P. 1
1. Pengantar VR BPBD

1. Pengantar VR BPBD

|Views: 493|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Ja'far Ibrahim on Dec 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/30/2014

pdf

text

original

BUKU PANDUAN PELATIHAN

TEKNIK VERTIKAL DAN VERTICAL RESCUE TINGKAT DASAR BAGI POTENSI SAR DI JAWA TENGAH

KERJASAMA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN

QC

HIGH RISK SERVICE

JL. NAKULA RAYA NO. 40 SEMARANG TELP 024 3585428

dimulai dengan memberikan gambaran tentang kegiatan vertikal. Memberikan pelatihan kepada potensi SAR dari berbagai daerah untuk kemudian dapat mengembangkan kepada potensi di daerah masing – masing. untuk mengetahui seberapa jauh para peserta dapat menyerap materi yang diberikan selama pelatihan. . TUJUAN 1. Sampai saat ini belum banyak SDM yang menguasai teknik pertolongannya.  Materi akan diberikan secara bertahap.  Dari peserta yang terseleksi masih akan dilakukan penilaian akhir untuk mendapatkan sertifikat kelulusan dengan standar nilai minimal untuk dapat melakukan kegiatan pertolongan di medan vertical. diharapkan peserta lebih banyak melakukan praktek untuk menambah jam terbang sehingga peserta lebih menguasai materi yang diberikan  Peserta juga akan diberikan materi aplikasi dengan melakukan simulasi pada Tower. Diharapkan dengan pembatasan jumah peserta ini akan dapat mengoptimalkan penguasaan materi yang diberikan. Memberikal pengetahuan standard dan bekal teknik maupun konsekuensi psikis kepada SDM potensi SAR untuk dapat melakukan kegiatan Pertolongan di medan vertical 4. 2. Kegiatan ini memiliki resiko besar dan berpotensi terjadi musibah pada pelakunya. baik pada kegiatan profesi maupun kegiatan rekreatif. Memberikan gambaran secara utuh mengenai kegiatan vertikal. dilanjutkan dengan pengenalan kegiatan self rescue dan terakhir diberikan penanganan pertolongan vertikal secara tim  Prosentase materi dan praktek adalah 40% . Meningkatkan kemampuan segenap potensi SAR dan pengurus SAR setempat agar dapat menangani kegiatan pertolongan pada medan vertical GAMBARAN KEGIATAN  Kegiatan Pelatihan akan dilaksanakan selama 4 hari. dimana akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus kecelakaan dan evakuasi dengan medan tower. beserta resiko dan langkah pertolongannya.  Pada akhir kegiatan semua peserta akan diberikan Post test. Post Test ini juga sebagai media penilaian baik teori dan praktek yang dilakukan peserta untuk dasar mengeluarkan sertifikat sebagai tanda peserta telah menguasai kemampuan Vertikal Rescue.GAMBARAN PELATIHAN VERTICAL RESCUE UNTUK POTENSI SAR JAWA TENGAH LATAR BELAKANG Kegiatan vertikal banyak dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat. sebelum pelaksanaan pelatihan akan dilakukan seleksi untuk mendapatkan kuota jumlah peserta ideal. terutama pada medan yang sangat sulit. 3. Di sisi lain cukup banyak musibah yang terjadi dengan medan vertikal yang sulit untuk melakukan evakuasi para korbannya.60%.

terbagi dalam 5 jam materi ruang . Liestyan Haryanto. Manajemen Peralatan 9. Diskusi dan studi kasus akan dilakukan di ruangan atau langsung di lapangan 3. 5. Self rescue 7. Simulasi Pertolongan Vertikal 12. baik menaikkan. Praktek dan aplikasi secara langsung pada medan vertikal NARA SUMBER 1.10 jam simulasi dan praktek GAMBARAN KEGIATAN PELATIHAN 1. Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta 3. Modifikasi 6. Audio Visual ( Film ) sebagai media studi kasus dan referensi 4. Manajemen Pertolongan Vertikal 11. Simulasi dan praktek akan dilakukan dengan mencoba teknik evakuasi pada gedung bertingkat. menurunkan. ARES ORARI Jawa Tengah Sertifikasi UIAA ( United International Alpen Association ) 4. Pengenalan. resiko dan penanganannya 2. 4. Pengenalan dasar Teknik Vertikal 5. Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta 2. Penambahan wawasan mengenai vertical Rescue akan diberikan melalui media visual berupa film kegiatan vertikal maupun pertolongan di medan vertikal. dan Perawatan Peralatan Vertikal Rescue 3. FFME ( Federation Francaise de la Montagne et de I’Escalade ) DURASI PELATIHAN 4 hari kegiatan dengan rata-rata 15 jam/hari. Sertifikasi CICE. Imam Bukhori. Diskusi dan Studi Kasus Pertolongan Vertikal BENTUK MATERI 1. Bagus Yulianto. Pemberian materi pengantar berupa teori akan dilakukan di dalam ruangan / kelas 2. Tim Vertical Rescue 10. Penggunaan. Penilaian kemampuan siswa pada akhir pelatihan. selain untuk mengetahui prosentase penyerapan materi juga untuk menentukan lulus atau tidaknya siswa. Bahaya dalam kegiatan Vertikal 4. Bambang Wicaksono. Pengenalan Kegiatan Vertikal. Pengenalan Teknik Pertolongan di medan Vertikal 8. maupun menyeberangkan korban.MATERI 1. Buku Panduan 2. Power Point dalam penyampaian 3. Aspek yang dinilai adalah pemahaman materi dan pelaksanaan praktek baik teknik vertikal maupun vertical rescue .

karena mereka terjebak dalam status “Senioritas” serta terlalu toleran terhadap segi keamanan dan mengandalkan pengalaman + jam terbang. 2. ( Durasi pemberian materi berkurang berarti kesempatan menambah wawasan berkurang pula. saling mengingatkan. Evaluasi harian dan pembenahan selama pelatihan. tetapi tetap dalam batasan saling menghargai dan menghormati. KONTRAK BELAJAR 1.PENINGKATAN KEMAMPUAN TEKNIK VERTIKAL dan VERTICAL RESCUE POTENSI SAR JAWA TENGAH I. 5. saling mengawasi dalam pelaksanaan pelatihan dengan resiko tinggi ) ⇒ Menitipkan “HIDUP” kepada rekan satu tim. CATATAN PENTING : Sudah cukup banyak contoh kasus insiden dan kecelakaan menimpa orang – orang yang justru dianggap senior / terlatih. 2. Saling mengenal dan memahami antar personal 2. Menciptakan suasana familiar selama pelatihan. Membentuk ikatan dari masing2 individu menjadi sebuah tim kerja baru ( saling membutuhkan. Review materi setiap selesai pemberian pada setiap hari selesai materi ruang 4. Penyamaan Visi dan Misi bersama. standar. Saling mengenal antara tim pemateri. IV. bisa dicapai dengan efisiensi dan efektifitas ) BRAINWASHING 1. sanksi dan hukuman setiap ada pelanggaran 3. III. 3. Jangan percayakan hidup kita pada sebuah alat. siswa. Alat hanyalah sebuah media untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan. dan teknik yang disepakati dalam pelaksanaan pelatihan. percayakan hidup kita pada sesama manusia yang telah membuat peralatan tersebut dengan akal pikirannya. PERKENALAN 1. Melepas ikatan organisasi / lembaga / klub setelah bergabung dalam sebuah tim baru untuk sebuah profesi Tim Penyelamat. Mengoptimalkan target pelatihan dengan standar kualitas yang disepakati 3. Termasuk mengikuti aturan. Pembuatan tata tertib pelatihan untuk konsekuensi bersama ( Juklak. dan pengurus 3. ⇒ Bedakan antara “ SENIOR “ dan “ PROFESIONAL “ II. . monitoring setiap waktu untuk efisiensi dan efektifitas. Kesepakatan antara peserta dan instruktur ( informal : komitmen. demi kemajuan bersama dengan batasan waktu yang jelas. tetap merupakan benda mati ( buatan manusia ). formal : aturan selama pelatihan ) 2. panitia penyelenggara. Juknis ). Menciptakan pola pikir secara profesional dalam tim kerja baru ( bedakan sudut pandang sebagai “ Petualang “ dan sebagai “Tim Penolong” yang Profesional ) 4. HARAPAN DAN KETAKUTAN 1. Perlu dimunculkan untuk meminimalkan kendala dan keluhan selama pelaksanaan kerja ⇒ memelihara rasa takut agar selalu bertindak hati – hati dan waspada.

batasan safety. . tingkatkan jam terbang kerja. akan mengangkat nama daerah juga. tetap konsisten dan konsekuen terhadap standar minimal yang sudah ada. Benturan antar person 4. Umum : melatih kesabaran. seaman mungkin. tebing ). PRESSING FISIK dan PSIKIS 1. pola istirahat. Pengaturan Stamina  Titik kritis masing2 person ( terkait kondisi fisik dan stamina personal. posisi nyaman. VII. MOTIVASI 1. bangunan. meningkatkan kemauan belajar. . Latihan pengendalian Emosi ⇒ Mengelola stress dan permasalahannya ( internal maupun eksternal ) ⇒ KONSEKUENSI TERHADAP SAFETY PROSEDURE . termasuk evaluasi pola hidup sehari – hari ⇒ pola makan. !!! VI. Upaya survive dengan menciptakan tim kerja yang solid 3.V. ketelitian serta daya juang 2. mudah dan nyaman dilewati  Simulasi dan diskusi dengan gambaran ( visual memudahkan pemahaman )  Setting alat untuk vertikal dengan standar safety ( webbing. kebiasaan. KREATIFITAS ⇒ Pola pikir kreatif secara umum dapat memacu kreatifitas dalam pekerjaan 1. . dapat berubah dengan bantuan kerjasama tim yang solid )  Pengetahuan kalori dan pengaturan pola makan  Kesehatan dan Olah Raga ( stretching. Khusus : berkaitan dengan teknik vertikal  Pembuatan bivak/ flysheet  Alat bantu kerja  Rigging di segala medan ( pohon. Bersaing secara sehat dalam mencapai grade tertinggi. Input penilaian personal. dll )  Sifat dasar masing2 person ( terkait psikis personal. descender ). Peluang profesi baru dalam tim baru yang profesional 2. tingkatkan terus standar yang sudah dimiliki. 4. berarti peningkatan grade dan kualitas. ascender. Pembuatan Pola Kerja ( personal dan Tim )  Pekerjaan sulit  Beban kerja berat  Durasi kerja / operasi dalam durasi lama  Teknik minimal  Target maksimal  Fisik terforsir  Pressing Psikis ( pola komando ) 3. aktif belajar dan mencari referensi baru terkait bidang kerja. kualitas istirahat ) 2. senyaman mungkin ( menjadi prioritas untuk profesi Highrisk ).

Nurcahyana. France. Petzl . Penguasaan prinsip dasar kerja masing-masing alat. Canadian Crossroad International. memahami / menguasai sebanyak mungkin dan sedetil mungkin. 2000 4. Mc Lellan. Capacity Building.VIII. Pondok Tingal Borobudur – Magelang. Fungsi optimal dan maksimal dari masing-masing alat 4. 1996 2. Yayasan Acintyacunyata. 3. Pelatihan Ekowisata Nasional – Indecon. Pelatihan PASS ( Positive Altitude Safety System ) PT KEM. Batasan safety dari masing-masing alat  Kekuatan  Fungsi  Penyusutan  Fall Factor IX. 2000 5. 2007 . 1999 3. Katalog. INTRODUKSI dan PENYEGARAN TEKNIK 1. Indecon. REFERENSI 1. Penguasaan simpul dasar untuk teknik vertikal dan aplikasi untuk vertical rescue 2. Laporan Camping Remaja PLAN Gunung Kidul.

non teknis. perhitungan safety. OR pendukung. Faktor Peralatan : jenis. Sumber Daya Manusia ( kualitas.KISI – KISI MATERI DASAR PEMANFAATAN TEKNIK VERTIKAL UNTUK PENYELAMATAN I. menara / tower. Pemanfaatan Teknik Vertikal untuk bidang kerja 3. polutan. Peralatan ( peralatan vertikal. BAHAYA DALAM MEDAN VERTIKAL a. operasional lapangan. peralatan pendukung ) 4. kekuatan. Faktor Manusia : pengetahuan. dll ) 5. Penggunaan dan Perawatan Peralatan ) 1. efisiensi. Kesehatan • Persiapan Fisik ( stretching. PENGANTAR ( INTRODUKSI ) 1. disiplin. sumur. Faktor Alam / Lingkungan : • Urban / perkotaan : gedung bertingkat. Gua. peningkatan stamina ) • Kecukupan Gizi • Kebutuhan Kalori • Kualitas Istirahat II. mentalitas. fungsi. Manajemen ( perusahaan. Lingkungan / Alam (Faktor Cuaca dan Iklim. kuantitas. perubahan struktur. penyusutan ( fisik. untuk efisiensi dan efektifitas • Pemanfaatan untuk SAR dan kemanusiaan • Pekerjaan di ketinggian yang beresiko tinggi 2. yang menentukan keberhasilan pekerjaan b. Kesiapan Pertolongan / Rescue ( emergency respon. efektifitas. bahan. Sungai . aplikasi. konstruksi. kepedulian. peka rasa ) 9. kekuatan ) ⇒ Alat hanya media untuk mendukung efisiensi dan efektifitas sebuah pekerjaan c. yang tidak dapat dijangkau secara manual • Dikembangkan dari Militer serta hobi penggiat alam bebas dan petualangan • Perkembangan peralatan dan teknik. Faktor Kimia ( bahan pembersih. tim rescue ) 10. konsekuensi ⇒ Manusia sebagai Subyek kegiatan. tim. pohon • Alam Bebas : Gunung. Air Terjun d. Klasifikasi Peralatan : . bahaya di luar faktor manusia ) 7. korosi. Tahapan Penguasaan Teknik Vertikal • Diterapkan pada medan sulit. Mentalitas ( personal. Pengetahuan ( teknis. Peluang masa Depan • Safety standar dapat diterapkan sebagai profesi dengan nilai yang tinggi • Penelitian dan Ilmu Pengetahuan • Instruktur dan Pelatih • Konsultan Safety • Aset pengetahuan dalam kehidupan sehari – hari MATA RANTAI KEAMANAN 1. loyalitas ) 8. logam. kerja personal ) 2. Teknik ( vertikal. Kerjasama Tim ( kekompakan. konsekuensi. dll ) IV. P4 VERTIKAL ( Pengenalan. Tebing. penguasaan. kekeluargaan. kelompok ) 6. pendukung ) 3. III. Kelebihan dan kekurangan Teknik Vertikal 4. self rescue. ikatan batin. pembuatan lintasan.

Belaying g. bandolier. Z-Rig. Bermacam teknik dan variasi melewati lintasan vertikal 2. 8. Anchor : jenis. Kontrol rutin. efektif dan efisien dalam segala hal ⇒ sebuah kegiatan dapat selesai lebih cepat apabila peralatan dan perlengkapan yang digunakan sesuai dengan medan yang dihadapi ⇒ sesuaikan peralatan yang tersedia dengan kesulitan medan yang ada. kondisional. kualitas. penyimpanan. dll ) 5. • Rigging atau pembuatan tambatan di pemukiman a. counter balance. gedung. tyroliene. Jenis lintasan : fix. Pengaman tambahan untuk safety alat dari gesekan. 5. sepatu. Prinsip dan sistem dasar SRT 3. pelumasan. safety. Kreatifitas rigging di pemukiman. safety ) 4. kondisi tempat simpan. bangunan. Perawatan Peralatan ( packing. dll ) b. kreatiflah !!! V. pencucian. beban minimal pada saat simpan ) 7. Fall Factor d. standar. Peralatan Vertikal Kegiatan Alam Bebas ( Kernmantle. dinamis ( intermediet. Jenis penyusutan : fisik. modifikasi. a. tower. double rope e. Jenis – jenis SRT ( 15 jenis ) ⇒ fokus pada Frogrig Methode dan Jumaring/ Texas . kekuatan. pengeringan. kekuatan. Penyimpanan ( pemilahan. Peng – afkiran alat yang sudah tidak standar safety-nya untuk profesi. Pembelian peralatan ( murah vs kualitas. Penggunaan Peralatan ( fungsi standar. pembersihan.2. tali. dengan batasan standar safety prosedure a. tempat logistik / konsumsi.Pendukung : pakaian kerja. sarung tangan. 4. kacamata. gondola.Peralatan Vertikal Konstruksi bangunan ( sling baja. SRT ( Single Rope Technique ) dan Modifikasinya 1. slope tyroliene. Pendulum : free hanging. dll ) Personal Equipment : a. kuantitas. mobilisasi. VI. Analisa kekuatan pada sebuah konstruksi / bangunan c. dll ) 6. konstruksi c. pindah lintasan ) f. deviasi. rompi kerja. dll 2. tracker. advance b. webbing. Perlengkapan pendukung untuk efisiensi dan efektifitas kerja di ketinggian. monitoring sirkulasi peralatan dan perlengkapan. carabiner. dll Collective Equipment : kebutuhan rigging. Y – Anchor h. PENYUSUTAN PERALATAN 1. Pemahaman dasar konstruksi : spesifikasi bahan dan penghitungan kekuatan b. masker. dll VII. dari bahan yang merusak alat i. penggantungan. traversing. natural. Vertikal : SRT. PEMBUATAN LINTASAN ( RIGGING ) • Kreatifitas sangat diperlukan dalam pembuatan rigging. Simpul : dasar. t4 minum. dll Peralatan Pendukung : tas tempat alat vertikal. lap tangan. pelindung peralatan vertikal. dll Standar Modifikasi Peralatan dan Perlengkapan : standar safety. pemakaian. SRT. 3. Pengetahuan tentang peralatan 3. tacklebag / daypack b.

Dapat bekerja sama dalam kelompok. Menghargai hidup orang lain : keluarga. memberi peluang untuk mengembangkan profesi yang sama e. manajemen d. safety prosedure. bersaing secara sehat untuk mengejar grade dan kualitas paling baik f. Grade SDM a. rekan dalam satu tim. sambungan. Menghargai hidup semua orang dengan profesi yang sama. psikis / mentalitas ( dapat dinilai dari kualitas anak didiknya ) e. Tyroliene Slope : Slope Tyroliene Kombinasi lintasan dan sistem pengamanannya STANDAR SDM DI BIDANG VERTIKAL 1. Survive : profesi untuk hidup ( pemula ) b. 6. mempunyai ikatan batin terhadap sesama anggota kelompok ( saling kontrol dan mengingatkan ) d. Meminimalkan ego personal dalam kerja kelompok 2.!!! APALAGI KEINGINAN PAMER KEMAMPUAN . deviasi. Pelatih : teknis. non teknis. manajemen. Konsultan Highrisk Service 3. Profesi beresiko tinggi untuk hidup ( koord. Pendidik : teknis. konsisten dan loyal terhadap lembaga ) c. antar tim dalam satu perusahaan d. BUKAN UNTUK BERTUALANG DAN MENANTANG BAHAYA. 9. Konsekuensi terhadap profesi ( menjaga kualitas teknik. 8. Intermediet. VIII. Selalu berupaya meningkatkan grade dan kemampuannya melalui jam terbang dan terus belajar. Disiplin terhadap safety prosedure b. pindah lintasan Horisontal : Traverse. Psikis / Mentalitas c.4. Mentalitas SDM a. konsultan ) c. 7. Teknis b. Hasil akhir SDM ⇒ Dapat menghargai hidup diri sendiri dan hidup orang lain a.. Kembali pada profesi untuk hidup. Konsisten dan konsekuen terhadap profesinya di bidang pertolongan vertikal PRIORITAS UTAMA ADALAH MENYELAMATKAN KORBAN. Prinsip dasar Ascending ( menaiki lintasan vertikal ) Prinsip dasar Descending ( menuruni lintasan vertikal ) Vertikal : lintasan polos. e. 5. supervisi.

bangunan. Mengundang “ Dosen “ eksternal 5. Profesionalisme : ikatan formal / kontrak kerja.IX. Kursus / mengikuti pelatihan eksternal. Tingkat Dasar Durasi 3 – 4 hari. studi banding 6. 3.. sertifikasi.. 2. studi kasus. tes berkala. . lokasi Indoor dan Outdoor Minimal 10 jam per hari 2. Tingkat Spesialisasi Durasi minimal 10 hari. Pengetahuan dasar. Indoor : mall. konsekuensi. Koleksi dan diskusi referensi baru ( buku. semi Outbound 12 jam per hari 3. Latihan. loyalitas. Tahapan ini tidak dapat dilompati tetapi dapat dipercepat dengan melakukan pola training yang tepat. konstruksi. ujian kenaikan grade. meliputi Kegiatan Alam Bebas maupun Bangunan dan Konstruksi pada medan vertikal dengan berbagai tingkat kesulitan. lokasi Outdoor. tim ini diharapkan mampu mengerjakan apa saja dalam bidang kegiatan vertikal baik Indoor maupun Outdoor. Simulasi dan penyegaran secara tim 4. swalayan. XII. hal – hal baru. lokasi Outdoor. OUT BOUND vertikal swadaya. Non Teknis : tim work. Materi pendidikan mencakup hal teknis dan mentalitas SDM. tower. internet ) 3. Rajin mencoba medan – medan baru ( outdoor : alam. Mengadakan kegiatan bersama lembaga / kelompok lain 7. mentalitas. hal ini dilakukan untuk membentuk tim kerja yang kompak dan profesional. karena pada dasarnya tahapan ini sangat penting dan harus dilalui oleh semua siswa untuk mencapai kematangan psikis dan profesionalismenya. kantor. informasi. 4.. latihan bersama. Tingkat Lanjut Durasi 5 – 7 hari. hunting referensi. kedisiplinan... katalog. Hunting ilmu dan instruktur 2. tes rutin. UPAYA MENJAGA KUALITAS SDM 1. Pendidikan dilaksanakan secara bertahap. dll 2. Teknis : diskusi. plus Outbound 14 jam per hari . gua ) X. UPAYA PENINGKATAN KUALITAS SDM 1. XI. GAMBARAN PENDIDIKAN ⇒ PENDIDIKAN ≠ PELATIHAN 1. KUALIFIKASI PENDIDIKAN 1.

karena korban tidak dapat di evakuasi melalui jalur biasa. Evakuasi korban kecelakaan di gua vertikal Evakuasi korban kecelakaan di Tebing Evakuasi korban di Sumur Evakuasi korban kecelakaan di gua vertikal . baik untuk korban yang masih hidup maupun korban yang sudah meninggal. dan penelusuran gua. panjat tebing. Selama ini operasi Vertical Rescue banyak dilakukan pada kegiatan alam bebas seperti pendakian gunung.GAMBARAN VERTICAL RESCUE Evakuasi korban pada medan vertikal dengan menggunakan peralatan khusus. Di perkotaan operasi Vertical Rescue sering diaplikasikan pada korban di dalam sumur.

TERPEROSOK KE JURANG. KECELAKAAN DI GUA VERTIKAL. jembatan sudah tua. 2005. prediksi awal korban mengalami gegar otak dan patah tulang belakang. terpeleset jatuh ke jurang sedalam 30 meter. dilanjut dengan evakuasi manual 2. 1996. Mengalami luka pada bagian pantat dan punggung. . Kondisi medan merupakan lereng berasir. KECELAKAAN REKREATIF PATAHNYA JEMBATAN DI OBYEK WISATA BATURADEN. 2007. hilang selama 2 hari. OPERATION RALEIGH. memar di kepala. KECELAKAAN DI GUA VERTIKAL. KORBAN HIDUP Penelusur gua vertikal. GUNUNG BINAIYA . tertimpa runtuhan baru dari tambatan. korban selamat. 2 KORBAN. Tergantung pada kedalaman 60 meter. BEBERAPA KASUS KECELAKAAN DI DALAM SUMUR. pengunjung saat lebaran memenuhi jembatan. KORBAN MASSAL TERJATUH SEDALAM 25 METER Patahnya jembatan di obyek wisata Baturaden. korban terlilit sling baja pada ketinggian 80 meter. KORBAN HIDUP Korban terperosok ke dalam sumuran sedalam 40 meter saat melakukan kegiatan eksplorasi gua vertikal. K-20. korban sebanyak lebih dari 25 orang terjatuh ke dalam jurang sedalam 25 meter. korban digendong kemudian ditarik dari atas. Proses evakuasi selama 12 jam. 2006. Korban mengalami patah tulang leher. Evakuasi secara vertikal dengan bantuan alat seadanya. KORBAN HIDUP Korban tidak menguasai teknik penelusuran gua. 1 orang meninggal seketika patah leher. GUNUNG SEMERU. jatuh ke dalam sumuran sedalam 36 meter. 1 orang lainnya ditemukan setelah 5 hari.SULAWESI SELATAN. Korban selamat 4.PULAU SERAM. evakuasi vertikal dengan memanfaatkan batangan besi sebagai tambatan. evakuasi dengan posisi vertikal. Di evakuasi dg teknik lowering. HILANG SELAMA 2 HARI. agak terganggu ingatan. KORBAN SELAMAT Pendaki gunung. LUWENG JATI. GUA VERTIKAL. Mengalami patah tulang rusuk. 3. KORBAN MENINGGAL Pekerja pemasang tower. LUWENG KAYU ARES. korban selamat. 8. Selama 3 tahun paska kecelakaan sebagian memori korban hilang. 5. Jembatan patah. kaki dan tangan. akan buang air di lereng. MAROS. tidak pernah di cek kondisinya. 1988. Proses evakuasi selama 13 jam. BAIK DI PERKOTAAN MAUPUN KASUS TERBANYAK DI GUNUNG KIDUL. Baru dapat di evakuasi setelah lebih dari 24 jam. untuk kemudian di stabilisasi di basket stretcher. ditemukan dalam keadaan lemah. luka sudah belatungan. 7. 2002. crane patah. Terperosok ke dalam jurang sedalam 40 meter. 2 fotografer luar negeri mendaki gunung tanpa didampingi pemandu. 1 MENINGGAL 1 HIDUP Expedisi gabungan Internasional. 1988. dan tulang belakang. TOWER RCTI.STUDI KASUS OPERASI VERTICAL RESCUE 1. korban di evakuasi sementara pada teras di atasnya. 6. Mengalami gegar otak berat. hidup dg survival.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->