JURNAL MAJELIS

Tugas, Wewenang, dan Peran MPR Pasca Perubahan UUD NRI Tahun 1945
Pendahuluan Seperti kita ketahui bersama MPR hasil pemilihan umum Tahun 1999, menindaklanjuti tuntutan reformasi yang menghendaki perubahan UUD 1945 dengan melakukan satu rangkaian perubahan konstitusi dalam empat tahapan yang berkesinambungan, sejak Sidang Umum MPR Tahun 1999 sampai dengan Sidang Tahunan MPR Tahun 2002. Perubahan UUD 1945 tersebut dilakukan MPR guna menyempurnakan ketentuan fundamental ketatanegaraan Indonesia sebagai pedoman utama dalam mengisi tuntutan reformasi dan memandu arah perjalanan bangsa dan negara pada masa kini dan yang akan datang, dengan harapan dapat berlaku untuk jangka waktu ke depan yang cukup panjang. Selain itu, perubahan UUD 1945 tersebut juga dimaksudkan untuk meneguhkan arah perjalanan bangsa dan negara Indonesia agar tetap mengacu kepada cita-cita negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap

Oleh: Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, M.A.
Ketua MPR RI

n Vol. 1 No.1. Agustus 2009

13

yaitu Presiden. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Tugas dan Wewenang MPR Pasca Perubahan Salah satu perubahan penting setelah dilakukannya perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945 adalah perubahan terhadap Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: Pan Faiz Mohammad. Badan Pemeriksa Keuangan. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Antara lembaga yang satu dengan yang lain dilaksanakan prinsip saling mengawasi dan saling mengimbangi atau checks and balances. Agustus 2009 n . UUD memberikan pembagian kekuasaan (separation of power) kepada 6 Lembaga Negara dengan kedudukan yang sama dan sejajar. Presiden dan Wakil Presiden. dan Mahkamah Konstitusi). Untuk selebihnya Undang-Undang Dasar menetapkan dibentuknya lembaga-lembaga negara (DPR. dan anggota Dewan Perwakilan Daerah.1. memilih Bupati dan Wakil Bupati. dan keadilan sosial. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Lembaga Negara dan Sistem Penyelenggaraan Kekuasaan Negara Sesudah Perubahan UUD 1945 (Deskripsi Struktur Ketatanegaraan RI “Setelah” Amandemen UUD 1945).JURNAL MAJELIS bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. yaitu dalam hal memilih Presiden dan Wakil Presiden. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Dasar itu. anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 1Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi dimana kedaulatan berada di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya menurut UUD. serta Walikota dan Wakil Walikota. Sebagian kedaulatan itu tetap dipegang dan dilaksanakan sendiri oleh rakyat. yaitu dalam hal memilih Gubernur dan Wakil Gubernur. “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Mahkamah Agung. Dengan rumusan itu dimaksudkan. memajukan kesejahteraan umum. maka ada 6 (enam) lembaga Negara yang diberikan kekuasaan secara langsung oleh konstitusi. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 1 No. Jakarta: 2009. dan kepada masing-masing lembaga itu ditetapkan secara definitif fungsi dan kewenangannya sesuai dengan posisi/kedudukannya. Mahkamah Agung (MA). dan Mahkamah Konstitusi (MK). Pasca perubahan UUD 1945. DPD. bahwa kedaulatan itu pada hakekatnya tetap melekat dan berada di tangan rakyat. Lembaga-lembaga negara itu berada dalam kedudukan yang setara. MPR. rakyat tetap memegang kedaulatannya secara langsung. 1 14 Vol. perdamaian abadi. dan Undang-Undang Dasar yang mengatur pelaksanaannya. Dalam Bab I Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa. mencerdaskan kehidupan bangsa. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Undang-undang kemudian juga menetapkan.

1 No. dan Mahkamah Konstitusi. MPR masih berwenang untuk: a. kini MPR berkedudukan sebagai lembaga negara yang setara dengan lembaga negara lainnya. mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar.” Rumusan Pasal 1 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 sebelum perubahan menyatakan bahwa. tugas. Badan Pemeriksa Keuangan.JURNAL MAJELIS “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. d. dan wewenang MPR yang sering menghadirkan kesalahpahaman terhadap MPR dan Pimpinan MPR yang dahulu berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara. dan wewenang MPR tersebut memang tidak berarti menghilangkan peran penting MPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. serta memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam masa jabatannya. melantik Wakil Presiden menjadi Presiden apabila Presiden mangkat. MPR juga tidak mempunyai tugas dan wewenang untuk menetapkan garis-garis besar daripada haluan negara sebagaimana diatur dalam Pasal 3 UUD NRI Tahun 1945 sebelum diubah. Berubahnya kedudukan. memutuskan usul DPR berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan untuk menyampaikan penjelasan di dalam Sidang Paripurna MPR. Mahkamah Agung.1. tugas. c. “Kedaulatan adalah di tangan rakyat. kecuali jika Presiden dan/atau Wakil Presiden berhalangan tetap sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UUD NRI Tahun 1945. dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilihan umum dalam Sidang Paripurna MPR. Selain itu. b. dari dua paket calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang paket calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan n Vol. diberhentikan. pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat. atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatannya. memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diajukan Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya selambatlambatnya dalam waktu enam puluh hari. Berubahnya kedudukan MPR juga berimplikasi kepada tugas dan wewenang MPR. yaitu: Lembaga Kepresidenan. Dewan Perwakilan Rakyat. Agustus 2009 15 . berhenti. MPR tidak lagi mempunyai tugas dan wewenang untuk memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden. Dewan Perwakilan Daerah.” Hal ini membawa implikasi terhadap kedudukan. e.

jelas diperlukan Pimpinan MPR yang nyata dan tidak dirangkap. bukan hanya terbentuk karena joint session dari lembagalembaga negara lainnya. sampai habis masa jabatannya selambatlambatnya dalam waktu tiga puluh hari. maka apabila ada pendapat yang menyatakan bahwa MPR adalah “forum Joint Session” dan “tidak dapat dilembagakan” adalah pendapat yang tidak berdasar dan tidak mempunyai argumentasi yang kuat. bahwa “Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang”.1. (2) dan (3) UUD NRI Tahun 1945. Kewenangan MPR yang sangat mendasar sebagaimana tertuang dalam UUD NRI Tahun 1945 semacam itu. Keberadaan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai institusi negara secara eksplisit telah tertuang dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau hanya eksis kalau ada Joint Session saja. tidak mungkin dapat dilaksanakan apabila tanpa melalui mekanisme pengorganisasian. Dengan adanya fakta-fakta dan argumentasi sebagaimana terangkai di atas. dan bukan sekedar satu forum yang terbentuk sebagai hasil joint session antara DPR dan DPD. Penegasan lebih lanjut bahwa MPR adalah “lembaga negara yang nyata 16 Vol. Demikian juga dalam hal kalau sekurang-kurangnya sepertiga anggota MPR mengajukan usul Perubahan UUD NRI 1945 yang harus disampaikan pada Pimpinan MPR. Melihat kewenangan-kewenangan diatas. MPR secara konstitusional diberikan fungsi dan wewenang sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 ayat (1). Agustus 2009 n . Meskipun sebatas yang tercantum dalam pasal-pasal dan ayatayat itu fungsi dan kewenangan MPR sekarang. dan Pasal 8 ayat (1). dan (3). Oleh karena itu MPR dibutuhkan keberadaannya secara permanen dan terus menerus sebagai sebuah organisasi atau lembaga negara.JURNAL MAJELIS kedua dalam pemilihan sebelumnya. Setelah pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah diputus oleh Mahkamah Konstitusi (MK) terbukti melanggar hukum atau tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden maka DPR menindaklanjutinya dengan menyampaikannya kepada Pimpinan MPR yang selanjutnya wajib mengundang Sidang MPR. Hal ini juga bisa dilihat dalam melaksanakan impeachment sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (3). substansinya adalah menyangkut hal-hal yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan bernegara. (2). Sebagai lembaga negara yang mempunyai eksistensi dalam sebuah bangunan negara. Ketentuan tersebut menegaskan bahwa MPR adalah lembaga yang nyata ada. yang terkait dengan rujukan hukum tertinggi di Indonesia yaitu UUD NRI 1945 dan terkait dengan kekuasaan eksekutif tertinggi yaitu Presiden dan Wakilnya. 1 No.

Berikut ini adalah mekanisme pelaksanaaan tugas dan wewenang MPR sesuai dengan ketentuan UUD NRI Tahun 1945. n Vol. Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Mahkamah Konstitusi hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat[(Pasal 7B ayat (3)]. Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan [Pasal 37 (5)]. sidang MPR dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR [Pasal 37 (3)]. korupsi. Putusan dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% + 1 anggota dari seluruh anggota MPR [Pasal 37 (4)]. Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum tersebut ataupun telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat [(Pasal 7B ayat (2)]. 4.1. Mekanisme Perubahan UUD NRI Tahun 1945 1. 3. Mekanisme impeachment/pemberhentian presiden 1. mengadili. Usul perubahan diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota MPR [Pasal 37 (1)]. atau perbuatan tercela. 2.JURNAL MAJELIS ada” tercermin dalam susunan dan kedudukan MPR itu sendiri yang diatur secara implisit-eksplisit dalam konstitusi maupun peraturan perundang-undangan. Usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa. B. dan memutus pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. 2. penyuapan. diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya [Pasal 37 (2)****]. Agustus 2009 17 . 1 No. tindak pidana berat lainnya. khususnya mengenai ketentuan perubahan UUD NRI Tahun 1945 dan impeachment. dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden [(Pasal 7B ayat (1)]. 5. 3. A.

Berkembangnya pendapat terkait dengan adanya wacana tentang Perubahan UUD NRI Tahun 1945.JURNAL MAJELIS 4. oleh Pimpinan MPR dipandang sebagai bentuk kedaulatan rakyat. Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir. Presiden harus dinyatakan melanggar hukum. Majelis Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lambat tiga puluh hari sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat menerima usul tersebut [(Pasal 7B ayat (6)].1. penyuapan. 7. Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa. atau perbuatan tercela. tindak pidana berat lainnya. Dari mekanisme ini terlihat bahwa proses impeachment pasca perubahan UUD NRI tahun 1945 tidaklah mudah. Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat [(Pasal 7B ayat (5)]. mengadili. Peran MPR Pasca Perubahan UUD 1945 Peran MPR pasca perubahan Undang-Undang Dasar dapat dilihat dari sikap MPR terhadap adanya wacana perubahan kembali UUD 1945 serta upaya MPR dalam menegakkan kehidupan berkonstitusi di negara kita. Agustus 2009 n . Proses usulan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme politik tetapi dengan mengingat dasar usulan pemberhentiannya yaitu masalah pelanggaran hukum melalui Mahkamah Konstitusi. HAM dan partisipasi publik dalam hal menyampaikan aspirasi dan kepentingan bagi 18 Vol. dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lama sembilan puluh hari setelah permintaan Dewan Perwakilan Rakyat itu diterima oleh Mahkamah Konstitusi [(Pasal 7B ayat (4)]. 5. 6. Apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. korupsi. dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. 1 No. setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat [(Pasal 7B ayat (7)].

baik kritikan terhadap materi ataupun praktek penyelenggaraannya yang cenderung dipandang multi-interpretasi terutama dalam hal hubungan antar lembaga Negara dapat kami sampaikan bahwa sebenarnya UUD NRI Tahun 1945 mengatur bahwa fungsi dan kedudun Vol. Berkembangnya pendapat di masyarakat mengenai kelemahan terhadap hasil perubahan UUD NRI Tahun 1945. Rapat dan pertemuan dimaksud dilakukan oleh pimpinan dalam rangka melakukan penilaian terhadap usul perubahan yang diajukan oleh Kelompok DPD untuk mendapatkan masukan dan telaahan secara komprehensif terkait dengan usul perubahan tersebut. Dengan kata lain.1. baik usulan yang berasal dari anggota MPR maupun dari kalangan lain.JURNAL MAJELIS kemajuan dan koreksi dalam hal penyelenggaraan negara yang mengedepankan kepentingan publik. bukan sebaliknya manusia untuk konstitusi. MPR selalu menyikapi aspirasi masyarakat khususnya mengenai usulan perubahan kembali terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ini. Hal ini sejalan dengan pandangan. 1 No. maka sesuai dengan kewenangan konstitusional yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai lembaga negara yang memiliki kewenangan mengubah dan menetapkan UUD NRI Tahun 1945. bahwa MPR mempunyai kewenangan untuk mengubah dan menetapkan Undang Undang Dasar 1945. tetapi tetap dengan mengikuti ketentuan yang mengatur mengenai perubahan UUD NRI Tahun 1945 yaitu dalam Pasal 37 UUD NRI Tahun 1945. kegiatan Pimpinan MPR dalam rangka mengagendakan usaha tersebut antara lain meliputi Rapat Pimpinan. MPR memandang bahwa agenda untuk melakukan perubahan terhadap UUD NRI Tahun 1945 dapat dilakukan setiap saat. Rapat gabungan Pimpinan MPR dan Pimpinan Fraksi. dan pertemuan dengan beberapa pakar/ahli tatanegara. termasuk dari Dewan Perwakilan Daerah beberapa waktu yang lalu (usul tanggal 8 Juni 2006 dan usul tanggal 10 Mei 2007). Terkait dengan usul perubahan pasal 22 D Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diajukan oleh Kelompok DPD. konstitusi dimaksud untuk memudahkan suatu bangsa dalam melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasal 37 UUD NRI Tahun 1945 mencantumkan klausul yang memberi peluang dilakukannya perubahan. bahwa konstitusi dibuat untuk kepentingan kehidupan manusia. Tanggapan MPR terkait usul DPD yang diajukan tanggal 10 Mei 2007. Agustus 2009 19 . maka sesuai ketentuan yang ada sebagaimana tertuang dalam Peraturan Tata tertib MPR telah dilakukan beberapa kegiatan Pimpinan MPR sebagai salah satu alat kelengkapan MPR sesuai dengan batas-batas kewenangannya.

DPD. belum memahami dengan baik UUD NRI 1945.1. status hukum. Padahal kualitas kehidupan bernegara jelas sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengamalan penyelenggara negara dan warga masyarakat atas konstitusinya. yang merupakan putusan MPR terpenting. Agustus 2009 n . Pimpinan MPR telah membentuk Tim Kerja Sosialisasi Putusan MPR yang anggotanya berjumlah 70 orang. Memasyarakatkan atau lebih dikenal dengan istilah sosialisasi putusan MPR tersebut. dan yudikatif dengan mengedepankan prinsip checks and balances system. namun hingga saat ini masih banyak masyarakat termasuk para pengambil keputusan di negara ini. hal tersebut lebih cenderung pada belum adanya kesamapahaman terhadap seluruh ketentuan yang ada dalam UUD NRI Tahun 1945. termasuk pelajar SMA juga melalui TOT. sosialisasi putusan MPR dilaksanakan ke berbagai kalangan masyarakat.JURNAL MAJELIS kan lembaga sesuai dengan prinsip pemisahan kekuasaan secara tegas yang tercermin pada lembaga negara yang menjalankan fungsi kekuasaan eksekutif. legislatif. dan masa depan Ketetapan MPRS/MPR. juga dipandang penting karena walaupun MPR telah melakukan perubahan terhadap UUD 1945 dan peninjauan Ketetapan MPRS dan MPR. terdiri atas unsur Fraksi-fraksi dan Kelompok Anggota DPD di MPR yang ditugasi untuk menyusun materi dan metode. Upaya pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 secara konsisten dan konsekuen oleh seluruh komponen bangsa. Peran MPR lainnya dapat dilihat dalam upayanya meningkatkan pemahaman berkonstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. DPR. serta melaksanakan sosialisasi putusan MPR. Dalam kaitan inilah. 1 No. termasuk di kalangan pejabat negara dan aparatur pemerintah di pusat dan daerah. jelas membutuhkan pemahaman secara utuh dan menyeluruh mengenai Undang-Undang Dasar 1945 tersebut. dan DPRD. siaran langsung dan dialog interaktif di TVRI dan RRI untuk menginformasikan dan memberikan pemahaman yang utuh dan menyeluruh mengenai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta kedudukan. Mengenai banyaknya persoalan dalam praktek penyelenggaraan negara sehari-hari. Untuk memperoleh pemahaman tersebut. kegiatan pemasyarakatan (sosialisasi) Undang-Undang Dasar 1945 menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting. Penutup 20 Vol. Mengingat pentingnya sosialisasi dan dalam rangka pelaksanaan salah satu tugas Pimpinan MPR yang diamanatkan Pasal 8 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. selain merupakan perintah undang-undang. para dosen dan guru. yakni melaksanakan dan memasyarakatkan putusan MPR.

MPR secara konstitusional diberikan fungsi dan wewenang sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 ayat (1). Sebagai contoh adalah adalah wewenang MPR dalam hal terjadinya impeachment yang tentu saja memperkuat sistem presidensial kita. fungsi dan kewenangan MPR sekarang.JURNAL MAJELIS Perubahan UUD NRI Tahun 1945 telah membawa implikasi terhadap kedudukan. dan wewenang MPR tidak berarti menghilangkan eksistensi MPR dan Pimpinannya serta peran penting MPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Agustus 2009 21 . kini MPR berkedudukan sebagai lembaga negara yang setara dengan lembaga negara lainnya. MPR masih mempunyai peran penting dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. ia juga berimplikasi kepada tugas dan wewenang MPR. Berubahnya kedudukan MPR memang sering diartikan salah baik yang terkait dengan eksistensi lembaga maupun Pimpinan MPR. (2) dan (3) UUD NRI Tahun 1945. Sebagai lembaga negara yang mempunyai eksistensi dalam sebuah bangunan negara. substansinya adalah menyangkut hal-hal yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan bernegara. Peran keseharian MPR lainnya juga terlihat dari upaya MPR mengelola setiap wacana usul perubahan UUD NRI Tahun 1945 dan peningkatan pemahaman konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sosialisasi UUD NRI 1945. n Vol. tugas. dan Pasal 8 ayat (1). dan (3). pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat. Dengan demikian perubahan kedudukan.1. Meskipun sebatas yang tercantum dalam pasal-pasal dan ayat-ayat itu. MPR yang dahulu berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara. 1 No. tugas. (2). dan wewenang MPR.

Realita. Dewan Perwakilan Rakyat. 2006. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Sejarah. S. Jakarta.JURNAL MAJELIS Daftar Pustaka Joeniarto. Lembaga Perwakilan Rakyat. Makmur & Reni Dwi Purnomowati. Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia 28 Mei 1945 – 22 Agustus 1945. Jakarta. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Amir. dan Dinamika. Undang-Undang No. 2005. Mohammad Pan Faiz.H. Lembaga Negara dan Sistem Penyelenggaraan Kekuasaan Negara Sesudah Perubahan UUD 1945 (Deskripsi Struktur Ketatanegaraan RI “Setelah” Amandemen UUD 1945). dan Ayat. 22 Vol. Jakarta. 1 No. Panduan Pemasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Sesuai Urutan Bab. 1998. Jakarta: 2009. Pasal.1. 2005. 22 Tahun 2003 Tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bumi Aksara. Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia. Cetakan Keempat. Dewan Perwakilan Daerah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Agustus 2009 n . dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Sekretariat Jenderal MPR RI.. 2008. Sekretariat Jenderal MPR RI. Februari 1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful