Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur'an

"Secara universal, fungsi hadits terhadap Al-Qur'an adalah merupakan penjabaran makna tersurat dan tersirat dari isi kandungan Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah:

Artinya: "Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Q.S. 16. An-Nahl, A. 44).

Namun kemudian para 'ulama hadits merincinya menjadi 4 fungsi hadits terhadap Al-Qur'an yang intinya adalah sebagai penjabaran, dalam bahasa ilmu hadits disebut sebagai bayan, simak penjelasan berikut." (Mas Gun). Fungsi hadits terhadap Al-Qur'an secara detail ada 4, yaitu: 1. Sebagai Bayanul Taqrir Dalam hal ini posisi hadits sebagai taqrir (penguat) yaitu memperkuat keterangan dari ayat-ayat Al-Qur'an, dimana hadits menjelaskan secara rinci apa yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an, seperti hadits tentang sholat, zakat, puasa dan haji, merupakan penjelasan dari ayat sholat, ayat zakat, ayat puasa dan ayat haji yang tertulis dalam Al-Qur'an.

2. Sebagai Bayanul Tafsir Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai tafsir Al-Qur'an. Hadits sebagai tafsir terhadap Al-Qur'an terbagi setidaknya menjadi 3 macam fungsi, yaitu:

2.1. Sebagai Tafshilul Mujmal Dalam hal ini hadits memberikan penjelasan terperinci terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat universal, sering dikenal dengan istilah sebagai bayanul tafshil atau bayanul tafsir. Contoh: ayat-ayat Al-Qur'an tentang sholat, zakat, puasa dan haji diterangkan secara garis besar saja, maka dalam hal ini hadits merincikan tata cara mengamalkan sholat, zakat, puasa dan haji agat umat Muhammad dapat melaksanakannya seperti yang dilaksanakan oleh Nabi.

2.2. Sebagai Takhshishul 'Amm Dalam hal ini hadits memperkhusus ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat umum, dalam ilmu hadits sering dikenal dengan istilah bayanul takhshish. Contohnya: Dalam Q. S. 4. An-Nisa', A. 11 Allah berfirman tentang haq waris secara umum saja, maka di sisi lain hadits menjabarkan ayat ini secara lebih khusus lagi tanpa mengurangi haq-haq waris yang telah bersifat umum dalam ayat tersebut. 2.3. Sebagai Bayanul Muthlaq Hukum yang ada dalam Al-Qur'an bersifat mutlak amm (mutlak umum), maka dalam hal ini hadits membatasi kemutlakan hukum dalam Al-Qur'an. Contoh: Dalam Q. S. 5. Al-Maidah, A. 38 difirmankan Allah tentang hukuman bagi pencuri adalah potong tangan, tanpa membatasi

binatang berbelalai dan menikahi wanita bersama bibinya. Hadits ataupun Sunnah. S. Muslim) . BENTUK-BENTUK HADITS Sesuai pengertiannya dengan berdasarkan secara terminologi. Contoh: Dalam Q. maka hadits memberi batasan batas tangan yang harus dipotong. kemudian hadits menjelaskan bahwa tidak wajib wasiat bagi waris. 2. 4. 3. 180 Allah mewajibkan kepada orang yang akan wafat memberi wasiat. Al-Baqarah. Sebagai Bayanul Tasyri' Dalam hal ini hadits menciptakan hukum syari'at yang belum dijelaskan secara rinci dalam AlQur'an. yang satu sama lain saling menguatkan.batas tangan yang harus dipotong. contohnya sabda Nabi SAW : "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. Hadits Qauli Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah). Contoh: Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan tentang kedudukan hukum makan daging keledai. A." (HR. Sebagai Bayanul Naskhi Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai pendelete (penghapus) hukum yang diterangkan dalam Al-Qur'an. maka hadits menciptakan kedudukan hukumnya dengan tegas.dapat dibagi menjadi tiga macam hadits : 1.

puasa. Seorang sahabat berkata : “Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Hadits Taqriri Hadits yang berupa penetapan (taqririyah) atau penilaian Nabi SAW terhadap apa yangdiucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka tersebutdiakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. Hadis Fi’li . Hadis Qauli Yang dimaksud dengan hadis qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.2. beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami ” (HR. A. Muslim) 3. Pembagian Hadis Dilihat dari Bentuknya. “Kami (Para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari(sebelum shalat maghrib). Apabila safsaf kami telah lurus.” (HR. Hadits Fi’il. Berikut contoh haditsnya. syari‟ah.Contohnya hadits berikut. peristiwa dan keadaan yang berkaitan aqidah. seorang sahabat berkata . baik berupa perkataan. seperti tata carashalat. haji. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kamilakukan. barulah Nabi SAW bertakbir. Muslim) I. ataupun ucapan yang memuat berbagai maksud syara‟. dsb.[1] B. Hadits yang berupa perbuatan (fi‟liyah) mencakup perilaku Nabi SAW. akhlak dan lainnya.

Sebagimana dikatakan Al-Bara‟i dalam sebuah hadis berikut: II. baik yang terpuji maupun yang tercela. Sedangkan menurut istilah ialah: “Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera.Yang dimaksud dengan hadis fi‟li adalah hadis yang menyebutkan perbuatan nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita. Hadis taqriri Hadis taqriri adalah hadis yang menyebutkan ketetapan nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya. juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak. yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.[3] C. yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. Pembagian Hadis ditinjau dari kuantitas Rawi A). seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia.[6] . sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah lainnya. baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya. Hadits Mutawatir Ta’rif Hadits Mutawatir Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Hadis Ahwali Yang dimaksud dengan hadis ahwali ialah hadis yang menyebut hal ihwal Nabi Muhammad SAW.”[8] Artinya: “Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta. tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta. Menurut para ulama‟ menjalankan had hammi ini disunnahkan.[2] Hadis yang termasuk kategori ini adalah hadis yang di dalamnya terdapat kata-kata kana/yakunu atau ra‟aitu/ ra‟aina. yang menyangkut keadaan fisik.[7] Keadaan fisik Nabi Muhammad SAW tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya. Nabi belum sempat .[10] . sifat-sifat.[4] D. Nabi SAW membiarkan suatu perbuatanyang dilakukan oleh para sahabt apabila memenuhi beberapa syarat. Hadis Hammi Yang dimaksud dengan hadis hammi adalah hadis yang menyebutkan keinginan Nabi Muhammad SAW yang belum terealisasikan. yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. dan kepribadiannya.menunaikan hasratnya ini karena beliau wafat sebelum datang bulan Asyura‟ tahun berikutnya.”[9] Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir.[5] Keinginan nabi untuk berpuasa pada tanggal 9 Asyura‟.

Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.” (QS. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji.Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Disamping itu. (2). Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya. b. d. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah: “Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu). c. dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW.[11] b. dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir Menurut Mohammad Rahman dalam buku Ilmu Musthalahah Al hadis disebutkan bahwa syaratsyarat hadis mutawattir ada 3: (1. yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65). maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak. maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.) Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera. maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. . Al-Anfal: 64). Ashabus Syafi‟i menentukan minimal 5 orang. a. Ada yang melihat atau mendengar.

2.(3. kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir. Hadits mutawatir maknawi Hadits mutawatir maknawi adalah : Artinya : “Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya. Pembagian Hadits Mutawatir Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam[13] : 1. Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi alMutawatir. [12] c.” Menurut Abu Bakar Al-Bazzar.” .” Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : “Rasulullah SAW bersabda. tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar.) Seimbang jumlah para perawi. susunan Imam As-Suyuti(911 H). susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H). bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits. Hadits Mutawatir Lafzi Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain : “Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.” Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah : “Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya. seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri alMutawatirah. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka. kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.

” 1. . namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : Artinya : “Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.” (HR. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad. sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya. Bukhari Muslim) Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak. 3. Hadis Mutawatir Amali Hadis Mutawatir Amali adalah : Artinya : “Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu. Contoh : Artinya : “Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa‟ dan beliau mengangkat tangannya.Artinya: “Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz.” Contoh : Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian.” Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut.

hadis aziz ialah hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad. oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. baik pemberita itu seorang. tarif hadis ahad antara laian adalah: Artinya: “Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir. dalam arti maqbul.II. Kalau . lima orang dan seterusnya. Hadis Gharib Gharib menurut bahasa adalah (1) ba‟idun „anil wathani (yang jauh dari tanah) dan (2) kalimat yang sukar dipahami. AshShab‟bul ladzi yakadu la yuqwa „alaih (yang sukar diperoleh). 2. Hadis Masyhur Masyhur menurut Bahasa adalah al-intisyar wa az-zuyu‟ (sesuatu yang sudah tersebar dan populer). empat orang. maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. c. hadis tersebut tidak tertolak. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa. ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”.tidak mencapai derajat mutawatir. Pembagian hadis Ahad 1. Menurut istilah ialah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap thabaqah. Hadis Ahad a. hadis gharib ialah hadis yang diriwayatkan oleh seoran perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya. tiga orang. Sedangkan secara terminologi. Menurut istilah. Faedah hadis ahad Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat‟i.3. tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: “ Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut: Artinya: “Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis. Pengertian hadis ahad Menurut Istilah ahli hadis.” b. baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya.2. dua orang. dan Al-Qowiyu (yang kuat). 3. Hadis Aziz Aziz menurut bahasa adalah As-Syafief (yang mulia). sebagaimana hadis mutawatir. An-Nadir (yang sedikit wujudnya).

1. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan. yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta. kita kumpulkan antara keduanya.” II. tapi diketahui mana yang terkemudian.3. Walhasil.4. Kalau tak mungkin dikumpulkan. boleh kita berhujjah dengannya. hdis mutawatir. baik ia muhkam.maqbul. kita pandang nasikh. yang terkemudian kita ambil. matan hadisnya. Pembagian hadis berdasarkan kualitas sanad dan matan II. tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. 4. antara lain : Artinya : “Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran). hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis.” II. atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. Hadis Hasan Menurut bahasa.4.” . sesudah nyata sahih atau hasannya. atau hasan).2. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih. Hadis Shahih Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat. yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW. kita pandang mansukh. Batasan hadis sahih. Hadis Dhoif Hadis dhoif menurut bahasa berarti hadis yang lemah. hadis yng benar berasal dari Rasulullah SAW.4. dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan. II. maka yang terdahulu kita tinggalkan. yang diberikan oleh ulama. Kalau mardud. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah : Artinya : “yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami. atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Para ulama memberi batasan bagi hadis daif : Artinya : “Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih. kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. hasan berarti bagus atau baik. Jika ada. atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit.

Ibnu Wahb. Pada hadis dhaif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW. dibandingkan jumlah rawi yang ada pada sanad lain yang menyebut hadis yang sama. dan Abu Hurairoh (5 orang) adalah hadis „Aly karena sanadnya lebih sedikit. Macam-macam hadis „Aly ada 5 macam.1. 5. Berikut perbandingannya. Untuk mengetahuinya. 1. 4. Hadis Nazil Hadis Nazil adalah hadis yang jumlah rawi dan sanadnya banyak. 3. 2. Muannan menurut istilah adalah hadis yang dikatakan dalam sanadnya “memberitakan pada kami bahwasanya si fulan. Menurut mayoritas ulama‟ bahwa hadis muannan di hukumi muttasil sama dengan muan‟andi atas asal memenuhi dua syarat . Contoh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan Imam Al-Bukhari dengan sanad berbeda.5. Hadis Ali Hadis Ali adalah hadis yang jumlah rawinya dalam sanad itu sedikit. sesungguhnya.3.2. cukup memahami kebalikan pembagian hadis „Aly. memberitakan padanya . Hadis Muannan Muannan menurut bahasa berarti bahwasanya. II. Abul Akhwash. „aly Mutlaq Aly Nisbi „Aly Tinzil „Aly bitaqdimil wafat „Aly bitaqoddumis sanad II.5. Aly Mutlaq melawan Nazil mutlaq. II. Yunus. Abu Hasin. Abu Salamah dan Abu Hurairoh (6 orang) adalah hadis nazil.5.5.Jadi hadis dhaif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan Sifat Sanad dan Cara Penyampaian Periwayatan II. ada yang berpendapat bahwa hadis muannan berhukum munqati‟ sehingga ada penjelasan bahwa ia mendengar berita tersebut melalui sanad lain atau ada indikator lain yang menunjukkan bahwa ia mendengar atau menyaksikannya. Ibnu Syihab.begini” Hukum hadis muannan Dikalangan ulama terjadi perbedaan pendapat. melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan. Pembagian hadis nazil ada lima. Abu Shalih. Sedangkan riwayat Bukhari bersanad Quthaibah bin Sa‟id. Sanad muslim adalah Harmalah bin Yahya.

Dengan demikian hadis musalsal adalah hadis yang secara berturut turut. yang berarti dan bertali menali. di namakan hadis musalsal karena ada persamaan dengan rantai atau silsilah Menurut istilah : keikutsertaan para perawi dalam sanad secara berturut turut pada satu sifat atau satu keadaan. Sebagaimana tinjauan pembagian hadis di atas.Abu Al-Asyabal menegaskan. maka di tangguhkan ( tawaqquf ) hingga dapat di ketahui ke muttasilannya II. . maka tidak menujukkan keshahihan suatu hadis. bahwa hadis muan‟an jika seorang perowi yang menggunakan kata anna = bahwasanya ( muannin ) tidak semasa dengan orang yang menyampaikannya atau semasa tetapi tidak pernah bertemumaka periwayatannya di hukum munqathi‟ tidak dapat di terima oleh hujjah [atau seorang rowi yang menggunakan anna= bahwasanya ( muannin ) semasa hidupnya dengan yang menyampaikan berita tetapi tidak di ketahui apakah ia bertemu atau tidak. terkadang bagi periwayatan. sanadnya sama dalam satu sifat atau dalam satu keadaan dan atau satu periwayatan Macam macam musalsal 1) musalsal keadaan rawi ( musalsal bi ahwal arruwat ) msalsal keadaan perawi terkadang dalam perkataan ( qauli ) terkadang perbuatan ( fi‟li ) atau keduanya ( qauli & fi‟li ) 2) musalsal sifat periwayat ( musalsal bi shifat ar ruwah ) muasalsal ini di bagi menjadi perkataan ( qauli ) dan perbuatan ( fi‟li ) 3) musalsal dalam sifat periwayatan 9 musalsal bi shifat ar riwayah ) muasalsal ini di bagi menjadi tiga macam : 1) 2) 3) musalsal dalam bentuk ungkapan. periwayatan ( ada‟) musalsal pada waktu periwayatan musalsal pada tempat periwayatan Hukum hadis musalsal Terkadang hadis terjadi musalsal dari awal sampai akhir. Dan terkadang sebagian musalsal terputus di permulaan atau di akhiran. Hukum musalsal ada kalanya shahih.5.5. Hadis Musalsal Menurut bahasa musalsal berasal dari kata salsala yusalsilu salsalatun. penyampaian. bahwa musalsal adalah sifat sebagian sanat. hasan dan dhaif tergantung keadaan para perawinya. atau di ketahui tetapi ia sesorang penyembunyi cacat (mudallis).

jika persetujuan disebut marfu‟ taqriri dan jika sifat maka dinamakan marfu‟ washfi. Secara epistimologis. tidak adanya tadlis dan inqitha‟. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan sumber berita II. . Hadis Marfu’ Marfu‟ secara etimologi berarti “yang diangkat” atau “ditinggikan”.Diantara kelebihan musalsal tersebut adalah menunjukkan kemutasilan dalam mendengar. marfu‟ tashrihy dan marfu‟ hukmy Marfu‟ tasyrihi adalah hadis yang tegas-tegas dikatakan oleh seorang sahabat bahwa hadis tersebut didengar. II. hadis marfu‟ berarti hadis yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad SAW baik berupa perbuatan. Hal ini dibuktikan dengan perhatian masing-masing perawi dalam pengulangan menyebut keadaan atau sifat para perawi para periwayatan.6. baik sanadnya bersambung maupun tidak.2. Misalnya perkataan seorang sahabat dengan kata : Aku mendengar rasulullah SAW bersabda Diceritakan kepadaku oleh Rasulullah Berkatalah Rasulullah Rasulullah menceritakan Aku melihat rasulullah begini Adalah rasulullah berbuat begini Aku berbuat dihadapan Rasulllah begini Sedangkan marfu‟ hukmy adalah ucapan sahabat yang seolah-olah lahirnya dikatakan oleh seorang sahabat tetapi hakikatnya disandarkan kepada Rasulullah. atau sifat. persetujuan. Jumhur Muhaditsin mambagi hadis marfu‟ berdasarkan aspek pengkategorian teks. jika hadis itu berupa ucapan dinamakan marfu‟ qouli. atau dilihat dan atau disetujui Rasulullah. Sebagian ulama kemudian membagi hadis ini berdasarkan jenisnya.6. dan nilai tambah kedhabithan para perawi. Syarat hadis dikatakan marfu‟ tashrihy adalah sebagi berikut. jika perbuatan dinamakan marfu‟ fi‟li. Dengan kata lain bahwa apa yang dikatakan sahabat dapat dipastikan berasal dari nabi dan bukan dari hasil olah pikiran sahabat.

Apabila ada seorang sahabat berkata: Diantara sunnah begini. Kelima. yang diucapkan sahabat tersebut menyangkut masalah yang tidak dapat diijtihadkan. Misalnya mereka mengucapkan kami melakukan ini dan itu. Ungkapan ini dapat dihukumi sebagi marfu‟ sekalipun sahabat tidak menghukumi qola nabi. AlBukhari dan Muslim) Ketiga. Hadis marfu‟ –baik tashrihi maupun hukmi. maka sesunggunhnya ia telah kafir. jika sahabat mengatakan bahwa “kami diperintahkan untuk atau kami dilarang”. Keempat. Perkataan ini sudah dipandang sebagai hadist marfu‟ karena makna sunnah disini adalah sunnah Rasullah.dapat dijadikan sebagi hujjah. Kedua. jika yang diucapkan dinisbatkan pada zaman Nabi SAW. selama hadis tersebut memenuhi kriteria hadis maqbul (shahih atau hasan). Dan diketahui bahwa ibnu Umar adalah seorang sahabat yang sangat kuat dalam menjalankan sunnah Nabi. karena dipersepsikan bahwa nabi melihat pekerjaan itu terjadi tetapi tidak mencegah atau melarang. ia berdiam diri di rumah si gadis itu 7 hari lamanya.Pertama. Barang siapa mendatangi tentang tukang sihir. Tentunya tibeliau tidak akan mengerjakan hal tersebut kalau tidak mendapat tuntunsan dari Nabi. karena dipersepsikan bahwa para sahabat tidak melakukan suatu perbuatan tanpa ada tuntunan dari Nabi pada tuntuna yang tidak mungkin diperoleh selain dari nabi. . Misalnya tatkala sahabatberbicara masalah ghaib (ghaibiyat) atau tentang tanda-tanda kiamat. atau tentang dukun. Umpamanya mengangkat kedua tangan ketika takbir dalam beberapa takbir shalat hari raya baik dalam rakaat pertama maupun rakaat kedua. (HR. kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. maka dapat dipahami bahwa yang memerintah atu melarang tersebut adalah Nabi Muhammad SAW Keenam. karena tidak dikhawatirkan cerita tersebut mereka dengar dari ahli kitab yang bersumber dari taurat dan injil. Pekerjaan ini dilakukan oleh Ibnu Umar. selama sahabat tersebut tidak dikenal orang yang suka duduk dengan ahli kitab maka ceritanya dapat dikategorikan marfu‟. apabila seorang sahabat membuat suatu pekerjaan yang tidak dapat diperoleh dengan jalan ijtihad. Seperti perkataan ibnu mas‟ud. Proses ini disebut persetujuan (taqrir nabi). Contohnya perkataan Anas bin Malik Diantara sunnah apabila seorang laki-laki beristri dengan seorang gadis (bikr) sedang ia mempunyai seorang istri lain. maka perbuatan itu dipandang sebagi hadist marfu‟. jika sahabat bercerita tentang kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu.

Contoh hadis mauquf misalnya. Hadis Mauquf Secara etimologi. Hadis Maqthu’ Secara etimologi. kecuali bagi golongan yang membolehkan berhujjah dengan hadis mursal. atau berbuat begini atau menyuruh begini. maqtu‟ berasal dari kata qotho‟a yang berarti terputus. Mawquf berarti berhenti atau menghentikan. Ali bin Abi thalib berkata: Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui.II. yaitu suatu hadis yang disandarkan kepada seorang sahabat. Secara istilah ucapan atau perbuatan yang dinisbatkan kepada tabi‟in. Ibnu Al-Atsir dalam kitab Al-Jami‟ mendefinisikan hadist mauquf sebagai Hadis yang dihentikan (sandarannya) pada seorang sahabat tidak tersembunyi bagi seorang ahli hadis. maka maqthu‟ yang marfu‟ dijadikan hujjah.4. Bukhari) Para ulama‟ berpendapat bahwa hadis maqthu‟ tidak dapat dijadikan hujjah. Contoh hadis maqthu‟ Perkataan Hasan Al-Bashri tentang shalat di belakang ahli bid‟ah Shalatlah dan bid‟ahnya atasnya.3. Jika terdapat sebuah teks yang penuturnya seorang sahabat maka diistilahkan dengan mauquf baik tersambung sanadnya atau tidak. Jika terdapat sebuah teks dan penuturnya seorang tabi‟in maka diistilahkan dengan maqthu‟ baik bersambung sanadnya maupun tidak. mauquf berasal dari kata waqaf yang atinya berhenti. (HR. definisi hadis mauquf adalah ucapan aau perbuatan yang dinisbatkan kepada sahabat. ia (seorang perawi) berkata : bahwasanya sahabat berkata begini. . Bukhari) Dan Ummu ibnu Abbas sedangkan ia bertayammum (HR. Apabila telah sampai pada seorang sahabat. Al-Bukhari) Aku melakukan begini di hadapan salah seorang sahabat dan ia tidak mengingkariku II. Lebih luas hadis maqthu‟ didiefinisikan sebagai berikut : Sesuatu yang disandarkan kepada seorang tabi‟in atau seorang setelahnya dari tabi‟ tabi‟in kemudian orang-orang setelah mereka baik berupa perkataan atau perbuatan dam sesamanya.6.6. Apakah mereka menghendaki Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR. Secara epistimologi.

baik marfu‟ disandarkan kepada nabi maupun mauquf (disandarkan kepada seorang sahabat)[50] Dalam definisi di atas ungkapan hingga akhir sanad menunjukkan bahwa hadis muttashil bisa marfu‟ bisa mauquf bahkan juga bisa maqthu‟. Hadis yang didengar oleh tabi‟in dapat dipastikan bersumber dari sahabat sedang pada sanad itu sahabat tidak tampak.[56] Hukum hadis mursal .2. dengan kata lain hadist yang bersambung dan marfu‟ dan di katakan tidak musnad jika tidak marfu‟. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan ketersambungan sanad II. jika berakhir pada sahabat maka dinamakan mauquf dan jika berakhir pada tabi‟in maka disebut maqthu‟.8. Adapun definisi mursal menurut jumhur muhadditsin adalah hadis yang gugur perowinya pada tingkatan shahabat.7. Hadis Muttashil Dari segi bahasa Muttashil berarti yang bersambung. berasal dari kata ittashola yattashilu. semua musnad pasti muttasil. dengan makna menyandarkan atau menggabungkan. Hadis Musnad Dari segi bahasa musnad berasal dari kata asnad.8.7. Pada proses periwayatannya tabi‟in tidak berjumpa dengan nabi. inilah yang membedakan musnad dan muttasil.1. namun tidak setiap muttasil itu musnad[54] contoh : hasil periwayatan bukhori misalnya dia berkata : memberitakan pada kami abdullah bin yusuf dari malik dari abu azzanad dari al a‟araj dari abu hurairah berkata: sesungguhnya rasulullah bersabda : Yang artinya : jika anjing minum bejana kamu maka cucilah tujuh kali[55] II. Secara epistimologi hadis muttasil ialah hadis yang bersambung sanadnya sampai akhir. Hadis Mursal Terdapat beberapa perbedaan dalam pendefinisian mursal. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan keterputusan sanad II.II.7.[53] Dari segi istilah hadis musnad ialah hadis yang di riwayatkan dengan sanad yang bersambung.[51] Contoh hadis muttashil yang marfu‟ Artinya : orang yang terlambat melaksanakan sholat sepeeti orang yang kehilangan keluarga dan kerabatnya[52] (HR Imam Nasa‟i) II. Jika sanadnya berakhir pada nabi maka disebut marfu‟.1.

Dapat dijadikan sebagai hujjah asalkan diriwayatkan dari tabi‟in senior 3. Dapat dijadikan hujjah dengan syarat tabi‟in yang meriwayatkan hadis tersebut dikenal sebagai orang yang tsiqah.4. Baik terputusnya lebih dari satu tempat atau gugur lebih dari satu perowi asalkan terputusnya terdapat diawali sanad masih dapat dikatakan muallaq. Kata inqita‟ adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan Al-Wasl. Definisi Munqati‟ yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr. Hadis Munqathi’ Kata Al-Inqita‟ (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. Hukum hadis mu‟dhol dhaif. Hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin. beliau mendapatkan bahwa hadis-hadis muallaq dalam shahih Bukhari ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain di luar kitab shahih Bukhari. tengah atau akhir. Hadis muallaq masuk kategori hadis dhoif karena hilangnya syarat pertama dari syurut Al-qabul (ittishal al-sanad) dan sosok perawi yang gugur ststus kepribadiannya tidak diketahui. 2. mu‟dhol berarti hadis yang terputus sanadnya pada dua tempat secara berurutan. II.2. Hadis-hadis muallaq yang terdapat dalam shahihin masuk ketegori shahih. karena hadis-hadis tersebut sebagian besar ternyata berstatus muttashil dalam riwayat lain dalam kitab tersebut. II.” . Hal itu telah dibuktikan oleh ibn Hajar yang telah meneliti satu persatu hadis-hadis muallaq dalam shahih bukhari dan hasilnya. Hadis Mu’dhal Istilah ini berasal dari kata a‟dhola yang berarti memayahkan. Dan kata inqita‟ merupakan akibatnya. II. Hadis mursal tidak dapat dijadikan hujjah karena yang gugur bisa jadi tiak sebatas sahabat tapi ada kemungkinan dua orang. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. Adapun secara terminologi. bisa mulai dari awal sanad. Hadis Mu’allaq Hadis muallaq yaitu hadis yang terputus di awal sanadnya dari jajaran perowi. Adapun hadis-hadis muallaq yang tidak terdapat keterangannya atau tidak terulang dalam kitab tersebut ternyata juga berstatus bersambung.1. yakni: Artinya: “Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam.8. karena tidak memenuhi kriteria hadis maqbul.8. Diistilahkan demikian karena peneliti yang akan mencari perowi yang gugur akan merasa kepayahan. maupun disandarkan kepada yang lain. yakni terputus.3. baik yang disandarkan kepada Nabi SAW.8.

Sehubungan dengan itu. kata at –tadlis diartikan menyimpan atau menyambunyikan cacat. Dengan demikian. An-Nawawi berkata.” Definisi ini menjadikan hadis munqati‟ berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain. “Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha. Al-Khatib. dan dengan penjelasan kata-kata “Tidak pada awal sanad” definisi ini tidak mencakup hadis muallaq. Hadis Mudallas Dalam bahasa arab.” Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis. dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut: Artinya: “Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat.8. penyusun AlManzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan: Artinya: Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati‟ (terputus) persambungannya.hadis ini hamper sama dengan mursal khafi. Dengan ketentuan “Salah seorang rawinya” defnisi ini tidak mencakup hadis mu‟dal. II. “Sebelum sahabat” definisi ini tidak mencakup hadis mursal.Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun.5. dengan kata-kata. Ibnu Abdil Barr. Seadangkan istilah. menyembuyikan cacat dalam isnad dan menyampaikan cara periwayatan yang baik Maksud menampakkan cara periwayatan yang baik adalah mengunakan ungkapan periwayatan yang tidak tegas bahwa ia mendenagr dari penyampaian berita. dan Muhaddis lainnya”. hadis munqati‟ merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya. Pembagian hadis mudallas Hadis mudallas dibagi menjadi dua macam 1) tadlis al isnad : seorang perawi meriwayatkan hadis yang ia tidak mendengarnya dari seseorang yang pernah ia temui dengan cara yang menimbulkan dugaan bahwa ia mendengarnya 2) tadlis asy syuyukh‟ : seorang perawi meriwayatkan dari seorang syaikh sebuah hadis yang ia dengar darinya kemudian ia beri nama lain atau nama panggilan ( kuniyah ) atau nama bangsa dan atau nama sifat yag tidak di kenal supaya tidak di kenal .

2. pendapat al khatib dalm al kifayah dari para ahli ilmu.9. tadlis di pesamakan dgan al irsal 3) 4) 5) diterima jika ia tidak di ketahui melakukan tadlis kecuali dari orang tsiqah diterima jika tadlisnya langka atau sedikit saja diterima periwayatannya. yaitu sebagai berikut 1) di tolak secara mutlak baik di jelaskan dengan tegas ( as-sama) atau tidak. jika ia tsiqah dan mempertegas periwayatannya dengan as sama II. Larangan periwayatan hadis maudhu‟ berdasar pada hadis nabi yang berisi kecaman bagi pemalsu hadis. yaitu pendapat sebagian malikiyah bahkan menurut sebagian mereka walauun di ketahui sekali melakukan tadlis tetap di tolak 2) diterima segara mutlak.9.9. Hadis Matruk Hadis matruk merupakan bagian dari hadis dha‟if yang cacat keadilan. Dari definisi diatas sudah jelas bahwa diantara periwayat hadis munkar ada yang sangat lemah daya ingatannya sehingga periwayatannya menyendiri tidak sama dengan periwayatan . II. Pembagian Hadis Nabi berdasarkan kecacatan para periwayat II.1. Hadis Munkar Hadis yang pada sanatnya ada seorang perawi yang banyak kesalahannya atau banyak kelupaan atau nampak kefasikan. Ada yang mengatakan hadis yang diriwayatkan seorang dhaif menyalahi periwayatan yang tsiqqah. Dalam istilah hadis matruk adalah hadis yang salah satu periwayatnya seorang tertuduh dusta. Alasan pendapat ini. Karena ia merupakan hadis palsu yang sama sekali tidak dikatakan oleh nabi. “ barang siapa meriwayatkan hadis dariku dan dia tahu bahwa yang diriwayatkan itu adalah hadis palsu maka dia termasuk dari pemalsu” II. Hadis Mawdhu’ Hadis maudhu‟ sebenarnya adalah ungkapan seseorang yang disandarkan kepada nabi secara dusta.9.3.Hukum periwayatan tadlis Perawi yang tidak di kanal sebagai mudallis ada beberapa pendapat tentang hukum periwayatannya apakah diterima atau tidak. Hadis maudhu‟ merupakan hadis terburuk kualitasnya. Disisi lain hadis jenis ini akan berdampak fatal pada agama.

padahal ia bukan bagian dari hadis itu. Kebanyakan idraj dalam matan dilakukan dalam menafsirkan maksud suatu ungkapan hadis. Contoh hadis mu‟alal adalah : “ hadis yang diriwayatkan oleh tirmidzi dan abu daud dari kutaibah bin said memberitakan kepada kami abdus salam bin harb al malai dari a‟masy dari annas berkata nabi ketika hendak hajat tidak mengangkat kainnya sehingga dekat dengan tanah.9. Idraj dalam matan adakalanya terjadi di akhir matan dan ini yang terbanyak. Dari definisi diastas. tidak jarang merupakan hasil kesimpulan hukum yang darinya pendengar menganggap sebagai bagian dari hadis sehingga deisertakan dengannya. di tengah-tengah atau di awalnya. .gampangnya adalah hadis yang disisipkan ke dalam matannya sesuatu perkataan orang lain baik orang itu sahabat ataupun tabiin untuk menerangkan maksudmakna Para ulama membagi idraj sesuai dengan tempatnya menjadi dua bagian. II. dia melihatnya di mekkah shalat di belakang maqam ibrahim. Contoh: hadis yang di riwayatkan ibnu majjah melalui usama bin ziad alma dani dari ibu shihab dari abu salamah bin abdur rahman bin auf dari ayahnya secara marfu‟: “ seorang yang puasa bulan ramadhan dalam perjalanan seperti seorang yang berbuka dalam tempat tinggalnya” Hadis diatas munkar karena periwayatannya usama bin zaid almadani secara marfu‟ (dari Rasulullah) bertentangan periwayatan ibnu Abi dzi‟bin yang tsiqqah. menurutnya hadis diatas mauquf pada abdur rahman bin auf. tetapi al a‟masi tidak mendengar dari annas bin malik.yang tsiqqah. Sedangkan hadis syad periwayatan orang tsiqqah menyalahi orang yang lebih tsiqqah. yaitu segala sesuatu yang tersebut dalam kandungan suatu hadis dan bersambung dengannya tanpa ada pemisah. Illah bis aterjadi pada sanad dan natan.” Hadis diatas lahirnya shahih karena semua perawinya dalam sanad tsiqah. dapat difahami bahwa kriteria illah adalah adanya cacat yang tersembunyi dan cacat itu mengurangi atau menghilangkan keshahihan suatu hadis. Tingkatan kedhaifannya sangat dhaif setelah matruk.4.9. Perwayatan munkar tidak sama dengan syad karena dalam munkar periwayatannya bersifat dhaif yang menyalahi periwayatan tsiqqah. Menurut istilah muhaddisin.. II. Hadis mudraj Idraj menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu dalam lipatan sesuatu yang lain.5. padahal lahirnya elamat dari padanya. Mudraj matan adalah ucapan sebagian rawi dari kalangan sahabat atau dari generasi setelahnya yang tercatat dalam matan hadis dan bersambung dengannya. Hadis mu’allal Illah adalah ungkapan beberapa sebab yang samar tersembunyi yang datang pad ahadis kemudian membuat cacat dalam keabsahannya padahal lahirnya selamat daripadanya. Hadis mualal adalah hadis yang dilihat di dalamnya terdapat illah ynag membuat cacat keshahihan hadis. Pertama.

kemudian kata-katanya itu dianggap oleh sebagai orang yang mendengarnya sebagai matan. Namun. namun hal ini tidak mengubah kedhoifannya karena dinilai sebagai sesuatu bercampur dalam sebuah hadis yang terjadi idraj. 1) Seorang rawi mendengar suatu hadis dari banyak guru dengan beraneka ragam jalur sanadnya. dapat dipandang sahih dengan mengeluarkan kata-kata kata itu. para ulama menyebutkan beberapa bentuk yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut. maka fenomena hadis mudraj oleh para ulama digolongkan hadis daif. maka para ulama sangat keras menyoroti dan mengkajinya dengan serius serta menanganinya dengan sangat hati-hati. Sesuatu hadis yang dapat diketahui mana kata-kata yang disisipkan ke dalamnya. seperti al-Zuhri. Dalam hal ini. Kata maqlub adalah isim maf‟l dari akar kata qalaba. Pedoman itu adalah sebagai berikut. Akan tetapi yang lebih utama memastikan mana kata-kata asing yang di idrajkan itu sebagai upaya penafsiran. lalu keduanya digabungkan dalam satu sanad. II. Jelasnya hadis maqlub adalah sesuatu hadis yang telah terjadi kesilapan pada seeorang perawi dengan mendahulukan yang semestinya diahir.. 3) Seorang muhaddis membacakan suatu sanad hadis. atau mengemudiankan yang semestinya lebih dulu baik berupa matan atau sanad Nuruddin memberikan definisi hadis maqlub adalah hadis yang rawinya menggantikan suatu bagian darinya dengan yang lain. Karena tercampur dengan sesuatu yang bukan hadis. sehingga mereka meriwayatkan kata-kata tersebut dengan sanad yang dibaca muhaddis. baik dalam sanad atau matan. atau dari salah seorang imam yang luas wawasannya. dan bila karena lupa atau . Tetapi jika tidak lagi. Hadis maqlub Menurut etimologi. kemudian matan tersebut diriwayatkan oleh salah seorang muridnya secara sempurna dengan satu sanad. Seperti hadis yang menyatakan bahwa Bilal melakukan adzan di waktu malam.Kedua Mudraj isnad. berubahnya sesuatu dari bentuknya. 3) Idraj dapat diketahui dari lahiriyah susunan hadis. lantaran kadang-kadang berakibat menjadikan sesuatu yang bukan hadis sebagai hadis. kemudian ia meriwayatkannya dengan satu jalur sanad tanpa menjelaskan perbedaannya. 2) Seorang rawi memiliki sebagian matan. Sehubungan dengan itu mereka menetapkan beberapa pedoman untuk mengetahui dan menyingkapnya dengan pasti. hal ini sangat jelas. Padahal jelas bahwa ia bukan bagian dari hadis itu. Secara terminologi adalah mengganti lafad dengan lafad yang lain pada sanad atau matan hadis. al-Suyuthi mengecualikan kesengajaan dalam idraj apabila dalam rangka menafsirkan suatu kata yang asing. sementara orang yang mengetahuinya hendaklah menjelaskan. maka hal ini tidak haram. Pendapat ini didukung oleh tindakan para imam hadis yang dapat dipegangi.9. Disamping itu. Idraj dalam hadis memiliki dampak yang sangat bahaya. Jelasnya adalah bila ia memiliki dua hadis dengan dua sanad berbeda. namun ia juga memiliki sebagian matan lainnya dari sanad lain. kemudian terjadilah sesuatu sehingga ia mengeluarkan kata-katanya sendiri. 2) Adanya penegasan tentang kejadian itu dari rawi yang bersangkuta. seandainya kata-kata yang di idrajkan itu sahih atau hasan karena dimungkinkan datang melalui sanad lain yang sahih. 1) Adanya riwayat yang memisahkan lafad yang mudraj dari pokok hadis.6.

sehingga ia memalingkannya dari yang sebenarnya. Dengan itu orang-orang akan menerima dan menghafalkanya.a katanya. Keinginan perawi untuk mengemukakan hal-hal yang aneh kepada orang lain. yakni pergantian pada sanad. 2. dimana dia telah menempatkan matan pada selain sanad yang sebenarnya. Hukum hadis maqlub jenis ini adalah daif. Apabila terjadi berulang kali. apakah ia menerima indoktrinasi atau tidak. Berdasarkan definisi ini dapat membagi hadis maqlub menjadi beberapa bagian dengan pembagian yang dapat mempersatukan berbagia keterangan yang beranekaragam dalam berbagai sumber pembahasan bidang ini. Para muhaddisin menaruh perhatian besar terhadap kedua klasisfikasi hadis maqlub terahir. Di samping dimaksudkan untuk menguji kecerdasan rawi lain. ia hafal atau tidak dan apakah hafalannya masih baik atau sudah kacau. Keinginan seorang rawi untuk menguji ahli hadis yang lain. Seperti matan suatu hadis yang diriwayatkan dengan sanad tertentu oleh rawinya sehingga meriwayatkannya dengan menggunakan sanad lain. hadis maqlub yang terjadi karena kesengajaannya rawinya. definisi ini yang paling tepat. maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku”. maka akan mengurangi ke-dhabitannya dan semua hadisnya akan di daifkan Kedua. Abu Nadhar menduga bahwa hadis tersebut termasuk hadis yang diriwayatkan kepada kami oleh Sabit dari Anas. Hadis maqlub jenis ini adalah yang paling bahaya. Sebab untuk . Abu al-Nadhar salah duga. maqlub matan yakni pergantian pada matan Masing-masing dari keduanya adalakanya terjadi karena kelalaian rawinya atau karena kesengajaanya. sehingga diduga meriwayatkan hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh rawi lain. Diantara latar belakang dan motif tersebut adalah. maqlub sanad. serta dapat dijadikan dalil dalam al-jarh wa at ta‟dil. 1. karena hal demikian timbul akibat kacaunya hafalan rawi. sehingga para ulama sangat besar perhatiannya untuk mengkaji dan membongkar rahasianya serta menjelaskan latar belakang dan motif para rawi yang melakukan hal itu. Karena dugaannya dapat diketahui mana yang dapat diterima dan mana yang ditolak. Sesungguhnya kami berada di majelis Sabit al-Banni dan Hajjaj bin Abu Usman ada bersama kami. Yakni. hadis maqlub yang terjadi karena kelupaan rawinya.sengaja. maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku” Ishaq bin Isa berkata: Kemudian saya dating kepada Hammad dan bertanya kepadanya perihal hadis ini. Diantara contoh hadis maqlub jenis ini hadis yang diriwayatkan dari Ishaq bin Isa al-Thabab‟ “Meriwayatkan hadis kepada kami Jarir bin Hazxim dari Sabit dari Anas r. Hajjaj al-Shawwaf meriwayatkan hadis kepada kami dari Yahya bin Abu Bakar dari Abdullah bin Abu Qatradah dari bapaknya bahwa Rasulullah berkata “Apabila sholat telah siap didirikan. Jelaslah bagimana tertukarnya suatu sanad oleh rawinya. Pertama. Pertama. Menurutnya. Rasululullah bersabda: Apabila sholat telah siap didirikan. Kedua. Ia menjawab. maqlubnya suatu hadis bila ditinjau dari posisinya dapat diklasifikasikan menjadi dua.

Demikian pula bila terjadi pertentangan di antara beberapa riwayat.9. Said bin Abi „Arubah meriwayatkan bahwa Qatadah menerimanya dari Qasim bin „Auf al-Syaibani. Kata dasarnya daraba. Secara istilah. Singkatnya. Karena bila ada yang dapat diunggulkan. mengurangi. II. menambah. maka tidak dapat memastikan perawi mana yang paling dhabit terhadap hadis yang diriwayatkan. 9. Ditinjau dari segi hukum. maka hal yang demikian menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak terekam kuat dalam hafalannya. Kedua. sehingga tidak ada yang dapat diunggulkan dan tidak dapat dikompromikan. hadis Zaid bin Arqam sanadnya mengandung ke mudltariban. karena ke-mudltariban itu mengesankan tidak adanya ke-dhabitan seorang periwayat terhadap hadis yang bersangkutan. Ibnu Hajar membedkan adanya perubahan yang terjadi pada hadis.mengetahui hadis maqlub dibutuhkan hafalan yang luas dan ketekunan yang tinggi guna menguasai sejumlah riwayat dan sanad. Hisyam Dastuwa‟i berkata: dari Qatadah dari Zaid bin Arqam. antara hadis tersebut tidak dapat dikompromikan. maka hadis mudltarib adalah daif. mengemudiankan. Diantara contoh hadis mudltarib adalah hadis Zaid bin Arqam dari Rasululllah. lalu pada kesempatan lain meriwayatkanya dalam bentuk lain. maka status ke-mudltaribannya hilang. Syu‟bah meriwayatkan dari Qatadah dari al-Nadhr bin Anas dari Zid bin Arqam. Apabila salah seorang di antara kamu memasuki kakus. serta tidak dapat dikuatkan salah satu riwayatnya atau salah satu matannya. baik dilakukan oleh seorang perawi atau oleh banyak perawi. atau ma‟ruf lawan dari syadz atau munkar.7. Jelasnya. Pertama. berdoalah: Aku berlindung kepada Allah dari Mahluk jahat laki-laki dan mahluk jahat perempuan” Menurut Turmudzi. ataupun mengganti. maka hukumnya pada hadis yang unggul tersebut disebut dengan mahfuz. Bersabda: “Sesungguhnya taman ini terkena bencana. Mu‟amar meriwayatkannya dari Qatadah dari al-Nahar dari ayahnya dari Rasululllah. Sebab kemudltariban hadis ini adalah adanya perselisihan yang cukup banyak tentang dari siapa Qatadah menerima hadis tersebut. 8 Hadis Mushahhaf dan Muharraf Perubahan kalimat dalam hadis selain apa yang dirwayatkan oleh orang tsiqah baik secara lafal atau makna. II. Perbedaan tersebut periwayatnya atau matannya. dari Zaid bin Arqam. Hadis mudhharib Kata mudtarib adalah isim fail dari fiil madi idtaraba yaitu perbedaan perkara dan rusaknya aturan. antara hadis tersebut seimbang kualitasnya sehingga tidak dapat diunggulkan salah satunya. jika perubahan . hadis mudltarib adalah hadis yang memiliki perbedaan dari berbagai riwayatnya dengan dua catatan. bermakna sesuatu yang diriwayatkan dalam bentuk yang berbeda dalam satu tema sebagai penguat. Karena apabila suatu saat meriwayatkan hadis demikian. Karena bila perbedaannya dapat dihilangkan dengan cara benar. dengan mendahulukan. hadis mudltarib adalah hadis yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dengan beberapa redaksi yang berbeda dengan kualitas yang sama.

mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah: Artinya: “Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya. yang dibenarkan. Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh. Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima. * Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. Disamping itu. sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh. Memang berbeda dengan hadis mutawatir yang memfaedahkan ilmu darury.” Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya .10.itu berupa titik pada suatu huruf atau beberapa huruf itulah disebut mushahhaf dan jika perubahan itu berebentuk shakkal atau harokat huruf disebut muharaf. II. baik yang lizatihu maupun yang ligairihi. Hadis Maqbul Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil. yang diterima. maka Rasululah mengobatinya dengan besi panas. karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Contohnya hadis mushahhaf: “hadis nabi. penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad. Pembagian Hadis Dari Segi Kedudukan Dalam Hujjah Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan. Ad Daru Quthani) II. maka ia sama dengan berpuasa satu tahun. namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan. yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. “ Contohnya hadis muharraf: hadis jabir berkata: “Ubay dipanah pada peperangan azab diurat lengannya.” ( HR. hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah: * Hadis sahih.1. barang siapa yang berpuasa ramadhan dan diikutiya denagn enam hari dari bulan syawal.10.

2. yang tidak diterima.10. maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma‟mulin bihi. Hadis gairo makmulinbihi Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan.yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh. hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif. tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan b. 1. Sedangkan menurut urf Muhaddisin. Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih. Hadis mutawaqaf. . Hadis Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak. Jadi. Hadis muhkam.” Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadishadis maqbul. maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak). II. Hadis mukhtalif. Hadis maqmulun bihi Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah: a. Hadis nasih d. Hadis mansuh c. hadis mardud ialah : Artinya: “Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya. Hadis rajih 2. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah: a. Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya. yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan. Hadis marjuh. yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah c.” Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah: Artinya: “Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun. yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan b.

dan patuh atau setia terhadap jamaah. menghafal dan menyampaikan ilmu. Hadits Qauli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berupa perkataan ataupun ucapan yang berkaitan dengan aqidah. (HR. ( ‫ان ًؤيٍ ن هًؤيٍ ك ان ث ُ ياٌ ي شذ ت ع ضّ ت ع ضا )سواِ ي س هى‬ Artinya : “Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang satu sama yang lainnya saling menguatkan:. hadits tentang bacaan Al-Fatihah dalam Shalat: ‫ال ص الج ن ًٍ ن ى ي قشأ ت او ان ك تاب‬ Artinya: “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Ummul Qur‟an. seperti hadits tentang sholat dan haji. Contoh hadits qauli ialah tentang do‟a Rasulullah SAW yang ditunjukan kepada orang yang mendengan. salng menasehati dengan pihak penguasa. Muslim) Contoh lain. Ada tiga sifat yang dapat menghindari timbulnya rasa dengki dihati seorang muslim. 1. syariah dan akhlak. Hadits Fi‟li adalah hadits yang menyebutkan perbuatan Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita. . Hadits tersebut berbunyi : ِ‫َ صش هللا ايشأ سًع ي ُا حذي خا ف ح فظّ وت ه غّ غ يش‬ ‫ف شب حايم ف قّ ن يس ت ف ق يّ ح الث الي غم ع ه يهٍ ق هة‬ ‫يم هلل وي ُا صحح والج االي ىس ون زوو جًاعح ي س هى اخ الص ان ع‬ ‫ف اٌ دعىت هى طح يظ يٍ وسائ هى‬ Artinya: ” Semoga Allah memberikan kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain karena banyak orang yang berbicara mengenal fiqih padahal ia bukan ahlinya. yaitu ikhlas beramal kepaa Allaw SWT. Karena sesungguhnya do‟a mereka akan membimbing dan menjaganya dari belakang”.1. Hadits berupa sabda Rasulullah SAW dalam berbagai hal dan keadaan.

Muslim) . barulah Nabi SAW bertakbir “. (HR. Contoh : ‫ك ُا َ ص هً سك ع ت يٍ ت عذ غشوب ان شًس وك اٌ س سىل هللا‬ (‫ص ه عى ي زاَ ا ون ى ي أيشَ ا ون ى ي ُه ُا )سواِ ي س هى‬ Artinya: ” Kami (para sahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum shalat magrib). apabila shaf-shaf kami telah lurus. (HR.Muslim dan Ahmad).Bukhori dan Muslim). (HR. Muslim) 3. (HR. At-Turmudzi.Contoh hadits fi‟li tentang sholat adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi: ‫ص هىا ك ًا ساي تًىَ ً ا ص هً )سواِ ان ثخاسي‬ (‫وي س هى‬ Artinya: ” Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat “. Hadits Taqriri yaitu penetapan atau penilaian Rasulullah SAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yang perkataan atau perbuatan mereka diakui dan dibenarkan oleh Nabi SAW. beliau tidak menyuruh dan tidak pula melarang kami“. ‫ك اٌ ان ُ ثً ص ه عى ي سىي ص فىف ُا ارا ق ً ُا ان ً ان ص الج‬ (‫ف ارا ا س تىي ُا ك ثش)سواِ ي س هى‬ Artinya: ” Nabi SAW menyamakan (meluruskan) shaf-shaf kami ketika kami melaksanakan shalat. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kami lakukan. Contoh lainnya yang berbunyi ‫ك اٌ ان ُ ثً ص ه عى ي ص هً ع هً ساح ه تّ ح يج ت ىجهت‬ ِ‫ف ارا اساد ان فشي ضح َ ز ف ا س ت ق ثم ان ق ث هح )سوا‬ (‫ان تشيزي وي س هى واحًذ‬ Artinya: ” Nabi Muhammad SAW sholat diatas tunggangannya kemana tunggangannya itu menghadap“.

sehingga mereka tidak melaksanakan shalat ashar pada waktunya. Muslim) Sebagian sahabat memahami larangan tersebut. (HR. . Segolongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut dengan segera menuju bani Quraidhah sehingga mereka dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya.Diantara contoh hadits taqriri ialah sikap Rasul SAW membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya sesuai dengan penafsiran mereka terhadap sabdanya yang berbunyi: ِ‫الي ص ه يٍ احذ ان ع سش الف ً ت ًُ ق شي ضح )سوا‬ (‫ان ثخاسي‬ Artinya: “Janganlah seseorangpun shalat ashar kecuali bila tiba dibani Quraidah”. Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi SAW tanpa menyalahkan atau mengingkarinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful