ADE IRMA SURYANI 03101003033 KELOMPOK 6 TUGAS KHUSUS PERCOBAAN 3 DE IRMA SURYANI

Sifat Koligatif Larutan
Sifat koligatif larutan adalah merupakan salah satu sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat yang terlarut tetapi hanya bergantung pada banyak nya partikel partikel atau konsentrasi pertikel zat terlarutnya ( kosentrasi zat terlarut). Sifat koligatif larutan terdiri dari dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan non elektrolit Siafat koligatif larutan dipengaruhi oleh adanya :
   

Penurunan tekanan uap jenu Kenaikan titik didih Penurunan titik beku Tekanan osmotik

Di dalam suatu larutan banyaknya partikel ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat larutan itu sendiri. Jumlah partikel yang ada dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel yang ada dalam larutan elektrolit, walaupun keduanya mempunyai konsentrasi yang sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit dapat terurai menjadi ionionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak dapat terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dapat dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit. Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit Sifat koligatif larutan non elektrolit sangat berbeda dengan Sifat koligatif larutan elektrolit, disebabkan larutan non elektolit tidak dapat mengurai menjadi ion – ion nya. Maka Sifat koligatif larutan non elektrolit dapat di hitung dengan menghitung tekanan uap, titik didih, titik beku, dan tekanan osmosis. Menurut hukum sifat koligatif, selisih tekanan uap, titik beku, dan titik didih suatu larutan dengan tekanan uap, titik beku, dan titik didih pelarut murninya, berbanding langsung dengan konsentrasi molal zat terlarut. Larutan yang bisa

Dengan demikian dapat dituliskan: i = sifat koligatif larutan eklektrolit dengan kosentrasi m / sifat koligatif larutan nonelektrolit dengan kosentrasi Semakin kecil konsentrasi larutan elektrolit. tetapi bergatung pada jumlah zat terlarut yang larut pada suatu larutan. dan tekanan osmotic Sifat Koligatif Larutan Elektrolit Larutan elektrolit memperlihatkan sifat koligatif yang lebih besar dari hasil perhitungan dengan persamaan untuk sifat koligatif larutan nonelektrolit di atas. harga i semakin besar. sifat koligatif tidak bergantung pada interaksi antara molekul pelarut dan zat terlarut. Untuk larutan encer. yaitu semakin mendekati jumlah ion yang dihasilkan oleh satu molekul senyawa elektrolitnya.memenuhi hukum sifat koligatif ini disebut larutan ideal. menurut Van’t Hoff besarnya selalu tetap dan diberi simbul i (i = tetapan atau faktor Van’t Hoff ). Kebanyakan larutan mendekati ideal hanya jika sangat encer.001 m. kenaikan titik didih. Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan. yaitu larutan yang konsentrasinya kurang dari 0. Sifat koligatif terdiri dari penurunan tekanan uap. penurunan titik beku. Gambaran umum sifat koligatif . harga i dianggap sama dengan jumlah ion. Perbandingan antara sifat koligatif larutan elektrolit yang terlihat dan hasil perhitungan dengan persamaan untuk sifat koligatif larutan nonelektrolit.

Pengaruh adanya zat terlarut terhadap tekanan uap pelarut A murni dan adanya zat terlarut B . Penurunan titik beku 4.Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut). Tekanan osmosis Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit. 1.1.1. walaupun konsentrasi keduanya sama. perhatikan Gambar 11. Penurunan Tekanan Uap Jenuh Penurunan tekanan uap jenuh larutan akan semakin besar apabila konsentrasi (fraksi mol) dari zat terlarut semakin besar. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya. Kenaikan titik didih 3. sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Tekanan uap suatu zat cair lebih tinggi dari tekanan uap jenuh larutan. Gambar 11. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit. maka akan didapat suatu larutan yang mengalami: 1. Penurunan tekanan uap jenuh 2. Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut (Gambar 6.2).

Roult meneliti dan banyak melakukan eksperimen dalam berbagai campuran zat dan dia menyimpulkan hubungan antara penurunan tekanan uap suatu zat cair dengan konsentrasi larutannya. tekanan uap jenuh larutan: P = tekanan uap larutan ΔPºA = penurunan tekanan uap jenuh larutan PºA = tekanan uap jenuh pelarut murni . Hasil ekperimennya mengantarkan Roult untuk menyederhanakan fenomena tersebut kedalam persamaan seperti dibawah ini : dimana. dimana ΔP = penurunan tekanan uap jenuh pelarut Pº = tekanan uap jenuh pelarut murni XB = fraksi mol zat terlarut Dari hubungan di atas maka didapat. Sehingga besarnya penurunan sangat tergantung pada fraksi zat ini yang dinyatakan dalam persamaan. P = tekanan uap jenuh larutan Pº = tekanan uap jenuh pelarut murni XA = fraksi mol pelarut Sedangkan penurunan tekanan uap jenuh diakibatkan karena adanya fraksi zat terlarut di dalam pelarut.

Tb = Tpelarut + ?Tb dimana : Tb = penurunan titik beku larutan Tb = titik beku larutan . Titik didih larutan akan lebih tinggi dari titik didih pelarut murni.Untuk lebih mudah memahaminya mari kita perhatikan contoh soal dibawah ini. Berlawanan dengan penurunan titik beku larutan. Hasil eksperimen ini disederhanakan dalam Gambar 11.4. Bagaimana Kita Mengukur Kenaikan Titik Didih Larutan? Kenaikan titik didih larutan merupakan salah satu sifat koligatif larutan. i sedangkang titik didih larutan dicari dengan persamaan. Untuk menghitung perubahan titik didih larutan maka kita bisa menggunakan persamaan berikut ini: Tb = Kb. Hal ini juga diikuti dengan penurunan titik beku pelarut murni. Ini berarti bahwa titik didih pelarut akan lebih kecil jika dibandingkan dengan titik larutan.   tentukan penurunan tekanan uap jenuh air tentukan tekanan uap jenuh larutan pada suhu 30°C 2. Sebagai contoh titik didih air murni adalah 100 C jika kita melarutkan gula atau garam dapur ke dalam air maka titik didihnya akan lebih dari 100 C. Kenaikan titik didih larutan merupakan fenomena meningkatkan titik didih suatu pelarut disebabkan adanya zat terlarut didalam pelarut tersebut. Di dalam air terlarut 18% berat glukosa dimana diketahui tekanan uap air pada suhu 30°C adalah 0.7 atm. m . atau titik beku larutan lebih kecil dibandingkan titik beku pelarutnya. Kenaikan Titik Didih Hasil eksperimen Roult menunjukan bahwa Kenaikan titik didih larutan akan semakin besar apabila konsentrasi (molal) dari zat terlarut semakin besar.

n = 5 . Faktor Van’t Hoff secara teori dapat dihitung dengan menggunakan rumus: i = 1 + (n-1)?) dengan ? adalah derajat ionisasi zat terlarut dan n jumlah ion yang terbentuk ketika suatu zat berada didalam larutan. Untuk non elektrolit maka alfa = o dan n adalah 1 dan untuk elektrolit dicontohkan sebagai berikut: C6H12O6 -> C6H12O6 n = 1 NaCl -> Na+ + Cl. Untuk zat non elektrolit maka vaktor Van’t Hoffnya adalah 1 dan nonelektrolit adalah sama dengan jumlah ion yang terbentuk didalam larutan. Faktor Van’t Hoff dihitung dari besarnya konsentrasi sesunguhnya zat terlarut yang ada di dalam larutan dibanding dengan konsentrasi zat terlarut hasil perhitungan dari massanya.n = 4 Cu3(PO4)2 -> 3Cu2+ + 2PO43.m = molalitas larutan Kb = konstanta titik beku pelarut i = Faktor Van’t Hoff Di bidang themodinamika konstanta titik beku pelarut.n = 2 CaCl2 -> Ca2+ + 2Cl. kenaikan titik didih. penurunan titik beku. Kb lebih dikenal dengan istilah “Konstanta Ebulioskopik“. Ebulioskopik berasal dari bahasa Yunani yang artinya “mendidih”. dan tekanan osmotik). Faktor Van’t Hoff (i) adalah parameter untuk mengukur seberapa besar zat terlarut berpengaruh terhadap sifat koligatif (penurunan tekanan uap.n = 3 Na3PO4 -> 3Na+ + PO4.

sehingga persamaannya menjadi : . tapi oleh jumlah partikel/mol terlarut khususnya yang terkait dengan proses ionisasinya.4. m Tb = kenaikan titik didih larutan kb = tetapan kenaikan titik didih molal pelarut (kenaikan titik didih untuk 1 mol zat dalam 1000 gram pelarut) m = molal larutan (mol/100 gram pelarut) Perubahan titik didih atau ΔTb merupakan selisih dari titik didih larutan dengan titik didih pelarutnya. Kenaikan tidak dipengaruhi oleh jenis zat yang terlarut.Gambar 11. seperti persamaan : ΔTb = Tb – Tbº Hal yang berpengaruh pada kenaikan titik didih adalah harga kb dari zat pelarut. Untuk zat terlarut yang bersifat elektrolit persamaan untuk kenaikan titik didik harus dikalikan dengan faktor ionisasi larutan. Diagram tekanan dan suhu untuk titik didih dan titik beku dari pelarut dan larutan Roult menyederhanakan ke dalam persamaan Tb = kb .

C6H12O6 → C6H12O6 0. maka titik didih larutan adalah ΔTb = Tb – Tb0 Tb = 100 + 0.1 molal → 0.52 °C/molal. jumlah n = 4 Agar mudah dimengerti kita ambil perhitungan kenaikan titik didih untuk zat non-elektrolit dan non elektrolit sebagai perbandingannya. Larutan gula tidak mengalami ionisasi sehingga.052 .1 mola ΔTb = kb .1 molal. Sebuah larutan gula C6H12O6 dengan konsentrasi sebesar 0.052oC Diketahui titik didih air adalah 100°C. jumlah n = 2 H2SO4 → 2 H+ + SO42-. 0.52 . jumlah n = 3 H3PO4 → 3 H+ + PO43-.1 ΔTb = 0. jika pelarutnya air dengan harga kb = 0.dimana n = jumlah ion-ion dalam larutan α = derajat ionisasi Contoh jumlah ion untuk beberapa elektrolit: HCl → H+ + Cl-. Tentukan titik didih larutan tersebut. m ΔTb = 0.052 Tb = 100.

4 bahwa kenaikan titik didih diikuti dengan penurunan titik beku suatu larutan. Hubungan penurunan titik beku larutan dengan konsentrasi larutan disederhanakan dalam persamaan dan persamaan ini untuk larutan non elektrolit : ΔTf = penurunan titik beku kf = tetapan penurunan titik beku dari zat pelarut m = molal larutan Untuk larutan elektrolit berlaku persamaan : Hubungan antara perubahan titik beku dengan larutan ditunjukan oleh persamaan : ΔTf = penurunan titik beku Tf = titik beku larutan Tfº = titik beku pelarut 4. Jika konsentrasi (dalam molalitas) dari zat terlarut semakin besar. .3. Selisih antara titik beku larutan dengan titik beku pelarut disebut penurunan titik beku. Proses perembesan hanya terjadi dari larutan yang mempunyai konsentrasi yang kecil ke dalam larutan berkonsentrasi besar. Tekanan Osmotik Osmosis adalah proses merembesnya atau mengalirnya pelarut ke dalam larutan melalui selaput semipermiabel. Penurunan Titik Beku Seperti tampak pada diagram pada Gambar 10. maka titik beku larutan semakin kecil.

maka berlaku: π = tekanan osmosa (dalam atm) C = konsentrasi zat terlarut mol/L R = konstanta gas = 0. Pada Gambar 11.Tekanan osmotik atau osmosa adalah tekanan yang diperlukan.5 atm.7. Berapakah berat molekul zat tersebut? . Percobaan perembesan larutan melalui membran semi permeabel Dalam hubungannya dengan konsentrasi larutan Van het Hoff menyimpulkan bahwa Tekanan osmotik larutan akan semakin besar apabila konsentrasi (Molar) dari zat terlarut semakin besar.082 atm. Gambar 11. Menurut Van Het Hoff.7 besarnya tekanan setara dengan perubahan dari Δh.Selaput permeabel merupakan selaput yang hanya dapat dilewati oleh partikel-partikel dengan ukuran tertentu.K T = suhu dalam °K Tekanan osmosa 17 gram suatu zat dalam 1 liter larutan pada suhu 27 °C adalah 1. sehingga terjadi penghentian aliran pelarut ke dalam larutan.L/mol.

tentu saja hanya ada separuh dari tiap jenis molekul yang dapat melepaskan diri dari campuran Apabila molekul-molekul merah masih mempunyai kecenderungan yang sama untuk melepaskan diri sebesar sebelumnya. 5.L/mol.K T = 273 + 27 = 3000K 1. 300 C = 0. Yang berarti bahwa hanya ada separuh dari tiap jenis molekul yang berada di permukaan campuran larutan dibanding jumlah tiap jenis molekul pada permukaan larutan awalnya.Anda mungkin berpikir bahwa diagram ini hanya menunjukkan separuh dari seluruh molekul yang melepaskan diri.5 = C . Apabila proporsi dari tiap jenis molekul yang melepaskan diri tetap sama.061 mol/L BM dari zat tersebut adalah Mr = 278. tapi sebenarnya proporsi dari kedua jenis molekul yang melepaskan diri masih sama. 0. Diagram ini menunjukkan campuran 50/50 dari dua larutan. Hukum Raoult dan Campuran Larutan Ideal Bagian ini mengupas hukum Raoult dan bagaimana aplikasinya pada campuran dari dua larutan yang dapat menguap.5 atm R = 0.Persamaan tekanan osmosa π = 1.082 . ini berarti daya intermolekuler antara dua molekul .082 atm. Di sini akan dibahas kasus campuran di mana dua jenis larutan dapat sepenuhnya menyatu dalam berbagai proporsi dan BUKAN campuran di mana larutan yang satu berada di atas yang lainnya (larutan yang tidak dapat menyatu sepenuhnya)Bagian ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan campuran ideal dan melihat.

merah persis sama dengan besar daya intermolekuler antara sebuah molekul merah Apabila daya tersebut berubah. Namun begitu. sehingga walaupun campuran ini mendekati campuran ideal.Demikian halnya dengan daya antara dua molekul biru dan daya antara sebuah molekul biru dan sebuah molekul merah. tetap saja. tetap saja . kecenderungan molekul biru untuk melepaskan diri juga akan berubah. Mereka memiliki besar molekul yang hampir sama dan mempunyai daya tarik Van der Waals yang sama di antara mereka. Apabila anda dapat mengikuti penjelasan ini. Daya tersebut juga harus sama dan kalau tidak. Inilah sebabnya mengapa campuran seperti hexane dan heptane mendekati campuran ideal. anda akan mengerti bahwa daya tarik intermolekuler antara dua molekul merah. dua molekul biru dan antara sebuah molekul merah dan sebuah molekul biru akan persis sama dalam campuran ideal. besar molekul keduanya tidak persis sama. kecenderungan molekul untuk melepaskan diri juga akan berubah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful