P. 1
Pengaruh Minat Belajar Bahasa Arab

Pengaruh Minat Belajar Bahasa Arab

|Views: 4,677|Likes:
Proposal Skripsi
Proposal Skripsi

More info:

Published by: اربانى ابن رواندى on Dec 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2015

pdf

text

original

PENGARUH MINAT BELAJAR BAHASA ARAB TERHADAP

KEMAMPUAN BERBAHASA ARAB MAHASISWA
(Studi Kasus pada Mahasiswa Semester V Sekolah Tinggi Agama Islam
Sangatta Kutai Timur Tahun Akademik 2011/2012)



PROPOSAL
Diajukan untuk Memenuhi Pengajuan Skripsi



Nama : Arbani
Nim: 08.01.0011








PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SANGATTA
KUTAI TIMUR
2011
1



PENGARUH MINAT BELAJAR BAHASA ARAB TERHADAP
KEMAMPUAN BERBAHASA ARAB MAHASISWA
(Studi Kasus pada Mahasiswa Semester V Sekolah Tinggi Agama Islam
Sangatta Kutai Timur Tahun Akademik 2011/2012)
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu di antara dimensi ajaran islam yang paling menonjol adalah
perintah untuk belajar, menuntut ilmu pengetahuan.
1
Islam di samping
memerintahkan umatnya untuk belajar, menggali ilmu pengetahuan, juga
memberikan penghargaan yang sangat istimewa bagi orang yang selalu
belajar, menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya. Banyak sekali
keterangan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah yang mengisyaratkan tentang
martabat orang berilmu, kedudukan para ulama, dan keutamaan belajar.
2
Di
antaranya firman Allah SWT yang berbunyi:
¸_·¯¸,... ´<¦ _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¯¡>.¸. _¸¸¦´¸ ¦¡.¸¦ ´¸l¸-l¦ ¸¸.>´ ¸: ... ¸¸¸¸
Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
(QS. al-Mujaadilah: 11)
3

Selain itu dalam beberapa hadits juga disebutkan:
. . . ...
Artinya: Barang siapa berjalan untuk menuntut suatu ilmu (belajar), niscaya
Allah SWT akan memudahkan jalan baginya menuju surga.
4


ِArtinya: Barang siapa keluar (pergi) untuk mencari ilmu maka ia berada di
jalan Allah sehingga kembali.
5


1
Umi Machmudah dan Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning dalam Pembelajaran
Bahasa Arab, (Malang: UIN-Malang, 2008), hlm. 1.
2
Ibid., hlm. 3.
3
Al-Quran dan Terjemahannya, (Semarang: PT Kumudasmoro Grafindo, 1994), hlm. 910-
911.
4
Dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya, Hadits no. 7028, Ibnu Majah dalam sunannya,
hadits no. 230, dan dikeluarkan pula melalui jalur periwayatan yang lain tanpa lafadz “bihi” oleh
Tirmidzi dalam sunannya, hadits no. 2858, Abu Isa berkata hadits ini hasan.
5
Dikeluarkan oleh Tirmidzi, dalam sunannya, hadits no. 2785. Hadits ini hadits hasan gharib.
2



Demikianlah al-Qur’an dan al-Hadits telah memberikan motivasi dan
dorongan kepada manusia agar selalu belajar. Menuntut ilmu merupakan
bagian dari tugas seorang muslim. Dengan kaya ilmu, maka akan muncul rasa
dekat kepada Allah SWT.
Minat adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam
belajar. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang
tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang
rendah.
6
Minat merupakan landasan penting bagi seseorang untuk melakukan
kegiatan dengan baik. Sebagai suatu aspek kejiwaan minat bukan saja dapat
mempengaruhi tingkah laku seseorang, tapi juga dapat mendorong orang
untuk tetap melakukan dan memperoleh sesuatu.
Slameto (2003) mengatakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka
dan rasa keterikatan pada suatu aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat
pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dan
sesuatu dari luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin
besar minat.
7
Orang yang berminat pada suatu kegiatan atau aktivitas tidak
akan cepat bosan dan jenuh terhadap kegiatan atau aktivitas tersebut,
meskipun ada gangguan, baik dari dalam diri maupun gangguan dari luar
misalnya rasa lelah dan gangguan dari lingkungan dan sebagainya. Minat
sangat erat hubungannya dengan belajar, belajar tanpa minat akan terasa
menjemukan. Peran minat sangat besar jika dikaitkan dalam pelaksanaan
pembelajaran, karena dengan adanya minat proses pembelajaran akan dapat
efektif. Jika mahasiswa telah berminat dalam kegiatan belajar mengajar, maka
hampir dapat dipastikan proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik
dan hasil belajar pun juga optimal.
Dalam pembelajaran bahasa yang menjadi tujuan utama adalah
penguasaan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa mengacu pada
kemampuan yang berhubungan dengan penggunaan bahasa dalam
komunikasi nyata. Dengan Kemampuan berbahasa seseorang dapat

6
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 56-57.
7
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta,
2003), cet. 3, hlm. 180.
3



mengungkapkan pikiran dan isi hatinya kepada orang lain yang merupakan
tujuan pokok pengajaran bahasa sebagai suatu bentuk berkomunikasi. Dalam
kajian kebahasaan, kemampuan berbahasa bersifat konkret dan mengacu
kepada penggunaan bahasa senyatanya, dalam bentuk lisan yang dapat
didengar atau dalam bentuk tertulis yang bisa dibaca.
8

Bahasa Arab memiliki kaitan yang sangat erat dengan agama islam,
karena semua ajaran islam terhimpun dalam al-Qur’an dan dilengkapi dengan
penjelasan al-Hadits. Untuk dapat mengkaji dan mendalami ajaran islam,
harus mempelajari al-Qur’an dan al-Hadits, dan agar dapat mempelajari al-
Qur’an dan al-Hadits dibutuhkan kemampuan berbahasa Arab yang
memadai.
9
Allah SWT berfirman:
!.¸| «..l¸.¦ !.´,¯¸· !¯,¸,¸s ¯¡>l-l _¡l¸1- . ¸_¸
Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan
berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Q.S. Yusuf: 2)
10

Bahasa Arab juga merupakan bahasa ilmu pengetahuan. Ada banyak
kitab-kitab klasik yang dikarang oleh ulama-ulama terdahulu yang ditulis
dalam bahasa Arab. Sampai saat ini, karya-karya ulama klasik tersebut masih
banyak dijumpai yang dikenal dengan kitab kuning”. Kitab-kitab tersebut
tidak hanya membahas tentang fiqh, aqidah akhlak, dan ilmu-ilmu keagamaan
lainnya, tetapi juga membahas tentang filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya.
Jadi jelaslah bahwa bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat penting
dalam ilmu pengetahuan.
11

Selain itu bahasa Arab juga merupakan bahasa internasional, bahasa ini
digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara yang berada di Asia dan
Afrika. Di Afrika, bahasa Arab dijadikan bahasa resmi di negara Mauritania,
Maroko, Aljazair, Libya, Mesir, dan Sudan. Di semenanjung Arabia, bahasa

8
Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN Malang.2009),
hlm. 61-62.
9
Imam Makruf, Strategi Pembelajaran bahasa Arab, (Semarang: Need’s Press, 2009), hlm.
7.
10
Al-Quran dan Terjemahannya, op. cit., hlm. 384.
11
Ibid., hlm. 11.
4



ini digunakan oleh negara Oman, Yaman, Bahrain, Kuwait, Saudi, Qatar,
Emirat Arab, dan jauh ke utara, Jordan, Irak, Syria, Libanon, dan Palestina.
12

Bahasa Arab mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal
dan dianut oleh bangsa Indonesia. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh
masyarakat kita pada abad ke-13,
13
maka usia pendidikan bahasa Arab
dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia
dengan bahasa Arab itu paralel dengan perjumpaannya dengan Islam. Bahasa
Arab di Indonesia jauh lebih tua dan senior dibandingkan dengan bahasa
asing lainnya, seperti: Inggris, Belanda, Mandarin, Jerman, dan Jepang.
Walaupun usianya jauh lebih tua, namun perkembangan pembelajaran bahasa
Arab nampaknya masih belum begitu menggembirakan, masih banyak
kalangan masyarakat Indonesia, yang mayoritas beragama Islam lebih
memilih belajar bahasa Inggris daripada belajar bahasa Arab. Bahasa Arab
sebagai bahasa al-Qur’an belum mampu memotivasi umat islam untuk
bersemangat dalam mempelajarinya.
Sebagaimana yang terjadi di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta
Kutai Timur pembelajaran bahasa Arab selama ini masih menghadapi
berbagai kendala di antaranya adalah munculnya berbagai kesulitan dalam
proses pembelajaran bahasa Arab. Asumsi yang berkembang bahwa di
antaranya disebabkan oleh alokasi waktu pembelajaran yang belum
mencukupi, kurang tersedianya fasilitas belajar bahasa Arab di rumah,
mahasiswa belum mampu mendudukkan bahasa Arab yang dipelajarinya
dalam kehidupan sehari-hari, buku-buku bahasa Arab atau buku-buku yang
berkaitan dengan bahasa Arab kurang mendapat perhatian mahasiswa.
Mahasiswa belum terbiasa menggunakan bahasa Arab di dalam kelas, serta
adanya kesan bahwa mata kuliah bahasa Arab itu sulit bahkan lebih sulit dari

12
Azhar Rasyad, Bahasa Arab dan Metode pengajarannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004), cet. 2, hlm. 1-2.
13
Islam menunjukkan eksistensinya pada abad ke- 13 M di sumatra dan 15 M di Jawa, lihat
Abdullah Karim, Sejarah pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publiser,
2009), cet. 2, hlm. 326.
5



bahasa asing lainnya.
14
Tidak adanya lingkungan berbahasa Arab juga
menjadi kendala dalam pembelajaran bahasa. Padahal lingkungan berbahasa
memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembelajaran bahasa
Arab. Selain itu selama ini belum ada UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang
khusus menangani pembelajaran bahasa Arab.
Selain itu faktor-faktor di atas yang menjadi kendala dalam proses
pembelajaran bahasa Arab di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta adalah
rendahnya minat mahasiswa terhadap mata kuliah bahasa Arab . Hal ini dapat
dilihat dari sedikitnya mahasiswa yang mengikuti pembelajaran bahasa Arab
di luar jam mata kuliah bahasa Arab, misalnya dalam kegiatan pengajian
kitab Ta’lim Al Muta’alim, yang diselenggarakan setiap hari Sabtu pukul
16.00 WITA dan kegiatan pelatihan intensif bahasa Inggris dan bahasa Arab
yang diselenggarakan di akhir semester.
15
Penulis berasumsi bahwa
rendahnya minat belajar bahasa Arab tersebut sangat berpengaruh terhadap
kemampuan berbahasa Arab mahasiswa.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk
meneliti dengan mengangkat judul “ Pengaruh Minat Belajar Bahasa Arab
Terhadap Kemampuan Berbahasa Arab Mahasiswa (Studi Kasus pada
Mahasiswa Semester V Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur
Tahun Akademik 2011/2012)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dibuat rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana minat belajar bahasa Arab mahasiswa Sekolah Tinggi Agama
Islam Sangatta Kutai Timur?
2. Bagaimana kemampuan berbahasa Arab mahasiswa Sekolah Tinggi
Agama Islam Sangatta Kutai Timur?

14
Hasil studi pendahuluan (angket) dari 12 orang mahasiswa semester V Sekolah Tinggi
Agama Islam Sangatta Kutai Timur diperoleh pada tanggal 20 September 2011.
15
Hasil dokumentasi (absen) pada saat pelaksanaan pelatihan intensif bahasa inggris dan
bahasa Arab yang diselenggarakan diakhiri semester, dan pelaksanaan pengajian kitab Ta’lim al
Muta’allim setiap hari Sabtu pukul 16.00 wita diperoleh pada tanggal 19 September 2011.
6



3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara minat belajar bahasa
Arab terhadap kemampuan berbahasa Arab mahasiswa Sekolah Tinggi
Agama Islam Sangatta Kutai Timur?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui:
a. Minat belajar bahasa Arab mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam
Sangatta Kutai Timur Tahun Akademik 2011/2012.
b. Kemampuan berbahasa Arab mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam
Sangatta Kutai Timur Tahun Akademik 2011/2012.
c. Pengaruh minat belajar bahasa Arab terhadap kemampuan berbahasa
Arab mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur
Tahun Akademik 2011/2012.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis
maupun secara praktis yaitu sebagai berikut :
a. Secara teoritis
Sebagai sarana memperluas khazanah pengetahuan peneliti
khususnya dan orang yang berinteraksi langsung dengan pendidikan
pada umumnya tentang pengaruh minat belajar bahasa Arab terhadap
kemampuan berbahasa Arab, khususnya di Sekolah Tinggi Agama
Islam Sangatta Kutai Timur.
b. Secara praktis
1) Sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi bagi Sekolah Tinggi
Agama Islam Sangatta Kutai Timur, khususnya dalam
pembelajaran bahasa Arab
2) Sebagai bahan pijakan bagi penelitian lebih dalam lagi tentang
pengaruh minat belajar bahasa Arab terhadap kemampuan
berbahasa Arab
7



3) Sebagai bahan referensi bagi pihak atau instansi yang
membutuhkannya.
D. Definisi Operasional
Secara bahasa minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap
sesuatu, gairah, keinginan
16
dan belajar berarti berusaha mengetahui sesuatu,
berusaha memperoleh ilmu pengetahuan kepandaian, keterampilan.
17
Dan
bahasa Arab menurut Mushthafa al-Ghulayaini adalah:
Artinya: Bahasa Arab adalah kata-kata yang disusun dan digunakan oleh
orang-orang Arab untuk mengungkapkan tujuan-tujuan mereka.
18

Maka secara bahasa minat belajar bahasa Arab adalah kecenderungan
hati yang tinggi untuk memperoleh kemahiran atau kepandaian dalam
menyusun dan menggunakan kata-kata yang disusun dan digunakan oleh
orang-orang Arab untuk mengungkapkan tujuan-tujuan mereka atau dengan
kata lain kecenderungan hati yang tinggi untuk memperoleh
kemahiran/kepandaian, keterampilan dalam menggunakan bahasa Arab.
Sedangkan yang dimaksud dengan minat belajar bahasa Arab dalam
penelitian ini adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap pembelajaran
bahasa Arab, berupa keinginan atau kemauan yang disertai perhatian dan
keaktifan yang disengaja yang akhirnya melahirkan rasa senang dalam
perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Secara bahasa kemampuan sama dengan kesanggupan atau kecakapan.
Kemampuan berbahasa adalah kemampuan seseorang menggunakan bahasa
yang memadai dilihat dari sistem bahasa.
19
Sedangkan yang dimaksud dengan
kemampuan berbahasa Arab dalam penelitian ini adalah kemampuan

16
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2007), ed. 3, cet. 4, hlm. 744.
17
Ibid., hlm. 17.
18
Mushthafa al-Ghulayaini, Jami al-Durus al-Arabiyah, Juz 1, (Beirut: al-Maktabah al-
Ashariyah litthiba’ah wa nasyar, 1993), cet. 28, hlm. 7.
19
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, op. cit., hlm. 707-708.
8



individu untuk menyimak ucapan berbahasa Arab yang disampaikan oleh
lawan bicara, berbicara menggunakan bahasa Arab, membaca tulisan-tulisan
Arab, baik yang menggunakan syakal maupun tidak menggunakan syakal,
dan menulis pesan-pesan dalam bentuk tulisan, meliputi empat kemahiran
dalam berbahasa yaitu kemampuan menyimak (maharatul istima’),
kemampuan berbicara (maharatul kalam), kemampuan membaca (maharatul
qira’ah), dan kemampuan menulis (maharatul kitabah).
E. Telaah Pustaka
1. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini
antara lain :
Pertama, oleh Agus Widiyatmo (2010), dengan judul Hubungan
Minat dan Motivasi dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Program
Diploma III Hiperkes Dan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hasil penelitian ini adalah
Tingginya minat belajar dan motivasi belajar secara bersamaan akan
meningkatkan prestasi belajar, maka untuk meningkatkan prestasi belajar
sebaiknya sejak awal perkuliahan dosen perlu menumbuhkan minat
belajar dan motivasi belajar pada mahasiswa sehingga diharapkan
prestasi belajar akan meningkat.
Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan
penulis adalah penelitian di atas mengorelasikan antara minat dan
motivasi dengan prestasi belajar. Sedangkan penelitian yang penulis
lakukan mengorelasikan antara minat dengan kemampuan berbahasa
Arab, yaitu kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Arab,
baik secara pasif maupun aktif, meliputi empat keterampilan berbahasa
yakni keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Kedua, oleh Mukti Ali, (2008) dengan judul Pembentukan
Kemampuan Berbahasa Arab Pada Anak Usia Prasekolah Di TPQ Nur
Iman Karang jambu Purwanegara Purwokerto Utara, Hasil dari
9



penelitiannya adalah pembentukan kemampuan berbahasa Arab di TPQ
Nur Iman, banyak dipengaruhi oleh kemampuan ustad dalam menguasai
materi pelajaran, hal ini terbukti karena ustad yang mengajar sudah ahli
di bidang bahasa Arab, dan juga didukung oleh kurikulum, sarana yang
mendukung pembelajaran, dan lingkungan kelas yang kondusif. Begitu
juga dengan kurikulum pelajaran bahasa Arab, di mana dalam kurikulum,
kemampuan berbahasa Arab yang mencakup empat kemampuan
berbahasa, kemampuan mendengar, kemampuan berbicara, kemampuan
membaca, dan kemampuan menulis, merupakan tujuan utama
diadakannya pelajaran bahasa Arab. Untuk mendukung pelaksanaan
pembentukan kemampuan berbahasa Arab tersebut, dari pihak TPQ juga
menyediakan sarana yang memadai, yaitu dengan pengadaan buku-buku
maupun media-media yang berkaitan dengan bahasa Arab.
Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang dilakukan
penulis adalah penelitian di atas berhubungan dengan proses
pembentukan kemampuan berbahasa, hal-hal yang mempengaruhinya,
faktor pendukung dalam pembentukan kemampuan berbahasa Arab.
Sedangkan penelitian yang penulis lakukan berhubungan dengan
pengaruh minat belajar bahasa Arab terhadap kemampuan berbahasa
Arab mahasiswa.
Berdasarkan karya tulis skripsi di atas memang telah ada penelitian
yang membahas tentang minat dan kemampuan berbahasa, akan tetapi
belum ada yang meneliti tentang pengaruh minat belajar terhadap
kemampuan berbahasa Arab.
2. Kajian Teoritik
a. Minat Belajar Bahasa Arab
1) Pengertian Minat Belajar Bahasa Arab
Secara bahasa minat berarti kecenderungan hati yang tinggi
terhadap sesuatu”.
20
Minat adalah kecenderungan yang menetap

20
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, loc. cit.
10



untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas.
Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan
aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain,
minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu
hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya
adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut,
semakin besar minat.
21
Perhatian bersifat lebih sementara dan ada
hubungannya dengan minat. Perbedaannya adalah minat sifatnya
menetap sedangkan perhatian sifatnya sementara, adakalanya
timbul adakalanya menghilang.
22

Suatu Minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang
menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal
lainnya, dapat pula diwujudkan melalui partisipasi dalam suatu
aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu
cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap
subjek tersebut.
23
Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan
diperoleh kemudian.
24

Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks.
Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki
keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
25
Belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan.
26
Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah terjadinya
perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak

21
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2008), cet. 2, hlm.
168.
22
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional,( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009),
cet. 23 hlm. 28.
23
Slameto, loc. cit.
24
Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009), cet. 4, hlm. 121.
25
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), cet. 3,
hlm. 10.
26
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), cet. 8, hlm.
28.
11



tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.
27
Hakikat
perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang
diniati dan disadarinya.
28

Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat
disaksikan dari luar. Apa yang sedang terjadi dalam diri seseorang
yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya
dengan mengamati orang itu. Bahkan, hasil belajar orang itu tidak
langsung kelihatan, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang
menampakkan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar.
29

Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan
sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan,
dan nilai-sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan
berbekas.
30

Dari pengertian minat dan belajar sebagaimana yang telah
diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar
adalah sesuatu keinginan atau kemauan yang disertai perhatian dan
keaktifan yang disengaja yang akhirnya melahirkan rasa senang
dalam perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap dan
keterampilan.
2) Unsur-unsur Minat
Bertolak dari pengertian minat sebagaimana diuraikan di atas,
maka unsur-unsur minat meliputi:
a. Perasaan senang
b. Perhatian
c. Kemauan
d. Keaktifan

27
Ibid., hlm. 30.
28
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
2008), cet. 9, hlm. 40.
29
W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Media Abadi, 2007), cet. 10, hlm. 58.
30
Ibid., hlm. 59.
12



e. Ketertarikan
3) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Mahasiswa
Menurut Bloom (1970) sebagaimana dikutip oleh
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2009) mengatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi minat di antaranya adalah
pekerjaan, sosial ekonomi, bakat, jenis kelamin, pengalaman,
kepribadian dan pengaruh lingkungan.
31

Selain faktor-faktor di atas di antara faktor yang
mempengaruhi minat adalah motivasi, belajar, bahan pelajaran dan
sikap guru, keluarga, teman pergaulan, cita-cita, bakat, hobi, media
massa, fasilitas dan lain-lain.


4) Beberapa Cara yang Dapat Dilakukan Untuk Meningkatkan Minat
Mahasiswa terhadap Mata Kuliah Bahasa Arab
Dosen perlu membangkitkan minat mahasiswa agar pelajaran
yang diberikan mudah dimengerti. Kurangnya minat belajar dapat
mengakibatkan kurangnya rasa ketertarikan pada suatu bidang
tertentu, bahkan dapat melahirkan sikap penolakan kepada guru.
Ada beberapa macam cara yang dapat dilakukan untuk
membangkitkan minat anak didik di antaranya adalah sebagai
berikut:
a. Membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik,
b. Menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan
persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik,
c. Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan
hasil belajar yang baik,
d. Menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar
dalam konteks perbedaan individual anak didik.
32

5) Fungsi Minat dalam Belajar

31
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2009), cet. 2, hlm. 114.
32
Syaiful Bahri Djamarah, op. cit., hlm. 167.
13



Fungsi minat dalam belajar adalah sebagai kekuatan yang
mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat kepada
pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda
dengan siswa yang sikapnya hanya menerima pelajaran. Mereka
hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk terus tekun
karena tidak ada pendorongnya. Minat mampu membangkitkan
motivasi siswa. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sri
Esti Wuryani Djiwandono bahwa salah satu cara yang kelihatan
logis untuk memotivasi siswa adalah dengan adalah dengan
menghubungkan pengalaman belajar dengan minat siswa.
33

b. Kemampuan Berbahasa Arab
1) Pengertian Kemampuan Berbahasa Arab
Secara bahasa kemampuan sama dengan kesanggupan atau
kecakapan. Kemampuan berbahasa adalah kemampuan seseorang
menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa.
34

Kemampuan berbahasa adalah kemampuan individu untuk
memahami bahasa yang digunakan secara lisan, mengungkapkan
diri secara lisan, memahami bahasa yang diungkapkan secara
tertulis, mengungkapkan diri secara tertulis.
Abdul Wahab Rosyidi (2009) mengatakan bahwa dalam
pembelajaran bahasa yang menjadi tujuan utama adalah
penguasaan kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa
mengacu pada kemampuan yang berhubungan dengan penggunaan
bahasa dalam komunikasi nyata. Dengan Kemampuan berbahasa
seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan isi hatinya kepada
orang lain yang merupakan tujuan pokok pengajaran bahasa
sebagai suatu bentuk berkomunikasi. Dalam kajian kebahasaan,
kemampuan berbahasa bersifat konkret dan mengacu kepada

33
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), cet. 4,
hlm. 365.
34
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, loc.cit.
14



penggunaan bahasa senyatanya, dalam bentuk lisan yang dapat
didengar atau dalam bentuk tertulis yang bisa dibaca. Semua itu
merupakan sasaran tes bahasa yang merupakan bagian dari kajian
kebahasaan dan pendidikan khususnya kajian kebahasaan terapan.
35

2) Jenis-jenis Keterampilan Berbahasa Arab
Bahasa Arab sebagaimana bahasa-bahasa yang lain memiliki
empat keterampilan berbahasa ( ةغللا ةراهم) atau dikenal pula
dengan ةغللا نونف (seni-seni bahasa). Dengan menggunakan kata
maharah dapat dipahami bahwa aspek paling mendasar dari bahasa
itu adalah alat komunikasi, dan keterampilan adalah bagian yang
paling mendasar ketika menggunakan bahasa. Keempat maharah
itu antara lain adalah; عامتسلا ةراهم /listening (keterampilan
mendengar), ملكلا ةراهم /speaking (keterampilan berbicara), ةراهم
ةءارقلا /reading (keterampilan membaca), dan ةـــباتكلا ةراهم /writing
(keterampilan menulis).
36

Meskipun secara garis besar keterampilan berbahasa terbagi
menjadi empat macam sebenarnya dibalik ke empat keterampilan
tersebut terdapat satu ilmu yang sangat penting untuk dikuasai.
Ilmu itu dikenal dengan ilmu qawaid (gramatikal) yang secara garis
besar terdiri atas dua bagian, yaitu nahwu dan sharaf.
37

3) Kompetensi Bahasa Arab
kompetensi berasal dari bahasa Inggris yaitu competence yang
berarti kecakapan, kemampuan kompetensi serta wewenang.
38

Adapun padanan kata competence dalam bahasa Arab adalah
kafa’ah. Jadi kata kompetensi berasal dari kata competence yang
berarti memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bidangnya

35
Abdul Wahab Rosyidi, loc. cit.
36
Imam Makruf, op. cit., hlm. 18.
37
Ibid., hlm. 20.
38
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Bahasa Inggris, (Jakarta: PT. Gramedia,
2005), cet. 26, hlm. 132.
15



sehingga ia mempunyai kewenangan atau otoritas untuk melakukan
sesuatu dalam batas ilmunya tersebut.
39

Belajar bahasa Arab mempunyai sebuah tujuan yang sangat
tinggi yaitu untuk memiliki kompetensi berbahasa. Sehingga
seseorang dapat menggunakan bahasa itu untuk memenuhi
keperluan hidupnya. Misalnya untuk berkomunikasi dalam rangka
mengungkapkan dan menyampaikan pesan kepada orang lain, atau
meminta bantuan dalam mencapai keinginannya.
40

Indikator bahwa seseorang yang menguasai bahasa Arab
adalah dia menguasai kompetensi bahasa Arab tersebut.
Kompetensi tersebut meliputi empat keterampilan berbahasa yaitu
istima’ (mendengar), kalam (berbicara), qira’ah (membaca), dan
kitabah (menulis). Penjelasan lebih lanjut mengenai masing-masing
kompetensi keterampilan tersebut akan penulis uraian di bagian
Indikator kemampuan berbahasa Arab.
4) Pentingnya belajar bahasa Arab
Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, al-Qur’an menyebutkan
bahasa Arab sebagai bahasa wahyu di beberapa ayat di antaranya;
(QS. al-Zukhruf: 3, Yusuf: 2, Fussilat: 3 & 44, al-Syura: 7, al-
Ahqaf : 12, al-Ra’d: 37, al-Nahl: 103, Taha: 113, al-Syu’ara: 192-
195 dan al-Zumar: 27-28). Bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an,
bukan hanya sekedar bahasa bangsa tertentu, bahasa Arab adalah
bahasa umat islam, maka sudah menjadi sebuah keharusan bagi
umat islam untuk mempelajarinya dan mempunyai rasa memiliki
dan kepedulian terhadap bahasa Arab, karena kalau bukan kita
umat islam, siapa lagi yang mau peduli.
Di antaranya di bawah ini penulis kemukakan beberapa ayat
yang penulis sebutkan di atas:

39
Suja’i, Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab, (Semarang: Walisongo Press, 2010), hlm. 14
40
Ibid., hlm. 13.
16



,¸l.´´ ¸ «..l¸. ¦ !.>`> !¯,¸,¸s
Artinya: Dan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu
sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.
(Q.S. ar Ra’du:37)
41

!.¦´,¯¸· !,¸,¸s ´¸¯,s _¸: ¸_´¡¸s ¯¡¸l -l ¿¡1`., ¸__¸
Artinya: (ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada
kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (Q.S.
az-Zumar:28)
42

,¸l.´´ ¸ !´., >¸¦ ,,l¸| !.¦´,¯¸· !,¸,¸s ... ¸_¸
Artinya: Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam
bahasa Arab... (Q.S. As-Syuura:7)
43

,¸l.´´ ¸ «..l¸.¦ !.¦´,¯¸· !,¸,¸s !.·¯¸.´¸ ¸«,¸· ´_¸. ¸.,¸s´¡l¦ ¯¡¸l- l ¿¡1`.,
¸¦ ,¸.>´ ¯¡> ¦´¸´¸: ¸¸¸_¸
Artinya: Dan Demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam
bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan
berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar
mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan
pengajaran bagi mereka.(Q.S. Thaaha:113)
44

F. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat oleh peneliti
bagi problematika yang diajukan dalam penelitiannya. Dugaan jawaban
tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji
kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian.
45
Menurut
Yatim Rianto (1996) sebagaimana dikutip oleh Nurul Zuriah (2007)
mengatakan bahwa hipotesis dilihat dari kategori rumusannya dibagi menjadi

41
Al-Quran dan Terjemahannya, op. cit., hlm.. 375.
42
Ibid., hlm. 750.
43
Ibid., hlm. 784.
44
Ibid.,hlm. 489.
45
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 55.
17



dua, yaitu (1) hipotesis nihil (null hypothesis) yang biasa disebut dengan Ho,
dan (2) hipotesis alternatif (alternative hypothesis) biasanya disebut hipotesis
kerja atau disingkat Ha.
46

Hipotesis nihil (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada
hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
47
Hipotesis
nihil dalam penelitian ini adalah tidak berpengaruh antara minat belajar
bahasa Arab terhadap kemampuan berbahasa Arab.
Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan ada
hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain.
48

Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan hipotesis alternatif atau
hipotesis kerja yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara minat belajar
bahasa Arab terhadap kemampuan berbahasa Arab. Semakin tinggi minat
belajar bahasa Arab semakin tinggi kemampuan berbahasa Arab mahasiswa.
G. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jika ditinjau dari segi tempat penelitian, maka penelitian ini
termasuk penelitian lapangan (Field Research), yaitu penelitian yang
langsung dilakukan di lapangan atau pada responden.
49
Data-data yang
dikumpulkan dari lapangan langsung terhadap obyek yang bersangkutan
yaitu Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta. Namun jika
dilihat dari sifat penelitian, maka penelitian ini termasuk penelitian
kuantitatif, yaitu penelitian yang analisisnya menggunakan analisis
statistik.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan dimulai bulan
Oktober – Desember 2011, bertempat di Sekolah Tinggi Agama Islam

46
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2007), cet. 2, hlm. 163.
47
Ibid.
48
Ibid.
49
Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian dengan Statistik,(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008),
cet. 3, hlm. 5
18



Sangatta Kutai Timur, yang beralamat di Jl. APT Pranoto, Sangatta
Utara.
3. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan sampel
Untuk meneliti subyek yang ada di lapangan penelitian ini
menggunakan metode populasi dan sampel.
1. Populasi
Populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu objek
yang merupakan perhatian peneliti. Objek penelitian dapat berupa
makhluk hidup, benda, sistem dan prosedur, fenomena dan lain-lain.
50

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester V
Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur yang berjumlah
115 orang. Tersebar di tiga kelas yaitu: kelas A5, B5, dan C5, jumlah
populasi masing-masing kelas adalah A5 berjumlah 28 orang, B5
berjumlah 43 orang dan C5 berjumlah 44 orang. Adapun alasan
penulis memilih semester V adalah karena mahasiswa semester V
adalah mahasiswa yang telah mempelajari bahasa Arab setidaknya
selama empat semester, mulai dari semester I – IV. Semester V juga
belum disibukkan dengan kegiatan tugas di luar kampus seperti PPL
dan maupun penelitian.
2. Sampel dan Teknik Pengambilan sampel
Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil
sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi.
51
Dalam
menentukan jumlah sampel peneliti menggunakan tabel penentuan
jumlah sampel dengan taraf kesalahan 1%, 5%, dan 10% oleh
Sugiyono dapat dilihat dalam lampiran.
52

Berdasarkan penentuan jumlah sampel di atas, maka peneliti
mengambil taraf kesalahan 5%, dari jumlah populasi sebanyak 115

50
Ronny Kountur, Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, (Jakarta: Penerbit
PPM,2007), hlm. 145.
51
Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian,(Bandung: Alfabeta, 2009),
cet. 2, hlm. 70.
52
Sugiyono. op. cit., hlm. 128.
19



responden melalui tabel tersebut, sehingga diperoleh sampel sebesar
84 responden sesuai dengan hasil tabel.
53

Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
diperoleh sampel yang benar-benar dapat berfungsi sebagai contoh,
atau dapat menggambarkan keadaan populasi sebenarnya.
54
karena
populasi terdiri dari beberapa unit (kelas) yang jumlahnya berbeda dan
agar setiap mahasiswa di setiap unit (kelas) memiliki kesempatan
yang sama untuk menjadi sampel penelitian maka sampel diambil
secara acak (random), dengan menggunakan teknik cluster random
sampling.
Sampel diambil dari setiap kelas dengan perhitungan:

=
N

.
Keterangan:

∶ Jumlah sampel setiap kelas (pagi, siang, dan week end)
N
i
: Jumlah populasi setiap kelas
: Jumlah sampel seluruhnya
N : Jumlah popuasi seluruhnya

=
28
115
.84 =
2352
115
= 20, 45 = 21

=
43
115
.84 =
3612
115
= 31,41 = 31

=
44
115
.84 =
3696
115
= 32,14 = 32
Dari hasil perhitungan di atas diambil sampel di kelas A5 sebanyak 21
orang, kelas B5 sebanyak 31 orang, dan kelas C5 sebanyak 32 orang.
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 84 orang.
4. Variabel dan Indikator Penelitian
a. Variabel Penelitian

53
Tabel penentuan jumlah sampel dengan taraf kesalahan 1%, 5%, 10%. (lihat Sugiyono,
metode penelitian pendidikan ; pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta,
2009), cet. 8, hlm. 128.
54
Ibid., hlm. 133
20



Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau
ukuran, yang dimiliki, atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang
sesuatu konsep pengertian tertentu. Menurut hubungannya antara satu
variabel dengan variabel lain maka macam-macam variabel dalam
penelitian dibedakan menjadi :
55

1) Variabel independent: variabel ini sering disebut dengan variabel
antecedent dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas.
Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel
dependent (terikat). Variabel independen atau variabel bebas dalam
penelitian ini adalah Minat belajar bahasa Arab
2) Variabel dependent sering disebut sebagai variabel output, kriteria,
konsekuen, dalam bahasa Indonesia disebut sebagai variabel
terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel
independen atau terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan
berbahasa Arab.
b. Indikator
a) Indikator Minat Belajar
Indikator Penjabaran Indikator
a. Perhatian
a. Hadir dan Mengikuti penjelasan dosen
dengan penuh perhatian
b. Fokus pada materi pelajaran selama
pelajaran berlangsung
b. Ketertarikan
a. Bahan pelajaran bahasa Arab menantang
untuk dikaji
b. Pelajaran bahasa Arab yang disampaikan
oleh guru sesuai dengan kebutuhan

55
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan ;Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D,
(Bandung : Alfabeta, 2010), hlm. 61.
21



mahasiswa sehingga tertarik dengan
mempelajarinya
c. Materi pelajaran bahasa Arab yang
disampaikan oleh guru sangat menarik
d. Tertarik mengikuti setiap kegiatan
pembelajaran bahasa Arab di luar kelas
atau di luar jam kuliah
c. Rasa Senang
a. Senang ketika mengikuti mata pelajaran
bahasa Arab
b. Senang jika jam pelajaran bahasa Arab
ditambah
c. Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan
dengan senang hati tanpa merasa dipaksa
d. Kemauan
a. Mengikuti mata pelajaran bahasa Arab
dengan kemauan sendiri
b. Mempunyai kemauan untuk tahu materi
yang akan dipelajari di pertemuan berikutnya
e. Keaktifan
a. Aktif apabila ada kesempatan bertanya
b. Mengikuti penjelasan guru dalam setiap
pembelajaran bahasa Arab
c. Selalu hadir mengikuti pelajaran bahasa
Arab
d. Sering mencatat materi-materi yang
diberikan guru
e. Selalu mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan guru
f. Mencatat pelajaran dari teman bila saya
berhalangan hadir
g. Jika saya mendapat kesulitan dalam
pekerjaan rumah atau tugas saya akan tetap
22



mengerjakannya karena kesulitan tersebut
merupakan tantangan bagi saya dan juga bisa
belajar dalam menyelesaikannya
f. Konsentrasi
a. Selama proses pembelajaran bahasa Arab
berlangsung saya selalu berkonsentrasi
penuh pada materi yang disampaikan guru
b) Indikator kemampuan berbahasa Arab
Indikator Penjabaran Indikator
Kemahiran
menyimak
a. Mampu mengetahui bunyi bahasa Arab
dengan makhrajnya serta Mampu
membedakan bunyi huruf yang berbeda
b. Mampu mengenali perbedaan antara bunyi
antara huruf yang berbeda
c. Mampu mengetahui kaidah bahasa untuk
memecahkan tanda bunyi
d. Mampu mengetahui makna kosakata
(mufradat)
e. Mampu memberikan perhatian pada waktu
yang lama
f. Mampu menyusun bunyi dalam kelompok
kata yang bermakna
g. Mampu memahami isi pesan yang
didengarkan baik tanpa menambah,
mengurangi, dan atau mengubah

Kemahiran
berbicara
a. Mampu mengeluarkan bunyi Arab dari
makhraj yang benar
b. Membedakan ucapan antara harakat
panjang dan pendek
c. Memperhatikan intonasi dalam berbicara
23



d. Mengungkapkan ide dengan tarkib yang
benar
e. Berbicara dengan lancar
f. Mampu berhenti pada tempat yang sesuai di
tengah-tengah pembicaraan
g. Mampu memulai dan mengakhiri
pembicaraan secara alami
h. Mampu mengungkapkan ide/pemikiran
dengan bahasa yang dapat dipahami oleh
native
1.




Kemahiran
berbicara
a. Mampu mengucapkan bunyi dari
makhrajnya serta membedakan bunyi huruf
yang mirip seperti qaf dengan kaf
b. Mampu menghubungkan tanda dengan
maknanya
c. Mampu memperhatikan harakat panjang
dan pendek
d. Mampu berhenti pada tempat yang sesuai
e. Mampu membuat ringkasan atau
kesimpulan ide-ide pokok
f. Tidak mengulang-ulang kata
g. Mampu membedakan materi bacaan yang
membutuhkan renungan dan analisis dan
yang sekilas saja
h. Mampu mengetahui awal dan akhir dari
sebuah kalimat.
i. Mampu membaca dengan baik dan benar
(salamah wa shahihah) sesuai dengan
kaidah nahwu, sharf, dan tanda baca
(‘alamat al-tarqim)
24



Kemahiran
menulis
a. Mampu menulis huruf Arab
b. Mengetahui tanda baca (‘alamat al-tarqim)
dengan cepat
c. Mampu mengungkapkan pemikiran dengan
logis dan runtut melalui tulisan dengan
memperhatikan aturan kaidah-kaidah
bahasa, tanda baca, dan diksi kata
(mufradat) secara tepat, sehingga maksud
penulis dapat dipahami.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Angket
Angket (questionaire) adalah daftar pertanyaan yang diberikan
kepada orang lain yang bersedia memberi respons (responden) sesuai
keinginan pengguna.
56
Angket diberikan pada para mahasiswa
semester V di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur
Tahun Akademik 2011/2012 yang dijadikan sampel dalam penelitian
ini, yaitu sebanyak 84 orang, dengan tujuan untuk menjaring
informasi tentang minat belajar bahasa Arab. Adapun jenis instrumen
yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup.
Angket tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk
sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu
jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara
memberikan tanda silang (x) atau tanda (√) check list. Adapun angket
dapat dilihat di lampiran I.
b. Wawancara.
Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti
dan responden. Komunikasi berlangsung dalam bentuk tanya jawab

56
Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian,(Bandung: Alfabeta, 2008), cet.
5, hlm. 25-26.
25



dalam hubungan tatap muka, sehingga gerak dan mimik responden
merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal.
57

wawancara ditujukan kepada sebagian mahasiswa yang menjadi
sampel penelitian, untuk melakukan cross check terhadap jawaban
angket yang diberikan. Wawancara ini digunakan untuk memperoleh
data-data tentang minat belajar bahasa Arab mahasiswa semester V
Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur dengan
menyiapkan pedoman wawancara. Adapun pedoman wawancara dapat
dilihat di lampiran II.
c. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung pada
objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.
58

Observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data di mana
peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana yang
mereka saksikan selama penelitian.
59
Penyaksian terhadap peristiwa-
peristiwa itu dilakukan dengan melihat, mendengar, merasakan, yang
kemudian dicatat seobyektif mungkin. Dalam penelitian ini peneliti
berperan sebagai pengamat yang berpartisipasi secara penuh, yakni
menyamakan diri dengan orang yang diteliti. Pengamatan dilakukan
dengan menggunakan check list yaitu suatu daftar yang berisi nama-
nama subyek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki.
60
Adapun
pedoman observasi dapat dilihat pada lampiran III.
d. Tes
Tes ialah seperangkat rangsangan yang diberikan kepada
seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang
dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka.
61
Tes sebagai

57
W. Gulo, Metode Penelitian. (Jakarta: PT Grasindo, 2007), cet. 5, hlm. 118
58
Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian, op. cit., hlm. 30.
59
W. Gulo, op. cit., hlm. 116.
60
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2007), cet. 8, hlm. 74.
61
Donald Ary, dkk., Introduction to Research in Education, terj., Arief Furchan, Pengantar
Penelitian Dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 256.
26



instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan
yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok.
62
Data yang diperoleh berupa ukuran kemampuan masing-
masing responden. Tes digunakan untuk mengumpulkan data yang
berhubungan dengan kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Arab.
Tes diberikan dalam dua bentuk yaitu lisan dan tulisan. Adapun tes
dapat dilihat di lampiran IV.
e. Dokumentasi
Dokumen adalah catatan tertulis tentang berbagai kegiatan atau
peristiwa pada waktu yang lalu.
63
Dalam penelitian ini yang dimaksud
dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan
melihat catatan yang sudah ada. Metode dokumentasi diperlukan
sebagai metode pendukung untuk mengumpulkan data, karena dalam
metode ini dapat diperoleh data-data histories, seperti sejarah
berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta Kutai Timur, visi
dan misi sekolah, daftar siswa, Kartu Hasil Studi (KHS), serta data
lain yang mendukung penelitian ini.
6. Teknik Pengolahan Data
Dalam pengolahan data penulis menggunakan teknik-teknik sebagai
berikut:
a. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan dan kejelasan angket yang
berhasil dikumpulkan.
b. Skoring, yaitu memberikan nilai pada setiap jawaban angket, yaitu
sebagai berikut:
Alternatif Jawaban
Skor
Positif Negatif
Selalu
5 1

62
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula,
(Bandung: Alfabeta, 2010), cet. 6, hlm. 76
63
W. Gulo, op. cit., hlm. 123
27



Sering
Kadang-Kadang
Jarang
Tidak Pernah
4
3
2
1
2
3
4
5
c. Tabulating, yaitu tabulasi data jawaban yang berhasil dikumpulkan ke
dalam tabel-tabel yang telah disediakan.
7. Uji Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian pada umumnya harus memenuhi dua syarat
utama. Instrumen itu harus valid dan harus reliabel.
64

a. Validitas
Suatu alat dikatakan valid jika alat itu mengukur apa yang harus
diukur oleh alat itu.
65
Pada umumnya validitas alat ukur diselidiki
dengan (1) logika, (2) statistik.
66
Validitas alat ukur dalam
penelitian ini diuji dengan menggunakan kedua cara di atas yaitu
dengan logika menganalisis butir-butir item angket dan soal-soal tes.
Menurut S. Nasution (2008), validitas ada macam-macamnya yaitu
(1) validitas isi, (2) validitas prediktif (3) validitas konstrak.
67

1) Validitas isi
Validitas isi maksudnya bahan yang diuji atau dites relevan
dengan kemampuan, pengetahuan, pelajaran, dan pengalaman
atau latar belakang yang diuji.
68
Untuk instrumen yang berbentuk
tes, pengujian validasi dapat dilakukan dengan membandingkan
antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah
diajarkan.
69

2) Validitas Prediktif

64
S. Nasution, Metode Research, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), cet. 10, hlm. 74.
65
Ibid., hlm. 85.
66
Ibid., hlm. 75.
67
Ibid.
68
Ibid.
69
Sugiyono, op. cit., hlm. 182.
28



Dengan validitas Prediktif dimaksud adanya kesesuaian
antara ramalan (prediksi) tentang kelakuan seseorang dengan
kelakuannya yang nyata.
70
Disebut juga validitas eksternal.
Validitas eksternal diuji dengan cara membandingkan (untuk
mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen
dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan.
3) Validitas konstrak
Untuk menguji validitas konstrak, dapat digunakan
pendapat dari ahli (judgment expert). Para ahli diminta
pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun. Kemudian
instrumen tersebut dicobakan pada sampel dari mana populasi
diambil. Jumlah anggota sampel yang digunakan sekitar 30 orang.
Setelah data di tabulasi maka pengujian validitas konstruksi
dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengorelasikan
antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan mengorelasikan
skor faktor dengan skor total.
71

b. Reliabilitas
Suatu alat ukur dikatakan reliabel bila alat ukur itu mengukur
suatu gejala pada waktu yang berlainan menunjukkan hasil yang
sama. Tes yang tidak reliabel dengan sendirinya tidak valid.
72
Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan metode tes dan re-tes yaitu
sampel yang sama (sampel A) dites pada waktu I dan kemudian di-
re-tes atau dites kembali dengan menggunakan tes yang sama pada
waktu yang berlainan (waktu II). Menurut S. Nasution (2008), tidak
ada patokan tentang lama interval antara tes dan re-tes, akan tetapi
biasanya interval itu berkisar antara dua sampai empat minggu.
73

Mempertimbangkan pendapat tersebut peneliti melakukan re-tes
empat minggu setelah dilakukan tes pertama. Reliabilitas diukur dari

70
S. Nasution, op. cit., hlm. 76.
71
Ibid., hlm. 177
72
Ibid., hlm. 77.
73
Ibid., hlm. 79.
29



koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya.
Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen
tersebut dinyatakan reliabel.
74

8. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik analisis data
yaitu teknik analisis deskriptif statistik dan teknik analisis korelasi:
Pertama, Sesuai dengan jenis penelitian, maka sebelum teknik
analisis korelasi yang digunakan untuk menguji hipotesis diterapkan,
terlebih dahulu data dideskripsikan dengan mengungkapkan mean,
median, modus, dan standar deviasi, juga disajikan daftar distribusi
frekuensi dan histogram, sekaligus menjawab rumusan masalah 1 dan 2,
yaitu bagaimana minat belajar bahasa Arab mahasiswa dan bagaimana
kemampuan berbahasa Arab mahasiswa. Apakah minat belajar bahasa
Arab dan kemampuan berbahasa Arab mahasiswa sangat tinggi, tinggi,
cukup, rendah, atau sangat rendah.
Kedua, Teknik analisis korelasi adalah teknik analisis statistik
mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih.
75
Derajat
hubungannya bisa diukur dan digambarkan dengan koefisien korelasi.
76

Teknik analisis ini digunakan dalam menguji besarnya pengaruh dan
kontribusi variabel X (minat belajar bahasa Arab) terhadap variabel Y
(kemampuan berbahasa Arab Mahasiswa). Teknik analisis korelasi
PPMC (Pearson Product Moment corelation) memiliki beberapa
persyaratan tertentu, di antaranya data dipilih secara acak (random) data
berdistribusi normal, data yang dihubungkan berpola linear, dan data
yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan
subjek yang sama. Kalau salah satu persyaratan tersebut tidak terpenuhi

74
Sugiyono, op. cit., hlm. 184.
75
Anas Sudijono, Pengantar Statistik pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2010), cet. 21, hal
179.
76
John W. Best, Research In Education, terj., Sanafiah Faisal, Metodologi Penelitian
Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), hlm. 293.
30



maka analisis korelasi tidak dapat dilakukan.
77
Berdasarkan beberapa
persyaratan di atas penelitian ini memenuhi persyaratan untuk
menggunakan analisis korelasi.
Adapun yang digunakan adalah:
78

=
. −()
[ .
2
− )
2
[ .
2
− ()
2
) ]

Keterangan:

= Angka indeks korelasi “r” Pearson products moment corelation
N = Jumlah responden
X = Minat belajar bahasa Arab
Y = Kemampuan berbahasa Arab mahasiswa
XY = Jumlah hasil perkalian antara skor X dan skor Y
X = Jumlah seluruh skor X
Y = Jumlah seluruh skor variabel Y
X² = Jumlah kuadrat variabel X
Y² = Jumlah kuadrat variabel Y
Selanjutnya arti harga r akan dikonsultasikan dengan tabel r, dengan
ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 ≤ r ≤ + 1), apabila nilai r= -1
artinya korelasinya negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada korelasi, r=1
berarti korelasinya sangat kuat. Dalam melakukan interpretasi koefisien
korelasi nilai r, digunakan pedoman sebagai berikut .
79

Interpretasi koefisien korelasi nilai r koefisien
Interval koefisien Tingkat Hubungan
0,80-1,000
0,60-0,799
0,40-0,699
0,20-0,399
0,00-1,199
Sangat Kuat
Kuat
Cukup kuat
Rendah
Sangat Rendah

77
Riduan dan Sunarto, Pengantar Statistik Untuk Penelitian Pendidikan, Sosial, Komunikasi,
Ekonomi dan Bisnis, (Bandung: Alfabeta,2007), hlm. 80.
78
Ibid., hlm. 80.
79
Ibid., hlm. 81.
31



Adapun langkah-langkah analisisnya adalah membuat Ha dan Ho
dalam bentuk kalimat, membuat Ha dan Ho dalam bentuk statistik,
membuat tabel penolong untuk menghitung korelasi, mencari r
hitung
dengan cara memasukkan angka statistik dari tabel penolong ke dalam
rumus korelasi PPMC, mencari besarnya sumbangan (kontribusi)
variabel X terhadap variabel Y dengan rumus koefisien determinan:
80

KD = r
2
x100%
Keterangan: KD = Nilai koefisien determinan
r = Nilai koefisien korelasi
kemudian menguji signifikansi dengan rumus t
hitung
:
81


=
−2
1 −
2

Keterangan: t
hitung
= Nilai t
r = Nilai koefisien korelasi
n = Jumlah sampel
Kaidah pengujian:
Jika t
hitung
≥ t
tabel
maka hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh
variabel X terhadap variabel Y diterima. Tetapi jika t
hitung
≤ t
tabel
maka
hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh variabel X terhadap variabel
Y ditolak.
Setelah itu, peneliti akan mencocokkan hasil perhitungan manual dengan
program aplikasi SPPS, menggunakan program aplikasi SPPS 17, dan
yang terakhir membuat kesimpulan.
H. Sistematika Laporan Penelitian
Tujuan sistematika penulisan skripsi adalah untuk lebih memudahkan
memahami dan mempelajari isi skripsi. Adapun sistematika penulisan skripsi
ini akan penulis rinci sebagai berikut :

80
Ibid.
81
Riduwan, Metode dan teknik menyusun proposal penelitian,hlm. 76.
32



Bagian pertama berisi halaman judul, abstrak, persetujuan pembimbing,
pernyataan, persembahan, kata pengantar, daftar isi, pedoman transliterasi,
daftar singkatan, daftar tabel, daftar gambar/bagan
Bagian kedua terdiri dari lima bab:
Bab satu, berisi pendahuluan menjelaskan tentang latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, sistematika
penulisan skripsi.
Bab dua, berisi landasan teori, kerangka berpikir dan hipotesis
penelitian. Adapun landasan teori meliputi pertama, minat belajar bahasa Arab
meliputi pengertian minat belajar bahasa Arab, unsur-unsur minat, faktor-
faktor yang mempengaruhi minat belajar mahasiswa, beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap mata kuliah
bahasa Arab, fungsi minat dalam belajar. Kedua, kemampuan berbahasa Arab
meliputi pengertian kemampuan berbahasa Arab, jenis-jenis kemampuan
berbahasa Arab, kompetensi bahasa Arab, dan pentingnya belajar bahasa
Arab.
Bab tiga, berisi metodologi penelitian berisi jenis dan pendekatan
penelitian, waktu dan tempat penelitian, populasi, sampel dan teknik
pengambilan sampel, variabel penelitian dan Indikator, teknik pengumpulan
data, teknik pengolahan data, Uji instrumen penelitian, teknik analisis data.
Bab empat, berisi hasil penelitian meliputi deskripsi data, pengujian
hipotesis, pembahasan hasil penelitian, di dalamnya dibahas hasil uji korelasi
antara minat belajar bahasa Arab dan kemampuan berbahasa Arab, interpretasi
hasil penelitian dan keterbatasan penelitian.
Bab lima kesimpulan dan Saran-saran.
Dan di bagian akhir skripsi, penulis sertakan daftar pustaka, lampiran-
lampiran, data kuantitatif dan sebagainya. Selain itu penulis juga sertakan
biografi penulis sebagai pelengkap.



33



DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahannya, Semarang: PT. Kumudasmoro Grafindo, 1994.

Al-Ghulayainiy, Mushthafa, Jami al-Durus al-Arabiyah, Juz 1, Beirut: al-
Maktabah al-Ashariyyah litthiba’ah wa nasyar, 1993.

Ali, Mukti, Pembentukan Kemampuan Berbahasa Arab pada Anak Usia
Prasekolah di TPQ Nur Iman Karang Jambu Purwokerto Utara, (STAIN
Porwekerto, 2008).

Arikunto, Suharsimi, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

_____, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta,
2006.

Arsyad, Azhar, Bahasa Arab dan Metode pengajarannya, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004.

Ary, Donald, dkk., Introduction to Research in Education, terj., Arief Furchan,
Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982.

Best, John W., Research In Education, terj., Sanafiah Faisal, Metodologi
Penelitian Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982.

Dalyono, M., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009.

Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2008.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan,Jakarta: PT. Grasindo, 2008.

Echols, John M. dan Shadily, Hassan, Kamus Bahasa Inggris, Jakarta: PT.
Gramedia, 2005.

Gulo, W., Metode Penelitian. Jakarta: PT Grasindo, 2007.

Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008.

Iskandarwassid dan Sunendar, Dadang, Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

34



Karim, Abdullah, Sejarah pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka
Book Publiser, 2009.

Kountur, Ronny, Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, Jakarta:
Penerbit PPM, 2007.

Machmudah, Umi dan Abdul Rosyidi, Wahab, Active Learning dalam
Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: UIN-Malang, 2008.

Makruf, Imam, Strategi Pembelajaran bahasa Arab, Semarang: Need’s Press,
2009.

Margono, S., Metode Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Munawari, Akhmad, Belajar Cepat Tata Bahasa Arab Program 30 Jam,
Yogyakarta: Nurma Media Idea, 2007.

Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu, Metodologi Penelitian, Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2007.

Nasution, S., Metode Research, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008.

Riduwan dan Sunarto, Pengantar Statistik Untuk Penelitian Pendidikan, Sosial,
Komunikasi, Ekonomi dan Bisnis, Bandung: Alfabeta, 2007.

Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Pemula,
Bandung: Alfabeta, 2010

_____, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian,Bandung: Alfabeta,
2009.

_____, Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian,Bandung: Alfabeta, 2008.

Rosyidi, Abdul Wahab, Media Pembelajaran Bahasa Arab, Malang: UIN
Malang, 2009.

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka
Cipta, 2003.

Sudijono, Anas, Pengantar Statistik pendidikan, Jakarta: Rajawali Press, 2010.

Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2008.

Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif,
Bandung : Alfabeta, 2010.
35




Suja’i, Inovasi Pembelajaran Bahasa Arab, Semarang: Walisongo Press, 2010.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, 2007.

Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.

Widiyatmo, Agus, Hubungan Minat dan Motivasi dengan Prestasi Belajar
Mahasiswa Program Diploma III Hiperkes Dan Keselamatan Kerja
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, (Universitas
Sebelas Maret Surakarta, 2010).

Winkel, W.S., Psikologi Pengajaran, Yogyakarta: Media Abadi, 2007.

Zuriah, Nurul, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->