Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali. Terlebih-lebih. mungkin teman itupun belum membacanya. ia memberikan sebuah buku. Kami sama sekali tidak membahas buku itu. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain. saya dikunjungi seorang teman. hebat. Asyik sekali. keyakinan. dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. perasaan. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. melainkan merupakan pikiran. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. Isi P . dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. mungil dan menarik.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. sikap. Isinya. sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun. Tanpa komentar apa pun. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. sampai sekarang.

Lebih jauh. bertemu dalam kalbu. Oktober 2008 . termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu. Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan. bertemu dalam ilmu. Mudah-mudahan siapapun juga.buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga. Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu. Padang. uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling.

..... SK Menpan No....... 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 ................. Persiapan dan Pembentukan............................................... 2......... Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru........ 2.... C.................. D... 2.......... Penyelenggaraan Program PPK........................... Buku DSPK....... Jabatan Fungsional Guru Pembimbing....................... B. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor.. 3........... 5................ 2.............. BUKU PANDUAN 1.................. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1.......... 3....................... Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing......... 6.............. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia......................................... PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1.... KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1.. Pengawas Sekolah Bidang BK.. Konselor dan Konteks Tugasnya ................................. 3.................................................................................. Kriteria Guru Pembimbing..... Pendidik sebagai Agen Pembelajaran........................... Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK........................... SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK................................... 7.............Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A................... 4............. 4................... Kegiatan Operasional Guru Pembimbing............................... Konteks Tugas Konselor.....

............... Ciri-ciri Profesi........... Trilogi Profesi Pendidik.. Peran Puskur ...................... KURIKULUM 1.................... Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya.............................................................................................. G............... Pelibatan Otoritas Birokrasi................. Lagi: Muatan KTSP..... Rakernas ABKIN.... ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1............................... 2.............. 2.................. 2.. Peran P4TK-Penjas dan BK......................... PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1............................................................................................ PERMENDIKNAS No........ 117 ............................................... 114 Penutup ............... F..... 3.................................... 3........... 107 3............................................3.................. 104 2.. 4.... Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP............................. 22 Tahun 2006 1............................................................. H............................... Produk Hasil Penataan... Materi Dasar...... RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1...................................................... I........ Kurikulum 1975..................................................................................... 2.... Beasiswa PPK (BPPK)........ Profesi yang Bermartabat.................... E. Suasana Kerja....................

Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus. Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. Mengatasi Krisis Identitas. tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. sejak tahun 1993. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi. Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno. 2008 B 1 . sebagai agen pembelajaran.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. namun justru mengaburkannya. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No. 2.

Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi. Lalu. sedangkan untuk konselor harus yang lain. yaitu pengembangan kemampuan pribadi. 118/1996. yang tidak membelajarkan. 4. mereka mencari dan memakai yang lain. Dalam kaitan itu. melaksanakan program BK. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru. Mengatasi Krisis Identitas.24/1993. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). 3. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. SK Mendikbud No. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. yaitu Guru Kelas. 2 Prayitno. Lagilagi. yaitu menyusun program BK. sosial. Guru Praktik. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. mereka tidak memahami bahwa: a. Guru Mata Pelajaran. Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. yang ternyata absurd dan tidak aplikabel. 2008 . dan Guru Pembimbing. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. 025/U/1995.jaran adalah istilah hanya untuk guru.

Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. c.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b. 2008 3 . padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d. Lebih jauh. 5. di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”. agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor. Mengatasi Krisis Identitas.

2008 . 7.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno. b. Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). namun oposisinya terlihat pada: a. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN. c. DSPK telah disusun. Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK. Mengatasi Krisis Identitas. padahal: a. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004. d. Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. b. yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional.6. DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK.

Mengatasi Krisis Identitas. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. keahlian praktik profesi. dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah. c. Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. Prayitno. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. kalau ada. c. Selain itu: a. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. sampai sekecil-kecilnya. apabila mereka ingin membuka program PPK. Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK.no. Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). baik sebagai dosen program BK S1. Dalam kaitan itu. 2008 5 . d.

yaitu: • Daripada ber-S2-ria. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup. d. Prayitno. Dr. Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a. dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 8. apalagi konselor. 2008 6 . (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia.tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan. c. Sukamto.konselor. mengaburkan. M. Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No. • Saya cuma ingin ide Prof. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran.Sc. PP dan Permendiknas. b. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru.22/ 2006 tentang Standar Isi). Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--.

kerdil dan kontraproduktif. BSNP. Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja. 9. Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. 22/2006 tentang Standar Isi. c. yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). b. KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja. Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. Diadakannya kedua komponen selain Prayitno. Permendiknas). Lebih jauh. 2008 7 . 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman.Kenyataannya di lapangan. kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah. Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”. Mengatasi Krisis Identitas. SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No.

penataan ke arah pro- 8 Prayitno. 10. Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur. 11. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”. Dalam hal itu. namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan. 22/2006). anggapan mereka. Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. a. setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. panduan dari Puskur. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan. b. ABKIN memulai upaya. yang katanya. Mengatasi Krisis Identitas. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. keinginan mereka itu ditolak. 2008 . yang dibina sejak 1993. Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No. sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK).mata pelajaran dalam KTSP itu.

Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. kompak. semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. ada pernyataan beliau yang menggigit. terutama berkenaan dengan DSPK. 2008 9 . Mengatasi Krisis Identitas. harmonis. Oke. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. BK dalam KTSP. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu. c. Karena dimohon untuk dua acara. b. dan panduan pelayanan BK di sekolah. Dalam pengarahannya di Rakernas itu. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”.fesionalisme profesi BK. Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker. Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. Gambaran singkatnya sebagai berikut: a. hal itu baik-baik saja. PPK.

Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. program sertifikasi guru dan dosen. transparansi. prosedur penyetalaan.1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini. panduan pelayanan BK di sekolah. Mengatasi Krisis Identitas. kolegalitas. Standar Kompetensi. padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku. 2008 . sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. antara lain: • SK Menpan. 3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural. seperti DSPK.

Mengatasi Krisis Identitas. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik. ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Prayitno. 6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No. bukan hak ABKIN.beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan. semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek. 2008 11 . barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri. tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. 27/2008 tentang SKAKK itu. yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No. apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan. maka produk yang berupa tujuh buku itu. 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP.

2008 . 12. Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya. ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno. yang juga menjadi wilayah tugas beliau. padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. sesungguhnyalah. tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut. sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. Mengatasi Krisis Identitas. Lebih dari itu. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya. Akhirnya.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya.

hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada. JIKA HATI sejernih air bening. Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini. jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama. Mengatasi Krisis Identitas.terus melalui pengkajian. pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor. jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan. arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. 2008 13 .

PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. dosen. fasilitator. pendidik. 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. Mengatasi Krisis Identitas. 1. Pertama. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. pamong belajar.URAIAN MENYELURUH A. tetapi justru mengaburkannya. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran. konselor. 2008 . widyaiswara. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. tutor. instruktur.

konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui. 20/2003 Pasal 1 Butir 6). 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). Kedua. 2008 15 . 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. melakukan pembimbingan. tidak hanya guru. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. informasi.No. Prayitno. dosen. setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. dan lain-lain layanan. Nah. 19). seperti juga guru. Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. Kalau konselor itu pendidik. No. Mengatasi Krisis Identitas. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. 1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. termasuk konselor dan pendidik lainnya. Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. konseling perorangan. menilai hasil pembelajaran. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. dan pendidik lainnya.

Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. dsb 2) . seperti mata pelajaran Matematika. Mengatasi Krisis Identitas. 2) Di perguruan tinggi. Guru. dan sebagainya. konteks tugasnya apa. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri.2. semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. informasi dan pilihan karir. di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). dsb. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi. Modus pembelajarannya pun berbeda-beda. sikap dan kebiasaan belajar. Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. widyaiswara apa. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. IPA. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. (Nah. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru. 2008 16 . konselor apa. 3. IPS. dosen apa.

mohon maaf. Nah.. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. sehat jasmani dan rohani. oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera. 2008 17 . dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang. Mengatasi Krisis Identitas.” agar orang-orang mau membeli minyaknya. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Prayitno. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. 4. 13).. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya.Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No. yang berbeda dari guru.. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih. Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti.. Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau.

Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah. luar biasa. dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. klien atau konseli atau apapun namanya. mencakup. apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. dan SLTA. untuk klien dewasa sekalipun. SLTP. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD.Ya. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. Prayitno. Itu yang pertama. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. Kok repot-repot amat. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. sosial. Dengan demikian. dan itu namanya pembelajaran. atau dirangsang. Ya belajar dong. klien atau konseli. dan karir 3). Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. Lebih jelas. sosial. 2008 18 . tentu hebat betul. siswa. belajar dan karir. bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. meraih serta mempertahankan karir. supaya bisa memilih. apalagi SD mampu memilih. atau peserta didik. belajar. meraih serta mempertahankan karir. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. Mengatasi Krisis Identitas. Atau ada cara lain? Kok repot amat.

caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. 26/1989 ke SK Menpan No. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. Bahasa. dari SK Menpan No. B. merancukan tugas konselor dan guru. Mengatasi Krisis Identitas. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. 1. 2008 19 . katanya. dll. Prayitno. 84/1993. IPA. SK Menpan No. Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. karena lagilagi.

oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. Nah. Menyusun program pengajaran. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi. analisis hasil evaluasi hasil belajar. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a. kegiatan pelayanan BP dilecehkan. 2008 b. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui. itu benar. karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari.SK Menpan no. pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. ke sini ya. evaluasi pelaksanaan bimbingan. 20 . Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. ATAU: Menyusun program bimbingan. SK Menpan No. mohon maaf. Tidak boleh lagi ke sana ya. melaksanakan program bimbingan. Mengatasi Krisis Identitas. evaluasi belajar. Secara singkat. menyajikan program pengajaran. 026/1989. sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. Menyadari kerancuan terebut di atas. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. Di samping itu. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK).

Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai. Peraturan yang ada adalah PP No. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No. 25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”. SK Mendikbud No. 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. 2008 21 . 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru.jawabnya. yaitu: 4) Dewasa ini. Mengatasi Krisis Identitas. Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. Terkait dengan hal itu. Perhatikanlah kata ATAU. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno.

kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. Kalau mau konsekuen. 22 Prayitno. Guru mata pelajaran. panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. Guru praktik. Nah. adalah guru yang mempunyai tugas. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. SD. istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. adalah guru yang mempunyai tugas. Rancu. ini baru merancukan dengan sengaja. Guru kelas. memperhatikan kutipan tersebut di atas. kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. tanggung jawab. dan SLB Tingkat Dasar. guru mata pelajaran. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. 2008 . Dengan demikian. tanggung jawab. bukan?. 25/0/ 1995 itu. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. adalah guru yang mempunyai tugas. baik secara perorangan maupun kelompok. dalam bidang bimbingan pribadi. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. berdasarkan norma-norma yang berlaku. Lebih jauh. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. bimbingan sosial. marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. SDLB. adalah guru yang mempunyai tugas. Sejalan maknanya dengan guru IPA. tanggung jawab. dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. Guru Pembimbing. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. guru praktik. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal.a. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. bimbingan belajar dan bimbingan karir. Mengatasi Krisis Identitas. tanggung jawab.

0433/P/1993 dan No. 3. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. bimbingan kelompok. 2008 23 . informasi.Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. Mengatasi Krisis Identitas. bimbingan sosial dan bimbingan sosial. bimbingan sosial. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. dan bimbingan karir. penempatan dan penyaluran. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. konseling perorangan. Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. konseling kelompok. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. bimbingan belajar. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing. pencegahan. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no. pengentasan. dan • • • Prayitno. tanggung jawab.

Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling. serta kegiatan pendukungnya.bimbingan pembelajaran. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling. 2008 . yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. 24 Prayitno. Lagi. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. bukan tugas mengajar. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. 3 di atas. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan. dapat dikutip pula: a. Dari sumber yang sama dengan no. guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa. Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. b. 4. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing.

Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”... 6). Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri. meskipun mungkin terjadi di lapangan. dan sebagainya yang yang Guru pada b. Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a. yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK. Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan. sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. Dikhawatirkan.. Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing.“. Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang. 2008 25 . kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku. 5. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno.. Mengatasi Krisis Identitas.

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. 2008 29 . Syarat umum. tanggung jawab. Syarat khusus. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. Prayitno. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan.Pasal 1 : 1. Mengatasi Krisis Identitas. dasar dan menengah 2. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal. dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b.

tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah.. Dengan demikian. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu.. yang sampai sekarang masih berlaku.20/2003 Pasal 39 ayat 2.(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa. Kedua. Dalam kaitan itu. 18). 30 Prayitno. seperti telah disebutkan di depan. ibarat kereta api. karena belum ada aturan penggantinya. tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. Pertama. semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm.. penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. 2008 . tidak berjalan di atas rel. Mengatasi Krisis Identitas. dengan mengatakan: “. 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik. penulis “Krisis Identitas”.. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No. sampai dengan kepengawasannya.

yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm. Mengatasi Krisis Identitas.C. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. pikiran utopis dan tidak realistik. sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi. Mana yang lebih tidak realistik. Buku-buku panduan. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. 21). Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). Prayitno. Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. 2008 31 . Mari kita lihat bersama. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. SMP. atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. 1. Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK. bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan.

Prayitno. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). 2008 11) 32 . baik negeri maupun swasta. SMP. Mendikbud. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10). Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”. memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan. Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu. Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. dinyatakan bahwa layanan BK di SD. tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (hal 6-7). ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor. Mengatasi Krisis Identitas. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor.dipadu dengan materi keilmuan BK. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. 11919/C. oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut.

sekarang UNJ). semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi. M. dll. baru kerja bisa dimulai. MA. Drs Karno To. Afif Zamzami. Mengatasi Krisis Identitas.Pd. Dr. dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. 2008 33 . Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. Jadi menurut penulis itu. Prayitno.konselor dinyatakan berlaku. M. (IKIP Bandung. Drs. (IKIP Semarang. Pd. Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. b. karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof.. Mungin Eddy Wibowo. Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang. sekarang UPI). R. (IKIP Jakarta. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”..Surya (IKIP Bandung. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu. guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor. Dr. kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres. ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi. M. sekarang UNNES. agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena. dan . karena semuanya belum beres. mohon maaf. Drs Thantawy. sekarang UPI). sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti. pendidikan beres. Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”..

dengan Prayitno sebagai Ketua Tim. (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). (IKIP Jakarta. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. Elida Prayitno (IKIP Padang. dan C. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang. Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan. tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”.M. Moenir. sekarang UNJ). 2008 . Balitbang Dikbud). yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional. S. meskipun secara substantif. sekarang UNP).H. (hlm.Pd. Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001. Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No. Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. Mengatasi Krisis Identitas. sekarang UNP). Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya. Akan tetapi. Dra. khususnya untuk konteks SD dan SLB. isinya tidak sesuai dengan kenyataan. 2. Dharma Setiawaty R. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK.Si. (Puskur. Dra. 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno.

Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu. 3. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. 2008 35 . sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001.atas. 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a. Mana yang benar?. c. b. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional. Ir. 84/1993 dan No. Dr.

Dengan suka cita saya terima berita itu. M. M. Mengatasi Krisis Identitas. Kons (dari UNY). M. Prayitno. Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah.Ed. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. Dr. Ahman. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka. 2008 . Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya. 12) Pada awal April 2001 waktu itu. yaitu Ketua Umum yang baru. Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. Dr. M. Dr. M.dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT. (dari UNP). Selanjutnya.Sc.U. yaitu Prof. Dr. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi. Sukamto. Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti. 13) 36 Prayitno.Pd. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut. Dr. pada waktu itu Bapak Prof. Prof. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif. Kons (dari UNNES). Dr. Sunaryo Kartadinata.Pd. dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya. (dari UPI) dan Drs. Mungin Eddy Wibowo. Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut.) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia. agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya. Syamsuddin S. terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof. MSc..Pd. Prof.Pd. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat. Sunaryo Kartadinata. Menurut pertimbangan Dikti. (dari UPI).

dan menafikan peran otoritas birokrasi.a. beserta pakar konseling untuk membahas. Mengatasi Krisis Identitas. Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. 2008 37 . Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan. 1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN. konseling. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. Prayitno. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai. melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. 2) Hasil kegiatan no. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling.4.

2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu. anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. b. Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno. baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. 2008 .6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT. DSPK disosialisasikan. Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta. PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit. dan Pakar BK. personalia PB dan PD ABKIN.unsur ABKIN dan personalia Dit. PPTK dan KPT. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. Mengatasi Krisis Identitas. naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK). Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. Divisi ABKIN. Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final.

DKI. 2008 39 .• • • • • Padang. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya. PD ABKIN. untuk wilayah Sumatera Samarinda. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. Jawa Barat. untuk wilayah Kalimantan Makasar. 2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. Bali. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Kepala Sekolah. untuk wilayah Banten. Pengawas BK. Dinas Pendidikan Propinsi. untuk wilayah Jawa Timur. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. b. Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia. Berkenaan dengan DSPK. Mengatasi Krisis Identitas.

tenaga dan biaya.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm. Atau. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan. Kedua. 2008 40 . justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif. bahkan semestinya disyukuri.diusulkan untuk ditunda (hlm. Mengatasi Krisis Identitas. menggunakan jalur hukum silahkan. kita mau apa? Protes memang boleh. Yang jelas. apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan. lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. serta belum tentu Prayitno. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik. • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. sehebat-hebatnya apa yang kita punya. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. tetapi kita rugi waktu. Apa salahnya? Pertama.

Adanya risalah aspal. Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada. • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK. Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. Oleh karena itu. Mengatasi Krisis Identitas. Demikian tentang “usulan penundaan”. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu. disanction dan difinalisasi.memang. serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada. Memang. 2008 41 .mana yang benar?). tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. termasuk sedang digarapnya DSPK. Acara pertemuan itu. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi. sesudah DSPK selesai disusun. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK. dikumpulkan oleh Ketua Umum.

Juni 2008. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. sanctioning. Mengatasi Krisis Identitas. sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. Dan kalau memang betul-betul ada. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. 2008 . finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK. kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN. Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan. Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya. tetapi ternyata aspal. berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK. tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan.

pendidikan tenaga profesi. Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. kode etik dan organisasi profesi. Adapun ABKIN setujui atau tidak. 2008 43 . bukan produk ABKIN. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno. Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti. kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. bukan ABKIN. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. c. Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK. kredensialisasi. Mengatasi Krisis Identitas. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. ABKIN boleh saja tidak setuju. dengan surat Direktur P2TK-KPT No. tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku. kalau setuju alhamdulillah.

Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. dan organisasi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. khususnya LPTK. yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. disingkat ABKIN). di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. Menarik untuk disimak. Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. yang 44 Prayitno.DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain. LPTK. 2008 . Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula. khususnya penulis “Krisis Identitas”. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT.

Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK. lalu menolak dan membuat tandingannya. D. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN.tidak memakai nama ABKIN. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana. Prayitno. Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi. Mengatasi Krisis Identitas. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. 2008 45 . membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. kelihatannya setuju. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri. melainkan juga pakar BK. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN. Kesimpulannya. LPTK dan Direktorat. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. Didukung oke. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. terimakasih. Sejak awalnya. atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK. tetapi bisa dan perlu berkolaborasi.

1. sebagian besar FKIP Negeri. Mengatasi Krisis Identitas. b. 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. FKIP dan STKIP Swasta. Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. ada upaya memutus rantai sejarah. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. serta sejumlah IKIP. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. a. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). 46 Prayitno. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu. 2008 . dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta.

Mengatasi Krisis Identitas. 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP. 2. sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi. Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. 2008 47 .khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor. a. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. 118/K. c.12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999. dalam hal ini PPK. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No. Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No. Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya.

Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik.. Berikutnya. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. profesi. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik. dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15). dunia usaha dan industri. Kemudian. PP No. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. instansi. dan pelayanan konseling. keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No. 2008 48 . 2002). Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. Sejalan dengan hal itu. b. keluarga. dan/atau vokasi”. melalui Surat No. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. organisasi. instrumentasi. 056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas.. yaitu SK Mendikbud No. tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno... Mengatasi Krisis Identitas.akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester. yaitu berpraktik privat profesi konseling.

Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK). Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas. pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1. menengah. c. Di samping itu. Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti. 16) Karena lulusan program PPK belum ada. Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. 2008 49 . ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK.yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. e. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). serta peserta dari Jakarta. Selain di UNP. perguruan tinggi) maupun luar sekolah. serta mengucapkan Janji Konselor. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks. yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah. Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang). Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). Mengatasi Krisis Identitas. yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). Prayitno. d. S2.

Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). Mengatasi Krisis Identitas. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. 2008 . Terkait dengan hal ini. Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. Untuk ini. dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”. Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1). salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. Oleh karena itu. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan. dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya.3. Beasiswa PPK (BPPK). a. Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria.

dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. Assafi’iyah (Jakarta). UNSRI (Palembang). Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. Pendidikan Ganesha (Singaraja). Abdulyatama (Banda Aceh). STKIP Selong (NTB).Studi Bimbingan dan Konseling. setelah mengikuti PPK Prayitno. serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. PGRI Palembang (Palembang). Univ. Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. Univ. PGRI (Surabaya). Univ. UNIMA (Manado). Univ. peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air. UNJ (Jakarta). Univ. Univ. STAIN Batusangkar (Batusangkar). Univ. 2008 51 . Univ. PGRI (Jakarta). Hazairin (Bengkulu). Univ. Univ. Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. UNS (Makasar). IAIN Imam Bonjol (Padang). Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). Sampai dengan tahun 2008 ini. Univ. UNG (Gorontalo). UNY (Yogyakarta). Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). Univ. UNJA (Jambi). Bengkulu). UNRI (Pekanbaru). UNP (Padang). Univ. UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). Atmajaya (Jakarta). Muhammadiyah Magelang (Magelang). Kanjuruhan (Malang). Alwasliyah (Medan). UNNES (Semarang). Widya Mandira (Kupang). b. dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh). STAIN Curup (Curup). Mengatasi Krisis Identitas. UNILA (Lampung). Univ. PGRI (Jember). UNDANA (Kupang). Univ. HAMKA (Jakarta). Univ. UNESA (Surabaya). UNIMED (Medan). UNIB (Univ.

pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). 2008 . adalah sebagai berikut: a. 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK. kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien. Mengatasi Krisis Identitas. termasuk di luar kampus”. 4.beberapa bulan saja. Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No.

seperti UNNES (Semarang).1) Kedokteran. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana.1. untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. b.1) seperti di Fakultas Kedokteran itu. agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut. 19) 20) Prayitno. juga ijazah PPK. Dalam kaitan itu. baru S2 saja20). selain ijazah (S2). Mengatasi Krisis Identitas. Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp. untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK. untuk menjadi dosen PPK diperlukan. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp. tentulah program PPK)18). Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No. 2008 53 . selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK.Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. lulusan universitas manapun19). Untuk bidang BK. sesuai dengan keahlian yang diajarkan. Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan. yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. 19/2005 di atas. 18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran.

Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya. M. Dr. Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu. Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”.Sc. termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof. 21) Pesan ini saya terima lewat sms. Mengatasi Krisis Identitas. kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. Sukamto. LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. M. c. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK. Sesungguhnyalah. Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK. 2008 54 . Dr.Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. Prayitno. sampai-sampai Bapak Prof. Sukamto. banyak yang bergelar Magister (S2). mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. bagaimana? Ya. bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor).

20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. Mengatasi Krisis Identitas. isi. 1. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru.E. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. Oleh karena itu. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. Apabila pendidiknya adalah guru. 2008 55 . Meskipun tidak dikemukakan. Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. Demikian juga tentang tujuan. kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. Undang-undang No.

Ini artinya.studi yang diampu oleh guru. Apabila pendidiknya adalah konselor. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. bukan hanya guru. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik. 56 Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit. Bahasa Indonesia. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. seperti bahan pelajaran IPS. Hal terakhir itulah. Dalam kaitan ini. Matematika dan sebagainya. Mengatasi Krisis Identitas. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. bahan tentang penyesuaian diri. sikap dan kebiasaan belajar. 2008 . yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. dan sebagainya. tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud.

pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan. 1984 sebagai berikut. Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. 2008 57 . D. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi. Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja. sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22). Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. Mengatasi Krisis Identitas. Foresman and Company. tidak hanya guru.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas. Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd. Ilinois: Scott. dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup. melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun. Glenview. 2. (1982). Terkait dengan variasi pengertian tersebut. Prayitno. 22) Brubaker.L. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa.

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). ketika Kepala Sekolah. 2008 61 . pimpinan Dinas Pendidikan. pertama. kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. dan siapa pun juga. siswa orang tua. 24/2006. kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK. karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. “Yang penting adalah kurikulum. tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). Mengatasi Krisis Identitas. bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. Prayitno. guru-guru. Bagaimana kalau Kepala Sekolah. Kedua. 22/2006 dan No. Kepala Sekolah. karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan. digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum. dan siapa pun juga. Padahal yang semestinya terjadi adalah.

Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi. 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru). sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. bakat. 2008 .Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. b. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). belajar. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas. Mengaburkan pengertian pengembangan diri. Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No. yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Mengatasi Krisis Identitas. dan minat peserta didik. bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno.22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. sesuai dengan kondisi sekolah. maka akan timbul berbagai masalah. Namun. Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP.

mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat. akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No. dll. di dalam BK. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. dan lain sebagainya. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2). Prayitno. mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. di mana adanya pengembangan diri itu. dunia dan akhirat. Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas. 22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. di mana adanya. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?. Kalau itu yang dimaksud. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”. 22/ 2006. di dalam mata pelajaran.Tidak jelas. Perlu disimak. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami. garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya.tetapi bahkan penyimpangan. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. yang ada di manamana. memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut. Mengatasi Krisis Identitas. apa bentuknya. 2008 63 . bagaimana caranya. ya menjadi susah.

Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25). 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut. yaitu: (a) komponen mata pelajaran. 64 Prayitno. (b) komponen muatan lokal. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor. dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen. dan (2) kegiatan ekstra kurikuler.Gambar 3. yaitu (1) pelayanan konseling. 2008 . Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas.

19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No. No. 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. 23/2006 dan No. pengkerdilan dan kontra produktif. mengakibatkan kerancuan.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. 22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah. 22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). jabaran dari PP. Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1. 26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3.22/2006. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. 2008 65 . Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran. Standar Kompetensi Lulusan. F. Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas. Prayitno. PERMENDIKNAS No.

yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a.Materi dasar Permendiknas No. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya. Hasil kerja keras ini. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. setelah menjadi permendiknas. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran.” (hlm. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru. sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No. Mengatasi Krisis Identitas. penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya. Memang ada sedikit kemajuan. tidak boleh materi di luar mata pelajaran. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. Namun sayangnya. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 2008 . sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja.

tidak harus materi mata pelajaran. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. 22/2006 itu. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi.hanya berisi mata pelajaran. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. Demikian. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. isi kurikulum hanya mata pelajaran saja. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja. Prayitno. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. b. hal-hal yang harus ada memang harus masuk. Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. 2008 67 .

Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. 2008 .yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2. Mengatasi Krisis Identitas. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya. 22/2005. apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi. yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru. c. dan sebagainya.143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. KTSP pun hanya untuk guru. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas. orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor.

Mengatasi Krisis Identitas.2021). dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu.21) • Prayitno. 2. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri. (iii) materi pengembangan diri. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit. memperlihatkan ketidaktahuan. 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik. Sekarang menjadi pertanyaan.publik draf Standar Isi yang dimaksud. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. 2008 69 . Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas. dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu. ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya. Lagi: Muatan KTSP a.

3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP. perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi. Apa alasannya. dan pola pikir yang bagaimana. 2008 . Sekali lagi. dalam hal ini guru. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. Kalau profesional dia. pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. pasti tahu arah. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. dan konselor punnya tugas dalam konseling. dan tahu juga wilayah kerja guru.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional. dan lagi. Mengatasi Krisis Identitas. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. Guru punya tugas. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain.

27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber. sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi. melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum. Mengatasi Krisis Identitas. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. Dan ada satu lagi. alat dan teladan dalam kegiatan belajar. 22/2006. 2008 71 .22). akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27).1 dan hlm. Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan. Apa lagi? Dengan prinsip itu. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri.materi mata pelajaran yang ada. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. guru atau pendidik siapapun. Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah.

lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja. karena dan untuk konseling dan pendidikan. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. Tetapi terus terang. Saya ini bukan apa-apa lho. karena konseling dan pendidikan. bahkan sejak jauh sebelumnya. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. dan saya akan berkarya terus Insyaallah. Anda mau merebutnya? Silahkan. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya. yang saya cintai dengan sepenuh hati. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. 2008 . 72 Prayitno. bukan karena saya pejabat. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. tetapi karena konseling dan pendidikan. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. karena dan demi konseling dan pendidikan. Mengatasi Krisis Identitas. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. Prayitno? Kalau ya. Saya menulis buku. saya dibayar karena konseling dan pendidikan. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. Itulah lahan garapan saya. rebut buku-buku saya dan para pembacanya. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. mengabdi dan berdedikasi. palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. benar sejak 1995. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. bukan Rektor.

Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim. Bin. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. anggota tim belasan orang. Apabila. Mengatasi Krisis Identitas. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. apalagi karya saya sendiri. dan pejabat lainnya puluhan orang. Diklat. P4TK Penjas/ BK. ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa.Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. saya adalah suruhan demi profesi saya. Anggota BSNP 15 orang. orang lain dijadikan kambing hitam”. 2008 73 . Dir. ditolak oleh Puskur. di sana sedang terjadi krisis identitas. G. konseling dan pendidikan. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. Saya berada di Puskur. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. Dan untuk semuanya. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No.22/2006. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. dan Pengurus Daerah. direktorat jenderal. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. Prayitno. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. direktorat. staf departemen.

meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno. yang dilaksanakan guru.Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya.-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih. Mengatasi Krisis Identitas. 13). 2008 . dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. • Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu. yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. Parung. 13).

Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan. yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. buku-buku panduan yang selama itu ada. menyempurnakan. 24/2006 diberlakukan. Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. sebisa mungkin. yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. menyederhanakan. 22/2006. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. Puskur melaksanakan tugas utamanya. Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri. yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. dengan arah. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. Prayitno. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. No. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. SK Mendikbud). melengkapi. 23/2006 dan No. 2008 75 . Panduan ini. Sejalan dengan hal itu.1. 29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. Mengatasi Krisis Identitas. segera setelah Permendiknas No.

Mengatasi Krisis Identitas. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No. dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. adalah baik untuk menjelaskan konsep. Prayitno. 2008 76 . 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan.istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. 30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian. 22 Tahun 2006. bukan sebaliknya. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. yang disusun oleh pemerintah --.Dalam pada itu. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30). ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya. tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum.

apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka. ”Panduan BK Jalur Formal”. Mengatasi Krisis Identitas. materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No. kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a. b. pertimbangannya adalah: a.Dalam hal ini kami mengusulkan. 22/2003. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan. Apabila panduan yang baru itu berbeda. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru. khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling. Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No. 2008 77 .

• Surat Bin. Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah.Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri. Sekiranya ABKIN akan menyusun. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. 22/2006. 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. Pengingat Permendiknas No. 343/F5. Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. dengan surat No. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas.

Mengatasi Krisis Identitas. Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. 2. 3. SMP/MTs. 22/2006 tentang Standar Isi. BSNP dan KTSP). mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru. Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No.1. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP. disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. 2. yaitu Prayitno. 2008 79 .

b. 22/2006 tentang Standar Isi31). Mengatasi Krisis Identitas. penilaian dan manajemen. yang didalami dan dilatihkan hanya BK. yang dilaksanakan guru” (hlm. dan guru pembimbing atau konselor. Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. belajar dan karir. dapat diberi arti sebagai berikut: a. Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). Tentu saja. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. terutama tentang jenis-jenis layanan. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. bukan hanya guru. penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang). dengan materi pengembangan pribadi.20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. 31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). kegiatan pendukung. c. hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling. sosial. manajemen dan penilaian dalam BK. 2008 . 13). Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan. mohon diperhatikan. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran.melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No. 80 Prayitno. Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No.

tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No. Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. Cedera minimal dalam dua hal: satu.20/2003). tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan.Dengan demikian. apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. Mengatasi Krisis Identitas. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. H. 2008 81 . dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. dua. sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”. penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi.

Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No. Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. Satu hal yang menarik ialah. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu. dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit. dalam Raker tersebut. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. 2008 . Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut.1. Mengatasi Krisis Identitas. saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP. yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker. Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006.

2008 83 . mungkin inilah (antara lain. Di samping itu. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain. Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. a. Semarang (hal 18)33). Prayitno. barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm.Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. Mengatasi Krisis Identitas. 2. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. 18).

Prayitno. 2008 84 . Dalam kajian yuridis. Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. • UU No.dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Menerima apa yang dibeberkan. Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) . karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku. bersikap kritis boleh. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap. tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN. Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP. Mengatasi Krisis Identitas. Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu. Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik. dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya.20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik. Tahu-tahu saya melapor. • SK Menpan.

Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. 2008 85 . 34) Tentang tandingan ini. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai. dan juga sebelumnya. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. Mengatasi Krisis Identitas. dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). Prayitno. adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik. namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. 4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada. Bagaimana disebut tandingan. pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007.

apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan. Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN. Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat. 2008 . b. yang sudah dibawa. karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. Mengatasi Krisis Identitas. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang. sebab panduan-panduan itu belum jadi. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. saya usulkan agar diganti. Lagi pula.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir. Surat tersebut.

diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. 19/2005. Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor.Nasional XV di Palembang. akhirnya tidak tentu rimbanya. Dalam hal itu agaknya. yaitu karena dasarnya adalah UU. 2008 87 . 1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. padahal bukannya hanya 7 (tujuh). Mengatasi Krisis Identitas. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35). Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. 20/2003. PP No. No. dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. 3. yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana. a.

Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno.(a) Tema: Naskah Akademik. 2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor. dengan judul: • 88 . dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan. Mengatasi Krisis Identitas.

2008 89 . yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor. sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu. Mengatasi Krisis Identitas. dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar. Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ). yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor.(e) Tema: Pendidik Konselor. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor. dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik.

(Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam. 2008 . 37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda. satu tema.disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. tidak konsisten dan tidak cermat. kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam). Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif. Mengatasi Krisis Identitas. Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. 1) Tema produk ada 9 (sembilan).

adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat. Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. 2008 91 . 0433/P/1993 dan No. 2/1989. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya. Mengatasi Krisis Identitas. serta SK Menpan No. 026/1989. telah diatur dan dikembangkan. 025/0/1995.2) Tentu lucu. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No. 84/1993. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No. 118/1996. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No.

menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut.keterandalannya. termasuk program PPK di dalamnya. 14 buku “Krisis Identitas”). b) Mencederai makna UU. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional. (e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno. Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut. 9 buku “Krisis Identitas”). 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru. Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No.

yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya. Mengatasi Krisis Identitas. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No.Puskur dan P4TK Penjas dan BK. Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No. 27/2008. Upaya tersebut akan didorong lagi. 2008 93 . Standar kualifikasi konselor. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No. 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen. Prayitno. 27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan.

(f) Secara spesifik. sehingga tidak layak edar. 2008 . karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor. yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP. (g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. Mengatasi Krisis Identitas. bukan ABKIN. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. 27/2008. 27/2008 itu. Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. 94 Prayitno. Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. dengan diberlakukannya Permendiknas No.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

2008 . pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). dikritik dan dikejar. harmonis. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan. a. bahkan dianggap tandingan. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya. Mengatasi Krisis Identitas. keilmuan dan sebagainya. Terbaca. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. terbuka. Pertemuan-pertemuan kerja tim. Kenyataannya berbeda. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. Sepertinya. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. transparan. 4.terjadi. untuk mencapai hasil yang terbaik. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. kolegial.

peringatan. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. Hal itu memang tidak diragukan lagi. dan dukungan dari birokrasi dicederai. sanctioning atau uji publik. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”. Sukamto. Mengatasi Krisis Identitas. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka. M. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar.Yang penting adalah. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil. Ir. apalagi uji coba. Tidak ada telaah yang intensif. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. 2008 99 . otoritas birokrasi juga).Sc) sangat Prayitno. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”. masukan dianggap tandingan. Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh. sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. kepercayaan. produk harus selesai. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal.diacuhkan. bagaimanapun juga caranya. Dr. tidak ada verivikasi. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. Dr.

20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. Dan lagi. 2008 100 .Dengan demikian. LPTK. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya.besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. Dalam pada itu. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu. kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih. dosen dan lain-lain. tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. kegiatan akademik. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling. 21) Prayitno. b. Mengatasi Krisis Identitas. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan. padahal undang-undang menyatakan (UU No. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. Lahan mulai digarap. dalam hal-hal yang dipersoalkan itu.

Mengatasi Krisis Identitas. merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. program PPK. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN.Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. kurikulum BK. layaknya “kejar tayang” saja. Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru. Dalam suasana seperti itu. Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. Kegiatan itu dikerjakan secara intensif. 2008 101 . sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno. . Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. dan siap untuk disosialisasikan. misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK. 40) Tidak seperti DSPK.

ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. P4TK Penjas/BK. Di sana ada peran Puskur. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan. dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. merespons. Prayitno. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. Nah. yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut.Akhirnya. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. 2008 102 . Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. Mengatasi Krisis Identitas. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. diabaikan sama sekali. serta Rakor di Bandung. Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK. (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. Bin Diklat/PMPTK. Rektor UNP kemudian. Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. 42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu.

Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada. Sampai sekarang sesedikit. tahun 1975). siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling. Tugas semua pihak. adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. 2008 103 . I. serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. komponen trilogi profesi. ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi.Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. 18).demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya. Mengatasi Krisis Identitas. Usaha-usaha yang bersifat tandingan. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI. dan kemartabatan profesi. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. Prayitno. hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya.

motivasi altruistik. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. melalui semedi atau bertapa sekian lama. kompetensi profesional yang dipelajari. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. 43) Dalam Full. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. Mengatasi Krisis Identitas. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik). 1967. komunikasi. dan organisasi profesi. untuk mempelajari materi keilmuan. metode dan teknik. Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh. Kompetensi profesional yang dipelajari. 2008 104 . c. a. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. yaitu: keintelektualan. Keintelektualan. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. objek praktik spesifik. misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. Melalui proses berpikir tersebut. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. b. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. H. misalnya melalui mimpi. Objek praktik spesifik. London: Collier-McMillan Limited Prayitno. pendekatan.1. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud.

termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi. Segenap aspek pelayanan profesional. Secara lebih umum misalnya. serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. e. kecuali satu hal. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. meliputi objek praktik spesifik profesinya. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. yang keduanya adalah pendidik. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. 2008 105 . Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. kompetensi dan dinamika operasionalnya. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. Komunikasi. Motivasi altruistik.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. d. apoteker menangani pembuatan obat. Mengatasi Krisis Identitas. aspek hukum dan sosialnya. keilmuan dan teknologinya. untuk guru dan konselor.

Bahkan. keintelektualan. Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. kompetensi dan praktik pelayanan. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi. jika diperlukan. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. dan sebaliknya. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi. 2008 . dan (3) menjaga kode etik profesi. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. melalui tridarma organisasi profesi. kode etik.keuntungan pribadi. Mengatasi Krisis Identitas. dan kebahagiaan sasaran layanan. dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. komunikasi. 106 Prayitno. kode etik. f. Organisasi profesi. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. kompetensi dan teknologi operasional. melainkan untuk kepentingan. juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. keberhasasilan. dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka. serta perlindungan atas para anggotanya. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya.

sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. keterampilan. Trilogi Profesi Konselor a. pengetahuan. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. dan (3) komponen praktik profesi. Mengatasi Krisis Identitas. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional. yaitu (1) komponen dasar keilmuan. (2) komponen substansi profesi. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna.2. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. profesional dalam bidang apa pun. 2008 107 . nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud.

Konselor. Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas.sasaran pelayanan.S1) yang mendasarinya44). dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . 27/2008. Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling. 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan. khususnya bidang konseling. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. yang adalah pendidik (UU No. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi. karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik. Prayitno. yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling. 44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No. • b. yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK. 2008 45) 108 . sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya.

Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES). Mengatasi Krisis Identitas. 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Dalam arti yang demikian pulalah. konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran. dan teknologi pelayanan. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST. pengelolaan dan evaluasi. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. 2008 109 . 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). Prayitno. misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. Dengan demikian. Dalam hal ini. pendekatan.

2008 . serta implementasinya dalam praktik konseling. 47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. instansi negeri/swasta. sosiologi. 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). organisasi pemuda/kemasyarakatan. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. praktek pribadi (privat). Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. Mengatasi Krisis Identitas. acuan praksis. mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. keluarga.Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. Pendekatan dan teknologi. Pada setting satuan pendidikan misalnya. dunia usaha/industri. standar prosedur operasional (SPO). pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling. 110 Prayitno. teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK).

pelaksanaan (actuating-A). dll. urusan administrasi. sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. bulanan. Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah. Mengatasi Krisis Identitas. mulai dari membuat program tahunan. orang tua). 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. alat bantu seperti komputer. Prayitno. yaitu perencanaan (planning-P). Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. 1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. dan pengontrolan (controlling-C). dan objek-objek yang dikunjungi).c. wali kelas. pengorganisasian (organizingO). semesteran. guru. dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48). • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan. 2008 111 . dana. film.

Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja). 2008 . 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat).• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan. 112 Prayitno. • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. Mengatasi Krisis Identitas. pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya. C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. serta organisasi profesi. Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49).

Mengatasi Krisis Identitas.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin. 2008 113 . POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu. wali kelas. guru. POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor.

Mengatasi Krisis Identitas. dan dibina melalui kegiatan pengawasan. • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. dievaluasi. apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja. Hasil pengawasan didokumentasikan. oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja). oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja). dan organisasi profesi). iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. komite sekolah. dianalisis. 2008 . Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan. ii) eksteren.(lembaga kerja) secara keseluruhan. • 3. • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau.

kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. upaya pelayanan konseling. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. Oleh karenanya. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas. tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik). untuk kepentingan semua individu. Mengatasi Krisis Identitas. Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. Sebagaimana diketahui. apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. 2008 115 . b.yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi.

Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. 2008 . 116 Prayitno. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. maupun posisi pekerjaannya. Mengatasi Krisis Identitas. Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut. kompetensi. c.yang dimaksudkan itu. Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik. baik dalam arti akademik. dalam hal ini konselor. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat.

saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. berkeyakinan. bersikap. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno. Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. merasa. 2008 117 . jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah.PENUTUP lhamdulillah. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu. dan juga sebagaimana saya berpikir. Mengatasi Krisis Identitas. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri. yaitu: A • • Ya Allah.

Mengatasi Krisis Identitas. 118 Prayitno. menghindari dosa. agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. 2008 . melalui profesi konseling bermartabat. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya. fitnah dan khianat. bekerja sama. berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. Marilah kita berusaha dan berbuat.Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful