362.

28 Ind

r

PEDOMAN PELAYANAN GAWAT· DARURAT

CETAKAN

KEDUA

DEPARTEMEN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT RUMAH SAKIT

REPUBLIK iNDONESLt\ PELAYANAN MEO!K KHUSUS DAN SWASTA

1995

SAMBUTAN

Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita sebagaimana di tunjukkan oleh berbagai indikator utama kesehatan dan kwalitas manusia seperti menurunnya angka ksmatian. angka kelahiran, angka kesakitan dan perbaikan gizi serta rneningki'ltnyil umur harapan hidup. Namun dernikian perubahan struktur demografi, perubahan lingkllngilll hidup dan sikap perilaku serta gaya hid up masyarakat kita telah mernbawa dampak lain berupa pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke arah penyakit kronik degeneratif dan non infeksi. Meskipun penyakit infeksi masih menduduki urutan teratas dalam morbiditas urnurn di Indonesia, p ada dekade terakhir ini data-data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan R[ menunjukkan bahwa dari tahun ketahun terdapat peningkatan yang berarti dari prevalensi penyakit non-infeksi yang sering menimbulkan keadaan gawat darurat seperti penyakit kardiovaskuler, akibat cedcra atau kecelakaan. akibat keracunan dan lain-lain. Data survei kesehatan rumah tanggil tahun ] 9H6 menunjukkan bahwa penyakit kar diovask ulcr dan ccdera atau kccelakaan terutarna kecelakaan lalu lintas telah sernakin rnenonjol sebagai penyebab kernatian di Indonesia. Keadaan tersebut disertai dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran rnasyarakat akan kesehatan mcnyebabkan perrnintaan akan pelayanan gawat darurat akan scmakin bcsar. Buku pcdoman ini rncuyajikan suatu pola pelayanan gawat darurat yang diharapkan akan mcnjadi acuan bagi segen<lp pengelola rurnah sakit maupun instansi pelayanan pra-rurnah saki! unt'uk rnerighadap i tantangan masalah kesehatan terscbut secara bcrhasil guna d,1I1 berdaya guna. Saran dan kritik sunil pcnyempurn(lan buku pedornan ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

1 Maret

1992

DIREKTlIR

JENDERAL

PELA YANAN

MEDIK,

t.t.d.

Dr. BROTO W ASISTO, NIP. 140022724

MPH

.

in <l g.rnanili('rn~'n ~ I'cnf'lapan gul. Sasar an upaya pclayanan galVa~ darurat ada lah pcngcmbangan pellangglliangan pcnderita gawat dar urnt disr-mua ting kat pclavanan nlampu ml'l1l1llj. maupun dalam keadaan ben can a.'ndl'riLl gctwat dnrurat.)11.lIIClCl dan p('laporan Ucngall dif'erluk.lllgan peraturan.mg diseicnggarakan di 1'['1"1.lIl ~l'I1l"kill j.V telah mernprioritaskan Pcngernbangan Frogr<l11l Upaya Keschatan Rujuk an. S.ih <akit. PcngE'mbangan pcnanggulangan p en d e r it a gaw<lt darurat dimaksudkan agar tcrcapainya suatu pclayanan yang optimal.in y.l rncndadak.l pc'nanggulangan poncicrita gawat darurat baik dalarn koadaan schari-hari (ddily routine). Illt'niJ1gk. stand ar pelayanan. terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang dalarn kcadaan gawat darurat sebagai akibat musibah ber upa k('celakaan.ru mah xakit m<lllplill dr rurnah saki!'.lS<lr.](ii<1ll. maka d.111 kc.11l.lIlgan sistim penratatan . cakupan dan efisiensi pelayanan rujukan rncdik dan rujukan koschatan.He" Peningkatan darura! menitik 1.'l'ningK<ltdll tempat kq. Tujuan Program Upaya Kesehatan Rujukan adalah peningkatan mutu. 2.lllg mcndapat pr ioritas untuk dikembarigkan adalah pcningkat<l11 upay. Pcningkat.uv 1]('<111h ('.l\vat darurat rru-liputi melalui kategorisasi unit rungsi iniru st ruktur Gid.GU.itknn pada du.lI1g "p rim.tiah sat u Up'l}'d kt'seilatan rujuk.uurat baik y. bcncana rnaupun penyakit yang d iderita S(. 11 upaya penanggulangan penangguJangan pengorga nisasian St'rtd I'r-niug kat.11. g<lIYdl III .l f.lll srstim agar pCllilnggulangan vaitu : pcnderita gawat Peningkatan kcrnampuan pclayanan gawat darurat rum.) sistirn S.1IiSil data pendcrila gawat darurat.m dan pl'ngt'lllb.l'idY.llll\'. dan pcngembangan ber. SI'LlPld iumluh p(.lng .PENGANTAR Departcnwil Kesehatnn I\J dalam RITELIT/\ . Iwnderita gawat dururat: pcrencanaan peduman penang I'eningk<llan kcmarnpuan pcnderita gilwat darurat: Pen irigka tan kernarnpua pentierita gClwa! darurat.

ini dimaksudkan agar upaya penanggulangan penderita darurat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta mern perol eh petunjuk yang cukup jelas dalam merencanakan menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.t. Dr. 140028924 IV . 1 Maret 1992 KEPALA DIREKTORAT RS KHUSUS DAN SWASTA. buku ini bermanfaat bagi Buku pedoman gawat dapat dan pengembangan Jakarta. Sebagai pedoman semoga pelayanan gawat darurat.d. MHA NIP. t. SOEMARJA ANIROEN.

m peningkatan antara Pel2l)'illliHl untuk dikernbangkan Da ru rnl. Salah satu kegiatan yan~ terus mendapat perhatian VI adalah PCJllllgknt. Untuk memberi arahan pada upaya penanggulangan penderita gawat darurat pada tahun 1992 Departcmcn Kesehatan RI telah menerbitkan buku pedornan pelayanan gawat darurat. Buku pedoman tersebut pada tahun 1995 ini mengalarni cetak ulang disertai pcrbaikan-perbaikan materi yang diperlukan.PENGANTAR Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sa kit Departemen pad a Repelita Repelita VI disusun sebagai kelanjutan Cawa d ar i program t Kesehatan Repelita RI V. penderita gawat darurat J\'2pal a Khus u s dan Swasta I . in i terutama terdapat dalarn Upaya untuk berjenjang penderita pelayanan gawat darurat dasar Sakit ditujukan ruj ukan menunjang pelayanan Pus kesrnas kesehatan sehingga dan Rumah da larn menanggulangi gawat darurat. Kiranya buku pedoman ini dapat mernenuhi seperlunya dan tambahan kebutuhan para pemakai secara guna rneningkatkan mutu f)enanggulangan konseptual dan sisternatis.

.

_. S20t594· 95 . bah . d.9 J. efisienSl dan c a k up a n p e La va n a n kesehatan khususnya dalam upaya Denangguiangan penderita gawat d a r u r a t. 4 ...kat akan hebutuhan oelavanan k~sehatan yang l e b i h b a i k . pembangunan a disegala bidang Dada umumnya dan p e nv e t e n q q a r a a n o e l a r a n a n k e s a n a t a n se c a r a o a r Io u r n a p a d a k h u s u s n y a .""-. Mengingat 1.rt. KEPUTUSAN MENTER I KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOHOR 0701/YAN MEO/RSKS/GOE/VII/1991 TENTANG PEDOMAN PElAYANAN GAWAT DARURAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK Menimbang INDONESIA . CIREKTORAT .•. penyakitDenyakit infeksi k an ad a Denyakit-penyakit non infeksi seperti penyakit kardiovaskuler.k. cedera akibat keceiakaan. c. bahwa sebagai akjbat dari perubahan Dola penyakit tersebut telah terjadi lonjakan anqka.96 .No. degerneratif. Seta •• n Tel!>.A. na s i cna l .JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MECIK Jalan H. keganasa~ keracunah dan la1n-lain: b. Raw"" Said 810k X5 Kow. d t o e r Lu k a n ad a n va suatu s t anda r d i s a s i oedoman p e La y a n a n yang be r s Lf a t.D£PARTEMEN KESEHATAN R.98 5204395 .. ma k a d i p arrrra q o e r Lu n untuk secara t e r u s+me n e r u s mempe rba i k 1 dan men i ngkatkan D61ayanan kesehatan.mbangan tersebut: semakin meningkatnya kesadaran ma~yara. bahwa dengan pe s a t n y a perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pelayanan kesehatan khususnya untuk penansgu1angan penderita gawat darurat maka senantias3 diperlukan oenyesua ian yang tepat terhadap· perk". disamping telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah pula menyebabkan ~erubahan Do1a penyakjt dimana tengah t e r iad i pergeseran co t a Denyakit dar. Undang-undang Namor pokok Kesehatan. 9 tahun 1960 ten tang Pokok- VII . a. kesakitan maUDun kematian akibat keda~uratan medik baik dalam keadaan sehari-hari ~aupun dalam keadaan mus ibah masa 1 . bahwaden~an e.I. bahwa dalam rangka memantaokan pelaksanaan program uoaya kesehatan rujukan melalui peningkatan mutu.

peduaan dimak6ud menvangkut Sistim Penanggulangan Penderita Ga . 5... Buku Pedoman Pengembangan Pelavanan Unit Ga . Tb.Sakit.HPH (Oir Jen Yan Hedik) Or.... MHA eKa Dit RS Khusus dan S~asta) 2. Unit Ga . Keput. viu .DEPARTEMEN KESEHATAN R... 4. Dalam rangka revisi buku pedoman tersebut per 1u dibentuk kepanitiaan dengen susunan sebasai berikut : Penasehat Pengarah Dr..stim Penan99ulangan Penderita Gawat Darurat yang d. Surat Edaran Oirektur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 0681/Yan. Keputusan Presiden RI Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Oepartemen.Darurat. Kesehatan RI Nomor 558/Henkes/SK/84 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI. Brato Wasisto. DIREKTOAAT . HHA (Ka Oit RS UM DlK) 1. Abdul Radjak (Ka Sub Dit Yan GDE) Dr. P at HEM UTUSKAN Menetapkan.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MEDIK T"p.. Program Upaya Kesehatan Rujukan REPEL ITA V Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pusponegoro (IKABI) Dr...Dr. H. Dr. 2.. Oarurat at Rumah Sakit termasuk Penanggulangan Penderita Ga ...Med/RSKS/S5 tanggal 2S Me. 1982. Or. April 1989.terbitkan oleh Direktur Jenderat Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. tanggal 22 Jun. DSA (RSCH) 9. 4.n yang harus dimiliki ole . Pertama Herevis. Dr.. Petrus Maturbongs (Dit RSKS) Or. Ketiga Ketua Sekreteris Ang9ata Dr. Haryadi (Oir RS Pasar Rebe) 7. Derma. Soemarja Aniroen. Aryono D. MPH (Dit RSKS) n 1.at Darurat dan petunjuk teknis standard pelayan.entangelayanan Ga. at Oarurat Rumah Sakit dan S. 3.: 5201594 -115·98 52(M395 • 96 • Pe$ •. 3. Abdul LDtief.. Ora.T. Hario Untoro (Dir RS Sekasi) 6. Hermansyur K (IGO RSCM) Dr.. 2.usan Menter.. Bagus Mulyadi (Oit RS UMDIK) Dr. Susbandyah (Oit RSKS) 6 .. 1985 t. Oarurat Pre Rumah at ....I. 5.. IQbal Hustafa (PKGOI) Dr. Boedihartono.. Kedua Revis.

MEDIK DIREKTORAT JENDERAL JAKARTA PELAVANAN Telp. Keoala Badan Pemeriksa Keuangan d.9 J.ngkungan Dep Kes RI d1 JaKarta.. 6. Keempat Biaya ravisi Buku Proyek Pengembangan Pusat Jakarta.2::::ul i 1~31 J REPU8LIK INDONESIA Pelayanan Medik.e t ack an d i : Jakarta Pada tanggal . BaDak Menter. Sekretaris Jenderal. Pimp. D1 t. 5.r.4 . Jakarta. Hal-hal diatur Pedoman Rumah diatur tersebut dlbebankan Sakit Swasta dan dalam Keputusan keoada Khusus 1n1 akan Kel ima yang belum lebih lanjut. Para Direktur Jenderal dil.: 5201594·95·98 J.DEPARTEM£H KESEHATAN a.: 1. Rawna Said 810k X5 Kav.. di 1\ . Direktur Jenderal Anggaran OeD Keuangan RI di Jakarta.•. 4.~ .kana Selatan 5204395·96.R.. MPH 140022724 Tembusan kepada ytn. Keenarn Suiat Keputusan inl reulai berlaku pada tanggal dltetapkan dan apabila ternyata ad3 kekeliruan dikemudian hari akan dladakan perbaikan. Yang bersangkutan untuk diketahui. 3. I WASISTO. 9. 8. Kepala KPN III di Jakarta: 7. No. 2.alan H. A r sip.nan Proyek Pengembangan RS Swasta dan Khusus Pusat Jakarta. OeD Kes RI di Jakarta. Kesehatan RI di Jakarta.

.

...... .... III IV V VI dan prasarana leu ' '...... ...............Arnbulans udara ...... 84 XI ........ ............... ....................... MED/RSKS/GDE/VIJ/199L Pelayanan Gawat Darurat .'.DAFTAR lSI Sambutan Pengantar Dirjf'll Yanmedik Kadit RSKS .. iii vii .... 57 ...Resusitasi Jantung -.. ".......................... Cara mcngukur Paru ..........................Akreditasi ....'......... ......... .. ...." . Rumah Sakil. 51 ........ 1I Kesehatan Republik MED/RSKS/1987 33 4] 43 Larnpiran Lampiran Lampiran Lampiran ... xi 1 2 3 4 penanggulangall penderita Lampiran .....Keputusan Menteri Nornor : 01521Yan..........Sarana Unit Cawat Darurat "........... Lampiran Trauma Score ............. SK MENKES No 071 IYAN Tentang Pedoman Daftar lsi Pendahuluan Pengertian Penanggulangan Sistim Penderita Gawat Darurat gawat (rrGD) darurat Indonesia '........ .............

dan masyarakat perlu aktif berperan serta. agar dapat hckerja dan hidup layak sesuai dengan rnartabat manusia. terpadu.111 pcndcriLi gawat d ar urat dapat berfungsi dengan baik. Segala upaya ini harus dilakukan secara merata kepada selur uh lapisan masyarakat dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan biaya yang dapat dipikul oleh masyarakat dan negara. serta dilaksanakan terutarna rnelalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyernbuhan dan pemulihan yang dilakukan. adalah meliputi kesehatan badaniah. Kegiat(ln ini horus bersifat menveluruh. hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati secara rnerata oleh seluruh penduduk. . C. jawab dalam mernelihara dan B. Ikrdasarki'ln hal tersebut di a las. ter padu dan berkesinarnbungan sebagian bagian dari I'embangunan Nasional.. D. merata. maka Keschatan Nasional antara lain adalah : A Dasar-Dasar Pembangunan Sernua Warga Negilli1 berhak mernperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tillgginya.q. rohaniah dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit. Usaha keschatan di at as mcncakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif). penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif).L PENDAHULUAN Upaya Bangsa Indonesia untuk mcncapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sesuai dengan azas adil dan merata. Uepctrterncn Kesohatan RI c. bentuk serta sifat kesehatan sebagai kesatuan yang menyeluruh. Upaya dalarn bidang keschatan telah dijabarkan dalam Sis tern Keschatan Nasional yang pada hakekatnya adalah berupa pemikiran dasar yang mernberi arah dan tujuan. Pemerintah dan masyarakat bcrtanggung mempertinggi derajat kesehatan rakvat. dapat d iterirna dan tcrjangkau oleh scluruh masvarakat. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik perlu merigadakan pcnataan pelavanan gawat d ar ur at dengan rnenerbitkan suatu buku pedornan sebagai sumber inforrnasi. Cleat dan kelemahan. Dalarn upaya penyernbuhan tercakup upaya penanggulangan penderita gawat darurat. Agar upaya pel1'Zlnggu['11lg. Pen yelenggaraan upa ya keseha tan diatur oleh Pernerin tah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh Pernerintah dan masyarakat.

misalny» k. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. kerugian harta benda. Iisik maupun listrik atau radiasi. dan lain-lain. tersengat. 2. PENGERTIAN A. Waktu kejadian: a. Pasion Cawat Tidak Darurat tindakan Pasien berada d alarn kcadaan t. Tempat kejadian: a.mgguan tcrhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pr-mbangunan llilsional y. Pasion Darurat Tidak Cawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba. tercekik oleh benda asing. dan lain-lain. Cedcra Masalah Benrana Pcristiwa <1 tall rangkaian pcristiwa yang disebabkan olch alarn d<1I1 atau rnanusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. C. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi. mental. C. TBC kulit. D. kecelakaan di lingkungan rumah taD. Mekanisrne kejadian: Tertumbuk. korusakan lingkullgdl1.intuan. misalnya luka sayat dangkal. scbagai akibat L.ecelakaan.l mcnimbulkan g. dan sebagainya.'lVV. kerusakan sarnua dan prasarana urnum St'rt. berrnain 3. waktu kesehatan yang didapat/dialarni time). B. terpotong.. kecdakaan di sekolah: e. kecelakaan Ialu lintas: b. waktu sekolah.gga. waktu bekerja. Pasien Tidak Gawat Misalnya Kccclakaan (Accident) Tidak Darurat ulcus tropium.mkcr stadium laniut. F. kecelakaan di lingkungan pckerjaan: d. Pasien Cawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. jatuh. pasien dengan Suatu kejadian dimana terjadi interakxi berbagai faktor yang datangnya rnendadak.lt tctapi tid ak rnemerlukan darurat. E. terbakar baik karena efek kimia. sosial).II. waktu perjalanan (traveling/transport b. .lIlg mernerlukan pcrtoltlJlgan dan b. tidak dikehendaki sehingga menimbulkan ccdera (fisik. perbelanjaan. di arena olah raga. tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya. c.

6 menit). c). pertolongan selanjutnya secara mantap d i Puskesrnas rumah sakit. kardiovaskuler. 3. 4. 3. atau . Dengan demikian keberhasilan Darurat (PPGD) dalam mencegah 1. 2. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Prinsip Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu sistimiorgan di bawah ini yaitu : 1. Merujuk penderita gawat darurat melalui sistirn rujukan untuk memperoleh pencmganan yang lebih memadai. sedangkan kegagalan sistirn/ organ yang lain dapatmenyebabkan kernatian dalam waktu yang lebih lama. PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2. 5. Penanggulangan Penderita Gawat kematian dan cacat ditentukan oleh : Kecepatan menemukan penderita gawat darurat. degenerasi (failure) 5.III. asfiksi 6. pemapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 . susunan saraf pusat pernapasan kardiovaskuler hati ginjal pancreas Kegagalan (kerusakan) sistim/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. Kegagalan sis tim susunan saraf pusal. -dan lain-lain. Menanggulangi korban bencana. trauma/ eedera 2. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. keracunan (poisoning) 4. ditempat kejadian: b) dalam perjalanan ke rumah sakit. PENANGGULANGAN A. Tujuan 1. infeksi 3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a). kehilangan cairan dan elektr olit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolitc) 7. 2. Kecepatan meminta pertolongan. Mencegah kematian dan caeat (to sa ve life and limb) pada penderita gawat darurat. B. 3. 6.

Upaya pernbiayaan penderita gawat darurat. 6. terarah dan yang berada dalam keadaan Upaya pelavanan kesehatan pad a pcndcrita gawatdarurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedernikian rupa sehingga mampll mencegah kernatian atau cacat yang mungkin terjadi. penanggulangan penderita gawat darurat dapat dikembangkan seoptimal mungkin.lll d alam mnsyarakat dibagi :~(dtld) g()i("lgclil orilng awarn . B. yang optimal. 4.S). maka agar upaya penanggulangan penderita gawat darurat tersebut dapat terarah dan terpadu perIu dilaksanakan dengan cara pendekatan sistim. kOMPONEN a. pasien dan tenaga ahli. Cakupan pclayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi : L Penanggulangan penderita di ternpat kejadian.mfaa! sckali hila orang awarn diberi dan dilatih pengetahuan dan keterarnp ilan dalarn pcnanggulangan penderita gawat darurat. I) Kl. Oleh karena itu. Dengan mcmaharni bahwa penanggulangan penderita gawat darurat menyangkut baik aspek medik maupun non medik dan keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja. Upaya rujukan ilmu pengetahuan. SISTIM A.IV. PRA RUMAH SAKlT (LUAR R. Upaya penanggulangan penderita gawatdaruratdi tempatrujukan (Unit Cawat Darurat dan JeU). Dengan cara pendekatan sistim. 2.1sifikilSi llr. Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan Petugas Kesehatan (SUB-SISTIM KETEN AGAAN) I'ada lllllUIl1J1ya yang pertarna menemukan penderita gawat darurat di tempat rnusibah adalah masyarakat yang dikenal clf'ngan istilah Orlll1g mmill. Upaya penyediaan sarana kornunikasi untuk mcnunjang kegiatan pcnanggulangan penderita gawat darurat. sangatlah berrn. KOMPONENSISTIMPENANGGULANGANPENDERITAGAWAT DARURAT 1. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWATDARURAT TUJUAN Tercapainya suatu pelayanan kesehatan terpadu bagi setiap anggota masyarakat gawat darur at. Transportasi penderita ga wat darurat dari tempa t kejadian ke sarana kesehatan yang lebih memadai.1I1g a warn : DitinjilLl da ri 'il'gi pt'r. 5.ln. kapan saja dan dirnana saja. 3.

cara transportasi pendcrita gawat darurat Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran penanggulangan penderita gawat darurat. pengemudi kendaraan (4). Tcnaga menanggulangi keadaan sesuai bidang pekerjaannya. (6). ibu-ibu rurnah tangga (5). (5). satpam/hansip petugas DLLAJR petugas SAR (Search and Rescue) anggota prarnuka (PMR) Kemampuan Penanggulangan Pender ita Gawat Darurat (Basic Life Support) yang harus dirniliki oleh orang awarn: (1).a). Anak-anak akan menjadi dewasa dan pengetahuan ini akan tetap dimilikinya. petugas hotel. Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat seperti orang awam (Basic Life Support) ditambah. (3). Golongan (1) awarn biasa antara lain: guru-guru berrnotor dan lain-lain. pelajar (3). cara meminta pertolongan resusitasi kardiopulmuner sederhana cara menghentikan pordarahan cara memasang balut!bidai (5). restoran b). gawat perawat/paramedis pengetahuan dasar keperawatan yang telah Di samping dirniliki oleh pcrawat. petugas Dinas Pernadarn Kebakaran (3). (4). bin: (2). (2). (2). (4). Kemampuan darurat 2). Colongan awarn khusu= antara (l) anggota polisi (2). Kemampuan yang harus dimiliki khusus antara lain : oleh orang awam (1). . terutama kalau dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. mereka harus mernperoleh tambahan pf'ngetahauan pcnanggulangan penderita gawat darurat (Advance Life Support) terrnasuk PHTLS dan PHCLS untuk melanjutkan pertolongan yang sudah diberikan.

mcngcnal patah tulang (2). dengan resusitator manual dan otornatik (4). mengenal adanya sumba tan jalan napas (2). menghentikan perdarahan (2). infark jantung (3). infarkjantung (2). memasang infus z'transfusi (3).KemampuanPPCDyangharusdimiliki tcnaga pararnedik adalah a). dalam penanggulangan Hospital Trauma Life Hospital Cardiac Life n1ilmpU merawat Zrnempersiapkan penderita dengan akut abdomen.mengenal stroke dan pertama Kernarnpuan a) + b) + c) + d) pra rumah sakit yaitu Pre Support (PHTLS) dan Pre Support (PHCLS) e). memberi pertolongan pertama pada aritrnia. shok. . Untuk sistim imunologi (1). memberikan pertolongan kcpala (3). Untuk sistim pernapasall air (1). Untu k sistim skeletal (1). mengenal aritmia jantung. mengenal renjatanl shock anafilaksis (2). mcrnbcr ikan napas buatan (a). mengenal korna dan pertama (2). Untuk sistirn gastro intestional (I). Untuksistim saraf mernber i pertolongan pertarna pada trauma memberi pertolongan (I). marnpu Tllcmasang bidai ('1. momberikan pertolongan pertarna pada shock f). Untuk sistim sirkulasi (jantung) (1). Untuk sis tim vaskuler (1). rnelakukan resusitasi kardiopulmuner b). membebaskan jalan napas (oropharyngeal way) sampai dengan intubasi endotracheal (3). mcrawat infus-infus CVP d). operasi pada g).marnpll mentransportasi penderita dcng<ll1 patah tul<lllg (lIl1lgkai dan t\1hng pungg\lng) t. pcrnapasan rnulut ke rnulut (b). mernbuat rekaman jantung (EKG) c).

melakukan resusitasi kardiopulmoncr (ABeD) dan memberikan obat-obatan yang perlu b). mampu memberikan pertalangan penyal. intubasi endotracheal (b).uk sistim sirkulasi aritmia jantung (2). memberikan (2). mampu melayani persalinan (2).i pcnderita inlark rniokard (DC) (~). memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat obstetri-ginekoJogi j) Untuk farmakologi/Tohikologi (1).'dis (Dokter Umum) Di samping pengetahuanmedis yang telah dikuasai. nwngenal pertarna pada pertama pada pertama pada air way) (<1). Untuk sistim reproduksi (1). mcmberikan pertolongan pertama pad. yang harus dimiliki adalah : Untuk sistirn pernapasan (1). mengetahui sistim penanggulangan penderita gawat darurat (2). Kernampuan a). 1Tlcnanggulangi renjatanisyok (1). mengetahui s istim penanggulangan korban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja 3). melakukan tricothyroidectomi (5). Untuk Organisasi (1). Tenaga MI. mengenal (2). mcrnberikan pertoJongan pertama pada aritmia (3).ahgunaan obat (3). mampu mernberikan pertolangan gigitan binatang k). mampu memberikan pertolongan keracunan (2). Untuk sistirn kulit (1). memberikan pertolongan pertolongan pertama pada luka pada luka bakar i). mengenal infark jantung (4). dokter umum perlu mendapat pengetahuan dan kctr-rarnp ilan tambahan agar mampu menanggulangi penderitn gawat darurat. mernbuat/membaca EKe (1'». mernbebaskan adanya sumbatan jalan napas [alan nap as (oropharyngeal . Unt.h).

c). Untuk (1) sistim kulit perlukaan men genal berbagai jenis luka (2). menanggulangi (2). mendiagnosis akut abdomen (2). a) + b) + c) + d) adalah kemampuan ATLS dan ACLS. Untuk sistim reproduksi (1). keadaan darurat SSP. memasang/membaca dan merawat CVP d). gagal ginjal. memberikan transfusi darah dan terapi cairan/ elektrolit (3). memberikan pertolongan pertama dan pengobatan pada keadaan darurat obs tetri/ ginekologi j). Untuk sistim gastrointestinal "(1). memasang bidai (3). mengenlll ke ad aan pcn). mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan yi'lng diperlukan pada kead aan koma. keadaan renjatan/syok ana- (1). Untuk sistim vaskuler (1).niailgunacHl obat/ keracunan z' gigitan binatang (2). Untuk sis tim skeletal (memasang (1). k). Untuk sistim saraf (1). mengenal dan mendiagnosis patah tulang (2). mengenal kelainan darurat obstetri/ginekologi (2). gagal pankreas rnampu rnenanggulangi koma Unt uk farmakologi Ztoksikolog i dan (1). menegakkan diagnosa I diagnosa diferensiai kuma dan kelainan darurat sis tim saraf pusat (2). e). Mengeual gagal hati. menanggulangi filaksis f). Untuk sistirn imunologi keadaan alcrgi akut. menanggulangi akut abdomen nasogastric tube) h). merawat patah tulang secara konservatif i). rnampu menanggulangi berbagai g). menghentikan perdarahan (2). mengetahuicara pengangkutan penderita dengan fraktur/patah tulang (4). mernberikan pertolongan pertarna pada pcnyalah gtll1aan (lbal/keracunan/ gigiLm hinatang .

Mempunyai yang sarna sertifikat dan lencana tanda lulus Dengan demikian instansi manapun yang menyelenggarakan pendidikan penanggulangan penderita gawat darurat. Mengetahui sistim penanggulangan gawat darurat penderita (2). scbelum diangkat (1).perjalanan telah ditutup (4). perdarahan telah d ihentikan (3). Upaya Pelayanan Transportasi (SUB-SISTIM 1). d). b).I). dengan aman ke sarana ke- terdiri dari dan non medis kendaraan petugas pengangkat (tenaga medis/paramedis) life saving dan life support dipenuhi untuk transportasi peralatanmedis obat-obatan c). Untuk organisasi (1). Semua pusat pendidikan penanggu!angan pende rita gawat darurat mernpunyai kurikulum yang sarna (2). pa tah tulang telah d itiksasi telah l) . Tujuan TRANSPORT ASI) Penderita Gawat Darurat mernindahkan penderita gawat darurat tanpa rnem perberat keadaan penderita sehatan yang memadai. Mengetahui sis tim penanggulangan karban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja. Sarana transportasi a). sclama. Dalam memasyarakatkan penanggulangan )'. Lencana akan mernudahkan mereka memberikan pertolongan dalam keadaan sehari-hari maupun bila ada bencana. para siswa akan mempunyai kernarnpuan yang sama. 2). gangguan pemapasan dan kardiovaskuler ditanggulangi (2). b. luka-Iuka h).ilwat darurat yang penting adalah : penderita (1). 3). Pcrsyaratan yang harus pendt'rita gawat darurat a).

selarna pr-rja lanan dimonitor (I). Fungsi ambulans darat secara (a). angkutan modern truk lainbajaj. kcsadaran (2). kendaraan umum roda empat: berupa dan "pick up station". (Kendaraan Ambulans darat (1). kereta kuda/lembu (b). alat untuk transportasi penderita (200 km) (b). Kendaraan Darat (1). perahu motor (b). denyut nadi (5). pcrahu (b). rakit (2). arnbulans laut c). kapal. sebagai rumah sakit la p a n g an p ad a pcnanggulnngan penderita gaw. beca dan lain-lain. (b). keridaraan roda tiga: berupa berno. Keridaraan laut (1). kereta api dan lain. kcadaan luka 4). (c). sebagai sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita gawat darurat di ternpat kejadian (e). yaitu (2\). Kendaraan udara (ambulans Pe!ayanan udara) Medik) urnurn adalah Arnbulans a). horus selalu d iperhatikan dan Sesuai dengan keadaan geografis eli Indonesia yang terd iri dari ribuan pulau. 5). tandul digotong (2). kendaraan khusus untuk pender ita arnbulans darat. tekanan darah (4). rnaka jenis kendaraan yilng dapat digunakan pada umumnya adalah: a). b).11 riarur at da lam keadaan belle ana II) . angkutan tradisional (a). angkutan modern (a). angkutan trad isionaI (a). pernapasan (3).

Ambulans Air Sarna dengan ambulans darat Ambulans Udara ("l). arnbulans transportasi (b). Fungsi ambulans udara adalah Sebagai alat angkut udara penderita gawatdarurat dari lokasi kejadian ke rumah sakit (:2). [enis Rotary Wing (helikopter . ambulans pelavanan medik bergerak (e). jenis Fixed Wing (sayap tetap .500 km) (b). ambulans gawat darurat (c).ns udara adalah (.(2) Kiasifikasi arnbulans sesuai fungsinya sebagai herikut: (a). rI .1). Komunikasi kesehatan Sis tim komunikasi ini d iguriakan untuk pelayanan kesehatan di bidang adrninistratip.tak terbatas) Helikopter dibagi dalarn 2 jenis : (<I). helikopter besar (7-15 tempat duduk + lebih 2 tandu) Untuk perala tan. helikopter kecil (3-5 tompat duduk + 1-2 tandu) (b). jcnis pesawat udara yang digunakan sebagai ambula. c). ambulans rumah sakit lapangan (d). p('nyam~ nwnilng- I . personil dan persvaratan lihat lampiran It lainnya c. persvaratan kendaraan secar a tcknis. b).' Upaya PelayananKomunikasi Penderita Gawat Darurat (SUB-SISTIM KOMUNIKASI) Pada dasarnya dad. Tujuan ini digunakan untuk di bidangteknis-mcdis menunjang menunjang Untuk mcmpennudah dan rncmpprccpat paian dan pcncrimaan informasi dalam guhngi penderita gawat darurat. pelayanan Medik untuk Penanggulangan kornunikasi di sektor kesehatan terdiri 1). kereta jenazah Tujuan penggunaan. med is dan kebutuhan tenaga pengelola lihat lampiran I. Komunikasi rnedis Sistim komunikasi pclayanan kesehatan (1). 2}.

jcnis komunikasi dalam penanggulangan penderita gawat daroretdapat berupa: 1). Untukmemudahkanmasyarakatdalarnmeminta pertolongan ke sarana kesehaian (akses kedalam sistim GO) (2). I). Untuk mengkoordinir korban bencana.Hl sampai kc sarana kesehatan ycIng sesuai (rurnah sakit) yaitu dC!1.n kc sar aria k('sch. dengan sarana kornunikasi (Pusat kornunikasi) Pusat Kornurukasi • adalah bcrupa . jen is Kornunikasi Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkernbang pesat dan semakin modern.L}!l )'Zmg lcbih mcmadni (3). e. [).l'. tdepon/telepon geng-gam b). facsimile e). hmgsi komunikasi mcdis dalam pcnderita gawat darurat adalah : penanggulangan (1).' . radio komunikasi cr.: Fcrj. b).lLHL.'lll • 1:.iii. Untuk mengatur dan memoriitor rujukan penderita ga w at darura t dari puskesm as ke rumah sakit atau antar rumah sakit (4).b). c). teleks z'telegram d). Oleh karena itu. Untuk mengatur dan membimbing pertolongan mcdis y<lIig d iborikan di ternpat kejadian dan sclarn. Sentral komunikasi MPllgkoordinirpenanggulangan penderitagavvat daru rat rnulai dari ternpat kCjii. d.. 2). Fungsi i I). komputer !p!emetri (EKG data transmision) Sarana Komunikasi Yang d imaksud a ). tradisionil kcntongan bed uk trornpet kurir/mulut penanggulangan rnedik kc mulut Komunikasi modem a). Kom unikasi a). narnun demikian sararia komunikasi modis belurn sepenuhnya menjangkau dan dikcmbangkan di seluruh pelosok tanah air. d).

k orisu len m e d is yang menguasai kcdaruratan mcd is. Syarat-syarat (1). teleksy'facsimilc (4). Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain. 1'- . (2). radio komunikasi (3). (d). mudah dihubungi 24 jam sehari. mcner irna pertolongan (b). tcnaga yang trampil dan kornunikatif (6).(a). (4). menghubungi rurnah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapa t diberikan untuk pcnderita gawat darurat. Syarat alat sentral komunikasi (1). dan memberikan (3). telepon (2). mengatur kejadian dan tnl'ngana_lisa tcrdekat perrniritaa ke tempat n amb ulans (e). instansi lain dan kalau perlu dengan negara lain. har us sentral kornunikasi nomor telepon khusus pelayanan mempunyai (sebaiknya 3 digit). c). Menjadi pusat pcnangglllcmgan rujukan penderita kornando dan mengkoordinir modis korban bencana. (3). (2). mcngatur / momonitor gawilt darurut. kornputer bila diperlukan masa lah (5). dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang tram pi! dan berpengalaman. Dapat diambil alih oleh aparat kearnanan (ABRJ) bila negara berada dalam keadaan darurat (perang) b).

lmpu dalarn hal: kerja tertentu harus If .2). Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit (SUB-SISTIM PELA YANAN GA W AT DARURAT) SeringkaJi Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggular. Oleh karena itu Puskesrnas dalam wilayah huka 24 jam dan m.ggi penderita sebelum mernperoleh penanganan yang mernadai di rurnah sakit.S) a. maka tenaga untuk keperluan kornunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat bidang komunikasi. [aringan komunikasi POLISI DPK I'M! <--> <--> <--> <--> BAKORNAS PUSAT KOMUNIKASI <--> RADIO AMATIR <--> A I-) 1{ 1 PUSAT AMBULANS <--> RUMAH SAKI1 KORBAN <--> Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjarnin. KOMPONEN INTRA RUMAH SAKIT (DALAM R. 2.

.lW. Unit C. Rumah Sakit tertentu dapat mengernbangkan unit gawat darurat dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rcndah dari kclas rurnah sakit tersebut. slirgibi 3). maka kategorisasi (akreditasi) unit gawat darurat tidak selalu scsuui dengan kclas rurnah sakit yang bcrsangkutan.i! (U(. Oleh kareria itu Iasilitas rurnah sakit. Melakukan rcsusitasi dan "life support" gawat darurat Melakukan rujukan penderita-penderita sesuai dengan kcmampuan Menampung dan menanggulangi dengan emergency" korban pusat Melakukan komunikasi rurnah sakit rujukan. I"'. Kategorisasi/akreditasi Pedoman 1).(») haru-: "l<llllpll nu-mbcrikan dcngc1n kwalil as tillggi pillLl Ill. 2). penderita gawatdarurat. 5) bencana kornunikasi medikal dan dan Menilngglliangi (bcdah tnsvbut "false minor) baik I'uskesrnas l ). Ht. harus dilengkapi dengan : l.lt Darurat Gawat (lihat lampiran Darurat III) Sakit Pengembangan Pelayanan d i Rumah TlIjllan: Suatu Unit (. 2).1). merupakan salah satu unit di rurnah sakit yang kepada pr-nderita gawat darurat dan merupakan bagian p('nangguhlllgan pc-ndorita gawat darurat yang perlu Tidak semua rumah sakit harus ruemp unyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga mernadai dan pcralatan canggih.l\. . Rumah Sakit mcrupakan tcrrninal torakhlr dalam menanggulangi pender ita gawat darurat.v'\rci~.lc. Tcnaga : I dokter umurn dan pararnedis (2-3 orang pararncdis yang sudah mendapat pendidikan tl'rt('lltu dnlarn PPCD). Unit Gawat Darurat rnemberikan pelayanan dari rangkaian upaYil diorganisir. khususnya unit gawat darurat harus dilengkapi scdcrnikian rupa schingga mampu menanggulangi penderita gawat darurat ("to save life and limb").'1lproblim medis pclayanan akut. 2). Behan kerja rumah sakit dalarn l1wnanggulangi Dengan mernperhatikan kcdua aspek tersehu t. karena dengan demikian akan terjadi penghamburan dana dan sarana.Vill Darur.. 4).lt dCI1)!. Oleh karena itu pengembangan unit gawat darurat harus memperhatikan 2 (((U<1) aspck yaitu : 1)_ Sistim rujukan pender ita gawat darurat.. lcukosit. urine dan gula darah.aboratorium untuk menunjang diagnostik Seperti: Hb.

.

Administrasi. Sedangkan "definitive care" dilakukan di tempat lain dengan cara kerjasama yang baik.1\\'ah harian. mempunvai kcrnampuan memimpin: dan (l). d). melakukan rujukan c).lnlerpretasi : Harus mampu a). Unit Cawat Darurat harus buka 24 jam Unit Gawat Dar urat juga harus rnelayani pcnderita-penderita "false emergency" tetapi tidak baleh mengganggu/mengurangi mutu pelayanan penderita-penderita Gawat Darurat.~ kcdoktcran gawat darurnt: (2). Interpretasi : c).lIlg pCriHVi1t/dokter yang rncnj. medis ini dapat seorang dokter ahli.id i rl'llimggungj. (I). tertari ky mempunvai perhatian khusus lL1Ii11l1 bjdi1Il.11<1h: b). : petuga~ : modis harus mcnjadi pcnanggungjawab Unit Cawat Seorang Darurat. Darurat Catatan harus Medis ~ 2). Mengadakan kursus-kursus untuk personalianya scndiri maupun penyuluhan kcpada masyarakat dalam penanggulangan penderita gawat darurat (prGD). Organisasi. i<l har us d ihant u ok-h pcnvakibn unit-unit Idill y. Harus ad" s('Dr. b).lng twkerjil di Unit Cawat Darurat.lllg pCllling i. menanggulangi korban bencana Kriteria: a). Unit Gawat Darurat sebaiknya hanya melakukan "primary care". mencegah kematian dan cacat b). . dokter umum mauptll1 tcrgantung pada klas rurnah saki! Y. memenuhi kebutuhan masyarakat dalam Darurat dan dikelola sedernikian rupa terjalin kerjasama yang harmonis dengan unit-unit dan instalasilain dalam rurnah sakit. Interpretasi Petugas perawat. e). Unit Gawat Penanggulangan Penderita Gawat sehingga instalasi Kriteria a). Unit Gawat Darurat hams meningkatkan mutu personalia maupun masyaraka t sekitarn ya dalam penanggulangan pcnderita gawat darurat. Unit Gawat Darurat hams melakukan riser guna meningkatkan mutu z' kwalitas pclayanan kesehatan masyarakat sekitarnya.

Interpretasi : Semua petugas baik med is maupun paramedis harus selalu mernperhatikan : (1). prioritas yang tinggi. Kalau penderita tak dikenal/tak ada keluarga yang mengantar harus diusahakan semaksimum mungkin untuk mencari dan menghubungi keluarga. Triage officer dapat scorang dokrer ahli.' kebutuhan rohani penderita (5). hak dan rahasia rnedis penderita (3). kerjasama dan d is iplin kerja mernpunyai d). O· Semua penderita yang masuk ke Unit Gawat Darurat hams jelas idcntitasnya. Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di Rumah Sakitnya sendiri dilengkapi dcngan Unit Perawatan Intensip (leU) Semua personalia Unit Cawat Darurat men genal dan menghayati sistim Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di unitnya rnauplln Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Nasional. Seleksi problim sClJrang penderita (dalarn keadaan sehari-hari) (2). 'seJeksi pendcrita (dalarn koadaan bcncana). e). B. Harus ada kerjasama yang saling menunjang antar Unit Cawat Darurat dengan: (1). waktu rnenunggu tindakan rnedis (4). unit-unit dan instalasi-instalasi lain di rumah sakit (2).itau kcbijaksanaan r urnah sakit. Semua penderita yang datang ke Unit Cawat Darurat harus melalui "Triage Officer". . dokter-dokter yang berpraktek/tinggal di sckitarnva (4).iodata dan kelengkapan administrasi (2). doktcr urn urn (Ita up un pera wat sr-suai dengan kelas .Interpretasi : Ia bertanggung c). lnterpretasi: (1). "Disaster planning" rurnah sakit maupun kota dimana dia berada (2). ambulans servis (tipe 118) (3). g). jawab atas mutu pclayanan pada hari itu. puskesmas-puskesmas Ji sekitarnya (5). dan instansi keschatan lainnva Harus mempunyai peranan inti dalam : (1). sopan san tun (2). Catatan rncdis yang baik (3). Triage dilakukan oleh orang yang paling bcrpengalaman dan haws d apnt menentukan (lrgan mana tcrganggu dan dapat menvebabk an kernatian dan rncncntukan pcnanggulang21nnya. lnterpretasi : Triage adalah sistern : (1).

rk an d.in modis minimum harus ilH'IlCd k up : (<1) h1nggi1! dan jam tibd (b) resume latat.lp untuk : Interprotasi : (1). Penunjang pelayanan med is sepcrti alat. i). n. dirnana dirawat (2).i eLm lClIHLi l<lll~'. (h).. Cillahlll keterangan kapan -Ian nud is yang pcnyakitnya kcrnana konl rol sdjilP pcndcrita 1t'llgk. Unit Gawat Darurat atau Rumah Sakit dengan pelayanan mernpunyai sistem rujukan yang jelas.1/<11"1!cnl<Hlg t in d. hbur. infus. alat-alat "disposible" dan "linen" cukup untuk 24 jam. Interpretasi : terbatas harus Puskesmas dan rumah sakit kelas 0 yang hanya mampu rnelakukan resusitasi dan life support semen tara. \-lilY (c).ln r·)c··lllg. alat-alat steril. pcrsonalia (b).-lnl (2).im. : (dokter.ltoriut1). obat dan pcrsonalia harus diatur sedernikian rup<1 sehingga dapat memenuhi kebutuhan 24 jam.m k linik. Depot darah (4). Pengawasan ini harus dilakukan terus mencrus baik di ruang Unit Cawed Darurat maupun scw aktu diangkut ke rumah <akit lain. Farmasisangatpenti.h). l). (3). harus mempunyai kornunikasi (telepon. Radiologi.Iaboratoriurn k). obat-obatan dan personalis yang rnemadai untuk melakukannya. biokimia. konsulen termasuk hematologi. bakterioJogi dan patologi d iatur sesuai dengan kernampunn rumah sakit dan kebutuhan periderita.ls me-d i- jam dilakuknn I:: . pulang : (a). porawat. Intcrpretasi (I). radio) dcngim rurnah sakit kclas Iebih tinggi yang terdckat.1[. (2). "plasma expander". Penderita keluar dari Unit Gawat Darurat harus jelas : (1). ha rus bckcrj<l 241. Cat. tenaga adrninistraxi) Daftar jilga : (a).l!l timggdl Sl'rtd (d).llan !ned I". Catat.ngsehingga pcrsediaan obat-obat. j). Penderita-pcnderita Cawat Darurat harus mendapat selama ia berada eli d alam Unit Gawat Darurat In terpretasi : pengawasan ketat Unit Cawat Darurat harus mempunyai perala tan. (".

komunikasi antar petugas melalui d) send iri harus mendapat.m "induction".llTI oricntasi d.' !'j. seb''lg<1i "feedhack". cara menilai rnutu pctUgi1'-.. modis disesuaikan dengan beban kerja dan kelas untuk: lc~l'lganon medis selain pekarya (a) (b) (c) (d) catatan medis keuangan keamanan juga diperlukan asuransi :" jasa Raharja . Harus mernpunyai skema organisasi mulai dari pimpinan sampai petugas yang paling rend ah dengan "job descriptionnya dan jalur tanggung jawabnva. : dan kwalitas personalia harus mcmcnuhi syarat : jumlah (1). Askes .ls.3).ih sakit. (2). Astek b).s baik. Mereka h ar us d i bawah pcngawasan/bimbingan seorang dokter atau perawat dari Unit Cawat Darurat.lilll yan. (4) (5). Harus ada progill1l c). l'erternuan staf yang n:gukr untuk mcnjaga d an k. Tenaga l'enderita non medis harus mendapat kursus Gawat Darurat sebagai orang awam.lSil<1Jl-kebj. perawat dan personalia non medis harus memenuhi kwalifikasi tertentu sehingga mampu rnemberikan pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang optimal. Scor<mg pptugas baru scbelurn bekrrja progr. I" . Penanggulangan (3). Karena Unit Cawat Darurat pada rumah sakit klas A dan B juga temp at belajarnya mahasiswa dan perawat maka sebelum bekerja praktek disitu harus sudah mendapat/ sedang mendapat pelajaran ilmu kedokteran gawat darurat. Personalia Personalia dan Pimpinan : Unit Gawat Daurat mulai dari pimpinan. Karena ilrnu kedokteran gawat darurat tidak diberikan secara "integrated" dalam kurikulum Fakultas Kedokteran dan belum lengkap dalam kurikulum pendidikan perawat maka sebaiknya para dokter dan perawat yang akan bekerja di Unit Gawat Darurat atau Puskesmas harus mendapat kursus tambahan dalam ilmu kcdoktcran gawat darurat. Kritcria a).'bi. dokter. [umlah petugas rum..

(1). (1). RlI. ruanj.ggulill1gan Penderita Cawat Darurat CL1p"t di la ku kan dcngan optimal. I'intu Unit Cawat Darur at llwnghadap tidak pcrlu murtdur. LII'dl) mcnjarnin k<'lC'llrlngall H dipi"dhk. tindakan dan I'Ildllg resusitasi. (5). C~dllng untuk pclavanau I 'enanggulangan I'enderita (.m . (2).uas Unit Cawat Darurat disesuaikan diporkirakan untuk 20 tahun mendatang dengr\ll behan kerja )inng dan kelas rumah sakit. untuk sr-leksi pasicn scsuai tingkat kcgawatan (b). (7).lIang t indakan Uutuk rurnah Iwdilh 1111. Terletak berdampingan dengan tempat perawat kepala: chief nurse/ dokter jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi scm ua kegiatandi pintu masuk. Untu k rtu nah sakit kclas A dan Bh<lTlISadil Helipad untu k pcriderita yilng diangkut dcngan helikopter. sedang untuk r urnah sakit kclas c: hila mcrnungkinkan dibuat lapangan pendaratan hclikoptcr dekat rurnah sakit.mlma !lIang (d).ir ~'II . Un tu k rurnnh IllCIl'1Il)~'111i 11. ruang tunggu.. ""kit kclas i\ dan dan 1 lUll bcd ah sak it kCl. Kaiau ada petugas yang pindah maka hams diminta pendapatnya tcntang Unit Cawat Darurat bcrsangkutan yaitu positif m<lupun ncgatifnY<l dan usu l-usul.1S A. IlllTW1.l. d an ( dan d ig unak an 1111il!K Iwddh infl'ksi lu k. Lokasi gedung Unit Gawut Darurat harus mudah dicapai tanda-tanda y<lOg jelas dari jalan maupun dari dalam. ha k. Uarurat Cawat deng<H1 amhulans ke depan "cilingga f laru» malllpu mencrima 2-5 arnbulans sckalig us sc-suai dcngan Ixban kcria z'kelas rurnah sakit (rurnah sakit kclas C menampung 2-~ arubulans rurnah sakit kr-las D ]-2 ambulans). FasiIitas Fasilitas dan a lat-alat Zobat-obatan Unit Cawat Darurat harus rnernenuhi persvaratan schingga Penan.I).awa! hams sedemikian rupa sehingga Penanggulangan Pcnderita Darurat dapat dilakukan dengan optimal. Ruang triage: (a).l (2) fK) Kuad aan IUclllgaJl harus P.~l1g t". dan alat-alatlobat-obatan : 4).lISit. Kri tcria : a).':-.lsi (<1). l. Cukup Iuas untuk menampung pCllcierita untuk rumah sakit kclas (I')' rll<1ng triage beberapa C) pf'lldl'ril. Diguriakan pr-nynkitnva. (I. (4). (0). Lotaknva hams berdckatan dengan (h).

ruang kerja non medis bagi pimpinan. Ruang untuk keluarga menunggu harus sedemikian Tupa agar rnereka tidak mengganggll pckerjaan. (15).it .dn Unit C. (19).ul yMIS harus del" d i.bi dan tindabn -. : Alat-alat dan obat-llb"t. gudang obat-obatan. polisi. linen (13). Ruang gips dekat X-ray [umlah ruang operas! sesuai dengan keaktifan rumah sakit (a). Interpretasi (a). Juga ada fasilitas we dan kantin sesuai dengan beban/kwalitas kerja yang dilakukan di Unit Gawat Darurat terse-but. (17). (20). Mereka dapat istirahat dan mudah dirninta keterangan yang lengkap dari petugas.]t Darurat t 111J!<lh sakit kelas .aw<!t Daru r. kegiatan rnudah dikontrol olch "chief nurse" pada saat it u. Alat-alat radiologi diagnostik kerja dan kelas rurnah sakit. "social worker".t. disesuaikan derigan beban/ k wali tas Alat-nlat dan obat-obat di Unit Cawat Darurat harus sedemikian mpa sehingga resusitasi dan "life support' dapat d i iakukan.Isit. Ruang persiapan operasi/observasi (tergantung pintu kebutuhan) dari luar/dalam (10).in dapdt dibagi : . Susunan (recovery soom) tergantung kebutuhan :3 tempat tidur untuk 1 karnar operasi) harus sedemikian rupa sehingga : (1 wang jurnlah ternpailldur 1:50/ ruangan (a). (16). ruang konferensi. haws dapat menampung korban bcncana sesuai dengan kemampuan kelas Rumah Sakit (c). Ternpat khusus berduka/berdoa untuk yang meninggal dan keluarganya yang sesuai beban kerja atau kelas rumah sakit. Ruang X-ray dan ruang farrnasi dengan Rumah Sakit kelas A dan B) operasi (tergantung kebutuhan) (11). ruang sterilisasi (d). locker. Behan kerja dan keias rumah sakit akan rnenentukan besar dan isi sudang farm asi. ruang bayi baru Iahir (operatif) (b) fu. arus penderita dapat Iancar dan tak ada "croos infection" (b). Ruang (untuk (12).lbilisdS.13 dan C mak. tempat istirahat.ldalah untuk timbkan rCSl. (IS).(9).mg instrumen (c).J.scinua baf. perawar penanggung jawab. Komunikasi tilpon/radio ke Iuar rumah sakit dan tilpon intern di Unit Gawat Darurat dan ke rumah sakit. wang cuci (e).\. Ruang pulih pulih dengan (14). asuransi.i . alat-alat dan obat-obat. pcnderitd ('iif"~upp()rt'l Scclilngkan untuk Unit Cayv.

amp. llinger.Pethidin . 18 Bic Nat. (6).(1). "Lichtkast" "Pneumatic trousers" "Cricothyroidectorny" Gunting besar anti Trendelengburg. alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-alat kearnanan lain-lain.Adrenalin 50 'Yr. . (4). (3). "Plasma ex- glukose "Blood drawihg equipment" Tandu dapat posisi Trendelenburg. penderita (life support) : kit" scgilla ukuran lengell!. (2). cateter lurus dan bcngkok sernua ~ sernua (anak dan dewasa) ukuran ukuran 10 cc . lcher. (5). guedel "Syringe: CVP set Morphin Dextrose yang perlu dengan otomatik untuk resusitasi: dan masker Suction-manual/otomatik (02) lengkap manualy flow meter. A1at-alat/obat-obatan "WSD sct"/jllfum "Blood gi1:-."cardiac Infus/transfusi pander" + defibrilator 10 . monitor/portable" set + cairan ECG . infus dan pengikat.20 'Yr" NaCL. untuk menstabilisasi pungsi set" untuk tungkai. untuk resusitasi untuk "life support" untuk diagnostik sesuai dengan tipe Rumah Sakit terapi sesuai dengan tipe Rumah Sakit non medis seperti audio visual. ada gantungan + "Tracheostomy set". [arum intra kardiak "Pace make: *" transvenous" * "transthoracic". dan Alat-alat Zobat-obatan Oksigen Respirator Laringoskop Magil forceps Pipa endotrachealPip a nasotracheal Pip a 5. tulang runggung "Car diar rnodication Bidai-bidai .[arum No. amp. training seperti pemadam kebakaran kebersihan aids.

.lIIgg11lang.ct'· "Thoracotomy set' "Laparotomy set + extraset" Benang-benang z'jarurn scgala jenis + ukuran Alat-alat kearnanan dan pendidikan : Pernadarn kehakaran Ember ..lp waktu hagi seruua personalia .Perban sega!a ukuran Sonde larnbung Foley kateter segi1la ukuran Venaseksi x-ray Perban set untuk luka bakar set untuk diagnosa dan terapi : Perikardiosintesis Alat-alat tambahan Alat-alat pcriksa-pcngobatan "Slit lamp" THTsetDj + '1'11/.. Boneka untuk latihan "Audiovisual jtraining aids". Laboratorium mini: . Lavase peritoneal set "traction kit" : ~ bone ".skin " pelvis Gips Ob-Gyn set.m l'eudcrita Cawat Darurat harus tertulis dan "up date": dan dap<lt dih<1«l setJ.ke dalam Perp usta kaan Manual Zbuku F't'doman pl. . Komunikasi .gula darah "Bone set" "Minor surgerv :. \') t[) . Protokol gawatdarurat dan korbsn ProtokClll'cn.'ll<lnggulangan pcndcrita penanggulangan bencana. 5)."kick bucket".Hb mata • Ht * ICllCO * urin . Dj + Th/. teIepon .ke luar ---> radio..

Pendidikan Unit Gawat Darurat harus mampu meningkatkan rnutu Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bagi personalianya. kota dan nasionaJ Triage Sis tern rujukan Penerirnaan penderita Sistern asuransi I'erkosaan Tindakan kriminil "Child abuse" Keamanan . (17). (9). (12). (21).O. (6). a). (18). Harus mcngikuti pengcmbangan dan kongres-kongrcs seminar .psikiatri Kontaminasi radioaktif Keracunan Penderita tak dikenal Catatan medis Penyakit rnenular Visum et repertum Rahasia rnedis Surat cuti Resep apa yang boleh diberikan Resep obat narkotik Kernahan di Unit Gawat Darurat Mati waktu tiba (D. Unit Cawat Darurat adalah sesuai kelas Rumah Sakit Haws rriempunvai program tempat belajar mahasiswa dan perawat baru orientasi dan induksi bagi personalia ilmu rnelalui kcpustakaan. (3). (7). (23). (13). (8). b). (10). Protokol yang harus ada adalah : (1).A) Kebakaran Listrik mati Huru-hara Bencana di Rurnah Sakit! di luar Rumah Sakit Resusitasi kardiopulrnoner di Rumah Sakit Protokol tentang tiap-tiap penyakit sesuai yang dianut unit-unit lain yang bekerja di Unit Gawat Darurat. (25). (19). Sistem PPCD di UCD. (15). 6). (5). rumah sakit dan rnasyarakat yang dilayaninya. (24). (22). (2).Kriteria: a). (11). b). (26). (20). Kriteria . RS. (16). (4). (14). d.

d). e).

Harus mampu rnelakukan riset derni perhaikan Penilnggulangan Penderita Gawat Darurat di unitnya maupun masyarakat. Sernua (1). (2). (3). (4). (5) (6). (7). (8). personalia minimum harus mahir dalam penanggulangan:

"air way" (A) "breathing" (B) "circulation" (C) menghentikan perdarahan balut - bidai transport pengenalan dan penggunaan membuat/baca ECG

obat

7).

Evaluasi Evaluasi mutu Penanggulangan dan berjalan terus. Kriteria: a) Statistik dibuat dan dievaluasi secara komprehensif. Pcnderita Gawat Darurat harus komprehensif

Interpretasi: (1). akses untuk masyarakat (2). adanya sarana (3). kwalitas pelayanan (4). rnutu dan kaitan komponen-komponen (5). biaya yang sesuai b). c). Kasus-kasus yang menyinggung/ mencari jalan keluar. Pertemuan

dalam

PPGD

aneh/jarangdicatat

dibicarakan

untuk

staf
.. kelemahan Unit Gawat Darurat mencari jalan keluar kesepakatan dan menyebar luaskan hasil pertemuan pada semua staf lIpaya perbaikan dan peningkatan mu tu pela yanrui

Interpretasi : Untuk meneari:

..

*

b.

Unit Pelayanan
1).

Intensive

Filosofi Intensive Medical Care (J.M.C) sebagai suatu akrivitas khusr.rs mendapatkan legitim2lsi bukan oleh karena kompleksitas peraiatan dan pcmantau.m pasicn. tetapi oleh karena pasinn sakit krit is

(Critically ill) selalu berakhir pada suatu "final common pathway" dari kegagalan sis tern organ sehingga dibutuhkan bantuan terhadap sistern respirasi, kardiovaskular, renal, nutrisi dan organ vitallainnya baik tersendiri rnaupun terkornbinasi. Sebagai contoh untuk pasien dengan gagal nafas hipoksemia tidak menjadi persoalan apakah paru-parunya mendapat trauma dari roda mobil, teraspirasi asam lambung, atau terserang virus, manajemen suportif dan hasil akhir selalu akan sarna. Ini salah satu contoh "suatu pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan jelas" oleh cabang spesialisasi I.M.C. Aplikasi yang tidak terkoordinasi dari multi-disipliner tidak hanya merugikan pasien. tetapi personil perawatdan tenaga profesimedis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit Intens Care "terbuka" yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. Pada hakekatnya tidak merupakan persoalan apakah seorang sepesialis penyakit dalam, bedah anak atau anestesiologi yang mengelola suatu LCU sepanjang spesialis tersebut mernenuhi persyaratan: a). Pengetahuan
b).

"Intensive Care"

Keterampilan Komitmen waktu

c).

Hanya dengan ke 3 syarat tersebut akan terdapat pelayanan yang komprehensif. Keahlian ini bukan merupakan hobi, juga bukan pekerjaan sarnbilan ("part-time"). Harus diingat mendapatkan konsultasi merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan pasien-pasien saki t kritis. Meskipun demikian merupakan kewajiban seorang intensivis bertindak sebagai "interlocutor", mengkoordinasikan dan membawa semua informasi dari berbagai konsultan untuk kepentingan pasien. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang intensivis adalah bayangan ideal seorang dokter di masa Iampau, yaitu mernbawa seorang dokter kembali ke "bedside" untuk mengelola pasien secara utuh, berkonsultasi dengan kolega dokter dan keluarga pasien. Di samping pengelolaan pasien sakit kritis yang memerlukan penggunaan alat-aJat dan teknik-teknik bantuan hidup (Tife support"), intensivisjuga harus menurnpahkan perhatian z'mengarahkan usaha sernua dokter kepada problema multi-faktorial pasien. Seorang intensivis harus rnerupakan seorang manajer, diplomat dan guru, dan dalarn rangka mengaplikasikan usahanya harus terdapat

piramida

dari

berbagai

tenaga

lain

seperti

perawat.

f isi o-

terapis. teknis-teknis,
Pasien-pasien dengan gagal alat-alat bali jika

dan lain-lain.

Tanpa bantuan tersebut maka usaha seorang intensivis
yang masuk yang satu atau lebih gagal sistem / organ dilakukan utarna bantu. Oi samping sistem/organ terdapat akut,

akan sia-s ia.
pasien dan! atau pulih kern-

ke suatu ICU harus merupakan mernbutuhkan itu harus pemantauan harapan
tepClt

atau ancaman

terClpi cian barituan

yang

Fungsi a). b). c).

ICU adalah didapati

membcrikan

bantuan

fisiologis

yang

dibutuhkan

sampai

hasil :
problema dasar

Pasion sernbuh spontan Terapi spesifik dapat mengatasi Pasien meninggaL

Perlu juga ditekankan bah wa filosofi "Coronary Care" tidak sarna dengan filosofi "Intensive Care". Hal essensial dari "Coronary Care" adalah "surveillance" dan se-sekali melakukan intervens i aktif dan bantuan sistern mu1ti-organ. Difinisi lain "ICl.I" adalah tentpat melahlknll bantam! (support) "nku]" dan interoensi tcrapeutik: delIgml aktinit a« dan keriinnan yrzJlg tidak sesuai untuk atmosier "11011 strees" dan "Coronary Care Unit" ideal. Bentuk pengelolaan bentuk pengelolaan lCU sering mcnjadi pertanyaan. leU dengari "closed unit" yaitu: kepala unit "full time"

dengan wakil-wakiln ya bcrtanggung jawab penuh terhadap semua pengelolaan pasien dan pendidikan dalam unit, sering menimbulkan konflik autoritas dengan dokter primer konsultan. Suatu K'U yang "semi-closed" yaitu dengan kepala unit bertanggungja wab terhadap kualitas total pengelolaan pasien dart pendidikan staf, mungkin lebih baik dalam hal mengurangi konflik, tetapi di atas segalagalanya manajemen yang terarah dan jelas merupakan hal yang: tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini penting bukan hanya untuk pengelolaan pasien juga untuk mempertahankan moral staf dan koordinasi Rumah program-program sakit tidak hanva kompleks. bertanggung jawab mcnvediakan

Iasilitas dan tempat, tetapi juga bertanggung jawab legal agar Iasilitas leU digunakan secara tepat dan balk. Old, karena ilu, terdapat tendensi akhir-tendensi ini di rurnah-rurnah sakit dengan pelavanan sck undur (Lin tersiL'I' untuk nununjuk pcrsllnil medic:; ICU "full time" medis
("m,llId,ltorv

(intcnsiv

is) dari
-n").

pada

hergantung

pacta

praktek

"la lsscz-fa ire"
lllliC,U]tdtil

a la u krharu

san

me lakuk an k o ns u lt as i

perawatan terlatih atau berpengalaman dalam "Intensive care (perawatan/terapi intensif)" yang mampu memberikan pelayanan 24 jam. Klasifikasi a). Merniliki kebijaksanaan r kriteria penderita yang rnasuk keluar serta rujukan (. rUrlng darurat dan rU<1ngal1pcrawatan lain (2). Memiliki s('orang doktcr -:pcsia1is anestesiolllgi scbagai kl'PilJ'l . Kemampuan minimal leu adalah Sebuah leu hendaknya memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung pam Pengelolaan jalan napas. Kekhususan (1). terrnasu k intubasi trakeal dan penggunaan ventilator Terapi oksigen Pemantauan EKe terus menerus Pemasangan alat pacu jantung dalam keadaan gawat Pemberian nutrisi enternal dan parenteral Pemeriksaan Iaboratorium khUSLlS dengan cepat dan menyeluruh Pernakaian pompa infus atau semprituntuk terapi secara titrasi Kernampuan melakukan teknik khusus sesuai dengan keadaan pasien Mernberikan bantuan fungsi vital dengan alat-alat portabel sclarna transportasi pasien gawat. dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala K'U: tenaga ahlilaboratorium diagnostik."1). Ruangan yang hams dimiliki : tersendiri: letaknya dekat dengan karnar bedah.2). memiliki staf khusus. trauma atau kornplikasi-komplikasi. Staf khusus adalah dokter. alat untuk menopang fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik. teknisi alat-alat pemantauan. Intensive Care Unit (Unit Perawatan/Terapi Intensif) suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit. peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. pelayanan K'U Pelayanan leu primer (standard minimal) Mampu melakukan resusitasi dan mernberikan ventilasi bantu kurang dari 24 jam serta mampu melakukan pemantauan jan tung.

dokter jaga minimal mampll RJP A. (5).ErF. Rumah sakit yang dapat mempunyai ICU primer. Pelayanan leu tersier (tertinggi) Marnpu melaksanakan sernua aspek perawatan. kemudahan diagnostik dan fisioterapi.B. rontgen. kemudahan diagnostik dan fisioteri selama 24 jam Memiliki ruang isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi. c).(. Kekhususan yang hams dimiliki : Merniliki tempat khusus tersendiri di dalarn rumah sakit Merniliki kriteria penderita masuk. Memiliki jurnlah perawat yang cukup dan sebagian besar telah terlatih (7).F) .D. keluar dan rujukan Merniliki dokter spesialis yangdapat menanggulangi setiap saat bila diperlukan Memiliki seorang kepala ICU yang bertanggung jawab secara keseluruhan (intensivis).I3.CD. rllang darurat dan ruangan perawatan lain Memiliki kriteria pasien masuk. Pelayanan leu Sekunder (menengah) Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama.' tempi intensif. Rurnah sakit umum klas C (2). Mampu mengadakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien :pera wa t 1 :1 pada setia p saat jika diperlukan Memiliki perawat yang bersertifikat terlatih perawatan/ terapi intensif Mampu memberikan bantuan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pernantauan invasif dan usaha bantuan hidup Mampu melayani pemeriksaan laboratorium.r:.(4). berdekatan dengan kamar bedah.F).E. Konsulen yang membantu harus selalu siap dipanggil (6). rontgen. . Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan resusitasi jan tung paru (A/B. Rumah sakit umum klas I3l b). keluar dan rujukan Mern iliki dokter spcsial is yilng dapatme!lilnggulangi sotiap saat bila d iperlukan Memiliki seorang kcpala ICU yang bertanggullg jawab secara k esel ur uhan (intcnsivis) dan doktcr jagil vang minimal mampu RJI' (i\. kekhususan yang harus d irnili ki : Memiliki ruangan tersendiri. Mampu melayani pemeriksaan lab ora tori urn. adalah : (1).CO. melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks.

Memberi bantuan dan mengambil aIih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan penatalaksanaan spesifik problema dasar (3). ah1i kebidanan dan lain-lain Memiliki staf tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi. Penyakit (b). Pemantauan itu sendiri (4). perbandingan perawat: pasien lebih dari 1 : 1setiap shift untuk kasus erat dan tidak stabil Merniliki lebih banyak staf perawat perawatan/terapi intensif Mampu melakukan sern ua bentuk perawatdn/krclpi intensif bersertifikat pemantauan terlatih dan Mampu melayani laboratoriurn. Pemantauan fungsi vital tubuh terhadapkomplikasi (a). rontgen. tenaga rekam medis. -_i () . Sistem bantuan tubuh (d). seperti ahli penyakit dalarn ahli bedah saraf. s tirnu lasi berlebihan dan kehilangan sensori (5). Member ikan bantuan emosional tcrhadap pasicn yang nyawanya pada saat itu bergClntung pada fungsi alat/ mesin dan orang lain. prosedur diagnostik dan terap_i khusus. im ob ilitas berkepanjangan. Penatalaksanaan spesifik (c). Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kernatian dalam beberapa menit sarnpai beberapa hari (2). perawatan/Terapi (leU) Ruang hngkup pelayanan yang diberikan di leu (1~.kemudahan diagnostik dan fisioterapi seIama 24 jam Merniliki paling sedikit seorang ahli dalam mendidik staf perawat dan dokter muda agar dapat bekerja sarna dalam pelayanan pasien Merniliki prosed ur untuk pelaporan resrni dan pengkajian Didukung oleh semua yang ahli dalarn diagnostik dan terapi. Penatalaksanaan untukmencegah kornplikasi akibat kama yang d a la m.Memiliki lebih dari satu staf intensivis Mampu rnenyediakan staf perawat. tenaga untuk ilmiah dan penelitian Merniliki alat-alat untuk pemantauan khusus. Prosedur pelayanan a).

pasicn tidak stabil yang mcmeriuk au terapi intensif scperti bantuan ventilator. perawat dan tenaga adrninistrasi rurnah sakit Pelayanan ICU meliputi pemantauan dan terapi intensif.ikan mornburu k <. tamponadejantung. [ndjkasi keluar ICU (1). (3).ll nil pas berat.~('llIiliim (lI. tidak ada harapau dapat d isern btl hkan Iagi (contoh: karsinoma stadium akhir. bcd'lh jantung terbuka. kerusakan susunan saraf pusat dCllgan koadaan vegdatif).l"m 11.'iiln . Pasien sccara medic. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium) kccuati keberadaannya diperlukan sebagai donor otgan.sif atau non invasif sdl1ngga komplikasi berat dapat d ihindarkan atau dikurangi (conroh: rase" bcdah besar dan luas: pasi--n dengan penyakit jantung. pi'lrU. (2). Pasicn yang memerlukan terapi intensif untuk rnengatasi kornpl ikasi-komp likasi akut. b).lndikasi masuk dan keluar leU Prosedur rnedis yang menyangkut kriteria rnasuk dan kcluar leU seharusnya disusun bersama antar disiplin terkait oleh sernacam tim terd iri dari dokter.. (3).erLl manfaat terapi inlcnsif sang(lt keei!. Indikasi masuk leu (1). Persyaratan masuk dan keluar lCU hendaknya juga d idasar kan pada manfaat terapi di leU dan harapan kesembuhannya Kcpala leu atau wakilnya rnemutuskan apakah pasicn memenuhi syarat masuk feu dan kcluar.ij knn-ria k--adaan mombaik ntau terapi klilh gag81 dan pruln'<. pernberian ohat vasoaktif melalui irrfus sccara torus mcnerus (contoh: gag. kepala leU atau wakilnva akan memutuskan pnsien mana yang harus diprioritaskan.ikit berat.. pasc. ['(lsicn tidak rnernerlukan hgi terapi intc[)<. a). d..i.lder yang lld'lll:. (2). Pasien rncnolak tempi bantuan hidup. j). da iam waktu de-kat . syok scp tik ).1i. ginjal ataulainnya). sekalipun mantaat leU ini sedikit (contoh: pasicn dcngan tumor ganas metastnxis dengan kompl ik_asi in febi. Fasit. karena it'll secara umum prioritas terakhir adalah pasiendengan prognosis buruk untuk sernbuh.11 vJng kcd un por lu pE'r.'jl s.. Pas ir-n yang mernerlukan pernantauan inter. surnbatan ja'lan napas). Tidak perlu masuk leu (1).

(SUB-SISTEM dan Manajemermya K'U (lihat lampiran IV). Renal Unit. maka pasien yang tidak kritis tetapi rnernenuhi kriteria keluar terpaksa dikembalikan ke ruangan. Burn diserahkan kepada disiplin 3. d. kecelakaan jalan to1 khusus untuk korban kecelakaan lalu jasa Raharja tenaga keria (ASTEK). Masvarakat (OUKM) resiko untuk Dana Upaya Kcsehatan Sumber swastay perusahaan swasta yang berpotonsi tinggi untuk terjadinya kccelakaan dapat diwajibkan menycd iakan biaya untuk FPC!). Sarana dan prasarana Unit-unit Khusus Unit. (3). c. gawat terdiri pembiayaan untuk penanggulangan dapat berasal dad pemerintah dan pusat dan daerah Surr.ber dari pemerintah jasa Marga untuk Asuransi Asuransi lintas Asuransi Pegawai Negeri b. kareria trauma) dan sangat yang keeil (c). KOMPONEN Sumber darurat dari: a. Pasion d engan bermacarn -maeam diagnosis seperti P POM. . g. jan tung terminal.(2). Pasion mati otak atau koma (bukan menirnb ulkan keadaan vegetatif kemungkinan untuk pulih. c. Apabila tempat di JeU penuh. Bi!a pad a pemantauan intensif tcrnyata hasilnya rnernerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama. (0). Standard ilmu terkait. PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN) penderita masyarakat. Terapi intensif tidak diteruskan Iagi pada : memberi manfaat dan tidak tidak perlu (a). karsinorna yang menyebar. ada pasien lain kritis yang rnemenuhi syarat prioritas pertama. Pasion usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak mernberi respons terhadap terapi intensif sclama 72 jam. f. ICeu. hendaknya dengan persetujuan dokter yang mengirim. Pelaksanaan ketiga butir terakhir ini hendaknya dilakukan atas persetujuan dokter yang mengirirn.

1l1.' I . 032/Birhub! 1972 tentang Referal System. 134/Menkes/ SK/IV 11979 tentang Susunan Organisasidan Tata Kerja Rumah Sa kit Umum.1. 558/Menkes/ SK 1J 9S4 tentang Organisasi dan tara Kerja Departcmen Kl's('h. untuk keseragarnan dan peningkatan mutu pelayanan rnedik. S Undang-Undang No. Mengingat I.111 SLll1darisasj . Mcntori Kcschatan Pci<lv. R! !. .21 tahun 1984 ten tang Repelita IV. 034iBirhub/ I 972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit: Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rf No.1.\'i". Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. diperlukan standarisasi pcrlcngkapan urrium d an Il)ctiis pada kcndaraan khusus tersobut... Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK IN DONESIA NOMOR : 01521YAN. . 4. 99a/Menkes/ SK/III/l982 tentang Sis tim Kesehatan Nasional: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.MED/RSKS/1987 TFNTANG STANDARJSASI KENDARAAN PELAYANAN tHEDIK MENTERI KESEHATAN REPUBLJK INDONESIA Menimbang L bahwa dalarn rangka meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan mr-dik dan kesehatan diperlukan jenis kendaraan dengan p"'r'-'varatan khusus. 5.('nt<lng l'>~'utllS("lJl i<.9 Tahun 1960 tt.jalan Raya. 7.'ntang Pokok-Pokok Kesehatan: Keputusan Presiden No. 2.Llr.1tan RT. b. Undang-Undang Lalu-Lintas dan Angkutan.m Mcdik. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No..

jen.1 11 Indonesia P{'rlinggill. Spesifikasi Kendaraan pada diktum pertarna sf'perti tor larnpir. 7. di lingkungan Departemen Kesehatan RJ. Arnbulans Rumah Sakit Lapangan. H.jen.- . 3. Keernpat Kelima sejak tanggal ditctapkan. Ambulans Cawat Darurat: 3.I. Dir. 4. Kepala Direktorat Lalu Lintas Mabes FOLRI Kakanwil DcI' Kl's 1\I I'ropinsi di seluruh Indonesia Pengurus J\s()si<lsi I'('["kit Kcnda [. Bapak Menteri Kesehatan R. Hal-hal yang belum diatur dalarn diktum Keputusan ini mulai berlaku akan diatur kernudian. 5. Kedua Ketiga Sernua Kendaraan khusus yang sudah ada harus dilengkapi sesuai Keputusan ini dalarn waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan ini ditetapkan.1. MENTERI KESEHATAN REPUBUK Direktur J_enderal Pelayanan Medik. kepada Yth. 8. Mohamad Isa Tembusan disampaikan 1. 4. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak. 5. 2. Dr. 6.r. Arnbulans Transportasi. 2.L Inspcktur Jenderal Departemen Kesehatan RJ. Ditetapkan di : J a k art a I'ada tang-gal : 24 Pebruari 1987 J\. Sekretaris [enderal Departemen Kesehatan R.: 9. Perhubungan Darat Departemen Perhubungan J~.Pertama Di dalam Keputusan ini diatur tentang jcnis Kendaraan: 1.1-1 . INDONESIA ttd. Kereta jenazah. Para Dir.n.

7_ 8.'ct'pat<11l kcnciarnan sclinggi 40 Krn eli [alan hiasa dan NOKm eli jalan bebas harnbatan . Tabung Oksigen dengan peralatannya. Dilengkapi sabuk pengaman. ~. Teknis 1_ 3. B. Ruangan penderita rnudah dicapai dari tempat pengemudi. Perala tan Medis P3K Obat-obatan sederhana. Stopkontak khusus untuk 12v. Sclarna meng-angkut pcnderit a hanva bo'lch l1lL'nggunakan lampu rotator. Kend araan roda empa t ata u Iebih d ('ngan sus pensi lunak. Lemari obat dan peralatan. O. Radio Komunikasi. 9. DC diruang penderita. Tempat dudukbagi petugasdi ruangan penderita.L AMBULANS TRANSPORTASI Pengangkutan penderita yang tidakrnemerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatanselama dalam perjalanan. Sewaktu menuju tempat pencierita bolch mcnggunakan sirene dan larnpu rotator. wastafel dan. 10. Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. T?lta Tertib 1. kemamp uan Pl'CD. 13. 1. 11. Ruangan penderita eukup luas uantuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. penampungan air limbah. 6. 16. Sirine satu nada. K'-. Lampu rotator warna merah. 12. 2. Persyaratan lain sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia. . 4. Air bersih 20 liter.cairan infussecukupnya. 2. 1 (satu) supir dengan Komunikasi 1 (satu) I'erawat dengan kemampuan P3K dan Tujuan Penggunaan Persyaratan kendaraan: A. Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang mernantulkan sinar. 14_ 15. 3. Medis 1. 2. Larnpu ruangan seeukupnya. Scmua porn luran lululintas harus ditaati. 5.

Persvaratan /\. 16. Ruangan penderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Larnpu rotator warna merah dan biru. 10. peraturan perundangalar berair 17. Air bersih 20 It. 11. semua 19.II. Tcknis Tekni= : 1. 14. roda ernpat ataulebihdengansuspensi tidak dipisahkan dad ternpat bagi Ruangan penderita pengemudi. 9. Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat petugas diruangan penderita. 13. 5. 4. . Cantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. wastafel dan penampungan Iimbah. Persvaratan lain sesuai undangan yang berlaku. 3. Radio kornunikasi. Meja dapat dilipat. Pt'r<liat. Kendaraan lunak. Lemari untuk obat dan peralatan. Dilengkapi sabuk pengarnan. 8. Ruangan penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan tindakan. Stop kontak khusus penderita. 6. AMBULANS GAWAT DARURAT Pertolongan PPGD Pra Rumah Sakit Tujuan Penggunaan Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan keternpat tindakan definitif / distabilkan Rumah Sakit. 15. 12. 2. Tanda f~C'Ilg:l'n(l1 d ari bahan yang mernantulkan. I k. Sirene 2 (dua) nada. l3uku petunjuk pcrncliharaan buhasa Indonesia. 7.lt1 rcsquc. untuk 12 v DC di ruangan Larnpu ruangan secukupnya dan lampu-Iampu sorot bergerak untuk menerangi penderita yang dapat dilipat.

: 1. dapat digabungkan dengan ambulans-ambulans sejenis dan ambulans Pelayanan Medik bergerak membentuk suatu Rumah Sakit Lapangan. . 7. 4. LAPANGAN C Petugas 1. Teknis kendaraan 6. 3. Semua peraturan lalu lintas harus ditaati. . 3. Minor surgery set. 2. 2. Bila diperlukan. Persyaratan A. 2. 6. III. 5.'1. 1 (satu) dokter gawat darurat (tergantung keadaan). Kecepatan kendaraan setinggi 40 Km di jalan biasa dan 80 Km di jalan bebas hambatan. Tempat duduk yang dapat diatur Idilipat bagi petugas diruangan penderita. Ruangan penderita tidak dipisahkan dari temp at pengemudi. 1 (satu) perawat gawat darurat. perawat gawat darurat dengan kernampuan mengemudi dan kornunikasi. Suction pump manual dan Iistrik 12 v DC Perala tan EKG dan monitoring lainnya. D. 3. 3. Obat-obatan gav'iat darurat dan cairan intus secukupnya. Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak. Ruangan pcnderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Dilengkapi sabuk pcngaman . Selama mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator. Tabung oksigen dengan peralatan untuk 2 (dua) orang. 4. Tata Tertib 1.B. 1 (satu) supir. 2. AMBULANS Penggunaan RUMAH SAKIT Tujuan Dalam keadaan sehari-hari melaksanakan fungsi ambulans gawat darurat. Me dis 1. Peralatan rned is P3K Perala tan resusitasi lengkap bagi orang dewasa dan anak /bayi. Sewaktu menuju tempat penderita boleh rnenggunakan sirene dan lamu rotator. Ruangan penderita cukup tinggi schingga pdugas dapat bcrdiri tegak untuk mo la kukan tindakan.

l'era latan modis P3K. 7.ls harus d it.. B.l]l bi.1 (satu) perawat gawat darurat. . 9.. Lampu rotator wama merah dan biru. Radio kornunikasi.wastafel dan penampungan air limbah. Tata Tertib 1." harnbatan.l) Km di jal.l. 12. 11. 2. Perala tan rcsusitasi Iengka p bagi dewasa dan anak Zbavi Suction pump manual dan listrik 12 v DC.'dLi<lC1n). 5 6.7. 3. Tabungan oksigen dengan perala tan untuk 2 (dua) orang. D. Meja dapat dilipat. 8.). Selr\Ind rncngangkul penderi!" h a n va boleh Illcnggunak. ['('rablan EKG dan monitoring lainnya. . 2. Minor surgery set. 20. Pcrsyaratan lain sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. . Medis 1. perawatan gawat darurat dengan kcmampuan mengemudidankornunikasi. 17.. 18. Tenda Japangan Iengkap. Perala tan resguE'_ Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan. :-. 1 (satu) supir. Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya. 13. Lampu tuangan secukupnya dan larnpu-Iarnpu sorot bergerak untuk mencnrangi penderita yang dapat dilipat.LIIl SI) Kill eli jilLlI1 heb.gi. 14. Leman untuk obat dan pcrala tan. Sirene 2 (dua) nada. C Petugas 1.Hl lampu rotator. 15. 1 (satu ) dokter gawat d ar ur a t (tergantung kl. Bu k u pdunjuk pemelihClr..CIrlU<l pcraturan bill lint. Se w ak t u rnenuju temp at p encler ita b o le h ll1enggulhlkan siren!' dan larupu rotator.-wn se m u a a la t berbahasa Indonesia.. 3. Air bersih 2111t. L.ltan kendarclan Sdint. Stop kontak khusus untuk 12 v DC di ruangan penderita. Gantungan infus tcrletak sekurang-kurangnya 90 em di alas tempat penderita.]q . 16. 4. 10.mli KI'\(T.J. 19.

['dug. Stop kontak khusus untuk 12 v DC Cenerator 220 v DC dengan peralatannya. Tempatduduksesuaikeperluan di ruangan kerja. . 1 Ternpat tidur / tand LI bagi sekurang-kurangnya (satu) penderita.I'. Meja kerja yang dapat dilipat. Sirene 1 (satu) nada Lampu rotator warna biru Radio Komunikasi Persyaratan Iain sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Tc k n i s Kendaraan roda empat atau kbih dengan suspensi lunak. Dilengkapi sabuk pengaman. Ruangan kerja cukup luas untuk tujuan penggunaannya dan cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk bekerja. Supir dcngan kernampuan P3K dan kornunikasi Pc r a w a t an dengan kern a mp uan PPCD dan kern am puan khusus lain scslIai tujuan peng~lIna. Lampu ruangan secukupnya dan 2 (dua) buah larnpu sorot bergerak. Bu ku petllnjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia Public Address System Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan B_ Me dis Tabungan oksigen dengan peralatannya Perala tan medis P3K Obat-obatan sederhana. cairan infus secukupnya Perala tan upaya pelayanan mcd ik sesuai tujuan penggunaan kendaraan.l mc.as bin s('su<li kebut uhan.IV. Per svaratan kondaraan : A. AMBULANS Penggunaan PELAYANAN MEDIK BERGERAK salah satu upaya pelayanan sebagai medik Tujuan Melaksanakan dilapangan.!s pdr.Iis j")nkkr C Pctu.lIl kt'IHhri)il)i (jurnlah SC:-'lIili kebutuhan). Dapat dipergunakan ambulans transportasi.

C Tata Tertib Sirene hanya dipergunakan pada waktu bergerak dalam iringan (konvoi) jenazah dengan mentaati pcraturan lalu lintas tentang iringan (konvoi). Bilarnana tidak mernbcntuk iringan hanya belch mempcrg unakan lampu rotator dan sern u a per aturan lain lintas harus ditaati. ker eta [cnaznh d a r i bahan cahaya. Kccep<1tan tcrtinggi eli jalan biasa adalah 40 Km/ jam dan di [alan bebas hambatan 80 Krn/jam. j(1 . Tata Tertib Lampu sirene hanya digunakan dibutuhkan Lampu rotator digunakan kernbali dad tempat tujuan Semua peraturan bilamana sangat pergi dan sewaktu lalu lintas harus ditaati Keep!'<l tan kcndaraan sctinggi-tingg:inya 40 Km / jam di jalan bi.lS. KERETAJENAZAH Tujuan pengglma.D.m: Persvaratan A. Petugas 1 (satu] supir Petugas pc-ngawal jcnnzah sesuai kebutuhan. Pcngangkutanjenazah kcndaraan : Keridaraan roda empat atau lebih T e k n is Ruangan jenazah pengemudi jenazah terpisah dengan ruangan satu peti Dapatmcngangkutsekurang-kurarignya Dilerig kapi sabuk pl'ngamilll Tcmpat duduk Iipat bagi sokurang-kurangnya (ernpat) petugas di ruangan jenazah Sirerie 1 (satu) nada 4 Lampu rotator w arna kuning Tarid a pengenaJ mernantulkan B.lllya dan SO Km/jellJl di jalan bcbas harnbntan V.

(inflatable) Kotak obat-obatan (shok luka bakar. I'esawat hX('d Wing: Tcrh. untuk korban/bag-bag komunikasi jurnlah ditarnbah.uaikan. medic.Jllb~l!llu winchman. 1)(. Hdi besar . orang awam yang te l ah mendapat latihan FreD lengkap). PC:-.. Personil:' a).l t (In inirnal scpcrti HeJi j I . 1 Vacum matress.l\V.l'C. b). 2. infus (obat korban 1 keranjang tandu.. PFGD latihan lengkap I'cmbantu rnedis (paramedis.radar operator I iurnlah dic. n-u I:w<. Peralatan a). Heli kecil 2 tandu.Jenisnya sa rna dengan di atas hanya telinga (Ear Protector) kcbaknran mayat.[H Jumlah disesuaikan Copilot.lll l)i~'. Monitur alat dan obat rcsusitasi splints keracunan. UDARA Ddibrilatur/FKG Pulserneter Kotak Suction Peneumatic respirator.LAMPI RAN II AMBULANS 1. Pilot dibantu navigator. pendarahan dan lain-lain) terrnasuk dan alat infus) Kotak pendingin Kantung Non medical equipment: Baterei Pelindung Pcmadam Radio I 'v rotehnik b). Heli kecii 3 (tiga orang) Pilot yang mendapat Dokter umurn. c).lJ ) tUJl)~ [on i:-. mempunyai pengetahu<1n d i lapangan.

Syarat pesawat : *) noise level (bising dipermukaan) vibrasi akibat gerakan rotor temperatur dalam Cabin sebaliknya twin engine Dengan persyaratan tcrtentu sesuai jenis : pesawat. Lebih dari jarak itu harus dilakukan oleh Fixed Wing. hellipad) 2) jarak yang harus ditempuh Untuk helikopter bila berjarak maksimal 200 . ") *) *) 4.300 km. -12 .3. Syarat penggunaan Diperhatikan : 1) fasilitas kendaraan (lapangan terbang.

.g § VJ -C"'i :s 'l) E . « S E-..u z o ii u 0) 0- ... ...... ..' .. j' z ..~ E 0:1 .....::.

.~ _". o-...D ilJ '" ilJ <!J r. :-::2 <l.: ..5 '" ::l Q...:j Vl '" E s::: ..::.ex: b!J 'C r~ '. o(j "0 <I) E "0 _". c c _". !<: >.: 0 "0 .a s::: '<.. '" . s::: r-: .'.l -0 '" c s::: b!J :l -c E :'2 <I) r-: :-s 00 ::l E v 'C'j >-.'" .... c.! b!J "'" ':i) 1) J) < E :.:... ::l E '" :.. g ::l ...s.i OJ E v :-::2 tri E :-s . ~ :l CJ) a V .. '" '. ilJ '!) 0 0- 0 -0 OJ N '2 .5 S C .. E ilJ s::: ~ .~ '" ::l .. 0.!G .j C '" s c.~ c Q) ~ '" OJ -0 0 .L -0 ::..:. E 0. '" ". <'0 :.l. "" "" E ..L (/') EO 0.0.-.. 0..:.....g :§ s::: Q) C c .- 'Cj" -..:..s u. -. '" .. Of) ...j >.. "0 "" E '2 '" E c-. t:: t:: oj -0 .s: oj 2 <.. '" 01) '" s::: OJ OJ b!J -0 d 0 ....s.. 0 '" ill E ~ en ':. ~ '" s::: >..:G 8 'C' ..:.::I V en CJ 2S if> OJ Q ('5 OJ.. 0::l OJ VJ .::j c:: '" ..:: d '" cG .. (/') on .~ c.. ~ -.j '" ::l '- 0 Q 0."2 00 s::: ilJ E8 0 '0- < '" '" c: E rn s::: s::: '" '" '" :0 c '" '" c: n 0:1 d c-.. '" C6 "" 2 E _c c.: .....2 "" S c '" Q) c . -'" Q <'0 '" E <U ..5 ~ '" ~ C ..:.. E s::: :'2 ..L 0 s::: . .l ...:.-c. -0 OJ E E ::2 OJ -q: v-i ~ .:..D s::: '" oj ':d '" c~ >.:.3 .0 OJ '" d .: 00 ..:!? '" '" '2 . .0 r-: :9 00 -'t J.~ ~ ~ VJ a s::: s::: 0:: ' OJ b!JO ill -0 s::: (/') u.. V'l 0on ::l 8 .3 U o(j c '" ..: .::! -0 d Q. is '" ~ c:: ::l '" 0~ 'J.. ...:j "0 ::) r- ~ E OJ -d- -c: . E ilJ _". s::: ~ ilJ E E OJ ex: E ::l 3 «i c: o or. bl) ...l 0 "2 -ct- E OJ EO -0 If) IU OJ U') :l '" '>:' '" 'fJ ~ 0 E ill :'2 OLl ill -0 '" s::: E V OJ _".. -.>< OJ C ::l p. </> '" c:: 'C'j s::: '" . c.::: s::: .. U S :J "" s::: 'f. :.. -.>< O/J ilJ E <l.D OJ .: (3 c: OJ :=J ::l ... ::i v ..:.:j . ~ E :'2 -..s c: :..D <!J Q VJ s::: on s::: .

u u E .:2 t1J ci .

ro 0 c..j .. (!) E -0 c <l.-i c.8 v c..:.. . (/J E :J :J ~ CI) . r-I ~ E <!) -0 E :g (l) E (!) -0 .~ ..E 0. -- CJ ro S .) .:..I xr: ll.3 ro 10: "/J .8 E . . '" .. -c-t - '" c..l < .-. 1..:t (l) ..:J 0 -_ -0 (!) E E <IJ ~ rl rc....c -o::l '" c:: :2 . ~ ~ ~ ..:: ro .:t ":l1J U ..D E :2 <I) E - ~ CU E -0 cr. -<. <IJ E '" (-.c ro .:: on -0 c.... 10: .

""2 EEE vv OJ QIJ".. vc .l C ro 0."'2 :2 .. " .oj ..._ ""0 E 0._ u ::l V ..0 ..:: blJ C l.. ***** .:1 'I..._ :::l v) ..c ::J :/l .. ::l ::l ""0.. gE V -0 ~ -0 . §"'<t Z.

..::. e:j -::J > . OJ ...... ..:: . U C u c:.-c: ':JIJ C . >.. o .. 0.. 'X Cd ..:: c:: c l.0 0 v "a <":l ct... w 01). . 0) a olJ ..::.. 0) + C:::> ~J . .o1J L..."j c:l Ui v ?:i <:( ::l o .. VJ '0. ::: X VJ 1> 0.J >< ~ ~ ::c r I 'r W .. '!J .: d ........_ 1- <':l ::l ':JIJ ..a :.!2 C rr ..) r..:: 00 .:: :n +2~ c :::. <":l -r: .... 00- :a ~ ~ oil d E o It) c es d 'w ~ ::l E !:: ... <":l c ~~ E -. E 0) -::J rl E V :? p') V .:::: * = ::c "..£ .:!t- E til) C d ::l c:: . ':JIJ "0 <":l ::l :.> "J: .3 "0 ..Q c-. .. ::l .01 6.c C..:: ':JJJ + ::. ..c: o blJ ::l d ::J c {"j c._) u '/J cj "3.. ?:i c -::J L >.:: W ::l '- .0 -'" £3 ::l '" '" .. § 0. ~ d '" L." ':JIJ "l) !:>IJ "':l Q g(1) :-:l ~E .::.) .. ... "3 .. - .:2 o '.. .-.::: ...::. Q . '" CJ1 >. c CJ < -r: ::l .0 W 'J o o OJ c ~ V 0/'.:....:.= Ui "0 cJ Q "J :r. :. 'i.c..

C d .. :::l . -= ._ <1l -. 'l) c::I c: c.. ':.. ~ ~ E Q) ::I 0- c: f-.. 'l) <1l '(. . 'l) --... c 0 0.. ~ '" d <1l C . -a ::I Q E 'l) --0 c '" . ::.5 <1l ''::: ::I c >.. .. c::I c-...! E ~ ._ ~ ~ .... '" '" ::I -oc V) 0::: oc > ..I <I) v U P-. 0. .. .. ~ -' :2 «: -..> E ---:::J -- I I [f) oc '<':l :::s ~ (. .._g ro --0 E c: 'l. . U G:I :...' Il) bJj >-: j.:~ '" c::I <1) IJ] <1l .i « ~ ~ ~ ::I E Q . d S C c: .:1 Q <1) <l) '1) E . C 0 0.: L.0 '" . ---0 .. .. c: -:.. .- -u <':l 8 0 '-' '- c ~ Q.. -<.. E -c. ....) (/) 'l) "'0 C d ::I ~ <1) <1) . ._ U) c .:: Vl "0 ?.c: -.._ -<U _. P-. E .. ~ c._ . L. -!<: 0 -~ S ---a .U) <r: ~ U) ~ ~ P-.0 -<: -"<: ~ G:I . . . .. d :::s '...i u 'l) 0 ~ -.. . '" ~ 0. ... .IJ s 0 Q._: Q _.... « . . 'l) <C C<l :":I v ... u c-.~ r-t _----- ---------~ U ~ ---0 'l) -u -- E 'l) -t p:) E v v -q (..c: c.... ::I ...._ c Il) o. <-:l c: 'l) ...::.t.. ? .. 'l) ~ (J . -- '/l ~ :-0 . U S . C. ~ C .__) 0 ~ I I I I I 0 0 f----< c:c: c.><: L.... .. ~ '0 ~ ~ ~ --0 _:.. -0:.j E E~~ c 'l) c: :!2 -::! c::I <1) Il) ~~ ::l <I) 'l)U Q..._ Vl '.:: c: ..

:: ro . '" t:: c E 0 = :I'J 1) '.:..... -~ ..J .:: c c: ro ~ =:...::J :. .!>o!! .:: . ro ro ...:: E 0 ·5 1) rJ) ~ ro Cii E "«:l t:: «:l t:: ... .. 00 .. . <Ll C ~ 0 0 .....:. :I'J ._ ro c: i:: '" «:l bO . ~ c:j 0 0..0 0 . >.:.o: ~ ~ < U) U) ::J 0...>-..:..G . V) .:: E E ~ It: & & 8 .I] 'r5 (. 0 ~ r :g c'-....!>o!! "0 :::l.:3 E «:! ..:: '" :::1 ~ .J '" c..E >. c «:l ro ro ...:: c.IJ 0.:...a ~ d ~ ....:.>.J Sfl ...":':: Q) c. 'lJ u ~. .._ 13 'a c...'" + :::1 «:l c . ~ bO. c:: ..~ . d . !. E ro >. ~ o::l e.:: «:l u0 1) :..:..:. '" .

. Q..~ d g_ t .:. _- )1 .: < .3 c '2 . u s:: 2: Z... z IX I. +t- ~ 0- C fI7...:l < _] c ca rl cO v :..: c._ 0 0. _'L O':l 0 E ::J t:: o d . ('Ij ·E c .: CUN'-O ~ ./) d ('Ij ~ 2.:: rr-r .U Z UJ f- ~ ~ ... ~ g_E § **** *** ~ <{ U ~ u.::: ..::l :: .r-r E rl E ~\Oo?E~ e .u: ("j s:: c ("j .. U) -< c: ..... ('Ij ~ v. ..: .-..::.::l C z: « »: cr.

\<: E co VI r/l 0-. bll -cl o:! c.. -~ til 1:: E bI) ..:::s U) .0 0 ro "0 c: ::P @ ~ C <tI U -e ~ < '0 .- o:! c: ttl t>IJ cG cG cr.. 0. <'0 .. f-< ._... '7 ("'1 t>JJ <!) -. c: ~ ~ ro c: "0 c: ..0 ..:::s Oi) eo c: 0.:::s ..:::s .....0 <'0 0 .._ .... co 8 "0 .. :::..:::s .-.....:::s ell ...J\ ... ..J - 0 .._...~ .:::s t>1l ~ ro V E c: ro . d ell dJ :d ~ ~ :::J c: OJ) c: ro ...:::s 0.0 V t-< ro ..\<: c: c: . 7 . . oc ..:::s ro c: bJ) ci .-S c"J §E .J . 0. -'-' :.. EE ~~ r I j ! I I Ii! ~ ('j .. ~r.. 0.:::s ~~ c: bi) 3: ...<'0 >.:::s -5 ..0 (\) v L. 1\ 0 L.]..'. -c.:::s OJ . \0 E <!) 0- '7 '-C 1\ E ...:::s . 0J2 E c 0 "0 E~ 1) .::s 'L.~£ ..> c: <U ~ -0 U C\l OJJ <tI .\<: <U c: ro ZI C ~~ _..\<: ro ...:::s .:::s CI.l g .. OJJ . . - r-- _- = - ~ - ... .. ell ro OJJ c: OJ c: ell c: t>IJ c: ~ <U 'ie ~ V 0.0 C <'0 .:l 0 o.. Q... - -- rl -('"r") -if.:ot!... .:::s '" -a :. .:::s . r- e::: c.

: < c c::: L. <U :::l ". C 0 L.. V 0.. U Vi . 0 0.... 0 -L. .s < u -c ~ u -c::: (.. "1 :::l q- <U or..·..0) L.c t>1J oj ~ C'j Of) CL... ce.s: 01 c: oj > Cl ~ oil c 0) u ~ c Z 0' - - r- ~J .. -c .._.J ~ '" I.-' . blJ ::! c -bJJ c: v -c:J --::: '" . ~ E :r...Ll ('J r) CL..- V _c E Pc::: ..... ~ -::: ':J ._. 0.9 L..1 ('·1 > :E ...: ("j 0.. ~ Q 0 Q) L. ::../l IJ) I- a >< OIJ ... < ~ f-o r-. 0 '-. <J) ---~ c 'E. c: V L. c CL. L.. 0...>-...c (. .. <U 81..2 ~ '01 0 . 8 c 0. ....

.

... =' . r: C(J Cl ..E:: <l> c :..!._] V '- ::: .-..:: "2 . t: '-' OJ f-< 4" ... . :_/. '" ~ ~ 0:._. -.5 "'1" ~ 0.-. 2 ~ ro on ~ <l) ·c -I<: .-~~-~..:. . _c '3 r.D N '" 0 ....._: . .-< ro _.::l :l .. ::l 0 '" II. 0 0 E ..s: <'I ::l '" .D . ::>: .5 ~ U ~ ~ ~ Q c U c: D bIl § 2 'J' "-' o: .. ..-< .c: J::..5':! OJ) E 0... ---t Cl ---t "7 .D '" ~ .~ '" =' _:."6 ':._ .0 0 co 1"':... '" .) -._ ::l !:: :::l E v ~ L. ...._] z Q) '" OIJ 0 c -e.:.!i!.) .......c ttl c m 0 '" ~ . -'<G ... 0 N -0 > u J.. l . .. "fJl 0) ~ . " -.: -'<: <1) '. -0 E .!i!.!L <l) 2 ... ....::! "" r..:: -0 'i.. iii ~~ eo !I) <l) '" ..D 0 C m t: "2 0 ...-..r:: ro... {F) <l> - . e ~ "" </J <l) >-..:3 co E ~ ~ 13 0 V5 ~ m '2 "" E » '" .2 -0 c-.. '" C oil .. '" ... 00 '" t: 0:. -0 t: r- m Ci Ci !I) '" '" Q "" Q E E '" CI ~ E .. " '" ::l .::: Q . '-' v u... ~ .l .) en "J V1 N .D :::l ..f" oj) ...::l . a 0 C OJ 0 E 0 e-. -0 .!i!.'1 '1' -T -T 'n r-- ..::> </J o "" ro '-' o..J E "" E '" E . '"' S -B 2!l U B ::J .. § 'll !:: .. 0 '-'...-. C) </} . '.c: ::J r.2 E ..!><: m o m 3 '" E ~ <l) .§ '.. '" ~ Of) '" ~ 1) ~ t: ...:i -0 '" 0- :...... '" c:r:: co Pp. z .D '" 1) v: 1) U) ~ ~ '.:: U \0 "7 u ._ !I) .-----.. (fJ ..l ~ f- ~ ._] ~ :J ...1- c-T 'n C ~) .9 P..c: .:> (/J >-.. 0:.l S QO <r) -< -0 "" .c: ::l ...::: .:l -C > . f-< '" _Y) '2: 0 0-. .:.. '-" OJ s 0 Cil -T 'e ..\) ~ z .. E ..

.. .. 'C oj . '" . ::l t>!J t:: 'EO t>IJ 'EO t>IJ ..!! t>IJ ro t>1J C >..) ~ oj c-. . ..::<: Ol IV > _.: E E t:: ::l 0..::<: . Ol ... :E =' M .J 0.J > UJ 7.~ c e:.. £ ..) 0:....::...) 0. E ~ ..... . 0 '~ f--' r-r..J c: 0:: u :S c: t:: (\1 .. . 0 _C.::<: !l. ::l ao . Q.) oj 3 t:: ::l '0 .. >. § c .) 5 ::... -0 <l) s::: r::: ro .. !l.. f:d '" c.J ...c 13 .c . ... ..r: =' on .....g c: ..2'.. Ir.....c CO ~ Cl V :>-: o ..:. 'r..0... "-' V} D -0 0 oJ) :":l .) ::l ~ ~ D c..!.::<: ~J '. I!) . 0 '1....! c. -0 =' s::: es :E C <OJ =' .s U -< .3' '" .. -0 ~ !l.c .::<: V :..) tr) 0. Ol c: '" ::::1 ... 0 p.::<: '. :::l V 0 '" c: ::J :.>-. 0 c c E -0 Ol <:l c.: !l..:: ...2 I-Ll ::£! C -r: OJ c: Ol .c ~ E !l.::... c: ~ D ii: In ?: -0 Ir.::.) Q. E ...0 !l. =' .. c: :t: 0 .: ::J .. >.:J (\1 v I!) .::<: !l..D .0 .. U '" c: 0 . UJ .r 1("'......s: ::J Ol '..:J ti:i v > <a > ro <'l 0..J V E .".. Ol E v :::.....E < 13 :::l U '" 2 C blJ IV .........0 Ol ...0 ~ 'c.. c E .§ ~ '" ~ '5 0.0 z -< 0 z .... ~ ill 'n > 11J .. 0 I::: ::E . 0.. s::: oj E c: N 'D c: Ol :0 U !l.2. 0 '.) !l. 0 C ~ ~ !l... -0 !l...2 .... E c C 4: c: Ol C -0 N oj c: -'" c c...::<: oj ..l t:: .) > == c .:: . 'z:J 01... '" ::l ::l 0 ~ c: Ol 'B <l) c -a eu '" 0 E v C VI Ol ~ ~ C .) a '- 0....l 4: -0 <l) D c: Ol ::J ..) '.) .. -. !l.) ~ C () n.) '.S: 0. <l) ::l en -- u - ..::<: Ol '" . -0 . ~ ~ <'l E 0.: Ol ~ '" D t>1J 'C 2:! on <l) 0:. .l 'n "...D ... ... ::E ........_" V "" .......) E . 0.. c: .... E on oj "2 "" <l) -a '" .:: -5 c: ro 0 -0 Ol c:: -0 <'l 'B V 0- '" ~ <'l =' .... 'a >.: I!) . ..

gagal ginjaJ. Resusitasi yang berhasil (tanda vital kembali) terjadi pada 27-49% kasuskasus di rumah sakit dengan angka kelangsungan hidup yang dilaporkan sarnpai 17% urituk 1 bulan dan 10-14% untuk 6 bulan dalarn suatu penelitian prospektif. tak bergantung pada ternpat dilakukan resusitasi. yang digolongkan sebagai kejadian akut lebih baik daripada yang dengan pcnyakit keganasan. hipotensi.. Pasien dengan penyaki. sehtngga memberikan waktu untuk pemulihan fungsi jantung pam secara spontan.dlUi mernpengaruhi kelangsungan hidup dan hasil neurologik. mungkin kareria mcdis cepat mengenali masalah ini dan trIah disiapkan untuk menangani hal irri. Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk mengadakan kembali pembagian substrat sernentara. Walaupun persentase pasien-pasien yang tanda-tanda vitalnya berhasil dipulihkan lumayan (60%). Sejauh in! tindakan resuailasi yang dirnulai secara dini merupakan satu salunya faktor yang dikc. serebral dan organismik.LAMPIRANV· RESUSITASI JAI-\jTUNG PARU Bagian Anesiesiologi Krdoktemn Uniuersitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henri sirkulasi akan rnenyebabkan disfungsi serebral dan kernudlan organisrnik (dengan kerusakan sel ireversibel). Di sampaing itu pasien yang resusitasinya mernerlukan waktu lebih dari 30 rnenit biasanya tidak bertahan hidup. neurologik atau stadium akhir. st"r . Pasien yang menalami he nli janlung pam di leU mempunyai hasil yang lebih baik. kanker dan gaya hid up terikat di rurnah dengan pra henti (prearrest) disertai dengan mortalitas berrnakna setelah RJP. Usia lanjut tidak menyingkirkan hasil yang balk. Selang waktu dad henti sirkulasi sarnpai nekrosis sel terpendek pada jaringan otak. sehingga pemeliharaan perfusi serebral rnerupakan tekanan utarna pacta RJP. Sekarang dikcnal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kernatian klinis. maka kematian tidak lagi dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. lakartu PENDAHULUAN Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir. Jadi pneumonia. Cipio Mal1gunkusuTI1o. namun pasien-pasien yang mendapat resusitasi di leU mernpunyai prognosis jangka panjang lebih baik daripada yang di baugsal-'.

kanula trakeal tersurnbat. Penyakit kardiovaskular : pcnyakit jantungiskemik.lieh Il"n. perdarahan). 7. tinggi. otak. fibrosis pada sistern konduksi Adams-Stokes. (penyakit asing Lenegre. sekitar C.O%di antara UJ11ur pertengahan dan yang lebih muda. tenggelam. miastenia pnC02 gravis. defibrilator hendaknya dised iakan lebih banyak untuk dipilk. Surnbatan jalan nafas : benda asing. Refleks vagal'. Depresi a. miokardial akut. 3. 4) dcfihrilasi dilaksanakan pada stadium dini. penekanan/penarikan medis.(I) Paru Sebab henti nafas. asidosis : syok dan listrik. 4. toksik. kelainan akut glotis dan sekitarnya (sernbab gIotis. Kekurangan Kelebihan adrenalin. suatu kondisi yang potensial reverxibel. Terapi dan tindakan Syok (hipovolemik. penyakit Sentral: obat-obatan. Ernpat puluh persen mati rnendadak dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu 1 jam setelah dimulainya gejala-gejala.lg. aspirasi. pa02 tengelam. noda sinus sakit). 2. Sebab henri 1.ima pada Sf! . kalsium serum tinggi. neurogenik. 9. Anestesia bola mala. (I1P"(. 2. pernafasan : intoksikasi. antidepresan magnesium Kecelakaan asam-basa/elektrolit : kalium serum yang tinggi serum rendah. 8. dan proporsinya lebih tillggi.l yilng tcrlatih Hcnti jantung terut. setclah : obat pelumpuh (cardiac arrest) poiiomielitis.li .Seb ab He nti Jantung Henti jantung pam. sfinglcr ani. infark embolus paru. benda digitalis. peregang<lll pembedahan. quinidin. Kebanyakan henti jantuog yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskernik. akut : henti nafas. lidah yang jatuh ke belakang. henti [antung. diagnostik rendah. 6. sumbatan trisiklik. Gangguan oksigen dosis obat: isoprenalin. Angb kclangsunga n hidup dnri henti janlung optimal hila 1) peristiwa ini disaksikan. b."nkell1iltian yill1g terjadi di luar rurnah saki! eli sebabkan oleh Iibrilasi ventrikular. 3) irarna y<1ng timbul adalah fibrilasi veut riku la r. 5. Penekanan hcndaknya ditujukan pada defibrilasi dini dan tidak mcmandang perti rnbangan-pertimbangan lain. propoksifen atau jalan oleh sekresi. 1. pipa trakeal terlipat. otot. tumor Perifer jal1fung rcndah. Sindrom di jalan nafas. anafilaksis). 2) ada )'rlllg mulai melakukan resusitasi. Lebih dari 90'.

Infark jantung Serangan Hipoksia Keracunan Sengatan akut. dapat disebabkan oleh kausa selain penyakit jantung iskernik. 2. 2. Adams-Stokes. Resusiiasi hams dilakukan pada : 1. Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan peluang untuk hidup. Gerakan kabel EKG dapat menyerupai mula I saja RJP ! Bila :agu-ragu. Tanda tanda henti jantung 1. 4. denyut rneskipun irama yang tidak mantap. yang mengakibatkan "kernatian listrik". 6. Refleks vagal. Pada beberap a keadaan RJP yang dilakukan dengan benar dapat mempertahankan kehidupan sampai 1 jam sernentara terapi untuk kondisi/ penyakit utama sedang diberikan. B. terutama pad a asfiksia. Pupil dilatasi (setelah 45 detik). 5. 5. Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak rnenghasilkan nadi yang dapat diraba. Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila dijumpai keiidaksadaran dan tak teraba denyut arteri besar! 1.orang muda. Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung). seperti mati (death like appearance). 2. ')') . 3. "kecil". Diagnosis henti jan tung A. dan karotis pada orang Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dewasa atau brakialis pada bayi). 4. 4. Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut tidak ada kontraksi rnekanis. 7. 3. Wama kulit pucat sampai kelabu. Henti nafas atau megap-megap Terlihat (gasping). dan kelebihan listrik. 6. lain yang masih rnemberi dosis obat-obatan. Kapan resusitasi dilakukan/tidak dilakukan A. 3.

yaitu sesudah ~-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP. 3. Upaya resusitasi di sini tidak bertujuan dan tidak berarti. tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup Jebih lama lagi.B. seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat. Resusitasi tidak dilakukan pada " 1. 60 . ketika tidak hanya jantung. Kernatian normal. Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi. Pada keadaan ini denyut jan tung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih. 2.

nafas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalarn organ vital akan habis dalarn beberapa detik. jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan : penentuan tidak ada respons. hendaknya korban diletakkan dalam posisi telentang dan ABC (Airway. Tindakan resusitasi (yaitu posisi. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aklifkan sis tern pelayanan medis darurat (lihat gam bar 1). Pada korban yang tiba-tiba kolaps. asistol ventrikular atau disosiasi elektrornekanis. Penilaian tahapan BHD sangat penting. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan mhs tetap terbuka.BANTUAN HIDUP DASAR (BHD Basic Life Support) Bila terjadi henti nafas primer. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung.Breathing & Circulation) BHD hendaknya dilakukan. tidak ada nafas dan tridak ada nadi. Pada metode ekstensi kepala dan angkat Ieher. Henti jantung dapat disertai oleh fenamena Iistrik berikut : fibrilasi ventrikular takikardia ventrikular. penolang mengekstensikan kepala korban 61 . Resusltasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Gambar 1 : Pertolongan pertama L_ .pernbukaan jalan nafas. ~ A : Airway Galan nafas) Sumbatan jalan nafas olen lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering tirnbul pada korban tidak sadar yang telentang. Bila terjadi henri jantung primer. Bila tidak dijumpai tanggapan. kesadarannya harus segera ditentukan dengan tindakan "goncangan dan teriak" yang terdiri dad : menggoncangkan korban dengan lembut dan mernanggil keras-ker as.

tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis). Metode angkat dagu dan dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher. Bila ventiIasi adekuat. Korban yang tidak sadar dan bernafas spontan dengan ventilasi adekuat sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi (gambar 4). Akan tetapi penoIong mungkin hams menarik bibir bawah korban dengan ibu jari. pasien perIu diberi O2 lewat kateter nasal atau sungkup muka. Pada metode ekstensi kepala dan dorong mandibula. pada korban dengan dugaan patah tulang leher. Gambar 2 : Membuka jalan nafas Gambar 3 : Menentukan tidak ada nafas Gambar 4 : Posisi sisi rnantap 62 . Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling arnan untuk mernelihara jalan nafas atas agar tetap terbuka. kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas (lihat Gambar 2).dengan satu tangan sernentara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban. Pada metode ekstensi kepala angkat dagu. kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan.

Kernudian segera raba denyut nadi karotis (lihat gambar 7) atau femoralis. korban hanya digerakkanldipindahkan bila memang mutlak perlu. teknik dorong mendibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara paling aman untuk membuka jalan nafas. penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban. Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam (1 kali nafas = 1. Bila denyut nadi karotis tak teraba. melalui bagian belakang faring. dengan amplituda yang cukup dan ada udara keluar rnelalui hidung dan mulut korban selama ekspirasi. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan be n d a asing. Pada tindakan jari menyapu. 63 . Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi (lihat gambar 9).penolong hendaknya segera menilai apakah pasicn dapat bernafas spontan. hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust gerak Heimlich) (lihat I.~alnbar 10 dan 11) aiau hentakan dada (chest thrust).1200 ml pada orang dewasa) setiap 5 detik. korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali. keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalarn satu gerilkan menyapu. Untuk melakukan venti1asi mulut ke mulut penolong hendaknya mernpertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan dua jari atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong (lihat gambar 6). selama pernberian ventilasi pada korban. Bila ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka.5 ·2 detik). Bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800 1200 ml pad a orang dewasa) setiap 5 detik. B : Breathing (Pernafasan) Sctclah jaran nafas terbuka. Di sini. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya. 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kornpresi dada pada resusitasi yang dilakukan cleh seorang penolong dan 1 nafas dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh 2 penolong. Pada beberapa pasien ventilasi mulut-ke-hidung (lihat gambar 8) mungkin Iebih efektif daripada ventilasi mulut-ke-mulut. 2 kali ventilasi dalam (800 . Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun. sebagai tambahan. Bila denyut nadi karotis tak teraba.Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban dan mernperhatikan gerak nafas pada dada korban. penolong dapat merasakan tahanan dan kekembangan (compliance) paru korban ketika diisi. diperlukan ventilasi buatan. Hentakan dada dilakukan pada korban yang telentang. faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher.

buka jalan nafas dan cob a beri ventilasi buatan. Urutan yang dianjurkan adalah : (1) berikan 6~10 kaIi hentakan abdominal. (2) buka mulut dan lakukan sapuan jari. (3) reposisi pasien. Gambar 5: Tanda distress universal untuk surnbatan jalill1 nafas oleh bend a asing Cambar 6 : Ventilasi mulut-ke-mulut Cambar 7 : Meraba denyut arteri karotis . Urutan ini hendaknya diulangsampai benda asing keluar dan ventiJasi buatan dapat dilakukan dengan sukses.teknik ini sarna dengan kompresi dada luar.

-~-~----.-~----~-_-----.Gambar 8 : Ve ntilasi Blulut-ke-hidung Cambar 9 : Ventilasi mulut-ke-stoma ----..----.- --_---_ ._- Gambar 10: Hentakan abdominal (gerak Heimlich) pada korban sildar Gambar 11 Hentakan abdominal tidak sad ar (gerak Heimlich) pad a korban .~- -~----- --~--.-.

rnemerlukan tindakan bronkoskopi. Bila ada sumbatan benda padat dalam salah satu bronkus.j + 1 lcnli.tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 [ari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. Dianjurkan lama kompresi sam a dengan lama relaksasi. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. [adi . . BHa tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakeal. Pernberian ventilasi buatan dan kompresi dada Iuar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini. Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar (periksalah arteri karotis sesering mungkin) merupakan tanda utarna henti jantung. C : Circulation (Sirkulasi] Bantuan ketiga RBD adalah menilai dan mernbantu sirkulasi. Setelah kompresi hams ada relaksasi.. pasien.im:1J dalarn 5 detik. j'. ternyata masih ada sumbatan jalan nafas. penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm (lihat gambar 12). Penolong berlutut di samping korban dan rneletakkan pangkal sebelah .. Dalam I menit minimal hams ada 60 kompresi dada dan 12 nabs. perlu dilakukan intubasi trakeaI. lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban. Bila dengan ini belum berhasil. Hcnti jantung adalah garnbaran klinis berhentinya sirkulasi mendadak yang terjadi pada seseorang yang tidak diduga mati pada waktu itu atau penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh atau harnpir utuh.Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ckstensi kepala. sebagai alternatifnya ialah krikotirotomi atau fungsi membran krikotiroid dengan jarum berlurnen besar (misal dengan kanula intravena 14 G).hj nuk. Korban hendaknya telentang pada permukaan yang keras hila kompresi dada luar dilakukan. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar.IV). SeIanjutnya bila masih ada sumbatan (ada di bronkus) maka perlu tindakan pengeluaran benda asing (padat. Bila ada 2 penolong.IM..3 mg Sk. Dalarn l menit harus ada 4 daur kornpresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kornpresi dada dan 8 nafas). tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban. Dengan jari-jari terkunci. 15 kompresi dada luar (Iaju : 80-100 kaliimenit :co 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalarn (2-3 delik). dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin (4-6 1A1g/kg BB LV) atau adrenalin (0. Sementara itu pasien perlu diberi terapi 02.5· 2 detik) oleh penolong kcdua sesudah tiap kornpresi kclilll<!. kornpresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80-100 kali per menit dan pernberian 1 X vcntilasi dalarn (1. buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring. Jadi 15 kali kompresi + 2 ventilasi harus selesai maksirnal dalarn 15 detik.Onii'tl". Bila ada satu penolong.

Bila tidak ada. dan bcgitu seterusnya.11). Sesudah 4 daur komprcsi dan ventilasi (rasio 15 : 2). Pcmbcrian ve nt ila s i ha rus lcb ih keeil vol u rnr-u va d a n fre kurnsi vcntiJasi harus dilingkatbn llwnj.75 ~5 em ·IJ<". Pilch bayi dan anak kecil vc nl ilasi mulut-ke-rnulut dan hid ung lebih scsuai drnipada vcnti li1 c:._1 Tekriik pada bayi dan unak-anak Prinsip BHD pada bayi dan annk adalah sarua dengan pada orang dcwasa. Bila ada. (. kecuali pada waktu intubasi trakeal.ltnb.lllg berlebihan dapat mcnyebabkan sumbatan [alan nafas pada bayi dan anak keril. Kornpresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik sctiap kalinya. Bila RJP dilanjutkan. pantau pernafasan ketat.. lanjut kan deng<1I1 langkah berikut.._---"~_Gaya lengan (belakang) L--_~~~ __ ~ ~ .. Periksa pernafasan (3-5 detik). mulai lagi RJP dengan 2 venrilasi diiku ti dCllg<l1l 15 kornpresi Bib ada dcnyut. Akan tetapi karena kctidak-sarnan ukuran. lakukan reevaluasi pasien.1I1 4 d ct ik untuk an. . diperlukan mod ifikasi teknik yang d isebutkan di atas : L Ekstensi kepala y. Kepala hcndaknya dijaga dalam posisi netral selarna diusahakan mernbuka jalan nafas pada kclornpok ini.:-' 2.. kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 rnmHg pada arteri karotis. Periksa apakah denyut karotis sudah tirnbul (5 dctik). tranportasi (naik turun tangga).ik-ana k (lihat F.Kompresi dada harus dilakukan sccara halus dan berirama.til~ u nl u k bnvi d.ldll vc-nt ilasi li.). dapat sampai 15 detik. " Upstroke" 3. lakukan nabs buatan 12 kali per menit dcngan kclat..'i" I ~. Bila tak ada..j m u lu l-kc-rn u lut "tall mulut-kc-hidung. sudah tirnbul nadi dan dan nadi dengan dan pantau nadi apakah sesudah bebcrapa menit dihentikan dan periksa nafas spontan. Hila dibkukan dengan benar.1 d.

.. dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai. _-" ..Gambar 13 : Ventilasi mulut ke mulut dan hidung pada bayi 3. kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong (Iihat gambar 14).. -~--.. -- -------_. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang._--_ .~.-_.-- . __ ---------_ 68 . Gambar 14 : Pukulan punggung pada bayi --~._. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban teJungkup melintang di alas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan.-.

pernberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pad a bayl dan 80 kali per menit pada anak-anak. kompresidada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pad a 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak (lihat gambar 15). Korban dinyatakan mati. hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada Juar (1ihat gambar 16). Pada anak yang lebih besar. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi seJaJu 5 : 1. 2.5 . Selama henti jantung. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalarn rongga toraks pada pasienpasien muda. Dasar henti jantung da- Penilaian Hasil Bantuan Hidup ABC RJP yang dilakukan pada korban yang mengalami pat mernberi beberapa kernungkinan hasil : 1.4 em.5 . 69 . Gambar 15: Letak jari pada kompresi dada bayi Cambar 16: Letak tangan pada kompresi dada anak 5. Penekanan sternum 1. ini dapat disebabkan karena pertolongan RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi tidak betul pelaksanaannya.2/5 em efektif untuk bayi. Korban menjadi sadar kembali.4. tetapi pada anak diperlukan penekanan 2.

kecuali untuk defibrilasi. pertimbangkan pemberian adrenalin dosis ganda.f\II"D.. -pona~j<ont""II ..emi~sm.~ $cIWty M..V..n.. O~r'IfV. lain -lain Pertimbangkan terapi spesjjik untuIc ... lignokain alau atropi" lewat pipa trakeat.A.._ .-u.ry or (lj oi Ir'II·11l.(Jalan nalas) buka [alan nafas Tidak ada natas Wt Breathing (Bantuan nalas) ~. I. bantuan Tidak ada nadi A 1 : • blpowJemla Circulation (Bantuan si'kulas~ RJP ~ ~ Adrenalin 1 mg IV Defjbrilas~ 200 J Defibri)aS~ 200 J Defibrilasi 360 J mg IV Adrenalin 1 mg IV Atropin 2 m~ IV Pertimbangkan pemaCl'an janlunll Jlkl 8138 geiomDaPTg P 81BI. dan 10 detik. fGI' ~~"&f1I of Sod9fJ' Sr:te.r'IOo08-'lnl'l:!l.t~: 1hto~Courd{lJ1Q ~8oci«ydCatdiQlogy "iflo'liah ard l...0.tHbu • __ .I. re Car<1i~"Q" ..RESUSITASI JANTUNG PARU Tidak resp~ .II.i. Jlka tidak dapal dipasang jalu.c SC.. Jangan henlikan AJP leb!!.I akltvitas rl$lr'i.h SoDe!. Cardi..Iy rII A.rn-ivll eM.....all:lt'"''''~~ o. . Sw«IIItI ~ ~'-rI Firnit..jd C."~I. Airway .h 70 .:. .ks Lignokain!100 Detib... kalStum Ulang (lefibJjl~si 360 J F'E'rtimbangkan •• & l • """alean _lIasllaln befi 0fJa:I anli aritmilc - pOOiOi padeI Lanjutkan RJP selama 2 menlt sesudah liap kali pemberian cbat.ilasi poIfU .. :·~m ·~mia antaQ0nJ5 & ·~.. FinnJ!Jh S~. 360 J + Per1Imbangkan kalsium klorida (10 milO %) .

Dalam keadaan darurat ini. Nafas spontan bisa ada. 3. Korban belum dapat dinyatakan mati dan belurn tirnbul denyut jantung spontan. bisa tidak. Dalam hal ini perlu dibcri pcrtolongan lebih lanjut yaitu bantuan hidup lanjut (BHL) Denyut jantung spontan tirnbul. tidak timbul nafas. kecuali kalau korban hipotermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umUID. tetapi korban belum pulih kesadarannya. 71 . normotermia. 4. pertolongan resusitasi tanpa resusitasi otak biasanya tak dapat memulihkan fungsi susunan saraf pusat (SSP). spontan dan refleks muntah (gag reflex). korban dapat dinyatakan mati bila setelah dimulai resusitasi korban tetap tidak sadar. serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 menit atau lebih.Bila henti jantung telah berlangsung lebih dari 10 menit pada orang dewasa.

sebab defibrilasi dapat dilakukan dini oleh tenaga darur. Biasanya untuk BHL diperlukan memberian intra vena (IV) obat-obatan dan cairan (Iangkah D). pintasan jantung paru darurat yang penggunaclllil). merupakan tindakan darurat satu-satunya yang ada untuk henti jantung di luar rumah sakit. RJP Lanjut atau Bantuan Hidup Lanjut (BHL) terdiri dari upaya-upaya untuk mengembalikan sirkulasi spontan yang adekuat. syok listrik (langkah F) hendak nya jangan sarnpai terhambat oleh langkah 0 dan E dan mcndahului Iangkah-langkah A-B-C. [adi. tidak satupun langkah 0. E dan F yang diperlukan kalau nadi spontan kernbali segera sesudah dimulai ventilasi buatan dan kompresi dada. tetapi kerugiannya hanya sedikit bila henti jantung tersebut disaksikan. R]P eksternal langkah A-B-C (BHO) dirnaksudkan sernata-mata sebagai tindakan sementara mernpertahankan viabilitas otak ke jantung. seperti sering terjadi pada henti jantung (cardiac arrest) sekunder terhadap asfiksia. karena RJP ekster na I hanya merighasilkan al iran d a rnh yang sangat minimal untuk kebutuhan. Mungkin juga. narnun sekarang ini. Dengan adanya ddibrilator cksterna l scmiautomatik dClI1 autornatik maka terjadilah perbaikan dramatik dalarn hasil RjP.Bantuan Hidup Lanjut (BHL Advanced Life Support) Yang dimaksud dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Lanjut pada makalah ini adalah fase II Resusitasi ]antung Paru Otak. yang mungkin tidak adekuat untuk mempertahankan otak dan jantung tetap hidup lebih lama dari beberapa menit.it yang relatif tidak krampil Tcknologi terbukti handal dalarn prakn-k dan sekarang ini lid.]k ad a Llgi alasan Il1cngapil setiap perawat . selama upaya mengembalikan sirkulasi spontan. BHL juga mencakup R]P dada terbuka untuk indikasi spesifik. Setelah dirnulai Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau fase J RJPO (Iangkah ABC). Pukulan prekordial telah dianjurkan kernbali . seja lan dengan bukti-bukti keampuhannya pada takikardia ventrikular atau fibrilasi ventrikular yang baru saja timbul. Tidak perlu dikatakan. dalam urutan-urutan yang bervariasi bergantung pada keadaan. Lagipula efek proaritmia mungkin saja timbul dengan sernua intervensi yang sukses dan hanya diperlukan waktu sebentar saja untuk melaksanakan manuver tersebut. namun hanya untuk henri jantung yang d isaks ik an atau dipantau. diagnosis elektrokardiografik (Iangkah E) dan penanganan defibrilasi (Iangkah F). Defibrilasi sedini mungkin dengan restorasi sirkulasi sponran merupakan kunci optimasi peluang untuk mendapatkan hasil serebral dan hasil keseluruhan yang baik. sirkulasi sponlan harus d ikembalikan sedapat mungkin. pada fibrilasi ventrikular yilr1g terjadi ketika EKG pasien sedang dipantau. harus dipertahankan dengan interupsi sedikit mungkin. transport oksigen oleh RJP langkah A-B-C.<1 rnasih eksperimental dan Bantuan Hidup Trauma Lanjut (BHTL). Memang ada risiko bahwa aritmia ventrikular akan kambuh lagi.

Penggunaannya dapat diperluas ke pimpinan gelanggang olah raga dan kompleks pertokoan dan sebagainya. Probe ditinggal di esofagus dan defibrilasi dapat dikerjakan dengan eepat pada pasien yang dipantau (monitor) dengan memakai energi listrik yang jauh lebih keeil. Diulang tiap 3-5 menit dengan dosis sarna sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. diberikan : hasil EKG dapat langsung : 1. Defibri1ator/pemacu jantung yang ditanam bermanfaat pada pasien berisiko tinggi namun biaya mungkin merupakan barier relatif pada banyak negara. Cara pemberian : IV. Bila setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. Pemberian adre-ialin sebaiknya lewat IV. bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin : intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). 10 meg/kg pada anak-anak (menurut AHA). Tidak ada modifikasi pada pedoman yang dianjurkan untuk defibrilasi. Harus ditekankan bahwa BHD harus segera dimulai bila diagnosis henri jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai BHL diberikan.jaga di ruangan dan setiap petugas ambulans yang menangani panggilan tidak dapat rnelakukan defibrilasi sebelurn kedatangan staf medis.0 mb (dosis untuk orang dewasa). darurat Defibrilator automatik telah terbukti manfaatnya ketika digunakan oleh famili pasien berisiko dan oleh petugas pesawat terbang dan kereta api. Prosedur BHL berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pad a diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung. intratrakeallewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 1 0/00. Rute transesofageal untuk defibrilasi telah dipakai pada pasien di unit perawatan koroner. Adrenalin dan cairan). dieneerkan dengan 9 ml akuades steril. maka resusitasi diteruskan dengan : D : Drugs and Fluid (Obat-obatan Tanpa menunggu 1. BHL rnemerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat-obatan. kecuali bahwa tingkat energi sesuai dengan standard yang ada sekarang untuk kalibrasi defibri1ator modern dalam energi yang dikalkulasikan. 73 . karena ini lebih baik daripada lewat pipa trakcal.

Untuk henti jantung pada anak-anak. Penggunan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusirasi yang lama. Sangat dianjurkan pernakaian rute IV. terutarna pada kasus trauma bila upaya lainnya gaga!. Oasis selanjutnya sebesar 0.1 mg/kg untuk rnencapai kadar d arah yang adekuat. Natrium bikarbonat : dosis <1w<11: 1 mEg/kg (bila henti janlung lebih dari 2 rnenit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0.2 mg/kg (Akan tetapi pernberian dosis tinggi adrenalin ini tidak dianjurkan pad a neonatus. Di sini dipasang infus intravena sesuai indikasi. kendati dapat dipergunakan bersarna dengan adrenalin pada pasien yang gagal berespons terhadap ventilasi. alkalin lebih dominan berada di ekstraselular. asidosis intraselular justru bertarnbah. sebab kalau tidak. Dianjurkan pula pernberian 20 ml bolus cairan nonglukose isotonik pad a penanganilI1 henti jantung pediatrik untuk mengatasi syok. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal baru.5 mEg/kg sampai tirnbul denyut jantung spontan atau mati jantung. henrlaknya diberikan dosis standard awal D. Selain itu.1-0. Juga dianjurkan tidak dipakai isoproterenol untuk henti jantung. termasuk intraoseus. seterusnya dalarn 3-5 menit diberi lagi dosis 0.Olmg/kg adrenalin. Rute endotrakeal kurarig bagus penycrapannya. dan bahwa natrium bikarbonat bukanlah obat lini pertama pada resusitasi pediatrik. E: EKG r 7 as isl ol vent rikular ? kompleks Fibrilasi vcntrikula elektromekanis) ? aneh ? (diasosiasi .1-0. tidak berkurang. dosis adrenalin hendak ditinggikan sarnpai 0. CO2 yang dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jib CO2 tidak diangkut olch respirasi. dan kasus pediatrik sangat menyerupai model binatang ini. oksigenasi dan kornpresi. Karena itu AHA menganjurkan pada henti jantung pediatrik. Narnun dianjurkan hanya pada korban yang diberi ventilasi buatan yang efisien. Penelitian menunjukkan kemanjuran dosis tinggi adrenalin pada binatang dengan pembuluh koroner normal. Tidak ada data meyakinkan tentang dosis atropin dan lignokain lewat endotrakeal. 2.2 mg/kg hendaknya diulang Hap 3-5 menit jika perlu. Bila hanya ada rute endotrakeal. Cara pemberian hanya IV. Oi lain pihak. karena risiko perdarahan intrakranial). pernakaian dosis tinggi adrenalin dapat dipertimbangkan bila dosis standard awal tidak efektif. Dipertegas lagi kelebihan manfaat dosis standard adrenalin daripada atropin pada bradikardia. suatu penelitian prospektif dengan mernakai kontrol retrospektif menyarankan kemanjuran adrenaJin dosis lebih tinggi.

Bila bel urn berhasil bed prokainarnid 1-2 mg/kg. kita sernua maklum bahwa konsep ambang rangsang defibrilasi sederhana adanya. Bila belum berhasil beri lignokain (lidokain) 1-2 rng/kg IV. Bila belum berhasil dosis bretilium dapat ditinggikan 10 mg/kg sampai dosis total 30 mg/kg. Ulangi syok balik (countershock) bila perlu.lIlg meyakinkan. berbeda dengan setting klinis. ( Terapi fibrilasi). Banyak faktor yang menentukan apakah syok akan berhasil atau tidak. 50 . Percobaan p"da binatang mcnunjt. kalau perlu diteruskan dengan tetesan infus (1-4 rng/menit). pendapat ini tidak pernah ditunjang oleh bukti klinis y.. dan beberapa di antaranya (misalnya barangkali vektor gelombang) akan bervariasi dari waktu ke waktu. Ulangi syok.kkan bukti yang meyakinkan bahwa adrenalin meningkatkan sirkulasi screbral selarna bantuan hidup dasar . syok lagi. Akan tetapi. tidak bergantung pada pengobatan yang diberikan. Bila ini juga tidak berhasil maka dapat ditegakkan diagnosis kematian jantung.F : Fibrillation Elektroda sternum Defibrilasi treatment dipasang atas. Menu rut perkembangan terakhir.100 Wsec (pad a bayi). Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia sa at ini. terdapat atribut lain yang membuat dimasukkannya adrenalin lebih dini dalam algoritma. bila memenuhi kriterianya. di sebelah kiri puting susu kiri dan di sebelah kanan luar : arus searah : 200-300 Wsec (Joule) (pada dewasa) . Pada kenyataannya defibrilasi berhasil hanya setelah diberikan lignokain. syok keempat dalam suatu sed mungkin saja berhasil menghilangkan fibrilasi setelah sebelumnya gaga!. Karena tidak ada data klinis yi'lng relevan. Namun. IV. Adrenalin telah menggantikan Iignokain sebagai obat pertarna . Semen tara bukti yang memujikan adrenalin sebagai obat yang bermanfaat untuk defibrilasi tidak lebih baik daripada bukti yang memujikan lignokain. meskipun diakui bahwa substrat untuk aritmia pada setting eksperimental. Syok lagi. Bila belum berhasil bila bretilium 5 mg/kg IV. anak) . Resuscitation Council (UK) memutuskan untuk rnengikuti bukti eksperimental. 100-200 Wsec (pad". Lagipula observasi eksperimental mengarahkan bahwa fibrilasi menjadi makin refrakter terhadap terapi listrik sesudah pemberian lignokain. dan dengan ekstrapolasi banyak yang percaya bahwa obat ini berrnanfaat untuk defibrilasi. ada perubahan dalarn urutan obat-obat yang hendaknya diberikan jika fibrilasi ventrikular gagal untuk berespons terhadap 3 syok pertarna (200-200-360 Joule). Iadi. Lignokain terbukti manjur dalarn mengobati takikardia ventrikular dan untuk pencegahan timbulnya fibrilasi ventrikular.

sampai rn e leb i hi -. karela korban narnpaknya tidak mernpunyai peluang hidup yang lain Jagi. Karena itu tujuan utarna adrenalin pada saat itu adalah untuk mernpertahankan perfusi serebral selarna upayil resusitasi yang lama.lngan adrenalin dan natrium karbona! dianjurkan u nt u k rt.u n a.m. walaupun banyak yang percaya bahwa hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus.(.lIsiL1Si y. Akhir algoritma defibrilasi juga mengalami perubahan. Dosis lll. atau jika vektor gelombz!ng yang dominan bcrada pada sudut kanan terhadap hantaran diagnostik bipolar. dan rnengecewakan terutama pada penyakit jantung iskernik. Terdapat perubahan asistole. Bila penolong merasa bahwa kemungkinan fibrilasi tidak dapat disingkirkan maka hendaknya diberikan 3 syok sebelurn algoritma untuk asistole yapg sesungguhnya dimulai. Jib diagnosis ritrne akurat. Syok yang diulangulang pada tingkat cnergi png rnaksimal dianjurkan jika fibrilasi refrakter sesudah 3 syok a\\'J. Bila pada EKG : asistol vcntrikular atau disosiasi elektromekanis : Ulangi 0.. penting pada ini mempunyi Pada disosiasi elektromekanis. Oosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg IV. Pernah terjadi kesalahan akibat salah diagnosis asistole pada korban dengan fibrilasi ventrikular.I dan 2 obat ( ~ syok ke cmpat) diberikan.'o. tidak dibatasi jurnlah syok untuk mcnghilarigkan fibrilasi tersebut. kalsium dan vasopresor seperlunya. atau jika fibrilasi ventrikular sangat halus. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan alai. Dosis kalsium glukonat 1000 mg i. . kemungkinan hipovolemia sekarang ini dimasukkan.v.RJP. Resuscitation Council (UK) t id ak m enya takan b a hw a ad renalin juga meningkatkan kernanjuran syok arus searah. Posisi padel yang diubah d an pemakaian defibrilator lain hendaknya dipertimbangkan.\-. Melaksanakan Betapa prosedur resusitasi pentingnya rnelaksariakan terus rcsusitasi sangat ditckankan : jangan III d et ik u n t u k me laku k an t i nd a ka n yallg mcrne rlukan penghentian sernentara korn prcsj (beLl Rule cndotrakeal sekarang dianggap sebagai rute yang tid ak handal unt uk pemberi an obat dan hanya dipakai bilarnana bclum ada jal ur IV. Algoritma itu sendiri telah diu bah yaitu adrenalin diutamakan dad atropin. Kasus-kasus yang membutuhkan kalsium klorida juga dirnasukkan dalam algoritrna. atau jika kontrol gain pada elektrokardiograf dirnafikan. karena syok hemoragik merupakan kausa penting nadi yang tidak teraba dan ini tidak boleh dirernehkan. tetapi bersarna-sama dengan obat anti aritmik lainnya. Isoprenalin tidak lagi dianjurkan pemakaiannya dan kemungkinan menggunakan rutc intrakardiak untuk adrenalin dihapus. l. Kelainan listrik biasanya pengobatannya anjuran untuk korban yang narnpak irnplikasi prognostik yang berat. bila perlu diulang tiap 10 menit. Kemungkinan salah diagnosis harus ditekankan agar jangan sarnpai kelainan yang semestinya dapat di atasi tetap tidak mendapat terapi yang tepat.

tidak rnekanis. ventilasi dikendalikan secara manual. Sebagai tarnbahan sebuah papan tempat tidur diletakkan di bawah korban. mernberikan Iingkungan fisiologik optimal bagi miokard tekanan positif atau Oksigen. bikarbonat dianggap Untuk asidosis metabolik. lebih baik. 1. oksigen 100% harus diberikan melalui alat anestesia. orofaring korban harus dibersihkan dari sckret-sekret dengan cara diisap. Berikan oksigen 100% dengan sungkup pipa trakeal. Natrium 1. Karena itu. Jib rnas a henti ini singkat (yaitu 1-2 mcnit) m ika mungkin tidak diperlukan -/ . resusitasi pada keadaan ini dapat dimulai sebagai BHL. Ventilasi dan kompresi dada harus diteruskan dengan laju yang telah disebutkan pada BHD kecuali dihentikan sebentar pada saat defibrilasi. perlengkapan pengisap faring. Obat-obatan untuk RJP Sernua obat hendaknya diberikan secara IV ke dalam sirkulasi sentral bila mungkin. monitor EKG. Jangan diberikan intramuskular atau subkutis. Segera setelah kereia ini tiba. Untuk a. Pernberian semua obat anestetik harus dihentikan. sungkup. perlengkapan intravena. Malfungsi perlengkapan anestesia selalu merupakan penyebab potensial henti jantung dalarn karnar operasi. pipa [alan nafas orofaringeal. Segera setelah keadaan . Berbagai obat dan cara lain tersedia untuk mernberikan lingkungan fisiologik yang optimal bagi miokard dan tekanan perfusi dan rnengatnsi aritrnia. ada pad a perrnulaan RJP. Harus dicatat bahwa sernua alat tarnbahan BHL dapat segera diperoleh atau sudah terpasang pada pasien dalarn kamar operasi. alat balon dan katup untuk ventilasi paru.0 mEq per kg dosisi a. b.5 InEq per kg setiap 10-15 me nit jika tidak tersed ia pengukuran pH. kernudian 0. sehingga dapat dikoordinasikan dengan kompresi dada.W(1!. yang akan mencegah [alan nafas tidak terkontarninasi dengan isi lambung dan menyingkirkan risiko inflasi lambung. Dosis : 1. terrnasuk karnar operasi dan ruang pulih. defibrilator arus searah.Perlengkapan Oi rumah sakit perlengkapan dan obat-obatan untuk BHL biasanya di simpan pada kereta yang dapat didorong dan diletakkan pada daerah yang strategis. Ini harus disingkirkan sesegera mungkin. 2. pipa jalan natas orofaringeal dirnasukkan dan diberikan ventilasi dengan oksigen murni dengan menggunakan alat halon dan katup. Juga infus intravena dan monitor EKG hendaknya dipasang sedini mungkin. Perlengkapan pada kereta inl hendaknya mencakup tabung oksigen. trakeal korban hendaknya diintubasi dengan pipa trakeal yang mempunyai balon.

Efek dopaminergik beta yang bergantung pada dosis tirnbul pada dosis Iebih rendah (kurang dari 5 rneg/kgBB/menit) dan efek a1fa pada dosis lebih tinggi. Hiperventilasi dapat digunakan untuk meningkatkan pH sistematik dan susunan saraf pusat (SSP) seeara akut dan re. Oasis bikarbonat dapat dihitung dari kelebihan basa (negatif) dari gas darah arteri sebagi berikut : BE x 0. Norep~nefrin 1. d. disosiasi Oasis: 2-20 meg/ kg/ menit. Untuk meningkatkan a. Kelebihan natrium dengan hipernatrernia dapat timbul pada pernberian bikarbonat yang terlalu giat.\ersibel. dititrasi sarnpai tirnbul efek yang diinginkan. 78 . 3. Dosis : 0. (Levophed) c.25 x berat bad an (kg) BE : base excess. disfungsi ventrikular atau keduanya.bikarbonat.1 mg setiap 3-5 menit atau mula-mula dengan infus 0. kontraktilitas dan tekanan perfusi miokard. 2. Kalsium klorida 1. dititrasi 2. dititrasi sampai tereapai tekanan 2. Epinefrin 1. Hipokalernia setelah resusitasi bisa juga ditemukan. fibri1asi ventrikular elektromekanis. sampai (Intropin] Untuk hipotensi. tercapai tekanan arteri yang diinginkan. yang buruk.04 mcg/kgBB/menit. hipokalsernia.05 mcg/kgBB / menit. Untuk kontraktilitas miokard elektrornekanis. Oasis: 2-20 mcg/kgBB/menit arteri yang diinginkan.· Dosis: mula-mula infus 0. 2. e. b. Dopamin 1. (Adrenalin) yang halus dan disosiasi Untuk asistol. 2. asistol. Untuk tahanan vaskular sistemaik yang rendah dengan hipotensi refrakter. dititrasi sampai tercapai tekanan arteri yang diinginkan.

Breti1ium (BretyloI) 1.5-10. Kadang-kadang dopamin merupakan pengganti adrenalin yang berrnanfaat karena aktivitas alfa yang terlihat bila diberikan dalam dosis lebih tinggi. Hipotensi dapat t. diikuti dengan infus 1-4 mg per menit. b. Untuk mengobati aritmia dan bJok jan tung. Ini merupakan obat piIihan pertama untuk takikardia ventrikular dan fibrilasi ventrikular.mbuI bila obat diberikan dengan cepat. Rekomendasi bervariasi. Oosis : pad a fibrilasi ventrikular. dititrasi sampai tercapai tekanan darah (atau curah jantung) yang diinginkan. a. 2. Lidokain (XyIocaine) 1. 3. Dosis kedua dapat diberikan 1-2jam sesudahnya dan kernudian setiap 6-8 jam. diberikan 5 mg/ kg BB/ iv. Jika fibrilasi menetap.enatalaksanaanfarmakologikfibrilasi atau takikardia ventrikular. 3. Obat ini dianjurkan untuk fibrilasi ventrikular berulang yang refrakter terhadap lidokain. e. 7') . Laju infus mungkin perlu diturunkan bila ada hipotensi. Dobutamin mungkin tidak begitu bermanfaat seperti dopamin atau adrenalin dalarn fase awal henti jantung. Untuk distrimia ventrikular. dititrasi menurut respon pasien.3. atau sebagai infus 2 rng per menit. Dosis : 1mg per kg bolus. dapat diberikan 10mgper kg iv. Hendaknya obat ini dipertimbangkan pada awal p. larutan encer (500mg dalam50-100ml Dextrose 5% dalam air)selama 10-20menit. kegagaJan beberapa organ atau keadaan lain yang mungkin menurunkan aliran darah hati. 3. Dosis :2. bretilium yang tak diencerkan secara cepat diikuti dengan syok balik arus searah (DC). terutarna dengan tahanan vaskular sistemik yang tinggi.0 meg/kgEB/menit. dengan cepat dan diulangi seperlunya. 2. Untuk takikardia ventrikular refrakter atau beruJang. Mula kerja untuk terapi fibrilasi ventrikular terlihat dalam beberapa rnenit. (Dobutrex) Untuk dlsfungsi ventrikular. dapat diberikan 5-10 mg/kg BB iv. Untuk takikardia ventrikular mungkin diperlukan waktu 20 menit atau lebih. Dobutamin 1. 2.

c.

Prokalnamid 1. 2.

(Pronestyl) ventrikular berulang yang refrakter

Untuk fibrilasi atau takikardia terhadap lidokain.

Oasis: 100 mgdosis muatan setiap 5 menit pada kecepatan sekitar20mg

per menit sarnpai 1 g (atau 17 mg/kg) diikuti oleh infus 1-4 mg/kgBB/
menit. 3. Pernbcrian dosis di atas hams dihentikan jika disritmia hilang, tekanan darah menurun atoll kompleks QRS melebar lebih dari atau sarna
dengi111 50%.

d.

Kardiovcrsi 1. Pukulan prekordial a. . b. Untuk takikardia ventrikular yang berlanjut ke fibrilasi ventrikular sclarna 60 detik pertama henti jantung yang disaksikan . Pukulan dilakukan dengan memberikan pukulan cepat dan keras pada bagian terigah sternum dengan bagian daging bawah pergelangan tangan dad jarak sekitar 20-30 em. RJP segera dimulai jib kardioversi tak elektif.

2.

Syok balik arus searah (direct current countershock). a. b. Untuk aritmia supraventrikular yaitu fibrilasi atrial atau flater atrial, takikardia vcntrikular atau fibrilasi ventrikular. [adwal dosis dalam Tabcl 1 dapat digunakan.

Tabel 1. Oasis untuk syok balik arus searah (Watt-Sec)
-.~-_-_
..

-.---~~-

rr="::

Toraks

._ .._---

Atrial
"-.~~"-"

-.-~---_

----

Ventrikular Fibrilasi

FibriJasi

Flater

Takikardia

Terbuka Tertutup
-~---~ --_
.~--~-

10 - 20 80 - 200
..... --." . _._--_ •• _<

-.. ..
-

-~

20 - 50 _-- ---~-.---------.

50 - 100

200

- 300
.-

e.

Atropin 1. 2. 3. Untuk bradikardia berat
ilt;l1I

bJok atriovcnlrikular

derajat Linggi vagal

Dosis : 0.52.0 mg iv, Atropin mungkin tcrbaik untuk bradikardia akibat rangsangan ,1ti1U bradikardia karcna penyakit sislem hantaran.

no

f.

Isoproterenol l, 2.

(Isuprcl) refrakter atau blok atrioventrikular derajat tinggi.

Untuk bradikardia

Oasis: 2-20 meg per rnenit sebagai infus yang dititrasi [rekuensi denyut iantung yang diinginkan. paeu jantung tinggi atau

untuk mencapai

g.

Pemasangan 1. 2.

Unluk blok at riovcuttikular dcrajat yilllg iimbu l selama a la u setvlah RJP. Biasanya
resusitasi

bradikardia

berat

pernacuan
pasicn asistol.

hanya

sedikit

mernbantu

d a la rn rnelakukan

h.

Digoksin 1. 2. 3.

(Lanoxin)

Untuk flater at.iu fibrilasi atrial dengan respons veutrik ular yang cepat, Dosis : dosis muatan 1 mg diberikan tcrpisnh 30-60 menit. Lebih diindikasikan
t akiarltrnia atrial

dalarn dosis tcrbagi (0,25 mg) yang daripada
ketakstabilau

kardiovcrsi
rncnyebabkan

pernberian
hernod

digoksin
inarnik

jika yang

bcrma kna.
L Verapamil (Isoptin)

1. 2. 3.

U ntu k takiaritrn

ia

SlI

paravcn

triku 1M. lahan (5-10 mg pada pasien 70

Dosis : 0.075 - O.15D mg per kg perlahan kg). diulangi scsuai kcpcrluan.

Obat ini hendaknya digunakan dengan hati-hati bila ada blokade adrenergik-beta bersarnaan Mall pcnggunaan digoksin, karena dapat menyebabkan hipotrnsi atau blok jantung lengkap. (Inderai). ventrikular
atoll

j.

Propranolol 1. 2. 3.

Untuk aritrnia

supraventrikular,

bukan

obat pilihan

pertarna dalam RJP.
Dosis awal : 0.1 - 0.5 mg IV. jib bisa d itoleransikan 0.5-0.1 mg setiap 2-5 mcnit yang dititrasi terhadap kernudian ditarnbah respon pasien.

Hcndaknya propranolol diberikan dengan hati-hati pada rnasa pasea henti jantung karena mungkin ada disfungsi kontraktil ventrikular d alarn berbagai tingkat

~I

Keputusan

untuk mengakhiri

upaya resusitasi

Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henri nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan dan refleks rnuntah dan di1atasi pupil yang rnenetap selama 15-30 rnenit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau di bawah efek barbiturat atau dalam anestesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk mernbuat keputusan rnengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktivitas Iistrik jantung (asistol selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapai obat yang optimal menandakan mati jantung. Seseorang dinyatakan mati bilamana fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel atau telah terbukti terjadi kematian batang atak. Dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika terdapat tanda-tanda mati jantung dan atau sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak tirnbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 meriit lebih, kecuaJi kalau pasien hipatermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari yang efektif, jawab dokter

Telah timbul kembali

sirkulasi

dan ventilasi

spontan

Upaya resusitasi telah diarnbil alih oleh orang lain yang bertanggung meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter), Seorang dokter sebelumnya, Penolong rnengambil alih tanggung tak sanggup jawab (bila tak ada resusitasi,

terIalu capai sehingga mati,

meneruskan

Pasien dinyatakan

Setelah dirnulai resusitast.ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada d alam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau harnpir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah 0,5-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP)·

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful