Prayitno,

MENGATASI KRISIS IDENTITAS PROFESI KONSELOR
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis

Prof. Dr. Prayitno. M. Sc. Ed. Prayitno Desain Sampul Nasbahry Couto

Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor

oleh Prof. Dr. Prayitno, M. Sc. Ed.

Isinya. sampai sekarang. Saya benar-benar terperangkap oleh seluruh paparan dalam buku itu. saya berketetapan hati untuk meresponsnya. Asyik sekali.PENGANTAR ada suatu hari yang baik. hebat. mungkin teman itupun belum membacanya. Respons saya ini bukanlah tandingan ataupun reaksi atas buku hadiah dari teman saya itu. keyakinan. saya dikunjungi seorang teman. perasaan. ia memberikan sebuah buku. dengan judul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. sikap. dan isyaallah pada sisa-sisa hidup saya mendatang. dan kemungkinan bertindak serta hal yang pernah saya lakukan dalam kiprah profesionalisasi pelayanan konseling di tanah air. Terlebih-lebih. Respons saya terwujud dalam tulisan berjudul Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor yang menjadi isi buku ini. Uraiannya langsung terkait dengan apa-apa yang menjadi isi dan makna paparan dalam buku “Krisis Identitas” dan saya mengupasnya disertai kutipan yang relevan dari ketentuan pemerintah dan lain-lain. mungil dan menarik. melainkan merupakan pikiran. karena nama saya secara harfiah disebut dan dikiaskan berkali-kali. Saya membaca buku hadiah teman saya itu. Kami sama sekali tidak membahas buku itu. Isi P . sungguh menyentuh dunia kehidupan yang sudah saya geluti selama puluhan tahun. Tanpa komentar apa pun.

Rangkuman tersebut diharapkan mewakili seluruh inti sari respons saya terhadap segenap paparan Krisis Identitas dengan keinginan untuk mengatasi apa yang dimaksudkan. bertemu dalam ilmu. Seluruh komponen dan uraian dalam buku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor saya simpulkan dalam bentuk Rangkuman yang dapat diikuti pembaca sebelum dan/atau sesudah membaca isi buku Mengatasi Krisis Identitas ini secara keseluruhan.buku “Krisis Identitas” saya kupas secara terbuka agar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan ke mana hal itu menuju. uraian tersebut saya lengkapi dengan paparan singkat tentang Trilogi Profesi Konselor yang diharapkan dapat menjadi titik tuju dan titik temu bagi seluruh upaya profesionalisasi konseling. Mudah-mudahan siapapun juga. Lebih jauh. bertemu dalam kalbu. kalau hal itu memang terjadi dalam dunia konseling. Padang. Oktober 2008 . termasuk penulis buku “Krisis Identitas” dapat bertemu. Paparan tambahan itu dimaksudkan juga untuk menjadi arah dalam mengatasi krisis identitas dan krisis apapun juga. dan bertemu dalam laku untuk berpadu dalam profesi yang satu.

............. 84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia...................... 3......... B.. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru............. 3................ SPP-BKS: Panduan Kegiatan BK....... 2............................................ Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing................................ PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) 1....................... 3.............................................. Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK.. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing............ D..... SK Menpan No........................ 4. 2............ Konteks Tugas Konselor.... KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING 1............ Buku DSPK................... 2.Daftar Isi Pengantar RANGKUMAN A.......... Pendidik sebagai Agen Pembelajaran.............................................. 46 47 19 21 23 24 25 26 28 14 16 16 17 31 34 35 ....... Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor............ 5. Kriteria Guru Pembimbing.................... Konselor dan Konteks Tugasnya ................................................... Jabatan Fungsional Guru Pembimbing..................................... PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA 1............................ 4......................... 6....... C..... BUKU PANDUAN 1........... Penyelenggaraan Program PPK............ Pengawas Sekolah Bidang BK..................................... Persiapan dan Pembentukan..... 2....... 7.....................

..................... Pelibatan Otoritas Birokrasi................... 104 2..................................................................... 4............................ 3.............. Materi Dasar....... Peran Puskur .. Beasiswa PPK (BPPK)....................................... 3. PERMENDIKNAS No...... Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP............................. Trilogi Profesi Pendidik...................... Lagi: Muatan KTSP................................................................................ Ciri-ciri Profesi......... 2............... Suasana Kerja... Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya................................3............... 2. Peran P4TK-Penjas dan BK..................................... F.............. 114 Penutup ............. 107 3............ ARAH PROFESIONALISASI BK 50 55 57 59 65 69 74 79 82 83 87 98 1...................................... Rakernas ABKIN................ E....... 2......................... KURIKULUM 1........................................ Kurikulum 1975................................. Produk Hasil Penataan......................................................................................... PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK 1.............. H.......................................... I.......... 117 ...................... Profesi yang Bermartabat... G................. RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” 1............................................. 2....... 22 Tahun 2006 1...........

Mengatasi Krisis Identitas. apalagi anggota ABKIN secara keseluruhan. namun justru mengaburkannya. tidak mengikuti secara cermat dan tidak ikut serta menjalani apa yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. serta terperangkap oleh konsep-konsep dan tujuan jangka pendek yang kalau dibiarkan memang akan mengakibatkan krisis identitas yang justru harus dihindari dan diatasi. meskipun hal itu disebutkan secara nyata pada Pasal 39 Ayat (2) UU No. Meskipun logo dan nama ABKIN digunakan oleh penulisnya. 2. Buku “Krisis Identitas” ditulis oleh mereka yang kurang memahami. tentang perkembangan profesi konseling (BK) di tanah air. Penulis itu mengaburkan bahkan tidak mengakui tugas konselor sebagai pendidik yang membelajarkan. sebagai agen pembelajaran. 2008 B 1 . Seluruh isi “Mengatasi Krisis Identitas” dapat dirangkum sebagai berikut: 1.RANGKUMAN uku Mengatasi Krisis Identitas Profesi Konselor ini ditulis sebagai respons terhadap buku yang berjudul Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling. sejak tahun 1993. Penulis itu bersikukuh bahwa kata pembelaPrayitno. saya tidak yakin isi buku “Krisis Identitas Profesi Bimbingan dan Konseling” (selanjutnya disingkat “Krisis Identitas”) mencerminkan pandangan dan sikap sebagian besar pengurus. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dasar kerancuan dan sifat krisis sebagian besar isi buku “Krisis Identitas” adalah keinginan penulisnya untuk membedakan konteks tugas konselor dan guru.

padahal konteks tugas konselor sudah lama dispesifikasi. 2 Prayitno.24/1993. 2008 . 4. Guru Praktik. dan SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No.jaran adalah istilah hanya untuk guru. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peran spesifik Guru Pembimbing (sebagai sebutan awal untuk Konselor pada satuan-satuan pendidikan dasar dan menengah) telah ditetapkan sejak tahun 1993 melalui SK Menpan No. 3. 118/1996. mereka mencari dan memakai yang lain. yaitu menyusun program BK. karena membelajarkan itu hanya tugas guru. Dalam kaitan itu. Lalu. sedangkan untuk konselor harus yang lain. 025/U/1995. sosial. belajar dan karir (untuk peserta didik di satuan pendidikan dasar dan menengah) serta ditambah dengan kemampuan berkehidupan berkeluarga dan beragama (untuk individu dewasa). Guru Pembimbing itulah yang bertugas melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling (BK) b. yaitu pengembangan kemampuan pribadi. melaksanakan program BK. dan Guru Pembimbing. SK Mendikbud No. konsep absurd dan tidak aplikabel itu menimbulkan kerancuan dan krisis pada diri mereka. Mereka ngotot mengatakan bahwa SK-SK tersebut justru merancukan konteks tugas konselor. yang ternyata absurd dan tidak aplikabel. Pemakaian istilah yang lain itulah yang merancukan dan menimbulkan krisis identitas pada diri mereka sendiri. Mengatasi Krisis Identitas. mereka tidak memahami bahwa: a. Guru Mata Pelajaran. Perancuan oleh mereka itu berlanjut dengan digunakannya konsep untuk konteks tugas konselor. Di sekolah/madrasah sejak 1993 ada empat jenis guru. Lagilagi. yaitu Guru Kelas. yang tidak membelajarkan. Tugas Guru Pembimbing sudah dispesifikasi.

Kriteria penetapan sebagai Guru Pemimbing sudah ada aturannya d. Menafikan peran buku-buku tersebut dan menganggapnya merancukan konteks tugas konselor. agaknya mereka berpikir bahwa sejak istilah konselor resmi berlaku (ditetapkan dalam UU No. Lebih jauh. di sini sepertinya ada gaya “perfeksionis”. Tidak mempercayai kebenaran isian oleh Guru Pembimbing dalam menggunakan format-format yang ada dalam buku-buku panduan itu. 20/2003) maka semua ikhwal tentang BK dan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi dan harus diganti dengan aturan baru untuk konselor. Mengatasi Krisis Identitas. c. melalui jenisjenis layanan dan kegiatan pendukung BK c. meskipun Guru Pembimbing menyambut buku-buku itu dengan antusias Prayitno. Tentang buku-buku panduan yang sudah ada dan digunakan di sekolah sejak 1995 penulis “Krisis Identitas” berpendapat dan bersikap: a. padahal buku-buku tersebut telah disusun dan diverifikasi oleh tim penilai sesuai dengan SK-SK Menpan/Mendikbud dan digunakan sampai sekarang. Administrasi Guru Pembimbing dan angka kreditnya sudah ada aturannya e. Dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah b.mengevaluasi hasil pelaksanaan BK. Kepengawasan atas kinerja Guru Pembimbing sudah diatur petugasnya dan sudah diarahkan tugas fungsionalnya. Dalam hal ini sepertinya ada usaha memutus rantai sejarah. Bahkan menganggap buku-buku itu tidak perlu karena lapangan pada waktu itu belum siap. 5. 2008 3 .

DSPK telah disusun. 7.20/2003 tentang adanya pendidikan profesi di perguruan tinggi dan ditetapkannya sebutan konselor sebagai salah satu jenis pendidik. b.6. padahal: a. DSPK adalah rambu-rambu dari otoritas birokrasi yang berwenang memberlakukan kebijakan tanpa tergantung pada persetujuan dari ABKIN. Mengatasi Krisis Identitas. Sikap oposisinya terhadap DSPK sebagai landasan formal program PPK yang dikeluarkan Dikti. b. Penulis buku “Krisis Identitas” bersikap oposisi terhadap naskah Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) dengan membuat naskah tandingan untuk menggantikan DSPK. Tidak mau mamahami bahwa dosen program pendidikan profesi. DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK yang didukung sepenuhnya oleh Dikti sejak tahun 2004. di-sanction dan disosialisasikan ke seluruh Indonesia menurut prosedur resmi nasional. Sejak awalnya Ketua Umum ABKIN bersedia hadir dan melantik para Konselor lulusan PPK di UNP setiap tahun. c. Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap program Pendidikan Profesi Konselor (PPK). 2008 . d. Dengan demikian ABKIN meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. namun oposisinya terlihat pada: a. yang didukung oleh ketentuan Undang-undang No. DSPK telah disosialisasikan dan diinstruksikan untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK LPTK bagi pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik BK. menurut aturan perundangan (PP 4 Prayitno.

Diketahui sampai sekarang sudah 37 LPTK/ universitas dari seluruh indonesia (dari Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Jayapura) yang memanfaatkan beasiswa PPK. mereka tidak termasuk ke dalam hitungan itu. Mereka ingin membuka program PPK tetapi tidak mau menyiapkan dosen-dosen meskipun ada beasiswa yang memadai dari pemerintah. Dalam kaitan itu. Mereka mencari-cari kelemahan program PPK yang sudah ada beserta DSPK dan BPPK-nya. apabila mereka ingin membuka program PPK. kalau ada. sampai sekecil-kecilnya. d. mereka bahkan mengatakan bahwa adanya DSPK merupakan bentuk pelibatan otoritas birokratik yang mengukuhkan perancuan ekspektasi kinerja b. Mereka tidak mau menggunakan beasiswa PPK (BPPK) yang disediakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dosen-dosen BK dengan keterampilan. dan terlebih-lebih untuk disiapkan menjadi dosen program PPK. Membuat penduan sendiri yang berupa panduan tandingan sebagai rambu-rambu untuk program PPK versi mereka sendiri. Mereka tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. Mereka tidak mau berpartisipasi bersama sebagian besar LPTK untuk memprofesionalkan dosendosen BK itu. Selain itu: a. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan) haruslah berkualifikasi Magister (S2) dan memiliki kompetensi keahlian dalam bidang profesi itu (dalam hal ini lulusan PPK). c.no. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 5 . dengan tidak memperhatikan aturan perundangan tentang dosennya sebagaimana tersebut pada butir b di atas. dalam hal ini sepertinya ada upaya memutus rantai sejarah. keahlian praktik profesi. c. Ingin membuka program PPK dengan model sendiri selain model yang sudah ada. Prayitno. baik sebagai dosen program BK S1.

dan mempersempit pengertian KTSP mengeluarkan komponen BK (pelayanan konseling) dari KTSP menolak dan mengaburkan pengertian Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP (Permendiknas No. c. Sesungguhnyalah mereka perlu mencamkan pesan bijak dan berisi pandangan cerdas ke depan dari Bapak Prof.tentang PPK 1 tahun setelah S1 diamankan. yaitu sebagai kumpulan mata pelajaran. padahal dewasa ini pengertian yang lebih banyak digunakan adalah pengertian yang lebih mencakup. 2008 6 . mengaburkan. merancukan pengertian Kurikulum 1975 merancukan. Dr. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. 8. Pengertian yang lebih mencakup itulah yang digunakan di dalam Undang-undang. Sukamto. tidak untuk pendidik-pendidik lainnya.Sc. `20/2003) hanya cocok untuk konteks tugas guru. d. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu kurikulum sebagai rangkaian pengalaman belajar peserta didik yang menjadi tanggung jawab satuan pendidikan menyelenggarakan proses pembelajarannya. Satryo --(maksudnya Bapak Dirjen Dikti)--. apalagi konselor. Penulis “Krisis Identitas” bersikukuh bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undang-undang (UU No. M. b. Di samping itu mereka memahami makna kurikulum dalam arti yang sempit.konselor. Akibat pemahaman yang sempit ini adalah bahwa mereka: a. • Saya cuma ingin ide Prof. PP dan Permendiknas. Prayitno. (Direktorat PPTK-KPT pada waktu itu) yang ditujukan kepada masyarakat konseling Indonesia.22/ 2006 tentang Standar Isi). yaitu: • Daripada ber-S2-ria.

Standar Isi yang ada (dalam Permendiknas) isinya “kering” karena “tidak memuat arah dan panduan pencapaian kompetensi oleh peserta didik untuk tiap mata pelajaran perjenjang pendidikan”. kerdil dan kontraproduktif. KTSP yang dilandasi oleh standar isi adalah KTSP untuk guru saja. 22/2006 tentang Standar Isi. 22/2006 meliputi juga standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang dilampirkan dengan volume sampai 2143 halaman. Permendiknas).Kenyataannya di lapangan. Pemahaman sempit dan ketidaktahuan mereka tentang materi dasar Permendiknas tersebut mengakibatkan pemikiran yang rancu. dewasa ini di sekolah/ madrasah (SD/MI. Konsep kurikulum yang digunakan oleh penulis “Krisis Identitas” ditolak oleh Pengurus Daerah ABKIN karena konsep “baru” itu justru akan menimbulkan kerancuan. Guru Pembimbing di sekolah/madrasah berpegang pada peraturan pemerintah (Puskur. BSNP. b. 2008 7 . Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami secara tepat dan menyeluruh substansi Permendiknas No. Diadakannya kedua komponen selain Prayitno. SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK) telah diberlakukan KTSP berdasarkan Permendiknas tersebut. Dalam kaitan ini mereka menganggap bahwa: a. Rupanya mereka tidak tahu bahwa Standar Isi dalam Permendiknas No. Substansi Standar Isi seharusnya hanya berisi hal-hal tentang mata pelajaran yang diampu oleh guru saja. 9. yang lebih musykil: Tentang KTSP mereka mempersoalkan komponen muatan lokal dan komponen pengembangan diri (yang di dalamnya terdapat subkomponen pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler). Mengatasi Krisis Identitas. c. Lebih jauh. kebingungan dan malahan benturan dalam pelaksanaan pelayanan BK di sekolah/madrasah.

Sementara itu P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pedoman Pelaksanaan Pelayanan BK yang sepenuhnya diambil dari panduan yang disusun Puskur. dan bahkan memvonis “pelatihan itu mencederai integritas BK”. adalah untuk memberikan lahan garapan nantinya bagi tim penyusun komponen yang ada dalam KTSP itu. panduan dari Puskur. setelah diketahui bahwa konsep-konsep mereka berbeda. b. Mengatasi Krisis Identitas. Penulis “Krisis Identitas” tidak tahu apa yang terjadi di P4TK Penjas/BK. penataan ke arah pro- 8 Prayitno. dan sosok kinerja BK sebagaimana seharusnya di lapangan. anggapan mereka. keinginan mereka itu ditolak. ABKIN memulai upaya. Pengurus Daerah ABKIN juga mempertanyakan apakah konsep-konsep mereka itu tidak justru merancukan dan mengacaukan apa yang sudah berjalan belasan tahun di lapangan. Dalam hal itu. sedangkan ABKIN terus berusaha membuat tandingannya. Padahal yang dilatihkan itu sesuai dengan KTSP (Permendiknas No.mata pelajaran dalam KTSP itu. Diawali dengan Rakernas bulan Januari 2008. 2008 . namun kemudian panduan tandingan itu dipaksakan untuk dipakai di sekolah/madrasah. 10. secara bijak dinyatakan bahwa “panduan tandingan itu silahkan dipakai dilingkungan ABKIN sendiri tetapi tidak di sekolah/madrasah”. 22/2006). Penulis “Krisis Indentitas” semula ingin berkolaborasi dengan Pusat Kurikulum (Puskur) Balitbang Diknas dan Pusat Pelatihan Guru Penjas dan BK (P4TK Penjas/BK). a. yang dibina sejak 1993. Puskur telah membuat panduan pelayanan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler (yang terhimpun di dalam panduan Pengembangan Diri). yang katanya. Dengan ketidaktahuannya itu mereka menyatakan bahwa “Pelatihan Guru Pembimbing di P4TK Penjas/BK itu adalah pelatihan untuk guru”. 11.

dipolakan “dari atas” dan mencari formalitas. dan kolegial untuk menghasilkan produk terbaik. kompak. Oke. Masalahnya adalah bagaimana upaya itu dilakukan dan apa hasilnya. hal itu baik-baik saja. Gambaran singkatnya sebagai berikut: a. yaitu audiensi dan hadir di Rakernas. Dirjen berkenan hadir di Rakernas. Rekernas diawali oleh penolakan Dirjen Dikti untuk menerima audiensi PB ABKIN karena Dirjen tahu ada gejala pro-kontra di kalangan ABKIN sendiri. Diberitakan ada tujuh buah buku sebagai produk hasil kegiatan pasca Raker. terutama berkenaan dengan DSPK.fesionalisme profesi BK. b. Mengatasi Krisis Identitas. Karena dimohon untuk dua acara. PPK. BK dalam KTSP. Usul-usul tidak ditanggapi secara keilmuan ataupun dibahas secara tuntas. yaitu dipesankan kepada peserta Raker agar “tidak timbul ABKIN Perjuangan”. ada pernyataan beliau yang menggigit. serta hasil-hasilnya menjadi tandingan atau merupakan penyimpangan terhadap aturan perundangan yang berlaku dan kondisi lapangan yang sedang berjalan. c. semuanya kembali kepada “pola dari atas” sampai-sampai produk-produk yang sudah resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional pun diganti dengan materi lain yang entah berasal dari mana. Rupanya langkah-langkahnya bersuasana “kejar tayang”. Dalam pelaksanaannya kegiatan pasca Raker suasananya tidak seperti dipesankan oleh Dirjen Dikti itu. Tentunya yang dimaksud dalam pesan tersebut adalah agar Raker dan kegiatan selanjutnya berjalan lancar. Kadar/kualitas dari produkproduk itu diwarnai hal-hal sebagai berikut: Prayitno. masukan dianggap sebagai gangguan akademik atau bahkan dianggap tandingan. harmonis. dan panduan pelayanan BK di sekolah. 2008 9 . Dalam pengarahannya di Rakernas itu. tetapi justru dikendalikan agar tidak ada “gangguan”.

Mengatasi Krisis Identitas. Penyempitan/ penyimpangan makna itu terjadi untuk sejumlah pasal/ayat dari. 20/2003 yang terkait dengan pendidik dan pembelajaran PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan Pengembangan Diri • • • • • • 2) Buku panduan yang merupakan produk-produk yang dimaksudkan itu diposisikan sebagai tandingan (dan sejak semula memang dimaksudkan) untuk menggantikan aturan resmi yang ada. transparansi. sebagaimana dibahas sejak awal pembicaraan ini.1) Terjadinya penyempitan dan penyimpangan makna sejumlah aturan perundangan. 2008 . padahal penulis “Krisis Identitas” cenderung 10 Prayitno. kolegalitas. Dalam pada itu dipertanyakan bagaimana produk-produk itu mendapat legitimasi dari otoritas birokrasi. program sertifikasi guru dan dosen. SK Mendikbud dan SKB Mendikbud/ Menpan yang menyatakan eksistensi dan kinerja Guru Pembimbing UU No. seperti DSPK. antara lain: • SK Menpan. prosedur penyetalaan. keilmuan dan kepatuhan terhadap aturan perundangan yang berlaku. sehingga produk yang dimaksudkan itu diragukan kesahihan dan keterandalannya. panduan pelayanan BK di sekolah. Standar Kompetensi. 3) Produk yang berupa buku-buku itu dihasilkan dengan mencederai aspek-aspek prosedural.

Penyusunan buku izin praktik oleh pihak-pihak yang tidak berpengalaman praktik profesi adalah sesuatu yang di luar kelayakan. Jadi adanya buku itu melampaui kewenangan BSNP. 6) Berkenaan dengan telah diberlakukannya Permendiknas No.beroposisi terhadap pelibatan otoritas birokrasi. apalagi kalau dipaksakan untuk kegiatan kelembagaan pemerintah. ABKIN dapat berpartisipasi dalam memberikan masukan. Oleh karenanya buku-buku itu tidak dapat diberlakukan. yang langsung berkenaan atau di dalamnya memuat substansi “standar kompetensi konselor” secara resmi menjadi cacat substansi karena isinya itu tidak sesuai yang ada pada Permendiknas No. 7) Sepanjang sesuai dengan dinamika lapangan dan dalam rangka kajian keilmuan. 27/2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Prayitno. Memang diketahui pada waktu itu di kalangan Dikti sedang terjadi suasana mutasi yang cukup menyeluruh. maka produk yang berupa tujuh buku itu. barangkali produk yang berupa buku-buku itu masih dapat dimanfaatkan di lingkungan ABKIN sendiri. tetapi tidak bisa dijadikan sebagai referensi resmi. Mengatasi Krisis Identitas. bukan hak ABKIN. 2008 11 . 27/2008 tentang SKAKK itu. semestinyalah dilakukan oleh pihak yang telah berpengalaman praktik profesi yang ditandai dengan dimilikinya gelar profesi yang dimaksud oleh pihak pemberi izin praktek. 4) Berkenaan dengan buku tentang standar kompetensi pendidik konselor (satu dari tujuh buku yang dimaksud) dapat dikemukakan penyusunan standar pendidik seperti itu menjadi hak BSNP. 5) Berkenaan dengan penerbitan izin praktik.

padahal makna yang sesungguhnya adalah tuntutan profesi agar konselor berdedikasi secara tulus dengan kompetensi optimal dalam memenuhi kebutuhan klien sebagai kepentingan utama sambil mengesampingkan kepentingan pribadi konselor sendiri. sesungguhnyalah. 12. Dalam hal itu Dekan FIP dan Pimpinan Jurusan BK UNP sewajarnya pula mengamankan apa yang menjadi kebijakan Rektor tersebut. 9) Keikutsertaan Rektor UNP dalam pembicaraan tentang produk yang berupa tujuh buku itu karena beliau secara resmi menjadi tahu tentang selukbeluk permasalahannya. sehingga sebagai pejabat yang bertanggung jawab dan sangat berkepentingan dengan kemajuan profesionalisasi BK. ada krisis atau tidak ada krisis profesionalisasi profesi konseling harus berjalan 12 Prayitno. segenap bahasan tertulis yang ditampilkan oleh penulis “Krisis Identitas” itu telah memperoleh respons secukupnya agar pihak-pihak terkait memakluminya. Akhirnya. Mengatasi Krisis Identitas. Hal itu ada pada semangat penulis “Krisis Identitas” ditandai dengan digunakannya kata-kata motif altruistik dan juga istilah lahan garapan di awal sampai akhir paparan buku “Krisis Identitas” itu. Lebih dari itu. Kata-kata indah motif altruistik dipakai oleh penulis itu justru dengan konotasi yang salah karena dikaitkan dengan lahan garapan. 2008 . tindakan beliau adalah sangat wajar dalam mengamankan dan melindungi wilayah kerja BK di LPTK pada umumnya dan UNP pada khususnya. yang juga menjadi wilayah tugas beliau.8) Hal yang ganjil dan cukup mengganjal ialah adanya tanda-tanda bahwa produk yang berupa buku-buku itu ditampilkan sebagai modal dan alat untuk “membuat lahan garapan” dalam bidang BK bagi mereka yang mempersoalkan dan menghendakinya. dari pengaruh tertentu yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

arahkan tegakkan dan kokohkan trilogi profesi untuk konselor bermartabat Prayitno. 2008 13 . Mengatasi Krisis Identitas. Marilah semua teman bertekad membesarkan dan menjunjung tinggi profesi yang tercinta ini. jangan biarkan menjadi keruh JIKA HATI seputih dan selembut awan.terus melalui pengkajian. Semua pihak dihimbau untuk saling isi-mengisi sehingga kalau pun ada krisis segera bisa diatasi. hiasi ia dengan iman jangan biarkan krisis identitas ada di dalam dada. pembinaan dan pengembangan praktik keahlian profesi sejalan dengan apa yang disebut trilogi profesi konselor. JIKA HATI sejernih air bening. jangan biarkan ia menjadi mendung dan badai JIKA HATI seindah bulan purnama.

fasilitator. pendidik. tutor.URAIAN MENYELURUH A. 1. siapa orangnya? “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru. Pertama. instruktur. Konselor dan Konteks Tugasnya P enulis “Krisis Identitas” sangat konsisten ingin membedakan konteks tugas guru dan konteks tugas konselor dengan mengatakan: Ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan. PROSES PEMBELAJARAN DAN KONTEKS TUGASNYA Penulis “Krisis Identitas” ingin menegaskan perbedaan antara konteks tugas konselor dan guru. 1 dan berbagai halaman lainnya) Kata kunci yang dipermasalahkan di sini adalah kata pembelajaran. widyaiswara. konselor. sedangkan guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. tetapi justru mengaburkannya. serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (UU 14 Prayitno. 2008 . dan sebutan lain sesuai dengan kekhususannya. Mengatasi Krisis Identitas. dosen. sedangkan guru terkait? Jawabannya terletak pada pengertian pendidik dan tugas pendidik. pamong belajar. Apakah benar kinerja konselor tidak terkait dengan pembelajaran.

1) Adalah kekeliruan yang amat fatal ketika penulis “Krisis Identitas” mengatakan bahwa: “Pasal 39 ayat (2) UU No. Mengatasi Krisis Identitas. 20/2003 Pasal 39 Ayat 2). ia sedang membelajarkan klien? Dalam layanan-layanan tersebut digunakan materi pembelajaran tertentu (yaitu materi layanan konseling) untuk membelajarkan klien sehingga ia mampu mengentaskan masalahnya. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik di perguruan tinggi” (UU. Bagaimana klien mampu mengentaskan masalahnya atau menjadi mandiri kalau ia tidak belajar? Apa kemampuan mengentaskan masalah atau kemandirian klien itu datang dari langit. Prayitno. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang sebenarnya mengatur ekspektasi kinerja guru yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. menilai hasil pembelajaran. Rupanya penulis itu tidak tahu bahwa pasal itu berlaku untuk semua pendidik. melakukan pembimbingan.No. informasi. Kesalahan fatal itulah yang agaknya mendasari penulisan buku “Krisis Identitas”. dan lain-lain layanan. No. konselor pendidik apa bukan? Bagi siapa yang mematuhi undang-undang pasti mengakui. 19). setidak-tidaknya menjadi tahu bahwa konselor adalah pendidik. Nah. Kalau konselor itu pendidik. Terkait dengan itu semua pemikiran dan produkproduk yang didasarkan pada pemahaman yang benar-benar salah itu otomatis gugur karena tidak berdasarkan aturan perundangan yang berlaku. tidak hanya guru. konseling perorangan. Konselor menggunakan kegiatan pembelajaran dalam melaksanakan layanannya. Bukankah ketika seorang konselor melaksanakan layanan orientasi. 20/2003 Pasal 1 Butir 6). atau disuapkan oleh konselor? Ketahuilah bahwa konselor harus mampu membelajarkan klien kalau ia (konselor) hendak memberikan pelayanan yang benarbenar profesional 1). dosen. dan pendidik lainnya. 2008 15 . termasuk konselor dan pendidik lainnya. Kedua. haruslah diakui bahwa termasuk tugas konselor adalah merencanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. Penulis “Krisis Identitas” mengaburkan makna konselor sebagai pendidik yang harus melaksanakan kegiatan pembelajaran. apa tugas pendidik? “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan proses pembelajaran. seperti juga guru.

Semua pendidik melakukan pembelajaran terhadap peserta didik dengan konteks tugas yang berbeda-beda. sedangkan konteks tugas konselor adalah kondisi pribadi klien misalnya penyesuaian diri. konteks tugasnya apa. Perlu diketahui juga bahwa tugas pembelajaran oleh konselor memang berbeda dibandingkan guru. Konteks tugas pembelajaran yang dilakukan guru adalah mata pelajaran bidang studi. 2) Di perguruan tinggi. widyaiswara apa. sikap dan kebiasaan belajar. dsb 2) . di sinilah kalau ingin tahu bedanya konteks tugas konselor dan guru). konselor apa. Bukankah mata pelajaran bidang studi dan kondisi pribadi klien itu berbeda? Begitulah caranya membedakan ekspektasi tugas konselor dan tugas guru. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami peran pendidik sebagai agen pembelajaran. Guru.2. konteks tugas dosen (sebagai pendidik yang melakukan pembelajaran) disebut mata kuliah Prayitno. (Nah. informasi dan pilihan karir. Dengan konteks tugas yang berbeda-beda itu. IPS. Guru dengan modus pengajaran mata pelajaran bidang studi sedangkan konselor dengan modus pelayanan konseling dan kegiatan pendukungnya. dosen apa. seperti mata pelajaran Matematika. Perbedaan Konteks Tugas Konselor dan Guru Penulis “Krisis Identitas” merancukan konteks tugas konselor dan guru. Modus pembelajarannya pun berbeda-beda. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 16 . dsb. IPA. semua pendidik melaksanakan pembelajaran dengan modus pembelajaran yang berbeda-beda pula. 3. dan sebagainya.

dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam perjalanan hidupnya sehingga mampu memilih. dalam konteks kemaslahatan umum” (hlm. yang berbeda dari guru. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup produktif dan sejahtera. Konteks Tugas Konselor Konteks tugas konselor yang dikemukakan penulis “Krisis Identitas” absurd dan tidak aplikabel. oleh karenanya “tidak terkait dengan pembelajaran”. yaitu bahwa konteks tugas konselor adalah: “proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. mohon maaf. agar orang-orang yang membutuhkan mau memanfaatkan minyak yang dijajakannya. Nah.Perhatikan juga Pasal 28 ayat (1) PP No. Mengatasi Krisis Identitas. sehat jasmani dan rohani. kan?) untuk menjadi agen pembelajaran. mampukah konselor sebagai pendidik (konselor pendidik. Penulis “Krisis Identitas” tampaknya ngotot betul untuk menegaskan konteks tugas konselor. Bersediakah konselor menjadi agen pembelajaran? Kalau tidak mau.” agar orang-orang mau membeli minyaknya. 2008 17 .. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. 13). 4... Prayitno.. agen minyak yang setiap kali bersorak “minyak. berhentilah menjadi pendidik kalau tidak hendak melanggar undang-undang. 19/2005: “Pendidik haruslah memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. yang menyorak-nyorakkan kepada peserta didik (dalam hal ini klien) untuk mau belajar? Seperti.

mencakup. tentu hebat betul. apalagi SD mampu memilih. operasional dan dapat disesuaikan dengan tugastugas perkembangan anak pada setiap tahap perkembangannya. Mana mungkin siswa-siswa SLTP/SLTA. yang kedua adalah kalau toh hal yang “hebat” di atas itu benar. dan SLTA.Ya. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera? Disuruh atau diapakan anak. luar biasa. 2008 18 . bagaimana caranya sehingga klien mampu memilih. dan karir 3). Lebih jelas. kalau tidak hendak mencekokinya atau menghipnotisnya. apa tidak cukup hal itu semua disederhanakan saja menjadi: materi pengembangan kemampuan pribadi. meraih serta mempertahankan karir. kemudian mencapai hidup produktif dan sejahtera. supaya bisa memilih. untuk klien dewasa sekalipun. lebih-lebih kalau yang disebutkan dalam kutipan di atas dapat diperhadapkan. sosial. klien atau konseli atau apapun namanya. Itu yang pertama. 3) Untuk klien-klien dewasa materi pengembangan itu ditambah dengan: pengembangan kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan. Kok repot-repot amat. SLTP. Dengan demikian. atau diberikan suasana yang kondusif untuk belajar. meraih dan mencapai itu? Pastilah disuruh. Ya belajar dong. dan juga dapat disesuaikan dengan tingkat kelasnya. sosial. belajar. klien atau konseli. Mengatasi Krisis Identitas. Prayitno. belajar dan karir. dengan konteks tugas pengembangan kemampuan pribadi. meraih serta mempertahankan karir. Atau ada cara lain? Kok repot amat. dan itu namanya pembelajaran. Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa konteks tugas konselor digarap melalui kegiatan pembelajaran. siswa. atau peserta didik. atau dirangsang. tugas konselor adalah membelajarkan peserta didik. dapat diraih dan dapat dicapai oleh para siswa di SD. Itu adalah rumusan yang terlalu amat indah.

84/1993 sebagai Titik Tolak Reformasi BK di Indonesia Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa telah terjadi lompatan besar dalam eksistensi dan substansi tentang BK. Sedangkan tugas guru adalah membelajarkan peserta didik dengan konteks tugas materi pelajaran Matematika. Cermati kutipan-kutipan dan uraian di bawah ini. 26/1989 ke SK Menpan No. B. Ditegaskan oleh penulis “Krisis Identitas” bahwa biang keladi kerancuan atau bahkan krisis identitas adalah rujukan yang mengacu pada SK Menpan No. 2008 19 . caranya dengan mengoperasionalkan metode dan cara-cara mengajar. SK Menpan No. 1. dari SK Menpan No. katanya. sehingga sasaran dan tugasnya menjadi jelas dan spesifik. merancukan tugas konselor dan guru.Caranya dengan mengoperasionalkan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling. 84/1993. karena lagilagi. Bahasa. dll. Mengatasi Krisis Identitas. Prayitno. IPA. Dengan demikian perlu diketahui dan dicamkan bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. KETENTUAN PEMERINTAH TENTANG BK DAN GURU PEMBIMBING Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa eksistensi dan peranan Guru Pembimbing/Konselor telah direformasi sejak 1993. Tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. 84 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

ATAU: Menyusun program bimbingan. serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawab. 20 . melaksanakan program bimbingan. Istilah dan/atau bagi kegiatan mengajar dan membimbing diganti dengan istilah atau. analisis hasil pelaksanaan bimbingan. kegiatan pelayanan BP dilecehkan. Menyadari kerancuan terebut di atas. Secara singkat. 2008 b. dan tindak lanjut pelaksanaan program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung Prayitno. sehingga terjadilah pemisahan yang jelas apakah seseorang akan bekerja mengajar atau membimbing. karena boleh dilakukan oleh guru yang tidak tahu menahu perihal BP. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Mengatasi Krisis Identitas. Prayitno) berusaha melakukan perubahan atau reformasi. adalah SK Menpan lama sebelum diperbaharui. Melalui lobi yang intensif dengan para petinggi Depdikbud dan Menpan. oleh SK Menpan yang lama tugas konselor dan tugas guru konselor dirancukan. Nah. akhirnya disepakati istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) diganti menjadi Bimbingan dan Konseling (BK). evaluasi pelaksanaan bimbingan. 026/1989. bekerja mengajar atau menjadi pelaku bimbingan dan penyuluhan (istilah BP pada waktu itu). Tidak boleh lagi ke sana ya. evaluasi belajar.SK Menpan no. Di samping itu. Dengan SK Menpan yang baru ini dimulailah era pemisahan yang tegas secara formal antara petugas yang mengajar dan petugas yang membimbing. itu benar. menyajikan program pengajaran. karena dengan kata dan/atau guru dapat ke sana ke mari. pada tahun 1993 PB IPBI waktu itu (yang kebetulan Ketua Umumnya adalah. ke sini ya. SK Menpan No. analisis hasil evaluasi hasil belajar. Hal itu semua termaktub pada SK Menpan No. Itu kondisi sebelum awal tahun 1993. Menyusun program pengajaran. tentang tugas guru SK itu hanya menyatakan: “Tugas guru adalah mengajar dan atau membimbing”. mohon maaf. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya itu menegaskan bahwa tugas pokok guru adalah: a.

Peraturan yang ada adalah PP No. 25/1995 yang merujuk kepada SK Menpan No. 84/1993 menegaskan adanya empat jenis guru. Tidakkah perbedaan antara guru yang mengajar dan guru yang membimbing menjadi jelas? Atau masih rancu juga? 2. 2008 21 . SK Mendikbud No. Sebutan Guru Pembimbing sebagai Awal untuk Sebutan Konselor Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa sebutan “Guru Pembimbing” merupakan awal untuk sebutan “Konselor”.jawabnya. Namun usaha itu belum dapat dikabulkan karena peraturan pada waktu itu belum ada yang memberikan celah untuk digunakannya istilah konselor 4). Penulis itu sepertinya memutus rantai sejarah. Perhatikanlah kata ATAU. Mengatasi Krisis Identitas. Serentak dengan perjuangan memisahkan tugas mengajar dari tugas membimbing itu diupayakan juga ditetapkannya nama resmi bagi petugas yang membimbing atau melaksanakan pelayanan BK. Terkait dengan hal itu. 20/2003) malahan dihembus-hembuskan tentang krisis identitas. yaitu: 4) Dewasa ini. ketika istilah konselor sudah secara resmi terukir di dalam undang-undang (UU No. Bukankah yang lebih perlu diupayakan adalah mengisi profesi konselor itu agar semakin mantap dan bermartabat? Prayitno. 28/1990 tentang Pendidikan Dasar dan PP No. Pada waktu itu telah dengan gigih diusulkan untuk dipakainya istilah konselor untuk mengganti sebutan “petugas BP” yang pada waktu itu dipakai. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah yang menyebutkan bahwa “Bimbingan diberikan oleh Guru Pembimbing”.

memperhatikan kutipan tersebut di atas. 2008 . wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada satu mata pelajaran tertentu di sekolah c. adalah guru yang mempunyai tugas. yaitu guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA. Kalau mau konsekuen. marilah kita ikuti pengertian bimbingan dan konseling yang menjadi spesifikasi tugas guru pembimbing (dikutip dari SK Mendikbud No. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik Nah. 025/0/1995): Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik. Guru kelas. adalah guru yang mempunyai tugas. dan guru pembimbing benar-benar jelas dan tidak ada keraguan 5). istilah guru BK itu ada di dalam panduan sertifikasi guru dalam jabatan. Guru praktik. yang ada adalah guru pembimbing sesuai dengan SK Mendikbud no. berdasarkan norma-norma yang berlaku. guru BK adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran BK. Guru BK? Sebutan guru BK justru dapat dirancukan dengan guru mata pelajaran. 22 Prayitno. agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. 5) Dewasa ini ada orang yang mendorong agar untuk guru pembimbing itu digunakan istilah guru BK. adalah guru yang mempunyai tugas. Guru Pembimbing. dan SLB Tingkat Dasar. tanggung jawab. guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran. Nah. guru praktik. kecuali mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan serta Pendidikan Agama b. Sejalan maknanya dengan guru IPA. baik secara perorangan maupun kelompok. tanggung jawab. bukan?. Mengatasi Krisis Identitas. ini baru merancukan dengan sengaja. bimbingan sosial. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar pada kegiatam praktik di sekolah kejuruan atau BLT d.a. 25/0/ 1995 itu. Lebih jauh. dalam bidang bimbingan pribadi. tanggung jawab. adalah guru yang mempunyai tugas. melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung. panduan itu tidak bisa digunakan karena di lapangan (sekolah) tidak ada guru yang bertugas dengan nama guru BK. SD. tanggung jawab. wewenang dan hak secara penuh dalam proses belajar mengajar seluruh mata pelajaran di kelas tertentu di TK. SDLB. kan? Apa guru BK tugasnya mengajarkan mata pelajaran BK? Celakanya. apanya yang rancu? Tugas guru kelas. Rancu. bimbingan belajar dan bimbingan karir. Dengan demikian.

bimbingan sosial. konseling kelompok. pencegahan. penempatan dan penyaluran. dan • • • Prayitno. yang pasti sangat berbeda dari konteks tugas guru mata pelajaran yang mengarah dan dalam batasan pengajaran mata pelajaran bidang studi itu. Pasal 1: • Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas. tanggung jawab. bimbingan sosial dan bimbingan sosial. Kutipan dari SKB Mendikbud dan Kepala BAKN no.Pengertian bimbingan dan konseling di atas jelas memberikan arahan dan batasan tentang konteks tugas kinerja guru pembimbing. pengentasan. wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik. 0433/P/1993 dan No. bimbingan kelompok. informasi. pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi. Menyusun program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi. 3. bimbingan belajar. Evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah menilai hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling yang mencakup layanan orientasi. Mengatasi Krisis Identitas. 25 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 2008 23 . konseling perorangan. Pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah melaksanakan fungsi pelayanan pemahaman. dan bimbingan karir. Jabatan Fungsional Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami spesifikasi tugas fungsional Guru Pembimbing.

dapat dikutip pula: a. 2008 . Dari sumber yang sama dengan no. Mengatasi Krisis Identitas. Guru pembimbing bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling. Lagi. kutipan di atas membedakan dan memisahkan dengan gamblang tugas guru pembimbing dari tugas guru mata pelajaran. Setiap guru pembimbing diberi tugas bimbingan dan konseling 6) sekurang-kurangnya terhadap 150 siswa. guru mata pelajaran bekerja dalam kegiatan pengajaran mata pelajaran bidang studi. 24 Prayitno. Penugasan untuk menjadi guru pembimbing sebagaimana kutipan di atas tidaklah sembarangan atau memakai kriteria seperti disebut oleh penulis “Krisis Identitas”. serta kegiatan pendukungnya. yang menyatakan begini: 6) Perhatikan: tugas bimbingan dan konseling. 4.bimbingan pembelajaran. Jelas sekali dan tidak ada kerancuan. Kriteria Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kriteria yang ditetapkan bagi Guru Pembimbing. guru yang telah mengikuti penataran bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 180 jam dapat diberi tugas sebagai Guru Pembimbing. Penugasan ini bersifat sementara sampai guru yang ditugasi itu mencapai taraf kemampuan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya D3 atau di sekolah tersebut telah ada guru Pembimbing yang berlatar belakang minimal D3 bidang bimbingan dan konseling. 3 di atas. bukan tugas mengajar. b. Bagi sekolah yang tidak memiliki guru pembimbing yang berlatar belakang bimbingan dan konseling.

Itulah krisis identitas yang sebenarnya ada pada diri penulis “Krisis Identitas”. 6). Administrasi Kepegawaian Guru Pembimbing Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami administrasi kepegawaian Guru Pembimbing. meskipun mungkin terjadi di lapangan. baik untuk Mata Pelajaran maupun untuk Guru Pembimbing tingkat SLTP Prayitno.“. sehingga memang layak ditugasi untuk memberikan pencerahan atau suluh kepada peserta didik yang belia dan tentu saja secara alamiah memang masih kurang pengalaman hidup itu” (hlm. 5. dan sebagainya yang yang Guru pada b. 11) memiliki ijazah serendah-rendahnya: a.. Dikhawatirkan. 2008 25 .. Mengatasi Krisis Identitas. Apabila angan-angan seperti itu memang mendasari karya penulis tentang “Krisis Identitas” maka “krisis identitas” yang dituliskannya itu sebenarnya hanya ada di angan-angan penulis itu sendiri.. Kutipan berikut dari sumber SKB Mendikbud dan Kepala BAKN: Pegawai negeri sipil yang diangkat untuk pertama kali untuk jabatan guru (kutipan: SPPK-BKS hlm.. yang pasti hal itu bertentangan dengan peraturan resmi yang berlaku tentang BK. Konselor adalah pendidik yang arif akibat pengalaman hidupnya yang kaya dan panjang. kalimat tentang “pendidik yang arif akibat pengalaman” yang ditulis pada buku “Krisis Identitas” itu adalah angan-angan penulis sendiri yang justru tidak didukung oleh peraturan yang berlaku. Diploma III Keguruan atau Diploma III atau setingkat dan memiliki Akta III dalam bidang sesuai dengan kualifikasi pendidikan.

c.

Sarjana Pendidikan (S1 Keguruan) atau S1 yang mempunyai Akta IV dalam bidang yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan, baik untuk Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik, maupun untuk Guru Pembimbing pada SLTA Untuk menetapkan angka kredit jabatan guru seperti tersebut di atas aspek yang diperhitungkan yang berasal dari unsur pendidikan adalah proses belajar mengajar (bagi Guru Kelas. Guru Mata Pelajaran, Guru Praktik) atau bimbingan dan konseling untuk Guru Pembimbing, dan/atau pengembangan profesi serta unsur penunjang PBM atau bimbingan yang diperoleh semenjak yang bersangkutan menjadi calom Pegawai Negeri Sipil, sebelum diangkat dalam jabatan guru

d. dan sebagainya e.

Jelas, untuk administrasi kepegawaian pun pengangkatan untuk menjadi guru pembimbing telah dispesifikasi. Demikian juga untuk penerapan angka kredit mereka. Tidak ada kesamaan, kecuali mereka tidak mengerti dan/atau mau sengaja merancukan.

6. Kegiatan Operasional Guru Pembimbing
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami kegiatan operasional Guru Pembimbing. Dari sumber yang sama dikutip sebagai berikut: Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling:
a. Setiap kegiatan menyusun program, melaksanakan program mengevaluasi, menganalisis, dan melaksanakan kegiatan tindak lanjut, kegiatannya meliputi 7):

7)

Nomor 1 sd No. 7 adalah jenis-jenis layanan, dan No. 8 sd. No. 12 adalah jenis-jenis kegiatan pendukung.

26

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

(1) Layanan orientasi (2) Layanan informasi (3) Layanan penempatan dan penyaluran (4) Layanan pembelajaran (5) Layanan konseling perorangan (6) Layanan bimbingan kelompok (7) Layanan konseling kelompok (8) Instrumentasi bimbingan dan konseling (9) Himpunan data (10) Konferensi kasus (11) Kunjungan rumah (12) Alih tangan kasus b. Kegiatan bimbingan dan konseling secara keseluruhan harus mencakup (1) bimbingan pribadi

(2) bimbingan sosial (3) bimbingan belajar (4) bimbingan karir c. Layanan orientasi wajib dilaksanakan pada awal caturwulan pertama terhadap siswa baru

d. Satu kali kegiatan bimbingan dan konseling memakai waktu rata-rata 2 (dua) jam tatap muka

Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami konteks perkembangan BK, dari “BK Pola Tidak Jelas” ke “BK Pola 17” dan selanjutnya “BK Pola 17 Plus”.

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

27

Sudah sangat spesifiklah apa yang mestinya dilakukan oleh guru pembimbing. Sesungguhnyalah spesifikasi tugastugas guru pembimbing itu telah dirumuskan sejak tahun 1993 ketika pertama kali IPBI menjadi mitra bagi P3G keguruan di Parung (yang sekarang menjadi P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling) yang menyelenggarakan penataran nasional guru pembimbing. Pada tahun 1993 itulah kesempatan pertama kali guru pembimbing (secara nasional) terjangkau oleh pemerintah untuk ditatar, yang mana sebelumnya seperti “dianaktirikan” dibanding guruguru mata pelajaran yang sering mendapat kesempatan secara nasional. Hal itu adalah sebagai berkah dari upaya pembaharuan terutama sekali yang dimotori oleh SK Menpan No. 84/19938).

7. Pengawas Sekolah Bidang BK
Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami eksistensi dan peran Pengawas Sekolah Bidang BK.

Lebih jauh, SK Menpan No.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, merumuskan:

8)

Dalam penataran nasional guru pembimbing itu, kepada mereka diperkenalkan spesifikasi tugas guru pembimbing, yang mana hal itu bagi mereka merupakan hal baru. Mereka sangat antusias sehingga timbul ide untuk menandai apa yang mereka peroleh itu dengan label “BK Pola 17” yang merupakan satu rangkaian kemampuan yang terdiri dari: satu konsep tentang pengertian dan wawasan BK, empat bidang pelayanan, tujuh jenis layanan, dan lima kegiatan pendukung. Konsep “BK Pola 17” ini dimunculkan sebagai pengganti dari “BK Pola Tidak Jelas” yang merajalela di lapangan/sekolah sampai dengan awal tahun 1993. Selanjutnya, “BK Pola 17” ini dikembangkan lebih jauh menjadi “BK Pola 17 Plus”, terutama sejak awal abad 20, oleh orang-orang yang peduli BK tanpa terperangkap oleh “Krisis Identitas”, tetapi dengan tulus memperkembangkan profesi BK menjadi semakin mantap dan bermartabat. Contoh pengembangan menjadi “BK Pola 17 Plus” adalah ditambahnya bidang pelayanan BK dengan “bidang kehidupan berkeluarga dan kehidupan keberagamaan” (untuk di luar pendidik formal dasar dan menengah), ditambahnya jenis layanan BK dengan “layanan konsultasi dan layanan mediasi”, dan ditambahnya kegiatan pendukung BK dengan “tampilan kepustakaan ”.

28

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang pengawasan Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran c. Bidang Pengawasan Bimbingan dan Konseling Pasal 23: Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. 2008 29 . yaitu: (1) Bagi pengawas Bimbingan dan Konseling: (a) Pendidikan serendah-rendahnya Sarjana atau sederajat. Syarat umum. tanggung jawab. Syarat khusus. dan (5) usia setinggi-tingginya 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas Sekolah b. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas. Bidang Pengawasan Pendidikan Luar Biasa d. (4) setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir.Pasal 1 : 1. Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayiyah/Madrasah Diniyah/ Sekolah Dasar Luar Biasa b. Pengawas sekolah sebagaimana dimaksudkan dalam angka 1 tersebut di atas mempunyai bidang pengawasan sebagai berikut: a. dan wewenang untuk melakukan pengawasan pendidikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan prasekolah. (3) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan sekolah dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan Pelatihan. Prayitno. yaitu: (1) memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai dengan bidang pengawasan yang akan dilakukan (2) berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurangkurangnya selama 6 (enam) tahun secara berturut-turut. Mengatasi Krisis Identitas. dasar dan menengah 2. Bidang Pengawasan Taman Kanak-kanak/ Raudlatul Athfal.

penulis “Krisis Identitas” keliru dalam dua hal. tidak berjalan di atas rel. 2008 . ibarat kereta api. Mengatasi Krisis Identitas. Dengan demikian apanya yang rancu? Sangat disayangkan penulis “Krisis Identitas” tidak memahami apa yang telah diatur oleh pemerintah sejak tahun 1993 itu. tentang spesifikasi guru pembimbing dan kurang tahu arah yang sudah ditunjukkan oleh Pasal 9 ayat 2 UU No. 18).(b) Berkedudukan serendah-rendahnya Guru Dewasa. penulis “Krisis Identitas”. tidak memahami makna kata pembelajaran dalam undang-undang No. Dalam kaitan itu. atau sepertinya tergelincir atau anjlok dari rel yang telah dipasang oleh pemerintah.... semua ketentuan perundang-undangan yang berlaku selama ini tidak/belum mengatur ekspektasi kinerja konselor yang tidak menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan” (hlm. 20/2003 bermakna bahwa kegiatan pembelajaran juga dikenakan kepada konselor sebagai pendidik. Dengan demikian. sampai dengan kepengawasannya. karena belum ada aturan penggantinya. seperti telah disebutkan di depan.20/2003 Pasal 39 ayat 2. Kedua. Pertama. dan (c) Memiliki spesialisasi atau jurusan/ program studi atau keahlian dalam bimbingan dan konseling atau bimbingan dan penyuluhan Dengan kutipan di atas.. tidak tahu bahwa sejak tahun 1993 pemerintah telah mengatur spesifikasi kinerja konselor (guru pembimbing) di sekolah. 30 Prayitno. yang sampai sekarang masih berlaku. tampaklah bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk “menuntaskan” aturan-aturan formal berkenaan dengan konteks tugas guru pembimbing. dengan mengatakan: “.

atau tidak terlaksana sama sekali karena belum ada Guru Pembimbing? Apa penulis itu beranggapan pekerjaan yang realistik untuk mengangkat Guru Pembimbing di SD. sedangkan di SLTP/SLTA masih sangat kekurangan? Lagi-lagi. SPP-BKS: Panduan kegiatan BK Penulis “Krisis Identitas” yang mungkin utopis dan/atau terlalu kritis. Penulis “Krisis Identitas” menganggap bahwa ketiga panduan itu sebagai sumber perancuan identitas BK. Mana yang lebih tidak realistik. terlaksananya BK di SD oleh Guru Kelas. SMP. Buku-buku SPP-BKS (untuk SD 9). SMA dan SMK) disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan pemerintah yang sejumlah kutipannya telah dipaparkan di atas. 2008 31 . bahkan menganggap buku panduan itu merancukan dan menyesatkan. dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) banyak mendapat sorotan. khususnya Seri Pemandu Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SPP-BKS). 1. Prayitno. 21). menganggap buku panduan tidak perlu karena lapangan belum siap. pikiran utopis dan tidak realistik. Buku-buku panduan.C. 21) tentang aturan sama dengan aturan tentang Guru Pembimbing sebagaimana untuk sekolah-sekolah lainnya. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PKP-BKS). BUKU PANDUAN Penulis “Krisis Identitas” menafikan peran buku-buku panduan yang ada. Mengatasi Krisis Identitas. Tentang pelaksanaan BK di SD (hlm. yang 9) Penulis “Krisis Identitas” menyatakan bahwa memposisikan guru SD sebagai pelaksana BK untuk siswa yang menjadi tanggung jawab adalah sebagai “sebuah kinerja yang tidak realistik” (hlm. Mari kita lihat bersama.

oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah dengan suratnya No. Terlepas juga dari tidak adanya nomenklatur sebutan konselor. 11919/C.dipadu dengan materi keilmuan BK. memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan layanan BK dalam jalur pendidikan. Dalam hal ini beberapa perancuan oleh penulis “Krisis Identitas” tampak dengan jelas: a. SMP.C6/PT/1998 Tanggal 16 Nopember 1998. ya menjadi susah berbicara dengan “ahli” seperti itu. Perlu diingat bahwa pada tahun 1993 telah diusulkan agar sebutan petugas BP untuk pelaksanaan BK (pada waktu itu BP) diganti dengan sebutan konselor. dinyatakan bahwa layanan BK di SD. (hal 6-7). Padahal buku itu dipandang oleh khalayak BK di tanah air sebagai buku tentang “BK Pola 17”. SMA dan SMK dan SLB itu dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. dan nomenklatur Guru Pembimbing digunakan sebagai payung untuk konselor yang semakin membaurkan dan mengaburkan ekspektasi kinerja dan konteks layanan tugas konselor”. tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang isi kutipan-kutipan yang berasal dari SK-SK Menpan. Mengatasi Krisis Identitas. BAKN dan PP tentang spesifikasi tugas-tugas konselor yang telah dipaparkan. Prayitno. Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa sebutan Guru Pembimbing adalah sebutan sementara sebelum sebutan konselor diresmikan adanya11). baik negeri maupun swasta. Agaknya penulis “Krisis Identitas” berpengertian bahwa setelah sebutan 10) Perlu disampaikan di sini bahwa keempat buku SPP-BKS itu telah disahkan penggunaannya di sekolah. Ternyata baru terkabul pada tahun 2003 melalui Undang-Undang No. pengganti “BK Pola-Tidak Jelas”10).20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2008 11) 32 . Kalau kutipan-kutipan itu dianggap tidak ada atau ada tapi salah. Mendikbud. terlepas dari kenyataan apakah pada semua jenjang dan jenis satuan pendidikan tersebut. namun belum bisa dikabulkan karena belum ada peraturan yang dapat dijadikan cantolan usulan tersebut. Apabila penulis “Krisis Identitas” tidak tahu. Penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “dalam SPP-BKS. maka tentu “ahli” tersebut akan memandang buku-buku panduan itu serba salah.

sekarang UPI). ketentuan yang memakai sebutan Guru Pembimbing tidak berlaku lagi. Dr. Dr. Penulis itu tidak tahu bahwa buku-buku SPP-BKS itu justru sangat diperlukan di awal-awal tahun ketika para penyelengara BK itu baru lepas dari “BK Pola Tidak Jelas”. Pemerintah telah meretas jalan dengan diberlakukannya peraturan tentang spesifikasi tugas Guru Pembimbing. Afif Zamzami. dan oleh karenanya petugas yang disebut Guru Pembimbing harus tetap eksis dan berfungsi. karena semuanya belum beres. Drs Karno To. pendidikan beres. M. Dengan menanyakan “apakah pada semua jenjang dan jenis pendidikan memang ada atau tidak konselor yang memang dididik untuk menyelenggarakan BK dalam jalur pendidikan”. kita baru bisa merdeka kalau keadaan ekonomi kita beres. MA. karena Prayitno-nya? Padahal buku-buku SPP-BKS itu ditulis oleh Tim IPBI yang terdiri dari Prof. dan .. Prayitno. (IKIP Jakarta. sekarang UPI). Pd.. dll. Jadi menurut penulis itu. semua produk yang tidak memakai sebutan konselor tidak berlaku lagi. guru-guru yang disebut Guru Pembimbing sebaiknya “dipensiunkan” saja sampai sebutannya diganti menjadi konselor.Pd. Mengapa SPP-BKS dipersoalkan? Apakah karena. sekarang UNJ). dan SPP-BKS itulah panduannya di lapangan demi terlaksananya dengan baik peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu. Drs. Drs Thantawy. sekarang UNNES. (IKIP Semarang. Penulis itu tidak mengerti bahwa menggantikan sebutan Guru Pembimbing menjadi konselor itu tidak mudah dan memakan waktu. Mengatasi Krisis Identitas. Mungin Eddy Wibowo. sementara itu pelayanan BK kepada siswa tidak boleh berhenti.Surya (IKIP Bandung. b. M. M. agar “BK Pola 17” dapat berjalan pada jalur yang benar. (IKIP Bandung. 2008 33 . Rupanya penulis itu belum belajar dari Bung Karno yang di sekitar hari-hari proklamasi kemerdekaan mengkritik sejumlah politikus yang mengatakan: “kita belum bisa merdeka sekarang. mohon maaf. baru kerja bisa dimulai. R.konselor dinyatakan berlaku.. menunjukkan bahwa penulis itu seorang “perfeksionis” yang menghendaki semuanya harus lengkap dulu.

Akan tetapi. S. Drs Gito Setyohutomo (IKIP Padang.Si. dan C.118/1996 tentang Jabatan Fungsional Pengawasan Sekolah dan Angka Kreditnya. Dharma Setiawaty R. Buku ini di-oke-kan oleh pemerintah setelah Tim Penilai mencermati dan mengatakan bahwa isi buku itu sesuai dengan SK Menpan No. Berkenaan dengan keberlakuan buku-buku panduan tersebut penulis “Krisis Identitas” menyatakan: “Panduan ini memperoleh sambutan hangat dari para Guru Pembimbing karena dilengkapi dengan format-format yang praktis digunakan untuk perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru. Elida Prayitno (IKIP Padang. Buku PKP-BKS berisi panduan dalam pengawasan kinerja Guru Pembimbing sesuai dengan panduan SPP-BKS. Mengatasi Krisis Identitas. Balitbang Dikbud). Buku PKP-BKS: Panduan Kegiatan Pengawasan BK Penulis “Krisis Identitas” tidak mempercayai apa yang diisikan oleh Guru Pembimbing dalam format-format BK. 2008 . (hlm. dengan Prayitno sebagai Ketua Tim. 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan SK Menpan No. yang bersangkutan sudah terlanjur merasa sangat terbantu dalam memperoleh tunjangan fungsional. meskipun secara substantif. sekarang UNP). 7-8) Untuk pernyataan dari penulis “Krisis Identitas” di 34 Prayitno. (IKIP Jakarta. khususnya untuk konteks SD dan SLB. (Guru Pembimbing SMA di Jakarta). tidak peduli apakah isinya sesuai dengan kenyataan atau tidak”.Pd. isinya tidak sesuai dengan kenyataan. 2. Buku panduan kegiatan pengawasan BK di sekolah ditulis pada tahun 1999 dan mulai diedarkan tahun 2001. sekarang UNJ).H. sekarang UNP). Dra. Buku-buku SPP-BKS adalah karya bersama berdasarkan aturan perundangan yang berlaku dan keilmuan BK. Dra. (Puskur. Moenir. Penulis SPP-BKS tersebar di empat LPTK dan praktisi di lapangan.M.

Dr. 84/1993 dan No. Mengatasi Krisis Identitas. sehingga penulis itu merasa tidak pas/ tidak happy dengan kegembiraan Guru Pembimbing? Jawabannya terserah kepada penulis itu sendiri dan penilaian para Guru Pembimbing di lapangan terhadap penulis itu. 118/1996? Atau karena penulis itu tidak menyukai atau tidak membenarkan substansi kedua SK Menpan tersebut. Penulis itu tahu bahwa para Guru Pembimbing menyambut hangat dan bersenang hati menggunakan buku itu. Dari mana penulis itu tahu bahwa substansi buku itu sesuai atau tidak? Apakah penulis lebih kapabel (mampu) menilai substansi buku itu dibanding Tim Penilai yang ditunjuk pemerintah dan meng-oke-kan buku itu? Padahal oleh Tim Penilai dinyatakan bahwa buku itu telah sesuai dengan SK Menpan No. atas kebijakan Dirjen Dikti (pada waktu itu Bapak Prof. Penulis itu menyangsikan tentang kebenaran isian yang dibuat para Guru Pembimbing yang mengantarkan mereka untuk memperoleh tunjangan fungsional. Buku DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami atau mengakui bahwa DSPK merupakan tonggak awal dimulainya profesionalisasi bidang BK Pada awal tahun 2001. Ir. dapat diberikan komentar sebagai berikut: a. c. 3. b. 2008 35 . Mana yang benar?. apa pun yang terjadi kesesuaiannya diragukan. si penulis itu atau para guru pembimbing yang terlibat langsung dengan pengisian itu sendiri? Jawabannya terserah kepada Guru Pembimbing di lapangan. Satryo Soemantri Brojonegoro) Prayitno. Mengapa hal positif itu masih dipersoalkan? Apakah karena Guru Pembimbing tidak sepakat dengan pendapat penulis itu yang menganggap materi buku tersebut rancu.atas.

Syamsuddin S. M.Pd. sebagai prajurit yang setia kepada organisasi. sehingga kepada saya yang sudah mantan Ketua Umum berita itu disampaikan. Pada waktu itu agaknya Dikti belum tahu bahwa Pengurus Besar IPBI/ABKIN baru saja diganti. Dr. Prof.Ed. pada waktu itu Bapak Prof.U. terpilihlah kependidikan bidang konseling dengan organisasi profesinya IPBI12). Mengatasi Krisis Identitas. yaitu Prof.Pd.dan selanjutnya direalisasikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (P2TK-KPT. benar-benar memperkembangkan profesi (profesi BK) dan menjadi mitra yang baik bagi pemerintah dalam mengimplementasikan ketentuan-ketentuan resmi pemerintah. yaitu Ketua Umum yang baru. Mengapa organisasi profesi ini yang dipilih oleh Dikti? Mungkin karena ada kesan bahwa organisasi IPBI (yang sudah menjadi ABKIN) sebagai organisasi profesi kependidikan yang aktif. agaknya Dikti belum mengetahui bahwa IPBI baru saja mengadakan Kongres di Lampung (bulan Maret 2001) yang menghasilkan digantinya nama IPBI menjadi ABKIN dan kepengurusannya. Sukamto. Alhamdulillah beliau menyambut dengan baik dan segera pula kami berdua mengidentifikasi teman-teman ABKIN yang akan diusulkan untuk membantu Direktorat. sebagai suatu anugerah yang luar biasa tidak disangka-sangka. (dari UPI) dan Drs. Untuk memulainya Dikti mencari bidang kependidikan apa yang akan diberi kesempatan memprofesionalkan dirinya. M. Niat tersebut pada awal bulan April 2001 oleh seorang kepala sub-disekretariat disampaikan kepada saya (Prayitno)13) bahwa Dikti akan memulai langkah-langkah profesionalisasi pendidik tersebut. Kons (dari UNNES). Prayitno.) akan dimulai langkah-langkah profesionalisasi bidang pendidikan di Indonesia. M. Dr. Kons (dari UNY). Melalui pertimbangan tertentu oleh Direktur P2TK-KTP akhirnya disepakati bahwa teman-teman dari ABKIN adalah: Prof. (dari UNP). M. Mungin Eddy Wibowo. (dari UPI). M. Dr. Dengan suka cita saya terima berita itu. Selanjutnya. 2008 . Tim Direktorat ini mulai bekerja dengan fasilitas sepenuhnya dari Direktorat. Menurut pertimbangan Dikti.. Ahman. Sunaryo Kartadinata. 13) 36 Prayitno. dengan senang hati pula berita itu saya sampaikan kepada komandan besar saya.Sc.Pd. 12) Pada awal April 2001 waktu itu. MSc. Personalia dari ABKIN tersebut disertai temanteman dari sub-direktorat membentuk tim kerja yang secara langsung di bawah koordinasi dan tanggung jawab Direktur. Dr. Sunaryo Kartadinata. Dikti akan memberikan dukungan untuk upaya tersebut.Pd. Prof. Dr. Dr.

Hasil kegiatan ini adalah draf awal yang masih sangat kasar tentang substansi yang dimaksud. 4) Naskah yang “setengah jadi” itu kembali dibawa ke pertemuan di Jakarta awal tahun 2003 yang dihadiri oleh PB dan PD ABKIN beserta pakar dalam bidang konseling.4. 2) Hasil kegiatan no.a. Tim mengadakan berbagai pertemuan selama kurang lebih satu tahun (tahun 2001-2002) sehingga tersusun naskah yang “setengah jadi”. melengkapi dan memantapkan draf awal tersebut. 1 di atas dibawa ke dalam pertemuan di Yogyakarta tahun 2001 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Daerah (PD) ABKIN. 3) Berdasarkan hasil pertemuan di Yogyakarta tersebut Tim terus bekerja menyusun naskah yang lebih terurai. 2008 37 . konseling. Pertemuan ini langsung dipimpin dan diberi pengarahan oleh Direktur PPTK dan KPT. Naskah itu dicermati lebih rinci dan mendalam oleh para peserta dari substansi yang bersifat konsep-keilmuan sampai dengan yang mengarah kepada praktis-teknis-operasional yang keseluruhnya mengarah kepada pengembangan dan praktik profesi konseling. Penyusunan DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak menempatkan ABKIN secara proporsional terhadap DSPK. Langkah-langkah penyusunan DSPK adalah: 1) Menyusun arah dan gagasan awal pengembangan keprofesian bidang. Dalam kegiatan ini diinventarisasikan hal-hal yang sudah ada yang perlu diadakan sebagai titik tolak dan arah pembahasan. Prayitno. dan menafikan peran otoritas birokrasi. Kegiatan ini menghasilkan naskah yang “hampir jadi” yang siap dibawa ke pertemuan sanctioning. Mengatasi Krisis Identitas. beserta pakar konseling untuk membahas. 5) Tim kembali menyempurnakan naskah dengan mengintegrasikan masukan dari pertemuan tersebut pada no.

Sosialisasi DSPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami/ menerima bahwa DSPK telah disosialisasikan dan diterima oleh masyarakat BK di seluruh Indonesia dan telah diberlakukan dengan surat resmi oleh Dikti. Sosialisasi dilaksanakan di: 38 Prayitno. Pertemuan ini dihadiri langsung oleh Direktur PPTK dan KPT. Tujuan Sosialisasi adalah: perlu a) Menyebarluaskan isi DSPK untuk dapat dipahami dalam rangka pengimplementasiannya b) Mendapatkan masukan dari para peserta. Masukan yang diperoleh melalui pertemuan sanctioning ini dijadikan bahan untuk lebih menyempurnakan lagi naskah yang disusun menjadi naskah final. 2) Sosialisasi DSPK dilaksanakan untuk dunia konseling di seluruh Indonesia dan dilaksanakan oleh Tim (yang sejak awalnya diyakini telah mewakili unsu. dan Pakar BK. 2008 . DSPK disosialisasikan. personalia PB dan PD ABKIN. PPTK dan KPT. baik berkenaan dengan substansi DSPK maupun pengimplementasiannya. Setelah mengalami penyempurnaan akhir dan secara langsung dilaporkan kepada Direktur PPTK dan KPT. Mengatasi Krisis Identitas. PPTK dan KPT) dengan fasilitas sepenuhnya dari Dit. 1) Sebagai naskah yang sudah jadi. anggota tim (dari ABKIN dan Dit PPTK dan KPT). Divisi ABKIN. Pimpinan Jurusan BK-LPTK. naskah arah pengembangan keprofesian bidang konseling itu diberi judul: Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK).6) Pertemuan sanctioning diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 17-18 Oktober 2003. b.unsur ABKIN dan personalia Dit.

DKI. Berkenaan dengan DSPK. PD ABKIN. untuk wilayah Jawa Timur. Pengawas BK. dengan pelibatan otoritas birokrasi (hlm. 2008 39 . Pakar BK dan mahasiswa jurusan/prodi BK di seluruh wilayah Indonesia. Pimpinan Jurusan/Program Studi dan dosen BK-LPTK. Acara sosialisasi di semua tempat itu dihadiri oleh dosen senior BK. 8) Draf DSPK mengandung permasalahan akademik yang perlu dikaji sehingga penerbitan DSPK • Prayitno. untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur Semarang. untuk wilayah Sumatera Samarinda. Dinas Pendidikan Propinsi. Bali. untuk wilayah Banten. Dari kegiatan sosialisasi diperoleh kesan bahwa: 1) Para peserta menyambut baik bahwa bidang konseling telah memiliki dasar dan arah untuk pengembangan keprofesiannya. Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Surabaya.• • • • • Padang. Nusa Tengara Timur dan Nusa Tenggara Barat. untuk wilayah Kalimantan Makasar. 2) Implementasi DSPK diharapkan dapat mengikutsertakan komponen yang ada di daerah 3) Masukan yang cukup. apalagi penyusunan dasar dan arah pengembangan serta implementasinya itu difasilitasi oleh pemerintah. b. Mengatasi Krisis Identitas. Pengurus Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). Jawa Barat. Kepala Sekolah. penulis ”Krisis Identitas” menyatakan: • Perancuan ekspektasi kinerja Guru dan Konselor terus berlanjut. signifikan adalah agar jurusan/program studi BK yang selama ini off dapat di-on-kan kembali.

serta belum tentu Prayitno. lapangan aplikasi pelayanan BK adalah lembaga-lembaga di bawah otoritas birokrasi. bijaksana dan santun untuk tersalurkannya ide-ide bagus yang dikehendaki. justru birokrasi yang memiliki otoritas dan fasilitas itu hendaknya “dimanfaatkan” secara arif. tenaga dan biaya. Atau. kita mau apa? Protes memang boleh. Apa salahnya? Pertama. apakah kita khawatir ide atau keilmuan kita akan terkebiri apabila kita terlibat di dalam otoritas birokrasi? Hal itu sangat tergantung pada kebijaksanaan. Kalau ide-ide kita ingin digunakan pada lembaga-lembaga itu. diperansertai secara aktif untuk dihasilkannya produk-produk yang terbaik.9) Terhadap butir-butir yang tertulis di dalam ”Krisis Identitas” itu diberikan pembahasan sbb: Penulis “Krisis Identitas” meremehkan fungsi dan otoritas birokrasi. Yang jelas.diusulkan untuk ditunda (hlm. tetapi kita rugi waktu. Mengatasi Krisis Identitas. Kehendak Direktorat/Direktorat Jenderal Dikti yang sangat baik itu. yang menghargai ABKIN (dahulu IPBI) perlu disambut dengan antusias. menggunakan jalur hukum silahkan. kearifan dan kelihaian kita dalam berilmu dan beraplikasi keilmuan. mengapa tidak berbaik-baik dengan otoritas yang membawahi lembaga-lembaga tersebut. 2008 40 . • Tentang pelibatan otoritas birokrasi. kalau otoritas birokrasi mengatakan tidak!. Kedua. sehebat-hebatnya apa yang kita punya. bahkan semestinya disyukuri.8) • DSPK sudah tidak lagi mendapat dukungan ABKIN (hlm.

sesudah DSPK selesai disusun.memang. • Tentang usul penangguhan penerbitan DSPK. disanction dan difinalisasi. tidak secara khusus membicarakan draf DSPK. muncul kepermukaan tiga hal: i) Kalau memang usulan itu resmi ada. Adanya risalah aspal. termasuk sedang digarapnya DSPK. kenapa tidak disampaikan secara resmi pula kepada Direktorat yang mempertanggungjawabi penyusunan DSPK? ii) Risalah yang seolah-olah berisi usulan penundaan itu memang akhirnya dimunculkan pada kira-kira bulan Prayitno. yang ada adalah pertemuan para fungsionarisasi PB dan PD ABKIN yang hadir pada acara resmi Konvensi Nasional ABKIN di Bandung pada waktu itu. Memang.mana yang benar?). Otoritas birokrasi mudah-mudahan dapat memfasilitasi ide-ide kita yang baik. Pertemuan yang katanya “Rakernas” itu tidak diagendakan. pada umumnya adalah membicarakan permasalahan organisasi. Acara pertemuan itu. Dari mana usulan itu datang? Katanya dari Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 (tertulis pada naskah “Krisis Identitas” bulan Agustus 2003 --. Yang disebut Rakernas PB ABKIN tanggal 8 Desember 2003 sesungguhnya tidak ada. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 41 . Dari fenomena usulan penundaan yang katanya diajukan tetapi tidak jelas itu. beberapa waktu kemudian terbetik berita bahwa ada usaha agar (sebelum diterbitkan) draf DSPK ditunda dulu. tidak ada usul apalagi keputusan tentang penundaan draf DSPK. dikumpulkan oleh Ketua Umum. kembalilah kepada kearifan dan kebijakan serta kepiawaian berilmu. Demikian tentang “usulan penundaan”. serta disosialisasikan ke seluruh tanah air. Oleh karena itu.

2008 . tetapi ternyata aspal. kurang lebih lima tahun sesudah tanggal dimunculkannya (katanya) usulan itu. berbagai pertemuan telaah draf di berbagai tempat dengan melibatkan unsur-unsur ABKIN pusat maupun daerah dan LPTK. Apa dan sampai berapa jauh signifikansi kejarangan hadir14) beliau itu. tetapi palsu karena tidak dibuat secara prosedural yang memperhatikan waktu dan kesahihan materi. tanggal yang ada adalah tanggal pertemuan yang katanya memutuskan adanya usulan itu.Juni 2008. asli karena ditandatangani oleh pihak yang berhak bertandatangan. sampai-sampai DSPK dipersoalkan terus? Apakah aktivitas penuh semua anggota (selain yang satu tadi) bersama staf Direktorat. sanctioning. Risalah yang dimunculkan itu tidak bertanggal kapan dibuatnya dan ditandatanganinya. finalisasi dan sosialisasi ke seluruh tanah air harus dikalahkan oleh kejarangan hadir dari salah seorang anggota tim? 14) Kejarangan hadir ini memang pernah beliau utarakan ketika salah seorang hadirin pada suatu pertemuan bertanya mengapa beliau menolak DSPK. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan empat lainnya berpartisipasi aktif secara penuh sampai disosialisasikannya DSPK ke seluruh tanah air. kenapa tidak diserahkan secara resmi ke Direktorat untuk ditanggapi? iii) Yang tampaknya mempersoalkan DSPK itu adalah satu orang dari lima anggota tim dari ABKIN. Kalau memang risalah itu dibuat pada tanggal itu (8 Desember 2003) kenapa tidak langsung saja diberikan kepada teman-teman ABKIN peserta penyusunan DSPK yang juga hadir pada pertemuan yang dimaksud. Dan kalau memang betul-betul ada. Jawaban beliau: “Karena saya jarang hadir” 42 Prayitno. padahal diundang untuk setiap pertemuan/kegiatan.

pendidikan tenaga profesi. kode etik dan organisasi profesi. 4019/D4/2005 tanggal 16 Agustus 2005 yang menyatakan: 1) Isi DSPK mengacu kepada kondisi profesi konseling yang diharapkan serta usaha pengembangannya. bukan ABKIN. Mengatasi Krisis Identitas. Sementara itu telaah akademik serta bukti-bukti empirik yang mengatakan bahwa substansi Prayitno. Pemberlakuan DSPK DSPK adalah produk Dikti. Surat resmi dari Dikti tentang pemberlakuan DSPK sudah ada. terutama berkenaan dengan kompetensi standar. khususnya bagi para dosen jurusan/program studi Bimbingan dan Konseling. 2008 43 . kalau tidak setuju itu terserah ABKIN. dengan surat Direktur P2TK-KPT No. ABKIN boleh saja tidak setuju. kredensialisasi. Adapun ABKIN setujui atau tidak. Yang memberlakukan DSPK adalah Dikti. Sebab pemberlakuan ketentuan dari otoritas Dikti tidak tergantung pada persetujuan ABKIN. kalau setuju alhamdulillah. bukan produk ABKIN. 2) Sehubungan dengan pentingnya isi DSPK. Klaim bahwa perlu adanya dukungan dari ABKIN adalah tidak benar.Padahal seluruh kegiatan dikoordinasi oleh dan dipertanggungjawabkan kepada Direktorat dan bahkan sosialisasi hasilnya (yaitu naskah DSPK) ke seluruh tanah air dihadiri dan diarahkan secara langsung oleh Bapak Direktur. melalui pengembangan kurikulum serta kegiatan akademik lainnya dalam rangka pembinaan tenaga profesi yang dimaksudkan. c. diharapkan naskah tersebut dapat digunakan sebagai salah satu acuan. tetapi itu tidak berarti DSPK batal atau menjadi tidak berlaku.

Berkenaan dengan kutipan 1) Dalam Pengantar DSPK memang ada harapan tentang perlunya kerjasama antara pihak-pihak terkait. tampak bahwa betapa bijaksana dan berwawasan luaslah penulis Pengantar DSPK itu. Mengatasi Krisis Identitas. para pakar konseling dan organisasi profesi konseling (dalam hal ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. LPTK. Tidak benar bahwa Pengantar DSPK mengandung pernyataan bahwa DSPK telah mendapat dukungan sejak semula dari ABKIN. Pengantar DSPK tidak menyatakan telah ada dukungan dari ABKIN sejak semula. Menarik untuk disimak. 2008 . khususnya LPTK. Pernyataan yang dapat dikait-kaitkan dengan ABKIN yang ada di dalam pengantar tersebut agaknya adalah kalimat yang dapat dikutip sebagaiberikut: 1) Diperlukannya kerjasama dan tindak lanjut kolaboratif antara Dikti (dalam hal ini LPTK) dan organisasi profesi konseling (--tidak disebutkan secara eksplisit ABKIN). Dengan memperhatikan kutipan yang diambil dari Pengantar DSPK di atas. yang ada hanyalah sikap “tidak setuju” yang mungkin dilandasi oleh berbagai kerancuan yang ada pada pihak-pihak yang bersangkutan. Sepertinya Pengantar DSPK telah mengklaim (dan bergembira dengan) adanya dukungan dari ABKIN. disingkat ABKIN). Tidak ada nuansa yang mengandung pengertian bahwa ABKIN telah mendukung DSPK. dan organisasi profesi. Penulis “Krisis Identitas” lebih jauh mempersoalkan tentang dukung mendukung DSPK.DSPK itu salah sampai sekarang belum pernah ada. khususnya penulis “Krisis Identitas”. 2) Telah di-sanction bersama oleh pihak-pihak dari Direktorat PPTK dan KPT. yang 44 Prayitno. di sana organisasi profesi tidak secara eksplisit disebutkan ABKIN. hal ini mungkin untuk mengantisipasi adanya organisasi lain.

tidak memakai nama ABKIN. tidak didukung juga tidak mengurangi makna dan eksistensi DSPK itu sendiri. Mengatasi Krisis Identitas. PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI KONSELOR (PPK) Penulis “Krisis Identitas” bersikap mendua terhadap progam PPK. Demikian juga operasional penyelenggaraannya demi tercapainya tujuan program yang bermutu tinggi. pembicaraan dan perencanaan yang cukup panjang dan matang. Kalimat itu berarti bahwa keempat komponen yang mengikuti acara sanctioning itu berbeda-beda. D. melainkan juga pakar BK. terimakasih. penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) digagas dan dipersiapkan melalui wacana. Penulis Pengantar DSPK itu tidak mempersyaratkan atau tidak melihat adanya ketergantungan DSPK pada adanya dukungan dari ABKIN. “Pakar BK” tidak harus identik dengan ABKIN. lalu menolak dan membuat tandingannya. tetapi kalau tidak mendukung kepentingannya. 2008 45 . Prayitno. membuat tandingan DSPK dan ingin pula membuat tandingan PPK. atau ABKIN merekrut seseorang yang bukan pakar BK. tetapi bisa dan perlu berkolaborasi. Pada kutipan 2) disebutkan bahwa unsur-unsur yang ikut serta dalam sanctioning tidak hanya ABKIN. dan sebaliknya ABKIN belum tentu pakar BK. Sejak awalnya. yaitu konselor yang bisa diandalkan sebagai pembawa misi pelayanan konseling profesional. kelihatannya setuju. yang satu tidak otomatis menjadi bagian dari yang lain. Didukung oke. Kesimpulannya. LPTK dan Direktorat. DSPK tidak mengklaim telah didukung oleh ABKIN dan juga tidak ada keharusan akan adanya dukungan itu.

dan mengamanatkan kepada PB IPBI untuk memprakarsai upaya penyelenggaraan program PPK di LPTK. Gagasan awal tentang perlunya program PPK dicanangkan oleh Ketua Umum IPBI di Yogyakarta pada Kongres/Konvensi Nasional IPKON (Divisi IPBI) tanggal 10-12 Agustus 1995. FKIP dan STKIP Swasta. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. 46 Prayitno. Persiapan dan Pembentukan Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami bahwa program PPK adalah hasil perjuangan ABKIN (dahulu IPBI) yang mendapat dukungan dan fasilitas dari pemerintah. b. Pertemuan ini didukung oleh PB IPBI bersama Konsorsium Ilmu Pendidikan dan PPPG-Keguruan Jakarta.1. Berkenaan dengan penyelenggaraan program kerja PB IPBI itu. sebagian besar FKIP Negeri. Upaya penyelenggaraan program PPK dikukuhkan sebagai salah satu program Nasional PB IPBI (masa bakti 1995-2000) hasil Kongres Nasional IPBI ke VIII di Surabaya tanggal 14-16 Desember 1995. dihadiri oleh wakil-wakil dari 10 IKIP Negeri (termasuk program Pascasarjana). 056/U/1995 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Hasil Belajar Mahasiswa. ada upaya memutus rantai sejarah. serta sejumlah IKIP. a. Gagasan yang dikemukakan oleh Ketua Umum IPBI itu kemudian dibahas dan dimatangkan pada Temu Karya yang dihadiri oleh Jurusan/Program Studi BK se-Indonesia di PPPG-Keguruan Jakarta (di Parung) tanggal 57 Oktober 1995. Pertemuan ini menegaskan perlunya segera diselenggarakan program PPK sesuai dengan SK Mendikbud No. khususnya pasal tentang ”Pendidikan Profesi”.

12/KP/1999 tanggal 26 Agustus 1999. 2047/D/T/99 tanggal 9 Agustus 1999. konsultasi antara Pimpinan Universitas Negeri Padang (UNP--yang pada waktu itu baru berubah nama dari IKIP Padang) dengan Pimpinan IPBI dan Surat Ketua Umum IPBI No. dalam hal ini PPK. khususnya butir tentang pendidikan profesi konselor. 078/PB-IPBI/VIII-1999 tanggal 18 Agustus 1999 tentang pembukaan program Pendidikan Profesi Konselor di UNP. Program PPK di UNP diselenggarakan oleh dan merupakan bagian integral dari Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP-UNP. 2008 47 . Rektor UNP menyatakan dibukanya program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) dengan SK Rektor No. Penyelenggaraan Program PPK Penulis “Krisis Identitas” tidak memahami persyaratan bagi dosendosen pendidikan profesi. dan program PPK lebih didorong upaya pembukaan dan penyelenggaraannya. 2. Jurusan ini terakreditasi dengan nilai A sejak tahun 1998 (dan kembali memperoleh Prayitno. Lebih jauh melalui Konvensi Nasional IPBI ke XI di Mataram tanggal 17-19 Juli 1998 penggunaan istilah konselor ditegaskan. a.khususnya tentang program PPK pada tahun 1996 PB IPBI mengeluarkan Memorandum tentang Pendidikan Profesi Konselor. Dengan memperhatikan Surat Ditjen Dikti No. 118/K. sebagai arah dan salah satu fokus kegiatan organisasi. c. Mengatasi Krisis Identitas.

056/U/1994 sebagaimana disebutkan di atas. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan bahwa ”perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik. Sejalan dengan hal itu. Sejak awal perintisannya (tahun 1999) program PPK diselenggarakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 30909/D/T/2001 tanggal 21 Desember 2001 Dirjen Dikti mengharapkan agar program PPK yang dirintis di UNP itu dapat diorientasikan kepada mutu profesi konseling yang berstandar internasional. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 31 ayat (3) menyatakan bahwa ”. melalui Surat No.. dan/atau vokasi”. organisasi. keberadaan pendidikan profesi itu diperkuat oleh UU No.. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi”. Dosen-dosen program PPK adalah dosen jurusan BK 15) Salah satu alasan yang mendorong kuatnya sokongan Dikti atas dibu- kanya program PPK ialah karena lulusannya akan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. dan pelayanan konseling. Program PPK bertujuan menghasilkan tenaga profesional ahli penyandang gelar profesi Konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas baik dalam setting persekolahan. PP No. dengan penekanan (minimal 75%) pada praktik pengalaman lapangan setara dengan 600 jam nyata (sesuai dengan Standar CACREP. dunia usaha dan industri.akreditasi A pada tahun 2006) dan memiliki laboratorium pembelajaran. 2008 48 . profesi. yaitu SK Mendikbud No. Mengatasi Krisis Identitas. Kemudian. 2002). dan kelompok yang berkebutuhan khusus 15). Berikutnya. Syarat untuk mengikuti program PPK adalah Sarjana (S1) BK dengan nilai baik. Kurikulum PPK berbobot 36-40 sks yang diselenggarakan selama 2 (dua) semester. keluarga. tidak semata-mata mencari pekerjaan sebagai pegawai negeri Prayitno... instansi. yaitu berpraktik privat profesi konseling. b. instrumentasi.

Prayitno. serta berpengalaman praktik langsung selama berpuluh tahun dalam pelayanan BK baik pada setting sekolah (dasar. Di samping itu. 16) Karena lulusan program PPK belum ada. Wisuda lulusan PPK diselenggarakan secara terintegrasi dalam wisuda universitas/fakultas. yang diikuti oleh dosen-dosen jurusan BK dan para Guru Pembimbing di wilayah Jawa Tengah. pengajar (dosen) program PPK Angkatan 1 adalah dosen senior yang berkualifikasi Guru Besar (pangkat IV E) dengan keahlian khusus BK (S1. serta peserta dari Jakarta. program PPK juga sudah dibuka dan mulai operasional sejak tahun 2007 di UNNES (Semarang).yang sudah berkualifikasi S2/S3 dan bergelar profesi konselor. Peserta atau tamatan PPK yang mengambil program S2 BK mendapatkan akreditasi atas kuliah-kuliahnya yang diambilnya pada program PPK sebesar 16 sks. Khusus untuk lulusan PPK acara wisuda dihadiri oleh pimpinan ABKIN dan pengucapan Janji Konselor dipimpin langsung oleh Ketua Umum ABKIN. kecuali dosen untuk program PPK Angkatan16). perguruan tinggi) maupun luar sekolah. e. 2008 49 . Program PPK di UNP mula-mula (Angkatan 1) diikuti oleh dosen-dosen BK UNP. Dosen program PPK di UNNES adalah dosen jurusan BK UNNES tamatan PPK yang sudah bergelar konselor. ada LPTK lain yang sedang mempersiapkan diri untuk membuka program PPK. yaitu UNESA (Surabaya) dan UNDIKSA (Singaraja). Mulai Angkatan 5 program PPK UNP menerima dosen-dosen BK dari seluruh Indonesia dengan beasiswa dari Ditjen Dikti. d. dan S3 dalam bidang BK) yang telah berpengalaman luas dalam keilmuan dan pendidikan BK (baik di dalam maupun di luar negeri). Lulusan program PPK dianugerahi ijazah yang membubuhkan gelar profesi Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. Peserta PPK ada yang secara serentak mengambil program Magister (S2) BK pada PPs-UNP. S2. menengah. c. Sejak Angkatan 5 itu pula program PPK mulai dimasuki oleh lulusan S1-BK yang baru (fresh). Selain di UNP. dan mulai Angkatan 2 sudah diikuti oleh dosen-dosen BK dan Sarjana BK lainnya dari luar UNP. serta mengucapkan Janji Konselor. disertai transkrip nilai dan sertifikat kompetensi (dalam bidang BK).

Penulis “Krisis Identitas” tidak menyadari bahwa BPPK merupakan fasilitas/pemberian kesempatan bagi dosen-dosen BK untuk membina profesionalitas BK. a. Mengatasi Krisis Identitas. Pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) konsisten dengan pengembangan keprofesian bidang konseling. Terkait dengan hal ini. tujuan pemberian beasiswa program PPK (disingkat BPPK) kepada para dosen adalah untuk: (a) meningkatkan kualitas dan relevansi Jurusan/Program 50 Prayitno. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi. Menurut surat Dikti yang berisi tawaran kepada seluruh jurusan BK LPTK se-Indonesia untuk mengikuti program PPK dengan Beasiswa Dikti (setiap tahun). Ditekankan oleh Direktur PPTK dan KPT: Daripada ber-S2-ria. Direktur PPTK dan KPT menyatakan antara lain: ”daripada ber-S2-ria. lebih baik upaya difokuskan kepada pendidikan profesi”. salah satu cara yang dapat ditempuh adalah memberikan fasilitas berupa beasiswa kepada para dosen BK yang mengikuti program PPK. antara lain melalui peningkatan kemampuan dosen-dosen BK di LPTK. Oleh karena itu. Untuk ini. dalam sambutan dan pengarahan pada acara sosialisasi DSPK di daerah-daerah. dosen-dosen BK S-1 perlu ditingkatkan kemampuannya. khususnya berkenaan dengan kompetensi praktik pelayanan. 2008 . Dosen-dosen BK inilah yang sesungguhnya secara langsung mendidik para calon tenaga profesional konseling (khususnya pada jenjang S1).3. Beasiswa PPK (BPPK).

Abdulyatama (Banda Aceh). UNJ (Jakarta). Muhammadiyah Magelang (Magelang). Hazairin (Bengkulu). Univ. Univ. PGRI (Jakarta). IAIN Imam Bonjol (Padang). peserta BPPK berasal dari 37 perguruan tinggi di seluruh wilayah tanah air. Sampai dengan tahun 2008 ini. PGRI Palembang (Palembang). Assafi’iyah (Jakarta). Bengkulu). Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). Univ. Atmajaya (Jakarta). UNG (Gorontalo). UNS (Makasar). Dengan memiliki keterampilan praktik lapangan. Univ. PGRI (Surabaya). UNIB (Univ. 2008 51 . Kanjuruhan (Malang). UNPATTI (Ambon) dan UNCEN (Jayapura). Univ. UNSRI (Palembang). dosen-dosen yang sudah berkualifikasi Konselor (pada jurusan/program studi BK-LPTK) akan lebih berkompeten membina mahasiswa menjadi (calon) tenaga profesional konseling yang handal. Univ. Univ. UNIMA (Manado). UNDANA (Kupang). Univ. Univ. UNRI (Pekanbaru). Univ. Alwasliyah (Medan). UNESA (Surabaya). Univ. STKIP Selong (NTB). Univ. UNY (Yogyakarta). UNJA (Jambi). Ada di antara mereka yang bahkan menyatakan: ”Sebelum mengikuti PPK kami hanya berani bicara tentang BK di dalam kelas (sewaktu mengajar di jurusan) sekarang. setelah mengikuti PPK Prayitno. Widya Mandira (Kupang). Dari berbagai komentar yang diberikan seluruh peserta BPPK menyatakan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah (Ditjen Dikti: khususnya Direktur PPTK dan KPT) yang telah memfasilitasi mereka untuk memperoleh peningkatan kualifikasi dan kompetensi konseling melalui program PPK. UNIMED (Medan). dari Sabang sampai ke Merauke yaitu dari: UNSYIAH (Banda Aceh). UNP (Padang).Studi Bimbingan dan Konseling. Univ. Univ. serta (b) mempercepat pertumbuhan profesi konseling melalui pendidikan profesi berbasis kompetensi. STAIN Curup (Curup). b. HAMKA (Jakarta). Muhammadiyah Sumatera Utara (Medan). PGRI (Jember). UNILA (Lampung). Univ. STAIN Batusangkar (Batusangkar). Pendidikan Ganesha (Singaraja). Mengatasi Krisis Identitas. UNNES (Semarang). Univ.

Perlu diketahui bahwa persyaratan untuk menjadi dosen pada program profesi adalah (PP No. 4. Lontaran dan Tanggapan Penulis “Krisis Identitas” kurang memahami seluk beluk program PPK dan prospek program pendidikan profesi ini di LPTK selain UNP. 2008 . adalah sebagai berikut: a.beberapa bulan saja. Tanggapan terhadap ketiga hal tersebut. Hal itu menyalahi ketentuan perundangan. Terhadap penyelenggaraan program PPK sebagaimana dipaparkan di atas. penulis “Krisis Identitas” melontarkan hal-hal yang intinya sebagai berikut: • • • Gelar profesi Konselor hasil PPK di UNP dijadikan syarat untuk pembentukan PPK di tempat lain. 19/2005 Pasal 31 Ayat 3): Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b)17). 17) Yaitu lulusan program Magister (S2) 52 Prayitno. Ada dosen lulusan S2 di luar BK boleh masuk PPK. termasuk di luar kampus”. pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. kami berani secara langsung memberikan pelayanan konseling kepada klien. Mengatasi Krisis Identitas.

Untuk bidang BK. untuk memenuhi persyaratan menjadi dosen PPK. Salah satu tujuan Dikti memberikan beasiswa kepada dosen-dosen BK mengikuti program PPK.Mencermati makna ayat tersebut di atas bahwa untuk menjadi dosen pendidikan profesi. sehingga LPTK yang telah memiliki dosen-dosen yang memenuhi persyaratan itu dapat menyelenggarakan program PPK. selain memiliki kualifikasi Magister (S2) juga memiliki sertifikat keahlian kedokteran yang diperoleh dari pendidikan profesi (Sp. 19/2005 di atas. Kebijakan mempersyaratkan lulusan PPK (selain S2) bagi dosen-dosen program PPK justru sesuai dengan Pasal 31 ayat 2 PP No. baru S2 saja20). Di masa datang agaknya memang perlu dosen-dosen program Sarjana (S1) BK perlu dipersyaratkan (selain S2) lulusan PPK (Sp. 18) Diberitakan bahwa Fakultas Kedokteran telah mulai mempersyaratkan bagi mereka yang akan direkrut menjadi dosen program Sarjana (S1) Kedokteran. seseorang tidak cukup hanya berpendidikan Magister (S2) tetapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana. Dalam kaitan itu. b. tentulah program PPK)18). Sertifikat keahlian setelah sarjana yang dimaksudkan itu diperoleh melalui pendidikan profesi dalam bidang yang relevan. selain ijazah (S2). agaknya adalah untuk memberikan kualifikasi tambahan bagi dosendosen tersebut. seperti UNNES (Semarang).1) seperti di Fakultas Kedokteran itu.1) Kedokteran. Yang dipersyaratkan adalah S2 dan PPK. untuk menjadi dosen PPK diperlukan. Program PPK setara dengan Pendidikan Profesi Kedokteran Sp. Sedang untuk program S1 BK dosen-dosennya belum dipersyaratkan untuk lulusan PPK.1. lulusan universitas manapun19). sesuai dengan keahlian yang diajarkan. Hal ini mengingat bahwa program S1 BK adalah dasar bagi program pendidikan program pendidikan profesi BK (PPK) yang dosen-dosennya dikehendaki memiliki kemampuan teori dan praktik lapangan yang sungguh-sungguh memadai yang diperoleh dari program PPK. Kebetulan pada mulanya yang ada baru di UNP. juga ijazah PPK. untuk selanjutnya tentulah lulusan PPK dari universitas mana pun yang telah memenuhi persyaratan menyelenggarakan program PPK. 19) 20) Prayitno. 2008 53 . yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. DSPK pun tidak mempersyaratkan seperti itu. Jelaslah bahwa untuk Lulusan PPK dari mana? Siapa yang mempersyaratkan dari UNP? Tidak ada. Mengatasi Krisis Identitas.

2008 54 .Sc. ia memenuhi persyaratan dasar masuk ke PPK. termasuk di dalamnya untuk mempersiapkan diri bagi dibukanya program PPK di LPTK yang bersangkutan. Dalam hal ini patut dicatat bahwa hampir di setiap angkatan peserta program PPK di UNP ada yang bergelar Doktor (S3). Program PPK mempersyaratkan para pesertanya adalah lulusan sarjana (S1) BK.Sc : “Saya cuma ingin ide Prof. LPTK diberi kesempatan yang cukup luas (dengan beasiswa itu) oleh Dikti untuk meningkatkan kemampuan ketrampilan keahlian dosen-dosen BK-nya. c. mengingatkan kita semua sebagai berikut21): Prof. Betapa penting dan sifatnya yang monumental program PPK itu. Keuntungan lain bagi dosen-dosen program S1 BK yang menggunakan beasiswa itu adalah sebagai persiapan pembukaan program PPK nantinya. mengenai bidang S2-nya atau S3-nya bukan menjadi urusan PPK. Sesungguhnyalah. banyak yang bergelar Magister (S2). bahkan ada yang sudah berpangkat Guru Besar (Profesor). sampai-sampai Bapak Prof. Mereka yang lulusan S1 BK tetapi S2 dan bahkan S3-nya bukan BK. bagaimana? Ya. Prayitno. Dr. M. M. Syukur ia sudah S2 atau bahkan S3 (meskipun bukan BK). kemampuan Magister atau bahkan Doktornya itu mudahmudahan dapat membantu pencapaian tujuan studi di PPK secara lebih terandalkan. 21) Pesan ini saya terima lewat sms.Pemberian beasiswa/BPPK untuk dosen-dosen S1 BK yang mengikuti program PPK adalah dengan tujuan memperkaya dosen-dosen S1 itu dengan kompetensi praktik lapangan sehingga lebih berkompetensi lagi mendidik mahasiswa program S1 BK yang terarah kepada keprofesionalan BK yang seharusnya. Sukamto. Satryo tentang PPK 1 tahun sesudah S1 diamankan”. Mengatasi Krisis Identitas. Dr. Sukamto.

KURIKULUM Hal-hal yang bersangkut paut dengan kurikulum banyak mendapat sorotan dari penulis “Krisis Identitas”. 2008 55 . Padahal pengertian bahan pelajaran dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidik selain guru. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Apabila pendidiknya adalah guru. terutama dalam kaitannya dengan pelayanan BK. agaknya dapat dikira bahwa penulis ”Krisis Identitas” akan mengatakan: ”Pengertian bahan pelajaran adalah konteks tugasnya guru. di bawah ini dikemukakan beberapa hal tentang kurikulum. Undang-undang No. Oleh karena itu. Pengertian Kurikulum dan Unsur-unsurnya Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa pengertian kurikulum yang ada di dalam undangundang hanya cocok dengan konteks tugas guru. isi serta cara sebagai unsur-unsur kurikulum yang semuanya hanya terkait dengan guru. kegiatan pembelajaran adalah kegiatan guru”. 1. Meskipun tidak dikemukakan. Demikian juga tentang tujuan. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan mata pelajaran bidang Prayitno.E. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Butir 1 menyebutkan: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan. Mengatasi Krisis Identitas. isi. Bahan pelajaran maknanya adalah bahan yang dipelajari oleh seseorang atau peserta didik yang hendak atau sedang belajar dengan pendidik.

seperti bahan pelajaran IPS. Apabila pendidiknya adalah konselor. Jadi istilah bahan pelajaran itu dapat digunakan dalam konteks semua jenis pendidik. 56 Prayitno. Matematika dan sebagainya. Hal terakhir itulah. dan sebagainya. bahan tentang penyesuaian diri. sikap dan kebiasaan belajar. yaitu modus penyelenggaraan yang pada kutipan pasal/butir di atas disebut cara yang digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Padahal pembelajaran adalah tugas semua pendidik untuk melaksanakannya dengan konteks tugas dan modus penyelenggaraan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususan jenis pendidik. tujuan dan isinya tentulah mengikuti bahan pelajaran yang dimaksud. bukan hanya guru. Dalam kaitan ini. Penulis “Krisis Identitas” memahami pengertian kurikulum dalam arti sempit. 2008 .studi yang diampu oleh guru. Bahasa Indonesia. Penulis “Krisis Identitas” memiliki pemahaman bahwa kegiatan pembelajaran hanya diaplikasikan oleh guru. semua pendidik menggunakan pengertian kurikulum dengan segenap unsur-unsurnya sebagaimana dikutip dari undang-undang itu. Mengatasi Krisis Identitas. Ini artinya. maka bahan pelajarannya adalah materi yang terkait dengan kondisi diri pribadi klien seperti bahan informasi karir. Sesuai dengan bahan pelajarannya maka masing-masing pendidik merencanakan dan menggunakan cara-caranya sendiri sebagaimana menjadi kekhasan jenis pendidiknya.

dari pengertian yang sangat disederhanakan sampai sangat mencakup. sedangkan pengertian yang sangat mencakup menyatakan bahwa kurikulum adalah apa yang dialami seseorang di tempat ia belajar22). 2008 57 . Pengertian kurikulum yang dikutip itu tidak membatasi isinya dengan mata pelajaran yang menjadi urusan guru di sekolah saja. Pengertian yang sangat menyederhanakan sudah banyak ditinggalkan. Ilinois: Scott. melainkan mewadahi semua bahan pelajaran dengan jenis pendidik apapun. Foresman and Company. 22) Brubaker. Terkait dengan variasi pengertian tersebut. sedangkan pandangan yang lebih mencakup sudah banyak diadopsi/ diakomodasi. 1984 sebagai berikut. D. (1982). 2. Pengertian yang sangat disederhanakan misalnya menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa.L. Mengatasi Krisis Identitas. Curriculum Planning: The Dynamic of Theory and Practice. Kurikulum 1975 Penulis “Krisis Identitas” merancukan Kurikulum 1975. Glenview. Prayitno. tidak hanya guru. pengertian kurikulum yang dikutip dari undang-undang pada awal bagian itu sudah beranjak dari pengertian yang sangat disederhanakan. Penulis “Krisis Identitas” memberikan gambaran tentang Kurikulum 1975 yang berlaku di tanah air dari tahun 1975 sd.Sesungguhnyalah pengertian tentang kurikulum telah berkembang dengan variasi yang amat luas.

Gambar 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 1975 (Versi Penulis “Krisis Identitas”)

Gambar 1 di atas dideskripsikan sebagai berikut: “pemetaan Kurikulum 1975 ditata secara rapi memilah 3 jenis layanan dalam jalur pendidikan formal, yaitu (a) layanan manajemen, (b) layanan pembelajaran yang mendidik, (c) layanan bimbingan dan konseling” (hlm. 4-5). Gambarnya memang rapi, tetapi pemikirannya agaknya rancu. Gambar yang dikemukakan oleh penulis “Krisis Identitas” itu aslinya berasal dari uraian Mortensen dan Schmuller lebih tiga puluh tahun yang lalu23) tentang bidang-bidang tugas atau pelayanan yang terkait di sekolah, bukan yang ada di dalam kurikulum sekolah.

23)

Mortensen, D.G. & Schmuller, A.N. (1976). Guidance in Today’s Schools. New York: John Willy & Sons, Inc.

58

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

Bidang-bidang yang saling terkait itu adalah (1) bidang kurikulum dan pengajaran, (2) bidang administrasi dan kepemimpinan, dan (3) bidang kesiswaan. Kerancuan yang ada pada penulis “Krisis Identitas” adalah memasukkan bidang administrasi dan kempemimpinan ke dalam kawasan kurikulum, padahal bidang administrasi dan kepemimpinan itu mengurusi fungsi-fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijakan, serta bentuk-bentuk pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan dan pengembangan staf, prasarana secara fisik, serta pengawasan. Pemasukan bidang kesiswaan ke dalam kawasan kurikulum bersama bidang kurikulum dan pengajaran adalah oke, karena hal itu merupakan aplikasi dari pengertian kurikulum yang lebih mencakup sebagaimana dikemukakan di atas. Adalah lucu dan rancu memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam kurikulum; Mortensen dan Schmuller pun tidak memaksudkannya demikian. Begitu juga, mereka yang terlibat pada penyusunan Kurikulum 1975 agaknya berpendapat seperti Mortensen dan Schmuller. Bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan ditata juga dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 1975, hal itu sudah menjadi keharusan, tetapi tidak dimaksudkan bahwa bidang administrasi dan kepemimpinan merupakan bagian atau komponen dari Kurikulum 1975. Pembidangan dalam Kurikulum 1975 oleh penulis “Krisis Identitas” diklasifikasikan sebagai sangat cerdas (hlm. 16), tetapi meleset. Bukan kurikulum 1975 yang meleset tetapi penulis itu tergelincir memasukkan bidang administrasi dan kepemimpinan ke dalam wilayah kurikulum.

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KTSP
Penulis “Krisis Identitas” merancukan, mengaburkan, dan mempersempit pengertian KTSP.
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

59

Kerancuan pikir penulis “Krisis Identitas” rupanya dibawa juga ke dalam pemahaman tentang KTSP, padahal KTSP adalah produk resmi Permendiknas No.24/2006. Berikut adalah gambarannya yang dibuat oleh penulis “Krisis Identitas” yang tidak sesuai dengan konsep resmi Permendiknas itu (hlm. 22).

Gambar 2. Posisi Bimbingan dan Konseling dan KTSP dalam Jalur Pendidikan Formal (Versi penulis “Krisis Identitas”)

Dengan memperhatikan gambar versi penulis “Krisis Identitas” itu tampaklah kerancuan pikir sebagai berikut: Penulis “Krisis Identitas” mengeluarkan BK dari KTSP. a. Memisahkan atau mengeluarkan bimbingan dan konseling (BK) dari KTSP. Barangkali maksudnya baik, yaitu hendak

60

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

karena BK “setara” dengan mata pelajaran dan komponen kurikulum lainnya. Kepala Sekolah. 22/2006 dan No. 24/2006. karena BK merupakan bagian integral dari kurikulum sebagai satu kesatuan yang sekarang disebut KTSP. 2008 61 . dan siapa pun juga. menggiring orang berpikiran sempit tentang kurikulum. guru-guru. Prayitno. karena BK akan menunjang proses pembelajaran secara keseluruhan. kalau seseorang (misalnya Kepala Sekolah) bicara tentang KTSP maka ia akan berpemahaman bahwa di sana tidak ada BK. Komite Sekolah berpaham dan bersikap seperti itu? 24) Hal ini justru bertentangan dengan ketentuan tentang KTSP sebagaiman termuat di dalam Permendiknas No. ketika Kepala Sekolah. dan siapa pun juga. Mengatasi Krisis Identitas. Padahal yang semestinya terjadi adalah. siswa orang tua. Pola pikir rancu seperti itu dikhawatirkan menimbulkan kenyataan bahwa. pimpinan Dinas Pendidikan. Sikap seperti itu akan mengabaikan eksistensi dan perlunya BK24). bicara tentang KTSP sudah dengan sendirinya bicara tentang BK. pertama. tetapi dua hal disesatkan: 1) BK tidak menjadi bagian dari KTSP 2) Pengertian kurikulum disempitkan menjadi kumpulan mata pelajaran (dengan pengertian muatan lokal dapat menjadi mata pelajaran tersendiri atau sebagai materi mata pelajaran tertentu). “Yang penting adalah kurikulum. Bagaimana kalau Kepala Sekolah.menyejajarkan BK setara dengan KTSP. Kedua. kurikulum sekarang adalah KTSP: karena BK di luar KTSP maka BK tidak penting”. digiring berpikiran sempit seperti itu sehingga tidak menganggap penting peranan komponen-komponen lain di dalam kurikulum.

bakat. terdiri dari dua sub-komponen (yaitu sub-komponen pelayanan konseling dan subkomponen ekstra kurikuler). belajar. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/ atau dibimbing oleh konselor (yaitu yang terkait dengan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. dan minat peserta didik. maka akan timbul berbagai masalah. bukan hanya kerancuan yang akan terjadi 62 Prayitno. Mengaburkan pengertian pengembangan diri. Penulis “Krisis Identitas” menolak dan mengaburkan pengertian pengembangan diri yang dimaksudkan KTSP. dan karir) atau oleh guru atau oleh tenaga kependidikan lain (yaitu yang berupa kegiatan ekstra kurikuler). Demikianlah penegasan di dalam Permendiknas No. sebenarnya tidak ada persoalan sama sekali. sesuai dengan kondisi sekolah. Hal seperti itu harus dicegah dan tidak boleh terjadi. 2008 . Perlu diketahui istilah pengembangan diri yang digunakan di dalam Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 22/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. b.Maka akan terjadi malapetaka terhadap eksistensi dan peranan BK di sekolah dan dalam dunia pendidikan pada umumnya. yaitu sebagai salah satu komponen dari kurikulum (KTSP) di luar mata pelajaran (sehingga tidak diampu oleh guru).22/2006 tentang Standar Isi diberi makna khusus. Kalau dipahami bahwa makna pengembangan diri adalah sebagaimana dimaksudkan di atas. apabila istilah pengembangan diri itu diberi makna yang lain. yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Namun.

yang ada di manamana. Penulis itu mengartikan pengembangan diri dalam makna yang lebih luas. di dalam BK. bagaimana caranya. ya menjadi susah. 22/2005 adalah sederhana dan sangat jelas: pengembangan diri adalah kegiatan di luar mata pelajaran/muatan lokal yang meliputi kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. Agaknya penulis ”Krisis Identitas”. Kalau itu yang dimaksud. Prayitno. mungkin karena di dorong oleh “naluri akademiknya yang luar biasa”. 2008 63 . di dalam mata pelajaran. 22/ 2006. mungkin malahan sampai pada pengembangan diri sepanjang hayat. dan lain sebagainya. dll. Mengikuti pemahaman pengembangan diri versi penulis ”Krisis Identitas” menjadi menyulitkan. Mengatasi Krisis Identitas. memaknai pengembangan diri selain dari maksud yang dikemukakan di dalam Permendiknas tersebut. garapan bersama antara guru dengan konselor? Apa bentuknya. Perlu disimak. di mana adanya. di mana adanya pengembangan diri itu. dengan pengertiannya tentang pengembangan diri penulis ”Krisis Identitas” menghilangkan eksistensi kegiatan ekstra kurikuler yang menjadi bagian terintegrasikan dari KTSP (lihat Gambar 2). akan lebih bijaksana dan operasional mengikuti ketentuan tentang komponen KTSP sebgaimana termaksud di dalam Permendiknas No.tetapi bahkan penyimpangan. dunia dan akhirat. apa bentuknya. dan untuk memudahkan mereka sebut ”wilayah komplementer”. sebagaimana terlihat pada Gambar 3 berikut. Padahal apa yang dikemukakan oleh Permendiknas No. Apa artinya ”wilayah komplementer” itu? Wilayah bersama antara mata pelajaran dan BK?.Tidak jelas. Daripada mengikuti pemahaman penulis ”Krisis Identitas” yang ternyata sulit dipahami.

64 Prayitno. 2008 . dan (2) kegiatan ekstra kurikuler. dan sub-komponen ekstra kurikuler oleh pembina khusus25). 22/2006) Gambar 3 di atas menampilkan komponen KTSP secara utuh yang meliputi tiga komponen. Komponen mata pelajaran dan muatan lokal merupakan wilayah yang diampu oleh guru. yaitu: (a) komponen mata pelajaran. (b) komponen muatan lokal. 25) Pembina khusus ini bisa berasal dari guru atau konselor atau tenaga lain yang mampu dan berkewenangan untuk membelajarkan peserta didik berkenaan dengan jenis kegiatan ekstra kurikuler tersebut. yaitu (1) pelayanan konseling. dan (c) komponen pengembangan diri yang terdiri dari dua subkomponen. Mengatasi Krisis Identitas. sub-komponen pelayanan konseling oleh konselor. Komponen KTSP (Menurut Permendiknas No.Gambar 3.

22/206 yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal (dasar dan menengah). 2008 65 . Gambar 2 memperlihatkan KTSP yang dirancukan. No. Prayitno.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan ketentuan pemerintah. No. 2004/2006 masing-masing tentang Standar Isi. pengkerdilan dan kontra produktif. sedangkan Gambar 3 menampilkan KTSP sesuai dengan Permendiknas No. 1.22/2006. mengakibatkan kerancuan. jabaran dari PP. 26) Bandingkan Gambar 2 dan Gambar 3. dan pemberlakuan kedua Permendiknas itu pada satuan pendidikan dasar dan menengah. Materi Dasar Pemahaman sempit dan ketidaktahuan memperangkap pemikiran. PERMENDIKNAS No. F. Sebagaimana diketahui bahwa Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 22 Tahun 2006 Menyalahartikan substansi pendidikan menimbulkan berbagai kerancuan. Materi Permendiknas itu berasal dari hasil karya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang secara khusus diberi tugas dan kewenangan oleh pemerintah menyususn konsep-konsep tentang standar pendidikan yang selanjutnya akan diberlakukan oleh pemerintah melalui diterbitkannya Permendiknas. khususnya berkenaan dengan Permendiknas No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Standar Kompetensi Lulusan.KTSP dengan komponen-komponen itulah yang diberlakukan di satuan-satuan pendidikan formal26) sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. 23/2006 dan No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang berinduk pada UU No.

Memang ada sedikit kemajuan. setelah menjadi permendiknas.Materi dasar Permendiknas No. Mengatasi Krisis Identitas. 19/2005 itu hanya menyangkut mata pelajaran saja. 2008 . sebagaimana telah agak panjang lebar dikemukakan terdahulu. kata “mencakup” diartikan seharusnya 66 Prayitno. penulis “Krisis Identitas” mempersoalkan pula hal yang lebih “mendasar” katanya. sehingga dianggapnya frase “mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi” yang ada pada Pasal 5 ayat (1) PP No. 22/2006 disiapkan oleh BSNP hampir sepanjang tahuan 2005 dengan melibatkan sejumlah besar komponen dengan berbagai warna suasana dinamik yang cukup mengesankan. 11) Memperhatikan pendapat penulis “Krisis Identitas” di atas dapat dikemukakan bahasan berikut: a. Tampaknya penulis “Krisis Identitas” tetap terperangkap pandangan bahwa berbagai hal berkenaan pembelajaran hanya menyangkut guru. Apalagi penyiapan materi dasar tersebut merupakan kegiatan serupa yang pertama kali diselengggarakan oleh BSNP. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyatakan bahwa Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. sehingga mestinya menghasilkan standar isi yang terkait dengan tingkat kompetensi peserta didik yang mempelajarinya. Dianggapnya “ruang lingkup materi” itu seharusnya hanya materi pelajaran saja. selain memperoleh sorotan tajam sebagaimana telah terurai pada bahasan tentang KTSP terdahulu. sebagai berikut: “Hal yang terabaikan dalam Standar Isi adalah arahan Pasal 5 ayat (1) PP No. Namun sayangnya. yaitu telah mulai memahami bahwa konteks tugas kinerja guru adalah mata pelajaran. Hasil kerja keras ini. yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya…. perihal mata pelajaran itu justru memperangkapnya lebih sempit lagi.” (hlm. tidak boleh materi di luar mata pelajaran.

tetapi masih ada ruang untuk hal yang lain yang diperlukan. kalau pun standar isi membicarakan kurikulum maka kurikulum itu cakupannya hanya mata pelajaran saja. tidak harus materi mata pelajaran. struktur dan substansi yang dikemas menjadi KTSP yang menjadi isi pokok Permendiknas tentang Standar Isi itu. Kata “mencakup” dalam ayat itu tidaklah berarti hanya. SK dan KD itu menjadi lampiran yang tak terpisahkan dari Permendiknas No. isi kurikulum hanya mata pelajaran saja. Dengan semangat seperti itu maka tersusunlah konsep. Penulis “Krisis Identitas” belum tahu.hanya berisi mata pelajaran. mungkin karena belum pernah melihat bahwa Permendiknas No. 2008 67 . Demikian. 22/ 2006 tentang Standar Isi itu mencantumkan kedalaman muatan kurikulum komponen mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan yang dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) pada setiap tingkat dan/ atau semester. Mengatasi Krisis Identitas. standar isi yang menjadi substansi Permendiknas No. hal-hal yang harus ada memang harus masuk. yang mana paham tersebut sudah selayaknya ditinggalkan. 22/2006 itu. Pandangan itu persis menganut pemahaman yang sangat disederhanakan tentang kurikulum yaitu sejumlah mata pelajaran yang diikuti siswa. 22/2006 menganut paham tentang kurikulum dalam pengertian yang lebih mencakup. b. Penulis itu rupanya tidak sadar bahwa ayat yang dimaksud justru tidak mencantumkan kata mata pelajaran sehingga membuka ruang agar hal-hal positif selain mata pelajaran dapat dimasukkan ke dalam standar isi. tidak harus kompetensi yang terkait dengan mata pelajaran saja. Demikian juga kata “kompetensi” dapat menampung kompetensi apa saja asal sesuai dengan konteksnya. Prayitno. Dianggapnya standar isi seharusnya hanya berisi sesuatu tentang mata pelajaran saja. Demikian juga “materi” dapat menampung materi apa saja asal sesuai dengan konteksnya.

2008 . Dalam keterperangkapannya terkait dengan konsep sempit pembelajaran dan konteks tugas kegiatan pembelajaran (yang dianggapnya hanya untuk guru saja) dan materi serta kompetensi pembelajaran (yang dianggap hanya berupa mata pelajaran saja). yang oleh penulis itu katanya hendak diangkat. Dengan pandangan sempit seperti tersebut di atas. Dengan demikian apa yang dianggap tidak ada dan merupakan kesalahan penyusunan standar isi ternyata sudah sepenuhnya ada dan dapat diakses oleh siapapun. hendak dimurnikan konteks tugas profesionalnya. Pandangan penulis yang seperti itu justru menjadi kontra-produktif dari tujuan yang hendak dicapainya. 22/2005.yang seluruhnya berjumlah: • SD/MI/SDLB • SMP/MTS/SMPLB • SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Jumlah : : : 834 hlm 595 hlm 714 hlm : 2. orientasi penulis ”Krisis Identitas” menjadi terbawa sempit. Pandangan seperti itu justru berakibat mendegradasi posisi konselor. Pandangan dan sikap yang sempit tersebut atas sangat bertolak belakang dengan apa yang perlihatkan oleh Ketua Umum ABKIN dan anggota lainnya pada waktu diselenggarakan oleh BSNP di di PB uji 68 Prayitno. apabila tidak diubah jelas-jelas posisi konselor akan tercampakkan keluar dari standar isi. dari KTSP yang menjadi ketetapan Permendiknas No. sampai-sampai standar isi pun hanya untuk guru.143 hlm SK dan KD itulah yang secara langsung dapat dijadikan panduan dalam keseharian pelaksanaan tugas fungsional guru sesuai dengan mata pelajaran serta tingkat kelas yang diampunya. dan sebagainya. c. Mengatasi Krisis Identitas. KTSP pun hanya untuk guru.

Upaya yang mestinya dibangun adalah berbagai ajakan dan iklim kerjasama yang sebaik-baiknya agar konselor dapat terjun dengan amat bermartabat dalam kancah KTSP yang penuh dan mantap demi keberhasilan optimal peserta didik. karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran” (hlm.publik draf Standar Isi yang dimaksud. Sekarang menjadi pertanyaan. menyalami dengan hangat dan bahkan mengucapkan terima kasih kepada Tim Penyusun Standar Isi karena dapat mempertahankan dan memposisikan BK di dalam draf yang diujicobakan itu. 2. Tentang muatan KTSP selain yang terdahulu sudah dibahas.2021). dengan dampak: (a) memaksa konselor ke wilayah guru mata pelajaran dalam rangka penyampaian materi pengembangan diri. penulis ”Krisis Identitas” melontarkan lagi halhal berikut: • ”Isi pendidikan menurut Permendiknas No. mengapa penulis “Krisis Identitas” menulis pandangan-pandangan yang sempit. (iii) materi pengembangan diri. dan memajukan hal-hal yang kontra-produktif seperti itu. dan (c) mencederai pencapaian misi KTSP untuk mendekatkan peserta didik pada lingkungannya. 22/2006 adalah (i) muatan lokal (ii) kelompok mata pelajaran. Mengatasi Krisis Identitas. Pada waktu itu beliau-beliau cukup gembira. 2008 69 . ”Muatan lokal dipisahkan dari kelompok materi pelajaran sehingga tampil lebih sebagai bagian dari menata lahan garapan yang telah dirintis sejak tahun 1995” (hlm. (b) menafikan kontribusi guru mata pelajaran dalam pengembangan diri.21) • Prayitno. Lagi: Muatan KTSP a. memperlihatkan ketidaktahuan.

2008 . perhatikan dua sub-komponen pengembangan diri dalam KTSP. mereka pasti bisa bekerja sama secara profesional pula. dalam hal ini guru. Didik saja kedua tenaga profesional itu dengan baik. daerah dan batasbatas wilayah pelayanan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. pasti tahu arah. Mengapa mesti repot-repot mengingat-ngingatkan ”jangan-jangan sumbangan kerjasama dari guru tidak dimanfaatkan”. pasti tahu pula bagaimana bekerjasama di antara keduanya. dan konselor punnya tugas dalam konseling. Apa alasannya. dan pola pikir yang bagaimana. Kalau keduanya profesional pasti tahu tugas masing-masing. Guru punya tugas. yaitu sub-komponen pelayanan konseling (atau mau disebut BK?. dan lagi. 2) Menafikan kontribusi kerja guru dalam pengembangan diri? Lagi-lagi pengembangan diri.Tugas profesi guru: wilayah untuk berdedikasi atau lahan garapan untuk investasi? Inilah tanggapannya: 1) Penulis “Krisis Identitas” tidak mau mengerti bahwa komponen muatan KTSP yang diberi nama “pengembangan diri” itu meliputi dua sub-komponen. Sekali lagi. yaitu dalam bidang pengajaran mata pelajaran bidang studi. Kalau profesional dia. konselor yang melaksanakan pelayanan konseling meluncur ke wilayah guru yang mengajar? Itu bukan pekerjaan konselor profesional. yaitu muatan lokal dapat menjadi bagian dari 70 Prayitno. sehingga ia tidak akan merambah wilayah kerja profesional lain. boleh juga) dan sub-komponen kegiatan ekstra kurikuler. dan tahu juga wilayah kerja guru. 3) Merugikan peserta didik karena muatan lokal dipisahkan dari kelompok mata pelajaran? Dalam hal ini penulis ”Krisis Identitas” juga tidak tahu salah satu ketentuan dari KTSP.

Padahal motif altruistik mestinya tidak membicarakan tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. 27) Bahasa Minangkabau yang artinya menjadikan alam lingkungan sebagai sumber.1 dan hlm. Apa lagi? Dengan prinsip itu. khususnya tentang prinsip penyelenggaraan kurikulum. termasuk konselor dapat memanfaatkan alam lingkungan peserta didik untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta didik. Mengatasi Krisis Identitas. sedangkan muatan lokal adalah materi pelajaran pilihan yang setiap satuan pendidikan boleh tidak sama. Dalam hal ini dapat dimengerti bahwa kelompok mata pelajaran dalam KTSP adalah sejumlah mata pelajaran wajib untuk semua jenis satuan pendidikan yang sama. agaknya seluruh tulisan yang ada itu dilandasi oleh pemikiran tentang bagaimana mendapatkan lahan garapan. Hal itulah kiranya yang memicu berkembangnya motif altruistik28).22). akan dijumpai prinsip alam takambang jadi guru27).materi mata pelajaran yang ada. alat dan teladan dalam kegiatan belajar. Dengan pencantuman dua kata itu di awal dan di akhir karangan. melainkan bagaimana memperlakukan lahan garapan (dalam hal ini klien. dan kalau tidak bisa diintegrasikan atau menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada. yang terakhir ini lebih asyik dan dahsyat. sasaran layanan) dengan tulus dan berdedikasi. Lihat kutipan butir 2 di atas tentang lahan garapan. 2008 71 . Rupanya penulis ”Krisis Identitas” memulai tulisannya dan mengakhirinya dengan kata-kata motif altruistik (hlm. Dan ada satu lagi. menomorsatukan kepentingan klien dan meredam sampai sejauh dan serendahrendahnya kepentingan pribadi sendiri (konselor) 28) Prayitno. 22/2006. Ternyata: mau merebut lahan garapan! 4) Nah. guru atau pendidik siapapun. Bayangan yang ada barangkali tentang lahan garapan dari tahun 1995 sampai sekarang atau bahkan sampai waktuwaktu yang akan datang. maka ia menjadi mata pelajaran sendiri. Kalau mau membaca dan mencermati kalimat-kalimat dalam Permendiknas No.

Saya menjelajahi Nusantara dan beberapa daerah luar negeri. karena konseling dan pendidikan. yang saya mau berkorban apa saja untuk dia. tetapi karena konseling dan pendidikan. 2008 . benar sejak 1995. Pikiran rancu dan krisis seperti itu memang tidak perlu dibeli dan diikuti. Saya ini bukan apa-apa lho. tetapi saya tidak menjadi kaya dengan buku-buku yang saya tulis itu. untuk menghentikan ”krisis identitas” BK dewasa ini ialah dengan jalan merebut lahan garapan dari ”penguasa lahan” yang lama. bahkan sejak jauh sebelumnya. Prayitno? Kalau ya. bukan Rektor. saya dibayar karena konseling dan pendidikan. karena dan demi konseling dan pendidikan. mengabdi dan berdedikasi. yang saya cintai dengan sepenuh hati. Itulah lahan garapan saya. Mengatasi Krisis Identitas. palingpaling saya pejabat kecil/lokal di Padang yang tidak bisa menjadi terkenal melalui jabatan saya itu. dan saya akan berkarya terus Insyaallah. rebut pikiran dan ide-ide saya serta para penggunanya. Tetapi terus terang. Saya menulis buku. wah saya mengucapkan terima kasih dan merasa tersanjung. rebut buku-buku saya dan para pembacanya. yang saya geluti dengan sepenuh tenaga dan daya. karena dan untuk konseling dan pendidikan.Mungkin dalam bayangan penulis ”Krisis Identitas”. Anda mau merebutnya? Silahkan. 72 Prayitno. saya memang hidup bahagia dengan lahan garapan saya yang saya pangku dengan penuh kemesraan. Saya mohon maaf kalau apa yang saya kerjakan di lahan garapan saya itu mengganggu dan merancukan pikiran Anda sehingga timbul krisis identitas. bukan karena saya pejabat. bukan pejabat di Jakarta atau di kota besar. seperti banyak disebut-sebut dalam buku ”Krisis Identitas” itu. Siapa itu ”penguasa lahan” yang lama? Apakah saya. rebut produk-produk yang saya ada andil di dalamnya dan nikmatilah. saya ditugasi untuk kegiatan nasional tertentu. lahan garapan saya itu adalah pelayanan konseling dan pendidikan tempat bekerja.

Apabila. 2008 73 . dan Pengurus Daerah. G.22/2006. di sana sedang terjadi krisis identitas. Apakah dengan demikian saya melanggar asas profesi tentang motif altruistik? Mudah-mudahan adalah salah kalau ada anggapan bahwa di sana (penulis ”Krisis Identitas”) sekarang sedang terjadi gejala semacam ”proyeksi”nya Sigmund Freud. Dan untuk semuanya. suruhan dari BSNP dan orang banyak untuk suksesnya Standar Isi. apalagi karya saya sendiri. kompoenen ahli dan praktisi lapangan ratusan orang. dan pejabat lainnya puluhan orang. ”diri sendiri yang ingin berbuat tetapi tidak bisa. Dir. Diklat. orang lain dijadikan kambing hitam”.Adalah benar-benar naif membayangkan saya menata lahan garapan ketika membahas penyusunan konsep komponen KTSP. direktorat jenderal. konseling dan pendidikan. Bin. maka di sini dilancarkan upaya mengatasinya. Saya ini orang kecil yang kebetulan ditunjuk menjadi Ketua Tim. ditolak oleh Puskur. direktorat. baik di Jakarta maupun di kota-kota laim di seluruh Indonesia. Saya berada di Puskur. di Parung dan lain-lain tempat adalah sebagai suruhan orang untuk konseling dan pendidikan. anggota tim belasan orang. Mengatasi Krisis Identitas. Prayitno. Standar isi dengan KTSPnya bukan karya pribadi. staf departemen. Semuanya ”menyeroyok” draf Standar Isi yang nantinya menjadi Permendiknas No. saya adalah suruhan demi profesi saya. Anggota BSNP 15 orang. PUSKUR DAN P4TK PENJAS/BK ABKIN susun panduan tandingan. P4TK Penjas/ BK. Di DSPK saya juga orang kecil suruhan Direktorat untuk suksesnya naskah yang dikehendaki itu.

yang dilaksanakan guru. yang terutama juga diampu oleh pemeran yang sama. serentetan panjang pelatihan yang mengacu kepada Panduan Pengembangan Diri yang. 2008 . yang menggunakan proses pengenalan diri konseli dengan memperhadapkan kekuatan dan kelemahannya dengan peluang dan tantangan yang terdapat dalam lingkungannya. meraih serta mempertahankan karir untuk mencapai hidup yang produktif dan sejahtera. yang menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan (hlm. maka digulirkanlah oleh Pusbang Kurandik Balitbang Diknas dan bersama-sama dengan P4TK Pendidikan Jasmani dan Bimbingan dan Konseling. • Pasti semua orang sudah tahu bahwa sebagai organ pemerintah Puskur Balitbang Diknas dan P4TK Penjas dan BK bekerja sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Parung. 13). Kalau tidak demikian nanti ada komentar : apa kata dunia? 74 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. berdasarkan Standar Isi yang diatur melalui Permendiknas nomor 22 tahun 2006 itu.-secara de facto-mengamanatkan kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang dinilai secara sistematis layaknya yang berlaku dalam pembelajaran. dalam konteks kemaslahatan umum (hlm. Ini jelas-jelas mencederai integritas layanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan. dalam rangka menumbuhkan kemandirian dalam mengambil berbagai keputusan penting dalam pengalaman hidupnya sehingga mampu memilih.Inilah kutipan dari tulisan “Krisi Identitas” yang mudah-mudahan pembahasannya menarik dan mengesankan: • “Selanjutnya. 13).

Prayitno. No. khususnya berkenaan dengan pelayanan konseling disusun dengan memperhatikan butir-butir ketentuan yang berlaku (seperti SK Menpan. Kedua bagian itu benar-benar dipisahkan. bukan di sekolah-sekolah/ madrasah. oleh karenanya panduan yang khas Tentang pelayanan konseling (yang merupakan bagian sangat dominan dalam panduan Pengembangan Diri) dapat dengan mudah disendirikan. 23/2006 dan No. menyempurnakan. yaitu menyusun berbagai panduan agar Standar Isi dengan berbagai perangkatnya bisa berjalan. serta kondisi lapangan yang dialami para guru pembimbing/konselor di sekolah. SK Mendikbud). Puskur melaksanakan tugas utamanya. materi panduan yang sudah ada dan pengalaman lapangan. melengkapi. buku-buku panduan yang selama itu ada. Panduan yang berkaitan dengan BK adalah “Panduan Pengembangan Diri” dengan pengertian yang amat jelas dan tegas bahwa “Pengembangan Diri” dalam KTSP meliputi dua sub-komponen. 22/2006. Panduan ini. Peran Puskur Panduan yang dibuat ABKIN silahkan dipakai dalam lingkungan sendiri. dengan arah. Panduan ini selesai dan segera disosialisasikan ke sekolah-sekolah. segera setelah Permendiknas No.1. Mengatasi Krisis Identitas. Panduan Pelayanan Konseling29) yang disusun Puskur itu berusaha sekuat tenaga mengaplikasikan semua ketentuan yang berlaku. 2008 75 . sebisa mungkin. menyederhanakan. Sejalan dengan hal itu. yaitu bagian tentang pelayanan konseling dan bagian tentang kegiatan ekstra kurikuler. 24/2006 diberlakukan. 29) Panduan Pengembangan Diri yang disusun oleh Puskur secara kategori dibagi dua bagian. yaitu pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler. dan memudahkan bagi aplikasinya di lapangan.

Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. dan telah disebarkan ke seluruh Indonesia. Telah dikuatkan berdasarkan Permendiknas No. 2008 76 . • Rupanya usaha “merebut” lahan tersebut berjalan terus. ABKIN rupanya berinisiatif pula untuk menyusun panduan Pelayanan Konseling yang katanya. yang di dalamnya memuat pengembangan diri. 5/G3/LL/2007 tanggal 28 Februari 2007 dengan butir pokok sebagai berikut: • Pengembangan Diri adalah bagian Struktur Kurikulum yang di dalamnya terdapat Bimbingan dan Konseling dan Kegiatan Ekstrakurikuler. karena Bimbingan dan Konseling bagian Pengembangan Diri. adalah baik untuk menjelaskan konsep. 22 Tahun 2006. yang disusun oleh pemerintah --. Berikut antara lain respons dari daerah terhadap seruan ABKIN berkenaan dengan wacana sosialisasi itu (dipetik dari surat PD ABKIN Sumatera Barat No. di dalamnya juga memuat menurut pengembangan diri30).istilah “tandingan” ini dipakai seperti pemakaiannya dalam buku “Krisis Identitas”. yaitu: (a) mungkin penyusunan panduan itu dianggap sebagai lahan garapan yang menguntungkan. dan (b) panduan yang disusun oleh pihak nonpemerintah dapat sebagai tandingan dari panduan yang sudah ada. tetapi bukan bagian dari perangkat kurikulum. Atas prakarasa ini Puskur merespons dengan suratnya No. bahkan telah memberi tahu daerah-daerah untuk mempersiapkan diri menerima sosialisasi panduan ”tandingan” itu. Keinginan ABKIN menyusun Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.Dalam pada itu. 02/PD-ABKIN/SB/2008 Tanggal 29 Januari 2008 kepada Direktur Direktorat Pembinaan Diklat Ditjen PMPTK): • Kami mohon kepada bapak agar kiranya para penyelenggara pelayanan konseling/BK di sekolah/madrasah memperoleh kepastian tentang panduan yang mereka gunakan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi) demi kelancaran dan kesuksesan tugas pokok mereka di lapangan. 30) Dari fenomena ini dapat ditarik dua pengertian. bukan sebaliknya. Mereka telah menyiapkan ”Panduan BK Jalur Formal” dan siap mensosialisasikannya.

b. materi yang akan disosialisasikan adalah Panduan Pelayanan Konseling/ BK yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Diknas yang mengacu kepada Permendiknas No. sebagai berikut: • Apabila hendak dikembangkan panduan yang baru. khususnya dikaitkan dengan Pelayanan Konseling. Kerugian yang lebih besar adalah kebingungan para pelaksana BK di sekolah yang menyebabkan kerancuan serta terkendalanya pelaksanaan layanan. pertimbangannya adalah: a.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tersebut. Apabila panduan yang baru itu berbeda. ”Panduan BK Jalur Formal”. apakah tidak justru menimbulkan kebingungan bagi para pelaksana (Guru Pembimbing) di sekolah/madrasah? • Apabila hal sebagaimana tersebut di atas terjadi: a. kerancuan dan benturan dalam pelaksanaan BK di Sekolah/Madrasah Prayitno. 22/2003. apalagi kalau ada/banyak materi di dalam panduan yang baru itu tidak bersesuaian dengan panduan yang sudah ada. apabila sosialisasi yang dimaksudkan itu memang akan diselenggarakan. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 77 . Surat tersebut disertai lampiran yang berisi tanggapan PD ABKIN Sumatera Barat terhadap himbauan PB yang akan melakukan sosialisasi Panduan BK versi mereka.Dalam hal ini kami mengusulkan. Apakah panduan yang baru itu suplemen dari yang sudah ada (yaitu Panduan Pelayanan Konseling yang dikeluarkan oleh Pusat Kurikulum/ Balitbang)? b. yang dibuat ABKIN akan menimbulkan kebingungan . Panduan yang baru itu tidak sesuai dengan Permendiknas No.

PD ABKIN Jawa Tengah pun memberikan respons berupa keengganan mereka memenuhi desakan PB ABKIN untuk mensosialisasikan naskah (produk ABKIN) ke cabang-cabang ABKIN di wilayah Propinsi Jawa Tengah. • Selain PD ABKIN Sumatera Barat. Mengatasi Krisis Identitas. agar digunakan dalam lingkungan ABKIN sendiri. Pengingat Permendiknas No. maka P4TK Penjas dan BK sebagai Pusat Pengembanga BK di Indonesia harus tetap berpedoman kepada Permendiknas tersebut.3/LL/2008 tanggal 25 Februari 2008. yang intinya adalah: • Yang digunakan sebagai acuan di sekolah/madrasah adalah buku Panduan Layanan Konseling yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.Surat PD ABKIN itu dibalas oleh Direktorat Bin Diklat. Sekiranya ABKIN akan menyusun. bukan di sekolahsekolah di lingkungan Depdiknas. Dewan Pembina dan Dewan Pertimbangan Kode Etik disepakati keputusan bahwa mereka belum bisa melaksanakan sosialisasi ke Pengurus-Pengurus Cabang dengan alasan yang intinya sebagai berikut: 78 Prayitno. Dalam Pra Rakerda ABKIN Jawa Tengah tanggal 30 Juli 2008 yang dihadiri oleh anggota Pengurus Daerah. Puskur telah mempersiapkan pelaksanaan Bimbingan Teknis secara nasional pada 460 kabupaten/kota pada akhir Februari 2008 yang mengacu kepada Permendiknas No. Diklat itu seiring dengan surat dari P4TK Penjas dan BK No. 22/2006. • Surat Bin. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi cukup jelas dan telah dilaksanakan sebagai uji di berbagai satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. 2008 . 120/F/F10/KP/2008 tanggal 13 Februari 2008 dengan lampiiran yang berisi: • Puskur telah menolak ABKIN untuk menyusun Buku Panduan Layanan Konseling di Sekolah karena Puskur telah munyusun buku yang dimaksud. 343/F5. dengan surat No.

2. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab organisasi profesi dan komitmen PD ABKIN Jawa Tengah terhadap unjuk kerja Guru Pembimbing. Komitmen dan operasional kegiatan Puskur Bin Diklat. SMP/MTs. disetujui BSNP dan melalui serangkaian uji coba. PD ABKIN Jawa Tengah baru bersedia melaksanakan sosialisasi apabila bahan yang akan di sosialisasikan itu sesuai dengan produk Puskur. 2. Pengurus cabang dan anggotanya sebagian besar adalah guru-guru pembimbing SD/MI. yaitu Prayitno. BSNP dan KTSP). Sosialisasi bahan yang dimaksudkan oleh PB ABKIN justru akan menimbulkan benturan dan kebingungan di lapangan. 3. Peran P4TK-Penjas dan BK Tidak tahu apa yang terjadi dan pandangan sempit. 2008 79 . Mengatasi Krisis Identitas.1. 22/2006 tentang Standar Isi. dan P4TK Penjas dan BK adalah kompak dan searah. dan SMA/SMK/MA/ MAK yang selama ini melaksanakan pelayanan konseling (BK) di sekolah/madrasah berdasarkan produk Puskur yang sudah diujicobakan dan disetujui BSNP. Kesepakatan rapat PD ABKIN Jawa Tengah itu dimaksukan sebagai penjelasan kepada Pengurus-Pengurus Cabang dan Guru Pembimbing melalui organisasi interen mereka (yaitu MGP : Musyawarah Guru Pembimbing) se Propinsi Jawa Tengah. karena mereka lebih percaya pada produk formal (Puskur. mengira pelatihan GuruPembimbing di P4TK Penjas/BK adalah seperti pelatihan guru. dalam bentuk KTSP yang berinduk pada Permendiknas No.

dapat diberi arti sebagai berikut: a. belajar dan karir. 22/2006 tentang Standar Isi31). Hasil pelayanan konseling juga perlu dinilai. sosial. Tulisan di dalam “Krisis Identitas” yang menyatakan bahwa “pelatihan di P4TK penjas/BK itu “mengamanatkan” kepada konselor untuk menyelenggarakan pembelajaran dalam pengembangan diri yang di nilai secara sistematis layaknya berlaku dalam pembelajaran. kegiatan pendukung. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. penilaian BK itu berbeda dari penilaian oleh guru. yang mana hal ini diperlukan untuk memenuhi akuntabilitas pelayanan itu sendiri. 13). yang didalami dan dilatihkan hanya BK. penilaian dan manajemen. hal-hal mengenai tugas guru (guru mata pelajaran). Dalam penilaian oleh konselor itu ada penilaian segera (laiseg). bukan hanya guru. Pada penataranpenataran di P4TK Penjas dan BK tidak pernah dibicarakan apalagi dilatihkan. manajemen dan penilaian dalam BK. mohon diperhatikan. 80 Prayitno. terutama tentang jenis-jenis layanan. dengan materi pengembangan pribadi. 31) P4TK Penjas/BK telah menspesifikasi tersendiri Pdoman Pelaksanaan Pelayanan Konseling pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (mengambil sepenuhnya dari Panduan Pengembangan Diri yang disusun Puskur). penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapang). Tentu saja. yang dilaksanakan guru” (hlm. b. c.20/2003 yang menyatakan bahwa semua pendidik wajib melakukan kegiatan pembelajaran. Materi pengembangan diri yang dilatihkan di P4TK Penjas/BK adalah sub-komponen pelayanan konseling.melaksanakan Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling sebagaimana terdapat di Panduan Pengembangan Diri berdasarkan Permendiknas No. Konteks tugas yang dibelajarkan kepada guru-guru pembimbing adalah kemampuan jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung BK. dan guru pembimbing atau konselor. Pernyataan itu adalah angan-angan hasil kerancuan berpikir yang didasarkan pada konsep yang tidak memperhatikan pasal-pasal 39 ayat 2 UU No.

Dengan demikian. cedera apanya? Yang jelas cedera adalah konsep bahwa konselor tidak membelajarkan. Berkenaan Rakernas ABKIN pada 7 Januari 2007 di UNJ tentang upaya “penataan” oleh ABKIN. tidak memahami dan mematuhi undang-undang (Pasal 39 ayat 2 UU No. sebagaimana menjadi pemahaman penulis “Krisis Identitas”.20/2003). dua. 2008 81 . RAKERNAS ABKIN DAN UPAYA “PENATAAN” Rakernas yang diawali oleh penolakan Dirjen Dikti atas permohonan ABKIN untuk beraudiensi. penulis “Krisis Identitas” menyatakan sejumlah hal yang butir-butinya berkenaan dengan: • • • • • • • Arahan Dirjen Dikti (hlm 17) Gangguan dari pemangku kepentingan DSPK (hlm 17) Naskah akademik tandingan (hlm 17) Kajian yuridis (18) Pelibatan otoritas birokrat (18) Pelanggaran ketentuan undang-undang (19) Hasil berupa tujuh dokumen (17) Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. apabila pelatihan di P4TK Penjas/ BK itu dibatalkan “mencederai” intergritas BK. H. dari sudut keilmuan yaitu bahwa inti pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. tidak ada pendidikan tanpa belajar dan pembelajaran. ABKIN tidak memahami penolakan atas permohonan mereka itu. Cedera minimal dalam dua hal: satu.

Satu hal yang menarik ialah. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 . Setelah membaca hasil telaah staf akhirnya Bapak Dirjen Dikti tidak mengabulkan permohonan audiensi tersebut. yaitu ungkapan kalimat: kalimat “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. Rencananya audiensi yang diusulkan tanggal 5 Januari 2008 itu akan dihadiri oleh 31 orang. Sebelum mempertimbangkan permohonan tersebut terlebih dahulu diadakan semacam telaah staf. Rakernas ABKIN bulan Januari 2007 diawali dengan permohonan ABKIN untuk beraudiensi dengan Bapak Dirjen Dikti dengan surat ABKIN No. Akhirnya Bapak Dirjen memilih menghadiri Raker tanggal 7 januari 2008. Hal ini mencerminkan bahwa beliau telah melihat gelagat adanya ketidaksepahaman dalam tubuh ABKIN. Permohonan audiensi itu disusul undangan untuk menghadiri Raker ABKIN yang diselenggarakan di UNJ tanggal 5-7 januari 2007. Rakernas ABKIN Amanat Dirjen dalam rakor: jangan sampai timbul “ABKIN Perjuangan”. 32) Saya di undang untuk ikut Raker tetapi tidak termasuk kedalam daftar nama untuk beraudiensi 82 Prayitno. terutama gejala kontra terhadap DSPK dan program PPK.1. dalam Raker tersebut. dalam pembicaraan beliau di depan peserta Raker beliau mengemukakan satu hal menarik dan menggigit.37/PB-ABKIN/XII/2006 tanggal 23 Desember 2006. saya (Prayitno)32) melaporkan tentang pelaksanaan/perkembangan program PPk yang sudah buka di UNP. yaitu beraudiensi dan menghadiri/ membuka Raker. Agaknya Bapak Dirjen tidak ingin menolak kedua permohonan itu.

mungkin inilah (antara lain. Kegiatan Raker tanggal 7 Januari 2008 menghasilkan terbentuknya sejumlah tim yang ditugasi untuk bekerja menyusun berbagai panduan ABKIN tentang BK. banyak mendapat banyak gangguan yaitu pada pertemuan di Malang Yogyakarta. Cara-cara seperti itu mencampuradukkan antara persoalan ABKIN dengan persoalan jurusan/prodi. Tidak Boleh Diganggu Saya baru tahu setelah membaca buku “Krisis Identitas” bahwa suasana kerja tim dalam berbagai kesempatan dikategorikan oleh penulis “Krisis Identitas” sebagai. a. Sebenarnyalah pernyataan beliau “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan” hendaknya diterima dan dicermati sebagai arahan beliau kepada peserta Raker untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan di antara peserta Raker khususnya dan anggota ABKIN pada umumnya. Semarang (hal 18)33). barangkali) yang dimaksud gangguan akademik: 33) Dalam buku “Krisis Identitas” disebutkan adanya pertemuan di Bukittinggi dan Manado (hlm. Di samping itu. gangguan apa yang dimaksudkan itu? Saya menjadi berpikir-pikir. Pertemuan di kedua kota itu adalah pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan Raker tanggal 7 Januari 2008 dan tindak lanjutnya. 18). 2008 83 . 2.Hal itu pulalah agaknya yang melatarbelakangi penolakan beliau atas usulan ABKIN untuk beraudiensi. Prayitno. saya juga mengusulkan untuk diperkenankan memberikan usulan kepada tim-tim lain. Suasana Kerja Tidak boleh ada gangguan: masukan pun dianggap konsep tandingan. Memang ada beberapa orang yang mencoba membawa permasalahan ABKIN ke pertemuan khusus Jurusan/ Prodi BK. Mengatasi Krisis Identitas. Saya (Prayitno) memimpin salah satu tim untuk menyusun rambu-rambu pendidikan BK.

2008 84 . Kajian yuridis yang mereka lakukan justru seringkali bertabrakan dengan peraturan yang ada itu. seperti sebagaimana telah dibahas/diuraikan terdahulu antara lain terhadap. Rupanya pimpinan Raker menghendaki agar peserta Raker diam saja. Prayitno. SK Mendikbud dan BAKN yang mengatur eksistensi BK dan kedudukan serta tugas guru pembimbing dan kepengawasannya. bersikap kritis boleh.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). karena ternyata kemudian mereka (setidak-tidaknya penulis “Krisis Identitas“) sudah bersikap kontra terhadap DSPK dan PPK (PPK di UNP) 2) Agaknya dianggap gangguan juga ketika hampir di setiap kesempatan saya mengingatkan agar temanteman tidak mengabaikan atau mengesampingkan aturan perundangan yang berlaku. tetapi jangan sampai tidak mau menggunakan dan memberikan arti yang berbeda terhadap peraturan perundangan yang ada. Tahu-tahu saya melapor. Agaknya laporan saya kepada Bapak Dirjen tentang PPK itu dianggap sebagai gangguan akademik. • SK Menpan. • UU No. Waktu beliau hadir pada Raker tanggal 7 januari 2008 di UNJ. Dalam kajian yuridis. dan laporan saya itu “menyinggung” mereka. Memang benar PPK di UNP yang di buka sejak tahun 1999 itu kemudian mendapat penguatan dari DSPK (diberlakukan oleh Dikti 2004) . Mengatasi Krisis Identitas.1) Laporan saya kepada Bapak Dirjen ABKIN dalam raker ABKIN.dan bahkan mendapat legitimasi perundangan dengan ditetapkannya konselor sebagai salah satu jenis pendidik dan dinyatakan bahwa salah satu jenis program pendidikan di perguruan tinggi adalah program pendidikan profesi (UU No. Saya melaporkan pelaksanaan/ perkembangan program PPK di UNP.20/2003 yang ada kaitanya dengan pendidikan----karena konselor adalah pendidik. Menerima apa yang dibeberkan.

4) Gangguan yang dianggap besar pula mungkin adalah apa yang saya kemukakan dalam pertemuan di Semarang. dan kalau ada harus ditolak/disingkirkan34). Peringatan tersebut tidak didengar dan bahkan dianggap gangguan dan diabaikan atau diartikan lain. padahal kegiatan penyusunan berbagai pedoman/panduan baru saja dimulai.• • • • • PP 19/2005 Permendiknas dan KTSP. Bagaimana disebut tandingan. 3) Hal yang cukup menarik adalah disikapinya masukan saya untuk penyusunan konsep naskah akademik sebagai naskah akademik tandingan. adalah tandingan terhadap apa yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. Apa yang datang dari pihak lain justru dianggap tandingan yang tidak boleh ada. Mengatasi Krisis Identitas. 34) Tentang tandingan ini. Saya memang memberikan masukan yang cukup luas dalam format yang sudah tertata. DSPK dan PPK Panduan pelaksanaan BK di sekolah yang sudah ada dan kegiatan kepengawasannya Panduan pelayanan konseling yang ada di dalam panduan pengembangan diri Peringatan saya itu dianggap sebagai gangguan akademik. namun kiranya pimpinan “di atas” arah pikirannya sudah terpola sehingga tidak bisa lagi diberi masukan. dan juga sebelumnya. Prayitno. Ternyata banyak hal yang saya ingatkan itu menjadi ganjalan dalam semua konsep dan pemikiran yang ada di dalam buku “Krisis Identitas“. nanti saya akan kemukakan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh kegiatan pasca Raker bulan Januari 2007. khususnya yang di dalamnya ada substansi bimbingan dan konseling. pada waktu semua tim khusus menyiapkan draf panduan yang akan dibawa ke Konvensi Nasional XV ABKIN di Palembang 1-3 Juli 2007. 2008 85 .

Rupanya apa yang saya lakukan diterima sebagai gangguan. Saya benar-benar merasa ikut bertanggungjawab atas keadaan dan pengembangan ABKIN. saya usulkan agar diganti. Lagi pula. Produk Final Diganti Produk final yang sudah secara resmi dibicarakan dalam Konvensi Nasional diganti dengan materi yang entah dari mana datangnya Salah satu fenomena yang menarik adalah produk final yang merupakan hasil kerja Tim yang dibentuk ABKIN. b. disajikan dan dibahas dalam konvensi 86 Prayitno. apa hak ABKIN untuk mengganti panduan-panduan resmi yang berlaku. sehingga panduan-panduan yang sudah ada itu tidak berlaku lagi. padahal apa yang mereka lakukan itu merupakan kebohongan publik dan mengarah kepada sikap arogansi yang melampaui hak dan kewenangan sebagai organisasi di luar lembaga resmi. Usulan saya itu didukung oleh sebagian teman yang hadir. yang sudah dibawa. Mengapa saya berani melakukan hal-hal tersebut di atas. sebab panduan-panduan itu belum jadi. karena posisi saya sebagai Dewan Pembina dalam jajaran PB. 2008 . Rupanya apa yang saya lakukan itu dipandang sebagai gangguan atau malahan pelanggaran yang berat.Dalam pertemuan itu oleh PB diedarkan surat resmi yang sudah jadi yang siap diedarkan khalayak (Pengurus Daerah) yang memberitahu bahwa PB telah menyelesaikan seperangkat panduan yang akan segera menggantikan panduan-panduan yang sudah ada. Surat tersebut. Mengatasi Krisis Identitas. baru difinalkan dan akan dibawa ke Palembang.

padahal bukannya hanya 7 (tujuh). Nasib seperti itu merupakan hasil Tim saya yang berjudul Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor. 2008 87 . DSPK dan menampilkan program PPK Rangkuman Eksekutif tidak dianggap sebagai buku panduan 36) Prayitno. 3. 1) Telah pula diberitakan bahwa ada 7 (tujuh)36) buku pedoman/rambu-rambu/panduan yang disetujui dan ditandatangani oleh Bapak Dirjen Dikti: Apa cermati Kata Pengantar dari buku-buku yang maksudkan itu akan ditemui 9 (sembilan) tema. yaitu karena dasarnya adalah UU. Dalam hal itu agaknya. Mengatasi Krisis Identitas. Produk Hasil “Penataan” Produk penataan yang menghasilkan krisis identitas. PP No.Nasional XV di Palembang. No. serta penyajian dan pembahasan dalam Konvensi Nasional tidak banyak artinya. 20/2003. a. 19/2005. Kabarnya produk-produk yang lain pun beberapa di antaranya mengalami nasib yang sama dangan hal di atas. Berbagai produk diberitakan telah dihasilkan dalam rangka penataran oleh ABKIN. isi dan jajaran penulisnya sama sekali berbeda)35). dan ternyata diganti 100 % dengan naskah lain. diganti dengan naskah lain dengan judul yang sama. akhirnya tidak tentu rimbanya. bagi penulis “Krisis Identitas”tim yang dibentuk secara resmi dan bekerja dengan sepenuh hati. sebagai berikut: 35) Saya sangat bisa menduga mengapa naskah final saya itu diganti. yang menentukan semuanya adalah yang “di atas” sana.

Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (b) Tema: Pendidik Profesional Konselor • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Profesional Konselor Prajabatan Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidik Konselor Prajabatan Terintegrasi Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. dengan judul: • 88 . 2008 • • • (c) Tema: BK Jalur Pendidikan Formal • • (d) Tema : Sertifikasi Konselor.(a) Tema: Naskah Akademik. dengan judul (yang ternyata berbeda-beda untuk satu hal yang sama): • • Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan Formal Naskah Akademik Pendidikan Profesional Konselor dan Penataan.

yang disambung dengan Pendidikan Profesi Profesional Pendidik Konselor berupa (b) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S-2 Bimbingan dan Konseling yang dilengkapi dengan Standar Kompetensi Profesional Pendidik Konselor yang juga Prayitno. dengan judul: (h) Tema: Kemampuan Dasar.(e) Tema: Pendidik Konselor. yaitu meliputi (halaman 17): (a) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program S1-Bimbingan Konseling dilengkapi dengan Standar Kompetensi Konselor. sebagaimana diidentifikasi melalui pencermatan Kata Pengantar buku-buku itu. dengan judul: (i) Tema: Izin Praktik. dengan judul: • • • (g) Tema: Pendidik Konselor. yang disambung dengan Pendidikan Profesi Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. dengan judul: • 2) Demikian judul-judul buku produk yang katanya ada. dengan judul: • Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Pendidik Konselor Prajabatan Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Pendidik Konselor Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor dalam Jabatan Pedoman Penerbitan Izin Praktik bagi Konselor (f) Tema: Kompetensi Konselor. Sekarang kita perhatikan apa yang tertulis di dalam buku ”Krisis Identitas” tentang produk yang dimaksud (sebagai judul buku-buku hasil ”penataan”? ). 2008 89 .

1) Tema produk ada 9 (sembilan). satu tema. Dalam hal ini tampaknya kepada Bapak Dirjen 37) Dikti diususlkan untuk menyetujui sembilan tema meski pun kenyataan menjadi bukubuku hanya ada enam.disambung dengan Pendidikan Profesi Pendidik Konselor. kenyataan yang menjadi buku hanya 6 (enam). 2008 . tidak konsisten dan tidak cermat. Adalah terlalu vulgar kiranya kalau dikatakan bahwa di sana ada tema-tema yang difiktifkan oleh yang merancang produk yang (hendak) dibukukan itu. Tanggapan terhadap Produk “Penataan” Ada tema fiktif. 37) Termasuk satu buku untuk Bapak Dirjen PMPTK 90 Prayitno. Mengatasi Krisis Identitas. (Kutipan ini diambil setepat-tepatnya dari buku ”Krisis Identitas”) (c) Pedoman Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (d) Rambu-rambu Sertifikasi Konselor Dalam Jabatan (e) Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pengetahuan Kompetensi Pendidik Konselor (f) Pedoman Penelitian Izin Praktik b. judul bukunya lebih dari satu dan berbeda-beda.

SK Mendikbud dan Kepala BAKN No. telah diatasi dengan diberlakukannya SK Menpan No. adanya kenyataan satu tema dan bukunya hanya satu. 0433/P/1993 dan No. menyempitkan dan menyimpangkan makna aturan perundangan (a) Tidak memahami bahwa kelemahan UU No. 118/1996. 025/0/1995. maka produk-produk yang dihasilkan oleh upaya “penataan” itu diragukan kesahihan dan Prayitno. yaitu Bapak Dirjen Dikti dan Bapak Dirjen PMPTK dengan cap lembaganya. 84/1993. serta SK Menpan No. 2008 91 . 2/1989. tetapi judul yang terpampang di berbagai tempat (yaitu Kata Pengantar) tertulis berbeda-beda. Posisi dan spesifikasi tugas pengampu layanan BK pada waktu it terus berlanjut sampai sekarang. 026/1989. Dengan SK-SK yang baru tersebut sosok Guru Pembimbing telah mulai tampil setara dengan Guru Mata Pelajaran. telah diatur dan dikembangkan. padahal di situ terdapat tanda tangan figure yang sangat terhormat. 3) Mengenai substansi dari produk-produk yang berupa buku itu bias dibayangkan kadarnya dengan memperhatikan bahwa para penyusun yang menghasilkan buku-buku itu dalam kondisi sebagai berikut: Produk yang berupa buku-buku itu substansinya diragukan kesahihan dan keterandalannya. danbahwasanya turunannya berupa SK Menpan No.2) Tentu lucu. Mengatasi Krisis Identitas. Tanpa memahami dan mempertimbangkan perkembangan yang terjadi waktu itu.

Mengatasi Krisis Identitas. menjadikan produk-produk itu dengan sendirinya terpental dari aturan yang dimaksudkan itu dan tidak relevan dengan maksud pengimplementasian aturan perundangan tersebut. padahal dokumen Dikti ini sejak tahun 2004/2005 secara luas menjadi acuan bagi pengembangan profesionalitas BK di LPTK-LPTK. Oposisi terhadap DSPK dan panduan BK yang disusun Puskur/P4TK Penjas dan BK (d) Bersikap apriori terhadap DSPK. No 20/2003 tantang Sistem Pendidikan Nasional yang disempitkan maknanya. b) Mencederai makna UU. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (hlm. 9 buku “Krisis Identitas”). dan tidak bisa digunakan untuk tugas konselor (hlm. 22/2006 tentang Standar Isi melalui ketidakpahamannya tentang makna Pasal 5 ayat 1 PP No. (c) Secara terang-terangan berani melanggar Permendiknas No. 2008 .keterandalannya. sehingga seolah-olah hanya bias dipakai untuk konteks tugas guru. Produk yang berpandangan sempit seperti itu berarti berada di luar undang-undang dan tidak dapat menjadi muatan atau pun sarana dalam rangka implementasi undang-undang tersebut. Dokumen-dokumen hasil “penataan” tersebut tampaknya disengaja untuk membelokkan atau bahkan menentang arus yang sedang berkembang menuju BK professional. termasuk program PPK di dalamnya. 14 buku “Krisis Identitas”). (e) Dengan juga bersikap oposisi terhadap panduan Pelayanan Konseling yang dikembangkan oleh 92 Prayitno.

Arah konsolidasi ini menjadi semakin jelas dan cerah dengan diberlakukannya Permendiknas No. 27/ 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Buku “Standar Kompetensi Konselor” hasil produk “penataan “ABKIN perlu ditarik dari peredaran karena substansinya tidak sesuai dengan Permendiknas No. Demikan juga buku-buku yang di dalamnya memuat “standar kompetensi konselor” dinyatakan cacat substansi dan harus ditarik dari peredaran. 2008 93 . yaitu S1BK plus PPK dan standar kompetensi konselor yang dapat diberi label “Kompetensi BK Pola 17” (karena meliputi 17 bidang kompetensi) secara langsung akan menyegerakan LPTK (jurusan/prodi BK) untuk mengembangkan program Sarjana (S-1) BK beserta PPK-nya.Puskur dan P4TK Penjas dan BK. Prayitno. 17/2008 hendak dilaksanakan secara konsekuen. apabila satu aturan pokok yang disebutkan di dalam Permendiknas No. Upaya tersebut akan didorong lagi. 27/2008. Standar kualifikasi konselor. Mengatasi Krisis Identitas. produk-produk tersebut hendak membelokkan atau bahkan menentang arus berkenaan dengan konsolidasi aturan dan kinerja Guru Pembimbing menuju peran dan kinerja konselor yang lebih bermartabat. yaitu bahwa: Penyelenggaraan pendidikan yang satuan pendidikannya memperkerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri paling lambat 5 tahun setelah Peraturan Menteri ini mulai diberlakukan.

yaitu: (i) Tema “kompetensi pendidik konselor” dengan buku (mungkin sedang direncanakan) Standar Kompetensi Pendidik Konselor. Mengatasi Krisis Identitas. produk-produk di atas yang di dalamnya memuat apa yang mereka namakan “standar kompetensi konselor” secara langsung tidak dapat digunakan. 27/2008. Hak menyusun kompetensi pendidik ada di tangan BSNP.(f) Secara spesifik. (g) Secara spesifik pula terhadap tiga produk itu yang bukunya belum ada. Perlu diketahui bahwa badan yang berwenang menyusun standar kompetensi pendidik adalah BSNP. karena “standar” yang mereka rumuskan pada produk itu secara pasti berbeda dari substansi yang ada di dalam Permendiknas No. bukan ABKIN. yaitu: Buku yang berjudul Standar Kompetensi Konselor Buku-buku yang di dalamnya terkandung tentang “standar kompetensi konselor” Buku-buku tersebut cacat substansi karena tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. sehingga tidak layak edar. 2008 . Buku ABKIN tentang hal itu berada di luar kewenangan/prosedur yang berlaku. yang nantinya hasilnya akan dijadikan Permendiknas. dengan diberlakukannya Permendiknas No. 94 Prayitno. 27/2008 itu.

Panduan izin praktik profesi hanya valid kalau disusun dan diberikan oleh pihak yang berpengalaman praktik profesi yang dimaksud. (ii) Tema “Izin Praktik” dengan bukunya ( mungkin sedang direncanakan) Pedoman Penerbitan Izin Praktik Konselor. Perlu diketahui bahwa siapa yang layak memberikan izin praktik ialah mereka yang sudah berpengalaman praktik yang dimaksudkan itu. Jadi, kalau belum pernah, lalu memberi izin tentang praktik itu, apalagi ini adalah praktik professional, kan lucu jadinya)38)

(iii) Tema “pernyetalaan dosen” dengan bukunya Rambu-rambu Program Penyetalaan Kemampuan Pendidik Konselor Dalam Jabatan. Perlu diketahui bahwa dewasa ini telah mulai dilaksanakan program sertifikasi seperti itu, disamping itu, program penyetalaan seperti akan memberikan beban tambahan yang tidak perlu bagi dosen-dosen BK.

38)

Pada waktunya nanti masyarakat profesi konseling akan mempunyai lembaga Konsil Konseling Indonesia (semacam Konsil Kedokteran Indonesia) badan independen yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil dari organisasi profesi, lembaga pendidikan profesi, lembaga pelayanan profesi, tokoh masyarakat, dan Depdiknas. Konsil ini akan memiliki otoritas luas dalam pengembangan dan produk pelayanan profesi, termasuk di dalamnya izin praktik

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

95

(h) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Sertifikasi Konselor dalam jabatan juga menjadi tandingan terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan (guru di sini artinya Guru Pembimbing) yang akan membebani mereka. Lebih baik mereka diberi kesempatan untuk mencapai kualifikasi …. PPK sebagaimana diamanatkan oleh Permendiknas No. 27/2008 (i) Buku Rambu-rambu Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesional Pendidik Konselor, seperti mengada-ada, seperti gado-gado, program akademik dicampur profesi; justru akan merancukan, mana program akademiknya mana program profesinya. Laksanakan saja program luas seperti diutarakan oleh undang-undang, ambil S1 BK, lanjut PPK, dan lanjut S1/S2 BK, atau S1 BK, lanjut S2/S3 BK, dan ambil PPK. Jelas tegas, operasional dan lembaganya sepertinya diada-adakan.

Produk yang berupa tujuh buku ABKIN itu disusun dengan mencederai aspekaspek prosedural, kolegialitas, transparansi, keilmuan dan kepatuhan kepada aturan perundangan.

4) Produk-produk yang akhirnya berbentuk buku itu, menurut mekanisme dan suasana penyusunnya tampaknya jauh dari prosedur, tidak seperti yang ditempuh dalam penyusunan DSPK, apalagi Permendiknas yang keduanya disikapi kontra oleh penulis “Krisis Identitas”. Kontra dari penyusunan seperti DSPK misalnya, yang di sana

96

Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

ada beberapa telaah kemajuan dan sanctioning secara luas dan mendalam, sebaliknya penyusun produk yang menjadi keenam buku justru mencurigai masukan, tidak transparan dan diputuskan di tingkat atas saja. Sampai-sampai otoritas Konvensi Nasional pun ditanggalkan, sampai-sampai ada produk Konvensi Nasional yang dilibas begitu saja dan diganti oleh “produk” lain yang entah dari mana datangnya. Ironisnya lagi, ialah, kalau dalam dinamika penyusunannya dinafikan adanya masukan-masukan tandingan, banyak di antara produk -produk “penataan” justru merupakan tandingan atau pun penyimpangan terhadap ketentuan yang sudah diberlakukan oleh pemerintah. DSPK diberikan tandingan berupa rambu-rambua pendidikan professional konselor versi mereka; program PPK diberikan tandingan dengan rambu-rambu Program PPK versi mereka; KTSP menurut Permendiknas No. 22/2005 ditandingi oleh konsep kurikulum versi mereka. Produk yang dihasilkan itu digunakan untuk merebut lahan garapan yang selama ini tidak mereka kuasai. 5) Tanggapan kunci: sepertinya, kalau produk-produk “penataan” seperti diutarakan di atas sukses dipergunakan di dalam kiprah dinamikanya upaya profesionalisasi BK di tanah air, penulis “Krisis identitas” dan sejawatnya serta para aktivisnya yang mendorong terwujudnya produk-produk tandingan akan menguasai lahan garapan (di sini dipakai istilah yang digunakan penulis “Krisis Identitas”) yang luas, empuk dan subur. Lahan seperti itu, kalau itu memang ada, mereka bayangkan sekarang sedang dikuasai pihak lain; dari “penguasa lama” itulah lahan itu harus direbut. Apa ini yang dimaksud oleh penulis “Krisis Identitas” motif altruistik yang harus diperkuat? Kalau memang benar seperti itu yang
Prayitno, Mengatasi Krisis Identitas, 2008

97

harmonis. Mengatasi Krisis Identitas. Peringatan atau pesan Dirjen itu tentunya dimaksudkan agar Raker itu dan kegiatan-kegiatan selanjutnya berjalan lancar. Sepertinya. keilmuan dan sebagainya. Pernyataan dari Dewan Pembina pun tidak 98 Prayitno. Pelibatan Otoritas Birokrasi Otoritas birokrasi. pimpinan Raker tanggal 7 Januari 2007 merasa bangga atas kunjungan Bapak Dirjen Dikti itu. sehingga hasil-hasilnya bisa dikesampingkan begitu saja dan diganti dengan naksah lain yang disiapkan “dari atas”. 2008 . bahkan sebaliknya dan yang dipesankan itu. dikritik dan dikejar. Kenyataannya berbeda. Dari Gagal Audiensi sampai Produk Tandingan Meskipun gagal beraudiensi kepada Dirjen Dikti. Pertemuan-pertemuan kerja tim. penulis “Krisis” Identitas mengkritik keterlibatan otoritas birokrasi berlawanan dengan profesionalisasi BK (hal 8 dan 18). a. untuk mencapai hasil yang terbaik. terbuka. kolegial. Tanpa memperhatikan peringatan Dirjen bahwa “jangan sampai timbul ABKIN Perjuangan”. bahkan dianggap tandingan. 4.terjadi. pimpinan Raker menganggap kunjungan Dirjen itu sebagai restu dan dukungan penuh atas hasilhasil Raker nantinya dan segala sesuatu yang dari ABKIN. namun ternyata dalam mengupayakan terwujudnya produk-produk yang digambarkan di atas otoritas birokrasi di atas justru diharapkan dan dikejar untuk merestui dan mendukungnya. apa yang dilakukan untuk mengejar produk-produk yang dimaksud. benarlah kita berada dalam krisis identitas yang memerlukan kekuatan besar untuk mengatasinya. segalanya sudah dipolakan “dari atas” sehingga masukan-masukan dianggap sebagai gangguan. transparan. Terbaca. bahkan Konvensi Nasional pun diperlakukan hanya sekedar sebagai formalitas saja.

M. otoritas birokrasi juga). Oleh karenanya tanda tangan dan cap harus diperoleh. Hasil produk telah dipolakan “dari atas”. apalagi uji coba. produk harus selesai. Mengatasi Krisis Identitas. kepercayaan.diacuhkan. Satriyo Brojonegoro) selama belasan tahun menjabat di Dikti bersama dengan Bapak Direktur PPTK-KTP (Prof. dan dukungan dari birokrasi dicederai. 2008 99 . peringatan. Dr. Tidak ada telaah yang intensif. Kenyataan menunjukkan bahwa Bapak Dirjen (Prof.Sc) sangat Prayitno. dan mengejar lahan garapan dengan kedok manis “motif altruistik”.Yang penting adalah. Hal itu memang tidak diragukan lagi. Dibubuhkan tanda tangan dan cap Dirjen pada produk-produk tersebut merupakan bukti bahwa Bapak Dirjen memang menghargai dan mempercaya ABKIN. Sukamto. Dr. Upaya “kejar tayang” membuahkan hasil. bagaimanapun juga caranya. Produk-produk itu tidak memiliki kekuatan atau nilai instrinsik untuk pengembangan profesi BK di tanah air. Tujuh naskah (tandingan) siap di bawa ke otoritas birokrasi (tu kan. sehingga kenyataan pelanggaran terhadap aturan acuan yang sudah ada dan arah-arah tandingan menjadi terpateri di dalam produk-produk itu. Produk-produk terakhir ditentukan oleh para elit “dari atas” dengan arah yang sudah dipolakan sejak awal. sanctioning atau uji publik. tidak ada verivikasi. masukan dianggap tandingan. Rupanya dirasakan juga bahwa tanpa tanda tangan dan cap dari birokrasi produk-produk itu tidak bisa dipasarkan. mengejar lahan garapan mejadi motivasi dasar. tidak ada pembahasan kolegial yang terbuka. sampai-sampai anggota Dewan Pembina itu tidak dilibatkan lagi dalam berbagai kegiatan. Ir.

kecuali orang yang mempersoalkannya seperti tersebut pada buku “Krisis Identitas” (hlm. khususnya di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. melampaui peran dan etika kelembagaan Merasa seperti mendapat modal dan peralatan yang cukup canggih. produkproduk itu justru merupakan produk-produk tandingan yang minimal dapat merancukan. kegiatan akademik. padahal undang-undang menyatakan (UU No. 2008 100 . LPTK. 21) Prayitno. yaitu dengan adanya tanda legitimasi di atas produk-produk yang dihasilkan itu. Dalam pada itu.besar perhatian dan jasa beliau untuk pengembangan keprofesian BK. membahayakan dan mengkedalai kondisi lapangan dan pelaksanaan pelayanan konseling. Dan lagi. Untuk itu seluruh masyarakat BK di tanah air mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.Dengan demikian. tidak ada pihak yang merasa bahwa lahan garapan telah direbut. melainkan substansi produk-produk itu yang diakui sendiri oleh penulis buku “Krisis Identitas” memang ada ketidak sesuaian dan bahkan pelanggaran terhadap berbagai aturan resmi yang diberlakukan oleh pemerintah. Mengatasi Krisis Identitas. pemilik produk mulai melangkah menggarap lahan yang di rasa telah direbutnya39). khusus jurusan/prodi BK dimasukinya dengan arah pengembangan kurikulum. dosen dan lain-lain. b. memang ada pertanyaan bagaiman legitimasi dari Dikti itu bisa diperoleh mengingat pada waktu itu sedang terjadi mutasi cukup menyeluruh di lingkungan Dikti dan juga PMPTK. Lahan mulai digarap. yang dipersoalkan di sini bukanlah tanda tangan Bapak Dirjen dan cap Dikti. 20/ 2003 Pasal 38): 39) Direbut dari siapa? Diyakini. Dari Produk Tandingan sampai Intervensi Kelembagaan. dalam hal-hal yang dipersoalkan itu.

misalnya yang disusun dan disosialisasikan dan diinstruksikan oleh Dikti untuk digunakan oleh jurusan/prodi BK di LPTK. Kemudian terjadi perbincangan yang cukup intensif dan seru. Padahal sejak berakhirnya Konvensi Nasional di Palembang tidak terdengar beritanya. dengan materi bahasan tentang bagaimana produk-produk itu bisa dibawa ke Dikti. 40) Tidak seperti DSPK. Dua personalia PPK/BK dari UNP yang hadir. dan siap untuk disosialisasikan.Ayat (3) : Kurikulum perguruan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguaruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi Ayat (4) : Tanpa izin dari Dikti atau Rektor misalnya 40) mereka “pemilik” produk-produk (tandingan) itu memanggili pemegang otoritas program di fakultas untuk bidang BK dalam rangka sosailisasi dan sekaligus implementasi produkproduk “tandingan” itu41). Pada pertemuan resmi itu pemangku kepentingan produk-produk itu mengemukakan perihal telah disahkannya produk yang berbentuk tujuh buku itu. produk-produk (tandingan) itu tidak diinstruksikan oleh Dikti untuk diimplementasikan pada jurusan/prodi BK Kondisi tandingan itu antara lain terhadap DSPK. 2008 101 . merasa tidak tahu-menahu tentang pengesahan tersebut. Rektor UNP bersama dua orang pimpinan BK/PPK diundang oleh Direktur Ketenagaan Dikti pada 19 Februari 2008 menghadiri pertemuan berkenaan dengan lulusan PPK/BK. Mengatasi Krisis Identitas. . Kegiatan itu dikerjakan secara intensif. Dalam suasana seperti itu. kurikulum BK. yang sangat berkepentingan dengan produk-produk ABKIN. program PPK. Tiba-tiba diedarkan buku-buku yang telah disahkan. layaknya “kejar tayang” saja. sertivikasi dosen dan PLBK 41) Prayitno.

dengan memperhatikan ketentuan pasal/ayat sebagaimana dikutip di atas. merespons. agar substansi produk-produk itu secara mulus dipakai dan diterima oleh khalayak. 42) Untuk lahan garapan di satuan-satuan pendidikan. Rektor UNP dengan tekun mengikuti semua hal yang dibicarakan sehingga beliau tahu persis seluk-beluk ketujuh buku yang dipersoalkan itu. 2008 102 . P4TK Penjas/BK. Prayitno. pada waktu itu diusulkan agar ketujuh buku itu substansinya dibenahi dulu sebelum disosialisasikan. tahu-tahu buku-buku hasil ”penataan” tersebut disampaikan oleh pemangku ketujuh buku itu kepada Rektor-Rektor LPTK seluruh Indonesia. Nah. Pada 14-15 Maret di Bandung diadakan Rakor untuk membahas (atau sekaligus mensosialisasikan?) ketujuh buku itu. dan (c) menempuh strategi status quo untuk urusan BK yang menyangkut perguruan tinggi. artinya tidak menyodor-nyodorkan apalagi memaksakan produkproduk barunya itu42). Di sana ada peran Puskur. intervensi pemangku produk-produk tandingan itu tidak kurang gencarnya. Rektor UNP kemudian. diabaikan sama sekali. Rupanya dengan semangat “kejar tayang” untuk menggarap lahan. Mengatasi Krisis Identitas. mengharapkan agar organisasi ABKIN (a) memperhatikan aturan perundangan yang berlaku. meminta untuk terlebih dahulu membenahi substansi buku-buku itu.Akhirnya. Bin Diklat/PMPTK. dan Ditjen Mandikdasmen yang akan menaggapi kegiatan merebut lahan itu. serta Rakor di Bandung. ketujuh buku dengan format dan substansi tetap sebagaimana tampilannya dalam pembahasan di kantor Direktorat Ketenagaan. Kembali usul perubahan terlebih dahulu diusulkan. (b) tidak mencampuri urusan perguruan tinggi yang menjadi hak perguruan tinggi untuk mengurusnya. Tidaklah berlebihan apabila Rektor yang sangat memperhatikan dan merasa berkepentingan serta ikut bertanggungjawab atas perkembangan profesi BK. yang mana isi bahasan dan usul-usul dikemukakan di kantor tersebut. sangat terkejut atas tindakan pemangku kepentingan produk-produk tandingan itu. Rektor UNP mengetahui permasalahan selukbeluk ketujuh buku itu dan usul-usul perubahannya.

Untuk respons yang wajar itu tentu saja didukung dan diamankan oleh Dekan FIP dan Ketua Jurusan BK UNP. 2008 103 . Tugas semua pihak. Kalau pun berbagai kendala dan krisis identitas diakui dan memang ada. tahun 1975). Usaha-usaha yang bersifat tandingan. Prayitno. I. 18). komponen trilogi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. Inilah hal yang dianggap sebagai gangguan akademik oleh penulis “Krisis Identitas” (hlm. perebutan lahan yang menimbulkan kerancuan sebagaimana menjadi tema sentral penulisan buku “Krisis Identitas” hendaknya dikritisi. ARAH PROFESIONALISASI BK Pengembangan dan pembinaan profesi konseling diupayakan sehingga memenuhi seoptimal mungkin ciri-ciri profesi. adalah pertama-tama menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan profesi itu sendiri. Sampai sekarang sesedikit. Profesi BK di tanah air telah dibina secara berkelanjutan setidaknya-tidaknya sejak didirikannya Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI. dan kemartabatan profesi. hal itu menjadi kewajiban semua pihak untuk mengatasinya. siapa pun yang menjadi pemangku kepentingan dari perkembangan profesi konseling. serta memberikan rangsangan yang benarbenar mengarahkan semua pihak untuk pengembangan yang dimaksudkan secara optimal. dan lebih intensif lagi sejak tahun 1993 yang mana pada waktu itu dirangkai dan diposisikan secara jelas sosok dan kinerja konselor dengan sebutan guru pembimbing sebagai pelaksana pelayanan BK di satuan pendidik formal.demi sedikit sosok dan kinerja itu telah semakin kokoh dihayati dan diupayakan untuk pelaksanaannya.

Objek praktik spesifik. yaitu: keintelektualan. 43) Dalam Full. Ciri-ciri Profesi Ciri-ciri pekerjaan profesional itu telah banyak ditulis oleh para pakar. Melalui proses berpikir tersebut. metode dan teknik. Kegiatan profesional merupakan pelayanan yang lebih berorientasi mental daripada manual (kegiatan yang memerlukan keterampilan fisik). yang keseluruhannya dapat dikembalikan kepada tulisan Abraham Flexner tahun 191543) yang melihat ciri-ciri profesi dalam enam karakteristik. melalui semedi atau bertapa sekian lama. Pelayanan profesional didasarkan pada kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja.1. Kompetensi profesional itu tidak diperoleh dalam sekejap. 2008 104 . b. Controversy in American Education: An Onthology of Crucial Issues. atau melalui penyajian sesaji kepada pemegang tuah sakti. serta nilai berkenaan dengan pelayanan yang dimaksud. kompetensi profesional yang dipelajari. berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. motivasi altruistik. serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha. Kompetensi profesional yang dipelajari. misalnya melalui mimpi. Pelayanan suatu profesi tertentu terarah kepada objek praktik spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. Keintelektualan. 1967. untuk mempelajari materi keilmuan. lebih memerlukan proses berpikir daripada kegiatan rutin. misalnya melalui pewarisan “ilmu” dari pewaris kepada keturunannya. pelayanan profesional merupakan hasil pertimbangan yang matang. melainkan melalui pembelajaran secara intensif. Seorang profesional harus dengan sungguh-sungguh. a. c. London: Collier-McMillan Limited Prayitno. Tiap-tiap profesi menangani objek praktik spesifiknya sendiri. objek praktik spesifik. H. dan organisasi profesi. Mengatasi Krisis Identitas. komunikasi. pendekatan.

serta imbalan yang terkait dengan pelaksanaan pelayanannya. akuntan menangani perhitungan keuangan berdasarkan peraturan yang berlaku. psikolog memberikan gambaran tentang kondisi dinamik aspek-aspek psikis individu. Objek praktik spesifik profesi konselor dan guru adalah berbeda dan memang harus dibedakan secara tegas. Objek praktik spesifik masing-masing profesi tidaklah tumpang tindih sehingga satu profesi dengan profesi lainnya tidak saling mengaku objek praktik spesifiknya sama dengan objek praktik spesifik profesi yang berbeda. apoteker menangani pembuatan obat. Segenap aspek pelayanan profesional. Motivasi altruistik. dapat ditanyakan apa objek praktik spesifik pekerjaan pendidik profesional? Tidak lain adalah pelayanan berkenaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran terhadap peserta didik dalam bidang pelayanan yang menjadi kekhususan pekerjaan guru atau konselor. Secara lebih umum misalnya. yang keduanya adalah pendidik. termasuk kode etik dan aturan kredensialisasi. e. semuanya dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. meliputi objek praktik spesifik profesinya. serta diselenggarakan perlindungan terhadap profesi yang dimaksud. yaitu materi berkenaan dengan asas kerahasiaan yang menurut kode etik profesi harus dijaga dan tidak dibocorkan kepada siapapun. dipraktikkan dan diawasi sesuai dengan kode etik. kecuali satu hal. kompetensi dan dinamika operasionalnya. sedangkan psikiater menangani ketidakseimbangan atau penyakit psikis. keilmuan dan teknologinya. Komunikasi. Mengatasi Krisis Identitas. untuk guru dan konselor. konselor menangani individuindividu normal yang mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. d.Dokter sebagai tenaga profesional misalnya menangani penyembuhan penyakit. Motivasi kerja seorang profesional bukanlah berorientasi kepada kepentingan dan Prayitno. 2008 105 . Komunikasi ini memungkinkan dipelajari dan dikembangkannya profesi tersebut. aspek hukum dan sosialnya.

dan aspek-aspek sosialnya seluruhnya dipelajari melalui Program Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi. Organisasi profesi di samping membesarkan profesi itu sendiri. (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi objek praktik spesifik profesi. Mengatasi Krisis Identitas. Organisasi profesi membina para anggotanya untuk memiliki kualitas tinggi dalam mengembangkan dan mempertahankan kemartabatan profesi. melalui tridarma organisasi profesi. dan kebahagiaan sasaran layanan. serta perlindungan atas para anggotanya. jika diperlukan. mengutamakan kepentingan sasaran layanan. kompetensi dan teknologi operasional. komunikasi. dan sebaliknya. keberhasasilan. kode etik.keuntungan pribadi. melainkan untuk kepentingan. kompetensi dan praktik pelayanan. kompetensi dan komunikasi dalam menangani objek praktik spesifik profesi. Tenaga profesional dalam profesi yang sama membentuk suatu organisasi profesi untuk mengawal pelaksanaan tugas-tugas profesional mereka. keintelektualan. tenaga profesional tidak segan-segan mengorbankan kepentingan sendiri demi kepentingan/ kebutuhan sasaran layanan yang benar-benar mendesak. dapatlah dipahami sepenuhnya bahwa tenaga profesional perlu dipersiapkan di Perguruan Tinggi. juga sangat berkepentingan unutk ikut serta memenuhi kebutuhan dan membahagiakan masyarakat luas. mulai dari pendidikan program sarjananya sampai dengan program pendidikan profesinya. Bahkan. Aspek-aspek keintelektualan/ keilmuan. kode etik. serta kemaslahatan kehidupan masyarakat pada umumnya. yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi. Memperhatikan karakteristik yang menjadi tuntutan suatu profesi. 2008 . 106 Prayitno. f. Motivasi altruistik ini akan menjauhkan tenaga profesional mengutamakan pamrih atau keuntungan pribadi. dan (3) menjaga kode etik profesi. Motivasi altruistik diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan. Organisasi profesi.

2. sebagaimana gambar berikut: Praktik Profesi Trilogi Profesi Dasar Keilmuan Substansi Profesi Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan. 2008 107 . yaitu (1) komponen dasar keilmuan. nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan Prayitno. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. Komponen Dasar Profesi Untuk menjadi profesional. Trilogi Profesi Konselor a. (2) komponen substansi profesi. profesional dalam bidang apa pun. keterampilan. Mengatasi Krisis Identitas. pengetahuan. seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi. dan (3) komponen praktik profesi.

2008 45) 108 . Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling. • b. yaitu : • • Komponen Dasar Keilmuan Pendidikan : Ilmu Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling. 44) Terkait dengan ini kompetensi pokok pertama yang ada pada Standar Kompetensi Konselor sebagaimana menjadi isi Permendiknas No. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi. 27/2008. Komponen Trilogi Profesi Konselor 1) Ilmu Pendidikan Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan45) sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling. Mengatasi Krisis Identitas. yaitu bahwa: Konselor adalah tenaga professional dengan kualifikasi Sarjana (S1) BK dan lulusan PPK.S1) yang mendasarinya44). Sesuai dengan yang dinyatakan di dalam Permendiknas No. dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. didahului pendidikan akademik (program pendidikan sarjana-. yang adalah pendidik (UU No.sasaran pelayanan.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) . khususnya bidang konseling. sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan pada umumnya. karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik. Prayitno. Konselor. 27/ 2008 adalah: Menguasai teori dan fraksisi pendidikan.

Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. dan teknologi pelayanan. Dalam hal ini. pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KEST. 2008 109 . Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan (klien) bersama konselornya. sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif seharihari (KES). 46) Bandingkan modus pelayanan konseling yang dijalankan oleh konselor. pendekatan.Dengan keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk-beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik (dalam hal ini klien) melalui modus pelayanan konseling. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling46). Dalam arti yang demikian pulalah. misalnya dengan modus pengajaran oleh guru dan modus pelayanan kesehatan oleh dokter. Prayitno. konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran. Dengan demikian. 2) Substansi Profesi Konseling Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling. Mengatasi Krisis Identitas. pengelolaan dan evaluasi.

teknologiinformasi-komunikasi semuanya sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling. Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan. 3) Praktik Pelayanan Konseling Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu47). Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. Pendekatan dan teknologi. organisasi pemuda/kemasyarakatan. 47) Setting tempat konselor bekerja dapat berupa satuan pendidikan formal/ nonformal. serta implementasinya dalam praktik konseling. keluarga. Pada setting satuan pendidikan misalnya. praktek pribadi (privat). acuan praksis. dunia usaha/industri. pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi. pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling. mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Mengatasi Krisis Identitas. instansi negeri/swasta. 2008 . standar prosedur operasional (SPO). sosiologi. konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori. Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperoleh dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) konseling ditambah dengan program pendidikan profesi konselor (PPK).Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi. 110 Prayitno.

dan mingguan sampai dengan harian (berupa SATLAN dan SATKUNG)48). bulanan. film. 48) SATLAN (Satuan Layanan) dan SATKUNG (Satuan Pendukung) ini sejenis RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang dibuat oleh guru dalam mempersiapkan kegiatan pengajarannya. Arah POAC adalah : • P: Bagaimana konselor membuat perencanaan layanan dan kegiatan pendukung. 1) Kinerja Konselor Pengelolaan pada dasarnya terfokus pada empat pilar kegiatan. Pengelolaan Pelayanan Berbasis Kinerja Pengelolaan kegiatan pelayanan konseling pada satuan kerja (misalnya di sekolah/madrasah) diselenggarakan dengan pola pengelolaan berbasis kinerja dengan pengawasan/pembinaan yang efektif baik dari pihak interen maupun eksteren sekolah/ madrasah. urusan administrasi. pelaksanaan (actuating-A). pengorganisasian (organizingO). dan objek-objek yang dikunjungi). 2008 111 . guru. dana. Unsur-unsur ini meliputi unsur-unsur personal (seperti peranan pimpinan sekolah. Mengatasi Krisis Identitas. • O: Bagaimana konselor mengorganisasikan berbagai unsur dan sarana yang akan dilibatkan di dalam kegiatan. mulai dari membuat program tahunan. alat bantu seperti komputer. Pengelolaan berbasis kinerja mendasarkan pelaksanaannya pada kinerja konselor berkenaan dengan POAC penyelenggaraan pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. orang tua).c. Prayitno. sarana fisik dan lingkungan (seperti ruangan dan mobiler. dll. wali kelas. yaitu perencanaan (planning-P). semesteran. dan pengontrolan (controlling-C).

• A: Bagaimana konselor mewujudkan dalam praktik jenis-jenis layanan dan kegiatan pendukung melalui SPO masing-masing kegiatan yang telah direncanakan dan diorganisasikan. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. 112 Prayitno. pengelolaan berbasis kinerja pun harus diwujudkan dengan sebaikbaiknya. 2) Kinerja Konselor Satuan Pendidikan dalam Pengelolaan Unsur pengelolaan satuan pendidikan dapat digambarkan melalui organigram sederhana sebagai berikut: 49) Bagi konselor yang menyelenggarakan pratik pribadi (privat). C: Bagaimana konselor mengontrol praktik pelayanannya dalam bentuk penilaian hasil dan mempertanggungjawabkannya kepada stakeholders. serta organisasi profesi. Volume kerja konselor secara berkala dipertanggungjawabkan kepada pimpinan lembaga satuan pendidikan (lembaga kerja) tempat konselor bertugas49). • Kinerja konselor ditujukan kepada seluruh sasaran pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. Kegiatan ini melibatkan peran pengawasan dan pembinaan baik dari pihak interen maupun eksteren satuan pendidikan (lembaga kerja).

POAC pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah/ madrasah) mengkoordinasikan POAC-POAC semua unsur bawahannya untuk menciptakan ketepatgunaan dan kedayagunaan yang optimal di seluruh satuan pendidikan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok setiap unsur sekolah/madrasah • • Prayitno. dan TU) saling mengharmonisasikan POAC – POAC mereka dalam suasana kerjasama. guru.Mekanisme pengelolaan: • Semua unsur dalam organigram tersebut (kecuali unsur siswa) menyusun dan menyelenggarakan POAC-nya sendiri dengan sebaik mungkin. Kondisi yang sangat menguntungkan terjadi apabila semua unsur yang ada (terutama konselor. 2008 113 . wali kelas. Mengatasi Krisis Identitas. POAC konselor sebagaimana dikemukakan di atas ditujukan kepada seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya (minimum 150 arang siswa) dengan volume kerja pelayanan minimal 24 jam pembelajaran per minggu.

komite sekolah.(lembaga kerja) secara keseluruhan. • Pemantauan/pengawasan/pembinaan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara: i) interen. apabila trilogi profesi telah dibina dan diplikasikan dengan baik melalui pengelolaan berbasis kinerja. Kemartabatan profesi yang ditampilkan sangat tergantung pada pendidik 114 Prayitno. dan organisasi profesi). oleh pimpinan satuan pendidikan (lembaga kerja). • Fokus pengawasan adalah kemampuan profesional konselor dan implementasi kegiatan pelayanan konseling yang menjadi kewajiban dan tugas konselor di satuan satuan pendidikan (lembaga kerja). 3) Pengawasan Kegiatan Kegiatan pelayanan konseling di sekolah/madrasah dipantau. Hasil pengawasan didokumentasikan. • 3. ii) eksteren. dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling di satuan pendidikan (lembaga kerja). dievaluasi. Profesi yang Bermartabat Di atas semua ciri keprofesionalan. iii) ekstra kelembagaan (oleh pengawas. dan dibina melalui kegiatan pengawasan. oleh petugas yang ditunjuk atasan satuan pendidikan (lembaga kerja). Pengawasan kegiatan pelayanan konseling dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. maka profesi yang ditampilkan itu semestinyalah profesi yang bermartabat. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. dianalisis.

Oleh karenanya. mengacu kepada kebutuhan akan pelayanan konseling yang harus dilaksanakan secara profesional dan sesuai pula dengan peraturan perundangan yang berlaku. Pelayanan profesional diselenggrakan oleh petugas atau pelaksana yang bermandat. Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang terdiri dari dua tingkat program yang berkesinambungan (Program Sarjana dan Program Profesi) itu diselenggarakan tidak lain adalah untuk membina kemartabatan profesi konselor. kehidupan efektif sehari-hari (KES) merupakan hajat hidup semua orang dalam kadar yang sangat mendasar dan penting. Program pendidikan sarjana dan profesi konselor yang terpadu dan sinambung dalam rangka trilogi profesi merupakan sarana dasar dan esensial untuk menyiapkan pelaksana Prayitno. Kemartabatan profesi yang dimaksudkan itu meliputi ciri-ciri bahwa : a. Mengatasi Krisis Identitas. b. Sebagaimana diketahui. untuk kepentingan semua individu.yang mempersiapkan diri untuk menjadi tenaga profesional itu. melainkan terlaksana dengan manfaat yang setinggitingginya bagi sasaran pelayanan dan pihak-pihak lain yang terkait. maka pelayanan yang dimaksud haruslah dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar dipercaya untuk menghasilkan tindakan dan produk-produk pelayanan dalam mutu yang tinggi. 2008 115 . apalagi yang bersifat formal dan diselenggarakan berdasarkan aturan perundangan. upaya pelayanan konseling. tidak boleh sia-sia atau terselenggara dengan cara-cara yang salah (malpraktik). Sesuai dengan sifatnya yang profesional itu. Pelayanan profesional yang diselenggarakan benarbenar bermanfaat bagi kemaslahatan kehidupan secara luas.

maupun posisi pekerjaannya. baik dalam arti akademik. pemerintah dan masyarakat tidak ragu-ragu mengakui dan memanfaatkan pelayanan yang dimaksudkan itu. yang selanjutnya mudah-mudahan dilanjutkan dengan pengakuan yang sehat atas lulusan Pendidikan Profesi Konselor dan pelayanan yang mereka praktikkan. 2008 . Demikian juga masyarakat diharapkan memberikan pengakuan secara terbuka melalui pemanfaatan dan penghargaan yang tingi atas profesi konselor tersebut.yang dimaksudkan itu. Dengan kemanfaatan yang tinggi dan dilaksanakan oleh pelaksana yang bermandat. disamping tenaga pendidiknya seperti guru. Peraturan perundangan telah secara umum menyatakan pentingnya keprofesionalan tenaga pendidik. Lulusan program pendidikan profesi diharapkan benar-benar menjadi tenaga profesional handal yang layak memperoleh kualifikasi bermandat. kompetensi. dalam hal ini konselor. 116 Prayitno. c. Pelayanan profesional yang dimaksudkan itu diakui secara sehat oleh pemerintah dan masyarakat. Mengatasi Krisis Identitas.

jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar mendapatkan pengakuan yang sehat dari pemerintah dan masyarakat Prayitno. bersikap. Mengatasi Krisis Identitas. 2008 117 . jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar bermanfaat Ya Allah. Do’a itu berkenaan dengan kemartabatan profesi konseling yang sedang mulai direformasi waktu itu. Sepanjang saya mengurai dan merangkai respons. dan berkemungkinan untuk bertindak serta berbagai hal yang telah saya perbuat untuk pelayanan konseling di tanah air. dengan menggunakan berbagai dokumen yang ada tulisan berkenaan dengan respons saya terhadap buku Krisis Identitas Profesi Bimbingan Dan Konseling dapat saya akhiri. merasa.PENUTUP lhamdulillah. berkeyakinan. yaitu: A • • Ya Allah. dan juga sebagaimana saya berpikir. saya selalu teringat dan mengulangi kembali do’a saya di tanah suci ketika pada tahun 1993 saya berkesempatan beribadah di sana. jadikanlah pelayanan konseling di tanah air benar-benar dilaksanakan oleh tenaga yang bermandat • Ya Allah.

118 Prayitno. 2008 . Mengatasi Krisis Identitas. Marilah kita berusaha dan berbuat. berdedikasi untuk kemaslahatan klien dan umat. Kita berusaha sekuat tenaga mengatasi segenap kendala dan krisis sebesar apapun. fitnah dan khianat. demi kejayaan pelayanan konseling kita dan pendidikan pada umumnya.Saya mengajak teman-teman untuk bermunajat juga sejalan dengan apa yang saya maksudkan di atas. menghindari dosa. agar profesi konseling yang kita cintai benar-benar bisa mencapai taraf kemartabatan sebagaimana kita harapkan bersama. melalui profesi konseling bermartabat. bekerja sama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful