dan Pernerintah Daerah dalam pengembangan sistem irigasi.469. Pengeloiaan Sumber Daya Air dilakukan secara menyeluruh. terpadu dan berwawasan Iingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan dalam UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. irigasi air bawah tanah. terdapat 33.3.796 Ha. Sedangkan beberapa turunan peraturannya antara lain: Peraturan Pemerintah No 20 tahun 2006 tentang Irigasi. dan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah provinsi adalah kurang Iebih 432. Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air.000 Ha. Undang Undang No. pengaturan. Dari total tersebut.000 .568 Ha merupakan kewenangan kabupatenjkota dan 1.197 hektar yang terdiri dari 344 daerah reklamasi rawa. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas 1.1. PENDAHULUAN I.LAMPIRAN 2: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG IRIGASI I. dan irigasi tambak. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.195. 31. pemerintah provinsi berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1.000 Ha atau daerah irigasi yang bersifat lintas kabupatenjkota. irigasi rawa. irigasi pompa. Sesuai Keputusan Menteri Nomor 390jKPTSjMj2007. dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan. Jaringan reklamasi rawa yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota seluas kurang !ebih 226.

Maksud Penyusunan Petunjuk Teknis ini dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai acuan dan petunjuk dalam penyusunan perencanaan. pembagian. penyusunan program. Pengelolaan Jaringan Irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi. pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya rnellputi irigasi permukaan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang dlperlukan untuk penyediaan. bangunan bagi-sadap. pemberian.Pemerintah menyediakan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur untuk membantu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendanai pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan reklamasi rawa (tidak termasuk kegiatan 0 dan P) yang menjadi tanggungjawab daerah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. 1. saluran pembuangannya. 1. bangunan bagi. penggunaan dan pembuangan air irigasi. Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. bangunan bagi. 24 . irigasi rawa. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya. Pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan. perencanaan teknis dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan peningkatan serta untuk pemantauan dan evaluasi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini agar semua pihak yang terlibat dalam proses perencanaan. saluran pembuangannya. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis ini mencakup: • Pendahuluan • Perencanaan dan Pemrograman Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Penyusunan Program Penanganan Penyusunan Rencana Kegiatan (RK) • Perencanaan Teknik dan Pelaksanaan Konstruksi Umum Perencanaan Teknik Pelaksanaan Konstruksi 1. bangunan bagisadap.3. Jaringan Irigasi Primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama. saluran induk/primer.5. irigasi air bawah tanah. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya. Jaringan Irigasi Sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder. Jaringan Irigasi adalah saluran. 104. dan rehabilitasi jaringan irigasj di daerah irigasi.2.gasitambak. pemeliharaan. pemograman. pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi penggunanaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi dapat lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya sehingga penggunaan dana dapat menghasilkan infrastruktur jaringan irigasi yang ditingkatkan dan atau direhabilitasi dengan kualitas dan umur rencana sesuai yang diharapkan. irigasi pornpa dan iri.

25 . dan membangun prasarana sistem irigasi. alokasi DAK untuk Subbidang Irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan fungsi yang diperlukan untuk pengelolaan air di daerah reklamasi rawa. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. Sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan DAK. Daerah Reklamasi Rawa adalah kesatuan lahan yang dilengkapi dengan jaringan reklamasi rawa berdasarkan tahapan akhir pengembangan. termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi kewenangan kab/kota dan provinsi khususnya daerah lumbung pangan nasional dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang ketahanan pangan. menyusun rencana kegiatan operasi. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk pengelolaan air. memantau dan mengevaluasi. mengumpulkan data. Daerah Rawa adalah areal rawa yang dibatasi garis sempadan rawa Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan manfaat rawa melalui teknologi hidraulik dalam bentuk jaringan reklamasi rawa. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK) Mengacu pada kebijakan prioritas nasional. yang terdiri antara lain saluran sekunder dan saluran primer. maka kegiatan-kegiatan Subbidang Irigasi yang dapat didanai dengan OAK adalah kegiatan fisik yang masuk kategori Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi serta pembangunan baru yang selektif yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. II. Operasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya pengaturan air termasuk membukamenutup pintu bangunan air. menyusun system golongan. Pengembangan laringan Reklamasi Rawa meliputi kegiatan pembangunan jaringan baru dan peningkatan jaringan reklamasi rawa. Saluran Tersier adalah saluran yang berhubungan langsung dalam pelayanan air dengan lahan pertanian. irigasi guna Peningkatan Jaringan Irigasi ialah kegiatan meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan. menyusun pola tanam dan rencana tata tanam. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. Pengelolaan laringan Rektamasi Rawa meliputi kegiatan operasi. Pemeliharaan laringan Reklamasi Rawa adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan reklamasi rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan mempertahankan kelestariannya Rehabilitasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya memperbaiki jaringan reklamasi rawa untuk mengembalikan fungsi dan kinerjanya seperti yang direncanakan. yang ditujukan untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat jaringan reklamasi rawa. pemeJiharaan dan rehabilitasi jaringan reklamasi rawa. Rehabilitasi Jaringan Irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula. Saluran Utama adalah saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan sungai.Pemeliharaan Jaringan Irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. mengoptimalkan fungsi.

dilakukan dengan menentukan indeks kondlsi jaringan irigasi. Alokasi OAK Subbidang. Peningkatan.olaannya. II. luas. Rehabilitasi. Oalam menentukan kriteria penanganan (rehabilitasijpeningkatan) dilihat dari kondisi kerusakan fisik jaringan irigasi. Jika provinsi mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang IrigasI untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. dan dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun dengan skala prioritas. bilamana jaringan irigasi yang menjadi kewenangan provinsijkabupatenjkota sudah berfungsi dengan batk. 3. 26 . Penyusunanan Daftar Jarinan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Kegiatan penyusunan program penanganan diawaJi dengan kegiatan inventarisasi jaringan irigasi. untuk kemudian digunakan dalam penanganan (rehabilitasi dan peningkatan) jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) sesuai dengan kewenangannya masing-masing.asi tersebut kernudlan dialokasikan kepada provinsi dan kabupatenjkota. Irig. Daerah Irigasi (D!) dengan luas >3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pusat dalam pengelolaannya. Pembangunan baru yang selektif. Jika kabupatenjkota mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang Irigasi untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan provinsi maka kabupaten/kota tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA Provinsi. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dan Kepmen PU No 390jKPTSjMl2007 adalah sebagai berikut: 1.2. 2. dan 3. lokasi.Untuk mencapai tujuan Alokasi OAK Subbidang Irigasi tersebut. Ini dilakukan untuk mendapatkan data jumlah. Subbidang Irigasi arah pemanfaatannya adalah sebagai berikut: 1. 11. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka kabupatenjkota tersebut harus mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Sumber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Balai Wilayah Sungai Terkait. Untuk menilai kondisi kerusakan fisik.2. Inventarisasi jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun. Penyusunan data dasar ini mengacu pada form data dasar prasarana jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa). maka alokasi OAK 2. OAK ditujukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yang sudah ada. Oaerah Irigasi (01) dengan luas <1000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupatenjkota dalam pengelolaannya.1. Oaerah Irigasi COl) dengan luas 1000 Ha sampai dengan 3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab provinsi dalam pengel. Penyusunan Usulan Jaringan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Prioritas Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survey identifikasi permasalahan dan kebutuhan rehabilitasi/pemeliharaanjpeningkatan secara partisipatif.2.2. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Oirektorat Jenderal Surnber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Salai Wilayah Sungai Terkait. Adapun kewenangan pengelolaan jaringan irigasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan kabupatenjkota maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA KabupatenjKota. Penyusunan Program Penanganan 11. dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi.

2.dll).Indeks kondisi jaringan irigasi merupakan indlkator kondisi fisik jaringan irigasi yang dinyatakan dengan suatu angka dari 0 hingga 100. sehingga diharuskan untuk dibuat saluran pasangan batu. sekunder. dll). II. maksimurn yang pernah dkapai atau sesuai dengan kondisi lapangan. pintu air. tersier. di bawah 60 maka jaringan irigasi Adapun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan irigasi rawa) yang dapat diusulkan menjadi usulan program prioritas adalah sebagai berikut: II. Kriteria penanganan berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi ini adalah sebagai berikut: • • Apabila indeks kondisi suatu jaringan iriqari di atas 60 atau sama dengan 60 maka jaringan irigasi tersebut diarahkan untuk pemeliharaan. talang. suplesi.2. primer. saluran drainase. pintu bilas. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah dana DAK untuk kegiatan rehabilitasi sistem irigasi yang menjadi kewenangan dan tangung jawab pemerintah daerah hanya dikhususkan untuk kegiatan fisiko Kegiatan rehabilitasi sistem irigasi secara umum dilakukan antara lain untuk jenis-jenis bangunan: • Bendungan/waduk/reservoir/embung/situ untuk keperluan air irigasi. secara alami jaringan irigasi cenderung mengalami penurunan tingkat layanan akibat waktu (umur prasarana dan sarana) sampai pada tahapan kritis tingkat layanan menurun tajam dari rencana semula yang berakibat pada penurunan kinerja. dalam jangka waktu tertentu perlu dilakukan upaya-upaya rehabilitasi guna mengembalikan kemampuan lavanan jaringan irigasi sesuai dengan desain rencana. jembatan dan jalan inspeksi.) berdasarkan rencana prioritas hasil inventarisasi jarlngan irigasi dengan katagori rusak berat. got. pembuang/drainase. atau di bendung yang mercunya terbuat dari bronjong dilakukan peningkatan mercunya menjadi pasangan batu sehingga dan tampungan air lainnya 27 .2. Kegiatan Peningkatan Jaringan Irigasi Pelaksanaan kegiatan Peningkatan jaringan Irigasi hanya dilaksanakan pada Daerah Irigasi.2. sedangkan pada Daera Rawa tidak ada kegiatan Peningkatan jaringan irigasi. Untuk menangulangi hal tersebut.1.2. dll). • Bangunan pelengkap lainnya (bangunan baqi/sadap. Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Meskipun telah dilakukan Operasi dan Pemeliharaan yang sebaik-baiknya. Apabila indeks kondisi suatu jaringanirigasi tersebut diarahkan untuk direhabilitasi. Perencanaan peningkatan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi dilaksanakan oleh Dinas/Pengelola Irigasi bersama perkumpulan petani pemakai air (P3A. • Bangunan utama (bendunq/lntake. siphon. Tujuan pekerjaan peningkatan Daerah Irigasi untuk mengurangi kehilangan air pada saluran. goronggorong. kantong lumpur. • Saluran (induk. Rehabilitasi adalah suatu proses perbaikan sistem jaringan yang meliputi perbaikan fisik atau non-flsik untuk mengembalikan tingkat pelayanan sesuai desain semula.

Pengukuran dan Pembuatan Detail Desaln Perbaikan Jaringan Irigasi a). Hasil survai dituangkan dalam gambar skets atau diatas gambar as built drawing. Dalam rencana Pelaksanaan Peningkatan jaringan irigasi terdapat pembagian tugas. 2. Inspeksi Rutin Dalam melaksanakan tugasnya juru pengairan harus selalu mengadakan inspeksi/perneriksaan secara rutin di wilayah kerjanya setiap 10 hari atau 15 hari sekali. Hasil survey dan pengukuran ini selanjutnya digunakan oleh petugas Dinas/pengelola irigasi dalam penyusunan detail desain. antara P3A dengan pemerintah diantaranya bagian mana bisa ditangani P3A dan bagian mana yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama. Penelusuran dilakukan bersama secara partisipatif antara Pengamat/ UPT/Ranting. untuk mengetahui endapan dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi di bawah air normal. 28 . perbaikan berat maupun penggantian harus menggunakan alat ukur waterpass atau theodolit untuk mendapatkan elevasi yang akurat. Survey dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Irigasi Survey dan pengukuran untuk pemeiiharaan jaringan irigasi dapat dilaksanakan secara sederhana oleh petugas dinas/penqelola irigasi bersamasama perkumpulan petani pemakai air dengan menggunakan roll meter. dan GP3A/IP3A. Pembuatan Detail Desain Berdasarkan hasil survey dan pengukuran disusun rancangan detail desain dan penggambaran. Penelusuran dilaksanakan setahun dua kall yaitu pada saat Penqerinqarr. Hasil rancangan detail desain ini didiskusikan kembali dengan perkumpulan petani pemakai air sebagai dasar pembuatan desain akhir yang dituangkan dalam berita acara. dicatat dan diklrim ke pengamat setiap akhir bulan. Sedangkan untuk pekerjaan perbaikan. I1. se!ang air. atau tali. Kerusakan ringan yang dijumpai dalam inspeksi rutin harus segera dilaksanakan perbaikannya sebagai pemeliharaan rutin.menambah debit air (memaksimalkan) yang tersedia atau yang tadinya Irigasi Sederhana menjadi irigasi Semi Teknis. alat bantu ukur. selanjutnya dilakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya CRAB). Penelusuran Jaringan Irigasi Berdasarkan usulan kerusakan yang dikirim oleh juru secara rutin. dan pada saat air normal (saat Pengolahan Tanah) untuk mengetahui besarnya rembesan dan bocoran jaringan. Juru/Mantri. Selanjutnya Pengamat akan menghimpun semua berkas usulan dan menyampaikannya ke dinas pada awal bulan berikutnya. RAB dihitung berdasarkan perhitungan volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah setempat. dilakukan penelusuran jaringan untuk mengetahui tingkat kerusakan dalam rangka pembuatan usulan pekerjaan tahun depan. Penyusunan rencana peningkatan jaringan irigasi meliputi: 1. untuk memastikan bahwa jaringan irigasi dapat berfungsi dengan baik dan air dapat dibagi/dialirkan sesuai dengan ketentuan. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Setelah mengetahui proqram-proqrarn penanganan apa saja yang akan dilakukan.3. b).2. 3.

saluran pembuang. 5. Diisi berapa alokasi biaya dari Dana Alokasi Khusus dan Dana Pendamping OAK (minimum 10% dari alokasi DAK tahun berjalan) serta total biaya yang diperlukan untuk tiap-tiap jenis kegiatan/paket pekerjaan. Satuan. bangunan pengatur (bagijsadap/bagi-sadap). pintu penguras. talang.2. Bagian dari jaringan tersebut dapat berupa: saluran primer/sekunder. Kelompok Kegiatan. Kelompok kegiatan dapat berupa: rehabilitasi dan peningkatan jaringan.3. dengan mencantumkan bagian dari jaringan yang direhab/ditingkatkan. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Irigasi 29 . Jenis kegiatan/paket pekerjaan merupakan uraian dari kelompok kegiatan. dan lain-lain. Nama Daerah Irigasi. bendung. bangunan terjun. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan berikut: (RK) sekurang-kurangnya mencakup informasHnformasi sebagai 1.II. Berisi volume dari nap-nap jenis kegiatan/paket pekerjaan. Merupakan satuan ukur dari volume kegiatan. 4. 2. Hasil penentuan program penanganan ini kemudian disusun dalam bentuk Rencana Kegiatan (RK). 3. Penentuan Program Penanganan Penentuan program penanganan dilakukan dengan memperhatikan prioritas penanganan (berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi) dan juga Rencana Anggaran Siaya. Volume Kegiatan. II. 6. kantong lumpur.4. Jenis Kegiatan/Paket Pekerjaan. Program dengan prioritas tertinggi dan dengan Rencana Anggaran Biaya yang realistis tentunya akan mendapat prloritas utama. Siaya.

III 'a :elii 1111:1 E 'C' CII 0..c :g '" 0>- cu . '" rtJ c 'S a.a n:I III >- . lie" 1'11~ ... J!i .IS c c CI it: 1:1 C It! III c: ro ::I~ ."0 ~....t! III. :J c ro c ::I OJ C II:] c:c f'IJ fil OJ . j J:I. ... ... rtI :J2l c:c e ~ ~ ...~ :::I .. .w I a....J!2 ~ :c N =a '::I f'IJ ] ro a c '2: ~ C cu ~ C §J!i . 'S: '" Lf'l e en r.:1Il ..0 r..c rn III .: .!!! ~ III ~ ::!: :I .......IS 10 1:1 £0 :..I ::I rtI a._ ~QlIII 13.. :a ..... c: ..0 Z v ..s . . Lf'l~ c cu :::I 't:l .. ItIC::o..). M "':::I~ 1t11ij l:1Il:._... 00 f-- '" = z .. E w ~ (f) ~ :!Zi ::a: ..J .. r.....)..:: . iU c 'C .e E II:] 'ffi "0 a. III . zCl w E Z Ia 'iii ::! "S III III :I :...... ~ ~ (f) cu . c: s: tn ...n C m QJ .c . ~ '.. .... a u :.... Lf'l 'c CII C Ia C rt:I io~ ..n1tlG:: c E .......::) .. e 'C '" .... 'iii c CII Ia >.< OJ c._ .. III e n:I 1:1 III III :::I C . :::I 0 ("') Q...n ~ g :.. CII_ CII B ..).n e a.~ CII D.< :c f'IJ s: cu a:: ~ :::I "0 z w J:I...IS ~ C III c <~ Xc( < ... ~ O'l ~~ III iii~ <:I 0 !- g .< . ::a: w g III :.... III III D..Q a :......5 III . ~~..........._ ...§! til . ci ..... E a "0 :...c:: f'IJ 0 :i2' f'IJ .j. E . a.10 n:I - ..~ U'l ...............i: f'IJ L- a..._ ...:: ....< c <V :::I "0 C ::a: N ...:::. 0 :I r-..... :::I ... 0 'C' <V 'C' II:] cu 'C' ro '5........ n:I c QI <C Cl M:!i! ~. ..... :::I en c :::I ~ c en C :::I ....J!2 Vl c ....Z ._.. ....5 III III Ec c til CII .. e m DD 'iij :::I <V I VI j ....._ ..... .:: 2E 2 ......:! 9E <.. E II:] .0 n:I ....!: E rt:I 0 iii 1:1 :c ~ gtj <C .. r...12 QJ C 'S' ... .. en .... ::l II:] a. loot c <V P' 'Uj . l: ZW ....... C ... ...... ""'E.... ** C . ... '<T' :~ .. ::!: ... . E a ~ E ..Q ro Ai =a :~ :~ =a =a '<T'~ E: ¢~ ... G c 0:'::': .. VI ~ a.c VI 'Uj .i ... rc c ~ c ~ :::I ro (f) v ..... III {2 c n:I E n:I J .: 0 ...: ItI C 'a."!:::::!' Q...i ... Vl & .).0 . I:G :I x :I ~ ..!: :c c ~i 0 z Z = ...' III M . Will :c N s % c ~... :i < ~ III ~ ......

..... In ::::I III ~ «I ~ ..._ ro ._ to 0::": ...........c .!:9 "'~ ::::I ___ 10 c: . c 10 ro Q) o........ ** : i:ii:t .. vi >- 'Ii: 'ji ...a .. ro :::I Q) ... D.c ~ . (JJ ro ... «I C r:J III Q.£ is '._ 1'. -::::I ·co «I'D C ~ d z ..~I---':"""..... co 2 ro '.a III f--- c r:J >- 01 'I: 'iii 'D C ClJ II! co 'iti Q) c ~ :J ~ ~ '5' -.. ::J ~~. ::::I C l!! QI QI g.. E l!! !II WW :e ...e III QI C 0:: 19 C C Z II! 'iii III .....::c ~ -.... II .... c:. . (II C. .e .. r:J s 0D -'" .:. ~ 0. E II! II! ~ III '51 :i QI . "'c"...' :3 ~ :&: :::I ::c S N .. .fU~ ~ ro ro--'" c:. «I 'D II! :J LI'I '" . III 'c _!]:I E u c: '" E Ul ~ ~ . .10 "........0... _!]:I '6 J::.. GJ ... II! 'D C III ::::I (""\ j ~ .---........J E iti (JJ o... ....E -:r...._.....o 0._ 0 .. c .. .. ......c II! 01 ::::I III ro 2._.""" . ItI ItI ~ .... w_ III~ !~ ::::IQI c C. .... . ::: ~1~~--~~~~--~-+--+--+--4-~~~ g8 II! a ~.. to .LI'I . ::::12 ro :J 0.. 0E E o E o ~ ~ ~ s ::::I c 01 C . ....0 '0 0.. U] a c._.c . .: ro P ro :::I (JJ __ -~ .. .:: ~ ::::J III .II! C C.c . -'" LI'I E (JJ ~ . . C. III ...l!! * . ~... '5.~E 'DW ...ui co>ro..a s II! II:! III C ...a ~I-------~I~~~--~--+---r---~~---.._ IJ)ro. c 01 C ...0 Qj . C II! C III «I III (II C .Q :J ~~~ LD..9 Q (II E III iii 'D . 'S.-lf-lI---+--+----1--I--+--I---1 ge eel!! z W D.::.a g ........ 'iii c s C «I :e: ::::J 1""1 :3 . c: co N·_ E:!.-. 'I: III ItI ia {2 C 01 tJ1 C E E -2 j fI ItI III '61 'D III . ". . ..

III. a). PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. Ill. bahan. sesuai kemampuannya. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarlkan pemecahan permasa!ahannya. III. Setelah teralokasinya dana DAK untuk penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) baik itu rehabilitasi maupun peningkatan. b). jenis kegiatan. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi suatu jaringanirigasi secara umum tidak berbeda d. rencana biaya dan waktu pelaksanaannya.engan pembangunan baru. Persiapan Pelaksanaan Rehabilitasi Sebelum kegiatan rehabilitasi dilaksanakan perlu dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3AjGP3A/IP3A. Umum Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi mengacu pada Norma Standar Pedoman dan Manual (kriteria) yang telah ditetapkan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.2. Perencanaan Teknik Perencanaan teknis Jaringan irigasi (terrnasuk jaringan reklamasi rawa) provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada standar dan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. III. Pelaksanaan Konstruksi III. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan.3.2. Kegiatan Rehabilitasi Untuk kegiatan rehabilitasi suatu jaringan irigasi dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material darilokasi setempat.3. Pekerjaan rehabilitasi yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3AjIP3A/petani setempat. 1.1. 8erdasarkan dokumen hasil perencanaan teknik ini. kemudian dilakukan pelaksanaan konstruksi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.III. Kegiatan Peningkatan Untuk kegiatan peningkatan suatu jaringan irigasi tidak termasuk reklamasi rawa dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi (termasuk reklamasi rawa) bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material dari lokasi setempat. Pelaksanaan Rehabilitasi Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis.2.2. jum!ah tenaga. III.3. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang menggambarkan lokasi.3. Metoda Peiaksanaan III. Dalam perjanjian kontrak antara 32 . tentang waktu. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik kegiatan rehabilitasi dan peningkatan. peralatan yang akan digunakan. jems pekerjaan.l. 3.1. sifat rehabilitasi dan tingkat kesulitannya.1. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktua1. 1.3.

111.Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • Kontraktor harus kemampuannya. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik.3. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarikan pemecahan permasalahannya. peralatan yang akan digunakan.3. Pelaksanaan Rehabilitasi Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3A/GP3A/IP3A dalam melaksanakan pekerjaan rehabilitasi wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh Dinas/Pengelola Irigasi. melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai • Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. Dinas/Pengelola Iirigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. artinya peJaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dan giliran air.3. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan. b). sifat peningkatan dan tingkat kesulitannya. Pelaksanaan Peningkatan Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis. perlu adanya bimbingan teknis. 111. sesuai kemampuannya.3. bahan. Persiapan Pelaksanaan Peningkatan Sebelum kegiatan peningkatan dilaksanakan per!u dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3A/GP3A/IP3A. a). sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. jumlah tenaga. tentang waktu. jenis kegiatan.1. • adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3A/GP3A/IP3A mengenai jam kerja. upah kerja dan halhallainnya. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan peningkatan suatu jaringan irigasi (tidak termasuk reklamasi rawa) secara umum tidak berbeda dengan pembangunan baru. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktual.3. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang 33 . III. Pekerjaan peningkatan yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3A/IP3A/petani setempat.2. pelaksanaan rehabilitasi tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman.2.

menggambarkan lokasi. Setelah pekerjaan peningkatan selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan peningkatan telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik. rencana biaya dan waktu pelal<sanaannya. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. artinya pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dangiliran air.3. Pelaksanaan Peningkatan Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3AjGP3AjIP3A dalam melaksanakan pekerjaan peningkatan wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknls yang telah ditetapkan oleh DinasjPengelola Irigasi. ttd ClOKO KIRMANTO 34 . jenis pekerjaan. Da!am perjanjian kontrak antara Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • • • Kontraktor harus kemampuannya. Adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3AjGP3AjIP3A mengenai jam kerja. pelaksanaan peningkatan tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. MENTERI PEKERJAAN UMUM. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan.3. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. perlu adanya bimbingan teknis. Dlnas/Penqelola Irigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. upah kerja dan hal-hal lainnya. III.2.

55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan bahwa: • • • DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional. memotivasi Pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) khususnya bagi masyarakat perdesaan yang notabene merupakan masyarakat dengan tingkat pelayanan SPAM terendah.2. baik untuk aparat pemerintah terkait maupun untuk masyarakat sebagai aktor utama pelaksanaan program. perhitungan. Sesuai dengan data BPS. Tujuan Petunjuk teknis ini bertujuan untuk menjamin kesesuaian. serta teknis. Besaran alokasi DAK ditentukan berdasarkan kriteria umum. dan ketepatan dalam pembangunan prasarana air minum sederhana sehingga prasarana yang dibangun dapat dimanfaatkan secara andal dan berkelanjutan. data dan dalam perencanaan prasarana air minum sederhana. yaitu menurunkan separuh proporsi penduduk yang belurn terlayani fasilitas air rninurn. seperti air minum. cakupan pelayanan SPAM di perdesaan hanya 8%. Pemerintah 'juga terpacu untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) Tahun 2015. Menteri Teknis Penggunaan DAK. 1. Berdasarkan Penetapan alokasi OAK. Hal tersebut mempertimbangkan agar prasarana air minum yang dibangun dapat dikelola oleh masyarakat pengguna itu sendiri dalam skala komunal. meliputi minum. khusus. ketertiban. Latar Belakang Kewajiban Pemerintah dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia. 1. Menter! teknis menyampaikan Kriteria Teknis yang dirumuskan melalui indeks teknls. maka perlu diberikan acuan petunjuk bagi para pelaksana program. Ruang Lingkup Dalam melakukan pemilihan kegiatan DAK subbidang air melakukan review atau kajian terhadap sistem eksisting atau Petunjuk teknis inl menjelaskan kriteria. pengertian dan pengetahuan yang sama dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.LAMPIRAN 3 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG AIR MINUM I.3. permukiman nelayan dan perdesaan dapat dilakukan melalui sistem penyediaan air minum dengan teknologi sederhana (untuk selanjutnya disingkat Air Minum Sederhana). tahapan yang diperlukan pembangunan baru dan 35 . menyusun Petunjuk Teknis Petunjuk teknis ini dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada para pelaksana dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan perencanaan prasarana air minum sederhana. PENDAHULUAN I. Memperhatikan bahwa prioritas lokasHokasi yang akan menjadi lingkup pelaksanaan adalah desajkelurahan yang belum pernah mendapat pelayanan air minum secara formal (pelayanan oleh perusahaan daerah air minum setempat). operasional dan pemeliharaan serta pengelolaannya. bersifat mudah dan ekonomis dalam pembangunan. 104.1. Selain itu. Maksud Sesuai Peraturan Pemerintah No. Penyediaan air minum untuk kawasan kurnuh perkotaan. dengan demikian akan diperoleh arah. terlebih dahulu sistem yang sudah ada.

peran masyarakat. dan unit pemanfaatan sesuai lingkup program. 3. Petunjuk Teknis Operasional dan Pemeliharaan. 2. 1. II. Ketentuan lainnya mengenai kegiatan yang dapat didanai DAK adalah kegiatan tersebut harus diusulkan daerah yang berhak mendapatkan alokasi DAK. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. rnenqelola. Oleh karenanya kegiatan pada Subbidang Air Minum merupakan salah satu kegiatan yang berhak mendapatkan alokasi dana DAK dari APBN. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAMmerupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. 5. rnemetihara. Petunjuk Teknis Pemasangan Perpipaan. memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik(teknik) dan non fisik (kelembagaan. dan produktif. perpompaan. setelah berkoordinasi dengan Kementerian teknis terkait. Seeara rinei petunjuk teknis air minum sederhana ini agar menggunakan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana yang antara lain terdiri darl: Petunjuk Teknls Pembangunan Penangkap Mata Air (PMA). Petunjuk Teknis Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)i Petunjuk Teknis Pembangunan Bangunan Pengambilan Air Baku. unit pengolahan. bersih. Pengertian 1. keuangan.5. syarat kegiatan yang dapat didanal DAK adalah kegiatan yang sesual dengan prioritas nasional.perluasan jaringan pelayanan. Petunjuk Teknis Pembangunan Pompa Hidram. 4. memantau. dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. Berdasarkan pernyataan di atas. Adapun besaran alokasi dana DAK ini ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. perplpaan. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat. merehabilitasi. Oleh karena itu 36 . Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan. melaksanakan konstruksi. Kegiatan penyediaan air minum merupakan kegiatan pada Bidang Infrastruktur yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu prioritas nasional. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentrallsast untuk (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukan pemerintah atas dasar prioritas nasional. Pembangunan infrastuktur baru meliputi perencanaan bangunan pengambilan air baku. Petunjuk Teknls Pembangunan Hidrarn Umum. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Merujuk pada Pasal 162 ayat 1 UU No. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun. dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. manajemen. Petunjuk Teknis Pembangunan Sumur Dalam (SATD) komunal.

Saringan Pipa Resapan (SPR). b.1. d. Terminal Air. Destilasi Atap Kaca (DSAK) untuk air asin. Air hujan: Penampungan Air Hujan (PAH) Selain unit produksi sebagaimana hal tersebut di atas. Program-program Subbidang Air Minum yang dapat diusulkan untuk dibiayai DAK Bidang Infrastruktur pada saat ini. Mata air: Perlindungan Air tanah i. Air permukaan i. 1I. Instalasi Pengolahan Air Mlnum Sederhana (IPAS) lii. iii. Sambungan Selain inventarisasi fasilitas SPAM yang ada. b. dengan topografi dimana wilayah pelayanan lebih Unit pelayanan yang terdiri dari: l. Sistem PengolahanAir vii. Perlu dilakukan inventarisasi/penyusunan daftar fasilitas pengembangan SPAM yang ada. Hidram Umum. v. Sumur GaiL c. perlu dilakukan juga inventarisasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. Program Penanganan n. IV. perlu dilihat apakah sudah ada pengembangan SPAM atau belum. Rumah Murah. Unit Distribusi Perpipaan. dilakukan identifikasi usulan program prioritas. c. vi. Adapun langkah-Iangkah pengajuan usulan dijelaskan dl bawah inl. Sumur Pompa Tangan. Daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM ini akan mendapat prioritas untuk pembangunan fasilitas baru.2. terbatas hanya untuk program-program pembangunan fasilitas SPAM baru pada daerah-daerah yang memenuhi kriteria. ii. Mata air ePMA) iii. Prasarana tersebut adalah sebagai berikut: a. Gambut. Adapun fasilitas-fasilitas yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah jenis prasarana sistem penyediaan air minum berdasarkan jenis sumber air baku. Penyusunan Usulan Program Prioritas Setelah melakukan penyusunan daftar fasilitas yang ada saat ini dan identifikasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. Paket Instalasi Pengolahan Air (IPA). beberapa prasarana sebagai kelengkapan dari SPAM yang perlu diidentifikasi berupa: a.2. Perpompaan untuk sistem tinggi dari unit produksi. Penyusunan 1I.2. Pompa Hidram.2. Penyusunan Daftar Fasilitas SPAM Dalam mempersiapkan program.Pemerlntah Pemerintah daerah harus mengajukan usulan kegiatan yang akan didanai oleh DAK l<epada Pusat. Ii. Reverse Osmosis eRO) untuk air asin. 37 . Sumur Air Tanah Dalam (SATD). Ii.

dapat dilihat pad a Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Format Rencana Kegiatan Subbidang Air Minum. disusun dalam bentuk 3.Usulan program pembangunan kriteria-kriteria berikut ini: Daerah rawan air. Daerah rawan sanitasi. Jenis keqlatan: 2. Nama lokasi. 5. fasilitas SPAM baru.2. Daerah rniskin: Aksessibilitas. Daerah terpencil. Penentuan Program Penanganan kualitas dan kuantitasnya.1. pengembangan air minum. 6.3. Proses seleksi program pada Gambar 3. 11. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupaten/kota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. 4. hendaknya memperhatikan Jenis prasarana yang tepat untuk suatu wilayah rencana pelayanan dengan mempertimbangkan parameter-parameter sebagai berikut: Jenis sumber air baku. Usulan program pengembangan SPAM Sederhana kemudian Rencana Kegiatan (RK) yang mencakup informasi sebagai berikut: 1. 38 . Daerah rawan penyakit. Perkiraan alokasi DAK dan dana pendamping. Jarak dengan sumber air.3.a. ditentukan Penentuan program (pembangunan baru) tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik dan sumber daya yang ada di daerah perencanaan tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas pelayanan air minum yang direncanakan. dilakukan sesuai diagram ahr n. Volume kegiatan. Nama paket kegiatan. Tujuan dan sasaran. termasuk Kondisi topografi.

c: j9 Q) :a: C'l C Q) .o N '5 .

III.1. B.Jumlah penduduk. Mata air. Peraturan Menter! Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2009 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. Penentuan Kebutuhan Air Kebutuhan air minum yang diperlukan untuk suatu daerah pelayanan ditentukan berdasarkan 2 (dua) parameter. Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selanjutnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Tata cara pengukuran debit air baku dapat dilihat pada pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 2. Pengukuran Debit Air Baku Sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku meliputi: A. Air permukaan. C. 40 . Air tanah. yaitu: . langkah selanjutnya adalah memilih prasarana SPAM sebagai solusl teknis yang sesuai dengan kondisi setempat. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM dan pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Prasarana Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Perencanaan Teknik 1. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. Pengukuran debit air baku dilakukan untuk menghitung patensi sumber air yang akan digunakan. Air hujan. .2.Tingkat konsumsl air. Umum Setelah alokasi dana ditetapkan serta pemilihan program sudah dilaksanakan. D. Perencanaan teknik prasarana SPAM harus mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum diantaranya adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Namor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM.III.

:.." 'a! ...: '" ...=... __E-m ...: '" = :§ <'<I = =-~ 0:: 'f .~ ..5 2: '" :( . "'" F 'Q ~'C ~ii . o . '0 j:: .. E ::> ... '" . .!Y :2 '1l m E E 'til .. .a ~ >'= ... E ::<:: c: to 0> c: to ..s . .t:II ..:..0 E "" '" '" F ...S ... '" c:....: '" ~ ~ a.." ~~ fiji: :!_" 2 E E ::J c ~ 'iii ~ "" != ..8. E :::I . ~ ~ rn c = . E <II a. u "C 00 . "'" j:: " . til ttl C 41 "E '" '<j" OIl 'w c: ::> ::l E II> a. .

klmlawl. Perpompaan. di lapangan. modul secara umum terdiri dari: Perencanaan teknis masing-masing a. Unit pelayanan. c. Cara pengerjaan • • Pekerjaan persiapan. dan mikrobialagis.3. Standar kualitas air di peralran umum yang digunakan sebagai sumber air baku sesuai Peraturan Pemerintah No.3. Pemellharaan. III. 42 dapat . Komponen prasarana dan sarana Perhitungan dimensi Spesifikasi teknis • • • Persyaratan umum. b. Perbaikan/rehabilitasi. kualitas dapat ditinjau dari parameter-parameter • • • Rasa: Kekeruhan. Warna. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan dilaksanakan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan cara swakelola atau kontraktual. sedangkan untuk persyaratan kualitas air minum sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Bahan. d. Pelaporan. baku Unit Distribusi Perpipaan. 907/MENKES/SK/VII/2002 atau perubahannya. Pemeriksaan Kualitas Air Baku Pemeriksaan kualitas air baku dilakukan terhadap kualitas fisik. 4. e.1. Untuk pemeriksaan berikut: • Bau. Perencanaan Teknis Penyusunan perencanaan teknis sistematika sebagai berikut: • • • • Unit produksl yang pengolahan fisik/kimia dari alternatif salusi teknis disusun pengambilan air berdasarkan dan unit meliputi bangunan Uika diperlukan). Pekerjaan konstruksi. Operasi dan pemeliharaan • • • • Operasi. Pe!aksanaan Kanstruksi II!. 82 Tahun 2001. Peralatan. Hasil yang akurat dari kualitas air baku dapat dlperoleh melalui pemeriksaan sampel air baku di laboratarium yang telah ditunjuk sebagai laboratorium rujukan.3.

mekanisme pemilihan.Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Peraturan . Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000. Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) adalah badan pelaksana dan pengelola pelayanan air minum yang anggotanya ditunjuk oleh OMS-AM atau Koperasi Air Minum. Koperasi Air Minum. Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) adalah lembaga legislatif dari suatu wilayah pelayanan air minum dan merupakan nama generik dari lembaga di tingkat masyarakat. Ol/PRT/Mj2009. IV. dan Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KP2) Air Minum sebagaimana diuraikan pada bagian berikut. 3. PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM TERBANGUN Untuk menjaga agar SPAMsederhana ini berkelanjutan. 43 . sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. Keanggotaan dan susunan penqurus. 18jPRTjMj2007 dan Permen PU No. b. III. namun bentuk perkoperasian ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1995.3. keanggotaan. Pelaksanaan Konstruksi Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selengkapnya dapat dulhat pada Permen PU No. Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Pengadaan BarangjJasa Pemerintah.Pelaksanaan kegiatan tersebut harus mengacu pada: a. yang terdiri dari oranq-oranq yang mempunyai keahlian yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan air minum. Untuk dapat menciptakan mekanisme pengelolaan yang bertumpu pada masyarakat. Pedoman d. maka perlu dibentuk lembaga di tingkat masyarakat sebagai penyelenggara SPAM.1. tugas kewenangan dan pengaturan lainnya berkenaan dengan OMS-AM ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. yang merupakan forum demokrasi dan wadah proses pengaambilan keputusan tertinggi yang mencerminkan aspirasi masyarakat pengguna air minum. penyelenggaan pengelolaan prasarana air minum terbangun dilaksanakan oleh Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM). c. khususnya sektor air minum. Kewajiban dan hak. Lembaga ini selain berupa lembaga legislatif juga lembaga pengelola dan pemelihara SPAM. pengurus. 2. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan perubahannya. koperesi Air Minum Koperasi Air Minum merupakan bentuk lain dari OMS·AM. IV. serta ketentuan lain berkenaan koperasi alr minum ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. Kelembagaan 1. Pembentukan.2. i<operasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. e.

aspek hukum dan hal-hal lalnnya diuraikan dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Perpipaan Sederhana. dan kewenangan. serta ketentuanlain berkenaan dengan KP2-AM diuraikan lebih rinci dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Sederhana. aspek pengelolaannya. ttd ClOKO KIRMANTO 44 . Oleh karena itu perlu dipahami prinsipprinsip dasar pengeJolaan. yaitu pengelolaan yang dilaksanakan oleh masyarakat pengguna itu sendiri. Insentif kepada petugas pengelOia prasarana sesuai kesepakatan. MENTERI PEKERJAANUMUM. tugas. Membayar harga air minum. IV.Keanggotaan. Kontribusi untuk RT (hila diperlukan).2. mekanisme pernilihan anggota. e. b.3. Penetapan Besaran luran Penggunaan Air Lembaga pengelola mengadakan rembug warga untuk menentukan besarnya harga air minum per-m3 atau per-jerigen 20 liter dan 10 liter yang harus dibayar oleh masyarakat untuk keperluan antara lain: a. Insentif kepada pemilik tanah (bUa diperlukan): d. Biaya operasi dan pemeliharaan prasarana. Prlnsip Dasar dan Aspek Pengeloiaan Berbasis Masyarakat Dalam upaya pemanfaatan prasarana dan sarana air minum yang berkelanjutan. c. Besarnya harga air rninurn tersebut harus lebih rnurah dart harga air yang harus dibayar oleh masyarakat sebelum dilaksanakannya pengembangan sistem penyediaan air minum tersebut. perlu dicciptakan mekanisme pengelolaan yang berbasis masyarakat. IV. Uraian lebih lanjut tentang pengelolaan SPAM diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 dan PeraturanMenteri Pekerjaan Umum Nomor 01{PRT IM{2009. susunan pengurus.

