MENTERI PEKERJAAN REPUBUK

UMUM

INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANGINFRASTRUKTUR

Daftar lsi
Hal.
Peraturan Menter; Pekerjaan Umum NO.15jPRTjMj2010 Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Lampiran - 1 Lampiran - 2 Lampiran - 3 Lampiran - 4 Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Jalan Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Irigasi Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Air Minum Petunjuk Pelaksanaan Subbidang Sanitasi Lingkungan Masyarakat. Mekanisme Pelaporan Pemantauan, Evaluasi dan Penilaian Kinerja Berbasis .. . .. Tentang Petunjuk Teknis 1 .. .. .

11

23 35
45

Lampiran - 5 Lampiran - 6

57 75

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTER! PEKERJAAN UMUM NOMOR: 15/PRT/M/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA

MENTER! PEKERJAAN UMUM, Menirnbang a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 59 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Menteri Pekerjaan Urnurn telah menetapkan Peraturan Menteri Pekerjan Umum Nomor 42/PRTjM/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang da!arn pelaksanaannya sudah tidak sesuai lagi; b. bahwa dengan adanya perubahan organisasi Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/Mj2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur, perlu dilakukan penyempurnaan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perirnbangan (Lernbaran Negara Republik Indonesia Nomor 137 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Republlk Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan; Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah KabupatenjKeta (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomer 4737); Peraturan Presiden Republik Indonesia Nemor 47 Tahun 2009 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 2010 tentang

Mengingat

1.

2. 3.

4.

5. 6. 7.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84jP Tahun 2009; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum; 1 tentang

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

PERATURAN MENTERl TEKNISPENGGUNAAN INFRASTRUKTUR.

PEKERJAAN UMUM TENTANG PETUN1UK DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG

BABI KETENTUAN UMUM Pasall
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. 2. Menter] adalahMenteri Pekerjaan Umum. 3. Kementerian adalah Kementerian Pekerjaan Umum. 4. Unit Kerja Eselon 1 adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Bina Marga, dan Dkektorat Jenderal Cipta Karya di Kementerian Pekerjaan Umum. 5. Bidang Infrastruktur adalah kegiatan yang rneliputi Subbidang Jalan, Subbidang Irigasi, Subbidang Air Minum, dan Subbidang Sanitasi. 6.. Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya disebut DAK Bidang Infrastruktur, adalah dana yang bersumber dari APBN yang dlelokaslkan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk rnembantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional khususnya untuk membiayai kebutuhan prasarana dan sarana Bidang Infrastruktur masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah. 7. Satuan disebut kepada Alokasi Kerja Perangkat Daerah Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur yang selanjutnya SKPD DAK adalah organisasijlembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab Gubernur/BupatijWalikota yang menyelenggarakankegiatan yang dibiayai dari Dana Khusus Bidang Infrastruktur.

8. Efisiensi adalah dersjat hubungan antara barang/jasa yangdihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumberdaya untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output) 9. Efektifitas adalah ukuran yang menunjukkan hasll/rnanfaat yang diharapkan seberapa jauh program/kegiatan mencapai dapat

10. Kemanfaatan adalah kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) diselesaikan tepat waktu, tepat lokasl, dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal

11. Keluaran (output) adalah baranq/jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dllaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan

12. Hasil (outcome) adalah seqala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari Ikegiatankegiatan dalam satu program 13. Periode pelaporanakhir triwulan pertama adalah 31 Maret, triwulan kedua adalah 30 Juni, triwulan ketiga adalah 30 September, triwulan keempat adalah 31 Desember.

Pasal2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi Kementerian, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaiksanaan, pemantauan dan evatuasi, penllaian kinerja, pemanfaatan serta pembinaan dari segi teknis terhadap kegiatan yang dibiayai melalui OAK BidanglIntrastruktur; (2) Tujuan disusunnya petunjuk teknis lnl untuk: 2

pengelolaan. d. persampahen. b. (3) Ruang IIngkup pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi perencanaan dan pemrograman. PemerintBh Kabupaten/Kota. terkait kesesuaiannya dengan prioritas nasional. pelaporan keqlatan/fisik dan keuangan. meningkatkan cakupan pelayanan air minum. pemantauan. Merumuskan krlterla teknis pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur. monitoring dan evaluasi. sistem penyediaan air minum kepada perkotaan dan di perdesaan termasuk d . (4) 3 . dan penentuan lokasi kegiatan yang akan ditanga_ni. serta penilaian kinerja. dinas teknis di provinsi. Subbidang Sanitasi memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah. dan pembinaan teknis kegiatan yang dlbieyai dengan DAK Bidang Infrastruktur. Pembinaan teknis dalam proses pendampingan dan konsultasi. menjamin tertib pemanfaatan. penyusunan pembiayaan. kinerja pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) yang merupakan kewenangan provtnsl/kabupeten/kcta.. dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dl perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. dan pariwisata. Subbidang Irigasi. Subbidang Air Minum memberikan akses pelayanan masyarakat berpenghasilan rendah di kawasankumuh daerah pesisir dan permukiman nelayan. penyusunan dalarn bentuk c. koordlnasl penyelenggaraan.. Penyusunan penyaringan.okasi DAK darl Menteri Keuangan. dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi: fungsi jaringan jalan. b. PERENCANAAN (1) B. tugas dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan. dan meningkatkan kinerja prasarana dan sarana bidang lnfrastruktur seperti kinerja jalan provinsi/kabupaten/kota. Rencana Kegiatan (RK) harus memperhatikan tshapan penyusunan program. pengendalian. Kementerian terkalt. serta mensinergikan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan kegiatan prioritas nasional. (3) Berdasarkan penetapan al. c. yang memenuhi kriteria prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pelaksanaandan penqelolaan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi. meningkatkan terrsolast dan terpeneil.a. e. pemantauan. (2) Melakukan evaluasi dan sinkronisasi atas usulan Reneana Kegiatan (RK) dan perubahannva. Subbidang Jalan meningkatkanintegrasi daerah potensial. dan eakupan pelayanan sanltasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. pelaksanaan. mendukung akses-akses ke pengembangan Prioritas nasional sebaqalmana a.AB II DAN PEMROGRAMAN Pasal3 membantu Kementerian melalui Unit Kerja Eselon 1 terkalt untuk masing-masing subbidang proses pereneanaan kegiatan yang dibiayal DAK Bidang Infrastruktur daJam hal: a. yang menjamin terlaksananya koordinasi antara Kementerian. Rencana Kegiatan (RK) b. Gubernur/Bupati/Walikota penerirna DAK Bidang Infrastruktur membuat Reneana Kegiatan (RK) secara partisipatif berdasarkan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan. dan dinas teknis di kabupaten/kota dalam pelaksanaan. membuka daerah kawasan perbatasan. mempertahankan tingkat pelayanan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) di provinsi dan kabupaten/kota guna mendukung program ketahanan pangan. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur.

untuk Subbidang. Menengah (RPIJM) Bidang Infrastruktur. reklamasi rawa): alokasi DAK adalah Kriteria Teknls yang meHputi: Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk prasarana Jalan diutamakan untuk program Konektivitas Domestlk yang mempertlmbangkan antara lain .dang Infrastruktur. Pasal 4 (1) Dalam rangka menslnergikan dan mensinkronisasikan proqram-prooram Bi. (5) (6) pelaksanaan yang berpedoman pada standar. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum. pemerintah daerah harus menyusun Rencana dan Program Investasi Jangka. (2) Kriteria Teknis untuk prasarana jalan. Luas Daerah Irigasi (termasuk b. dan Subbidang Sanitasi. RPIJM adalah rencana dan program investasi pembangunan infrastruktur tahunan dalam periode tiga hingga lima tahun. Kondisi panjang jalan mantap dan tidak mantap. yang harus mengacu pada rencana tata ruang. Subbidang Air Minum. sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. Irigasi. peraturan. pemerintah daerah.: a. Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah. Tingkat kerawanan air rninum. (3) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b untuk prasarana diutamakan untuk program ketahanan pangan yang mempertimbangkan antara lain: a. Penyusunan Infrastruktur Rencana Kegiatan dan Usulan Perubahannya yang telah disepakati. daerah jaringan reklamasi rawa): Irigasi (4) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c untuk prasarana Air Minum diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi. balk yang dilaksanakan Pemerintah. harus mengacu pada RPIJM Bidang Pasal 5 (1) Salah satu komponen dalam menentukan a. Panjang jalan. b. maupun oleh masyarakatjswasta. c. d. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri lnl. 4 . untuk menjamtn keberlangsungan kehidupan masyarakat secara berkualitas dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dHaksanakan secara terpadu Pemerintah provinsl harus menyusun Jalan dan Subbidang IrigasL RPDM Bidang Infrastruktur khususnya untuk Subbidang untuk (2) (3) (4) (5) Pernerintah Kabupaten/Kota harus menyusun RPUM Bidang Infrastruktur khususnya Subbidang Jalan. Kondisi Luas Daerah Irigasi.dan ketentuan yang Rencana Kegiatan (RK) dan usulan perubahannya terlebih dahulu dikonsultasikan Eselon 1 dan/atau Dinas Provins! terkait dengan prioritas nasional . b.. ke Unit Kerja Mekanisme perencanaan dan pemroqrarnan untuk maslno-mastno subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbldang Jalan.serta metoda berlaku. Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi (terrnasuk jaringan Kriteria Teknis untuk prasarana air minum. Subbidang Irigasi. b. dan Kriteria Teknis untuk prasarana sanitasi. Lampiran 2.

Memberikan saran.(5) Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d untuk prasarana Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target Millennium Development Goals (MDG's) yang mempertimbangkan antara lain: a. dan c. Pasal7 (1) Unit Kerja Eselon 1 terkait masing-masing subbidang membentuk Tim Teknis Penyelenggaraan OAK subbidang terkait. masukan. Cakucan pelayanan sanitasi. maupun rekomendasi kepada Menteri dalam mengambil kebijakan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap pelaksanaan OAK pada subbidang terkait. Membantu pelaksanaan sosiallsasi. kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. Menyusun petunjuk teknis penggunaan DAK Bidang Infrastruktur. b. 5 . Memfasilitasi pelaksanaan sosialisasi dan konsultasi serta pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK Bidang Infrastruktur. d. Pasal 8 (1) Gubernur membentuk Tim Koordinasi Provinsi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provlnsl. b. yang terdiri dari unsur Sekretariat Jenderal. Menyiapkan dan menyampaikan laporan tahunan subbidangnya. disernlnasi. dan Kementerian Teknis. Menyiapkan laporan tahunan Kementerian penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur. b. Inspektorat Jenderal. e. Kementerian Keuangan. BAB III KOORDINASIPENYELENGGARAAN Pasal 6 (1) Menteri membentuk Tim Koordinasi Kementerian Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian. dinas teknis terkait. c. dan Unit Kerja Eselon 1 terkait. Kerawanan sanitasi. dan selai/satuan Kerja Pusat yang ada dl daerah terkait. (3) Biaya operasional Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada masingmasing unit Eselon 1 terkait. Memfasilitasi pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur oleh daerah. yang terdiri dari unsur 8appeda provinsi. kepada Menteri Keuangan terkait (3) Biaya operasional Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Satuan Kerja di masing-masing Unit Kerja Eselon 1 dan Biro Perencanaan dan KLN. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Koordinasi Kementerian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah yang mendapat DAK subbidang terkait. (2) Tugas dan tanggung jawab Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. (6) Kriteria Teknis lain untuk masing-masing Subbidang disesuaikan dengan Rencana Kerja Pemerintah pada tahun berjalan dan dibahas dalam Trilateral Meeting antara Bappenas.

dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait sebagaimana mekanisme pelaporan dalam Peraturan Menteri tnt. Subbidang Air Minum oleh Satuan Kerja Pengembangan provinsi yang bersangkutan. Memberikan saran dan masukan atas Rencana Kegiatan provinsi dan kabupatenjkota kepad'a Tim Koordinasi Infrastruktur tingkat Kementerian.. 6 . dan tahunan terkait penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur di provinsinya. Subbidang Irigasi oleh Balai Wnayah Sungai atau Satuan Kerja Pengeiolaan Sumber Daya Air terkait di Provinsi yang bersangkutan. terdiri dari unsur Bappeda kabupatenjkota dan dinas teknis terkait. dan pembinaan DAK pelaksanaankepada Bidang daerah di Membantu pelaksanaan sosialisasi. dengan tembusan Unit Kerja Eselon 1 terkait. c. c. Pasal 9 (1) BupatljWalikota membentuk Tim Koordinasi Kabupaten/Kota Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat kabupaten/kota. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. (3) Pe!aksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dima. dan menyampaikan kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur tingkat provinsi dan tingkat Kementerian.ksud pada ayat (1) dibantu oleh BalaijSatuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-masing subbidang sebagai berikut : a. yang mendapat OAK Bidang Infrastruktur. Tugas dan tanggung (1) meliputi: a. diseminasi. d. dan tahunan terkait penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur di kabupatenjkota sesuai kewenangannya. diseminasi. dan menyampaikannya kepada Tim Koordinasi Penyelenggaraan OAK Bidang Infrastruktur tingkat Kementerian sebagaimana mekanisrne pelaporan dalarn Peraturan Menteri ini. Kinerja Pengelolaan Ungkungan Air 'Minum. dan pelaksanaan Infrastruktur Menyiapkan laporan triwulanan.. dimaksud pada (3) Pelaksanaan kegiatan operasional Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana ayat (1) dldukung SKPO OAK di kabupatenjkota yang bersangkutan. b. semesteran. Membantu pelaksanaan sosialisasi. Pelaksanaan OAK (RK) yang disusun pemerintah Penyelenggaraan DAK Bidang e. b.(2) Tugas dan tanggung meliputi: a. di Permukiman Penyehatan Biaya operasional Tim Koordinasl Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah dan pemermtah provinsl sesuai dengan kewenangannya. Menyiapkan laporan triwulanan. Subbidang Sanitasi oleh Satuan Kerja Pengembangan di provinsi yang bersangkutan . (4) Subbidang Jalan oleh Balai Besar/Ba:lai Pelaksanaan Jalan Nasional cq. c. d. oleh Satuan Kerja Perencanaandan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ) di provinsi yang bersangkutan. jawab Tim Koordinasi KabupatenjKota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Memberi masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur. semesteran. Melaksanakan kabupatenjkota pemantauan terhadap yang bersangkutan. dan pembinaan pelaksanaan kepada daerah b. Memberikan jawab Tim Koordinasi Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masukan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan OAK Bidang Infrastruktur. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi serta penilaian kinerja terhadap Bidang Infrastruktur oleh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota: d.

Prasarana irigasi. Prasarana sanitasi. dan Lampiran 4 untuk Subbidang Sanitasi. penggantian jembatan. Prasarana jalan. meliputi: a. Peningkatan sistem jaringan irigasi untuk meningkatkan fungsi dan kondisi atau menambah luas areal pelayanan jaringan yang sudah ada. BABIV PELAKSANAAN DAN CAKUPAN KEGIATAN Pasal 10 (1) OAK Bidang Infrastruktur diarahkan untuk membiayal kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang menjadi kewenangan daerah yang merupakan program prioritas nasional Bidang Infrastruktur. Reuse. dan penyelesaian pembangunan jalan/jembatan. (termasuk jaringan reklamasi rawa) untuk kegiatan rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan. untuk kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) yang priontas pertamanya untuk kegiatan pengembangan prasarana dan sarana air timbah komunal berbasis masyarakat dalam rangka menghllangkan kebiasaan masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS). (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan diatur pada Petunjuk Teknis untuk masing-masing subbidang sesuai ketentuan pada Lampiran 1 untuk Subbidang Jalan. d. Ruas jalan provinsi dan kabupaten/kota yang dapat ditangani adalah ruas-ruas jalan sebagaimana telah ditetapkan atau dalam proses penetapan keputusan gUbernur/bupati/walikota tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan sebagai Jalan Provinsi dan Jalan kabupaten/kota: b. (2) 7 . atau untuk mencapai pelayanan maksimum yang pernah dicapai.(4) Biaya operasional Tim Koordinasi Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada pemerintah kabupaten/kota. KepaJaSKPD OAK Bidang Infrastruktur bertanggung jawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan kegiatan yang dibiayal dari OAK Bidang Infrastruktur. Prasarana air mlnum. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. untuk kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan. Lampiran 3 untuk Subbidang Air Minum. Pada daerah Rawa tidak ada kegiatan peningkatan jaringan reklamasi rawa. peningkatan jalan. pemeliharaan berkala/rehabllltasl jembatan. untuk kegiatan mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum Terbangun (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru Sistem Penyediaan Air Minum non-POAM bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa-desa rawan air minum dan kekeringan. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BABS). maka prioritas kegiatan selanjutnya untuk pengembangan fasilitas pengurangan sampah berbasis masyarakat dengan pola 3R (Reduce. Sedangkan rehabilitasi merupakan kegiatan perbaikan sistem jaringan Irigasi guna mengembaflkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti desain semula. BABV TUGAS DAN TANGGUNG lAWAB PELAKSANAAN KEGIATAN Pasal 11 (1) SKPO OAK Bidang infrastruktur bertugas melaksanakan kegiatan yang dananya bersumber dari OAK Bidang Infrastruktur sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan Iingkungan. c. Lampiran 2 untuk Subbidang Irigasi. Kegiatan operasi dan pemeliharan (OP) tidak didanai dengan OAK Bidang Infrastruktur.

Hasil pemantauan sebagaimana dalam bentuk laporan triwulanan. menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 5 (lima) hari kerja sete!ah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPO Provinsi dan BalaijSatker dengan tugas dan kewenangannya sama. Pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) dilakukan terhadap: (a) kesesuaian dan pelaksanaan Rencana Kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. (c) kesesuaian hasil pelaksanaan fisik dengan dengan kontrak/spesitlkasi teknis yang ditetapkan. Pasal16 (1) Kepala Bappeda Provinsi menyusun laporan triwulanan dengan menggunakanlaporan triwulanan provinsi sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan laporan triwulanan kabupatenjkota sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2). menyusun laporan SKPD Kabupaten/Kota triwulanan KabupatenjKota dengan sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh BupatijWalikota kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. (b) proses pelaksanaan pengadaan barangjjasa. 8 . menyusun laporan triwulanan dalam rangka pelaksanaan OAK yang Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dan Balai/Satker terkait. pelaksanaan program pelaksanaan meliputi Kepala SKPD Provinsi melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya.BABVI PEMANTAUAN. dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) disusun (7) Pasal13 (1) (2) Kepala SKPO Kabupaten/Kota yang dikelolanya. Pasal15 (1) Kepala Bappeda Kabupaten/Kota menggunakan laporan triwulanan 13 Ayat (2). dampak dan manfaat kegiatan yang dllaksenekan. Cf) kepatuhan dan ketertiban pelaporan. BupatijWalikota melakukan pemantauan pelaksanaan DAK yang meliputi dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. (d) pencapaian sasaran. Kepala SKPD Kabupaten/Kota melakukan pemantauan pelaksanaan OAK yang pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. pelaksanaan (2) (3) (4) (5) (6) Gubernur melakukan pemantauan dan evaJuasi pelaksanaan DAK yang meliputi program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. P·asal14 (1) (2) Kepala SKPD Provinsi dikelolanya. (e) efisiensi dan efektifitas kegiatan. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERlA Pasal12 (1) Menteri melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur.

ke Menteri Keuangan. efektivita 5/ kemanfaatan dan dampak) berdasar output dan indikator kinetja kegiatan. Pasal 17 Mekanisme pelaporan dan format laporan pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 5 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Pasal20 Mekanisme pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan SKPD DAK dilakukan sesuai ketentuan pada Lampiran 6 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini. Pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur yang tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri ini dapat berakibat pada penilaian kinerja yang negatif. Daerah. (2). Penyimpangan dalam pelaksanaan DAK Bidang Infrastruktur dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Kinetja penyelenggaraan DAK Bidang Infrastruktur akan dijadikan salah satu pertimbangan dalam usulan pengalokasian DAK oleh Kementerian pada tahun berikutnya.Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas. keuangan DAK 9 . Menteri Dalam Negeri. Pasal21 Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan dilakukan oleh instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. Evaluasi pelaksanaan Rencana Kegiatan dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dan dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya tahun pelaksanaan kegiatan Dana Alokasi Khusus. yang akan dituangkan dalam laporan Menter. Pasal18 (1) Evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan Rencana Kegiatan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan kegiatan (efisiensi. Menteri melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap Infrastruktur. Evaluasi dilakukan terhadap program prioritas nasional untuk menilai keberlanjutan suatu program. Gubernur melakukan evaluasi dan penilaian kinerja terhadap pelaksanaan Dana Alokasi Khusus yang meliputi pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Hasil evaluasi dimaksud pada ayat (I). dan (3) di atas digunakan untuk menilai kinerja pelaksanaan Dana Alokasi Khusus di. Gubernur menyampaikan laporan hasil evaluasi dan penilaian kinerja kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan Dewan Perwakilan Rakyat.(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Gubernur kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderai dengan tembusan Direktur Jenderal terkait paling lambat 14 (em pat belas) hari ketja setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. b. pelaksanaan DAK Bidang (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pasal19 Peniiaian kinerja untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan DAK Bidang Infrastruktur meliputi: a.

merupakan bencana alam yang (3) Perubahan penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang dalam bidang yang sarna dan tidak mengubah besaran alokasi DAK pada bidang tersebut. Agar setiap orang mengetahuinya. (1). Pasal24 Peraturan 'Menteri ini mula! berlaku pada tanggaJ diundangkan.BABVII. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. (4) Persetujuan iMenteri Keuangan dan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Daerah yang bersangkutan. KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal22 (1) Dalam hal tetjadi bencana alam. 01 November 2010 MENTER! PEKE'RJAANUMUM. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 23 Dengan ditetapkannya peraturan Menteri ini. Peraturan Menteri nomor 42jPRT/Mj2007 tentang Petunjuk Teknls Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. daerah dapat mengubah peng:gunaan DAK untuk keqiatan dl luar yang telah diatur dalam Peraturan Menter! Keuangan dan Petunjuk Teknis lnl. (2) Bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat dinyatakan secara resmi oleh Kepa!a Daerah terkait. setetah sebelumnya mengajukan usulan perubahan dan mendapat persetujuan tertulls dariMenteri Keuangan dan Menteri. ttd DlOKO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASIMANUSIA KIRMANTO PATRIALIS AKBAR 10 .

3. Penyusunan Daftar Ruas Jalan Prioritas. Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Jalan Bantuan Dana Alokasi Khusus ini sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur. antara lain penyusunan petunjuk teknis. Penyusunan Daftar Ruas Jalan. mulai dari proses perencanaan dan pemrograman. Penyusunan Rencana Kegiatan (RK). 34 Tahun 2006 tentang Jalan. PENDAHULUAN L 1. Dengan demikian diharapkan peJaksanaanpenanganan infrastruktur Subbidang Jalan dapat menghasilkan kualitas sesuai umur rencana yang. digunakan sebagai acuan hukum dalam kaitan pembagian wewenang antara Pemerintah (Pusat) dengan Pemerintah KabupatenjKota. pelaksanaan konstruksi. sampai dengan proses monitoring dan evaluasi. 38 Tahun 2004 tentang Jalan. 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyatakan bahwa wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan jalan meliputi penyelenggaraan jalan nasional dan penyelenggaraan jalan secara umum yang mencakup (1) pengaturan secara urnum. 4.LAMPIRAN1: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PETUNlUK PELAKSANAAN SUBBIDANG JALAN I. Pelaporan Peniiaian kinerja 11 . Tahapan penanganan jalan meliputi: • provinsi dan kabupatenjkota dalam pemanfaatan OAK. Pasal 23 Undang Undang No. Undang Undang No. (3) pembangunan secara umum antara lain kewajiban penyelenggaraan jalan memprioritaskan pemeliharaan jalan. • • • • Perencanaan Teknis Jalan Pelaksanaan Konstruksi Monitoring dan Evaluasi Pelaksaaan. Kegiatan Pemograman dan penganggaran terdiri atas: 1. Petunjuk Teknis Subbidang Jalan disusun untuk menunjang pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan pelaksanaan OAK. 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta Peraturan Pemerintah No. Penyusunan Program Penanganan. (2) pembinaan secara umum antara lain pemberian sosialisasl. Pasal 14 Undang Undang No. jalan kabupaten dan desa serta jalan kota. jalan provinsi. perencanaan teknik. 2. menyatakan bahwa Pembinaan Jalan Umum meliputi pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional.diharapkan.

dan penyusunan peraturan perundang-undangan jalan. 8. yang berada pada permukaan tanah. Pengaturan Jalan adalah kegiatan perumusan kebijakan perencanaan. Pembinaan Jalan adalah kegiatan penyusunan pedoman dan standar teknis. Rehabilitasi Jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. Pemeliharaan Berkala (PM) adalah kegiatan penanganan terhadap setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain.1. Pembangunan Jalan adalah kegiatan membangun jalan tanahjjalan setapak menjadi standar jalan minimum sesuai dengan tlngkat kebutuhan lalu lintas dan sesuai dengan standar/pedoman yang berlaku. serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. 4. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang rnellputi segala bagian jalan. Tujuan Petunjuk Teknis ini bertujuan untuk menjamin pelaksanaan/pengeiolaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan sesuai dengan ketentuan. 3. serta penelitian dan pengembangan jalan.5. Ruang Llngkup Petunjuk Teknis ini memuat tata cara pengelolaan jaringan jalan mulai dari perencanaan pemrograman. 1. termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. agar kondisi kemantapan tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan rencana. Penyelenggaraan Jalan adalah kegiatan yang pembangunan. pelayanan. Peningkatan Jalan (PK) adalah kegiatan penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan ruas-ruas jalan dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas jalan tersebut dalam kondisi mantap sesuai dengan umur rencana. dan jaJan kabel. Pembangunan Jalan adalah kegiatan pemrograman dan penganggaran. kecuali jalan kereta api. pembinaan. dan pembangunan [alan: untuk mewujudkan tertib 7. pembinaan. Pengertian 1. pelaporan sampai dengan evaluasi dan penilalan kinerja pengelolaan jaringan jalan. 9. tertib dalam pelaksanaan dan tepat sasaran. 1. dan pengawasan jalan. pelaksanaan konstruksi. perencanaan teknis. 2. Pengawasan Jalan adalah kegiatan yang dilakukan pengaturan. yang berakibat menurunnya kondisi kemantapan pada bagianjtempat tertentu dari suatu ruas jalan dengan kondisi rusak ringan. di bawah permukaan tanah danjatau air. 11. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah sebagai acuan dan pegangan bagi para pelaksana dan pihak terkait lainnva dalam penyelenggaraan kegiatan Subbidang Jalan. agar penurunan kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan rencana. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan dengan pelebaran perkerasan. rneltputl pengaturan. 10. serta dl atas permukaan air. 12 . pelaksanaan. Pemeliharaan Rutin CPR) adalah Kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakankerusakan yang terjadi pada ruas-ruas jalan dengan kondisi pelayanan mantap.2. perencanaan teknis. pemberdayaan sumber daya manusia. di atas permukaan tanah. penyusunan perencanaan umum. baik menambah maupun tidak menambah jumlah lajur. 6. jalan lori. 5. 104.3.

PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN 11. 11. • Pembangunan. n. • Penqqantian: • Pembangunan.II. Penanganan Jembatan • Pemeliharaan Berkala: • Rehabilitasi. Penentuan nilai RCI berdasarkan jenis permukaan dan kondisi seeara visual dapat dilihat pada tabel berikut: 13 . Penyusunan Program Penanganan Petunjuk Teknis ini.1. Penyusunan Dafta r Ruas Jalan Provinsi serta Kabupaten/kota Tahap awal yang perlu dipersiapkan oleh Pelaksana Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/kota. Ruas-ruas prioritas yang ditangani diambil darl hasil keluaran program IRMS atau dapat menggunakan eara seperti pada butir 2.1. e e penanganan jalan provinsi yang merupakan akses ke jalan nasional atau strategis nasional. Penentuan program penanganan jalan provinsi 1. yang dimaksudkan adalah prioritas nasional dengan mempertimbangkan aspek-aspek: • Prioritas nasional.Ol (terlampir).2. Penyusunan Usulan Ruas Jalan Prioritas Penyusunan ruas jalan prioritas jalan provinsi dan kabupaten/kota. Menentukan nilai ReI (Road Condition Index) dengan melakukan survey kekasaran permukaan jalan seeara visual dengan menggunakan form SKV.1.1. Langkah-Iangkah dalam penentuan program penanganan adalah sebagai berikut: A. 2. membuka daerah terisollr. sesuai form Data Dasar Prasarana Jalan dan Jembatan. ruas kabupaten/kota. • Peningkatan. menjelaskan pemanfaatan anggaran penyusunan program penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Subbidang Jalan. penanganan daerah rawan beneana serta pendukung pengembangan kawasan perbatasan. untuk provinsi maupun kabupaten/kota. meningkatkan integrasi fungsi jaringan jalan. Penentuan Program Penanganan Program/kegiatan penanganan jalan ditentukan oleh tingkat kerusakan jalan.1. adalah menyusun daftar ruas jalan provinsi serta. • Prioritas Nasional untuk meningkatkan akses-akses ke daerah potensial. 11. penanganan jalan kabupaten/kota yang merupakan akses ke jalan provinsi atau strategis provinsi serta akses ke jalan nasional atau strategis nasional. • Rehabilitasi. terpeneil. Klasifikasi program/kegiatan penanganan adalah: Penanganan Jalan • Pemeliharaan Berkala.3.

000 B B 1. permukaan tldak rata Cukup tidak ada atau sedikit sekali lubang.~ _. Latasbum baru. lenis Permukaan Jalan tanah dengan drainase yang jelek.c 3. batu kerikil PM setelah pemakaian 2 tahun. Rusak berat. Hotmix tipis diatas PM Hotmix baru (Lataston.96 :: RC~2.1 Penentuan Nilai RCI No.24 3.94 : Ii 8 s R -~S B .- RB RB RB R8 R8 Fe R8 R8 RB RB R9 R9 4. ~ 8 B B 8 B s 5 S R R R8 :: Rei" J.5 7. Peningkatan dengan menaaunakan lebih dari 1 lanls berdasarkan ada lubang..54 3 c IRI .000.3 Penentuan Program Penanganan lalan Provinsi Program Penanganan Pemeliharaan Rutin (PR} PemeHharaan Berkata /Rehabi Iitasi Peningkatan (PK) Pembangunan (PM) Kondisi Baik (B) Sedang (5) Rusak (R) Rusak Berat eRB) - B. Laston). banyak 2-3 3-4 4-S lubanc Agak rusak. PM baru.91 3.: « IRJ '" ::: IRI e.61 .27 2. Lasbutag setelah pemakaian t:=lhlln Kondisi ditinjau secara visual Tidak bisa dilalui Nilai ReI 0-2 2.. Latasbum lama S.:.76 :: Rei'" -----'" 3.3.000 8 >10.71 3. 1.22 :: RCI -e. Penentuan kondisi ruas jalan berdasarkan matriks berikut: nilai RCI dan volumelalunntas Tabel 1.87 5. dan semua tipe nermukaan vana tidak Semua tipe perkerasan yang tidak diperhatikan sejak lama (45 tahun atau lebih) PM lama.ZB 6.200 200-300 B B B 300-1.Tabel 1._ :: IRl ~ ___!_ 7. 1.24 -c Rei -e + 10 12 16 4 ::: IRl « __£_ ~ IRJ .94 ::: RCI 3.£.000 3. 4.69 4.74 < II B B B B I B B S :: Rei '" -c Rei < 4. kadang-kadang 2 6. Latasbum baru Lasbutaa baru Hotmix setelah 2 tahun. 3. banyak lubang dan seluruh daerah loerkerasan Rusak bergelombang.___!!_ AS AS AS - ! S B. R R R R R8 R8 . Penentuan program/kegiatan kondisi pada tabel berikut ini: penanganan suatu ruas jalan berdasarkan Tabell. Lapis tipis lama dari hotmix. 8.5 ::: IRJ e 0-50 8 B 50 -100 B B B B 100. kondisi ruas 14 . Melakukan survey persentase kerusakan untuk menentukan jalan.000 .m 6. Latasbum lama. umumnya rata Sangat rata dan teratur 3.::_ :: IRI e IRI'" --&25 _- -B 8 8 B B B S S e 5 5 S R R 5 5 5 R s -5 R R 5 J 20 < 0.10.53 RCI :: IRI" -.!.-:! 2~R. Penentuan program penanganan Jalan KabupatenjKota 1.000 B 7...2 Penentuan Kondisi Ruas lalan dari Nilai RCI Lalu U ntas harian Rata-Rata T ahunan (LHRT) (dua I 'urduaarah) Rei Dari 7. 7. permukaan ialan aaak tidak rata Baik Sangat 5-6 6-7 7-8 8 -10 balk.54 0.Bl 5. Rei" :: Rei IRI Ke 10.

Rencana Kegiatan. sesuai penjelasan pada bagian Pelaksanaan Konstruksi. karena RAB berisi penjelasan jenis-jenis pekerjaan yang termasuk dalam lingkup kegiatan yang diusulkan. Penentuan program/kegiatan penanganan suatu ruas jalan atas dasar hasil survey persentase kerusakan dengan batasan-batasan di bawah ini: Tabell. Tabel Rencana Kegiatan DAK (Rupiah) dan dan oleh dinas untuk jalan • Tujuan/Sasaran • Volume • Satuan Biaya • Dana Pagu Format Rencana Subbidang Jalan. kemudian. Untuk pekerjaan pelebaran melebihi ketentuan di atas harus disertai dengan justifikasi teknis dan mendapat persetujuan dari SNVT P2JJ setempat. pendamping Kegiatan dapat dilihat (m). apabila terdapat kerusakan 11. 34 Tahun 2006.4 Penentuan Program Penanganan lalan Kabupaten/Kota Persentase Batasan Kerusakan <11% 11. panjang efektif (km). target efektif. Sesuai Undang Undang No. serta harga satuan. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya Pekerjaan CRAB). 15 .2. berisi informasi-informasi: • Kegiatan kegiatan pemeliharaan berkala/rehabilitasi. dan Bupati/Walikota kabupaten/kota.5 meter untuk jalan lokal/kabupaten dan 7 meter untuk lebar jalur lalu lintas pada jalan provinsi. mengenai lebar badan jalan dan lebar jalur lalu lintas bahwa lebar badan jalan untuk jalan lokal/kabupaten adalah 7. tentang Jalan. 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No.2. panjang fungsional untuk panjang efektif/fungsional (APBD) minimum pad a Lampiran 10%. Rencana Kegiatan (RK).lebar (km) harga satuan/km DAK. Jumlah.<23% Kondisi Baik (8) Sedang (S) Rusak (R) Rusak Berat (RB) Program Penanganan Pemeliharaan Rutin CPR) Pemeliharaan Berkala (PM) /Rehabilitasi Peningkatan (PK) Pembangunan >23% Catatan: Kegiatan Rehabilitasi dilakukan yang tidak diperhitungkan dalam desain. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan ada!ah usulan program penanganan jalan yang disusun terkait. sedangkan lebar badan jalan untuk jalan provinsi adalah 9 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 7 meter. peningkatan pembangunan jalan serta pemeliharaan berkala/rehabilitasi penggantian/pembangunan jembatan usulan ruas mengacu prloritas nasional sesuai ketentuan Juknis panjang (km). serta di sahkan oleh Gubernur untuk jalan provinsi.5 meter. Untuk optirnalisasi bantuan DAK Subbidang Jalan maka kegiatan peningkatan [alan yang berupa pelebaran jalan menjadi persyaratan minimal lebar jalur lalu lintas yaitu 5.5 meter dengan lebar jalur lalu lintas adalah 5. target fungsional.<16% 16 .

VI fIJ a.. "a 1-1 U) E . "Vi e E E c re fIJ ..::: (l) .. CC CC '<T ! ra B C . N :s ::c ::E: a:I til ::.. ~ ¥:~ .. % = ::5 :l = ...... ro D..en c l! :::II:: C ftI 0 ... Z . 1-1 co :I . :5 :E ~ a:: .::::l ::e M is C fIJ .....rae::: Ul:. ::eftl:l I. :I ftI""'.: ...... ~ ..... c "5 0'1 c._.... >U) Z < <2 X::5 CC< 'iii 'S. C ~ 0 Z z..!! ftI a. c ra c ftI :J ::::l a... ftlCQ....S! fa ... :J ~ VI a... ra c aJ C aJ en CO "C' ~ (l) e..... = e::: M E 0..... :::.: ..c II r-.. .! C . .. ra ". E w_ =-...... ftI fa %E .... < " 2 Lrl ::E Q Do Z w :::II:: Q ~ 0 .. -.. e 0 Z ...-I ...-I =:10 C "~ VI fIJ C ....::1..

. B Ia e r--..CII LLI . ~~ cc ::J .!: Ul 0 ..:::~ "" ::. 'C' c ro ro z laea.. ::J '- . 3. r!! 0 ...e fa en c: ~ ...: ...B «I 0 Z U') = ti Ie ~ e. => a.a z " E Ia ~ 1-1 :E c:C IJ'l I~ 1-1 U') Z Q ~ e l- Ia 0 _..::... g IX S ...:: >U') M E Z Ia Ia 1m C ':I c:CZ IX e a.- :EE ':1.::: e «I e ~ 0'1 is 0 ::am ~ E ::J E => IX) 0....::: c:C Q ~ . . .2 w ~ ::::.S!! Ia e en (I) e «I e cu e.. Ia ...s cu .... :2: :E t:Q :3 ::c :t III co :'E ra ... «I ::::..c = o ~ M 'iii ~ e Z"" Cct olI :2::3 N ::::. Ia 1000 ..... . c:C ..rg c 2 ro .!! :3 :E ':I 1"\ :::E: ~ .... E 0..0 ~ 2 m ~~ a.-I => ::J ra Ul c ... .g vi ~ ....__.. S . ::::.:1a= Ul cn«l~ -M ~ Cl) CL 6 . Ia e..... ':I ... lio=fI Ia ...!5! ra c: Ul co O II I'- ~ a . '...::: 0 Z .

Pada panjang efektif: • • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang.1.Perencanaan Teknik Perencanaan teknis jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota didasarkan pada 5tandar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi.2. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan 8elanja Negara dan perubahannva: c. yang hasilnya menjadi acuan daJam pelaksanaan penanganan jalan. Kegiatan pemeliharaan berkaia.t. 111. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik jalan atau jembatan. meliputl jenis pekerjaan: a. d. dll). permukaan perkerasan.2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. b. Khusus Tim Koordinasi Penyelenggaraan DAK Subbidang Jalan di tingkat provinsi dibantu oleh Balai/SNVT P2JJ untuk bantuan DAK jalan provinsi dan kabupatenjkota. Konstruksi Jalan III.3.6 (terlampir). menjelaskan bahwa koordinasi penyelenggaraan dilakukan secara berjenjang. Pemeliharaan Berkala Jalan Merupakan pekeljaan perbaikan dan pembentukanjpelapisan ulang permukaan yang diperlukan untuk menjaga agar permukaan jalan selalu dalam kondisi baik. 1. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI 111.3.3.2. III. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dilaksanakan dengan mengacu pada: dapat a.3. sedangkan bantuan DAK jalan kota metropolitan dibantu oleh SNVT P2JJmetro. retak. Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan BarangjJasa Pernerintah. Daftar Standar dan Pedoman yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Pelaksanaan Konstruksi III.1. ]8 .III. dana untuk penanganan jalan baik itu pemeliharaan danjatau peningkatan. Kegiatan Pemeliharaan Jalan Pekerjaan pemeliharaan jaian berpedoman pada Standar dan Pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum seperti Tabel 1. kemudian tingkat pemerintah provinsi. III. Menunjuk Permen PU tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan DAK Bidang Infrastruktur mengenai Koordinasi Penyelenggaraan. ambias. PembentukanjPelapisan ulang (agregat. Umum Setelah teralokasinya dana mulai dari Tingkat PusatjKementerian.6. campuran aspal).

pembersihan ruang milik jalan.2. jenis pekerjaan seperti kegiatan pemeliharaan rutin. amblas. dll): • Persiapan lapis pandasi diatas perkerasan lama (agregat. amblas. Pada panjang efektif : • Perbaikan permukaan perkerasan (Lubang. Pada panjang fungsional. Pada panjang fungsianal. dan pemadatan/ perkerasan lama • Perbaikan drainasejsaluran tepi jalan dan gorong-gorong. • Penambahan material bahu jalan menyesuaikan permukaan perkerasan. tepi jalan dan b.2. jenis pekerjaannya a. 2. perkerasan lama (agregat. Pada peningkatan meliputi: jalan jenls pekerjaan dan pengecatan kegiatan seperti berupa pelebaran. • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. • Pematongan rumput.dll). meliputi jenis pekerjan: a. Pekerjaan peningkatan juga dapat berupa peningkatan dari jalan tanah ke jalan kerikil/jalan aspal atau dari jalan kerikilfagregat ke jalan aspal. 19 . Rehabilitasi Merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap jenis kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain. retak. • Perataan/leveling aspaIjATB). Pada daerah pelebaran : • Persiapan tanah dasar/subqrade (galianjtimbunan tanahjmaterial dan pembentukanjpemadatan). perbaikanjpembersihan rambu/ perlengkaan jalan.campuran aspal/ATB). adapun jenis pekerjaannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan yang terjadi. retak. rambu/perlenqkapan jalan. • Persiapan lapis pondasi diatas (agregat. • Pelapisan permukaan aspal. Pada daerah perkerasan lama : • Perbaikan permukaan perkerasan (Iubang. b.• • • Perbaikan permukaan bahu jalan (penambahan material dan pemadatan/perataan): Pembuatan/Perbaikan dralnase/saluran gorong-gorongi Penggantian. III. Kegiatan peningkatan jalan. pemeliharaan rutin. Kegiatan Peningkatan Pekerjaan peningkatan jalan merupakan kegiatan penanganan jalan yang dapat berupa peningkatan/perkuatan struktur atau peningkatan kapasitas lalu lintas berupa pelebaran jalur lalu Iintas. campuran aspal/ATB).3. campuran • Pelapisan permukaan perkerasan aspal. • Penggantian. b.

3. e) Penggantian siar muai (sambungan star muai).3. Lapisan permukaan jalan pada jembatan memerlukan penggantian secara berkala. Ketebalan lapisan aspal tidak boleh melebihi 50 mm. a) Pengecatan ulang. Disarankan memakai HRS setebal 30 mm atau dengan lapisan semen tahan aus dan kedap air.2. j) Perbaiki longsor dan erosi tebinq. LapIsan aspal permukaan sebaiknya dikupas terlebih dulu dari lantai sebelum lapisan yang baru dipasang. abutment. • Penggantian.3. 111. penahan erosi dan perlindungan gerusan pada pondasi. b) Pelapisan permukaan aspal. pembersihan ruang miJikjalan. perbaikanjpembersihan rambujperlengkaan jalan. • Perbaikan drainasejsaluran tepi [alan dan gorong-gorong. c) Pembersihan menyeluruh jembatan. perbaikan kerusakan pada jembatan (pilar.3. d) Pemeliharaan pelekatanjlandasan. h) Jalankan bagian-bagian yang dapat bergerak.1.3. Permukaan aspal yang berada di atas lantai baja atau lantai beton akan tahan sekitar 5 tahun sampai 8 tahun sebelum memerlukan penggantian. dan penggantian lantai jembatan dan perbaikan oprit jembatan). Pada daerah diluar perkerasan : • Penambahan material bahu jalan dan pemadatan atau menyesuaikan pelebaran perkerasan. Pemeliharaan Berkala Jembatan Pemeliharaan berkala mencoba untuk mengembalikan jembatan pada kondisi dan daya layan yang mempunyai atau seharusnya dipunyai jembatan segera setelah pembangunan dan mencakup tipe kegiatan dibawah ini. i) Perkuat bagian struktural. III. • Pemotongan rumput. k) Perbaiki pekerjaan pengalihan aliran sungai. Kegiatan Pembangunan Pekerjaan pembangunan jalan rneliputi pembuatanjpembukaan jalan baru sesuai dengan kebutuhan lalu lintas yang diperkirakan dan mengacu pada standar teknis jalan dengan umur rencana minimal 10 tahun.3. III.c. Pekerjaan pembangunan ini tidak menyangkut pembebasanj permasalahan lahan danjatau yang melintasi hutan lindung. Rehabilitasijberkala jembatan meliputi perbaikan railing. g) Perbaiki pegangan sandaran dan pagar pengaman. Konstruksi Jembatan Untuk Kegiatan penanganan jembatan hanya diperuntukan bagi kegiatan rehabilitasijpemeliharaan berkala dan penggantianjpembangunan jembatan. f) Perbaharui bagian-bagian dan elemen-elemen kecil. dan pengecatan 20 .

jika diperlukan contohnya elemen lantai. sebagai. 111. dsb.6 DAFTAR BUKU STAN DAR DAN PEDOMAN BIDAN.3. dan sebagainya. Tabel 1.III...3. Penggantian keseluruhan jembatan merupakan pertimbangan terakhir dalam proses peningkatan prasarana yang ada. Tata Cara Pelaksanaan Lapis Tipis Beton Aspal untuk Jalan Raya. contoh : sambungan siar-rnual. bagian-bagian sekunder atau elemen pengaku.33. Kadang-kadang bagian struktur juga diganti.2. g.elagar memanjang secara individu. bangunan bawah dan bangunan atas. Pembangunan Jembatan Pembangunan jembatan baru rnellputl pekerjaan yang menghubungkan dua ruas jalan yang terputus akibat adanya rintangan atau pemindahan lokasi jembatan mulai dari pekerjaan pandasi. pembatas.3. Tata Cara Survai Kerataan Permukaan Perkerasan Jalan denqan Alat Ukur Kerataan NAASRA Tata Cara Pelaksanaan Lapis Pandasi Jalan dengan Batu Pecah Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Langsung untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Sumuran untuk Jembatan Tata Cara Perencanaan Teknis Pondasi Tiang untuk Jembatan Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/KerikiI Tata Cara Pelaksanaan Survai Kandisi Jalan Beraspal Tata Cara Perencanaan Persimpangan Sebidang Jalan Perkotaan Gambar Perencanaan Teknik Jalan Kabupaten Tata Cara Perencanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pandasi Ga'iarKayu Tata Cara Pelaksanaan Pembuatan Jalan di atas Tanah Gambut dengan Menggunakan Pondasi Galar Kayu ~NI 03-3424-1994 ~NI 03-3425-1994 SNI03-3426-1994 SN 103-2853-1992 SNI03-3446-1994 SNI03-3447-1994 SNI03-6747-2002 Pt T-Ol-2002~B 008fT/BM/1999 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ~NI 03-2843-1992 SNI 03-2844-1992 a 1fT/BNKT/1992 014/T/BT/1995 008/T /BM/1999 009/T/BM/1999 14 15 16 21 . Penggantian Jembatan Pekerjaan mengganti bagi'an elemen atau struktur yang telah rnenqalarni kerusakan berat dan tldak berfunqsl. perletakan.G JALAN NO 1 2 3 4 lUDUL STAttDAR/PEDOMAN NOMOR Tata Cara Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya ~NI 03-1732-1989 dengan Analisa Metode Komponen Tat:a Cara Perencanaan Permukaan Jalan.

737-1991 SNI 03-2843-1992 SNI03-2844-1992 Pd T-IO-200S-8 Pd T-11-2005-B 038jT /BM/1997 pt Tata Cara Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Tanah/ Kerikil Tata Cara Pelaksanaan Survai Kondisi Jalan Beraspal Penanganan Tanah Ekspansif untuk Konstruksi Jalan 5tabilisasi Dangkal Tanah Lunak untuk Konstruksi Timbunan Jalan (dengan Semen dan Cerucuk) Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antal' Kota Tata Cara Perencanaan Geometrik Persimpangan Sebidang Petunjuk Perencanaan Marka Jalan Geometri Jalan Perkotaan Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan Perencanaan Teknls Jalan Kabupaten Petunjuk Teknik untuk Perencanaan Jembatan Kabupaten Petunjuk teknis Perencanaan dan Penyusunan Program Jalan Kabupaten Panduan Perhibungan Analise Siaya dan Harga Satuan Pekerjaan Jalan. Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Kabupaten. Panduan Survey Kekasaran Permukaan Jalan Secara Visual T-02-2002-8 012/S/BNKT /1990 RSNI T-13-2004 013jT /8tj199S o 16/t/Bt/1995 SK.NO 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 I Kesalahan JUDUL STANDARI PEDOMAN NOMOR Umum Pelaksanaan Jalan dan Jembatan SNI03-1. No 77/KPTS/Db/1990 015jT /Bt/1995 30 31 32 024/T/Bt/1995 Agustus 1998 MENTERI PEKERJAAN UMUM.IRMANTO 22 . ttd DlOKO K.

Latar Belakang Petunjuk Teknis Subbidang Irigasi (termasuk reklarnasl rawa) sebagai lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur disusun dan diterbitkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan Umum.796 Ha. irigasi air bawah tanah. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi.222 Ha merupakan kewenangan provinsi. Dari total tersebut.1. dan irigasi tambak. Sedangkan beberapa turunan peraturannya antara lain: Peraturan Pemerintah No 20 tahun 2006 tentang Irigasi.469. dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan. Pemerintah kabupatenjkota berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1. 23 . 31. Peraturan Pemerintah No 43 tahun 2008 tentang Air Tanah.860 daerah irigasi dengan luas 3.305 hektar yang terdiri dari 815 daerah reklamasi rawa. irigasi rawa.000 Ha dan sistem irigasi dengan luas < 1.000 Ha yang !intas kabupaten menjadi tanggungjawab dan kewenangan pemerintah provinsi. pengaturan. Jaringan reklamasi rawa yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota seluas kurang !ebih 226. terdapat 33. Sesuai Keputusan Menteri Nomor 390jKPTSjMj2007.000 .568 Ha merupakan kewenangan kabupatenjkota dan 1. irigasi pompa. Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air. terpadu dan berwawasan Iingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat seperti yang diamanatkan dalam UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.LAMPIRAN 2: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG IRIGASI I. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas 1.000 Ha atau daerah irigasi yang bersifat lintas kabupatenjkota. pemerintah provinsi berwenang dan bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1.210 daerah irigasi dengan totalluasan 7.3.109 daerah irigasi dengan luas 1.000 Ha.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air mengatur kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah dan Pernerintah Daerah dalam pengembangan sistem irigasi. Undang Undang No.3.197 hektar yang terdiri dari 344 daerah reklamasi rawa. pemerintah provinsi dan pemerintah kabupatenjkota Menurut definisinya Irigasi adalah usaha penyediaan. dan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah provinsi adalah kurang Iebih 432. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dengan luas < 1. Pengeloiaan Sumber Daya Air dilakukan secara menyeluruh.000 .000 Ha dan yang utuh dalam kabupatenjkota menjadi tanggung jawab pemerintah kabupatenjkota yang bersangkutan. PENDAHULUAN I.423.195. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No 390jPRTjMj2008 tentang Penetapan status daerah irigasi yang pengelolaaannya menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah. yang pada pasal 59 (1) menyatakan bahwa Menteri Teknis Menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.

1. saluran pembuangannya. dan rehabilitasi jaringan irigasj di daerah irigasi. Maksud Penyusunan Petunjuk Teknis ini dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai acuan dan petunjuk dalam penyusunan perencanaan. pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi penggunanaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi dapat lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya sehingga penggunaan dana dapat menghasilkan infrastruktur jaringan irigasi yang ditingkatkan dan atau direhabilitasi dengan kualitas dan umur rencana sesuai yang diharapkan. irigasi air bawah tanah. Jaringan Irigasi adalah saluran. bangunan bagi. pemeliharaan. perencanaan teknis dan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan peningkatan serta untuk pemantauan dan evaluasi penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Subbidang Irigasi. pemograman. bangunan bagi-sadap. Jaringan Irigasi Sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari saluran sekunder. penyusunan program. Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi. 1. irigasi rawa. bangunan bagi. penggunaan dan pembuangan air irigasi. 24 .3.2. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya.Pemerintah menyediakan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur untuk membantu pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendanai pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan reklamasi rawa (tidak termasuk kegiatan 0 dan P) yang menjadi tanggungjawab daerah untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. 104. Pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan. pembagian. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini agar semua pihak yang terlibat dalam proses perencanaan.5. bangunan sadap dan bangunan pelengkapnya. saluran pembuangannya. Jaringan Irigasi Primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri dari bangunan utama. pemberian. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang dlperlukan untuk penyediaan.gasitambak. irigasi pornpa dan iri. bangunan bagisadap. Pengelolaan Jaringan Irigasi adalah kegiatan yang meliputi operasi. pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya rnellputi irigasi permukaan. Ruang Lingkup Petunjuk Teknis ini mencakup: • Pendahuluan • Perencanaan dan Pemrograman Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Penyusunan Program Penanganan Penyusunan Rencana Kegiatan (RK) • Perencanaan Teknik dan Pelaksanaan Konstruksi Umum Perencanaan Teknik Pelaksanaan Konstruksi 1. saluran induk/primer.

PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK) Mengacu pada kebijakan prioritas nasional. irigasi guna Peningkatan Jaringan Irigasi ialah kegiatan meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk pengelolaan air. 25 . yang ditujukan untuk mengoptimalkan fungsi dan manfaat jaringan reklamasi rawa.Pemeliharaan Jaringan Irigasi adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya. Daerah Reklamasi Rawa adalah kesatuan lahan yang dilengkapi dengan jaringan reklamasi rawa berdasarkan tahapan akhir pengembangan. alokasi DAK untuk Subbidang Irigasi ditujukan untuk mempertahankan tingkat layanan. Saluran Utama adalah saluran yang menghubungkan saluran tersier dengan sungai. Pengelolaan laringan Rektamasi Rawa meliputi kegiatan operasi. memantau dan mengevaluasi. mengumpulkan data. menyusun system golongan. Pengembangan laringan Reklamasi Rawa meliputi kegiatan pembangunan jaringan baru dan peningkatan jaringan reklamasi rawa. menyusun pola tanam dan rencana tata tanam. Saluran Tersier adalah saluran yang berhubungan langsung dalam pelayanan air dengan lahan pertanian. pemeJiharaan dan rehabilitasi jaringan reklamasi rawa. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. termasuk jaringan reklamasi rawa dan jaringan irigasi desa yang menjadi kewenangan kab/kota dan provinsi khususnya daerah lumbung pangan nasional dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah bidang ketahanan pangan. bangunan dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan fungsi yang diperlukan untuk pengelolaan air di daerah reklamasi rawa. Rehabilitasi Jaringan Irigasi adalah kegiatan perbaikan jaringan mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula. Sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan DAK. Jaringan Reklamasi Rawa adalah saluran. Daerah Rawa adalah areal rawa yang dibatasi garis sempadan rawa Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan manfaat rawa melalui teknologi hidraulik dalam bentuk jaringan reklamasi rawa. Operasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya pengaturan air termasuk membukamenutup pintu bangunan air. yang terdiri antara lain saluran sekunder dan saluran primer. Pemeliharaan laringan Reklamasi Rawa adalah upaya menjaga dan mengamankan jaringan reklamasi rawa agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar operasi dan mempertahankan kelestariannya Rehabilitasi Jaringan Reklamasi Rawa adalah upaya memperbaiki jaringan reklamasi rawa untuk mengembalikan fungsi dan kinerjanya seperti yang direncanakan. dan membangun prasarana sistem irigasi. II. maka kegiatan-kegiatan Subbidang Irigasi yang dapat didanai dengan OAK adalah kegiatan fisik yang masuk kategori Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi serta pembangunan baru yang selektif yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. menyusun rencana kegiatan operasi. mengoptimalkan fungsi.

Rehabilitasi. untuk kemudian digunakan dalam penanganan (rehabilitasi dan peningkatan) jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) sesuai dengan kewenangannya masing-masing. 2. Peningkatan.asi tersebut kernudlan dialokasikan kepada provinsi dan kabupatenjkota. Ini dilakukan untuk mendapatkan data jumlah. bilamana jaringan irigasi yang menjadi kewenangan provinsijkabupatenjkota sudah berfungsi dengan batk. Adapun kewenangan pengelolaan jaringan irigasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.2. luas. Oaerah Irigasi COl) dengan luas 1000 Ha sampai dengan 3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab provinsi dalam pengel. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan kabupatenjkota maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA KabupatenjKota.Untuk mencapai tujuan Alokasi OAK Subbidang Irigasi tersebut. dan dibuat suatu rangkaian rencana aksi yang tersusun dengan skala prioritas. maka (i) jika daerah irigasi tersebut kewenangan provinsi maka kabupaten/kota tersebut harus mendapat persetujuan dari Dinas PUjPSDA Provinsi. Subbidang Irigasi arah pemanfaatannya adalah sebagai berikut: 1. maka alokasi OAK 2. Penyusunan Usulan Jaringan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Prioritas Berdasarkan hasil inventarisasi dilakukan survey identifikasi permasalahan dan kebutuhan rehabilitasi/pemeliharaanjpeningkatan secara partisipatif. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka kabupatenjkota tersebut harus mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Sumber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Balai Wilayah Sungai Terkait. Penyusunan data dasar ini mengacu pada form data dasar prasarana jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa). II. Inventarisasi jaringan irigasi dilaksanakan setiap tahun.2. dan 3. OAK ditujukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yang sudah ada. Penyusunanan Daftar Jarinan Irigasi (Termasuk Jaringan Reklamasi Rawa) Kegiatan penyusunan program penanganan diawaJi dengan kegiatan inventarisasi jaringan irigasi. Pembangunan baru yang selektif. (ii) jika daerah irigasi tersebut kewenangan pusat maka provinsi tersebut harus mendapat persetujuan dari Oirektorat Jenderal Surnber Oaya Air dan mengkoordinasikan usulan tersebut dengan Salai Wilayah Sungai Terkait.1. 11. 3. Jika kabupatenjkota mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang Irigasi untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya. Penyusunan Program Penanganan 11. Alokasi OAK Subbidang. Daerah Irigasi (D!) dengan luas >3000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab Pusat dalam pengelolaannya.2. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi dan Kepmen PU No 390jKPTSjMl2007 adalah sebagai berikut: 1.2. Jika provinsi mengusulkan pemanfaatan OAK Subbidang IrigasI untuk menangani kegiatan di daerah irigasi yang bukan kewenangannya.olaannya. Irig. 26 . dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi. Oalam menentukan kriteria penanganan (rehabilitasijpeningkatan) dilihat dari kondisi kerusakan fisik jaringan irigasi. Untuk menilai kondisi kerusakan fisik. Oaerah Irigasi (01) dengan luas <1000 Ha menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupatenjkota dalam pengelolaannya. dilakukan dengan menentukan indeks kondlsi jaringan irigasi. lokasi.

Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Meskipun telah dilakukan Operasi dan Pemeliharaan yang sebaik-baiknya. atau di bendung yang mercunya terbuat dari bronjong dilakukan peningkatan mercunya menjadi pasangan batu sehingga dan tampungan air lainnya 27 . • Saluran (induk. Kegiatan Peningkatan Jaringan Irigasi Pelaksanaan kegiatan Peningkatan jaringan Irigasi hanya dilaksanakan pada Daerah Irigasi. dll). • Bangunan utama (bendunq/lntake. got. sedangkan pada Daera Rawa tidak ada kegiatan Peningkatan jaringan irigasi. jembatan dan jalan inspeksi. dll).2. Apabila indeks kondisi suatu jaringanirigasi tersebut diarahkan untuk direhabilitasi. saluran drainase. sehingga diharuskan untuk dibuat saluran pasangan batu. di bawah 60 maka jaringan irigasi Adapun kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan irigasi rawa) yang dapat diusulkan menjadi usulan program prioritas adalah sebagai berikut: II. • Bangunan pelengkap lainnya (bangunan baqi/sadap. dalam jangka waktu tertentu perlu dilakukan upaya-upaya rehabilitasi guna mengembalikan kemampuan lavanan jaringan irigasi sesuai dengan desain rencana. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah dana DAK untuk kegiatan rehabilitasi sistem irigasi yang menjadi kewenangan dan tangung jawab pemerintah daerah hanya dikhususkan untuk kegiatan fisiko Kegiatan rehabilitasi sistem irigasi secara umum dilakukan antara lain untuk jenis-jenis bangunan: • Bendungan/waduk/reservoir/embung/situ untuk keperluan air irigasi.2. talang. II.2. sekunder. maksimurn yang pernah dkapai atau sesuai dengan kondisi lapangan. siphon.2. pintu air. suplesi. goronggorong. secara alami jaringan irigasi cenderung mengalami penurunan tingkat layanan akibat waktu (umur prasarana dan sarana) sampai pada tahapan kritis tingkat layanan menurun tajam dari rencana semula yang berakibat pada penurunan kinerja. Untuk menangulangi hal tersebut. Rehabilitasi adalah suatu proses perbaikan sistem jaringan yang meliputi perbaikan fisik atau non-flsik untuk mengembalikan tingkat pelayanan sesuai desain semula. tersier. kantong lumpur.Indeks kondisi jaringan irigasi merupakan indlkator kondisi fisik jaringan irigasi yang dinyatakan dengan suatu angka dari 0 hingga 100. Kriteria penanganan berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi ini adalah sebagai berikut: • • Apabila indeks kondisi suatu jaringan iriqari di atas 60 atau sama dengan 60 maka jaringan irigasi tersebut diarahkan untuk pemeliharaan. Perencanaan peningkatan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi dilaksanakan oleh Dinas/Pengelola Irigasi bersama perkumpulan petani pemakai air (P3A.dll).) berdasarkan rencana prioritas hasil inventarisasi jarlngan irigasi dengan katagori rusak berat.1. primer. Tujuan pekerjaan peningkatan Daerah Irigasi untuk mengurangi kehilangan air pada saluran. pembuang/drainase.2. pintu bilas.

dan GP3A/IP3A. Penelusuran dilakukan bersama secara partisipatif antara Pengamat/ UPT/Ranting. RAB dihitung berdasarkan perhitungan volume dan harga satuan yang sesuai dengan standar yang berlaku di wilayah setempat. Sedangkan untuk pekerjaan perbaikan. Hasil survai dituangkan dalam gambar skets atau diatas gambar as built drawing. Penelusuran dilaksanakan setahun dua kall yaitu pada saat Penqerinqarr. Juru/Mantri. antara P3A dengan pemerintah diantaranya bagian mana bisa ditangani P3A dan bagian mana yang ditangani pemerintah melalui Nota Kesepakatan kerjasama. dicatat dan diklrim ke pengamat setiap akhir bulan. Hasil survey dan pengukuran ini selanjutnya digunakan oleh petugas Dinas/pengelola irigasi dalam penyusunan detail desain. Penelusuran Jaringan Irigasi Berdasarkan usulan kerusakan yang dikirim oleh juru secara rutin. Pembuatan Detail Desain Berdasarkan hasil survey dan pengukuran disusun rancangan detail desain dan penggambaran. Penyusunan rencana peningkatan jaringan irigasi meliputi: 1. Hasil rancangan detail desain ini didiskusikan kembali dengan perkumpulan petani pemakai air sebagai dasar pembuatan desain akhir yang dituangkan dalam berita acara. Selanjutnya Pengamat akan menghimpun semua berkas usulan dan menyampaikannya ke dinas pada awal bulan berikutnya. dan pada saat air normal (saat Pengolahan Tanah) untuk mengetahui besarnya rembesan dan bocoran jaringan. dilakukan penelusuran jaringan untuk mengetahui tingkat kerusakan dalam rangka pembuatan usulan pekerjaan tahun depan. I1. Inspeksi Rutin Dalam melaksanakan tugasnya juru pengairan harus selalu mengadakan inspeksi/perneriksaan secara rutin di wilayah kerjanya setiap 10 hari atau 15 hari sekali. se!ang air. Dalam rencana Pelaksanaan Peningkatan jaringan irigasi terdapat pembagian tugas. perbaikan berat maupun penggantian harus menggunakan alat ukur waterpass atau theodolit untuk mendapatkan elevasi yang akurat. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya Setelah mengetahui proqram-proqrarn penanganan apa saja yang akan dilakukan. untuk mengetahui endapan dan mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi di bawah air normal. Pengukuran dan Pembuatan Detail Desaln Perbaikan Jaringan Irigasi a).3. atau tali. 28 . Survey dan Pengukuran Perbaikan Jaringan Irigasi Survey dan pengukuran untuk pemeiiharaan jaringan irigasi dapat dilaksanakan secara sederhana oleh petugas dinas/penqelola irigasi bersamasama perkumpulan petani pemakai air dengan menggunakan roll meter. alat bantu ukur. selanjutnya dilakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya CRAB).2. 2. 3. Kerusakan ringan yang dijumpai dalam inspeksi rutin harus segera dilaksanakan perbaikannya sebagai pemeliharaan rutin. b). untuk memastikan bahwa jaringan irigasi dapat berfungsi dengan baik dan air dapat dibagi/dialirkan sesuai dengan ketentuan.menambah debit air (memaksimalkan) yang tersedia atau yang tadinya Irigasi Sederhana menjadi irigasi Semi Teknis.

Nama Daerah Irigasi. Kelompok Kegiatan. bangunan terjun. Diisi berapa alokasi biaya dari Dana Alokasi Khusus dan Dana Pendamping OAK (minimum 10% dari alokasi DAK tahun berjalan) serta total biaya yang diperlukan untuk tiap-tiap jenis kegiatan/paket pekerjaan. 3. bendung. 2.II. dengan mencantumkan bagian dari jaringan yang direhab/ditingkatkan. Siaya. II.4. talang. 6. dan lain-lain. Volume Kegiatan. bangunan pengatur (bagijsadap/bagi-sadap).3.2. Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana Kegiatan berikut: (RK) sekurang-kurangnya mencakup informasHnformasi sebagai 1. 5. 4. Satuan. Berisi volume dari nap-nap jenis kegiatan/paket pekerjaan. Kelompok kegiatan dapat berupa: rehabilitasi dan peningkatan jaringan. Penentuan Program Penanganan Penentuan program penanganan dilakukan dengan memperhatikan prioritas penanganan (berdasarkan indeks kondisi jaringan irigasi) dan juga Rencana Anggaran Siaya. kantong lumpur. saluran pembuang. Merupakan satuan ukur dari volume kegiatan. Hasil penentuan program penanganan ini kemudian disusun dalam bentuk Rencana Kegiatan (RK). Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Irigasi 29 . Bagian dari jaringan tersebut dapat berupa: saluran primer/sekunder. Jenis Kegiatan/Paket Pekerjaan. Jenis kegiatan/paket pekerjaan merupakan uraian dari kelompok kegiatan. Program dengan prioritas tertinggi dan dengan Rencana Anggaran Biaya yang realistis tentunya akan mendapat prloritas utama. pintu penguras.

. '<T' :~ .Z ... ""'E... VI ~ a...n1tlG:: c E ..........: ........5 III ..n e a.Q ro Ai =a :~ :~ =a =a '<T'~ E: ¢~ .... iU c 'C .... G c 0:'::': . e 'C '" . 'iii c CII Ia >...j. .~ U'l ._ ~QlIII 13. .. :i < ~ III ~ .: ItI C 'a. ~ '...a n:I III >- ..< . ~ ~ (f) cu .5 III III Ec c til CII .. ::!: ....). 0 'C' <V 'C' II:] cu 'C' ro '5. r....!: :c c ~i 0 z Z = ... a u :.s ..c:: f'IJ 0 :i2' f'IJ .:::.. . III 'a :elii 1111:1 E 'C' CII 0...... l: ZW ..... E w ~ (f) ~ :!Zi ::a: . E II:] .. 00 f-- '" = z . e m DD 'iij :::I <V I VI j . ItIC::o.: 0 .....c rn III .w I a.Q a :. E ..... zCl w E Z Ia 'iii ::! "S III III :I :..). j J:I... rtI :J2l c:c e ~ ~ .........."0 ~...... .~ CII D.)..!: E rt:I 0 iii 1:1 :c ~ gtj <C .I ::I rtI a.. :J c ro c ::I OJ C II:] c:c f'IJ fil OJ .. ** C .."!:::::!' Q..... III e n:I 1:1 III III :::I C ..:! 9E <.0 r.... ...J!2 Vl c .n ~ g :....§! til ... Vl & . ... r.. n:I c QI <C Cl M:!i! ~...< c <V :::I "0 C ::a: N .............. Will :c N s % c ~... :a .IS c c CI it: 1:1 C It! III c: ro ::I~ .IS ~ C III c <~ Xc( < ..... . III {2 c n:I E n:I J ..)... E a ~ E . c: ....' III M .......c :g '" 0>- cu ._ . ~~.:: .....:: 2E 2 ...10 n:I - .. CII_ CII B ....._ ... Lf'l 'c CII C Ia C rt:I io~ ..._.... :::I 0 ("') Q.. .. '" rtJ c 'S a.. Lf'l~ c cu :::I 't:l . ._ .._ ....J!2 ~ :c N =a '::I f'IJ ] ro a c '2: ~ C cu ~ C §J!i ....i ...12 QJ C 'S' .c .... :::I . lie" 1'11~ .. 'S: '" Lf'l e en r... 0 :I r-...i: f'IJ L- a..IS 10 1:1 £0 :..... ::l II:] a.. III . ...._..< OJ c..:1Il .... en . a.... J!i .. loot c <V P' 'Uj . :::I en c :::I ~ c en C :::I .J ...t! III....:: ..0 Z v .....i ..< :c f'IJ s: cu a:: ~ :::I "0 z w J:I..0 n:I .. M "':::I~ 1t11ij l:1Il:.~ :::I .. .n C m QJ ... c: s: tn . ~ O'l ~~ III iii~ <:I 0 !- g ... ... ci .. E a "0 :... ::a: w g III :....0 .. rc c ~ c ~ :::I ro (f) v .c VI 'Uj ....!!! ~ III ~ ::!: :I . C . III III D.. I:G :I x :I ~ .::) .....e E II:] 'ffi "0 a...

e III QI C 0:: 19 C C Z II! 'iii III .... ::: ~1~~--~~~~--~-+--+--+--4-~~~ g8 II! a ~.....c ... II! 'D C III ::::I (""\ j ~ .. ::::I C l!! QI QI g.. III .e .....::..' :3 ~ :&: :::I ::c S N . '5..c II! 01 ::::I III ro 2... ..a ~I-------~I~~~--~--+---r---~~---...... In ::::I III ~ «I ~ ..: ro P ro :::I (JJ __ -~ ...... C.... «I 'D II! :J LI'I '" ..~I---':""".c . ..Q :J ~~~ LD...II! C C.£ is '..o 0..... 'S.c . 'iii c s C «I :e: ::::J 1""1 :3 . (JJ ro .10 ".. ....~E 'DW . c ..::c ~ -. . ..... "'c". .. «I C r:J III Q. ro :::I Q) . D. E II! II! ~ III '51 :i QI . .._. GJ . c:. ".-lf-lI---+--+----1--I--+--I---1 ge eel!! z W D. ::::12 ro :J 0.!:9 "'~ ::::I ___ 10 c: ..9 Q (II E III iii 'D . (II C...a III f--- c r:J >- 01 'I: 'iii 'D C ClJ II! co 'iti Q) c ~ :J ~ ~ '5' -._ IJ)ro.-.:: ~ ::::J III . .........l!! * . . c: co N·_ E:!.. .._ ro ... . ....._ 0 ... ~ 0.. .... c 10 ro Q) o..... ... vi >- 'Ii: 'ji ...J E iti (JJ o..... w_ III~ !~ ::::IQI c C...a s II! II:! III C . to . .E -:r.0... -'" LI'I E (JJ ~ ._.---... C II! C III «I III (II C ..0 Qj . 'I: III ItI ia {2 C 01 tJ1 C E E -2 j fI ItI III '61 'D III ..... co 2 ro '. ~. _!]:I '6 J::.:.. c 01 C . ..""" . ::J ~~.ui co>ro.... U] a c............fU~ ~ ro ro--'" c:... -::::I ·co «I'D C ~ d z .. ItI ItI ~ ._._ to 0::": . II . ** : i:ii:t .0 '0 0. 0E E o E o ~ ~ ~ s ::::I c 01 C . III 'c _!]:I E u c: '" E Ul ~ ~ .a g .c ~ .a .._ 1'... E l!! !II WW :e . r:J s 0D -'" ....LI'I .

jenis kegiatan. jum!ah tenaga. III. 1.3. Ill. Pelaksanaan Konstruksi III.3. kemudian dilakukan pelaksanaan konstruksi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang menggambarkan lokasi. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi suatu jaringanirigasi secara umum tidak berbeda d. Kegiatan Rehabilitasi Untuk kegiatan rehabilitasi suatu jaringan irigasi dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material darilokasi setempat. III.2. Perencanaan Teknik Perencanaan teknis Jaringan irigasi (terrnasuk jaringan reklamasi rawa) provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada standar dan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.3. Metoda Peiaksanaan III. 3. Pekerjaan rehabilitasi yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3AjIP3A/petani setempat. III. jems pekerjaan. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarlkan pemecahan permasa!ahannya. b). Persiapan Pelaksanaan Rehabilitasi Sebelum kegiatan rehabilitasi dilaksanakan perlu dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3AjGP3A/IP3A.l. bahan.3. 8erdasarkan dokumen hasil perencanaan teknik ini. Kegiatan Peningkatan Untuk kegiatan peningkatan suatu jaringan irigasi tidak termasuk reklamasi rawa dapat dilakukan secara kontraktual atau secara swakelola sebaiknya melibatkan masyarakat petani di wilayah jaringan irigasi (termasuk reklamasi rawa) bersangkutan serta sebanyak mungkin memanfaatkan bahan dan material dari lokasi setempat. Pelaksanaan Rehabilitasi Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis.3. peralatan yang akan digunakan.2. Umum Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi mengacu pada Norma Standar Pedoman dan Manual (kriteria) yang telah ditetapkan dilingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.1. Setelah teralokasinya dana DAK untuk penanganan jaringan irigasi (termasuk jaringan reklamasi rawa) baik itu rehabilitasi maupun peningkatan.engan pembangunan baru. rencana biaya dan waktu pelaksanaannya. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktua1. Dalam perjanjian kontrak antara 32 .1.2. tentang waktu.III. sifat rehabilitasi dan tingkat kesulitannya.2. maka proses berikutnya adalah melakukan kegiatan perencanaan teknik kegiatan rehabilitasi dan peningkatan. III. a). sesuai kemampuannya.1. 1.

III. peralatan yang akan digunakan. a). sesuai kemampuannya. Pekerjaan peningkatan yang akan dilaksanakan secara swakelola harus melibatkan P3A/GP3A/IP3A/petani setempat. upah kerja dan halhallainnya.3. Disusun dalam paket paket pekerjaan yang 33 . 111.2. namun dalam proses pelaksanaan apabila dijumpai permasalahan maka harus dicarikan pemecahan permasalahannya. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. Pada prinsipnya pelaksanaan pekerjaan peningkatan suatu jaringan irigasi (tidak termasuk reklamasi rawa) secara umum tidak berbeda dengan pembangunan baru. b).Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • Kontraktor harus kemampuannya.3. Pekerjaan yang akan dilaksanakan secara kontraktual. bahan. Pelaksanaan Peningkatan Setelah melalui tahapan penyusunan prioritas dan rencana Kegiatan dan selesai proses perencaaan teknis. pelaksanaan rehabilitasi tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. Persiapan Pelaksanaan Peningkatan Sebelum kegiatan peningkatan dilaksanakan per!u dilakukan sosialisasi kepada petani pemakai air sebagai anggota P3A/GP3A/IP3A. sifat peningkatan dan tingkat kesulitannya. melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai • Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia. Pelaksanaan Rehabilitasi Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3A/GP3A/IP3A dalam melaksanakan pekerjaan rehabilitasi wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh Dinas/Pengelola Irigasi. maka selanjutnya adalah kegiatan pelaksanaan.3. • adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3A/GP3A/IP3A mengenai jam kerja.1. jenis kegiatan. 111. tentang waktu. Dinas/Pengelola Iirigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor.2.3. perlu adanya bimbingan teknis. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3A/GP3A/IP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan. jumlah tenaga. Setelah pekerjaan rehabilitasi selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan rehabilitasi telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik.3. artinya peJaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dan giliran air.

3. pelaksanaan peningkatan tidak mengganggu kelancaran pembagian air untuk tanaman. jenis pekerjaan. perlu adanya bimbingan teknis. upah kerja dan hal-hal lainnya. sebagai kontrol sosial P3A dapat berperan secara swadaya mengawasi pekerjaan. Adanya kesepakatan bersama antara kontraktor dengan P3AjGP3AjIP3A mengenai jam kerja. Da!am perjanjian kontrak antara Dinas/Pengelola Irigasi dengan kontraktor perlu dicantumkan ketentuan yang mengikat antara lain: • • • Kontraktor harus kemampuannya.menggambarkan lokasi. Setelah pekerjaan peningkatan selesai dikerjakan harus dibuat berita acara bahwa pekerjaan peningkatan telah selesai dilaksanakan dan berfungsi baik. melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai Kontraktor harus menggunakan tenaga kerja setempat kecuali tenaga kerja tersebut tidak tersedia.3. Pelaksanaan Peningkatan Pelaksana swakelola dan kontraktor serta P3AjGP3AjIP3A dalam melaksanakan pekerjaan peningkatan wajib memahami dan menerapkan persyaratan teknls yang telah ditetapkan oleh DinasjPengelola Irigasi.2. Dlnas/Penqelola Irigasi wajib menyampaikan kepada masyarakat pemakai air mengenai rencana pengeringan paling lambat tiga puluh hari sebelum pelaksanaan pengeringan. rencana biaya dan waktu pelal<sanaannya. artinya pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal pengeringan dangiliran air. ttd ClOKO KIRMANTO 34 . Untuk pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor. III. MENTERI PEKERJAAN UMUM. Untuk pekerjaaan yang dilaksanakan secara swakelola yang melibatkan P3AjGP3AjIP3A sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang dipersyaratkan.

Hal tersebut mempertimbangkan agar prasarana air minum yang dibangun dapat dikelola oleh masyarakat pengguna itu sendiri dalam skala komunal. 1. Besaran alokasi DAK ditentukan berdasarkan kriteria umum. bersifat mudah dan ekonomis dalam pembangunan. Menteri Teknis Penggunaan DAK. cakupan pelayanan SPAM di perdesaan hanya 8%. memotivasi Pemerintah untuk memfasilitasi pembangunan dan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) khususnya bagi masyarakat perdesaan yang notabene merupakan masyarakat dengan tingkat pelayanan SPAM terendah.LAMPIRAN 3 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2010 TANGGAL : 01 November 2010 PETUN1UK PELAKSANAAN SUBBIDANG AIR MINUM I. baik untuk aparat pemerintah terkait maupun untuk masyarakat sebagai aktor utama pelaksanaan program. khusus. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan bahwa: • • • DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional. meliputi minum. perhitungan. 1. Ruang Lingkup Dalam melakukan pemilihan kegiatan DAK subbidang air melakukan review atau kajian terhadap sistem eksisting atau Petunjuk teknis inl menjelaskan kriteria. tahapan yang diperlukan pembangunan baru dan 35 . operasional dan pemeliharaan serta pengelolaannya. dan ketepatan dalam pembangunan prasarana air minum sederhana sehingga prasarana yang dibangun dapat dimanfaatkan secara andal dan berkelanjutan. Maksud Sesuai Peraturan Pemerintah No. dengan demikian akan diperoleh arah. Tujuan Petunjuk teknis ini bertujuan untuk menjamin kesesuaian. maka perlu diberikan acuan petunjuk bagi para pelaksana program. Memperhatikan bahwa prioritas lokasHokasi yang akan menjadi lingkup pelaksanaan adalah desajkelurahan yang belum pernah mendapat pelayanan air minum secara formal (pelayanan oleh perusahaan daerah air minum setempat).2. Latar Belakang Kewajiban Pemerintah dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia. Sesuai dengan data BPS. ketertiban.1. PENDAHULUAN I. Berdasarkan Penetapan alokasi OAK. Penyediaan air minum untuk kawasan kurnuh perkotaan. yaitu menurunkan separuh proporsi penduduk yang belurn terlayani fasilitas air rninurn. Selain itu. serta teknis. Menter! teknis menyampaikan Kriteria Teknis yang dirumuskan melalui indeks teknls. data dan dalam perencanaan prasarana air minum sederhana. 104. pengertian dan pengetahuan yang sama dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. permukiman nelayan dan perdesaan dapat dilakukan melalui sistem penyediaan air minum dengan teknologi sederhana (untuk selanjutnya disingkat Air Minum Sederhana). terlebih dahulu sistem yang sudah ada. Pemerintah 'juga terpacu untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) Tahun 2015.3. menyusun Petunjuk Teknis Petunjuk teknis ini dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada para pelaksana dan pihak terkait lainnya dalam penyelenggaraan perencanaan prasarana air minum sederhana. seperti air minum.

Oleh karenanya kegiatan pada Subbidang Air Minum merupakan salah satu kegiatan yang berhak mendapatkan alokasi dana DAK dari APBN. 5. 1. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAMmerupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. dan unit pemanfaatan sesuai lingkup program. rnenqelola. dan produktif. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan. Berdasarkan pernyataan di atas. keuangan. setelah berkoordinasi dengan Kementerian teknis terkait. Petunjuk Teknis Pembangunan Pompa Hidram. Oleh karena itu 36 . Petunjuk Teknls Pembangunan Hidrarn Umum. syarat kegiatan yang dapat didanal DAK adalah kegiatan yang sesual dengan prioritas nasional. Pembangunan infrastuktur baru meliputi perencanaan bangunan pengambilan air baku. II. peran masyarakat. dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.perluasan jaringan pelayanan. Ketentuan lainnya mengenai kegiatan yang dapat didanai DAK adalah kegiatan tersebut harus diusulkan daerah yang berhak mendapatkan alokasi DAK. Pengertian 1. (b) mendanai kegiatan khusus yang diusulkan daerah tertentu. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu dalam rangka pendanaan pelaksanaan desentrallsast untuk (a) mendanai kegiatan khusus yang ditentukan pemerintah atas dasar prioritas nasional. Kegiatan penyediaan air minum merupakan kegiatan pada Bidang Infrastruktur yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu prioritas nasional. Petunjuk Teknis Operasional dan Pemeliharaan. merehabilitasi. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun. rnemetihara. memantau. melaksanakan konstruksi. Adapun besaran alokasi dana DAK ini ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. 4. manajemen. Petunjuk Teknis Pembangunan Sumur Dalam (SATD) komunal. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.5. 2. dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. Petunjuk Teknis Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS)i Petunjuk Teknis Pembangunan Bangunan Pengambilan Air Baku. memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik(teknik) dan non fisik (kelembagaan. perplpaan. perpompaan. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN ILL Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (DAK) Merujuk pada Pasal 162 ayat 1 UU No. unit pengolahan. bersih. Seeara rinei petunjuk teknis air minum sederhana ini agar menggunakan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana yang antara lain terdiri darl: Petunjuk Teknls Pembangunan Penangkap Mata Air (PMA). Petunjuk Teknis Pemasangan Perpipaan. 3.

d. Penyusunan Daftar Fasilitas SPAM Dalam mempersiapkan program. Adapun fasilitas-fasilitas yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah jenis prasarana sistem penyediaan air minum berdasarkan jenis sumber air baku. 37 . Mata air: Perlindungan Air tanah i. Sistem PengolahanAir vii. dilakukan identifikasi usulan program prioritas.2. Sambungan Selain inventarisasi fasilitas SPAM yang ada. perlu dilihat apakah sudah ada pengembangan SPAM atau belum.Pemerlntah Pemerintah daerah harus mengajukan usulan kegiatan yang akan didanai oleh DAK l<epada Pusat. Sumur GaiL c. Perlu dilakukan inventarisasi/penyusunan daftar fasilitas pengembangan SPAM yang ada. Rumah Murah. c. Sumur Pompa Tangan. Penyusunan 1I. Ii. Unit Distribusi Perpipaan. Pompa Hidram. dengan topografi dimana wilayah pelayanan lebih Unit pelayanan yang terdiri dari: l. 1I. perlu dilakukan juga inventarisasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM.2. Adapun langkah-Iangkah pengajuan usulan dijelaskan dl bawah inl.2. Gambut. Saringan Pipa Resapan (SPR). beberapa prasarana sebagai kelengkapan dari SPAM yang perlu diidentifikasi berupa: a. Paket Instalasi Pengolahan Air (IPA). Prasarana tersebut adalah sebagai berikut: a. Ii. Instalasi Pengolahan Air Mlnum Sederhana (IPAS) lii. Air hujan: Penampungan Air Hujan (PAH) Selain unit produksi sebagaimana hal tersebut di atas. Penyusunan Usulan Program Prioritas Setelah melakukan penyusunan daftar fasilitas yang ada saat ini dan identifikasi daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM. IV. Terminal Air. Program-program Subbidang Air Minum yang dapat diusulkan untuk dibiayai DAK Bidang Infrastruktur pada saat ini. Mata air ePMA) iii. b. Program Penanganan n. terbatas hanya untuk program-program pembangunan fasilitas SPAM baru pada daerah-daerah yang memenuhi kriteria. Hidram Umum. vi. Reverse Osmosis eRO) untuk air asin. v. Daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas SPAM ini akan mendapat prioritas untuk pembangunan fasilitas baru.1. Perpompaan untuk sistem tinggi dari unit produksi. Sumur Air Tanah Dalam (SATD). Air permukaan i. ii. iii.2. b. Destilasi Atap Kaca (DSAK) untuk air asin.

5. Tujuan dan sasaran. ditentukan Penentuan program (pembangunan baru) tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik dan sumber daya yang ada di daerah perencanaan tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas pelayanan air minum yang direncanakan. Nama paket kegiatan.1. fasilitas SPAM baru. dapat dilihat pad a Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Format Rencana Kegiatan Subbidang Air Minum.a. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupaten/kota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati.2. 4. Jenis keqlatan: 2. Nama lokasi. pengembangan air minum. Daerah rawan sanitasi. disusun dalam bentuk 3. 11. Penentuan Program Penanganan kualitas dan kuantitasnya. Jarak dengan sumber air. termasuk Kondisi topografi. Volume kegiatan. 38 . Daerah rawan penyakit. Usulan program pengembangan SPAM Sederhana kemudian Rencana Kegiatan (RK) yang mencakup informasi sebagai berikut: 1.Usulan program pembangunan kriteria-kriteria berikut ini: Daerah rawan air. Proses seleksi program pada Gambar 3. hendaknya memperhatikan Jenis prasarana yang tepat untuk suatu wilayah rencana pelayanan dengan mempertimbangkan parameter-parameter sebagai berikut: Jenis sumber air baku. dilakukan sesuai diagram ahr n. Perkiraan alokasi DAK dan dana pendamping. Daerah terpencil. Daerah rniskin: Aksessibilitas.3.3. 6.

o N '5 .c: j9 Q) :a: C'l C Q) .

Tata cara pengukuran debit air baku dapat dilihat pada pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. . langkah selanjutnya adalah memilih prasarana SPAM sebagai solusl teknis yang sesuai dengan kondisi setempat.III. Penentuan Kebutuhan Air Kebutuhan air minum yang diperlukan untuk suatu daerah pelayanan ditentukan berdasarkan 2 (dua) parameter. 2. C.Tingkat konsumsl air.Jumlah penduduk. B. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selanjutnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Perencanaan teknik prasarana SPAM harus mengacu pada pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum diantaranya adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Namor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. Peraturan Menter! Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2009 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. Pengukuran debit air baku dilakukan untuk menghitung patensi sumber air yang akan digunakan. Umum Setelah alokasi dana ditetapkan serta pemilihan program sudah dilaksanakan.2. Air hujan.1. III. yaitu: . 40 . Perencanaan Teknik 1. Air permukaan. D. Mata air. PERENCANAAN TEKNIK DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI II!. 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM dan pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Prasarana Air Minum Perpipaan Sederhana yang diterbitkan oleh Ditjen Cipta Karya. Pengukuran Debit Air Baku Sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku meliputi: A. Air tanah.

til ttl C 41 "E '" '<j" OIl 'w c: ::> ::l E II> a.=.s ...!Y :2 '1l m E E 'til .8... . .. E :::I . E <II a.. o .... __E-m ..t:II .: '" ~ ~ a.a ~ >'= ... ... '" c:. u "C 00 .5 2: '" :( .. '0 j:: .0 E "" '" '" F . .. E ::> .:.: '" = :§ <'<I = =-~ 0:: 'f . "'" F 'Q ~'C ~ii .. ~ ~ rn c = .:.. E ::<:: c: to 0> c: to .." 'a! ..S ....." ~~ fiji: :!_" 2 E E ::J c ~ 'iii ~ "" != ..~ .. "'" j:: " ..: '" .. '" .

4. klmlawl. kualitas dapat ditinjau dari parameter-parameter • • • Rasa: Kekeruhan. Unit pelayanan. Operasi dan pemeliharaan • • • • Operasi. III. d. c. baku Unit Distribusi Perpipaan. Pelaporan. b. Pemeriksaan Kualitas Air Baku Pemeriksaan kualitas air baku dilakukan terhadap kualitas fisik. di lapangan. 907/MENKES/SK/VII/2002 atau perubahannya. Perpompaan. Pe!aksanaan Kanstruksi II!. dan mikrobialagis. Hasil yang akurat dari kualitas air baku dapat dlperoleh melalui pemeriksaan sampel air baku di laboratarium yang telah ditunjuk sebagai laboratorium rujukan. Metoda Pelaksanaan Pelaksanaan dilaksanakan kegiatan yang dibiayai dengan DAK Bidang Infrastruktur dengan cara swakelola atau kontraktual. 82 Tahun 2001. 42 dapat . Pemellharaan. sedangkan untuk persyaratan kualitas air minum sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.3. Standar kualitas air di peralran umum yang digunakan sebagai sumber air baku sesuai Peraturan Pemerintah No. e. Komponen prasarana dan sarana Perhitungan dimensi Spesifikasi teknis • • • Persyaratan umum. Cara pengerjaan • • Pekerjaan persiapan.3.1. Bahan. Pekerjaan konstruksi. Perbaikan/rehabilitasi. modul secara umum terdiri dari: Perencanaan teknis masing-masing a. Warna.3. Untuk pemeriksaan berikut: • Bau. Peralatan. Perencanaan Teknis Penyusunan perencanaan teknis sistematika sebagai berikut: • • • • Unit produksl yang pengolahan fisik/kimia dari alternatif salusi teknis disusun pengambilan air berdasarkan dan unit meliputi bangunan Uika diperlukan).

Peraturan . Keanggotaan dan susunan penqurus. mekanisme pemilihan. penyelenggaan pengelolaan prasarana air minum terbangun dilaksanakan oleh Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM). i<operasi merupakan badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 257 Tahun 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi.Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM. maka perlu dibentuk lembaga di tingkat masyarakat sebagai penyelenggara SPAM. yang terdiri dari oranq-oranq yang mempunyai keahlian yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan air minum. PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM TERBANGUN Untuk menjaga agar SPAMsederhana ini berkelanjutan. pengurus. 18jPRTjMj2007 dan Permen PU No.3.2. tugas kewenangan dan pengaturan lainnya berkenaan dengan OMS-AM ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) Organisasi Masyarakat Setempat-Air Minum (OMS-AM) adalah lembaga legislatif dari suatu wilayah pelayanan air minum dan merupakan nama generik dari lembaga di tingkat masyarakat. Untuk dapat menciptakan mekanisme pengelolaan yang bertumpu pada masyarakat. b. c. Ol/PRT/Mj2009. Koperasi Air Minum. e. khususnya sektor air minum. koperesi Air Minum Koperasi Air Minum merupakan bentuk lain dari OMS·AM. IV. serta ketentuan lain berkenaan koperasi alr minum ini diuraikan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAMSederhana. IV. Pedoman d. Kelembagaan 1. III. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000. dan Kelompok Pengguna dan Pemanfaat (KP2) Air Minum sebagaimana diuraikan pada bagian berikut. Pembentukan. sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.Pelaksanaan kegiatan tersebut harus mengacu pada: a. namun bentuk perkoperasian ini diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1995. 43 . Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Pengadaan BarangjJasa Pemerintah. Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) Kelompok Pengguna dan Pemanfaat Air Minum (KP2-AM) adalah badan pelaksana dan pengelola pelayanan air minum yang anggotanya ditunjuk oleh OMS-AM atau Koperasi Air Minum. Kewajiban dan hak. yang merupakan forum demokrasi dan wadah proses pengaambilan keputusan tertinggi yang mencerminkan aspirasi masyarakat pengguna air minum. Lembaga ini selain berupa lembaga legislatif juga lembaga pengelola dan pemelihara SPAM.1. 3. 2. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan perubahannya. Pelaksanaan Konstruksi Perencanaan dan pelaksanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum selengkapnya dapat dulhat pada Permen PU No. keanggotaan.

yaitu pengelolaan yang dilaksanakan oleh masyarakat pengguna itu sendiri.2. Kontribusi untuk RT (hila diperlukan). susunan pengurus. Prlnsip Dasar dan Aspek Pengeloiaan Berbasis Masyarakat Dalam upaya pemanfaatan prasarana dan sarana air minum yang berkelanjutan.Keanggotaan. e. mekanisme pernilihan anggota.3. b. aspek hukum dan hal-hal lalnnya diuraikan dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Perpipaan Sederhana. Uraian lebih lanjut tentang pengelolaan SPAM diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2007 dan PeraturanMenteri Pekerjaan Umum Nomor 01{PRT IM{2009. tugas. serta ketentuanlain berkenaan dengan KP2-AM diuraikan lebih rinci dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengembangan SPAM Sederhana. Biaya operasi dan pemeliharaan prasarana. Besarnya harga air rninurn tersebut harus lebih rnurah dart harga air yang harus dibayar oleh masyarakat sebelum dilaksanakannya pengembangan sistem penyediaan air minum tersebut. c. Membayar harga air minum. IV. dan kewenangan. Penetapan Besaran luran Penggunaan Air Lembaga pengelola mengadakan rembug warga untuk menentukan besarnya harga air minum per-m3 atau per-jerigen 20 liter dan 10 liter yang harus dibayar oleh masyarakat untuk keperluan antara lain: a. perlu dicciptakan mekanisme pengelolaan yang berbasis masyarakat. MENTERI PEKERJAANUMUM. Insentif kepada pemilik tanah (bUa diperlukan): d. Insentif kepada petugas pengelOia prasarana sesuai kesepakatan. aspek pengelolaannya. Oleh karena itu perlu dipahami prinsipprinsip dasar pengeJolaan. IV. ttd ClOKO KIRMANTO 44 .

LAMPIRAN 4

: PERATURAN MENTER' PEKERJAAN UMUM NOMOR 15JPRT/M/2010 TANG GAL : 01 November 2010

PETUNJUK PELAKSANAAN SUBBIDANG SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT (SLBM)
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Petunjuk Teknis DAK Sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sebagai Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana AJokasi Khusus Bidang Infrastruktur, dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, pada pasal 59 ayat (1) menyatakan bahwa Menteri Teknls menyusun Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum beserta Jampirannya tersebutdapat digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan OAK. Agar pelaksanaan penanganan infrastruktur sub bidang Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dapat menghasilkan kualitas yang diharapkan perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan petunjuk teknis yang sesuai dengan kebijakan pemanfaatan DAK ini, untuk itu maka petunjuk teknis sub bidang sanitasi lingkungan ini disusun. Sesuai dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pada Pasal 21 ayat (1) bahwa perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia; serta ayat (2) bahwa Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: (d) pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. Berdasarkan PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Air Minum pada Pasal 14 ayat (1) bahwa perlindungan air baku dilakukan melalui keterpaduan pengaturan pengembangan SPAM dan PS Sanitasi; serta ayat (2) bahwa PS Sanltasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi PS Air Limbah dan PS Persampahan. 1.2. Maksud Maksud dari penyusunan Petunjuk Teknis (Juknis) ini adalah menyediakan bahan sebagai aeuan bagi Pemerintah KabupatenjKota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) mulai dari tahap persiapan, pereneanaan, pelaksanaan konstruksi hingga pengelolaan (operasi dan pemeliharaan), dalam rangka meningkatkan pelayanan sanitasi skala kawasan di daerah perkotaan yang rawan sanitasi dengan penduduk berpenghasilan rendah. 1.3. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat sesuai dengan kaidah serta ketentuan teknis yang ada. 104. Ruang Lingkup Petunjuk teknis ini memuat pengertlan, perencanaan dan pemragraman, pengorganisasian pelaksanaan serta pembiayaan penyelenggaraan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang efektif, dan berkelanjutan secara tepat untuk kawasan kumuh perkotaan. 45

1.5.

Pengertian Sanitasi lingkungan berbasis masvarakat, adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat, terdiri dari (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal, (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3 R (reduce, reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.

1. Pengembangan

prasarana dan sarana air lirnbah komunal berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Pengertian air lirnbah dalam petunjuk teknis ini adalah air buangan yang be rasa I dari WC, kamar mandi dan dapur/ternpat cuei pakaian. Pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat terdiri dari tangki septik komunal, atau Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) atau sistem perpipaan air limbah komunal;

• Tangki septik komunal adalah tangki septik yang dibangun untuk melayani beberapa rumah yang berkelornpok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Setiap tangki septik kornunal melayani 5~10 KK. • Mandi Cuei Kakus Plus-plus (MCK Plus++) terdiri dari sejumlah kamar mandi dan WC, sarana cuci yang dilengkapi dengan unit pengolahan air limbah. Pengolahan air limbah yang digunakan adalah bio-dtqeste« dan baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic fi/teJjtangki septik bersusun dengan filter). Setiap MCK Plus++ melayani 100 KK. • Sistem perpipaan air lim bah kornunal adalah sistem yang menggunakan sistem pemipaan PVC dan unit pengolahan air limbah baffled reactor (tangki septik bersusun atau anaerobic filter/tangki septik bersusun dengan filter). Pipa biasanya diletakkan di halaman depan, gang atau halaman belakang. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 rn dan di titik-titik pertemuan saluran. Setiap sistem perpipaan air limbah komunal dapat melayani 100 KK. 2. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R adalah penyelenggaraan prasarana persampahan berbasis masyarakat yang meliputi kegiatan mengurangi (R1 :::: reduce), mengguna-ulang (R2 :::: reuse) dan mendaur-ulang sampah (R3 :::: recycle). • Kegiatan Mengurangi Sampah CR1) adalah upaya meminimalkan produk sampah. kembaii kembali sampah

• Kegiatan Mengguna-uiang sampah secara langsung.

Sampah CR2) adaiah upaya untuk menggunakan

• Kegiatan Mendaur-ulang Sampah (R3) adalah upaya untuk memanfaatkan sampah setelah melalui proses dan dilengkapi dengan prasarana pengangkut dan IPST (Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu), 3,

Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah penyelenggaraan prasarana drainase berbasis masyarakat yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Terdapat 2 pola yang dipakai:

• Po/a detensi (menampung
penampungan sementara

air sementara), misalnya dengan untuk menjaga keseimbangan tata air. antara lain dengan membuat kegiatan konservasi air. bidang

membuat resapan

kolam (Iahan

• Pola retensi (meresapkan),
resapan) untuk menunjang

1.6.

Prinsip-Prinsip

Penyelenggaraan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah :

Prlnslp Dasar DAK Sanitasi Lingkungan

1. Program

lnl bersifat tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan

46

ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. 2. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat, sedangkan peran pemerintah atau Swasta, hanya sebatas sebagai fasilitator. 3. Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan Iimbah, persampahan, drainase maupun bidang sosial. 4. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana, hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : Dapat diterima, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. 2. Transparan, pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. 3. Dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. 4. Berkelanjutan, pengelolaan keglatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan, yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna.
1.

II. PERENCANAAN DAN PEMROGRAMAN II.1. Kebijakan Pemberian Dana Perimbangan (OAK)
Mengacu pada kebijakan Kementerian Keuangan bahwa kebijakan bantuan DAK adalah mendorong penyediaan lapangan kerja, mengurangi jumlah penduduk miskin, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalul penciptaan sel-sel pertumbuhan di daerah. Mengalihkan kegiatan yang didanai dari dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang telah menjadi urusan daerah seacara bertahap ke DAK. Berdasarkan ketentuan yang disebutkan di atas bahwa untuk kegiatan yang dibiayai DAK akan dititikberatkan pada pembangunan baru. Program Pemeliharaan merupakan prioritas utama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah, sehingga sumber pendanaan pemeliharaan dibebankan pada APBD murni. 11.2. Penyusunan Rencana Kegiatan Penyusunan Rencana Kegiatan harus mengacu pada Rencana Program dan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) kabupatenjkota Bidang Cipta Karya yang telah disepakati. Format Rencana Kegiatan dapat dilihat pada Lampiran Tabel Rencana Kegiatan DAK Subbidang Sanitasi.

47

....
D. I--

E
ra

DD
~
c
..0

'iii

'co

III ~

= -ro <II
E
0
(J)

&
:::J -;:: n,
(J)

....

:J Vl

.lII:

....

~, ~

U)

,

e

~ I: {2.
ra .c ra

.fI
1"\

I:

ra

ra Z

E

;2
It! ~ ,_

'-

~

'! ~ ~--O-·--~I-~~--~~~~--+-4--+--~+-~-4--1 a '~
G. ~
z .....

S

r::

..
111'

......

(J)

-- 0 aJ D. >-~ ~ ...... It! :J ero c, c..."Oro "0

.- -_ Vi"~(J) 0.. It! ::::10 :::J ..__.. Vlt:; ...... ..0 III ..... C-l1J

rap

c: (J)

~

£? OJ .....

'0 ::.::

It!

.g'
...... ::.::: "co --.. •
~C
'-

vi

rn
Vl

J6
(J)

.... :::l

'-

C C I:C It! :::l :::l .._.. I:C

Vllt!..!!!

:::l

~~ 0..--

(J)

..... ~
Vl

Il.l .....

m.g

Rvi

~..o .- ro

:l

O~

2. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce).300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing.1. Fasilitas drainase. Modul ini merupakan modul yang disarankan. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. Perlu dilakukan lnventarlsasl/penvusunan data dasar mengenai daerah-daerah yang sudah maupun yang belum mengembangkan fasilitas sanitasi lingkungan. 11. pengembangan prasarana dan sarana dralnase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1.2. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah.300 juta 49 . 2. Adapun fasilitas-fasilitas sanitasi yang perlu diidentifikasi diantaranya adalah: 1. pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal.3. Fasilltas persampahan. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. perlu dilihat apakah di suatu daerah sudah ada pengembangan fasilitasi sanitasi lingkungan (air !imbah permukiman. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. 2. Penyusunan Usulan Kegiatan Prioritas Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air llrnbah komunal berbasis masyarakat. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunalberbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. 3. Fasilitas air limbah.3. terdiri dari: 1. dan unit pengolahan air limbahnya.3. persampahan dan drainasenya) atau be!um. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatlhan sekitar Rp. Modul B berupa 1 unit MCK PlUSH yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandl. Modul lni dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Penyusunan Data Dasar Prasarana Sanitasi Dalam mempersiapkan program. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air llmbah skala lingkungan (100200 KK).-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah.11. Penyusunan Program Penanganan 11. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a. pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. sarana cuci. reuse dan recycle) dan 3.

• Air Umbah l<omunal Berbasis Masyarakat • Sarnpah Pola 3R Berbasis Masyarakat • Drainase Mandirl Berwawasan Ungkungan Berbasis Masyarakat H . Sosialisasi Kepada Pemerintah Pralli ns il Ka b upaten/ Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi._._. _ -._. _ . _ . KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasanl pengendalian oleh masyarakat '-'-'-'_'---'-'I'-'-' 1--+ _. . Prioritas ke-3 Pengembangan prasarana dan sarana drainase rnandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan.-..-.. _._ -._.-.. - . .._.PENGORGANISASIAN IIL1._. OED..300 juta/Ha. PENYUSUNAN RKM Organisasi._&_.. pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan._.-.3._._.-.-~-._._ PELATIHAN OPERATOR SOSIAUSASI PENGGUNA r-.4.._._. Umum PELAKSANAAN KEGIATAN Setelah teralokasinya dana untuk pembangunan prasarana sarana Sanitasi Ungkungan Berbasis Masyarakat.. -+ ._._._-_ _ ~ ._ . III... PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG _ . . _. - . f-. . Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp.-._..-..-. Shortlist Lokasi terpilih I ~' Penyiapan Masya ra kat Dokumen RKM • • • • .J. _._. _._. _.._ . ._. _ . Pemberdayaan Masyarakat Pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini diselenggarakan secara swakelola melalui proses pemberdayaan masyarakat..-..50 _. - _.. .. Pilihan Teknologi dan Sarana. SELEKSI LOKASI Longlist. r Bagan Alir Pelaksanaan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat . . _ . . ._. Penyusunan P etunju k Pelaksanaan Sanitasi Li n 9 ku I1gan Be rbas is Masyarakat ~ ._ ._.. _.. Pemeliharaan Pendampingan O&M . Sarana Siap Digunakan -·l· Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. II.-~-.-._.-._. _·i·· Pelelangan Material . perencanaan. _._._. mulai dari tahap persiapan.. _. RAB dan Jadwal Kegiatan . maka proses berikutnya adalah melakukan meiakukan pengorganisasian pe!aksanaan kegiatan. Pelatlhan) r -..- -" ._II _ ._._.

IIL2. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akanlebih tepat saseran dan skala prioritas. Cipta Karya Ditjen. 2. Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum. 3. Seleksi Lokasi 1. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1. Penyiapan Tenaga Fasilltator Lapangan 1. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8 lIlA. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 3. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan. 51 (syarat tambahan oleh Masyarakat) . Penandatanganan Rencana Kegiatan antara Pemerintah Pusat.. Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi. 2. 5. Sehat jasmani dan roharn 4. 4. persampahan dan drainase 7. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. ke Ditjen. Persiapan Persiapan kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat meliputi : 1. 3. Penyampaian surat oleh Ditjen Cipta Karya. I diseJenggarakan oleh Cipta Karya. reuse. III. Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dar! TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping (LSM atau Konsultan) akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. 3. 2. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan tenaga fasilitator lapangan Kementerian Pekerjaan Umum. Memiliki cukun waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6. Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah. dan recycle) berbasis masyarakat. Kementerian Pekerjaan Umum ke masingmasing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasllitator lapangan sesuai kriteria.

Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran lirnbah. Bendahara. pembentukan forum pengguna. III. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. Adanya saluran/sungaijbadan air untuk menampung efluen pengolahan air llrnbah. Konstruksi dilakukan setelah RKM selesai disusun dan disahkan oleh para wakil stakeholder (SKPD. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. 1. 7. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. IIL8. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan KabupatenjKota. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. Operasi dan Pemeliharaan Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat oleh KSM atau KPPyang ditunjuk oleh masyarakat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan balk dan berkelanjutan. d. Tahapan pelaksanaan konstruksi dilakukan oleh masyarakat calon pengguna (swadaya) dengan didampingi o!eh TFL. jadwal konstruksi. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat diusulkan dan disahkan dalarn forum musyawarah di lokasi pelaksanaan. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK++. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). Kawasan permukiman padat. f. Masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat.Syarat Lokasi : a. rencana pelatihan KSM serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas sanitasi lingkungan yang dibangun. Sekretaris. Tersedia lahan yang cukup. calon penerima manfaat. Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 1. KSM merupakan wakil masyarakat calon penerima manfaat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat CRKM) 1. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasls Masyarakat dimana proses 52 . Detail Engineering Design (DED) dan Rencana Anggaran Biaya CRAB). Masyarakat di lokasi terpilih dengan didampingi fasiHtator menyusun RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat berupa pemilihan prasarana sanitasi lingkungan beserta teknologi sanitasi lingkungan yang dibutuhkan. pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Tenaga Teknis dan anggota. Kegiatan konstruksi dapat dilakukan oleh pihak ketiga jika ada kesepakatan bersama dari masyarakat melalui kerjasama operasional (KSO). 2. Pelaksanaan Konstruksi 1. c. 2. KSMdan TFL). IlLS. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) b. e. KSM dibentuk dan ditetapkan dalam Musyawarah Masyarakat calon penerima manfaat. IIL6. baik dalam bentuk uang. Susunan pengurus KSM minimal terdiri dari Ketua. barang maupun tenaga. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasll musyawarah masyarakat pengguna. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman. rencana kontribusi. 3. 3. 2.

akuntabilitas publik maupun kontrol soslal tetap berjalan. seleksi dan implementasi pilihan-pilihan teknologi sanitasi berbasis masyarakat. Dana pihak swasta lainnya dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling 53 . Pelatihan terhadap KSM : dalam pelatihan ini KSM dibekali pengetahuan tentang organisasi dan pengelolaan administrasi keuangan. Pelatihan terhadap Pengelola : dalam pelatihan ini pengelola (KSM/KPP) disiapkan untuk mengoperasikan dan memelihara sarana Sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. d. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh pengelola yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). bendahara. 5. b. swasta dan atau LSM.1. Kontribusi dari masyarakat berupa dana tunal (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. 4. mandor.2. tenaga kerja. Biaya sosialisasi DAK dan pelatihan TFL dibiayai dari dana APBN 2. 4. III. IV. Umum Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini berasaI dari berbagai sumber pembiayaan. Sosialisasi terhadap masyarakat pengguna : dalam kegiatan ini kelompok masyarakat calon pengguna diberi penjelasan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan tata cara penggunaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbangun. IIL10. swadaya masyarakat. Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi diperlukan kontribusi pendanaan dari masing-masing pemangku kepentingan sebagai berikut: 1. PEMBIAYAAN IV. transparansi.9. OAK dan Pemerintah Kabupaten/Kota (APBD). IV. Biaya pendampingan masyarakat (gaji TFL) dibiayai dari dana APBD. Penguatan Kelembagaan Masyarakat Penguatan kelembagaan masyarakat berupa pengorganisasian masyarakat & pengembangan institusi lokal. 2. Pemerintah Kabupaten/Kota. untuk menjaga dilaksanakannya prinsip-prinsip dasar Sanitasi Jingkungan berbasis masyarakat. 3. tukang dan pengelola dibiayai dari dana APBD. Pengawasan dan pengendalian dilakukan sejak tahap rembug warga tahap pertama. dan penerapan Perilaku Hidup Sehat dalam bentuk pelatihan dan sosialtsesl yang meliputi : 1. Pelatihan terhadap Mandor: dalam pelatihan ini mandar disiapkan untuk membangun prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terpilih sesuai dengan OED yang telah disusun. Pelatihan terhadap TFL (RPA & RKM): dalam pelatihan inl para TFL disiapkan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penilaian kandisi sanitasi secara cepat dan mendampingi masyarakat dalam menyusun RKM. Pelatihan KSM. material dan lain-lain.musyawarah. Biaya Konstruksi Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. Pengawasan dan Pengendalian Kegiatan OAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat inj merupakan kegiatan milik masyarakat sehingga diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian oleh seluruh komponen masvarakat dengan didampingi aparat serta dibantu aleh tenaga fasilitatar. 3. identifikasi. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Swadaya Masyarakat c. 2. DAK.

. II Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif List..j 54 VII VIII Pengoperasian Monitoring & Pemeliharaan & Evaluasi -.j -.. Rincian pembiayaan dapat dilihat pada tabel1.meng untungkan... -.j -. -.j -. -.. -. -..... -.. (Rapid Participatory Assessment) -. -.. -.. III Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED -. 5.. -..j -. -. Biaya Operasl dan Pemeliharaan Biaya operasi dan pemeliharaan di tanggung oleh masyarakat. Komponen Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Kegiatan APBN DAK APBD Masyarakat I -.. label 1... IV Pemberdayaan Pelatihan KSM Pe!atihan Bendahara Pelatihan Mandor Pelatihan Penqelola Kampanye kesehatan -..j -.. -.j V Konstruksi Material Upah pekerja Lahan -. .j -. Pembiayaan per Komponen Kegiatan No. -.. VI Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) -.j -. + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi RKM dan legalisasi Masyarakat -. -...... -. -.j -... -.

SKPDKabupaten/Kota dan fasilitator.4.3. Dana DAK dan APBD diwujudkan dalam bentuk mekanisme kegiatan swakelola oleh SKPD bersama masyarakat (KSM). IV.2.s. dlsampaikan setiap minggu kepada masyarakat.3. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2. pelatihan TFL. IV. KSM membuat laporan keglatan harlan yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah (SKPD).IV. IV. Dana LSM (jika ada) Dana LSM adalah dalam bentuk keahlian (expertise) sebagai bentuk kontribusi kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM.3. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasll musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. Pelaporan 1. Fasilitator dan KSM membuat laporan secara periodik kepada SKPD sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan 55 . tukang dan pengelola serta masyarakat pengguna.3. bendahara. Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSMsesuai perencanaan dengan pengawasan dari SKPDdan fasilitator. Dana APBD dialokasikan sebagai pendamping fisik DAK serta bantuan pendampingan pemberdayaan masyarakat (termasuk gaji TFL) dan pelatihan KSM. 3.3.s.4. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. Dana Swasta/Donor (jlka ada) 1. 3. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. 3. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM IV. 2. mandor. Dana Masyarakat I. 3. 2. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyara kat/RKM. Perwaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian PU di Provinsi yang digunakan untuk melakukan soslallsasl. IV. monitoring dan evaluasi. IV.3. Dana DAK dan APBD 1. 2.3. Penyaluran Dana Dana APBN 1. IV.!.

MENTER! PEKERJAAN UMUM. ttd DlOKO KIRMAN.TO 56 . PENUTUP Penjelasan leblh lengkap mengenai tata cara dan persyaratan teknis dijelaskan terpisah pada petunjuk pelaksanaan.V.

Data dasar seluruh prasarana jalan Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana irigasi Kabupaten/Kota Data dasar seluruh prasarana air minum Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Kelurahan/Desa di Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Proses dan Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kandisi 0%. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus.2. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar dilaporkan sekall yaitu pada Trlwulan I yang berlsl: 1) Data Umum (Form KDU): • • • • • • Nama Kelurahan/Desa Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kelurahan/Desa terse but (pantaijpegunungan/ Potensi Kelurahan/Desa (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk masing-masing subbidang 2) Data Dasar (Form DO): • • • • b.1. 100%) 1.LAMPIRAN 5 : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRTlM/2010 TANGGAL: 01 November 2010 MEKANISME I. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 5 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Bupati/WaIi kota melalui Kepala Bappeda Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala SKPD Provinsi dan BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sama. 50%. Laparan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Gubernur melalui Kepala Bappeda Provinsi dengan tembusan kepada BalaijSatuan Kerja Pusat dengan tugas dan kewenangan yang sarna. Materi laparan yang disampaikan: 57 . Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) KabupatenlKota Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyusun laporan triwulanan seluruh pekerjaan dalam Satuan Kerjanya yang dibiayai dengan Dana Alokasl Khusus. PELAPORAN Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) 1. Materi laporan yang disampaikan: a.

100%) II.a. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Bina Marga cq Direktur terkait. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (m 2 ) sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di KabupatenjKota tersebut (pantaijpegununganj Patensi Kabupaten/Kata Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) subbidang untuk masing-masing 2) Data Dasar (Form ~O): • • • • b.1. SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan SNVT Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan menyusun dan menyampaikan laparan triwulanan penyelenggaraan OAK subbidang jalan yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota. Materi laporan yang disampaikan: a. Balai/Satuan Kerja Pusat 11. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan 1) Data Umum (Form PDU): • • Nama KabupatenjKota Luas wilayah (rrr') sekali yaitu pada Triwulan I yang berisl: • • • • 2) Jurnlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Patens. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi Data dasar seluruh prasarana irigasi Provinsi Data dasar seluruh prasarana air minum Per Kabupaten/Kota Data dasar seluruh sanitasi Per Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan dilaparkan selama 4 Triwulan (Prasarana Jalan dan Irigasi) 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegi.atan (kaardinat dan kondisi 0%. 50%. Kabupaten/Kota Sumber pendanaan (perkebunan/pertanian/pertambangan) untuk subbidang jalan Data Dasar (Form ~O): 58 .

Data umum dan data dasar 59 . Direktur Pengembangan Air Minum.• b. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penye!enggaraan OAK subbidang air mtnurn yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasll pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota. 50%.2. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • • b. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 han kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq. 100%) II. Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderai Sumber Daya Air cq Direktur terkait. 8alai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Oaya Air BaJai Wilayah Sungai/SNVT Pengelolaan Sumber Daya Air melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang irigasi yang dilaksanakan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Provinsi dan SKPDKabupatenjKota.ksanaankegiatan Prasarana Jalan dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%.3. 50%. Materi laporan yang disampaikan: a. 100%) II. Data dasar seluruh prasarana jalan Provinsi dan Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pela. Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantai/pegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang irigasi Data dasar seluruh prasarana jrigasi Provlnsi dan Kabupaten/Kota 2) Data Dasar (Form DD): Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Irigasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. Materi laporan yang disampaikan: a.

Laporan triwulanan tersebut disampaikan paling lambat 10 hari kerja setelah triwulanan yang bersangkutan berakhir kepada Direktur Jenderal Cipta Karya cq.Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kota Luas wilayah (rrr) Jumlah penduduk (jiwa) Kontur tanah dataran) dominan di Kabupaten/Kota tersebut (pantaijpegunungan/ Potensi Kabupaten/Kota (perkebunan/pettanian/pettambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang air minum 2) Data Dasar (Form ~O): • b.4. Data dasar seluruh prasarana sanitasi KabupatenjKota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Sanitasi dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 60 . Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. 100%) II. 50%. Materi laporan yang disampaikan: a. Data umum dan data dasar Data umum dan data dasar disampaikan sekali yaitu pada Triwulan I yang berisi: 1) Data Umum (Form PDU): • • • • • • Nama Kabupaten/Kata Luas wilayah (rrr') Jumlah penduduk (jiwa) Kantur tanah data ran) dominan di Kabupaten/Kata tersebut (pantaijpegunungan/ Patensi Kabupaten/Kata (perkebunan/pertanian/pertambangan) Sumber pendanaan untuk subbidang sanitasi 2) Data Dasar (Form DO): • b. Data dasar seluruh prasarana Air Minum Kabupaten/Kota Data pelaksanaan kegiatan (Form P) Data pelaksanaan kegiatan Prasarana Air Minum dilaporkan selama 4 Triwulan 1) Kesesuaian program 2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinat dan kondisi 0%. SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman SNVT Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman melakukan pemantauan dan menyusun laporan triwulanan penyelenggaraan DAK subbidang sanitasi yang dilaksanakan oleh SKPD Kabupaten/kota berdasarkan hasil pemantauan dan laporan triwulanan yang disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota.

1 Mekanisme Pelaporan - MENTERI cq..=....... ------- Satker Terkait Kepala &alall V - BU PAn/WAU KOTA cq Kepala Sappeda Tembusan 5 harl kerja Kepal SKPD Kab/Kota sub bldang 61 ... Kepala Rappeda .. 50%.... --= cq.. Sekretarfs Jenderal ~~--~~--~~~I J I 14 hari kerja 14 hari kerja Dlrektorat lenderal tetkalt -. GUBERNUR 10 hari kerja 1:0 hari Tembusan kerja 1---.---_ KepalaSKPD PI'oVlnII aub 10 hari kerja " bld...0...... 100%) Gambar 5......ng 'l I I _I ---Il1o.2) Pelaksanaan kegiatan 3) Peta pelaksanaan kegiatan (koordinatdan kondisi 0%.

Pengecekan silang hasit pengiriman 62 . Mekanisme Pelaporan DAK On Line .emonitoring-PU.SKPO melakukan .id .Tempat penyimpanan data . Manfaat .III.Sarana Komunikasi Pusat-Daerah .2.l.Pelaporan OAK On Line melalui http://www.web. Pelaporan DAKOn Line III.Laporan dapat dikirimkan III.SKPD mengirimkan registrasi DAK format laporan laporan setiap saat apabila ada perubahan data dan informasi .SKPO mengunduh .

........ ::::I .... COl co ..... co Ul 0 C CU N I! :::J E !! {:.. II C .o E :a E . 0 .CO'" ..0 J9 tU e E J...... CO co =s OJ ...c ~ fa ...c~ v l .... :::l C E ::::I E =s .j .c M CO CO . c ra . Lt) c: ~ .::&: u Dr ..'in cu D. ... .... co 01 CO .¥ '1:1 1::J :J ::::I .c fa >~~ C . 0....I ~S ta 2 ro "'0 OJ 0. .::&: OJ eo Ul co CO >C s: {5 :~ i! ... r.....: ta c:'t.c . E CO 011: C. OJ OJ 0.......C3 ~ "Oc roc .. C ::::I fa \0 ..

a :8 ::t .Q Ig !:! 19 III I'll III III ~c * 'tii 'iii ~ III cc 'iii Ul III ..:..g o. c I: IIJ Z' ::J " 0.!: ~ .~ .r::. ~ E c C mcm .. E 0)...0.0 u D ttl rol. EE (J)Q) 9 a.'Q)(j) :::I III D(J) .... 'tI "§ E~ :6 . lfl .o ::oF c . a. " !:! ~ s g cc III III C C III 'ii'ii c CLo.0 ~~ o.. s: ...c:t .!9 c ..o: E..r::._ .~.r::..Z&IO ftI ':. C 1- E C :I ~ I: III III e C C A1\'1 I: ILl N ~§ :l c mill UlCO cc 'iii m 'E m '.5 E I~ ! Ia Q) E 0:I~ 'iii C III I~ III U m EU (J) ~ '5 2J c Ul '5 ... ccc men § c III ro !:! ~ .: I c: 1II.'. 'E':J: i III «I ...r::. '16 c 'iii I~ c c III . C aI ~ ~ ~~ ~ III J "' B" ::t III E «II ~ c 0 :~ . r~ III III m m 'tI .111 i ~~ Qj :0 II:! s: ~ I'\Im . lil "ai ~c ~ III !l Ie 1111 Ij 'It III .-III ~ 'ii -m CL '. m E f Ia II:! 8' A- i et::co ftI :J III c.r::.Q (J) (J) (J) ::::I III &: e::: CL 0..CL e :c 'tI E ...ol u D r I! ~I'iJ I.':: E II:! :I Ecc c :J E :I 'f .:J I'll e .01 u a. ::L.c III v III III CL a. E I~ 'tii t: c ~ ... §c m Ic m I Q III . III III 0 0 ill ill . 'iii . 'f c: II:! III 'f c: III ::::I cE ::J ir 0) 'c 'iii m .. c c: m ro !:! !:! !:! Ul c ~ .... 'c E 0) 0) 'ii '" ro .c...0 CL ro c '- ~ lc m . := 11 Z0 .... III Il ~ III '.Q E s: 'c E...~ H c: c III m .g !:! m .= C ~ '.B gm c C III :J "0 "0 -m 00 'iii 'tii IIJ 0.~ ~ i i~ . II A- 0 C Co iM c 'Vi Ul III III ~ III .0 ~ E E ...

.J: C til I'll . IQ !:l i-.1:1 ::I . III :::I a: ~ Z Z III ...... .: m ! g Ci ~ c III ra . ::I ~D: g! c· .t ~ ~ c( ... e a. :J ~ :::I IV ~ fl!1D .-..:a. C III III III . -aJ2 ~i~ Sa ftI::I'§ ::I Q> «>.m III :Ii!: IJ= Ql'V r:: ..oJ liII: f» '. f» . :~ ~ -Ell! .. e '" ~ ::I in QI C III III III .!!! c: '"' % . ..t III III:: & ~ li I! '-¥ Do '..!! -__ ..: O. 19o I'~ r:: ra !:It.!! III ~ ra . ra ~ :::I IV c ! A... fa fa 1ft ...s: :Q'! ftI ftI 0 III m D: 0 :::I z ......:E . :!! ~ ~ III i= c " 0 D:.Q Z ::.!illl a. 'iii ':..... .'I :6 D ....l!2 3:l >c: . . j:: III OJ -2 ~ -111111 I! ~ D.. liB . "..... c fa .. iii E r-.. r:: III D- m c: l ..::... ( 'S I'" IV . I: '"' Ia. ~ C s ar: Do. is i9 c: U 19 ftI ..:..9...

.g fI 'I'll' E aJ II: N Z Z "" 0 .. Vi iii t:l I: 'iii Vi 16 e " If I: I'll' i1 ~ j::: ~ ::l i . C dli a:l1 !... .". c ro ro '" .. Q._ .. . m ~ a IV ~Q dlJ! E en ID v c E Z IV I'II'.Cl III 'iii Q ...mE E !f':.Q M ~ E O.. 2 ro ro OJ 0-0 en ~E lDo.... . ~ e C ~ ~ C m dI § aI II: ~ en v.. '" !I !.III 'CI E c: I: ~ 0 ... 0' ~~ 0 e:.::: = . II: III ....1J ~ <D ..c 'Vi t! I'll' . s 121 si "" " L:.

..I Q.: c ~ E ! ~ ~! 111'- ftI'. III a..: e . '. ... .'- "at! Dl_ men 'iii . a Z J!l c: 19 U to .....

.. m = .I :c m m w A.. I- I: m I- 1! m II) m • ~ Q Q m .._ I- e I: N :::E cC Z ~ Q ~ .

i~ c 'C~ CLJ ::1.. ra~ a.~ Cl Z 0 ~ a I9 ro ._ .c::: ::::I 100 M 1'1 .:..:II:: "C ::I 'CI ::J'..:!:: ~ra D.~ \. 1'1 fa en CLJ .. ..c co .fo E 1"'\ C..I ~ ~ C 1'1 f'.~ UJ . c ._ L. ro ._ "t' ._. v co ClJ ~ ::J U C .. >oCf mc c tnfJ] j:: ~-.:i! .C "iiJ Ul .. IV ::J Cl._.. ~ ...0 i'. or c ro ...::: N ro IV Ul ~ 0 . ro ro ro 3: v o.('l Ei • VI 1"'\ D. .m ::J "~ c Oa.a ro ro ...c >C n::l Z ..

2 z ~ . L w o.zCC z<c _0 ~. => OJ I~ ~ a.2~ v. ~~ 0 s Z 0 ::Ja..~ w · : : · 6 c::: 0.. z 0:::: o. . 9 ~ ::J<i.. r-- ~=>l!iz CO u.. (/) z · · · : : .. ~ « 0 Z ::J L9 Z (/) z £3 § co ~ ~ a. I~ ~~ o::::z . « ~ Z <C ~ a..

. ez COra Z Q . AI g ~ C U rtl (]) rn c ro _Q c ES-6 .. 't: C Sen CI . ::l -e :: A.o .- m.... UJ E 0...:ac: . "' ...

.. c rc III 10 ..= c IT:! l!:! N r::: IU z a...... :i.._ C n:I Ln f c III . r::: U1 N r--- U C CD ID til . --< ~ 1'0 I.. I... 'I:' CD III ~ .. E j! QI Z Q ... . u:::: O'l "Vi I..c c c ta.III :E =s AI ftiI :0 :10 ..:.. o ::I :a ~ "0 C 10 0.. '§- ::i ~ ~ 'iii Q ......e AI Q...c q ro 0'\ 0'\ C .:: 3 "'1 III -i:: _!g ro c: 0. .... i:~... III III U '§- :::. !j Qj A. o.:: ~ 'IXI :~ 0'\ 10 01 c r::: "0 ro ~ = i£ S2' 01 (I) Ei _n f'" :::I ~ :::I ...:: 2 (U \! C ~ ::Iep% A.a ~ <t" ~ B aJ VI III U) til i !II :::..e IG c IG~..ro 0.=. 'U. "~ iii D:: . ii .:: . AI til c . 0'\ m a. Q.11:1 01 C :::.... "C til CD_ :c V" '-0 ro :::I '" >III AI cQI .....

In 10 ::::I o. IQ C N . .c ~ . 1"11 ... .. I'll IV') ~ .. ro In . era :::::II ~ = E :) Q e ......-j ..c ID C ~ D c: ~ ...e ~ 'Vi . Lfl .... "C 1'0 ro 0 ~ I ..... H E ................c..•• S 0 ~ III C \0 .- :I a... J9 0 l- 0::1- >. QI .._ 'It' J:~ 10 ...c:: ro Q) _. 1'0 ..._ U) I- ~ 0- e E fa C ::::I 'a ::::I f1) '0 A.::J o 1'0 c:: c: Z 0 .0 :l I- c:: ro .... fa f E l- .

1 iE...~ ::l iE.::: E :e: a:: !. 0 ::. 1 c 1: J:! III CO 2 Q} III III Cl.!. C2 UJ ~ UJ a iE..:::. :=l Z g Z ~ ~ UJ :::. I 1J .. 0 c:c UJ 0..

kegiatan yang dibiayai OAK. khususnya Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. dan SKPDterkait.2. Satuan Pengelola Keuangan Daerah. Organisasi pelaksana pusat d. 4. keluaran (outpuO. dan SKPDterkait. Kementerian Negara PPN/Bappenas.akukan pemantauan dan evaluasi berkoordinasi dengan gubernur selaku wakil pemerintah di daerah. Organisasi pelaksana kabupaten/kota yang beranggotakan wail-wakil dari Bappeda. Organisasi pelaksana kementerian yang beranggotakan wakil-wakil dari Oirektorat Jendera! terkait di bawah koordinasi Sekretariat Jenderal. efektif dan efisien agar terjadi kesesuaian antara masukan (inpuO. maka OAK Bidang Infrastruktur juga tidak terlepas dar! kewajiban menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah. hasil (outcome) dan kemanfaatan (benefit. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perlmbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Menteri Keuangan dan Menteri Oalam Negeri tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK).LAMPIRAN 6: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 15/PRT/M/2010 TANGGAL: 01 November 2010 PEMANTAUAN. EVALUASI DAN PENILAIAN KINERJA IV. Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (OAK) bertujuan untuk mengoordinasikan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK secara terpadu.Tujuan Tujuan pemantauan teknis pelaksanaan DAK adalah: 75 . untuk mengoptimalkan pemantauan teknis pelaksanaan dan evaluasi pemanfaatan OAK perlu dibentuk: 1.alam mel. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian/Lembaga (K/L) teknis terkait. Organisasi pelaksana pusat yang beranggotakan wakil-wakil dari Kementerian Keuangan.Latar Belakang Dana Alokasi Khusus (OAK) Bidang Infrastruktur merupakan dana bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. IV. PENDAHULUAN IV. Sehubungan dengan hal tersebut. proses. 3. 2. Organisasi pelaksana provinsi yang beranggotakan wakil-wakil dari Bappeda. Biro Administrasi Pembangunan/sebutan lain.l. Bagian Administrasi Pembangunan/sebutan lain. Berkaitan dengan hal tersebut di atas.

3. b) Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal dikoordinir oleh Direktorat Bina Program. 4) Subbidang Sanitasi adalah Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman. terdiri atas Tim Koordinasi Kementerian dan Tim Teknis Eselon 1 di masing-masing Direktorat Jenderal.1. V. Evaluasi dan Penilaian Klnerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan. 3) Subbidang prasarana air minum adalah Satuan Ketja Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum. Mengidentifikasi permasalahan yang muncu! dalam peJaksanaankegiatan dalam rangka perbaikan pelaksanaan DAK tahun betjalan. 5. hasll dan kemanfaatan kegiatan yang dilaksanakan. PEMANTAUAN DAN EVALUASI V. Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. 7.Ruang Lingkup Ruang lingkup pemantauan. 4.1. Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.1. Pemantauan Pelaksanaan pemantauan dari segi teknis oleh Kementerian Peketjaan Umum terhadap kegiatan yang dibiayai oleh DAK Bidang Infrastruktur dilakukan secara betjenjang oleh Tim Pemantau sebagai berikut : a) Tim Pemantau Kementerian. 2) Subbidang irigasi adalah Balai Wilayah Sungai. Pelaksana Pemantauan dan Evaluasi V. IV. 6.1. Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. evaluasi dan penilaian kinerja adalah: 1. Evaluasi Pelaksanaan evaluasi pemanfaatan/kinerja DAK Bidang Infrastruktur dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum melalui Tim Koordinasi Kementerian dengan dibantu oleh : 76 . 2. Memastikan pelaksanaan DAK di daerah tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan penatapan alokasi DAK dan petunjuk teknis.2. V. 2. Pencapaian sasaran.1. terdlrt atas Tim Koordinasi Provinsi dan Balai/Satuan Kerja Pusat yang ada di daerah dari masing-rnasing subbidang yaitu : 1) Subbidang jalan adalah Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan (P2JJ). Kepaturan dan ketertiban pelaporan. Kesesuaian hasil pelaksanaan kegiatan dengan dokumen kontrak/spesifikasi yang telah ditetapkan. 3. c) Tim Pemantau Provinsi.

2. pelaksanaan DAK o!eh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V.2. untuk sub bidang jalan Provinsi/Kabupaten/Kota.1.1.2.LL Tim koordinasi kabupaten/kota secara melakukan berkala pemantauan yang meliputi pelaksanaan hal-hal OAK oleh SKPO Kabupaten/Kota sebagai berikut: • • • Kesesuaian paket pekerjaan dengan Rencana Kegiatan (RK) Proses pengadaan paket pekerjaan tersebut Proses pelaksanaan pekerjaan tersebut yang meliputi antara lain: rencana dan reallsasi fisik & keuangan • Rencana dan realisasi kemanfaatan TIm koordinasi Provinsi berkoordinasi dengan Tim Koordinasi V.L2. c) Tim Teknis Direktorat sanitasi. kegiatan yang dilaksanakan. • • Proses pelaksanaan kegiatan sesuai peraturan Kesesuaian hasil pelaksanaan perundangan yang ber!aku. Tim koordinasi Provinsi melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oIeh SKPD laporan Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan triwulan yang meliputi hal-hal sebagai berikut: • Kesesuaian rencana kegiatan (RK) dengan arahan pemanfaatan DAK dan kriteria program prioritas nasional. Jenderal Cipta Karya I untuk sub bidang air minum dan Oirektorat Jenderal Sumber Oaya Air.2. 77 . Pencapaian sasaran.2.L Pemantauan V.2.2. Kabupaten/Kota melakukan pemantauan secara berkala. hasil dan kemanfaatan Evaluasi dan Penilaian Kinerja Daerah dalam pelaksanaan kegiatan.2. untuk sub bidang irigasi V.3. Evaluasi V. b) Tim Teknis kabupaten.2. dokumen kegiatan dengan kontrak/spesifikasi • • • yang telah ditetapkan. DAK disampaikan oleh Gubernur kepada Laporan hasil evaluasi pelaksanaan Menteri cq Sekretaris Jenderal empat belas (14) hari kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi V.a) Tim Teknis Direktorat Jenderal Bina Marga. dan TIm Koordinasi KabupatenjKota melakukan pemantauan oleh SKPD Provinsi dan SKPD Kabupaten/Kota V. Tim koordinasi Kementerian berkoordinasi dengan Tim Koordinasi Provinsi pelaksanaan OAK secara berkala. • Kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan rencana kegiatan (RK) yang telah ditetapkan. Kepaturan dan ketertiban pelaporan.

80% <60% 4 Triwulan dan lengkap 2 .80% progress fisik <60% >80% 60% . VI. Nilai < 60 Klasifikasi Penilaian Akhir : Nilai > 80 = Balk.1. Tim koordinasi Provinsi Provinsi Tim koordinasi Provinsi melakukan penilaian kinerja Kabupaten dan Kota penerima DAK berdasarkan aspek penilaian kinerja pada Tabel 6.PENlLAIAN KINERJA VI.2.Teknis/ Dokumen kontrak Pencapaian Sasaran Kegiatan Oampak dan Manfaat (Rerata a -d) Kepatuhan dan Ketertiban Pelaporan (empat triwulan) a b c 20 15 d 15 e 15 > 80% kegiatan 60% .2. Tim koordinasi Kementerian melakukan evaluasi pelaksanaan DAK oleh SKPD Provinsi dan SKPD KabupatenjKota secara semesteran berdasarkan hasil evaluasi oleh Tim Koordinasi Provinsi dan laporan triwulanan.2.2. Tim Koordinasi Kementerian Tim Koordinasi Kementerian melakukan penilaian kinerja Provinsi dan KabupatenjKota penerima OAK yang meliputi Provinsi dan Kabupaten/Kota penerima DAK.80% kegiatan < 60% kegiatan > 80% sesuai 60% . VI. Nilai 60-80 = Buruk 78 .80% sesuai < 60% sesuai > 80% sesuai 60% .i Angka 10 6-8 <6 Huruf Baik Cukup Buruk Balk CukuQ Buruk Baik Cukup Buruk Baik Cukup Buruk Baik CukuQ_ Buruk Baik Cukup Buruk Aspek Penilaian Dukungan kegiatan terhadap Program Prioritas Nasional Kesesuaian Rencana Kegiatan dengan arahan pemanfaatan OAK Kesesuaian pelaksanaan fisik dengan Spek.80% sesuai < 60% sesuai progress fisik >80% progress fisik 60% .1 No Aspek Penilaian Kinerja PemanfaatanDAK Sobot 0/0 20 Peniiaiall Nila.V.3 Triwulan dan lengkap 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 10 6-8 <6 f 15 o100 1 Triwulan dan lengkap TOTAL Nitai Total = [20% * Nilai (a) + 20% * Nitai (b) 15% * Nilai (e) + 15% * Nilai (f)] + 15% * * Nilai (c) + 15% * Nilai (d) ::= + 10 Cukup. Tabel6.1 secara semesteran yang disampaikan pating lambat 14 (empat belas) had kerja setelah berakhirnya semester yang bersangkutan.

_ ___. - - - - - ---I I : i Tim Koordinasi Provinsi sappedal BaIO::~::ker I DinasTeknis --------~~-------Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~====S=K=p=D=p=r=O=v=in=s=i ====rW~ BUPATIJWALIKQTA Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) .~ Hasil Pemantauan dan Evaluasi Kinerja (Semesteran) Hasil Pemantauan dan Evaluasi Klnerja (Semestera n) r .--...-_.1 Pemantauan dan Evaluasi . Sekretaris Jenderal Gambar 6. Pemantauan dan Evaluasi Kinerja 1~c==S=K=P=D=..=K=a=b=/K=o=ta=..- L.-Tim Teknis Sb Jalan Tim Teknis Sb Air Minum -- ..valuasi Kinerja (Semesteran) r..--------1 I I I Bappeda ------Dinas Teknis 1 Tim Koordinasi Kab/Kota I I ---------------..====~~ 79 .--I I ... Tim Koordinasi Kementerian Tim Teknis Sb Irigasi I 1 1 I--I--~ Tim Teknis Sb Sanitasi _I 1 1 I I GUBERNUR I Hasil Pemantauan dan E... .Mekanisme MENTERI cq.

..: 'ii ca U"l "iii CO "~ en en .... 1lIC'1 =r: tft r-.. . ra z Z 0 e !'II . e ilJ 0 N .. N A....:>L.....--I .::: ..o I/) ::I .J ~ 0"1 0 "-' ::::II J: ~ .::. ~ ~ ti~ II I! .:. CO ""CI c co :... .c c ~c ::::II .. " 19 CO '..........L S :c C :IIi'! 0 'iii i U'I c \0 ....... ::I . c 0 ::.. .t " ~ . C CO :::l :J 0 00 I <:.. ..... ca III I.t"l C (I) I! Dl m (fl .lII: .. 2 "iii c co ..~ III ::::I C {! CK:ji ii C ID m~ I:n . CD ~ ee c = a: .J V e I'D ~ = M I'D CD C fa III CD .:......:c IZ~ tV ID IX ro OJ OJ :s ~ c( ~ ...lII: \0 c CO ""15 ...0 ._..

!....- 0.... (g§ 0..-I I .::: CIJ e ~ ~ r: ~ 0 N ._ a c: c.. ~ r: . IV gse 01 01 co . '--' ~ r: % r:~ . r: ftI GTU)i ~~ . .5 IV r: co ~i ~Q..1.- G 1! v ~c c..: rt'l ~s ~g.. 1E '6 c: "0 ro ta 0..1.. Z laJ E CIJ lao. ..._ me.. Ia CIJ ~ . c: LrI .j en" J-~ oW :::I 00 'iii '.. 0 .' ~...!!! 0..~ 1VCl' IV~ > ....:: Ilc ..(1) '1'1 1111 '&'C C j:: 0loi c'= CUI...! N z ..c s :=.

.5 . 0::: ~ w e 0 . C z N 00 ...~ III~ Z 1'1:1 E .. 'c ::I "III <II . e X '$ -e CL. c ~ ~ • ftj ~ ~ C' al !!I 'iii ~ !!IIIL----.c CL.. £~ 1:L.... .-. ~ ~ ..U LU £l ~ 0:: ~ a. . ~III 111'- -c A..!!! · · III · ::E: ::::> :2: ::::> z ~ IZ c:[ 0 ~ ::2 LU L.c: z i J I) .. c <II X i· III Vl .o N CL.... .