Agama Buddha

Bagian dari serial

Agama Buddha

Sejarah Sejarah agama Buddha Dewan-dewan Buddhis Konsep ajaran agama Buddha Empat Kesunyataan Mulia Delapan Jalan Utama Pancasila · Tuhan Nirvana · Tri Ratna Ajaran inti Tiga Corak Umum Samsara · Kelahiran kembali · Sunyata Paticcasamuppada · Karma Tokoh penting Siddharta Gautama Siswa utama · Keluarga Tingkat-tingkat Pencerahan Buddha · Bodhisattva Empat Tingkat Pencerahan Meditasi Wilayah agama Buddha Asia Tenggara · Asia Timur Tibet · India dan Asia Tengah Indonesia · Barat Sekte-sekte agama Buddha Theravada · Mahayana Vajrayana · Sekte Awal Kitab Suci Sutta · Vinaya · Abdhidahamma

Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dari lahirnya Siddharta Gautama. Dengan ini, ini adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Agama Buddha berkembang dengan unsur kebudayaan India, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), Asia Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia dan telah menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia seperti Thailand,

Singapura, Kamboja, Myanmar, Taiwan, dsb. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikut-pengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhiksu bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal. Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi).

Daftar isi
[sembunyikan]
  

  

1 Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme 2 Moral dalam Buddhisme 3 Aliran Buddha o 3.1 Buddha Mahayana o 3.2 Buddha Theravada  3.2.1 Gramatika  3.2.2 Sejarah  3.2.3 Kitab suci Buddhisme 4 Ajaran Buddhisme o 4.1 Empat Kebenaran Mulia o 4.2 Jalan Utama Berunsur Delapan 5 Hari Raya o 5.1 Waisak o 5.2 Kathina o 5.3 Asadha o 5.4 Magha Puja 6 Penyebaran di Asia dan Indonesia o 6.1 Penyebaran di India dan Asia Tengah o 6.2 Penyebaran di Asia Timur o 6.3 Penyebaran di Asia Tenggara o 6.4 Penyebaran di Nusantara  6.4.1 Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha 7 Lihat pula 8 Pranala luar 9 Rujukan

Tetapi dengan adanya Yang Mutlak. penjelmaan. Dalam hal ini. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan. kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan. Yang Tidak Menjelma. kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi. yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Yang Mutlak. pemunculan dari sebab yang lalu. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta. apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan. pembentukan. Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini. Yang Mutlak. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta). Yang Mutlak. sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain. kehidupan manusia di alam semesta. Yang Tidak Menjelma. Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal. tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. ” Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka. penjelmaan. Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka. “ Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan. Tetapi para bhikkhu. Udana VIII : 3. karena ada Yang Tidak Dilahirkan. maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran. Tidak Dijelmakan.[sunting] Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tuhan dalam agama Buddha Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Yang Tidak Menjelma. Yang Tidak Tercipta. Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami . pemunculan dari sebab yang lalu. Yang Tidak Diciptakan. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini. maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain. pembentukan. terbentuknya Bumi dan manusia. Yang Tidak Tercipta. Duhai para Bhikkhu. yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun.

. kamma berarti semua jenis kehendak (cetana). yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).63 menjelaskan secara jelas arti dari kamma: ”Para bhikkhu. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau karma buruk. Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. perkataan (vaci) dan pikiran (mano). istilah karma sudah terasa umum digunakan. hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri. namun cenderung diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain sebagainya.dewi yang dapat membantu. cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Tidak ada dewa .proses tumimbal lahir. melakukan kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya. Selama suatu makhluk berkehendak. ucapan atau pikiran. [sunting] Moral dalam Buddhisme Sebagai mana agama Islam dan Kristen ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan. juru pandu. Anguttara Nikaya 6. Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran Selain nilai-nilai moral di atas. Akibat atau hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.” Jadi. Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak diberikan. Saat ini. mencapai pencerahan rohani. Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha biasanya dikenal dengan Pancasila. Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Guru Buddha dalam Nibbedhika Sutta. agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:      Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami Yang artinya:      Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. perbuatan yang baik maupun buruk/jahat. orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh. Setelah berkehendak. Buddha hanya merupakan contoh. yang dilakukan oleh jasmani (kaya).

Tokoh Kwan Im yang bermaksud "maha mendengar" atau nama Sansekertanya "Avalokiteśvara" merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam manusia untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran. . Buddha Theravada 2. profil ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di Tiongkok sebagai seorang dewi.[sunting] Aliran Buddha Ada beberapa aliran dalam agama Buddha: 1. Hong Kong Sutra Teratai merupakan rujukan sampingan penganut Buddha aliran Mahayana. Menurut sejarahnya Avalokitesvara adalah seorang lelaki murid Buddha. Sorga Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati selepas mereka meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha dimana mereka tidak perlu lagi mengalami proses reinkarnasi dan dari sana menolong semua makhluk hidup yang masih menderita di bumi. pulau Lantau. Buddha Vajrayana [sunting] Buddha Mahayana Artikel utama untuk bagian ini adalah: Buddha Mahayana Patung Buddha Tian Tan. Vihara Po Lin. Dia diberikan sifat-sifat keibuan seperti penyayang dan lemah lembut. Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu saat Buddha Amitabha memberikan khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke tahap mencapai 'Buddhi' (tahap kesempurnaan dimana kejahilan. Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa. Buddha Mahayana: Zen 3. akan tetapi setelah pengaruh Buddha masuk ke Tiongkok. kebencian dan ketamakan tidak ada lagi). Penyembahan kepada Amitabha Buddha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama Buddha Mahayana.

Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei). Hasil amalan ajaran Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada pengamalnya. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia. Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason). [sunting] Gramatika Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Menekankan konsep ini. Laos. Malaysia. kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah pohon Bodhi.A. Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa. [sunting] Buddha Theravada Artikel utama untuk bagian ini adalah: Buddha Theravada Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini. di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan.tidak terbilang Buddha yang lalu dan hidup mereka telah disebut "spoken of". Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. [sunting] Sejarah Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha. sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) . Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Kamboja. sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM). Jadi Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh. berlangsung selama 2 bulan Dipimpin oleh Y. termasuk Buddha yang akan datang. dan vada berarti perkataan atau ajaran. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu . Semua Buddha adalah pemimpin segala kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada kesengsaraan. Mengulang Dhamma dan . Menurut Buddha Gautama .Seorang Buddha bukannya dewa atau makhluk suci yang memberikan kesejahteraan. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa. Buddha Maitreya .intipati teks suci Buddha . Myanmar. tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya). Dalam Tipitaka suci . Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. tersedia kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan. dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya. aliran Buddha Mahayana khususnya merujuk kepada banyak Buddha dan juga bodhisattva (makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran tetapi menangguhkan Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan itu).

tertulis dalam Bahasa Pali. Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM). [sunting] Ajaran Buddhisme [sunting] Empat Kebenaran Mulia Artikel utama untuk bagian ini adalah: Empat Kebenaran Mulia Ajaran dasar Buddhisme dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia. Setiap penderitaan pasti memiliki sebab. [sunting] Kitab suci Buddhisme Kitab Suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab Suci Tripitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). dan Abhidhamma Pitaka. Upali mengulang Vinaya dan Y. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana.  Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha). melebihi ajaran-ajaran lainnya. mati. umur tua. sakit. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang.A. dimana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada. yang meliputi:  Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Arya tentang Dukkha). Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Kelima hal itu adalah kelahiran. kuat. Sutta Piṭaka. Samudaya ialah sebab.Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni. .A. dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai "pitaka" atau "keranjang") yaitu: Vinaya Pitaka. contohnya: yang menyebabkan orang dilahirkan kembali adalah adanya keinginan kepada hidup. Dukha menjelaskan bahwa ada lima pelekatan kepada dunia yang merupakan penderitaan. Sidang Agung Sangha ke-2. pada tahun 443 SM . Ananda mengulang Dhamma. maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali). Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada. Dukha ialah penderitaan. disatukan dengan yang tidak dikasihi. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Kemudian Y. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut. Y.M. dan tidak mencapai yang diinginkan. Kitab suci Agama Buddha yang paling tua. yang diketahui hingga sekarang. di sisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya.

sebagai yang membawanya kepada kelepasan. Ada 12 pokok permulaan yang menjadi fokus pratitya samutpada. merupakan wujud penderitaan seperti yang sudah dijelaskan diatas. Jalan kelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau kita ingin lepas dari kesengsaraan. Perbuatan yang benar (Samma kammanta). serta melakukan percakapan yang tidak senonoh. Setiap kejadian pasti memiliki keterkaitan dengan pokok permulaan yang sebelumnya. Jika di dunia ini tidak ada penderitaan. artinya pokok permulaan yang bergantungan. Pemadaman kesengsaraan dapat dilakukan dengan menghapus keinginan secara sempurna sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut. maka Buddha pun tidak akan menjelma di dunia. Marga ialah jalan kelepasan. maksudnya orang harus menjauhkan diri dari kebohongan dan membicarakan kejahatan orang lain. Delapan jalan kebenaran akan dibahas lebih mendalam pada pokok pembahasan yang selanjutnya. Semua hal yang terjadi pada manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri. Sila yaitu usaha untuk mencapai moral yang tinggi. merupakan hasil “percaya yang benar” yakin bahwa jalan petunjuka budha adalah jalan yang benar 3. karena tidak ada sesuatu yang tetap berada. mengucapkan kata-kata yang kasar. 4. Semua penderitaan disebabkan karena kehausan. Nirodha ialah pemadaman. Kesenangan atau kegirangan bergantung kepada ikatannya dengan sumber kesenangannya itu. dipisahkan dari yang dikasihi dan lain-lain. yaitu: 1. sakit. percaya menyerahkan diri kepada dharma atau ajaran buddha. Maksud yang benar (Samma sankappa). dianggap sebagai sumber penderitaan karena tidak ada kesenangan yang kekal di dunia ini. Inti ajaran Buddha menjelaskan bahwa hidup adalah untuk menderita. dan percaya setelah menyerahkan diri kepada jemaat sebagai jalan yang dilaluinya.  Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha). Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha). Saat hidup. [sunting] Jalan Utama Berunsur Delapan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Jalan Utama Berunsur Delapan Agar terlepas dari penderitaan mereka mereka harus melalui Jalan Utama Berunsur Delapan Sradha atau iman. Bahkan kesenangan yang dialami manusia. maksudnya bahwa dalam segala perbuatan orang tak boleh mencari keuntungan sendiri. Sraddha atau iman yang terdiri dari “percaya yang benar” ini memberikan pendahuluan yang terdiri dari: Percaya dan menyerahkan diri kepada Buddha sebagai guru yang berwenang mengajarkan kebenaran. Percaya yang benar (Samma ditthi). padahal sumber kesenangan tadi berada di luar diri manusia. Sumber itu tidak mungkin dipengang atau diraba oleh manusia. . Untuk menerangkan hal ini diajarkanlah yang disebut pratitya samutpada. Kata-kata yang benar (Samma vaca). 2.

maksudnya seperti pengawasan hawa nafsu agar jangan sampai terjadi tabiat-tabiat yang jahat. dan Vesak di Sri Lanka. mudita (kesenangan dalam keuntungan dan akan segala sesuatu).5. sampai akhirnya sukha dan dukha lenyap dari semuanya. hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha). Dalam Theravada terdapat 2 jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai Pencerahan Sempurna yaitu Jalan Arahat (Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan (Buddhahood). samadhi (konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan). Agama Buddha Theravada hanya mengakui Buddha Gautama sebagai Buddha sejarah yang hidup pada masa sekarang. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India. Secara umum sama dengan aliran agama Buddha lainnya. Persiapan atau upacara semadi ini maksudnya kita harus merenungi kehidupan dalam agamannya seperti 7 jalan kebenaran yang dibahas tadi dengan empat bhawana. [sunting] Waisak Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Dengan demikianlah orang sampai pada kelepasan dari penderitaan. dan upakkha (tidak tergerak oleh apa saja yang menguntungkan diri sendiri.yaitu: metta (persahabatan yang universal). Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha". Ingatan yang benar (Samma sati). Visakha Bucha di Thailand. Vesak di Malaysia dan Singapura. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat adalah Hari Raya Trisuci Waisak. maksudnya secara lahir dan batin orang harus murni atau bebas dari penipuan diri 6. musuh dan sebagainya. Theravada mengajarkan mengenai pembebasan akan dukkha (penderitaan) yang ditempuh dengan menjalankan sila (kemoralan). yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta . 7. dan rasa hatinya disudikan. [sunting] Hari Raya Terdapat empat hari raya besar dalam Agama Buddha. teman. karuna (belas kasih yang universal). mendapatkan damai batiniahnya. Usaha yang benar (Samma vayama). maksudnya pengawasan akal. hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama. Semadi yang benar (Samma samadhi) Semadi itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu persiapan atau upcara semadi dan semadinya sendiri. rencana atau emosi yang merusak kesehatan moral 8. Hidup yang benar (Samma ajiva). Sesudah merenungkan hal-hal tersebut barulah masuk kedalam semadi yang sebenarnya dalam 4 tingkatan yaitu: mengerti lahir dan batinnya. Yaitu. dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. menghilangkan kegirangannya sehingga menjadi orang yang tenang. Meskipun demikian Theravada mengakui pernah ada dan akan muncul Buddha-Buddha lainnya. sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.

Dhamma dan Sangha. Hari raya Asadha. perlengkapan vihara. Sebelumnya. Vappa. pada tahun 588 Sebelum Masehi. Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta. Jadi setelah masa Vassa berakhir. karena mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. guna memperingati peristiwa dimana Buddha membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi ). . [sunting] Magha Puja Hari Besar Magha Puja memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara. bekas teman berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia. Dengan terbentuknya Sangha. Umat Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha. mereka mencapai arahat. Rajagaha. dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha. Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana. yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu. baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha). Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna. Dalam Khotbah tersebut. terdiri atas Buddha. Selanjutnya. Umat Buddha berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.[sunting] Kathina Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Dalam kesempatan tersebut. maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu). bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut. dan sesudah mendengarkan khotbah Dharma. Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika. umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Mahanama dan Asajji. yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. [sunting] Asadha Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Sabda Sang Buddha di hadapan 1. umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu. selain memberikan persembahan jubah Kathina. Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia( Cattari Ariya Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma. Bhadiya. Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu. diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak. Umat Buddha berlindung kepada Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan teladannya. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana ( Trisarana ). Lima orang pertapa.

Misi ini mencapai sukses besar karena kawasan ini segera menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang memiliki banyak biksu terkemuka dan sarjana. Ada pula biarawan Tiongkok yang pergi ke Semenanjung Korea untuk memperkenalkan agama Buddha kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada waktu itu. 100 tahun setelah Buddha mencapai Nirwana. termasuk ke Sri Lanka dimana mereka diterima baik sehingga Sri Lanka menjadi basis agama Buddha. pertama kalinya orang Tiongkok (sekarang Cina) mengenal agama Buddha dari orang-orang di Asia Tengah yang sudah beragama Buddha. yaitu tempat dimana Buddha Gautama mengajarkan ajarannya. Ia menanamkan nilai-nilai moral. juga lahirnya berbagai karya seni dan pahat dimana patung-patung Buddha dibuat. telah menjadi pusat penting bagi Buddhisme. mereka belajar tentang Buddhisme dan menerimanya sebagai agama mereka. melainkan disebarkan oleh para pemuka agama sehingga bertahan sampai sekarang di berbagai belahan dunia. cinta kasih dan amal. arsitektur dan filsafat waktu itu. Sehingga pada abad ke-6 dan abad ke-7. Bentuk awal penyebaran agama Buddha di Cina adalah dengan adanya penerjemah yang bertugas menerjemahkan teks penting mengenai ajaran Buddha dari bahasa India ke bahasa Cina kala itu. Ketika para pedagang Asia Tengah datang ke wilayah ini untuk berdagang. Di India jugalah tempat dimana mulai terbentuknya aliran Mahayana dan Theravada akibat perselisihan antara kelompok biarawan dan para kaum tua. Bentuk perkembangan lainnya adalah dengan dibangunnya sekolah ajaran Buddha di Tiongkok yang mencakup seni. Ia mengajarkan kepada rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat seperti serakah dan mudah marah.agama Buddha juga disebarkan oleh raja-raja besar di India seperti Raja Ashoka. agama Buddha telah . Setelah wafatnya Buddha Gautama. Selain itu. seperti menghargai kebenaran. ajaran tersebut tidak lenyap begitu saja. Selain melalui kaum biarawan. Ashoka juga mengirim misionaris Buddha keberbagai negara tetangga.Theravada umumnya mengajarkan bahwa tujuan tertinggi adalah menjadi arahat. Dengan dukungan dari pedagang. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan membuat Dharma atau pengajaran. biara gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh Asia Tengah. khususnya di Asia. [sunting] Penyebaran di Asia Timur Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Asia Timur Selama abad 3 SM. Raja Asoka mengirimkan misionaris ke barat laut India yaitu Pakistan dan Afganistan.[sunting] Penyebaran di Asia dan Indonesia Agama Buddha mulai berkembang di India. Pada abad 2 SM. patung. sedangkan Mahayana mengajarkan bahwa tujuan yang paling berharga adalah dengan mencapai Kebuddhaan. ajaran Buddha Gautama mulai memudar sehingga para biksu disana memutuskan untuk mulai melestarikannya agar tetap hidup. tempat dimana Buddha Gautama lahir dan wafat. Melalui Jalan Sutera inilah. [sunting] Penyebaran di India dan Asia Tengah Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di India dan Asia Tengah Dimulai dari India. beberapa kota Asia Tengah seperti Khotan.

I Tsing belajar di Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke India. Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme. seorang peziarah Buddha dari Tiongkok. dan ibukota Sriwijaya (sekarang Palembang). tepatnya di Jawa Tengah sekarang. tapi tetap mempertahankan keyakinan lama dan adat istiadat mereka. [sunting] Penyebaran di Nusantara Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Indonesia Candi Borobudur. Pada akhir abad ke-5. Selain di Korea. yang kala itu merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya. orang-orang di berbagai belahan Asia Tenggara datang untuk mengetahui ajaran Buddha sebagai hasil dari meningkatnya hubungan dengan para pedagang India yang datang ke wilayah tersebut untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang di Asia Tenggara. Di bawah pengaruh mereka. Di pertengahan abad ke-9. Pulau Jawa dan Semenanjung Malaya. monumen Dinasti Syailendra yang dibangun di Magelang. tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka. Jawa Tengah. Sejak masuk di semenanjung Indocina (sekarang bagian Asia Tenggara). seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di Pulau Jawa. Buddhisme juga berkembang di kepulauan Jepang. Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam kekayaan dan kekuasaan. Pada pertengahan abad ke-8. merupakan pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu Buddha Vajrayana). Siam (sekarang Thailand). berkunjung ke Pulau Sumatera (kala itu disebut Swarnabhumi). semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) dan kepulauan nusantara (sekarang Indonesia).berkembang di bawah kerajaan tersebut. I Tsing. yang paling terkenal yaitu Candi Borobudur. orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha. Buddhisme mulai masuk di Birma. Monumen ini selesai di bagian awal abad ke-9. Pada saat itu. Ia menemukan bahwa Buddhisme diterima secara luas oleh rakyat. [sunting] Penyebaran di Asia Tenggara Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Asia Tenggara Pada awal era masehi. Vietnam. . Pada akhir abad ke-7. Mereka membangun berbagai monumen Buddha di Jawa. kerajaan Sriwijaya telah menguasai Pulau Sumatera.

. dan agama Islam segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan penyebaran sistematis oleh sekelompok ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga.[sunting] Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha Pada akhir abad ke-13 seiring berkembang pesatnya pengaruh Islam dari Timur Tengah. Buddhisme diperkenalkan kembali ke nusantara hanya pada abad ke-19. Srilanka dan imigran Buddhis lainnya. dengan kedatangan pedagang dan orang-orang Tiongkok. Akibatnya Buddhisme mengalami penurunan popularitas dan pada akhir abad ke-15 Islam adalah agama yang dominan di nusantara dan Semenanjung Malaya. kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatera.

*Subha-sutta. Sang Buddha menolak permintaan seorang bhikkhu untuk mempertunjukkan kegaiban. leluhur Sang Buddha. 8. 12. 11. 10. 4. Cerita tentang seorang bhikkhu yang mengunjungi para dewa untuk mencari jawaban atas suatu masalah dan dipersilahkan menghadap Sang Buddha. beliau menerangkan keuntungan menjadi seorang bhikkhu. Beliau memberikan sebuah daftar berisi enam puluh dua bentuk spekulasi mengenai dunia dan pribadi dari guru-guru lain. Potthapada-sutta. Percakapan dengan Brahmana Lohicca mengenai kewajiban seorang guru untuk memberi bimbingan. 3. Perbincangan apakah jiwa sama dengan badan jasmani. Mahali-sutta. Kassapasihanada-sutta. Khotbah-khotbah yang dianggap berasal dari para siswa diberi tanda asterik (*). dari tingkat terendah sampai tingkat Arahat. Percakapan dengan Mahali mengenai penglihatan gaib. Percakapan dengan Brahmana Kutadanta tentang ketidaksetujuan terhadap penyembelihan binatang untuk sajian. Sang Buddha menolak memberi jawaban karena persoalan ini tidak membawa kepada penerangan dan Nibbana. “Pahala yang dimiliki oleh setiap pertapa”. Percakapan antara Sang Buddha dengan Ambattha mengenai kasta. Ambattha-sutta. Perbincangan dengan Potthapada mengenai jiwa. 7. Yang lebih tinggi daripada ini ialah latihan menuju kepada pengetahuan sempurna. 2. Kepada Ajatasattu yang berkunjung pada Sang Buddha. 5. . Sang Buddha bersabda bahwa beliau mendapat penghormatan bukan semata-mata karena kesusilaan. Percakapan dengan seorang pertapa telanjang Kassapa tentang tidak bermanfaatnya menyiksa diri. yang dua puluh enam di antaranya telah dipersamakan oleh Anesaki dengan versi Pali. Jaliya-sutta. Percakapan dengan Brahmana Sonadanda mengenai sifat-sifat Brahmana sejati. yang sebagian memuat cerita tentang raja Okkaka. suatu persoalan yang tidak diterangkan dan dianggap tidak tepat bagi seorang yang mengikuti latihan sebagai bhikkhu.Digha Nikaya Pembagian khotbah-khotbah panjang disusun dalam tiga vagga atau rangkaian. “Jala Brahma”. 9. 1. Tevijja-sutta. Beliau hanya menyetujui kegaiban dari ajaran. Kutadanta-sutta. 6. 13. Lohicca-sutta. Dalam koleksi yang sama dalam bahasa Cina ada tiga puluh khotbah. daftar berbagai jenis perbuatan susila). Samaññaphala-sutta. Brahmajala-sutta. melainkan karena kebijaksanaan yang mendalam yang beliau temukan dan nyatakan. Pelajaran tentang cara melatih diri yang diberikan oleh Ananda kepada siswa Subha tidak lama setelah Sang Buddha mangkat. Kevaddha-sutta. Sonadanda-sutta. Tentang ketidakbenaran pelajaran ketiga Veda untuk menjadi anggota kelompok dewa-dewa Brahma. SILAKANDHA-VAGGA (Rangkaian ini berisikan hal mengenai tata susila. Dalam setiap bagiannya dimasukkan tulisan yang dikenal sebagai Sila.

Khotbah mengenai empat macam meditasi (mengenai badan jasmani. 21. Penjelasan Sang Buddha mengenai enam orang Buddha yang sebelumnya dan beliau sendiri. 17. Cerita tentang kehidupan lampau Sang Buddha sebagai Raja Sudassana. Mahanidana-sutta. Dewa Sakka mengunjungi Sang Buddha. . pohon Bodhi. Khotbah mengenai Pertemuan Agung. pengikut. Mahasudassana-sutta. Sakkapañha-sutta. sebagaimana diberikan pada No. mengenai masa-masa mereka muncul. Maha-Parinibbana-sutta. Setelah Payasi mangkat. di mana Sang Buddha mengulangi cerita yang beliau peroleh dari Yakkha Javanasabba. 16. serta pembagian relik-relik.MAHA – VAGGA 14. rangsangan indria. 20. perasaan. Cerita tentang hari-hari terakhir dan kemangkatan Sang Buddha. dan mempelajari kesunyataan bahwa segala sesuatu yang timbul akan berakhir dengan kemusnahan. 18. kasta. Mahapadana-sutta. Maha-Govinda-sutta. Para dewa dari Sukavati mengunjungi Sang Buddha. 23. Maha-Satipatthana-sutta. Maha-Samaya-sutta. Pañcasikha pemusik dari surga menghadap Sang Buddha dan menceritakan kunjungannya ke surga di mana ia bertemu dengan Brahma Sanamkumara yang mengisahkan cerita Mahagovinda. susunan keluarga. menanyakan sepuluh persoalan. dan kota dengan sebuah khotbah kedua mengenai Buddha Vipassi dari saat meninggalkan surga Tusita hingga saat permulaan memberi pelajaran. Bhikkhu Gavampati menemuinya di Surga dan melihat keadaannya. siswa-siswa utama. yang menyebutkan mereka dalam sebuah syair berisi 151 baris. jumlah pertemuan. dituturkan oleh Sang Buddha menjelang akhir hayatnya. 16. Mengenai rantai sebab musabab yang bergantungan dan teori-teori tentang jiwa. 15. ayah. 19. Kumarakassapa menyadarkan Payasi dari pandangan keliru bahwa tiada kehidupan selanjutnya atau akibat dari perbuatan. Sambungan khotbah kepada rakyat Nadika. pikiran) disertai penjelasan mengenai Empat Kesunyataan. *Payasi-sutta. ibu. Janavasabha-sutta. Pancasikha bertanya kepada Sang Buddha apakah beliau ingat akan cerita ini dan Sang Buddha berkata bahwa beliau sendirilah Mahagovinda itu. jangka kehidupan. 22.

Penjelasan mengenai tiga puluh dua tanda Orang Besar (raja alam semesta atau seorang Buddha). Perbincangan mengenai kasta dengan penjelasan mengenai asal mula benda-benda. beliau memerintahkan Sariputta untuk memberi penerangan-penerangan kepada para bhikkhu. 32. *Sangiti-sutta. sepuluh pelajaran rangkap dua dan seterusnya hingga menjadi sepuluh rangkap sepuluh. Cerita tentang raja dunia dengan berbagai tingkat penyelewengan moral dan pemulihannya serta ramalan tentang Buddha Metteyya yang akan datang.PATIKA – VAGGA 24. dan lain-lain). asal mula kasta-kasta dan artinya yang sesungguhnya. 29. dan Sang Buddha berkhotbah mengenai guru yang sempurna dan guru yang tidak sempurna serta tingkah laku para bhikkhu. 28. Sariputta memberikan suatu daftar ajaran tunggal disusul dengan penjelasan kelompok dua dan seterusnya hingga menjadi kelompok sepuluh. Sang Buddha menerangkan kedua hal tersebut. Sampasadaniya-sutta. Pasadika-sutta. Sariputta didampingi Sang Buddha memberikan khotbah “Tambahan hingga sepuluh” yang berisi sepuluh pelajaran tunggal. Udumbarikasihanada-sutta. 33. Sang Buddha menemukan Sigala sedang memuja enam arah. 27. *Atanatiya-sutta. . Percakapan antara Sang Buddha dengan Sariputta yang menyatakan keyakinannya kepada Sang Buddha dan menjelaskan ajaran Buddha. Sang Buddha meresmikan sebuah balai pertemuan baru di Pava dan setelah lelah. Selama percakapan. yang dijalin dengan syair berisi dua puluh bagian. Cakkavattisihanada-sutta. Sang Buddha mengulanginya kepada para bhikkhu. 25. tiap bagian dimulai dengan “Di sini dikatakan”. Sang Buddha berpesan untuk kerap kali mengulangi pelajaran ini kepada para siswa. 26. Lakkhana-sutta. Empat Maha Raja mengunjungi Sang Buddha dan memberikan sebuah mantera (dalam syair) untuk dipakai sebagai perlindungan terhadap roh jahat. Patika-sutta. 34. Agañña-sutta. Sigalovada-sutta. 31. 30. Berita kematian Nataputta (pemimpin Jaina) disampaikan kepada Sang Buddha. karena Sang Buddha tidak menunjukkan kegaiban maupun menerangkan asal mula benda-benda. *Dasuttara-sutta. Beliau menguraikan kewajiban seorang umat dengan menjelaskan bahwa pemujaan itu ialah menunaikan kewajiban terhadap enam kelompok orang (orang tua. Perbincangan antara Sang Buddha dengan pertapa Nigrodha di Taman Ratu Udumbarika mengenai dua macam cara bertapa. Cerita mengenai seorang siswa yang mengikuti guru lain.

Vasettha. engkau berasal dari keturunan dan keluarga brahmana. dengan kata-kata apa para brahmana itu mencela dan menghinamu ?” “Bhante.AGANNA SUTTA Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya Oleh : Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha Penerbit : Badan Penerbit Ariya Surya Chandra. mereka yang berkulit gelap. Keadaan seperti itu tidak baik. Maka Vasettha dan Bharadvaja pergi menemui Sang Bhagava. 1991 Demikian yang telah kami dengar : 1. serta kata-kata kasar yang tidak sopan. bahwasanya engkau yang telah meninggalkan kasta terhormat. bukan mereka yang lain daripada kaum brahmana. Bhante. marilah kita pergi menemui Sang Bhagava. Dalam hal ini. yang lain berwajah gelap. mereka yang berkulit gelap. diciptakan oleh brahma. Hanya kaum brahmana yang merupakan anak dari Brahma. berkeinginan untuk menjadi bhikkhu. beralih ke golongan rendah. telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup tanpa rumah (anagarika) sebagai pertapa (pabbaja). ejekan. badut yang kasar. yang lahir dari kaki Brahma – warga kami. yaitu: dengan kaum pertapa gundul. lahir dari mulut brahma. di Pubbarama milik Migaramata. 2. demikianlah. yaitu pertapa gundul. yang lain berkedudukan rendah. para brahmana itu berkata demikian: „Kasta brahmana adalah yang paling baik‟ ” “Tetapi dalam hal ini. pewaris Brahma. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah. Hal ini dilihat oleh Vasettha dan menceritakannya kepada Bharadvaja. Setelah dekat. Sedangkan mengenai dirimu. mudahmudahan kita beruntung dapat mendengar uraian Dhamma dari Sang Bhagava. engkau telah meninggalkan derajad yang terbaik. kaum rendah. pertapa palsu. Kemudian sang Bhagava berkata kepada Vasettha: “Vasettha.”"Baiklah.” “Bhante. mereka menghormat Beliau dan berjalan mengikuti di belakang Bhagava yang sedang berjalan ke sana ke mari (cankammana). Kemudian pada malam hari itu. 3. harus bergaul. sahabat. keadaan seperti itu tidak pantas. keturunan yang lahir dari kaki Brahma. Pada waktu itu Vasettha dan Bharadvaja sedang menjalani latihan kebhikkhuan di antara para Bhikkhu. yang selanjutnya ia berkata : “Sahabat Bharadvaja. keturunan brahma. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi.” jawab Bharadvaja menyetujui. Dengan kata- . para brahmana itu berkata demikian: Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Apakah para brahmana tidak mencela dan menghinamu ?” “Ya. setelah bangkit dari samadhi-Nya. Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan murni. berkumpul dengan kasta rendah. para brahmana menghina dan mencela kami dengan bermacam-macam makian. Sang Bhagava keluar dari kamar (kuti) dan berjalan ke sana ke mari (cankammana) di alam terbuka di sebelah kamar.

terdapat empat kasta : khattiya. yang lain berkedudukan rendah. Bhante. vessa dan sudda. yang layak dilakukan dan yang dipandang demikian. kejam dan menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi). yang tercela dan yang dipandang demikian. sekarang kita tahu bahwa sifat-sifat yang baik atau buruk. arahat. Juga di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang menahan diri dari membunuh. berzinah. berbicara kasar. telah terbebas karena memiliki pengetahuan (sammadannavimutto).” 5. mencuri. “Vasettha. sifat-sifat celaka dan yang berakibat mencelakakan. yang dianjurkan oleh para bijaksana.Vasettha. telah mencapai kebebasan (anuppattasadattho). istri para brahmana itu dikenal subur. Apa yang mereka katakan itu bohong. lahir dari mulut Brahma. pewaris Brahma. Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan murni. kelihatan hamil. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang lama kepada kasta brahmana. memfitnah. telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (katakaraniyo). berbicara kasar. Vasettha. Mengapa demikian ? Karena. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang sama kepada kasta brahmana. omong kosong. maka dialah yang dinyatakan paling baik di antara mereka. para brahmana itu mencela dan menghina kami dengan makian. omong kosong serakah. yang patut dilakukan oleh orang terhormat dan yang dipandang demikian. berbohong. Vasettha. dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. dan para bijaksana tidak mengakui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh para brahmana seperti tersebut di atas. yang lain berwajah gelap.Vasettha. adalah dimiliki oleh keempat kasta tersebut. para brahmani.” 4. terdapat pula dalam diri seorang khattiya. Dengan cara ini mereka telah membuat tiruan terhadap sifat Brahma (abbhacikkhanti brahmanan). dan sungguh besar akibat buruk yang akan mereka peroleh. diciptakan oleh Brahma. . Sesungguhnya. telah mematahkan ikatan kelahiran. telah meletakkan beban (ohitabharo). Hanya kaum brahmana yang merupakan anak asli dari Brahma. yang tidak layak dilakukan dan yang dipandang demikian. sesungguhnya para brahmana itu telah melupakan masa lampau apabila mereka berkata seperti itu. tercela atau terpuji oleh para bijaksana. 6. yang terpuji dan yang dipandang demikian. berzinah.kata seperti itu. berbohong. sifat-sifat yang bermanfaat dan yang mempunyai akibat yang bermanfaat. baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. vessa dan sudda. Vasettha. demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat baik dan yang dipandang demikian. Sebaliknya. 7. Vasettha. demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat buruk dan yang dipandang demikian. berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atas dasar yang bukan kebenaran (adhamma). orang yang telah mengalahkan noda-noda batin (jinasavo). keturunan Brahma. yang tidak patut dilakukan oleh orang yang terhormat dan yang dipandang demikian. mencuri. brahmana. melahirkan dan merawat anak-anak. Dan masih juga para brahmana yang lahir dari kandungan itu sendiri yang berkata bahwa : Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. kejam atau menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi). vessa dan sudda. memfitnah. siapapun dari keempat kasta ini menjadi seorang bhikkhu. bukan mereka yang lain daripada kaum brahmana. terdapat pula dalam diri seorang kasta khattiya. serakah. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah. Di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang membunuh. yang tidak dianjurkan oleh para bijaksana. ejekan serta kata-kata kasar yang tidak sopan.

Karena Raja Pasenadi Kosala berpikir : Bukankah Samana Gotama sempurna kelahirannya (Sujato). mara dan Brahma atau siapa pun saja dalam dunia ini. lahir dari Dhamma (Dhammajo). bulan maupun pertengahan bulan belum ada. cepat atau lambat. gelap gulita.Vasettha. diliputi kegiuran. mantap dan kokoh. Pada waktu itu semuanya terdiri dari air. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali. sedangkan aku hanya memiliki pengaruh yang kecil saja. melayang-layang di angkasa. sedangkan kelahiranku tidak sempurna ? Samana Gotama itu perkasa. maupun oleh para dewa. setelah selang suatu masa yang lama sekali. nama-nama berikut ini adalah sesuai untuk Sang Tathagata: Dhammakayo (Tubuh Dhamma). beranjali dan melayani Beliau dengan hormat. Vasettha. mereka bangkit dari tempat duduk. ia dapat berkata: Aku adalah anak Sang Bhagava. terdapat suatu saat. Sekarang. 9. menganggap suci Dhamma. biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. karena Raja Pasenadi Kosala menghormati Dhamma. telah meninggalkan kehidupan rumah tangga. Dan ketika hal ini terjadi. menghargai Dhamma. 11. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak. tahun-tahun maupun musim-musim belum ada. pewaris Dhamma (dhammadayako). sedangkan aku tidak. diliputi kegiuran.8. 10. demikian pula caranya Raja Pasenadi Kosala melayani Sang Tathagata. Vasettha. lahir dari mulut Sang Bhagava. Brahmakayo (Tubuh Brahma). mungkin akan ditanya: Siapakah engkau ? Maka engkau harus menjawab: Kita adalah para pertapa yang mengikuti Samana putra Sakya. Dhammabhuto (perwujudan Dhamma). berikut ini adalah sebuah contoh untuk mengerti mengapa Dhamma (Kebenaran) itu amat bermanfaat bagi umat manusia. cepat atau lambat. mahlukmahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya). berakar. nama. ketika dunia ini hancur. memiliki tubuh yang bercahaya. Mahlukmahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja. maka ia memberikan hormat dan sujud pada Sang Tathagata. Dengan contoh ini engkau dapat mengerti betapa Dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan. engkau semua yang berbeda keturunan.Vasettha. bangkit dari tempat duduk. diciptakan oleh Dhamma (dhammanimmitta). di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya). suku dan keluarga. Vasettha. sama seperti Suku Sakya yang melayani Raja Pasenadi Kosala dengan hormat. Vasettha. terdapat juga suatu saat. hidup dalam kemegahan. laki-laki maupun wanita belum ada. umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abbassara (Alam Cahaya). sedangkan Suku Sakya berada di bawah kekuasaan Raja Pasenadi Kosala. memiliki tubuh yang bercahaya. sedangkan aku lemah. baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang :Raja Pasenadi Kosala menyadari bahwa Samana Gotama telah meninggalkan keturunan Sakya. Dan bilamana hal ini terjadi. Brahmabhuto (Perwujudan Brahma). suatu keyakinan yang tidak dapat digoyahkan lagi oleh para pertapa dan brahmana. Mengaga demikian ? Karena. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali. mengindahkan Dhamma. Demikianlah. setelah suatu masa yang lama sekali. ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. dia yang teguh keyakinannya kepada Sang Tathagata. melayang-layang di angkasa. cepat atau lambat setelah suatu . hidup dalam kemegahan. Samana Gotama itu memiliki pengaruh yang besar. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya). siang maupun malam belum ada. Samana Gotama itu sangat mengagumkan. Vasettha. sujud pada Dhamma. baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. Suku Sakya memuja dan menghormatinya.Vasettha. beranjali dan melayaninya.

13. maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu. ketika sari tanah lenyap bagi mahluk mahluk itu. mereka lebih buruk daripada kita. memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk. 14. dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. sama seperti madu tawon murni. Dan karena keadaan ini. Sama seperti dadi susu atau mentega murni. maka sari tanah itupun lenyap. Kemudian mahlukmahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut. hidup dengannya. musimmusim dan tahun-tahun pun terjadi. mencicipi sari tanah itu dengan jari jarinya. Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. memakannya. dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka. bau dan rasa. ia akan berkata: “Oh lezatnya! Oh lezatnya!. Vasettha. dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Dengan mencicipinya. demikianlah manisnya tumbuhan itu. maka tubuh mereka menjadi padat. maka matahari. dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. maka ia diliputi oleh sari itu. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. bau dan rasa. maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat. demikianlah munculnya tanah itu. mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: “Sayang. tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu. Vasettha. muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumipappatiko). dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. sejauh itu bumi terbentuk kembali. Tanah itu memiliki warna. maka mereka diliputi oleh sari itu. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak. Vasettha. yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau. selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu.masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak. mendapatkan makanan. dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka. Dengan lenyapnya sari tanah itu. dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. lezatnya! Sayang lezatnya!” Demikian pula sekarang ini. Tumbuhan ini memiliki warna. bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah. Dengan mencicipinya. di antara mahluk mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: O apakah ini? dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Kemudian. Kemudian. apabila orang menikmati rasa enak. Demikian pula dengan siang dan malam. dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. bulan dan pertengahan bulan. Dan karena keadaan ini. Dan dengan melakukan hal ini. mereka lebih buruk daripada kita. maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. demikianlah manisnya tanah itu. Vasettha. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) . Demikianlah. cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air. Mereka menikmati. sama seperti madu tawon murni. lama seperti dadi susu atau mentega murni. hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut. demikianlah warnanya tanah itu. bulan. demikianlah warnanya tumbuhan itu. 12.

. maka tubuh mereka tumbuh lebih padat. Kemudian. ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin. lama seperti madu tawon murni. maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk. Tumbuhan ini memiliki warna. dengan berteriak: “Kurang ajar! Kurang ajar! Bagaimana seseorang dapat berbuat demikian kepada orang lain?” Demikian pula sekarang ini. demikian terus-menerus padi itu muncul. Vasettha. mereka berkumpul bersama-sama meratapinya : “Kasihanilah kita. mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. dengan bulir-bulir yang bersih. orang-orang akan melempari mereka dengan pasir. sama seperti dadi susu atau mentega murni. maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut. maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh den masak kembali. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak.muncul dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu.” 16. mereka menjawab : “Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang. sebagian melempari dengan abu. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak. demikianlah warnanya tumbuhan itu. mereka lebih buruk daripada kita. Vasettha. sebagian melempari dengan kotoran sapi. yang sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah mengikuti bentukbentuk masa lampau. Dan karena keadaan ini.Vasettha. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu. bau dan rasa. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam. Mereka menikmati. maka sebagian melempari dengan pasir. mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut. yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau. bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya. dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu. mereka melakukan hubungan kelamin (methuna). milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini. tanpa dedak dan sekam. 15. Vasettha. muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha-pako). Kemudian. dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali. abu atau kotoran sapi. maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. dan hal itu berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu. maka tubuh mereka tumbuh lebih padat. dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. selanjutnya mahlukmahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka. tanpa mengetahui makna daripada perbuatan itu. demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu. harum. apabila seorang laki-laki dari tempat lain menjemput mempelai wanita dan membawanya pergi. sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

kemudian timbullah pikiran semacam ini dalam diri sebagian mahluk yang berwatak pemalas: “Mengapa aku harus melelahkan diriku dengan mengambil padi pada sore hari untuk makan malam. memakannya. dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi mulai nampak. Pada waktu itu. Vasettha. marilah kita pergi mengumpulkan padi” ia berkata : Tidak perlu. ia berkata: “Tidak perlu. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita. aku telah mengambil padi untuk makan malam dan siang. melayang-layang di angkasa dan hidup dalam kemegahan. yang memiliki warna. bau dan rasa. Kita hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.17. dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. yang memiliki warna. setelah suatu masa yang lama sekali. hidup dengannya. sehingga terjadi masa menunggu. lalu muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko). mahluk-mahluk yang melakukan hubungan kelamin tidak diijinkan memasuki desa atau kota selama satu bulan penuh atau dua bulan. memakannya dan hidup dengannya. sejak itu mahluk-mahluk tersebut mulai makan padi yang disimpan. Vasettha. lalu muncullah tumbuhan menjalar. muncullah bagi kita sari tanah dari dalam air. Kita mulai membuat sari tanah itu menjadi gumpalan dan menikmatinya. 18. siang dan malam. sahabat yang baik. bau dan rasa. Dahulu kita hidup dari ciptaan batin (mano maya). Vasettha.” Selanjutnya sebagian mahluk lain datang dan berkata kepadanya : “Sahabat yang baik. kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersama dan meratap dengan berkata : “Kebiasaan buruk telah muncul di kalangan kita. bau dan rasa. dalam cara yang sama mereka menyimpan padi yang cukup untuk empat hari dan selanjutnya untuk delapan hari. musim-musim dan tahun-tahun pun nampak. maka matahari. oleh karena mahluk cepat sekali mencela perbuatan yang tidak sopan tersebut maka mereka mulai membuat rumah-rumah hanya untuk menyembunyikan perbuatan tidak sopan itu. marilah kita pergi mengumpulkan padi”. bulan. sahabat yang baik. bulan dan pertengahan bulan. sekarang dipandang sopan (dhamma-sammata). Kita menikmati sari tanah tersebut. Kita mulai menikmatinya. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaankebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita. Setelah kita berbuat demikian.Vasettha. Ketika cahaya tersebut lenyap. Dedak mulai menutupi butir-butir padi yang dan butir-butir padi dibungkus sekam. memiliki tubuh yang bercahaya. Padi yang telah dituai atau potongan-potongan batangnya tidak tumbuh kembali. dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.Cepat atau lambat. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita. dan mengambil padi pada pagi hari untuk makan siang ? Bukankah sebaiknya aku mengambil padi yang cukup untuk makan malam dan makan siang sekaligus ?” Maka. Dan batang-batang padi mulai tumbuh serumpun. yang memiliki warna. diliputi kegiuran. maka tumbuhan menjalar itu . aku telah mengambil padi untuk dua hari. Dan pada waktu itu. apa yang pada waktu itu dipandang tidak sopan (adhamma sammata). memakannya. ia mengumpulkan padi yang cukup untuk dua kali makan. Kita mulai menikmatinya. maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu lenyap. maka cahaya tubuh kita lenyap. Ketika mahluk-mahluk lain datang kepadanya dan berkata : “Sahabat yang baik. hidup dengannya. setelah pergi. Ketika tumbuhan yang muncul dari tanah itu telah lenyap.” Demikianlah.

demikianlah awal munculnya perbuatan mencuri. Vasettha.Vasettha. (dengan melaksanakan prinsip kebenaran) adalah apa . Karena itu. Sewaktu sedang menjaga ladangmu sendiri. pencurian. paling disukai. hidup dengannya. dan batang-batang padi mulai tumbuh berumpun. dan mereka memberikan sebagian padi milik mereka kepadanya. dan pemeriksaan. Ia membuat senang orang lain dengan Dhamma. Vasettha. mengucilkan mereka yang patut dikucilkan. yang sedang menjaga ladang bagiannya sendiri. Penguasa ladang adalah apa yang dimaksud dengan Khattiya. kebohongan dan hukuman pun menjadi dikenal. sebagian mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko). kemudian mereka memilih salah seorang di antara mereka yang paling rupawan. lalu muncullah padi yang masak di alam terbuka.” Ia menyetujuinya dan berbuat demikian. dengan berkata kepadanya: “Sahabat yang baik sebaiknya engkau mengadili orang yang patut diadili. dan mengucilkan mereka yang harus dikucilkan. harum dengan butir-butir yang bersih. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita. Dan kita akan memberikan sebagian padi milik kita kepadamu. sekarang ini marilah kita membagi ladang-ladang padi dengan membuat batas-batasnya. Bilamana setiap malam kita memetik dan mengambilnya untuk makan siang. sebagian melemparinya dengan bongkahan tanah dan sebagian memukulnya dengan tongkat.” Untuk kedua kalinya ia berbuat demikian dan juga untuk ketiga kalinya. Vasettha. kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersama dan meratap dengan berkata : “Perbuatan-perbuatan jahat telah muncul di kalangan kita.”Vasettha. dan berkata : “Sahabat yang baik. sesungguhnya engkau dalam hal ini telah berbuat jahat. padi itu tidak langsung tumbuh kembali. lalu mencuri padi dari ladang orang lain dan memakannya. maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali. Dan bilamana kita telah memetiknya. 20. maka dedak telah menutupi butir padi yang bersih dan sekam juga telah membungkus butir-butir padi tersebut. Dan kembali mereka menangkapnya dan menasehatinya : Sebagian dari mereka memukulnya dengan tangan. paling menyenangkan.” Demikianlah mereka membagi ladang-ladang padi dan membuat batas di sekeliling ladang bagian mereka masing-masing. Ketika tumbuhan menjalar telah lenyap.lenyap. paling pandai. kau telah mencuri milik orang lain dan memakannya. Sebaiknya kita memilih salah seseorang di antara kita untuk mengadili mereka yang patut diadili. maka Khattiya merupakan ungkapan kedua yang muncul. demikian terus-menerus padi itu muncul. Dan untuk membalas jasanya. dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Mereka menangkap dan memegangnya erat-erat. jangan berbuat demikian lagi. kita akan memberikan sebagian padi kita kepadanya. memeriksa mereka yang patut diperiksa. Kemudian. 19. tanpa dedak dan sekam. dipilih oleh banyak orang adalah apa yang dimaksud dengan Maha Sammata. kebohongan dan hukuman menjadi dikenal. pemeriksaan. memakannya. memeriksa mereka yang patut diperiksa. maka Maha Sammata (Pilihan Agung) merupakan ungkapan pertama yang muncul (bagi seorang yang dipilih oleh banyak orang). Perhatikanlah baik-baik. sehingga terjadilah masa menunggu. 21. Kita menikmati padi ini.

tidak mempergunakan alu dan lumpang. kampung-kampung dan kota-kota. Vasettha. Dan ketika orang-orang melihat hal ini. mereka berkata: “Orang-orang ini. setelah membuat pondok-pondok dari daun di hutan. mereka yang menyingkirkan (bahenti) perbuatan-perbuatan jahat dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan adalah apa yang disebut dengan kata “brahmana”. demikianlah „brahmana‟ merupakan ungkapan permulaan bagi mereka yang berbuat demikian.Vasettha. pemerkosaan. dikenal menurut pernyataan permulaan pada masa lampau. Sesungguhnya.yang dimaksud dengan Raja. maka mereka keluar dan tinggal di pinggir-pinggir desa-desa. mereka mencari makanan dengan memasuki desa. Mereka hidup tanpa perapian. 22. mereka yang tidak bersamadhi inilah yang dimaksud dengan “Ajhayaka”. Sekarang marilah kita menyingkirkan semua perbuatan jahat dan kebiasaan tidak sopan. tanpa asap. maka mereka keluar dan tinggal di pinggir desa-desa. baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. Pada waktu itu mereka dipandang yang paling rendah. karena sebagian di antara mereka tidak tahan bersamadhi di pondok-pondok daun dalam hutan. kampung-kampung dan kota-kota. tidak mempergunakan alu dan lumpang. demikianlah kata jhayaka merupakan ungkapan kedua yang muncul. demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat brahmana ini. Vasettha. dari keinginan mereka sendiri dan bukan tidak diingini. dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. lalu bersamadhi di situ. dan di sana mereka menulis buku (ganthe karonta). Mereka hidup tanpa perapian. Setelah memperoleh makanan. bukan terjadi karena apa yang bukan-dhamma (adhamma). karena tidak tahan bersamadhi di pondok-pondok daun hutan.Vasettha. Setelah memperoleh makanan mereka kembali ke pondok-pondok mereka dan bersamadhi. demikianlah kata ajhayaka merupakan ungkapanungkapan ketiga yang timbul. mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makan malam. Mereka tidak bersamadhi (ajhayaka). demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat Khattiya ini. hukuman dan pengucilan menjadi dikenal. dan bersamadhi di situ. mereka yang bersamadhi (jhayanti) inilah yang dimaksud dengan Jhayaka atau pelaksana samadhi. Vasettha. mereka kembah lagi ke pondok mereka dan bersamadhi. dan hal itu terjadi sesuai dergan Dhamma (apa yang seharusnya demikian). kampung dan kota. dan mengumpulkan makanan pada pagi hari untuk makan siang. mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makan malam dan pada pagi hari untuk makan siang. maka Raja merupakan ungkapan ketiga yang muncul. Vasettha. tetapi sekarang mereka menganggap diri merekalah yang paling tinggi. kampung dan kota. dan di sana mereka menulis buku. sehingga pencurian. Ketika orang-orang melihat hal ini.” Dan mereka melakukannya. kebohongan. Vasettha. tanpa asap. mereka mencari makanan dengan memasuki desa. 23. Mereka membuat pondokpondok dari daun (pannakuti) di hutan. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga.Vasettha. Asal mula mereka adalah dari . mereka berkata: “Orang-orang ini. kemudian hal seperti berikut ini muncul pada diri orang-orang itu : “Perbuatanperbuatan jahat telah muncul di kalangan kita. yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. dan bukan dari orang-orang lain.

Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga. dengan berkata: “Aku ingin menjadi pertapa. mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga.” . baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. Sesungguhnya.”Juga terdapat beberapa orang brahmana yang memandang rendah cara hidupnya sendiri. 25. Vasettha. Demikianlah kata Vessa ini dipergunakan sebagai ungkapan bagi orang-orang tersebut. mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga. dan bukan tidak diingini. dengan berkata: “Aku ingin menjadi pertapa. Vasettha. bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnya demikian). demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat vessa ini. yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau.kalangan orang-orang itu juga bukan dari orang-orang lain. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga. Demikianlah kata „sudda”. Selanjutnya Vasettha pada suatu waktu.” Juga. dan bukan dari orang-orang lain. Sesungguhnya. Sesungguhnya.Vasettha. dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnya demikian). bukan tidak diingini. baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. ini dipergunakan sebagai ungkapan dari orang-orang tersebut. dengan berkata : “Aku ingin menjadi seorang pertapa. demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat sudda ini. dan bukan dari orang-orang lain. dan bukan tidak diingini. ketika terdapat beberapa orang khattiya memandang rendah cara hidupnya sendiri. Vasettha dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. Selanjutnya Vasettha. dari keinginan mereka sendiri. selebihnya dari orang-orang ini melakukan pekerjaan berburu. dari keinginan mereka sendiri. dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. 24. dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yang seharusnya memang demikian). Mereka yang hidup dari hasil berburu dan perbuatan atau pekerjaan lain semacamnya inilah yang dimaksudkan dengan „Sudda‟. dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. terdapat juga sebagian orang lain yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macam perdagangan. Vasettha. bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). terdapat beberapa orang vessa yang memandang rendah cara hidupnya sendiri. Mereka yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macam perdagangan (vissa) inilah yang dimaksud dengan „Vessa‟ (Kaum Pedagang). Selanjutnya. yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. dari keinginan mereka sendiri. Vasettha. mereka meninggalkan kehidupan bermah tangga dan menempuh kehidupan sebagai orang tak berumah tangga.

maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatanperbuatannya itu. setelah mati. alam sengsara (duggati). mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia. alam neraka (niraya). baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menempuh hidup tak berumah tangga. dan bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Juga. Setelah mati. perkataan dan pikiran. yang menganut pandangan-pandangan benar. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatanperbuatannya itu. alam surga (sagga). pada saat kehancuran tubuhnya. mereka akan terlahir kembali dalam alam celaka (apaya). maka sebagai akibat dari . yang menganut pandangan-pandangan salah. Vasettha dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. dengan berkata : “Aku ingin menjadi seorang pertapa.Juga. alam neraka (niraya). alam siksaan (vinipata). dan bukan tidak diingini. setelah mati. perkataan dan pikiran. alam sengsara (duggati). setelah mati. orang khattiya yang menempuh kehidupan jahat dalam perbuatan. dan bukan dari orang-orang lain. alam sengsara (duggati). Juga. Sesungguhnya. alam siksaan (vinipata). perkataan dan pikiran. Juga. pada saat kehancuran tubuhnya. dari keinginan mereka sendiri. menganut pandangan-pandangan salah. orang brahmana yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan. setelah mati. mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia (suggati). dari empat kelompok masyarakat ini muncullah kelompol pertapa. yang menganut pandangan-pandangan salah. pada saat kehancuran tubuhnya. Vasettha. mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya). pada saat kehancuran tubuhnya. alam surga.Juga. perkataan dan pikiran. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu. mereka akan terlahir kembali dalam alam celaka (apaya). yang menganut pandangan-pandangan benar. pada saat kehancuran tubuhnya. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu. 26. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu. alam siksaan (vinipata). orang sudda yang menempuh kehidupan salah dalam perbuatan. alam siksaan (vinipata).Juga.” Vasettha. dan alam neraka (niraya). yang menganut pandangan-pandangan benar. alam neraka (niraya). 27. Asal-usul mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga. orang vessa yang menempuh kehidupan jahat dalam perbuatan. Vasettha. perkataan dan pikiran. terdapat beberapa orang sudda yang memandang rendah hidupnya sendiri. dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yang seharusnya demikian). pada saat kehancuran tubuhnya. orang khattiya yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan. perkataan dan pikiran. perkataan dan pikiran. orang brahmana yang menempuh kehidupan jahat dalam perbutan. yang menganut pandangan-pandangan salah. mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya). orang vessa yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan. maka sebagai akibat dari pandanganpandangan dan perbuatanperbuatannya itu. alam sengsara (duggati).

yang menganut pandangan-pandangan benar. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu.Juga. Juga. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu. perkataan dan pikiran. ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara. perkataan dan pikiran terkendali. perkataan dan pikiran. ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara. setelah mati. pada saat kehancuran tubuhnya. seorang vessa yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari). yang menganut pandangan campuran (vimissaditthiko). yang menganut pandangan campuran (vimmissaditthiko). setelah mati. yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma). maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatanperbuatan campurannya itu. pada saat kehancuran tubuhnya. orang khattiya yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari). yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma). setelah mati. seorang vessa yang hidup dengan perbuatan. perkataan dan pikiran terkendali. pada saat kehancuran tubuhnya. Juga.pandangan-pandangan dan perbuatanperbuatannya itu. pada saat kehancuran tubuhnya. yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna. Vasettha. mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia. yang menganut pandangan-pandangan campuran. maka ia akan mencapai pemusnahan total dari nodanoda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang ini juga. maka ia akan mencapai pemusnahan total dari nodanoda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang ini juga. setelah mati. pada saat kehancuran tubuhnya. 29. yang menganut pandangan campuran (vimissaditthiko). alam surga. maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin (parinibbanena-parinibbati) dalam kehidupan sekarang ini. baik dan buruk dalam perbuatan. Juga. Vasettha. pada saat kehancuran tubuhnya. setelah mati. seorang khattiya yang hidup dengan perbuatan. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatanperbuatan campurannya itu. baik dan buruk dalam perbuatan. 28. maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu. Juga. seorang brahmana yang hidup dengan perbuatan. seorang brahmana yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari). mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia. ia terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara. perkataan dan pikiran. perkataan dan pikiran. perkataan dan pikiran. ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.Juga. seorang sudda yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari) baik dan buruk dalam perbuatan. . baik dan buruk dalam perbuatan. setelah mati. alam surga. orang sudda yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan. perkataan dan pikiran terkendali.

. salah seorang dari para dewa Brahma :”Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini. yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma). baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang. telah terbebas karena memiliki pengetahuan (sammadannavimutto).” Vasettha. berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atas dasar yang bukan dhamma (adhamma). Vasettha. siapapun dari keempat kelompok masyarakat ini menjadi seorang bhikkhu. maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang ini juga. 31. seorang sudda yang hidup dengan perbuatan. kata-kata yang baik bukan kata-kata yang buruk. orang yang telah mengalahkan noda-noda batin (jinasavo). telah mencapai kebebasan (anuppattasadattho). dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia. Sesungguhnya. Vasettha begitu pula aku menyatakan : “Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini Yang mempertahankan garis keturunannya Tetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya Adalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia.Juga. telah meletakkan beban (ohitabharo). syair ini telah diucapkan dengan baik dan bukannya diucapkan dengan tidak baik oleh Brahma Sanam Kumara. Yang mempertahankan garis keturunannya Tetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya Adalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia. Vasettha. 30. telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (kata karaniyo). perkataan dan pikiran terkendali.” Demikianlah sabda Sang Bhagava. Vasettha. penuh arti dan bukan kosong dari arti. Vasettha dan Bharadvaja merasa puas dan bersuka cita mendengar sabda Sang Bhagava itu. arahat. syair ini telah diucapkan oleh Sanam Kumara. telah mematahkan ikatan kelahiran (parikakkhinabhavasannajano). maka dialah yang dinyatakan paling baik di antara mereka.