LAMPIRAN 4

: PERATURAN MENTER' PEKERJAAN UMUM NOMOR 15JPRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010

PETUNJUK PELAKSANAAN SUBBIDANG SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT (SLBM)
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Petunjuk Teknis DAK Sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana AJokasi Khusus Bidang Infrastruktur, dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, pada pasal 59 ayat (1) menyatakan bahwa Menteri Teknls menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum beserta Jampirannya tersebutdapat digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan OAK. Agar pelaksanaan penanganan infrastruktur sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dapat menghasilkan kualitas yang diharapkan perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk teknis yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan DAK ini, untuk itu maka petunjuk teknis sub bidang sanitasi lingkungan ini disusun. Sesuai dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pada Pasal 21 ayat (1) bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia; serta ayat (2) bahwa Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: (d) pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. Berdasarkan PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Air Minum pada Pasal 14 ayat (1) bahwa perlindungan air baku dilakukan melalui keterpaduan pengaturan pengembangan SPAM dan PS Sanitasi; serta ayat (2) bahwa PS Sanltasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi PS Air Limbah dan PS Persampahan. 1.2. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) ini adalah menyediakan bahan sebagai aeuan bagi Pemerintah KabupatenjKota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai dari tahap persiapan, pereneanaan, pelaksanaan konstruksi hingga pengelolaan (operasi dan pemeliharaan), dalam rangka meningkatkan pelayanan sanitasi skala kawasan di daerah perkotaan yang rawan sanitasi dengan penduduk berpenghasilan rendah. 1.3. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat sesuai dengan kaidah serta ketentuan teknis yang ada. 104. Ruang Lingkup Petunjuk teknis ini memuat pengertlan, perencanaan dan pemragraman, pengorganisasian pelaksanaan serta pembiayaan penyelenggaraan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang efektif, dan berkelanjutan secara tepat untuk kawasan kumuh perkotaan. 45

1.5.

Pengertian Sanitasi lingkungan berbasis masvarakat, adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat, terdiri dari (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal, (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3 R (reduce, reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.

1. Pengembangan

prasarana dan sarana air lirnbah komunal berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Pengertian air lirnbah dalam petunjuk teknis ini adalah air buangan yang be rasa I dari WC, kamar mandi dan dapur/ternpat cuei pakaian. Pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat terdiri dari tangki septik komunal, atau Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) atau sistem perpipaan air limbah komunal;

• Tangki septik komunal adalah tangki septik yang dibangun untuk melayani beberapa rumah yang berkelornpok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Setiap tangki septik kornunal melayani 5~10 KK. • Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) terdiri dari sejumlah kamar mandi dan WC, sarana cuci yang dilengkapi dengan unit pengolahan air limbah. Pengolahan air limbah yang digunakan adalah bio-dtqeste« dan baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic fi/teJjtangki septik bersusun dengan filter). Setiap MCK Plus++ melayani 100 KK. • Sistem perpipaan air lim bah kornunal adalah sistem yang menggunakan sistem pemipaan PVC dan unit pengolahan air limbah baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic filter/tangki septik bersusun dengan filter). Pipa biasanya diletakkan di halaman depan, gang atau halaman belakang. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 rn dan di titik-titik pertemuan saluran. Setiap sistem perpipaan air limbah komunal dapat melayani 100 KK. 2. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R adalah penyelenggaraan prasarana persampahan berbasis masyarakat yang meliputi kegiatan mengurangi (R1 :::: reduce), mengguna-ulang (R2 :::: reuse) dan mendaur-ulang sampah (R3 :::: recycle). • Kegiatan Mengurangi Sampah CR1) adalah upaya meminimalkan produk sampah. kembaii kembali sampah

• Kegiatan Mengguna-uiang sampah secara langsung.

Sampah CR2) adaiah upaya untuk menggunakan

• Kegiatan Mendaur-ulang Sampah (R3) adalah upaya untuk memanfaatkan sampah setelah melalui proses dan dilengkapi dengan prasarana pengangkut dan IPST (Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu), 3,

Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah penyelenggaraan prasarana drainase berbasis masyarakat yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai:

• Po/a detensi (menampung
penampungan sementara

air sementara), misalnya dengan untuk menjaga keseimbangan tata air. antara lain dengan membuat kegiatan konservasi air. bidang

membuat resapan

kolam (Iahan

• Pola retensi (meresapkan),
resapan) untuk menunjang

1.6.

Prinsip-Prinsip

Penyelenggaraan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

Prlnslp Dasar DAK Sanitasi Lingkungan

1. Program

lnl bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan

46

ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. 2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, sedangkan peran pemerintah atau Swasta, hanya sebatas sebagai fasilitator. 3. Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan Iimbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial. 4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. 2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. 3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. 4. Berkelanjutan, pengelolaan keglatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.
1.

II. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN II.1. Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK)
Mengacu pada kebijakan Kementerian Keuangan bahwa kebijakan bantuan DAK adalah mendorong penyediaan lapangan kerja, mengurangi jumlah penduduk miskin, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalul penciptaan sel-sel pertumbuhan di daerah. Mengalihkan kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang telah menjadi urusan daerah seacara bertahap ke DAK. Berdasarkan ketentuan yang disebutkan di atas bahwa untuk kegiatan yang dibiayai DAK akan dititikberatkan pada pembangunan baru. Program Pemeliharaan merupakan prioritas utama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah, sehingga sumber pendanaan pemeliharaan dibebankan pada APBD murni. 11.2. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupatenjkota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Sanitasi.

47

....
D. I--

E
ra

DD
~
c
..0

'iii

'co

III ~

= -ro <II
E
0
(J)

&
:::J -;:: n,
(J)

....

:J Vl

.lII:

....

~, ~

U)

,

e

~ I: {2.
ra .c ra

.fI
1"\

I:

ra

ra Z

E

;2
It! ~ ,_

'-

~

'! ~ ~--O-·--~I-~~--~~~~--+-4--+--~+-~-4--1 a '~
G. ~
z .....

S

r::

..
111'

......

(J)

-- 0 aJ D. >-~ ~ ...... It! :J ero c, c..."Oro "0

.- -_ Vi"~(J) 0.. It! ::::10 :::J ..__.. Vlt:; ...... ..0 III ..... C-l1J

rap

c: (J)

~

£? OJ .....

'0 ::.::

It!

.g'
...... ::.::: "co --.. •
~C
'-

vi

rn
Vl

J6
(J)

.... :::l

'-

C C I:C It! :::l :::l .._.. I:C

Vllt!..!!!

:::l

~~ 0..--

(J)

..... ~
Vl

Il.l .....

m.g

Rvi

~..o .- ro

:l

O~

-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. 11. perlu dilihat apakah di suatu daerah sudah ada pengembangan fasilitasi sanitasi lingkungan (air !imbah permukiman.300 juta 49 . Fasilitas air limbah. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Fasilltas persampahan. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatlhan sekitar Rp. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce.3. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Penyusunan Program Penanganan 11. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). Fasilitas drainase. terdiri dari: 1. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air llmbah skala lingkungan (100200 KK). Modul lni dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a. Adapun fasilitas-fasilitas sanitasi yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah: 1. sarana cuci. Penyusunan Usulan Kegiatan Prioritas Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). reuse dan recycle) dan 3. 2.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. Modul B berupa 1 unit MCK PlUSH yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandl.3. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal berbasis masyarakat. Modul ini merupakan modul yang disarankan. 2. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunalberbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp.3. persampahan dan drainasenya) atau be!um. pengembangan prasarana dan sarana dralnase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Perlu dilakukan lnventarlsasl/penvusunan data dasar mengenai daerah-daerah yang sudah maupun yang belum mengembangkan fasilitas sanitasi lingkungan. Penyusunan Data Dasar Prasarana Sanitasi Dalam mempersiapkan program. 2.1. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat.11. pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah.2. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. 3. dan unit pengolahan air limbahnya.

Prioritas ke-3 Pengembangan prasarana dan sarana drainase rnandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. maka proses berikutnya adalah melakukan meiakukan pengorganisasian pe!aksanaan kegiatan. _._.300 juta/Ha.- -" . Shortlist Lokasi terpilih I ~' Penyiapan Masya ra kat Dokumen RKM • • • • . .. mulai dari tahap persiapan. pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan.._._. Penyusunan P etunju k Pelaksanaan Sanitasi Li n 9 ku I1gan Be rbas is Masyarakat ~ . _ ._ PELATIHAN OPERATOR SOSIAUSASI PENGGUNA r-. _._.-. _. III. _ . _._. Pelatlhan) r -.3..-.. RAB dan Jadwal Kegiatan . II.-._. . . - ._. r Bagan Alir Pelaksanaan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ._._ -. • Air Umbah l<omunal Berbasis Masyarakat • Sarnpah Pola 3R Berbasis Masyarakat • Drainase Mandirl Berwawasan Ungkungan Berbasis Masyarakat H .._ ...-._. KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasanl pengendalian oleh masyarakat '-'-'-'_'---'-'I'-'-' 1--+ _. -+ . _ -.-. PENYUSUNAN RKM Organisasi._._&_._ . - _..._._.. . f-. . Pemeliharaan Pendampingan O&M . ._._. Sosialisasi Kepada Pemerintah Pralli ns il Ka b upaten/ Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi. _·i·· Pelelangan Material .._._..-.-._.._II _ . - ._.50 _._.. perencanaan. _.. Umum PELAKSANAAN KEGIATAN Setelah teralokasinya dana untuk pembangunan prasarana sarana Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. _ . Pemberdayaan Masyarakat Pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini diselenggarakan secara swakelola melalui proses pemberdayaan masyarakat... .-._._.. OED._. SELEKSI LOKASI Longlist.-~-._-_ _ ~ . _ .-.-. _.._ ._.-. _. Pilihan Teknologi dan Sarana. Sarana Siap Digunakan -·l· Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. _.PENGORGANISASIAN IIL1._._. PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG _ .. ._. ..J.-~-.4.

2. Seleksi Lokasi 1. Penandatanganan Rencana Kegiatan antara Pemerintah Pusat. 3. Penyampaian surat oleh Ditjen Cipta Karya. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. persampahan dan drainase 7. reuse. III. 51 (syarat tambahan oleh Masyarakat) . Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum. 2. Penyiapan Tenaga Fasilltator Lapangan 1.IIL2. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. 3. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. 5. Cipta Karya Ditjen. Kementerian Pekerjaan Umum ke masingmasing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasllitator lapangan sesuai kriteria. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8 lIlA. Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dar! TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat. Persiapan Persiapan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat meliputi : 1. dan recycle) berbasis masyarakat. Memiliki cukun waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6. 3. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1. Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan. 2. I diseJenggarakan oleh Cipta Karya. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. 4. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping (LSM atau Konsultan) akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akanlebih tepat saseran dan skala prioritas. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah.. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Sehat jasmani dan roharn 4. 3. Pelatihan tenaga fasilitator lapangan Kementerian Pekerjaan Umum. ke Ditjen.

KSMdan TFL). Tenaga Teknis dan anggota. Detail Engineering Design (DED) dan Rencana Anggaran Biaya CRAB). Operasi dan Pemeliharaan Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat oleh KSM atau KPPyang ditunjuk oleh masyarakat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan balk dan berkelanjutan. rencana pelatihan KSM serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas sanitasi lingkungan yang dibangun. IlLS. e. Bendahara. 7. calon penerima manfaat. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 1. 3. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. Tahapan pelaksanaan konstruksi dilakukan oleh masyarakat calon pengguna (swadaya) dengan didampingi o!eh TFL. 3. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman. Susunan pengurus KSM minimal terdiri dari Ketua. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. Masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. rencana kontribusi. 2. f. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. c. Sekretaris. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. KSM dibentuk dan ditetapkan dalam Musyawarah Masyarakat calon penerima manfaat. d. pembentukan forum pengguna. Adanya saluran/sungaijbadan air untuk menampung efluen pengolahan air llrnbah. barang maupun tenaga. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). 2. IIL6. III. KSM merupakan wakil masyarakat calon penerima manfaat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).Syarat Lokasi : a. Masyarakat di lokasi terpilih dengan didampingi fasiHtator menyusun RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat berupa pemilihan prasarana sanitasi lingkungan beserta teknologi sanitasi lingkungan yang dibutuhkan. jadwal konstruksi. Kegiatan konstruksi dapat dilakukan oleh pihak ketiga jika ada kesepakatan bersama dari masyarakat melalui kerjasama operasional (KSO). 2. baik dalam bentuk uang. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan KabupatenjKota. Kawasan permukiman padat. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) b. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasls Masyarakat dimana proses 52 . Pelaksanaan Konstruksi 1. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat CRKM) 1. 1. Konstruksi dilakukan setelah RKM selesai disusun dan disahkan oleh para wakil stakeholder (SKPD. Tersedia lahan yang cukup. IIL8. Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran lirnbah. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasll musyawarah masyarakat pengguna. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK++. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat diusulkan dan disahkan dalarn forum musyawarah di lokasi pelaksanaan.

Pemerintah Kabupaten/Kota. tenaga kerja. DAK. Pengawasan dan Pengendalian Kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat inj merupakan kegiatan milik masyarakat sehingga diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian oleh seluruh komponen masvarakat dengan didampingi aparat serta dibantu aleh tenaga fasilitatar. 4.9. akuntabilitas publik maupun kontrol soslal tetap berjalan. Pelatihan terhadap Pengelola : dalam pelatihan ini pengelola (KSM/KPP) disiapkan untuk mengoperasikan dan memelihara sarana Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. swadaya masyarakat. III. Pelatihan terhadap TFL (RPA & RKM): dalam pelatihan inl para TFL disiapkan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penilaian kandisi sanitasi secara cepat dan mendampingi masyarakat dalam menyusun RKM. IIL10. 4. IV. dan penerapan Perilaku Hidup Sehat dalam bentuk pelatihan dan sosialtsesl yang meliputi : 1. d. 2. identifikasi. 2. Dana pihak swasta lainnya dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling 53 . Umum Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini berasaI dari berbagai sumber pembiayaan. Pelatihan terhadap KSM : dalam pelatihan ini KSM dibekali pengetahuan tentang organisasi dan pengelolaan administrasi keuangan. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh pengelola yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). transparansi. Penguatan Kelembagaan Masyarakat Penguatan kelembagaan masyarakat berupa pengorganisasian masyarakat & pengembangan institusi lokal. PEMBIAYAAN IV. mandor. Pelatihan terhadap Mandor: dalam pelatihan ini mandar disiapkan untuk membangun prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terpilih sesuai dengan OED yang telah disusun. swasta dan atau LSM.2. Swadaya Masyarakat c. b. bendahara. Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD. 3. Sosialisasi terhadap masyarakat pengguna : dalam kegiatan ini kelompok masyarakat calon pengguna diberi penjelasan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan tata cara penggunaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbangun. seleksi dan implementasi pilihan-pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat.musyawarah. 3. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). tukang dan pengelola dibiayai dari dana APBD. Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunal (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut: 1. Pengawasan dan pengendalian dilakukan sejak tahap rembug warga tahap pertama.1. IV. OAK dan Pemerintah Kabupaten/Kota (APBD). Biaya Konstruksi Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. untuk menjaga dilaksanakannya prinsip-prinsip dasar Sanitasi Jingkungan berbasis masyarakat. 5. Biaya sosialisasi DAK dan pelatihan TFL dibiayai dari dana APBN 2. material dan lain-lain. Pelatihan KSM.

5. -. Biaya Operasl dan Pemeliharaan Biaya operasi dan pemeliharaan di tanggung oleh masyarakat.meng untungkan... + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi RKM dan legalisasi Masyarakat -. Pembiayaan per Komponen Kegiatan No.j -.... Rincian pembiayaan dapat dilihat pada tabel1.. label 1..j -.. (Rapid Participatory Assessment) -. -. -. -..j -. III Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED -.. IV Pemberdayaan Pelatihan KSM Pe!atihan Bendahara Pelatihan Mandor Pelatihan Penqelola Kampanye kesehatan -. -. . -..... -. II Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif List..j -.j -...j -.j 54 VII VIII Pengoperasian Monitoring & Pemeliharaan & Evaluasi -.... -.. -. VI Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) -.. -. -. -. -.j V Konstruksi Material Upah pekerja Lahan -... -.. Komponen Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Kegiatan APBN DAK APBD Masyarakat I -..j -.j -.. -. -..

Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasll musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. Penyaluran Dana Dana APBN 1. IV.4.s. bendahara.3. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah (SKPD). Dana Masyarakat I.3.4.3. IV. IV. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM IV.3. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSMsesuai perencanaan dengan pengawasan dari SKPDdan fasilitator. SKPDKabupaten/Kota dan fasilitator. KSM membuat laporan keglatan harlan yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan. Dana DAK dan APBD diwujudkan dalam bentuk mekanisme kegiatan swakelola oleh SKPD bersama masyarakat (KSM). Dana LSM (jika ada) Dana LSM adalah dalam bentuk keahlian (expertise) sebagai bentuk kontribusi kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat. 2.3. IV. pelatihan TFL.3.2. Perwaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian PU di Provinsi yang digunakan untuk melakukan soslallsasl. Dana DAK dan APBD 1. monitoring dan evaluasi. 2. IV. Pelaporan 1. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2. Dana APBD dialokasikan sebagai pendamping fisik DAK serta bantuan pendampingan pemberdayaan masyarakat (termasuk gaji TFL) dan pelatihan KSM. tukang dan pengelola serta masyarakat pengguna. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyara kat/RKM. dlsampaikan setiap minggu kepada masyarakat. 3. mandor. Dana Swasta/Donor (jlka ada) 1.!.s. 3.3. 3. 3. IV. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM.IV. Fasilitator dan KSM membuat laporan secara periodik kepada SKPD sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan 55 . 2.

ttd DlOKO KIRMAN.V.TO 56 . MENTER! PEKERJAAN UMUM. PENUTUP Penjelasan leblh lengkap mengenai tata cara dan persyaratan teknis dijelaskan terpisah pada petunjuk pelaksanaan.

Laparan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dengan tembusan kepada BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sarna.LAMPIRAN 5 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRTlM/2010 TANGGAL: 01 November 2010 MEKANISME I. 50%. Materi laparan yang disampaikan: 57 . Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KabupatenlKota Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasl Khusus. Materi laporan yang disampaikan: a.2. 100%) 1. Data dasar seluruh prasarana jalan Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana irigasi Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana air minum Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Proses dan Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kandisi 0%. PELAPORAN Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) 1. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar dilaporkan sekall yaitu pada Trlwulan I yang berlsl: 1) Data Umum (Form KDU): • • • • • • Nama Kelurahan/Desa Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kelurahan/Desa terse but (pantaijpegunungan/ Potensi Kelurahan/Desa (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk masing-masing subbidang 2) Data Dasar (Form DO): • • • • b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 5 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/WaIi kota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPD Provinsi dan BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sama.1.

Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi Data dasar seluruh prasarana irigasi Provinsi Data dasar seluruh prasarana air minum Per Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Per Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaparkan selama 4 Triwulan (Prasarana Jalan dan Irigasi) 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegi. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (m 2 ) sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di KabupatenjKota tersebut (pantaijpegununganj Patensi Kabupaten/Kata Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) subbidang untuk masing-masing 2) Data Dasar (Form ~O): • • • • b. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • Nama KabupatenjKota Luas wilayah (rrr') sekali yaitu pada Triwulan I yang berisl: • • • • 2) Jurnlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Patens.atan (kaardinat dan kondisi 0%.1. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan menyusun dan menyampaikan laparan triwulanan penyelenggaraan OAK subbidang jalan yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota. Materi laporan yang disampaikan: a. 50%. Balai/Satuan Kerja Pusat 11. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Bina Marga cq Direktur terkait. 100%) II.a. Kabupaten/Kota Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) untuk subbidang jalan Data Dasar (Form ~O): 58 .

3.ksanaankegiatan Prasarana Jalan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderai Sumber Daya Air cq Direktur terkait. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penye!enggaraan OAK subbidang air mtnurn yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasll pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantai/pegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang irigasi Data dasar seluruh prasarana jrigasi Provlnsi dan Kabupaten/Kota 2) Data Dasar (Form DD): Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Irigasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. 8alai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Oaya Air BaJai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Daya Air melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang irigasi yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPDKabupatenjKota. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • • b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 han kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq. Materi laporan yang disampaikan: a.2. Data umum dan data dasar 59 . Materi laporan yang disampaikan: a. 50%. 100%) II.• b. 50%. 100%) II. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi dan Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pela. Direktur Pengembangan Air Minum.

Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang sanitasi yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. Materi laporan yang disampaikan: a.4. Data dasar seluruh prasarana Air Minum Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Air Minum dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Data dasar seluruh prasarana sanitasi KabupatenjKota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Sanitasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 60 . Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kata Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kata tersebut (pantaijpegunungan/ Patensi Kabupaten/Kata (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang sanitasi 2) Data Dasar (Form DO): • b.Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr) Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pettanian/pettambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang air minum 2) Data Dasar (Form ~O): • b. 100%) II. 50%. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq.

...ng 'l I I _I ---Il1o.. Sekretarfs Jenderal ~~--~~--~~~I J I 14 hari kerja 14 hari kerja Dlrektorat lenderal tetkalt -..=.. Kepala Rappeda .. ------- Satker Terkait Kepala &alall V - BU PAn/WAU KOTA cq Kepala Sappeda Tembusan 5 harl kerja Kepal SKPD Kab/Kota sub bldang 61 .. 100%) Gambar 5.... 50%..... GUBERNUR 10 hari kerja 1:0 hari Tembusan kerja 1---..0..1 Mekanisme Pelaporan - MENTERI cq.......2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinatdan kondisi 0%. --= cq...---_ KepalaSKPD PI'oVlnII aub 10 hari kerja " bld..

SKPO mengunduh . Pelaporan DAKOn Line III. Manfaat .Sarana Komunikasi Pusat-Daerah .Pelaporan OAK On Line melalui http://www.id .web.III.Laporan dapat dikirimkan III. Mekanisme Pelaporan DAK On Line .Pengecekan silang hasit pengiriman 62 .Tempat penyimpanan data .l.SKPD mengirimkan registrasi DAK format laporan laporan setiap saat apabila ada perubahan data dan informasi .2.emonitoring-PU.SKPO melakukan .

....c~ v l ... E CO 011: C... co 01 CO . ::::I .. r.o E :a E .......CO'" .::&: u Dr . CO co =s OJ .::&: OJ eo Ul co CO >C s: {5 :~ i! ......0 J9 tU e E J.I ~S ta 2 ro "'0 OJ 0. OJ OJ 0.... .... C ::::I fa \0 ... c ra . 0 .c M CO CO .. co Ul 0 C CU N I! :::J E !! {:..'in cu D... COl co ... 0......c .j . .....c ~ fa .... :::l C E ::::I E =s . Lt) c: ~ .c fa >~~ C . ...¥ '1:1 1::J :J ::::I .: ta c:'t. II C ..C3 ~ "Oc roc ....

Z&IO ftI ':.~ . E I~ 'tii t: c ~ .c:t ..:J I'll e . III Il ~ III '. ::L. c c: m ro !:! !:! !:! Ul c ~ .'.... m E f Ia II:! 8' A- i et::co ftI :J III c. 'tI "§ E~ :6 ...r::...r::.c._ . a...Q Ig !:! 19 III I'll III III ~c * 'tii 'iii ~ III cc 'iii Ul III . ~ E c C mcm .!: ~ .'Q)(j) :::I III D(J) .Q (J) (J) (J) ::::I III &: e::: CL 0.:...o: E.r::.g !:! m . 'E':J: i III «I .01 u a.!9 c .~ H c: c III m ..Q E s: 'c E. lfl .ol u D r I! ~I'iJ I.a :8 ::t .111 i ~~ Qj :0 II:! s: ~ I'\Im ..~ ~ i i~ .. r~ III III m m 'tI . E 0). 'iii ....5 E I~ ! Ia Q) E 0:I~ 'iii C III I~ III U m EU (J) ~ '5 2J c Ul '5 .. 'f c: II:! III 'f c: III ::::I cE ::J ir 0) 'c 'iii m . ccc men § c III ro !:! ~ .g o.. §c m Ic m I Q III ....B gm c C III :J "0 "0 -m 00 'iii 'tii IIJ 0. EE (J)Q) 9 a. 'c E 0) 0) 'ii '" ro ....c III v III III CL a.0 ~ E E . c I: IIJ Z' ::J " 0..~.r::. := 11 Z0 ... '16 c 'iii I~ c c III .: I c: 1II.. C aI ~ ~ ~~ ~ III J "' B" ::t III E «II ~ c 0 :~ .CL e :c 'tI E ... lil "ai ~c ~ III !l Ie 1111 Ij 'It III . C 1- E C :I ~ I: III III e C C A1\'1 I: ILl N ~§ :l c mill UlCO cc 'iii m 'E m '.o ::oF c .':: E II:! :I Ecc c :J E :I 'f .0.0 ~~ o....0 u D ttl rol.= C ~ '.r::. III III 0 0 ill ill . s: . " !:! ~ s g cc III III C C III 'ii'ii c CLo.0 CL ro c '- ~ lc m . II A- 0 C Co iM c 'Vi Ul III III ~ III .-III ~ 'ii -m CL '..

s: :Q'! ftI ftI 0 III m D: 0 :::I z . .'I :6 D . :~ ~ -Ell! . IQ !:l i-. iii E r-..l!2 3:l >c: .-... r:: III D- m c: l . ~ C s ar: Do... c fa .. f» ..!illl a.!! III ~ ra . . ". III :::I a: ~ Z Z III .:E .:.!! -__ .. I: '"' Ia.. is i9 c: U 19 ftI . ....:a.m III :Ii!: IJ= Ql'V r:: .: O.......t ~ ~ c( .. 19o I'~ r:: ra !:It.J: C til I'll .. . C III III III . -aJ2 ~i~ Sa ftI::I'§ ::I Q> «>..!!! c: '"' % ..oJ liII: f» '.. liB . ra ~ :::I IV c ! A... fa fa 1ft . j:: III OJ -2 ~ -111111 I! ~ D. ...9.Q Z ::..... e '" ~ ::I in QI C III III III . ::I ~D: g! c· .: m ! g Ci ~ c III ra ..t III III:: & ~ li I! '-¥ Do '.... 'iii ':...::. :!! ~ ~ III i= c " 0 D:.. :J ~ :::I IV ~ fl!1D . ( 'S I'" IV . e a....1:1 ::I ...

mE E !f':..c 'Vi t! I'll' .g fI 'I'll' E aJ II: N Z Z "" 0 .. c ro ro '" .. C dli a:l1 !.. 2 ro ro OJ 0-0 en ~E lDo.Q M ~ E O.Cl III 'iii Q . ~ e C ~ ~ C m dI § aI II: ~ en v.. . ..III 'CI E c: I: ~ 0 ."._ ... m ~ a IV ~Q dlJ! E en ID v c E Z IV I'II'. II: III . Vi iii t:l I: 'iii Vi 16 e " If I: I'll' i1 ~ j::: ~ ::l i ......::: = . '" !I !.... Q... 0' ~~ 0 e:.1J ~ <D . s 121 si "" " L:.. .

.... III a. a Z J!l c: 19 U to .: e ..: c ~ E ! ~ ~! 111'- ftI'..... . . '.'- "at! Dl_ men 'iii .I Q.

._ I- e I: N :::E cC Z ~ Q ~ .I :c m m w A.. m = ... I- I: m I- 1! m II) m • ~ Q Q m .

~ Cl Z 0 ~ a I9 ro .. c ..a ro ro . ro ro ro 3: v o._ .I ~ ~ C 1'1 f'.('l Ei • VI 1"'\ D. i~ c 'C~ CLJ ::1. or c ro ._ L. v co ClJ ~ ::J U C .m ::J "~ c Oa. >oCf mc c tnfJ] j:: ~-.:i! ... .. ra~ a. ro . IV ::J Cl.C "iiJ Ul .fo E 1"'\ C.:II:: "C ::I 'CI ::J'.. ~ ..c::: ::::I 100 M 1'1 ...:.~ UJ .c >C n::l Z ._.._ "t' .::: N ro IV Ul ~ 0 .c co . 1'1 fa en CLJ ..0 i'. ._......:!:: ~ra D.~ \.

(/) z · · · : : .2~ v.~ w · : : · 6 c::: 0. L w o. => OJ I~ ~ a. ~ « 0 Z ::J L9 Z (/) z £3 § co ~ ~ a. z 0:::: o.. I~ ~~ o::::z .2 z ~ .. « ~ Z <C ~ a. 9 ~ ::J<i. ~~ 0 s Z 0 ::Ja.. r-- ~=>l!iz CO u.. ...zCC z<c _0 ~.

- m.:ac: . ez COra Z Q ... UJ E 0...o . 't: C Sen CI . ::l -e :: A. AI g ~ C U rtl (]) rn c ro _Q c ES-6 ... "' ....

0'\ m a. I. u:::: O'l "Vi I.e IG c IG~. c rc III 10 ...:: 3 "'1 III -i:: _!g ro c: 0...... 'U... :i.. o. 'I:' CD III ~ .... E j! QI Z Q ..11:1 01 C :::.. ii .=..e AI Q.... "~ iii D:: ....... o ::I :a ~ "0 C 10 0.:: ~ 'IXI :~ 0'\ 10 01 c r::: "0 ro ~ = i£ S2' 01 (I) Ei _n f'" :::I ~ :::I .. .. i:~...c c c ta.. r::: U1 N r--- U C CD ID til ...:: ...= c IT:! l!:! N r::: IU z a. Q.III :E =s AI ftiI :0 :10 .:: 2 (U \! C ~ ::Iep% A.. '§- ::i ~ ~ 'iii Q .:. !j Qj A....ro 0... AI til c . III III U '§- :::. "C til CD_ :c V" '-0 ro :::I '" >III AI cQI ._ C n:I Ln f c III .c q ro 0'\ 0'\ C ... .a ~ <t" ~ B aJ VI III U) til i !II :::. --< ~ 1'0 I.

....c ~ ........ J9 0 l- 0::1- >._ U) I- ~ 0- e E fa C ::::I 'a ::::I f1) '0 A..c ID C ~ D c: ~ .....0 :l I- c:: ro ..•• S 0 ~ III C \0 ..... IQ C N ... fa f E l- ...._ 'It' J:~ 10 . ..- :I a. . "C 1'0 ro 0 ~ I . H E . 1"11 . ro In . 1'0 ..c..... Lfl .. era :::::II ~ = E :) Q e .. In 10 ::::I o.-j .. I'll IV') ~ .....::J o 1'0 c:: c: Z 0 .. QI ....e ~ 'Vi .c:: ro Q) _...

. I 1J . :=l Z g Z ~ ~ UJ :::. C2 UJ ~ UJ a iE.!.:::. 1 c 1: J:! III CO 2 Q} III III Cl..::: E :e: a:: !...~ ::l iE.1 iE.. 0 c:c UJ 0. 0 ::.

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perlmbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kementerian Negara PPN/Bappenas.l.2. kegiatan yang dibiayai OAK. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERJA IV. 2. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah.LAMPIRAN 6: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PEMANTAUAN. IV. maka OAK Bidang Infrastruktur juga tidak terlepas dar! kewajiban menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.alam mel. 4. dan SKPDterkait. Biro Administrasi Pembangunan/sebutan lain. Bagian Administrasi Pembangunan/sebutan lain. Organisasi pelaksana kabupaten/kota yang beranggotakan wail-wakil dari Bappeda. keluaran (outpuO. Organisasi pelaksana provinsi yang beranggotakan wakil-wakil dari Bappeda. Sehubungan dengan hal tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. Organisasi pelaksana pusat yang beranggotakan wakil-wakil dari Kementerian Keuangan.akukan pemantauan dan evaluasi berkoordinasi dengan gubernur selaku wakil pemerintah di daerah. efektif dan efisien agar terjadi kesesuaian antara masukan (inpuO. dan SKPDterkait. Satuan Pengelola Keuangan Daerah. hasil (outcome) dan kemanfaatan (benefit. Menteri Keuangan dan Menteri Oalam Negeri tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK). Organisasi pelaksana kementerian yang beranggotakan wakil-wakil dari Oirektorat Jendera! terkait di bawah koordinasi Sekretariat Jenderal.Latar Belakang Dana Alokasi Khusus (OAK) Bidang Infrastruktur merupakan dana bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.Tujuan Tujuan pemantauan teknis pelaksanaan DAK adalah: 75 . 3. Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK) bertujuan untuk mengoordinasikan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK secara terpadu. Organisasi pelaksana pusat d. PENDAHULUAN IV. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian/Lembaga (K/L) teknis terkait. proses. khususnya Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. untuk mengoptimalkan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK perlu dibentuk: 1.

Mengidentifikasi permasalahan yang muncu! dalam peJaksanaankegiatan dalam rangka perbaikan pelaksanaan DAK tahun betjalan. 3. V. PEMANTAUAN DAN EVALUASI V. 7. V. Memastikan pelaksanaan DAK di daerah tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan penatapan alokasi DAK dan petunjuk teknis. 6.1.2. hasll dan kemanfaatan kegiatan yang dilaksanakan. Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. 2. b) Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal dikoordinir oleh Direktorat Bina Program. terdlrt atas Tim Koordinasi Provinsi dan Balai/Satuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-rnasing subbidang yaitu : 1) Subbidang jalan adalah Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ). IV. Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. terdiri atas Tim Koordinasi Kementerian dan Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal. evaluasi dan penilaian kinerja adalah: 1. c) Tim Pemantau Provinsi. Pencapaian sasaran. Kepaturan dan ketertiban pelaporan. 5.1. 2) Subbidang irigasi adalah Balai Wilayah Sungai. 3) Subbidang prasarana air minum adalah Satuan Ketja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum.1. Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional.1. 4) Subbidang Sanitasi adalah Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. Pelaksana Pemantauan dan Evaluasi V. Kesesuaian hasil pelaksanaan kegiatan dengan dokumen kontrak/spesifikasi yang telah ditetapkan.Ruang Lingkup Ruang lingkup pemantauan. Evaluasi dan Penilaian Klnerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan. Evaluasi Pelaksanaan evaluasi pemanfaatan/kinerja DAK Bidang Infrastruktur dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum melalui Tim Koordinasi Kementerian dengan dibantu oleh : 76 . 4.1. Pemantauan Pelaksanaan pemantauan dari segi teknis oleh Kementerian Peketjaan Umum terhadap kegiatan yang dibiayai oleh DAK Bidang Infrastruktur dilakukan secara betjenjang oleh Tim Pemantau sebagai berikut : a) Tim Pemantau Kementerian. 2.3.

untuk sub bidang jalan Provinsi/Kabupaten/Kota.2. Jenderal Cipta Karya I untuk sub bidang air minum dan Oirektorat Jenderal Sumber Oaya Air.1.1.3. dokumen kegiatan dengan kontrak/spesifikasi • • • yang telah ditetapkan. b) Tim Teknis kabupaten.2.2. • • Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan Kesesuaian hasil pelaksanaan perundangan yang ber!aku.2. DAK disampaikan oleh Gubernur kepada Laporan hasil evaluasi pelaksanaan Menteri cq Sekretaris Jenderal empat belas (14) hari kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. untuk sub bidang irigasi V. hasil dan kemanfaatan Evaluasi dan Penilaian Kinerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan. 77 . kegiatan yang dilaksanakan.2.a) Tim Teknis Direktorat Jenderal Bina Marga.2. • Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. Kabupaten/Kota melakukan pemantauan secara berkala. dan TIm Koordinasi KabupatenjKota melakukan pemantauan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V. Tim koordinasi Kementerian berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Provinsi pelaksanaan OAK secara berkala. pelaksanaan DAK o!eh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V.L2.2. c) Tim Teknis Direktorat sanitasi.2. Pencapaian sasaran. Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi V.2. Tim koordinasi Provinsi melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oIeh SKPD laporan Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan triwulan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: • Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. Kepaturan dan ketertiban pelaporan.LL Tim koordinasi kabupaten/kota secara melakukan berkala pemantauan yang meliputi pelaksanaan hal-hal OAK oleh SKPO Kabupaten/Kota sebagai berikut: • • • Kesesuaian paket pekerjaan dengan Rencana Kegiatan (RK) Proses pengadaan paket pekerjaan tersebut Proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang meliputi antara lain: rencana dan reallsasi fisik & keuangan • Rencana dan realisasi kemanfaatan TIm koordinasi Provinsi berkoordinasi dengan Tim Koordinasi V. Evaluasi V.L Pemantauan V.

VI.2. Tim koordinasi Provinsi Provinsi Tim koordinasi Provinsi melakukan penilaian kinerja Kabupaten dan Kota penerima DAK berdasarkan aspek penilaian kinerja pada Tabel 6.1 No Aspek Penilaian Kinerja PemanfaatanDAK Sobot 0/0 20 Peniiaiall Nila. Tim Koordinasi Kementerian Tim Koordinasi Kementerian melakukan penilaian kinerja Provinsi dan KabupatenjKota penerima OAK yang meliputi Provinsi dan Kabupaten/Kota penerima DAK.PENlLAIAN KINERJA VI.80% progress fisik <60% >80% 60% .V.i Angka 10 6-8 <6 Huruf Baik Cukup Buruk Balk CukuQ Buruk Baik Cukup Buruk Baik Cukup Buruk Baik CukuQ_ Buruk Baik Cukup Buruk Aspek Penilaian Dukungan kegiatan terhadap Program Prioritas Nasional Kesesuaian Rencana Kegiatan dengan arahan pemanfaatan OAK Kesesuaian pelaksanaan fisik dengan Spek.2.1 secara semesteran yang disampaikan pating lambat 14 (empat belas) had kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. Tim koordinasi Kementerian melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oleh SKPD Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan hasil evaluasi oleh Tim Koordinasi Provinsi dan laporan triwulanan.2. Nilai < 60 Klasifikasi Penilaian Akhir : Nilai > 80 = Balk.1.80% kegiatan < 60% kegiatan > 80% sesuai 60% . VI.Teknis/ Dokumen kontrak Pencapaian Sasaran Kegiatan Oampak dan Manfaat (Rerata a -d) Kepatuhan dan Ketertiban Pelaporan (empat triwulan) a b c 20 15 d 15 e 15 > 80% kegiatan 60% .3 Triwulan dan lengkap 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 f 15 o100 1 Triwulan dan lengkap TOTAL Nitai Total = [20% * Nilai (a) + 20% * Nitai (b) 15% * Nilai (e) + 15% * Nilai (f)] + 15% * * Nilai (c) + 15% * Nilai (d) ::= + 10 Cukup. Tabel6.80% sesuai < 60% sesuai > 80% sesuai 60% .2.80% <60% 4 Triwulan dan lengkap 2 .80% sesuai < 60% sesuai progress fisik >80% progress fisik 60% . Nilai 60-80 = Buruk 78 .

.1 Pemantauan dan Evaluasi .--------1 I I I Bappeda ------Dinas Teknis 1 Tim Koordinasi Kab/Kota I I ---------------..-_.=K=a=b=/K=o=ta=.- L.. .~ Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) Hasil Pemantauan dan Evaluasi Klnerja (Semestera n) r . Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~c==S=K=P=D=...Mekanisme MENTERI cq. Tim Koordinasi Kementerian Tim Teknis Sb Irigasi I 1 1 I--I--~ Tim Teknis Sb Sanitasi _I 1 1 I I GUBERNUR I Hasil Pemantauan dan E.--I I .====~~ 79 ..valuasi Kinerja (Semesteran) r...-Tim Teknis Sb Jalan Tim Teknis Sb Air Minum -- ...--.._ ___. Sekretaris Jenderal Gambar 6. - - - - - ---I I : i Tim Koordinasi Provinsi sappedal BaIO::~::ker I DinasTeknis --------~~-------Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~====S=K=p=D=p=r=O=v=in=s=i ====rW~ BUPATIJWALIKQTA Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) .

. .c c ~c ::::II . c 0 ::....:c IZ~ tV ID IX ro OJ OJ :s ~ c( ~ .::: . 2 "iii c co . CD ~ ee c = a: ..:>L...o I/) ::I .:.: 'ii ca U"l "iii CO "~ en en .--I .... ::I .... ra z Z 0 e !'II . . ... .. e ilJ 0 N . ca III I...0 ..J ~ 0"1 0 "-' ::::II J: ~ .lII: \0 c CO ""15 .L S :c C :IIi'! 0 'iii i U'I c \0 ....:..... C CO :::l :J 0 00 I <:....t"l C (I) I! Dl m (fl . 1lIC'1 =r: tft r-.... " 19 CO '.t " ~ . CO ""CI c co :....J V e I'D ~ = M I'D CD C fa III CD ...::._....... ~ ~ ti~ II I! ... N A..~ III ::::I C {! CK:ji ii C ID m~ I:n ..lII: .....

-I I . Ia CIJ ~ .~ 1VCl' IV~ > ..- G 1! v ~c c. .(1) '1'1 1111 '&'C C j:: 0loi c'= CUI.: rt'l ~s ~g. Z laJ E CIJ lao...!....! N z ..c s :=...!!! 0.j en" J-~ oW :::I 00 'iii '..:: Ilc ...._ a c: c. 0 . IV gse 01 01 co ....5 IV r: co ~i ~Q..... (g§ 0. '--' ~ r: % r:~ .::: CIJ e ~ ~ r: ~ 0 N .. .1. ~ r: .. 1E '6 c: "0 ro ta 0._ me. r: ftI GTU)i ~~ ..- 0. c: LrI ...1.' ~...

.... . . 0::: ~ w e 0 . c ~ ~ • ftj ~ ~ C' al !!I 'iii ~ !!IIIL----...-.... .!!! · · III · ::E: ::::> :2: ::::> z ~ IZ c:[ 0 ~ ::2 LU L....~ III~ Z 1'1:1 E . £~ 1:L. e X '$ -e CL. c <II X i· III Vl . ~III 111'- -c A...5 . C z N 00 .c: z i J I) .c CL.U LU £l ~ 0:: ~ a. ~ ~ . 'c ::I "III <II .o N CL.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful