P. 1
Naskah Akademik RUU Penyadapan

Naskah Akademik RUU Penyadapan

|Views: 688|Likes:
Published by arifuddinhamid
Naskah Akademik RUU Penyadapan adalah kajian hukum tentang RUU Penyadapan
Naskah Akademik RUU Penyadapan adalah kajian hukum tentang RUU Penyadapan

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: arifuddinhamid on Dec 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2014

pdf

text

original

NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENYADAPAN

*

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mempunyai tujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia berkewajiban untuk mewujudkan tujuan negara termasuk melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana diamanatkan pasal 28 Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Repubik Indonesia Tahun 1945. Pasal 28F UUD tahun 1945 berbunyi; “bahwa Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. Ketentuan pasal tersebut merupakan jaminan terhadap hak pribadi yang tidak dapat dilanggar dengan cara apapun karena merupakan hak asasi yang dilindungi oleh negara.

Jaminan terhadap kerahasiaan pribadi seseorang merupakan hak asasi yang bersifat universal dan telah diakui secara internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Intemasional tentang Hak Sipil dan Politik) yang sudah diratifikasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights. Selanjutnya dikatakan di dalam Pasal 17 ICCPR bahwa: pertama, “Tidak seorangpun boleh dijadikan sasaran campur tangan yang sewenang-wenang atau tidak sah atas kerahasiaan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya atau hubungan surat menyuratnya 1
* Karya tulis disertakan dalam Kompetisi Legislative Drafting diadakan Universitas Padjajaran (2010). Karya adalah kerja tim.

ataupun tidak boleh dicemari kehormatannya, dan nama baiknya. Dan kedua, Setiap orang berhak atas perlindungan hukum terhadap campur tangan atau pencemaran demikian”. Berarti, hak pribadi yang telah dijamin oleh Pasal 17 ICCPR sama dengan makna Pasal 28F UUD 1945 yang memberikan jaminan terhadap hak konstitusional warga negara untuk berkomunikasi tanpa adanya gangguan.

Menjadi sebuah permasalahan ketika penyadapan yang dianggap sebuah intervensi dari hak atas privasi berkomunikasi digunakan oleh aparatur negara dalam penegakan hukum. Di dalam undang-undang dasar kita dikenal dengan pembatasan oleh Negara terhadap hak asasi manusia, pembatasan itu semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan tuntutan moral, nilai - nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Tapi ingat pembatasan itu hanya bisa diatur hanya dalam peraturan perundang - undangan.

Selama ini pengaturan mengenai penyadapan hanya diatur di dalam sebuah peraturan menteri komunikasi dan informasi, dianggap tidak konstitusianal jika perlakuan negara yang membatasi hak asasi manusia hanya diatur oleh peraturan setingkat peraturan menteri, maka dari itu dianggap perlu adanya sebuah pengaturan perundang - undangan tentang penyadapan, sehingga mempunyai landasan konstitusional dan bisa menghindari adanya kesewenang - wenangan bagi aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan dalam menyadap, dan bagi aparat penegak hukum pun memperoleh keuntungan akan adanya peraturan perundang undangan tentang penyadapan ini, yaitu adanya kepastian hukum yang jelas tentang penyadapan sehingga tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.

Sebagai akibat dari urgensi akan pengaturan penyadapan tersebut, DPR bersama Pemerintah harus sesegera mungkin membuat Undang-Undang tentang Penyadapan. Mengingat urgensi dan pentingnya penyadapan bagi upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana yang dianggap sulit pemberantasannya di Indonesia, kami,

2

mahasiswa Fakultas Hukum Indonesia, berinisiatif menyusun draft naskah akademis dan RUU Penyadapan.

Adapun urgensi dan pentingnya keberadaan pengaturan tentang penyadapan di Indonesia, dapat dilihat dari alasan-alasan sebagai berikut; pertama, perlindungan terhadap hak asasi manusia. Kedua, kepastian hukum. Ketiga, penyadapan adalah cara paling efektif dan efisien dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana yang dianggap sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Dan keempat, mencegah penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki aparat penegak hukum. Dengan mengacu pada uraian latar belakang masalah sebagaimana telah diutarakan, terutama melihat kenyataan objektif, ketentuan hukum tentang penyadapan adalah sebuah keharusan. Berbagai potensi penyalahgunaan kekuasaan dapat

diminimalisir, bahkan dihilangkan, sehingga penyadapan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh karenanya, dalam naskah akademik ini penulis akan mengkaji lebih mendalam, tentunya disertai data, fakta, dan landasan epistemologis yang jelas, mengapa UU tentang penyadapan begitu penting artinya.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan, satu hal yang perlu dijawab dalam naskah akademik ini, mengapa peraturan hukum tentang penyadapan perlu diadakan?

C. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dibuatnya naskah akademik ini, yaitu; sebagai landasan ilmiah bagi penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan tentang penyadapan, yang memberikan arah, dan menetapkan ruang lingkup bagi penyusunan peraturan perundang-undangan.

Sementara kegunaan naskah akademik, yaitu sebagai bahan masukan bagi pembuat rancangan peraturan perundang-undangan tentang penyadapan. Selain itu, diharapkan dapat dijadikan rujukan bagi pihak-pihak terkait. 3

D. Metode Penelitian

Metode pendekatan yang digunakan dalam penyusunan naskah akademik ini adalah pendekatan sosio yuridis, dengan melakukan metode pengkajian normatif dan empiris, dengar pendapat, konsultasi publik dan observasi lapangan yang berkaitan dengan masalah dan mekanisme penyadapan.

Langkah-langkah strategis yang dilakukan meliputi: 1. Menganalisa dan mengkaji sistem dan mekanisme penyadapan yang telah dilakukan oleh aparat penegak hukum terkait. 2. Analisis sandingan dari berbagai peraturan perundang-undangan (tinjauan legislasi) yang berkaitan dengan peraturan penyadapan. 3. Analisis informasi dan aspirasi yang berkembang dari berbagai instansi/lembaga terkait dan akademisi (tinjauan teknis), yang meliputi Komisi Pemberantasan korupsi, dan dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 4. Melakukan tinjauan akademis melalui diskusi dengan anggota Tim, Pakar dan melaksanakan pertemuan-pertemuan untuk mendapatkan masukan. 5. Merumuskan dan menyusun dalam bentuk deskriptif analisis serta menuangkannya dalam naskah akademis Rancangan Undang-Undang tentang penyadapan.

4

BAB II KERANGKA KONSEPTUAL

A. Istilah

Istilah peraturan perundang-undangan yang lazim digunakan dalam dunia hukum berasal dari kata dasar atur dan undang-undang, kemudian ditambah awalan per/pe dan akhiran an, sehingga kata dasar atur yang merupakan kata kerja dan kata dasar undang-undang yang merupakan kata benda digabung menjadi satu, menjadi kata benda pula.

Dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia, perundang-undangan diterjemahkan sebagai

yang bertalian dengan undang-undang atau seluk beluk undang-undang. Sedang kata undang-undang diartikan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan negara yang dibuat oleh pemerintah (menteri, badan eksekutif, dan sebagainya) disahkan oleh parlemen (dewan perwakilan rakyat, badan legislatif, dan sebagainya) ditandatangani oleh kepala negara (presiden, kepala pemerintah, raja) dan mempunyai kekuatan mengikat. Menurut A. Hamid, SA1, istilah peraturan perundang-undangan yang mengutip dari kamus hukum Fockema Andreae Wetgeving diartikan: 1. Perbuatan membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat daerah menurut tata cara yang ditentukan; 2. keseluruhan peraturan-peraturan tingkat pusat dan tingkat daerah. Sedangkan wettelijke regeling diartikan sebagai peraturan-peraturan yang bersifat perundangundangan.

B. Batasan

A. Hamid, SA, dalam Masyarakat Transparansi Indonesia, Penyusunan Peraturan Daerah yang Partisipatif, Jakarta, 2003, h.91-92.

1

5

Menurut PJP. Tak dalam bukunya Rechtvorming in Nederland, mengartikan peraturan perundang-undangan (undang-undang dalam arti materiil) adalah setiap aturan tingkah laku yang bersifat mengikat secara umum. Bagir Manan dan Kuntara Magnar memberikan pengertian peraturan perundang-undangan ialah setiap putusan tertulis yang dibuat, ditetapkan dan dikeluarkan oleh lembaga atau pejabat Negara yang mempunyai (menjelaskan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang berlaku. Hamid S. Attamimi2 memberikan batasan mengenai peraturan perundang-undangan sebagai berikut; semua aturan hukum yang dibentuk oleh semua tingkat lembaga dalam bentuk tertentu, dengan prosedur tertentu, biasanya disertai dengan sanksi dan berlaku umum serta mengikat rakyat.

Berbagai rumusan tentang peraturan perundang-undangan dapat diidentifikasikan menjadi sifat-sifat atau ciri-ciri dari suatu perundang-undangan, yaitu:3 1. Peraturan perundang-undangan berupa keputusan tertulis, jadi mempunyai bentuk atau format tertentu. 2. Dibentuk, ditetapkan dan dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Yang dimaksud dengan pejabat yang berwenang adalah pejabat yang ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku baik berdasarkan atribusi maupun delegasi 3. Peraturan perundang-undangan tersebut berisi aturan pola tingkah laku. Jadi, peraturan perundang-undangan bersifat mengatur (regulerend), tidak bersifat sekali jalan (einmahlig).

C. Kaidah-kaidah Hukum

Suatu peraturan perundang-undangan yang baik sekurang-kurangnya mengikuti kaidahkaidah hukum yang berlaku. Kaidah-kaidah tersebut antara lain mengikuti landasan
2 3

Ibid., Masyarakat Transparansi Indonesia, Penyusunan Peraturan Daerah yang Partisipatif, Jakarta, 2003, h. 92-93,

6

hukum, asas-asas peraturan perundang-undangan, lingkungan kuasa hukum, dan tata urutan perundang-undangan.

1. Landasan Hukum 1.1. Landasan filosofis

Setiap masyarakat atau bangsa tentu memiliki pandangan hidup yang berisi nilai-nilai moral atau etika. Moral dan etika itu pada dasarnya memuat sesuatu yang dianggap baik atau tidak baik. Nilai yang baik adalah pandangan dan cita-cita yang dijunjung tinggi. Hukum yang baik harus berdasarkan kepada semua nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Hukum yang dibentuk tanpa memperhatikan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat tidak akan ditaati atau dipatuhi.

Apapun jenis falsafah hidup masyarakat atau bangsa, harus menjadi rujukan dalam membentuk suatu hukum yang akan dipergunakan dalam kehidupan. Oleh karena itu, kaidah hukum yang dibentuk harus mencerminkan falsafah hidup masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral yang ada. Dengan kata lain, hukum harus berakar dari moral masyarakat.

1.2. Landasan Sosiologis

Suatu peraturan perundang-undangan agar ditaati oleh masyarakat maka harus dibuat bisa dipahami oleh masyarakat sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat yang bersangkutan. Hukum yang dibentuk harus sesuai dengan “hukum yang hidup” (living law) dalam masyarakat. Namun demikian, bukan berarti perundang-undangan sekedar merekam keadaan seketika (moment opname), melainkan juga memperhatikan perubahanperubahan yang terjadi di tengah masyarakat seperti nilai-nilai, kecenderungan dan harapan-harapan. Semua itu harus dapat diprediksi dan terakumulasi dalam peraturan perundang-undangan yang berorientasi masa depan.

1.3. Landasan Yuridis 7

Landasan yuridis adalah landasan hukum yang menjadi dasar kewenangan pembuatan peraturan perundang-undangan Apakah kewenangan seseorang pejabat atau badan mempunyai dasar hukum yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan atau tidak. Dasar hukum kewenangan membentuk peraturan perundang-undangan sangat diperlukan, tanpa disebutkan dalam peraturan perundang-undangan seorang pejabat atau badan tidak berwenang mengeluarkan peraturan.

Landasan yuridis sangat penting dalam pembuatan peraturan perundang-undangan karena akan menunjukkan:

1. Kewenangan Keharusan adanya kewenangan dari pembuat produk-produk hukum. Setiap produkproduk hukum harus dibuat oleh pejabat yang berwenang. Kalau tidak, produkproduk itu batal demi hukum (van rechtwegenieting) atau dianggap tidak pernah ada dan segala akibatnya batal demi hukum.

2. Kesesuaian bentuk dan isi Keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis produk-produk hukum dengan materi yang diatur, terutama kalau jenis dan materi produk-produk hokum yang bersangkutan diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi atau sederajat, sehingga bila tidak sesuai dengan bentuk, jenis, dan muatan yang diatur dapat menjadi alasan bahwa produk hukum tersebut batal demi hukum karena bertentangan dengan landasan yuridis material.

3. Mengikuti tata cara tertentu Apabila tata cara tersebut tidak diikuti, maka produk-produk hukum tersebut belum mempunyai kekuatan hukum mengikat dan dapat dibatalkan demi hukum.

4. Tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatnya. 8

2. Landasan Ekonomis

Landasan ekonomis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintah adalah yang menyangkut berbagai kehidupan ekonomi masyarakat.

3. Landasan Politis

Landasan politis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintah dapat berjalan sesuai dengan tujuan tanpa menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat.

D. Lingkungan Kuasa Hukum Menurut teori tentang lingkup atau lingkungan berlakunya hukum4, terdapat empat hal, yaitu:

1. Lingkungan kuasa tempat

Berlakunya aturan hukum (peraturan perundang-undangan) dibatasi oleh ruang dan tempat. Apakah sesuatu aturan hukum itu berlaku untuk suatu wilayah negara atau hanya berlaku untuk suatu bagian dari wilayah negara. “Daerah kekuasaan” berlakunya suatu undang-undang dapat meliputi seluruh wilayah negara, tetapi untuk suatu keadaan tertentu suatu materi tertentu hanya diberlakukan untuk sutu wilayah tertentu pula. Suatu peraturan daerah hanya berlaku untuk suatu daerah tertentu.

2. Lingkungan kuasa persoalan

Suatu materi atau persoalan tertentu yang diatur dalam suatu peraturan perundangundangan mengidentifikasi masalah tertentu. Dengan demikian, maka persoalan yang

4

Ibid., h.104-105.

9

diatur dalam peraturan perundang-undangan menunjukkan lingkup materi yang diatur, apakaha persoalannya adalah persoalan publik, privat, persoalan perdata atau pidana. Materi tersebut menunjukkan lingkungan masalah atau persoalan yang diatur.

3. Lingkungan kuasa orang

Suatu aturan mungkin hanya diberlakukan bagi sekelompok atau segolongan orang atau penduduk tertentu. Dengan ditempatkannya subjek atau orang tertentu dalam peraturan perundang-undangan, memperlihatkan adanya pembatasan mengenai orang

4. Lingkungan kuasa waktu

Lingkungan kuasa waktu menunjukkan kapan suatu peraturan perundang-undangan berlaku, apakah berlaku untuk suatu masa tertentu atau masa tidak tertentu,apakah mulai berlakunya suatu peraturan hukum ditentukan oleh waktu.

E. Prinsip Tata Urutan Perundang-Undangan

Dalam suatu teori tata urutan (hierarki) peraturan perundang-undangan, terdapat prinsipprinsip tata urutan5, yakni: 1. Perundang-undangan yang rendah derajatnya tidak dapat mengubah atau mengenyampingkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang lebih tinggi, tetapi yang sebaliknya dapat. 2. Perundang-undangan hanya dapat dicabut, diubah atau ditambah oleh/ atau dengan perundang-undangan yang sederajat atau lebih tinggi tingkatannya. 3. ketentuan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak mengikat apabila bertentangan dengan perundangundangan yang lebih tinggi tingkatannya. Ketentuan-ketentuan perundangundangan yang lebih tinggi tetap berlaku dan mempunyai kekuatan hukum serta

5

Ibid., h.105.

10

mengikat, walaupun diubah, diganti atau dicabut oleh peraturan perundangundangan yang lebih rendah. 4. Materi yang seharusnya diatur oleh perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya tidak dapat diatur oleh perundang-undangan yang lebih rendah. Tetapi yang sebaliknya dapat.

F. Asas-asas Peraturan Perundang-Undangan

Dalam menyusun suatu peraturan perundang-undangan, terdapat asas-asas yang perlu diperhatikan6, yaitu: 1. Kejelasan tujuan. 2. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. 3. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan. 4. Dapat dilaksanakan. 5. Kedayagunaan dan kehasilgunaan. 6. Kejelasan rumusan. 7. Keterbukaan.

Proses penyusunan undang-undang perlu dipersipkan sebaik mungkin. Murni karena sifatnya yang begitu esensial dalam mengatur kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, upaya pendefinisian undang-undang menjadi teramat penting. C.S.T. Kansil7, mendefinisikan undang-undang sebagai suatu bentuk peraturan untuk melaksanakan undang-undang Dasar atau ketetapan MPR.

Dalam hubungan ini tentu timbul persoalan, apakah di dalam suatu materi harus diatur seluas-luasnya ataukah sesedikit mungkin. Yang harus diatur di dalam undang-undang, adalah apa yang diperlukan di dalam praktek dan tidak lebih dari itu. Jadi, suatu undang6

Republik indonesia,” Undang-undang No.10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan,” dalam Maria Farida Indrati S, Ilmu Perundang-undangan (Yogyakarta: penerbit Kanisius, 2007). h. 257. C.S.T. Kansil, Praktek Hukum Peraturan Perundangan di Indonesia, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1983, h.140.

7

11

undang harus lengkap isinya, tetapi tidak perlu memuat ketentaun-ketentuan yang tidak berguna. Berdasarkan alasan-alasan praktis, seringkali tidak perlu seluruh materi diatur di dalam undang-undang dalam arti formil, tetapi hanyalah pokok-pokok dari materi itu, sedang peraturan-peraturan pelaksanaannya dapat diatur dalam peraturan pemerintah atau peraturan lain. 8

8

Iwan Soejito, dalam C.S.T. Kansil, Praktek Hukum Peraturan Perundangan di Indonesia, Jakarta, Penerbit Erlangga, 1983, h.140-141.

12

Dalam pembentukannya, persiapan rancangan undang-undang menurut perpres No. 68 tahun 2005 dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut: 9

9

Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, http://legalitas.org/index.php/proses-penyiapan-ruu (diakses 28 februari 2010)

13

BAB III ANALISIS PENYADAPAN

A. Asas-asas perlunya dilakukan penyadapan

Penyadapan sebagai metode pembongkaran tindak pidana kejahatan perlu dilatari oleh alasa-alasan tertentu. Persis disinilah, asas-asas yang menyatakan bahwa penyadapan adalah suatu tindakan rasional, harus dielaborasi lebih lanjut. Dengan adanya asas tersebut, penyadapan akan mampu mempunyai dasar yang jelas dan pasti. Selain itu, asas tersebut perlu sebagai dasar legitimasi, mengapa penyadapan harus dilakukan. Oleh karenanya, penjelasan lebih lanjut mengenai asas-asas yang melatari tindak penyadapan menjadi sesuatu yang teramat esensial.

Dalam fungsinya sebagai metode pembongkaran tindak pidana kejahatan, penyadapan berlandaskan asas-asas sebagai berikut:

1. Asas legalitas

Ajaran asas legalitas ini sering dirujuk sebagai nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali, artinya: tiada delik, tiada pidana, tanpa didahului oleh ketentuan pidana dalam perundang-undangan. Walaupun menggunakan bahasa Latin, menurut Jan Remmelink, asal-muasal adagium di atas bukanlah berasal dari hukum Romawi Kuno. Akan tetapi dikembangkan oleh juris dari Jerman yang bernama von Feuerbach, yang berarti dikembangkan pada abad ke-19 dan oleh karenanya harus dipandang sebagai ajaran klasik. 10

Dalam bukunya yang berjudul Lehrbuch des Peinlichen Rechts (1801), Feuerbach mengemukakan teorinya mengenai tekanan jiwa (Psychologische Zwang Theorie).

10

Fajrimei A. Gofar et. Al. 2005, Asas Legalitas dalam Rancangan KUHP 2005 (Position Paper Advokasi RUU KUHP Seri #1), ELSAM-Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Jakarta, h. 6.

14

Feuerbach beranggapan bahwa suatu ancaman pidana merupakan usaha preventif terjadinya tindak pidana. Apabila orang telah mengetahui sebelumnya bahwa ia diancam pidana karena melakukan tindak pidana, diharapkan akan menekan hasratnya untuk melakukan perbuatan tersebut. Oleh karena itu harus dicantumkan dalam undangundang11.

Dalam Rancangan KUHP, asas legalitas telah diatur secara berbeda dibandingkan Wetboek van Straftrecht (WvS). Asas legalitas pada dasarnya menghendaki: (i) perbuatan yang dilarang harus dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan, (ii) peraturan tersebut harus ada sebelum perbuatan yang dilarang itu dilakukan. Tetapi, adagium nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali telah mengalami pergeseran, seperti dapat dilihat dalam Pasal 1 Rancangan KUHP berikut ini: Pertama, tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan, kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan. Kedua, dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan analogi. Ketiga, ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang undangan. Dan keempat, berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsabangsa. 12

Melalui pengaturan Pasal 1 ayat (3) Rancangan KUHP, bisa saja seseorang dapat dituntut dan dipidana atas dasar hukum yang hidup dalam masyarakat, walaupun perbuatan tersebut tidak dinyatakan dilarang dalam perundang-undangan. Padahal, seharusnya asas legalitas merupakan suatu safeguard bagi perlindungan, penghormatan dan penegakan

11 12

Ibid., Ibid., h.3

15

hak asasi manusia, yang menghendaki adanya batasan terhadap penghukuman terhadap seseorang. 13

Oleh karenanya, pengaturan tersendiri mengenai penyadapan adalah bentuk penerapan asas legalitas, guna ketegasan dan kejelasan hukum. Pada akhirnya, penyadapan tindak pidana menemukan basis legal lewat undang-undang penyadapan. Aparat penegak hukum dapat menjalankan tugas dan fungsinya, tanpa mencabik rasa keadilan masyarakat.

2. Asas Efisiensi

Dalam asas reformasi birokrasi yang dikenal dengan istilah good governance, sebagaimana tercantum di dalam Pasal 20 UU No. 32/2004, tercantum bahwa asas efisiensi adalah asas yang berorientasi pada minimalisasi penggunaan sumber daya untuk mencapai hasil kerja yang terbaik.

Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, selain dipergunakan untuk mendorong efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, kemajuan teknologi informasi juga dapat menghemat APBN dalam kegiatan pengadaan barang/jasa untuk kepentingan pemerintah. Diharapkan eprocurement yang menyediakan fasilitas pengadaan melalui jaringan elektronik akan meningkatkan transparansi proses pengadaan sehingga bisa menekan kebocoran yang mungkin terjadi. Transparansi merupakan syarat pertama dari perwujudan good governance. Mengapa? Karena transparansi akan mempermudah akses informasi bagi masyarakat yang kemudian mempermudah dan memancing partisipasi mereka. Dengan adanya kedua hal tersebut, maka pada gilirannya pemerintah dituntut untuk lebih akuntabel dalam menjalankan tugas dan fungsinya. 14

Berbicara tentang penghematan yang dapat dilakukan dari pelaksanaaan e-procurement ini, beberapa pihak mengklaim telah terjadi penghematan yang luar biasa. Dari berbagai

13 14

Ibid., h.4 Antasari Azhar, 2008, “Upaya Pemberantasan Korupsi Seiring Kemajuan Teknologi Informasi”, Jurnal Legislasi Indonesia Vol.5 No.4, Desember 2008, h.14-15.

16

sumber, disebutkan bahwa penghematan yang terjadi berkisar antara 15% hingga 23,5%, angka yang tidak tanggung-tanggung untuk ukuran APBN negara kita. 15

Mengenai keabsahan transaksi dan kekuatan pembutian, transaksi elektronik tidak memerlukan hard copy atau warkat kertas, namun demikian setiap transaksi yang melibatkan eksekusi diberikan tanda bukti berupa nomer atau kode yang dapat disimpan/direkam di komputer atau dicetak. 16

Demikian berarti penyadapan sebagai metode baru dalam pengungkapan tindak pidana, menjadi jawaban atas inefisiensi yang selama ini terjadi. Dengan penyadapan, pelaku dapat ditangkap dengan cepat, dan tidak membuang banyak sumber daya. Oleh karenanya, penyadapan menjadi cara terbaik dalam upaya pembongkaran kejahatan.

3. Asas perlindungan hak asasi manusia

Dalam

penjelasan

umum

Undang-Undang

tentang

KPK

disebutkan

bahwa:

“……..Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, dan karena itu semua maka tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu kejahatan luar biasa”. 17

Kalimat di atas bisa jadi merupakan salah satu alasan undang-undang ini mengatur kembali pemberian kewenangan penyadapan kepada KPK, sekalipun kewenangan yang sama telah diberikan dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tentang dimungkinkannya alat bukti petunjuk berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan

15 16

17

Ibid., h.15 Mas Wigrantoro, R.S, 2003, “Naskah Akademik RUU Tindak Pidana di Bidang Teknologi Informasi”, lobal Internet Policy Initiative – Indonesia, h. 36 Op.Cit., h.16

17

atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna. 18

Sebagai contoh di atas, korupsi merupakan bentuk kejahatan yang tergolong ke dalam kelas berat. Secara mudah, dapat dikatakan bahwa pelaku korupsi adalah penjahat kelas elit. Dan penyadapan menjadi jawaban atas praktek korupsi yang begitu menggejala. Persis disinilah, logika penyadapan menemukan basis argumentasinya.

Walau demikian, bahwa memang cara-cara luar biasa (baca: penyadapan) menjadi sesuatu yang legal, potensi penyalahgunaan tetaplah besar. Peraturan hukum menjadi rem guna pencegahan penyelewengan fungsi. Undang-undang penyadapan menjadi sebentuk jawaban atas celah yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum. Dalam sejarahnya, kekuasaan yang teramat besar dan tidak terkontrol amat rawan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).

Tidak adil jika sebuah lembaga (atau entitas pada umumnya) memiliki kekuasaan tak terbatas. Tidak mungkin menyerahkan segala macam permasalahan hukum kepada sebuah lembaga. Pendekatan institusionalism, dengan pembentukan lembaga-lembaga baru tidak selamanya menjadi pilihan terbijak. Distorsi antara konstruksi ideal dalam konsepsi, tidak selamanya sejalan dengan kenyataan objektif. Oleh karenanya, pengaturan dalam sebuah undang-undang khusus, terkait fungsi penyadapan menjadi keniscayaan.

4. Asas kerahasiaan demi kepentingan umum

Penegak hukum di Indonesia, dalam hal ini Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi sama-sama diberi kewenangan melakukan penyadapan. Dan
18

Mohammad Kemal Darmawan, dalam Antasari Azhar, ibid., h.16-17

18

tidak seperti yang dipersepsikan banyak orang, para penegak hukum tidak bisa sekehendak hatinya menggunakan instrumen yang sensitif ini. 19

Sejatinya, penyadapan menuntut tanggung jawab dari aparat penegak hukum untuk merahasiakannya, baik pra, pada saat, maupun pasca penyadapan dilakukan. Penyadapan adalah persoalan integritas. Jikalau aparat penegak hukum ingin bertindak di luar tupoksinya, pemanfaatan penyadapan untuk kepentingan pribadi begitu mudah dilakukan. Aturan hukum tidaklah tegas dalam mengatur mekanisme penyadapan, terutama terkait aspek pertanggung jawaban. Kemungkinan pembocoran informasi tetaplah menjadi

momok mengerikan. Dan menjadi benalu dalam upaya pemberantasan tindak kejahatan.

Terkait demikian, perlunya pengaturan khusus dalam suatu undang-undang bukan lagi sebuah perdebatan. Menjadi keharusan untuk mengatur mengenai perkara penyadapan. Pengaturan aspek-aspek teknis, juga menjadi begitu esensial. File digital dalam bentuk rekaman elektronik harus betul-betul dijaga. Kerahasiaannya menjadi kunci

pemberantasan tindak pidana.

B. Urgensi Penyadapan

Perlunya dibuat peraturan tersendiri yang mengatur tentang penyadapan memang tak lagi sekadar wacana. Setidaknya terdapat beberapa alasan logis, mengapa masalah penyadapan ini perlu diatur tersendiri dalam suatu undang-undang khusus, yaitu:

1. Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia

Sejatinya, penyadapan merupakan suatu tindak yang melawan hukum. Ketika seseorang disadap, tentu sang penyadap telah melakukan suatu perbuatan yang melanggar kebebasan si tersadap. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia merupakan suatu bentuk dehumanisasi. Michael Ignatieff menegaskan bahwa, tujuan hak asasi manusia adalah,
19

Antasari Azhar, loc.cit., h.16-17

19

“to protect human agency and therefore to protect human agents against abuse and oppression. Human protects the core of negative freedom,freedom from abuse,oppression, and cruelty”.20 Dengan konstruksi berpikir demikian, sekilas bahwa penyadapan kontra-produktif dengan hakikat kebebasan manusia. Pun dalam konstitusi tegas dikatakan bahwa kewenangan untuk melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan adalah pelanggaran hak warga negara atas rasa aman dan jaminan perlindungan dan kepastian hukum, sehingga bertentangan dengan Pasal 28D Ayat (1) dan Pasal 28G Ayat (1) UUD 1945.

Penyadapan hampir di seluruh negara, termasuk di Indonesia, hanya dapat dilakukan oleh lembaga penegak hukum, kepolisian, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi. UU No 36/1999 tentang Telekomunikasi (UU Telekomunikasi), dan UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) telah memuat ketentuan tentang penyadapan.

Penyadapan pada prinsipnya haruslah dilarang karena melanggar prinsip perlindungan pribadi. Dalam rekaman yang diperdengarkan di gedung Mahkamah Konstitusi itu ada hal yang cukup kontroversial diantaranya yaitu MK malah langsung mendengarkan hasil rekaman tersebut tanpa ada uji validitas terlebih dahulu. Uji validitas itu dalam kerangka penyadapan tentunya harus meliputi uji keperluan, uji perolehan, dan uji keaslian. Tanpa mengindahkan semua alat uji tersebut MK malah memperdengarkan hasil rekaman tersebut. Dalam hal ini sebaiknya ada prosedur yang harus dilalui dimana hal ini tidak dikenal di KUHAP, ataupun hukum acara pidana khusus lainnya ataupun di UU ITE bagaimana hasil penyadapan tersebut bisa diakui sebagai alat bukti. 21

20

Michael Ignatieff, “Human Rights as Politics and Idolatry”, dalam Romli Atmasasmita, Hukum Pidana Internasional dan Hukum Hak Asasi Manusia, Bahan Pelatihan Hukum Ham; Diselenggarakan oleh Pusham UII Yogyakarta tanggal 23 September 2005, h.17.

21

Anggara, “Lagi-lagi soal Penyadapan”, http://anggara.org/2009/11/06/lagi-%E2%80%93-lagi-soalpenyadapan/ (diakses pada 27 februari 2010).

20

Di dalam UU Telekomunikasi, kegiatan penyadapan dalam rangka pengamanan telekomunikasi diatur Pasal 40, sedangkan UU ITE mencantumkan hal serupa dengan istilah "Perbuatan yang Dilarang" dalam Pasal 31 Bab VII. Bedanya, UU Telekomunikasi secara terbatas menjelaskan lembaga penegak hukum yang berwenang melakukan penyadapan, sedangkan UU ITE belum mengaturnya sama sekali. Kekhawatiran sementara pihak dengan keberhasilan KPK melaksanakan tugas dan wewenang penyadapan berdasarkan UU KPK ( 2002) dapat dipahami jika pelaksanaan tugas dan wewenang penyadapan tidak dibatasi sehingga dapat melanggar perlindungan hukum atas hak privat setiap orang. Yang dikhawatirkan justru dalam keadaan sekarang, yaitu pada saat pro dan kontra penyadapan oleh KPK tengah berlangsung, RPP justru diterbitkan untuk memangkas wewenang KPK.22 Kekhawatiran ini juga dapat dipahami karena UU ITE (2008) dikeluarkan setelah UU KPK (2002) dan kedua UU mengatur ketentuan (yang sama) penyadapan sehingga berlaku asas, "lex posteriori derogat lex priori" (undang-undang yang dikeluarkan terakhir mengesampingkan undang-undang yang dikeluarkan lebih dulu dalam hal objek yang sama). 23 Penyadapan sendiri setidaknya harus melewati tiga alat uji yaitu; pertama, uji keperluan; yaitu apakah penyadapan benar–benar diperlukan karena tidak ada lagi alat bukti yang bisa memperkuat sangkaan atau dakwaan? Penyadapan harus hanya diperbolehkan apabila penegak hukum tidak dapat lagi memperoleh alat bukti lain dalam suatu tindak pidana. Karena itu penyadapan tidak boleh diberlakukan untuk generic criminal offences tapi harus hanya boleh diberlakukan pada most serious criminal offences. Kemudian setelah lolos dari uji pertama, harus masuk pada uji kedua yaitu uji perolehan; yakni penilaian terhadap apakah penyadapan dilakukan menurut cara yang ditentukan oleh hukum atau tidak. Setelah lolos dari uji ini maka harus masuk kepada uji yang ketiga yaitu apakah hasil penyadapan itu benar–benar asli ataukah ada rekayasa teknologi di
22

Romli Atmasasmita, “Legalitas Penyadapan”, http://legalitas.org/index.php/proses-penyiapan-ruu (diakses 27 februari 2010). Ibid.,

23

21

dalamnya? Dengan demikian, setelah melewati dan lolos uji tiga rangkai ini maka hasil penyadapan itu baru disahkan oleh melalui pengadilan untuk dapat digunakan sebagai alat bukti.24 Secara konseptual, tanpa adanya ketentuan hukum yang mengatur khusus tentang penyadapan, potensi pelanggaran terhadap hak asasi manusia sangatlah besar. Beberapa Perlu diingat bahwa hak setiap warga negara atas rasa aman adalah merupakan conditio sine qua non bagi terciptanya perlindungan hukum terhadap setiap warga negara. Keberadaan aparat penegak hukum yang diberi kewenangan untuk melakukan penyadapan sangat jelas melanggar hak warga negara dari rasa aman untuk berkomunikasi. Hal ini dikarenakan selain belum adanya undang-undang yang mengatur penyadapan, penyadapan terhadap warga negara berpotensi dimanfaatkan oleh pihakpihak yang mempunyai kekuasaan dan mempunyai kepentingan tersendiri (vested interest). Sehingga dengan demikian sangat rentan terjadi abuse of power terhadap warga negara yang belum terbukti atau bahkan belum diduga terlibat tindak pidana korupsi sudah dilakukan penyadapan oleh aparat penegak hukum yang seharusnya bertindak berdasarkan aturan hukum.

Selain itu, mekanisme penyadapan yang tanpa ada aturan tersebut, jelas-jelas melanggar prinsip praduga tidak bersalah (presumption of innocence) yang merupakan prinsip utama dalam penegakan hukum. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat, Biro Investigasi Federal (FBI) sebagai lembaga yang berwenang melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap adanya dugaan perbuatan kriminal/tindak pidana diwajibkan untuk meminta izin kepada pengadilan federal (Federal District Court) dengan dasar yang kuat karena di Amerika Serikat penyadapan tanpa izin adalah merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

Dalam konteks demikian, undang-undang tentang penyadapan menemukan raison d’etrenya. Dengan peraturan tersendiri, maka ketakutan terjadinya tindak penyelewengan
24

Anggara, op. cit.,

22

terhadap fungsi penyadapan dapat diminimalisir. Mengenai mekanisme, persyaratan, dan ketentuan-ketentuan lainnya akan diatur dalam undang-undang ini. Dan penyadapan dapat dilakukan sesuai dengan keperluannya, demi pemberantasan tindak pidana kejahatan di satu sisi, dan perlindungan terhadap hak asasi manusia di sisi yang lain. 2. Kepastian Hukum Undang-undang tersendiri tentang penyadapan sampai sekarang belum ada. Aparat penegak hukum hanya berpatokan pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan penyadapan atas informasi yang disalurkan melalui jaringan telekomunikasi dalam bentuk apa pun (Pasal 40) kecuali untuk keperluan proses peradilan pidana rekaman pembicaraan melalui jaringan telekomunikasi tidak dilarang (Pasal 42 ayat [2]). Pun dalam KUHAP, tidak terdapat aturan yang jelas mengenai perkara penggunaan hasil rekaman sebagai alat bukti. Dengan kata lain, terdapat kekosongan hukum dalam aturan KUHAP itu sendiri.

Oleh karenanya, permasalahan menyangkut penyadapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum sejatinya menimbulkan masalah tertentu. Terutama semenjak bergulirnya kasus Antasary yang fungsi penyadapan itu sendiri tidak sesuai penggunaannya, ketidakjelasan hukum menjadi fenomena wajar. Adanya ketidakberesan dalam pemahaman akan penggunaan mekanisme penyadapan merupakan ekses dari ketidakjelasan pengaturan hukum. Romli Astasasmita25 menyatakan bahwa penyadapan dan perekaman dapat dilakukan dalam tiga tahap proses pro justisia sehingga semakin jelas bahwa perkara tindak pidana korupsi merupakan perkara luar biasa (extra-ordinary cases) karena memang tindak pidana korupsi, termasuk tindak pidana suap,merupakan perkara yang sulit pembuktiannya sehingga memerlukan cara penanganan yang luar biasa,termasuk menyadap dan merekam pembicaraan.

Memang benar bahwa terdapat pengaturan mengenai penyadapan dalam berbagai undang-undang. Di dalam UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
25

Romli Astasasmita, “Rekaman Perkara Korupsi”, Seputar Indonesia, 20 juni 2008.

23

Elektronik disebutkan, alat bukti penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan termasuk alat bukti lain berupa informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik. Dokumen elektronik dirumuskan,setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal atau sejenisnya, yang dapat dilihat,ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik. Sementara di dalam UU No 20 Tahun 2001 Perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, hasil rekaman termasuk alat bukti petunjuk (Pasal 26 A).

Namun demikian, pengaturan yang ada tidak begitu spesifik, karena penyadapan bukanlah fokus utama dalam substansi undang-undang yang ada. Kalau diperhatikan, pengaturan tentang penyadapan hanya terdapat pada beberapa pasal tertentu yang menimbulkan tumpah tindih pengaturan antar satu dengan yang lainnya.

3. Menyelidiki dugaan terjadinya tindak pidana Tindak kejahatan selalu menemukan modus operandinya. Kecanggihan para pelaku kejahatan tentu saja membuat pembongkaran kasus pidana menjadi sulit untuk dilakukan. Terlebih dengan perkembangan zaman, fasilitas untuk melakukan tindak kejahatan semakin canggih. Revolusi teknologi menjadi sesuatu, yang berdampak positif sekaligus negatif. Komunikasi antar pelaku (dan/atau calon pelaku) semakin mudah untuk dilakukan. Pemanfaatan alat komunikasi berupa handphone terutama, menjadi modus yang sering dilakoni oleh para pelaku tindak kejahatan.

Menghadapi kenyataan demikian, diperlukan metode khusus yang dirasa efektif untuk membongkar tindak kejahatan. Menghadapi kejahatan terencana oleh orang-orang terpelajar dan berkuasa demikian, proses investigasinya haruslah progresif. Penjebakan adalah salah satu bentuk progresivitas itu.

Metode penjebakan jelas bukanlah barang haram. Ia justru cara paling efektif untuk mengungkapkan kasus-kasus kejahatan tingkat tinggi sejenis korupsi. Metode ini bahkan sudah menjadi standar pengungkapan kasus-kasus sulit di banyak negara maju. Dalam 24

makalahnya, di seminar internasional perang melawan korupsi di Bangkok tahun 2000, Ralph Horton berpendapat bahwa penyamaran dan penjebakan adalah cara paling efektif untuk membongkar kasus korupsi. 26

Berkait dengan penyelidikan kasus korupsi dengan cara menjebak ini, baru-baru ini, pada bulan September 2004, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah mengeluarkan buku petunjuk Practical Anti-Corruption Measures for Prosecutors and Investigators. Sejalan dengan argumentasi Profesor Satjipto Rahardjo yang menegaskan diperlukannya caracara luar biasa untuk memberantas korupsi, buku PBB di atas menegaskan perlunya teknik investigasi khusus guna mengumpulkan bukti-bukti kasus korupsi. Ditegaskan pula, ketika proses penjebakan dilakukan, perlengkapan-perlengkapan semacam audiovideo adalah peralatan standar yang diperlukan guna memproduksi alat bukti. 27

Di Indonesia, penggunaan teknologi untuk memproduksi bukti korupsi dengan teknologi audio-video itu terbuka lebar karena Pasal 12 Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan, dalam melaksanakan tugas penyelidikan,

penyidikan, dan penuntutan, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan.28 Oleh karenanya, penyadapan pesawat telepon merupakan metode khusus yang perlu digunakan, guna pembongkaran tindak pidana. Keefektifan penyadapan telah menjadi rahasia umum. Komisi pemberantasan Korupsi yang diberi wewenang sebagai agent utama pemberantasan korupsi telah mampu melakoni perannya dengan baik. Banyak kasus korupsi besar yang mampu diungkap, dengan metode penyadapan.

4. Cara paling efektif dan efisien dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana yang dianggap sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime)

26

Lihat “Jebak Semua Koruptor”, Kompas, 23 April 2005 Ibid., Ibid.,

27

28

25

Banyak tindak pidana yang dianggap sebagai permasalahan yang serius di Indonesia, seperti korupsi, pengedaran narkotika, pencucian uang, terorisme, dll. Sebut saja kasus korupsi, korupsi dianggap permasalahan yang sudah merebak di segala bidang, kehidupan masyarakat secara meluas, sistematis dan terorganisir. Korupsi sudah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat. Korupsi menjadi penyebab timbulnya krisis ekonomi, merusak sistem hukum dan menghambat jalannya pemerintahan yang bersih dan demokratis. Dengan kata lain, korupsi sudah menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa. Begitu juga pengedaran narkotika yang sudah melibatkan jaringan internasional, pencucian uang, juga dalam kasus terorisme yang sulit dalam pencegahan dan pemberantasannya. Disini fungsi dari penyadapan sangat di perlukan dalam mengungkap permasalahan permasalahan diatas yang dianggap sudah merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime)

Dalam kasus korupsi, kondisi demikian diakui dan dinyatakan dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang - Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bagian penjelasan Undang-Undang tersebut menyatakan bahwa: “…mengingat korupsi di Indonesia terjadi secara sistematik dan meluas sehingga tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, maka pemberantasan korupsi perlu dilakukan dengan cara luar biasa…”

Begitu juga dalam kasus pengedaran narkotika, pencucian uang, terorisme, dan kejahatan lain yang termasuk dalam kategori kejahatan yang luar biasa, sudah terbukti banyak kasus diatas diberantas dengan diterapkannya penyadapan dalam proses peradilan,

5. Mencegah penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki aparat penegak hukum

26

Pada pasal 42 ayat 2 undang – undang no 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi menyebutkan: “Untuk keperluan proses peradilan pidana, penyeIenggara jasa telekomunikasi dapat merekam informasi yang dikirim dan atau diterima oleh penyelenggara jasa telekomunikasi serta dapat memberikan informasi yang diperlukan atas: (a permintaan tertulis Jaksa Agung dan atau Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk tindak pidana tertentu;dan (b) permintaan penyidik untuk tindak pidana tertentu sesuai dengan undang – undang yang berlaku.” Juga pada pasal 31 ayat (3) undang – undang no 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik menyebutkan: “Kecuali intersepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), intersepsi yang dilakukan dalam rangka penegakan hukum atas permintaan kepolisian, kejaksaan, dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang.”

Didalam undang–undang ini diakui bahwa peran penyadapan telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi sistem peradilan nasional, terutama dalam pencegahan dan pemberantasan kejahatan yang dianggap luar biasa di Indonesia. Tapi selama ini peraturan hukum mengenai penyadapan belum ada yang mengatur secara memadai, tegas, dan terperinci. Sehingga dikhawatirkan akan adanya penyalahgunaan kewenangan dalam melakukan penyadapan. Selama ini belum ada pengaturan yang dengan tegas memberikan batasan – batasan akan tindakan penyadapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Sebut saja undang undang tentang komisi pemberantasan korupsi yang hanya memberikan kewenangan penyadapan kepada KPK tetapi tidak ada penjelasan tentang batasan, syarat, ataupun tenggang waktu akan pelaksanaan penyadapan tersebut. kenyataan ini jelas akan menimbulkan kecurigaan dari masyarakat tentang pelaksanaan kewenangan penyadapan yang dilakukan oleh setiap aparat penegak hukum yang memperoleh kewenangan penyadapan dari undang-undang.

27

BAB IV MATERI MUATAN RUU PENYADAPAN

A. Materi Muatan Peraturan Perundang–undangan Materi rancangan undang-undang tentang penyadapan adalah seperti diuraikan berikut.

1. Ketentuan Umum

Pada prinsipnya bagian Ketentuan Umum ini menempatkan penggunaan istilah kata atau terminologi yang seringkali digunakan dalam Undang-Undang ini. Sekaligus

mendefinisikan dan memberikan pengertian maksud dari setiap istilah atau kata yang digunakan tersebut. Tujuannya adalah agar tidak terjadi pengulangan - pengulangan dan konsisten dalam menggunakan istilah dan kata - kata di dalam Pasal-Pasal yang dirumuskan. Disamping itu untuk memberikan kerangka dan garis-garis besar dalam memahamai dan mengimplementasikan Undang-Undang ini.

Dalam memberikan pengertian atau penjelasan istilah atau kata - kata yang digunakan, bisa saja mengacu dari pengertian umum yang sudah diberikan atau tercantum dari Undang-Undang lain yang terkait. Hal ini perlu dilakukan agar terjadi sinkronisasi dan harmonisasi maksud dari istilah dan terminologi yang digunakan. Sehingga tidak bertentangan satu sama lain yang bisa menyulitkan didalam pelaksanaannya dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Misalnya, karena Undang-Undang ini mengatur masalah penyadapan dan sebelumnya belum ada undang – undang yang mengatur tentang penyadapan karena penyadapan selama ini hanya di atur melalui peraturan menteri maka maksud dari istilah dan terminology kata yang digunakan dapat bersumber dari peraturan menteri yang sebelumnya sudah mengatur tentang penyadapan. Oleh karena itu dalam bagian Umum Undang-Undang ini, yang perlu diberikan penjelasan adalah maksud dari istilah atau penggunaan terminologi seperti; Penyadapan, aparat penegak hukum, dan standar operasional prosedur. Karena dipastikan istilah dan kata-kata tersebut yang akan seringkali digunakan dalam Undang-Undang ini. 28

2. Ketentuan Asas, Tujuan, dan Ruang Lingkup

Penyadapan sebagai metode pembongkaran tindak pidana kejahatan perlu dilatari oleh alasa-alasan tertentu. Persis disinilah, asas-asas yang menyatakan bahwa penyadapan adalah suatu tindakan rasional, harus dielaborasi lebih lanjut. Dengan adanya asas tersebut, penyadapan akan mampu mempunyai dasar yang jelas dan pasti. Selain itu, asas tersebut perlu sebagai dasar legitimasi, mengapa penyadapan harus dilakukan. Oleh karenanya, penjelasan lebih lanjut mengenai asas-asas yang melatari tindak penyadapan menjadi sesuatu yang teramat esensial.

Dalam fungsinya sebagai metode pembongkaran tindak pidana kejahatan, penyadapan berlandaskan asas-asas sebagai berikut: a. Legalitas b. Efisiensi c. Perlindungan hak asasi manusia d. Kerahasiaan demi kepentingan umum Penyadapan terhadap informasi yang dilakukan secara sah bertujuan untuk : a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi pencegahan dan pemberantasan kejahatan serius b. Memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi. Selanjutnya, mengenai ruang lingkup berlakunya undang-undang ini adalah penyadapan dalam rangka penegakan hukum.

3. Materi Pengaturan

3.1. Penyadapan Informasi dan Persyaratannya

Penyadapan terhadap Informasi yang sah hanya dapat dibenarkan apabila dilakukan dalam rangka penegakan hukum. Karena tindakan penyadapan hanya dibenarkan apabila 29

dilakukan dalam rangka penegakan hukum, maka penyadapan hanya dapat dilaksanakan atas permintaan lembaga penegakan hukum seperti kepolisian, kejaksaan, KPK dan/atau institusi penegak hukum lainnya yang ditetapkan berdasarkan undang-undang. Syarat dilakukannya penyadapan Tindakan penyadapan dilakukan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. dilakukan untuk tindak pidana tertentu yang dianggap luar biasa, meresahkan masyarakat, dan sulit pembuktiannya; b. c. d. telah memperoleh bukti permulaan yang cukup; telah memperoleh penetapan dari pimpinan instansi penegak hukum; dilakukan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan dan dapat diperpanjang setiap 3 (tiga) bulan sesuai dengan keperluan;

permintaan penetapan pimpinan instansi penegak hukum untuk melakukan penyadapan yang di maksud di atas harus menyampaikan berkas secara tertulis dan/ atau elektronik: a. identifikasi sasaran; b. pasal tindak pidana yang disangkakan; c. tujuan dan alas an dilakukannya penyadapan; d. substansi informasi yang dicari; dan e. jangka waktu penyadpan.

3.2 Alat dan Perangkat Penyadapan Informasi

Alat dan perangkat dalam penyadapan milik aparat penegak hukum haruslah didaftarkan dan disertifikasi sebelum digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk meregister serta mendata alat (device) mana yang sah dan patut dalam melaksanakana penyadapan. Sertifikasi juga dimaksudkan untuk menstandarisasi perangkat penyadapan agar bisa digunakan dengan baik, juga menguji kelaikan dari alat penyadapan tersebut. Aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan untuk menyadap bertanggung jawab untuk menjamin penggunaan alat dan perangkat penyadapan hanya untuk upaya penegakan

30

hukum. Alat dan perangkat penyadapan penggunaannya menjadi tanggung jawab masingmasing aparat penegak hukum.

Untuk pengaturan lebih lanjut mengenai sertifikasi dan uji laik operasi alat dan perangkat penyadapan ini diatur oleh peraturan menteri.

3.3 Mekanisme Teknis Penyadapan Informasi Secara Sah Mekanisme penyadapan menjadi suatu hal yang perlu diatur dalam undang-undang karena cara-cara yang sah dan tidak bertentangan dengan hukum menjadi suatu syarat keharusan demi keabsahan dari penyadapan tersebut. Mekanisme penyadapan terhadap telekomunikasi secara sah, dilaksanakan berdasarkan SOP yang ditetapkan oleh aparat Penegak Hukum dan diberitahukan secara tertulis kepada Dewan Pengawas Penyadapan Nasional. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah dari cara-cara yang bertentangan dengan hukum dan Undang-undang. Tak dapat dipungkiri dalam upaya penyadapan memerlukan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak dalam menjalankan tugasnya. Bantuan dari penyelenggara telekomunikasi atau provider telekomunikasi menjadi suatu hal yang yang penting untuk dilakukan, karena tanpa adanya izin serta bantuan, maka “senjata ampuh” ini menjadi tidak berguna.

3.4 Hasil Penyadapan

Penyadapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum tentunya akan memuat hasil yang digunakan untuk barang bukti yang kemudian di tampilkan dalam persidangan. Hasil yang didapat bersifat rahasia dan bukanlah konsumsi publik melainkan hasil penyelidikan/penyidikan oleh aparat penegak hukum, sehingga hasil

penyelidikan/penyidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan yang kemudian bisa terjadi.

Hasil dari penyadapan yang berhubungan dengan tindak pidana tersebut tentunya harus digunakan secara professional, proporsional, dan relevan. Professional disini adalah 31

mempergunakan hasil dari penyadapan sesuai dengan mestinya. Proporsional menjadikan hasil penyadapan yang hanya sesuai dengan tujuan penyelidikan/penyidikan yang bisa dijadikan barang bukti dalam persidangan, dan yang tidak ada hubungan dengan pokok permasalahan harus dimusnahkan.

Uji validitas adalah suatu rangkaian proses untuk menguji apakah hasil dari penyadapan sesuai dengan keperluan atau tujuan dari penyelidikan/penyidikan, menguji apakah hasil penyadapan diperoleh secara sah dan patut, kemudian pada proses terakhir adalah menguji keaslian hasil dari penyadapan tersebut sehingga bisa digunakan secara sah sebagai barang bukti di dalam pengadilan.

a.

Dewan Pengawas Penyadapan Nasional

Penyadapan pada dasarnya ialah suatu tindakan yang melanggar hak asasi manusia dan melanggar hukum apabila dilakukan tanpa adanya tujuan dalam upaya penegakan hukum. Maka dari itu dibutuhkan suatu dewan yang bertugas dalam mengawasi kinerja serta mekanisme penyadapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum agar penyadapan bisa berlangsung dengan baik sesuai dengan tujuan awalnya yaitu membantu dalam upaya penegakan hukum di Indonesia. Menjamin transparansi dan indepensi pelaksanaan penyadapan informasi secara sah agar tidak bertentangan dengan hak asasi manusia, dengan undang-undang ini dibentuk Dewan Pengawasan Penyadapan Nasional yang bersifat independen. Independen disini adalah bebas dari campur tangan berbagai pihak, termasuk pemerintah karena upaya penegakan hukum harus didasarkan hanya pada keadilaan. Dewan Pengawas Penyadapan Nasional beranggotakan Menteri, Jaksa Agung, Kapolri, dan pimpinan instansi lainnya yang berwenang melakukan Penyadapan. Hal ini dimaksudkan untuk bisa berlangsunya proses check and balances dalam upaya

pengawasan penyadapan. Keanggotaan dalam dewan diangkat dan diberhentikan oleh presiden dan memiliki masa jabatan 4 ( empat tahun ). Ketentuan yang mengatur mengenai organisasi, mekanisme kerja dan pembiayaan dewan ini selanjutnya ditetapkan oleh peraturan pemerintah. 32

Dewan pengawasan penyadapan nasional berkedudukan di Ibu kota Negara, republik indonesia dan bertanggung jawab kepada presiden. Fungsinya adalah pengawasan, dewan ini mempunyai wewenang untuk mengawasi kinerja dari instansi yang melakukan penyadapan dalam penegakan hukum. Dewan pengawas penyadapan nasional mempunyai tugas-tugas dalam fungsinya untuk mengawasi mekanisme serta kinerja aparat hukum yang berwenang melakukan Penyadapan. Fungsi-fungsinya : 1. melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyadapan kepada semua aparat penegak hukum yang mempunyai kewenangan penyadapan; 2. menerima pengaduan masyarakat; 3. melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan penyadapan. 4. menerima transparansi SOP yang ditetapkan oleh instansi aparat penegak hukum. 5. mengadakan audit terhadap kinerja penyadapan paling sedikit satu kali dalam setahun.

Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Pengawas Penyadapan Nasional dapat membentuk tim audit. Pelaksanaan tugas dan mekanisme kerja dari Dewan Pengawas Penyadapan Nasional akan selanjutnya diatur lebih lanjut dalam peratuan pemerintah.

4. Ketentuan Sanksi

pengenaan sanksi dimaksudkan sebagai upaya pemerintah dalam rangka pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan Penyadapan. Pengaturan tentang sanksi di dalam Undang – Undang ini ada dua macam: 33

1. sanksi administrasi 2. sanksi pidana

Sanksi administrasi yang dimaksud dapat berupa: a. teguran tertulis; b. denda administrasi; c. pemberhentian sementara; d. tidak diberikan pemberian izin; e. pencabutan izin; dan f. penyitaan.

Pengenaan sanksi administrasi tidak menghapus pertanggung jawaban pidana. Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administrasi diatur dalam peraturan menteri.

5. Ketentuan Peralihan dan Penutup

Dalam rancangan Undang-Undangn ini perlu diatur beberapa hal terkait dengan situasi dan kondisi adanya peralihan setelah rancangan ini disahkan. Pengaturan ini diperlukan untuk memberikan kepastian terhadap situasi dan kondisi yang tengah berjalan, sementara Undang-Undang Penyadapan belum terbentuk/disahkan.

Masalah yang perlu diatur dalam ketentuan peralihan menyangkut hal-hal sebagai berikut; pada saat berlakunya Undang-Undang ini, semua Peraturan Perundang-undangan dan kelembagaan yang berhubungan dengan penyadapan yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini dinyatakan tetap berlaku.

Sedangkan dalam ketentuan Penutup, perlu ditegaskan pencabutan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebelumnya, sekaligus memberikan pernyataan pemberlakuan ketentuan atau Undang-Undang baru sebagai penggantinya. Hal inipun dimaksudkan untuk memberikan kejelasan dan kepastian didalam praktik pelaksanaannya.

34

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan A.1 Rangkuman pokok isi naskah akademik

Penyadapan menjadi sebuah polemik akhir-akhir ini. Pro dan kotra bermunculan terkait wacana yang ada. Sebagai sebuah persoalan yang kontroversial, suara sumbang menjadi fenomena wajar. Masalah yang muncul dari penyadapan kadangkala menjadi sebuah batu sandungan dalam upaya penegakan hukum di Indonesia. Masalah klasik yang sampai sekarang ramai diperdebatkan adalah terkait potensi penyalahgunaan, yang berujung pada kejahatan penyadapan.

Secara konseptual, penyalahgunaan penyadapan ialah suatu keadaan dimana penyadapan digunakan tidak sebagaimana mestinya oleh aparat penegak hukum dan tidak sesuai dengan tujuan awalnya yaitu demi kepentingan hukum. Kejahatan penyadapan sebagaimana disebutkan di atas ialah suatu keadaan dimana penyadapan bukan digunakan untuk kepentingan hukum dan dilakukan bukan oleh aparat penegak hukum.

Penggunaan metode penyadapan selain dari alasan penegakan hukum merupakan bentuk pelanggaran terhadap undang-undang. Selain itu, pelanggaran terhadap melanggar hak asasi manusia merupakan imbas logisnya. Penyadapan menjadi hal yang inkonstitusional apabila dalam pelaksanaannya bertentantangan dengan filosofi penggunaannya. Penyadapan yang kini menjadi “senjata ampuh” bagi aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya, jika tidak diatur dalam mekanisme yang jelas, beresiko melanggar hak asasi manusia dan peraturan perundang-undangan terkait. Peran, fungsi serta tanggung jawab harus diatur dengan jelas agar dikemudian hari tidak muncul konflik kepentingan.

Pengaturan mengenai penyadapan menjadi begitu urgent untuk diadakan di Indonesia. Penyalahgunaan penyadapan oleh penegak hukum, tidak adanya mekanisme yang standar 35

dalam menjalankan penyadapan ialah sebagian masalah yang timbul dari “kekosongan hukum”. Terutama dengan peraturan perundang-undangan sebelumnya, tumpah tindih kewenangan menjadi hal yang wajar. Demikian berarti, penyadapan harus menemukan pengaturannya dalam undang-undang tersendiri.

B. Rekomendasi

A.2

Bentuk pengaturan

Penyadapan harus diatur dalam undang-undang khusus. Mengingat persoalan ini menjadi begitu penting, terutama terkait peranannya yang telah teruji dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia, undang-undang tentang penyadapan menjadi jawaban paling bijak. Undang-undang tersebut bertujuan untuk melindungi hak asasi manusia dan menjamin harmonisasi produk hukum.

Undang-undang memiliki sifat yang luas dan dapat mencakup berbagai macam hal dan memiliki banyak kelebihan. Selain sifatnya yang konstitusional, undang-undang menjadi yang paling baik dalam upaya menegakkan hukum di bumi pertiwi. Selain karena legalitasnya cukup tinggi dalam tata hukum Indonesia, juga mencerminkan kehendak rakyat.

Dalam undang-undang tentang penyadapan diatur mengenai peran, fungsi serta tanggung jawab para penegak hukum yang memiliki kewenangan menyadap. Selain itu, pengaturan tersebut juga bertujuan menghindari kemungkinan adanya tumpang tindih kewenangan, potensi penyalahgunaan, maupun perbedaan paradigma antar lembaga.

Demi penegakan hukum dan pemberantasan tindak kejahatan, wacana terkait penyadapan harus menjadi tugas dan tanggung jawab bersama. Terutama pemerintah, harus menjadi garda terdepan. Oleh karenanya, pembentukan undang-undang tentang penyadapan perlu disegerakan pembentukannya.

36

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Kamus Abdussalam, SIK, Prospek Hukum Pidana Indonesia, Jakarta: Penerbit Restu Agung, 2006. C.S.T. Kansil, Praktek Hukum Peraturan Perundangan di Indonesia, Jakarta: Erlangga 1983 Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Asas Legalitas dalam Rancangan KUHP 2005 (Position Paper Advokasi RUU KUHP Seri #1), Jakarta: ELSAMLembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, 2005. Maria Farida Indrati S, Ilmu Perundang-undangan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007 Masyarakat Transparansi Indonesia, Penyusunan Peraturan Daerah yang Partisipatif, Jakarta: Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), 2003. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2008. Artikel dan Makalah Anonim, “Jebak Semua Koruptor”, Kompas, 23 April 2005. Antasari Azhar, “Upaya Pemberantasan Korupsi Seiring Kemajuan Teknologi Informasi”, Jurnal Legislasi Indonesia Vol.5 No.4, Desember 2008. Mas Wigrantoro, R.S, “Naskah Akademik RUU Tindak Pidana di Bidang Teknologi Informasi”, lobal Internet Policy Initiative – Indonesia, 2003. Romli Atmasasmita, “Hukum Pidana Internasional dan Hukum Hak Asasi Manusia”, bahan pelatihan Hukum HAM diselenggarakan oleh Pusham UII Yogyakarta, Yogyakarta, 23 September 2005. Romli Astasasmita, “Rekaman Perkara Korupsi”, Seputar Indonesia, 20 juni 2008. Perundang-undangan Republik Indonesia, Undang-undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Republik Indonesia, Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Republik Indonesia, Undang-undang No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Republik Indonesia, Undang-undang No.10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Republik Indonesia, Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Website dan Sumber On-line http://anggara.org/2009/11/06/lagi-%E2%80%93-lagi-soal-penyadapan/ (diakses pada 27 februari 2010). http://legalitas.org/index.php/proses-penyiapan-ruu (diakses 28 februari 2010)

37

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->