Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur'an

"Secara universal, fungsi hadits terhadap Al-Qur'an adalah merupakan penjabaran makna tersurat dan tersirat dari isi kandungan Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah:

Artinya: "Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Q.S. 16. An-Nahl, A. 44).

Namun kemudian para 'ulama hadits merincinya menjadi 4 fungsi hadits terhadap Al-Qur'an yang intinya adalah sebagai penjabaran, dalam bahasa ilmu hadits disebut sebagai bayan, simak penjelasan berikut." (Mas Gun). Fungsi hadits terhadap Al-Qur'an secara detail ada 4, yaitu: 1. Sebagai Bayanul Taqrir Dalam hal ini posisi hadits sebagai taqrir (penguat) yaitu memperkuat keterangan dari ayat-ayat Al-Qur'an, dimana hadits menjelaskan secara rinci apa yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an, seperti hadits tentang sholat, zakat, puasa dan haji, merupakan penjelasan dari ayat sholat, ayat zakat, ayat puasa dan ayat haji yang tertulis dalam Al-Qur'an.

2. Sebagai Bayanul Tafsir Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai tafsir Al-Qur'an. Hadits sebagai tafsir terhadap Al-Qur'an terbagi setidaknya menjadi 3 macam fungsi, yaitu:

2.1. Sebagai Tafshilul Mujmal Dalam hal ini hadits memberikan penjelasan terperinci terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat universal, sering dikenal dengan istilah sebagai bayanul tafshil atau bayanul tafsir. Contoh: ayat-ayat Al-Qur'an tentang sholat, zakat, puasa dan haji diterangkan secara garis besar saja, maka dalam hal ini hadits merincikan tata cara mengamalkan sholat, zakat, puasa dan haji agat umat Muhammad dapat melaksanakannya seperti yang dilaksanakan oleh Nabi.

2.2. Sebagai Takhshishul 'Amm Dalam hal ini hadits memperkhusus ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat umum, dalam ilmu hadits sering dikenal dengan istilah bayanul takhshish. Contohnya: Dalam Q. S. 4. An-Nisa', A. 11 Allah berfirman tentang haq waris secara umum saja, maka di sisi lain hadits menjabarkan ayat ini secara lebih khusus lagi tanpa mengurangi haq-haq waris yang telah bersifat umum dalam ayat tersebut. 2.3. Sebagai Bayanul Muthlaq Hukum yang ada dalam Al-Qur'an bersifat mutlak amm (mutlak umum), maka dalam hal ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam Al-Qur'an. Contoh: Dalam Q. S. 5. Al-Maidah, A. 38 difirmankan Allah tentang hukuman bagi pencuri adalah potong tangan, tanpa membatasi

binatang berbelalai dan menikahi wanita bersama bibinya.batas tangan yang harus dipotong. Al-Baqarah. Contoh: Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan tentang kedudukan hukum makan daging keledai. Sebagai Bayanul Tasyri' Dalam hal ini hadits menciptakan hukum syari'at yang belum dijelaskan secara rinci dalam AlQur'an. 2. Contoh: Dalam Q. yang satu sama lain saling menguatkan. Hadits Qauli Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah).dapat dibagi menjadi tiga macam hadits : 1. 4. 180 Allah mewajibkan kepada orang yang akan wafat memberi wasiat." (HR. Hadits ataupun Sunnah. maka hadits menciptakan kedudukan hukumnya dengan tegas. maka hadits memberi batasan batas tangan yang harus dipotong. 3. kemudian hadits menjelaskan bahwa tidak wajib wasiat bagi waris. contohnya sabda Nabi SAW : "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. BENTUK-BENTUK HADITS Sesuai pengertiannya dengan berdasarkan secara terminologi. A. Muslim) . Sebagai Bayanul Naskhi Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai pendelete (penghapus) hukum yang diterangkan dalam Al-Qur'an. S.

barulah Nabi SAW bertakbir. peristiwa dan keadaan yang berkaitan aqidah. Pembagian Hadis Dilihat dari Bentuknya. puasa. Hadits Taqriri Hadits yang berupa penetapan (taqririyah) atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yangdiucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebutdiakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. ataupun ucapan yang memuat berbagai maksud syara‟. Hadits Fi’il.[1] B. seperti tata carashalat. akhlak dan lainnya.2. beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR. seorang sahabat berkata .Contohnya hadits berikut. Berikut contoh haditsnya.” (HR. Muslim) 3. A. Muslim) I. haji. syari‟ah. Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Hadis Fi’li . dsb. “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari(sebelum shalat maghrib). Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kamilakukan. baik berupa perkataan. Hadits yang berupa perbuatan (fi‟liyah) mencakup perilaku Nabi SAW. Apabila safsaf kami telah lurus. Hadis Qauli Yang dimaksud dengan hadis qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan menurut istilah ialah: “Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera. dan kepribadiannya.[5] Keinginan nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura‟.[6] .[10] . yang menyangkut keadaan fisik. Nabi belum sempat . yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera. Hadis taqriri Hadis taqriri adalah hadis yang menyebutkan ketetapan nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya.[7] Keadaan fisik Nabi Muhammad SAW tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.[4] D. Hadis Hammi Yang dimaksud dengan hadis hammi adalah hadis yang menyebutkan keinginan Nabi Muhammad SAW yang belum terealisasikan. baik yang terpuji maupun yang tercela.[2] Hadis yang termasuk kategori ini adalah hadis yang di dalamnya terdapat kata-kata kana/yakunu atau ra‟aitu/ ra‟aina. Hadis Ahwali Yang dimaksud dengan hadis ahwali ialah hadis yang menyebut hal ihwal Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. Menurut para ulama‟ menjalankan had hammi ini disunnahkan. sifat-sifat. hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya.[3] C.”[9] Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir. seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan. tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta. Sebagimana dikatakan Al-Bara‟i dalam sebuah hadis berikut: II. Nabi SAW membiarkan suatu perbuatanyang dilakukan oleh para sahabt apabila memenuhi beberapa syarat. Pembagian Hadis ditinjau dari kuantitas Rawi A). baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya. juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak. Hadits Mutawatir Ta’rif Hadits Mutawatir Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain.Yang dimaksud dengan hadis fi‟li adalah hadis yang menyebutkan perbuatan nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita. sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah lainnya.”[8] Artinya: “Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta.menunaikan hasratnya ini karena beliau wafat sebelum datang bulan Asyura‟ tahun berikutnya.

misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji. a. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah: “Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu). d. ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak. maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.” (QS. Al-Anfal: 64). Ada yang melihat atau mendengar.Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW. dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir Menurut Mohammad Rahman dalam buku Ilmu Musthalahah Al hadis disebutkan bahwa syaratsyarat hadis mutawattir ada 3: (1. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. (2). c. Disamping itu. Ashabus Syafi‟i menentukan minimal 5 orang. Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65). Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya.[11] b. maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut.) Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. . Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. b.

sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. 2. bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka. [12] c.” Menurut Abu Bakar Al-Bazzar. Pembagian Hadits Mutawatir Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam[13] : 1.” Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah : “Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi. tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum. Hadits Mutawatir Lafzi Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain : “Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.) Seimbang jumlah para perawi. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya. seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri alMutawatirah. susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H). “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir.” Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : “Rasulullah SAW bersabda. susunan Imam As-Suyuti(911 H). Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi alMutawatir.(3. Hadits mutawatir maknawi Hadits mutawatir maknawi adalah : Artinya : “Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya.” . hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.

” Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut. Contoh : Artinya : “Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa‟ dan beliau mengangkat tangannya. yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Hadis Mutawatir Amali Hadis Mutawatir Amali adalah : Artinya : “Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu.” 1. Bukhari Muslim) Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak.” Contoh : Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian.” (HR. Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : Artinya : “Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad. sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya. namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. 3.Artinya: “Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz. .

oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Menurut istilah. empat orang.” b. tarif hadis ahad antara laian adalah: Artinya: “Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir. dalam arti maqbul. 2. ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”. dua orang.tidak mencapai derajat mutawatir. tiga orang. maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. hadis gharib ialah hadis yang diriwayatkan oleh seoran perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya.3. Hadis Masyhur Masyhur menurut Bahasa adalah al-intisyar wa az-zuyu‟ (sesuatu yang sudah tersebar dan populer). baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya. An-Nadir (yang sedikit wujudnya). AshShab‟bul ladzi yakadu la yuqwa „alaih (yang sukar diperoleh). Faedah hadis ahad Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat‟i. Pengertian hadis ahad Menurut Istilah ahli hadis. lima orang dan seterusnya. Hadis Ahad a. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa. Kalau . Hadis ahad hanya memfaedahkan zan. Pembagian hadis Ahad 1. Menurut istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap thabaqah.2. 3. dan Al-Qowiyu (yang kuat). c. tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: “ Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut: Artinya: “Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir. Sedangkan secara terminologi. baik pemberita itu seorang.II. hadis tersebut tidak tertolak. Hadis Aziz Aziz menurut bahasa adalah As-Syafief (yang mulia). hadis aziz ialah hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis. Hadis Gharib Gharib menurut bahasa adalah (1) ba‟idun „anil wathani (yang jauh dari tanah) dan (2) kalimat yang sukar dipahami. sebagaimana hadis mutawatir.

1. yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta.4. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan. 4.maqbul. Kalau mardud. baik ia muhkam. Jika ada. Pembagian hadis berdasarkan kualitas sanad dan matan II. kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya.” II. Hadis Shahih Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat. antara lain : Artinya : “Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran). Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah : Artinya : “yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami. kita kumpulkan antara keduanya. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih. kita pandang nasikh. dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan. kita pandang mansukh. Hadis Hasan Menurut bahasa. tapi diketahui mana yang terkemudian. hadis yng benar berasal dari Rasulullah SAW. Walhasil. yang terkemudian kita ambil.2. boleh kita berhujjah dengannya.4. hasan berarti bagus atau baik. atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. maka yang terdahulu kita tinggalkan. atau hasan). atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit. matan hadisnya.4. yang diberikan oleh ulama.3. atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Batasan hadis sahih. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. sesudah nyata sahih atau hasannya.” II. Kalau tak mungkin dikumpulkan. hdis mutawatir. yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW. hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya.” . Para ulama memberi batasan bagi hadis daif : Artinya : “Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih. tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. II. Hadis Dhoif Hadis dhoif menurut bahasa berarti hadis yang lemah. barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis.

2. Abu Shalih. Hadis Muannan Muannan menurut bahasa berarti bahwasanya. Hadis Nazil Hadis Nazil adalah hadis yang jumlah rawi dan sanadnya banyak. Macam-macam hadis „Aly ada 5 macam.Jadi hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih. Untuk mengetahuinya.begini” Hukum hadis muannan Dikalangan ulama terjadi perbedaan pendapat. Sedangkan riwayat Bukhari bersanad Quthaibah bin Sa‟id. Aly Mutlaq melawan Nazil mutlaq. Contoh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan Imam Al-Bukhari dengan sanad berbeda. ada yang berpendapat bahwa hadis muannan berhukum munqati‟ sehingga ada penjelasan bahwa ia mendengar berita tersebut melalui sanad lain atau ada indikator lain yang menunjukkan bahwa ia mendengar atau menyaksikannya. Pada hadis dhaif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW. Berikut perbandingannya. 2. Ibnu Wahb. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan Sifat Sanad dan Cara Penyampaian Periwayatan II. 5. Ibnu Syihab. II. Sanad muslim adalah Harmalah bin Yahya. Abu Hasin. Abu Salamah dan Abu Hurairoh (6 orang) adalah hadis nazil. memberitakan padanya . 3.5. Yunus. Menurut mayoritas ulama‟ bahwa hadis muannan di hukumi muttasil sama dengan muan‟andi atas asal memenuhi dua syarat . 4.5. Hadis Ali Hadis Ali adalah hadis yang jumlah rawinya dalam sanad itu sedikit. Muannan menurut istilah adalah hadis yang dikatakan dalam sanadnya “memberitakan pada kami bahwasanya si fulan. „aly Mutlaq Aly Nisbi „Aly Tinzil „Aly bitaqdimil wafat „Aly bitaqoddumis sanad II. Abul Akhwash.1.5. II. melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan. dan Abu Hurairoh (5 orang) adalah hadis „Aly karena sanadnya lebih sedikit. 1.3. cukup memahami kebalikan pembagian hadis „Aly.5. sesungguhnya. dibandingkan jumlah rawi yang ada pada sanad lain yang menyebut hadis yang sama. Pembagian hadis nazil ada lima.

Dengan demikian hadis musalsal adalah hadis yang secara berturut turut. Hadis Musalsal Menurut bahasa musalsal berasal dari kata salsala yusalsilu salsalatun. hasan dan dhaif tergantung keadaan para perawinya. periwayatan ( ada‟) musalsal pada waktu periwayatan musalsal pada tempat periwayatan Hukum hadis musalsal Terkadang hadis terjadi musalsal dari awal sampai akhir. terkadang bagi periwayatan. sanadnya sama dalam satu sifat atau dalam satu keadaan dan atau satu periwayatan Macam macam musalsal 1) musalsal keadaan rawi ( musalsal bi ahwal arruwat ) msalsal keadaan perawi terkadang dalam perkataan ( qauli ) terkadang perbuatan ( fi‟li ) atau keduanya ( qauli & fi‟li ) 2) musalsal sifat periwayat ( musalsal bi shifat ar ruwah ) muasalsal ini di bagi menjadi perkataan ( qauli ) dan perbuatan ( fi‟li ) 3) musalsal dalam sifat periwayatan 9 musalsal bi shifat ar riwayah ) muasalsal ini di bagi menjadi tiga macam : 1) 2) 3) musalsal dalam bentuk ungkapan. maka di tangguhkan ( tawaqquf ) hingga dapat di ketahui ke muttasilannya II. Dan terkadang sebagian musalsal terputus di permulaan atau di akhiran. penyampaian.Abu Al-Asyabal menegaskan. bahwa hadis muan‟an jika seorang perowi yang menggunakan kata anna = bahwasanya ( muannin ) tidak semasa dengan orang yang menyampaikannya atau semasa tetapi tidak pernah bertemumaka periwayatannya di hukum munqathi‟ tidak dapat di terima oleh hujjah [atau seorang rowi yang menggunakan anna= bahwasanya ( muannin ) semasa hidupnya dengan yang menyampaikan berita tetapi tidak di ketahui apakah ia bertemu atau tidak. maka tidak menujukkan keshahihan suatu hadis. yang berarti dan bertali menali. Hukum musalsal ada kalanya shahih.5. Sebagaimana tinjauan pembagian hadis di atas. . atau di ketahui tetapi ia sesorang penyembunyi cacat (mudallis). di namakan hadis musalsal karena ada persamaan dengan rantai atau silsilah Menurut istilah : keikutsertaan para perawi dalam sanad secara berturut turut pada satu sifat atau satu keadaan. bahwa musalsal adalah sifat sebagian sanat.5.

marfu‟ tashrihy dan marfu‟ hukmy Marfu‟ tasyrihi adalah hadis yang tegas-tegas dikatakan oleh seorang sahabat bahwa hadis tersebut didengar. Misalnya perkataan seorang sahabat dengan kata : Aku mendengar rasulullah SAW bersabda Diceritakan kepadaku oleh Rasulullah Berkatalah Rasulullah Rasulullah menceritakan Aku melihat rasulullah begini Adalah rasulullah berbuat begini Aku berbuat dihadapan Rasulllah begini Sedangkan marfu‟ hukmy adalah ucapan sahabat yang seolah-olah lahirnya dikatakan oleh seorang sahabat tetapi hakikatnya disandarkan kepada Rasulullah. II.Diantara kelebihan musalsal tersebut adalah menunjukkan kemutasilan dalam mendengar.6. Secara epistimologis. atau dilihat dan atau disetujui Rasulullah. Dengan kata lain bahwa apa yang dikatakan sahabat dapat dipastikan berasal dari nabi dan bukan dari hasil olah pikiran sahabat. jika hadis itu berupa ucapan dinamakan marfu‟ qouli.2. atau sifat. baik sanadnya bersambung maupun tidak. hadis marfu‟ berarti hadis yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad SAW baik berupa perbuatan. jika persetujuan disebut marfu‟ taqriri dan jika sifat maka dinamakan marfu‟ washfi. Sebagian ulama kemudian membagi hadis ini berdasarkan jenisnya.6. Hal ini dibuktikan dengan perhatian masing-masing perawi dalam pengulangan menyebut keadaan atau sifat para perawi para periwayatan. tidak adanya tadlis dan inqitha‟. . jika perbuatan dinamakan marfu‟ fi‟li. Hadis Marfu’ Marfu‟ secara etimologi berarti “yang diangkat” atau “ditinggikan”. Jumhur Muhaditsin mambagi hadis marfu‟ berdasarkan aspek pengkategorian teks. dan nilai tambah kedhabithan para perawi. Syarat hadis dikatakan marfu‟ tashrihy adalah sebagi berikut. persetujuan. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan sumber berita II.

Misalnya mereka mengucapkan kami melakukan ini dan itu.dapat dijadikan sebagi hujjah. Keempat. jika sahabat mengatakan bahwa “kami diperintahkan untuk atau kami dilarang”. Kedua. Proses ini disebut persetujuan (taqrir nabi). Hadis marfu‟ –baik tashrihi maupun hukmi. AlBukhari dan Muslim) Ketiga. atau tentang dukun. kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. maka sesunggunhnya ia telah kafir. Misalnya tatkala sahabatberbicara masalah ghaib (ghaibiyat) atau tentang tanda-tanda kiamat. ia berdiam diri di rumah si gadis itu 7 hari lamanya. Tentunya tibeliau tidak akan mengerjakan hal tersebut kalau tidak mendapat tuntunsan dari Nabi. jika sahabat bercerita tentang kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu. Seperti perkataan ibnu mas‟ud. Dan diketahui bahwa ibnu Umar adalah seorang sahabat yang sangat kuat dalam menjalankan sunnah Nabi. Kelima. maka dapat dipahami bahwa yang memerintah atu melarang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW Keenam. (HR. karena dipersepsikan bahwa nabi melihat pekerjaan itu terjadi tetapi tidak mencegah atau melarang. selama sahabat tersebut tidak dikenal orang yang suka duduk dengan ahli kitab maka ceritanya dapat dikategorikan marfu‟.Pertama. yang diucapkan sahabat tersebut menyangkut masalah yang tidak dapat diijtihadkan. Pekerjaan ini dilakukan oleh Ibnu Umar. Perkataan ini sudah dipandang sebagai hadist marfu‟ karena makna sunnah disini adalah sunnah Rasullah. Umpamanya mengangkat kedua tangan ketika takbir dalam beberapa takbir shalat hari raya baik dalam rakaat pertama maupun rakaat kedua. karena tidak dikhawatirkan cerita tersebut mereka dengar dari ahli kitab yang bersumber dari taurat dan injil. karena dipersepsikan bahwa para sahabat tidak melakukan suatu perbuatan tanpa ada tuntunan dari Nabi pada tuntuna yang tidak mungkin diperoleh selain dari nabi. maka perbuatan itu dipandang sebagi hadist marfu‟. jika yang diucapkan dinisbatkan pada zaman Nabi SAW. Contohnya perkataan Anas bin Malik Diantara sunnah apabila seorang laki-laki beristri dengan seorang gadis (bikr) sedang ia mempunyai seorang istri lain. selama hadis tersebut memenuhi kriteria hadis maqbul (shahih atau hasan). . apabila seorang sahabat membuat suatu pekerjaan yang tidak dapat diperoleh dengan jalan ijtihad. Barang siapa mendatangi tentang tukang sihir. Apabila ada seorang sahabat berkata: Diantara sunnah begini. Ungkapan ini dapat dihukumi sebagi marfu‟ sekalipun sahabat tidak menghukumi qola nabi.

Ali bin Abi thalib berkata: Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Bukhari) Dan Ummu ibnu Abbas sedangkan ia bertayammum (HR. Hadis Mauquf Secara etimologi. Secara istilah ucapan atau perbuatan yang dinisbatkan kepada tabi‟in. Jika terdapat sebuah teks yang penuturnya seorang sahabat maka diistilahkan dengan mauquf baik tersambung sanadnya atau tidak. maqtu‟ berasal dari kata qotho‟a yang berarti terputus. atau berbuat begini atau menyuruh begini. Hadis Maqthu’ Secara etimologi.4. Bukhari) Para ulama‟ berpendapat bahwa hadis maqthu‟ tidak dapat dijadikan hujjah. maka maqthu‟ yang marfu‟ dijadikan hujjah. Contoh hadis mauquf misalnya. Contoh hadis maqthu‟ Perkataan Hasan Al-Bashri tentang shalat di belakang ahli bid‟ah Shalatlah dan bid‟ahnya atasnya.6. yaitu suatu hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat. Mawquf berarti berhenti atau menghentikan. kecuali bagi golongan yang membolehkan berhujjah dengan hadis mursal.3. Al-Bukhari) Aku melakukan begini di hadapan salah seorang sahabat dan ia tidak mengingkariku II. Apabila telah sampai pada seorang sahabat. definisi hadis mauquf adalah ucapan aau perbuatan yang dinisbatkan kepada sahabat. ia (seorang perawi) berkata : bahwasanya sahabat berkata begini. Jika terdapat sebuah teks dan penuturnya seorang tabi‟in maka diistilahkan dengan maqthu‟ baik bersambung sanadnya maupun tidak. Apakah mereka menghendaki Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR. Secara epistimologi.6. Lebih luas hadis maqthu‟ didiefinisikan sebagai berikut : Sesuatu yang disandarkan kepada seorang tabi‟in atau seorang setelahnya dari tabi‟ tabi‟in kemudian orang-orang setelah mereka baik berupa perkataan atau perbuatan dam sesamanya. Ibnu Al-Atsir dalam kitab Al-Jami‟ mendefinisikan hadist mauquf sebagai Hadis yang dihentikan (sandarannya) pada seorang sahabat tidak tersembunyi bagi seorang ahli hadis. mauquf berasal dari kata waqaf yang atinya berhenti. . (HR.II.

Pembagian Hadis Nabi berdasarkan keterputusan sanad II.2.[53] Dari segi istilah hadis musnad ialah hadis yang di riwayatkan dengan sanad yang bersambung. Jika sanadnya berakhir pada nabi maka disebut marfu‟.8.II.1. Pada proses periwayatannya tabi‟in tidak berjumpa dengan nabi.[56] Hukum hadis mursal . baik marfu‟ disandarkan kepada nabi maupun mauquf (disandarkan kepada seorang sahabat)[50] Dalam definisi di atas ungkapan hingga akhir sanad menunjukkan bahwa hadis muttashil bisa marfu‟ bisa mauquf bahkan juga bisa maqthu‟. dengan kata lain hadist yang bersambung dan marfu‟ dan di katakan tidak musnad jika tidak marfu‟.7. Secara epistimologi hadis muttasil ialah hadis yang bersambung sanadnya sampai akhir.7. Hadis yang didengar oleh tabi‟in dapat dipastikan bersumber dari sahabat sedang pada sanad itu sahabat tidak tampak. Adapun definisi mursal menurut jumhur muhadditsin adalah hadis yang gugur perowinya pada tingkatan shahabat. jika berakhir pada sahabat maka dinamakan mauquf dan jika berakhir pada tabi‟in maka disebut maqthu‟.8. berasal dari kata ittashola yattashilu.7. Hadis Mursal Terdapat beberapa perbedaan dalam pendefinisian mursal. semua musnad pasti muttasil.[51] Contoh hadis muttashil yang marfu‟ Artinya : orang yang terlambat melaksanakan sholat sepeeti orang yang kehilangan keluarga dan kerabatnya[52] (HR Imam Nasa‟i) II. dengan makna menyandarkan atau menggabungkan. inilah yang membedakan musnad dan muttasil. namun tidak setiap muttasil itu musnad[54] contoh : hasil periwayatan bukhori misalnya dia berkata : memberitakan pada kami abdullah bin yusuf dari malik dari abu azzanad dari al a‟araj dari abu hurairah berkata: sesungguhnya rasulullah bersabda : Yang artinya : jika anjing minum bejana kamu maka cucilah tujuh kali[55] II. Hadis Muttashil Dari segi bahasa Muttashil berarti yang bersambung. Hadis Musnad Dari segi bahasa musnad berasal dari kata asnad.1. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan ketersambungan sanad II.

Hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin. Diistilahkan demikian karena peneliti yang akan mencari perowi yang gugur akan merasa kepayahan. karena tidak memenuhi kriteria hadis maqbul. yakni: Artinya: “Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya. II. mu‟dhol berarti hadis yang terputus sanadnya pada dua tempat secara berurutan. maupun disandarkan kepada yang lain. Hukum hadis mu‟dhol dhaif.1. Adapun secara terminologi. Hadis Munqathi’ Kata Al-Inqita‟ (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Kata inqita‟ adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan Al-Wasl. Hadis Mu’allaq Hadis muallaq yaitu hadis yang terputus di awal sanadnya dari jajaran perowi. baik yang disandarkan kepada Nabi SAW. Baik terputusnya lebih dari satu tempat atau gugur lebih dari satu perowi asalkan terputusnya terdapat diawali sanad masih dapat dikatakan muallaq.3.8. 2.4. tengah atau akhir. Hadis mursal tidak dapat dijadikan hujjah karena yang gugur bisa jadi tiak sebatas sahabat tapi ada kemungkinan dua orang. Dan kata inqita‟ merupakan akibatnya. Dapat dijadikan hujjah dengan syarat tabi‟in yang meriwayatkan hadis tersebut dikenal sebagai orang yang tsiqah. Definisi Munqati‟ yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr.2. karena hadis-hadis tersebut sebagian besar ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain dalam kitab tersebut. Hadis Mu’dhal Istilah ini berasal dari kata a‟dhola yang berarti memayahkan. Adapun hadis-hadis muallaq yang tidak terdapat keterangannya atau tidak terulang dalam kitab tersebut ternyata juga berstatus bersambung. beliau mendapatkan bahwa hadis-hadis muallaq dalam shahih Bukhari ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain di luar kitab shahih Bukhari. bisa mulai dari awal sanad. Hal itu telah dibuktikan oleh ibn Hajar yang telah meneliti satu persatu hadis-hadis muallaq dalam shahih bukhari dan hasilnya. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. Dapat dijadikan sebagai hujjah asalkan diriwayatkan dari tabi‟in senior 3. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam. Hadis muallaq masuk kategori hadis dhoif karena hilangnya syarat pertama dari syurut Al-qabul (ittishal al-sanad) dan sosok perawi yang gugur ststus kepribadiannya tidak diketahui. Hadis-hadis muallaq yang terdapat dalam shahihin masuk ketegori shahih.8. yakni terputus. II.” . II.8.

dan Muhaddis lainnya”.hadis ini hamper sama dengan mursal khafi. “Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha. dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. Al-Khatib. An-Nawawi berkata. hadis munqati‟ merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya.5. Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut: Artinya: “Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat.Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun. Hadis Mudallas Dalam bahasa arab. kata at –tadlis diartikan menyimpan atau menyambunyikan cacat. Ibnu Abdil Barr. penyusun AlManzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan: Artinya: Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati‟ (terputus) persambungannya. II. Sehubungan dengan itu.8.” Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis. “Sebelum sahabat” definisi ini tidak mencakup hadis mursal. Dengan demikian. dengan kata-kata. Dengan ketentuan “Salah seorang rawinya” defnisi ini tidak mencakup hadis mu‟dal. Pembagian hadis mudallas Hadis mudallas dibagi menjadi dua macam 1) tadlis al isnad : seorang perawi meriwayatkan hadis yang ia tidak mendengarnya dari seseorang yang pernah ia temui dengan cara yang menimbulkan dugaan bahwa ia mendengarnya 2) tadlis asy syuyukh‟ : seorang perawi meriwayatkan dari seorang syaikh sebuah hadis yang ia dengar darinya kemudian ia beri nama lain atau nama panggilan ( kuniyah ) atau nama bangsa dan atau nama sifat yag tidak di kenal supaya tidak di kenal .” Definisi ini menjadikan hadis munqati‟ berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain. dan dengan penjelasan kata-kata “Tidak pada awal sanad” definisi ini tidak mencakup hadis muallaq. Seadangkan istilah. menyembuyikan cacat dalam isnad dan menyampaikan cara periwayatan yang baik Maksud menampakkan cara periwayatan yang baik adalah mengunakan ungkapan periwayatan yang tidak tegas bahwa ia mendenagr dari penyampaian berita.

3.9. yaitu sebagai berikut 1) di tolak secara mutlak baik di jelaskan dengan tegas ( as-sama) atau tidak. Larangan periwayatan hadis maudhu‟ berdasar pada hadis nabi yang berisi kecaman bagi pemalsu hadis. yaitu pendapat sebagian malikiyah bahkan menurut sebagian mereka walauun di ketahui sekali melakukan tadlis tetap di tolak 2) diterima segara mutlak. Hadis Matruk Hadis matruk merupakan bagian dari hadis dha‟if yang cacat keadilan. Hadis Mawdhu’ Hadis maudhu‟ sebenarnya adalah ungkapan seseorang yang disandarkan kepada nabi secara dusta. pendapat al khatib dalm al kifayah dari para ahli ilmu.9. Alasan pendapat ini. Hadis Munkar Hadis yang pada sanatnya ada seorang perawi yang banyak kesalahannya atau banyak kelupaan atau nampak kefasikan.9. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan kecacatan para periwayat II. Karena ia merupakan hadis palsu yang sama sekali tidak dikatakan oleh nabi. II.9. “ barang siapa meriwayatkan hadis dariku dan dia tahu bahwa yang diriwayatkan itu adalah hadis palsu maka dia termasuk dari pemalsu” II.2. Hadis maudhu‟ merupakan hadis terburuk kualitasnya.1. Ada yang mengatakan hadis yang diriwayatkan seorang dhaif menyalahi periwayatan yang tsiqqah. jika ia tsiqah dan mempertegas periwayatannya dengan as sama II. Dari definisi diatas sudah jelas bahwa diantara periwayat hadis munkar ada yang sangat lemah daya ingatannya sehingga periwayatannya menyendiri tidak sama dengan periwayatan . Dalam istilah hadis matruk adalah hadis yang salah satu periwayatnya seorang tertuduh dusta.Hukum periwayatan tadlis Perawi yang tidak di kanal sebagai mudallis ada beberapa pendapat tentang hukum periwayatannya apakah diterima atau tidak. tadlis di pesamakan dgan al irsal 3) 4) 5) diterima jika ia tidak di ketahui melakukan tadlis kecuali dari orang tsiqah diterima jika tadlisnya langka atau sedikit saja diterima periwayatannya. Disisi lain hadis jenis ini akan berdampak fatal pada agama.

9. Hadis mualal adalah hadis yang dilihat di dalamnya terdapat illah ynag membuat cacat keshahihan hadis. Contoh: hadis yang di riwayatkan ibnu majjah melalui usama bin ziad alma dani dari ibu shihab dari abu salamah bin abdur rahman bin auf dari ayahnya secara marfu‟: “ seorang yang puasa bulan ramadhan dalam perjalanan seperti seorang yang berbuka dalam tempat tinggalnya” Hadis diatas munkar karena periwayatannya usama bin zaid almadani secara marfu‟ (dari Rasulullah) bertentangan periwayatan ibnu Abi dzi‟bin yang tsiqqah. tetapi al a‟masi tidak mendengar dari annas bin malik. padahal ia bukan bagian dari hadis itu. dia melihatnya di mekkah shalat di belakang maqam ibrahim.. II. Kebanyakan idraj dalam matan dilakukan dalam menafsirkan maksud suatu ungkapan hadis. Mudraj matan adalah ucapan sebagian rawi dari kalangan sahabat atau dari generasi setelahnya yang tercatat dalam matan hadis dan bersambung dengannya. Menurut istilah muhaddisin.9.4. di tengah-tengah atau di awalnya. tidak jarang merupakan hasil kesimpulan hukum yang darinya pendengar menganggap sebagai bagian dari hadis sehingga deisertakan dengannya. Hadis mu’allal Illah adalah ungkapan beberapa sebab yang samar tersembunyi yang datang pad ahadis kemudian membuat cacat dalam keabsahannya padahal lahirnya selamat daripadanya. Pertama. Dari definisi diastas. Tingkatan kedhaifannya sangat dhaif setelah matruk.yang tsiqqah. Contoh hadis mu‟alal adalah : “ hadis yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan abu daud dari kutaibah bin said memberitakan kepada kami abdus salam bin harb al malai dari a‟masy dari annas berkata nabi ketika hendak hajat tidak mengangkat kainnya sehingga dekat dengan tanah. Hadis mudraj Idraj menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu dalam lipatan sesuatu yang lain. Idraj dalam matan adakalanya terjadi di akhir matan dan ini yang terbanyak. dapat difahami bahwa kriteria illah adalah adanya cacat yang tersembunyi dan cacat itu mengurangi atau menghilangkan keshahihan suatu hadis.” Hadis diatas lahirnya shahih karena semua perawinya dalam sanad tsiqah. padahal lahirnya elamat dari padanya. Sedangkan hadis syad periwayatan orang tsiqqah menyalahi orang yang lebih tsiqqah. Illah bis aterjadi pada sanad dan natan. yaitu segala sesuatu yang tersebut dalam kandungan suatu hadis dan bersambung dengannya tanpa ada pemisah. Perwayatan munkar tidak sama dengan syad karena dalam munkar periwayatannya bersifat dhaif yang menyalahi periwayatan tsiqqah. II. menurutnya hadis diatas mauquf pada abdur rahman bin auf.gampangnya adalah hadis yang disisipkan ke dalam matannya sesuatu perkataan orang lain baik orang itu sahabat ataupun tabiin untuk menerangkan maksudmakna Para ulama membagi idraj sesuai dengan tempatnya menjadi dua bagian.5. .

Hadis maqlub Menurut etimologi. maka hal ini tidak haram. sementara orang yang mengetahuinya hendaklah menjelaskan. Secara terminologi adalah mengganti lafad dengan lafad yang lain pada sanad atau matan hadis. Kata maqlub adalah isim maf‟l dari akar kata qalaba. berubahnya sesuatu dari bentuknya. kemudian matan tersebut diriwayatkan oleh salah seorang muridnya secara sempurna dengan satu sanad.Kedua Mudraj isnad. atau mengemudiankan yang semestinya lebih dulu baik berupa matan atau sanad Nuruddin memberikan definisi hadis maqlub adalah hadis yang rawinya menggantikan suatu bagian darinya dengan yang lain. lantaran kadang-kadang berakibat menjadikan sesuatu yang bukan hadis sebagai hadis. 2) Seorang rawi memiliki sebagian matan. Karena tercampur dengan sesuatu yang bukan hadis. maka para ulama sangat keras menyoroti dan mengkajinya dengan serius serta menanganinya dengan sangat hati-hati.9. dapat dipandang sahih dengan mengeluarkan kata-kata kata itu. seandainya kata-kata yang di idrajkan itu sahih atau hasan karena dimungkinkan datang melalui sanad lain yang sahih. kemudian ia meriwayatkannya dengan satu jalur sanad tanpa menjelaskan perbedaannya. Akan tetapi yang lebih utama memastikan mana kata-kata asing yang di idrajkan itu sebagai upaya penafsiran. 3) Idraj dapat diketahui dari lahiriyah susunan hadis. 3) Seorang muhaddis membacakan suatu sanad hadis. baik dalam sanad atau matan. Sesuatu hadis yang dapat diketahui mana kata-kata yang disisipkan ke dalamnya. 1) Adanya riwayat yang memisahkan lafad yang mudraj dari pokok hadis. Dalam hal ini. hal ini sangat jelas. Jelasnya hadis maqlub adalah sesuatu hadis yang telah terjadi kesilapan pada seeorang perawi dengan mendahulukan yang semestinya diahir. II. al-Suyuthi mengecualikan kesengajaan dalam idraj apabila dalam rangka menafsirkan suatu kata yang asing. Disamping itu.. namun hal ini tidak mengubah kedhoifannya karena dinilai sebagai sesuatu bercampur dalam sebuah hadis yang terjadi idraj. dan bila karena lupa atau . para ulama menyebutkan beberapa bentuk yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut. lalu keduanya digabungkan dalam satu sanad. kemudian kata-katanya itu dianggap oleh sebagai orang yang mendengarnya sebagai matan. 2) Adanya penegasan tentang kejadian itu dari rawi yang bersangkuta. Pedoman itu adalah sebagai berikut. atau dari salah seorang imam yang luas wawasannya. Sehubungan dengan itu mereka menetapkan beberapa pedoman untuk mengetahui dan menyingkapnya dengan pasti. 1) Seorang rawi mendengar suatu hadis dari banyak guru dengan beraneka ragam jalur sanadnya. sehingga mereka meriwayatkan kata-kata tersebut dengan sanad yang dibaca muhaddis.6. Seperti hadis yang menyatakan bahwa Bilal melakukan adzan di waktu malam. maka fenomena hadis mudraj oleh para ulama digolongkan hadis daif. Namun. Idraj dalam hadis memiliki dampak yang sangat bahaya. Jelasnya adalah bila ia memiliki dua hadis dengan dua sanad berbeda. Tetapi jika tidak lagi. kemudian terjadilah sesuatu sehingga ia mengeluarkan kata-katanya sendiri. Padahal jelas bahwa ia bukan bagian dari hadis itu. Pendapat ini didukung oleh tindakan para imam hadis yang dapat dipegangi. namun ia juga memiliki sebagian matan lainnya dari sanad lain. seperti al-Zuhri.

ia hafal atau tidak dan apakah hafalannya masih baik atau sudah kacau. Para muhaddisin menaruh perhatian besar terhadap kedua klasisfikasi hadis maqlub terahir. yakni pergantian pada sanad. dimana dia telah menempatkan matan pada selain sanad yang sebenarnya. Berdasarkan definisi ini dapat membagi hadis maqlub menjadi beberapa bagian dengan pembagian yang dapat mempersatukan berbagia keterangan yang beranekaragam dalam berbagai sumber pembahasan bidang ini. hadis maqlub yang terjadi karena kelupaan rawinya. 2. Ia menjawab. sehingga para ulama sangat besar perhatiannya untuk mengkaji dan membongkar rahasianya serta menjelaskan latar belakang dan motif para rawi yang melakukan hal itu. Hukum hadis maqlub jenis ini adalah daif. sehingga diduga meriwayatkan hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh rawi lain. maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku”. Dengan itu orang-orang akan menerima dan menghafalkanya. Di samping dimaksudkan untuk menguji kecerdasan rawi lain.a katanya. Menurutnya. Keinginan perawi untuk mengemukakan hal-hal yang aneh kepada orang lain. Apabila terjadi berulang kali. Hadis maqlub jenis ini adalah yang paling bahaya. Kedua. Diantara latar belakang dan motif tersebut adalah. maka akan mengurangi ke-dhabitannya dan semua hadisnya akan di daifkan Kedua. Sesungguhnya kami berada di majelis Sabit al-Banni dan Hajjaj bin Abu Usman ada bersama kami. karena hal demikian timbul akibat kacaunya hafalan rawi. Rasululullah bersabda: Apabila sholat telah siap didirikan. Abu Nadhar menduga bahwa hadis tersebut termasuk hadis yang diriwayatkan kepada kami oleh Sabit dari Anas. Pertama. sehingga ia memalingkannya dari yang sebenarnya. Sebab untuk . Jelaslah bagimana tertukarnya suatu sanad oleh rawinya. Keinginan seorang rawi untuk menguji ahli hadis yang lain. definisi ini yang paling tepat. serta dapat dijadikan dalil dalam al-jarh wa at ta‟dil. 1. maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku” Ishaq bin Isa berkata: Kemudian saya dating kepada Hammad dan bertanya kepadanya perihal hadis ini. Abu al-Nadhar salah duga. maqlubnya suatu hadis bila ditinjau dari posisinya dapat diklasifikasikan menjadi dua. maqlub matan yakni pergantian pada matan Masing-masing dari keduanya adalakanya terjadi karena kelalaian rawinya atau karena kesengajaanya. hadis maqlub yang terjadi karena kesengajaannya rawinya.sengaja. Pertama. apakah ia menerima indoktrinasi atau tidak. Yakni. Seperti matan suatu hadis yang diriwayatkan dengan sanad tertentu oleh rawinya sehingga meriwayatkannya dengan menggunakan sanad lain. maqlub sanad. Karena dugaannya dapat diketahui mana yang dapat diterima dan mana yang ditolak. Diantara contoh hadis maqlub jenis ini hadis yang diriwayatkan dari Ishaq bin Isa al-Thabab‟ “Meriwayatkan hadis kepada kami Jarir bin Hazxim dari Sabit dari Anas r. Hajjaj al-Shawwaf meriwayatkan hadis kepada kami dari Yahya bin Abu Bakar dari Abdullah bin Abu Qatradah dari bapaknya bahwa Rasulullah berkata “Apabila sholat telah siap didirikan.

Perbedaan tersebut periwayatnya atau matannya. Hisyam Dastuwa‟i berkata: dari Qatadah dari Zaid bin Arqam. II. Ibnu Hajar membedkan adanya perubahan yang terjadi pada hadis. Mu‟amar meriwayatkannya dari Qatadah dari al-Nahar dari ayahnya dari Rasululllah. Karena bila perbedaannya dapat dihilangkan dengan cara benar. 9.mengetahui hadis maqlub dibutuhkan hafalan yang luas dan ketekunan yang tinggi guna menguasai sejumlah riwayat dan sanad. berdoalah: Aku berlindung kepada Allah dari Mahluk jahat laki-laki dan mahluk jahat perempuan” Menurut Turmudzi. Jelasnya. Sebab kemudltariban hadis ini adalah adanya perselisihan yang cukup banyak tentang dari siapa Qatadah menerima hadis tersebut. jika perubahan . maka status ke-mudltaribannya hilang.7. hadis mudltarib adalah hadis yang memiliki perbedaan dari berbagai riwayatnya dengan dua catatan. serta tidak dapat dikuatkan salah satu riwayatnya atau salah satu matannya. Demikian pula bila terjadi pertentangan di antara beberapa riwayat. Hadis mudhharib Kata mudtarib adalah isim fail dari fiil madi idtaraba yaitu perbedaan perkara dan rusaknya aturan. maka hal yang demikian menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak terekam kuat dalam hafalannya. Kata dasarnya daraba. Ditinjau dari segi hukum. karena ke-mudltariban itu mengesankan tidak adanya ke-dhabitan seorang periwayat terhadap hadis yang bersangkutan. ataupun mengganti. sehingga tidak ada yang dapat diunggulkan dan tidak dapat dikompromikan. Secara istilah. Karena apabila suatu saat meriwayatkan hadis demikian. hadis mudltarib adalah hadis yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dengan beberapa redaksi yang berbeda dengan kualitas yang sama. Singkatnya. mengemudiankan. dengan mendahulukan. Diantara contoh hadis mudltarib adalah hadis Zaid bin Arqam dari Rasululllah. Apabila salah seorang di antara kamu memasuki kakus. antara hadis tersebut tidak dapat dikompromikan. lalu pada kesempatan lain meriwayatkanya dalam bentuk lain. baik dilakukan oleh seorang perawi atau oleh banyak perawi. 8 Hadis Mushahhaf dan Muharraf Perubahan kalimat dalam hadis selain apa yang dirwayatkan oleh orang tsiqah baik secara lafal atau makna. maka hukumnya pada hadis yang unggul tersebut disebut dengan mahfuz. II. Said bin Abi „Arubah meriwayatkan bahwa Qatadah menerimanya dari Qasim bin „Auf al-Syaibani. Kedua. atau ma‟ruf lawan dari syadz atau munkar. maka tidak dapat memastikan perawi mana yang paling dhabit terhadap hadis yang diriwayatkan.9. antara hadis tersebut seimbang kualitasnya sehingga tidak dapat diunggulkan salah satunya. mengurangi. maka hadis mudltarib adalah daif. dari Zaid bin Arqam. Karena bila ada yang dapat diunggulkan. Syu‟bah meriwayatkan dari Qatadah dari al-Nadhr bin Anas dari Zid bin Arqam. Pertama. Bersabda: “Sesungguhnya taman ini terkena bencana. hadis Zaid bin Arqam sanadnya mengandung ke mudltariban. bermakna sesuatu yang diriwayatkan dalam bentuk yang berbeda dalam satu tema sebagai penguat. menambah.

10. mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Ad Daru Quthani) II. Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh. terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya . Hadis Maqbul Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah: * Hadis sahih. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah: Artinya: “Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.10. penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad. baik yang lizatihu maupun yang ligairihi. “ Contohnya hadis muharraf: hadis jabir berkata: “Ubay dipanah pada peperangan azab diurat lengannya. karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh. maka Rasululah mengobatinya dengan besi panas.” Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. yang diterima. yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. Pembagian Hadis Dari Segi Kedudukan Dalam Hujjah Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan. Contohnya hadis mushahhaf: “hadis nabi. namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan.” ( HR. hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud. II. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury. maka ia sama dengan berpuasa satu tahun.itu berupa titik pada suatu huruf atau beberapa huruf itulah disebut mushahhaf dan jika perubahan itu berebentuk shakkal atau harokat huruf disebut muharaf. Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima.1. Disamping itu. barang siapa yang berpuasa ramadhan dan diikutiya denagn enam hari dari bulan syawal. * Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. yang dibenarkan.

Hadis gairo makmulinbihi Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan. tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan b. Hadis mansuh c. Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya. yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan. Sedangkan menurut urf Muhaddisin. Hadis mutawaqaf. hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif. Jadi. tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma‟mulin bihi.” Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah: Artinya: “Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun. Hadis rajih 2. maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). hadis mardud ialah : Artinya: “Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya. 1. II. sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh. Hadis mukhtalif. . Hadis maqmulun bihi Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah: a. Hadis nasih d. Hadis marjuh.” Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadishadis maqbul.2. Hadis muhkam. yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah c. yang tidak diterima. yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan b.10. Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah: a.yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). Hadis Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak.

dan patuh atau setia terhadap jamaah. Karena sesungguhnya do‟a mereka akan membimbing dan menjaganya dari belakang”. hadits tentang bacaan Al-Fatihah dalam Shalat: ‫ال ص الج ن ًٍ ن ى ي قشأ ت او ان ك تاب‬ Artinya: “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur‟an. seperti hadits tentang sholat dan haji. (HR. Muslim) Contoh lain. Contoh hadits qauli ialah tentang do‟a Rasulullah SAW yang ditunjukan kepada orang yang mendengan. Hadits berupa sabda Rasulullah SAW dalam berbagai hal dan keadaan. Hadits Qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berupa perkataan ataupun ucapan yang berkaitan dengan aqidah. 1. Ada tiga sifat yang dapat menghindari timbulnya rasa dengki dihati seorang muslim. . salng menasehati dengan pihak penguasa. Hadits tersebut berbunyi : ِ‫َ صش هللا ايشأ سًع ي ُا حذي خا ف ح فظّ وت ه غّ غ يش‬ ‫ف شب حايم ف قّ ن يس ت ف ق يّ ح الث الي غم ع ه يهٍ ق هة‬ ‫يم هلل وي ُا صحح والج االي ىس ون زوو جًاعح ي س هى اخ الص ان ع‬ ‫ف اٌ دعىت هى طح يظ يٍ وسائ هى‬ Artinya: ” Semoga Allah memberikan kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain karena banyak orang yang berbicara mengenal fiqih padahal ia bukan ahlinya.1. Hadits Fi‟li adalah hadits yang menyebutkan perbuatan Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita. menghafal dan menyampaikan ilmu. ( ‫ان ًؤيٍ ن هًؤيٍ ك ان ث ُ ياٌ ي شذ ت ع ضّ ت ع ضا )سواِ ي س هى‬ Artinya : “Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang satu sama yang lainnya saling menguatkan:. yaitu ikhlas beramal kepaa Allaw SWT. syariah dan akhlak.

At-Turmudzi. barulah Nabi SAW bertakbir “. beliau tidak menyuruh dan tidak pula melarang kami“. Hadits Taqriri yaitu penetapan atau penilaian Rasulullah SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. Contoh lainnya yang berbunyi ‫ك اٌ ان ُ ثً ص ه عى ي ص هً ع هً ساح ه تّ ح يج ت ىجهت‬ ِ‫ف ارا اساد ان فشي ضح َ ز ف ا س ت ق ثم ان ق ث هح )سوا‬ (‫ان تشيزي وي س هى واحًذ‬ Artinya: ” Nabi Muhammad SAW sholat diatas tunggangannya kemana tunggangannya itu menghadap“. apabila shaf-shaf kami telah lurus. (HR. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan.Bukhori dan Muslim). Muslim) 3. (HR.Muslim dan Ahmad). ‫ك اٌ ان ُ ثً ص ه عى ي سىي ص فىف ُا ارا ق ً ُا ان ً ان ص الج‬ (‫ف ارا ا س تىي ُا ك ثش)سواِ ي س هى‬ Artinya: ” Nabi SAW menyamakan (meluruskan) shaf-shaf kami ketika kami melaksanakan shalat. (HR. Contoh : ‫ك ُا َ ص هً سك ع ت يٍ ت عذ غشوب ان شًس وك اٌ س سىل هللا‬ (‫ص ه عى ي زاَ ا ون ى ي أيشَ ا ون ى ي ُه ُا )سواِ ي س هى‬ Artinya: ” Kami (para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat magrib). Muslim) .Contoh hadits fi‟li tentang sholat adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi: ‫ص هىا ك ًا ساي تًىَ ً ا ص هً )سواِ ان ثخاسي‬ (‫وي س هى‬ Artinya: ” Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat “. (HR.

sehingga mereka tidak melaksanakan shalat ashar pada waktunya. Muslim) Sebagian sahabat memahami larangan tersebut. Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi SAW tanpa menyalahkan atau mengingkarinya. . (HR.Diantara contoh hadits taqriri ialah sikap Rasul SAW membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya sesuai dengan penafsiran mereka terhadap sabdanya yang berbunyi: ِ‫الي ص ه يٍ احذ ان ع سش الف ً ت ًُ ق شي ضح )سوا‬ (‫ان ثخاسي‬ Artinya: “Janganlah seseorangpun shalat ashar kecuali bila tiba dibani Quraidah”. Segolongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut dengan segera menuju bani Quraidhah sehingga mereka dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful