P. 1
UU 17 tahun 2008 PELAYARAN

UU 17 tahun 2008 PELAYARAN

|Views: 54|Likes:
Published by lumbangaol_lawyer

More info:

Published by: lumbangaol_lawyer on Dec 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2011

pdf

text

original

UU 17 tahun 2008 PELAYARANScribd Upload a Document Search Documents Explore Documents Books - Fiction Books - Non-fiction Health

& Medicine Brochures/Catalogs Government Docs How-To Guides/Manuals Magazines/Newspapers Recipes/Menus School Work + all categories Featured Recent People Authors Students Researchers Publishers Government & Nonprofits Businesses Musicians Artists & Designers Teachers + all categories Most Followed Popular Sign Up Log In 206First Page Previous Page Next Page / 206Sections not available Zoom Out Zoom In Fullscreen Exit Fullscreen Select View Mode View Mode Slideshow Scroll Readcast Add a Comment Embed & Share Reading should be social! Post a message on your social networks to let others know what you're reading. Select the sites below and start sharing. Readcast this Document Login to Add a CommentShare & Embed Add to Collections Download this Document for FreeAuto-hide: on

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIANOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANGP E L A Y A R A NDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAPRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negarakepulauan berciri nusantara yang disatukan oleh wilayahperairan sangat luas dengan batas-batas, hak-hak, dankedaulatan yang ditetapkan dengan undang-undang;b. bahwa dalam upaya

mencapai tujuan nasionalberdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945, mewujudkan WawasanNusantara serta memantapkan ketahanan nasionaldiperlukan sistem transportasi nasional untuk mendukungpertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah, danmemperkukuh kedaulatan negara;c. bahwa pelayaran yang terdiri atas angkutan di perairan,kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran,dan perlindungan lingkungan maritim, merupakan bagiandari sistem transportasi nasional yang harusdikembangkan potensi dan peranannya untukmewujudkan sistem transportasi yang efektif dan efisien,serta membantu terciptanya pola distribusi nasional yangmantap dan dinamis;d. bahwa perkembangan lingkungan strategis nasional daninternasional menuntut penyelenggaraan pelayaran yangsesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi, peran serta swasta dan persaingan usaha,otonomi daerah, dan akuntabilitas penyelenggara negara,dengan tetap mengutamakan keselamatan dan keamananpelayaran demi kepentingan nasional;e. bahwa Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentangPelayaran sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhanpenyelenggaraan pelayaran saat ini sehingga perlu digantidengan undang-undang yang baru;f. bahwa . . . - 2 -f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksuddalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e,perlu membentuk Undang-Undang tentang Pelayaran;Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 25A, dan Pasal 33Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945;Dengan Persetujuan BersamaDEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIAdanPRESIDEN REPUBLIK INDONESIAM E M U T U S K A N:Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PELAYARAN.BAB IKETENTUAN UMUMPasal 1Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:1. Pelayaran adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atasangkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dankeamanan, serta perlindungan lingkungan maritim.2. Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesiabeserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya.3. Angkutan di Perairan adalah kegiatan mengangkutdan/atau memindahkan penumpang dan/atau barangdengan menggunakan kapal.4. Angkutan Laut Khusus adalah kegiatan angkutan untukmelayani kepentingan usaha sendiri dalam menunjangusaha pokoknya.5. Angkutan . . . - 3 -5. Angkutan Laut Pelayaran-Rakyat adalah usaha rakyat yang bersifat tradisional dan mempunyai karakteristiktersendiri untuk melaksanakan angkutan di perairandengan menggunakan kapal layar, kapal layar bermotor,dan/atau kapal motor sederhana berbendera Indonesiadengan ukuran tertentu.6. Trayek adalah rute atau lintasan pelayanan angkutandari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.7. Agen Umum adalah perusahaan angkutan laut nasionalatau perusahaan nasional yang khusus didirikan untukmelakukan usaha keagenan kapal, yang ditunjuk olehperusahaan angkutan laut asing untuk menguruskepentingan kapalnya selama berada di Indonesia.8. Pelayaran-Perintis adalah pelayanan angkutan di perairanpada trayek-trayek yang ditetapkan oleh Pemerintahuntuk melayani daerah atau wilayah yang belum atautidak terlayani oleh angkutan perairan karena belummemberikan manfaat komersial.9. Usaha Jasa Terkait adalah kegiatan usaha yang bersifatmemperlancar proses kegiatan di bidang pelayaran.10. Angkutan Multimoda adalah angkutan barang denganmenggunakan paling sedikit 2 (dua) moda angkutan yangberbeda atas dasar 1 (satu) kontrak yang menggunakandokumen angkutan multimoda dari satu tempatditerimanya barang oleh operator angkutan multimoda kesuatu tempat yang ditentukan untuk penyerahan barangtersebut.11. Usaha Pokok adalah jenis usaha yang disebutkan didalam surat izin usaha suatu perusahaan.12. Hipotek Kapal adalah hak agunan kebendaan atas kapal yang terdaftar untuk menjamin pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang

diutamakan kepadakreditor tertentu terhadap kreditor lain.13. Piutang-Pelayaran yang Didahulukan adalah tagihan yang wajib dilunasi lebih dahulu dari hasil eksekusi kapalmendahului tagihan pemegang hipotek kapal.14. Kepelabuhanan . . . - 4 -14. Kepelabuhanan adalah segala sesuatu yang berkaitandengan pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjangkelancaran, keamanan, dan ketertiban arus lalu lintaskapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dankeamanan berlayar, tempat perpindahan intra-dan/atauantarmoda serta mendorong perekonomian nasional dandaerah dengan tetap memperhatikan tata ruang wilayah.15. Tatanan Kepelabuhanan Nasional adalah suatu sistemkepelabuhanan yang memuat peran, fungsi, jenis,hierarki pelabuhan, Rencana Induk Pelabuhan Nasional,dan lokasi pelabuhan serta keterpaduan intra-danantarmoda serta keterpaduan dengan sektor lainnya. 16. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratandan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagaitempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naikturun penumpang, dan/atau bongkar muat barang,berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yangdilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamananpelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan sertasebagai tempat perpindahan intra-dan antarmodatransportasi.17. Pelabuhan Utama adalah pelabuhan yang fungsipokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeridan internasional, alih muat angkutan laut dalam negeridan internasional dalam jumlah besar, dan sebagaitempat asal tujuan penumpang dan/atau barang, sertaangkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayananantarprovinsi.18. Pelabuhan Pengumpul adalah pelabuhan yang fungsipokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri,alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlahmenengah, dan sebagai tempat asal tujuan penumpangdan/atau barang, serta angkutan penyeberangan dengan jangkauan pelayanan antarprovinsi.19. Pelabuhan Pengumpan adalah pelabuhan yang fungsipokoknya melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri,alih muat angkutan laut dalam negeri dalam jumlahterbatas, merupakan pengumpan bagi pelabuhan utamadan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asaltujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutanpenyeberangan dengan jangkauan pelayanan dalamprovinsi.20. Terminal . . . - 5 -20. Terminal adalah fasilitas pelabuhan yang terdiri ataskolam sandar dan tempat kapal bersandar atau tambat,tempat penumpukan, tempat menunggu dan naik turunpenumpang, dan/atau tempat bongkar muat barang.21. Terminal Khusus adalah terminal yang terletak di luarDaerah Lingkungan Kerja dan Daerah LingkunganKepentingan pelabuhan yang merupakan bagian daripelabuhan terdekat untuk melayani kepentingan sendirisesuai dengan usaha pokoknya.22. Terminal untuk Kepentingan Sendiri adalah terminal yang terletak di dalam Daerah Lingkungan Kerja danDaerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yangmerupakan bagian dari pelabuhan untuk melayanikepentingan sendiri sesuai dengan usaha pokoknya.23. Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) adalah wilayah perairandan daratan pada pelabuhan atau terminal khusus yangdigunakan secara langsung untuk kegiatan pelabuhan.24. Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) adalah perairandi sekeliling daerah lingkungan kerja perairan pelabuhan yang dipergunakan untuk menjamin keselamatanpelayaran.25. Rencana Induk Pelabuhan adalah pengaturan ruangpelabuhan berupa peruntukan rencana tata guna tanahdan perairan di Daerah Lingkungan Kerja dan DaerahLingkungan Kepentingan pelabuhan.26. Otoritas Pelabuhan ( Port Authority ) adalah lembagapemerintah di pelabuhan sebagai otoritas yangmelaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian, danpengawasan kegiatan kepelabuhanan yang diusahakansecara komersial.27. Unit Penyelenggara Pelabuhan adalah lembagapemerintah di pelabuhan sebagai otoritas yangmelaksanakan fungsi

pengaturan, pengendalian,pengawasan kegiatan kepelabuhanan, dan pemberianpelayanan jasa kepelabuhanan untuk pelabuhan yangbelum diusahakan secara komersial.28. Badan Usaha Pelabuhan adalah badan usaha yangkegiatan usahanya khusus di bidang pengusahaanterminal dan fasilitas pelabuhan lainnya. 29. Kolam . . . - 6 -29. Kolam Pelabuhan adalah perairan di depan dermaga yangdigunakan untuk kepentingan operasional sandar danolah gerak kapal.30. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.31. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaantata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalianpemanfaatan ruang.32. Keselamatan dan Keamanan Pelayaran adalah suatukeadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dankeamanan yang menyangkut angkutan di perairan,kepelabuhanan, dan lingkungan maritim.33. Kelaiklautan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhipersyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaranperairan dari kapal, pengawakan, garis muat, pemuatan,kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang,status hukum kapal, manajemen keselamatan danpencegahan pencemaran dari kapal, dan manajemenkeamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu.34. Keselamatan Kapal adalah keadaan kapal yangmemenuhi persyaratan material, konstruksi, bangunan,permesinan dan perlistrikan, stabilitas, tata susunanserta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolongdan radio, elektronik kapal, yang dibuktikan dengansertifikat setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian.35.Badan Klasifikasi adalah lembaga klasifikasi kapal yangmelakukan pengaturan kekuatan konstruksi danpermesinan kapal, jaminan mutumaterial marine ,pengawasan pembangunan, pemeliharaan, danperombakan kapal sesuai dengan peraturan klasifikasi. 36. Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenistertentu, yang digerakkan dengan tenaga angin, tenagamekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, termasukkendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunanterapung yang tidak berpindah-pindah.37. Kapal Perang adalah kapal Tentara Nasional Indonesia yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.38. Kapal . . . - 7 -38. Kapal Negara adalah kapal milik negara digunakan olehinstansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dankewenangan sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan untuk menegakkan hukum sertatugas-tugas Pemerintah lainnya.39. Kapal Asing adalah kapal yang berbendera selain benderaIndonesia dan tidak dicatat dalam daftar kapal Indonesia.40. Awak Kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakandi atas kapal oleh pemilik atau operator kapal untukmelakukan tugas di atas kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil.41. Nakhoda adalah salah seorang dari Awak Kapal yangmenjadi pemimpin tertinggi di kapal dan mempunyaiwewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan.42. Anak Buah Kapal adalah Awak Kapal selain Nakhoda.43. Kenavigasian adalah segala sesuatu yang berkaitandengan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran, Telekomunikasi-Pelayaran, hidrografi dan meteorologi,alur dan perlintasan, pengerukan dan reklamasi,pemanduan, penanganan kerangka kapal,salvage danpekerjaan bawah air untuk kepentingan keselamatanpelayaran kapal.44. Navigasi adalah proses mengarahkan gerak kapal darisatu titik ke titik yang lain dengan aman dan lancar sertauntuk menghindari bahaya dan/atau rintangan-pelayaran.45. Alur-Pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman,lebar, dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggapaman dan selamat untuk dilayari.46. Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran adalah peralatan atausistem yang berada di luar kapal yang didesain dandioperasikan untuk meningkatkan keselamatan danefisiensi bernavigasi kapal dan/atau lalu lintas kapal.47. Telekomunikasi-Pelayaran adalah telekomunikasi khususuntuk keperluan dinas pelayaran yang merupakan setiappemancaran, pengiriman atau penerimaan tiap

jenistanda, gambar, suara dan informasi dalam bentuk apapun melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistemelektromagnetik lainnya dalam dinas bergerak-pelayaran yang merupakan bagian dari keselamatan pelayaran.48. Pemanduan . . . - 8 -48.Pemanduan adalah kegiatan pandu dalam membantu,memberikan saran, dan informasi kepada Nakhodatentang keadaan perairan setempat yang penting agarnavigasi-pelayaran dapat dilaksanakan dengan selamat,tertib, dan lancar demi keselamatan kapal danlingkungan. 49. Perairan Wajib Pandu adalah wilayah perairan yangkarena kondisi perairannya mewajibkan dilakukanpemanduan kepada kapal yang melayarinya.50. Pandu adalah pelaut yang mempunyai keahlian di bidangnautika yang telah memenuhi persyaratan untukmelaksanakan pemanduan kapal.51. Pekerjaan Bawah Air adalah pekerjaan yangberhubungan dengan instalasi, konstruksi, atau kapal yang dilakukan di bawah air dan/atau pekerjaan dibawah air yang bersifat khusus, yaitu penggunaanperalatan bawah air yang dioperasikan dari permukaanair.52. Pengerukan adalah pekerjaan mengubah bentuk dasarperairan untuk mencapai kedalaman dan lebar yangdikehendaki atau untuk mengambil material dasarperairan yang dipergunakan untuk keperluan tertentu.53. Reklamasi adalah pekerjaan timbunan di perairan ataupesisir yang mengubah garis pantai dan/atau konturkedalaman perairan.54. Kerangka Kapal adalah setiap kapal yang tenggelam ataukandas atau terdampar dan telah ditinggalkan.55.Salvage adalah pekerjaan untuk memberikan pertolonganterhadap kapal dan/atau muatannya yang mengalamikecelakaan kapal atau dalam keadaan bahaya di perairantermasuk mengangkat kerangka kapal atau rintanganbawah air atau benda lainnya.56. Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteri dan memiliki kewenangantertinggi untuk menjalankan dan melakukan pengawasanterhadap dipenuhinya ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjamin keselamatan dan keamananpelayaran. 57. Perlindungan Lingkungan Maritim adalah setiap upayauntuk mencegah dan menanggulangi pencemaranlingkungan perairan yang bersumber dari kegiatan yangterkait dengan pelayaran.58. Mahkamah . . . - 9 -58. Mahkamah Pelayaran adalah panel ahli yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri yangbertugas untuk melakukan pemeriksaan lanjutankecelakaan kapal.59. Penjagaan Laut dan Pantai (Sea and Coast Guard ) adalahlembaga yang melaksanakan fungsi penjagaan danpenegakan peraturan perundang-undangan di laut danpantai yang dibentuk dan bertanggung jawab kepadaPresiden dan secara teknis operasional dilaksanakan olehMenteri.60. Badan Usaha adalah Badan Usaha Milik Negara, BadanUsaha Milik Daerah, atau badan hukum Indonesia yangkhusus didirikan untuk pelayaran.61. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi.62. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintahadalah Presiden Republik Indonesia yang memegangkekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesiasebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia Tahun 1945.63. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atauwalikota dan perangkat daerah sebagai unsurpenyelenggara pemerintahan daerah.64. Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pelayaran.BAB IIASAS DAN TUJUANPasal 2Pelayaran diselenggarakan berdasarkan:a. asas manfaat;b. asas usaha bersama dan kekeluargaan;c. asas persaingan sehat;d. asas adil dan merata tanpa diskriminasi;e. asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan;f. asas kepentingan umum;g. asas . . . - 10 -g. asas keterpaduan;h. asas tegaknya hukum;i. asas kemandirian; j. asas berwawasan lingkungan hidup;k. asas kedaulatan negara; danl. asas kebangsaan.Pasal 3Pelayaran diselenggarakan dengan tujuan:a. memperlancar arus perpindahan orang dan/atau barangmelalui perairan dengan mengutamakan dan melindungiangkutan di perairan dalam rangka memperlancar kegiatanperekonomian nasional;b. membina jiwa kebaharian;c. menjunjung kedaulatan negara;d.

menciptakan daya saing dengan mengembangkan industriangkutan perairan nasional;e. menunjang, menggerakkan, dan mendorong pencapaiantujuan pembangunan nasional;f. memperkukuh kesatuan dan persatuan bangsa dalamrangka perwujudan Wawasan Nusantara; dang. meningkatkan ketahanan nasional.BAB IIIRUANG LINGKUP BERLAKUNYA UNDANG-UNDANGPasal 4Undang-Undang ini berlaku untuk:a. semua kegiatan angkutan di perairan, kepelabuhanan,keselamatan dan keamanan pelayaran, serta perlindunganlingkungan maritim di perairan Indonesia;b. semua kapal asing yang berlayar di perairan Indonesia; danc. semua kapal berbendera Indonesia yang berada di luarperairan Indonesia.BAB IV . . . - 11 -BAB IVPEMBINAANPasal 5(1) Pelayaran dikuasai oleh negara dan pembinaannyadilakukan oleh Pemerintah.(2) Pembinaan pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat(1) meliputi:a. pengaturan;b. pengendalian; danc. pengawasan.(3) Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf ameliputi penetapan kebijakan umum dan teknis, antaralain, penentuan norma, standar, pedoman, kriteria,perencanaan, dan prosedur termasuk persyaratankeselamatan dan keamanan pelayaran serta perizinan.(4) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi pemberian arahan, bimbingan, pelatihan,perizinan, sertifikasi, serta bantuan teknis di bidangpembangunan dan pengoperasian.(5) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf cmeliputi kegiatan pengawasan pembangunan danpengoperasian agar sesuai dengan peraturan perundang-undangan termasuk melakukan tindakan korektif danpenegakan hukum.(6) Pembinaan pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat(2) dilakukan dengan memperhatikan seluruh aspekkehidupan masyarakat dan diarahkan untuk :a. memperlancar arus perpindahan orang dan/ataubarang secara massal melalui perairan denganselamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur,nyaman, dan berdaya guna, dengan biaya yangterjangkau oleh daya beli masyarakat;b. meningkatkan penyelenggaraan kegiatan angkutan diperairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan,serta perlindungan lingkungan maritim sebagai bagiandari keseluruhan moda transportasi secara terpadudengan memanfaatkan perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi;c. mengembangkan . . . - 12 -c. mengembangkan kemampuan armada angkutannasional yang tangguh di perairan serta didukungindustri perkapalan yang andal sehingga mampumemenuhi kebutuhan angkutan, baik di dalam negerimaupun dari dan ke luar negeri;d. mengembangkan usaha jasa angkutan di perairannasional yang andal dan berdaya saing serta didukungkemudahan memperoleh pendanaan, keringananperpajakan, dan industri perkapalan yang tangguhsehingga mampu mandiri dan bersaing;e. meningkatkan kemampuan dan peranankepelabuhanan serta keselamatan dan keamananpelayaran dengan menjamin tersedianya alur-pelayaran, kolam pelabuhan, dan Sarana BantuNavigasi-Pelayaran yang memadai dalam rangkamenunjang angkutan di perairan;f. mewujudkan sumber daya manusia yang berjiwabahari, profesional, dan mampu mengikutiperkembangan kebutuhan penyelenggaraan pelayaran;dang. memenuhi perlindungan lingkungan maritim denganupaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran yang bersumber dari kegiatan angkutan di perairan,kepelabuhanan, serta keselamatan dan keamanan.(7) Pemerintah daerah melakukan pembinaan pelayaransebagaimana dimaksud pada ayat (6) sesuai dengankewenangannya.BAB VANGKUTAN DI PERAIRANBagian Kesatu Jenis Angkutan di PerairanPasal 6 Jenis angkutan di perairan terdiri atas:a. angkutan laut;b. angkutan sungai dan danau; danc. angkutan penyeberangan.Bagian Kedua . . . - 13 -Bagian KeduaAngkutan LautParagraf 1 Jenis Angkutan LautPasal 7Angkutan laut terdiri atas:a. angkutan laut dalam negeri;b. angkutan laut luar negeri;c. angkutan laut khusus; dand. angkutan laut pelayaran-rakyat.Paragraf 2Angkutan Laut Dalam NegeriPasal 8(1) Kegiatan angkutan laut dalam negeri dilakukan olehperusahaan angkutan laut nasional denganmenggunakan kapal berbendera Indonesia serta diawakioleh Awak Kapal berkewarganegaraan Indonesia.(2) Kapal asing dilarang mengangkut penumpang dan/ataubarang antarpulau atau antarpelabuhan di wilayahperairan Indonesia.Pasal 9(1) Kegiatan angkutan laut dalam negeri disusun dandilaksanakan secara terpadu, baik intra-maupunantarmoda yang merupakan satu kesatuan sistemtransportasi nasional.(2) Kegiatan angkutan laut dalam negeri sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan trayek

tetapdan teratur (liner ) serta dapat dilengkapi dengan trayektidak tetap dan tidak teratur (tramper ).(3) Kegiatan angkutan laut dalam negeri yang melayanitrayek tetap dan teratur dilakukan dalam jaringan trayek.(4) Jaringan . . . - 14 -(4) Jaringan trayek tetap dan teratur angkutan laut dalamnegeri disusun dengan memperhatikan:a. pengembangan pusat industri, perdagangan, danpariwisata;b. pengembangan wilayah dan/atau daerah;c. rencana umum tata ruang;d. keterpaduan intra-dan antarmoda transportasi; dane. perwujudan Wawasan Nusantara.(5) Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratursebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan bersamaoleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan asosiasiperusahaan angkutan laut nasional denganmemperhatikan masukan asosiasi pengguna jasaangkutan laut.(6) Jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksudpada ayat (5) ditetapkan oleh Menteri.(7) Pengoperasian kapal pada jaringan trayek tetap danteratur sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukanoleh perusahaan angkutan laut nasional denganmempertimbangkan:a. kelaiklautan kapal;b. menggunakan kapal berbendera Indonesia dandiawaki oleh warga negara Indonesia;c. keseimbangan permintaan dan tersedianya ruangan;d. kondisi alur dan fasilitas pelabuhan yang disinggahi;dane. tipe dan ukuran kapal sesuai dengan kebutuhan.(8) Pengoperasian kapal pada trayek tidak tetap dan tidakteratur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukanoleh perusahaan angkutan laut nasional dan wajibdilaporkan kepada Pemerintah.Pasal 10Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan angkutan lautdalam negeri diatur dengan Peraturan Pemerintah.Paragraf 3 . . . - 15 -Paragraf 3Angkutan Laut Luar NegeriPasal 11(1) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri dilakukanoleh perusahaan angkutan laut nasional dan/atauperusahaan angkutan laut asing dengan menggunakankapal berbendera Indonesia dan/atau kapal asing.(2) Kegiatan angkutan laut sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dilaksanakan agar perusahaan angkutan laut nasionalmemperoleh pangsa muatan yang wajar sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan.(3) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negerisebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang termasukangkutan laut lintas batas dapat dilakukan dengantrayek tetap dan teratur serta trayek tidak tetap dan tidakteratur.(4) Perusahaan angkutan laut asing hanya dapat melakukankegiatan angkutan laut ke dan dari pelabuhan Indonesia yang terbuka bagi perdagangan luar negeri dan wajibmenunjuk perusahaan nasional sebagai agen umum.(5) Perusahaan angkutan laut asing yang melakukankegiatan angkutan laut ke atau dari pelabuhan Indonesia yang terbuka untuk perdagangan luar negeri secaraberkesinambungan dapat menunjuk perwakilannya diIndonesia.Pasal 12Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan angkutan laut luarnegeri, keagenan umum, dan perwakilan perusahaanangkutan laut asing diatur dengan Peraturan Pemerintah.Paragraf 4 . . . - 16 -Paragraf 4Angkutan Laut KhususPasal 13(1) Kegiatan angkutan laut khusus dilakukan oleh badanusaha untuk menunjang usaha pokok untuk kepentingansendiri dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal dandiawaki oleh Awak Kapal berkewarganegaraan Indonesia.(2) Kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dilakukan berdasarkan izin operasi dariPemerintah.(3) Kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksudpada ayat (1) diselenggarakan dengan menggunakankapal berbendera Indonesia yang laik laut dengan kondisidan persyaratan kapal sesuai dengan jenis kegiatanusaha pokoknya.(4) Kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dilarang mengangkut muatan atau barangmilik pihak lain dan/atau mengangkut muatan ataubarang umum kecuali dalam hal keadaan tertentuberdasarkan izin Pemerintah.(5) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4)berupa:a. tidak tersedianya kapal; danb. belum adanya perusahaan angkutan yang mampumelayani sebagian atau seluruh permintaan jasaangkutan yang ada.(6) Pelaksana kegiatan angkutan laut asing yang melakukankegiatan angkutan

laut khusus ke pelabuhan Indonesia yang terbuka bagi perdagangan luar negeri wajibmenunjuk perusahaan angkutan laut nasional ataupelaksana kegiatan angkutan laut khusus sebagai agenumum.(7) Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus hanya dapatmenjadi agen bagi kapal yang melakukan kegiatan yangsejenis dengan usaha pokoknya.Pasal 14 . . . - 17 -Pasal 14Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan angkutan lautkhusus diatur dengan Peraturan Pemerintah.Paragraf 5Angkutan Laut Pelayaran-RakyatPasal 15(1) Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat sebagai usahamasyarakat yang bersifat tradisional dan merupakanbagian dari usaha angkutan di perairan mempunyaiperanan yang penting dan karakteristik tersendiri.(2) Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat dilakukan olehorang perseorangan warga negara Indonesia atau badanusaha dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal sertadiawaki oleh Awak Kapal berkewarganegaraan Indonesia.Pasal 16(1) Pembinaan angkutan laut pelayaran-rakyat dilaksanakanagar kehidupan usaha dan peranan penting angkutanlaut pelayaran-rakyat tetap terpelihara sebagai bagiandari potensi angkutan laut nasional yang merupakan satukesatuan sistem transportasi nasional.(2) Pengembangan angkutan laut pelayaran-rakyatdilaksanakan untuk:a. meningkatkan pelayanan ke daerah pedalamandan/atau perairan yang memiliki alur dengankedalaman terbatas termasuk sungai dan danau;b. meningkatkan kemampuannya sebagai lapanganusaha angkutan laut nasional dan lapangan kerja; danc. meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dankewiraswastaan dalam bidang usaha angkutan lautnasional.(3) Armada angkutan laut pelayaran-rakyat dapatdioperasikan di dalam negeri dan lintas batas, baikdengan trayek tetap dan teratur maupun trayek tidaktetap dan tidak teratur.Pasal 17 . . . - 18 -Pasal 17Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan angkutan lautpelayaran-rakyat diatur dengan Peraturan Pemerintah.Bagian KetigaAngkutan Sungai dan DanauPasal 18(1) Kegiatan angkutan sungai dan danau di dalam negeridilakukan oleh orang perseorangan warga negaraIndonesia atau badan usaha dengan menggunakan kapalberbendera Indonesia yang memenuhi persyaratankelaiklautan kapal serta diawaki oleh Awak Kapalberkewarganegaraan Indonesia.(2) Kegiatan angkutan sungai dan danau antara NegaraRepublik Indonesia dan negara tetangga dilakukanberdasarkan perjanjian antara Pemerintah RepublikIndonesia dan pemerintah negara tetangga yangbersangkutan.(3) Angkutan sungai dan danau yang dilakukan antara duanegara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapatdilakukan oleh kapal berbendera Indonesia dan/ataukapal berbendera negara yang bersangkutan.(4) Kegiatan angkutan sungai dan danau disusun dandilakukan secara terpadu dengan memperhatikan intra-dan antarmoda yang merupakan satu kesatuan sistemtransportasi nasional.(5) Kegiatan angkutan sungai dan danau dapat dilaksanakandengan menggunakan trayek tetap dan teratur atautrayek tidak tetap dan tidak teratur.(6) Kegiatan angkutan sungai dan danau dilarang dilakukandi laut kecuali mendapat izin dari Syahbandar dengantetap memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal.Pasal 19(1) Untuk menunjang usaha pokok dapat dilakukan kegiatanangkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri.(2) Kegiatan . . . - 19 -(2) Kegiatan angkutan sungai dan danau sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh orangperseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dengan izin Pemerintah.Pasal 20Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan angkutan sungaidan danau diatur dengan Peraturan Pemerintah.Bagian KeempatAngkutan PenyeberanganPasal 21(1) Kegiatan angkutan penyeberangan di dalam negeridilakukan oleh badan usaha dengan menggunakan kapalberbendera Indonesia yang memenuhi persyaratankelaiklautan kapal serta diawaki oleh Awak Kapalberkewarganegaraan Indonesia.(2) Kegiatan angkutan penyeberangan antara NegaraRepublik Indonesia dan negara tetangga dilakukanberdasarkan perjanjian antara Pemerintah RepublikIndonesia dan pemerintah negara yang bersangkutan.(3) Angkutan penyeberangan yang dilakukan antara duanegara sebagaimana dimaksud pada

ayat (2) hanya dapatdilakukan oleh kapal berbendera Indonesia dan/ataukapal berbendera negara yang bersangkutan.Pasal 22(1) Angkutan penyeberangan merupakan angkutan yangberfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan jaringan jalan atau jaringan jalur kereta api yangdipisahkan oleh perairan untuk mengangkut penumpangdan kendaraan beserta muatannya.(2) Penetapan lintas angkutan penyeberangan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dilakukan denganmempertimbangkan:a. pengembangan jaringan jalan dan/atau jaringan jalurkereta api yang dipisahkan oleh perairan;b. fungsi . . . - 29 -b. keselamatan sesuai dengan peraturan dan standar, baiknasional maupun internasional bagi kapal khususpengangkut barang berbahaya; danc. pemberian tanda tertentu sesuai dengan barang berbahaya yang diangkut.Pasal 47Pemilik, operator, dan/atau agen perusahaan angkutan laut yang mengangkut barang berbahaya dan barang khususwajib menyampaikan pemberitahuan kepada Syahbandarsebelum kapal pengangkut barang khusus dan/atau barangberbahaya tiba di pelabuhan.Pasal 48Badan Usaha Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhanwajib menyediakan tempat penyimpanan atau penumpukanbarang berbahaya dan barang khusus untuk menjaminkeselamatan dan kelancaran arus lalu lintas barang dipelabuhan serta bertanggung jawab terhadap penyusunansistem dan prosedur penanganan barang berbahaya danbarang khusus di pelabuhan.Pasal 49Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkutanbarang khusus dan barang berbahaya diatur denganPeraturan Pemerintah.Bagian KesepuluhAngkutan MultimodaPasal 50(1) Angkutan perairan dapat merupakan bagian dariangkutan multimoda yang dilaksanakan oleh badanusaha angkutan multimoda.(2) Kegiatan angkutan perairan dalam angkutan multimodadilaksanakan berdasarkan perjanjian yang dilaksanakanantara penyedia jasa angkutan perairan dan badan usahaangkutan multimoda dan penyedia jasa moda lainnya.Pasal 51 . . . - 30 -Pasal 51(1) Angkutan multimoda dilakukan oleh badan usaha yangtelah mendapat izin khusus untuk melakukan angkutanmultimoda dari Pemerintah.(2) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)bertanggung jawab (liability ) terhadap barang sejakditerimanya barang sampai diserahkan kepada penerimabarang.Pasal 52Pelaksanaan angkutan multimoda dilakukan berdasarkan 1(satu) dokumen yang diterbitkan oleh penyedia jasa angkutanmultimoda.Pasal 53(1) Tanggung jawab penyedia jasa angkutan multimodasebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (2) meliputikehilangan atau kerusakan yang terjadi pada barangserta keterlambatan penyerahan barang.(2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat dikecualikan dalam hal penyedia jasa angkutanmultimoda dapat membuktikan bahwa dirinya atauagennya secara layak telah melaksanakan segalatindakan untuk mencegah terjadinya kehilangan,kerusakan barang, serta keterlambatan penyerahanbarang.(3) Tanggung jawab penyedia jasa angkutan multimodasebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat terbatas.Pasal 54Penyedia jasa angkutan multimoda wajib mengasuransikantanggung jawabnya.Pasal 55Ketentuan lebih lanjut mengenai angkutan multimoda diaturdengan Peraturan Pemerintah.Bagian Kesebelas . . . - 31 -Bagian KesebelasPemberdayaan Industri Angkutan Perairan NasionalPasal 56Pengembangan dan pengadaan armada angkutan perairannasional dilakukan dalam rangka memberdayakan angkutanperairan nasional dan memperkuat industri perkapalannasional yang dilakukan secara terpadu dengan dukungansemua sektor terkait.Pasal 57(1) Pemberdayaan industri angkutan perairan nasionalsebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 wajib dilakukanoleh Pemerintah dengan:a. memberikan fasilitas pembiayaan dan perpajakan;b. memfasilitasi kemitraan kontrak jangka panjangantara pemilik barang dan pemilik kapal; danc. memberikan jaminan ketersediaan bahan bakarminyak untuk angkutan di perairan.(2) Perkuatan industri

perkapalan nasional sebagaimanadimaksud dalam Pasal 56 wajib dilakukan olehPemerintah dengan:a. menetapkan kawasan industri perkapalan terpadu;b. mengembangkan pusat desain, penelitian, danpengembangan industri kapal nasional;c. mengembangkan standardisasi dan komponen kapaldengan menggunakan sebanyak-banyaknya muatanlokal dan melakukan alih teknologi;d. mengembangkan industri bahan baku dan komponenkapal;e. memberikan insentif kepada perusahaan angkutanperairan nasional yang membangun dan/ataumereparasi kapal di dalam negeri dan/atau yangmelakukan pengadaan kapal dari luar negeri;f. membangun kapal pada industri galangan kapalnasional apabila biaya pengadaannya dibebankankepada Anggaran Pendapatan Belanja Negara atauAnggaran Pendapatan Belanja Daerah;g. membangun . . . - 32 -g. membangun kapal yang pendanaannya berasal dariluar negeri dengan menggunakan sebanyak-banyaknya muatan lokal dan pelaksanaan alihteknologi; danh. memelihara dan mereparasi kapal pada industriperkapalan nasional yang biayanya dibebankankepada Anggaran Pendapatan Belanja Negara atauAnggaran Pendapatan Belanja Daerah.Pasal 58Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberdayaan industriangkutan perairan dan perkuatan industri perkapalannasional diatur dengan Peraturan Pemerintah.Bagian Kedua belasSanksi Administratif Pasal 59(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 8 ayat (2), Pasal 9 ayat (8), Pasal28 ayat (4) atau ayat (6), atau Pasal 33 dapat dikenakansanksi administratif berupa:a. peringatan;b. denda administratif;c. pembekuan izin atau pembekuan sertifikat; ataud. pencabutan izin atau pencabutan sertifikat.(2) Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 11 ayat (4)atau Pasal 13 ayat (6) dapat dikenakan sanksiadministratif berupa tidak diberikan pelayanan jasakepelabuhanan.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedurpengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan PeraturanPemerintah.BAB VI . . . - 33 -BAB VIHIPOTEK DAN PIUTANG-PELAYARANYANG DIDAHULUKANBagian KesatuHipotekPasal 60(1) Kapal yang telah didaftarkan dalam Daftar KapalIndonesia dapat dijadikan jaminan utang denganpembebanan hipotek atas kapal.(2) Pembebanan hipotek atas kapal dilakukan denganpembuatan akta hipotek oleh Pejabat Pendaftar danPencatat Balik Nama Kapal di tempat kapal didaftarkandan dicatat dalam Daftar Induk Pendaftaran Kapal.(3) Setiap akta hipotek diterbitkan 1 (satu)Grosse AktaHipotek yang diberikan kepada penerima hipotek.(4) Grosse Akta Hipotek sebagaimana dimaksud pada ayat (3)mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama denganputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatanhukum yang tetap.(5) Dalam halGrosse Akta Hipotek hilang dapat diterbitkangrosse akta pengganti berdasarkan penetapanpengadilan.Pasal 61(1) Kapal dapat dibebani lebih dari 1 (satu) hipotek.(2) Peringkat masing-masing hipotek ditentukan sesuaidengan tanggal dan nomor urut akta hipotek.Pasal 62Pengalihan hipotek dari penerima hipotek kepada penerimahipotek yang lain dilakukan dengan membuat akta pengalihanhipotek oleh Pejabat Pendaftar dan Pencatat Balik Nama Kapaldi tempat kapal didaftarkan dan dicatat dalam Daftar IndukPendaftaran Kapal.Pasal 63 . . . - 39 -Pasal 74(1) Rencana Induk Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalamPasal 73 ayat (1) meliputi rencana peruntukan wilayahdaratan dan rencana peruntukan wilayah perairan.(2) Rencana peruntukan wilayah daratan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) berdasar pada kriteriakebutuhan:a. fasilitas pokok; danb. fasilitas penunjang.(3) Rencana peruntukan wilayah perairan sebagaimanadimaksud pada ayat (2) berdasar pada kriteriakebutuhan:a. fasilitas pokok; danb. fasilitas penunjang.Pasal 75(1) Rencana Induk Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalamPasal 73 ayat (1) dilengkapi dengan Daerah LingkunganKerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan.(2) Batas Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah

LingkunganKepentingan pelabuhan sebagaimana dimaksud padaayat (1) ditetapkan dengan koordinat geografis untukmenjamin kegiatan kepelabuhanan.(3) Daerah Lingkungan Kerja pelabuhan, terdiri atas:a. wilayah daratan yang digunakan untuk kegiatanfasilitas pokok dan fasilitas penunjang; danb. wilayah perairan yang digunakan untuk kegiatan alur-pelayaran, tempat labuh, tempat alih muat antarkapal,kolam pelabuhan untuk kebutuhan sandar dan olahgerak kapal, kegiatan pemanduan, tempat perbaikankapal, dan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan.(4) Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan merupakanperairan pelabuhan di luar Daerah Lingkungan Kerjaperairan yang digunakan untuk alur-pelayaran dari danke pelabuhan, keperluan keadaan darurat,pengembangan pelabuhan jangka panjang, penempatankapal mati, percobaan berlayar, kegiatan pemanduan,fasilitas pembangunan, dan pemeliharaan kapal.(5) Daratan . . . - 40 -(5) Daratan dan/atau perairan yang ditetapkan sebagaiDaerah Lingkungan Kerja dan Daerah LingkunganKepentingan pelabuhan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dikuasai oleh negara dan diatur olehpenyelenggara pelabuhan.(6) Pada Daerah Lingkungan Kerja pelabuhan yang telahditetapkan, diberikan hak pengelolaan atas tanahdan/atau pemanfaatan perairan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan.Pasal 76(1) Rencana Induk Pelabuhan serta Daerah LingkunganKerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhanuntuk pelabuhan laut ditetapkan oleh:a. Menteri untuk pelabuhan utama dan pelabuhanpengumpul setelah mendapat rekomendasi darigubernur dan bupati/walikota akan kesesuaiandengan tata ruang wilayah provinsi dankabupaten/kota; danb. gubernur atau bupati/walikota untuk pelabuhanpengumpan.(2) Rencana Induk Pelabuhan serta Daerah LingkunganKerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan untuk pelabuhan sungai dan danau ditetapkan olehbupati/walikota. Pasal 77Suatu wilayah tertentu di daratan atau di perairan dapatditetapkan oleh Menteri menjadi lokasi yang berfungsi sebagaipelabuhan, sesuai dengan Rencana Tata Ruang WilayahProvinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota serta memenuhi persyaratan kelayakan teknis danlingkungan.Pasal 78Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman dan tata carapenetapan Rencana Induk Pelabuhan serta DaerahLingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentinganpelabuhan diatur dengan Peraturan Pemerintah.Bagian Kedua . . . - 41 -Bagian KeduaPenyelenggaraan Kegiatan di PelabuhanParagraf 1UmumPasal 79Kegiatan pemerintahan dan pengusahaan di pelabuhansebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 diselenggarakansecara terpadu dan terkoordinasi.Paragraf 2 Kegiatan Pemerintahan di PelabuhanPasal 80(1) Kegiatan pemerintahan di pelabuhan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 79 meliputi:a. pengaturan dan pembinaan, pengendalian, danpengawasan kegiatan kepelabuhanan;b. keselamatan dan keamanan pelayaran; dan/atau c. kepabeanan;d. keimigrasian;e. kekarantinaan.(2) Selain kegiatan pemerintahan di pelabuhan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) terdapat kegiatan pemerintahanlainnya yang keberadaannya bersifat tidak tetap.(3) Pengaturan dan pembinaan, pengendalian, danpengawasan kegiatan kepelabuhanan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan olehpenyelenggara pelabuhan.(4) Fungsi keselamatan dan keamanan pelayaransebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf bdilaksanakan oleh Syahbandar.(5) Fungsi kepabeanan, keimigrasian, dan kekarantinaansebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, huruf d,dan huruf e dilaksanakan sesuai dengan peraturanperundang-undangan.Paragraf 3 . . . - 42 -Paragraf 3Penyelenggara PelabuhanPasal 81(1) Penyelenggara pelabuhan sebagaimana dimaksud dalamPasal 80 ayat (3) yaitu terdiri atas:a. Otoritas Pelabuhan; ataub. Unit Penyelenggara Pelabuhan.(2) Otoritas Pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf a dibentuk pada pelabuhan yang diusahakansecara komersial.(3) Unit Penyelenggara Pelabuhan sebagaimana dimaksudayat (1) huruf b dibentuk pada pelabuhan yang belumdiusahakan secara komersial.(4) Unit Penyelenggara Pelabuhan sebagaimana dimaksudpada ayat (3)

dapat merupakan Unit PenyelenggaraPelabuhan Pemerintah dan Unit Penyelenggara Pelabuhanpemerintah daerah.Pasal 82(1) Otoritas Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal81 ayat (1) huruf a dibentuk oleh dan bertanggung jawabkepada Menteri.(2) Unit Penyelenggara Pelabuhan sebagaimana dimaksuddalam Pasal 81 ayat (1) huruf b dibentuk danbertanggung jawab kepada:a. Menteri untuk Unit Penyelenggara PelabuhanPemerintah; danb. gubernur atau bupati/walikota untuk UnitPenyelenggara Pelabuhan pemerintah daerah.(3) Otoritas Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhansebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1) dibentukuntuk 1 (satu) atau beberapa pelabuhan. (4) Otoritas Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhansebagaimana dimaksud pada ayat (3) berperan sebagaiwakil Pemerintah untuk memberikan konsesi atau bentuklainnya kepada Badan Usaha Pelabuhan untukmelakukan kegiatan pengusahaan di pelabuhan yangdituangkan dalam perjanjian.(5) Hasil . . . - 43 -(5) Hasil konsesi yang diperoleh Otoritas Pelabuhansebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakanpendapatan negara sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.(6) Otoritas Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal81 ayat (1) huruf a dalam pelaksanaannya harusberkoordinasi dengan pemerintah daerah.Pasal 83(1) Untuk melaksanakan fungsi pengaturan dan pembinaan,pengendalian, dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1) huruf aOtoritas Pelabuhan mempunyai tugas dan tanggung jawab: a. menyediakan lahan daratan dan perairan pelabuhan;b. menyediakan dan memelihara penahan gelombang,kolam pelabuhan, alur-pelayaran, dan jaringan jalan;c. menyediakan dan memelihara Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran;d. menjamin keamanan dan ketertiban di pelabuhan;e. menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan dipelabuhan;f. menyusun Rencana Induk Pelabuhan, serta DaerahLingkungan Kerja dan Daerah LingkunganKepentingan pelabuhan;g. mengusulkan tarif untuk ditetapkan Menteri, ataspenggunaan perairan dan/atau daratan, dan fasilitaspelabuhan yang disediakan oleh Pemerintah serta jasakepelabuhanan yang diselenggarakan oleh OtoritasPelabuhan sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan; danh. menjamin kelancaran arus barang.(2) Selain tugas dan tanggung jawab sebagaimana dimaksudpada ayat (1) Otoritas Pelabuhan melaksanakan kegiatanpenyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan yang diperlukan oleh pengguna jasa yang belumdisediakan oleh Badan Usaha Pelabuhan.Pasal 84 . . . - 44 -Pasal 84Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimanadimaksud dalam Pasal 83 Otoritas Pelabuhan mempunyaiwewenang:a. mengatur dan mengawasi penggunaan lahan daratan danperairan pelabuhan;b. mengawasi penggunaan Daerah Lingkungan Kerja danDaerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan;c. mengatur lalu lintas kapal ke luar masuk pelabuhanmelalui pemanduan kapal; dand. menetapkan standar kinerja operasional pelayanan jasakepelabuhanan.Pasal 85Otoritas Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhansebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1) diberi hakpengelolaan atas tanah dan pemanfaatan perairan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 86Aparat Otoritas Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhanmerupakan pegawai negeri sipil yang mempunyai kemampuandan kompetensi di bidang kepelabuhanan sesuai dengankriteria yang ditetapkan.Pasal 87Unit Penyelenggara Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalamPasal 81 ayat (1) huruf b mempunyai tugas dan tanggung jawab:a. menyediakan dan memelihara penahan gelombang, kolampelabuhan, dan alur-pelayaran;b. menyediakan dan memelihara Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran;c. menjamin keamanan dan ketertiban di pelabuhan;d. memelihara kelestarian lingkungan di pelabuhan;e. menyusun . . . - 45 -e. menyusun Rencana Induk Pelabuhan, serta DaerahLingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentinganpelabuhan;f. menjamin kelancaran arus barang; dang. menyediakan fasilitas pelabuhan.Pasal 88(1) Dalam mendukung kawasan perdagangan bebas dapatdiselenggarakan pelabuhan tersendiri.(2) Penyelenggaraan pelabuhan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan

peraturanperundang-undangan di bidang kawasan perdaganganbebas.(3) Pelaksanaan fungsi keselamatan dan keamananpelayaran pada pelabuhan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.Pasal 89Ketentuan lebih lanjut mengenai Otoritas Pelabuhan dan UnitPenyelenggara Pelabuhan diatur dengan PeraturanPemerintah.Paragraf 4Kegiatan Pengusahaan di PelabuhanPasal 90(1) Kegiatan pengusahaan di pelabuhan terdiri ataspenyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan dan jasa terkait dengan kepelabuhanan.(2) Penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanansebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penyediaandan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang.(3) Penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang,dan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiriatas:a. penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untukbertambat;b. penyediaan . . . - 46 -b. penyediaan dan/atau pelayanan pengisian bahanbakar dan pelayanan air bersih;c. penyediaan dan/atau pelayanan fasilitas naik turunpenumpang dan/atau kendaraan;d. penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untukpelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dan petikemas;e. penyediaan dan/atau pelayanan jasa gudang dantempat penimbunan barang, alat bongkar muat, sertaperalatan pelabuhan;f. penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal petikemas, curah cair, curah kering, dan Ro-Ro; g. penyediaan dan/atau pelayanan jasa bongkar muatbarang; h. penyediaan dan/atau pelayanan pusat distribusi dankonsolidasi barang; dan/ataui. penyediaan dan/atau pelayanan jasa penundaankapal.(4) Kegiatan jasa terkait dengan kepelabuhanan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan yangmenunjang kelancaran operasional dan memberikan nilaitambah bagi pelabuhan.Pasal 91(1) Kegiatan penyediaan dan/atau pelayanan jasakepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90ayat (1) pada pelabuhan yang diusahakan secarakomersial dilaksanakan oleh Badan Usaha Pelabuhansesuai dengan jenis izin usaha yang dimilikinya.(2) Kegiatan pengusahaan yang dilakukan oleh Badan UsahaPelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapatdilakukan untuk lebih dari satu terminal.(3) Kegiatan penyediaan dan/atau pelayanan jasakepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90ayat (1) pada pelabuhan yang belum diusahakan secarakomersial dilaksanakan oleh Unit PenyelenggaraPelabuhan.(4) Dalam . . . - 47 -(4) Dalam keadaan tertentu, terminal dan fasilitas pelabuhanlainnya pada pelabuhan yang diusahakan UnitPenyelenggara Pelabuhan dapat dilaksanakan oleh BadanUsaha Pelabuhan berdasarkan perjanjian.(5) Kegiatan jasa terkait dengan kepelabuhanan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) dapat dilakukan olehorang perseorangan warga negara Indonesia dan/ataubadan usaha.Pasal 92Kegiatan penyediaan dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Pelabuhan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) dilakukan berdasarkankonsesi atau bentuk lainnya dari Otoritas Pelabuhan, yangdituangkan dalam perjanjian.Paragraf 5Badan Usaha PelabuhanPasal 93Badan Usaha Pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal92 berperan sebagai operator yang mengoperasikan terminaldan fasilitas pelabuhan lainnya.Pasal 94Dalam melaksanakan kegiatan penyediaan dan/ataupelayanan jasa kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalamPasal 90 ayat (1) Badan Usaha Pelabuhan berkewajiban:a. menyediakan dan memelihara kelayakan fasilitaspelabuhan;b. memberikan pelayanan kepada pengguna jasa pelabuhansesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan olehPemerintah;c. menjaga keamanan, keselamatan, dan ketertiban padafasilitas pelabuhan yang dioperasikan;d. ikut menjaga keselamatan, keamanan, dan ketertiban yangmenyangkut angkutan di perairan;e. memelihara kelestarian lingkungan;f. memenuhi . . . - 55 -e. membina masyarakat di sekitar pelabuhan danmemfasilitasi masyarakat di wilayahnya untuk dapatberperan serta secara positif terselenggaranya kegiatanpelabuhan;f. menyediakan pusat informasi muatan di tingkatwilayah;g.

memberikan izin mendirikan bangunan di sisi daratan;danh. memberikan rekomendasi dalam penetapan lokasipelabuhan dan terminal khusus.(2) Dalam hal pemerintah daerah tidak dapat melaksanakanatau menyalahgunakan peran, tugas, dan wewenang,Pemerintah mengambil alih peran, tugas, dan wewenangsesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.BAB VIIIKESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARANBagian KesatuUmumPasal 116(1) Keselamatan dan keamanan pelayaran meliputikeselamatan dan keamanan angkutan di perairan,pelabuhan, serta perlindungan lingkungan maritim.(2) Penyelenggaraan keselamatan dan keamanan pelayaransebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan olehPemerintah.Bagian KeduaKeselamatan dan Keamanan Angkutan PerairanPasal 117(1) Keselamatan dan keamanan angkutan perairan yaitukondisi terpenuhinya persyaratan:a. kelaiklautan kapal; danb. kenavigasian.(2) Kelaiklautan . . . - 56 -(2) Kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf a wajib dipenuhi setiap kapal sesuai dengandaerah-pelayarannya yang meliputi:a. keselamatan kapal;b. pencegahan pencemaran dari kapal;c. pengawakan kapal;d. garis muat kapal dan pemuatan;e. kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang;f. status hukum kapal;g. manajemen keselamatan dan pencegahan pencemarandari kapal; danh. manajemen keamanan kapal.(3) Pemenuhan setiap persyaratan kelaiklautan kapalsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengansertifikat dan surat kapal.Pasal 118Kenavigasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1)huruf b terdiri atas:a. Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran;b. Telekomunikasi-Pelayaran;c. hidrografi dan meteorologi;d. alur dan perlintasan;e. pengerukan dan reklamasi;f. pemanduan;g. penanganan kerangka kapal; danh. salvage dan pekerjaan bawah air.Pasal 119(1) Untuk menjamin keselamatan dan keamanan angkutanperairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1)Pemerintah melakukan perencanaan, pengadaan,pengoperasian, pemeliharaan, dan pengawasan SaranaBantu Navigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaransesuai dengan ketentuan internasional, serta menetapkanalur-pelayaran dan perairan pandu.(2) Untuk menjamin keamanan dan keselamatan SaranaBantu Navigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaran,Pemerintah menetapkan zona keamanan dankeselamatan di sekitar instalasi bangunan tersebut.Bagian Ketiga . . . - 57 -Bagian KetigaKeselamatan dan Keamanan PelabuhanPasal 120Pembangunan dan pengoperasian pelabuhan dilakukandengan tetap memperhatikan keselamatan dan keamanankapal yang beroperasi di pelabuhan, bongkar muat barang,dan naik turun penumpang serta keselamatan dan keamananpelabuhan.Pasal 121Keselamatan dan keamanan pelabuhan yaitu kondisiterpenuhinya manajemen keselamatan dan sistempengamanan fasilitas pelabuhan meliputi:a. prosedur pengamanan fasilitas pelabuhan;b. sarana dan prasarana pengamanan pelabuhan;c. sistem komunikasi; dand. personel pengaman.Pasal 122Setiap pengoperasian kapal dan pelabuhan wajib memenuhipersyaratan keselamatan dan keamanan serta perlindunganlingkungan maritim.Bagian KeempatPerlindungan Lingkungan MaritimPasal 123Perlindungan lingkungan maritim yaitu kondisi terpenuhinyaprosedur dan persyaratan pencegahan dan penanggulanganpencemaran dari kegiatan:a. kepelabuhanan;b. pengoperasian kapal;c. pengangkutan limbah, bahan berbahaya, dan beracun diperairan;d. pembuangan limbah di perairan; dane. penutuhan kapal.BAB IX . . . - 58 -BAB IXKELAIKLAUTAN KAPAL Bagian KesatuKeselamatan KapalPasal 124(1) Setiap pengadaan, pembangunan, dan pengerjaan kapaltermasuk perlengkapannya serta pengoperasian kapal diperairan Indonesia harus memenuhi persyaratankeselamatan kapal.(2) Persyaratan keselamatan kapal sebagaimana dimaksudpada ayat (1) meliputi:a. material;b. konstruksi;c. bangunan;d. permesinan dan perlistrikan;e. stabilitas;f. tata susunan serta perlengkapan termasukperlengkapan alat penolong dan radio; dang. elektronika kapal.Pasal 125(1) Sebelum pembangunan dan pengerjaan kapal termasukperlengkapannya, pemilik atau galangan kapal wajibmembuat perhitungan dan gambar rancang bangun sertadata

kelengkapannya.(2) Pembangunan atau pengerjaan kapal yang merupakanperombakan harus sesuai dengan gambar rancangbangun dan data yang telah mendapat pengesahan dariMenteri.(3) Pengawasan terhadap pembangunan dan pengerjaanperombakan kapal dilakukan oleh Menteri.Pasal 126(1) Kapal yang dinyatakan memenuhi persyaratankeselamatan kapal diberi sertifikat keselamatan olehMenteri.(2) Sertifikat . . . - 59 -(2) Sertifikat keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) terdiri atas:a. sertifikat keselamatan kapal penumpang;b. sertifikat keselamatan kapal barang; danc. sertifikat kelaikan dan pengawakan kapal penangkapikan.(3) Keselamatan kapal ditentukan melalui pemeriksaan danpengujian.(4) Terhadap kapal yang telah memperoleh sertifikatsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan penilikansecara terus-menerus sampai kapal tidak digunakan lagi.(5) Pemeriksaan dan pengujian serta penilikan sebagaimanadimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) wajib dilakukan olehpejabat pemerintah yang diberi wewenang dan memilikikompetensi.Pasal 127(1) Sertifikat kapal tidak berlaku apabila:a. masa berlaku sudah berakhir;b. tidak melaksanakan pengukuhan sertifikat(endorsement );c. kapal rusak dan dinyatakan tidak memenuhipersyaratan keselamatan kapal;d. kapal berubah nama;e. kapal berganti bendera;f. kapal tidak sesuai lagi dengan data teknis dalamsertifikat keselamatan kapal;g. kapal mengalami perombakan yang mengakibatkanperubahan konstruksi kapal, perubahan ukuranutama kapal, perubahan fungsi atau jenis kapal;h. kapal tenggelam atau hilang; ataui. kapal ditutuh (scrapping ).(2) Sertifikat kapal dibatalkan apabila:a. keterangan dalam dokumen kapal yang digunakanuntuk penerbitan sertifikat ternyata tidak sesuaidengan keadaan sebenarnya;b. kapal sudah tidak memenuhi persyaratan keselamatankapal; atauc. sertifikat diperoleh secara tidak sah.(3) Ketentuan . . . - 60 -(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembatalansertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diaturdengan Peraturan Menteri.Pasal 128(1) Nakhoda dan/atau Anak Buah Kapal harusmemberitahukan kepada Pejabat Pemeriksa KeselamatanKapal apabila mengetahui bahwa kondisi kapal ataubagian dari kapalnya, dinilai tidak memenuhi persyaratankeselamatan kapal.(2) Pemilik, operator kapal, dan Nakhoda wajib membantupelaksanaan pemeriksaan dan pengujian.Pasal 129(1) Kapal berdasarkan jenis dan ukuran tertentu wajibdiklasifikasikan pada badan klasifikasi untuk keperluanpersyaratan keselamatan kapal.(2) Badan klasifikasi nasional atau badan klasifikasi asing yang diakui dapat ditunjuk melaksanakan pemeriksaandan pengujian terhadap kapal untuk memenuhipersyaratan keselamatan kapal.(3) Pengakuan dan penunjukan badan klasifikasisebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan olehMenteri.(4) Badan klasifikasi yang ditunjuk sebagaimana dimaksudpada ayat (2) wajib melaporkan kegiatannya kepadaMenteri.Pasal 130(1) Setiap kapal yang memperoleh sertifikat sebagaimanadimaksud dalam Pasal 126 ayat (1) wajib dipeliharasehingga tetap memenuhi persyaratan keselamatankapal.(2) Pemeliharaan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan secara berkala dan sewaktu-waktu.(3) Dalam keadaan tertentu Menteri dapat memberikanpembebasan sebagian persyaratan yang ditetapkandengan tetap memperhatikan keselamatan kapal.Pasal 131 . . . - 77 -(3) Perbaikan dan penggantian sebagaimana dimaksud padaayat (2) dilakukan dalam batas waktu 60 (enam puluh) harikalender sejak kerusakan terjadi.Pasal 182(1) Kapal yang berlayar di perairan Indonesia dikenai biayapemanfaatan Telekomunikasi-Pelayaran yang merupakanPenerimaan Negara Bukan Pajak.(2) Biaya pemanfaatan Telekomunikasi-Pelayaran dikenakanbagi seluruh kapal.Pasal 183(1) Pemerintah wajib memberikan pelayanan komunikasimarabahaya, komunikasi segera, dan keselamatan sertasiaran tanda waktu standar.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan komunikasimarabahaya, komunikasi segera, dan keselamatan sertasiaran tanda waktu standar sebagaimana dimaksud padaayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 184Ketentuan lebih lanjut tentang penyelenggaraan

Telekomunikasi-Pelayaran diatur dengan PeraturanPemerintah.Bagian KetigaHidrografi dan MeteorologiPasal 185Pemerintah melaksanakan survei dan pemetaan hidrografiuntuk pemutakhiran data pada buku petunjuk-pelayaran,peta laut, dan peta alur-pelayaran sungai dan danau.Pasal 186(1)Pemerintah wajib memberikan pelayanan meteorologimeliputi antara lain:a. pemberian informasi mengenai keadaan cuaca danlaut serta prakiraannya;b. kalibrasi . . . - 78 -b. kalibrasi dan sertifikasi perlengkapan pengamatancuaca di kapal; danc. bimbingan teknis pengamatan cuaca di laut kepadaAwak Kapal tertentu untuk menunjang masukan datameteorologi.(2)Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan meteorologisebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur denganperaturan pemerintah.Bagian KeempatAlur dan PerlintasanPasal 187(1) Alur dan perlintasan terdiri atas:a. alur-pelayaran di laut; danb. alur-pelayaran sungai dan danau.(2) Alur-pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk-pelayaran serta diumumkan oleh instansi yangberwenang.(3) Pada alur-pelayaran sungai dan danau ditetapkan kriteriaklasifikasi alur.(4) Penetapan kriteria klasifikasi alur-pelayaran sungai dandanau dilakukan dengan memperhatikan saran danpertimbangan teknis dari Menteri yang terkait.Pasal 188(1) Penyelenggaraan alur-pelayaran dilaksanakan olehPemerintah.(2) Badan usaha dapat diikutsertakan dalam sebagianpenyelenggaraan alur-pelayaran.(3) Untuk penyelenggaraan alur-pelayaran sebagaimanadimaksud pada ayat (1) Pemerintah wajib:a. menetapkan alur-pelayaran;b. menetapkan sistem rute;c. menetapkan tata cara berlalu lintas; dand. menetapkan daerah labuh kapal sesuai dengankepentingannya.Pasal 189 . . . - 79 -Pasal 189(1)Untuk membangun dan memelihara alur-pelayaran dankepentingan lainnya dilakukan pekerjaan pengerukandengan memenuhi persyaratan teknis.(2)Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)meliputi:a. keselamatan berlayar;b. kelestarian lingkungan;c. tata ruang perairan; dand. tata pengairan untuk pekerjaan di sungai dan danau.Pasal 190(1) Untuk kepentingan keselamatan dan kelancaran berlayarpada perairan tertentu, Pemerintah menetapkan sistemrute yang meliputi:a. skema pemisah lalu lintas di laut;b. rute dua arah;c. garis haluan yang dianjurkan;d. rute air dalam;e. daerah yang harus dihindari;f. daerah lalu lintas pedalaman; dang. daerah kewaspadaan.(2) Penetapan sistem rute sebagaimana dimaksud pada ayat(1) didasarkan pada:a. kondisi alur-pelayaran; danb. pertimbangan kepadatan lalu lintas.(3) Sistem rute sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harusdicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk-pelayaran dan diumumkan oleh instansi yangberwenang.Pasal 191 Tata cara berlalu lintas di perairan dilakukan berdasarkanketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 192Setiap alur-pelayaran wajib dilengkapi dengan Sarana BantuNavigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaran.Pasal 193 . . . - 80 -Pasal 193(1) Selama berlayar Nakhoda wajib mematuhi ketentuan yang berkaitan dengan:a. tata cara berlalu lintas;b. alur-pelayaran;c. sistem rute;d. daerah-pelayaran lalu lintas kapal; dane. Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran.(2) Nakhoda yang berlayar di perairan Indonesia padawilayah tertentu wajib melaporkan semua informasimelalui Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat.Pasal 194(1) Pemerintah menetapkan Alur Laut Kepulauan Indonesiadan tata cara penggunaannya untuk perlintasan yangsifatnya terus menerus, langsung, dan secepatnya bagikapal asing yang melalui perairan Indonesia.(2) Penetapan Alur Laut Kepulauan Indonesia sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dilakukan denganmemperhatikan:a. ketahanan nasional;b. keselamatan berlayar;c. eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam;d. jaringan kabel dan pipa dasar laut;e. konservasi sumber daya alam dan lingkungan;f. rute yang biasanya digunakan untuk

pelayaraninternasional;g. tata ruang laut; danh. rekomendasi organisasi internasional yang berwenang.(3) Semua kapal asing yang menggunakan Alur LautKepulauan Indonesia dalam pelayarannya tidak bolehmenyimpang kecuali dalam keadaan darurat.(4) Pemerintah mengawasi lalu lintas kapal asing yangmelintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia.(5) Pemerintah menetapkan lokasi Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaran untukmelakukan pemantauan terhadap lalu lintas kapal asing yang melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia.Pasal 195 . . . - 81 -Pasal 195Untuk kepentingan keselamatan berlayar di perairanIndonesia:a. Pemerintah harus menetapkan dan mengumumkan zonakeamanan dan zona keselamatan pada setiap lokasikegiatan yang dapat mengganggu keselamatan berlayar;b. setiap membangun, memindahkan, dan/atau membongkarbangunan atau instalasi harus memenuhi persyaratankeselamatan dan mendapatkan izin dari Pemerintah;c. setiap bangunan atau instalasi dimaksud dalam huruf b, yang sudah tidak digunakan wajib dibongkar oleh pemilikbangunan atau instalasi;d. pembongkaran sebagaimana dimaksud dalam huruf cdilaksanakan dengan ketentuan yang berlaku dandilaporkan kepada Pemerintah untuk diumumkan; dane. pemilik atau operator yang akan mendirikan bangunanatau instalasi sebagaimana dimaksud dalam huruf c wajibmemberikan jaminan.Pasal 196Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratanpenetapan alur dan perlintasan diatur dengan PeraturanPemerintah.Bagian KelimaPengerukan dan ReklamasiPasal 197(1) Untuk kepentingan keselamatan dan keamananpelayaran, desain dan pekerjaan pengerukan alur-pelayaran dan kolam pelabuhan, serta reklamasi wajibmendapat izin Pemerintah.(2) Pekerjaan pengerukan alur-pelayaran dan kolampelabuhan serta reklamasi dilakukan oleh perusahaan yang mempunyai kemampuan dan kompetensi dandibuktikan dengan sertifikat yang diterbitkan olehinstansi yang berwenang sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan.(3) Ketentuan . . . - 82 -(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai desain dan pekerjaanpengerukan alur-pelayaran, kolam pelabuhan, danreklamasi serta sertifikasi pelaksana pekerjaan diaturdengan Peraturan Menteri.Bagian KeenamPemanduanPasal 198(1) Untuk kepentingan keselamatan dan keamanan berlayar,serta kelancaran berlalu lintas di perairan danpelabuhan, Pemerintah menetapkan perairan tertentusebagai perairan wajib pandu dan perairan pandu luarbiasa.(2) Setiap kapal yang berlayar di perairan wajib pandu danperairan pandu luar biasa menggunakan jasapemanduan.(3) Penyelenggaraan pemanduan dilakukan oleh OtoritasPelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan dan dapatdilimpahkan kepada Badan Usaha Pelabuhan yangmemenuhi persyaratan.(4) Penyelenggaraan pemanduan sebagaimana dimaksudpada ayat (3) dipungut biaya.(5) Dalam hal Pemerintah belum menyediakan jasa pandu diperairan wajib pandu dan perairan pandu luar biasa,pengelolaan dan pengoperasian pemanduan dapatdilimpahkan kepada pengelola terminal khusus yangmemenuhi persyaratan dan memperoleh izin dariPemerintah.(6) Biaya pemanduan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)dibebaskan bagi:a. kapal perang; danb. kapal negara yang digunakan untuk tugaspemerintahan.Pasal 199(1) Petugas Pandu wajib memenuhi persyaratan kesehatan,keterampilan, serta pendidikan dan pelatihan yangdibuktikan dengan sertifikat.(2) Petugas . . . - 83 -(2) Petugas Pandu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)wajib melaksanakan tugasnya berdasarkan pada standarkeselamatan dan keamanan pelayaran.(3) Pemanduan terhadap kapal tidak mengurangi wewenangdan tanggung jawab Nakhoda.Pasal 200Pengelola terminal khusus atau Badan Usaha Pelabuhan yangmengelola dan mengoperasikan pemanduan, wajib membayarpersentase dari pendapatan yang berasal dari jasa pemanduankepada Pemerintah sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak.Pasal 201Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan perairan pandu,persyaratan dan kualifikasi petugas pandu, sertapenyelenggaraan pemanduan diatur dengan PeraturanMenteri.Bagian KetujuhKerangka KapalPasal 202(1) Pemilik kapal dan/atau Nakhoda wajib melaporkankerangka kapalnya yang berada di perairan Indonesiakepada instansi yang berwenang.(2) Kerangka kapal sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) yang posisinya mengganggu keselamatan berlayar, harusdiberi Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran sebagai tandadan diumumkan oleh instansi yang berwenang.Pasal 203(1) Pemilik kapal wajib menyingkirkan kerangka kapaldan/atau muatannya yang mengganggu keselamatan dankeamanan pelayaran paling lama 180 (seratus delapanpuluh) hari kalender sejak kapal tenggelam.(2) Pemerintah . . . - 84 -(2) Pemerintah wajib mengangkat, menyingkirkan, ataumenghancurkan seluruh atau sebagian dari kerangkakapal dan/atau muatannya atas biaya pemilik apabiladalam batas waktu yang ditetapkan Pemerintah, pemiliktidak melaksanakan tanggung jawab dan kewajibannyasebagaimana dimaksud pada ayat (1).(3) Pemilik kapal yang lalai melaksanakan kewajiban dalambatas waktu yang ditetapkan Pemerintah sebagaimanadimaksud pada ayat (1) sehingga mengakibatkanterjadinya kecelakaan pelayaran, wajib membayar gantikerugian kepada pihak yang mengalami kecelakaan.(4) Pemerintah wajib mengangkat dan menguasai kerangkakapal dan/atau muatannya yang tidak diketahuipemiliknya dalam batas waktu yang telah ditentukan.(5) Untuk menjamin kewajiban sebagaimana dimaksud padaayat (1) dan ayat (2) pemillik kapal wajibmengasuransikan kapalnya.(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara danpersyaratan pengangkatan kerangka kapal dan/ataumuatannya diatur dengan Peraturan Menteri.Bagian KedelapanSalvage dan Pekerjaan Bawah AirPasal 204(1) Kegiatansalvage dilakukan terhadap kerangka kapaldan/atau muatannya yang mengalami kecelakaan atautenggelam.(2) Setiap kegiatansalvage dan pekerjaan bawah air harusmemperoleh izin dan memenuhi persyaratan tekniskeselamatan dan keamanan pelayaran dari Menteri.Pasal 205Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratansalvage dan pekerjaan bawah air diatur dengan PeraturanMenteri.Bagian Kesembilan . . . - 85 -Bagian KesembilanSanksi Administratif Pasal 206(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 172 ayat (6), Pasal 178 ayat (5),Pasal 193 ayat (2), Pasal 198 ayat (2), atau Pasal 200dikenakan sanksi administratif, berupa:a. peringatan;b. pembekuan izin atau pembekuan sertifikat; atauc. pencabutan izin atau pencabutan sertifikat.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedurpengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksudpada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.BAB XISYAHBANDARBagian KesatuFungsi, Tugas, dan Kewenangan SyahbandarPasal 207(1) Syahbandar melaksanakan fungsi keselamatan dankeamanan pelayaran yang mencakup, pelaksanaan,pengawasan dan penegakan hukum di bidang angkutandi perairan, kepelabuhanan, dan perlindunganlingkungan maritim di pelabuhan.(2) Selain melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud padaayat (1) Syahbandar membantu pelaksanaan pencariandan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) di pelabuhansesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(3) Syahbandar . . . - 86 -(3) Syahbandar diangkat oleh Menteri setelah memenuhipersyaratan kompetensi di bidang keselamatan dankeamanan pelayaran serta kesyahbandaran.Pasal 208(1) Dalam melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanansebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (1)Syahbandar mempunyai tugas:a. mengawasi kelaiklautan kapal, keselamatan,keamanan dan ketertiban di pelabuhan;b. mengawasi tertib lalu lintas kapal di perairanpelabuhan dan alur-pelayaran;c. mengawasi kegiatan alih muat di perairan pelabuhan;d. mengawasi kegiatansalvage dan pekerjaan bawah air;e. mengawasi kegiatan penundaan kapal;f. mengawasi pemanduan;g. mengawasi bongkar muat barang berbahaya sertalimbah bahan berbahaya dan beracun;h. mengawasi pengisian bahan bakar;i. mengawasi ketertiban embarkasi dan debarkasipenumpang; j. mengawasi pengerukan dan reklamasi;k. mengawasi kegiatan pembangunan fasilitaspelabuhan;l.

melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan;m. memimpin penanggulangan pencemaran danpemadaman kebakaran di pelabuhan; dann. mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkunganmaritim.(2) Dalam melaksanakan penegakan hukum di bidangkeselamatan dan keamanan sebagaimana dimaksuddalam Pasal 207 ayat (1) Syahbandar melaksanakantugas sebagai Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 209 . . . - 88 -Pasal 212(1) Dalam melaksanakan keamanan dan ketertiban dipelabuhan sesuai dengan ketentuan konvensiinternasional, Syahbandar bertindak selaku komitekeamanan pelabuhan(Port Security Commitee).(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud padaayat (1) Syahbandar dapat meminta bantuan kepadaKepolisian Republik Indonesia dan/atau Tentara NasionalIndonesia.(3) Bantuan keamanan dan ketertiban di pelabuhansebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah koordinasidalam kewenangan Syahbandar.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaankeamanan dan ketertiban serta permintaan bantuan dipelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) danayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.Bagian KetigaPemeriksaan dan Penyimpanan Surat,Dokumen,dan Warta KapalPasal 213(1) Pemilik, Operator Kapal, atau Nakhoda wajibmemberitahukan kedatangan kapalnya di pelabuhankepada Syahbandar.(2) Setiap kapal yang memasuki pelabuhan wajibmenyerahkan surat, dokumen, dan warta kapal kepadaSyahbandar seketika pada saat kapal tiba di pelabuhan untuk dilakukan pemeriksaan.(3) Setelah dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksudpada ayat (2) surat, dokumen, dan warta kapal disimpanoleh Syahbandar untuk diserahkan kembali bersamaandengan diterbitkannya Surat Persetujuan Berlayar.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberitahuankedatangan kapal, pemeriksaan, penyerahan, serta penyimpanan surat, dokumen, dan warta kapalsebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat(3) diatur dengan Peraturan Menteri.Pasal 214 . . . - 89 -Pasal 214Nakhoda wajib mengisi, menandatangani, dan menyampaikanwarta kapal kepada Syahbandar berdasarkan format yangtelah ditentukan oleh Menteri.Pasal 215Setiap kapal yang memasuki pelabuhan, selama berada dipelabuhan, dan pada saat meninggalkan pelabuhan wajibmematuhi peraturan dan melaksanakan petunjuk sertaperintah Syahbandar untuk kelancaran lalu lintas kapal sertakegiatan di pelabuhan.Bagian KeempatPersetujuan Kegiatan Kapal di PelabuhanPasal 216(1) Kapal yang melakukan kegiatan perbaikan, percobaanberlayar, kegiatan alih muat di kolam pelabuhan,menunda, dan bongkar muat barang berbahaya wajibmendapat persetujuan dari Syahbandar.(2) Kegiatansalvage , pekerjaan bawah air, pengisian bahanbakar, pengerukan, reklamasi, dan pembangunanpelabuhan wajib dilaporkan kepada Syahbandar.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperolehpersetujuan dan pelaporan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.Bagian KelimaPemeriksaan KapalPasal 217Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaan kelaiklautandan keamanan kapal di pelabuhan.Pasal 218(1) Dalam keadaan tertentu, Syahbandar berwenangmelakukan pemeriksaan kelaiklautan kapal dankeamanan kapal berbendera Indonesia di pelabuhan.(2) Syahbandar . . . - 90 -(2) Syahbandar berwenang melakukan pemeriksaankelaiklautan dan keamanan kapal asing di pelabuhansesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaankapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)diatur dengan Peraturan Menteri.Bagian KeenamSurat Persetujuan BerlayarPasal 219(1) Setiap kapal yang berlayar wajib memiliki SuratPersetujuan Berlayar yang dikeluarkan oleh Syahbandar.(2) Surat Persetujuan Berlayar tidak berlaku apabila kapaldalam waktu 24 (dua puluh empat) jam, setelahpersetujuan berlayar diberikan, kapal tidak bertolak daripelabuhan.(3) Surat Persetujuan Berlayar sebagaimana dimaksud padaayat (1) tidak diberikan pada kapal atau dicabut apabilaketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Pasal117 ayat (2), Pasal 125 ayat (2), Pasal 130 ayat (1), Pasal134 ayat (1), Pasal 135, Pasal 149 ayat (2), Pasal 169 ayat(1), Pasal 213 ayat (2), atau Pasal

215 dilanggar.(4) Syahbandar dapat menunda keberangkatan kapal untukberlayar karena tidak memenuhi persyaratankelaiklautan kapal atau pertimbangan cuaca.(5) Ketentuan mengenai tata cara penerbitan SuratPersetujuan Berlayar sebagaimana dimaksud pada ayat(1) diatur dengan Peraturan Menteri.Bagian KetujuhPemeriksaan Pendahuluan Kecelakaan KapalPasal 220(1) Syahbandar melakukan pemeriksaan terhadap setiapkecelakaan kapal untuk mencari keterangan dan/ataubukti awal atas terjadinya kecelakaan kapal.(2) Pemeriksaan . . . - 91 -(2) Pemeriksaan kecelakaan kapal sebagaimana dimaksudpada ayat (1) merupakan pemeriksaan pendahuluan.Pasal 221(1) Pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal berbenderaIndonesia di wilayah perairan Indonesia dilakukan olehSyahbandar atau pejabat pemerintah yang ditunjuk.(2) Pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal berbenderaIndonesia di luar perairan Indonesia dilaksanakan olehSyahbandar atau pejabat pemerintah yang ditunjuksetelah menerima laporan kecelakaan kapal dariPerwakilan Pemerintah Republik Indonesia dan/atau daripejabat pemerintah negara setempat yang berwenang.(3) Hasil pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapalsebagaimana dimaksud dalam Pasal 220 dapatditeruskan kepada Mahkamah Pelayaran untukdilakukan pemeriksaan lanjutan.Bagian KedelapanPenahanan KapalPasal 222(1) Syahbandar hanya dapat menahan kapal di pelabuhanatas perintah tertulis pengadilan.(2) Penahanan kapal berdasarkan perintah tertulispengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapatdilakukan berdasarkan alasan:a. kapal yang bersangkutan terkait dengan perkarapidana; ataub. kapal yang bersangkutan terkait dengan perkaraperdata.Pasal 223(1) Perintah penahanan kapal oleh pengadilan dalam perkaraperdata berupa klaim-pelayaran dilakukan tanpa melaluiproses gugatan.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penahanankapal di pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur dengan Peraturan Menteri.Bagian Kesembilan . . . - 92 -Bagian KesembilanSijil Awak KapalPasal 224(1) Setiap orang yang bekerja di kapal dalam jabatan apapun harus memiliki kompetensi, dokumen pelaut, dandisijil oleh Syahbandar.(2) Sijil Awak Kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan dengan tahapan:a. penandatanganan perjanjian kerja laut yang dilakukanoleh pelaut dan perusahaan angkutan laut diketahuioleh Syahbandar; danb. berdasarkan penandatanganan perjanjian kerja laut,Nakhoda memasukkan nama dan jabatan Awak Kapalsesuai dengan kompetensinya ke dalam buku sijil yangdisahkan oleh Syahbandar.Bagian KesepuluhSanksi Administratif Pasal 225(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 213 ayat (1) atau ayat (2), Pasal214, atau Pasal 215 dikenakan sanksi administratif,berupa:a. peringatan;b. pembekuan izin atau pembekuan sertifikat; atauc. pencabutan izin.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedurpengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksudpada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.BAB XII . . . - 93 -BAB XIIPERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIMBagian KesatuPenyelenggara Perlindungan Lingkungan MaritimPasal 226(1) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritimdilakukan oleh Pemerintah.(2) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritimsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:a. pencegahan dan penanggulangan pencemaran daripengoperasian kapal; danb. pencegahan dan penanggulangan pencemaran darikegiatan kepelabuhanan.(3) Selain pencegahan dan penanggulangan sebagaimanadimaksud pada ayat (2) perlindungan lingkungan maritim juga dilakukan terhadap:a. pembuangan limbah di perairan; danb. penutuhan kapal.Bagian KeduaPencegahan dan Penanggulangan Pencemarandari Pengoperasian KapalPasal 227Setiap Awak Kapal wajib mencegah dan menanggulangiterjadinya pencemaran lingkungan yang bersumber darikapal.Pasal 228(1) Kapal dengan jenis dan ukuran tertentu yangdioperasikan wajib dilengkapi peralatan dan bahanpenanggulangan pencemaran minyak dari kapal yangmendapat pengesahan dari Pemerintah.(2) Kapal . . . - 96 -Pasal 235(1) Setiap pelabuhan wajib memenuhi persyaratan

peralatanpenanggulangan pencemaran sesuai dengan besaran dan jenis kegiatan.(2) Setiap pelabuhan wajib memenuhi persyaratan bahanpenanggulangan pencemaran sesuai dengan besaran dan jenis kegiatan.(3) Otoritas Pelabuhan wajib memiliki standar dan prosedurtanggap darurat penanggulan pencemaran.Pasal 236Otoritas Pelabuhan, Unit Penyelenggara Pelabuhan, BadanUsaha Pelabuhan, dan pengelola terminal khusus wajibmenanggulangi pencemaran yang diakibatkan olehpengoperasian pelabuhan.Pasal 237(1) Untuk menampung limbah yang berasal dari kapal dipelabuhan, Otoritas Pelabuhan, Unit PenyelenggaraPelabuhan, Badan Usaha Pelabuhan, dan Pengelola Terminal Khusus wajib dan bertanggung jawabmenyediakan fasilitas penampungan limbah.(2) Manajemen pengelolaan limbah dilaksanakan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(3) Pengangkutan limbah ke tempat pengumpulan,pengolahan, dan pemusnahan akhir dilaksanakanberdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup.Pasal 238Ketentuan lebih lanjut mengenai pencegahan danpenanggulangan pencemaran di pelabuhan diatur denganPeraturan Pemerintah.Bagian Keempat . . . - 97 -Bagian KeempatPembuangan Limbah di PerairanPasal 239(1) Pembuangan limbah di perairan hanya dapat dilakukanpada lokasi tertentu yang ditetapkan oleh Menteri danmemenuhi persyaratan tertentu.(2) Pembuangan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat(1) wajib dilaporkan kepada institusi yang tugas danfungsinya di bidang penjagaan laut dan pantai. Pasal 240Ketentuan lebih lanjut mengenai pembuangan limbah diperairan diatur dengan Peraturan Pemerintah.Bagian KelimaPenutuhan KapalPasal 241(1) Penutuhan kapal wajib memenuhi persyaratanperlindungan lingkungan maritim.(2) Lokasi penutuhan kapal sebagaimana dimaksud padaayat (1) ditentukan oleh Menteri.Pasal 242Persyaratan perlindungan lingkungan maritim untuk kegiatanpenutuhan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241diatur dengan Peraturan Menteri.Bagian KeenamSanksi Administratif Pasal 243(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 230 ayat (2), Pasal 233 ayat (3),Pasal 234, Pasal 235, atau Pasal 239 ayat (2) dikenakansanksi administratif berupa:a. peringatan;b. denda administratif;c. pembekuan . . . - 98 -c. pembekuan izin; ataud. pencabutan izin.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedurpengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksudpada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.BAB XIIIKECELAKAAN KAPAL SERTA PENCARIAN DAN PERTOLONGANBagian KesatuBahaya Terhadap KapalPasal 244(1) Bahaya terhadap kapal dan/atau orang merupakankejadian yang dapat menyebabkan terancamnyakeselamatan kapal dan/atau jiwa manusia.(2) Setiap orang yang mengetahui kejadian sebagaimanadimaksud pada ayat (1) wajib segera melakukan upayapencegahan, pencarian dan pertolongan serta melaporkankejadian kepada pejabat berwenang terdekat atau pihaklain.(3) Nakhoda wajib melakukan tindakan pencegahan danpenyebarluasan berita kepada pihak lain apabilamengetahui di kapalnya, kapal lain, atau adanya orangdalam keadaan bahaya.(4) Nakhoda wajib melaporkan bahaya sebagaimanadimaksud pada ayat (3) kepada:a. Syahbandar pelabuhan terdekat apabila bahaya terjadidi wilayah perairan Indonesia; ataub. Pejabat Perwakilan Republik Indonesia terdekat danpejabat pemerintah negara setempat yang berwenangapabila bahaya terjadi di luar wilayah perairanIndonesia.Bagian Kedua . . . - 99 -Bagian KeduaKecelakaan KapalPasal 245Kecelakaan kapal merupakan kejadian yang dialami olehkapal yang dapat mengancam keselamatan kapal dan/atau jiwa manusia berupa:a. kapal tenggelam;b. kapal terbakar;c. kapal tubrukan; dand. kapal kandas.Pasal 246Dalam hal terjadi kecelakaan kapal sebagaimana dimaksuddalam Pasal 245 setiap orang yang berada di atas kapal yangmengetahui terjadi kecelakaan dalam batas kemampuannyaharus memberikan pertolongan dan melaporkan kecelakaantersebut kepada Nakhoda dan/atau Anak Buah Kapal.Pasal 247Nakhoda yang mengetahui kecelakaan kapalnya atau kapallain wajib mengambil tindakan penanggulangan, memintadan/atau memberikan pertolongan, dan

menyebarluaskanberita mengenai kecelakaan tersebut kepada pihak lain.Pasal 248Nakhoda yang mengetahui kecelakaan kapalnya atau kapallain wajib melaporkan kepada :a. Syahbandar pelabuhan terdekat apabila kecelakaan kapalterjadi di dalam wilayah perairan Indonesia; ataub. Pejabat Perwakilan Republik Indonesia terdekat danpejabat pemerintah negara setempat yang berwenangapabila kecelakaan kapal terjadi di luar wilayah perairanIndonesia.Pasal 249Kecelakaan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245merupakan tanggung jawab Nakhoda kecuali dapatdibuktikan lain.Bagian Ketiga . . . - 100 -Bagian KetigaMahkamah PelayaranPasal 250(1) Mahkamah Pelayaran dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Menteri.(2) Mahkamah Pelayaran memiliki susunan organisasi dantata kerja yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri.Pasal 251Mahkamah Pelayaran sebagaimana dimaksud dalamPasal 250 memiliki fungsi untuk melaksanakan pemeriksaanlanjutan atas kecelakaan kapal dan menegakkan kode etikprofesi dan kompetensi Nakhoda dan/atau perwira kapalsetelah dilakukan pemeriksaan pendahuluan olehSyahbandar.Pasal 252Mahkamah Pelayaran berwenang memeriksa tubrukan yangterjadi antara kapal niaga dengan kapal niaga, kapal niagadengan kapal negara, dan kapal niaga dengan kapal perang.Pasal 253(1) Dalam melaksanakan pemeriksaan lanjutan kecelakaankapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 251Mahkamah Pelayaran bertugas:a. meneliti sebab kecelakaan kapal dan menentukan adaatau tidak adanya kesalahan atau kelalaian dalampenerapan standar profesi kepelautan yang dilakukanoleh Nakhoda dan/atau perwira kapal atas terjadinyakecelakaan kapal; danb. merekomendasikan kepada Menteri mengenaipengenaan sanksi administratif atas kesalahan ataukelalaian yang dilakukan oleh Nakhoda dan/atauperwira kapal.(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf b berupa:a. peringatan; ataub. pencabutan sementara Sertifikat Keahlian Pelaut.Pasal 254 . . . - 101 -Pasal 254(1) Dalam pemeriksaan lanjutan Mahkamah Pelayaran dapatmenghadirkan pejabat pemerintah di bidang keselamatandan keamanan pelayaran dan pihak terkait lainnya.(2) Dalam pemeriksaan lanjutan, pemilik, atau operatorkapal wajib menghadirkan Nakhoda dan/atau Anak BuahKapal.(3) Pemilik, atau operator kapal yang melanggar ketentuansebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikenakan sanksiberupa:a. peringatan;b. pembekuan izin; atauc. pencabutan izin.Pasal 255Ketentuan lebih lanjut mengenai fungsi, kewenangan, dantugas Mahkamah Pelayaran serta tata cara dan prosedurpengenaan sanksi administratif diatur dengan PeraturanPemerintah.Bagian KeempatInvestigasi Kecelakaan KapalPasal 256(1) Investigasi kecelakaan kapal dilakukan oleh KomiteNasional Keselamatan Transportasi untuk mencari faktaguna mencegah terjadinya kecelakaan kapal denganpenyebab yang sama.(2) Investigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan terhadap setiap kecelakaan kapal.(3) Investigasi yang dilakukan oleh Komite NasionalKeselamatan Transportasi sebagaimana dimaksud padaayat (1) tidak untuk menentukan kesalahan ataukelalaian atas terjadinya kecelakaan kapal.Pasal 257 . . . - 109 -(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud padaayat (1) berupa:a. memantau dan menjaga ketertiban penyelenggaraankegiatan pelayaran;b. memberi masukan kepada Pemerintah dalampenyempurnaan peraturan, pedoman, dan standarteknis di bidang pelayaran;c. memberi masukan kepada Pemerintah, pemerintahdaerah dalam rangka pembinaan, penyelenggaraan,dan pengawasan pelayaran;d. menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepadapejabat yang berwenang terhadap kegiatanpenyelenggaraan kegiatan pelayaran yangmengakibatkan dampak penting terhadap lingkungan;dan/ataue. melaksanakan gugatan perwakilan terhadap kegiatanpelayaran yang mengganggu, merugikan, dan/ataumembahayakan kepentingan umum.(3) Pemerintah mempertimbangkan dan menindaklanjutiterhadap masukan, pendapat, dan pertimbangan yangdisampaikan oleh masyarakat sebagaimana dimaksudpada ayat (2) huruf b, huruf c, dan huruf d.(4) Dalam melaksanakan peran serta sebagaimana dimaksudpada ayat (2) masyarakat ikut bertanggung jawabmenjaga

ketertiban serta keselamatan dan keamananpelayaran.Pasal 275(1) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalamPasal 274 ayat (2) dapat dilakukan secara perseorangan,kelompok, organisasi profesi, badan usaha, atauorganisasi kemasyarakatan lain sesuai dengan prinsipketerbukaan dan kemitraan.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai peran serta masyarakatsebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur denganPeraturan Menteri.BAB XVII . . . - 110 -BAB XVIIPENJAGAAN LAUT DAN PANTAI(SEA AND COAST GUARD) Pasal 276(1) Untuk menjamin terselenggaranya keselamatan dankeamanan di laut dilaksanakan fungsi penjagaan danpenegakan peraturan perundang-undangan di laut danpantai.(2) Pelaksanaan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dilakukan oleh penjaga laut dan pantai. (3) Penjaga laut dan pantai sebagaimana dimaksud padaayat (2) dibentuk dan bertanggung jawab kepada Presidendan secara teknis operasional dilaksanakan oleh Menteri.Pasal 277(1) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksuddalam Pasal 276 ayat (1) penjaga laut dan pantaimelaksanakan tugas:a. melakukan pengawasan keselamatan dan keamananpelayaran;b. melakukan pengawasan, pencegahan, danpenanggulangan pencemaran di laut;c. pengawasan dan penertiban kegiatan serta lalu lintaskapal;d. pengawasan dan penertiban kegiatansalvage ,pekerjaan bawah air, serta eksplorasi dan eksploitasikekayaan laut;e. pengamanan Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran; danf. mendukung pelaksanaan kegiatan pencarian danpertolongan jiwa di laut.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksuddalam Pasal 276 ayat (1) penjaga laut dan pantaimelaksanakan koordinasi untuk:a. merumuskan dan menetapkan kebijakan umumpenegakan hukum di laut;b. menyusun . . . - 111 -b. menyusun kebijakan dan standar prosedur operasipenegakan hukum di laut secara terpadu;c. kegiatan penjagaan, pengawasan, pencegahan danpenindakan pelanggaran hukum serta pengamananpelayaran dan pengamanan aktivitas masyarakat danPemerintah di wilayah perairan Indonesia; dand. memberikan dukungan teknis administrasi di bidangpenegakan hukum di laut secara terpadu.Pasal 278(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksuddalam Pasal 277, penjaga laut dan pantai mempunyaikewenangan untuk:a. melaksanakan patroli laut;b. melakukan pengejaran seketika (hot pursuit );c. memberhentikan dan memeriksa kapal di laut; dand. melakukan penyidikan.(2) Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) huruf d penjaga laut dan pantaimelaksanakan tugas sebagai Pejabat Penyidik PegawaiNegeri Sipil sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan penjagalaut dan pantai diatur dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 279(1) Dalam rangka melaksanakan tugasnya penjaga laut danpantai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 277 didukungoleh prasarana berupa pangkalan armada penjaga lautdan pantai yang berlokasi di seluruh wilayah Indonesia,dan dapat menggunakan kapal dan pesawat udara yangberstatus sebagai kapal negara atau pesawat udaranegara.(2) Penjaga laut dan pantai wajib memiliki kualifikasi dankompetensi sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.(3) Pelaksanaan . . . - 112 -(3) Pelaksanaan penjagaan dan penegakan hukum di lautoleh penjaga laut dan pantai sebagaimana dimaksudpada ayat (1) wajib menggunakan dan menunjukkanidentitas yang jelas.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai identitas penjaga lautdan pantai diatur dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 280Aparat penjagaan dan penegakan peraturan di bidangpelayaran yang tidak menggunakan dan menunjukkanidentitas yang jelas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 279ayat (3) dikenakan sanksi administratif sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan di bidangkepegawaian.Pasal 281Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan sertaorganisasi dan tata kerja penjaga laut dan pantai sebagaimanadimaksud dalam Pasal 276 diatur dengan PeraturanPemerintah.BAB XVIIIPENYIDIKANPasal 282(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesiadan penyidik lainnya, pejabat pegawai negeri sipiltertentu di lingkungan instansi yang lingkup tugas dantanggung jawabnya di bidang pelayaran

diberi wewenangkhusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalamUndang-Undang ini.(2) Dalam pelaksanaan tugasnya pejabat pegawai negerisipil tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beradadi bawah koordinasi dan pengawasan penyidik polisiNegara Republik Indonesia.Pasal 283 . . . - 113 -Pasal 283(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282berwenang melakukan penyidikan tindak pidana dibidang pelayaran.(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksudpada ayat (1) berwenang:a. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangansehubungan dengan tindak pidana di bidangpelayaran;b. menerima laporan atau keterangan dari seseorangtentang adanya tindak pidana di bidang pelayaran;c. memanggil orang untuk didengar dan diperiksasebagai tersangka atau saksi;d. melakukan penangkapan dan penahanan terhadaporang yang diduga melakukan tindak pidana di bidangpelayaran;e. meminta keterangan dan bukti dari orang yang didugamelakukan tindak pidana di bidang pelayaran;f. memotret dan/atau merekam melalui mediaaudiovisual terhadap orang, barang, kapal atau apasaja yang dapat dijadikan bukti adanya tindak pidanadi bidang pelayaran;g. memeriksa catatan dan pembukuan yang diwajibkanmenurut Undang-Undang ini dan pembukuan lainnya yang terkait dengan tindak pidana pelayaran;h. mengambil sidik jari;i. menggeledah kapal, tempat dan memeriksa barang yang terdapat di dalamnya apabila dicurigai adanyatindak pidana di bidang pelayaran; j. menyita benda-benda yang diduga keras merupakanbarang yang digunakan untuk melakukan tindakpidana di bidang pelayaran;k. memberikan tanda pengaman dan mengamankan apasaja yang dapat dijadikan sebagai bukti sehubungandengan tindak pidana di bidang pelayaran;l. mendatangkan saksi ahli yang diperlukan dalamhubungannya dengan pemeriksaan perkara tindakpidana di bidang pelayaran;m. menyuruh . . . - 114 -m. menyuruh berhenti orang yang diduga melakukantindak pidana di bidang pelayaran serta memeriksatanda pengenal diri tersangka;n. mengadakan penghentian penyidikan; dano. melakukan tindakan lain menurut hukum yangbertanggung jawab.(3) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksudpada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepadapenuntut umum melalui pejabat penyidik polisi NegaraRepublik Indonesia.BAB XIXKETENTUAN PIDANAPasal 284Setiap orang yang mengoperasikan kapal asing untukmengangkut penumpang dan/atau barang antarpulau atauantarpelabuhan di wilayah perairan Indonesia sebagaimanadimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dipidana dengan pidanapenjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).Pasal 285Setiap orang yang melayani kegiatan angkutan laut khusus yang mengangkut muatan barang milik pihak lain dan ataumengangkut muatan atau barang milik pihak lain dan/ataumengangkut muatan atau barang umum tanpa izinsebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) dipidanadengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau dendapaling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).Pasal 286(1) Nakhoda angkutan sungai dan danau yang melayarkankapalnya ke laut tanpa izin dari Syahbandar sebagaimanadimaksud dalam Pasal 18 ayat (6) dipidana denganpidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus jutarupiah).(2) Jika . . . - 127 -Pasal 335Dalam hal tindak pidana di bidang pelayaran dilakukan olehsuatu korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadappengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadapkorporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga)kali dari pidana denda yang ditentukan dalam Bab ini. Pasal 336(1) Setiap pejabat yang melanggar suatu kewajiban khususdari jabatannya atau pada waktu melakukan tindakpidana menggunakan kekuasaan, kesempatan, atausarana yang diberikan kepadanya karena jabatandipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00(seratus juta rupiah).(2) Selain pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)pelaku dapat dikenai pidana

tambahan berupapemberhentian secara tidak dengan hormat dari jabatannya.BAB XXKETENTUAN LAIN-LAINPasal 337Ketentuan ketenagakerjaan di bidang pelayaran dilaksanakansesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidangketenagakerjaan.Pasal 338Ketentuan mengenai pendidikan dan pelatihan sumber dayamanusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 dan Pasal264 berlaku secaramutatis mutandis untuk bidangtransportasi.Pasal 339 . . . - 128 -Pasal 339(1) Setiap orang yang memanfaatkan garis pantai untukmembangun fasilitas dan/atau melakukan kegiatantambat kapal dan bongkar muat barang atau menaikkandan menurunkan penumpang untuk kepentingan sendiridi luar kegiatan di pelabuhan, terminal khusus, danterminal untuk kepentingan sendiri wajib memiliki izin.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan prosedurperizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaturdengan Peraturan Menteri.Pasal 340Kewenangan penegakan hukum pada perairan Zona EkonomiEksklusif dilaksanakan oleh Tentara Nasional IndonesiaAngkatan Laut sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan.BAB XXIKETENTUAN PERALIHANPasal 341Kapal asing yang saat ini masih melayani kegiatan angkutanlaut dalam negeri tetap dapat melakukan kegiatannya palinglama 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku. Pasal 342Administrator Pelabuhan dan Kantor Pelabuhan tetapmelaksanakan tugas dan fungsinya sampai denganterbentuknya lembaga baru berdasarkan Undang-Undang ini. Pasal 343 . . . - 129 -Pasal 343Pelabuhan umum, pelabuhan penyeberangan, pelabuhankhusus, dan dermaga untuk kepentingan sendiri, yang telahdiselenggarakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran kegiatannya tetap dapatdiselenggarakan dengan ketentuan peran, fungsi, jenis,hierarki, dan statusnya wajib disesuaikan dengan Undang-Undang ini paling lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undangini berlaku.Pasal 344(1) Pada saat Undang-Undang ini berlaku, Pemerintah,pemerintah daerah, dan Badan Usaha Milik Negara yangmenyelenggarakan pelabuhan tetap menyelenggarakankegiatan pengusahaan di pelabuhan berdasarkanUndang-Undang ini.(2) Dalam waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku, kegiatan usaha pelabuhan yangdilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, danBadan Usaha Milik Negara sebagaimana dimaksud padaayat (1) wajib disesuaikan dengan ketentuansebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.(3) Kegiatan pengusahaan di pelabuhan yang telahdiselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara tetapdiselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negaradimaksud.Pasal 345(1) Perjanjian atau kerja sama di dalam Daerah LingkunganKerja antara Badan Usaha Milik Negara yang telahmenyelenggarakan usaha pelabuhan dengan pihak ketigatetap berlaku.(2) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, perjanjianatau kerja sama Badan Usaha Milik Negara dengan pihakketiga dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang ini.Pasal 346 . . . - 130 -Pasal 346Penjagaan dan penegakan hukum di laut dan pantai sertakoordinasi keamanan di laut tetap dilaksanakan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan sampaidengan terbentuknya Penjagaan Laut dan Pantai.BAB XXIIKETENTUAN PENUTUPPasal 347Peraturan Pemerintah dan peraturan pelaksanaan lainnyadari Undang-Undang ini ditetapkan paling lambat 1 (satu)tahun sejak Undang-Undang ini berlaku.Pasal 348Otoritas Pelabuhan, Unit Penyelenggara Pelabuhan, danSyahbandar harus terbentuk paling lambat 1 (satu) tahunsejak Undang-Undang ini berlaku.Pasal 349Rencana Induk Pelabuhan Nasional harus ditetapkan olehPemerintah paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undangini berlaku.Pasal 350Pelabuhan utama yang berfungsi sebagai pelabuhanhub internasional harus ditetapkan oleh Pemerintah paling lambat2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku.Pasal 351 . . . - 131 -Pasal 351(1) Rencana Induk Pelabuhan serta Daerah LingkunganKerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang telah ada sebelum Undang-Undang ini, harus selesaidievaluasi dan disesuaikan dengan Undang-Undang inipaling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang iniberlaku.(2) Rencana Induk Pelabuhan

serta Daerah LingkunganKerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan yang belum ditetapkan berdasarkan Undang-UndangNomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran harus sudahditetapkan dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahunsejak Undang-Undang ini berlaku.Pasal 352Penjagaan Laut dan Pantai harus sudah terbentuk palinglambat 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku.Pasal 353Pada saat Undang-Undang ini berlaku semua peraturanpelaksanaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentangPelayaran dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidakbertentangan atau belum diganti dengan yang baruberdasarkan Undang-Undang ini.Pasal 354Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-UndangNomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3493) dicabutdan dinyatakan tidak berlaku.Pasal 355Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar . . . - 132 -Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkanpengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannyadalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Disahkan di Jakartapada tanggal 7 Mei 2008PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,ttdDR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONODiundangkan di Jakartapada tanggal 7 Mei 2008MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIAREPUBLIK INDONESIA,ttdANDI MATTALATTALEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 64 adalah kumpulan daritrayek - 9 -Ayat (3)Yang dimaksud dengan â jaringan trayekâ yang menjadi satu kesatuan pelayanan angkutanpenumpang dan/atau barang dari satu pelabuhan ke pelabuhanlainnya.Ayat (4)Cukup jelas.Ayat (5)Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur dimaksudkan untukmemberikan kepastian hukum dan usaha kepada pengguna jasadan penyedia jasa angkutan laut.Ayat (6)Cukup jelas.Ayat (7)Huruf aCukup jelas.Huruf bCukup jelas.Huruf cYang dimaksud dengan â keseimbangan permintaan dantersedianya ruangan kapal (supply and demand )â adalahterwujudnya pelayanan pada suatu trayek yang dapat diukurdengan tingkat faktor muat (load factor ) tertentu.Penyelenggaraan angkutan laut yang telah melakukankeperintisan dengan menempatkan kapalnya pada jaringantrayek tetap dan teratur perlu diberikan proteksi sampai bataswaktu tertentu.Huruf dCukup jelas.Huruf eCukup jelas.Ayat (8)Cukup jelas.Pasal 10 . . . - 10 -Pasal 10Cukup jelas.Pasal 11Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Yang dimaksud dengan â pangsa muatan yang wajarâ adalah bahwawajar tidak selalu dalam arti memperoleh bagian yang sama (equal share ), tetapi memperoleh pangsa sebagaimana ditetapkan dalamperaturan perundang-undangan, misalnya dalam perjanjianbilateral, konvensi internasional yang diratifikasi oleh PemerintahIndonesia dan peraturan lainnya. Khusus untuk barang milikPemerintah perlu diupayakan agar pengangkutannya dilaksanakanoleh perusahaan angkutan laut nasional.Perusahaan angkutan laut nasional dapat melakukan kerja samadengan perusahaan angkutan laut asing untuk menetapkanperjanjian perolehan pangsa muatan ( fair share agreement ).Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Yang dimaksud dengan â perusahaan nasionalâ adalah perusahaanangkutan laut nasional dan badan usaha yang khusus didirikanuntuk kegiatan keagenan yang memenuhi persyaratan yang telahditentukan.Ayat (5)Yang dimaksud dengan â secara berkesinambunganâ adalah bahwakegiatan angkutan laut ke atau dari pelabuhan Indonesia yangterbuka untuk perdagangan luar negeri yang dilakukan olehperusahaan angkutan laut asing secara terus menerus dan tidakterputus.Pasal 12Cukup jelas.Pasal 13 . . . - 11 -Pasal 13Ayat (1) Termasuk dalam kegiatan angkutan laut khusus antara lainkegiatan angkutan yang dilakukan oleh usaha bidang industri,pariwisata, pertambangan, pertanian serta kegiatan khusus sepertipenelitian, pengerukan, kegiatan sosial, dan sebagainya, sertatidak melayani pihak lain dan tidak mengangkut barang umum.Angkutan laut khusus baik dalam negeri maupun luar

negeridapat diselenggarakan dalam rangka memenuhi kebutuhan yangkarena sifat muatannya belum dapat diselenggarakan olehpenyedia jasa angkutan laut umum.Ayat (2)Yang dimaksud dengan izin operasi adalah izin yang diberikankepada pelaksana kegiatan angkutan laut khusus berkaitandengan pengoperasian kapalnya guna menunjang usahapokoknya.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Cukup jelas.Ayat (5)Cukup jelas.Ayat (6)Cukup jelas.Ayat (7)Cukup jelas.Pasal 14Cukup jelas.Pasal 15Ayat (1)Yang dimaksud â usaha masyarakatâ adalah usaha yang dilakukanoleh warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesiadengan mendorong usaha-usaha yang bersifat kooperatif.Usaha . . . - 12 -Usaha masyarakat tersebut memiliki ciri dan sifat tradisional yaitumengandung nilai-nilai budaya bangsa yang tidak hanya terdapatpada cara pengelolaan usaha serta pengelolanya misalnyamengenai hubungan kerja antarpemilik kapal dengan awak kapal,tetapi juga pada jenis dan bentuk kapal yang digunakan. Hal-haltersebut perlu dilestarikan dan dikembangkan denganmemperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Yang dimaksud dengan â karakteristik tersendiriâ yaitu antara lainsebagai berikut :a. ukuran dan tipe kapal yang tertentu (pinisi, lambo, nade, danlete);b. tenaga penggerak angin dengan menggunakan layar atau mesindengan tenaga kurang dari 535 TK atau 535 TK X 0,736 =393,76 KW;c. pengawakan yang mempunyai kualifikasi berbeda dengankualifikasi yang ditetapkan bagi kapal;d. lingkup operasinya dapat menjangkau daerah terpencil yangtidak memiliki fasilitas pelabuhan dan kedalaman air yangrendah serta negara yang berbatasan; dane. Kegiatan bongkar muat dilakukan dengan tenaga manusia(padat karya).Ayat (2)Yang dimaksud dengan â orang perseorangan warga negaraIndonesiaâ adalah orang perorangan (pribadi) yang memenuhipersyaratan untuk berusaha di bidang angkutan laut pelayaran-rakyat.Persyaratan tersebut antara lain Kartu Tanda Penduduk, surat laikkapal sungai dan danau, keterangan domisili, dll.Pasal 16Ayat (1)Ketentuan ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya memberikanpelindungan terhadap kelangsungan usaha angkutan lautpelayaran-rakyat, dan diarahkan untuk memenuhi tuntutanpasar, di samping melakukan kegiatan angkutan, dapat pulamelakukan kegiatan bongkar muat dan kegiatan ekspedisimuatan, tanpa mengurangi pembinaan terhadap unsur angkutanlainnya di perairan.Ayat (2) . . . - 13 -Ayat (2)Pengembangan angkutan laut pelayaran-rakyat dapat dilakukanoleh Pemerintah dalam bentuk pengaturan, bimbingan, danpelatihan dengan memanfaatkan karakteristiknya.Angkutan laut pelayaran-rakyat dapat melayari angkutan sungaidan danau sepanjang memenuhi persyaratan alur dan kedalamansungai dan danau.Yang dimaksud dengan â meningkatkan kemampuannya sebagailapangan usaha angkutan laut nasional dan lapangan kerjaâ adalah dengan memberikan kemudahan mendapatkan permodalandari lembaga keuangan.Ayat (3)Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat selain melakukankegiatan angkutan pelayaran-rakyat di wilayah perairan Indonesia, juga dapat menyinggahi pelabuhan negara tetangga (lintas batas) yang berbatasan dalam rangka melakukan kegiatan perdagangantradisional antarnegara.Pasal 17Cukup jelas.Pasal 18Ayat (1)Penggunaan kapal berbendera Indonesia oleh perusahaanangkutan sungai dan danau di dalam negeri dimaksudkan dalamrangka pelaksanaan asascabotage guna melindungi kedaulatannegara (sovereignity ) dan mendukung perwujudan WawasanNusantara di negara kepulauan Indonesia.Yang dimaksud dengan â orang perseorangan warga negaraIndonesiaâ adalah orang perorangan (pribadi) yang memenuhipersyaratan untuk berusaha di bidang angkutan sungai dandanau.Persyaratan antara lain Kartu Tanda Penduduk, surat laik kapalsungai dan danau, dan keterangan domisili.Ayat (2)Yang dimaksud dengan â perjanjian antara Pemerintah RepublikIndonesia dan pemerintah negara tetanggaâ adalah perjanjian yangtelah disepakati antarnegara yang memuat antara lain persyaratankapal, kuota kapal, dan persyaratan administrasi.Ayat (3) . . . - 14 -Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Yang dimaksud dengan â intramodaâ dalam kegiatan angkutansungai dan danau adalah angkutan penyeberangan.Yang dimaksud dengan â antarmodaâ adalah keterpaduantransportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara.Intra maupun antarmoda tersebut merupakan satu kesatuantransportasi nasional.Ayat (5)Yang dimaksud dengan â trayek tetapâ adalah

pelayanan angkutansungai dan danau yang dilakukan secara tetap dan teratur denganberjadwal dan menyebutkan pelabuhan singgah.Yang dimaksud dengan â trayek tidak tetap dan tidak teraturâ adalah pelayanan angkutan sungai dan danau yang dilakukansecara tidak tetap dan tidak teratur.Ayat (6)Yang dimaksud dengan â izin dari Syahbandarâ adalah persetujuanberlayar.Pasal 19Cukup jelas.Pasal 20Cukup jelas.Pasal 21Ayat (1)Penggunaan kapal berbendera Indonesia oleh perusahaanangkutan penyeberangan di dalam negeri dimaksudkan dalamrangka pelaksanaan asascabotage guna melindungi kedaulatannegara (sovereignity ) dan mendukung perwujudan WawasanNusantara.Ayat (2)Kegiatan angkutan penyeberangan antara Negara RepublikIndonesia dengan negara tetangga asing dilaksanakan menurutasas timbal balik (reciprocal ).Ayat (3) . . . - 15 -Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 22Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Huruf aCukup jelas.Huruf bCukup jelas.Huruf cYang dimaksud dengan â jarak tertentuâ adalah bahwa tidaksemua daratan yang dipisahkan oleh perairan dihubungkanoleh angkutan penyeberangan, tetapi daratan yangdihubungkan merupakan pengembangan jaringan jalandan/atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan olehperairan, dengan tetap memenuhi karakteristik angkutanpenyeberangan.Huruf dCukup jelas.Huruf eCukup jelas.Huruf f Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 23Cukup jelas.Pasal 24Ayat (1)Pelaksanaan angkutan ke dan dari wilayah terpencil biasanyasecara komersial kurang menguntungkan sehingga pelaksanaangkutan pada umumnya tidak tertarik untuk melayani rutedemikian.Oleh . . . - 16 -Oleh sebab itu, guna mengembangkan daerah tersebut danmenembus isolasi, angkutan ke dan dari daerah terpencil danbelum berkembang dengan daerah yang sudah berkembang ataumaju diselenggarakan oleh Pemerintah dengan mengikutsertakanpelaksana angkutan di perairan, baik swasta maupun koperasi.Ayat (2) Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Cukup Jelas.Ayat (5)Yang dimaksud dengan â secara terpadu dengan lintas sektoralberdasarkan pendekatan pembangunan wilayahâ adalah bahwapenyusunan usulan trayek angkutan laut perintis dikoordinasikanoleh pemerintah daerah dengan mengikutsertakan instansi terkaitserta memperhatikan keterpaduan dengan program sektor lainseperti antara lain perdagangan, perkebunan, transmigrasi,perikanan, pariwisata, pendidikan, dan pertanian dalam rangkapengembangan potensi daerah.Ayat (6)Cukup jelas.Pasal 25Yang dimaksud dengan â kontrak jangka panjangâ adalah palingsedikit untuk jangka waktu lima tahun yang dimaksudkan untukmemberikan jaminan agar perusahaan angkutan laut yangmenyelenggarakan pelayaran-perintis dapat melakukan peremajaankapal.Pasal 26Cukup jelas.Pasal 27Kewajiban memiliki izin usaha dalam melakukan kegiatan angkutan diperairan dimaksudkan sebagai alat pembinaan, pengendalian, danpengawasan angkutan di perairan untuk memberikan kepastian usahadan perlindungan hukum bagi penyedia dan pengguna jasa. - 17 -Pasal 28 . . .Pasal 28Cukup jelas.Pasal 29Ayat (1)Yang dimaksud dengan â GTâ adalah singkatan dariGross Tonnage yang berarti, isi kotor kapal secara keseluruhan yang dihitungsesuai dengan ketentuan konvensi internasional tentangpengukuran kapal (International Tonnage Measurement of Ships )tahun 1969.Ayat (2)Dalam rangka mengembangkan industri pelayaran nasionaldimungkinkan adanya investasi dari asing, sedangkan mengenaikepemilikan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangandi bidang penanaman modal.Pasal 30Cukup jelas.Pasal 31Cukup jelas.Pasal 32Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Yang dimaksud â barang tertentuâ adalah barang milik penumpang,barang curah cair yang dibongkar atau dimuat melalui pipa,barang curah kering yang dibongkar atau dimuat melaluiconveyor atau sejenisnya, barang yang diangkut melalui kapal Ro-Ro, dansemua jenis barang di pelabuhan yang tidak terdapat perusahaanbongkar muat. Sementara itu, untuk bongkar muat barang selain yang disebutkan di atas harus dilakukan oleh perusahaan bongkarmuat.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Yang dimaksud dengan â cargodoring â adalah pekerjan melepaskanbarang dari tali atau jala (ex tackle ) di dermaga dan mengangkutdari dermaga ke gudang atau lapangan penumpukan selanjutnyamenyusun di gudang atau lapangan penumpukan atau sebaliknya. - 18 -Yang . . .Yang dimaksud dengan â receiving/delivery â adalah

pekerjaanmemindahkan barang dari timbunan atau tempat penumpukan digudang atau lapangan penumpukan dan menyerahkan sampaitersusun di atas kendaraan di pintu gudang atau lapanganpenumpukan atau sebaliknya.Yang dimaksud dengan â stuffingâ adalah pekerjaan penumpukanke dalam peti kemas yang dilakukan di gudang atau lapanganpenumpukan.Yang dimaksud dengan â strippingâ adalah pekerjaanpembongkaran dari dalam peti kemas yang dilakukan di gudangatau di lapangan penumpukan.Pasal 33Cukup jelas.Pasal 34Cukup jelas.Pasal 35Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4) Jenis tarif merupakan suatu pungutan atas setiap pelayanan yangdiberikan oleh penyelenggara angkutan laut kepada pengguna jasaangkutan laut.Struktur tarif merupakan kerangka tarif yang dikaitkan dengantatanan waktu dan satuan ukuran dari setiap jenis pelayanan jasaangkutan dalam satu paket angkutan.Golongan tarif merupakan penggolongan tarif yang ditetapkanberdasarkan jenis pelayanan, klasifikasi, dan fasilitas yangdisediakan oleh penyelenggara angkutan.Pasal 36Cukup jelas. - 34 -Pasal 112 . . .Pasal 112Cukup jelas.Pasal 113Cukup jelas.Pasal 114Cukup jelas.Pasal 115Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Yang dimaksud dengan â peraturan perundang-undanganâ adalahperaturan mengenai pemerintahan daerah.Pasal 116 Cukup jelas.Pasal 117Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Huruf aCukup jelas.Huruf bCukup jelas.Huruf cCukup jelas.Huruf dCukup jelas.Huruf eCukup jelas.Huruf f Cukup jelas. - 35 -Huruf g . . .Huruf gYang dimaksud dengan â Manajemen Keselamatan danPencegahan Pencemaran dari kapalâ adalah satu kesatuansistem dan prosedur serta mekanisme yang tertulis danterdokumentasi bagi perusahaan angkutan laut dan kapalniaga untuk pengaturan, pengelolaan, pengawasan, danpeninjauan ulang serta peningkatan terus menerus dalamrangka memastikan dan mempertahankan terpenuhinyaseluruh kesesuaian terhadap standar keselamatan danpencegahan pencemaran yang dipersyaratkan dalamketentuan internasional yang terkait dengan manajemenkeselamatan kapal dan pencegahan pencemaran.Huruf hYang dimaksud dengan â Manajemen Keamanan Kapalâ adalahsatu kesatuan sistem dan prosedur dan mekanisme yangtertulis dan terdokumentasi bagi perusahaan angkutan lautdan kapal niaga untuk pengaturan, pengelolaan, pengawasan,dan peninjauan ulang serta peningkatan terus menerus dalamrangka memastikan terpenuhinya seluruh kesesuaianterhadap kesiapan kapal menghadapi, mempertahankan, danmenjaga keamanan kapal dalam rangka meningkatkankeselamatan kapal.Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 118Cukup jelas.Pasal 119Ayat (1)Yang dimaksud dengan â ketentuan internasionalâ adalahketentuan yang diterbitkan olehInternational Authority of Lighthouse Association (IALA),antara lain yang mengaturstandardisasi serta kecukupan dan keandalan Sarana BantuNavigasi-Pelayaran (SBNP) danInternational Telecommunication Union (ITU) dan International Maritime Pilotage Association (IMPA).Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 120Cukup jelas. - 36 -Psal 121 . . .Pasal 121Yang dimksud dengan â Sistem pengamanan fasilitas pelabuhanâ adalahprosedur pengamanan di fasilitas pelabuhan pada semua tingkatankeamanan (security level).Huruf aCukup jelas.Huruf bSarana dan prasarana pengamanan fasilitas pelabuhan meliputipagar pengaman, pos penjagaan, peralatan monitor, peralatandetektor, peralatan komunikasi, dan penerangan.Huruf cYang dimaksud dengan â Sistem komunikasiâ adalah tata caraberhubungan atau komunikasi internal fasilitas pelabuhan,komunikasi antara koordinator keamanan pelabuhan denganfasilitas pelabuhan dan dengan instansi terkait.Huruf dYang dimaksud dengan â Personel pengamanâ adalah personel yangmemiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukanpengamanan sesuai dengan manajemen pengamanan(International Ship and Port Facility Security Code/ISPS Code) .Pasal 122Cukup jelas.Pasal 123Cukup jelas.Pasal 124Ayat (1)Yang dimaksud dengan â pengadaan kapalâ adalah kegiatanmemasukkan kapal dari luar negeri, baik kapal bekas maupunkapal baru untuk didaftarkan dalam daftar kapal Indonesia.Yang dimaksud dengan â pembangunan kapalâ adalah pembuatankapal baru baik di dalam negeri maupun di luar negeri yanglangsung berbendera Indonesia.Yang dimaksud

dengan â pengerjaan kapalâ adalah tahapanpekerjaan dan kegiatan pada saat dilakukan perombakan,perbaikan, dan perawatan kapal. - 37 -Yang . . .Yang dimaksud dengan â perlengkapan kapalâ adalah bagian yangtermasuk dalam perlengkapan navigasi, alat penolong, penemu(smoke detector ) dan pemadam kebakaran, radio dan elektronikakapal, dan peta-peta serta publikasi nautika, serta perlengkapanpengamatan meteorologi untuk kapal dengan ukuran dan daerahpelayaran tertentu.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 125Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Yang dimaksud dengan â perombakanâ adalah perombakankonstruksi dan memerlukan pengesahan gambar dan perhitungankonstruksi karena mengubah fungsi, stabilitas, struktur, dandimensi kapal.Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 126Ayat (1)Sertifikat keselamatan diberikan kepada semua jenis kapal ukuranGT 7 (tujuhGross Tonnage ) atau lebih kecuali:a.kapal perang;b.kapal negara; danc.kapal yang digunakan untuk keperluan olah raga.Ayat (2)Huruf a Jenis sertifikat kapal penumpang antara lain:1. Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang (meliputikeselamatan konstruksi, perlengkapan, dan radio kapal);dan2. Sertifikat Pembebasan (sertifikat yang memperbolehkanbebas dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi). - 38 -Huruf b . . .Huruf b Jenis-jenis sertifikat keselamatan kapal barang sesuai dengan SOLAS 1974 antara lain:1. Sertifikat Keselamatan Kapal Barang;2. Sertifikat Keselamatan Konstruksi Kapal Barang;3. Sertifikat Keselamatan Perlengkapan Kapal Barang;4. Sertifikat Keselamatan Radio Kapal Barang; dan5. Sertifikat Pembebasan (sertifikat yang memperbolehkanbebas dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi).Huruf cSertifikat kelaikan dan pengawakan kapal penangkap ikansebagai bukti terpenuhinya persyaratan keselamatan kapaldan pengawakan.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Cukup jelas.Ayat (5)Yang dimaksud dengan adalah pejabatpemeriksa keselamatan kapal yang mempunyai â pejabat pemerintahâ kualifikasi dankeahlian di bidang keselamatan yang diangkat oleh Menteri.Pasal 127Cukup jelas.Pasal 128Cukup jelas.Pasal 129Cukup jelas.Pasal 130Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Yang dimaksud dengan â sewaktu waktuâ adalah di luar jadwal yang ditentukan untuk perawatan berkala, karena adanyakebutuhan. - 39 -Ayat (3) . . .Ayat (3)Yang dimaksud dengan â keadaan tertentuâ adalah diberikannyakeringanan terhadap persyaratan keselamatan kapal dalamkondisi sebagai berikut:a. kapal yang melakukan percobaan berlayar;b. kapal yang digunakan dalam penanggulangan bencana;c. kapal berlayar dalam cuaca buruk dan/atau mengalamimusibah yang mengakibatkan rusak atau hilangnyaperlengkapan kapal;d. kapal yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pencariandan pertolongan;e. kapal berlayar menuju galangan untuk perbaikan(docking); atauf. kapal dengan jenis, kategori, ukuran, konstruksi, atau bahanutamanya, dengan mempertimbangkan daerah-pelayarannyatidak efisien apabila harus memasang perlengkapankeselamatan tertentu atau alat komunikasi tertentu.Sebagai contoh kapal dengan jenis, kategori, ukuran, konstruksi,atau bahan utamanya, harus memenuhi persyaratan sesuaidengan ketentuan internasional, tetapi karena daerah-pelayarannya lokal dan dekat maka persyaratan peralatankeselamatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.Pasal 131Cukup jelas.Pasal 132Cukup jelas.Pasal 133Cukup jelas.Pasal 134Cukup jelas.Pasal 135Cukup jelas.Pasal 136Cukup jelas.Pasal 137Cukup jelas. - 58 -Yang dimaksud dengan â petunjuk serta perintah Syahbandarâ antaralain menolak kedatangan kapal, memerintahkan perpindahan kapal,dan menentukan tempat labuh jangkar.Pasal 216Cukup jelas.Pasal 217Cukup jelasPasal 218Ayat (1)Yang dimaksud dengan â dalam keadaan tertentuâ adalah apabilaSyahbandar mendapat laporan adanya indikasi bahwa kapal tidakmemenuhi persyaratan kelaiklautan dan keamanan.Ayat (2) . . .Ayat (2)Yang dimaksud dengan â ketentuan peraturan perundang-undanganâ meliputi konvensi internasional yang mengaturmengenai port state control.Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 219Ayat (1)Surat Persetujuan Berlayar

yang dalam kelaziman internasionaldisebut port clearance diterbitkan setelah dipenuhinya persyaratankelaiklautan kapal dan kewajiban lainnya.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Cukup jelas.Ayat (5)Cukup jelas.Pasal 220Cukup jelas. - 59 -Pasal 221Ayat (1)Cukup jelasAyat (2)Cukup jelasAyat (3)Yang dimaksud â dapatâ adalah apabila dari hasil pemeriksaanpendahuluan terdapat keterangan dan/atau bukti awal mengenaikesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh Nakhoda dan/atauperwira kapal.Pasal 222Cukup jelasPasal 223 . . .Pasal 223Ayat (1)Yang dimaksud dengan â klaim-pelayaran (maritime claim )â sesuaidengan ketentuan mengenai penahanan kapal (arrest of ships ),timbul karena:a. kerugian atau kerusakan yang disebabkan oleh pengoperasiankapal;b. hilangnya nyawa atau luka parah yang terjadi baik di daratanatau perairan atau laut yang diakibatkan oleh pengoperasiankapal;c. kerusakan terhadap lingkungan, kapalnya, atau barangmuatannya sebagai akibat kegiatan operasisalvage atauperjanjian tentangsalvage ;d. kerusakan atau ancaman kerusakan terhadap lingkungan,garis pantai atau kepentingan lainnya yang disebabkan olehkapal, termasuk biaya yang diperlukan untuk mengambillangkah pencegahan kerusakan terhadap lingkungan, kapalnya,atau barang muatannya, serta untuk pemulihan lingkungansebagai akibat terjadinya kerusakan yang timbul;e. biaya-biaya atau pengeluaran yang berkaitan denganpengangkatan, pemindahan, perbaikan, atau terhadap kapal,termasuk juga biaya penyelamatan kapal dan awak kapal;f. biaya pemakaian atau pengoperasian atau penyewaan kapal yang tertuang dalam perjanjian pencarteran (charter party )atau lainnya; - 60 -g. biaya pengangkutan barang atau penumpang di atas kapal, yang tertuang dalam perjanjian pencarteran atau lainnya;h. kerugian atau kerusakan barang termasuk peti atau koper yangdiangkut di atas kapal;i. kerugian dan kerusakan kapal dan barang karena terjadinyaperistiwa kecelakaan di laut (general average ); j. biaya penarikan kapal (towage );k. biaya pemanduan ( pilotage );l. biaya barang, perlengkapan, kebutuhan kapal, Bahan BakarMinyak atau bunker, peralatan kapal termasuk peti kemas yangdisediakan untuk pelayanan dan kebutuhan kapal untukpengoperasian, pengurusan, penyelamatan atau pemeliharaankapal;m. biaya pembangunan, pembangunan ulang atau rekondisi,perbaikan, mengubah atau melengkapi kebutuhan kapal;n. biaya pelabuhan, kanal, galangan, bandar, alur pelayaran,dan/atau biaya pungutan lainnya;o. gaji . . .o. gaji dan lainnya yang terutang bagi Nakhoda, perwira dan AnakBuah Kapal serta lainnya yang dipekerjakan di atas kapaltermasuk biaya untuk repatriasi, asuransi sosial untukkepentingan mereka;p. pembiayaan ataudisbursements yang dikeluarkan untukkepentingan kapal atas nama pemilik kapal;q. premi asuransi (termasuk â mutual insurance call â ) kapal yangharus dibayar oleh pemilik kapal atau pencarter kapal tanpaAnak Buah Kapal atau bare boat (demise charterer );r. komisi, biaya, perantara atau broker atau keagenan yang harusdibayar berkaitan dengan kapal atas nama pemilik kapal tanpaAnak Buah Kapal (demise charterer );s. biaya sengketa berkenaan dengan status kepemilikan kapal;t. biaya sengketa yang terjadi di antara rekan pemilikan kapal (co- owner ) berkenaan dengan pengoperasian dan penghasilan atauhasil tambang kapal;u. biaya gadai atau hipotek kapal atau pembebanan lain yangsifatnya sama atas kapal; danv. biaya sengketa yang timbul dari perjanjian penjualan kapal.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 224Ayat (1) - 61 -Yang dimaksud dengan â dokumen pelautâ adalah dokumenidentitas pelaut dan perjanjian kerja laut. Dokumen identitaspelaut antara lain terdiri atas Buku Pelaut dan Kartu IdentitasPelaut.Yang dimaksud dengan â disijilâ adalah dimasukkan dalam buku daftar awak kapal yang disebut buku sijil yang berisi daftar awakkapal yang bekerja di atas kapal sesuai dengan jabatannya dantanggal naik turunnya yang disahkan oleh Syahbandar.Ayat (2)Cukup jelasPasal 225Cukup jelas.Pasal 226Cukup jelas.Pasal 227 . . .Pasal 227Cukup jelas.Pasal 228Cukup jelas.Pasal 229Cukup jelasPasal 230Ayat (1)Yang dimaksud dengan â penanggung

jawab unit kegiatan lain diperairanâ antara lain pengelola unit pengeboran minyak danfasilitas penampungan minyak di perairan.Ayat (2)Cukup jelasAyat (3)Cukup jelas.Ayat (4)Yang dimaksud dengan â institusi yang berwenang untukpenanganan lebih lanjutâ adalah institusi yang menanganipengendalian pencemaran secara nasional. - 62 -Pasal 231Cukup jelas.Pasal 232Cukup jelas.Pasal 233Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Yang dimaksud dengan limbah bahan berbahaya dan beracuntermasuk juga limbah radioaktif.Pasal 234Cukup jelas.Pasal 235 . . .Pasal 235Cukup jelas.Pasal 236Cukup jelas.Pasal 237Ayat (1)Yang dimaksud dengan â limbahâ antara lain dapat berupa limbahminyak, bahan kimia, bahan berbahaya dan beracun, sampah,serta kotoran.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 238Cukup jelas.Pasal 239Ayat (1)Yang dimaksud dengan â lokasi tertentuâ adalah pembuanganlimbah tidak boleh dilakukan pada alur-pelayaran, kawasanlindung, kawasan suaka alam, taman nasional, taman wisata - 63 -alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, sempadanpantai, kawasan terumbu karang, kawasanmangrove , kawasanperikanan dan budidaya, kawasan pemukiman, dan daerahsensitif terhadap pencemaran.Yang dimaksud dengan â pembuangan limbahâ termasuk jugaberupa kerangka kapal.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 240Cukup jelas.Pasal 241Ayat (1)Yang dimaksud â penutuhan kapalâ adalah kegiatan pemotongandan penghancuran kapal yang tidak digunakan lagi dengan amandan berwawasan lingkungan (safe and environmentally sound manner ).Ayat (2) . . .Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 242Cukup jelas.Pasal 243Cukup jelas.Pasal 244Ayat (1)Yang dimaksud dengan â bahayaâ adalah ancaman yangdisebabkan oleh faktor eksternal dan internal dari kapal.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Yang dimaksud dengan â orangâ termasuk juga orang yang berada di menara suar yang ditemukan dalam keadaan bahaya.Yang dimaksud dengan â pihak lainâ antara lain Nakhoda kapal lain yang berada di sekitar lokasi bahaya, stasiun radio pantai danpejabat berwenang terdekat yang memilki kewenangan untukmenindaklanjuti proses kecelakaan tersebut. - 64 -Ayat (4)Pelaporan oleh Nakhoda dilakukan untuk setiap bahaya bagikeselamatan kapal, baik yang terjadi di dalam maupun luar negeri,baik yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan kerusakanpada alur atau bangunan di perairan yang dapat mengganggukeselamatan berlayar maupun tidak.Yang dimaksud dengan â melaporkanâ adalah menyampaikan beritabahaya bagi keselamatan kapal dengan cara sistem telekomunikasiantara lain melalui Stasiun Radio Pantai,Vessel Traffic Information System (VTIS), semaphore ,morse serta sarana lain yang dapatdigunakan untuk menyampaikan berita atau menarik perhatianbagi pihak lain.Pasal 245Cukup jelas.Pasal 246Cukup jelas.Pasal 247 . . .Pasal 247Yang dimaksud dengan â pihak lainâ antara lain Nakhoda kapal lain yang berada di sekitar lokasi kecelakaan, stasiun radio pantai danpejabat berwenang terdekat yang memiliki kewenangan untukmenindaklanjuti proses kecelakaan tersebut.Pasal 248Yang dimaksud dengan â melaporkanâ adalah menyampaikan beritakecelakaan kapal dengan cara sistem telekomunikasi antara lainmelalui Stasiun Radio Pantai,Vessel Traffic Information System (VTIS),semaphore, morse serta sarana lain yang dapat digunakan untukmenyampaikan berita atau menarik perhatian bagi pihak lain.Pasal 249Yang dimaksud dengan â dibuktikan lainâ adalah berdasarkanpembuktian telah dilakukan upaya dan melaksanakan kewajibanberdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pasal 250Cukup jelas.Pasal 251Cukup jelas. - 65 -Pasal 252Cukup jelas.Pasal 253Cukup jelas.Pasal 254Cukup jelas.Pasal 255Cukup jelas.Pasal 256Ayat (1)Yang dimaksud dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasiadalah institusi yang diberi kewenangan untuk melakukaninvestigasi sebab terjadinya kecelakaan.Ayat (2) . . .Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Hasil investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi disampaikan kepada Menteri yang disertai denganrekomendasi untuk memperbaiki

kebijakan yang terkait dengansistem, sarana dan prasarana transportasi, serta sumber dayamanusia.Pasal 257Cukup jelas.Pasal 258Cukup jelas.Pasal 259Cukup jelas.Pasal 260Cukup jelas.Pasal 261Cukup jelas. - 66 -Pasal 262Cukup jelas.Pasal 263Cukup jelas.Pasal 264Cukup jelas.Pasal 265Cukup jelas.Pasal 266Cukup jelas.Pasal 267Cukup jelas.Pasal 268 . . .Pasal 268Cukup jelas.Pasal 269Ayat (1)Sistem informasi pelayaran bertujuan untuk memberikaninformasi di bidang angkutan perairan dan kepelabuhanan sertaterjaminnya keselamatan dan keamanan pelayaran danmemberikan perlindungan lingkungan maritim.Ayat (2)Cukup jelas.Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 270Cukup jelas.Pasal 271Cukup jelas.Pasal 272Cukup jelas. - 67 -Pasal 273Cukup jelas.Pasal 274Cukup jelas.Pasal 275Cukup jelas.Pasal 276Cukup jelas.Pasal 277Cukup jelas.Pasal 278Cukup jelas.Pasal 279Cukup jelas.Pasal 280 . . .Pasal 280Cukup jelas.Pasal 281Cukup jelas.Pasal 282Ayat (1)Yang dimaksud dengan â penyidik lainnyaâ adalah penyidik sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan antara lainPerwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 283Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2)Yang dimaksud dengan â melakukan tindakan lain menuruthukum yang bertanggung jawabâ adalah bahwa dalammelaksanakan tugasnya penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. - 68 -Ayat (3)Cukup jelas.Pasal 284Cukup jelas.Pasal 285Cukup jelas.Pasal 286Cukup jelas.Pasal 287Cukup jelas.Pasal 288Cukup jelas.Pasal 289 . . .Pasal 289Cukup jelas.Pasal 290Cukup jelas.Pasal 291Cukup jelas.Pasal 292Cukup jelas.Pasal 293Cukup jelas.Pasal 294Cukup jelas.Pasal 295Cukup jelas.Pasal 296Cukup jelas. - 69 -Pasal 297Cukup jelas.Pasal 298Cukup jelas.Pasal 299Cukup jelas.Pasal 300Cukup jelas.Pasal 301Cukup jelas.Pasal 302Cukup jelas.Pasal 303 . . .Pasal 303Cukup jelas.Pasal 304Cukup jelas.Pasal 305Cukup jelas.Pasal 306Cukup jelas.Pasal 307Cukup jelas.Pasal 308Cukup jelas.Pasal 309Cukup jelas.Pasal 310Cukup jelas. - 70 -Pasal 311Cukup jelas.Pasal 312Cukup jelas.Pasal 313Cukup jelas.Pasal 314Cukup jelas.Pasal 315Cukup jelas.Pasal 316Cukup jelas.Pasal 317Cukup jelas.Pasal 318 . . .Pasal 318Cukup jelas.Pasal 319Cukup jelas.Pasal 320Cukup jelas.Pasal 321Cukup jelas.Pasal 322Cukup jelas.Pasal 323Cukup jelas.Pasal 324Cukup jelas.Pasal 325Cukup jelas. - 71 -Pasal 326Cukup jelas.Pasal 327Cukup jelas.Pasal 328Cukup jelas.Pasal 329Cukup jelas.Pasal 330Cukup jelas.Pasal 331Cukup jelas.Pasal 332Cukup jelas.Pasal 333 . . .Pasal 333Cukup jelas.Pasal 334Cukup jelas.Pasal 335Cukup jelas.Pasal 336Cukup jelas.Pasal 337Cukup jelas.Pasal 338Cukup jelas.Pasal 339Ayat (1)Yang dimaksud dengan â izinâ adalah izin untuk membangunfasilitas yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dan izinoperasional yang tunduk pada Undang-Undang ini. - 72 -Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 340Cukup jelas.Pasal 341Cukup jelas.Pasal 342Cukup jelas.Pasal 343Cukup jelas.Pasal 344Ayat (1)Cukup jelas.Ayat (2) . . .Ayat (2) Penentuan waktu 3 (tiga) tahun dalam ketentuan ini dimaksudkanuntuk memberikan waktu yang cukup bagi Pemerintahmerencanakan pengembangan pelabuhan dan Badan Usaha MilikNegara. Untuk keperluan pengembangan tersebut atas perintahMenteri dilakukan:a. evaluasi aset Badan Usaha Milik Negara yangmenyelenggarakan usaha pelabuhan; dane. audit secara menyeluruh terhadap aset Badan Usaha MilikNegara yang menyelenggarakan usaha pelabuhan.Ayat (3)Yang dimaksud dengan â tetap diselenggarakan oleh Badan UsahaMilik Negaraâ adalah Badan Usaha Milik Negara yang didirikanberdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 1991,Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 1991, PeraturanPemerintah Nomor 58 Tahun 1991, dan Peraturan PemerintahNomor 59 Tahun 1991, tetap menyelenggarakan kegiatan usaha dipelabuhan yang meliputi:a. kegiatan yang diatur dalam Pasal 90 ayat (1), ayat (2), ayat (3),dan ayat (4) Undang-Undang ini; - 73 -b. penyediaan kolam pelabuhan sesuai dengan peruntukannyaberdasarkan pelimpahan dari Pemerintah dan ketentuanperaturan perundang-undangan;c. pelayanan jasa pemanduan berdasarkan pelimpahan dariPemerintah dan ketentuan

peraturan perundang-undangan;dand. penyediaan dan pengusahaan tanah sesuai kebutuhanberdasarkan pelimpahan dari Pemerintah dan ketentuanperaturan perundang-undangan di bidang pertanahan.Pasal 345Cukup jelas.Pasal 346Cukup jelas.Pasal 347Cukup jelas.Pasal 348 . . .Pasal 348Cukup jelas.Pasal 349Cukup jelas.Pasal 350Yang dimaksud dengan â harus ditetapkanâ adalah menetapkanbeberapa pelabuhan utama sebagaihub internasional termasuk jugamengevaluasi pelabuhanhub internasional yang telah ditetapkansebelum Undang-Undang ini diundangkan.Pasal 351Ayat (1)Yang dimaksud dengan â dievaluasi dan disesuaikanâ termasukkeberadaan pelabuhan perikanan yang berada di dalam DaerahLingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentinganpelabuhan.Ayat (2)Cukup jelas.Pasal 352 - 74 -Cukup jelas.Pasal 353Cukup jelas.Pasal 354Cukup jelas.Pasal 355Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4849 UU 17 tahun 2008 PELAYARAN Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport DocumentReport this document? Please tell us reason(s) for reporting this document Spam or junk Porn adult content Hateful or offensive If you are the copyright owner of this document and want to report it, please follow these directions to submit a copyright infringement notice. Report Cancel This is a private document. Info and Rating Reads:41,391Uploaded:05/31/2008Category:Uncategorized.Rated:(38 Ratings)Copyright:Attribution Non-commercial pelayaranpelayaran(fewer)FollowH. Masrip Sarumpaet Share & Embed Related Documents PreviousNext p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. p. More from this user PreviousNext8 p.4 p.10 p.57 p.3 p.12 p.1 p.100 p.110 p.84 p.56 p.179 p.12 p.11 p.18 p.28 p.3 p.8 p.139 p.40 p.32 p.3 p.20 p.39 p.5 p. Recent Readcasters Add a Comment SubmitCharacters: 400 Andre Liksaleft a comment ccccccccccc 08 / 18 / 2011 Reply Print this document High Quality Open the downloaded document, and select print from the file menu (PDF reader required). Download and Print You Must be Logged in to Download a Document Use your Facebook login and see what your friends are reading and sharing. Other login options

Login with Facebook Signup I don't have a Facebook account email address (required) create username (required) password (required) Send me the Scribd Newsletter, and occasional account related communications. Sign Up Privacy policy You will receive email notifications regarding your account activity. You can manage these notifications in your account settings. We promise to respect your privacy. Why Sign up? Discover and connect with people of similar interests. Publish your documents quickly and easily. Share your reading interests on Scribd and social sites. Already have a Scribd account? email address or username password Log In Trouble logging in? Login Successful Now bringing you back... « Back to LoginReset your password Please enter your email address below to reset your password. We will send you an email with instructions on how to continue. Email address: You need to provide a login for this account as well. Login: Submit Upload a Document Search Documents Follow Us!scribd.com/scribdtwitter.com/scribdfacebook.com/scribdAboutPressBlogPartner sScribd 101Web StuffSupportFAQDevelopers / APIJobsTermsCopyrightPrivacyCopyright © 2011 Scribd Inc.Language:EnglishChoose the language in which you want to experience Scribd:EnglishEspañolPortuguês (Brasil)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->