A.

Pengertian dan Sejarah Pragmatisme
Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme, kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman (Hegel) pada John Dewey, seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Selain John Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth), sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James, terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide, yang sifatnya tidak pasti. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi, tidak diketahui kebenaran teori itu. Atas dasar itu, kebenaran itu bukan sesuatu yang statis atau tidak berubah, melainkan tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Kebenaran akan selalu berubah, sejalan dengan perkembangan pengalaman, karena yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Pragmatisme yang diserukan oleh James ini –yang juga disebut Practicalisme– , sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Hanya saja, Peirce lebih menekankan penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa, yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol (bahasa), berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan), Peirce membagi kebenaran menjadi dua. Pertama adalah Trancendental Truth, yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Yang kedua adalah Complex Truth, yaitu kebenaran
1

Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving. berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. Kebenaran jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis. Semua kebenaran pernyataan ini. 4. dan kebenaran logis atau literal. Memilih dan menganalisis hipotesis. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis. maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. 3.dalam pernyataan. yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut : 1. yaitu keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara. yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. harus diuji dengan konsekuensi praktisnya melalui pengalaman. dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/pengujian. dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. Menganalisis masalah itu. yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu. 5. mencoba. Menguji. John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama. 2. 2 . Meskipun berbeda-beda penekanannya. Merasakan adanya masalah.

Jadi. Kritik dari segi landasan ideologi Pragmatisme Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). ialah mengingkari keberadaan Tuhan. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir. Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan. Pemikiran dasar ini. dan kehidupan. Sedangkan yang kedua. Pemikiran dasar pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat. ialah mengakui keberadaan Tuhan yang menciptakan manusia. Dan dari sinilah dibahas. berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di antara pemikiranpemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan dengan jalan tengah. maka ini adalah suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa. apakah Tuhan telah menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk melaksanakannya dalam kehidupan. pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Jadi. Tak ada bedanya apakah pemikiran dasar ini dianut oleh orang yang mempercayai keberadaan Tuhan atau yang mengingkari keberadaan-Nya. tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Dengan demikian. maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik dan membatalkan pemikiran dasar ini. alam semesta. yakni keharusan menundukkan segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Tuhan tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya. sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang sama). dalam konteks ideologis. yang pertama adalah pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang Abad Pertengahan (abad V – XV M). Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme. Dan dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf yang mengingkari keberadaan Tuhan.B. Yang pertama. 3 . Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi Kapitalisme. Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Sedang yang kedua. Bahkan. antara dua pemikiran yang kontradiktif. bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan. Kedua pemikiran ini. Penyelesaian jalan tengah.

kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri . Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu. Ketiga.C. Kedua. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Pertama. dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka. Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif . Ide ini keliru dari tiga sisi. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia . Atau dengan kata lain. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. 4 . Maka. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Dengan kata lain. Kritik terhadap Pragmatisme itu sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pragmatisme menafikan peran akal manusia. kelompok. Maka.

Surat Roma merupakan contoh yang dapat diangkat disini. are all things:to whom be glory for ever. Rom 11:36 Dalam kutipan Roma 11:36 diatas (KJV). Dengan kata lain Allah merupakan pusat dari segalanya. bagaimanakah cara agar kita tidak terjebak didalam pandangan pragmatis tersebut? Caranya hanyalah satu. doktrin yang menentukkan praktik kehidupan setiap hari. and to him. 5 . Pragmatisme dan Kekristenan Didalam pragmatisme. and through him. Ortodoxy yang berimplikasi kepada Orthopraxis atau dengan kata lain.D. proses (through Him) dan tujuan (to Him) dari seluruh kehidupan. Amen. Selanjutnya. Bahaya dari pragmatisme juga sangat mengancam ajaran kekristenan. Kattsoff menyatakan bahwa sistem tersebut hanyalah mencetak para ahli yang hanya tahu "know how" akan tetapi tidak mengetahui"know why". kembali kepada kebenaran Firman. Paulus dalam Roma 1-11 menekankan pengajaran doktrinal sebagai aspek indicative untuk kemudian didalam pasal 1216 diimplementasikan didalam praktik kehidupan sebagai aspek imperative. For of him. Sedangkan Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang menjadi pusat dari seluruh kehidupan dengan kategori "benar" (bukan 'baik') berdasarkan standar dari Allah sendiri. yang merupakan kesimpulan dari pasal 1-11 kita dapat melihat bahwa Allah ditempatkan sebagai sumber (for of Him). dimana orang2 (dalam arti yang sangat sempit) hanya terfokus pada "berkat Allah" tanpa melihat kepada "Sang sumber berkat". Pandangan diatas tentulah bersifat kontras dengan pandangan pragmatisme yang hanya berorientasi pada tujuan & konsekuensi perbuatan untuk menentukan sesuatu itu 'baik'. pertanyaan utamanya bukanlah "apa itu?" melainkan "apa gunanya?" Pragmatisme dalam artian berorientasi pada praktika (konsekuensi praktis) merupakan sesuatu aliran yang 'membahayakan' karena titik tolak acuannya ada pada "hasil akhir" dan bukan pada "proses".

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful