mengenai : Peradilan Agama

Disusun oleh : Hendriawan Rahman.Arifin Rifqi.Rais Rizky.M.Nashir

PENGERTIAN PERADILAN AGAMA
Peradilan Agama merupakan kerangka sistim dan tata hukum Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. 14/1970 diperlukan adanya perombakan yang bersifat mendasar terhadap segala perundang-undangan yang mengatur Badan Peradilan Agama tersebut. Berlakunya UU No. 7/1989, secara konstitusional Pengadilan Agama merupakan salah satu Badan Peradilan yang disebut dalam pasal 24 UUD 1945. Kedudukan dan kewenangannya adalah sebagai Peradilan Negara dan sama derajatnya dengan Peradilan lainnya, mengenai fungsi Peradilan Agama dibina dan diawasi oleh Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara Tertinggi, sedangkan menurut pasal 11 (1) UU No. 14/1970 mengenai Organisasi, Administrasi dan Finansiil dibawah kekuasaan masing-masing Departemen yang bersangkutan. Suasana dan peran Pengadilan Agama pada masa ini tidaklah berbeda dengan masa kemerdekaan atau sebelumnya karena Yurisdiknya tetap kabur baik dibidang perkawinan maupun dibidang waris. Hukum Acara yang berlaku tidaklah menentu masih beraneka ragam dalam bentuk peraturan perundang-undangan bahkan juga hukum acara dalam hukum tidak tertulis yaitu hukum formal Islam yang belum diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Pada tahun 1989 lahirlah UU No.7 tahun 1989 yang diberlakukannya tanggal 29 Desember 1989, kelahiran undang-undang tersebut tidaklah mudah sebagaimana yang diharapkan akan tetapi penuh perjuangan dan tantangan dengan lahirnya UU No.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama adalah sebagi tonggak monumen sejarah Pengadilan Agama terhitung tanggal 29 Desember 1989 tersebut. Lahirnya UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama telah mempertegas kedudukan dan kekuasaan Peradilan Agama sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 UU No.14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman juga memurnikan fungsi dan susunan organisasinya agar dapat mencapai tingkat sebagai lembaga kekuasaan kehakiman yang sebenarnya tidaklah lumpuh dan semu sebagaimana masa sebelumnya. Disamping itu lahirnya UU tersebut menciptakan kesatuan hukum Peradilan Agama dan tidak lagi berbeda-beda kewenangan dimasing-masing daerah di lingkungan Peradilan Agama. Peradilan Agama baik di Jawa-Madura maupun diluar Jawa-Madura adalah sama kedudukan dan kewenangan baik hukum formil maupun materiilnya. Dengan demikian Peradilan Agama telah sama kedudukannya dengan Peradilan lainnya sebagaimana dalam pasal 10 (1) UU No.14 tahun 1970.

Dasar Kedudukan Pengadilan Agama UUD 1945 Pasal 24 ayat (2) menyatakan : Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang ada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009, Pasal 2 menyatakan :

Pasal 3 UU Peradilan Agama tersebut menyatakan : 1) a) b) Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Agama dilaksanakan oleh Pengadilan Agama Pengadilan Tinggi Agama 2) Kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan Agama berpuncak pada Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara Tertinggi. hanya bersifat “khusus” sepanjang bidang hukum “tertentu”. hanya mereka yang mengaku dirinya pemeluk agama Islam. a. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini”. . “bukan” ketundukan yang bersifat umum meliputi semua bidang hukum perdata. tetapi ketundukan personalitas muslim kepadanya. dijumpai beberapa penegasan yang melekat membarengi azas dimaksud : a) Pihak-pihak yang bersengketa harus sama-sama pemeluk agama Islam. Hukum Acara Yang Berlaku di Peradilan Agama Pasal 54 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : “Hukum acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Azas-azas Hukum Acara Peradilan Agama 1) Azas Personalitas Keislaman Arti azas personalitas keislaman adalah orang yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan lingkungan Peradilan Agama. Dalam azas personalitas keislaman yang melekat pada UU Peradilan Agama tersebut.“Peradilan Agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara-perkara tertentu yang diatur dalam undang-undang ini”. Ketundukan personalitas muslim kepada lingkungan Peradilan Agama. Asal personalitas keislaman diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 49 ayat (1) UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009. Penganut agama lain di luar Islam tidak tunduk kepada kekuasaan lingkungan Peradilan Agama.

hubungan hukum ikatan perkawinan antara suami isteri adalah hukum Barat. pasti harus ada pihak yang “dikalahkan” dan “dimenangkan”. wakaf. Berdasakan Pasal 130 HIR. jika mediasi berhasil dan para pihak telah damai. Dalam perkara sengketa harta benda. jika mediasi berhasil dan para pihak mencapai perdamaian. para pihak diwajibkan menempuh proses mediasi di luar sidang yang teknis pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Mediasi. maka dibuatlah akta dading dan Majelis menjatuhkan putusan perdamaian. sangat sejalan dengan tuntutan dan ajaran Islam. sengketanya tidak tunduk menjadi kewenangan lingkungan Peradilan Agama. 2) Azas Wajib Mendamaikan Terutama dalam Perkara Perceraian Azas kewajiban hakim untuk mendamaikan pihak-pihak yang berperkara. azas personalitas keislaman mereka ditiadakan oleh landasan hubungan hukum yang mendasari perkawinan. hibah. bukan hanya keutuhan ikatan perkawinan saja dapat diselamatkan. akan tetap dirasa tidak adil oleh pihak yang kalah. namun akan tetap lebih baik dan lebih adil hasil perdamaian. shadaqah. oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Oleh karena itu. Sekalipun suami isteri beragama Islam. terbebas dari kualifikasi “menang” dan “kalah”. Jika hubungan hukum yang terjadi bukan berdasar hukum Islam. Dalam perkara perceraian (tentang status). hasil perdamaian yang tulus berdasar kesadaran bersama dari pihak yang bersengketa. Sehingga kedua belah pihak pulih dalam suasana rukun dan persaudaraan. Bagaimanapun zalimnya putusan yang dijatuhkan. Untuk mengimplementasikan pasal ini. Lain halnya dengan perdamaian. Islam selalu menyuruh menyelesaikan setiap perselisihan dan persengketaan melalui pendekatan islah (fa aslihu baina akhwaikum). Seadil-adilnya putusan yang dijatuhkan Hakim. akan dianggap dan dirasa adil oleh pihak yang menang. tidak dibebani dendan kesumat yang berkepanjangan. wasiat. maka pihak penggugat atau pemohon harus mencabut perkaranya. Sebab bagaimanapun adilnya suatu putusan. Misalnya. Majelis Hakim wajib berusaha mendamaikan kedua belah pihak yang berperkara sebelum memulai pemeriksaan perkara. dan ekonomi syari’ah. sengketa perkawinan yang terjadi antara mereka tidak tunduk menjadi kewenangan Pengadilan Agama. c) Hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam. Mereka samasama menang dan sama-sama kalah. Dengan dicapai perdamaian antara suami isteri dalam sengketa perceraian. Usaha perdamaian dalam sengketa perceraian menurut Pasal 82 UU Peradilan Agama. tapi jatuh menjadi kewenangan Pengadilan Negeri. harus dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan selama perkara belum diputuskan. kewarisan.b) Perkara perdata yang disengketakan harus mengenai perkara-perkara di bidang perkawinan. Tidak mungkin kedua pihak sama-sama dimenangkan atau sama-sama dikalahkan. tetapi sekaligus dapat diselamatkan . Dalam suatu putusan yang bagaimanapun adilnya.

tidak mungkin seorang dapat membela dan mempertahankan hak dan kepentingannya. Penerapan azas ini tidak boleh mengurangi ketepatan pemeriksaan dan penilaian menurut hukum dan keadilan. Yang dimaksud dengan “sederhana” adalah pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan acara yang efisien dan efektif. Kesederhanaan ini yang dipertahankan azas peradilan sederhana. Prosedur dan prosesnya sangat sederhana dengan sistem langsung secara lisan atau “mondelinge procedur” dan “onmiddlelijkeheid Van procedure” di persidangan. 4) Azas Persidangan Terbuka Untuk Umum Kecuali Pemeriksaan Perkara Perceraian Pasal 59 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 berbunyi : . Demikian pula hukum acara mufakat dalam fiqih Islam. Lain halnya dengan hukum acara perdata yang diatur dalam HIR atau R. Memperhatikan itu semua.kelanjutan pemeliharaan dan pembinaan anak-anak secara normal. jangan dimanipulasi untuk membelokkan hukum. Semua proses pemeriksaan mesti secara tertulis. Cepat dan Biaya Ringan Azas peradilan sederhana. merupakan kegiatan yang terpuji dan lebih diutamakan dibanding dengan upaya mendamaikan persengketaan di bidang yang lain. Suami isteri dapat terhindar dari gangguan pergaulan sosial kemasyarakatan. kecepatan pemeriksaan. upaya mendamaikan sengketa perceraian. Kesederhanaan. Namun demikian dalam pemeriksaan dan penyelesaian perkara tidak mengorbankan ketelitian dalam mencari kebenaran dan keadilan.BG. cepat dan biaya ringan”. cepat dan biaya ringan dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009. Maksud dari pengertian azas ini dipertegas dalam penjelasan Pasal 4 ayat (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 yang berbunyi : “Ketentuan ini dimaksudkan untuk memenuhi harapan para pencari keadilan. cepat dan biaya ringan. 3) Azas Sederhana. Tanpa bantuan advokat atau pengacara. Harta bersama dalam perkawinan dapat lestari menopang kehidupan rumah tangga. diatur pada Pasal 57 ayat 3 jo. Yang dimaksud dengan “biaya ringan” adalah biaya perkara yang dapat terpikul oleh rakyat. kebenaran dan keadilan. Tahap pemeriksaan pembuktian tidak memerlukan bentuk-bentuk putusan sela. Kerukunan antara keluarga kedua belah pihak dapat berlanjut. Prosedur dan proses hukum acara perdata dalam RV sangat berbelit-belit dengan ssitem “dag vaarding” atau “schriijtelijke procedur” dan sistem “procureur” (procureur stelling) atau “verplichte rechtbijstand” dengan berbagai bentuk putusan sela atau interlocuter vonnis. Mental dan pertumbuhan kejiwaan anak-anak terhindar dari perasaan terasing dan rendah diri dalam pergaulan hidup. Pasal 4 ayat (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman : “Peradilan dilakukan dengan sederhana. Semua harus “tepat” menurut hukum (due to law).

Sebab nilai yang terkandung dalam ketentuan itu menyangkut azas ketertiban umum atau orde publik. maka tahap-tahap pemeriksaan tersebut ialah :[1] 1) Pembacaan Gugatan . tidak meliputi pengucapan putusan. kecuali apabila undangundang menentukan lain dan jika Hakim dengan alasan-alasan penting yang dicatat dalam berita acara persidangan. memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagian akan dilakukan dengan sidang tertutup. Pasal 17 UU Nomor 14 Tahun 1970 jo. Satu-satunya cara yang dapat dibenarkan hukum untuk pemeriksaan sidang tertutup dalam perkara perceraian. Hal ini sesuai dengan doktrin hukum yang mengajarkan “lex specialis drogat lex generalis”. b. Pasal 34 ayat 1 PP Nomor 9 Tahun 1975 yang berbunyi : “Putusan Pengadilan mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum”. b) Tidak terpenuhinya ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) mengakibatkan seluruh pemeriksaan beserta penetapan atau putusannya batal demi hukum. c) Rapat permusyawaratan hakim bersifat rahasia. Tahap-tahap Pemeriksaan Perkara Proses pemeriksaan perkara perdata di depan sidang dilakukan melalui tahap-tahap dalam hukum acara perdata. setelah Hakim terlebih dahulu berusaha dan tidak berhasil mendamaikan para pihak yang bersengketa. Penerapannya. Pasal 59 ayat (1) sendiri sudah membuka kemungkinan untuk itu dalam rumusan : “Kecuali apabila Undang-undang menentukan lain”. Keadaan inilah yang diatur dalam Pasal 80 ayat 2 UU Peradilan Agama tersebut jo Pasal 17 UU Nomor 33 PP Nomor 9 Tahun 1975. hanya meliputi proses pemeriksaan jawab-menjawab.a) Sidang pemeriksaan Pengadilan Terbuka untuk umum. Pasal 80 ayat 2 UU Peradilan Agama mengakibatkan pemeriksaan batal demi hukum. Apabila sudah tiba saat proses pemeriksaan sidang pada tahap pengucapan putusan kembali ditegakkan azas persidangan terbuka yang tercantum dalam Pasal 81 ayat 1 UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 jo. Pasal-pasal ini menyampingkan ketentuan azas umum yang diatur Pasal 59 UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 jo. Ketentuan khusus menyampingkan ketentuan umum. pemeriksaan pembuktian jangkauan ketentuan pemeriksaan sidang tertutup dalam perkara perceraian. Pelanggaran atas Pasal 33 PP Nomor 9 Tahun 1975 jo. hanya menjangkau selama proses pemeriksaan saja. oleh karena itu dia mutlak bersifat “imperatif”. UU Nomor 04 Tahun 2004 yang berbunyi : “Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan dalam sidang tertutup”. Mengenai pengecualian ini. Penerapan azas persidangan terbuka untuk umum dikecualikan dalam pemeriksaan perkara peerceraian.

Pada tahap pembacaan gugatan ini terdapat 3 kemungkinan dari Penggugat/ Pemohon : a) b) c) 2) Mencabut gugatan Mengubah gugatan Mempertahankan gugatan Jawaban Tergugat Pada tahap ini ada beberapa kemungkinan dari pihak Tergugat. kemudian Tergugat diberi kesempatan untuk menanggapi pula. 4) Duplik Tergugat Setelah menyampaikan repliknya. yaitu : a) Alat bukti surat . baik berupa saksi-saksi maupun alat bukti lainnya secara bergantian yang diatur oleh Hakim. Dalam tahap ini. yaitu : a) b) c) d) e) f) 3) Eksepsi/ tangkisan Mengaku bulat-bulat Mungkir mutlak Mengaku dengan klausula Referte Rekonpensi (gugat balik) Replik (dari Penggugat) Dalam tahap ini Penggugat mungkin mempertahankan gugatannya dan menambah keterangan yang dianggap perlu untuk memperjelas dalil-dalilnya atau mungkin Penggugat merubah sikap dengan membenarkan jawaban/ bantahan Tergugat. Macam-macam alat bukti dalam perkara perdata. 5) Pembuktian Pada tahap ini baik Penggugat maupun Tergugat diberi kesempatan yang sama untuk mengajukan bukti-bukti. mungkin Tergugat bersikap seperti Penggugat dalam replik tersebut.

Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. Hakim merumuskan duduk perkaranya dan pertimbangan hukum mengenai perkara tersebut disertai dengan alasan-alasan dan dasar-dasar hukumnya. maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. Bidang Teknis Peradilan. yang diakhiri dengan putusan Hakim mengenai perkara yang diperiksanya itu. Bagian Kedua. Peradilan Agama. Padahal menurut azasnya perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara contensios.b) c) d) e) f) 6) Alat bukti saksi Alat bukti persangkaaan Alat bukti pengakuan Alat bukti sumpah Alat bukti pemeriksaan setempat Kesimpulan para Pihak Pada tahap ini. Putusan dilihat dari fungsinya dalam mengakhiri sengketa ada 2 macam : a) b) Putusan akhir (eind vonnis) Putusan sela (tussen vonis) c. baik Penggugat maupun Tergugat diberi kesempatan untuk mengajukan pendapat akhir yang merupakan kesimpulan hasil pemeriksaan selama sidang berlangsung menurut pandangan masing-masing. 7) Putusan Hakim Pada tahap ini. Perkara voluntoir tersebut adalah : a) b) Permohonan dispensasi umur kawin Permohonan izin kawin . halaman 216-234 diatur hal-hal yang ringkasnya sebagai berikut : 1) Bidang Perkawinan Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara voluntoir. Hukum Acara Khusus dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo.

Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan Hukum Islam a) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 jo. oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara waris/ wasiat apabila pewaris (si mayit) beragama Islam. dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. b) Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau menang. nafkah isteri dan harta bersama-sama dengan permohonan cerai talak/ gugat cerai ataupun sesudahnya (Pasal 66 ayat (5) 86 ayat (1)) e) Untuk melindungi isteri maupun anak. 3) Bidang Waris. 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. d) Permohonan penguasaan anak. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan kepada isteri dalam hal di Pengadilan Agama mana perceraian diajukan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para pihak. PP 45 Tahun 1990). Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak. (1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)). . f) Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang Pegawai Negeri. nafkah anak. sehingga biaya perkara dibebankan kepada Penggugat atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1)) c) Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) dan 80). (2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (pasal 73 (2)).c) d) e) Permohonan penetapan wali adhol Permohonan penetapan perwalian Permohonan penetapan asal-usul anak 2) Bidang Perceraian a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menganut azas personalitas keislaman. dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya (PP 10 Tahun 1983 jo.

produk putusannya bukan memberikan izin kepada suami untuk mengikrarkan talak. 236 a HIR. dapat diringkas sebagai berikut:[2] 1) Cerai Talak a) Cerai talak dijatuhkan oleh pihak suami yang petitumnya memohon untuk diizinkan menjatuhkan talak terhadap isterinya. akan tetapi talak dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49. c) Prosedur pengajuan permohonan dan proses pemeriksaan cerai talak agar dipedomani Pasal 66 s/d Pasal 72 UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 UU Nomor 3 Tahun 2006 jo.b) Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam apabila timbul sengketa adalah menjadi kewenangan Pengadilan Agama. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 serta Kompilasi Hukum Islam. . b) Cerai talak yang dijatuhkan oleh suami yang telah riddah (keluar dari agama Islam). d) Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat dilakukan berdasarkan pasal 107 UU Peradilan Agama jo. 4) Sengketa Milik Pasal 50 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. dapat dibuat akta di bawah tangan kemudian dimintakan pengesahan (gewaasmarker) kepada Ketua Pengadilan Agama. Pasal 14 s/d Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. d) Gugatan penguasaan anak dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak. d. (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Pemeriksaan dan Penyelesaian Perkara Perceraian dan Hak-hak Anak Pemeriksaan dan penyelesaian perkara perceraian di Pengadilan Agama berdasarkan pada ketentuan-ketentuan hukum acara perdata umum dan ketentuan khusus yang terdapat dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. c) Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris misalnya untuk mengambil deposito di Bank.

nafkah iddah.…… bin …. nafkah anak.…. nafkah madhiyah dan nafkah iddah. f) Selama proses pemeriksaan cerai talak. k) Untuk keseragaman. misalkan rumah atau tanah atau benda lainnya. m) Untuk keseragaman amar putusan cerai talak yang diajukan oleh suami yang riddah (keluar dari agama Islam) sebagaimana tersebut dalam huruf b) di atas berbunyi : “Menjatuhkan talak satu bain shughra Pemohon (nama . g) Pengadilan Agama secara ex officio dapat menetapkan kewajiban nafkah iddah atas suami untuk isterinya. mut’ah. Pengadilan Agama sedapat mungkin berupaya mengetahui jenis pekerjaan suami yang jelas dan pasti dan mengetahui perkiraan pendapatan rata-rata perbulan untuk dijadikan dasar pertimbangan menetapkan nafkah anak. j) Dalam hal Termohon tidak hadir di persidangan dan perkara akan diputus verstek.…… bin …. Pengadilan harus melakukan sidang pembuktian mengenai kebenaran adanya alasan perceraian yang didalilkan oleh Pemohon. dan menetapkan kewajiban mufah (ex pasal 41 huruf c Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 149 huruf a dan Pasal 151 Kompilasi Hukum Islam).. suami dalam permohonannya dapat mengajukan permohonan provisi..e) Selama proses pemeriksaan cerai talak sebelum sidang pembuktian. sepanjang isterinya tidak terbukti berbuat nusyuz. 2) Cerai Gugat .. demikian juga isteri dalam gugatan rekonvensinya dapat mengajukan permohonan provisi tentang hal-hal yang diatur dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. l) Untuk menghindari terjadinya talak bid’i.) untuk menjatuhkan talak satu raj’i terhadap Termohon (nama …… binti ……) di depan sidang Pengadilan Agama ……”. Pengadilan Agama sebaiknya menunda sidang ikrar talak. mut’ah dan harta bersama.…. h) Dalam pemeriksaan cerai talak.. amar putusan cerai talak berbunyi : “Memberi izin kepada Pemohon (nama . apabila si isteri dalam keadaan haid kecuali bila isteri rela dijatuhi talak. penetapan mut’ah sebaiknya berupa benda bukan uang. nafkah madhiyah. isteri dapat mengajukan rekonvensi mengenai pengasuhan anak.) terhadap Termohon (nama …… binti ……)”. i) Agar memenuhi azas manfaat dan mudah dalam pelaksanaan putusan.

Pengadilan harus melakukan sidang pembuktian mengenai kebenaran adanya alasan perceraian yang didalilkan oleh Penggugat. g) Dalam pemeriksaan cerai gugat. b) Prosedur pengajuan gugatan dan pemeriksaan cerai gugat agar dipedomani Pasal 73 s/d Pasal 86 UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 jo.. e) Dalam perkara cerai gugat. nafkah isteri. suami dapat mengajukan rekonvensi mengenai penguasaan anak dan harta bersama. nafkah iddah dan nafkah anak. . mufah. bin ………) terhadap Penggugat (nama ……. nafkah iddah dan harta bersama. isteri dalam gugatannya dapat mengajukan gugatan provisi. j) Untuk keseragaman.. 3) Talak Khuluk a) Talak khuluk ialah gugatan dari isteri untuk bercerai dari suaminya. Pasal 14 s/d Pasal 36 PP Nomor 9 Tahun 1975.) dengan iwadh sebesar Rp. d) Selama proses pemeriksaan cerai gugat sebelum sidang pembuktian. binti ….…) terhadap Penggugat (nama …. k) Amar putusan cerai gugat atas dasar alasan pelanggaran taklik talak berbunyi : “Menetapkan jatuh talak satu khul’i Tergugat (nama …. bin . amar putusan cerai gugat. c) Gugatan hadhanah. h) Cerai gugat atas alasan taklik talak harus dibuat sejak awal bahwa perkara tersebut perkara gugat cerai atas alasan taklik talak. agar selaras dengan format laporan perkara. untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan nafkah madhiah. i) Dalam hal Tergugat tidak hadir di persidangan dan perkara akan diputus dengan verstek. f) Pengadilan Agama secara ex officio dapat menetapkan kewajiban nafkah iddah terhadap suami.a) Cerai gugat diajukan oleh isteri yang petitumnya memohon agar Pengadilan Agama memutuskan perkawinan Penggugat dengan Tergugat. Proses penyelesaian gugatan tersebut dilakukan sesuai dengan prosedur cerai gugat. nafkah anak. Pengadilan Agama sedapat mungkin berupaya untuk mengetahui jenis pekerjaan dan pendidikan suami yang jelas dan pasti dan mengetahui perkiraan pendapatan rata-rata per bulan. begitu pula suami yang mengajukan rekonvensi dapat pula mengajukan gugatan provisi tentang hal-hal yang diatur dalam Pasal 24 PP Nomor 9 Tahun 1975. kecuali cerai gugat atas alasan taklik talak dan khuluk berbunyi : “Menjatuhkan talak satu ba’in shughra Tergugat (nama ……. sepanjang isterinya tidak terbukti telah berbuat nusyuz (ex Pasal 41 huruf c Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974). binti ………)”. …… (………Tulis dengan huruf)”.

5) Li’an a) Pemeriksaan dan penyelesaian cerai gugat yang diajukan isteri atas dasar alasan suami zina. b) Pemeriksaan dan penyelesaian cerai talak yang diajukan suami atas dasar alasan isteri berzina. . e) Untuk keseragaman. binti ………) dengan iwadh uang sebesar Rp. ……. atau atas dasar putusan pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap bahwa suaminya melakukan tindak pidana zina. b) Gugatan atas alasan syiqaq harus dibuat sejak awal bahwa perkara tersebut perkara syiqaq.. hasilnya diserahkan kepada Pengadilan Agama sebagai dasar putusan.. dilakukan pembuktian saksi kemudian didengar keterangan keluarga atau orang dekat suami isteri. d) Hasil musyawarah hakam dapat dijadikan bukti awal oleh Majelis Hakim di dalam menjatuhkan putusan. Pengadilan Agama harus memedomi Pasal 22 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.b) Untuk keseragaman. amar putusan talak khuluk berbunyi : “Menjatuhkan talak satu khul’i Tergugat (nama …. dilakukan berdasarkan hukum acara yang berlaku pada gugat cerai biasa. setelah itu Pengadilan Agama mengangkat keluarga suami atau isteri atau orang lain sebagai hakam.. amar putusan cerai dengan alasan syiqaq berbunyi : “Menjatuhkan talak satu ba’in shughra Tergugat (nama …. Hakam melakukan musyawarah. bin ……) terhadap Penggugat (nama ……. harus disumpah. dan atau dengan iwadh berupa rumah atau benda lainnya”... bin ……) terhadap Penggugat (nama ……. yaitu dilakukan pembuktian dengan saksi atau sumpah pemutus. dapat dilakukan berdasar hukum acara sebagaimana tersebut dalam huruf a di atas atau dengan cara li’an (ex Pasal 87 88 UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009). c) Pemeriksaan dan penyelesaian gugat cerai atas dasar syiqaq harus berpedoman pada Pasal 76 UU Peradilan Agama yaitu memeriksa saksi-saksi dari keluarga atau orang-orang dekat dengan suami isteri. binti ………)”. Keterangan keluarga atau orang dekat dari suami dan isteri bila difungsikan sebagai bukti. 4) Syiqaq a) Dalam proses pemeriksaan dan penyelesaian gugat cerai atas dasar alasan cekcok terus menerus ex Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 ditambah Pasal 116 KHI. bukan perubahan dari gugat cerai atas dasar cekcok terus menerus yang kemudian dijadikan perkara syiqaq. (……… tulis dengan huruf).

dilakukan proses pembuktian. Demikian juga prosedur penyelesaian perkara hak-hak anak harus berdasarkan ketentuanketentuan hukum acara perdata umum dan ketentuan khusus yang terdapat di dalam Undang-undang Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam yaitu sebagai berikut : 1) Perkara Asal-usul Anak a) Anak sah adalah anak yang lahir dalam atau akibat perkawinan yang sah. Pengadilan Agama menanyakan kepada isteri apakah ia bersedia mengangkat sumpah nukul (sumpah balik).. bila isteri bersedia mengangkat sumpah nukul (sumpah balik). e) Amar putusan cerai talak dengan alasan li’an berbunyi : “Menjatuhkan talak satu ba’in kubra Pemohon (nama …. yaitu pengakuan anak dimana seseorang dapat mengakui seorang anak sebagai anaknya yang sah. binti ………)”. c) Pengadilan Agama dalam proses penyangkalan dan pengakuan anak. Apabila suami menghendaki untuk mengucapkan sumpah li’an. Pengadilan Agama menanyakan suami apakah akan melakukan sumpah li’an.. Pengadilan Agama memerintahkan isteri untuk mengucapkan sumpah sebanyak empat kali yang berbunyi : “Demi Allah saya bersumpah bahwa saya tidak berbuat zina”. Bila tidak diketemukan alat bukti yang diatur dalam Pasal 164 HIR jo Passal 284 RBg selain bukti sumpah.c) Proses pemeriksaan cerai talak dengan li’an setelah Pemohon dan Termohon melakukan jawab menjawab. b) Di samping.. bin ……) terhadap Penggugat (nama ……. dan setelah itu dilanjutkan dengan ucapan : “Saya siap menerima laknat Allah apabila saya berdusta”. harus mempedomani hal-hal sebagai berikut : (1) Suami mengajukan gugatan penyangkalan anak kepada Pengadilan Agama dalam daerah dimana pihak Tergugat bertempat tinggal. Sebaliknya anak yang tidak sah adalah anak yang lahir di luar perkawinan yang sah atau lahir dalam perkawinan yang sah akan tetapi disangkal oleh suami dengan sebab li’an. binti ………)”. pengingkaran anak sah dapat pula dilakukan perbuatan hukum sebaliknya. bin ……) terhadap Termohon (nama ……. .. d) Untuk keseragaman. maka Pengadilan Agama memerintahkan suami mengucapkan sumpah li’an sebanyak empat kali yang berbunyi : “Demi Allah saya bersumpah bahwa isteri saya telah berbuat zina” dan setelah itu dilanjutkan dengan ucapan : “Saya siap menerima laknat Allah bila saya berdusta” setelah suami disumpah. amar putusan cerai gugat atas dasar alasan zina berbunyi : “Menjatuhkan talak satu ba’in shughra Tergugat (nama ….

(12) Amar putusan gugatan pengakuan anak secara kontensius berbunyi : ... (5) Gugatan penyangkalan anak diajukan selambat-lambatnya 2 bulan setelah anak dilahirkan. (7) Permohonan pengakuan anak yang tidak di bawah kekuasaan atau perwalian orang lain. umur/ lahir ……… bertempat tinggal di ……………………. (6) Pengakuan anak dapat diajukan secara voluntair dan dapat juga diajukan secara kontensius kepada Pengadilan Agama dalam daerah dimana anak atau wali anak bertempat tinggal. bersifat volunter. bukan anak sah dari Penggugat”. (b) Jika suami dapat membuktikan bahwa anak yang berusia 180 hari atau lebih yang dikandung isterinya.”.(2) Proses pemeriksaan perkara penyangkalan anak yang lahir dalam perkawinan yang sah dapat dilakukan dengan cara proses li’an. (10) Amar putusan penyangkalan anak berbunyi : “Menyatakan anak bernama ………. bersifat kontensius. (11) Amat permohonan pengakuan anak secara voluntair berbunyi : “Menetapkan anak bernama ………. kecuali anak tersebut hasil hubungan suami isteri sebelum dilakukan perkawinan. umur/ lahir ……… bertempat tinggal di ……………………. (8) Permohonan pengakuan yang berada di bawah kekuasaan atau perwalian orang lain.. (4) Gugatan penyangkalan anak yang tidak dilakukan dengan acara li’an.. jika Penggugat bertempat tinggal dalam daerah dimana anak dilahirkan atau selambat-lambatnya 2 bulan sejak diketahui kelahiran anak tersebut dalam hal Penggugat berada di luar daerah dimana anak tersebut dilahirkan atau dalam hal kelahiran anak tersebut disembunyikan. adalah anak sah dari Pemohon nama ………… bin/ binti …………. karena dia dalam keadaan tidak mungkin untuk melakukan hubungan biologis dengan isterinya. dilakukan dengan pembuktian biasa. atau anak yang dilahirkan bukan anaknya yang sah. (9) Permohonan dan gugatan pengakuan anak selambat-lambatnya diajukan 6 bulan sejak anak tersebut ditemukan.. (3) Proses li’an dimaksud dalam angka (2) dapat dilakukan dalam hal sebagai berikut : (a) Jika anak lahir sebelum masa 180 hari sejak hari perkawinan dilangsungkan.

kecerdasan intelektual dan agama si anak. d) Pengalihan pemeliharaan anak tersebut dalam huruf c di atas. baik untuk pertumbuhan jasmani. anak. ibu berkewajiban untuk memberi nafkah anak.……… berada di bawah hadhanah Pemohon (nama . mengabaikan atau mempunyai perilaku buruk yang akan menghambat pertumbuhan jasmani.(a) “Menetapkan anak bernama ……… umur/ lahir ……… bertempat tinggal di ……………………. maka amarnya berbunyi : (1) “Mencabut hak hadhanah dari Termohon (nama ……… binti . berada di bawah hadhanah”.……)”. f) Untuk keseragaman. kecerdasan intelektual dan agamanya. g) Dalam hal hadhanah dimintakan pencabutan ke Pengadilan Agama. adalah anak sah Penggugat nama ………… bin/ binti …………. b) Pemeliharaan anak pada dasarnya untuk kepentingan anak. ibu lebih layak dan lebih berhak untuk memelihara anak di bawah usia 12 tahun. (b) Menghukum Tergugat untuk menyerahkan anak tersebut kepada Penggugat. (2) “Menetapkan anak bernama ……… bin/ binti . bin. bila ibu dianggap tidak cakap. saudara kandung dan pejabat yang berwenang (jaksa). Tegasnya tidak ada nafkah madhiyah untuk anak. 2) Perkara Pemeliharaan Anak (Hadlonah) a) Nafkah anak merupakan kewajiban ayah. . c) Pemeliharaan anak yang belum berusia 12 tahun dapat dialihkan pada ayahnya. amar putusan permohonan pemeliharaan anak berbunyi : “Menetapkan anak bernama ………. binti ……… umur ……… tahun/ tanggal lahir ……………. harus didasarkan atas putusan Pengadilan Agama dengan mengajukan permohonan pencabutan kekuasaan orang tua jika anak tersebut oleh Pengadilan Agama telah ditetapkan di bawah asuhan isteri. maka nafkah lampau anak tidak dapat dituntut oleh isteri sebagai hutang suami. dalam keadaan ayah tidak mampu. keluarga dalam garis lurus ke atas.”. Oleh karenanya.…… bin/ binti .. (13) Pengadilan Agama paling lambat satu bulan setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap mengirimkan salinan putusan tersebut kepada kantor Catatan Sipil dalam daerah dimana anak tersebut bertempat tinggal untuk didaftarkan dalam buku daftar yang disediakan untuk anak itu. e) Pencabutan kekuasaan orang tua dapat diajukan oleh orang tua yang lain. rohani.………)”. rohani.... Oleh karena nafkah anak merupakan kewajiban ayah dan ibu.

di bawah perwalian ………… (nama .…… bin/ binti . c) Gugatan pencabutan wali dapat digabung dengan permohonan penetapan wali pengganti serta gugatan ganti rugi terhadap wali yang dalam melaksanakan kekuasaan wali menyebabkan kerugian terhadap harta benda anak di bawah perwalian (ex Pasal 53 ayat (2) dan Pasal 54 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974). yaitu : a) Kalau untuk suatu tuntutan tertentu diperlukan suatu acara khusus seperti gugatan perceraian sedangkan tuntutan lain harus diperiksa menurut acara biasa (seperti gugatan tentang harta). Bisa juga terjadi pengumpulan beberapa gugatan tidak dibolehkan dalam 3 hal. keluarga dalam garis lurus ke atas. Komulasi dan Rekonpensi 1) Kumulasi Kumulasi artinya pengumpulan. .……… umur/ lahir ………. (……… tulis dengan huruf)”. pejabat/ kejaksaan dapat mengajukan pencabutan kekuasaan wali secara kontensius kepada Pengadilan Agama dalam daerah hukum dimana wali melaksanakan kekuasaan wali. saudara kandung. Pengumpulan dapat terjadi apabila ada lebih dari seorang Penggugat melawan seorang Tergugat atau seorang Penggugat melawan beberapa orang Tergugat. e. disebut kumulasi subjektif. ……. b) Dalam hal wali melalaikan kewajibannya terhadap anak. sebelum orang tua si anak tersebut meninggal. atau berkelakuan buruk sekali atau tidak cakap. Kumulasi dan Rekonpensi Perkara Hak-hak Anak dalam Perkara Perceraian. d) Amar putusan pencabutan wali berbunyi : (1) “Mencabut hak perwalian atas anak nama ………… bin/ binti .……)”.3) Perkara Perwalian Anak a) Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua berada di bawah kekuasaan wali yang ditunjuk dengan wasiat oleh orang tua. (3) “Menghukum Tergugat untuk membayar ganti rugi kepada Penggugat sebesar Rp. (2) “Menetapkan anak bernama ……… bin/ binti .……… umur/ lahir ……….. dari Tergugat (nama …… bin/ binti ………)”. baik secara tertulis atau lisan yang disaksikan oleh dua orang saksi atau wali yang ditunjuk oleh Pengadilan Agama karena kekuasaan kedua orang tua dicabut.

. b) Pengadilan yang memeriksa Konpensi tidak berwenang memeriksa gugatan Rekonpensi. Kumulasi obyektif dalam praktek Pengadilan Agama dapat terjadi dalam perkara perceraian yang digabungkan sekaligus dengan tuntutan nafkah selama ditinggal. Rekonpensi tidak boleh diajukan kepada Penggugat dalam kualitas yang berbeda. biaya dan waktu. sebagaimana telah ditetapkan oleh hakim. Adanya lembaga gugat Rekonpensi ini bertujuan sebagai berikut : a) b) c) Menggabungkan dua tuntutan yang berhubungan. Penggabungan perkara dapat dilakukan apabila ada koneksitas diantara perkara yang satu dengan perkara yang lainnya. pemeliharaan anak dan nafkah iddah. a) Berdasarkan Pasal 66 ayat (5) dan Pasal 78 UU Peradilan Agama. Obyek gugatan dalam perkara tersebut termasuk dalam kompetisi absolut Peradilan Agama dan dapat diperiksa sekaligus dalam acara khusus. nafkah anak. Menghindarkan putusan yang saling bertentangan. c) Tuntutan tentang Bezit tidak boleh diajukan bersama-sama dengan tuntutan tentang eigendom dalam suatu gugatan. menghemat waktu dan tenaga serta biaya. Obyek gugatan tersebut dapat dituntut sekaligus bersamaan dengan perkara gugatan cerai. dalam sengketa yang sedang berjalan diantara mereka pasal 132 HIR dan Pasal 157 RBg membutuhkan gugat Rekonpensi kecuali dalam tiga hal : a) Penggugat dalam kualitas yang berbeda. karena bukan lagi menyangkut penetapan hak. menghemat tenaga. karena hal ini akan memudahkan proses berperkara. perkaranya sudah diputus hanya tinggal pelaksanaan hak. perlu dilihat dari sudut kenyataan atau fakta dan bila digabungkan akan mempermudah jalannya acara pemeriksaan serta dengan menghindari putusan yang saling berlawanan. Mempermudah prosedur. c) Dalam perkara mengenai pelaksanaan putusan Rekonpensi tidak pula dibenarkan mengenai pelaksanaan putusan Hakim. 2) Rekonpensi Yang dimaksud dengan gugatan Rekonpensi adalah gugatan yang diajukan oleh Tergugat asli sebagai Penggugat Rekonpensi kepada Penggugat asli sebagai Tergugat Rekonpensi.b) Apabila Hakim tidak berwenang untuk memeriksa salah satu tuntutan yang diajukan bersama-sama dalam satu gugatan dengan tuntutan lainnya.

dimana pihak isteri mengajukan gugatan cerai kemudian pada saat mulai diperiksa perkaranya suami balik mengajukan tentang penguasaan anak. menggugat harta bersama dan lain (Pasal 86 ayat 1 Undang-undang). Menyederhanakan pemeriksaan. Gugat Rekonvensi dalam kasus perceraian di Pengadilan Agama adalah bila seorang suami mengajukan perceraian kemudian pada saat diadakan pemeriksaan perkaranya.7 Tahun 1989.Kepaniteraan terdiri atas Panitera. Pimpinan Pimpinan Pengadilan Agama terdiri atas seorang ketua dan seorang wakil ketua.Pengertian Pengadilan Agama Pengadilan Agama merupakan organ kekuasaan kehakiman dalam lingkulan peradilan agama yang berkedudukan di kota atau ibu kota kabupaten..Susunan Pengadilan Agama terdari atas Pimpinan. 1.d) e) f) Menetralisir tuntutan Konpensi.Hakim. pimpinan Pengadilan Tinggi Agama juga terdiri dari seorang Ketua dan seorang wakil ketua. Peradilan agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalan Undang-Undang No.Kekuasaan kehakiman dilingkungan peradilan agama dijalankan oleh Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama.Sekertaris dan Juru Sita.Panitera Pengadilan merangkap sekretaris pengadilan. 1. Kepaniteraan dipimpin oleh seorang panitera. . maka untuk menduduki jabatan ketua haruslah memenuhi persyaratan yang pastinya lebih berat dari pada untuk wakil ketua.Panitera.beberapa orang panitera muda. Sesuai dengan kedudukan dan tanggung jawabnya. pihak isteri balik mengajukan gugatan tentang penguasaan anak dan menggugat biaya pemeliharaan serta pendidikan anak mereka (sesuai ketentuan Pasal 66 ayat 5 Undangundang Peradilan Agama).Peradilan Agama a.Peradilan agama berada dibawah Departemen Agama. atau dalam kasus dengan posisi sebaliknya.beberapa orang panitera pengganti dan beberapa orang juru sita.wakil panitera. Sesuai dengan undang-undang untuk menjadi pimpinan Pengadilan Agama diharuskan mempunyai pengalaman sekurang-kurangnya 10 tahun sebagai hakim Pengadilan Agama.Wilayah hokum Pengadilan Agama meliputi kota atau kabupaten. Sama seperti halnya pimpinan Pengadilan Agama. Menghemat biaya.

Dengan melihat pengaturan ini maka persyaratan untuk menjadi sekretaris adalah sama dengan persyaratan untuk menjadi panitera. di Pengadilan Agama juga ada sekretaris yang dipimpin oleh seorang sekretaris dan dibantu oleh seorang wakil sekretaris dimana jabatan sekretaris dirangkap oleh panitera pengadilan. Juru Sita Untuk menjadi juru sita. Untuk Pengadilan Tinggi Agama persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi panitera adalah orang tersebut memiliki ijazah sarjana syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam. sedangkan di Pengadilan Negeri seorang Panitera tidak harus beragama Islam. Demikian juga dengan syarat pendidikan yaitu Sarjana Syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam. bedanya adalah apabila di Pengadilan Agama seorang panitera harus beragama Islam dan berlatar belakang pendidikan Islam atau menguasai hukum Islam. 2. Panitera Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri pada dasarnya mempuyai susunan kepaniteraan yang sama. 4. diisyaratkan harus mempunyai pengalaman minimal 5 (lima) tahun .Untuk menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Agama seseoang harus mempunyai pengalaman setidaknya 10 tahun sebagai hakim Pengadilan Tinggi Agama atau sekurang-kurangnya 5 tahun bagi Hakim Pengadilan Tinggi Agama yang pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama. Sekretaris Sama halnya dengan Pengadilan Negeri. Perbedannya misalnya syarat-syarat untuk menjadi hakim agama haruslah beragama Islam sedangkan hakim Pengadilan Negeri tidak harus beragama Islam. Hakim Anggota Pada umumnya ketentuan yang menyangkut persyaratan untuk menjadi hakim dan lain sebagainya antara Hakim Pengadilan Negeri dan Hakim Pengadilan Agama adalah sama. 3. Sedangkan persyaratan untuk menjadi hakim tinggi Pengadilan Tinggi Agama dengan Pengadilan Tinggi adalah sama. sedangkan persyaratan yang lainnya tidak berbeda dengan persyaratan untuk menjadi panitera Pengadilan Tinggi. kecuali untuk pendidikan yang diisyaratkan sarjana syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam. Sedangkan untuk persyaratan yang lain sama seperti yang terdapat didalam pasal 14 ayat (2) undang-undang nomor 8 tahun 2004. 5. sedangkan ketentuan-ketentuan lain yang berkenaan dengan hakim Pengadilan Tinggi Agama tidak berbeda dengan Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi di lingkungan Peradilan Umum. Persyaratan yang dimaksud dapat kita lihat didalam pasal 14 ayat (1) undang-undang nomor 8 tahun 2004.

beragama Islam.Adapun sekretaris Pengadilan Tinggi Agama dipimpin oleh seorang sekretaris dan dibantu oleh seorang wakil sekretaris.Bidang perkawinan. Pengadilan Tinggi Agama bertugas dan berwenang mengadili perkara yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama dalam tingkat banding.dan beberapa orang panitera pengganti.dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.Tugas dan Wewenang Pengadilan Agama Sebagai peradilan khusus. b. Pasal 2 menyatakan : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. Pengadilan Agama mempunyai tugas tertentu seperti tersebut pada Pasal 49 UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009. selain itu orang tersebut haruslah Warga Negara Indonesia.hakim anggota. Sedangkan untuk Pengadilan Tinggi Agama tidak memiliki juru sita disinilah letak perbedaan antara susunan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama.wasiat.dan sekretaris.beberapa orang panitera muda.kewarisan. Sebagaimana telah diatur dalam .Pengadilan Tinggi Agama Pengadilan Tinggi Agama merupakan Pengadilan Agama yang berkedudukan di ibu kota provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi.penentuan harta peninggalan.Pimpinan Pengadilan Tinggi Agama terdiri atas seorang ketua dan seorang wakil ketua. dan berijazah serendah-rendahnya sekolah lanjutan tingkat atas.Kepaniteraan Pengadilan Tinggi Agama dibantu oleh seorang wakil panitera.dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam wakaf dan sedekah.Susunan Pengadilan Tinggi Agama terdiri atas pimpinan. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama islam khususnya perkara di bidang perkawinan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Adapun kewarisan.panitera. memutus dan menyelesaikan perkaraperkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragam Islam di bidang : 1) Perkawinan 2) Kewarisan 3) Wasiat 4) Hibah 5) Wakaf 6) Zakat 7) Infaq 8) Shodaqoh 9) Ekonomi Syari’ah Wewenang Pengadilan Agama adalah memeriksa.memutuskan.penentuan bagian masing-masing ahli waris. 2.yaitu berkaitan dengan siapa-siapa yang menjadi hak waris.sebagai juru sita pengganti.yaitu hal-hal yang diatur berdasarkan Undang-Undang perkawinan yang berlaku.

Melaksanakan tugas-tugas pelayanan lainnya seperti hisab rukyat dan sebag . Zakat.Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. 6. apabila diminta sebagaimana diatur dalam pasal 52 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut. tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yakni menyangkut perkara-perkara: a. b. Infaq. Memberikan pelayanan administrasi umum kepada semua unsur di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama dan Penagdilan Agama. Pengadilan Tinggi Agama mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. d. Perkawinan. Memberikan pelayanan teknis yustisial bagi perkara banding. c. pasal 52A Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 menyebutkan bahwa “Pengadilan agama memberikan istbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriyah”. 5. Shadaqah. Pengadilan TInggi Agama juga bertugas dan berwenang mengadili di tingkat pertama dan terakhir sengketa kewenangan mengadili antar Pengadilan Agama di daerah hukumnya. f. e. Panitera. Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006. dalam penjelasan UU nomor 3 tahun 2006 diberikan pula kewenangan kepada PA untuk Pengangkatan Anak menurut ketentuan hukum Islam Di samping itu. Memberikan pelayanan di bidang administrasi perkara banding dan administrasi peradilan lainnya. Pengadilan Agama dapat memberikan keterangan atau nasihat mengenai perbedaan penentuan arah kiblat dan penentuan waktu shalat. Penjelasan lengkap pasal 52A ini berbunyi: “Selama ini pengadilan agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap kesaksian orang yang telah melihat atau menyaksikan hilal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal tahun Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk penetapan 1 (satu) Ramadhan dan 1 (satu) Syawal. Hibah. 3. h. 2. Waris. 4. Ekonomi Syari'ah. pertimbangan dan nasehat tentang Hukum Islam pada instansi pemerintah di daerah hukumnya. Selain kewenangan tersebut. Sekretaris dan Jurusita di daerah hukumnya. g. dan i. 7. Wasiat. Wakaf. Memberikan keterangan.Di samping itu. Mengadakan pengawasan terhadap jalannya peradilan di tingkat Pengadilan Agama dan menjaga agar peradilan diselenggarakan dengan seksama dan sewajarnya. Mengadakan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan perilaku Hakim.

7 Tahun 1989 pasal 2 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 pasal 3 Undang-Undang No. 2. 7 Tahun 1989 pasal 1 Undang-Undang No. 4.Undang-undang mengenai peradilan agama 1. Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 pasal 4 Undang-Undang No. 3. 5. 7 Tahun 1989 pasal 5…pasal 108 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful