362.

28 Ind

r

PEDOMAN PELAYANAN GAWAT· DARURAT

CETAKAN

KEDUA

DEPARTEMEN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL DIREKTORAT RUMAH SAKIT

REPUBLIK iNDONESLt\ PELAYANAN MEO!K KHUSUS DAN SWASTA

1995

SAMBUTAN

Upaya pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan bangsa kita sebagaimana di tunjukkan oleh berbagai indikator utama kesehatan dan kwalitas manusia seperti menurunnya angka ksmatian. angka kelahiran, angka kesakitan dan perbaikan gizi serta rneningki'ltnyil umur harapan hidup. Namun dernikian perubahan struktur demografi, perubahan lingkllngilll hidup dan sikap perilaku serta gaya hid up masyarakat kita telah mernbawa dampak lain berupa pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke arah penyakit kronik degeneratif dan non infeksi. Meskipun penyakit infeksi masih menduduki urutan teratas dalam morbiditas urnurn di Indonesia, p ada dekade terakhir ini data-data yang dihimpun oleh Departemen Kesehatan R[ menunjukkan bahwa dari tahun ketahun terdapat peningkatan yang berarti dari prevalensi penyakit non-infeksi yang sering menimbulkan keadaan gawat darurat seperti penyakit kardiovaskuler, akibat cedcra atau kecelakaan. akibat keracunan dan lain-lain. Data survei kesehatan rumah tanggil tahun ] 9H6 menunjukkan bahwa penyakit kar diovask ulcr dan ccdera atau kccelakaan terutarna kecelakaan lalu lintas telah sernakin rnenonjol sebagai penyebab kernatian di Indonesia. Keadaan tersebut disertai dengan pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kesadaran rnasyarakat akan kesehatan mcnyebabkan perrnintaan akan pelayanan gawat darurat akan scmakin bcsar. Buku pcdoman ini rncuyajikan suatu pola pelayanan gawat darurat yang diharapkan akan mcnjadi acuan bagi segen<lp pengelola rurnah sakit maupun instansi pelayanan pra-rurnah saki! unt'uk rnerighadap i tantangan masalah kesehatan terscbut secara bcrhasil guna d,1I1 berdaya guna. Saran dan kritik sunil pcnyempurn(lan buku pedornan ini sangat kami harapkan.

Jakarta,

1 Maret

1992

DIREKTlIR

JENDERAL

PELA YANAN

MEDIK,

t.t.d.

Dr. BROTO W ASISTO, NIP. 140022724

MPH

.

111 kc.) sistirn S. g<lIYdl III .m dan pl'ngt'lllb.'ndl'riLl gctwat dnrurat.in <l g.11l.](ii<1ll. PcngE'mbangan pcnanggulangan p en d e r it a gaw<lt darurat dimaksudkan agar tcrcapainya suatu pclayanan yang optimal. Tujuan Program Upaya Kesehatan Rujukan adalah peningkatan mutu.lll srstim agar pCllilnggulangan vaitu : pcnderita gawat Peningkatan kcrnampuan pclayanan gawat darurat rum. terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang dalarn kcadaan gawat darurat sebagai akibat musibah ber upa k('celakaan.lS<lr. cakupan dan efisiensi pelayanan rujukan rncdik dan rujukan koschatan.l pc'nanggulangan poncicrita gawat darurat baik dalarn koadaan schari-hari (ddily routine).'l'ningK<ltdll tempat kq.lng .lIlgan sistim penratatan . Sasar an upaya pclayanan galVa~ darurat ada lah pcngcmbangan pellangglliangan pcnderita gawat dar urnt disr-mua ting kat pclavanan nlampu ml'l1l1llj. stand ar pelayanan.)11.mg diseicnggarakan di 1'['1"1. Illt'niJ1gk.PENGANTAR Departcnwil Kesehatnn I\J dalam RITELIT/\ . maupun dalam keadaan ben can a.lllgan peraturan.11.lI1g "p rim.in y. 2.l rncndadak. 11 upaya penanggulangan penangguJangan pengorga nisasian St'rtd I'r-niug kat. Pcningkat. Iwnderita gawat dururat: pcrencanaan peduman penang I'eningk<llan kcmarnpuan pcnderita gilwat darurat: Pen irigka tan kernarnpua pentierita gClwa! darurat.l f.GU. S.llll\'. SI'LlPld iumluh p(.He" Peningkatan darura! menitik 1.lIIClCl dan p('laporan Ucngall dif'erluk. maka d.V telah mernprioritaskan Pcngernbangan Frogr<l11l Upaya Keschatan Rujuk an.uurat baik y.uv 1]('<111h ('.l\vat darurat rru-liputi melalui kategorisasi unit rungsi iniru st ruktur Gid.tiah sat u Up'l}'d kt'seilatan rujuk.lIl ~l'I1l"kill j.1IiSil data pendcrila gawat darurat.lllg mcndapat pr ioritas untuk dikembarigkan adalah pcningkat<l11 upay.rnanili('rn~'n ~ I'cnf'lapan gul. bcncana rnaupun penyakit yang d iderita S(.l'idY. dan pcngembangan ber.itknn pada du.ih <akit.ru mah xakit m<lllplill dr rurnah saki!'.

buku ini bermanfaat bagi Buku pedoman gawat dapat dan pengembangan Jakarta. 140028924 IV . t. Sebagai pedoman semoga pelayanan gawat darurat. 1 Maret 1992 KEPALA DIREKTORAT RS KHUSUS DAN SWASTA. MHA NIP. Dr.t.ini dimaksudkan agar upaya penanggulangan penderita darurat baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta mern perol eh petunjuk yang cukup jelas dalam merencanakan menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.d. SOEMARJA ANIROEN.

Buku pedoman tersebut pada tahun 1995 ini mengalarni cetak ulang disertai pcrbaikan-perbaikan materi yang diperlukan.PENGANTAR Program Kesehatan Rujukan dan Rumah Sa kit Departemen pad a Repelita Repelita VI disusun sebagai kelanjutan Cawa d ar i program t Kesehatan Repelita RI V. penderita gawat darurat J\'2pal a Khus u s dan Swasta I . in i terutama terdapat dalarn Upaya untuk berjenjang penderita pelayanan gawat darurat dasar Sakit ditujukan ruj ukan menunjang pelayanan Pus kesrnas kesehatan sehingga dan Rumah da larn menanggulangi gawat darurat. Salah satu kegiatan yan~ terus mendapat perhatian VI adalah PCJllllgknt. Kiranya buku pedoman ini dapat mernenuhi seperlunya dan tambahan kebutuhan para pemakai secara guna rneningkatkan mutu f)enanggulangan konseptual dan sisternatis.m peningkatan antara Pel2l)'illliHl untuk dikernbangkan Da ru rnl. Untuk memberi arahan pada upaya penanggulangan penderita gawat darurat pada tahun 1992 Departcmcn Kesehatan RI telah menerbitkan buku pedornan pelayanan gawat darurat.

.

k. a. Mengingat 1. bahwa dengan pe s a t n y a perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pelayanan kesehatan khususnya untuk penansgu1angan penderita gawat darurat maka senantias3 diperlukan oenyesua ian yang tepat terhadap· perk". Raw"" Said 810k X5 Kow. bahwa dalam rangka memantaokan pelaksanaan program uoaya kesehatan rujukan melalui peningkatan mutu.No.I.A. penyakitDenyakit infeksi k an ad a Denyakit-penyakit non infeksi seperti penyakit kardiovaskuler. keganasa~ keracunah dan la1n-lain: b. pembangunan a disegala bidang Dada umumnya dan p e nv e t e n q q a r a a n o e l a r a n a n k e s a n a t a n se c a r a o a r Io u r n a p a d a k h u s u s n y a . bahwa sebagai akjbat dari perubahan Dola penyakit tersebut telah terjadi lonjakan anqka. Undang-undang Namor pokok Kesehatan.98 5204395 .kat akan hebutuhan oelavanan k~sehatan yang l e b i h b a i k . Seta •• n Tel!>.9 J. cedera akibat keceiakaan. ma k a d i p arrrra q o e r Lu n untuk secara t e r u s+me n e r u s mempe rba i k 1 dan men i ngkatkan D61ayanan kesehatan.mbangan tersebut: semakin meningkatnya kesadaran ma~yara.96 .•. bahwaden~an e. c.""-... na s i cna l . disamping telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah pula menyebabkan ~erubahan Do1a penyakjt dimana tengah t e r iad i pergeseran co t a Denyakit dar. d t o e r Lu k a n ad a n va suatu s t anda r d i s a s i oedoman p e La y a n a n yang be r s Lf a t.. S20t594· 95 .D£PARTEMEN KESEHATAN R. _. CIREKTORAT .JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MECIK Jalan H. 4 . degerneratif. d. bah . 9 tahun 1960 ten tang Pokok- VII . efisienSl dan c a k up a n p e La va n a n kesehatan khususnya dalam upaya Denangguiangan penderita gawat d a r u r a t.rt. kesakitan maUDun kematian akibat keda~uratan medik baik dalam keadaan sehari-hari ~aupun dalam keadaan mus ibah masa 1 . KEPUTUSAN MENTER I KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOHOR 0701/YAN MEO/RSKS/GOE/VII/1991 TENTANG PEDOMAN PElAYANAN GAWAT DARURAT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK Menimbang INDONESIA .

4. Kesehatan RI Nomor 558/Henkes/SK/84 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan RI. DSA (RSCH) 9. Dr. MPH (Dit RSKS) n 1.Sakit.Darurat.. Bagus Mulyadi (Oit RS UMDIK) Dr. viu ..Med/RSKS/S5 tanggal 2S Me.. Keputusan Presiden RI Nomor 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Oepartemen. 5...JENDERAL PELAVANAN JAKARTA MEDIK T"p. 4. P at HEM UTUSKAN Menetapkan. Kedua Revis. Pertama Herevis. Hermansyur K (IGO RSCM) Dr. Boedihartono.entangelayanan Ga.: 5201594 -115·98 52(M395 • 96 • Pe$ •. Dr.at Darurat dan petunjuk teknis standard pelayan. Surat Edaran Oirektur Jenderal Pelayanan Medik Nomor 0681/Yan. 3. Pusponegoro (IKABI) Dr.I...T. 1982. peduaan dimak6ud menvangkut Sistim Penanggulangan Penderita Ga . Soemarja Aniroen. at Oarurat Rumah Sakit dan S.. April 1989. Aryono D. Haryadi (Oir RS Pasar Rebe) 7. Oarurat Pre Rumah at .. DIREKTOAAT . Brato Wasisto.HPH (Oir Jen Yan Hedik) Or.. 1985 t.usan Menter. Petrus Maturbongs (Dit RSKS) Or.. Derma.. Hario Untoro (Dir RS Sekasi) 6.DEPARTEMEN KESEHATAN R. Buku Pedoman Pengembangan Pelavanan Unit Ga . 2.... IQbal Hustafa (PKGOI) Dr.... H.. Ora.stim Penan99ulangan Penderita Gawat Darurat yang d. 2. Dalam rangka revisi buku pedoman tersebut per 1u dibentuk kepanitiaan dengen susunan sebasai berikut : Penasehat Pengarah Dr. Abdul LDtief.. Or. 3. Oarurat at Rumah Sakit termasuk Penanggulangan Penderita Ga .terbitkan oleh Direktur Jenderat Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.. Susbandyah (Oit RSKS) 6 .. HHA (Ka Oit RS UM DlK) 1.. MHA eKa Dit RS Khusus dan S~asta) 2. 5. tanggal 22 Jun.. Program Upaya Kesehatan Rujukan REPEL ITA V Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Ketiga Ketua Sekreteris Ang9ata Dr. Tb. Abdul Radjak (Ka Sub Dit Yan GDE) Dr. Keput.n yang harus dimiliki ole . Unit Ga .Dr.

I WASISTO. Pimp. Kesehatan RI di Jakarta.. Kepala KPN III di Jakarta: 7.•. Hal-hal diatur Pedoman Rumah diatur tersebut dlbebankan Sakit Swasta dan dalam Keputusan keoada Khusus 1n1 akan Kel ima yang belum lebih lanjut.kana Selatan 5204395·96.DEPARTEM£H KESEHATAN a.: 1.2::::ul i 1~31 J REPU8LIK INDONESIA Pelayanan Medik. 2. Direktur Jenderal Anggaran OeD Keuangan RI di Jakarta. 5. MPH 140022724 Tembusan kepada ytn. 9. A r sip.: 5201594·95·98 J. BaDak Menter.~ . Yang bersangkutan untuk diketahui.alan H.e t ack an d i : Jakarta Pada tanggal .r. Rawna Said 810k X5 Kav. OeD Kes RI di Jakarta. Para Direktur Jenderal dil. 6. Keoala Badan Pemeriksa Keuangan d. Jakarta. Keempat Biaya ravisi Buku Proyek Pengembangan Pusat Jakarta.9 J.R. 8. Sekretaris Jenderal. Keenarn Suiat Keputusan inl reulai berlaku pada tanggal dltetapkan dan apabila ternyata ad3 kekeliruan dikemudian hari akan dladakan perbaikan. 3.4 ...nan Proyek Pengembangan RS Swasta dan Khusus Pusat Jakarta. No. 4.ngkungan Dep Kes RI d1 JaKarta. D1 t. di 1\ . MEDIK DIREKTORAT JENDERAL JAKARTA PELAVANAN Telp.

.

.'......... Lampiran Trauma Score ... "." ............... ...... .. .......... Cara mcngukur Paru ... III IV V VI dan prasarana leu ' '........DAFTAR lSI Sambutan Pengantar Dirjf'll Yanmedik Kadit RSKS ..... Rumah Sakil..............Keputusan Menteri Nornor : 01521Yan................ .....'........ xi 1 2 3 4 penanggulangall penderita Lampiran ................................. ............ 57 ...........Resusitasi Jantung -......Akreditasi .. ...... 84 XI ....... SK MENKES No 071 IYAN Tentang Pedoman Daftar lsi Pendahuluan Pengertian Penanggulangan Sistim Penderita Gawat Darurat gawat (rrGD) darurat Indonesia '.... .......................Sarana Unit Cawat Darurat "......... 1I Kesehatan Republik MED/RSKS/1987 33 4] 43 Larnpiran Lampiran Lampiran Lampiran ....... iii vii .. .. MED/RSKS/GDE/VIJ/199L Pelayanan Gawat Darurat .... 51 .......Arnbulans udara ........

Uepctrterncn Kesohatan RI c. Agar upaya pel1'Zlnggu['11lg. serta dilaksanakan terutarna rnelalui upaya peningkatan dan pencegahan yang dilakukan secara terpadu dengan upaya penyernbuhan dan pemulihan yang dilakukan. . adalah meliputi kesehatan badaniah. Cleat dan kelemahan. Segala upaya ini harus dilakukan secara merata kepada selur uh lapisan masyarakat dengan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan biaya yang dapat dipikul oleh masyarakat dan negara.. dan masyarakat perlu aktif berperan serta. Ikrdasarki'ln hal tersebut di a las.L PENDAHULUAN Upaya Bangsa Indonesia untuk mcncapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. agar dapat hckerja dan hidup layak sesuai dengan rnartabat manusia. dapat d iterirna dan tcrjangkau oleh scluruh masvarakat. Sesuai dengan azas adil dan merata. penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). rohaniah dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit. hasil-hasil yang dicapai dalam pembangunan kesehatan harus dapat dinikmati secara rnerata oleh seluruh penduduk. C. merata. maka Keschatan Nasional antara lain adalah : A Dasar-Dasar Pembangunan Sernua Warga Negilli1 berhak mernperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tillgginya. terpadu.q. jawab dalam mernelihara dan B. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik perlu merigadakan pcnataan pelavanan gawat d ar ur at dengan rnenerbitkan suatu buku pedornan sebagai sumber inforrnasi. Kegiat(ln ini horus bersifat menveluruh. Pemerintah dan masyarakat bcrtanggung mempertinggi derajat kesehatan rakvat. Dalarn upaya penyernbuhan tercakup upaya penanggulangan penderita gawat darurat. Usaha keschatan di at as mcncakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif). Pen yelenggaraan upa ya keseha tan diatur oleh Pernerin tah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh Pernerintah dan masyarakat. Upaya dalarn bidang keschatan telah dijabarkan dalam Sis tern Keschatan Nasional yang pada hakekatnya adalah berupa pemikiran dasar yang mernberi arah dan tujuan. bentuk serta sifat kesehatan sebagai kesatuan yang menyeluruh. D.111 pcndcriLi gawat d ar urat dapat berfungsi dengan baik. ter padu dan berkesinarnbungan sebagian bagian dari I'embangunan Nasional.

lt tctapi tid ak rnemerlukan darurat. Mekanisrne kejadian: Tertumbuk. perbelanjaan.ecelakaan. dan lain-lain. Waktu kejadian: a. kerugian harta benda.. waktu sekolah. kerusakan sarnua dan prasarana urnum St'rt. c. E. terpotong. dan lain-lain. misalnya luka sayat dangkal. kecelakaan di lingkungan rumah taD. mental. Tempat kejadian: a. Kecelakaan dan cedera dapat diklasifikasikan menurut : 1. F. D.gga. sosial). kecelakaan Ialu lintas: b.l mcnimbulkan g.intuan. dan sebagainya. pasien dengan Suatu kejadian dimana terjadi interakxi berbagai faktor yang datangnya rnendadak. waktu kesehatan yang didapat/dialarni time). jatuh. Pasien Cawat Darurat Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. Iisik maupun listrik atau radiasi. 2. TBC kulit. terbakar baik karena efek kimia.mkcr stadium laniut. kecelakaan di lingkungan pckerjaan: d. tercekik oleh benda asing. tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya. kecdakaan di sekolah: e. kecelakaan di tempat-tempat umum lain seperti halnya : tempat rekreasi. tidak dikehendaki sehingga menimbulkan ccdera (fisik. Cedcra Masalah Benrana Pcristiwa <1 tall rangkaian pcristiwa yang disebabkan olch alarn d<1I1 atau rnanusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia. tersengat. C.'lVV. . B. Pasien Tidak Gawat Misalnya Kccclakaan (Accident) Tidak Darurat ulcus tropium. C. misalny» k. waktu perjalanan (traveling/transport b. scbagai akibat L.II. Pasion Darurat Tidak Cawat Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba. PENGERTIAN A. Pasion Cawat Tidak Darurat tindakan Pasien berada d alarn kcadaan t.lIlg mernerlukan pcrtoltlJlgan dan b.mgguan tcrhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pr-mbangunan llilsional y. korusakan lingkullgdl1. waktu bekerja. di arena olah raga. berrnain 3.

Kecepatan meminta pertolongan. Menanggulangi korban bencana. 5. Dengan demikian keberhasilan Darurat (PPGD) dalam mencegah 1. B. -dan lain-lain.6 menit). 2. susunan saraf pusat pernapasan kardiovaskuler hati ginjal pancreas Kegagalan (kerusakan) sistim/organ tersebut dapat disebabkan oleh: 1. hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat sebagaimana mestinya. 6. ditempat kejadian: b) dalam perjalanan ke rumah sakit. Kegagalan sis tim susunan saraf pusal. Tujuan 1. 3. pemapasan dan hipoglikemia dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat (4 .III. atau . infeksi 3. 3. trauma/ eedera 2. keracunan (poisoning) 4. Merujuk penderita gawat darurat melalui sistirn rujukan untuk memperoleh pencmganan yang lebih memadai. c). PENANGGULANGAN A. degenerasi (failure) 5. kardiovaskuler. Mencegah kematian dan caeat (to sa ve life and limb) pada penderita gawat darurat. kehilangan cairan dan elektr olit dalam jumlah besar (excessive loss of wafer and electrolitc) 7. 2. sedangkan kegagalan sistirn/ organ yang lain dapatmenyebabkan kernatian dalam waktu yang lebih lama. pertolongan selanjutnya secara mantap d i Puskesrnas rumah sakit. asfiksi 6. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Prinsip Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah satu sistimiorgan di bawah ini yaitu : 1. Penanggulangan Penderita Gawat kematian dan cacat ditentukan oleh : Kecepatan menemukan penderita gawat darurat. PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) 2. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan a). 4. 3.

Oleh karena itu. penanggulangan penderita gawat darurat dapat dikembangkan seoptimal mungkin. kapan saja dan dirnana saja. terarah dan yang berada dalam keadaan Upaya pelavanan kesehatan pad a pcndcrita gawatdarurat pada dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan sedernikian rupa sehingga mampll mencegah kernatian atau cacat yang mungkin terjadi. kOMPONEN a. PENANGGULANGAN PENDERITA GAWATDARURAT TUJUAN Tercapainya suatu pelayanan kesehatan terpadu bagi setiap anggota masyarakat gawat darur at.lll d alam mnsyarakat dibagi :~(dtld) g()i("lgclil orilng awarn .IV. maka agar upaya penanggulangan penderita gawat darurat tersebut dapat terarah dan terpadu perIu dilaksanakan dengan cara pendekatan sistim. Upaya penanggulangan penderita gawatdaruratdi tempatrujukan (Unit Cawat Darurat dan JeU). 4. B. pasien dan tenaga ahli. KOMPONENSISTIMPENANGGULANGANPENDERITAGAWAT DARURAT 1.1sifikilSi llr. 2. yang optimal. Transportasi penderita ga wat darurat dari tempa t kejadian ke sarana kesehatan yang lebih memadai. Upaya rujukan ilmu pengetahuan. Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan Petugas Kesehatan (SUB-SISTIM KETEN AGAAN) I'ada lllllUIl1J1ya yang pertarna menemukan penderita gawat darurat di tempat rnusibah adalah masyarakat yang dikenal clf'ngan istilah Orlll1g mmill. PRA RUMAH SAKlT (LUAR R. 6. sangatlah berrn.ln. Cakupan pclayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi : L Penanggulangan penderita di ternpat kejadian.1I1g a warn : DitinjilLl da ri 'il'gi pt'r. SISTIM A. Dengan cara pendekatan sistim. I) Kl. 3. 5.S).mfaa! sckali hila orang awarn diberi dan dilatih pengetahuan dan keterarnp ilan dalarn pcnanggulangan penderita gawat darurat. Dengan mcmaharni bahwa penanggulangan penderita gawat darurat menyangkut baik aspek medik maupun non medik dan keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja. Upaya pernbiayaan penderita gawat darurat. Upaya penyediaan sarana kornunikasi untuk mcnunjang kegiatan pcnanggulangan penderita gawat darurat.

. mereka harus mernperoleh tambahan pf'ngetahauan pcnanggulangan penderita gawat darurat (Advance Life Support) terrnasuk PHTLS dan PHCLS untuk melanjutkan pertolongan yang sudah diberikan. (6). bin: (2). pelajar (3). petugas Dinas Pernadarn Kebakaran (3). (5). terutama kalau dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Kemampuan yang harus dimiliki khusus antara lain : oleh orang awam (1). cara meminta pertolongan resusitasi kardiopulmuner sederhana cara menghentikan pordarahan cara memasang balut!bidai (5). (4). restoran b).a). (3). (2). Kemampuan darurat 2). Anak-anak akan menjadi dewasa dan pengetahuan ini akan tetap dimilikinya. (2). Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat seperti orang awam (Basic Life Support) ditambah. gawat perawat/paramedis pengetahuan dasar keperawatan yang telah Di samping dirniliki oleh pcrawat. Tcnaga menanggulangi keadaan sesuai bidang pekerjaannya. pengemudi kendaraan (4). (4). petugas hotel. ibu-ibu rurnah tangga (5). Colongan awarn khusu= antara (l) anggota polisi (2). cara transportasi pendcrita gawat darurat Anak-anak lebih mudah menerima pelajaran penanggulangan penderita gawat darurat. Golongan (1) awarn biasa antara lain: guru-guru berrnotor dan lain-lain. satpam/hansip petugas DLLAJR petugas SAR (Search and Rescue) anggota prarnuka (PMR) Kemampuan Penanggulangan Pender ita Gawat Darurat (Basic Life Support) yang harus dirniliki oleh orang awarn: (1).

mcrawat infus-infus CVP d).KemampuanPPCDyangharusdimiliki tcnaga pararnedik adalah a). pcrnapasan rnulut ke rnulut (b). membebaskan jalan napas (oropharyngeal way) sampai dengan intubasi endotracheal (3). mengenal renjatanl shock anafilaksis (2). dengan resusitator manual dan otornatik (4). memberi pertolongan pertama pada aritrnia. memasang infus z'transfusi (3). Untuk sistim pernapasall air (1). operasi pada g). dalam penanggulangan Hospital Trauma Life Hospital Cardiac Life n1ilmpU merawat Zrnempersiapkan penderita dengan akut abdomen. rnelakukan resusitasi kardiopulmuner b). Untu k sistim skeletal (1). . Untuksistim saraf mernber i pertolongan pertarna pada trauma memberi pertolongan (I). Untuk sistirn gastro intestional (I). mernbuat rekaman jantung (EKG) c). marnpu Tllcmasang bidai ('1. Untuk sistim sirkulasi (jantung) (1). menghentikan perdarahan (2).mengenal stroke dan pertama Kernarnpuan a) + b) + c) + d) pra rumah sakit yaitu Pre Support (PHTLS) dan Pre Support (PHCLS) e). mengenal aritmia jantung. Untuk sis tim vaskuler (1). infarkjantung (2).marnpll mentransportasi penderita dcng<ll1 patah tul<lllg (lIl1lgkai dan t\1hng pungg\lng) t. infark jantung (3). Untuk sistim imunologi (1). mengenal adanya sumba tan jalan napas (2). mcngcnal patah tulang (2). mengenal korna dan pertama (2). memberikan pertolongan kcpala (3). shok. mcrnbcr ikan napas buatan (a). momberikan pertolongan pertarna pada shock f).

mengetahui s istim penanggulangan korban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja 3). mampu memberikan pertolongan keracunan (2). mampu memberikan pertalangan penyal. 1Tlcnanggulangi renjatanisyok (1). mernbebaskan adanya sumbatan jalan napas [alan nap as (oropharyngeal . mampu melayani persalinan (2). mcrnberikan pertoJongan pertama pada aritmia (3). memberikan (2).h). mernbuat/membaca EKe (1'». Tenaga MI. mampu mernberikan pertolangan gigitan binatang k). memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat obstetri-ginekoJogi j) Untuk farmakologi/Tohikologi (1). nwngenal pertarna pada pertama pada pertama pada air way) (<1).ahgunaan obat (3). mengenal infark jantung (4). Kernampuan a).'dis (Dokter Umum) Di samping pengetahuanmedis yang telah dikuasai. mengenal (2). Unt. mcmberikan pertolongan pertama pad. intubasi endotracheal (b). Untuk Organisasi (1). Untuk sistim reproduksi (1). dokter umum perlu mendapat pengetahuan dan kctr-rarnp ilan tambahan agar mampu menanggulangi penderitn gawat darurat. Untuk sistirn kulit (1). yang harus dimiliki adalah : Untuk sistirn pernapasan (1). memberikan pertolongan pertolongan pertama pada luka pada luka bakar i).i pcnderita inlark rniokard (DC) (~). melakukan resusitasi kardiopulmoncr (ABeD) dan memberikan obat-obatan yang perlu b). mengetahui sistim penanggulangan penderita gawat darurat (2).uk sistim sirkulasi aritmia jantung (2). melakukan tricothyroidectomi (5).

gagal ginjal. merawat patah tulang secara konservatif i). gagal pankreas rnampu rnenanggulangi koma Unt uk farmakologi Ztoksikolog i dan (1). keadaan darurat SSP. mernberikan pertolongan pertarna pada pcnyalah gtll1aan (lbal/keracunan/ gigiLm hinatang . keadaan renjatan/syok ana- (1). a) + b) + c) + d) adalah kemampuan ATLS dan ACLS. menegakkan diagnosa I diagnosa diferensiai kuma dan kelainan darurat sis tim saraf pusat (2). Untuk sistim vaskuler (1). mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan yi'lng diperlukan pada kead aan koma. e). mengenal kelainan darurat obstetri/ginekologi (2). Untuk sistim reproduksi (1). menanggulangi filaksis f). Untuk sistim gastrointestinal "(1). Untuk sistim saraf (1). memasang/membaca dan merawat CVP d). memasang bidai (3).c). menanggulangi (2). Untuk sistirn imunologi keadaan alcrgi akut. memberikan pertolongan pertama dan pengobatan pada keadaan darurat obs tetri/ ginekologi j). rnampu menanggulangi berbagai g). menghentikan perdarahan (2). mengetahuicara pengangkutan penderita dengan fraktur/patah tulang (4). menanggulangi akut abdomen nasogastric tube) h). k). Untuk sis tim skeletal (memasang (1).niailgunacHl obat/ keracunan z' gigitan binatang (2). Untuk (1) sistim kulit perlukaan men genal berbagai jenis luka (2). mengenlll ke ad aan pcn). Mengeual gagal hati. memberikan transfusi darah dan terapi cairan/ elektrolit (3). mengenal dan mendiagnosis patah tulang (2). mendiagnosis akut abdomen (2).

Untuk organisasi (1). Lencana akan mernudahkan mereka memberikan pertolongan dalam keadaan sehari-hari maupun bila ada bencana.ilwat darurat yang penting adalah : penderita (1). 3). 2). b). pa tah tulang telah d itiksasi telah l) .perjalanan telah ditutup (4). Upaya Pelayanan Transportasi (SUB-SISTIM 1). Semua pusat pendidikan penanggu!angan pende rita gawat darurat mernpunyai kurikulum yang sarna (2). Mempunyai yang sarna sertifikat dan lencana tanda lulus Dengan demikian instansi manapun yang menyelenggarakan pendidikan penanggulangan penderita gawat darurat. Sarana transportasi a). Mengetahui sistim penanggulangan gawat darurat penderita (2). Tujuan TRANSPORT ASI) Penderita Gawat Darurat mernindahkan penderita gawat darurat tanpa rnem perberat keadaan penderita sehatan yang memadai. b. Dalam memasyarakatkan penanggulangan )'. Mengetahui sis tim penanggulangan karban bencana di rumah sakit dan kota tempat bekerja. luka-Iuka h). scbelum diangkat (1). d). perdarahan telah d ihentikan (3). gangguan pemapasan dan kardiovaskuler ditanggulangi (2). dengan aman ke sarana ke- terdiri dari dan non medis kendaraan petugas pengangkat (tenaga medis/paramedis) life saving dan life support dipenuhi untuk transportasi peralatanmedis obat-obatan c). Pcrsyaratan yang harus pendt'rita gawat darurat a). para siswa akan mempunyai kernarnpuan yang sama. sclama.I).

angkutan tradisional (a). rnaka jenis kendaraan yilng dapat digunakan pada umumnya adalah: a). beca dan lain-lain. tekanan darah (4). Fungsi ambulans darat secara (a). Keridaraan laut (1). sebagai rumah sakit la p a n g an p ad a pcnanggulnngan penderita gaw. kendaraan khusus untuk pender ita arnbulans darat. kcsadaran (2). keridaraan roda tiga: berupa berno. rakit (2). angkutan modern (a). denyut nadi (5). perahu motor (b). horus selalu d iperhatikan dan Sesuai dengan keadaan geografis eli Indonesia yang terd iri dari ribuan pulau. kcadaan luka 4). sebagai sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita gawat darurat di ternpat kejadian (e). (b).selarna pr-rja lanan dimonitor (I). alat untuk transportasi penderita (200 km) (b). pernapasan (3). arnbulans laut c). tandul digotong (2). 5). angkutan trad isionaI (a). kapal. (c). pcrahu (b). yaitu (2\). b). Kendaraan Darat (1). (Kendaraan Ambulans darat (1).11 riarur at da lam keadaan belle ana II) . Kendaraan udara (ambulans Pe!ayanan udara) Medik) urnurn adalah Arnbulans a). kereta api dan lain. kendaraan umum roda empat: berupa dan "pick up station". angkutan modern truk lainbajaj. kereta kuda/lembu (b).

personil dan persvaratan lihat lampiran It lainnya c. ambulans pelavanan medik bergerak (e). kereta jenazah Tujuan penggunaan. c). ambulans gawat darurat (c). p('nyam~ nwnilng- I . arnbulans transportasi (b). 2}. Tujuan ini digunakan untuk di bidangteknis-mcdis menunjang menunjang Untuk mcmpennudah dan rncmpprccpat paian dan pcncrimaan informasi dalam guhngi penderita gawat darurat. Komunikasi kesehatan Sis tim komunikasi ini d iguriakan untuk pelayanan kesehatan di bidang adrninistratip.tak terbatas) Helikopter dibagi dalarn 2 jenis : (<I).' Upaya PelayananKomunikasi Penderita Gawat Darurat (SUB-SISTIM KOMUNIKASI) Pada dasarnya dad. rI . jenis Fixed Wing (sayap tetap . ambulans rumah sakit lapangan (d).500 km) (b). b). persvaratan kendaraan secar a tcknis.(2) Kiasifikasi arnbulans sesuai fungsinya sebagai herikut: (a).ns udara adalah (.1). helikopter besar (7-15 tempat duduk + lebih 2 tandu) Untuk perala tan. Komunikasi rnedis Sistim komunikasi pclayanan kesehatan (1). Ambulans Air Sarna dengan ambulans darat Ambulans Udara ("l). jcnis pesawat udara yang digunakan sebagai ambula. pelayanan Medik untuk Penanggulangan kornunikasi di sektor kesehatan terdiri 1). [enis Rotary Wing (helikopter . Fungsi ambulans udara adalah Sebagai alat angkut udara penderita gawatdarurat dari lokasi kejadian ke rumah sakit (:2). helikopter kecil (3-5 tompat duduk + 1-2 tandu) (b). med is dan kebutuhan tenaga pengelola lihat lampiran I.

lLHL. tdepon/telepon geng-gam b). [). teleks z'telegram d). tradisionil kcntongan bed uk trornpet kurir/mulut penanggulangan rnedik kc mulut Komunikasi modem a). Fungsi i I). Untuk mengkoordinir korban bencana. jcnis komunikasi dalam penanggulangan penderita gawat daroretdapat berupa: 1).l'. Oleh karena itu. 2). Sentral komunikasi MPllgkoordinirpenanggulangan penderitagavvat daru rat rnulai dari ternpat kCjii. d.Hl sampai kc sarana kesehatan ycIng sesuai (rurnah sakit) yaitu dC!1. jen is Kornunikasi Teknologi komunikasi di Indonesia telah berkernbang pesat dan semakin modern. e. narnun demikian sararia komunikasi modis belurn sepenuhnya menjangkau dan dikcmbangkan di seluruh pelosok tanah air. b). komputer !p!emetri (EKG data transmision) Sarana Komunikasi Yang d imaksud a ).iii. d). c).: Fcrj. Untukmemudahkanmasyarakatdalarnmeminta pertolongan ke sarana kesehaian (akses kedalam sistim GO) (2). hmgsi komunikasi mcdis dalam pcnderita gawat darurat adalah : penanggulangan (1).'lll • 1:. Untuk mengatur dan memoriitor rujukan penderita ga w at darura t dari puskesm as ke rumah sakit atau antar rumah sakit (4). Kom unikasi a).L}!l )'Zmg lcbih mcmadni (3).' . I). Untuk mengatur dan membimbing pertolongan mcdis y<lIig d iborikan di ternpat kejadian dan sclarn. facsimile e). radio komunikasi cr.b).n kc sar aria k('sch. dengan sarana kornunikasi (Pusat kornunikasi) Pusat Kornurukasi • adalah bcrupa ..

kornputer bila diperlukan masa lah (5). har us sentral kornunikasi nomor telepon khusus pelayanan mempunyai (sebaiknya 3 digit). Menjadi pusat pcnangglllcmgan rujukan penderita kornando dan mengkoordinir modis korban bencana. radio komunikasi (3). mudah dihubungi 24 jam sehari. menghubungi rurnah sakit terdekat untuk mengetahui fasilitas yang tersedia (tempat tidur kosong) pada saat itu yang dapa t diberikan untuk pcnderita gawat darurat. tcnaga yang trampil dan kornunikatif (6). mengatur kejadian dan tnl'ngana_lisa tcrdekat perrniritaa ke tempat n amb ulans (e). instansi lain dan kalau perlu dengan negara lain. (4). (d). c). Syarat alat sentral komunikasi (1). Dapat diambil alih oleh aparat kearnanan (ABRJ) bila negara berada dalam keadaan darurat (perang) b). (2). Berhubungan dengan sentral komunikasi medis dari kota lain. k orisu len m e d is yang menguasai kcdaruratan mcd is. (3). teleksy'facsimilc (4). dan memberikan (3). dilayani oleh tenaga medis atau paramedis perawatan yang tram pi! dan berpengalaman. mcngatur / momonitor gawilt darurut.(a). 1'- . mcner irna pertolongan (b). (2). Syarat-syarat (1). telepon (2).

2). Oleh karena itu Puskesrnas dalam wilayah huka 24 jam dan m.S) a.ggi penderita sebelum mernperoleh penanganan yang mernadai di rurnah sakit. maka tenaga untuk keperluan kornunikasi seyogianya adalah tenaga medis atau paramedis perawatan yang telah dididik dalam bidang penanggulangan penderita gawat darurat bidang komunikasi. [aringan komunikasi POLISI DPK I'M! <--> <--> <--> <--> BAKORNAS PUSAT KOMUNIKASI <--> RADIO AMATIR <--> A I-) 1{ 1 PUSAT AMBULANS <--> RUMAH SAKI1 KORBAN <--> Agar rahasia medis setiap penderita tetap terjarnin. 2.lmpu dalarn hal: kerja tertentu harus If . Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit (SUB-SISTIM PELA YANAN GA W AT DARURAT) SeringkaJi Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggular. KOMPONEN INTRA RUMAH SAKIT (DALAM R.

merupakan salah satu unit di rurnah sakit yang kepada pr-nderita gawat darurat dan merupakan bagian p('nangguhlllgan pc-ndorita gawat darurat yang perlu Tidak semua rumah sakit harus ruemp unyai bagian gawat darurat yang lengkap dengan tenaga mernadai dan pcralatan canggih. Melakukan rcsusitasi dan "life support" gawat darurat Melakukan rujukan penderita-penderita sesuai dengan kcmampuan Menampung dan menanggulangi dengan emergency" korban pusat Melakukan komunikasi rurnah sakit rujukan. Behan kerja rumah sakit dalarn l1wnanggulangi Dengan mernperhatikan kcdua aspek tersehu t. 5) bencana kornunikasi medikal dan dan Menilngglliangi (bcdah tnsvbut "false minor) baik I'uskesrnas l ).aboratorium untuk menunjang diagnostik Seperti: Hb. Rumah Sakit tertentu dapat mengernbangkan unit gawat darurat dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rcndah dari kclas rurnah sakit tersebut. penderita gawatdarurat.v'\rci~. 4). Tcnaga : I dokter umurn dan pararnedis (2-3 orang pararncdis yang sudah mendapat pendidikan tl'rt('lltu dnlarn PPCD). Kategorisasi/akreditasi Pedoman 1).lc.1). urine dan gula darah. Oleh karena itu pengembangan unit gawat darurat harus memperhatikan 2 (((U<1) aspck yaitu : 1)_ Sistim rujukan pender ita gawat darurat. lcukosit.lt dCI1)!. 2). Ht. maka kategorisasi (akreditasi) unit gawat darurat tidak selalu scsuui dengan kclas rurnah sakit yang bcrsangkutan. khususnya unit gawat darurat harus dilengkapi scdcrnikian rupa schingga mampu menanggulangi penderita gawat darurat ("to save life and limb"). I"'.lt Darurat Gawat (lihat lampiran Darurat III) Sakit Pengembangan Pelayanan d i Rumah TlIjllan: Suatu Unit (..Vill Darur. karena dengan demikian akan terjadi penghamburan dana dan sarana. slirgibi 3). Oleh kareria itu Iasilitas rurnah sakit.. Unit Gawat Darurat rnemberikan pelayanan dari rangkaian upaYil diorganisir. .lW. Rumah Sakit mcrupakan tcrrninal torakhlr dalam menanggulangi pender ita gawat darurat.(») haru-: "l<llllpll nu-mbcrikan dcngc1n kwalil as tillggi pillLl Ill.l\. Unit C. 2). 2)..'1lproblim medis pclayanan akut. harus dilengkapi dengan : l.i! (U(.

.

. b). : petuga~ : modis harus mcnjadi pcnanggungjawab Unit Cawat Seorang Darurat. Interpretasi : c).lng twkerjil di Unit Cawat Darurat. mencegah kematian dan cacat b). Mengadakan kursus-kursus untuk personalianya scndiri maupun penyuluhan kcpada masyarakat dalam penanggulangan penderita gawat darurat (prGD). menanggulangi korban bencana Kriteria: a). Interpretasi Petugas perawat. medis ini dapat seorang dokter ahli. Harus ad" s('Dr. tertari ky mempunvai perhatian khusus lL1Ii11l1 bjdi1Il. d). Administrasi.id i rl'llimggungj. Darurat Catatan harus Medis ~ 2). (I).lllg pCllling i. Unit Cawat Darurat harus buka 24 jam Unit Gawat Dar urat juga harus rnelayani pcnderita-penderita "false emergency" tetapi tidak baleh mengganggu/mengurangi mutu pelayanan penderita-penderita Gawat Darurat.lIlg pCriHVi1t/dokter yang rncnj. i<l har us d ihant u ok-h pcnvakibn unit-unit Idill y. memenuhi kebutuhan masyarakat dalam Darurat dan dikelola sedernikian rupa terjalin kerjasama yang harmonis dengan unit-unit dan instalasilain dalam rurnah sakit. Unit Gawat Darurat sebaiknya hanya melakukan "primary care".11<1h: b). mempunvai kcrnampuan memimpin: dan (l). Unit Gawat Darurat hams melakukan riser guna meningkatkan mutu z' kwalitas pclayanan kesehatan masyarakat sekitarnya.lnlerpretasi : Harus mampu a). dokter umum mauptll1 tcrgantung pada klas rurnah saki! Y. Unit Gawat Darurat hams meningkatkan mutu personalia maupun masyaraka t sekitarn ya dalam penanggulangan pcnderita gawat darurat. Organisasi. melakukan rujukan c).~ kcdoktcran gawat darurnt: (2). e). Sedangkan "definitive care" dilakukan di tempat lain dengan cara kerjasama yang baik. Unit Gawat Penanggulangan Penderita Gawat sehingga instalasi Kriteria a).1\\'ah harian.

Harus ada kerjasama yang saling menunjang antar Unit Cawat Darurat dengan: (1).Interpretasi : Ia bertanggung c).iodata dan kelengkapan administrasi (2). "Disaster planning" rurnah sakit maupun kota dimana dia berada (2). Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di Rumah Sakitnya sendiri dilengkapi dcngan Unit Perawatan Intensip (leU) Semua personalia Unit Cawat Darurat men genal dan menghayati sistim Penanggulangan Penderita Cawat Darurat di unitnya rnauplln Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Nasional. ambulans servis (tipe 118) (3). unit-unit dan instalasi-instalasi lain di rumah sakit (2). prioritas yang tinggi. dokter-dokter yang berpraktek/tinggal di sckitarnva (4). Triage officer dapat scorang dokrer ahli. Kalau penderita tak dikenal/tak ada keluarga yang mengantar harus diusahakan semaksimum mungkin untuk mencari dan menghubungi keluarga. waktu rnenunggu tindakan rnedis (4). puskesmas-puskesmas Ji sekitarnya (5). g). Triage dilakukan oleh orang yang paling bcrpengalaman dan haws d apnt menentukan (lrgan mana tcrganggu dan dapat menvebabk an kernatian dan rncncntukan pcnanggulang21nnya. dan instansi keschatan lainnva Harus mempunyai peranan inti dalam : (1). lnterpretasi : Triage adalah sistern : (1). B. . Semua penderita yang datang ke Unit Cawat Darurat harus melalui "Triage Officer". O· Semua penderita yang masuk ke Unit Gawat Darurat hams jelas idcntitasnya. doktcr urn urn (Ita up un pera wat sr-suai dengan kelas . lnterpretasi: (1). e). hak dan rahasia rnedis penderita (3). Catatan rncdis yang baik (3). Seleksi problim sClJrang penderita (dalarn keadaan sehari-hari) (2).itau kcbijaksanaan r urnah sakit. 'seJeksi pendcrita (dalarn koadaan bcncana). sopan san tun (2). Interpretasi : Semua petugas baik med is maupun paramedis harus selalu mernperhatikan : (1).' kebutuhan rohani penderita (5). jawab atas mutu pclayanan pada hari itu. kerjasama dan d is iplin kerja mernpunyai d).

Penunjang pelayanan med is sepcrti alat. n. porawat.l!l timggdl Sl'rtd (d). pcrsonalia (b). konsulen termasuk hematologi.im.h).lp untuk : Interprotasi : (1).llan !ned I".ln r·)c··lllg.. infus.m k linik. \-lilY (c). Cillahlll keterangan kapan -Ian nud is yang pcnyakitnya kcrnana konl rol sdjilP pcndcrita 1t'llgk. j). radio) dcngim rurnah sakit kclas Iebih tinggi yang terdckat. harus mempunyai kornunikasi (telepon. l). Penderita-pcnderita Cawat Darurat harus mendapat selama ia berada eli d alam Unit Gawat Darurat In terpretasi : pengawasan ketat Unit Cawat Darurat harus mempunyai perala tan. Cat.in modis minimum harus ilH'IlCd k up : (<1) h1nggi1! dan jam tibd (b) resume latat. Interpretasi : terbatas harus Puskesmas dan rumah sakit kelas 0 yang hanya mampu rnelakukan resusitasi dan life support semen tara. (2).1[. "plasma expander".rk an d. i).-lnl (2). ha rus bckcrj<l 241. bakterioJogi dan patologi d iatur sesuai dengan kernampunn rumah sakit dan kebutuhan periderita. Catat. Pengawasan ini harus dilakukan terus mencrus baik di ruang Unit Cawed Darurat maupun scw aktu diangkut ke rumah <akit lain. Intcrpretasi (I). hbur. Depot darah (4). Farmasisangatpenti.Iaboratoriurn k). obat-obatan dan personalis yang rnemadai untuk melakukannya. obat dan pcrsonalia harus diatur sedernikian rup<1 sehingga dapat memenuhi kebutuhan 24 jam.i eLm lClIHLi l<lll~'. (h).ls me-d i- jam dilakuknn I:: . alat-alat "disposible" dan "linen" cukup untuk 24 jam. alat-alat steril. tenaga adrninistraxi) Daftar jilga : (a). Radiologi.ngsehingga pcrsediaan obat-obat. : (dokter. dirnana dirawat (2). pulang : (a).ltoriut1).1/<11"1!cnl<Hlg t in d. Penderita keluar dari Unit Gawat Darurat harus jelas : (1). (". biokimia. Unit Gawat Darurat atau Rumah Sakit dengan pelayanan mernpunyai sistem rujukan yang jelas. (3).

seb''lg<1i "feedhack". Karena Unit Cawat Darurat pada rumah sakit klas A dan B juga temp at belajarnya mahasiswa dan perawat maka sebelum bekerja praktek disitu harus sudah mendapat/ sedang mendapat pelajaran ilmu kedokteran gawat darurat.llTI oricntasi d. Harus ada progill1l c).ih sakit.lilll yan. Astek b). dokter.' !'j.lSil<1Jl-kebj.s baik. perawat dan personalia non medis harus memenuhi kwalifikasi tertentu sehingga mampu rnemberikan pelayanan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang optimal. (4) (5).ls. : dan kwalitas personalia harus mcmcnuhi syarat : jumlah (1).m "induction". Scor<mg pptugas baru scbelurn bekrrja progr. Harus mernpunyai skema organisasi mulai dari pimpinan sampai petugas yang paling rend ah dengan "job descriptionnya dan jalur tanggung jawabnva.. Askes . komunikasi antar petugas melalui d) send iri harus mendapat. Kritcria a). Penanggulangan (3). I" ..'bi. Mereka h ar us d i bawah pcngawasan/bimbingan seorang dokter atau perawat dari Unit Cawat Darurat. [umlah petugas rum. l'erternuan staf yang n:gukr untuk mcnjaga d an k. Personalia Personalia dan Pimpinan : Unit Gawat Daurat mulai dari pimpinan.3). Tenaga l'enderita non medis harus mendapat kursus Gawat Darurat sebagai orang awam. cara menilai rnutu pctUgi1'-. modis disesuaikan dengan beban kerja dan kelas untuk: lc~l'lganon medis selain pekarya (a) (b) (c) (d) catatan medis keuangan keamanan juga diperlukan asuransi :" jasa Raharja . (2). Karena ilrnu kedokteran gawat darurat tidak diberikan secara "integrated" dalam kurikulum Fakultas Kedokteran dan belum lengkap dalam kurikulum pendidikan perawat maka sebaiknya para dokter dan perawat yang akan bekerja di Unit Gawat Darurat atau Puskesmas harus mendapat kursus tambahan dalam ilmu kcdoktcran gawat darurat.

Kri tcria : a). (5).mlma !lIang (d). d an ( dan d ig unak an 1111il!K Iwddh infl'ksi lu k. IlllTW1. (0). C~dllng untuk pclavanau I 'enanggulangan I'enderita (. Terletak berdampingan dengan tempat perawat kepala: chief nurse/ dokter jaga sehingga dengan mudah dapat mengawasi scm ua kegiatandi pintu masuk. (2). Diguriakan pr-nynkitnva.lISit. ruanj. Ruang triage: (a).m . tindakan dan I'Ildllg resusitasi. untuk sr-leksi pasicn scsuai tingkat kcgawatan (b).uas Unit Cawat Darurat disesuaikan diporkirakan untuk 20 tahun mendatang dengr\ll behan kerja )inng dan kelas rumah sakit.l.awa! hams sedemikian rupa sehingga Penanggulangan Pcnderita Darurat dapat dilakukan dengan optimal.lIang t indakan Uutuk rurnah Iwdilh 1111.lsi (<1). LII'dl) mcnjarnin k<'lC'llrlngall H dipi"dhk. dan alat-alatlobat-obatan : 4). Uarurat Cawat deng<H1 amhulans ke depan "cilingga f laru» malllpu mencrima 2-5 arnbulans sckalig us sc-suai dcngan Ixban kcria z'kelas rurnah sakit (rurnah sakit kclas C menampung 2-~ arubulans rurnah sakit kr-las D ]-2 ambulans)..l (2) fK) Kuad aan IUclllgaJl harus P. FasiIitas Fasilitas dan a lat-alat Zobat-obatan Unit Cawat Darurat harus rnernenuhi persvaratan schingga Penan. Untu k rtu nah sakit kclas A dan Bh<lTlISadil Helipad untu k pcriderita yilng diangkut dcngan helikopter. (1). (I. RlI. (7). sedang untuk r urnah sakit kclas c: hila mcrnungkinkan dibuat lapangan pendaratan hclikoptcr dekat rurnah sakit.1S A. ha k. Un tu k rurnnh IllCIl'1Il)~'111i 11. Kaiau ada petugas yang pindah maka hams diminta pendapatnya tcntang Unit Cawat Darurat bcrsangkutan yaitu positif m<lupun ncgatifnY<l dan usu l-usul. Cukup Iuas untuk menampung pCllcierita untuk rumah sakit kclas (I')' rll<1ng triage beberapa C) pf'lldl'ril. (4).I).ggulill1gan Penderita Cawat Darurat CL1p"t di la ku kan dcngan optimal. (1). ""kit kclas i\ dan dan 1 lUll bcd ah sak it kCl.ir ~'II . l. ruang tunggu. Lokasi gedung Unit Gawut Darurat harus mudah dicapai tanda-tanda y<lOg jelas dari jalan maupun dari dalam.~l1g t". I'intu Unit Cawat Darur at llwnghadap tidak pcrlu murtdur. Lotaknva hams berdckatan dengan (h).':-.

scinua baf.J. ruang konferensi. ruang kerja non medis bagi pimpinan. locker. perawar penanggung jawab. Ruang (untuk (12).ul yMIS harus del" d i. gudang obat-obatan. "social worker".(9). Interpretasi (a).13 dan C mak. disesuaikan derigan beban/ k wali tas Alat-nlat dan obat-obat di Unit Cawat Darurat harus sedemikian mpa sehingga resusitasi dan "life support' dapat d i iakukan. Behan kerja dan keias rumah sakit akan rnenentukan besar dan isi sudang farm asi.i .lbilisdS.it . (IS).Isit. haws dapat menampung korban bcncana sesuai dengan kemampuan kelas Rumah Sakit (c). (17). (20). Ruang persiapan operasi/observasi (tergantung pintu kebutuhan) dari luar/dalam (10).ldalah untuk timbkan rCSl.in dapdt dibagi : . polisi. pcnderitd ('iif"~upp()rt'l Scclilngkan untuk Unit Cayv. Komunikasi tilpon/radio ke Iuar rumah sakit dan tilpon intern di Unit Gawat Darurat dan ke rumah sakit. arus penderita dapat Iancar dan tak ada "croos infection" (b). (15).mg instrumen (c). (16).bi dan tindabn -. tempat istirahat.aw<!t Daru r. Mereka dapat istirahat dan mudah dirninta keterangan yang lengkap dari petugas. wang cuci (e). Susunan (recovery soom) tergantung kebutuhan :3 tempat tidur untuk 1 karnar operasi) harus sedemikian rupa sehingga : (1 wang jurnlah ternpailldur 1:50/ ruangan (a). ruang sterilisasi (d). kegiatan rnudah dikontrol olch "chief nurse" pada saat it u. alat-alat dan obat-obat.\.t. Ruang gips dekat X-ray [umlah ruang operas! sesuai dengan keaktifan rumah sakit (a). Ruang X-ray dan ruang farrnasi dengan Rumah Sakit kelas A dan B) operasi (tergantung kebutuhan) (11). Ternpat khusus berduka/berdoa untuk yang meninggal dan keluarganya yang sesuai beban kerja atau kelas rumah sakit. Ruang untuk keluarga menunggu harus sedemikian Tupa agar rnereka tidak mengganggll pckerjaan. ruang bayi baru Iahir (operatif) (b) fu.]t Darurat t 111J!<lh sakit kelas . Juga ada fasilitas we dan kantin sesuai dengan beban/kwalitas kerja yang dilakukan di Unit Gawat Darurat terse-but. Alat-alat radiologi diagnostik kerja dan kelas rurnah sakit. asuransi. (19). linen (13). : Alat-alat dan obat-llb"t. Ruang pulih pulih dengan (14).dn Unit C.

llinger. 18 Bic Nat. (4).[arum No. untuk resusitasi untuk "life support" untuk diagnostik sesuai dengan tipe Rumah Sakit terapi sesuai dengan tipe Rumah Sakit non medis seperti audio visual. amp. "Plasma ex- glukose "Blood drawihg equipment" Tandu dapat posisi Trendelenburg. (6). (3). A1at-alat/obat-obatan "WSD sct"/jllfum "Blood gi1:-. ada gantungan + "Tracheostomy set". (2). penderita (life support) : kit" scgilla ukuran lengell!. alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-obat alat-alat kearnanan lain-lain. infus dan pengikat. dan Alat-alat Zobat-obatan Oksigen Respirator Laringoskop Magil forceps Pipa endotrachealPip a nasotracheal Pip a 5. "Lichtkast" "Pneumatic trousers" "Cricothyroidectorny" Gunting besar anti Trendelengburg. amp.Pethidin . [arum intra kardiak "Pace make: *" transvenous" * "transthoracic"."cardiac Infus/transfusi pander" + defibrilator 10 . lcher. monitor/portable" set + cairan ECG . tulang runggung "Car diar rnodication Bidai-bidai . . cateter lurus dan bcngkok sernua ~ sernua (anak dan dewasa) ukuran ukuran 10 cc .Adrenalin 50 'Yr. (5).(1). training seperti pemadam kebakaran kebersihan aids. untuk menstabilisasi pungsi set" untuk tungkai. guedel "Syringe: CVP set Morphin Dextrose yang perlu dengan otomatik untuk resusitasi: dan masker Suction-manual/otomatik (02) lengkap manualy flow meter.20 'Yr" NaCL.

.gula darah "Bone set" "Minor surgerv :.Hb mata • Ht * ICllCO * urin . 5).m l'eudcrita Cawat Darurat harus tertulis dan "up date": dan dap<lt dih<1«l setJ. teIepon .. Boneka untuk latihan "Audiovisual jtraining aids". .ct'· "Thoracotomy set' "Laparotomy set + extraset" Benang-benang z'jarurn scgala jenis + ukuran Alat-alat kearnanan dan pendidikan : Pernadarn kehakaran Ember .lIIgg11lang.lp waktu hagi seruua personalia . Dj + Th/. \') t[) . Protokol gawatdarurat dan korbsn ProtokClll'cn..ke dalam Perp usta kaan Manual Zbuku F't'doman pl. Komunikasi ..'ll<lnggulangan pcndcrita penanggulangan bencana. Lavase peritoneal set "traction kit" : ~ bone ".ke luar ---> radio.Perban sega!a ukuran Sonde larnbung Foley kateter segi1la ukuran Venaseksi x-ray Perban set untuk luka bakar set untuk diagnosa dan terapi : Perikardiosintesis Alat-alat tambahan Alat-alat pcriksa-pcngobatan "Slit lamp" THTsetDj + '1'11/."kick bucket".skin " pelvis Gips Ob-Gyn set. Laboratorium mini: .

(7). RS. rumah sakit dan rnasyarakat yang dilayaninya. (3). Kriteria .O. (4). (15). Harus mcngikuti pengcmbangan dan kongres-kongrcs seminar . (21). b). (23). (14). (13). (19). (17). (6). (12). Sistem PPCD di UCD.A) Kebakaran Listrik mati Huru-hara Bencana di Rurnah Sakit! di luar Rumah Sakit Resusitasi kardiopulrnoner di Rumah Sakit Protokol tentang tiap-tiap penyakit sesuai yang dianut unit-unit lain yang bekerja di Unit Gawat Darurat. (16). Protokol yang harus ada adalah : (1).psikiatri Kontaminasi radioaktif Keracunan Penderita tak dikenal Catatan medis Penyakit rnenular Visum et repertum Rahasia rnedis Surat cuti Resep apa yang boleh diberikan Resep obat narkotik Kernahan di Unit Gawat Darurat Mati waktu tiba (D. (9). Pendidikan Unit Gawat Darurat harus mampu meningkatkan rnutu Penanggulangan Penderita Gawat Darurat bagi personalianya. (2). a). d. (20). (5). b). Unit Cawat Darurat adalah sesuai kelas Rumah Sakit Haws rriempunvai program tempat belajar mahasiswa dan perawat baru orientasi dan induksi bagi personalia ilmu rnelalui kcpustakaan. kota dan nasionaJ Triage Sis tern rujukan Penerirnaan penderita Sistern asuransi I'erkosaan Tindakan kriminil "Child abuse" Keamanan . (22). (11). (26).Kriteria: a). 6). (18). (24). (10). (8). (25).

d). e).

Harus mampu rnelakukan riset derni perhaikan Penilnggulangan Penderita Gawat Darurat di unitnya maupun masyarakat. Sernua (1). (2). (3). (4). (5) (6). (7). (8). personalia minimum harus mahir dalam penanggulangan:

"air way" (A) "breathing" (B) "circulation" (C) menghentikan perdarahan balut - bidai transport pengenalan dan penggunaan membuat/baca ECG

obat

7).

Evaluasi Evaluasi mutu Penanggulangan dan berjalan terus. Kriteria: a) Statistik dibuat dan dievaluasi secara komprehensif. Pcnderita Gawat Darurat harus komprehensif

Interpretasi: (1). akses untuk masyarakat (2). adanya sarana (3). kwalitas pelayanan (4). rnutu dan kaitan komponen-komponen (5). biaya yang sesuai b). c). Kasus-kasus yang menyinggung/ mencari jalan keluar. Pertemuan

dalam

PPGD

aneh/jarangdicatat

dibicarakan

untuk

staf
.. kelemahan Unit Gawat Darurat mencari jalan keluar kesepakatan dan menyebar luaskan hasil pertemuan pada semua staf lIpaya perbaikan dan peningkatan mu tu pela yanrui

Interpretasi : Untuk meneari:

..

*

b.

Unit Pelayanan
1).

Intensive

Filosofi Intensive Medical Care (J.M.C) sebagai suatu akrivitas khusr.rs mendapatkan legitim2lsi bukan oleh karena kompleksitas peraiatan dan pcmantau.m pasicn. tetapi oleh karena pasinn sakit krit is

(Critically ill) selalu berakhir pada suatu "final common pathway" dari kegagalan sis tern organ sehingga dibutuhkan bantuan terhadap sistern respirasi, kardiovaskular, renal, nutrisi dan organ vitallainnya baik tersendiri rnaupun terkornbinasi. Sebagai contoh untuk pasien dengan gagal nafas hipoksemia tidak menjadi persoalan apakah paru-parunya mendapat trauma dari roda mobil, teraspirasi asam lambung, atau terserang virus, manajemen suportif dan hasil akhir selalu akan sarna. Ini salah satu contoh "suatu pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan jelas" oleh cabang spesialisasi I.M.C. Aplikasi yang tidak terkoordinasi dari multi-disipliner tidak hanya merugikan pasien. tetapi personil perawatdan tenaga profesimedis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan baik dalam suatu unit Intens Care "terbuka" yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas. Pada hakekatnya tidak merupakan persoalan apakah seorang sepesialis penyakit dalam, bedah anak atau anestesiologi yang mengelola suatu LCU sepanjang spesialis tersebut mernenuhi persyaratan: a). Pengetahuan
b).

"Intensive Care"

Keterampilan Komitmen waktu

c).

Hanya dengan ke 3 syarat tersebut akan terdapat pelayanan yang komprehensif. Keahlian ini bukan merupakan hobi, juga bukan pekerjaan sarnbilan ("part-time"). Harus diingat mendapatkan konsultasi merupakan hal yang penting di dalam pengelolaan pasien-pasien saki t kritis. Meskipun demikian merupakan kewajiban seorang intensivis bertindak sebagai "interlocutor", mengkoordinasikan dan membawa semua informasi dari berbagai konsultan untuk kepentingan pasien. Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang intensivis adalah bayangan ideal seorang dokter di masa Iampau, yaitu mernbawa seorang dokter kembali ke "bedside" untuk mengelola pasien secara utuh, berkonsultasi dengan kolega dokter dan keluarga pasien. Di samping pengelolaan pasien sakit kritis yang memerlukan penggunaan alat-aJat dan teknik-teknik bantuan hidup (Tife support"), intensivisjuga harus menurnpahkan perhatian z'mengarahkan usaha sernua dokter kepada problema multi-faktorial pasien. Seorang intensivis harus rnerupakan seorang manajer, diplomat dan guru, dan dalarn rangka mengaplikasikan usahanya harus terdapat

piramida

dari

berbagai

tenaga

lain

seperti

perawat.

f isi o-

terapis. teknis-teknis,
Pasien-pasien dengan gagal alat-alat bali jika

dan lain-lain.

Tanpa bantuan tersebut maka usaha seorang intensivis
yang masuk yang satu atau lebih gagal sistem / organ dilakukan utarna bantu. Oi samping sistem/organ terdapat akut,

akan sia-s ia.
pasien dan! atau pulih kern-

ke suatu ICU harus merupakan mernbutuhkan itu harus pemantauan harapan
tepClt

atau ancaman

terClpi cian barituan

yang

Fungsi a). b). c).

ICU adalah didapati

membcrikan

bantuan

fisiologis

yang

dibutuhkan

sampai

hasil :
problema dasar

Pasion sernbuh spontan Terapi spesifik dapat mengatasi Pasien meninggaL

Perlu juga ditekankan bah wa filosofi "Coronary Care" tidak sarna dengan filosofi "Intensive Care". Hal essensial dari "Coronary Care" adalah "surveillance" dan se-sekali melakukan intervens i aktif dan bantuan sistern mu1ti-organ. Difinisi lain "ICl.I" adalah tentpat melahlknll bantam! (support) "nku]" dan interoensi tcrapeutik: delIgml aktinit a« dan keriinnan yrzJlg tidak sesuai untuk atmosier "11011 strees" dan "Coronary Care Unit" ideal. Bentuk pengelolaan bentuk pengelolaan lCU sering mcnjadi pertanyaan. leU dengari "closed unit" yaitu: kepala unit "full time"

dengan wakil-wakiln ya bcrtanggung jawab penuh terhadap semua pengelolaan pasien dan pendidikan dalam unit, sering menimbulkan konflik autoritas dengan dokter primer konsultan. Suatu K'U yang "semi-closed" yaitu dengan kepala unit bertanggungja wab terhadap kualitas total pengelolaan pasien dart pendidikan staf, mungkin lebih baik dalam hal mengurangi konflik, tetapi di atas segalagalanya manajemen yang terarah dan jelas merupakan hal yang: tidak dapat ditawar-tawar. Hal ini penting bukan hanya untuk pengelolaan pasien juga untuk mempertahankan moral staf dan koordinasi Rumah program-program sakit tidak hanva kompleks. bertanggung jawab mcnvediakan

Iasilitas dan tempat, tetapi juga bertanggung jawab legal agar Iasilitas leU digunakan secara tepat dan balk. Old, karena ilu, terdapat tendensi akhir-tendensi ini di rurnah-rurnah sakit dengan pelavanan sck undur (Lin tersiL'I' untuk nununjuk pcrsllnil medic:; ICU "full time" medis
("m,llId,ltorv

(intcnsiv

is) dari
-n").

pada

hergantung

pacta

praktek

"la lsscz-fa ire"
lllliC,U]tdtil

a la u krharu

san

me lakuk an k o ns u lt as i

dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala K'U: tenaga ahlilaboratorium diagnostik. memiliki staf khusus. alat untuk menopang fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik. Ruangan yang hams dimiliki : tersendiri: letaknya dekat dengan karnar bedah. Intensive Care Unit (Unit Perawatan/Terapi Intensif) suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit.2). Merniliki kebijaksanaan r kriteria penderita yang rnasuk keluar serta rujukan (. Memiliki s('orang doktcr -:pcsia1is anestesiolllgi scbagai kl'PilJ'l . Staf khusus adalah dokter. rUrlng darurat dan rU<1ngal1pcrawatan lain (2)."1). trauma atau kornplikasi-komplikasi. perawatan terlatih atau berpengalaman dalam "Intensive care (perawatan/terapi intensif)" yang mampu memberikan pelayanan 24 jam. teknisi alat-alat pemantauan. Klasifikasi a). peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. Kemampuan minimal leu adalah Sebuah leu hendaknya memiliki kemampuan minimal sebagai berikut: Resusitasi jantung pam Pengelolaan jalan napas. Kekhususan (1). pelayanan K'U Pelayanan leu primer (standard minimal) Mampu melakukan resusitasi dan mernberikan ventilasi bantu kurang dari 24 jam serta mampu melakukan pemantauan jan tung. terrnasu k intubasi trakeal dan penggunaan ventilator Terapi oksigen Pemantauan EKe terus menerus Pemasangan alat pacu jantung dalam keadaan gawat Pemberian nutrisi enternal dan parenteral Pemeriksaan Iaboratorium khUSLlS dengan cepat dan menyeluruh Pernakaian pompa infus atau semprituntuk terapi secara titrasi Kernampuan melakukan teknik khusus sesuai dengan keadaan pasien Mernberikan bantuan fungsi vital dengan alat-alat portabel sclarna transportasi pasien gawat.

F) .(. rllang darurat dan ruangan perawatan lain Memiliki kriteria pasien masuk. Kekhususan yang hams dimiliki : Merniliki tempat khusus tersendiri di dalarn rumah sakit Merniliki kriteria penderita masuk.' tempi intensif.ErF. keluar dan rujukan Mern iliki dokter spcsial is yilng dapatme!lilnggulangi sotiap saat bila d iperlukan Memiliki seorang kcpala ICU yang bertanggullg jawab secara k esel ur uhan (intcnsivis) dan doktcr jagil vang minimal mampu RJI' (i\. melakukan bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks. kekhususan yang harus d irnili ki : Memiliki ruangan tersendiri. Pelayanan leu Sekunder (menengah) Mampu memberikan ventilasi bantu lebih lama. Memiliki jurnlah perawat yang cukup dan sebagian besar telah terlatih (7). Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan resusitasi jan tung paru (A/B. berdekatan dengan kamar bedah. Rumah sakit yang dapat mempunyai ICU primer. keluar dan rujukan Merniliki dokter spesialis yangdapat menanggulangi setiap saat bila diperlukan Memiliki seorang kepala ICU yang bertanggung jawab secara keseluruhan (intensivis). rontgen. Mampu melayani pemeriksaan lab ora tori urn.F).D. Rurnah sakit umum klas C (2).E. Pelayanan leu tersier (tertinggi) Marnpu melaksanakan sernua aspek perawatan.(4).B. c).CD. Mampu mengadakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien :pera wa t 1 :1 pada setia p saat jika diperlukan Memiliki perawat yang bersertifikat terlatih perawatan/ terapi intensif Mampu memberikan bantuan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pernantauan invasif dan usaha bantuan hidup Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. kemudahan diagnostik dan fisioterapi. Rumah sakit umum klas I3l b).I3.r:. adalah : (1). .CO. dokter jaga minimal mampll RJP A. Konsulen yang membantu harus selalu siap dipanggil (6). (5). kemudahan diagnostik dan fisioteri selama 24 jam Memiliki ruang isolasi dan mampu melakukan prosedur isolasi. rontgen.

Penatalaksanaan spesifik (c). rontgen. Pemantauan fungsi vital tubuh terhadapkomplikasi (a). Memberi bantuan dan mengambil aIih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan penatalaksanaan spesifik problema dasar (3). perbandingan perawat: pasien lebih dari 1 : 1setiap shift untuk kasus erat dan tidak stabil Merniliki lebih banyak staf perawat perawatan/terapi intensif Mampu melakukan sern ua bentuk perawatdn/krclpi intensif bersertifikat pemantauan terlatih dan Mampu melayani laboratoriurn. Penatalaksanaan untukmencegah kornplikasi akibat kama yang d a la m. tenaga rekam medis. seperti ahli penyakit dalarn ahli bedah saraf.Memiliki lebih dari satu staf intensivis Mampu rnenyediakan staf perawat. s tirnu lasi berlebihan dan kehilangan sensori (5). Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kernatian dalam beberapa menit sarnpai beberapa hari (2). Member ikan bantuan emosional tcrhadap pasicn yang nyawanya pada saat itu bergClntung pada fungsi alat/ mesin dan orang lain. ah1i kebidanan dan lain-lain Memiliki staf tambahan yang lain misalnya tenaga administrasi. tenaga untuk ilmiah dan penelitian Merniliki alat-alat untuk pemantauan khusus. prosedur diagnostik dan terap_i khusus. Pemantauan itu sendiri (4).kemudahan diagnostik dan fisioterapi seIama 24 jam Merniliki paling sedikit seorang ahli dalam mendidik staf perawat dan dokter muda agar dapat bekerja sarna dalam pelayanan pasien Merniliki prosed ur untuk pelaporan resrni dan pengkajian Didukung oleh semua yang ahli dalarn diagnostik dan terapi. Penyakit (b). Sistem bantuan tubuh (d). perawatan/Terapi (leU) Ruang hngkup pelayanan yang diberikan di leu (1~. -_i () . im ob ilitas berkepanjangan. Prosedur pelayanan a).

(3). j). syok scp tik ). ['(lsicn tidak rnernerlukan hgi terapi intc[)<. (2). pasicn tidak stabil yang mcmeriuk au terapi intensif scperti bantuan ventilator. kepala leU atau wakilnva akan memutuskan pnsien mana yang harus diprioritaskan. surnbatan ja'lan napas).lder yang lld'lll:. Fasit. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium) kccuati keberadaannya diperlukan sebagai donor otgan. (2).'iiln . Pasicn yang memerlukan terapi intensif untuk rnengatasi kornpl ikasi-komp likasi akut. Tidak perlu masuk leu (1).~('llIiliim (lI. tidak ada harapau dapat d isern btl hkan Iagi (contoh: karsinoma stadium akhir.ll nil pas berat. bcd'lh jantung terbuka.l"m 11. Persyaratan masuk dan keluar lCU hendaknya juga d idasar kan pada manfaat terapi di leU dan harapan kesembuhannya Kcpala leu atau wakilnya rnemutuskan apakah pasicn memenuhi syarat masuk feu dan kcluar. tamponadejantung. da iam waktu de-kat . (3). Pasien sccara medic.. d..1i. b).ikit berat.erLl manfaat terapi inlcnsif sang(lt keei!.lndikasi masuk dan keluar leU Prosedur rnedis yang menyangkut kriteria rnasuk dan kcluar leU seharusnya disusun bersama antar disiplin terkait oleh sernacam tim terd iri dari dokter. Pasien rncnolak tempi bantuan hidup..11 vJng kcd un por lu pE'r.i. karena it'll secara umum prioritas terakhir adalah pasiendengan prognosis buruk untuk sernbuh. a).ikan mornburu k <.. pernberian ohat vasoaktif melalui irrfus sccara torus mcnerus (contoh: gag. sekalipun mantaat leU ini sedikit (contoh: pasicn dcngan tumor ganas metastnxis dengan kompl ik_asi in febi. kerusakan susunan saraf pusat dCllgan koadaan vegdatif). Indikasi masuk leu (1).sif atau non invasif sdl1ngga komplikasi berat dapat d ihindarkan atau dikurangi (conroh: rase" bcdah besar dan luas: pasi--n dengan penyakit jantung. Pas ir-n yang mernerlukan pernantauan inter. perawat dan tenaga adrninistrasi rurnah sakit Pelayanan ICU meliputi pemantauan dan terapi intensif. pasc. pi'lrU.ij knn-ria k--adaan mombaik ntau terapi klilh gag81 dan pruln'<. ginjal ataulainnya).'jl s. [ndjkasi keluar ICU (1).

PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN) penderita masyarakat. (3). Terapi intensif tidak diteruskan Iagi pada : memberi manfaat dan tidak tidak perlu (a). Renal Unit. Standard ilmu terkait. ada pasien lain kritis yang rnemenuhi syarat prioritas pertama. jan tung terminal. f. Apabila tempat di JeU penuh. Pasion d engan bermacarn -maeam diagnosis seperti P POM. Masvarakat (OUKM) resiko untuk Dana Upaya Kcsehatan Sumber swastay perusahaan swasta yang berpotonsi tinggi untuk terjadinya kccelakaan dapat diwajibkan menycd iakan biaya untuk FPC!). kareria trauma) dan sangat yang keeil (c). Pasion mati otak atau koma (bukan menirnb ulkan keadaan vegetatif kemungkinan untuk pulih. maka pasien yang tidak kritis tetapi rnernenuhi kriteria keluar terpaksa dikembalikan ke ruangan. (0). d. karsinorna yang menyebar. hendaknya dengan persetujuan dokter yang mengirim. Pasion usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak mernberi respons terhadap terapi intensif sclama 72 jam. Bi!a pad a pemantauan intensif tcrnyata hasilnya rnernerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama. g. Pelaksanaan ketiga butir terakhir ini hendaknya dilakukan atas persetujuan dokter yang mengirirn. kecelakaan jalan to1 khusus untuk korban kecelakaan lalu jasa Raharja tenaga keria (ASTEK). c.ber dari pemerintah jasa Marga untuk Asuransi Asuransi lintas Asuransi Pegawai Negeri b. Burn diserahkan kepada disiplin 3. gawat terdiri pembiayaan untuk penanggulangan dapat berasal dad pemerintah dan pusat dan daerah Surr. . c. ICeu.(2). KOMPONEN Sumber darurat dari: a. Sarana dan prasarana Unit-unit Khusus Unit. (SUB-SISTEM dan Manajemermya K'U (lihat lampiran IV).

034iBirhub/ I 972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit: Surat Keputusan Menteri Kesehatan Rf No. untuk keseragarnan dan peningkatan mutu pelayanan rnedik.. R! !. . 5.21 tahun 1984 ten tang Repelita IV. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK IN DONESIA NOMOR : 01521YAN.MED/RSKS/1987 TFNTANG STANDARJSASI KENDARAAN PELAYANAN tHEDIK MENTERI KESEHATAN REPUBLJK INDONESIA Menimbang L bahwa dalarn rangka meningkatkan mutu pelayanan medik khususnya upaya rujukan mr-dik dan kesehatan diperlukan jenis kendaraan dengan p"'r'-'varatan khusus.\'i". 99a/Menkes/ SK/III/l982 tentang Sis tim Kesehatan Nasional: Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1l1. Mcntori Kcschatan Pci<lv. 7.Llr.jalan Raya.1.1tan RT.('nt<lng l'>~'utllS("lJl i<. 032/Birhub! 1972 tentang Referal System.111 SLll1darisasj .m Mcdik..' I . . S Undang-Undang No. Undang-Undang Lalu-Lintas dan Angkutan. diperlukan standarisasi pcrlcngkapan urrium d an Il)ctiis pada kcndaraan khusus tersobut. Mengingat I.'ntang Pokok-Pokok Kesehatan: Keputusan Presiden No.1. b. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 558/Menkes/ SK 1J 9S4 tentang Organisasi dan tara Kerja Departcmen Kl's('h. 134/Menkes/ SK/IV 11979 tentang Susunan Organisasidan Tata Kerja Rumah Sa kit Umum.9 Tahun 1960 tt. 2. 4.

4. 2.1.r. Arnbulans Rumah Sakit Lapangan. Kereta jenazah. 6. Spesifikasi Kendaraan pada diktum pertarna sf'perti tor larnpir. Bapak Menteri Kesehatan R. 4. INDONESIA ttd. H.Pertama Di dalam Keputusan ini diatur tentang jcnis Kendaraan: 1. 2. 5. Para Dir. Dir.I. 3. Keernpat Kelima sejak tanggal ditctapkan.: 9. Ambulans Cawat Darurat: 3. 5.L Inspcktur Jenderal Departemen Kesehatan RJ.jen. di lingkungan Departemen Kesehatan RJ.1 11 Indonesia P{'rlinggill. 8. Perhubungan Darat Departemen Perhubungan J~. Dr. Hal-hal yang belum diatur dalarn diktum Keputusan ini mulai berlaku akan diatur kernudian. MENTERI KESEHATAN REPUBUK Direktur J_enderal Pelayanan Medik. Kedua Ketiga Sernua Kendaraan khusus yang sudah ada harus dilengkapi sesuai Keputusan ini dalarn waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan ini ditetapkan.1-1 . Mohamad Isa Tembusan disampaikan 1.n.jen. 7.- . Arnbulans Transportasi. Ditetapkan di : J a k art a I'ada tang-gal : 24 Pebruari 1987 J\. Kepala Direktorat Lalu Lintas Mabes FOLRI Kakanwil DcI' Kl's 1\I I'ropinsi di seluruh Indonesia Pengurus J\s()si<lsi I'('["kit Kcnda [. kepada Yth. Sekretaris [enderal Departemen Kesehatan R. Ambulans Pelayanan Medik Bergerak.

Scmua porn luran lululintas harus ditaati. 3. Persyaratan lain sesuai Peraturan Perundangan yang berlaku. 1. 1 (satu) supir dengan Komunikasi 1 (satu) I'erawat dengan kemampuan P3K dan Tujuan Penggunaan Persyaratan kendaraan: A. Larnpu ruangan seeukupnya. Radio Komunikasi. 5. DC diruang penderita. Teknis 1_ 3. 10. Ruangan penderita eukup luas uantuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Stopkontak khusus untuk 12v. Dilengkapi sabuk pengaman. 9. Kend araan roda empa t ata u Iebih d ('ngan sus pensi lunak. 6. ~. Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang mernantulkan sinar. K'-. O. 14_ 15. Lampu rotator warna merah. 4. Gantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita.cairan infussecukupnya. kemamp uan Pl'CD. 12. Ruangan penderita rnudah dicapai dari tempat pengemudi. penampungan air limbah. Perala tan Medis P3K Obat-obatan sederhana. T?lta Tertib 1.L AMBULANS TRANSPORTASI Pengangkutan penderita yang tidakrnemerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatanselama dalam perjalanan. Tabung Oksigen dengan peralatannya. Sirine satu nada. Sclarna meng-angkut pcnderit a hanva bo'lch l1lL'nggunakan lampu rotator. B. 7_ 8. Medis 1. 2. 2. Air bersih 20 liter. Buku petunjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia. 2. . wastafel dan. 16. 13. Sewaktu menuju tempat pencierita bolch mcnggunakan sirene dan larnpu rotator. Lemari obat dan peralatan. 11. Tempat dudukbagi petugasdi ruangan penderita.'ct'pat<11l kcnciarnan sclinggi 40 Krn eli [alan hiasa dan NOKm eli jalan bebas harnbatan .

6. AMBULANS GAWAT DARURAT Pertolongan PPGD Pra Rumah Sakit Tujuan Penggunaan Pengangkutan penderita gawat darurat yang sudah distabilkan keternpat tindakan definitif / distabilkan Rumah Sakit. 9. 13. untuk 12 v DC di ruangan Larnpu ruangan secukupnya dan lampu-Iampu sorot bergerak untuk menerangi penderita yang dapat dilipat. Cantungan infus terletak sekurang-kurangnya 90 em di atas tempat penderita. Larnpu rotator warna merah dan biru. 4. Tanda f~C'Ilg:l'n(l1 d ari bahan yang mernantulkan. Dilengkapi sabuk pengarnan. Sirene 2 (dua) nada. Stop kontak khusus penderita. I k.lt1 rcsquc. 2. 16. Persvaratan lain sesuai undangan yang berlaku. Ruangan penderita cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk melakukan tindakan. semua 19. Air bersih 20 It. 11. Pt'r<liat. l3uku petunjuk pcrncliharaan buhasa Indonesia. 10. Radio kornunikasi.II. Tcknis Tekni= : 1. 5. Kendaraan lunak. Persvaratan /\. wastafel dan penampungan Iimbah. 14. roda ernpat ataulebihdengansuspensi tidak dipisahkan dad ternpat bagi Ruangan penderita pengemudi. Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat petugas diruangan penderita. 3. 15. Ruangan penderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. peraturan perundangalar berair 17. Lemari untuk obat dan peralatan. Meja dapat dilipat. 8. 7. 12. .

dapat digabungkan dengan ambulans-ambulans sejenis dan ambulans Pelayanan Medik bergerak membentuk suatu Rumah Sakit Lapangan.B. 2.'1. 6. III. Persyaratan A. Bila diperlukan. 2. 2. 7. 1 (satu) dokter gawat darurat (tergantung keadaan). perawat gawat darurat dengan kernampuan mengemudi dan kornunikasi. 3. 4. Ruangan penderita cukup tinggi schingga pdugas dapat bcrdiri tegak untuk mo la kukan tindakan. 5. Semua peraturan lalu lintas harus ditaati. 2. Teknis kendaraan 6. 4. AMBULANS Penggunaan RUMAH SAKIT Tujuan Dalam keadaan sehari-hari melaksanakan fungsi ambulans gawat darurat. : 1. 3. 1 (satu) supir. Minor surgery set. Ruangan penderita tidak dipisahkan dari temp at pengemudi. Tabung oksigen dengan peralatan untuk 2 (dua) orang. Selama mengangkut penderita hanya boleh menggunakan lampu rotator. D. Kecepatan kendaraan setinggi 40 Km di jalan biasa dan 80 Km di jalan bebas hambatan. 3. Tata Tertib 1. . Kendaraan roda empat atau lebih dengan suspensi lunak. Sewaktu menuju tempat penderita boleh rnenggunakan sirene dan lamu rotator. Peralatan rned is P3K Perala tan resusitasi lengkap bagi orang dewasa dan anak /bayi. Suction pump manual dan Iistrik 12 v DC Perala tan EKG dan monitoring lainnya. 3. Me dis 1. . LAPANGAN C Petugas 1. 1 (satu) perawat gawat darurat. Tempat duduk yang dapat diatur Idilipat bagi petugas diruangan penderita. Ruangan pcnderita cukup luas untuk sekurangkurangnya 2 (dua) tandu. Obat-obatan gav'iat darurat dan cairan intus secukupnya. Dilengkapi sabuk pcngaman .

Radio kornunikasi. :-.-wn se m u a a la t berbahasa Indonesia..Hl lampu rotator.gi. Perala tan resguE'_ Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan. 18. .). Minor surgery set.1 (satu) perawat gawat darurat. ['('rablan EKG dan monitoring lainnya. 20. 12.l]l bi.. 3. Stop kontak khusus untuk 12 v DC di ruangan penderita. Lampu rotator wama merah dan biru. Lampu tuangan secukupnya dan larnpu-Iarnpu sorot bergerak untuk mencnrangi penderita yang dapat dilipat. 13. Leman untuk obat dan pcrala tan. Air bersih 2111t.. D. 4.wastafel dan penampungan air limbah. 5 6. 16. Meja dapat dilipat.7. L. 7. Pcrsyaratan lain sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 1 (satu ) dokter gawat d ar ur a t (tergantung kl. Perala tan rcsusitasi Iengka p bagi dewasa dan anak Zbavi Suction pump manual dan listrik 12 v DC. Gantungan infus tcrletak sekurang-kurangnya 90 em di alas tempat penderita. l'era latan modis P3K. C Petugas 1." harnbatan. 11. B. Tata Tertib 1. Tenda Japangan Iengkap. 8. 3.l. 1 (satu) supir. Obat-obatan gawat darurat dan cairan infus secukupnya. Medis 1. .l) Km di jal. Selr\Ind rncngangkul penderi!" h a n va boleh Illcnggunak.ltan kendarclan Sdint.]q .CIrlU<l pcraturan bill lint.J. 9. 10. 14.mli KI'\(T. 15. .'dLi<lC1n). 2. 2. Sirene 2 (dua) nada. 17. Se w ak t u rnenuju temp at p encler ita b o le h ll1enggulhlkan siren!' dan larupu rotator..LIIl SI) Kill eli jilLlI1 heb.ls harus d it. Tabungan oksigen dengan perala tan untuk 2 (dua) orang.. perawatan gawat darurat dengan kcmampuan mengemudidankornunikasi. Bu k u pdunjuk pemelihClr. 19.

Stop kontak khusus untuk 12 v DC Cenerator 220 v DC dengan peralatannya. Lampu ruangan secukupnya dan 2 (dua) buah larnpu sorot bergerak.!s pdr. Dilengkapi sabuk pengaman. AMBULANS Penggunaan PELAYANAN MEDIK BERGERAK salah satu upaya pelayanan sebagai medik Tujuan Melaksanakan dilapangan.Iis j")nkkr C Pctu. Tempatduduksesuaikeperluan di ruangan kerja. Supir dcngan kernampuan P3K dan kornunikasi Pc r a w a t an dengan kern a mp uan PPCD dan kern am puan khusus lain scslIai tujuan peng~lIna. Sirene 1 (satu) nada Lampu rotator warna biru Radio Komunikasi Persyaratan Iain sesuai peraturan perundangan yang berlaku. . Meja kerja yang dapat dilipat.I'. Per svaratan kondaraan : A.lIl kt'IHhri)il)i (jurnlah SC:-'lIili kebutuhan). Ruangan kerja cukup luas untuk tujuan penggunaannya dan cukup tinggi sehingga petugas dapat berdiri tegak untuk bekerja.as bin s('su<li kebut uhan. Bu ku petllnjuk pemeliharaan semua alat berbahasa Indonesia Public Address System Tanda pengenal dari bahan yang memantulkan B_ Me dis Tabungan oksigen dengan peralatannya Perala tan medis P3K Obat-obatan sederhana.l mc. ['dug. 1 Ternpat tidur / tand LI bagi sekurang-kurangnya (satu) penderita. Dapat dipergunakan ambulans transportasi. Tc k n i s Kendaraan roda empat atau kbih dengan suspensi lunak.IV. cairan infus secukupnya Perala tan upaya pelayanan mcd ik sesuai tujuan penggunaan kendaraan.

ker eta [cnaznh d a r i bahan cahaya.m: Persvaratan A. C Tata Tertib Sirene hanya dipergunakan pada waktu bergerak dalam iringan (konvoi) jenazah dengan mentaati pcraturan lalu lintas tentang iringan (konvoi). Bilarnana tidak mernbcntuk iringan hanya belch mempcrg unakan lampu rotator dan sern u a per aturan lain lintas harus ditaati.lS.D. Petugas 1 (satu] supir Petugas pc-ngawal jcnnzah sesuai kebutuhan. j(1 . Tata Tertib Lampu sirene hanya digunakan dibutuhkan Lampu rotator digunakan kernbali dad tempat tujuan Semua peraturan bilamana sangat pergi dan sewaktu lalu lintas harus ditaati Keep!'<l tan kcndaraan sctinggi-tingg:inya 40 Km / jam di jalan bi.lllya dan SO Km/jellJl di jalan bcbas harnbntan V. Kccep<1tan tcrtinggi eli jalan biasa adalah 40 Km/ jam dan di [alan bebas hambatan 80 Krn/jam. Pcngangkutanjenazah kcndaraan : Keridaraan roda empat atau lebih T e k n is Ruangan jenazah pengemudi jenazah terpisah dengan ruangan satu peti Dapatmcngangkutsekurang-kurarignya Dilerig kapi sabuk pl'ngamilll Tcmpat duduk Iipat bagi sokurang-kurangnya (ernpat) petugas di ruangan jenazah Sirerie 1 (satu) nada 4 Lampu rotator w arna kuning Tarid a pengenaJ mernantulkan B. KERETAJENAZAH Tujuan pengglma.

Hdi besar .Jenisnya sa rna dengan di atas hanya telinga (Ear Protector) kcbaknran mayat. 1)(. orang awam yang te l ah mendapat latihan FreD lengkap).. medic. n-u I:w<.Jllb~l!llu winchman. Heli kecil 2 tandu. Pilot dibantu navigator..lll l)i~'. c).uaikan. 2. Heli kecii 3 (tiga orang) Pilot yang mendapat Dokter umurn.l\V. I'esawat hX('d Wing: Tcrh. Monitur alat dan obat rcsusitasi splints keracunan. mempunyai pengetahu<1n d i lapangan. UDARA Ddibrilatur/FKG Pulserneter Kotak Suction Peneumatic respirator. 1 Vacum matress.radar operator I iurnlah dic. infus (obat korban 1 keranjang tandu.lJ ) tUJl)~ [on i:-. PC:-. PFGD latihan lengkap I'cmbantu rnedis (paramedis. untuk korban/bag-bag komunikasi jurnlah ditarnbah.[H Jumlah disesuaikan Copilot. pendarahan dan lain-lain) terrnasuk dan alat infus) Kotak pendingin Kantung Non medical equipment: Baterei Pelindung Pcmadam Radio I 'v rotehnik b).l'C. b). Peralatan a).LAMPI RAN II AMBULANS 1. Personil:' a). (inflatable) Kotak obat-obatan (shok luka bakar.l t (In inirnal scpcrti HeJi j I .

3.300 km. hellipad) 2) jarak yang harus ditempuh Untuk helikopter bila berjarak maksimal 200 . Syarat penggunaan Diperhatikan : 1) fasilitas kendaraan (lapangan terbang. Syarat pesawat : *) noise level (bising dipermukaan) vibrasi akibat gerakan rotor temperatur dalam Cabin sebaliknya twin engine Dengan persyaratan tcrtentu sesuai jenis : pesawat. Lebih dari jarak itu harus dilakukan oleh Fixed Wing. ") *) *) 4. -12 .

...' .u z o ii u 0) 0- ..::.g § VJ -C"'i :s 'l) E .... j' z . .~ E 0:1 ..... « S E-.... ...

.D <!J Q VJ s::: on s::: .. -0 OJ E E ::2 OJ -q: v-i ~ . Of) ... 0.. ::i v .i OJ E v :-::2 tri E :-s .~ ~ ~ VJ a s::: s::: 0:: ' OJ b!JO ill -0 s::: (/') u.::: s::: . is '" ~ c:: ::l '" 0~ 'J.:.2 "" S c '" Q) c ..s c: :.: .: .::! -0 d Q.. 0::l OJ VJ . E ilJ _".:.0 OJ '" d .... s::: r-: . E ilJ s::: ~ .l ....>< OJ C ::l p.3 U o(j c '" . ~ -..: 00 . bl) .: 0 "0 ..s.3 .L (/') EO 0. o-.. c c _". .ex: b!J 'C r~ '.. g ::l .: .. c. E s::: :'2 .:j "0 ::) r- ~ E OJ -d- -c: .:j Vl '" E s::: . ilJ '!) 0 0- 0 -0 OJ N '2 ........ "" "" E ..j >.: (3 c: OJ :=J ::l . -.L -0 ::.:.~ _". '" ". ~ E :'2 -..'.. :..:j ...~ c Q) ~ '" OJ -0 0 .. '" .j '" ::l '- 0 Q 0.j C '" s c...:: d '" cG . :-::2 <l. 0 '" ill E ~ en ':.5 S C .. t:: t:: oj -0 .D ilJ '" ilJ <!J r. U S :J "" s::: 'f..:G 8 'C' .L 0 s::: . -...."2 00 s::: ilJ E8 0 '0- < '" '" c: E rn s::: s::: '" '" '" :0 c '" '" c: n 0:1 d c-.!G .D OJ ..s.D s::: '" oj ':d '" c~ >..::j c:: '" .. !<: >. . '" '.-c.~ c.:. E 0.- 'Cj" -. -.s u.l -0 '" c s::: b!J :l -c E :'2 <I) r-: :-s 00 ::l E v 'C'j >-. "0 "" E '2 '" E c-.g :§ s::: Q) C c .5 '" ::l Q.5 ~ '" ~ C ... '" .-.. '" 01) '" s::: OJ OJ b!J -0 d 0 . s::: ~ ilJ E E OJ ex: E ::l 3 «i c: o or. '" C6 "" 2 E _c c. ..>< O/J ilJ E <l.:.~ '" ::l .l 0 "2 -ct- E OJ EO -0 If) IU OJ U') :l '" '>:' '" 'fJ ~ 0 E ill :'2 OLl ill -0 '" s::: E V OJ _".::.:.0.a s::: '<. o(j "0 <I) E "0 _"...:.. (/') on .s: oj 2 <.:!? '" '" '2 . <'0 :.. 0.. -'" Q <'0 '" E <U . ::l E '" :......:. ~ '" s::: >..::I V en CJ 2S if> OJ Q ('5 OJ.:.. ~ :l CJ) a V .... c......l..:. </> '" c:: 'C'j s::: '" ...! b!J "'" ':i) 1) J) < E :.'" . V'l 0on ::l 8 ..0 r-: :9 00 -'t J...

u u E .:2 t1J ci .

.-. <IJ E '" (-...c ro .D E :2 <I) E - ~ CU E -0 cr...:J 0 -_ -0 (!) E E <IJ ~ rl rc. (/J E :J :J ~ CI) .:: ro ...I xr: ll.. .. '" .-i c. r-I ~ E <!) -0 E :g (l) E (!) -0 .:. -c-t - '" c... ro 0 c.c -o::l '" c:: :2 . . -- CJ ro S . ~ ~ ~ .:t ":l1J U .E 0.) ... (!) E -0 c <l.j .:: on -0 c. 10: . 1..~ .8 E .. -<.8 v c...l < .3 ro 10: "/J ..:.:t (l) .

.l C ro 0. ***** . §"'<t Z. " ... ::l ::l ""0._ u ::l V .. gE V -0 ~ -0 ...oj .:1 'I.._ ""0 E 0._ :::l v) .0 .c ::J :/l ....:: blJ C l."'2 :2 ...""2 EEE vv OJ QIJ". vc .

"j c:l Ui v ?:i <:( ::l o .:: 00 . ...:: W ::l '- . 'i... "3 .::.0 W 'J o o OJ c ~ V 0/'.. 'X Cd . o . <":l c ~~ E -.> "J: . w 01).) . .. ~ d '" L. <":l -r: ...Q c-.. .:2 o '..0 -'" £3 ::l '" '" . § 0.. 00- :a ~ ~ oil d E o It) c es d 'w ~ ::l E !:: .-....£ . ::: X VJ 1> 0. . ::l ... :...:: c:: c l...o1J L.c: o blJ ::l d ::J c {"j c. OJ .) r. 0) + C:::> ~J .::..::: .01 6. .:: ':JJJ + ::....a :.:... .3 "0 .:::: * = ::c ".= Ui "0 cJ Q "J :r.: d .. '!J . ':JIJ "0 <":l ::l :...::.." ':JIJ "l) !:>IJ "':l Q g(1) :-:l ~E .. Q . U C u c:.:: :n +2~ c :::..._ 1- <':l ::l ':JIJ . ?:i c -::J L >. E 0) -::J rl E V :? p') V .!2 C rr .:: ..J >< ~ ~ ::c r I 'r W .. - ....._) u '/J cj "3... VJ '0......c.::.. 0. . c CJ < -r: ::l . '" CJ1 >. >.....0 0 v "a <":l ct.. 0) a olJ . e:j -::J > .c C.:!t- E til) C d ::l c:: .:.-c: ':JIJ C ..

..:: c: . ::. ~ -' :2 «: -.. 'l) ~ (J . C 0 0...__) 0 ~ I I I I I 0 0 f----< c:c: c...... . ? . -a ::I Q E 'l) --0 c '" . c::I c-. :::l ..) (/) 'l) "'0 C d ::I ~ <1) <1) .0 '" .::.... 'l) --.i « ~ ~ ~ ::I E Q . L.:~ '" c::I <1) IJ] <1l . ~ c. ~ '" d <1l C .> E ---:::J -- I I [f) oc '<':l :::s ~ (.. ::I ._ -<U _.... C.. .:1 Q <1) <l) '1) E .. . ':. . <-:l c: 'l) . .. . . .IJ s 0 Q.5 <1l ''::: ::I c >. .c: c.... -- '/l ~ :-0 .><: L.:: Vl "0 ?. '" ~ 0.I <I) v U P-. . « . -= .. P-..... .. d :::s '..._ Vl '. .t.i u 'l) 0 ~ -...... . c: -:. . U G:I :. E ...._: Q _... ..~ r-t _----- ---------~ U ~ ---0 'l) -u -- E 'l) -t p:) E v v -q (. -0:._ ~ ~ .- -u <':l 8 0 '-' '- c ~ Q.. ~ C .: L. C d . E -c.! E ~ . U S . d S C c: . ._ c Il) o._ . '" '" ::I -oc V) 0::: oc > . 'l) <1l '(.. 'l) <C C<l :":I v .U) <r: ~ U) ~ ~ P-.c: -.' Il) bJj >-: j..... 0.._g ro --0 E c: 'l... ~ '0 ~ ~ ~ --0 _:. -<. ---0 .......j E E~~ c 'l) c: :!2 -::! c::I <1) Il) ~~ ::l <I) 'l)U Q.._ <1l -. u c-._ U) c ... . 'l) c::I c: c. -!<: 0 -~ S ---a . ~ ~ E Q) ::I 0- c: f-. . c 0 0.0 -<: -"<: ~ G:I .

. ~ bO..:..:: ... .:: c..:3 E «:! ... ~ o::l e.. c «:l ro ro ..._ ro c: i:: '" «:l bO .'" + :::1 «:l c ...:. E ro >.:. !.!>o!! "0 :::l....:.:.0 0 .":':: Q) c. -~ ...>.. .o: ~ ~ < U) U) ::J 0.:. >..:. ro ro . 'lJ u ~. <Ll C ~ 0 0 .._ 13 'a c. .. :I'J .. '" .:: E 0 ·5 1) rJ) ~ ro Cii E "«:l t:: «:l t:: .J ...~ .>-. c:: ...:: E E ~ It: & & 8 .J '" c. '" t:: c E 0 = :I'J 1) '....:: c c: ro ~ =:.::J :...I] 'r5 (.:: «:l u0 1) :..E >...:. V) .:: ro .IJ 0. ~ c:j 0 0.. 0 ~ r :g c'-.J Sfl .:: '" :::1 ~ ....!>o!! ...G .. 00 . d .a ~ d ~ ..

u s:: 2: Z.::l :: ./) d ('Ij ~ 2.. ('Ij ·E c .. _'L O':l 0 E ::J t:: o d ..: CUN'-O ~ ... .~ d g_ t ....::._ 0 0. Q.U Z UJ f- ~ ~ . z IX I.:l < _] c ca rl cO v :. U) -< c: ...::l C z: « »: cr. ('Ij ~ v.. _- )1 . ~ g_E § **** *** ~ <{ U ~ u.: .: c.r-r E rl E ~\Oo?E~ e .-..::: ..:....: < ..3 c '2 . +t- ~ 0- C fI7.u: ("j s:: c ("j .:: rr-r .

.._...:::s ell .~ ... oc .-. 0J2 E c 0 "0 E~ 1) ... 0. OJJ .0 .. 0... -'-' :.\<: E co VI r/l 0-....- o:! c: ttl t>IJ cG cG cr.\<: <U c: ro ZI C ~~ _..J . ~r._ .:l 0 o.:::s CI..0 0 ro "0 c: ::P @ ~ C <tI U -e ~ < '0 . bll -cl o:! c..:::s 0...:ot!.:::s -5 . <'0 . -c.:::s Oi) eo c: 0...:::s ..0 V t-< ro ..:::s ro c: bJ) ci . r- e::: c.<'0 >.. 0. d ell dJ :d ~ ~ :::J c: OJ) c: ro . :::.. f-< .::s 'L.:::s .J\ . EE ~~ r I j ! I I Ii! ~ ('j . Q.:::s .:::s t>1l ~ ro V E c: ro ..:::s U) . c: ~ ~ ro c: "0 c: .\<: ro . ell ro OJJ c: OJ c: ell c: t>IJ c: ~ <U 'ie ~ V 0.\<: c: c: . 7 .. - -- rl -('"r") -if....._...> c: <U ~ -0 U C\l OJJ <tI ... -~ til 1:: E bI) . .0 <'0 0 ... .:::s ~~ c: bi) 3: .:::s OJ . co 8 "0 .:::s '" -a :..~£ .....]..0 (\) v L.. ..'..:::s ..:::s .. .:::s . \0 E <!) 0- '7 '-C 1\ E . .. ...-S c"J §E .J - 0 ... 1\ 0 L.0 C <'0 . - r-- _- = - ~ - .... '7 ("'1 t>JJ <!) -.l g ..

. <U 81. ... <U :::l "....- V _c E Pc::: .c (.>-. < ~ f-o r-. 0 '-.s < u -c ~ u -c::: (. ~ Q 0 Q) L.1 ('·1 > :E ...9 L. V 0... . C 0 L.. 0 0.. c CL.Ll ('J r) CL. -c .: < c c::: L. ce.: ("j 0.. 0 -L..J ~ '" I.. ~ -::: ':J . 0.2 ~ '01 0 .../l IJ) I- a >< OIJ .... ..s: 01 c: oj > Cl ~ oil c 0) u ~ c Z 0' - - r- ~J ._. "1 :::l q- <U or..-' .....c t>1J oj ~ C'j Of) CL.0) L. ~ E :r.... L.._. 0.. U Vi . blJ ::! c -bJJ c: v -c:J --::: '" ... c: V L. ::.. <J) ---~ c 'E.. 8 c 0..·.

.

.5 ~ U ~ ~ ~ Q c U c: D bIl § 2 'J' "-' o: . 2 ~ ro on ~ <l) ·c -I<: ..!i!... '-" OJ s 0 Cil -T 'e .. C) </} . -0 ..-< .:i -0 '" 0- :. =' .: -'<: <1) '. ... . '" c:r:: co Pp. '" . (fJ ..... .. e ~ "" </J <l) >-. -0 E .. "fJl 0) ~ ....:: U \0 "7 u . '.-.... z ._ !I) .. 0 N -0 > u J. .-...2 -0 c-..c: ::l ._ ..... t: '-' OJ f-< 4" .:.J E "" E '" E . " -.r:: ro.::l ..D '" 1) v: 1) U) ~ ~ '.. -. r: C(J Cl .'1 '1' -T -T 'n r-- ..D '" ~ . 0:.!><: m o m 3 '" E ~ <l) ...-----._ ::l !:: :::l E v ~ L.._..c: J::. '" ~ Of) '" ~ 1) ~ t: .!... '" .) en "J V1 N . 0 0 E .::l :l . {F) <l> - ..... E . 0 '-'..-.-< ro _.!i!.) -.s: <'I ::l '" .:.::: .2 E .9 P._] ~ :J .D N '" 0 . .. ::l 0 '" II... '-' v u.D . a 0 C OJ 0 E 0 e-... iii ~~ eo !I) <l) '" ....f" oj) ..1- c-T 'n C ~) .!i!.l S QO <r) -< -0 "" . -0 t: r- m Ci Ci !I) '" '" Q "" Q E E '" CI ~ E .:: -0 'i.!L <l) 2 .E:: <l> c :. .. " '" ::l ._: . f-< '" _Y) '2: 0 0-..:> (/J >-...5':! OJ) E 0.. l .. _c '3 r..... -'<G ..._] V '- ::: .D :::l . :_/.c: .. '" C oil .-~~-~.."6 ':. ---t Cl ---t "7 ..l .::> </J o "" ro '-' o.._] z Q) '" OIJ 0 c -e.::! "" r.5 "'1" ~ 0. .~ '" =' _:.D 0 C m t: "2 0 .c ttl c m 0 '" ~ .c: ::J r..:. ~ .::: Q ..:: "2 .§ '..l ~ f- ~ ..... .0 0 co 1"':.. .. 00 '" t: 0:.. '" ~ ~ 0:..:3 co E ~ ~ 13 0 V5 ~ m '2 "" E » '" .\) ~ z ...-... § 'll !:: . ::>: ... '"' S -B 2!l U B ::J .:l -C > .) ..

:::l V 0 '" c: ::J :.. =' .0 !l..l 4: -0 <l) D c: Ol ::J .) '.. E c C 4: c: Ol C -0 N oj c: -'" c c.0 .. § c .. "-' V} D -0 0 oJ) :":l .......) '..::.: !l....0....) ...::...c ... UJ .::<: Ol IV > _..... ::l t>!J t:: 'EO t>IJ 'EO t>IJ ... E on oj "2 "" <l) -a '" . .. c: .. ~ ~ <'l E 0. 'z:J 01..s U -< .!! t>IJ ro t>1J C >.J ... :E =' M . s::: oj E c: N 'D c: Ol :0 U !l... ....J > UJ 7..:.. E .:: -5 c: ro 0 -0 Ol c:: -0 <'l 'B V 0- '" ~ <'l =' .!. E ~ ..) !l...r: =' on .0 z -< 0 z ..J V E .c CO ~ Cl V :>-: o . 0.::<: ~J '. . !l.) 0:. .. !l..) tr) 0...::<: !l..::<: V :.....) ~ oj c-.. ..2 . 'a >. 0 I::: ::E .. Q.::<: Ol '" .~ c e:..S: 0..:J (\1 v I!) .l 'n "... ~ ill 'n > 11J . 0 '. 'C oj ...: Ol ~ '" D t>1J 'C 2:! on <l) 0:. . '" . 0 _C.: E E t:: ::l 0._" V "" .) > == c . -0 ~ !l.l t:: . 0 c c E -0 Ol <:l c.. >. Ol ...... f:d '" c.. 0 '1..c 13 .>-. c: :t: 0 . 0 p. I!) .c ~ E !l..2 I-Ll ::£! C -r: OJ c: Ol .: I!) .::.::<: oj .:: .. -0 !l... Ol E v :::.....:J ti:i v > <a > ro <'l 0..) oj 3 t:: ::l '0 .) ::l ~ ~ D c. Ir..) Q.) E .. <l) ::l en -- u - .. 'r..2. .::<: .D .::<: !l..... .... 0.c . .. -. Ol c: '" ::::1 . ... U '" c: 0 ....::<: '. -0 ..s: ::J Ol '......) ~ C () n.r 1("'.....) a '- 0.E < 13 :::l U '" 2 C blJ IV .J 0."...0 Ol ..D ..! c... 0 '~ f--' r-r....... -0 <l) s::: r::: ro .. 0 C ~ ~ !l.g c: ..3' '" ..§ ~ '" ~ '5 0..) 0..J c: 0:: u :S c: t:: (\1 ...) 5 ::. ::E ..... -0 =' s::: es :E C <OJ =' . ::l ao . c E .: ::J . >.0 ~ 'c..2'. £ ... c: ~ D ii: In ?: -0 Ir..:: ... '" ::l ::l 0 ~ c: Ol 'B <l) c -a eu '" 0 E v C VI Ol ~ ~ C ..

namun pasien-pasien yang mendapat resusitasi di leU mernpunyai prognosis jangka panjang lebih baik daripada yang di baugsal-'.dlUi mernpengaruhi kelangsungan hidup dan hasil neurologik. Tanpa pertolongan tindakan resusitasi maka henri sirkulasi akan rnenyebabkan disfungsi serebral dan kernudlan organisrnik (dengan kerusakan sel ireversibel). serebral dan organismik. yang digolongkan sebagai kejadian akut lebih baik daripada yang dengan pcnyakit keganasan. lakartu PENDAHULUAN Dengan penemuan tindakan diagnostik dan resusitasi mutakhir. maka kematian tidak lagi dianggap sebagai saat berhenti kerja jantung. Pasien dengan penyaki. Pasien yang menalami he nli janlung pam di leU mempunyai hasil yang lebih baik. Selang waktu dad henti sirkulasi sarnpai nekrosis sel terpendek pada jaringan otak.. neurologik atau stadium akhir. Di sampaing itu pasien yang resusitasinya mernerlukan waktu lebih dari 30 rnenit biasanya tidak bertahan hidup. Resusitasi yang berhasil (tanda vital kembali) terjadi pada 27-49% kasuskasus di rumah sakit dengan angka kelangsungan hidup yang dilaporkan sarnpai 17% urituk 1 bulan dan 10-14% untuk 6 bulan dalarn suatu penelitian prospektif. kanker dan gaya hid up terikat di rurnah dengan pra henti (prearrest) disertai dengan mortalitas berrnakna setelah RJP. gagal ginjaJ. mungkin kareria mcdis cepat mengenali masalah ini dan trIah disiapkan untuk menangani hal irri. Jadi pneumonia. st"r . tak bergantung pada ternpat dilakukan resusitasi. Sejauh in! tindakan resuailasi yang dirnulai secara dini merupakan satu salunya faktor yang dikc. sehingga pemeliharaan perfusi serebral rnerupakan tekanan utarna pacta RJP.LAMPIRANV· RESUSITASI JAI-\jTUNG PARU Bagian Anesiesiologi Krdoktemn Uniuersitas Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Walaupun persentase pasien-pasien yang tanda-tanda vitalnya berhasil dipulihkan lumayan (60%). Cipio Mal1gunkusuTI1o. Usia lanjut tidak menyingkirkan hasil yang balk. hipotensi. Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk mengadakan kembali pembagian substrat sernentara. sehtngga memberikan waktu untuk pemulihan fungsi jantung pam secara spontan. Sekarang dikcnal spektrum keadaan fisiologik yang meliputi kernatian klinis.

5. 4) dcfihrilasi dilaksanakan pada stadium dini. Depresi a. peregang<lll pembedahan. Sindrom di jalan nafas. 2) ada )'rlllg mulai melakukan resusitasi. kelainan akut glotis dan sekitarnya (sernbab gIotis. 4. akut : henti nafas. Penyakit kardiovaskular : pcnyakit jantungiskemik. b. sfinglcr ani. benda digitalis.(I) Paru Sebab henti nafas. Angb kclangsunga n hidup dnri henti janlung optimal hila 1) peristiwa ini disaksikan. pa02 tengelam. quinidin. 1. 9.O%di antara UJ11ur pertengahan dan yang lebih muda. tenggelam. pipa trakeal terlipat. (penyakit asing Lenegre. Penekanan hcndaknya ditujukan pada defibrilasi dini dan tidak mcmandang perti rnbangan-pertimbangan lain. lidah yang jatuh ke belakang. miastenia pnC02 gravis. toksik. kalsium serum tinggi. kanula trakeal tersurnbat. sumbatan trisiklik. henti [antung."nkell1iltian yill1g terjadi di luar rurnah saki! eli sebabkan oleh Iibrilasi ventrikular. otak. Surnbatan jalan nafas : benda asing. 7. penekanan/penarikan medis. penyakit Sentral: obat-obatan. infark embolus paru. sekitar C. neurogenik. asidosis : syok dan listrik. Sebab henri 1. Gangguan oksigen dosis obat: isoprenalin. Refleks vagal'. tumor Perifer jal1fung rcndah. pernafasan : intoksikasi. 3) irarna y<1ng timbul adalah fibrilasi veut riku la r.lieh Il"n.lg. antidepresan magnesium Kecelakaan asam-basa/elektrolit : kalium serum yang tinggi serum rendah. 8. aspirasi. dan proporsinya lebih tillggi. 3. Kekurangan Kelebihan adrenalin.l yilng tcrlatih Hcnti jantung terut. fibrosis pada sistern konduksi Adams-Stokes. perdarahan). Ernpat puluh persen mati rnendadak dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu 1 jam setelah dimulainya gejala-gejala. noda sinus sakit). Terapi dan tindakan Syok (hipovolemik. setclah : obat pelumpuh (cardiac arrest) poiiomielitis. Lebih dari 90'. tinggi. propoksifen atau jalan oleh sekresi.li . anafilaksis). 2. suatu kondisi yang potensial reverxibel. Kebanyakan henti jantuog yang terjadi dalam masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskernik. miokardial akut. (I1P"(.ima pada Sf! . Anestesia bola mala. 2. otot. defibrilator hendaknya dised iakan lebih banyak untuk dipilk.Seb ab He nti Jantung Henti jantung pam. 6. diagnostik rendah.

Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila dijumpai keiidaksadaran dan tak teraba denyut arteri besar! 1. Gerakan kabel EKG dapat menyerupai mula I saja RJP ! Bila :agu-ragu. seperti mati (death like appearance). 4. Pada beberap a keadaan RJP yang dilakukan dengan benar dapat mempertahankan kehidupan sampai 1 jam sernentara terapi untuk kondisi/ penyakit utama sedang diberikan. yang mengakibatkan "kernatian listrik". "kecil". lain yang masih rnemberi dosis obat-obatan. Kapan resusitasi dilakukan/tidak dilakukan A. Infark jantung Serangan Hipoksia Keracunan Sengatan akut. 6. 4. dapat disebabkan oleh kausa selain penyakit jantung iskernik. terutama pad a asfiksia. Adams-Stokes.orang muda. 2. Tanda tanda henti jantung 1. denyut rneskipun irama yang tidak mantap. 3. Refleks vagal. 5. Resusiiasi hams dilakukan pada : 1. B. ')') . Wama kulit pucat sampai kelabu. 2. Pupil dilatasi (setelah 45 detik). Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak rnenghasilkan nadi yang dapat diraba. 5. dan kelebihan listrik. 6. dan karotis pada orang Tak teraba denyut arteri besar (femoralis dewasa atau brakialis pada bayi). Kesadaran hilang (dalam 15 detik setelah henti jantung). 7. Diagnosis henti jan tung A. Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut tidak ada kontraksi rnekanis. 3. 2. 4. 3. Henti nafas atau megap-megap Terlihat (gasping). Tenggelam dan kecelakaan-kecelakaan peluang untuk hidup.

2. seperti yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronik yang berat. 3.B. 60 . Stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan lagi. Resusitasi tidak dilakukan pada " 1. ketika tidak hanya jantung. Kernatian normal. yaitu sesudah ~-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP. Pada keadaan ini denyut jan tung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat. Upaya resusitasi di sini tidak bertujuan dan tidak berarti. Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih. tetapi organisme secara keseluruhan begitu terpengaruh oleh penyakit tersebut sehingga tidak mungkin untuk tetap hidup Jebih lama lagi.

Setiap langkah ABC RJP dimulai dengan : penentuan tidak ada respons. Resusltasi tidak akan berhasil bila sumbatan tidak diatasi. penolang mengekstensikan kepala korban 61 .pernbukaan jalan nafas. Henti jantung dapat disertai oleh fenamena Iistrik berikut : fibrilasi ventrikular takikardia ventrikular. hendaknya korban diletakkan dalam posisi telentang dan ABC (Airway. ~ A : Airway Galan nafas) Sumbatan jalan nafas olen lidah yang menutupi dinding posterior faring adalah merupakan persoalan yang sering tirnbul pada korban tidak sadar yang telentang. nafas buatan dan kompresi dada luar) dilakukan kalau memang betul dibutuhkan. Sementara itu mintalah pertolongan dan bila mungkin aklifkan sis tern pelayanan medis darurat (lihat gam bar 1). Gambar 1 : Pertolongan pertama L_ . Bila tidak dijumpai tanggapan. Tiga cara telah dianjurkan untuk menjaga agar jalan mhs tetap terbuka. Pada metode ekstensi kepala dan angkat Ieher. jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit dan sisa O2 yang ada dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung. kesadarannya harus segera ditentukan dengan tindakan "goncangan dan teriak" yang terdiri dad : menggoncangkan korban dengan lembut dan mernanggil keras-ker as. Ini ditentukan penilaian yang tepat. Bila terjadi henri jantung primer.BANTUAN HIDUP DASAR (BHD Basic Life Support) Bila terjadi henti nafas primer. tidak ada nafas dan tridak ada nadi. O2 tidak beredar dan O2 yang tersisa dalarn organ vital akan habis dalarn beberapa detik. asistol ventrikular atau disosiasi elektrornekanis. Pada korban yang tiba-tiba kolaps. Penilaian tahapan BHD sangat penting. Tindakan resusitasi (yaitu posisi.Breathing & Circulation) BHD hendaknya dilakukan.

Pada metode ekstensi kepala dan dorong mandibula. Gambar 2 : Membuka jalan nafas Gambar 3 : Menentukan tidak ada nafas Gambar 4 : Posisi sisi rnantap 62 . kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan. Pada metode ekstensi kepala angkat dagu. kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas (lihat Gambar 2). pada korban dengan dugaan patah tulang leher. Bila ventiIasi adekuat. pasien perIu diberi O2 lewat kateter nasal atau sungkup muka. Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling arnan untuk mernelihara jalan nafas atas agar tetap terbuka.dengan satu tangan sernentara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban. Metode angkat dagu dan dorong mandibula lebih efektif dalam membuka jalan nafas atas daripada angkat leher. Korban yang tidak sadar dan bernafas spontan dengan ventilasi adekuat sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi (gambar 4). Akan tetapi penoIong mungkin hams menarik bibir bawah korban dengan ibu jari. tetapi nafas tidak adekuat (ada sianosis).

sebagai tambahan. Ventilasi mulut ke stoma hendaknya dilakukan pada pasien dengan trakeostomi (lihat gambar 9). diperlukan ventilasi buatan. Pada tindakan jari menyapu. hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust gerak Heimlich) (lihat I. Pada beberapa pasien ventilasi mulut-ke-hidung (lihat gambar 8) mungkin Iebih efektif daripada ventilasi mulut-ke-mulut. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800 1200 ml pad a orang dewasa) setiap 5 detik. melalui bagian belakang faring. Bila pernafasan spontan tidak timbul kembali. Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam (1 kali nafas = 1. Bila denyut nadi karotis tak teraba. korban hendaknya digulingkan pada salah satu sisinya. Untuk melakukan venti1asi mulut ke mulut penolong hendaknya mernpertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan dua jari atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong (lihat gambar 6). Bila dengan ini belum berhasil dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. teknik dorong mendibula tanpa ekstensi kepala merupakan cara paling aman untuk membuka jalan nafas. B : Breathing (Pernafasan) Sctclah jaran nafas terbuka. selama pernberian ventilasi pada korban. Hentakan dada dilakukan pada korban yang telentang. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya. 2 kali ventilasi dalam (800 .Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher. korban hanya digerakkanldipindahkan bila memang mutlak perlu. Tanda-tanda bahwa ventilasi buatan adekuat adalah dada korban yang terlihat naik turun. Ini dapat dilakukan dengan mendengarkan bunyi nafas dari hidung dan mulut korban dan mernperhatikan gerak nafas pada dada korban.5 ·2 detik).1200 ml pada orang dewasa) setiap 5 detik. dengan amplituda yang cukup dan ada udara keluar rnelalui hidung dan mulut korban selama ekspirasi. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan be n d a asing. Kernudian segera raba denyut nadi karotis (lihat gambar 7) atau femoralis. 63 . 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 15 kornpresi dada pada resusitasi yang dilakukan cleh seorang penolong dan 1 nafas dalam sesudah tiap 5 kompresi dada pada resusitasi yang dilakukan oleh 2 penolong. Bila ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung tidak berhasil baik walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka. penolong dapat merasakan tahanan dan kekembangan (compliance) paru korban ketika diisi.~alnbar 10 dan 11) aiau hentakan dada (chest thrust). karena gerak yang tidak betul dapat mengakibatkan paralisis pada korban dengan cedera leher.penolong hendaknya segera menilai apakah pasicn dapat bernafas spontan. Bila denyut nadi karotis tak teraba. Di sini. penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban. keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalarn satu gerilkan menyapu. faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing.

Gambar 5: Tanda distress universal untuk surnbatan jalill1 nafas oleh bend a asing Cambar 6 : Ventilasi mulut-ke-mulut Cambar 7 : Meraba denyut arteri karotis . Urutan yang dianjurkan adalah : (1) berikan 6~10 kaIi hentakan abdominal.teknik ini sarna dengan kompresi dada luar. (2) buka mulut dan lakukan sapuan jari. (3) reposisi pasien. buka jalan nafas dan cob a beri ventilasi buatan. Urutan ini hendaknya diulangsampai benda asing keluar dan ventiJasi buatan dapat dilakukan dengan sukses.

._- Gambar 10: Hentakan abdominal (gerak Heimlich) pada korban sildar Gambar 11 Hentakan abdominal tidak sad ar (gerak Heimlich) pad a korban .-.~- -~----- --~--.----.-~----~-_-----.- --_---_ .Gambar 8 : Ve ntilasi Blulut-ke-hidung Cambar 9 : Ventilasi mulut-ke-stoma ----.-~-~----.

BHa tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakeal. ternyata masih ada sumbatan jalan nafas. Korban hendaknya telentang pada permukaan yang keras hila kompresi dada luar dilakukan. Dalam I menit minimal hams ada 60 kompresi dada dan 12 nabs. buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring. penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm (lihat gambar 12). lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban..IV). Hcnti jantung adalah garnbaran klinis berhentinya sirkulasi mendadak yang terjadi pada seseorang yang tidak diduga mati pada waktu itu atau penghentian tiba-tiba kerja pompa jantung pada organisme yang utuh atau harnpir utuh.5· 2 detik) oleh penolong kcdua sesudah tiap kornpresi kclilll<!.j + 1 lcnli. . Bila dengan ini belum berhasil. Penolong berlutut di samping korban dan rneletakkan pangkal sebelah . tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban.Onii'tl". j'.tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 [ari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. Bila ada satu penolong. Dianjurkan lama kompresi sam a dengan lama relaksasi. SeIanjutnya bila masih ada sumbatan (ada di bronkus) maka perlu tindakan pengeluaran benda asing (padat. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Pernberian ventilasi buatan dan kompresi dada Iuar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini. Sementara itu pasien perlu diberi terapi 02. cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin (4-6 1A1g/kg BB LV) atau adrenalin (0. Bila ada sumbatan benda padat dalam salah satu bronkus. 15 kompresi dada luar (Iaju : 80-100 kaliimenit :co 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalarn (2-3 delik).hj nuk. Bila ada 2 penolong. Tidak ada nadi yang teraba pada arteri besar (periksalah arteri karotis sesering mungkin) merupakan tanda utarna henti jantung.. Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar.Bila sesudah dilakukan gerak tripel (ckstensi kepala. Dalarn l menit harus ada 4 daur kornpresi dan ventilasi (yaitu minimal 60 kornpresi dada dan 8 nafas).. dapat dicoba pemasangan pipa jalan nafas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). perlu dilakukan intubasi trakeaI.IM. kornpresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80-100 kali per menit dan pernberian 1 X vcntilasi dalarn (1. sebagai alternatifnya ialah krikotirotomi atau fungsi membran krikotiroid dengan jarum berlurnen besar (misal dengan kanula intravena 14 G). Setelah kompresi hams ada relaksasi.im:1J dalarn 5 detik. rnemerlukan tindakan bronkoskopi. C : Circulation (Sirkulasi] Bantuan ketiga RBD adalah menilai dan mernbantu sirkulasi. [adi . Dengan jari-jari terkunci. pasien.3 mg Sk. Jadi 15 kali kompresi + 2 ventilasi harus selesai maksirnal dalarn 15 detik.

. (.til~ u nl u k bnvi d._---"~_Gaya lengan (belakang) L--_~~~ __ ~ ~ ..'i" I ~._1 Tekriik pada bayi dan unak-anak Prinsip BHD pada bayi dan annk adalah sarua dengan pada orang dcwasa.. diperlukan mod ifikasi teknik yang d isebutkan di atas : L Ekstensi kepala y. . dapat sampai 15 detik...75 ~5 em ·IJ<". Pcmbcrian ve nt ila s i ha rus lcb ih keeil vol u rnr-u va d a n fre kurnsi vcntiJasi harus dilingkatbn llwnj. Bila tidak ada.1I1 4 d ct ik untuk an.:-' 2.11). kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 rnmHg pada arteri karotis. sudah tirnbul nadi dan dan nadi dengan dan pantau nadi apakah sesudah bebcrapa menit dihentikan dan periksa nafas spontan. Bila RJP dilanjutkan.. Bila ada. lanjut kan deng<1I1 langkah berikut.ldll vc-nt ilasi li. Kepala hcndaknya dijaga dalam posisi netral selarna diusahakan mernbuka jalan nafas pada kclornpok ini. Hila dibkukan dengan benar. Pilch bayi dan anak kecil vc nl ilasi mulut-ke-rnulut dan hid ung lebih scsuai drnipada vcnti li1 c:.ik-ana k (lihat F. dan bcgitu seterusnya. Sesudah 4 daur komprcsi dan ventilasi (rasio 15 : 2). Periksa apakah denyut karotis sudah tirnbul (5 dctik). kecuali pada waktu intubasi trakeal.Kompresi dada harus dilakukan sccara halus dan berirama. Akan tetapi karena kctidak-sarnan ukuran. tranportasi (naik turun tangga).ltnb. Bila tak ada.1 d. lakukan nabs buatan 12 kali per menit dcngan kclat. Kornpresi dada tidak boleh terputus lebih dari 7 detik sctiap kalinya.). pantau pernafasan ketat. " Upstroke" 3.j m u lu l-kc-rn u lut "tall mulut-kc-hidung.lllg berlebihan dapat mcnyebabkan sumbatan [alan nafas pada bayi dan anak keril. Periksa pernafasan (3-5 detik). mulai lagi RJP dengan 2 venrilasi diiku ti dCllg<l1l 15 kornpresi Bib ada dcnyut. lakukan reevaluasi pasien.

kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong (Iihat gambar 14). -~--.~. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi telentang.Gambar 13 : Ventilasi mulut ke mulut dan hidung pada bayi 3._. dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai.. __ ---------_ 68 . _-" .-_... Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban teJungkup melintang di alas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan.. -- -------_. Gambar 14 : Pukulan punggung pada bayi --~.-- .._--_ .-.

Penekanan sternum 1. 2. 69 . pernberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pad a bayl dan 80 kali per menit pada anak-anak. kompresidada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pad a 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak (lihat gambar 15).5 . Perbandingan kompresi terhadap ventilasi seJaJu 5 : 1.4. ini dapat disebabkan karena pertolongan RJP yang terlambat diberikan atau pertolongan tak terlambat tetapi tidak betul pelaksanaannya. Gambar 15: Letak jari pada kompresi dada bayi Cambar 16: Letak tangan pada kompresi dada anak 5. Korban dinyatakan mati.5 . Selama henti jantung. tetapi pada anak diperlukan penekanan 2.4 em.2/5 em efektif untuk bayi. Korban menjadi sadar kembali. Dasar henti jantung da- Penilaian Hasil Bantuan Hidup ABC RJP yang dilakukan pada korban yang mengalami pat mernberi beberapa kernungkinan hasil : 1. hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada Juar (1ihat gambar 16). Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalarn rongga toraks pada pasienpasien muda. Pada anak yang lebih besar.

"~I. I.ks Lignokain!100 Detib... ..-u. FinnJ!Jh S~.ry or (lj oi Ir'II·11l.I akltvitas rl$lr'i. Airway .. lain -lain Pertimbangkan terapi spesjjik untuIc .h SoDe!. Cardi...0. :·~m ·~mia antaQ0nJ5 & ·~..ilasi poIfU .. .n. 360 J + Per1Imbangkan kalsium klorida (10 milO %) ..~ $cIWty M.(Jalan nalas) buka [alan nafas Tidak ada natas Wt Breathing (Bantuan nalas) ~.jd C. lignokain alau atropi" lewat pipa trakeat..c SC.II. pertimbangkan pemberian adrenalin dosis ganda.rn-ivll eM...emi~sm..Iy rII A. O~r'IfV. re Car<1i~"Q" . Sw«IIItI ~ ~'-rI Firnit..:.r'IOo08-'lnl'l:!l.i.h 70 . dan 10 detik.V.. Jlka tidak dapal dipasang jalu.. -pona~j<ont""II .f\II"D. kalStum Ulang (lefibJjl~si 360 J F'E'rtimbangkan •• & l • """alean _lIasllaln befi 0fJa:I anli aritmilc - pOOiOi padeI Lanjutkan RJP selama 2 menlt sesudah liap kali pemberian cbat..tHbu • __ ..I._ ..RESUSITASI JANTUNG PARU Tidak resp~ ..t~: 1hto~Courd{lJ1Q ~8oci«ydCatdiQlogy "iflo'liah ard l. Jangan henlikan AJP leb!!. fGI' ~~"&f1I of Sod9fJ' Sr:te.all:lt'"''''~~ o.A. bantuan Tidak ada nadi A 1 : • blpowJemla Circulation (Bantuan si'kulas~ RJP ~ ~ Adrenalin 1 mg IV Defjbrilas~ 200 J Defibri)aS~ 200 J Defibrilasi 360 J mg IV Adrenalin 1 mg IV Atropin 2 m~ IV Pertimbangkan pemaCl'an janlunll Jlkl 8138 geiomDaPTg P 81BI. kecuali untuk defibrilasi...

pertolongan resusitasi tanpa resusitasi otak biasanya tak dapat memulihkan fungsi susunan saraf pusat (SSP). tetapi korban belum pulih kesadarannya.Bila henti jantung telah berlangsung lebih dari 10 menit pada orang dewasa. Korban belum dapat dinyatakan mati dan belurn tirnbul denyut jantung spontan. kecuali kalau korban hipotermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umUID. serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 menit atau lebih. 4. 71 . Dalam hal ini perlu dibcri pcrtolongan lebih lanjut yaitu bantuan hidup lanjut (BHL) Denyut jantung spontan tirnbul. tidak timbul nafas. spontan dan refleks muntah (gag reflex). normotermia. bisa tidak.Dalam keadaan darurat ini. korban dapat dinyatakan mati bila setelah dimulai resusitasi korban tetap tidak sadar. 3. Nafas spontan bisa ada.

E dan F yang diperlukan kalau nadi spontan kernbali segera sesudah dimulai ventilasi buatan dan kompresi dada.]k ad a Llgi alasan Il1cngapil setiap perawat . merupakan tindakan darurat satu-satunya yang ada untuk henti jantung di luar rumah sakit. Dengan adanya ddibrilator cksterna l scmiautomatik dClI1 autornatik maka terjadilah perbaikan dramatik dalarn hasil RjP.<1 rnasih eksperimental dan Bantuan Hidup Trauma Lanjut (BHTL). dalam urutan-urutan yang bervariasi bergantung pada keadaan. Setelah dirnulai Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau fase J RJPO (Iangkah ABC). transport oksigen oleh RJP langkah A-B-C. selama upaya mengembalikan sirkulasi spontan. sebab defibrilasi dapat dilakukan dini oleh tenaga darur. syok listrik (langkah F) hendak nya jangan sarnpai terhambat oleh langkah 0 dan E dan mcndahului Iangkah-langkah A-B-C. yang mungkin tidak adekuat untuk mempertahankan otak dan jantung tetap hidup lebih lama dari beberapa menit. Biasanya untuk BHL diperlukan memberian intra vena (IV) obat-obatan dan cairan (Iangkah D). RJP Lanjut atau Bantuan Hidup Lanjut (BHL) terdiri dari upaya-upaya untuk mengembalikan sirkulasi spontan yang adekuat. seja lan dengan bukti-bukti keampuhannya pada takikardia ventrikular atau fibrilasi ventrikular yang baru saja timbul. BHL juga mencakup R]P dada terbuka untuk indikasi spesifik.it yang relatif tidak krampil Tcknologi terbukti handal dalarn prakn-k dan sekarang ini lid. pada fibrilasi ventrikular yilr1g terjadi ketika EKG pasien sedang dipantau. karena RJP ekster na I hanya merighasilkan al iran d a rnh yang sangat minimal untuk kebutuhan. Defibrilasi sedini mungkin dengan restorasi sirkulasi sponran merupakan kunci optimasi peluang untuk mendapatkan hasil serebral dan hasil keseluruhan yang baik. narnun sekarang ini. [adi. Tidak perlu dikatakan. Pukulan prekordial telah dianjurkan kernbali . pintasan jantung paru darurat yang penggunaclllil).Bantuan Hidup Lanjut (BHL Advanced Life Support) Yang dimaksud dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Lanjut pada makalah ini adalah fase II Resusitasi ]antung Paru Otak. sirkulasi sponlan harus d ikembalikan sedapat mungkin. R]P eksternal langkah A-B-C (BHO) dirnaksudkan sernata-mata sebagai tindakan sementara mernpertahankan viabilitas otak ke jantung. Mungkin juga. harus dipertahankan dengan interupsi sedikit mungkin. Lagipula efek proaritmia mungkin saja timbul dengan sernua intervensi yang sukses dan hanya diperlukan waktu sebentar saja untuk melaksanakan manuver tersebut. seperti sering terjadi pada henti jantung (cardiac arrest) sekunder terhadap asfiksia. Memang ada risiko bahwa aritmia ventrikular akan kambuh lagi. namun hanya untuk henri jantung yang d isaks ik an atau dipantau. tidak satupun langkah 0. tetapi kerugiannya hanya sedikit bila henti jantung tersebut disaksikan. diagnosis elektrokardiografik (Iangkah E) dan penanganan defibrilasi (Iangkah F).

intratrakeallewat pipa trakeal (1 ml adrenalin 1 0/00. maka resusitasi diteruskan dengan : D : Drugs and Fluid (Obat-obatan Tanpa menunggu 1. Defibri1ator/pemacu jantung yang ditanam bermanfaat pada pasien berisiko tinggi namun biaya mungkin merupakan barier relatif pada banyak negara. Prosedur BHL berhubungan dengan teknik yang ditujukan untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pad a diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung. Bila setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. 73 . Adrenalin dan cairan). Pemberian adre-ialin sebaiknya lewat IV. Probe ditinggal di esofagus dan defibrilasi dapat dikerjakan dengan eepat pada pasien yang dipantau (monitor) dengan memakai energi listrik yang jauh lebih keeil. diberikan : hasil EKG dapat langsung : 1. Tidak ada modifikasi pada pedoman yang dianjurkan untuk defibrilasi. Penggunaannya dapat diperluas ke pimpinan gelanggang olah raga dan kompleks pertokoan dan sebagainya. karena ini lebih baik daripada lewat pipa trakcal. 10 meg/kg pada anak-anak (menurut AHA). Rute transesofageal untuk defibrilasi telah dipakai pada pasien di unit perawatan koroner. BHL rnemerlukan peralatan khusus dan penggunaan obat-obatan. Cara pemberian : IV. kecuali bahwa tingkat energi sesuai dengan standard yang ada sekarang untuk kalibrasi defibri1ator modern dalam energi yang dikalkulasikan. bukan NaCl) atau bila keduanya tidak mungkin : intrakardiak (hanya oleh tenaga yang sudah terlatih).jaga di ruangan dan setiap petugas ambulans yang menangani panggilan tidak dapat rnelakukan defibrilasi sebelurn kedatangan staf medis. Harus ditekankan bahwa BHD harus segera dimulai bila diagnosis henri jantung atau henti nafas dibuat dan harus diteruskan sampai BHL diberikan. Diulang tiap 3-5 menit dengan dosis sarna sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung.0 mb (dosis untuk orang dewasa). darurat Defibrilator automatik telah terbukti manfaatnya ketika digunakan oleh famili pasien berisiko dan oleh petugas pesawat terbang dan kereta api. dieneerkan dengan 9 ml akuades steril.

Penggunan natrium bikarbonat tidak lagi dianjurkan kecuali pada resusirasi yang lama. CO2 yang dihasilkan dari pemecahan bikarbonat segera menyeberangi membran sel jib CO2 tidak diangkut olch respirasi.Untuk henti jantung pada anak-anak. pernakaian dosis tinggi adrenalin dapat dipertimbangkan bila dosis standard awal tidak efektif. sebab kalau tidak. henrlaknya diberikan dosis standard awal D. suatu penelitian prospektif dengan mernakai kontrol retrospektif menyarankan kemanjuran adrenaJin dosis lebih tinggi. Bila hanya ada rute endotrakeal. asidosis intraselular justru bertarnbah.1-0. Natrium bikarbonat : dosis <1w<11: 1 mEg/kg (bila henti janlung lebih dari 2 rnenit) kemudian dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0.1-0. Rute endotrakeal kurarig bagus penycrapannya. karena risiko perdarahan intrakranial). dosis adrenalin hendak ditinggikan sarnpai 0. Juga dianjurkan tidak dipakai isoproterenol untuk henti jantung. Karena itu AHA menganjurkan pada henti jantung pediatrik. dan bahwa natrium bikarbonat bukanlah obat lini pertama pada resusitasi pediatrik. 2. dan kasus pediatrik sangat menyerupai model binatang ini.1 mg/kg untuk rnencapai kadar d arah yang adekuat. Narnun dianjurkan hanya pada korban yang diberi ventilasi buatan yang efisien. terutarna pada kasus trauma bila upaya lainnya gaga!. Sangat dianjurkan pernakaian rute IV. seterusnya dalarn 3-5 menit diberi lagi dosis 0. kendati dapat dipergunakan bersarna dengan adrenalin pada pasien yang gagal berespons terhadap ventilasi.Olmg/kg adrenalin. Oi lain pihak. Di sini dipasang infus intravena sesuai indikasi. Penelitian menunjukkan kemanjuran dosis tinggi adrenalin pada binatang dengan pembuluh koroner normal. Selain itu. termasuk intraoseus.5 mEg/kg sampai tirnbul denyut jantung spontan atau mati jantung. alkalin lebih dominan berada di ekstraselular. tidak berkurang. Tidak ada data meyakinkan tentang dosis atropin dan lignokain lewat endotrakeal. Penjelasan untuk keanehan ini bukanlah hal baru. Cara pemberian hanya IV. E: EKG r 7 as isl ol vent rikular ? kompleks Fibrilasi vcntrikula elektromekanis) ? aneh ? (diasosiasi .2 mg/kg hendaknya diulang Hap 3-5 menit jika perlu. Dipertegas lagi kelebihan manfaat dosis standard adrenalin daripada atropin pada bradikardia. Oasis selanjutnya sebesar 0. Dianjurkan pula pernberian 20 ml bolus cairan nonglukose isotonik pad a penanganilI1 henti jantung pediatrik untuk mengatasi syok.2 mg/kg (Akan tetapi pernberian dosis tinggi adrenalin ini tidak dianjurkan pad a neonatus. oksigenasi dan kornpresi.

berbeda dengan setting klinis. Bila ini juga tidak berhasil maka dapat ditegakkan diagnosis kematian jantung. Resuscitation Council (UK) memutuskan untuk rnengikuti bukti eksperimental. Lagipula observasi eksperimental mengarahkan bahwa fibrilasi menjadi makin refrakter terhadap terapi listrik sesudah pemberian lignokain. kalau perlu diteruskan dengan tetesan infus (1-4 rng/menit). kita sernua maklum bahwa konsep ambang rangsang defibrilasi sederhana adanya.F : Fibrillation Elektroda sternum Defibrilasi treatment dipasang atas. terdapat atribut lain yang membuat dimasukkannya adrenalin lebih dini dalam algoritma. Percobaan p"da binatang mcnunjt. syok lagi. Lignokain terbukti manjur dalarn mengobati takikardia ventrikular dan untuk pencegahan timbulnya fibrilasi ventrikular. Ulangi syok balik (countershock) bila perlu. meskipun diakui bahwa substrat untuk aritmia pada setting eksperimental. pendapat ini tidak pernah ditunjang oleh bukti klinis y. Bila bel urn berhasil bed prokainarnid 1-2 mg/kg. anak) . Akan tetapi. 100-200 Wsec (pad". Ulangi syok. Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia sa at ini. IV. Adrenalin telah menggantikan Iignokain sebagai obat pertarna . Bila belum berhasil dosis bretilium dapat ditinggikan 10 mg/kg sampai dosis total 30 mg/kg. Namun.lIlg meyakinkan. Pada kenyataannya defibrilasi berhasil hanya setelah diberikan lignokain. Karena tidak ada data klinis yi'lng relevan. Bila belum berhasil beri lignokain (lidokain) 1-2 rng/kg IV. ( Terapi fibrilasi). Syok lagi. dan beberapa di antaranya (misalnya barangkali vektor gelombang) akan bervariasi dari waktu ke waktu. ada perubahan dalarn urutan obat-obat yang hendaknya diberikan jika fibrilasi ventrikular gagal untuk berespons terhadap 3 syok pertarna (200-200-360 Joule).100 Wsec (pad a bayi). dan dengan ekstrapolasi banyak yang percaya bahwa obat ini berrnanfaat untuk defibrilasi. Bila belum berhasil bila bretilium 5 mg/kg IV.kkan bukti yang meyakinkan bahwa adrenalin meningkatkan sirkulasi screbral selarna bantuan hidup dasar . Banyak faktor yang menentukan apakah syok akan berhasil atau tidak.. 50 . Semen tara bukti yang memujikan adrenalin sebagai obat yang bermanfaat untuk defibrilasi tidak lebih baik daripada bukti yang memujikan lignokain. Menu rut perkembangan terakhir. bila memenuhi kriterianya. Iadi. tidak bergantung pada pengobatan yang diberikan. syok keempat dalam suatu sed mungkin saja berhasil menghilangkan fibrilasi setelah sebelumnya gaga!. di sebelah kiri puting susu kiri dan di sebelah kanan luar : arus searah : 200-300 Wsec (Joule) (pada dewasa) .

RJP. Dosis kalsium glukonat 1000 mg i.(.. Resuscitation Council (UK) t id ak m enya takan b a hw a ad renalin juga meningkatkan kernanjuran syok arus searah. tidak dibatasi jurnlah syok untuk mcnghilarigkan fibrilasi tersebut.lIsiL1Si y. karena syok hemoragik merupakan kausa penting nadi yang tidak teraba dan ini tidak boleh dirernehkan.I dan 2 obat ( ~ syok ke cmpat) diberikan.v.m. Kasus-kasus yang membutuhkan kalsium klorida juga dirnasukkan dalam algoritrna.\-.u n a. Syok yang diulangulang pada tingkat cnergi png rnaksimal dianjurkan jika fibrilasi refrakter sesudah 3 syok a\\'J. Karena itu tujuan utarna adrenalin pada saat itu adalah untuk mernpertahankan perfusi serebral selarna upayil resusitasi yang lama. Kemungkinan salah diagnosis harus ditekankan agar jangan sarnpai kelainan yang semestinya dapat di atasi tetap tidak mendapat terapi yang tepat. l.'o. penting pada ini mempunyi Pada disosiasi elektromekanis. dan rnengecewakan terutama pada penyakit jantung iskernik. bila perlu diulang tiap 10 menit. atau jika vektor gelombz!ng yang dominan bcrada pada sudut kanan terhadap hantaran diagnostik bipolar. Algoritma itu sendiri telah diu bah yaitu adrenalin diutamakan dad atropin. Dosis lll. atau jika kontrol gain pada elektrokardiograf dirnafikan. walaupun banyak yang percaya bahwa hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus. kalsium dan vasopresor seperlunya.lngan adrenalin dan natrium karbona! dianjurkan u nt u k rt. atau jika fibrilasi ventrikular sangat halus. Akhir algoritma defibrilasi juga mengalami perubahan. Bila pada EKG : asistol vcntrikular atau disosiasi elektromekanis : Ulangi 0. . Terdapat perubahan asistole. Posisi padel yang diubah d an pemakaian defibrilator lain hendaknya dipertimbangkan. kemungkinan hipovolemia sekarang ini dimasukkan. Oosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg IV. tetapi bersarna-sama dengan obat anti aritmik lainnya. karela korban narnpaknya tidak mernpunyai peluang hidup yang lain Jagi. Ini dapat terjadi jika ada kerusakan alai. Bila penolong merasa bahwa kemungkinan fibrilasi tidak dapat disingkirkan maka hendaknya diberikan 3 syok sebelurn algoritma untuk asistole yapg sesungguhnya dimulai. Kelainan listrik biasanya pengobatannya anjuran untuk korban yang narnpak irnplikasi prognostik yang berat. Pernah terjadi kesalahan akibat salah diagnosis asistole pada korban dengan fibrilasi ventrikular. Isoprenalin tidak lagi dianjurkan pemakaiannya dan kemungkinan menggunakan rutc intrakardiak untuk adrenalin dihapus. Jib diagnosis ritrne akurat. Melaksanakan Betapa prosedur resusitasi pentingnya rnelaksariakan terus rcsusitasi sangat ditckankan : jangan III d et ik u n t u k me laku k an t i nd a ka n yallg mcrne rlukan penghentian sernentara korn prcsj (beLl Rule cndotrakeal sekarang dianggap sebagai rute yang tid ak handal unt uk pemberi an obat dan hanya dipakai bilarnana bclum ada jal ur IV. sampai rn e leb i hi -.

lebih baik. monitor EKG. Sebagai tarnbahan sebuah papan tempat tidur diletakkan di bawah korban. perlengkapan pengisap faring. trakeal korban hendaknya diintubasi dengan pipa trakeal yang mempunyai balon. Segera setelah keadaan . b. tidak rnekanis. pipa [alan nafas orofaringeal. 1. Berikan oksigen 100% dengan sungkup pipa trakeal. Karena itu. Jangan diberikan intramuskular atau subkutis. kernudian 0. bikarbonat dianggap Untuk asidosis metabolik. Natrium 1. Ventilasi dan kompresi dada harus diteruskan dengan laju yang telah disebutkan pada BHD kecuali dihentikan sebentar pada saat defibrilasi. terrnasuk karnar operasi dan ruang pulih. defibrilator arus searah. Ini harus disingkirkan sesegera mungkin. mernberikan Iingkungan fisiologik optimal bagi miokard tekanan positif atau Oksigen.5 InEq per kg setiap 10-15 me nit jika tidak tersed ia pengukuran pH.0 mEq per kg dosisi a. Segera setelah kereia ini tiba. Obat-obatan untuk RJP Sernua obat hendaknya diberikan secara IV ke dalam sirkulasi sentral bila mungkin. Berbagai obat dan cara lain tersedia untuk mernberikan lingkungan fisiologik yang optimal bagi miokard dan tekanan perfusi dan rnengatnsi aritrnia. oksigen 100% harus diberikan melalui alat anestesia. alat balon dan katup untuk ventilasi paru. Pernberian semua obat anestetik harus dihentikan. Untuk a. ada pad a perrnulaan RJP. pipa jalan natas orofaringeal dirnasukkan dan diberikan ventilasi dengan oksigen murni dengan menggunakan alat halon dan katup. 2.W(1!. Jib rnas a henti ini singkat (yaitu 1-2 mcnit) m ika mungkin tidak diperlukan -/ . Dosis : 1. Malfungsi perlengkapan anestesia selalu merupakan penyebab potensial henti jantung dalarn karnar operasi. sehingga dapat dikoordinasikan dengan kompresi dada. sungkup.Perlengkapan Oi rumah sakit perlengkapan dan obat-obatan untuk BHL biasanya di simpan pada kereta yang dapat didorong dan diletakkan pada daerah yang strategis. perlengkapan intravena. Perlengkapan pada kereta inl hendaknya mencakup tabung oksigen. orofaring korban harus dibersihkan dari sckret-sekret dengan cara diisap. Harus dicatat bahwa sernua alat tarnbahan BHL dapat segera diperoleh atau sudah terpasang pada pasien dalarn kamar operasi. yang akan mencegah [alan nafas tidak terkontarninasi dengan isi lambung dan menyingkirkan risiko inflasi lambung. resusitasi pada keadaan ini dapat dimulai sebagai BHL. ventilasi dikendalikan secara manual. Juga infus intravena dan monitor EKG hendaknya dipasang sedini mungkin.

Oasis: 2-20 mcg/kgBB/menit arteri yang diinginkan. dititrasi 2. yang buruk.1 mg setiap 3-5 menit atau mula-mula dengan infus 0.bikarbonat. Hipokalernia setelah resusitasi bisa juga ditemukan. tercapai tekanan arteri yang diinginkan. Untuk meningkatkan a. dititrasi sampai tercapai tekanan arteri yang diinginkan.· Dosis: mula-mula infus 0. Dopamin 1. dititrasi sampai tereapai tekanan 2. 2. fibri1asi ventrikular elektromekanis. disfungsi ventrikular atau keduanya.05 mcg/kgBB / menit. 78 . kontraktilitas dan tekanan perfusi miokard. Kelebihan natrium dengan hipernatrernia dapat timbul pada pernberian bikarbonat yang terlalu giat. Norep~nefrin 1. e. sampai (Intropin] Untuk hipotensi. (Adrenalin) yang halus dan disosiasi Untuk asistol. b. Hiperventilasi dapat digunakan untuk meningkatkan pH sistematik dan susunan saraf pusat (SSP) seeara akut dan re. asistol. 2. Oasis bikarbonat dapat dihitung dari kelebihan basa (negatif) dari gas darah arteri sebagi berikut : BE x 0. Efek dopaminergik beta yang bergantung pada dosis tirnbul pada dosis Iebih rendah (kurang dari 5 rneg/kgBB/menit) dan efek a1fa pada dosis lebih tinggi. d. Dosis : 0.25 x berat bad an (kg) BE : base excess. Kalsium klorida 1. Epinefrin 1. (Levophed) c. 2.04 mcg/kgBB/menit. dititrasi sarnpai tirnbul efek yang diinginkan. 3. disosiasi Oasis: 2-20 meg/ kg/ menit. Untuk kontraktilitas miokard elektrornekanis. hipokalsernia.\ersibel. Untuk tahanan vaskular sistemaik yang rendah dengan hipotensi refrakter.

2. Dosis :2. Breti1ium (BretyloI) 1. Obat ini dianjurkan untuk fibrilasi ventrikular berulang yang refrakter terhadap lidokain. Lidokain (XyIocaine) 1. Ini merupakan obat piIihan pertama untuk takikardia ventrikular dan fibrilasi ventrikular. (Dobutrex) Untuk dlsfungsi ventrikular. kegagaJan beberapa organ atau keadaan lain yang mungkin menurunkan aliran darah hati. 3. a. 2.enatalaksanaanfarmakologikfibrilasi atau takikardia ventrikular. Dobutamin 1. Jika fibrilasi menetap. 3. Oosis : pad a fibrilasi ventrikular. Dosis kedua dapat diberikan 1-2jam sesudahnya dan kernudian setiap 6-8 jam. diikuti dengan infus 1-4 mg per menit. 7') . Dobutamin mungkin tidak begitu bermanfaat seperti dopamin atau adrenalin dalarn fase awal henti jantung. dengan cepat dan diulangi seperlunya. Kadang-kadang dopamin merupakan pengganti adrenalin yang berrnanfaat karena aktivitas alfa yang terlihat bila diberikan dalam dosis lebih tinggi. dapat diberikan 5-10 mg/kg BB iv. bretilium yang tak diencerkan secara cepat diikuti dengan syok balik arus searah (DC). Mula kerja untuk terapi fibrilasi ventrikular terlihat dalam beberapa rnenit. Dosis : 1mg per kg bolus. 3. Untuk takikardia ventrikular refrakter atau beruJang.5-10. terutarna dengan tahanan vaskular sistemik yang tinggi. e. dititrasi sampai tercapai tekanan darah (atau curah jantung) yang diinginkan. Untuk mengobati aritmia dan bJok jan tung. Rekomendasi bervariasi. diberikan 5 mg/ kg BB/ iv. atau sebagai infus 2 rng per menit. Untuk takikardia ventrikular mungkin diperlukan waktu 20 menit atau lebih. dititrasi menurut respon pasien. Untuk distrimia ventrikular.0 meg/kgEB/menit.3. 2. dapat diberikan 10mgper kg iv. larutan encer (500mg dalam50-100ml Dextrose 5% dalam air)selama 10-20menit. Laju infus mungkin perlu diturunkan bila ada hipotensi. Hipotensi dapat t. b. Hendaknya obat ini dipertimbangkan pada awal p.mbuI bila obat diberikan dengan cepat.

c.

Prokalnamid 1. 2.

(Pronestyl) ventrikular berulang yang refrakter

Untuk fibrilasi atau takikardia terhadap lidokain.

Oasis: 100 mgdosis muatan setiap 5 menit pada kecepatan sekitar20mg

per menit sarnpai 1 g (atau 17 mg/kg) diikuti oleh infus 1-4 mg/kgBB/
menit. 3. Pernbcrian dosis di atas hams dihentikan jika disritmia hilang, tekanan darah menurun atoll kompleks QRS melebar lebih dari atau sarna
dengi111 50%.

d.

Kardiovcrsi 1. Pukulan prekordial a. . b. Untuk takikardia ventrikular yang berlanjut ke fibrilasi ventrikular sclarna 60 detik pertama henti jantung yang disaksikan . Pukulan dilakukan dengan memberikan pukulan cepat dan keras pada bagian terigah sternum dengan bagian daging bawah pergelangan tangan dad jarak sekitar 20-30 em. RJP segera dimulai jib kardioversi tak elektif.

2.

Syok balik arus searah (direct current countershock). a. b. Untuk aritmia supraventrikular yaitu fibrilasi atrial atau flater atrial, takikardia vcntrikular atau fibrilasi ventrikular. [adwal dosis dalam Tabcl 1 dapat digunakan.

Tabel 1. Oasis untuk syok balik arus searah (Watt-Sec)
-.~-_-_
..

-.---~~-

rr="::

Toraks

._ .._---

Atrial
"-.~~"-"

-.-~---_

----

Ventrikular Fibrilasi

FibriJasi

Flater

Takikardia

Terbuka Tertutup
-~---~ --_
.~--~-

10 - 20 80 - 200
..... --." . _._--_ •• _<

-.. ..
-

-~

20 - 50 _-- ---~-.---------.

50 - 100

200

- 300
.-

e.

Atropin 1. 2. 3. Untuk bradikardia berat
ilt;l1I

bJok atriovcnlrikular

derajat Linggi vagal

Dosis : 0.52.0 mg iv, Atropin mungkin tcrbaik untuk bradikardia akibat rangsangan ,1ti1U bradikardia karcna penyakit sislem hantaran.

no

f.

Isoproterenol l, 2.

(Isuprcl) refrakter atau blok atrioventrikular derajat tinggi.

Untuk bradikardia

Oasis: 2-20 meg per rnenit sebagai infus yang dititrasi [rekuensi denyut iantung yang diinginkan. paeu jantung tinggi atau

untuk mencapai

g.

Pemasangan 1. 2.

Unluk blok at riovcuttikular dcrajat yilllg iimbu l selama a la u setvlah RJP. Biasanya
resusitasi

bradikardia

berat

pernacuan
pasicn asistol.

hanya

sedikit

mernbantu

d a la rn rnelakukan

h.

Digoksin 1. 2. 3.

(Lanoxin)

Untuk flater at.iu fibrilasi atrial dengan respons veutrik ular yang cepat, Dosis : dosis muatan 1 mg diberikan tcrpisnh 30-60 menit. Lebih diindikasikan
t akiarltrnia atrial

dalarn dosis tcrbagi (0,25 mg) yang daripada
ketakstabilau

kardiovcrsi
rncnyebabkan

pernberian
hernod

digoksin
inarnik

jika yang

bcrma kna.
L Verapamil (Isoptin)

1. 2. 3.

U ntu k takiaritrn

ia

SlI

paravcn

triku 1M. lahan (5-10 mg pada pasien 70

Dosis : 0.075 - O.15D mg per kg perlahan kg). diulangi scsuai kcpcrluan.

Obat ini hendaknya digunakan dengan hati-hati bila ada blokade adrenergik-beta bersarnaan Mall pcnggunaan digoksin, karena dapat menyebabkan hipotrnsi atau blok jantung lengkap. (Inderai). ventrikular
atoll

j.

Propranolol 1. 2. 3.

Untuk aritrnia

supraventrikular,

bukan

obat pilihan

pertarna dalam RJP.
Dosis awal : 0.1 - 0.5 mg IV. jib bisa d itoleransikan 0.5-0.1 mg setiap 2-5 mcnit yang dititrasi terhadap kernudian ditarnbah respon pasien.

Hcndaknya propranolol diberikan dengan hati-hati pada rnasa pasea henti jantung karena mungkin ada disfungsi kontraktil ventrikular d alarn berbagai tingkat

~I

Keputusan

untuk mengakhiri

upaya resusitasi

Semua tenaga kesehatan dituntut untuk memulai RJP segera setelah diagnosis henri nafas atau henti jantung dibuat, tetapi dokter pribadi korban hendaknya lebih dulu diminta nasehatnya sebelum upaya resusitasi dihentikan. Tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan dan refleks rnuntah dan di1atasi pupil yang rnenetap selama 15-30 rnenit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau di bawah efek barbiturat atau dalam anestesia umum. Akan tetapi tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk mernbuat keputusan rnengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktivitas Iistrik jantung (asistol selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapai obat yang optimal menandakan mati jantung. Seseorang dinyatakan mati bilamana fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel atau telah terbukti terjadi kematian batang atak. Dalam keadaan darurat, tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika terdapat tanda-tanda mati jantung dan atau sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak tirnbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selarna 15-30 meriit lebih, kecuaJi kalau pasien hipatermik atau di bawah pengaruh barbiturat atau anestesia umum. Dalam keadaan berikut ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. darurat, resusitasi dapat diakhiri bila ada salah satu dari yang efektif, jawab dokter

Telah timbul kembali

sirkulasi

dan ventilasi

spontan

Upaya resusitasi telah diarnbil alih oleh orang lain yang bertanggung meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter), Seorang dokter sebelumnya, Penolong rnengambil alih tanggung tak sanggup jawab (bila tak ada resusitasi,

terIalu capai sehingga mati,

meneruskan

Pasien dinyatakan

Setelah dirnulai resusitast.ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada d alam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau harnpir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah 0,5-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP)·

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful