BUKU PANDUAN PELATIHAN

TEKNIK VERTIKAL DAN VERTICAL RESCUE TINGKAT DASAR BAGI POTENSI SAR DI JAWA TENGAH

KERJASAMA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN

QC

HIGH RISK SERVICE

JL. NAKULA RAYA NO. 40 SEMARANG TELP 024 3585428

 Pada akhir kegiatan semua peserta akan diberikan Post test. Kegiatan ini memiliki resiko besar dan berpotensi terjadi musibah pada pelakunya. dimulai dengan memberikan gambaran tentang kegiatan vertikal. Memberikal pengetahuan standard dan bekal teknik maupun konsekuensi psikis kepada SDM potensi SAR untuk dapat melakukan kegiatan Pertolongan di medan vertical 4. . Sampai saat ini belum banyak SDM yang menguasai teknik pertolongannya. dilanjutkan dengan pengenalan kegiatan self rescue dan terakhir diberikan penanganan pertolongan vertikal secara tim  Prosentase materi dan praktek adalah 40% . baik pada kegiatan profesi maupun kegiatan rekreatif. Memberikan pelatihan kepada potensi SAR dari berbagai daerah untuk kemudian dapat mengembangkan kepada potensi di daerah masing – masing. TUJUAN 1. diharapkan peserta lebih banyak melakukan praktek untuk menambah jam terbang sehingga peserta lebih menguasai materi yang diberikan  Peserta juga akan diberikan materi aplikasi dengan melakukan simulasi pada Tower.  Materi akan diberikan secara bertahap. untuk mengetahui seberapa jauh para peserta dapat menyerap materi yang diberikan selama pelatihan. 3. beserta resiko dan langkah pertolongannya. Post Test ini juga sebagai media penilaian baik teori dan praktek yang dilakukan peserta untuk dasar mengeluarkan sertifikat sebagai tanda peserta telah menguasai kemampuan Vertikal Rescue. Memberikan gambaran secara utuh mengenai kegiatan vertikal. Diharapkan dengan pembatasan jumah peserta ini akan dapat mengoptimalkan penguasaan materi yang diberikan. Meningkatkan kemampuan segenap potensi SAR dan pengurus SAR setempat agar dapat menangani kegiatan pertolongan pada medan vertical GAMBARAN KEGIATAN  Kegiatan Pelatihan akan dilaksanakan selama 4 hari. 2. terutama pada medan yang sangat sulit. dimana akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus kecelakaan dan evakuasi dengan medan tower. sebelum pelaksanaan pelatihan akan dilakukan seleksi untuk mendapatkan kuota jumlah peserta ideal. Di sisi lain cukup banyak musibah yang terjadi dengan medan vertikal yang sulit untuk melakukan evakuasi para korbannya.GAMBARAN PELATIHAN VERTICAL RESCUE UNTUK POTENSI SAR JAWA TENGAH LATAR BELAKANG Kegiatan vertikal banyak dilakukan oleh berbagai unsur masyarakat.60%.  Dari peserta yang terseleksi masih akan dilakukan penilaian akhir untuk mendapatkan sertifikat kelulusan dengan standar nilai minimal untuk dapat melakukan kegiatan pertolongan di medan vertical.

menurunkan. ARES ORARI Jawa Tengah Sertifikasi UIAA ( United International Alpen Association ) 4. Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta 2. Pemberian materi pengantar berupa teori akan dilakukan di dalam ruangan / kelas 2. Pengenalan Teknik Pertolongan di medan Vertikal 8. Liestyan Haryanto. Penilaian kemampuan siswa pada akhir pelatihan. 4. Penambahan wawasan mengenai vertical Rescue akan diberikan melalui media visual berupa film kegiatan vertikal maupun pertolongan di medan vertikal. Penggunaan.MATERI 1. 5. Simulasi Pertolongan Vertikal 12. Power Point dalam penyampaian 3. Bahaya dalam kegiatan Vertikal 4. baik menaikkan. dan Perawatan Peralatan Vertikal Rescue 3. Aspek yang dinilai adalah pemahaman materi dan pelaksanaan praktek baik teknik vertikal maupun vertical rescue . Praktek dan aplikasi secara langsung pada medan vertikal NARA SUMBER 1. FFME ( Federation Francaise de la Montagne et de I’Escalade ) DURASI PELATIHAN 4 hari kegiatan dengan rata-rata 15 jam/hari. Imam Bukhori. Self rescue 7. Buku Panduan 2. Tim Vertical Rescue 10. Manajemen Peralatan 9. Manajemen Pertolongan Vertikal 11. Pengenalan. Modifikasi 6. selain untuk mengetahui prosentase penyerapan materi juga untuk menentukan lulus atau tidaknya siswa.10 jam simulasi dan praktek GAMBARAN KEGIATAN PELATIHAN 1. Pengenalan Kegiatan Vertikal. Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta 3. resiko dan penanganannya 2. Pengenalan dasar Teknik Vertikal 5. maupun menyeberangkan korban. Sertifikasi CICE. Diskusi dan studi kasus akan dilakukan di ruangan atau langsung di lapangan 3. terbagi dalam 5 jam materi ruang . Bambang Wicaksono. Bagus Yulianto. Simulasi dan praktek akan dilakukan dengan mencoba teknik evakuasi pada gedung bertingkat. Diskusi dan Studi Kasus Pertolongan Vertikal BENTUK MATERI 1. Audio Visual ( Film ) sebagai media studi kasus dan referensi 4.

standar. KONTRAK BELAJAR 1. Evaluasi harian dan pembenahan selama pelatihan. bisa dicapai dengan efisiensi dan efektifitas ) BRAINWASHING 1. Penyamaan Visi dan Misi bersama. Pembuatan tata tertib pelatihan untuk konsekuensi bersama ( Juklak. demi kemajuan bersama dengan batasan waktu yang jelas. Melepas ikatan organisasi / lembaga / klub setelah bergabung dalam sebuah tim baru untuk sebuah profesi Tim Penyelamat. Review materi setiap selesai pemberian pada setiap hari selesai materi ruang 4. IV. HARAPAN DAN KETAKUTAN 1. panitia penyelenggara. ( Durasi pemberian materi berkurang berarti kesempatan menambah wawasan berkurang pula. Mengoptimalkan target pelatihan dengan standar kualitas yang disepakati 3. dan teknik yang disepakati dalam pelaksanaan pelatihan. . Saling mengenal antara tim pemateri. Membentuk ikatan dari masing2 individu menjadi sebuah tim kerja baru ( saling membutuhkan. saling mengawasi dalam pelaksanaan pelatihan dengan resiko tinggi ) ⇒ Menitipkan “HIDUP” kepada rekan satu tim. siswa. Alat hanyalah sebuah media untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan. 3. Juknis ). 2. Saling mengenal dan memahami antar personal 2. III.PENINGKATAN KEMAMPUAN TEKNIK VERTIKAL dan VERTICAL RESCUE POTENSI SAR JAWA TENGAH I. tetapi tetap dalam batasan saling menghargai dan menghormati. monitoring setiap waktu untuk efisiensi dan efektifitas. tetap merupakan benda mati ( buatan manusia ). Menciptakan suasana familiar selama pelatihan. 5. Kesepakatan antara peserta dan instruktur ( informal : komitmen. Jangan percayakan hidup kita pada sebuah alat. ⇒ Bedakan antara “ SENIOR “ dan “ PROFESIONAL “ II. sanksi dan hukuman setiap ada pelanggaran 3. formal : aturan selama pelatihan ) 2. saling mengingatkan. PERKENALAN 1. 2. Menciptakan pola pikir secara profesional dalam tim kerja baru ( bedakan sudut pandang sebagai “ Petualang “ dan sebagai “Tim Penolong” yang Profesional ) 4. percayakan hidup kita pada sesama manusia yang telah membuat peralatan tersebut dengan akal pikirannya. dan pengurus 3. CATATAN PENTING : Sudah cukup banyak contoh kasus insiden dan kecelakaan menimpa orang – orang yang justru dianggap senior / terlatih. Termasuk mengikuti aturan. Perlu dimunculkan untuk meminimalkan kendala dan keluhan selama pelaksanaan kerja ⇒ memelihara rasa takut agar selalu bertindak hati – hati dan waspada. karena mereka terjebak dalam status “Senioritas” serta terlalu toleran terhadap segi keamanan dan mengandalkan pengalaman + jam terbang.

Latihan pengendalian Emosi ⇒ Mengelola stress dan permasalahannya ( internal maupun eksternal ) ⇒ KONSEKUENSI TERHADAP SAFETY PROSEDURE .V. senyaman mungkin ( menjadi prioritas untuk profesi Highrisk ). Bersaing secara sehat dalam mencapai grade tertinggi. tetap konsisten dan konsekuen terhadap standar minimal yang sudah ada. Upaya survive dengan menciptakan tim kerja yang solid 3. . Pembuatan Pola Kerja ( personal dan Tim )  Pekerjaan sulit  Beban kerja berat  Durasi kerja / operasi dalam durasi lama  Teknik minimal  Target maksimal  Fisik terforsir  Pressing Psikis ( pola komando ) 3. . descender ). mudah dan nyaman dilewati  Simulasi dan diskusi dengan gambaran ( visual memudahkan pemahaman )  Setting alat untuk vertikal dengan standar safety ( webbing. 4. Umum : melatih kesabaran. posisi nyaman. Input penilaian personal. Peluang profesi baru dalam tim baru yang profesional 2. berarti peningkatan grade dan kualitas. tebing ). ketelitian serta daya juang 2. dll )  Sifat dasar masing2 person ( terkait psikis personal. pola istirahat. VII. kualitas istirahat ) 2. Pengaturan Stamina  Titik kritis masing2 person ( terkait kondisi fisik dan stamina personal. seaman mungkin. dapat berubah dengan bantuan kerjasama tim yang solid )  Pengetahuan kalori dan pengaturan pola makan  Kesehatan dan Olah Raga ( stretching. Benturan antar person 4. batasan safety. termasuk evaluasi pola hidup sehari – hari ⇒ pola makan. kebiasaan. KREATIFITAS ⇒ Pola pikir kreatif secara umum dapat memacu kreatifitas dalam pekerjaan 1. MOTIVASI 1. meningkatkan kemauan belajar. tingkatkan terus standar yang sudah dimiliki. PRESSING FISIK dan PSIKIS 1. ascender. !!! VI. akan mengangkat nama daerah juga. tingkatkan jam terbang kerja. aktif belajar dan mencari referensi baru terkait bidang kerja. Khusus : berkaitan dengan teknik vertikal  Pembuatan bivak/ flysheet  Alat bantu kerja  Rigging di segala medan ( pohon. . bangunan.

INTRODUKSI dan PENYEGARAN TEKNIK 1. Capacity Building. Pelatihan PASS ( Positive Altitude Safety System ) PT KEM.VIII. 2007 . 1996 2. 3. Nurcahyana. Penguasaan prinsip dasar kerja masing-masing alat. Pondok Tingal Borobudur – Magelang. France. REFERENSI 1. 1999 3. Penguasaan simpul dasar untuk teknik vertikal dan aplikasi untuk vertical rescue 2. memahami / menguasai sebanyak mungkin dan sedetil mungkin. Katalog. Indecon. Fungsi optimal dan maksimal dari masing-masing alat 4. Laporan Camping Remaja PLAN Gunung Kidul. Pelatihan Ekowisata Nasional – Indecon. 2000 4. Yayasan Acintyacunyata. Canadian Crossroad International. 2000 5. Mc Lellan. Petzl . Batasan safety dari masing-masing alat  Kekuatan  Fungsi  Penyusutan  Fall Factor IX.

tim rescue ) 10. Sungai . ikatan batin. non teknis. Klasifikasi Peralatan : . korosi. Kesiapan Pertolongan / Rescue ( emergency respon. dll ) 5. yang tidak dapat dijangkau secara manual • Dikembangkan dari Militer serta hobi penggiat alam bebas dan petualangan • Perkembangan peralatan dan teknik. Penggunaan dan Perawatan Peralatan ) 1. III. Air Terjun d. fungsi. bahaya di luar faktor manusia ) 7. aplikasi. Kelebihan dan kekurangan Teknik Vertikal 4. tim. Teknik ( vertikal. Pengetahuan ( teknis. kekuatan. dll ) IV. Mentalitas ( personal. polutan. Tebing. Tahapan Penguasaan Teknik Vertikal • Diterapkan pada medan sulit. Peluang masa Depan • Safety standar dapat diterapkan sebagai profesi dengan nilai yang tinggi • Penelitian dan Ilmu Pengetahuan • Instruktur dan Pelatih • Konsultan Safety • Aset pengetahuan dalam kehidupan sehari – hari MATA RANTAI KEAMANAN 1. konsekuensi ⇒ Manusia sebagai Subyek kegiatan. Kerjasama Tim ( kekompakan. disiplin. bahan. logam. kepedulian. konstruksi. sumur. P4 VERTIKAL ( Pengenalan. operasional lapangan. Peralatan ( peralatan vertikal. menara / tower. pendukung ) 3. peningkatan stamina ) • Kecukupan Gizi • Kebutuhan Kalori • Kualitas Istirahat II. mentalitas. Faktor Alam / Lingkungan : • Urban / perkotaan : gedung bertingkat. pembuatan lintasan. BAHAYA DALAM MEDAN VERTIKAL a. Faktor Kimia ( bahan pembersih. kerja personal ) 2. kekeluargaan. Kesehatan • Persiapan Fisik ( stretching. pohon • Alam Bebas : Gunung. Manajemen ( perusahaan. untuk efisiensi dan efektifitas • Pemanfaatan untuk SAR dan kemanusiaan • Pekerjaan di ketinggian yang beresiko tinggi 2. peka rasa ) 9. efisiensi. Faktor Manusia : pengetahuan. OR pendukung. efektifitas. Lingkungan / Alam (Faktor Cuaca dan Iklim. self rescue. peralatan pendukung ) 4. kekuatan ) ⇒ Alat hanya media untuk mendukung efisiensi dan efektifitas sebuah pekerjaan c. yang menentukan keberhasilan pekerjaan b.KISI – KISI MATERI DASAR PEMANFAATAN TEKNIK VERTIKAL UNTUK PENYELAMATAN I. perubahan struktur. konsekuensi. kuantitas. loyalitas ) 8. PENGANTAR ( INTRODUKSI ) 1. Sumber Daya Manusia ( kualitas. penguasaan. kelompok ) 6. Gua. Faktor Peralatan : jenis. perhitungan safety. Pemanfaatan Teknik Vertikal untuk bidang kerja 3. penyusutan ( fisik.

konstruksi c. Pendulum : free hanging. dll ) b. penyimpanan. kualitas. natural. tempat logistik / konsumsi. Kontrol rutin. Prinsip dan sistem dasar SRT 3. 4. safety. kuantitas. kondisi tempat simpan. dengan batasan standar safety prosedure a. dll ) 5. Belaying g. tower. safety ) 4. dll 2. Pengaman tambahan untuk safety alat dari gesekan. pelumasan. PENYUSUTAN PERALATAN 1. PEMBUATAN LINTASAN ( RIGGING ) • Kreatifitas sangat diperlukan dalam pembuatan rigging. gedung. Pembelian peralatan ( murah vs kualitas. Vertikal : SRT. efektif dan efisien dalam segala hal ⇒ sebuah kegiatan dapat selesai lebih cepat apabila peralatan dan perlengkapan yang digunakan sesuai dengan medan yang dihadapi ⇒ sesuaikan peralatan yang tersedia dengan kesulitan medan yang ada. tracker. pencucian. Z-Rig. SRT ( Single Rope Technique ) dan Modifikasinya 1. Penggunaan Peralatan ( fungsi standar. dll Peralatan Pendukung : tas tempat alat vertikal. pengeringan. webbing. dll Standar Modifikasi Peralatan dan Perlengkapan : standar safety. dll Collective Equipment : kebutuhan rigging. kekuatan. pembersihan. dll ) Personal Equipment : a. Pengetahuan tentang peralatan 3. counter balance. dll ) 6.Pendukung : pakaian kerja. Perlengkapan pendukung untuk efisiensi dan efektifitas kerja di ketinggian. lap tangan. kacamata. SRT. sarung tangan. deviasi. monitoring sirkulasi peralatan dan perlengkapan. Peng – afkiran alat yang sudah tidak standar safety-nya untuk profesi. dinamis ( intermediet. t4 minum. kreatiflah !!! V. beban minimal pada saat simpan ) 7. modifikasi. kekuatan. 3.Peralatan Vertikal Konstruksi bangunan ( sling baja. dari bahan yang merusak alat i. pemakaian. a.2. tyroliene. rompi kerja. • Rigging atau pembuatan tambatan di pemukiman a. masker. VI. dll VII. carabiner. gondola. Fall Factor d. Jenis lintasan : fix. double rope e. slope tyroliene. tali. tacklebag / daypack b. sepatu. advance b. Bermacam teknik dan variasi melewati lintasan vertikal 2. 8. Simpul : dasar. Y – Anchor h. penggantungan. Peralatan Vertikal Kegiatan Alam Bebas ( Kernmantle. traversing. kondisional. pindah lintasan ) f. Pemahaman dasar konstruksi : spesifikasi bahan dan penghitungan kekuatan b. pelindung peralatan vertikal. standar. Anchor : jenis. Kreatifitas rigging di pemukiman. Analisa kekuatan pada sebuah konstruksi / bangunan c. 5. mobilisasi. bangunan. bandolier. Jenis – jenis SRT ( 15 jenis ) ⇒ fokus pada Frogrig Methode dan Jumaring/ Texas . Penyimpanan ( pemilahan. Jenis penyusutan : fisik. Perawatan Peralatan ( packing.

Psikis / Mentalitas c. antar tim dalam satu perusahaan d. VIII.. BUKAN UNTUK BERTUALANG DAN MENANTANG BAHAYA. konsisten dan loyal terhadap lembaga ) c. pindah lintasan Horisontal : Traverse. Mentalitas SDM a. Pendidik : teknis. e. supervisi. sambungan. memberi peluang untuk mengembangkan profesi yang sama e. Selalu berupaya meningkatkan grade dan kemampuannya melalui jam terbang dan terus belajar. bersaing secara sehat untuk mengejar grade dan kualitas paling baik f. rekan dalam satu tim. 5. Menghargai hidup orang lain : keluarga. Survive : profesi untuk hidup ( pemula ) b. Meminimalkan ego personal dalam kerja kelompok 2. Konsisten dan konsekuen terhadap profesinya di bidang pertolongan vertikal PRIORITAS UTAMA ADALAH MENYELAMATKAN KORBAN. 9. Prinsip dasar Ascending ( menaiki lintasan vertikal ) Prinsip dasar Descending ( menuruni lintasan vertikal ) Vertikal : lintasan polos. Konsekuensi terhadap profesi ( menjaga kualitas teknik. Profesi beresiko tinggi untuk hidup ( koord. Dapat bekerja sama dalam kelompok. non teknis. Konsultan Highrisk Service 3. 6. 7. mempunyai ikatan batin terhadap sesama anggota kelompok ( saling kontrol dan mengingatkan ) d.!!! APALAGI KEINGINAN PAMER KEMAMPUAN . deviasi.4. konsultan ) c. Hasil akhir SDM ⇒ Dapat menghargai hidup diri sendiri dan hidup orang lain a. Disiplin terhadap safety prosedure b. Intermediet. Tyroliene Slope : Slope Tyroliene Kombinasi lintasan dan sistem pengamanannya STANDAR SDM DI BIDANG VERTIKAL 1. 8. Pelatih : teknis. manajemen d. Menghargai hidup semua orang dengan profesi yang sama. Grade SDM a. safety prosedure. Teknis b. Kembali pada profesi untuk hidup. manajemen. psikis / mentalitas ( dapat dinilai dari kualitas anak didiknya ) e.

sertifikasi. Teknis : diskusi. Rajin mencoba medan – medan baru ( outdoor : alam. mentalitas. internet ) 3. XII. studi kasus. konsekuensi. Tingkat Dasar Durasi 3 – 4 hari. tes rutin. Kursus / mengikuti pelatihan eksternal. gua ) X. tes berkala. karena pada dasarnya tahapan ini sangat penting dan harus dilalui oleh semua siswa untuk mencapai kematangan psikis dan profesionalismenya. tim ini diharapkan mampu mengerjakan apa saja dalam bidang kegiatan vertikal baik Indoor maupun Outdoor. Latihan. hal – hal baru. Materi pendidikan mencakup hal teknis dan mentalitas SDM. hunting referensi. konstruksi. hal ini dilakukan untuk membentuk tim kerja yang kompak dan profesional. kantor. bangunan. ujian kenaikan grade. Indoor : mall. kedisiplinan. GAMBARAN PENDIDIKAN ⇒ PENDIDIKAN ≠ PELATIHAN 1. meliputi Kegiatan Alam Bebas maupun Bangunan dan Konstruksi pada medan vertikal dengan berbagai tingkat kesulitan. Profesionalisme : ikatan formal / kontrak kerja. Tingkat Lanjut Durasi 5 – 7 hari.. plus Outbound 14 jam per hari . lokasi Outdoor. loyalitas. . lokasi Outdoor. Pendidikan dilaksanakan secara bertahap. latihan bersama. 3. KUALIFIKASI PENDIDIKAN 1. swalayan. 2.. Mengundang “ Dosen “ eksternal 5. Mengadakan kegiatan bersama lembaga / kelompok lain 7. XI. 4. UPAYA MENJAGA KUALITAS SDM 1. Tingkat Spesialisasi Durasi minimal 10 hari. studi banding 6. Koleksi dan diskusi referensi baru ( buku. Tahapan ini tidak dapat dilompati tetapi dapat dipercepat dengan melakukan pola training yang tepat. Non Teknis : tim work. Hunting ilmu dan instruktur 2.. dll 2. OUT BOUND vertikal swadaya. katalog. Pengetahuan dasar. informasi. UPAYA PENINGKATAN KUALITAS SDM 1.. tower.. Simulasi dan penyegaran secara tim 4.IX. semi Outbound 12 jam per hari 3. lokasi Indoor dan Outdoor Minimal 10 jam per hari 2.

dan penelusuran gua. baik untuk korban yang masih hidup maupun korban yang sudah meninggal. Evakuasi korban kecelakaan di gua vertikal Evakuasi korban kecelakaan di Tebing Evakuasi korban di Sumur Evakuasi korban kecelakaan di gua vertikal .GAMBARAN VERTICAL RESCUE Evakuasi korban pada medan vertikal dengan menggunakan peralatan khusus. Selama ini operasi Vertical Rescue banyak dilakukan pada kegiatan alam bebas seperti pendakian gunung. karena korban tidak dapat di evakuasi melalui jalur biasa. Di perkotaan operasi Vertical Rescue sering diaplikasikan pada korban di dalam sumur. panjat tebing.

prediksi awal korban mengalami gegar otak dan patah tulang belakang. Di evakuasi dg teknik lowering. 2005. Mengalami patah tulang rusuk. GUA VERTIKAL. evakuasi vertikal dengan memanfaatkan batangan besi sebagai tambatan. jembatan sudah tua. tidak pernah di cek kondisinya. 2006. jatuh ke dalam sumuran sedalam 36 meter. 2007. MAROS. 8. GUNUNG SEMERU. korban digendong kemudian ditarik dari atas. Mengalami gegar otak berat. 1988. kaki dan tangan. Baru dapat di evakuasi setelah lebih dari 24 jam. 1 orang lainnya ditemukan setelah 5 hari. dilanjut dengan evakuasi manual 2. terpeleset jatuh ke jurang sedalam 30 meter. 1996. KORBAN HIDUP Korban terperosok ke dalam sumuran sedalam 40 meter saat melakukan kegiatan eksplorasi gua vertikal. 2 fotografer luar negeri mendaki gunung tanpa didampingi pemandu. . agak terganggu ingatan. Terperosok ke dalam jurang sedalam 40 meter. TOWER RCTI. crane patah. KECELAKAAN DI GUA VERTIKAL. KORBAN HIDUP Penelusur gua vertikal. 1988. GUNUNG BINAIYA . Selama 3 tahun paska kecelakaan sebagian memori korban hilang. akan buang air di lereng. pengunjung saat lebaran memenuhi jembatan. BEBERAPA KASUS KECELAKAAN DI DALAM SUMUR. BAIK DI PERKOTAAN MAUPUN KASUS TERBANYAK DI GUNUNG KIDUL. luka sudah belatungan. KECELAKAAN DI GUA VERTIKAL. 3. Tergantung pada kedalaman 60 meter. dan tulang belakang. hidup dg survival. Korban selamat 4. hilang selama 2 hari. korban sebanyak lebih dari 25 orang terjatuh ke dalam jurang sedalam 25 meter. 2 KORBAN. OPERATION RALEIGH. 1 MENINGGAL 1 HIDUP Expedisi gabungan Internasional. TERPEROSOK KE JURANG.STUDI KASUS OPERASI VERTICAL RESCUE 1. Jembatan patah. KORBAN MENINGGAL Pekerja pemasang tower. 5. 7. Korban mengalami patah tulang leher. KECELAKAAN REKREATIF PATAHNYA JEMBATAN DI OBYEK WISATA BATURADEN. KORBAN SELAMAT Pendaki gunung. Kondisi medan merupakan lereng berasir. korban di evakuasi sementara pada teras di atasnya. evakuasi dengan posisi vertikal. Evakuasi secara vertikal dengan bantuan alat seadanya. 2002. 1 orang meninggal seketika patah leher. Proses evakuasi selama 13 jam. ditemukan dalam keadaan lemah. Proses evakuasi selama 12 jam. HILANG SELAMA 2 HARI.SULAWESI SELATAN. tertimpa runtuhan baru dari tambatan. korban selamat. 6. untuk kemudian di stabilisasi di basket stretcher. LUWENG JATI. memar di kepala. Mengalami luka pada bagian pantat dan punggung.PULAU SERAM. K-20. LUWENG KAYU ARES. korban terlilit sling baja pada ketinggian 80 meter. KORBAN HIDUP Korban tidak menguasai teknik penelusuran gua. korban selamat. KORBAN MASSAL TERJATUH SEDALAM 25 METER Patahnya jembatan di obyek wisata Baturaden.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful