Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

Isi P . Tanpa komentar apa pun. Isinya. melainkan merupakan pikiran. sampai sekarang. keyakinan. dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. saya dikunjungi seorang teman. dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air. Terlebih-lebih. karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali. perasaan. sikap. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. Asyik sekali. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. mungkin teman itupun belum membacanya. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun. hebat. mungil dan menarik. ia memberikan sebuah buku.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. Kami sama sekali tidak membahas buku itu.

bertemu dalam ilmu. termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu. uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling. Padang. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga. bertemu dalam kalbu. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu. Lebih jauh.buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. Mudah-mudahan siapapun juga. Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan. Oktober 2008 .

4.... SK Menpan No....... PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1...... 4. 7...............................Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A........... Kegiatan Operasional Guru Pembimbing............. 5........................................ Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor.................................. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1..... 2......................................................... 2............................... 3...................... Pendidik sebagai Agen Pembelajaran... Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK................ 2................................................... B. 2........... 6.................. Penyelenggaraan Program PPK........................................... D....... BUKU PANDUAN 1........................................................ Buku DSPK. Kriteria Guru Pembimbing............ KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1........... Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru................................... C. SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK........................ Pengawas Sekolah Bidang BK............................ 3........................ Konteks Tugas Konselor. Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing..... Persiapan dan Pembentukan... 3................. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing................. 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 .......... Konselor dan Konteks Tugasnya ...

... 107 3.. 4.... KURIKULUM 1........ 3................................................................................................................... H.................................. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1................. 114 Penutup ................. 22 Tahun 2006 1........... 2............... Produk Hasil Penataan........................................................................ 104 2....................................... Ciri-ciri Profesi.. Lagi: Muatan KTSP................ ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1....... 117 .......................... Peran P4TK-Penjas dan BK........................... Kurikulum 1975............... Profesi yang Bermartabat............ 2.................................................... Trilogi Profesi Pendidik.................. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1........... I................ Pelibatan Otoritas Birokrasi......................3......... Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP........ Suasana Kerja.............................................. PERMENDIKNAS No... F........................ Materi Dasar..... 2.......................... Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya................... Peran Puskur .............................. 2........... Rakernas ABKIN.......................................... 3.......................... E.... Beasiswa PPK (BPPK)...... G.......................................................................................

Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1. tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No. 2. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno. Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya. sejak tahun 1993. namun justru mengaburkannya. 2008 B 1 . sebagai agen pembelajaran.

yang ternyata absurd dan tidak aplikabel. 118/1996.24/1993. Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. sosial. dan Guru Pembimbing. sedangkan untuk konselor harus yang lain. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. yang tidak membelajarkan. SK Mendikbud No. Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. Guru Mata Pelajaran. dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. Mengatasi Krisis Identitas. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. 4. Lalu. yaitu menyusun program BK. Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. yaitu Guru Kelas. yaitu pengembangan kemampuan pribadi. 2008 . Guru Praktik. mereka mencari dan memakai yang lain. mereka tidak memahami bahwa: a. melaksanakan program BK. Lagilagi. 3. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. 2 Prayitno. 025/U/1995. Dalam kaitan itu. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru.jaran adalah istilah hanya untuk guru.

c. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. Mengatasi Krisis Identitas. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a. Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d. 2008 3 . padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b. Lebih jauh. 5. Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”. Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu.

c. d. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional. DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004. Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK. DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN. 7. Mengatasi Krisis Identitas. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. b.6. 2008 . b. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. namun oposisinya terlihat pada: a. DSPK telah disusun. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. padahal: a.

c. Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK. Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. Prayitno. kalau ada. sampai sekecil-kecilnya. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah. dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. Mengatasi Krisis Identitas. apabila mereka ingin membuka program PPK. mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). 2008 5 . c. d. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. keahlian praktik profesi. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan.no. Dalam kaitan itu. baik sebagai dosen program BK S1. Selain itu: a.

lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi.konselor. Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No. 8. • Saya cuma ingin ide Prof. Dr. 2008 6 .tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. Mengatasi Krisis Identitas. Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit. Prayitno. yaitu: • Daripada ber-S2-ria.22/ 2006 tentang Standar Isi). c. mengaburkan. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran. M.Sc. Sukamto. (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup. apalagi konselor. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan. d. b. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru. PP dan Permendiknas. Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang. Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya. dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No.

Diadakannya kedua komponen selain Prayitno. 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman. KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja. yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. kerdil dan kontraproduktif. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja. Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu. kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah.Kenyataannya di lapangan. 2008 7 . Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No. Lebih jauh. 22/2006 tentang Standar Isi. dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. BSNP. Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. Mengatasi Krisis Identitas. b. Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”. 9. Permendiknas). c.

11. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. a. keinginan mereka itu ditolak. panduan dari Puskur. 10. 22/2006). anggapan mereka. sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No. 2008 . dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan.mata pelajaran dalam KTSP itu. penataan ke arah pro- 8 Prayitno. Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”. yang dibina sejak 1993. Dalam hal itu. Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK). namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. b. yang katanya. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. ABKIN memulai upaya.

Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. terutama berkenaan dengan DSPK. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”. hal itu baik-baik saja. Karena dimohon untuk dua acara. PPK. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”. ada pernyataan beliau yang menggigit. dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. harmonis. kompak. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. c. Gambaran singkatnya sebagai berikut: a.fesionalisme profesi BK. Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu. BK dalam KTSP. b. Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas. Mengatasi Krisis Identitas. Dalam pengarahannya di Rakernas itu. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. Oke. 2008 9 . Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker. dan panduan pelayanan BK di sekolah.

Standar Kompetensi. kolegalitas. transparansi.1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. Mengatasi Krisis Identitas. panduan pelayanan BK di sekolah. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. 3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku. padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini. sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya. antara lain: • SK Menpan. 2008 . program sertifikasi guru dan dosen. Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. prosedur penyetalaan. seperti DSPK.

yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No. semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan. maka produk yang berupa tujuh buku itu. tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik. 6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 11 . apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. Prayitno. 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP. ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan.beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). bukan hak ABKIN. Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. 27/2008 tentang SKAKK itu. barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri.

sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. Lebih dari itu. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan. tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. 12. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut. Akhirnya. Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu. padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya. yang juga menjadi wilayah tugas beliau. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. sesungguhnyalah. 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya.

jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. JIKA HATI sejernih air bening. arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada. pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor. jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan.terus melalui pengkajian. Mengatasi Krisis Identitas. Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini. 2008 13 .

tetapi justru mengaburkannya. fasilitator. widyaiswara. dosen. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. pendidik. instruktur. 1. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. konselor. 2008 . 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran. Pertama. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm.URAIAN MENYELURUH A. tutor. pamong belajar. dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. Mengatasi Krisis Identitas.

Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. menilai hasil pembelajaran. apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. 1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. 20/2003 Pasal 1 Butir 6). 19). Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. termasuk konselor dan pendidik lainnya. Kalau konselor itu pendidik. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. Nah. informasi. Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran. seperti juga guru.No. dosen. Kedua. 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. No. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. dan lain-lain layanan. tidak hanya guru. 2008 15 . dan pendidik lainnya. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. melakukan pembimbingan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. konseling perorangan.

konteks tugasnya apa. Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. 2) Di perguruan tinggi. dosen apa. konselor apa. Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. IPS. sikap dan kebiasaan belajar. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. 2008 16 . Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. widyaiswara apa. seperti mata pelajaran Matematika. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri. di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). dsb 2) . dsb. (Nah. semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. informasi dan pilihan karir. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi.2. 3. dan sebagainya. konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. Modus pembelajarannya pun berbeda-beda. IPA. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru. Guru. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas.

. Prayitno. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. 2008 17 . sehat jasmani dan rohani. Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. Mengatasi Krisis Identitas. dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti.. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik.. yang berbeda dari guru. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak. oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”. Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. 4. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau.. berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang.” agar orang-orang mau membeli minyaknya. mohon maaf. Nah.Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya. 13). meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih.

mencakup. yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. Kok repot-repot amat. 2008 18 . dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. untuk klien dewasa sekalipun. klien atau konseli atau apapun namanya. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar. supaya bisa memilih. sosial. sosial. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. Lebih jelas. dan itu namanya pembelajaran. dan SLTA. atau dirangsang. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. luar biasa. bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. siswa. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. apalagi SD mampu memilih. tentu hebat betul. Itu yang pertama. dan karir 3). Atau ada cara lain? Kok repot amat. belajar. belajar dan karir. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. Ya belajar dong. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. SLTP. apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. klien atau konseli. meraih serta mempertahankan karir. Prayitno. meraih serta mempertahankan karir. Mengatasi Krisis Identitas.Ya. Dengan demikian. atau peserta didik. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran.

IPA. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. 84/1993. sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. Bahasa. B. merancukan tugas konselor dan guru. Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. dari SK Menpan No. 1. Mengatasi Krisis Identitas. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. Prayitno. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. karena lagilagi. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. SK Menpan No. caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. 26/1989 ke SK Menpan No. dll. 2008 19 . katanya.

akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK). Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. itu benar. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a. 2008 b. evaluasi belajar. ke sini ya. karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari. analisis hasil evaluasi hasil belajar. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. menyajikan program pengajaran. sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui. SK Menpan No. Menyadari kerancuan terebut di atas. Menyusun program pengajaran. kegiatan pelayanan BP dilecehkan. Tidak boleh lagi ke sana ya. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. 026/1989. pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. Di samping itu. Mengatasi Krisis Identitas. oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. evaluasi pelaksanaan bimbingan. Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi. Nah. bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). 20 . Secara singkat. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. melaksanakan program bimbingan. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”.SK Menpan no. ATAU: Menyusun program bimbingan. Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. mohon maaf.

Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai.jawabnya. yaitu: 4) Dewasa ini. Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. Peraturan yang ada adalah PP No. 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2. Terkait dengan hal itu. 2008 21 . Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno. 25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. SK Mendikbud No. ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah. 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”. Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). Perhatikanlah kata ATAU.

panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. Mengatasi Krisis Identitas. adalah guru yang mempunyai tugas. 2008 . SD. Rancu. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. 25/0/ 1995 itu. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. Guru kelas. Dengan demikian. kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. dan SLB Tingkat Dasar. dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). adalah guru yang mempunyai tugas. kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. tanggung jawab. Lebih jauh. tanggung jawab. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. Kalau mau konsekuen. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. SDLB. baik secara perorangan maupun kelompok. bimbingan sosial. tanggung jawab. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. tanggung jawab. Guru mata pelajaran. Guru praktik. marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d. bimbingan belajar dan bimbingan karir. dalam bidang bimbingan pribadi. 22 Prayitno. Guru Pembimbing. ini baru merancukan dengan sengaja. adalah guru yang mempunyai tugas. guru praktik. 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. guru mata pelajaran. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. Nah. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. adalah guru yang mempunyai tugas.a. bukan?. memperhatikan kutipan tersebut di atas. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Sejalan maknanya dengan guru IPA.

0433/P/1993 dan No. bimbingan belajar. pengentasan. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik. bimbingan sosial dan bimbingan sosial. konseling perorangan. informasi. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. bimbingan sosial. dan • • • Prayitno. dan bimbingan karir. 3. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. bimbingan kelompok.Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. tanggung jawab. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. pencegahan. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no. penempatan dan penyaluran. konseling kelompok. Mengatasi Krisis Identitas. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. 2008 23 .

Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. 24 Prayitno. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa. 2008 .bimbingan pembelajaran. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. Lagi. bukan tugas mengajar. dapat dikutip pula: a. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dengan no. guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing. yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. 3 di atas. b. serta kegiatan pendukungnya. 4. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling.

Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”. Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm.“. dan sebagainya yang yang Guru pada b... sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a. Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang. Mengatasi Krisis Identitas. Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan. Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri. Dikhawatirkan. 2008 25 . 5. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno. Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing. kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku.. meskipun mungkin terjadi di lapangan. 6). yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK..

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

dasar dan menengah 2. tanggung jawab. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. Mengatasi Krisis Identitas. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan. yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. Prayitno. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b. Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal. (4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah.Pasal 1 : 1. Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d. 2008 29 . Syarat khusus. Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. Syarat umum.

.. 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik. Pertama.. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No. dengan mengatakan: “. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu.(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa. tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah. 30 Prayitno. sampai dengan kepengawasannya. penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No.. yang sampai sekarang masih berlaku. 18). Kedua. tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. ibarat kereta api. Mengatasi Krisis Identitas.20/2003 Pasal 39 ayat 2. penulis “Krisis Identitas”. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas. Dalam kaitan itu. semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. karena belum ada aturan penggantinya. seperti telah disebutkan di depan. 2008 . tidak berjalan di atas rel. Dengan demikian.

1. Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK. terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. SMP. Buku-buku panduan. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm. menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. 21). atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. Prayitno. Mana yang lebih tidak realistik. Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). pikiran utopis dan tidak realistik. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. Mengatasi Krisis Identitas. bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan. BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. 2008 31 . 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. Mari kita lihat bersama. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi.C.

Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a. oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10). SMP. baik negeri maupun swasta. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Mendikbud. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. Prayitno. 2008 11) 32 . (hal 6-7). Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. dinyatakan bahwa layanan BK di SD.dipadu dengan materi keilmuan BK.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”. Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor. memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor. Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No. Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu. Mengatasi Krisis Identitas. 11919/C. Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah. ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut.

kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres. R. M. guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor. Drs. Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. Mengatasi Krisis Identitas. Mungin Eddy Wibowo. (IKIP Jakarta. Afif Zamzami. M. sekarang UNNES. Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. (IKIP Semarang. MA. Drs Karno To. Dr. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu. 2008 33 . karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof. Dr. ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi.. karena semuanya belum beres. mohon maaf. semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. sekarang UNJ). sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti. dan .Pd. Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”. b. M. Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang. baru kerja bisa dimulai. agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar. Jadi menurut penulis itu. sekarang UPI).Surya (IKIP Bandung. Prayitno. dll. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”. Drs Thantawy. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi. Pd.. dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. sekarang UPI).konselor dinyatakan berlaku. (IKIP Bandung. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena. pendidikan beres..

tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”. Dharma Setiawaty R. Elida Prayitno (IKIP Padang. sekarang UNJ). khususnya untuk konteks SD dan SLB. isinya tidak sesuai dengan kenyataan. Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan. Akan tetapi. dengan Prayitno sebagai Ketua Tim. (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). meskipun secara substantif. 2.H. Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru. (Puskur. sekarang UNP). Dra. Dra.Pd.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. Moenir. (IKIP Jakarta. 2008 . Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. (hlm. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang. Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001. S. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK. dan C. 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. sekarang UNP). Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No. Balitbang Dikbud).Si.M. yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional.

apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. b. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. 84/1993 dan No. 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. Mana yang benar?. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu.atas. atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. Mengatasi Krisis Identitas. Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu. c. Ir. 2008 35 . Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001. 3. Dr. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a.

Selanjutnya. Kons (dari UNNES).Pd. Menurut pertimbangan Dikti. Dr. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi. Dr. Sunaryo Kartadinata. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka. 2008 . M. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat.Sc.Pd. Dr. dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya.Ed.dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah. Mungin Eddy Wibowo. Ahman. MSc. (dari UPI) dan Drs.) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia.Pd. (dari UPI). agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya. 12) Pada awal April 2001 waktu itu. Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat. Prof. Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti.U. M. Prayitno. yaitu Prof. Sunaryo Kartadinata. yaitu Ketua Umum yang baru. Prof. Syamsuddin S. Mengatasi Krisis Identitas. Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya. Kons (dari UNY). M. terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut. Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof.. Dr. (dari UNP). pada waktu itu Bapak Prof. Sukamto. Dengan suka cita saya terima berita itu. M. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. Dr. Dr. 13) 36 Prayitno. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif.Pd. M. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut.

4. Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. 1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. beserta pakar konseling untuk membahas. Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. konseling. melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai.a. dan menafikan peran otoritas birokrasi. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling. Prayitno. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no. Mengatasi Krisis Identitas. 2) Hasil kegiatan no. 2008 37 . Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan.

unsur ABKIN dan personalia Dit. 2008 . Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. PPTK dan KPT.6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). b. baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. 2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu. naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK). PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit. dan Pakar BK. Mengatasi Krisis Identitas. Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta. Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final. Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. Divisi ABKIN. DSPK disosialisasikan. Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT. personalia PB dan PD ABKIN.

2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut. Berkenaan dengan DSPK. Jawa Barat. Mengatasi Krisis Identitas. Bali. untuk wilayah Sumatera Samarinda. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya. Pengawas BK. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. untuk wilayah Kalimantan Makasar. 2008 39 . b. PD ABKIN.• • • • • Padang. dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. untuk wilayah Jawa Timur. DKI. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno. Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali. untuk wilayah Banten. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. Kepala Sekolah. Dinas Pendidikan Propinsi. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK.

tetapi kita rugi waktu. kita mau apa? Protes memang boleh. Yang jelas. • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. sehebat-hebatnya apa yang kita punya.diusulkan untuk ditunda (hlm. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. Apa salahnya? Pertama. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias. menggunakan jalur hukum silahkan. justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. Kedua.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm. Mengatasi Krisis Identitas. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. serta belum tentu Prayitno. tenaga dan biaya. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan. 2008 40 . lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan. bahkan semestinya disyukuri. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki. Atau.

Oleh karena itu. Demikian tentang “usulan penundaan”. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. Mengatasi Krisis Identitas. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada. Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. 2008 41 .mana yang benar?). Memang. muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada.memang. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu. termasuk sedang digarapnya DSPK. Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. Acara pertemuan itu. dikumpulkan oleh Ketua Umum. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. disanction dan difinalisasi. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi. Adanya risalah aspal. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK. tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. sesudah DSPK selesai disusun. Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK.

Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya. 2008 . Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan. sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan. Dan kalau memang betul-betul ada. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. tetapi ternyata aspal. berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK. finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK. sanctioning. Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu.Juni 2008. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu. kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN.

kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. dengan surat Direktur P2TK-KPT No. bukan ABKIN. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. 2008 43 . Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno. kalau setuju alhamdulillah. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada. ABKIN boleh saja tidak setuju. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. bukan produk ABKIN. c. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. Mengatasi Krisis Identitas. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. pendidikan tenaga profesi. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. Adapun ABKIN setujui atau tidak. Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar. kode etik dan organisasi profesi. Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti. kredensialisasi. tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku.

2008 . yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. disingkat ABKIN). Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK. tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. dan organisasi profesi. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). LPTK. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain. Menarik untuk disimak. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT. Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. Mengatasi Krisis Identitas. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. khususnya penulis “Krisis Identitas”. Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula.DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. khususnya LPTK. yang 44 Prayitno.

DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu. Sejak awalnya. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana. Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. Mengatasi Krisis Identitas. tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri.tidak memakai nama ABKIN. kelihatannya setuju. Prayitno. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. 2008 45 . lalu menolak dan membuat tandingannya. melainkan juga pakar BK. tetapi bisa dan perlu berkolaborasi. terimakasih. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK. membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. Kesimpulannya. D. Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. Didukung oke. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. LPTK dan Direktorat. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK.

dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”. Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu. 2008 . 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. ada upaya memutus rantai sejarah. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. serta sejumlah IKIP. sebagian besar FKIP Negeri.1. 46 Prayitno. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). a. b. Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. FKIP dan STKIP Swasta. Mengatasi Krisis Identitas.

sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi. Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP. 2. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. dalam hal ini PPK. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No.khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor. a. c. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi. 118/K. 2008 47 .12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999. Mengatasi Krisis Identitas. Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno.

dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. instrumentasi. dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15).. melalui Surat No. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No. Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik. instansi. yaitu SK Mendikbud No. 056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas.. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. keluarga. yaitu berpraktik privat profesi konseling. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. dunia usaha dan industri. Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. 2002). Sejalan dengan hal itu. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. 2008 48 . dan pelayanan konseling. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kemudian. Mengatasi Krisis Identitas.. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester. b. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik. profesi. Berikutnya. dan/atau vokasi”..akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. organisasi. PP No. tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno.

Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. Mengatasi Krisis Identitas. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang). yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). menengah. disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK). 16) Karena lulusan program PPK belum ada. Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas. S2. Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks. serta peserta dari Jakarta. pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1. c. dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). serta mengucapkan Janji Konselor. ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK. perguruan tinggi) maupun luar sekolah. Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti.yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. Selain di UNP. Prayitno. Di samping itu. Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah. d. e. Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). 2008 49 .

dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya. Oleh karena itu. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria. 2008 . Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah. Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1). Untuk ini. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”.3. Terkait dengan hal ini. Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria. Beasiswa PPK (BPPK). Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan. salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. a.

Univ. Univ. UNIMED (Medan). Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. Muhammadiyah Magelang (Magelang). Univ. Univ. dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh).Studi Bimbingan dan Konseling. UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). STAIN Batusangkar (Batusangkar). PGRI (Jakarta). Univ. UNRI (Pekanbaru). Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). UNSRI (Palembang). Hazairin (Bengkulu). HAMKA (Jakarta). UNJ (Jakarta). Widya Mandira (Kupang). UNJA (Jambi). STAIN Curup (Curup). PGRI (Jember). Univ. dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. Mengatasi Krisis Identitas. Pendidikan Ganesha (Singaraja). UNS (Makasar). peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air. 2008 51 . Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. Univ. UNIMA (Manado). Atmajaya (Jakarta). Univ. Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). Univ. UNG (Gorontalo). Univ. Univ. PGRI (Surabaya). Sampai dengan tahun 2008 ini. Abdulyatama (Banda Aceh). setelah mengikuti PPK Prayitno. Univ. UNILA (Lampung). Univ. UNDANA (Kupang). IAIN Imam Bonjol (Padang). UNY (Yogyakarta). Alwasliyah (Medan). Univ. serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. Kanjuruhan (Malang). b. UNP (Padang). UNESA (Surabaya). PGRI Palembang (Palembang). Univ. STKIP Selong (NTB). Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. Univ. UNIB (Univ. UNNES (Semarang). Assafi’iyah (Jakarta). Bengkulu).

Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK. 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. termasuk di luar kampus”. adalah sebagai berikut: a. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas. 4. Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien.beberapa bulan saja. penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain.

1. agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut. 19/2005 di atas. Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan. untuk menjadi dosen PPK diperlukan. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No. Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. lulusan universitas manapun19). DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK. Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp. seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana. untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK. 18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran. 19) 20) Prayitno. 2008 53 . untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK. Dalam kaitan itu. selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp.1) Kedokteran. Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. juga ijazah PPK. yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. b. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. Mengatasi Krisis Identitas. baru S2 saja20). tentulah program PPK)18).Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. selain ijazah (S2). seperti UNNES (Semarang). sesuai dengan keahlian yang diajarkan. Untuk bidang BK.1) seperti di Fakultas Kedokteran itu.

ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK. banyak yang bergelar Magister (S2). bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor). Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK. Sukamto. M. Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”. kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). Sukamto. sampai-sampai Bapak Prof. LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya. M. Dr. mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. c. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu.Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya. Sesungguhnyalah. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Dr. Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof.Sc. bagaimana? Ya. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). 21) Pesan ini saya terima lewat sms. 2008 54 .

2008 55 . Oleh karena itu.E. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno. Demikian juga tentang tujuan. 1. Meskipun tidak dikemukakan. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. isi. Mengatasi Krisis Identitas. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Undang-undang No. isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik. kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”. Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. Apabila pendidiknya adalah guru.

Dalam kaitan ini. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. sikap dan kebiasaan belajar. 56 Prayitno. Matematika dan sebagainya. bukan hanya guru. Mengatasi Krisis Identitas. seperti bahan pelajaran IPS. 2008 . yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Ini artinya. tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya. Apabila pendidiknya adalah konselor. dan sebagainya. bahan tentang penyesuaian diri.studi yang diampu oleh guru. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. Bahasa Indonesia. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik. Hal terakhir itulah.

L. Foresman and Company. Terkait dengan variasi pengertian tersebut. 22) Brubaker. Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. Ilinois: Scott. melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun. tidak hanya guru. D. Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas. Prayitno. 1984 sebagai berikut. Glenview. 2008 57 . Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi. Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. 2. pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan. Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup. Mengatasi Krisis Identitas. (1982). sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22).

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. “Yang penting adalah kurikulum. Kepala Sekolah. pimpinan Dinas Pendidikan. Kedua. karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). 22/2006 dan No. Prayitno. kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. Mengatasi Krisis Identitas. Bagaimana kalau Kepala Sekolah. pertama. 24/2006. siswa orang tua. ketika Kepala Sekolah. tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan. digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum. guru-guru. dan siapa pun juga. dan siapa pun juga. Padahal yang semestinya terjadi adalah. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum. bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. 2008 61 .

Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No. Namun. maka akan timbul berbagai masalah. Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). belajar. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas.22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No. yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. bakat. sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali. 2008 . 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno. Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi. b.Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. Mengatasi Krisis Identitas. sesuai dengan kondisi sekolah. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru). dan minat peserta didik. Mengaburkan pengertian pengembangan diri.

22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?. di dalam mata pelajaran. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”. dll.Tidak jelas. bagaimana caranya. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. Kalau itu yang dimaksud. Perlu disimak. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. di dalam BK. Prayitno. mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. Mengatasi Krisis Identitas. ya menjadi susah. akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No. 2008 63 . memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut. di mana adanya. di mana adanya pengembangan diri itu. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut.tetapi bahkan penyimpangan. yang ada di manamana. dan lain sebagainya. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2). garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya. apa bentuknya. Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. 22/ 2006. Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas. dunia dan akhirat. mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat.

yaitu: (a) komponen mata pelajaran. (b) komponen muatan lokal. yaitu (1) pelayanan konseling. dan (2) kegiatan ekstra kurikuler. Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor. 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen.Gambar 3. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25). 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut. 64 Prayitno. Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No.

No. Mengatasi Krisis Identitas. 26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. F. Prayitno. 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. mengakibatkan kerancuan. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. 1.22/2006. Standar Kompetensi Lulusan. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. jabaran dari PP. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No. No. pengkerdilan dan kontra produktif. 22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. 23/2006 dan No. PERMENDIKNAS No. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran. Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. 22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). 2008 65 .

penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya.Materi dasar Permendiknas No. Namun sayangnya. sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. Mengatasi Krisis Identitas. Hasil kerja keras ini.” (hlm. setelah menjadi permendiknas. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja. sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No. Memang ada sedikit kemajuan. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi. sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. 2008 . yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. tidak boleh materi di luar mata pelajaran. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a.

Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. 22/2006 itu. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. Demikian. isi kurikulum hanya mata pelajaran saja. tidak harus materi mata pelajaran. tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan.hanya berisi mata pelajaran. 2008 67 . hal-hal yang harus ada memang harus masuk. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. Mengatasi Krisis Identitas. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja. struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. Prayitno. b. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No.

dan sebagainya. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas.yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2. Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). 2008 . Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor.143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi. c. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya. orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. Mengatasi Krisis Identitas. yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. 22/2005. KTSP pun hanya untuk guru. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya.

2. (iii) materi pengembangan diri.2021).publik draf Standar Isi yang dimaksud. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. Mengatasi Krisis Identitas. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm.21) • Prayitno. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya. 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. Sekarang menjadi pertanyaan. Lagi: Muatan KTSP a. memperlihatkan ketidaktahuan. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu. Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik. dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu. dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri. ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit. 2008 69 .

Guru punya tugas. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing. Apa alasannya. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. dan konselor punnya tugas dalam konseling. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional. dan lagi. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. 3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP. dalam hal ini guru. pasti tahu arah. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. Kalau profesional dia. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. dan tahu juga wilayah kerja guru. Sekali lagi. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain. dan pola pikir yang bagaimana.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi.

akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27). menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno. Apa lagi? Dengan prinsip itu. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada. Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri. 22/2006. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). guru atau pendidik siapapun. 2008 71 . Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah. Dan ada satu lagi. Mengatasi Krisis Identitas. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan. alat dan teladan dalam kegiatan belajar. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. 27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik. Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan.materi mata pelajaran yang ada. melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum.1 dan hlm. Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan.22). sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi.

palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. Saya ini bukan apa-apa lho. mengabdi dan berdedikasi. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya. karena konseling dan pendidikan. Tetapi terus terang. seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Itulah lahan garapan saya. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. karena dan demi konseling dan pendidikan. 72 Prayitno. saya dibayar karena konseling dan pendidikan. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. tetapi karena konseling dan pendidikan. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. Anda mau merebutnya? Silahkan. 2008 . Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. bahkan sejak jauh sebelumnya. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. Saya menulis buku. yang saya cintai dengan sepenuh hati. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. rebut buku-buku saya dan para pembacanya.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. bukan Rektor. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya. lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja. karena dan untuk konseling dan pendidikan. benar sejak 1995. bukan karena saya pejabat. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. Prayitno? Kalau ya. Mengatasi Krisis Identitas. dan saya akan berkarya terus Insyaallah.

Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. Mengatasi Krisis Identitas. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi. Diklat. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. direktorat jenderal. konseling dan pendidikan.22/2006. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. Apabila. G. ditolak oleh Puskur. Bin. dan pejabat lainnya puluhan orang. ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa. anggota tim belasan orang. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. 2008 73 . direktorat. Dan untuk semuanya. Prayitno. Saya berada di Puskur. apalagi karya saya sendiri. dan Pengurus Daerah. Dir. di sana sedang terjadi krisis identitas. orang lain dijadikan kambing hitam”. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. staf departemen. P4TK Penjas/ BK. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. Anggota BSNP 15 orang. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No. saya adalah suruhan demi profesi saya.

• Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. 13).-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. Mengatasi Krisis Identitas. 13).Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya. yang dilaksanakan guru. 2008 . dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno. dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. Parung.

29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. 24/2006 diberlakukan. Prayitno. menyederhanakan. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. Puskur melaksanakan tugas utamanya. dengan arah. 22/2006. Panduan ini. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. segera setelah Permendiknas No. sebisa mungkin. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. 23/2006 dan No. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan. No. Mengatasi Krisis Identitas. Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Sejalan dengan hal itu. SK Mendikbud). yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. menyempurnakan. yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan. 2008 75 . Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. buku-buku panduan yang selama itu ada. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. melengkapi. Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri.1. yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler.

Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada.istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30). tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum. 2008 76 . adalah baik untuk menjelaskan konsep. 22 Tahun 2006. Mengatasi Krisis Identitas. Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. yang disusun oleh pemerintah --. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. 30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan. bukan sebaliknya. dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya.Dalam pada itu. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan. Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Prayitno. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus.

sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No. pertimbangannya adalah: a. 2008 77 . khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling. b. Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan. kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Apabila panduan yang baru itu berbeda. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . 22/2003. materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a.Dalam hal ini kami mengusulkan. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. ”Panduan BK Jalur Formal”.

22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas. Mengatasi Krisis Identitas. Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. 22/2006. dengan surat No. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah. Pengingat Permendiknas No. 343/F5. • Surat Bin. Sekiranya ABKIN akan menyusun.3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008. 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud. Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. 2008 . agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri.Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.

dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP.1. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. Mengatasi Krisis Identitas. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah. 2. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI. 2008 79 . 3. 2. PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. BSNP dan KTSP). disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. SMP/MTs. Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. yaitu Prayitno. 22/2006 tentang Standar Isi.

manajemen dan penilaian dalam BK. 2008 . Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. mohon diperhatikan. dengan materi pengembangan pribadi. sosial. terutama tentang jenis-jenis layanan. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling. penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang). 80 Prayitno. yang didalami dan dilatihkan hanya BK. hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). c. Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No. kegiatan pendukung. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran. Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). Mengatasi Krisis Identitas. 31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). Tentu saja. dan guru pembimbing atau konselor. dapat diberi arti sebagai berikut: a. 13).20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. yang dilaksanakan guru” (hlm. penilaian dan manajemen.melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi31). bukan hanya guru. belajar dan karir. b.

penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan. 2008 81 . sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”. H. Mengatasi Krisis Identitas. tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No. dua. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi. Cedera minimal dalam dua hal: satu.20/2003). tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran.Dengan demikian.

Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut. Mengatasi Krisis Identitas.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006. Satu hal yang menarik ialah. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu. Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No.1. saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”. dalam Raker tersebut. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN. 2008 . dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK. yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker. Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf.

Mengatasi Krisis Identitas. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm.Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. mungkin inilah (antara lain. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK. 2008 83 . Di samping itu. 18). Prayitno. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. 2. Semarang (hal 18)33). Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. a. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain.

2008 84 . Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu. Prayitno. bersikap kritis boleh.1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN. Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik. karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku.20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik. Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP. Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. Mengatasi Krisis Identitas. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya. • UU No. • SK Menpan. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap.dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) . Tahu-tahu saya melapor. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja. Menerima apa yang dibeberkan.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada. dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. Dalam kajian yuridis.

adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. Bagaimana disebut tandingan. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. Mengatasi Krisis Identitas.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada. 34) Tentang tandingan ini. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. dan juga sebelumnya. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling. 2008 85 . Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). Prayitno. pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai. namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. 4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik.

karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. saya usulkan agar diganti. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. Mengatasi Krisis Identitas. yang sudah dibawa. b. apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku. Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat. Lagi pula. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada. Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan. 2008 . disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. Surat tersebut. Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN. sebab panduan-panduan itu belum jadi. Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir.

a. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. No. Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. PP No. Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. 19/2005. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35). yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana. padahal bukannya hanya 7 (tujuh). 3. bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas. akhirnya tidak tentu rimbanya. Mengatasi Krisis Identitas. DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. Dalam hal itu agaknya.Nasional XV di Palembang. 2008 87 . 1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. 20/2003. yaitu karena dasarnya adalah UU. dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain.

Mengatasi Krisis Identitas. Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno. 2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor. dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan. dengan judul: • 88 .(a) Tema: Naskah Akademik.

Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ). dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada.(e) Tema: Pendidik Konselor. dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor. 2008 89 . yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor. sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu.

Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. 2008 .disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. tidak konsisten dan tidak cermat. 37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. 1) Tema produk ada 9 (sembilan). Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif. (Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b. judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam. satu tema. kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam).

84/1993. 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat.2) Tentu lucu. serta SK Menpan No. Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu. 2008 91 . Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang. 0433/P/1993 dan No. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran. adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. Mengatasi Krisis Identitas. 026/1989. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No. telah diatur dan dikembangkan. 2/1989. 118/1996. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. 025/0/1995. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No.

padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. 14 buku “Krisis Identitas”). Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut. 9 buku “Krisis Identitas”). Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru. b) Mencederai makna UU. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No. menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut. dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm.keterandalannya. termasuk program PPK di dalamnya. 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. (e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional.

Puskur dan P4TK Penjas dan BK. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. 27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No. Prayitno. Standar kualifikasi konselor. Upaya tersebut akan didorong lagi. Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No. 2008 93 . Mengatasi Krisis Identitas. yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya. yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No. 27/2008. 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen.

yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor. (g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. bukan ABKIN. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. 27/2008. Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. 94 Prayitno. Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP. karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas.(f) Secara spesifik. Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. 2008 . sehingga tidak layak edar. 27/2008 itu. dengan diberlakukannya Permendiknas No.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

dikritik dan dikejar. kolegial. a. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. Kenyataannya berbeda. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. untuk mencapai hasil yang terbaik. Pertemuan-pertemuan kerja tim. terbuka. 4. bahkan dianggap tandingan. Terbaca. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya. bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. Sepertinya.terjadi. harmonis. Mengatasi Krisis Identitas. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. keilmuan dan sebagainya. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. 2008 . benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya. transparan.

masukan dianggap tandingan. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar. produk harus selesai. Tidak ada telaah yang intensif. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”. otoritas birokrasi juga). Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. Hal itu memang tidak diragukan lagi. tidak ada verivikasi. Sukamto. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. apalagi uji coba. Dr. kepercayaan. sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. Dr. dan dukungan dari birokrasi dicederai. bagaimanapun juga caranya. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. peringatan. sanctioning atau uji publik.diacuhkan. Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil.Yang penting adalah. Mengatasi Krisis Identitas. M. Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh. Ir. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. 2008 99 .Sc) sangat Prayitno. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka.

Mengatasi Krisis Identitas. b. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan.besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. dalam hal-hal yang dipersoalkan itu. tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm.Dengan demikian. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. kegiatan akademik. Lahan mulai digarap. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). LPTK. 2008 100 . padahal undang-undang menyatakan (UU No. produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. 20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. dosen dan lain-lain. Dalam pada itu. 21) Prayitno. Dan lagi. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih.

Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno. program PPK. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. Kegiatan itu dikerjakan secara intensif.Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). . produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. 2008 101 . dan siap untuk disosialisasikan. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN. dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK. kurikulum BK. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. Dalam suasana seperti itu. 40) Tidak seperti DSPK. Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. layaknya “kejar tayang” saja. Mengatasi Krisis Identitas. merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru.

Rektor UNP kemudian. Di sana ada peran Puskur. Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK.Akhirnya. 2008 102 . Bin Diklat/PMPTK. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan. yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. diabaikan sama sekali. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. merespons. Nah. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. Mengatasi Krisis Identitas. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. Prayitno. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya. ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. serta Rakor di Bandung. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. P4TK Penjas/BK. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. 42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan.

hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya. Tugas semua pihak. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling. I. Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada. 2008 103 . dan kemartabatan profesi. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal.Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI. Mengatasi Krisis Identitas. tahun 1975). Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm.demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya. adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. Prayitno. ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi. Sampai sekarang sesedikit. Usaha-usaha yang bersifat tandingan. serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. komponen trilogi profesi. 18).

misalnya melalui mimpi. metode dan teknik. motivasi altruistik. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. objek praktik spesifik. Kompetensi profesional yang dipelajari. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik). pendekatan. b. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja. Melalui proses berpikir tersebut. kompetensi profesional yang dipelajari. yaitu: keintelektualan. dan organisasi profesi. 1967. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mengatasi Krisis Identitas. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. Keintelektualan. Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh. melalui semedi atau bertapa sekian lama. London: Collier-McMillan Limited Prayitno.1. 43) Dalam Full. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. Objek praktik spesifik. H. 2008 104 . c. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. komunikasi. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. untuk mempelajari materi keilmuan. misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. a.

dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. untuk guru dan konselor. Komunikasi. d. Mengatasi Krisis Identitas. aspek hukum dan sosialnya.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. yang keduanya adalah pendidik. meliputi objek praktik spesifik profesinya. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu. e. Secara lebih umum misalnya. Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. 2008 105 . kompetensi dan dinamika operasionalnya. Motivasi altruistik. kecuali satu hal. akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. keilmuan dan teknologinya. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. apoteker menangani pembuatan obat. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis. termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi. Segenap aspek pelayanan profesional.

Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. Bahkan. f. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. komunikasi. 2008 . (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. kompetensi dan teknologi operasional. melainkan untuk kepentingan. kompetensi dan praktik pelayanan. kode etik. dan sebaliknya. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi. melalui tridarma organisasi profesi. kode etik. keintelektualan. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya. juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. serta perlindungan atas para anggotanya. keberhasasilan. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi. 106 Prayitno.keuntungan pribadi. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. Mengatasi Krisis Identitas. dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi. dan (3) menjaga kode etik profesi. Organisasi profesi. jika diperlukan. dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi. dan kebahagiaan sasaran layanan. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka.

yaitu (1) komponen dasar keilmuan. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. Mengatasi Krisis Identitas. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional. (2) komponen substansi profesi. pengetahuan. 2008 107 . Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. dan (3) komponen praktik profesi.2. sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. Trilogi Profesi Konselor a. profesional dalam bidang apa pun. nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. keterampilan.

44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No.S1) yang mendasarinya44). sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya. khususnya bidang konseling. dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi. yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling.sasaran pelayanan. yang adalah pendidik (UU No. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-. yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK. Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan. Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling. 2008 45) 108 . 27/2008. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. • b. karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik. Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. Prayitno.

pengelolaan dan evaluasi. 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). dan teknologi pelayanan. Mengatasi Krisis Identitas. Dengan demikian. pendekatan. Dalam arti yang demikian pulalah. 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling. serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES). Dalam hal ini. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. 2008 109 . Prayitno. konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran.

Mengatasi Krisis Identitas. instansi negeri/swasta. sosiologi. konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. serta implementasinya dalam praktik konseling. teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. 110 Prayitno. dunia usaha/industri. Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK). standar prosedur operasional (SPO). Pada setting satuan pendidikan misalnya. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. praktek pribadi (privat). 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). Pendekatan dan teknologi. acuan praksis. 47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. organisasi pemuda/kemasyarakatan. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. keluarga.Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling. 2008 .

semesteran. dan pengontrolan (controlling-C). 1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. mulai dari membuat program tahunan. urusan administrasi. wali kelas.c. Prayitno. • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan. bulanan. dll. 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. dan objek-objek yang dikunjungi). guru. yaitu perencanaan (planning-P). 2008 111 . Mengatasi Krisis Identitas. pelaksanaan (actuating-A). Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. film. Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah. sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. alat bantu seperti komputer. dana. orang tua). pengorganisasian (organizingO). dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48).

2008 . C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat). Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja).• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan. Mengatasi Krisis Identitas. Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49). pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya. 112 Prayitno. • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. serta organisasi profesi.

2008 113 . POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin. POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu. Mengatasi Krisis Identitas. wali kelas. guru. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor.

oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja). • 3. • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). dievaluasi. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. dan dibina melalui kegiatan pengawasan. dan organisasi profesi). Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. Hasil pengawasan didokumentasikan. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja). iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. Mengatasi Krisis Identitas. 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau. apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja.(lembaga kerja) secara keseluruhan. 2008 . Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan. • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. dianalisis. oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). ii) eksteren. komite sekolah.

Oleh karenanya. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sebagaimana diketahui.yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. Mengatasi Krisis Identitas. untuk kepentingan semua individu. 2008 115 . maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi. Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas. b. apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno. upaya pelayanan konseling. kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik).

Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . c. Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. dalam hal ini konselor. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan. 116 Prayitno. Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. baik dalam arti akademik. maupun posisi pekerjaannya. kompetensi. Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik.yang dimaksudkan itu. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu.

dan juga sebagaimana saya berpikir. berkeyakinan. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri. bersikap. saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. Mengatasi Krisis Identitas.PENUTUP lhamdulillah. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. yaitu: A • • Ya Allah. dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. merasa. 2008 117 . Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah.

melalui profesi konseling bermartabat. berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. Marilah kita berusaha dan berbuat. menghindari dosa.Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas. agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. 2008 . fitnah dan khianat. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. bekerja sama. 118 Prayitno. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya. Mengatasi Krisis Identitas.