PTK PAUD

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Tujuan Pendidikan Taman Kanak-Kanak menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 28 ayat 3 adalah membantu anak didik dalam mengembangkan berbagai potensi baik secara psikis maupun fisik yang meliputi pengembangan moral, nilai, sosial, emosional, kognitif, bahasa, motorik, kemandirian dan seni untuk dipersiapkan memasuki Pendidikan dasar. Tujuan meletakkan program dasar ke kegiatan arah belajar TK adalah sikap, membantu pengetahuan

perkembangan

keterampilan, dan daya cipta anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar TK meliputi pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan

bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan, dan jasmani. Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat
1

berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti: dan, karena, tetapi; menggunakan kata tanya seperti bagaimana, apa, mengapa, kapan; membandingkan dua hal; memahami konsep timbal balik; menyusun kalimat; mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana. Anak prasekolah biasanya telah mampu mengembangkan

keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga dapat menambah perbendaharaan kata. Idealnya, kelompok B sudah memenuhi kriteria mampu berbahasa seperti paparan di atas. Kenyataannya, dalam kegiatan pembelajaran pengembangan berbahasa, prestasi belajar anak tergolong rendah. Hal tersebut bisa diamati berdasarkan gejala-gejala berikut: 1. Anak kurang lancar berbicara 2. Anak masih malu-malu mengungkapkan perasaannya secara lisan 3. Sebagian anak bersikap pasif ketika diminta ikut terlibat dalam kegiatan berbicara

2

4. Anak kurang mampu menyambung pembicaraan karena keterbatasan kosa kata Faktor penyebab timbulnya permasalahan di atas adalah: 1. Guru kurang memberikan bimbingan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa siswa 2. Metode yang digunakan kurang memberikan kesempatan

pengembangan kemampuan berbahasa 3. Guru kurang aktif sehingga anak juga menjadi pasif 4. Media yang digunakan kurang bervariasi dan tidak merangsang untuk meningkatkan respon anak Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis akan

menggunakan metode bercakap-cakap untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak. Penulis memilih metode ini karena pada metode bercakap-cakap interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik, atau antara anak dengan anak bersifat menyenangkan berupa dialog yang tidak kaku. Topik pembicaraan dapat bebas ataupun ditentukan. Dalam percakapan tersebut, guru bertindak sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak memotivasi anak dengan harapan anak lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya atau

mengekspresikan secara lisan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Kelompok B TK Pertiwi Bengkalis
3

penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Apakah penggunaan metode bercakap-cakap dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak kelompok B TK Pertiwi Bengkalis melalui menceritakan pengalaman sederhana dengan urut? C. Memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tidak kaku b. D. Rumusan Masalah Dalam penelitian ini. Manfaat bagi guru 1. Tujuan Perbaikan Berdasarkan rumusan masalah di atas. Meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran 4 . Meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak 2.Melalui Kegiatan Menceritakan Pengalaman Sederhana dengan Urut Menggunakan Metode Bercakap-Cakap”. Manfaat Perbaikan a. tujuan perbaikan pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar melalui menceritakan pengalaman sederhana dengan urut anak kelompok B TK Pertiwi Bengkalis menggunakan metode bercakapcakap. Membantu anak lebih percaya diri dalam menjalin komunikasi dengan guru dan teman sejawat 3. B. Manfaat bagi siswa 1.

Metode bercakap-cakap dapat dijadikan salah satu alternatif metode pembelajaran di TK Pertiwi Bengkalis c. Hasil perbaikan pembelajaran bisa memberikan kontribusi positif bagi kemajuan sekolah 2. Manfaat bagi sekolah 1.2. Meningkatkan profesionalisme guru karena telah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran 3. Motivasi bagi guru yang lain agar melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas sekolah 5 .

Bercakap-cakap juga diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan pengembangan yang dilakukan melalui bercakap- 6 . atau menyatakan keinginan untuk memiliki atau bertindak sesuatu. Kegiatan monolog dilaksanakan di kelas dengan cara anak berdiri dan berbicara di depan kelas atau di tempat duduknya. 1986: 2. mengungkapkan segala sesuatu yang diketahui. 1999: 26). Dalam buku “Metode Pengajaran di TK” dijelaskan bahwa bercakap-cakap berarti saling mengomunikasikan pikiran dan perasaan secara verbal atau mewujudkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif (Hilderbrand. 1999: 92).BAB II KAJIAN TEORITIS A. Pengertian Metode Bercakap-Cakap Metode bercakap-cakap dapat berarti komunikasi lisan antara anak dan guru atau antara anak dengan anak melalui kegiatan monolog dan dialog. dalam Moeslihatoen. dimiliki dan dialami. Metode Bercakap-Cakap 1. Kegiatan dialog berbentuk percakapan yang dilakukan dua orang atau lebih yang masing-masing mendapat kesempatan untuk berbicara secara bergantian (Moeslihatoen. atau menyatakan perasaan tentang sesuatu yang memberikan pengalaman yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.

1999: 95). yaitu: a. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode bercakapcakap adalah suatu cara penyampaian bahan pengembangan bahasa yang dilaksanakan melalui bercakap-cakap dalam bentuk tanya jawab antara anak dengan guru atau anak dengan anak. 2. Meningkatkan keberanian anak untuk mengaktualisasikan diri dengan menggunakan kemampuan berbahasa secara ekspresif. menyatakan keinginan. 1998: 22). menyatakan pendapat. Manfaat Metode bercakap-Cakap Ada beberapa manfaat metode bercakap-cakap (Moeslihatoen.cakap dalam bentuk tanya jawab antara anak dengan guru dan anak dengan anak (Depdikbud. yang dikomunikasikan secara lisan dan merupakan salah satu bentuk komunikasi antarpribadi. pikiran Antara dan satu dengan lainnya verbal saling atau mengomunikasikan perasaan secara kemampuan mewujudkan bahasa yang reseptif dan ekspresif dalam suatu dialog yang terjadi dalam suatu situasi. menyatakan perasaan. Meningkatkan keberanian anak untuk menyatakan secara lisan apa yang harus dilakukan oleh diri sendiri dan anak lain c. Meningkatkan keberanian anak untuk mengadakan hubungan dengan anak lain atau dengan gurunya agar terjalin hubungan sosial yang menyenangkan 7 . dan kebutuhan secara lisan b.

Tujuan Metode Bercakap-Cakap Dengan menggunakan metode bercakap-cakap tujuan pengembangan berbahasa yang ingin dicapai antara lain: a. c. Memberi kesempatan kepada anak untuk berekspresi secara lisan. Dengan seringnya kegiatan bercakap-cakap dilakukan. yaitu: a. Meningkatkan keterampilan dalam melakukan kegiatan bersama. Dengan seringnya anak mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.d. dan keinginannya maka hal ini akan semakin meningkatkan kemampuan anak membangun jati dirinya e. serta menyatakan gagasan pendapat secara verbal. b. emosi dan kognitif. Meningkatkan keterampilan menyatakan perasaan. Membantu perkembangan dimensi sosial. 1999: 26). terutama bahasa. Penyebaran informasi dapat memperluas pengetahuan dan wawasan anak tentang tujuan dan tema yang ditetapkan oleh guru Beberapa makna penting terkandung dalam metode bercakapcakap (Moeslihatoen. d. perasaannya. 3. Mengembangkan kecakapan dan keberanian anak dalam menyampaikan pendapatnya kepada siapa pun. b. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. 8 . semakin banyak informasi baru yang diperoleh anak yang bersumber dari guru atau anak lain.

Kelebihan Metode Bercakap-Cakap a. d. d. b. Anak mendapat kesempatan untuk mengemukakan ide-ide dan pendapatnya. Menambah perbendaharaan kata/ kosa kata. Melatih daya pikir dan fantasi anak. Perkembangan Berbahasa Anak Ketika anak tumbuh dan berkembang. Merangsang anak untuk belajar membaca dan menulis. e. B. h. Menambah pengetahuan dan pengalaman anak didik.c. i. Memperbaiki lafal dan ucapan anak. j. g. Melatih daya tangkap anak. e. Anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan belajarnya pada taraf yang lebih tinggi. terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan) produk bahasanya. Mengembangkan intelegensi anak. Secara bertahap kemampuan anak meningkat. Hasil belajar dengan metode bercakap-cakap bersifat fungsional karena topik/ tema yang menjadi bahan percakapan terdapat dalam keseharian dan di lingkungan anak. c. f. Anak mendapat kesempatan untuk menyumbangkan gagasannya. Memberikan kesenangan kepada anak. Mengembangkan cara berpikir kritis dan sikap hormat dan menghargai pendapat orang lain. bermula dari 9 . 4.

Mereka dapat berkata kasar pada temannya. Mereka sudah dapat menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang bermacam-macam. Komunikasi anak yang bermula dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap berkembang menjadi komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas.6 tahun.6 tahun. dan vokal telah sempurna. Dia sudah dapat membuat kalimat berita. usia.4). kalimat 4 kata. dan mulai memahami waktu. Perkembangan bahasa anak semakin meningkat pada usia 5 tahun. pada saat anak berumur 2. 2005:3. anak banyak menggunakan kosa kata dan kata tanya seperti apa dan siapa. 2008: 31). anak telah menggunakan kalimat tanya. 1982:41 dalam Faizah. Anak 10 . Pada saat anak berusia 3 tahun. 1996 dalam Dhieni. Anak pada masa prasekolah ini telah mempelajari hal-hal yang di luar kosakata dan tata bahasa.mengekspresikan suara saja. hingga mengekspresikannya dengan komunikasi. alamat. kalimat tanya. Pada usia ini anak sudah bisa berbicara lancar dengan menggunakan kosa kata baru (Bowler dan Linke. kalimat negasi. tetapi dapat juga berkata sopan pada orang tuanya (Chaer. Pada usia 4 tahun anak mulai bercakap-cakap memberi nama. dan sejumlah kosa kata lain. 2003: 238). Menurut Atchison (Hartley. Ketika memasuki taman kanak-kanak anak sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal bahasanya. Ketika menginjak umur 3. pelafalan konsonan telah sempurna.

11 . anak akan menemukan pengalaman. stimulasi. melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia tersebut. mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami. Sedangkan pada umur 5 tahun konstruksi morfologis dan sintaksis telah sempurna. Dalam hal ini pendidik perlu lebih menekankan penggunaan penguat dibandingkan pengoreksian terhadap kata-kata yang mereka ucapkan. Anak yang memiliki hambatan bahasa juga dapat distimulasi untuk memahami bahasa yang sederhana. reward (hadiah. pujian). 2005: 3. Belajar berbicara dapat dilakukan anak dengan bantuan dari orang dewasa melalui percakapan. Anak membutuhkan reinforcement (penguat). dan mengembangkan bahasanya (Dhieni. Pada anak usia TK (4-6 tahun). Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik. meningkatkan pengetahuannya. dan model atau contoh yang baik dari orang dewasa agar kemampuannya dalam berbahasa dapat berkembang secara maksimal.telah bisa menggunakan kalimat sederhana yang tepat tetapi masih terbatas ketika berumur 4 tahun. kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Dengan bercakap-cakap.8).

Ada tiga kriteria untuk mengukur tingkat kemampuan berbicara anak.5). 2. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkannya dengan objek yang diwakilinya. 2003: 3. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah. Anak memahami kata-kata tersebut bukan karena telah sering mendengar atau menduga-duga (Hurlock dalam Dhieni. 3. 12 . apakah anak berbicara secara benar atau hanya sekadar „membeo‟ sebagai berikut: 1.

Siklus II Waktu pelaksanaan tindakan dapat dilihat pada tabel berikut 13 . Tindakan dilakukan pada anak kelompok B yang berjumlah 15 orang.d. Kegiatan berlangsung dalam 2 siklus.BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN A.00-10.d. Siklus I dilaksanakan dari tanggal 20 September s.00 WIB sampai pukul 10. 01 Oktober 2010. Waktu Pelaksanaan a. Subjek Penelitian 1.45 WIB. 2. sedangkan siklus II dilaksanakan dari tanggal 27 September s.45 Bahasa Anak b. 24 September 2010. Kegiatan belajar di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Bengkalis dimulai pukul 08. Tema yang dipilih adalah “Keluargaku”. Waktu penelitian pada Tahun Pelajaran 2010/2011 dan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu dari bulan September-Oktober 2010. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di TK Pertiwi Bengkalis. Siklus I Waktu pelaksanaan tindakan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 1 No 1 2 3 4 5 Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Siklus I Hari/ Tanggal Senin/20-08-2010 Selasa/21-08-2010 Rabu/22-08-2010 Kamis/23-08-2010 Jumat/24-08-2010 Waktu Pertemuan Bidang Pengembangan 08.

45 Bahasa Anak B. Siklus I Siklus I dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditentukan dengan perencanaan sebagai berikut: a.00-10. Langkah-langkah perbaikan Langkah perbaikan dilaksanakan pada proses pembelajaran dengan melihat aktivitas yang dilakukan oleh guru dan anak 1) Aktivitas Guru a) Guru mengajak anak untuk menceritakan pengalaman tentang keluarga b) Guru meminta anak maju ke depan kelas c) Guru memberikan giliran satu persatu bercerita di depan 14 . Deskripsi Per Siklus 1. Kegiatan Perencanaan 1) Menentukan jumlah siklus sebanyak dua siklus 2) Memilih observer 3) Menyusun rencana kegiatan 4) Menyiapkan SKH 5) Mempersiapkan lembar observasi untuk guru dan anak b.Tabel 2 No 1 2 3 4 5 Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Siklus II Hari/ Tanggal Waktu Pertemuan Bidang Pengembangan Senin/27-08-2010 Selasa/28-08-2010 Rabu/29-08-2010 Kamis/30-08-2010 Jumat/01-09-2010 08.

Tahap Observasi 1) Observer melakukan pengamatan dan aktivitas guru dan anak selama kegiatan pembelajaran berlangsung 2) Melaksanakan pencatatan hasil pengamatan ke dalam lembar observasi 3) Memberikan tanda ceklis pada data 4) Menyimpulkan hasil pengamatan untuk mengetahui kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran 2. Siklus II Siklus II dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dengan perencanaan sebagai berikut: a.d) Guru membimbing anak dalam menceritakan pengalaman e) Guru memberikan motivasi f) Guru memberikan penguatan 2) Aktivitas Anak a) Anak memperhatikan petunjuk guru b) Anak menceritakan pengalaman c) Anak maju ke depan kelas d) Anak berani berbicara e) Anak lancar berbicara f) Anak menunjukkan minat untuk berbicara c. Kegiatan Perencanaan 1) Menyusun rencana kegiatan 15 .

2) Menyiapkan SKH 3) Mempersiapkan lembar observasi untuk guru dan anak b. Langkah-Langkah Perbaikan Langkah perbaikan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran di kelas dengan mencatat segala aktivitas yang dilakukan oleh guru dan anak 1) Aktivitas Guru a) Guru mengkondisikan anak agar mau berbicara dan mendengar b) Guru meminta anak untuk menceritakan gambar yang dipajang c) Guru memberikan motivasi agar anak menceritakan gambar di depan kelas d) Guru memberikan penguatan atas keberanian anak e) Guru memberi kesempatan secara bergiliran f) Guru memberikan pujian berupa tepuk tangan bersama 2) Aktivitas Anak a) Anak memperhatikan petunjuk guru b) Anak menceritakan gambar yang dipajang c) Anak berani berbicara d) Anak tampil bercerita di depan kelas e) Anak menunjukkan minat dalam belajar f) Anak lancar berbicara 16 .

17 . Data tentang penerapan metode bercakap-cakap untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak dikumpulkan dengan cara observasi dan pencermatan dokumen D. Analisis kuantitatif dilaksanakan untuk memperoleh frekuensi dalam beraktivitas serta sebaran nilai hasil belajarnya. Data dan Cara Pengumpulannya Jenis data dan cara memperolehnya dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1. Data tentang aktivitas belajar yaitu kegiatan yang dilakukan anak dalam belajar berupa kemampuan berbicara dengan guru maupun dengan anak yang lain dan kemampuan mendengar 2. Data yang sudah terkumpul dianalisis secara kulitatif dan kuantitatif. suasana kelompok dan aktivitas guru dianalisis secara kuantitatif. Refleksi 1.c. Untuk gambaran aktivitas belajar anak. Tahap Observasi 1) Observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan anak selama proses pembelajaran berlangsung 2) Melakukan pencatatan terhadap hasil pengamatan ke lembar obsevasi 3) Menyimpulkan hasil pengamatan untuk melihat kelemahan dan kelebihan yang berlangsung selama proses pembelajaran C.

3. Kelemahan/kekurangan yang ada pada pelaksanaan tindakan. b. Berdasarkan hasil analisis data. 18 . guru bersama observer melakukan diskusi untuk mengetahui: a. Tingkat keberhasilan berdasarkan standar yang telah ditentukan dan penyebab-penyebab kurang berhasilnya pencapaian tujuan.2. Menyusun rencana tindakan perbaikan untuk siklus berikutnya.

Penyajian Data Penelitian Data setelah tindakan diperoleh melalui penelitian yang dilakukan selama 2 (dua) bulan.67 5 33. Hasil kemampuan berbicara dan mendengar siklus I Rekapitulasi hasil kemampuan anak selama lima kali pertemuan yang dilaksanakan dari tanggal 20 s.00 15 5 100 33.67 4 26.33 15 26.00 6 40.33 Naik % Jlh II % Jlh III % Jlh IV % Jlh V % Naik Ket Tinggi Berdasarkan hasil kemampuan berbahasa anak pada siklus I dapat dijelaskan terjadi peningkatan pada setiap pertemuan.33 3 20. pertemuan 19 .33 Mnrn 13.00 5 33. Setiap siklus dilaksanakan lima kali pertemuan dan dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran menggunakan metode bercakap-cakap. Data disajikan persiklus disesuaikan dengan skenario pembelajaran sebagai berikut: 1.BAB IV HASIL PEMBAHASAN A.33 5 33. dengan proses tindakan selama dua siklus.67 3 20. Pada pertemuan I yang mendapat nilai tinggi sebesar 13.00 15 9 100 60.00 15 5 100 33.33%.d 24 September dengan hasil sebagai berikut: Tabel 3 Rekapitulasi Kemampuan Berbicara dan mendengar Anak Siklus I Pertemuan Klasifikasi Nilai I Jlh ● 2 Cukup Rendah Jumlah √ 4 ○ 9 15 60.33 15 6 100 40.00 4 26.

00 Mnrn 6 6.67 15 I Jlh ● √ ○ % Jlh II % Jlh III Tinggi Cukup Rendah Jumlah Nilai 15 20 .00 15 8 6 1 100 53.00 40.00 26.67 15 6 3 6 100 40.00 15 6 4 5 100 40.00 40. sedangkan pada pertemuan V menjadi 33.00 33. Data tentang kemampuan berbicara dan mendengar anak siklus I disajikan dalam grafik berikut: Grafik 1 Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Siklus I 16 14 12 10 8 6 4 2 0 I II III IV V Rendah Cukup Tinggi 2.00 40. pertemuan III 26.00%.67%.33 26.33 15 6 5 4 100 40.67 33.33 Naik 6 40.67.II sebesar 20. pertemuan IV 26. Hasil kemampuan berbicara dan mendengar anak silkus II Rekapitulasi hasil kemampuan anak selama lima kali pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 27 September s.d 01 Oktober 2010 dengan hasil sebagai berikut: Tabel 4 Klasifikasi Rekapitulasi Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Siklus II Pertemuan Ket IV % Jlh % Jlh V % Naik 3 20.00 20.33%.

Pembahasan Data Aktivitas Guru Siklus I Berdasarkan hasil penilaian obsever. 21 . dan pada pertemuan V meningkat menjadi 53.Berdasarkan rekapitulasi hasil kemampuan pengembangan berbahasa anak pada siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut: untuk klasifikasi nilai tinggi pada pertemuan I sebesar 20.33%.00%. 2) baik. pertemuan III dan IV sebesar 40. aktivitas guru dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Klasifikasi yang ditetapkan ada tiga. Data tentang kemampuan berbicara dan mendengar anak siklus II disajikan dalam grafik berikut: Grafik 1 Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Siklus II 16 14 12 10 8 6 4 2 0 I II III IV V Rendah Cukup Tinggi B.00%. pada pertemuan II naik menjadi 40.00%. Pembahasan Data Penelitian 1. yaitu: 1) sangat baik. dan 3) cukup.

67 16 66. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan. Skor maksimal ideal adalah = 6 x 4 = 24. skor minimal ideal adalah = 6 x 1 = 6. kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa aktivitas guru dalam menggunakan metode bercakap-cakap tergolong pada kategori baik dengan perolehan persentase 66. pembahasan yang dikemukakan adalah sebagai berikut: 22 . aktivitas guru harus ditingkatkan pada siklus berikutnya karena ada aktivitas guru yang kurang jelas yaitu guru memberikan giliran satu persatu bercerita di depan dan guru membimbing anak dalam menceritakan pengalaman. Jumlah butir aktivitas yang diamati sebanyak 6 (enam).67. skor penilaian terendah 1. skor penilaian tertinggi 4. Pembahasan Data Aktivitas Anak Siklus I Berdasarkan penyajian data aktivitas anak pada siklus I. Interval = 24 – 6 = 6 3 Tabel 5 Klasifikasi dan Interval Aktivitas Guru Siklus I Interval skor 20-24 13-19 6-12 Jumlah 16 66.b.67 Frekuensi (F) Persentase (%) Klasifikasi Sangat Baik Baik Cukup Dari data skor aktivitas guru yang diperoleh pada siklus I adalah 16. 2.

67 Klasifikasi Sangat Baik Cukup Belum Baik 0-2 Jumlah 2 13. yaitu: 1) Sangat Baik (SB). dan Belum Baik (BB). jadi interval = 6-0 = 2 3 Tabel 6 Persentase Skor Aktivitas Belajar Anak Siklus I Interval Skor 5-6 3-4 Frekuensi 6 7 Persentase 40. Dari jumlah ini ternyata yang sudah melakukan seluruh aktivitas belajar hanya 3 orang sedangkan 3 orang anak baru melaksanakan 5 aktivitas belajar.33% atau 2 anak dari 15 anak .67% atau 7 orang anak dari 15 orang.a. Jumlah butir aktivitas adalah 6. Dengan demikian masih 23 . Jadi skor maksimal ideal = 6 x 1 = 6.00 46. b.33 15 100 Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah anak yang sudah melakukan aktivitas belajar dalam kategori sangat baik mencapai 40. skor penilaian tertinggi adalah 1.00% atau 6 orang dari 15 anak. skor minimal ideal = 6 x 0 = 0. yaitu baru melaksanakan 3 sampai 4 aktivitas belajar. 2) Cukup (C). Aktivitas belajar berkategori cukup berjumlah 46. Klasifikasi yang ditetapkan ada tiga. Sedangkan yang melakukan nol sampai dua aktivitas belajar adalah 13. skor penilaian terendah adalah 0.

aktivitas yang banyak dilakukan anak adalah memperhatikan petunjuk guru. 24 . Aktivitas yang paling rendah adalah anak menceritakan pengalaman.banyak siswa yang belum melaksanakan aktivitas belajar siswa dengan baik dalam pelaksanaan pengajaran yang dilakukan guru dengan metode bercakap-cakap.88 Berdasarkan tabel di atas. Dengan demikian perlu diperbaiki aktivitas belajar anak pada siklus I agar dapat memenuhi kiteria keberhasilan dalam perbaikan pembelajaran ini. Sedangkan aktivitas lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara masih ada beberapa orang yang belum melakukan. Hal ini ditunjukkan dengan tabel frekuensi aktivitas belajar anak seperti berikut: Tabel 7 Frekuensi Pelaksanaan Aktivitas Belajar Anak Siklus I Jumlah Siswa yang melakukan 15 Persentase (%) yang melakukan 100 No 1 Aktivitas Belajar Anak memperhatikan petunjuk guru Anak menceritakan pengalaman Anak maju ke depan kelas Anak berani berbicara Anak lancar berbicara Anak menunjukkan untuk berbicara Jumlah Rata-Rata minat 2 3 4 5 6 6 11 7 13 10 62 40 73 47 87 67 314 68.

Klasifikasi yang ditetapkan adalah 3 klasifikasi. skor minimal ideal adalah = 6 x 1 = 6. Jumlah butir aktivitas 6 (enam). Pembahasan Data Aktivitas Guru Siklus II Berdasarkan data lembaran aktivitas guru. dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Skor maksimal ideal adalah = 6 x 4 = 24. 2) Baik. Interval = 24 – 6 = 6 3 Tabel 8 Klasifikasi dan Interval Aktivitas Guru Siklus II Interval skor 20-24 13-19 6-12 Jumlah 22 91.67 Frekuensi (F) 22 Persentase (%) 91. skor penilaian tertinggi 4. 25 . dan 3) cukup b. skor penilaian terendah 1.67 Klasifikasi Sangat Baik Baik Cukup Dari data skor aktivitas guru yang diperoleh dari hasil penelitian pada siklus II adalah 22.67%. kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa aktivitas guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan metode bercakap-cakap tergolong dalam klasifikasi sangat baik dengan perolehan persentase 91.3. yaitu: 1) Sangat Baik.

26 . b.4.67% atau 10 orang dari 15 anak. Dari jumlah ini ternyata yang sudah melakukan seluruh aktivitas belajar berjumlah 6 orang sedangkan 4 anak melaksanakan 5 aktivitas belajar. Klasifikasi yang ditetapkan adalah tiga. yaitu melaksanakan 3 sampai 4 aktivitas belajar. yaitu 1) Sangat Baik (SB).33% atau sebanyak 5 orang dari 15 orang anak.67 33. dan Belum Baik (BB). 2) Cukup (C).33 0 100 Klasifikasi Sangat Baik Cukup Belum Baik Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah anak yang sudah melakukan aktivitas belajar dalam kategori sangat baik mencapai 66. skor minimal ideal = 6 x 0 = 0. Jumlah butir aktivitas adalah 6. skor penilaian terendah adalah 0. Jadi skor maksimal ideal = 6 x 1 = 6. jadi interval = 6-0 = 2 3 Tabel 9 Persentase Skor Aktivitas Belajar Anak Siklus II Interval Skor 5-6 3-4 0-2 Jumlah Frekuensi 10 5 0 15 Persentase 66. Pembahasan Data Aktivitas Anak Siklus II Berdasarkan penyajian data aktivitas anak siklus II dapat dibahas dan dianalisis sebagai berikut: a. skor penilaian tertinggi adalah 1. Aktivitas belajar berkategori cukup berjumlah 33.

Dengan demikian terjadi peningkatan aktivitas belajar anak dengan metode bercakap-cakap.Sedangkan yang melakukan nol sampai dua aktivitas belajar adalah 0%. yang tidak mengikuti jumlahnya tidak ada. artinya dari 15 anak yang mengikuti aktivitas belajar. 27 karena aktivitas belajar anak sudah mengalami . aktivitas yang banyak dilakukan anak adalah memperhatikan petunjuk guru dan menunjukkan minat belajar.22 No 1 Aktivitas Belajar Anak memperhatikan petunjuk guru Anak menceritakan gambar yang dipajang Anak berani berbicara Anak tampil bercerita di depan kelas Anak menunjukkan minat dalam belajar Anak lancar berbicara Jumlah Rata-Rata 2 3 4 5 6 Berdasarkan tabel di atas. Dengan demikian tidak perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan tabel frekuensi aktivitas belajar anak seperti berikut: Tabel 10 Frekuensi Pelaksanaan Aktivitas Belajar Anak Siklus II Jumlah Siswa yang melakukan 15 12 12 9 15 11 74 Persentase (%) yang melakukan 100 80 80 60 100 73 493 82.

2.33%. 3. Pada siklus I.33%. kategori cukup 33. Simpulan Berdasarkan data hasil belajar dan diskusi dengan observer. Pada siklus I memperoleh 16 poin untuk kategori baik atau 66. anak yang mendapat kategori tinggi pada pertemuan siklus I adalah 40.67% dan pada siklus II menjadi 22 poin pada kategori sangat baik atau 91.34%. terjadi peningkatan sebesar 25%.88% dan meningkat menjadi 82.BAB V PENUTUP A. kategori cukup 46. dan kategori rendah 0%. Aktivitas guru terjadi peningkatan.22% pada siklus II. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kemampuan berbicara dan mendengar anak dengan menggunakan metode bercakap-cakap mengalami peningkatan. B. 28 . dan kategori rendah 13.67%. Pada siklus II terlihat terjadi peningkatan yaitu anak yang mendapat kategori tinggi 66. Terjadi peningkatan 13. Saran 1.67%.00 %. Aktivitas anak mengalami peningkatan yaitu pada siklus I memperoleh persentase 68.67%. Disarankan kepada guru untuk menggunakan metode bercakap-cakap karena metode bercakap-cakap dapat meningkatkan berbicara dan mendengar anak kelompok B TK Pertiwi Bengkalis.

29 . disarankan untuk menggunakan metode ini dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu.2. Metode bercakap-cakap juga dapat meningkatkan aktivitas anak. Disarankan kepada guru untuk menggunakan metode bercakap-cakap karena dapat meningkatkan aktivitas guru. 3.

Kajian Teoretik. Moeslihatoen. Metode Pengajaran di TK. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Abdul. (1999). Nurbiana. Jakarta: Rineka Cipta. Faizah. 30 . Pekanbaru: Cendekia Insani. (1994). Masitoh. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Psikolinguistik.DAFTAR PUSTAKA Chaer. (2008). dkk. (2005). Depdikbud. Jakarta: Rineka Cipta. Metode Pengembangan Bahasa. Hasnah. (2003). (2005). Psikolinguistik. Dhieni. Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar di TK. Strategi Pembelajaran TK.

31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful