P. 1
Makalah Islam Dan Budaya Jawa, Interelasi Islam Dan Budaya Jawa Dalam Hal Ekonomi

Makalah Islam Dan Budaya Jawa, Interelasi Islam Dan Budaya Jawa Dalam Hal Ekonomi

|Views: 952|Likes:
Published by musafir1412

More info:

Published by: musafir1412 on Dec 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2013

pdf

text

original

1 PENDAHULUAN. Islam datang ke jawa melalui beberapa jalur, ada jalur perdagangan, perkawinan, dan lain-lain.

Hal ini menyebabkan masyarakat jawa bisa menerima agama islam tanpa adanya paksaan. Namun setiap masyarakat, dalam hal ini masyarakat jawa memiliki adat dan budaya tertentu yang menjadikannya berbeda dengan masyarakat lain, yang mereka pelihara dan lestarikan sepanjang hidup mereka. Kedatangan islam yang juga membawa budaya tersendiri yang berasal dari ajaran islam (Al-Quran) tentunya akan berlawanan dengan budaya jawa. Sehingga diperlukannya metode-metode pendekatan sosiologis untuk memasukkan budaya islam ke dalam masyarakat jawa. Salah satu metode yang diapakai oleh para pendakwah islam adalah metode dakwah, dan akulturasi budaya, pencampuran budaya islam dengan budaya jawa, dengan titik tekan pada inti budaya islam dan ritual / operasional budayanya pada budaya jawa. Hal ini dilakukan agara budaya jawa tetap terpelihara, namun tanpa disertai pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran islam pada umumnya, seperti animisme dan dinamisme. Salah satu kajian budaya jawa yang sangat melekat pada masyarakat jawa adalah hal ekonomi. Masyarakat jawa memiliki sistem ekonomi sendiri yang membedakannya dengan masyarakat lain, atau islam. Setelah islam berakulturasi dengan kebudayaan jawa, apakah masyarakatnya jawa masih tetap menggunakan sistem ekonomi aslinya ataukah ada pengaruh yang saling berkaitan dengan budaya islam yang berakulturasi, kiranya hal itu lah yang akan menjadi sorotan utama dalam pembahasan makalah ini.

Semarang, 30 maret 2011

Pemakalah

2 RUMUSAN MASALAH Dalam makalah yang kami tulis ini, kami akan memfokuskan pada beberapa rumusan masalah, sehingga bisa dijadikan acuan untuk pembahasan agar tidak keluar dari pembahasan. Adapun rumusan masalah yang telah kami susun adalah sebagai berikut: 1. Pengertian dan prinsip ekonomi 2. Cipta dan Rasa Dalam Masyarakat Jawa. 3. Golek Pesugihan 4. Slametan 5. Ajaran Keseimbangan : Nilai Jawa dan Islam A. Pengertian dan Prinsip Ekonomi. Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, aikonomia, kata tersebut barasal dari dua kata oikos yang berarti rumah atau rumah tangga.dan nomois yang berarti aturan. Dengan demikian kata ekonomi berarti aturan rumah tangga. Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.1 Prinsip ekonomi adalah langkah yang dilakukan manusia dalam memenuhi kebutuhannya dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan sistem ekonomi ada berbagai macam, di antaranya: a. Prinsip ekonomi kapitalis adalah: - Kebebasan memiliki harta secara persendirian. - Kebebasan ekonomi dan persaingan bebas. - Ketidaksamaan ekonomi.
1

http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi

3 b. Prinsip ekonomi komunis adalah: - Hak milik atas alat-alat produksi oleh negara. - Proses ekonomi berjalan atas dasar rencana yang telah dibuat. - Perencanaan ekonomi sebagai rencana / dalam proses ekonomi yang harus dilalui. c. Prinsip ekonomi sosialis adalah: - Hak milik atas alat-alat produksi oleh koperasi-koperasi serikat pekerja, badan hukum dan masyarakat yang lain. Pemerintah menguasai alat-alat produk yang vital. - Proses ekonomi berjalan atas dasar mekanisme pasar. - Perencanaan ekonomi sebagai pengaruh dan pendorong dengan usaha menyesuaikan kebutuhan individual dengan kebutuhan masyarakat. Indonesia memiliki sistem ekonomi sendiri, yaitu sistem demokrasi ekonomi, yang prinsip-prinsip dasarnya tercantum dalam UUD'45 pasal 33. Sistem kapitalis yang saat ini banyak dipergunakan telah menunjukkan kegagalan dengan mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi. Sistem ekonomi Islam sebagai pilihan alternatif mulai digali untuk diterapkan sebagai sistem perekonomian yang baru. Bagaimanakah sistem ekonomi Islam itu? Sistem ekonomi Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan sistem ekonomi yang lain, dimana dalam sistem ekonomi Islam terdapat nilai moral dan nilai ibadah dalam setiap kegiatannya. Adapun Prinsip ekonomi Islam adalah: - Kebebasan individu. - Hak terhadap harta. - Ketidaksamaan ekonomi dalam batasan. - Kesamaan sosial. - Keselamatan sosial.

4 - Larangan menumpuk kekayaan. - Larangan terhadap institusi anti-sosial. - Kebajikan individu dalam masyarakat.2 Dalam masyarakat Jawa, Prinsip ekonomi dapat dijumpai dalam istilah – istilah atau konsep – konsep seperti cucuk ,pakoleh, ngirit, ghutuk, lumayan dan lain sebagainya. Sementara itu istilah Jawa yang memiliki arti berlawanan dari istilah – istilah tersebut di atas antara lain boros,tanpa pethung, awur – awuran, ya ben, dipangan Bethara kala,dan lain sebagainya. Dengan mendalami secara sungguh – sungguh kebudayan Jawa, maka akan dirasakan bahwa prinsip – prinsip ekonomi masyarakat Jawa telah cukup tinggi nilainya,hal ini dapat kita jumpai dari sifat – sifat rasinal dan prinsip ekonomi yang dapat ditemukan dalm kata kunci diantaranya ora ilok dan kuwalat. Ora ilok adalah istilah yang berarti bertentangan dengan prinsip rasional, akal sehat, atau tidak logis. Meludahi sumur dan menduduki bantal misalnya adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip rasional. Hal ini karena air sumur disediakan untuk kebutuhan minum orang banyak sedangkan bantal adalah landasan kepala sewaktu tidur. Kuwalat adalah kata kunci yang berarti bertentangan dengan moral dan nilai moral yang dijunjung tinggi dalam masyarakat. Tidak berani terhadap orang tua, melangkahi dan melompati kuburan orang tua dan tidak merawat benda pusaka akan dikatakan kuwalat oleh pendukung dan penganut budaya Jawa. Dengan pemahaman mendalam terhadap kenyataan tersebut secara mendasar, kita bisa mengetahui bahwa masyarakat Jawa telah memiliki prinsip ekonomi / prinsip rasional yang cukup tinggi dan telah menunjukkan salah satu prinsip ekonomi yaitu efisien. B. Cipta Rasa dan Karsa Dalam Masyarakat Jawa. Dalam masyarakat Jawa dikenal 3 macam kodrat kemampuan manusia dalam menangkap kasunyatan ( kenyataan ), yaitu cipta ( akal,rasio,fikir dan penalaran ), rasa ( intiusi, rajasati ) dan karsa ( kehendak ). Kasunyatan yang dimaksud mengandung unsur – unsur suwung, temen, nyata, atau hampa, benar dan nyata. Kasunyatan tak lain adalah kebearan dan kenyataan.3

2 3

http://haripom.multiply.com/reviews/item/4 Abdullah Ciptoprawito, Filsafat Jawa, Balai Pustaka, Jakarta, 1986, hlm. 17-19

5 Rasio atau cipta dipercaya dapat mengarahkan manusia ke arah pertimbangan efektif dan efesien. Salah satu sifat masyarakat Jawa khususnya, dan masyarakat timur umumnya, penggunaan rasio dianggap sebagai ukuran kemajuan masyarakat. Selain rasio instrumen lain yang dapat untuk mencapai kasunyatan adalah rasa, perasaan. Orang yang telah dewasa ( Wis jawa ) dan orang pinter adalah orang yang dalam pertimbangan maupun melakukan pekerjaannya sangat menonjolkan penggunaan perasaannya. Beberapa istilah kunci seperti tanggap rasa, lantip ing pangraita, sinamuning samudana sesadoning adu manis, dan lain – lain adalah contoh penggunaan perasaan disamping penggunaan akal. Tergambar pula masyarakat Jawa lebih suka memecahkan masalah kehidupannya dengan sikap mawas diri dan tepa selira agar dapat menghindari timbulnya konflik dengan orang lain. Dengan cara menggalih, terasakan bahwa masyarakat Jawa telah mempraktekkan prinsip ekonomi. Penggunaan rasio yang selanjutnya penggunaan rasa adalah upaya untuk efesiensi dan efektifitas dalam lapangan sosial. Dalam lapangan ekonomi pengambilan keputusan yang awur – awuran tentu akan mengabaikan prinsip ekonomi. Proses pengambilan keputusan yang dimomoti oleh prinsip ekonomi juga ditemukan pada rumus : neng-ning-nung-nang, yang simbolisnya dapat ditemukan dalam bunyi – bunyian musik khas Jawa. Moh. Said seorang pemimpin taman siswa memberikan uraian singkat tentang rumus tersebut sebagai berikut. Sebelum berbuat seseorang harus memperhatikan bahwa perasaannya tenang terang dan diam ( neng = meneng ), hanya dengan meneng jiwa itu akan menjadi jernih. ( ning = bening ), dan dia akan berfikir dengan baik. ( nung = anung ), dengan cara itu, maka akan diperoleh saat yang baik untuk memecahkan masalah dengan efektif, termasuk bidang ekonomi. ( nang = menang ), usaha untuk mendapatkan kemenangan itu harus diusahakan dan diupayakan. Namun demikian, nilai – nilai budaya Jawa mengajarkan untuk tidak merasa menang dalam hubungannya dengan orang lain apabila itu membawa korban ( input yang sia – sia ). Sekali lagi, prinsip ekonomi juga tercermin dalam nilai tersebut. Menurut Sasrokartono hal itu diistilahkan menang tanpao ngasorake.4 Penggunaan cipta dan karsa secara terpadu ini mempunyai rujukan pada nilai – nilai Islam. Dalam persepektif Islam intelek ( al-Aql ) dan spirit ( al-Ruh ) memiliki hubungan yang dekat dan keduanya menunjukkan suatu realitas yang sama. C. Contoh Budaya Masyarakat Jawa Dalam Hal Ekonomi
4

H.M. Darori Amin, MA.Islam dan Budaya Jawa,Gama Media,Yogyakarta,2000,Cet I,hlm.252-255.

6 1) Golek Pesugihan. Pesugihan adalah tindakan mencari kekayaan dengan jalan yang tidak “biasa”. Seiring perkembangan jaman, kebutuhan manusiapun berkembang, manusia-manusia yang terlalu ingin memiliki dunia dan berhati sempit dapat saja terjebak ke dalam ritual “pesugihan”. Mungkin kita pernah mendengar dari teman ataupun sanak saudara kita tentang “tumbal” dalam “pesugihan”. Tumbal dapat diartikan dengan korban, korban ini merupakan syarat dari pesugihan itu sendiri. Tumbal bisa dari keluarga si”pemuja harta” ataupun orang lain yang sengaja dikorbankan, mungkin kalau boleh kita artikan tumbal itu sama dengan ongkos untuk pencapaian keinginan dari si”pemuja harta”. Untuk jenis pesugihan tertentu yang mungkin disesuaikan dengan perkembangan jaman, tumbal itu belum terlihat dalam kurun waktu yang singkat, biasanya tumbal baru terlihat pada generasi selanjutnya dari si “pemuja harta”. Sebagai contoh: dahulu kakeknya atau ayahnya sangat kaya karena pesugihan, sekarang anak atau cucunya untuk makan seharihari saja susahnya bukan main.5 Kita dapat menjumpai tempat – tempat yang dikeramatkan dan dianggap bermanfaat untuk mencari ketenangan dalam rangka mencapai inspirasi, intuisi, dan aspirasi untuk memulai suatu pekerjaan. Tempat – tempat yang dimaksud antara lain seperti gunung Srandil di Cilacap, Kemukus di Sragen, Kawi di Malang dan Parang Tritis di Bantul. Bila dianalisis mungkin makna pentignya bukan pada tempat itu sendiri tapi dari segi ekonomi tempat itu, yang kemudian memberikan pengaruh secara psikologis terhadap seseorang yang mendatanginya sehingga kemudian akan memberikan inspirasi, intuisi, dan aspirasi untuk suatu usaha dan memberikan daya dorong yang kuat untuk belajar dan bekerja dengan sungguh – sungguh sehingga seorang sukses dalam melakukan usahanya. Di samping tempat – tempat golek pesugihan tersebut dalam masyarakat Jawa juga sering kita temui istilah golek pesugihan bulus jinbun yang memberi petunjuk bahwa dalam usaha akan berhasil bila dilakukan secara putih ( tidak melakukan penipuan ) dan jujur. Juga kita dapat temukan istilah golek pesugiha Jaran pinoleh yang memuat nilai – nilai positif yaitu menunjukkan bahwa seseorang yang ingin melakukan usaha ekonomi harus melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari sebab mengapa seseorang dalam usahanya bisa berkembang dan yang lain usahanya gagal.

5

http://melintasbatas.wordpress.com/2008/01/31/terperangkap-pesugihan/

7 Meditasi dan Semedi yang berhubungan langsung dengan perilaku orang Jawa sebenarnya adalah bagian penting dari upaya menyatukan diri dengan Tuhan. Sebagaimana tradisi kaum sufi yang biasanya juga melakukan tradisi penyatuan diri manusia dengan Tuhan yang memungkinkan manusia dapat memperoleh pengetahuan hakikat yang mengatasi pengetahuan empiris. Dengan demikian ada titik singgung dan titik temu antara meditasi dan semedi dengan tradisi para Sufi. 2. Slametan. Slametan berasal dari kata slamet yang berarti selamat, bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dari insiden-insiden yang tidak dikehendaki. Sementara itu, menurut Clifford Geertz slamet berarti gak ana apa-apa (tidak ada apa-apa), atau lebih tepat “tidak akan terjadi apa-apa” (pada siapa pun). Konsep tersebut dimanifestasikan melalui praktik-praktik slametan. Slametan adalah kegiatan-kegiatan komunal Jawa yang biasanya digambarkan oleh ethnografer sebagai pesta ritual, baik upacara di rumah maupun di desa, bahkan memiliki skala yang lebih besar, mulai dari tedak siti (upacara menginjak tanah yang pertama), mantu (perkawinan), hingga upacara tahunan untuk memperingati ruh penjaga. Dengan demikian, slametan merupakan memiliki tujuan akan penegasan dan penguatan kembali tatanan kultur umum. Di samping itu juga untuk menahan kekuatan kekacauan (talak balak). Slametan dalam skala kecil yang dilakukan oleh individu atau kelauarga tampak ketika mereka mulai membangun rumah, pindahan, ngupati (slametan mendoakan calon bayi yang masih umur empat bulan dalam kandungan), mithoni (slametan untuk calon bayi yang masih umur tujuh bulan dalam kandungan), puputan (lepas pusar), dan masih banyak lainnya. Skala yang lebih besar dapat dijumpai praktik-praktik seperti bersih desa, resik kubur, dan lainnya. Menurut Pamberton praktik yang sarat dengan makna slametan dengan sajen (sesaji) tersebut dilaksanakan dengan maksud agar dapat membangun kembali hubungan dengan roh, terutama dengan ruh penunggu desa (dhanyang). Dengan kata lain, bersih desa bertujuan untuk menjalin hubungan damai dengan dunia ruh setempat. Dapat dipahami bahwa slametan seringkali merupakan pesta komunal sebagaimana disebutkan pada slametan dalam skala besar. Hanya saja, slametan bentuk ini (skala) besar justru tidak tampak nilai kebersamaannya, tetapi yang menonjol adalah pesta ritual pembagian “buah tangan”, jajan pasar, dalam bentuk makanan. Yang menarik adalah ketika warga desa mendatangi slametan bukanlah kemungkinan untuk makan bersama —sebagai wujud

8 kebersamaan—, tetapi justru keinginan untuk membawa pulang makanan bertuah (berkat). Slametan dimaknai sebagai sebuah konsep dan ritual yang selanjutnya dimaknai dalam bingkai yang lebih luas, yakni penciptaan tata, tertib, aman (selamat), dan wilujeng (selamat). Bahkan, Orde Baru —yang syarat dengan tradisi Jawa—, menginterpretasikan konsep ini dengan menciptakan satuan-satuan pengamanan dengan maksud menciptakan ketertiban, in order condition, dengan dalih keselamatan bangsa. Praktik Ritual Slametan; Beberapa Kasus Dalam makalah ini akan ditampilkan beragam ritual slametan, yang menurut penulis merupakan representasi dari slametan yang skupnya kecil (individual) dan slametan kolosal (melibatkan orang banyak). Hal ini penting karena jenis ritual slametan dalam tradisi Jawa sangat banyak. a. Ngupati dan Mithoni Dalam tradisi Jawa, terdapat slametan yang bernama ngupati atau kupatan. Ngupati berasal dari kata kupat, yakni nama makanan yang terbuat dari beras dengan daun kelapa (janur) sebagai pembungkus. Slametan ini biasanya dilakukan di saat usia kehamilan sekitar 4 (empat) bulan. Tradisi ngupati adalah slametan yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan, agar anak yang masih dalam kandungan ibu tersebut memiliki kualitas baik, sesuai dengan harapan orangtua. Slametan ini biasanya menggunakan kupat sebagai hidangan utama. Dalam slametan ini, penyelenggara (tuan rumah) mengundang tetangga dekat, sekitar radius 50 meter untuk berdoa kepada Tuhan yang kemudian dilanjutkan dengan menyuguhkan kupat dan berbagai variasi lauk dan sayur sebagai pelengkap hidangan. Tradisi serupa dapat dijumpai dengan istilah mithoni. Mithoni berasal dari kata pitu (tujuh). Sebuah ritual hajat slametan pada saat usia kehamilan tujuh bulan. Dalam acara tersebut, disiapkansebuah kelapa gading yang digambari wajah dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Maksud dan tujuannya agar bayi memiliki wajah seperti Dewa Kamajaya jika laki-laki, dan seperti Dewi Kamaratih jika perempuan. Di samping kelapa gading, dalam slametan tersebut disajikan kluban/ kuluban/uraban/ gudangan (campuan antara taoge, kacang panjang, bayam, wortel, kelapa parut yang dibumbui), lauk-pauk (ikan, tempe, tahun), dan rujak buah. Kepercayaan mitologi dari sebagian masyarakat Jawa, di saat ibu (yang mengandung bayi yang di-slameti) makan rujak, jika dia merasa pedas atau kepedasan, maka besar kemungkinan bayi yang dikandung adalah laki-laki, demikian juga sebaliknya. Dalam acara mithoni, ibu tertua mulai memandikan ibu yang mengandung (mithoni) dengan

9 air kembang (bunga) setaman (air yang ditaburi bunga mawar, melati, kenanga, dan kanthil). Proses ini disebut tingkeban, di mana ibu yang mengandung (mithoni) berganti tujuh kain (baju). Setelah selesai, dilanjutkan dengan berdoa dan makan nasi dengan urap dan rujak. Slametan ini sebagaimana disebut di atas sebagai upaya untuk memohon kepada Tuhan agar anak yang dikandung nantinya menjadi anak yang dapat mikul duwur mendhem jero (mengangkat derajat) orangtua dan keluarga. b. Tradisi Suran Suran berasal dari kata Sura, yakni nama salah satu bulan dalam kalender Jawa, yang dalam almanak Hijriah disebut muharram. Sementara istilah suran memiliki makna kegiatankegiatan yang dilakukan pada bulan Sura. Dalam tradisi Jawa, bulan Sura memiliki makna spesial. Bulan ini dinyatakan sebagai bulan paling keramat. Di bulan ini ada beberapa aktivitas yang pantang dilakukan dan wajib dilakukan. Orang Jawa pantang melakukan mantu (pesta pernikahan), pindahan (pindah rumah), mbangun (membangun rumah), dan kegiatan semacamnya pada bulan ini. Sebaliknya, sebagian orang Jawa melakukan berbagai ritual pada bulan Sura. Tradisi slametan sebagaimana disebutkan di atas masih rutin dilakukan terutama pada masyarakat abangan Jawa dan di lingkungan Kraton di Jawa. Kirap (pengarakan), jamas (penyucian) pusaka dilaksanakan pada bulan ini. Kirap pusaka Kraton Surakarta Hadiningrat dilaksanakan secara tetap setiap malam menjelang 1 Sura Tahun Baru Jawa, yang dimulai kira-kira jam 12 malam hingga jam 4 pagi. Kirap pusaka adalah ritual (slametan) dengan cara pawai atau arak-arakan beberapa pusaka keraton Surakarta Hadiningrat yang memiliki daya magis atau daya prabawa yang dipercaya memiliki kesaktian (keampuhan). Pusaka yang dikirap adalah peninggalan Majapahit dan sebelumnya. Sebelum kirab dimulai, diadakan slametan dan sesaji murwah warsa di keraton. Rute kitab adalah Alun-alun Utara, Gladag, Sangkrah, Jalan Pasar Kliwon, Gading, Nonongan, Jalan Slamet Riyadi, ke arah timur menuju Gladag lagi, Alun-alun Utara, Kamandungan, dan masuk Keraton. Jalan yang dilalui jalan yang mengelilingi Keraton Surakarta dengan arah pradiksana, yakni selalu berada di sebelah kanan Kraton. Dalam pelaksanaan kirab, yang paling di depan adalah Kebo Bule Kiai Slamet (Kerbau Bule yang diberi nama Kiai Slamet) sebagai cucuking lampah (pendahulu perjalanan). Di belakannya diikuti oleh para pengarak pembawa pusaka atau dikenal dengan nama Gajah Ngoling. Semula Kiai Slamet sebenarnya adalah nama sebuah pusaka yang

10 berbentuk tombak, sedangkan Kebo Bule adalah nama dari embang (sarung) dari pusaka tersebut. Upacara kirap pusaka, mula-mula adalah kegiatan tambahan pada acara Wilujeng Nagari (keselamatan negara). Sebuah hajat kenegaraan yang dilaksanakan pada setiap tahun sejak jaman Majapahit. Tujuan kegiatan ini adalah memohon keselamatan negara. Pada jaman Majapahit hingga jaman Demak, wilujeng negari bernama Murwa Warsa, atau Rajawedha. Slametan ini menggunakan sesaji dari berbagai suguhan makanan, yang di antaranya adalah daging kerbau (mahesa). Dengan menggunakan dominasi daging mahesa (kerbau), maka upacara slametan ini disebut dengan Mahesa Lawung. Upacara ini diselenggarakan di salah satu hutan keramat, yakni Krendawahana. Salah satu hutan yang dipercayai oleh masyarakat Jawa bagian selatan sebagai salah satu pusat lelembut (dunia makhluk yang tidak tampak). Sesaji dan persembahan dalam tradisi Jawa, istilah yang sangat akrab adalah sesaji. Istilah lainnya dikenal dengan sajen. Sajen atau sesaji adalah persembahan pada makhluk halus sebagai upaya pendekatan agar keberadaan mereka tidak menggangu manusia. Dengan kata lain, tujuan sajen adalah untuk keselamatan. D. Contoh Akulturasi Islam dengan Budaya Jawa Akulturasi islam dengan budaya jawa dalam hal ekonomi sangat banyak, namun dalam makalah ini, akan penulis ungkapkan sedikit tentang contoh bentuk akulturasi islam dengan budaya jawa. a. Slametan dan Salamah dalam Islam (sedikit perbandingan) Salam berasal dari salima – yaslamu – salaman – salamat (h) berarti selamat, bebas, menerima, rela (puas), damai.18 Terdapat 155 ayat yang secara derivatif berasal dari kata salima. QS. 7: 46, “Di antara keduanya ada batas, di atas a’raf itu ada orang yang mereka kenal, masing-masing dengan tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga dengan ‘salamun alaikum’…”. Kata salamun alaikum memiliki arti keselamatan dan rasa aman selalu menyertai kalian (penduduk surga).19 Selanjutnya, Quraish Shihab menjelaskan kata salam berarti luput dari kekurangan, kerakusan, dan aib. Kata selamat diucapkan, misalnya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi kejadian tersebut tidak mengakibatkan pada kekurangan atau kecelakaan. Salam atau damai yang demikian adalah “damai positif” dan juga “damai aktif”, yakni bukan saja terhindar dari keburukan, tetapi lebih dari itu, dapat meraih kebajikan atau kesuksesan. Bukti dalam sejarah kemanusiaan sebagaimana ditunjukkan oleh referensi qur’anik bahwa keingkaran (kekufuran) —sebagai lawan kata ketundukan (ke-islam-an)— sebagai

11 wujud kedzaliman pernah dialami oleh beberapa pelaku sejarah yang mengakibatkan degradasi dan kejatuhan “status” seperti yang dialami oleh Adam, penderitaan yang mencekam (dalam perut ikan) sebagaimana di alami oleh Yunus, serta “pelecehan” harga diri sebagaimana dialami oleh Yusuf. Meskipun dengan peristiwa tersebut akhirnya mereka menemukan kembali kepatuhan dan kepasrahan mereka, sekaligus menemukan keselarasan, keseimbangan, ketenangan, dan kedamain jiwa. Peristiwa yang dialami oleh para nabi sebagaimana disebut dalam al-Quran, paling tidak memiliki dua maksud. Pertama, peristiwa (kekufuran) tersebut menunjukkan adanya kebebasan diri untuk memilih. Artinya, manusia sebagai hamba Tuhan dilengkapi dengan potensi untuk bebas memilih antara patuh atau ingkar. Kedua, pelajaran tentang transformasi kesadaran. Kesadaran diperoleh melalui pengalaman, yang sekarang mungkin dapat disebut trial and error, tetapi tetap pada pendirian bahwa pengalaman tersebut memiliki tambatan yang kuat, yakni Tuhan. Berbeda dengan kekufuran sepanjang masa sebagaimana di alami oleh Fir’aun. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah kehidupan Fir’aun adalah “nihilis”, yakni dapat disebut sebagai “kekosongan ruhani ketuhanan”, sekalipun dia menyebut dirinya tuhan. Pengingkaran Fir’aun berakhir dibayar dengan social cost yang sangat mahal, yakni keterkungkungan, penindasan, serta penistaan citra kemanusiaan. Ibn Araby sebagaimana disinyalir William C. Chittick, bahwa keselamatan dapat dicapai melalui “adaptasi” atau proses penyelarasan dengan qadr (ukuran-ukuran) Tuhan. Qadr Tuhan adalah Syari’ah. Jika seseorang menyimpang dari qadr (syari’ah) tersebut, maka pada dasarnya tidak ada keselamatan bagi dirinya. Tuhan yang dimaksud Ibn Araby adalah Tuhan sebagaimana yang dikonsepsikan dalam al-Quran, yakni sebagai pencipta, pemelihara, dan pengatur kehidupan. Jika disandingkan dengan pemahaman masyarakat Jawa pra-Islam, (terutama pada jaman primitif), kepercayaan mereka ada kekuatan-kekuatan lain selain dirinya. Kekuatan di luar dirinya dinyatakan sebagai Tuhan, termasuk ruh nenek-moyang, kekuatan magis benda, dan lain sebagainya, yang di dalam Islam adalah sebagai makhluk Tuhan. Islam menganjurkan pemeluknya untuk mempercayai hal-hal ghaib (hal-hal yang kasat mata), seperti jin, malaikat, roh, dan makhluk ghaib lain. Makhluk-makhluk ghaib sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an memiliki potensi (kemampuan) tertentu yang mungkin tidak dimiliki oleh jenis makhluk lainnya. Akan tetapi, kepercayaan dan keimanan tersebut menandaskan bahwa potensi(kekuatan) tersebut adalah potensi pemberian Allah, Tuhan semesta alam. Dengan kata lain, tidak ada kekuatan apapun jika tidak diberi oleh Allah.

12 Penghargaan sesama makhluk diperbolehkan selagi tidak menjurus pada penuhanan (menjadikan Tuhan). Sesama manusia dianjurkan saling menghargai dan dilarang menyakiti. Demikian juga terhadap makhluk lain, termasuk kepada hewan, bahkan makhluk ghaib lain. Yang sangat dilarang adalah menuhankan bukan Tuhan dan me-makhluk-kan Tuhan. Dalam al-Quran, Allah adalah nama Tuhan umat Muhammad, selain menuhankan Allah, berarti menuhankan selain Tuhan. Memberi perlakukan khusus seperti perlakuan kepada Tuhan (penyembahan dan pengorbanan) adalah perbuatan syirik, yang disebut sebagai dosa besar.

b. Shadaqah dan Tala Bala (sedikit perbandingan) Ada dua term penting dalam subbab ini yang perlu diuraikan, yakni term shadaqah dan tala bala’. Shadaqah berasal dari kata shadaqa – yasduqu – shidqan, shadaqah, yang berarti nyata, benar, persahabatan. Secara terminologis, shadaqah adalah pemberian dari seseorang kepada orang lain dengan tanpa pamrih apa-apa kecuali karena “persahabatan” dan ridha Allah. Pemberian shadaqah didasarkan pada ketulusan hati dan keihlasan. Hal ini terutama shadaqah diberikan kepada orang yang tepat (yang paling sangat membutuhkan). Sementara itu, term kedua tala bala’, berasal dari kata tala, dan bala’, artinya adalah mencegah musibah, kemadharatan. Seringkali shadaqah dihubungkan dengan tala bala. Istilah shadaqah juga terkadang dihubungkan dengan istilah syukuran. Hal ini karena dalam acara syukuran seringkali dihidangkan berbagai makanan sebagai sedekah (shadaqah). Memang shadaqah tidak terbatas pada pemberian yang sifatnya materi, tetapi juga imateri seperti mendoakan, ramah, senyum, dan lainnya. Dalam ajaran Islam, shadaqah memiliki posisi sangat penting sehingga lebih dari 25 kali disebut dalam al-Qur’an, dan lebih dari 500 Hadis yang menganjurkan untuk bershadaqah dalam berbagai bentuk dan variasinya. Lebih khusus disebut dalam sebuah Hadis yang sangat terkenal intinya adalah ada tiga perbuatan yang akan tidak akan putus sekalipun pelakunya telah meninggal dunia, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya. Tradisi slametan berakar dari budaya asli Jawa (animisme dan dinamisme) dan selanjutnya dihidupkan dan diperkaya oleh budaya Hindu Budha. Masuknya Islam di Jawa menggunakan pola “damai” dengan persuasi sehingga masih terdapat simbol-simbol budaya masa lalu (animisme-dinamis, Hindu-Budha yang masih menjadi “pola” pikir dan paradigma masyarakat Jawa. Slametan adalah konsep universal yang di setiap tempat pasti ada dengan

13 nama yang berbeda. Hal ini karena kesadaran akan diri yang “lemah” di hadapan kekuatankekuatan di luar diri manusia. Di Jawa Kuno, kekuatan diri adalah kekuatan benda dan ruh nenek-moyang yang pada saat Islam datang ditranformasikan pada selamat dari kekuatan Tuhan yang dapat merugikan diri manusia.6 E. Ajaran Keseimbangan : Nilai Jawa dan Islam. Ajaran keseimbangan yang diajarkan oleh Islam terlihat pada doktrin bahwa kekayaan mempunyai fungsi sosial. Diantara dalil – dalil yang menunjukkan fungsi sosial tersebut adalah seperti pada : 1. Surat al – A’raaf ayat 31 :                                              Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. 2. Surat Az– Zukhruf ayat 32 :                                     



                              Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

6

http://munzaro.blogspot.com/2010/06/konsep-slametan-dalam-masyarakat-jawa.html

14 3. Surat Adz – Zariyaat ayat 19 :         

      Artinya : Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. Di samping itu al- Qur’an juga dengan tegas memerintahkan manusia untuk: a. Melarang penumpukan harta benda dalam arti penimbunan ( QS.104 : 2 ).                    “Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung” b. melarang orang mencari kekayaan dengan jalan yang tidak benar ( QS. 2 : 188 ).           

            

   “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”

c. Menganjurkan agar penghasilan yang diperoleh dari hasil usaha dibelanjakan secara baik ( QS. 2 : 267 )      

      

15    

                 

          267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dalam berbagai dalil di atas terasa bahwa kepemilikan harta bukanlah yang utama tetapi dorongan untuk mengendalikan diri dan tidak mengumbar pemenuhan kebutuhan secara individual semata adalah sangat utama. Dalam hal ini tersirat ajaran bahwa Islam mengajarkan dan menggariskan prinsip – prinsip pemenuhan kebutuhan “sekedar kebutuhan” sambil tetap menjaga keseimbangan dengan yang lain. Tidak hanya dalam bidang konsumsi saja tetapi juga pemenuhan unsur produksi. Dalam Islam ada larangan eksploitasi kekayaan alam yang dapat mengganggu harmonisasi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Menurut ajaran Islam pengendalian dalam hal produksi dan konsumsi bertujuan agar supaya aspek sosial dari kekayaan yang dimiliki dapat benar – benar fungsional. Persoalan pengendalian diri merupakan persoalan yang sama – sama mendapatkan perhatian dalam masyarakat yang mendukung budaya Jawa dan ajaran Islam, dalam masyarakat Jawa sering digunakan istilah Bethara Kala yang merupakan tokoh dalam tradisi Jawa dan berfungsi sebagai simbolisasi waktu. Bethara Kala ini ketika dapat ditundukkan sebenarnya dapat berarti bahwa sang waktu telah dapat dikuasai. Sebaliknya apabila waktu tidak dapat dikuasai dalam arti tidak menghargai waktu dan memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya maka hal ini disimbolkan dengan di makan Bethara Kala. Siapa saja yang ternyata di makan Bethara Kala berarti telah mengabaikan unsur – unsur input dalam proses produksi.

Tokoh Bethara Kala jelas mengajarkan kemampuan mengendalikan diri untuk meminimalkan input dan memaksimalkan output, termasuk berkaitan dengan penggunaan

16 waktu, kesempatan, dan peluang yang ada. Prinsip – prinsip ekonomi yang universal menemukan ungkapannya secara simbolik dalam kebudayaan Jawa. Penjiwaan terhadap prinsip ekonomi dalam masyarakat Jawa terjadi secara meresap sambil menghargai dan menjunjung tinggi kebudayaan Jawa. Semakin tinggi tingkat penghayatan pendukung kebudayaan Jawa semakin tinggi pula penjiwaannya terhadap prinsip ekonomi.

PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Darori, H.M. MA.Islam dan Budaya Jawa, ( Yogyakarta: Gama Media). 2000, Cet I. Ciptoprawito, Abdullah. Filsafat Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka) 1986. Geertz, Clifford. Santri dan Abangan di Jawa. (Jakarta: INIS). 1988 Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir. (Yogyakarta: Pustaka). 1997. Prawiranegara, Sjafruddin. Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Progressif).1967. http://kcpkiainws.wordpress.com/2009/06/03/interelasi-nilai-jawa-dan-islam-perspektifekonomi/ http://www.jawapalace.org/ http://munzaro.blogspot.com/2010/06/konsep-slametan-dalam-masyarakatjawa.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->