Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. mungkin teman itupun belum membacanya. ia memberikan sebuah buku. hebat. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. mungil dan menarik. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. Isinya. Tanpa komentar apa pun. perasaan. sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. melainkan merupakan pikiran. sikap. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. sampai sekarang. Terlebih-lebih. Kami sama sekali tidak membahas buku itu. keyakinan. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. saya dikunjungi seorang teman. Asyik sekali. dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. Isi P . karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain.

buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu. Mudah-mudahan siapapun juga. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu. uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling. Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling. bertemu dalam ilmu. Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. Oktober 2008 . Lebih jauh. bertemu dalam kalbu. Padang. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga.

.................. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing...... Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK...................... 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia......................................... Kriteria Guru Pembimbing... PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1.......... Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing.......... Persiapan dan Pembentukan.............................. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor. SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK......... Pengawas Sekolah Bidang BK.. 2...................... 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 ...................... 2.................................................... 3. Konselor dan Konteks Tugasnya ................ 3...... D.... 5............ KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1................................................................ PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1... 2........ C..... 2...........Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A.................................................................. Konteks Tugas Konselor.............. BUKU PANDUAN 1............. 3..... 6. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing............................. SK Menpan No................. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran..................................... 7................ B................................... 4...................... Penyelenggaraan Program PPK.. Buku DSPK....... 4... Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru................

..................................... Lagi: Muatan KTSP......... Ciri-ciri Profesi.................................. Profesi yang Bermartabat...... 114 Penutup ........... 22 Tahun 2006 1.................................................. 2............. Peran Puskur ......................... Materi Dasar....................................... Trilogi Profesi Pendidik................. KURIKULUM 1.........3........ 4..... 3............................................................................ 104 2.................................................... 3.. 2................. 117 .............................. H... I................... E............................................... PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1............................................................ Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP.......... 2......................................... Kurikulum 1975............................ F... ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1. Rakernas ABKIN........ Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya..................... 107 3......... PERMENDIKNAS No.................... Beasiswa PPK (BPPK)................ RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1..................... Peran P4TK-Penjas dan BK........... Pelibatan Otoritas Birokrasi........................... G................ Produk Hasil Penataan..................................... 2........................................................ Suasana Kerja.............

Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. sejak tahun 1993. tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 B 1 . meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus. sebagai agen pembelajaran. Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi. namun justru mengaburkannya. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir.

padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. 2 Prayitno. Lagilagi. SK Mendikbud No. 4. yaitu pengembangan kemampuan pribadi. Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu menyusun program BK. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. Dalam kaitan itu. 025/U/1995. dan Guru Pembimbing. 2008 . melaksanakan program BK. Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. Lalu.24/1993. mereka mencari dan memakai yang lain. mereka tidak memahami bahwa: a. Guru Praktik. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. sosial.jaran adalah istilah hanya untuk guru. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. yang ternyata absurd dan tidak aplikabel. yang tidak membelajarkan. 3. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. Guru Mata Pelajaran. yaitu Guru Kelas. sedangkan untuk konselor harus yang lain. 118/1996. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru.

di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. Lebih jauh. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b. agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. 2008 3 . 5. Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d. Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap. c. Mengatasi Krisis Identitas.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a.

2008 . d. namun oposisinya terlihat pada: a. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK. padahal: a. Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004.6. b. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. Mengatasi Krisis Identitas. DSPK telah disusun. Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN. 7. Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. c. b. Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK.

c. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada.no. Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). 2008 5 . apabila mereka ingin membuka program PPK. Prayitno. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. Mengatasi Krisis Identitas. Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. baik sebagai dosen program BK S1. d. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK. kalau ada. Selain itu: a. sampai sekecil-kecilnya. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. c. mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. keahlian praktik profesi. Dalam kaitan itu. dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah.

tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan. c. apalagi konselor. b. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran. Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a. • Saya cuma ingin ide Prof. mengaburkan. Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--. Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang. 8. 2008 6 . Prayitno. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru. PP dan Permendiknas. yaitu: • Daripada ber-S2-ria. Dr. dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No. (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia.konselor. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan. Sukamto. Mengatasi Krisis Identitas.Sc. d. M.22/ 2006 tentang Standar Isi). Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit.

Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No. kerdil dan kontraproduktif. BSNP. Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. 2008 7 . kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah. Diadakannya kedua komponen selain Prayitno. 9. Permendiknas). dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. 22/2006 tentang Standar Isi. SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu.Kenyataannya di lapangan. KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja. c. Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). Lebih jauh. b. Mengatasi Krisis Identitas. Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”.

yang dibina sejak 1993. dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. Mengatasi Krisis Identitas. keinginan mereka itu ditolak. 10. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan.mata pelajaran dalam KTSP itu. yang katanya. secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”. 11. penataan ke arah pro- 8 Prayitno. a. 22/2006). sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK). Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). ABKIN memulai upaya. b. Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No. panduan dari Puskur. setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. Dalam hal itu. namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur. 2008 . anggapan mereka.

Dalam pengarahannya di Rakernas itu. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”. dan panduan pelayanan BK di sekolah. c. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”. semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. hal itu baik-baik saja. Oke. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. Mengatasi Krisis Identitas. kompak. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. ada pernyataan beliau yang menggigit. PPK. terutama berkenaan dengan DSPK. Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. Karena dimohon untuk dua acara. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. BK dalam KTSP. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas.fesionalisme profesi BK. Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. b. Gambaran singkatnya sebagai berikut: a. 2008 9 . harmonis. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu.

kolegalitas. padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. panduan pelayanan BK di sekolah. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari. transparansi. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. Mengatasi Krisis Identitas. seperti DSPK. sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini. program sertifikasi guru dan dosen.1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku. 2008 . 3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural. Standar Kompetensi. antara lain: • SK Menpan. prosedur penyetalaan. Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya.

Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan. tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. Mengatasi Krisis Identitas. barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik. 2008 11 . maka produk yang berupa tujuh buku itu. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. bukan hak ABKIN. yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No.beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. 27/2008 tentang SKAKK itu. 6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP. apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. Prayitno. ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan. semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek. Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan.

sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. Mengatasi Krisis Identitas. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya. Akhirnya. yang juga menjadi wilayah tugas beliau. 2008 . ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut. sesungguhnyalah. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Lebih dari itu. 12. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan. Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya. padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya.

jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan.terus melalui pengkajian. Mengatasi Krisis Identitas. pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini. jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama. JIKA HATI sejernih air bening. hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada. 2008 13 .

2008 . dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. dosen. 1. instruktur. konselor. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. Pertama. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm.URAIAN MENYELURUH A. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran. tetapi justru mengaburkannya. widyaiswara. pamong belajar. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. fasilitator. pendidik. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. tutor. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran.

dan pendidik lainnya. 20/2003 Pasal 1 Butir 6). melakukan pembimbingan. Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran.No. 19). Nah. konseling perorangan. dan lain-lain layanan. haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. seperti juga guru. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. Kalau konselor itu pendidik. dosen. ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. Mengatasi Krisis Identitas. informasi. menilai hasil pembelajaran. 2008 15 . apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. Prayitno. termasuk konselor dan pendidik lainnya. Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. 1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). tidak hanya guru. setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. No. 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui. Kedua.

dosen apa. 2008 16 .2. Mengatasi Krisis Identitas. sikap dan kebiasaan belajar. konselor apa. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. informasi dan pilihan karir. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi. widyaiswara apa. Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. 3. Guru. semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. konteks tugasnya apa. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. IPS. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru. IPA. konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. seperti mata pelajaran Matematika. dsb 2) . Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. 2) Di perguruan tinggi. dsb. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). (Nah. dan sebagainya. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. Modus pembelajarannya pun berbeda-beda.

dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih. sehat jasmani dan rohani.. Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera. Nah. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau.” agar orang-orang mau membeli minyaknya. Prayitno. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”. 2008 17 . 13).Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik. mohon maaf. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang.... yang berbeda dari guru. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya. yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti. Mengatasi Krisis Identitas. 4.

kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. Kok repot-repot amat. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD. sosial. Mengatasi Krisis Identitas. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. atau peserta didik. luar biasa. apalagi SD mampu memilih. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. meraih serta mempertahankan karir. supaya bisa memilih. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. untuk klien dewasa sekalipun. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. belajar.Ya. 2008 18 . apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. dan itu namanya pembelajaran. Lebih jelas. Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah. siswa. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. Prayitno. yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. SLTP. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. belajar dan karir. Dengan demikian. Atau ada cara lain? Kok repot amat. Itu yang pertama. bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. meraih serta mempertahankan karir. dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. dan SLTA. dan karir 3). Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran. tentu hebat betul. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. klien atau konseli atau apapun namanya. atau dirangsang. sosial. mencakup. Ya belajar dong. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar. klien atau konseli.

sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. dll. katanya. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. Prayitno. merancukan tugas konselor dan guru. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. 2008 19 . B. dari SK Menpan No.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. SK Menpan No. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. 84/1993. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. Bahasa. Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. 26/1989 ke SK Menpan No. 1. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini. Mengatasi Krisis Identitas. karena lagilagi. IPA.

bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a. oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. melaksanakan program bimbingan. mohon maaf. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. 20 . Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi. menyajikan program pengajaran. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. Nah. Mengatasi Krisis Identitas. pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK). karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari. Menyadari kerancuan terebut di atas. 2008 b. Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. Menyusun program pengajaran. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. analisis hasil evaluasi hasil belajar. ke sini ya. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. ATAU: Menyusun program bimbingan. Di samping itu. tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”.SK Menpan no. kegiatan pelayanan BP dilecehkan. SK Menpan No. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. evaluasi pelaksanaan bimbingan. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. Tidak boleh lagi ke sana ya. Secara singkat. itu benar. sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. evaluasi belajar. 026/1989. adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui.

Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai. Peraturan yang ada adalah PP No. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2. Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No.jawabnya. yaitu: 4) Dewasa ini. 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. Mengatasi Krisis Identitas. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno. Terkait dengan hal itu. 2008 21 . Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”. ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”. Perhatikanlah kata ATAU. 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru. Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). 25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah. SK Mendikbud No.

tanggung jawab. istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d. guru praktik. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. adalah guru yang mempunyai tugas. Rancu. 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. Dengan demikian. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. dalam bidang bimbingan pribadi. Guru Pembimbing. SD. Sejalan maknanya dengan guru IPA. adalah guru yang mempunyai tugas. bukan?. panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. Guru praktik. Mengatasi Krisis Identitas. berdasarkan norma-norma yang berlaku. memperhatikan kutipan tersebut di atas. guru mata pelajaran. kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. adalah guru yang mempunyai tugas. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. 2008 . melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. 22 Prayitno. Kalau mau konsekuen. SDLB. tanggung jawab. Nah. bimbingan belajar dan bimbingan karir. tanggung jawab. adalah guru yang mempunyai tugas. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. ini baru merancukan dengan sengaja. bimbingan sosial. Lebih jauh. dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. Guru kelas. dan SLB Tingkat Dasar. baik secara perorangan maupun kelompok. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. tanggung jawab.a. Guru mata pelajaran. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. 25/0/ 1995 itu.

pencegahan. dan • • • Prayitno. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no. tanggung jawab. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing. Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. bimbingan belajar. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. 2008 23 . Mengatasi Krisis Identitas. informasi. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. pengentasan. penempatan dan penyaluran. konseling perorangan. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. 3. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. bimbingan sosial. konseling kelompok. bimbingan kelompok. dan bimbingan karir. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. bimbingan sosial dan bimbingan sosial. 0433/P/1993 dan No.

Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling. Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling. 24 Prayitno. guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan. bukan tugas mengajar. Mengatasi Krisis Identitas. 3 di atas. 4. Dari sumber yang sama dengan no. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa.bimbingan pembelajaran. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling. yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. 2008 . Lagi. serta kegiatan pendukungnya. b. dapat dikutip pula: a.

Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm. Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing. yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK.. kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku. 2008 25 . meskipun mungkin terjadi di lapangan. Mengatasi Krisis Identitas... Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan. Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”. 5.. sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno. 6). Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang. dan sebagainya yang yang Guru pada b. Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri.“. Dikhawatirkan.

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

2008 29 . Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal. (4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b. Syarat umum. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. dasar dan menengah 2. Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. Mengatasi Krisis Identitas. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. Syarat khusus. Prayitno. yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d. tanggung jawab.Pasal 1 : 1.

Dengan demikian. seperti telah disebutkan di depan.(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa. 18). 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No. sampai dengan kepengawasannya. Kedua.20/2003 Pasal 39 ayat 2. karena belum ada aturan penggantinya... Pertama.. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu. Dalam kaitan itu. yang sampai sekarang masih berlaku. 2008 . tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas. Mengatasi Krisis Identitas. ibarat kereta api. tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah. dengan mengatakan: “. semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. 30 Prayitno. penulis “Krisis Identitas”.. tidak berjalan di atas rel.

Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK. 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. Mari kita lihat bersama. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. 1. 21). yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm.C. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan. sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi. Mana yang lebih tidak realistik. SMP. pikiran utopis dan tidak realistik. Mengatasi Krisis Identitas. dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. 2008 31 . menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. Buku-buku panduan. atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. Prayitno.

dipadu dengan materi keilmuan BK. oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a. memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan. baik negeri maupun swasta. Prayitno.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. 11919/C. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. Mengatasi Krisis Identitas.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). dinyatakan bahwa layanan BK di SD. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. 2008 11) 32 . Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah. Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10). SMP. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. (hal 6-7). dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”. Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor. Mendikbud. tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu.

(IKIP Bandung. Drs Thantawy.Surya (IKIP Bandung. baru kerja bisa dimulai. Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena. Drs Karno To. Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang. M.Pd. (IKIP Jakarta. sekarang UNJ). mohon maaf. 2008 33 . Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. sekarang UPI). Dr. M. Mungin Eddy Wibowo. dan . Dr. semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi. dll. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu. karena semuanya belum beres.. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi. karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof. kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres. Afif Zamzami. agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar. sekarang UNNES. sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti. Prayitno. Drs. MA. M. dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. (IKIP Semarang. R. Jadi menurut penulis itu. pendidikan beres. guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor.. Mengatasi Krisis Identitas. sekarang UPI). b.. Pd.konselor dinyatakan berlaku.

dengan Prayitno sebagai Ketua Tim. Balitbang Dikbud). (IKIP Jakarta.H. Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan. sekarang UNP). Elida Prayitno (IKIP Padang. Dra. yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional. Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru. tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”.Pd.M. Mengatasi Krisis Identitas. Dra.Si. Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No. (Puskur.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya. Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. khususnya untuk konteks SD dan SLB. S. sekarang UNJ). meskipun secara substantif. dan C. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. 2008 . (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). Akan tetapi. sekarang UNP). Dharma Setiawaty R. Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS. Moenir. 2. isinya tidak sesuai dengan kenyataan. 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno. (hlm.

atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. 3. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001.atas. 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. 2008 35 . Mana yang benar?. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. Ir. 84/1993 dan No. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional. b. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a. Dr. c. Mengatasi Krisis Identitas. Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu.

dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT. Dr. Selanjutnya. (dari UPI) dan Drs. Mungin Eddy Wibowo. yaitu Prof.U.) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia. Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya. Dr. Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof. Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut. M. Dr. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka. Sunaryo Kartadinata. Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya.Pd. Syamsuddin S. M.Ed. Prof. Dr. Menurut pertimbangan Dikti. MSc. Kons (dari UNY). Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti. Dengan suka cita saya terima berita itu. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat..Pd. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif. Mengatasi Krisis Identitas. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut. Dr. Prayitno. Kons (dari UNNES). Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat.Sc. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah. Sunaryo Kartadinata. (dari UPI). yaitu Ketua Umum yang baru. M. pada waktu itu Bapak Prof.Pd. terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi. M. (dari UNP). Prof. Ahman. 12) Pada awal April 2001 waktu itu. 2008 . M. 13) 36 Prayitno. Dr. Sukamto.Pd.

1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN.a. Prayitno. 2) Hasil kegiatan no. dan menafikan peran otoritas birokrasi. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai. melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. konseling. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. Mengatasi Krisis Identitas. Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan. Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. beserta pakar konseling untuk membahas. 2008 37 .4.

Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta. personalia PB dan PD ABKIN. Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. PPTK dan KPT. PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit. baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. dan Pakar BK. Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final. 2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu. b. Mengatasi Krisis Identitas. naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK).unsur ABKIN dan personalia Dit. Divisi ABKIN. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. 2008 . anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno. DSPK disosialisasikan.6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT.

penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut. Jawa Barat. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 39 . b. untuk wilayah Banten. Kepala Sekolah. Bali. untuk wilayah Kalimantan Makasar. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno. untuk wilayah Jawa Timur. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). untuk wilayah Sumatera Samarinda. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali. Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK. Berkenaan dengan DSPK. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. PD ABKIN. dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. 2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. Pengawas BK. Dinas Pendidikan Propinsi. DKI. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia.• • • • • Padang. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya.

Apa salahnya? Pertama. 2008 40 . kita mau apa? Protes memang boleh. Atau. Kedua. tenaga dan biaya. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias. bahkan semestinya disyukuri. • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. sehebat-hebatnya apa yang kita punya.diusulkan untuk ditunda (hlm. serta belum tentu Prayitno. Yang jelas. tetapi kita rugi waktu. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan. justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. Mengatasi Krisis Identitas. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. menggunakan jalur hukum silahkan. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm. apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan.

serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. dikumpulkan oleh Ketua Umum. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. termasuk sedang digarapnya DSPK.memang. disanction dan difinalisasi. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. Memang. Acara pertemuan itu. Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. Demikian tentang “usulan penundaan”. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK. 2008 41 .mana yang benar?). • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK. Oleh karena itu. Mengatasi Krisis Identitas. muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. sesudah DSPK selesai disusun. Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. Adanya risalah aspal. kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu.

Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. sanctioning. Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN. tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu. Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya. tetapi ternyata aspal. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu. finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK.Juni 2008. Dan kalau memang betul-betul ada. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan. Mengatasi Krisis Identitas. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan. 2008 . berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK.

Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. kode etik dan organisasi profesi. pendidikan tenaga profesi. bukan ABKIN. 2008 43 . Adapun ABKIN setujui atau tidak. kalau setuju alhamdulillah. diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno. kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. kredensialisasi. bukan produk ABKIN. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. dengan surat Direktur P2TK-KPT No.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. c. ABKIN boleh saja tidak setuju. Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti. Mengatasi Krisis Identitas. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan.

Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. Mengatasi Krisis Identitas. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. 2008 .DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. LPTK. Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT. disingkat ABKIN). tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. dan organisasi profesi. yang 44 Prayitno. Menarik untuk disimak. Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK. khususnya penulis “Krisis Identitas”. khususnya LPTK. yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain.

Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. tetapi bisa dan perlu berkolaborasi. Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi.tidak memakai nama ABKIN. Sejak awalnya. DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu. Didukung oke. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. kelihatannya setuju. Kesimpulannya. melainkan juga pakar BK. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. 2008 45 . membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana. LPTK dan Direktorat. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN. lalu menolak dan membuat tandingannya. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. D. atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK. terimakasih. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK.

sebagian besar FKIP Negeri.1. Mengatasi Krisis Identitas. FKIP dan STKIP Swasta. b. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta. a. serta sejumlah IKIP. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. 46 Prayitno. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. ada upaya memutus rantai sejarah. 2008 .

Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya.khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. 118/K. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No. Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi.12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. 2. 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP. 2008 47 . a. Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. dalam hal ini PPK. c. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi.

PP No. instansi.akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No. Mengatasi Krisis Identitas. dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. 2002). dunia usaha dan industri. instrumentasi. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester.. organisasi.. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15). 056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas. 2008 48 . yaitu SK Mendikbud No. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. dan pelayanan konseling. yaitu berpraktik privat profesi konseling. keluarga.. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. Kemudian. dan/atau vokasi”. Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Sejalan dengan hal itu.. melalui Surat No. b. Berikutnya. Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno. profesi. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik.

d. ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK). Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas. yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah. Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. menengah. serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. c. yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. S2. Selain di UNP. serta mengucapkan Janji Konselor. e. dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). serta peserta dari Jakarta. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang). Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti. Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. Di samping itu. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks.yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor. Prayitno. 16) Karena lulusan program PPK belum ada. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. Mengatasi Krisis Identitas. perguruan tinggi) maupun luar sekolah. 2008 49 . kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1.

Oleh karena itu. Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria. Beasiswa PPK (BPPK). Terkait dengan hal ini. dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah.3. Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1). 2008 . lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. a. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan. dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya. Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”. Untuk ini. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria.

Sampai dengan tahun 2008 ini. Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. STAIN Curup (Curup). UNIMED (Medan). peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air. UNDANA (Kupang). Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). UNIB (Univ. UNILA (Lampung). Alwasliyah (Medan). Univ. UNNES (Semarang). 2008 51 . HAMKA (Jakarta). Mengatasi Krisis Identitas. UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). Hazairin (Bengkulu). Univ. UNG (Gorontalo). PGRI (Jember). Univ. dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh). UNIMA (Manado). Univ. UNP (Padang). Univ. UNRI (Pekanbaru). IAIN Imam Bonjol (Padang). PGRI (Jakarta). Abdulyatama (Banda Aceh). Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. PGRI Palembang (Palembang). Atmajaya (Jakarta). Univ.Studi Bimbingan dan Konseling. Muhammadiyah Magelang (Magelang). UNJA (Jambi). UNSRI (Palembang). UNY (Yogyakarta). Univ. UNS (Makasar). Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). UNESA (Surabaya). Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. Univ. Assafi’iyah (Jakarta). Pendidikan Ganesha (Singaraja). setelah mengikuti PPK Prayitno. serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. Univ. Univ. Kanjuruhan (Malang). Univ. STKIP Selong (NTB). UNJ (Jakarta). Univ. STAIN Batusangkar (Batusangkar). Univ. PGRI (Surabaya). b. Univ. dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. Widya Mandira (Kupang). Univ. Bengkulu). Univ.

penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain.beberapa bulan saja. 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). termasuk di luar kampus”. kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien. Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No. adalah sebagai berikut: a. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK. 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. 4. Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut. 2008 .

Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. b. baru S2 saja20). Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK. lulusan universitas manapun19).1) Kedokteran. Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK. juga ijazah PPK. 2008 53 . Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. 18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. tentulah program PPK)18). Untuk bidang BK. DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. Mengatasi Krisis Identitas. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No. untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK. seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana. Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan. selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. seperti UNNES (Semarang).1. sesuai dengan keahlian yang diajarkan.Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. 19) 20) Prayitno. agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp. 19/2005 di atas. yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Dalam kaitan itu. Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. untuk menjadi dosen PPK diperlukan. selain ijazah (S2).1) seperti di Fakultas Kedokteran itu.

LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. banyak yang bergelar Magister (S2). 2008 54 . Prayitno. Sukamto.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof. Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK. c. M. bagaimana? Ya. ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK. Mengatasi Krisis Identitas. Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya. M. Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK. Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). 21) Pesan ini saya terima lewat sms.Sc. Sukamto. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu.Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya. sampai-sampai Bapak Prof. Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”. Sesungguhnyalah. termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan. mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. Dr. kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. Dr. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor).

kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. Apabila pendidiknya adalah guru. Oleh karena itu. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. Undang-undang No.E. 2008 55 . dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”. Demikian juga tentang tujuan. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. isi. isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. 1. Mengatasi Krisis Identitas. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru. Meskipun tidak dikemukakan.

maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. sikap dan kebiasaan belajar. bukan hanya guru. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya. dan sebagainya. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. Apabila pendidiknya adalah konselor. Dalam kaitan ini. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. Ini artinya. 56 Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit.studi yang diampu oleh guru. Hal terakhir itulah. seperti bahan pelajaran IPS. Mengatasi Krisis Identitas. Bahasa Indonesia. yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud. Matematika dan sebagainya. 2008 . bahan tentang penyesuaian diri. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik.

pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan.L. sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22). Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. Foresman and Company. Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd. Glenview. 2. dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup. 2008 57 . Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. D. Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi. Ilinois: Scott. Terkait dengan variasi pengertian tersebut. Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja. melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun. 22) Brubaker. tidak hanya guru. Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. 1984 sebagai berikut.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas. (1982).

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. Kepala Sekolah. pertama.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. Prayitno. kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). guru-guru. Mengatasi Krisis Identitas. karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya. digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum. siswa orang tua. bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. dan siapa pun juga. Kedua. tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). dan siapa pun juga. pimpinan Dinas Pendidikan. 22/2006 dan No. karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK. 2008 61 . Padahal yang semestinya terjadi adalah. ketika Kepala Sekolah. 24/2006. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum. “Yang penting adalah kurikulum. Bagaimana kalau Kepala Sekolah.

bakat. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No. Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No. Mengaburkan pengertian pengembangan diri. b. sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali. yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru). belajar. Namun. dan minat peserta didik. 2008 . yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas. Mengatasi Krisis Identitas.Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial.22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi. 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. maka akan timbul berbagai masalah. sesuai dengan kondisi sekolah.

mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. ya menjadi susah. 22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. 2008 63 . Perlu disimak.tetapi bahkan penyimpangan. di mana adanya. dll. di dalam BK. garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?. Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas. Mengatasi Krisis Identitas. dan lain sebagainya. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami. mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat. 22/ 2006. bagaimana caranya. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2). Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. yang ada di manamana. Prayitno. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut. dunia dan akhirat. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut.Tidak jelas. Kalau itu yang dimaksud. apa bentuknya. di dalam mata pelajaran. di mana adanya pengembangan diri itu.

Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor. dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen. yaitu (1) pelayanan konseling. 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. 64 Prayitno. yaitu: (a) komponen mata pelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut.Gambar 3. dan (2) kegiatan ekstra kurikuler. (b) komponen muatan lokal. 2008 . Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25).

22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. 1. Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas. Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah. PERMENDIKNAS No. jabaran dari PP. 2008 65 . 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan. F. 22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). mengakibatkan kerancuan. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku.22/2006. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. No. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 23/2006 dan No. No. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. 26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. pengkerdilan dan kontra produktif. Prayitno.

” (hlm. Namun sayangnya. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran. sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. setelah menjadi permendiknas. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi. penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya. 2008 . sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru.Materi dasar Permendiknas No. Memang ada sedikit kemajuan. tidak boleh materi di luar mata pelajaran. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja. yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. Hasil kerja keras ini.

Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. Mengatasi Krisis Identitas. isi kurikulum hanya mata pelajaran saja. struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. tidak harus materi mata pelajaran. Prayitno. b. Demikian. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No. 2008 67 . tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. 22/2006 itu.hanya berisi mata pelajaran. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja. hal-hal yang harus ada memang harus masuk. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu.

yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas. Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). 22/2005. c. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru. Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. Mengatasi Krisis Identitas. Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya. KTSP pun hanya untuk guru. orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi.143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No. 2008 .yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2. dan sebagainya.

Sekarang menjadi pertanyaan. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri. 2.2021). memperlihatkan ketidaktahuan. dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri.publik draf Standar Isi yang dimaksud. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu. Mengatasi Krisis Identitas. Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik. 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. Lagi: Muatan KTSP a. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm. ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu.21) • Prayitno. (iii) materi pengembangan diri. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas. 2008 69 .

pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. dan pola pikir yang bagaimana. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. pasti tahu arah. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. dan tahu juga wilayah kerja guru. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. dalam hal ini guru. 3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. Kalau profesional dia. Guru punya tugas. Sekali lagi. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. dan konselor punnya tugas dalam konseling. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. 2008 . yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi. Apa alasannya. dan lagi. perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional.

alat dan teladan dalam kegiatan belajar. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan. melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. 22/2006. akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27). menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno. guru atau pendidik siapapun. Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. Apa lagi? Dengan prinsip itu. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama.materi mata pelajaran yang ada. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik.22).1 dan hlm. 27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri. Mengatasi Krisis Identitas. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28). sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi. Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan. Dan ada satu lagi. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No. 2008 71 . khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum.

karena dan demi konseling dan pendidikan. Prayitno? Kalau ya. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. Tetapi terus terang. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. 72 Prayitno. karena konseling dan pendidikan. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. karena dan untuk konseling dan pendidikan. saya dibayar karena konseling dan pendidikan. seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Saya ini bukan apa-apa lho. bukan karena saya pejabat. Itulah lahan garapan saya. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. yang saya cintai dengan sepenuh hati. Anda mau merebutnya? Silahkan. dan saya akan berkarya terus Insyaallah. lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja. tetapi karena konseling dan pendidikan. Mengatasi Krisis Identitas. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. mengabdi dan berdedikasi. 2008 . benar sejak 1995. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. rebut buku-buku saya dan para pembacanya. Saya menulis buku. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. bahkan sejak jauh sebelumnya. bukan Rektor. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya.

Diklat. Mengatasi Krisis Identitas. di sana sedang terjadi krisis identitas. direktorat. ditolak oleh Puskur. Dir. apalagi karya saya sendiri. Bin. konseling dan pendidikan. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu. saya adalah suruhan demi profesi saya. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. P4TK Penjas/ BK. Dan untuk semuanya.22/2006. dan Pengurus Daerah. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. Saya berada di Puskur. anggota tim belasan orang. Anggota BSNP 15 orang. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No. staf departemen. G. Prayitno. ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa. direktorat jenderal.Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. Apabila. 2008 73 . orang lain dijadikan kambing hitam”. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi. dan pejabat lainnya puluhan orang.

yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih.-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno. 13). Mengatasi Krisis Identitas.Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya. Parung. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. yang dilaksanakan guru. 2008 . • Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. 13). Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu.

29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. buku-buku panduan yang selama itu ada. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. No. segera setelah Permendiknas No. 2008 75 . yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. 23/2006 dan No. menyempurnakan. Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. menyederhanakan. yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. SK Mendikbud). Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan.1. 22/2006. melengkapi. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri. sebisa mungkin. Prayitno. 24/2006 diberlakukan. Sejalan dengan hal itu. Puskur melaksanakan tugas utamanya. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. dengan arah. Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. Panduan ini. Mengatasi Krisis Identitas.

30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian.istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum. Prayitno. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30). adalah baik untuk menjelaskan konsep. Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No. Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus.Dalam pada itu. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. Mengatasi Krisis Identitas. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. 22 Tahun 2006. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. yang disusun oleh pemerintah --. Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. bukan sebaliknya. 2008 76 .

22/2003. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. Apabila panduan yang baru itu berbeda. b. apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. pertimbangannya adalah: a. Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a. ”Panduan BK Jalur Formal”. khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling. 2008 77 . materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No. kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru. Mengatasi Krisis Identitas. Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No.Dalam hal ini kami mengusulkan.

Mengatasi Krisis Identitas. Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri. 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud. Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. • Surat Bin. Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. 2008 . PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas. 22/2006. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. Pengingat Permendiknas No.3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008.Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. 343/F5. Sekiranya ABKIN akan menyusun. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. dengan surat No.

Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. 2008 79 . PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru.1. 2. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP. 2. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI. BSNP dan KTSP). 3. 22/2006 tentang Standar Isi. yaitu Prayitno. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. Mengatasi Krisis Identitas. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. SMP/MTs.

Mengatasi Krisis Identitas. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran. Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). yang didalami dan dilatihkan hanya BK. dapat diberi arti sebagai berikut: a. sosial.melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No. Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. kegiatan pendukung. penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang).20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. 13). c. 80 Prayitno. bukan hanya guru. Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling. b. Tentu saja. dan guru pembimbing atau konselor. dengan materi pengembangan pribadi. belajar dan karir. penilaian dan manajemen. Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No. 2008 . terutama tentang jenis-jenis layanan. Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan. mohon diperhatikan. manajemen dan penilaian dalam BK. hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). 22/2006 tentang Standar Isi31). 31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). yang dilaksanakan guru” (hlm.

dua. Cedera minimal dalam dua hal: satu. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi. dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan. penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”. tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. 2008 81 .Dengan demikian. H. Mengatasi Krisis Identitas. Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No.20/2003).

Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Satu hal yang menarik ialah. dalam Raker tersebut. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu. dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf.1. yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker. saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK. Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut. Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN.

barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. 2. Semarang (hal 18)33). Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. 18).Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. Di samping itu. Mengatasi Krisis Identitas. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. 2008 83 . mungkin inilah (antara lain. Prayitno. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK. a.

Mengatasi Krisis Identitas. Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. bersikap kritis boleh. Prayitno.dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) .20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Dalam kajian yuridis. Tahu-tahu saya melapor. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya. • UU No. Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu. dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. Menerima apa yang dibeberkan. • SK Menpan. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja.1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap. tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada. 2008 84 . Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP. Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik. karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku.

Prayitno. Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. 34) Tentang tandingan ini.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling. pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007. 2008 85 . dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. Mengatasi Krisis Identitas. 4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. Bagaimana disebut tandingan. dan juga sebelumnya.

Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir. Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas. apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. Surat tersebut. sebab panduan-panduan itu belum jadi. disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang. Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan. 2008 . yang sudah dibawa. saya usulkan agar diganti. b. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. Lagi pula.

1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. No. Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 87 . bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35). Dalam hal itu agaknya. Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. a. PP No. yaitu karena dasarnya adalah UU. akhirnya tidak tentu rimbanya. DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. 19/2005. diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain. 20/2003.Nasional XV di Palembang. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. 3. yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana. padahal bukannya hanya 7 (tujuh). Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas.

(a) Tema: Naskah Akademik. dengan judul: • 88 . Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor. dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan.

Mengatasi Krisis Identitas. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor.(e) Tema: Pendidik Konselor. Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ). dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar. sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu. 2008 89 . dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik. yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor.

tidak konsisten dan tidak cermat. 2008 . kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam). Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif. 1) Tema produk ada 9 (sembilan).disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. (Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b. Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. satu tema. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam. Mengatasi Krisis Identitas. 37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda.

84/1993. SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. telah diatur dan dikembangkan. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat. adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu. 026/1989. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No. Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran. 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. Mengatasi Krisis Identitas. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. 025/0/1995. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No. 118/1996. serta SK Menpan No. 2008 91 .2) Tentu lucu. menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No. 2/1989.

dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut.keterandalannya. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No. 2008 . 14 buku “Krisis Identitas”). sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru. Mengatasi Krisis Identitas. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional. padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut. (e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno. 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. b) Mencederai makna UU. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. termasuk program PPK di dalamnya. Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. 9 buku “Krisis Identitas”).

Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No. 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen. Upaya tersebut akan didorong lagi. 27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya. Standar kualifikasi konselor.Puskur dan P4TK Penjas dan BK. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan. 27/2008. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No. 2008 93 . Prayitno. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No.

(g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. 27/2008. bukan ABKIN. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. 27/2008 itu. karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP.(f) Secara spesifik. yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor. Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. sehingga tidak layak edar. dengan diberlakukannya Permendiknas No. Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. 94 Prayitno.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

Mengatasi Krisis Identitas. Sepertinya. keilmuan dan sebagainya. untuk mencapai hasil yang terbaik. pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. a. Pertemuan-pertemuan kerja tim. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya. bahkan dianggap tandingan. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan. Kenyataannya berbeda. bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. dikritik dan dikejar. harmonis. Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. transparan. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). Terbaca. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. kolegial. 2008 . terbuka. 4. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”.terjadi.

Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil. M. peringatan. Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh.Sc) sangat Prayitno. bagaimanapun juga caranya. otoritas birokrasi juga).Yang penting adalah.diacuhkan. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. Mengatasi Krisis Identitas. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”. Ir. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. kepercayaan. Dr. produk harus selesai. sanctioning atau uji publik. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. Tidak ada telaah yang intensif. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. 2008 99 . Dr. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka. dan dukungan dari birokrasi dicederai. apalagi uji coba. masukan dianggap tandingan. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”. tidak ada verivikasi. Sukamto. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof. Hal itu memang tidak diragukan lagi. sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN.

besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling. padahal undang-undang menyatakan (UU No. Mengatasi Krisis Identitas. kegiatan akademik. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. dosen dan lain-lain. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. Dalam pada itu. melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih. LPTK. produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). Dan lagi. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu. memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. Lahan mulai digarap. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan.Dengan demikian. kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. b. 20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. dalam hal-hal yang dipersoalkan itu. khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. 2008 100 . 21) Prayitno.

sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno. Kegiatan itu dikerjakan secara intensif. Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. kurikulum BK. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru. 40) Tidak seperti DSPK. dan siap untuk disosialisasikan. Dalam suasana seperti itu. . layaknya “kejar tayang” saja. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN. dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. 2008 101 .Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. program PPK. misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK. Mengatasi Krisis Identitas. merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya.

42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya. (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. Nah. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK. intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. merespons. P4TK Penjas/BK. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). Mengatasi Krisis Identitas. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. Prayitno. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan.Akhirnya. Rektor UNP kemudian. diabaikan sama sekali. serta Rakor di Bandung. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. Bin Diklat/PMPTK. yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut. ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. 2008 102 . Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. Di sana ada peran Puskur.

Usaha-usaha yang bersifat tandingan. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI. komponen trilogi profesi. Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada. dan kemartabatan profesi. hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya. Prayitno.demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya. 2008 103 . 18). ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi. siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling. serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal. Sampai sekarang sesedikit.Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. Tugas semua pihak. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. Mengatasi Krisis Identitas. I. tahun 1975).

misalnya melalui mimpi. London: Collier-McMillan Limited Prayitno. yaitu: keintelektualan. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. untuk mempelajari materi keilmuan. misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. H. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik). Keintelektualan. 2008 104 . 43) Dalam Full.1. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. a. Objek praktik spesifik. motivasi altruistik. pendekatan. c. metode dan teknik. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. Melalui proses berpikir tersebut. Mengatasi Krisis Identitas. objek praktik spesifik. dan organisasi profesi. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. 1967. komunikasi. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. b. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. kompetensi profesional yang dipelajari. Kompetensi profesional yang dipelajari. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja. melalui semedi atau bertapa sekian lama. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri.

e. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. Mengatasi Krisis Identitas.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. Segenap aspek pelayanan profesional. aspek hukum dan sosialnya. yang keduanya adalah pendidik. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi. keilmuan dan teknologinya. d. dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. Motivasi altruistik. serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis. meliputi objek praktik spesifik profesinya. Secara lebih umum misalnya. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. untuk guru dan konselor. 2008 105 . Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. kompetensi dan dinamika operasionalnya. Komunikasi. kecuali satu hal. akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu. apoteker menangani pembuatan obat.

dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi. 2008 . 106 Prayitno. f. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi.keuntungan pribadi. Bahkan. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. komunikasi. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka. kode etik. dan kebahagiaan sasaran layanan. dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi. Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya. juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. serta perlindungan atas para anggotanya. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. Mengatasi Krisis Identitas. Organisasi profesi. keberhasasilan. melalui tridarma organisasi profesi. dan sebaliknya. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi. kode etik. jika diperlukan. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. keintelektualan. kompetensi dan teknologi operasional. melainkan untuk kepentingan. dan (3) menjaga kode etik profesi. kompetensi dan praktik pelayanan.

Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. pengetahuan. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. (2) komponen substansi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. profesional dalam bidang apa pun. 2008 107 . yaitu (1) komponen dasar keilmuan. keterampilan. dan (3) komponen praktik profesi. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional.2. nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. Trilogi Profesi Konselor a.

27/2008. khususnya bidang konseling. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-. 2008 45) 108 . yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling. yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK.sasaran pelayanan. Prayitno. Konselor. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . • b. karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik. yang adalah pendidik (UU No. dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling.S1) yang mendasarinya44). 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan. 44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas.

2008 109 . pengelolaan dan evaluasi. misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. Mengatasi Krisis Identitas. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). Dalam arti yang demikian pulalah. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. Dalam hal ini. pendekatan. konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES). 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling. serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. dan teknologi pelayanan. Dengan demikian. 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST. Prayitno.

47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). Pada setting satuan pendidikan misalnya. teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. Pendekatan dan teknologi.Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. acuan praksis. Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling. Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK). keluarga. praktek pribadi (privat). serta implementasinya dalam praktik konseling. sosiologi. organisasi pemuda/kemasyarakatan. dunia usaha/industri. standar prosedur operasional (SPO). instansi negeri/swasta. mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Mengatasi Krisis Identitas. konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. 2008 . 110 Prayitno.

1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. dan objek-objek yang dikunjungi). Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. pengorganisasian (organizingO). alat bantu seperti komputer. dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48). urusan administrasi. Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. dan pengontrolan (controlling-C). orang tua). 2008 111 . pelaksanaan (actuating-A).c. dana. yaitu perencanaan (planning-P). • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan. semesteran. sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. Prayitno. Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah. Mengatasi Krisis Identitas. mulai dari membuat program tahunan. bulanan. film. guru. wali kelas. dll.

112 Prayitno. 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat). 2008 . pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya. C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja).• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan. Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49). Mengatasi Krisis Identitas. serta organisasi profesi. • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya.

guru. Mengatasi Krisis Identitas. POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. 2008 113 . POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama. wali kelas. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin.

Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). dan dibina melalui kegiatan pengawasan. oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. ii) eksteren. apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja. Hasil pengawasan didokumentasikan. dianalisis. komite sekolah. 2008 . • 3. oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja). Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan.(lembaga kerja) secara keseluruhan. Mengatasi Krisis Identitas. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau. dan organisasi profesi). dievaluasi. Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja).

apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno.yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. b. Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. Sebagaimana diketahui. Oleh karenanya. kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik). untuk kepentingan semua individu. 2008 115 . Mengatasi Krisis Identitas. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. upaya pelayanan konseling.

c. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu. Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut. maupun posisi pekerjaannya. 2008 . Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. Mengatasi Krisis Identitas. Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik. 116 Prayitno.yang dimaksudkan itu. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. baik dalam arti akademik. kompetensi. dalam hal ini konselor.

saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. Mengatasi Krisis Identitas. bersikap.PENUTUP lhamdulillah. dan juga sebagaimana saya berpikir. berkeyakinan. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. 2008 117 . Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. merasa. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri. dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. yaitu: A • • Ya Allah. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno.

berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. menghindari dosa. agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. Mengatasi Krisis Identitas. Marilah kita berusaha dan berbuat. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya. 2008 . 118 Prayitno. fitnah dan khianat. bekerja sama. melalui profesi konseling bermartabat.Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful