P. 1
Pedoman Pelayanan Gawat Darurat 1995

Pedoman Pelayanan Gawat Darurat 1995

|Views: 3,197|Likes:
Published by Hendrik Abraham

More info:

Published by: Hendrik Abraham on Dec 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2015

pdf

text

original

362.

28 Ind

r

PEDOMAN PELAYANAN GAWAT· DARURAT

CETAKAN

KEDUA

DEPARTEMEN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT RUMAH SAKIT

REPUBLIK iNDONESLt\ PELAYANAN MEO!K KHUSUS DAN SWASTA

1995

SAMBUTAN

Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita sebagaimana di tunjukkan oleh berbagai indikator utama kesehatan dan kwalitas manusia seperti menurunnya angka ksmatian. angka kelahiran, angka kesakitan dan perbaikan gizi serta rneningki'ltnyil umur harapan hidup. Namun dernikian perubahan struktur demografi, perubahan lingkllngilll hidup dan sikap perilaku serta gaya hid up masyarakat kita telah mernbawa dampak lain berupa pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke arah penyakit kronik degeneratif dan non infeksi. Meskipun penyakit infeksi masih menduduki urutan teratas dalam morbiditas urnurn di Indonesia, p ada dekade terakhir ini data-data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan R[ menunjukkan bahwa dari tahun ketahun terdapat peningkatan yang berarti dari prevalensi penyakit non-infeksi yang sering menimbulkan keadaan gawat darurat seperti penyakit kardiovaskuler, akibat cedcra atau kecelakaan. akibat keracunan dan lain-lain. Data survei kesehatan rumah tanggil tahun ] 9H6 menunjukkan bahwa penyakit kar diovask ulcr dan ccdera atau kccelakaan terutarna kecelakaan lalu lintas telah sernakin rnenonjol sebagai penyebab kernatian di Indonesia. Keadaan tersebut disertai dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran rnasyarakat akan kesehatan mcnyebabkan perrnintaan akan pelayanan gawat darurat akan scmakin bcsar. Buku pcdoman ini rncuyajikan suatu pola pelayanan gawat darurat yang diharapkan akan mcnjadi acuan bagi segen<lp pengelola rurnah sakit maupun instansi pelayanan pra-rurnah saki! unt'uk rnerighadap i tantangan masalah kesehatan terscbut secara bcrhasil guna d,1I1 berdaya guna. Saran dan kritik sunil pcnyempurn(lan buku pedornan ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

1 Maret

1992

DIREKTlIR

JENDERAL

PELA YANAN

MEDIK,

t.t.d.

Dr. BROTO W ASISTO, NIP. 140022724

MPH

.

) sistirn S.lllgan peraturan. Pcningkat.in <l g.lI1g "p rim. g<lIYdl III .11l.lll srstim agar pCllilnggulangan vaitu : pcnderita gawat Peningkatan kcrnampuan pclayanan gawat darurat rum. 2.m dan pl'ngt'lllb. Illt'niJ1gk. Sasar an upaya pclayanan galVa~ darurat ada lah pcngcmbangan pellangglliangan pcnderita gawat dar urnt disr-mua ting kat pclavanan nlampu ml'l1l1llj.1IiSil data pendcrila gawat darurat. stand ar pelayanan.rnanili('rn~'n ~ I'cnf'lapan gul. PcngE'mbangan pcnanggulangan p en d e r it a gaw<lt darurat dimaksudkan agar tcrcapainya suatu pclayanan yang optimal.mg diseicnggarakan di 1'['1"1.)11. dan pcngembangan ber.lllg mcndapat pr ioritas untuk dikembarigkan adalah pcningkat<l11 upay.'ndl'riLl gctwat dnrurat.PENGANTAR Departcnwil Kesehatnn I\J dalam RITELIT/\ .ih <akit.in y.V telah mernprioritaskan Pcngernbangan Frogr<l11l Upaya Keschatan Rujuk an.lng . S.uurat baik y.l'idY.itknn pada du. SI'LlPld iumluh p(.ru mah xakit m<lllplill dr rurnah saki!'.111 kc. cakupan dan efisiensi pelayanan rujukan rncdik dan rujukan koschatan.](ii<1ll. bcncana rnaupun penyakit yang d iderita S(.lIlgan sistim penratatan .tiah sat u Up'l}'d kt'seilatan rujuk.uv 1]('<111h ('. maupun dalam keadaan ben can a.lS<lr.l\vat darurat rru-liputi melalui kategorisasi unit rungsi iniru st ruktur Gid. Iwnderita gawat dururat: pcrencanaan peduman penang I'eningk<llan kcmarnpuan pcnderita gilwat darurat: Pen irigka tan kernarnpua pentierita gClwa! darurat.l pc'nanggulangan poncicrita gawat darurat baik dalarn koadaan schari-hari (ddily routine).He" Peningkatan darura! menitik 1.11.llll\'.lIl ~l'I1l"kill j. 11 upaya penanggulangan penangguJangan pengorga nisasian St'rtd I'r-niug kat. Tujuan Program Upaya Kesehatan Rujukan adalah peningkatan mutu.'l'ningK<ltdll tempat kq.GU.lIIClCl dan p('laporan Ucngall dif'erluk. terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang dalarn kcadaan gawat darurat sebagai akibat musibah ber upa k('celakaan. maka d.l rncndadak.l f.

MHA NIP. t.d. 1 Maret 1992 KEPALA DIREKTORAT RS KHUSUS DAN SWASTA. buku ini bermanfaat bagi Buku pedoman gawat dapat dan pengembangan Jakarta.t.ini dimaksudkan agar upaya penanggulangan penderita darurat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta mern perol eh petunjuk yang cukup jelas dalam merencanakan menyelenggarakan pelayanan gawat darurat. Sebagai pedoman semoga pelayanan gawat darurat. 140028924 IV . SOEMARJA ANIROEN. Dr.

penderita gawat darurat J\'2pal a Khus u s dan Swasta I . Buku pedoman tersebut pada tahun 1995 ini mengalarni cetak ulang disertai pcrbaikan-perbaikan materi yang diperlukan.m peningkatan antara Pel2l)'illliHl untuk dikernbangkan Da ru rnl. in i terutama terdapat dalarn Upaya untuk berjenjang penderita pelayanan gawat darurat dasar Sakit ditujukan ruj ukan menunjang pelayanan Pus kesrnas kesehatan sehingga dan Rumah da larn menanggulangi gawat darurat. Untuk memberi arahan pada upaya penanggulangan penderita gawat darurat pada tahun 1992 Departcmcn Kesehatan RI telah menerbitkan buku pedornan pelayanan gawat darurat.PENGANTAR Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sa kit Departemen pad a Repelita Repelita VI disusun sebagai kelanjutan Cawa d ar i program t Kesehatan Repelita RI V. Salah satu kegiatan yan~ terus mendapat perhatian VI adalah PCJllllgknt. Kiranya buku pedoman ini dapat mernenuhi seperlunya dan tambahan kebutuhan para pemakai secara guna rneningkatkan mutu f)enanggulangan konseptual dan sisternatis.

.

kat akan hebutuhan oelavanan k~sehatan yang l e b i h b a i k . Mengingat 1.rt. bahwa dengan pe s a t n y a perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pelayanan kesehatan khususnya untuk penansgu1angan penderita gawat darurat maka senantias3 diperlukan oenyesua ian yang tepat terhadap· perk".. Raw"" Said 810k X5 Kow.9 J. cedera akibat keceiakaan. Seta •• n Tel!>. d. bahwa dalam rangka memantaokan pelaksanaan program uoaya kesehatan rujukan melalui peningkatan mutu.k. keganasa~ keracunah dan la1n-lain: b. pembangunan a disegala bidang Dada umumnya dan p e nv e t e n q q a r a a n o e l a r a n a n k e s a n a t a n se c a r a o a r Io u r n a p a d a k h u s u s n y a . bahwaden~an e. a. kesakitan maUDun kematian akibat keda~uratan medik baik dalam keadaan sehari-hari ~aupun dalam keadaan mus ibah masa 1 . efisienSl dan c a k up a n p e La va n a n kesehatan khususnya dalam upaya Denangguiangan penderita gawat d a r u r a t.No. 4 . Undang-undang Namor pokok Kesehatan. 9 tahun 1960 ten tang Pokok- VII . penyakitDenyakit infeksi k an ad a Denyakit-penyakit non infeksi seperti penyakit kardiovaskuler. bahwa sebagai akjbat dari perubahan Dola penyakit tersebut telah terjadi lonjakan anqka.98 5204395 .. CIREKTORAT .mbangan tersebut: semakin meningkatnya kesadaran ma~yara. degerneratif.•. d t o e r Lu k a n ad a n va suatu s t anda r d i s a s i oedoman p e La y a n a n yang be r s Lf a t. _. disamping telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah pula menyebabkan ~erubahan Do1a penyakjt dimana tengah t e r iad i pergeseran co t a Denyakit dar. KEPUTUSAN MENTER I KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOHOR 0701/YAN MEO/RSKS/GOE/VII/1991 TENTANG PEDOMAN PElAYANAN GAWAT DARURAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK Menimbang INDONESIA ..I. ma k a d i p arrrra q o e r Lu n untuk secara t e r u s+me n e r u s mempe rba i k 1 dan men i ngkatkan D61ayanan kesehatan.A.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MECIK Jalan H.96 .""-. c. na s i cna l .D£PARTEMEN KESEHATAN R. bah . S20t594· 95 .

IQbal Hustafa (PKGOI) Dr. Derma. Or. Buku Pedoman Pengembangan Pelavanan Unit Ga ... Oarurat Pre Rumah at . Keput.. 2. HHA (Ka Oit RS UM DlK) 1. 3. Hermansyur K (IGO RSCM) Dr. 3.Sakit.entangelayanan Ga..Darurat..Med/RSKS/S5 tanggal 2S Me. Petrus Maturbongs (Dit RSKS) Or.. Pusponegoro (IKABI) Dr.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MEDIK T"p.DEPARTEMEN KESEHATAN R. Abdul LDtief.stim Penan99ulangan Penderita Gawat Darurat yang d. 2. 5.. 4.. 1982. Program Upaya Kesehatan Rujukan REPEL ITA V Direktorat Jenderal Pelayanan Medik... 4. DSA (RSCH) 9. Dr.. MPH (Dit RSKS) n 1.usan Menter. Susbandyah (Oit RSKS) 6 . Ketiga Ketua Sekreteris Ang9ata Dr.T. MHA eKa Dit RS Khusus dan S~asta) 2.. Ora. Bagus Mulyadi (Oit RS UMDIK) Dr... Hario Untoro (Dir RS Sekasi) 6. at Oarurat Rumah Sakit dan S. peduaan dimak6ud menvangkut Sistim Penanggulangan Penderita Ga . April 1989. viu . Haryadi (Oir RS Pasar Rebe) 7. Kesehatan RI Nomor 558/Henkes/SK/84 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI. Surat Edaran Oirektur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 0681/Yan. 1985 t. Aryono D.Dr.. Unit Ga . DIREKTOAAT . Soemarja Aniroen.. Oarurat at Rumah Sakit termasuk Penanggulangan Penderita Ga ... H. Dr..n yang harus dimiliki ole .. Kedua Revis.. P at HEM UTUSKAN Menetapkan..terbitkan oleh Direktur Jenderat Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.HPH (Oir Jen Yan Hedik) Or.I. Pertama Herevis. Abdul Radjak (Ka Sub Dit Yan GDE) Dr. Brato Wasisto. Keputusan Presiden RI Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Oepartemen. 5.: 5201594 -115·98 52(M395 • 96 • Pe$ •.. Dalam rangka revisi buku pedoman tersebut per 1u dibentuk kepanitiaan dengen susunan sebasai berikut : Penasehat Pengarah Dr. tanggal 22 Jun.at Darurat dan petunjuk teknis standard pelayan.. Tb. Boedihartono.

A r sip.ngkungan Dep Kes RI d1 JaKarta. Jakarta.•. BaDak Menter. D1 t.nan Proyek Pengembangan RS Swasta dan Khusus Pusat Jakarta. 9. 4. I WASISTO..4 . Yang bersangkutan untuk diketahui. OeD Kes RI di Jakarta.~ . MPH 140022724 Tembusan kepada ytn. Pimp. Kesehatan RI di Jakarta.. Kepala KPN III di Jakarta: 7. di 1\ .DEPARTEM£H KESEHATAN a. Keenarn Suiat Keputusan inl reulai berlaku pada tanggal dltetapkan dan apabila ternyata ad3 kekeliruan dikemudian hari akan dladakan perbaikan. No.9 J. 8. 6.alan H.kana Selatan 5204395·96.2::::ul i 1~31 J REPU8LIK INDONESIA Pelayanan Medik. Rawna Said 810k X5 Kav. Direktur Jenderal Anggaran OeD Keuangan RI di Jakarta. Keempat Biaya ravisi Buku Proyek Pengembangan Pusat Jakarta. Keoala Badan Pemeriksa Keuangan d. Sekretaris Jenderal.R..: 5201594·95·98 J.r. 3. 5. 2.: 1. MEDIK DIREKTORAT JENDERAL JAKARTA PELAVANAN Telp. Para Direktur Jenderal dil. Hal-hal diatur Pedoman Rumah diatur tersebut dlbebankan Sakit Swasta dan dalam Keputusan keoada Khusus 1n1 akan Kel ima yang belum lebih lanjut.e t ack an d i : Jakarta Pada tanggal .

.

...... xi 1 2 3 4 penanggulangall penderita Lampiran .... 57 ...... "....... . Rumah Sakil...Arnbulans udara .................Akreditasi .Resusitasi Jantung -............... Cara mcngukur Paru ... .............Sarana Unit Cawat Darurat ".......'... . .... MED/RSKS/GDE/VIJ/199L Pelayanan Gawat Darurat ......... ......." ....... 1I Kesehatan Republik MED/RSKS/1987 33 4] 43 Larnpiran Lampiran Lampiran Lampiran ........ 51 ....DAFTAR lSI Sambutan Pengantar Dirjf'll Yanmedik Kadit RSKS ...............Keputusan Menteri Nornor : 01521Yan... .............. SK MENKES No 071 IYAN Tentang Pedoman Daftar lsi Pendahuluan Pengertian Penanggulangan Sistim Penderita Gawat Darurat gawat (rrGD) darurat Indonesia '......... ..... ....... Lampiran Trauma Score .............. 84 XI ..........'....................... iii vii .. III IV V VI dan prasarana leu ' '.....................

Kegiat(ln ini horus bersifat menveluruh. Pen yelenggaraan upa ya keseha tan diatur oleh Pernerin tah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh Pernerintah dan masyarakat.. penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif).L PENDAHULUAN Upaya Bangsa Indonesia untuk mcncapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. terpadu. Upaya dalarn bidang keschatan telah dijabarkan dalam Sis tern Keschatan Nasional yang pada hakekatnya adalah berupa pemikiran dasar yang mernberi arah dan tujuan. Agar upaya pel1'Zlnggu['11lg. rohaniah dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit. serta dilaksanakan terutarna rnelalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyernbuhan dan pemulihan yang dilakukan.q. jawab dalam mernelihara dan B. . Segala upaya ini harus dilakukan secara merata kepada selur uh lapisan masyarakat dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan biaya yang dapat dipikul oleh masyarakat dan negara. merata. bentuk serta sifat kesehatan sebagai kesatuan yang menyeluruh. maka Keschatan Nasional antara lain adalah : A Dasar-Dasar Pembangunan Sernua Warga Negilli1 berhak mernperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tillgginya. Sesuai dengan azas adil dan merata. Ikrdasarki'ln hal tersebut di a las. hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati secara rnerata oleh seluruh penduduk. dan masyarakat perlu aktif berperan serta. Dalarn upaya penyernbuhan tercakup upaya penanggulangan penderita gawat darurat. dapat d iterirna dan tcrjangkau oleh scluruh masvarakat. adalah meliputi kesehatan badaniah. D. Usaha keschatan di at as mcncakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif). Direktorat Jenderal Pelayanan Medik perlu merigadakan pcnataan pelavanan gawat d ar ur at dengan rnenerbitkan suatu buku pedornan sebagai sumber inforrnasi. C. Cleat dan kelemahan. Uepctrterncn Kesohatan RI c. agar dapat hckerja dan hidup layak sesuai dengan rnartabat manusia. ter padu dan berkesinarnbungan sebagian bagian dari I'embangunan Nasional.111 pcndcriLi gawat d ar urat dapat berfungsi dengan baik. Pemerintah dan masyarakat bcrtanggung mempertinggi derajat kesehatan rakvat.

waktu kesehatan yang didapat/dialarni time). korusakan lingkullgdl1. Pasien Tidak Gawat Misalnya Kccclakaan (Accident) Tidak Darurat ulcus tropium.ecelakaan. B. Mekanisrne kejadian: Tertumbuk. Pasien Cawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. dan sebagainya. dan lain-lain. sosial). tercekik oleh benda asing. Waktu kejadian: a. jatuh.intuan.'lVV. PENGERTIAN A. C. kerugian harta benda.lIlg mernerlukan pcrtoltlJlgan dan b. kecelakaan Ialu lintas: b.l mcnimbulkan g. waktu sekolah. terpotong. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. Iisik maupun listrik atau radiasi. D. . scbagai akibat L.lt tctapi tid ak rnemerlukan darurat. perbelanjaan.II. TBC kulit. tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya.gga. Pasion Darurat Tidak Cawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba. mental. di arena olah raga. misalnya luka sayat dangkal. tersengat. waktu perjalanan (traveling/transport b.mkcr stadium laniut. Tempat kejadian: a. E. c. kecelakaan di lingkungan pckerjaan: d. kecdakaan di sekolah: e. Pasion Cawat Tidak Darurat tindakan Pasien berada d alarn kcadaan t. kerusakan sarnua dan prasarana urnum St'rt. F. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi. pasien dengan Suatu kejadian dimana terjadi interakxi berbagai faktor yang datangnya rnendadak. C. 2. waktu bekerja. tidak dikehendaki sehingga menimbulkan ccdera (fisik. berrnain 3. misalny» k. dan lain-lain. terbakar baik karena efek kimia.mgguan tcrhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pr-mbangunan llilsional y. Cedcra Masalah Benrana Pcristiwa <1 tall rangkaian pcristiwa yang disebabkan olch alarn d<1I1 atau rnanusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia.. kecelakaan di lingkungan rumah taD.

6 menit). kardiovaskuler. 2. kehilangan cairan dan elektr olit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolitc) 7. susunan saraf pusat pernapasan kardiovaskuler hati ginjal pancreas Kegagalan (kerusakan) sistim/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. Penanggulangan Penderita Gawat kematian dan cacat ditentukan oleh : Kecepatan menemukan penderita gawat darurat. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. degenerasi (failure) 5. Kecepatan meminta pertolongan. ditempat kejadian: b) dalam perjalanan ke rumah sakit. sedangkan kegagalan sistirn/ organ yang lain dapatmenyebabkan kernatian dalam waktu yang lebih lama. asfiksi 6. 3. Merujuk penderita gawat darurat melalui sistirn rujukan untuk memperoleh pencmganan yang lebih memadai. c). 3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a). keracunan (poisoning) 4. trauma/ eedera 2. Menanggulangi korban bencana. B. Kegagalan sis tim susunan saraf pusal. 2. pertolongan selanjutnya secara mantap d i Puskesrnas rumah sakit. Tujuan 1. pemapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 .III. Dengan demikian keberhasilan Darurat (PPGD) dalam mencegah 1. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Prinsip Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu sistimiorgan di bawah ini yaitu : 1. -dan lain-lain. PENANGGULANGAN A. 3. 6. 5. atau . Mencegah kematian dan caeat (to sa ve life and limb) pada penderita gawat darurat. 4. infeksi 3. PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2.

Dengan mcmaharni bahwa penanggulangan penderita gawat darurat menyangkut baik aspek medik maupun non medik dan keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja. Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan Petugas Kesehatan (SUB-SISTIM KETEN AGAAN) I'ada lllllUIl1J1ya yang pertarna menemukan penderita gawat darurat di tempat rnusibah adalah masyarakat yang dikenal clf'ngan istilah Orlll1g mmill. sangatlah berrn. Dengan cara pendekatan sistim. Cakupan pclayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi : L Penanggulangan penderita di ternpat kejadian.lll d alam mnsyarakat dibagi :~(dtld) g()i("lgclil orilng awarn .1I1g a warn : DitinjilLl da ri 'il'gi pt'r. 6. SISTIM A. 4. kapan saja dan dirnana saja.IV. yang optimal.ln. 2. 5. PRA RUMAH SAKlT (LUAR R.mfaa! sckali hila orang awarn diberi dan dilatih pengetahuan dan keterarnp ilan dalarn pcnanggulangan penderita gawat darurat. Upaya pernbiayaan penderita gawat darurat.1sifikilSi llr. KOMPONENSISTIMPENANGGULANGANPENDERITAGAWAT DARURAT 1. Upaya penyediaan sarana kornunikasi untuk mcnunjang kegiatan pcnanggulangan penderita gawat darurat. Upaya rujukan ilmu pengetahuan.S). I) Kl. Transportasi penderita ga wat darurat dari tempa t kejadian ke sarana kesehatan yang lebih memadai. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWATDARURAT TUJUAN Tercapainya suatu pelayanan kesehatan terpadu bagi setiap anggota masyarakat gawat darur at. penanggulangan penderita gawat darurat dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Oleh karena itu. Upaya penanggulangan penderita gawatdaruratdi tempatrujukan (Unit Cawat Darurat dan JeU). pasien dan tenaga ahli. maka agar upaya penanggulangan penderita gawat darurat tersebut dapat terarah dan terpadu perIu dilaksanakan dengan cara pendekatan sistim. B. terarah dan yang berada dalam keadaan Upaya pelavanan kesehatan pad a pcndcrita gawatdarurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedernikian rupa sehingga mampll mencegah kernatian atau cacat yang mungkin terjadi. 3. kOMPONEN a.

(4). bin: (2). Golongan (1) awarn biasa antara lain: guru-guru berrnotor dan lain-lain. pengemudi kendaraan (4). (2). (5). restoran b). cara transportasi pendcrita gawat darurat Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran penanggulangan penderita gawat darurat. satpam/hansip petugas DLLAJR petugas SAR (Search and Rescue) anggota prarnuka (PMR) Kemampuan Penanggulangan Pender ita Gawat Darurat (Basic Life Support) yang harus dirniliki oleh orang awarn: (1). petugas Dinas Pernadarn Kebakaran (3). petugas hotel. . Kemampuan darurat 2). Tcnaga menanggulangi keadaan sesuai bidang pekerjaannya. Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat seperti orang awam (Basic Life Support) ditambah. gawat perawat/paramedis pengetahuan dasar keperawatan yang telah Di samping dirniliki oleh pcrawat.a). (3). (2). pelajar (3). ibu-ibu rurnah tangga (5). (6). mereka harus mernperoleh tambahan pf'ngetahauan pcnanggulangan penderita gawat darurat (Advance Life Support) terrnasuk PHTLS dan PHCLS untuk melanjutkan pertolongan yang sudah diberikan. terutama kalau dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Colongan awarn khusu= antara (l) anggota polisi (2). (4). Kemampuan yang harus dimiliki khusus antara lain : oleh orang awam (1). Anak-anak akan menjadi dewasa dan pengetahuan ini akan tetap dimilikinya. cara meminta pertolongan resusitasi kardiopulmuner sederhana cara menghentikan pordarahan cara memasang balut!bidai (5).

menghentikan perdarahan (2). mengenal adanya sumba tan jalan napas (2). Untu k sistim skeletal (1). mcrnbcr ikan napas buatan (a). memasang infus z'transfusi (3). shok. dengan resusitator manual dan otornatik (4). mcrawat infus-infus CVP d). Untuksistim saraf mernber i pertolongan pertarna pada trauma memberi pertolongan (I).marnpll mentransportasi penderita dcng<ll1 patah tul<lllg (lIl1lgkai dan t\1hng pungg\lng) t.mengenal stroke dan pertama Kernarnpuan a) + b) + c) + d) pra rumah sakit yaitu Pre Support (PHTLS) dan Pre Support (PHCLS) e). membebaskan jalan napas (oropharyngeal way) sampai dengan intubasi endotracheal (3). infarkjantung (2). marnpu Tllcmasang bidai ('1. mcngcnal patah tulang (2). infark jantung (3). Untuk sistirn gastro intestional (I). Untuk sistim sirkulasi (jantung) (1). pcrnapasan rnulut ke rnulut (b). Untuk sistim pernapasall air (1). mengenal renjatanl shock anafilaksis (2). memberikan pertolongan kcpala (3). mengenal aritmia jantung. memberi pertolongan pertama pada aritrnia.KemampuanPPCDyangharusdimiliki tcnaga pararnedik adalah a). . Untuk sis tim vaskuler (1). mengenal korna dan pertama (2). momberikan pertolongan pertarna pada shock f). dalam penanggulangan Hospital Trauma Life Hospital Cardiac Life n1ilmpU merawat Zrnempersiapkan penderita dengan akut abdomen. mernbuat rekaman jantung (EKG) c). Untuk sistim imunologi (1). operasi pada g). rnelakukan resusitasi kardiopulmuner b).

memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat obstetri-ginekoJogi j) Untuk farmakologi/Tohikologi (1). mengenal infark jantung (4). intubasi endotracheal (b). Kernampuan a). mampu melayani persalinan (2). Tenaga MI.i pcnderita inlark rniokard (DC) (~). mernbebaskan adanya sumbatan jalan napas [alan nap as (oropharyngeal . mampu memberikan pertolongan keracunan (2). Unt. memberikan pertolongan pertolongan pertama pada luka pada luka bakar i). mernbuat/membaca EKe (1'». mcrnberikan pertoJongan pertama pada aritmia (3). mcmberikan pertolongan pertama pad.ahgunaan obat (3). mengenal (2).uk sistim sirkulasi aritmia jantung (2). dokter umum perlu mendapat pengetahuan dan kctr-rarnp ilan tambahan agar mampu menanggulangi penderitn gawat darurat. mengetahui sistim penanggulangan penderita gawat darurat (2). mampu memberikan pertalangan penyal. yang harus dimiliki adalah : Untuk sistirn pernapasan (1). Untuk Organisasi (1). mampu mernberikan pertolangan gigitan binatang k). Untuk sistim reproduksi (1). Untuk sistirn kulit (1). nwngenal pertarna pada pertama pada pertama pada air way) (<1).h).'dis (Dokter Umum) Di samping pengetahuanmedis yang telah dikuasai. melakukan resusitasi kardiopulmoncr (ABeD) dan memberikan obat-obatan yang perlu b). 1Tlcnanggulangi renjatanisyok (1). memberikan (2). melakukan tricothyroidectomi (5). mengetahui s istim penanggulangan korban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja 3).

Untuk sistim vaskuler (1). a) + b) + c) + d) adalah kemampuan ATLS dan ACLS. k). Untuk (1) sistim kulit perlukaan men genal berbagai jenis luka (2). memberikan transfusi darah dan terapi cairan/ elektrolit (3). Untuk sistim gastrointestinal "(1). Untuk sistirn imunologi keadaan alcrgi akut. menegakkan diagnosa I diagnosa diferensiai kuma dan kelainan darurat sis tim saraf pusat (2). menanggulangi filaksis f). memberikan pertolongan pertama dan pengobatan pada keadaan darurat obs tetri/ ginekologi j). Mengeual gagal hati. memasang bidai (3).niailgunacHl obat/ keracunan z' gigitan binatang (2). mendiagnosis akut abdomen (2). keadaan darurat SSP. mengenal dan mendiagnosis patah tulang (2). mengetahuicara pengangkutan penderita dengan fraktur/patah tulang (4).c). gagal pankreas rnampu rnenanggulangi koma Unt uk farmakologi Ztoksikolog i dan (1). rnampu menanggulangi berbagai g). menanggulangi akut abdomen nasogastric tube) h). mengenlll ke ad aan pcn). gagal ginjal. memasang/membaca dan merawat CVP d). mengenal kelainan darurat obstetri/ginekologi (2). e). Untuk sistim reproduksi (1). menghentikan perdarahan (2). Untuk sis tim skeletal (memasang (1). keadaan renjatan/syok ana- (1). mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan yi'lng diperlukan pada kead aan koma. merawat patah tulang secara konservatif i). Untuk sistim saraf (1). menanggulangi (2). mernberikan pertolongan pertarna pada pcnyalah gtll1aan (lbal/keracunan/ gigiLm hinatang .

3). Semua pusat pendidikan penanggu!angan pende rita gawat darurat mernpunyai kurikulum yang sarna (2). Tujuan TRANSPORT ASI) Penderita Gawat Darurat mernindahkan penderita gawat darurat tanpa rnem perberat keadaan penderita sehatan yang memadai. para siswa akan mempunyai kernarnpuan yang sama. b). Dalam memasyarakatkan penanggulangan )'. Pcrsyaratan yang harus pendt'rita gawat darurat a). Mengetahui sis tim penanggulangan karban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja. Mengetahui sistim penanggulangan gawat darurat penderita (2). 2). Sarana transportasi a). Mempunyai yang sarna sertifikat dan lencana tanda lulus Dengan demikian instansi manapun yang menyelenggarakan pendidikan penanggulangan penderita gawat darurat. luka-Iuka h). sclama. b. perdarahan telah d ihentikan (3). scbelum diangkat (1).perjalanan telah ditutup (4).ilwat darurat yang penting adalah : penderita (1). d). Upaya Pelayanan Transportasi (SUB-SISTIM 1). dengan aman ke sarana ke- terdiri dari dan non medis kendaraan petugas pengangkat (tenaga medis/paramedis) life saving dan life support dipenuhi untuk transportasi peralatanmedis obat-obatan c). pa tah tulang telah d itiksasi telah l) . Untuk organisasi (1). Lencana akan mernudahkan mereka memberikan pertolongan dalam keadaan sehari-hari maupun bila ada bencana.I). gangguan pemapasan dan kardiovaskuler ditanggulangi (2).

b). angkutan trad isionaI (a). (Kendaraan Ambulans darat (1). (c). denyut nadi (5). Keridaraan laut (1). pernapasan (3). kcsadaran (2). Kendaraan Darat (1). rnaka jenis kendaraan yilng dapat digunakan pada umumnya adalah: a). tandul digotong (2). pcrahu (b). tekanan darah (4). 5).selarna pr-rja lanan dimonitor (I). kereta api dan lain. perahu motor (b). alat untuk transportasi penderita (200 km) (b). beca dan lain-lain. arnbulans laut c). sebagai rumah sakit la p a n g an p ad a pcnanggulnngan penderita gaw. kendaraan umum roda empat: berupa dan "pick up station". angkutan modern truk lainbajaj. kendaraan khusus untuk pender ita arnbulans darat. angkutan modern (a). horus selalu d iperhatikan dan Sesuai dengan keadaan geografis eli Indonesia yang terd iri dari ribuan pulau. kereta kuda/lembu (b). kapal. (b).11 riarur at da lam keadaan belle ana II) . angkutan tradisional (a). sebagai sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita gawat darurat di ternpat kejadian (e). Fungsi ambulans darat secara (a). rakit (2). yaitu (2\). keridaraan roda tiga: berupa berno. Kendaraan udara (ambulans Pe!ayanan udara) Medik) urnurn adalah Arnbulans a). kcadaan luka 4).

Fungsi ambulans udara adalah Sebagai alat angkut udara penderita gawatdarurat dari lokasi kejadian ke rumah sakit (:2). p('nyam~ nwnilng- I . helikopter kecil (3-5 tompat duduk + 1-2 tandu) (b). c). pelayanan Medik untuk Penanggulangan kornunikasi di sektor kesehatan terdiri 1). rI . ambulans pelavanan medik bergerak (e). helikopter besar (7-15 tempat duduk + lebih 2 tandu) Untuk perala tan.1). b).ns udara adalah (. kereta jenazah Tujuan penggunaan.tak terbatas) Helikopter dibagi dalarn 2 jenis : (<I). jcnis pesawat udara yang digunakan sebagai ambula. ambulans rumah sakit lapangan (d). Komunikasi kesehatan Sis tim komunikasi ini d iguriakan untuk pelayanan kesehatan di bidang adrninistratip. Ambulans Air Sarna dengan ambulans darat Ambulans Udara ("l). ambulans gawat darurat (c). arnbulans transportasi (b). Komunikasi rnedis Sistim komunikasi pclayanan kesehatan (1).(2) Kiasifikasi arnbulans sesuai fungsinya sebagai herikut: (a). med is dan kebutuhan tenaga pengelola lihat lampiran I. [enis Rotary Wing (helikopter . Tujuan ini digunakan untuk di bidangteknis-mcdis menunjang menunjang Untuk mcmpennudah dan rncmpprccpat paian dan pcncrimaan informasi dalam guhngi penderita gawat darurat. persvaratan kendaraan secar a tcknis.500 km) (b).' Upaya PelayananKomunikasi Penderita Gawat Darurat (SUB-SISTIM KOMUNIKASI) Pada dasarnya dad. 2}. jenis Fixed Wing (sayap tetap . personil dan persvaratan lihat lampiran It lainnya c.

jcnis komunikasi dalam penanggulangan penderita gawat daroretdapat berupa: 1). e. facsimile e).lLHL. teleks z'telegram d). tradisionil kcntongan bed uk trornpet kurir/mulut penanggulangan rnedik kc mulut Komunikasi modem a). Kom unikasi a).: Fcrj. jen is Kornunikasi Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkernbang pesat dan semakin modern.iii. 2).Hl sampai kc sarana kesehatan ycIng sesuai (rurnah sakit) yaitu dC!1. Oleh karena itu. c). radio komunikasi cr. hmgsi komunikasi mcdis dalam pcnderita gawat darurat adalah : penanggulangan (1). [). dengan sarana kornunikasi (Pusat kornunikasi) Pusat Kornurukasi • adalah bcrupa . Untukmemudahkanmasyarakatdalarnmeminta pertolongan ke sarana kesehaian (akses kedalam sistim GO) (2).L}!l )'Zmg lcbih mcmadni (3).b). Untuk mengatur dan membimbing pertolongan mcdis y<lIig d iborikan di ternpat kejadian dan sclarn. d). tdepon/telepon geng-gam b). Fungsi i I).l'. b). I).. Untuk mengatur dan memoriitor rujukan penderita ga w at darura t dari puskesm as ke rumah sakit atau antar rumah sakit (4).n kc sar aria k('sch. Sentral komunikasi MPllgkoordinirpenanggulangan penderitagavvat daru rat rnulai dari ternpat kCjii.' . narnun demikian sararia komunikasi modis belurn sepenuhnya menjangkau dan dikcmbangkan di seluruh pelosok tanah air. Untuk mengkoordinir korban bencana. d. komputer !p!emetri (EKG data transmision) Sarana Komunikasi Yang d imaksud a ).'lll • 1:.

c). (4). Syarat alat sentral komunikasi (1). Dapat diambil alih oleh aparat kearnanan (ABRJ) bila negara berada dalam keadaan darurat (perang) b). (3). tcnaga yang trampil dan kornunikatif (6). radio komunikasi (3). dan memberikan (3). 1'- . telepon (2). Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain. kornputer bila diperlukan masa lah (5). k orisu len m e d is yang menguasai kcdaruratan mcd is. har us sentral kornunikasi nomor telepon khusus pelayanan mempunyai (sebaiknya 3 digit). mcngatur / momonitor gawilt darurut. teleksy'facsimilc (4). (2).(a). menghubungi rurnah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapa t diberikan untuk pcnderita gawat darurat. Menjadi pusat pcnangglllcmgan rujukan penderita kornando dan mengkoordinir modis korban bencana. mudah dihubungi 24 jam sehari. instansi lain dan kalau perlu dengan negara lain. dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang tram pi! dan berpengalaman. mcner irna pertolongan (b). (d). (2). Syarat-syarat (1). mengatur kejadian dan tnl'ngana_lisa tcrdekat perrniritaa ke tempat n amb ulans (e).

ggi penderita sebelum mernperoleh penanganan yang mernadai di rurnah sakit.2). [aringan komunikasi POLISI DPK I'M! <--> <--> <--> <--> BAKORNAS PUSAT KOMUNIKASI <--> RADIO AMATIR <--> A I-) 1{ 1 PUSAT AMBULANS <--> RUMAH SAKI1 KORBAN <--> Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjarnin. KOMPONEN INTRA RUMAH SAKIT (DALAM R. Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit (SUB-SISTIM PELA YANAN GA W AT DARURAT) SeringkaJi Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggular.lmpu dalarn hal: kerja tertentu harus If . Oleh karena itu Puskesrnas dalam wilayah huka 24 jam dan m. 2. maka tenaga untuk keperluan kornunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat bidang komunikasi.S) a.

Kategorisasi/akreditasi Pedoman 1). urine dan gula darah.v'\rci~.lt dCI1)!. Behan kerja rumah sakit dalarn l1wnanggulangi Dengan mernperhatikan kcdua aspek tersehu t. khususnya unit gawat darurat harus dilengkapi scdcrnikian rupa schingga mampu menanggulangi penderita gawat darurat ("to save life and limb").1). 2). karena dengan demikian akan terjadi penghamburan dana dan sarana.(») haru-: "l<llllpll nu-mbcrikan dcngc1n kwalil as tillggi pillLl Ill. lcukosit. I"'. Unit C. 2). . slirgibi 3). 2). maka kategorisasi (akreditasi) unit gawat darurat tidak selalu scsuui dengan kclas rurnah sakit yang bcrsangkutan. merupakan salah satu unit di rurnah sakit yang kepada pr-nderita gawat darurat dan merupakan bagian p('nangguhlllgan pc-ndorita gawat darurat yang perlu Tidak semua rumah sakit harus ruemp unyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga mernadai dan pcralatan canggih. Rumah Sakit mcrupakan tcrrninal torakhlr dalam menanggulangi pender ita gawat darurat. penderita gawatdarurat. harus dilengkapi dengan : l.. Oleh karena itu pengembangan unit gawat darurat harus memperhatikan 2 (((U<1) aspck yaitu : 1)_ Sistim rujukan pender ita gawat darurat.l\. Oleh kareria itu Iasilitas rurnah sakit.lt Darurat Gawat (lihat lampiran Darurat III) Sakit Pengembangan Pelayanan d i Rumah TlIjllan: Suatu Unit (.lW. Unit Gawat Darurat rnemberikan pelayanan dari rangkaian upaYil diorganisir. Ht. 5) bencana kornunikasi medikal dan dan Menilngglliangi (bcdah tnsvbut "false minor) baik I'uskesrnas l ).'1lproblim medis pclayanan akut.. Rumah Sakit tertentu dapat mengernbangkan unit gawat darurat dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rcndah dari kclas rurnah sakit tersebut.Vill Darur.i! (U(. Tcnaga : I dokter umurn dan pararnedis (2-3 orang pararncdis yang sudah mendapat pendidikan tl'rt('lltu dnlarn PPCD). 4).aboratorium untuk menunjang diagnostik Seperti: Hb.lc.. Melakukan rcsusitasi dan "life support" gawat darurat Melakukan rujukan penderita-penderita sesuai dengan kcmampuan Menampung dan menanggulangi dengan emergency" korban pusat Melakukan komunikasi rurnah sakit rujukan.

.

b). menanggulangi korban bencana Kriteria: a). Darurat Catatan harus Medis ~ 2). d).lnlerpretasi : Harus mampu a). Unit Cawat Darurat harus buka 24 jam Unit Gawat Dar urat juga harus rnelayani pcnderita-penderita "false emergency" tetapi tidak baleh mengganggu/mengurangi mutu pelayanan penderita-penderita Gawat Darurat. (I). mempunvai kcrnampuan memimpin: dan (l). mencegah kematian dan cacat b).11<1h: b). Harus ad" s('Dr. Interpretasi : c).lng twkerjil di Unit Cawat Darurat. .lIlg pCriHVi1t/dokter yang rncnj. Mengadakan kursus-kursus untuk personalianya scndiri maupun penyuluhan kcpada masyarakat dalam penanggulangan penderita gawat darurat (prGD).1\\'ah harian. medis ini dapat seorang dokter ahli. dokter umum mauptll1 tcrgantung pada klas rurnah saki! Y. Administrasi.lllg pCllling i. memenuhi kebutuhan masyarakat dalam Darurat dan dikelola sedernikian rupa terjalin kerjasama yang harmonis dengan unit-unit dan instalasilain dalam rurnah sakit. e). Sedangkan "definitive care" dilakukan di tempat lain dengan cara kerjasama yang baik. Unit Gawat Darurat hams melakukan riser guna meningkatkan mutu z' kwalitas pclayanan kesehatan masyarakat sekitarnya. Organisasi.~ kcdoktcran gawat darurnt: (2). : petuga~ : modis harus mcnjadi pcnanggungjawab Unit Cawat Seorang Darurat. Unit Gawat Penanggulangan Penderita Gawat sehingga instalasi Kriteria a). Unit Gawat Darurat hams meningkatkan mutu personalia maupun masyaraka t sekitarn ya dalam penanggulangan pcnderita gawat darurat. Interpretasi Petugas perawat.id i rl'llimggungj. melakukan rujukan c). Unit Gawat Darurat sebaiknya hanya melakukan "primary care". tertari ky mempunvai perhatian khusus lL1Ii11l1 bjdi1Il. i<l har us d ihant u ok-h pcnvakibn unit-unit Idill y.

Triage dilakukan oleh orang yang paling bcrpengalaman dan haws d apnt menentukan (lrgan mana tcrganggu dan dapat menvebabk an kernatian dan rncncntukan pcnanggulang21nnya. hak dan rahasia rnedis penderita (3). puskesmas-puskesmas Ji sekitarnya (5). Triage officer dapat scorang dokrer ahli. Catatan rncdis yang baik (3). O· Semua penderita yang masuk ke Unit Gawat Darurat hams jelas idcntitasnya. "Disaster planning" rurnah sakit maupun kota dimana dia berada (2). kerjasama dan d is iplin kerja mernpunyai d).itau kcbijaksanaan r urnah sakit.iodata dan kelengkapan administrasi (2). prioritas yang tinggi. 'seJeksi pendcrita (dalarn koadaan bcncana). unit-unit dan instalasi-instalasi lain di rumah sakit (2). Seleksi problim sClJrang penderita (dalarn keadaan sehari-hari) (2). doktcr urn urn (Ita up un pera wat sr-suai dengan kelas . Harus ada kerjasama yang saling menunjang antar Unit Cawat Darurat dengan: (1).Interpretasi : Ia bertanggung c). B. Semua penderita yang datang ke Unit Cawat Darurat harus melalui "Triage Officer". sopan san tun (2). lnterpretasi: (1). e). lnterpretasi : Triage adalah sistern : (1). g). Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di Rumah Sakitnya sendiri dilengkapi dcngan Unit Perawatan Intensip (leU) Semua personalia Unit Cawat Darurat men genal dan menghayati sistim Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di unitnya rnauplln Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Nasional. ambulans servis (tipe 118) (3). waktu rnenunggu tindakan rnedis (4). dan instansi keschatan lainnva Harus mempunyai peranan inti dalam : (1).' kebutuhan rohani penderita (5). jawab atas mutu pclayanan pada hari itu. Interpretasi : Semua petugas baik med is maupun paramedis harus selalu mernperhatikan : (1). Kalau penderita tak dikenal/tak ada keluarga yang mengantar harus diusahakan semaksimum mungkin untuk mencari dan menghubungi keluarga. . dokter-dokter yang berpraktek/tinggal di sckitarnva (4).

porawat. j). pulang : (a).ltoriut1). radio) dcngim rurnah sakit kclas Iebih tinggi yang terdckat. n. konsulen termasuk hematologi. Cillahlll keterangan kapan -Ian nud is yang pcnyakitnya kcrnana konl rol sdjilP pcndcrita 1t'llgk.im.-lnl (2). bakterioJogi dan patologi d iatur sesuai dengan kernampunn rumah sakit dan kebutuhan periderita.Iaboratoriurn k).1/<11"1!cnl<Hlg t in d. Interpretasi : terbatas harus Puskesmas dan rumah sakit kelas 0 yang hanya mampu rnelakukan resusitasi dan life support semen tara. Penunjang pelayanan med is sepcrti alat.lp untuk : Interprotasi : (1).1[. i). Farmasisangatpenti.h).i eLm lClIHLi l<lll~'. Penderita keluar dari Unit Gawat Darurat harus jelas : (1).llan !ned I". obat-obatan dan personalis yang rnemadai untuk melakukannya. alat-alat "disposible" dan "linen" cukup untuk 24 jam. biokimia. harus mempunyai kornunikasi (telepon. Cat. obat dan pcrsonalia harus diatur sedernikian rup<1 sehingga dapat memenuhi kebutuhan 24 jam. Intcrpretasi (I)..ls me-d i- jam dilakuknn I:: . infus. tenaga adrninistraxi) Daftar jilga : (a). Pengawasan ini harus dilakukan terus mencrus baik di ruang Unit Cawed Darurat maupun scw aktu diangkut ke rumah <akit lain. Unit Gawat Darurat atau Rumah Sakit dengan pelayanan mernpunyai sistem rujukan yang jelas. (h). : (dokter. dirnana dirawat (2). l). Depot darah (4). pcrsonalia (b). \-lilY (c). Catat.ngsehingga pcrsediaan obat-obat.rk an d.ln r·)c··lllg. "plasma expander". hbur. (". Radiologi. (3). alat-alat steril. Penderita-pcnderita Cawat Darurat harus mendapat selama ia berada eli d alam Unit Gawat Darurat In terpretasi : pengawasan ketat Unit Cawat Darurat harus mempunyai perala tan.in modis minimum harus ilH'IlCd k up : (<1) h1nggi1! dan jam tibd (b) resume latat.l!l timggdl Sl'rtd (d). ha rus bckcrj<l 241.m k linik. (2).

3). modis disesuaikan dengan beban kerja dan kelas untuk: lc~l'lganon medis selain pekarya (a) (b) (c) (d) catatan medis keuangan keamanan juga diperlukan asuransi :" jasa Raharja . dokter.llTI oricntasi d. (2).lilll yan. I" . l'erternuan staf yang n:gukr untuk mcnjaga d an k. Penanggulangan (3).. Tenaga l'enderita non medis harus mendapat kursus Gawat Darurat sebagai orang awam. Mereka h ar us d i bawah pcngawasan/bimbingan seorang dokter atau perawat dari Unit Cawat Darurat.ih sakit. komunikasi antar petugas melalui d) send iri harus mendapat. Personalia Personalia dan Pimpinan : Unit Gawat Daurat mulai dari pimpinan.' !'j.. seb''lg<1i "feedhack". : dan kwalitas personalia harus mcmcnuhi syarat : jumlah (1).m "induction".lSil<1Jl-kebj. Harus mernpunyai skema organisasi mulai dari pimpinan sampai petugas yang paling rend ah dengan "job descriptionnya dan jalur tanggung jawabnva. Scor<mg pptugas baru scbelurn bekrrja progr. Kritcria a). Harus ada progill1l c). (4) (5).s baik.'bi.ls. cara menilai rnutu pctUgi1'-. Karena Unit Cawat Darurat pada rumah sakit klas A dan B juga temp at belajarnya mahasiswa dan perawat maka sebelum bekerja praktek disitu harus sudah mendapat/ sedang mendapat pelajaran ilmu kedokteran gawat darurat. Karena ilrnu kedokteran gawat darurat tidak diberikan secara "integrated" dalam kurikulum Fakultas Kedokteran dan belum lengkap dalam kurikulum pendidikan perawat maka sebaiknya para dokter dan perawat yang akan bekerja di Unit Gawat Darurat atau Puskesmas harus mendapat kursus tambahan dalam ilmu kcdoktcran gawat darurat. Astek b). Askes . [umlah petugas rum. perawat dan personalia non medis harus memenuhi kwalifikasi tertentu sehingga mampu rnemberikan pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang optimal.

mlma !lIang (d). Un tu k rurnnh IllCIl'1Il)~'111i 11. (5). C~dllng untuk pclavanau I 'enanggulangan I'enderita (. FasiIitas Fasilitas dan a lat-alat Zobat-obatan Unit Cawat Darurat harus rnernenuhi persvaratan schingga Penan. Kri tcria : a).ir ~'II . (1). ha k.1S A. Untu k rtu nah sakit kclas A dan Bh<lTlISadil Helipad untu k pcriderita yilng diangkut dcngan helikopter. (1).':-. (4).ggulill1gan Penderita Cawat Darurat CL1p"t di la ku kan dcngan optimal. ruanj. Uarurat Cawat deng<H1 amhulans ke depan "cilingga f laru» malllpu mencrima 2-5 arnbulans sckalig us sc-suai dcngan Ixban kcria z'kelas rurnah sakit (rurnah sakit kclas C menampung 2-~ arubulans rurnah sakit kr-las D ]-2 ambulans). sedang untuk r urnah sakit kclas c: hila mcrnungkinkan dibuat lapangan pendaratan hclikoptcr dekat rurnah sakit.uas Unit Cawat Darurat disesuaikan diporkirakan untuk 20 tahun mendatang dengr\ll behan kerja )inng dan kelas rumah sakit.. ruang tunggu. RlI. LII'dl) mcnjarnin k<'lC'llrlngall H dipi"dhk. Lotaknva hams berdckatan dengan (h). Terletak berdampingan dengan tempat perawat kepala: chief nurse/ dokter jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi scm ua kegiatandi pintu masuk. Lokasi gedung Unit Gawut Darurat harus mudah dicapai tanda-tanda y<lOg jelas dari jalan maupun dari dalam. Cukup Iuas untuk menampung pCllcierita untuk rumah sakit kclas (I')' rll<1ng triage beberapa C) pf'lldl'ril. tindakan dan I'Ildllg resusitasi. (0).lsi (<1). dan alat-alatlobat-obatan : 4). IlllTW1. l.l.awa! hams sedemikian rupa sehingga Penanggulangan Pcnderita Darurat dapat dilakukan dengan optimal.l (2) fK) Kuad aan IUclllgaJl harus P.~l1g t". (I. Kaiau ada petugas yang pindah maka hams diminta pendapatnya tcntang Unit Cawat Darurat bcrsangkutan yaitu positif m<lupun ncgatifnY<l dan usu l-usul.I). untuk sr-leksi pasicn scsuai tingkat kcgawatan (b).lIang t indakan Uutuk rurnah Iwdilh 1111. (7). I'intu Unit Cawat Darur at llwnghadap tidak pcrlu murtdur.m . Diguriakan pr-nynkitnva. (2).lISit. d an ( dan d ig unak an 1111il!K Iwddh infl'ksi lu k. Ruang triage: (a). ""kit kclas i\ dan dan 1 lUll bcd ah sak it kCl.

Ruang pulih pulih dengan (14).(9).t. (19). alat-alat dan obat-obat.lbilisdS. Ruang gips dekat X-ray [umlah ruang operas! sesuai dengan keaktifan rumah sakit (a). wang cuci (e). Behan kerja dan keias rumah sakit akan rnenentukan besar dan isi sudang farm asi.]t Darurat t 111J!<lh sakit kelas . (17).ul yMIS harus del" d i. polisi. Interpretasi (a).scinua baf. Mereka dapat istirahat dan mudah dirninta keterangan yang lengkap dari petugas. "social worker". perawar penanggung jawab. Ruang untuk keluarga menunggu harus sedemikian Tupa agar rnereka tidak mengganggll pckerjaan. Komunikasi tilpon/radio ke Iuar rumah sakit dan tilpon intern di Unit Gawat Darurat dan ke rumah sakit. Susunan (recovery soom) tergantung kebutuhan :3 tempat tidur untuk 1 karnar operasi) harus sedemikian rupa sehingga : (1 wang jurnlah ternpailldur 1:50/ ruangan (a). (IS). ruang konferensi.ldalah untuk timbkan rCSl. (16). Ternpat khusus berduka/berdoa untuk yang meninggal dan keluarganya yang sesuai beban kerja atau kelas rumah sakit. locker. arus penderita dapat Iancar dan tak ada "croos infection" (b).Isit. pcnderitd ('iif"~upp()rt'l Scclilngkan untuk Unit Cayv. (20). : Alat-alat dan obat-llb"t.J. Ruang persiapan operasi/observasi (tergantung pintu kebutuhan) dari luar/dalam (10). tempat istirahat. kegiatan rnudah dikontrol olch "chief nurse" pada saat it u. Juga ada fasilitas we dan kantin sesuai dengan beban/kwalitas kerja yang dilakukan di Unit Gawat Darurat terse-but. Ruang X-ray dan ruang farrnasi dengan Rumah Sakit kelas A dan B) operasi (tergantung kebutuhan) (11).in dapdt dibagi : .dn Unit C. Ruang (untuk (12).\.i .it . linen (13). (15). haws dapat menampung korban bcncana sesuai dengan kemampuan kelas Rumah Sakit (c).13 dan C mak. ruang kerja non medis bagi pimpinan. gudang obat-obatan. disesuaikan derigan beban/ k wali tas Alat-nlat dan obat-obat di Unit Cawat Darurat harus sedemikian mpa sehingga resusitasi dan "life support' dapat d i iakukan. Alat-alat radiologi diagnostik kerja dan kelas rurnah sakit. ruang bayi baru Iahir (operatif) (b) fu. ruang sterilisasi (d). asuransi.mg instrumen (c).aw<!t Daru r.bi dan tindabn -.

(4). . guedel "Syringe: CVP set Morphin Dextrose yang perlu dengan otomatik untuk resusitasi: dan masker Suction-manual/otomatik (02) lengkap manualy flow meter.Pethidin . 18 Bic Nat. penderita (life support) : kit" scgilla ukuran lengell!. dan Alat-alat Zobat-obatan Oksigen Respirator Laringoskop Magil forceps Pipa endotrachealPip a nasotracheal Pip a 5. amp. tulang runggung "Car diar rnodication Bidai-bidai . training seperti pemadam kebakaran kebersihan aids. alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-alat kearnanan lain-lain. (3). (5). untuk resusitasi untuk "life support" untuk diagnostik sesuai dengan tipe Rumah Sakit terapi sesuai dengan tipe Rumah Sakit non medis seperti audio visual. amp.Adrenalin 50 'Yr. "Lichtkast" "Pneumatic trousers" "Cricothyroidectorny" Gunting besar anti Trendelengburg. (2). untuk menstabilisasi pungsi set" untuk tungkai. monitor/portable" set + cairan ECG .[arum No. ada gantungan + "Tracheostomy set"."cardiac Infus/transfusi pander" + defibrilator 10 . infus dan pengikat.(1). A1at-alat/obat-obatan "WSD sct"/jllfum "Blood gi1:-. lcher. [arum intra kardiak "Pace make: *" transvenous" * "transthoracic". "Plasma ex- glukose "Blood drawihg equipment" Tandu dapat posisi Trendelenburg. cateter lurus dan bcngkok sernua ~ sernua (anak dan dewasa) ukuran ukuran 10 cc . llinger. (6).20 'Yr" NaCL.

. Boneka untuk latihan "Audiovisual jtraining aids"..lp waktu hagi seruua personalia ."kick bucket".ke dalam Perp usta kaan Manual Zbuku F't'doman pl. Lavase peritoneal set "traction kit" : ~ bone ".gula darah "Bone set" "Minor surgerv :. Protokol gawatdarurat dan korbsn ProtokClll'cn.m l'eudcrita Cawat Darurat harus tertulis dan "up date": dan dap<lt dih<1«l setJ.skin " pelvis Gips Ob-Gyn set.Perban sega!a ukuran Sonde larnbung Foley kateter segi1la ukuran Venaseksi x-ray Perban set untuk luka bakar set untuk diagnosa dan terapi : Perikardiosintesis Alat-alat tambahan Alat-alat pcriksa-pcngobatan "Slit lamp" THTsetDj + '1'11/.ke luar ---> radio.Hb mata • Ht * ICllCO * urin . Laboratorium mini: . Dj + Th/. teIepon .ct'· "Thoracotomy set' "Laparotomy set + extraset" Benang-benang z'jarurn scgala jenis + ukuran Alat-alat kearnanan dan pendidikan : Pernadarn kehakaran Ember . Komunikasi .lIIgg11lang..'ll<lnggulangan pcndcrita penanggulangan bencana. . \') t[) . 5)..

(2). (21). Pendidikan Unit Gawat Darurat harus mampu meningkatkan rnutu Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bagi personalianya. (16). b). (8). (24). (5). (3). (6). (13). (22). RS. (7). (19). (9). kota dan nasionaJ Triage Sis tern rujukan Penerirnaan penderita Sistern asuransi I'erkosaan Tindakan kriminil "Child abuse" Keamanan . (18). b).O.psikiatri Kontaminasi radioaktif Keracunan Penderita tak dikenal Catatan medis Penyakit rnenular Visum et repertum Rahasia rnedis Surat cuti Resep apa yang boleh diberikan Resep obat narkotik Kernahan di Unit Gawat Darurat Mati waktu tiba (D. (4). (20). 6). Harus mcngikuti pengcmbangan dan kongres-kongrcs seminar . (25). (15). (10). a).A) Kebakaran Listrik mati Huru-hara Bencana di Rurnah Sakit! di luar Rumah Sakit Resusitasi kardiopulrnoner di Rumah Sakit Protokol tentang tiap-tiap penyakit sesuai yang dianut unit-unit lain yang bekerja di Unit Gawat Darurat. (12). Sistem PPCD di UCD. (11). Protokol yang harus ada adalah : (1).Kriteria: a). Kriteria . d. (23). Unit Cawat Darurat adalah sesuai kelas Rumah Sakit Haws rriempunvai program tempat belajar mahasiswa dan perawat baru orientasi dan induksi bagi personalia ilmu rnelalui kcpustakaan. (14). rumah sakit dan rnasyarakat yang dilayaninya. (26). (17).

d). e).

Harus mampu rnelakukan riset derni perhaikan Penilnggulangan Penderita Gawat Darurat di unitnya maupun masyarakat. Sernua (1). (2). (3). (4). (5) (6). (7). (8). personalia minimum harus mahir dalam penanggulangan:

"air way" (A) "breathing" (B) "circulation" (C) menghentikan perdarahan balut - bidai transport pengenalan dan penggunaan membuat/baca ECG

obat

7).

Evaluasi Evaluasi mutu Penanggulangan dan berjalan terus. Kriteria: a) Statistik dibuat dan dievaluasi secara komprehensif. Pcnderita Gawat Darurat harus komprehensif

Interpretasi: (1). akses untuk masyarakat (2). adanya sarana (3). kwalitas pelayanan (4). rnutu dan kaitan komponen-komponen (5). biaya yang sesuai b). c). Kasus-kasus yang menyinggung/ mencari jalan keluar. Pertemuan

dalam

PPGD

aneh/jarangdicatat

dibicarakan

untuk

staf
.. kelemahan Unit Gawat Darurat mencari jalan keluar kesepakatan dan menyebar luaskan hasil pertemuan pada semua staf lIpaya perbaikan dan peningkatan mu tu pela yanrui

Interpretasi : Untuk meneari:

..

*

b.

Unit Pelayanan
1).

Intensive

Filosofi Intensive Medical Care (J.M.C) sebagai suatu akrivitas khusr.rs mendapatkan legitim2lsi bukan oleh karena kompleksitas peraiatan dan pcmantau.m pasicn. tetapi oleh karena pasinn sakit krit is

(Critically ill) selalu berakhir pada suatu "final common pathway" dari kegagalan sis tern organ sehingga dibutuhkan bantuan terhadap sistern respirasi, kardiovaskular, renal, nutrisi dan organ vitallainnya baik tersendiri rnaupun terkornbinasi. Sebagai contoh untuk pasien dengan gagal nafas hipoksemia tidak menjadi persoalan apakah paru-parunya mendapat trauma dari roda mobil, teraspirasi asam lambung, atau terserang virus, manajemen suportif dan hasil akhir selalu akan sarna. Ini salah satu contoh "suatu pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan jelas" oleh cabang spesialisasi I.M.C. Aplikasi yang tidak terkoordinasi dari multi-disipliner tidak hanya merugikan pasien. tetapi personil perawatdan tenaga profesimedis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit Intens Care "terbuka" yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. Pada hakekatnya tidak merupakan persoalan apakah seorang sepesialis penyakit dalam, bedah anak atau anestesiologi yang mengelola suatu LCU sepanjang spesialis tersebut mernenuhi persyaratan: a). Pengetahuan
b).

"Intensive Care"

Keterampilan Komitmen waktu

c).

Hanya dengan ke 3 syarat tersebut akan terdapat pelayanan yang komprehensif. Keahlian ini bukan merupakan hobi, juga bukan pekerjaan sarnbilan ("part-time"). Harus diingat mendapatkan konsultasi merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan pasien-pasien saki t kritis. Meskipun demikian merupakan kewajiban seorang intensivis bertindak sebagai "interlocutor", mengkoordinasikan dan membawa semua informasi dari berbagai konsultan untuk kepentingan pasien. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang intensivis adalah bayangan ideal seorang dokter di masa Iampau, yaitu mernbawa seorang dokter kembali ke "bedside" untuk mengelola pasien secara utuh, berkonsultasi dengan kolega dokter dan keluarga pasien. Di samping pengelolaan pasien sakit kritis yang memerlukan penggunaan alat-aJat dan teknik-teknik bantuan hidup (Tife support"), intensivisjuga harus menurnpahkan perhatian z'mengarahkan usaha sernua dokter kepada problema multi-faktorial pasien. Seorang intensivis harus rnerupakan seorang manajer, diplomat dan guru, dan dalarn rangka mengaplikasikan usahanya harus terdapat

piramida

dari

berbagai

tenaga

lain

seperti

perawat.

f isi o-

terapis. teknis-teknis,
Pasien-pasien dengan gagal alat-alat bali jika

dan lain-lain.

Tanpa bantuan tersebut maka usaha seorang intensivis
yang masuk yang satu atau lebih gagal sistem / organ dilakukan utarna bantu. Oi samping sistem/organ terdapat akut,

akan sia-s ia.
pasien dan! atau pulih kern-

ke suatu ICU harus merupakan mernbutuhkan itu harus pemantauan harapan
tepClt

atau ancaman

terClpi cian barituan

yang

Fungsi a). b). c).

ICU adalah didapati

membcrikan

bantuan

fisiologis

yang

dibutuhkan

sampai

hasil :
problema dasar

Pasion sernbuh spontan Terapi spesifik dapat mengatasi Pasien meninggaL

Perlu juga ditekankan bah wa filosofi "Coronary Care" tidak sarna dengan filosofi "Intensive Care". Hal essensial dari "Coronary Care" adalah "surveillance" dan se-sekali melakukan intervens i aktif dan bantuan sistern mu1ti-organ. Difinisi lain "ICl.I" adalah tentpat melahlknll bantam! (support) "nku]" dan interoensi tcrapeutik: delIgml aktinit a« dan keriinnan yrzJlg tidak sesuai untuk atmosier "11011 strees" dan "Coronary Care Unit" ideal. Bentuk pengelolaan bentuk pengelolaan lCU sering mcnjadi pertanyaan. leU dengari "closed unit" yaitu: kepala unit "full time"

dengan wakil-wakiln ya bcrtanggung jawab penuh terhadap semua pengelolaan pasien dan pendidikan dalam unit, sering menimbulkan konflik autoritas dengan dokter primer konsultan. Suatu K'U yang "semi-closed" yaitu dengan kepala unit bertanggungja wab terhadap kualitas total pengelolaan pasien dart pendidikan staf, mungkin lebih baik dalam hal mengurangi konflik, tetapi di atas segalagalanya manajemen yang terarah dan jelas merupakan hal yang: tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini penting bukan hanya untuk pengelolaan pasien juga untuk mempertahankan moral staf dan koordinasi Rumah program-program sakit tidak hanva kompleks. bertanggung jawab mcnvediakan

Iasilitas dan tempat, tetapi juga bertanggung jawab legal agar Iasilitas leU digunakan secara tepat dan balk. Old, karena ilu, terdapat tendensi akhir-tendensi ini di rurnah-rurnah sakit dengan pelavanan sck undur (Lin tersiL'I' untuk nununjuk pcrsllnil medic:; ICU "full time" medis
("m,llId,ltorv

(intcnsiv

is) dari
-n").

pada

hergantung

pacta

praktek

"la lsscz-fa ire"
lllliC,U]tdtil

a la u krharu

san

me lakuk an k o ns u lt as i

Kemampuan minimal leu adalah Sebuah leu hendaknya memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung pam Pengelolaan jalan napas. rUrlng darurat dan rU<1ngal1pcrawatan lain (2). peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. memiliki staf khusus. terrnasu k intubasi trakeal dan penggunaan ventilator Terapi oksigen Pemantauan EKe terus menerus Pemasangan alat pacu jantung dalam keadaan gawat Pemberian nutrisi enternal dan parenteral Pemeriksaan Iaboratorium khUSLlS dengan cepat dan menyeluruh Pernakaian pompa infus atau semprituntuk terapi secara titrasi Kernampuan melakukan teknik khusus sesuai dengan keadaan pasien Mernberikan bantuan fungsi vital dengan alat-alat portabel sclarna transportasi pasien gawat. Staf khusus adalah dokter. Merniliki kebijaksanaan r kriteria penderita yang rnasuk keluar serta rujukan (. Intensive Care Unit (Unit Perawatan/Terapi Intensif) suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit. perawatan terlatih atau berpengalaman dalam "Intensive care (perawatan/terapi intensif)" yang mampu memberikan pelayanan 24 jam. alat untuk menopang fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik. teknisi alat-alat pemantauan. Ruangan yang hams dimiliki : tersendiri: letaknya dekat dengan karnar bedah. Kekhususan (1). Klasifikasi a). dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala K'U: tenaga ahlilaboratorium diagnostik."1). pelayanan K'U Pelayanan leu primer (standard minimal) Mampu melakukan resusitasi dan mernberikan ventilasi bantu kurang dari 24 jam serta mampu melakukan pemantauan jan tung. Memiliki s('orang doktcr -:pcsia1is anestesiolllgi scbagai kl'PilJ'l .2). trauma atau kornplikasi-komplikasi.

B. adalah : (1).CD. kemudahan diagnostik dan fisioteri selama 24 jam Memiliki ruang isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi. rllang darurat dan ruangan perawatan lain Memiliki kriteria pasien masuk. kemudahan diagnostik dan fisioterapi.(4). (5).F) . keluar dan rujukan Mern iliki dokter spcsial is yilng dapatme!lilnggulangi sotiap saat bila d iperlukan Memiliki seorang kcpala ICU yang bertanggullg jawab secara k esel ur uhan (intcnsivis) dan doktcr jagil vang minimal mampu RJI' (i\.D.r:. Mampu mengadakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien :pera wa t 1 :1 pada setia p saat jika diperlukan Memiliki perawat yang bersertifikat terlatih perawatan/ terapi intensif Mampu memberikan bantuan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pernantauan invasif dan usaha bantuan hidup Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. Kekhususan yang hams dimiliki : Merniliki tempat khusus tersendiri di dalarn rumah sakit Merniliki kriteria penderita masuk. Memiliki jurnlah perawat yang cukup dan sebagian besar telah terlatih (7). Rumah sakit yang dapat mempunyai ICU primer.F).ErF. Mampu melayani pemeriksaan lab ora tori urn. Rurnah sakit umum klas C (2). melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks. Pelayanan leu tersier (tertinggi) Marnpu melaksanakan sernua aspek perawatan. .' tempi intensif. Pelayanan leu Sekunder (menengah) Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama. berdekatan dengan kamar bedah.CO. kekhususan yang harus d irnili ki : Memiliki ruangan tersendiri. keluar dan rujukan Merniliki dokter spesialis yangdapat menanggulangi setiap saat bila diperlukan Memiliki seorang kepala ICU yang bertanggung jawab secara keseluruhan (intensivis). Konsulen yang membantu harus selalu siap dipanggil (6). rontgen. Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan resusitasi jan tung paru (A/B.E. c). rontgen. dokter jaga minimal mampll RJP A.(. Rumah sakit umum klas I3l b).I3.

Memiliki lebih dari satu staf intensivis Mampu rnenyediakan staf perawat. Pemantauan itu sendiri (4). seperti ahli penyakit dalarn ahli bedah saraf. -_i () . perbandingan perawat: pasien lebih dari 1 : 1setiap shift untuk kasus erat dan tidak stabil Merniliki lebih banyak staf perawat perawatan/terapi intensif Mampu melakukan sern ua bentuk perawatdn/krclpi intensif bersertifikat pemantauan terlatih dan Mampu melayani laboratoriurn. Prosedur pelayanan a). ah1i kebidanan dan lain-lain Memiliki staf tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi. Memberi bantuan dan mengambil aIih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan penatalaksanaan spesifik problema dasar (3). perawatan/Terapi (leU) Ruang hngkup pelayanan yang diberikan di leu (1~. s tirnu lasi berlebihan dan kehilangan sensori (5). Penyakit (b). Penatalaksanaan spesifik (c). Penatalaksanaan untukmencegah kornplikasi akibat kama yang d a la m. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kernatian dalam beberapa menit sarnpai beberapa hari (2). rontgen. tenaga rekam medis.kemudahan diagnostik dan fisioterapi seIama 24 jam Merniliki paling sedikit seorang ahli dalam mendidik staf perawat dan dokter muda agar dapat bekerja sarna dalam pelayanan pasien Merniliki prosed ur untuk pelaporan resrni dan pengkajian Didukung oleh semua yang ahli dalarn diagnostik dan terapi. im ob ilitas berkepanjangan. tenaga untuk ilmiah dan penelitian Merniliki alat-alat untuk pemantauan khusus. prosedur diagnostik dan terap_i khusus. Sistem bantuan tubuh (d). Pemantauan fungsi vital tubuh terhadapkomplikasi (a). Member ikan bantuan emosional tcrhadap pasicn yang nyawanya pada saat itu bergClntung pada fungsi alat/ mesin dan orang lain.

Fasit. Pasien sccara medic. perawat dan tenaga adrninistrasi rurnah sakit Pelayanan ICU meliputi pemantauan dan terapi intensif.i.lndikasi masuk dan keluar leU Prosedur rnedis yang menyangkut kriteria rnasuk dan kcluar leU seharusnya disusun bersama antar disiplin terkait oleh sernacam tim terd iri dari dokter. pernberian ohat vasoaktif melalui irrfus sccara torus mcnerus (contoh: gag. sekalipun mantaat leU ini sedikit (contoh: pasicn dcngan tumor ganas metastnxis dengan kompl ik_asi in febi. b). karena it'll secara umum prioritas terakhir adalah pasiendengan prognosis buruk untuk sernbuh. ['(lsicn tidak rnernerlukan hgi terapi intc[)<. da iam waktu de-kat . Persyaratan masuk dan keluar lCU hendaknya juga d idasar kan pada manfaat terapi di leU dan harapan kesembuhannya Kcpala leu atau wakilnya rnemutuskan apakah pasicn memenuhi syarat masuk feu dan kcluar. [ndjkasi keluar ICU (1).erLl manfaat terapi inlcnsif sang(lt keei!. Pasicn yang memerlukan terapi intensif untuk rnengatasi kornpl ikasi-komp likasi akut..ij knn-ria k--adaan mombaik ntau terapi klilh gag81 dan pruln'<. (2). (3). pasc.'iiln . kepala leU atau wakilnva akan memutuskan pnsien mana yang harus diprioritaskan. surnbatan ja'lan napas). a).11 vJng kcd un por lu pE'r.'jl s..ikit berat. Pasien rncnolak tempi bantuan hidup.lder yang lld'lll:..ikan mornburu k <. d. (2). tamponadejantung. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium) kccuati keberadaannya diperlukan sebagai donor otgan. pasicn tidak stabil yang mcmeriuk au terapi intensif scperti bantuan ventilator.ll nil pas berat.l"m 11. tidak ada harapau dapat d isern btl hkan Iagi (contoh: karsinoma stadium akhir.sif atau non invasif sdl1ngga komplikasi berat dapat d ihindarkan atau dikurangi (conroh: rase" bcdah besar dan luas: pasi--n dengan penyakit jantung.. ginjal ataulainnya). pi'lrU. Indikasi masuk leu (1). kerusakan susunan saraf pusat dCllgan koadaan vegdatif).~('llIiliim (lI. Tidak perlu masuk leu (1). Pas ir-n yang mernerlukan pernantauan inter. (3). syok scp tik ).1i. j). bcd'lh jantung terbuka.

Apabila tempat di JeU penuh. jan tung terminal. Sarana dan prasarana Unit-unit Khusus Unit. c. Renal Unit. (3). (SUB-SISTEM dan Manajemermya K'U (lihat lampiran IV). f. ICeu.ber dari pemerintah jasa Marga untuk Asuransi Asuransi lintas Asuransi Pegawai Negeri b. kecelakaan jalan to1 khusus untuk korban kecelakaan lalu jasa Raharja tenaga keria (ASTEK). gawat terdiri pembiayaan untuk penanggulangan dapat berasal dad pemerintah dan pusat dan daerah Surr. Burn diserahkan kepada disiplin 3. hendaknya dengan persetujuan dokter yang mengirim. Pelaksanaan ketiga butir terakhir ini hendaknya dilakukan atas persetujuan dokter yang mengirirn. karsinorna yang menyebar. (0). Pasion mati otak atau koma (bukan menirnb ulkan keadaan vegetatif kemungkinan untuk pulih. KOMPONEN Sumber darurat dari: a. Masvarakat (OUKM) resiko untuk Dana Upaya Kcsehatan Sumber swastay perusahaan swasta yang berpotonsi tinggi untuk terjadinya kccelakaan dapat diwajibkan menycd iakan biaya untuk FPC!). . Terapi intensif tidak diteruskan Iagi pada : memberi manfaat dan tidak tidak perlu (a). c. Standard ilmu terkait.(2). Bi!a pad a pemantauan intensif tcrnyata hasilnya rnernerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama. Pasion d engan bermacarn -maeam diagnosis seperti P POM. kareria trauma) dan sangat yang keeil (c). d. PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN) penderita masyarakat. maka pasien yang tidak kritis tetapi rnernenuhi kriteria keluar terpaksa dikembalikan ke ruangan. g. Pasion usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak mernberi respons terhadap terapi intensif sclama 72 jam. ada pasien lain kritis yang rnemenuhi syarat prioritas pertama.

b. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1. . Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.'ntang Pokok-Pokok Kesehatan: Keputusan Presiden No. .jalan Raya.111 SLll1darisasj . 558/Menkes/ SK 1J 9S4 tentang Organisasi dan tara Kerja Departcmen Kl's('h.Llr. untuk keseragarnan dan peningkatan mutu pelayanan rnedik. Undang-Undang Lalu-Lintas dan Angkutan. Mengingat I. diperlukan standarisasi pcrlcngkapan urrium d an Il)ctiis pada kcndaraan khusus tersobut.LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK IN DONESIA NOMOR : 01521YAN.21 tahun 1984 ten tang Repelita IV.1tan RT. 4.\'i". Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. S Undang-Undang No. R! !. 2.MED/RSKS/1987 TFNTANG STANDARJSASI KENDARAAN PELAYANAN tHEDIK MENTERI KESEHATAN REPUBLJK INDONESIA Menimbang L bahwa dalarn rangka meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan mr-dik dan kesehatan diperlukan jenis kendaraan dengan p"'r'-'varatan khusus.1. 032/Birhub! 1972 tentang Referal System.9 Tahun 1960 tt.. 134/Menkes/ SK/IV 11979 tentang Susunan Organisasidan Tata Kerja Rumah Sa kit Umum. 7. Mcntori Kcschatan Pci<lv.1l1. 99a/Menkes/ SK/III/l982 tentang Sis tim Kesehatan Nasional: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.. 034iBirhub/ I 972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit: Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rf No. 5.m Mcdik.' I ..('nt<lng l'>~'utllS("lJl i<.

INDONESIA ttd. Dr. MENTERI KESEHATAN REPUBUK Direktur J_enderal Pelayanan Medik.- . 8.L Inspcktur Jenderal Departemen Kesehatan RJ. Dir. Bapak Menteri Kesehatan R. H. Spesifikasi Kendaraan pada diktum pertarna sf'perti tor larnpir.jen.I. Ditetapkan di : J a k art a I'ada tang-gal : 24 Pebruari 1987 J\. Ambulans Cawat Darurat: 3. Kepala Direktorat Lalu Lintas Mabes FOLRI Kakanwil DcI' Kl's 1\I I'ropinsi di seluruh Indonesia Pengurus J\s()si<lsi I'('["kit Kcnda [. Kereta jenazah. Keernpat Kelima sejak tanggal ditctapkan. 5.1-1 . 7.jen. Para Dir. Arnbulans Transportasi. Sekretaris [enderal Departemen Kesehatan R. 4. 2. 2. 6.Pertama Di dalam Keputusan ini diatur tentang jcnis Kendaraan: 1.: 9.n. Perhubungan Darat Departemen Perhubungan J~.1. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak. 3. kepada Yth. di lingkungan Departemen Kesehatan RJ. Mohamad Isa Tembusan disampaikan 1.r. 4. Hal-hal yang belum diatur dalarn diktum Keputusan ini mulai berlaku akan diatur kernudian. 5. Kedua Ketiga Sernua Kendaraan khusus yang sudah ada harus dilengkapi sesuai Keputusan ini dalarn waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan ini ditetapkan. Arnbulans Rumah Sakit Lapangan.1 11 Indonesia P{'rlinggill.

wastafel dan. O. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia. Larnpu ruangan seeukupnya. 2. Lampu rotator warna merah. Lemari obat dan peralatan. Scmua porn luran lululintas harus ditaati. penampungan air limbah. 1. Sirine satu nada. Medis 1. Dilengkapi sabuk pengaman. kemamp uan Pl'CD. . Radio Komunikasi. K'-. 4. 16. Kend araan roda empa t ata u Iebih d ('ngan sus pensi lunak. Sewaktu menuju tempat pencierita bolch mcnggunakan sirene dan larnpu rotator. Teknis 1_ 3. T?lta Tertib 1. Persyaratan lain sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku. 14_ 15. 11. ~. B. 2. Air bersih 20 liter. 7_ 8. 12.'ct'pat<11l kcnciarnan sclinggi 40 Krn eli [alan hiasa dan NOKm eli jalan bebas harnbatan . Sclarna meng-angkut pcnderit a hanva bo'lch l1lL'nggunakan lampu rotator. 9. 6. 3. Stopkontak khusus untuk 12v. Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. DC diruang penderita. Perala tan Medis P3K Obat-obatan sederhana. Tabung Oksigen dengan peralatannya. Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang mernantulkan sinar. 1 (satu) supir dengan Komunikasi 1 (satu) I'erawat dengan kemampuan P3K dan Tujuan Penggunaan Persyaratan kendaraan: A. Ruangan penderita eukup luas uantuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. 13. 10. Ruangan penderita rnudah dicapai dari tempat pengemudi.L AMBULANS TRANSPORTASI Pengangkutan penderita yang tidakrnemerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatanselama dalam perjalanan. Tempat dudukbagi petugasdi ruangan penderita.cairan infussecukupnya. 5. 2.

6. wastafel dan penampungan Iimbah.lt1 rcsquc. Sirene 2 (dua) nada. Tanda f~C'Ilg:l'n(l1 d ari bahan yang mernantulkan. Stop kontak khusus penderita. roda ernpat ataulebihdengansuspensi tidak dipisahkan dad ternpat bagi Ruangan penderita pengemudi. Persvaratan lain sesuai undangan yang berlaku. 8. Tcknis Tekni= : 1. Larnpu rotator warna merah dan biru. Meja dapat dilipat. 14. Persvaratan /\. Radio kornunikasi. Air bersih 20 It. peraturan perundangalar berair 17.II. l3uku petunjuk pcrncliharaan buhasa Indonesia. 9. Ruangan penderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Ruangan penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan tindakan. 2. semua 19. 10. Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat petugas diruangan penderita. Cantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. Kendaraan lunak. Lemari untuk obat dan peralatan. I k. 16. 11. 4. 15. . 3. Dilengkapi sabuk pengarnan. AMBULANS GAWAT DARURAT Pertolongan PPGD Pra Rumah Sakit Tujuan Penggunaan Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan keternpat tindakan definitif / distabilkan Rumah Sakit. Pt'r<liat. 12. 13. 7. 5. untuk 12 v DC di ruangan Larnpu ruangan secukupnya dan lampu-Iampu sorot bergerak untuk menerangi penderita yang dapat dilipat.

Semua peraturan lalu lintas harus ditaati. 5. 3. Obat-obatan gav'iat darurat dan cairan intus secukupnya. D. Teknis kendaraan 6. Sewaktu menuju tempat penderita boleh rnenggunakan sirene dan lamu rotator. Selama mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator. Suction pump manual dan Iistrik 12 v DC Perala tan EKG dan monitoring lainnya. 2. Tempat duduk yang dapat diatur Idilipat bagi petugas diruangan penderita. 1 (satu) perawat gawat darurat.B. : 1. 3. 1 (satu) supir. AMBULANS Penggunaan RUMAH SAKIT Tujuan Dalam keadaan sehari-hari melaksanakan fungsi ambulans gawat darurat. Kecepatan kendaraan setinggi 40 Km di jalan biasa dan 80 Km di jalan bebas hambatan. 4. Ruangan pcnderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. 3. 6. perawat gawat darurat dengan kernampuan mengemudi dan kornunikasi. Tata Tertib 1. 2. Dilengkapi sabuk pcngaman . Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak. 3. Persyaratan A. 7.'1. 2. III. 2. Tabung oksigen dengan peralatan untuk 2 (dua) orang. . Bila diperlukan. Me dis 1. dapat digabungkan dengan ambulans-ambulans sejenis dan ambulans Pelayanan Medik bergerak membentuk suatu Rumah Sakit Lapangan. 4. LAPANGAN C Petugas 1. Ruangan penderita tidak dipisahkan dari temp at pengemudi. Peralatan rned is P3K Perala tan resusitasi lengkap bagi orang dewasa dan anak /bayi. Ruangan penderita cukup tinggi schingga pdugas dapat bcrdiri tegak untuk mo la kukan tindakan. 1 (satu) dokter gawat darurat (tergantung keadaan). . Minor surgery set.

C Petugas 1. Medis 1.l. Lampu rotator wama merah dan biru. Se w ak t u rnenuju temp at p encler ita b o le h ll1enggulhlkan siren!' dan larupu rotator." harnbatan. 15. 11. Tenda Japangan Iengkap.l]l bi. Stop kontak khusus untuk 12 v DC di ruangan penderita. 3. D. 3. 20. 2. 9.mli KI'\(T. 14.l) Km di jal. Tabungan oksigen dengan perala tan untuk 2 (dua) orang.7. 8...). Meja dapat dilipat. L. perawatan gawat darurat dengan kcmampuan mengemudidankornunikasi. 2. 12. 13. l'era latan modis P3K. 16. Gantungan infus tcrletak sekurang-kurangnya 90 em di alas tempat penderita.1 (satu) perawat gawat darurat.LIIl SI) Kill eli jilLlI1 heb. :-. Radio kornunikasi. Leman untuk obat dan pcrala tan. Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya.J. . Lampu tuangan secukupnya dan larnpu-Iarnpu sorot bergerak untuk mencnrangi penderita yang dapat dilipat. .]q . Tata Tertib 1.ltan kendarclan Sdint.ls harus d it. 19. 10. Minor surgery set. . 17.. ['('rablan EKG dan monitoring lainnya. Perala tan rcsusitasi Iengka p bagi dewasa dan anak Zbavi Suction pump manual dan listrik 12 v DC.Hl lampu rotator. Selr\Ind rncngangkul penderi!" h a n va boleh Illcnggunak.-wn se m u a a la t berbahasa Indonesia. Air bersih 2111t. 5 6.wastafel dan penampungan air limbah. Bu k u pdunjuk pemelihClr. 1 (satu ) dokter gawat d ar ur a t (tergantung kl. Pcrsyaratan lain sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 18. 7. 1 (satu) supir.gi. Sirene 2 (dua) nada. B.'dLi<lC1n).. Perala tan resguE'_ Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan.CIrlU<l pcraturan bill lint.. 4.

lIl kt'IHhri)il)i (jurnlah SC:-'lIili kebutuhan). Supir dcngan kernampuan P3K dan kornunikasi Pc r a w a t an dengan kern a mp uan PPCD dan kern am puan khusus lain scslIai tujuan peng~lIna.I'.!s pdr. Sirene 1 (satu) nada Lampu rotator warna biru Radio Komunikasi Persyaratan Iain sesuai peraturan perundangan yang berlaku.l mc. Ruangan kerja cukup luas untuk tujuan penggunaannya dan cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk bekerja.Iis j")nkkr C Pctu. Dilengkapi sabuk pengaman. Dapat dipergunakan ambulans transportasi. Bu ku petllnjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia Public Address System Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan B_ Me dis Tabungan oksigen dengan peralatannya Perala tan medis P3K Obat-obatan sederhana. AMBULANS Penggunaan PELAYANAN MEDIK BERGERAK salah satu upaya pelayanan sebagai medik Tujuan Melaksanakan dilapangan. ['dug. Tempatduduksesuaikeperluan di ruangan kerja. Lampu ruangan secukupnya dan 2 (dua) buah larnpu sorot bergerak.as bin s('su<li kebut uhan. Stop kontak khusus untuk 12 v DC Cenerator 220 v DC dengan peralatannya. Tc k n i s Kendaraan roda empat atau kbih dengan suspensi lunak.IV. 1 Ternpat tidur / tand LI bagi sekurang-kurangnya (satu) penderita. . cairan infus secukupnya Perala tan upaya pelayanan mcd ik sesuai tujuan penggunaan kendaraan. Meja kerja yang dapat dilipat. Per svaratan kondaraan : A.

ker eta [cnaznh d a r i bahan cahaya.D. KERETAJENAZAH Tujuan pengglma. j(1 . Tata Tertib Lampu sirene hanya digunakan dibutuhkan Lampu rotator digunakan kernbali dad tempat tujuan Semua peraturan bilamana sangat pergi dan sewaktu lalu lintas harus ditaati Keep!'<l tan kcndaraan sctinggi-tingg:inya 40 Km / jam di jalan bi.lS.lllya dan SO Km/jellJl di jalan bcbas harnbntan V. Bilarnana tidak mernbcntuk iringan hanya belch mempcrg unakan lampu rotator dan sern u a per aturan lain lintas harus ditaati. Pcngangkutanjenazah kcndaraan : Keridaraan roda empat atau lebih T e k n is Ruangan jenazah pengemudi jenazah terpisah dengan ruangan satu peti Dapatmcngangkutsekurang-kurarignya Dilerig kapi sabuk pl'ngamilll Tcmpat duduk Iipat bagi sokurang-kurangnya (ernpat) petugas di ruangan jenazah Sirerie 1 (satu) nada 4 Lampu rotator w arna kuning Tarid a pengenaJ mernantulkan B. Petugas 1 (satu] supir Petugas pc-ngawal jcnnzah sesuai kebutuhan. Kccep<1tan tcrtinggi eli jalan biasa adalah 40 Km/ jam dan di [alan bebas hambatan 80 Krn/jam. C Tata Tertib Sirene hanya dipergunakan pada waktu bergerak dalam iringan (konvoi) jenazah dengan mentaati pcraturan lalu lintas tentang iringan (konvoi).m: Persvaratan A.

Peralatan a). PC:-. 1 Vacum matress.Jllb~l!llu winchman.Jenisnya sa rna dengan di atas hanya telinga (Ear Protector) kcbaknran mayat. I'esawat hX('d Wing: Tcrh. Hdi besar . Personil:' a). c). 1)(. n-u I:w<. Pilot dibantu navigator. Monitur alat dan obat rcsusitasi splints keracunan. untuk korban/bag-bag komunikasi jurnlah ditarnbah.lll l)i~'.l\V.lJ ) tUJl)~ [on i:-. orang awam yang te l ah mendapat latihan FreD lengkap).[H Jumlah disesuaikan Copilot.. medic. Heli kecii 3 (tiga orang) Pilot yang mendapat Dokter umurn.l'C.l t (In inirnal scpcrti HeJi j I . Heli kecil 2 tandu.LAMPI RAN II AMBULANS 1. b).uaikan. 2. mempunyai pengetahu<1n d i lapangan. (inflatable) Kotak obat-obatan (shok luka bakar.. pendarahan dan lain-lain) terrnasuk dan alat infus) Kotak pendingin Kantung Non medical equipment: Baterei Pelindung Pcmadam Radio I 'v rotehnik b). infus (obat korban 1 keranjang tandu. UDARA Ddibrilatur/FKG Pulserneter Kotak Suction Peneumatic respirator. PFGD latihan lengkap I'cmbantu rnedis (paramedis.radar operator I iurnlah dic.

3.300 km. ") *) *) 4. -12 . hellipad) 2) jarak yang harus ditempuh Untuk helikopter bila berjarak maksimal 200 . Syarat penggunaan Diperhatikan : 1) fasilitas kendaraan (lapangan terbang. Syarat pesawat : *) noise level (bising dipermukaan) vibrasi akibat gerakan rotor temperatur dalam Cabin sebaliknya twin engine Dengan persyaratan tcrtentu sesuai jenis : pesawat. Lebih dari jarak itu harus dilakukan oleh Fixed Wing.

g § VJ -C"'i :s 'l) E .. « S E-....... .' .... j' z .. .u z o ii u 0) 0- ..~ E 0:1 ..::....

'" ".:G 8 'C' . '" .:j Vl '" E s::: .s u..:!? '" '" '2 . ~ -.:.ex: b!J 'C r~ '. "0 "" E '2 '" E c-. :. E ilJ _".. c c _".~ ~ ~ VJ a s::: s::: 0:: ' OJ b!JO ill -0 s::: (/') u... c.. o-. g ::l .l ..:.5 S C ..5 '" ::l Q....:.:. Of) .s... 0.L (/') EO 0...: (3 c: OJ :=J ::l .~ c.l.>< OJ C ::l p.L 0 s::: . <'0 :. !<: >.. ...'.... '" '....-c.s. o(j "0 <I) E "0 _".2 "" S c '" Q) c . -..L -0 ::. -.j C '" s c. 0::l OJ VJ ... "" "" E .::: s::: .... -0 OJ E E ::2 OJ -q: v-i ~ .. E ilJ s::: ~ .>< O/J ilJ E <l. '" 01) '" s::: OJ OJ b!J -0 d 0 . (/') on ..::I V en CJ 2S if> OJ Q ('5 OJ.: .D OJ . t:: t:: oj -0 ..:j "0 ::) r- ~ E OJ -d- -c: .:.~ '" ::l . '" C6 "" 2 E _c c. 0.. '" .:: d '" cG .j >.: 00 . s::: r-: . V'l 0on ::l 8 ... E s::: :'2 .... ::i v .~ c Q) ~ '" OJ -0 0 ...:j .!G ...0 r-: :9 00 -'t J... is '" ~ c:: ::l '" 0~ 'J. 0 '" ill E ~ en ':..5 ~ '" ~ C .l -0 '" c s::: b!J :l -c E :'2 <I) r-: :-s 00 ::l E v 'C'j >-.:..0. s::: ~ ilJ E E OJ ex: E ::l 3 «i c: o or.3 ..."2 00 s::: ilJ E8 0 '0- < '" '" c: E rn s::: s::: '" '" '" :0 c '" '" c: n 0:1 d c-..D ilJ '" ilJ <!J r. ~ :l CJ) a V .D <!J Q VJ s::: on s::: .::.:.: 0 "0 .:... :-::2 <l.a s::: '<..! b!J "'" ':i) 1) J) < E :..-. -'" Q <'0 '" E <U .i OJ E v :-::2 tri E :-s ..D s::: '" oj ':d '" c~ >..s: oj 2 <.~ _"..::j c:: '" .- 'Cj" -... -...s c: :. c.:.0 OJ '" d . ::l E '" :.: .. ~ '" s::: >.. U S :J "" s::: 'f. .. bl) .: .g :§ s::: Q) C c ... E 0. . ilJ '!) 0 0- 0 -0 OJ N '2 ..l 0 "2 -ct- E OJ EO -0 If) IU OJ U') :l '" '>:' '" 'fJ ~ 0 E ill :'2 OLl ill -0 '" s::: E V OJ _"..j '" ::l '- 0 Q 0. </> '" c:: 'C'j s::: '" .. ~ E :'2 -..:..3 U o(j c '" ..'" ..::! -0 d Q.

u u E .:2 t1J ci .

:: on -0 c.-i c.c -o::l '" c:: :2 . -- CJ ro S . 1. (/J E :J :J ~ CI) .:..:.:t ":l1J U . '" .. .:: ro .:t (l) .j .D E :2 <I) E - ~ CU E -0 cr.. ..-...8 E . <IJ E '" (-.) .. (!) E -0 c <l.l < .. ~ ~ ~ .. r-I ~ E <!) -0 E :g (l) E (!) -0 .c ro ... -<...~ ..E 0..8 v c. -c-t - '" c.I xr: ll.. 10: .:J 0 -_ -0 (!) E E <IJ ~ rl rc.3 ro 10: "/J ... ro 0 c.

.:: blJ C l."'2 :2 .oj .c ::J :/l . §"'<t Z. gE V -0 ~ -0 .... vc .:1 'I._ :::l v) . ::l ::l ""0..""2 EEE vv OJ QIJ".0 .. ***** .....l C ro 0._ ""0 E 0. " ..._ u ::l V .

0) + C:::> ~J ..:: ':JJJ + ::.3 "0 . Q ....:: 00 ._ 1- <':l ::l ':JIJ . e:j -::J > ." ':JIJ "l) !:>IJ "':l Q g(1) :-:l ~E . 'i.c.o1J L..: d . <":l -r: .:: c:: c l... o ..0 0 v "a <":l ct. .. ?:i c -::J L >. ::l ..c C. U C u c:.:.c: o blJ ::l d ::J c {"j c.. '!J .:2 o '..::.. 00- :a ~ ~ oil d E o It) c es d 'w ~ ::l E !:: .... ':JIJ "0 <":l ::l :. . 0. "3 ...."j c:l Ui v ?:i <:( ::l o .01 6.!2 C rr ... § 0. <":l c ~~ E -.-c: ':JIJ C . . . >...... .. OJ . ::: X VJ 1> 0..a :... .£ .0 W 'J o o OJ c ~ V 0/'. - .::. ..::..J >< ~ ~ ::c r I 'r W ..) r..= Ui "0 cJ Q "J :r...::: . :..... VJ '0.:!t- E til) C d ::l c:: ._) u '/J cj "3. 0) a olJ .> "J: ...:::: * = ::c ".. w 01).. '" CJ1 >.....:: W ::l '- .0 -'" £3 ::l '" '" . E 0) -::J rl E V :? p') V .::...Q c-.. ~ d '" L..) .:. c CJ < -r: ::l .:: ..:: :n +2~ c :::. 'X Cd .-.

..: L.0 -<: -"<: ~ G:I . ~ ~ E Q) ::I 0- c: f-._ <1l -..:~ '" c::I <1) IJ] <1l . .:1 Q <1) <l) '1) E .! E ~ .. c 0 0...c: -...><: L.._ ~ ~ .. ~ '0 ~ ~ ~ --0 _:._ -<U _..i u 'l) 0 ~ -..::. ':. ~ c._ U) c ._: Q _...IJ s 0 Q..> E ---:::J -- I I [f) oc '<':l :::s ~ (.... -0:. 'l) c::I c: c. « ....... . .I <I) v U P-... . P-.. ::I . d S C c: .....' Il) bJj >-: j..~ r-t _----- ---------~ U ~ ---0 'l) -u -- E 'l) -t p:) E v v -q (. :::l . c::I c-.:: c: . .... ~ -' :2 «: -. c: -:. 'l) <C C<l :":I v .. E .. -a ::I Q E 'l) --0 c '" . C.- -u <':l 8 0 '-' '- c ~ Q. C d ._g ro --0 E c: 'l. U G:I :...._ . -= ..__) 0 ~ I I I I I 0 0 f----< c:c: c.j E E~~ c 'l) c: :!2 -::! c::I <1) Il) ~~ ::l <I) 'l)U Q.. . 'l) --.i « ~ ~ ~ ::I E Q . ... 0. . .) (/) 'l) "'0 C d ::I ~ <1) <1) .U) <r: ~ U) ~ ~ P-... '" '" ::I -oc V) 0::: oc > .. C 0 0. . -- '/l ~ :-0 .. .._ c Il) o. E -c....c: c.. <-:l c: 'l) . ... .. . -<._ Vl '.. U S . u c-. L.t.5 <1l ''::: ::I c >..:: Vl "0 ?. .0 '" .. ::. ~ '" d <1l C . 'l) ~ (J . ~ C . -!<: 0 -~ S ---a .. '" ~ 0. 'l) <1l '(. ? . d :::s '.. . . ---0 . .

.:: c c: ro ~ =:.. >..G .. E ro >. ....._ 13 'a c...:: ro .:: '" :::1 ~ ..:: E E ~ It: & & 8 .. 'lJ u ~.!>o!! . .a ~ d ~ ..>.0 0 .o: ~ ~ < U) U) ::J 0..:: «:l u0 1) :... V) .:...'" + :::1 «:l c .:.!>o!! "0 :::l..~ .:3 E «:! . :I'J . ..... '" t:: c E 0 = :I'J 1) '...J Sfl . '" .J '" c. ro ro .:: .:. !.:.... c:: .:... d .:..>-. ..:. ~ c:j 0 0.::J :...:: E 0 ·5 1) rJ) ~ ro Cii E "«:l t:: «:l t:: ... <Ll C ~ 0 0 . ~ o::l e.J ..:. ~ bO.IJ 0.":':: Q) c.. 00 .I] 'r5 (. c «:l ro ro ..E >.. -~ .._ ro c: i:: '" «:l bO .. 0 ~ r :g c'-.:: c.

...: < .: c.:..u: ("j s:: c ("j .. z IX I. .:: rr-r .../) d ('Ij ~ 2. _- )1 . Q..r-r E rl E ~\Oo?E~ e .::l :: ..::: .:l < _] c ca rl cO v :.3 c '2 ... ~ g_E § **** *** ~ <{ U ~ u.._ 0 0.. U) -< c: .-. +t- ~ 0- C fI7.~ d g_ t ...: . ('Ij ~ v.: CUN'-O ~ .. _'L O':l 0 E ::J t:: o d .U Z UJ f- ~ ~ . ('Ij ·E c . u s:: 2: Z.::l C z: « »: cr..::.

l g .:::s .~£ .J .. Q.:::s -5 .:::s ._. <'0 .:::s ~~ c: bi) 3: .... 0..:::s ell . '7 ("'1 t>JJ <!) -...- o:! c: ttl t>IJ cG cG cr..\<: <U c: ro ZI C ~~ _...0 0 ro "0 c: ::P @ ~ C <tI U -e ~ < '0 ..J - 0 ..\<: E co VI r/l 0-. bll -cl o:! c..:ot!.0 <'0 0 .0 (\) v L. .._. ...-S c"J §E . :::... - -- rl -('"r") -if..0 V t-< ro ..<'0 >.0 .:::s '" -a :. -'-' :.:::s t>1l ~ ro V E c: ro .. OJJ .J\ .\<: ro . co 8 "0 .. oc ._ .:::s .~ . -~ til 1:: E bI) .. f-< ....::s 'L. - r-- _- = - ~ - . . 0. 7 . d ell dJ :d ~ ~ :::J c: OJ) c: ro .].:::s CI..-. .:::s U) ..'..:::s ....:::s 0..\<: c: c: ..:::s OJ ....:::s Oi) eo c: 0..:::s . \0 E <!) 0- '7 '-C 1\ E . 0.. EE ~~ r I j ! I I Ii! ~ ('j ...> c: <U ~ -0 U C\l OJJ <tI ....:::s ro c: bJ) ci . 1\ 0 L. 0J2 E c 0 "0 E~ 1) .... . ..... -c.... c: ~ ~ ro c: "0 c: . r- e::: c. ~r.0 C <'0 ..:l 0 o.:::s ... ell ro OJJ c: OJ c: ell c: t>IJ c: ~ <U 'ie ~ V 0.

. <U :::l ".....: < c c::: L. -c ....s: 01 c: oj > Cl ~ oil c 0) u ~ c Z 0' - - r- ~J . ..../l IJ) I- a >< OIJ ..9 L..... V 0. c: V L. <J) ---~ c 'E.. 0.0) L.. 0 0. ~ Q 0 Q) L..Ll ('J r) CL... .-' .J ~ '" I. blJ ::! c -bJJ c: v -c:J --::: '" . L. U Vi . 0 -L._.- V _c E Pc::: .._. < ~ f-o r-. 0 '-.2 ~ '01 0 .. "1 :::l q- <U or... 8 c 0...: ("j 0.c t>1J oj ~ C'j Of) CL.. ~ -::: ':J . 0...... ce... .. <U 81.c (. ~ E :r.s < u -c ~ u -c::: (. ::.1 ('·1 > :E .>-. C 0 L.·. c CL.

.

-.. '" c:r:: co Pp...§ '.c: J::...) -. 0 0 E .f" oj) .D '" ~ . t: '-' OJ f-< 4" .. '.:.....-~~-~.. ::>: .E:: <l> c :.. '" ~ Of) '" ~ 1) ~ t: .D 0 C m t: "2 0 ..5 "'1" ~ 0..!i!. '" .5':! OJ) E 0..l ~ f- ~ ...) ........_ !I) ..:3 co E ~ ~ 13 0 V5 ~ m '2 "" E » '" . '-' v u.D '" 1) v: 1) U) ~ ~ '. " '" ::l . -'<G . -0 t: r- m Ci Ci !I) '" '" Q "" Q E E '" CI ~ E ... 0 '-'._.-< ro _.-.c: ::J r. iii ~~ eo !I) <l) '" .-< ..5 ~ U ~ ~ ~ Q c U c: D bIl § 2 'J' "-' o: ..l ._] z Q) '" OIJ 0 c -e.:l -C > .1- c-T 'n C ~) .\) ~ z ._ ::l !:: :::l E v ~ L. '" .-. -0 E .r:: ro..:: "2 ...!i!._] V '- ::: ..'1 '1' -T -T 'n r-- . .:i -0 '" 0- :.: -'<: <1) '.:> (/J >-. " -... f-< '" _Y) '2: 0 0-...::l :l ..0 0 co 1"':.::! "" r.9 P. ::l 0 '" II.l S QO <r) -< -0 "" .D . _c '3 r. ..c: ::l ....-.. . '-" OJ s 0 Cil -T 'e .. C) </} .!i!.. e ~ "" </J <l) >-...::> </J o "" ro '-' o.."6 ':.J E "" E '" E ..._] ~ :J ... ~ .-. '" C oil .2 E . 0 N -0 > u J.2 -0 c-. -0 .....!. ---t Cl ---t "7 . ...c: . '"' S -B 2!l U B ::J ..D N '" 0 .:..~ '" =' _:....s: <'I ::l '" ..:....-----.... '" ~ ~ 0:. l . :_/.. .. ..) en "J V1 N . "fJl 0) ~ . . 00 '" t: 0:. E ..::: Q .:: U \0 "7 u . § 'll !:: . 2 ~ ro on ~ <l) ·c -I<: .!><: m o m 3 '" E ~ <l) ...D :::l .. 0:.. . .:: -0 'i.c ttl c m 0 '" ~ ._: ..!L <l) 2 ... z ._ . (fJ . {F) <l> - .::: . r: C(J Cl .::l .. =' .... a 0 C OJ 0 E 0 e-.

...§ ~ '" ~ '5 0... 0 '~ f--' r-r.>-..::<: ~J '.... :::l V 0 '" c: ::J :.~ c e:.::<: Ol '" .: !l.D . E . U '" c: 0 ..2 ... 0 I::: ::E ._" V "" .. .S: 0...) '. E on oj "2 "" <l) -a '" ..: ::J .. ~ ill 'n > 11J . . . -0 ~ !l. Q. c: ~ D ii: In ?: -0 Ir..) ~ oj c-. 'a >.J V E .3' '" .0 .. -. 'z:J 01.s: ::J Ol '.... >.: Ol ~ '" D t>1J 'C 2:! on <l) 0:........ ... .: E E t:: ::l 0...c ~ E !l. E c C 4: c: Ol C -0 N oj c: -'" c c.) 0.r 1("'. 0 C ~ ~ !l..!.) E ..0 !l.......... "-' V} D -0 0 oJ) :":l .:: . Ol c: '" ::::1 ...l t:: .. Ir. !l. E ~ . -0 !l.0 z -< 0 z ... s::: oj E c: N 'D c: Ol :0 U !l.. 0 p..:: -5 c: ro 0 -0 Ol c:: -0 <'l 'B V 0- '" ~ <'l =' .c CO ~ Cl V :>-: o . .:J ti:i v > <a > ro <'l 0.l 'n ". !l.) a '- 0.::<: !l.. .) !l. c: . '" ::l ::l 0 ~ c: Ol 'B <l) c -a eu '" 0 E v C VI Ol ~ ~ C .) ::l ~ ~ D c. . Ol E v :::... 'r..2 I-Ll ::£! C -r: OJ c: Ol .s U -< ..) 0:..::.) '.) > == c .. -0 ........2'. <l) ::l en -- u - ... f:d '" c. =' .::<: oj .l 4: -0 <l) D c: Ol ::J ...) 5 ::.......c ..E < 13 :::l U '" 2 C blJ IV ...c .. 0 '...!! t>IJ ro t>1J C >.::<: . -0 =' s::: es :E C <OJ =' .J 0..) .J c: 0:: u :S c: t:: (\1 .0 ~ 'c.. UJ .. ::l ao . § c . c: :t: 0 . ::E ..! c...... >.... .: I!) . c E ...... ::l t>!J t:: 'EO t>IJ 'EO t>IJ ..::<: Ol IV > _.".....J .. :E =' M .:: ..... 0 '1........ ~ ~ <'l E 0..c 13 ... Ol .) ~ C () n....D .. 'C oj ..2.. 0.. 0 _C..J > UJ 7.) tr) 0. £ .....::<: '..g c: . '" .0..::. 0 c c E -0 Ol <:l c...r: =' on .::<: !l.::<: V :. -0 <l) s::: r::: ro .) oj 3 t:: ::l '0 ..::..) Q. I!) .:J (\1 v I!) . 0... .0 Ol .:.

mungkin kareria mcdis cepat mengenali masalah ini dan trIah disiapkan untuk menangani hal irri. Pasien dengan penyaki. kanker dan gaya hid up terikat di rurnah dengan pra henti (prearrest) disertai dengan mortalitas berrnakna setelah RJP. serebral dan organismik. st"r . Usia lanjut tidak menyingkirkan hasil yang balk. Selang waktu dad henti sirkulasi sarnpai nekrosis sel terpendek pada jaringan otak. Cipio Mal1gunkusuTI1o. sehtngga memberikan waktu untuk pemulihan fungsi jantung pam secara spontan. gagal ginjaJ. hipotensi. maka kematian tidak lagi dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung.dlUi mernpengaruhi kelangsungan hidup dan hasil neurologik. yang digolongkan sebagai kejadian akut lebih baik daripada yang dengan pcnyakit keganasan.LAMPIRANV· RESUSITASI JAI-\jTUNG PARU Bagian Anesiesiologi Krdoktemn Uniuersitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. sehingga pemeliharaan perfusi serebral rnerupakan tekanan utarna pacta RJP. Sejauh in! tindakan resuailasi yang dirnulai secara dini merupakan satu salunya faktor yang dikc. Pasien yang menalami he nli janlung pam di leU mempunyai hasil yang lebih baik. Resusitasi yang berhasil (tanda vital kembali) terjadi pada 27-49% kasuskasus di rumah sakit dengan angka kelangsungan hidup yang dilaporkan sarnpai 17% urituk 1 bulan dan 10-14% untuk 6 bulan dalarn suatu penelitian prospektif. Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk mengadakan kembali pembagian substrat sernentara. Walaupun persentase pasien-pasien yang tanda-tanda vitalnya berhasil dipulihkan lumayan (60%).. tak bergantung pada ternpat dilakukan resusitasi. Sekarang dikcnal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kernatian klinis. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henri sirkulasi akan rnenyebabkan disfungsi serebral dan kernudlan organisrnik (dengan kerusakan sel ireversibel). namun pasien-pasien yang mendapat resusitasi di leU mernpunyai prognosis jangka panjang lebih baik daripada yang di baugsal-'. lakartu PENDAHULUAN Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir. neurologik atau stadium akhir. Jadi pneumonia. Di sampaing itu pasien yang resusitasinya mernerlukan waktu lebih dari 30 rnenit biasanya tidak bertahan hidup.

asidosis : syok dan listrik.(I) Paru Sebab henti nafas. suatu kondisi yang potensial reverxibel. 2) ada )'rlllg mulai melakukan resusitasi. quinidin. 5. penyakit Sentral: obat-obatan. diagnostik rendah. sfinglcr ani. penekanan/penarikan medis. kanula trakeal tersurnbat. tumor Perifer jal1fung rcndah. Ernpat puluh persen mati rnendadak dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu 1 jam setelah dimulainya gejala-gejala. akut : henti nafas. Anestesia bola mala. b.li . 6. 3) irarna y<1ng timbul adalah fibrilasi veut riku la r. perdarahan). propoksifen atau jalan oleh sekresi. kalsium serum tinggi. fibrosis pada sistern konduksi Adams-Stokes. infark embolus paru. Refleks vagal'. Gangguan oksigen dosis obat: isoprenalin. antidepresan magnesium Kecelakaan asam-basa/elektrolit : kalium serum yang tinggi serum rendah. sumbatan trisiklik. otot. 9. noda sinus sakit). toksik. Kebanyakan henti jantuog yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskernik.ima pada Sf! . peregang<lll pembedahan. 2. Lebih dari 90'. tinggi. Angb kclangsunga n hidup dnri henti janlung optimal hila 1) peristiwa ini disaksikan. (I1P"(. 4. pa02 tengelam. pipa trakeal terlipat. setclah : obat pelumpuh (cardiac arrest) poiiomielitis. henti [antung. sekitar C. neurogenik. miastenia pnC02 gravis. benda digitalis. lidah yang jatuh ke belakang. pernafasan : intoksikasi. Sindrom di jalan nafas.l yilng tcrlatih Hcnti jantung terut.O%di antara UJ11ur pertengahan dan yang lebih muda."nkell1iltian yill1g terjadi di luar rurnah saki! eli sebabkan oleh Iibrilasi ventrikular. Surnbatan jalan nafas : benda asing. 8. 1. Depresi a.Seb ab He nti Jantung Henti jantung pam. Terapi dan tindakan Syok (hipovolemik. miokardial akut. aspirasi. 4) dcfihrilasi dilaksanakan pada stadium dini. defibrilator hendaknya dised iakan lebih banyak untuk dipilk. anafilaksis). Penekanan hcndaknya ditujukan pada defibrilasi dini dan tidak mcmandang perti rnbangan-pertimbangan lain.lieh Il"n. dan proporsinya lebih tillggi. kelainan akut glotis dan sekitarnya (sernbab gIotis. tenggelam. 3.lg. Penyakit kardiovaskular : pcnyakit jantungiskemik. otak. 2. Sebab henri 1. Kekurangan Kelebihan adrenalin. (penyakit asing Lenegre. 7.

2. dapat disebabkan oleh kausa selain penyakit jantung iskernik. 4. denyut rneskipun irama yang tidak mantap. 4. Diagnosis henti jan tung A. seperti mati (death like appearance). 2. Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung). Henti nafas atau megap-megap Terlihat (gasping). Adams-Stokes. 2. 3. 5. Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan peluang untuk hidup. Pupil dilatasi (setelah 45 detik). Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila dijumpai keiidaksadaran dan tak teraba denyut arteri besar! 1. 5. Gerakan kabel EKG dapat menyerupai mula I saja RJP ! Bila :agu-ragu. Resusiiasi hams dilakukan pada : 1. 6.orang muda. 7. ')') . dan kelebihan listrik. 6. Kapan resusitasi dilakukan/tidak dilakukan A. 3. dan karotis pada orang Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dewasa atau brakialis pada bayi). Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut tidak ada kontraksi rnekanis. Wama kulit pucat sampai kelabu. 4. Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak rnenghasilkan nadi yang dapat diraba. lain yang masih rnemberi dosis obat-obatan. 3. B. "kecil". Pada beberap a keadaan RJP yang dilakukan dengan benar dapat mempertahankan kehidupan sampai 1 jam sernentara terapi untuk kondisi/ penyakit utama sedang diberikan. terutama pad a asfiksia. Refleks vagal. yang mengakibatkan "kernatian listrik". Infark jantung Serangan Hipoksia Keracunan Sengatan akut. Tanda tanda henti jantung 1.

ketika tidak hanya jantung. Pada keadaan ini denyut jan tung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat. Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi. tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup Jebih lama lagi. 3. 2. Kernatian normal. Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih. yaitu sesudah ~-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP.B. Upaya resusitasi di sini tidak bertujuan dan tidak berarti. 60 . Resusitasi tidak dilakukan pada " 1.

jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalarn organ vital akan habis dalarn beberapa detik. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. nafas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aklifkan sis tern pelayanan medis darurat (lihat gam bar 1). Bila terjadi henri jantung primer. Henti jantung dapat disertai oleh fenamena Iistrik berikut : fibrilasi ventrikular takikardia ventrikular. penolang mengekstensikan kepala korban 61 . Pada metode ekstensi kepala dan angkat Ieher.BANTUAN HIDUP DASAR (BHD Basic Life Support) Bila terjadi henti nafas primer.Breathing & Circulation) BHD hendaknya dilakukan. tidak ada nafas dan tridak ada nadi. Pada korban yang tiba-tiba kolaps. asistol ventrikular atau disosiasi elektrornekanis. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan mhs tetap terbuka. Resusltasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. Tindakan resusitasi (yaitu posisi. ~ A : Airway Galan nafas) Sumbatan jalan nafas olen lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering tirnbul pada korban tidak sadar yang telentang. Penilaian tahapan BHD sangat penting. Gambar 1 : Pertolongan pertama L_ . kesadarannya harus segera ditentukan dengan tindakan "goncangan dan teriak" yang terdiri dad : menggoncangkan korban dengan lembut dan mernanggil keras-ker as. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan : penentuan tidak ada respons. hendaknya korban diletakkan dalam posisi telentang dan ABC (Airway.pernbukaan jalan nafas. Bila tidak dijumpai tanggapan.

Pada metode ekstensi kepala angkat dagu. Gambar 2 : Membuka jalan nafas Gambar 3 : Menentukan tidak ada nafas Gambar 4 : Posisi sisi rnantap 62 . Korban yang tidak sadar dan bernafas spontan dengan ventilasi adekuat sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi (gambar 4). Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling arnan untuk mernelihara jalan nafas atas agar tetap terbuka. pasien perIu diberi O2 lewat kateter nasal atau sungkup muka. Metode angkat dagu dan dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher. Bila ventiIasi adekuat. tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis). Pada metode ekstensi kepala dan dorong mandibula. kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan. pada korban dengan dugaan patah tulang leher. kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas (lihat Gambar 2). Akan tetapi penoIong mungkin hams menarik bibir bawah korban dengan ibu jari.dengan satu tangan sernentara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban.

Di sini. Hentakan dada dilakukan pada korban yang telentang. 63 . penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban. Untuk melakukan venti1asi mulut ke mulut penolong hendaknya mernpertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan dua jari atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong (lihat gambar 6). diperlukan ventilasi buatan. teknik dorong mendibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara paling aman untuk membuka jalan nafas. Pada tindakan jari menyapu. Pada beberapa pasien ventilasi mulut-ke-hidung (lihat gambar 8) mungkin Iebih efektif daripada ventilasi mulut-ke-mulut. keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalarn satu gerilkan menyapu. Kernudian segera raba denyut nadi karotis (lihat gambar 7) atau femoralis. selama pernberian ventilasi pada korban. 2 kali ventilasi dalam (800 . Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun.5 ·2 detik). Bila denyut nadi karotis tak teraba. faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam (1 kali nafas = 1. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali. sebagai tambahan.1200 ml pada orang dewasa) setiap 5 detik. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya. penolong dapat merasakan tahanan dan kekembangan (compliance) paru korban ketika diisi. melalui bagian belakang faring. 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kornpresi dada pada resusitasi yang dilakukan cleh seorang penolong dan 1 nafas dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh 2 penolong.Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher. korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya.penolong hendaknya segera menilai apakah pasicn dapat bernafas spontan. karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban dan mernperhatikan gerak nafas pada dada korban. korban hanya digerakkanldipindahkan bila memang mutlak perlu. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan be n d a asing. Bila denyut nadi karotis tak teraba. Bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. B : Breathing (Pernafasan) Sctclah jaran nafas terbuka.~alnbar 10 dan 11) aiau hentakan dada (chest thrust). Bila ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi (lihat gambar 9). dengan amplituda yang cukup dan ada udara keluar rnelalui hidung dan mulut korban selama ekspirasi. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800 1200 ml pad a orang dewasa) setiap 5 detik. hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust gerak Heimlich) (lihat I.

(3) reposisi pasien. Urutan ini hendaknya diulangsampai benda asing keluar dan ventiJasi buatan dapat dilakukan dengan sukses. Gambar 5: Tanda distress universal untuk surnbatan jalill1 nafas oleh bend a asing Cambar 6 : Ventilasi mulut-ke-mulut Cambar 7 : Meraba denyut arteri karotis . (2) buka mulut dan lakukan sapuan jari. Urutan yang dianjurkan adalah : (1) berikan 6~10 kaIi hentakan abdominal. buka jalan nafas dan cob a beri ventilasi buatan.teknik ini sarna dengan kompresi dada luar.

~- -~----- --~--.- --_---_ ._- Gambar 10: Hentakan abdominal (gerak Heimlich) pada korban sildar Gambar 11 Hentakan abdominal tidak sad ar (gerak Heimlich) pad a korban .Gambar 8 : Ve ntilasi Blulut-ke-hidung Cambar 9 : Ventilasi mulut-ke-stoma ----..-.----.-~-~----.-~----~-_-----.

tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 [ari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar (periksalah arteri karotis sesering mungkin) merupakan tanda utarna henti jantung. Dalam I menit minimal hams ada 60 kompresi dada dan 12 nabs. 15 kompresi dada luar (Iaju : 80-100 kaliimenit :co 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalarn (2-3 delik). sebagai alternatifnya ialah krikotirotomi atau fungsi membran krikotiroid dengan jarum berlurnen besar (misal dengan kanula intravena 14 G). Bila dengan ini belum berhasil. Bila ada sumbatan benda padat dalam salah satu bronkus. tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban. Dianjurkan lama kompresi sam a dengan lama relaksasi. Korban hendaknya telentang pada permukaan yang keras hila kompresi dada luar dilakukan. Setelah kompresi hams ada relaksasi. kornpresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80-100 kali per menit dan pernberian 1 X vcntilasi dalarn (1. C : Circulation (Sirkulasi] Bantuan ketiga RBD adalah menilai dan mernbantu sirkulasi.. rnemerlukan tindakan bronkoskopi.IM.hj nuk. ternyata masih ada sumbatan jalan nafas. buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring. Bila ada satu penolong. Hcnti jantung adalah garnbaran klinis berhentinya sirkulasi mendadak yang terjadi pada seseorang yang tidak diduga mati pada waktu itu atau penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh atau harnpir utuh. Dengan jari-jari terkunci. Bila ada 2 penolong.. j'.j + 1 lcnli. penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm (lihat gambar 12).5· 2 detik) oleh penolong kcdua sesudah tiap kornpresi kclilll<!. SeIanjutnya bila masih ada sumbatan (ada di bronkus) maka perlu tindakan pengeluaran benda asing (padat. Sementara itu pasien perlu diberi terapi 02. Penolong berlutut di samping korban dan rneletakkan pangkal sebelah .3 mg Sk. cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin (4-6 1A1g/kg BB LV) atau adrenalin (0. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Jadi 15 kali kompresi + 2 ventilasi harus selesai maksirnal dalarn 15 detik. .IV). [adi . lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban.Onii'tl". perlu dilakukan intubasi trakeaI.Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ckstensi kepala.. BHa tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakeal. pasien. Pernberian ventilasi buatan dan kompresi dada Iuar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini. Dalarn l menit harus ada 4 daur kornpresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kornpresi dada dan 8 nafas).im:1J dalarn 5 detik. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar.

Kompresi dada harus dilakukan sccara halus dan berirama.j m u lu l-kc-rn u lut "tall mulut-kc-hidung. Bila tak ada. Hila dibkukan dengan benar. ._---"~_Gaya lengan (belakang) L--_~~~ __ ~ ~ .75 ~5 em ·IJ<". kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 rnmHg pada arteri karotis. Bila RJP dilanjutkan. Kornpresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik sctiap kalinya.. (.ik-ana k (lihat F. dan bcgitu seterusnya. Sesudah 4 daur komprcsi dan ventilasi (rasio 15 : 2).1I1 4 d ct ik untuk an. Akan tetapi karena kctidak-sarnan ukuran. Pilch bayi dan anak kecil vc nl ilasi mulut-ke-rnulut dan hid ung lebih scsuai drnipada vcnti li1 c:.).'i" I ~. Pcmbcrian ve nt ila s i ha rus lcb ih keeil vol u rnr-u va d a n fre kurnsi vcntiJasi harus dilingkatbn llwnj. lakukan reevaluasi pasien.til~ u nl u k bnvi d..ltnb. " Upstroke" 3.11)....lllg berlebihan dapat mcnyebabkan sumbatan [alan nafas pada bayi dan anak keril. diperlukan mod ifikasi teknik yang d isebutkan di atas : L Ekstensi kepala y. Bila tidak ada. Periksa apakah denyut karotis sudah tirnbul (5 dctik). Periksa pernafasan (3-5 detik). mulai lagi RJP dengan 2 venrilasi diiku ti dCllg<l1l 15 kornpresi Bib ada dcnyut. Bila ada. sudah tirnbul nadi dan dan nadi dengan dan pantau nadi apakah sesudah bebcrapa menit dihentikan dan periksa nafas spontan.._1 Tekriik pada bayi dan unak-anak Prinsip BHD pada bayi dan annk adalah sarua dengan pada orang dcwasa. dapat sampai 15 detik.:-' 2. tranportasi (naik turun tangga). Kepala hcndaknya dijaga dalam posisi netral selarna diusahakan mernbuka jalan nafas pada kclornpok ini. lakukan nabs buatan 12 kali per menit dcngan kclat. kecuali pada waktu intubasi trakeal. lanjut kan deng<1I1 langkah berikut.1 d. pantau pernafasan ketat.ldll vc-nt ilasi li.

_.~.._--_ . __ ---------_ 68 . kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong (Iihat gambar 14).... Gambar 14 : Pukulan punggung pada bayi --~.-_. -~--.-. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban teJungkup melintang di alas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan.-- . -- -------_.Gambar 13 : Ventilasi mulut ke mulut dan hidung pada bayi 3. _-" .. dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai.

Pada anak yang lebih besar. Gambar 15: Letak jari pada kompresi dada bayi Cambar 16: Letak tangan pada kompresi dada anak 5.4.5 . tetapi pada anak diperlukan penekanan 2. Penekanan sternum 1. kompresidada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pad a 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak (lihat gambar 15). Selama henti jantung. pernberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pad a bayl dan 80 kali per menit pada anak-anak. 2.5 . Perbandingan kompresi terhadap ventilasi seJaJu 5 : 1. Korban dinyatakan mati. hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada Juar (1ihat gambar 16). Dasar henti jantung da- Penilaian Hasil Bantuan Hidup ABC RJP yang dilakukan pada korban yang mengalami pat mernberi beberapa kernungkinan hasil : 1. 69 .2/5 em efektif untuk bayi. Korban menjadi sadar kembali.4 em. ini dapat disebabkan karena pertolongan RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi tidak betul pelaksanaannya. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalarn rongga toraks pada pasienpasien muda.

.emi~sm.h 70 . :·~m ·~mia antaQ0nJ5 & ·~..V..ilasi poIfU .:. Cardi.. O~r'IfV. kalStum Ulang (lefibJjl~si 360 J F'E'rtimbangkan •• & l • """alean _lIasllaln befi 0fJa:I anli aritmilc - pOOiOi padeI Lanjutkan RJP selama 2 menlt sesudah liap kali pemberian cbat.i..t~: 1hto~Courd{lJ1Q ~8oci«ydCatdiQlogy "iflo'liah ard l.. FinnJ!Jh S~."~I. lain -lain Pertimbangkan terapi spesjjik untuIc . I..I akltvitas rl$lr'i.(Jalan nalas) buka [alan nafas Tidak ada natas Wt Breathing (Bantuan nalas) ~.jd C..f\II"D..0. 360 J + Per1Imbangkan kalsium klorida (10 milO %) .ry or (lj oi Ir'II·11l.II..tHbu • __ . Jangan henlikan AJP leb!!.rn-ivll eM..n.A. dan 10 detik.. .c SC.... lignokain alau atropi" lewat pipa trakeat.. re Car<1i~"Q" . pertimbangkan pemberian adrenalin dosis ganda. kecuali untuk defibrilasi..RESUSITASI JANTUNG PARU Tidak resp~ ..I.all:lt'"''''~~ o.-u. Sw«IIItI ~ ~'-rI Firnit._ . -pona~j<ont""II . Jlka tidak dapal dipasang jalu..~ $cIWty M.Iy rII A.r'IOo08-'lnl'l:!l.. Airway . fGI' ~~"&f1I of Sod9fJ' Sr:te.h SoDe!. bantuan Tidak ada nadi A 1 : • blpowJemla Circulation (Bantuan si'kulas~ RJP ~ ~ Adrenalin 1 mg IV Defjbrilas~ 200 J Defibri)aS~ 200 J Defibrilasi 360 J mg IV Adrenalin 1 mg IV Atropin 2 m~ IV Pertimbangkan pemaCl'an janlunll Jlkl 8138 geiomDaPTg P 81BI..ks Lignokain!100 Detib.. .

pertolongan resusitasi tanpa resusitasi otak biasanya tak dapat memulihkan fungsi susunan saraf pusat (SSP).Bila henti jantung telah berlangsung lebih dari 10 menit pada orang dewasa. kecuali kalau korban hipotermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umUID. 3. spontan dan refleks muntah (gag reflex). 71 . normotermia. bisa tidak.Dalam keadaan darurat ini. korban dapat dinyatakan mati bila setelah dimulai resusitasi korban tetap tidak sadar. Korban belum dapat dinyatakan mati dan belurn tirnbul denyut jantung spontan. Nafas spontan bisa ada. tetapi korban belum pulih kesadarannya. serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 menit atau lebih. tidak timbul nafas. 4. Dalam hal ini perlu dibcri pcrtolongan lebih lanjut yaitu bantuan hidup lanjut (BHL) Denyut jantung spontan tirnbul.

pintasan jantung paru darurat yang penggunaclllil). selama upaya mengembalikan sirkulasi spontan. BHL juga mencakup R]P dada terbuka untuk indikasi spesifik.it yang relatif tidak krampil Tcknologi terbukti handal dalarn prakn-k dan sekarang ini lid. diagnosis elektrokardiografik (Iangkah E) dan penanganan defibrilasi (Iangkah F).Bantuan Hidup Lanjut (BHL Advanced Life Support) Yang dimaksud dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Lanjut pada makalah ini adalah fase II Resusitasi ]antung Paru Otak. R]P eksternal langkah A-B-C (BHO) dirnaksudkan sernata-mata sebagai tindakan sementara mernpertahankan viabilitas otak ke jantung. tetapi kerugiannya hanya sedikit bila henti jantung tersebut disaksikan. harus dipertahankan dengan interupsi sedikit mungkin. merupakan tindakan darurat satu-satunya yang ada untuk henti jantung di luar rumah sakit. Biasanya untuk BHL diperlukan memberian intra vena (IV) obat-obatan dan cairan (Iangkah D). syok listrik (langkah F) hendak nya jangan sarnpai terhambat oleh langkah 0 dan E dan mcndahului Iangkah-langkah A-B-C. Setelah dirnulai Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau fase J RJPO (Iangkah ABC). yang mungkin tidak adekuat untuk mempertahankan otak dan jantung tetap hidup lebih lama dari beberapa menit. tidak satupun langkah 0. sirkulasi sponlan harus d ikembalikan sedapat mungkin. karena RJP ekster na I hanya merighasilkan al iran d a rnh yang sangat minimal untuk kebutuhan. namun hanya untuk henri jantung yang d isaks ik an atau dipantau. seperti sering terjadi pada henti jantung (cardiac arrest) sekunder terhadap asfiksia. seja lan dengan bukti-bukti keampuhannya pada takikardia ventrikular atau fibrilasi ventrikular yang baru saja timbul. E dan F yang diperlukan kalau nadi spontan kernbali segera sesudah dimulai ventilasi buatan dan kompresi dada. sebab defibrilasi dapat dilakukan dini oleh tenaga darur. transport oksigen oleh RJP langkah A-B-C. Defibrilasi sedini mungkin dengan restorasi sirkulasi sponran merupakan kunci optimasi peluang untuk mendapatkan hasil serebral dan hasil keseluruhan yang baik.<1 rnasih eksperimental dan Bantuan Hidup Trauma Lanjut (BHTL). dalam urutan-urutan yang bervariasi bergantung pada keadaan. Mungkin juga. [adi. Tidak perlu dikatakan.]k ad a Llgi alasan Il1cngapil setiap perawat . Pukulan prekordial telah dianjurkan kernbali . Dengan adanya ddibrilator cksterna l scmiautomatik dClI1 autornatik maka terjadilah perbaikan dramatik dalarn hasil RjP. narnun sekarang ini. RJP Lanjut atau Bantuan Hidup Lanjut (BHL) terdiri dari upaya-upaya untuk mengembalikan sirkulasi spontan yang adekuat. Memang ada risiko bahwa aritmia ventrikular akan kambuh lagi. pada fibrilasi ventrikular yilr1g terjadi ketika EKG pasien sedang dipantau. Lagipula efek proaritmia mungkin saja timbul dengan sernua intervensi yang sukses dan hanya diperlukan waktu sebentar saja untuk melaksanakan manuver tersebut.

dieneerkan dengan 9 ml akuades steril. Penggunaannya dapat diperluas ke pimpinan gelanggang olah raga dan kompleks pertokoan dan sebagainya. Tidak ada modifikasi pada pedoman yang dianjurkan untuk defibrilasi. Defibri1ator/pemacu jantung yang ditanam bermanfaat pada pasien berisiko tinggi namun biaya mungkin merupakan barier relatif pada banyak negara. Adrenalin dan cairan). 73 . Diulang tiap 3-5 menit dengan dosis sarna sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. Harus ditekankan bahwa BHD harus segera dimulai bila diagnosis henri jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai BHL diberikan. bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin : intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). BHL rnemerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat-obatan. Bila setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. darurat Defibrilator automatik telah terbukti manfaatnya ketika digunakan oleh famili pasien berisiko dan oleh petugas pesawat terbang dan kereta api. Cara pemberian : IV. Probe ditinggal di esofagus dan defibrilasi dapat dikerjakan dengan eepat pada pasien yang dipantau (monitor) dengan memakai energi listrik yang jauh lebih keeil. 10 meg/kg pada anak-anak (menurut AHA). Pemberian adre-ialin sebaiknya lewat IV. diberikan : hasil EKG dapat langsung : 1.0 mb (dosis untuk orang dewasa). intratrakeallewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 1 0/00. kecuali bahwa tingkat energi sesuai dengan standard yang ada sekarang untuk kalibrasi defibri1ator modern dalam energi yang dikalkulasikan. maka resusitasi diteruskan dengan : D : Drugs and Fluid (Obat-obatan Tanpa menunggu 1.jaga di ruangan dan setiap petugas ambulans yang menangani panggilan tidak dapat rnelakukan defibrilasi sebelurn kedatangan staf medis. karena ini lebih baik daripada lewat pipa trakcal. Rute transesofageal untuk defibrilasi telah dipakai pada pasien di unit perawatan koroner. Prosedur BHL berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pad a diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung.

Cara pemberian hanya IV. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal baru. Dianjurkan pula pernberian 20 ml bolus cairan nonglukose isotonik pad a penanganilI1 henti jantung pediatrik untuk mengatasi syok. henrlaknya diberikan dosis standard awal D. Rute endotrakeal kurarig bagus penycrapannya. oksigenasi dan kornpresi. Natrium bikarbonat : dosis <1w<11: 1 mEg/kg (bila henti janlung lebih dari 2 rnenit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0. Dipertegas lagi kelebihan manfaat dosis standard adrenalin daripada atropin pada bradikardia.1-0. tidak berkurang. Oi lain pihak. Penggunan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusirasi yang lama. Selain itu. terutarna pada kasus trauma bila upaya lainnya gaga!.5 mEg/kg sampai tirnbul denyut jantung spontan atau mati jantung. 2. dan bahwa natrium bikarbonat bukanlah obat lini pertama pada resusitasi pediatrik. termasuk intraoseus. Penelitian menunjukkan kemanjuran dosis tinggi adrenalin pada binatang dengan pembuluh koroner normal.2 mg/kg hendaknya diulang Hap 3-5 menit jika perlu. Oasis selanjutnya sebesar 0. E: EKG r 7 as isl ol vent rikular ? kompleks Fibrilasi vcntrikula elektromekanis) ? aneh ? (diasosiasi . CO2 yang dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jib CO2 tidak diangkut olch respirasi. Juga dianjurkan tidak dipakai isoproterenol untuk henti jantung. asidosis intraselular justru bertarnbah. alkalin lebih dominan berada di ekstraselular.2 mg/kg (Akan tetapi pernberian dosis tinggi adrenalin ini tidak dianjurkan pad a neonatus.1-0. kendati dapat dipergunakan bersarna dengan adrenalin pada pasien yang gagal berespons terhadap ventilasi. Narnun dianjurkan hanya pada korban yang diberi ventilasi buatan yang efisien. karena risiko perdarahan intrakranial). sebab kalau tidak. seterusnya dalarn 3-5 menit diberi lagi dosis 0. dosis adrenalin hendak ditinggikan sarnpai 0.1 mg/kg untuk rnencapai kadar d arah yang adekuat. Di sini dipasang infus intravena sesuai indikasi.Olmg/kg adrenalin. Tidak ada data meyakinkan tentang dosis atropin dan lignokain lewat endotrakeal. pernakaian dosis tinggi adrenalin dapat dipertimbangkan bila dosis standard awal tidak efektif. dan kasus pediatrik sangat menyerupai model binatang ini. Sangat dianjurkan pernakaian rute IV. Karena itu AHA menganjurkan pada henti jantung pediatrik. suatu penelitian prospektif dengan mernakai kontrol retrospektif menyarankan kemanjuran adrenaJin dosis lebih tinggi. Bila hanya ada rute endotrakeal.Untuk henti jantung pada anak-anak.

Syok lagi. syok keempat dalam suatu sed mungkin saja berhasil menghilangkan fibrilasi setelah sebelumnya gaga!. Lignokain terbukti manjur dalarn mengobati takikardia ventrikular dan untuk pencegahan timbulnya fibrilasi ventrikular. 50 . IV. Ulangi syok. Bila ini juga tidak berhasil maka dapat ditegakkan diagnosis kematian jantung. Pada kenyataannya defibrilasi berhasil hanya setelah diberikan lignokain. pendapat ini tidak pernah ditunjang oleh bukti klinis y. terdapat atribut lain yang membuat dimasukkannya adrenalin lebih dini dalam algoritma. Bila bel urn berhasil bed prokainarnid 1-2 mg/kg. syok lagi. kalau perlu diteruskan dengan tetesan infus (1-4 rng/menit). Resuscitation Council (UK) memutuskan untuk rnengikuti bukti eksperimental.lIlg meyakinkan. ( Terapi fibrilasi). Ulangi syok balik (countershock) bila perlu. Percobaan p"da binatang mcnunjt. dan dengan ekstrapolasi banyak yang percaya bahwa obat ini berrnanfaat untuk defibrilasi. Menu rut perkembangan terakhir.. meskipun diakui bahwa substrat untuk aritmia pada setting eksperimental. anak) . Bila belum berhasil bila bretilium 5 mg/kg IV. 100-200 Wsec (pad". berbeda dengan setting klinis.100 Wsec (pad a bayi). bila memenuhi kriterianya. Banyak faktor yang menentukan apakah syok akan berhasil atau tidak. di sebelah kiri puting susu kiri dan di sebelah kanan luar : arus searah : 200-300 Wsec (Joule) (pada dewasa) . Namun. ada perubahan dalarn urutan obat-obat yang hendaknya diberikan jika fibrilasi ventrikular gagal untuk berespons terhadap 3 syok pertarna (200-200-360 Joule). Akan tetapi. Lagipula observasi eksperimental mengarahkan bahwa fibrilasi menjadi makin refrakter terhadap terapi listrik sesudah pemberian lignokain. Karena tidak ada data klinis yi'lng relevan. kita sernua maklum bahwa konsep ambang rangsang defibrilasi sederhana adanya. Iadi. dan beberapa di antaranya (misalnya barangkali vektor gelombang) akan bervariasi dari waktu ke waktu. Bila belum berhasil dosis bretilium dapat ditinggikan 10 mg/kg sampai dosis total 30 mg/kg. Semen tara bukti yang memujikan adrenalin sebagai obat yang bermanfaat untuk defibrilasi tidak lebih baik daripada bukti yang memujikan lignokain. tidak bergantung pada pengobatan yang diberikan. Adrenalin telah menggantikan Iignokain sebagai obat pertarna . Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia sa at ini.kkan bukti yang meyakinkan bahwa adrenalin meningkatkan sirkulasi screbral selarna bantuan hidup dasar . Bila belum berhasil beri lignokain (lidokain) 1-2 rng/kg IV.F : Fibrillation Elektroda sternum Defibrilasi treatment dipasang atas.

Algoritma itu sendiri telah diu bah yaitu adrenalin diutamakan dad atropin.lIsiL1Si y.m..lngan adrenalin dan natrium karbona! dianjurkan u nt u k rt. Resuscitation Council (UK) t id ak m enya takan b a hw a ad renalin juga meningkatkan kernanjuran syok arus searah.RJP.u n a. karena syok hemoragik merupakan kausa penting nadi yang tidak teraba dan ini tidak boleh dirernehkan. Posisi padel yang diubah d an pemakaian defibrilator lain hendaknya dipertimbangkan. dan rnengecewakan terutama pada penyakit jantung iskernik. tidak dibatasi jurnlah syok untuk mcnghilarigkan fibrilasi tersebut. penting pada ini mempunyi Pada disosiasi elektromekanis. walaupun banyak yang percaya bahwa hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus. kalsium dan vasopresor seperlunya. Bila penolong merasa bahwa kemungkinan fibrilasi tidak dapat disingkirkan maka hendaknya diberikan 3 syok sebelurn algoritma untuk asistole yapg sesungguhnya dimulai. Kelainan listrik biasanya pengobatannya anjuran untuk korban yang narnpak irnplikasi prognostik yang berat. Kemungkinan salah diagnosis harus ditekankan agar jangan sarnpai kelainan yang semestinya dapat di atasi tetap tidak mendapat terapi yang tepat. tetapi bersarna-sama dengan obat anti aritmik lainnya.\-. karela korban narnpaknya tidak mernpunyai peluang hidup yang lain Jagi. Syok yang diulangulang pada tingkat cnergi png rnaksimal dianjurkan jika fibrilasi refrakter sesudah 3 syok a\\'J.v. Melaksanakan Betapa prosedur resusitasi pentingnya rnelaksariakan terus rcsusitasi sangat ditckankan : jangan III d et ik u n t u k me laku k an t i nd a ka n yallg mcrne rlukan penghentian sernentara korn prcsj (beLl Rule cndotrakeal sekarang dianggap sebagai rute yang tid ak handal unt uk pemberi an obat dan hanya dipakai bilarnana bclum ada jal ur IV. Karena itu tujuan utarna adrenalin pada saat itu adalah untuk mernpertahankan perfusi serebral selarna upayil resusitasi yang lama.I dan 2 obat ( ~ syok ke cmpat) diberikan. Oosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg IV. Akhir algoritma defibrilasi juga mengalami perubahan. .(. Dosis lll. Terdapat perubahan asistole. atau jika kontrol gain pada elektrokardiograf dirnafikan. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan alai.'o. Kasus-kasus yang membutuhkan kalsium klorida juga dirnasukkan dalam algoritrna. Isoprenalin tidak lagi dianjurkan pemakaiannya dan kemungkinan menggunakan rutc intrakardiak untuk adrenalin dihapus. sampai rn e leb i hi -. kemungkinan hipovolemia sekarang ini dimasukkan. Pernah terjadi kesalahan akibat salah diagnosis asistole pada korban dengan fibrilasi ventrikular. bila perlu diulang tiap 10 menit. Jib diagnosis ritrne akurat. atau jika vektor gelombz!ng yang dominan bcrada pada sudut kanan terhadap hantaran diagnostik bipolar. l. Bila pada EKG : asistol vcntrikular atau disosiasi elektromekanis : Ulangi 0. Dosis kalsium glukonat 1000 mg i. atau jika fibrilasi ventrikular sangat halus.

tidak rnekanis. bikarbonat dianggap Untuk asidosis metabolik. defibrilator arus searah.0 mEq per kg dosisi a.Perlengkapan Oi rumah sakit perlengkapan dan obat-obatan untuk BHL biasanya di simpan pada kereta yang dapat didorong dan diletakkan pada daerah yang strategis. Sebagai tarnbahan sebuah papan tempat tidur diletakkan di bawah korban. Jib rnas a henti ini singkat (yaitu 1-2 mcnit) m ika mungkin tidak diperlukan -/ . oksigen 100% harus diberikan melalui alat anestesia. Untuk a. Berbagai obat dan cara lain tersedia untuk mernberikan lingkungan fisiologik yang optimal bagi miokard dan tekanan perfusi dan rnengatnsi aritrnia. Juga infus intravena dan monitor EKG hendaknya dipasang sedini mungkin. Karena itu. Jangan diberikan intramuskular atau subkutis. orofaring korban harus dibersihkan dari sckret-sekret dengan cara diisap. ventilasi dikendalikan secara manual. pipa [alan nafas orofaringeal. Obat-obatan untuk RJP Sernua obat hendaknya diberikan secara IV ke dalam sirkulasi sentral bila mungkin. alat balon dan katup untuk ventilasi paru. perlengkapan intravena. Segera setelah keadaan . ada pad a perrnulaan RJP. monitor EKG.W(1!. Berikan oksigen 100% dengan sungkup pipa trakeal. terrnasuk karnar operasi dan ruang pulih. sehingga dapat dikoordinasikan dengan kompresi dada. yang akan mencegah [alan nafas tidak terkontarninasi dengan isi lambung dan menyingkirkan risiko inflasi lambung. trakeal korban hendaknya diintubasi dengan pipa trakeal yang mempunyai balon. Pernberian semua obat anestetik harus dihentikan. Harus dicatat bahwa sernua alat tarnbahan BHL dapat segera diperoleh atau sudah terpasang pada pasien dalarn kamar operasi. 1.5 InEq per kg setiap 10-15 me nit jika tidak tersed ia pengukuran pH. sungkup. Dosis : 1. kernudian 0. lebih baik. pipa jalan natas orofaringeal dirnasukkan dan diberikan ventilasi dengan oksigen murni dengan menggunakan alat halon dan katup. Natrium 1. perlengkapan pengisap faring. Perlengkapan pada kereta inl hendaknya mencakup tabung oksigen. resusitasi pada keadaan ini dapat dimulai sebagai BHL. Segera setelah kereia ini tiba. 2. mernberikan Iingkungan fisiologik optimal bagi miokard tekanan positif atau Oksigen. b. Ventilasi dan kompresi dada harus diteruskan dengan laju yang telah disebutkan pada BHD kecuali dihentikan sebentar pada saat defibrilasi. Malfungsi perlengkapan anestesia selalu merupakan penyebab potensial henti jantung dalarn karnar operasi. Ini harus disingkirkan sesegera mungkin.

2. Kelebihan natrium dengan hipernatrernia dapat timbul pada pernberian bikarbonat yang terlalu giat. Hipokalernia setelah resusitasi bisa juga ditemukan. Untuk meningkatkan a.1 mg setiap 3-5 menit atau mula-mula dengan infus 0. disosiasi Oasis: 2-20 meg/ kg/ menit. dititrasi sampai tercapai tekanan arteri yang diinginkan. hipokalsernia. Oasis bikarbonat dapat dihitung dari kelebihan basa (negatif) dari gas darah arteri sebagi berikut : BE x 0. kontraktilitas dan tekanan perfusi miokard. Oasis: 2-20 mcg/kgBB/menit arteri yang diinginkan. Dopamin 1. dititrasi sampai tereapai tekanan 2.bikarbonat. Untuk kontraktilitas miokard elektrornekanis. (Adrenalin) yang halus dan disosiasi Untuk asistol. Dosis : 0. 78 . dititrasi sarnpai tirnbul efek yang diinginkan.04 mcg/kgBB/menit. tercapai tekanan arteri yang diinginkan. disfungsi ventrikular atau keduanya. Untuk tahanan vaskular sistemaik yang rendah dengan hipotensi refrakter. 2. asistol. d. fibri1asi ventrikular elektromekanis. dititrasi 2.05 mcg/kgBB / menit. (Levophed) c. Kalsium klorida 1.\ersibel. 3. e.· Dosis: mula-mula infus 0. b. Epinefrin 1. sampai (Intropin] Untuk hipotensi. 2. Norep~nefrin 1. Hiperventilasi dapat digunakan untuk meningkatkan pH sistematik dan susunan saraf pusat (SSP) seeara akut dan re. Efek dopaminergik beta yang bergantung pada dosis tirnbul pada dosis Iebih rendah (kurang dari 5 rneg/kgBB/menit) dan efek a1fa pada dosis lebih tinggi. yang buruk.25 x berat bad an (kg) BE : base excess.

3. dititrasi menurut respon pasien. Rekomendasi bervariasi.mbuI bila obat diberikan dengan cepat. e. 3. larutan encer (500mg dalam50-100ml Dextrose 5% dalam air)selama 10-20menit. Untuk takikardia ventrikular mungkin diperlukan waktu 20 menit atau lebih. Dosis kedua dapat diberikan 1-2jam sesudahnya dan kernudian setiap 6-8 jam. Dobutamin mungkin tidak begitu bermanfaat seperti dopamin atau adrenalin dalarn fase awal henti jantung.enatalaksanaanfarmakologikfibrilasi atau takikardia ventrikular.0 meg/kgEB/menit. Ini merupakan obat piIihan pertama untuk takikardia ventrikular dan fibrilasi ventrikular. 2. b.3. Breti1ium (BretyloI) 1. 2. diikuti dengan infus 1-4 mg per menit. kegagaJan beberapa organ atau keadaan lain yang mungkin menurunkan aliran darah hati. Hipotensi dapat t. Untuk distrimia ventrikular. diberikan 5 mg/ kg BB/ iv. Dobutamin 1. dititrasi sampai tercapai tekanan darah (atau curah jantung) yang diinginkan.5-10. Jika fibrilasi menetap. dapat diberikan 5-10 mg/kg BB iv. atau sebagai infus 2 rng per menit. a. Untuk takikardia ventrikular refrakter atau beruJang. 3. terutarna dengan tahanan vaskular sistemik yang tinggi. dapat diberikan 10mgper kg iv. Lidokain (XyIocaine) 1. (Dobutrex) Untuk dlsfungsi ventrikular. Hendaknya obat ini dipertimbangkan pada awal p. Kadang-kadang dopamin merupakan pengganti adrenalin yang berrnanfaat karena aktivitas alfa yang terlihat bila diberikan dalam dosis lebih tinggi. bretilium yang tak diencerkan secara cepat diikuti dengan syok balik arus searah (DC). Untuk mengobati aritmia dan bJok jan tung. Laju infus mungkin perlu diturunkan bila ada hipotensi. Dosis :2. 2. Oosis : pad a fibrilasi ventrikular. Dosis : 1mg per kg bolus. 7') . Obat ini dianjurkan untuk fibrilasi ventrikular berulang yang refrakter terhadap lidokain. Mula kerja untuk terapi fibrilasi ventrikular terlihat dalam beberapa rnenit. dengan cepat dan diulangi seperlunya.

c.

Prokalnamid 1. 2.

(Pronestyl) ventrikular berulang yang refrakter

Untuk fibrilasi atau takikardia terhadap lidokain.

Oasis: 100 mgdosis muatan setiap 5 menit pada kecepatan sekitar20mg

per menit sarnpai 1 g (atau 17 mg/kg) diikuti oleh infus 1-4 mg/kgBB/
menit. 3. Pernbcrian dosis di atas hams dihentikan jika disritmia hilang, tekanan darah menurun atoll kompleks QRS melebar lebih dari atau sarna
dengi111 50%.

d.

Kardiovcrsi 1. Pukulan prekordial a. . b. Untuk takikardia ventrikular yang berlanjut ke fibrilasi ventrikular sclarna 60 detik pertama henti jantung yang disaksikan . Pukulan dilakukan dengan memberikan pukulan cepat dan keras pada bagian terigah sternum dengan bagian daging bawah pergelangan tangan dad jarak sekitar 20-30 em. RJP segera dimulai jib kardioversi tak elektif.

2.

Syok balik arus searah (direct current countershock). a. b. Untuk aritmia supraventrikular yaitu fibrilasi atrial atau flater atrial, takikardia vcntrikular atau fibrilasi ventrikular. [adwal dosis dalam Tabcl 1 dapat digunakan.

Tabel 1. Oasis untuk syok balik arus searah (Watt-Sec)
-.~-_-_
..

-.---~~-

rr="::

Toraks

._ .._---

Atrial
"-.~~"-"

-.-~---_

----

Ventrikular Fibrilasi

FibriJasi

Flater

Takikardia

Terbuka Tertutup
-~---~ --_
.~--~-

10 - 20 80 - 200
..... --." . _._--_ •• _<

-.. ..
-

-~

20 - 50 _-- ---~-.---------.

50 - 100

200

- 300
.-

e.

Atropin 1. 2. 3. Untuk bradikardia berat
ilt;l1I

bJok atriovcnlrikular

derajat Linggi vagal

Dosis : 0.52.0 mg iv, Atropin mungkin tcrbaik untuk bradikardia akibat rangsangan ,1ti1U bradikardia karcna penyakit sislem hantaran.

no

f.

Isoproterenol l, 2.

(Isuprcl) refrakter atau blok atrioventrikular derajat tinggi.

Untuk bradikardia

Oasis: 2-20 meg per rnenit sebagai infus yang dititrasi [rekuensi denyut iantung yang diinginkan. paeu jantung tinggi atau

untuk mencapai

g.

Pemasangan 1. 2.

Unluk blok at riovcuttikular dcrajat yilllg iimbu l selama a la u setvlah RJP. Biasanya
resusitasi

bradikardia

berat

pernacuan
pasicn asistol.

hanya

sedikit

mernbantu

d a la rn rnelakukan

h.

Digoksin 1. 2. 3.

(Lanoxin)

Untuk flater at.iu fibrilasi atrial dengan respons veutrik ular yang cepat, Dosis : dosis muatan 1 mg diberikan tcrpisnh 30-60 menit. Lebih diindikasikan
t akiarltrnia atrial

dalarn dosis tcrbagi (0,25 mg) yang daripada
ketakstabilau

kardiovcrsi
rncnyebabkan

pernberian
hernod

digoksin
inarnik

jika yang

bcrma kna.
L Verapamil (Isoptin)

1. 2. 3.

U ntu k takiaritrn

ia

SlI

paravcn

triku 1M. lahan (5-10 mg pada pasien 70

Dosis : 0.075 - O.15D mg per kg perlahan kg). diulangi scsuai kcpcrluan.

Obat ini hendaknya digunakan dengan hati-hati bila ada blokade adrenergik-beta bersarnaan Mall pcnggunaan digoksin, karena dapat menyebabkan hipotrnsi atau blok jantung lengkap. (Inderai). ventrikular
atoll

j.

Propranolol 1. 2. 3.

Untuk aritrnia

supraventrikular,

bukan

obat pilihan

pertarna dalam RJP.
Dosis awal : 0.1 - 0.5 mg IV. jib bisa d itoleransikan 0.5-0.1 mg setiap 2-5 mcnit yang dititrasi terhadap kernudian ditarnbah respon pasien.

Hcndaknya propranolol diberikan dengan hati-hati pada rnasa pasea henti jantung karena mungkin ada disfungsi kontraktil ventrikular d alarn berbagai tingkat

~I

Keputusan

untuk mengakhiri

upaya resusitasi

Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henri nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan dan refleks rnuntah dan di1atasi pupil yang rnenetap selama 15-30 rnenit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau di bawah efek barbiturat atau dalam anestesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk mernbuat keputusan rnengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktivitas Iistrik jantung (asistol selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapai obat yang optimal menandakan mati jantung. Seseorang dinyatakan mati bilamana fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel atau telah terbukti terjadi kematian batang atak. Dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika terdapat tanda-tanda mati jantung dan atau sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak tirnbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 meriit lebih, kecuaJi kalau pasien hipatermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari yang efektif, jawab dokter

Telah timbul kembali

sirkulasi

dan ventilasi

spontan

Upaya resusitasi telah diarnbil alih oleh orang lain yang bertanggung meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter), Seorang dokter sebelumnya, Penolong rnengambil alih tanggung tak sanggup jawab (bila tak ada resusitasi,

terIalu capai sehingga mati,

meneruskan

Pasien dinyatakan

Setelah dirnulai resusitast.ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada d alam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau harnpir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah 0,5-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP)·

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->