Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

Kami sama sekali tidak membahas buku itu. ia memberikan sebuah buku. keyakinan. Terlebih-lebih. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. Tanpa komentar apa pun. Isinya. Asyik sekali. mungil dan menarik. Isi P . perasaan. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. sampai sekarang. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. sikap. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. hebat. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. mungkin teman itupun belum membacanya. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. saya dikunjungi seorang teman. dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun. melainkan merupakan pikiran. karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air.

Padang. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga. Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan. bertemu dalam kalbu. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu.buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. Oktober 2008 . Lebih jauh. Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. Mudah-mudahan siapapun juga. bertemu dalam ilmu. uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling. termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu.

................. Konteks Tugas Konselor.......................... Penyelenggaraan Program PPK........ 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia.......... 7..... Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing................... 4........................ 3............. 4................. 3........... PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1....................... PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1............. BUKU PANDUAN 1..... 5........ C...... Kegiatan Operasional Guru Pembimbing............Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A............ 3......... Pengawas Sekolah Bidang BK................. 2....................... KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1............. 2........ B............................ Jabatan Fungsional Guru Pembimbing................ D...................... Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru.... 2............... Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK.. SK Menpan No................................ SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK......... Persiapan dan Pembentukan.......................................................... Kriteria Guru Pembimbing. Buku DSPK............... Konselor dan Konteks Tugasnya ............................. 6..................... 2.............................................................. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor............... 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 ........................... Pendidik sebagai Agen Pembelajaran......

................ Ciri-ciri Profesi............. Produk Hasil Penataan....... Suasana Kerja.......... 2................................................................ F.................................................. 3.. 2.................................. 104 2.... I............................. 107 3............................. Beasiswa PPK (BPPK)....... 117 ............... Pelibatan Otoritas Birokrasi...... KURIKULUM 1.............................................. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya........................ Profesi yang Bermartabat. E........ Lagi: Muatan KTSP.............. 4.... RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1.................. H........................... Rakernas ABKIN........ 3....................................................................................................... Kurikulum 1975................................................................................................... Peran P4TK-Penjas dan BK........................................ PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1........... Trilogi Profesi Pendidik...................3.............. ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1.................... 2....................... Peran Puskur .. 2..................... Materi Dasar............................................ PERMENDIKNAS No......... G........ 22 Tahun 2006 1......... Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP................................................ 114 Penutup .

namun justru mengaburkannya. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya. Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi. Mengatasi Krisis Identitas. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sebagai agen pembelajaran. meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No. sejak tahun 1993. Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru. Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. 2008 B 1 . tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. 2.

mereka mencari dan memakai yang lain. dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. Mengatasi Krisis Identitas. 118/1996. yang tidak membelajarkan. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. SK Mendikbud No. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. yang ternyata absurd dan tidak aplikabel. sedangkan untuk konselor harus yang lain. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). 2008 . 3. sosial. melaksanakan program BK.24/1993. Lagilagi. 4. padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi. yaitu menyusun program BK. Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. dan Guru Pembimbing.jaran adalah istilah hanya untuk guru. yaitu Guru Kelas. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru. Guru Mata Pelajaran. mereka tidak memahami bahwa: a. Dalam kaitan itu. yaitu pengembangan kemampuan pribadi. Guru Praktik. 2 Prayitno. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. Lalu. 025/U/1995.

5. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. Lebih jauh. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a. Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d. c. Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu. Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. 2008 3 . Mengatasi Krisis Identitas. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor.

Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK. Mengatasi Krisis Identitas. d.6. Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004. 2008 . Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. b. DSPK telah disusun. 7. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. padahal: a.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. c. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional. namun oposisinya terlihat pada: a. yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK. b. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN.

dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah. c. Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. c. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. baik sebagai dosen program BK S1. 2008 5 . sampai sekecil-kecilnya. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. d.no. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. Dalam kaitan itu. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK. keahlian praktik profesi. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan. mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. kalau ada. Mengatasi Krisis Identitas. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada. apabila mereka ingin membuka program PPK. Prayitno. Selain itu: a.

Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a. Sukamto. Dr. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup. PP dan Permendiknas. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru.Sc. 2008 6 . Mengatasi Krisis Identitas. b. • Saya cuma ingin ide Prof. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran. yaitu: • Daripada ber-S2-ria. apalagi konselor.tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya. Prayitno.konselor. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. c. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia. dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof. Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No. Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan.22/ 2006 tentang Standar Isi). mengaburkan. M. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--. Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit. 8. d.

KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja.Kenyataannya di lapangan. BSNP. c. Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”. Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi. Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. 9. Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja. 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman. kerdil dan kontraproduktif. 2008 7 . yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). Mengatasi Krisis Identitas. Permendiknas). b. Lebih jauh. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu. dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. Diadakannya kedua komponen selain Prayitno.

penataan ke arah pro- 8 Prayitno. Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No. setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. keinginan mereka itu ditolak. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. yang katanya. Dalam hal itu. Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. anggapan mereka. secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”. b. 2008 . yang dibina sejak 1993. 10. Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK).mata pelajaran dalam KTSP itu. ABKIN memulai upaya. 11. panduan dari Puskur. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. Mengatasi Krisis Identitas. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan. Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. 22/2006). a. namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan. Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur.

Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. terutama berkenaan dengan DSPK. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu. 2008 9 . Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker. Karena dimohon untuk dua acara. PPK. Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. harmonis. hal itu baik-baik saja. semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. Dalam pengarahannya di Rakernas itu.fesionalisme profesi BK. b. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”. ada pernyataan beliau yang menggigit. BK dalam KTSP. Oke. kompak. c. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”. dan panduan pelayanan BK di sekolah. Mengatasi Krisis Identitas. Gambaran singkatnya sebagai berikut: a.

sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya. 2008 . 3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. transparansi. kolegalitas.1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku. program sertifikasi guru dan dosen. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. panduan pelayanan BK di sekolah. prosedur penyetalaan. sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini. Standar Kompetensi. Mengatasi Krisis Identitas. seperti DSPK. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari. antara lain: • SK Menpan.

tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri. Prayitno. Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. 27/2008 tentang SKAKK itu. bukan hak ABKIN. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik. apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP. 2008 11 . Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan.beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan. 6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. maka produk yang berupa tujuh buku itu. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan. semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek.

Mengatasi Krisis Identitas. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya. 2008 . Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu. ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. yang juga menjadi wilayah tugas beliau. Akhirnya. padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. sesungguhnyalah. Lebih dari itu. tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya. sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. 12.

pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor. jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama.terus melalui pengkajian. JIKA HATI sejernih air bening. arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada. jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan. 2008 13 . Mengatasi Krisis Identitas. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini.

pamong belajar. 2008 .URAIAN MENYELURUH A. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. tetapi justru mengaburkannya. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran. instruktur. fasilitator. widyaiswara. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. tutor. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. Pertama. pendidik. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. 1. konselor. dosen. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan.

Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. dan lain-lain layanan. melakukan pembimbingan. Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Kedua. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui. No. Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). menilai hasil pembelajaran. 19). seperti juga guru. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. Nah. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. konseling perorangan. setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. termasuk konselor dan pendidik lainnya. 20/2003 Pasal 1 Butir 6). ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. 2008 15 . tidak hanya guru. Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. dan pendidik lainnya. Prayitno. informasi. dosen. atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas.No. 1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. Kalau konselor itu pendidik.

IPA.2. seperti mata pelajaran Matematika. dsb. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru. Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. widyaiswara apa. sikap dan kebiasaan belajar. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. dan sebagainya. di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. konselor apa. Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. informasi dan pilihan karir. 2008 16 . 3. konteks tugasnya apa. 2) Di perguruan tinggi. dsb 2) . Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. IPS. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. Guru. dosen apa. semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. Modus pembelajarannya pun berbeda-beda. (Nah. Mengatasi Krisis Identitas.

yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti. Mengatasi Krisis Identitas. mohon maaf. 13).. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih. Nah. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”.. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik. berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang.” agar orang-orang mau membeli minyaknya. 2008 17 . Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. yang berbeda dari guru. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera.. Prayitno. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya.. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. 4.Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak. sehat jasmani dan rohani.

Prayitno. tentu hebat betul. Kok repot-repot amat. klien atau konseli atau apapun namanya. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD. untuk klien dewasa sekalipun. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. Atau ada cara lain? Kok repot amat. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. atau dirangsang. Itu yang pertama. apalagi SD mampu memilih. belajar. Dengan demikian. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. SLTP. meraih serta mempertahankan karir. 2008 18 .Ya. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. dan itu namanya pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. meraih serta mempertahankan karir. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. klien atau konseli. Ya belajar dong. belajar dan karir. dan SLTA. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. luar biasa. bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. Lebih jelas. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah. yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. sosial. sosial. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar. siswa. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. dan karir 3). dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. atau peserta didik. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran. supaya bisa memilih. mencakup.

2008 19 . B. Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. karena lagilagi. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 26/1989 ke SK Menpan No. katanya. 84/1993. IPA. dari SK Menpan No. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. SK Menpan No. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. Prayitno.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. 1. caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. dll. merancukan tugas konselor dan guru. Bahasa. sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran.

oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”. Menyadari kerancuan terebut di atas. mohon maaf. melaksanakan program bimbingan. analisis hasil evaluasi hasil belajar. bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). Nah. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. menyajikan program pengajaran. adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui. Mengatasi Krisis Identitas. itu benar. karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari. pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. 026/1989. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi. evaluasi belajar. ATAU: Menyusun program bimbingan. Menyusun program pengajaran. kegiatan pelayanan BP dilecehkan. 2008 b. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. evaluasi pelaksanaan bimbingan. Secara singkat. akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK). Di samping itu. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. ke sini ya. SK Menpan No.SK Menpan no. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Tidak boleh lagi ke sana ya. 20 .

25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2. Terkait dengan hal itu. 2008 21 . 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. yaitu: 4) Dewasa ini. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”. Mengatasi Krisis Identitas. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No. 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru. Peraturan yang ada adalah PP No. Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”. Perhatikanlah kata ATAU. SK Mendikbud No.jawabnya. Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah.

dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). bimbingan sosial. guru praktik. kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. Nah. dalam bidang bimbingan pribadi. tanggung jawab. SD. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. tanggung jawab. adalah guru yang mempunyai tugas. Rancu. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. 22 Prayitno. guru mata pelajaran. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d. berdasarkan norma-norma yang berlaku. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. Mengatasi Krisis Identitas. adalah guru yang mempunyai tugas. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. Kalau mau konsekuen. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. Guru Pembimbing. Guru mata pelajaran. adalah guru yang mempunyai tugas. ini baru merancukan dengan sengaja. Guru praktik. baik secara perorangan maupun kelompok. SDLB. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. 25/0/ 1995 itu. Dengan demikian. tanggung jawab. 2008 . kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. memperhatikan kutipan tersebut di atas. tanggung jawab. Sejalan maknanya dengan guru IPA. Lebih jauh.a. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. bimbingan belajar dan bimbingan karir. adalah guru yang mempunyai tugas. bukan?. Guru kelas. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. dan SLB Tingkat Dasar. 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik.

Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. dan • • • Prayitno. konseling perorangan. bimbingan belajar. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. 3. penempatan dan penyaluran. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. bimbingan sosial dan bimbingan sosial. dan bimbingan karir. 0433/P/1993 dan No. pencegahan. informasi. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing. bimbingan kelompok. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. pengentasan. Mengatasi Krisis Identitas. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. konseling kelompok. bimbingan sosial. tanggung jawab. 2008 23 .Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.

3 di atas. 2008 . 4. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling. b. Lagi. yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling. dapat dikutip pula: a. Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan.bimbingan pembelajaran. bukan tugas mengajar. Dari sumber yang sama dengan no. 24 Prayitno. serta kegiatan pendukungnya. guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi.

Dikhawatirkan. yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a.. dan sebagainya yang yang Guru pada b. Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang.“.. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno. 6). Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing. 5. Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”. Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm. meskipun mungkin terjadi di lapangan. Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan.. 2008 25 . sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku. Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri.. Mengatasi Krisis Identitas.

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Prayitno. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. dasar dan menengah 2. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan. Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. tanggung jawab. (4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir.Pasal 1 : 1. Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. 2008 29 . Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Syarat umum. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. Syarat khusus. dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah. Mengatasi Krisis Identitas. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d.

30 Prayitno. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas.20/2003 Pasal 39 ayat 2. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu. tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. 18). ibarat kereta api. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No. tidak berjalan di atas rel. Kedua.. Mengatasi Krisis Identitas.. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah. tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. dengan mengatakan: “.(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa. yang sampai sekarang masih berlaku. 2008 . semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. penulis “Krisis Identitas”. 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik.. Dalam kaitan itu.. Pertama. sampai dengan kepengawasannya. karena belum ada aturan penggantinya. seperti telah disebutkan di depan. Dengan demikian.

Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm. 21). atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. Prayitno. 2008 31 . sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi. Mari kita lihat bersama. Mana yang lebih tidak realistik. dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK. terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). pikiran utopis dan tidak realistik.C. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. Mengatasi Krisis Identitas. SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan. menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. 1. SMP. Buku-buku panduan.

dipadu dengan materi keilmuan BK. memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan. (hal 6-7). Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. Prayitno. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah. baik negeri maupun swasta. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Mendikbud. ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan. SMP. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor. Mengatasi Krisis Identitas. dinyatakan bahwa layanan BK di SD. Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10). oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. 11919/C. 2008 11) 32 . Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut. dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a. Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor.

Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”. 2008 33 . (IKIP Jakarta. dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. pendidikan beres. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu. (IKIP Semarang. Prayitno. Drs Karno To. semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof.. baru kerja bisa dimulai. kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres.konselor dinyatakan berlaku.. agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar. (IKIP Bandung. Mengatasi Krisis Identitas. Dr. Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. Pd. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena. sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti. sekarang UPI). MA. karena semuanya belum beres. Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. sekarang UNJ). dll. b. R. M. mohon maaf. ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi. guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor. Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang.Pd. Jadi menurut penulis itu. Mungin Eddy Wibowo.. Dr.Surya (IKIP Bandung. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”. M. M. sekarang UNNES. Drs Thantawy. Drs. dan . Afif Zamzami. sekarang UPI).

Dra. Moenir. 2008 . Dra. dan C. Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK. Mengatasi Krisis Identitas. (hlm. (IKIP Jakarta. sekarang UNP). Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS.Pd. tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”. Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru.M. meskipun secara substantif. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang. Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan. Elida Prayitno (IKIP Padang. 2. yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional. sekarang UNJ). 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). S. dengan Prayitno sebagai Ketua Tim.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya.H.Si. Balitbang Dikbud). khususnya untuk konteks SD dan SLB. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. isinya tidak sesuai dengan kenyataan. 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno. Dharma Setiawaty R. (Puskur. sekarang UNP). Akan tetapi. Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No.

Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001. atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. Dr. sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu. apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. b. Ir. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional.atas. 84/1993 dan No. Mana yang benar?. Mengatasi Krisis Identitas. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. 3. 2008 35 . 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. c.

Pd. Prof. Dr. Dr. Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. Dr. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif. (dari UPI) dan Drs. Menurut pertimbangan Dikti. Sukamto. M. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat. (dari UPI). Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti. Kons (dari UNY). Mengatasi Krisis Identitas.Pd. MSc. M.Pd.. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. Sunaryo Kartadinata. agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya. Dengan suka cita saya terima berita itu. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut. Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof. (dari UNP). M. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi. pada waktu itu Bapak Prof. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah.Sc. Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya. Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat. M. Dr. 13) 36 Prayitno. Mungin Eddy Wibowo. Ahman.dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT. Prof. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka. Sunaryo Kartadinata.Ed.Pd.U. yaitu Prof. Prayitno. Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut. Dr. Kons (dari UNNES).) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia. terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya. Dr. Selanjutnya. M. 2008 . yaitu Ketua Umum yang baru. Syamsuddin S. 12) Pada awal April 2001 waktu itu.

4. dan menafikan peran otoritas birokrasi. Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. 1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN. 2) Hasil kegiatan no.a. Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. beserta pakar konseling untuk membahas. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. Prayitno. Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai. 2008 37 . Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. Mengatasi Krisis Identitas. konseling.

Mengatasi Krisis Identitas. DSPK disosialisasikan. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. 2008 . PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit.6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK). Divisi ABKIN. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. 2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu. Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno. PPTK dan KPT. anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT. personalia PB dan PD ABKIN. Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final. dan Pakar BK. Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta.unsur ABKIN dan personalia Dit. b.

Mengatasi Krisis Identitas. DKI. penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno.• • • • • Padang. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). b. PD ABKIN. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. 2008 39 . Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK. untuk wilayah Kalimantan Makasar. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. Dinas Pendidikan Propinsi. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. untuk wilayah Jawa Timur. untuk wilayah Sumatera Samarinda. untuk wilayah Banten. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali. dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. 2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. Bali. Kepala Sekolah. Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia. Jawa Barat. Berkenaan dengan DSPK. Pengawas BK.

justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif. bahkan semestinya disyukuri. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. tenaga dan biaya. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. Kedua. kita mau apa? Protes memang boleh. tetapi kita rugi waktu. lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi. sehebat-hebatnya apa yang kita punya. Atau. Mengatasi Krisis Identitas. serta belum tentu Prayitno. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. 2008 40 . apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan. menggunakan jalur hukum silahkan. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan.diusulkan untuk ditunda (hlm. Yang jelas. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik. • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki. Apa salahnya? Pertama.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi.

Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. sesudah DSPK selesai disusun. serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. dikumpulkan oleh Ketua Umum. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. termasuk sedang digarapnya DSPK. Memang. disanction dan difinalisasi. Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. Mengatasi Krisis Identitas. Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK.memang. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. Oleh karena itu. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. Adanya risalah aspal. Demikian tentang “usulan penundaan”. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada.mana yang benar?). kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada. Acara pertemuan itu. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK. 2008 41 .

Juni 2008. tetapi ternyata aspal. tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu. 2008 . finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan. Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya. Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN. sanctioning. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan. sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. Dan kalau memang betul-betul ada. Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. Mengatasi Krisis Identitas. berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK.

bukan produk ABKIN. kalau setuju alhamdulillah. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar. 2008 43 . diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan. kode etik dan organisasi profesi. kredensialisasi. kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada. Adapun ABKIN setujui atau tidak. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. bukan ABKIN. c. tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku. Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti. ABKIN boleh saja tidak setuju. dengan surat Direktur P2TK-KPT No. Mengatasi Krisis Identitas. pendidikan tenaga profesi. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno.

DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. khususnya penulis “Krisis Identitas”. tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. yang 44 Prayitno. Menarik untuk disimak. Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula. di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. disingkat ABKIN). Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. dan organisasi profesi. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain. khususnya LPTK. Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. LPTK. Mengatasi Krisis Identitas. yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. 2008 .

Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi. Mengatasi Krisis Identitas. Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. Prayitno. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu. membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana. Kesimpulannya. LPTK dan Direktorat.tidak memakai nama ABKIN. D. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK. tetapi bisa dan perlu berkolaborasi. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. melainkan juga pakar BK. 2008 45 . lalu menolak dan membuat tandingannya. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri. kelihatannya setuju. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN. atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK. Didukung oke. terimakasih. Sejak awalnya.

b. 46 Prayitno. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). a. sebagian besar FKIP Negeri. ada upaya memutus rantai sejarah. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu. dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Mengatasi Krisis Identitas. serta sejumlah IKIP. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. FKIP dan STKIP Swasta. 2008 .1.

2008 47 . Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No. 118/K. a. Mengatasi Krisis Identitas. dalam hal ini PPK. c. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya. Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi. Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno. sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi. 2.khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor.12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999.

b. 2002). keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No. dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15). profesi. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik.. instrumentasi. 056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas. organisasi. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. yaitu SK Mendikbud No. dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. 2008 48 . Mengatasi Krisis Identitas. PP No. instansi. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester. melalui Surat No.. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik. dan/atau vokasi”. keluarga.akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno. Sejalan dengan hal itu. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. dan pelayanan konseling.. Kemudian. Berikutnya.. dunia usaha dan industri. yaitu berpraktik privat profesi konseling.

perguruan tinggi) maupun luar sekolah. c. Selain di UNP. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). S2. yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1. Di samping itu. 16) Karena lulusan program PPK belum ada. e. Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. d. Prayitno. yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah. menengah. 2008 49 . disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK). Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. serta mengucapkan Janji Konselor. kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti. Mengatasi Krisis Identitas. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks. Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas. Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang). Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). serta peserta dari Jakarta. serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK.yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor.

3. Mengatasi Krisis Identitas. Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria. a. Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria. dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya. Terkait dengan hal ini. Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). 2008 . lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. Beasiswa PPK (BPPK). tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. Oleh karena itu. Untuk ini. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan. dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1).

Abdulyatama (Banda Aceh). Univ. Univ. Mengatasi Krisis Identitas. Widya Mandira (Kupang). dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh). Univ. Univ. UNP (Padang). UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). Alwasliyah (Medan). PGRI (Jakarta). Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. UNDANA (Kupang). UNIMED (Medan). Univ. HAMKA (Jakarta). Atmajaya (Jakarta). Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. STAIN Curup (Curup). Pendidikan Ganesha (Singaraja). UNNES (Semarang). Assafi’iyah (Jakarta). UNESA (Surabaya). Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). UNY (Yogyakarta). Univ. UNILA (Lampung). setelah mengikuti PPK Prayitno. 2008 51 . STAIN Batusangkar (Batusangkar). Bengkulu). b. UNIB (Univ. UNJA (Jambi). STKIP Selong (NTB). Univ. serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. Univ. UNG (Gorontalo). peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air.Studi Bimbingan dan Konseling. Hazairin (Bengkulu). UNS (Makasar). Kanjuruhan (Malang). UNJ (Jakarta). Univ. IAIN Imam Bonjol (Padang). UNRI (Pekanbaru). Univ. PGRI (Surabaya). UNSRI (Palembang). Univ. PGRI (Jember). Univ. dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. PGRI Palembang (Palembang). Univ. Univ. Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). UNIMA (Manado). Univ. Univ. Muhammadiyah Magelang (Magelang). Sampai dengan tahun 2008 ini.

Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut. kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK. 4. 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. termasuk di luar kampus”. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No. Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. adalah sebagai berikut: a. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas.beberapa bulan saja.

18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran. selain ijazah (S2). Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 53 . b.Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No.1. untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK. baru S2 saja20). Untuk bidang BK. Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp. Dalam kaitan itu. seperti UNNES (Semarang). 19/2005 di atas. juga ijazah PPK. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. sesuai dengan keahlian yang diajarkan. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. 19) 20) Prayitno. lulusan universitas manapun19). Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp. untuk menjadi dosen PPK diperlukan. Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan.1) seperti di Fakultas Kedokteran itu. Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK. tentulah program PPK)18). seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana.1) Kedokteran.

Dr. Mengatasi Krisis Identitas. 21) Pesan ini saya terima lewat sms. termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan. Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor). mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK. bagaimana? Ya. Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK. sampai-sampai Bapak Prof. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu. Sukamto. M. c. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). Dr. kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. Prayitno. banyak yang bergelar Magister (S2).Sc. M. Sukamto. Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. 2008 54 . Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof. Sesungguhnyalah. ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK.Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya.

Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. Undang-undang No. kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru. Oleh karena itu. Meskipun tidak dikemukakan. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik. 1. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. Mengatasi Krisis Identitas. KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”.E. Demikian juga tentang tujuan. Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. 2008 55 . Apabila pendidiknya adalah guru. isi. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno.

Dalam kaitan ini. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya. 56 Prayitno. Apabila pendidiknya adalah konselor. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit. 2008 . bukan hanya guru. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. Mengatasi Krisis Identitas. Matematika dan sebagainya. Ini artinya. tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud. sikap dan kebiasaan belajar. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik. seperti bahan pelajaran IPS. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. Hal terakhir itulah.studi yang diampu oleh guru. dan sebagainya. bahan tentang penyesuaian diri. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. Bahasa Indonesia.

sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22). D. Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd. dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup. Ilinois: Scott. Foresman and Company. Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja. Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. Terkait dengan variasi pengertian tersebut. (1982). melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun.L. 22) Brubaker. 2008 57 . Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. tidak hanya guru. Prayitno. Glenview. pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. 1984 sebagai berikut.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas. Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. 2. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi.

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK. 24/2006. Padahal yang semestinya terjadi adalah. Kepala Sekolah. 2008 61 . karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. 22/2006 dan No. karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. pertama. dan siapa pun juga. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. guru-guru. bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. Prayitno. siswa orang tua. Mengatasi Krisis Identitas. pimpinan Dinas Pendidikan. “Yang penting adalah kurikulum. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). Bagaimana kalau Kepala Sekolah. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum. karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan. digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum. Kedua. tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). dan siapa pun juga. kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. ketika Kepala Sekolah.

Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali. dan minat peserta didik. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). b. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas. sesuai dengan kondisi sekolah. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No. Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP. yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. 2008 . maka akan timbul berbagai masalah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru). belajar. Mengaburkan pengertian pengembangan diri. Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi.22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. bakat. bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno. Namun. Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No.

dunia dan akhirat. dll. 2008 63 . Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?. Prayitno.Tidak jelas. mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. ya menjadi susah. 22/ 2006. akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No. Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. apa bentuknya. 22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. di dalam mata pelajaran. dan lain sebagainya. bagaimana caranya. Mengatasi Krisis Identitas. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut. yang ada di manamana. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami. di mana adanya. di mana adanya pengembangan diri itu. Perlu disimak. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2).tetapi bahkan penyimpangan. garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya. memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut. mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat. Kalau itu yang dimaksud. di dalam BK. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”.

dan (2) kegiatan ekstra kurikuler. 64 Prayitno. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25). yaitu (1) pelayanan konseling. Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut.Gambar 3. yaitu: (a) komponen mata pelajaran. dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen. 2008 . (b) komponen muatan lokal. Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor.

26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3. Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No. 22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. mengakibatkan kerancuan. No. Standar Kompetensi Lulusan. jabaran dari PP. Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. F.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. 2008 65 .22/2006. 1. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. PERMENDIKNAS No. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. 22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). pengkerdilan dan kontra produktif. Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas. No. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. 23/2006 dan No.

sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. tidak boleh materi di luar mata pelajaran. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a. 2008 . Hasil kerja keras ini.” (hlm. Mengatasi Krisis Identitas. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. Namun sayangnya. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. Memang ada sedikit kemajuan. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya. penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya. yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. setelah menjadi permendiknas.Materi dasar Permendiknas No. sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No.

Prayitno. 2008 67 . hal-hal yang harus ada memang harus masuk. b. Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. 22/2006 itu. tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No. tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. tidak harus materi mata pelajaran. isi kurikulum hanya mata pelajaran saja. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja.hanya berisi mata pelajaran. Demikian.

dan sebagainya. 2008 .143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. c.yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2. Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya. Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor. Mengatasi Krisis Identitas. yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No. 22/2005. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru. KTSP pun hanya untuk guru. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas. apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi.

dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri. Sekarang menjadi pertanyaan. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu.2021). Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas. 2008 69 .21) • Prayitno. memperlihatkan ketidaktahuan. 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. (iii) materi pengembangan diri. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya. 2. Lagi: Muatan KTSP a. dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu.publik draf Standar Isi yang dimaksud. Mengatasi Krisis Identitas. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm. ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik.

Mengatasi Krisis Identitas. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain. perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. Guru punya tugas.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri. pasti tahu arah. dan lagi. dan tahu juga wilayah kerja guru. dalam hal ini guru. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. Apa alasannya. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. 2008 . dan konselor punnya tugas dalam konseling. dan pola pikir yang bagaimana. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. 3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi. Kalau profesional dia. Sekali lagi. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional.

Mengatasi Krisis Identitas. Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan. melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27). alat dan teladan dalam kegiatan belajar. sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi. khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum. Dan ada satu lagi. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. 2008 71 . menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno. guru atau pendidik siapapun. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. 22/2006. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan.22). 27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan.materi mata pelajaran yang ada. Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah. Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Apa lagi? Dengan prinsip itu. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada.1 dan hlm. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik.

lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja. dan saya akan berkarya terus Insyaallah. karena dan demi konseling dan pendidikan. bahkan sejak jauh sebelumnya. seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Prayitno? Kalau ya. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. tetapi karena konseling dan pendidikan. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. rebut buku-buku saya dan para pembacanya. 72 Prayitno. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia. bukan Rektor. palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. karena dan untuk konseling dan pendidikan. Saya ini bukan apa-apa lho. Saya menulis buku. benar sejak 1995. Itulah lahan garapan saya. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. 2008 . saya dibayar karena konseling dan pendidikan. bukan karena saya pejabat. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. Mengatasi Krisis Identitas. karena konseling dan pendidikan. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. yang saya cintai dengan sepenuh hati. Tetapi terus terang.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. mengabdi dan berdedikasi. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya. Anda mau merebutnya? Silahkan.

P4TK Penjas/ BK. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. staf departemen. direktorat. dan Pengurus Daerah.Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No. Apabila. Dir. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi.22/2006. orang lain dijadikan kambing hitam”. Saya berada di Puskur. saya adalah suruhan demi profesi saya. Prayitno. konseling dan pendidikan. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. apalagi karya saya sendiri. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. Dan untuk semuanya. direktorat jenderal. 2008 73 . Bin. ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa. Anggota BSNP 15 orang. di sana sedang terjadi krisis identitas. anggota tim belasan orang. Diklat. dan pejabat lainnya puluhan orang. Mengatasi Krisis Identitas. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. ditolak oleh Puskur. G. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim.

meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. 13). yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. Parung. Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. 2008 .Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya. serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. 13). dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih.-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. • Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu. yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. yang dilaksanakan guru.

SK Mendikbud). Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri. Sejalan dengan hal itu. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. 29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. No.1. yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. Mengatasi Krisis Identitas. Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. 22/2006. Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan. dengan arah. 2008 75 . menyempurnakan. yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. segera setelah Permendiknas No. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. Puskur melaksanakan tugas utamanya. melengkapi. buku-buku panduan yang selama itu ada. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. Prayitno. yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. menyederhanakan. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. 23/2006 dan No. 24/2006 diberlakukan. Panduan ini. sebisa mungkin.

Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. bukan sebaliknya. 22 Tahun 2006. 30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. 2008 76 . Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. Mengatasi Krisis Identitas. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No.istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. adalah baik untuk menjelaskan konsep. ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya. • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus. Prayitno. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya. yang disusun oleh pemerintah --. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30). Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No.Dalam pada itu. tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum.

kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno. Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. 22/2003. b. pertimbangannya adalah: a. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a. sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru. Apabila panduan yang baru itu berbeda. Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka. ”Panduan BK Jalur Formal”. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut.Dalam hal ini kami mengusulkan. 2008 77 . Mengatasi Krisis Identitas. khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan.

Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut. • Surat Bin. Mengatasi Krisis Identitas. Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. dengan surat No. 2008 . Sekiranya ABKIN akan menyusun.Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. 343/F5. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas. 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud.3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Pengingat Permendiknas No. agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri. 22/2006. Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah.

Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. SMP/MTs. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI.1. 2008 79 . PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. 3. mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru. 22/2006 tentang Standar Isi. yaitu Prayitno. 2. Mengatasi Krisis Identitas. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP. 2. BSNP dan KTSP). disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah.

Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling. kegiatan pendukung. bukan hanya guru. hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). dengan materi pengembangan pribadi. dan guru pembimbing atau konselor. Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No. penilaian dan manajemen. 2008 .melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No. yang didalami dan dilatihkan hanya BK. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran. b. belajar dan karir. Mengatasi Krisis Identitas. c. terutama tentang jenis-jenis layanan. 31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). 22/2006 tentang Standar Isi31). dapat diberi arti sebagai berikut: a. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang). Tentu saja.20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. sosial. 13). Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. manajemen dan penilaian dalam BK. Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). 80 Prayitno. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. yang dilaksanakan guru” (hlm. mohon diperhatikan. Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan.

Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. Mengatasi Krisis Identitas. H.20/2003). dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. 2008 81 . dua. sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”. tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan. penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi.Dengan demikian. Cedera minimal dalam dua hal: satu.

saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP. Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006. Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN. 2008 . yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf. Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No. Mengatasi Krisis Identitas. dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit.1. dalam Raker tersebut. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”. Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. Satu hal yang menarik ialah.

a. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. 2.Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. mungkin inilah (antara lain. 2008 83 . Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. Prayitno. barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm. Di samping itu. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. 18). Mengatasi Krisis Identitas. Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain. Semarang (hal 18)33). gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK.

dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Menerima apa yang dibeberkan. Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu. dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap. 2008 84 . • UU No. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya.20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik. Mengatasi Krisis Identitas. Dalam kajian yuridis.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) .1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN. karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku. • SK Menpan. bersikap kritis boleh. Tahu-tahu saya melapor. Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja. Prayitno. Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP.

Prayitno. namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. dan juga sebelumnya. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling. Bagaimana disebut tandingan. Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada. Mengatasi Krisis Identitas.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik. 4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. 2008 85 . Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. 34) Tentang tandingan ini. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007. adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah.

sebab panduan-panduan itu belum jadi. 2008 . Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat. b. Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. Surat tersebut. saya usulkan agar diganti. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas. Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir. apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada. Lagi pula. karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang. disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. yang sudah dibawa. Mengatasi Krisis Identitas. Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN.

dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain. a. Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. 1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. akhirnya tidak tentu rimbanya. Dalam hal itu agaknya. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35).Nasional XV di Palembang. 20/2003. 2008 87 . Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas. No. diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. PP No. padahal bukannya hanya 7 (tujuh). Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. yaitu karena dasarnya adalah UU. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. 3. 19/2005. yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana. Mengatasi Krisis Identitas.

Mengatasi Krisis Identitas. Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno. dengan judul: • 88 . dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan. 2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor.(a) Tema: Naskah Akademik.

2008 89 . yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor. dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas.(e) Tema: Pendidik Konselor. sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor. dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada. Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ). yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar.

2008 .disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. tidak konsisten dan tidak cermat. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam. (Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b. 37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. satu tema. 1) Tema produk ada 9 (sembilan). kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam). judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda. Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. Mengatasi Krisis Identitas. Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif.

telah diatur dan dikembangkan. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran. serta SK Menpan No. 2/1989. 025/0/1995. Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang. 0433/P/1993 dan No.2) Tentu lucu. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. 84/1993. 118/1996. adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 91 . 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No. 026/1989. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya.

padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional.keterandalannya. termasuk program PPK di dalamnya. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No. Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut. sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru. 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm. (e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno. Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. 9 buku “Krisis Identitas”). b) Mencederai makna UU. dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . 14 buku “Krisis Identitas”).

27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya. Standar kualifikasi konselor. Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No.Puskur dan P4TK Penjas dan BK. 2008 93 . 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen. Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. 27/2008. Upaya tersebut akan didorong lagi. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No.

yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor. Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. sehingga tidak layak edar. 27/2008 itu. 27/2008. dengan diberlakukannya Permendiknas No. karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. 2008 . (g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. bukan ABKIN. Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP. 94 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas.(f) Secara spesifik.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

bahkan dianggap tandingan. kolegial. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. dikritik dan dikejar. Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. 4. 2008 . terbuka. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. harmonis. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. a. bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja. keilmuan dan sebagainya. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya. transparan.terjadi. pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. Terbaca. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan. Pertemuan-pertemuan kerja tim. Kenyataannya berbeda. Mengatasi Krisis Identitas. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. untuk mencapai hasil yang terbaik. Sepertinya.

peringatan. Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”. Mengatasi Krisis Identitas. Dr.Yang penting adalah. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. masukan dianggap tandingan. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. otoritas birokrasi juga). kepercayaan. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. apalagi uji coba. sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. 2008 99 . M. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan.diacuhkan. Sukamto. tidak ada verivikasi. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. Dr. produk harus selesai. Hal itu memang tidak diragukan lagi. Tidak ada telaah yang intensif. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil. bagaimanapun juga caranya. Ir. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”.Sc) sangat Prayitno. sanctioning atau uji publik. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka. dan dukungan dari birokrasi dicederai.

21) Prayitno. b. 2008 100 . dalam hal-hal yang dipersoalkan itu. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu.Dengan demikian. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. LPTK. produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih. pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). Lahan mulai digarap. kegiatan akademik. dosen dan lain-lain.besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. Mengatasi Krisis Identitas. tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. 20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. Dan lagi. memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan. kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. Dalam pada itu. padahal undang-undang menyatakan (UU No. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling.

Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. . dan siap untuk disosialisasikan. Dalam suasana seperti itu. produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. Kegiatan itu dikerjakan secara intensif. Mengatasi Krisis Identitas. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. program PPK. merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru. 40) Tidak seperti DSPK. Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN. layaknya “kejar tayang” saja. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. kurikulum BK. sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno. 2008 101 . Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK.

Nah. 42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. Rektor UNP kemudian. Mengatasi Krisis Identitas. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan. dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya. Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. serta Rakor di Bandung. Bin Diklat/PMPTK. Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu.Akhirnya. merespons. Di sana ada peran Puskur. 2008 102 . (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. P4TK Penjas/BK. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut. diabaikan sama sekali. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. Prayitno. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan.

dan kemartabatan profesi. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. Sampai sekarang sesedikit. Usaha-usaha yang bersifat tandingan. Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada. Mengatasi Krisis Identitas. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. I. tahun 1975). ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi. serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya. Prayitno. 2008 103 . Tugas semua pihak. adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. 18).Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. komponen trilogi profesi. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI.demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya. siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling.

c. London: Collier-McMillan Limited Prayitno. komunikasi. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. b. H. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. a. melalui semedi atau bertapa sekian lama. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. Keintelektualan. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. Melalui proses berpikir tersebut. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. metode dan teknik. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik). 43) Dalam Full. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. Objek praktik spesifik. kompetensi profesional yang dipelajari. Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh. misalnya melalui mimpi. yaitu: keintelektualan. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. 1967.1. Mengatasi Krisis Identitas. dan organisasi profesi. yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. Kompetensi profesional yang dipelajari. untuk mempelajari materi keilmuan. pendekatan. motivasi altruistik. misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. 2008 104 . objek praktik spesifik.

yang keduanya adalah pendidik. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. Segenap aspek pelayanan profesional. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. Komunikasi. aspek hukum dan sosialnya. akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. keilmuan dan teknologinya. Mengatasi Krisis Identitas. e. d. kompetensi dan dinamika operasionalnya. 2008 105 . meliputi objek praktik spesifik profesinya. termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi. untuk guru dan konselor. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. apoteker menangani pembuatan obat. Secara lebih umum misalnya. Motivasi altruistik. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. kecuali satu hal. Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis.

serta perlindungan atas para anggotanya. (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. komunikasi. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. dan sebaliknya. melalui tridarma organisasi profesi. kode etik. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. jika diperlukan. Organisasi profesi.keuntungan pribadi. melainkan untuk kepentingan. juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. kompetensi dan praktik pelayanan. dan kebahagiaan sasaran layanan. Bahkan. keberhasasilan. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi. dan (3) menjaga kode etik profesi. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. kode etik. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. kompetensi dan teknologi operasional. keintelektualan. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi. f. 106 Prayitno. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka. dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi.

yaitu (1) komponen dasar keilmuan. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. keterampilan. dan (3) komponen praktik profesi. pengetahuan. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. Trilogi Profesi Konselor a. 2008 107 . nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud.2. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. (2) komponen substansi profesi. profesional dalam bidang apa pun.

Prayitno. khususnya bidang konseling. Konselor. Mengatasi Krisis Identitas.sasaran pelayanan. Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. 44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-. yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK. Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . 27/2008. • b. 2008 45) 108 . 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan.S1) yang mendasarinya44). karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik. yang adalah pendidik (UU No. dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya. yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi.

Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. pengelolaan dan evaluasi. 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. Dengan demikian. pendekatan. dan teknologi pelayanan. konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor. 2008 109 . serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Dalam hal ini. Prayitno.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES). pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST. Mengatasi Krisis Identitas. Dalam arti yang demikian pulalah.

keluarga. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. serta implementasinya dalam praktik konseling.Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. organisasi pemuda/kemasyarakatan. teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. Pada setting satuan pendidikan misalnya. acuan praksis. 2008 . Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK). sosiologi. Mengatasi Krisis Identitas. pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling. instansi negeri/swasta. Pendekatan dan teknologi. dunia usaha/industri. standar prosedur operasional (SPO). 110 Prayitno. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. 47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. praktek pribadi (privat).

guru. pelaksanaan (actuating-A). sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. bulanan. 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. wali kelas. dan pengontrolan (controlling-C). Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. pengorganisasian (organizingO). orang tua). 1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48). alat bantu seperti komputer. Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. yaitu perencanaan (planning-P). • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan.c. mulai dari membuat program tahunan. dan objek-objek yang dikunjungi). 2008 111 . semesteran. film. urusan administrasi. dana. dll. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah.

112 Prayitno.• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan. C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya. • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat). Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja). Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49). serta organisasi profesi.

guru. POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama. wali kelas. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor. POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin. 2008 113 . Mengatasi Krisis Identitas.

dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja). dan organisasi profesi). apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja. iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja). oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). dan dibina melalui kegiatan pengawasan. Hasil pengawasan didokumentasikan. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. dievaluasi. Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan. Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau. • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. • 3. ii) eksteren. dianalisis.(lembaga kerja) secara keseluruhan. Mengatasi Krisis Identitas. komite sekolah. 2008 .

upaya pelayanan konseling. Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat.yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. b. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. 2008 115 . tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik). Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. Oleh karenanya. apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. untuk kepentingan semua individu. Sebagaimana diketahui. Mengatasi Krisis Identitas. maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno.

Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik. maupun posisi pekerjaannya.yang dimaksudkan itu. 2008 . Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut. 116 Prayitno. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat. c. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan. dalam hal ini konselor. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu. Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. baik dalam arti akademik. kompetensi. Mengatasi Krisis Identitas.

2008 117 . dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. merasa. berkeyakinan. saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. bersikap.PENUTUP lhamdulillah. dan juga sebagaimana saya berpikir. Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. yaitu: A • • Ya Allah. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah. Mengatasi Krisis Identitas. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri.

berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. Marilah kita berusaha dan berbuat. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya. melalui profesi konseling bermartabat. Mengatasi Krisis Identitas. menghindari dosa. fitnah dan khianat. bekerja sama. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. 2008 . 118 Prayitno.Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful