P. 1
MengatasiKrisisIdentitas

MengatasiKrisisIdentitas

|Views: 1,412|Likes:
Published by Zulmainita Gemini

More info:

Published by: Zulmainita Gemini on Dec 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2012

pdf

text

original

Sections

  • 1. Konselor dan Konteks Tugasnya
  • 2. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru
  • 3. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran
  • 4. Konteks Tugas Konselor
  • 3. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing
  • 4. Kriteria Guru Pembimbing
  • 5. Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing
  • 6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
  • 7. Pengawas Sekolah Bidang BK
  • 1. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK
  • 2. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK
  • 3. Buku DSPK
  • 1. Persiapan dan Pembentukan
  • 2. Penyelenggaraan Program PPK
  • 3. Beasiswa PPK (BPPK)
  • 1. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya
  • 2. Kurikulum 1975
  • 3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
  • 1. Materi Dasar
  • 2. Lagi: Muatan KTSP
  • 2. Peran P4TK-Penjas dan BK
  • 1. Rakernas ABKIN
  • 2. Suasana Kerja
  • 4. Pelibatan Otoritas Birokrasi
  • 1. Ciri-ciri Profesi
  • 3. Profesi yang Bermartabat
  • PENUTUP

Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

Terlebih-lebih. Asyik sekali.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. sikap. mungkin teman itupun belum membacanya. dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. Isi P . perasaan. sampai sekarang. saya dikunjungi seorang teman. dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air. sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. hebat. melainkan merupakan pikiran. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. mungil dan menarik. keyakinan. ia memberikan sebuah buku. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali. Kami sama sekali tidak membahas buku itu. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. Tanpa komentar apa pun. Isinya.

Padang. Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan. Oktober 2008 . uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling.buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu. Lebih jauh. Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga. bertemu dalam kalbu. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu. bertemu dalam ilmu. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling. Mudah-mudahan siapapun juga.

........ PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1.. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing....... Penyelenggaraan Program PPK............. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor......................................... 2........................................ Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing. D.... Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru.................................... PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1.... 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 ............................. 3.............. C.............. SK Menpan No.... 4............................................. 3......................................Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A........................ KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1.............................. B..... Pengawas Sekolah Bidang BK................... Persiapan dan Pembentukan.................. 3.............. 2......... 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia................................ Kriteria Guru Pembimbing.................................... Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK................. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran....................................................................... 2.. 7. Konteks Tugas Konselor... Buku DSPK...... Konselor dan Konteks Tugasnya .......... SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK.. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing.......... 6.................... 5... BUKU PANDUAN 1.......... 2................. 4..

........................................... 107 3... Peran Puskur ............................. PERMENDIKNAS No....................................................... PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1......... 3. F...... 4.. Profesi yang Bermartabat................................................................ 2............... Produk Hasil Penataan............... RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1.............................. 3...... Rakernas ABKIN................... 117 ................. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP...... Lagi: Muatan KTSP.................. 104 2........................................ Trilogi Profesi Pendidik...... Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya.....3............ E........................... Ciri-ciri Profesi......................... Suasana Kerja...................................................................................... 2........................ 2.... Beasiswa PPK (BPPK)................. Pelibatan Otoritas Birokrasi.......................... G.... 2..................................................................... KURIKULUM 1..... I............. Peran P4TK-Penjas dan BK......................................................... 114 Penutup .................... Kurikulum 1975.................................................. ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1..................... H................... 22 Tahun 2006 1................ Materi Dasar.......................

meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. 2. sejak tahun 1993. Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya. Mengatasi Krisis Identitas. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2008 B 1 . namun justru mengaburkannya. Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru. tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. sebagai agen pembelajaran. Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus.

Dalam kaitan itu. Lalu. 118/1996. Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. melaksanakan program BK. dan Guru Pembimbing. Guru Mata Pelajaran. 025/U/1995. yang ternyata absurd dan tidak aplikabel.24/1993. mereka tidak memahami bahwa: a. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. sosial. sedangkan untuk konselor harus yang lain. Lagilagi. 2 Prayitno. 3. yang tidak membelajarkan. 2008 . yaitu Guru Kelas. Mengatasi Krisis Identitas. 4. Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. yaitu pengembangan kemampuan pribadi.jaran adalah istilah hanya untuk guru. SK Mendikbud No. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. mereka mencari dan memakai yang lain. Guru Praktik. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. yaitu menyusun program BK.

agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 3 . Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. Lebih jauh. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a. di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”. Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap. 5. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. c. padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu.

yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. namun oposisinya terlihat pada: a. 2008 . Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). padahal: a. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno. b. d.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional. b. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN. DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK. Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. DSPK telah disusun. 7. DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. c. Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK. Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. Mengatasi Krisis Identitas.6.

c. keahlian praktik profesi. dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK. c. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. Selain itu: a. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. Prayitno.no. d. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. Dalam kaitan itu. sampai sekecil-kecilnya. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan. dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah. apabila mereka ingin membuka program PPK. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. 2008 5 . baik sebagai dosen program BK S1. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. Mengatasi Krisis Identitas. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada. kalau ada.

• Saya cuma ingin ide Prof. b. d. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup. Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit. yaitu: • Daripada ber-S2-ria. (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. Mengatasi Krisis Identitas.konselor. apalagi konselor. Prayitno. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya. Dr. 8. Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang.tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan.Sc. 2008 6 .22/ 2006 tentang Standar Isi). PP dan Permendiknas. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan. Sukamto. mengaburkan. M. c. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--. Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No. Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a.

Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja. Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja.Kenyataannya di lapangan. 22/2006 tentang Standar Isi. kerdil dan kontraproduktif. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu. 2008 7 . SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. Mengatasi Krisis Identitas. dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. c. BSNP. yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah. 9. Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”. 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman. b. Lebih jauh. Diadakannya kedua komponen selain Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No. Permendiknas).

a. ABKIN memulai upaya. 10. anggapan mereka. keinginan mereka itu ditolak. Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No. Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK). penataan ke arah pro- 8 Prayitno. Dalam hal itu.mata pelajaran dalam KTSP itu. sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. 22/2006). secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. 2008 . panduan dari Puskur. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. Mengatasi Krisis Identitas. b. 11. dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan. yang dibina sejak 1993. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan. Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. yang katanya.

Gambaran singkatnya sebagai berikut: a. Mengatasi Krisis Identitas. ada pernyataan beliau yang menggigit. 2008 9 . Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas. Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker.fesionalisme profesi BK. Dalam pengarahannya di Rakernas itu. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. c. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. PPK. Oke. dan panduan pelayanan BK di sekolah. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. Karena dimohon untuk dua acara. terutama berkenaan dengan DSPK. BK dalam KTSP. kompak. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. b. dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”. hal itu baik-baik saja. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. harmonis.

sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini. prosedur penyetalaan. panduan pelayanan BK di sekolah. 3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural. Standar Kompetensi. 2008 . seperti DSPK. antara lain: • SK Menpan. Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya. Mengatasi Krisis Identitas. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari.1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. transparansi. program sertifikasi guru dan dosen. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. kolegalitas. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku.

semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek. Mengatasi Krisis Identitas. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik. 27/2008 tentang SKAKK itu. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Prayitno. barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri. maka produk yang berupa tujuh buku itu. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. bukan hak ABKIN. yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No. 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP. Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan. Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan. tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. 2008 11 . ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan.beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. 6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No.

padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya. Akhirnya. ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno. sesungguhnyalah. tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. Lebih dari itu. sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya. yang juga menjadi wilayah tugas beliau. Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu. 12. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya.

2008 13 . Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini. arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan. hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada.terus melalui pengkajian. JIKA HATI sejernih air bening. Mengatasi Krisis Identitas. jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor.

fasilitator. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. 2008 . pamong belajar. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran.URAIAN MENYELURUH A. 1. Pertama. widyaiswara. tutor. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. dosen. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. Mengatasi Krisis Identitas. pendidik. instruktur. konselor. 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran. tetapi justru mengaburkannya.

dosen. Mengatasi Krisis Identitas. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran. atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). 20/2003 Pasal 1 Butir 6). Kalau konselor itu pendidik. Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. melakukan pembimbingan. ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. 2008 15 .No. Nah. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. dan pendidik lainnya. 19). No. apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. dan lain-lain layanan. 1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. konseling perorangan. informasi. termasuk konselor dan pendidik lainnya. Kedua. menilai hasil pembelajaran. tidak hanya guru. Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. Prayitno. haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. seperti juga guru. konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui.

semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. dsb 2) . konselor apa.2. konteks tugasnya apa. dsb. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru. 3. konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. dan sebagainya. 2) Di perguruan tinggi. (Nah. 2008 16 . di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. Modus pembelajarannya pun berbeda-beda. seperti mata pelajaran Matematika. Guru. Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri. informasi dan pilihan karir. IPA. sikap dan kebiasaan belajar. dosen apa. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. IPS. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. widyaiswara apa.

berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang. 2008 17 . dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih. Nah. mohon maaf.. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No.” agar orang-orang mau membeli minyaknya. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik.. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya. 13). oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”. Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. 4. Prayitno.. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. yang berbeda dari guru. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. Mengatasi Krisis Identitas. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. sehat jasmani dan rohani.. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau. yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti.

yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. Ya belajar dong. untuk klien dewasa sekalipun. Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran. belajar dan karir. bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. meraih serta mempertahankan karir.Ya. klien atau konseli. siswa. apalagi SD mampu memilih. SLTP. Dengan demikian. belajar. atau peserta didik. dan SLTA. apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. klien atau konseli atau apapun namanya. Atau ada cara lain? Kok repot amat. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. 2008 18 . atau dirangsang. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. tentu hebat betul. Kok repot-repot amat. meraih serta mempertahankan karir. Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah. mencakup. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. dan karir 3). dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. luar biasa. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD. dan itu namanya pembelajaran. sosial. Lebih jelas. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. Itu yang pertama. supaya bisa memilih. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. sosial. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. Mengatasi Krisis Identitas.

IPA. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. dll. dari SK Menpan No. 1. SK Menpan No. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 84/1993. merancukan tugas konselor dan guru. katanya. sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. Prayitno. Bahasa. caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. 2008 19 . Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. 26/1989 ke SK Menpan No. karena lagilagi. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. B. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini. Mengatasi Krisis Identitas.

oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. mohon maaf. Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. Tidak boleh lagi ke sana ya. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. Di samping itu. Mengatasi Krisis Identitas. menyajikan program pengajaran. melaksanakan program bimbingan. 20 . pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. ATAU: Menyusun program bimbingan. itu benar. SK Menpan No.SK Menpan no. evaluasi belajar. ke sini ya. Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi. Menyusun program pengajaran. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”. 026/1989. adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui. 2008 b. evaluasi pelaksanaan bimbingan. akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK). kegiatan pelayanan BP dilecehkan. sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. analisis hasil evaluasi hasil belajar. Nah. Secara singkat. Menyadari kerancuan terebut di atas. karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari.

ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”. Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu: 4) Dewasa ini. Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno. 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. 2008 21 . 25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. Terkait dengan hal itu. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”. Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai. Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No.jawabnya. Peraturan yang ada adalah PP No. Perhatikanlah kata ATAU. SK Mendikbud No. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2.

panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. Guru Pembimbing. bimbingan sosial. berdasarkan norma-norma yang berlaku. istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. Mengatasi Krisis Identitas. kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. Dengan demikian. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. Kalau mau konsekuen. adalah guru yang mempunyai tugas. ini baru merancukan dengan sengaja. Sejalan maknanya dengan guru IPA. tanggung jawab. Guru mata pelajaran. baik secara perorangan maupun kelompok. dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. 25/0/ 1995 itu. Lebih jauh. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d.a. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. dalam bidang bimbingan pribadi. tanggung jawab. SDLB. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. Nah. memperhatikan kutipan tersebut di atas. guru praktik. marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. adalah guru yang mempunyai tugas. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. SD. 22 Prayitno. Guru praktik. bimbingan belajar dan bimbingan karir. guru mata pelajaran. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. Guru kelas. dan SLB Tingkat Dasar. kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. adalah guru yang mempunyai tugas. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. tanggung jawab. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. Rancu. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. tanggung jawab. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. 2008 . bukan?. adalah guru yang mempunyai tugas.

3. bimbingan kelompok. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. dan bimbingan karir. Mengatasi Krisis Identitas. pengentasan. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 2008 23 . bimbingan sosial dan bimbingan sosial. bimbingan belajar. Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. konseling kelompok. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. pencegahan. 0433/P/1993 dan No. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. informasi. penempatan dan penyaluran. bimbingan sosial. konseling perorangan. dan • • • Prayitno.Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. tanggung jawab. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.

guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi. bukan tugas mengajar. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa. b. yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling. 4. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. 3 di atas. dapat dikutip pula: a. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. 2008 .bimbingan pembelajaran. 24 Prayitno. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing. Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. Lagi. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling. serta kegiatan pendukungnya. Dari sumber yang sama dengan no. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan.

Dikhawatirkan. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno.. 2008 25 . Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan. dan sebagainya yang yang Guru pada b. kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a. Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm.. Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”. Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing. meskipun mungkin terjadi di lapangan. Mengatasi Krisis Identitas. 5... Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang. sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri.“. yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK. 6).

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah. Syarat umum. dasar dan menengah 2. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas.Pasal 1 : 1. Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. Syarat khusus. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. (4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. 2008 29 . Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal. Prayitno. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. tanggung jawab. Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. Mengatasi Krisis Identitas.

Dengan demikian. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No. yang sampai sekarang masih berlaku. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No.. semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. Kedua.. 30 Prayitno. Pertama. ibarat kereta api. tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. dengan mengatakan: “.. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu. tidak berjalan di atas rel. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas.20/2003 Pasal 39 ayat 2. karena belum ada aturan penggantinya. 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik. sampai dengan kepengawasannya. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah. Dalam kaitan itu.. penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. 18). seperti telah disebutkan di depan. tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. penulis “Krisis Identitas”.(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa.

atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. Mana yang lebih tidak realistik. Prayitno. Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). 1. Buku-buku panduan. SMP.C. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. Mengatasi Krisis Identitas. BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan. Mari kita lihat bersama. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). 21). menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. 2008 31 . 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi. pikiran utopis dan tidak realistik. Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK.

Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). SMP. dinyatakan bahwa layanan BK di SD. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut. 11919/C. tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10).20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”. Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor. Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah. Mendikbud. baik negeri maupun swasta. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah. oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. 2008 11) 32 . memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan. (hal 6-7). Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No.dipadu dengan materi keilmuan BK.

kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres. Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”.Pd. sekarang UPI). 2008 33 . agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar.konselor dinyatakan berlaku. pendidikan beres.. b. ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi. mohon maaf. (IKIP Semarang. Mungin Eddy Wibowo. dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. Drs Karno To. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi. MA. sekarang UNNES. Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. Drs. Dr. dan . guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor. R. Mengatasi Krisis Identitas. Dr. semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. Jadi menurut penulis itu. karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof. sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti. Prayitno.. baru kerja bisa dimulai. sekarang UNJ). sekarang UPI).. Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang.Surya (IKIP Bandung. Drs Thantawy. Afif Zamzami. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu. (IKIP Bandung. Pd. M. karena semuanya belum beres. dll. M. Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”. (IKIP Jakarta. M.

dan C. khususnya untuk konteks SD dan SLB. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. sekarang UNJ). Dharma Setiawaty R.H.Si. (IKIP Jakarta. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK. 2008 . Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan. meskipun secara substantif. (Puskur. Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS. Akan tetapi. isinya tidak sesuai dengan kenyataan. S. tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”. Dra. Mengatasi Krisis Identitas.Pd. dengan Prayitno sebagai Ketua Tim. 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno. Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. (hlm. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang. yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional.M. Moenir. sekarang UNP). Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya. sekarang UNP). 2. Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No. (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). Balitbang Dikbud). Dra. Elida Prayitno (IKIP Padang.

Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu. c. Mengatasi Krisis Identitas. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu. atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. 84/1993 dan No. 3. 2008 35 . b. Mana yang benar?. apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. Dr.atas. Ir. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional.

Prayitno. yaitu Prof. Dengan suka cita saya terima berita itu. (dari UPI) dan Drs. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah. (dari UNP). Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka. Prof. Kons (dari UNNES). terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). Ahman. agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya. Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. Dr. dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya. 12) Pada awal April 2001 waktu itu. Selanjutnya. Sunaryo Kartadinata. M. MSc. (dari UPI). M.Pd.dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT.Pd. Mengatasi Krisis Identitas.Sc.Ed. Sukamto.U. 13) 36 Prayitno. Dr. Kons (dari UNY). pada waktu itu Bapak Prof. M. M. Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif. Dr. Prof.) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia. M. Dr. Syamsuddin S. Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut.. Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat.Pd. Dr. Menurut pertimbangan Dikti. Dr. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. Sunaryo Kartadinata. 2008 . yaitu Ketua Umum yang baru.Pd. Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut. Mungin Eddy Wibowo.

dan menafikan peran otoritas birokrasi. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. konseling. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling.4. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling. Prayitno. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no. Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. 2) Hasil kegiatan no. Mengatasi Krisis Identitas. Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. 2008 37 . Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan.a. 1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN. melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. beserta pakar konseling untuk membahas.

Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final. 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno.6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. 2008 . Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT. b. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta. PPTK dan KPT. Mengatasi Krisis Identitas. anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). dan Pakar BK. PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit. baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK). personalia PB dan PD ABKIN. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. 2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu.unsur ABKIN dan personalia Dit. Divisi ABKIN. DSPK disosialisasikan.

PD ABKIN. penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut.• • • • • Padang. Bali. untuk wilayah Kalimantan Makasar. Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK. 2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. untuk wilayah Banten. Mengatasi Krisis Identitas. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. 2008 39 . DKI. Kepala Sekolah. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). Dinas Pendidikan Propinsi. Pengawas BK. dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. b. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno. untuk wilayah Jawa Timur. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya. Jawa Barat. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. Berkenaan dengan DSPK. untuk wilayah Sumatera Samarinda. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia.

tetapi kita rugi waktu. bahkan semestinya disyukuri. Apa salahnya? Pertama. sehebat-hebatnya apa yang kita punya. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. tenaga dan biaya. kita mau apa? Protes memang boleh. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik. 2008 40 . Kedua. menggunakan jalur hukum silahkan. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan. lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm. justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif. Yang jelas. • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias. Mengatasi Krisis Identitas.diusulkan untuk ditunda (hlm. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan. serta belum tentu Prayitno.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. Atau.

tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. Demikian tentang “usulan penundaan”. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi. Acara pertemuan itu.mana yang benar?). Mengatasi Krisis Identitas. • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK. Memang. 2008 41 . sesudah DSPK selesai disusun. kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. dikumpulkan oleh Ketua Umum. Adanya risalah aspal. Oleh karena itu. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK.memang. serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. disanction dan difinalisasi. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada. Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. termasuk sedang digarapnya DSPK. Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada.

tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan. finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK. sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. 2008 . sanctioning. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu. Mengatasi Krisis Identitas. tetapi ternyata aspal. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN. Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno.Juni 2008. Dan kalau memang betul-betul ada. Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan.

tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. kredensialisasi. kode etik dan organisasi profesi. Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. Mengatasi Krisis Identitas. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. dengan surat Direktur P2TK-KPT No. 2008 43 . kalau setuju alhamdulillah. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. bukan produk ABKIN. kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar. c. Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno. pendidikan tenaga profesi. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. Adapun ABKIN setujui atau tidak. ABKIN boleh saja tidak setuju. bukan ABKIN. Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti.

dan organisasi profesi. khususnya penulis “Krisis Identitas”. Menarik untuk disimak. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. Mengatasi Krisis Identitas. tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT. Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. khususnya LPTK. disingkat ABKIN). 2008 .DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. yang 44 Prayitno. Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. LPTK. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula.

D. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK. membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. Prayitno. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. Mengatasi Krisis Identitas. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana. atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN. Sejak awalnya. melainkan juga pakar BK. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. LPTK dan Direktorat. Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi.tidak memakai nama ABKIN. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. terimakasih. Didukung oke. kelihatannya setuju. lalu menolak dan membuat tandingannya. DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu. Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. Kesimpulannya. 2008 45 . tetapi bisa dan perlu berkolaborasi. tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN.

a. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . serta sejumlah IKIP. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. 46 Prayitno. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”. b. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta. ada upaya memutus rantai sejarah. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. sebagian besar FKIP Negeri. FKIP dan STKIP Swasta.1. 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu.

c. 118/K.12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. Mengatasi Krisis Identitas. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No. Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya. 2. a. Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. dalam hal ini PPK.khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor. 2008 47 . 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP.

instrumentasi. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. Kemudian. dan pelayanan konseling.. dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. 2002).. b. keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No. Mengatasi Krisis Identitas. organisasi. Berikutnya. dan/atau vokasi”. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik. Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik.. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester.akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. keluarga. 056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. PP No. instansi. dunia usaha dan industri. profesi. 2008 48 . yaitu SK Mendikbud No. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15). melalui Surat No. Sejalan dengan hal itu. yaitu berpraktik privat profesi konseling.. tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno.

serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. serta peserta dari Jakarta. Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. Prayitno. disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK). yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). perguruan tinggi) maupun luar sekolah. pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1. e.yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor. Mengatasi Krisis Identitas. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang). yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah. Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). menengah. S2. 2008 49 . Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. 16) Karena lulusan program PPK belum ada. Di samping itu. Selain di UNP. serta mengucapkan Janji Konselor. ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK. Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas. kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. d. Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti. Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). c.

Beasiswa PPK (BPPK). tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. a. Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1). Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan. Terkait dengan hal ini. dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya. Oleh karena itu. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. 2008 . salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria.3. Untuk ini. Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. Mengatasi Krisis Identitas. Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”.

UNESA (Surabaya). Assafi’iyah (Jakarta). Widya Mandira (Kupang). Univ. UNS (Makasar). Univ. b. Univ. PGRI (Jember). HAMKA (Jakarta). Atmajaya (Jakarta). IAIN Imam Bonjol (Padang). Univ. UNIMA (Manado). setelah mengikuti PPK Prayitno. Pendidikan Ganesha (Singaraja). Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). Univ. Sampai dengan tahun 2008 ini. UNSRI (Palembang). UNP (Padang). Univ. Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). UNY (Yogyakarta). Kanjuruhan (Malang). Univ. Univ. UNDANA (Kupang).Studi Bimbingan dan Konseling. PGRI (Jakarta). STKIP Selong (NTB). Hazairin (Bengkulu). Abdulyatama (Banda Aceh). UNRI (Pekanbaru). Univ. STAIN Batusangkar (Batusangkar). Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. Univ. Mengatasi Krisis Identitas. serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. Alwasliyah (Medan). dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh). Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. 2008 51 . Univ. UNJA (Jambi). Univ. UNIB (Univ. UNJ (Jakarta). Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. PGRI Palembang (Palembang). dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. Univ. UNIMED (Medan). UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). STAIN Curup (Curup). UNILA (Lampung). PGRI (Surabaya). Univ. UNG (Gorontalo). Univ. UNNES (Semarang). peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air. Muhammadiyah Magelang (Magelang). Univ. Bengkulu).

pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK.beberapa bulan saja. termasuk di luar kampus”. kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien. penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). 4. adalah sebagai berikut: a. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut.

lulusan universitas manapun19).1. seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana. selain ijazah (S2). seperti UNNES (Semarang). 18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan. 19/2005 di atas. untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. juga ijazah PPK. baru S2 saja20). Untuk bidang BK. untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK. Mengatasi Krisis Identitas. Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. tentulah program PPK)18). untuk menjadi dosen PPK diperlukan.Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. 19) 20) Prayitno.1) seperti di Fakultas Kedokteran itu. Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. sesuai dengan keahlian yang diajarkan. selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. b. Dalam kaitan itu. 2008 53 . DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No. Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp.1) Kedokteran. Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK. agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut.

Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. banyak yang bergelar Magister (S2). Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu. Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya. Sukamto. Sukamto. M. c.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof. Sesungguhnyalah. Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK. LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. Dr. 2008 54 . M. kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). bagaimana? Ya. mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. sampai-sampai Bapak Prof. Dr. bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor). Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK.Sc. 21) Pesan ini saya terima lewat sms.

isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno.E. kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”. Meskipun tidak dikemukakan. 2008 55 . Undang-undang No. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. Oleh karena itu. Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Apabila pendidiknya adalah guru. Mengatasi Krisis Identitas. 1. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru. isi. Demikian juga tentang tujuan. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik.

Bahasa Indonesia. Mengatasi Krisis Identitas.studi yang diampu oleh guru. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit. Ini artinya. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. 2008 . tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud. yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik. bukan hanya guru. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. sikap dan kebiasaan belajar. bahan tentang penyesuaian diri. Apabila pendidiknya adalah konselor. dan sebagainya. seperti bahan pelajaran IPS. 56 Prayitno. Dalam kaitan ini. Hal terakhir itulah. Matematika dan sebagainya.

1984 sebagai berikut. Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd. melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun. (1982). sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22). Terkait dengan variasi pengertian tersebut. Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja. tidak hanya guru. Ilinois: Scott. 2. Foresman and Company. Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. D. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. 22) Brubaker. dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi. pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan.L.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas. Glenview. Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. 2008 57 .

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Kedua. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). 22/2006 dan No. bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. Padahal yang semestinya terjadi adalah. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan. guru-guru. 2008 61 . dan siapa pun juga. Bagaimana kalau Kepala Sekolah. pimpinan Dinas Pendidikan. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum. 24/2006. digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum. tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya. karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. Kepala Sekolah. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK. dan siapa pun juga. Mengatasi Krisis Identitas. ketika Kepala Sekolah. “Yang penting adalah kurikulum. kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. siswa orang tua. Prayitno.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. pertama.

Namun. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas. b. Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi. yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. maka akan timbul berbagai masalah. belajar. Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No. yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru).Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. dan minat peserta didik. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). 2008 . bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali. sesuai dengan kondisi sekolah. Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP. bakat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No.22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Mengaburkan pengertian pengembangan diri.

garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya. Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas. Prayitno. mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat. mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. 22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. bagaimana caranya. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2). Kalau itu yang dimaksud. dan lain sebagainya. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami.Tidak jelas. Mengatasi Krisis Identitas. memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut. Perlu disimak. apa bentuknya. di dalam BK. di mana adanya. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?. di dalam mata pelajaran. yang ada di manamana. 2008 63 . akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No. ya menjadi susah. dll. di mana adanya pengembangan diri itu. dunia dan akhirat.tetapi bahkan penyimpangan. 22/ 2006.

dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen. 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. 2008 . Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No. yaitu (1) pelayanan konseling. 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut. dan (2) kegiatan ekstra kurikuler. (b) komponen muatan lokal. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor.Gambar 3. Mengatasi Krisis Identitas. Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. 64 Prayitno. yaitu: (a) komponen mata pelajaran. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25).

22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. 1.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. Prayitno. mengakibatkan kerancuan. 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. 2008 65 . F. Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. Standar Kompetensi Lulusan. Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. jabaran dari PP. 23/2006 dan No. 26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3. 22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). No. PERMENDIKNAS No. No. Mengatasi Krisis Identitas.22/2006. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pengkerdilan dan kontra produktif. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No.

Hasil kerja keras ini. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru. sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No. 2008 .Materi dasar Permendiknas No. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. Memang ada sedikit kemajuan. Mengatasi Krisis Identitas. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. tidak boleh materi di luar mata pelajaran. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a. sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja.” (hlm. sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. setelah menjadi permendiknas. Namun sayangnya. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi.

Demikian. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi. tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan. hal-hal yang harus ada memang harus masuk. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. Mengatasi Krisis Identitas. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja. Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. b. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. 22/2006 itu. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. 2008 67 . isi kurikulum hanya mata pelajaran saja. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. Prayitno. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No. tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. tidak harus materi mata pelajaran. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu.hanya berisi mata pelajaran.

apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi. orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No.143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. 2008 . Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. dan sebagainya. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru. Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. KTSP pun hanya untuk guru. Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya.yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2. c. Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2005. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya.

dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri. Mengatasi Krisis Identitas. ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya.publik draf Standar Isi yang dimaksud. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No.2021). 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. Lagi: Muatan KTSP a. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri. (iii) materi pengembangan diri. Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm.21) • Prayitno. 2. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit. dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu. 2008 69 . Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas. memperlihatkan ketidaktahuan. Sekarang menjadi pertanyaan.

pasti tahu arah. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. dan pola pikir yang bagaimana. yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi. 3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP. dan konselor punnya tugas dalam konseling. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. Mengatasi Krisis Identitas.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. dalam hal ini guru. perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. Kalau profesional dia. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. dan lagi. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional. dan tahu juga wilayah kerja guru. pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. Guru punya tugas. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing. Sekali lagi. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri. 2008 . Apa alasannya.

Apa lagi? Dengan prinsip itu. Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27). Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah. 27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. Mengatasi Krisis Identitas. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi. melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri.22). Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan.materi mata pelajaran yang ada. 2008 71 . khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. 22/2006. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan.1 dan hlm. alat dan teladan dalam kegiatan belajar. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik. Dan ada satu lagi. guru atau pendidik siapapun.

mengabdi dan berdedikasi. 72 Prayitno. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. bahkan sejak jauh sebelumnya. yang saya cintai dengan sepenuh hati. karena konseling dan pendidikan. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. karena dan untuk konseling dan pendidikan. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya. tetapi karena konseling dan pendidikan. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. bukan Rektor. rebut buku-buku saya dan para pembacanya. dan saya akan berkarya terus Insyaallah. seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Mengatasi Krisis Identitas. Saya ini bukan apa-apa lho. benar sejak 1995. bukan karena saya pejabat. 2008 . Tetapi terus terang. lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja. karena dan demi konseling dan pendidikan. Itulah lahan garapan saya. palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. Anda mau merebutnya? Silahkan.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. Saya menulis buku. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. saya dibayar karena konseling dan pendidikan. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia. Prayitno? Kalau ya.

di sana sedang terjadi krisis identitas. Dan untuk semuanya. 2008 73 . ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa. staf departemen. dan pejabat lainnya puluhan orang. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No. dan Pengurus Daerah. Diklat.22/2006. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. Bin. konseling dan pendidikan. Mengatasi Krisis Identitas. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim. direktorat. anggota tim belasan orang. ditolak oleh Puskur. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi. Apabila. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. Saya berada di Puskur.Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. Prayitno. Anggota BSNP 15 orang. G. saya adalah suruhan demi profesi saya. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. Dir. orang lain dijadikan kambing hitam”. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. P4TK Penjas/ BK. direktorat jenderal. apalagi karya saya sendiri. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan.

berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu.-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih. 13). maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. 13). 2008 . serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. Mengatasi Krisis Identitas. yang dilaksanakan guru. Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno.Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya. Parung. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. • Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. Prayitno. No. Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan. Puskur melaksanakan tugas utamanya. sebisa mungkin. 22/2006. menyempurnakan. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan. buku-buku panduan yang selama itu ada. 2008 75 . SK Mendikbud). yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. 24/2006 diberlakukan. menyederhanakan. segera setelah Permendiknas No. yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. 23/2006 dan No. Mengatasi Krisis Identitas.1. Panduan ini. Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. melengkapi. 29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. Sejalan dengan hal itu. dengan arah.

dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No.Dalam pada itu. adalah baik untuk menjelaskan konsep. Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. Mengatasi Krisis Identitas. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30). Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No. 2008 76 . Prayitno. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. yang disusun oleh pemerintah --. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan. • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya. bukan sebaliknya. ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya.istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. 22 Tahun 2006. 30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian.

apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. 22/2003. b. Apabila panduan yang baru itu berbeda. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan. Mengatasi Krisis Identitas.Dalam hal ini kami mengusulkan. sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru. pertimbangannya adalah: a. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno. Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No. materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a. ”Panduan BK Jalur Formal”. 2008 77 . Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka. khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling.

Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. 22/2006. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud. dengan surat No. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. 343/F5. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas. Mengatasi Krisis Identitas. agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri. PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah. Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. Sekiranya ABKIN akan menyusun. 2008 . Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. • Surat Bin. Pengingat Permendiknas No.3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008.

2008 79 . Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. BSNP dan KTSP). Mengatasi Krisis Identitas. 3. 2. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No. PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. SMP/MTs. disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. 22/2006 tentang Standar Isi. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. 2.1. mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI. yaitu Prayitno. dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP.

31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No. sosial. mohon diperhatikan. manajemen dan penilaian dalam BK.melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No.20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. c. belajar dan karir. Mengatasi Krisis Identitas. 13). bukan hanya guru. hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). yang didalami dan dilatihkan hanya BK. terutama tentang jenis-jenis layanan. Tentu saja. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. dapat diberi arti sebagai berikut: a. penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang). Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. 2008 . yang dilaksanakan guru” (hlm. Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling. b. dengan materi pengembangan pribadi. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. 22/2006 tentang Standar Isi31). Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan. Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). 80 Prayitno. dan guru pembimbing atau konselor. kegiatan pendukung. penilaian dan manajemen.

apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. Cedera minimal dalam dua hal: satu. penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi. dua. 2008 81 . tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No. sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”.20/2003). Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. Mengatasi Krisis Identitas. H. tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan.Dengan demikian.

Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Satu hal yang menarik ialah. Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No. saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK. Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN. Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf. 2008 . yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker.1. dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit. dalam Raker tersebut.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”.

18). 2008 83 . banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm. 2.Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain. Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. Prayitno. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. a. Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. Semarang (hal 18)33). mungkin inilah (antara lain. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. Mengatasi Krisis Identitas. gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK. Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. Di samping itu.

dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya.dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Tahu-tahu saya melapor. Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) . bersikap kritis boleh. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap. karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Menerima apa yang dibeberkan. • UU No. Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP. 2008 84 . Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik.20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik. • SK Menpan.1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN. tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. Dalam kajian yuridis. Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu.

namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. 4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada. dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). 2008 85 . 34) Tentang tandingan ini. Bagaimana disebut tandingan. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. Prayitno. Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007. dan juga sebelumnya.

Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. Lagi pula. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. yang sudah dibawa. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. saya usulkan agar diganti. Surat tersebut. Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN. karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. b. Mengatasi Krisis Identitas. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas. Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir. Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat. 2008 . apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang. sebab panduan-panduan itu belum jadi.

dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. yaitu karena dasarnya adalah UU. DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas. Dalam hal itu agaknya. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. a. 2008 87 .Nasional XV di Palembang. 20/2003. yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana. bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. akhirnya tidak tentu rimbanya. 3. 1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. padahal bukannya hanya 7 (tujuh). diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. PP No. Mengatasi Krisis Identitas. No. Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35). 19/2005.

(a) Tema: Naskah Akademik. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor. dengan judul: • 88 . Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno. dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan.

dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor. yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor. dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar. sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu. 2008 89 . yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ).(e) Tema: Pendidik Konselor. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor.

37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam. 1) Tema produk ada 9 (sembilan). tidak konsisten dan tidak cermat. Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif. satu tema. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam). Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. (Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b.disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda.

Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. 2008 91 . 2/1989. 118/1996. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya. 026/1989. 84/1993. telah diatur dan dikembangkan. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. Mengatasi Krisis Identitas. 0433/P/1993 dan No. serta SK Menpan No. SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No. adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang.2) Tentu lucu. menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No. 025/0/1995.

9 buku “Krisis Identitas”). dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. 14 buku “Krisis Identitas”). Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut. padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No. termasuk program PPK di dalamnya. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm.keterandalannya. b) Mencederai makna UU. (e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno.

27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK).Puskur dan P4TK Penjas dan BK. Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. Mengatasi Krisis Identitas. Standar kualifikasi konselor. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No. yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan. Prayitno. 2008 93 . Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No. Upaya tersebut akan didorong lagi. 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya. 27/2008.

Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP. 94 Prayitno. Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. bukan ABKIN. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. (g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor.(f) Secara spesifik. 27/2008 itu. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. 2008 . Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. 27/2008. sehingga tidak layak edar. karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. dengan diberlakukannya Permendiknas No.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja. kolegial. Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. keilmuan dan sebagainya. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. dikritik dan dikejar. Pertemuan-pertemuan kerja tim. pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. transparan. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). harmonis. Terbaca. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. Sepertinya. Mengatasi Krisis Identitas. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. bahkan dianggap tandingan. Kenyataannya berbeda. benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya.terjadi. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. 4. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. untuk mencapai hasil yang terbaik. 2008 . a. terbuka. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan.

tidak ada verivikasi. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”.diacuhkan. kepercayaan. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”. Dr. Ir. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. dan dukungan dari birokrasi dicederai. produk harus selesai. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar. 2008 99 . Dr. sanctioning atau uji publik. Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh. otoritas birokrasi juga). sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. apalagi uji coba. masukan dianggap tandingan. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil.Sc) sangat Prayitno. Tidak ada telaah yang intensif. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. Mengatasi Krisis Identitas. peringatan.Yang penting adalah. M. bagaimanapun juga caranya. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka. Sukamto. Hal itu memang tidak diragukan lagi.

pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. LPTK.besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. kegiatan akademik. memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. Lahan mulai digarap. Dan lagi. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. b. Dalam pada itu. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan. dosen dan lain-lain.Dengan demikian. Mengatasi Krisis Identitas. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. 20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. padahal undang-undang menyatakan (UU No. 21) Prayitno. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling. khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. 2008 100 . melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu. dalam hal-hal yang dipersoalkan itu.

Mengatasi Krisis Identitas. Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK. layaknya “kejar tayang” saja. Dalam suasana seperti itu. 2008 101 . Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. kurikulum BK. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN. . dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. Kegiatan itu dikerjakan secara intensif. Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. dan siap untuk disosialisasikan. program PPK. 40) Tidak seperti DSPK. sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno.Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru.

Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK. Di sana ada peran Puskur. dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. P4TK Penjas/BK. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). 2008 102 . (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. merespons. Bin Diklat/PMPTK. Mengatasi Krisis Identitas. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan. diabaikan sama sekali. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu.Akhirnya. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. Nah. intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. Prayitno. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. Rektor UNP kemudian. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu. serta Rakor di Bandung. yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut. 42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan.

18). adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. Tugas semua pihak. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal. siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling. tahun 1975). I. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. komponen trilogi profesi. Usaha-usaha yang bersifat tandingan. Mengatasi Krisis Identitas.demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya. ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi. dan kemartabatan profesi. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI. hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya. Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada.Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. 2008 103 . serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. Sampai sekarang sesedikit. Prayitno.

c. H. pendekatan. yaitu: keintelektualan. Objek praktik spesifik. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik). misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. misalnya melalui mimpi. komunikasi. 1967. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. melalui semedi atau bertapa sekian lama. motivasi altruistik.1. Kompetensi profesional yang dipelajari. dan organisasi profesi. 2008 104 . London: Collier-McMillan Limited Prayitno. yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. Melalui proses berpikir tersebut. untuk mempelajari materi keilmuan. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. 43) Dalam Full. Keintelektualan. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. objek praktik spesifik. kompetensi profesional yang dipelajari. metode dan teknik. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. a. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mengatasi Krisis Identitas. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. b. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh.

aspek hukum dan sosialnya. Mengatasi Krisis Identitas. termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. Segenap aspek pelayanan profesional. Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. keilmuan dan teknologinya. d. serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. Komunikasi. apoteker menangani pembuatan obat. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. kecuali satu hal. Motivasi altruistik. yang keduanya adalah pendidik. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. meliputi objek praktik spesifik profesinya. e. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis. akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. 2008 105 . untuk guru dan konselor. kompetensi dan dinamika operasionalnya. Secara lebih umum misalnya. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan.

kode etik. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka. komunikasi.keuntungan pribadi. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. keintelektualan. dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi. dan (3) menjaga kode etik profesi. Bahkan. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. f. kompetensi dan praktik pelayanan. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. 106 Prayitno. keberhasasilan. juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. dan kebahagiaan sasaran layanan. melalui tridarma organisasi profesi. 2008 . Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. kompetensi dan teknologi operasional. Mengatasi Krisis Identitas. kode etik. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi. jika diperlukan. (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. dan sebaliknya. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. serta perlindungan atas para anggotanya. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya. Organisasi profesi. melainkan untuk kepentingan. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi.

yaitu (1) komponen dasar keilmuan. nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. (2) komponen substansi profesi. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. dan (3) komponen praktik profesi. 2008 107 . profesional dalam bidang apa pun.2. keterampilan. Trilogi Profesi Konselor a. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. Mengatasi Krisis Identitas. pengetahuan.

sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya. Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling. Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. khususnya bidang konseling. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi. yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling. Prayitno. karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK. 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan. • b. dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. 44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No.S1) yang mendasarinya44). 27/2008. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-. yang adalah pendidik (UU No. Konselor. 2008 45) 108 .sasaran pelayanan. Mengatasi Krisis Identitas.

dan teknologi pelayanan.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling. Dalam hal ini. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. Mengatasi Krisis Identitas. 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor. Dengan demikian. Dalam arti yang demikian pulalah. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST. pendekatan. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran. 2008 109 . serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Prayitno. pengelolaan dan evaluasi. Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES).

konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. 47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling. Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK). organisasi pemuda/kemasyarakatan. instansi negeri/swasta. keluarga. acuan praksis. 2008 . mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. Mengatasi Krisis Identitas. praktek pribadi (privat). Pendekatan dan teknologi. standar prosedur operasional (SPO). sosiologi.Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. 110 Prayitno. 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). dunia usaha/industri. serta implementasinya dalam praktik konseling. Pada setting satuan pendidikan misalnya.

mulai dari membuat program tahunan. Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. film.c. sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. dll. guru. alat bantu seperti komputer. 1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. semesteran. 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. Mengatasi Krisis Identitas. urusan administrasi. wali kelas. dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48). pelaksanaan (actuating-A). • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan. dana. orang tua). yaitu perencanaan (planning-P). Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah. 2008 111 . pengorganisasian (organizingO). bulanan. Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. Prayitno. Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. dan pengontrolan (controlling-C). dan objek-objek yang dikunjungi).

serta organisasi profesi. • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya. Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49). 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. 112 Prayitno. 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat). C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja).• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan.

Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor. 2008 113 . POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu. POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. wali kelas. Mengatasi Krisis Identitas. guru. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin.

oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja).(lembaga kerja) secara keseluruhan. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau. Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan. iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. komite sekolah. dan dibina melalui kegiatan pengawasan. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja. oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). ii) eksteren. dan organisasi profesi). Hasil pengawasan didokumentasikan. dianalisis. • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. dievaluasi. Mengatasi Krisis Identitas. • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. 2008 . dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja). • 3.

Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. upaya pelayanan konseling. b. Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat. apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. 2008 115 .yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. untuk kepentingan semua individu. Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. Oleh karenanya. maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. Sebagaimana diketahui. tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik). Mengatasi Krisis Identitas. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas.

116 Prayitno. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat. maupun posisi pekerjaannya. dalam hal ini konselor. Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. 2008 . Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan. c.yang dimaksudkan itu. Mengatasi Krisis Identitas. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu. Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik. kompetensi. baik dalam arti akademik.

PENUTUP lhamdulillah. Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. berkeyakinan. Mengatasi Krisis Identitas. bersikap. saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. yaitu: A • • Ya Allah. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah. dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. merasa. dan juga sebagaimana saya berpikir. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno. 2008 117 .

agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. menghindari dosa. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. melalui profesi konseling bermartabat. Mengatasi Krisis Identitas. berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. 2008 .Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya. Marilah kita berusaha dan berbuat. 118 Prayitno. fitnah dan khianat. bekerja sama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->