362.

28 Ind

r

PEDOMAN PELAYANAN GAWAT· DARURAT

CETAKAN

KEDUA

DEPARTEMEN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT RUMAH SAKIT

REPUBLIK iNDONESLt\ PELAYANAN MEO!K KHUSUS DAN SWASTA

1995

SAMBUTAN

Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita sebagaimana di tunjukkan oleh berbagai indikator utama kesehatan dan kwalitas manusia seperti menurunnya angka ksmatian. angka kelahiran, angka kesakitan dan perbaikan gizi serta rneningki'ltnyil umur harapan hidup. Namun dernikian perubahan struktur demografi, perubahan lingkllngilll hidup dan sikap perilaku serta gaya hid up masyarakat kita telah mernbawa dampak lain berupa pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke arah penyakit kronik degeneratif dan non infeksi. Meskipun penyakit infeksi masih menduduki urutan teratas dalam morbiditas urnurn di Indonesia, p ada dekade terakhir ini data-data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan R[ menunjukkan bahwa dari tahun ketahun terdapat peningkatan yang berarti dari prevalensi penyakit non-infeksi yang sering menimbulkan keadaan gawat darurat seperti penyakit kardiovaskuler, akibat cedcra atau kecelakaan. akibat keracunan dan lain-lain. Data survei kesehatan rumah tanggil tahun ] 9H6 menunjukkan bahwa penyakit kar diovask ulcr dan ccdera atau kccelakaan terutarna kecelakaan lalu lintas telah sernakin rnenonjol sebagai penyebab kernatian di Indonesia. Keadaan tersebut disertai dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran rnasyarakat akan kesehatan mcnyebabkan perrnintaan akan pelayanan gawat darurat akan scmakin bcsar. Buku pcdoman ini rncuyajikan suatu pola pelayanan gawat darurat yang diharapkan akan mcnjadi acuan bagi segen<lp pengelola rurnah sakit maupun instansi pelayanan pra-rurnah saki! unt'uk rnerighadap i tantangan masalah kesehatan terscbut secara bcrhasil guna d,1I1 berdaya guna. Saran dan kritik sunil pcnyempurn(lan buku pedornan ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

1 Maret

1992

DIREKTlIR

JENDERAL

PELA YANAN

MEDIK,

t.t.d.

Dr. BROTO W ASISTO, NIP. 140022724

MPH

.

itknn pada du.l rncndadak.PENGANTAR Departcnwil Kesehatnn I\J dalam RITELIT/\ . Illt'niJ1gk.uv 1]('<111h ('.mg diseicnggarakan di 1'['1"1. Tujuan Program Upaya Kesehatan Rujukan adalah peningkatan mutu.He" Peningkatan darura! menitik 1.'l'ningK<ltdll tempat kq. 11 upaya penanggulangan penangguJangan pengorga nisasian St'rtd I'r-niug kat.l'idY.l pc'nanggulangan poncicrita gawat darurat baik dalarn koadaan schari-hari (ddily routine).l\vat darurat rru-liputi melalui kategorisasi unit rungsi iniru st ruktur Gid.) sistirn S. PcngE'mbangan pcnanggulangan p en d e r it a gaw<lt darurat dimaksudkan agar tcrcapainya suatu pclayanan yang optimal.lS<lr.lllgan peraturan.rnanili('rn~'n ~ I'cnf'lapan gul.11l. maupun dalam keadaan ben can a.lIIClCl dan p('laporan Ucngall dif'erluk. Iwnderita gawat dururat: pcrencanaan peduman penang I'eningk<llan kcmarnpuan pcnderita gilwat darurat: Pen irigka tan kernarnpua pentierita gClwa! darurat.lng .tiah sat u Up'l}'d kt'seilatan rujuk.m dan pl'ngt'lllb.)11. stand ar pelayanan.uurat baik y.ru mah xakit m<lllplill dr rurnah saki!'. bcncana rnaupun penyakit yang d iderita S(.lllg mcndapat pr ioritas untuk dikembarigkan adalah pcningkat<l11 upay.in <l g.in y.](ii<1ll.111 kc. SI'LlPld iumluh p(. Sasar an upaya pclayanan galVa~ darurat ada lah pcngcmbangan pellangglliangan pcnderita gawat dar urnt disr-mua ting kat pclavanan nlampu ml'l1l1llj. S.lIlgan sistim penratatan . cakupan dan efisiensi pelayanan rujukan rncdik dan rujukan koschatan. 2.lIl ~l'I1l"kill j.V telah mernprioritaskan Pcngernbangan Frogr<l11l Upaya Keschatan Rujuk an. g<lIYdl III . terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang dalarn kcadaan gawat darurat sebagai akibat musibah ber upa k('celakaan.llll\'.lll srstim agar pCllilnggulangan vaitu : pcnderita gawat Peningkatan kcrnampuan pclayanan gawat darurat rum.1IiSil data pendcrila gawat darurat.l f. maka d.ih <akit.lI1g "p rim.GU.'ndl'riLl gctwat dnrurat. Pcningkat. dan pcngembangan ber.11.

Sebagai pedoman semoga pelayanan gawat darurat. 1 Maret 1992 KEPALA DIREKTORAT RS KHUSUS DAN SWASTA. SOEMARJA ANIROEN. buku ini bermanfaat bagi Buku pedoman gawat dapat dan pengembangan Jakarta.t. MHA NIP. t. Dr.ini dimaksudkan agar upaya penanggulangan penderita darurat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta mern perol eh petunjuk yang cukup jelas dalam merencanakan menyelenggarakan pelayanan gawat darurat. 140028924 IV .d.

Untuk memberi arahan pada upaya penanggulangan penderita gawat darurat pada tahun 1992 Departcmcn Kesehatan RI telah menerbitkan buku pedornan pelayanan gawat darurat.PENGANTAR Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sa kit Departemen pad a Repelita Repelita VI disusun sebagai kelanjutan Cawa d ar i program t Kesehatan Repelita RI V. Kiranya buku pedoman ini dapat mernenuhi seperlunya dan tambahan kebutuhan para pemakai secara guna rneningkatkan mutu f)enanggulangan konseptual dan sisternatis. Salah satu kegiatan yan~ terus mendapat perhatian VI adalah PCJllllgknt. Buku pedoman tersebut pada tahun 1995 ini mengalarni cetak ulang disertai pcrbaikan-perbaikan materi yang diperlukan. in i terutama terdapat dalarn Upaya untuk berjenjang penderita pelayanan gawat darurat dasar Sakit ditujukan ruj ukan menunjang pelayanan Pus kesrnas kesehatan sehingga dan Rumah da larn menanggulangi gawat darurat. penderita gawat darurat J\'2pal a Khus u s dan Swasta I .m peningkatan antara Pel2l)'illliHl untuk dikernbangkan Da ru rnl.

.

bahwaden~an e.98 5204395 . pembangunan a disegala bidang Dada umumnya dan p e nv e t e n q q a r a a n o e l a r a n a n k e s a n a t a n se c a r a o a r Io u r n a p a d a k h u s u s n y a . a.mbangan tersebut: semakin meningkatnya kesadaran ma~yara.kat akan hebutuhan oelavanan k~sehatan yang l e b i h b a i k . 9 tahun 1960 ten tang Pokok- VII .96 . CIREKTORAT . bah . disamping telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah pula menyebabkan ~erubahan Do1a penyakjt dimana tengah t e r iad i pergeseran co t a Denyakit dar. kesakitan maUDun kematian akibat keda~uratan medik baik dalam keadaan sehari-hari ~aupun dalam keadaan mus ibah masa 1 .JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MECIK Jalan H. Raw"" Said 810k X5 Kow.. bahwa sebagai akjbat dari perubahan Dola penyakit tersebut telah terjadi lonjakan anqka.D£PARTEMEN KESEHATAN R.No. KEPUTUSAN MENTER I KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOHOR 0701/YAN MEO/RSKS/GOE/VII/1991 TENTANG PEDOMAN PElAYANAN GAWAT DARURAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK Menimbang INDONESIA . Undang-undang Namor pokok Kesehatan. c. bahwa dalam rangka memantaokan pelaksanaan program uoaya kesehatan rujukan melalui peningkatan mutu. cedera akibat keceiakaan. Seta •• n Tel!>. d t o e r Lu k a n ad a n va suatu s t anda r d i s a s i oedoman p e La y a n a n yang be r s Lf a t. _. ma k a d i p arrrra q o e r Lu n untuk secara t e r u s+me n e r u s mempe rba i k 1 dan men i ngkatkan D61ayanan kesehatan. Mengingat 1. keganasa~ keracunah dan la1n-lain: b. d. 4 . bahwa dengan pe s a t n y a perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pelayanan kesehatan khususnya untuk penansgu1angan penderita gawat darurat maka senantias3 diperlukan oenyesua ian yang tepat terhadap· perk". S20t594· 95 .rt. efisienSl dan c a k up a n p e La va n a n kesehatan khususnya dalam upaya Denangguiangan penderita gawat d a r u r a t..I. degerneratif.•.""-. penyakitDenyakit infeksi k an ad a Denyakit-penyakit non infeksi seperti penyakit kardiovaskuler..k. na s i cna l .A.9 J.

Hermansyur K (IGO RSCM) Dr.. Unit Ga .Sakit.usan Menter. Susbandyah (Oit RSKS) 6 . 2. 5. Program Upaya Kesehatan Rujukan REPEL ITA V Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. HHA (Ka Oit RS UM DlK) 1. Keput.Darurat.at Darurat dan petunjuk teknis standard pelayan. Brato Wasisto. 1982. P at HEM UTUSKAN Menetapkan. Dr. Pertama Herevis. April 1989.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MEDIK T"p. Dr.. Derma.. Hario Untoro (Dir RS Sekasi) 6.HPH (Oir Jen Yan Hedik) Or. IQbal Hustafa (PKGOI) Dr.DEPARTEMEN KESEHATAN R. 3. Kesehatan RI Nomor 558/Henkes/SK/84 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI.T. Abdul Radjak (Ka Sub Dit Yan GDE) Dr. Or... DSA (RSCH) 9.entangelayanan Ga. Petrus Maturbongs (Dit RSKS) Or.. MHA eKa Dit RS Khusus dan S~asta) 2. tanggal 22 Jun.. Soemarja Aniroen. viu .stim Penan99ulangan Penderita Gawat Darurat yang d. 5. 1985 t. Oarurat Pre Rumah at . Aryono D. Haryadi (Oir RS Pasar Rebe) 7.. Buku Pedoman Pengembangan Pelavanan Unit Ga .... Surat Edaran Oirektur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 0681/Yan. Keputusan Presiden RI Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Oepartemen. Pusponegoro (IKABI) Dr. Tb. Ketiga Ketua Sekreteris Ang9ata Dr. 4.. MPH (Dit RSKS) n 1. Bagus Mulyadi (Oit RS UMDIK) Dr..Dr... 4. Oarurat at Rumah Sakit termasuk Penanggulangan Penderita Ga .n yang harus dimiliki ole . Boedihartono..: 5201594 -115·98 52(M395 • 96 • Pe$ •. Dalam rangka revisi buku pedoman tersebut per 1u dibentuk kepanitiaan dengen susunan sebasai berikut : Penasehat Pengarah Dr.Med/RSKS/S5 tanggal 2S Me. 2. 3. H. DIREKTOAAT . peduaan dimak6ud menvangkut Sistim Penanggulangan Penderita Ga .terbitkan oleh Direktur Jenderat Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Abdul LDtief.I....... Ora. at Oarurat Rumah Sakit dan S... Kedua Revis.

I WASISTO..4 .ngkungan Dep Kes RI d1 JaKarta. 6. Keenarn Suiat Keputusan inl reulai berlaku pada tanggal dltetapkan dan apabila ternyata ad3 kekeliruan dikemudian hari akan dladakan perbaikan. Pimp. 3. No. Kesehatan RI di Jakarta. 4.: 1.R.2::::ul i 1~31 J REPU8LIK INDONESIA Pelayanan Medik. MPH 140022724 Tembusan kepada ytn. di 1\ . A r sip. Rawna Said 810k X5 Kav. 9.e t ack an d i : Jakarta Pada tanggal . OeD Kes RI di Jakarta. Para Direktur Jenderal dil. 5. BaDak Menter..~ .kana Selatan 5204395·96. Keempat Biaya ravisi Buku Proyek Pengembangan Pusat Jakarta. Direktur Jenderal Anggaran OeD Keuangan RI di Jakarta. Hal-hal diatur Pedoman Rumah diatur tersebut dlbebankan Sakit Swasta dan dalam Keputusan keoada Khusus 1n1 akan Kel ima yang belum lebih lanjut. Keoala Badan Pemeriksa Keuangan d.•.9 J. MEDIK DIREKTORAT JENDERAL JAKARTA PELAVANAN Telp. Jakarta. 2..: 5201594·95·98 J.alan H. Kepala KPN III di Jakarta: 7.r. D1 t.DEPARTEM£H KESEHATAN a. 8. Yang bersangkutan untuk diketahui.nan Proyek Pengembangan RS Swasta dan Khusus Pusat Jakarta. Sekretaris Jenderal.

.

...................... SK MENKES No 071 IYAN Tentang Pedoman Daftar lsi Pendahuluan Pengertian Penanggulangan Sistim Penderita Gawat Darurat gawat (rrGD) darurat Indonesia '.........Sarana Unit Cawat Darurat ".... Lampiran Trauma Score .. Cara mcngukur Paru ...Arnbulans udara ...Keputusan Menteri Nornor : 01521Yan.... ..... iii vii ....... . ....... "............. 1I Kesehatan Republik MED/RSKS/1987 33 4] 43 Larnpiran Lampiran Lampiran Lampiran ................ MED/RSKS/GDE/VIJ/199L Pelayanan Gawat Darurat .......... 84 XI ....... ..... xi 1 2 3 4 penanggulangall penderita Lampiran .." .................DAFTAR lSI Sambutan Pengantar Dirjf'll Yanmedik Kadit RSKS .... Rumah Sakil.........'..Akreditasi ...... 57 . ........'......................Resusitasi Jantung -........... 51 ... .. ........................... III IV V VI dan prasarana leu ' '.......... .......

C. ter padu dan berkesinarnbungan sebagian bagian dari I'embangunan Nasional. agar dapat hckerja dan hidup layak sesuai dengan rnartabat manusia. Upaya dalarn bidang keschatan telah dijabarkan dalam Sis tern Keschatan Nasional yang pada hakekatnya adalah berupa pemikiran dasar yang mernberi arah dan tujuan. rohaniah dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit. dan masyarakat perlu aktif berperan serta. D. Uepctrterncn Kesohatan RI c.. Cleat dan kelemahan.q. Dalarn upaya penyernbuhan tercakup upaya penanggulangan penderita gawat darurat. merata. . Ikrdasarki'ln hal tersebut di a las. dapat d iterirna dan tcrjangkau oleh scluruh masvarakat. adalah meliputi kesehatan badaniah. jawab dalam mernelihara dan B. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik perlu merigadakan pcnataan pelavanan gawat d ar ur at dengan rnenerbitkan suatu buku pedornan sebagai sumber inforrnasi. terpadu. penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Agar upaya pel1'Zlnggu['11lg. hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati secara rnerata oleh seluruh penduduk. serta dilaksanakan terutarna rnelalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyernbuhan dan pemulihan yang dilakukan.111 pcndcriLi gawat d ar urat dapat berfungsi dengan baik. Pen yelenggaraan upa ya keseha tan diatur oleh Pernerin tah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh Pernerintah dan masyarakat. Sesuai dengan azas adil dan merata. bentuk serta sifat kesehatan sebagai kesatuan yang menyeluruh.L PENDAHULUAN Upaya Bangsa Indonesia untuk mcncapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah dan masyarakat bcrtanggung mempertinggi derajat kesehatan rakvat. Kegiat(ln ini horus bersifat menveluruh. maka Keschatan Nasional antara lain adalah : A Dasar-Dasar Pembangunan Sernua Warga Negilli1 berhak mernperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tillgginya. Usaha keschatan di at as mcncakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif). Segala upaya ini harus dilakukan secara merata kepada selur uh lapisan masyarakat dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan biaya yang dapat dipikul oleh masyarakat dan negara.

waktu sekolah. dan lain-lain. misalny» k..l mcnimbulkan g. Tempat kejadian: a. dan lain-lain.mgguan tcrhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pr-mbangunan llilsional y. waktu perjalanan (traveling/transport b.II. misalnya luka sayat dangkal. . dan sebagainya. Pasion Darurat Tidak Cawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba. di arena olah raga.gga. c. waktu kesehatan yang didapat/dialarni time). C. F. scbagai akibat L. kecelakaan di lingkungan rumah taD. tidak dikehendaki sehingga menimbulkan ccdera (fisik. Cedcra Masalah Benrana Pcristiwa <1 tall rangkaian pcristiwa yang disebabkan olch alarn d<1I1 atau rnanusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. kecelakaan Ialu lintas: b. jatuh. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi. sosial). Pasion Cawat Tidak Darurat tindakan Pasien berada d alarn kcadaan t. TBC kulit. Waktu kejadian: a. kecelakaan di lingkungan pckerjaan: d. tersengat. tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya. Mekanisrne kejadian: Tertumbuk. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. C.intuan. kerugian harta benda. D. 2.lIlg mernerlukan pcrtoltlJlgan dan b.ecelakaan.mkcr stadium laniut. E. terpotong. Pasien Tidak Gawat Misalnya Kccclakaan (Accident) Tidak Darurat ulcus tropium. Iisik maupun listrik atau radiasi. B. mental. Pasien Cawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.lt tctapi tid ak rnemerlukan darurat. korusakan lingkullgdl1. tercekik oleh benda asing.'lVV. berrnain 3. pasien dengan Suatu kejadian dimana terjadi interakxi berbagai faktor yang datangnya rnendadak. kecdakaan di sekolah: e. kerusakan sarnua dan prasarana urnum St'rt. PENGERTIAN A. terbakar baik karena efek kimia. waktu bekerja. perbelanjaan.

Merujuk penderita gawat darurat melalui sistirn rujukan untuk memperoleh pencmganan yang lebih memadai. 2.6 menit). Kegagalan sis tim susunan saraf pusal. 4. infeksi 3. 5. kardiovaskuler. 2. Dengan demikian keberhasilan Darurat (PPGD) dalam mencegah 1. c). asfiksi 6. Kecepatan meminta pertolongan. 6. susunan saraf pusat pernapasan kardiovaskuler hati ginjal pancreas Kegagalan (kerusakan) sistim/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. ditempat kejadian: b) dalam perjalanan ke rumah sakit. pemapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 . 3. Penanggulangan Penderita Gawat kematian dan cacat ditentukan oleh : Kecepatan menemukan penderita gawat darurat. atau . kehilangan cairan dan elektr olit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolitc) 7. degenerasi (failure) 5. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a). PENANGGULANGAN A. trauma/ eedera 2. 3. -dan lain-lain. Menanggulangi korban bencana. keracunan (poisoning) 4. pertolongan selanjutnya secara mantap d i Puskesrnas rumah sakit. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Prinsip Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu sistimiorgan di bawah ini yaitu : 1. Mencegah kematian dan caeat (to sa ve life and limb) pada penderita gawat darurat. sedangkan kegagalan sistirn/ organ yang lain dapatmenyebabkan kernatian dalam waktu yang lebih lama. PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2.III. B. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. 3. Tujuan 1.

4. Transportasi penderita ga wat darurat dari tempa t kejadian ke sarana kesehatan yang lebih memadai.ln. 3. yang optimal.S). sangatlah berrn. Upaya rujukan ilmu pengetahuan. kapan saja dan dirnana saja. 5.1I1g a warn : DitinjilLl da ri 'il'gi pt'r.1sifikilSi llr. Upaya penanggulangan penderita gawatdaruratdi tempatrujukan (Unit Cawat Darurat dan JeU). Oleh karena itu. penanggulangan penderita gawat darurat dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan Petugas Kesehatan (SUB-SISTIM KETEN AGAAN) I'ada lllllUIl1J1ya yang pertarna menemukan penderita gawat darurat di tempat rnusibah adalah masyarakat yang dikenal clf'ngan istilah Orlll1g mmill. I) Kl. kOMPONEN a. SISTIM A.IV. Upaya penyediaan sarana kornunikasi untuk mcnunjang kegiatan pcnanggulangan penderita gawat darurat. B. PRA RUMAH SAKlT (LUAR R. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWATDARURAT TUJUAN Tercapainya suatu pelayanan kesehatan terpadu bagi setiap anggota masyarakat gawat darur at. maka agar upaya penanggulangan penderita gawat darurat tersebut dapat terarah dan terpadu perIu dilaksanakan dengan cara pendekatan sistim. 2.mfaa! sckali hila orang awarn diberi dan dilatih pengetahuan dan keterarnp ilan dalarn pcnanggulangan penderita gawat darurat. terarah dan yang berada dalam keadaan Upaya pelavanan kesehatan pad a pcndcrita gawatdarurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedernikian rupa sehingga mampll mencegah kernatian atau cacat yang mungkin terjadi. pasien dan tenaga ahli.lll d alam mnsyarakat dibagi :~(dtld) g()i("lgclil orilng awarn . KOMPONENSISTIMPENANGGULANGANPENDERITAGAWAT DARURAT 1. Cakupan pclayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi : L Penanggulangan penderita di ternpat kejadian. Dengan cara pendekatan sistim. 6. Upaya pernbiayaan penderita gawat darurat. Dengan mcmaharni bahwa penanggulangan penderita gawat darurat menyangkut baik aspek medik maupun non medik dan keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja.

cara transportasi pendcrita gawat darurat Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran penanggulangan penderita gawat darurat. Kemampuan yang harus dimiliki khusus antara lain : oleh orang awam (1). . pelajar (3). bin: (2). (4). (3). restoran b). Anak-anak akan menjadi dewasa dan pengetahuan ini akan tetap dimilikinya. Colongan awarn khusu= antara (l) anggota polisi (2). Kemampuan darurat 2). (2). ibu-ibu rurnah tangga (5). Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat seperti orang awam (Basic Life Support) ditambah. mereka harus mernperoleh tambahan pf'ngetahauan pcnanggulangan penderita gawat darurat (Advance Life Support) terrnasuk PHTLS dan PHCLS untuk melanjutkan pertolongan yang sudah diberikan. (2). petugas Dinas Pernadarn Kebakaran (3). petugas hotel. cara meminta pertolongan resusitasi kardiopulmuner sederhana cara menghentikan pordarahan cara memasang balut!bidai (5). (5). terutama kalau dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. pengemudi kendaraan (4). gawat perawat/paramedis pengetahuan dasar keperawatan yang telah Di samping dirniliki oleh pcrawat. Tcnaga menanggulangi keadaan sesuai bidang pekerjaannya.a). (6). (4). Golongan (1) awarn biasa antara lain: guru-guru berrnotor dan lain-lain. satpam/hansip petugas DLLAJR petugas SAR (Search and Rescue) anggota prarnuka (PMR) Kemampuan Penanggulangan Pender ita Gawat Darurat (Basic Life Support) yang harus dirniliki oleh orang awarn: (1).

Untuk sistirn gastro intestional (I). menghentikan perdarahan (2). Untuk sistim sirkulasi (jantung) (1). memberi pertolongan pertama pada aritrnia. dalam penanggulangan Hospital Trauma Life Hospital Cardiac Life n1ilmpU merawat Zrnempersiapkan penderita dengan akut abdomen. memberikan pertolongan kcpala (3). mcrnbcr ikan napas buatan (a). mcngcnal patah tulang (2). Untuk sis tim vaskuler (1). operasi pada g).mengenal stroke dan pertama Kernarnpuan a) + b) + c) + d) pra rumah sakit yaitu Pre Support (PHTLS) dan Pre Support (PHCLS) e). Untu k sistim skeletal (1). Untuk sistim imunologi (1). Untuk sistim pernapasall air (1). mengenal adanya sumba tan jalan napas (2). dengan resusitator manual dan otornatik (4). . Untuksistim saraf mernber i pertolongan pertarna pada trauma memberi pertolongan (I).marnpll mentransportasi penderita dcng<ll1 patah tul<lllg (lIl1lgkai dan t\1hng pungg\lng) t. mernbuat rekaman jantung (EKG) c). mcrawat infus-infus CVP d). infark jantung (3). pcrnapasan rnulut ke rnulut (b).KemampuanPPCDyangharusdimiliki tcnaga pararnedik adalah a). infarkjantung (2). mengenal renjatanl shock anafilaksis (2). memasang infus z'transfusi (3). marnpu Tllcmasang bidai ('1. momberikan pertolongan pertarna pada shock f). shok. mengenal aritmia jantung. rnelakukan resusitasi kardiopulmuner b). membebaskan jalan napas (oropharyngeal way) sampai dengan intubasi endotracheal (3). mengenal korna dan pertama (2).

'dis (Dokter Umum) Di samping pengetahuanmedis yang telah dikuasai. mampu memberikan pertalangan penyal. Unt. memberikan (2). mengetahui s istim penanggulangan korban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja 3). melakukan resusitasi kardiopulmoncr (ABeD) dan memberikan obat-obatan yang perlu b). Tenaga MI.h). memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat obstetri-ginekoJogi j) Untuk farmakologi/Tohikologi (1). Untuk Organisasi (1).uk sistim sirkulasi aritmia jantung (2). mernbuat/membaca EKe (1'». mengenal infark jantung (4). melakukan tricothyroidectomi (5). mcrnberikan pertoJongan pertama pada aritmia (3). mampu mernberikan pertolangan gigitan binatang k). Kernampuan a). mampu melayani persalinan (2). mcmberikan pertolongan pertama pad. mengetahui sistim penanggulangan penderita gawat darurat (2). mampu memberikan pertolongan keracunan (2). Untuk sistirn kulit (1). mernbebaskan adanya sumbatan jalan napas [alan nap as (oropharyngeal .ahgunaan obat (3). intubasi endotracheal (b). Untuk sistim reproduksi (1). yang harus dimiliki adalah : Untuk sistirn pernapasan (1). nwngenal pertarna pada pertama pada pertama pada air way) (<1). memberikan pertolongan pertolongan pertama pada luka pada luka bakar i). mengenal (2). 1Tlcnanggulangi renjatanisyok (1). dokter umum perlu mendapat pengetahuan dan kctr-rarnp ilan tambahan agar mampu menanggulangi penderitn gawat darurat.i pcnderita inlark rniokard (DC) (~).

c). e). memberikan pertolongan pertama dan pengobatan pada keadaan darurat obs tetri/ ginekologi j). menanggulangi (2). menghentikan perdarahan (2). gagal pankreas rnampu rnenanggulangi koma Unt uk farmakologi Ztoksikolog i dan (1). Untuk sistim saraf (1). rnampu menanggulangi berbagai g). Untuk sistim gastrointestinal "(1). memberikan transfusi darah dan terapi cairan/ elektrolit (3). mendiagnosis akut abdomen (2). Untuk sistim reproduksi (1). Untuk sis tim skeletal (memasang (1).niailgunacHl obat/ keracunan z' gigitan binatang (2). k). menegakkan diagnosa I diagnosa diferensiai kuma dan kelainan darurat sis tim saraf pusat (2). keadaan darurat SSP. merawat patah tulang secara konservatif i). Mengeual gagal hati. keadaan renjatan/syok ana- (1). menanggulangi filaksis f). Untuk sistim vaskuler (1). Untuk (1) sistim kulit perlukaan men genal berbagai jenis luka (2). mengenlll ke ad aan pcn). memasang/membaca dan merawat CVP d). mernberikan pertolongan pertarna pada pcnyalah gtll1aan (lbal/keracunan/ gigiLm hinatang . menanggulangi akut abdomen nasogastric tube) h). mengetahuicara pengangkutan penderita dengan fraktur/patah tulang (4). mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan yi'lng diperlukan pada kead aan koma. a) + b) + c) + d) adalah kemampuan ATLS dan ACLS. gagal ginjal. Untuk sistirn imunologi keadaan alcrgi akut. memasang bidai (3). mengenal kelainan darurat obstetri/ginekologi (2). mengenal dan mendiagnosis patah tulang (2).

3). 2). sclama. pa tah tulang telah d itiksasi telah l) . luka-Iuka h). para siswa akan mempunyai kernarnpuan yang sama. Pcrsyaratan yang harus pendt'rita gawat darurat a). Sarana transportasi a). d). b). Tujuan TRANSPORT ASI) Penderita Gawat Darurat mernindahkan penderita gawat darurat tanpa rnem perberat keadaan penderita sehatan yang memadai. dengan aman ke sarana ke- terdiri dari dan non medis kendaraan petugas pengangkat (tenaga medis/paramedis) life saving dan life support dipenuhi untuk transportasi peralatanmedis obat-obatan c). Lencana akan mernudahkan mereka memberikan pertolongan dalam keadaan sehari-hari maupun bila ada bencana. Mempunyai yang sarna sertifikat dan lencana tanda lulus Dengan demikian instansi manapun yang menyelenggarakan pendidikan penanggulangan penderita gawat darurat.I). b. perdarahan telah d ihentikan (3). Mengetahui sis tim penanggulangan karban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja. Semua pusat pendidikan penanggu!angan pende rita gawat darurat mernpunyai kurikulum yang sarna (2).ilwat darurat yang penting adalah : penderita (1). gangguan pemapasan dan kardiovaskuler ditanggulangi (2). scbelum diangkat (1). Untuk organisasi (1). Upaya Pelayanan Transportasi (SUB-SISTIM 1).perjalanan telah ditutup (4). Dalam memasyarakatkan penanggulangan )'. Mengetahui sistim penanggulangan gawat darurat penderita (2).

Kendaraan udara (ambulans Pe!ayanan udara) Medik) urnurn adalah Arnbulans a). kendaraan umum roda empat: berupa dan "pick up station". (b). pernapasan (3).selarna pr-rja lanan dimonitor (I). Kendaraan Darat (1). kereta kuda/lembu (b). Keridaraan laut (1). angkutan modern truk lainbajaj. sebagai rumah sakit la p a n g an p ad a pcnanggulnngan penderita gaw. perahu motor (b). yaitu (2\). rakit (2). kcsadaran (2). kereta api dan lain. angkutan trad isionaI (a). 5). horus selalu d iperhatikan dan Sesuai dengan keadaan geografis eli Indonesia yang terd iri dari ribuan pulau. alat untuk transportasi penderita (200 km) (b). arnbulans laut c). beca dan lain-lain. (Kendaraan Ambulans darat (1). pcrahu (b). b). kcadaan luka 4). keridaraan roda tiga: berupa berno. kendaraan khusus untuk pender ita arnbulans darat. rnaka jenis kendaraan yilng dapat digunakan pada umumnya adalah: a). sebagai sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita gawat darurat di ternpat kejadian (e). kapal.11 riarur at da lam keadaan belle ana II) . tandul digotong (2). (c). tekanan darah (4). angkutan modern (a). denyut nadi (5). Fungsi ambulans darat secara (a). angkutan tradisional (a).

(2) Kiasifikasi arnbulans sesuai fungsinya sebagai herikut: (a). [enis Rotary Wing (helikopter . Fungsi ambulans udara adalah Sebagai alat angkut udara penderita gawatdarurat dari lokasi kejadian ke rumah sakit (:2). b). kereta jenazah Tujuan penggunaan. Tujuan ini digunakan untuk di bidangteknis-mcdis menunjang menunjang Untuk mcmpennudah dan rncmpprccpat paian dan pcncrimaan informasi dalam guhngi penderita gawat darurat. ambulans rumah sakit lapangan (d). med is dan kebutuhan tenaga pengelola lihat lampiran I.' Upaya PelayananKomunikasi Penderita Gawat Darurat (SUB-SISTIM KOMUNIKASI) Pada dasarnya dad. rI . 2}. persvaratan kendaraan secar a tcknis. ambulans gawat darurat (c). Komunikasi rnedis Sistim komunikasi pclayanan kesehatan (1).500 km) (b). arnbulans transportasi (b). c). jcnis pesawat udara yang digunakan sebagai ambula.ns udara adalah (. Komunikasi kesehatan Sis tim komunikasi ini d iguriakan untuk pelayanan kesehatan di bidang adrninistratip. Ambulans Air Sarna dengan ambulans darat Ambulans Udara ("l). personil dan persvaratan lihat lampiran It lainnya c. helikopter kecil (3-5 tompat duduk + 1-2 tandu) (b). pelayanan Medik untuk Penanggulangan kornunikasi di sektor kesehatan terdiri 1). helikopter besar (7-15 tempat duduk + lebih 2 tandu) Untuk perala tan.tak terbatas) Helikopter dibagi dalarn 2 jenis : (<I). p('nyam~ nwnilng- I . ambulans pelavanan medik bergerak (e). jenis Fixed Wing (sayap tetap .1).

Untuk mengatur dan memoriitor rujukan penderita ga w at darura t dari puskesm as ke rumah sakit atau antar rumah sakit (4)..lLHL. 2). d).b). Kom unikasi a). d. facsimile e). Untukmemudahkanmasyarakatdalarnmeminta pertolongan ke sarana kesehaian (akses kedalam sistim GO) (2).'lll • 1:. narnun demikian sararia komunikasi modis belurn sepenuhnya menjangkau dan dikcmbangkan di seluruh pelosok tanah air. [).l'. I). Untuk mengkoordinir korban bencana.n kc sar aria k('sch.iii. tradisionil kcntongan bed uk trornpet kurir/mulut penanggulangan rnedik kc mulut Komunikasi modem a).' . tdepon/telepon geng-gam b). Untuk mengatur dan membimbing pertolongan mcdis y<lIig d iborikan di ternpat kejadian dan sclarn.Hl sampai kc sarana kesehatan ycIng sesuai (rurnah sakit) yaitu dC!1. e.: Fcrj. radio komunikasi cr. teleks z'telegram d). jen is Kornunikasi Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkernbang pesat dan semakin modern. Sentral komunikasi MPllgkoordinirpenanggulangan penderitagavvat daru rat rnulai dari ternpat kCjii. jcnis komunikasi dalam penanggulangan penderita gawat daroretdapat berupa: 1).L}!l )'Zmg lcbih mcmadni (3). Oleh karena itu. c). dengan sarana kornunikasi (Pusat kornunikasi) Pusat Kornurukasi • adalah bcrupa . hmgsi komunikasi mcdis dalam pcnderita gawat darurat adalah : penanggulangan (1). komputer !p!emetri (EKG data transmision) Sarana Komunikasi Yang d imaksud a ). Fungsi i I). b).

(a). tcnaga yang trampil dan kornunikatif (6). Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain. radio komunikasi (3). Dapat diambil alih oleh aparat kearnanan (ABRJ) bila negara berada dalam keadaan darurat (perang) b). instansi lain dan kalau perlu dengan negara lain. teleksy'facsimilc (4). (2). mcner irna pertolongan (b). (4). mudah dihubungi 24 jam sehari. kornputer bila diperlukan masa lah (5). Menjadi pusat pcnangglllcmgan rujukan penderita kornando dan mengkoordinir modis korban bencana. menghubungi rurnah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapa t diberikan untuk pcnderita gawat darurat. telepon (2). dan memberikan (3). mengatur kejadian dan tnl'ngana_lisa tcrdekat perrniritaa ke tempat n amb ulans (e). (2). har us sentral kornunikasi nomor telepon khusus pelayanan mempunyai (sebaiknya 3 digit). dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang tram pi! dan berpengalaman. c). (d). Syarat-syarat (1). 1'- . mcngatur / momonitor gawilt darurut. k orisu len m e d is yang menguasai kcdaruratan mcd is. (3). Syarat alat sentral komunikasi (1).

S) a. [aringan komunikasi POLISI DPK I'M! <--> <--> <--> <--> BAKORNAS PUSAT KOMUNIKASI <--> RADIO AMATIR <--> A I-) 1{ 1 PUSAT AMBULANS <--> RUMAH SAKI1 KORBAN <--> Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjarnin. Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit (SUB-SISTIM PELA YANAN GA W AT DARURAT) SeringkaJi Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggular.lmpu dalarn hal: kerja tertentu harus If . maka tenaga untuk keperluan kornunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat bidang komunikasi. Oleh karena itu Puskesrnas dalam wilayah huka 24 jam dan m.ggi penderita sebelum mernperoleh penanganan yang mernadai di rurnah sakit. 2. KOMPONEN INTRA RUMAH SAKIT (DALAM R.2).

Melakukan rcsusitasi dan "life support" gawat darurat Melakukan rujukan penderita-penderita sesuai dengan kcmampuan Menampung dan menanggulangi dengan emergency" korban pusat Melakukan komunikasi rurnah sakit rujukan. karena dengan demikian akan terjadi penghamburan dana dan sarana. 2). maka kategorisasi (akreditasi) unit gawat darurat tidak selalu scsuui dengan kclas rurnah sakit yang bcrsangkutan.aboratorium untuk menunjang diagnostik Seperti: Hb. Oleh kareria itu Iasilitas rurnah sakit. penderita gawatdarurat. harus dilengkapi dengan : l. merupakan salah satu unit di rurnah sakit yang kepada pr-nderita gawat darurat dan merupakan bagian p('nangguhlllgan pc-ndorita gawat darurat yang perlu Tidak semua rumah sakit harus ruemp unyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga mernadai dan pcralatan canggih. slirgibi 3).Vill Darur.lc. 5) bencana kornunikasi medikal dan dan Menilngglliangi (bcdah tnsvbut "false minor) baik I'uskesrnas l ). 4). Unit C.lt Darurat Gawat (lihat lampiran Darurat III) Sakit Pengembangan Pelayanan d i Rumah TlIjllan: Suatu Unit (...v'\rci~. Tcnaga : I dokter umurn dan pararnedis (2-3 orang pararncdis yang sudah mendapat pendidikan tl'rt('lltu dnlarn PPCD). 2). . khususnya unit gawat darurat harus dilengkapi scdcrnikian rupa schingga mampu menanggulangi penderita gawat darurat ("to save life and limb"). Rumah Sakit tertentu dapat mengernbangkan unit gawat darurat dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rcndah dari kclas rurnah sakit tersebut.1).(») haru-: "l<llllpll nu-mbcrikan dcngc1n kwalil as tillggi pillLl Ill.l\. Rumah Sakit mcrupakan tcrrninal torakhlr dalam menanggulangi pender ita gawat darurat.'1lproblim medis pclayanan akut. Behan kerja rumah sakit dalarn l1wnanggulangi Dengan mernperhatikan kcdua aspek tersehu t.lt dCI1)!. I"'. urine dan gula darah. Kategorisasi/akreditasi Pedoman 1). Oleh karena itu pengembangan unit gawat darurat harus memperhatikan 2 (((U<1) aspck yaitu : 1)_ Sistim rujukan pender ita gawat darurat. 2). Unit Gawat Darurat rnemberikan pelayanan dari rangkaian upaYil diorganisir.i! (U(. Ht. lcukosit.lW..

.

lllg pCllling i. : petuga~ : modis harus mcnjadi pcnanggungjawab Unit Cawat Seorang Darurat. b). Harus ad" s('Dr.~ kcdoktcran gawat darurnt: (2). Darurat Catatan harus Medis ~ 2). (I).lnlerpretasi : Harus mampu a). mempunvai kcrnampuan memimpin: dan (l). melakukan rujukan c). Administrasi. Unit Cawat Darurat harus buka 24 jam Unit Gawat Dar urat juga harus rnelayani pcnderita-penderita "false emergency" tetapi tidak baleh mengganggu/mengurangi mutu pelayanan penderita-penderita Gawat Darurat. Unit Gawat Darurat hams meningkatkan mutu personalia maupun masyaraka t sekitarn ya dalam penanggulangan pcnderita gawat darurat. Interpretasi : c). memenuhi kebutuhan masyarakat dalam Darurat dan dikelola sedernikian rupa terjalin kerjasama yang harmonis dengan unit-unit dan instalasilain dalam rurnah sakit. mencegah kematian dan cacat b).lng twkerjil di Unit Cawat Darurat.11<1h: b). e). Sedangkan "definitive care" dilakukan di tempat lain dengan cara kerjasama yang baik. Unit Gawat Penanggulangan Penderita Gawat sehingga instalasi Kriteria a). tertari ky mempunvai perhatian khusus lL1Ii11l1 bjdi1Il.1\\'ah harian. Mengadakan kursus-kursus untuk personalianya scndiri maupun penyuluhan kcpada masyarakat dalam penanggulangan penderita gawat darurat (prGD). i<l har us d ihant u ok-h pcnvakibn unit-unit Idill y. Organisasi. medis ini dapat seorang dokter ahli. Unit Gawat Darurat sebaiknya hanya melakukan "primary care". dokter umum mauptll1 tcrgantung pada klas rurnah saki! Y.id i rl'llimggungj. .lIlg pCriHVi1t/dokter yang rncnj. Interpretasi Petugas perawat. Unit Gawat Darurat hams melakukan riser guna meningkatkan mutu z' kwalitas pclayanan kesehatan masyarakat sekitarnya. d). menanggulangi korban bencana Kriteria: a).

O· Semua penderita yang masuk ke Unit Gawat Darurat hams jelas idcntitasnya.iodata dan kelengkapan administrasi (2). dan instansi keschatan lainnva Harus mempunyai peranan inti dalam : (1). Semua penderita yang datang ke Unit Cawat Darurat harus melalui "Triage Officer". B. ambulans servis (tipe 118) (3). jawab atas mutu pclayanan pada hari itu.Interpretasi : Ia bertanggung c). Triage dilakukan oleh orang yang paling bcrpengalaman dan haws d apnt menentukan (lrgan mana tcrganggu dan dapat menvebabk an kernatian dan rncncntukan pcnanggulang21nnya. sopan san tun (2). puskesmas-puskesmas Ji sekitarnya (5). Triage officer dapat scorang dokrer ahli. Catatan rncdis yang baik (3). Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di Rumah Sakitnya sendiri dilengkapi dcngan Unit Perawatan Intensip (leU) Semua personalia Unit Cawat Darurat men genal dan menghayati sistim Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di unitnya rnauplln Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Nasional. e). hak dan rahasia rnedis penderita (3). Interpretasi : Semua petugas baik med is maupun paramedis harus selalu mernperhatikan : (1). lnterpretasi: (1).itau kcbijaksanaan r urnah sakit. Harus ada kerjasama yang saling menunjang antar Unit Cawat Darurat dengan: (1).' kebutuhan rohani penderita (5). "Disaster planning" rurnah sakit maupun kota dimana dia berada (2). prioritas yang tinggi. lnterpretasi : Triage adalah sistern : (1). . waktu rnenunggu tindakan rnedis (4). Kalau penderita tak dikenal/tak ada keluarga yang mengantar harus diusahakan semaksimum mungkin untuk mencari dan menghubungi keluarga. 'seJeksi pendcrita (dalarn koadaan bcncana). doktcr urn urn (Ita up un pera wat sr-suai dengan kelas . kerjasama dan d is iplin kerja mernpunyai d). Seleksi problim sClJrang penderita (dalarn keadaan sehari-hari) (2). unit-unit dan instalasi-instalasi lain di rumah sakit (2). dokter-dokter yang berpraktek/tinggal di sckitarnva (4). g).

obat dan pcrsonalia harus diatur sedernikian rup<1 sehingga dapat memenuhi kebutuhan 24 jam. obat-obatan dan personalis yang rnemadai untuk melakukannya. pcrsonalia (b). Cat. Depot darah (4). hbur. Intcrpretasi (I). ha rus bckcrj<l 241.ngsehingga pcrsediaan obat-obat. Penderita keluar dari Unit Gawat Darurat harus jelas : (1).rk an d.ln r·)c··lllg. (h).1/<11"1!cnl<Hlg t in d. Interpretasi : terbatas harus Puskesmas dan rumah sakit kelas 0 yang hanya mampu rnelakukan resusitasi dan life support semen tara. l). Penderita-pcnderita Cawat Darurat harus mendapat selama ia berada eli d alam Unit Gawat Darurat In terpretasi : pengawasan ketat Unit Cawat Darurat harus mempunyai perala tan. biokimia. pulang : (a). konsulen termasuk hematologi.lp untuk : Interprotasi : (1). Radiologi.ls me-d i- jam dilakuknn I:: .h). alat-alat steril. tenaga adrninistraxi) Daftar jilga : (a). infus. \-lilY (c). Cillahlll keterangan kapan -Ian nud is yang pcnyakitnya kcrnana konl rol sdjilP pcndcrita 1t'llgk. bakterioJogi dan patologi d iatur sesuai dengan kernampunn rumah sakit dan kebutuhan periderita. Unit Gawat Darurat atau Rumah Sakit dengan pelayanan mernpunyai sistem rujukan yang jelas. Penunjang pelayanan med is sepcrti alat.-lnl (2). n. harus mempunyai kornunikasi (telepon. : (dokter. dirnana dirawat (2). i). radio) dcngim rurnah sakit kclas Iebih tinggi yang terdckat.llan !ned I"..Iaboratoriurn k). Pengawasan ini harus dilakukan terus mencrus baik di ruang Unit Cawed Darurat maupun scw aktu diangkut ke rumah <akit lain.in modis minimum harus ilH'IlCd k up : (<1) h1nggi1! dan jam tibd (b) resume latat. j). porawat.1[. "plasma expander".im. alat-alat "disposible" dan "linen" cukup untuk 24 jam. (2). (3). Farmasisangatpenti.i eLm lClIHLi l<lll~'. (".m k linik.l!l timggdl Sl'rtd (d).ltoriut1). Catat.

Karena ilrnu kedokteran gawat darurat tidak diberikan secara "integrated" dalam kurikulum Fakultas Kedokteran dan belum lengkap dalam kurikulum pendidikan perawat maka sebaiknya para dokter dan perawat yang akan bekerja di Unit Gawat Darurat atau Puskesmas harus mendapat kursus tambahan dalam ilmu kcdoktcran gawat darurat. : dan kwalitas personalia harus mcmcnuhi syarat : jumlah (1). (2).lSil<1Jl-kebj.ih sakit..s baik.m "induction". Mereka h ar us d i bawah pcngawasan/bimbingan seorang dokter atau perawat dari Unit Cawat Darurat. Askes . Scor<mg pptugas baru scbelurn bekrrja progr. Astek b). Kritcria a). Personalia Personalia dan Pimpinan : Unit Gawat Daurat mulai dari pimpinan. modis disesuaikan dengan beban kerja dan kelas untuk: lc~l'lganon medis selain pekarya (a) (b) (c) (d) catatan medis keuangan keamanan juga diperlukan asuransi :" jasa Raharja .3). [umlah petugas rum. I" .llTI oricntasi d. Harus mernpunyai skema organisasi mulai dari pimpinan sampai petugas yang paling rend ah dengan "job descriptionnya dan jalur tanggung jawabnva. Penanggulangan (3). (4) (5).'bi. cara menilai rnutu pctUgi1'-. perawat dan personalia non medis harus memenuhi kwalifikasi tertentu sehingga mampu rnemberikan pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang optimal. Harus ada progill1l c).ls. Karena Unit Cawat Darurat pada rumah sakit klas A dan B juga temp at belajarnya mahasiswa dan perawat maka sebelum bekerja praktek disitu harus sudah mendapat/ sedang mendapat pelajaran ilmu kedokteran gawat darurat. seb''lg<1i "feedhack". dokter. Tenaga l'enderita non medis harus mendapat kursus Gawat Darurat sebagai orang awam. l'erternuan staf yang n:gukr untuk mcnjaga d an k.' !'j..lilll yan. komunikasi antar petugas melalui d) send iri harus mendapat.

':-. Untu k rtu nah sakit kclas A dan Bh<lTlISadil Helipad untu k pcriderita yilng diangkut dcngan helikopter. I'intu Unit Cawat Darur at llwnghadap tidak pcrlu murtdur. l. Terletak berdampingan dengan tempat perawat kepala: chief nurse/ dokter jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi scm ua kegiatandi pintu masuk. RlI.m .awa! hams sedemikian rupa sehingga Penanggulangan Pcnderita Darurat dapat dilakukan dengan optimal. (1). Un tu k rurnnh IllCIl'1Il)~'111i 11. Diguriakan pr-nynkitnva. Kri tcria : a). Lotaknva hams berdckatan dengan (h).1S A.I). dan alat-alatlobat-obatan : 4). Lokasi gedung Unit Gawut Darurat harus mudah dicapai tanda-tanda y<lOg jelas dari jalan maupun dari dalam. untuk sr-leksi pasicn scsuai tingkat kcgawatan (b).. tindakan dan I'Ildllg resusitasi. ruang tunggu. Cukup Iuas untuk menampung pCllcierita untuk rumah sakit kclas (I')' rll<1ng triage beberapa C) pf'lldl'ril.mlma !lIang (d). Uarurat Cawat deng<H1 amhulans ke depan "cilingga f laru» malllpu mencrima 2-5 arnbulans sckalig us sc-suai dcngan Ixban kcria z'kelas rurnah sakit (rurnah sakit kclas C menampung 2-~ arubulans rurnah sakit kr-las D ]-2 ambulans). (I.lIang t indakan Uutuk rurnah Iwdilh 1111.~l1g t". FasiIitas Fasilitas dan a lat-alat Zobat-obatan Unit Cawat Darurat harus rnernenuhi persvaratan schingga Penan.lISit.l. Kaiau ada petugas yang pindah maka hams diminta pendapatnya tcntang Unit Cawat Darurat bcrsangkutan yaitu positif m<lupun ncgatifnY<l dan usu l-usul. ha k. LII'dl) mcnjarnin k<'lC'llrlngall H dipi"dhk. C~dllng untuk pclavanau I 'enanggulangan I'enderita (. (4).uas Unit Cawat Darurat disesuaikan diporkirakan untuk 20 tahun mendatang dengr\ll behan kerja )inng dan kelas rumah sakit. (7). d an ( dan d ig unak an 1111il!K Iwddh infl'ksi lu k. (0). IlllTW1.lsi (<1). sedang untuk r urnah sakit kclas c: hila mcrnungkinkan dibuat lapangan pendaratan hclikoptcr dekat rurnah sakit. ruanj.ggulill1gan Penderita Cawat Darurat CL1p"t di la ku kan dcngan optimal. Ruang triage: (a). (5). (2). (1).l (2) fK) Kuad aan IUclllgaJl harus P.ir ~'II . ""kit kclas i\ dan dan 1 lUll bcd ah sak it kCl.

gudang obat-obatan. Susunan (recovery soom) tergantung kebutuhan :3 tempat tidur untuk 1 karnar operasi) harus sedemikian rupa sehingga : (1 wang jurnlah ternpailldur 1:50/ ruangan (a). linen (13). Ruang untuk keluarga menunggu harus sedemikian Tupa agar rnereka tidak mengganggll pckerjaan. "social worker". Ruang gips dekat X-ray [umlah ruang operas! sesuai dengan keaktifan rumah sakit (a). polisi. kegiatan rnudah dikontrol olch "chief nurse" pada saat it u.in dapdt dibagi : .i . tempat istirahat. locker. Ruang X-ray dan ruang farrnasi dengan Rumah Sakit kelas A dan B) operasi (tergantung kebutuhan) (11).dn Unit C.ul yMIS harus del" d i.scinua baf. Komunikasi tilpon/radio ke Iuar rumah sakit dan tilpon intern di Unit Gawat Darurat dan ke rumah sakit. wang cuci (e). Ruang pulih pulih dengan (14). ruang sterilisasi (d). disesuaikan derigan beban/ k wali tas Alat-nlat dan obat-obat di Unit Cawat Darurat harus sedemikian mpa sehingga resusitasi dan "life support' dapat d i iakukan. (15). Alat-alat radiologi diagnostik kerja dan kelas rurnah sakit.13 dan C mak. ruang bayi baru Iahir (operatif) (b) fu.(9).mg instrumen (c). perawar penanggung jawab. ruang konferensi.Isit. (IS).t. Ternpat khusus berduka/berdoa untuk yang meninggal dan keluarganya yang sesuai beban kerja atau kelas rumah sakit.ldalah untuk timbkan rCSl. Ruang (untuk (12). Juga ada fasilitas we dan kantin sesuai dengan beban/kwalitas kerja yang dilakukan di Unit Gawat Darurat terse-but. ruang kerja non medis bagi pimpinan. Interpretasi (a). : Alat-alat dan obat-llb"t.J.\. (17). (16). Behan kerja dan keias rumah sakit akan rnenentukan besar dan isi sudang farm asi. haws dapat menampung korban bcncana sesuai dengan kemampuan kelas Rumah Sakit (c). (19).bi dan tindabn -.it . Mereka dapat istirahat dan mudah dirninta keterangan yang lengkap dari petugas.]t Darurat t 111J!<lh sakit kelas . pcnderitd ('iif"~upp()rt'l Scclilngkan untuk Unit Cayv. asuransi.aw<!t Daru r.lbilisdS. (20). alat-alat dan obat-obat. Ruang persiapan operasi/observasi (tergantung pintu kebutuhan) dari luar/dalam (10). arus penderita dapat Iancar dan tak ada "croos infection" (b).

llinger. amp. (3).Adrenalin 50 'Yr. infus dan pengikat. (6). untuk menstabilisasi pungsi set" untuk tungkai. guedel "Syringe: CVP set Morphin Dextrose yang perlu dengan otomatik untuk resusitasi: dan masker Suction-manual/otomatik (02) lengkap manualy flow meter.(1). A1at-alat/obat-obatan "WSD sct"/jllfum "Blood gi1:-. dan Alat-alat Zobat-obatan Oksigen Respirator Laringoskop Magil forceps Pipa endotrachealPip a nasotracheal Pip a 5. "Lichtkast" "Pneumatic trousers" "Cricothyroidectorny" Gunting besar anti Trendelengburg. ada gantungan + "Tracheostomy set". (4)."cardiac Infus/transfusi pander" + defibrilator 10 . amp.Pethidin . penderita (life support) : kit" scgilla ukuran lengell!. (5). monitor/portable" set + cairan ECG .20 'Yr" NaCL. (2). [arum intra kardiak "Pace make: *" transvenous" * "transthoracic". untuk resusitasi untuk "life support" untuk diagnostik sesuai dengan tipe Rumah Sakit terapi sesuai dengan tipe Rumah Sakit non medis seperti audio visual. alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-alat kearnanan lain-lain. . cateter lurus dan bcngkok sernua ~ sernua (anak dan dewasa) ukuran ukuran 10 cc . "Plasma ex- glukose "Blood drawihg equipment" Tandu dapat posisi Trendelenburg. lcher. 18 Bic Nat. tulang runggung "Car diar rnodication Bidai-bidai . training seperti pemadam kebakaran kebersihan aids.[arum No.

teIepon . Boneka untuk latihan "Audiovisual jtraining aids". Dj + Th/..lIIgg11lang.lp waktu hagi seruua personalia .ct'· "Thoracotomy set' "Laparotomy set + extraset" Benang-benang z'jarurn scgala jenis + ukuran Alat-alat kearnanan dan pendidikan : Pernadarn kehakaran Ember . Protokol gawatdarurat dan korbsn ProtokClll'cn. . \') t[) ..ke luar ---> radio.Perban sega!a ukuran Sonde larnbung Foley kateter segi1la ukuran Venaseksi x-ray Perban set untuk luka bakar set untuk diagnosa dan terapi : Perikardiosintesis Alat-alat tambahan Alat-alat pcriksa-pcngobatan "Slit lamp" THTsetDj + '1'11/. Laboratorium mini: ...Hb mata • Ht * ICllCO * urin .ke dalam Perp usta kaan Manual Zbuku F't'doman pl. 5).m l'eudcrita Cawat Darurat harus tertulis dan "up date": dan dap<lt dih<1«l setJ. Lavase peritoneal set "traction kit" : ~ bone ". Komunikasi ."kick bucket".skin " pelvis Gips Ob-Gyn set.gula darah "Bone set" "Minor surgerv :.'ll<lnggulangan pcndcrita penanggulangan bencana.

(13). (8). 6). (16). b). (4). Unit Cawat Darurat adalah sesuai kelas Rumah Sakit Haws rriempunvai program tempat belajar mahasiswa dan perawat baru orientasi dan induksi bagi personalia ilmu rnelalui kcpustakaan. Kriteria . (6). rumah sakit dan rnasyarakat yang dilayaninya. (12). (17). (24).psikiatri Kontaminasi radioaktif Keracunan Penderita tak dikenal Catatan medis Penyakit rnenular Visum et repertum Rahasia rnedis Surat cuti Resep apa yang boleh diberikan Resep obat narkotik Kernahan di Unit Gawat Darurat Mati waktu tiba (D. (11). (20). (9). (14). (18). (3). (7). (15). (10). d. b). (26). (23). a). (5). (25).Kriteria: a). Pendidikan Unit Gawat Darurat harus mampu meningkatkan rnutu Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bagi personalianya.A) Kebakaran Listrik mati Huru-hara Bencana di Rurnah Sakit! di luar Rumah Sakit Resusitasi kardiopulrnoner di Rumah Sakit Protokol tentang tiap-tiap penyakit sesuai yang dianut unit-unit lain yang bekerja di Unit Gawat Darurat. kota dan nasionaJ Triage Sis tern rujukan Penerirnaan penderita Sistern asuransi I'erkosaan Tindakan kriminil "Child abuse" Keamanan . (21). Protokol yang harus ada adalah : (1). Harus mcngikuti pengcmbangan dan kongres-kongrcs seminar . (22). (2). Sistem PPCD di UCD. (19). RS.O.

d). e).

Harus mampu rnelakukan riset derni perhaikan Penilnggulangan Penderita Gawat Darurat di unitnya maupun masyarakat. Sernua (1). (2). (3). (4). (5) (6). (7). (8). personalia minimum harus mahir dalam penanggulangan:

"air way" (A) "breathing" (B) "circulation" (C) menghentikan perdarahan balut - bidai transport pengenalan dan penggunaan membuat/baca ECG

obat

7).

Evaluasi Evaluasi mutu Penanggulangan dan berjalan terus. Kriteria: a) Statistik dibuat dan dievaluasi secara komprehensif. Pcnderita Gawat Darurat harus komprehensif

Interpretasi: (1). akses untuk masyarakat (2). adanya sarana (3). kwalitas pelayanan (4). rnutu dan kaitan komponen-komponen (5). biaya yang sesuai b). c). Kasus-kasus yang menyinggung/ mencari jalan keluar. Pertemuan

dalam

PPGD

aneh/jarangdicatat

dibicarakan

untuk

staf
.. kelemahan Unit Gawat Darurat mencari jalan keluar kesepakatan dan menyebar luaskan hasil pertemuan pada semua staf lIpaya perbaikan dan peningkatan mu tu pela yanrui

Interpretasi : Untuk meneari:

..

*

b.

Unit Pelayanan
1).

Intensive

Filosofi Intensive Medical Care (J.M.C) sebagai suatu akrivitas khusr.rs mendapatkan legitim2lsi bukan oleh karena kompleksitas peraiatan dan pcmantau.m pasicn. tetapi oleh karena pasinn sakit krit is

(Critically ill) selalu berakhir pada suatu "final common pathway" dari kegagalan sis tern organ sehingga dibutuhkan bantuan terhadap sistern respirasi, kardiovaskular, renal, nutrisi dan organ vitallainnya baik tersendiri rnaupun terkornbinasi. Sebagai contoh untuk pasien dengan gagal nafas hipoksemia tidak menjadi persoalan apakah paru-parunya mendapat trauma dari roda mobil, teraspirasi asam lambung, atau terserang virus, manajemen suportif dan hasil akhir selalu akan sarna. Ini salah satu contoh "suatu pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan jelas" oleh cabang spesialisasi I.M.C. Aplikasi yang tidak terkoordinasi dari multi-disipliner tidak hanya merugikan pasien. tetapi personil perawatdan tenaga profesimedis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit Intens Care "terbuka" yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. Pada hakekatnya tidak merupakan persoalan apakah seorang sepesialis penyakit dalam, bedah anak atau anestesiologi yang mengelola suatu LCU sepanjang spesialis tersebut mernenuhi persyaratan: a). Pengetahuan
b).

"Intensive Care"

Keterampilan Komitmen waktu

c).

Hanya dengan ke 3 syarat tersebut akan terdapat pelayanan yang komprehensif. Keahlian ini bukan merupakan hobi, juga bukan pekerjaan sarnbilan ("part-time"). Harus diingat mendapatkan konsultasi merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan pasien-pasien saki t kritis. Meskipun demikian merupakan kewajiban seorang intensivis bertindak sebagai "interlocutor", mengkoordinasikan dan membawa semua informasi dari berbagai konsultan untuk kepentingan pasien. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang intensivis adalah bayangan ideal seorang dokter di masa Iampau, yaitu mernbawa seorang dokter kembali ke "bedside" untuk mengelola pasien secara utuh, berkonsultasi dengan kolega dokter dan keluarga pasien. Di samping pengelolaan pasien sakit kritis yang memerlukan penggunaan alat-aJat dan teknik-teknik bantuan hidup (Tife support"), intensivisjuga harus menurnpahkan perhatian z'mengarahkan usaha sernua dokter kepada problema multi-faktorial pasien. Seorang intensivis harus rnerupakan seorang manajer, diplomat dan guru, dan dalarn rangka mengaplikasikan usahanya harus terdapat

piramida

dari

berbagai

tenaga

lain

seperti

perawat.

f isi o-

terapis. teknis-teknis,
Pasien-pasien dengan gagal alat-alat bali jika

dan lain-lain.

Tanpa bantuan tersebut maka usaha seorang intensivis
yang masuk yang satu atau lebih gagal sistem / organ dilakukan utarna bantu. Oi samping sistem/organ terdapat akut,

akan sia-s ia.
pasien dan! atau pulih kern-

ke suatu ICU harus merupakan mernbutuhkan itu harus pemantauan harapan
tepClt

atau ancaman

terClpi cian barituan

yang

Fungsi a). b). c).

ICU adalah didapati

membcrikan

bantuan

fisiologis

yang

dibutuhkan

sampai

hasil :
problema dasar

Pasion sernbuh spontan Terapi spesifik dapat mengatasi Pasien meninggaL

Perlu juga ditekankan bah wa filosofi "Coronary Care" tidak sarna dengan filosofi "Intensive Care". Hal essensial dari "Coronary Care" adalah "surveillance" dan se-sekali melakukan intervens i aktif dan bantuan sistern mu1ti-organ. Difinisi lain "ICl.I" adalah tentpat melahlknll bantam! (support) "nku]" dan interoensi tcrapeutik: delIgml aktinit a« dan keriinnan yrzJlg tidak sesuai untuk atmosier "11011 strees" dan "Coronary Care Unit" ideal. Bentuk pengelolaan bentuk pengelolaan lCU sering mcnjadi pertanyaan. leU dengari "closed unit" yaitu: kepala unit "full time"

dengan wakil-wakiln ya bcrtanggung jawab penuh terhadap semua pengelolaan pasien dan pendidikan dalam unit, sering menimbulkan konflik autoritas dengan dokter primer konsultan. Suatu K'U yang "semi-closed" yaitu dengan kepala unit bertanggungja wab terhadap kualitas total pengelolaan pasien dart pendidikan staf, mungkin lebih baik dalam hal mengurangi konflik, tetapi di atas segalagalanya manajemen yang terarah dan jelas merupakan hal yang: tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini penting bukan hanya untuk pengelolaan pasien juga untuk mempertahankan moral staf dan koordinasi Rumah program-program sakit tidak hanva kompleks. bertanggung jawab mcnvediakan

Iasilitas dan tempat, tetapi juga bertanggung jawab legal agar Iasilitas leU digunakan secara tepat dan balk. Old, karena ilu, terdapat tendensi akhir-tendensi ini di rurnah-rurnah sakit dengan pelavanan sck undur (Lin tersiL'I' untuk nununjuk pcrsllnil medic:; ICU "full time" medis
("m,llId,ltorv

(intcnsiv

is) dari
-n").

pada

hergantung

pacta

praktek

"la lsscz-fa ire"
lllliC,U]tdtil

a la u krharu

san

me lakuk an k o ns u lt as i

teknisi alat-alat pemantauan. Kemampuan minimal leu adalah Sebuah leu hendaknya memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung pam Pengelolaan jalan napas. dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala K'U: tenaga ahlilaboratorium diagnostik. pelayanan K'U Pelayanan leu primer (standard minimal) Mampu melakukan resusitasi dan mernberikan ventilasi bantu kurang dari 24 jam serta mampu melakukan pemantauan jan tung. terrnasu k intubasi trakeal dan penggunaan ventilator Terapi oksigen Pemantauan EKe terus menerus Pemasangan alat pacu jantung dalam keadaan gawat Pemberian nutrisi enternal dan parenteral Pemeriksaan Iaboratorium khUSLlS dengan cepat dan menyeluruh Pernakaian pompa infus atau semprituntuk terapi secara titrasi Kernampuan melakukan teknik khusus sesuai dengan keadaan pasien Mernberikan bantuan fungsi vital dengan alat-alat portabel sclarna transportasi pasien gawat. peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. trauma atau kornplikasi-komplikasi.2). Memiliki s('orang doktcr -:pcsia1is anestesiolllgi scbagai kl'PilJ'l . rUrlng darurat dan rU<1ngal1pcrawatan lain (2). Merniliki kebijaksanaan r kriteria penderita yang rnasuk keluar serta rujukan (. perawatan terlatih atau berpengalaman dalam "Intensive care (perawatan/terapi intensif)" yang mampu memberikan pelayanan 24 jam. alat untuk menopang fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik. Klasifikasi a). Kekhususan (1). Ruangan yang hams dimiliki : tersendiri: letaknya dekat dengan karnar bedah."1). memiliki staf khusus. Staf khusus adalah dokter. Intensive Care Unit (Unit Perawatan/Terapi Intensif) suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit.

I3. Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan resusitasi jan tung paru (A/B. keluar dan rujukan Mern iliki dokter spcsial is yilng dapatme!lilnggulangi sotiap saat bila d iperlukan Memiliki seorang kcpala ICU yang bertanggullg jawab secara k esel ur uhan (intcnsivis) dan doktcr jagil vang minimal mampu RJI' (i\. kemudahan diagnostik dan fisioteri selama 24 jam Memiliki ruang isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi.(4).' tempi intensif.E. Mampu melayani pemeriksaan lab ora tori urn. . Rumah sakit umum klas I3l b).ErF.F) . Rumah sakit yang dapat mempunyai ICU primer.B. berdekatan dengan kamar bedah. dokter jaga minimal mampll RJP A. Rurnah sakit umum klas C (2). (5). kekhususan yang harus d irnili ki : Memiliki ruangan tersendiri. keluar dan rujukan Merniliki dokter spesialis yangdapat menanggulangi setiap saat bila diperlukan Memiliki seorang kepala ICU yang bertanggung jawab secara keseluruhan (intensivis). rontgen. melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks. Kekhususan yang hams dimiliki : Merniliki tempat khusus tersendiri di dalarn rumah sakit Merniliki kriteria penderita masuk. Mampu mengadakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien :pera wa t 1 :1 pada setia p saat jika diperlukan Memiliki perawat yang bersertifikat terlatih perawatan/ terapi intensif Mampu memberikan bantuan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pernantauan invasif dan usaha bantuan hidup Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. kemudahan diagnostik dan fisioterapi. adalah : (1). Pelayanan leu Sekunder (menengah) Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama.D. Konsulen yang membantu harus selalu siap dipanggil (6).(.CO. Pelayanan leu tersier (tertinggi) Marnpu melaksanakan sernua aspek perawatan.r:. c). rllang darurat dan ruangan perawatan lain Memiliki kriteria pasien masuk.F). Memiliki jurnlah perawat yang cukup dan sebagian besar telah terlatih (7). rontgen.CD.

im ob ilitas berkepanjangan. Member ikan bantuan emosional tcrhadap pasicn yang nyawanya pada saat itu bergClntung pada fungsi alat/ mesin dan orang lain. perawatan/Terapi (leU) Ruang hngkup pelayanan yang diberikan di leu (1~. rontgen. perbandingan perawat: pasien lebih dari 1 : 1setiap shift untuk kasus erat dan tidak stabil Merniliki lebih banyak staf perawat perawatan/terapi intensif Mampu melakukan sern ua bentuk perawatdn/krclpi intensif bersertifikat pemantauan terlatih dan Mampu melayani laboratoriurn. tenaga rekam medis. Pemantauan fungsi vital tubuh terhadapkomplikasi (a). Pemantauan itu sendiri (4). Penyakit (b). Penatalaksanaan untukmencegah kornplikasi akibat kama yang d a la m. tenaga untuk ilmiah dan penelitian Merniliki alat-alat untuk pemantauan khusus. ah1i kebidanan dan lain-lain Memiliki staf tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi.Memiliki lebih dari satu staf intensivis Mampu rnenyediakan staf perawat. Penatalaksanaan spesifik (c). Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kernatian dalam beberapa menit sarnpai beberapa hari (2). -_i () .kemudahan diagnostik dan fisioterapi seIama 24 jam Merniliki paling sedikit seorang ahli dalam mendidik staf perawat dan dokter muda agar dapat bekerja sarna dalam pelayanan pasien Merniliki prosed ur untuk pelaporan resrni dan pengkajian Didukung oleh semua yang ahli dalarn diagnostik dan terapi. s tirnu lasi berlebihan dan kehilangan sensori (5). prosedur diagnostik dan terap_i khusus. Memberi bantuan dan mengambil aIih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan penatalaksanaan spesifik problema dasar (3). Prosedur pelayanan a). Sistem bantuan tubuh (d). seperti ahli penyakit dalarn ahli bedah saraf.

pasc. tidak ada harapau dapat d isern btl hkan Iagi (contoh: karsinoma stadium akhir.sif atau non invasif sdl1ngga komplikasi berat dapat d ihindarkan atau dikurangi (conroh: rase" bcdah besar dan luas: pasi--n dengan penyakit jantung. Pasien sccara medic.. perawat dan tenaga adrninistrasi rurnah sakit Pelayanan ICU meliputi pemantauan dan terapi intensif. d. Tidak perlu masuk leu (1). bcd'lh jantung terbuka.1i. kerusakan susunan saraf pusat dCllgan koadaan vegdatif). Pas ir-n yang mernerlukan pernantauan inter. (3). j).ij knn-ria k--adaan mombaik ntau terapi klilh gag81 dan pruln'<.'iiln .ikit berat. karena it'll secara umum prioritas terakhir adalah pasiendengan prognosis buruk untuk sernbuh.11 vJng kcd un por lu pE'r.ikan mornburu k <.lder yang lld'lll:. surnbatan ja'lan napas). b).ll nil pas berat. pernberian ohat vasoaktif melalui irrfus sccara torus mcnerus (contoh: gag.. Fasit.lndikasi masuk dan keluar leU Prosedur rnedis yang menyangkut kriteria rnasuk dan kcluar leU seharusnya disusun bersama antar disiplin terkait oleh sernacam tim terd iri dari dokter. ['(lsicn tidak rnernerlukan hgi terapi intc[)<. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium) kccuati keberadaannya diperlukan sebagai donor otgan. a). pi'lrU. Persyaratan masuk dan keluar lCU hendaknya juga d idasar kan pada manfaat terapi di leU dan harapan kesembuhannya Kcpala leu atau wakilnya rnemutuskan apakah pasicn memenuhi syarat masuk feu dan kcluar.'jl s.. (3). (2). sekalipun mantaat leU ini sedikit (contoh: pasicn dcngan tumor ganas metastnxis dengan kompl ik_asi in febi.erLl manfaat terapi inlcnsif sang(lt keei!. Pasien rncnolak tempi bantuan hidup. syok scp tik ). Pasicn yang memerlukan terapi intensif untuk rnengatasi kornpl ikasi-komp likasi akut.~('llIiliim (lI. (2). [ndjkasi keluar ICU (1). ginjal ataulainnya). Indikasi masuk leu (1).i. kepala leU atau wakilnva akan memutuskan pnsien mana yang harus diprioritaskan.l"m 11. da iam waktu de-kat . tamponadejantung.. pasicn tidak stabil yang mcmeriuk au terapi intensif scperti bantuan ventilator.

kecelakaan jalan to1 khusus untuk korban kecelakaan lalu jasa Raharja tenaga keria (ASTEK). Terapi intensif tidak diteruskan Iagi pada : memberi manfaat dan tidak tidak perlu (a). g. jan tung terminal. karsinorna yang menyebar. c. kareria trauma) dan sangat yang keeil (c). PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN) penderita masyarakat. ada pasien lain kritis yang rnemenuhi syarat prioritas pertama. c. d. ICeu. (0). hendaknya dengan persetujuan dokter yang mengirim.(2). Apabila tempat di JeU penuh. Pasion mati otak atau koma (bukan menirnb ulkan keadaan vegetatif kemungkinan untuk pulih. Pasion usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak mernberi respons terhadap terapi intensif sclama 72 jam. f. Pasion d engan bermacarn -maeam diagnosis seperti P POM. gawat terdiri pembiayaan untuk penanggulangan dapat berasal dad pemerintah dan pusat dan daerah Surr. (3). Pelaksanaan ketiga butir terakhir ini hendaknya dilakukan atas persetujuan dokter yang mengirirn. Sarana dan prasarana Unit-unit Khusus Unit. Masvarakat (OUKM) resiko untuk Dana Upaya Kcsehatan Sumber swastay perusahaan swasta yang berpotonsi tinggi untuk terjadinya kccelakaan dapat diwajibkan menycd iakan biaya untuk FPC!). . Renal Unit. Burn diserahkan kepada disiplin 3. Standard ilmu terkait. (SUB-SISTEM dan Manajemermya K'U (lihat lampiran IV). Bi!a pad a pemantauan intensif tcrnyata hasilnya rnernerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama.ber dari pemerintah jasa Marga untuk Asuransi Asuransi lintas Asuransi Pegawai Negeri b. KOMPONEN Sumber darurat dari: a. maka pasien yang tidak kritis tetapi rnernenuhi kriteria keluar terpaksa dikembalikan ke ruangan.

558/Menkes/ SK 1J 9S4 tentang Organisasi dan tara Kerja Departcmen Kl's('h. 032/Birhub! 1972 tentang Referal System.MED/RSKS/1987 TFNTANG STANDARJSASI KENDARAAN PELAYANAN tHEDIK MENTERI KESEHATAN REPUBLJK INDONESIA Menimbang L bahwa dalarn rangka meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan mr-dik dan kesehatan diperlukan jenis kendaraan dengan p"'r'-'varatan khusus. . R! !. 5.111 SLll1darisasj .' I . Undang-Undang Lalu-Lintas dan Angkutan.. Mengingat I.'ntang Pokok-Pokok Kesehatan: Keputusan Presiden No. 99a/Menkes/ SK/III/l982 tentang Sis tim Kesehatan Nasional: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.\'i".. 2.m Mcdik. S Undang-Undang No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.9 Tahun 1960 tt.1l1. b.21 tahun 1984 ten tang Repelita IV. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1.. diperlukan standarisasi pcrlcngkapan urrium d an Il)ctiis pada kcndaraan khusus tersobut. 7.LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK IN DONESIA NOMOR : 01521YAN. 4. . 134/Menkes/ SK/IV 11979 tentang Susunan Organisasidan Tata Kerja Rumah Sa kit Umum.Llr. untuk keseragarnan dan peningkatan mutu pelayanan rnedik.jalan Raya. 034iBirhub/ I 972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit: Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rf No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1.1tan RT.('nt<lng l'>~'utllS("lJl i<. Mcntori Kcschatan Pci<lv.

1. Kepala Direktorat Lalu Lintas Mabes FOLRI Kakanwil DcI' Kl's 1\I I'ropinsi di seluruh Indonesia Pengurus J\s()si<lsi I'('["kit Kcnda [. di lingkungan Departemen Kesehatan RJ. 6. 8.n. H. Mohamad Isa Tembusan disampaikan 1. Kereta jenazah. Spesifikasi Kendaraan pada diktum pertarna sf'perti tor larnpir. 2.jen. Hal-hal yang belum diatur dalarn diktum Keputusan ini mulai berlaku akan diatur kernudian. 7. Ambulans Cawat Darurat: 3.I. 2.- . Keernpat Kelima sejak tanggal ditctapkan. Dir. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak. Arnbulans Rumah Sakit Lapangan. Kedua Ketiga Sernua Kendaraan khusus yang sudah ada harus dilengkapi sesuai Keputusan ini dalarn waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan ini ditetapkan. Para Dir.1-1 . 5.jen. INDONESIA ttd.Pertama Di dalam Keputusan ini diatur tentang jcnis Kendaraan: 1. Sekretaris [enderal Departemen Kesehatan R.1 11 Indonesia P{'rlinggill. 3. Perhubungan Darat Departemen Perhubungan J~. Arnbulans Transportasi.: 9.r. kepada Yth. Dr. MENTERI KESEHATAN REPUBUK Direktur J_enderal Pelayanan Medik. 4. Ditetapkan di : J a k art a I'ada tang-gal : 24 Pebruari 1987 J\. 5. 4.L Inspcktur Jenderal Departemen Kesehatan RJ. Bapak Menteri Kesehatan R.

~. 2. Kend araan roda empa t ata u Iebih d ('ngan sus pensi lunak. Persyaratan lain sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku. Radio Komunikasi. penampungan air limbah. kemamp uan Pl'CD. Dilengkapi sabuk pengaman.cairan infussecukupnya.L AMBULANS TRANSPORTASI Pengangkutan penderita yang tidakrnemerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatanselama dalam perjalanan. wastafel dan. 12. Stopkontak khusus untuk 12v. 13. 14_ 15.'ct'pat<11l kcnciarnan sclinggi 40 Krn eli [alan hiasa dan NOKm eli jalan bebas harnbatan . Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. Air bersih 20 liter. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia. 1 (satu) supir dengan Komunikasi 1 (satu) I'erawat dengan kemampuan P3K dan Tujuan Penggunaan Persyaratan kendaraan: A. Sclarna meng-angkut pcnderit a hanva bo'lch l1lL'nggunakan lampu rotator. Sewaktu menuju tempat pencierita bolch mcnggunakan sirene dan larnpu rotator. 11. . 2. Scmua porn luran lululintas harus ditaati. 2. 4. Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang mernantulkan sinar. DC diruang penderita. Ruangan penderita rnudah dicapai dari tempat pengemudi. 6. 10. Medis 1. Lampu rotator warna merah. Larnpu ruangan seeukupnya. 9. 1. Teknis 1_ 3. O. 5. Sirine satu nada. Lemari obat dan peralatan. Perala tan Medis P3K Obat-obatan sederhana. Ruangan penderita eukup luas uantuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. K'-. 3. T?lta Tertib 1. 16. Tempat dudukbagi petugasdi ruangan penderita. B. Tabung Oksigen dengan peralatannya. 7_ 8.

Meja dapat dilipat. Kendaraan lunak. Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat petugas diruangan penderita. 12. Larnpu rotator warna merah dan biru. 7. Ruangan penderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. AMBULANS GAWAT DARURAT Pertolongan PPGD Pra Rumah Sakit Tujuan Penggunaan Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan keternpat tindakan definitif / distabilkan Rumah Sakit. 13.II. semua 19. l3uku petunjuk pcrncliharaan buhasa Indonesia. Tcknis Tekni= : 1. 10. 2. Tanda f~C'Ilg:l'n(l1 d ari bahan yang mernantulkan. Pt'r<liat. Lemari untuk obat dan peralatan. 3. peraturan perundangalar berair 17. Radio kornunikasi. I k. Persvaratan lain sesuai undangan yang berlaku. roda ernpat ataulebihdengansuspensi tidak dipisahkan dad ternpat bagi Ruangan penderita pengemudi.lt1 rcsquc. Ruangan penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan tindakan. 6. Cantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. wastafel dan penampungan Iimbah. 5. Stop kontak khusus penderita. 11. 8. 4. 16. Sirene 2 (dua) nada. Air bersih 20 It. 15. 9. Persvaratan /\. 14. untuk 12 v DC di ruangan Larnpu ruangan secukupnya dan lampu-Iampu sorot bergerak untuk menerangi penderita yang dapat dilipat. Dilengkapi sabuk pengarnan. .

2. Semua peraturan lalu lintas harus ditaati. 3. 3. Tempat duduk yang dapat diatur Idilipat bagi petugas diruangan penderita. . Teknis kendaraan 6. Minor surgery set. AMBULANS Penggunaan RUMAH SAKIT Tujuan Dalam keadaan sehari-hari melaksanakan fungsi ambulans gawat darurat. 1 (satu) dokter gawat darurat (tergantung keadaan). Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak. Peralatan rned is P3K Perala tan resusitasi lengkap bagi orang dewasa dan anak /bayi. LAPANGAN C Petugas 1. 7. III. 3. . 5. 4. Sewaktu menuju tempat penderita boleh rnenggunakan sirene dan lamu rotator. 3. Tabung oksigen dengan peralatan untuk 2 (dua) orang. 1 (satu) supir. perawat gawat darurat dengan kernampuan mengemudi dan kornunikasi. 2. Ruangan penderita cukup tinggi schingga pdugas dapat bcrdiri tegak untuk mo la kukan tindakan. Kecepatan kendaraan setinggi 40 Km di jalan biasa dan 80 Km di jalan bebas hambatan. 4. 6. D. Suction pump manual dan Iistrik 12 v DC Perala tan EKG dan monitoring lainnya. Dilengkapi sabuk pcngaman . Selama mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator. 1 (satu) perawat gawat darurat. 2. Me dis 1. Ruangan pcnderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Bila diperlukan.B. Persyaratan A. Ruangan penderita tidak dipisahkan dari temp at pengemudi. 2. dapat digabungkan dengan ambulans-ambulans sejenis dan ambulans Pelayanan Medik bergerak membentuk suatu Rumah Sakit Lapangan. Obat-obatan gav'iat darurat dan cairan intus secukupnya.'1. Tata Tertib 1. : 1.

l) Km di jal. Bu k u pdunjuk pemelihClr. Tenda Japangan Iengkap. 10. Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya.. 15.CIrlU<l pcraturan bill lint.J. 16. l'era latan modis P3K.-wn se m u a a la t berbahasa Indonesia.'dLi<lC1n). :-. 12. L. 11. . Tata Tertib 1. C Petugas 1. Stop kontak khusus untuk 12 v DC di ruangan penderita. Radio kornunikasi.]q .. .). 5 6. Sirene 2 (dua) nada.ltan kendarclan Sdint.l]l bi. 14. 4. 7. 2. 2. Leman untuk obat dan pcrala tan.7. 19.1 (satu) perawat gawat darurat. 9. Gantungan infus tcrletak sekurang-kurangnya 90 em di alas tempat penderita.. perawatan gawat darurat dengan kcmampuan mengemudidankornunikasi. Lampu rotator wama merah dan biru. D. 17. Tabungan oksigen dengan perala tan untuk 2 (dua) orang.mli KI'\(T.LIIl SI) Kill eli jilLlI1 heb. 3. 3. Medis 1.l. Meja dapat dilipat. Selr\Ind rncngangkul penderi!" h a n va boleh Illcnggunak. Lampu tuangan secukupnya dan larnpu-Iarnpu sorot bergerak untuk mencnrangi penderita yang dapat dilipat. 20." harnbatan. Air bersih 2111t. Minor surgery set. 1 (satu) supir. Perala tan rcsusitasi Iengka p bagi dewasa dan anak Zbavi Suction pump manual dan listrik 12 v DC.gi.wastafel dan penampungan air limbah. Perala tan resguE'_ Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan.ls harus d it.Hl lampu rotator. 13. Se w ak t u rnenuju temp at p encler ita b o le h ll1enggulhlkan siren!' dan larupu rotator. ['('rablan EKG dan monitoring lainnya.. . 1 (satu ) dokter gawat d ar ur a t (tergantung kl. B.. 8. 18. Pcrsyaratan lain sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.

. Supir dcngan kernampuan P3K dan kornunikasi Pc r a w a t an dengan kern a mp uan PPCD dan kern am puan khusus lain scslIai tujuan peng~lIna.I'. Dilengkapi sabuk pengaman.l mc. 1 Ternpat tidur / tand LI bagi sekurang-kurangnya (satu) penderita. Ruangan kerja cukup luas untuk tujuan penggunaannya dan cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk bekerja. Tempatduduksesuaikeperluan di ruangan kerja. Tc k n i s Kendaraan roda empat atau kbih dengan suspensi lunak.!s pdr. Stop kontak khusus untuk 12 v DC Cenerator 220 v DC dengan peralatannya.IV. Dapat dipergunakan ambulans transportasi. Bu ku petllnjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia Public Address System Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan B_ Me dis Tabungan oksigen dengan peralatannya Perala tan medis P3K Obat-obatan sederhana. Meja kerja yang dapat dilipat.as bin s('su<li kebut uhan. cairan infus secukupnya Perala tan upaya pelayanan mcd ik sesuai tujuan penggunaan kendaraan. Per svaratan kondaraan : A.Iis j")nkkr C Pctu. Sirene 1 (satu) nada Lampu rotator warna biru Radio Komunikasi Persyaratan Iain sesuai peraturan perundangan yang berlaku. AMBULANS Penggunaan PELAYANAN MEDIK BERGERAK salah satu upaya pelayanan sebagai medik Tujuan Melaksanakan dilapangan. ['dug. Lampu ruangan secukupnya dan 2 (dua) buah larnpu sorot bergerak.lIl kt'IHhri)il)i (jurnlah SC:-'lIili kebutuhan).

m: Persvaratan A. Tata Tertib Lampu sirene hanya digunakan dibutuhkan Lampu rotator digunakan kernbali dad tempat tujuan Semua peraturan bilamana sangat pergi dan sewaktu lalu lintas harus ditaati Keep!'<l tan kcndaraan sctinggi-tingg:inya 40 Km / jam di jalan bi.lS. Kccep<1tan tcrtinggi eli jalan biasa adalah 40 Km/ jam dan di [alan bebas hambatan 80 Krn/jam. Bilarnana tidak mernbcntuk iringan hanya belch mempcrg unakan lampu rotator dan sern u a per aturan lain lintas harus ditaati.lllya dan SO Km/jellJl di jalan bcbas harnbntan V. KERETAJENAZAH Tujuan pengglma. C Tata Tertib Sirene hanya dipergunakan pada waktu bergerak dalam iringan (konvoi) jenazah dengan mentaati pcraturan lalu lintas tentang iringan (konvoi). Pcngangkutanjenazah kcndaraan : Keridaraan roda empat atau lebih T e k n is Ruangan jenazah pengemudi jenazah terpisah dengan ruangan satu peti Dapatmcngangkutsekurang-kurarignya Dilerig kapi sabuk pl'ngamilll Tcmpat duduk Iipat bagi sokurang-kurangnya (ernpat) petugas di ruangan jenazah Sirerie 1 (satu) nada 4 Lampu rotator w arna kuning Tarid a pengenaJ mernantulkan B. ker eta [cnaznh d a r i bahan cahaya.D. j(1 . Petugas 1 (satu] supir Petugas pc-ngawal jcnnzah sesuai kebutuhan.

1)(.radar operator I iurnlah dic.LAMPI RAN II AMBULANS 1.. I'esawat hX('d Wing: Tcrh. Hdi besar .lJ ) tUJl)~ [on i:-.l\V. pendarahan dan lain-lain) terrnasuk dan alat infus) Kotak pendingin Kantung Non medical equipment: Baterei Pelindung Pcmadam Radio I 'v rotehnik b).l t (In inirnal scpcrti HeJi j I .lll l)i~'. PC:-.[H Jumlah disesuaikan Copilot. UDARA Ddibrilatur/FKG Pulserneter Kotak Suction Peneumatic respirator. Peralatan a). orang awam yang te l ah mendapat latihan FreD lengkap). (inflatable) Kotak obat-obatan (shok luka bakar. c). n-u I:w<. untuk korban/bag-bag komunikasi jurnlah ditarnbah.. Monitur alat dan obat rcsusitasi splints keracunan. Pilot dibantu navigator. mempunyai pengetahu<1n d i lapangan.Jenisnya sa rna dengan di atas hanya telinga (Ear Protector) kcbaknran mayat. Personil:' a). 2.uaikan. Heli kecii 3 (tiga orang) Pilot yang mendapat Dokter umurn. 1 Vacum matress. PFGD latihan lengkap I'cmbantu rnedis (paramedis. medic. infus (obat korban 1 keranjang tandu.Jllb~l!llu winchman. Heli kecil 2 tandu.l'C. b).

-12 . Syarat pesawat : *) noise level (bising dipermukaan) vibrasi akibat gerakan rotor temperatur dalam Cabin sebaliknya twin engine Dengan persyaratan tcrtentu sesuai jenis : pesawat.300 km. Lebih dari jarak itu harus dilakukan oleh Fixed Wing.3. hellipad) 2) jarak yang harus ditempuh Untuk helikopter bila berjarak maksimal 200 . ") *) *) 4. Syarat penggunaan Diperhatikan : 1) fasilitas kendaraan (lapangan terbang.

g § VJ -C"'i :s 'l) E ...::.. « S E-. ..~ E 0:1 ..... j' z .' .u z o ii u 0) 0- ..... .....

. 0..:!? '" '" '2 .. t:: t:: oj -0 .:j Vl '" E s::: .: ..l 0 "2 -ct- E OJ EO -0 If) IU OJ U') :l '" '>:' '" 'fJ ~ 0 E ill :'2 OLl ill -0 '" s::: E V OJ _"..~ c.: (3 c: OJ :=J ::l ..>< OJ C ::l p. . ::l E '" :.: .:. bl) .l -0 '" c s::: b!J :l -c E :'2 <I) r-: :-s 00 ::l E v 'C'j >-.:.l . ~ '" s::: >.~ _".:..L (/') EO 0..: . "" "" E ..>< O/J ilJ E <l.~ c Q) ~ '" OJ -0 0 .. (/') on .::.........-c.s.D s::: '" oj ':d '" c~ >.~ ~ ~ VJ a s::: s::: 0:: ' OJ b!JO ill -0 s::: (/') u.~ '" ::l ..a s::: '<. '" 01) '" s::: OJ OJ b!J -0 d 0 . 0 '" ill E ~ en ':. <'0 :. c c _"........:. E ilJ s::: ~ .:..5 '" ::l Q. Of) .3 U o(j c '" .. o-....L -0 ::.::I V en CJ 2S if> OJ Q ('5 OJ. '" ".. .... 0.'" .0 OJ '" d .!G .- 'Cj" -. :. g ::l ..: 00 .::! -0 d Q.5 ~ '" ~ C .::: s::: .: 0 "0 ..g :§ s::: Q) C c ..0 r-: :9 00 -'t J.:.. o(j "0 <I) E "0 _".2 "" S c '" Q) c . 0::l OJ VJ .i OJ E v :-::2 tri E :-s . ::i v . is '" ~ c:: ::l '" 0~ 'J... '" C6 "" 2 E _c c. -. '" ....... ~ -. :-::2 <l.. !<: >. -.... E s::: :'2 .. c. . ~ :l CJ) a V .:.. -0 OJ E E ::2 OJ -q: v-i ~ . "0 "" E '2 '" E c-.D <!J Q VJ s::: on s::: .D ilJ '" ilJ <!J r.:G 8 'C' .:.j >. ~ E :'2 -.:j "0 ::) r- ~ E OJ -d- -c: .0. -'" Q <'0 '" E <U . </> '" c:: 'C'j s::: '" ."2 00 s::: ilJ E8 0 '0- < '" '" c: E rn s::: s::: '" '" '" :0 c '" '" c: n 0:1 d c-.::j c:: '" ...:j .ex: b!J 'C r~ '..s u... '" .D OJ ... U S :J "" s::: 'f. E ilJ _".3 ..j C '" s c.s c: :.. ilJ '!) 0 0- 0 -0 OJ N '2 ..-.l.5 S C .:. s::: r-: ..s. V'l 0on ::l 8 .:: d '" cG ...L 0 s::: .j '" ::l '- 0 Q 0. '" '.. -..s: oj 2 <. E 0. c..! b!J "'" ':i) 1) J) < E :... s::: ~ ilJ E E OJ ex: E ::l 3 «i c: o or..'.:.

u u E .:2 t1J ci .

:J 0 -_ -0 (!) E E <IJ ~ rl rc. .8 E . . -<.:t ":l1J U .....j .I xr: ll.-..-i c.D E :2 <I) E - ~ CU E -0 cr..c -o::l '" c:: :2 ..:: ro . -c-t - '" c.. 1. ~ ~ ~ .. r-I ~ E <!) -0 E :g (l) E (!) -0 ... 10: .:t (l) .~ .. (/J E :J :J ~ CI) . <IJ E '" (-.l < .) . (!) E -0 c <l..:: on -0 c...c ro . '" .3 ro 10: "/J .:.:.. -- CJ ro S .8 v c...E 0. ro 0 c.

gE V -0 ~ -0 .. §"'<t Z.... " ._ u ::l V ..c ::J :/l .."'2 :2 ... ::l ::l ""0..:1 'I. vc ..""2 EEE vv OJ QIJ"..0 . ***** .oj .._ :::l v) ._ ""0 E 0.l C ro 0.:: blJ C l.

.:.:. ~ d '" L. 0) a olJ . ?:i c -::J L >. c CJ < -r: ::l .. ." ':JIJ "l) !:>IJ "':l Q g(1) :-:l ~E .01 6.: d ...) . <":l c ~~ E -. . e:j -::J > .0 0 v "a <":l ct.. - ._) u '/J cj "3.. ':JIJ "0 <":l ::l :. ::l . E 0) -::J rl E V :? p') V .a :.. 0. .!2 C rr .... ..:: 00 ..._ 1- <':l ::l ':JIJ ..J >< ~ ~ ::c r I 'r W .:::: * = ::c ".. w 01)..... "3 .0 -'" £3 ::l '" '" .= Ui "0 cJ Q "J :r...c C.. o . .:: . :...) r.. ..:: ':JJJ + ::.:: W ::l '- .::..3 "0 ..::..... 'i..::. VJ '0. Q ..:2 o '...> "J: ..::. 00- :a ~ ~ oil d E o It) c es d 'w ~ ::l E !:: . >..-c: ':JIJ C .:: c:: c l. <":l -r: ..c: o blJ ::l d ::J c {"j c.0 W 'J o o OJ c ~ V 0/'.::: ....."j c:l Ui v ?:i <:( ::l o .:: :n +2~ c :::.o1J L..... '!J . .. OJ .:!t- E til) C d ::l c:: . 'X Cd . § 0. '" CJ1 >.. U C u c:.Q c-..£ ..-.. 0) + C:::> ~J .c. ::: X VJ 1> 0..

~ -' :2 «: -.I <I) v U P-.__) 0 ~ I I I I I 0 0 f----< c:c: c. . ~ ~ E Q) ::I 0- c: f-. '" '" ::I -oc V) 0::: oc > . d :::s '...j E E~~ c 'l) c: :!2 -::! c::I <1) Il) ~~ ::l <I) 'l)U Q... 'l) c::I c: c..... ~ c.. ~ '" d <1l C . ....: L. ~ '0 ~ ~ ~ --0 _:. 'l) ~ (J .. ::....! E ~ . 'l) <C C<l :":I v . « . .._ c Il) o. -<...c: c.i u 'l) 0 ~ -. .5 <1l ''::: ::I c >._ U) c ._ Vl '. L..> E ---:::J -- I I [f) oc '<':l :::s ~ (._: Q _.. . ':.. . -= .:: c: ..' Il) bJj >-: j._ . -0:. . -a ::I Q E 'l) --0 c '" . .><: L.... 0. . . u c-._ -<U _.) (/) 'l) "'0 C d ::I ~ <1) <1) . c 0 0... . C. ..:~ '" c::I <1) IJ] <1l .. C d ._ <1l -.~ r-t _----- ---------~ U ~ ---0 'l) -u -- E 'l) -t p:) E v v -q (.....0 -<: -"<: ~ G:I .. c::I c-.. P-. ---0 . <-:l c: 'l) . :::l .i « ~ ~ ~ ::I E Q . ? .0 '" ... '" ~ 0...t. E ....:: Vl "0 ?. U S . 'l) --. .. U G:I :. ~ C .U) <r: ~ U) ~ ~ P-.. E -c. -- '/l ~ :-0 .:1 Q <1) <l) '1) E .. d S C c: ._ ~ ~ . .. C 0 0..c: -.... 'l) <1l '(..- -u <':l 8 0 '-' '- c ~ Q.. c: -:...::...IJ s 0 Q. -!<: 0 -~ S ---a . . ..._g ro --0 E c: 'l.. .. . ::I .

o: ~ ~ < U) U) ::J 0.....:.G ..:: . ~ c:j 0 0. E ro >.:: «:l u0 1) :. . !.I] 'r5 (.. ..:..... >.. d ... 00 ..IJ 0.....":':: Q) c.0 0 .J Sfl ._ ro c: i:: '" «:l bO .:.>.E >. <Ll C ~ 0 0 ..:.... ~ o::l e.:..:.'" + :::1 «:l c . ~ bO... -~ .._ 13 'a c..:: ro .~ . 0 ~ r :g c'-..:.. '" t:: c E 0 = :I'J 1) '.:.:: c..J '" c..:: E 0 ·5 1) rJ) ~ ro Cii E "«:l t:: «:l t:: .::J :.. .>-..:: '" :::1 ~ .. c «:l ro ro ... '" .. V) .!>o!! .J .. 'lJ u ~. :I'J ... c:: . . ro ro ..:: c c: ro ~ =:.!>o!! "0 :::l.:3 E «:! .a ~ d ~ .:: E E ~ It: & & 8 .

Q.:: rr-r ..::: .r-r E rl E ~\Oo?E~ e .: c.._ 0 0.. ~ g_E § **** *** ~ <{ U ~ u.. z IX I..::.: < . ('Ij ~ v. +t- ~ 0- C fI7....:l < _] c ca rl cO v :.-..u: ("j s:: c ("j .:../) d ('Ij ~ 2..: CUN'-O ~ . ('Ij ·E c ..~ d g_ t ... U) -< c: .. u s:: 2: Z.U Z UJ f- ~ ~ .3 c '2 .::l C z: « »: cr. _'L O':l 0 E ::J t:: o d ..::l :: ..: . . _- )1 .

:::s ...._ .:::s OJ . ..\<: ro .. oc . ~r.-. ..:::s -5 . EE ~~ r I j ! I I Ii! ~ ('j .]. -'-' :. bll -cl o:! c.> c: <U ~ -0 U C\l OJJ <tI . OJJ .-S c"J §E .:::s . . 0J2 E c 0 "0 E~ 1) .. :::.. - r-- _- = - ~ - .....- o:! c: ttl t>IJ cG cG cr..0 ..\<: E co VI r/l 0-.J\ ..::s 'L.. co 8 "0 .'. \0 E <!) 0- '7 '-C 1\ E . <'0 ._.:::s U) . 1\ 0 L.:::s ~~ c: bi) 3: .:::s ..:::s .:::s CI..... 0. d ell dJ :d ~ ~ :::J c: OJ) c: ro .:::s .:::s ell .:l 0 o.. r- e::: c..J - 0 .. -c. c: ~ ~ ro c: "0 c: .:ot!.0 C <'0 ..\<: c: c: .~ .J .....0 0 ro "0 c: ::P @ ~ C <tI U -e ~ < '0 .... 0...~£ .... ell ro OJJ c: OJ c: ell c: t>IJ c: ~ <U 'ie ~ V 0.:::s Oi) eo c: 0. .... f-< ... 0.:::s 0.<'0 >.0 <'0 0 .\<: <U c: ro ZI C ~~ _.. 7 . ...:::s t>1l ~ ro V E c: ro ... Q.:::s '" -a :.:::s ...... -~ til 1:: E bI) .. - -- rl -('"r") -if...0 (\) v L.:::s ro c: bJ) ci .l g . .. '7 ("'1 t>JJ <!) -..0 V t-< ro ._.

... ::. <U :::l ". <J) ---~ c 'E... < ~ f-o r-..c (. 0 -L. blJ ::! c -bJJ c: v -c:J --::: '" . ~ E :r..: ("j 0. .. 0 0. "1 :::l q- <U or... 8 c 0..- V _c E Pc::: . ~ -::: ':J ....c t>1J oj ~ C'j Of) CL. 0..._.>-.. 0 '-..s < u -c ~ u -c::: (. c: V L..J ~ '" I.... L.2 ~ '01 0 . . ~ Q 0 Q) L.. V 0.. 0...-' . <U 81.Ll ('J r) CL. ..·.1 ('·1 > :E . ce./l IJ) I- a >< OIJ . C 0 L.0) L.. -c . U Vi .s: 01 c: oj > Cl ~ oil c 0) u ~ c Z 0' - - r- ~J .9 L.. c CL.....: < c c::: L...._.

.

0 '-'..l S QO <r) -< -0 "" .c: ::l . '"' S -B 2!l U B ::J ..-...... 0 N -0 > u J._] V '- ::: .c: ::J r.~ '" =' _:..-----..D 0 C m t: "2 0 .. " '" ::l .... '" c:r:: co Pp..:> (/J >-. E . '" C oil .!i!. '" ~ ~ 0:."6 ':.) -.. ..9 P. ..1- c-T 'n C ~) ... 00 '" t: 0:. ..f" oj) . " -..... -'<G . _c '3 r. ..:. (fJ . f-< '" _Y) '2: 0 0-. '" ~ Of) '" ~ 1) ~ t: ....:.. '-' v u. -0 t: r- m Ci Ci !I) '" '" Q "" Q E E '" CI ~ E .0 0 co 1"':.. -. . '" . ---t Cl ---t "7 ....c: .D '" 1) v: 1) U) ~ ~ '.::l .. =' .D :::l ..) en "J V1 N ....!L <l) 2 .-.!i!.. a 0 C OJ 0 E 0 e-...._.._: ....J E "" E '" E .::! "" r. '....5':! OJ) E 0.. C) </} .::l :l . ::l 0 '" II.2 -0 c-.) ..s: <'I ::l '" .-.5 "'1" ~ 0.'1 '1' -T -T 'n r-- . e ~ "" </J <l) >-.:: U \0 "7 u ...\) ~ z .!..D '" ~ ...l ~ f- ~ .. ::>: ._] ~ :J .. ~ .. r: C(J Cl ..r:: ro.::: Q .::> </J o "" ro '-' o. .. -0 .....:l -C > . § 'll !:: .. '" .:._] z Q) '" OIJ 0 c -e.: -'<: <1) '.5 ~ U ~ ~ ~ Q c U c: D bIl § 2 'J' "-' o: .. 0 0 E . '-" OJ s 0 Cil -T 'e . {F) <l> - ..!><: m o m 3 '" E ~ <l) . .l ..c: J::.D N '" 0 ..:3 co E ~ ~ 13 0 V5 ~ m '2 "" E » '" ..-. ._ ._ !I) . "fJl 0) ~ ...... z ...::: .. .. l . t: '-' OJ f-< 4" . 2 ~ ro on ~ <l) ·c -I<: .2 E . :_/....-< ro _.E:: <l> c :.§ '..-~~-~..-< . 0:.c ttl c m 0 '" ~ .:: "2 ._ ::l !:: :::l E v ~ L. -0 E .:i -0 '" 0- :.!i!. iii ~~ eo !I) <l) '" .:: -0 'i.D .

.. Q....s: ::J Ol '.) ~ C () n..J 0. s::: oj E c: N 'D c: Ol :0 U !l. E . c: ~ D ii: In ?: -0 Ir.. '" .::<: !l.... .. UJ ....:: -5 c: ro 0 -0 Ol c:: -0 <'l 'B V 0- '" ~ <'l =' . =' .0 z -< 0 z .2 .) !l. . -0 !l.0 ~ 'c. :::l V 0 '" c: ::J :.... 0 C ~ ~ !l.... Ol ._" V "" ...) '.) 0:.!! t>IJ ro t>1J C >. E ~ .:: ..:: ..::<: V :..:J ti:i v > <a > ro <'l 0. 0 c c E -0 Ol <:l c..J c: 0:: u :S c: t:: (\1 ..: !l.S: 0...) 0..... 'r...) '... £ .::.....g c: ..E < 13 :::l U '" 2 C blJ IV ..! c.::. ::l ao ..:.::<: Ol IV > _. <l) ::l en -- u - ....:J (\1 v I!) .2. -0 ~ !l.0.) 5 ::. 0 _C.. >. 0 '..::<: . .. -0 <l) s::: r::: ro . -0 ...."... 0 '1... -0 =' s::: es :E C <OJ =' ..c .. Ol E v :::..) > == c .::<: oj ..: E E t:: ::l 0...c .3' '" ..~ c e:.. ~ ~ <'l E 0.2 I-Ll ::£! C -r: OJ c: Ol .. ..) tr) 0..) ..: ::J .c ~ E !l.. !l. E c C 4: c: Ol C -0 N oj c: -'" c c...0 !l...0 Ol .. ::l t>!J t:: 'EO t>IJ 'EO t>IJ . 'a >.D . . Ir. .......... :E =' M .... f:d '" c..l t:: ..J V E .... 0 I::: ::E .J > UJ 7.::<: Ol '" .) ~ oj c-.... . ::E ..c 13 .::<: ~J '. >......... -.2'. c: .. '" ::l ::l 0 ~ c: Ol 'B <l) c -a eu '" 0 E v C VI Ol ~ ~ C . 0. c: :t: 0 .s U -< ..r 1("'.. 0 '~ f--' r-r..) oj 3 t:: ::l '0 .!. !l.::<: !l..... U '" c: 0 . ~ ill 'n > 11J ... 0 p.D .) E . E on oj "2 "" <l) -a '" ....l 4: -0 <l) D c: Ol ::J .. Ol c: '" ::::1 . .r: =' on ..§ ~ '" ~ '5 0.J . I!) . 'C oj ..>-.....::<: '.: I!) ..: Ol ~ '" D t>1J 'C 2:! on <l) 0:......l 'n "..) Q. .c CO ~ Cl V :>-: o .::.. . 0.. § c . c E .... "-' V} D -0 0 oJ) :":l .) a '- 0. 'z:J 01.) ::l ~ ~ D c...0 .

gagal ginjaJ. yang digolongkan sebagai kejadian akut lebih baik daripada yang dengan pcnyakit keganasan. Sekarang dikcnal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kernatian klinis. mungkin kareria mcdis cepat mengenali masalah ini dan trIah disiapkan untuk menangani hal irri. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henri sirkulasi akan rnenyebabkan disfungsi serebral dan kernudlan organisrnik (dengan kerusakan sel ireversibel). sehingga pemeliharaan perfusi serebral rnerupakan tekanan utarna pacta RJP. st"r . Jadi pneumonia. Pasien dengan penyaki. Sejauh in! tindakan resuailasi yang dirnulai secara dini merupakan satu salunya faktor yang dikc. Walaupun persentase pasien-pasien yang tanda-tanda vitalnya berhasil dipulihkan lumayan (60%). Di sampaing itu pasien yang resusitasinya mernerlukan waktu lebih dari 30 rnenit biasanya tidak bertahan hidup. hipotensi.dlUi mernpengaruhi kelangsungan hidup dan hasil neurologik. Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk mengadakan kembali pembagian substrat sernentara. neurologik atau stadium akhir. tak bergantung pada ternpat dilakukan resusitasi. lakartu PENDAHULUAN Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir.. serebral dan organismik. sehtngga memberikan waktu untuk pemulihan fungsi jantung pam secara spontan. Usia lanjut tidak menyingkirkan hasil yang balk. Resusitasi yang berhasil (tanda vital kembali) terjadi pada 27-49% kasuskasus di rumah sakit dengan angka kelangsungan hidup yang dilaporkan sarnpai 17% urituk 1 bulan dan 10-14% untuk 6 bulan dalarn suatu penelitian prospektif. maka kematian tidak lagi dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. kanker dan gaya hid up terikat di rurnah dengan pra henti (prearrest) disertai dengan mortalitas berrnakna setelah RJP. namun pasien-pasien yang mendapat resusitasi di leU mernpunyai prognosis jangka panjang lebih baik daripada yang di baugsal-'.LAMPIRANV· RESUSITASI JAI-\jTUNG PARU Bagian Anesiesiologi Krdoktemn Uniuersitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Cipio Mal1gunkusuTI1o. Selang waktu dad henti sirkulasi sarnpai nekrosis sel terpendek pada jaringan otak. Pasien yang menalami he nli janlung pam di leU mempunyai hasil yang lebih baik.

asidosis : syok dan listrik. Sebab henri 1. anafilaksis). kanula trakeal tersurnbat. infark embolus paru. 4) dcfihrilasi dilaksanakan pada stadium dini. defibrilator hendaknya dised iakan lebih banyak untuk dipilk. 2."nkell1iltian yill1g terjadi di luar rurnah saki! eli sebabkan oleh Iibrilasi ventrikular. otak. sekitar C. Kebanyakan henti jantuog yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskernik. pipa trakeal terlipat. Sindrom di jalan nafas. aspirasi. Anestesia bola mala.li . Depresi a. neurogenik. benda digitalis. b.O%di antara UJ11ur pertengahan dan yang lebih muda. 8. tenggelam. 6. tumor Perifer jal1fung rcndah. henti [antung. penyakit Sentral: obat-obatan. penekanan/penarikan medis. Ernpat puluh persen mati rnendadak dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu 1 jam setelah dimulainya gejala-gejala. peregang<lll pembedahan. otot. toksik. 3. sumbatan trisiklik.Seb ab He nti Jantung Henti jantung pam. Penyakit kardiovaskular : pcnyakit jantungiskemik.l yilng tcrlatih Hcnti jantung terut.(I) Paru Sebab henti nafas. 5.lieh Il"n. lidah yang jatuh ke belakang. 2) ada )'rlllg mulai melakukan resusitasi. noda sinus sakit). sfinglcr ani. diagnostik rendah. setclah : obat pelumpuh (cardiac arrest) poiiomielitis. 7. (I1P"(. pa02 tengelam. miastenia pnC02 gravis. akut : henti nafas. 1. 4. suatu kondisi yang potensial reverxibel. perdarahan). kelainan akut glotis dan sekitarnya (sernbab gIotis.lg. Terapi dan tindakan Syok (hipovolemik. miokardial akut. Gangguan oksigen dosis obat: isoprenalin. kalsium serum tinggi. Lebih dari 90'. fibrosis pada sistern konduksi Adams-Stokes. Refleks vagal'. tinggi. 9. 3) irarna y<1ng timbul adalah fibrilasi veut riku la r. propoksifen atau jalan oleh sekresi. Angb kclangsunga n hidup dnri henti janlung optimal hila 1) peristiwa ini disaksikan. dan proporsinya lebih tillggi. quinidin. Penekanan hcndaknya ditujukan pada defibrilasi dini dan tidak mcmandang perti rnbangan-pertimbangan lain. pernafasan : intoksikasi. antidepresan magnesium Kecelakaan asam-basa/elektrolit : kalium serum yang tinggi serum rendah. Kekurangan Kelebihan adrenalin. Surnbatan jalan nafas : benda asing. 2. (penyakit asing Lenegre.ima pada Sf! .

4. 3. Pada beberap a keadaan RJP yang dilakukan dengan benar dapat mempertahankan kehidupan sampai 1 jam sernentara terapi untuk kondisi/ penyakit utama sedang diberikan. Henti nafas atau megap-megap Terlihat (gasping). Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila dijumpai keiidaksadaran dan tak teraba denyut arteri besar! 1. Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan peluang untuk hidup.orang muda. Infark jantung Serangan Hipoksia Keracunan Sengatan akut. dan kelebihan listrik. seperti mati (death like appearance). 6. 3. 6. Diagnosis henti jan tung A. 7. 4. Resusiiasi hams dilakukan pada : 1. Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung). dan karotis pada orang Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dewasa atau brakialis pada bayi). 2. 5. lain yang masih rnemberi dosis obat-obatan. Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak rnenghasilkan nadi yang dapat diraba. B. Wama kulit pucat sampai kelabu. dapat disebabkan oleh kausa selain penyakit jantung iskernik. 5. "kecil". Refleks vagal. 2. Gerakan kabel EKG dapat menyerupai mula I saja RJP ! Bila :agu-ragu. Pupil dilatasi (setelah 45 detik). Tanda tanda henti jantung 1. Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut tidak ada kontraksi rnekanis. denyut rneskipun irama yang tidak mantap. 3. terutama pad a asfiksia. 4. Adams-Stokes. 2. yang mengakibatkan "kernatian listrik". Kapan resusitasi dilakukan/tidak dilakukan A. ')') .

Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi. tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup Jebih lama lagi. Kernatian normal. 60 . 2. 3. seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat. Pada keadaan ini denyut jan tung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. yaitu sesudah ~-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP. ketika tidak hanya jantung.B. Resusitasi tidak dilakukan pada " 1. Upaya resusitasi di sini tidak bertujuan dan tidak berarti. Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih.

Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan mhs tetap terbuka. Pada korban yang tiba-tiba kolaps. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan : penentuan tidak ada respons. Penilaian tahapan BHD sangat penting.pernbukaan jalan nafas. Tindakan resusitasi (yaitu posisi. penolang mengekstensikan kepala korban 61 . Pada metode ekstensi kepala dan angkat Ieher. Ini ditentukan penilaian yang tepat. O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalarn organ vital akan habis dalarn beberapa detik. ~ A : Airway Galan nafas) Sumbatan jalan nafas olen lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering tirnbul pada korban tidak sadar yang telentang. Bila terjadi henri jantung primer. tidak ada nafas dan tridak ada nadi. Henti jantung dapat disertai oleh fenamena Iistrik berikut : fibrilasi ventrikular takikardia ventrikular. hendaknya korban diletakkan dalam posisi telentang dan ABC (Airway. jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. asistol ventrikular atau disosiasi elektrornekanis. Bila tidak dijumpai tanggapan. Gambar 1 : Pertolongan pertama L_ .BANTUAN HIDUP DASAR (BHD Basic Life Support) Bila terjadi henti nafas primer. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aklifkan sis tern pelayanan medis darurat (lihat gam bar 1). kesadarannya harus segera ditentukan dengan tindakan "goncangan dan teriak" yang terdiri dad : menggoncangkan korban dengan lembut dan mernanggil keras-ker as. nafas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. Resusltasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi.Breathing & Circulation) BHD hendaknya dilakukan.

kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas (lihat Gambar 2). kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan. Metode angkat dagu dan dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher. Korban yang tidak sadar dan bernafas spontan dengan ventilasi adekuat sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi (gambar 4). pada korban dengan dugaan patah tulang leher. Bila ventiIasi adekuat. Pada metode ekstensi kepala dan dorong mandibula. Akan tetapi penoIong mungkin hams menarik bibir bawah korban dengan ibu jari. Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling arnan untuk mernelihara jalan nafas atas agar tetap terbuka. Gambar 2 : Membuka jalan nafas Gambar 3 : Menentukan tidak ada nafas Gambar 4 : Posisi sisi rnantap 62 . pasien perIu diberi O2 lewat kateter nasal atau sungkup muka.dengan satu tangan sernentara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban. tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis). Pada metode ekstensi kepala angkat dagu.

1200 ml pada orang dewasa) setiap 5 detik. Hentakan dada dilakukan pada korban yang telentang. Pada tindakan jari menyapu. Bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. Di sini. faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. sebagai tambahan.Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher. 63 . teknik dorong mendibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara paling aman untuk membuka jalan nafas. korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya. Pada beberapa pasien ventilasi mulut-ke-hidung (lihat gambar 8) mungkin Iebih efektif daripada ventilasi mulut-ke-mulut. 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kornpresi dada pada resusitasi yang dilakukan cleh seorang penolong dan 1 nafas dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh 2 penolong. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi (lihat gambar 9). penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban. Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun. Bila denyut nadi karotis tak teraba. korban hanya digerakkanldipindahkan bila memang mutlak perlu. keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalarn satu gerilkan menyapu.5 ·2 detik). penolong dapat merasakan tahanan dan kekembangan (compliance) paru korban ketika diisi. diperlukan ventilasi buatan. Bila denyut nadi karotis tak teraba. melalui bagian belakang faring. Bila ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka. Untuk melakukan venti1asi mulut ke mulut penolong hendaknya mernpertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan dua jari atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong (lihat gambar 6). dengan amplituda yang cukup dan ada udara keluar rnelalui hidung dan mulut korban selama ekspirasi.penolong hendaknya segera menilai apakah pasicn dapat bernafas spontan. karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800 1200 ml pad a orang dewasa) setiap 5 detik. B : Breathing (Pernafasan) Sctclah jaran nafas terbuka. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan be n d a asing.~alnbar 10 dan 11) aiau hentakan dada (chest thrust). selama pernberian ventilasi pada korban. 2 kali ventilasi dalam (800 . hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust gerak Heimlich) (lihat I. Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam (1 kali nafas = 1. Kernudian segera raba denyut nadi karotis (lihat gambar 7) atau femoralis. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban dan mernperhatikan gerak nafas pada dada korban.

Gambar 5: Tanda distress universal untuk surnbatan jalill1 nafas oleh bend a asing Cambar 6 : Ventilasi mulut-ke-mulut Cambar 7 : Meraba denyut arteri karotis .teknik ini sarna dengan kompresi dada luar. (3) reposisi pasien. Urutan yang dianjurkan adalah : (1) berikan 6~10 kaIi hentakan abdominal. buka jalan nafas dan cob a beri ventilasi buatan. (2) buka mulut dan lakukan sapuan jari. Urutan ini hendaknya diulangsampai benda asing keluar dan ventiJasi buatan dapat dilakukan dengan sukses.

-~-~----.-~----~-_-----._- Gambar 10: Hentakan abdominal (gerak Heimlich) pada korban sildar Gambar 11 Hentakan abdominal tidak sad ar (gerak Heimlich) pad a korban .Gambar 8 : Ve ntilasi Blulut-ke-hidung Cambar 9 : Ventilasi mulut-ke-stoma ----.----..~- -~----- --~--.-.- --_---_ .

lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban. cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin (4-6 1A1g/kg BB LV) atau adrenalin (0. kornpresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80-100 kali per menit dan pernberian 1 X vcntilasi dalarn (1. 15 kompresi dada luar (Iaju : 80-100 kaliimenit :co 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalarn (2-3 delik). dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). perlu dilakukan intubasi trakeaI.hj nuk.IM.. Bila ada 2 penolong. Pernberian ventilasi buatan dan kompresi dada Iuar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini. Bila ada sumbatan benda padat dalam salah satu bronkus. Jadi 15 kali kompresi + 2 ventilasi harus selesai maksirnal dalarn 15 detik. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. Setelah kompresi hams ada relaksasi. buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring.Onii'tl". Dianjurkan lama kompresi sam a dengan lama relaksasi. sebagai alternatifnya ialah krikotirotomi atau fungsi membran krikotiroid dengan jarum berlurnen besar (misal dengan kanula intravena 14 G). Dengan jari-jari terkunci... BHa tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakeal. penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm (lihat gambar 12). SeIanjutnya bila masih ada sumbatan (ada di bronkus) maka perlu tindakan pengeluaran benda asing (padat.tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 [ari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. j'. [adi .5· 2 detik) oleh penolong kcdua sesudah tiap kornpresi kclilll<!. rnemerlukan tindakan bronkoskopi. pasien.IV). Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar (periksalah arteri karotis sesering mungkin) merupakan tanda utarna henti jantung. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Bila ada satu penolong. Korban hendaknya telentang pada permukaan yang keras hila kompresi dada luar dilakukan. Hcnti jantung adalah garnbaran klinis berhentinya sirkulasi mendadak yang terjadi pada seseorang yang tidak diduga mati pada waktu itu atau penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh atau harnpir utuh.3 mg Sk. Dalam I menit minimal hams ada 60 kompresi dada dan 12 nabs. Bila dengan ini belum berhasil. Dalarn l menit harus ada 4 daur kornpresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kornpresi dada dan 8 nafas). . tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban. Sementara itu pasien perlu diberi terapi 02.j + 1 lcnli. C : Circulation (Sirkulasi] Bantuan ketiga RBD adalah menilai dan mernbantu sirkulasi. ternyata masih ada sumbatan jalan nafas.Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ckstensi kepala. Penolong berlutut di samping korban dan rneletakkan pangkal sebelah .im:1J dalarn 5 detik.

Kompresi dada harus dilakukan sccara halus dan berirama. . Pcmbcrian ve nt ila s i ha rus lcb ih keeil vol u rnr-u va d a n fre kurnsi vcntiJasi harus dilingkatbn llwnj. tranportasi (naik turun tangga). Bila tidak ada.75 ~5 em ·IJ<". pantau pernafasan ketat.1 d.11). Kepala hcndaknya dijaga dalam posisi netral selarna diusahakan mernbuka jalan nafas pada kclornpok ini..lllg berlebihan dapat mcnyebabkan sumbatan [alan nafas pada bayi dan anak keril. dan bcgitu seterusnya. kecuali pada waktu intubasi trakeal.ltnb. Sesudah 4 daur komprcsi dan ventilasi (rasio 15 : 2). lakukan reevaluasi pasien.til~ u nl u k bnvi d. lakukan nabs buatan 12 kali per menit dcngan kclat.j m u lu l-kc-rn u lut "tall mulut-kc-hidung. mulai lagi RJP dengan 2 venrilasi diiku ti dCllg<l1l 15 kornpresi Bib ada dcnyut. Pilch bayi dan anak kecil vc nl ilasi mulut-ke-rnulut dan hid ung lebih scsuai drnipada vcnti li1 c:.. Periksa apakah denyut karotis sudah tirnbul (5 dctik).). Bila ada._1 Tekriik pada bayi dan unak-anak Prinsip BHD pada bayi dan annk adalah sarua dengan pada orang dcwasa.. Akan tetapi karena kctidak-sarnan ukuran. Kornpresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik sctiap kalinya. Hila dibkukan dengan benar.ldll vc-nt ilasi li. diperlukan mod ifikasi teknik yang d isebutkan di atas : L Ekstensi kepala y._---"~_Gaya lengan (belakang) L--_~~~ __ ~ ~ . kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 rnmHg pada arteri karotis. Bila RJP dilanjutkan. dapat sampai 15 detik.'i" I ~.1I1 4 d ct ik untuk an.:-' 2. " Upstroke" 3.ik-ana k (lihat F.. (. Bila tak ada. lanjut kan deng<1I1 langkah berikut.. Periksa pernafasan (3-5 detik).. sudah tirnbul nadi dan dan nadi dengan dan pantau nadi apakah sesudah bebcrapa menit dihentikan dan periksa nafas spontan.

__ ---------_ 68 . Gambar 14 : Pukulan punggung pada bayi --~. -~--.. dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai.-_. -- -------_.. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang._..-.~. _-" .-- ._--_ . kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong (Iihat gambar 14)...Gambar 13 : Ventilasi mulut ke mulut dan hidung pada bayi 3. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban teJungkup melintang di alas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan.

5 . 69 . Penekanan sternum 1. pernberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pad a bayl dan 80 kali per menit pada anak-anak. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi seJaJu 5 : 1.2/5 em efektif untuk bayi.4 em. hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada Juar (1ihat gambar 16). Dasar henti jantung da- Penilaian Hasil Bantuan Hidup ABC RJP yang dilakukan pada korban yang mengalami pat mernberi beberapa kernungkinan hasil : 1. 2. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalarn rongga toraks pada pasienpasien muda. kompresidada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pad a 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak (lihat gambar 15).4. ini dapat disebabkan karena pertolongan RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi tidak betul pelaksanaannya. Korban dinyatakan mati.5 . Pada anak yang lebih besar. Selama henti jantung. Gambar 15: Letak jari pada kompresi dada bayi Cambar 16: Letak tangan pada kompresi dada anak 5. Korban menjadi sadar kembali. tetapi pada anak diperlukan penekanan 2.

n. dan 10 detik.A. fGI' ~~"&f1I of Sod9fJ' Sr:te.f\II"D..r'IOo08-'lnl'l:!l.t~: 1hto~Courd{lJ1Q ~8oci«ydCatdiQlogy "iflo'liah ard l.ks Lignokain!100 Detib.... Jangan henlikan AJP leb!!.(Jalan nalas) buka [alan nafas Tidak ada natas Wt Breathing (Bantuan nalas) ~. kecuali untuk defibrilasi.rn-ivll eM..all:lt'"''''~~ o.. .h SoDe!..jd C.emi~sm. lain -lain Pertimbangkan terapi spesjjik untuIc .I._ .RESUSITASI JANTUNG PARU Tidak resp~ ...II..h 70 .i. lignokain alau atropi" lewat pipa trakeat. FinnJ!Jh S~.ry or (lj oi Ir'II·11l. -pona~j<ont""II .:. 360 J + Per1Imbangkan kalsium klorida (10 milO %) ..-u... :·~m ·~mia antaQ0nJ5 & ·~.tHbu • __ ..c SC."~I.I akltvitas rl$lr'i. pertimbangkan pemberian adrenalin dosis ganda.Iy rII A.. Cardi. O~r'IfV.0. bantuan Tidak ada nadi A 1 : • blpowJemla Circulation (Bantuan si'kulas~ RJP ~ ~ Adrenalin 1 mg IV Defjbrilas~ 200 J Defibri)aS~ 200 J Defibrilasi 360 J mg IV Adrenalin 1 mg IV Atropin 2 m~ IV Pertimbangkan pemaCl'an janlunll Jlkl 8138 geiomDaPTg P 81BI..ilasi poIfU . I... Airway ..~ $cIWty M. Jlka tidak dapal dipasang jalu. Sw«IIItI ~ ~'-rI Firnit. re Car<1i~"Q" .. .. kalStum Ulang (lefibJjl~si 360 J F'E'rtimbangkan •• & l • """alean _lIasllaln befi 0fJa:I anli aritmilc - pOOiOi padeI Lanjutkan RJP selama 2 menlt sesudah liap kali pemberian cbat..V.

tetapi korban belum pulih kesadarannya. kecuali kalau korban hipotermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umUID. 71 . normotermia. 3. bisa tidak. korban dapat dinyatakan mati bila setelah dimulai resusitasi korban tetap tidak sadar.Dalam keadaan darurat ini. serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 menit atau lebih. pertolongan resusitasi tanpa resusitasi otak biasanya tak dapat memulihkan fungsi susunan saraf pusat (SSP).Bila henti jantung telah berlangsung lebih dari 10 menit pada orang dewasa. 4. Korban belum dapat dinyatakan mati dan belurn tirnbul denyut jantung spontan. Dalam hal ini perlu dibcri pcrtolongan lebih lanjut yaitu bantuan hidup lanjut (BHL) Denyut jantung spontan tirnbul. Nafas spontan bisa ada. tidak timbul nafas. spontan dan refleks muntah (gag reflex).

sirkulasi sponlan harus d ikembalikan sedapat mungkin. syok listrik (langkah F) hendak nya jangan sarnpai terhambat oleh langkah 0 dan E dan mcndahului Iangkah-langkah A-B-C. Biasanya untuk BHL diperlukan memberian intra vena (IV) obat-obatan dan cairan (Iangkah D). BHL juga mencakup R]P dada terbuka untuk indikasi spesifik. Memang ada risiko bahwa aritmia ventrikular akan kambuh lagi. R]P eksternal langkah A-B-C (BHO) dirnaksudkan sernata-mata sebagai tindakan sementara mernpertahankan viabilitas otak ke jantung. karena RJP ekster na I hanya merighasilkan al iran d a rnh yang sangat minimal untuk kebutuhan. dalam urutan-urutan yang bervariasi bergantung pada keadaan. E dan F yang diperlukan kalau nadi spontan kernbali segera sesudah dimulai ventilasi buatan dan kompresi dada. diagnosis elektrokardiografik (Iangkah E) dan penanganan defibrilasi (Iangkah F). Tidak perlu dikatakan. Pukulan prekordial telah dianjurkan kernbali . pintasan jantung paru darurat yang penggunaclllil).Bantuan Hidup Lanjut (BHL Advanced Life Support) Yang dimaksud dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Lanjut pada makalah ini adalah fase II Resusitasi ]antung Paru Otak.it yang relatif tidak krampil Tcknologi terbukti handal dalarn prakn-k dan sekarang ini lid. Lagipula efek proaritmia mungkin saja timbul dengan sernua intervensi yang sukses dan hanya diperlukan waktu sebentar saja untuk melaksanakan manuver tersebut. pada fibrilasi ventrikular yilr1g terjadi ketika EKG pasien sedang dipantau. transport oksigen oleh RJP langkah A-B-C. Defibrilasi sedini mungkin dengan restorasi sirkulasi sponran merupakan kunci optimasi peluang untuk mendapatkan hasil serebral dan hasil keseluruhan yang baik. tidak satupun langkah 0. sebab defibrilasi dapat dilakukan dini oleh tenaga darur. Dengan adanya ddibrilator cksterna l scmiautomatik dClI1 autornatik maka terjadilah perbaikan dramatik dalarn hasil RjP. [adi. seja lan dengan bukti-bukti keampuhannya pada takikardia ventrikular atau fibrilasi ventrikular yang baru saja timbul. harus dipertahankan dengan interupsi sedikit mungkin. selama upaya mengembalikan sirkulasi spontan. yang mungkin tidak adekuat untuk mempertahankan otak dan jantung tetap hidup lebih lama dari beberapa menit.<1 rnasih eksperimental dan Bantuan Hidup Trauma Lanjut (BHTL). tetapi kerugiannya hanya sedikit bila henti jantung tersebut disaksikan. Mungkin juga. merupakan tindakan darurat satu-satunya yang ada untuk henti jantung di luar rumah sakit.]k ad a Llgi alasan Il1cngapil setiap perawat . seperti sering terjadi pada henti jantung (cardiac arrest) sekunder terhadap asfiksia. narnun sekarang ini. namun hanya untuk henri jantung yang d isaks ik an atau dipantau. RJP Lanjut atau Bantuan Hidup Lanjut (BHL) terdiri dari upaya-upaya untuk mengembalikan sirkulasi spontan yang adekuat. Setelah dirnulai Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau fase J RJPO (Iangkah ABC).

Cara pemberian : IV. Bila setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. Defibri1ator/pemacu jantung yang ditanam bermanfaat pada pasien berisiko tinggi namun biaya mungkin merupakan barier relatif pada banyak negara. Adrenalin dan cairan). maka resusitasi diteruskan dengan : D : Drugs and Fluid (Obat-obatan Tanpa menunggu 1. intratrakeallewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 1 0/00. Diulang tiap 3-5 menit dengan dosis sarna sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. Probe ditinggal di esofagus dan defibrilasi dapat dikerjakan dengan eepat pada pasien yang dipantau (monitor) dengan memakai energi listrik yang jauh lebih keeil. BHL rnemerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat-obatan. dieneerkan dengan 9 ml akuades steril.0 mb (dosis untuk orang dewasa). diberikan : hasil EKG dapat langsung : 1. darurat Defibrilator automatik telah terbukti manfaatnya ketika digunakan oleh famili pasien berisiko dan oleh petugas pesawat terbang dan kereta api. 73 . Harus ditekankan bahwa BHD harus segera dimulai bila diagnosis henri jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai BHL diberikan. Prosedur BHL berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pad a diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung.jaga di ruangan dan setiap petugas ambulans yang menangani panggilan tidak dapat rnelakukan defibrilasi sebelurn kedatangan staf medis. Pemberian adre-ialin sebaiknya lewat IV. karena ini lebih baik daripada lewat pipa trakcal. kecuali bahwa tingkat energi sesuai dengan standard yang ada sekarang untuk kalibrasi defibri1ator modern dalam energi yang dikalkulasikan. Tidak ada modifikasi pada pedoman yang dianjurkan untuk defibrilasi. Penggunaannya dapat diperluas ke pimpinan gelanggang olah raga dan kompleks pertokoan dan sebagainya. 10 meg/kg pada anak-anak (menurut AHA). Rute transesofageal untuk defibrilasi telah dipakai pada pasien di unit perawatan koroner. bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin : intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih).

dan kasus pediatrik sangat menyerupai model binatang ini. sebab kalau tidak. 2.2 mg/kg hendaknya diulang Hap 3-5 menit jika perlu. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal baru. karena risiko perdarahan intrakranial). Bila hanya ada rute endotrakeal. Di sini dipasang infus intravena sesuai indikasi. kendati dapat dipergunakan bersarna dengan adrenalin pada pasien yang gagal berespons terhadap ventilasi. alkalin lebih dominan berada di ekstraselular.1 mg/kg untuk rnencapai kadar d arah yang adekuat. henrlaknya diberikan dosis standard awal D.1-0. E: EKG r 7 as isl ol vent rikular ? kompleks Fibrilasi vcntrikula elektromekanis) ? aneh ? (diasosiasi . seterusnya dalarn 3-5 menit diberi lagi dosis 0. Cara pemberian hanya IV.Untuk henti jantung pada anak-anak. Oasis selanjutnya sebesar 0. Dianjurkan pula pernberian 20 ml bolus cairan nonglukose isotonik pad a penanganilI1 henti jantung pediatrik untuk mengatasi syok. Rute endotrakeal kurarig bagus penycrapannya. asidosis intraselular justru bertarnbah. Oi lain pihak. Tidak ada data meyakinkan tentang dosis atropin dan lignokain lewat endotrakeal. Penggunan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusirasi yang lama. Dipertegas lagi kelebihan manfaat dosis standard adrenalin daripada atropin pada bradikardia. Sangat dianjurkan pernakaian rute IV. Karena itu AHA menganjurkan pada henti jantung pediatrik. dan bahwa natrium bikarbonat bukanlah obat lini pertama pada resusitasi pediatrik. termasuk intraoseus. Natrium bikarbonat : dosis <1w<11: 1 mEg/kg (bila henti janlung lebih dari 2 rnenit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0. CO2 yang dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jib CO2 tidak diangkut olch respirasi. Narnun dianjurkan hanya pada korban yang diberi ventilasi buatan yang efisien. suatu penelitian prospektif dengan mernakai kontrol retrospektif menyarankan kemanjuran adrenaJin dosis lebih tinggi. Juga dianjurkan tidak dipakai isoproterenol untuk henti jantung. Penelitian menunjukkan kemanjuran dosis tinggi adrenalin pada binatang dengan pembuluh koroner normal. terutarna pada kasus trauma bila upaya lainnya gaga!. oksigenasi dan kornpresi. pernakaian dosis tinggi adrenalin dapat dipertimbangkan bila dosis standard awal tidak efektif. dosis adrenalin hendak ditinggikan sarnpai 0.1-0.5 mEg/kg sampai tirnbul denyut jantung spontan atau mati jantung. tidak berkurang. Selain itu.Olmg/kg adrenalin.2 mg/kg (Akan tetapi pernberian dosis tinggi adrenalin ini tidak dianjurkan pad a neonatus.

syok lagi. dan beberapa di antaranya (misalnya barangkali vektor gelombang) akan bervariasi dari waktu ke waktu. Karena tidak ada data klinis yi'lng relevan. Akan tetapi.kkan bukti yang meyakinkan bahwa adrenalin meningkatkan sirkulasi screbral selarna bantuan hidup dasar . Semen tara bukti yang memujikan adrenalin sebagai obat yang bermanfaat untuk defibrilasi tidak lebih baik daripada bukti yang memujikan lignokain. Lagipula observasi eksperimental mengarahkan bahwa fibrilasi menjadi makin refrakter terhadap terapi listrik sesudah pemberian lignokain. Iadi. kalau perlu diteruskan dengan tetesan infus (1-4 rng/menit).F : Fibrillation Elektroda sternum Defibrilasi treatment dipasang atas. Bila belum berhasil dosis bretilium dapat ditinggikan 10 mg/kg sampai dosis total 30 mg/kg. berbeda dengan setting klinis.100 Wsec (pad a bayi). pendapat ini tidak pernah ditunjang oleh bukti klinis y. 50 . Lignokain terbukti manjur dalarn mengobati takikardia ventrikular dan untuk pencegahan timbulnya fibrilasi ventrikular. dan dengan ekstrapolasi banyak yang percaya bahwa obat ini berrnanfaat untuk defibrilasi. meskipun diakui bahwa substrat untuk aritmia pada setting eksperimental.lIlg meyakinkan. Ulangi syok. terdapat atribut lain yang membuat dimasukkannya adrenalin lebih dini dalam algoritma. Pada kenyataannya defibrilasi berhasil hanya setelah diberikan lignokain. Resuscitation Council (UK) memutuskan untuk rnengikuti bukti eksperimental. kita sernua maklum bahwa konsep ambang rangsang defibrilasi sederhana adanya. bila memenuhi kriterianya. Namun. Menu rut perkembangan terakhir. syok keempat dalam suatu sed mungkin saja berhasil menghilangkan fibrilasi setelah sebelumnya gaga!. tidak bergantung pada pengobatan yang diberikan. anak) . Banyak faktor yang menentukan apakah syok akan berhasil atau tidak. Adrenalin telah menggantikan Iignokain sebagai obat pertarna . IV. Ulangi syok balik (countershock) bila perlu. 100-200 Wsec (pad". di sebelah kiri puting susu kiri dan di sebelah kanan luar : arus searah : 200-300 Wsec (Joule) (pada dewasa) . Bila belum berhasil beri lignokain (lidokain) 1-2 rng/kg IV. Bila bel urn berhasil bed prokainarnid 1-2 mg/kg. Percobaan p"da binatang mcnunjt. ( Terapi fibrilasi). ada perubahan dalarn urutan obat-obat yang hendaknya diberikan jika fibrilasi ventrikular gagal untuk berespons terhadap 3 syok pertarna (200-200-360 Joule). Syok lagi. Bila ini juga tidak berhasil maka dapat ditegakkan diagnosis kematian jantung.. Bila belum berhasil bila bretilium 5 mg/kg IV. Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia sa at ini.

u n a. karena syok hemoragik merupakan kausa penting nadi yang tidak teraba dan ini tidak boleh dirernehkan. Terdapat perubahan asistole. Resuscitation Council (UK) t id ak m enya takan b a hw a ad renalin juga meningkatkan kernanjuran syok arus searah. Kelainan listrik biasanya pengobatannya anjuran untuk korban yang narnpak irnplikasi prognostik yang berat. Bila penolong merasa bahwa kemungkinan fibrilasi tidak dapat disingkirkan maka hendaknya diberikan 3 syok sebelurn algoritma untuk asistole yapg sesungguhnya dimulai.(.lIsiL1Si y. dan rnengecewakan terutama pada penyakit jantung iskernik. Karena itu tujuan utarna adrenalin pada saat itu adalah untuk mernpertahankan perfusi serebral selarna upayil resusitasi yang lama.. atau jika kontrol gain pada elektrokardiograf dirnafikan. Oosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg IV. Dosis kalsium glukonat 1000 mg i. atau jika fibrilasi ventrikular sangat halus. karela korban narnpaknya tidak mernpunyai peluang hidup yang lain Jagi. Jib diagnosis ritrne akurat. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan alai. sampai rn e leb i hi -. Bila pada EKG : asistol vcntrikular atau disosiasi elektromekanis : Ulangi 0. bila perlu diulang tiap 10 menit. . tidak dibatasi jurnlah syok untuk mcnghilarigkan fibrilasi tersebut.\-. tetapi bersarna-sama dengan obat anti aritmik lainnya.m. atau jika vektor gelombz!ng yang dominan bcrada pada sudut kanan terhadap hantaran diagnostik bipolar.I dan 2 obat ( ~ syok ke cmpat) diberikan. Posisi padel yang diubah d an pemakaian defibrilator lain hendaknya dipertimbangkan. penting pada ini mempunyi Pada disosiasi elektromekanis. l.lngan adrenalin dan natrium karbona! dianjurkan u nt u k rt. Pernah terjadi kesalahan akibat salah diagnosis asistole pada korban dengan fibrilasi ventrikular. kalsium dan vasopresor seperlunya. Algoritma itu sendiri telah diu bah yaitu adrenalin diutamakan dad atropin.'o. Isoprenalin tidak lagi dianjurkan pemakaiannya dan kemungkinan menggunakan rutc intrakardiak untuk adrenalin dihapus. walaupun banyak yang percaya bahwa hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus.RJP. Melaksanakan Betapa prosedur resusitasi pentingnya rnelaksariakan terus rcsusitasi sangat ditckankan : jangan III d et ik u n t u k me laku k an t i nd a ka n yallg mcrne rlukan penghentian sernentara korn prcsj (beLl Rule cndotrakeal sekarang dianggap sebagai rute yang tid ak handal unt uk pemberi an obat dan hanya dipakai bilarnana bclum ada jal ur IV. Dosis lll. Akhir algoritma defibrilasi juga mengalami perubahan.v. Kasus-kasus yang membutuhkan kalsium klorida juga dirnasukkan dalam algoritrna. Syok yang diulangulang pada tingkat cnergi png rnaksimal dianjurkan jika fibrilasi refrakter sesudah 3 syok a\\'J. Kemungkinan salah diagnosis harus ditekankan agar jangan sarnpai kelainan yang semestinya dapat di atasi tetap tidak mendapat terapi yang tepat. kemungkinan hipovolemia sekarang ini dimasukkan.

Berbagai obat dan cara lain tersedia untuk mernberikan lingkungan fisiologik yang optimal bagi miokard dan tekanan perfusi dan rnengatnsi aritrnia. Ventilasi dan kompresi dada harus diteruskan dengan laju yang telah disebutkan pada BHD kecuali dihentikan sebentar pada saat defibrilasi. Obat-obatan untuk RJP Sernua obat hendaknya diberikan secara IV ke dalam sirkulasi sentral bila mungkin.Perlengkapan Oi rumah sakit perlengkapan dan obat-obatan untuk BHL biasanya di simpan pada kereta yang dapat didorong dan diletakkan pada daerah yang strategis. Segera setelah kereia ini tiba. resusitasi pada keadaan ini dapat dimulai sebagai BHL.0 mEq per kg dosisi a.W(1!. trakeal korban hendaknya diintubasi dengan pipa trakeal yang mempunyai balon. tidak rnekanis. kernudian 0. orofaring korban harus dibersihkan dari sckret-sekret dengan cara diisap. Natrium 1. pipa jalan natas orofaringeal dirnasukkan dan diberikan ventilasi dengan oksigen murni dengan menggunakan alat halon dan katup. Malfungsi perlengkapan anestesia selalu merupakan penyebab potensial henti jantung dalarn karnar operasi.5 InEq per kg setiap 10-15 me nit jika tidak tersed ia pengukuran pH. bikarbonat dianggap Untuk asidosis metabolik. defibrilator arus searah. Untuk a. Dosis : 1. Perlengkapan pada kereta inl hendaknya mencakup tabung oksigen. pipa [alan nafas orofaringeal. monitor EKG. oksigen 100% harus diberikan melalui alat anestesia. Jib rnas a henti ini singkat (yaitu 1-2 mcnit) m ika mungkin tidak diperlukan -/ . Pernberian semua obat anestetik harus dihentikan. Ini harus disingkirkan sesegera mungkin. terrnasuk karnar operasi dan ruang pulih. alat balon dan katup untuk ventilasi paru. perlengkapan pengisap faring. ventilasi dikendalikan secara manual. lebih baik. 2. perlengkapan intravena. sungkup. Berikan oksigen 100% dengan sungkup pipa trakeal. b. Karena itu. Segera setelah keadaan . Jangan diberikan intramuskular atau subkutis. Harus dicatat bahwa sernua alat tarnbahan BHL dapat segera diperoleh atau sudah terpasang pada pasien dalarn kamar operasi. mernberikan Iingkungan fisiologik optimal bagi miokard tekanan positif atau Oksigen. Sebagai tarnbahan sebuah papan tempat tidur diletakkan di bawah korban. sehingga dapat dikoordinasikan dengan kompresi dada. 1. Juga infus intravena dan monitor EKG hendaknya dipasang sedini mungkin. yang akan mencegah [alan nafas tidak terkontarninasi dengan isi lambung dan menyingkirkan risiko inflasi lambung. ada pad a perrnulaan RJP.

Untuk tahanan vaskular sistemaik yang rendah dengan hipotensi refrakter. fibri1asi ventrikular elektromekanis. hipokalsernia. 78 . disfungsi ventrikular atau keduanya. e. Kelebihan natrium dengan hipernatrernia dapat timbul pada pernberian bikarbonat yang terlalu giat. tercapai tekanan arteri yang diinginkan. dititrasi sarnpai tirnbul efek yang diinginkan. disosiasi Oasis: 2-20 meg/ kg/ menit. (Levophed) c. dititrasi 2. dititrasi sampai tereapai tekanan 2.1 mg setiap 3-5 menit atau mula-mula dengan infus 0. d. yang buruk. sampai (Intropin] Untuk hipotensi. Efek dopaminergik beta yang bergantung pada dosis tirnbul pada dosis Iebih rendah (kurang dari 5 rneg/kgBB/menit) dan efek a1fa pada dosis lebih tinggi. Untuk meningkatkan a.· Dosis: mula-mula infus 0. Untuk kontraktilitas miokard elektrornekanis.25 x berat bad an (kg) BE : base excess.\ersibel. kontraktilitas dan tekanan perfusi miokard.04 mcg/kgBB/menit. Hipokalernia setelah resusitasi bisa juga ditemukan. dititrasi sampai tercapai tekanan arteri yang diinginkan. Dopamin 1. Oasis: 2-20 mcg/kgBB/menit arteri yang diinginkan. 2. Norep~nefrin 1. Dosis : 0. Hiperventilasi dapat digunakan untuk meningkatkan pH sistematik dan susunan saraf pusat (SSP) seeara akut dan re. 3. b. Epinefrin 1.05 mcg/kgBB / menit. Kalsium klorida 1.bikarbonat. 2. (Adrenalin) yang halus dan disosiasi Untuk asistol. 2. asistol. Oasis bikarbonat dapat dihitung dari kelebihan basa (negatif) dari gas darah arteri sebagi berikut : BE x 0.

larutan encer (500mg dalam50-100ml Dextrose 5% dalam air)selama 10-20menit.5-10. 2.mbuI bila obat diberikan dengan cepat. Lidokain (XyIocaine) 1. Mula kerja untuk terapi fibrilasi ventrikular terlihat dalam beberapa rnenit. Obat ini dianjurkan untuk fibrilasi ventrikular berulang yang refrakter terhadap lidokain. Dobutamin 1. atau sebagai infus 2 rng per menit. Untuk takikardia ventrikular mungkin diperlukan waktu 20 menit atau lebih.0 meg/kgEB/menit. diberikan 5 mg/ kg BB/ iv. Untuk takikardia ventrikular refrakter atau beruJang. b. Dosis kedua dapat diberikan 1-2jam sesudahnya dan kernudian setiap 6-8 jam. 3. 2. Rekomendasi bervariasi. Dobutamin mungkin tidak begitu bermanfaat seperti dopamin atau adrenalin dalarn fase awal henti jantung. Dosis :2. Jika fibrilasi menetap. Ini merupakan obat piIihan pertama untuk takikardia ventrikular dan fibrilasi ventrikular. Dosis : 1mg per kg bolus. Hipotensi dapat t. e. Untuk mengobati aritmia dan bJok jan tung. bretilium yang tak diencerkan secara cepat diikuti dengan syok balik arus searah (DC). dapat diberikan 5-10 mg/kg BB iv. 7') . Laju infus mungkin perlu diturunkan bila ada hipotensi. dititrasi menurut respon pasien. Oosis : pad a fibrilasi ventrikular. Untuk distrimia ventrikular. dengan cepat dan diulangi seperlunya. 2. diikuti dengan infus 1-4 mg per menit. terutarna dengan tahanan vaskular sistemik yang tinggi. a. dititrasi sampai tercapai tekanan darah (atau curah jantung) yang diinginkan. Kadang-kadang dopamin merupakan pengganti adrenalin yang berrnanfaat karena aktivitas alfa yang terlihat bila diberikan dalam dosis lebih tinggi. Breti1ium (BretyloI) 1. 3. Hendaknya obat ini dipertimbangkan pada awal p.enatalaksanaanfarmakologikfibrilasi atau takikardia ventrikular. (Dobutrex) Untuk dlsfungsi ventrikular. kegagaJan beberapa organ atau keadaan lain yang mungkin menurunkan aliran darah hati. 3.3. dapat diberikan 10mgper kg iv.

c.

Prokalnamid 1. 2.

(Pronestyl) ventrikular berulang yang refrakter

Untuk fibrilasi atau takikardia terhadap lidokain.

Oasis: 100 mgdosis muatan setiap 5 menit pada kecepatan sekitar20mg

per menit sarnpai 1 g (atau 17 mg/kg) diikuti oleh infus 1-4 mg/kgBB/
menit. 3. Pernbcrian dosis di atas hams dihentikan jika disritmia hilang, tekanan darah menurun atoll kompleks QRS melebar lebih dari atau sarna
dengi111 50%.

d.

Kardiovcrsi 1. Pukulan prekordial a. . b. Untuk takikardia ventrikular yang berlanjut ke fibrilasi ventrikular sclarna 60 detik pertama henti jantung yang disaksikan . Pukulan dilakukan dengan memberikan pukulan cepat dan keras pada bagian terigah sternum dengan bagian daging bawah pergelangan tangan dad jarak sekitar 20-30 em. RJP segera dimulai jib kardioversi tak elektif.

2.

Syok balik arus searah (direct current countershock). a. b. Untuk aritmia supraventrikular yaitu fibrilasi atrial atau flater atrial, takikardia vcntrikular atau fibrilasi ventrikular. [adwal dosis dalam Tabcl 1 dapat digunakan.

Tabel 1. Oasis untuk syok balik arus searah (Watt-Sec)
-.~-_-_
..

-.---~~-

rr="::

Toraks

._ .._---

Atrial
"-.~~"-"

-.-~---_

----

Ventrikular Fibrilasi

FibriJasi

Flater

Takikardia

Terbuka Tertutup
-~---~ --_
.~--~-

10 - 20 80 - 200
..... --." . _._--_ •• _<

-.. ..
-

-~

20 - 50 _-- ---~-.---------.

50 - 100

200

- 300
.-

e.

Atropin 1. 2. 3. Untuk bradikardia berat
ilt;l1I

bJok atriovcnlrikular

derajat Linggi vagal

Dosis : 0.52.0 mg iv, Atropin mungkin tcrbaik untuk bradikardia akibat rangsangan ,1ti1U bradikardia karcna penyakit sislem hantaran.

no

f.

Isoproterenol l, 2.

(Isuprcl) refrakter atau blok atrioventrikular derajat tinggi.

Untuk bradikardia

Oasis: 2-20 meg per rnenit sebagai infus yang dititrasi [rekuensi denyut iantung yang diinginkan. paeu jantung tinggi atau

untuk mencapai

g.

Pemasangan 1. 2.

Unluk blok at riovcuttikular dcrajat yilllg iimbu l selama a la u setvlah RJP. Biasanya
resusitasi

bradikardia

berat

pernacuan
pasicn asistol.

hanya

sedikit

mernbantu

d a la rn rnelakukan

h.

Digoksin 1. 2. 3.

(Lanoxin)

Untuk flater at.iu fibrilasi atrial dengan respons veutrik ular yang cepat, Dosis : dosis muatan 1 mg diberikan tcrpisnh 30-60 menit. Lebih diindikasikan
t akiarltrnia atrial

dalarn dosis tcrbagi (0,25 mg) yang daripada
ketakstabilau

kardiovcrsi
rncnyebabkan

pernberian
hernod

digoksin
inarnik

jika yang

bcrma kna.
L Verapamil (Isoptin)

1. 2. 3.

U ntu k takiaritrn

ia

SlI

paravcn

triku 1M. lahan (5-10 mg pada pasien 70

Dosis : 0.075 - O.15D mg per kg perlahan kg). diulangi scsuai kcpcrluan.

Obat ini hendaknya digunakan dengan hati-hati bila ada blokade adrenergik-beta bersarnaan Mall pcnggunaan digoksin, karena dapat menyebabkan hipotrnsi atau blok jantung lengkap. (Inderai). ventrikular
atoll

j.

Propranolol 1. 2. 3.

Untuk aritrnia

supraventrikular,

bukan

obat pilihan

pertarna dalam RJP.
Dosis awal : 0.1 - 0.5 mg IV. jib bisa d itoleransikan 0.5-0.1 mg setiap 2-5 mcnit yang dititrasi terhadap kernudian ditarnbah respon pasien.

Hcndaknya propranolol diberikan dengan hati-hati pada rnasa pasea henti jantung karena mungkin ada disfungsi kontraktil ventrikular d alarn berbagai tingkat

~I

Keputusan

untuk mengakhiri

upaya resusitasi

Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henri nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan dan refleks rnuntah dan di1atasi pupil yang rnenetap selama 15-30 rnenit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau di bawah efek barbiturat atau dalam anestesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk mernbuat keputusan rnengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktivitas Iistrik jantung (asistol selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapai obat yang optimal menandakan mati jantung. Seseorang dinyatakan mati bilamana fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel atau telah terbukti terjadi kematian batang atak. Dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika terdapat tanda-tanda mati jantung dan atau sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak tirnbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 meriit lebih, kecuaJi kalau pasien hipatermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari yang efektif, jawab dokter

Telah timbul kembali

sirkulasi

dan ventilasi

spontan

Upaya resusitasi telah diarnbil alih oleh orang lain yang bertanggung meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter), Seorang dokter sebelumnya, Penolong rnengambil alih tanggung tak sanggup jawab (bila tak ada resusitasi,

terIalu capai sehingga mati,

meneruskan

Pasien dinyatakan

Setelah dirnulai resusitast.ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada d alam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau harnpir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah 0,5-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP)·

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful