362.

28 Ind

r

PEDOMAN PELAYANAN GAWAT· DARURAT

CETAKAN

KEDUA

DEPARTEMEN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT RUMAH SAKIT

REPUBLIK iNDONESLt\ PELAYANAN MEO!K KHUSUS DAN SWASTA

1995

SAMBUTAN

Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita sebagaimana di tunjukkan oleh berbagai indikator utama kesehatan dan kwalitas manusia seperti menurunnya angka ksmatian. angka kelahiran, angka kesakitan dan perbaikan gizi serta rneningki'ltnyil umur harapan hidup. Namun dernikian perubahan struktur demografi, perubahan lingkllngilll hidup dan sikap perilaku serta gaya hid up masyarakat kita telah mernbawa dampak lain berupa pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke arah penyakit kronik degeneratif dan non infeksi. Meskipun penyakit infeksi masih menduduki urutan teratas dalam morbiditas urnurn di Indonesia, p ada dekade terakhir ini data-data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan R[ menunjukkan bahwa dari tahun ketahun terdapat peningkatan yang berarti dari prevalensi penyakit non-infeksi yang sering menimbulkan keadaan gawat darurat seperti penyakit kardiovaskuler, akibat cedcra atau kecelakaan. akibat keracunan dan lain-lain. Data survei kesehatan rumah tanggil tahun ] 9H6 menunjukkan bahwa penyakit kar diovask ulcr dan ccdera atau kccelakaan terutarna kecelakaan lalu lintas telah sernakin rnenonjol sebagai penyebab kernatian di Indonesia. Keadaan tersebut disertai dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran rnasyarakat akan kesehatan mcnyebabkan perrnintaan akan pelayanan gawat darurat akan scmakin bcsar. Buku pcdoman ini rncuyajikan suatu pola pelayanan gawat darurat yang diharapkan akan mcnjadi acuan bagi segen<lp pengelola rurnah sakit maupun instansi pelayanan pra-rurnah saki! unt'uk rnerighadap i tantangan masalah kesehatan terscbut secara bcrhasil guna d,1I1 berdaya guna. Saran dan kritik sunil pcnyempurn(lan buku pedornan ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

1 Maret

1992

DIREKTlIR

JENDERAL

PELA YANAN

MEDIK,

t.t.d.

Dr. BROTO W ASISTO, NIP. 140022724

MPH

.

lllgan peraturan.ru mah xakit m<lllplill dr rurnah saki!'. terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang dalarn kcadaan gawat darurat sebagai akibat musibah ber upa k('celakaan.l\vat darurat rru-liputi melalui kategorisasi unit rungsi iniru st ruktur Gid.](ii<1ll.1IiSil data pendcrila gawat darurat.) sistirn S.lIIClCl dan p('laporan Ucngall dif'erluk. Iwnderita gawat dururat: pcrencanaan peduman penang I'eningk<llan kcmarnpuan pcnderita gilwat darurat: Pen irigka tan kernarnpua pentierita gClwa! darurat. Pcningkat.lllg mcndapat pr ioritas untuk dikembarigkan adalah pcningkat<l11 upay.in y.l pc'nanggulangan poncicrita gawat darurat baik dalarn koadaan schari-hari (ddily routine).)11.lIl ~l'I1l"kill j.GU.lI1g "p rim. Sasar an upaya pclayanan galVa~ darurat ada lah pcngcmbangan pellangglliangan pcnderita gawat dar urnt disr-mua ting kat pclavanan nlampu ml'l1l1llj.l f. stand ar pelayanan. S.uurat baik y.tiah sat u Up'l}'d kt'seilatan rujuk. cakupan dan efisiensi pelayanan rujukan rncdik dan rujukan koschatan.lIlgan sistim penratatan . Tujuan Program Upaya Kesehatan Rujukan adalah peningkatan mutu.ih <akit. Illt'niJ1gk.l rncndadak. 11 upaya penanggulangan penangguJangan pengorga nisasian St'rtd I'r-niug kat.l'idY.11l. 2.uv 1]('<111h ('.llll\'. g<lIYdl III .m dan pl'ngt'lllb.itknn pada du.PENGANTAR Departcnwil Kesehatnn I\J dalam RITELIT/\ .'ndl'riLl gctwat dnrurat.lng .lS<lr.in <l g.mg diseicnggarakan di 1'['1"1. maupun dalam keadaan ben can a.lll srstim agar pCllilnggulangan vaitu : pcnderita gawat Peningkatan kcrnampuan pclayanan gawat darurat rum. maka d.111 kc. dan pcngembangan ber.V telah mernprioritaskan Pcngernbangan Frogr<l11l Upaya Keschatan Rujuk an. bcncana rnaupun penyakit yang d iderita S(.rnanili('rn~'n ~ I'cnf'lapan gul. PcngE'mbangan pcnanggulangan p en d e r it a gaw<lt darurat dimaksudkan agar tcrcapainya suatu pclayanan yang optimal. SI'LlPld iumluh p(.'l'ningK<ltdll tempat kq.11.He" Peningkatan darura! menitik 1.

t. SOEMARJA ANIROEN. MHA NIP. Dr. Sebagai pedoman semoga pelayanan gawat darurat. 1 Maret 1992 KEPALA DIREKTORAT RS KHUSUS DAN SWASTA. 140028924 IV . buku ini bermanfaat bagi Buku pedoman gawat dapat dan pengembangan Jakarta.ini dimaksudkan agar upaya penanggulangan penderita darurat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta mern perol eh petunjuk yang cukup jelas dalam merencanakan menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.d. t.

Kiranya buku pedoman ini dapat mernenuhi seperlunya dan tambahan kebutuhan para pemakai secara guna rneningkatkan mutu f)enanggulangan konseptual dan sisternatis. Untuk memberi arahan pada upaya penanggulangan penderita gawat darurat pada tahun 1992 Departcmcn Kesehatan RI telah menerbitkan buku pedornan pelayanan gawat darurat.PENGANTAR Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sa kit Departemen pad a Repelita Repelita VI disusun sebagai kelanjutan Cawa d ar i program t Kesehatan Repelita RI V. Buku pedoman tersebut pada tahun 1995 ini mengalarni cetak ulang disertai pcrbaikan-perbaikan materi yang diperlukan. Salah satu kegiatan yan~ terus mendapat perhatian VI adalah PCJllllgknt. in i terutama terdapat dalarn Upaya untuk berjenjang penderita pelayanan gawat darurat dasar Sakit ditujukan ruj ukan menunjang pelayanan Pus kesrnas kesehatan sehingga dan Rumah da larn menanggulangi gawat darurat. penderita gawat darurat J\'2pal a Khus u s dan Swasta I .m peningkatan antara Pel2l)'illliHl untuk dikernbangkan Da ru rnl.

.

bahwa dalam rangka memantaokan pelaksanaan program uoaya kesehatan rujukan melalui peningkatan mutu.mbangan tersebut: semakin meningkatnya kesadaran ma~yara.rt. S20t594· 95 . ma k a d i p arrrra q o e r Lu n untuk secara t e r u s+me n e r u s mempe rba i k 1 dan men i ngkatkan D61ayanan kesehatan. degerneratif.96 . 9 tahun 1960 ten tang Pokok- VII . cedera akibat keceiakaan. 4 . bahwa sebagai akjbat dari perubahan Dola penyakit tersebut telah terjadi lonjakan anqka. Seta •• n Tel!>. c.D£PARTEMEN KESEHATAN R.. na s i cna l .. keganasa~ keracunah dan la1n-lain: b.98 5204395 .9 J.""-. Raw"" Said 810k X5 Kow. bahwa dengan pe s a t n y a perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pelayanan kesehatan khususnya untuk penansgu1angan penderita gawat darurat maka senantias3 diperlukan oenyesua ian yang tepat terhadap· perk". a. disamping telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah pula menyebabkan ~erubahan Do1a penyakjt dimana tengah t e r iad i pergeseran co t a Denyakit dar. bah . CIREKTORAT . efisienSl dan c a k up a n p e La va n a n kesehatan khususnya dalam upaya Denangguiangan penderita gawat d a r u r a t. Mengingat 1.A.No.k.. pembangunan a disegala bidang Dada umumnya dan p e nv e t e n q q a r a a n o e l a r a n a n k e s a n a t a n se c a r a o a r Io u r n a p a d a k h u s u s n y a . Undang-undang Namor pokok Kesehatan.I.kat akan hebutuhan oelavanan k~sehatan yang l e b i h b a i k . kesakitan maUDun kematian akibat keda~uratan medik baik dalam keadaan sehari-hari ~aupun dalam keadaan mus ibah masa 1 .•. d. d t o e r Lu k a n ad a n va suatu s t anda r d i s a s i oedoman p e La y a n a n yang be r s Lf a t. _. bahwaden~an e.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MECIK Jalan H. KEPUTUSAN MENTER I KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOHOR 0701/YAN MEO/RSKS/GOE/VII/1991 TENTANG PEDOMAN PElAYANAN GAWAT DARURAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK Menimbang INDONESIA . penyakitDenyakit infeksi k an ad a Denyakit-penyakit non infeksi seperti penyakit kardiovaskuler.

Boedihartono.usan Menter. Ketiga Ketua Sekreteris Ang9ata Dr. H.. Oarurat at Rumah Sakit termasuk Penanggulangan Penderita Ga .. 4... Ora.. Susbandyah (Oit RSKS) 6 .JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MEDIK T"p.. DIREKTOAAT . at Oarurat Rumah Sakit dan S.Darurat... Haryadi (Oir RS Pasar Rebe) 7. MHA eKa Dit RS Khusus dan S~asta) 2. Kesehatan RI Nomor 558/Henkes/SK/84 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI.n yang harus dimiliki ole . Pusponegoro (IKABI) Dr.HPH (Oir Jen Yan Hedik) Or.. viu ..stim Penan99ulangan Penderita Gawat Darurat yang d. HHA (Ka Oit RS UM DlK) 1.. Bagus Mulyadi (Oit RS UMDIK) Dr. 2. Hario Untoro (Dir RS Sekasi) 6. 3.I.at Darurat dan petunjuk teknis standard pelayan. Keput. Or. DSA (RSCH) 9.. 3. MPH (Dit RSKS) n 1. Surat Edaran Oirektur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 0681/Yan..terbitkan oleh Direktur Jenderat Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Hermansyur K (IGO RSCM) Dr... 1982.Med/RSKS/S5 tanggal 2S Me. Dr. IQbal Hustafa (PKGOI) Dr. 2. Oarurat Pre Rumah at .entangelayanan Ga.. Aryono D. Keputusan Presiden RI Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Oepartemen. Program Upaya Kesehatan Rujukan REPEL ITA V Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.. Dr. peduaan dimak6ud menvangkut Sistim Penanggulangan Penderita Ga . Pertama Herevis. Abdul LDtief. 4.. Petrus Maturbongs (Dit RSKS) Or. Brato Wasisto. Abdul Radjak (Ka Sub Dit Yan GDE) Dr.: 5201594 -115·98 52(M395 • 96 • Pe$ •.. April 1989... Soemarja Aniroen. Dalam rangka revisi buku pedoman tersebut per 1u dibentuk kepanitiaan dengen susunan sebasai berikut : Penasehat Pengarah Dr. P at HEM UTUSKAN Menetapkan. Derma. 1985 t. Kedua Revis.. Buku Pedoman Pengembangan Pelavanan Unit Ga . Unit Ga . tanggal 22 Jun.. 5. Tb.DEPARTEMEN KESEHATAN R. 5.Sakit.Dr..T.

2::::ul i 1~31 J REPU8LIK INDONESIA Pelayanan Medik.r.e t ack an d i : Jakarta Pada tanggal . Keempat Biaya ravisi Buku Proyek Pengembangan Pusat Jakarta. 6.4 .: 1. 2.•. Rawna Said 810k X5 Kav.R.nan Proyek Pengembangan RS Swasta dan Khusus Pusat Jakarta. Sekretaris Jenderal. Hal-hal diatur Pedoman Rumah diatur tersebut dlbebankan Sakit Swasta dan dalam Keputusan keoada Khusus 1n1 akan Kel ima yang belum lebih lanjut.. di 1\ .alan H. 9. No. BaDak Menter. Direktur Jenderal Anggaran OeD Keuangan RI di Jakarta. Pimp.. 4. MEDIK DIREKTORAT JENDERAL JAKARTA PELAVANAN Telp. Kepala KPN III di Jakarta: 7. Jakarta. Kesehatan RI di Jakarta. Para Direktur Jenderal dil. 8. Keenarn Suiat Keputusan inl reulai berlaku pada tanggal dltetapkan dan apabila ternyata ad3 kekeliruan dikemudian hari akan dladakan perbaikan.~ . 3. Keoala Badan Pemeriksa Keuangan d. I WASISTO. OeD Kes RI di Jakarta. Yang bersangkutan untuk diketahui.ngkungan Dep Kes RI d1 JaKarta. A r sip.kana Selatan 5204395·96.9 J. 5.DEPARTEM£H KESEHATAN a. D1 t..: 5201594·95·98 J. MPH 140022724 Tembusan kepada ytn.

.

........" .............DAFTAR lSI Sambutan Pengantar Dirjf'll Yanmedik Kadit RSKS ..........Resusitasi Jantung -..... ...... ...'.... ..... Rumah Sakil...... ........... iii vii ......... Cara mcngukur Paru ..................'..Arnbulans udara .. 84 XI ........ Lampiran Trauma Score ............ 51 ...... 1I Kesehatan Republik MED/RSKS/1987 33 4] 43 Larnpiran Lampiran Lampiran Lampiran ...... SK MENKES No 071 IYAN Tentang Pedoman Daftar lsi Pendahuluan Pengertian Penanggulangan Sistim Penderita Gawat Darurat gawat (rrGD) darurat Indonesia '......... 57 ............. III IV V VI dan prasarana leu ' '....... MED/RSKS/GDE/VIJ/199L Pelayanan Gawat Darurat ................... ......Sarana Unit Cawat Darurat ".. "........ ..... ....................Keputusan Menteri Nornor : 01521Yan.....Akreditasi . xi 1 2 3 4 penanggulangall penderita Lampiran ......... ...........

bentuk serta sifat kesehatan sebagai kesatuan yang menyeluruh.. penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Agar upaya pel1'Zlnggu['11lg. Pemerintah dan masyarakat bcrtanggung mempertinggi derajat kesehatan rakvat. maka Keschatan Nasional antara lain adalah : A Dasar-Dasar Pembangunan Sernua Warga Negilli1 berhak mernperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tillgginya. Kegiat(ln ini horus bersifat menveluruh. Segala upaya ini harus dilakukan secara merata kepada selur uh lapisan masyarakat dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan biaya yang dapat dipikul oleh masyarakat dan negara. rohaniah dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit. terpadu. C. hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati secara rnerata oleh seluruh penduduk. D. Usaha keschatan di at as mcncakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif).L PENDAHULUAN Upaya Bangsa Indonesia untuk mcncapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. serta dilaksanakan terutarna rnelalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyernbuhan dan pemulihan yang dilakukan.111 pcndcriLi gawat d ar urat dapat berfungsi dengan baik. adalah meliputi kesehatan badaniah. .q. Uepctrterncn Kesohatan RI c. Upaya dalarn bidang keschatan telah dijabarkan dalam Sis tern Keschatan Nasional yang pada hakekatnya adalah berupa pemikiran dasar yang mernberi arah dan tujuan. dapat d iterirna dan tcrjangkau oleh scluruh masvarakat. jawab dalam mernelihara dan B. Dalarn upaya penyernbuhan tercakup upaya penanggulangan penderita gawat darurat. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik perlu merigadakan pcnataan pelavanan gawat d ar ur at dengan rnenerbitkan suatu buku pedornan sebagai sumber inforrnasi. merata. Ikrdasarki'ln hal tersebut di a las. agar dapat hckerja dan hidup layak sesuai dengan rnartabat manusia. dan masyarakat perlu aktif berperan serta. Cleat dan kelemahan. Sesuai dengan azas adil dan merata. ter padu dan berkesinarnbungan sebagian bagian dari I'embangunan Nasional. Pen yelenggaraan upa ya keseha tan diatur oleh Pernerin tah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh Pernerintah dan masyarakat.

misalny» k. B. waktu sekolah. kerugian harta benda. E.lIlg mernerlukan pcrtoltlJlgan dan b.'lVV. Pasien Cawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya. kerusakan sarnua dan prasarana urnum St'rt. dan sebagainya. tidak dikehendaki sehingga menimbulkan ccdera (fisik. Pasion Cawat Tidak Darurat tindakan Pasien berada d alarn kcadaan t. waktu bekerja. kecelakaan Ialu lintas: b. tersengat. pasien dengan Suatu kejadian dimana terjadi interakxi berbagai faktor yang datangnya rnendadak. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi. tercekik oleh benda asing. berrnain 3. c. waktu perjalanan (traveling/transport b. dan lain-lain. . Mekanisrne kejadian: Tertumbuk.II. C. scbagai akibat L. F. D. PENGERTIAN A. 2. kecelakaan di lingkungan pckerjaan: d. misalnya luka sayat dangkal.l mcnimbulkan g. Pasion Darurat Tidak Cawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba.mgguan tcrhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pr-mbangunan llilsional y.ecelakaan.intuan.gga. perbelanjaan. dan lain-lain. TBC kulit. terpotong. kecelakaan di lingkungan rumah taD.mkcr stadium laniut. sosial).. Iisik maupun listrik atau radiasi. Pasien Tidak Gawat Misalnya Kccclakaan (Accident) Tidak Darurat ulcus tropium. jatuh. C. Tempat kejadian: a.lt tctapi tid ak rnemerlukan darurat. korusakan lingkullgdl1. Waktu kejadian: a. mental. kecdakaan di sekolah: e. Cedcra Masalah Benrana Pcristiwa <1 tall rangkaian pcristiwa yang disebabkan olch alarn d<1I1 atau rnanusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. waktu kesehatan yang didapat/dialarni time). terbakar baik karena efek kimia. di arena olah raga.

5. Merujuk penderita gawat darurat melalui sistirn rujukan untuk memperoleh pencmganan yang lebih memadai. ditempat kejadian: b) dalam perjalanan ke rumah sakit. c). Dengan demikian keberhasilan Darurat (PPGD) dalam mencegah 1. PENANGGULANGAN A. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. -dan lain-lain. sedangkan kegagalan sistirn/ organ yang lain dapatmenyebabkan kernatian dalam waktu yang lebih lama. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a). pemapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 . 2. susunan saraf pusat pernapasan kardiovaskuler hati ginjal pancreas Kegagalan (kerusakan) sistim/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. 4.6 menit). Kegagalan sis tim susunan saraf pusal. 3. Penanggulangan Penderita Gawat kematian dan cacat ditentukan oleh : Kecepatan menemukan penderita gawat darurat. B.III. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Prinsip Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu sistimiorgan di bawah ini yaitu : 1. 3. atau . keracunan (poisoning) 4. 2. Tujuan 1. 3. kardiovaskuler. Mencegah kematian dan caeat (to sa ve life and limb) pada penderita gawat darurat. degenerasi (failure) 5. Kecepatan meminta pertolongan. pertolongan selanjutnya secara mantap d i Puskesrnas rumah sakit. PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2. 6. asfiksi 6. kehilangan cairan dan elektr olit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolitc) 7. trauma/ eedera 2. Menanggulangi korban bencana. infeksi 3.

penanggulangan penderita gawat darurat dapat dikembangkan seoptimal mungkin.IV.ln. KOMPONENSISTIMPENANGGULANGANPENDERITAGAWAT DARURAT 1. Transportasi penderita ga wat darurat dari tempa t kejadian ke sarana kesehatan yang lebih memadai.1I1g a warn : DitinjilLl da ri 'il'gi pt'r.lll d alam mnsyarakat dibagi :~(dtld) g()i("lgclil orilng awarn . SISTIM A. I) Kl. Dengan mcmaharni bahwa penanggulangan penderita gawat darurat menyangkut baik aspek medik maupun non medik dan keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja. 6. pasien dan tenaga ahli. maka agar upaya penanggulangan penderita gawat darurat tersebut dapat terarah dan terpadu perIu dilaksanakan dengan cara pendekatan sistim. PRA RUMAH SAKlT (LUAR R. yang optimal. 5. terarah dan yang berada dalam keadaan Upaya pelavanan kesehatan pad a pcndcrita gawatdarurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedernikian rupa sehingga mampll mencegah kernatian atau cacat yang mungkin terjadi. Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan Petugas Kesehatan (SUB-SISTIM KETEN AGAAN) I'ada lllllUIl1J1ya yang pertarna menemukan penderita gawat darurat di tempat rnusibah adalah masyarakat yang dikenal clf'ngan istilah Orlll1g mmill. Cakupan pclayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi : L Penanggulangan penderita di ternpat kejadian. sangatlah berrn. Dengan cara pendekatan sistim.mfaa! sckali hila orang awarn diberi dan dilatih pengetahuan dan keterarnp ilan dalarn pcnanggulangan penderita gawat darurat. Upaya pernbiayaan penderita gawat darurat. 2. Upaya penanggulangan penderita gawatdaruratdi tempatrujukan (Unit Cawat Darurat dan JeU). kOMPONEN a.1sifikilSi llr. Oleh karena itu. Upaya penyediaan sarana kornunikasi untuk mcnunjang kegiatan pcnanggulangan penderita gawat darurat. B. 4. kapan saja dan dirnana saja. Upaya rujukan ilmu pengetahuan. 3.S). PENANGGULANGAN PENDERITA GAWATDARURAT TUJUAN Tercapainya suatu pelayanan kesehatan terpadu bagi setiap anggota masyarakat gawat darur at.

(2). cara transportasi pendcrita gawat darurat Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran penanggulangan penderita gawat darurat. (4). petugas hotel. bin: (2). (5). petugas Dinas Pernadarn Kebakaran (3). Golongan (1) awarn biasa antara lain: guru-guru berrnotor dan lain-lain. Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat seperti orang awam (Basic Life Support) ditambah. pengemudi kendaraan (4). mereka harus mernperoleh tambahan pf'ngetahauan pcnanggulangan penderita gawat darurat (Advance Life Support) terrnasuk PHTLS dan PHCLS untuk melanjutkan pertolongan yang sudah diberikan.a). (6). pelajar (3). cara meminta pertolongan resusitasi kardiopulmuner sederhana cara menghentikan pordarahan cara memasang balut!bidai (5). (2). Kemampuan darurat 2). (4). (3). terutama kalau dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. . restoran b). Tcnaga menanggulangi keadaan sesuai bidang pekerjaannya. Colongan awarn khusu= antara (l) anggota polisi (2). ibu-ibu rurnah tangga (5). Anak-anak akan menjadi dewasa dan pengetahuan ini akan tetap dimilikinya. Kemampuan yang harus dimiliki khusus antara lain : oleh orang awam (1). gawat perawat/paramedis pengetahuan dasar keperawatan yang telah Di samping dirniliki oleh pcrawat. satpam/hansip petugas DLLAJR petugas SAR (Search and Rescue) anggota prarnuka (PMR) Kemampuan Penanggulangan Pender ita Gawat Darurat (Basic Life Support) yang harus dirniliki oleh orang awarn: (1).

mengenal stroke dan pertama Kernarnpuan a) + b) + c) + d) pra rumah sakit yaitu Pre Support (PHTLS) dan Pre Support (PHCLS) e). Untuk sis tim vaskuler (1). rnelakukan resusitasi kardiopulmuner b). Untuk sistirn gastro intestional (I). Untuk sistim pernapasall air (1). membebaskan jalan napas (oropharyngeal way) sampai dengan intubasi endotracheal (3). pcrnapasan rnulut ke rnulut (b). momberikan pertolongan pertarna pada shock f). . infark jantung (3). dalam penanggulangan Hospital Trauma Life Hospital Cardiac Life n1ilmpU merawat Zrnempersiapkan penderita dengan akut abdomen. mcngcnal patah tulang (2). Untuk sistim imunologi (1). mengenal aritmia jantung. marnpu Tllcmasang bidai ('1. shok. memberikan pertolongan kcpala (3). dengan resusitator manual dan otornatik (4). mernbuat rekaman jantung (EKG) c).KemampuanPPCDyangharusdimiliki tcnaga pararnedik adalah a). operasi pada g). infarkjantung (2). menghentikan perdarahan (2). memberi pertolongan pertama pada aritrnia. Untu k sistim skeletal (1). Untuksistim saraf mernber i pertolongan pertarna pada trauma memberi pertolongan (I). mengenal adanya sumba tan jalan napas (2). Untuk sistim sirkulasi (jantung) (1).marnpll mentransportasi penderita dcng<ll1 patah tul<lllg (lIl1lgkai dan t\1hng pungg\lng) t. mcrnbcr ikan napas buatan (a). mcrawat infus-infus CVP d). mengenal korna dan pertama (2). mengenal renjatanl shock anafilaksis (2). memasang infus z'transfusi (3).

mernbuat/membaca EKe (1'». mampu melayani persalinan (2). 1Tlcnanggulangi renjatanisyok (1).i pcnderita inlark rniokard (DC) (~). nwngenal pertarna pada pertama pada pertama pada air way) (<1).h). Untuk Organisasi (1). mengenal (2). melakukan tricothyroidectomi (5). mengetahui sistim penanggulangan penderita gawat darurat (2). mernbebaskan adanya sumbatan jalan napas [alan nap as (oropharyngeal . mampu mernberikan pertolangan gigitan binatang k). yang harus dimiliki adalah : Untuk sistirn pernapasan (1).'dis (Dokter Umum) Di samping pengetahuanmedis yang telah dikuasai.ahgunaan obat (3). mengetahui s istim penanggulangan korban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja 3). Unt. Tenaga MI. mcmberikan pertolongan pertama pad. mcrnberikan pertoJongan pertama pada aritmia (3). memberikan pertolongan pertolongan pertama pada luka pada luka bakar i). intubasi endotracheal (b).uk sistim sirkulasi aritmia jantung (2). mengenal infark jantung (4). melakukan resusitasi kardiopulmoncr (ABeD) dan memberikan obat-obatan yang perlu b). memberikan (2). Untuk sistim reproduksi (1). Untuk sistirn kulit (1). Kernampuan a). memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat obstetri-ginekoJogi j) Untuk farmakologi/Tohikologi (1). mampu memberikan pertalangan penyal. dokter umum perlu mendapat pengetahuan dan kctr-rarnp ilan tambahan agar mampu menanggulangi penderitn gawat darurat. mampu memberikan pertolongan keracunan (2).

gagal ginjal. Untuk (1) sistim kulit perlukaan men genal berbagai jenis luka (2). memberikan transfusi darah dan terapi cairan/ elektrolit (3). mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan yi'lng diperlukan pada kead aan koma. mengenlll ke ad aan pcn). mernberikan pertolongan pertarna pada pcnyalah gtll1aan (lbal/keracunan/ gigiLm hinatang . Untuk sistim saraf (1). Untuk sistirn imunologi keadaan alcrgi akut. a) + b) + c) + d) adalah kemampuan ATLS dan ACLS. keadaan darurat SSP. menegakkan diagnosa I diagnosa diferensiai kuma dan kelainan darurat sis tim saraf pusat (2). Untuk sistim vaskuler (1). menghentikan perdarahan (2). Mengeual gagal hati. menanggulangi filaksis f). mendiagnosis akut abdomen (2). mengenal dan mendiagnosis patah tulang (2). memasang bidai (3). memasang/membaca dan merawat CVP d).c). rnampu menanggulangi berbagai g). Untuk sistim gastrointestinal "(1). Untuk sistim reproduksi (1). Untuk sis tim skeletal (memasang (1). e). merawat patah tulang secara konservatif i). memberikan pertolongan pertama dan pengobatan pada keadaan darurat obs tetri/ ginekologi j). menanggulangi akut abdomen nasogastric tube) h).niailgunacHl obat/ keracunan z' gigitan binatang (2). mengenal kelainan darurat obstetri/ginekologi (2). k). keadaan renjatan/syok ana- (1). gagal pankreas rnampu rnenanggulangi koma Unt uk farmakologi Ztoksikolog i dan (1). menanggulangi (2). mengetahuicara pengangkutan penderita dengan fraktur/patah tulang (4).

pa tah tulang telah d itiksasi telah l) . d).I). b).perjalanan telah ditutup (4). gangguan pemapasan dan kardiovaskuler ditanggulangi (2). Tujuan TRANSPORT ASI) Penderita Gawat Darurat mernindahkan penderita gawat darurat tanpa rnem perberat keadaan penderita sehatan yang memadai. luka-Iuka h). perdarahan telah d ihentikan (3). para siswa akan mempunyai kernarnpuan yang sama. 3). Mengetahui sistim penanggulangan gawat darurat penderita (2). Sarana transportasi a). dengan aman ke sarana ke- terdiri dari dan non medis kendaraan petugas pengangkat (tenaga medis/paramedis) life saving dan life support dipenuhi untuk transportasi peralatanmedis obat-obatan c). Semua pusat pendidikan penanggu!angan pende rita gawat darurat mernpunyai kurikulum yang sarna (2). Dalam memasyarakatkan penanggulangan )'. Untuk organisasi (1). sclama. Pcrsyaratan yang harus pendt'rita gawat darurat a). scbelum diangkat (1). Lencana akan mernudahkan mereka memberikan pertolongan dalam keadaan sehari-hari maupun bila ada bencana. b. Upaya Pelayanan Transportasi (SUB-SISTIM 1). Mengetahui sis tim penanggulangan karban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja. Mempunyai yang sarna sertifikat dan lencana tanda lulus Dengan demikian instansi manapun yang menyelenggarakan pendidikan penanggulangan penderita gawat darurat. 2).ilwat darurat yang penting adalah : penderita (1).

Kendaraan udara (ambulans Pe!ayanan udara) Medik) urnurn adalah Arnbulans a). kcsadaran (2). tekanan darah (4). arnbulans laut c). rakit (2). kereta kuda/lembu (b). Fungsi ambulans darat secara (a). b). kendaraan umum roda empat: berupa dan "pick up station". Kendaraan Darat (1). (b). kcadaan luka 4). 5). angkutan modern (a). yaitu (2\). angkutan modern truk lainbajaj.11 riarur at da lam keadaan belle ana II) . pcrahu (b). kendaraan khusus untuk pender ita arnbulans darat. (Kendaraan Ambulans darat (1). alat untuk transportasi penderita (200 km) (b). Keridaraan laut (1). (c). sebagai rumah sakit la p a n g an p ad a pcnanggulnngan penderita gaw.selarna pr-rja lanan dimonitor (I). kereta api dan lain. kapal. tandul digotong (2). horus selalu d iperhatikan dan Sesuai dengan keadaan geografis eli Indonesia yang terd iri dari ribuan pulau. keridaraan roda tiga: berupa berno. denyut nadi (5). beca dan lain-lain. pernapasan (3). angkutan trad isionaI (a). angkutan tradisional (a). rnaka jenis kendaraan yilng dapat digunakan pada umumnya adalah: a). sebagai sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita gawat darurat di ternpat kejadian (e). perahu motor (b).

tak terbatas) Helikopter dibagi dalarn 2 jenis : (<I). Tujuan ini digunakan untuk di bidangteknis-mcdis menunjang menunjang Untuk mcmpennudah dan rncmpprccpat paian dan pcncrimaan informasi dalam guhngi penderita gawat darurat. helikopter kecil (3-5 tompat duduk + 1-2 tandu) (b). ambulans rumah sakit lapangan (d). pelayanan Medik untuk Penanggulangan kornunikasi di sektor kesehatan terdiri 1). Komunikasi kesehatan Sis tim komunikasi ini d iguriakan untuk pelayanan kesehatan di bidang adrninistratip. kereta jenazah Tujuan penggunaan. b). personil dan persvaratan lihat lampiran It lainnya c.500 km) (b). 2}. med is dan kebutuhan tenaga pengelola lihat lampiran I. Komunikasi rnedis Sistim komunikasi pclayanan kesehatan (1). rI .ns udara adalah (. Fungsi ambulans udara adalah Sebagai alat angkut udara penderita gawatdarurat dari lokasi kejadian ke rumah sakit (:2). Ambulans Air Sarna dengan ambulans darat Ambulans Udara ("l). c). arnbulans transportasi (b). jenis Fixed Wing (sayap tetap .1). p('nyam~ nwnilng- I . ambulans pelavanan medik bergerak (e). persvaratan kendaraan secar a tcknis. ambulans gawat darurat (c). jcnis pesawat udara yang digunakan sebagai ambula. helikopter besar (7-15 tempat duduk + lebih 2 tandu) Untuk perala tan.' Upaya PelayananKomunikasi Penderita Gawat Darurat (SUB-SISTIM KOMUNIKASI) Pada dasarnya dad. [enis Rotary Wing (helikopter .(2) Kiasifikasi arnbulans sesuai fungsinya sebagai herikut: (a).

n kc sar aria k('sch. jcnis komunikasi dalam penanggulangan penderita gawat daroretdapat berupa: 1). facsimile e). Untuk mengkoordinir korban bencana.Hl sampai kc sarana kesehatan ycIng sesuai (rurnah sakit) yaitu dC!1. Untuk mengatur dan memoriitor rujukan penderita ga w at darura t dari puskesm as ke rumah sakit atau antar rumah sakit (4). d). tdepon/telepon geng-gam b).: Fcrj. Sentral komunikasi MPllgkoordinirpenanggulangan penderitagavvat daru rat rnulai dari ternpat kCjii. [). hmgsi komunikasi mcdis dalam pcnderita gawat darurat adalah : penanggulangan (1). dengan sarana kornunikasi (Pusat kornunikasi) Pusat Kornurukasi • adalah bcrupa . d.'lll • 1:. Kom unikasi a). radio komunikasi cr. b). c).b).l'.. jen is Kornunikasi Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkernbang pesat dan semakin modern. komputer !p!emetri (EKG data transmision) Sarana Komunikasi Yang d imaksud a ).' .iii. Oleh karena itu.lLHL. e. 2). tradisionil kcntongan bed uk trornpet kurir/mulut penanggulangan rnedik kc mulut Komunikasi modem a). Untuk mengatur dan membimbing pertolongan mcdis y<lIig d iborikan di ternpat kejadian dan sclarn. Fungsi i I). teleks z'telegram d).L}!l )'Zmg lcbih mcmadni (3). narnun demikian sararia komunikasi modis belurn sepenuhnya menjangkau dan dikcmbangkan di seluruh pelosok tanah air. Untukmemudahkanmasyarakatdalarnmeminta pertolongan ke sarana kesehaian (akses kedalam sistim GO) (2). I).

(3). Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain. kornputer bila diperlukan masa lah (5). radio komunikasi (3). mcngatur / momonitor gawilt darurut. Menjadi pusat pcnangglllcmgan rujukan penderita kornando dan mengkoordinir modis korban bencana. k orisu len m e d is yang menguasai kcdaruratan mcd is. tcnaga yang trampil dan kornunikatif (6). (2). telepon (2). mengatur kejadian dan tnl'ngana_lisa tcrdekat perrniritaa ke tempat n amb ulans (e). har us sentral kornunikasi nomor telepon khusus pelayanan mempunyai (sebaiknya 3 digit). instansi lain dan kalau perlu dengan negara lain.(a). menghubungi rurnah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapa t diberikan untuk pcnderita gawat darurat. Syarat-syarat (1). (4). c). (d). mcner irna pertolongan (b). 1'- . teleksy'facsimilc (4). (2). mudah dihubungi 24 jam sehari. dan memberikan (3). Syarat alat sentral komunikasi (1). Dapat diambil alih oleh aparat kearnanan (ABRJ) bila negara berada dalam keadaan darurat (perang) b). dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang tram pi! dan berpengalaman.

maka tenaga untuk keperluan kornunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat bidang komunikasi. Oleh karena itu Puskesrnas dalam wilayah huka 24 jam dan m. Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit (SUB-SISTIM PELA YANAN GA W AT DARURAT) SeringkaJi Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggular.2).lmpu dalarn hal: kerja tertentu harus If . KOMPONEN INTRA RUMAH SAKIT (DALAM R.S) a. [aringan komunikasi POLISI DPK I'M! <--> <--> <--> <--> BAKORNAS PUSAT KOMUNIKASI <--> RADIO AMATIR <--> A I-) 1{ 1 PUSAT AMBULANS <--> RUMAH SAKI1 KORBAN <--> Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjarnin. 2.ggi penderita sebelum mernperoleh penanganan yang mernadai di rurnah sakit.

slirgibi 3). Oleh karena itu pengembangan unit gawat darurat harus memperhatikan 2 (((U<1) aspck yaitu : 1)_ Sistim rujukan pender ita gawat darurat. Behan kerja rumah sakit dalarn l1wnanggulangi Dengan mernperhatikan kcdua aspek tersehu t... harus dilengkapi dengan : l. urine dan gula darah. Kategorisasi/akreditasi Pedoman 1). Melakukan rcsusitasi dan "life support" gawat darurat Melakukan rujukan penderita-penderita sesuai dengan kcmampuan Menampung dan menanggulangi dengan emergency" korban pusat Melakukan komunikasi rurnah sakit rujukan.l\. 2).'1lproblim medis pclayanan akut. Unit C. Tcnaga : I dokter umurn dan pararnedis (2-3 orang pararncdis yang sudah mendapat pendidikan tl'rt('lltu dnlarn PPCD)..i! (U(. 2). Rumah Sakit tertentu dapat mengernbangkan unit gawat darurat dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rcndah dari kclas rurnah sakit tersebut. I"'.lW.(») haru-: "l<llllpll nu-mbcrikan dcngc1n kwalil as tillggi pillLl Ill.v'\rci~. Rumah Sakit mcrupakan tcrrninal torakhlr dalam menanggulangi pender ita gawat darurat. Unit Gawat Darurat rnemberikan pelayanan dari rangkaian upaYil diorganisir. maka kategorisasi (akreditasi) unit gawat darurat tidak selalu scsuui dengan kclas rurnah sakit yang bcrsangkutan. lcukosit.1). .lt dCI1)!. 2). khususnya unit gawat darurat harus dilengkapi scdcrnikian rupa schingga mampu menanggulangi penderita gawat darurat ("to save life and limb"). karena dengan demikian akan terjadi penghamburan dana dan sarana.Vill Darur. 4). merupakan salah satu unit di rurnah sakit yang kepada pr-nderita gawat darurat dan merupakan bagian p('nangguhlllgan pc-ndorita gawat darurat yang perlu Tidak semua rumah sakit harus ruemp unyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga mernadai dan pcralatan canggih. Oleh kareria itu Iasilitas rurnah sakit.lt Darurat Gawat (lihat lampiran Darurat III) Sakit Pengembangan Pelayanan d i Rumah TlIjllan: Suatu Unit (. Ht. penderita gawatdarurat. 5) bencana kornunikasi medikal dan dan Menilngglliangi (bcdah tnsvbut "false minor) baik I'uskesrnas l ).lc.aboratorium untuk menunjang diagnostik Seperti: Hb.

.

tertari ky mempunvai perhatian khusus lL1Ii11l1 bjdi1Il.lIlg pCriHVi1t/dokter yang rncnj. Unit Gawat Penanggulangan Penderita Gawat sehingga instalasi Kriteria a).id i rl'llimggungj. memenuhi kebutuhan masyarakat dalam Darurat dan dikelola sedernikian rupa terjalin kerjasama yang harmonis dengan unit-unit dan instalasilain dalam rurnah sakit. : petuga~ : modis harus mcnjadi pcnanggungjawab Unit Cawat Seorang Darurat. Unit Gawat Darurat hams melakukan riser guna meningkatkan mutu z' kwalitas pclayanan kesehatan masyarakat sekitarnya. i<l har us d ihant u ok-h pcnvakibn unit-unit Idill y. . Unit Cawat Darurat harus buka 24 jam Unit Gawat Dar urat juga harus rnelayani pcnderita-penderita "false emergency" tetapi tidak baleh mengganggu/mengurangi mutu pelayanan penderita-penderita Gawat Darurat. dokter umum mauptll1 tcrgantung pada klas rurnah saki! Y. Unit Gawat Darurat sebaiknya hanya melakukan "primary care".1\\'ah harian. Organisasi.lllg pCllling i. e). Mengadakan kursus-kursus untuk personalianya scndiri maupun penyuluhan kcpada masyarakat dalam penanggulangan penderita gawat darurat (prGD). menanggulangi korban bencana Kriteria: a).lnlerpretasi : Harus mampu a). Administrasi. Interpretasi Petugas perawat. mempunvai kcrnampuan memimpin: dan (l). b). Sedangkan "definitive care" dilakukan di tempat lain dengan cara kerjasama yang baik. d). Darurat Catatan harus Medis ~ 2). Interpretasi : c). Unit Gawat Darurat hams meningkatkan mutu personalia maupun masyaraka t sekitarn ya dalam penanggulangan pcnderita gawat darurat. Harus ad" s('Dr. medis ini dapat seorang dokter ahli.11<1h: b).lng twkerjil di Unit Cawat Darurat. melakukan rujukan c). mencegah kematian dan cacat b). (I).~ kcdoktcran gawat darurnt: (2).

Catatan rncdis yang baik (3). "Disaster planning" rurnah sakit maupun kota dimana dia berada (2). dan instansi keschatan lainnva Harus mempunyai peranan inti dalam : (1). Triage officer dapat scorang dokrer ahli. ambulans servis (tipe 118) (3). B. doktcr urn urn (Ita up un pera wat sr-suai dengan kelas . lnterpretasi : Triage adalah sistern : (1). jawab atas mutu pclayanan pada hari itu. Interpretasi : Semua petugas baik med is maupun paramedis harus selalu mernperhatikan : (1). O· Semua penderita yang masuk ke Unit Gawat Darurat hams jelas idcntitasnya.itau kcbijaksanaan r urnah sakit. unit-unit dan instalasi-instalasi lain di rumah sakit (2). 'seJeksi pendcrita (dalarn koadaan bcncana). Kalau penderita tak dikenal/tak ada keluarga yang mengantar harus diusahakan semaksimum mungkin untuk mencari dan menghubungi keluarga. sopan san tun (2). Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di Rumah Sakitnya sendiri dilengkapi dcngan Unit Perawatan Intensip (leU) Semua personalia Unit Cawat Darurat men genal dan menghayati sistim Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di unitnya rnauplln Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Nasional. waktu rnenunggu tindakan rnedis (4).' kebutuhan rohani penderita (5). puskesmas-puskesmas Ji sekitarnya (5). kerjasama dan d is iplin kerja mernpunyai d). prioritas yang tinggi. lnterpretasi: (1). hak dan rahasia rnedis penderita (3). Triage dilakukan oleh orang yang paling bcrpengalaman dan haws d apnt menentukan (lrgan mana tcrganggu dan dapat menvebabk an kernatian dan rncncntukan pcnanggulang21nnya. Seleksi problim sClJrang penderita (dalarn keadaan sehari-hari) (2). Harus ada kerjasama yang saling menunjang antar Unit Cawat Darurat dengan: (1). dokter-dokter yang berpraktek/tinggal di sckitarnva (4).Interpretasi : Ia bertanggung c). . g).iodata dan kelengkapan administrasi (2). Semua penderita yang datang ke Unit Cawat Darurat harus melalui "Triage Officer". e).

\-lilY (c). Interpretasi : terbatas harus Puskesmas dan rumah sakit kelas 0 yang hanya mampu rnelakukan resusitasi dan life support semen tara. bakterioJogi dan patologi d iatur sesuai dengan kernampunn rumah sakit dan kebutuhan periderita.llan !ned I". hbur. Penderita-pcnderita Cawat Darurat harus mendapat selama ia berada eli d alam Unit Gawat Darurat In terpretasi : pengawasan ketat Unit Cawat Darurat harus mempunyai perala tan.-lnl (2).im.. (h). tenaga adrninistraxi) Daftar jilga : (a).ltoriut1). pcrsonalia (b).l!l timggdl Sl'rtd (d). Radiologi. n. infus. Depot darah (4). harus mempunyai kornunikasi (telepon.1[. i).lp untuk : Interprotasi : (1). ha rus bckcrj<l 241.h). "plasma expander".ls me-d i- jam dilakuknn I:: . alat-alat "disposible" dan "linen" cukup untuk 24 jam. j). Cat. : (dokter. radio) dcngim rurnah sakit kclas Iebih tinggi yang terdckat. (". obat dan pcrsonalia harus diatur sedernikian rup<1 sehingga dapat memenuhi kebutuhan 24 jam.in modis minimum harus ilH'IlCd k up : (<1) h1nggi1! dan jam tibd (b) resume latat.ngsehingga pcrsediaan obat-obat. Penunjang pelayanan med is sepcrti alat. porawat. Cillahlll keterangan kapan -Ian nud is yang pcnyakitnya kcrnana konl rol sdjilP pcndcrita 1t'llgk.rk an d. (2). Intcrpretasi (I). pulang : (a). dirnana dirawat (2). Penderita keluar dari Unit Gawat Darurat harus jelas : (1). alat-alat steril. Unit Gawat Darurat atau Rumah Sakit dengan pelayanan mernpunyai sistem rujukan yang jelas. Farmasisangatpenti. Pengawasan ini harus dilakukan terus mencrus baik di ruang Unit Cawed Darurat maupun scw aktu diangkut ke rumah <akit lain. (3). konsulen termasuk hematologi.1/<11"1!cnl<Hlg t in d. obat-obatan dan personalis yang rnemadai untuk melakukannya.ln r·)c··lllg.i eLm lClIHLi l<lll~'.m k linik. l).Iaboratoriurn k). Catat. biokimia.

Harus mernpunyai skema organisasi mulai dari pimpinan sampai petugas yang paling rend ah dengan "job descriptionnya dan jalur tanggung jawabnva. Personalia Personalia dan Pimpinan : Unit Gawat Daurat mulai dari pimpinan.' !'j. modis disesuaikan dengan beban kerja dan kelas untuk: lc~l'lganon medis selain pekarya (a) (b) (c) (d) catatan medis keuangan keamanan juga diperlukan asuransi :" jasa Raharja . Karena Unit Cawat Darurat pada rumah sakit klas A dan B juga temp at belajarnya mahasiswa dan perawat maka sebelum bekerja praktek disitu harus sudah mendapat/ sedang mendapat pelajaran ilmu kedokteran gawat darurat. dokter. Askes . : dan kwalitas personalia harus mcmcnuhi syarat : jumlah (1).3).llTI oricntasi d. cara menilai rnutu pctUgi1'-. seb''lg<1i "feedhack". I" . Karena ilrnu kedokteran gawat darurat tidak diberikan secara "integrated" dalam kurikulum Fakultas Kedokteran dan belum lengkap dalam kurikulum pendidikan perawat maka sebaiknya para dokter dan perawat yang akan bekerja di Unit Gawat Darurat atau Puskesmas harus mendapat kursus tambahan dalam ilmu kcdoktcran gawat darurat. perawat dan personalia non medis harus memenuhi kwalifikasi tertentu sehingga mampu rnemberikan pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang optimal. Scor<mg pptugas baru scbelurn bekrrja progr. [umlah petugas rum. (4) (5).ih sakit.ls.lSil<1Jl-kebj. Harus ada progill1l c). Penanggulangan (3). l'erternuan staf yang n:gukr untuk mcnjaga d an k. Kritcria a).. komunikasi antar petugas melalui d) send iri harus mendapat.s baik. (2)..m "induction". Tenaga l'enderita non medis harus mendapat kursus Gawat Darurat sebagai orang awam.'bi.lilll yan. Mereka h ar us d i bawah pcngawasan/bimbingan seorang dokter atau perawat dari Unit Cawat Darurat. Astek b).

(7). Terletak berdampingan dengan tempat perawat kepala: chief nurse/ dokter jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi scm ua kegiatandi pintu masuk. l.':-. Ruang triage: (a).ggulill1gan Penderita Cawat Darurat CL1p"t di la ku kan dcngan optimal. (2). Lotaknva hams berdckatan dengan (h). Lokasi gedung Unit Gawut Darurat harus mudah dicapai tanda-tanda y<lOg jelas dari jalan maupun dari dalam.lIang t indakan Uutuk rurnah Iwdilh 1111. Untu k rtu nah sakit kclas A dan Bh<lTlISadil Helipad untu k pcriderita yilng diangkut dcngan helikopter. ruanj. tindakan dan I'Ildllg resusitasi.uas Unit Cawat Darurat disesuaikan diporkirakan untuk 20 tahun mendatang dengr\ll behan kerja )inng dan kelas rumah sakit.l. Cukup Iuas untuk menampung pCllcierita untuk rumah sakit kclas (I')' rll<1ng triage beberapa C) pf'lldl'ril.l (2) fK) Kuad aan IUclllgaJl harus P. I'intu Unit Cawat Darur at llwnghadap tidak pcrlu murtdur. sedang untuk r urnah sakit kclas c: hila mcrnungkinkan dibuat lapangan pendaratan hclikoptcr dekat rurnah sakit.1S A. (I. FasiIitas Fasilitas dan a lat-alat Zobat-obatan Unit Cawat Darurat harus rnernenuhi persvaratan schingga Penan. (0).m .lsi (<1). Kaiau ada petugas yang pindah maka hams diminta pendapatnya tcntang Unit Cawat Darurat bcrsangkutan yaitu positif m<lupun ncgatifnY<l dan usu l-usul.lISit.awa! hams sedemikian rupa sehingga Penanggulangan Pcnderita Darurat dapat dilakukan dengan optimal. ""kit kclas i\ dan dan 1 lUll bcd ah sak it kCl.I). (1). (1). Uarurat Cawat deng<H1 amhulans ke depan "cilingga f laru» malllpu mencrima 2-5 arnbulans sckalig us sc-suai dcngan Ixban kcria z'kelas rurnah sakit (rurnah sakit kclas C menampung 2-~ arubulans rurnah sakit kr-las D ]-2 ambulans).~l1g t". dan alat-alatlobat-obatan : 4). ruang tunggu. untuk sr-leksi pasicn scsuai tingkat kcgawatan (b). (5). IlllTW1. d an ( dan d ig unak an 1111il!K Iwddh infl'ksi lu k. Un tu k rurnnh IllCIl'1Il)~'111i 11. C~dllng untuk pclavanau I 'enanggulangan I'enderita (.mlma !lIang (d). (4). ha k. Kri tcria : a). Diguriakan pr-nynkitnva. LII'dl) mcnjarnin k<'lC'llrlngall H dipi"dhk.ir ~'II .. RlI.

Behan kerja dan keias rumah sakit akan rnenentukan besar dan isi sudang farm asi. Mereka dapat istirahat dan mudah dirninta keterangan yang lengkap dari petugas.\. disesuaikan derigan beban/ k wali tas Alat-nlat dan obat-obat di Unit Cawat Darurat harus sedemikian mpa sehingga resusitasi dan "life support' dapat d i iakukan. (17).ldalah untuk timbkan rCSl. alat-alat dan obat-obat. haws dapat menampung korban bcncana sesuai dengan kemampuan kelas Rumah Sakit (c). (16). linen (13). Ruang pulih pulih dengan (14).in dapdt dibagi : .lbilisdS.Isit.i .it . Komunikasi tilpon/radio ke Iuar rumah sakit dan tilpon intern di Unit Gawat Darurat dan ke rumah sakit.bi dan tindabn -. (20). Interpretasi (a). perawar penanggung jawab.aw<!t Daru r. arus penderita dapat Iancar dan tak ada "croos infection" (b). Juga ada fasilitas we dan kantin sesuai dengan beban/kwalitas kerja yang dilakukan di Unit Gawat Darurat terse-but. "social worker". Ruang untuk keluarga menunggu harus sedemikian Tupa agar rnereka tidak mengganggll pckerjaan. Ruang gips dekat X-ray [umlah ruang operas! sesuai dengan keaktifan rumah sakit (a). (19).13 dan C mak. Ternpat khusus berduka/berdoa untuk yang meninggal dan keluarganya yang sesuai beban kerja atau kelas rumah sakit. Ruang X-ray dan ruang farrnasi dengan Rumah Sakit kelas A dan B) operasi (tergantung kebutuhan) (11). asuransi. locker. polisi.J.scinua baf. ruang bayi baru Iahir (operatif) (b) fu. (15). wang cuci (e). : Alat-alat dan obat-llb"t.(9). ruang konferensi. tempat istirahat.mg instrumen (c). ruang sterilisasi (d). Ruang persiapan operasi/observasi (tergantung pintu kebutuhan) dari luar/dalam (10). (IS). kegiatan rnudah dikontrol olch "chief nurse" pada saat it u. Ruang (untuk (12). ruang kerja non medis bagi pimpinan. Alat-alat radiologi diagnostik kerja dan kelas rurnah sakit. pcnderitd ('iif"~upp()rt'l Scclilngkan untuk Unit Cayv.dn Unit C.]t Darurat t 111J!<lh sakit kelas . Susunan (recovery soom) tergantung kebutuhan :3 tempat tidur untuk 1 karnar operasi) harus sedemikian rupa sehingga : (1 wang jurnlah ternpailldur 1:50/ ruangan (a). gudang obat-obatan.ul yMIS harus del" d i.t.

[arum intra kardiak "Pace make: *" transvenous" * "transthoracic". (2). untuk resusitasi untuk "life support" untuk diagnostik sesuai dengan tipe Rumah Sakit terapi sesuai dengan tipe Rumah Sakit non medis seperti audio visual. dan Alat-alat Zobat-obatan Oksigen Respirator Laringoskop Magil forceps Pipa endotrachealPip a nasotracheal Pip a 5.20 'Yr" NaCL. tulang runggung "Car diar rnodication Bidai-bidai . cateter lurus dan bcngkok sernua ~ sernua (anak dan dewasa) ukuran ukuran 10 cc . alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-alat kearnanan lain-lain. penderita (life support) : kit" scgilla ukuran lengell!.Adrenalin 50 'Yr.Pethidin ."cardiac Infus/transfusi pander" + defibrilator 10 . (3). (4). "Lichtkast" "Pneumatic trousers" "Cricothyroidectorny" Gunting besar anti Trendelengburg. (5). ada gantungan + "Tracheostomy set". training seperti pemadam kebakaran kebersihan aids. A1at-alat/obat-obatan "WSD sct"/jllfum "Blood gi1:-. 18 Bic Nat. (6). untuk menstabilisasi pungsi set" untuk tungkai.[arum No. lcher. guedel "Syringe: CVP set Morphin Dextrose yang perlu dengan otomatik untuk resusitasi: dan masker Suction-manual/otomatik (02) lengkap manualy flow meter. amp. monitor/portable" set + cairan ECG . amp. infus dan pengikat. "Plasma ex- glukose "Blood drawihg equipment" Tandu dapat posisi Trendelenburg. .(1). llinger.

gula darah "Bone set" "Minor surgerv :.lp waktu hagi seruua personalia .ct'· "Thoracotomy set' "Laparotomy set + extraset" Benang-benang z'jarurn scgala jenis + ukuran Alat-alat kearnanan dan pendidikan : Pernadarn kehakaran Ember .m l'eudcrita Cawat Darurat harus tertulis dan "up date": dan dap<lt dih<1«l setJ. Protokol gawatdarurat dan korbsn ProtokClll'cn.lIIgg11lang.ke dalam Perp usta kaan Manual Zbuku F't'doman pl.Hb mata • Ht * ICllCO * urin .skin " pelvis Gips Ob-Gyn set.. \') t[) . Lavase peritoneal set "traction kit" : ~ bone "... Komunikasi . . Boneka untuk latihan "Audiovisual jtraining aids".'ll<lnggulangan pcndcrita penanggulangan bencana.. Laboratorium mini: . Dj + Th/."kick bucket".ke luar ---> radio.Perban sega!a ukuran Sonde larnbung Foley kateter segi1la ukuran Venaseksi x-ray Perban set untuk luka bakar set untuk diagnosa dan terapi : Perikardiosintesis Alat-alat tambahan Alat-alat pcriksa-pcngobatan "Slit lamp" THTsetDj + '1'11/. teIepon . 5).

(3). (13). (12). (10). (24). (19). d. (11). (20). Pendidikan Unit Gawat Darurat harus mampu meningkatkan rnutu Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bagi personalianya. kota dan nasionaJ Triage Sis tern rujukan Penerirnaan penderita Sistern asuransi I'erkosaan Tindakan kriminil "Child abuse" Keamanan . RS. (4). (25). Kriteria .psikiatri Kontaminasi radioaktif Keracunan Penderita tak dikenal Catatan medis Penyakit rnenular Visum et repertum Rahasia rnedis Surat cuti Resep apa yang boleh diberikan Resep obat narkotik Kernahan di Unit Gawat Darurat Mati waktu tiba (D. Sistem PPCD di UCD. (9). (6). Harus mcngikuti pengcmbangan dan kongres-kongrcs seminar . (14).O. (2). (26).Kriteria: a). (17). (22).A) Kebakaran Listrik mati Huru-hara Bencana di Rurnah Sakit! di luar Rumah Sakit Resusitasi kardiopulrnoner di Rumah Sakit Protokol tentang tiap-tiap penyakit sesuai yang dianut unit-unit lain yang bekerja di Unit Gawat Darurat. (8). Unit Cawat Darurat adalah sesuai kelas Rumah Sakit Haws rriempunvai program tempat belajar mahasiswa dan perawat baru orientasi dan induksi bagi personalia ilmu rnelalui kcpustakaan. (23). (18). Protokol yang harus ada adalah : (1). b). (15). (21). (7). (16). (5). 6). a). b). rumah sakit dan rnasyarakat yang dilayaninya.

d). e).

Harus mampu rnelakukan riset derni perhaikan Penilnggulangan Penderita Gawat Darurat di unitnya maupun masyarakat. Sernua (1). (2). (3). (4). (5) (6). (7). (8). personalia minimum harus mahir dalam penanggulangan:

"air way" (A) "breathing" (B) "circulation" (C) menghentikan perdarahan balut - bidai transport pengenalan dan penggunaan membuat/baca ECG

obat

7).

Evaluasi Evaluasi mutu Penanggulangan dan berjalan terus. Kriteria: a) Statistik dibuat dan dievaluasi secara komprehensif. Pcnderita Gawat Darurat harus komprehensif

Interpretasi: (1). akses untuk masyarakat (2). adanya sarana (3). kwalitas pelayanan (4). rnutu dan kaitan komponen-komponen (5). biaya yang sesuai b). c). Kasus-kasus yang menyinggung/ mencari jalan keluar. Pertemuan

dalam

PPGD

aneh/jarangdicatat

dibicarakan

untuk

staf
.. kelemahan Unit Gawat Darurat mencari jalan keluar kesepakatan dan menyebar luaskan hasil pertemuan pada semua staf lIpaya perbaikan dan peningkatan mu tu pela yanrui

Interpretasi : Untuk meneari:

..

*

b.

Unit Pelayanan
1).

Intensive

Filosofi Intensive Medical Care (J.M.C) sebagai suatu akrivitas khusr.rs mendapatkan legitim2lsi bukan oleh karena kompleksitas peraiatan dan pcmantau.m pasicn. tetapi oleh karena pasinn sakit krit is

(Critically ill) selalu berakhir pada suatu "final common pathway" dari kegagalan sis tern organ sehingga dibutuhkan bantuan terhadap sistern respirasi, kardiovaskular, renal, nutrisi dan organ vitallainnya baik tersendiri rnaupun terkornbinasi. Sebagai contoh untuk pasien dengan gagal nafas hipoksemia tidak menjadi persoalan apakah paru-parunya mendapat trauma dari roda mobil, teraspirasi asam lambung, atau terserang virus, manajemen suportif dan hasil akhir selalu akan sarna. Ini salah satu contoh "suatu pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan jelas" oleh cabang spesialisasi I.M.C. Aplikasi yang tidak terkoordinasi dari multi-disipliner tidak hanya merugikan pasien. tetapi personil perawatdan tenaga profesimedis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit Intens Care "terbuka" yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. Pada hakekatnya tidak merupakan persoalan apakah seorang sepesialis penyakit dalam, bedah anak atau anestesiologi yang mengelola suatu LCU sepanjang spesialis tersebut mernenuhi persyaratan: a). Pengetahuan
b).

"Intensive Care"

Keterampilan Komitmen waktu

c).

Hanya dengan ke 3 syarat tersebut akan terdapat pelayanan yang komprehensif. Keahlian ini bukan merupakan hobi, juga bukan pekerjaan sarnbilan ("part-time"). Harus diingat mendapatkan konsultasi merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan pasien-pasien saki t kritis. Meskipun demikian merupakan kewajiban seorang intensivis bertindak sebagai "interlocutor", mengkoordinasikan dan membawa semua informasi dari berbagai konsultan untuk kepentingan pasien. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang intensivis adalah bayangan ideal seorang dokter di masa Iampau, yaitu mernbawa seorang dokter kembali ke "bedside" untuk mengelola pasien secara utuh, berkonsultasi dengan kolega dokter dan keluarga pasien. Di samping pengelolaan pasien sakit kritis yang memerlukan penggunaan alat-aJat dan teknik-teknik bantuan hidup (Tife support"), intensivisjuga harus menurnpahkan perhatian z'mengarahkan usaha sernua dokter kepada problema multi-faktorial pasien. Seorang intensivis harus rnerupakan seorang manajer, diplomat dan guru, dan dalarn rangka mengaplikasikan usahanya harus terdapat

piramida

dari

berbagai

tenaga

lain

seperti

perawat.

f isi o-

terapis. teknis-teknis,
Pasien-pasien dengan gagal alat-alat bali jika

dan lain-lain.

Tanpa bantuan tersebut maka usaha seorang intensivis
yang masuk yang satu atau lebih gagal sistem / organ dilakukan utarna bantu. Oi samping sistem/organ terdapat akut,

akan sia-s ia.
pasien dan! atau pulih kern-

ke suatu ICU harus merupakan mernbutuhkan itu harus pemantauan harapan
tepClt

atau ancaman

terClpi cian barituan

yang

Fungsi a). b). c).

ICU adalah didapati

membcrikan

bantuan

fisiologis

yang

dibutuhkan

sampai

hasil :
problema dasar

Pasion sernbuh spontan Terapi spesifik dapat mengatasi Pasien meninggaL

Perlu juga ditekankan bah wa filosofi "Coronary Care" tidak sarna dengan filosofi "Intensive Care". Hal essensial dari "Coronary Care" adalah "surveillance" dan se-sekali melakukan intervens i aktif dan bantuan sistern mu1ti-organ. Difinisi lain "ICl.I" adalah tentpat melahlknll bantam! (support) "nku]" dan interoensi tcrapeutik: delIgml aktinit a« dan keriinnan yrzJlg tidak sesuai untuk atmosier "11011 strees" dan "Coronary Care Unit" ideal. Bentuk pengelolaan bentuk pengelolaan lCU sering mcnjadi pertanyaan. leU dengari "closed unit" yaitu: kepala unit "full time"

dengan wakil-wakiln ya bcrtanggung jawab penuh terhadap semua pengelolaan pasien dan pendidikan dalam unit, sering menimbulkan konflik autoritas dengan dokter primer konsultan. Suatu K'U yang "semi-closed" yaitu dengan kepala unit bertanggungja wab terhadap kualitas total pengelolaan pasien dart pendidikan staf, mungkin lebih baik dalam hal mengurangi konflik, tetapi di atas segalagalanya manajemen yang terarah dan jelas merupakan hal yang: tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini penting bukan hanya untuk pengelolaan pasien juga untuk mempertahankan moral staf dan koordinasi Rumah program-program sakit tidak hanva kompleks. bertanggung jawab mcnvediakan

Iasilitas dan tempat, tetapi juga bertanggung jawab legal agar Iasilitas leU digunakan secara tepat dan balk. Old, karena ilu, terdapat tendensi akhir-tendensi ini di rurnah-rurnah sakit dengan pelavanan sck undur (Lin tersiL'I' untuk nununjuk pcrsllnil medic:; ICU "full time" medis
("m,llId,ltorv

(intcnsiv

is) dari
-n").

pada

hergantung

pacta

praktek

"la lsscz-fa ire"
lllliC,U]tdtil

a la u krharu

san

me lakuk an k o ns u lt as i

Staf khusus adalah dokter. alat untuk menopang fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik. Kemampuan minimal leu adalah Sebuah leu hendaknya memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung pam Pengelolaan jalan napas. Kekhususan (1). Ruangan yang hams dimiliki : tersendiri: letaknya dekat dengan karnar bedah. Merniliki kebijaksanaan r kriteria penderita yang rnasuk keluar serta rujukan (. teknisi alat-alat pemantauan. Klasifikasi a). trauma atau kornplikasi-komplikasi. dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala K'U: tenaga ahlilaboratorium diagnostik. perawatan terlatih atau berpengalaman dalam "Intensive care (perawatan/terapi intensif)" yang mampu memberikan pelayanan 24 jam. Intensive Care Unit (Unit Perawatan/Terapi Intensif) suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit. rUrlng darurat dan rU<1ngal1pcrawatan lain (2)."1).2). pelayanan K'U Pelayanan leu primer (standard minimal) Mampu melakukan resusitasi dan mernberikan ventilasi bantu kurang dari 24 jam serta mampu melakukan pemantauan jan tung. terrnasu k intubasi trakeal dan penggunaan ventilator Terapi oksigen Pemantauan EKe terus menerus Pemasangan alat pacu jantung dalam keadaan gawat Pemberian nutrisi enternal dan parenteral Pemeriksaan Iaboratorium khUSLlS dengan cepat dan menyeluruh Pernakaian pompa infus atau semprituntuk terapi secara titrasi Kernampuan melakukan teknik khusus sesuai dengan keadaan pasien Mernberikan bantuan fungsi vital dengan alat-alat portabel sclarna transportasi pasien gawat. memiliki staf khusus. Memiliki s('orang doktcr -:pcsia1is anestesiolllgi scbagai kl'PilJ'l . peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit.

kemudahan diagnostik dan fisioterapi.B. Rumah sakit umum klas I3l b).E. Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan resusitasi jan tung paru (A/B.CO. kemudahan diagnostik dan fisioteri selama 24 jam Memiliki ruang isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi. Memiliki jurnlah perawat yang cukup dan sebagian besar telah terlatih (7). Rumah sakit yang dapat mempunyai ICU primer. rontgen.(. dokter jaga minimal mampll RJP A. Kekhususan yang hams dimiliki : Merniliki tempat khusus tersendiri di dalarn rumah sakit Merniliki kriteria penderita masuk. (5). c). adalah : (1).F).ErF.CD. Konsulen yang membantu harus selalu siap dipanggil (6).' tempi intensif. Mampu mengadakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien :pera wa t 1 :1 pada setia p saat jika diperlukan Memiliki perawat yang bersertifikat terlatih perawatan/ terapi intensif Mampu memberikan bantuan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pernantauan invasif dan usaha bantuan hidup Mampu melayani pemeriksaan laboratorium.(4). Mampu melayani pemeriksaan lab ora tori urn. berdekatan dengan kamar bedah. Pelayanan leu tersier (tertinggi) Marnpu melaksanakan sernua aspek perawatan.r:. Rurnah sakit umum klas C (2).I3.D. keluar dan rujukan Mern iliki dokter spcsial is yilng dapatme!lilnggulangi sotiap saat bila d iperlukan Memiliki seorang kcpala ICU yang bertanggullg jawab secara k esel ur uhan (intcnsivis) dan doktcr jagil vang minimal mampu RJI' (i\. Pelayanan leu Sekunder (menengah) Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama. rllang darurat dan ruangan perawatan lain Memiliki kriteria pasien masuk. kekhususan yang harus d irnili ki : Memiliki ruangan tersendiri. melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks. keluar dan rujukan Merniliki dokter spesialis yangdapat menanggulangi setiap saat bila diperlukan Memiliki seorang kepala ICU yang bertanggung jawab secara keseluruhan (intensivis).F) . rontgen. .

Penatalaksanaan untukmencegah kornplikasi akibat kama yang d a la m. im ob ilitas berkepanjangan. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kernatian dalam beberapa menit sarnpai beberapa hari (2). Pemantauan itu sendiri (4). perbandingan perawat: pasien lebih dari 1 : 1setiap shift untuk kasus erat dan tidak stabil Merniliki lebih banyak staf perawat perawatan/terapi intensif Mampu melakukan sern ua bentuk perawatdn/krclpi intensif bersertifikat pemantauan terlatih dan Mampu melayani laboratoriurn.kemudahan diagnostik dan fisioterapi seIama 24 jam Merniliki paling sedikit seorang ahli dalam mendidik staf perawat dan dokter muda agar dapat bekerja sarna dalam pelayanan pasien Merniliki prosed ur untuk pelaporan resrni dan pengkajian Didukung oleh semua yang ahli dalarn diagnostik dan terapi. perawatan/Terapi (leU) Ruang hngkup pelayanan yang diberikan di leu (1~. ah1i kebidanan dan lain-lain Memiliki staf tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi. tenaga untuk ilmiah dan penelitian Merniliki alat-alat untuk pemantauan khusus. rontgen. prosedur diagnostik dan terap_i khusus. tenaga rekam medis. Sistem bantuan tubuh (d). Pemantauan fungsi vital tubuh terhadapkomplikasi (a). Penatalaksanaan spesifik (c). -_i () . Penyakit (b). Prosedur pelayanan a).Memiliki lebih dari satu staf intensivis Mampu rnenyediakan staf perawat. Member ikan bantuan emosional tcrhadap pasicn yang nyawanya pada saat itu bergClntung pada fungsi alat/ mesin dan orang lain. seperti ahli penyakit dalarn ahli bedah saraf. s tirnu lasi berlebihan dan kehilangan sensori (5). Memberi bantuan dan mengambil aIih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan penatalaksanaan spesifik problema dasar (3).

(2). (3). j)..ikan mornburu k <.l"m 11.~('llIiliim (lI. Tidak perlu masuk leu (1). Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium) kccuati keberadaannya diperlukan sebagai donor otgan.. pernberian ohat vasoaktif melalui irrfus sccara torus mcnerus (contoh: gag.erLl manfaat terapi inlcnsif sang(lt keei!.lndikasi masuk dan keluar leU Prosedur rnedis yang menyangkut kriteria rnasuk dan kcluar leU seharusnya disusun bersama antar disiplin terkait oleh sernacam tim terd iri dari dokter. perawat dan tenaga adrninistrasi rurnah sakit Pelayanan ICU meliputi pemantauan dan terapi intensif. b). Fasit. Persyaratan masuk dan keluar lCU hendaknya juga d idasar kan pada manfaat terapi di leU dan harapan kesembuhannya Kcpala leu atau wakilnya rnemutuskan apakah pasicn memenuhi syarat masuk feu dan kcluar.ikit berat. Pasien sccara medic. sekalipun mantaat leU ini sedikit (contoh: pasicn dcngan tumor ganas metastnxis dengan kompl ik_asi in febi. Pasicn yang memerlukan terapi intensif untuk rnengatasi kornpl ikasi-komp likasi akut. pasc. pasicn tidak stabil yang mcmeriuk au terapi intensif scperti bantuan ventilator. kepala leU atau wakilnva akan memutuskan pnsien mana yang harus diprioritaskan. Indikasi masuk leu (1). karena it'll secara umum prioritas terakhir adalah pasiendengan prognosis buruk untuk sernbuh. ['(lsicn tidak rnernerlukan hgi terapi intc[)<. pi'lrU. tamponadejantung. Pas ir-n yang mernerlukan pernantauan inter.'iiln .. tidak ada harapau dapat d isern btl hkan Iagi (contoh: karsinoma stadium akhir. bcd'lh jantung terbuka.1i. kerusakan susunan saraf pusat dCllgan koadaan vegdatif). d.ij knn-ria k--adaan mombaik ntau terapi klilh gag81 dan pruln'<. a). [ndjkasi keluar ICU (1).i.'jl s.sif atau non invasif sdl1ngga komplikasi berat dapat d ihindarkan atau dikurangi (conroh: rase" bcdah besar dan luas: pasi--n dengan penyakit jantung. da iam waktu de-kat . (3). ginjal ataulainnya).11 vJng kcd un por lu pE'r. (2)..lder yang lld'lll:. Pasien rncnolak tempi bantuan hidup. syok scp tik ).ll nil pas berat. surnbatan ja'lan napas).

f. Sarana dan prasarana Unit-unit Khusus Unit.(2). (3). (0). Pasion usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak mernberi respons terhadap terapi intensif sclama 72 jam. jan tung terminal. Masvarakat (OUKM) resiko untuk Dana Upaya Kcsehatan Sumber swastay perusahaan swasta yang berpotonsi tinggi untuk terjadinya kccelakaan dapat diwajibkan menycd iakan biaya untuk FPC!). Apabila tempat di JeU penuh. Renal Unit. Terapi intensif tidak diteruskan Iagi pada : memberi manfaat dan tidak tidak perlu (a). kecelakaan jalan to1 khusus untuk korban kecelakaan lalu jasa Raharja tenaga keria (ASTEK). Pasion mati otak atau koma (bukan menirnb ulkan keadaan vegetatif kemungkinan untuk pulih.ber dari pemerintah jasa Marga untuk Asuransi Asuransi lintas Asuransi Pegawai Negeri b. ICeu. kareria trauma) dan sangat yang keeil (c). . d. g. Burn diserahkan kepada disiplin 3. Bi!a pad a pemantauan intensif tcrnyata hasilnya rnernerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama. KOMPONEN Sumber darurat dari: a. PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN) penderita masyarakat. gawat terdiri pembiayaan untuk penanggulangan dapat berasal dad pemerintah dan pusat dan daerah Surr. karsinorna yang menyebar. ada pasien lain kritis yang rnemenuhi syarat prioritas pertama. maka pasien yang tidak kritis tetapi rnernenuhi kriteria keluar terpaksa dikembalikan ke ruangan. Pelaksanaan ketiga butir terakhir ini hendaknya dilakukan atas persetujuan dokter yang mengirirn. hendaknya dengan persetujuan dokter yang mengirim. c. (SUB-SISTEM dan Manajemermya K'U (lihat lampiran IV). Pasion d engan bermacarn -maeam diagnosis seperti P POM. Standard ilmu terkait. c.

LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK IN DONESIA NOMOR : 01521YAN.1.Llr.. b. S Undang-Undang No. 034iBirhub/ I 972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit: Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rf No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 4.m Mcdik. untuk keseragarnan dan peningkatan mutu pelayanan rnedik. 99a/Menkes/ SK/III/l982 tentang Sis tim Kesehatan Nasional: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 7.9 Tahun 1960 tt.' I . Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. .\'i"..jalan Raya.21 tahun 1984 ten tang Repelita IV. Mcntori Kcschatan Pci<lv. 5.. 558/Menkes/ SK 1J 9S4 tentang Organisasi dan tara Kerja Departcmen Kl's('h. R! !. 134/Menkes/ SK/IV 11979 tentang Susunan Organisasidan Tata Kerja Rumah Sa kit Umum. Mengingat I. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.'ntang Pokok-Pokok Kesehatan: Keputusan Presiden No.('nt<lng l'>~'utllS("lJl i<.111 SLll1darisasj .1tan RT.MED/RSKS/1987 TFNTANG STANDARJSASI KENDARAAN PELAYANAN tHEDIK MENTERI KESEHATAN REPUBLJK INDONESIA Menimbang L bahwa dalarn rangka meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan mr-dik dan kesehatan diperlukan jenis kendaraan dengan p"'r'-'varatan khusus. .1. 032/Birhub! 1972 tentang Referal System. 2.1l1. diperlukan standarisasi pcrlcngkapan urrium d an Il)ctiis pada kcndaraan khusus tersobut. Undang-Undang Lalu-Lintas dan Angkutan.

4. Kepala Direktorat Lalu Lintas Mabes FOLRI Kakanwil DcI' Kl's 1\I I'ropinsi di seluruh Indonesia Pengurus J\s()si<lsi I'('["kit Kcnda [. di lingkungan Departemen Kesehatan RJ. MENTERI KESEHATAN REPUBUK Direktur J_enderal Pelayanan Medik.jen.Pertama Di dalam Keputusan ini diatur tentang jcnis Kendaraan: 1. Bapak Menteri Kesehatan R.n. Arnbulans Rumah Sakit Lapangan. Para Dir.I. 2. Dir.- . Hal-hal yang belum diatur dalarn diktum Keputusan ini mulai berlaku akan diatur kernudian.r. Keernpat Kelima sejak tanggal ditctapkan. H.: 9. Ditetapkan di : J a k art a I'ada tang-gal : 24 Pebruari 1987 J\.jen.L Inspcktur Jenderal Departemen Kesehatan RJ.1-1 . Kereta jenazah. kepada Yth. 5. 2.1. Arnbulans Transportasi. 3. 7. 5. Sekretaris [enderal Departemen Kesehatan R. Ambulans Cawat Darurat: 3. Kedua Ketiga Sernua Kendaraan khusus yang sudah ada harus dilengkapi sesuai Keputusan ini dalarn waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan ini ditetapkan. Spesifikasi Kendaraan pada diktum pertarna sf'perti tor larnpir. Mohamad Isa Tembusan disampaikan 1. Dr. INDONESIA ttd. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak. 8. Perhubungan Darat Departemen Perhubungan J~.1 11 Indonesia P{'rlinggill. 4. 6.

cairan infussecukupnya. Larnpu ruangan seeukupnya. 14_ 15. 2. Dilengkapi sabuk pengaman. 13. T?lta Tertib 1. 10. wastafel dan.'ct'pat<11l kcnciarnan sclinggi 40 Krn eli [alan hiasa dan NOKm eli jalan bebas harnbatan . Sclarna meng-angkut pcnderit a hanva bo'lch l1lL'nggunakan lampu rotator. 4. B. Persyaratan lain sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku. 9. Stopkontak khusus untuk 12v. 5. Tabung Oksigen dengan peralatannya. penampungan air limbah. Lemari obat dan peralatan.L AMBULANS TRANSPORTASI Pengangkutan penderita yang tidakrnemerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatanselama dalam perjalanan. Ruangan penderita rnudah dicapai dari tempat pengemudi. Air bersih 20 liter. Medis 1. Sewaktu menuju tempat pencierita bolch mcnggunakan sirene dan larnpu rotator. Scmua porn luran lululintas harus ditaati. K'-. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia. Sirine satu nada. 12. Perala tan Medis P3K Obat-obatan sederhana. 2. . 11. Lampu rotator warna merah. 2. ~. Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. Tempat dudukbagi petugasdi ruangan penderita. 6. O. Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang mernantulkan sinar. DC diruang penderita. 7_ 8. Kend araan roda empa t ata u Iebih d ('ngan sus pensi lunak. 3. Radio Komunikasi. 1. 16. 1 (satu) supir dengan Komunikasi 1 (satu) I'erawat dengan kemampuan P3K dan Tujuan Penggunaan Persyaratan kendaraan: A. Ruangan penderita eukup luas uantuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. kemamp uan Pl'CD. Teknis 1_ 3.

6. peraturan perundangalar berair 17. 10. wastafel dan penampungan Iimbah. 14. Persvaratan lain sesuai undangan yang berlaku. 9.lt1 rcsquc. Air bersih 20 It. Stop kontak khusus penderita. 16. Sirene 2 (dua) nada. Larnpu rotator warna merah dan biru. I k. Dilengkapi sabuk pengarnan. 11. Tanda f~C'Ilg:l'n(l1 d ari bahan yang mernantulkan. Tcknis Tekni= : 1. . Kendaraan lunak. 5. Meja dapat dilipat. semua 19. Cantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. 4. 15. Radio kornunikasi. 2. untuk 12 v DC di ruangan Larnpu ruangan secukupnya dan lampu-Iampu sorot bergerak untuk menerangi penderita yang dapat dilipat. Ruangan penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan tindakan. Persvaratan /\. 8. 12. 3. roda ernpat ataulebihdengansuspensi tidak dipisahkan dad ternpat bagi Ruangan penderita pengemudi. Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat petugas diruangan penderita. AMBULANS GAWAT DARURAT Pertolongan PPGD Pra Rumah Sakit Tujuan Penggunaan Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan keternpat tindakan definitif / distabilkan Rumah Sakit. 13.II. l3uku petunjuk pcrncliharaan buhasa Indonesia. Ruangan penderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Lemari untuk obat dan peralatan. 7. Pt'r<liat.

1 (satu) perawat gawat darurat. Persyaratan A. 3. 1 (satu) supir. Teknis kendaraan 6. Dilengkapi sabuk pcngaman . LAPANGAN C Petugas 1. Ruangan pcnderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. 1 (satu) dokter gawat darurat (tergantung keadaan). Suction pump manual dan Iistrik 12 v DC Perala tan EKG dan monitoring lainnya. Ruangan penderita tidak dipisahkan dari temp at pengemudi. 3. Me dis 1. Obat-obatan gav'iat darurat dan cairan intus secukupnya. 2. 2. 6.B. perawat gawat darurat dengan kernampuan mengemudi dan kornunikasi. .'1. Peralatan rned is P3K Perala tan resusitasi lengkap bagi orang dewasa dan anak /bayi. Tabung oksigen dengan peralatan untuk 2 (dua) orang. Tata Tertib 1. 5. . Semua peraturan lalu lintas harus ditaati. Minor surgery set. 7. 2. 3. 4. Tempat duduk yang dapat diatur Idilipat bagi petugas diruangan penderita. Bila diperlukan. 2. Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak. Selama mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator. D. : 1. 4. III. AMBULANS Penggunaan RUMAH SAKIT Tujuan Dalam keadaan sehari-hari melaksanakan fungsi ambulans gawat darurat. Ruangan penderita cukup tinggi schingga pdugas dapat bcrdiri tegak untuk mo la kukan tindakan. Kecepatan kendaraan setinggi 40 Km di jalan biasa dan 80 Km di jalan bebas hambatan. 3. dapat digabungkan dengan ambulans-ambulans sejenis dan ambulans Pelayanan Medik bergerak membentuk suatu Rumah Sakit Lapangan. Sewaktu menuju tempat penderita boleh rnenggunakan sirene dan lamu rotator.

3. 15. Tabungan oksigen dengan perala tan untuk 2 (dua) orang. :-.7.ltan kendarclan Sdint.LIIl SI) Kill eli jilLlI1 heb. 14.1 (satu) perawat gawat darurat. ['('rablan EKG dan monitoring lainnya. 20. Radio kornunikasi..]q .ls harus d it.. Leman untuk obat dan pcrala tan.gi. Meja dapat dilipat. Sirene 2 (dua) nada.Hl lampu rotator. 3. 18. Se w ak t u rnenuju temp at p encler ita b o le h ll1enggulhlkan siren!' dan larupu rotator. 1 (satu ) dokter gawat d ar ur a t (tergantung kl. 1 (satu) supir. 5 6. B. 17. 10. Lampu tuangan secukupnya dan larnpu-Iarnpu sorot bergerak untuk mencnrangi penderita yang dapat dilipat. Bu k u pdunjuk pemelihClr.J.l]l bi. Tenda Japangan Iengkap. Medis 1. . Perala tan resguE'_ Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan.. 7. 16.. 2. Air bersih 2111t. Selr\Ind rncngangkul penderi!" h a n va boleh Illcnggunak. D.'dLi<lC1n). . Gantungan infus tcrletak sekurang-kurangnya 90 em di alas tempat penderita. 2.). Stop kontak khusus untuk 12 v DC di ruangan penderita. 13. Tata Tertib 1.mli KI'\(T. 4. 8.wastafel dan penampungan air limbah.l) Km di jal. Lampu rotator wama merah dan biru. l'era latan modis P3K. perawatan gawat darurat dengan kcmampuan mengemudidankornunikasi. Minor surgery set." harnbatan. 12.. Pcrsyaratan lain sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Perala tan rcsusitasi Iengka p bagi dewasa dan anak Zbavi Suction pump manual dan listrik 12 v DC. L. Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya.l. 11. C Petugas 1.-wn se m u a a la t berbahasa Indonesia.CIrlU<l pcraturan bill lint. . 19. 9.

Supir dcngan kernampuan P3K dan kornunikasi Pc r a w a t an dengan kern a mp uan PPCD dan kern am puan khusus lain scslIai tujuan peng~lIna. ['dug. Meja kerja yang dapat dilipat. Tempatduduksesuaikeperluan di ruangan kerja. Per svaratan kondaraan : A. Bu ku petllnjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia Public Address System Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan B_ Me dis Tabungan oksigen dengan peralatannya Perala tan medis P3K Obat-obatan sederhana. Ruangan kerja cukup luas untuk tujuan penggunaannya dan cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk bekerja. .I'. 1 Ternpat tidur / tand LI bagi sekurang-kurangnya (satu) penderita.as bin s('su<li kebut uhan. Dilengkapi sabuk pengaman.IV.l mc. Lampu ruangan secukupnya dan 2 (dua) buah larnpu sorot bergerak. Sirene 1 (satu) nada Lampu rotator warna biru Radio Komunikasi Persyaratan Iain sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Tc k n i s Kendaraan roda empat atau kbih dengan suspensi lunak. Stop kontak khusus untuk 12 v DC Cenerator 220 v DC dengan peralatannya. cairan infus secukupnya Perala tan upaya pelayanan mcd ik sesuai tujuan penggunaan kendaraan.Iis j")nkkr C Pctu.!s pdr. AMBULANS Penggunaan PELAYANAN MEDIK BERGERAK salah satu upaya pelayanan sebagai medik Tujuan Melaksanakan dilapangan. Dapat dipergunakan ambulans transportasi.lIl kt'IHhri)il)i (jurnlah SC:-'lIili kebutuhan).

Bilarnana tidak mernbcntuk iringan hanya belch mempcrg unakan lampu rotator dan sern u a per aturan lain lintas harus ditaati. KERETAJENAZAH Tujuan pengglma. Petugas 1 (satu] supir Petugas pc-ngawal jcnnzah sesuai kebutuhan. ker eta [cnaznh d a r i bahan cahaya.D. j(1 . Tata Tertib Lampu sirene hanya digunakan dibutuhkan Lampu rotator digunakan kernbali dad tempat tujuan Semua peraturan bilamana sangat pergi dan sewaktu lalu lintas harus ditaati Keep!'<l tan kcndaraan sctinggi-tingg:inya 40 Km / jam di jalan bi. Pcngangkutanjenazah kcndaraan : Keridaraan roda empat atau lebih T e k n is Ruangan jenazah pengemudi jenazah terpisah dengan ruangan satu peti Dapatmcngangkutsekurang-kurarignya Dilerig kapi sabuk pl'ngamilll Tcmpat duduk Iipat bagi sokurang-kurangnya (ernpat) petugas di ruangan jenazah Sirerie 1 (satu) nada 4 Lampu rotator w arna kuning Tarid a pengenaJ mernantulkan B. C Tata Tertib Sirene hanya dipergunakan pada waktu bergerak dalam iringan (konvoi) jenazah dengan mentaati pcraturan lalu lintas tentang iringan (konvoi).lllya dan SO Km/jellJl di jalan bcbas harnbntan V.m: Persvaratan A. Kccep<1tan tcrtinggi eli jalan biasa adalah 40 Km/ jam dan di [alan bebas hambatan 80 Krn/jam.lS.

l'C. c). Heli kecil 2 tandu. PFGD latihan lengkap I'cmbantu rnedis (paramedis. PC:-. medic. pendarahan dan lain-lain) terrnasuk dan alat infus) Kotak pendingin Kantung Non medical equipment: Baterei Pelindung Pcmadam Radio I 'v rotehnik b).Jenisnya sa rna dengan di atas hanya telinga (Ear Protector) kcbaknran mayat. Peralatan a). untuk korban/bag-bag komunikasi jurnlah ditarnbah. 2. orang awam yang te l ah mendapat latihan FreD lengkap).lll l)i~'.l t (In inirnal scpcrti HeJi j I .[H Jumlah disesuaikan Copilot. Heli kecii 3 (tiga orang) Pilot yang mendapat Dokter umurn. n-u I:w<. Hdi besar .l\V. (inflatable) Kotak obat-obatan (shok luka bakar. I'esawat hX('d Wing: Tcrh. infus (obat korban 1 keranjang tandu. Monitur alat dan obat rcsusitasi splints keracunan. mempunyai pengetahu<1n d i lapangan.Jllb~l!llu winchman.uaikan. UDARA Ddibrilatur/FKG Pulserneter Kotak Suction Peneumatic respirator. 1 Vacum matress. Pilot dibantu navigator.LAMPI RAN II AMBULANS 1.radar operator I iurnlah dic. 1)(. Personil:' a).. b)..lJ ) tUJl)~ [on i:-.

Syarat penggunaan Diperhatikan : 1) fasilitas kendaraan (lapangan terbang. ") *) *) 4. Syarat pesawat : *) noise level (bising dipermukaan) vibrasi akibat gerakan rotor temperatur dalam Cabin sebaliknya twin engine Dengan persyaratan tcrtentu sesuai jenis : pesawat. hellipad) 2) jarak yang harus ditempuh Untuk helikopter bila berjarak maksimal 200 . -12 .3.300 km. Lebih dari jarak itu harus dilakukan oleh Fixed Wing.

.u z o ii u 0) 0- ......... ... j' z ...~ E 0:1 ...' .g § VJ -C"'i :s 'l) E ..::.. « S E-.

s. c c _". E 0.'..::... -. ~ :l CJ) a V .. -.:.:. '" C6 "" 2 E _c c. 0.:G 8 'C' ..:j Vl '" E s::: ..3 U o(j c '" .a s::: '<.:: d '" cG . '" "..:j . </> '" c:: 'C'j s::: '" .:.. -'" Q <'0 '" E <U .5 '" ::l Q. E ilJ _".~ c Q) ~ '" OJ -0 0 ..: (3 c: OJ :=J ::l . "0 "" E '2 '" E c-...:. c..g :§ s::: Q) C c .: . 0.. <'0 :.>< OJ C ::l p....: .L 0 s::: .s.. o(j "0 <I) E "0 _". .- 'Cj" -.. . E s::: :'2 ...-.. "" "" E . c..>< O/J ilJ E <l. ~ E :'2 -.. U S :J "" s::: 'f.::! -0 d Q.0..j C '" s c.i OJ E v :-::2 tri E :-s ..! b!J "'" ':i) 1) J) < E :. ...:j "0 ::) r- ~ E OJ -d- -c: .l. ilJ '!) 0 0- 0 -0 OJ N '2 .s: oj 2 <. s::: r-: .'" .. (/') on .~ _"..:..D OJ ..-c. is '" ~ c:: ::l '" 0~ 'J... ::i v .ex: b!J 'C r~ '.. '" 01) '" s::: OJ OJ b!J -0 d 0 .. ~ -..... !<: >... 0 '" ill E ~ en ':.L (/') EO 0.. '" . bl) ..s u.. o-. '" '..:...:..D s::: '" oj ':d '" c~ >...!G . ::l E '" :....D ilJ '" ilJ <!J r.: .2 "" S c '" Q) c .:!? '" '" '2 .l ..~ c.0 OJ '" d . '" .~ '" ::l ...:. Of) .::j c:: '" . ~ '" s::: >...5 ~ '" ~ C .s c: :... s::: ~ ilJ E E OJ ex: E ::l 3 «i c: o or.l -0 '" c s::: b!J :l -c E :'2 <I) r-: :-s 00 ::l E v 'C'j >-.j >..D <!J Q VJ s::: on s::: .. t:: t:: oj -0 . :....5 S C . :-::2 <l."2 00 s::: ilJ E8 0 '0- < '" '" c: E rn s::: s::: '" '" '" :0 c '" '" c: n 0:1 d c-.: 00 .: 0 "0 . g ::l .j '" ::l '- 0 Q 0. E ilJ s::: ~ . -.~ ~ ~ VJ a s::: s::: 0:: ' OJ b!JO ill -0 s::: (/') u. -0 OJ E E ::2 OJ -q: v-i ~ . V'l 0on ::l 8 .:...:...l 0 "2 -ct- E OJ EO -0 If) IU OJ U') :l '" '>:' '" 'fJ ~ 0 E ill :'2 OLl ill -0 '" s::: E V OJ _". 0::l OJ VJ ..0 r-: :9 00 -'t J.::I V en CJ 2S if> OJ Q ('5 OJ.3 .L -0 ::...::: s::: .

u u E .:2 t1J ci .

8 E .j .D E :2 <I) E - ~ CU E -0 cr. -c-t - '" c...:: on -0 c... <IJ E '" (-... -<.. (!) E -0 c <l. r-I ~ E <!) -0 E :g (l) E (!) -0 .. ~ ~ ~ .:t ":l1J U ..-i c. ro 0 c...c -o::l '" c:: :2 . .-..8 v c.:J 0 -_ -0 (!) E E <IJ ~ rl rc. '" .I xr: ll.3 ro 10: "/J .:.l < . (/J E :J :J ~ CI) .:t (l) ....~ ...:: ro . . 1.E 0.:. -- CJ ro S . 10: ..) .c ro .

""2 EEE vv OJ QIJ".c ::J :/l .. gE V -0 ~ -0 ._ u ::l V ....0 .:: blJ C l.... ::l ::l ""0.._ ""0 E 0.l C ro 0. ***** ... vc . §"'<t Z.. " .oj ._ :::l v) ."'2 :2 .:1 'I..

.: d . ~ d '" L...:... .J >< ~ ~ ::c r I 'r W ." ':JIJ "l) !:>IJ "':l Q g(1) :-:l ~E .:: W ::l '- .. ...a :.) .:: 00 .. 00- :a ~ ~ oil d E o It) c es d 'w ~ ::l E !:: . :. .= Ui "0 cJ Q "J :r._ 1- <':l ::l ':JIJ .3 "0 . "3 ..:: .. ..c: o blJ ::l d ::J c {"j c.....:!t- E til) C d ::l c:: ..::.::: .:: c:: c l.. w 01).... ?:i c -::J L >. Q .!2 C rr . <":l -r: ..::..-c: ':JIJ C .. VJ '0.. 'X Cd ... c CJ < -r: ::l . <":l c ~~ E -. § 0. '!J .Q c-._) u '/J cj "3.0 W 'J o o OJ c ~ V 0/'... 0) + C:::> ~J ...> "J: ..:::: * = ::c ". - .::.:: :n +2~ c :::...0 -'" £3 ::l '" '" . ::l ..:.c. .::.. 0.. .0 0 v "a <":l ct. OJ . ':JIJ "0 <":l ::l :.o1J L.:2 o '..:: ':JJJ + ::... 0) a olJ ..-... ::: X VJ 1> 0..) r...£ . e:j -::J > ...c C. E 0) -::J rl E V :? p') V . >.. o ... U C u c:.. 'i."j c:l Ui v ?:i <:( ::l o .01 6. '" CJ1 >.. .

. 'l) --.. d :::s '.. E . .. ..) (/) 'l) "'0 C d ::I ~ <1) <1) . 0. . .. -= . d S C c: .U) <r: ~ U) ~ ~ P-... ~ '" d <1l C . P-.. . ---0 ... c::I c-._ -<U _. . ... U S .... :::l .i u 'l) 0 ~ -. C 0 0.. .__) 0 ~ I I I I I 0 0 f----< c:c: c. ? .. C. -- '/l ~ :-0 .. ::I ... -0:..... 'l) <C C<l :":I v .- -u <':l 8 0 '-' '- c ~ Q. ~ C ..! E ~ .i « ~ ~ ~ ::I E Q .. -<. ~ ~ E Q) ::I 0- c: f-... ._: Q _. ::.> E ---:::J -- I I [f) oc '<':l :::s ~ (.j E E~~ c 'l) c: :!2 -::! c::I <1) Il) ~~ ::l <I) 'l)U Q. <-:l c: 'l) . '" '" ::I -oc V) 0::: oc > .0 '" . 'l) <1l '(.. -a ::I Q E 'l) --0 c '" .:: Vl "0 ?...: L.' Il) bJj >-: j.._ <1l -... L. ~ c.:1 Q <1) <l) '1) E ..... c 0 0. .0 -<: -"<: ~ G:I .._ c Il) o. .5 <1l ''::: ::I c >.._g ro --0 E c: 'l..._ .I <I) v U P-. ':.:~ '" c::I <1) IJ] <1l ... C d . c: -:. . U G:I :.. '" ~ 0.::._ U) c ..._ ~ ~ ..c: c. ~ '0 ~ ~ ~ --0 _:... -!<: 0 -~ S ---a .... . . 'l) ~ (J .. . « ...><: L.. ~ -' :2 «: -. . .:: c: .t....c: -. 'l) c::I c: c. ._ Vl '.IJ s 0 Q. u c-. E -c.~ r-t _----- ---------~ U ~ ---0 'l) -u -- E 'l) -t p:) E v v -q (.

:I'J . E ro >.. >. 0 ~ r :g c'-..J ......:....o: ~ ~ < U) U) ::J 0. ._ 13 'a c...!>o!! ...... ~ bO. -~ .J Sfl .:: c.. <Ll C ~ 0 0 .:: '" :::1 ~ .:3 E «:! .IJ 0..:. 'lJ u ~.:....0 0 ..'" + :::1 «:l c ..a ~ d ~ . !.G . d ...:: E E ~ It: & & 8 .:.. .~ .. '" t:: c E 0 = :I'J 1) '..":':: Q) c... '" ..:: c c: ro ~ =:.:: ro ... ~ c:j 0 0...>-. c:: .E >. ro ro . c «:l ro ro .. ..:.._ ro c: i:: '" «:l bO .:: «:l u0 1) :. .:: E 0 ·5 1) rJ) ~ ro Cii E "«:l t:: «:l t:: .::J :. V) .:.:..>.I] 'r5 (.J '" c. 00 ..:. ~ o::l e..:: .!>o!! "0 :::l.

~ g_E § **** *** ~ <{ U ~ u. z IX I.: CUN'-O ~ .r-r E rl E ~\Oo?E~ e .....::: . _- )1 .. Q. . ('Ij ~ v.u: ("j s:: c ("j .::l :: ...:: rr-r .. ('Ij ·E c .::. u s:: 2: Z../) d ('Ij ~ 2.~ d g_ t ...::l C z: « »: cr.:. +t- ~ 0- C fI7.: .: c..-..: < . _'L O':l 0 E ::J t:: o d ..U Z UJ f- ~ ~ ..3 c '2 ._ 0 0. U) -< c: .:l < _] c ca rl cO v :...

.> c: <U ~ -0 U C\l OJJ <tI ..:ot!.0 C <'0 .:::s .. EE ~~ r I j ! I I Ii! ~ ('j . :::...:::s U) ...:::s ell .\<: ro . ...:::s Oi) eo c: 0..J - 0 ....~ .0 <'0 0 . f-< .. oc .:::s -5 .:::s . -c.... 0J2 E c 0 "0 E~ 1) .. <'0 .. ..::s 'L..:::s ~~ c: bi) 3: . co 8 "0 .:l 0 o. 0. OJJ .\<: c: c: ..0 .. c: ~ ~ ro c: "0 c: .:::s ..-.l g . 0.:::s .:::s '" -a :... d ell dJ :d ~ ~ :::J c: OJ) c: ro . Q..... bll -cl o:! c..:::s 0. -~ til 1:: E bI) ..J\ .:::s .._.:::s CI..0 (\) v L..\<: <U c: ro ZI C ~~ _.:::s ro c: bJ) ci ..\<: E co VI r/l 0-.:::s .. 7 . r- e::: c.J . ..].._.'. ..:::s t>1l ~ ro V E c: ro .0 V t-< ro .. 0. .-S c"J §E .<'0 >. -'-' :. \0 E <!) 0- '7 '-C 1\ E ..._ ..- o:! c: ttl t>IJ cG cG cr.~£ . - -- rl -('"r") -if.. ~r.... '7 ("'1 t>JJ <!) -.. 1\ 0 L. .. - r-- _- = - ~ - .0 0 ro "0 c: ::P @ ~ C <tI U -e ~ < '0 .:::s OJ ........ ell ro OJJ c: OJ c: ell c: t>IJ c: ~ <U 'ie ~ V 0.

~ -::: ':J . "1 :::l q- <U or.J ~ '" I. U Vi . .s < u -c ~ u -c::: (.. < ~ f-o r-...... 8 c 0.c (.2 ~ '01 0 .. <U :::l ".. ~ E :r.. .. C 0 L. <J) ---~ c 'E. ::.1 ('·1 > :E ..-' .: ("j 0.. . ce. 0 '-... blJ ::! c -bJJ c: v -c:J --::: '" .0) L. V 0.... <U 81.._..- V _c E Pc::: ._..>-. 0 -L.9 L. 0 0.s: 01 c: oj > Cl ~ oil c 0) u ~ c Z 0' - - r- ~J .·.. c CL.. ~ Q 0 Q) L.: < c c::: L.. c: V L..Ll ('J r) CL......./l IJ) I- a >< OIJ . L..c t>1J oj ~ C'j Of) CL.... -c . 0. 0...

.

... _c '3 r.c: ::J r.. 0:..._] ~ :J .:..2 -0 c-.::! "" r.....:: U \0 "7 u . ..-< ro _.:: -0 'i.... -0 .. ---t Cl ---t "7 .5 ~ U ~ ~ ~ Q c U c: D bIl § 2 'J' "-' o: .. =' .. -.. ::>: ..D '" 1) v: 1) U) ~ ~ '. .-...c: .::l . .) -..!L <l) 2 ..5':! OJ) E 0.5 "'1" ~ 0._.J E "" E '" E .D '" ~ . 2 ~ ro on ~ <l) ·c -I<: ._ !I) ...-< .... " '" ::l . iii ~~ eo !I) <l) '" . '" C oil .1- c-T 'n C ~) ..0 0 co 1"':..:: "2 . '-" OJ s 0 Cil -T 'e .:3 co E ~ ~ 13 0 V5 ~ m '2 "" E » '" .....D 0 C m t: "2 0 .-.: -'<: <1) '. ..._ .E:: <l> c :.. -0 E ...D N '" 0 ..!..!><: m o m 3 '" E ~ <l) . r: C(J Cl .!i!. '" ~ ~ 0:. '-' v u.. .::: Q .. t: '-' OJ f-< 4" . § 'll !:: . '" c:r:: co Pp.f" oj) . 0 '-'.. ~ .:. '"' S -B 2!l U B ::J . :_/.:.-~~-~..c: ::l .::: . 0 N -0 > u J.§ '.2 E ..l S QO <r) -< -0 "" . -'<G . 00 '" t: 0:. " -.. "fJl 0) ~ ..\) ~ z ...... e ~ "" </J <l) >-... 0 0 E ..9 P.c ttl c m 0 '" ~ .'1 '1' -T -T 'n r-- .._] V '- ::: .. f-< '" _Y) '2: 0 0-...r:: ro.) en "J V1 N . (fJ .. {F) <l> - .!i!._ ::l !:: :::l E v ~ L. ... '" ~ Of) '" ~ 1) ~ t: . ...::> </J o "" ro '-' o. . z .:i -0 '" 0- :.. ::l 0 '" II."6 ':... '" ...c: J::..l ~ f- ~ .. C) </} ..... '. E .D :::l .~ '" =' _:.. ._] z Q) '" OIJ 0 c -e._: .:> (/J >-.-----...s: <'I ::l '" ..) .l .::l :l . '" .-..:l -C > .-. -0 t: r- m Ci Ci !I) '" '" Q "" Q E E '" CI ~ E . l ..D .!i!. a 0 C OJ 0 E 0 e-...

. '" ..2 I-Ll ::£! C -r: OJ c: Ol . Ol c: '" ::::1 . E on oj "2 "" <l) -a '" .. 0 p...) ~ oj c-. 0 '~ f--' r-r. Ol .) Q..2. c: . . <l) ::l en -- u - .0 !l......>-. 'r.....::<: V :.) ::l ~ ~ D c. ... 'a >. ..c 13 . -0 <l) s::: r::: ro .l 4: -0 <l) D c: Ol ::J .J > UJ 7..J 0...! c.. 0..) tr) 0..c ~ E !l... c: ~ D ii: In ?: -0 Ir.J .. § c .D .!.... Q.... -0 ~ !l..) a '- 0. !l. '" ::l ::l 0 ~ c: Ol 'B <l) c -a eu '" 0 E v C VI Ol ~ ~ C . >.::<: !l.: !l...r: =' on .l t:: .:: .::. -.::<: ... :::l V 0 '" c: ::J :. 0 '.::<: !l...l 'n "....: E E t:: ::l 0. c: :t: 0 . .: I!) .2'. 'C oj .......::<: Ol IV > _.c ........ .::<: Ol '" ..E < 13 :::l U '" 2 C blJ IV .. -0 !l.. 'z:J 01.. 0 '1...::<: ~J '. Ir..3' '" .. 0 I::: ::E . U '" c: 0 ....0 z -< 0 z .:J (\1 v I!) ...... E .D ...) 5 ::. "-' V} D -0 0 oJ) :":l ...) '..::. -0 .. I!) ... Ol E v :::..J c: 0:: u :S c: t:: (\1 .J V E .::<: '. !l.: Ol ~ '" D t>1J 'C 2:! on <l) 0:.... c E . :E =' M . 0 _C.:: ..::... ::E . >. f:d '" c..) oj 3 t:: ::l '0 . ~ ill 'n > 11J ..._" V "" .) .s: ::J Ol '. 0 c c E -0 Ol <:l c. £ .. 0....... ....r 1("'....0 ~ 'c.) > == c ..:.....S: 0. 0 C ~ ~ !l..::<: oj . -0 =' s::: es :E C <OJ =' .) !l. UJ .c CO ~ Cl V :>-: o .) ~ C () n... s::: oj E c: N 'D c: Ol :0 U !l..) 0:. .....0 Ol ... =' .. E ~ .~ c e:.) E ..c ...:: -5 c: ro 0 -0 Ol c:: -0 <'l 'B V 0- '" ~ <'l =' ......0. ::l t>!J t:: 'EO t>IJ 'EO t>IJ .. . ::l ao ...: ::J . ..) '... ~ ~ <'l E 0.g c: . ..0 ..".) 0.:J ti:i v > <a > ro <'l 0. E c C 4: c: Ol C -0 N oj c: -'" c c..2 .!! t>IJ ro t>1J C >..§ ~ '" ~ '5 0.s U -< ..

yang digolongkan sebagai kejadian akut lebih baik daripada yang dengan pcnyakit keganasan. Selang waktu dad henti sirkulasi sarnpai nekrosis sel terpendek pada jaringan otak. mungkin kareria mcdis cepat mengenali masalah ini dan trIah disiapkan untuk menangani hal irri. Sekarang dikcnal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kernatian klinis. neurologik atau stadium akhir. Jadi pneumonia. sehingga pemeliharaan perfusi serebral rnerupakan tekanan utarna pacta RJP. kanker dan gaya hid up terikat di rurnah dengan pra henti (prearrest) disertai dengan mortalitas berrnakna setelah RJP. st"r . sehtngga memberikan waktu untuk pemulihan fungsi jantung pam secara spontan. Sejauh in! tindakan resuailasi yang dirnulai secara dini merupakan satu salunya faktor yang dikc. maka kematian tidak lagi dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung.LAMPIRANV· RESUSITASI JAI-\jTUNG PARU Bagian Anesiesiologi Krdoktemn Uniuersitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr.. Usia lanjut tidak menyingkirkan hasil yang balk. Cipio Mal1gunkusuTI1o. lakartu PENDAHULUAN Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir.dlUi mernpengaruhi kelangsungan hidup dan hasil neurologik. Di sampaing itu pasien yang resusitasinya mernerlukan waktu lebih dari 30 rnenit biasanya tidak bertahan hidup. serebral dan organismik. Resusitasi yang berhasil (tanda vital kembali) terjadi pada 27-49% kasuskasus di rumah sakit dengan angka kelangsungan hidup yang dilaporkan sarnpai 17% urituk 1 bulan dan 10-14% untuk 6 bulan dalarn suatu penelitian prospektif. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henri sirkulasi akan rnenyebabkan disfungsi serebral dan kernudlan organisrnik (dengan kerusakan sel ireversibel). Pasien yang menalami he nli janlung pam di leU mempunyai hasil yang lebih baik. hipotensi. Pasien dengan penyaki. namun pasien-pasien yang mendapat resusitasi di leU mernpunyai prognosis jangka panjang lebih baik daripada yang di baugsal-'. Walaupun persentase pasien-pasien yang tanda-tanda vitalnya berhasil dipulihkan lumayan (60%). Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk mengadakan kembali pembagian substrat sernentara. tak bergantung pada ternpat dilakukan resusitasi. gagal ginjaJ.

akut : henti nafas. 1. Gangguan oksigen dosis obat: isoprenalin. peregang<lll pembedahan.lg. anafilaksis). 4.l yilng tcrlatih Hcnti jantung terut. miastenia pnC02 gravis. sumbatan trisiklik. propoksifen atau jalan oleh sekresi. Depresi a. 2. aspirasi. setclah : obat pelumpuh (cardiac arrest) poiiomielitis.ima pada Sf! . (I1P"(. asidosis : syok dan listrik. Penyakit kardiovaskular : pcnyakit jantungiskemik. miokardial akut. pernafasan : intoksikasi. Anestesia bola mala. lidah yang jatuh ke belakang. 3) irarna y<1ng timbul adalah fibrilasi veut riku la r. dan proporsinya lebih tillggi. sfinglcr ani. Penekanan hcndaknya ditujukan pada defibrilasi dini dan tidak mcmandang perti rnbangan-pertimbangan lain. 2. henti [antung. 6.lieh Il"n. Sebab henri 1. suatu kondisi yang potensial reverxibel. pa02 tengelam. b. 9. 7. Kebanyakan henti jantuog yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskernik. 2) ada )'rlllg mulai melakukan resusitasi."nkell1iltian yill1g terjadi di luar rurnah saki! eli sebabkan oleh Iibrilasi ventrikular. Surnbatan jalan nafas : benda asing. (penyakit asing Lenegre. fibrosis pada sistern konduksi Adams-Stokes.O%di antara UJ11ur pertengahan dan yang lebih muda. diagnostik rendah. Sindrom di jalan nafas. tenggelam. benda digitalis. otak. kanula trakeal tersurnbat. tinggi. Angb kclangsunga n hidup dnri henti janlung optimal hila 1) peristiwa ini disaksikan. 5. kelainan akut glotis dan sekitarnya (sernbab gIotis. kalsium serum tinggi. 8.Seb ab He nti Jantung Henti jantung pam. Ernpat puluh persen mati rnendadak dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu 1 jam setelah dimulainya gejala-gejala.(I) Paru Sebab henti nafas. 4) dcfihrilasi dilaksanakan pada stadium dini. noda sinus sakit). quinidin. antidepresan magnesium Kecelakaan asam-basa/elektrolit : kalium serum yang tinggi serum rendah. 3. perdarahan). Terapi dan tindakan Syok (hipovolemik. Lebih dari 90'. toksik.li . sekitar C. Kekurangan Kelebihan adrenalin. tumor Perifer jal1fung rcndah. Refleks vagal'. neurogenik. infark embolus paru. otot. penekanan/penarikan medis. pipa trakeal terlipat. defibrilator hendaknya dised iakan lebih banyak untuk dipilk. penyakit Sentral: obat-obatan.

Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila dijumpai keiidaksadaran dan tak teraba denyut arteri besar! 1. Gerakan kabel EKG dapat menyerupai mula I saja RJP ! Bila :agu-ragu. B. 2. lain yang masih rnemberi dosis obat-obatan. 3. dan kelebihan listrik. Pupil dilatasi (setelah 45 detik). Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut tidak ada kontraksi rnekanis. 3. Refleks vagal. Tanda tanda henti jantung 1. 5. 6. 4. Wama kulit pucat sampai kelabu. Pada beberap a keadaan RJP yang dilakukan dengan benar dapat mempertahankan kehidupan sampai 1 jam sernentara terapi untuk kondisi/ penyakit utama sedang diberikan. Infark jantung Serangan Hipoksia Keracunan Sengatan akut. Kapan resusitasi dilakukan/tidak dilakukan A. denyut rneskipun irama yang tidak mantap. Diagnosis henti jan tung A. "kecil". terutama pad a asfiksia. 5. dan karotis pada orang Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dewasa atau brakialis pada bayi). ')') . Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan peluang untuk hidup. Adams-Stokes.orang muda. Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung). Resusiiasi hams dilakukan pada : 1. 4. dapat disebabkan oleh kausa selain penyakit jantung iskernik. 4. 6. 2. 2. Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak rnenghasilkan nadi yang dapat diraba. 3. 7. Henti nafas atau megap-megap Terlihat (gasping). seperti mati (death like appearance). yang mengakibatkan "kernatian listrik".

Kernatian normal. Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi. 60 . Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih. 3. Resusitasi tidak dilakukan pada " 1.B. Upaya resusitasi di sini tidak bertujuan dan tidak berarti. ketika tidak hanya jantung. Pada keadaan ini denyut jan tung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup Jebih lama lagi. yaitu sesudah ~-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP. 2. seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat.

asistol ventrikular atau disosiasi elektrornekanis. Ini ditentukan penilaian yang tepat. penolang mengekstensikan kepala korban 61 . Henti jantung dapat disertai oleh fenamena Iistrik berikut : fibrilasi ventrikular takikardia ventrikular. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan : penentuan tidak ada respons.Breathing & Circulation) BHD hendaknya dilakukan. Pada metode ekstensi kepala dan angkat Ieher.pernbukaan jalan nafas. Gambar 1 : Pertolongan pertama L_ . Penilaian tahapan BHD sangat penting. hendaknya korban diletakkan dalam posisi telentang dan ABC (Airway. Bila tidak dijumpai tanggapan. ~ A : Airway Galan nafas) Sumbatan jalan nafas olen lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering tirnbul pada korban tidak sadar yang telentang. kesadarannya harus segera ditentukan dengan tindakan "goncangan dan teriak" yang terdiri dad : menggoncangkan korban dengan lembut dan mernanggil keras-ker as. Bila terjadi henri jantung primer.BANTUAN HIDUP DASAR (BHD Basic Life Support) Bila terjadi henti nafas primer. Pada korban yang tiba-tiba kolaps. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aklifkan sis tern pelayanan medis darurat (lihat gam bar 1). nafas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. Tindakan resusitasi (yaitu posisi. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. tidak ada nafas dan tridak ada nadi. Resusltasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalarn organ vital akan habis dalarn beberapa detik. jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan mhs tetap terbuka.

kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan. tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis). Metode angkat dagu dan dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher. Pada metode ekstensi kepala dan dorong mandibula. pada korban dengan dugaan patah tulang leher. pasien perIu diberi O2 lewat kateter nasal atau sungkup muka. Bila ventiIasi adekuat.dengan satu tangan sernentara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban. kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas (lihat Gambar 2). Akan tetapi penoIong mungkin hams menarik bibir bawah korban dengan ibu jari. Korban yang tidak sadar dan bernafas spontan dengan ventilasi adekuat sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi (gambar 4). Pada metode ekstensi kepala angkat dagu. Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling arnan untuk mernelihara jalan nafas atas agar tetap terbuka. Gambar 2 : Membuka jalan nafas Gambar 3 : Menentukan tidak ada nafas Gambar 4 : Posisi sisi rnantap 62 .

sebagai tambahan. Pada tindakan jari menyapu. korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya.penolong hendaknya segera menilai apakah pasicn dapat bernafas spontan. Hentakan dada dilakukan pada korban yang telentang. Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban dan mernperhatikan gerak nafas pada dada korban.Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya. faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. selama pernberian ventilasi pada korban. korban hanya digerakkanldipindahkan bila memang mutlak perlu.~alnbar 10 dan 11) aiau hentakan dada (chest thrust). B : Breathing (Pernafasan) Sctclah jaran nafas terbuka. Bila denyut nadi karotis tak teraba. karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher. dengan amplituda yang cukup dan ada udara keluar rnelalui hidung dan mulut korban selama ekspirasi.5 ·2 detik). 2 kali ventilasi dalam (800 . Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan be n d a asing. penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban.1200 ml pada orang dewasa) setiap 5 detik. penolong dapat merasakan tahanan dan kekembangan (compliance) paru korban ketika diisi. teknik dorong mendibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara paling aman untuk membuka jalan nafas. diperlukan ventilasi buatan. keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalarn satu gerilkan menyapu. 63 . Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi (lihat gambar 9). Kernudian segera raba denyut nadi karotis (lihat gambar 7) atau femoralis. Bila denyut nadi karotis tak teraba. Di sini. Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam (1 kali nafas = 1. Untuk melakukan venti1asi mulut ke mulut penolong hendaknya mernpertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan dua jari atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong (lihat gambar 6). 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kornpresi dada pada resusitasi yang dilakukan cleh seorang penolong dan 1 nafas dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh 2 penolong. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800 1200 ml pad a orang dewasa) setiap 5 detik. melalui bagian belakang faring. hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust gerak Heimlich) (lihat I. Pada beberapa pasien ventilasi mulut-ke-hidung (lihat gambar 8) mungkin Iebih efektif daripada ventilasi mulut-ke-mulut. Bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. Bila ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka.

Urutan ini hendaknya diulangsampai benda asing keluar dan ventiJasi buatan dapat dilakukan dengan sukses. buka jalan nafas dan cob a beri ventilasi buatan. (2) buka mulut dan lakukan sapuan jari. Urutan yang dianjurkan adalah : (1) berikan 6~10 kaIi hentakan abdominal.teknik ini sarna dengan kompresi dada luar. Gambar 5: Tanda distress universal untuk surnbatan jalill1 nafas oleh bend a asing Cambar 6 : Ventilasi mulut-ke-mulut Cambar 7 : Meraba denyut arteri karotis . (3) reposisi pasien.

_- Gambar 10: Hentakan abdominal (gerak Heimlich) pada korban sildar Gambar 11 Hentakan abdominal tidak sad ar (gerak Heimlich) pad a korban .-.Gambar 8 : Ve ntilasi Blulut-ke-hidung Cambar 9 : Ventilasi mulut-ke-stoma ----.- --_---_ .-~----~-_-----.-~-~----.----.~- -~----- --~--..

Hcnti jantung adalah garnbaran klinis berhentinya sirkulasi mendadak yang terjadi pada seseorang yang tidak diduga mati pada waktu itu atau penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh atau harnpir utuh. rnemerlukan tindakan bronkoskopi. 15 kompresi dada luar (Iaju : 80-100 kaliimenit :co 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalarn (2-3 delik). penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm (lihat gambar 12). Setelah kompresi hams ada relaksasi. lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban.IM. Pernberian ventilasi buatan dan kompresi dada Iuar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini.IV). Dalarn l menit harus ada 4 daur kornpresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kornpresi dada dan 8 nafas). kornpresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80-100 kali per menit dan pernberian 1 X vcntilasi dalarn (1. Bila dengan ini belum berhasil. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar.tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 [ari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. Bila ada satu penolong.Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ckstensi kepala.im:1J dalarn 5 detik.Onii'tl". tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban. Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar (periksalah arteri karotis sesering mungkin) merupakan tanda utarna henti jantung. ternyata masih ada sumbatan jalan nafas.. Dalam I menit minimal hams ada 60 kompresi dada dan 12 nabs. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. . sebagai alternatifnya ialah krikotirotomi atau fungsi membran krikotiroid dengan jarum berlurnen besar (misal dengan kanula intravena 14 G).. Bila ada sumbatan benda padat dalam salah satu bronkus. cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin (4-6 1A1g/kg BB LV) atau adrenalin (0.hj nuk. Jadi 15 kali kompresi + 2 ventilasi harus selesai maksirnal dalarn 15 detik. dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). Korban hendaknya telentang pada permukaan yang keras hila kompresi dada luar dilakukan. pasien.3 mg Sk.j + 1 lcnli. [adi . Dengan jari-jari terkunci. perlu dilakukan intubasi trakeaI. j'. Bila ada 2 penolong. BHa tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakeal. Penolong berlutut di samping korban dan rneletakkan pangkal sebelah . C : Circulation (Sirkulasi] Bantuan ketiga RBD adalah menilai dan mernbantu sirkulasi. SeIanjutnya bila masih ada sumbatan (ada di bronkus) maka perlu tindakan pengeluaran benda asing (padat..5· 2 detik) oleh penolong kcdua sesudah tiap kornpresi kclilll<!. buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring. Sementara itu pasien perlu diberi terapi 02. Dianjurkan lama kompresi sam a dengan lama relaksasi.

lakukan nabs buatan 12 kali per menit dcngan kclat. Bila tidak ada.ik-ana k (lihat F. tranportasi (naik turun tangga).:-' 2.'i" I ~.til~ u nl u k bnvi d.1 d. Bila RJP dilanjutkan. Bila ada. Hila dibkukan dengan benar. dan bcgitu seterusnya.75 ~5 em ·IJ<". kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 rnmHg pada arteri karotis.. lakukan reevaluasi pasien.. (.Kompresi dada harus dilakukan sccara halus dan berirama. Bila tak ada. sudah tirnbul nadi dan dan nadi dengan dan pantau nadi apakah sesudah bebcrapa menit dihentikan dan periksa nafas spontan. Akan tetapi karena kctidak-sarnan ukuran. Pilch bayi dan anak kecil vc nl ilasi mulut-ke-rnulut dan hid ung lebih scsuai drnipada vcnti li1 c:.j m u lu l-kc-rn u lut "tall mulut-kc-hidung.11).. dapat sampai 15 detik.. Kepala hcndaknya dijaga dalam posisi netral selarna diusahakan mernbuka jalan nafas pada kclornpok ini.1I1 4 d ct ik untuk an. " Upstroke" 3. Periksa pernafasan (3-5 detik). kecuali pada waktu intubasi trakeal. Periksa apakah denyut karotis sudah tirnbul (5 dctik)._1 Tekriik pada bayi dan unak-anak Prinsip BHD pada bayi dan annk adalah sarua dengan pada orang dcwasa..lllg berlebihan dapat mcnyebabkan sumbatan [alan nafas pada bayi dan anak keril. lanjut kan deng<1I1 langkah berikut. Kornpresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik sctiap kalinya. mulai lagi RJP dengan 2 venrilasi diiku ti dCllg<l1l 15 kornpresi Bib ada dcnyut.ltnb. diperlukan mod ifikasi teknik yang d isebutkan di atas : L Ekstensi kepala y. Pcmbcrian ve nt ila s i ha rus lcb ih keeil vol u rnr-u va d a n fre kurnsi vcntiJasi harus dilingkatbn llwnj. . Sesudah 4 daur komprcsi dan ventilasi (rasio 15 : 2).)..ldll vc-nt ilasi li._---"~_Gaya lengan (belakang) L--_~~~ __ ~ ~ . pantau pernafasan ketat.

Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang..-- .-. -~--. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban teJungkup melintang di alas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan.. kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong (Iihat gambar 14)...~.-_._. dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai. _-" . __ ---------_ 68 . Gambar 14 : Pukulan punggung pada bayi --~._--_ . -- -------_.Gambar 13 : Ventilasi mulut ke mulut dan hidung pada bayi 3..

hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada Juar (1ihat gambar 16).4. 69 . tetapi pada anak diperlukan penekanan 2. Korban menjadi sadar kembali. Dasar henti jantung da- Penilaian Hasil Bantuan Hidup ABC RJP yang dilakukan pada korban yang mengalami pat mernberi beberapa kernungkinan hasil : 1.4 em. Pada anak yang lebih besar. pernberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pad a bayl dan 80 kali per menit pada anak-anak.5 . ini dapat disebabkan karena pertolongan RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi tidak betul pelaksanaannya. 2. Selama henti jantung. Penekanan sternum 1. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalarn rongga toraks pada pasienpasien muda. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi seJaJu 5 : 1. Korban dinyatakan mati. Gambar 15: Letak jari pada kompresi dada bayi Cambar 16: Letak tangan pada kompresi dada anak 5. kompresidada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pad a 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak (lihat gambar 15).5 .2/5 em efektif untuk bayi.

:·~m ·~mia antaQ0nJ5 & ·~.emi~sm.all:lt'"''''~~ o. lain -lain Pertimbangkan terapi spesjjik untuIc . .t~: 1hto~Courd{lJ1Q ~8oci«ydCatdiQlogy "iflo'liah ard l..ks Lignokain!100 Detib.I. FinnJ!Jh S~.ry or (lj oi Ir'II·11l.A. . 360 J + Per1Imbangkan kalsium klorida (10 milO %) .I akltvitas rl$lr'i.jd C. Jangan henlikan AJP leb!!.. Jlka tidak dapal dipasang jalu... lignokain alau atropi" lewat pipa trakeat.i.. I.II.h 70 ... dan 10 detik.V.. pertimbangkan pemberian adrenalin dosis ganda.RESUSITASI JANTUNG PARU Tidak resp~ ..h SoDe!. re Car<1i~"Q" . kecuali untuk defibrilasi. Cardi. fGI' ~~"&f1I of Sod9fJ' Sr:te."~I....Iy rII A.(Jalan nalas) buka [alan nafas Tidak ada natas Wt Breathing (Bantuan nalas) ~..~ $cIWty M.ilasi poIfU .c SC.....:.. kalStum Ulang (lefibJjl~si 360 J F'E'rtimbangkan •• & l • """alean _lIasllaln befi 0fJa:I anli aritmilc - pOOiOi padeI Lanjutkan RJP selama 2 menlt sesudah liap kali pemberian cbat.rn-ivll eM..0. Sw«IIItI ~ ~'-rI Firnit..f\II"D.tHbu • __ . Airway . O~r'IfV..r'IOo08-'lnl'l:!l. bantuan Tidak ada nadi A 1 : • blpowJemla Circulation (Bantuan si'kulas~ RJP ~ ~ Adrenalin 1 mg IV Defjbrilas~ 200 J Defibri)aS~ 200 J Defibrilasi 360 J mg IV Adrenalin 1 mg IV Atropin 2 m~ IV Pertimbangkan pemaCl'an janlunll Jlkl 8138 geiomDaPTg P 81BI.-u.n._ . -pona~j<ont""II ..

kecuali kalau korban hipotermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umUID. Dalam hal ini perlu dibcri pcrtolongan lebih lanjut yaitu bantuan hidup lanjut (BHL) Denyut jantung spontan tirnbul. 71 . serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 menit atau lebih. pertolongan resusitasi tanpa resusitasi otak biasanya tak dapat memulihkan fungsi susunan saraf pusat (SSP). bisa tidak. tidak timbul nafas. korban dapat dinyatakan mati bila setelah dimulai resusitasi korban tetap tidak sadar. spontan dan refleks muntah (gag reflex). Korban belum dapat dinyatakan mati dan belurn tirnbul denyut jantung spontan. Nafas spontan bisa ada. 3. 4.Bila henti jantung telah berlangsung lebih dari 10 menit pada orang dewasa. tetapi korban belum pulih kesadarannya. normotermia.Dalam keadaan darurat ini.

]k ad a Llgi alasan Il1cngapil setiap perawat . selama upaya mengembalikan sirkulasi spontan. Tidak perlu dikatakan.<1 rnasih eksperimental dan Bantuan Hidup Trauma Lanjut (BHTL). Memang ada risiko bahwa aritmia ventrikular akan kambuh lagi. BHL juga mencakup R]P dada terbuka untuk indikasi spesifik. dalam urutan-urutan yang bervariasi bergantung pada keadaan. tidak satupun langkah 0. transport oksigen oleh RJP langkah A-B-C.Bantuan Hidup Lanjut (BHL Advanced Life Support) Yang dimaksud dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Lanjut pada makalah ini adalah fase II Resusitasi ]antung Paru Otak. tetapi kerugiannya hanya sedikit bila henti jantung tersebut disaksikan. Lagipula efek proaritmia mungkin saja timbul dengan sernua intervensi yang sukses dan hanya diperlukan waktu sebentar saja untuk melaksanakan manuver tersebut. R]P eksternal langkah A-B-C (BHO) dirnaksudkan sernata-mata sebagai tindakan sementara mernpertahankan viabilitas otak ke jantung. karena RJP ekster na I hanya merighasilkan al iran d a rnh yang sangat minimal untuk kebutuhan. harus dipertahankan dengan interupsi sedikit mungkin. pada fibrilasi ventrikular yilr1g terjadi ketika EKG pasien sedang dipantau. yang mungkin tidak adekuat untuk mempertahankan otak dan jantung tetap hidup lebih lama dari beberapa menit. Dengan adanya ddibrilator cksterna l scmiautomatik dClI1 autornatik maka terjadilah perbaikan dramatik dalarn hasil RjP. Mungkin juga. sebab defibrilasi dapat dilakukan dini oleh tenaga darur. RJP Lanjut atau Bantuan Hidup Lanjut (BHL) terdiri dari upaya-upaya untuk mengembalikan sirkulasi spontan yang adekuat. diagnosis elektrokardiografik (Iangkah E) dan penanganan defibrilasi (Iangkah F). seja lan dengan bukti-bukti keampuhannya pada takikardia ventrikular atau fibrilasi ventrikular yang baru saja timbul. seperti sering terjadi pada henti jantung (cardiac arrest) sekunder terhadap asfiksia. pintasan jantung paru darurat yang penggunaclllil). Setelah dirnulai Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau fase J RJPO (Iangkah ABC). Pukulan prekordial telah dianjurkan kernbali .it yang relatif tidak krampil Tcknologi terbukti handal dalarn prakn-k dan sekarang ini lid. E dan F yang diperlukan kalau nadi spontan kernbali segera sesudah dimulai ventilasi buatan dan kompresi dada. sirkulasi sponlan harus d ikembalikan sedapat mungkin. syok listrik (langkah F) hendak nya jangan sarnpai terhambat oleh langkah 0 dan E dan mcndahului Iangkah-langkah A-B-C. merupakan tindakan darurat satu-satunya yang ada untuk henti jantung di luar rumah sakit. Defibrilasi sedini mungkin dengan restorasi sirkulasi sponran merupakan kunci optimasi peluang untuk mendapatkan hasil serebral dan hasil keseluruhan yang baik. [adi. narnun sekarang ini. namun hanya untuk henri jantung yang d isaks ik an atau dipantau. Biasanya untuk BHL diperlukan memberian intra vena (IV) obat-obatan dan cairan (Iangkah D).

Bila setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. maka resusitasi diteruskan dengan : D : Drugs and Fluid (Obat-obatan Tanpa menunggu 1. BHL rnemerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat-obatan. Cara pemberian : IV. bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin : intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). Pemberian adre-ialin sebaiknya lewat IV. Rute transesofageal untuk defibrilasi telah dipakai pada pasien di unit perawatan koroner. diberikan : hasil EKG dapat langsung : 1. Defibri1ator/pemacu jantung yang ditanam bermanfaat pada pasien berisiko tinggi namun biaya mungkin merupakan barier relatif pada banyak negara. Probe ditinggal di esofagus dan defibrilasi dapat dikerjakan dengan eepat pada pasien yang dipantau (monitor) dengan memakai energi listrik yang jauh lebih keeil. Adrenalin dan cairan). Harus ditekankan bahwa BHD harus segera dimulai bila diagnosis henri jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai BHL diberikan. karena ini lebih baik daripada lewat pipa trakcal. 73 . Prosedur BHL berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pad a diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung. Diulang tiap 3-5 menit dengan dosis sarna sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. intratrakeallewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 1 0/00. darurat Defibrilator automatik telah terbukti manfaatnya ketika digunakan oleh famili pasien berisiko dan oleh petugas pesawat terbang dan kereta api. Penggunaannya dapat diperluas ke pimpinan gelanggang olah raga dan kompleks pertokoan dan sebagainya. Tidak ada modifikasi pada pedoman yang dianjurkan untuk defibrilasi. kecuali bahwa tingkat energi sesuai dengan standard yang ada sekarang untuk kalibrasi defibri1ator modern dalam energi yang dikalkulasikan. dieneerkan dengan 9 ml akuades steril.0 mb (dosis untuk orang dewasa).jaga di ruangan dan setiap petugas ambulans yang menangani panggilan tidak dapat rnelakukan defibrilasi sebelurn kedatangan staf medis. 10 meg/kg pada anak-anak (menurut AHA).

E: EKG r 7 as isl ol vent rikular ? kompleks Fibrilasi vcntrikula elektromekanis) ? aneh ? (diasosiasi . Rute endotrakeal kurarig bagus penycrapannya. terutarna pada kasus trauma bila upaya lainnya gaga!. suatu penelitian prospektif dengan mernakai kontrol retrospektif menyarankan kemanjuran adrenaJin dosis lebih tinggi. dosis adrenalin hendak ditinggikan sarnpai 0. Narnun dianjurkan hanya pada korban yang diberi ventilasi buatan yang efisien. oksigenasi dan kornpresi. Natrium bikarbonat : dosis <1w<11: 1 mEg/kg (bila henti janlung lebih dari 2 rnenit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0. Selain itu. tidak berkurang.Olmg/kg adrenalin. Penggunan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusirasi yang lama. Cara pemberian hanya IV. dan bahwa natrium bikarbonat bukanlah obat lini pertama pada resusitasi pediatrik.2 mg/kg hendaknya diulang Hap 3-5 menit jika perlu.1-0. CO2 yang dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jib CO2 tidak diangkut olch respirasi. alkalin lebih dominan berada di ekstraselular. 2. asidosis intraselular justru bertarnbah.5 mEg/kg sampai tirnbul denyut jantung spontan atau mati jantung.1 mg/kg untuk rnencapai kadar d arah yang adekuat. Bila hanya ada rute endotrakeal. Dipertegas lagi kelebihan manfaat dosis standard adrenalin daripada atropin pada bradikardia.2 mg/kg (Akan tetapi pernberian dosis tinggi adrenalin ini tidak dianjurkan pad a neonatus. Juga dianjurkan tidak dipakai isoproterenol untuk henti jantung. sebab kalau tidak. Karena itu AHA menganjurkan pada henti jantung pediatrik. Oasis selanjutnya sebesar 0. kendati dapat dipergunakan bersarna dengan adrenalin pada pasien yang gagal berespons terhadap ventilasi. termasuk intraoseus. Dianjurkan pula pernberian 20 ml bolus cairan nonglukose isotonik pad a penanganilI1 henti jantung pediatrik untuk mengatasi syok. Di sini dipasang infus intravena sesuai indikasi. Oi lain pihak. dan kasus pediatrik sangat menyerupai model binatang ini. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal baru. Tidak ada data meyakinkan tentang dosis atropin dan lignokain lewat endotrakeal. henrlaknya diberikan dosis standard awal D. Penelitian menunjukkan kemanjuran dosis tinggi adrenalin pada binatang dengan pembuluh koroner normal.1-0. pernakaian dosis tinggi adrenalin dapat dipertimbangkan bila dosis standard awal tidak efektif. karena risiko perdarahan intrakranial). Sangat dianjurkan pernakaian rute IV. seterusnya dalarn 3-5 menit diberi lagi dosis 0.Untuk henti jantung pada anak-anak.

Bila belum berhasil dosis bretilium dapat ditinggikan 10 mg/kg sampai dosis total 30 mg/kg. dan dengan ekstrapolasi banyak yang percaya bahwa obat ini berrnanfaat untuk defibrilasi.100 Wsec (pad a bayi). Bila belum berhasil beri lignokain (lidokain) 1-2 rng/kg IV.kkan bukti yang meyakinkan bahwa adrenalin meningkatkan sirkulasi screbral selarna bantuan hidup dasar . Ulangi syok balik (countershock) bila perlu. ada perubahan dalarn urutan obat-obat yang hendaknya diberikan jika fibrilasi ventrikular gagal untuk berespons terhadap 3 syok pertarna (200-200-360 Joule). Semen tara bukti yang memujikan adrenalin sebagai obat yang bermanfaat untuk defibrilasi tidak lebih baik daripada bukti yang memujikan lignokain. meskipun diakui bahwa substrat untuk aritmia pada setting eksperimental. Adrenalin telah menggantikan Iignokain sebagai obat pertarna . tidak bergantung pada pengobatan yang diberikan. Resuscitation Council (UK) memutuskan untuk rnengikuti bukti eksperimental. 100-200 Wsec (pad". berbeda dengan setting klinis. Percobaan p"da binatang mcnunjt. terdapat atribut lain yang membuat dimasukkannya adrenalin lebih dini dalam algoritma. anak) . Lignokain terbukti manjur dalarn mengobati takikardia ventrikular dan untuk pencegahan timbulnya fibrilasi ventrikular. Ulangi syok. Pada kenyataannya defibrilasi berhasil hanya setelah diberikan lignokain. Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia sa at ini.lIlg meyakinkan. dan beberapa di antaranya (misalnya barangkali vektor gelombang) akan bervariasi dari waktu ke waktu. ( Terapi fibrilasi). kalau perlu diteruskan dengan tetesan infus (1-4 rng/menit). Bila belum berhasil bila bretilium 5 mg/kg IV. Syok lagi. Menu rut perkembangan terakhir. Iadi. Karena tidak ada data klinis yi'lng relevan. Namun. IV. syok keempat dalam suatu sed mungkin saja berhasil menghilangkan fibrilasi setelah sebelumnya gaga!. Lagipula observasi eksperimental mengarahkan bahwa fibrilasi menjadi makin refrakter terhadap terapi listrik sesudah pemberian lignokain.. pendapat ini tidak pernah ditunjang oleh bukti klinis y. Bila ini juga tidak berhasil maka dapat ditegakkan diagnosis kematian jantung. Bila bel urn berhasil bed prokainarnid 1-2 mg/kg. di sebelah kiri puting susu kiri dan di sebelah kanan luar : arus searah : 200-300 Wsec (Joule) (pada dewasa) . bila memenuhi kriterianya. syok lagi. Banyak faktor yang menentukan apakah syok akan berhasil atau tidak.F : Fibrillation Elektroda sternum Defibrilasi treatment dipasang atas. Akan tetapi. 50 . kita sernua maklum bahwa konsep ambang rangsang defibrilasi sederhana adanya.

Terdapat perubahan asistole. Posisi padel yang diubah d an pemakaian defibrilator lain hendaknya dipertimbangkan. Kasus-kasus yang membutuhkan kalsium klorida juga dirnasukkan dalam algoritrna. Resuscitation Council (UK) t id ak m enya takan b a hw a ad renalin juga meningkatkan kernanjuran syok arus searah. kalsium dan vasopresor seperlunya. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan alai. . l. Akhir algoritma defibrilasi juga mengalami perubahan.\-. dan rnengecewakan terutama pada penyakit jantung iskernik.(. Isoprenalin tidak lagi dianjurkan pemakaiannya dan kemungkinan menggunakan rutc intrakardiak untuk adrenalin dihapus. Oosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg IV.RJP. Bila pada EKG : asistol vcntrikular atau disosiasi elektromekanis : Ulangi 0. Kemungkinan salah diagnosis harus ditekankan agar jangan sarnpai kelainan yang semestinya dapat di atasi tetap tidak mendapat terapi yang tepat.lIsiL1Si y. walaupun banyak yang percaya bahwa hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus. tetapi bersarna-sama dengan obat anti aritmik lainnya.m. atau jika fibrilasi ventrikular sangat halus. Syok yang diulangulang pada tingkat cnergi png rnaksimal dianjurkan jika fibrilasi refrakter sesudah 3 syok a\\'J. sampai rn e leb i hi -. penting pada ini mempunyi Pada disosiasi elektromekanis. bila perlu diulang tiap 10 menit. kemungkinan hipovolemia sekarang ini dimasukkan. tidak dibatasi jurnlah syok untuk mcnghilarigkan fibrilasi tersebut. Dosis lll. karena syok hemoragik merupakan kausa penting nadi yang tidak teraba dan ini tidak boleh dirernehkan. Melaksanakan Betapa prosedur resusitasi pentingnya rnelaksariakan terus rcsusitasi sangat ditckankan : jangan III d et ik u n t u k me laku k an t i nd a ka n yallg mcrne rlukan penghentian sernentara korn prcsj (beLl Rule cndotrakeal sekarang dianggap sebagai rute yang tid ak handal unt uk pemberi an obat dan hanya dipakai bilarnana bclum ada jal ur IV. Kelainan listrik biasanya pengobatannya anjuran untuk korban yang narnpak irnplikasi prognostik yang berat. Bila penolong merasa bahwa kemungkinan fibrilasi tidak dapat disingkirkan maka hendaknya diberikan 3 syok sebelurn algoritma untuk asistole yapg sesungguhnya dimulai. Karena itu tujuan utarna adrenalin pada saat itu adalah untuk mernpertahankan perfusi serebral selarna upayil resusitasi yang lama.'o. Dosis kalsium glukonat 1000 mg i.u n a. atau jika vektor gelombz!ng yang dominan bcrada pada sudut kanan terhadap hantaran diagnostik bipolar.. Jib diagnosis ritrne akurat. Algoritma itu sendiri telah diu bah yaitu adrenalin diutamakan dad atropin. Pernah terjadi kesalahan akibat salah diagnosis asistole pada korban dengan fibrilasi ventrikular.v.I dan 2 obat ( ~ syok ke cmpat) diberikan. karela korban narnpaknya tidak mernpunyai peluang hidup yang lain Jagi.lngan adrenalin dan natrium karbona! dianjurkan u nt u k rt. atau jika kontrol gain pada elektrokardiograf dirnafikan.

orofaring korban harus dibersihkan dari sckret-sekret dengan cara diisap. Karena itu.0 mEq per kg dosisi a. pipa jalan natas orofaringeal dirnasukkan dan diberikan ventilasi dengan oksigen murni dengan menggunakan alat halon dan katup. pipa [alan nafas orofaringeal. perlengkapan intravena. Harus dicatat bahwa sernua alat tarnbahan BHL dapat segera diperoleh atau sudah terpasang pada pasien dalarn kamar operasi. Segera setelah keadaan . Pernberian semua obat anestetik harus dihentikan.Perlengkapan Oi rumah sakit perlengkapan dan obat-obatan untuk BHL biasanya di simpan pada kereta yang dapat didorong dan diletakkan pada daerah yang strategis.W(1!. Perlengkapan pada kereta inl hendaknya mencakup tabung oksigen. Sebagai tarnbahan sebuah papan tempat tidur diletakkan di bawah korban. alat balon dan katup untuk ventilasi paru. sungkup. tidak rnekanis. bikarbonat dianggap Untuk asidosis metabolik. Juga infus intravena dan monitor EKG hendaknya dipasang sedini mungkin. Natrium 1. trakeal korban hendaknya diintubasi dengan pipa trakeal yang mempunyai balon. resusitasi pada keadaan ini dapat dimulai sebagai BHL. b. Untuk a. Segera setelah kereia ini tiba. ventilasi dikendalikan secara manual. Ini harus disingkirkan sesegera mungkin. mernberikan Iingkungan fisiologik optimal bagi miokard tekanan positif atau Oksigen. yang akan mencegah [alan nafas tidak terkontarninasi dengan isi lambung dan menyingkirkan risiko inflasi lambung. defibrilator arus searah. 1. kernudian 0. Berikan oksigen 100% dengan sungkup pipa trakeal. terrnasuk karnar operasi dan ruang pulih. ada pad a perrnulaan RJP. oksigen 100% harus diberikan melalui alat anestesia. sehingga dapat dikoordinasikan dengan kompresi dada. monitor EKG. Malfungsi perlengkapan anestesia selalu merupakan penyebab potensial henti jantung dalarn karnar operasi. Jib rnas a henti ini singkat (yaitu 1-2 mcnit) m ika mungkin tidak diperlukan -/ . Dosis : 1. 2. lebih baik. Obat-obatan untuk RJP Sernua obat hendaknya diberikan secara IV ke dalam sirkulasi sentral bila mungkin. Berbagai obat dan cara lain tersedia untuk mernberikan lingkungan fisiologik yang optimal bagi miokard dan tekanan perfusi dan rnengatnsi aritrnia. Ventilasi dan kompresi dada harus diteruskan dengan laju yang telah disebutkan pada BHD kecuali dihentikan sebentar pada saat defibrilasi. Jangan diberikan intramuskular atau subkutis. perlengkapan pengisap faring.5 InEq per kg setiap 10-15 me nit jika tidak tersed ia pengukuran pH.

Hiperventilasi dapat digunakan untuk meningkatkan pH sistematik dan susunan saraf pusat (SSP) seeara akut dan re. hipokalsernia. 2. d. Norep~nefrin 1. asistol. yang buruk. Epinefrin 1.05 mcg/kgBB / menit. Oasis: 2-20 mcg/kgBB/menit arteri yang diinginkan. Hipokalernia setelah resusitasi bisa juga ditemukan. dititrasi sampai tereapai tekanan 2. (Levophed) c.· Dosis: mula-mula infus 0. disosiasi Oasis: 2-20 meg/ kg/ menit. b. dititrasi sarnpai tirnbul efek yang diinginkan. Dosis : 0. 78 . Oasis bikarbonat dapat dihitung dari kelebihan basa (negatif) dari gas darah arteri sebagi berikut : BE x 0. (Adrenalin) yang halus dan disosiasi Untuk asistol.\ersibel. kontraktilitas dan tekanan perfusi miokard. Efek dopaminergik beta yang bergantung pada dosis tirnbul pada dosis Iebih rendah (kurang dari 5 rneg/kgBB/menit) dan efek a1fa pada dosis lebih tinggi. Untuk tahanan vaskular sistemaik yang rendah dengan hipotensi refrakter. Untuk meningkatkan a. Kelebihan natrium dengan hipernatrernia dapat timbul pada pernberian bikarbonat yang terlalu giat. fibri1asi ventrikular elektromekanis. Untuk kontraktilitas miokard elektrornekanis.bikarbonat.25 x berat bad an (kg) BE : base excess. Kalsium klorida 1. 2. tercapai tekanan arteri yang diinginkan. 2. disfungsi ventrikular atau keduanya.1 mg setiap 3-5 menit atau mula-mula dengan infus 0.04 mcg/kgBB/menit. dititrasi sampai tercapai tekanan arteri yang diinginkan. e. dititrasi 2. 3. Dopamin 1. sampai (Intropin] Untuk hipotensi.

Dobutamin 1. 7') . Mula kerja untuk terapi fibrilasi ventrikular terlihat dalam beberapa rnenit. Dosis kedua dapat diberikan 1-2jam sesudahnya dan kernudian setiap 6-8 jam. Jika fibrilasi menetap. 2. e.5-10. 2. Laju infus mungkin perlu diturunkan bila ada hipotensi. dapat diberikan 10mgper kg iv. Breti1ium (BretyloI) 1. Rekomendasi bervariasi. Lidokain (XyIocaine) 1. a. kegagaJan beberapa organ atau keadaan lain yang mungkin menurunkan aliran darah hati. Obat ini dianjurkan untuk fibrilasi ventrikular berulang yang refrakter terhadap lidokain. Dosis : 1mg per kg bolus. bretilium yang tak diencerkan secara cepat diikuti dengan syok balik arus searah (DC). 3. Untuk distrimia ventrikular. Oosis : pad a fibrilasi ventrikular. Untuk takikardia ventrikular mungkin diperlukan waktu 20 menit atau lebih. Kadang-kadang dopamin merupakan pengganti adrenalin yang berrnanfaat karena aktivitas alfa yang terlihat bila diberikan dalam dosis lebih tinggi. Dosis :2. Hipotensi dapat t. Ini merupakan obat piIihan pertama untuk takikardia ventrikular dan fibrilasi ventrikular. 2. Untuk takikardia ventrikular refrakter atau beruJang. 3. Hendaknya obat ini dipertimbangkan pada awal p. diikuti dengan infus 1-4 mg per menit. b. (Dobutrex) Untuk dlsfungsi ventrikular.0 meg/kgEB/menit. diberikan 5 mg/ kg BB/ iv. larutan encer (500mg dalam50-100ml Dextrose 5% dalam air)selama 10-20menit. Untuk mengobati aritmia dan bJok jan tung. dengan cepat dan diulangi seperlunya.mbuI bila obat diberikan dengan cepat.3. Dobutamin mungkin tidak begitu bermanfaat seperti dopamin atau adrenalin dalarn fase awal henti jantung. dititrasi menurut respon pasien. dititrasi sampai tercapai tekanan darah (atau curah jantung) yang diinginkan. dapat diberikan 5-10 mg/kg BB iv. atau sebagai infus 2 rng per menit.enatalaksanaanfarmakologikfibrilasi atau takikardia ventrikular. terutarna dengan tahanan vaskular sistemik yang tinggi. 3.

c.

Prokalnamid 1. 2.

(Pronestyl) ventrikular berulang yang refrakter

Untuk fibrilasi atau takikardia terhadap lidokain.

Oasis: 100 mgdosis muatan setiap 5 menit pada kecepatan sekitar20mg

per menit sarnpai 1 g (atau 17 mg/kg) diikuti oleh infus 1-4 mg/kgBB/
menit. 3. Pernbcrian dosis di atas hams dihentikan jika disritmia hilang, tekanan darah menurun atoll kompleks QRS melebar lebih dari atau sarna
dengi111 50%.

d.

Kardiovcrsi 1. Pukulan prekordial a. . b. Untuk takikardia ventrikular yang berlanjut ke fibrilasi ventrikular sclarna 60 detik pertama henti jantung yang disaksikan . Pukulan dilakukan dengan memberikan pukulan cepat dan keras pada bagian terigah sternum dengan bagian daging bawah pergelangan tangan dad jarak sekitar 20-30 em. RJP segera dimulai jib kardioversi tak elektif.

2.

Syok balik arus searah (direct current countershock). a. b. Untuk aritmia supraventrikular yaitu fibrilasi atrial atau flater atrial, takikardia vcntrikular atau fibrilasi ventrikular. [adwal dosis dalam Tabcl 1 dapat digunakan.

Tabel 1. Oasis untuk syok balik arus searah (Watt-Sec)
-.~-_-_
..

-.---~~-

rr="::

Toraks

._ .._---

Atrial
"-.~~"-"

-.-~---_

----

Ventrikular Fibrilasi

FibriJasi

Flater

Takikardia

Terbuka Tertutup
-~---~ --_
.~--~-

10 - 20 80 - 200
..... --." . _._--_ •• _<

-.. ..
-

-~

20 - 50 _-- ---~-.---------.

50 - 100

200

- 300
.-

e.

Atropin 1. 2. 3. Untuk bradikardia berat
ilt;l1I

bJok atriovcnlrikular

derajat Linggi vagal

Dosis : 0.52.0 mg iv, Atropin mungkin tcrbaik untuk bradikardia akibat rangsangan ,1ti1U bradikardia karcna penyakit sislem hantaran.

no

f.

Isoproterenol l, 2.

(Isuprcl) refrakter atau blok atrioventrikular derajat tinggi.

Untuk bradikardia

Oasis: 2-20 meg per rnenit sebagai infus yang dititrasi [rekuensi denyut iantung yang diinginkan. paeu jantung tinggi atau

untuk mencapai

g.

Pemasangan 1. 2.

Unluk blok at riovcuttikular dcrajat yilllg iimbu l selama a la u setvlah RJP. Biasanya
resusitasi

bradikardia

berat

pernacuan
pasicn asistol.

hanya

sedikit

mernbantu

d a la rn rnelakukan

h.

Digoksin 1. 2. 3.

(Lanoxin)

Untuk flater at.iu fibrilasi atrial dengan respons veutrik ular yang cepat, Dosis : dosis muatan 1 mg diberikan tcrpisnh 30-60 menit. Lebih diindikasikan
t akiarltrnia atrial

dalarn dosis tcrbagi (0,25 mg) yang daripada
ketakstabilau

kardiovcrsi
rncnyebabkan

pernberian
hernod

digoksin
inarnik

jika yang

bcrma kna.
L Verapamil (Isoptin)

1. 2. 3.

U ntu k takiaritrn

ia

SlI

paravcn

triku 1M. lahan (5-10 mg pada pasien 70

Dosis : 0.075 - O.15D mg per kg perlahan kg). diulangi scsuai kcpcrluan.

Obat ini hendaknya digunakan dengan hati-hati bila ada blokade adrenergik-beta bersarnaan Mall pcnggunaan digoksin, karena dapat menyebabkan hipotrnsi atau blok jantung lengkap. (Inderai). ventrikular
atoll

j.

Propranolol 1. 2. 3.

Untuk aritrnia

supraventrikular,

bukan

obat pilihan

pertarna dalam RJP.
Dosis awal : 0.1 - 0.5 mg IV. jib bisa d itoleransikan 0.5-0.1 mg setiap 2-5 mcnit yang dititrasi terhadap kernudian ditarnbah respon pasien.

Hcndaknya propranolol diberikan dengan hati-hati pada rnasa pasea henti jantung karena mungkin ada disfungsi kontraktil ventrikular d alarn berbagai tingkat

~I

Keputusan

untuk mengakhiri

upaya resusitasi

Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henri nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan dan refleks rnuntah dan di1atasi pupil yang rnenetap selama 15-30 rnenit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau di bawah efek barbiturat atau dalam anestesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk mernbuat keputusan rnengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktivitas Iistrik jantung (asistol selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapai obat yang optimal menandakan mati jantung. Seseorang dinyatakan mati bilamana fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel atau telah terbukti terjadi kematian batang atak. Dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika terdapat tanda-tanda mati jantung dan atau sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak tirnbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 meriit lebih, kecuaJi kalau pasien hipatermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari yang efektif, jawab dokter

Telah timbul kembali

sirkulasi

dan ventilasi

spontan

Upaya resusitasi telah diarnbil alih oleh orang lain yang bertanggung meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter), Seorang dokter sebelumnya, Penolong rnengambil alih tanggung tak sanggup jawab (bila tak ada resusitasi,

terIalu capai sehingga mati,

meneruskan

Pasien dinyatakan

Setelah dirnulai resusitast.ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada d alam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau harnpir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah 0,5-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP)·