ANALISIS ISM FA‘IL BERBENTUK MUFRAD DALAM NOVEL AL-KARNAK KARYA NAJIB MAHFUZ

Ism fa‘il berbentuk mufrad dalam novel al-Karnak karya Najib Mahfuz (1982) terdiri dari tiga keadaan, yaitu dalam keadaan ber-tanwin, dalam keadaan di-idafah-kan, dan dalam keadaan ber-al ( ‫ .)ﻞ ﺍ‬Di bawah ini, akan dibahas ism fa‘il dalam tiga keadaan tersebut satu persatu.

3.1 Analisis ism fa‘il berbentuk mufrad yang ber-tanwin Ism fa‘il harus dibaca tanwin jika didahului oleh nafy, didahului oleh istifham, menjadi khabar, menjadi na‘t, atau menjadi hal dari kata yang ada di depannya. Istifham dan mausuf (kata yang disifati) kadang-kadang dikira-kirakan saja (al-Galayaini, 2000: 280, jilid III). Ism fa‘il memiliki kesamaan dengan fi‘l mudari‘ baik dari segi makna maupun lafal (al-Galayaini, 2000: 182, jilid I). Ism fa‘il itu mengandung makna fi‘l mudari‘ jika ber-tanwin (al-Hadrami, tanpa tahun: 20). Dalam novel al-Karnak terdapat 46 kalimat yang mengandung ism fa‘il berbentuk mufrad dan ber-tanwin. Empat puluh enam kalimat ini dijadikan bahan mentah penelitian. Dari segi nahw, posisi yang ditempati oleh ism fa‘il-ism fa‘il dalam 46 kalimat tersebut adalah: hal (delapan belas kalimat), na‘t (sembilan kalimat), khabar mufrad (enam kalimat), khabar inna wa akhwatuha (lima kalimat), khabar kana wa akhwatuha (empat kalimat), dan maf‘ul (empat

kalimat). Dari enam posisi ini masing-masing diambil satu kalimat sebagai bahan

?????? ???? ??? ????? ?????? ??

jadi penelitian, kecuali yang berposisi hal, dengan pertimbangan jumlahnya yang lebih banyak maka diambil dua. Pengambilan dilakukan dengan metode pertimbangan-pertimbangan. Dengan demikian, kalimat yang menjadi bahan jadi berjumlah tujuh. Ketujuh kalimat itu adalah: 1a. ‫( ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ ﻲﺳﺮﻛ ﻰﻟﺇﺔﻌﺠﺍﺭ ﻲﻧﻋﺩﻮﺗ ﻲﻫ‬Mahfuz, 1982: 7) ‘Dia meninggalkan aku sambil kembali duduk di kursi kantor’. 2a. ‫( ﺎﺴﺒﻟﺘﻣ ﻄﺒﺿ ﻰﺘﺤ ﺓﻭﻄﺧ ﻢ ﺪﻘﺘﻴ ﻢﻟﻮ‬Mahfuz, 1982: 9) ‘Dia belum lagi maju selangkahpun, sampai akhirnya dia menahannya dengan perasaan kacau’ 3a. ‫( ﺔﻤﺮﺗﺣﻣﻭ ﺔﻋﺮﺎﺒ ﺔﻧﺎﻧﻓ ﺕﻧﻛ‬Mahfuz, 1982: 7) ‘Aku adalah seorang seniwati yang cakap dan dihormati’ 4a. ‫( ﺔﻳﻟ ﺎﺧ ﺐﺎﺒﺸﻠ ﺍﺪﻋﺎﻘﻣ ﺖﺩﺟﻮﻓ ﻯﺪﺎﻌﻴﻣ ﻰﻓ ﺎﻣﻮﻳ ﺖﺌﺠ‬Mahfuz, 1982: 18) ‘Pada suatu hari, sesuai dengan janjiku, aku datang dan aku temukan tempat duduk anak-anak muda itu kosong. 5a. ‫( ﻪﺒ ﺔﻴﺎﻧﻌﻟﺍﻰﻟﻋ ﺔﺒﺋﺍﺪ ﺎﻧﺃ‬Mahfuz, 1982: 37) ‘Aku adalah orang yang cocok untuk menjaganya’ 6a. ‫( ﺍﺪﺟ ﺔﻳﺳﺎﻗ ﺔﺑﺮﺠﺗﻟﺍ ﺖﻧﺎﻛ‬Mahfuz, 1982: 63) ‘Cobaan itu sangat keras’ 7a. ‫( ﺔﻠﻓﻧﺮﻗ ﺔﻴﺣﺎﻧ ﻥﻣ ﺲﺋﺎﻴ ﻪﻧﺃ ﺪﻗﺗﻋﺃ‬Mahfuz, 1982: 84) ‘Aku yakin dia putus asa terhadap Qaranfulah’ Adapun analisis terhadap ketujuh kalimat ini adalah sebagai berikut: 1a. (Mahfuz, 1982: 7)

??

‘Dia meninggalkan aku sambil kembali duduk di kursi kantor’. : mubtada’ ‫ﻉﺩﻮﺗ‬ : fi‘l mudari, fa‘il-nya adalah damir mustatir hiya yang ‫ﺔﻌﺠﺍﺭ‬ ‫ﻰﻟﺇ‬ ‫ﻲﺳﺮﻛ‬ : hal : harf jarr : majrur dan mudaf : mudaf ilaih

kembali kepada Qaranfulah ‫ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ‬ ‫ﻲﻧ‬ : ya’ maf‘ul bih, nun wiqayah

Ism fa‘il pada kalimat 1a adalah kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬yang berasal dari kata ‫ﻊﺠﺭ‬ ‫‘ ﻊﺠﺭﻴ‬pulang’ (Munawwir, 2000: 476). Dari kata ‫ ﻊﺠﺭ‬ini dibentuk ism fa‘il ‫ ﻊﺠﺠ ﺍﺭ‬dengan mengikuti wazn ‫ . ﻞﻋﺎﻓ‬Bentuk ism fa‘il ‫ ﻊﺠﺠ ﺍﺭ‬yang berbentuk muzakkar diubah menjadi bentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah sehingga menjadi ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬karena sahibul hal-nya adalah muannas. Kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬ber-i‘rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai hal. Sahibul hal-nya adalah kata ‫ ﻲﻫ‬yang berposisi sebagai mubtada’, sedangkan ‘amil-nya adalah kata ‫ . ﻉﺩﻮﺗ‬Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah karena ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬adalah ism mufrad. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬ber-i‘rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai hal. Hal adalah sifat berlebih yang disebutkan untuk menjelaskan keadaan ism yang memiliki sifat itu (al-Galayaini, 2000: 78, jilid III). Hal adalah sifat berlebih yang dibaca nasb yang disebutkan untuk menjelaskan keadaan ism yang memiliki sifat itu (Malik, tanpa tahun: 90). Salah satu bentuk hal, yaitu hal mufrad. Hal mufrad adalah hal yang tidak berbentuk jumlah atau syibhul jumlah (berbentuk kata). Kata-kata yang boleh menjadi hal harus memenuhi beberapa syarat, yaitu: berbentuk sifah

mutanaqqalah, berbentuk ism nakirah, semakna dengan sahibul hal dan berasal dari ism musytaq (al-Galayaini, 2000: 82-85, jilid III). Pada dasarnya, hal wajib diletakkan setelah sahibul hal (al-Galayaini, 2000: 89, jilid III) dan juga wajib diletakkan setelah ‘amil-nya (al-Galayaini, 2000: 92, jilid III). Berdasarkan kaidah-kaidah ini, kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬adalah hal mufrad karena kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬berbentuk kata, dan dengan memperhatikan syarat-syarat di atas, kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬sudah memenuhi syarat untuk menjadi hal. Susunan kalimat 1a juga meletakkan hal pada posisi setelah sahibul hal dan ‘amil-nya. Dengan melihat hubungan antara kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬dengan sahibul hal dan ‘amilnya, kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬tergolong hal mu’akkadah yang menguatkan ‘amil-nya yaitu kata ‫ . ﻉﺩﻮﺗ‬Ini sesuai dengan pendapat al-Galayaini (2000: 99, jilid III), yang menyatakan bahwa hal mu’akkadah adalah hal yang maknanya menguatkan kata yang lain dan dipergunakan sebagai taukid, baik sebagai taukid untuk ‘amil-nya, sahibul hal, ataupun untuk maksud yang tersimpan dari jumlah yang terdiri dari dua ism ma‘rifah. Kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬memiliki makna kata ‫ ﻊﺠﺭﺘ‬yang merupakan fi´l mudari‘. Untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ ini, kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬diganti dengan kata ‫ ﻊﺠﺭﺘ‬sehingga menjadi: 1b. ‫ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ ﻲﺳﺮﻛ ﻰﻟﺇ ﻊﺠﺭﺘ ﻲﻧﻋﺩﻮﺗ ﻲﻫ‬ ‘Dia meninggalkan aku sambil dia sekarang kembali duduk di kursi kantor’. 1b, makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬pada 1a menjadi jelas. Kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬dalam 1a tidak boleh diberi al- karena akan mengakibatkan kerancuan pemahaman, seperti:

atau ‘Kemudian dia meninggalkan aku sambil selalu duduk di kursi kantor’. Pada penerjemahan pertama. ‫( ﺎﺴﺒﻟﺘﻣ ﻄﺒﺿ ﻰﺘﺤ ﺓﻭﻄﺧ ﻢ ﺪﻘﺘﻴ ﻢﻟﻮ‬Mahfuz. Fungsi hal yang seharusnya dimiliki oleh kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬menjadi hilang. sampai akhirnya dia menahannya dengan perasaan kacau’ ‫ﻮ‬ ‫ﻢﻟ‬ ‫ﻢ ﺪﻘﺘﻴ‬ : waw ibtida’ : harf jazm : fi‘l mudari‘. fa‘il-nya adalah damir mustatir huwa yang kembali ke Arif Sulaiman : hal . 1982: 9) ‘Dia belum lagi maju selangkahpun. kata ‫ ﺔﻌﺠﺍﺭ‬yang sudah mendapat tambahan al. Sedangkan pada penerjemahan kedua. 2a. fa‘il-nya adalah damir mustatir huwa yang kembali ke Arif Sulaiman ‫ﺓﻭﻄﺧ‬ : maf‘ul bih Ism fa‘il pada kalimat 2a adalah kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬yang berasal dari kata ‫ﺱﺒﻠﺗ‬ ‫‘ ﺱﺑﻟﺘﻴ‬kacau’ (Munawwir. 1992: 1249).seakan-akan berposisi sebagai fa‘il . Kata ‫ ﺱﺒﻠﺗ‬adalah sulasi mazid yang berasal dari kata ‫ . ‫ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ ﻲﺳﺮﻛ ﻰﻟﺇﺔﻌﺠﺍﺭﻟﺍ ﻲﻧﻋﺩﻮﺗ ﻲﻫ‬ ‘Kemudian wanita yang selalu duduk di kursi kantor itu meninggalkan aku’. makna waktu berubah. dari mudari‘ menjadi dawam. Sahibul hal-nya adalah damir mustatir ‫ ﻮﻫ‬yang ada pada kata ‫ﻂﺒﺿ‬ sedangkan ‘amil-nya adalah fi‘l ‫ . ﻞﻌﻓﺘﻣ‬Kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬ber-i‘rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai hal. ﺱﺒﻠ‬Penambahan ta’ di awal kata dan tasydid pada ‘ain fi‘l untuk memberi arti sairurah (menjadi).1c. Dari kata ‫ ﺱﺒﻠﺗ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﺱﺑﻠﺘﻣ‬dengan mengikuti wazn ‫ . ﻂﺒﺿ‬Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah ‫ﺎﺴﺒﻟﺘﻣ‬ ‫ﻰﺘﺤ‬ ‫ﻄﺒﺿ‬ : harf nasb : fi‘l madi.

makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬pada 2a menjadi jelas. tidak bersambung dengan tanda mustaqbal. ﺱﺑﻟﺘﻴ‬Jumlah ‫ ﺱﺑﻟﺘﻴ‬dalam kalimat 2b sudah memenuhi syarat sebagai hal karena jumlah itu adalah jumlah khabariyyah. Dilihat dari hubungan antara kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬dengan sahibul hal dan ‘amil-nya. seperti: . Kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬dalam 2a tidak boleh diberi al. Sebagaimana kata ‫ . sampai akhirnya dia menahannya dengan perasaan yang sedang kacau’ Dalam kalimat 2b. ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬pada kalimat 2a diganti dengan kata ‫ﺱﺑﻟﺘﻴ‬ sehingga menjadi: 2b. ﻂﺒﺿ‬ Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ism fa‘il yang ber-tanwin memiliki makna fi‘l mudari‘.karena akan mengakibatkan kerancuan. dan memiliki rabit yaitu damir mustatir ‫ ﻮﻫ‬yang kembali kepada ‫ ﻮﻫ‬pada kata ‫ ﻄﺒﺿ‬sebagai sahibul hal. berbentuk ism nakirah.. ﺔﻌﺠﺍﺭ‬kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬juga merupakan hal mufrad karena kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬berbentuk kata dan juga sudah memenuhi syarat untuk menjadi hal karena ia berbentuk sifah mutanaqqalah. kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬juga tergolong hal mu’akkadah yang menguatkan ‘amil-nya yaitu kata ‫. Susunan kalimat 2a juga meletakkan hal pada posisi setelah sahibul hal dan ‘amil-nya.karena ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬adalah ism mufrad. Dalam kalimat 2b di atas. semakna dengan sahibul hal dan berasal dari ism musytaq. ‫ﺱﺑﻟﺘﻴ ﻄﺒﺿ ﻰﺘﺤ ﺓﻭﻄﺧ ﻢ ﺪﻘﺘﻴ ﻢﻟﻮ‬ ‘Dia belum lagi maju selangkahpun. yang menjadi hal adalah jumlah ‫ . maka untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ pada kata ‫ .

Sedangkan pada penerjemahan kedua. ‫( ﺔﻤﺮﺗﺣﻣﻭ ﺔﻋﺮﺎﺒ ﺔﻧﺎﻧﻓ ﺕﻧﻛ‬Mahfuz. Pertanyaan mengenai kapan dilakukannya pekerjaan yang dikandung hal bisa dijawab. Hal ini bisa dilihat terutama ketika kalimat itu diterjemahkan. ﻞﻋﺎﻓ‬Bentuk ism fa‘il ‫ ﻉﺭﺎﺑ‬yang berbentuk muzakkar diubah ‫ﻭ‬ : waw ‘atf ‫ : ﺔﻤﺮﺗﺣﻣ‬ma‘tuf menjadi bentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah sehingga menjadi ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬karena sebagai na‘t menyesuaikan dengan ‫ . Yang menjadi man‘ut . Fungsi hal yang seharusnya dimiliki oleh kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬menjadi hilang. Dalam kalimat 1b dan 2b di atas. pernyataan bahwa ism fa‘il yang bertanwin mengandung makna mudari‘ dapat dibuktikan. 2000: 76). kata ‫ ﺎﺳﺑﻠﺘﻣ‬yang sudah mendapat tambahan alseakan-akan berposisi sebagai fa‘il . sampai akhirnya yang perasaannya kacau menahannya’ Pada penerjemahan pertama. Dari kata ini dibentuk ism fa‘il ‫ ﻉﺭﺎﺑ‬dengan mengikuti wazn ‫ . dari mudari‘ menjadi dawam. 3a.2c. makna waktu berubah. ‫ﺲﺑﻠﺘﻣﻟﺍ ﻄﺒﺿ ﻰﺘﺤ ﺓﻭﻄﺧ ﻢ ﺪﻘﺘﻴ ﻢﻟﻮ‬ ‘Dia belum lagi maju selangkahpun. 1982: 7) ‘Aku adalah seorang seniwati yang cakap dan dihormati’ ‫ﺕﻧﻛ‬ ‫ﺔﻧﺎﻧﻓ‬ ‫ﺔﻋﺮﺎﺒ‬ : kana dan ism-nya : khabar kana : na‘t Ism fa‘il pada kalimat 3a adalah kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬yang berasal dari kata ‫ﻉﺭﺑ‬ ‫( ﻉﺭﺑﻳ‬Munawwir. makna fi‘l mudari‘ menjadi jelas. Selain itu. ﺔﻧﺎﻧﻓ‬Kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬beri‘rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai na‘t.

bahwa pada dasarnya na‘t berasal dari ism musytaq dan na‘t yang menjelaskan salah satu sifah man‘ut-nya disebut na‘t haqiqiy. dan memiliki rabit yang kembali kepada man‘ut yaitu damir . jilid III) ada tiga syarat bagi jumlah untuk menjadi na‘t. yaitu: terletak setelah ism nakirah. Kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬sudah memenuhi syarat menjadi na‘t dan dilihat dari segi sifah yang dijelaskan. kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬termasuk na‘t haqiqiy. Sifah yang dimaksud di sini adalah sifah yang dimiliki oleh kata ‫ . Sebagaimana disebutkan sebelumnya. ‫ﺔﻤﺮﺗﺧﻣﻭ ﻉﺭﺑﺗ ﺔﻧﺎﻧﻓ ﺕﻧﻛ‬ ‘Aku adalah seorang seniwati yang sekarang cakap dan dihormati’ Dalam kalimat 3b. ﺔﻧﺎﻧﻓ‬berupa jumlah khabariyyah. ﻉﺭﺑﺗ‬Menurut al-Galayaini (2000: 226-227. kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬ber-i´rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai na‘t. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ism fa‘il yang ber-tanwin memiliki makna fi‘l mudari‘. Ini didasarkan pada pendapat al-Galayaini (2000: 222-223. ﺔﻋﺮﺎﺒ‬kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬diganti diganti dengan kata ‫ ﻉﺭﺑﺗ‬sehingga menjadi: 3b. Jumlah ‫ ﻉﺭﺑﺗ‬dalam kalimat 3b sudah memenuhi syarat sebagai na‘t karena jumlah itu terletak setelah ism nakirah yaitu ‫ . jilid III). ﺔﻧﺎﻧﻓ‬Sedangkan dilihat dari bentuknya.adalah kata ‫ ﺔﻧﺎﻧﻓ‬yang juga ber-i‘rab nasb karena kedudukannya sebagai khabar kana. Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah karena kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬adalah ism mufrad. dan memiliki rabit yang kembali kepada man‘ut. maka untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ pada kata ‫ . berupa jumlah khabariyyah. yang menjadi na‘t adalah jumlah ‫ . kata ‫ﺔﻋﺮﺎﺒ‬ termasuk na‘t mufrad karena ia tidak berbentuk jumlah atau syibhul jumlah.

aku datang dan aku temukan tempat duduk anak-anak muda itu kosong. Dari kata ‫ ﻞﺎﺧ‬yang berbentuk muzakkar ini dibentuk kata ‫ ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬yang berbentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah dan mengubah waw menjadi ya’ karena menyesuaikan dengan kata ‫ . 1992: 366). 1982: 18) ‘Pada suatu hari. ﻞﻋﺎﻓ‬Harf ‘illah waw (‫ ) ﻮ‬dibuang karena berat diucapkan.karena akan mengakibatkan kerancuan posisi dari segi nahw.mustatir ‫ ﻲﻫ‬yang kembali kepada ‫ ﺔﻧﺎﻧﻓ‬sebagai man‘ut. 4a. misalnya: 3c. ‫( ﺔﻳﻟ ﺎﺧ ﺐﺎﺒﺸﻠ ﺍﺪﻋﺎﻘﻣ ﺖﺩﺟﻮﻓ ﻯﺪﺎﻌﻴﻣ ﻰﻓ ﺎﻣﻮﻳ ﺖﺌﺠ‬Mahfuz. Kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬di atas berkedudukan sebagai mudaf ilaih. sesuai dengan janjiku. ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬Kata ‫ ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﻼﺧ . Dari kata ‫ ﻼﺧ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﻞﺎﺧ‬dengan mengikuti wazn ‫ . Dalam kalimat 3b di atas. ﺪﻋﺎﻘﻣ‬Kata ‫ ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬ber-i‘rab . makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬pada 3a menjadi jelas. Kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬dalam 3a tidak boleh diberi al. ﻮﻟﺨﻴ‬sepi’ (Munawwir. ‫ﺔﻤﺮﺗﺧﻣﻭ ﺔﻋﺮﺎﺒﻟ ﺍ ﺔﻧﺎﻧﻓ ﺕﻧﻛ‬ ‘Aku adalah seorang seniwati seseorang yang cakap dan dihormati’ Pada kalimat 3c di atas. kata ‫ ﺔﻋﺮﺎﺒ‬yang sudah mendapat tambahan altidak bisa lagi menjadi na‘t karena tidak sesuai dengan man‘ut-nya yang berbentuk ism nakirah. ‫ﺖﺌﺠ‬ ‫ﺎﻣﻮﻳ‬ ‫ﻰﻓ‬ ‫ﻯﺪﺎﻌﻴﻣ‬ ‫ﻒ‬ : fi‘l dan fa‘il : maf‘ul bih : harf jarr ‫ﺖﺩﺟﻮ‬ ‫ﺪﻋﺎﻘﻣ‬ ‫ﺐﺎﺒﺸﻠ ﺍ‬ : fi‘l dan fa‘il : maf‘ul bih dan mudaf : mudaf ilaih : mudaf dan mudaf ilaih ‫ :ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬maf‘ul bih : harf syart Ism fa‘il dalam kalimat 4a adalah kata ‫ .

Fa´il dalam kalimat di atas adalah ta’ damir mutakallim. makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata ‫ ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬pada 4a menjadi jelas. ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬Dalam kalimat 4b di atas. ﺩﺟﻮ‬Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah karena kata ‫ ﺔﻳﻟﺠ ﺎﺧ‬adalah ism mufrad.karena akan mengakibatkan . sesuai dengan janjiku. Kata ‫ ﺔﻳﻟﺠ ﺎﺧ‬dalam 4a tidak boleh diberi al. aku datang dan aku temukan tempat duduk anak-anak muda itu sedang kosong’ Dalam kalimat 4b. Jumlah ‫ ﻮﻟﺨﺗ‬dalam kalimat 4b merupakan maf‘ul bih gairu sarih karena bisa saling menggantikan dengan kata ‫ . ﺩﺟﻮ‬Maf‘ul bih yang pertama adalah kata ‫ . Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa ism fa‘il yang ber-tanwin memiliki makna fi‘l mudari‘. yang menjadi maf‘ul bih adalah jumlah ‫ . ﺪﻋﺎﻘﻣ‬Kata ‫ ﺩﺟﻮ‬menuntut adanya dua maf‘ul ini. Hal ini didasarkan pada pendapat al-Galayaini (2000: 5-6. jilid III) maf‘ul bih berbentuk jumlah yang bisa saling menggantikan dengan ism mufrad. Kata ‫ ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬adalah maf‘ul bih kedua dari kata ‫ . maka untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ pada kata ‫ . Maf‘ul bih yang disebut secara jelas dinamakan maf‘ul bih sarih. Kedua maf‘ul ini termasuk maf‘ul sarih karena disebut secara jelas. termasuk kelompok maf‘ul bih gairu sarih. dengan syarat fi‘l yang ada pada kalimat tersebut menuntut maf‘ul lebih dari satu (muta‘addi ila maf‘ulain). ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬kata ‫ ﺔﻳﻟ ﺎﺧ‬diganti dengan kata ‫ ﻮﻟﺨﺗ‬sehingga menjadi: 4b. ﻮﻟﺨﺗ‬Menurut alGalayaini (2000: 6. jilid III) yang menyatakan bahwa maf‘ul bih dalam sebuah kalimat kadang-kadang lebih dari satu.‫ﻮﻟﺨﺗ ﺐﺎﺒﺸﻠ ﺍ ﺪﻋﺎﻘﻣ ﺖﺩﺟﻮﻓ ﻯﺪﺎﻌﻴﻣ ﻰﻓ ﺎﻣﻮﻳ ﺖﺌﺠ‬ ‘Pada suatu hari.nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai maf‘ul bih dari fi‘l ‫ .

ﺏ ﺃﺪ‬ ‫‘ ﺏ ﺃﺩﻴ‬cocok’ (Munawwir. 5a. ﻞﻋﺎﻓ‬Bentuk ism fa‘il ‫ ﺏﺋﺠ ﺍﺪ‬yang berbentuk muzakkar diubah menjadi bentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah sehingga menjadi ‫ . jilid II) khabar mubtada’ memiliki beberapa aturan. ‫( ﻪﺒ ﺔﻴﺎﻧﻌﻟﺍﻰﻟﻋ ﺔﺒﺋﺍﺪ ﺎﻧﺃ‬Mahfuz. ﺔﺒﺋﺍﺪ‬Kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬ber-i‘rab raf‘ sesuai dengan kedudukannya sebagai khabar mubtada’. sesuai dengan janjiku. Mubtada’-nya adalah kata ‫ . Ini tentu saja berbeda dengan tujuan penulis yang menginginkan makna waktu mudari‘. 2000: 382). ‫ﺔﻳﻟ ﺎﺧﻟ ﺍ ﺐﺎﺒﺸﻠ ﺍ ﺪﻋﺎﻘﻣ ﺖﺩﺟﻮﻓ ﻯﺪﺎﻌﻴﻣ ﻰﻓ ﺎﻣﻮﻳ ﺖﺌﺠ‬ ‘Pada suatu hari. Pada kalimat 4c di atas.al-mausulah. maka makna yang dimiliki adalah makna dawam yang ditandai dengan al. Menurut al-Galayaini (2000: 259-268. 1982: 37) ‘Aku adalah orang yang cocok untuk menjaganya’ ‫ﺎﻧﺃ‬ ‫ﺔﺒﺋﺍﺪ‬ ‫ﻰﻟﻋ‬ : mubtada’ : khabar : harf jarr ‫ﺔﻴﺎﻧﻌﻟﺍ‬ ‫ﺐ‬ ‫ﻩ‬ : majrur : harf jarr : majrur Ism fa‘il pada kalimat 5a adalah kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬yang berasal dari kata ‫. yaitu: harus ber-i‘rab raf‘. keberadaan kata ‫ ﺔﻳﻟﺠ ﺎﺧ‬yang sudah mendapat tambahan al. Dari kata ‫ ﺏ ﺃﺪ‬ini dibentuk ism fa‘il ‫ﺏﺋ ﺍﺪ‬ dengan mengikuti wazn ‫ . aku datang dan aku temukan tempat duduk anak-anak muda itu selalu kosong. harus seusai dengan mubtada’ dari .menjadi rancu. ﺎﻧ ﺃ‬Tanda raf‘ -nya adalah dammah zahirah karena ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬adalah ism mufrad.kerancuan. Bila kata ‫ ﺔﻳﻟﺠ ﺎﺧ‬tetap menjadi maf‘ul bih. misalnya: 4c.

dan ta’nis. Jumlah ‫ﺏ ﺃﺩﺠ ﺃ‬ dalam kalimat 5b merupakan khabar jumlah yang memiliki rabit berupa damir mustatir ‫ . dan mubtada’ bersambung dengan istisna’. tazkir. Untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ pada kata ‫ . kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬harus sesuai dengan mubtada’-nya. ﺔﺒﺋﺍﺪ‬Kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬belum memenuhi syarat untuk didahulukan. tasniyah. jilid II) syarat jumlah untuk bisa menjadi khabar yaitu harus memiliki rabit yang menghubungkannya dengan mubtada’. Dengan melihat ketentuan-ketentuan ini. ﺎﻧ ﺃ‬Dalam kalimat 5b di atas. khabar berupa ism istifham atau mudaf kepada ism istifham. kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬tergolong khabar mufrad. jam‘. Pada dasarnya. Dilihat dari bentuknya. pada umumnya berbentuk ism nakirah musytaqqah. maka kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬ber-i‘rab raf‘ sesuai dengan kedudukannya sebagai khabar. yang menjadi khabar adalah jumlah ‫ . tasniyah. tazkir. yaitu: mubtada’ berbentuk ism nakirah sedangkan khabar berupa jarr majrur atau zarf. dan ta’nis. . makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬pada 5a menjadi jelas. khabar mubtada’ harus diakhirkan daripada mubtada kecuali dalam beberapa keadaan. ﺏﺠ ﺃﺩﺠ ﺃ‬Menurut alGalayaini (2000: 264. ﺎﻧ ﺃ‬baik dari segi ifrad. jam‘. yaitu kata ‫ . Khabar yang tidak berbentuk jumlah dinamakan khabar mufrad. ﺎﻧ ﺃ‬yang menjadi mubtada’. dan bisa dibuang dalam keadan-keadaan tertentu. Kata ‫ . Sebagai khabar.segi ifrad. ﺔﺒﺋﺍﺪ‬kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬diganti dengan kata ‫ ﺏ ﺃﺩ ﺃ‬sehingga menjadi: 5b. didahulukan sebelum kata ‫ . ‫ﻪﺒ ﺔﻴﺎﻧﻌﻟﺍﻰﻟﻋ ﺏ ﺃﺩ ﺃ ﺎﻧ ﺃ‬ ‘Aku adalah orang yang cocok untuk menjaganya’ Dalam kalimat 5b. dalam mubtada’ terdapat damir yang kembali kepada khabar.

ﺔﻳﺳﺎﻗ‬Kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﺎﺴﻗ . Kerancuan ini terutama pada makna waktu yang dimiliki. ﻮﺴﻘﻴ‬keras’ (Munawwir. 6a. Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah karena kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬adalah ism mufrad. 1982: 63) ‘Cobaan itu sangat keras’ ‫ﺖﻧﺎﻛ‬ ‫ﺔﺑﺮﺠﺗﻟﺍ‬ : kana dan ta’ alamat ta’nis ‫ﺔﻳﺳﺎﻗ‬ : ism kana ‫ﺍﺪﺟ‬ : khabar kana : hal Ism fa‘il dalam kalimat 6a adalah kata ‫ .Kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬dalam 5a tidak boleh diberi al. jilid II) menyatakan bahwa kana tergolong fi‘l naqis yaitu fi‘l yang masuk kepada mubtada’ dan khabar. Ini tentu saja berbeda dengan tujuan pengarang yang menginginkan makna waktu mudari‘.karena akan mengakibatkan kerancuan. Dari kata ‫ ﺲﺎﻗ‬yang berbentuk muzakkar ini dibentuk kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬yang berbentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah dan mengubah waw menjadi ya’. mubtada’ ber- . keberadaan kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬yang sudah mendapat tambahan almenjadi rancu. ‫ﻪﺒ ﺔﻴﺎﻧﻌﻟﺍﻰﻟﻋ ﺔﺒﺋﺍﺪﻠ ﺍ ﺎﻧ ﺃ‬ ‘Aku adalah orang yang selalu cocok untuk menjaganya’ Pada kalimat 5c di atas. Al-Galayaini (2000: 271-284. Makna yang dimiliki oleh kata ‫ ﺔﺒﺋﺍﺪ‬adalah makna dawam yang ditandai dengan al-almausuliyah. Kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬ber-i´rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai khabar kana. Dari kata ‫ ﺎﺴﻗ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﺲﺎﻗ‬dengan mengikuti wazn ‫ . ‫( ﺍﺪﺟ ﺔﻳﺳﺎﻗ ﺔﺑﺮﺠﺗﻟﺍ ﺖﻧﺎﻛ‬Mahfuz.misalnya: 5c. ﻞﻋﺎﻓ‬Harf ‘illah waw (‫ ) ﻮ‬dibuang karena berat diucapkan. 2000: 1119).

maka untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ pada kata ‫ . Khusus untuk khabar kana boleh diberi za’idah berupa ba’ dengan syarat didahului oleh nafy dan nahy.ﻲﻫ‬Damir . maka mubtada’ disebut ism fi‘l naqis dan khabar disebut khabar fi‘l naqis. ﻦﺎﻜ‬I‘rab kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬juga berubah. Sebelum dimasuki oleh kata ‫ .fi‘l itu disebut fi‘l naqis karena kalimat yang didalamnya terdapat fi‘l naqis tidak bisa sempurna hanya dengan kalimat yang didalamnya terdapat fi‘l naqis tidak bisa sempurna hanya dengan menggunakan fa‘il . ‫ﺍﺪﺟ ﻮﺴﻘﺗ ﺔﺑﺮﺠﺗﻟﺍ ﺖﻧﺎﻛ‬ ‘Cobaan itu sekarang sangat keras’ Seperti halnya kata ‫ ﺏ ﺃﺩ ﺃ‬pada kalimat 5b di atas. Kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬tidak boleh diberi za’idah berupa ba’ karena tidak didahului oleh nafy maupun nahy. dari khabar mubtada’ menjadi khabar ‫ . tetapi harus menyertakan khabar. ﺔﻳﺳﺎﻗ‬kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬diganti dengan kata ‫ ﻮﺴﻘﺗ‬sehingga menjadi: 6b. dari raf‘ menjadi nasb karena kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬dianalogikan kepada maf‘ul bih. Dengan masuknya kata ‫ ﻦﺎﻜ‬maka kedudukan kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬berubah.i‘rab raf‘ seperti fa‘il dan khabar ber-i‘rab nasb seperti maf‘ul bih. Khabar pada fi‘l naqis berbeda dengan maf‘ul bih pada fi‘l tamm karena khabar pada fi‘l naqis bukan fudlah (pelengkap) sedangkan maf‘ul bih pada fi´l tamm adalah fudlah. ﻦﺎﻜ‬kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬ber-i‘rab raf‘ sesuai dengan kedudukannya sebagai khabar mubtada’. Fi‘l . Umumnya khabar jumlah fi‘liyyah dari fi‘l naqis berupa fi‘l mudari‘. jumlah ‫ ﻮﺴﻘﺗ‬dalam kalimat 6b merupakan khabar jumlah yang memiliki rabit berupa damir mustatir ‫ . Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ism fa‘il yang ber-tanwin memiliki makna fi‘l mudari‘. Setelah fi‘l naqis masuk.

karena akan mengakibatkan kerancuan. 1982: 84) ‘Aku yakin dia putus asa terhadap Qaranfulah’.al-mausulah. ism kana adalah mubtada’).’ ‘Cobaan itu selalu sangat keras’ Pada kalimat 6c di atas. misalnya: 6c. 7a. Makna waktu yang dimiliki oleh kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬adalah makna dawam yang ditandai dengan al. Tanda raf‘-nya adalah dammah . ‫ﺍﺪﺟ ﺔﻳﺳﺎﻗﻟﺍ ﺔﺑﺮﺠﺗﻟﺍ ﺖﻧﺎﻛ‬ ‘Cobaan yang keras sangat…. Dari kata ‫ ﺲﺋﻳ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﺲﺋ ﺎﻴ‬dengan mengikuti wazn ‫ . fa‘il-nya damir mustatir ana yang kembali kepada : harf nasb dan harf taukid : ism anna : khabar inna ‫ﻥﻣ‬ ‫ﺔﻴﺣﺎﻧ‬ ‫ﺔﻠﻓﻧﺮﻗ‬ : harf jarr : majrur dan mudaf : majrur Ism fa‘il dalam kalimat 7a adalah kata ‫ . ﺲﺋﺎﻴ‬Kata ‫ ﺲﺋﺎﻴ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﺲﺋﻳ . Ini tentu saja berbeda dengan tujuan pengarang yang menginginkan makna waktu mudari‘. Dalam kalimat 6b makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata‫ﺔﻳﺳﺎﻗ‬ pada 6a menjadi jelas. Kerancuan ini terutama pada makna waktu yang dimiliki. ﺲﺄﻳﻳ‬putus asa’ (Munawwir. keberadaan kata ‫ ﺔﻳﺳﺠ ﺎﻗ‬yang sudah mendapat tambahan al. ﻞﻋﺎﻓ‬Kata ‫ ﺲﺋﺎﻴ‬ber-i‘rab raf‘ sesuai dengan kedudukannya sebagai khabar anna. 2000: 1587). Kata ‫ ﺔﻳﺳﺎﻗ‬dalam 6a tidak boleh diberi al. ‫ﺪﻗﺗﻋﺃ‬ ‫ﻦﺃ‬ ‫ﻩ‬ ‫ﺲﺋﺎﻴ‬ : fi‘l mudari‘.menjadi rancu.mustatir ini kembali kepada ‫( ﺔﺑﺮﺠﺗﻟﺍ‬dalam keadaan normal. ‫( ﺔﻠﻓﻧﺮﻗ ﺔﻴﺣﺎﻧ ﻥﻣ ﺲﺋﺎﻴ ﻪﻧﺃ ﺪﻗﺗﻋﺃ‬Mahfuz.

karena akan mengakibatkan kerancuan. ‫ﺔﻠﻓﻧﺮﻗ ﺔﻴﺣﺎﻧ ﻥﻣ ﺲﺋﺎﻴﻟﺍ ﻪﻧﺃ ﺪﻗﺗﻋﺃ‬ ‘Aku yakin dia selalu putus asa terhadap Qaranfulah’. ﺲﺋ ﺎﻴ‬kata ‫ ﺲﺋ ﺎﻴ‬diganti dengan kata ‫ ﺲﺄﻳﻳ‬sehingga menjadi: 7c. misalnya ‫ ﺪﻬﺗﺠﻣ ﻚﻧ ﺃ ﻲﻧﺒﺠﻌﻴ‬bisa di-ta’wil menjadi ‫ . Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa ism fa‘il yang ber-tanwin memiliki makna fi‘l mudari‘. jilid II) menyatakan bahwa harf anna ( ‫) ﻦﺠ ﺃ‬ hamzah-nya harus dibaca fathah jika ism dan khabar-nya bisa digantikan oleh masdar. Kata ‫ ﺲﺋﺠ ﺎﻴ‬dalam 7a tidak boleh diberi al.ﻮﻫ‬Damir mustatir ini kembali kepada damir ‫ ﻩ‬pada ‫ﻪﻧﺃ‬ (dalam keadaan normal.menjadi rancu. juga mengandung ‫ . Al-Galayaini (2000: 313-. ‫ﺔﻠﻓﻧﺮﻗ ﺔﻴﺣﺎﻧ ﻥﻣ ﻪﺳﺋﻴ ﺪﻗﺗﻋﺃ‬ ‘Aku yakin akan keputusasaannya terhadap Qaranfulah’. ism inna adalah mubtada’).zahirah karena kata ‫ ﺲﺋ ﺎﻴ‬adalah ism mufrad. maka untuk lebih memperjelas adanya makna fi‘l mudari‘ pada kata ‫ . ‫ﺔﻠﻓﻧﺮﻗ ﺔﻴﺣﺎﻧ ﻥﻣ ﺲﺄﻳﻳ ﻪﻧﺃ ﺪﻗﺗﻋﺃ‬ ‘Aku yakin dia sekarang dia putus asa terhadap Qaranfulah’. ﻦ ﺃ‬Kalimat tersebut bila di-ta’wil menjadi: 7b. ﻙ ﺪﺎﻬﺗﺠﺍ ﻲﻧﺒﺠﻌﻴ‬Kalimat 7a di atas. keberadaan kata ‫ ﺲﺋﺠ ﺎﻴ‬yang sudah mendapat tambahan al. Perhatikan kalimat 7d berikut ini! 7d. Dalam kalimat 7c makna fi‘l mudari‘ yang dikandung oleh kata ‫ ﺲﺋ ﺎﻴ‬pada 7a menjadi jelas. Kerancuan ini terutama pada makna waktu yang . jumlah ‫ ﺲﺄﻳﻳ‬pada kalimat 7c merupakan khabar jumlah yang memiliki rabit berupa damir mustatir ‫ . Pada kalimat 7d di atas. Seperti halnya kata ‫ ﺏ ﺃﺩ ﺃ‬pada kalimat 5b dan jumlah ‫ ﻮﺴﻘﺗ‬dalam kalimat 6b.

dapat disimpulkan bahwa ism fa‘il ber-tanwin yang ditemukan dalam novel al-Karnak karya Najib Mahfuz menunjukkan makna fi‘l mudari‘. Dari analisis-analisis terhadap kalimat-kalimat di atas. Idafah lafziyyah tidak dengan memperkirakan adanya harf jar (al-Galayaini. ‫‘ ﻢﻠﻋ ﺎﺑﻼﻁ ﻦ ﻼﺠﺭﻟﺍ ﻦﺍﺬﻫ‬ini adalah dua orang yang mencari ilmu’. Sembilan kalimat ini kemudian dijadikan bahan mentah penelitian. 2000: 205-208. Ini tentu saja berbeda dengan tujuan pengarang yang menginginkan makna waktu mudari‘.al-mausulah. 3. yaitu idafah ma‘nawiyyah dan idafah lafziyyah.dimiliki. Idafah ma‘nawiyah selalu dengan memperkirakan adanya harf jar yang menghubungkan mudaf dan mudaf ilaih. Idafah ma‘nawiyah adalah idafah yang bertujuan me-ma‘rifah-kan atau mentakhsis-kan mudaf. misalnya: ‫‘ ﺩﻴﻌﺳ ﺏﺎﺘﻜ ﺍﺫﻫ‬ini buku Sa’id’ dan ‫‘ ﻞﺟﺭ ﺏﺎﺗﻛ ﺍﺫﻫ‬ini buku seorang laki-laki’. Idafah lafziyyah adalah idafah yang bertujuan men-takhfif-kan mudaf dengan cara membuang tanwin dan nun pada musanna dan jam‘ muzakkar salim.2 Analisis ism fa‘il berbentuk mufrad yang di-idafah-kan Idafah yaitu pengkategorian antara dua ism dengan memperkirakan adanya harf jar. misalnya: ‫‘ ﻢﻠﻋ ﺐﻼﻁ ﻝﺠﺭﻟﺍ ﺍﺬﻫ‬laki-laki ini adalah orang yang mencari ilmu’. Idafah ada dua macam. posisi yang ditempati oleh ism . Pada kalimat 7d makna yang dimiliki oleh kata ‫ ﺲﺋﺠ ﺎﻴ‬adalah makna dawam yang ditandai dengan al. Dari segi nahw. Dalam novel al-Karnak terdapat sembilan kalimat yang mengandung ism fa‘il berbentuk mufrad dan di-idafah-kan. jilid III).

9a.fa‘il -ism fa‘il dalam sebelas kalimat tersebut adalah: khabar ( lima kalimat). hal (satu kalimat). seorang wanita . ma‘tuf ( satu kalimat). 1982: 22) ‘Apakah kita tahu apa yang diderita oleh penduduk perkampungan Kairo? Adapun analisis terhadap kelima kalimat ini adalah sebagai berikut: 8a. meninggalkan kafe pada ‘Arif Sulaiman dan Imam al-Fawal’ 10a.‫( ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﺔﻳﻧﺍﺩ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ ﻲﺳﺭﻛ ﻦﻳﺑ ﺕﺣﻤﻟ‬Mahfuz. ‫ ( ؟ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍﻰﻓ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺎﺳ ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ ﻦﺎﻛﺎﻣﺎﻧﻓﺭﻋﻝﻫ‬Mahfuz.‫( ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺔﺑﺤﺎﺻﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬Mahfuz.. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimat yang mengandung ism fa‘il berbentuk mufrad dalam novel al-Karnak yang menjadi mudaf: 8a.‫( ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﺔﻳﻧﺍﺩ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ ﻲﺳﺭﻛ ﻦﻳﺑ ﺕﺣﻤﻟ‬Mahfuz. 1982: 3) ‘Aku melihat seorang wanita di antara dua kursi kantor. 1982: 76) ‘Menjadi jelaslah bahwa dia mati’ 12a.’. 1982: 21) ‘Dia (Qaranfulah) tidak terlihat setengah hari bahkan kadang sehari penuh. 1982: 3) ‘Aku melihat seorang wanita di antara dua kursi kantor. ‫ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺔﻛﺭﺎﺘ ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍﺎﻧﺎﻴﺣﺃﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ ﺖﻧﺎﻛ‬ (Mahfuz. seorang wanita yang mendekati tua. Dari lima ism fa‘il yang berposisi sebagai khabar diambil satu kalimat sebagai bahan jadi penelitian dengan pertimbangan kalimat yang paling sederhana dan terletak dibagian awal.. 1982: 26) ‘Tetapi dia rakus kepada harta dan wanita pemilik harta’ 11a. dan fa‘il (satu kalimat). ‫( ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ ﻕﺭﺎﻓ ﻪﻧﺃ ﻦﻳﺒﺘ‬Mahfuz. na‘t (satu buah).

‫ﺕﺣﻤﻟ‬ ‫ﻦﻳﺑ‬ : fi‘l dan fa‘il-nya : maf‘ul bih dan mudaf ‫ﺔﺋﺮﻣﺇ‬ ‫ﺔﺋﺮﻣﺇ‬ ‫ﺔﻳﻧﺍﺩ‬ ‫ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ‬ : maf‘ul bih : taukid : mudaf : mudaf ilaih ‫ : ﻲﺳﺭﻛ‬mudaf dan mudaf ilaih ‫ : ﺓﺮﺍﺩﻹﺍ‬mudaf ilaih Ism fa‘il dalam kalimat 8a adalah kata ‫ . ﺔﺋﺮﻣﺇ‬Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah karena kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬berbentuk mufrad. 1992: 459). Selanjutnya kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬di-idafah-kan ke kata ‫ ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ‬sehingga menjadi ‫ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍﺠ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬ yang merupakan tarkib idafy. ﻞﻋﺎﻓ‬Harf ‘illah waw (‫ ) ﻮ‬dibuang karena berat diucapkan. Na‘t adalah apa saja yang disebut setelah sebuah ism untuk menjelaskan keadaan ism tersebut atau menjelaskan keadaan sesuatu yang terkait dengan ism . Tanda jarr-nya adalah kasrah zahirah.yang mendekati tua. I‘rab pada kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬mengikuti i‘rab pada kata ‫( ﺔﺋﺮﻣﺇ‬nasb) karena menjadi na‘t. ﺔﻳﻧﺍﺩ‬Kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﺎﻧ ﺩ . Dari kata ‫ ﻦ ﺍﺩ‬yang berbentuk muzakkar ini dibentuk kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬yang berbentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah dan mengubah waw menjadi ya’. Dari kata ‫ ﺎﻧ ﺩ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﻦﺠ ﺍﺩ‬dengan mengikuti wazn ‫ . Jenis idafah-nya adalah idafah lafziyyah karena tujuannya adalah men-takhfif-kan dengan cara membuang tanwin pada kata ‫. Kata ‫ ﺔﺋﺮﻣﺇ‬ber-i´rab nasb karena menjadi taukid dari kata ‫ ﺔﺋﺮﻣﺇ‬sebelumnya. Kata ‫ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ‬ ber-i´rab jarr karena kedudukannya sebagai mudaf ilaih.ﺔﻳﻧﺍﺩ‬ Kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬ber-i´rab nashab karena kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬menjadi na´t dari kata ‫ . Tanda nasb-nya berupa fathah zahirah karena kata ‫ ﺔﺋﺮﻣﺇ‬berbentuk mufrad. karena kata ‫ ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ‬berbentuk mufrad. ﻮﻧ ﺪﻴ‬mendekati’ (Munawwir’. ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬sebagai mudaf dan ‫ ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ‬sebagai mudaf ilaih.’.

2000: 221. Na‘t. Secara semantis. Jumlah hanya bisa menjadi na‘t dari ism nakirah (al-Galayaini. Untuk kasus ini. dilihat dari bentuknya. Kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬adalah na‘t karena terletak setelah ism nakirah yaitu ‫. jilid III) . na‘t jumlah. ‫ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﺕﻧ ﺩ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺔﺋﺮﻣﺇﺓﺮﺍﺩﻹﺍﻲﺳﺭﻛ ﻦﻳﺑ ﺕﺣﻤﻟ‬ ‘aku melihat di antara dua kursi kantor itu seorang wanita. . dalam hal ini ‫ . Fi‘l yang dipakai adalah fi‘l madi karena ism fa‘il (‫ ) ﺔﻳﻧﺍﺩ‬adalah ism fa‘il yang di-idafah-kan kepada maf‘ul. ﺔﺋﺮﻣﺇ‬ Akan tetapi. Hal ini terlihat pada penerjemahan yang dilakukan. seorang wanita yang sudah mendekati tua’. ﺔﻳﻧﺍﺩ‬maka harus dibuktikan bahwa kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬itu sederajat dengan jumlah. Na‘t mufrad adalah na‘t yang tidak berbentuk jumlah atau syibh al-jumlah. dan na‘t syibh al-jumlah. cara yang bisa dipakai adalah mengubah ism fa‘il (‫ ) ﺔﻳﻧﺍﺩ‬menjadi fi‘l. jilid III). 2000: 226. Analisis di atas juga membuktikan bahwa ism fa‘il hanya bisa di-idafah-kan kapada maf‘ul-nya. makna madi (lampau) yang dikandung oleh ism fa‘il (‫) ﺔﻳﻧﺍﺩ‬ dalam kalimat di atas dapat dibuktikan keberadaannya. yaitu: na‘t mufrad. Susunan ‫ ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﺕﻧﺩ‬merupakan jumlah.tersebut (al-Galayaini. sesuai dengan pendapat al-Hadrami ( tanpa tahun: 20). maka kalimat 8a di atas menjadi: 8b. Na‘t jumlah yaitu jika ada jumlah yang menempati posisi na‘t. karena yang datang setelah kata ‫ ﺔﺋﺮﻣﺇ‬itu bukan jumlah melainkan kata (ism fa‘il ). sehingga memenuhi syarat untuk menjadi na‘t dari kata ‫ ﺔﺋﺮﻣﺇ‬sebagaimana digariskan oleh al-Galayaini di atas. Bila pengubahan ini dilakukan. Na‘t syibh al-jumlah yaitu jika ada zarf atau jarr dan majrur yang menempati posisi na‘t. bisa dibagi menjadi tiga.

tujuan yang ingin dicapai oleh penulis novel tidak tercapai. ‫ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﺔﻳﻧ ﺍﺩﻟ ﺍ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺓﺮﺍﺩﻹﺍﻲﺳﺭﻛ ﻦﻳﺑ ﺕﺣﻤﻟ‬ Al.al. ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﻲﻧ ﺩﺗ ﻲﺗﻟ ﺍ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺓﺮﺍﺩﻹﺍﻲﺳﺭﻛ ﻦﻳﺑ ﺕﺣﻤﻟ‬ ‘aku melihat di antara dua kursi kantor itu seorang wanita. misalnya: 8c.pada kata ‫ ﺔﻳﻧ ﺍﺩﻟ ﺍ‬adalah al al-mausulah. Hal ini sesuai dengan pendapat alGalayaini (2000: 152. jilid III). atau besok’. meninggalkan kafe pada ‘Arif Sulaiman dan Imam al-Fawal’ ‫ﺖﻧﺎﻛ‬ : kana dan ism-nya ‫ﻞﻣﻛﺄ‬ ‫ﻩ‬ : majrur dan mudaf : mudaf ilaih : hal dan mudaf ‫ : ﺐﻴﻐﺗ‬khabar kana ‫ :ﺾﻌﺒ‬maf‘ul bih dan mudaf ‫ﺔﻛﺭﺎﺘ‬ . ‫ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺔﻛﺭﺎﺘ ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍﺎﻧﺎﻴﺣﺃﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ ﺖﻧﺎﻛ‬ (Mahfuz. sekarang. jilid I) bahwa al. Akan tetapi. dari madi menjadi dawam. 1982: 21) ‘Dia (Qaranfulah) tidak terlihat setengah hari bahkan kadang sehari penuh. seorang wanita yang mendekati tua. Dengan perubahan makna waktu ini.Kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬pada 8a tidak boleh ber-tanwin karena menurut al-Galayaini (2000: 209-210) mudaf tidak boleh ber-tanwin. ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﺔﺧﻮﺧﻳﺸﻟﺍ ﺔﻳﻧ ﺍﺩ ﻲﺗﻟ ﺍ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺔﺋﺮﻣﺇ ﺓﺮﺍﺩﻹﺍﻲﺳﺭﻛ ﻦﻳﺑ ﺕﺣﻤﻟ‬ 8e. 9a. kemarin. Kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬boleh diberi al (‫) ﻝﺠ ﺍ‬ karena ia di-idafah-kan kepada kata yang ber. bila kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬diberi al. misalnya: 8d. maka makna waktu pada kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬berubah. Ism fa‘il yang ber-al memiliki makna dawam (al-Galayaini.yang masuk pada ism fa‘il dan ism maf‘ul memiliki arti ism mausul. 2000: 280.

di-jarr-kan oleh mudaf. ﺔﻛﺭﺎﺘ‬Untuk lebih mempermudah pemahaman. Kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬ber-i´rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai hal. meninggalkan kafe pada ‘Arif Sulaiman dan al-Imam Fawal’. 1992: 143). Sahibul hal-nya adalah kata ‫ .‫ :ﺭﺎﻬﻧﻠﺍ‬mudaf ilaih ‫ﻞﻛ‬ ‫ﻩ‬ : badl dan mudaf : mudaf ilaih ‫ : ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ‬mudaf ilaih. Dari kata ‫ ﻙﺮﺘ‬ini dibentuk ism fa‘il ‫ ﻙﺮﺎﺘ‬dengan mengikuti wazn ‫ . Jenis idafah-nya adalah idafah lafziyyah dengan cara membuang tanwin pada kata ‫ . ﺔﻟﻔﻧﺮﻗ‬Tanda nashabnya adalah fathah zahirah karena ia adalah ism mufrad. Kata ‫ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ‬ber-i´rab jarr karena kedudukannya sebagai mudaf ilaih. ﺔﻛﺭﺎﺘ‬Selanjutnya kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬di-idafah-kan kepada kata ‫ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ‬sehingga menjadi ‫ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬yang merupakan tarkib idafy. tanda jarr-nya adalah kasrah muqaddarah . ‫ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍ )ﺐﻴﻐﺗ ﺔﻟﻔﻧﺮﻗ ﺖﻧﺎﻛ ( ﺎﻧﺎﻴﺣﺃ )ﻭ( ﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ )ﺔﻟﻔﻧﺮﻗ( ﺖﻧﺎﻛ‬ ‫ﻝ ﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬ ‘Dia (Qaranfulah) tidak terlihat setengah hari bahkan kadang sehari penuh. ‫ﻙﺮﺘ‬ ‫‘ ﻙﺮﺘﻴ‬meninggalkan’(Munawwir. kalimat 9a diubah menjadi: 9b. ﻞﻋﺎﻓ‬Bentuk ism fa‘il ‫ ﻙﺮﺎﺘ‬yang berbentuk muzakkar diubah menjadi bentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah sehingga menjadi ‫ . ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬sebagai mudaf dan ‫ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ‬sebagai mudaf ilaih. ‫ﻞ‬ : harf jarr ‫ : ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻋ‬majrur ‫ﻭ‬ ‫ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇ‬ : harf ‘atf : ma‘tuf ‫ :ﺎﻧﺎﻴﺣﺃ‬zarf zaman ‫ﻡﻮﻴﻠﺍ‬ ‫ﺐ‬ : maf‘ul bih : harf jarr Ism fa‘il pada kalimat 9a adalah kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬yang berasal dari kata .

Jumlah itu tidak mengandung tanda istiqbal. Fi‘l yang digunakan adalah fi‘l madi karena ism fa‘il yang di- . jilid I) dan Munawwir (1992: 1255). Merujuk pada pendapat al-Galayaini (2000: 100-101. Hal adalah sifat berlebih yang disebutkan untuk menjelaskan keadaan ism yang memiliki sifat itu (al-Galayaini. Kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬adalah hal yang berbentuk jumlah. kata ‫ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ‬dibentuk dari kata ‫ ﺓﻮﻬﻗ‬dan mengikuti wazn ‫ . 2000: 78. Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬ber-i´rab nasb sesuai dengan kedudukannya sebagai hal. Jumlah itu berbentuk jumlah khabariyah bukan jumlah talabiyyah atau ta‘ajubiyyah.pada alif maqsurah. 2. Jumlah itu mengandung rabit yang manghubungkan hal dengan sahibul hal. jumlah yang bisa menjadi hal harus memenuhi tiga ketentuan. dalam hal ini tempat untuk menikmati kopi. yaitu: 1. Catatan: Merujuk pada al-Galayaini (2000: 104. Hal ini dapat dijelaskan dengan cara mengganti kata ‫ﺔﻛﺭﺎﺘ‬ dengan fi‘l. jilid III). jumlah yang menjadi hal itu bisa berupa jumlah ismiyyah atau jumlah fi‘liyyah. 3. jilid III ). Hal adalah sifat berlebih yang dibaca nasb yang disebutkan untuk menjelaskan keadaan ism yang memiliki sifat itu (Malik. ﻞﻌﻔﻣ‬Alif maqsurah pada kata ‫ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ‬menunjukkan arti tempat. Menurut pendapat Malik (tanpa tahun: 94-95). tanpa tahun: 90).

maka makna waktu pada kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬berubah. bila kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬diberi al.al memiliki makna dawam (al-Galayaini. Kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬boleh diberi al (‫) ﻝ ﺍ‬ karena ia di-idafah-kan kepada kata yang ber. Hal ini sesuai dengan pendapat alGalayaini (2000: 152. misalnya: 9e ‫ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺔﻛﺭﺎﺘ ﻲﺗﻟ ﺍ ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍﺎﻧﺎﻴﺣﺃﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ ﺖﻧﺎﻛ‬ ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ‬ . Tetapi. jilid I) bahwa al. Kata ‫ ﺔﻛﺭﺎﺘ‬pada 9a tidak boleh ber-tanwin karena menurut al-Galayaini (2000: 209-210) mudaf tidak boleh ber-tanwin. Ism fa‘il yang ber. 2000: 280.yang masuk pada ism fa‘il dan ism maf‘ul memiliki arti ism maushul.idafah-kan mengandung makna madi. dan memiliki rabit yaitu ta’ damir yang kembali kepada ‫ ﺔﻟﻔﻧﺮﻗ‬sebagai sahibul hal. Sesuai dengan pendapat al-Galayaini. seperti pada kalimat 9d berikut ini: 9d‫ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺔﻛﺭﺎﺘﻟﺍ ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍﺎﻧﺎﻴﺣﺃﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ ﺖﻧﺎﻛ‬ Al. jumlah ‫ ﺖﻛﺭﺘ‬dalam 9c memenuhi syarat sebagai hal karena jumlah itu adalah jumlah khabariyyah. Fi‘l yang dipakai adalah fi‘l madi karena ism fa‘il yang terdapat pada kalimat 9a di-idafah-kan kepada maf‘ul .al. jilid III). dari madi menjadi dawam. tidak bersambung dengan tanda mustaqbal. Perhatikan perubahan pada kalimat 9a berikut ini: 9c‫ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﺖﻛﺭﺘ ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍ ﺎﻧﺎﻴﺣﺃ ﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ ﺖﻧﺎﻛ‬ Jumlah ‫ ﺖﻛﺭﺘ‬dalam 9c adalah hal yang berbentuk hal jumlah.pada kata ‫ ﺔﻳﻧﺠ ﺍﺩﻟﺠ ﺍ‬adalah al mausulah.

Jenis idafah-nya adalah idafah lafziyyah karena tujuannya adalah mentakhfif-kan dengan cara membuang tanwin pada kata ‫ . maka arti kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬berubah menjadi ‘pemilik’. sebagai ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬mudaf dan ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍ‬sebagai mudaf ilaih. Karena di-idafah-kan.‫( ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺔﺑﺤﺎﺻﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬Mahfuz. atau besok’.9f ‫ﻦﺎﻤﻳﻠﺴ ﻒﺮﺎﻌﻠ ﻲﻬﻘﻤﻠﺍ ﻙﺭﺗﺘ ﻲﺗﻟ ﺍ ﻪﻟﻣﻛﺄﺒ ﻡﻮﻴﻠﺍﺎﻧﺎﻴﺣﺃﻪﻟﻛﺭﺎﻬﻧﻠﺍ ﺾﻌﺒ ﺐﻴﻐﺗ ﺖﻧﺎﻛ‬ ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﻝﺍﻮﻔﻠﺍ ﻢﺎﻣﺇﻭ‬ ‘Dia (Qaranfulah) tidak terlihat setengah hari bahkan kadang sehari penuh. ﻞﻋﺎﻓ‬Dari kata ‫ ﺐﺣﺎﺻ‬yang berbentuk muzakkar ini dibentuk kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬yang berbentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah. 1982: 26) ‘Tetapi dia rakus kepada harta dan wanita pemilik harta’ ‫ﻦﻛﻠ‬ ‫ﻩ‬ ‫ﻊﻤﻄﻳ‬ ‫ﻲﻓ‬ : harf nasb : ism inna : khabar inna : harf jarr ‫ﻞﺎﻤﻠﺍ‬ ‫ﻭ‬ : majrur : harf ‘atf ‫ : ﺔﺑﺤﺎﺻ‬ma‘tuf dan mudaf ‫ﻞﺎﻤﻠﺍ‬ : mudaf ilaih Ism fa‘il dalam 10a adalah kata ‫ . Dari kata ‫ ﺐﺣﺻ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﺐﺣﺎﺻ‬dengan mengikuti wazn ‫ . ﺔﺑﺤﺎﺻ‬Kata ‫ ﺔﺑﺤﺎﺻ‬dibentuk dari kata ‫‘ ﺐﺣﺻ‬menemani’ (Munawwir. Dengan perubahan makna waktu ini. sekarang.ﺔﺒﺣﺎﺻ‬Kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬ber-i´rab jarr karena kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬menjadi ma‘tuf. meninggalkan kafe pada ‘Arif Sulaiman dan Imam al-Fawal’ kemarin. 10a. Tanda jarr-nya adalah kasrah zahirah . Selanjutnya kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬di-idafah-kan ke kata ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍ‬sehingga menjadi ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍﺔﺒﺣﺎﺻ‬yang merupakan tarkib idafy. 2000: 763). tujuan yang ingin dicapai oleh penulis novel tidak tercapai.

tanpa tahun: 133). ﺔﺒﺣﺎﺻ‬Akan tetapi. jilid III). ﻰﻓ‬Tanda jarr-nya berupa kasrah zahirah karena kata ‫ ﻝﺎﻣﻟﺍ‬berbentuk mufrad. Artinya sifat rakus yang dimiliki oleh Halid Safwan adalah pada harta (‫ )ﻝﺎﻣﻟﺍ‬sekaligus pada wanita pemilik harta (‫.)ﻝﺎﻣﻟﺍﺔﺒﺣﺎﺻ‬ Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa ‫ ﻝﺎﻣﻟﺍﺔﺒﺣﺎﺻ‬berbentuk tarkib idafiy. kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬hanya bisa di-idafah-kan kepada maf‘ul. karena kata ‫ ﻞﺎﻤﻟﺍ‬berbentuk mufrad. ‘Atf ada dua yaitu ‘atf bayan dan ‘atf nusq. hukm yang digabungkan oleh waw adalah hukm rakus yang terdapat pada kata ‫( ﻊﻤﻄﻳ‬rakus). ‘Atf nusq adalah tabi‘ yang antara tabi‘ dan matbu‘-nya dihubungkan oleh salah satu harf ‘atf (Malik. Tanda jarr-nya adalah kasrah zahirah. Dalam 10a. kata ‫ ﻝﺎﻣﻟﺍ‬adalah maf‘ul dari kata ‫ . 2000: 241. Kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬adalah ´atf nusq karena terletak setelah harf ‘atf yaitu waw. Sebagaian ism fa‘il . I‘rab pada kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬mengikuti i‘rab pada kata ‫ﻝﺎﻣﻟﺍ‬ (jarr) karena ma‘tuf. Untuk memperjelas keberadaan maf‘ul ini. 2000: 245. ‘Atf bayan adalah tabi‘ yang berupa ism jamid yang menyerupai na‘t dalam mengungkap suatu maksud seperti yang dilakukan oleh na‘t (al-Galayaini. Harf ‘atf yang dipakai adalah waw. bukan memberi arti berurutan atau bergantian (alGalayaini.karena kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬berbentuk mufrad. Kata ‫ ﻞﺎﻤﻟﺍ‬dijarr-kan dengan harf jarr yaitu ‫ . . Kata ‫ ﻞﺎﻤﻟﺍ‬ber-i‘rab jarr karena kedudukannya sebagai mudaf ilaih. maf‘ul dalam 10a tidak begitu tampak jelas. Dengan demikian. Waw berfungsi menggabungkan antara ma‘tuf dan ma‘tuf ‘alaih dari segi hukm dan i‘rab secara mutlak. jilid III). Kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬ber-i´rab jarr karena ma‘tuf kepada kata ‫ ﻞﺎﻤﻟﺍ‬yang terletak sebelumnya.

Kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬boleh diberi al (‫ ) ﻝ ﺍ‬karena ia di-idafah-kan kepada kata yang ber. Fi‘l yang dipakai adalah fi‘l madi karena ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬adalah ism fa‘il yang di-idafah-kan kepada maf‘ul. Dengan demikian.kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬diubah menjadi bentuk fi‘l. maka 10a di atas menjadi: 10b. Hal ini terlihat pada penerjemahan yang dilakukan. Kata yang dipilih oleh penulis adalah kata ‫ . harus ditentukan kata lain yang bisa menjadi ma’tuf. Kata itu berbentuk mu’annas mufrad karena mengacu pada damir yang ada pada kata ‫ ﺕﺑﺤﺻ‬dan juga harus ma‘rifah karena ma‘tuf ‘alaih berbentuk ma‘rifah.al. Analisis di atas juga membuktikan bahwa ism fa‘il hanya bisa di-idafah-kan kapada maf‘ul -nya. sesuai dengan pendapat al-Hadrami (tanpa tahun: 20).ﺕﺑﺤﺻ‬Akan tetapi. Kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬pada 10a tidak boleh ber-tanwin karena menurut al-Galayaini (2000: 209-210) mudaf tidak boleh ber-tanwin. Bila pengubahan ini dilakukan. ‫ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺕﺑﺤﺻﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬ ‘Tetapi dia rakus kepada harta dan (wanita yang) memiliki harta’ Dalam susunan ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺕﺑﺤﺻ‬yang merupakan jumlah fi‘l iyyah. ‫ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺕﺑﺤﺻ ﻲﺘﻠﺍ ﺓﺃﺮﻤﻠﺍﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬ ‘Tetapi dia rakus kepada harta dan wanita yang meemiliki harta’ cara semantis.ﺓﺃﺮﻤﻠﺍ‬Bila kata ini dimasukkan maka kalimat 10b menjadi: 10c. Tetapi. tampaklah dengan jelas bahwa kata ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍ‬adalah maf‘ul dari kata ‫ . bila kata ‫ﺔﺒﺣﺎﺻ‬ . makna madi (lampau) yang dikandung oleh ism fa‘il (‫) ﺔﺒﺣﺎﺻ‬ dalam kalimat di atas dapat dibuktikan keberadaannya. kata ‫ﺕﺑﺤﺻ‬ dalam 10b jelas tidak bisa berfungsi sebagai ma‘tuf dari kata ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍ‬karena kata ‫ ﺕﺑﺤﺻ‬berbentuk fi‘l sedangkan kata ‫ ﻞﺎﻤﻠﺍ‬berbentuk ism.

. maka makna waktu pada kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻ‬berubah. 1982: 76) ‘Menjadi jelaslah bahwa dia mati’ ‫ﻦﻳﺒﺘ‬ ‫ﻦﺃ‬ ‫ﻩ‬ : fi‘l madi ‫ : ﻕﺭﺎﻓ‬khabar anna dan mudaf : harf nasb dan taukid ‫ : ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬mudaf ilaih : ism anna Ism fa‘il dalam kalimat 11a adalah kata ‫ . misalnya: 10d. atau besok’. tujuan yang ingin dicapai oleh penulis novel tidak tercapai. misalnya: 10e. jilid III). ‫ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺔﺒﺣﺎﺻﻟﺍ ﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬ ‘Tetapi dia rakus kepada harta dan wanita pemilik harta’ Al. Dengan perubahan makna waktu ini.diberi al. Dari kata ‫ﻕﺭﻓ‬ dibentuk ism fa‘il ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬dengan mengikuti wazn ‫ . 11a. ﻞﻋﺎﻓ‬Selanjutnya kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬diidafah-kan ke kata ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬sehingga menjadi ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ ﻕﺭﺎﻓ‬yang merupakan tarkib idafy. ﻕﺭﻓﻴ‬terpisah’ (Munawwir’. 2000: 280.yang masuk pada ism fa‘il dan ism maf‘ul memiliki arti ism mausul. Hal ini sesuai dengan pendapat alGalayaini (2000: 152. kemarin. 2000: 1050).pada kata ‫ ﺔﺒﺣﺎﺻﻟﺍ‬adalah al mausulah. ‫( ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ ﻕﺭﺎﻓ ﻪﻧﺃ ﻦﻳﺒﺘ‬Mahfuz. Ism fa‘il yang ber. ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺐﺣﺻﺗ ﻲﺗﻟ ﺍ ﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬ ‘Tetapi dia rakus kepada harta dan wanita pemilik harta’. ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﻞﺎﻤﻠﺍ ﺔﺒﺣﺎﺻ ﻲﺗﻟ ﺍ ﻭ ﻞﺎﻤﻠﺍﻲﻓ ﻊﻤﻄﻳ ﻪﻨﻛﻠ‬ 10f. ﻕﺭﺎﻓ‬Kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﻕﺭﺎﻓ .al memiliki makna dawam (al-Galayaini. jilid I) bahwa al. dari madi menjadi dawam. sekarang.

maka kalimat 11a di atas keberadaannya. ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬sebagai mudaf dan ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬sebagai mudaf ilaih. makna madi (lampau) yang ( ‫ ) ﻕﺭﺎﻓ‬dalam kalimat di atas dapat dibuktikan maf‘ul . Tarkib ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ ﻕﺭﺎﻓ‬mengandung makna yang baru yaitu mati.‫ ﻕﺭﺎﻓ‬sebagai mudaf dan ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬sebagai mudaf ilaih. Fi‘l yang dipakai adalah fi‘l madi karena ism fa‘il ( ‫ ) ﻕﺭﺎﻓ‬adalah ism fa‘il yang di-idafah-kan kepada menjadi: 11b. ﻕﺭﺎﻓ‬ Kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬ber-i´rab raf´ karena kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬menjadi khabar ‫ . Tanda jarr-nya adalah kasrah zahirah. ‫ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ ﻕﺭﻓ ﻪﻧﺃ ﻦﻳﺒﺘ‬ ‘Menjadi jelaslah bahwa dia telah mati’ Susunan ‫ﺓﺎﻴﺣﻠﺍﺠ ﻕﺭﻓ‬ dikandung oleh ism fa‘il merupakan jumlah. Untuk bisa membuktikan pernyataan di atas. Sedangkan menurut al-Hadrami ( tanpa tahun: 20) ism fa´il yang diidafah-kan kepada maf‘ul-nya memiliki makna madi. Kata ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬ber-i‘rab jarr karena kedudukannya sebagai mudaf ilaih. Jenis idafah-nya adalah idafah lafziyyah karena tujuannya adalah men-takhfif-kan dengan cara membuang tanwin pada kata ‫. Analisis di atas juga membuktikan bahwa ism fa‘il hanya bisa di-idafah-kan kapada maf‘ul -nya. Kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬di-idafah-kan ke kata ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬sehingga menjadi ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍﺠ ﻕﺭﺎﻓ‬yang merupakan tarkib idafy. Hal ini terlihat pada penerjemahan yang dilakukan. jilid III) ism fa‘il hanya bisa di-idafah-kan kepada maf‘ul -nya. Menurut al-Galayaini (2000: 280. karena kata ‫ ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ‬berbentuk mufrad. Bila pengubahan ini dilakukan. . ﻦ ﺃ‬Tanda raf‘-nya adalah dammah zahirah karena kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬berbentuk mufrad. ism fa‘il (‫ )ﻕﺭﺎﻓ‬diubah menjadi fi‘l.

bila kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬diberi al. dari madi menjadi dawam. ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﺓﺎﻴﺣﻠ ﺍ ﻕﺭﺎﻓ ﻯﺫﻟ ﺍ ﻪﻧ ﺃ ﻦﻳﺒﺘ‬ 11e.al memiliki makna dawam (al-Galayaini. 1982: 22) ‘Apakah kita tahu apa yang disembunyikan oleh penduduk perkampungan Kairo? ‫ﻝﻫ‬ ‫ﺎﻧﻓﺭﻋ‬ ‫ﺎﻣ‬ ‫ﻦﺎﻛ‬ ‫ﻲﻧﺎﻌﻴ‬ : ism istifham : fi‘l madi dan f i‘l-nya : ism mausul : fi‘l naqis : fi‘l mudari khabar kana ‫ﻩ‬ ‫ﻦﻛﺎﺳ‬ ‫ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬ ‫ﻰﻓ‬ : maf‘ul bih : fa‘il dan mudaf : mudaf ilaih : harf jarr ‫ : ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍ‬majrur .al. Hal ini sesuai dengan pendapat alGalayaini (2000: 152. ‫ﺓﺎﻴﺣﻠﺍ ﻕﺭﺎﻓﻟ ﺍ ﻪﻧﺃ ﻦﻳﺒﺘ‬ ‘Menjadi jelaslah bahwa dialah yang mati’ Al.yang masuk pada ism fa‘il dan ism maf‘ul memiliki arti al mausul. atau besok’. jilid I) bahwa al. 2000: 280. ‫ ( ؟ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍﻰﻓ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺎﺳ ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ ﻦﺎﻛﺎﻣﺎﻧﻓﺭﻋﻝﻫ‬Mahfuz. Kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬boleh diberi al (‫) ﻝ ﺍ‬ karena ia di-idafah-kan kepada kata yang ber. Tetapi. Dengan perubahan makna waktu ini. misalnya: 11d. 12a. sekarang. kemarin.Kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬pada 11a tidak boleh ber-tanwin karena menurut al-Galayaini (2000: 209-210) mudaf tidak boleh ber-tanwin. seperti: 11c. tujuan yang ingin dicapai oleh penulis novel tidak tercapai. maka makna waktu pada kata ‫ ﻕﺭﺎﻓ‬berubah. jilid III). ‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ﺓﺎﻴﺣﻠ ﺍ ﻕﺭﻓﻳ ﻯﺫﻟ ﺍ ﻪﻧ ﺃ ﻦﻳﺒﺘ‬ ‘Menjadi jelaslah bahwa dialah yang mati.pada kata ‫ ﻕﺭﺎﻓﻟﺠ ﺍ‬adalah al al-mausulah. Ism fa‘il yang ber.

1992: 646). damir. Fa‘il sarih adalah fa‘il yang disebutkan secara jelas misalnya ‫ . jilid III) Didahulukannya maf´ul dalam 12a dibenarkan karena maf´ul berbentuk . ﻦﻛﺎﺳ‬Kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬ber-i‘rab raf‘ karena kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬menjadi fa‘il dari kata ‫ .ﺠ ﺖﻤﻗﺠ . jilid II) . yaitu: sarih. 2000: 10. Fa‘il terbagi menjadi tiga. dan mu’awwal. 2000: 233. jilid II).ﺠ ﺎﻧﺃﺠ ﻻﺇﺠ ﻢﺎﻗﺠ ﺎﻣ‬Fa‘il mu’awwal yaitu jika sebuah fi‘l memiliki fa‘il berupa masdar yang bisa dipahami dari fi‘l yang terletak sesudah fi‘l yang pertama. ‫ﻦﻛﺎﺳ‬ sebagai mudaf dan ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬sebagai mudaf ilaih. ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ‬Tanda raf‘-nya adalah dammah zahirah karena kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬berbentuk mufrad. ﻦﻛﺎﺳ‬Kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﻦﻛﺎﺳ . ﻖﺣﻟﺍﺯﺎﻓ‬Fa‘il damir yang berbentuk damir baik damir muttasil maupun munfasil misalnya ‫ . Jenis idafah-nya adalah idafah lafziyyah karena tujuannya adalah men-takhfif-kan dengan cara membuang tanwin pada kata ‫ . ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ‬Maf‘ul dalam kalimat tersebut adalah ‫ ﻩ‬yang berupa damir muttasil yang berfungsi sebagai maf´ul muqaddam. Tanda jarr-nya adalah kasrah zahirah. ﻦﻛﺳﻴ‬mendiami’ (Munawwir’. misalnya ‫( ﺩﻬﺘﺠﺘ ﻥ ﺃ ﻥﺳﺤﻴ‬al-Galayaini.Ism fa‘il dalam kalimat 12a adalah kata ‫ . Kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬adalah fa‘il dari fi‘l ‫ . Kata ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬ber-i‘rab jarr karena kedudukannya sebagai mudaf ilaih. ﻞﻋﺎﻓ‬Selanjutnya kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬di-idafah-kan ke kata ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬sehingga menjadi ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍﺠ ﻦﻛﺎﺳ‬yang merupakan tarkib idafy. Dari kata ‫ ﻦﻛﺳ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬dengan mengikuti wazn ‫ . Fa‘il adalah musnad ilaih yang terletak setelah fi‘l tamm dan berbentuk ma‘lum atau yang serupa dengan fi‘l tersebut (al-Galayaini. 2000: 244-245. Bila salah satu dari fa´il dan maf´ul berupa damir muttasil sedangkan yang lainnya berupa ism zahir maka yang berupa damir harus didahulukan (al-Galayaini. karena kata ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬berbentuk mufrad. ﻢﺎﻗﺠ .

dari madi menjadi dawam. bila kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬diberi al. Analisis di atas juga membuktikan bahwa ism fa‘il hanya bisa di-idafah-kan kapada maf‘ul -nya. Kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬boleh diberi al (‫) ﻝ ﺍ‬ karena ia di-idafah-kan kepada kata yang ber. ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬sebagai mudaf dan ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬sebagai mudaf ilaih. ism fa‘il (‫ ) ﻦﻛﺎﺳ‬diubah menjadi fi‘l . jilid III) ism fa‘il hanya bisa di-idafah-kan kepada maf‘ul -nya. Tetapi. ‫؟ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍﻰﻓ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺎﺳﻟ ﺍ ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ ﻦﺎﻛﺎﻣﺎﻧﻓﺭﻋﻝﻫ‬ ‘Apakah kita tahu apa yang diderita oleh penduduk perkampungan Kairo’ .damir sedangkan fa´il berupa ism zahir. ( tanpa tahun: 20) ism fa‘il yang di-idafah-kan kepada maf‘ul -nya memiliki makna madi.al. Kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬pada 12a tidak boleh ber-tanwin karena menurut al-Galayaini (2000: 209-210) mudaf tidak boleh ber-tanwin. Bila pengubahan ini dilakukan. Sedangkan menurut al-Hadrami. Menurut al-Galayaini (2000: 280. Hal ini terlihat pada penerjemahan yang dilakukan. maka makna waktu pada kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬berubah. maka 12a di atas menjadi: 12b. makna madi (lampau) yang dikandung oleh ism fa‘il ( ‫ ) ﻦﻛﺎﺳ‬dalam kalimat di atas dapat dibuktikan keberadaannya. Fi‘l yang dipakai adalah fi‘l madi karena ism fa‘il (‫ ) ﻦﻛﺎﺳ‬adalah ism fa‘il yang di-idafah-kan kepada maf‘ul . Kata ‫ ﻦﻛﺎﺳ‬di-idafah-kan ke kata ‫ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ‬ sehingga menjadi ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺎﺳ‬yang merupakan tarkib idafy. Untuk bisa membuktikan pernyataan di atas. misalnya: 12c. ‫؟ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍﻰﻓ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺳ ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ ﻦﺎﻛﺎﻣﺎﻧﻓﺭﻋﻝﻫ‬ ‘Apakah kita tahu apa yang disembunyikan oleh (orang yang mendiami) perkampungan Kairo? Susunan ‫ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍﺠ ﻦﻛﺳ‬merupakan jumlah.

‫؟ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍﻰﻓ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺎﺳ ﻯﺫﻟ ﺍﻪﻳﻧﺎﻌﻴ ﻦﺎﻛﺎﻣﺎﻧﻓﺭﻋﻝﻫ‬ 12e. al.3 Analisis ism fa‘il berbentuk mufrad yang ber-al Dari tujuan penambahannya. posisi yang ditempati oleh ism fa‘il itu hanya dua.yang digunakan untuk mema‘rifah-kan ism nakirah.al-mausulah dalam ism fa‘il yang berbentuk mufrad. tujuan yang ingin dicapai oleh penulis novel tidak tercapai. 2000: 147-153. 3. dan al. Perhatikan kalimat berikut ini: 12d. jilid I) bahwa al. Al. Al.az-za’idah yaitu al.terbagi menjadi tiga yaitu: al at. bukan karena ta‘rif.yang digunakan hanya sebagai tambahan. Dalam novel al-Karnak terdapat dua puluh tiga kalimat yang menggunakan ism fa‘il berbentuk mufrad yang ber-al.al-mausulah.Al.at-ta‘rif yaitu al.ta‘rif. Dalam skripsi ini penulis hanya akan membicarakan al.yang masuk pada ism fa‘il dan ism maf‘ul memiliki arti ism mausul. Hal ini sesuai dengan pendapat alGalayaini (2000: 152.al-mausulah yaitu al. kemarin.pada kata ‫ ﻦﻛﺎﺳﻟﺠ ﺍ‬adalah al mausulah. jilid III). 2000: 280. ‫؟ﺓﺮﻫﺎﻘﻠﺍﻰﻓ ﺓﺭﺎﺣﻠﺍ ﻦﻛﺳﻴ ﻯﺫﻟ ﺍ ﻪﻳﻧﺎﻌﻴ ﻦﺎﻛﺎﻣﺎﻧﻓﺭﻋﻝﻫ‬ ‘Apakah kita tahu apa yang diderita oleh penduduk perkampungan Kairo. karena objek pembahasan penulis adalah ism fa‘il yang berbentuk mufrad. atau besok…?’ Dengan perubahan makna waktu ini. Dari analisis-analisis ini dapat disimpulkan bahwa ism fa‘il yang di-idafah-kan mengandung makna madi. alaz-za’idah. Al.yang ada pada ism fa‘il dan ism maf‘ul dengan syarat tidak untuk menjelaskan jins atau ‘ahd (alGalayaini.al memiliki makna dawam (al-Galayaini. Dari segi nahw. yaitu sebagai na‘t (dua puluh satu . jilid I). Ism fa‘il yang ber. sekarang.

1982: 9) ‘Kedatangan-kedatangannya tidak mengijinkan dia untuk ragu terus-menerus dalam kesia-siaan’ 15a. 1982: 4) ‘Dia menggerakkan matanya yang menyapu sekeliling ruangan’ ‫ﻚﺭﺣﺘ‬ ‫ﺓﺮﻅﻧ‬ ‫ﺎﻫ‬ : fi‘l mudari : maf‘ul bih dan mudaf : mudaf ilaih Ism fa‘il dalam kalimat 13a adalah kata ‫ . dengan pertimbangan representasi. dan sebagai fa‘il (dua kalimat). ﻞﻋﺎﻓ‬Dari kata ‫ ﻞﻤﺎﺸ‬yang ‫ : ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬na‘t dan mudaf ‫ : ﻲﻗﺎﺳﻠﺍ‬mudaf ilaih . ‫( ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺎﺑ ﻪﻟ ﺢﻤﺴﺘ ﻩﺪﺮ ﺍﻮﻤ ﻦﻛﺗ ﻢﻠ‬Mahfuz. ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬Kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﻞﻤﺸﺠ . ‫( ﻲﻗﺎﺳﻠﺍﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍﺎﻬﺗﺮﻅﻧ ﻚﺭﺣﺘ‬Mahfuz. Dari dua puluh satu kalimat yang mengandung ism fa‘il berposisi na‘t. Sedangkan dua puluh kalimat yang lain. 1982: 11) ‘Yang berlalu belum tentu buruk’ Adapun analisis terhadap ketiga kalimat ini adalah sebagai beikut: 13a. ‫( ﻲﻗﺎﺳﻠﺍﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍﺎﻬﺗﺮﻅﻧ ﻚﺭﺣﺘ‬Mahfuz. 2000: 742).kalimat). Dari kata ‫ﻞﻤﺸ‬ dibentuk ism fa‘il ‫ ﻞﻤﺎﺸ‬dengan mengikuti wazn ‫ . ada satu kalimat mengandung ism fa‘il dari fi‘l muta‘addi. Dengan demikian. dijadikan bahan jadi. Kalimat tersebut. diambil satu kalimat sebagai bahan jadi dengan cara diundi. Hal ini juga dilakukan pada kalimat yang mengandung ism fa‘il berposisi fa‘il . kalimat yang menjadi bahan jadi berjumlah tiga kalimat. Tiga kalimat tersebut adalah: 13a.ﺠ ﻞﻤﺸﻴ‬memuat’ (Munawwir’. 1982: 4) ‘Dia menggerakkan matanya yang menyapu sekeliling ruangan’ 14a. ‫( ﺍﺭﺷ ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ ﻥﻜﻴ ﻢﻠ‬Mahfuz.

‫ﻲﻗﺎﺳﻠﺍﺔﻟﻣﺎﺷ ﻲﺗﻟ ﺍ ﺎﻬﺗﺮﻅﻧ ﻚﺭﺣﺘ‬ ‘Dia menggerakkan matanya yang menyapu sekeliling ruangan’ Al-Galayaini (2000: 280.al-mausulah dengan syarat tidak untuk menjelaskan jins atau ‘ahd. al. kalimat 13a diubah menjadi: 13c. Kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬adalah na‘t mufrad karena ia berbentuk ism mufrad.al memiliki makna dawam.al-mausuliyah. jilid I).ﻲﻗﺎﺳﻠﺍ‬bukan berarti kata . Akan tetapi. yaitu ‫ ﺓﺮﻅﻧ‬kata karena kata ‫ ﺓﺮﻅﻧ‬berbentuk mufrad. maka untuk menjelaskan makna mausulah ini. atau besok’ Kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷ‬pada kalimat 13c merupakan mudaf yang di-idafah-kan ke kata ‫ .yang ada pada ism fa‘il dan ism maf‘ul disebut al. ﻚﺭﺣﺘ‬ Tanda nasb-nya berupa fathah zahirah pada mudaf. ﺎﻬﺗﺮﻅﻧ‬Tanda nasb-nya adalah fathah zahirah karena kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬berbentuk mufrad.berbentuk muzakkar ini dibentuk kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷ‬yang berbentuk mu’annas dengan cara menambahkan ta’ marbutah. Selanjutnya kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷ‬diberi al. Kata ‫ ﺔﻳﻧﺍﺩ‬ber-i‘rab nasb karena kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬menjadi na‘t dari tarkib idafy ‫ . kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬pada kalimat 13a itu diganti dengan ism mausul. Damir ‫ ﺎﻫ‬adalah damir mabni ‘ala sukun menempati posisi jarr sebagai mudaf ilaih. Tarkib idafy ‫ ﺎﻬﺗﺮﻅﻧ‬ber-i´rab nasb karena menempati posisi nasb yaitu maf‘ul dari kata ‫. Sehingga menjadi: 13b. karena menurut al-Galayaini (2000: 153. (‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ( ﻲﻗﺎﺳﻠﺍﺔﻟﻣﺎﺷ ﻲﺗﻟ ﺍ ﺎﻬﺗﺮﻅﻧ ﻚﺭﺣﺘ‬ 13d. (‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ( ﻲﻗﺎﺳﻠﺍ ﻞﻤﺸﺘ ﻲﺗﻟ ﺍ ﺎﻬﺗﺮﻅﻧ ﻚﺭﺣﺘ‬ ‘Dia menggerakkan matanya yang menyapu sekeliling ruangan kemarin. ﻲﻗﺎﺳﻠﺍ‬Walaupun kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷ‬di-idafah-kan kepada kata ‫ . jilid III) juga menyatakan bahwa ism fa‘il yang ber. sekarang. Untuk menjelaskannya.

maka makna waktu yang dikandung menjadi mudari‘. ﻚﺭﺣﺘ‬Perubahan waktu seperti ini tentu berbeda dengan tujuan penggunaan ism fa‘il tersebut. sedangkan ‘amal-nya adalah kata ‫ . karena didahului oleh kata ‫ . Jika kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬dibaca dengan tanwin. Kata ‫ﺔﻟﻣﺎﺷ‬ juga menjadi hal. ‫ﻲﻗﺎﺳﻠ ﺍﺔﻟﻣﺎﺷ ﺎﻬﺗﺮﻅﻧ ﻚﺭﺣﺘ‬ ‘Dia menggerakkan matanya yang sedang menyapu sekeliling ruangan’ Bila kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷ‬dibaca dengan tanwin maka kata ‫ ﻲﻗﺎﺳﻠ ﺍ‬menjadi maf‘ul. Perhatikan pula kalimat 13d! Kata ‫ ﻞﻤﺸﺘ‬adalah fi‘l mudari‘ yang menunjukkan makna fi‘l mudari‘. Sahibul hal-nya adalah damir mustatir. maka kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬harus dibaca dengan tanwin. 14a.itu dibuang. Al. tetapi karena didahului oleh kata ‫ .pada kata ‫ ﺔﻟﻣﺎﺷﻠﺍ‬tidak boleh dibuang. 1982: 9) ‘Kedatangan-kedatangannya tidak mengijinkan dia untuk ragu terus-menerus dalam kesia-siaan’ ‫ﻢﻠ‬ ‫ﻦﻛﺗ‬ : harf jazm : fi‘l naqis majzum ‫ﻩ‬ ‫ﺏ‬ : majrur : harf jarr ‫ : ﺪﺮ ﺍﻮﻤ‬khabar fi‘l naqis dan mudaf ‫ : ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺍ‬majrur ‫ﻩ‬ ‫ﺢﻤﺴﺘ‬ : mudaf ilaih : khabar fi‘l naqis ‫ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬ ‫ﻰﻠﻋ‬ : na‘t : harf jarr . ‫( ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺎﺑ ﻪﻟ ﺢﻤﺴﺘ ﻩﺪﺮ ﺍﻮﻤ ﻦﻛﺗ ﻢﻠ‬Mahfuz. karena jika al. ﻲﺗﻟ ﺍ‬maka makna waktu yang dikandung juga menjadi makna dawam. ﻲﺗﻟﺠ ﺍ‬Kata ‫ﻲﺗﻟﺠ ﺍ‬ menunjukkan bahwa makna waktu yang dikandung adalah makna dawam. misalnya pada kalimat berikut ini: 13e.‫ ﺔﻟﻣﺎﺷ‬memiliki makna madi.

yang ada pada ism fa‘il dan ism maf‘ul disebut al.al-mausuliyah. kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬pada kalimat 14a itu diganti dengan ism mausul. karena menurut al-Galayaini (2000: 153. kalimat 14a diubah menjadi: 14c. ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺍ‬Tanda jarr-nya adalah kasrah zahirah karena kata ‫ ﻢﺌﺠ ﺍﺩﻠﺍ‬berbentuk mufrad. Tanda jarr-nya berupa kasrah zahirah karena kata ‫ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺍ‬berbentuk mufrad. (‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ( ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﻭ ﺩﻴ ﻱﺬﻠﺍ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺎﺑ ﻪﻟ ﺢﻤﺴﺘ ﻩﺪﺮ ﺍﻮﻤ ﻦﻛﺗ ﻢﻠ‬ ‘Kedatangan-kedatangannya tidak mengijinkan dia untuk ragu terus-menerus dalam kesia-siaan’ .‫ﻝ‬ : harf jarr ‫ : ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ‬majrur Ism fa‘il dalam kalimat 14a adalah kata ‫ . Kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬ber-i‘rab jarr karena kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬menjadi na‘t dari kata ‫ . Kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬adalah na‘t mufrad karena ia berbentuk ism mufrad. 14b.al-mausulah dengan syarat tidak untuk menjelaskan jins atau ‘ahd. ‫ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﺌ ﺍﺩ ﻱﺬﻠﺍ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺎﺑ ﻪﻟ ﺢﻤﺴﺘ ﻩﺪﺮ ﺍﻮﻤ ﻦﻛﺗ ﻢﻠ‬ ‘Kedatangan-kedatangannya tidak mengijinkan dia untuk ragu yang terusmenerus dalam kesia-siaan’ Al-Galayaini (2000: 280. jilid III) juga menyatakan bahwa ism fa‘il yang ber. 2000: 434). Untuk menjelaskannya. yaitu ba’. ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬Kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﻢ ﺍﺩ . maka untuk menjelaskan makna mausulah ini. Tetapi.al memiliki makna dawam. Dari kata ‫ﻢ‬ ‫ ﻭ ﺩﻴ‬dibentuk ism fa‘il ‫ ﻢﺌ ﺍﺩ‬dengan mengikuti wazn ‫ . ﻢ ﻭ ﺩﻴ‬terus berlangsung’ (Munawwir’. jilid I). Selanjutnya kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩ‬diberi al. ﻞﻋﺎﻓ‬Waw diubah menjadi hamzah. al. (‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ( ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﺌ ﺍﺩ ﻱﺬﻠﺍ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺎﺑ ﻪﻟ ﺢﻤﺴﺘ ﻩﺪﺮ ﺍﻮﻤ ﻦﻛﺗ ﻢﻠ‬ 14d. Kata ‫ ﺩﺠ ﺩﺮﺗﻟﺍ‬ber-i‘rab jarr karena didahului oleh harf jarr.

ﻲﻀﻤﻴ‬berlalu’ (Munawwir’. bukan berarti kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩ‬memiliki makna mudari‘. maka makna waktu yang dikandung menjadi mudari‘. Dari kata ‫ﻲﻀﻤﻴ‬ dibentuk ism fa‘il ‫ ﺽﺎﻣ‬dengan mengikuti wazn ‫ . Perhatikan pula kalimat 14d! Kata ‫ ﻢﻭ ﺩﻴ‬adalah fi‘l mudari‘ yang menunjukkan makna fi‘l mudari‘. ﻱﺬﻠﺍ‬ maka makna waktu yang dikandung juga menjadi makna dawam. majzum ‫ : ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ‬ism fi‘l naqis ‫ﺍﺭﺷ‬ : khabar fi‘l naqis Ism fa‘il dalam kalimat 15a adalah kata ‫ . ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ‬Kata ‫ ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ‬adalah ism fa‘il dari kata ‫‘ ﻰﻀﻣ . 2000: 1342).Kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩ‬pada kalimat 14c merupakan silah mausul. 15a. karena didahului oleh kata ‫ .itu dibuang. Al. maka kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬harus dibaca dengan tanwin. ﻞﻋﺎﻓ‬Ya’ dibuang karena berat diucapkan.pada kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬tidak boleh dibuang. karena jika al. ‫ﻰﻬﻠﻤﻠ ﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﺌ ﺍﺩ ﺩ ﺩﺮﺗﻟ ﺎﺑ ﻪﻟ ﺢﻤﺴﺘ ﻩﺪﺮ ﺍﻮﻤ ﻦﻛﺗ ﻢﻠ‬ ‘Kedatangan-kedatangannya tidak mengijinkan dia untuk ragu terus-menerus dalam kesia-siaan’ Bila kata‫ ﻢﺌﺠ ﺍﺩﻠﺍ‬dibaca dengan tanwin maka kata ‫ ﻢﺌﺠ ﺍﺩﻠﺍ‬tidak memenuhi syarat menjadi na‘t karena tidak sesuai dengan man‘ut-nya dari segi ma‘rifah.pada kata ‫ ﺽﺎﻣ‬mengakibatkan ya’ yang tadinya dibuang harus dimunculkan. Masuknya al. misalnya: 14e. ﻱﺬﻠﺍ‬Kata ‫ ﻱﺬﻠﺍ‬yang menunjukkan bahwa makna waktu yang dikandung adalah makna dawam. tetapi karena didahului oleh kata ‫. Jika kata ‫ ﻢﺌ ﺍﺩﻠﺍ‬dibaca dengan tanwin.al-mausuliyah. Kata . ‫( ﺍﺭﺷ ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ ﻥﻜﻴ ﻢﻠ‬Mahfuz. 1982: 11) ‘Yang berlalu belum tentu buruk’ ‫ﻢﻠ‬ ‫ﻥﻜﻴ‬ : harf jazm : fi‘l naqis. Selanjutnya kata ‫ ﺽﺎﻣ‬diberi al. Walaupun kata ‫ﻢﺌ ﺍﺩ‬ ber-tanwin.

Perhatikan pula kalimat 15d! Kata ‫ ﻲﻀﻤﻴ‬adalah fi‘l mudari‘ yang menunjukkan makna fi‘l mudari‘. jilid III) juga menyatakan bahwa ism fa‘il yang ber. Untuk menjelaskan makna mausulah ini. ‫ﺍﺭﺷ ﺽﺎﻣ ﻱﺬﻠﺍ ﻥﻜﻴ ﻢﻠ‬ ‘Yang berlalu belum tentu buruk’ Al-Galayaini (2000: 280. tetapi karena didahului oleh kata ‫ . al kata ‫ ﻲﺿﺎﻤﻠﺠ ﺍ‬pada kalimat 15a itu diganti dengan ism mausul.ﻱﺬﻠﺍ‬Kata ‫ ﺽﺎﻣ‬bisa menjadi silah mausul.al memiliki makna dawam. kalimat 15a diubah menjadi: 15c.yang ada pada ism fa‘il dan ism maf‘ul disebut al.‫ ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ‬ber-i‘rab raf‘ karena kata ‫ ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ‬menjadi ism dari kata ‫ . Untuk menjelaskannya. Damir ‘aid pada silah mausul yang kembali pada kata ‫ ﻱﺬﻠﺍ‬adalah damir mustatir ‫ ﻭﻫ‬yang ada baik pada kata ‫ﺽﺎﻣ‬ . jilid I). tetapi kata ‫ ﺽﺎﻣ‬memiliki makna fi‘l mudari‘. Perhatikan kalimat berikut ini: 15b.al-mausulah dengan syarat tidak untuk menjelaskan jins atau ‘ahd. (‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ( ﺍﺭﺷ ﺽﺎﻣ ﻱﺬﻠﺍ ﻥﻜﻴ ﻢﻠ‬ 15d.ﻱﺬﻠﺍ‬maka makna waktu yang dikandung juga menjadi makna dawam. karena walaupun berbentuk ism fa‘il. Akan tetapi. (‫ﺍﺩﻏ ﻭ ﺃ ﻦﻵﺍ ﻭ ﺃ ﺲﻣﺃ ( ﺍﺭﺷ ﻲﻀﻤﻴ ﻱﺬﻠﺍ ﻥﻜﻴ ﻢﻠ‬ ‘Yang sedang berlalu belum tentu buruk’ Kata ‫ ﺽﺎﻣ‬pada kalimat 15c merupakan silah mausul al-khas karena terletak setelah kata ‫ . Kata ‫ ﻲﺿﺎﻤﻠ ﺍ‬adalah ism dari kata ‫ ﻥﻜﻴ‬yang berbentuk ism mufrad. al. ﻥﻜﻴ‬Tanda raf‘nya adalah dammah muqaddarah karena kata ‫ ﻲﺿﺎﻤﻠﺠ ﺍ‬berbentuk mufrad dan diakhiri oleh alif mamdudah. karena menurut al-Galayaini (2000: 153.

ﻲﻀﻤﻴ‬Ism mausul beserta silah-nya pada kalimat 15c dan 15d menempati posisi sebagai ism dari ‫ .memiliki makna dawam. .maupun kata ‫ . ﻥﻜﻴ‬Dari analisis-analisis ini disimpulkan bahwa ism fa´il yang mendapat tambahan al.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful