Asuhan keperawatan amputasi humerus

BAB I PENDAHULUAN A. DEFINISI AMPUTASI Amputasi adalah penghilangan sebagian atau keseluruhan ekstremitas karena trauma atau pembedahan. Dalam konteks pembedahan, amputasi bertujuan untuk menyelamatkan hidup. Secara umum, amputasi merupakan pilihan pembedahan yang terakhir, dimana sedapat mungkin dilakukan prosedur bedah yang mempertahankan ekstremitas. Namun pada beberapa kondisi, antara lain pada sarkoma jaringan lunak yang sudah menginfiltrasi semua struktur lokal di ekstremitas, amputasi merupakan pilihan. Pada sarkoma jaringan lunak ekstremitas bawah dari tulang, sekitar 20-40% rytembutuhkan amputasi. Amputasi adalah penghilangan ujung anggota tubuh oleh trauma fisik atau operasi. Sebagai ukuran medis, amputasi digunakan untuk memeriksa rasa sakit atau proses penyebaran penyakit dalam kelenjar yang terpengaruh, misalnya pada malignancy atau gangrene. Dalam beberapa kasus amputasi dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut menyebar lebih jauh dalam tubuh. Dalam beberapa negara Islam, amputasi tangan atau kaki kadang digunakan sebagai bentuk hukuman bagi para kriminal. Dalam beberapa budaya dan agama, amputasi minor atau mutilasi dianggap sebagai suatu pencapaian spiritual. B. ANATOMI FISIOLOGI Tulang membentuk rangka penujnjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Ruang di tengah tulangtulang tertentu berisi jaringan hematopoetik, yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat. Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan jaringan organic (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. Sekitar 70% dari oeteoid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberikan ketegaran tinggi pada tulang. Materi organik lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam hialuronat. Jaringan tulang dapat berbentuk anyaman atau lamelar. Tulang yang berbentuk anyamn terlihat saat pertumbuhan cepat, seperti sewaktu perkembangan janin atau sesudah terjadinya patah tulang, selanjutnya keadaan ini akan diganti oleh tulang

yang lebih dewasa yang berbentuk lamelar. Pada orang dewasa, tulang anyaman ditemukan pada inserasi ligamentum atau tendon. Tumor osteosarkoma terdiri dari ulang anyaman. Bagian-bagian khas dari sebuah tulang panjang. Diafisis atau batang, adalah bagian engah tulang yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan besar. Metafisis adalah bagian tulang yang melebar didekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama disusun oleh ulang trabekular atau tulang spongiosa yang mengandung sumsum merah. Sumsum merah juga terdapat di bagian epifisis dan diafisis tulang. Pada anak-anak, sumsum merah mengisi sebagia besa bagian dalam dari tulang panjang, teapi kemudian diganti oleh sumsum kuning siring dengan semakin dewasanya anak tersebut. Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak. Bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis yang letaknya dekat sendi ulang panjang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang terhenti. Tulang adalah suau jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel : Osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang mengandung peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Sebagian dari fosfatse alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker tulang. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasa untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyk yang memungkinkan minerl dan matriks tulang dapat diabsorpsi.osteoklas mengikis tulang.

C. ETIOLOGI Indikasi utama bedah amputasi adalah karena : 1. Iskemia karena penyakit reskularisasi perifer, biasanya pada orang tua, seperti klien dengan artherosklerosis, Diabetes Mellitus. 2. Trauma amputasi, bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, thermal injury seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets disease dan kelainan kongenital.

Hal ini dapat diatasi dengan obatobatan. 6. Kontraktur. Pada keadaan nekrosis biasanya dilakukan dulu terapi konservatif. klasifikasi yang lain adalah karena trauma amputasi.D. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation). bila tidak berhasil dilakukan reamputasi dengan level yang lebih tinggi. TINGKATAN AMPUTASI 1. stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara kombinasi. 3. b. berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan. Phantom sensation. Neuroma. Hal ini dapat dicegah dengan memotong saraf lebih proximal dari stump sehingga tertanam di dalam otot. Tidak semua amputasi dioperasi dengan terencana. 2. E. Nekrosis. Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb. Ekstremitas bawah Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya. Hampir selalu terjadi dimana penderita merasakan masih utuhnya ekstremitas tersebut disertai rasa nyeri. 5. 3. Ekstremitas atas Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. . Amputasi diatas lutut Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer. Kontraktur sendi dapat dicegah dengan mengatur letak stump amputasi serta melakukan latihan sedini mungkin. 2. Bentuknya benar-benar terbuka dan dipasang drainage agar luka bersih. Metode tertutup (flap amputasi) Pada metode ini. Terjadinya kontraktur sendi karena sendi terlalu lama diistirahatkan atau tidak di gerakkan. Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong terlalu rendah sehingga melengket dengan kulit ujung stump. Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. Metode terbuka (guillotine amputasi). mandi. dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi. kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi. METODE AMPUTASI Dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh. Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak amputasi yaitu : a. minum. Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan. 4. dengan dua metode : 1.

penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump. Pada waktu memasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur. Harus diperhatikan penggunaan elastik verban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump. G. Rigid dressing Yaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. 2. 2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari . mobilisasi setelah 7 – 10 hari post operasi setelah luka sembuh. setelah stump sembuh dan mature. maka digunakan pembalut steril yang rapi dan semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. kecerdasan penderita. Adapun pengaruhnya meliputi : 1. setelah 2 – 3 minggu. PENATALAKSANAAN AMPUTASI Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan berfungsi. kekuatan. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangkan juga faktor usia. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondisinya mengizinkan. Bila tidak diperlukan pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol.F. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 – 14 post operasi. tersedianya perawat yang terampil. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 – 10 post operasi untuk melihat luka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi lokal atau sistemik. DAMPAK MASALAH TERHADAP SISTEM TUBUH. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema. Kecepatan metabolisme Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera. therapist dan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan supervisi program perawatan. melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Pada amputasi diatas lutut. mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri. Ada 2 cara perawatan post amputasi yaitu : 1. Soft dressing Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional.

volume darah yang bersirkulasi menurun. akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. Sistem Muskuloskeletal a. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH. Penurunan cardiac reserve Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat. Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. maka kontraksi otot intercosta relatif kecil. Sistem Kardiovaskuler a.anabolisme. Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang. vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah. 5. maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma. Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer. dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat. c. demikian pula dengan pembuangan . diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat. c. Peningkatan denyut nadi Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik. jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun. endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi. hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. b. 3. Sistem respirasi a. jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. b. sehingga terjadi peningkatan diuresis. Penurunan kekuatan otot Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan. Penurunan kapasitas paru Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang. 4. hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.

Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos. Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. d.sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. 7. menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. 8. sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi. Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. Sistem Pencernaan a. 6. Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal. Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon. BAB II PENDIDIKAN KESEHATAN TINDAKAN OPERASI 1. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia. Sistem integumen Tirah baring yang lama. Konsep Umum Pedidikan Kesehatan (Penkes) a. b. Osteoporosis Terjadi penurunan metabolisme kalsium. c. Definisi . b. hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah. pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan : a. b. Anoreksia Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang. renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar.

Hidrasi yang memadai sangat . klien perlu diberikan nutrisi yang memadai untuk mempercepat penyembuhan dan kesehatan. Antiemetik dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. 2) Pendidikan kesehatan di rumah dengan klien amputasi 4. Perencanaan Keperawatan pada Amputasi Pra Operasi dan Pasca Operasi b. (Duryea E. Tujuan Tujuannya adalah untuk meningkatkan perilaku sehat individu maupun masyarakat tentang pengetahuan yang relevan dengan intervensi dan strategi pemeliharaan derajat kesehatan. Pendidikan kesehatan juga merupakan bentuk kegiatan dan pelayanan keperawatan yang dapat dilakukan di Rumah sakit atau pun Non-klinik. Terapi farmakologis dapat digunakan untuk mengontrol nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien. c. Perencanaan Keperawatan pada Amputasi Humerus b. b. Advokat b. Pendidikan Kesehatan yang Akan Diberikan : a. tetapi yang penting adalah menciptakan kegiatan yang dapat memandirikan seseorang untuk mengambil keputusan terhadap masalah kesehatan yang dihadapi.J 1997) a. Penjelasan a. Perawat da klien bekerja sama untuk merancang program manajemen nyeri yang paling efektif dan perawat member dukungan selama prosedur yang menyakitkan. Mediator 3. Stomatitis dapat di control dengan obat kumur anestetik atau anti jamur. Pendidikan kesehatan tidak hanya memberikan informasi saja. Pemulihan Nyeri serta Gangguan Rasa Nyaman Manajemen nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi serta sentuhan emosional lembut pada kulit. Pendidik f. Pemberi Perawatan (Caregiver) c. Peran Perawat Dalam Pendidikan Kesehatan (Swanson E. Konsultan e. Perawatan di Rumah untuk : 1) Efek dari prosedur diagnostic maupun pengobatan. Perantara Informasi g. Pemenuhan Nutrisi yang Adekuat dan Seimbang Karena Kehilangan selera makan akibat mual dan muntah sebagai efek samping dari prosedur diagnostic maupun pengobatan. serta mengelola (Memberikan perawatan) penyakit kronis di rumah. pengetahuan penyakit. Manager Khusus d.Pendidikan kesehatan merupakan gambaran penting dan bagian dari peran perawat yang professional dalam upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit (Preventif) yang telah dilakukan sejak jaman Florence Nighthingde pada tahun 1959.J 1983) 2.

Pasca Operasi . h. Perbaikan Citra Diri Klien harus berpartisipasi dalam perencanaan aktivitas harian. pembalutan. Konsultasi dengan perawat psikiatri. penyangga luar dapat dipakai untuk perlindungan tampahan. e. Pra Operasi Beritahu klien dengan benar dan dukung klien bahwa akan dilakukan amputasi untuk kebaikan klien. d. Meningkatkan Pertumbuhan Integritas Kulit Perawatan luka dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan integritas kulit. Contohnya. tulang yang sakit harus disangga dan ditangani dengan lembut. dan program terapi fisik dan okupasi. g. Penyuluhan klien ditujukan pada pengobatan. dank lien diajarkan bagaimana menggunakan alat bantu dengan aman dan bagaimana memperkuat ekstremitas yang sehat. tempat tidur terapeutik khusus diperlukan untuk mencegah kerusakan kulit dan memperbaiki penyembuhan luka setelah operasi. dan perasaan klien sehingga dapat mengontrol hhidupnya sendiri. Pemenuhan Informasi dan Pengetahuan tentang Prosedur Perawatan dan Penatalaksanaan. Penggunaan peralatan khusus secara aman harus dijelaskan. pembatasan beban berat badan. f. Balutan luka nontraumatik dan aseptic akan mempercepat penyembuhan. atau rohaniwan. Penurunan Resiko Cedera Agar Tidak Terjadi Fraktur Patologis Selama asuhan keperawatan. b. Penting untuk mendorong dukungan psikologis klien agar klien dengan senang hati melakukan perawatan mandiri. Beritahu klien akan dipasang alat bantu setelah operasi. i. Peningkatan Kondisi Psikologis Klien Mereka membutuhkan dukungan dan perasaan diterima agar mereka mampu menerima dampak dari amputasi tersebut. pengembalian konsep diri. 5. Keterlibatan klien dengan keluarganya sepanjang terapi dapat mendorong kepercayaan diri. ahli psikologi. Suplemen nutrisi atau nutrisi parental total dapat diprogramkan untuk mendapatkan nutrisi yang memadai. Pemeliharaan Perawatan Mandiri Alat dan sarana yang dibutuhkan klien perlu dimodifikasi sesuai kebutuhan yang klien perlukan. Peningkatan Mobilitas Mengubah Posisi klien sesering mungkin akan mengurangi insiden kerusakan kulit akibat tekanan. j. Perawat memberikan dukungan agar klien mampu mengahadapi operasi dengan tenang.penting. Beritahu klien dan keluarga tentang prosedur operasi yang akan dilakukan. Perencanaan Keperawatan pada Amputasi Pra Operasi dan Pasca Operasi a. Klien dan keluarga harus mempelajari tanda dan gejala kemungkinan komplikasi. konselor.

6) Pengembalian mobilitas fisik Klien memfleksikan dan mengekstensikan lengan saat membawa beban berat. melakukan dorongan sementara dalam posisi terlentang dan sit up ketika duduk akan memperkuat otot trisep. dll. Efek dari prosedur diagnostic maupun pengobatan 1) Pendidikan kesehatan di rumah pada klien dengan Amputasi humerus. 5) Perawatan mandiri Klien didorong untuk aktif dalam melaksanakan perawatan diri. Pendidikan klien ditujukan pada pengobatan. diperlukan teknik aseptic untuk mencegah infeksi luka dan kemungkinan osteomilitis. selain program terapi fisiki. pembalutan. 8) Pembentukan dan pengondisian sisa tungkai : Pembalutan dan masase. Perawat harus menciptakan suasana penerimaan dan dukungan dimana klien dan keluarganya didorong untuk mengekspresikan dan berbagi perasaanya dan menjalani proses bersedih. 4) Mengatasi berduka Perawat harus memahami perasaan klien dan mendengarkan dan memberikan dukungan. Klien didorong untuk melihat. serta posisi-posisi tang benar. Klien dan perawat harus menjaga tingkah laku yang positif dan meminimalkan keletihan dan frustasi selama proses belajar. Perawat da klien bekerja sama untuk merancang program manajemen nyeri yang paling efektif dan perawat member dukungan selama prosedur yang menyakitkan. merasakan.1) Meredakan Nyeri Manajemen nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi serta sentuhan emosional lembut pada kulit. 3) Memperbaiki citra tubuh Perawat yang telah membangun hubungan saling percaya dengan klien sebaiknya berkomunikasi mengenai penerimaan klien yang baru menjalani amputasi. dan program terapi. 9) Pemantauan dan penanganan komplikasi potensia 10) Rehabilitasi 6. ROM. Klien belajar jalan dengan tongkat atau pun dengan kaki palsu. 2) Mempercepat penyembuhan luka Tungkai sisa harus ditangani dengan lembut. Drain dapat diangkat jika sudah tidak efektif yaitu 2x24 jam sedangkan jahitan dapat diangkat setelah 10-14 hari. dan kemidian melakukan perawatan pada sisa tungkai. Terapi farmakologis dapat digunakan untuk mengontrol nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien. Setiap kali penggantian balutan. Penggunaan peralatan khusus secara aman harus . 7) Latihan pasca operasi : Latihan Rentang gerak. Perawatan di Rumah: a. Dukungan dari keluarga dan sahabat dapat meningkatkan penerimaan pada kehilangan.

Konsep Etik Legal a. kesehatan atau kesejahteraan orang lain terganggu. Pre Operatif 1. d. b. Respect for Autonomy 1) Hak untuk menentukan diri sendiri. . gangguan mental. Pengkajian Riwayat Kesehatan Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus. Klien diminta untuk mencatat nimor telepon orang yang dapat segera dihubungi bila sewaktu waktu timbul masalah. 2) Perawatan yang baik memerlukan pendekatan yang holistic pada pasien. kemerdekaan.dijelaskan. seperti anak kecil. Klien dan keluarganya harus mempelajari tanda dan gejala kemungkinan komplikasi. Non. tidak sadar. Perlunya supervisi kesehatan jangka panjang untuk meyakinkan telah terjadi penyembuhan atau untuk mendeteksi kekambuhan tumor atau metastasis. tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi. 2) Hak pasien untuk menentukan keputusan kesehatan untuk dirinya. tahap intra-operatif. dan pada tahap post-operati A. keinginan juga pada keluarga dan orang yang berarti. Pada tahap praoperatif. perasaan. Pada tahap ini. Keterbatasan muncul saat hak. 2) Melindungi dirinya sendiri. 2. 3) Otonomy bukan kebebasan absolut tetapi tergantung kondisi.Maleficence 1) Terpenuhi prinsip ini saat petugas kesehatan tidak melakukan sesuatu yang membahayakan bagi pasien (do no harm) disadari atau tidak disadari. perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik. meliputi menghargai pada keyakinan. c. Justice Termasuk fairness dan equality BAB III MANAJEMENT OPERASI Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap pre-operatif. khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi a. 7. dan kebebasan. Beneficence 1) Tujuan utama tim kesehatan untuk memberikan sesuatu yang terbaik untuk pasien. dll.

Spiritual 1) Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan. Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk.penyakit jantung. perdarahan atau kerusakan progesif. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return. . Sosial. Pengkajian Fisik 1) Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif. khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi. Sistem Mukuloskeletal Mengkaji kemampuan otot kontralateral c. Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah Sistem Respirasi Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis. Pengkajian Psikologis. Sistem Urinari Mengkaji jumlah urine 24 jam. Menkaji adanya perubahan warna. Mengkaji sistem persyarafan. penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Sistem Neurologis Mengkaji tingkat kesadaran klien. BJ urine. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan. b. Memonitor intake dan output cairan. 2) Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi : SISTEM TUBUH KEGIATAN Integumen : Kulit secara umum Lokasi amputasi Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat. penyakit ginjal dan penyakit paru. Cairan dan elektrolit Mengkaji tingkat hidrasi. riwayat gangguan nafas. Sistem Cardiovaskuler : Cardiac reserve Pembuluh darah Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator fungsi jantung.

b. Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri. gangguan penampilan peran dan gangguan identitas. b. fungsi hepar dan fungsi jantung 3. Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki (yang sehat). Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efekti 4. Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 – 2 jam untuk mencegah kontraktur a.2) Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkat persepsi klien terhadap dirinya. Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri. untuk membantu meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi. perut dan dada sebagai persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk. Mengatasi nyeri a. sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar mengenakan kaki protese. fungsi ginjal. Menerangkan pada klien bahwa klien akan “merasakan” adanya kaki untuk beberapa waktu lamanya. memprtahankan fungsi dan kemampuan dari organ tubuh lain. 3) Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif. Laboratorik 1) Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru. menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri. Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi. Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan a. pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif. Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah. c. 5. 4) Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu (karena tidak semua . b. Asuhan keperawatan pada klien preoperatif secara umum tidak dibahas pada makalah ini d. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya.

luka yang terbuka) c. Khusus untuktindakan perawatan luka. nafas dalam. Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah. khususnya amputasi ekstremitas merupakan tindakan yang mengancam jiwa. Makalah ini tidak membahas secara detail kegiatan intraoperasi BAB IV MONITORING POST OPERASI A. Awal masa postoperatif. Post Operatif Pada masa post operatif. infeksi. memenuhi kebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri. pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien. B. karena pada amputasi. terlepas atau terlalu ketat. mempertahankan oksigenisasi jaringan. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif. pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas. perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka. Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas. Selang drainase benar-benar tertutup. Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk. Intra Operatif Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klien. . perawat harus berusaha untuk mempertahankan tandatanda vital. d. Berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. Kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah. penyakit jantung. CVA. posisi jahitan dan pemasangan drainage.klien yang mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM. Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese. dan penyakit vaskuler perifer. khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien. Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan. Perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi opyimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan.

IPOP juga mungkin dipakai pada amputasi ekstremitas atas. d. 2. Farmakologi. dan traksi kulit merupakan metode yang dapat diterangkan. yaitu: a. dan membuat mobilisasi lebih awal demikian juga rehabilitasinya. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa ‘tidak sehat akal’ karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. Dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya. Non farmakologi Manajemen nyeri dengan non farmakologi banyak jenisnya. tapi aplikasi mudah dipelajari oleh para ahli bedah ortopedi. Perawatan Luka Perawatan luka pada pada kasus amputasi humerus adalah perawatan luka terbuka. Penumpuan berat badan segera setelah Op dapat diawali dilakukan pada pasien tertentu. Umpan balik tubuh. Pijat refleksi. . Balutan yang halus. e. menurunkan nyeri. dan latihan prostetik awal dengan alat ini diyakini meningkatkan lama penggunaan prostetik. A. Jika luka nampak steril. Imobilisasi. Kompres panas-dingin. Penggunaan balutan yang halus akan mengontrol udem. Perawatan luka ini dilakukan secara rutin dengan menggunakan NaCl sebagai pembersih. mencegah trauma. Manajemen Nyeri Manajemen nyeri terbagi menjadi dua bagian yaitu: 1. balutan yang lembut. Relaksasi. Farmakologi ini adalah dengan menggunakan obat-obatan baik obat-obatan opioid atau nonopioid. pengawasan terhadap ruangan di sekitar.Tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri Panthom Limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. b. Balutan kaku dan IPOP harus digunakan secara hati-hati. c. Penggunaan (IPOP) prosthesis segera setelah operasi membuktikan jumlah waktu untuk maturasi ekstremitas menurun dan waktu pemasangan prostetik sebagian besar ahli bedah akan memulai penumpuan berat badan sebagian/parsial setelah terjadi perubahan pertama pada hari ke-5-10. BAB V PERAWATAN AMPUTASI HUMERUS Amputasi ditawarkan kesempatan untuk memanipulasi lingkungan fisik dari pada luka selama penyembuhan.

merupakan antiseptik yang sangat kuat. 2) Povidon Yodium (Betadine. Alkohol. tindakan antiseptik. penutupan luka. b. Macam-macam distraksi yaitu: a) Distraksi visual. Kalium permanganat. tidak berwarna.Adalah mengatasi nyeri dengan memberikan informasi kepada klien tentang respon fisiologis tubuh terhadap nyeri yang dialami klien. Perhidrol (Peroksida air. berkhasiat untuk mengeluarkan kotoran dari dalam luka dan membunuh kuman anaerob. H2O2). pembersihan luka. bersifat bakterisid dan funngisida agak lemah berdasarkan sifat oksidator. mudah larut dalam air. prinsipnya untuk mensucihamakankulit. dan baunya tidak menusuk hidung. savlon. 4. hibitane). Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi). 2. Untuk melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik seperti : a. Teknik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2 menit). 1) Masase kulit. pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan. e) Teknik pernapasan. c) Distraksi pernapasan. d) Distraksi intelektual. septadine dan isodine). 3) Yodoform. mudah dicuci karena larut dalam air dan stabil karena tidak menguap. 1. Penatalaksanaan Perawatan Luka Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka. B. tidak merangsang kulit dam mukosa. penjahitan luka. Tindakan Antiseptik. 4) Klorhesidin (Hibiscrub. Halogen dan senyawanya 1) Yodium. 3. 2) Distraksi Adalah pengalihan dari focus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. f) Imajinasi terbimbing. merupakan kompleks yodium dengan polyvinylpirrolidone yang tidak merangsang. Oksidansia a. b) Distraksi pendengaran. Penggunaan biasanya untuk antiseptik borok. pembalutan. berspektrum luas dan dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3 jam. sudah jarang digunakan. b. merupakan senyawa biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid. Logam berat dan garamnya .

disebut juga etakridin (rivanol). kegunaannya sebagai antiseptik wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi dan luka bakar. Heksaklorofan (pHisohex).9%. Sifatnya bakteriostatik lemah. 6. d. Derivat fenol a. 2000:390). sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh per sekundam atau per tertiam. 3) Berikan antiseptik 4) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesi lokal 5) Bila perlu lakukan penutupan luka (Mansjoer.a. Trinitrofenol (asam pikrat). Pemelihan cairan dalam pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka. c. Cairan ini merupakan cairan yang bersifat fisiologis. Normal saline atau disebut juga NaCl 0. Penutupan Luka adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka .Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka yaitu : 1) Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang jaringan mati dan benda asing. 2004:16). Merkuri klorida (sublimat). berkhasiat untuk mencuci tangan. Penjahitan luka Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer. merupakan turunan aridin dan berupa serbuk berwarna kuning dam konsentrasi 0. Pembersihan Luka Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan.400) e. Asam borat. f.1%.0 g dengan osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan Cl.154 mEq/l (InETNA. Kegunaannya sebagai antiseptik borok bernanah. Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan menghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu rawat dan meningkatkan biaya perawatan. membuang jaringan nekrosis dan debris (InETNA. ISO Indonesia. kompres dan irigasi luka terinfeksi (Mansjoer. b. berkhasiat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. b. memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka. Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%. mempercepat keringnya luka dengan cara merangsang timbulnya kerak (korts) 5. menghindari terjadinya infeksi. Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal Saline. Basa ammonium kuartener.2004:16 . 2) Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati. sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%).2000:18). NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9. non toksik dan tidak mahal. Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian luka.2000: 398.

Walton.sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal. infeksi. mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan. Waktu pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti. g. lokasi. Tabel 1. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan. 1990:44). Anamnesa a. abdomen 7-10+ hari BAB VI ASUHAN KEPERAWATAN PRA OPERASI A. h. i. jenis pengangkatan luka. sikap penderita dan adanya infeksi (Mansjoer. Waktu Pengangkatan Jahitan No Lokasi Waktu 1 Kelopak mata 3 hari 2 Pipi 3-5 hari 3 Hidung. Proses Keperawatan 1. dahi. Pemberian Antibiotik prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik. sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom. Riwayat kesehatan . leher 5 hari 4 Telinga. Pengangkatan Jahitan Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi.2000:398 . kesehatan. tungkai. Pengkajian Biodata Nama : Usia : Jenis Kelamin : Alamat : Pekerjaan : Suku bangsa : Diagnosa medis : 2. punggung. Pembalutan Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian kondisi luka.kaki 7-10+ hari 6 Dada.kulit kepala 5-7 hari 5 Lengan. usia. Keluhan utama : b. tangan.

Auskultasi : d. Palpasi : c. ADL : i. Riwayat penyakit lain : f. 2) Beri lingkungan dan suasana penuh istirahat. Pengkajian psikososiospiritual : f. Resiko gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan amputasi. a. Tujuan jangka panjang 1) Klien mengenali perasaannya 2) Ansietas klien hilang c. Perkusi : e. C. Damping klien dan lakukan tindakan bila klien menunjukkan perilaku merusak. Riwayat kecelakaan : d. Riwayat keluarga dengan permasalahan musculoskeletal : h. Inspeksi : b. Resiko ansietas yang berhubungan dengan akan dilakukan tindakan amputasi. Dengarkan (dengan cara yang . Lifestyle : 3. Intevensi 1. Diagnosa Keperawatan 1. 3) Berikan kesempatan untuk pengungkapan. Resiko ansietas yang berhubungan dengan akan dilakukan tindakan amputasi. Pemeriksaan penunjang : Rontgent B. 3. Intervensi 1) Kaji tanda verbal dan non verbal ansietas.P: Q: R: S: T: c. Riwayat penyakit genetik dan kongenital : e. 2. Riwayat pembedahan pada skeletal : g. Tujuan jangka pendek Kecemasan klien berkurang b. Kebutuhan pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan tindakan amputasi yang ditandai dengan keluarga klien belum memberitahukan penyakit klien. Pengkajian fisik a.

b. Gangguan konsep diri . a. 4.terbuka. tidak menghakimi) untuk mengekspresikan ansietas tentang perubahan citra tubuh. Kolaborasi Diskusikan tersedianya berbagai sumber seperti konseling psikiatrik. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot. Tujuan jangka pendek Klien mengetahui penyakit yang diderita b. c. Resiko gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan amputasi a. 2. BAB VII ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERASI A. Tujuan jangka panjang 1) Klien dapat melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan. 2. Intervensi 1) Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang. Intervensi Mandiri 1) Kaji persiapan klien dan pandangan terhadap amputasi. 3. Diagnosa Keperawatan Untuk klien dengan amputasi diagnosa keperawatan yang lazim terjadi adalah 1. personal hygiene kurang berhubungan dengan kurangnya kemampuan dalam merawat diri. Kebutuhan pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan tindakan amputasi yang ditandai dengan keluarga klien belum memberitahukan penyakit klien. 2) Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang. 3. . Tujuan jangka pendek Klien dapat berdaptasi dengan kondisi tubuh. 2) Instruksikan klien / orang terdekat tentang pengobatan penyakit. perasaan negative dan kehilangan bagian tubuh. Tujuan jangka panjang Klien dapat menerima kondisi tubuh c. 3) Kaji derajat dukungan yang ada untuk pasien. body image berhubungan dengan perubahan fisik. Gangguan pemenuhan ADL. 2) Dorong ekspresi ketakutan. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kehilangan anggota tubuh. 3) Instruksikan klien / orang terdekat tentang pengobatan penyakit.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama. Perencanaan 1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot. Rasional : Membantu klien untuk meningkatkan kemampuan dalam duduk dan turun dari tempat tidur. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kehilangan anggota tubuh. 2. 2) Jangka Pendek : a) Klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya yang lainnya yang masih ada. Intervensi : 1) Kaji ketidakmampuan bergerak klien yang diakibatkan oleh prosedur pengobatan dan catat persepsi klien terhadap immobilisasi. Potensial kontraktur berhubungan dengan immobilisasi. a. a. Tujuan : 1) Jangka Panjang : Klien dapat menerima keadaan fisiknya. tonus dan kekuatan otot terpelihara. Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka. . 2) Jangka Pendek : a) Klien dapat meningkatkan body image dan harga dirinya. Rasional : Dengan ambulasi demikian klien dapat mengenal dan menggunakan alat-alat yang perlu digunakan oleh klien dan juga untuk memenuhi aktivitas klien. atropi. body image berhubungan dengan perubahan fisik. d) Klien dapat melakukan ambulasi. 4) Ganti posisi klien setiap 3 – 4 jam secara periodik Rasional : Pergantian posisi setiap 3 – 4 jam dapat mencegah terjadinya kontraktur. 7. b) Klien dapat berperan serta aktif selama rehabilitasi dan self care. b) Klien dapat merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk. 5) Bantu klien mengganti posisi dari tidur ke duduk dan turun dari tempat tidur. 3) Tingkatkan ambulasi klien seperti mengajarkan menggunakan tongkat dan kursi roda.5. B. 6. Rasional : Pergerakan dapat meningkatkan aliran darah ke otot. b. c) ROM. 2) Latih klien untuk menggerakkan anggota badan yang masih ada. 3. Gangguan konsep diri . Tujuan : 1) Jangka Panjang : Mobilisasi fisik terpenuhi. memelihara pergerakan sendi dan mencegah kontraktur. Rasional : Dengan mengetahui derajat ketidakmampuan bergerak klien dan persepsi klien terhadap immobilisasi akan dapat menemukan aktivitas mana saja yang perlu dilakukan.

Intervensi : 1) Tinggikan posisi stump Rasional : Posisi stump lebih tinggi akan meningkatkan aliran balik vena. b.a. 4. dan menyediakan air di pinggirnya. teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan pada otot yang menurunkan rangsang nyeri pada saraf-saraf nyeri. 2) Jangka Pendek : a) Tubuh. latihan nafas dalam atau massase dan distraksi. catat lokasi. personal hygiene kurang berhubungan dengan kurangnya kemampuan dalam merawat diri. Tujuan : 1) Jangka Panjang : Nyeri berkurang atau hilang 2) Jangka Pendek : a) Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan b) Klien menyatakan nyerinya berkurang c) Klien mampu beraktivitas tanpa mengeluh nyeri. Rasional : Dengan membantu klien dalam mencuci rambut dan memotong kuku . karakteristik dan intensitasnya. b. Tujuan : 1) Jangka Panjang : Klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri. Intervensi : 1) Bantu klien dalam hal mandi dan gosok gigi dengan cara mendekatkan alat-alat mandi. 4) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Analgetik dapat meningkatkan ambang nyeri pada pusat nyeri di otak atau dapat membloking rangsang nyeri sehingga tidak sampai ke susunan saraf pusat. Rasional : Dengan menyediakan air dan mendekatkan alat-alat mandi maka akan mendorong kemandirian klien dalam hal perawatan dan melakukan aktivitas. mulut dan gigi bersih serta tidak berbau. mengurangi edema dan nyeri. c) Rambut bersih dan rapih d) Pakaian. tempat tidur dan meja klien bersih dan rapih. 2) Bantu klien dalam mencuci rambut dan potong kuku. 2) Evaluasi derajat nyeri. b) Kuku pendek dan bersih. Rasional : Distraksi untuk mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri karena perhatian klien dialihkan pada hal-hal lain. Rasional : Merupakan intervensi monitoring yang efektif. e) Klien mengatakan merasa nyaman. catat perubahan tanda-tanda vital dan emosi. jika klien mampu. 3) Berikan teknik penanganan stress seperti relaksasi. Gangguan pemenuhan ADL. Tingkat kegelisahan mempengaruhi persepsi reaksi nyeri. a.

Rasional : Peninggian menurunkan edema dan menurunkan resiko kontraktur fleksi dari panggul. tinggikan kaku tempat tidur melalui blok untuk meninggikan puntung. Jangan menekuk lutut. 6. 2) Jangka Pendek : a) Klien dapat melakukan latihan rentang gerak. c) Kulit pada bokong tidak terasa ngilu. 2) Tempatkan klien pada posisi telungkup selama 30 menit 3 – 4 kali setiap hari setelah periode yang ditentukan dari peninggian kontinyu. Rasional : Dengan membersihkan dan merapihkan lingkungan akan memberikan rasa nyaman klien. Intervensi : 1) Pertahankan peningkatan kontinyu dari puntung selama 24 – 48 jam sesuai pesanan. b. Tujuan : 1) Jangka Panjang : Kontraktur tidak terjadi. a. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama. 3) Anjurkan pada klien untuk merubah posisi tidurnya setiap 3 – 4 jam sekali Rasional : Untuk mencegah penekanan yang terlalu lama yang dapat menyebabkan iritasi. a. Intervensi : 1) Kerjasama dengan keluarga untuk selalu menyediakan sabun mandi saat mandi. b. Rasional : Alat tenun yang bersih dan rapih mengurangi resiko kerusakan kulit dan mencegah masuknya mikroorganisme. . Rasional : Otot normalnya berkontraksi waktu dipotong. Resiko tinggi terhadap kontraktur berhubungan dengan immobilisasi. c) Tidak terjadi tanda-tanda kontraktur seperti kaku pada persendian. Tujuan : 1) Jangka Panjang : Klien dapat sembuh tanpa komplikasi seperti infeksi. b) Setiap persendian dapat digerakkan dengan baik. tempat tidur atau menempatkan bantal dibawah sisa tungkai. b) Kulit tidak berwarna merah. Rasional : Sabun mengandung antiseptik yang dapat menghilangkan kuman dan kotoran pada kulit sehingga kulit bersih dan tetap lembab. Posisi telungkup membantu mempertahankan tungkai sisa pada ekstensi penuh. 2) Jangka Pendek : a) Kulit bersih dan kelembaban cukup. 3) Anjurkan klien untuk senantiasa merapikan rambut dan mengganti pakaiannya setiap hari. 2) Pelihara kebersihan dan kerapihan alat tenun setiap hari. 5.maka kebersihan rambut dan kuku terpenuhi.

Tujuan : 1) Jangka Panjang : Infeksi tidak terjadi 2) Jangka Pendek : a) Luka bersih dan kering b) Daerah sekitar luka tidak kemerahan dan tidak bengkak. Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka.3) Tempatkan rol trokanter disamping paha untuk mempertahankan tungkai adduksi. 3) Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yang steril.000/mm3) b. Intervensi : 1) Observasi keadaan luka Rasional : Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepat ditanggulangi. 4) Mulai latihan rentang gerak pada puntung 2 – 3 kali sehari mulai pada hari pertama pasca operasi. Konsul terapist fisik untuk latihan yang tepat. a. frekuensi dan penurunan tekanan darah merupakan salah satu terjadinya infeksi . 7. 2) Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam melakukan setiap tindakan keperawatan Rasional : Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan atau membunuh kuman sehingga infeksi tidak terjadi. Rasional : Latihan rentang gerak membantu mempertahankan fleksibilitas dan tonus otot. Rasional : Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan dengan menggunakan peralatan yang steril agar luka tidak terkontaminasi oleh kuman dari luar. denyut nadi. 5) Monitor tanda-tanda vital Rasional : Peningkatan suhu tubuh. c) Tanda-tanda vital normal d) Nilai leukosit normal (5000 – 10. 4) Monitor LED Rasional : Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang merupakan tanda-tanda infeksi. Rasional : Kontraktur adduksi dapat terjadi karena otot fleksor lebih kuat dari pada otot ekstensor.