P. 1
makalah BK

makalah BK

|Views: 42|Likes:
Published by lingkarSAHABAT

More info:

Published by: lingkarSAHABAT on Dec 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2011

pdf

text

original

MAKALAH

PERANAN AGAMA DAN PSIKOLOGI DALAM MELAKSANAKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Bimbingan Dan Konseling
yang Dibimbing Oleh : Drs. Sarwan, M.Pd













Disusun oleh :
Kelompok 4
Siti Ro’fah : 084 081 272
Moh. Sobri : 084 091 128
Muhammad Taufik : 084 081 199
Muhammad Mukhlas : 084 091 133
Abdul fatahilLah : 084 073 253



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
JEMBER
Desember, 2011
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latara Belakang
Menurut pendapat para ahli jiwa, bahwa yang mengendalikan kelakuan
dan tindakan seseorang adalah kepribadiannya. Kepribadian tumbuh dan
terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang dilaluinya sejak lahir. Bahkan
mulai dari dalam kandungan ibunya sudah ada pengaruh terhadap kelakuan si
anak dan terhadap kesehatan mentalnya pada umumnya. Dengan memberikan
pengalaman-pengalaman yang baik, nilai-nilai moral yang tinggi, serta
kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama sejak lahir, maka
semua pengalaman itu akan menjadi bahan dalam pembinaan kepribadian.
Dengan berkembangnya ilmu jiwa (psikologi), diketahui bahwa manusia
memerlukan bantuan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya dan
muncullah berbagai bentuk pelayanan kejiwaaan, dari yang paling ringan
(bimbingan), yang sedang (konseling) dan yang paling berat (terapi), sehingga
berkembanglah psikologi yang memiliki cabang-cabang terapan, diantaranya
bimbingan, konseling dan terapi
Pendidikan dalam program bimbingan dan konseling akan membuat
konselor paham akan perkembangan dan pertumbuhan individu,
perkembangan karir, dan perbedaan budaya. Pemahaman mengenai diri siswa
seutuhnya dalam upaya mengembangkan karir membuat bimbingan dan
konseling bersinggungan dengan ranah psikologi dan agama.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ajaran islam yang berkaitan dengan bimbingan konseling ?
2. Bagaimana pendekatan islam dalam melaksanakan bimbingan dan
konseling ?
3. Bagaimana peranan psikologi dalam melaksanakan bimbingan dan
konseling ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Ajaran Islam Yang Berkaitan Dengan Bimbingan Konseling
Bebicara tentang agama terhadap kehidupan manusia memang cukup
menarik, khususnya Agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi
yang membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki
dan juga para Nabi sebagai figure konselor yang sangat mumpuni dalam
memecahkan permasalahan (Problem solving) yang berkaitan dengan jiwa
manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaiton. Seperti tertuang dalam
ayat berikut ini :
¸¸`.-l¦´¸ ¸¸¸ ¿¸| ´_..·¸¸¦ _¸.l ¸¸.> ¸_¸ ¸¸| _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¦¡l¸.s´¸
¸¸.>¸l.¯.l¦ ¦¯¡.¦´¡.´¸ ¸´_>l!¸, ¦¯¡.¦´¡.´¸ ¸¸¯¸¯.l!¸, ¸_¸
Artinya:
“Demi masa, sesunguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman fa mengerjakn amal sholeh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehait kesabaran” (QS. Al-ashr : 1-3)
Dengan kata lain manusia diharapkan saling memberi bimbingan
sesuai dengan kemampuan dan kapasitas manusia itu sendiri, sekaligus
memberi konseling agar tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi perjalanan
kehidupan yang sebenarnya.
`_¡1,´¸ _¸¸¦ ¦¸`¸±´ ¸¯¡l _¸¸.¦ ¸«,ls «,¦´, _¸. .¸«¸,¯¸ ¯_· ´_¸| ´<¦ ´_¸.`, _.
',!:¸ _¸.¯¸´¸´ ¸ ¸«,l¸| _. ´,!.¦ ¸__¸
Artinya :
“Orang-orang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya
(Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah:
"Sesungguhnya Allah menyesatkan
1
siapa yang Dia kehendaki dan
menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya", (QS.)
Dari ayat-ayat diatas sehingga dapat dipahami bahwa ada jiwa yang
menjadi fasik dan adapula jiwa yang menjadi takwa, tergantung kepada
manusia yang memilikinya. Ayat ini menunjukan agar manusia selalu
mendidik diri sendiri maupun orang lain, dengan kata lain membimbing
kearah mana seseorang itu akan menjadi, baik atau buruk. Proses pendidikan
dan pengajaran agama tersebut dapat dikatakan sebagai “bimbingan” dalam
bahasa psikologi. Nabi Muhammad SAW, menyuruh manusia muslim untuk
menyebarkan atau menyampaikan ajaran Agama Islam yang diketahuinya,
walaupun satu ayat saja yang dipahaminya. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa nasihat agama itu ibarat bimbingan (guidance) dalam pandangan
psikologi.
Dalam hal ini Islam memberi perhatian pada proses bimbingan,. Allah
menunjukan adanya bimbingan, nasihat atau petunjuk bagi manusia yang
beriman dalam melakukan perbuatan terpuji, seperti yang tertuang pada ayat-
ayat berikut :
_>.l´¸ ¯¡>.¸. «.¦ ¿¡`s., _|¸| ¸¸¯,>'¦ ¿¸`¸`.!,´¸ ¸.¸`¸-!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦
,¸¸.l`¸¦´¸ `¡> _¡>¸l±.l¦ ¸¸¸_¸
Artinya :
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali
Imran:104)
Sedangkan pada beberapa Hadits yang berkaitan dengan arah
perkembangan anak yang artinya adalah sebagai berikut :“Tiap-tiap anak itu

1
Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami
petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya
Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

dilahirkan dalam keadaan suci. Maka kedua orang tuanya yang
menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Baihaqi)
Selanjutnya yang berkaitan dengan perkembangan konseling, khusus
konseling sekolah adalah adanya kebutuhan nyata dan kebutuhan potensial
para siswa pada beberapa jenjang pendidikan, yaitu meliputi beberapa tipe
konseling berikut ini :
1. Konseling krisis, dalam menghadapi saat-saat krisis yang dapat terjadi
misalnya akibat kegagalan sekolah, kegagalan pergaulan atau pacaran,
dan penyalahgunaan zat adiktif.
2. Konseling fasilitatif, dalam menghadapi kesulitan dan kemungkinan
kesulitan pemahaman diri dan lingkungan untuk arah diri dan
pengambilan keputusan dalam karir, akademik, dan pergaulan social.
3. Konseling preventif, dalam mencegah sedapat mungkin kesulitan yang
dapat dihadapi dalam pergaulan atau sexual, pilihan karir, dan
sebagainya.
4. Konseling developmental, dalam menopang kelancaran perkembangan
individual siswa seperti pengembangan kemandirian, percaya diri, citra
diri, perkembangan karir dan perkembangan akademik.
Dengan demikian, kebutuhan akan hubungan bantuan (helping
relationship), terutama konseling, pada dasarnya timbul dari diri dan
luar individu yang melahirkan seperangkat pertanyaan mengenai
apakah yang harus diperbuat individu.
Dalam konsep Islam, pengembangan diri merupakan sikap dan
perilaku yang sangat disitimewakan. Manusia yang mampu mengoptimalkan
potensi dirinya, sehingga menjadi pakar dalam disiplin ilmu pengetahuan
dijadikan kedudukan yang mulia disisi Allah SWT.
¸_·¯¸, ´<¦ _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¯¡>.¸. _¸¸¦´¸ ¦¡.¸¦ ´¸l¸-l¦ ¸¸.>´¸: ´<¦´¸ !.¸, ¿¡l .-.
¸,¸,> ¸¸¸¸
Artinya:
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-
Mujadalah 58:11)

B. Pendekatan Islami Dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling
Pendekatan Islami dalam pelaksanaan bimbingan konseling dapat
dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis yang meliputi pribadi, sikap,
kecerdasan, perasaan, dan seterusnya yang berkaitan dengan klien dan
konselor.
Bagi pribadi muslim yang berpijak pada pondasi tauhid pastilah
seorang pekerja keras. namun nilai bekerja baginya adalah untuk
melaksanakan tugas suci yang telah Allah berikan dan percayakan kepadanya,
ini baginya adalah ibadah. Sehingga pada pelaksanaan bimbingan konseling,
pribadi muslim tersebut memiliki ketangguhan pribadi tentunya dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Selalu memiliki Prinsip Landasan dan Prinsip Dasar yaitu hanya
beriman kepada Allah SWT.
2. Memiliki Prinsip Kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
3. Memiliki Prinsip Kepemimpina, yaitu beriman kepada Nabi dan
Rasulnya.
4. Selalu memiliki Prinsip Pembelajaran, yaitu berprinsip kepada Al-
Qur’an Al Karim.
5. Memiliki Prinsip Masa Depan, yaitu beriman kepada “Hari Kemudian”
6. Memiliki Prinsip Keteraturan, yaitu beriman kepada “Ketentuan
Allah”
Jika konselor memiliki prinsip tersebut (Rukun Iman) maka
pelaksanaan bimbingan dan konseling tentu akan mengarahkan klien kearah
kebenaran, selanjutnya dalam pelaksanaannya pembimbing dan konselor perlu
memiliki tiga langkah untuk menuju pada kesuksesan bimbingan dan
konseling. Pertama, memiliki mission statement yang jelas yaitu “Dua
Kalimat Syahadat”, Kedua memiliki sebuah metode pembangunan karakter
sekaligus symbol kehidupan yaitu “Shalat lima waktu”, dan Ketiga, memiliki
kemampuan pengendalian diri yang dilatih dan disimbolkan dengan “puasa”.
Prinsip dan langkag tersebut penting bagi pembimbing dan konselor muslim,
karena akan menghasilkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang sangat
tinggi (Akhlakul Karimah). Dengan mengamalkan hal tersebut akan memberi
keyakinan dan kepercayaan bagi counselee yang melakukan bimbingan dan
konseling.
Allah berfirman :
_>.l´¸ ¯¡>.¸. «.¦ ¿¡`s., _|¸| ¸¸¯,>'¦ ¿¸`¸`.!,´¸ ¸.¸`¸-!¸, ¿¯¡¸.,´¸ ¸_s ¸¸>..l¦
,¸¸.l`¸¦´¸ `¡> _¡>¸l±.l¦
Artinya :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari
yang munkar
2
merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali-
iran: 104)
Pada ayat tersebut memberi kejelasan bahwa pelaksanaan bimbingan
dan konseling akan mengarahkan seseorang pada kesuksesan dan kebijakan,
dan bagi konselor sendiri akan mendapat nilai tersendiri dari Allah SWT. Para
pembimbing dan konselor perlu mengetahui pandangan filsafat Ketuhanan
(Theologie), manusia disebut “homo divians” yaitu mahluk yang berke-
Tuhan-an, bebarti manusia dalam sepanjang sejarahnya senantiasa memiliki
kepercayaan terhadap Tuhan atau hal-hal gaib yang menggetarkan hatinya
atau hal-hal gaib yang mempunyai daya tarik kepadanya (mysterium
trimendum atau mysterium fascinans). Hal demikian oleh agama-agama besar
di dunia dipertegas bahwa manusia adalah mahluk yang disebut mahluk
beragama (Homo Religious), oleh karena itu memiliki naluri agama (instink
religious), sesuai dengan firman Allah SWT :

2
Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan
yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
`¸¸·!· ,¸>´¸ ¸_¸¸¸l !±,¸.> ,¸L¸· ¸<¦ _¸.l¦ ¸L· ´_!.l¦ !¸¯,l. ¸ _,¸.¯,. ¸_l>¸l
¸<¦ ¸l: _¸¸¦ `¸¸¯,1l¦ _¸>.l´¸ ´¸.é¦ ¸_!.l¦ ¸ ¿¡. l-,
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah (tetaplah atas)
fitrah (naluri) Allah yang telah menciptakan manusia menurut naluri
itu, tidak ada perubahan pada naluri dari Allah itu. Itulah agama
yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”
(Q.S. Ar-Rum : 30)

Pada diri counselee juga ada benih-benih agama, sehingga untuk
mengatasi masalah dapat dikaitkan dengan agama, dengan demikian
pembimbing dan konselor dapat mengarahkan individu (counselee) kearah
agamaya, dalam hal ini Agama Islam.
Selanjutnya ditemukan bahwa agama, terutama Agama Islam
mempunyai fungsi-fungsi pelayanan bimbingan, konseling dan terapi dimana
filosopinya didasarkan atas ayat-ayat Al-qur’an dan Sunnah Rosul. Proses
pelaksanaan bimbingan, konseling dan psikoterapi dalam Islam, tentunya
membawa kepada peningkatan iman, ibadah dan jalan hidup yang di ridai
Allah SWT.
Semangat ajaran memimbing ini bahkan tertuang dalam al-qur’an
secara khusus dalam surat al-hujara, yang menurut para ahli tafsir, surat ini
dinamakan sebagai surat al-mu’addibah, yakni tatacara bergaul dengan sesama
umat manusia.
Jadi, sangat jelas bahwa peran agama tentunya yang diyakini oleh
umatnya, sangat berpengaruh pada kepribadiaannya. Dengan begitu, peran
agama dalam kegiatan bimbingan dan konseling, tentu sangat besar, terutama
dalam bentuk aspek kepribadian dan kejiwaan seseorang.

C. Peranan Psikologi Dalam Melaksankan Bimbingan Dan Konseling
Secara teoritis, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara
umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan
bimbingan dan konseling,yatiu landasan filosofis, landasan psikologis,
landasan sosial budaya dan landasan ilmu pengetahuan (ilmah) dan
tekhnologi.
Khusus terkait dengan landasan psikologis dalam kegiatan bimbingan
dan konseling, akhmad sudrajad memaparkan bahwa landasan psikologis
merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor
tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk
kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu di
kuasai oleh konselor adalah sebagai berikut:
1. Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang
menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang
didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia
lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder
yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh
pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya motif-
motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri
individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi
ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu
yang mengarah pada suatu tujuan.
2. Pembawaan dan Lingkungan.
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang
membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu
segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari
keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna
kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian
tertentu.
Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu
dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya
bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Pembawaan dan
lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang
memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan
rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius),
normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot).
Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan
dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang
memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat
berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan
berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan
prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang
dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-
siakan.
3. Perkembangan Individu.
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan
berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal)
hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik,
bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami
berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat
melihat arah perkembangan individu itu dimasa depan, serta
keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan.
4. Belajar.
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari
psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak
akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan
belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat
kemanusiaannya.
Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang
baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan
yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah
tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun
psikomotor/keterampilan.
5. Kepribadian
Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan
rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.. Dalam suatu
penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S.
Hall dan Gardner Lindzey, 2005) yang dikutip oleh anas salahudin
(Bimbingan dan Konseling: 2010), menemukan hampir 50 definisi tentang
kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya,
akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap
lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi
dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan
caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata
kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider
dalam Syamsu Yusuf (2003) yang dikutip oleh anas salahudin 2010
mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik
yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi
kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan
konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan
tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu
khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu
lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya,
misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan
afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga
menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan
dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat
beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : Teori
Psikoanalisa dari Sigmund Freud, Teori Analitik dari Carl Gustav Jung,
Teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori
Personologi dari Murray, Teori Medan dari Kurt Lewin, Teori Psikologi
Individual dari Allport, Teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull,
Watson, Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu,
Abin Syamsuddin (2003) yang di kutip oeh anas salahudin
mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yaitu di antaranya
mencakup :
 Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika
perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau
pendapat.
 Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya
mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari
lingkungan.
 Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau
ambivalen.
 Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap
rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung,
sedih, atau putus asa.
 Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko
dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau
menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari
resiko yang dihadapi.
 Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan
hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau
tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam
upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani
(klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap
motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang
dilayaninya (klien). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat
mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai
modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya.
Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan
yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya.
Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk
memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar
yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian
klien, konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan
keunikan kepribadian kliennya. Dengan demikian, psikologi psikologi
terlihat sangat dominan dalam memainkan peranannya dalam kegiatan
bimbingan dan konseling.















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
ditemukan bahwa agama, terutama Agama Islam mempunyai fungsi-fungsi
pelayanan bimbingan, konseling dan terapi dimana filosopinya didasarkan atas
ayat-ayat Alquran dan Sunnah Rosul. Proses pelaksanaan bimbingan, konseling
dan psikoterapi dalam Islam, tentunya membawa kepada peningkatan iman,
ibadah dan jalan hidup yang di ridai Allah SWT.
Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan
mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai
figure konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem
solving) yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya
syaiton. Seperti tertuang dalam ayat berikut ini :
¸¸`.-l¦´¸ ¸¸¸ ¿¸| ´_..·¸¸¦ _¸.l ¸¸.> ¸_¸ ¸¸| _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¦¡l¸.s´ ¸ ¸¸.>¸l.¯.l¦
¦¯¡.¦´¡.´¸ ¸´_>l!¸, ¦¯¡.¦´¡.´¸ ¸¸¯¸¯.l!¸, ¸_¸
Artinya:
“Demi masa, sesunguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman fa mengerjakn amal sholeh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehait
kesabaran” (QS. Al-ashr : 1-3)
Dengan kata lain manusia diharapkan saling memberi bimbingan sesuai
dengan kemampuan dan kapasitas manusia itu sendiri, sekaligus memberi
konseling agar tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi perjalanan kehidupan
yang sebenarnya.
Dalam islam terkait pelaksanaannya, pembimbing dan konselor perlu
memiliki tiga pendekatan untuk menuju pada kesuksesan bimbingan dan
konseling. Pertama, memiliki mission statement yang jelas yaitu “Dua Kalimat
Syahadat”, Kedua memiliki sebuah metode pembangunan karakter sekaligus
symbol kehidupan yaitu “Shalat lima waktu”, dan Ketiga, memiliki kemampuan
pengendalian diri yang dilatih dan disimbolkan dengan “puasa”. Prinsip dan
langkag tersebut penting bagi pembimbing dan konselor muslim, karena akan
menghasilkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang sangat tinggi (Akhlakul
Karimah).
Terkait dengan peranan psikologi dalam pelaksanaan bimbingan dan
konseling maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap
motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya
(klien). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-
aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh
kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat
mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan
segenap potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar
klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta
berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya
pengembangan kepribadian klien, konselor kiranya perlu memahami tentang
karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya.












DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab. 2004. Psikologi Suatu
Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta : Kencana.
http://duniapsikologi.multiply.com/journal/item/27?&show_interstitial=1&u=%2F
journal%2Fitem
Salahudin Anas. 2010. Bimbingan dan Konseling, bandung: Pustaka Setia.
Zakiah Daradjat. 2001. Kesehatan Mental. Jakarta : Toko Gunung Agung.
Zakiah Daradjat. 2002. Psikoterapi Islami. Jakarta : Bulan Bintang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->