P. 1
Pi Pa Nurhadi

Pi Pa Nurhadi

|Views: 71|Likes:
Published by farahbee

More info:

Published by: farahbee on Dec 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2011

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi moneter dan perbankan yang sempat terganggu oleh krisis nilai tukar dan perbankkan amatlah melemahkan keberadaan bank sebagai mediator dana dalam meghidupkan perekonomian yang ada. Semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi dunia perbankkan dewasa ini tingkat persaingan antar bank semakin meningkat dimana setiap bank dituntut agar dapat tetap sehat memulihkan kinerja. Bank yang tidak dapat melakukan hal tersebut maka secara alami ia akan ditinggalkan oleh nasabahnya dan pada akhirnya akan masuk dalam perawatan BPPN (Badan Penyehatan Perbankkan Nasional) dan terkena program restruktursasi oleh pemerintah. 1.2. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian 1.2.1. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang ingin penulis kemukakan adalah melakukan analisa internal dan eksternal dari lingkungan yang selalu berubah-ubah. 1.2.2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisa internal dan eksternal terhadap masalah yang dihadapi bank dalam mengelola sumber dan penggunaan dana. 1.3. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademis Bagi penulis diharapkan dapat mengetahui lebih lanjut tentang masalah yang dihadapi oleh bank dalam menangani dan mengelola sumber dan penggunaan dana. 2. Manfaat Praktis Semoga hasil penelitian ini dapat digunakan oleh perbankan sebagai masukan dan dapat mengetahui masalah-masalah yang dihadapi sebagai dasar pertimbangan untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

2

1.4. Metode Penelitian 1.4.1. Objek Penelitian Objek dari penelitian adalah berupa data yang menyangkut mengenai produk-produk perbankkan seperti giro, tabungan serta analisa strategi pemasaran yang dilakukan bank dan analisa ratio keuangan yang digunakan sebagai salah satu alat dalam mengukur kesehatan perbankkan. 1.4.2. Data/ Variabel Berdasarkan data yang diperoleh, penulis memperoleh data berupa dokumen dan procedure system perbankkan yang terkait didalamnya. 1.4.3. Metode pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan Studi Pustaka yang mana data diambil dari literature perkuliahan, catatan-catatan yang penulis dapatkan selama perkuliahan, serta buku-buku yang berkaitan dengan objek penulisan ini. 1.5. Alat Analisis Yang digunakan Penulis menggunakan alat analisa kualitatif yaitu dengan menggunakan Analisa SWOT yang berlaku dengan teori-teori yang ada. Sedangkan untuk menganalisa data yang telah didapat, penulis menggunakan analisis yang bersifat deskriptif yakni dengan menggunakan Rasio Keuangan seperti analisa Liquiditas, Leverage, Aktivitas dan porfitabilitas serta strategi pemasaran produk dan pengembangan produk.

3

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kerangka Teori 2.1.1. Pengertian Bank Menurut UU No. 10 tahun 1998, Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari mastyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kembali kepada masyarakat. Menurut Prof. G.M Verryn stuart, Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit. Menurut Sommary, Bank adalah suatu badan yang berfungsi sebagai pengambil dan pemberi kredit, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. 2.1.2. Sumber dan Penggunaan Dana Bank 2.1.2.1. Sumber Dana Bank Dana bank dilihat dari sumbernya terbagi menjadi dana eksteren yaitu dana yang dihimpun dari luar bank dan dana intern yaitu dana dari bank itu sendiri. Selenjutnya jenis dan sumber dana bank dilihat dari sumbernya menurut Bank Indonesia dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: A. Dana Pihak Pertama (Dana dari modal bank sendiri).

Dana yang berasal dari pemilik bank atau para pemegang saham baik pemegang saham sendiri maupun pihak pemegang saham yang ikut dalam usaha bank tersebut pada waktu kemudian. Dana modal sendiri yang terdapat pada neaca sebelah kiri adalah: a. Modal disetor; sejumlah uang yang disetor secara efektif oleh para pemegang saham pada saat didirikan, modal dalam bentuk uang pada umumnya digunakan untuk menarik minat masyarakat. b. Aglo saham; nilai selisih sejumlah uang yang dibayarkan oleh para pemegang saham yang kemudian dibandingkan dengan nilai nominal saham. c. Cadangan-cadangan; sebagian laba yang disisihkan dalam bentuk cadangan modal dan cadangan lainnya yang digunakan untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya resiko dikemudian hari. d. Laba ditahan; laba milik para pemegang saham yang diputuskan oleh mereka sendiri melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk tidak dibagikan sebagai deviden, tetapi dimasukkan kembali kedalam modal kerja untuk biaya operasional bank.

4

B.

Dana Pihak Kedua (Dana pinjaman dari Luar Negri)

Dana yang bersumber dari pihak luar perusahaan yang terdiri dari: a. Call Money; dana dalam rupiah yang dipinjamkan oleh bank kepada bank lainnya. Jangka waktunya kurang lebih tujuh hari dan setiap saat dapat ditarik kembali oleh bank yang meminjamkan uang tanpa dikenakan biaya beban. Jika jangka waktu pinjaman hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja maka pinjaman itu sendiri dapat disebutovernight call money. b. Pinjaman Biasa Antar Bank; pinjaman yang diterima oleh bank peminjam dalam bentuk uang dan non uang yang jangka waktunya relative pendek. c. Pinjaman dari LKBB; pinjamn yang diperoleh dari LKBB dalam bentuk surat-surat berharga yang dapat dijual belikan dalam pasar uang sebelum jatuh tempo dari pada berbentuk kredit. d. Pinjaman dari bank sentral (BI); pinjaman dari BI kepada bank untuk membiayai usaha-usaha masyarakat yang tergolong prioritas tinggi, seperti sector pertanian, pangan, perhubungan, industri kecil, ekspor non migas, dll. e. KLBI; merupakan instrument moneter dari bank sentral dalam rangka refinancing facility demi memberikan motivasi gerakan moneter bagi bank dan masyarakat ekonomi, serta merupakan sumber dana yang tergolong murah dengan tingkat bunga yang relative sangat rendah. C. Dana Pihak Ketiga (Dana dari Masyarakat)

Dana pihak ketiga merupakan sumber dana terbesar yang sangat diandalkan oleh pihak bank (bisa mencapai 80%-90% dari keseluruhan dana yang dikelola oleh pihak bank). Dana pihak ketiga ini terdiri atasbeberapa jenis yaitu: a.Giro (Dimand Deposit); simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan surat perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindah bukuan. b. Deposito (Time Deposit); simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikkannya hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian. Sumber danaini dapat dikategorikan sebagai dana mahal, karena memiliki sifat yang semi tetap yang penarikkannya berdasarkan tanggal jatuh temponya sehinggafluktuasinya dapat di antisipasi terdapat berbagai jenis deposito, yakni deposito berjangka, sertifikat deposito, dan deposit on call.

5

c. tabungan (Saving Deposit); tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada ban yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. Program tabunganyang pernah diperkenankan oleh pemerintah pada tahun 1971 adalah: Tabanas, Taksa, Tappelfram, Tabungan Ongkos Naik Haji. d. Uang Titipan e. Uang Transfer f. Setoran jaminan L/C (dalam atau luar negri). g. Garansi bank dalam proses tender suatu proyek.

2.1.2.2. Penggunaan Dana Bank Penggunaan dana bank pada prinsipnya dapat diklasifikasikan berdasarkan:Prioritas penggunaan dana bank, Penggunaan dana-dana prioritas adalah dialokasikan dalam bentuk liquiditas wajib yang terdiri dari cadangan primer dan cadangan sekunder prioritas pertama dalam pengalokasian dana bank adalah: a. b. c. d. Cadangan primer Cadangan sekunder Penyaluran Kredit Investment

Penggunaan Dana menurut sifat aktifa. Penggunaan dana bank berdasarkan sifatr aktivanya dimaksud disini adalah pelakosian dana kedalam bentuk aktiva yang dapat memberikan hasil bagi bank dibedakan menjadi: a. b. Penanaman Dana Aktiva tidak produktif (saldo giro BI) Penanaman Dana Dalam aktiva produktif.

2.1.3. Pengertian Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran adalah analisa, perencanaan pelaksanaan dan pengendalian atas program yangf dirancang untuk menciptakan, membentuk dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran (target buyers). Strategi pemasaran bank adalah seleksi atas pasar sasaran, penentuan posisi bersaing dan pengembangan suatu marketing mix yang efektif untuk mencapai dan melayani nasabah yang telah dipilih. Yang harus diingat adalah bank harus menyusun langkahlangkah dalam pemasaran strategic.

6

2.1.4. Analisa SWOT Analisa yang digunakan untuk mengetahui kondisi perusahaan atau intensitas lainnya dalam hal kekuatan, kelemahan, kesemptan dan tantangan perusahaan dalam menghadapi persaingan. Analisa SWOT yaitu: Stregth, Opportunity, Weakness, dan Threats. 2.1.5. Posisi Dalam Persaingan Sebuah perusahaan akan menempati salah satu posisi bersaing dalam industri merek yaitu: 1. Dominant (Dominan); Diaman perusahaan mampu mengendalikan perilaku atau strategi pesaing lainnya serta memiliki banyak pilihan strategis tanpa pengaruh dari tindakan pesaing lain. 2. Strong (Kuat); perusahaan yang ada pada posisi kuat mampu bertindak bebas tanpa membahayakan posisi jangka panjang walaupun para pesaing berbuat apa saja. 3. Favorable (Baik); perusahaan ini memiliki kekuatan yang dapat dimanfaatkan dengan strategi tertentu bila kondisi industri membaik dan mempunyai kemampuan dan peluang diatas rata-rata untuk meningkatkan posisi. 4. Tenable (Sedang); perusahaan mempunyai kekuatan dan atau prestasi yang cukup memuaskan untuk menjamin kelangsungan usahanya. a. Weak (Lemah); perusahaan tidak memuaskan tetapi madih memiliki peluang dan kekuatan untuk perbaikan perusahaan ini harus mengubah dirinya. Kalau tidak ia terpaksa keluar industri. b. Non Viable (Tidak ada harapan); perusahaan memiliki prestasi yang tidak memuaskan dan tidak memiliki peluang untuk perbaikan. Pada tahun 2008 jumlah bank yang beroperasi di indonesia berkisar 164 buah bank yang memiliki berbagai peringkat dalam kriteria sesuai yang telah ditetapkan oleh BI (Bank Indonesia). Dalam asset yang dimiliki oleh bank BRI, bank ini mendapatkan peringkat no 4 dari beberapa bank yang ada di Indonesia.

7

Hal tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Peringkat Jumlah Aset tahun 2008 (Dalam Jutaan Rupiah) Peringkat Aset di Asia Tenggara (dari 20 Bank Terbesar) 8 16 18 19 Peringkat Aset di Asia Pasifik (dari 300 Bank Terbesar) 103 158 162 179 103 158 162 179 103 158

Peringkat Aset di Indonesia

Bank Mandiri (1) Bank BCA (2) Bank BNI (3) Bank BRI (4) DBS Group Singapore

United Overseas Bank (UOB) Singapore Overseas Chinese Banking Corporation (OCBC) Singapore Mitsubishi UFJ Financial Group Japan Mizuho Financial Group Japan Sumitomo Mitsui Financial Group Japan

2.2. Strategi Produk pada Bank BRI 2.2.1. Tabungan BRI Syariah BRI Syariah menitikberatkan pada individu dan bisnis wirausaha kecil dan menengah dengan menyediakan serangkaian produk dan jasa perbankan berbasis Syariah bagi kedua segmen tersebut, yang terdiri dari 3 (tiga) kategori :

8

Funding Produk Penghimpunan Dana terdiri atas a. Tabungan BRISyariah iB “Kemudahan bertransaksi yang penuh nilai kebaikan” Tabungan BRISyariah iB merupakan tabungan dari BRISyariah bagi nasabah perorangan yang menggunakan prinsip titipan (wadi’ah yad dhamanah), dipersembahkan untuk Anda yang menginginkan kemudahan dalam transaksi keuangan Anda. Manfaat: Aman, karena diikutsertakan dalam program penjaminan pemerintah, Dapat bertransaksi di seluruh jaringan Kantor Cabang BRISyariah, Dengan kartu ATM BRISyariah, Anda mudah melakukan transaksi di lebih dari 1.000 ATM BRI di seluruh Indonesia Fasilitas: Kartu ATM: Informasi saldo, Ganti PIN, Tarik tunai, Transfer ke BRISyariah atau BRI, Pembayaran tagihan PLN (khusus pulau Jawa), Pembayaran tagihan Telkom, Pembayaran tagihan Flexi. Syarat dan ketentuan: Fotokopi KTP, Setoran awal minimal Rp 200.000,-, Saldo mengendap minimal Rp 20.000,-. Giro iB “Mudahnya berbisnis dalam kebaikan untuk tujuan baik” Giro iB dari BRISyariah adalah simpanan untuk kemudahan berbisnis dengan pengelolaan dana berdasarkan prinsip titipan (wadi’ah yad dhamanah) yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan Cek atau Bilyet Giro. Manfaat: Kemudahan dalam transaksi bisnis, Bank dapat memberikan bonus sesuai kebijakan yang berlaku, Aman, karena diikutsertakan dalam program penjaminan pemerintah. Fasilitas: Mendapatkan buku Cek dan Bilyet Giro sebagai dan Pemindahbukuan antar cabang BRISyariah secara online

9

Sayarat dan ketentuan: Persyaratan Setoran awal minimal Setoran selanjutnya minimal Perorangan Rp 2.500.000,Perusahaan/Badan Hukum Rp 5.000.000,-

Rp 50.000,-

Rp 50.000,-

Akte Pendirian Perusahaan. Copy KTP, Dokumen NPWP Surat Pesetujuan Pengurus. TDP, SIUP, NPWP Deposito iB “Pengelolaan dana yang baik menuju hasil terbaik” Usaha Anda dalam mengembangkan dana terbaik sewajarnyalah dikelola dengan cara yang terbaik. Deposito iB adalah salah satu jenis simpanan berdasarkan prinsip bagi hasil (Mudharabah alMuthlaqoh) yang dananya dapat ditarik pada saat jatuh tempo. Manfaat: Terjamin karena disertakan dalam program penjaminan pemerintah, Memberikan bagi hasil yang kompetitif, Dikelola dengan prinsip sesuai syariah. Fasilitas: Pilihan jangka waktu1, 3, 6 dan 12 bulan, Dapat diperpanjang secara otomatis dengan nisbah bagi hasil sesuai kesepakatan pada saat jatuh tempo, Dapat dilakukan potongan zakat secara otomatis dari bagi hasil yang Anda dapatkan, Pemindahbukuan otomatis setiap bulan dari bagi hasil yang didapat ke rekening Tabungan atau Giro di BRISyariah, Dapat dijadikan jaminan pembiayaan. Syarat dan ketentuan: Syarat Nominal minimal Perorangan Rp. 2.500.000,Fotokopi KTP Dokumen NPWP Anggaran dasar beserta perubahan. Perusahaan Rp. 2.500.000,Akte Pendirian Perusahaan. Anggaran dasar beserta perubahan.

10

Surat Pesetujuan Pengurus. TDP, SIUP, NPWP Memiliki rekening tabungan atau giro di BRISyariah Tabungan Haji iB “Mewujudkan langkah terbaik dalam memenuhi panggilanNya” Tabungan Haji iB merupakan tabungan investasi dari BRISyariah bagi calon Haji yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), dengan prinsip bagi hasil (Mudharabah al-Muthlaqoh). Manfaat: Kemudahan rencana/persiapan ibadah Haji, Aman dan sesuai syariah, Bagi hasil yang kompetitif, GRATISasuransi jiwa & kecelakaan. Fasilitas: Bebas biaya administrasi, Dapat dilakukan potongan zakat secara otomatis dari bagi hasil yang Anda dapatkan, Setoran ringan,dapat dilakukan diseluruh cabang BRISyariah. Syarat dan ketentuan: Fotokopi KTP, Setoran awal minimal Rp 500.000,-, Setoran selanjutnya minimal Rp 50.000,-. b.Tabungan Perencanaan iB Lending Produk Penyaluran Dana terdiri atas: Pembiayaan Komersil Pembiayaan Ritel Mikro iB Pembiayaan Linkage / Kemitraan Pembiyaan Konsumer Akses Produk Akses terdiri atas Remittance BRISyariah Mini Banking Mobile Banking / SMS Banking

11

Internet Banking ATM / EDC /Telephone Banking 2.2.2. BRI BRITAMA Adalah Tabungan BRI yang penyetoran dan pengambilannya tidak dibatasi baik frekuensi maupun jumlahnya selama saldo mencukupi. Ketentuan dan Syarat Tabungan BRI BRITAMA: 1 2 Setoran Awal Setoran Selanjutnya Tunai OverBooking 3 4 5 Saldo Minimal Biaya Administrasi Bulanan Biaya Administrasi Bulanan BRI Card Classic Gold Platinum 6 7 8 Biaya Penutupan Rekening Rekening Pasif Maksimal Transaksi Antar Cabang Per Hari Gratis Rp. 3.000,Rp. 7.500,Rp. 10.000,Rp. 25.000,Rp. 100.000.000,Rp. 10.000,Bebas Rp. 50.000,Rp. 8.000,Rp. 200.000,-

12

Fasilitas Tabungan BRI BRITAMA Real Time Online Gratis Fasilitas Asuransi Kecelakaan Diri Fasilitas Standing Instruction Undian Berhadiah Miliaran Rupiah Aksesibilitas BRI Card Transaksi phone Banking BRI Transaksi Mobile Banking BRI 2.2.3. BRI SIMPEDES Pengertian : Tabungan Simpedes BRI adalah simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan dengan mata uang rupiah yang dapat dilayani di Kantor Cabang Khusus / anca / CP / BRI Unit, yang penyetoran dan pengambilannya tidak dibatasi baik frekuensi maupun jumlahnya sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku. Pasar Sasaran : Nasabah perorangan (Individual). Nasabah non perorangan yang meliputi Perusahaan (Badan Hukum / Non adan Hukum), Koperasi, Yayasan, Badan / Lembaga Pemerintah, Badan Usaha lainnya kecuali Bank. Ketentuan Umum : Fasilitas Tabungan Simpedes BRI di KCK, Kanca, KCP dan BRI Unit Brinets : Account to account relationship : -Automatic Fund Transfer (AFT). Yaitu fasilitas untuk mentransfer dana dari rekening BritAma ke rekening simpanan di BRI, baik di Kanca sendiri ataupun di Kanca lain, setiap tanggal tertentu dengan nominal transfer tertentu yang bersifat tetap (secara rutin). -Account Sweep. Yaitu fasilitas untuk mentransfer dana dari satu rekening ke rekening lainnya di Kanca sendiri ataupun di Kanca lain secara otomatis yang sebelumnya di set up saldo minimal atau saldo maksimalnya. Transfer otomatis terjadi apabila batas saldo minimal atau maksimal tersebut terlampaui. Fasilitas ini dapat digunakan untuk keperluan BritAma memback up giro secara otomatis. -Automatic Grab Fund (AGF).

13

Yaitu fasilitas transfer otomatis untuk menarik (mendebet) dana secara otomatis oleh satu rekening dari rekening lainnya, baik di Kanca sendiri maupun kanca lain. Inisiatif pendebetan berasal dari rekening yang akan mendebet, dengan nominal transaksi yang bersifat tetap. Fasilitas ini dapat digunakan untuk pembayaran angsuran pinjaman secara otomatis, dimana rekening pinjaman akan secara otomatis mendebet rekening BritAma untuk membayar angsurannya. Transaksi Antar Cabang, yaitu transaksi on line yang dapat dilakukan pemilik rekening Tabungan Simpedes BRI di seluruh Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu dan BRI Unit Brinets. BRI Card, yaitu kartu ATM (Classic, Gold, dan Platinum) yang dapat dipergunakan untuk transaksi di jaringan ATM maupun berbelanja di merchant. -Jaringan ATM Lokal -Jaringan ATM Internasional -Jaringan Debit BRI Card 1. Phone Banking, yaitu layanan transaksi perbankan melalui telepon yang diberikan khusus kepada pemilik Tabungan Simpedes BRI yang memiliki BRI Card (kartu ATM). 2. SMS Banking, yaitu layanan transaksi perbankan melalui sms ke 3300 khusus bagi pemilik Tabungan Simpedes BRI yang memiliki BRI Card (kartu ATM). 3. Undian dan Hadiah : Pemilik Tabungan Simpedes BRI yang memenuhi syarat akan diikutsertakan dalam undian Simpedes yang dilaksanakan 4 kali dalam setahun, masing-masing 2 kali di tingkat Kantor Cabang dan 2 kali di tingkat Kantor Wilayah. a. Undian di tingkat Kantor Cabang : -Diselenggarakan 2 kali dalam setahun. -Penabung yang diikutkan dalam undian adalah penabung yang saldo terendahnya mencapai Rp.100.000,-Pemberian nomor undian dihitung berdasarkan kelipatan Rp.100.000,dari saldo terendah dalam satu bulan takwim. -Hadiah diberikan dalam bentuk barang. -Pajak undian ditanggung BRI. b. Undian di tingkat Kantor Wilayah (regional) : -Diselenggarakan 2 kali dalam setahun.

14

-Penabung yang diikutkan dalam undian adalah penabung yang saldo terendahnya mencapai Rp.1.000.000,-Pemberian nomor undian dihitung berdasarkan kelipatan Rp.1.000.000,dari saldo terendah dalam satu bulan takwim. -Hadiah diberikan dalam bentuk uang. -Pajak undian ditanggung Pemenang. -Serta Privileges dan program lainnya yang akan dikembangkan kemudian. 2.3. Alat Analisis 2.3.1. Analisa Lingkungan 2.3.1.1. Lingkungan Interen Lingkungan ini adalah lingkungan yang dapat dikendalikan artinya untuk mencapai tujuan dan menjalankan strategi tujuan dan menjalakan strategi pemasaran-pemasaran mampu melakukan pengendalian lingkungan internal yang meliputi: a. Aspek Organisasi

Bank BRI adalah bank yang bergerak dibidang perbankkan dan merupakan bank pemerintah yang dibentuk melalui merger dengan beberapa bank yang selama ini cukup berpengalaman dalam menjalankan bisnis perbankkan. b. Kondisi Keuangan

Bank BRI mempunyai aset yang sangat lumayan dibandingkan dengan bank yang lainnya. Karena, CAR yang dimiliki bank ini selama semester I tahun 2000/2001 sebesar 14,04% dengan total aset yang dimiliki sebesar Rp. 417,2 triliun sedangkan total kredit yang diberikan pada masyarakat berjumlah Rp. 32,5 triliun. c. Produk – produk

Produk yang dihasilkan oleh bank BRI untuk pelayanan yang akan diberikan kepada masyarakat luas itu sangat bervariasi. Produk yang dihasilkan ini pun dapat dinikmati dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Produk yang diberikan kepada nasabah itu antara lain ada: Tabungan BRI Syariah, BRI BRITAMA, BRI SIMPEDES, dll. d. Sumber Daya Manusia

Bank BRI menggunakan filosofi sumber daya manusia yang Reward System yang artinya menciptakan sistem kompensasi yang dapat memberikan motivasi pegawai untuk mencapai target yang telah ditetapkan berpangkal kepada kemampuan bobot berkreativitas dihargai secara pantas dan ideal untuk terbentukknya sense of belonging.

15

2.3.2.2. Lingkungan Exsternal Lingkungan yang merupakan kegiatan pemasaran yang memberikan pengaruh tidak langsung berada diluar kekuasaan atau diluar pengendalian dari perusahaan yang bersangkutan. Dimana keadaan ini memberikan hal yang bersifat memaksa perusahaan mau tidak mau harus menyesuaikan arah dan strategi agar tetap ikut andil dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun yang terjadi pada lingkungan sekitar perusahaan. 2.3.2. Analisa Penghimpun Dana Bank pada Produk Bank BRI Dalam beberapa bulan terakhir ini, sektor perbankan sepertinya tidak pernah lepas dari berita heboh, mulai dari bermunculannya banyak regulasi, likuiditas yang melimpah, penutupan bank, pembobolan bank, kredit yang sulit tersalurkan, hingga masalah penurunan suku bunga dana. Di tengah-tengah berita heboh itu ada salah satu fenomena pada industri perbankan yang juga menarik untuk disimak, yaitu kembali meningkatnya posisi penghimpunan dana masyarakat (biasa disebut dana pihak ketiga/DPK) pada bulan Mei 2004, setelah sebelumnya selalu menunjukkan tren menurun. Hal itu menjadi fenomena menarik, karena fenomena tersebut terjadi justru ketika perbankan dalam kondisi kelebihan likuiditas dan kesulitan menyalurkan kredit ke sektor riil. Pertanyaannya adalah bukankah likuiditas yang terus bertambah tanpa adanya penempatan yang pasti akan makin memusingkan para pengelola bank? Kenaikan posisi DPK ini juga bisa dianggap aneh karena praktis tidak ada peningkatan suku bunga di perbankan secara signifikan. Tingkat suku bunga deposito, giro, ataupun tabungan bisa dikatakan stabil. Kalaupun ada kenaikan, itu hanya terjadi di bank-bank beraset kecil akibat naiknya suku bunga penjaminan. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai induk suku bunga di dalam negeri pun relatif stabil setelah terus turun sejak awal tahun 2003. Selama periode April-Mei 2004, suku bunga SBI berjangka satu bulan 7,32-7,34 persen. Berdasarkan kondisi tersebut, bisa dikatakan perbankan belum memiliki keunggulan dari sisi suku bunga yang dapat membuat investor tertarik mengalihkan dananya dari obligasi, saham, reksa dana, atau portofolio investasi lain ke dalam deposito, giro, atau tabungan. Lalu apa yang menyebabkan posisi DPK naik? Berbasarkan data Bank Indonesia (BI), posisi DPK per Mei 2004 senilai Rp 897,815 triliun, naik 2,6 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 875,281 triliun. Pada bulan Desember 2003 posisi DPK mencapai level tertinggi Rp 902,325 triliun, tetapi pada bulan-bulan berikutnya posisinya terus menurun.

16

Semua jenis DPK, seperti giro, tabungan, dan deposito berjangka menunjukkan tren meningkat. Peningkatan terbesar terjadi pada giro yang mencapai 8,8 persen menjadi Rp 236,9 triliun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 217,97 triliun. Tabungan menjadi sebesar Rp 255,11 triliun, meningkat 1,3 persen daripada bulan sebelumnya yang sebesar Rp 251,87 triliun. Adapun deposito berjangka relatif stabil, dari Rp 405,44 triliun pada bulan April menjadi Rp 405,72 triliun pada Mei 2004. Menilik ke belakang, penurunan posisi DPK sepanjang periode Desember 2003 sampai April 2004 dipicu oleh anjloknya simpanan dalam deposito berjangka. Penurunan simpanan dalam deposito berjangka sendiri sebenarnya sudah berlangsung lama, sejak mulai maraknya industri reksa dana yang memberikan imbal hasil (yield) yang lebih menarik, yang bisa berselisih empat persen dengan suku bunga deposito. Kala itu banyak dana di deposito yang dialihkan ke reksa dana oleh pemiliknya. Perbankan tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan manajemen perbankan menjalin kerja sama dengan manajer investasi dalam memasarkan produk reksa dana. Simpanan dalam deposito berjangka pun makin menurun ketika BI mulai menurunkan tingkat suku bunga SBI secara konsisten dalam setiap lelang. Penurunan suku bunga SBI memicu penurunan suku bunga penjaminan dan akhirnya menyeret jatuhnya suku bunga deposito perbankan. Namun, pada Mei 2004 tren penurunan DPK terhenti. Kenaikan yang terjadi memang tidak signifikan, hanya sekitar Rp 22 triliun. Tetap saja hal itu menunjukkan fenomena yang menarik. Ada sejumlah faktor yang bisa dijadikan penyebab naiknya posisi DPK. Direktur Institute for Development Economics and Finance (Indef) Dradjad H Wibowo mengatakan peningkatan DPK terjadi karena munculnya sentimen kenaikan suku bunga di dalam negeri, dipicu isu naiknya suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Sejak Gubernur The Fed Alan Greenspan memberikan sinyal bakal menaikkan suku bunga pada pertengahan April 2004 akibat tekanan inflasi, pasar global, termasuk di Indonesia, langsung merespons. Secara hitungan, kenaikan suku bunga The Fed sudah pasti akan mengerek juga suku bunga negara lain untuk tetap menjaga imbal hasil di negara bersangkutan tetap menarik. Jika tidak dikompensasi, dengan cara seperti itu dikhawatirkan investor akan melarikan dananya ke luar negeri untuk ditempatkan dalam dollar AS. Faktanya, respons kemungkinan naiknya suku bunga The Fed terjadi dengan cepat di Indonesia. Nilai tukar rupiah langsung melemah. Selain menukarkan dananya ke dollar AS, antisipasi kenaikan suku bunga The Fed juga dilakukan dengan mengalihkan investasi dari portofolio lain ke sistem perbankan, seperti giro, tabungan, dan deposito berjangka. Para investor ini berharap begitu suku bunga The Fed naik, suku bunga perbankan juga naik sehingga mereka bisa memperoleh manfaat yang lebih tinggi.

17

Harapan para investor memang terkabul. Pada bulan Mei BI menaikkan tingkat suku bunga penjaminan. Contoh, untuk suku bunga penjaminan jangka satu bulan ditetapkan sebesar 7,25 persen, naik 114 basis poin dibandingkan bulan April yang sebesar 6,11 persen. Akibat naiknya suku bunga penjaminan, sejumlah bank akhirnya menaikkan suku bunga deposito berjangka dan tabungannya. Pada bulan Mei rata-rata suku bunga deposito berjangka satu bulan sebesar 5,84 persen, naik dibandingkan rata-rata bulan April yang sebesar 5,62 persen. Namun sayangnya, kenaikan suku bunga deposito hanya dilakukan bank-bank beraset kecil. Adapun bank-bank besar, seperti Bank Mandiri, BCA, Bank BNI, dan BRI, tetap mempertahankan suku bunga depositonya. Alasannya, mereka sedang dalam kondisi kelebihan likuiditas sebagai akibat kredit ke sektor riil berjalan lamban. Padahal, salah satu tujuan bank menaikkan suku bunga adalah untuk menyerap likuiditas. Mereka juga khawatir kenaikan suku bunga dana akan ikut menaikkan suku bunga kredit. “Buat apa kami menaikkan suku bunga deposito kalau likuiditas kami masih berlimpah,” kata Direktur Utama Bank Mandiri ECW Neloe. Kendati menaikkan suku bunga penjaminan, BI masih bisa mempertahankan suku bunga SBI tetap stabil. Bahkan, sepanjang bulan Mei SBI satu bulan malah turun satu basis poin menjadi 7,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Hal itu bisa dilakukan BI karena tertolong oleh kondisi perbankan yang kelebihan likuiditas. Tanpa menaikkan suku bunga SBI, BI sudah dapat menyerap likuiditas sesuai target. Namun, akibat isu kenaikan suku bunga AS, tren penurunan suku bunga SBI memang sedikit tertahan. Suku bunga SBI yang sebelumnya terus menurun secara gradual dengan interval di atas 10 basis poin mulai stabil dengan fluktuasi di bawah lima basis poin. Aditya Wardhana, Analis Senior Trimegah Securities menjelaskan kenaikan posisi dana pihak ketiga juga tidak terlepas dari peran industri reksa dana. Seiring meningkatnya ketidakpastian kondisi politik keamanan selama Pemilu 2004 dan isu kenaikan suku bunga, investor reksa dana banyak yang memilih menempatkan dananya ke dalam reksa dana pasar uang yang berbasis deposito berjangka dan obligasi jangka pendek. Padahal sebelumnya, investor lebih suka menanamkan dananya di reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi pemerintah. Dengan memilih reksa dana pasar uang, investor berharap investasi mereka lebih aman dan lebih likuid. Dia juga mengatakan, setelah bertumbuh secara fenomenal dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan reksa dana sekarang sudah melambat, bahkan bisa dibilang jenuh. Reksa dana diperkirakan sulit berkembang lebih jauh lagi karena suplai emisinya, seperti obligasi,

18

semakin terbatas. Inilah yang membuat dana kembali masuk ke perbankan. Sampai 5 Agustus 2004 dana kelolaan reksa dana mencapai Rp 90,2 triliun dengan komposisi reksa dana pendapatan tetap Rp 75,1 triliun, saham Rp 783 miliar, campuran sebesar Rp 2,18 triliun, dan pasar uang Rp 12,17 triliun. Ditambahkannya, peningkatan posisi DPK juga merupakan efek domino dari masuknya pendapatan bunga seluruh portofolio investasi, seperti obligasi ke dalam sistem perbankan. Fenomena yang sama juga berlaku pada industri asuransi. Wakil Presiden Direktur PT Panin Life Tri Djoko Santoso mengatakan, munculnya ekspektasi naiknya suku bunga deposito dan SBI akibat kenaikan suku bunga Bank Sentral AS sehingga membuat asuransi mulai kembali menempatkan dana investasinya ke deposito dan SBI. Kondisi itu sekaligus mengakhiri tren pengalihan portofolio investasi asuransi dari deposito ke obligasi dan reksa dana yang terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, sejak suku bunga deposito terus menurun. Pada akhir 2003 komposisi portofolio utama industri asuransi adalah obligasi korporasi sebesar Rp 6,26 triliun, obligasi negara sebesar Rp 5,73 triliun, dan deposito berjangka sebesar Rp 4,53 triliun. “Dalam beberapa bulan terakhir, sejak pemilu legislatif berlangsung, industri asuransi memang mulai mengalihkan kembali investasinya ke pasar uang, seperti deposito dan SBI, karena dianggap lebih aman dan likuiditasnya tinggi. Ini juga cerminan sikap wait and see hingga pemilu berakhir dan terbentuk pemerintahan baru,” katanya. Pengamat perbankan Ryan Kiryanto mengatakan, kenaikan posisi DPK juga dipicu oleh ketidakpastian situasi politik dan keamanan selama pemilu Presiden. “Dalam situasi sekarang, investor cenderung mencari portofolio investasi yang aman dan likuid, seperti deposito,” kata Ryan. Direktur Utama Bank Niaga Peter B Stok mengatakan, kenaikan posisi DPK terjadi karena perbankan semakin kreatif meluncurkan produk, terutama tabungan dan giro. Hal itu tercermin dari pertumbuhan keduanya yang lebih tinggi ketimbang deposito berjangka. Bank lebih menggenjot produk tabungan dan giro karena keduanya termasuk jenis dana murah, dalam artian bunga yang harus dibayar ke nasabah lebih rendah dibandingkan dengan deposito. Dengan porsi dana murah yang semakin banyak, pendapatan bunga bersih bank akan meningkat. Dia juga mengatakan, meskipun perbankan umumnya masih kelebihan likuiditas, bank masih berupaya untuk menghimpun dana sebanyak- banyaknya. Meskipun belum bisa dikucurkan sebagai kredit, bank tetap memiliki kemampuan untuk menginvestasikan dana tersebut sehingga tetap bisa menghasilkan keuntungan.

19

Menurut Direktur Utama BRI Rudjito, kenaikan posisi DPK sangat ditentukan oleh suku bunga deposito berjangka dan simpanan lainnya. Kalau suku bunga perbankan naik, tentu investor akan beralih ke perbankan dan sebaliknya. Dia juga mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan DPK yang terus meningkat. Sebab, selain dalam bentuk kredit, kelebihan likuiditas juga bisa disalurkan ke SBI, Fasilitas Simpanan BI (Fasbi), atau obligasi. Kendati demikian, Ryan memprediksi tren peningkatan DPK hanya sementara. Setelah pemilu presiden usai dan suku bunga The Fed naik, investor akan menarik kembali sebagian dananya dari perbankan untuk ditanamkan pada instrumen investasi lain yang lebih menarik. (M Fajar Marta) 2.3.3. Analisa Penempatan Dana pada Bank BRI Sebagai lembaga keuangan, dana merupakan personaliaan bank yang utama. Tanpa dana bank tidak dapat berbuat apa-apa atau tidak berfungsi sama sekali. Sehubungan dengan hal tersebut bank dituntut untuk meningkatkan kemampuannya menggali dan memobalisasi dana dari berbagai sumber. Dan berbagai sumber dana yang berhasil dihimpun bank, sudah sudah selayaknya bank mempersiapkan strategi penempatan dana berdasarkan rencana alokasi dengan memberikan kebijakan yang telah digariskan. Alokasi dana mempunyai tujuan yakni mencapai tingkat profitabilitas (profitabifity) yang cukup dan mempertahankan kepercayaan masyarakat dengan menjaga agar posisi likuiditas tetap aman (safety). Dengan menggabungkan dua tujuan tersebut, maka alokasi dana bank harus diarahkan sedemikian rupa agar pada saat yang diperlukan semua kepentingan nasabah dapat terpenuhi. Artinya bank harus menjaga agar para nasabah tidak kecewa atas pelayanan dan ketidak tepatan pelayanan bank. Total dana yang berhasil dihimpun bank oleh bank terdiri dari dua jenis, yaitu dana yang tidak dapat dipinjamkan (unlomable fund) dan dana yang dapat dipinjamkan (loanable fund). Loanable fund dapat diklasifikasikan menjadi idle fund dan operable fund. Idle fund adalah dana yang belum digunakan pada alokasi yang produktif bagi bank atau dana menganggur. Sedangkan Operable fund adalah dana yang sudah dioperasikan bank terutama dalam bentuk kredit. Adanya dana yang tidak dapat dipinjarnkan (unloanable fund) jelas akan menaikkan biaya dana yang akan dijual ke masyarakat yang disebut cost of fund, hal ini pada akhirnya akan memaksa bank untuk dapat mengelola dana yang telah dimobilisasi menjadi sumber penghasilan yang potensial dan dapat bersaing dengan bank-bank lain. Disamping itu bank selalu

20

berusaha untuk meminimumkan idle fund dan berusaha mengingkatkan operable fund untuk mengoptimalkan keuntungan. Analisis mengenai keterkaitan pengelolaan dana terhadap optimasi rentabilitas, dilakukan dengan menghitung jumlah aktiva produktif bank dan jumlah pendapatan bunga yang diterima bank, kemudian dican persamaan regresi dan koefisien korelasinya dengan menggunakan Regresi Linear Sederhana. Berdasarkan hasil penghitungan diperoleh persamaan regresi y = 806,7+0,7382X. Hal ini menunjukan bahwa hubungan antara aktiva produktif dengan pendapatan (rentabilitas) berbanding lurus, dalam arti apabila aktiva produktif yang dioperasikan besar, maka pendapatan yang diperoleh juga besar. Berdasarkan penghitungan koefisien korelasi diperoleh r = 0,9988, Hal ini menunjukan bahwa hubungan antara aktiva produktif dan pendapatan (rentabilitas) adalah positif dan kuat, sehingga apabila aktiva produktif yang dimiliki bank besar maka pendapatan yang akan diterima juga besar. 2.3.4. Analisa SWOT Analisa ini artinya, analisa yang merupakan analisa yang ditujukan untuk mengetahui kondisi perusahaan atau intensitas lain dalam hal kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan tantangan dalam menghadapi persaingan didalam pemasaran. 2.3.4.1. Kekuatan Bank BRI menjadi kuat karena: Sumber daya manusia yang relatif muda dan memiliki pendidikan formal yang baik sehingga memungkinkan untuk dikembangkan lebih baik lagi dalam menghadapi persaingan dimasa yang akan datang, Bank ini masih mendapatkan dukungan dari Capital Market yang kuat sehingga masih dapat terus berkembang, dan dengan adanya kantor cabang dimana-mana menjadi langkah yang memberikan kemudahan dalam bertransaksi bagi nasabah yang ingin menggunakan jasa pelayanan dari perbankkan BRI. 2.3.4.2. Kelemahan Hal yang membuat bank ini dirasakan lemah antara lain karena: kegiatan promosi yang kurang gencar, sulit mencari dan menda patkan tenaga pemasaran yang terampil, untuk kurangnya minat masyarakat menaruh uang di bank pemerintah akibat berbagai isu-isu yang terjadi. 2.3.4.3. Kesempatan Pemerintah yang memiliki sepenuhnya bank BRI ini, maka pemerintah mengharapkan bank ini terus dapat beoperasi sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah dan dapat terus berkembang dalam menggerakkan roda perekonomian nasional, dan adanya kebangkrutan dari

21

beberapa bank swasta akibat dari krisis moneter yang baru-baru ini terjadi tentunya membuka peluang pangsa pasar bagi bank ini dalam menjalankan dan mengembangkan produk yang sudah ditinggal oleh bank yang sudah terliquidasi oleh pemerintah khususnya Bank Indonesia yang menangani semua permasalahn yang terjadi pada bank yang ada di Indonesia. 2.3.4.4. Ancaman Akhir-akhir ini sangat banyak bermunculan bank-bank baru dengan berbagai hasil merger dalam meningkatkan permodalan yang cukup besar dan pengusaan tekhnologi perbankkan yang canggih serta kemudahan transaksi merupakan ancaman harus diperhitunggkan. Selain itu, dengan adanya promosi besar-besaran dan pembrian hadiah serta fasilitas lain yang sangat bervariasi diberikan oleh bank BRI juga dapat memberikan ancaman yang sangat besar dan dapat membahayakan keselamatan perkembangan Bank BRI kedepannya. 2.3.5. Analisa Rasio Keuangan Bank Analisa ratio yang digunakan dalam pengukuran keberhasilan suatu prestasi bank meliputi: 2.3.5.1. Analisa Liquiditas Yaitu analisa yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek..(Ratio meliputi; current Ratio) (Quick meliputi; Acid test Ratio). 2.3.5.2. Analisa Leverage Yaitu analisa yang berfungsi untuk mengukur komposisi perbandingan antara dana sendiri yang dicerminkan komponen modal dengan dana luar yang mencerminkan dalam berbagai jenis hutang. (Ratio meliputi; Debt Ratio, Debt to net Worth ratio). 2.3.5.3. Analisa Aktivitas Yaitu analisa yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh tingkat efisiensi bank dalam memanfaatkan sumber yang dimilikinya ini meliputi perbandingan antara tingkat penghasilan bank dengan berbagai item dalam penggunaan dana dalam aktiva. (Ratio yang digunakan; Fixed Asset turn over, Total Asset Turn Over). 2.3.5.4. Analisa Keuntungan Yaitu analisa yang mencermikan tingkat kreativitas yang dicapai oleh usaha operasional bank. Dalam hal ini dasar pemikiran dipakai sebagai salah satu hal yang menilai keberhasilan

22

efektivitas bank berjalan. (Indikator ratio meliputi;Profit Margin, ROA (return On Asset), dan ROE (return On Equity)) Ratio Analisa Keuangan pada BANK BRI 2005 Analisis Rasio Likuiditas BRI Capital Assets Ratio (CAR) Return On Asset (ROA) BOPO 77,83% 15,36% 4,57% 68,22% 2006 72,53% 18,90% 3,81% 66,19% 2007 68,80% 16,09% 3,82% 62,03% 2008 79,93% 13,55% 3,58% 63,42%

Dengan analisa Ratio bank yang ditetapkan oleh BI maka seluruh kinerja bank ini dapat diketahui tingkat keberhasilan suatu bank dalam mengelola manajemen apakah berhasil atau tidak akan dapat dilihat dari pengukuran ratio yang mana dalam hal ini ditentukan penetapan strategis oleh bank tersebut.

23

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian Objek dari penelitian ini adalah berupa data yang menyangkut mengenai produk-produk perbankkan seperti giro, tabungan serta analisa strategi pemasaran yang dilakukan bank dan analisa ratio keuangan yang digunakan sebagai salah satu alat dalam mengukur kesehatan perbankkan. 3.2 Data/ Variabel Berdasarkan data yang diperoleh, penulis memperoleh data berupa dokumen dan procedure system perbankkan yang terkait didalamnya. 3.3 Metode pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan Studi Pustaka yang mana data diambil dari literature perkuliahan, catatan-catatan yang penulis dapatkan selama perkuliahan, serta buku-buku yang berkaitan dengan objek penulisan ini. 3.4 Alat Analisis Yang digunakan Penulis menggunakan alat analisa kualitatif yaitu dengan menggunakan Analisa SWOT yang berlaku dengan teori-teori yang ada. Sedangkan untuk menganalisa data yang telah didapat, penulis menggunakan analisis yang bersifat deskriptif yakni dengan menggunakan Rasio Keuangan seperti analisa Liquiditas, Leverage, Aktivitas dan porfitabilitas serta strategi pemasaran produk dan pengembangan produk. 3.4.1 Analisa SWOT Analisa ini artinya, analisa yang merupakan analisa yang ditujukan untuk mengetahui kondisi perusahaan atau intensitas lain dalam hal kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan tantangan dalam menghadapi persaingan didalam pemasaran. 3.4.2 Analisa Liquiditas Yaitu analisa yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek..(Ratio meliputi; current Ratio) (Quick meliputi; Acid test Ratio).

24

3.4.3 Analisa Leverage Yaitu analisa yang berfungsi untuk mengukur komposisi perbandingan antara dana sendiri yang dicerminkan komponen modal dengan dana luar yang mencerminkan dalam berbagai jenis hutang. (Ratio meliputi; Debt Ratio, Debt to net Worth ratio). 3.4.5 Analisa Aktivitas Yaitu analisa yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh tingkat efisiensi bank dalam memanfaatkan sumber yang dimilikinya ini meliputi perbandingan antara tingkat penghasilan bank dengan berbagai item dalam penggunaan dana dalam aktiva. (Ratio yang digunakan; Fixed Asset turn over, Total Asset Turn Over). 3.4.6 Analisa Provitabilitas Yaitu analisa yang mencermikan tingkat kreativitas yang dicapai oleh usaha operasional bank. Dalam hal ini dasar pemikiran dipakai sebagai salah satu hal yang menilai keberhasilan efektivitas bank berjalan. (Indikator ratio meliputi;Profit Margin, ROA (return On Asset), dan ROE (return On Equity))

25

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan 4.1.1 Definisi Penghimpunan Dana

Pengertian penghimpunan dana adalah suatu kegiatan usaha yang dilakukan bank untuk mencari dana kepada pihak deposan yang nantinya akan disalurkan kepada pihak kreditur dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai intermediasi antara pihak deposn dengan pihak kreditur. 4.1.1.1 Sumber-Sumber Penghimpunan Dana Penghimpunan dana lembaga terdiri dari tiga sumber: • Yang bersumber dari masyarakat berupa Simpanan dan Deposito. • Yang bersumber dari kerjasama dengan pihak-pihak lain sesama lembaga keuangan atau perusahaan yang menyediakan pinjaman. • Yang bersumber dari modal sendiri. 4.1.2 Definisi Penggunaan Dana Analisis sumber dana atau analisis dana merupakan hal yang sangat penting bagi manajer keuangan. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui bagaimana dana digunakan dan asal perolehan dana tersebut. Suatu laporan yang menggambarkan asal sumber dana dan penggunaan dana. Alat analisa yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan adalah analisa rasio dan proporsional.
4.1.2.1 Pertimbangan Penggunaan Dan

1) 2)

Risiko dan Hasil Jangka Waktu dan Likuiditas

26

Perizinan dan legalitas Bentuk-bentuk perizinan dan legalitas yang harus dipenuhi debitor sangat bervariasi tergantung pada bidang kegiatan atau usaha nasabah, antara lain:

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Angka Pengenal Eksportir Terbatas Surat Izin Tempat Usaha Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi Sertifikat Tanah Tanda Daftar Perusahaan

Karakter Untuk menilai karakter suatu nasabah dan meramalkan perilakunya dimasa yang akan datang, bank hanya dapat menggunakan beberapa indicator, antara lain adalah: Profesi Penampilan Lingkungan social Pengalaman Tindakan atau perilaku di masa lalu

Pengalaman dan manajemen Pengalaman dan manajemen nasabah sangat memengaruhi kemampuan nasabah untuk mengelola kegiatannya sehingga dapat menghasilkan dana untuk membayar kewajibannya kepada bank.

27

Kemampuan teknis Factor-faktor yang dapat memengaruhi kemampuan teknis nasabah dalam menjalankan kegiatannya adalah: Tersedianya bahan baku Adanya tenaga ahli Ketersediaan mesin dan peralatan Tempat usaha yang memenuhi syarat Ketersediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan Tingkat penguasaan teknologi

Pemasaran Apabila nasabah tidak berhasil menjual produknya, nasabah akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya kepada pihak bank.

Social Keberadaan kegiatan yang yang dibiayai oleh bank sedikit banyak pasti membawa dampak tertentu terhadap masyarakat. Pihak bank harus ekstra hati-hati apabila dampak yang ditimbulkan adalah sesuatu yang tidak disukai oleh masyarakat.

Keuangan Sehat dan tidak sehatnya keadaan usaha nasabah dapat dilihat salah satunya melalui keadaan keuangannya, dan keadaan keuangan nasabah dapat dilihat melalui laporan keuangannya.

Agunan Agunan tambahan Barang yang dibiayai oleh dana dari bank.

28

Agunan tambahan Barang yang tidak dibiayai bank oleh dana bank dan bukan bagian banrang yang digunakan untuk kegiatan operasional nasabah.
4.1.2.2 Alternatif Penggunaan Dana

a. Cadangan Likuiditas Cadangan likuiditas ini terdiri dari 2 kategori : 1) Cadangan primer Aktiva ini ditujukan untuk memenuhi ketentuan reserve requirement yang ditentukan oleh bank sentral dan juga untuk kegiatan sehari-hari. 2) Cadangan sekunder Ditujukan untuk memenuhi likuiditas jangka pendek yang sebelumnya dapat diperkirakanseperti penarikan simpanan dan pencairan kredit serta memperoleh penerimaan. b. Penyaluran Kredit Penyediaan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi kewajibannya setelah jangka waktu tertentu. c. Investasi Alokasi dana pada aktiva dengan rate of return yang cukup tinggi selain dapat berupa penyaluran kredit, dapat juga berupa investasi. d. Aktiva Tetap dan Inventaris Tergolong sebagai aktiva yang tidak produktiv dalam menghasilkan penerimaan dan oleh Bank Indonesia dipandang sebagai aktiva yang resikonya cukup tinggi.

29

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil : Industri perbankan memegang peranan penting dalam proses pembangunan ekonomi dalam mengerakan dana. Pada kenyataannya bank menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan pertumbuhan industri perbankan yang semakin banyak dan memiliki permodalan yang kuat. Untuk dapat menjalankan strategi pemasaran yang tepat diperlukan perpaduan strategi pemasaran yang baik antara dengan strategi produk, harga dan promosi serta pasar. Bank ini bank pemerintah harus menyadari bahwa untuk dapat bersaing dan berkembang sesuai dengan peningkatan dalam berkompetisi maka factor pemasaran perlu ditingkatkan. Kesulitan yang dihadapi bank adalah perubahan lingkungan dunia perbankan yang semakin cepat dan besarnya permasalahan yang dihadapi untuk itu diperlukan strategi pemasaran yang tepat. 5.2. Saran Saran yang diberikan: Semakin ketatnya persaingan didunia perbankan menuntut bank untuk terus dapat membenahi berbagai persoalan seperti masalah teknologi, sumber daya manusia dan strategi pemasaran. Sebaiknya dilakukan kerja sama dengan pihak lain atau intansi swasta lainnya dalam meningkatkan promosi melalui berbagai cara pengenalan produk dan fasilitas perbankan yang dimiliki bank Mandiri. Produk perbankan merupakan suatu produk intangible yang mana diperlukan suatu pelayanan yang baik pada setiap proses transaksi dan sesudahnya sehingga hal tersebut dapat menarik masyarakat dalam menyimpan dan menggunakan produk perbankan.

30

DAFTAR PUSTAKA

Darmadi, Bambang Analisa Faktor Internal dan Eksternal Pada Bank mandiri Yang berkaitan dengan Pengelolaan dana. Penerbit Gunadarma, UG Jurnal Vol.04 No. 04 Tahun 2010 Retnadi, Djoko Senior Economist, The Indonesia Economic Intelligence http://www.infoperbankan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1 2&Itemid=2 http://library.gunadarma.ac.id/psug/module.php?appid=tesis&sub=detail&npm=71 498009&jenis={jenis} http://library.gunadarma.ac.id/abstraction_20206567-ssm_fe.pdf http://brisyariah.co.id/ http://www.bri.co.id/Portals/0/Britama.jpg http://www.bri.co.id/Portals/0/Simpedes.jpg www.google.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->