MAKALAH FARMAKOKIMIA

INTERAKSI OBAT RESEPTOR

Disusun Oleh: Wagiyanti Annishfia L.R. Maya Indra R. Nurul Rahma F. Prihatiwi A. Kelompok Kelas FA/08395 FA/08399 FA/08400 FA/08405 FA/08406 : IX : FSI 2009

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

INTERAKSI OBAT RESEPTOR A. PENDAHULUAN Obat adalah senyawa kimia unik yang dapat berinteraksi secara selektif dengan sistem biologi. Obat dapat memicu suatu sistem dan menghasilkan efek, dapat menekan suatu sistem, atau tidak berinteraksi secara langsung dengan suatu sistem tetapi dapat memodulasi efek dari obat lain. Reseptor didefinisikan sebagai suatu makromolekul seluler yang secara spesifik dan langsung berikatan dengan ligan (obat, hormon, neurotransmiter) untuk memicu proses biokimiawi antara dan di dalam sel yang akhirnya menimbulkan efek. (Ikawati, 2006). Reseptor merupakan senyawa biopolimer dalam tubuh orgnisme yang dapat berinteraksi dengan senyawa kimia tertentu sehingga menghasilkan tanggapan biologis. Secara umum, reseptor adalah suatu protein integral misalnya makromolekul polipeptida yang tertanam pada lapisan fosfolipida pada membran sel. Reseptor bekerja dalam lingkungan membran sel, sehingga sifat dan mekanisme aksi dari reseptor akan tergantung pada lingkungan kimia dari membran fosfolipid. Selain di membran sel, beberapa reseptor juga terdapat di dalam sitoplasma dan membran inti sel. Reseptor berfungsi untuk mengenal dan mengikat suatu ligan/obat dengan spesifitas yang tinggi dan meneruskan signal tersebut ke dalam sel melalui beberapa cara yaitu: 1. Perubahan permeabilitas membran 2. Pembentukan second messenger 3. Mempengaruhi transkripsi gen

Gambar 1. Pengikatan ligan oleh reseptor dan penerusan sinyal.

2

Berdasarkan tranduksi sinyalnya, maka reseptor dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu: a. Reseptor kanal ion (reseptor ionotropik) Reseptor kanal ion merupakan reseptor membran yang langsung terhubung oleh suatu kanal ion dan memperantarai aksi simpatik yang cepat. Contoh : reseptor asetilkolin nikotonik, GABA, dan glutamat. b. Reseptor terhubung dengan protein G Reseptor terhubung protein-G merupakan reseptor membran yang tergandeng dengan sistem efektor yang disebut protein G. Selain disebut reseptor metabotropik, reseptor ini juga sering disebut reseptor 7 trans membran karena rangkaian peptide ini melintasi membrane sebanyak 7 kali. Reseptor ini memperantarai aksi yang lambat beberapa neurotransmitter dan hormon. Contoh : reseptor adrenergik, serotonin, dan asetilkolin muskarinik. c. Reseptor yang terkait dengan aktifitas kinase (tirosin kinase) Reseptor tirosin kinase merupakan reseptor single transmembran yang memiliki aktivitas kinase dalam sinyal transduksinya. Contoh : reseptor sitokin, growth factor, dan insulin. d. Reseptor intrasel Reseptor intraseluler merupakan jenis reseptor yang berada pada membran sel khususnya pada sitoplasma dan nukleus. Artinya langsung mengatur transkripsi gen yang menentukan sintesis protein tertentu.Contoh : reseptor PPARγ.

Gambar 2. Macam reseptor berdasar transduksi sinyal.

3

Interaksi obat-reseptor terjadi melalui dua tahapan yaitu : 1. Macam reseptor berdasar transduksi sinyal.Gambar 3. Interaksi yang dapat menyebabkan perubahan konformasi makromolekul protein sehingga timbul respon biologis dan memerlukan efikasi atau aktivitas intrinsik. Interaksi molekul obat dengan reseptor spesifik dan memerlukan energi 2. Untuk dapat berinteraksi dengan reseptor spesifik molekul obat harus mempunyai faktor sterik dan distribusi muatan yang spesifik pula. Teori ini memperkirakan satu molekul obat akan menempati satu sisi reseptor. Teori Pendudukan Dikemukakan oleh Clark pada tahun 1926. Obat harus diberikan dalam jumlah 4 . antara lain: 1. Interaksi yang terjadi antara struktur dalam tubuh (sisi reseptor) dengan molekul asing yang sesuai (obat) yang saling mengisi akan menimbulkan suatu respon biologis. dimana obat tidak akan dapat menimbulkan efek tanpa mengikat reseptor. B. Ada beberapa teori interaksi obat-reseptor. TEORI OBAT RESEPTOR Mekanisme timbulnya respon biologis dapat dijelaskan dengan teori interaksi obatreseptor. Teori Klasik Ehrlich (1907) memperkenalkan istilah reseptor dan membuat konsep sederhana tentang interaksi antara obat-reseptor. 2.

Setiap struktur molekul obat harus mengandung bagian yang secara bebas dapat menunjang afinitas interaksi obat dengan reseptor dan mempunyai efisiensi untuk menimbulkan respon biologis akibat kompleks obat – resptor. Hal di atas digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan mekanisme kerja obat pada 5 . Contohnya pada pengikatan substrat pada enzim fosfoglukomutase dapat menginduksi perubahan konformasi enzim. Diduga bahwa enzim atau protein membran memegang peranan penting dalam pengangkutan ion. 3. maka terjadi efek antagonis. 4. Senyawa dikatakan agonis jika kecepatan asosiasi (sifat mengikat reseptor) dan disosiasi besar. Perubahan konformasi ini menyebabkan asam amino lisin dan metionin menjadi “tertutup” dan gugus SH menjadi terbuka. Teori Kesesuaian Terimbas (Fit-induced Theory) Koshland (1958) mengemukakan bahwa ikatan enzim dan substrat dapat menginduksi terjadinya perubahan konformasi struktur enzim sehingga menyebabkan orientasi gugus-gugus enzim. Pada teori ini. Teori Kecepatan Croxatto dan Huidobro (1956). Bila perubahan struktur protein mengarah pada konfigurasi sehingga obat tidak terikat kuat dan mudah terdisosiasi maka terjadi efek agonis. memberikan postulat bahwa obat hanya efisien pada saat berinteraksi dengan reseptor. Kemudian teori ini dijelaskan oleh Paton (1961) yang mengemukakan bahwa efek biologis setara dengan kecepatan ikatan obatreseptor dan bukan dari jumlah reseptor yang diduduki oleh obat. Jadi respon biologis merupakan fungsi dari jumlah kompleks obat-reseptor. Sedangkan bila obat menjadi terikat cukup kuat. Dan senyawa agonis parsial adalah jika kecepatan asosiasi dan disosiasinya tidak maksimal. Senyawa dikatakan antagonis jika kecepatan asosiasi sangat besar sedangkan disosiasinya kecil. tipe kerja obat ditentukan oleh kecepatan penggabungan (asosisasi) dan peruraian (disosiasi) komplek obat-reseptor dan bukan dari pembentukan komplek obat-reseptor yang stabil. Besar efek biologis yang terjadi sesuai dengan jumlah reseptor spesifik yang diduduki molekul obat yang juga sebanding dengan banyak kompleks obat-reseptor yang terbentuk. Respon biologis yang terjadi dapat merupakan rangsangan aktivitas (efek agonis) dan pengurangan aktivitas (efek antagonis).berlebih agar tetap efektif selama proses pembentukan kompleks.

terjadi efek antagonis. 5. Bila interaksi obatprotein mengakibatkan perubahan struktur protein sehingga obat terikat cukup kuat. Pada teori ini intinya adalah bahwa reseptor bisa menyesuaikan bentuk obatnya jika sudah berdekatan dengan obat (Siswandono dkk. seperti asetilkolin. terikat pada protein membran yang bersifat amfifil. Senyawa dikatakan agonis bila keseimbangan menuju ke bentuk teraktifkan. Sedangkan obat antagonis tidak mempunyai aktivitas intrinsik dan dapat mengubah struktur reseptor menjadi bentuk NSCP sehingga menimbulkan efek pemblokan (Gangguan konformasi tidak spesifik). 2000). hormon peptida. Teori Gangguan Makromolekul (Teori Usikan Makromolekul) Menurut Belleau (1964). reseptor berada dalam kesetimbangan dinamik antara dua keadaan yang berbeda fungsinya. dan serotonin. yaitu bentuk teraktifkan yang dapat menunjang efek biologi dan bentuk istirahat yang tidak dapat menunjang efek biologis. distabilkan oleh 6 . akan mengikat reseptor atau protein membran dan mengubah kekuatan normal yang menstabilkan struktur protein. Diduga bahwa enzim atau protein membrane memegang peranan penting dalam mengatur pengangkutan ion. Dan senyawa dikatakan agonis parsial bila terjadi bentuk dari keduanya. antihistamin pada reseptor histamin A (Siswandono dkk. norepinefrin. interaksi mikromolekul obat dengan makromolekul protein dapat menyebabkan terjadinya perubahan bentuk konformasi reseptor. Reseptor dari banyak senyawa bioaktif endogen. terjadi efek agonis. 6. histamin. 2000). Senyawa dikatakan antagonis bila keseimbangan menuju ke bentuk istirahat. Senyawa agonis biasanya bersifat sangat polar. Obat agonis mempunyai aktivitas intrinsik dan dapat mengubah struktur reseptor menjadi bentuk SCP sehingga menimbulkan respon biologis (Gangguan konformasi spesifik).reseptor. Teori Pendudukan-Aktivasi Ariens dan Rodrigues de Miranda (1979) mengemukakan bahwa sebelum berinteraksi dengan obat. Contohnya: Garam akriltrimetilamonium pada reseptor muskarinik atau asetilkolinesterase. Substrat. Bila perubahan struktur protein mengarah pada konfigurasi sehingga obat terikat kurang kuat dan mudah terdisosiasi. seperti asetilkolin. Proses interaksi enzim-substrat dijelaskan dengan mekanisme model tempat aktif elastis. terjadi penataulangan struktur membran sehingga sifat pengaturan ion berubah.

glucagon. Interaksi hormonreseptor dapat mempengaruhi kadar siklik-AMP dalam intrasel. 1. 8. distabilkan oleh reseptor yang bersifat hidrofob dan dalam keadaan istirahat sehingga akan menggeser keseimbangan menuju ke bentuk istirahat. Interaksi kaptopril dengan ACE dapat berlangsung karena adanya gugus-gugus farmakofor spesifik dan hal ini dapat digunakan untuk merancang turunan kaptopril lain seperti enalapril dan lisinopril.bentuk konformasi reseptor yang relatif polar dan akan menggeser kesetimbangan menuju ke bentuk teraktifkan yang bersifat lebih hidrofil. Konsep Kurir Kedua (Second Messenger) Reseptor dari banyak hormon berhubungan erat dengan sistem adenil siklase. Bila rangsangan tersebut meningkatkan kadar siklikAMP. Tempat pengikatan senyawa agonis dan antagonis tidak perlu ditunjang oleh hubungan struktur dari masing-masing obat (Siswandono dkk. akan dipelajari aspek molekuler dan topografi serta stereokimia kompleks obat-reseptor. C. Enalapril mempunyai masa kerja lebih panjang karena mengandung gugus-gugus yang bersifat lebih lipofil. Teori Mekanisme dan Farmakofor sebagai dasar Rancangan Obat Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: Obat hipertensi penghambat kompetitif enzim pengubah angiotensin (ACE) seperti kaptopril dapat mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II sehingga menimbulkan efek peningkatan tekanan darah. hormon dianggap sebagai first messenger. Sebagai contoh katekolamin. 7. 2000). tergantung dari rangsangan dari adenilsiklase. sedangkan siklik-AMP sebagai second messenger. hormon paratiroid. Susunan spasial atom Struktur antihistamin secara umum adalah sebagai berikut: 7 . Senyawa antagonis mempunyai gugus-gugus yang bersifat hidrofob. dan histamine telah menunjukkan pengaruhnya terhadap kadar siklik-AMP. TOPOGRAFI DAN PERTIMBANGAN STEREOKIMIA Dalam bagian ini. serotonin.

Antihistamin dipakai secara luas untuk mengobati gejala tersebut. dan syok anafilaktik. Kesamaan struktur antihistamin menunjukkan bahwa ada situs pengikatan spesifik pada reseptor histamin H1 yang memiliki topoghrapy sesuai yang dapat ber interaksi dengan kelompok tertentu pada antihistamin yang diatur dalam konfigurasi yang sama.sehingga reaksi antigen-antibodi terjadi. atau heteroaril. yang bertanggung jawab dalam respon biologis. C-C adalah sebuah rantai karbon pendek yang mungkin jenuh. Meskipun antihistamin merupakan antagonis kompetitif histamin untuk reseptor H1. Bagian-bagian dari molekul obat yang berinteraksi dengan reseptor dikenal sebagai pharmacopore senyawa. Ikatan histamine dengan reseptor H1 dapat menstimulasi otot polos dan menyebabkan reaksi hipersensitiv atau alergi seperti demam.Gambar 4. senyawa ini disebut antihistamin karena mereka merupakan antagonis dari reseptor histamin yang dikenal sebagai reseptor H1.. Akibatnya. dimana Ar1 adalah aril. misalnya fenil. kebanyakan H1 bloker mengandung golongan amino tersier. fenil tersubstitusi. golongan ini akan terprotonasi. set yang sama dari atom-atom pada reseptor tidak perlu berinteraksi dengan agonis dan antagonis histamin. Dari tampilan yang sangat sederhana interaksi obat-reseptor . mengandung ikatan ganda. atau menjadi bagian dari sistem cincin. dermatitis kontak dan atopik. Jika orang yang peka terkena alergen. kecuali untuk efek mereka pada arah rotasi 8 . urtikaria. maka antibody akan diproduksi. Pada pH fisiologi. atau CH-. biasanya dimetiamin atau pirolidin. ada kemungkinan bahwa persyaratan minimum yang mengikat. X berupa CH-O. Interaksi tersebut melibatkan banyak interaksi lain. yaitu senyawa gambar cermin yang identik di semua sifat fisik dan kimia. Tidak seperti histamine. tidak mungkin untuk merasionalisasi fakta bahwa enantiomer. N-. ruam obat. termasuk muatan negatif pada reseptor untuk berinteraksi dengan kation amonium dan hidrofobik (van der Waals) dalam interaksi dengan kelompok aril. sulit untuk membuat kesimpulan mengenai struktur reseptor berdasarkan hubungan struktur-aktivitas antihistamin. gatal. Struktur antihistamin. Karena esensialitas dari berbagai bagian dari molekul antihistamin. bercabang. Sedangkan Ar2 berupa aril atau metal aril.

Dalam kasus tersebut.epinefrin. Enantiomer juga mungkin memiliki efek yang berlawanan. Senyawa kiral dapat memiliki stereoselektivitas dengan aksi reseptor. dan tidak ada hubungannya dengan konfigurasi stereokimia molekul. tetapi dengan substituen yang berbeda dapat memiliki nomenklatur kiral berlawanan. Distomer sebenarnya dianggap sebagai pengotor dalam campuran atau. isomer lebih aktif disebut eutomer. reseptor α-adrenergik memediasi efek vasokonstriksi dari katekolamin pada otot polos bronkus. (R )-(-). Rasio potensi enansiomer disebut rasio eudismic. sedangkan isomer yang kurang aktif disebut distomer. dapat memiliki sifat mengikat agak berbeda dengan reseptor. jika setidaknya ada tiga situs mengikat. Kiralitas obat dan reseptor Dua kompleks yang terbentuk antara reseptor dan dua enantiomer merupakan diastereomer. struktur reseptor αadrenergik yang berikatan dengan epinefrin tidak diketahui. Rasio eudismic (R / S) untuk aktivitas vasokonstriktor dari epinefrin hanya 12- 9 . dan stereoselektivitas dari satu senyawa dapat bervariasi untuk reseptor yang berbeda. Namun. disebut ballast isomerik. Harus diingat bahwa (+) dan () nomenklatur mengacu pada efek senyawa pada arah rotasi bidang cahaya terpolarisasi. reseptor dengan mudah dapat membedakan keduanya. dua senyawa yang memiliki stereokimia yang sama. berinteraksi dengan reseptor yang hanya memiliki dua binding site. Menurut nomenklatur Ariens. sehingga memiliki energi dan sifat kimia yang berbeda. S) ditentukan oleh nomor atom dari substituen sekitar pusat kiral. Hal ini dapat menjelaskan bahwa reseptor tidak dapat membedakan kedua enantiomer tersebut. ketika ada stereoselektivitas isomer. Karena konvensi (R.isomer hanya dapat memiliki dua situs interaksi. 2. Easson dan Stedman merupakan yang pertama mengenalkan konsep “three-point attachment” ini: reseptor dapat membedakan enantiomer jika ada sedikitnya tiga binding site. Stereokimia tentang atom karbon kiral dicatat oleh konvensi (R. dan rahim. distomer untuk aktivitas biologis merupakan eutomer untuk efek samping. S) Cahn et al.dan (S )-(+). usus. dalam terminologi Ariens. Reseptor mampu mengenali dan selektif mengikat isomer optik. akibatnya ia memiliki energi ikatan yang lebih rendah. Seperti pada reseptor β-adrenergik. Dua enantiomer.bidang cahaya terpolarisasi . Hal tersebut dapat menyebabkan efek samping dan toksisitas yang tidak diinginkan. seperti (R )-(-).

Komformer yang berikatan tidak membutuhkan energi rendah ditentukan secara yang diamati di bagian kristalnya. harus diingat bahwa istilah ini didasarkan pada konvensi yang berbeda. 4. Isomer geometris Isomer geometrik merupakan diastereomer. 3. Meskipun dalam beberapa kasus cis dan trans nomenklatur tidak sesuai dengan Z dan E. Misalnya. Sehingga merupakan senyawa yang berbeda. interaksi reseptor juga akan berbeda. yang menunjukkan bahwa ada perbedaan yang relatif kecil dalam energi ikatan untuk dua isomer dengan reseptor α-adrenergik. yang mungkin disebabkan oleh struktur keseluruhan dan jarak interatomik antara dua hidroksil dalam oleh spektrofotometri magnet resonance nuclear (NMR). E nomenklatur adalah tatanama yang lebih jelas bila digunakan. Sebuah pharmacopore tidak hanya didefinisikan sebagai serangkaian konfigurasi dari sebuah atom melainkan juga konformasi mereka pada hubungannya dengan reseptor. Ikatan energi antara ikatan reseptor mampu mengatasi formasi yang tidak stabil akibat konformasi. potensi neuroleptik dari Z-isomer obat antipsikotik chlorprotixene lebih dari 12 kali lebih besar daripada dalam bentuk E-isomer. sebuah obat dapat mengalami banyak konformasi dalam stukturnya. Dalam rangka untuk 10 . sebagaimana sinar-X. jadi menimbulkan banyak kebingungan. Asumsi bahwa interaksi obat-reseptor energi conformer terendah merupakan masalah terpenting dalam banyak desain grafis molekul obat. Reseptor dapat mengikat satu conformer.20. atau ditentukan teoritis dengan kristalografi 14 kali lebih besar dari Z-isomer. Selain itu. stereoisomer yang memiliki atom yang berbeda penataan ruang. Karena memiliki konfigurasi yang berbeda. Sebaliknya. atau teori perhitungan mekanik molekular. aktivitas antipsikotik dari serangkaian Z-2-tersubstitusi analog doksepin ditemukan secara signifikan lebih besar daripada dalam E-isomer. Konformasi Isomer Sebagai akibat dari rotasi bebas dari ikatan dalam molekul asiklik dan fleksibilitas konformasi dalam beberapa senyawa siklik. E-isomer dari obat antikanker dietilstilbestrol memiliki aktivitas estrogenik isomer E-mirip dengan estradiol. Z.

37c). Pada uji relaksasi otot terhadap beberapa subyek. Tiga konformasi kursi yang rigid disintesis untuk menentukan efek pada ikatan dengan reseptor.diperoleh hasil bahwa konformasi 3. Energi konformasi kapal lebih tinggi 6kkal dibandingkan dengan konformasi kursi.(3.39>3. Cincin piperidin bisa berada dalam berbagai konformasi bebas R=F-C6H4CO(CH2)3 memiliki dua bentuk konformasi kursi dan dua bentuk konformasi kapal.37b lebih stabil dari 3.05 kkal/mol pada suhu 40ºC. dapat digunakan untuk mengetahui kepastian konformasi aktif dari kompleks antara obat dengan reseptor. Melalui pendekatan yang unik. Pendekatan ini dapat digunakan untuk meningkatkan sintesis molekul obat yang lebih rigid melalui analog rigid konformasi. seperti pada obat 11 . Topologi cincin Obat-obat golongan psychomimetic akan memberikan banyak efek akibat aktivitas transisi yang berasal dari struktur-struktur suatu senyawa. 5. Sebagai contoh yakni senyawa piperidin.konformasi dengan gugus hidroksi pada bagian ekuatorial.aksial maupun gabungan keduanya. Analog konformasi rigid merupakan pilihan yang tepat karena lebih menguntungkan karena hanya memiliki sedikit efek anti emetik/mencegah muntah. Sedangkan pada konformasi kursi. Hal ini n yang akan mengakibatkan tidak adanya ikatan hidrogen yang terjadi. Perbedaannya berada dalam bentuk energi bebas diantara bentuk gugus hidroksi dibagian aksial dan equatorial yang terhubung dengan senyawa N-metil-4-piperidinol yakni sebesar 0.94±0.40>3.38 hal itu menunjukkan bahwa konformasi aksial lebih stabil dibanding dengan yang lain.desain obat yang lebih efisien sangat penting untuk mengetahui konformasi aktif dalam komplek obat reseptor. terdapat 3 bentuk konformasi yang berbeda. hal ini disebabkan pada konformasi kapal terdapat ikatan hidrogen sehingga senyawa cenderung lebih stabil.

41). sedangkan campuran antidepresan-penenang akan menghambat sudut α. Sudut α dibentuk dengan cara menekuk bidang cincin(3.46).penenang klorpromazin(3.43).42) yang memiliki efek samping penenang. dan β tidak γ. 6. 3 bagian dari kanal membuka. Pergerakan ion-ion kalsium ke dalam sel sangat penting untuk eksitasi dan kontraksi dari otot jantung. dan obat antidepresan murni seperti imipramin(3. Ligan dapat memperoleh akses dengan permeasi membran atau melalui bentuk saluran terbuka. Kanal Ion Bloker Kanal ion adalah sebuah politransmebran yang terbentuk dari 3 elemen. baik α.44).Efek penenang disebabkan penghambatan dari suatu molekul obat pada sudut alpha dan gamma tidak beta.β dan γ. kanal ion natrium akan membuka kemudian ion natrium akan masuk dan akan terjadi kelebihan potensial di dalam sel. Pergerakan konformasi adalah komponen integral yang berfungsi pada kanal ion. Ketika potensial sel jantung mencapai ambang batas. Sedang sudut γ adalah sudut torsi cincin aromatik dilihat dari sisi molekul(3. keadaan ini menyebabkan jumlah ion kalsium 12 . menutup dan teraktivasi semua diyakini diatur oleh ke saluran baik perubahan konformasi. Sebuah pori yang bertanggung jawab terhadap perpindahan ion dan satu atau lebih gates yang membuka dan menutup karena respon spesifik yang diterima. Sedangkan untuk antidepresan murni akan menghambat ketiga cincin. Efek steroelektronik merupakan faktor kunci yang menyebabkan adanya perbedaan jalur mekanisme timbulnya efek penenang dan antidepresan. antidepresan amitriptilin (3. Sudut β dibentuk dari perpanjangan melalui karbon no 1 dan karbon no 4 yang dipotongkan.

dan hipertensi. senyawa dapat menggabungkan beberapa ikatan yang lemah sehingga secara total menghasilkan ikatan yang cukup kuat dan stabil (Siswandono. Ikatan obat-reseptor antara lain sebagai berikut : Gambar 5. Sehingga adanya ion-ion calcium channel blocker seperti verapamil nifedipin dan diltiazem dapat digunakan sebagai obat antiangina (mengurangi produksi oksigen). IKATAN YANG TERLIBAT DALAM INTERAKSI OBAT-RESEPTOR Respons biologis terjadi akibat adanya interaksi molekul obat dengan gugus fungsional molekul reseptor. Kanal ion berfungsi dalam kontraksi otot. Tipe-tipe ikatan yang terlibat pada interaksi obat-reseptor. Pada umumnya ikatan obat-reseptor bersifat reversible sehingga obat segera meninggalkan reseptor bila kadar obat dalam cairan ekstrasel menurun. 13 . Adanya blokade ini akan menyebabkan berkurangnya kadar Ca di dalam sel sehingga akan menurunkan kekuatan kontraksi otot jantung sehingga kekuatan jantung untuk memompa oksigen akan berkurang. aritmia jantung. Mekanismenya adalah sebagai berikut: obat-obat golongan Ca-bloker akan bekerja dengan cara menyekat kanal ion Ca tipe L. Interaksi ini dapat berlangsung karena adanya kekuatan ikatan kimia tertentu. Untuk ini ikatan yang terlibat pada interaksi obat-reseptor relatif lemah tapi masih cukup kuat untuk berkompetisi dengan ikatan lain. D. Pada interaksi obat dengan reseptor.rendah. 2000).

Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang paling kuat dengan rata-rata kekuatan ikatan 100 kkal/mol. dan tiotepa. Mekanisme reaksi alkilasi mekloretamin dengan protein sel kanker. siklofosfamid. seperti gugus karboksilat. Interaksi obat-reseptor melalui ikatan kovalen menghasilkan ikatan yang cukup stabil. 14 .dan membentuk kation antara yang tidak stabil yaitu ion etilen imonium. Ikatan kovalen Ikatan kovalen terbentuk bila ada dua atom saling menggunakan sepasang elektron secara bersama-sama. dengan gugus elektron donor. Akibatnya proses pembentuan sel menjadi terganggu dan pertumbuhan sel kanker dihambat. Gambar 6 .1. Ikatan kovalen merupakan interaksi obat-reseptor yang jarang terjadi selain pada enzim dan DNA (Istyastono. 2006). Mekanisme kerjanya dengan cara senyawa dapat melepas Cl. fosfat dan sulfhidril pada rantai asam amino. 2000). Contoh : mekloretamin. klorambusil. Contoh obat yang mekanisme kerjanya melibatkan ikatan kovalen : a. Dengan kekuatan ikatan yang tinggi ini. dan sifat ini dapat digunakan untuk tujuan pengobatan tertentu (Siswandono dkk. asam nukleat dan protein yg sangat dibutuhkan untuk proses biosintesis sel. Turunan nitrogen mustar Turunan nitrogen mustard adalah senyawa pengalkilasi yang pada umumnya digunakan sebagai obat antikanker. Ion ini dapat bereaksi via reaksi alkilasi. pada suhu normal ikatan bersifat reversible dan hanya dapat pecah bila ada pengaruh katalisator enzim tertentu. kemudian diikuti pemecahan cincin membentuk ion karbonium yang bersifat reaktif.

pengobatan 15 . b . suatu gugus fungsional dari sisi aktif enzim asetikolinesterase. Gambar 8. Reaksi asilasi ini menyebabkan kekuatan dinding sel bakteri menjadi lemah dan mudah terjadi lisis sehingga bakteri mengalami kematian. merupakan laktam. Beberapa contoh senyawa organofosfat : 1) Diisopropilfluorofosfat (DFP) bersifat toksik dan dapat berinteraksi dengan enzim asetilkolinesterase. sehingga terjadi penumpukan asetilkolin yang bersifat toksik terhadap serangga. Reaksi asilasi gugus amino serin dari enzim transpeptidase oleh turunan antibiotika β -laktam c. Namun DFP masih banyak digunakan sebagai miotik dengan masa kerja yang panjang untuk pengobat glaucoma. Atom P akan berikatan dengan atom O gugus serin melalui reaksi fosforilasi membentuk ikatan kovalen sehingga fungsi enzim menjadi terganggu. senyawa pengasilasi yang kuat dan mempunyai kekhasan tinggi terhadap gugus amino serin dari enzim transpeptidase. suatu enzim yang mengkatalisis tahap akhir sintesis dinding sel bakteri. Turunan antibiotika β-laktam Turunan penisilin dan sefalosporin mengandung cincin β –laktam. Reaksi alkilasi mekloretamin dengan gugus fosfat dan adenil asam nukleat nukleat. baik pada manusia maupun serangga.Gambar 7. Hambatan yang terjadi tersebut mempengaruhi proses katalitik asam amino. sehingga jarang digunakan sebagai insektisida. Senyawa organofosfat Suatu insektisida dapat berinteraksi dengan gugus serin.

Senyawa ini dapat membentuk ikatan ovalen dengan gugus SH dari enzim yang bertanggung jawab terhadap produksi energi yang diperlukan untuk penyerapan kembali ion Na+ di tubulus renalis. Senyawa As-organik dan Hg-organik organik Contoh senyawa asam organik adalah salvarsan dan karbarson yang digunakan sebagai antibakteri. Asam etakrinat Merupakan suatu diuretik yang strukturnya mengandung gugus α. Senyawa-senyawa ini dapat mengikat Senyawa senyawa gugus sulfhidril dari enzim atau sisi reseptor membentuk ikatan kovalen dan reseptor menghasilkan hambatan yang bersifat irreversible sehingga enzim tidak dapat bekerja secara normal.2) Malation bersifat sangat khas terhadap enzim asetilkolinesterase serangga. Gambar 10. β-keto tidak jenuh. As organik e. Na+ yang tidak diserap kembali kemudian dikeluarkan dengan diikuti sejumlah air sehingga terjadi efek diuresis. Reaksi fosforilasi gugus serin enzim asetilkolinesterase oleh senyawa organofosfat d. Reaksi antara As-organik & Hg-organik dengan gugus sulfhidril enzim. sehingga banyak digunakan dalam bidang pertanian sebagai insektisida. Sedangkan senyawa Hg-organik misalnya merkaptomerin dan Hg organik klormerodrin yang mempunyai efek diuretik. 16 . Gambar 9.

Keterangan a1 dan a2 D r : muatan ion 1 dan 2 : jarak antar ion : tetapan dielektrik medium Gambar 12. 2. 2 . Mekanisme reaksi asam etakrinat dengan gugus SH enzim. Energi (E) dari ikatan ion dapat dihitung melalui persamaan Coulomb sebagai berikut: = 1. Perbandingan jarak antarion berbagai macam ikatan. Gugus-gugus pada obat-reseptor akan saling tertarik ketika gugus-gugus tersebut memiliki muatan yang berlawanan. Interaksi ionik dapat memberi 17 . Ikatan ion Ikatan ionik adalah ikatan yang dihasilkan oleh daya tarik menarik elektrostatik antara ion-ion yang muatannya berlawanan dimana kekuatan tarik menarik akan semakin berkurang bila jarak antar ion makin jauh dan pengurangan tersebut berbanding terbalik dengan jaraknya.Gambar 11.

terdapat anionic binding site yang dapat mengikat bagian kationik dari asetilkolin dan juga obat-obat seperti lachesine dan atropin. ester. ester. nitril. 18 .kefektifan pada jarak yang relatif lebih jauh daripada interaksi obat-reseptor lainnya dan juga dapat berlangsung lebih lama. baik yang mempunyai daerah kerapatan elektron tinggi maupun yang rendah. amida. 2006). Dipol pada molekul obat mampu membentuk ikatan dengan ion atau dipol lain. Gugus-gugus yang mempunyai fungsi dipolar antara lain gugus karbonil. Dipol-dipol tersebut yang kemudian tertarik oleh ion (interaksi ion-dipol) atau oleh dipol lain (interaksi dipol-dipol) dengan muatan yang berlawanan pada reseptor. dan N akan menyebabkan distribusi elektron yang tidak simetrik dan menimbulkan adanya dipol elektronik. Gambar 13. Contohnya yaitu pada reseptor asetilkolin muskarinik. Gambar 14. amida. 3. eter. Model ikatan antagonis muskarinik dengan reseptor muskarinik. Interaksi ini dapat diperkuat oleh interaksi simultan yang lain sehingga ikatan ionik menjadi lebih kuat dan bertahan lama (Istyastono. Gugus-gugus karbonil. eter dan nitril. Interaksi ion-dipol dan dipol-dipol Disebabkan karena adanya perbedaan keelektronegatifan atom C dengan atom lain seperti O. S.

Karena muatan yang dimiliki dipol kurang kuat dibanding dengan muatan yang dimiliki oleh ion. 19 . Hal ini disebabkan karena hidrogen merupakan satu-satunya atom yang memiliki muatan positif pada pH fisiologik sambil tetap terikat secara kovalen pada molekul. O. misal CH2. Dalam bentuk siklik inilah obat-obat tersebut berinteraksi dengan reseptor analgesik. Ikatan hidrogen hanya dapat terjadi jika X dan Y adalah atom N. Ikatan hidrogen Ikatan hidrogen merupakan salah satu tipe interaksi dipol-dipol yang dibentuk oleh proton dari gugus X-H (X merupakan suatu atom elektronegatif) dengan atom elektronegatif lainnya (Y) yang memiliki pasangan elektron bebas. Metadon merupakan narkotik analgesik dimana struktrnya mengandung gugus N-basa dankarbonil yang dalam larutan membentuk siklik akibat adanya daya tarik menarik dipol-dipol. ssehingga senyawa tidak dapat berinteraksi secara serasi dengan reseptor analgesik. interaksi dipol-dipol juga lebih lemah dibanding interaksi ion dipol. Bentuk siklik metadon yang diakibatkan oleh adanya interaksi dipol-dipol. Ukuran hidrogen juga cukup kecil untuk bisa mendekati atom elektronegatif lain. Ikatan hidrogen merupakan ikatan unik yang terjadi hanya pada hidrogen. Bila gugus C=O dihilangkan atau diganti dengan gugus lain. Contoh Obat yang mekanisme kerjanya melibatkan interaksi ion dipol dan dipol-dipol adalah turunan metadon. X memindahkan kerapatan elektron pada hidrogen sehingga hidrogen yang terikat pada X memiliki muatan parsial positif (+) yang tertarik sangat kuat pada pasangan elektron bebas Y. 4. Gambar 15. atau F. Hal ini disebabkan oleh hilangnya daya tarik menarik dipol-dipol dan kemampuan membentuk siklik. maka aktivitas analgesiknya akan hilang.

dapat mengalkilasi pasangan basa DNA dan mencegah pembentukan ikatan hidrogen sehingga replikasi normal dari DNA tidak terjadi. b. Ikatan hidrogen intramolekul yaitu ikatan hidrogen yang terjadi dalam satu molekul. seperti purin dan pirimidin pada DNA. Kekuatan ikatan hidrogen intermolekul lebih lemah dibanding ikatan0 hidrogen intramolekul. Bentuk meta dan para hidroksibenzoat dapat membentuk ikatan hidrogen intermolekul sehingga mempunyai kelarutan dalam air lebih besar dibandingkan bentuk orto. Obat antikanker tertentu. seperti titik didih. Ikatan hidrogen dapat mempengaruhi sifatsifat kimia fisika senyawa. kemampuan pembtkn kelat dan keasaman.Ikatan Hidrogen ada dua macam. Bentuk orto mempunyai keasaman yang lebih tinggi dan mempunyai kemampuan membentuk khelat yang lebih tinggi dibanding bentuk meta dan para. yaitu: a. Ikatan hidrogen intermolekul : ikatan hidrogen yang terjadi antar molekulmolekul. Gambar 16. titil lebur. Perubahan sifat fisika kimia tersebut berpengaruh terhadap aktivitas analgesik dan antibakteri turunan hidroksi benzoat. Ikatan hidrogen juga membantu terhadap kestabilan konformasi α-heliks peptida-peptida dan interaksi pasangan basa khas. 20 . kelarutan dalam air. Perubahan sifat-sifat tersebut dapat berpengaruh terhadap aktivitas biologis senyawa. seperti golongan senyawa pengalkilasi. Asam orto hidroksi benzoat dan asam para hidroksi benzoat Asam orto hidroksi benzoat mempunyai ikatan hidrogen intramolekul dan secara efektif mengurangi aktivitas gugus -OH dan -COOH terhadap mol air sehingga kelarutan dalam air berkurang.

maka donor elektron dapat memindahkan sebagian muatan pada akseptor alektron. yang pada dasarnya merupakan interaksi dipol-dipol molekuler. 5. contoh lain adalah interaksi antara tirosin pada reseptor dengan fungisida klorotanil (Istyantono. 2006). sehingga stabilitas kompleks obat-reseptor berkurang (Istyastono. 21 . Kompleks transfer muatan Molekul (atau gugus) yang merupakan donor elektron yang baik berinteraksi molekul (atau gugus yang merupakan akseptor elektron yang baik.Gambar 17. Gambar 18. Struktur α-heliks protein Ikatan hidrogen juga bertanggung jawab terhadap berkurangnya aktivitas obat yang mengandung atom oksigen ketika atom oksigen pada obat tersebut disubstitusi oleh atom sulfur. Hal ini dapat membentuk kompleks transfer muatan (charge-transfer complex). Sulfur dengan kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen jauh lebih lemah dibanding dengan oksigen tidak dapat berinteraksi secara ikatan hidrogen dengan reseptor. 2006). Contohnya atom H dari gugus –OH epinefrin dapat berikatan dengan atom O dari gugus –OH serin yang terdapat pada β-adrenergik reseptor. Epinephrine dan reseptor β-adrenergik. Interaksi transfer muatan dipercaya menyediakan energi untuk interkalasi obat-obat antimalaria tertentu dengan DNA parasit.

Hal ini menimbulkan daya tarik intermolekuler yang disebut gaya Van Der Waals. Intensitas ikatan Van Der Waals (V) dapat dihitung melalui persamaan sebagai berikut: 22 .5 kkal/mol dalam penurunan energi bebas. Ketika atomatom pada molekul yang berbeda (misal obat dan reseptor) saling mendekat. Interaksi Transfer muatan. dan letaknya berdekatan atau jaraknya ± 4-6 Å. Meski demikian. Gambar 20. 2006). dipol temporer pada salah satu molekul akan menginduksi dipol temporer molekul yang lain. Ikatan Van Der Waals adalah kekuatan tarik menarik antar molekul atau atom yang tidak bermuatan. Distribusi rapatan elektron nonsimetrik temporer. Ikatan ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau atom. Gaya London dan Van Der Waals Atom-atom pada molekul nonpolar dapat memiliki distribusi rapatan elektron nonsimetrik yang bersifat temporer yang menghasilkan dipol temporer. pada molekulmolekul komplementer masih banyak interaksi yang mungkin terjadi dan masingmasing berkontribusi sekitar 0. 6. Hal ini mampu berkontribusi secara signifikan pada keseluruhan komponen ikatan obat reseptor (Istyastono.Gambar 19. Gaya universal yang lemah ini hanya signifikan jika atom-atom yang saling berinteraksi berada pada jarak yang sangat dekat.

dapat disimpulkan bahwa radius senyawa berdanding terbalik dengan aktivitas isatin-β-tiosemikarbazon sebagai antivirus.A dan B: tetapan khas struktur elektronik atom r : jarak yang memisahkan dua pusat atom Meskipun secara individu lemah. aktivitasnya ternyata berhubungan dengan radius Van Der Waals dari substituen pada posisi 5 dan 6. Hubungan struktur dan aktivitas antivirus turunan isatin-βtiosemikarbazon dengan radius van der Waals. 23 . 7. terutama untuk senyawa yang mempunyai BM tinggi. b) Turunan isatin-β-tiosemikarbazon. Pada tabel di atas. Gambar 21. tetapi hasil penjumlahan ikatan Van Der Waals merupakan faktor pengikat yang cukup bermakna. Daerah nonpolar molekul obat yang tidak larut dalam air dan molekulmolekul air di sekelilingnya. Contoh ikatan: a) Cincin benzen mengandung 6 atom C mempunyai kekuatan ikatan yang hampir sama dengan kekuatan ikatan hidrogen. Interaksi hidrofobik Ikatan hidrofobik merupakan salah satu kekuatan penting pada proses penggabungan daerah nonpolar molekul obat dengan daerah nonpolar reseptor biologis. suatu obat antivirus. Ikatan Van Der waals terlibat pada interaksi cincin benzen dengan daerah bidang datar reseptor dan pada interaksi rantai hidrokarbon dengan makromolekul protein atau reseptor. akan bergabung melalui ikatan hidrogen membentuk struktur quasicrystalline (icebergs).

sehingga menstabilkan kompleks obat reseptor. Hal ini meningkatkan entropi (derajat ketidakteraturan) yang berakibat pada penurunan energi bebas. seperti gugus hidrokarbon molekul obat dan daerah non polar reseptor. bersama-sama berada dalam lingkungan air. Keberadaan molekul atau bagian molekul yang nonpolar menyebabkan molekul air di sekitarnya akan menyesuaikan diri sehingga pada keadaan relatif tidak stabil (higher energy state) daripada jika hanya molekul air saja yang ada dalam sistem tersebut. Ketika dua gugus nonpolar. struktur quasi-crystalline akan pecah menghasilkan peningkatan entropi yang digunakan untuk isolasi struktur non polar. (Siswandono. Peningkatan energi bebas ini dapat menstabilkan molekul air sehingga tidak kontak dengan daerah non polar. Pembentukan ikatan hidrofob akibat penggabungan rantai-rantai non polar molekul obat dan reseptor. yang masing-masing dikelilingi oleh molekul air. seperti gugus lipofilik pada obat dan gugus reseptor nonpolar.Bila dua daerah non polar. Hal ini sebenarnya bukan merupakan gaya tarik-menarik antara dua gugus nonpolar untuk “saling melarutkan”. 2000) Gambar 22. mendekat satu sama lain. namun cenderung merupakan penurunan energi bebas akibat dari peningkatan entropi 24 . Akibatnya. molekul air tersebut akan berusaha untuk berkumpul. maka akan mengalami suatu penekanan sehingga jumlah molekul air yang kontak dengan daerahdaerah non polar tersebut menjadi berkurang. Stabilisasi ini yang dikenal sebagai interaksi hidrofobik (hydrofobic interaction).

Ibuprofen merupakan salah satu obat golongan NSAID (non-steroid anti imflammatory drugs). Keterlibatan beberapa interaksi tersebut menghasilkan pula selektivitas interaksi obatobat reseptor (Istyastono. Interaksi hidrofobik pada ibuprofen. (non steroid interaksi hidrofobik Gambar 24. “kerjasama” oleh beberapa tipe interaksi sangatlah penting. 2006). Contohnya ialah pada gugus ya fenil pada obat yang dapat berinteraksi dengan bagian nonpolar reseptor. ikatan hidrogen. Efek dari “kerjasama” ini adalah beberapa interaksi lemah dapat bersatu guna menimbulkan interaksi yang kuat. ion. ion-dipol dipol-dipol dan van der ikatan ion dipol waals pada interaksinya dengan reseptor sehingga secara total akan menghasilkan ikatan ya 25 . Senyawa dengan derajad kekhasan tinggi dapat memadukan berbagai ikatan-ikatan lemah. obat golongan NSAID (non non-steroid anti inflammatory drugs). Interaksi Kombinasi Ketika interaksi nonkovalen pada umumnya bersifat sangat lemah. Konformasi dan interaksi atropin dengan reseptor asetilkolin muskarini muskarinik.pada molekul air yang melingkupinya (Istyastono. seperti gugus fenil pada atropin dengan reseptor asetilkolin muskarinik. 8. Contoh lainnya adalah interaksi hidrofobik pada ibuprofen. 2006). Gambar 23.

yang cukup kuat dan stabil.4-dihydro2H-pyran-6-carboxylic acid) adalah obat anti-influenza khususnya yang disebabkan oleh virus influenza A dan B. Contohnya adalah ikatan asetilkolin dengan enzim asetilkolinesterase dan ikatan prokain dengan reseptor.3R. Asam N-asetilneuraminat merupakan komponen mukoprotein pada sekresi respirasi virus berikatan pada mucus. Zanamivir ((2R.. Ikatan asetilkolin dengan enzim asetilkolinesterase.2. Sebagian besar obat berinteraksi terhadap reseptor dengan membentuk ikatan kombinasi (lebih dari satu macam ikatan).4S)-4guanidino-3-(prop-1-en-2-ylamino)-2-((1R. Gambar 25. Salah satu obat yang dikaji dalam makalah ini mengenai interaksinya terhadap reseptor dengan membentuk ikatan kombinasi adalah Zanamivir. Ikatan prokain dengan reseptor. Gambar 26. Target aksi dari Zanamivir adalah enzim neuraminidase (NA). suatu guanido-neuraminic acid.2R)-1. yaitu analog asam N-asetilneuraminat (reseptor permukaan sel virus influenza). namun yang menyebabkan penetrasi virus ke 26 .3-trihydroxypropyl)-3.

hidrofobik. Interaksi yang terbentuk antara Zanamivir dengan neurominidase berupa interaksi ionik. Oleh karena itu. Zanamivir bekerja dengan berikatan pada sisi aktif dari neurominidase sehingga virus influenza tidak dapat lepas dari inangnya dan menginfeksi sel lain. dan ikatan van der Waal’s. al. Hambatan terhadap neuraminidase mencegah terjadinya infeksi. et Gambar 27. Zanamivir juga menghambat replikasi virus secara invitro dan invivo. 27 . jika penyakitnya berkembang (Tapar. ikatan hidrogen. a. Neuraminidase juga untuk penglepasan virus yang optimal dari sel yang terinfeksi. ikatan polar (dipol-dipol). Struktur Zanamivir. Interaksi Ionik Pada pH fisiologis rantai samping arginin terprotonasi dan membentuk lingkungan kationik dan asam amino asam glutamat yang terdeprotonasi memberikan muatan negatif. 2011).permukaan sel adalah aktivitas enzim neuraminidase. Neurominidase berperan penting dalam replikasi virus dan memecah ikatan antara virus dengan inang. Interaksi antara Zanamivir dengan enzim neurominidase dapat menyebabkan perubahan konformasi enzim sehingga afinitas sisi aktif untuk berikatan dengan substrat berkurang. yang meningkatkan penyebaran virus dan intensitas infeksi. Hambatan neuraminidase menurunkan kemungkinan berkembangnya influenza dan menurunkan tingkat keparahan. obat dan reseptor dapat saling tertarik oleh muatan yang berlawanan pada permukaan mereka. Dalam hal ini. gugus –NH yang bermuatan positif dapat berinteraksi dengan glutamat dan atom –O yang bermuatan negatif dapat berinteraksi dengan arginin.

2011) menunjukkan bahwa tiga molekul air secara langsung mempengaruhi interaksi obat dengan neuraminidase. arginin. Ikatan Hidrogen Ikatan hidrogen juga diperlukan dalam banyak interaksi obat-reseptor. Ikatan hidrogen yang terjadi adalah antara atom O pada gugus –OH fenolik dari asam amino dengan atom N sebagai donor hidrogen. b. et al. Arg (a) 118 (52%) and Arg (a) (66%) 371(55 menguatkan fakta di atas dan berinteraksi kuat dengan human neuraminidase melalui ikatan hidrogen (Tapar. glutamat. Glu(a)227 terlibat dalam interaksi antara Zanamivir dan neuraminidase melalui air yang mendukung hipotesis dari keterlibatan air dan peran pentingnya dalam interaksi obat reseptor. 2011). Asam amino seperti Asp. drogen (a) (b) Gambar 29. Struktur umum asam aspartat (a) dan triptopan (b) . apar. Struktur umum asam glutamat (a) dan arginin (b) 28. Asam amino Arg (a) 371(55-57%). 28 . dan triptopan. 2011). pentingnya Hasil dari analisis docking (Trapan. et al. dimana semua atom N dapat menjadi nitrogen. Glu(a)277. Arg(a) 292.(a) (b) Gambar 28. Kekuatan interaksi obat reseptor bergantung kepada persentase ikatan hidrogen. Zanamivir memiliki empat atom nitrogen. obat Ikatan hidrogen tunggal bersifat lemah tetapi bila terdapat beberapa ikatan hidrogen maka dapat mendukung interaksi obat-reseptor (Tapar. donor hidrogen. et al. Ikatan hidrogen terjadi antara Zanamivir dengan neuraminidase yaitu pada residu asam amino aspartat.

29 . (b) Berbagai macam asam amino berikatan dengan human H1N1 receptor melalui ikatan hidrogen c.trihydroxypropyl group pada posisi C-2 dari inti piran dan gugus fungsional guanidine pada posisi C-4 menunjukkan daerah elektropositif kuat sebagai donor elektron dan dapat berinteraksi polar dengan atom C karbonil dari gugus –CONH.dari asam amino. 1. Ikatan polar (dipol-dipol) Gugus karbonil asam-asam amino dari dapat membentuk interaksi polar dengan bagian polar dari zanamivir.Gambar 30. atom O cenderung bermuatan negatif dan bersifat sebagai nukleofilik sedangkan atom C cenderung bermuatan positif dan bersifat sebagai elektrofilik. (a) Persentase interaksi ikatan hidrogen antara Zanamivir and human H1N1 receptor. 3. Dengan begitu. Kepolaran dari sisi aktif neuraminidase ini diakibatkan oleh gugus karbonil yang distribusi elektronnya bersifat asimetrik dimana elektron lebih tertarik ke atom O daripada ke atom C.asam amino untuk aktivitas anti-influenza. Muatan ini mendorong terjadinya reaksi karena bagian nukleofil akan menyerang bagian elektrofil dari zanamivir dan sebaliknya bagian nukleofil dapat diserang oleh bagian elektrofil zanamivir. Kelompok acetamido pada posisi C-3 dari inti piran dan carboxylic group pada posisi C-6 menunjukkan daerah elektrofil kuat sebagai akseptor elektron dan dapat berinteraksi polar dengan atom O karbonil gugus – CONH. 2.

Akseptor (biru) dan donor (merah) elektron pada Zanamivir.Gambar 31. Begitu pula dengan kasus ikatan zanamivir dengan neuraminidase. d. Interaksi hidrofobik Dalam interaksi obat-reseptor. 1995). Struktur umum glisin Gambar 31. umumnya interaksi hidrofobiklah yang obat reseptor. Konformasi 3D Zanamivir (putih = daerah hidrofobik) . 30 . Zanamivir membentuk ikatan hidrobik dengan asam amino yang bersifat hidrofob seperti glisin dan triptopan dengan mengadakan interaksi hidrofobik dengan gugus –CH3 pada zanamivir. hidrof Gambar 32. memerankan peranan penting (Ajay dan Murcko.

et al.Gold/Orange: Hydrophobic field points). dipol temporer pada salah satu molekul akan menginduksi dipol temporer molekul yang lain. Ikatan van der Waals Zanamivir juga berinteraksi dengan neuraminidase melalui ikatan van der Waal’s. (Blue: Negatif field points. Important field points with respective charges in Zanamivir. 31 .e. Red: Positif field points. Berdasar hasil docking (Tapar. Gambar 32. Yellow: van der Waals surface field points (steric). 2011) terlihat bahwa atom-atom pada molekul nonpolar dapat memiliki distribusi rapatan elektron nonsimetrik yang bersifat temporer yang menghasilkan dipol temporer. Hal ini menimbulkan daya tarik intermolekuler yang disebut gaya van der Waals. Ketika atom-atom pada molekul yang berbeda (misal obat dan reseptor) saling mendekat.

4953–4967 Ikawati.. Bambang Soekardjo. 1995. Kimia Medisinal Jilid I. 1989. A. 38. et al. 2006. Zullies. Surabaya Siswandono. 1995. Chem.. Pengantar Farmakologi Molekuler. J. Jakarta Silverman. K. Bambang Soekardjo. EGC. and M. Yogyakarta Katzung. Exploring the Mechanism of Zanamivir as Anti-AIV Agent by Molecular Docking and Receptor Based Electrostatic Analysis. Gadjah Mada University Press. Computational Methods to Predict Binding Free Energy in Ligand-Receptor Complexes. Airlangga University Press.. Kimia Medisinal Jilid II. DAFTAR PUSTAKA Ajay. Universitas Sanata Dharma Press. 2005. Murcko. Volume I.K. A.6 32 . 2011. 2006. 1995. Aspek Teoritis Aksi Obat. Enade Perdana. Journal of Computational Methods in Molecular Design.. page 1. Farmakologi Dasar dan Klinik. Airlangga University Press. Richard B. Surabaya Tapar.E. Academic Press. Med. New York Siswandono. Yogyakarta Istyantono. The Organic Chemistry of Drug Design and Drug Action.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful