P. 1
JURNAL 1

JURNAL 1

|Views: 261|Likes:
Published by Imaa Hussna Calmly
jURNAL MATEMATIKA :
Membuktikan Teorema Pada Teori Graph Berbasis Pengajuan Masalah Sebagai Upaya Meningkatkan Berpikir Kreatif Mahasiswa FMIPA Matematika UNIMED
jURNAL MATEMATIKA :
Membuktikan Teorema Pada Teori Graph Berbasis Pengajuan Masalah Sebagai Upaya Meningkatkan Berpikir Kreatif Mahasiswa FMIPA Matematika UNIMED

More info:

Published by: Imaa Hussna Calmly on Dec 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2015

pdf

text

original

Jurnal Pendidikan Metematika dan Sains fSSN: 1907-7157

MEMBUKTlKAN TEOREMA PADA TEORI GRAPH BERBASIS PENGAJUAN MASALAH SEBAGAI UPAYAMENINGKA TKAN BERPIKIR KREATIF MAHASISW A FMIP A MATEMA TlKA UNIMED
I

_ Mulyono 1 Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan, JL Willem Iskandar Pasar V Medan, Sumatera Utara

A BSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan berpikir kreatif mahasiswa melalui pembuktian teorema-pada teori Graph dengan menerapkan pembelajaran Problem Posing Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan siklus empat kali pertemuan. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif di[pero/eh hasil sebagai berikut __ Perubahan prestasi be/ajar mahasiswa dari pertemuan / dan 2 pada siklus I dan pertemuan 3 dan 4 pada siklus /l mengalami peningkatan. Pada pertemuan J siklus J pembelajaran menggunakan Problem Posing secara Individual nilai rata-rata mahasiswa setiap kelompok be/um balk, namun pada pertemuan ke 2 nilai rata-rata mahasiswa mengalami peningkatan. Sedangkan pada pertemuan ke 3 dan ke 4 pada siklus II secara berkelompok nilai rata-rata mahasiswa sudah cukup balk, yaitu nilai rataratanya di atas 70 (X

> 70).

Partisifasi

dan motivasi mahasiswa dalam belajar menggunakan

Problem - Posing-LKMT mengalami keantusiasan yang tinggi, terlebih-lebin saat negosiasi muncul pertanyaan dan tanggapan untuk mencari jawaban yang paling benar dan yang lebih balk. --

Kata Kunci ; Berpikir Kreatif, Teorerna, Problem- Posing

Salah satu mata kuliah yang diajarkan pada semester ganjil 2007/2008 adalah Mata Kuliah Matematika Diskrit n (MAT 442&) dengan bobot 2 sks. Selain mata kuliah Matematika Diskrit I (MAT 4422) dengan bobot 2 sks sebagai mata kuliah prasyarat, ada mata kuliah lain sebagai pendukung Mata Kuliah Matematika Diskrit II, antara lain mata kuliah Himpunan dan Logika (MAT 4402) 4 sks yang terkait dengan penalaran deduktif dan berpikir secara sistematik, serta mata kuliah Geometri Datar (MAT 4437) 3 sks yang berhubungan dengan bentuk visual dari graf. Mata Kuliah Maternatika Diskrit II ini sebagai lanjutan dari Mata Kuliah Matematika Diskrit I, yang membahas beberapa konsep dan objek mtematika yang digunakan dalam berbagai pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Topik-topik yang dipelajari secara garis besar sebagai berikut : Graf Bobot, Lintasan Terpendek, GrafEuler, Formula Euler, Graf Hamilton, Terorema Kuratowsky, Graf Dual, Pewarnaan Titik, pewarnaan Sisi, Pewarnaan Peta (peta), Derajat Masuk dan Derajat Keluar. Secara Hirarkis sajiannya adalah penyampaian Definisi -? Konsep 7 Teorema 7 Contoh Soal, Dari Pengamatan selama 101, pada saat pembuktian Teorema mahamahasiswa cenderung

PENDAHULUAN

membuktikan dengan memberikan satu contoh soal sudah dianggap selesai, hat ini tentunya tidak bisa dibenarkan karena pembuktian semacam itu tidak bisa digereralisasi, artinya tidak dapat berlaku secara umum. Selain itu kesalahan mahamahasiswa dalam algoritma -pembuktian teorema tidak runtun dan apa yang dibuktikan kurang terarah, Hal irn tentunya mengganggu proses pembelajaran bahkan pekerjaan mernbuktikan menjadi salah. Padahal suatu Teorerna sangat penting pembuktiannya secara benar, karen a suatu teorema akan terkait dengan Teorema selanjutnya bahkan terhadap aplikasinya. Tekait dengan itu dad hasil MID Tes tanggal 17 April 2008 setelah dianalisis ada 6 masalah rnahasiswa yang berhasil diidentifikasi penulis sebagai berikut: L Tidak dapat memahami kalimat-kalimat dalam seal 2. Tidak dapat membedakan informasi yang diketahui dad permintaan soal 3_ Kurang lengkap dalam menuliskan Definisi 4_ Kesalahan dalam memaknai konsep

5. Tidak memahami suatu Teorema untuk menyelesaikan soal aplikasi 6_ Tidak dapat membuktikan suatu teorem~
Apabila dipersernpit 6 kelemahan mahasiswa yang berhasil diidentifikasi di atas, terutama pada

Mulyono, J. Pend. Mat. & Sains Vol-l(f) 2009 II 23-28

23

Jumal Pendidikan Metemalika dan Sains fSSN: 1907-7157

kemampuan mahasiswa dalam memahami masalah dan merencanakan suatu penyelesaian, diperlukan suatu kemampuan berfikir kreatif mahamahasiswa yang memadai, karena kemampuan terse but rnerupakan kemampuan berfikir (bernalar) tingkat tinggi setelah berfikir dasar (basic) dan Kritik (Klulik, 1995 : 3 ) Upaya-upaya peningkatan sumber daya manusia tidak dapat terlepas dari lembaga pendidikan tinggi sebagai penyelenggaran pendidikan, terutama lembaga pendidikan tinggi yang mengasuh bidang kependidikan, Oleh karena itu Unimed sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang mengasuh sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk membina generasi muda perlu untuk terus membenahi did, termasuk di dalamnya mengefektitkan sistem pembelajaran guna menghasilkan tenaga-tenaga yang mampu menghadapi tantangan dimasa depan. Berdasarkan hasil pengamatan tim pengajar dan beberapa tenaga edukatif di lingkungan FMIPA pad a Jurusan Pendidikan Matematika menilai bahwa kemampuan mahasiswa dalam bidang pembuktian suatu teorema rnasih kurang, sehingga rnahasiswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah yang terkait dengan soal pembuktian teorerna bahkan soa! dalam bentuk aplikasinya yang dihadapi. Hal ini terlihat dari hasil belajar mahasiswa semester genap tahun akademik 2004/2005 menunjukkan 33,92 % mahasiswa memperoleh nilai C, hanya 5,35 % memperoleh nilai A dan 34,82 % yang memperoleh nilai B, serta 19,64 % nilai D dan 6,25 % nilai E. Demikian pula pada mata kuliah diskrit I, terlihat bahwa terdapat 26, 85 % mahasiswa hanya mencapai nilai C, dan 4,57 % yang memperoleh nilai A dan 17,14 % yang memperoleh nilai B, serta 25,72 memperoleh nilai D dan 25,72 % memperoleh nilai E. Dengan kenyataan ini perlu kiranya ada upaya agar kemampuan mahasiswa dapat ditingkatkan melalui sistem pernbelajaran yang kreatif dan efektif. Untuk meningkatkan keefektifan pengajaran adalah memilih atau menetapkan metode pengajaran yang sesuai dengan kondisi pengajaran, seperti karakteristik peserta didik dan tipe isi pengajaran yang akan disampaikan, yang kesemuanya diprediksi dapat mempengaruhi hasil belajar, agar dapat memudahkan peserta didik belajar (Kemp, Morrison, dan Ross, 1994). . Mata kuliah Matematika Diskrit II membekali mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk hitungan, maupun dalam bentuk visualisasi konsep graf yang aplikatif Oleh karena itu sasaran mata kuliah ini menyajikan isi materi yang terkait dengan teoremateorema untuk mendukung persoalan yang ditemukan dalam kehidupan real. Dalam pelaksanaannya., perkuliahan dilakukan dengan membekali kepada

mahasiswa tentang konsep-konsep dasar perhitungan yang dapat digunakan, teori-teori yang mendasar dan kemudian pada akhirnya mahasiswa diminta untuk memiliki kemampuan membuktikan teorema. Dengan pola perkuliahan selama ini sangat dirasakan kelernahan-kelernahan mahasiswa terutama dalam pembuktian teorema, sehingga perlu adanya suatu strategi untuk membantu mahasiswa menutupi kekurangan yang dimiliki. Berdasarkan dari kenyataan ini, sebagai tenaga edukatif sangat perlu adanya variasi metode pembelajaran yang diarahkan sesuai dengan karakteristik peserta didik dan isi pembelajaran yang disampaikan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan, di samping memberikan kernudahan bagi peserta didik untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini menetapkan strategi pengajaran yang optimal untuk mendorong prakarsa belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik dan isi pembelajaran yang di pelajari. Oleh karena itu menurut Reigeluth (1983) bahwa terdapat tiga variabel pengajaran, yaitu variabel kondisi pengajaran.lvariable metode pengajaran, dan variable hasil pengajaran, sedang yang berpeluang untuk dimanipulasi hanya variabel metode pengajaran, karen a variabel metode pengajaranlah yang harus disesuaikan dengan kondisi pengajaran agar strategi itu efektif untuk meningkatkan hasil pengajaran. Untuk menciptakan suasana agar mahamahasiswa lebih aktif belajar dan berpikir kreatif diperlukan kemauan dan kemampuan tenaga edukatif dalam mengambil keputusan yang tepat dengan situasi belajar yang diciptakan dan mempertimbangkan kondisi pengajaran yang diprediksi dapat mempengaruhl. hasil belajar. Berdasarkan uraian tersebut terungkap bahwa akar masalah yang dialami oleh mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Matematika diskrit II adalah terletak pada kurang dilatih berfikir kreatif mahasiswa dalam membuat pertanyaan sendiri yang hirarkis dalam pembuktian suatu teorema. PENELITIAN Penelitian ini merupakan peneJitian tindakan (Action Research). Penelitian dilakukan dalam 2 siklus, masing-masing siklus 2 kali pertemuan. Jadi total pertemuan dengan mahasiswa sebanyak 4 kali pertemuan. Pelaksanaan penelitian di mengadopsi model yang digambarkan oleh Kernan (199]) seperti pada gam bar 1:
B. METODE

24

Mutyono .• J. Pend. Mat. & Sains VoI4(J) 2009 h 23-28

Jumal Pendidikan

Metematika dan Sains ISSN: 1907-7157

tes dalam penelitian sebagai berikut :

ini diperoleh

data pada Tabel 5.t

Tabell Rata-rata Hasil Belajar Mahasiswa selama 4 kali Tes dari 4 leah pertemnan :rs:ei{\lnj)~k.
Ke! 1 Kel 2 K<:I 3 Kel4 Kel 5 Kel 6 Kel Kd 8 Kel 9

•.1':' B};~li~I'ge.li

.··.¥r ···L· .....
64 60 67

I.
6' 6? 71 62 "0 64 71
67

'.,
I:·'
70
71
...•

'1'4·
75 73 ..
":"5 79

Situasi masalah yang dihadapi dalam mata kuliah maternatika diskrit II adalah kurang dilatihnya berpikir kreatif mahasiswa dalarn membuat pertanyaan sendiri yang hirarkis dalam pembuktian suatu teorema, Berdasarkan kondisi ini, rnaka sebelurn kegiatan tindakan dilakukan perlu dilaksanakan analisis kebutuhan berupa kelernahan-kelernahan yang dialami oleh mahamahasiswa yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran di ruang kuliah. Untuk mengetahui kelernahan dan kesulitan yang dialarni mahamahasiswa dilakukan tes awal materi prasyarat yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan kelemahankelernahan yang diperoleh dari tes awal, dosen akan rnerurnuskan dugaan-dugaan sementara yang menjadi dasar dalam pengembangan perencanaan tindakan, Pada tahap selanjutnya dikembangkan program pelaksanaan yang akan dilakukan dalarn pembelajaran, yang akan menjadi pedoman dalam melaksanakan tindakan. kepada mahamahasiswa. Program pelaksanaan yang dikembangkan berupa perencanaan strategi tindakan, persiapan bahan-bahan yang diperlukan, dan termasuk teknik mengevaluasi hasil tindakan. Setelah pengembangan program ini selesai, maka tahap selanjutnya adalah rnelaksanakan tindakan yang sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Selanjutnya hasil tindakan .akan dievaluasi sesuai dengan keluaran yang diinginkan antara lain kemampuan mahamahasiswa yang akan dievaluasi dengan menggunakan lembar penilaian yang telah disediakan. Hasil evaluasi ini akan menjadi masukan dan akan direfleksi sesuai dengan kenyataan yang diperoleh, sehingga kelemahan-kelernahan yang ada akan diperbaiki pada siklus selanjutnya (kedua).

GO
58

"'3 70 "3
73 71 71

58 62 63 60

79 79 30

7;

62

74

Berdasarkan data pada Tabel 5.1 secara nilai rata-rata mahasiswa dari tes TI sampai T4 mengalami peningkatan kecuali pada kelompok 7 pada tes 13 ke T4 tidak mengalami peningkatan (tetap), namun penguasan mahasiswa terhadap bahan ajar secara keseluruhan baik. Berpikir kreatifmeningkat.

Lembar

Kcrja

Mahasiswa

Terbimbing

pada

HASIL PENELITIAN

PAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Rata-rata Penguasaan Mahasiswa pada pembuktian Teorema setiap Kelompok Dalam penelitian tindakan kelas (action risearch) ini mahasiswa di kelornpokkan berdasarkan nomor urutan, dari empat kali pertemuan dengan empat kali

Pembuktian Teorema Data Pemberian .lembar kerja mahasiswa terbirnbing dianalisis secara deskriptif, data-data mahasiswa dalam mendefinikan pengertian dari graf yang ada di LKMT tidak semua dianalisis dengan pertirnbangan data-data mahasiswa yang diberikan ada kerniripan atau sarna dengan mahasiswa lain. Untuk itu penulis mengelompokkan menjadi enam kategori berikut. I. Berdasarkan definisi Graf, mahasiswa kurang lengkap mendefinisikannya, karena himpunan titik V =F 0 dan himpunan jalur E boleh kosong. 2. Berdasarkan definisi Graf berarah, mabasiswa kurang lengkap mendefinisikannya, graf berarah adalah graf yang semua jalumya mempunyai arah. 3. Berdasarkan definisi lintasan dari suatu graf, mahasiswa kurang terarah mendefinisikannya sehingga sulit untuk dipahami. Lintaan adatah Walk yang titik dan jalurnya harns berbeda, 4. Berdasarkan definisi graf' lsomorfik. mahasiswa kurang lengkap mendefinisikannya karen a 2 graf yang Isomorfik itu harus memenuhi 3 syarat berikut : a.) Bijektif b.) Mengawetkan simpul-simpcl y.ang bertetangga

Mulyono . .J. Pend. Mal. & S(J;/I.~ Vol 4(1) 2009 h 23.28

25

Jurnal Pendidikan Metematika

dan Sains ISSN: 1907-7157

5.

6.

c.) Mengawetkan simpul-sirnpul yang tidak bertetangga Berdasarkan definisi graf Pohon, mahasiswa salah mendefinisikannya karena Graf Pohon adalahGraf terhubung yang tidak memiliki sikel. Berdasarkan definisi semua titik mempunyai derajat genap dari suatu graf, mahasiswa keliru mendefinisikannya, karen a semua titik mempunyai derajat genap bukan jumlah derajat dari suatu GrafG adalah genap.

kreatifnya terutama dalam hal kebaharuan. Ada mahasiswa yang sangat lemah dalam penguasaan konsep-konsep yang ada pada suatu teorema. lawaban mahasiswa di LKMT maupun di tes yang diberikan belum menunjukkan bervariasi jawaban cenderung satu sarna lain sarna, tentunya tidak akan ditemukan keberagaman jawaban mahasiswa sehingga pengembangan berpikir kreatif mahasiswa menjadi kendala dan perlu dikernbangkan kembali, Diskusi Hasil Penelitian Setelah analisis data dalam penelitian ini, peneliti mengernukakan sebagai bahan diskusi demi kemajuan di masa yang akan datang. Pembelajaran problem posing dapat rneningkatkan aktivitas mahasiswa selama kegiatan pembelajaran, namun masih kurang untuk berpikir kreatif dalam kebaharuan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : merubah budaya Dosen dari mengajar menjadi fasilitator artinya pola teacher oriented tetap dipertahankan, rnerubah budaya mahasiswa dari menerima pengetahuan menjadi menemukan dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan. Selain itu pendekatan problem posing masih barn. Adanya usaha yang maksimal dad Dosen dan mahasiswa akan dapat memungkinkan pembelajaran bererientasi problem posing lebih berhasil dan bemanfaat bagi mahasiswa maupun Dosen, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dalam melaksanakan penelitian ini peneliti mengakui banyak kelernahan-kelemahan, antara lain, dalam rnenganalisis data, khususnya menganalisis kesulitan mahasiswa " dalam pembelajaran, peneliti hanya mengemukakan kesulitanyang dialami mahasiswa selama kegiatan pembelajaran tanpa menganalisis jawaban mabasiswa yang terdapat pada LKMT maupun tes secara mendalam. Kelemahan sebagai kerndalam dalam Penelitian Dalam penelitian mt terdapat beberapa

Masalah yang Dialami Mahasiswa dalam Pembelajaran Kendala yang dialami mahasiswa selama kegiatan pembelajaran metode problem posing LKMT adalah sebagai berikut : a. Mahasiswa mengalami kendala menyampaikan pendapatnya dalam membuat pertanyaan dalam bentuk cerita dad teorema yang diberikan. Mahasiswa masih kurang berani untuk bertanya kepada dosen dan mengungkapkan pendapatnya, hal ini wajar-wajar saja mungkin karena pembelajaran ini belum terbiasa bagi mahasiswa untuk mengemukakan idenya, b. Beberapa mahasiswa mengalami kendala dalam membuktikan suatu teorema. Hal ini terlihat dad lernbar evaluasi proses mahasiswa dalam menyelesaikan masalah di setiap pertemuan, tidak semua rnahasiswa dapat membuktikan teorema yang terdapat dalam LKMT dengan benar, rnasih banyak membuktikan teorema bel urn terarah apa yang iketahu dengan apa yang harus dibuktikan, c., Mahasiswa mengalami kendala dalam menemukan sendiri konsep-konsep terkait yang terdapat dalam teorema pada LKMT yang mereka kerjakan dan strategi mahasiswa dalam membuktikan teorema belum bervariasi karena kurang dilatihnya mahasiswa dalam berpikir kreatif, bantuan yang diberikan dosen juga sifatnya terbatas untuk mahasiswa dalam membuktikan teorema. d. Beberapa mahasiswa mengalami kendala mendefinikan istilah-istilah pada graf yang belum dikenalnya atau materi prasyarat dari teorerna yang akan dibuktikan, hal ini diduga belum banyak sumber bacaan yang dijadikan literaturnya dan lupa dengan materi terdahulu yaitu materi diskrit I. Temuan Penelitian Berdasarkan analisis data dalam penelitian, peneliti menemukan masih banyak mahasiswa yang kurang mengembangkan kemampuan berpikir

kelemahan, antara lain sebagai berikut. I. Dalam menetapkan anggota kelompok diskusi bagi mahasiswa, peneliti hanya mernperhatikan setiap kelompok ada laki-laki dan perempuan. Tanpa disadari oleh peneliti mungkin saja kemampuan mahasiswa di satukelompok sarna dan ada ketidakcocokan antar mahasiswa, sehingga dapat mempengaruhi pembelajaran terutama diskusi dalam rnenyelesaikan masalah yang ada dalam LKMT. 2. Kekurangan lainnya adalah kekuranglengkapan alat evaluasi yang digunakan untuk penilaian selama proses pembelajaran, misa1nya tidak digunakan lembar pengamatan evaluasi proses dari segi penyelesaian soal. Sebagai

26

Muly"n[} . J. Pend. Mal. & Sains VoI4{J) 2009 h 23.]1/

Jurnal Pendidikan

Metematika dan Sains ISSN ../907-7157

Untuk lebih rneningkatkan berpikir kreatif mahasiswa dalam kebaharuan pernbuktian teorema, dengan pengajuan rnasalah ini terns: 3. Masih ada mahasiswa yang kurang serius pembelajaran dilakukan, hendaknya mahasiswa dilatih secara kontinu dalam menyelesaikan LKMT dan tes, tentunya oleh Dosen, dari berbagai mata kuliah, Bagi mahasiswa akan mengganggu proses pembelajaran pada hendaknya mencoba membuat pertanyaan secara akhirnya variabel kovariat yang tak terkontrol mandiri untuk mengernbangkan berpikir kreatif. ikut mempengaruhi hasil penelitian. Khusus Dosen matematika di Perguruan Tinggi, hendaknya dalam mempedornan model pembelajaran un untuk diterapkan perlu dipikirkan, jumlah KESIMPULAN DAN SARAN mahasiswa di kelas. Jumlah mahasiswa di kelas cukup Kesimpulan besar (ada 43 mahasiswa) akan rnempengaruhi diskusi Berdasarkan hasil analisis data dapat penults kelompok, sulit rnengamatinya akibatnya informasi simpulkan sebagai berikut : yang kita butuhkan sangat sedikit karena kurang I. Perubahan prestasi belajar mahasiswa dan terexplorasi informasi dengan baik. pertemuan I dan 2 pada siklus I dan pertemuan 3 Bagi peneliti lain yang berminat, hendaknya dan 4 pada siklus Il mengalami peningkatan, dicoba ke materi lain yang relevan dengan membatasi kecuali yang terjadi pada kelompok 7 pada tes ke 3 banyak mahasiswa, rnenambah frekuensi pertemuan, nilai rata-rata X = 71 dan tes ke 4 nilai rata-rata agar terexplorasi informasi dan Iebih akurat data X = 71 dengan dernikian belum rnengalami evaluasi proses dan proses berpikir mahasiswa dalam peningkatan (tetap), Pad a pertemuan I siklus I menyelesaikan jawaban sehingga data evaluasi .proses pembelajaran menggunakan Problem Posing dan proses berpikir mahasiswa dapat dianalisis lebih secara Individual nilai rata-rata mahasiswa setiap jauh dan mendalam, kelompok belum baik, hal ini diduga mahasiswa belum siap dan baru mengenal metode ini, namun DAFTAR PUSTAKA pada pertemuan ke 2 nilai rata-rata mahasiswa mengalami peningkatan. Sedangkan pada Arends. 1997. Design Instructional. New York: pertemuan ke 3 dan ke 4 pada siklus II secara Macmilan Colleg. Publishing Company. berkelornpok nilai rata-rata mahasiswa sudah Beishuizen, M,Gravemeijer & van Lieshout, 1997. The cukup baik di atas 70. Tetapi secara Individual ada Role of Contexts and Models in the Development of nilai mahasiswa belum rnengalami peningkatan _Mathematical Strategies and Prosedure. secara terus menerus , misalnya responden no.2 Technipress, Culemborg. Netherland.

pandangan mahasiswa

untuk melihat perkembangan dari awal sampai akhir dalam

SaraR

pernbelajaran.

Tes I nilai

-

2.

X'; 76 dan tes 4 nilai X = 78. Partisifasi dan motivasi mahasiswa dalarn bela jar menggunakan Problem Posing-LKMT mengalarni keantusiasan yang tinggi, lebih-Iebih saat negosiasi muncul pertanyaan dan tanggapan untuk mencari jawaban yang paling benar dan yang lebih baik. 3. Pandangan dosen atau peneliti sendiri dalam menerapkan metode Problem Posing-LKMT ini perlu dikembangkan lebih lanjut karena metode ini dapat melatih berpikir kreatif mahasiswa yang dibutuhkan dalarn pembuktian teorema untuk setiap mata kuliah yang relevan dan juga masalah umum yang dihadapi. 4. Secara keseluruhan mahasiswa dalam membuat tugas pengajuan pertanyaan dan membuktikan teoremasudah cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan bagi mahasiswa kebaharuan pernbuktian dan alur algoritmanya terns dilatih dengan baik.

-

X

=

72, tes 2 nilai
-

X

= 69, tes 3 nilai

Bell, A. W, 1983. Research on Learning and teaching Mathematics. England: NFER Nelson. Dunlap, James 200 I. Mathematical Thinking. http://www.mste.uiuc.edu/courses/ci431sp f02/student/jdunl ap/W.hi tePaperll Dowload November 21 ,2003 Depdikbud, 1984. Petunjuk Pelaksanaan dan Pengelolaan kurikulum. Dirjen Dikdasmen: Jakarta. English, Lyn D. 1997. "Promoting a Problem-Posing

Classroom ".

Teaching.

Children

Mathematics,

November 1997, h.·I72-179 Eggen P.D & Kauchak. 1979. Strategies for Teacher. Teaching Content and Thinking Skill. New Jersey: Prentice Hall. Fauzi, Amin. 2003. Metode Pemberian Tugas

Pengajuan Soal (Problem Posing) daIam Pembelajaran Matematika Realistik Pokok Bahasan Pembagian Bilangan di Keias IV SDN 060857 Medan. Penelitian Dana Rutin, Unirned
Medan

Mulyono . .I. Pend. Mal. & Sains Vol -1(1) 2009 1123-28

27

Jurnal Pendidikan Metematika dan Sains ISSN: J9f17-7157

Greer, Brian, 1992. Multiplication and Division as Models of Situations. Queen University: Belfast. Hamdani. 1999. Tugas Menulis Jumal Sebagai Strategi dalam Proses Pembelajaran Matematika di SLTP. Makalah. Surabaya. Hudojo H. ] 998. Pembelajaran Matematika MenW1l1 Konstrukttvistik: Journal Pendidikan: Malang. -----------1998. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud. Krulik, Stephen & Rudnick.Jesse A.1995. The New Sourcebook for Teaching Reasoning and Problem Solving in Elementary School. Needham Heights, Massachusetts.Allyn & Bacon. Kemp, Jerrold E. 1994. Designing Effective Instruction. New York: Macmilan College Publishing Campany. Holmes, E.E. 1995. New Directions in Elementary School Mathematics, Interactive Teaching and Learning. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Leung, Shukkwan S. 1997. "On 'the Role of Creative Thinking in Problem Posing". httpl /www.fiz.karlsruhe.de/fi z/pu blications/zdm ZDM Volum 29 (June 1997) Number 3 ElectronicEdition ISSN 1615-679X Leiken, R & Zaslavsky,O. 1997. Facilitating Student Interactions in Mathematics in Cooperative Learning Setting. JRME. VoL 28, No. 3 tahun 1997. Nasoetion, Andi Hakim, 1991. Melatih Diri Bersikap Kreatif. Media Pendidikan MatematikaNasional, Tahun I No.1 Ratumanan, T.O. 2000. Pengajaran Interaktif. Makalah. Surabaya. Soedjadi R 2000. Kia! Pendidikan Matematika dl indonesiaJakarta: Dirjen Dikti. Silver, E, Mamona-Downs, J. Leung, S_S & Kenney, LA (1996), Posing Mathematical Problems: An exploratoryStudy : Journal for Research In Mathematics Education, V. 27. N.3 May 1996., 293-309.

28

MII/yonrJ • .1. Pend. Mal. & Sains Vol -1(1) 2{)OIJ h 23-28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->