Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

mungkin teman itupun belum membacanya. sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun. hebat. Kami sama sekali tidak membahas buku itu.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. Isi P . perasaan. sikap. ia memberikan sebuah buku. Asyik sekali. dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. mungil dan menarik. Tanpa komentar apa pun. Terlebih-lebih. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air. melainkan merupakan pikiran. keyakinan. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. sampai sekarang. Isinya. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain. saya dikunjungi seorang teman.

Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan. Mudah-mudahan siapapun juga. uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu.buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. Padang. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga. Oktober 2008 . termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu. bertemu dalam ilmu. bertemu dalam kalbu. Lebih jauh.

....................................................................... Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK..................... 5.... SK Menpan No................. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1... Pendidik sebagai Agen Pembelajaran................... 2................................ Buku DSPK......... 2................................... Konselor dan Konteks Tugasnya ........ B.. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru......................... 3................................ Pengawas Sekolah Bidang BK.......................Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A.................. 2............................. 4................... Penyelenggaraan Program PPK............................... 6........... 2..... Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing.................................................. SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK.................. 3... Persiapan dan Pembentukan... Konteks Tugas Konselor.............................. D..... 7.... BUKU PANDUAN 1.......... 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 . Kegiatan Operasional Guru Pembimbing...... Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor... Jabatan Fungsional Guru Pembimbing............. 4... KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1........... PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1........................... 3...... 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia................. Kriteria Guru Pembimbing.................... C.................

.........................................3............ Beasiswa PPK (BPPK)................... 2............... Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP............... H. E............ KURIKULUM 1...................................................... Rakernas ABKIN.... 117 .............................................................................................................. Peran Puskur ......................... 4..... ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya.... Trilogi Profesi Pendidik........................ 22 Tahun 2006 1............................................................................................................................. Materi Dasar...................................... Ciri-ciri Profesi.. PERMENDIKNAS No............................ Peran P4TK-Penjas dan BK................................. Profesi yang Bermartabat............................ 3........................ 114 Penutup .......... Lagi: Muatan KTSP..... 2................................................................ G................................................ 2........... 3.............. Suasana Kerja......... F.. I................................. Kurikulum 1975............................. 107 3..................... 104 2............. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1...... PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1..... Pelibatan Otoritas Birokrasi.... 2..... Produk Hasil Penataan........

Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru. sejak tahun 1993. namun justru mengaburkannya. sebagai agen pembelajaran. Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya. tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 B 1 . Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi. Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No.

yaitu menyusun program BK. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). yang tidak membelajarkan. 3. dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. mereka mencari dan memakai yang lain. melaksanakan program BK. 2 Prayitno. Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. Lalu. mereka tidak memahami bahwa: a.24/1993. 025/U/1995. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. sosial. Guru Mata Pelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. Lagilagi. Dalam kaitan itu. 2008 . Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. Guru Praktik. dan Guru Pembimbing. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. yang ternyata absurd dan tidak aplikabel. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru. 4. 118/1996. sedangkan untuk konselor harus yang lain. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. yaitu Guru Kelas.jaran adalah istilah hanya untuk guru. Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi. SK Mendikbud No. yaitu pengembangan kemampuan pribadi.

Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. 5. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”. padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. 2008 3 . agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. Lebih jauh. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. c. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a. Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap.

DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK. Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK. DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004. 7. Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. namun oposisinya terlihat pada: a.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. b. yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. d. b. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. c. padahal: a. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional. Mengatasi Krisis Identitas.6. 2008 . DSPK telah disusun.

Mengatasi Krisis Identitas. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. Selain itu: a. apabila mereka ingin membuka program PPK. kalau ada. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. sampai sekecil-kecilnya. keahlian praktik profesi. Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. c. baik sebagai dosen program BK S1. d. Dalam kaitan itu. Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. Prayitno. Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. c. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan. dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. 2008 5 .no. dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada.

Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No.Sc. Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang. Mengatasi Krisis Identitas. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru. d. Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya.konselor. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan. • Saya cuma ingin ide Prof. M. PP dan Permendiknas. Sukamto. apalagi konselor. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup.22/ 2006 tentang Standar Isi). yaitu: • Daripada ber-S2-ria. 8. 2008 6 . Prayitno. (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia.tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan. dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--. Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a. Dr. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran. c. mengaburkan. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. b. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof.

Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. c. yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman. Diadakannya kedua komponen selain Prayitno. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja. Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 7 . kerdil dan kontraproduktif. 22/2006 tentang Standar Isi. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No. 9. Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”. b. SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. Lebih jauh. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu. KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja.Kenyataannya di lapangan. Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. BSNP. Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah. Permendiknas).

keinginan mereka itu ditolak. Dalam hal itu. panduan dari Puskur. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan. Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK). 22/2006). ABKIN memulai upaya. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. b. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan. Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur.mata pelajaran dalam KTSP itu. Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. 2008 . Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. yang dibina sejak 1993. a. Mengatasi Krisis Identitas. Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). penataan ke arah pro- 8 Prayitno. namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. yang katanya. 10. setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. anggapan mereka. 11. sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No. secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”.

ada pernyataan beliau yang menggigit. b. BK dalam KTSP. Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. kompak. Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker. c. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. PPK. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”. Dalam pengarahannya di Rakernas itu. Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu. Karena dimohon untuk dua acara. 2008 9 . semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. dan panduan pelayanan BK di sekolah. dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. terutama berkenaan dengan DSPK.fesionalisme profesi BK. Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. Oke. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”. Gambaran singkatnya sebagai berikut: a. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. Mengatasi Krisis Identitas. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. harmonis. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. hal itu baik-baik saja.

3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural. kolegalitas. transparansi. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari. Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. panduan pelayanan BK di sekolah. antara lain: • SK Menpan. program sertifikasi guru dan dosen. prosedur penyetalaan. padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. seperti DSPK. 2008 .1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. Standar Kompetensi. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku. Mengatasi Krisis Identitas. sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya.

6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No. 27/2008 tentang SKAKK itu. bukan hak ABKIN. tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan. Mengatasi Krisis Identitas. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri. apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. 2008 11 . Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. Prayitno. Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan. 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP. ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan. maka produk yang berupa tujuh buku itu. yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK).beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek.

12. tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. Mengatasi Krisis Identitas. sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut. 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya. 2008 . Lebih dari itu. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno. sesungguhnyalah. padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu. yang juga menjadi wilayah tugas beliau.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya. Akhirnya. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya.

jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan. 2008 13 . Mengatasi Krisis Identitas. arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor. Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini. jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada. JIKA HATI sejernih air bening.terus melalui pengkajian.

widyaiswara. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. pendidik. instruktur. Pertama. fasilitator.URAIAN MENYELURUH A. pamong belajar. dosen. tetapi justru mengaburkannya. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran. 2008 . konselor. dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. tutor. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. 1.

20/2003 Pasal 1 Butir 6). melakukan pembimbingan. 2008 15 . 1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. 19). konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui. termasuk konselor dan pendidik lainnya. tidak hanya guru. dosen. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. dan pendidik lainnya. Mengatasi Krisis Identitas. Nah. haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. seperti juga guru. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. dan lain-lain layanan. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. No. Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kedua. konseling perorangan. Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. informasi.No. Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. Kalau konselor itu pendidik. atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). menilai hasil pembelajaran.

dosen apa. dsb 2) . Modus pembelajarannya pun berbeda-beda. konteks tugasnya apa. widyaiswara apa. 2008 16 . Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. informasi dan pilihan karir. IPA. Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. seperti mata pelajaran Matematika. Mengatasi Krisis Identitas. di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). konselor apa. dsb. (Nah. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. 2) Di perguruan tinggi. IPS. dan sebagainya. semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. Guru. sikap dan kebiasaan belajar. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi. 3. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru.2.

dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. Nah. 4. mohon maaf. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Prayitno. oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau. sehat jasmani dan rohani. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya.. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 17 .” agar orang-orang mau membeli minyaknya.Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No. 13)... Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. yang berbeda dari guru. berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang. Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik.. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak.

siswa. dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. untuk klien dewasa sekalipun. dan itu namanya pembelajaran. belajar. Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah. mencakup. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. Lebih jelas. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. supaya bisa memilih. sosial. Mengatasi Krisis Identitas. Dengan demikian. bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. atau peserta didik. SLTP. yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. belajar dan karir. klien atau konseli. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. tentu hebat betul. apalagi SD mampu memilih. atau dirangsang. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. meraih serta mempertahankan karir. Prayitno. dan SLTA. sosial. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. luar biasa. Kok repot-repot amat. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. dan karir 3). Atau ada cara lain? Kok repot amat. 2008 18 . apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. meraih serta mempertahankan karir. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD. Itu yang pertama. klien atau konseli atau apapun namanya. Ya belajar dong.Ya. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar.

sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. 26/1989 ke SK Menpan No. Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. IPA. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. karena lagilagi. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. dll. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. katanya. Mengatasi Krisis Identitas. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. 84/1993. SK Menpan No. dari SK Menpan No. merancukan tugas konselor dan guru.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. 1. B. Prayitno. 2008 19 . caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. Bahasa.

Mengatasi Krisis Identitas. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. Di samping itu. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. ke sini ya. Tidak boleh lagi ke sana ya. Menyadari kerancuan terebut di atas. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 2008 b. Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi.SK Menpan no. Nah. ATAU: Menyusun program bimbingan. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. mohon maaf. karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. kegiatan pelayanan BP dilecehkan. oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. evaluasi belajar. analisis hasil evaluasi hasil belajar. Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. 20 . bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. SK Menpan No. melaksanakan program bimbingan. Menyusun program pengajaran. evaluasi pelaksanaan bimbingan. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”. adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. itu benar. Secara singkat. menyajikan program pengajaran. 026/1989. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK).

Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). Mengatasi Krisis Identitas. SK Mendikbud No. 25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. 2008 21 . Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. yaitu: 4) Dewasa ini. Perhatikanlah kata ATAU. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”. Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai. Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”. Peraturan yang ada adalah PP No. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2. Terkait dengan hal itu.jawabnya. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No. 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno.

marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d. Guru mata pelajaran. baik secara perorangan maupun kelompok. bimbingan sosial. dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). Sejalan maknanya dengan guru IPA. adalah guru yang mempunyai tugas. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. dan SLB Tingkat Dasar. Lebih jauh. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. bimbingan belajar dan bimbingan karir. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. adalah guru yang mempunyai tugas. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. Nah. guru mata pelajaran. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. Guru praktik. panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. bukan?. adalah guru yang mempunyai tugas. 22 Prayitno. SD.a. 2008 . 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. Rancu. dalam bidang bimbingan pribadi. Guru kelas. kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. Guru Pembimbing. Kalau mau konsekuen. SDLB. tanggung jawab. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. 25/0/ 1995 itu. Mengatasi Krisis Identitas. Dengan demikian. memperhatikan kutipan tersebut di atas. kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. berdasarkan norma-norma yang berlaku. tanggung jawab. tanggung jawab. tanggung jawab. istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. adalah guru yang mempunyai tugas. ini baru merancukan dengan sengaja. guru praktik.

3. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no. tanggung jawab. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. penempatan dan penyaluran. Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. dan bimbingan karir. dan • • • Prayitno. 2008 23 . bimbingan sosial. pengentasan. konseling kelompok. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. konseling perorangan. bimbingan belajar. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. Mengatasi Krisis Identitas. bimbingan sosial dan bimbingan sosial. 0433/P/1993 dan No. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. pencegahan. informasi. bimbingan kelompok.

dapat dikutip pula: a. 3 di atas. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan. guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa.bimbingan pembelajaran. serta kegiatan pendukungnya. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. bukan tugas mengajar. Lagi. b. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. 2008 . yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. 24 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling. 4. Dari sumber yang sama dengan no. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing. Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling.

Dikhawatirkan. dan sebagainya yang yang Guru pada b. 5. sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 25 . Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm.. kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno.“. Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang. Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan. meskipun mungkin terjadi di lapangan.. yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK. Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”... Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing. Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri. 6).

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

dasar dan menengah 2.Pasal 1 : 1. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b. Mengatasi Krisis Identitas. Prayitno. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. Syarat umum. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. tanggung jawab. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan. Syarat khusus. Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. (4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah. 2008 29 . Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal.

. karena belum ada aturan penggantinya. 2008 . 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik.20/2003 Pasal 39 ayat 2.. penulis “Krisis Identitas”.. tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. dengan mengatakan: “. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah. Mengatasi Krisis Identitas. sampai dengan kepengawasannya. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No. yang sampai sekarang masih berlaku. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu. seperti telah disebutkan di depan. penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. tidak berjalan di atas rel. ibarat kereta api. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas. Dengan demikian. 30 Prayitno.. 18). Pertama. Dalam kaitan itu.(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa. Kedua. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No.

2008 31 . Mana yang lebih tidak realistik. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK.C. sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi. Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. Mari kita lihat bersama. SMP. bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan. Mengatasi Krisis Identitas. SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. 21). atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm. Prayitno. Buku-buku panduan. pikiran utopis dan tidak realistik. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. 1.

Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu. Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. SMP. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. 2008 11) 32 . Mendikbud. dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”. Prayitno. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10). memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”. ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. 11919/C. Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah. baik negeri maupun swasta. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah.dipadu dengan materi keilmuan BK. dinyatakan bahwa layanan BK di SD. Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut. oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. (hal 6-7).

Dr. Drs Thantawy. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi.. (IKIP Jakarta. agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar. b. dan .. dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. MA. Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”. 2008 33 . sekarang UPI). Afif Zamzami. Mengatasi Krisis Identitas. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena.Surya (IKIP Bandung. Dr. sekarang UNNES.. Drs. (IKIP Semarang. (IKIP Bandung. Mungin Eddy Wibowo. kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres. Jadi menurut penulis itu. R. M. semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. dll. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu. Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang. guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor. sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti. Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. M. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”. baru kerja bisa dimulai. Prayitno. M. sekarang UPI). mohon maaf. Drs Karno To.Pd.konselor dinyatakan berlaku. Pd. sekarang UNJ). karena semuanya belum beres. ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi. karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof. pendidikan beres.

Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. isinya tidak sesuai dengan kenyataan.Si. Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru. dan C. sekarang UNP). khususnya untuk konteks SD dan SLB. 2008 .Pd. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang. Akan tetapi. tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”. S. (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno. (Puskur. Dra. sekarang UNP). Dharma Setiawaty R. dengan Prayitno sebagai Ketua Tim. Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001. Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS. (IKIP Jakarta.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya.M. Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan.H. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK. 2. Elida Prayitno (IKIP Padang. Moenir. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. meskipun secara substantif. Mengatasi Krisis Identitas. (hlm. Balitbang Dikbud). Dra. yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional. sekarang UNJ).

Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001. atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. 3. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu. Mana yang benar?. 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu.atas. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. Dr. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. 2008 35 . b. Mengatasi Krisis Identitas. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a. 84/1993 dan No. c. Ir. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional.

Prof. Dengan suka cita saya terima berita itu. dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya. Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti. (dari UNP). Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. Dr. Dr. Ahman. terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). yaitu Ketua Umum yang baru. Selanjutnya. Sukamto.Sc. Prof. Menurut pertimbangan Dikti. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut. Prayitno.) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia.Ed. Kons (dari UNNES). Syamsuddin S. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat. Dr. (dari UPI) dan Drs. Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut. Dr. Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah. M. Mungin Eddy Wibowo. agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya.Pd. (dari UPI). Dr. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi.dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT. M. yaitu Prof. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka.Pd. 13) 36 Prayitno. Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat. Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya. M. 2008 . 12) Pada awal April 2001 waktu itu. pada waktu itu Bapak Prof. Sunaryo Kartadinata.Pd.Pd. Kons (dari UNY). Dr. Mengatasi Krisis Identitas. M.U. Sunaryo Kartadinata. MSc. M..

dan menafikan peran otoritas birokrasi. Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. 2) Hasil kegiatan no. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling. Mengatasi Krisis Identitas.a. Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. 1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN. beserta pakar konseling untuk membahas. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no. konseling.4. Prayitno. 2008 37 . melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling.

unsur ABKIN dan personalia Dit. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT. anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK).6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. dan Pakar BK. Mengatasi Krisis Identitas. 2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu. Divisi ABKIN. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. personalia PB dan PD ABKIN. Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno. 2008 . Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta. PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit. PPTK dan KPT. 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final. Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. DSPK disosialisasikan. b.

PD ABKIN. Jawa Barat. Berkenaan dengan DSPK. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. untuk wilayah Jawa Timur. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya. untuk wilayah Sumatera Samarinda. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). untuk wilayah Banten. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali. 2008 39 .• • • • • Padang. Kepala Sekolah. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. Pengawas BK. 2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. Bali. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno. DKI. Dinas Pendidikan Propinsi. untuk wilayah Kalimantan Makasar. b. penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut. dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. Mengatasi Krisis Identitas. Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK.

tenaga dan biaya. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan. lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. bahkan semestinya disyukuri. apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias. Kedua. • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. serta belum tentu Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik. Yang jelas. kita mau apa? Protes memang boleh.diusulkan untuk ditunda (hlm. justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif. tetapi kita rugi waktu. menggunakan jalur hukum silahkan. Atau. Apa salahnya? Pertama.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. sehebat-hebatnya apa yang kita punya.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm. 2008 40 .

muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada. dikumpulkan oleh Ketua Umum. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. disanction dan difinalisasi. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK.memang. termasuk sedang digarapnya DSPK. Acara pertemuan itu. Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. sesudah DSPK selesai disusun. Memang. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. Adanya risalah aspal. tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK. Oleh karena itu. 2008 41 . Demikian tentang “usulan penundaan”. kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu. Mengatasi Krisis Identitas. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada. serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi.mana yang benar?).

sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. tetapi ternyata aspal. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu. tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan. 2008 . kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK. sanctioning. berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK.Juni 2008. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan. Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Dan kalau memang betul-betul ada. Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya.

Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada. Mengatasi Krisis Identitas. bukan produk ABKIN. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. 2008 43 . Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti. kalau setuju alhamdulillah. dengan surat Direktur P2TK-KPT No. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. ABKIN boleh saja tidak setuju. pendidikan tenaga profesi. kode etik dan organisasi profesi. kredensialisasi.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. Adapun ABKIN setujui atau tidak. diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno. kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. bukan ABKIN. tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. c. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan.

2008 . dan organisasi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. LPTK.DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. yang 44 Prayitno. disingkat ABKIN). Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK. khususnya penulis “Krisis Identitas”. Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). khususnya LPTK. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain. Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula. yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. Menarik untuk disimak.

tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri. 2008 45 . atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. lalu menolak dan membuat tandingannya. Didukung oke. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana.tidak memakai nama ABKIN. tetapi bisa dan perlu berkolaborasi. D. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. Prayitno. Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. melainkan juga pakar BK. LPTK dan Direktorat. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK. Kesimpulannya. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN. membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. kelihatannya setuju. DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. Sejak awalnya. terimakasih. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi.

a. serta sejumlah IKIP. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. b. sebagian besar FKIP Negeri. ada upaya memutus rantai sejarah. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”. 46 Prayitno. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu.1. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. 2008 . FKIP dan STKIP Swasta. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. Mengatasi Krisis Identitas. Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta.

dalam hal ini PPK. 2008 47 . 2.12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999. 118/K. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No. a. Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno. Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. Mengatasi Krisis Identitas. c. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi. sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi. Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No.khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya. 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP.

instrumentasi. b. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. dunia usaha dan industri.. PP No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik. Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.. dan pelayanan konseling. keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No. dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15). Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kemudian.. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. Sejalan dengan hal itu. instansi. yaitu berpraktik privat profesi konseling. organisasi. melalui Surat No. profesi. 056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. dan/atau vokasi”. yaitu SK Mendikbud No. Berikutnya. keluarga.. 2002).akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. 2008 48 . tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas.

ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK. Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). 16) Karena lulusan program PPK belum ada. Prayitno. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang). d. e. Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). perguruan tinggi) maupun luar sekolah. Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK). pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1. Di samping itu. Mengatasi Krisis Identitas. serta peserta dari Jakarta. c. 2008 49 . serta mengucapkan Janji Konselor. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). Selain di UNP. Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti. menengah. S2. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas.yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor. yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah.

Beasiswa PPK (BPPK). Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria. Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria. a. Oleh karena itu. Terkait dengan hal ini. Mengatasi Krisis Identitas. Untuk ini. dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah. Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1). dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”. Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. 2008 . Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan.3.

Univ. UNS (Makasar). UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). Univ. Univ. HAMKA (Jakarta). STAIN Batusangkar (Batusangkar). Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). Univ. Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. Univ. Univ. PGRI (Jember). PGRI Palembang (Palembang). UNESA (Surabaya). setelah mengikuti PPK Prayitno. Widya Mandira (Kupang). UNIMED (Medan). UNIB (Univ. Abdulyatama (Banda Aceh). serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. Alwasliyah (Medan). peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air. UNILA (Lampung). Univ. Univ. Atmajaya (Jakarta). UNNES (Semarang). Univ. Univ. Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). Pendidikan Ganesha (Singaraja). b. Bengkulu). PGRI (Surabaya). Sampai dengan tahun 2008 ini.Studi Bimbingan dan Konseling. Univ. dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh). dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. STKIP Selong (NTB). Univ. STAIN Curup (Curup). Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. UNJ (Jakarta). Univ. 2008 51 . UNIMA (Manado). UNRI (Pekanbaru). UNJA (Jambi). UNDANA (Kupang). PGRI (Jakarta). Kanjuruhan (Malang). IAIN Imam Bonjol (Padang). UNSRI (Palembang). Mengatasi Krisis Identitas. UNP (Padang). Univ. Univ. Univ. Hazairin (Bengkulu). UNY (Yogyakarta). Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. UNG (Gorontalo). Assafi’iyah (Jakarta). Muhammadiyah Magelang (Magelang).

penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain. Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. adalah sebagai berikut: a. Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. 2008 . 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). Mengatasi Krisis Identitas. Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut.beberapa bulan saja. termasuk di luar kampus”. kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK. 4.

DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. tentulah program PPK)18).1) Kedokteran. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. 18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. sesuai dengan keahlian yang diajarkan. Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK. seperti UNNES (Semarang). untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. 19) 20) Prayitno. Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan. yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Mengatasi Krisis Identitas. b. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No. Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp. selain ijazah (S2).1) seperti di Fakultas Kedokteran itu. 2008 53 . Untuk bidang BK. baru S2 saja20). juga ijazah PPK. untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK.1. Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp.Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut. selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. Dalam kaitan itu. untuk menjadi dosen PPK diperlukan. 19/2005 di atas. lulusan universitas manapun19). Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK. seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana.

21) Pesan ini saya terima lewat sms. Mengatasi Krisis Identitas. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. bagaimana? Ya. Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK. Dr. kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. Sukamto. mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya. Prayitno. Dr. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. M. Sukamto. banyak yang bergelar Magister (S2).Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof. Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”. sampai-sampai Bapak Prof.Sc. Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK. ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu. Sesungguhnyalah. M. c. 2008 54 . bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor). termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan.

Demikian juga tentang tujuan. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru.E. 1. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. isi. Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. Meskipun tidak dikemukakan. 2008 55 . Mengatasi Krisis Identitas. Apabila pendidiknya adalah guru. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik. Undang-undang No. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”. isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. Oleh karena itu.

maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. bahan tentang penyesuaian diri. Bahasa Indonesia. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Matematika dan sebagainya. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. seperti bahan pelajaran IPS. tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud. bukan hanya guru. Apabila pendidiknya adalah konselor. 2008 . Hal terakhir itulah. Ini artinya. sikap dan kebiasaan belajar. Mengatasi Krisis Identitas. Dalam kaitan ini. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik. dan sebagainya. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya. 56 Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit.studi yang diampu oleh guru.

Mengatasi Krisis Identitas. tidak hanya guru. D. Prayitno. Terkait dengan variasi pengertian tersebut. 1984 sebagai berikut. Ilinois: Scott. 22) Brubaker.L. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja. Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd. Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. 2. Glenview. sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22). pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas. (1982). melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun. Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. Foresman and Company. 2008 57 . Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup.

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum. Bagaimana kalau Kepala Sekolah. bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. dan siapa pun juga. kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK. dan siapa pun juga. karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). siswa orang tua. pertama. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. “Yang penting adalah kurikulum. ketika Kepala Sekolah. karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. guru-guru. pimpinan Dinas Pendidikan. 24/2006. Prayitno. 2008 61 . 22/2006 dan No. Mengatasi Krisis Identitas. Padahal yang semestinya terjadi adalah.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. Kedua. Kepala Sekolah. karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan.

yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru). belajar. maka akan timbul berbagai masalah. Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi. dan minat peserta didik. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. sesuai dengan kondisi sekolah. Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No.Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). Mengatasi Krisis Identitas. Mengaburkan pengertian pengembangan diri. yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno. Namun. b. bakat. 2008 . Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP.22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas. sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali.

Prayitno. di dalam mata pelajaran. mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”. Perlu disimak. di dalam BK. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?. Kalau itu yang dimaksud. di mana adanya pengembangan diri itu. dll. bagaimana caranya. 22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. di mana adanya. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami. Mengatasi Krisis Identitas. dan lain sebagainya. 2008 63 . memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut.tetapi bahkan penyimpangan. dunia dan akhirat. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2). 22/ 2006. mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat. ya menjadi susah. apa bentuknya. garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya. yang ada di manamana.Tidak jelas. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas.

64 Prayitno. yaitu: (a) komponen mata pelajaran. yaitu (1) pelayanan konseling. 2008 . dan (2) kegiatan ekstra kurikuler. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25). Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. (b) komponen muatan lokal. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor. 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut.Gambar 3. dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No.

22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.22/2006. 1. 23/2006 dan No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No. 26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3. Prayitno. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan. No. 2008 65 . Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas. 22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). PERMENDIKNAS No. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. jabaran dari PP. mengakibatkan kerancuan. Mengatasi Krisis Identitas. No. Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran. 22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. F. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. pengkerdilan dan kontra produktif.

2008 . setelah menjadi permendiknas. penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya. sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No. Memang ada sedikit kemajuan. tidak boleh materi di luar mata pelajaran. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru.” (hlm. sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.Materi dasar Permendiknas No. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran. sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. Hasil kerja keras ini. Mengatasi Krisis Identitas. Namun sayangnya. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya.

struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. tidak harus materi mata pelajaran. Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu. tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. hal-hal yang harus ada memang harus masuk. Demikian. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja. Mengatasi Krisis Identitas. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No. isi kurikulum hanya mata pelajaran saja.hanya berisi mata pelajaran. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi. Prayitno. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. b. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. 2008 67 . 22/2006 itu.

Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru. Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. Mengatasi Krisis Identitas. apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi. dan sebagainya. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya. c. 22/2005. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas.143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya. KTSP pun hanya untuk guru. yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). 2008 . orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No.yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2.

memperlihatkan ketidaktahuan. Mengatasi Krisis Identitas. ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit.publik draf Standar Isi yang dimaksud. Sekarang menjadi pertanyaan. Lagi: Muatan KTSP a. Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas.2021). Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik. 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. (iii) materi pengembangan diri. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri. 2.21) • Prayitno. dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm. 2008 69 .

3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP. yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi. Apa alasannya. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. dan konselor punnya tugas dalam konseling. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. dalam hal ini guru. 2008 . Guru punya tugas. Mengatasi Krisis Identitas. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. Sekali lagi. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. dan tahu juga wilayah kerja guru. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. pasti tahu arah. pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. dan pola pikir yang bagaimana. Kalau profesional dia. dan lagi.

Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri. guru atau pendidik siapapun. akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27). sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi.1 dan hlm. Mengatasi Krisis Identitas. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. Dan ada satu lagi. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum. 27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik. Apa lagi? Dengan prinsip itu. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno.22). Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan.materi mata pelajaran yang ada. alat dan teladan dalam kegiatan belajar. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. 2008 71 . Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. 22/2006. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan. Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah.

seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Saya menulis buku. palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. Saya ini bukan apa-apa lho. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya. yang saya cintai dengan sepenuh hati. lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja. Tetapi terus terang. tetapi karena konseling dan pendidikan. mengabdi dan berdedikasi. bahkan sejak jauh sebelumnya. dan saya akan berkarya terus Insyaallah. karena dan demi konseling dan pendidikan. 2008 . Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. Prayitno? Kalau ya. bukan karena saya pejabat. benar sejak 1995. Anda mau merebutnya? Silahkan. bukan Rektor. saya dibayar karena konseling dan pendidikan. rebut buku-buku saya dan para pembacanya. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya. 72 Prayitno. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. karena konseling dan pendidikan. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. karena dan untuk konseling dan pendidikan.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. Itulah lahan garapan saya. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. Mengatasi Krisis Identitas. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung.

Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. G. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa. Mengatasi Krisis Identitas. Apabila. Bin. direktorat. P4TK Penjas/ BK. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. Dan untuk semuanya. staf departemen. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. Dir. saya adalah suruhan demi profesi saya. 2008 73 . direktorat jenderal. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. apalagi karya saya sendiri.Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim. Diklat.22/2006. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi. anggota tim belasan orang. Anggota BSNP 15 orang. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. ditolak oleh Puskur. Saya berada di Puskur. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No. Prayitno. di sana sedang terjadi krisis identitas. dan pejabat lainnya puluhan orang. konseling dan pendidikan. dan Pengurus Daerah. orang lain dijadikan kambing hitam”.

yang dilaksanakan guru. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. Mengatasi Krisis Identitas. yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih.-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. Parung. yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu. dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. 13). maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. 13). • Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah.Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya. 2008 . Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno.

Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri. Panduan ini. melengkapi. yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. menyederhanakan.1. Puskur melaksanakan tugas utamanya. 29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. sebisa mungkin. 22/2006. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. buku-buku panduan yang selama itu ada. menyempurnakan. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. segera setelah Permendiknas No. dengan arah. yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. 24/2006 diberlakukan. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan. 23/2006 dan No. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan. Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. SK Mendikbud). Sejalan dengan hal itu. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. 2008 75 . Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. No.

istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. yang disusun oleh pemerintah --. 2008 76 . ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya. Prayitno. dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada. tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum. bukan sebaliknya. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. 30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30).Dalam pada itu. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya. Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No. 22 Tahun 2006. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus. adalah baik untuk menjelaskan konsep. Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan.

khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. Apabila panduan yang baru itu berbeda. sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru. materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka. pertimbangannya adalah: a. ”Panduan BK Jalur Formal”. Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No. 2008 77 .Dalam hal ini kami mengusulkan.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2003. b. kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a. Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan.

3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas.Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. 22/2006. • Surat Bin. agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri. 2008 . Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut. Sekiranya ABKIN akan menyusun. Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. dengan surat No. Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. Pengingat Permendiknas No. 343/F5. Mengatasi Krisis Identitas.

BSNP dan KTSP). disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. yaitu Prayitno. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi. Mengatasi Krisis Identitas. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. 3. PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. 2008 79 . mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI. Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP.1. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah. 2. SMP/MTs. 2.

b. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. yang dilaksanakan guru” (hlm. belajar dan karir. dengan materi pengembangan pribadi. Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. c. mohon diperhatikan.20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. sosial. Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No.melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No. bukan hanya guru. Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan. yang didalami dan dilatihkan hanya BK. penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang). manajemen dan penilaian dalam BK. 22/2006 tentang Standar Isi31). Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. dapat diberi arti sebagai berikut: a. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran. 2008 . 13). Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). 80 Prayitno. Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. 31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). Tentu saja. penilaian dan manajemen. kegiatan pendukung. dan guru pembimbing atau konselor. terutama tentang jenis-jenis layanan.

20/2003). tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran.Dengan demikian. Cedera minimal dalam dua hal: satu. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi. Mengatasi Krisis Identitas. dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”. 2008 81 . dua. H. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan.

Mengatasi Krisis Identitas. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN. dalam Raker tersebut. 2008 . Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”. dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK. Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf. saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP. Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Satu hal yang menarik ialah.1. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006.

barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain. Semarang (hal 18)33). Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. 2.Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. Mengatasi Krisis Identitas. Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK. Di samping itu. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. 2008 83 . Prayitno. a. gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. mungkin inilah (antara lain. banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. 18).

dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP. Prayitno. Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu. Mengatasi Krisis Identitas. • SK Menpan. 2008 84 . Tahu-tahu saya melapor. Menerima apa yang dibeberkan. dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. • UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN. tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada. Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik.20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik. bersikap kritis boleh. karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya. Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) . Dalam kajian yuridis. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja.

Prayitno. namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. 4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling. 2008 85 . Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. dan juga sebelumnya. pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007. 34) Tentang tandingan ini. dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). Mengatasi Krisis Identitas. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. Bagaimana disebut tandingan.

Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir. sebab panduan-panduan itu belum jadi. Lagi pula. b. Surat tersebut. Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat. disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang. apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku. Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan. 2008 . karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN. saya usulkan agar diganti. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. yang sudah dibawa. Mengatasi Krisis Identitas.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada.

DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas. akhirnya tidak tentu rimbanya. 2008 87 . Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. No. 19/2005. Dalam hal itu agaknya. 1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. 20/2003. Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana. Mengatasi Krisis Identitas.Nasional XV di Palembang. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. 3. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35). a. PP No. padahal bukannya hanya 7 (tujuh). dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain. yaitu karena dasarnya adalah UU.

2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor. Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas.(a) Tema: Naskah Akademik. dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan. dengan judul: • 88 .

(e) Tema: Pendidik Konselor. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor. dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada. 2008 89 . yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar. yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ). sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor. dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik.

2008 . 37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam). Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif. judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda. satu tema. Mengatasi Krisis Identitas. 1) Tema produk ada 9 (sembilan). Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. tidak konsisten dan tidak cermat.disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. (Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam.

0433/P/1993 dan No. 026/1989. 118/1996. 2/1989. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No. Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu. 025/0/1995. adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. 84/1993. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat. 2008 91 . menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No. Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang. 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. telah diatur dan dikembangkan. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran.2) Tentu lucu. serta SK Menpan No.

(e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno. 14 buku “Krisis Identitas”). Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut. Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. 9 buku “Krisis Identitas”). padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru.keterandalannya. dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. termasuk program PPK di dalamnya. b) Mencederai makna UU. menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No.

27/2008. 2008 93 . 27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Prayitno. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen. Standar kualifikasi konselor. Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No. yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya. yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. Mengatasi Krisis Identitas.Puskur dan P4TK Penjas dan BK. Upaya tersebut akan didorong lagi. Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No.

yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. dengan diberlakukannya Permendiknas No.(f) Secara spesifik. Mengatasi Krisis Identitas. Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP. sehingga tidak layak edar. yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. 27/2008 itu. Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. bukan ABKIN. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. 94 Prayitno. (g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. 2008 . 27/2008.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

2008 . Sepertinya. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. untuk mencapai hasil yang terbaik. harmonis. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. 4. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. dikritik dan dikejar. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. keilmuan dan sebagainya.terjadi. a. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan. kolegial. terbuka. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. Kenyataannya berbeda. Mengatasi Krisis Identitas. Terbaca. benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya. bahkan dianggap tandingan. transparan. Pertemuan-pertemuan kerja tim. bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya.

Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. M. produk harus selesai. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. Dr. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”. bagaimanapun juga caranya. Ir. dan dukungan dari birokrasi dicederai. apalagi uji coba. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. otoritas birokrasi juga). Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh. Dr. Sukamto.Yang penting adalah. peringatan.Sc) sangat Prayitno. Hal itu memang tidak diragukan lagi. Tidak ada telaah yang intensif. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar. tidak ada verivikasi. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil. sanctioning atau uji publik. kepercayaan. Mengatasi Krisis Identitas. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. 2008 99 .diacuhkan. sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. masukan dianggap tandingan. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”.

memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. Dan lagi. Dalam pada itu. 2008 100 . tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. Lahan mulai digarap. dosen dan lain-lain. produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. 20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. dalam hal-hal yang dipersoalkan itu.Dengan demikian. Mengatasi Krisis Identitas. kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). padahal undang-undang menyatakan (UU No. b. LPTK. melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu. 21) Prayitno. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling.besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. kegiatan akademik.

Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN. kurikulum BK. produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. 2008 101 . . layaknya “kejar tayang” saja. merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. dan siap untuk disosialisasikan. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK. 40) Tidak seperti DSPK. program PPK. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. Mengatasi Krisis Identitas. sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno. Dalam suasana seperti itu.Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. Kegiatan itu dikerjakan secara intensif. Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru.

Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. Rektor UNP kemudian. serta Rakor di Bandung. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan. dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). 2008 102 . Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK. intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. P4TK Penjas/BK. diabaikan sama sekali. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. Prayitno. Di sana ada peran Puskur. yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. Nah. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. merespons. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu. Mengatasi Krisis Identitas. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. Bin Diklat/PMPTK. 42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan.Akhirnya.

adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. tahun 1975). 2008 103 .demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. Mengatasi Krisis Identitas. serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI. dan kemartabatan profesi. hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya. komponen trilogi profesi. Prayitno. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal. Sampai sekarang sesedikit. siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling. Tugas semua pihak.Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. 18). ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi. Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada. I. Usaha-usaha yang bersifat tandingan.

Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh. kompetensi profesional yang dipelajari. b. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. Mengatasi Krisis Identitas. dan organisasi profesi. objek praktik spesifik. metode dan teknik. 1967. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. komunikasi. c. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik).1. Kompetensi profesional yang dipelajari. misalnya melalui mimpi. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. a. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. Keintelektualan. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. yaitu: keintelektualan. 43) Dalam Full. 2008 104 . melalui semedi atau bertapa sekian lama. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. London: Collier-McMillan Limited Prayitno. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja. Objek praktik spesifik. yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. untuk mempelajari materi keilmuan. H. motivasi altruistik. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. pendekatan. Melalui proses berpikir tersebut.

akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. Mengatasi Krisis Identitas. yang keduanya adalah pendidik. kompetensi dan dinamika operasionalnya. meliputi objek praktik spesifik profesinya. Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. untuk guru dan konselor. d. Secara lebih umum misalnya. apoteker menangani pembuatan obat. e. Komunikasi. aspek hukum dan sosialnya. 2008 105 . Motivasi altruistik. termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi. serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu. Segenap aspek pelayanan profesional. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. kecuali satu hal. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. keilmuan dan teknologinya.

dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi. keintelektualan. jika diperlukan. keberhasasilan. f. (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. 106 Prayitno. kompetensi dan praktik pelayanan. Bahkan. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. 2008 . juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. serta perlindungan atas para anggotanya. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. dan sebaliknya. Mengatasi Krisis Identitas. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi. dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi. dan kebahagiaan sasaran layanan. Organisasi profesi. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka. kode etik. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. melalui tridarma organisasi profesi. dan (3) menjaga kode etik profesi. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. kode etik. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi.keuntungan pribadi. melainkan untuk kepentingan. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. komunikasi. kompetensi dan teknologi operasional. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya.

profesional dalam bidang apa pun. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. yaitu (1) komponen dasar keilmuan. Trilogi Profesi Konselor a. 2008 107 . (2) komponen substansi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. pengetahuan.2. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. dan (3) komponen praktik profesi. keterampilan. nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional.

Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling. yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling. 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-. 2008 45) 108 . 27/2008. yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK. khususnya bidang konseling. yang adalah pendidik (UU No. karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi.S1) yang mendasarinya44).20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. Konselor. • b. 44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas.sasaran pelayanan. Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. Prayitno. sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya.

pendekatan. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. Mengatasi Krisis Identitas. misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran. Dalam arti yang demikian pulalah. Dalam hal ini. pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. pengelolaan dan evaluasi. 2008 109 . Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES). serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. dan teknologi pelayanan. Prayitno. 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling. Dengan demikian.

47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. Mengatasi Krisis Identitas. 110 Prayitno. 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). organisasi pemuda/kemasyarakatan. Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK). instansi negeri/swasta. mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. Pendekatan dan teknologi. serta implementasinya dalam praktik konseling. dunia usaha/industri. keluarga. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. acuan praksis. praktek pribadi (privat). sosiologi.Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. Pada setting satuan pendidikan misalnya. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. standar prosedur operasional (SPO). 2008 . pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling.

wali kelas. guru. alat bantu seperti komputer. Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. yaitu perencanaan (planning-P). dan objek-objek yang dikunjungi). orang tua). Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. 2008 111 . mulai dari membuat program tahunan. urusan administrasi. dan pengontrolan (controlling-C). sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. film. bulanan. Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. Mengatasi Krisis Identitas. pelaksanaan (actuating-A). 1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. semesteran. • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan.c. Prayitno. dana. Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah. dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48). dll. pengorganisasian (organizingO).

Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49).• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan. 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat). 112 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja). 2008 . C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. serta organisasi profesi. pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya.

POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. 2008 113 . guru. wali kelas. POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu. Mengatasi Krisis Identitas.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor.

Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja. dan dibina melalui kegiatan pengawasan.(lembaga kerja) secara keseluruhan. • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau. 2008 . Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. Hasil pengawasan didokumentasikan. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja). komite sekolah. Mengatasi Krisis Identitas. Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan. dievaluasi. dan organisasi profesi). dianalisis. iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja). • 3. ii) eksteren.

Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat. kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. Sebagaimana diketahui. apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi. Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. Oleh karenanya. b. Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik). 2008 115 . untuk kepentingan semua individu.yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. upaya pelayanan konseling. Mengatasi Krisis Identitas.

Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan.yang dimaksudkan itu. 2008 . baik dalam arti akademik. kompetensi. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu. dalam hal ini konselor. 116 Prayitno. c. Mengatasi Krisis Identitas. Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. maupun posisi pekerjaannya.

2008 117 . yaitu: A • • Ya Allah. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. dan juga sebagaimana saya berpikir.PENUTUP lhamdulillah. Mengatasi Krisis Identitas. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah. berkeyakinan. merasa. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno. saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. bersikap. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri. Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu.

Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas. 118 Prayitno. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. menghindari dosa. Marilah kita berusaha dan berbuat. agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. melalui profesi konseling bermartabat. bekerja sama. fitnah dan khianat. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya.