P. 1
Liberalisasi Pemikiran Islam (Konsep Dan Strateginya)

Liberalisasi Pemikiran Islam (Konsep Dan Strateginya)

|Views: 467|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, Genealogy
Published by: Irwan Malik Marpaung on Dec 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2014

pdf

text

original

Liberalisasi Pemikiran Islam Konsep dan Strategi Penyebarannya

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi Pendahuluan Islam adalah agama dan peradaban yang mengajarkan umatnya prinsip-prinsip yang meliputi segala aspek kehidupan. Oleh sebab itu problem yang dihadapi umat Islam berasal dalam diri umat Islam sendiri dan dari peradaban lain. Masalah dari dalam diri umat Islam atau tantangan internal itu diantaranya adalah kejumudan, fanatisme, taqlid, bidah khurafat. Akibatnya adalah lambatnya proses ijtihad umat Islam dalam merespon berbagai tantangan kontemporer, lambatnya perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan pesatnya perkembangan aktifisme. Untuk menyelesaikan masalah atau tantangan internal ini sejumlah cendekiawan Muslim melakukan berbagai upaya untuk membawa ide pembaharuan (tajdid). Namun, karena pengetahuan para cendekiawan Muslim itu tidak memadahi untuk melakukan pembaharuan, mereka akhirnya mengimpor paham-paham, ide-ide dan konsep-konsep yang berasal dari Barat. Paham yang diimpor atau dimasukkan kedalam ranah pemikiran Islam itu dijustifikasi dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadith sehingga seperti berasal dari pemikiran Islam. Diantara paham, ide dan konsep yang akhir-akhir ini diimpor oleh cendekiawan Muslim adalah liberalisme yang kemudian digunakan untuk liberalisasi pemikiran Islam. Untuk tujuan liberalisasi pemikiran Islam digunakanlah paham-paham lain seperti sekularisme, pluralisme agama, relativisme, feminisme & gender dan lain sebagainya. Akibatnya konsep-konsep itu menguasai pemikiran Muslim, dan Muslim pun melihat Islam dengan kaca mata sekuler, liberal dan relativistik. Sejatinya program liberalisasi pemikiran Islam ini telah lama “dipasarkan” kedunia Islam. Hanya saja ia menemukan momentum dan aksentuasinya setelah terjadi ”Drama” Tragedi 11 September 2001. Disaat itu Barat mendapatkan legitimasi untuk menghabisi fundamentalisme dan terrorisme yang dianggap bersumber dari Islam. Oleh sebab itu program liberalisasi pemikiran Islam ini disebarkan atas dukungan moril dan matriel dari Barat melalui berbagai sarana media (TV, Radio, Surat Kabar, Majalah), training, workshop, penerbitan buku-buku dsb. Ini juga sekaligus merupakan agenda ganda Barat untuk menyebarkan prinsip utama postmodernisme yaitu liberalisme yang diletakkan berhadap-hadapan dengan fundamentalisme,1 relativisme berhadapan dengan absolutisme dst. Makalah ini akan membahas konsep liberalisme, strategi liberalisasi pemikiran Islam dan penyebarannya kedalam ranah pemikiran Islam.

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Liberalisasi Pemikiran dan Dampaknya Terhadap Pendidikan Agama Islam”, diselenggarakan oleh Lembaga Pusat Pengkajian Islam (LP2I) Tan-Nur, pada tanggal 11 April 2009, di Aula Masjid Nurul Iman Padang, Sumatera Barat. 1 Menurut Akbar S Ahmed, salah satu ciri postmodernisme adalah semangatnya yang berhadapan dengan fundamentalisme, lihat Akbar S.Ahmed, Postmodernisme and Islam, Routledge, London, 1992. Terjemahan bahasa Indonesia Akbar S Ahmed, Postmodernisme, Bahaya dan Harapan Bagi Islam (Pent). M.Sirozi, Mizan Bandung, 1994, hal. 26.

I. Liberalisme dan Liberalisasi di Barat Di Barat liberalisme berasal dari ideologi politik yang berpusat pada individu. Didalamnya terdapat pembelaan hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi.2 Paham yang sejalan dengan sekularisme yang memisahkan agama dari negara. Dalam konteks sosial liberalisme diartikan sebagai adalah suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum.3 Dalam konteks ekonomi, menurut Alonzo L. Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio, liberalisme menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity).4 Namun, pada perkembangannya liberalisme merambah kepada bidang pemikiran termasuk pemikiran keagamaan. Liberal dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran luas, terus terang, dan terbuka. Bahkan kebebasan intelektual adalah aspek yang paling mendasar dari liberalisme sosial dan politik atau dapat pula disebut sisi lain dari liberalisme sosial dan politik. Kelahiran dan perkembangannya di Barat terjadi pada akhir abad ke 18, namun akar-akarnya dapat dilacak seabad sebelumnya (abad ke 17). Di saat itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan diri mereka dalam bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan. Pada saat itulah (tahun 1789) terjadi Revolusi Perancis yang didalamnya terdapat kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepecayaan, berbicara, pers dan politik. Prinsip-prinsip Revolusi Perancis itu akhirnya dianggap sebagai Magna Charta liberalisme. Konsekuensinya adalah penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; penyingkiran agama dari kehidupan publik dan menjadinya bersifat individual. Selain itu agama Kristen dan Gereja harus dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial. Ciri liberalisme pemikiran dan keagamaan yang paling menonjol adalah pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Ini sejalan dengan doktrin nihilisme yang merupakan ciri khas pandangan hidup Barat postmodern yang telah disebutkan diatas. Memang pada mulanya yang muncul adalah liberalisme intelektual yang mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan, namun dari situlah lahir dan tumbuhnya liberalisme pemikiran keagamaan yang disebut juga theological liberalism. Perkembangan liberalisme pemikiran kaagamaan ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga fase perkembangan:
2

Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford, Oxford University Press, 1996, v.s. liberalism. Coady, C. A. J. Distributive Justice, A Companion to Contemporary Political Philosophy, editors Goodin, Robert E. and Pettit, Philip. Blackwell Publishing, 1995, hal. 440. Brinkley, Alan.Liberalism and Its Discontents. Harvard Univ. Pr., 1998; Lihat juga Gray, John.The Two Faces of Liberalism. New Pr., 2000; Kloppenberg, James T.The Virtues of Liberalism. Oxford, 1998.

3

4

Fase pertama dari abad ke 17 yang dimotori oleh filosof Perancis Rene Descartes yang mempromosikan doktrin rasionalisme atau Enlightenment yang berakhir pada pertengahan abad ke 18. Doktrin utamanya adalah a) percaya pada akal manusia b) keutamaan individu c) imanensi Tuhan dan d) meliorisme (percaya bahwa manusia itu berkembang dan dapat dikembangkan). Fase kedua bermula pada akhir abad ke 18 dengan doktrin Romantisisme yang menekankan pada individualisme, artinya individu dapat menjadi sumber nilai. Kesadaran-diri (self-consciousness) itu dalam pengertian religious dapat menjadi Kesadaran-Tuhan (god-consciousness). Tokohnya adalah JeanJacques, Immanuel Kant, dan Friedrich Schleiermacher dsb. Fase terakhir bermula pada pertengahan abad ke 19 hingga abad ke 20 ditandai dengan semangat modernisme dan postmodernisme yang menekankan pada ide tentang perkembangan (notion of progress). Agama kemudian diletakkan sebagai sesuatu yang berkembang progressif dan disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern serta di harapkan dapat merespon isu-isu yang diangkat oleh kultur modern. Itulah sebabnya maka kajian mengenai doktrin-doktrin Kristen kemudian berubah bentuk menjadi kajian psikologis pengalaman keagamaan (psychological study of religious experience), kajian sosiologis lembaga-lembaga dan tradisi keagamaan (sociological study of religious institution), kajian filosofis tentang pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan (philosophical inquiry into religious knowledge and values).5 Sementara itu pada abad ke 19 liberalisme dalam pemikiran keagamaan Katholik Roma berbentuk gerakan yang mendukung demokrasi politik dan reformasi gereja, namun secara teologis tetap mempertahankan ortodoksi. Sedangkan dalam pemikiran Kristen Protestan liberalisme merupakan tren kebebasan intelektual yang menekankan pada substansi etis dan kemanusiaan Kristen dan mengurangi penekanan pada teologi yang dogmatis.6 Artinya dengan masuknya paham liberalisme kedalam pemikiran keagamaan maka banyak konsep dasar dalam agama Kristen yang berubah. Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, Moscow, Idaho 7 menyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat adalah sbb: Pertama, percaya pada Tuhan, tapi bukan Tuhan dalam kepercayaan Kristen Orthodok. Karena Tuhan mereka tidak orthodok maka mereka seringkali disebut Atheist. Ciri-ciri Tuhan menurut Kitab Suci dan doktrin agama sebagai person dengan sifat-sifat khusus ditolak oleh kelompok liberal karena mereka lebih menyukai konsep Tuhan yang diambil dari akal manusia. Tuhan dalam kepercayaan ini dianggap tidak mengetahui kehidupan manusia secara detail dan tidak mencampuri urusan individu nanusia. Perkembangan ini seakan menggambarkan perubahan keyakinan orang Barat yang sebelumnya percaya God created man, telah berubah menjadi Man created god.

5 6

The New Encyclopedia of Britanica, University of Chocago, 1991, vol. 11, hal. 693 Http://uk.search.yahoo.com/search;_ylt=A0oGkuebQs9Hd0kBPmtLBQx.?p +religious+liberalism&y=Search&fr=slv8-acd&ei=UTF-8&rd=r1 = origin + of

7

Nicholas F. Gier, “Religious Liberalism and The Founding Fathers”, dalam Peter Caws, ed. Two Centuries of Philosophy in America, (Oxford: Basil Blackwell Publishers, 1980), hal. 22-45.

Kedua, kaum liberal memisahkan antara doktrin Kristen dan etika Kristen. Dengan mengurangi penekanan pada doktrin atau kepecayaan, mereka berpegang pada prinsip bahwa Kristen dan non-Kristen harus saling menerima dan berbuat baik. Seseorang menjadi religius bukan hanya afirmasi terhadap dogma, tapi karena etika dan perilaku moralis seseorang. Inilah yang membawa kelompok liberal untuk berkesimpulan bahwa orang atheist sekalipun dapat menjadi moralis. Ketiga, kaum liberal tidak ada yang percaya pada doktrine Kristen Orthodok. Mereka menolak sebagian atau keseluruhan doktrin-doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus, perawan yang melahirkan, Bibel sebagai kata-kata Tuhan secara literal, takdir, neraka, setan dan penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo). Doktrin satu-satunya yang mereka percaya, selain percaya akan adanya Tuhan adalah keabadian jiwa. Keempat, menerima secara mutlak pemisahan agama dan negara. Para pendiri negara Amerika menyadari akibat dari pemerintahan negara-negara Eropah yang memaksakan doktrin suatu agama dan menekan agama lain. Maka dari itu kata-kata “Tuhan” dan “Kristen” tidak terdapat dalam undang-undang. Ini tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh agama liberal dalam konvensi konstitusi tahun 1787. Kelima, percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama. Pada mulanya toleransi dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi kaum atheis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin, Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak beragama. Barat sendiri melihat masalah liberalisme dari kacamata dichotomik yang membandingkan secara kontras antara dua hal : konservatrisme dan liberalisme. Yang pertama Cenderung mengutamakan berdirinya institusi, tradisi dan nilai-nilai dan percaya bahwa tanpa itu semua akan mengakibatkan kekacauan sosial. Konservatisme juga dianggap merendahkan manusia karena percaya segala yang baik hanya datang dari Tuhan. Kaum konservatif cenderung melihat manusia sebagai statis dan melihat manusi hanya dalam dua kutub: pejuang Tuhan dan pejuang Setan. Sementara, liberalisme dianggap lebih bersikap positif terhadap manusia, kemampuannya dan kesempuranaannya. Manusia dianggap makhluk yang terus berkembang sifatnya, pemahamannya dan moralitasnya. Manusia, karena itu, dianggap mampu menentukan kehidupan mereka sendiri dan karena itu segala perbuatan manusia adalah milik individu yang tidak boleh dicampuri oleh lembaga atau orang lain. Liberalisme menekankan pada hak-hak individu, menentang kekuasaan dan otoritas resmi. Disini pengaruh kultur Barat modern dan posmodern yang individualistis begitu nyata dan radikal. Karena radikalnya itu mereka percaya bahwa manusia mampu menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik. Jadi sejatinya liberalisme dalam bidang sosial dan politik dalam peradaban Barat telah memarginalkan agama atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik secara perlahan-lahan. Agama tidak diberi tempat diatas kepentingan sosial dan politik. Dan

ketika liberalisme masuk kedalam pemikiran keagamaan Kristen Katholik dan Protestan ia telah mensubordinasikan gereja ke bawah kepentingan politik dan humanisme, serta mengurangi pentingnya teologi dalam bidang-bidang kehidupan. Maka dari itu dalam liberalisme pemikiran keagamaan masalah yang pertama kali dipersoalkan adalah konsep Tuhan (teologi) kemudian doktrin atau dogma agama. Setelah itu mempersoalkan dan kemudian memisahkan hubungan agama dan politik (sekularisme). Akhirnya liberalisme pemikiran keagamaan menjadi berarti sekularisme dan dipicu oleh gelombang pemikiran postmodernisme yang menjunjung tinggi pluralisme, persamaan (equality), dan relativisme. Gambaran diatas menunjukkan bahwa liberalisme – baik dalam bidang sosial dan politik serta pemikiran keagamaan - merupakan tren yang dominan di Barat saat ini. Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History, and the Last Man bahkan mengemukakan thesisnya bahwa :
… the principle of liberty and equality underlying the modern liberal state had been discovered and implemented in the most advance countries, and that there were no alternative principles or forms of social and political organization that were suprior to liberalism. Liberal societies were, in other words, ….would therefore bring the historical dialectic to a close.8

Artinya prinsip-prinsip kebebasan dan persamaan yang mendasari negara liberal modern telah diketemukan dan diimplementasikan pada negara-negara maju, dan tidak ada prinsip atau bentuk alternatif organisasi sosial dan politik yang lebih superior daripada liberalisme. Dengan kata lain masyarakat-masyarakat liberal akan menjadikan dialektika sejarah berakhir. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa wajah peradaban Barat yang liberal itu merupakan bentuk final dan ideal dari sistim sosial dan politik serta keagamaan Barat, tidak ada sistim lagi yang sebaik liberalisme. Kini paham liberalisme dibidang politik, ekonomi dan keagamaan yang merupakan sistim final kehidupan sosial di Barat itu diekspor ke negara-negara dunia ketiga termasuk kedalam dunia Islam. II. Liberalisme dan Islam Seperti dijelaskan diatas liberalisme telah jelas-jelas merupakan sistim, pandangan hidup atau ideologi Barat. Maka dari itu upaya kelompok liberal untuk menjustifikasi liberalisme dengan dalil-dalil historis maupun tekstual dari agama Islam adalah sia-sia belaka. Sebab di Barat sendiri Islam telah diposisikan sebagai tantangan bagi liberalisme. Francis Fukuyama dalam bukunya itu jelas-jelas mensejajarkan atau merivalkan Islam dengan ideologi Liberalisme dan Komunisme. Islam ia anggap memiliki nilai moralitas dan doktrin-doktrin politik dan keadilan sosialnya sendiri. Dan karena itu pernah menjadi tantangan bagi demokrasi liberal dan praktek-praktek liberal. Ia bahkan tetap pada pendiriannya bahwa nilai-nilai liberal Barat merupakan ancaman bagi masyarakat Islam. Dalam hal ini Fukuyama menegaskan:

8

Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, New York, 1992,

hal. 64.

Tidak diragukan lagi, dunia Islam dalam jangka panjang akan nampak lebih lemah menghadapai ide-ide liberal ketimbang sebaliknya, sebab selama seabad setengah yang lalu liberalisme telah memukau banyak pengikut Islam yang kuat. Salah satu sebab munculnya fundamentalisme adalah kuatnya ancaman nilai-nilai liberal dan Barat terhadap masyarakat Islam tradisional. 9

Fukuyama secara eksplisit meletakkan Islam, Liberalisme dan Komunisme sebagai ideologi-ideologi atau pemikiran yang mempunyai doktrin masing-masing dan saling bertentangan satu sama yang lain dan saling mengancam. Jika demikian maka wajar jika liberalisme juga dianggap sebagai tantangan dan ancaman bagi Islam. Apa yang disebut ancaman bukan bayang-bayang ketakutan yang satu terhadap yang lain, akan tetapi merupakan fakta bahwa liberalisme dan Islam itu sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dilacak dari fakta bahwa ummat manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan setiap bangsa memiliki peradaban sendiri-sendiri. Cara berfikir dan cara pandang antara satu peradaban dengan yang lain juga berbeda-beda. Perbedaan itu lebih berupa perbedaan cara memandang kehidupan atau perbedaan pandangan hidup (worldview). Perbedaan pandangan hidup antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dipengaruhi oleh kultur, agama, kepercayaan, ras dan lain-lain. Dalam artikel berjudul If Not Civilizations, What? (Samuel Huntington Responds to His Critics), Huntington menyatakan bahwa substansi atau asas peradaban adalah prinsip-prinsip keagamaan dan filsafat. Oleh sebab itu faktor-faktor untuk mengidentifikasi orang, dan juga faktor yang menjadikan mereka siap perang dan mati adalah keimanan dan keluarga (faith dan family), darah (baca: ras) dan kepercayaan (blood and belief).10 Perbedaan identitas dan kemudian gesekan antara satu peradaban dan worldview inilah yang disekenariokan dan diteorikan Samuel P Huntington sebagai “clash of civilization” (benturan antar peradaban). Benturan ini menurutnya akan mengakibatkan ketegangan, benturan, konflik ataupun peperangan di masa depan. 11 Selain itu, tesis Huntington merupakan deklarasi ataupun self-disclosure bahwa Barat akan berhadapan dengan peradaban yang berbeda dan akan mengakibatkan ketegangan, benturan, konflik ataupun peperangan di masa depan. Masalahnya bukan hanya karena terdapat perbedaan antar peradaban, tapi karena peradaban atau bangsa-bangsa Barat mengklaim cara pandang mereka itu “universal” dan dapat dianut oleh seluruh umat manusia. Persoalannya apa yang oleh Barat itu dianggap “universal” ternyata tidak demikian bagi umat Islam. Faktanya memang antara konsep-konsep Barat dan Islam terdapat perbedaan yang tidak dapat disatukan. Perbedaan ini pada tingkat kehidupan sosial menyebabkan konflik, clash atau dalam bahasa Peter L Berger disebut collision of
9

Aslinya:”Indeed, the Islamic world would seem more vulnerable to liberal ideas in the long run than the reverse, since such liberalism has attracted numerous and powerful Muslim adherent over the past century and a half. Part of the the reason for current, fundamentalist revival is the stregth of the perceived threat from liberal, Western values to traditional Islamic societies. Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, New York, 1992, hal. 45-46. Samuel P. Huntington, If Not Civilizations, What? Samuel Huntington Responds to His Critics, dalam http://www.foreignaffairs.org/author/Samuel-p-huntington/index.html Samuel P. Huntington, If Not Civilizations, What? Samuel Huntington Responds to His Critics, dalam http://www.foreignaffairs.org/author/Samuel-p-huntington/index.html

10

11

consciousness (tabrakan persepsi). Pada tingkat individu, mengakibatkan terjadinya pergolakan pemikiran dalam diri seseorang dan pada dataran konsep, mengakibatkan tumpang tindih dan kebingungan konseptual (conceptual confusion). Perang pemikiran pada tingkat inidividu inilah yang kini dirasakan ummat Islam Indonesia. Jadi perang pemikiran dalam skala besar saat ini terjadi antara peradaban Islam dan kebudayaan Barat atau pandangan hidup (worldview) Islam dan Barat. Sebenarnya jika globalisasi difahami secara adil maka Barat dapat memahami worldview Islam dan bahkan dapat saling tukar menukar konsep dan sistim yang tidak bertentangan dengan worldview masing-masing. Akan tetapi Barat berusaha memaksakan penggunaan konsep-konsep mereka itu kedalam pikiran umat Islam. Pemaksaan itu dikenal dengan program westernisasi12 dan globalisasi. Penggunaan istilah “Islam fundamentalis”, “Islam Liberal”, “Islam tradisional”, “Islam modern” dan sebagainya merupakan sedikit contoh bagaimana terminologi dan konsep-konsep Barat dipaksakan kepada umat Islam. Untuk penyebaran konsep-konsep, nilai, kultur dan sistim, Barat menggunakan berbagai sarana. Westernisasi dan Globalisasi digunakan sebagai kendaraan untuk menyebarkan budaya, paham-paham dan ideologi Barat, orientalisme dimanfaatkan untuk membaca pemikiran Islam dari kaca mata Barat sehingga melahirkan makna Islam yang berbeda dari pemahaman umat Islam sendiri. Missionarisme dipakai untuk memperluas penerimaan kultur dan kepercayaan Barat, dan terakhir kolonialisme yang merupakan kekuatan strategis untuk penaklukan dunia Islam yang memanfaatkan orientalisme dan missionarisme untuk tujuan-tujuan politik dan ekonomi. Masyarakat Barat memang terbukti tidak toleran dan bahkan resisten terhadap praktek-praktek keagamaan masyarakat Islam di Barat. Di negeri-negeri mereka (Barat) misalnya kita tidak akan pernah menyaksikan mimbar agama Islam di TV, atau perayaan hari Raya Islam ditempat terbuka, kumandang azan dari menara masjid. Padahal di negara mayoritas Muslim umat Kristiani bebas merayakan hari natal, caramah di TV, membunyikan lonceng gereja dan sebagainya. Demikian pula dalam soal pakaian. Di Barat pakaian jilbab bagi Muslimah di “haramkan”, sementara umat Islam Indonesia dipaksa toleran terhadap orang Barat yang berpakaian setengah telanjang ditempattempat umum. Jika sikap masyarakat Barat begitu resisten, maka tidak heran jika umat Islam juga resisten terhadap paham-paham sekuler, liberal, pragmatis dan hedonis serta berbagai kultur yang khas masyarakat Barat. Sudah tentu situasi seperti ini harus diterima sebagai konflik atau perang pemikiran yang telah terjadi dan berjalan terus. Inilah yang disebut dengan Ghazwul fikri (perang pemikiran). Kini setelah peristiwa dramatis 11 September 2001, upaya-upaya Barat untuk menyebarkan nilai, ide, konsep, sistim dan kultur Barat kedunia Islam semakin gencar dan merupakan kerjasama kompak antara Barat kolonialis, orientalis dan missionaris. Karena hal ini berkaitan dengan pemikiran, maka mediun yang digunakan untuk menyebarkan konsep dan pemikiran Barat adalah medium untuk pemikiran yang berupa
12

Istilah Westernisasi dunia dikenal pasca perang Salib yang berarti perluasan imperium orang kulit putih keseluruh dunia. Tujuan utamanya adalah kolonisasi, Kristenisasi (evangelization), pencarian pasar, supplai bahan mentah, pencarian dunia baru dan pemenuhan kebutuhan akan tenaga kerja. Lihat Serge Latouche, The Westernization of the World, The Significance, Scope and Limits of the Drive towards Global Uniformity, terjemahan bahasa Inggeris dari bahasa Perancis oleh Rosemary Morris, Polity Press, Cambridge, 1996, hal. 5.

karya-karya ilmiyah, seperti buku, makalah-makalah dan workshop-workshop ataupun berupa opini di media elektronik dan media masa. Namun, medium yang paling efektif bagi penyebaran teori, konsep dan ideologi adalah bangku-bangku kuliah di perguruan tinggi melalui mulut para intelektual, ulama, saintis, budayawan dsb. Melalui berbagai sarana inilah maka secara teknis paham, ide, konsep, sistim dan teori liberalisme Barat disebarkan kedunia Islam. III. Strategi Liberalisasi Dunia Islam Upaya liberalisasi pemikiran Muslim yang dilakukan Barat sebenarnya telah berlangsung cukup lama bahkan seumur kolonialism dan missionarisme Barat kedunia Islam. Ketika Barat masuk kenegara-negara Islam ia membawa serta misi agama, politik, ekonomi dan kebudayaan. Namun tidak banyak yang melihat bahwa Barat itu sendiri telah membawa seperangkat doktrin pemikiran yang berdasarkan pandangan hidup mereka. Hal ini dapat dicermati dari fakta sejarah bahwa gerakan kolonialisme selalu disertai atau bahkan didahului oleh kegiatan missionaris Kristen yang berkaitan dengan orientalisme. Namun lebih canggih dari strategi liberalisasi dimasa lalu, Barat kini menggunakan strategi konversi (pemurtadan) pemikiran ala missionaris, kolonialisme wacana, dan perubahan framework pemikiran ala orientalis. Karena keterbatasan ruang dan waktu hanya dua strategi yang akan dibahas disini. A) Konversi Pemikiran Program destruksi pemikiran ini telah lama terjadi dan dapat dibuktikan melalui pengakuan Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum, seperti yang dikutip oleh Dr. Aqib Suminto berikut ini:
“……kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan dan zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.” 13

Peran Snough Hurgronye sebagai orientalis dalam memuluskan penjajahan Belanda di Indonesia merupakan bukti kongkrit kerjasama antara orientalisme, missionarisme dan kolonialisme Barat. Targetnya lagi-lagi berkaitan dengan pemikiran, yaitu untuk merubah cara berfikir ummat Islam. Program missionaris yang menonjol adalah merubah pemikiran ummat Islam. Strategi ini telah lama diikrarkan oleh Samuel Zwemmer seorang orientalis yang menjabat direktur organisasi misionaris dan yang juga pendiri Jurnal the Muslim World. Pada tahun 1935 pada Konferensi Misionaris di Kota Yerussalem Zwemmer mengatakan bahwa:
Misi utama kita sebagai orang Kristen bukan menghancurkan kaum Muslimin, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar jadi orang Muslim yang tidak berakhlak. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya.

13

Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, 1985, hal. 26.

Di dalam mata rantai kebudayaan Barat, gerakan misi punya dua tugas: menghancurkan peradaban lawan (baca: peradaban Islam) dan membina kembali dalam bentuk peradaban Barat. Ini perlu dilakukan agar Muslim dapat berdiri pada barisan budaya Barat akhirnya muncul generasi Muslim yang memusuhi agamanya sendiri. 14

Harry Dorman, dalam bukunya Towards Understanding Islam, mengungkapkan pernyataan seorang misonaris Kristen: “Boleh jadi, dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar misionaris di wilayah-wilayah Muslim akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim, melainkan lebih banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang tugas yang tidak bisa diabaikan.” Dr. Cragg, seorang misionaris terkenal asal Inggris, menyatakan:“Tidak perlu diragukan bahwa harapan terakhir misi Kristen hanyalah melakukan perubahan sikap umat Muslim, sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi.”15 Apa yang disampaikan Zwemmer 70 tahun yang lalu itulah kini yang ditrapkan Barat untuk strategi perangan pemikiran terhadap ummat Islam dewasa ini. Oleh sebab itu gerakan Kristenisasi berkembang dari konversi kepada gerakan distorsi dan perang pemikiran. Dan kini di Indonesia kita membaca berbagai pernyataan cendekiawan Muslim yang persis seperti yang ditargetkan oleh Samuel Zwemer. Kini cendekiawan Muslim sudah tidak rikuh lagi mengatakan misalnya “agar umat Islam maju hendaknya meniru Protestan” “Tidak ada syariat dalam Islam, bahkan tidak ada yang namanya hukum Tuhan”, “Tidak ada Ulama dan tidak ada yang boleh memberi fatwa”, “ulama yang memberi fatwa itu adalah sesat dan menyesatkan”, “kebenaran itu relatif, karena itu jangan merasa benar sendiri”, dan lain sebagainya. Ini semua jelas-jelas bernada memusuhi agamanya sendiri, persis seperti target Zwemer. Demikian pula pernyataan Cragg agar umat Islam bertoleransi juga telah berhasil. Kini cendekiawan Muslim liberal mencari berbagai argumentasi untuk menunjukkan besarnya toleransi umat Islam terhadap orang-orang Kristen. Bahkan bukan toleransi dalam arti mengakui dan menghormati keberadaan agama Kristen, toleransi itu telah dibelokkan secara berlebihan dalam bentuk konsep pluralisme agama yang mengakui kebenaran agama Kristen. Muslim liberal ini bahkan yakin bahwa agama Kristen itu sama benarnya dengan Islam dan orang-orang Kristen itu masuk surga. Tapi, yang mengherankan mengapa orang Kristen yang berada di Indonesia ataupun di dunia, tidak ada yang mengikuti paham pluralisme agama dan mengakui kebenaran agama Islam. Bahkan dari kalangan Kristen sendiri yang masih berfikir obyektif tidak setuju dengan pluralisme agama. Pernyataan Kenneth R. Samples dalam Christian Research Journal sangat jelas
Abad dua puluh telah membawa tantangan yang tidak ada duanya dalam sejarah Kristen. Pada abad ini relevansi Kristen dan kebenarannya yang tertinggi telah dipertanyakan untuk pertama

14 15

Ali Gharisah, Wajah Dunia Islam Kontemporer, Pustaka Al Kautsar, 1989, hal. 41 Lihat dalam Maryam Jameela, Islam dan Orientalisme, 1994, 8-9; hal. 51-52.

kalinya. Penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen yang sentral datang dari dua kelompok berbeda: humanis sekuler yang ateis dan suasana pluralisme agama yang terus berkembang. 16

Jadi, sikap pluralis yang selama ini dijejalkan kedalam pikiran umat Islam, belum menjadi sikap Kristen terhadap agama lain atau sikap orang Barat Kristen terhadap Islam. Pluralisme agama tidak dapat ditrapkan kedalam agama Kristen. Penganut Kristen tidak mau menerima doktrin pluralism, tapi mereka setuju untuk ditrapkan kedalam pemikiran umat Islam. Disini nampak jelas bahwa target missionaris adalah untuk merobah cara berfikir Muslim agar toleran pada tingkat menghormati keberadaan agama lain khususnya Kristen dan kemudian toleran setingkat menerima kebenaran agama itu. Jika Muslim menerima agama Kristen, sedangkan agama itu dianut oleh kebanyakan orang Barat, maka tidak sulit bagi Barat untuk mengajak Muslim menerima budaya Barat. Itulah yang dimaksud dan direncanakan Zwemer dengan istilah “agar Muslim berdiri pada barisan budaya Barat”. Disini kaitan missionaris dan kolonialis Barat nampak jelas sekali. B. Kolonialisme Wacana Pengertian kolonialisme dalam hal ini masih sejalan dengan kolonialisme sebelum perang dunia kedua. Hanya saja pengertian itu telah bergeser dari pendudukan penjajahan dan perampasan kemerdekaan serta kedaulatan suatu bangsa atau negara termasuk exploitasi sumber daya manusia dan alam, menjadi penguasaan dalam bidang-bidang tertentu secara strategis termasuk campur tangan politik, penguasaan sistim ekonomi dan liberalisasi perdagangan dsb. Kolonialisme akhirnya merupakan kekuatan politik yang memiliki program penyebaran kultur dan pemikiran Barat, agar pemikiran bangsa-bangsa di dunia, termasuk ummat Islam sejalan dengan pemikiran dan kepercayaan Barat. Ini dilakukan dengan menguasai wacana umat Islam, sebab seperti teori Fucoult dengan menguasai wacana suatu bangsa mereka dapat menguasai bangsa itu. Dan itu akan sangat menguntungkan kepentingan ekonomi dan politik mereka di negara-negara Islam. Jadi kolonialisme dimasa lalu dan dimasa kini masih memilik motif yang sama yaitu ekonomi dan politik. Maka dari itu kerjasama dimasa lalu antara kolonialis dan orientalis serta missinonaris masih terus berjalan hingga kini meskipun dalam bentuk lain. Strategi bagaimana agar pemikiran Barat kolonialis dapat mempengaruhi ide-ide dan pemikran umat Islam, dan bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, dapat disimak dari sebuah buku yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, (2003). Buku yang ditulis oleh Cheryl Bernard 17 ini menjelaskan tentang strategi dan taktik pemikiran yang perlu dilakukan Barat untuk
16

Kenneth R. Samples, “The Challenge of Religious Pluralism,” dalam Christian Research Journal, Christian Research Journal, Summer 1990, hal. 39. Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi. Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi asisten khusus Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council (NSC) khusus untuk teluk Persia dan Asia BaratDaya. Selain itu ia pada tahun 1980 bekerja dibawah Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang terhadap Iraq tahun 1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan.

17

menghadapi umat Islam pasca 11 September. Targetnya untuk melawan apa yang mereka istilahkan dengan “terorisme dan fundamentalisme” dalam Islam. Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul “U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11 (2004), The Muslim World After 9/11 (2004), dan Three Years After: Next Steps in the War on Terror (2005). Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheryl menulis untuk Divisi Riset Keamanan Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja. Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas divisi ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme” dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam. Sebuah saran tentunya berdasarkan pertimbangan dan dasar pemikiran tertentu. Pemikiran mana yang menjadi asasnya, ia pilih sejalan dengan kepentingannya. Berdasarkan pemikiran itu ia memberi masukan kepada pemerintah Amerika, pertama tentang nilai-nilai mana dalam Islam yang bisa diseret kedalam nilai-nilai Amerika. Kedua tentang peta masalah-masalah umat Islam dalam konteks nilai-nilai Amerika. Dan akhirnya muncullah saran-saran agar isu-isu seperti demokrasi dan HAM, poligami, hukuman bagi kriminalitas, keadilan, masalah minoritas, pakaian wanita, hak-hak suamiistri dsb. masuk kedalam pemikiran umat Islam. Saran-saran itu, seperti yang akan lihat dibawah ini, dilaksanakan dengan baik di Indonesia. Untuk membuktikan adanya serangan yang berbentuk politik atau memakai kendaraan politik, berikut ini dipaparkan strategi bagaimana menghadapi Islam yang tertuang dalam buku tersebut. Laporan itu membagi ummat Islam menjadi 4 kelompok dan memberi masukan bagaimana seharusnya sikap pemerintah Amerika terhadap kelompok-kelompok dalam diri umat Islam tersebut: a) Fundamentalis, yaitu kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi, dan kultur Barat kontemporer. Mereka menginginkan negara autoritarian dan murni untuk melaksanakan hukum dan nilai-nilai moral Islam, tapi mau menggunakan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka. b) Traditionalis, yaitu kelompok yang menginginkan masyrakat konservatif, curiga terhadap modernitas, innovasi dan perubahan. c) Modernis, yaitu kelompok yang menginginkan agar dunia Islam menjadi bagian dari modernitas global. Mereka ingin memodernisir Islam agar sejalan dengan zaman.

d) Sekularis yaitu kelompok yang mengingkan dunia Islam menerima pemisahan gereja dan negara, sebagaimana yang terjadi pada demokrasi industri Barat, dimana agama diposisikan sebagai urusan pribadi Untuk menghadapi kelompok-kelompok tersebut diatas Cheryl Benard memberi saran-saran bagaimana menghadapi masing-masing kelompok. Diakhir saran-saran ia mengingatkan agar kebijakan yang diambil disesuaikan dengan strategis tidaknya isu yang berkembang. Saran-saran untuk menghadapi keempat kelompok tersebut dapat disimak sbb: a) Pertama-tama dukung modernis, dengan mengembangkan visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis. Caranya dengan memberikan arena yang luas agar mereka dapat menyebarkan pandangan mereka. Mereka harus dididik dan diangkat secara ketengah-tengah public sebagai mewakili wajah Islam kontemporer. b) Dukung kelompok sekularis berdasarkan kasus per kasus c) Dorong institusi sipil dan kultural serta program-programnya. d) Dukung kelompok tradisionalis sebatas untuk mengarahkan mereka agar berlawanan dengan kelompok fundamentalis dan untuk mencegah pertalian yang erat diantara mereka. Didalam kelompok tradisionalis kita harus mendukung secara selektif mereka yang lebih sesuai dengan masyarakat sipil modern. Misalnya, beberapa mazhab-mazhab Fiqih lebih dapat disesuaikan dengan pandangan kita tentang keadilan dan hak azazi manusia daripada yang lain. e) Musuhi kelompok fundamentalis secara aktif dengan menghantam kelemahan mereka dalam pandangan keislaman dan ideologi mereka, yaitu dengan mengeskpos hal-hal yang tidak dapat diterima oleh masyarakat baik anak muda yang idealis ataupun pengikut tradisionalis yang saleh, seperti korupsi, kekerasan, kebodohan, pelaksanaan Islam yang bias dan jelas salah dan ketidak mampuan mereka memimpin dan memerintah. Untuk pelaksanaan saran-saran diatas Cheryl memerincikan langkah-langkah yang lebih kongkrit dalam bentuk yang ia sebut “rekomendasi”. Rekomendasinya terdiri dari 5 poin, sbb: a) Hancurkan monopoli fundamentalis dan tradisionalis dalam mendifinisikan, menjelaskan dan menafsirkan Islam. b) Tunjuk cendekiawan modernis yang tepat untuk membuat website yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan menawarkan pandangan hokum Islam kaum modernis. c) Dukung cendekiawan modernis mengembangkan kurikulum. untuk menulis buku-buku teks dan

d) Terbitkan buku-buku pengantar dengan disubsidi agar dapat diperoleh seperti karya-karya penulis fundamentalis. e) Manfaatkan media regional yang popular, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran dan praktek Muslim modernis untuk membuka pandangan internasional tentang apa itu Islam dan dapat berarti apa 1) Langkah-langkah Strategis Selanjutnya berdasarkan rekomendasi diatas maka Cheryl menyarankan agar pemerintah Amerika mengambil 4 langkah-langkah strategis sbb: a) Membangun kepemimpinan modernis i) Ciptakan role model dan pemimpin. Modernis yang terpojokkan harus di rehabilitasi sehingga bisa tampil sebagai pemimpin pembela hak-hak sipil yang berani. Terdapat preseden dalam soal ini yang menunjukkan bahwa hal ini dapat berjalan. Nawal alSadaawi, telah dikenal didunia internasional karena penhinaan, pelecehan dan upaya yang terus menerus untuk mengadilinya karena prinsipnya sebagai modernis dalam isu yang berkaitan dengan kebebasan berbicara, kesehatan masyarakat, dan status wanita di Mesir. Sima Samar, Menteri Urusan Wanita ad interim Afghanistan, yang telah menginspirasi banyak orang karena keberanian pendiriannya dalam soal HAM, hak-hak wanita, hukum sipil dan demokrasi, yang karena itu ia mendapat ancaman hukuman mati dari kelompok fundamentalis. Di diseluruh dunia Islam masih banyak lagi tokoh-tokoh yang kepemimpinannya dapat disoroti. Masukkan Muslim modernis dalam peristiwa-peristiwa politik, untuk mencerminkan realitas keberadaan mereka secara demografis. Cegah upaya-upaya secara berlebihan untuk meng-islamkan umat Islam dan sebagai alternatifnya kenalkan kepada mereka gagasan bahwa Islam hanyalah salah satu bagian dari identitas mereka. Maksud usulan diatas merujuk kepada gagasan al-Azmeh, dari bukunya yang berjudul Al-Azmah, Islam and Modernities, London: Verso Publications, 1993. alAzmeh sendiri adalah seorang “Muslim Eropah.” ii) Dukung konsep masyakarat sipil (civil society) didunia Islam. Konsep ini menurut Cheryl sangat penting dalam situasi-situasi krisis dan paska konflik dimana masyarakat memerlukan kepemimpinan yang demokratis. Daerah perkotaan dan di organisasi sosial merupakan infrastruktur bagi pendidikan politik dan kepemimpinan yang moderat dan modern. iii) Kembangkan gagasan gagasan Islam Barat: Islam Jerman, Islam AS dsb. Ini bukan sekedar sebutan identitas tapi juga memerlukan konsekuensi ideologis yang melibatkan pemikiran dan prakteknya dalam komunitas-komunitas itu. Gagasan yang seperti ini bagi Cheryl sangat menarik dan karena itu perlu didukung agar gagasan ini dapat diekspresikan dan dibukukan. b) Teruskan serangan terhadap fundamentalis i) Lakukan deligitimasi individu dan kedudukan kelompok ekstrimis Islam. Publikasikan perilaku dan pernyataan amoral dan hipokrit dari apa yang disebut otoritas

fundamentalis. Tuduhan amoralitas dan kebejatan orang Barat merupakan bagian dari senjata fundamentalis, tapi mereka sendiri rawan dalam masalah ini. ii) Dukunglah jurnalis Arab dalam media populer untuk melakukan laporan investigatif tentang kehidupan dan kebiasaan individu serta korupsi pemimpin fundamentalis. Publikasikan kejadian tentang kebrutalan mereka, seperti peristiwa matinya anak sekolah di Saudi dalam kebakaran ketika polisi moral melarang petugas pemadam kebakaran untuk mengevakuasi anak-anak tersebut dari sekolah mereka yang kebakaran, hanya alasan bahwa anak-anak tersebut tidak mengenakan jilbab. Selain itu juga kemunafikan mereka yang tercermin dari lembaga-lembaga agama Saudi, yang melarang pekerja-pekerja imigran untuk membuat pas foto anak-anak mereka yang baru lahir, atas dasar bahwa Islam melarang gambar manusia, sedangkan di kantor-kantor mereka dihiasi oleh gambar besar Raja Faisal dsb. Peranan organisasi amal dalam membiayai teror dan ekstrimisme telah mulai terkuak sejak peristiwa 11 September, tapi masih perlu terus diselidiki secara publik. c) Promosikan Nilai-nilai Modernitas Demokrasi Barat secara agresif i) Ciptakan dan propagandakan suatu model Islam yang kaya dan moderat dengan mengidentifikasi dan membantu secara aktif negara-negara atau kawasan atau kelompok yang memiliki pandangan yang betul. Publikasikan keberhasilan-keberhasilan mereka. Deklarasi Beirut untuk Keadilan, tahun 1999 (Beirut Declaration for Justice) dan Piagam Aksi Nasional Bahrain (the National Action Charter of Bahrain) misalnya merupakan terobosan baru dalam pelaksanaan hukum Islam dan harus disebar luaskan. ii) Kritik kesalahan tradisionalis. Tunjukkan hubungan sebab akibat antara tradisionalisme dan kemunduran, demikian juga hubungan kausalitas antara modernitas, demokrasi, perkembangan dan kemakmuran. Apakah fundamentalisme dan tradisionalisme menawarkan masa depan masyarakat Islam yang sehat dan sejahtera? Apakah mereka berhasil dalam menjawab tantangan masa kini? Apakah mereka membandingkan dengan model struktur masyarakat yang lain? Rencana Pembangunan PBB (United Nation Development Plan- UNDP) secara jelas menunjukkan hubungan antara struktur sosial yang stagnan, penindasan terhadap wanita, rendahnya kualitas pendidikan dan kemunduran. Poin ini harus disebarkan kepada masyarakat Muslim iii) Munculkan Pentingnya Sufisme. Dukunglah negara-negara yang memiliki tradisi tasawwuf yang kuat, untuk memfokuskan pada bagian sejarah mereka dan untuk memasukkan kedalam kurikulum sekolah. Berikan perhatian yang lebih banyak kepada Islam Sufi. Hal ini akan menjauhkan mereka dari masalah dunia dan menekankan pada masalah akherat. iv) Fokuskan pada Pendidikan dan Remaja Orang dewasa yang setia dan pengikut gerakan Islam radikal tidak mungkin dipengaruhi dengan mudah untuk merubah pendirian mereka. Tapi, generasi yang akan datang dapat dipengaruhi jika misi demokrasi Islam dapat dimasukkan kedalam kurikulum sekolah dan media masa di negara-negara tertentu. Fundamentalis radikal telah berusaha secara massif untuk memperoleh pengaruh dalam pendidikan dan nampaknya mereka tidak

mungkin merubah pendirian mereka tanpa perjuangan. Usaha yang sebanding dengan itu akan sangat dibutuhkan untuk memerangi pendirian mereka ini. 2) Langkah-langkah Praktis Lebih jauh lagi agar langkah-langkah strategis diatas dapat direalisasikan menjadi sebuah gerakan pemikiran maka Cheryl memberi saran-saran praktis seperti hal-hal dibawah ini: a) Dukunglah pertama-tama kelompok modernis dan sekularis dengan cara sbb: i) menerbitkan dan menyebarkan karya-karya mereka; ii) mendorong mereka untuk menulis khusus untuk orang awam dan anak muda; iii) perkenalkan pandangan mereka kedalam kurikulum pendidikan Islam; iv) berikan ruang publik untuk mereka; v) sebarkan pandangan dan pendapat mereka dalam masalah-masalah yang fundamental dalam penafsiran agama kepada orang awam, agar bersaing dengan pendapat dan pandangan fundamentalis dan tradisionalis, yang telah memilik website, penerbitan, sekolah, institut dan media yang lain untuk menyebarkan pandangan mereka; vi) posisikan modernisme sebagai pilihan remaja Islam; vii) memberi kemudahan dan mendukung kesadaran tentang sejarah dan kultur sebelum Islam dan non-Islam, melalui media masa dan kurikulum sekolah dinegara-negara tertentu; h) mendorong dan mendukung lembagalembaga sekuler dan sipil, serta program-programnya. b) Dukunglah kelompok tradisionalis melawan fundamentalis dengan cara-cara sbb: i) mempublikasikan kritik-kritik tradisionalis terhadap kekerasan dan ekstrimisme fundamentalis dan mendorong tumbuhnya perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis; ii) Cegahlah persatuan antara tradisionalis dan fundamentalis; iii) doronglah kerjasama antara modernis dengan tradisonalis yang memiliki pandangan yang lebih dekat kepada modernis, perbanyak literatur tentang figur modernis dalam lembagalembaga tradisionalis; iii) bedakan sektor-sektor yang terdapat dalam tradisionalisme; iv) perkuat dukungan kepada mereka yang mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap modernisme – seperta mazhab Fiqih Hanafi yang bertentangan dengan mazhab lain dalam masalah agama. Dengan mempopulerkan mazhab ini maka kita dapat memperlemah otoritas penguasa agama Wahabi; v) doronglah popularitas dan penerimaan sufisme. c) Hadapi dan tantang kelompok fundamentalis dengan cara-cara sbb: i) menantang dan mengekspose ketidak akuratan pandangan mereka dalam soal penafsiran Islam; ii) bongkar hubungan mereka dengan kelompok dan aktifis illegal; iii) Publikasikan akibat dari perilaku kejahatan mereka; iv) tunjukkan ketidak mampuan mereka memerintah untuk kepentingan pembangunan masyarakat mereka secara positif; v) arahkan misi ini khusunya untuk anak-anak muda, masyarakat tradisionalis yang saleh, Muslim minoritas di Barat dan kepada wanita; vi) hindarkan rasa respek atau pemujaan terhadap tindak kejahatan kelompok fundamentalis, ekstrimis dan teroris, ketimbang menuduh mereka sebagai pahlawan jahat, lebih baik menuduh mereka sebagai orang yang bermasalah dan

penakut; vii) mendorong para wartawan untuk menyelidika isu korupsi, kemunafikan dan tidak amoral kelompok fundamentalis dan terosis. d) Dukung sekularis dengan selektif, dengan cara sbb: i) doronglah pengakuan bahwa fundamentalisme adalah musuh bersama; cegahlah persatuan sekularis dengan gerakan anti-kekuatan Amerika, seperti nasionalisme dan ideologi kiri; ii) dukunglah ide bahwa agama dan negara itu dalam Islam dapat dipisahkan, dan bahwa hal ini tidak membahayakan keimanan. Dari strategi diatas jelas sekali bahwa dari keempat kelompok tersebut yang mendapat dukungan adalah kelompok modernis (termasuk mereka yang menamakan diri “Islam Liberal”, karena dianggap sesuai dengan peradaban Barat. Lebih lengkap dinyatakan begini:
Dari semua kelompok, kelompok ini (modernis/liberal) adalah yang paling bersahabat terhadap nilai-nilai dan jiwa masyarakat demokratis modern. Modernisme, dan bukan tradisionalisme, adalah yang membantu Barat. (Misi kelompok) ini menyangkut perlunya menyimpangkan, memodifikasi dan mengesampingkan secara selektif elemen-elemen doktrin keagamaan yang orisinal. Kitab Perjanjian Lama tidaklah berbeda dari al-Qur’an dalam menghukumi perilaku dan mengontrol sejumlah peraturan dan nilai-nilai yang tidak dapat dipahami secara literal oleh masyarakat masa kini. Ini tidak masalah, sebab saat ini hanya sedikit sekali orang yang mempertahankan agar kita semua hidup yang secara literal sama dengan Bible. Sebaliknya, kita sepakat pada visi bahwa misi yang sebenarnya dari Yahudi dan Kristen itu mengungguli (makna) literal teks, yang sebenarnya telah kita anggap sebagai sejarah dan legenda belaka. Ini adalah persis seperti pendekatan yang diambil oleh modernist Muslim. 18

Begitulah strategi yang disarankan Cheryl Bernard kepada kementerian Pertahanan Amerika melalui LSM yang bernama RAND Coorporation. Saran-saran strategis tersebut menjadi masukan penting bagi pemerintah AS dan nampak dilaksanakan dengan baik di beberapa dunia Islam, khususnya di Indonesia. Itu semua menunjukkan bahwa orientalisme dan kolonialisme Barat mempunyai hubungan dan bahkan kesamaan obyek. Obyek kajian orientalis adalah Negara-negara Timur, khususnya Islam dan demikian pula sasaran politik kolonialisme. Yang pasti missionarisme, orientalisme dan kolonialisme merupakan gerakan bersama yang tidak terpisahkan. Sejarah telah mecatat bahwa watak Westenisasi yang tidak lain adalah kolonialisasi tercermin dari motto mereka: Gold, Glory and Gospel (maksudnya Emas atau kekayaan, Kejayaan dan Kristenisasi). Mungkin ada yang tidak sepakat dengan gambaran ini atau menganggap ini hanyalah potret Barat dimasa lalu. Namun bagi yang berfikir kritis dan pikirannya tidak ter”Baratkan” akan melihat hal yang sama terulang kembali dalam bentuk yang agak berbeda dari masa lampau. Apa yang disarankan Cheryl Bernard kepada pemerintah Amerika Serikat merupakan bukti adanya upaya Pembaratan secara sistimatis. Artinya orientalisme dan kolonialisme masih terus berlangsung. Hanya bedanya sekarang sikap Barat itu lebih banyak didukung oleh cendekiawan Muslim yang pro-Barat yang berupaya keras untuk menggambarkan
18

Cheryl Benard , Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, RAND, National Security Research Division, the RAND Corporation, 2003, hal. 53.

hubungan Islam-Barat sebagai hubungan “persahabatan”. Namun anehnya dengan meletakkan posisi Barat seperti itu para cendekiawan Muslim justru tidak bersikap seperti “sahabat”, mereka bersikap inferior. Terbukti banyak sekali cendekiawam Muslim yang mengadopsi pemikiran orientalis tanpa berani berfikiran kritis, mengusung istilah-istilah barat secara berlebihan, menerapkan konsep-konsep mereka secara membabi buta. Banyaknya istilah hasil campuran Islam Barat yang rancu seperti “Islam fundamentalis”, “Islam Liberal” “Islam Literal”, “Islam Alternatif”, “Islam transformatif”, “Islam kiri”, “Teologi inklusif” dsb. menunjukkan kemiskinan konsep dan istilah keislaman dan sekaligus bukti inferioritas yang akut serta kuatnya dominasi konsep Barat. Jadi Islam dibaca dengan menggunakan cara pandang Barat. Akhinrya tidak sedikit dari mereka yang berfikir “agar maju, umat Islam harus meniru Barat”. Itu semua merupakan pertanda besarnya arus Westernisasi yang dulu berbentuk sekularisasi, kini muncul dalam bentuk liberalisasi pemikiran. Dibawah ini dijelaskan lebih kongkrit lagi bagaimana pelaksanaannya di Indonesia. IV. Liberalisasi di Indonesia Saran-saran Cheryl Bernard baik taktis maupun strategis diatas dilaksanakan dengan baik oleh Amerika Serikat melalui kebijakan bantuan luar negerinya. Target bantuan itu tidak lain adalah untuk merobah cara berfikir dan berkeyakinan umat Islam dan untuk mediumnya adalah pendidikan. Maka dari itu, Donald Rumsfeld terangterangan menyatakan bahwa Amerika Serikat perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru. Lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. 19 Istilah moderat digunakan untuk lebih melunakkan istilah liberal, meskipun moderat itu pada kenyataannya adalah liberal. Namun sebaliknya dengan bahasa ekstrim digunakanlah istilah “pendidikan Islam yang radikal” yang pada kenyataannya tidak ada. Jika demikian maka kurikulum yang akan dirubah itu adalah semua kurikulum disemua jenjang pendidikan Islam. Lembaga donor yang dimaksud Donald Rumsfeld dan yang kini aktif bergerak itu diantaranya adalah The Asia Foundation (TAF) yang diantara programnya disebutkan begini:
Recognizing the importance of reinforcing inclusive and pluralist values within Indonesia’s Muslim majority population, The Asia Foundation has been supporting a diverse group of massbased Muslim groups since 1970s. In the context of an increasingly diverse Islamic society in Indonesia, The Foundation now support over 30 Muslim non-Government organization (NGO), in their efforts to promote the concept that Islamic values can the basis for a democratic political system, non-violance, and religious tolerance. In the area of civic education, human right, intercommunity reconciliation, gender equality, and inter-faith dialogue, the Foundation works with these NGO’s and mass-based organization in their effort to make Islam a catalyst for democratization in Indonesia. ……The programs include training for religious leaders, studies examining gender issues and human rights in Islam, civic education course at Islamic institute, Muslim women’s advocacy centers and the strenghthening the pluralist and tolerant Islamic media.20
19 20

Harian Republika, 3/12/2005 Lihat http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html

Terjemahannya bebasnya adalah sbb: Menyadari akan pentingnya nilai-nilai inklusif dan pluralis dalam masyarakat Muslim Indonesia yang mayoritas, The Asia Foundation telah memberikan bantuan kepada berbagai ormas Islam sejak tahun 1970an. Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia yang semakin berragam, The Asia Foundation kini membantu lebih dari 30 kelompok LSM dalam upaya mereka mempromosikan konsep bahwa nilai-nilai Islam itu dapat menjadi asas bagi sistim politik demikratis, anti-kekerasan dan toleransi beragama. Dalam kaitannya dengan pendidikan sipil, HAM, penyatuan antar komunitas, persamaan gender, dialog antar agama, Yayasan ini bekerjasama dengan LSM-LSM yang ormas-ormas dalam usaha mereka menjadikan Islam sebagai media untuk demokratisasi di Indonesia…..Program-programnya termasuk training tokoh-tokoh agama, kajian tentang issu gender dan hak azazai manusia dalam Islam, pelajaran tentang pendidikan sipil pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, pusat pembelaan terhadap wanita Muslim dan memperkuat media Islam yang pluralis dan toleran. Dari pernyataan diatas jelas sekali bahwa program yayasan asing itu adalah untuk memperkenalkan elemen penting dalam peradaban Barat seperti persamaan gender, hak azazi manusia, pluralisme agama, demokrasi dan lain-lain yang kesemuanya berdasarkan pada cara berfikir (worldview) Barat. Selain daripada itu, disebutkan pula bahwa The Asia Foundation bersama USAID (US Agency for International Development) juga mempunyai program reformasi pendidikan di seluruh Indonesia baik pendidikan formal maupun informal, termasuk reformasi pendidikan di pesantren. Dalam reformasi itu nanti akan diajarkan mata pelajaran tentang semua agama, pendidikan sipil, pengembangan kurikulum. Selain itu juga akan diadakan workshop-workshop, training pedagogi, dan kursus serta tutorial tentang prinsip-prinsip pluralisme, multikulturalisme dan demokrasi. Semuanya, menurut mereka, disusun berdasarkan pada ajaran Islam. Akan tetapi kenyataannya berubah menjadi justifikasi Islam terhadap paham-paham tersebut. Karena dalam website Amerika Serikat sendiri dijelaskan secara gamblang bahwa :
Washington berinvestasi puluhan juta dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam. Pada lebih dari dua lusin negara, Washington diam-diam mendanai radio Islam, show tv, mata pelajaran di sekolah, kelompok studi Muslim, workshop-workshop politik dan progam lain yang mempromosikan Islam moderat (baca: Liberal).21

Dari pernyataan ini menjadi jelaslah bahwa targetnya adalah mempengaruhi Islam, masyarakat Islam, dan peristiwa-peristiwa dalam Islam. Dalam bentuk program adalah memasukkan ide-ide pluralisme, multikulturalisme, demokrasi dan feminisme & gender kedalam ajaran Islam dengan memodifikasi dan merubah pemahaman umat Islam terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi. Dengan cara ini diharapkan umat Islam memiliki pemikiran pluralis, multikulturalis, feminis dan demokratis sebagaimana orang-orang Barat yang telah dibungkus dengan ayat-ayat dan hadith-hadith. Namun targetnya seperti saran-saran Samuel Zwemer agar ummat Islam tidak lagi terikat pada

21

David E Kaplan, Hearts, Minds and Dollars, www.usnews.com diakses pada 4-25-2005

doktrin-doktrin keagamaan yang dapat bertentangan dengan pandangan hidup dan kebudayaan Barat. Dari bahasa yang digunakan seperti “mempengaruhi”, “memodifikasi”, “merobah” menjadi jelas bahwa bahasa orientalisme yang menganggap selain Barat adalah inferior. Umat Islam hanya menjadi obyek yang perlu dipengaruhi pemikiran dan keyakinan mereka. Jika Barat percaya bahwa Islam adalah agama damai dan mengajarkan kedamaian, maka upaya liberalisasi secara massif seperti itu tidak perlu dilakukan. Padahal negara-negara Barat sendiri tidak akan pernah bersedia diperlakukan seperti ini. Barat tidak mungkin menerima jika Islam diajarkan di sekolah-sekolah di Barat meskipun untuk peningkatan toleransi masyarakat Barat. Lebih tidak mungkin lagi jika Islam diajarkan di seminari-seminari (divinity schools) yang merupakan sumber missionaris di Barat. Barat mestinya memahami kultur Islam, hukum-hukum Islam seperti pernikahan, rumah tangga Islam, etika dalam Islam, HAM menurut Islam dan sebagainya, agar memahami struktur masyarakat Islam.. Namun, itu semua tidak mungkin dilakukan karena sikap Barat masyarakat yang ekslusif. Padahal pemahaman Barat terhadap Islam dan umat Islam lebih penting dari atau sama pentingnya dengan pemahamian Muslim terhadap Barat. Sebab Islam lahir dalam suasana masyarakat yang pluralis disaat mana agama-agama seperti Kristen, Yahudi, Majusi, Sabean dan lain-lain telah ada. Bahkan dibawah pemerintahan Islam di Damaskus, di Baghdad, di Spanyol dan lain-lain agama-agama itu dapat hidup damai dan terlindungi. Dari program bantuan yang tujuannya untuk mempengaruhi pemikiran umat Islam ini The Asia Foundation, Ford Foundaiton. Libforall dan yayasan-yayasan lainnya menggelontorkan dana untuk mensubsidi penerbitan buku-buku yang berisi pahampaham tersebut. Hasilnya kini di Indonesia banyak terbit buku-buku atas bantuan dan kerjasama yayasan-yayasan tersebut. Bahkan, LSM-LSM baru bermunculan dengan membawa misi Pluralisme, Liberalisme, Freedom, Feminisme. Jika ditahun 70 an misi LSM-LSM di Indonesia untuk pemberdayaan masyarakat, kini misi LSM-LSM itu telah berubah untuk meliberalkan pemikiran umat Islam. Karena hanya dengan misi ini mereka dapat dana besar dari Barat. V. Penerapan Liberalisasi Pemikiran Ada beberapa metode dan pendekatan bagaimana liberalisasi ditrapkan kedalam pemikiran keagamaan Islam. Seperti disebutkan diatas bahwa missionarisme, orientalisme dan kolonialisme merupakan tiga sumber penting yang berperan dalam proses liberalisasi. Pemikiran orientalis yang memiliki cara pandang Barat terhadap Islam merupakan sumber bagi cendekiawan Muslim untuk mengkritisi Islam agar dapat memperkenalkan “perubahan” atau “pemabaharuan pemikiran”. Pemikiran politik dan ekonomi Barat yang kolonialistis itu merupakan ujung tombak untuk merobah pemikiran umat Islam melalui berbagai macam faham ideologi dan pandangan hidup Barat. Sedangkan missionaris dengan missinya merupakan kekuatan yang telah lama berkonfrontasi dengan umat Islam dari sejak zaman Islam di Spanyol hingga perang Salib, bekerjasama secara aktif dengan keduanya. Pemikiran yang berasal dari ketiga unsur inilah yang kini digunakan untuk meliberalkan pemikiran umat Islam Indonesia. Sebenarnya mudah sekali dibedakan pemikiran mana yang berasal dari orientalis dan

mana yang berasal dari filsafat Barat dan mana yang merupakan aspirasi dari missionaris. Namun disini hanya akan digambarkan secara umum dan dicari kaitannya antara yang satu dengan lainnya. 1. Penyebaran doktrin relativisme Doktrin relativisme mulanya berasal dari Protagoras, seorang Sofis yang berprinsip bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. (man is the measure of all things). Di zaman Barat postmodern doktrin ini dicetuskan oleh F.Nietzsche dengan doktrin yang disebut nihilisme yang intinya seperti yang telah dijelaskan diatas adalah relativisme. Dengan doktrin yang sangat ampuh menggusur metafisika dan kebenaran agama itu Nietzsche berani mendeklarasikan slogan “God is dead”. Doktrin relativisme ini mengajarkan bahwa disana tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai lain. Agama tidak lagi berhak mengklaim mempunyai kebenaran absolut, ia hanya difahami sama dengan persepsi manusia sendiri yang relatif itu. Oleh sebab itu ia mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat. Dari perspektif epistemologi doktrin relativisme berpegang pada prinsip bahwa kebenaran itu sendiri adalah relatif terhadap (tergantung pada) pendirian subyek yang menentukan. Relativisme juga dianggap sebagai doktrin global tentang semua ilmu pengetahuan. Disini aspek-aspek sang subyek yang menentukan makna kebenaran itu dapat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, kultural, sosial, linguistik, psikologis.22 Jika demikian maka ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai atau tidak netral, padahal masyarakat Barat yang sekuler meyakini bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau netral. Doktrin ini mempengaruhi pemikiran cendekiawan Muslim dari tingkat mahasiswa hingga dosen, sehingga kini banyak yang hanyut dan menyatakan bahwa “kebenaran itu relatif”, “kebenaran itu tidak memihak”. “Pemikiran manusia itu relatif yang absolut hanya Tuhan”, “Kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolut”. Dari doktrin ini akhirnya kini berkembang pemikiran yang membedakan agama dan pemikiran keagamaan, “agama itu mutlak sedang pemikiran keagamaan itu relatif”. Pernyataan orang yang terjerat oleh logika relativisme dapat disimak dibawah ini:
Penafsiran atas sebuah agama (baca:Islam) sendiri tidaklah tunggal. Dengan demikian upaya mempersamakan dan mempersatukan dibawah payung (satu tafsir) agama menjadi kontraproduktif. Dan pada gilirannya agama kemudian menjadi sangat relatif ketika dijelmakan dalam praktik kehidupan sosial sehari-hari. Pada wilayah ini yang selayaknya menjadi pegangan adalah bahwa kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolut. Kita dapat mengetahui kebenaran hanya sejauh itu absah bagi kita. Artinya kebenaran yang selama ini kita pahami tak lain adalah kebenaran sepihak. 23

22 23

Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford University Press, 1996, s.v. relativism Khairul Muqtafa, dalam Sururan (ed), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, Jakarta Fatayat NU & Ford Foundation, 2005) hal. 58.

Pernyataan diatas adalah sweeping statement atau generalisasi buta atau mirip anganangan. Pertama apa yang dimaksud penafsiran terhadap sebuah agama tidak jelas, apakah dalam bidang usul atau furu’. Jika yang dimaksud adalah masalah usul pertanyaannya apakah perbedaan itu dapat dibingkai menjadi sebuah kesatuan atau tidak. Perbedaan penafsiran tidak selalu bermasalah asal tidak kontradiktif. Perbedaan penafsiran terhadap status Umar ibn Khattab (sebagai Khalifah, sebagai sahabat Nabi, sebagai ayah, sebagai suami, sebagai orang Arab) tidak menjadikan eksistensi Umar menjadi relatif. Jika ada penafsiran yang kontradiktif bahwa Umar adalah orang Arab dan bukan orang Arab, maka hal ini masih dapat diverifikasi. Jadi dalam Islam masalah usul sudah selesai dan kalaupun ada yang menganggap belum masih terbuka jalan untuk diselesaikan. Jika yang dimaksud adalah masalah furu’ berarti penulisnya mengangkat persoalan yang sudah usang dengan baju posmo. Pernyataan bahwa kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolut (terkadang ditambahi yang mengetahui kebenaran absolut hanya Tuhan), mempunyai banyak kerancuannya. Pertama, jika dikatakan bahwa manusia tidak mengetahui kebenaran absolut tentu tidak benar, sebab hitungan matematis 2 x 2 = 4 adalah absolut. Dalam realitas keberadaan bahwa SBY berada di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 2008 jam 10.30 WIB adalah absolut. Nabi Muhammad SAW pernah hidup dan membawa risalah Islam kemudian wafat adalah absolut. Kedua, jika maksudnya adalah bahwa kita tidak mengetahui kebenaran absolut seperti yang dimaksud Tuhan, ini berarti ia tidak percaya kepada kenabian Muhammad SAW, manusia yang dipercayai Allah dapat menyampaikan risalah. Mustahil Allah menurukan wahyu yang tidak bisa dafahami oleh RasulNya sendiri. Ketiga, seseorang yang menyatakan bahwa yang benar hanya Tuhan, maka orang tersebut mestinya telah mengetahui kebenaran yang diketahui Tuhan itu. Jika dia tidak tahu maka mustahil ia dapat menyatakan bahwa yang benar secara absolut hanya Tuhan. Jika dia tahu maka pengetahuannya itu absolut. Jadi dengan demikian pemikiran dan pengetahuan manusia itu bisa relatif dan bisa absolut. Keempat, pernyataan bahwa “kebenaran itu relatif” sebenarnya juga kontradiktif (self-contradiction). Sebab jika demikian maka pernyataan itu sendiri juga termasuk relatif alias belum tentu benar. Karena pernyataan “kebenaran itu relatif” belum tentu benar, maka dimungkinkan ada pernyataan lain yang berbunyi “kebenaran itu bisa absolut dan bisa juga relatif’, dan pernyataan ini juga dapat dianggap benar. Kelima, dari perspektif epistemologi Islam pernyataan bahwa pemikiran manusia itu relatif yang absolut hanya Tuhan hanya dapat diterima dalam perspektif ontologis dan tidak dapat dibawa kedalam ranah epistemologis. Benar, secara ontologis Tuhan itu absolut dan manusia itu relatif. Namun secara epistemologis kebenaran dari Tuhan yang absolut itu telah diturunkan kepada manusia melalui Nabi dalam bentuk wahyu. Kebenaran wahyu yang absolut itu difahami oleh Nabi dan disampaikan kepada manusia. Manusia yang memahami risalah Nabi itu dapat memehami yang absolut. Keenam, jika dikatakan bahwa “kebenaran itu tidak memihak”, berarti kebenaran ada disemua pihak. Rancunya jika disatu pihak ada yang menyatakan Tuhan itu ada, dan dipihak lain ada yang menyatakan Tuhan itu tidak ada, maka kebenaran ada pada keduanya, karena kebenaran tidak boleh memihak. Tentu ini secara logis kontradiktif.

Nampaknya dengan masuknya doktrin relativisme kedalam pikiran umat Islam dalil ontologis ini ditrapkan secara paksa dan kerancuan menjadi jelas. Jika doktrin ini tidak dipahami secara kritis maka Muslim tidak ada yang tahu kebenaran, yang tahu hanya Allah. Jika demikian maka keberagamaan Muslim selama ini hanya pada tahap kira-kira. Bahkan dengan doktrin ini Nabi pun dianggap tidak tahu kebenaran wahyu yang diterimanya. Padahal dalam al-Qur’an sudah dijelaskan al-haqq min rabbika (kebenaran itu telah diturunkan dari Tuhan kepada manusia) Jika doktrin ini diterima oleh seorang Muslim maka struktrur ilmu pengetahuan dalam Islam akan rusak. Bahkan agama Islam itu sendiri sudah tidak ada artinya apa-apa lagi, karena hanya merupakan agama yang benar secara relatif. Beragama menjadi sia-sia belaka, karena tidak ada kebenaran yang pasti yang bisa dipegang. Konsekuensi dari menerima doktrin relativisme adalah munculnya suatu rumusan baru yang membedakan agama dari pemikiran keagamaan. Frameworknya masih berkutat dichotomy absolut relatif. Agama itu absolut dan pemikiran keagamaan itu relatif. Akibat dari doktrin ini Tafsir yang merupakan pemahaman para ulama itu menjadi relatif, demikian pula pemahaman hukum para ulama juga relatif. Karena sifatnya relatif dan tidak absolut maka ilmu para ulama tidak dapat dijadikan rujukan, sehingga para ulama itu dianggap tidak memiliki otoritas dan tidak boleh memberi fatwa. Maka dari itu tidak heran jika para pelajar Muslim penganut paham liberalisme dan relativisme itu sangat anti kepada fatwa Majelis Ulama atau sejenisnya. Abdullahi Ahmad al-Naim tokoh liberal dari Amerika Serikat dalam sebuah acara bedah buku di Jakarta menyatakan bahwa orang-orang seperti alQaradhawi, Sayyid Qutb, dan lain itu adalah sesat dan menyesatkan. Begitu dahsyat pengaruh doktrin relativisme ini terhadap pemikiran umat Islam. Inilah yang juga menjadi landasan pluralisme agama yang akan dijelaskan kemudian. Target akhirnya jelas dengan berpegang pada doktrin ini maka ummat Islam tidak lagi masalah apakah mengikuti cara berfikir Islam atau Barat yang sekuler dan liberal, karena toh semuanya tidak absolut. Begitulah strategi perang pemikirannya. 2. Mengkritik al-Qur’an24 Selain menanamkan doktrin relativisme langkah liberalisasi paling strategis adalah melakukan kritik terhadap al-Qur’an yang merupakan sumber kekuatan Islam. Ini juga merupakan skenario berdasarkan pengalaman Barat Kristen. Artinya pengalaman missionaris dalam mengkaji dan mengkritik Bibel itu digunakan untuk mengkaji dan mengkritik al-Qur’an. Perintisnya yang mulai menerapkan metodologi Bibel secara sistematis ke dalam studi al-Qur’an adalah Theodore Nöldeke, dengan karyanya Sejarah al-Qur’an (Geschichte des Qorans).25 Nöldeke kemudian didukung dan diikuti jejaknya
24

Kajian serius tentang asal usul kritik terhadap al-Qur’an baca Adnin Armas, “Metodologi Orientalis Dalam Studi al-Qur’an”, dalam Jurnal ISLAMIA, vol. I, tahun ke 3. Mengenai latar belakang sejarah penulisan dan usaha bersama para orientalis Jerman menulis Geschichte des Qorans, lihat karya Lihat Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an : Kajian Kritis, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005, 49-50; 54-57, selanjutnya diringkas Metodologi Bibel.

25

oleh Pendeta Edward Sell (m. 1932), salah seorang tokoh misionaris terkemuka di Madras, India. Ia juga menjadikan karya Nöldeke itu sebagai model untuk kajian kritis alQur’an. Ia sendiri pada tahun 1909 menulis Historical Development of the Qur’an.26 Kaitan antara kritik terhadap al-Qur’an dengan pengalaman mereka terhadap Bibel dapat dicermati dari pernyataan Pendeta Alphonse Mingana (m. 1937) sbb:
Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”27

Di Eropah komunitas Kristen (Christian community), telah berpengalaman dalam menghimpun Perjanjian Baru (New Testament) dengan memilih 4 dari sekian banyak Gospel, menghimpun sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), PerbuatanPerbuatan (Acts) dan Apocalypse. Mereka kemudian menyamakan dengan mushafmushaf dalam sejarah al-Qur’an dengan korpus-korpus. Mushaf ‘Abdullah ibn Mas‘ud di Kufah dianggap sebagai al-Qur’an edisi mereka (their Recension of the Qur’an). Mushaf Abu Musa, dianggap korpus penduduk Basra dan Mushaf MiqdAd ibn al-Aswad sebagai korpus penduduk Damaskus, sedangkan Mushaf Ubay sebagai korpus penduduk Syiria.28 Menurut Arthur Jeffery sikap umat Islam terhadap mushaf pada waktu itu paralel sekali dengan sikap pusat-pusat utama gereja terdahulu yang menetapkan sendiri beragam variasi teks untuk Perjanjian Baru. Hanya saja ia menyayangkan sikap para sarjana Muslim yang belum melakukan kritik teks kepada al-Qur’an, sebagaimana yang telah dilakukan kepada Bibel. Hal ini tampak menurut Jeffery, karena belum ada satupun dari para mufasir Muslim yang menafsirkan al-Qur’an secara kritis. Ia mengharapkan agar tafsir kritis terhadap teks al-Qur’an bisa diwujudkan. Caranya dengan mengaplikasikan metode kritis ilmiah (biblical criticism). Ia dengan terus terang meyatakan:
Apa yang kita butuhkan, adalah tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir alQur’an.”29

Akibat penerapkan biblical criticism dalam studi al-Qur’an, para orientalis melontarkan berbagai pendapat yang kontroversial mengenai al-Qur’an seperti: alQur’an telah mengalami berbagai penyimpangan; standartisasi al-Qur’an disebabkan rekayasa politik dan manipulasi kekuasaan; Utsman ibn Affan salah karena telah mengkodifikasi al-Qur’an; al-Qur’an ditulis bukan dengan bahasa Arab tetapi bahasa Aramaik; al-Qur’an adalah karangan Muhammad; terdapat sejumlah kesalahan dalam penulisan al-Qur’an; tidak ada di dalam al-Qur’an yang orisinal dan berasal dari langit karena wujudnya pengaruh Yahudi-Kristen yang sangat dominant dalam al-Qur’an, menyamaratakan qira’Ah mutawAtirah dengan qira’Ah shAdhdhah, merubah kata dan
26

Lihat Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: B. R. Publishing Corporation, 1985; pertama kali terbit tahun 1928) hal. 253-56. Mingana menyatakan: “The time has surely come to subject the text of the Kur’An to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian Scriptures.” Lihat Alphonse Mingana, “Syiriac Influence on the Style of the Kur’An,” Bulletin of the John Rylands Library 11: 1927. Arthur Jeffery, The Qur’An as Scripture (New York: Russell F. Moore Company, 1952), hal. 94-95. Lihat Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Qur’An Text, The Moslem World 25 (1935), hal. 4.

27

28 29

kalimat dalam al-Qur’an dan lain sebagainya. Dari hasil kajian kritis tersebut kesimpulannya adalah perlunya diwujudkan al-Qur’an edisi kritis.30 Upaya ini kemudian di adopsi oleh seorang dosen UIN Makassar yang menulis sebuah makalah berjudul Edisi Kritis al-Qur’an, yang didalamnya menyatakan bahwa alQur’an Mushaf Usmani meninggalkan sejumlah masalah tulisan dan bacaan yang mendasar. Selain itu ia juga menulis buku berjudul Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an yang didalamnya ia meragukan kesempurnaan Mushaf Usmani dan menurutnya tidak layak disucikan.31 Dari kesimpulan bahwa al-Qur’an itu adalah hasil dari rekayasa politik dan manipulasi kekuasaan Usman Ibn Affan, pendukung liberal meniru dengan menyatakan ….al-Qur’an sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi perangkap bangsa Quraisy
sebagai suku mayoritas. Artinya bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain.32

Demikian pula asumsi para orientalis dari generasi ke generasi bahwa al-Qur’an adalah karangan Muhammad juga di “telan” begitu saja oleh para sarjana Muslim. Pernyataan bahwa al-Qur’an adalah karangan Muhammad dapat dilacak dari pernyataan G.Sale, [dalam bukunya The Qur’an:Commonly called al-Qur’an:Preliminary Discoursei, (1734)], Sir William Muir [dalam bukunya Life of Mahomet (1860)], A.N. Wollaston [dalam bukunya The Religion of The Koran (1905)], H. Lammens, dalam [Islam Belief and Institution (1926)], Champion & Short [dalam buknya Reading from World Religious Fawcett, (1959),] JB. Glubb, [dalam bukunya The Life and Time of Muhammad (1970)] dan M. Rodinson [dalam bukunya Islam and Capitalism (1977)]. Muhammad Arkoun meniru pernyataan orientalis tersebut menjadi begini: alQur’an adalah wahyu Tuhan tapi ia diucapkan oleh Muhammad dan dengan bahasa Muhammad sebagai manusia biasa. Senada dengan itu seorang cendekiawan Muslim liberal yang diusir dari Mesir bernama Nasr Hamid Abu Zayd menyatakan bahawa karena al-Qur’an turun dalam ruang sejarah Arab maka ia adalah produk budaya Arab (muntaj thaqafi). Implikasi ide ini adalah bahwa al-Qur’an bukan firman Allah yang suci dan perlu disucikan dan disakralkan dan karena itu ummat Islam tidak perlu fanatik berpegang pada al-Qur’an; dan agar ummat Islam mau menafsirkan al-Qur’an tanpa takut-takut, karena ia hanya perkataan manusia biasa. Lebih detail mengenai pengaruh orientalis terhadap studi al-Qur’an Adnin Armas MA membuktikan dalam bukunya berjudul “Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an” (Kajian Kritis).33 Jika jejak orientalis dalam mengkritik al-Qur’an ditiru maka akibatnya al-Qur’an akan bermasalah dan menjadi seperti Bibel. Kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan
30 31 32 33

Adnin Armas, “Metodologi Bibel”. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, (FKBA, Yogyakarta, 2001) Sumanto al-Qurtubi, “Membongkar Teks Ambigu” dalam Ijtihad Islam Liberal, hal. 17. Lihat Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an : Kajian Kritis (Jakarta: Gema Insani Press, 2005.

tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern. Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Itulah akibatnya jika konsep Tuhan harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible. Bahkan, tindakan-tindakan seperti menginjak asma Allah, melempar mushaf al-Qur’an ke lantai di depan kelas, dan mempersoalkan otentisitas al-Qur’an sudah mulai terjadi dikampus-kampus Islam. Kritik terhadap al-Qur’an ini juga berkaitan dengan proses penerapan metode hermeneutika dalam memahami al-Qur’an. Sebab yang pertama-tama harus dilakukan dalam penggunaan hermeneutika ini adalah perubahan status teks al-Qur’an dari teks ilahi menjadi teks basyari (manusia). Jika status teks sudah diturunkan menjadi bersifat manusiawi yang meruang dan mewaktu maka dengan hermeneutika seseorang dapat melakukan perubahan teks (nash) dan juga perubahan makna-makna aslinya untuk dapat didekonstruksi sesuai dengan konteks sosial yang tidak lain adalah humanisme. 3. Menyebarkan paham Pluralisme Agama Setelah menerima dengan baik paham relativisme, kelompok liberal otomatis menerima paham yang lahir daripadanya yaitu pluralisme dan multikulturalisme. Makna pluralisme agama paska fatwa MUI banyak diperdebatkan orang. Pengusungnya mengklaim bahwa plulralisme dan multikulturalisme bukan relativisme dan tidak membawa faham relativisme. Namun yang pasti menurut definisi resmi mereka pluralisme (bukan pluralisme agama) adalah teori yang seirama dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth). Ia terkadang juga dipahami sebagai doktrin yang berpandangan bahwa disana tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya. (no view is true, or that all view are equally true).34 Definisi dan konsep ini kemudian ditrapkan pada agama dan menjadilah pluralisme agama. Penyebaran paham pluralisme agama adalah salah satu agenda liberalisasi pemikiran. Pluralisme agama adalah inovasi teologis dan bentuk final dari pemikiran yang dibawa oleh agamawan liberal. Kelompok agamawan Liberal dalam agama-agama ini, tidak lagi mengklaim bahwa agama mereka adalah sempurna dan absolute. Ini berkaitan dengan gerakan Postmodernisme, dan dianut oleh mereka yang menerima aliran-aliran filsafat postmodern, khususnya dekonstruksionisme Dalam aplikasinya terhadap agama maka pandangan ini berpendapat bahwa semua agama adalah sama benarnya dan sama validnya. Paham pluralisme agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda tapi ujungnya sama yaitu: aliran kesatuan transenden agama-agama (transcendent unity of religion) dan teologi global (global theology). Yang pertama lebih merupakan protes terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan pendukung gerakan globalisasi, dan paham yang kedua inilah yang kini ujung tombak gerakan westernisasi. Karena pluralisme agama ini sejalan dengan agenda globalisasi, ia pun masuk kedalam wacana keagamaan agama-agama, termasuk Islam. Ketika paham ini masuk
34

Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford University Press, Oxford, lihat “Pluralism”.

kedalam pemikiran keagamaan Islam respon yang timbul hanyalah adopsi ataupun modifikasi dalam takaran yang minimal dan lebih cenderung menjustifikasi. Akhirnya yang terjadi justru peleburan nilai-nilai dan doktrin-doktrin keagamaan Islam kedalam arus pemikiran modernisasi dan globalisasi. Caranya adalah dengan memaknai kembali konsep Ahlul Kitab dengan pendekatan Barat. Jika perlu makna itu di dekonstruksi dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat modern. Inilah sebenarnya yang telah dilakukan oleh Mohammad Arkoun. Ia mengusulkan, misalnya, agar pemahaman Islam yang dianggap ortodoks ditinjau kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial-historis Barat. Dan dalam kaitannya dengan pluralisme agama ia mencanangkan agar makna Ahl alKitab itu didekonstruksi agar lebih kontekstual. Disitu ayat-ayat tentang Ahlul Kitab dijadikan alat justifikasi, meskipun dengan mengeksploitir makna ayat-ayat itu tanpa memperhatikan konteks historis dan metodologi tafsir standar. Mindset seperti ini jelas sekali telah terhegomoni oleh pemikiran Barat. Inti doktrinnya adalah untuk menghilangkan sifat ekslusif ummat beragama, khususnya Islam. Artinya dengan paham ini ummat Islam diharapkan tidak lagi bersikap fanatik, merasa benar sendiri dan menganggap agama lain salah. Menurut John Hick, tokoh pluralisme agama, diantara prinsip pluralisme agama menyatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama (Other religions are equally valid ways to the same truth). 35 Di Indonesia faham ini telah diikuti oleh para pendukung program liberalisasi pemikiran Islam. Dari bahasa yang digunakan sudah menunjukkan duplikasi paham pluralisme agama itu. Untuk menggambarkan toleransi dalam Islam digunakan istilah “Teologi Inklusif”, untuk mengkaitkan dengan kehidupan sosial digunakan istilah “Multikulturalisme” dan lain sebagainya. Namun, diantara mereka ada yang mengklaim bahwa faham yang mereka anut adalah pluralisem sosiologis yang merujuk kepada teori pluralisme Peter L Berger atau Diana L Eck. Padahal keduanya memiliki teori yang sama bahwa sumber kebenaran itu tidak hanya satu tapi banyak (plural). Paham pluralisme agama yang disebarkan oleh Barat itu sebenarnya juga tidak dapat diterima oleh kalangan Kristen sendiri. Dalam hal ini Kenneth R Samples menyatakan dengan jelas sbb:
Abad ke dua puluh telah membawa tantangan yang tidak ada duanya dalam sejarah kepercayaan Kristen. Pada abad ini relevansi Kristen dan kebenaran tertingginya telah dipertanyakan [dengan pertanyaan] yang tidak ada sebelumnya. Serangan terhadap klaim kebenaran Kristen ini datang dari dua musuh yang berbeda : humanisme ateistik yang sekuler dan pluralisme agama yang berkembang. 36

Jadi, pengembangan Teologi Pluralis itu sendiri sebenarnya merupakan pelaksanaan dari teori Samuel Zwemmer untuk melemahkan umat Islam. Dengan teologi semacam itu, umat Islam sudah terjebak untuk tidak meyakini kebenaran agamanya, atau paling tidak sudah tidak mengklaim lagi bahwa agamanya paling benar.

35

Untuk lebih jelas tentang kerancuan paham Pluralisme agama ini baca majalah ISLAMIA, edisi 3, September-November, 2004. Kenneth R. Samples, “The Challenge of Religious Pluralism”, dalam The Christian Research Journal, Summer 1990, hal. 39.

36

4. Mendekonstruksi Syariah Salah satu cara agar Islam dapat difahami sesuai dengan pemikiran Barat, khususnya doktrin humanisme adalah dengan mendekonstruksi syariah. Dan ini dilakukan dengan merubah cara menafsirkan teks keagamaan. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa diantara saran-saran Cheryl Bernard yang sangat taktis untuk proyek liberalisasi pemikiran keagamaan dalam Islam adalah a) menghancurkan monopoli fundamentalis dan tradisionalis dalam mendifinisikan, menjelaskan dan menafsirkan Islam b) Menantang dan mengekspos ketidak akuratan pandangan mereka dalam soal penafsiran Islam. Diantara strategi merubah penafsiran itu adalah dengan : a) Menekankan kontekstualisasi Ijtihad (dokonstruksi Syariah) b) Menekankan komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan c) Mengembangkan paham pluralisme sosial dan pluralisme agama.37 Banyak cara untuk menekankan kontekstualisasi ijtihad. Diantaranya adalah dengan meletakkan al-Qur’an sebagai respon spontan terhadap kondisi masyarakat ketika itu, sehingga sifatnya kontekstual. Alasannya, al-Qur’an tidak turun di ruang yang hampa, ia dipengaruhi oleh budaya ketika ia turun. Bahkan Nasr Hamid menyatakan bahwa al-Qur’an itu sendiri merupakan produk budaya. Sekilas ini benar, tapi konsekuensi logisnya al-Qur’an menjadi tidak universal. Ia turun dalam situasi sosial budaya Arab dan zaman sekarang tidak dapat difahami seperti ketika ia diturunkan. Dari argumentasi ini kelompok liberal dapat membawa ayat-ayat secara kontekstual. Dalil usuliyah yang berbunyi al-Ibratu bi umumillafz, la bi khususi al-sabab (Perintah itu karena adanya kata-kata umum dan bukan karena sebab khusus) dibalik menjadi alIbratu bi bi khususi al-sabab la umumillafz (Perintah itu karena adanya sebab khusus dan bukan karena kata-kata umum). Maksud dari sebab khusus adalah konteks budaya. Jadi perintah dan larangan dalam al-Qur’an itu harus dipahami dalam kontek budaya ketika ia diturunkan. Padahal, larangan meminum khamr, memakan daging babi, berjudi dan berzina tidak berdasarkan kontek budaya. Pembagian warisan laki-laki dua kali lipat perempuan juga demikian. Dengan merubah orientasi hukum secara kontekstual maka banyak sekali hukum yang dedekonstruksi. Selain itu dekonstruksi syariah dilakukan dengan mempersoalkan maslahah. Argumentasinya begini : karena tujuan ditetapkannya hukum Islam adalah untuk menciptakan maslahah kepada ummat manusia maka maqasid syariah itu lebih utama daripada Syariah. Menurut kelompok liberal, setiap tindakan yang mengandung maslahah itu pasti mengandung syariah. Padahal yang benar adalah bahwa setiap hukum syariah itu mengandung maslahah. Disini yang dibidik kaum liberal adalah makna maslalah, sebab ia dapat dibawa kepada konteks sosial budaya dan akhirnya dibawa kepada doktrin humanisme. Targetnya adalah membawa hukum Islam agar sejalan dengan doktrindoktrin kebudayaan Barat yang melulu berdasarkan prinsip humanisme. Selain meletakkan ayat-ayat secara kontekstual dan menekankan maslahah daripada syariah, kaum liberal mengkaitkan ijtihad para ulama dalam bidang hukum dengan kondisi sosial budaya ketika ijtihad itu dihasilkan. Oleh sebab itu pemikiran
37

Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, (terj) 1999: hal. xxi

ulama itu relatif karena terikat oleh ruang dan waktu. Lagi-lagi relativisme digunakan disini. Dengan cara berfikir seperti ini hasil pemikiran ulama dimasa lalu yang sangat berharga itu dianggap tidak relevan lagi zaman sekarang. Padahal semua ilmu pengetahuan didunia ini menghargai pemikiran pemikir masa lalu. Tanpa pemikiran ilmuwan dimasa lalu ilmu tidak akan berkembang. Tapi mengapa semangat untuk menafikan otoritas ilmuwan Islam dimasa lalu begitu besar. Dengan menafikan otoritas ulama banyak hal yang dapat mereka lakukan. Ijtihad para ulama yang telah menentukan mana ayat muhkamat dan mana yang mutasyabihat juga ikut dinafikan. Makna yang sudah pasti dalam al-Qur’an itu dicari konteksnya akhirnya menjadi ambigu, sedangkan ayat-ayat yang ambigu yang sejalan dengan paham liberal dijadikan muhkamat. 5. Menyebarkan faham Feminisme dan Gender. Gerakan feminisme dan Gender berasal dari pandangan hidup Barat atau muncul dari kondisi sosial budaya masyarakat Barat. Inti gerakan ini adalah untuk merubah pandangan dan keyakinan masyarakat Timur maupun Barat, bahwa perbedaan perilaku laki-laki dan perempuan itu ditentukan oleh kondisi sosial budaya. Oleh sebab itu konstruk gender yang sedemikian itu dapat dirubah melalui perubahan konsepnya di masyarakat. Maka dari itu Wilson mendefinisikan Gender sebagai “suatu dasar untuk menentukan pembeadaan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.”38 Gerakan gender tidak mempersoalkan perbedaan identitas laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis atau jenis kelamin, tapi mengkaji aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non-biologis lainnya.39 Meskipun demikian, gerakan yang berasal dari doktrin equality (persamaan) dalam segala hal di masyarakat pada akhirnya semakin menampakkan ciri-ciri budaya Baratnya dari pada unsur kemanusiaannnya. Salah satu teori femenisme (Feminsme Radikal) misalnya menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam soal hak sosial dan juga seksual. Artinya kepuasan seksual dapat juga diperoleh dari sesama perempuan. Dan oleh karena itu lesbianisme dan homoseksualisme dapat diberi hak hidup. Implikasinya, perempuan tidak harus tergantung kepada laki-laki, dalam soal kebutuhan materi tapi juga dalam soal kebutuhan seksual. Akibat terpengaruh oleh ide-ide ini seorang Muslimah dari Canada bernama Irsyad Manji di datangkan ke Indonesia untuk menyebarkan faham ini. Demikian pula buku-buku Aminah Wadud, Fatimah Mernissi, Binti Syati’ dan sebagainya banyak dierjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Dari cara berfikir tentang syariah diatas ditambah lagi dengan pengaruh faham feminisme dan gender maka timbullah ijtihad hukum yang tidak merujuk kepada

38

hal. 2.
39

H.T.Wilson, Sex and Gender, Making Cultural Sense of Civilization, Leiden, New York, EJ.Brill, 1989,

Lindsey, Gender Roles: A Sociologixal Perspective, New Jersey, Prientice Hall, hal. 2.

pendapat ulama masa lalu dan tidak pernah terdengar sebelumnya. Diantaranya dapat disebutkan dibawah ini: a) mengharamkan poligami b) menghalalkan perkawinan beda agama muslimah dengan non-Muslim atau sebaliknya. c) Pernikahan dapat dilakukan tanpa wali, ijab-qabul dapat dilakukan calon suami istri. d) Masa iddah bukan hanya dimiliki oleh wanita tetapi juga untuk laki-laki. Masa iddah laki-laki adalah 130 hari. e) Talak tidak dijatuhkan oleh pihak laki-laki, tetapi boleh dilakukan oleh suami atau istri di depan Sidang Pengadilan Agama f) Bagian waris anak laki-laki dan wanita adalah sama.40 Bukan hanya dalam masalah perkawinan “ijtihad” baru itu muncul. Yang sangat sangat mengejutkan adalah “ijtihad” dalam masalah lesbianisme. Pernyataan berikut ini menunjukkan dengan jelas akan hal itu:
Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah. ….Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia.. jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaianpencapaian tujuan dasar tadi, maka hubungan demikian dapat diterima. 41

Pernyataan diatas tidak berdasarkan pada dalil Fiqih apapun. Dalil yang digunakan adalah kontekstualisasi ijtihad dan maslahah yang diorientasikan kepada trend humanisme liberal yang diantaranya doktrinnya adalah feminisme. Memang feminisme radikal, salah satu aliran dalam feminisme itu menuntut kesamaan lakik-laki dan perempuan dalam memperoleh kepusan seksualnya masing-masing, sehingga lesbianisme dan homoseksualisme menjadi halal. “Ijtihad” soal lesbianisme ini ternyata juga didukung oleh “ijtihad” soal homoseksualisme. Dengan argumentasi yang tanpa otoritas itu pendukungnya malah memberi masukan praktis bagaimana homoseksualisme disosalisasikan
…yang harus dibangun adalah (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya. (2) memberi pemaham kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri

40

Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam, disusun oleh tim pimp. Dr. Musdah Mulia, Litbang Departemen Agama. Usulan ini kemudian dibatalkan oleh Menteri Agama Maftuh Basuni. Musdah Mulia, Islam Agama Rahmat Bagi Alam Semesta, seperti dikutip Majalah Tabligh, Muhammadiyah, Mei 2008.

41

kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah. (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual. (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No.I/1974 yang mendifinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.

Selanjutnya, dinyatakan
Hanya orang primitf saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab Tuhan pun sudah maklum, proyeknya mencipatakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.42

Disini penulisnya berpretensi seakan-akan mengetahui maksud Tuhan dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan Tuhan. Pernyataan ini sudah dapat disebut sebagai mengatas namakan Tuhan. Padahal, ketika ia mendengar orang lain mensitir ayat-ayat al-Qur’an sebagai alat beragumentasi ia akan mengatakan “anda jangan mengatas namakan Tuhan!” Di kalangan masyarakat Kristen di Barat kritiks terhadap teks Bible telah mendorong kepada kritik terhadap kandungannya akhirnya menghasilkan penafian wujud Tuhan alias ateisme. Di kalangan Muslim liberal, yang memang ingin meniru Protentan, kritik terhadap al-Qur’an dan kandungannya dan penafsiran para ulama itu akhirnya menghasilkan negasi syariah. Pernyataan dibawah ini jelas-jelas membuktikan hal itu:
Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk kepada "hukum Tuhan" (sekali lagi: saya tidak percaya adanya "hukum Tuhan"; kami hanya percaya pada nilainilai ketuhanan yang universal), tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini. Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri. 43

Jelas sekali dari pernyataan diatas pengaruh rasionalisme dan humanisme Barat begitu kental. Dan seperti disebutkan diatas maslahah lebih diutamakan dalam memahami dan menafsirkan Islam. Jika kutipan diatas menafikan hukum Tuhan maka pernyataan dibawah ini tegas-tegas menafikan syariah
Seorang fideis Muslim, misalnya, bisa merasa dekat kepada Allah tanpa melewati jalur shalat karena ia bisa melakukannya lewat meditasi atau ritus-ritus lain yang biasa dilakukan dalam persemedian spiritual. Dengan demikian pengalalamn keagamaan hampir sepenuhnya independen dari aturan-aturan formal agama. …..Pada gilirannya, perangkat dan konsep-konsep agama seperti kitab suci, nabi, malaikat, dan lain-lain tak terlalu penting lagi karena yang lebih penting adalah

42

Ahmad Khairul Umam et al, Indahnya Kawin Sesama Jenis, Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, Buku hasil kumpulan Artikel di Jurnal Justisia, IAIN Walisongo Semarang. Ulil Absar Abdalllah, Kompas (18/11/2001)

43

bagaimana seseorang bisa menikmati spiritualitas dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa batas itu. 44

Pernyataan ini sudah mengindikasikan bukan hanya syariah saja yang tidak penting dan tidak ada, agama dan ajaran-ajarannya sekalipun dianggap tidak diperlukan lagi. Jadi jelaslah bahwa output dari liberalisasi adalah pembebasan manusia agama dan aturan-aturan keagamaan. Orang liberal nampaknya sangat mempercayai kemampuan manusia untuk mengatur dirinya sendiri tanpa petunjuk Tuhan. Malahan agama bisa menjadi semacam aliran kepercayaan yang dicipta oleh manusia sendiri untuk menuju sesuatu yang transenden. Disini pemikiran kaum liberal telah benar-benar mengusung ide filosof posmodern yang menganggap agama sebagai sekedar usaha manusia untuk memahami Tuhan. VI. Kesimpulan Jadi liberalisasi pemikiran keagamaan Islam yang akhir-akhir ini marak dikalangan mahasiswa dan dosen Muslim dilingkungan perguruan tinggi Islam dan juga ormas Islam bukanlah pembaharuan, meskipun diklaim begitu. Ini juga bukan ide yang kreatif dan innovatif yang lahir hasil perenungan dan kajian terhadap dalam struktur konsep dalam traidisi intelektual Islam. Ini hanyalah gagasan hasil ”adopsi” atau duplikasi ide-ide dan konsep-konsep yang terdapat dalam tradisi keagamaan dan peradaban Barat. Terbukti dari gerakan liberalisasi ini lahir istilah-istilah yang rancu dan membingunkan (confusing). Selain itu liberalisasi yang juga berarti dekonstruksi itu menafikan struktur dan konsep keilmuan dalam Islam dan pada saat yang sama juga merusak konsep-konsep dalam Islam. Jika dengan liberalisasi pemikiran umat Islam diprovokasi agar menghilangkan kepercayaan pada otoritas ulama, maka konsep ilmu dalam Islam akan runtuh. Sebab diantara jalan-jalan memperoleh ilmu pengetahuan dalam Islam adalah riwayat dan riwayat itu diperoleh melalui otoritas. Bahkan otoritas keilmuan dalam disiplin ilmu sekuler sekalipun sangat diperlukan. Para saintis, misalnya, tidak bisa lepas dari otoritas Albert Einstein, para ekonom tidak dapat lepas dari Adam Smith dan seterusnya. Jika otoritas keilmuan dihilangkan maka dunia ini akan hancur, ilmu akan dihasilkan orang yang bukan bidang dan otoritasnya. Selain itu dalam Islam, ilmu dan pemikiran itu saling berkaitan, dan masalah ilmu berkaitan dengan ibadah. Jika ilmu yang diperoleh Muslim tidak menambah keimanan maka ilmu tersebut justru menambah jauh dari Tuhan dan tentu kehilangan nilai ibadahnya. Jika liberalisasi dimaksudkan untuk memperkaya konsep-konsep dalam Islam, maka inipun telah gagal karena konsep-konsep itu di transmisikan kedalam pemikiran Islam tanpa proses epistemologis yang memadahi. Sehingga akibatnya terjadilah kerancuan konsep yang dapat diamati dari kerancuan istilah. Situasi seperti ini pernah dialami oleh ulama dimasa lalu, dimana Muslim berhadapan dengan peradaban asing seperti Persia, Yunani, Romawi, India dan Mesir. Namun mereka secara epistemologis

44

Luthfi Asyaukani, Kompas, 39/2005)

sangat siap sehingga Islam berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Namun perlu diingat bahwa adopsi dan adapsi pemikiran memerlukan rentang waktu yang cukup lama yang kira-kira memakan waktu sepanjang satu generasi. Maka dari itu liberalisasi yang dipicu oleh globalisasi dan westernisasi itu lebih merupakan perang pemikiran, perang konsep dan perang ide. Namun untuk menghadapi ini semua ummat Islam tidak perlu membawanya kepada peperangan fisik. Apa yang harus dilakukan ummat Islam sebaiknya bersifat institusional atau kolektif yang secara praktis dapat diperincikan sbb: 1. Menanamkan kesadaran dikalangan ummat Islam dan sekaligus menunjukkan bukti-bukti ilmiyah bahwa paham-paham dari peradaban Barat yang berupa sekularisme, liberalisme, feminisme, pluralisme agama, relativisme dsb. yang saat ini sedang melanda dunia Islam tidak sesuai dan bertentangan dengan pandangan hidup Islam. 2. Memperluas tradisi dan materi bahth al-masa’il dari pemikiran para ulama di masa lalu dalam berbagai bidang, kepada pemikiran-pemikiran orientalis dan kalau mungkin pemikiran Barat secara umum yang menjadi tantangannya. 3. Semua lembaga ummat Islam, baik pendidikan, dakwah, ekonomi dan lain-lain perlu memikirkan secara serius langkah kaderisasi ummat dalam bidang agama, agar 20 tahun yang akan datang di Indonesia nanti tidak akan ada lagi cendekiawan Muslim yang berfikir dalam framework Barat sehingga justru menghujat Islam dan ulama’nya. 4. Badan-badan usaha ummat Islam dan juga pengusaha-pengusaha Muslim perlu ikut berjuang dengan hartanya untuk mendukung langkah-langkah yang diambil oleh lembaga pendidikan dan lembaga dakwah Islam. Akhirul kalam, perlu disadari bahwa pemikiran mempunyai peran penting dalam pembangunan peradaban Islam, sebab dalam Islam pemikiran selalu mendahului perilaku individu, ilmu selalu mendahului amal. Rusaknya amal disebabkan oleh rusaknya ilmu. Ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu adalah sombong (al-Ghazzali). Amal tanpa ilmu lebih cenderung merusak daripada memperbaiki (Umar bin Khattab) . Oleh sebab itu dalam menghadapi perang pemikiran prioritas utama perlu diberikan kepada peningkatan ilmu pengetahuan Muslim dalam berbagai bidang ilmu agama. Tradisi keilmuan yang dikembangkan dari pandangan hidup Islam yang bersumber dari alQur’an, Sunnah, dan warisan tradisi intelektual Islam perlu terus dipertahankan dan dikembangkan. Wallahul musta’an. Gontor, 9 April 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->