362.

28 Ind

r

PEDOMAN PELAYANAN GAWAT· DARURAT

CETAKAN

KEDUA

DEPARTEMEN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT RUMAH SAKIT

REPUBLIK iNDONESLt\ PELAYANAN MEO!K KHUSUS DAN SWASTA

1995

SAMBUTAN

Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita sebagaimana di tunjukkan oleh berbagai indikator utama kesehatan dan kwalitas manusia seperti menurunnya angka ksmatian. angka kelahiran, angka kesakitan dan perbaikan gizi serta rneningki'ltnyil umur harapan hidup. Namun dernikian perubahan struktur demografi, perubahan lingkllngilll hidup dan sikap perilaku serta gaya hid up masyarakat kita telah mernbawa dampak lain berupa pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke arah penyakit kronik degeneratif dan non infeksi. Meskipun penyakit infeksi masih menduduki urutan teratas dalam morbiditas urnurn di Indonesia, p ada dekade terakhir ini data-data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan R[ menunjukkan bahwa dari tahun ketahun terdapat peningkatan yang berarti dari prevalensi penyakit non-infeksi yang sering menimbulkan keadaan gawat darurat seperti penyakit kardiovaskuler, akibat cedcra atau kecelakaan. akibat keracunan dan lain-lain. Data survei kesehatan rumah tanggil tahun ] 9H6 menunjukkan bahwa penyakit kar diovask ulcr dan ccdera atau kccelakaan terutarna kecelakaan lalu lintas telah sernakin rnenonjol sebagai penyebab kernatian di Indonesia. Keadaan tersebut disertai dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran rnasyarakat akan kesehatan mcnyebabkan perrnintaan akan pelayanan gawat darurat akan scmakin bcsar. Buku pcdoman ini rncuyajikan suatu pola pelayanan gawat darurat yang diharapkan akan mcnjadi acuan bagi segen<lp pengelola rurnah sakit maupun instansi pelayanan pra-rurnah saki! unt'uk rnerighadap i tantangan masalah kesehatan terscbut secara bcrhasil guna d,1I1 berdaya guna. Saran dan kritik sunil pcnyempurn(lan buku pedornan ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

1 Maret

1992

DIREKTlIR

JENDERAL

PELA YANAN

MEDIK,

t.t.d.

Dr. BROTO W ASISTO, NIP. 140022724

MPH

.

11 upaya penanggulangan penangguJangan pengorga nisasian St'rtd I'r-niug kat.in y.)11.l rncndadak. stand ar pelayanan.l pc'nanggulangan poncicrita gawat darurat baik dalarn koadaan schari-hari (ddily routine). PcngE'mbangan pcnanggulangan p en d e r it a gaw<lt darurat dimaksudkan agar tcrcapainya suatu pclayanan yang optimal.He" Peningkatan darura! menitik 1. maka d. 2.itknn pada du.PENGANTAR Departcnwil Kesehatnn I\J dalam RITELIT/\ .11l.11.llll\'. Iwnderita gawat dururat: pcrencanaan peduman penang I'eningk<llan kcmarnpuan pcnderita gilwat darurat: Pen irigka tan kernarnpua pentierita gClwa! darurat.lll srstim agar pCllilnggulangan vaitu : pcnderita gawat Peningkatan kcrnampuan pclayanan gawat darurat rum. Sasar an upaya pclayanan galVa~ darurat ada lah pcngcmbangan pellangglliangan pcnderita gawat dar urnt disr-mua ting kat pclavanan nlampu ml'l1l1llj.V telah mernprioritaskan Pcngernbangan Frogr<l11l Upaya Keschatan Rujuk an.lng .lIIClCl dan p('laporan Ucngall dif'erluk. Tujuan Program Upaya Kesehatan Rujukan adalah peningkatan mutu. maupun dalam keadaan ben can a.uv 1]('<111h ('.1IiSil data pendcrila gawat darurat.lIlgan sistim penratatan .mg diseicnggarakan di 1'['1"1.rnanili('rn~'n ~ I'cnf'lapan gul. S.'l'ningK<ltdll tempat kq.lS<lr.GU. bcncana rnaupun penyakit yang d iderita S(.) sistirn S.tiah sat u Up'l}'d kt'seilatan rujuk.l'idY.m dan pl'ngt'lllb.l f. Pcningkat.111 kc.lIl ~l'I1l"kill j. SI'LlPld iumluh p(. terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang dalarn kcadaan gawat darurat sebagai akibat musibah ber upa k('celakaan.lI1g "p rim.lllg mcndapat pr ioritas untuk dikembarigkan adalah pcningkat<l11 upay. cakupan dan efisiensi pelayanan rujukan rncdik dan rujukan koschatan.lllgan peraturan.ru mah xakit m<lllplill dr rurnah saki!'. dan pcngembangan ber. Illt'niJ1gk. g<lIYdl III .'ndl'riLl gctwat dnrurat.](ii<1ll.uurat baik y.l\vat darurat rru-liputi melalui kategorisasi unit rungsi iniru st ruktur Gid.in <l g.ih <akit.

SOEMARJA ANIROEN. 140028924 IV . buku ini bermanfaat bagi Buku pedoman gawat dapat dan pengembangan Jakarta. Sebagai pedoman semoga pelayanan gawat darurat.ini dimaksudkan agar upaya penanggulangan penderita darurat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta mern perol eh petunjuk yang cukup jelas dalam merencanakan menyelenggarakan pelayanan gawat darurat. MHA NIP. Dr.t. 1 Maret 1992 KEPALA DIREKTORAT RS KHUSUS DAN SWASTA. t.d.

Untuk memberi arahan pada upaya penanggulangan penderita gawat darurat pada tahun 1992 Departcmcn Kesehatan RI telah menerbitkan buku pedornan pelayanan gawat darurat. penderita gawat darurat J\'2pal a Khus u s dan Swasta I . Buku pedoman tersebut pada tahun 1995 ini mengalarni cetak ulang disertai pcrbaikan-perbaikan materi yang diperlukan. Kiranya buku pedoman ini dapat mernenuhi seperlunya dan tambahan kebutuhan para pemakai secara guna rneningkatkan mutu f)enanggulangan konseptual dan sisternatis.PENGANTAR Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sa kit Departemen pad a Repelita Repelita VI disusun sebagai kelanjutan Cawa d ar i program t Kesehatan Repelita RI V. in i terutama terdapat dalarn Upaya untuk berjenjang penderita pelayanan gawat darurat dasar Sakit ditujukan ruj ukan menunjang pelayanan Pus kesrnas kesehatan sehingga dan Rumah da larn menanggulangi gawat darurat. Salah satu kegiatan yan~ terus mendapat perhatian VI adalah PCJllllgknt.m peningkatan antara Pel2l)'illliHl untuk dikernbangkan Da ru rnl.

.

96 . bahwa sebagai akjbat dari perubahan Dola penyakit tersebut telah terjadi lonjakan anqka.mbangan tersebut: semakin meningkatnya kesadaran ma~yara. 9 tahun 1960 ten tang Pokok- VII . d.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MECIK Jalan H. na s i cna l . S20t594· 95 . a. Seta •• n Tel!>.""-. KEPUTUSAN MENTER I KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOHOR 0701/YAN MEO/RSKS/GOE/VII/1991 TENTANG PEDOMAN PElAYANAN GAWAT DARURAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK Menimbang INDONESIA . bahwa dalam rangka memantaokan pelaksanaan program uoaya kesehatan rujukan melalui peningkatan mutu.98 5204395 .9 J. ma k a d i p arrrra q o e r Lu n untuk secara t e r u s+me n e r u s mempe rba i k 1 dan men i ngkatkan D61ayanan kesehatan. kesakitan maUDun kematian akibat keda~uratan medik baik dalam keadaan sehari-hari ~aupun dalam keadaan mus ibah masa 1 . d t o e r Lu k a n ad a n va suatu s t anda r d i s a s i oedoman p e La y a n a n yang be r s Lf a t. disamping telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah pula menyebabkan ~erubahan Do1a penyakjt dimana tengah t e r iad i pergeseran co t a Denyakit dar.rt. Raw"" Said 810k X5 Kow. CIREKTORAT . efisienSl dan c a k up a n p e La va n a n kesehatan khususnya dalam upaya Denangguiangan penderita gawat d a r u r a t.. cedera akibat keceiakaan. bahwa dengan pe s a t n y a perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pelayanan kesehatan khususnya untuk penansgu1angan penderita gawat darurat maka senantias3 diperlukan oenyesua ian yang tepat terhadap· perk". _. Mengingat 1.kat akan hebutuhan oelavanan k~sehatan yang l e b i h b a i k . degerneratif.I.A.. bahwaden~an e.•. bah . c.k. pembangunan a disegala bidang Dada umumnya dan p e nv e t e n q q a r a a n o e l a r a n a n k e s a n a t a n se c a r a o a r Io u r n a p a d a k h u s u s n y a ..No. keganasa~ keracunah dan la1n-lain: b. Undang-undang Namor pokok Kesehatan. penyakitDenyakit infeksi k an ad a Denyakit-penyakit non infeksi seperti penyakit kardiovaskuler. 4 .D£PARTEMEN KESEHATAN R.

HPH (Oir Jen Yan Hedik) Or. P at HEM UTUSKAN Menetapkan.. MPH (Dit RSKS) n 1. Soemarja Aniroen. DIREKTOAAT .entangelayanan Ga.Sakit. Abdul Radjak (Ka Sub Dit Yan GDE) Dr. Kesehatan RI Nomor 558/Henkes/SK/84 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI... Abdul LDtief. 1982. Aryono D.. Keput. DSA (RSCH) 9.I.: 5201594 -115·98 52(M395 • 96 • Pe$ •. tanggal 22 Jun.. Ora. Unit Ga .stim Penan99ulangan Penderita Gawat Darurat yang d. Derma. 3.. viu ... Pertama Herevis. April 1989.JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MEDIK T"p. 1985 t..Darurat.. Hermansyur K (IGO RSCM) Dr...n yang harus dimiliki ole . H. Or. Dr. Kedua Revis. MHA eKa Dit RS Khusus dan S~asta) 2.terbitkan oleh Direktur Jenderat Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.. Tb. 2. Boedihartono..usan Menter.. Dalam rangka revisi buku pedoman tersebut per 1u dibentuk kepanitiaan dengen susunan sebasai berikut : Penasehat Pengarah Dr.T.. Bagus Mulyadi (Oit RS UMDIK) Dr.Dr. at Oarurat Rumah Sakit dan S.. 5.Med/RSKS/S5 tanggal 2S Me. Hario Untoro (Dir RS Sekasi) 6. 5. Keputusan Presiden RI Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Oepartemen. 4. Pusponegoro (IKABI) Dr. Program Upaya Kesehatan Rujukan REPEL ITA V Direktorat Jenderal Pelayanan Medik.DEPARTEMEN KESEHATAN R.. HHA (Ka Oit RS UM DlK) 1.. 4.. Dr. Ketiga Ketua Sekreteris Ang9ata Dr. Haryadi (Oir RS Pasar Rebe) 7.. peduaan dimak6ud menvangkut Sistim Penanggulangan Penderita Ga . 2. 3.. Surat Edaran Oirektur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 0681/Yan.. IQbal Hustafa (PKGOI) Dr. Oarurat Pre Rumah at . Susbandyah (Oit RSKS) 6 . Brato Wasisto. Oarurat at Rumah Sakit termasuk Penanggulangan Penderita Ga . Buku Pedoman Pengembangan Pelavanan Unit Ga .at Darurat dan petunjuk teknis standard pelayan. Petrus Maturbongs (Dit RSKS) Or..

Keoala Badan Pemeriksa Keuangan d. Kesehatan RI di Jakarta. A r sip. Sekretaris Jenderal.9 J. MEDIK DIREKTORAT JENDERAL JAKARTA PELAVANAN Telp. 3. Pimp. 9.r. di 1\ ..: 1. Hal-hal diatur Pedoman Rumah diatur tersebut dlbebankan Sakit Swasta dan dalam Keputusan keoada Khusus 1n1 akan Kel ima yang belum lebih lanjut.. Yang bersangkutan untuk diketahui. D1 t. BaDak Menter. Jakarta. No. 6.e t ack an d i : Jakarta Pada tanggal . Para Direktur Jenderal dil. Direktur Jenderal Anggaran OeD Keuangan RI di Jakarta..~ .4 . Keenarn Suiat Keputusan inl reulai berlaku pada tanggal dltetapkan dan apabila ternyata ad3 kekeliruan dikemudian hari akan dladakan perbaikan.•. Rawna Said 810k X5 Kav. Kepala KPN III di Jakarta: 7.2::::ul i 1~31 J REPU8LIK INDONESIA Pelayanan Medik.kana Selatan 5204395·96. 5. 4.: 5201594·95·98 J. I WASISTO.R. MPH 140022724 Tembusan kepada ytn. 2. Keempat Biaya ravisi Buku Proyek Pengembangan Pusat Jakarta.ngkungan Dep Kes RI d1 JaKarta. 8.alan H.nan Proyek Pengembangan RS Swasta dan Khusus Pusat Jakarta. OeD Kes RI di Jakarta.DEPARTEM£H KESEHATAN a.

.

................. .... SK MENKES No 071 IYAN Tentang Pedoman Daftar lsi Pendahuluan Pengertian Penanggulangan Sistim Penderita Gawat Darurat gawat (rrGD) darurat Indonesia '... Lampiran Trauma Score .Sarana Unit Cawat Darurat "...Arnbulans udara ... ... Rumah Sakil..... Cara mcngukur Paru .'...... 51 ........ xi 1 2 3 4 penanggulangall penderita Lampiran ..........." ..... III IV V VI dan prasarana leu ' '....................................Resusitasi Jantung -..... ...........'........ 1I Kesehatan Republik MED/RSKS/1987 33 4] 43 Larnpiran Lampiran Lampiran Lampiran .................. iii vii ......Akreditasi ........... MED/RSKS/GDE/VIJ/199L Pelayanan Gawat Darurat ....... 84 XI ....DAFTAR lSI Sambutan Pengantar Dirjf'll Yanmedik Kadit RSKS .......... "..................... 57 . ............ .... .. ...Keputusan Menteri Nornor : 01521Yan.......... ..........

C. Ikrdasarki'ln hal tersebut di a las. serta dilaksanakan terutarna rnelalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyernbuhan dan pemulihan yang dilakukan. Kegiat(ln ini horus bersifat menveluruh.111 pcndcriLi gawat d ar urat dapat berfungsi dengan baik. penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif).q. . Pen yelenggaraan upa ya keseha tan diatur oleh Pernerin tah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh Pernerintah dan masyarakat. Cleat dan kelemahan. rohaniah dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit. Uepctrterncn Kesohatan RI c. agar dapat hckerja dan hidup layak sesuai dengan rnartabat manusia. Usaha keschatan di at as mcncakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif). Sesuai dengan azas adil dan merata. maka Keschatan Nasional antara lain adalah : A Dasar-Dasar Pembangunan Sernua Warga Negilli1 berhak mernperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tillgginya.L PENDAHULUAN Upaya Bangsa Indonesia untuk mcncapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik perlu merigadakan pcnataan pelavanan gawat d ar ur at dengan rnenerbitkan suatu buku pedornan sebagai sumber inforrnasi. Upaya dalarn bidang keschatan telah dijabarkan dalam Sis tern Keschatan Nasional yang pada hakekatnya adalah berupa pemikiran dasar yang mernberi arah dan tujuan. merata. ter padu dan berkesinarnbungan sebagian bagian dari I'embangunan Nasional. jawab dalam mernelihara dan B.. Pemerintah dan masyarakat bcrtanggung mempertinggi derajat kesehatan rakvat. Agar upaya pel1'Zlnggu['11lg. terpadu. D. Dalarn upaya penyernbuhan tercakup upaya penanggulangan penderita gawat darurat. Segala upaya ini harus dilakukan secara merata kepada selur uh lapisan masyarakat dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan biaya yang dapat dipikul oleh masyarakat dan negara. dan masyarakat perlu aktif berperan serta. adalah meliputi kesehatan badaniah. hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati secara rnerata oleh seluruh penduduk. bentuk serta sifat kesehatan sebagai kesatuan yang menyeluruh. dapat d iterirna dan tcrjangkau oleh scluruh masvarakat.

F. waktu kesehatan yang didapat/dialarni time). mental. di arena olah raga. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi.mgguan tcrhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pr-mbangunan llilsional y. berrnain 3. tercekik oleh benda asing. . dan lain-lain. kerusakan sarnua dan prasarana urnum St'rt.intuan. Mekanisrne kejadian: Tertumbuk.lIlg mernerlukan pcrtoltlJlgan dan b. c. tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya.. kecdakaan di sekolah: e. jatuh.lt tctapi tid ak rnemerlukan darurat. perbelanjaan.II. waktu sekolah. E. korusakan lingkullgdl1. waktu perjalanan (traveling/transport b. kecelakaan di lingkungan rumah taD. kecelakaan Ialu lintas: b. tersengat. Iisik maupun listrik atau radiasi. Tempat kejadian: a. dan lain-lain. kerugian harta benda.l mcnimbulkan g. terbakar baik karena efek kimia.gga. pasien dengan Suatu kejadian dimana terjadi interakxi berbagai faktor yang datangnya rnendadak. C.mkcr stadium laniut. sosial). kecelakaan di lingkungan pckerjaan: d. tidak dikehendaki sehingga menimbulkan ccdera (fisik. Pasien Cawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. waktu bekerja. misalnya luka sayat dangkal. Pasion Darurat Tidak Cawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba. Cedcra Masalah Benrana Pcristiwa <1 tall rangkaian pcristiwa yang disebabkan olch alarn d<1I1 atau rnanusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. PENGERTIAN A. Waktu kejadian: a. B. scbagai akibat L. TBC kulit. terpotong.'lVV. dan sebagainya. D. C. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. misalny» k. Pasion Cawat Tidak Darurat tindakan Pasien berada d alarn kcadaan t.ecelakaan. Pasien Tidak Gawat Misalnya Kccclakaan (Accident) Tidak Darurat ulcus tropium. 2.

2. 6. trauma/ eedera 2. 3. PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2. Dengan demikian keberhasilan Darurat (PPGD) dalam mencegah 1. infeksi 3. degenerasi (failure) 5. susunan saraf pusat pernapasan kardiovaskuler hati ginjal pancreas Kegagalan (kerusakan) sistim/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. -dan lain-lain. 2. c). 5.III. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. pemapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 . Merujuk penderita gawat darurat melalui sistirn rujukan untuk memperoleh pencmganan yang lebih memadai. 4. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Prinsip Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu sistimiorgan di bawah ini yaitu : 1. Kecepatan meminta pertolongan. atau . ditempat kejadian: b) dalam perjalanan ke rumah sakit. PENANGGULANGAN A. Kegagalan sis tim susunan saraf pusal. sedangkan kegagalan sistirn/ organ yang lain dapatmenyebabkan kernatian dalam waktu yang lebih lama. B. Menanggulangi korban bencana. kardiovaskuler. asfiksi 6. 3. Tujuan 1. Penanggulangan Penderita Gawat kematian dan cacat ditentukan oleh : Kecepatan menemukan penderita gawat darurat. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a).6 menit). keracunan (poisoning) 4. pertolongan selanjutnya secara mantap d i Puskesrnas rumah sakit. 3. Mencegah kematian dan caeat (to sa ve life and limb) pada penderita gawat darurat. kehilangan cairan dan elektr olit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolitc) 7.

Cakupan pclayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi : L Penanggulangan penderita di ternpat kejadian. I) Kl. KOMPONENSISTIMPENANGGULANGANPENDERITAGAWAT DARURAT 1. maka agar upaya penanggulangan penderita gawat darurat tersebut dapat terarah dan terpadu perIu dilaksanakan dengan cara pendekatan sistim. penanggulangan penderita gawat darurat dapat dikembangkan seoptimal mungkin.IV. sangatlah berrn. kapan saja dan dirnana saja. Upaya penyediaan sarana kornunikasi untuk mcnunjang kegiatan pcnanggulangan penderita gawat darurat. Dengan mcmaharni bahwa penanggulangan penderita gawat darurat menyangkut baik aspek medik maupun non medik dan keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja. PRA RUMAH SAKlT (LUAR R. 3.mfaa! sckali hila orang awarn diberi dan dilatih pengetahuan dan keterarnp ilan dalarn pcnanggulangan penderita gawat darurat. Upaya rujukan ilmu pengetahuan. Upaya pernbiayaan penderita gawat darurat. Oleh karena itu. 4. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWATDARURAT TUJUAN Tercapainya suatu pelayanan kesehatan terpadu bagi setiap anggota masyarakat gawat darur at. Transportasi penderita ga wat darurat dari tempa t kejadian ke sarana kesehatan yang lebih memadai. Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan Petugas Kesehatan (SUB-SISTIM KETEN AGAAN) I'ada lllllUIl1J1ya yang pertarna menemukan penderita gawat darurat di tempat rnusibah adalah masyarakat yang dikenal clf'ngan istilah Orlll1g mmill. 6. yang optimal. B. terarah dan yang berada dalam keadaan Upaya pelavanan kesehatan pad a pcndcrita gawatdarurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedernikian rupa sehingga mampll mencegah kernatian atau cacat yang mungkin terjadi.lll d alam mnsyarakat dibagi :~(dtld) g()i("lgclil orilng awarn .1I1g a warn : DitinjilLl da ri 'il'gi pt'r. SISTIM A. kOMPONEN a. Upaya penanggulangan penderita gawatdaruratdi tempatrujukan (Unit Cawat Darurat dan JeU). 5.ln. Dengan cara pendekatan sistim.S). pasien dan tenaga ahli. 2.1sifikilSi llr.

a). (6). gawat perawat/paramedis pengetahuan dasar keperawatan yang telah Di samping dirniliki oleh pcrawat. Colongan awarn khusu= antara (l) anggota polisi (2). Anak-anak akan menjadi dewasa dan pengetahuan ini akan tetap dimilikinya. Tcnaga menanggulangi keadaan sesuai bidang pekerjaannya. bin: (2). petugas Dinas Pernadarn Kebakaran (3). Golongan (1) awarn biasa antara lain: guru-guru berrnotor dan lain-lain. (2). ibu-ibu rurnah tangga (5). Kemampuan darurat 2). . terutama kalau dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. mereka harus mernperoleh tambahan pf'ngetahauan pcnanggulangan penderita gawat darurat (Advance Life Support) terrnasuk PHTLS dan PHCLS untuk melanjutkan pertolongan yang sudah diberikan. cara meminta pertolongan resusitasi kardiopulmuner sederhana cara menghentikan pordarahan cara memasang balut!bidai (5). (3). pengemudi kendaraan (4). (2). petugas hotel. cara transportasi pendcrita gawat darurat Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran penanggulangan penderita gawat darurat. restoran b). (4). pelajar (3). Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat seperti orang awam (Basic Life Support) ditambah. (4). (5). Kemampuan yang harus dimiliki khusus antara lain : oleh orang awam (1). satpam/hansip petugas DLLAJR petugas SAR (Search and Rescue) anggota prarnuka (PMR) Kemampuan Penanggulangan Pender ita Gawat Darurat (Basic Life Support) yang harus dirniliki oleh orang awarn: (1).

rnelakukan resusitasi kardiopulmuner b). mengenal adanya sumba tan jalan napas (2).mengenal stroke dan pertama Kernarnpuan a) + b) + c) + d) pra rumah sakit yaitu Pre Support (PHTLS) dan Pre Support (PHCLS) e). mernbuat rekaman jantung (EKG) c).marnpll mentransportasi penderita dcng<ll1 patah tul<lllg (lIl1lgkai dan t\1hng pungg\lng) t. marnpu Tllcmasang bidai ('1. memberikan pertolongan kcpala (3). Untuk sistim pernapasall air (1). pcrnapasan rnulut ke rnulut (b). Untuk sistirn gastro intestional (I). mcngcnal patah tulang (2). infark jantung (3). memberi pertolongan pertama pada aritrnia. mengenal renjatanl shock anafilaksis (2). operasi pada g).KemampuanPPCDyangharusdimiliki tcnaga pararnedik adalah a). Untuk sis tim vaskuler (1). membebaskan jalan napas (oropharyngeal way) sampai dengan intubasi endotracheal (3). dalam penanggulangan Hospital Trauma Life Hospital Cardiac Life n1ilmpU merawat Zrnempersiapkan penderita dengan akut abdomen. mengenal korna dan pertama (2). mcrawat infus-infus CVP d). Untuk sistim imunologi (1). memasang infus z'transfusi (3). dengan resusitator manual dan otornatik (4). . momberikan pertolongan pertarna pada shock f). Untuk sistim sirkulasi (jantung) (1). shok. Untu k sistim skeletal (1). mcrnbcr ikan napas buatan (a). Untuksistim saraf mernber i pertolongan pertarna pada trauma memberi pertolongan (I). mengenal aritmia jantung. infarkjantung (2). menghentikan perdarahan (2).

memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat obstetri-ginekoJogi j) Untuk farmakologi/Tohikologi (1). intubasi endotracheal (b). melakukan resusitasi kardiopulmoncr (ABeD) dan memberikan obat-obatan yang perlu b). Kernampuan a). mcrnberikan pertoJongan pertama pada aritmia (3). yang harus dimiliki adalah : Untuk sistirn pernapasan (1). mcmberikan pertolongan pertama pad.'dis (Dokter Umum) Di samping pengetahuanmedis yang telah dikuasai. dokter umum perlu mendapat pengetahuan dan kctr-rarnp ilan tambahan agar mampu menanggulangi penderitn gawat darurat.uk sistim sirkulasi aritmia jantung (2). Untuk Organisasi (1). Untuk sistirn kulit (1).ahgunaan obat (3). 1Tlcnanggulangi renjatanisyok (1). mengetahui s istim penanggulangan korban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja 3). mengenal infark jantung (4). Tenaga MI. Untuk sistim reproduksi (1). memberikan (2). memberikan pertolongan pertolongan pertama pada luka pada luka bakar i). mengetahui sistim penanggulangan penderita gawat darurat (2). mampu melayani persalinan (2).i pcnderita inlark rniokard (DC) (~). mernbuat/membaca EKe (1'». melakukan tricothyroidectomi (5). Unt. mernbebaskan adanya sumbatan jalan napas [alan nap as (oropharyngeal . nwngenal pertarna pada pertama pada pertama pada air way) (<1). mampu memberikan pertalangan penyal. mampu memberikan pertolongan keracunan (2). mampu mernberikan pertolangan gigitan binatang k).h). mengenal (2).

Untuk sistim vaskuler (1). menanggulangi akut abdomen nasogastric tube) h). menegakkan diagnosa I diagnosa diferensiai kuma dan kelainan darurat sis tim saraf pusat (2). Untuk sistirn imunologi keadaan alcrgi akut. keadaan renjatan/syok ana- (1). mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan yi'lng diperlukan pada kead aan koma.c). mengenlll ke ad aan pcn). menghentikan perdarahan (2). merawat patah tulang secara konservatif i). a) + b) + c) + d) adalah kemampuan ATLS dan ACLS. menanggulangi filaksis f). mengetahuicara pengangkutan penderita dengan fraktur/patah tulang (4). Untuk sis tim skeletal (memasang (1). Mengeual gagal hati. Untuk sistim gastrointestinal "(1). menanggulangi (2). k). mendiagnosis akut abdomen (2).niailgunacHl obat/ keracunan z' gigitan binatang (2). Untuk sistim saraf (1). mengenal kelainan darurat obstetri/ginekologi (2). gagal pankreas rnampu rnenanggulangi koma Unt uk farmakologi Ztoksikolog i dan (1). memberikan pertolongan pertama dan pengobatan pada keadaan darurat obs tetri/ ginekologi j). Untuk sistim reproduksi (1). memasang/membaca dan merawat CVP d). memasang bidai (3). mengenal dan mendiagnosis patah tulang (2). Untuk (1) sistim kulit perlukaan men genal berbagai jenis luka (2). mernberikan pertolongan pertarna pada pcnyalah gtll1aan (lbal/keracunan/ gigiLm hinatang . keadaan darurat SSP. memberikan transfusi darah dan terapi cairan/ elektrolit (3). gagal ginjal. e). rnampu menanggulangi berbagai g).

ilwat darurat yang penting adalah : penderita (1).perjalanan telah ditutup (4). dengan aman ke sarana ke- terdiri dari dan non medis kendaraan petugas pengangkat (tenaga medis/paramedis) life saving dan life support dipenuhi untuk transportasi peralatanmedis obat-obatan c). perdarahan telah d ihentikan (3). Dalam memasyarakatkan penanggulangan )'. 2). b). sclama. gangguan pemapasan dan kardiovaskuler ditanggulangi (2). Mengetahui sis tim penanggulangan karban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja. d). Mengetahui sistim penanggulangan gawat darurat penderita (2). Lencana akan mernudahkan mereka memberikan pertolongan dalam keadaan sehari-hari maupun bila ada bencana. scbelum diangkat (1).I). para siswa akan mempunyai kernarnpuan yang sama. Mempunyai yang sarna sertifikat dan lencana tanda lulus Dengan demikian instansi manapun yang menyelenggarakan pendidikan penanggulangan penderita gawat darurat. Sarana transportasi a). Tujuan TRANSPORT ASI) Penderita Gawat Darurat mernindahkan penderita gawat darurat tanpa rnem perberat keadaan penderita sehatan yang memadai. Pcrsyaratan yang harus pendt'rita gawat darurat a). Upaya Pelayanan Transportasi (SUB-SISTIM 1). pa tah tulang telah d itiksasi telah l) . b. Semua pusat pendidikan penanggu!angan pende rita gawat darurat mernpunyai kurikulum yang sarna (2). 3). Untuk organisasi (1). luka-Iuka h).

tandul digotong (2). pcrahu (b). Kendaraan Darat (1). Fungsi ambulans darat secara (a). (b). kcsadaran (2). alat untuk transportasi penderita (200 km) (b). Kendaraan udara (ambulans Pe!ayanan udara) Medik) urnurn adalah Arnbulans a). (c). angkutan modern (a). perahu motor (b). arnbulans laut c). horus selalu d iperhatikan dan Sesuai dengan keadaan geografis eli Indonesia yang terd iri dari ribuan pulau. b). beca dan lain-lain. sebagai sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita gawat darurat di ternpat kejadian (e). angkutan trad isionaI (a). kapal.11 riarur at da lam keadaan belle ana II) . kendaraan umum roda empat: berupa dan "pick up station". angkutan modern truk lainbajaj.selarna pr-rja lanan dimonitor (I). rakit (2). keridaraan roda tiga: berupa berno. angkutan tradisional (a). pernapasan (3). sebagai rumah sakit la p a n g an p ad a pcnanggulnngan penderita gaw. Keridaraan laut (1). kendaraan khusus untuk pender ita arnbulans darat. denyut nadi (5). kereta api dan lain. rnaka jenis kendaraan yilng dapat digunakan pada umumnya adalah: a). kcadaan luka 4). tekanan darah (4). 5). yaitu (2\). kereta kuda/lembu (b). (Kendaraan Ambulans darat (1).

ns udara adalah (. med is dan kebutuhan tenaga pengelola lihat lampiran I.' Upaya PelayananKomunikasi Penderita Gawat Darurat (SUB-SISTIM KOMUNIKASI) Pada dasarnya dad. Fungsi ambulans udara adalah Sebagai alat angkut udara penderita gawatdarurat dari lokasi kejadian ke rumah sakit (:2). ambulans pelavanan medik bergerak (e).(2) Kiasifikasi arnbulans sesuai fungsinya sebagai herikut: (a). jcnis pesawat udara yang digunakan sebagai ambula. Ambulans Air Sarna dengan ambulans darat Ambulans Udara ("l). persvaratan kendaraan secar a tcknis.1). pelayanan Medik untuk Penanggulangan kornunikasi di sektor kesehatan terdiri 1). c). arnbulans transportasi (b). rI . Komunikasi rnedis Sistim komunikasi pclayanan kesehatan (1). kereta jenazah Tujuan penggunaan. personil dan persvaratan lihat lampiran It lainnya c. b). ambulans rumah sakit lapangan (d). 2}. jenis Fixed Wing (sayap tetap . ambulans gawat darurat (c). helikopter besar (7-15 tempat duduk + lebih 2 tandu) Untuk perala tan. Tujuan ini digunakan untuk di bidangteknis-mcdis menunjang menunjang Untuk mcmpennudah dan rncmpprccpat paian dan pcncrimaan informasi dalam guhngi penderita gawat darurat. p('nyam~ nwnilng- I .tak terbatas) Helikopter dibagi dalarn 2 jenis : (<I). Komunikasi kesehatan Sis tim komunikasi ini d iguriakan untuk pelayanan kesehatan di bidang adrninistratip.500 km) (b). [enis Rotary Wing (helikopter . helikopter kecil (3-5 tompat duduk + 1-2 tandu) (b).

tdepon/telepon geng-gam b). c).' .. komputer !p!emetri (EKG data transmision) Sarana Komunikasi Yang d imaksud a ). hmgsi komunikasi mcdis dalam pcnderita gawat darurat adalah : penanggulangan (1).Hl sampai kc sarana kesehatan ycIng sesuai (rurnah sakit) yaitu dC!1. b). tradisionil kcntongan bed uk trornpet kurir/mulut penanggulangan rnedik kc mulut Komunikasi modem a).n kc sar aria k('sch. Fungsi i I). jen is Kornunikasi Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkernbang pesat dan semakin modern.iii. narnun demikian sararia komunikasi modis belurn sepenuhnya menjangkau dan dikcmbangkan di seluruh pelosok tanah air. Untuk mengkoordinir korban bencana. Untuk mengatur dan membimbing pertolongan mcdis y<lIig d iborikan di ternpat kejadian dan sclarn. dengan sarana kornunikasi (Pusat kornunikasi) Pusat Kornurukasi • adalah bcrupa . [). Sentral komunikasi MPllgkoordinirpenanggulangan penderitagavvat daru rat rnulai dari ternpat kCjii. Kom unikasi a). facsimile e). 2).l'. e. teleks z'telegram d). d). jcnis komunikasi dalam penanggulangan penderita gawat daroretdapat berupa: 1).: Fcrj. Oleh karena itu. I). Untukmemudahkanmasyarakatdalarnmeminta pertolongan ke sarana kesehaian (akses kedalam sistim GO) (2).'lll • 1:. radio komunikasi cr. d. Untuk mengatur dan memoriitor rujukan penderita ga w at darura t dari puskesm as ke rumah sakit atau antar rumah sakit (4).L}!l )'Zmg lcbih mcmadni (3).b).lLHL.

telepon (2). Dapat diambil alih oleh aparat kearnanan (ABRJ) bila negara berada dalam keadaan darurat (perang) b). Menjadi pusat pcnangglllcmgan rujukan penderita kornando dan mengkoordinir modis korban bencana. Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain. kornputer bila diperlukan masa lah (5). 1'- . Syarat alat sentral komunikasi (1). (2). (2). har us sentral kornunikasi nomor telepon khusus pelayanan mempunyai (sebaiknya 3 digit). instansi lain dan kalau perlu dengan negara lain. k orisu len m e d is yang menguasai kcdaruratan mcd is. radio komunikasi (3). menghubungi rurnah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapa t diberikan untuk pcnderita gawat darurat. c). (d). Syarat-syarat (1). (3). tcnaga yang trampil dan kornunikatif (6). mcngatur / momonitor gawilt darurut. mudah dihubungi 24 jam sehari. mcner irna pertolongan (b). mengatur kejadian dan tnl'ngana_lisa tcrdekat perrniritaa ke tempat n amb ulans (e). dan memberikan (3). teleksy'facsimilc (4).(a). dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang tram pi! dan berpengalaman. (4).

[aringan komunikasi POLISI DPK I'M! <--> <--> <--> <--> BAKORNAS PUSAT KOMUNIKASI <--> RADIO AMATIR <--> A I-) 1{ 1 PUSAT AMBULANS <--> RUMAH SAKI1 KORBAN <--> Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjarnin. Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit (SUB-SISTIM PELA YANAN GA W AT DARURAT) SeringkaJi Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggular. Oleh karena itu Puskesrnas dalam wilayah huka 24 jam dan m.ggi penderita sebelum mernperoleh penanganan yang mernadai di rurnah sakit.S) a. 2. maka tenaga untuk keperluan kornunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat bidang komunikasi. KOMPONEN INTRA RUMAH SAKIT (DALAM R.2).lmpu dalarn hal: kerja tertentu harus If .

lW. lcukosit.. Rumah Sakit mcrupakan tcrrninal torakhlr dalam menanggulangi pender ita gawat darurat. Unit C. 2).'1lproblim medis pclayanan akut. 5) bencana kornunikasi medikal dan dan Menilngglliangi (bcdah tnsvbut "false minor) baik I'uskesrnas l ).v'\rci~. . 2).(») haru-: "l<llllpll nu-mbcrikan dcngc1n kwalil as tillggi pillLl Ill.lt Darurat Gawat (lihat lampiran Darurat III) Sakit Pengembangan Pelayanan d i Rumah TlIjllan: Suatu Unit (.. karena dengan demikian akan terjadi penghamburan dana dan sarana. harus dilengkapi dengan : l.lc.lt dCI1)!. khususnya unit gawat darurat harus dilengkapi scdcrnikian rupa schingga mampu menanggulangi penderita gawat darurat ("to save life and limb"). penderita gawatdarurat. 4). 2). Melakukan rcsusitasi dan "life support" gawat darurat Melakukan rujukan penderita-penderita sesuai dengan kcmampuan Menampung dan menanggulangi dengan emergency" korban pusat Melakukan komunikasi rurnah sakit rujukan.1). Ht. slirgibi 3). merupakan salah satu unit di rurnah sakit yang kepada pr-nderita gawat darurat dan merupakan bagian p('nangguhlllgan pc-ndorita gawat darurat yang perlu Tidak semua rumah sakit harus ruemp unyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga mernadai dan pcralatan canggih. Unit Gawat Darurat rnemberikan pelayanan dari rangkaian upaYil diorganisir. Kategorisasi/akreditasi Pedoman 1). urine dan gula darah.. Oleh kareria itu Iasilitas rurnah sakit. Oleh karena itu pengembangan unit gawat darurat harus memperhatikan 2 (((U<1) aspck yaitu : 1)_ Sistim rujukan pender ita gawat darurat. maka kategorisasi (akreditasi) unit gawat darurat tidak selalu scsuui dengan kclas rurnah sakit yang bcrsangkutan.aboratorium untuk menunjang diagnostik Seperti: Hb.i! (U(. Tcnaga : I dokter umurn dan pararnedis (2-3 orang pararncdis yang sudah mendapat pendidikan tl'rt('lltu dnlarn PPCD).Vill Darur. I"'. Behan kerja rumah sakit dalarn l1wnanggulangi Dengan mernperhatikan kcdua aspek tersehu t.l\. Rumah Sakit tertentu dapat mengernbangkan unit gawat darurat dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rcndah dari kclas rurnah sakit tersebut.

.

lnlerpretasi : Harus mampu a). d). b).lng twkerjil di Unit Cawat Darurat. Administrasi. Darurat Catatan harus Medis ~ 2). Interpretasi : c). Sedangkan "definitive care" dilakukan di tempat lain dengan cara kerjasama yang baik. mempunvai kcrnampuan memimpin: dan (l). tertari ky mempunvai perhatian khusus lL1Ii11l1 bjdi1Il. menanggulangi korban bencana Kriteria: a). dokter umum mauptll1 tcrgantung pada klas rurnah saki! Y. Unit Gawat Darurat hams melakukan riser guna meningkatkan mutu z' kwalitas pclayanan kesehatan masyarakat sekitarnya.11<1h: b).1\\'ah harian.~ kcdoktcran gawat darurnt: (2). Unit Gawat Darurat sebaiknya hanya melakukan "primary care". Interpretasi Petugas perawat.id i rl'llimggungj. e). Unit Cawat Darurat harus buka 24 jam Unit Gawat Dar urat juga harus rnelayani pcnderita-penderita "false emergency" tetapi tidak baleh mengganggu/mengurangi mutu pelayanan penderita-penderita Gawat Darurat. melakukan rujukan c). Mengadakan kursus-kursus untuk personalianya scndiri maupun penyuluhan kcpada masyarakat dalam penanggulangan penderita gawat darurat (prGD). medis ini dapat seorang dokter ahli.lIlg pCriHVi1t/dokter yang rncnj. : petuga~ : modis harus mcnjadi pcnanggungjawab Unit Cawat Seorang Darurat. Unit Gawat Penanggulangan Penderita Gawat sehingga instalasi Kriteria a).lllg pCllling i. memenuhi kebutuhan masyarakat dalam Darurat dan dikelola sedernikian rupa terjalin kerjasama yang harmonis dengan unit-unit dan instalasilain dalam rurnah sakit. . Unit Gawat Darurat hams meningkatkan mutu personalia maupun masyaraka t sekitarn ya dalam penanggulangan pcnderita gawat darurat. Harus ad" s('Dr. i<l har us d ihant u ok-h pcnvakibn unit-unit Idill y. mencegah kematian dan cacat b). (I). Organisasi.

Harus ada kerjasama yang saling menunjang antar Unit Cawat Darurat dengan: (1). "Disaster planning" rurnah sakit maupun kota dimana dia berada (2). hak dan rahasia rnedis penderita (3). prioritas yang tinggi. 'seJeksi pendcrita (dalarn koadaan bcncana).Interpretasi : Ia bertanggung c). doktcr urn urn (Ita up un pera wat sr-suai dengan kelas . Kalau penderita tak dikenal/tak ada keluarga yang mengantar harus diusahakan semaksimum mungkin untuk mencari dan menghubungi keluarga. Interpretasi : Semua petugas baik med is maupun paramedis harus selalu mernperhatikan : (1). Triage officer dapat scorang dokrer ahli. g).' kebutuhan rohani penderita (5). dan instansi keschatan lainnva Harus mempunyai peranan inti dalam : (1). Semua penderita yang datang ke Unit Cawat Darurat harus melalui "Triage Officer". B.iodata dan kelengkapan administrasi (2). waktu rnenunggu tindakan rnedis (4). Triage dilakukan oleh orang yang paling bcrpengalaman dan haws d apnt menentukan (lrgan mana tcrganggu dan dapat menvebabk an kernatian dan rncncntukan pcnanggulang21nnya. puskesmas-puskesmas Ji sekitarnya (5). . kerjasama dan d is iplin kerja mernpunyai d). lnterpretasi: (1). lnterpretasi : Triage adalah sistern : (1). O· Semua penderita yang masuk ke Unit Gawat Darurat hams jelas idcntitasnya. Catatan rncdis yang baik (3). Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di Rumah Sakitnya sendiri dilengkapi dcngan Unit Perawatan Intensip (leU) Semua personalia Unit Cawat Darurat men genal dan menghayati sistim Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di unitnya rnauplln Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Nasional. dokter-dokter yang berpraktek/tinggal di sckitarnva (4).itau kcbijaksanaan r urnah sakit. sopan san tun (2). ambulans servis (tipe 118) (3). Seleksi problim sClJrang penderita (dalarn keadaan sehari-hari) (2). jawab atas mutu pclayanan pada hari itu. unit-unit dan instalasi-instalasi lain di rumah sakit (2). e).

bakterioJogi dan patologi d iatur sesuai dengan kernampunn rumah sakit dan kebutuhan periderita. (2). tenaga adrninistraxi) Daftar jilga : (a). \-lilY (c). Interpretasi : terbatas harus Puskesmas dan rumah sakit kelas 0 yang hanya mampu rnelakukan resusitasi dan life support semen tara. Catat. Penunjang pelayanan med is sepcrti alat. Intcrpretasi (I). Cat.i eLm lClIHLi l<lll~'.ltoriut1). (3). i). radio) dcngim rurnah sakit kclas Iebih tinggi yang terdckat. konsulen termasuk hematologi. l). hbur. Farmasisangatpenti. pcrsonalia (b). ha rus bckcrj<l 241. n. (".. Radiologi. biokimia.ls me-d i- jam dilakuknn I:: . Penderita keluar dari Unit Gawat Darurat harus jelas : (1).Iaboratoriurn k). j). harus mempunyai kornunikasi (telepon.h). Penderita-pcnderita Cawat Darurat harus mendapat selama ia berada eli d alam Unit Gawat Darurat In terpretasi : pengawasan ketat Unit Cawat Darurat harus mempunyai perala tan. alat-alat "disposible" dan "linen" cukup untuk 24 jam. alat-alat steril.llan !ned I". Depot darah (4).-lnl (2).m k linik.1/<11"1!cnl<Hlg t in d.1[. "plasma expander". Pengawasan ini harus dilakukan terus mencrus baik di ruang Unit Cawed Darurat maupun scw aktu diangkut ke rumah <akit lain. : (dokter.l!l timggdl Sl'rtd (d). infus. pulang : (a).im.ngsehingga pcrsediaan obat-obat. (h). dirnana dirawat (2). obat dan pcrsonalia harus diatur sedernikian rup<1 sehingga dapat memenuhi kebutuhan 24 jam. obat-obatan dan personalis yang rnemadai untuk melakukannya.lp untuk : Interprotasi : (1). Cillahlll keterangan kapan -Ian nud is yang pcnyakitnya kcrnana konl rol sdjilP pcndcrita 1t'llgk.rk an d. Unit Gawat Darurat atau Rumah Sakit dengan pelayanan mernpunyai sistem rujukan yang jelas. porawat.ln r·)c··lllg.in modis minimum harus ilH'IlCd k up : (<1) h1nggi1! dan jam tibd (b) resume latat.

Askes . Astek b). Tenaga l'enderita non medis harus mendapat kursus Gawat Darurat sebagai orang awam. [umlah petugas rum. modis disesuaikan dengan beban kerja dan kelas untuk: lc~l'lganon medis selain pekarya (a) (b) (c) (d) catatan medis keuangan keamanan juga diperlukan asuransi :" jasa Raharja .. (2). Karena ilrnu kedokteran gawat darurat tidak diberikan secara "integrated" dalam kurikulum Fakultas Kedokteran dan belum lengkap dalam kurikulum pendidikan perawat maka sebaiknya para dokter dan perawat yang akan bekerja di Unit Gawat Darurat atau Puskesmas harus mendapat kursus tambahan dalam ilmu kcdoktcran gawat darurat.'bi. I" . Personalia Personalia dan Pimpinan : Unit Gawat Daurat mulai dari pimpinan. l'erternuan staf yang n:gukr untuk mcnjaga d an k.lilll yan. : dan kwalitas personalia harus mcmcnuhi syarat : jumlah (1).m "induction"..lSil<1Jl-kebj. Mereka h ar us d i bawah pcngawasan/bimbingan seorang dokter atau perawat dari Unit Cawat Darurat.ih sakit. Kritcria a). Penanggulangan (3).s baik.3). Harus ada progill1l c). cara menilai rnutu pctUgi1'-.' !'j. Karena Unit Cawat Darurat pada rumah sakit klas A dan B juga temp at belajarnya mahasiswa dan perawat maka sebelum bekerja praktek disitu harus sudah mendapat/ sedang mendapat pelajaran ilmu kedokteran gawat darurat. seb''lg<1i "feedhack". Harus mernpunyai skema organisasi mulai dari pimpinan sampai petugas yang paling rend ah dengan "job descriptionnya dan jalur tanggung jawabnva. (4) (5). komunikasi antar petugas melalui d) send iri harus mendapat. dokter. perawat dan personalia non medis harus memenuhi kwalifikasi tertentu sehingga mampu rnemberikan pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang optimal.llTI oricntasi d. Scor<mg pptugas baru scbelurn bekrrja progr.ls.

lsi (<1). Lotaknva hams berdckatan dengan (h). l.uas Unit Cawat Darurat disesuaikan diporkirakan untuk 20 tahun mendatang dengr\ll behan kerja )inng dan kelas rumah sakit.':-. untuk sr-leksi pasicn scsuai tingkat kcgawatan (b).. LII'dl) mcnjarnin k<'lC'llrlngall H dipi"dhk. ha k. (1). I'intu Unit Cawat Darur at llwnghadap tidak pcrlu murtdur.m .l (2) fK) Kuad aan IUclllgaJl harus P.ggulill1gan Penderita Cawat Darurat CL1p"t di la ku kan dcngan optimal.I).1S A.~l1g t". (2). ruanj. Diguriakan pr-nynkitnva. (4). d an ( dan d ig unak an 1111il!K Iwddh infl'ksi lu k. (5). sedang untuk r urnah sakit kclas c: hila mcrnungkinkan dibuat lapangan pendaratan hclikoptcr dekat rurnah sakit. ""kit kclas i\ dan dan 1 lUll bcd ah sak it kCl. Lokasi gedung Unit Gawut Darurat harus mudah dicapai tanda-tanda y<lOg jelas dari jalan maupun dari dalam. (0). (7). RlI. dan alat-alatlobat-obatan : 4). Cukup Iuas untuk menampung pCllcierita untuk rumah sakit kclas (I')' rll<1ng triage beberapa C) pf'lldl'ril.ir ~'II . FasiIitas Fasilitas dan a lat-alat Zobat-obatan Unit Cawat Darurat harus rnernenuhi persvaratan schingga Penan. IlllTW1. Untu k rtu nah sakit kclas A dan Bh<lTlISadil Helipad untu k pcriderita yilng diangkut dcngan helikopter. Un tu k rurnnh IllCIl'1Il)~'111i 11. ruang tunggu.lISit.l. tindakan dan I'Ildllg resusitasi. Uarurat Cawat deng<H1 amhulans ke depan "cilingga f laru» malllpu mencrima 2-5 arnbulans sckalig us sc-suai dcngan Ixban kcria z'kelas rurnah sakit (rurnah sakit kclas C menampung 2-~ arubulans rurnah sakit kr-las D ]-2 ambulans). (I.awa! hams sedemikian rupa sehingga Penanggulangan Pcnderita Darurat dapat dilakukan dengan optimal. Kaiau ada petugas yang pindah maka hams diminta pendapatnya tcntang Unit Cawat Darurat bcrsangkutan yaitu positif m<lupun ncgatifnY<l dan usu l-usul. Terletak berdampingan dengan tempat perawat kepala: chief nurse/ dokter jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi scm ua kegiatandi pintu masuk. Ruang triage: (a). (1).lIang t indakan Uutuk rurnah Iwdilh 1111. C~dllng untuk pclavanau I 'enanggulangan I'enderita (. Kri tcria : a).mlma !lIang (d).

arus penderita dapat Iancar dan tak ada "croos infection" (b).J. (16). ruang kerja non medis bagi pimpinan. (17). wang cuci (e). (20). (15).bi dan tindabn -. perawar penanggung jawab. alat-alat dan obat-obat. ruang bayi baru Iahir (operatif) (b) fu. Alat-alat radiologi diagnostik kerja dan kelas rurnah sakit. (IS).\. Ternpat khusus berduka/berdoa untuk yang meninggal dan keluarganya yang sesuai beban kerja atau kelas rumah sakit. Ruang X-ray dan ruang farrnasi dengan Rumah Sakit kelas A dan B) operasi (tergantung kebutuhan) (11). gudang obat-obatan.Isit. ruang sterilisasi (d). Komunikasi tilpon/radio ke Iuar rumah sakit dan tilpon intern di Unit Gawat Darurat dan ke rumah sakit. locker. Ruang persiapan operasi/observasi (tergantung pintu kebutuhan) dari luar/dalam (10). pcnderitd ('iif"~upp()rt'l Scclilngkan untuk Unit Cayv. asuransi.dn Unit C.scinua baf. Juga ada fasilitas we dan kantin sesuai dengan beban/kwalitas kerja yang dilakukan di Unit Gawat Darurat terse-but. kegiatan rnudah dikontrol olch "chief nurse" pada saat it u. (19). "social worker". : Alat-alat dan obat-llb"t.i .(9). Ruang pulih pulih dengan (14).ldalah untuk timbkan rCSl. polisi.mg instrumen (c). disesuaikan derigan beban/ k wali tas Alat-nlat dan obat-obat di Unit Cawat Darurat harus sedemikian mpa sehingga resusitasi dan "life support' dapat d i iakukan. Susunan (recovery soom) tergantung kebutuhan :3 tempat tidur untuk 1 karnar operasi) harus sedemikian rupa sehingga : (1 wang jurnlah ternpailldur 1:50/ ruangan (a). linen (13).t.in dapdt dibagi : . Ruang (untuk (12).]t Darurat t 111J!<lh sakit kelas .lbilisdS. Mereka dapat istirahat dan mudah dirninta keterangan yang lengkap dari petugas. haws dapat menampung korban bcncana sesuai dengan kemampuan kelas Rumah Sakit (c). Ruang gips dekat X-ray [umlah ruang operas! sesuai dengan keaktifan rumah sakit (a).ul yMIS harus del" d i. Ruang untuk keluarga menunggu harus sedemikian Tupa agar rnereka tidak mengganggll pckerjaan. Interpretasi (a). ruang konferensi. tempat istirahat.aw<!t Daru r. Behan kerja dan keias rumah sakit akan rnenentukan besar dan isi sudang farm asi.it .13 dan C mak.

penderita (life support) : kit" scgilla ukuran lengell!. monitor/portable" set + cairan ECG . . (6). alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-alat kearnanan lain-lain. llinger. guedel "Syringe: CVP set Morphin Dextrose yang perlu dengan otomatik untuk resusitasi: dan masker Suction-manual/otomatik (02) lengkap manualy flow meter. dan Alat-alat Zobat-obatan Oksigen Respirator Laringoskop Magil forceps Pipa endotrachealPip a nasotracheal Pip a 5. [arum intra kardiak "Pace make: *" transvenous" * "transthoracic". infus dan pengikat. (3). ada gantungan + "Tracheostomy set". (4). (5). untuk menstabilisasi pungsi set" untuk tungkai. "Lichtkast" "Pneumatic trousers" "Cricothyroidectorny" Gunting besar anti Trendelengburg. A1at-alat/obat-obatan "WSD sct"/jllfum "Blood gi1:-. untuk resusitasi untuk "life support" untuk diagnostik sesuai dengan tipe Rumah Sakit terapi sesuai dengan tipe Rumah Sakit non medis seperti audio visual. training seperti pemadam kebakaran kebersihan aids. lcher.Adrenalin 50 'Yr. (2). amp.20 'Yr" NaCL. cateter lurus dan bcngkok sernua ~ sernua (anak dan dewasa) ukuran ukuran 10 cc . tulang runggung "Car diar rnodication Bidai-bidai .(1). amp.[arum No."cardiac Infus/transfusi pander" + defibrilator 10 . "Plasma ex- glukose "Blood drawihg equipment" Tandu dapat posisi Trendelenburg.Pethidin . 18 Bic Nat.

Komunikasi .m l'eudcrita Cawat Darurat harus tertulis dan "up date": dan dap<lt dih<1«l setJ. Laboratorium mini: . Protokol gawatdarurat dan korbsn ProtokClll'cn..ct'· "Thoracotomy set' "Laparotomy set + extraset" Benang-benang z'jarurn scgala jenis + ukuran Alat-alat kearnanan dan pendidikan : Pernadarn kehakaran Ember .lIIgg11lang.ke luar ---> radio.ke dalam Perp usta kaan Manual Zbuku F't'doman pl. .skin " pelvis Gips Ob-Gyn set.. \') t[) ..'ll<lnggulangan pcndcrita penanggulangan bencana. Dj + Th/. teIepon ."kick bucket"..Perban sega!a ukuran Sonde larnbung Foley kateter segi1la ukuran Venaseksi x-ray Perban set untuk luka bakar set untuk diagnosa dan terapi : Perikardiosintesis Alat-alat tambahan Alat-alat pcriksa-pcngobatan "Slit lamp" THTsetDj + '1'11/. 5). Boneka untuk latihan "Audiovisual jtraining aids".Hb mata • Ht * ICllCO * urin .gula darah "Bone set" "Minor surgerv :. Lavase peritoneal set "traction kit" : ~ bone ".lp waktu hagi seruua personalia .

(21). a). (17).A) Kebakaran Listrik mati Huru-hara Bencana di Rurnah Sakit! di luar Rumah Sakit Resusitasi kardiopulrnoner di Rumah Sakit Protokol tentang tiap-tiap penyakit sesuai yang dianut unit-unit lain yang bekerja di Unit Gawat Darurat. (3). Sistem PPCD di UCD. (14). (19). Kriteria . (15). (16). (22).O. d. Harus mcngikuti pengcmbangan dan kongres-kongrcs seminar . (25). (8). 6). (6). Pendidikan Unit Gawat Darurat harus mampu meningkatkan rnutu Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bagi personalianya. (10). b). (20). kota dan nasionaJ Triage Sis tern rujukan Penerirnaan penderita Sistern asuransi I'erkosaan Tindakan kriminil "Child abuse" Keamanan . (13). rumah sakit dan rnasyarakat yang dilayaninya. (7).Kriteria: a). Protokol yang harus ada adalah : (1).psikiatri Kontaminasi radioaktif Keracunan Penderita tak dikenal Catatan medis Penyakit rnenular Visum et repertum Rahasia rnedis Surat cuti Resep apa yang boleh diberikan Resep obat narkotik Kernahan di Unit Gawat Darurat Mati waktu tiba (D. (26). (4). (9). (23). Unit Cawat Darurat adalah sesuai kelas Rumah Sakit Haws rriempunvai program tempat belajar mahasiswa dan perawat baru orientasi dan induksi bagi personalia ilmu rnelalui kcpustakaan. (12). (18). (24). (11). (5). RS. (2). b).

d). e).

Harus mampu rnelakukan riset derni perhaikan Penilnggulangan Penderita Gawat Darurat di unitnya maupun masyarakat. Sernua (1). (2). (3). (4). (5) (6). (7). (8). personalia minimum harus mahir dalam penanggulangan:

"air way" (A) "breathing" (B) "circulation" (C) menghentikan perdarahan balut - bidai transport pengenalan dan penggunaan membuat/baca ECG

obat

7).

Evaluasi Evaluasi mutu Penanggulangan dan berjalan terus. Kriteria: a) Statistik dibuat dan dievaluasi secara komprehensif. Pcnderita Gawat Darurat harus komprehensif

Interpretasi: (1). akses untuk masyarakat (2). adanya sarana (3). kwalitas pelayanan (4). rnutu dan kaitan komponen-komponen (5). biaya yang sesuai b). c). Kasus-kasus yang menyinggung/ mencari jalan keluar. Pertemuan

dalam

PPGD

aneh/jarangdicatat

dibicarakan

untuk

staf
.. kelemahan Unit Gawat Darurat mencari jalan keluar kesepakatan dan menyebar luaskan hasil pertemuan pada semua staf lIpaya perbaikan dan peningkatan mu tu pela yanrui

Interpretasi : Untuk meneari:

..

*

b.

Unit Pelayanan
1).

Intensive

Filosofi Intensive Medical Care (J.M.C) sebagai suatu akrivitas khusr.rs mendapatkan legitim2lsi bukan oleh karena kompleksitas peraiatan dan pcmantau.m pasicn. tetapi oleh karena pasinn sakit krit is

(Critically ill) selalu berakhir pada suatu "final common pathway" dari kegagalan sis tern organ sehingga dibutuhkan bantuan terhadap sistern respirasi, kardiovaskular, renal, nutrisi dan organ vitallainnya baik tersendiri rnaupun terkornbinasi. Sebagai contoh untuk pasien dengan gagal nafas hipoksemia tidak menjadi persoalan apakah paru-parunya mendapat trauma dari roda mobil, teraspirasi asam lambung, atau terserang virus, manajemen suportif dan hasil akhir selalu akan sarna. Ini salah satu contoh "suatu pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan jelas" oleh cabang spesialisasi I.M.C. Aplikasi yang tidak terkoordinasi dari multi-disipliner tidak hanya merugikan pasien. tetapi personil perawatdan tenaga profesimedis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit Intens Care "terbuka" yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. Pada hakekatnya tidak merupakan persoalan apakah seorang sepesialis penyakit dalam, bedah anak atau anestesiologi yang mengelola suatu LCU sepanjang spesialis tersebut mernenuhi persyaratan: a). Pengetahuan
b).

"Intensive Care"

Keterampilan Komitmen waktu

c).

Hanya dengan ke 3 syarat tersebut akan terdapat pelayanan yang komprehensif. Keahlian ini bukan merupakan hobi, juga bukan pekerjaan sarnbilan ("part-time"). Harus diingat mendapatkan konsultasi merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan pasien-pasien saki t kritis. Meskipun demikian merupakan kewajiban seorang intensivis bertindak sebagai "interlocutor", mengkoordinasikan dan membawa semua informasi dari berbagai konsultan untuk kepentingan pasien. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang intensivis adalah bayangan ideal seorang dokter di masa Iampau, yaitu mernbawa seorang dokter kembali ke "bedside" untuk mengelola pasien secara utuh, berkonsultasi dengan kolega dokter dan keluarga pasien. Di samping pengelolaan pasien sakit kritis yang memerlukan penggunaan alat-aJat dan teknik-teknik bantuan hidup (Tife support"), intensivisjuga harus menurnpahkan perhatian z'mengarahkan usaha sernua dokter kepada problema multi-faktorial pasien. Seorang intensivis harus rnerupakan seorang manajer, diplomat dan guru, dan dalarn rangka mengaplikasikan usahanya harus terdapat

piramida

dari

berbagai

tenaga

lain

seperti

perawat.

f isi o-

terapis. teknis-teknis,
Pasien-pasien dengan gagal alat-alat bali jika

dan lain-lain.

Tanpa bantuan tersebut maka usaha seorang intensivis
yang masuk yang satu atau lebih gagal sistem / organ dilakukan utarna bantu. Oi samping sistem/organ terdapat akut,

akan sia-s ia.
pasien dan! atau pulih kern-

ke suatu ICU harus merupakan mernbutuhkan itu harus pemantauan harapan
tepClt

atau ancaman

terClpi cian barituan

yang

Fungsi a). b). c).

ICU adalah didapati

membcrikan

bantuan

fisiologis

yang

dibutuhkan

sampai

hasil :
problema dasar

Pasion sernbuh spontan Terapi spesifik dapat mengatasi Pasien meninggaL

Perlu juga ditekankan bah wa filosofi "Coronary Care" tidak sarna dengan filosofi "Intensive Care". Hal essensial dari "Coronary Care" adalah "surveillance" dan se-sekali melakukan intervens i aktif dan bantuan sistern mu1ti-organ. Difinisi lain "ICl.I" adalah tentpat melahlknll bantam! (support) "nku]" dan interoensi tcrapeutik: delIgml aktinit a« dan keriinnan yrzJlg tidak sesuai untuk atmosier "11011 strees" dan "Coronary Care Unit" ideal. Bentuk pengelolaan bentuk pengelolaan lCU sering mcnjadi pertanyaan. leU dengari "closed unit" yaitu: kepala unit "full time"

dengan wakil-wakiln ya bcrtanggung jawab penuh terhadap semua pengelolaan pasien dan pendidikan dalam unit, sering menimbulkan konflik autoritas dengan dokter primer konsultan. Suatu K'U yang "semi-closed" yaitu dengan kepala unit bertanggungja wab terhadap kualitas total pengelolaan pasien dart pendidikan staf, mungkin lebih baik dalam hal mengurangi konflik, tetapi di atas segalagalanya manajemen yang terarah dan jelas merupakan hal yang: tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini penting bukan hanya untuk pengelolaan pasien juga untuk mempertahankan moral staf dan koordinasi Rumah program-program sakit tidak hanva kompleks. bertanggung jawab mcnvediakan

Iasilitas dan tempat, tetapi juga bertanggung jawab legal agar Iasilitas leU digunakan secara tepat dan balk. Old, karena ilu, terdapat tendensi akhir-tendensi ini di rurnah-rurnah sakit dengan pelavanan sck undur (Lin tersiL'I' untuk nununjuk pcrsllnil medic:; ICU "full time" medis
("m,llId,ltorv

(intcnsiv

is) dari
-n").

pada

hergantung

pacta

praktek

"la lsscz-fa ire"
lllliC,U]tdtil

a la u krharu

san

me lakuk an k o ns u lt as i

pelayanan K'U Pelayanan leu primer (standard minimal) Mampu melakukan resusitasi dan mernberikan ventilasi bantu kurang dari 24 jam serta mampu melakukan pemantauan jan tung. Kekhususan (1). Ruangan yang hams dimiliki : tersendiri: letaknya dekat dengan karnar bedah. Memiliki s('orang doktcr -:pcsia1is anestesiolllgi scbagai kl'PilJ'l . memiliki staf khusus. Kemampuan minimal leu adalah Sebuah leu hendaknya memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung pam Pengelolaan jalan napas. rUrlng darurat dan rU<1ngal1pcrawatan lain (2). Merniliki kebijaksanaan r kriteria penderita yang rnasuk keluar serta rujukan (. teknisi alat-alat pemantauan. trauma atau kornplikasi-komplikasi. Intensive Care Unit (Unit Perawatan/Terapi Intensif) suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit. Klasifikasi a). peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala K'U: tenaga ahlilaboratorium diagnostik. alat untuk menopang fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik. Staf khusus adalah dokter.2). terrnasu k intubasi trakeal dan penggunaan ventilator Terapi oksigen Pemantauan EKe terus menerus Pemasangan alat pacu jantung dalam keadaan gawat Pemberian nutrisi enternal dan parenteral Pemeriksaan Iaboratorium khUSLlS dengan cepat dan menyeluruh Pernakaian pompa infus atau semprituntuk terapi secara titrasi Kernampuan melakukan teknik khusus sesuai dengan keadaan pasien Mernberikan bantuan fungsi vital dengan alat-alat portabel sclarna transportasi pasien gawat."1). perawatan terlatih atau berpengalaman dalam "Intensive care (perawatan/terapi intensif)" yang mampu memberikan pelayanan 24 jam.

F). dokter jaga minimal mampll RJP A.F) . Kekhususan yang hams dimiliki : Merniliki tempat khusus tersendiri di dalarn rumah sakit Merniliki kriteria penderita masuk. kekhususan yang harus d irnili ki : Memiliki ruangan tersendiri. rllang darurat dan ruangan perawatan lain Memiliki kriteria pasien masuk. . keluar dan rujukan Merniliki dokter spesialis yangdapat menanggulangi setiap saat bila diperlukan Memiliki seorang kepala ICU yang bertanggung jawab secara keseluruhan (intensivis).I3. (5). c). Mampu mengadakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien :pera wa t 1 :1 pada setia p saat jika diperlukan Memiliki perawat yang bersertifikat terlatih perawatan/ terapi intensif Mampu memberikan bantuan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pernantauan invasif dan usaha bantuan hidup Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. keluar dan rujukan Mern iliki dokter spcsial is yilng dapatme!lilnggulangi sotiap saat bila d iperlukan Memiliki seorang kcpala ICU yang bertanggullg jawab secara k esel ur uhan (intcnsivis) dan doktcr jagil vang minimal mampu RJI' (i\. Rurnah sakit umum klas C (2). rontgen. rontgen. Mampu melayani pemeriksaan lab ora tori urn. Konsulen yang membantu harus selalu siap dipanggil (6).' tempi intensif. kemudahan diagnostik dan fisioterapi.B. melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks.CO. kemudahan diagnostik dan fisioteri selama 24 jam Memiliki ruang isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi. Pelayanan leu Sekunder (menengah) Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama.CD. berdekatan dengan kamar bedah.(4). Pelayanan leu tersier (tertinggi) Marnpu melaksanakan sernua aspek perawatan.E.ErF.r:. Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan resusitasi jan tung paru (A/B. Memiliki jurnlah perawat yang cukup dan sebagian besar telah terlatih (7).D. Rumah sakit yang dapat mempunyai ICU primer. adalah : (1). Rumah sakit umum klas I3l b).(.

Penyakit (b). Sistem bantuan tubuh (d).kemudahan diagnostik dan fisioterapi seIama 24 jam Merniliki paling sedikit seorang ahli dalam mendidik staf perawat dan dokter muda agar dapat bekerja sarna dalam pelayanan pasien Merniliki prosed ur untuk pelaporan resrni dan pengkajian Didukung oleh semua yang ahli dalarn diagnostik dan terapi. Memberi bantuan dan mengambil aIih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan penatalaksanaan spesifik problema dasar (3). prosedur diagnostik dan terap_i khusus. im ob ilitas berkepanjangan. s tirnu lasi berlebihan dan kehilangan sensori (5). Prosedur pelayanan a). perawatan/Terapi (leU) Ruang hngkup pelayanan yang diberikan di leu (1~. Penatalaksanaan untukmencegah kornplikasi akibat kama yang d a la m. Member ikan bantuan emosional tcrhadap pasicn yang nyawanya pada saat itu bergClntung pada fungsi alat/ mesin dan orang lain. tenaga rekam medis. rontgen. Pemantauan itu sendiri (4). Pemantauan fungsi vital tubuh terhadapkomplikasi (a). seperti ahli penyakit dalarn ahli bedah saraf.Memiliki lebih dari satu staf intensivis Mampu rnenyediakan staf perawat. perbandingan perawat: pasien lebih dari 1 : 1setiap shift untuk kasus erat dan tidak stabil Merniliki lebih banyak staf perawat perawatan/terapi intensif Mampu melakukan sern ua bentuk perawatdn/krclpi intensif bersertifikat pemantauan terlatih dan Mampu melayani laboratoriurn. Penatalaksanaan spesifik (c). Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kernatian dalam beberapa menit sarnpai beberapa hari (2). tenaga untuk ilmiah dan penelitian Merniliki alat-alat untuk pemantauan khusus. -_i () . ah1i kebidanan dan lain-lain Memiliki staf tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi.

ginjal ataulainnya). ['(lsicn tidak rnernerlukan hgi terapi intc[)<.'iiln .sif atau non invasif sdl1ngga komplikasi berat dapat d ihindarkan atau dikurangi (conroh: rase" bcdah besar dan luas: pasi--n dengan penyakit jantung. pasicn tidak stabil yang mcmeriuk au terapi intensif scperti bantuan ventilator.erLl manfaat terapi inlcnsif sang(lt keei!. perawat dan tenaga adrninistrasi rurnah sakit Pelayanan ICU meliputi pemantauan dan terapi intensif.ikan mornburu k <.'jl s. kerusakan susunan saraf pusat dCllgan koadaan vegdatif). syok scp tik ).i. sekalipun mantaat leU ini sedikit (contoh: pasicn dcngan tumor ganas metastnxis dengan kompl ik_asi in febi. Persyaratan masuk dan keluar lCU hendaknya juga d idasar kan pada manfaat terapi di leU dan harapan kesembuhannya Kcpala leu atau wakilnya rnemutuskan apakah pasicn memenuhi syarat masuk feu dan kcluar. karena it'll secara umum prioritas terakhir adalah pasiendengan prognosis buruk untuk sernbuh.~('llIiliim (lI. pi'lrU.lder yang lld'lll:.11 vJng kcd un por lu pE'r.lndikasi masuk dan keluar leU Prosedur rnedis yang menyangkut kriteria rnasuk dan kcluar leU seharusnya disusun bersama antar disiplin terkait oleh sernacam tim terd iri dari dokter. (3).. Indikasi masuk leu (1). Tidak perlu masuk leu (1). d. (2). (3).ij knn-ria k--adaan mombaik ntau terapi klilh gag81 dan pruln'<.ll nil pas berat.. a). tamponadejantung. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium) kccuati keberadaannya diperlukan sebagai donor otgan. Fasit. pernberian ohat vasoaktif melalui irrfus sccara torus mcnerus (contoh: gag. surnbatan ja'lan napas). (2). Pasicn yang memerlukan terapi intensif untuk rnengatasi kornpl ikasi-komp likasi akut. [ndjkasi keluar ICU (1). da iam waktu de-kat . bcd'lh jantung terbuka. Pasien sccara medic. b).l"m 11. Pasien rncnolak tempi bantuan hidup.1i.ikit berat. tidak ada harapau dapat d isern btl hkan Iagi (contoh: karsinoma stadium akhir. pasc. Pas ir-n yang mernerlukan pernantauan inter... kepala leU atau wakilnva akan memutuskan pnsien mana yang harus diprioritaskan. j).

ICeu. kareria trauma) dan sangat yang keeil (c). Masvarakat (OUKM) resiko untuk Dana Upaya Kcsehatan Sumber swastay perusahaan swasta yang berpotonsi tinggi untuk terjadinya kccelakaan dapat diwajibkan menycd iakan biaya untuk FPC!). PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN) penderita masyarakat. Sarana dan prasarana Unit-unit Khusus Unit. . Bi!a pad a pemantauan intensif tcrnyata hasilnya rnernerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama. Standard ilmu terkait. Renal Unit. KOMPONEN Sumber darurat dari: a. Pasion usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak mernberi respons terhadap terapi intensif sclama 72 jam. g. (SUB-SISTEM dan Manajemermya K'U (lihat lampiran IV). Terapi intensif tidak diteruskan Iagi pada : memberi manfaat dan tidak tidak perlu (a). karsinorna yang menyebar.ber dari pemerintah jasa Marga untuk Asuransi Asuransi lintas Asuransi Pegawai Negeri b. d. c. jan tung terminal. Pasion d engan bermacarn -maeam diagnosis seperti P POM. (3). (0). f. Apabila tempat di JeU penuh. gawat terdiri pembiayaan untuk penanggulangan dapat berasal dad pemerintah dan pusat dan daerah Surr.(2). Pelaksanaan ketiga butir terakhir ini hendaknya dilakukan atas persetujuan dokter yang mengirirn. c. Pasion mati otak atau koma (bukan menirnb ulkan keadaan vegetatif kemungkinan untuk pulih. kecelakaan jalan to1 khusus untuk korban kecelakaan lalu jasa Raharja tenaga keria (ASTEK). hendaknya dengan persetujuan dokter yang mengirim. ada pasien lain kritis yang rnemenuhi syarat prioritas pertama. Burn diserahkan kepada disiplin 3. maka pasien yang tidak kritis tetapi rnernenuhi kriteria keluar terpaksa dikembalikan ke ruangan.

558/Menkes/ SK 1J 9S4 tentang Organisasi dan tara Kerja Departcmen Kl's('h.LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK IN DONESIA NOMOR : 01521YAN.MED/RSKS/1987 TFNTANG STANDARJSASI KENDARAAN PELAYANAN tHEDIK MENTERI KESEHATAN REPUBLJK INDONESIA Menimbang L bahwa dalarn rangka meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan mr-dik dan kesehatan diperlukan jenis kendaraan dengan p"'r'-'varatan khusus. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.jalan Raya.1l1.m Mcdik. Undang-Undang Lalu-Lintas dan Angkutan. ..' I .1tan RT.111 SLll1darisasj . 2.1. S Undang-Undang No. 034iBirhub/ I 972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit: Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rf No. 5.. 4.\'i". b. 7. 032/Birhub! 1972 tentang Referal System. R! !. Mcntori Kcschatan Pci<lv.21 tahun 1984 ten tang Repelita IV. Mengingat I.9 Tahun 1960 tt.Llr. 99a/Menkes/ SK/III/l982 tentang Sis tim Kesehatan Nasional: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 134/Menkes/ SK/IV 11979 tentang Susunan Organisasidan Tata Kerja Rumah Sa kit Umum. ..('nt<lng l'>~'utllS("lJl i<.1. diperlukan standarisasi pcrlcngkapan urrium d an Il)ctiis pada kcndaraan khusus tersobut.'ntang Pokok-Pokok Kesehatan: Keputusan Presiden No. untuk keseragarnan dan peningkatan mutu pelayanan rnedik.

L Inspcktur Jenderal Departemen Kesehatan RJ. Mohamad Isa Tembusan disampaikan 1. 7. Perhubungan Darat Departemen Perhubungan J~.I. Kereta jenazah.jen. Arnbulans Rumah Sakit Lapangan. 6. Arnbulans Transportasi. 5. 4. INDONESIA ttd. di lingkungan Departemen Kesehatan RJ. Spesifikasi Kendaraan pada diktum pertarna sf'perti tor larnpir. Hal-hal yang belum diatur dalarn diktum Keputusan ini mulai berlaku akan diatur kernudian. Kepala Direktorat Lalu Lintas Mabes FOLRI Kakanwil DcI' Kl's 1\I I'ropinsi di seluruh Indonesia Pengurus J\s()si<lsi I'('["kit Kcnda [. MENTERI KESEHATAN REPUBUK Direktur J_enderal Pelayanan Medik.: 9.Pertama Di dalam Keputusan ini diatur tentang jcnis Kendaraan: 1. 4. Kedua Ketiga Sernua Kendaraan khusus yang sudah ada harus dilengkapi sesuai Keputusan ini dalarn waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan ini ditetapkan.n. Para Dir. Bapak Menteri Kesehatan R.- . 5.r. Dr. H. Dir. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak.1-1 .1 11 Indonesia P{'rlinggill.1. 2. 3. Ambulans Cawat Darurat: 3. Keernpat Kelima sejak tanggal ditctapkan. Sekretaris [enderal Departemen Kesehatan R.jen. 8. Ditetapkan di : J a k art a I'ada tang-gal : 24 Pebruari 1987 J\. kepada Yth. 2.

4. Sclarna meng-angkut pcnderit a hanva bo'lch l1lL'nggunakan lampu rotator. 13. 16. 12. Lemari obat dan peralatan. Teknis 1_ 3. kemamp uan Pl'CD. T?lta Tertib 1. DC diruang penderita. penampungan air limbah. Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang mernantulkan sinar. 2. Kend araan roda empa t ata u Iebih d ('ngan sus pensi lunak. 11. 14_ 15. Persyaratan lain sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku. Air bersih 20 liter. 9. Dilengkapi sabuk pengaman. Ruangan penderita eukup luas uantuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Perala tan Medis P3K Obat-obatan sederhana.cairan infussecukupnya. O. Tempat dudukbagi petugasdi ruangan penderita. Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. 3. 5. 7_ 8. 1 (satu) supir dengan Komunikasi 1 (satu) I'erawat dengan kemampuan P3K dan Tujuan Penggunaan Persyaratan kendaraan: A. . 2. ~. Sirine satu nada. B. 6. 1. Lampu rotator warna merah. wastafel dan. Scmua porn luran lululintas harus ditaati. Tabung Oksigen dengan peralatannya. 10. K'-. Sewaktu menuju tempat pencierita bolch mcnggunakan sirene dan larnpu rotator. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia. Ruangan penderita rnudah dicapai dari tempat pengemudi. Larnpu ruangan seeukupnya.L AMBULANS TRANSPORTASI Pengangkutan penderita yang tidakrnemerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatanselama dalam perjalanan. Radio Komunikasi. 2. Medis 1. Stopkontak khusus untuk 12v.'ct'pat<11l kcnciarnan sclinggi 40 Krn eli [alan hiasa dan NOKm eli jalan bebas harnbatan .

16. Radio kornunikasi. 8. semua 19. untuk 12 v DC di ruangan Larnpu ruangan secukupnya dan lampu-Iampu sorot bergerak untuk menerangi penderita yang dapat dilipat. Air bersih 20 It. l3uku petunjuk pcrncliharaan buhasa Indonesia. 6. AMBULANS GAWAT DARURAT Pertolongan PPGD Pra Rumah Sakit Tujuan Penggunaan Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan keternpat tindakan definitif / distabilkan Rumah Sakit. 11.II. 13. 4. Tcknis Tekni= : 1.lt1 rcsquc. 3. Larnpu rotator warna merah dan biru. Sirene 2 (dua) nada. Stop kontak khusus penderita. Dilengkapi sabuk pengarnan. Lemari untuk obat dan peralatan. Kendaraan lunak. 10. . Tanda f~C'Ilg:l'n(l1 d ari bahan yang mernantulkan. 7. Persvaratan lain sesuai undangan yang berlaku. I k. Meja dapat dilipat. 2. wastafel dan penampungan Iimbah. Cantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. Pt'r<liat. Ruangan penderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat petugas diruangan penderita. 9. 15. 14. Ruangan penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan tindakan. 12. roda ernpat ataulebihdengansuspensi tidak dipisahkan dad ternpat bagi Ruangan penderita pengemudi. peraturan perundangalar berair 17. Persvaratan /\. 5.

2. 2. Ruangan penderita cukup tinggi schingga pdugas dapat bcrdiri tegak untuk mo la kukan tindakan. 1 (satu) supir. 4. Ruangan penderita tidak dipisahkan dari temp at pengemudi. Teknis kendaraan 6. dapat digabungkan dengan ambulans-ambulans sejenis dan ambulans Pelayanan Medik bergerak membentuk suatu Rumah Sakit Lapangan. Sewaktu menuju tempat penderita boleh rnenggunakan sirene dan lamu rotator. Tata Tertib 1.B. . Suction pump manual dan Iistrik 12 v DC Perala tan EKG dan monitoring lainnya. Dilengkapi sabuk pcngaman . Obat-obatan gav'iat darurat dan cairan intus secukupnya. 3. 5. 1 (satu) dokter gawat darurat (tergantung keadaan). AMBULANS Penggunaan RUMAH SAKIT Tujuan Dalam keadaan sehari-hari melaksanakan fungsi ambulans gawat darurat. 2. Me dis 1. 4. D. Semua peraturan lalu lintas harus ditaati. Tabung oksigen dengan peralatan untuk 2 (dua) orang. 3.'1. 3. perawat gawat darurat dengan kernampuan mengemudi dan kornunikasi. LAPANGAN C Petugas 1. Ruangan pcnderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. . 3. III. : 1. Bila diperlukan. Selama mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator. 1 (satu) perawat gawat darurat. Kecepatan kendaraan setinggi 40 Km di jalan biasa dan 80 Km di jalan bebas hambatan. Peralatan rned is P3K Perala tan resusitasi lengkap bagi orang dewasa dan anak /bayi. Minor surgery set. Tempat duduk yang dapat diatur Idilipat bagi petugas diruangan penderita. 2. Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak. Persyaratan A. 7. 6.

Se w ak t u rnenuju temp at p encler ita b o le h ll1enggulhlkan siren!' dan larupu rotator. 16. 5 6.mli KI'\(T.-wn se m u a a la t berbahasa Indonesia. 17. 14. . Air bersih 2111t.ls harus d it.7. 3. Tata Tertib 1.l) Km di jal. 19.). 9.1 (satu) perawat gawat darurat. Perala tan rcsusitasi Iengka p bagi dewasa dan anak Zbavi Suction pump manual dan listrik 12 v DC. Lampu rotator wama merah dan biru.Hl lampu rotator. Minor surgery set. ['('rablan EKG dan monitoring lainnya. l'era latan modis P3K... 15. C Petugas 1. Sirene 2 (dua) nada. 12.l]l bi. Medis 1. 3.CIrlU<l pcraturan bill lint. Gantungan infus tcrletak sekurang-kurangnya 90 em di alas tempat penderita.l. Tenda Japangan Iengkap. Pcrsyaratan lain sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.gi. 11. Bu k u pdunjuk pemelihClr. B. 20. . 4. Meja dapat dilipat. Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya. Lampu tuangan secukupnya dan larnpu-Iarnpu sorot bergerak untuk mencnrangi penderita yang dapat dilipat. D.. Stop kontak khusus untuk 12 v DC di ruangan penderita. Perala tan resguE'_ Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan. Selr\Ind rncngangkul penderi!" h a n va boleh Illcnggunak.'dLi<lC1n).. 1 (satu ) dokter gawat d ar ur a t (tergantung kl.LIIl SI) Kill eli jilLlI1 heb. . L. 1 (satu) supir. Radio kornunikasi.]q . 8.ltan kendarclan Sdint. 2. 2. :-." harnbatan. 10. 13.wastafel dan penampungan air limbah. 18.J. Tabungan oksigen dengan perala tan untuk 2 (dua) orang. perawatan gawat darurat dengan kcmampuan mengemudidankornunikasi. 7.. Leman untuk obat dan pcrala tan.

Tc k n i s Kendaraan roda empat atau kbih dengan suspensi lunak.Iis j")nkkr C Pctu. Supir dcngan kernampuan P3K dan kornunikasi Pc r a w a t an dengan kern a mp uan PPCD dan kern am puan khusus lain scslIai tujuan peng~lIna.!s pdr.as bin s('su<li kebut uhan. Sirene 1 (satu) nada Lampu rotator warna biru Radio Komunikasi Persyaratan Iain sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Lampu ruangan secukupnya dan 2 (dua) buah larnpu sorot bergerak. AMBULANS Penggunaan PELAYANAN MEDIK BERGERAK salah satu upaya pelayanan sebagai medik Tujuan Melaksanakan dilapangan. cairan infus secukupnya Perala tan upaya pelayanan mcd ik sesuai tujuan penggunaan kendaraan.l mc.lIl kt'IHhri)il)i (jurnlah SC:-'lIili kebutuhan).IV. Meja kerja yang dapat dilipat. ['dug.I'. Per svaratan kondaraan : A. Dilengkapi sabuk pengaman. . Ruangan kerja cukup luas untuk tujuan penggunaannya dan cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk bekerja. 1 Ternpat tidur / tand LI bagi sekurang-kurangnya (satu) penderita. Tempatduduksesuaikeperluan di ruangan kerja. Stop kontak khusus untuk 12 v DC Cenerator 220 v DC dengan peralatannya. Bu ku petllnjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia Public Address System Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan B_ Me dis Tabungan oksigen dengan peralatannya Perala tan medis P3K Obat-obatan sederhana. Dapat dipergunakan ambulans transportasi.

lS.D. Pcngangkutanjenazah kcndaraan : Keridaraan roda empat atau lebih T e k n is Ruangan jenazah pengemudi jenazah terpisah dengan ruangan satu peti Dapatmcngangkutsekurang-kurarignya Dilerig kapi sabuk pl'ngamilll Tcmpat duduk Iipat bagi sokurang-kurangnya (ernpat) petugas di ruangan jenazah Sirerie 1 (satu) nada 4 Lampu rotator w arna kuning Tarid a pengenaJ mernantulkan B.lllya dan SO Km/jellJl di jalan bcbas harnbntan V. C Tata Tertib Sirene hanya dipergunakan pada waktu bergerak dalam iringan (konvoi) jenazah dengan mentaati pcraturan lalu lintas tentang iringan (konvoi).m: Persvaratan A. j(1 . Bilarnana tidak mernbcntuk iringan hanya belch mempcrg unakan lampu rotator dan sern u a per aturan lain lintas harus ditaati. Tata Tertib Lampu sirene hanya digunakan dibutuhkan Lampu rotator digunakan kernbali dad tempat tujuan Semua peraturan bilamana sangat pergi dan sewaktu lalu lintas harus ditaati Keep!'<l tan kcndaraan sctinggi-tingg:inya 40 Km / jam di jalan bi. Petugas 1 (satu] supir Petugas pc-ngawal jcnnzah sesuai kebutuhan. ker eta [cnaznh d a r i bahan cahaya. KERETAJENAZAH Tujuan pengglma. Kccep<1tan tcrtinggi eli jalan biasa adalah 40 Km/ jam dan di [alan bebas hambatan 80 Krn/jam.

PFGD latihan lengkap I'cmbantu rnedis (paramedis. UDARA Ddibrilatur/FKG Pulserneter Kotak Suction Peneumatic respirator.lJ ) tUJl)~ [on i:-.l'C. 1 Vacum matress. infus (obat korban 1 keranjang tandu. (inflatable) Kotak obat-obatan (shok luka bakar.Jenisnya sa rna dengan di atas hanya telinga (Ear Protector) kcbaknran mayat.l\V. c). Peralatan a).LAMPI RAN II AMBULANS 1. Heli kecii 3 (tiga orang) Pilot yang mendapat Dokter umurn. Heli kecil 2 tandu. Monitur alat dan obat rcsusitasi splints keracunan. I'esawat hX('d Wing: Tcrh.l t (In inirnal scpcrti HeJi j I . n-u I:w<.Jllb~l!llu winchman. Pilot dibantu navigator.uaikan. untuk korban/bag-bag komunikasi jurnlah ditarnbah.. orang awam yang te l ah mendapat latihan FreD lengkap).radar operator I iurnlah dic.lll l)i~'. 1)(.. 2. Hdi besar . Personil:' a). mempunyai pengetahu<1n d i lapangan. medic. PC:-.[H Jumlah disesuaikan Copilot. b). pendarahan dan lain-lain) terrnasuk dan alat infus) Kotak pendingin Kantung Non medical equipment: Baterei Pelindung Pcmadam Radio I 'v rotehnik b).

Syarat penggunaan Diperhatikan : 1) fasilitas kendaraan (lapangan terbang.3. ") *) *) 4.300 km. Syarat pesawat : *) noise level (bising dipermukaan) vibrasi akibat gerakan rotor temperatur dalam Cabin sebaliknya twin engine Dengan persyaratan tcrtentu sesuai jenis : pesawat. -12 . Lebih dari jarak itu harus dilakukan oleh Fixed Wing. hellipad) 2) jarak yang harus ditempuh Untuk helikopter bila berjarak maksimal 200 .

.....g § VJ -C"'i :s 'l) E ..~ E 0:1 ..' .. j' z ...u z o ii u 0) 0- .. ... « S E-.. .::...

:G 8 'C' .3 . E ilJ _". ::l E '" :..l ..... 0... ilJ '!) 0 0- 0 -0 OJ N '2 .. (/') on . :.::..'" . ::i v .s u..~ c Q) ~ '" OJ -0 0 ... V'l 0on ::l 8 .: 0 "0 .D OJ .~ c.2 "" S c '" Q) c ... o(j "0 <I) E "0 _".! b!J "'" ':i) 1) J) < E :. '" '.L (/') EO 0...!G ..- 'Cj" -...g :§ s::: Q) C c .s. c c _".. -.0 r-: :9 00 -'t J..... g ::l . '" ".. "" "" E .j '" ::l '- 0 Q 0. </> '" c:: 'C'j s::: '" .:.:j "0 ::) r- ~ E OJ -d- -c: . E 0.:. ~ '" s::: >.:: d '" cG . bl) . '" ..l. Of) . E s::: :'2 ..D s::: '" oj ':d '" c~ >... '" 01) '" s::: OJ OJ b!J -0 d 0 .: (3 c: OJ :=J ::l . 0 '" ill E ~ en ':.:.. ~ :l CJ) a V . '" .l 0 "2 -ct- E OJ EO -0 If) IU OJ U') :l '" '>:' '" 'fJ ~ 0 E ill :'2 OLl ill -0 '" s::: E V OJ _".s: oj 2 <.. s::: r-: .::I V en CJ 2S if> OJ Q ('5 OJ.::! -0 d Q... c.>< OJ C ::l p....~ '" ::l .:. '" C6 "" 2 E _c c.i OJ E v :-::2 tri E :-s .:!? '" '" '2 . ~ E :'2 -..L 0 s::: .:j . ~ -.. s::: ~ ilJ E E OJ ex: E ::l 3 «i c: o or.::: s::: . U S :J "" s::: 'f.....: .... E ilJ s::: ~ . t:: t:: oj -0 ."2 00 s::: ilJ E8 0 '0- < '" '" c: E rn s::: s::: '" '" '" :0 c '" '" c: n 0:1 d c-.3 U o(j c '" . 0::l OJ VJ ...L -0 ::... c.: ..:.s c: :...s. .. .5 ~ '" ~ C ... -'" Q <'0 '" E <U .:. 0...>< O/J ilJ E <l. :-::2 <l.:j Vl '" E s::: . -.-c.D <!J Q VJ s::: on s::: ..:.j >..-.:..:. "0 "" E '2 '" E c-..a s::: '<. o-.... -0 OJ E E ::2 OJ -q: v-i ~ ..j C '" s c...'.: 00 . !<: >..5 S C ..5 '" ::l Q..D ilJ '" ilJ <!J r.~ ~ ~ VJ a s::: s::: 0:: ' OJ b!JO ill -0 s::: (/') u.~ _". -.:.0 OJ '" d ..0. <'0 :.::j c:: '" .l -0 '" c s::: b!J :l -c E :'2 <I) r-: :-s 00 ::l E v 'C'j >-.: . .. is '" ~ c:: ::l '" 0~ 'J.ex: b!J 'C r~ '.

:2 t1J ci .u u E .

.. 10: .8 E . '" .~ .I xr: ll.-.j . -c-t - '" c.-i c.. (!) E -0 c <l.. -<.3 ro 10: "/J .. (/J E :J :J ~ CI) . <IJ E '" (-.:t (l) ..:.... r-I ~ E <!) -0 E :g (l) E (!) -0 . -- CJ ro S .c ro .l < .:J 0 -_ -0 (!) E E <IJ ~ rl rc. 1.8 v c.) . ro 0 c.. ~ ~ ~ .:t ":l1J U ..:. .....:: on -0 c.c -o::l '" c:: :2 . ..:: ro .D E :2 <I) E - ~ CU E -0 cr.E 0...

..."'2 :2 .._ :::l v) . vc . ***** .. §"'<t Z.c ::J :/l .:1 'I._ u ::l V .l C ro 0..._ ""0 E 0. " .0 .""2 EEE vv OJ QIJ".... ::l ::l ""0..:: blJ C l.oj .. gE V -0 ~ -0 .

:2 o '.. o .c: o blJ ::l d ::J c {"j c.. 0) + C:::> ~J ..::.. § 0.. '!J ..::.a :. :.:.. - . w 01).. 0. ::: X VJ 1> 0.01 6.Q c-.:: W ::l '- .:...::."j c:l Ui v ?:i <:( ::l o . .." ':JIJ "l) !:>IJ "':l Q g(1) :-:l ~E . OJ .... E 0) -::J rl E V :? p') V ... ..:: 00 . . ..: d .. .c C.....!2 C rr ..0 -'" £3 ::l '" '" . U C u c:... Q .::...3 "0 . "3 .) r.... c CJ < -r: ::l .. 0) a olJ ... 'X Cd .. >. ~ d '" L. .:: :n +2~ c :::..£ ... VJ '0. <":l c ~~ E -..:::: * = ::c "..c.) .. <":l -r: .._ 1- <':l ::l ':JIJ .. '" CJ1 >.. ::l .:: c:: c l... 'i. ?:i c -::J L >.0 0 v "a <":l ct.-c: ':JIJ C ._) u '/J cj "3....J >< ~ ~ ::c r I 'r W .o1J L..:: ':JJJ + ::.:!t- E til) C d ::l c:: .::: . e:j -::J > .-.. ':JIJ "0 <":l ::l :.> "J: . .0 W 'J o o OJ c ~ V 0/'.= Ui "0 cJ Q "J :r.. 00- :a ~ ~ oil d E o It) c es d 'w ~ ::l E !:: .:: ..

'" ~ 0. -= .. ---0 .__) 0 ~ I I I I I 0 0 f----< c:c: c.. ._ c Il) o.:1 Q <1) <l) '1) E .... .... .~ r-t _----- ---------~ U ~ ---0 'l) -u -- E 'l) -t p:) E v v -q (.t. d :::s '. . <-:l c: 'l) ....' Il) bJj >-: j...><: L.! E ~ ._ Vl '..::....:: c: . E . .. C 0 0.. U S ..j E E~~ c 'l) c: :!2 -::! c::I <1) Il) ~~ ::l <I) 'l)U Q....) (/) 'l) "'0 C d ::I ~ <1) <1) . 'l) ~ (J .- -u <':l 8 0 '-' '- c ~ Q. ::I ... 'l) <1l '(.......: L. 0.. c::I c-. ? ._ .0 '" . . -- '/l ~ :-0 ._ ~ ~ . ':. ._ <1l -. :::l .> E ---:::J -- I I [f) oc '<':l :::s ~ (. C... -0:. L.. -<._g ro --0 E c: 'l.. -a ::I Q E 'l) --0 c '" . u c-.:: Vl "0 ?.. c 0 0.c: -.c: c. « .. ~ C .. . d S C c: ...i u 'l) 0 ~ -.. 'l) c::I c: c. ~ c.. C d . P-. .. ~ '" d <1l C .._: Q _.IJ s 0 Q. . c: -:.. 'l) <C C<l :":I v . E -c.. -!<: 0 -~ S ---a . ~ '0 ~ ~ ~ --0 _:.. .. . .I <I) v U P-.. .0 -<: -"<: ~ G:I . '" '" ::I -oc V) 0::: oc > .._ -<U _... ..:~ '" c::I <1) IJ] <1l ._ U) c .5 <1l ''::: ::I c >. U G:I :. ::.U) <r: ~ U) ~ ~ P-... . .. ~ ~ E Q) ::I 0- c: f-. ~ -' :2 «: -.. 'l) --.i « ~ ~ ~ ::I E Q ... ..

ro ro .::J :.:. <Ll C ~ 0 0 . '" t:: c E 0 = :I'J 1) '. ._ 13 'a c.J ..!>o!! "0 :::l.0 0 .":':: Q) c..G ...:.:: c.:.>..:: c c: ro ~ =:.:.:. d ..I] 'r5 (.'" + :::1 «:l c . .:: '" :::1 ~ ...... . ~ bO. E ro >...!>o!! .. 00 .._ ro c: i:: '" «:l bO . -~ .E >...:: E E ~ It: & & 8 .J '" c.. ~ c:j 0 0. ..>-..:: E 0 ·5 1) rJ) ~ ro Cii E "«:l t:: «:l t:: .J Sfl .. '" .... :I'J . >.. c «:l ro ro . c:: .a ~ d ~ .. V) .:: ro ..:: ...~ ... !..:.o: ~ ~ < U) U) ::J 0.:3 E «:! ...:. 0 ~ r :g c'-...:: «:l u0 1) :..:... ~ o::l e.. 'lJ u ~...IJ 0.

:l < _] c ca rl cO v :. ('Ij ~ v. _'L O':l 0 E ::J t:: o d .::.3 c '2 ... z IX I.. ... _- )1 ..::l :: .: CUN'-O ~ . +t- ~ 0- C fI7.: .U Z UJ f- ~ ~ .....::: ..~ d g_ t .:: rr-r .-.::l C z: « »: cr.:._ 0 0.. ('Ij ·E c ../) d ('Ij ~ 2. Q.: c.: < ...r-r E rl E ~\Oo?E~ e . ~ g_E § **** *** ~ <{ U ~ u...u: ("j s:: c ("j . u s:: 2: Z. U) -< c: .

.... \0 E <!) 0- '7 '-C 1\ E ..0 0 ro "0 c: ::P @ ~ C <tI U -e ~ < '0 ....:::s ......:::s ell .. .. -'-' :...:::s ~~ c: bi) 3: . co 8 "0 .. 0.:::s .0 (\) v L. -~ til 1:: E bI) .0 <'0 0 .\<: ro . - r-- _- = - ~ - . 0.:::s .:::s Oi) eo c: 0.- o:! c: ttl t>IJ cG cG cr.:::s -5 ..~ .::s 'L.0 V t-< ro .. 0J2 E c 0 "0 E~ 1) . ~r...J\ .. ell ro OJJ c: OJ c: ell c: t>IJ c: ~ <U 'ie ~ V 0._.-S c"J §E .. . <'0 . c: ~ ~ ro c: "0 c: . oc ...-.. bll -cl o:! c..:::s .:::s '" -a :.~£ ... 7 . r- e::: c... 1\ 0 L.._.\<: E co VI r/l 0-.:l 0 o.:::s U) ...:::s 0.. Q.J - 0 .l g .:ot!.]....:::s ro c: bJ) ci .. f-< . -c.0 .\<: <U c: ro ZI C ~~ _. :::. EE ~~ r I j ! I I Ii! ~ ('j .'..:::s OJ .. ._ ..<'0 >.:::s ..:::s t>1l ~ ro V E c: ro . OJJ ... ..0 C <'0 ... ..:::s CI.J . '7 ("'1 t>JJ <!) -.:::s .. d ell dJ :d ~ ~ :::J c: OJ) c: ro .... 0.. - -- rl -('"r") -if.\<: c: c: . .> c: <U ~ -0 U C\l OJJ <tI ...

8 c 0.>-.: ("j 0..0) L..J ~ '" I....... <U :::l ".. . 0 '-..c t>1J oj ~ C'j Of) CL. 0 -L. L..Ll ('J r) CL..... .. ~ -::: ':J . ce. blJ ::! c -bJJ c: v -c:J --::: '" ... ::..-' . 0 0.9 L. C 0 L. ~ E :r.. V 0.. "1 :::l q- <U or..s < u -c ~ u -c::: (...c (.. < ~ f-o r-.1 ('·1 > :E . <J) ---~ c 'E._.s: 01 c: oj > Cl ~ oil c 0) u ~ c Z 0' - - r- ~J ..·. . c: V L....: < c c::: L. -c . ~ Q 0 Q) L.. c CL.2 ~ '01 0 ... 0./l IJ) I- a >< OIJ ._. <U 81.- V _c E Pc::: . U Vi ..... 0.

.

0 0 co 1"':..._] z Q) '" OIJ 0 c -e. '-' v u.c: ::J r. " -...-..:3 co E ~ ~ 13 0 V5 ~ m '2 "" E » '" ..-. _c '3 r. '" ~ Of) '" ~ 1) ~ t: .. r: C(J Cl .9 P.. ...D 0 C m t: "2 0 . '" ..!><: m o m 3 '" E ~ <l) .. f-< '" _Y) '2: 0 0-..-~~-~.r:: ro.. iii ~~ eo !I) <l) '" . '-" OJ s 0 Cil -T 'e ._ !I) .:.::: Q .. E . "fJl 0) ~ .:.-----..:> (/J >-...:: "2 ._.. 0 0 E .D '" 1) v: 1) U) ~ ~ '..!i!....) en "J V1 N ..:i -0 '" 0- :.1- c-T 'n C ~) .::l .2 E ._ . ---t Cl ---t "7 . z ... ~ .5 "'1" ~ 0. '" c:r:: co Pp.::> </J o "" ro '-' o. l ._ ::l !:: :::l E v ~ L...'1 '1' -T -T 'n r-- ..2 -0 c-. 00 '" t: 0:.. . e ~ "" </J <l) >-."6 ':.E:: <l> c :. § 'll !:: ._] V '- ::: .!i!.D :::l .. (fJ ..c ttl c m 0 '" ~ .... -0 t: r- m Ci Ci !I) '" '" Q "" Q E E '" CI ~ E .....:. .D '" ~ .c: ::l . -0 .. -.. ::>: .. :_/.l S QO <r) -< -0 "" ...... -'<G . ::l 0 '" II.l ...::: .!L <l) 2 ..) . '" C oil ...c: J::. .. C) </} . .:: U \0 "7 u ..._: ..f" oj) .~ '" =' _:... " '" ::l ...!i!..-. t: '-' OJ f-< 4" .:: -0 'i.-< . . . 0:.....\) ~ z . 2 ~ ro on ~ <l) ·c -I<: .. -0 E ...!. . a 0 C OJ 0 E 0 e-...D .l ~ f- ~ .D N '" 0 .-< ro _. .._] ~ :J .) -.::l :l .. '....s: <'I ::l '" ..:l -C > .. =' . {F) <l> - ..J E "" E '" E . 0 '-'.: -'<: <1) '.. '" .§ '.5':! OJ) E 0. '" ~ ~ 0:.5 ~ U ~ ~ ~ Q c U c: D bIl § 2 'J' "-' o: ....-.c: .::! "" r.. '"' S -B 2!l U B ::J ... 0 N -0 > u J.

::<: .. 0 _C.. UJ ..". £ .. :E =' M . s::: oj E c: N 'D c: Ol :0 U !l.c .........c ..3' '" ...J 0.....: I!) ..:. .. c E .. -0 ....c CO ~ Cl V :>-: o ..0 !l.0 Ol . .... =' .....) a '- 0.>-.... I!) .: Ol ~ '" D t>1J 'C 2:! on <l) 0:...c 13 ....::<: !l.. -0 ~ !l.:: -5 c: ro 0 -0 Ol c:: -0 <'l 'B V 0- '" ~ <'l =' . ... . -0 <l) s::: r::: ro . -..J c: 0:: u :S c: t:: (\1 . ..r 1("'.. E c C 4: c: Ol C -0 N oj c: -'" c c.. E ~ ... f:d '" c...D .2..) ....J .._" V "" ...) !l.) E .0 z -< 0 z . ~ ill 'n > 11J .. 0 '~ f--' r-r.....§ ~ '" ~ '5 0. . § c . Ol E v :::. >... ::l t>!J t:: 'EO t>IJ 'EO t>IJ .. 0 '1... E ..: ::J .S: 0.: !l. 0 '... <l) ::l en -- u - .) '.. 0 I::: ::E ..) tr) 0....g c: .::<: V :..... 0.) oj 3 t:: ::l '0 ..c ~ E !l.l 4: -0 <l) D c: Ol ::J .) 5 ::....) > == c .::<: !l.::<: Ol '" . 0 p. c: ~ D ii: In ?: -0 Ir..~ c e:.) ::l ~ ~ D c..0 .::<: ~J '. ::E . -0 !l.) '.s: ::J Ol '. E on oj "2 "" <l) -a '" .. ::l ao .. 'a >..s U -< .::.) ~ oj c-. 0 C ~ ~ !l... c: ..... . >..0 ~ 'c.. 'r....: E E t:: ::l 0...l t:: . -0 =' s::: es :E C <OJ =' . "-' V} D -0 0 oJ) :":l . . 'C oj . U '" c: 0 . Ol .. 'z:J 01.::.. Q..2'.) 0.2 I-Ll ::£! C -r: OJ c: Ol .E < 13 :::l U '" 2 C blJ IV ....::<: oj .::<: '.) 0:..:: . Ol c: '" ::::1 .) ~ C () n...l 'n ".) Q.::..!! t>IJ ro t>1J C >... c: :t: 0 ... '" ::l ::l 0 ~ c: Ol 'B <l) c -a eu '" 0 E v C VI Ol ~ ~ C .0. ~ ~ <'l E 0.2 .. .!...... 0 c c E -0 Ol <:l c..! c.. !l.:J ti:i v > <a > ro <'l 0...::<: Ol IV > _..r: =' on . Ir. !l.J V E ...J > UJ 7.. 0.:: ..... :::l V 0 '" c: ::J :.. '" .:J (\1 v I!) . ..D ..

LAMPIRANV· RESUSITASI JAI-\jTUNG PARU Bagian Anesiesiologi Krdoktemn Uniuersitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr.. tak bergantung pada ternpat dilakukan resusitasi. mungkin kareria mcdis cepat mengenali masalah ini dan trIah disiapkan untuk menangani hal irri. maka kematian tidak lagi dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. Pasien yang menalami he nli janlung pam di leU mempunyai hasil yang lebih baik. serebral dan organismik. Sejauh in! tindakan resuailasi yang dirnulai secara dini merupakan satu salunya faktor yang dikc. Cipio Mal1gunkusuTI1o. Pasien dengan penyaki. Selang waktu dad henti sirkulasi sarnpai nekrosis sel terpendek pada jaringan otak. kanker dan gaya hid up terikat di rurnah dengan pra henti (prearrest) disertai dengan mortalitas berrnakna setelah RJP. hipotensi. yang digolongkan sebagai kejadian akut lebih baik daripada yang dengan pcnyakit keganasan. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henri sirkulasi akan rnenyebabkan disfungsi serebral dan kernudlan organisrnik (dengan kerusakan sel ireversibel). Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk mengadakan kembali pembagian substrat sernentara. lakartu PENDAHULUAN Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir. sehingga pemeliharaan perfusi serebral rnerupakan tekanan utarna pacta RJP. neurologik atau stadium akhir. st"r . Walaupun persentase pasien-pasien yang tanda-tanda vitalnya berhasil dipulihkan lumayan (60%). Resusitasi yang berhasil (tanda vital kembali) terjadi pada 27-49% kasuskasus di rumah sakit dengan angka kelangsungan hidup yang dilaporkan sarnpai 17% urituk 1 bulan dan 10-14% untuk 6 bulan dalarn suatu penelitian prospektif. sehtngga memberikan waktu untuk pemulihan fungsi jantung pam secara spontan. Sekarang dikcnal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kernatian klinis. Jadi pneumonia. gagal ginjaJ. namun pasien-pasien yang mendapat resusitasi di leU mernpunyai prognosis jangka panjang lebih baik daripada yang di baugsal-'. Usia lanjut tidak menyingkirkan hasil yang balk. Di sampaing itu pasien yang resusitasinya mernerlukan waktu lebih dari 30 rnenit biasanya tidak bertahan hidup.dlUi mernpengaruhi kelangsungan hidup dan hasil neurologik.

Kekurangan Kelebihan adrenalin. perdarahan).lg. miokardial akut. asidosis : syok dan listrik. setclah : obat pelumpuh (cardiac arrest) poiiomielitis. 1. tumor Perifer jal1fung rcndah. infark embolus paru.O%di antara UJ11ur pertengahan dan yang lebih muda.li . kelainan akut glotis dan sekitarnya (sernbab gIotis. Terapi dan tindakan Syok (hipovolemik. otak. akut : henti nafas. antidepresan magnesium Kecelakaan asam-basa/elektrolit : kalium serum yang tinggi serum rendah.(I) Paru Sebab henti nafas. Sebab henri 1. peregang<lll pembedahan. 9. toksik. 4) dcfihrilasi dilaksanakan pada stadium dini. sfinglcr ani. 2. Surnbatan jalan nafas : benda asing. kanula trakeal tersurnbat. penekanan/penarikan medis. miastenia pnC02 gravis. 7. 5.lieh Il"n. Anestesia bola mala. suatu kondisi yang potensial reverxibel. (penyakit asing Lenegre. sumbatan trisiklik. tinggi. defibrilator hendaknya dised iakan lebih banyak untuk dipilk.l yilng tcrlatih Hcnti jantung terut. 8. 3) irarna y<1ng timbul adalah fibrilasi veut riku la r. Refleks vagal'. quinidin.ima pada Sf! . pa02 tengelam. Penekanan hcndaknya ditujukan pada defibrilasi dini dan tidak mcmandang perti rnbangan-pertimbangan lain. Kebanyakan henti jantuog yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskernik. dan proporsinya lebih tillggi. Penyakit kardiovaskular : pcnyakit jantungiskemik. b. aspirasi. 2) ada )'rlllg mulai melakukan resusitasi. propoksifen atau jalan oleh sekresi. noda sinus sakit). Ernpat puluh persen mati rnendadak dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu 1 jam setelah dimulainya gejala-gejala. (I1P"(. otot. henti [antung. neurogenik. Gangguan oksigen dosis obat: isoprenalin. penyakit Sentral: obat-obatan. kalsium serum tinggi. sekitar C. Lebih dari 90'. Depresi a. tenggelam. pernafasan : intoksikasi. 2. 6. anafilaksis). 4. diagnostik rendah.Seb ab He nti Jantung Henti jantung pam. fibrosis pada sistern konduksi Adams-Stokes. benda digitalis. lidah yang jatuh ke belakang. Angb kclangsunga n hidup dnri henti janlung optimal hila 1) peristiwa ini disaksikan. pipa trakeal terlipat."nkell1iltian yill1g terjadi di luar rurnah saki! eli sebabkan oleh Iibrilasi ventrikular. Sindrom di jalan nafas. 3.

denyut rneskipun irama yang tidak mantap. 6. Adams-Stokes. ')') . terutama pad a asfiksia. Tanda tanda henti jantung 1. Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut tidak ada kontraksi rnekanis. Diagnosis henti jan tung A. 3. B. 5. dan kelebihan listrik. Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan peluang untuk hidup. Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak rnenghasilkan nadi yang dapat diraba. Henti nafas atau megap-megap Terlihat (gasping). Pada beberap a keadaan RJP yang dilakukan dengan benar dapat mempertahankan kehidupan sampai 1 jam sernentara terapi untuk kondisi/ penyakit utama sedang diberikan. Gerakan kabel EKG dapat menyerupai mula I saja RJP ! Bila :agu-ragu. yang mengakibatkan "kernatian listrik". Infark jantung Serangan Hipoksia Keracunan Sengatan akut. Wama kulit pucat sampai kelabu. "kecil". Resusiiasi hams dilakukan pada : 1. 4.orang muda. dan karotis pada orang Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dewasa atau brakialis pada bayi). Kapan resusitasi dilakukan/tidak dilakukan A. dapat disebabkan oleh kausa selain penyakit jantung iskernik. 5. 4. 2. Pupil dilatasi (setelah 45 detik). seperti mati (death like appearance). Refleks vagal. 3. 2. 6. 7. 2. 3. Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila dijumpai keiidaksadaran dan tak teraba denyut arteri besar! 1. lain yang masih rnemberi dosis obat-obatan. Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung). 4.

B. seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat. Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih. 2. tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup Jebih lama lagi. Upaya resusitasi di sini tidak bertujuan dan tidak berarti. 60 . yaitu sesudah ~-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP. Kernatian normal. Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi. Pada keadaan ini denyut jan tung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. 3. ketika tidak hanya jantung. Resusitasi tidak dilakukan pada " 1.

Penilaian tahapan BHD sangat penting. hendaknya korban diletakkan dalam posisi telentang dan ABC (Airway. Pada korban yang tiba-tiba kolaps. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Tindakan resusitasi (yaitu posisi. nafas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalarn organ vital akan habis dalarn beberapa detik. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. ~ A : Airway Galan nafas) Sumbatan jalan nafas olen lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering tirnbul pada korban tidak sadar yang telentang. kesadarannya harus segera ditentukan dengan tindakan "goncangan dan teriak" yang terdiri dad : menggoncangkan korban dengan lembut dan mernanggil keras-ker as. Bila terjadi henri jantung primer.pernbukaan jalan nafas. Gambar 1 : Pertolongan pertama L_ .BANTUAN HIDUP DASAR (BHD Basic Life Support) Bila terjadi henti nafas primer. Pada metode ekstensi kepala dan angkat Ieher. Resusltasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan mhs tetap terbuka. Bila tidak dijumpai tanggapan.Breathing & Circulation) BHD hendaknya dilakukan. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aklifkan sis tern pelayanan medis darurat (lihat gam bar 1). asistol ventrikular atau disosiasi elektrornekanis. Henti jantung dapat disertai oleh fenamena Iistrik berikut : fibrilasi ventrikular takikardia ventrikular. penolang mengekstensikan kepala korban 61 . jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan : penentuan tidak ada respons. tidak ada nafas dan tridak ada nadi.

dengan satu tangan sernentara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban. Metode angkat dagu dan dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher. Gambar 2 : Membuka jalan nafas Gambar 3 : Menentukan tidak ada nafas Gambar 4 : Posisi sisi rnantap 62 . Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling arnan untuk mernelihara jalan nafas atas agar tetap terbuka. tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis). kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan. Pada metode ekstensi kepala dan dorong mandibula. pasien perIu diberi O2 lewat kateter nasal atau sungkup muka. Akan tetapi penoIong mungkin hams menarik bibir bawah korban dengan ibu jari. kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas (lihat Gambar 2). Korban yang tidak sadar dan bernafas spontan dengan ventilasi adekuat sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi (gambar 4). Pada metode ekstensi kepala angkat dagu. Bila ventiIasi adekuat. pada korban dengan dugaan patah tulang leher.

Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam (1 kali nafas = 1. penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban. Untuk melakukan venti1asi mulut ke mulut penolong hendaknya mernpertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan dua jari atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong (lihat gambar 6). Bila denyut nadi karotis tak teraba. melalui bagian belakang faring. korban hanya digerakkanldipindahkan bila memang mutlak perlu.~alnbar 10 dan 11) aiau hentakan dada (chest thrust). Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban dan mernperhatikan gerak nafas pada dada korban. Bila ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka.Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher. diperlukan ventilasi buatan. B : Breathing (Pernafasan) Sctclah jaran nafas terbuka. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800 1200 ml pad a orang dewasa) setiap 5 detik. hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust gerak Heimlich) (lihat I. penolong dapat merasakan tahanan dan kekembangan (compliance) paru korban ketika diisi. keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalarn satu gerilkan menyapu.5 ·2 detik). Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun. korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya.penolong hendaknya segera menilai apakah pasicn dapat bernafas spontan. Bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. sebagai tambahan. Di sini. selama pernberian ventilasi pada korban. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya. dengan amplituda yang cukup dan ada udara keluar rnelalui hidung dan mulut korban selama ekspirasi. 2 kali ventilasi dalam (800 . Bila denyut nadi karotis tak teraba. Pada tindakan jari menyapu. 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kornpresi dada pada resusitasi yang dilakukan cleh seorang penolong dan 1 nafas dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh 2 penolong. Kernudian segera raba denyut nadi karotis (lihat gambar 7) atau femoralis. faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing.1200 ml pada orang dewasa) setiap 5 detik. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan be n d a asing. Hentakan dada dilakukan pada korban yang telentang. Pada beberapa pasien ventilasi mulut-ke-hidung (lihat gambar 8) mungkin Iebih efektif daripada ventilasi mulut-ke-mulut. karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi (lihat gambar 9). 63 . teknik dorong mendibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara paling aman untuk membuka jalan nafas.

teknik ini sarna dengan kompresi dada luar. Gambar 5: Tanda distress universal untuk surnbatan jalill1 nafas oleh bend a asing Cambar 6 : Ventilasi mulut-ke-mulut Cambar 7 : Meraba denyut arteri karotis . Urutan ini hendaknya diulangsampai benda asing keluar dan ventiJasi buatan dapat dilakukan dengan sukses. (2) buka mulut dan lakukan sapuan jari. buka jalan nafas dan cob a beri ventilasi buatan. (3) reposisi pasien. Urutan yang dianjurkan adalah : (1) berikan 6~10 kaIi hentakan abdominal.

-.~- -~----- --~--..- --_---_ .----.-~----~-_-----.Gambar 8 : Ve ntilasi Blulut-ke-hidung Cambar 9 : Ventilasi mulut-ke-stoma ----.-~-~----._- Gambar 10: Hentakan abdominal (gerak Heimlich) pada korban sildar Gambar 11 Hentakan abdominal tidak sad ar (gerak Heimlich) pad a korban .

rnemerlukan tindakan bronkoskopi.. penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm (lihat gambar 12). j'.5· 2 detik) oleh penolong kcdua sesudah tiap kornpresi kclilll<!.tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 [ari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. ternyata masih ada sumbatan jalan nafas. sebagai alternatifnya ialah krikotirotomi atau fungsi membran krikotiroid dengan jarum berlurnen besar (misal dengan kanula intravena 14 G). Bila ada sumbatan benda padat dalam salah satu bronkus. Bila ada satu penolong. Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar (periksalah arteri karotis sesering mungkin) merupakan tanda utarna henti jantung.3 mg Sk. [adi . Hcnti jantung adalah garnbaran klinis berhentinya sirkulasi mendadak yang terjadi pada seseorang yang tidak diduga mati pada waktu itu atau penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh atau harnpir utuh. C : Circulation (Sirkulasi] Bantuan ketiga RBD adalah menilai dan mernbantu sirkulasi. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Penolong berlutut di samping korban dan rneletakkan pangkal sebelah . buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring.hj nuk. Sementara itu pasien perlu diberi terapi 02. Dalam I menit minimal hams ada 60 kompresi dada dan 12 nabs. Setelah kompresi hams ada relaksasi. Dianjurkan lama kompresi sam a dengan lama relaksasi.IV). Korban hendaknya telentang pada permukaan yang keras hila kompresi dada luar dilakukan. .im:1J dalarn 5 detik.IM. dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). 15 kompresi dada luar (Iaju : 80-100 kaliimenit :co 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalarn (2-3 delik).j + 1 lcnli. Bila dengan ini belum berhasil. Jadi 15 kali kompresi + 2 ventilasi harus selesai maksirnal dalarn 15 detik. Bila ada 2 penolong.. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. perlu dilakukan intubasi trakeaI.Onii'tl". Dengan jari-jari terkunci. kornpresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80-100 kali per menit dan pernberian 1 X vcntilasi dalarn (1. tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban. cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin (4-6 1A1g/kg BB LV) atau adrenalin (0. pasien. Dalarn l menit harus ada 4 daur kornpresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kornpresi dada dan 8 nafas). SeIanjutnya bila masih ada sumbatan (ada di bronkus) maka perlu tindakan pengeluaran benda asing (padat. lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban. BHa tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakeal.Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ckstensi kepala.. Pernberian ventilasi buatan dan kompresi dada Iuar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini.

). sudah tirnbul nadi dan dan nadi dengan dan pantau nadi apakah sesudah bebcrapa menit dihentikan dan periksa nafas spontan. . Pcmbcrian ve nt ila s i ha rus lcb ih keeil vol u rnr-u va d a n fre kurnsi vcntiJasi harus dilingkatbn llwnj. dapat sampai 15 detik. kecuali pada waktu intubasi trakeal. Hila dibkukan dengan benar.._---"~_Gaya lengan (belakang) L--_~~~ __ ~ ~ .75 ~5 em ·IJ<".ik-ana k (lihat F. Bila RJP dilanjutkan..ltnb. pantau pernafasan ketat. Periksa pernafasan (3-5 detik).'i" I ~. mulai lagi RJP dengan 2 venrilasi diiku ti dCllg<l1l 15 kornpresi Bib ada dcnyut. Kornpresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik sctiap kalinya.ldll vc-nt ilasi li.til~ u nl u k bnvi d.1 d. Kepala hcndaknya dijaga dalam posisi netral selarna diusahakan mernbuka jalan nafas pada kclornpok ini. Bila tidak ada. Periksa apakah denyut karotis sudah tirnbul (5 dctik). (. lakukan reevaluasi pasien. Bila ada. dan bcgitu seterusnya... lakukan nabs buatan 12 kali per menit dcngan kclat. Bila tak ada.:-' 2. lanjut kan deng<1I1 langkah berikut.Kompresi dada harus dilakukan sccara halus dan berirama. tranportasi (naik turun tangga). Akan tetapi karena kctidak-sarnan ukuran. Pilch bayi dan anak kecil vc nl ilasi mulut-ke-rnulut dan hid ung lebih scsuai drnipada vcnti li1 c:.11).lllg berlebihan dapat mcnyebabkan sumbatan [alan nafas pada bayi dan anak keril..1I1 4 d ct ik untuk an. " Upstroke" 3.j m u lu l-kc-rn u lut "tall mulut-kc-hidung. kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 rnmHg pada arteri karotis.. Sesudah 4 daur komprcsi dan ventilasi (rasio 15 : 2). diperlukan mod ifikasi teknik yang d isebutkan di atas : L Ekstensi kepala y._1 Tekriik pada bayi dan unak-anak Prinsip BHD pada bayi dan annk adalah sarua dengan pada orang dcwasa.

-._--_ ... Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban teJungkup melintang di alas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan.. __ ---------_ 68 . dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai. -~--. kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong (Iihat gambar 14). -- -------_.Gambar 13 : Ventilasi mulut ke mulut dan hidung pada bayi 3..-_.._. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang. _-" .~.-- . Gambar 14 : Pukulan punggung pada bayi --~.

Korban dinyatakan mati. tetapi pada anak diperlukan penekanan 2.5 . Selama henti jantung.5 . Penekanan sternum 1. 69 . Korban menjadi sadar kembali. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi seJaJu 5 : 1. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalarn rongga toraks pada pasienpasien muda. 2. kompresidada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pad a 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak (lihat gambar 15). ini dapat disebabkan karena pertolongan RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi tidak betul pelaksanaannya. Pada anak yang lebih besar. hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada Juar (1ihat gambar 16). pernberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pad a bayl dan 80 kali per menit pada anak-anak.2/5 em efektif untuk bayi.4 em. Gambar 15: Letak jari pada kompresi dada bayi Cambar 16: Letak tangan pada kompresi dada anak 5.4. Dasar henti jantung da- Penilaian Hasil Bantuan Hidup ABC RJP yang dilakukan pada korban yang mengalami pat mernberi beberapa kernungkinan hasil : 1.

ks Lignokain!100 Detib.i... 360 J + Per1Imbangkan kalsium klorida (10 milO %) .h 70 . lain -lain Pertimbangkan terapi spesjjik untuIc ..:.I akltvitas rl$lr'i.. kecuali untuk defibrilasi. .rn-ivll eM. Jangan henlikan AJP leb!!. O~r'IfV.c SC.I. re Car<1i~"Q" ....n. . :·~m ·~mia antaQ0nJ5 & ·~..(Jalan nalas) buka [alan nafas Tidak ada natas Wt Breathing (Bantuan nalas) ~.Iy rII A....t~: 1hto~Courd{lJ1Q ~8oci«ydCatdiQlogy "iflo'liah ard l.ry or (lj oi Ir'II·11l. Sw«IIItI ~ ~'-rI Firnit.V.all:lt'"''''~~ o._ . FinnJ!Jh S~.tHbu • __ . Cardi.II. bantuan Tidak ada nadi A 1 : • blpowJemla Circulation (Bantuan si'kulas~ RJP ~ ~ Adrenalin 1 mg IV Defjbrilas~ 200 J Defibri)aS~ 200 J Defibrilasi 360 J mg IV Adrenalin 1 mg IV Atropin 2 m~ IV Pertimbangkan pemaCl'an janlunll Jlkl 8138 geiomDaPTg P 81BI... I. kalStum Ulang (lefibJjl~si 360 J F'E'rtimbangkan •• & l • """alean _lIasllaln befi 0fJa:I anli aritmilc - pOOiOi padeI Lanjutkan RJP selama 2 menlt sesudah liap kali pemberian cbat. -pona~j<ont""II ...jd C.~ $cIWty M.. dan 10 detik..f\II"D.r'IOo08-'lnl'l:!l.h SoDe!.ilasi poIfU .emi~sm. pertimbangkan pemberian adrenalin dosis ganda..A. Airway .RESUSITASI JANTUNG PARU Tidak resp~ . fGI' ~~"&f1I of Sod9fJ' Sr:te... Jlka tidak dapal dipasang jalu.0. lignokain alau atropi" lewat pipa trakeat.-u."~I...

bisa tidak. tetapi korban belum pulih kesadarannya. 3.Dalam keadaan darurat ini. kecuali kalau korban hipotermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umUID. pertolongan resusitasi tanpa resusitasi otak biasanya tak dapat memulihkan fungsi susunan saraf pusat (SSP). Dalam hal ini perlu dibcri pcrtolongan lebih lanjut yaitu bantuan hidup lanjut (BHL) Denyut jantung spontan tirnbul. spontan dan refleks muntah (gag reflex). serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 menit atau lebih.Bila henti jantung telah berlangsung lebih dari 10 menit pada orang dewasa. normotermia. 4. tidak timbul nafas. 71 . korban dapat dinyatakan mati bila setelah dimulai resusitasi korban tetap tidak sadar. Korban belum dapat dinyatakan mati dan belurn tirnbul denyut jantung spontan. Nafas spontan bisa ada.

Setelah dirnulai Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau fase J RJPO (Iangkah ABC). Biasanya untuk BHL diperlukan memberian intra vena (IV) obat-obatan dan cairan (Iangkah D). Memang ada risiko bahwa aritmia ventrikular akan kambuh lagi. syok listrik (langkah F) hendak nya jangan sarnpai terhambat oleh langkah 0 dan E dan mcndahului Iangkah-langkah A-B-C. seperti sering terjadi pada henti jantung (cardiac arrest) sekunder terhadap asfiksia.<1 rnasih eksperimental dan Bantuan Hidup Trauma Lanjut (BHTL). namun hanya untuk henri jantung yang d isaks ik an atau dipantau. yang mungkin tidak adekuat untuk mempertahankan otak dan jantung tetap hidup lebih lama dari beberapa menit. RJP Lanjut atau Bantuan Hidup Lanjut (BHL) terdiri dari upaya-upaya untuk mengembalikan sirkulasi spontan yang adekuat. tetapi kerugiannya hanya sedikit bila henti jantung tersebut disaksikan.it yang relatif tidak krampil Tcknologi terbukti handal dalarn prakn-k dan sekarang ini lid. pintasan jantung paru darurat yang penggunaclllil). sebab defibrilasi dapat dilakukan dini oleh tenaga darur. merupakan tindakan darurat satu-satunya yang ada untuk henti jantung di luar rumah sakit. selama upaya mengembalikan sirkulasi spontan. Defibrilasi sedini mungkin dengan restorasi sirkulasi sponran merupakan kunci optimasi peluang untuk mendapatkan hasil serebral dan hasil keseluruhan yang baik. Dengan adanya ddibrilator cksterna l scmiautomatik dClI1 autornatik maka terjadilah perbaikan dramatik dalarn hasil RjP. Tidak perlu dikatakan. narnun sekarang ini.Bantuan Hidup Lanjut (BHL Advanced Life Support) Yang dimaksud dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Lanjut pada makalah ini adalah fase II Resusitasi ]antung Paru Otak. Mungkin juga. karena RJP ekster na I hanya merighasilkan al iran d a rnh yang sangat minimal untuk kebutuhan. pada fibrilasi ventrikular yilr1g terjadi ketika EKG pasien sedang dipantau. Pukulan prekordial telah dianjurkan kernbali . BHL juga mencakup R]P dada terbuka untuk indikasi spesifik. diagnosis elektrokardiografik (Iangkah E) dan penanganan defibrilasi (Iangkah F). [adi. tidak satupun langkah 0.]k ad a Llgi alasan Il1cngapil setiap perawat . seja lan dengan bukti-bukti keampuhannya pada takikardia ventrikular atau fibrilasi ventrikular yang baru saja timbul. harus dipertahankan dengan interupsi sedikit mungkin. transport oksigen oleh RJP langkah A-B-C. sirkulasi sponlan harus d ikembalikan sedapat mungkin. Lagipula efek proaritmia mungkin saja timbul dengan sernua intervensi yang sukses dan hanya diperlukan waktu sebentar saja untuk melaksanakan manuver tersebut. E dan F yang diperlukan kalau nadi spontan kernbali segera sesudah dimulai ventilasi buatan dan kompresi dada. R]P eksternal langkah A-B-C (BHO) dirnaksudkan sernata-mata sebagai tindakan sementara mernpertahankan viabilitas otak ke jantung. dalam urutan-urutan yang bervariasi bergantung pada keadaan.

Bila setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. Prosedur BHL berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pad a diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung. BHL rnemerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat-obatan. Cara pemberian : IV. Probe ditinggal di esofagus dan defibrilasi dapat dikerjakan dengan eepat pada pasien yang dipantau (monitor) dengan memakai energi listrik yang jauh lebih keeil.0 mb (dosis untuk orang dewasa). Adrenalin dan cairan). Diulang tiap 3-5 menit dengan dosis sarna sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. maka resusitasi diteruskan dengan : D : Drugs and Fluid (Obat-obatan Tanpa menunggu 1.jaga di ruangan dan setiap petugas ambulans yang menangani panggilan tidak dapat rnelakukan defibrilasi sebelurn kedatangan staf medis. Pemberian adre-ialin sebaiknya lewat IV. bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin : intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih). Rute transesofageal untuk defibrilasi telah dipakai pada pasien di unit perawatan koroner. darurat Defibrilator automatik telah terbukti manfaatnya ketika digunakan oleh famili pasien berisiko dan oleh petugas pesawat terbang dan kereta api. kecuali bahwa tingkat energi sesuai dengan standard yang ada sekarang untuk kalibrasi defibri1ator modern dalam energi yang dikalkulasikan. diberikan : hasil EKG dapat langsung : 1. Tidak ada modifikasi pada pedoman yang dianjurkan untuk defibrilasi. Penggunaannya dapat diperluas ke pimpinan gelanggang olah raga dan kompleks pertokoan dan sebagainya. karena ini lebih baik daripada lewat pipa trakcal. 10 meg/kg pada anak-anak (menurut AHA). 73 . intratrakeallewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 1 0/00. Defibri1ator/pemacu jantung yang ditanam bermanfaat pada pasien berisiko tinggi namun biaya mungkin merupakan barier relatif pada banyak negara. dieneerkan dengan 9 ml akuades steril. Harus ditekankan bahwa BHD harus segera dimulai bila diagnosis henri jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai BHL diberikan.

Bila hanya ada rute endotrakeal. Penggunan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusirasi yang lama. oksigenasi dan kornpresi. dan kasus pediatrik sangat menyerupai model binatang ini. Cara pemberian hanya IV. asidosis intraselular justru bertarnbah. Oasis selanjutnya sebesar 0. Karena itu AHA menganjurkan pada henti jantung pediatrik. seterusnya dalarn 3-5 menit diberi lagi dosis 0. Di sini dipasang infus intravena sesuai indikasi.Olmg/kg adrenalin. CO2 yang dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jib CO2 tidak diangkut olch respirasi. Penelitian menunjukkan kemanjuran dosis tinggi adrenalin pada binatang dengan pembuluh koroner normal. Natrium bikarbonat : dosis <1w<11: 1 mEg/kg (bila henti janlung lebih dari 2 rnenit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0. kendati dapat dipergunakan bersarna dengan adrenalin pada pasien yang gagal berespons terhadap ventilasi. Rute endotrakeal kurarig bagus penycrapannya.5 mEg/kg sampai tirnbul denyut jantung spontan atau mati jantung. 2.1 mg/kg untuk rnencapai kadar d arah yang adekuat.2 mg/kg hendaknya diulang Hap 3-5 menit jika perlu.2 mg/kg (Akan tetapi pernberian dosis tinggi adrenalin ini tidak dianjurkan pad a neonatus. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal baru. Dianjurkan pula pernberian 20 ml bolus cairan nonglukose isotonik pad a penanganilI1 henti jantung pediatrik untuk mengatasi syok.Untuk henti jantung pada anak-anak. terutarna pada kasus trauma bila upaya lainnya gaga!. Narnun dianjurkan hanya pada korban yang diberi ventilasi buatan yang efisien. dan bahwa natrium bikarbonat bukanlah obat lini pertama pada resusitasi pediatrik. E: EKG r 7 as isl ol vent rikular ? kompleks Fibrilasi vcntrikula elektromekanis) ? aneh ? (diasosiasi . termasuk intraoseus. Selain itu. pernakaian dosis tinggi adrenalin dapat dipertimbangkan bila dosis standard awal tidak efektif. tidak berkurang. Dipertegas lagi kelebihan manfaat dosis standard adrenalin daripada atropin pada bradikardia. alkalin lebih dominan berada di ekstraselular.1-0. sebab kalau tidak. Juga dianjurkan tidak dipakai isoproterenol untuk henti jantung. karena risiko perdarahan intrakranial). Tidak ada data meyakinkan tentang dosis atropin dan lignokain lewat endotrakeal. Sangat dianjurkan pernakaian rute IV. dosis adrenalin hendak ditinggikan sarnpai 0. suatu penelitian prospektif dengan mernakai kontrol retrospektif menyarankan kemanjuran adrenaJin dosis lebih tinggi. henrlaknya diberikan dosis standard awal D. Oi lain pihak.1-0.

berbeda dengan setting klinis. Syok lagi. ( Terapi fibrilasi). IV. Adrenalin telah menggantikan Iignokain sebagai obat pertarna .lIlg meyakinkan. Lignokain terbukti manjur dalarn mengobati takikardia ventrikular dan untuk pencegahan timbulnya fibrilasi ventrikular. Akan tetapi. dan dengan ekstrapolasi banyak yang percaya bahwa obat ini berrnanfaat untuk defibrilasi. tidak bergantung pada pengobatan yang diberikan. Bila belum berhasil beri lignokain (lidokain) 1-2 rng/kg IV.. Ulangi syok. Bila ini juga tidak berhasil maka dapat ditegakkan diagnosis kematian jantung. 100-200 Wsec (pad". di sebelah kiri puting susu kiri dan di sebelah kanan luar : arus searah : 200-300 Wsec (Joule) (pada dewasa) . bila memenuhi kriterianya. Bila belum berhasil dosis bretilium dapat ditinggikan 10 mg/kg sampai dosis total 30 mg/kg. Resuscitation Council (UK) memutuskan untuk rnengikuti bukti eksperimental. syok keempat dalam suatu sed mungkin saja berhasil menghilangkan fibrilasi setelah sebelumnya gaga!.kkan bukti yang meyakinkan bahwa adrenalin meningkatkan sirkulasi screbral selarna bantuan hidup dasar . kalau perlu diteruskan dengan tetesan infus (1-4 rng/menit). dan beberapa di antaranya (misalnya barangkali vektor gelombang) akan bervariasi dari waktu ke waktu. kita sernua maklum bahwa konsep ambang rangsang defibrilasi sederhana adanya. Namun. 50 . Lagipula observasi eksperimental mengarahkan bahwa fibrilasi menjadi makin refrakter terhadap terapi listrik sesudah pemberian lignokain. ada perubahan dalarn urutan obat-obat yang hendaknya diberikan jika fibrilasi ventrikular gagal untuk berespons terhadap 3 syok pertarna (200-200-360 Joule). Ulangi syok balik (countershock) bila perlu. Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia sa at ini.100 Wsec (pad a bayi). meskipun diakui bahwa substrat untuk aritmia pada setting eksperimental. Bila bel urn berhasil bed prokainarnid 1-2 mg/kg. Banyak faktor yang menentukan apakah syok akan berhasil atau tidak. Pada kenyataannya defibrilasi berhasil hanya setelah diberikan lignokain. pendapat ini tidak pernah ditunjang oleh bukti klinis y. Semen tara bukti yang memujikan adrenalin sebagai obat yang bermanfaat untuk defibrilasi tidak lebih baik daripada bukti yang memujikan lignokain.F : Fibrillation Elektroda sternum Defibrilasi treatment dipasang atas. terdapat atribut lain yang membuat dimasukkannya adrenalin lebih dini dalam algoritma. Iadi. Menu rut perkembangan terakhir. Bila belum berhasil bila bretilium 5 mg/kg IV. Karena tidak ada data klinis yi'lng relevan. syok lagi. anak) . Percobaan p"da binatang mcnunjt.

Posisi padel yang diubah d an pemakaian defibrilator lain hendaknya dipertimbangkan.RJP. karena syok hemoragik merupakan kausa penting nadi yang tidak teraba dan ini tidak boleh dirernehkan. Isoprenalin tidak lagi dianjurkan pemakaiannya dan kemungkinan menggunakan rutc intrakardiak untuk adrenalin dihapus. Karena itu tujuan utarna adrenalin pada saat itu adalah untuk mernpertahankan perfusi serebral selarna upayil resusitasi yang lama. Pernah terjadi kesalahan akibat salah diagnosis asistole pada korban dengan fibrilasi ventrikular.u n a. Oosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg IV. dan rnengecewakan terutama pada penyakit jantung iskernik.I dan 2 obat ( ~ syok ke cmpat) diberikan. penting pada ini mempunyi Pada disosiasi elektromekanis. l. atau jika kontrol gain pada elektrokardiograf dirnafikan. atau jika fibrilasi ventrikular sangat halus. kemungkinan hipovolemia sekarang ini dimasukkan. tidak dibatasi jurnlah syok untuk mcnghilarigkan fibrilasi tersebut. Terdapat perubahan asistole. Bila penolong merasa bahwa kemungkinan fibrilasi tidak dapat disingkirkan maka hendaknya diberikan 3 syok sebelurn algoritma untuk asistole yapg sesungguhnya dimulai. Dosis kalsium glukonat 1000 mg i. Resuscitation Council (UK) t id ak m enya takan b a hw a ad renalin juga meningkatkan kernanjuran syok arus searah. karela korban narnpaknya tidak mernpunyai peluang hidup yang lain Jagi. walaupun banyak yang percaya bahwa hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus. Melaksanakan Betapa prosedur resusitasi pentingnya rnelaksariakan terus rcsusitasi sangat ditckankan : jangan III d et ik u n t u k me laku k an t i nd a ka n yallg mcrne rlukan penghentian sernentara korn prcsj (beLl Rule cndotrakeal sekarang dianggap sebagai rute yang tid ak handal unt uk pemberi an obat dan hanya dipakai bilarnana bclum ada jal ur IV. kalsium dan vasopresor seperlunya.(.lngan adrenalin dan natrium karbona! dianjurkan u nt u k rt. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan alai.lIsiL1Si y. sampai rn e leb i hi -. Algoritma itu sendiri telah diu bah yaitu adrenalin diutamakan dad atropin. Dosis lll. bila perlu diulang tiap 10 menit. . atau jika vektor gelombz!ng yang dominan bcrada pada sudut kanan terhadap hantaran diagnostik bipolar.'o. Syok yang diulangulang pada tingkat cnergi png rnaksimal dianjurkan jika fibrilasi refrakter sesudah 3 syok a\\'J. Kasus-kasus yang membutuhkan kalsium klorida juga dirnasukkan dalam algoritrna.\-.. Akhir algoritma defibrilasi juga mengalami perubahan. tetapi bersarna-sama dengan obat anti aritmik lainnya. Kemungkinan salah diagnosis harus ditekankan agar jangan sarnpai kelainan yang semestinya dapat di atasi tetap tidak mendapat terapi yang tepat. Bila pada EKG : asistol vcntrikular atau disosiasi elektromekanis : Ulangi 0. Kelainan listrik biasanya pengobatannya anjuran untuk korban yang narnpak irnplikasi prognostik yang berat.m.v. Jib diagnosis ritrne akurat.

sehingga dapat dikoordinasikan dengan kompresi dada. resusitasi pada keadaan ini dapat dimulai sebagai BHL. 2. terrnasuk karnar operasi dan ruang pulih. pipa [alan nafas orofaringeal.5 InEq per kg setiap 10-15 me nit jika tidak tersed ia pengukuran pH. alat balon dan katup untuk ventilasi paru. mernberikan Iingkungan fisiologik optimal bagi miokard tekanan positif atau Oksigen. Jib rnas a henti ini singkat (yaitu 1-2 mcnit) m ika mungkin tidak diperlukan -/ . Jangan diberikan intramuskular atau subkutis. perlengkapan intravena. Obat-obatan untuk RJP Sernua obat hendaknya diberikan secara IV ke dalam sirkulasi sentral bila mungkin. Untuk a. b. 1.Perlengkapan Oi rumah sakit perlengkapan dan obat-obatan untuk BHL biasanya di simpan pada kereta yang dapat didorong dan diletakkan pada daerah yang strategis. Ini harus disingkirkan sesegera mungkin. Perlengkapan pada kereta inl hendaknya mencakup tabung oksigen.0 mEq per kg dosisi a. Malfungsi perlengkapan anestesia selalu merupakan penyebab potensial henti jantung dalarn karnar operasi. Berikan oksigen 100% dengan sungkup pipa trakeal. pipa jalan natas orofaringeal dirnasukkan dan diberikan ventilasi dengan oksigen murni dengan menggunakan alat halon dan katup. Harus dicatat bahwa sernua alat tarnbahan BHL dapat segera diperoleh atau sudah terpasang pada pasien dalarn kamar operasi. Sebagai tarnbahan sebuah papan tempat tidur diletakkan di bawah korban. Juga infus intravena dan monitor EKG hendaknya dipasang sedini mungkin. sungkup. Natrium 1. trakeal korban hendaknya diintubasi dengan pipa trakeal yang mempunyai balon. kernudian 0. defibrilator arus searah. Segera setelah kereia ini tiba. orofaring korban harus dibersihkan dari sckret-sekret dengan cara diisap. perlengkapan pengisap faring. Ventilasi dan kompresi dada harus diteruskan dengan laju yang telah disebutkan pada BHD kecuali dihentikan sebentar pada saat defibrilasi.W(1!. tidak rnekanis. bikarbonat dianggap Untuk asidosis metabolik. Segera setelah keadaan . oksigen 100% harus diberikan melalui alat anestesia. monitor EKG. ventilasi dikendalikan secara manual. ada pad a perrnulaan RJP. Dosis : 1. Pernberian semua obat anestetik harus dihentikan. Berbagai obat dan cara lain tersedia untuk mernberikan lingkungan fisiologik yang optimal bagi miokard dan tekanan perfusi dan rnengatnsi aritrnia. lebih baik. Karena itu. yang akan mencegah [alan nafas tidak terkontarninasi dengan isi lambung dan menyingkirkan risiko inflasi lambung.

b. 3. Oasis: 2-20 mcg/kgBB/menit arteri yang diinginkan. Oasis bikarbonat dapat dihitung dari kelebihan basa (negatif) dari gas darah arteri sebagi berikut : BE x 0. kontraktilitas dan tekanan perfusi miokard. tercapai tekanan arteri yang diinginkan. Norep~nefrin 1. d. 2. dititrasi sampai tercapai tekanan arteri yang diinginkan. Untuk kontraktilitas miokard elektrornekanis. Untuk tahanan vaskular sistemaik yang rendah dengan hipotensi refrakter. dititrasi sampai tereapai tekanan 2. Hipokalernia setelah resusitasi bisa juga ditemukan. Dopamin 1. Efek dopaminergik beta yang bergantung pada dosis tirnbul pada dosis Iebih rendah (kurang dari 5 rneg/kgBB/menit) dan efek a1fa pada dosis lebih tinggi. dititrasi sarnpai tirnbul efek yang diinginkan.04 mcg/kgBB/menit.25 x berat bad an (kg) BE : base excess. Dosis : 0. disosiasi Oasis: 2-20 meg/ kg/ menit.05 mcg/kgBB / menit. Untuk meningkatkan a. asistol. hipokalsernia. Kalsium klorida 1. disfungsi ventrikular atau keduanya. yang buruk. e. dititrasi 2.1 mg setiap 3-5 menit atau mula-mula dengan infus 0.bikarbonat. 78 . Kelebihan natrium dengan hipernatrernia dapat timbul pada pernberian bikarbonat yang terlalu giat. 2.· Dosis: mula-mula infus 0. sampai (Intropin] Untuk hipotensi.\ersibel. (Levophed) c. (Adrenalin) yang halus dan disosiasi Untuk asistol. Epinefrin 1. fibri1asi ventrikular elektromekanis. 2. Hiperventilasi dapat digunakan untuk meningkatkan pH sistematik dan susunan saraf pusat (SSP) seeara akut dan re.

Lidokain (XyIocaine) 1. kegagaJan beberapa organ atau keadaan lain yang mungkin menurunkan aliran darah hati. (Dobutrex) Untuk dlsfungsi ventrikular.0 meg/kgEB/menit. dapat diberikan 5-10 mg/kg BB iv.3. 2. Dosis :2. diberikan 5 mg/ kg BB/ iv. terutarna dengan tahanan vaskular sistemik yang tinggi. Rekomendasi bervariasi. Laju infus mungkin perlu diturunkan bila ada hipotensi. Dosis kedua dapat diberikan 1-2jam sesudahnya dan kernudian setiap 6-8 jam. 3. dapat diberikan 10mgper kg iv. Dobutamin mungkin tidak begitu bermanfaat seperti dopamin atau adrenalin dalarn fase awal henti jantung. Hendaknya obat ini dipertimbangkan pada awal p. a.mbuI bila obat diberikan dengan cepat. 7') . Untuk mengobati aritmia dan bJok jan tung. 2. Oosis : pad a fibrilasi ventrikular. 3. Ini merupakan obat piIihan pertama untuk takikardia ventrikular dan fibrilasi ventrikular. dititrasi sampai tercapai tekanan darah (atau curah jantung) yang diinginkan. Breti1ium (BretyloI) 1.enatalaksanaanfarmakologikfibrilasi atau takikardia ventrikular. Jika fibrilasi menetap. Untuk distrimia ventrikular. Kadang-kadang dopamin merupakan pengganti adrenalin yang berrnanfaat karena aktivitas alfa yang terlihat bila diberikan dalam dosis lebih tinggi. Obat ini dianjurkan untuk fibrilasi ventrikular berulang yang refrakter terhadap lidokain. Untuk takikardia ventrikular mungkin diperlukan waktu 20 menit atau lebih. larutan encer (500mg dalam50-100ml Dextrose 5% dalam air)selama 10-20menit. 3. Dobutamin 1.5-10. Hipotensi dapat t. dititrasi menurut respon pasien. 2. dengan cepat dan diulangi seperlunya. atau sebagai infus 2 rng per menit. Untuk takikardia ventrikular refrakter atau beruJang. e. b. Mula kerja untuk terapi fibrilasi ventrikular terlihat dalam beberapa rnenit. diikuti dengan infus 1-4 mg per menit. Dosis : 1mg per kg bolus. bretilium yang tak diencerkan secara cepat diikuti dengan syok balik arus searah (DC).

c.

Prokalnamid 1. 2.

(Pronestyl) ventrikular berulang yang refrakter

Untuk fibrilasi atau takikardia terhadap lidokain.

Oasis: 100 mgdosis muatan setiap 5 menit pada kecepatan sekitar20mg

per menit sarnpai 1 g (atau 17 mg/kg) diikuti oleh infus 1-4 mg/kgBB/
menit. 3. Pernbcrian dosis di atas hams dihentikan jika disritmia hilang, tekanan darah menurun atoll kompleks QRS melebar lebih dari atau sarna
dengi111 50%.

d.

Kardiovcrsi 1. Pukulan prekordial a. . b. Untuk takikardia ventrikular yang berlanjut ke fibrilasi ventrikular sclarna 60 detik pertama henti jantung yang disaksikan . Pukulan dilakukan dengan memberikan pukulan cepat dan keras pada bagian terigah sternum dengan bagian daging bawah pergelangan tangan dad jarak sekitar 20-30 em. RJP segera dimulai jib kardioversi tak elektif.

2.

Syok balik arus searah (direct current countershock). a. b. Untuk aritmia supraventrikular yaitu fibrilasi atrial atau flater atrial, takikardia vcntrikular atau fibrilasi ventrikular. [adwal dosis dalam Tabcl 1 dapat digunakan.

Tabel 1. Oasis untuk syok balik arus searah (Watt-Sec)
-.~-_-_
..

-.---~~-

rr="::

Toraks

._ .._---

Atrial
"-.~~"-"

-.-~---_

----

Ventrikular Fibrilasi

FibriJasi

Flater

Takikardia

Terbuka Tertutup
-~---~ --_
.~--~-

10 - 20 80 - 200
..... --." . _._--_ •• _<

-.. ..
-

-~

20 - 50 _-- ---~-.---------.

50 - 100

200

- 300
.-

e.

Atropin 1. 2. 3. Untuk bradikardia berat
ilt;l1I

bJok atriovcnlrikular

derajat Linggi vagal

Dosis : 0.52.0 mg iv, Atropin mungkin tcrbaik untuk bradikardia akibat rangsangan ,1ti1U bradikardia karcna penyakit sislem hantaran.

no

f.

Isoproterenol l, 2.

(Isuprcl) refrakter atau blok atrioventrikular derajat tinggi.

Untuk bradikardia

Oasis: 2-20 meg per rnenit sebagai infus yang dititrasi [rekuensi denyut iantung yang diinginkan. paeu jantung tinggi atau

untuk mencapai

g.

Pemasangan 1. 2.

Unluk blok at riovcuttikular dcrajat yilllg iimbu l selama a la u setvlah RJP. Biasanya
resusitasi

bradikardia

berat

pernacuan
pasicn asistol.

hanya

sedikit

mernbantu

d a la rn rnelakukan

h.

Digoksin 1. 2. 3.

(Lanoxin)

Untuk flater at.iu fibrilasi atrial dengan respons veutrik ular yang cepat, Dosis : dosis muatan 1 mg diberikan tcrpisnh 30-60 menit. Lebih diindikasikan
t akiarltrnia atrial

dalarn dosis tcrbagi (0,25 mg) yang daripada
ketakstabilau

kardiovcrsi
rncnyebabkan

pernberian
hernod

digoksin
inarnik

jika yang

bcrma kna.
L Verapamil (Isoptin)

1. 2. 3.

U ntu k takiaritrn

ia

SlI

paravcn

triku 1M. lahan (5-10 mg pada pasien 70

Dosis : 0.075 - O.15D mg per kg perlahan kg). diulangi scsuai kcpcrluan.

Obat ini hendaknya digunakan dengan hati-hati bila ada blokade adrenergik-beta bersarnaan Mall pcnggunaan digoksin, karena dapat menyebabkan hipotrnsi atau blok jantung lengkap. (Inderai). ventrikular
atoll

j.

Propranolol 1. 2. 3.

Untuk aritrnia

supraventrikular,

bukan

obat pilihan

pertarna dalam RJP.
Dosis awal : 0.1 - 0.5 mg IV. jib bisa d itoleransikan 0.5-0.1 mg setiap 2-5 mcnit yang dititrasi terhadap kernudian ditarnbah respon pasien.

Hcndaknya propranolol diberikan dengan hati-hati pada rnasa pasea henti jantung karena mungkin ada disfungsi kontraktil ventrikular d alarn berbagai tingkat

~I

Keputusan

untuk mengakhiri

upaya resusitasi

Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henri nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan dan refleks rnuntah dan di1atasi pupil yang rnenetap selama 15-30 rnenit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau di bawah efek barbiturat atau dalam anestesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk mernbuat keputusan rnengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktivitas Iistrik jantung (asistol selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapai obat yang optimal menandakan mati jantung. Seseorang dinyatakan mati bilamana fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel atau telah terbukti terjadi kematian batang atak. Dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika terdapat tanda-tanda mati jantung dan atau sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak tirnbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 meriit lebih, kecuaJi kalau pasien hipatermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari yang efektif, jawab dokter

Telah timbul kembali

sirkulasi

dan ventilasi

spontan

Upaya resusitasi telah diarnbil alih oleh orang lain yang bertanggung meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter), Seorang dokter sebelumnya, Penolong rnengambil alih tanggung tak sanggup jawab (bila tak ada resusitasi,

terIalu capai sehingga mati,

meneruskan

Pasien dinyatakan

Setelah dirnulai resusitast.ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada d alam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau harnpir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah 0,5-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP)·

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful