Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur'an

"Secara universal, fungsi hadits terhadap Al-Qur'an adalah merupakan penjabaran makna tersurat dan tersirat dari isi kandungan Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah:

Artinya: "Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Q.S. 16. An-Nahl, A. 44).

Namun kemudian para 'ulama hadits merincinya menjadi 4 fungsi hadits terhadap Al-Qur'an yang intinya adalah sebagai penjabaran, dalam bahasa ilmu hadits disebut sebagai bayan, simak penjelasan berikut." (Mas Gun). Fungsi hadits terhadap Al-Qur'an secara detail ada 4, yaitu: 1. Sebagai Bayanul Taqrir Dalam hal ini posisi hadits sebagai taqrir (penguat) yaitu memperkuat keterangan dari ayat-ayat Al-Qur'an, dimana hadits menjelaskan secara rinci apa yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an, seperti hadits tentang sholat, zakat, puasa dan haji, merupakan penjelasan dari ayat sholat, ayat zakat, ayat puasa dan ayat haji yang tertulis dalam Al-Qur'an.

2. Sebagai Bayanul Tafsir Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai tafsir Al-Qur'an. Hadits sebagai tafsir terhadap Al-Qur'an terbagi setidaknya menjadi 3 macam fungsi, yaitu:

2.1. Sebagai Tafshilul Mujmal Dalam hal ini hadits memberikan penjelasan terperinci terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat universal, sering dikenal dengan istilah sebagai bayanul tafshil atau bayanul tafsir. Contoh: ayat-ayat Al-Qur'an tentang sholat, zakat, puasa dan haji diterangkan secara garis besar saja, maka dalam hal ini hadits merincikan tata cara mengamalkan sholat, zakat, puasa dan haji agat umat Muhammad dapat melaksanakannya seperti yang dilaksanakan oleh Nabi.

2.2. Sebagai Takhshishul 'Amm Dalam hal ini hadits memperkhusus ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat umum, dalam ilmu hadits sering dikenal dengan istilah bayanul takhshish. Contohnya: Dalam Q. S. 4. An-Nisa', A. 11 Allah berfirman tentang haq waris secara umum saja, maka di sisi lain hadits menjabarkan ayat ini secara lebih khusus lagi tanpa mengurangi haq-haq waris yang telah bersifat umum dalam ayat tersebut. 2.3. Sebagai Bayanul Muthlaq Hukum yang ada dalam Al-Qur'an bersifat mutlak amm (mutlak umum), maka dalam hal ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam Al-Qur'an. Contoh: Dalam Q. S. 5. Al-Maidah, A. 38 difirmankan Allah tentang hukuman bagi pencuri adalah potong tangan, tanpa membatasi

Contoh: Dalam Q.batas tangan yang harus dipotong. Muslim) . 4." (HR. 2. binatang berbelalai dan menikahi wanita bersama bibinya. Al-Baqarah. BENTUK-BENTUK HADITS Sesuai pengertiannya dengan berdasarkan secara terminologi. Sebagai Bayanul Naskhi Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai pendelete (penghapus) hukum yang diterangkan dalam Al-Qur'an. contohnya sabda Nabi SAW : "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. A. Contoh: Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan tentang kedudukan hukum makan daging keledai. maka hadits memberi batasan batas tangan yang harus dipotong. maka hadits menciptakan kedudukan hukumnya dengan tegas. Hadits Qauli Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah). 180 Allah mewajibkan kepada orang yang akan wafat memberi wasiat. S. kemudian hadits menjelaskan bahwa tidak wajib wasiat bagi waris. Sebagai Bayanul Tasyri' Dalam hal ini hadits menciptakan hukum syari'at yang belum dijelaskan secara rinci dalam AlQur'an.dapat dibagi menjadi tiga macam hadits : 1. yang satu sama lain saling menguatkan. Hadits ataupun Sunnah. 3.

Hadis Fi’li . barulah Nabi SAW bertakbir. baik berupa perkataan. “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari(sebelum shalat maghrib). Hadits yang berupa perbuatan (fi‟liyah) mencakup perilaku Nabi SAW. peristiwa dan keadaan yang berkaitan aqidah.2. Hadis Qauli Yang dimaksud dengan hadis qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Apabila safsaf kami telah lurus. ataupun ucapan yang memuat berbagai maksud syara‟. Muslim) I.[1] B. A. syari‟ah. Hadits Taqriri Hadits yang berupa penetapan (taqririyah) atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yangdiucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebutdiakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. haji. akhlak dan lainnya. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kamilakukan. beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR.” (HR.Contohnya hadits berikut. Hadits Fi’il. Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Muslim) 3. seorang sahabat berkata . dsb. Berikut contoh haditsnya. seperti tata carashalat. Pembagian Hadis Dilihat dari Bentuknya. puasa.

”[9] Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir. yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. Hadis taqriri Hadis taqriri adalah hadis yang menyebutkan ketetapan nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya. hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya. juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak. yang menyangkut keadaan fisik.[7] Keadaan fisik Nabi Muhammad SAW tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. dan kepribadiannya.Yang dimaksud dengan hadis fi‟li adalah hadis yang menyebutkan perbuatan nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita.[10] . baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya. seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia.[2] Hadis yang termasuk kategori ini adalah hadis yang di dalamnya terdapat kata-kata kana/yakunu atau ra‟aitu/ ra‟aina. Hadis Ahwali Yang dimaksud dengan hadis ahwali ialah hadis yang menyebut hal ihwal Nabi Muhammad SAW. Hadits Mutawatir Ta’rif Hadits Mutawatir Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Nabi SAW membiarkan suatu perbuatanyang dilakukan oleh para sahabt apabila memenuhi beberapa syarat. yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan. Sebagimana dikatakan Al-Bara‟i dalam sebuah hadis berikut: II.[3] C. Nabi belum sempat . Hadis Hammi Yang dimaksud dengan hadis hammi adalah hadis yang menyebutkan keinginan Nabi Muhammad SAW yang belum terealisasikan.[5] Keinginan nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura‟. tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta. Sedangkan menurut istilah ialah: “Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera.[6] .[4] D. baik yang terpuji maupun yang tercela. sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah lainnya.menunaikan hasratnya ini karena beliau wafat sebelum datang bulan Asyura‟ tahun berikutnya. sifat-sifat. Pembagian Hadis ditinjau dari kuantitas Rawi A). Menurut para ulama‟ menjalankan had hammi ini disunnahkan.”[8] Artinya: “Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta.

Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits.Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah: “Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu). maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya. c. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. (2). Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta.” (QS. misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Disamping itu. Al-Anfal: 64). maka penyampaian itu adalah secara mutawatir. d. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir Menurut Mohammad Rahman dalam buku Ilmu Musthalahah Al hadis disebutkan bahwa syaratsyarat hadis mutawattir ada 3: (1. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji. Ada yang melihat atau mendengar. dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya. b.) Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65). Ashabus Syafi‟i menentukan minimal 5 orang. ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera. .[11] b. dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. a. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW.

[12] c. tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum. sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya.” .” Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : “Rasulullah SAW bersabda. susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H). Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi alMutawatir. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya. “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. susunan Imam As-Suyuti(911 H).) Seimbang jumlah para perawi. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Hadits Mutawatir Lafzi Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain : “Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.” Menurut Abu Bakar Al-Bazzar. Pembagian Hadits Mutawatir Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam[13] : 1.” Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah : “Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi. seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri alMutawatirah. kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir. kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits.(3. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka. Hadits mutawatir maknawi Hadits mutawatir maknawi adalah : Artinya : “Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya. 2. bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat.

Artinya: “Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz. yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda.” Contoh : Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian.” 1. 3. Bukhari Muslim) Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak.” Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut. Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : Artinya : “Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau. Contoh : Artinya : “Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa‟ dan beliau mengangkat tangannya. .” (HR. sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya. namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad. Hadis Mutawatir Amali Hadis Mutawatir Amali adalah : Artinya : “Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu.

” b. tarif hadis ahad antara laian adalah: Artinya: “Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir. lima orang dan seterusnya. Menurut istilah. empat orang. dalam arti maqbul. dan Al-Qowiyu (yang kuat). Pengertian hadis ahad Menurut Istilah ahli hadis. tiga orang.2. Hadis Masyhur Masyhur menurut Bahasa adalah al-intisyar wa az-zuyu‟ (sesuatu yang sudah tersebar dan populer). 2. Hadis Gharib Gharib menurut bahasa adalah (1) ba‟idun „anil wathani (yang jauh dari tanah) dan (2) kalimat yang sukar dipahami. Faedah hadis ahad Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat‟i. hadis aziz ialah hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad.3. hadis tersebut tidak tertolak. ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”. AshShab‟bul ladzi yakadu la yuqwa „alaih (yang sukar diperoleh). sebagaimana hadis mutawatir. baik pemberita itu seorang. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa.tidak mencapai derajat mutawatir. Sedangkan secara terminologi. oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Pembagian hadis Ahad 1. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan. hadis gharib ialah hadis yang diriwayatkan oleh seoran perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya. dua orang. 3. c. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis.II. An-Nadir (yang sedikit wujudnya). baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya. maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. Hadis Ahad a. Hadis Aziz Aziz menurut bahasa adalah As-Syafief (yang mulia). Kalau . tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: “ Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut: Artinya: “Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir. Menurut istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap thabaqah.

Walhasil.2. yang terkemudian kita ambil. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Jika ada. hadis yng benar berasal dari Rasulullah SAW. yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW. boleh kita berhujjah dengannya.3. Batasan hadis sahih.” II. Pembagian hadis berdasarkan kualitas sanad dan matan II. yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta. sesudah nyata sahih atau hasannya. hdis mutawatir. kita pandang nasikh. kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. baik ia muhkam. tapi diketahui mana yang terkemudian.1. II. maka yang terdahulu kita tinggalkan. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah : Artinya : “yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami. tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. atau hasan).4.4. Kalau tak mungkin dikumpulkan.” . 4. Hadis Dhoif Hadis dhoif menurut bahasa berarti hadis yang lemah. atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit. Para ulama memberi batasan bagi hadis daif : Artinya : “Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih. antara lain : Artinya : “Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran). Kalau mardud. atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan. kita pandang mansukh. matan hadisnya. Hadis Shahih Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat.” II.maqbul. Hadis Hasan Menurut bahasa. kita kumpulkan antara keduanya. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih. barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis. hasan berarti bagus atau baik. dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan. yang diberikan oleh ulama.4.

4. melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan.5. Abu Hasin. Hadis Ali Hadis Ali adalah hadis yang jumlah rawinya dalam sanad itu sedikit.1. Abul Akhwash. Abu Salamah dan Abu Hurairoh (6 orang) adalah hadis nazil. Untuk mengetahuinya. Menurut mayoritas ulama‟ bahwa hadis muannan di hukumi muttasil sama dengan muan‟andi atas asal memenuhi dua syarat . Yunus. Ibnu Syihab. Sedangkan riwayat Bukhari bersanad Quthaibah bin Sa‟id. II. dibandingkan jumlah rawi yang ada pada sanad lain yang menyebut hadis yang sama. 1.5. sesungguhnya. Hadis Muannan Muannan menurut bahasa berarti bahwasanya. memberitakan padanya . 5.Jadi hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih. Berikut perbandingannya. II.5. Ibnu Wahb. Pada hadis dhaif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW. Macam-macam hadis „Aly ada 5 macam. Pembagian hadis nazil ada lima. ada yang berpendapat bahwa hadis muannan berhukum munqati‟ sehingga ada penjelasan bahwa ia mendengar berita tersebut melalui sanad lain atau ada indikator lain yang menunjukkan bahwa ia mendengar atau menyaksikannya.3. Sanad muslim adalah Harmalah bin Yahya.5.2. 3. Abu Shalih. Muannan menurut istilah adalah hadis yang dikatakan dalam sanadnya “memberitakan pada kami bahwasanya si fulan. „aly Mutlaq Aly Nisbi „Aly Tinzil „Aly bitaqdimil wafat „Aly bitaqoddumis sanad II. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan Sifat Sanad dan Cara Penyampaian Periwayatan II. dan Abu Hurairoh (5 orang) adalah hadis „Aly karena sanadnya lebih sedikit.begini” Hukum hadis muannan Dikalangan ulama terjadi perbedaan pendapat. cukup memahami kebalikan pembagian hadis „Aly. Hadis Nazil Hadis Nazil adalah hadis yang jumlah rawi dan sanadnya banyak. 2. Contoh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan Imam Al-Bukhari dengan sanad berbeda. Aly Mutlaq melawan Nazil mutlaq.

di namakan hadis musalsal karena ada persamaan dengan rantai atau silsilah Menurut istilah : keikutsertaan para perawi dalam sanad secara berturut turut pada satu sifat atau satu keadaan.5. yang berarti dan bertali menali. Sebagaimana tinjauan pembagian hadis di atas.Abu Al-Asyabal menegaskan. bahwa hadis muan‟an jika seorang perowi yang menggunakan kata anna = bahwasanya ( muannin ) tidak semasa dengan orang yang menyampaikannya atau semasa tetapi tidak pernah bertemumaka periwayatannya di hukum munqathi‟ tidak dapat di terima oleh hujjah [atau seorang rowi yang menggunakan anna= bahwasanya ( muannin ) semasa hidupnya dengan yang menyampaikan berita tetapi tidak di ketahui apakah ia bertemu atau tidak. Hadis Musalsal Menurut bahasa musalsal berasal dari kata salsala yusalsilu salsalatun. periwayatan ( ada‟) musalsal pada waktu periwayatan musalsal pada tempat periwayatan Hukum hadis musalsal Terkadang hadis terjadi musalsal dari awal sampai akhir. terkadang bagi periwayatan. Dengan demikian hadis musalsal adalah hadis yang secara berturut turut. . Dan terkadang sebagian musalsal terputus di permulaan atau di akhiran. Hukum musalsal ada kalanya shahih. hasan dan dhaif tergantung keadaan para perawinya.5. penyampaian. sanadnya sama dalam satu sifat atau dalam satu keadaan dan atau satu periwayatan Macam macam musalsal 1) musalsal keadaan rawi ( musalsal bi ahwal arruwat ) msalsal keadaan perawi terkadang dalam perkataan ( qauli ) terkadang perbuatan ( fi‟li ) atau keduanya ( qauli & fi‟li ) 2) musalsal sifat periwayat ( musalsal bi shifat ar ruwah ) muasalsal ini di bagi menjadi perkataan ( qauli ) dan perbuatan ( fi‟li ) 3) musalsal dalam sifat periwayatan 9 musalsal bi shifat ar riwayah ) muasalsal ini di bagi menjadi tiga macam : 1) 2) 3) musalsal dalam bentuk ungkapan. bahwa musalsal adalah sifat sebagian sanat. atau di ketahui tetapi ia sesorang penyembunyi cacat (mudallis). maka tidak menujukkan keshahihan suatu hadis. maka di tangguhkan ( tawaqquf ) hingga dapat di ketahui ke muttasilannya II.

dan nilai tambah kedhabithan para perawi.2. Secara epistimologis. jika persetujuan disebut marfu‟ taqriri dan jika sifat maka dinamakan marfu‟ washfi. jika perbuatan dinamakan marfu‟ fi‟li. Sebagian ulama kemudian membagi hadis ini berdasarkan jenisnya. Syarat hadis dikatakan marfu‟ tashrihy adalah sebagi berikut. Jumhur Muhaditsin mambagi hadis marfu‟ berdasarkan aspek pengkategorian teks. Dengan kata lain bahwa apa yang dikatakan sahabat dapat dipastikan berasal dari nabi dan bukan dari hasil olah pikiran sahabat. Hal ini dibuktikan dengan perhatian masing-masing perawi dalam pengulangan menyebut keadaan atau sifat para perawi para periwayatan. hadis marfu‟ berarti hadis yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad SAW baik berupa perbuatan. . Pembagian Hadis Nabi berdasarkan sumber berita II. persetujuan. tidak adanya tadlis dan inqitha‟. II. baik sanadnya bersambung maupun tidak. Misalnya perkataan seorang sahabat dengan kata : Aku mendengar rasulullah SAW bersabda Diceritakan kepadaku oleh Rasulullah Berkatalah Rasulullah Rasulullah menceritakan Aku melihat rasulullah begini Adalah rasulullah berbuat begini Aku berbuat dihadapan Rasulllah begini Sedangkan marfu‟ hukmy adalah ucapan sahabat yang seolah-olah lahirnya dikatakan oleh seorang sahabat tetapi hakikatnya disandarkan kepada Rasulullah. marfu‟ tashrihy dan marfu‟ hukmy Marfu‟ tasyrihi adalah hadis yang tegas-tegas dikatakan oleh seorang sahabat bahwa hadis tersebut didengar.6.Diantara kelebihan musalsal tersebut adalah menunjukkan kemutasilan dalam mendengar. Hadis Marfu’ Marfu‟ secara etimologi berarti “yang diangkat” atau “ditinggikan”. atau sifat. atau dilihat dan atau disetujui Rasulullah.6. jika hadis itu berupa ucapan dinamakan marfu‟ qouli.

Umpamanya mengangkat kedua tangan ketika takbir dalam beberapa takbir shalat hari raya baik dalam rakaat pertama maupun rakaat kedua. maka dapat dipahami bahwa yang memerintah atu melarang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW Keenam. . selama sahabat tersebut tidak dikenal orang yang suka duduk dengan ahli kitab maka ceritanya dapat dikategorikan marfu‟. Perkataan ini sudah dipandang sebagai hadist marfu‟ karena makna sunnah disini adalah sunnah Rasullah. Seperti perkataan ibnu mas‟ud. Barang siapa mendatangi tentang tukang sihir. Misalnya tatkala sahabatberbicara masalah ghaib (ghaibiyat) atau tentang tanda-tanda kiamat. kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. karena dipersepsikan bahwa para sahabat tidak melakukan suatu perbuatan tanpa ada tuntunan dari Nabi pada tuntuna yang tidak mungkin diperoleh selain dari nabi. Apabila ada seorang sahabat berkata: Diantara sunnah begini. yang diucapkan sahabat tersebut menyangkut masalah yang tidak dapat diijtihadkan. Hadis marfu‟ –baik tashrihi maupun hukmi. Dan diketahui bahwa ibnu Umar adalah seorang sahabat yang sangat kuat dalam menjalankan sunnah Nabi. maka sesunggunhnya ia telah kafir. selama hadis tersebut memenuhi kriteria hadis maqbul (shahih atau hasan). apabila seorang sahabat membuat suatu pekerjaan yang tidak dapat diperoleh dengan jalan ijtihad.Pertama. ia berdiam diri di rumah si gadis itu 7 hari lamanya. AlBukhari dan Muslim) Ketiga. jika sahabat bercerita tentang kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu. jika sahabat mengatakan bahwa “kami diperintahkan untuk atau kami dilarang”.dapat dijadikan sebagi hujjah. Ungkapan ini dapat dihukumi sebagi marfu‟ sekalipun sahabat tidak menghukumi qola nabi. Contohnya perkataan Anas bin Malik Diantara sunnah apabila seorang laki-laki beristri dengan seorang gadis (bikr) sedang ia mempunyai seorang istri lain. jika yang diucapkan dinisbatkan pada zaman Nabi SAW. Keempat. (HR. karena dipersepsikan bahwa nabi melihat pekerjaan itu terjadi tetapi tidak mencegah atau melarang. Proses ini disebut persetujuan (taqrir nabi). Tentunya tibeliau tidak akan mengerjakan hal tersebut kalau tidak mendapat tuntunsan dari Nabi. Misalnya mereka mengucapkan kami melakukan ini dan itu. Kelima. karena tidak dikhawatirkan cerita tersebut mereka dengar dari ahli kitab yang bersumber dari taurat dan injil. Kedua. maka perbuatan itu dipandang sebagi hadist marfu‟. Pekerjaan ini dilakukan oleh Ibnu Umar. atau tentang dukun.

Lebih luas hadis maqthu‟ didiefinisikan sebagai berikut : Sesuatu yang disandarkan kepada seorang tabi‟in atau seorang setelahnya dari tabi‟ tabi‟in kemudian orang-orang setelah mereka baik berupa perkataan atau perbuatan dam sesamanya. . Ibnu Al-Atsir dalam kitab Al-Jami‟ mendefinisikan hadist mauquf sebagai Hadis yang dihentikan (sandarannya) pada seorang sahabat tidak tersembunyi bagi seorang ahli hadis. Contoh hadis maqthu‟ Perkataan Hasan Al-Bashri tentang shalat di belakang ahli bid‟ah Shalatlah dan bid‟ahnya atasnya. Bukhari) Dan Ummu ibnu Abbas sedangkan ia bertayammum (HR. Secara istilah ucapan atau perbuatan yang dinisbatkan kepada tabi‟in.6.II. (HR. Contoh hadis mauquf misalnya. Al-Bukhari) Aku melakukan begini di hadapan salah seorang sahabat dan ia tidak mengingkariku II. Bukhari) Para ulama‟ berpendapat bahwa hadis maqthu‟ tidak dapat dijadikan hujjah.4. ia (seorang perawi) berkata : bahwasanya sahabat berkata begini. yaitu suatu hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat. Apabila telah sampai pada seorang sahabat.6.3. Mawquf berarti berhenti atau menghentikan. mauquf berasal dari kata waqaf yang atinya berhenti. maka maqthu‟ yang marfu‟ dijadikan hujjah. Hadis Maqthu’ Secara etimologi. definisi hadis mauquf adalah ucapan aau perbuatan yang dinisbatkan kepada sahabat. Hadis Mauquf Secara etimologi. Secara epistimologi. Apakah mereka menghendaki Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR. maqtu‟ berasal dari kata qotho‟a yang berarti terputus. Jika terdapat sebuah teks yang penuturnya seorang sahabat maka diistilahkan dengan mauquf baik tersambung sanadnya atau tidak. atau berbuat begini atau menyuruh begini. Jika terdapat sebuah teks dan penuturnya seorang tabi‟in maka diistilahkan dengan maqthu‟ baik bersambung sanadnya maupun tidak. kecuali bagi golongan yang membolehkan berhujjah dengan hadis mursal. Ali bin Abi thalib berkata: Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui.

Jika sanadnya berakhir pada nabi maka disebut marfu‟. Pada proses periwayatannya tabi‟in tidak berjumpa dengan nabi.8. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan keterputusan sanad II. Hadis yang didengar oleh tabi‟in dapat dipastikan bersumber dari sahabat sedang pada sanad itu sahabat tidak tampak. namun tidak setiap muttasil itu musnad[54] contoh : hasil periwayatan bukhori misalnya dia berkata : memberitakan pada kami abdullah bin yusuf dari malik dari abu azzanad dari al a‟araj dari abu hurairah berkata: sesungguhnya rasulullah bersabda : Yang artinya : jika anjing minum bejana kamu maka cucilah tujuh kali[55] II.[53] Dari segi istilah hadis musnad ialah hadis yang di riwayatkan dengan sanad yang bersambung.[51] Contoh hadis muttashil yang marfu‟ Artinya : orang yang terlambat melaksanakan sholat sepeeti orang yang kehilangan keluarga dan kerabatnya[52] (HR Imam Nasa‟i) II. dengan makna menyandarkan atau menggabungkan.7. Adapun definisi mursal menurut jumhur muhadditsin adalah hadis yang gugur perowinya pada tingkatan shahabat.1. Hadis Musnad Dari segi bahasa musnad berasal dari kata asnad.2. berasal dari kata ittashola yattashilu. semua musnad pasti muttasil. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan ketersambungan sanad II. Hadis Muttashil Dari segi bahasa Muttashil berarti yang bersambung. inilah yang membedakan musnad dan muttasil.7. Secara epistimologi hadis muttasil ialah hadis yang bersambung sanadnya sampai akhir. Hadis Mursal Terdapat beberapa perbedaan dalam pendefinisian mursal.7. baik marfu‟ disandarkan kepada nabi maupun mauquf (disandarkan kepada seorang sahabat)[50] Dalam definisi di atas ungkapan hingga akhir sanad menunjukkan bahwa hadis muttashil bisa marfu‟ bisa mauquf bahkan juga bisa maqthu‟.1.II.[56] Hukum hadis mursal . jika berakhir pada sahabat maka dinamakan mauquf dan jika berakhir pada tabi‟in maka disebut maqthu‟. dengan kata lain hadist yang bersambung dan marfu‟ dan di katakan tidak musnad jika tidak marfu‟.8.

Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. II. II. beliau mendapatkan bahwa hadis-hadis muallaq dalam shahih Bukhari ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain di luar kitab shahih Bukhari. baik yang disandarkan kepada Nabi SAW. Dan kata inqita‟ merupakan akibatnya. mu‟dhol berarti hadis yang terputus sanadnya pada dua tempat secara berurutan. Baik terputusnya lebih dari satu tempat atau gugur lebih dari satu perowi asalkan terputusnya terdapat diawali sanad masih dapat dikatakan muallaq.4. Hadis-hadis muallaq yang terdapat dalam shahihin masuk ketegori shahih.1. Hadis Munqathi’ Kata Al-Inqita‟ (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Hal itu telah dibuktikan oleh ibn Hajar yang telah meneliti satu persatu hadis-hadis muallaq dalam shahih bukhari dan hasilnya. Adapun secara terminologi. Dapat dijadikan hujjah dengan syarat tabi‟in yang meriwayatkan hadis tersebut dikenal sebagai orang yang tsiqah. maupun disandarkan kepada yang lain. Hadis muallaq masuk kategori hadis dhoif karena hilangnya syarat pertama dari syurut Al-qabul (ittishal al-sanad) dan sosok perawi yang gugur ststus kepribadiannya tidak diketahui. Hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin. 2. yakni terputus. II.8.3. Hadis mursal tidak dapat dijadikan hujjah karena yang gugur bisa jadi tiak sebatas sahabat tapi ada kemungkinan dua orang. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam. karena hadis-hadis tersebut sebagian besar ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain dalam kitab tersebut. Dapat dijadikan sebagai hujjah asalkan diriwayatkan dari tabi‟in senior 3. yakni: Artinya: “Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya. Kata inqita‟ adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan Al-Wasl.8.2.” . Hadis Mu’dhal Istilah ini berasal dari kata a‟dhola yang berarti memayahkan.8. karena tidak memenuhi kriteria hadis maqbul. tengah atau akhir. bisa mulai dari awal sanad. Hukum hadis mu‟dhol dhaif. Adapun hadis-hadis muallaq yang tidak terdapat keterangannya atau tidak terulang dalam kitab tersebut ternyata juga berstatus bersambung. Diistilahkan demikian karena peneliti yang akan mencari perowi yang gugur akan merasa kepayahan. Definisi Munqati‟ yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr. Hadis Mu’allaq Hadis muallaq yaitu hadis yang terputus di awal sanadnya dari jajaran perowi.

“Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha. Dengan ketentuan “Salah seorang rawinya” defnisi ini tidak mencakup hadis mu‟dal. Dengan demikian. Al-Khatib.5. dan Muhaddis lainnya”. dengan kata-kata. Sehubungan dengan itu.” Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis.Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun. dan dengan penjelasan kata-kata “Tidak pada awal sanad” definisi ini tidak mencakup hadis muallaq. II. Seadangkan istilah.hadis ini hamper sama dengan mursal khafi. penyusun AlManzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan: Artinya: Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati‟ (terputus) persambungannya. dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. Ibnu Abdil Barr. Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut: Artinya: “Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat.” Definisi ini menjadikan hadis munqati‟ berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain.8. An-Nawawi berkata. “Sebelum sahabat” definisi ini tidak mencakup hadis mursal. menyembuyikan cacat dalam isnad dan menyampaikan cara periwayatan yang baik Maksud menampakkan cara periwayatan yang baik adalah mengunakan ungkapan periwayatan yang tidak tegas bahwa ia mendenagr dari penyampaian berita. Hadis Mudallas Dalam bahasa arab. hadis munqati‟ merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya. kata at –tadlis diartikan menyimpan atau menyambunyikan cacat. Pembagian hadis mudallas Hadis mudallas dibagi menjadi dua macam 1) tadlis al isnad : seorang perawi meriwayatkan hadis yang ia tidak mendengarnya dari seseorang yang pernah ia temui dengan cara yang menimbulkan dugaan bahwa ia mendengarnya 2) tadlis asy syuyukh‟ : seorang perawi meriwayatkan dari seorang syaikh sebuah hadis yang ia dengar darinya kemudian ia beri nama lain atau nama panggilan ( kuniyah ) atau nama bangsa dan atau nama sifat yag tidak di kenal supaya tidak di kenal .

yaitu sebagai berikut 1) di tolak secara mutlak baik di jelaskan dengan tegas ( as-sama) atau tidak. Karena ia merupakan hadis palsu yang sama sekali tidak dikatakan oleh nabi. Larangan periwayatan hadis maudhu‟ berdasar pada hadis nabi yang berisi kecaman bagi pemalsu hadis. tadlis di pesamakan dgan al irsal 3) 4) 5) diterima jika ia tidak di ketahui melakukan tadlis kecuali dari orang tsiqah diterima jika tadlisnya langka atau sedikit saja diterima periwayatannya.2. Ada yang mengatakan hadis yang diriwayatkan seorang dhaif menyalahi periwayatan yang tsiqqah.Hukum periwayatan tadlis Perawi yang tidak di kanal sebagai mudallis ada beberapa pendapat tentang hukum periwayatannya apakah diterima atau tidak. Hadis maudhu‟ merupakan hadis terburuk kualitasnya.9.1. “ barang siapa meriwayatkan hadis dariku dan dia tahu bahwa yang diriwayatkan itu adalah hadis palsu maka dia termasuk dari pemalsu” II.9. Dalam istilah hadis matruk adalah hadis yang salah satu periwayatnya seorang tertuduh dusta. Hadis Mawdhu’ Hadis maudhu‟ sebenarnya adalah ungkapan seseorang yang disandarkan kepada nabi secara dusta. Disisi lain hadis jenis ini akan berdampak fatal pada agama. Alasan pendapat ini. jika ia tsiqah dan mempertegas periwayatannya dengan as sama II.9.9. Hadis Matruk Hadis matruk merupakan bagian dari hadis dha‟if yang cacat keadilan. yaitu pendapat sebagian malikiyah bahkan menurut sebagian mereka walauun di ketahui sekali melakukan tadlis tetap di tolak 2) diterima segara mutlak. pendapat al khatib dalm al kifayah dari para ahli ilmu. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan kecacatan para periwayat II. Hadis Munkar Hadis yang pada sanatnya ada seorang perawi yang banyak kesalahannya atau banyak kelupaan atau nampak kefasikan. II. Dari definisi diatas sudah jelas bahwa diantara periwayat hadis munkar ada yang sangat lemah daya ingatannya sehingga periwayatannya menyendiri tidak sama dengan periwayatan .3.

di tengah-tengah atau di awalnya. tidak jarang merupakan hasil kesimpulan hukum yang darinya pendengar menganggap sebagai bagian dari hadis sehingga deisertakan dengannya.” Hadis diatas lahirnya shahih karena semua perawinya dalam sanad tsiqah. II. Hadis mualal adalah hadis yang dilihat di dalamnya terdapat illah ynag membuat cacat keshahihan hadis. Perwayatan munkar tidak sama dengan syad karena dalam munkar periwayatannya bersifat dhaif yang menyalahi periwayatan tsiqqah. Tingkatan kedhaifannya sangat dhaif setelah matruk. Pertama.9. Contoh hadis mu‟alal adalah : “ hadis yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan abu daud dari kutaibah bin said memberitakan kepada kami abdus salam bin harb al malai dari a‟masy dari annas berkata nabi ketika hendak hajat tidak mengangkat kainnya sehingga dekat dengan tanah. Contoh: hadis yang di riwayatkan ibnu majjah melalui usama bin ziad alma dani dari ibu shihab dari abu salamah bin abdur rahman bin auf dari ayahnya secara marfu‟: “ seorang yang puasa bulan ramadhan dalam perjalanan seperti seorang yang berbuka dalam tempat tinggalnya” Hadis diatas munkar karena periwayatannya usama bin zaid almadani secara marfu‟ (dari Rasulullah) bertentangan periwayatan ibnu Abi dzi‟bin yang tsiqqah. dia melihatnya di mekkah shalat di belakang maqam ibrahim. Kebanyakan idraj dalam matan dilakukan dalam menafsirkan maksud suatu ungkapan hadis.gampangnya adalah hadis yang disisipkan ke dalam matannya sesuatu perkataan orang lain baik orang itu sahabat ataupun tabiin untuk menerangkan maksudmakna Para ulama membagi idraj sesuai dengan tempatnya menjadi dua bagian. Idraj dalam matan adakalanya terjadi di akhir matan dan ini yang terbanyak. Illah bis aterjadi pada sanad dan natan. Mudraj matan adalah ucapan sebagian rawi dari kalangan sahabat atau dari generasi setelahnya yang tercatat dalam matan hadis dan bersambung dengannya.9.. menurutnya hadis diatas mauquf pada abdur rahman bin auf. Dari definisi diastas.4. tetapi al a‟masi tidak mendengar dari annas bin malik. II. Menurut istilah muhaddisin. Hadis mu’allal Illah adalah ungkapan beberapa sebab yang samar tersembunyi yang datang pad ahadis kemudian membuat cacat dalam keabsahannya padahal lahirnya selamat daripadanya. Hadis mudraj Idraj menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu dalam lipatan sesuatu yang lain. yaitu segala sesuatu yang tersebut dalam kandungan suatu hadis dan bersambung dengannya tanpa ada pemisah. padahal ia bukan bagian dari hadis itu. dapat difahami bahwa kriteria illah adalah adanya cacat yang tersembunyi dan cacat itu mengurangi atau menghilangkan keshahihan suatu hadis.yang tsiqqah. Sedangkan hadis syad periwayatan orang tsiqqah menyalahi orang yang lebih tsiqqah. padahal lahirnya elamat dari padanya. .5.

seandainya kata-kata yang di idrajkan itu sahih atau hasan karena dimungkinkan datang melalui sanad lain yang sahih. Akan tetapi yang lebih utama memastikan mana kata-kata asing yang di idrajkan itu sebagai upaya penafsiran. namun hal ini tidak mengubah kedhoifannya karena dinilai sebagai sesuatu bercampur dalam sebuah hadis yang terjadi idraj. Tetapi jika tidak lagi. lantaran kadang-kadang berakibat menjadikan sesuatu yang bukan hadis sebagai hadis. kemudian ia meriwayatkannya dengan satu jalur sanad tanpa menjelaskan perbedaannya. Idraj dalam hadis memiliki dampak yang sangat bahaya. maka hal ini tidak haram. Hadis maqlub Menurut etimologi. Sehubungan dengan itu mereka menetapkan beberapa pedoman untuk mengetahui dan menyingkapnya dengan pasti. sementara orang yang mengetahuinya hendaklah menjelaskan. baik dalam sanad atau matan.. berubahnya sesuatu dari bentuknya.9. kemudian matan tersebut diriwayatkan oleh salah seorang muridnya secara sempurna dengan satu sanad. atau dari salah seorang imam yang luas wawasannya. 3) Seorang muhaddis membacakan suatu sanad hadis.Kedua Mudraj isnad. lalu keduanya digabungkan dalam satu sanad. al-Suyuthi mengecualikan kesengajaan dalam idraj apabila dalam rangka menafsirkan suatu kata yang asing. Pedoman itu adalah sebagai berikut. 1) Adanya riwayat yang memisahkan lafad yang mudraj dari pokok hadis. Sesuatu hadis yang dapat diketahui mana kata-kata yang disisipkan ke dalamnya. Disamping itu. sehingga mereka meriwayatkan kata-kata tersebut dengan sanad yang dibaca muhaddis. 1) Seorang rawi mendengar suatu hadis dari banyak guru dengan beraneka ragam jalur sanadnya. kemudian terjadilah sesuatu sehingga ia mengeluarkan kata-katanya sendiri. II. Seperti hadis yang menyatakan bahwa Bilal melakukan adzan di waktu malam.6. atau mengemudiankan yang semestinya lebih dulu baik berupa matan atau sanad Nuruddin memberikan definisi hadis maqlub adalah hadis yang rawinya menggantikan suatu bagian darinya dengan yang lain. Padahal jelas bahwa ia bukan bagian dari hadis itu. 2) Seorang rawi memiliki sebagian matan. 3) Idraj dapat diketahui dari lahiriyah susunan hadis. maka fenomena hadis mudraj oleh para ulama digolongkan hadis daif. Pendapat ini didukung oleh tindakan para imam hadis yang dapat dipegangi. Karena tercampur dengan sesuatu yang bukan hadis. Secara terminologi adalah mengganti lafad dengan lafad yang lain pada sanad atau matan hadis. dan bila karena lupa atau . 2) Adanya penegasan tentang kejadian itu dari rawi yang bersangkuta. dapat dipandang sahih dengan mengeluarkan kata-kata kata itu. Jelasnya adalah bila ia memiliki dua hadis dengan dua sanad berbeda. Dalam hal ini. seperti al-Zuhri. kemudian kata-katanya itu dianggap oleh sebagai orang yang mendengarnya sebagai matan. Jelasnya hadis maqlub adalah sesuatu hadis yang telah terjadi kesilapan pada seeorang perawi dengan mendahulukan yang semestinya diahir. para ulama menyebutkan beberapa bentuk yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut. hal ini sangat jelas. Namun. maka para ulama sangat keras menyoroti dan mengkajinya dengan serius serta menanganinya dengan sangat hati-hati. namun ia juga memiliki sebagian matan lainnya dari sanad lain. Kata maqlub adalah isim maf‟l dari akar kata qalaba.

Para muhaddisin menaruh perhatian besar terhadap kedua klasisfikasi hadis maqlub terahir. maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku” Ishaq bin Isa berkata: Kemudian saya dating kepada Hammad dan bertanya kepadanya perihal hadis ini. Yakni. Diantara latar belakang dan motif tersebut adalah. 2.a katanya. Sebab untuk . Berdasarkan definisi ini dapat membagi hadis maqlub menjadi beberapa bagian dengan pembagian yang dapat mempersatukan berbagia keterangan yang beranekaragam dalam berbagai sumber pembahasan bidang ini. sehingga para ulama sangat besar perhatiannya untuk mengkaji dan membongkar rahasianya serta menjelaskan latar belakang dan motif para rawi yang melakukan hal itu. Ia menjawab. maqlub matan yakni pergantian pada matan Masing-masing dari keduanya adalakanya terjadi karena kelalaian rawinya atau karena kesengajaanya. Keinginan perawi untuk mengemukakan hal-hal yang aneh kepada orang lain.sengaja. Keinginan seorang rawi untuk menguji ahli hadis yang lain. 1. maqlubnya suatu hadis bila ditinjau dari posisinya dapat diklasifikasikan menjadi dua. Abu Nadhar menduga bahwa hadis tersebut termasuk hadis yang diriwayatkan kepada kami oleh Sabit dari Anas. Karena dugaannya dapat diketahui mana yang dapat diterima dan mana yang ditolak. Kedua. sehingga diduga meriwayatkan hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh rawi lain. Sesungguhnya kami berada di majelis Sabit al-Banni dan Hajjaj bin Abu Usman ada bersama kami. Pertama. karena hal demikian timbul akibat kacaunya hafalan rawi. hadis maqlub yang terjadi karena kesengajaannya rawinya. Seperti matan suatu hadis yang diriwayatkan dengan sanad tertentu oleh rawinya sehingga meriwayatkannya dengan menggunakan sanad lain. Jelaslah bagimana tertukarnya suatu sanad oleh rawinya. hadis maqlub yang terjadi karena kelupaan rawinya. maqlub sanad. apakah ia menerima indoktrinasi atau tidak. yakni pergantian pada sanad. Dengan itu orang-orang akan menerima dan menghafalkanya. Menurutnya. definisi ini yang paling tepat. Hukum hadis maqlub jenis ini adalah daif. serta dapat dijadikan dalil dalam al-jarh wa at ta‟dil. Diantara contoh hadis maqlub jenis ini hadis yang diriwayatkan dari Ishaq bin Isa al-Thabab‟ “Meriwayatkan hadis kepada kami Jarir bin Hazxim dari Sabit dari Anas r. maka akan mengurangi ke-dhabitannya dan semua hadisnya akan di daifkan Kedua. Di samping dimaksudkan untuk menguji kecerdasan rawi lain. Abu al-Nadhar salah duga. ia hafal atau tidak dan apakah hafalannya masih baik atau sudah kacau. Pertama. Rasululullah bersabda: Apabila sholat telah siap didirikan. Apabila terjadi berulang kali. maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku”. dimana dia telah menempatkan matan pada selain sanad yang sebenarnya. Hajjaj al-Shawwaf meriwayatkan hadis kepada kami dari Yahya bin Abu Bakar dari Abdullah bin Abu Qatradah dari bapaknya bahwa Rasulullah berkata “Apabila sholat telah siap didirikan. Hadis maqlub jenis ini adalah yang paling bahaya. sehingga ia memalingkannya dari yang sebenarnya.

hadis mudltarib adalah hadis yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dengan beberapa redaksi yang berbeda dengan kualitas yang sama. Karena bila perbedaannya dapat dihilangkan dengan cara benar.mengetahui hadis maqlub dibutuhkan hafalan yang luas dan ketekunan yang tinggi guna menguasai sejumlah riwayat dan sanad. dengan mendahulukan. Karena apabila suatu saat meriwayatkan hadis demikian. ataupun mengganti. berdoalah: Aku berlindung kepada Allah dari Mahluk jahat laki-laki dan mahluk jahat perempuan” Menurut Turmudzi. Perbedaan tersebut periwayatnya atau matannya. sehingga tidak ada yang dapat diunggulkan dan tidak dapat dikompromikan. baik dilakukan oleh seorang perawi atau oleh banyak perawi. Singkatnya. mengurangi. Secara istilah. Demikian pula bila terjadi pertentangan di antara beberapa riwayat. Syu‟bah meriwayatkan dari Qatadah dari al-Nadhr bin Anas dari Zid bin Arqam. antara hadis tersebut seimbang kualitasnya sehingga tidak dapat diunggulkan salah satunya. Diantara contoh hadis mudltarib adalah hadis Zaid bin Arqam dari Rasululllah. bermakna sesuatu yang diriwayatkan dalam bentuk yang berbeda dalam satu tema sebagai penguat. hadis Zaid bin Arqam sanadnya mengandung ke mudltariban. Karena bila ada yang dapat diunggulkan. Hisyam Dastuwa‟i berkata: dari Qatadah dari Zaid bin Arqam.7. jika perubahan . dari Zaid bin Arqam. atau ma‟ruf lawan dari syadz atau munkar. maka hal yang demikian menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak terekam kuat dalam hafalannya. 8 Hadis Mushahhaf dan Muharraf Perubahan kalimat dalam hadis selain apa yang dirwayatkan oleh orang tsiqah baik secara lafal atau makna. II. maka hadis mudltarib adalah daif. maka status ke-mudltaribannya hilang. serta tidak dapat dikuatkan salah satu riwayatnya atau salah satu matannya. mengemudiankan. Ibnu Hajar membedkan adanya perubahan yang terjadi pada hadis. Said bin Abi „Arubah meriwayatkan bahwa Qatadah menerimanya dari Qasim bin „Auf al-Syaibani. maka tidak dapat memastikan perawi mana yang paling dhabit terhadap hadis yang diriwayatkan. menambah. karena ke-mudltariban itu mengesankan tidak adanya ke-dhabitan seorang periwayat terhadap hadis yang bersangkutan. hadis mudltarib adalah hadis yang memiliki perbedaan dari berbagai riwayatnya dengan dua catatan. II. Sebab kemudltariban hadis ini adalah adanya perselisihan yang cukup banyak tentang dari siapa Qatadah menerima hadis tersebut. Kata dasarnya daraba. Ditinjau dari segi hukum. maka hukumnya pada hadis yang unggul tersebut disebut dengan mahfuz. 9. Kedua. lalu pada kesempatan lain meriwayatkanya dalam bentuk lain. Pertama. Mu‟amar meriwayatkannya dari Qatadah dari al-Nahar dari ayahnya dari Rasululllah. Hadis mudhharib Kata mudtarib adalah isim fail dari fiil madi idtaraba yaitu perbedaan perkara dan rusaknya aturan. Apabila salah seorang di antara kamu memasuki kakus.9. antara hadis tersebut tidak dapat dikompromikan. Jelasnya. Bersabda: “Sesungguhnya taman ini terkena bencana.

Pembagian Hadis Dari Segi Kedudukan Dalam Hujjah Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan. maka Rasululah mengobatinya dengan besi panas. Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima. Hadis Maqbul Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan.itu berupa titik pada suatu huruf atau beberapa huruf itulah disebut mushahhaf dan jika perubahan itu berebentuk shakkal atau harokat huruf disebut muharaf. “ Contohnya hadis muharraf: hadis jabir berkata: “Ubay dipanah pada peperangan azab diurat lengannya. yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. * Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. II. Ad Daru Quthani) II.10. yang dibenarkan. maka ia sama dengan berpuasa satu tahun. baik yang lizatihu maupun yang ligairihi. terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya . hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah: Artinya: “Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.” ( HR. sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh.10. Contohnya hadis mushahhaf: “hadis nabi. yang diterima. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury. penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah: * Hadis sahih. barang siapa yang berpuasa ramadhan dan diikutiya denagn enam hari dari bulan syawal.” Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh. Disamping itu. mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW.1.

2.” Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadishadis maqbul. Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya. tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif. Sedangkan menurut urf Muhaddisin. Hadis mutawaqaf.yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). hadis mardud ialah : Artinya: “Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya. Hadis Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak.” Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah: Artinya: “Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun. Hadis gairo makmulinbihi Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan. Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah: a. sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh. Hadis rajih 2. II. . 1. maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). Hadis mukhtalif. yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan b. Hadis maqmulun bihi Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah: a. Hadis nasih d. Hadis mansuh c. maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma‟mulin bihi. Jadi. Hadis muhkam. yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah c. yang tidak diterima. Hadis marjuh.10. tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan b. yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan.

(HR. Hadits berupa sabda Rasulullah SAW dalam berbagai hal dan keadaan. . Contoh hadits qauli ialah tentang do‟a Rasulullah SAW yang ditunjukan kepada orang yang mendengan. yaitu ikhlas beramal kepaa Allaw SWT. salng menasehati dengan pihak penguasa. Hadits Qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berupa perkataan ataupun ucapan yang berkaitan dengan aqidah. dan patuh atau setia terhadap jamaah. seperti hadits tentang sholat dan haji. Karena sesungguhnya do‟a mereka akan membimbing dan menjaganya dari belakang”. menghafal dan menyampaikan ilmu. Muslim) Contoh lain. Ada tiga sifat yang dapat menghindari timbulnya rasa dengki dihati seorang muslim. ( ‫ان ًؤيٍ ن هًؤيٍ ك ان ث ُ ياٌ ي شذ ت ع ضّ ت ع ضا )سواِ ي س هى‬ Artinya : “Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang satu sama yang lainnya saling menguatkan:. Hadits tersebut berbunyi : ِ‫َ صش هللا ايشأ سًع ي ُا حذي خا ف ح فظّ وت ه غّ غ يش‬ ‫ف شب حايم ف قّ ن يس ت ف ق يّ ح الث الي غم ع ه يهٍ ق هة‬ ‫يم هلل وي ُا صحح والج االي ىس ون زوو جًاعح ي س هى اخ الص ان ع‬ ‫ف اٌ دعىت هى طح يظ يٍ وسائ هى‬ Artinya: ” Semoga Allah memberikan kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain karena banyak orang yang berbicara mengenal fiqih padahal ia bukan ahlinya.1. Hadits Fi‟li adalah hadits yang menyebutkan perbuatan Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita. hadits tentang bacaan Al-Fatihah dalam Shalat: ‫ال ص الج ن ًٍ ن ى ي قشأ ت او ان ك تاب‬ Artinya: “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur‟an. syariah dan akhlak. 1.

Muslim) . Hadits Taqriri yaitu penetapan atau penilaian Rasulullah SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW.Contoh hadits fi‟li tentang sholat adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi: ‫ص هىا ك ًا ساي تًىَ ً ا ص هً )سواِ ان ثخاسي‬ (‫وي س هى‬ Artinya: ” Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat “. beliau tidak menyuruh dan tidak pula melarang kami“. (HR. (HR. Contoh : ‫ك ُا َ ص هً سك ع ت يٍ ت عذ غشوب ان شًس وك اٌ س سىل هللا‬ (‫ص ه عى ي زاَ ا ون ى ي أيشَ ا ون ى ي ُه ُا )سواِ ي س هى‬ Artinya: ” Kami (para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat magrib). At-Turmudzi. (HR.Bukhori dan Muslim). apabila shaf-shaf kami telah lurus.Muslim dan Ahmad). (HR. barulah Nabi SAW bertakbir “. ‫ك اٌ ان ُ ثً ص ه عى ي سىي ص فىف ُا ارا ق ً ُا ان ً ان ص الج‬ (‫ف ارا ا س تىي ُا ك ثش)سواِ ي س هى‬ Artinya: ” Nabi SAW menyamakan (meluruskan) shaf-shaf kami ketika kami melaksanakan shalat. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan. Contoh lainnya yang berbunyi ‫ك اٌ ان ُ ثً ص ه عى ي ص هً ع هً ساح ه تّ ح يج ت ىجهت‬ ِ‫ف ارا اساد ان فشي ضح َ ز ف ا س ت ق ثم ان ق ث هح )سوا‬ (‫ان تشيزي وي س هى واحًذ‬ Artinya: ” Nabi Muhammad SAW sholat diatas tunggangannya kemana tunggangannya itu menghadap“. Muslim) 3.

Muslim) Sebagian sahabat memahami larangan tersebut. sehingga mereka tidak melaksanakan shalat ashar pada waktunya. Segolongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut dengan segera menuju bani Quraidhah sehingga mereka dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya.Diantara contoh hadits taqriri ialah sikap Rasul SAW membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya sesuai dengan penafsiran mereka terhadap sabdanya yang berbunyi: ِ‫الي ص ه يٍ احذ ان ع سش الف ً ت ًُ ق شي ضح )سوا‬ (‫ان ثخاسي‬ Artinya: “Janganlah seseorangpun shalat ashar kecuali bila tiba dibani Quraidah”. Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi SAW tanpa menyalahkan atau mengingkarinya. (HR. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful