 MANUSIA ADALAH BINATANG YANG

BERBICARA/BERPIKIR.  BERBICARA/BERPIKIR ADALAH BERTANYA.  BERTANYA ADALAH MENCARI JAWABAN.  MENCARI JAWABAN ADALAH MENCARI KEBENARAN.  MENCARI KEBENARAN TENTANG TUHAN, ALAM DAN MANUSIA.

TEORI KEBENARAN (THEORY OF TRUTH)

I. TEORI KOHERENSI/KONSISTENSI (The Consistence/Coherence Theory of Truth): 1) Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. 2) Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya. Contoh: “Semua manusia akan mati. Si Fulan adalah seorang manusia. Si Fulan pasti akan mati.” “Sukarno adalah ayahanda Megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah puteri Sukarno”. Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427347 S.M.) dan Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (1864-1924). Kritik terhadap teori ini adalah “tidak mungkinkah terdapat kumpulan proposisi yang koheren yang semuanya salah”?.

2. TEORI KORESPONDENSI (The Correspondence Theory of Thruth): Kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Contoh: “Ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta”. Teori ini digagas oleh Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme. Kritik: how can we compare our ideas with reality? Apabila sudah diketahui kenyataan mengapa perlu dibuat perbandingan, padahal kebenaran sedang dimiliki?

Kritik: betapa kabur dan samarnya pengertian berguna (usefull) itu. Kata kunci teori ini adalah: kegunaan (utility). dapat dikerjakan (workability). “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. TEORI PRAGMATIS (The Pragmatic Theory of Truth): “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”. akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequencies). Pencetus teori ini adalah Charles S.3. . Pierce (1839-1914) dan William James. dengan kata lain.

3. 2. ILMU PENGETAHUAN FILSAFAT AGAMA .INSTRUMEN UNTUK MENCARI KEBENARAN 1.

2. 6. 5. 3. 7.ILMU PENGETAHUAN 1. 4. Pengertian Objek Ilmu Pengetahuan Cabang-cabang Ilmu Pengetahuan Sikap Ilmiah Fungsi Ilmu Pengetahuan Metode Ilmu Pengetahuan Batas dan Relativitas Ilmu Pengetahuan .

yaitu: sistematik. umum dan kumulatif. empiris. tanda dan syarat tertentu. eksperimental. rasional.Pengertian Ilmu Pengetahuan adalah pengetahan yang mempunyai ciri. .

sehingga membedakan ilmu satu dengan ilmu lainnya. Objek forma: objek materia yang disoroti oleh suatu ilmu. 1. objek ilmu pengetahuan ialah alam dan manusia. 2. jika berobjek materia sama.Objek Ilmu Pengetahuan Objek materia: seluruh lapangan atau bahan yang dijadikan objek penyelidikan suatu ilmu. Pada garis besarnya. .

jiwa. Sejarah dsb. Bahasa. seni. filsafat.) . Alam Ilmu Kemasyarakatan Ilmu Humaniora (ilmu keagamaan.Cabang Ilmu Pengetahuan Cabang Ilmu Pengetahuan Ilmu Peng.

meneruskan. penasaran (minat. sabar dsb. menolak/menerima serta mengubah/ menambah suatu ilmu). Sikap yang seharusnya dimiliki oleh ilmuwan adalah: 1. . skeptif (ragu dan sanksi). 2. hasrat dan semangat). emosi. prasangka). 3. 4. jujur intelektual 5. toleran.Sikap Ilmiah Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuwan dalam melakukan tugasnya (mempelajari. lain-lain (rendah hati. objektif (menghindari sikap subjektif.). lapang dada.

Deskriptif. fungsi ilmu pengetahuan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia di dalam pelbagai bidangnya. Pengembangan. 3. . 2.Fungsi Ilmu Pengetahuan Fungsi ilmu pengetahuan adalah: 1. Prediksi. 4. Tegasnya. Kontrol.

6.Metode Ilmu Pengetahuan 1. 8. 2. . 9. 11. Koleksi Observasi Seleksi Klasifikasi Interpretasi Generalisasi Perumusan hipotesis Verifikasi/pengujian Evaluasi/penilaian Perumusan teori Perumusan dalil/hukum. 4. 10. 7. 3. 5.

Tidak semua persoalan manusia dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan.Batas dan relativitas ilmu pengetahuan: 1. . 2. Masalah-masalah yang di luar jangkauan ilmu pengetahuan diserahkan kepada filsafat. 3. Nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu “positif” (sampai saat ini) dan “relatif” (tidak mutlak).

PENGERTIAN APA YANG MENDORONG TIMBULNYA FILSAFAT MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT CARA MEMPELAJARI FILSAFAT OBJEK PENELITIAN FILSAFAT SISTEMATIKA FILSAFAT . 2.FILSAFAT 1. 4. 5. 6. 3.

Secara istilah .” Selain Mesir Purba.1. PENGERTIAN FILSAFAT Secara bahasa. Walaupun kata filsafat berasal dari bahasa Yunani.. kebijakan. kata filsafat (bhs.M. Jadi filsafat berarti cinta kebijakan (the love of wisdom). Yunani) berasal dari kata philo dan sofia. 1952: 14) menjelaskan: “kita mengetahui bahwa Mesir dan Irak telah mengembangkan tingkat peradaban yang tinggi jauh sebelum Yunani. Azad (dalam Radhakrishna ed. sophia artinya hikmah. yang memiliki tradisi filsafat lebih tua daripada Yunani adalah India dan Cina. dan orang Yunani Purba sudah mempunyai tradisi filsafat 500 tahun S. Kita pun mengetahui bahwa filsafat Yunani yang paling awal dipengaruhi oleh hikmah Purba Mesir. tidaklah berarti hanya orang Yunanilah yang sudah berfilsafat. Philo artinya cinta.. Bahkan Aristoteles maju lebih jauh lagi dan mengatakan bahwa para pendeta Mesir Purba adalah para filsuf pertama di dunia ini …. Plato dalam tulisan-tulisannya menimba hikmah para pendeta Mesir dengan cara yang menunjukkan betapa otoritas mereka itu sebagai sumber pengetahuan yang tidak dapat disangkal.

alam semesta dan manusia). Hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematik hakikat segala yang ada (Tuhan.Secara istilah arti filsafat adalah: 1. 2. karena masalahmasalah termaksud di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa. “ilmu istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. .

2. segala sesuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat. Objek Forma: mencari keterangan yang sedalam-dalamnya (radikal) tentang objek materia filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkn ada). .Objek Filsafat: 1. Objek Materia: segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat. alam dan manusia. yakni segala yang ada yang meliputi hakikat Tuhan.

menentukan arah dan menuntun pada jalanjalan baru. Fungsi filsafat adalah kreatif. FUNGSI DAN GUNA Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan semangat masa di mana kita hidup melainkan membimbingnya maju. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal. menempatkan tujuan. rasial dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita-cita mulia kemanusiaan. . menetapkan nilai. mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan nasional. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menopang dunia baru. baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.TUJUAN.

2) objek materia filsafat: (1) masalah Tuhan. yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. sampai ke sebabsebab dan ke “mengapa” terakhir. (2) masalah alam. sampai ke akar persoalan. percobaan dan pengalaman manusia. . 2. Titik singgung 1) historis: pada mulanya filsafat identik dengan ilmu pengetahuan.Hubungan Ilmu Pengetahuan dan Filsafat 1. (3) masalah manusia. sepanjang kemungkinan yang ada pada akal-budi manusia berdasarkan kekuatannya. filsuf identik dengan ilmuwan. Perbedaan 1) objek forma ilmu: mencari keterangan terbatas sejauh terjangkau pembuktian penelitian. yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. yang sama sekali di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa. objek materia filsafat ialah alam dan manusia (serta masalah ke-Tuhan-an). 2) objek materia ilmu ialah alam dan manusia. objek forma filsafat: mencari keterangan sedalam-dalamnya.

3. 6.Cabang-cabang Filsafat: 1. Metafisika: filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisika. Filsafat-filsafat khusus. 4. 2. . 5. di luar atau di atas jangkauan pengalaman manusia. tentang hakekat yang bersifat transenden. Logika: filsafat tentang pikiran benar dan salah Etika: filsafat tentang perilaku baik dan buruk Estetika: filsafat tentang kreasi indah dan jelek Epistemologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan.

3. Aliran Metafisika Aliran Etika Aliran Teori Pengetahuan . 2.Aliran-aliran Filsafat: 1.

Sesuatu yang ada di balik realitas fisik atau melampaui realitas fisik disebut hakikat. secara keseluruhan. Ta Meta Ta Phisica yang berarti sesudah. Karena filsafat. metafisika berarti ada melampaui realitas fisik. maka metafisika selain sebagai bagian dari filsafat. memelajari hakikat. . melampaui. yaitu bagi semua bagian filsafat. atau di belakang realitas fisik.METAFISIKA Metafisika berasal dari bahasa Yunani. juga dapat dipandang sebagai suatu metode bagi filsafat. Jadi.

. Metafisika menyatakan bahwa ciri hakiki dari segala sesuatu itu yang ada itu adalah “ada”. Dengan demikian. ADA Ada sesuatu yang ada dan ada sesuatu yang tidak ada.Persoalan dasar yang dipelajari Metafisika ada dua. Segala sesuatu yang ada memiliki ciri-cirinya yang hakiki. baik yang ada maupun yang tidak ada keduanya ada. “Apakah ciri-ciri hakiki dari segala sesuatu itu”. yaitu: ada dan substansi. sebab “ada” ini merupakan dasar dan sebab kesesuaian di antara semua yang ada.

causa prima. Ada tingkat tinggi: manusia yang dirinya menyadari keberadanya. Ada menengah: hewan yang adanya dikuasai oleh nalurinya. dan mutlak/tertinggi. Ada dalam tingkat mutlak/tertinggi: sumber dari segala yang ada.Ada meemiliki tingkatan: tingkat rendah. pasti adanya. tinggi. tidak berubah. dan abadi (Tuhan). . menengah. Ada tingkat rendah: benda-benda yang adanya itu hanya sekedar ada.

seperti bau. . Persoalan yang timbul adalah: “Apakah benda itu dapat dibedakan dari sifat-sifatnya?” “Apakah di belakang sifat-sifat yang berubah itu ada sesuatu yang tidak berubah?” Sepotong malam yang diambil dari sarang lebah dipanaskan di atas api. dan bentuknya berubah. warna. rasa. Namun kita tahu dan akan mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam yang tadi. Kita lihat sifat-sifatnya.SUBSTANSI Secara umum substansi dapat disebut benda.

. dalam pikiran kita terlintas pada malam itu harus ada sesuatu yang tidak berubah yang tersembunyi (tidak nampak) di belakang sifat-sifatnya yang berubah itu. Substansi berarti sesuatu yang ada pada dirinya sendiri. Bahkan ketika malam itu diubahubah bentuk dan warnanya. Sesuatu yang tidak berubah dari malam itulah yang disebut substansi.Dengan demikian.

2 Dualisme 1.4 indeterminisme .1 Tetap: 2.2 materialisme 2.ALIRAN METAFISIKA: I.2 Kejadian: 2.1 spiritualisme 2. KUALITAS: 2.2.2.3 determinisme 2.2 teleologi 2. KUANTITAS: 1.1.1.2.1 mekanisme 2.2.3 Pluralisme II.1 Monisme 1.

.I.3 Pluralisme: aliran yang berpendapat unsur pokok hakikat kenyataan adalah banyak (menurut Epmedokles: udara.1 Monisme: aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada adalah esa. KUANTITAS 1. 1. api.2 Dualisme: aliran yang berpendirian unsur pokok segala sesuatu adalah dua. dan tanah). 1. satu. yaitu roh dan benda. air.

II.1.1 TETAP 2.1 Mekanisme: kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab akibat.1 Spiritualisme: hakikat itu bersifat roh. melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama. 2.2 Teologi: kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain.1. KUALITAS 2. 2.2 Materialisme: hakikat itu bersifat materi. 2.2 KEJADIAN 2. . bukan oleh hukum sebab akibat.2.2.

4 Indeterminisme: kemauan manusia itu bebas dalam arti yang seluas-luasnya. tetapi sudah terpasti lebih dulu.3 Determinisme: kemauan manusia tidak merdeka dalam mengambil keputusan-keputusan yang penting.2. . 2.2.2.

.BEBERAPA YANG DIKAJI METAFISIKA Realitas benda 2. Kosmologi 3. Antropologi 4. Teologi 1.

2. 3. Materialisme: hakikat benda adalah materi. yaitu: 1. . 5. Agnotisisme: manusia tidak dapat mengetahui hakikat benda. yaitu material dan immaterial/benda dan roh. Skeptisisme: ragu apakah manusia mengetahui hakikat. 4. Dualisme: hakikat benda ada 2. Idealisme: hakikat benda adalah ruhani.REALITAS BENDA Apakah realitas benda itu sesuai dengan penampakannya (appearance) atau sesuatu yang bersembunyi di balik penampakan itu? Menjawab pertanyaan itu muncul 5 aliran.

. susunan. dan sebagainya.KOSMOLOGI Kosmologi adalah filsafat yang menyelidiki hakikat asal. tujuan alam besar. bagaimana ia menjadi. bagaimana ia berevolusi.

Apakah manusia itu? Apa dan dari mana asalnya? Apa akhir atau tujuannya? .ANTROPOLOGI Antropologi: membicarakan hakikat manusia dari segi filsafat.

TEOLOGI Teologi: cabang filsafat yang membicarakan tuhan dari segi pikiran/akal. 3. Teisme: monoteisme. Ateisme. . politeisme. panteisme. Agnotisisme. Apakah tuhan itu ada? Bukti keberadaannya apa? Sifatnya. susunannya. kemauannya? Mengenai hal ini muncul isme-isme: 1. 2. triniteisme.

.

4. 3. 2. Naturalisme Hedonisme Utilitarisme Idealisme Vitalisme Teologis .ALIRAN ETIKA: 1. 5. 6.

ALIRAN TEORI PENGETAHUAN: 1. maupun dari jiwa atau pikiran manusia. Asal dan sumber: 1) rasionalisme: sumber pengetahuan manusia adalah pikiran/rasio/jiwa manusia. . 3) kritisisme (=transendentalisme): pengetahuan manusia baik berasal dari dunia luar. sedang kenyataan yang diketahui manusia itu seluruhnya berada di luarnya. 2) empirisme: pengetahuan manusia berasal dari pengalaman (yang ditangkap indera) manusia. 2) idealisme: pengetahuan itu tidak lain dari kejadian dalam jiwa manusia . dalam pengetahuan yang baik tergambarkan seperti sesungguhnya ada. 2. Hakikat pengetahuan manusia: 1) realisme: pengetahuan manusia adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran.

EPISTEMOLOGI “Membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. yang dianggap sebagai bapak aliran ini. lantas ia memiliki pengetahuan. Empirisme: manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (indera)-nya. bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan. mengemukakan teori tabula rasa (meja lilin). lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu. John Locke (1632-1704). Ada beberapa aliran tentang ini: 1. Maksudnya. Sesuatu yang tidak bisa diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Kelemahan aliran ini adalah: 1) indera terbatas: benda yang jauh 2) indera menipu: orang sakit 3) objek menipu: fatamorgana 4) indera dan objek: tidak bisa melihat gajah secara keseluruhan.” Pengetahuan diperoleh manusia melalui berbagai cara dan berbagai alat. Kesimpulannya: empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. dejavu .

2. Rasionalisme “Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal”. . Kerja sama empirisme dan rasionalisme melahirkan metode sains. Aliran ini dapat mengoreksi kelemahan keterbatasan kemampuan indera. Bapak aliran ini adalah Rene Descartes (1596-1650). dari metode ini lahirlah pengetahuan sains. Ia harus dibantu oleh intuisi. Kerja sama indera dan akal belum mampu memperoleh pengetahuan yang utuh.

kebenaran diperoleh dengan akal. Positivisme “indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan. Jadi. Eksperimen memerlukan ukuran yang jelas.3. tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen”. “Terukur” inilah yang merupakan sumbangan positivisme. didukung bukti empiris yang terukur. Tokoh aliran ini adalah Auguste Comte (1798-1857). .

akal juga terbatas. Intuisionisme Tidak hanya indera yang terbatas. Jadi manusia tidak mengetahui keseluruhan objek.4. Akal hanya memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu. . tidak juga memahami sifat-sifat yang tetap pada objek.

2. Eksistensialisme Pragmatisme Fenomenologi Positivisme Aliran Filsafat Hidup . 4.ALIRAN-ALIRAN LAINNYA: 1. 3. 5.

1 Pengertian etika:  Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. disebut juga. Sistem nilai itu bisa berfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial.  Kumpulan asas atau nilai moral atau. Secara ringkas. yaitu nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.  1. pengertian tadi bisa disebut sebagai sistem nilai. Pengertian 1.FILSAFAT MORAL I. kode etik. Etika dan Moral 1.  Ilmu tentang yang baik dan yang buruk.2 Pengertian moral:  Sama dengan etika. .

 Kata “immoral” dalam kamus yang sama dimaknai sebagai “opposed to morality. . immoral berarti “bertentangan dengan moralitas yang baik”. amoral berarti “tidak berhubungan dengan konteks moral”. non-moral”. Jadi. moralyy evil”. “di luar suasana etis”. “non-moral”. “tidak etis”. “secara moral buruk”.2. Jadi. Amoral dan Immoral  Kata “amoral” dalam Concise Oxford Dictionary diartikan sebagai “unconcerned with. out of the sphere of moral.

3. artinya. Perbedaannya adalah: 1) Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Persamaannya adalah: Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. ada atau tidak ada orang lain. Bila tidak ada orang lain maka etiket tidak berlaku. etiket (etiqutte) berarti sopan santun. Etika menyangkut manusia dari segi dalam. Etiket menunjukkan cara yang tepat atau cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak. 2) Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. . Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan. 4) Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja. Etika dan Etiket Etika (ethics) berari moral. Dua kata ini memiliki persamaan dan perbedaan makna. Baik etika maupun etiket mangatur perilaku manusia secara normatif. Etika selalu berlaku. Etika lebih absolut. 3) Etiket bersifat relatif.

ekologi. Akan tetapi ia bisa menjadi eksplisit bila nilai itu ditantang atau dilanggar karena perkembangan baru. 3. eduducation) 2) Masalah etis baru (perkembangan iptek. transportasi/mobilitas. Hubungan kepedulian etis dengan pluralisme moral (untuk persoalan publik dan pribadi). Situasi etis pada masyarakat modern ditandai tiga hal: 1) Pluralisme moral (komunikasi/informasi.PERANAN ETIKA DALAM MASYARAKAT 1. HAM). reproduksi artifisial) 3) Kepedulian etis yang universal (globalisasi. 2. pariwisata. Individu dalam masyarakat itu tidak berpikir lebih jauh. manipulasi genetika. LSM. . Masyarakat tradisional (homogen dan agak tertutup): nilai-nilai dan normanorma itu tidak pernah dipersoalkan. biomedis. multinational corporation. Nilai dan norma etis dalam masyarakat ini bersifat implisit. Secara otomatis orang menerima nilai dan norma yang berlaku.

Agama 2.SUMBER-SUMBER NILAI DAN NORMA: 1. Kebudayaan 3. Nasionalisme .

ada nilai-nilai universal yang relatif sama. Motivasi terpenting dan terkuat bagi perilaku moral adalah agama. Atau dengan kata lain. tetapi secara menyeluruh perbedaannya tidak terlalu besar.MORAL DAN AGAMA Agama mempunyai hubungan erat dengan moral. . Jika dibandingkan pelbagai agama. ajaran moralnya barangkali sedikit berbeda. Setiap agama mengandung suatu ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya.

. Namun demikian. Ajaran moral itu diterima karena alasan keimanan. nilai dan norma moral tidak secara eksklusif diterima karena alasan-alasan keagamaan. Ada juga alasan-alasan lebih umum untuk menerima aturan-aturan moral.Mengapa ajaran moral dalam suatu agama dianggap begitu penting? Karena ajaran itu berasal dari Tuhan dan mengungkapkan kehendak Tuhan. yaitu alasan-alasan rasional.

filsafat memilih titik tolaknya dalam rasio dan untuk selanjutnya juga mendasarkan diri hanya pada rasio. Filsafat hanya menerima argumen dan alasan logis yang dapat dimengerti dan disetujui oleh semua orang. melainkan karena terjamin oleh wahyu. tetapi dipercaya. Agama berangkat dari keimanan. . Kebenaranyya bukan diterima karena dimengerti. Berbeda dengan agama.Dalam filsafat moral justru diusahakan untuk menggali alasan-alasan rasional untuk nilai-nilai dan norma-norma yang dipakai sebagai pegangan bagi perilaku moral. Ia menghindari setiap unsur nonrasional yang meloloskan diri dari pemeriksaan oleh rasio. kebenarannya tidak dibuktikan.

 Dalam konteks agama. kesalahan moral adalah pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Kesalahan moral adalah inkonsistensi rasional. . ia berusaha memotivasi dan menginspirasi supaya umatnya mematuhi nilai dan norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman. Bila agama bicara topik etis. orang beragama merasa bersalah di hadapan Tuhan. Bila filsafat bicara topik etis. karena melanggar perintah-Nya. Dari sudut filsafat moral. ia berargumentasi. ia berusaha memperlihatkan bahwa suatu perbuatan tertentu harus dianggap baik atau buruk. hanya dengan menunjukkan alasan-alasan rasional. kesalahan moral adalah dosa.

Adanya pluralisme pandangan etis bukan saja karena adanya pelbagai agama dengan suasana moral yang berbedabeda. karena tembok pemisah antara pandangan etis orang beragama dengan dan orang sekuler.  Pluralisme modern yang menandai zaman ini sebagian disebabkan adanya etika humanistis dan sekular yang tidak lagi mengikutsertakan acuan keagamaan. kita hanya bisa berpedoman pada rasio. Dalam dunia yang ditandai pluralisme moral semakin mendesak kehadiran etika filosofis yang berusaha memecahkan masalah-masalah etis atas dasar rasio saja. dan terutama. sebab sarana lain tidak dipunyai. . Jika ingin dicapai kesepakatan di bidang etis. melainkan juga.

Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu moralnya. kalau tidak dijiwai oleh moralitas.MORAL DAN HUKUM Hukum membutuhkan moral. Tanpa moralitas. Di sisi lain. hukum akan kosong. seperti terjadi dengan hukum. Moral akan mengawang-awang saja. moral juga membutuhkan hukum. . kalau tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat. Hukum tidak berarti banyak. Karena itu hukum selalu harus diukur dengan norma moral.

Walaupun ada hubungan erat antara moral dan hukum. namun perlu dipertahankan juga bahwa moral dan hukum tidak sama. Dalam kasus seperti itu terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. Tidak mustahil adanya undang-undang immoral. . undang-undang yang harus ditolak dan ditentang atas pertimbangan etis.

PERBEDAAN ANTARA HUKUM DAN MORAL 1. Baik hukum maupun moral mengatur tingkah laku manusia. 2. ia mempunyai kepastian lebih besar dan bersifat lebih objektif. . namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja. Hukum lebih dikodifikasi daripada moralitas. sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang. Norma moral bersifat lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak „diganggu“ oleh diskusi-diskusi yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap etis atau tidak etis. Oleh karena itu.

Moralitas didasarkan atas norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara.3. tapi norma etis tidak dapat dipaksakan. tapi tidak pernah masyarakat dapat mengubah norma moral. Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. Satu-satunya sanksi di bidang moralitas adalah hati nurani yang tidak tenang. 4. Orang yang melanggar hukum akan terkena hukumannya. Hukum dapat dipaksakan. Dengan cara demokratis orang bisa mengubah hukum. .

HATI NURANI
Hati nurani adalah penghayatan tentang baik dan buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret. Hati nurani memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu. Tidak mengikuti hati nurani berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita.

Hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Untuk mengerti hal ini perlu kita bedakan antara pengenalan dan kesadaran. Kita mengenal bila kita melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu. Kesadaran adalah kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Pengenalan bukan merupakan monopoli manusia. Binatang pun bisa mengenal objek. Akan tetapi kesadaran merupakan monopoli manusia.

Dalam diri manusia bisa berlangsung semacam “penggandaan”, ia bisa kembali kepada dirinya. Dalam proses pengenalan dirinya manusia berperan sebagai subjek juga sebagai objek. Untuk menunjukkan kesadaran digunakan kata conscience; con (bersama dengan, turut) dan science (mengetahui). Kata conscience digunakan juga untuk menunjukkan hati nurani. Bukan saja manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat moral (baik atau buruk), tapi juga ada yang “turut mengetahui” tentang perbuatan moral kita. Dalam diri kita seolah-olah ada instansi yang menilai dari segi moral perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Hati nurani merupakan “saksi” tentang perbuatanperbuatan moral kita.

Bila hati nurani menghukum dan menuduh kita. Bila kita telah bertingkah laku baik. Hati nurani dalam arti retrospektif menuduh atau mencela bila perbuatannya jelek. memuji atau memberi rasa puas bila perbuatannya dianggap baik.HATI NURANI: RETROSPEKTIF DAN PROSPEKTIF Hati nurani retrospektif adalah memberikan penilaian terhadap perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau. Jadi. . kita mempunyai a good conscience. hati nurani ini merupakan instansi kehakiman dalam batin kita tentang perbuatan yang telah berlangsung. Ini berarti kita memiliki a bad conscience. batin akan merasa gelisah.

Hati nurani prospektif melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita yang akan datang. Hati nurani dalam arti ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu atau melarang melakukan sesuatu. .

. Hati nurani akan berkembang juga bersama dengan perkembangan seluruh kepribadian kita. Hati nurani hanya memberi penilaiannya tentang perbuatan saya sendiri.HATI NURANI: PERSONAL DAN ADIPERSONAL Hati nurani personal selalu berkaitan dengan erat dengan pribadi bersangkutan. Hati nurani hanya bicara atas nama saya. Hati nurani diwarnai oleh kepribadian kita.

Bagi orang beragama hati nurani memiliki dimensi religius. Aspek ini tampak dalam istilah “hati nurani” itu sendiri. Dalam pengalaman mengenai hati nurani seolah-olah ada cahaya dari luar yang menerangi budi dan hati kita. Perhatikan istilah: suara hati. Hati nurani mempunyai suatu aspek transenden. Selain bersifat pribadi hati nurani juga seolah-olah melebihi pribadi kita. kata hati atau suara batin. Hati nurani berarti hati yang diterangi. . melebihi pribadi kita. artinya. hati nurani menunjukkan juga aspek adipersonal. Terhadap hati nurani kita seakan menjadi “pendengar”.Di samping aspek personal.

longgar. . Bagaimana keadaan hati nurani (jitu. Anak yang dididik dalam keluarga pencuri hampir tidak mungkin mempunyai putusan hati nurani yang baik tentang hak milik. ada yang longgar dan kurang tepat dan ada yang tumpul. sebagian besar bergantung pada pendidikan dan lingkungan. tumpul). Hanya hati nurani yang dididik dan dibentuk dengan baik dapat memberikan penyuluhan tepat dalam hidup moral kita. Hati nurani yang dalam keadaan tumpul biasanya karena salah didik.PEMBINAAN HATI NURANI Ada banyak tipe hati nurani: ada yang halus dan jitu.

. Pendidikan hati nurani itu harus dijalankan sedemikian rupa sehingga si anak menyadari tanggung jawabnya sendiri. Pendidikan hati nurani bersama dengan seluruh pendidikan moral. bukan sekolah.Hati nurani harus dididik. Tempat yang serasi untuk pendidikan moral adalah keluarga.

Kebudayaan kebersalahan terdapat rasa bersalah. dan “gengsi” sangat ditekankan. “nama baik”. Shame culture adalah kebudayaan di mana pengertian-penggertian seperti “hormat”. Kebudayaan malu seluruhnya ditandai oleh rasa malu dan di situ tidak dikenal rasa besalah. . “reputasi”. “status”.KEBUDAYAAN MALU DAN KEBUDAYAAN KEBERSALAHAN Antropologi budaya membedakan dua macam kebudayaan: kebudayaan malu (shame culture) dan kebudayaan kebersalahan (guilt culture).

Dalam shame culture sanksinya datang dari luar. yaitu apa yang dipikirkan atau dikatakan oleh orang lain. Jika perbuatan jahat diketahui. Dalam shame culture tidak ada hati nurani. melainkan sesuatu yang harus disembunyikan untuk orang lain. pelakunya menjadi “malu”. Bukan perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting.Bila orang melakukan suatu kejahatan. . tetapi yang penting adalah bahwa perbuatan jahat tidak akan diketahui. hal itu tidak dianggap sesuatu yang buruk begitu saja.

sanksinya tidak datang dari luar.Guilt culture adalah kebudayaan di mana pengertianpengertian seperti “dosa” (sin). namun si pelaku merasa bersalah juga. dari batin orang bersangkutan. . melainkan dari dalam. Dapat dimengerti bahwa dalam guilt culture semacam itu hati nurani memegang peranan sangat penting. Dalam guilt culture. bukan karena dicela atau dikutuk orang lain. Ia menyesal dan merasa tidak tenang karena perbuatan itu sendiri. Jadi bukan karena tanggapan pihak luar. Sekalipun suatu kesalahan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain. dan sebagainya sangat dipentingkan. “kebersalahan” (guilt).

WZYS\S SS^SZ [^S VSS _aS`a SYSS VSZYYS\ TWY`a \WZ`ZY S^WZS SS^SZ `a TW^S_S VS^ aSZ VSZ WZYaZYS\SZ WWZVS aSZ S^SZ [^S `a V`W^S S^WZS SS_SZ WSZSZ SaZ VWSZ ZS VSZ Z[^S [^S `VS _WUS^S W_a_X V`W^S S^WZS SS_SZSS_SZ WSYSSSZ VS aYS SS_SZSS_SZ WT aa aZ`a WZW^S S`a^SZS`a^SZ [^S S`a SS_SZSS_SZ ^S_[ZS .

SS X_SXS` [^S a_`^a Va_SSSZ aZ`a WZYYS SS_SZSS_SZ ^S_[ZS aZ`a ZSZS VSZ Z[^SZ[^S SZY V\SS _WTSYS \WYSZYSZ TSY \W^Sa [^S W^TWVS VWZYSZ SYSS X_SXS` W `` `[SZ S VSS ^S_[ VSZ aZ`a _WSZa`Z S aYS WZVS_S^SZ V^ SZ S \SVS ^S_[ _SXS` SZ S WZW^S S^YaWZ VSZ SS_SZ [Y_ SZY VS\S` VWZYW^` VSZ V_W`aa [W _WaS [^SZY S WZYZVS^ _W`S\ aZ_a^ Z[Z^S_[ZS SZY W[[_SZ V^ VS^ \WW^_SSZ [W ^S_[ YSS TW^SZYS` VS^ WSZSZ WTWZS^SZZ S `VS VTa`SZ `W`S\ V\W^US S WTWZS^SZ S TaSZ V`W^S S^WZS VWZYW^` WSZSZ S^WZS `W^SZ [W cS a .

O S SYSS TUS^S `[\ W`_ S TW^a_SS W[`bS_ VSZ WZYZ_\^S_ _a\S S aS`Z S WS`a ZS VSZ Z[^S SZY _aVS V`W^SZ S TW^VS_S^SZ SZ S X_SXS` TUS^S `[\ W`_ S TW^S^YaWZ`S_ S TW^a_SS W\W^S`SZ TScS _aS`a \W^TaS`SZ `W^`WZ`a S^a_ VSZYYS\ TS S`Sa Ta^a SZ S VWZYSZ WZaZaSZ SS_SZSS_SZ ^S_[ZS O SS[Z`W_SYSSW_SSSZ[^SSVSSV[_S [^SZYTW^SYSSW^S_STW^_SSVSVS\SZaSZ S^WZSWSZYYS^\W^Z`S SS^_aVa`X_SXS`[^S W_SSSZ[^SSVSS\WSZYYS^SZ\^Z_\W`_ SZY _WS^a_Z SV\S`a W_SSSZ[^SSVSS Z[Z__`WZ_^S_[ZS .

O SS VaZS SZY V`SZVS \a^S_W [^S _WSZ WZVW_S WSV^SZ W`S X[_[X_ SZY TW^a_SS WWUSSZ S_SSS_SS W`_ S`S_ VS_S^ ^S_[ _SS O a^S_W [VW^Z SZY WZSZVS SSZ Z _WTSYSZ V_WTSTSZ SVSZ S W`S aSZ_`_ VSZ _WaS^ SZY `VS SY WZYa`_W^`SSZ SUaSZ WSYSSSZ VSZ S \a^S_W \SZVSZYSZ W`_ TaSZ _SS S^WZS SVSZ S \WTSYS SYSS VWZYSZ _aS_SZS [^S SZY TW^TWVS TWVS WSZSZ aYS VSZ `W^a`SS S^WZS `WT[ \W_S SZ`S^S \SZVSZYSZ W`_ [^SZY TW^SYSS VWZYSZ VSZ [^SZY _WaW^ S ZYZ VUS\S W_W\SS`SZ V TVSZY W`_ `S SZ S T_S TW^\WV[SZ \SVS ^S_[ _WTST _S^SZS SZ `VS V\aZ S .

-DD. aa WTa`aSZ [^S aa `VS TW^S^` TSZ S SSa `VS VcS [W [^S`S_ SZ\S [^S`S_ aa SSZ [_[ZY aS`S_ aa _WTSYSZ TW_S^ V`WZ`aSZ [W a`a [^SZ S S^WZS `a aa _WSa S^a_ Vaa^ VWZYSZ Z[^S [^S  __ SZ [^S aYS WTa`aSZ aa [^S SSZ WZYScSZYScSZY _SS SSa `VS VaZYS\SZ VSZ VWTSYSSZ VSS S_ S^SS` _W\W^` `W^SV VWZYSZ aa ..

SSa\aZ SVS aTaZYSZ W^S` SZ`S^S [^S VSZ aa ZSaZ \W^a V\W^`SSZSZ aYS TScS [^S VSZ aa `VS _SS VS a_`S SVSZ S aZVSZYaZVSZY [^S aZVSZYaZVSZY SZY S^a_ V`[S VSZ V`WZ`SZY S`S_ \W^`TSZYSZ W`_ SS S_a_ _W\W^` `a `W^VS\S` W`VSU[U[SZ SZ`S^S aa VSZ [^S .

 aa WT V[VXS_ VS^\SVS [^S`S_ .-.9 --@DD.

W S^WZS `a S W\aZ S W\S_`SZ WT TW_S^ VSZ TW^_XS` WT [TW`X [^S [^S TW^_XS` WT _aTW`X VSZ STS`Z S WT TSZ S VYSZYYa [W V_a_V_a_ SZY WZUS^ WWS_SZ `WZ`SZY SZY S^a_ VSZYYS\ W`_ S`Sa `VS W`_ # S aa Sa\aZ [^S WZYS`a^ `ZYS Sa SZa_S ZSaZ aa WTS`S_ V^ \SVS `ZYS Sa S^S _SS _WVSZYSZ [^S WZ SZYa` aYS _S\ TS`Z _W_W[^SZY # .

# SZ_ SZY TW^S`SZ VWZYSZ aa TW^SZSZ VWZYSZ _SZ_ SZY TW^S`SZ VWZYSZ [^S`S_ aa VS\S` V\S_SSZ .

^SZY SZY WSZYYS^ aa SSZ `W^WZS aaSZZ S `S\ Z[^S W`_ `VS VS\S` V\S_SSZ S`a_S`aZ S _SZ_ V TVSZY [^S`S_ SVSS S` Za^SZ SZY `VS `WZSZY  aa VVS_S^SZ S`S_ WWZVS S_ S^SS` VSZ S^Z S S`S_ WWZVS ZWYS^S [^S`S_ VVS_S^SZ S`S_ Z[^S [^S SZY WWT \S^S ZVbVa VSZ S_ S^SS` WZYSZ US^S VW[^S`_ [^SZY T_S WZYaTS aa `S\ `VS \W^ZS S_ S^SS` VS\S` WZYaTS Z[^S [^S .

@-D- S` Za^SZ SVSS \WZYS S`SZ `WZ`SZY TS VSZ Ta^a TW^aTaZYSZ VWZYSZ `ZYS Sa [Z^W` S` Za^SZ WW^Z`SSZ S`Sa WS^SZY `S aZ`a WSaSZ _W_aS`a VS WZYa` S` Za^SZ TW^S^` WZYSZUa^SZ Z`WY^`S_ \^TSV `S VSZ WZYSZS` S^`STS` `W^VSS `S .

S` Za^SZ TW^S`SZ W^S` VWZYSZ WZ S`SSZ TScS SZa_S W\aZ S W_SVS^SZ Z`a WZYW^` S Z \W^a `S TWVSSZ SZ`S^S \WZYWZSSZ VSZ W_SVS^SZ `S WZYWZS TS `S WS` WZVWZYS^ S`Sa W^S_SSZ _W_aS`a W_SVS^SZ SVSS W_SZYYa\SZ SZa_S aZ`a WZYWZS V^Z S _WZV^ VSZ S^WZS `a TW^WXW_ `WZ`SZY V^Z S WZYWZSSZ TaSZ W^a\SSZ [Z[\[ SZa_S ZS`SZY \aZ T_S WZYWZS [TW SZ `W`S\ W_SVS^SZ W^a\SSZ [Z[\[ SZa_S .

SS V^ SZa_S T_S TW^SZY_aZY _WSUS \WZYYSZVSSZ S T_S WTS W\SVS V^Z S SS \^[_W_ \WZYWZSSZ V^Z S SZa_S TW^\W^SZ _WTSYS _aTW aYS _WTSYS [TW Z`a WZaZaSZ W_SVS^SZ VYaZSSZ S`S U[Z_UWZUW U[Z TW^_SS VWZYSZ `a^a` VSZ _UWZUW WZYW`Sa S`S U[Z_UWZUW VYaZSSZ aYS aZ`a WZaZaSZ S` Za^SZ aSZ _SS SZa_S WSaSZ \W^TaS`SZ\W^TaS`SZ SZY TW^_XS` [^S TS S`Sa Ta^a `S\ aYS SVS SZY `a^a` WZYW`Sa `WZ`SZY \W^TaS`SZ [^S `S SS V^ `S _W[S[S SVS Z_`SZ_ SZY WZS VS^ _WY [^S \W^TaS`SZ\W^TaS`SZ SZY `S SaSZ S` Za^SZ W^a\SSZ _S_ `WZ`SZY \W^TaS`SZ \W^TaS`SZ [^S `S .

@-D- @9@-99@ S` Za^SZ ^W`^[_\W`X SVSS WTW^SZ \WZSSZ `W^SVS\ \W^TaS`SZ\W^TaS`SZ SZY `WS TW^SZY_aZY V S_S S\Sa S` Za^SZ VSS S^` ^W`^[_\W`X WZaVa S`Sa WZUWS TS \W^TaS`SZZ S WW Wa S`Sa WTW^ ^S_S \aS_ TS \W^TaS`SZZ S VSZYYS\ TS SV S` Za^SZ Z W^a\SSZ Z_`SZ_ WSSZ VSS TS`Z `S `WZ`SZY \W^TaS`SZ SZY `WS TW^SZY_aZY S S` Za^SZ WZYaa VSZ WZaVa `S TS`Z SSZ W^S_S YW_S Z TW^S^` `S W S TSV U[Z_UWZUW S `S `WS TW^`ZYS Sa TS `S W\aZ S S Y[[V U[Z_UWZUW .

S` Za^SZ \^[_\W`X WS` W S_S VW\SZ VSZ WZS \W^TaS`SZ\W^TaS`SZ `S SZY SSZ VS`SZY S` Za^SZ VSS S^` Z WZYSS `S aZ`a WSaSZ _W_aS`a S`Sa WS^SZY WSaSZ _W_aS`a .

@-D- 9--9- S` Za^SZ \W^_[ZS _WSa TW^S`SZ VWZYSZ W^S` VWZYSZ \^TSV TW^_SZYa`SZ S` Za^SZ VcS^ZS [W W\^TSVSZ `S S` Za^SZ SSZ TW^WTSZY aYS TW^_SS VWZYSZ \W^WTSZYSZ _Wa^a W\^TSVSZ `S S` Za^SZ SZ S TUS^S S`S_ ZSS _S S S` Za^SZ SZ S WTW^ \WZSSZZ S `WZ`SZY \W^TaS`SZ _S S _WZV^ .

 _S\ZY S_\W \W^_[ZS S` Za^SZ WZaZaSZ aYS S_\W SV\W^_[ZS WSZ TW^_XS` \^TSV S` Za^SZ aYS _W[S[S WWT \^TSV `S _\W Z `S\S VSS _`S S` Za^SZ `a _WZV^ S` Za^SZ TW^S^` S` SZY V`W^SZY SS \WZYSSSZ WZYWZS S` Za^SZ _W[S[S SVS USS S VS^ aS^ SZY WZW^SZY TaV VSZ S` `S W^S`SZ _`S _aS^S S` S`S S` S`Sa _aS^S TS`Z W^SVS\ S` Za^SZ `S _WSSZ WZSV \WZVWZYS^ S` Za^SZ W\aZ S _aS`a S_\W `^SZ_WZVWZ S^`Z S WWT \^TSV `S SY [^SZY TW^SYSS S` Za^SZ W VWZ_ ^WYa_ .

--@-D- VS TSZ S `\W S` Za^SZ SVS SZY Sa_ VSZ `a SVS SZY [ZYYS^ VSZ a^SZY `W\S` VSZ SVS SZY `a\a S` Za^SZ SZY VSS WSVSSZ `a\a TS_SZ S S^WZS _SS VV ZS SZY VVV VSS WaS^YS \WZUa^ S\^ `VS aZYZ W\aZ S \a`a_SZ S` Za^SZ SZY TS `WZ`SZY S  SYSSZS WSVSSZ S` Za^SZ `a [ZYYS^ `a\a _WTSYSZ TW_S^ TW^YSZ`aZY \SVS \WZVVSZ VSZ ZYaZYSZ SZ S S` Za^SZ SZY VVV VSZ VTWZ`a VWZYSZ TS VS\S` WTW^SZ \WZ aaSZ `W\S` VSS Va\ [^S `S .9.

S` Za^SZ S^a_ VVV WZVVSZ S` Za^SZ TW^_SS VWZYSZ _Wa^a \WZVVSZ [^S W\S` SZY _W^S_ aZ`a \WZVVSZ [^S SVSS WaS^YS TaSZ _W[S WZVVSZ S` Za^SZ `a S^a_ VSSZSZ _WVWSZ ^a\S _WZYYS _ SZS WZ SVS^ `SZYYaZY ScSTZ S _WZV^ .

D- D-  Z`^[\[[Y TaVS S WTWVSSZ VaS SUS WTaVS SSZ WTaVS SSZ Sa _SW Ua`a^W VSZ WTaVS SSZ WTW^_SSSZ Ya` Ua`a^W WTaVS SSZ Sa _Wa^aZ S V`SZVS [W ^S_S Sa VSZ V _`a `VS VWZS ^S_S TW_SS WTaVS SSZ WTW^_SSSZ `W^VS\S` ^S_S TW^_SS SW Ua`a^W SVSS WTaVS SSZ V SZS \WZYW^`SZ\WZYYW^`SZ _W\W^` [^S` ^W\a`S_ ZSS TS _`S`a_ VSZ YWZY_ _SZYS` V`WSZSZ . D-.

S [^SZY WSaSZ _aS`a WSS`SZ S `a `VS VSZYYS\ _W_aS`a SZY Ta^a TWY`a _SS WSZSZ _W_aS`a SZY S^a_ V_WTaZ SZ aZ`a [^SZY SZ aSZ \W^TaS`SZ SS` `a _WZV^ SZY VSZYYS\ \WZ`ZY `W`S\ SZY \WZ`ZY SVSS TScS \W^TaS`SZ SS` `VS SSZ VW`Sa S \W^TaS`SZ SS` VW`Sa \WSaZ S WZSV Sa SS _SW Ua`a^W _SZ_Z S VS`SZY VS^ aS^ S`a S\S SZY V\^SZ S`Sa VS`SSZ [W [^SZY SZ SS _SW Ua`a^W `VS SVS S` Za^SZ .

a` Ua`a^W SVSS WTaVS SSZ V SZS \WZYW^`SZ \WZYW^`SZ _W\W^` V[_S _Z WTW^_SSSZ Ya` VSZ _WTSYSZ S _SZYS` V\WZ`ZYSZ WS\aZ _aS`a W_SSSZ `VS SSZ \W^ZS VW`Sa [W [^SZY SZ ZSaZ _ \WSa W^S_S TW^_SS aYS S WZ W_S VSZ W^S_S `VS `WZSZY S^WZS \W^TaS`SZ `a _WZV^ TaSZ S^WZS VUWS S`Sa Va`a [^SZY SZ SV TaSZ S^WZS `SZYYS\SZ \S aS^ SS Ya` Ua`a^W _SZ_Z S `VS VS`SZY VS^ aS^ WSZSZ VS^ VSS VS^ TS`Z [^SZY TW^_SZYa`SZ S\S` VWZYW^` TScS VSS Ya` Ua`a^W _WSUS `a S` Za^SZ WWYSZY \W^SZSZ _SZYS` \WZ`ZY .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful