BUKU PANDUAN PELATIHAN

TEKNIK VERTIKAL DAN VERTICAL RESCUE TINGKAT DASAR BAGI POTENSI SAR DI JAWA TENGAH

KERJASAMA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN

QC

HIGH RISK SERVICE

JL. NAKULA RAYA NO. 40 SEMARANG TELP 024 3585428

 Materi akan diberikan secara bertahap. Post Test ini juga sebagai media penilaian baik teori dan praktek yang dilakukan peserta untuk dasar mengeluarkan sertifikat sebagai tanda peserta telah menguasai kemampuan Vertikal Rescue. 3. Diharapkan dengan pembatasan jumah peserta ini akan dapat mengoptimalkan penguasaan materi yang diberikan. sebelum pelaksanaan pelatihan akan dilakukan seleksi untuk mendapatkan kuota jumlah peserta ideal. Meningkatkan kemampuan segenap potensi SAR dan pengurus SAR setempat agar dapat menangani kegiatan pertolongan pada medan vertical GAMBARAN KEGIATAN  Kegiatan Pelatihan akan dilaksanakan selama 4 hari. baik pada kegiatan profesi maupun kegiatan rekreatif. beserta resiko dan langkah pertolongannya.60%. Memberikal pengetahuan standard dan bekal teknik maupun konsekuensi psikis kepada SDM potensi SAR untuk dapat melakukan kegiatan Pertolongan di medan vertical 4. Di sisi lain cukup banyak musibah yang terjadi dengan medan vertikal yang sulit untuk melakukan evakuasi para korbannya. .  Pada akhir kegiatan semua peserta akan diberikan Post test. 2.GAMBARAN PELATIHAN VERTICAL RESCUE UNTUK POTENSI SAR JAWA TENGAH LATAR BELAKANG Kegiatan vertikal banyak dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat.  Dari peserta yang terseleksi masih akan dilakukan penilaian akhir untuk mendapatkan sertifikat kelulusan dengan standar nilai minimal untuk dapat melakukan kegiatan pertolongan di medan vertical. untuk mengetahui seberapa jauh para peserta dapat menyerap materi yang diberikan selama pelatihan. dilanjutkan dengan pengenalan kegiatan self rescue dan terakhir diberikan penanganan pertolongan vertikal secara tim  Prosentase materi dan praktek adalah 40% . Memberikan gambaran secara utuh mengenai kegiatan vertikal. TUJUAN 1. diharapkan peserta lebih banyak melakukan praktek untuk menambah jam terbang sehingga peserta lebih menguasai materi yang diberikan  Peserta juga akan diberikan materi aplikasi dengan melakukan simulasi pada Tower. terutama pada medan yang sangat sulit. Kegiatan ini memiliki resiko besar dan berpotensi terjadi musibah pada pelakunya. Memberikan pelatihan kepada potensi SAR dari berbagai daerah untuk kemudian dapat mengembangkan kepada potensi di daerah masing – masing. dimulai dengan memberikan gambaran tentang kegiatan vertikal. dimana akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus kecelakaan dan evakuasi dengan medan tower. Sampai saat ini belum banyak SDM yang menguasai teknik pertolongannya.

5. Penambahan wawasan mengenai vertical Rescue akan diberikan melalui media visual berupa film kegiatan vertikal maupun pertolongan di medan vertikal. Buku Panduan 2. maupun menyeberangkan korban. Liestyan Haryanto. Pengenalan. FFME ( Federation Francaise de la Montagne et de I’Escalade ) DURASI PELATIHAN 4 hari kegiatan dengan rata-rata 15 jam/hari. Audio Visual ( Film ) sebagai media studi kasus dan referensi 4. Pengenalan Kegiatan Vertikal. Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta 2. Simulasi Pertolongan Vertikal 12. Penilaian kemampuan siswa pada akhir pelatihan. Pemberian materi pengantar berupa teori akan dilakukan di dalam ruangan / kelas 2. resiko dan penanganannya 2. Self rescue 7. Modifikasi 6. Pengenalan Teknik Pertolongan di medan Vertikal 8. Pengenalan dasar Teknik Vertikal 5. Diskusi dan studi kasus akan dilakukan di ruangan atau langsung di lapangan 3. menurunkan. Simulasi dan praktek akan dilakukan dengan mencoba teknik evakuasi pada gedung bertingkat. ARES ORARI Jawa Tengah Sertifikasi UIAA ( United International Alpen Association ) 4.10 jam simulasi dan praktek GAMBARAN KEGIATAN PELATIHAN 1. Bagus Yulianto. Sertifikasi CICE. Penggunaan. Praktek dan aplikasi secara langsung pada medan vertikal NARA SUMBER 1. terbagi dalam 5 jam materi ruang . Manajemen Peralatan 9. Bambang Wicaksono. baik menaikkan. selain untuk mengetahui prosentase penyerapan materi juga untuk menentukan lulus atau tidaknya siswa. Power Point dalam penyampaian 3. Tim Vertical Rescue 10.MATERI 1. Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta 3. Diskusi dan Studi Kasus Pertolongan Vertikal BENTUK MATERI 1. Manajemen Pertolongan Vertikal 11. Imam Bukhori. 4. dan Perawatan Peralatan Vertikal Rescue 3. Bahaya dalam kegiatan Vertikal 4. Aspek yang dinilai adalah pemahaman materi dan pelaksanaan praktek baik teknik vertikal maupun vertical rescue .

formal : aturan selama pelatihan ) 2. KONTRAK BELAJAR 1. Perlu dimunculkan untuk meminimalkan kendala dan keluhan selama pelaksanaan kerja ⇒ memelihara rasa takut agar selalu bertindak hati – hati dan waspada. sanksi dan hukuman setiap ada pelanggaran 3. Jangan percayakan hidup kita pada sebuah alat. tetap merupakan benda mati ( buatan manusia ). Menciptakan pola pikir secara profesional dalam tim kerja baru ( bedakan sudut pandang sebagai “ Petualang “ dan sebagai “Tim Penolong” yang Profesional ) 4. bisa dicapai dengan efisiensi dan efektifitas ) BRAINWASHING 1. Mengoptimalkan target pelatihan dengan standar kualitas yang disepakati 3. demi kemajuan bersama dengan batasan waktu yang jelas. Kesepakatan antara peserta dan instruktur ( informal : komitmen. standar. PERKENALAN 1. Saling mengenal antara tim pemateri. 3. siswa. ⇒ Bedakan antara “ SENIOR “ dan “ PROFESIONAL “ II. Alat hanyalah sebuah media untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Saling mengenal dan memahami antar personal 2. saling mengingatkan. Melepas ikatan organisasi / lembaga / klub setelah bergabung dalam sebuah tim baru untuk sebuah profesi Tim Penyelamat. dan pengurus 3. percayakan hidup kita pada sesama manusia yang telah membuat peralatan tersebut dengan akal pikirannya. CATATAN PENTING : Sudah cukup banyak contoh kasus insiden dan kecelakaan menimpa orang – orang yang justru dianggap senior / terlatih. IV. tetapi tetap dalam batasan saling menghargai dan menghormati. 2. Membentuk ikatan dari masing2 individu menjadi sebuah tim kerja baru ( saling membutuhkan. karena mereka terjebak dalam status “Senioritas” serta terlalu toleran terhadap segi keamanan dan mengandalkan pengalaman + jam terbang. Termasuk mengikuti aturan. III. panitia penyelenggara. Juknis ). 5. . Review materi setiap selesai pemberian pada setiap hari selesai materi ruang 4. HARAPAN DAN KETAKUTAN 1. Evaluasi harian dan pembenahan selama pelatihan. Pembuatan tata tertib pelatihan untuk konsekuensi bersama ( Juklak.PENINGKATAN KEMAMPUAN TEKNIK VERTIKAL dan VERTICAL RESCUE POTENSI SAR JAWA TENGAH I. Menciptakan suasana familiar selama pelatihan. saling mengawasi dalam pelaksanaan pelatihan dengan resiko tinggi ) ⇒ Menitipkan “HIDUP” kepada rekan satu tim. monitoring setiap waktu untuk efisiensi dan efektifitas. 2. ( Durasi pemberian materi berkurang berarti kesempatan menambah wawasan berkurang pula. dan teknik yang disepakati dalam pelaksanaan pelatihan. Penyamaan Visi dan Misi bersama.

termasuk evaluasi pola hidup sehari – hari ⇒ pola makan. Khusus : berkaitan dengan teknik vertikal  Pembuatan bivak/ flysheet  Alat bantu kerja  Rigging di segala medan ( pohon. ascender. tingkatkan jam terbang kerja. Upaya survive dengan menciptakan tim kerja yang solid 3. descender ). pola istirahat. tebing ). PRESSING FISIK dan PSIKIS 1. . ketelitian serta daya juang 2. berarti peningkatan grade dan kualitas. batasan safety. dapat berubah dengan bantuan kerjasama tim yang solid )  Pengetahuan kalori dan pengaturan pola makan  Kesehatan dan Olah Raga ( stretching. . kebiasaan. bangunan. dll )  Sifat dasar masing2 person ( terkait psikis personal. tingkatkan terus standar yang sudah dimiliki. aktif belajar dan mencari referensi baru terkait bidang kerja. mudah dan nyaman dilewati  Simulasi dan diskusi dengan gambaran ( visual memudahkan pemahaman )  Setting alat untuk vertikal dengan standar safety ( webbing. meningkatkan kemauan belajar. seaman mungkin. kualitas istirahat ) 2. MOTIVASI 1. Umum : melatih kesabaran. Peluang profesi baru dalam tim baru yang profesional 2. Pembuatan Pola Kerja ( personal dan Tim )  Pekerjaan sulit  Beban kerja berat  Durasi kerja / operasi dalam durasi lama  Teknik minimal  Target maksimal  Fisik terforsir  Pressing Psikis ( pola komando ) 3. !!! VI. Bersaing secara sehat dalam mencapai grade tertinggi. posisi nyaman. senyaman mungkin ( menjadi prioritas untuk profesi Highrisk ). tetap konsisten dan konsekuen terhadap standar minimal yang sudah ada. akan mengangkat nama daerah juga. Latihan pengendalian Emosi ⇒ Mengelola stress dan permasalahannya ( internal maupun eksternal ) ⇒ KONSEKUENSI TERHADAP SAFETY PROSEDURE . KREATIFITAS ⇒ Pola pikir kreatif secara umum dapat memacu kreatifitas dalam pekerjaan 1. VII. Pengaturan Stamina  Titik kritis masing2 person ( terkait kondisi fisik dan stamina personal. Benturan antar person 4. . Input penilaian personal. 4.V.

Pelatihan PASS ( Positive Altitude Safety System ) PT KEM. 3. France. Penguasaan simpul dasar untuk teknik vertikal dan aplikasi untuk vertical rescue 2. Penguasaan prinsip dasar kerja masing-masing alat. 1996 2. REFERENSI 1. Mc Lellan. 2000 4. 1999 3. Nurcahyana. Indecon. Capacity Building. Laporan Camping Remaja PLAN Gunung Kidul. Yayasan Acintyacunyata. Batasan safety dari masing-masing alat  Kekuatan  Fungsi  Penyusutan  Fall Factor IX. Petzl . 2007 .VIII. 2000 5. Fungsi optimal dan maksimal dari masing-masing alat 4. Canadian Crossroad International. Pondok Tingal Borobudur – Magelang. Pelatihan Ekowisata Nasional – Indecon. INTRODUKSI dan PENYEGARAN TEKNIK 1. memahami / menguasai sebanyak mungkin dan sedetil mungkin. Katalog.

korosi. Sumber Daya Manusia ( kualitas. Faktor Kimia ( bahan pembersih. OR pendukung. Pemanfaatan Teknik Vertikal untuk bidang kerja 3. P4 VERTIKAL ( Pengenalan. Kelebihan dan kekurangan Teknik Vertikal 4. Teknik ( vertikal. Kesehatan • Persiapan Fisik ( stretching. polutan. dll ) IV. Manajemen ( perusahaan. penguasaan. efisiensi. perubahan struktur. yang menentukan keberhasilan pekerjaan b. kekuatan. mentalitas. III. peka rasa ) 9. penyusutan ( fisik. kekuatan ) ⇒ Alat hanya media untuk mendukung efisiensi dan efektifitas sebuah pekerjaan c. aplikasi. Peralatan ( peralatan vertikal. Faktor Peralatan : jenis. Lingkungan / Alam (Faktor Cuaca dan Iklim. ikatan batin. Klasifikasi Peralatan : . kepedulian. dll ) 5. Kerjasama Tim ( kekompakan. konsekuensi ⇒ Manusia sebagai Subyek kegiatan. disiplin. Tebing. konsekuensi. self rescue. menara / tower. Air Terjun d. tim. logam. Kesiapan Pertolongan / Rescue ( emergency respon. fungsi. Sungai . bahan. non teknis. peningkatan stamina ) • Kecukupan Gizi • Kebutuhan Kalori • Kualitas Istirahat II. PENGANTAR ( INTRODUKSI ) 1. kerja personal ) 2. Gua. efektifitas. pohon • Alam Bebas : Gunung. Pengetahuan ( teknis. pembuatan lintasan. peralatan pendukung ) 4. yang tidak dapat dijangkau secara manual • Dikembangkan dari Militer serta hobi penggiat alam bebas dan petualangan • Perkembangan peralatan dan teknik. untuk efisiensi dan efektifitas • Pemanfaatan untuk SAR dan kemanusiaan • Pekerjaan di ketinggian yang beresiko tinggi 2. Tahapan Penguasaan Teknik Vertikal • Diterapkan pada medan sulit. Faktor Alam / Lingkungan : • Urban / perkotaan : gedung bertingkat. perhitungan safety. Faktor Manusia : pengetahuan. pendukung ) 3. kelompok ) 6. kekeluargaan. loyalitas ) 8. operasional lapangan. kuantitas. BAHAYA DALAM MEDAN VERTIKAL a. sumur. bahaya di luar faktor manusia ) 7. tim rescue ) 10. Peluang masa Depan • Safety standar dapat diterapkan sebagai profesi dengan nilai yang tinggi • Penelitian dan Ilmu Pengetahuan • Instruktur dan Pelatih • Konsultan Safety • Aset pengetahuan dalam kehidupan sehari – hari MATA RANTAI KEAMANAN 1. Penggunaan dan Perawatan Peralatan ) 1.KISI – KISI MATERI DASAR PEMANFAATAN TEKNIK VERTIKAL UNTUK PENYELAMATAN I. konstruksi. Mentalitas ( personal.

traversing. dari bahan yang merusak alat i. monitoring sirkulasi peralatan dan perlengkapan. konstruksi c. t4 minum. Pendulum : free hanging. bandolier.Peralatan Vertikal Konstruksi bangunan ( sling baja. kreatiflah !!! V. tacklebag / daypack b.Pendukung : pakaian kerja. Pengaman tambahan untuk safety alat dari gesekan. rompi kerja. dll 2. VI. Analisa kekuatan pada sebuah konstruksi / bangunan c. Z-Rig. sarung tangan. Peralatan Vertikal Kegiatan Alam Bebas ( Kernmantle. a. Jenis penyusutan : fisik. modifikasi. sepatu. Jenis – jenis SRT ( 15 jenis ) ⇒ fokus pada Frogrig Methode dan Jumaring/ Texas . Anchor : jenis. penyimpanan. standar. Y – Anchor h. PENYUSUTAN PERALATAN 1. slope tyroliene. pengeringan. deviasi. kekuatan.2. tali. SRT. 5. Peng – afkiran alat yang sudah tidak standar safety-nya untuk profesi. Pengetahuan tentang peralatan 3. pencucian. Penyimpanan ( pemilahan. kacamata. Jenis lintasan : fix. safety. webbing. beban minimal pada saat simpan ) 7. Prinsip dan sistem dasar SRT 3. advance b. kuantitas. gedung. Kreatifitas rigging di pemukiman. dll ) 6. pelumasan. Fall Factor d. dll Peralatan Pendukung : tas tempat alat vertikal. Simpul : dasar. SRT ( Single Rope Technique ) dan Modifikasinya 1. masker. Pemahaman dasar konstruksi : spesifikasi bahan dan penghitungan kekuatan b. kualitas. 3. mobilisasi. tempat logistik / konsumsi. tyroliene. dll ) 5. dll Standar Modifikasi Peralatan dan Perlengkapan : standar safety. pembersihan. PEMBUATAN LINTASAN ( RIGGING ) • Kreatifitas sangat diperlukan dalam pembuatan rigging. pindah lintasan ) f. Perlengkapan pendukung untuk efisiensi dan efektifitas kerja di ketinggian. double rope e. dll Collective Equipment : kebutuhan rigging. carabiner. pemakaian. dinamis ( intermediet. Pembelian peralatan ( murah vs kualitas. Bermacam teknik dan variasi melewati lintasan vertikal 2. kondisional. 8. dll VII. penggantungan. kekuatan. efektif dan efisien dalam segala hal ⇒ sebuah kegiatan dapat selesai lebih cepat apabila peralatan dan perlengkapan yang digunakan sesuai dengan medan yang dihadapi ⇒ sesuaikan peralatan yang tersedia dengan kesulitan medan yang ada. natural. tower. dengan batasan standar safety prosedure a. lap tangan. gondola. • Rigging atau pembuatan tambatan di pemukiman a. kondisi tempat simpan. dll ) b. Belaying g. Perawatan Peralatan ( packing. counter balance. Vertikal : SRT. pelindung peralatan vertikal. bangunan. safety ) 4. dll ) Personal Equipment : a. Kontrol rutin. tracker. Penggunaan Peralatan ( fungsi standar. 4.

pindah lintasan Horisontal : Traverse. safety prosedure. konsisten dan loyal terhadap lembaga ) c. manajemen. Grade SDM a. Survive : profesi untuk hidup ( pemula ) b. 5. Profesi beresiko tinggi untuk hidup ( koord. manajemen d. Konsekuensi terhadap profesi ( menjaga kualitas teknik. 7. Selalu berupaya meningkatkan grade dan kemampuannya melalui jam terbang dan terus belajar. Pelatih : teknis. supervisi. Menghargai hidup orang lain : keluarga. Meminimalkan ego personal dalam kerja kelompok 2. Intermediet. e. Mentalitas SDM a. Teknis b. Konsultan Highrisk Service 3. antar tim dalam satu perusahaan d.. sambungan. Dapat bekerja sama dalam kelompok. psikis / mentalitas ( dapat dinilai dari kualitas anak didiknya ) e. 8. deviasi. BUKAN UNTUK BERTUALANG DAN MENANTANG BAHAYA. Konsisten dan konsekuen terhadap profesinya di bidang pertolongan vertikal PRIORITAS UTAMA ADALAH MENYELAMATKAN KORBAN. mempunyai ikatan batin terhadap sesama anggota kelompok ( saling kontrol dan mengingatkan ) d. 9. Prinsip dasar Ascending ( menaiki lintasan vertikal ) Prinsip dasar Descending ( menuruni lintasan vertikal ) Vertikal : lintasan polos. Disiplin terhadap safety prosedure b. Hasil akhir SDM ⇒ Dapat menghargai hidup diri sendiri dan hidup orang lain a. Pendidik : teknis. non teknis. Menghargai hidup semua orang dengan profesi yang sama. bersaing secara sehat untuk mengejar grade dan kualitas paling baik f. memberi peluang untuk mengembangkan profesi yang sama e. konsultan ) c. rekan dalam satu tim. 6.!!! APALAGI KEINGINAN PAMER KEMAMPUAN . Psikis / Mentalitas c.4. Tyroliene Slope : Slope Tyroliene Kombinasi lintasan dan sistem pengamanannya STANDAR SDM DI BIDANG VERTIKAL 1. Kembali pada profesi untuk hidup. VIII.

studi banding 6. lokasi Indoor dan Outdoor Minimal 10 jam per hari 2. Tahapan ini tidak dapat dilompati tetapi dapat dipercepat dengan melakukan pola training yang tepat. Non Teknis : tim work. 2. meliputi Kegiatan Alam Bebas maupun Bangunan dan Konstruksi pada medan vertikal dengan berbagai tingkat kesulitan. UPAYA MENJAGA KUALITAS SDM 1. Tingkat Spesialisasi Durasi minimal 10 hari. hunting referensi. informasi. Tingkat Dasar Durasi 3 – 4 hari. Pendidikan dilaksanakan secara bertahap. katalog. hal ini dilakukan untuk membentuk tim kerja yang kompak dan profesional.. Tingkat Lanjut Durasi 5 – 7 hari. Rajin mencoba medan – medan baru ( outdoor : alam. studi kasus. 4. Latihan. lokasi Outdoor. karena pada dasarnya tahapan ini sangat penting dan harus dilalui oleh semua siswa untuk mencapai kematangan psikis dan profesionalismenya. lokasi Outdoor.. bangunan. Mengundang “ Dosen “ eksternal 5. gua ) X. Hunting ilmu dan instruktur 2. KUALIFIKASI PENDIDIKAN 1. mentalitas. GAMBARAN PENDIDIKAN ⇒ PENDIDIKAN ≠ PELATIHAN 1. tim ini diharapkan mampu mengerjakan apa saja dalam bidang kegiatan vertikal baik Indoor maupun Outdoor. Profesionalisme : ikatan formal / kontrak kerja. Materi pendidikan mencakup hal teknis dan mentalitas SDM. konsekuensi. Teknis : diskusi. Simulasi dan penyegaran secara tim 4. internet ) 3. semi Outbound 12 jam per hari 3. loyalitas. Kursus / mengikuti pelatihan eksternal. tes rutin. hal – hal baru. XII. . dll 2. Indoor : mall. swalayan. kedisiplinan. kantor...IX. Mengadakan kegiatan bersama lembaga / kelompok lain 7. UPAYA PENINGKATAN KUALITAS SDM 1. ujian kenaikan grade. Pengetahuan dasar. 3. plus Outbound 14 jam per hari . latihan bersama. OUT BOUND vertikal swadaya. Koleksi dan diskusi referensi baru ( buku. tes berkala. konstruksi. sertifikasi. tower. XI..

GAMBARAN VERTICAL RESCUE Evakuasi korban pada medan vertikal dengan menggunakan peralatan khusus. Evakuasi korban kecelakaan di gua vertikal Evakuasi korban kecelakaan di Tebing Evakuasi korban di Sumur Evakuasi korban kecelakaan di gua vertikal . panjat tebing. baik untuk korban yang masih hidup maupun korban yang sudah meninggal. dan penelusuran gua. Di perkotaan operasi Vertical Rescue sering diaplikasikan pada korban di dalam sumur. karena korban tidak dapat di evakuasi melalui jalur biasa. Selama ini operasi Vertical Rescue banyak dilakukan pada kegiatan alam bebas seperti pendakian gunung.

LUWENG KAYU ARES. 1996. 1 orang lainnya ditemukan setelah 5 hari. agak terganggu ingatan. . memar di kepala. Kondisi medan merupakan lereng berasir. 8. LUWENG JATI. MAROS. prediksi awal korban mengalami gegar otak dan patah tulang belakang. HILANG SELAMA 2 HARI. KECELAKAAN DI GUA VERTIKAL. Evakuasi secara vertikal dengan bantuan alat seadanya. 1 MENINGGAL 1 HIDUP Expedisi gabungan Internasional. 2002. KORBAN MENINGGAL Pekerja pemasang tower. jatuh ke dalam sumuran sedalam 36 meter. KECELAKAAN REKREATIF PATAHNYA JEMBATAN DI OBYEK WISATA BATURADEN. 5. ditemukan dalam keadaan lemah. BEBERAPA KASUS KECELAKAAN DI DALAM SUMUR. GUNUNG BINAIYA . Proses evakuasi selama 12 jam. BAIK DI PERKOTAAN MAUPUN KASUS TERBANYAK DI GUNUNG KIDUL. 2 fotografer luar negeri mendaki gunung tanpa didampingi pemandu. 3. Proses evakuasi selama 13 jam. 1988. dilanjut dengan evakuasi manual 2. GUA VERTIKAL. TOWER RCTI. 1988. Tergantung pada kedalaman 60 meter. korban terlilit sling baja pada ketinggian 80 meter. hilang selama 2 hari. evakuasi dengan posisi vertikal. OPERATION RALEIGH. 7. KECELAKAAN DI GUA VERTIKAL. KORBAN HIDUP Korban terperosok ke dalam sumuran sedalam 40 meter saat melakukan kegiatan eksplorasi gua vertikal.SULAWESI SELATAN. tidak pernah di cek kondisinya.STUDI KASUS OPERASI VERTICAL RESCUE 1. 2 KORBAN. KORBAN HIDUP Korban tidak menguasai teknik penelusuran gua.PULAU SERAM. 2006. dan tulang belakang. akan buang air di lereng. GUNUNG SEMERU. Baru dapat di evakuasi setelah lebih dari 24 jam. crane patah. Terperosok ke dalam jurang sedalam 40 meter. TERPEROSOK KE JURANG. hidup dg survival. kaki dan tangan. korban di evakuasi sementara pada teras di atasnya. Mengalami gegar otak berat. Korban selamat 4. 1 orang meninggal seketika patah leher. Mengalami luka pada bagian pantat dan punggung. terpeleset jatuh ke jurang sedalam 30 meter. korban selamat. KORBAN HIDUP Penelusur gua vertikal. luka sudah belatungan. evakuasi vertikal dengan memanfaatkan batangan besi sebagai tambatan. pengunjung saat lebaran memenuhi jembatan. Di evakuasi dg teknik lowering. Selama 3 tahun paska kecelakaan sebagian memori korban hilang. K-20. Jembatan patah. 2007. KORBAN SELAMAT Pendaki gunung. jembatan sudah tua. KORBAN MASSAL TERJATUH SEDALAM 25 METER Patahnya jembatan di obyek wisata Baturaden. Korban mengalami patah tulang leher. tertimpa runtuhan baru dari tambatan. korban digendong kemudian ditarik dari atas. korban sebanyak lebih dari 25 orang terjatuh ke dalam jurang sedalam 25 meter. korban selamat. 2005. untuk kemudian di stabilisasi di basket stretcher. 6. Mengalami patah tulang rusuk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful