TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH DASAR-DASAR EPIDEMIOLOGI RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

Disusun Oleh: Umi Desy M. R. Prabasita Umi H. Shinta Mega Amaliyah Nahar Aziz G1B007 G1B008064 G1B010005 G1B010033 G1B010050 G1B010076

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT PURWOKERTO 2011

masih banyak kelompok masyarakat di negara berkembang yang menganut konsep tersebut. Studi RAP yakni Riwayat Alamiah Penyakit mempelajari bagaimana suatu penyakit dapat timbul dan tersebar. Di lain pihak ada gangguan kesehatan atau penyakit yang belum jelas penyebabnya. Jika ada sebab pastilah ada sumbernya. pada makalah kali ini penyusun akan menjabarkan bagaimana proses suatu penyakit terjadi. Ternyata setelah penyakit menular mulai dapat diatasi pada negaranegara maju. udara. Studi ini diduga mempunyai manfaat dalam mengetahui bagaimana pencegahan penyakit yang seharusnya dilakukan. Munculnya berbagai macam penyakit disebabkan oleh banyak faktor. muncullah masalah berbagai penyakit menahun/tidak menular yang unsur dan faktor penyebabnya sangat berkaitan erat dengan faal tubuh. Hingga saat ini. struktur kejadian seperti masa inkubasi bahkan mencoba menerapkan level of prevention dalam penjabarannya. Pada tahap berikutnya. Namun demikian dalam teori tidak dijelaskan bagaimana kedudukan manusia dalam interaksi tersebut. mutasi dan sifat resistensi tubuh dan pada umumnya terdiri dari berbagai faktor yang saling berkaitan. agar penyakit tersebut dapat tertangani dan teratasi tanpa mengabaikan dasar-dasar ilmu epidemiologi yang telah ada. cuaca. Hippocrates telah mengembangkan teori bahwa timbulnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang meliputi air. tanah. maupun proses kejadian. Latar Belakang Penyakit merupakan salah satu gangguan kehidupan manusia yang telah dikenal orang sejak dulu. serta tidak dijelaskan faktor lingkungan bagaimana yang dapat menimbulkan penyakit. Pada mulanya. maka dari situlah penyakit yang pada umumnya bersifat biasa .BAB I PENDAHULUAN A. konsep terjadinya didasarkan pada adanya gangguan makhlus halus atau karena kemurkaan dari yang maha pencipta. dan lain sebagainya. Maka. Telah diketahui bahwa perkembangan zaman di bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi membawa dampak lingkungan yang besar terhadap lingkungan. Keadaan ini sangat erat hubungannya dengan berbagai pengamatan epidemiologi terhadap gangguan kesehatan.

Tujuan Penyusunan Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan dari penyusunan makalah ini adalah mengetahui bagaimana kaitan riwayat alamiah penyakit dengan masa inkubasi berbagai macam penyakit untuk mengetahui konsep pencegahannya menurut ilmu epidemiologi. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana masa inkubasi pada berbagai macam penyakit. . Bagaimana tahap perkembangan penyakit secara alamiah (RAP) dan pola perkembangan penyakit? 2. dan adanya transisi epidemiologi merupakan salah satu buktinya. 3. Apa manfaat Riwayat Alamiah Penyakit (RAP) dalam epidemiologi? C.saja menjadi suatu penyakit yang lebih bersifat patogen.

Sh. nyeri kepala. Riwayat Alamiah Penyakit (RAP) Riwayat Alamiah Penyakit (Natural History if Disease) adalah perkembangan suatu penyakit tanpa adanya campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural. Flexneri. Masa inkubasi adalah tenggang waktu antara masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit. tetapi gejala-gejala penyakit belum nampak. riwayat alamiah suatu penyakit dapat digolongkan dalam 5 tahap : 1. disebabkan oleh GEJALA KLINIS Demam. Boydii. tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh manusia. Keadaan ini disebut sehat. 2. Sh. bersifat kronis dan residif. nyeri perut hebat. Berikut informasi tentang masa inkubasi berbagai macam penyakit: Tabel 2. Dysenteriae. Pada tahap ini bibit penyakit masuk ke tubuh penjamu. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda. sampai timbulnya gejala penyakit. Sh. Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda-tanda penyakit dan daya tahan tubuh penjamu masih kuat dan dapat menolak penyakit. contohnya Sh. Tahap Pre Patogenesis (Stage of Susceptibility) Tahap ini sering juga disebut fase rentan. yang bersifat menahun misalnya kanker paru. Tahap Inkubasi (Stage Of Presymtomatic Disease) Masa inkubasi adalah periode waktu sejak masuknya penyebab awal pada pejamu hingga timbulnya manifestasi klinis dari suatu penyakit infeksi. AIDS dll.BAB II PEMBAHASAN A. Misalnya seperti kolera 1-2 hari. Secara rinci. diare sedikit-sedikit bercampur lender kemerahan Vesikel berkelompok yang nyeri dapat timbul setelah kontak primer dengan virus MASA INKUBASI 2 hari 2 Herpes Simplek Masa inkubasi sekitar 5 hari (berkisar antara 2-12 .1 Masa Inkubasi Berbagai Macam Penyakit NO 1 PENYAKIT Shigelosis Disentri Basiler PENGERTIAN Penyakit diare yang disebabkan oleh : Shigella. dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk ke dalam tubuh. Sonnei Herpes simplek adalah penyakit yang mengenai kulit dan mukosa.

Lepra lepra (leprosy) atau Morbus dalam 2 (dua) bentuk Hansen. Infeksi herpes dapat menimbulkan implikasi (kesimpulan) serius apabila terjadi pada mata. Multi basiler (MB) dan Motala/ Motali Mata. pada bayi baru lahir. Infeksi herpes pada mata menyebabkan keratitis herpatika. mual. bukan rata kurang melalui aktivitas seksual atau lebih 28 hari. Sementara hepatitis B dan C disebarkan melalui media darah dan aktivitas seksual dan lebih berbahaya dibanding Hepatitis A. (Loetfia. melalui darah. sekitar serviks. sensasi kulit virus herpes simplek herpes virus homanis. (Agusni. yaitu : menyebutkan lain. berlangsung disebarkan oleh kotoran/tinja muntah. 2002). Vaahi (Kala Vaah). atau pada individu yang kekebalannya tertekan. Infeksi primer dapat terjadi pada sembarang tempat di kulit. Nama tersebut berbeda adanya 4 (empat) karena daerah yang berbeda criteria. dan nama lain di Pause basiler (PB) dan India: Korh. Mual hari setelah terutama usia 2 tahun ke atas Nyeri otot penularan yang sampai kurang lebih 15 tahun. dan di bawah telinga (parotitis) Hepatitis A Penyakit Hepatitis A Lesu.3 Hepatitis (Radang Hati/Liver) 4 5 6 Umumnya melalui 4 Masa tahap: tunas/inkubasi: Masa tunas/inkubasi Virus Hb A : 14 Masa – 45 hari prodormal/preikterik : 3 – Virus Hb B : 40 10 hari – 180 hari Masa ikterik : 1 – 2 Virus Hb NANB minggu : 15 – 60 hari Masa penyembuhan : 3 Virus delta : 40 – 4 bulan – 180 hari Parotitis/ Penyakit infeksi akut akibat Demam Masa inkubasi Gondongan virus mumps. Kusta/ Penyakit kusta disebut juga Umumnya ditemukan 3-20 tahun. di bawah rahang. (Mandal. lelah. 2006) . menentukan kusta perlu 2000). 2007 : 47) Hepatitis virus akut adalah : penyakit radang hati akut karena infeksi virus hepatotropik tersebut. 2001). hari). kehilangan Masa inkubasi disebabkan oleh virus yang nafsu makan. diserang seperti kelenjar ludah di bawah lidah. terjadi lewat Ada beberapa lokasi yang droplet. seperti Ditemukannya lesi kulit pathala di Sondwa dan Korh yang khas dan Kala Vaa di Thandla Adanya gangguan (Bhopal. Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C). sakit kepala 18-50 hari penderita biasanya melalui dengan ratamakanan (fecal – oral). Pathala menurut WHO untuk dan Bada Dukh (Kandouw. Sering Pusing sekitar 14-24 menyerang anak-anak.

Tahap Penyakit Lanjut Bila penyakit penjamu bertambah parah. 2 Sifilis MASA INKUBASI 7 sampai 12 hari 3 4 5 Gonore Trikomoniasis Kutil Kelamin/Kandiloma Akuminata/Jengger Ayam 6 Klamidia Stadium Dini (primer) 9 – 10 hari Stadium II (sekunder) 6 – 8 Infeksi bakteri minggu Treponema pallidum Stadium III (Laten) 3 – 7 tahun setelah infeksi Sifilis Tersier 10 – 20 tahun setelah infeksi primer Kuman Neisseria 1 – 14 hari. Bakteri Chlamydia 7 – 12 hari trachomatis (Gherstman. 2003) 3. Tahap Penyakit Dini (Stage of Clinical Disease) Tahap ini mulai dihitung dari munculnya gejala-gejala penyakit. karena tidak diobati atau tidak tertangani serta tidak memperhatikan anjuran-anjuran yang diberikan pada . tetapi jika tidak. pada tahap ini penjamu sudah jatuh sakit tetapi masih ringan dan masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari. dengan rata-rata gonorrhoeae 2 – 5 hari Parasit Trichomonas 3 – 28 hari Vaginalis Human Papiloma Virus (HPV) tipe tertentu dengan 1 – 8 bulan (rata-rata 2 – 3 kelainan berua bulan) fibroepitelioma pada kulit dan mukosa. Hal ini tergantung daya tahan tubuh manusia itu sendiri. mungkin bisa sembuh. Bila penyakit segera diobati.2 Pembagian Masa Inkubasi PMS (Penyakit Menular Seksual) NO.Penebalan saraf tepi BTA positif dari sediaan sayatan kulit Tabel 2. JENIS PMS PENYEBAB 1 Herpes Herpes Zoster Herpes Simplex Virus Zoster Terdapat dua tipe herpes simlex. bisa bertambah parah. istirahat dan perawatan yang baik di rumah (self care). Herpec simplec tipe satu disebabkan oleh Virus Herpes Simplex HSV-1. 4. sedangkan Herpes Simplex tipe dua disebabkan oleh virus HSV-2. seperti gizi.

dkk. Dalam epidemiologi penyakit . Keadaan ini bukanlah keadaan yang diinginkan (Hestianingsih. kualitas (virulensi kuman. sedang sampai yang berat dengan komplikasi pada organ-organ vital (Sugeng. karena gejala penyakit tak tampak lagi. tapi dapat berbahaya terhadap orang lain/masyarakat. yang pada suatu saat bila daya tahan tubuh penjamu menurun akan dapat kembuh kembali. e. Kronis. Penyakit penjamu berakhir/bebas dari penyakit. Intensitas infeksi dan derajat penyakit bergantung kepada: 1. Meninggal. tetapi dalam tubuh penjamu masih terdapat bibit penyakit. B. Keadaan ini penjamu masih tetap berada dalam keadaan sakit.penyakit dini. Sembuh sempurna (bentuk dan fungsi tubuh penjamu kembali berfungsi seperti keadaan sebelumnya/bebeas dari penyakit) b. kemampuan biologis. dari yang ringan. Tahap Penyakit Akhir Tahap akhir dibagi menjadi 5 keadaan : a. 2008). Pada karier perjalanan penyakit seolah terhenti. dan lain sebagainya. Sembuh tapi cacat. maka penyakit masuk pada tahap lanjut. Tahap ini penjamu memerlukan perawatan dan pengobatan yang intensif. jumlah kuman. Pada tahap ini perjalanan penyakit tampak terhenti. mental maupun sosial) dan sangat tergantung dari serangan penyakit terhadap organ-organ tubuh penjamu. Pola Perkembangan dan Spektrum Penyakit Spektrum penyakit adalah berbagai variasi tingkatan simptom dan gejala penyakit menurut intensitas infeksi atau penyakit pada penderitanya. Karier. Agent – jenis kuman. 5. Apabila keadaan penyakit bertambah parah dan tak dapat diobati lagi. c. Keadaan ini tak hanya membahayakan penjamu sendiri. tidak bertambah berat maupun ringan. karena terjadi cacat (fisik. Penjamu terlihat tak berdaya dan tak sanggup lagi melakukan aktifitas. toksisitas). tapi gejalagejala penyakit tidak berubah. 2011). tapi kesembuhannya tak sempurna. karena dapat menjadi sumber penularan penyakit (human reservoir) d. sehingga berhentinya perjalanan penyakit karena penjamu meninggal dunia. Dengan kata lain.

proses terjadinya infeksi. Tergantung tingkat kerentanan (atau imunitas). baik intrinsik maupun ekstrinsik. penyakit klinis. jenis kelamin. Virulensi – kemampuan penyakit untuk menyebabkan kematian. individu sebagai penjamu yang terpapar oleh agen kausal dapat tetap sehat. Dihitung dari jumlah kasus yang mati dibagi dengan jumlah kasus klinis (Murti. maka individu tersebut dikatakan mengalami infeksi. perpindahan agen dari pejamu ke reservoir atau sebaliknya. Hanya jika agen kausal penyakit infeksi terpapar pada individu lalu memasuki tubuh dan sel (cell entry).infeksi. tetapi cenderung untuk menyebar. mode of transmission. portals of entry and exit. Dalam riwayat alamiah penyakit infeksi. yang mempengaruhi penjamu maupun agen kausal. 2.kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan terjadinya infeksi. 3. lingkungan yang melemahkan. dan lain sebagainya. 2. reservoir. 2005). Ukuran yang menunjukkan kemampuan agen penyakit untuk mempengaruhi riwayat alamiah penyakit sebagai berikut: 1. kondisi fisiologis (hormonal). kuman akan melalui pintu keluar (portal of exit). lalu melakukan multiplikasi dan maturasi. atau mengalami infeksi (jika penyakit infeksi) dan mengalami perubahan patologi yang ireversibel. Suatu penyakit (menular) tidak hanya selesai sampai pada jatuh sakitnya seseorang. Dihitung dari jumlah kasus klinis dibagi dengan jumlah individu yang terinfeksi. individu yang terpapar belum tentu terinfeksi. maupun kematian dari suatu penyakit tergantung dari berbagai determinan. Host manusia – umur. Dalam proses perjalanan penyakit. genetik. . harus melalui pintu masuk tertentu (portal of entry) calon penderita baru dan kemudian untuk berpindah ke penderita baru lainnya. faktor gizi. Beberapa komponen dalam proses terinfeksinya penyakit ialah sebagai agent. Infektivitas . Dihitung dari jumlah individu yang terinfeksi dibagi dengan jumlah individu yang terpapar. daya tahan tubuh. Patogenesitas – kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan penyakit klinis. dan menimbulkan perubahan patologis yang dapat dideteksi secara laboratoris atau terwujud secara klinis. immunity. Indikator ini menunjukkan kemampuan agen infeksi menyebabkan keparahan (severety) penyakit.

sedangkan. 2. harus berjalan melalui suatu lingkaran perjalanan khusus atau suatu jalur khusus yang disebut jalur penularan (Mode of Transmission). 4. ialah: 1. batuk atau melalui udara pernapasan. 3. Penularan tidak langsung: adalah penularan yang terjadi melalui media tertentu. muntah maupun bersama tinja. Melalui saluran nafas (hidung & tenggorokan): melalui droplet sewaktu reservoir/penderita bicara. Melalui luka pada kulit ataupun mukosa 6. dan melalui vektor (vector borne) (Sugeng. bersin. Melalui konjungtiva. seperti media udara (air borne). jumlah kasus AIDS hanya memperlihatkan sebagian kecil dari seluruhinfeksi HIV. yaitu: 1. ke pejamu potensial yang baru. Secara mekanik: seperti suntikan atau gigitan pada beberapa penyakit tertentu. (Bhisma. Melalui saluran urogenitalia: biasanya bersama-sama dengan urine atau zat lain yang keluar melalui saluran tersebut. Metafora ini juga berlaku untuk penyakit-penyakit kronis dan cedera (injuries). Fenomena gunung es dan tidak diketahuinya proporsi asimptomatik dapat menyulitkan perencanaan program pelayanan kesehatan Banyak kasus asimptomatik. 2003). Penularan langsung: yakni penularan yang terjadi secara langsung dari penderita atau reservoir. Kasus didiagnosis oleh klinisi di komunitas seringkali hanya menggambarkan “puncak gunung es” (the ice-berg phenomenon) sebagai contoh. Melalui pencernaan: baik bersama ludah.Portal of entry/portal of exit. 2. 2011). Secara garis besarnya. jalur penularan (Mode of Transimission) dapat dibagi menjadi dua. 5. Hambatan teknologi instrumen kedokteran untuk diagnosis dini dan skrining . 2. yang biasanya hanya dijumpai pada beberapa penyakit mata tertentu. Sebagai contoh. Beberapa masalah yang berkaitan dengan riwayat alamiah penyakit adalah : 1. tetapi tidak menunjukkan gejalagejala sampai datangnya serangan jantung yang pertama. banyak orang yang mengalami aterosklerosis pada arteria koronaria. melalui benda tertentu (vechicle borne). Setelah unsur penyebab telah meninggalkan reservoir maka untuk mendapatkan potensial yang baru.

2006). perbaikan lingkungan fisik agar air. dan beberapa penyakit lain menjadi infeksius dalam beberapa hari sebelum gejala awal. Orang terinfeksi yang tidak tampak atau tidak terdiagnosis dapat menjadi sumber infeksi dan menularkan penyakit. C. Konsep Tingkat Pencegahan Penyakit (Level of Prevention) Konsep tingkat pencegahan penyakit ialah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian dengan menggunakan langkah‐langkah yang didasarkan pada data/ keterangan bersumber hasil analisis/ pengamatan/ penelitian epidemiologi (Bustan. pasteurisasi. penyemprotan insektisida) agar memutus rantai penularan. sanitasi lingkungan & perumahan menjadi bersih. 2002) Prinsip upaya penceggahan lebih baik dari sebatas pengoobatan. misal orang dengan penderita campak. yaitu : 1. menurunkan pengaruh serendah mungkin (desinfeksi. pemberian imunisasi. Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) seperti promosi kesehatan dan pencegahan khusus. lingkungan & pejamu. Masyarakat yg tidak menyadari dirinya sakit. Langkah pencegahan di faktor lingkungan misalnya. . sehingga seolah-olah asimptomatik 6. Langkah pencegahan di faktor pejamu misalnya perbaikan status gizi. gaya hidup maupun kondisi lain yang merupakan Faktor Resiko untuk munculnya statu penyakit. Pencegahan Primordial Berupa Upaya untuk memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak dapat berkembang karena tidak adanya peluang dan dukungan dari kebiasaan. Terdapat 4 Tingkatan Pencegahan dalam Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Sasarannya ialah faktor penyebab. Misalnya : menciptakan prakondisi dimana masyarakat merasa bahwa merokok itu merupakan statu kebiasaan yang tidak baik dan masyarakat mampu bersikap positif untuk tidak merokok. 2. status kesehatan.3. Kemungkinan infeksius cepat. hepatitis A. 4. 5. strerilisasi. Langkah pencegahaan di faktor penyebab misalnya. Masyarakat mengalami gejala ringan tapi tidak segera berobat (Anonim.

Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) seperti pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi. Studi prognostik yaitu studi yang digunakan untuk mempelajari faktor risiko dan perkiraan akhir penyakit. Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) seperti diagnosis dini serta pengobatan tepat. dan besarnya pengaruh terhadap penyakit. Studi etiologi yaitu studi yang digunakan untuk menemukan penyebab penyakit. tanda atau kumpulan gejala pada penyakit yang diderita induvidu yang mana secara statistic berhubungan dengan peningkatan kejadian kasus baru berikutnya (beberapa induvidu lain pada suatu kelompok masyarakat). Sasarannya ialah pada penderita / seseorang yang dianggap menderita (suspect) & terancam menderita. pemberian chemoprophylaxis (Prepatogenesis / patogenesis penyakit tertentu). dan perilaku manusia.3. Sasarannya adalah penderita penyakit tertentu. Epidemiologi modern menaruh perhatian yang besar terhadap riset etiologi. dikarenakan terdapat: 1. Beberapa usaha pencegahannya ialah seperti pencarian penderita. D. . Faktor resiko itu adalah karakteristik. Dari faktor resiko inilah yang kemudian dijadikan dasar penentuan tindakan pencegahan dan penanggulangan. Berkembangnya epidemiologi molekuler di awal abad ke 21 memungkinkan penelitian berbagai indicator/petunjuk (markers) pada tahap subklinis penyakit. hubungan satu dengan lainnya. Tujuannya ialah mencegah jangan sampai mengalami cacat & bertambah parahnya penyakit juga kematian dan rehabilitasi (pengembalian kondisi fisik/ medis. meneliti kemungkinan pengaruh berbagai faktor biologis. 2002). Tujuannya adalah untuk diagnosis dini & pengobatan tepat (mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit lebih lanjut/ akibat samping & komplikasi). Manfaat RAP dalam epidemiologi Studi tentang RAP merupakan bagian dari studi epidemiologi. terhadap kejadian penyakit dan status kesehatan manusia. 4. 2. mental/ psikologis & social (Bustan. lingkungan.

Sifat-sifat biologis kuman patogen sehingga menjadi bahan informasi untuk pencegahan penyakit. Lama dan beratnya keluhan yang dialami oleh penderita kejadian penyakit menurut musim (season) kapan penyakit itu lebih frekuen kejadiannya 4. 2009). antara lain: 1. Studi intervensi yaitu studi yang digunakan untuk mengevaluasi efikasi atau efektivitas intervensi. Dari RAP diperoleh beberapa informasi penting. 2003). Sifat-sifat biologis kuman patogen sehingga menjadi bahan informasi untuk pencegahan penyakit. 2. Kelengkapan keluhan (symptom) sebagai bahan onformasi dama menegakkan diagnosis 3. Keterlambatan diagnosis akan berkaitan dengan keterlambatan terapi (Erni. Untuk diagnostik. .3. Untuk pencegahan. pencegahan sekunder. Kecenderungan lokasi geografis serangan penyakit sehingga dapat dengan mudah dideteksi lokasi kejadian penyakit. masa inkubasi dapat dipakai sebagai pedoman penentuan jenis penyakit. Lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan. Untuk terapi. dengan mengetahui kuman patogen penyebab dan rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah ditemukan titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit. atau pencegahan tersier (Bhisma. Masa inkubasi atau masa latent. baik yang sifatnya pencegahan primer. 5. intervensi atau terapi hendaknya diarahkan pada fase paling awal.

3. 2. kelengkapan keluhan (symptom) sebagai bahan onformasi dama menegakkan diagnosis. dan kita bisa mengetahui teknik atau pengobatan apa yang sesuai bagi penyakit tersebut. dengan adanya masa inkubasi yang berbeda dari berbagai macam penyakit maka kita dapat memprediksi pencegahan penyakit tersebut agar tidak terlampau parah dan tersebar luas. lama dan beratnya keluhan yang dialami oleh penderita kejadian penyakit menurut musim (season) kapan penyakit itu lebih frekuen kejadiannya. antara lain: masa inkubasi atau masa latent. . Studi RAP merupakan bagian dari ilmu epidemiologi. Dari RAP diperoleh beberapa informasi penting. kecenderungan lokasi geografis serangan penyakit sehingga dapat dengan mudah dideteksi lokasi kejadian penyakit dan sifatsifat biologis kuman patogen sehingga menjadi bahan informasi untuk pencegahan penyakit.BAB III KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa : 1. Kita dapat melakukan tahap pencegahan penyakit atau level of prevention jika kita mengetahui dengan jelas bagaimana riwayat suatu penyakit tercebut dapat terjadi. Memperhatikan beberapa faktor baik faktor penyebab dan risiko maka kami penyusun melihat adanya hubungan sebab akibat yang terjadi di antara keduanya. RAP atau Riwayat Alamiah Penyakit menjelaskan bagaimana suatu penyakit dapat terinfeksi dan tersebar dalam tubuh manusia.

http://arviant. .. dkk.ac.pdf.. Diakses tanggal 22 September 2011. Pengantar Epidemiologi. 2003.wordpress. Bustan MN. Gerstman.DAFTAR PUSTAKA Anonim.ac. California: Willey Liss. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Diakses pada tanggal 22 September 2011. 2003.pp. Lasusu. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi kedua) Jilid Pertama. Erni Yusnita.web. http://elearning. 2002. 2008.id/content/Epidemiologi%20dasar. 2006. Jakarta: Rineka Cipta. Diakses tanggal 26 September 2011.ugm. Hestianingsih.files. http://ernilalusu. Epidemiologi Kebidanan./materi-pengantar-epidemiologi1. Epidemiology Kept Simple. Murti. 2009.gunadarma. Bisma. Epidemiologi Dasar.com/.pdf.id/docmodul/epidemiologi_kebidanan/bab1definisi_epidemiologi. Pengantar epidemiologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful