P. 1
Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Missionaris Oriental Is Dan Kolonialis

Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Missionaris Oriental Is Dan Kolonialis

|Views: 161|Likes:

More info:

Published by: Irwan Malik Marpaung on Dec 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2015

pdf

text

original

1

(Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis)

Liberalisasi Pemikiran Islam

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi Pendahuluan Tantangan fundamental yang dihadapi umat Islam dewasa ini sebenarnya bukan berupa ekonomi, politik, sosial dan budaya, tapi tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang timbul dalam bidang-bidang tersebut serta bidang-bidang terkait lainnya, jika dilacak, ternyata bersumber pada persoalan pemikiran. Tantangan pemikiran itu bersifat internal dan eksternal sekaligus. Tantangan internal telah lama kita sadari yaitu kejumudan, fanatisme, taqlid, bidah khurafat. Sebagainya yang akibatnya adalah lambatnya atau sembrononya proses ijtihad umat Islam dalam merespon berbagai tantantangan kontemporer, lambatnya perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan pesatnya perkembangan aktifisme. Sedangkan tantangan eksternalnya adalah masuknya paham, konsep, sistim dan cara pandang asing seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, feminisme & gender dan lain sebagainya kedalam wacana pemikiran keagamaan Islam. Dan sebagai akibat tantangan eksternal yang berupa percampuran konsep-konsep asing kedalam pemikiran dan kehidupan umat Islam adalah kerancuan berfikir dam kebingunan intelektual. Mereka yang terhegemoni oleh framework yang tidak sejalan dengan Islam ini, misalnya, akan melihat Islam dengan kaca mata sekuler, liberal dan relativistik. Dampak lebih kongkrit dari kedua tantangan internal dan eksternal tersebut termanifestasikan kedalam problem pengembangan sistim ekonomi Islam. Disatu sisi umat Islam kekurangan ulama pakar syariah yang bergiat mengembangkan konsep-konsep ekonomi syariah tapi juga memahami ekonomi kontemporer. Disisi lain ilmuwan Muslim kini kebanyakan telah diajari disiplin ilmu dan praktek ekonomi konvensional (baca: kapitalis) seihingga menolak syariah. Sementara itu prakek-praktek perbankan syariah, takaful, bursa syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya tidak berdasarkan pada kajian ilmiyah akademik dan metodologis di tingkat perguruan tinggi. Sebaliknya kajian ekonomi Islam di perguruan tinggi tidak berkembang sepesat praktek-praktek ekonomi perbankan. Jadi untuk mengembangkan sistim ekonomi Islam umat Islam terhadang oleh kondisi internal umat dan juga tantangan eksternalnya. Dari kedua tantangan tersebut yang akan dibahas disini hanya tantangan eksternal umat Islam, khususnya tantangan liberalisasi pemikiran umat Islam. Tantangan yang kini sangat gencar disebarkan melalui berbagai media komunikasi dan pendidikan itu ternyata tidak berdiri sendiri. Ia merupakan program yang sejalan dengan doktrin postmodernisme yang mengusung doktrin relativisme, nihilisme, pluralisme, persamaan (equality), feminisme & gender dan lain sebagainya. Meskipun paham-paham ini gencar disebarkan di Indonesia akhir-akhir ini, namun ia sejatinya telah lama mengakar pada peradaban Barat dan telah lama “dipasarkan” kedunia Islam. Hanya saja ia menemukan momentum dan aksentuasinya setelah terjadi Drama Tragedi 11 September 2001. Sebab saat itulah

Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Tantangan Pemikiran Kontemporer, diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang, Sulawesi Selatan, 15 Maret 2008.

2 postmodernisme dan liberalisme menemukan rival sejatinya yaitu fundamentalisme,1 relativisme menghadapi lawannya absolutisme dst. Jalan atau cara-cara yang ditempuh untuk penyebaran paham-paham itu adalah orientalisme, missionarisme dan kolonialisme. I. Hakekat Peradaban Barat Sebelum membahas liberalisme dan liberalisasi ada baiknya dipaparkan hakekat pandangan hidup Barat yang menjadi sumbernya dan kemudian dibandingkan dengan Islam yang menjadi obyek liberalisasi. Sejarahnya, peradaban Barat adalah peradaban yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Eropah dari peradaban Yunani kuno yang di kawinkan dengan peradaban Romawi, dan disesuaikan dengan elemen-elemen kebudayaan bangsa Eropah terutamanya Jerman, Inggeris dan Perancis. Prinsip-prinsip asas dalam Filsafat, seni, pendidikan dan pengetahuan diambil dari Yunani; prinsip-prinsip mengenai hukum dan ketatanegaraan diambil dari Romawi. Sementara agama Kristen yang berasal dari Asia Barat disesuaikan dengan budaya Barat.2 Identitas peradaban Barat dapat dilihat dari dua periode penting didalamnya yaitu modernisme dan postmodernisme. a. Barat Modern Barat Modern adalah periode sejarah dalam peradaban Barat yang persisnya terjadi saat kebangkitan masyarakat Barat dari abad kegelapan kepada abad pencerahan, abad industri dan abad ilmu pengetahuan. Periode ini didahului oleh zaman yang disebut dengan Zaman Penterjemahan3 khususnya penterjemahan karya-karya Muslim dalam bidang sains dari bahasa Arab kedalam bahasa Latin. Ketika agama Kristen dominan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Eropah, mereka masih berada dalam zaman yang mereka sebut Dark Ages (Zaman Kegelapan). Namun mereka mendapat pencerahan setelah mereka menterjemahkan karya-karya cendekiawan Muslim dalam berbagai bidang sains (1050- 1150) kedalam bahasa Latin. Oleh sebab itu Eugene Myers dengan tegas menyimpulkan bahwa salah satu faktor terpenting kebangkitan Barat adalah penterjemahan karya-karya cendekiawan Muslim.4 Dari Abad abad kegelapan (Dark Ages), Barat memasuki Zaman Pencerahan (Renaissance), Revolusi Perancis (France Revolution) dan industrialisasi besar-besaran di Inggeris. Semangat dan pandangan hidupnya yang kemudian disebut modernisme itu disulut oleh semangat keilmuan (sainstifik) sehingga pandangan hidup Barat modern itu terkadang dikenal dengan scientific worldview. Namun, tidak berarti bahwa sains dan
1

Menurut Akbar S Ahmed, salah satu ciri postmodernisme adalah semangatnya yang berhadapan dengan fundamentalisme, lihat Akbar S Ahmed, Postmodernisme, Bahaya dan Harapan Bagi Islam (terjemahan M.Sirozi), Mizan Bandung, 1994, 26.
2

SMN, Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, ISTAC, 2000, hal. 164-165; lihat juga Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam and Secularism, ISTAC, 1993, hlm 134 3 Orang Barat umumnya menyebut waktu sebelum abad modern dengan “Periode Penterjemahan” , namun hal ini kurang sesuai karena proses penterjemahan itu tidak sebentar. Orang-orang Eropah membutuhkan rentang waktu 5 abad dari abad ke 11 M hingga abad ke 16 M untuk menterjemahkan karya-karya Ibn Sina, Ibn Rusyd, al-Farabi, al-Ghazzali dan para saintis lain seperti al-Khawarizmi, Jabir ibn Hayyan, Ibn Haytham, al-Hazin, Ibn Bajah dsb. Jadi 5 abad bukan sebuah periode tapi lebih tepat disebut dengan Zaman, seperti halnya mereka menyebut sendiri Abad Pertengahan (Middle Ages) atau Abad Kegelapan (Dark Ages).
4

Myers, Eugene A., Arabic Thought and The Western Word, Fredrick Ungar Publishing Co.New York, 1964, pp. 83.

3 pandangan hidup Barat itu dapat disebut Islami atau memiliki unsur-unsur keislaman. Pandangan hidup Barat yang saintifik ini sejatinya telah diwarnai oleh paham sekularisme, rasionalisme, empirisisme, cara befikir dichotomis, desakralisasi, pragmatisme dan penafian kebenaran metafisis (baca: Agama). Pandangan hidup inilah akhirnya yang mewarnai peradaban Barat modern. Alain Touraine menggambarkan modernitas sbb:
The idea of modernity make science, rather than God, central to society and at best relegates religious belief to the inner realm of private life. The mere presence of technological applications of science does not allow us to speak of modern society. Intellectual activity must also be protected from political propaganda or religious beliefs; ….public and private life must be kept separate…..the idea of modernity is therefore closely associated with that of rationalization. 5

Jalan pikiran manusia Barat modern yang juga disebut “akal modern” (modern mind) itu telah membawa angin baru atau “cara baru” dalam melihat segala sesuatu dan dari situlah lahir sains modern. Disini kaitan antara “cara baru” dalam berfikir dengan pengetahuan
ilmiyah yang dihasilkannya sangat erat sekali. Dalam perspektif worldview modernisme adalah pandangan hidup dan karena moderrnisme lebih menekankan kepada sains dan teknologi, ketimbang agama, maka scientific worldview yang dilabelkan ke pandangan hidup Barat waktu itu sangatlah tepat. Sejak saat itulah pandangan hidup orang Barat telah berubah secara

fundamental. Jadi modernitas pada intinya adalah state of mind atau cara berfikir yang diaplikasikan kedalam berbagai bidang kehidupan. Oleh sebab itu JW Schoorl mendifinisikan modernisasi menjadi “penerapan pengetahuan ilmiyah yang ada kepada semua aktifitas, semua bidang kehidupan atau kepada semua aspek kehidupan masyarakat”6 Penerapan cara berfikir rasional kedalam keseluruhan aspek kehidupan pada akhirnya menjelma menjadi suatu idea yang lebih luas yaitu menciptakan masyarakat rasional. (rational society), yaitu suatu masyarakat yang segala kegiatannya termasuk bidang sain dan teknologi serta kehidupan politik dikontrol oleh rasio. Karena rasionalitas adalah satu-satunya prinsip yang mengatur kehidupan individu dan sosial termasuk kehidupan keagamaan, maka rasionalisasi berkaitan erat dengan tema sekularisasi. Jadi dua elemen penting peradaban modern adalah rasionalisasi dan sekularisasi. Dengan kedua elemen ini maka pandangan hidup Barat tidak lagi bersifat teistik dalam memandang segala sesuatu.7 Diskursus yang meletakkan Tuhan secara sentral hanya terbatas pada para teolog, sedangkan para filosof lebih tertarik pada sains. Modernisme terus berjalan dan berkembang pada abad-abad berikutnya. Habermas menyatakan bahwa proyek modernisasi berkulminasi pada abad ke 18 M, di saat mana model pemikiran rasional menjanjikan liberalisasi masyarakat dari mitologi irrasional, agama dan takhyul. 8 Inilah gerakan sekularisasi yang sebenarnya yang berupaya untuk menyuntikkan gagasan desakralisasi ilmu dan organisasi sosial. Menurut James E. Crimmins, proses desakralisasi, atau dalam istilah Weber ‘disenchantment’ ini memang sengaja diarahkan
5 6

Alain Touraine, Critique of Modernity, Blackwell, Oxford, UK, 1995, hal. 9-10 JW.Schoorl, Modernization, terjemahan bahasa Indonesia oleh RG.Soekadijo, Modernisasi, Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Berkembang, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1981, hal. 4
7

Menurut Huston Smith pendekatan yang bersifat teistik para pemikir Barat, yang ditandai oleh pemikiran yang memposisikan konsep Tuhan secara sentral dalam berbagai diskursus hanya berjalan hingga abad ke sebelas. Lihat Smith, Huston, Beyond The Post-Modern Mind, Quest Book, The Theosophical Publishing House, Wheaton, Illinois, USA, 1989, hal. 5.

8

David Harvey, The Condition of Postmodernity, Cambridge, Blackwell, 1991, 12-3.

4 untuk melawan agama dan digambarkan sebagai agen utama untuk menggeser dan menggusur agama tradisional.9 Hasil dari gerakan desakralisasi agama itu sendiri maka peminggiran agama dari fungsinya yang sentral dalam kehidupan public dan berbagai diskursus tidak dapat dielakkan. Alain Finkielkraut dalam bukunya The Defeat of the Mind menggambarkan kondisi agama pada era modern sbb:
What they called God was no longer the Supreme Being, but collective reason……From now on God existed within human intelligence, not beyond it, guiding people’s action and shaping their thoughts without their knowing it. Instead of communicating with all creatures, as His namesake did, by means of the Revelation, God no longer spoke to man in a universal tongue; He now spoke within him, in the language of his nation. 10

Gambaran ini menunjukkan bahwa dengan dihapusnya nilai-nilai transendental, maka Tuhan telah direduksi menjadi semangat kebangsaan dan kebudayaan. Ini juga berimplikasi pada pembebasan pemikiran rasional dari agama dan segala macam kepercayaan yang ada di masyarakat. Bagi mereka tidak ada agama yang bisa dipahami secara rasional. Pada zaman ini (yakni modern) pemikiran yang mendiskusikan apakah Tuhan itu ada atau tidak, sebagaimana pada zaman pra-modern sudah tinggal sedikit, yang ada hanya diskusi yang justru menggugat agama. Meskipun demikian Alain sendiri percaya bahwa pada abad ke 18 itu masih dapat dianggap abad metafisika,11 namun fondasi metafisis yang menjadi pembela kebenaran agama perlahan-lahan mulai tidak dapat dipertahankan lagi dan tinggal menunggu penghapusan metafisika pada abad berikutnya. Selain dari elemen Rasionalisme dan sekularisme, Barat Modern juga menganut pandangan filisafat empirisisme yaitu suatu prinsip yang merupakan konsekuensi logis dari rasionalisme dan sainitifisme. Dari perspektif ontologism Barat modern juga diwarnai oleh prinsip dualisme dalam memandang realitas, pemisahan jiwa dan raga adalah contoh yang paling kongkrit. Berkaitan erat dengan dualisme adalah cara memandang segala sesuatu secara dichotomis, yaitu suatu cara pandang terhadap realitas secara mendua. Dan yang terakhir adalah humanisme. Hal ini muncul sebagai konsekuensi logis dari adanya proses sekularisasi, desakralisasi dan disenchantment of nature. Jadi asas peradaban Barat Modern adalah rasionalisme, sekularisme, empirisisme (positivisme), dualisme atau dichotomi dan humanisme. Artinya perkembangannya bertumpu pada rasio dan spekulasi filosofis dan bukan pada sesuatu agama, pendekatan intelektual dan moralnya bersifat dichotomis, pemikirannya terbuka dan selalu berubah, makna realitas dan kebenaran hanyalah terbatas pada realitas sosial, kultural, empiris dan melulu bersifat rasional. b. Barat Posmodern Postmodernisme adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagi protes terhadap modernisme ataupun sebagai kelanjutannya. Sebab postmodernisme sedikit banyak masih berpijak pada modernisme, yang didominasi oleh paham atau pemikiran liberalisme,
9

James E.Crimmins, (ed) Religions, Secularizatin dan Political Thought, London, Routledge, 1990, 7. Alain Finkielkraut, The Defeat of The Mind, (trans. by Judith Friedlander, New York Columbia University Press, 1995, 18. Ibid, 19.

10

11

5 pluralisme, nihilisme, relativisme, persamaan (equality), dan umumnya anti-worldview. John Lock, salah seorang filosof Barat modern menegaskan bahwa liberalisme rasionalisme, kebebasan, dan persamaan (pluralisme) adalah inti modernisme. Abad ke 19 adalah era dimana modernitas mulai dipertanyakan oleh suatu gerakan filsafat yang berpegang pada prinsip yang meragukan bahwa realitas memiliki struktur yang dapat difahami oleh manusia. Ini adalah pengingkaran terhadap absolutisme dan sekaligus merupakan serangan yang serius terhadap salah satu disiplin ilmu filsafat yang terpenting, yaitu metafisika obyektif. Munculnya eksistensialisme dan filsafat analitik, yang merupakan dua gerakan yang sangat dominan pada waktu itu, merupakan produk akal post-modern (postmodern mind). Inilah yang kemudian menggantikan sistim metafisika. Silverman menyatakan bahwa penutupan jalan pemikiran metafisika bertepatan dengan berakhirnya era modernisme.12 Jadi sistim baru yang disebut PostModernisme ini adalah sistim yang tanpa pemikiran metafisis. Penghapusan metafisika juga berimplikasi pada pengesampingan atau “peremehan” doktrin keagamaan yang berdasarkan pada metafisika itu. Titik perubahan dari metode berfikir metafisis kepada metode berfikir analitis dapat dirujuk kepada pandangan-pandangan Karl Marx (18181883) dan Nietzsche (1844-1900) tentang agama.13 Secara filosofis posmodernisme juga merupakan gerakan yang tidak lagi mempercayai kebenaran obyektif atau saintifik yang menjadi ciri modernisme. Hal ini dapat dilacak dari pemikiran Immanuel Kant (1724-1804), GWF Hegel (1770-1830) dan juga Karl Marx yang menganggap bahwa masyarakat Barat itu adalah progressif, tidak pernah final dan akan menuju kesempurnaan dengan cara evolusi, perkembangan social, pendidikan dan pemanfaatan sains. Penolakan terhadap finalitas juga tercermin dalam filsafat post-structuralisme yang menolak adanya “makna” yang tetap (fixed meaning) atau adanya keterkaitan antara bahasa dan dunia atau mengingkari realitas, kebenaran dan fakta yang tetap sebagai obyek pencarian. Puncaknya dapat dilacak dari pikiran Nietzsche yang menghapuskan asumsi bahwa disana terdapat pengetahuan obyektif. Nietzsche juga dikenal sebagai pemikir awal posmo dikenal dengan program penghapusan nilai (dissolution of value) dan penggusuran tendensi yang mengagungkan otoritas merupakan karakteristik pandangan hidup Barat post-modern. Makna nilai yang dijunjung tinggi dan dinilai sebagai absolut oleh agama dan masyarakat direduksi.14 Doktrin penghapusan nilai yang terkenal yang di dengungkan pertama kali oleh Nietzsche adalah doktrin nihilisme. Dalam karyanya Will to Power, Nietzsche menggambarkan nihilisme sebagai situasi dimana “manusia berputar dari pusat ke arah titik X”, artinya “nilai tertinggi mengalami devaluasi dengan sendirinya. 15 Heidegger (1889-1976) dengan nada yang sama mendefinisikan nihilisme sebagai “suatu proses dimana pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa”16 Keduanya mempunyai mindset dan kecenderungan yang sama saja. Dalam pandangan Nietzsche proses nihilisme adalah devaluasi nilai tertinggi, yang membawa pada kesimpulan doktrin “kematian Tuhan”. Dalam pandangan Heidegger
12

Hugh J.Silverman, “The Philosophy of Postmodernism”, dalam Hugh J.Silverman (ed) Postmodernism-Philosophy and the Art, London, Routledge, 1990, hal. 5. Untuk diskusi yang lebih detail mengenai hal ini lihat Nancy Love, Marx, Nietzsche, and Modernity, New York, Columbia University Press, 1986, khususnya bab satu, 1-7 dan empat, 113-134. Gianni Vattimo, The End of Modernity, 167. Nietzsche, F, Will To Power, 8-9. Gianni Vattimo, The End of Modernity, 19.

13

14 15 16

6 nihilisme menunjukkan penghapusan Being dengan sedemikian rupa sehingga menjelma menjadi nilai. Disini realitas tidak lagi difahami dalam bentuk suatu susunan dimana sang pencipta berada pada puncak hirarki yang absolut. Keduanya menuju suatu titik dimana manusia tidak lagi berpegang pada struktur nilai, nilai tidak lagi mempunyai makna. Suatu konsep tentang apapun tidak lagi berdasarkan pada sesuatu yang metafisis, religius ataupun mengandung unsur ketuhanan (divine). Meskipun doktrin yang kemudian dinamakan European nihilism ini mengusung proyek devaluasi nilai, namun mereka masih menganggap hal ini sebagai suatu jalan baru dalam menentukan konsep nilai yang berbeda dari kepercayaan dalam agama. Nilai tidak lagi berkaitan dengan agama dan kepercayaan. Jadi nihilisme, kata Snyder, berhubungan dengan perubahan kebenaran ke dalam nilai, tapi nilai yang telah diwarnai oleh kepercayaan dan opini manusia.17 Dalam terminologi Nietzsche perubahan kebenaran menjadi sekedar nilai ini berbentuk apa yang dia istilahkan “will to power.” Ini berarti bahwa filsafat nihilisme bertujuan untuk mengkaji dan kemudian menghapuskan segala klaim yang dilontarkan oleh pemikiran metafisika tradisional. Metafisika, dimana konsep Tuhan merupakan fondasi pemikiran dan nilai dihilangkan atau disingkirkan. Sebab, seperti yang dinyatakan oleh Nietzsche, ketika metafisika telah mencapai suatu poin dimana kebenaran telah dianggap seperti Tuhan, sebenarnya itu tidak lebih dari nilai-nilai yang subyektif yang boleh jadi salah sepertimana kepercayaan dan opini manusia yang lain. Baginya tidak ada perbedaan antara benar dan salah, keduanya hanyalah kepercayaan yang salah (delusory) yang keduanya tidak dapat diandalkan. Maka dari itu, kalau kita menolak kesalahan kita juga harus menolak kebenaran. Membuang yang satu berarti juga harus membuang yang lain (to do away with one is to do away with other too).18 Berdasarkan pada doktrin ini maka Nietzsche mendefinisikan metafisika secara pejoratif sebagai “ilmu yang membahas tentang kesalahan manusia yang fundamental, seakan-akan semua itu kebenaran yang fundamental”.19 Serangan doktrin nihilisme terhadap metafisika ini menunjukkan dengan jelas serangan terhadap agama sebagai asas bagi moralitas. Teori tentang European nihilism dapat dilihat dengan lebih jelas lagi dari apa yang kini disebut sebagai “the philosophy of difference”, yang dinisbatkan kepada Nietzsche dan Heidegger. Segala perbedaan antara kepalsuan dan kebenaran, rasional dan irrasional harus di letakkan di luar jangkauan bahasa dan konsep-konsep yang melekat dengannya. Difference adalah produk dari “will to power” (kehendak untuk berkuasa) yang ada dalam diri manusia atau kehendak untuk menafsirkan (will to interpret). Ini berarti bahwa segala sesuatu yang kita hadapi dalam pengalaman kita di dunia tidak kurang dan tidak lebih dari suatu penafsiran; dan segala sesuatu di dunia ini selalu ditafsiri sesuai dengan nilai-nilai subyektif dalam diri kita. Karena kecenderungan untuk selalu menafsirkan itulah maka bagi post-modernis dunia yang dapat diketahui hanyalah dunia yang berbeda-beda atau dunia interpretasi. The philosophy of difference ini kemudian menjadi salah satu penghubung antara nihilisme dan hermeneutika (filsafat interpretasi). 20 Jadi, singkatnya nihilisme dan filsafat perbedaan (philosophy of difference) menandai perkembangan postmodernisme yang pada gilirannya merupakan asas bagi penolakan terhadap kebenaran transenden.
17 18

Jon R.Snyder, (trans.) in Gianni Vattimo, The End of Modernity, , xi. Nietzsche, Friedrich, Twilight of the Idol, trans. R.J. Hollingdale (Harmondsworth: Penguin, 1968), 41. Dalam Will To Power, dia mengatakan, “Truth is the kind of error”, lihat Nietzsche, Friedrich, The Will To Power, 493. Jon R.Snyder, in Gianni Vattimo, The End of Modernity, xii. Ibid, xiii.

19 20

7 Atmosfir pemikiran post-modern dapat digambarkan melalui pernyataan bahwa “segala sesuatu adalah teks, dan materi dasar teks itu yang berupa masyarakat dan bahkan nyaris segala sesuatu difahami sebagai makna, dan makna itu harus didekonstruksi; pernyataan tentang realitas obyektif harus dicurigai”. 21 Formulasi Gellner adalah tepat sebab dalam diskursus para pemikir post-modernis dunia ini dianggap sebagai makna. Bahkan segala sesuatu adalah makna dan makna adalah segala sesuatu, dan hermeneutika adalah “nabinya”. Disini yang dipentingkan adalah interpretasi realitas obyektif dan bukan realitas obyektifnya. Sebab dalam alam pikiran postmodern kebenaran obyektif telah digantikan oleh kebenaran hermeneutika.22 Artinya dalam kebenaran hermeneutika itu subyektifitas pencari kebenaran, pembaca atau pendengar sangat dihargai. Dalam kondisi yang seperti ini, Ernest Gellner menyatakan bahwa postmodernisme nampak jelas mendukung paham relativisme. Kebenaran bagi posmodernis adalah elusive (kabur), subyektif dan internal, oleh sebab itu mereka tidak bisa menerima ide tentang kebenaran tunggal, ekslusif, obyektif, ekternal dan transenden.23 Singkatnya, filsafat post-modern melebur nilai tertinggi, menyingkirkan Tuhan dan rujukan segala bentuk nilai sebagai fondasinya. Nilai baru yang diperkenalkan postmodernisme adalah nilai yang memiliki hubungan dengan nilai-nilai lain atau bahkan saling tukar menukar, karena ia memiliki status yang sama dalam wajah yang universal. Oleh sebab itu bentuk segala macam nilai adalah nilai yang layak untuk saling tukar menukar antara satu peradaban dengan peradaban lain. Disini lagi-lagi nampak bahwa metafisika tradisional mulai melebur dan tenggelam. Masalahnya, jika dalam pandangan post-modernis segala sesuatu direduksi menjadi nilai yang relatif, yang berimplikasi pada adanya kemungkinan penafsiran terhadap realitas secara tak terbatas, maka di sana tidak ada lagi nilai yang diakui dan memiliki kelebihan dari nilai-nilai lain. Akibatnya setiap orang akan terlibat dalam kerja intepretasi terhadap setiap aspek wujud yang tiada ada habisnya. Agama tidak lagi berhak mengklaim punya kuasa lebih terhadap sumber-sumber nilai yang dimiliki manusia seperti yang telah di formulasikan oleh para filosof. Jadi agama difahami sebagai sama dengan persepsi manusia sendiri yang tidak mempunyai kebenaran absolut. Oleh sebab itu agama mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat dalam pengertian tradisional. Atmosfir pemikiran posmodernisme dengan doktrin subyektifitas dan relativitas kebenaran ini adalah salah satu faktor penting bagi lahirnya paham pluralisme dan juga pluralisme agama. Barat dan Islam Periode modern dan postmodern tidak terdapat dalam sejarah intelektual dan peradaban Islam. Pandangan Barat seperti sekularisme, rasionalisme, empirisisme, deskralisasi, pragmatisme, pluralisme, persamaan dan lain sebagainya juga tidak terdapat dalam tradisi intelektual Islam, bahkan paham-paham itu jika dikaji scara teliti bertentangan dengan Islam. Pandangan hidup Islam yang bersumberkan pada wahyu hadith, akal, pengalaman dan intuisi itu memiliki pendekatan yang tidak dichotomis tapi tawhidi. Jika makna realitas dan kebenaran hanya merujuk kepada bukti empiris maka
21

Pernyataan aslinya adalah sbb: everything is text, that the basic material of text, societies and almost anything is meaning, that meaning are there to be decoded or ‘deconstructed’, that the notion of objective reality is suspect. Lihat Ernest Gellner, Postmodernism, Reason and Religion, Routledge, London-New York, 1993, 23. Ibid, 35 Ibid, 24

22 23

8 dalam Islam merujuk dan berdasarkan pada keduanya kajian empiris dan metafisis. Jika Islam adalah peradaban yang lahir, tumbuh dan berkembang berdasarkan agama yang dibimbing oleh wahyu, maka peradaban Barat tidak terbentuik dari agama, agama hanya diletakkan sebagai salah satu elemen peradaban. Lebih detail mengenai perbandingan Islam dan Barat lihat diagram dibawah ini.

Perbandingan Islam dan Barat ISLAM
Asas: wahyu,hadith, akal, pengalaman, intuisi Pendekatan: Tawhidi. Sifat: otentisitas, finalitas. Makna Realitas dan Kebenaran: berdasarkan kajian metafisi berasaskan wahyu, dst. Objek kajian: invisible & visible. ‘Ālam al-Mulk & ‘Ālam al-Syahādah Elemen-elemen: konsep Tuhan, konsep wahyu, penciptaan, manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai, moralitas. Agama sebagai asas seluruh elemen peradaban

BARAT
Asas: Rasio, spekulasi filosofis. Pendekatan: dichotomis (materialismeidealisme). Sifat: rasionalitas, terbuka & selalu berubah. Makna Realitas & Kebenaran: pandangan sosial, kultural, empiris, rasional. Objek Kajian: tata nilai masyarakat. Elemen-elemen: agama, moralitas, filsafat, politik, kebebasan, persamaan, individualisme. Agama sebagai salah satu elemen dari seluruh elemen peradaban.

Hasil penelitian kumulatif terhadap lebih dari 70 negara yang dianggap mewakili 80 persen penduduk dunia yang dilakukan World Value Survey (WVS) pada tahun 19951996 dan 2000-2000, membuktikan bahwa Islam dan Barat memiliki perbedaan nilai yang tajam. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa kultur adalah penyebab perbedaan. 24 Lebih detail lagi mengenai apa yang disebut kultur sebaiknya kita rujuk paparan Huntington mengenai identitas peradaban Barat, khususnya Amerika sendiri, yang ia sebut dengan America’s core culture. Identitas Amerika menurutnya terdiri dari beberapa elemen-elemen pentingnya yaitu a) Agama Kristen, b) nila-nilai dan moralitias Protestan, c) etika kerja, d) Bahasa Inggeris, e) Tradisi hukum bangsa Inggeris, f) sistim kekuasaan pemerintahan yang terbatas, g) khazanah seni dan sastra, h) filsafat dan i) musik yang berasal dari Eropah. Ini masih ditambah dengan kepercayaan bangsa Amerika tentang prinsip-prinsip Liberal, persamaan, individualisme, perwakilan pemerintahan dan kekayaan pribadi.25

24

Ronald Inglehart and Pippa Norris, The True Clash of Civilization, dalam http://www.keepmedia.com/pubs/ForeignPolicy/2003/03/01/6424/?extID=10047&data=samuel_huntingto n http://www.newyorker.com/critics/books/?040517crbo_books

25

9 Bahkan lebih lebih spesifik dan parsial lagi Ronald Inglehart and Pippa Norris menyatakan bahwa perbedaan Islam dan Barat berkaitan dengan kesetaraan gender, dan kebebasan seks. Jadi yang terjadi antara Barat dan Islam, menurut mereka, adalah benturan peradaban seks (Sexual clash of Civilization). Menaggapi thesis Huntington mereka berkomentar: Samuel Huntington hanya setengah benar. Garis kultural yang memisahkan Barat dan dunia Islam bukan tentang demokrasi tapi seks. Menurut hasil survey terbaru, Muslim dan Barat sama-sama menginginkan demokrasi, namun dunia mereka menjadi terpisah ketika mereka bersikap terhadap perceraian, aborsi, kesetaraan gender, dan hak-hak gay, sehingga hal ini tidak menjanjikan bagi masa depan demokrasi di Timur Tengah……. Di Barat generasi mudanya, dalam soal seks, menjadi semakin liberal, sementara di dunia Islam masih tetap menjadi masyarakat yang paling tradisional di dunia”26 Jadi agama adalah salah satu elemen dari identitas peradaban Barat, namun yang paling dominan adalah sistim demokrasi, ekonomi, sosial dan pemikiran keagamaan yang liberal. Artinya, Barat secara keseluruhannya kini tengah menganut suatu sistim kehidupan yang disebut liberalisme. Untuk lebih detail mengenai makna liberalisme dijelaskan berikut ini. II. Makna dan Sejarah Liberalisme Kata-kata liberal diambil dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan dimana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir (The old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna. Secara politis liberalisme adalah ideologi politik yang berpusat pada individu, dianggap sebagai memiliki hak dalam pemerintahan, termasuk persamaan hak dihormati, hak berekspresi dan bertindak serta bebas dari ikatan-ikatan agama dan ideologi.27 Dalam konteks sosial liberalisme diartikan sebagai adalah suatu etika sosial yang membela kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) secara umum.28 Menurut Alonzo L. Hamby, PhD, Profesor Sejarah di Universitas Ohio, liberalisme adalah paham ekonomi dan politik yang menekankan pada kebebasan (freedom), persamaan (equality), dan kesempatan (opportunity).29 Sejarahnya paham liberalisme ini berasal dari Yunani kuno, salah satu elemen terpenting peradaban Barat. Namun, jika dilacak hingga Abad Pertengahan liberalisme dipicu oleh kondisi sistim ekonomi dan politik yang didominasi oleh sistem feodal. Di dalam sistem ini, raja dan bangsawan memiliki hak-hak istimewa, sedangkan rakyat jelata tidak diberi

26 27

Ronald et al, The True Clash of Civilization, Ibid Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford, Oxford University Press, 1996, v.s. liberalism. 28 Coady, C. A. J. Distributive Justice, A Companion to Contemporary Political Philosophy, editors Goodin, Robert E. and Pettit, Philip. Blackwell Publishing, 1995, hl.440. 29 Brinkley, Alan.Liberalism and Its Discontents. Harvard Univ. Pr., 1998; Lihat juga Gray, John.The Two Faces of Liberalism. New Pr., 2000; Kloppenberg, James T.The Virtues of Liberalism. Oxford, 1998.

10 kesempatan secara leluasa untuk menggunakan hak-hak mereka, apalagi hak untuk ikut serta dalam mobilisasi sosial yang dapat mengantarkan mereka menjadi kelas atas. Perkembangan awalnya terjadi sekitar tahun 1215, ketika Raja John di Inggris mengeluarkan Magna Charta, dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan raja kepada bangsawan bawahan. Charta ini secara otomatis telah membatasi kekuasaan Raja John sendiri dan dianggap sebagai bentuk liberalisme awal (early liberalism). Liberalisme awal sendiri ditandai dengan perlawanan dan pembatasan terhadap kekuasaan pemerintah yang cenderung absolut. Perkembangan liberalisme selanjutnya ditandai oleh revolusi tak berdarah yang terjadi pada tahun 1688 yang kemudian dikenal dengan sebutan The Glorious Revolution of 1688. Revolusi ini berhasil menurunkan Raja James II dari England dan Ireland (James VII) dari Scotland) serta mengangkat William II dan Mary II sebagai raja. Setahun setelah revolusi ini, parlemen Inggris menyetujui sebuah undang-undang hak rakyat (Bill of Right) yang memuat penghapusan beberapa kekuasaan raja dan jaminan terhadap hak-hak dasar dan kebebasan masyarakat Inggris. Pada saat bersamaan, seorang filosof Inggris, John Locke, mengajarkan bahwa setiap orang terlahir dengan hak-hak dasar (natural right) yang tidak boleh dirampas. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama, dan berbicara. Di dalam bukunya, Two Treatises of Government (1690), John Locke menyatakan, pemerintah memiliki tugas utama untuk menjamin hak-hak dasar tersebut, dan jika ia tidak menjaga hak-hak dasar itu, rakyat memiliki hak untuk melakukan revolusi. Di bidang ekonomi liberalisme berkembang melalui kebijakan laissez faire seorang ekonom Scotties, Adam Smith, di dalam bukunya, The Wealth of Nations (1776). Di kemudian hari, gagasan-gagasan ekonomi Adam Smith ini dijadikan dasar untuk membangun sistem ekonomi kapitalis yang menawarkan liberalisasi kegiatan ekonomi bagi setiap orang. Kibijakan ini akhirnya membatasi Negara untuk campur tangan dalam kegiatan ekonomi rakyat. Di Prancis, sejak tahun 1700-an, filosof terkenal Prancis Montesquieu dalam bukunya, The Spirit of the Laws (1748) mengajarkan pemisahan kekuasaan negara (separation of powers): kekuasaan eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Ini sudah merupakan langkah maju untuk mengurangi kekuasaan politik yang absolute. Sementara Rousseau, di dalam bukunya, The Social Contract (1762), menyatakan, pemerintahan itu merupakan gambaran dari kepercayaan rakyat yang diperintahnya. Artinya, kekuasaan sejatinya milik rakyat dan bukan milik raja atau penguasa. Adapun Voltaire menyerang pemerintah yang terlalu campur tangan dalam kebebasan individu. Ketiga tulisan filosof tersebut pada prinsipnya menyuarakan hak-hak individu dan kebebasan. Dan dampak dari tulisan mereka itu adalah terjadinya Revolusi Prancis pada tahun 1789. Di Amerika Serikat, The Revolutionary War (1775-1783) telah memerdekakan Amerika dari penjajahan Inggris. Dan tidak lama sesudah itu, tahun 1788, konstitusi AS menetapkan berdirinya pemerintahan demokratik: kekuasaan dibagi menjadi tiga; Presiden, Kongres, dan Pengadilan Federal. Setahun kemudian, pada tahun 1789, rakyat Amerika Serikat mencetuskan sebuah amandemen yang dikenal dengan sebutan Bill of Rights. Pada tahun 1971, amandemen ini dijadikan salah satu bagian undang-undang dasar. Isi penting dari Bill of Rights adalah jaminan terhadap hak-hak dasar seperti kebebasan berbicara, pers, beragama, dan sebagainya.

11 Puncak liberalisasi politik terjadi pada abad ke 19 ketika di beberapa negara Eropah paham liberalisme terus menggelinding dalam bentuk ide-ide kebebasan dan gerakan-gerakan revolusioner. Akibatnya tahun 1830 banyak raja dan bangsawan Eropa yang kehilangan kekuasaan mereka. Pada tahun 1848, banyak negara berhasil memperjuangkan hak-hak sipil, meskipun sedikit sekali yang berhasil berubah menjadi negara demokrasi. Pada tahun-tahun itu pula hampir seluruh negara Eropa berhasil menghapuskan sistem perbudakan. Sedangkan tahun 1865 Amerika Serikat melakukan amandemen ke-13 pada Konstitusi Negara itu untuk menghapuskan perbudakan. Amandeman ke-15 yang kemudian diadopsi pada tahun 1870 memberikan hak pilih kepada para budak. Sejak tahun 1800-an pula, para pekerja memperoleh hak-hak politiknya. Menginjak abad ke 20 setelah berakhirnya perang dunia pertama pada tahun 1918, beberapa negara Eropa menerapkan prinsip pemerintahan demokrasi. Hak kaum perempuan untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi di dalam pemerintahan berikan. Menjelang tahun 1930-an, liberalisme mulai berkembang tidak hanya meliputi kebebasan berpolitik saja, tetapi juga mencakup kebebasan-kebebasan di bidang lainnya; misalnya ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Tahun 1941, Presiden Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat kebebasan, yakni kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech), kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want), dan kebebasan dari ketakutan (freedom from fear). Pada tahun 1948, PBB mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights yang menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, di samping hak politik. Dari sini dapat dipahami, sejak tahun 1900-an, politik dan ekonomi liberal memiliki hubungan yang sangat erat. Gagasan ekonomi liberal didasarkan pada sebuah pandangan bahwa setiap individu harus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekonominya tanpa ada intervensi dan campur tangan dari negara. Kaum liberal percaya, bahwa ekonomi akan melakukan regulasi sendiri (the invisible hand). Atas dasar itu, campur tangan negara tidak diperlukan lagi. Gagasan semacam ini diadopsi dari pemikiran-pemikiran Adam Smith dan menjadi landasan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di dunia saat ini. Jika ditilik dari perkembangannya liberalisme secara umum memiliki dua aliran utama 30 yang saling bersaing dalam menggunakan sebutan liberal. Yang pertama adalah liberal klassik atau early liberalism yang kemudian menjadi liberal ekonomi yang menekankan pada kebebasan dalam usaha individu, dalam hak memiliki kekayaan, dalam polesi ekonomi dan kebebasan melakukan kontrak serta menentang sistim welfare state. Kelompok ini mendukung persamaan (equality) didepan hukum tapi tidak dalam ekonomi (economic inequality) karena distribusi kekayaan oleh negara tidak menjamin kemakmuran. Persaingan dalam pasar bebas menurut kelompok ini lebih menjamin. Yang kedua adalah liberal sosial. Aliran ini menekankan peran negara yang lebih besar untuk membela hak-hak individu (dalam pengertian yang luas), seringkali dalam bentuk hukum anti-diskriminasi. Kelompok ini mendukung pendidikan bebas untuk umum (universal education), dan kesejahteraan rakyat, termasuk jaminan bagi penganggur, perumahan bagi tunawisma dan perawatan kesehatan bagi yang sakit, semua itu didukung oleh sistim perpajakan.
30

Chandran Kukathas, The Many and the One: Pluralism in the Modern World, Richard Madsen and Tracy B. Strong, editors, 2003, p. 61

12 Dengan kata lain liberalisme awal (early liberalism) lebih menekankan pada hakhak ekonomi dan politik, liberalisme sosial telah mencakup hampir seluruh dimensi kehidupan, termasuk di dalamnya liberalisasi pemikiran. Liberal dalam konteks kebebasan intelektual berarti independen secara intelektual, berfikiran luas, terus terang, dan terbuka. Kebebasan intelektual sejatinya berkembang sejalan dengan perkembangan liberalisme sosial dan politik yang terjadi di Barat pada akhir abad ke 18, namun akar-akarnya dapat dilacak seabad sebelumnya yaitu abad ke 17. Di masa itu dunia Barat terobsesi untuk membebaskan bidang intelektual, keagamaan, politik dan ekonomi dari tatanan moral, supernatural dan bahkan Tuhan. Maka dari itu prinsip-prinsip Revolusi Perancis 1789 dianggap sebagai Magna Charta liberalisme. Didalamnya terdapat kebebasan mutlak dalam pemikiran, agama, etika, kepecayaan, berbicara, pers dan politik. Konsekuensinya adalah penghapusan Hak-hak Tuhan dan segala otoritas yang diperoleh dari Tuhan; penyingkiran agama dari kehidupan publik menjadi bersifat individual. Selain itu agama Kristen dan Gereja harus dihindarkan agar tidak menjadi lembaga hukum ataupun sosial. Yang jelas liberalisme mengindikasikan pengingkaran terhadap semua otoritas yang sesungguhnya, sebab otoritas dalam pandangan liberal menunjukkan adanya kekuatan diluar dan diatas manusia yang mengikatnya secara moral. Kebebasan intelektual yang mencoba untuk bebas dari agama dan dari Tuhan itu secara logis merupakan liberalisme dalam pemikiran keagamaan dan itulah yang pertamkali dirasakan oleh agama-agama di Barat. Liberalisme dalam pemikiran keagamaan atau yang terkenal disebut theological liberalism berkembang melalui tiga fase perkembangan. Fase pertama dari abad ke 17 yang dimotori oleh filosof Perancis Rene Descartes yang mempromosikan doktrin rasionalisme atau Enlightenment yang berakhir pada pertengahan abad ke 18. Doktrin utamanya adalah a) percaya pada akal manusia b) keutamaan individu c) imanensi Tuhan dan d) meliorisme (percaya bahwa manusia itu berkembang dan dapat dikembangkan). Fase kedua bermula pada akhir abad ke 18 dengan doktrin Romanticisme yang menekankan pada individualisme, artinya individu dapat menjadi sumber nilai. Kesadaran-diri (self-consciousness) itu dalam pengertian religious dapat menjadi Kesadaran-Tuhan (god-consciousness). Tokohnya adalah JeanJacques, Immanuel Kant, dan Friedrich Schleiermacher. Fase terakhir bermula pada pertengahan abad ke 19 hingga abad ke 20 ditandai dengan semangat modernisme dan postmodernisme yang menekankan pada ide tentang perkembangan (notion of progress). Agama kemudian diletakkan sebagai sesuatu yang berkembang progressif dan disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern serta di harapkan dapat merespon isu-isu yang diangkat oleh kultur modern. Itulah sebabnya maka kajian mengenai doktrin-doktrin Kristen kemudian berubah bentuk menjadi kajian psikologis pengalaman keagamaan (psychological study of religious experience), kajian sosiologis lembaga-lembaga dan tradisi keagamaan (sociological study of religious institution), kajian filosofis tentang pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan (philosophical inquiry into religious knowledge and values).31 Sementara itu pada abad ke 19 liberalisme dalam pemikiran keagamaan Katholik Roma berbentuk gerakan yang mendukung demokrasi politik dan reformasi gereja, namun secara teologis tetap mempertahankan ortodoksi. Sedangkan dalam pemikiran Kristen
31

The New Encyclopedia of Britanica, University of Chocago, 1991, vol. 11, hal. 693

13 Protestan liberalisme merupakan tren kebebasan intelektual yang menekankan pada substansi etis dan kemanusiaan Kristen dan mengurangi penekanan pada teologi yang dogmatis.32 III. Ciri Liberalisme Keagamaan Barat Ketika liberalisme merasuk kedalam pemikiran keagamaan maka banyak konsep dasar dalam agama Kristen yang berubah. Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, Moscow, Idaho33 menyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat adalah sbb: Pertama, percaya pada Tuhan, tapi bukan Tuhan dalam kepercayaan Kristen Orthodok. Karena Tuhan mereka tidak orthodok maka mereka seringkali disebut Atheist. Ciri-ciri Tuhan menurut Kitab Suci dan doktrin agama sebagai person dengan sifat-sifat khusus ditolak oleh kelompok liberal karena mereka lebih menyukai konsep Tuhan yang diambil dari akal manusia. Tuhan dalam kepercayaan ini dianggap tidak mengetahui kehidupan mausia secara detail dan tidak mencampuri urusan individu nanusia. Kedua, kaum liberal memisahkan antara doktrin Kristen dan etika Kristen. Dengan mengurangi penekanan pada doktrin atau kepecayaan, mereka berpegang padau prinsip bahwa Kristen dan non-Kristen harus saling menerima dan berbuat baik. Seseorang menjadi religius bukan hanya afirmasi terhadap dogma, tapi karena etika dan perilaku moralis seseorang. Inilah yang membawa kelompok liberal untuk berkesimpulan bahwa orang atheist sekalipun dapat menjadi moralis. Ketiga, kaum liberal tidak ada yang percaya pada doktrine Kristen Orthodok. Mereka menolak sebagian atau keseluruhan doktrin-doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus, perawan yang melahirkan, Bible sebagai kata-kata Tuhan secara literal, takdir, neraka, setan dan penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo). Doktrin satu-satunya yang mereka percaya, selain percaya akan adanya Tuhan adalah keabadian jiwa. Keempat, menerima secara mutlak pemisahan gereja dan negara. Para pendiri negara Amerika menyadari akibat dari pemerintahan negara-negara Eropah yang memaksakan doktrin suatu agama dan menekan agama lain. Maka dari itu kata-kata “Tuhan” dan “Kristen” tidak terdapat dalam undang-undang. Ini tidak lepas dari pengaruh tokoh-tokoh agama liberal dalam konvensi konstitusi tahun 1787. Kelima, percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama. Pada mulanya toleransi dibatasi hanya pada sekte-sekte dalam Kristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi kaum atheis dan pemeluk agama non-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin, Jefferson dan Madison. Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan dalam beragama tapi bebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak beragama.
32

Http://uk.search.yahoo.com/search;_ylt=A0oGkuebQs9Hd0kBPmtLBQx.?p = origin + of +religious+liberalism&y=Search&fr=slv8-acd&ei=UTF-8&rd=r1

Nicholas F. Gier, “Religious Liberalism and The Founding Fathers”, dalam Peter Caws, ed. Two Centuries of Philosophy in America, (Oxford: Basil Blackwell Publishers, 1980), pp. 22-45.
33

14 Jadi sejatinya liberalisme dalam bidang sosial dan politik dalam peradaban Barat telah memarginalkan agama atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik secara perlahan-lahan. Agama tidak diberi tempat diatas kepentingan sosial dan politik. Dan ketika liberalisme masuk kedalam pemikiran keagamaan Kristen Katholik dan Protestan ia telah mensubordinasikan gereja ke bawah kepentingan politik dan humanisme, serta mengurangi peran teologi dalam bidang-bidang kehidupan. Maka dari itu dalam liberalisme pemikiran keagamaan masalah yang pertama kali dipersoalkan adalah konsep Tuhan (teologi) kemudian doktrin atau dogma agama. Setelah itu liberalisme mempersoalkan dan kemudian memisahkan hubungan agama dari politik (sekularisme). Akhirnya liberalisme pemikiran keagamaan menjadi berarti sekularisme dan dipicu oleh gelombang pemikiran postmodernisme yang menjunjung tinggi pluralisme, persamaan (equality), dan relativisme. Gambaran diatas menunjukkan bahwa liberalisme – baik dalam bidang sosial dan politik serta pemikiran keagamaan - merupakan tren yang dominan di Barat saat ini. Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History, and the Last Man bahkan mengemukakan thesisnya bahwa :
… the principle of liberty and equality underlying the modern liberal state had been discovered and implemented in the most advance countries, and that there were no alternative principles or forms of social and political organization that were suprior to liberalism. Liberal societies were, in other words, ….would therefore bring the historical dealectic to a close. 34

Artinya prinsip-prinsip kebebasan dan persamaan yang mendasari negara liberal modern telah diketemukan dan diimplementasikan pada negara-negara maju, dan tidak ada prinsip atau bentuk alternatif organisasi sosial dan politik yang lebih superior daripada liberalisme. Dengan kata lain masyarakat-masyarakat liberal..…..akan menjadikan dialektika sejarah berakhir. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa wajah peradaban Barat yang liberal itu merupakan bentuk final dan ideal dari sistim sosial dan politik serta keagamaan Barat, tidak ada sistim lagi yang sebaik liberalisme. IV. Islam dan tantangan Liberalisme Karena liberalisme merupakan sistim, pandangan hidup atau ideologi Barat maka Islam bagi Barat merupakan tantangan bagi liberalisme. Sudah tentu sebaliknya liberalisme juga merupakan tantangan bagi Islam. Francis Fukuyama dalam bukunya itu jelas-jelas mensejajarkan Islam dengan ideologi Liberalisme dan Komunisme, meskipun Islam ia anggap memiliki nilai moralitas dan doktrin-doktrin politik dan keadilan sosialnya sendiri. Menurutnya karena ajaran Islam bersifat universal, maka ia pernah menjadi tantangan bagi demokrasi liberal dan praktek-praktek liberal. Tapi ia juga mengakui bahwa nilai-nilai liberal Barat merupakan ancaman bagi masyarakat Islam. Dalam hal ini Fukuyama menegaskan:
Tidak diragukan lagi, dunia Islam dalam jangka panjang akan nampak lebih lemah menghadapai ide-ide liberal ketimbang sebaliknya, sebab selama seabad setengah yang lalu liberalisme telah

34

Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, New York, 1992, hal 64..

15
memukau banyak pengikut Islam yang kuat. Salah satu sebab munculnya fundamentalisme adalah kuatnya ancaman nilai-nilai liberal dan Barat terhadap masyarakat Islam tradisional. 35

Fukuyama jelas-jelas meletakkan Islam, Liberalisme dan Komunisme sebagai ideologi-ideologi atau pemikiran yang mempunyai doktrin masing-masing dan saling bertentangan satu sama yang lain dan saling mengancam. Apa yang disebut ancaman bukan bayang-bayang ketakutan yang satu terhadap yang lain, akan tetapi merupakan fakta bahwa liberalisme dan Islam itu sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dilacak dari fakta bahwa ummat manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan setiap bangsa memiliki peradaban sendiri-sendiri. Cara berfikir dan cara pandang antara satu peradaban dengan yang lain juga berbeda-beda. Perbedaan itu lebih berupa perbedaan cara memandang kehidupan atau perbedaan pandangan hidup (worldview). Perbedaan pandangan hidup antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dipengaruhi oleh kultur, agama, kepercayaan, ras dan lain-lain. Dalam artikel berjudul If Not Civilizations, What? (Samuel Huntington Responds to His Critics), Huntington menyatakan bahwa substansi atau asas peradaban adalah prinsipprinsip keagamaan dan filsafat. Oleh sebab itu faktor-faktor untuk mengidentifikasi orang, dan juga faktor yang menjadikan mereka siap perang dan mati adalah keimanan dan keluarga (faith dan family), darah (baca: ras) dan kepercayaan (blood and belief).36 Perbedaan identitas dan kemudian gesekan antara satu peradaban dan worldview inilah yang disekenarionkan dan diteorikan Samuel P Huntington sebagai “clash of civilization” (benturan peradaban). Benturan ini menurutnya akan mengakibatkan ketegangan, benturan, konflik ataupun peperangan di masa depan. 37 Selain itu, thesis Huntington merupakan deklarasi ataupun self-disclosure bahwa Barat akan berhadapan dengan peradaban yang berbeda dan akan mengakibatkan ketegangan, benturan, konflik ataupun peperangan di masa depan. Masalahnya bukan hanya karena terdapat perbedaan antar peradaban, tapi karena peradaban atau bangsa-bangsa Barat mengklaim cara pandang mereka itu “universal” dan dapat dianut oleh seluruh umat manusia. Persoalannya apa yang oleh Barat itu dianggap “universal” ternyata tidak demikian bagi umat Islam. Faktanya memang antara konsep-konsep Barat dan Islam terdapat perbedaan yang tidak dapat disatukan. Perbedaan ini pada tingkat kehidupan sosial menyebabkan konflik, clash atau dalam bahasa Peter L Berger disebut collision of consciousness (tabrakan persepsi). Pada tingkat individu, mengakibatkan terjadinya pergolakan pemikiran dalam diri seseorang dan pada dataran konsep, mengakibatkan tumpang tindih dan kebingungan konseptual (conceptual confusion). Perang pemikiran pada tingkat inidividu inilah yang kini dirasakan ummat Islam Indonesia. Jadi perang pemikiran dalam skala besar saat ini terjadi antara peradaban Islam dan kebudayaan Barat atau pandangan hidup (worldview) Islam dan Barat.

35

Aslinya:”Indeed, the Islamic world would seem more vulnerable to liberal ideas in the long run than the reverse, since such liberalism has attracted numerous and powerful Muslim adherent over the past century and a half. Part of the the reason for current, fundamentalist revival is the stregth of the perceived threat from liberal, Western values to traditional Islamic societies. Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, New York, 1992, hal 45-46. Samuel P. Huntington, If Not Civilizations, What? Samuel Huntington Responds to His Critics, dalam http://www.foreignaffairs.org/author/Samuel-p-huntington/index.html Samuel P. Huntington, If Not Civilizations, What? Samuel Huntington Responds to His Critics, dalam http://www.foreignaffairs.org/author/Samuel-p-huntington/index.html

36

37

16 Akan tetapi Barat berusaha memaksakan penggunaan konsep-konsep mereka itu kedalam pikiran umat Islam. Pemaksaan itu dikenal dengan program westernisasi38 dan globalisasi. Penggunaan istilah “Islam fundamentalis”, “Islam Liberal”, “Islam tradisional”, “Islam modern” dan sebagainya merupakan sedikit contoh bagaimana terminologi dan konsep-konsep Barat dipaksakan kepada umat Islam. Untuk penyebaran bidang budaya, paham-paham dan ideologi digunakan program Westernisasi dan Globalisasi, untuk penyebaran bidang pemikiran keislaman digunakan gerakan orientalisme, untuk memperluas penerimaan kultur dan kepercayaan Barat digunakan gerakan missionarisme dan untuk penaklukan dunia Islam di berbagai bidang digunakan kolonialisme. Sebenarnya jika globalisasi difahami secara adil maka Barat dapat memahami worldview Islam dan bahkan dapat saling tukar menukar konsep dan sistim yang tidak bertentangan dengan worldview masing-masing. Namun, kenyataannya sikap Barat jauh dari harapan itu. Masyarakat Barat memang terbukti tidak toleran dan bahkan resisten terhadap praktek-praktek keagamaan masyarakat Islam di Barat. Di negeri-negeri mereka (Barat) misalnya kita tidak akan pernah menyaksikan mimbar agama Islam di TV, atau perayaan hari Raya Islam ditempat terbuka, kumandang azan dari menara masjid. Padahal di negara mayoritas Muslim umat Kristiani bebas merayakan hari natal, caramah di TV, membunyikan lonceng gereja dan sebagainya. Demikian pula dalam soal pakaian. Di Barat pakaian jilbab bagi Muslimah di “haramkan”, sementara umat Islam Indonesia dipaksa toleran terhadap orang Barat yang berpakaian setengah telanjang ditempat-tempat umum. Jika sikap masyarakat Barat begitu resisten, maka tidak heran jika umat Islam juga resisten terhadap paham-paham sekuler, liberal, pragmatis dan hedonis serta berbagai kultur yang khas masayarakat Barat. Sudah tentu situasi seperti ini harus diterima sebagai konflik atau perang pemikiran yang telah terjadi dan berjalan terus. Inilah yang disebut dengan Ghazwul fikri (perang pemikiran). Kini setelah peristiwa dramatis 11 September 2001, upaya-upaya Barat untuk menyebarkan nilai, ide, konsep, sistim dan kultur Barat kedunia Islam semakin gencar dan merupakan kerjasama kompak antara Barat kolonialis, orientalis dan missionaris. Karena hal ini berkaitan dengan pemikiran, maka mediun yang digunakan untuk menyebarkan konsep dan pemikiran Barat adalah medium untuk pemikiran yang berupa karya-karya ilmiyah, seperti buku, makalah-makalah dan workshop-workshop ataupun berupa opini di media elektronik dan media masa. Namun, medium yang paling efektif bagi penyebaran teori, konsep dan ideologi adalah bangku-bangku kuliah di perguruan tinggi melalui mulut para intelektual, ulama, saintis, budayawan dsb. Melalui berbagai sarana inilah maka secara teknis paham, ide, konsep, sistim dan teori liberalisme Barat disebarkan kedunia Islam. V. Liberalisasi melalui Missionaris, Orientalis dan Kolonialis Dalam kondisi passif yang kita saksikan dari peradaban Islam dan kebudayaan Barat hanyalah suatu perbedaan biasa dan wajar. Tapi dalam gerakannya yang ekspansif melalui program globalisasi, modernisasi, dan westernisasi Barat berubah wajah menjadi tantangan bagi bangsa-bangsa dan peradaban lain, termasuk Islam. Maka dari itu, jika
38

Istilah Westernisasi dunia dikenal pasca perang Salib yang berarti perluasan imperium orang kulit putih keseluruh dunia. Tujuan utamanya adalah kolonisasi, Kristenisasi (evangelization), pencarian pasar, supplai bahan mentah, pencarian dunia baru dan pemenuhan kebutuhan akan tenaga kerja. Lihat Serge Latouche, The Westernizationi of the World, The Significance, Scope and Limits of the Drive towards Global Uniformity, terjemahan bahasa Inggeris dari bahasa Perancis oleh Rosemary Morris, Polity Press, Cambridge, 1996, hal. 5

17 wajah kebudayaan Barat itu diperinci lebih spesifik lagi akan kita temukan bahwa globalisasi dan westernisasi itu merupakan gerakan yang bersumber dari 1) Missionaris 2) oritentalis dan 3) Kolonialis. Ketiganya merupakan gerakan pemikiran yang mengusung prinsip-prinsip atau elemen-elemen pandangan hidup Barat. Berikut ini diungkapkan bagaimana ketiga bentuk gerakan tersebut bekerjasama menghadapi ummat Islam dan kini menjadi tantangan umat Islam. 1) Missionaris Ketika Barat masuk kenegara-negara Islam ia membawa serta misi agama, politik, ekonomi dan kebudayaan. Namun tidak banyak yang melihat bahwa Barat itu sendiri telah membawa seperangkat doktrin pemikiran yang berdasarkan pandangan hidup mereka. Hal ini dapat dicermati dari fakta sejarah bahwa gerakan kolonialisme selalu disertai atau bahkan didahului oleh kegiatan missionaris Kristen yang berkaitan dengan orientalisme. Keduanya tidak lain dari aktifitas untuk mempengaruhi cara berfikir. Kerjasama missionaries, orientalis dan kolonialis ini telah lama terjadi dan dapat dibuktikan melalui pengakuan Alb C. Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum, seperti yang dikutip oleh Dr. Aqib Suminto berikut ini: “……kristenisasi merupakan faktor penting dalam proses penjajahan dan zending Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial, sehingga pemerintah akan membantu menghadapi setiap rintangan yang menghambat perluasan zending.” 39 Peran Snough Hurgronye sebagai orientalis dalam memuluskan penjajahan Belanda di Indonesia merupakan bukti kongkrit kerjasama antara orientalisme, missionarisme dan kolonialisme Barat. Targetnya lagi-lagi berkaitan dengan pemikiran, yaitu untuk merubah cara berfikir ummat Islam. Program missionaris yang menonjol adalah penghancuran pemikiran ummat Islam. Strategi ini telah lama diikrarkan oleh Samuel Zwemmer seorang orientalis Yahudi yang menjabat direktur organisasi misionaris dan yang juga pendiri Jurnal the Muslim World. Pada tahun 1935 pada Konferensi Misionaris di Kota Yerussalem Zwemmer mengatakan bahwa: Misi utama kita sebagai orang Kristen bukan menghancurkan kaum Muslimin, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar jadi orang Muslim yang tidak berakhlak. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya. Di dalam mata rantai kebudayaan Barat, gerakan misi punya dua tugas: menghancurkan peradaban lawan (baca: peradaban Islam) dan membina kembali dalam bentuk peradaban Barat. Ini perlu dilakukan agar Muslim dapat berdiri pada barisan budaya Barat akhirnya muncul generasi Muslim yang memusuhi agamanya sendiri.40 Harry Dorman, dalam bukunya Towards Understanding Islam, mengungkapkan pernyataan seorang misonaris Kristen: “Boleh jadi, dalam beberapa tahun mendatang,
39 40

Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, 1985, hal. 26. Ali Gharisah, Wajah Dunia Islam Kontemporer, Pustaka Al Kautsar, 1989, hal. 41

18 sumbangan besar misionaris di wilayah-wilayah Muslim akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim, melainkan lebih banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang tugas yang tidak bisa diabaikan.” Dr. Cragg, seorang misionaris terkenal asal Inggris, menyatakan:“Tidak perlu diragukan bahwa harapan terakhir misi Kristen hanyalah melakukan perubahan sikap umat Muslim, sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi.”41 Apa yang disampaikan Zwemmer 70 tahun yang lalu itulah kini yang ditrapkan Barat untuk strategi perangan pemikiran terhadap ummat Islam. Oleh sebab itu gerakan Kristenisasi berkembang dari konversi kepada gerakan distorsi dan perang pemikiran. 2) Orientalis Kajian tentang Timur (orient) termasuk tentang Islam, yang dilakukan oleh orang Barat telah bermula sejak beberapa abad yang lalu. Namun gerakan pengkajian ketimuran ini diberi nama orientalisme baru abad ke 18. (The Oxford English Dictionary, Oxford, 1933, vol. VII, hal.200). Mengapa Barat tertarik mengkaji Timur dan Islam, mempunyai latar belakang sejarah panjang yang kompleks, dan sekurang-kurangnya terdapat dua motif utama: Pertama adalah motif keagamaan. Barat yang disatu sisi mewakili Kristen memandang Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrin-doktrinnya. Islam yang misinya menyempurnakan millah sebelumnya tentu banyak melontarkan koreksi terhadap agama itu. Itulah Islam dianggap “menabur angin” dan lalu menuai badai perseteruan dengan Kristen. Bahkan lebih ekstrim lagi, perseteruan itu ada sejak sebelum Islam datang. Thomas Right, penulis buku Early Christianity in Arabia, mensinyalir perseteruan antara Islam dan Kristen terjadi sejak bala tentara Kristen pimpinan Abrahah menyerang Ka’bah dua bulan sebelum Nabi lahir. Disitu tentara Abrahah kalah telak dan bahkan tewas. Kalau saja tentara itu tidak kalah mungkin seluruh jazirah itu berada ditangan Kristen, dan tanda salib sudah terpampang di Ka’bah. Muhammd pun mungkin mati sebagai pendeta. Jika Right benar berarti orang Kristen sendiri telah lama menentang millah Nabi Ibrahim, sebab mereka bukan menyerang Islam yang dibawa Nabi, tapi Ka’bah yang merupakan khazanah millah Ibrahim itu. Jadi motif orientalisme adalah keagamaan dan berkaitan dengan Kristen dan missionarisme. Kedua adalah motif politik. Islam bagi Barat adalah peradaban yang dimasa lalu telah tersebar dan menguasai peradaban dunia dengan begitu cepat. Barat sebagai peradaban yang baru bangkit dari kegelapan melihat Islam sebagai ancaman besar dan langsung bagi kekuasaan politik dan agama mereka. Barat sadar benar bahwa Islam bukan hanya sekedar istana-istana megah, bala tentara yang gagah berani atau bangunanbangunan monumental, tapi peradaban yang memiki khazanah dan tradisi ilmu pengetahuan yang tinggi. Oleh sebab itu mereka perlu merebut khazanah ini untuk kemajuan mereka dan sekaligus untuk menaklukkan Islam. Jadi motif kajian-kajian orientalis itu bersifat politis, yaitu untuk tujuan kolonialisme. Motif yang hampir serupa juga terjadi dikalangan missionaris. Jurnal The Muslim World yang diterbitkan oleh Michael Zwemmer tahun 1920, misalnya pada mulanya terang-terangan untuk media informasi bagi para missionaris tentang Islam dan dunia Islam. Tapi kemudian jurnal itu menjadi jurnal kajian Islam yang serius dan ilmiyah,
41

Lihat dalam Maryam Jameela, Islam dan Orientalisme, 1994, hal 8-9, 51-52.

19 meskipun tetap menggunakan framework yang sama. Montgomery Watt yang dianggap orientalis moderat misalnya, ketika menulis al-Qur’an dan Sunnah mencoba meragukan otentisitas ajaran Islam. Ia mencoba membuktikan bahwa beberapa bagian al-Qur’an dan Hadtih itu dibuat-buat dan tidak konsisten, dan karena itu tidak bisa dijadikan sumber pandangan hidup Islam. Ia bahkan mencurigai adanya “ayat-ayat setan” dalam al-Qur’an.42 Inilah contoh bias orientalis yang paling nyata. Kajian orientalis terhadap Hadith yang juga bias itu misalnya dapat ditemui dalam metodologi Harald Motzki dalam mengkaji hadith Sahifah Hammam Ibn Munabbih. Motzki yang dianggap obyektif itu ternyata juga ambigu. Ia seakan-akan mengkritik metode kajian Joseph Schacht, namun sejatinya tidak beda dan tetap mempertahankan sikap orientalismenya. Jadi, orientalisme yang dikenal saat ini sebagai suatu tradisi kajian ilmiyah tentang Islam, sejatinya adalah berdasarkan pada ‘kaca mata’ dan pengalaman manusia Barat yang dipicu oleh motif dan semangat missionaris. Tapi motivasi ini ditutupi dengan jubah intelektualisme dan dedikasi akademik.43 Tidak heran jika orientalis kemudian dianggap memiliki disiplin dan sikap ilmiyah yang ‘khas’, bahkan menjadi sebuah framework pengkajian. Meskipun ilmiyah, tapi jika cara pandang dan tujuannya diwarnai oleh latar belakang agama dan politik serta worldview Barat atau nilai-nilai peradaban Barat, kajian mereka itu lebih cenderung salah. Ini juga membuktikan bahwa ilmu memang tidak bebas nilai. Oleh sebab itu menganggap orientalis dimasa kini obyektif dan ilmiyah hanya benar dipermukaannya. Kajian akademis dan ilmiyah terhadapnya membuktikan sebaliknya. Cara pandang mereka terhadap Nabi, al-Qur’an dan Islam sebagai agama masih tidak bisa lepas bebas dari pengaruh pendahulunya. Dan orientalis terdahulu itu diwarnai oleh pengalaman manusia Barat. Perlu disadari bahwa kajian outsider tentang suatu agama dan peradaban, termasuk Islam, betapapun obyektif dan akademisnya, ia tetap saja menyisakan bias. A.L. Tibawi penulis buku English Speaking Orientalists, menyimpulkan bahwa ketika para orientalis ahli polemik periode awal terlibat dalam penghinaan dan penafsiran yang salah tentang Islam, tujuan mereka hanyalah destruktif. Tapi setelah adanya motif missionaris mereka mulai menggunakan pendekatan obyektif. Metodenya merupakan campuran antara penghinaan dan pengungkapan hal-hal negatif tentang Islam, namun dengan menggunakan fakta-fakta yang solid, tapi tetap dipahami dalam perspektif Kristen. Metode yang pertama telah ditinggalkan sedangkan metode yang kedua menjadi lemah atau diberi baju baru. Tapi yang aneh adalah ketika para orientalis itu gencar menyarankan, mendorong dan bahkan kasarnya memprovokasi agar Islam itu direformasi.44 Kajian dan sekaligus serangan orientalis terhadap Islam dan sejarahnya memang sangat canggih (baca: soophisticated) dan subtil sehingga pembaca awam, alias bukan pakar tidak mudah untuk membongkar implikasi-implikasi negatifnya. Pernyataan mereka

42

M. Watt, Muhammad at Mecca, Edinburgh University Press, Edinbrugh, 1960, 103; Lebih detail lagi tentang kajian orientalis terhadap al-Qur’an tulisan dapat dibaca kajian Adnin Armas berjudul Metodologi Orientalis Dalam Studi al-Qur’an. Gema Insani Press, 2004. Lihat Dr. Afaf, al-MushtashrikËn wa Mushkilat al-×aÌÉrah, Dar al-NahÌah al-‘Arabiyyah, Cairo, 1980, hal. 33-34. lihat Tibawi, “A Critique of Their Approach to Islam and Arab Nationalism”, dalam The Islamic Quarterly, London 1964, vol. VIII, no. 1-2, hal. 41.

43

44

20 itu umumnya berdasarkan spekulasi, bahkan manipulasi sumber data dan seringkali bersikap selektif terhadap data-data sejarah dengan tujuan dan kepentingan tertentu. Edward Said baik dalam Orientalism (1978) maupun dalam The World, The Text and the Critic (1983) yakin bahwa Orientalis dan Barat adalah diskriminatif. Batas rasial, kultural dan bahkan saintifik sangat kental. Antara “kami” dan “mereka”, minna dan minhum merasuk kedalam kajian sejarah, linguistic, teori ras, filsafat, antropologi dan bahkan biologi hingga abad ke 19. Edmund Leach setuju, sekali stigma “other” itu melekat maka selain bangsa Eropah tetap asing dan bahkan inferior. Ringkasnya, katanya, kajian Timur yang berasaskan ilmu Barat telah di frame oleh pengalaman imperialisme dan persengketaan kultural ( cultural hostility). Zaynab al-Ghazzali malah lebih keras dari itu, katanya memisahkan agama dari politik atau Islam dari hukum syariah adalah tindak kriminal. Di kalangan pemikir Barat sendiri framework orientalis diberi stigma sebagai “exotic cum barbaric norm”. Selain dari itu, ciri-ciri kajian orientalis adalah parsial, artinya jika mereka mengkaji suatu bidang tertentu, mereka melewatkan bidang kajian yang lain. Orientalis ahli Fiqih melontarkan kritik-kritik yang tidak dikaitkan dengan Kalam misalnya, kritik dalm bidang filsafat tidak dikaitkan dengan aqidah, kritik dan kajian al-Qur’an tanpa disertai ilmu tafsir, bahkan tidak aneh jika para orientalis mengkaji al-Qur’an dengan metodologi Bibel, mengkaji politik Islam dalam perspektif politik Barat sekuler dst. Dan yang pasti disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam itu tidak dikaji dengan framework pandangan hidup Islam, tapi Barat. Meski telah banyak kajian tentang orientalisme, tapi dalam perkembangan pemikiran akhir-akhir ini, tema Orientalisme ini menjadi semakin relevan untuk diangkat kembali. Sebab kini mengadopsi pandangan, framework dan kritik-kritik para orientalis tentang Islam menjadi tren dikalangan sementara cendekiawan Muslim. Nampaknya, mereka berfikiran bahwa dengan cara itu mereka bisa mengambil jalan pintas untuk “reformasi”, “pembaharuan” atau “liberalisasi” pemikiran Islam. Bagi masyarakat awam atau ulama “tradisional”, pemikiran hasil “adopsi” itu nampak baru, karena tidak pernah ada dalam khazanah intelektual Islam. Padahal, sifat “baru”nya tidak mempunyai unsur tajdid, karena terlepas dari fondasi asalnya (wahyu) dan bahkan seringkali berseberangan. Mungkin mereka telah gagal menyelami khazanah intelektual Islam secara komprehensif, kreatif, dan appresiatif sehingga kehilangan daya kritis mereka terhadap orientalis dan Barat. Orientalisme adalah suatu cara pandang orang Barat terhadap bangsa selain Barat. Bangsa-bangsa selain Barat itu – yakni bangsa-bangsa Timur Tengah dan Asia - dilihat dengan kacamata rasial yang penuh prasangka. Bangsa-bangsa Timur dianggap mundur dan tidak sadar akan sejarah dan kebudayaan mereka sendiri. Untuk itu Barat kemudian “membantu” membuat kajian tentang konsep-konsep kebudayaan, sejarah, dan juga agama-agama dan bangsa-bangsa Timur. Sudah tentu prinsip, metode dan pendekatan kajian ini khas Barat. Namun, kajian ini tidak murni kajian keilmuan, tapi kajian yang dimanfaatkan untuk program missionaris Kristen dan imperialisme Barat ke Negara-negara Timur.45 Akar gerakan orientalisme dapat ditelusur dari kegiatan mengkoleksi dan menterjemahkan teks-teks dalam khazanah intelektual Islam dari bahasa Arab ke bahasa Latin sejak Abad Pertengahan di Eropa. Kegiatan ini umumya dipelopori oleh para teolog
45

Lihat Edward Said, Orientalism, New York: Vintage, 1979, 1-3,5.

21 Kristen. Dari hasil koleksi itu Museum London dan Mingana Collection di Inggeris adalah diantara pemilik koleksi manuskrip Islam terbesar di dunia. Selanjutnya, karena Orientalisme telah menjadi suatu tradisi pengkajian yang penting di dunia Barat, maka ia berkembang dan melembaga menjadi program formal di perguruan tinggi, dalam bentuk departemen atau jurusan dari universitas-universitas di Barat. Kini banyak sekali unversitas di Barat yang mendirikan program Islamic, Middle Eastern, atau Religious Studies. Universitas London misalnya mendirikan SOAS (School of Oriental African Studies), Universitas McGill Canada, Univesitas Leiden Belanda mendirikan Departement of Islamic Studies, Universitas Chicago, universitas Edinburgh, University of Pennsylvania, Philadelphia dan lain-lain mendirikan Departement of Middle Eastern Studies; Universitas Birmingham Inggeris mendirikan Centre for the Study of Islam-Christian Relation dan lain sebagainya. Program-program kajian keislaman di universitas-universitas Barat tersebut merupakan tradisi yang kokoh karena didukung oleh pakar dan tokoh dibidang masingmasing. Sekedar untuk menyebut beberapa berikut ini nama-nama orientalis dalam beberapa bidang tertentu: 1) Bidang Teologi dan Filsafat: Montgomery Watt, O Learry, DB Mc Donald, Alfred Gullimaune, Majid Fakhry, Henry Corbin, Michael Frank, Richard J McCarthy, Harry A. Wolfson, Shlomo Pines, Oliver Leaman dll. 2) Bidang Hadith Josep Schacht, Ignaz Golziher, G.H.A.Juyuboll, Eerik Dickson, Aarent J Wensinck, Nicholson, WD. Van Wijagaarden. 3) Bidang Fikih Waell Hallaq, Harold Motzki, N.Calder, N.J. Coulson, J.Fuck, John Burton, 4) Bidang Politik Snouck Hurgronje, Bernard Lewis, Samuel Huntington, Bob Hefner, William Liddle, Greg Burton dll. 5) Bidang al-Qur’an Theodore Noldeke, Friedrich Schwally, Gotthelf Bergtrasser, Otto Pretzl, Arthur Jewffery, John Wansbrough, John Burton, Richard Bell, Andrew Rippin, Chrostoph Luxemburg.46 Dan lain-lain yang tidak dapat disebutkan semua disini. Dari keseluruhan gerakan orientalisme tersebut dalam berbagai bentuknya dari awal hingga akhir ini, Edward Said menyimpulkan dalam 3 poin yaitu: 1) Bahwa orientalisme itu lebih merupakan gambaran tentang pengalaman manusia Barat ketimbang tentang manusia Timur (orient). 2) Bahwa orientalisme itu telah menghasilkan gambaran yang salah tentang kebudayaan Arab dan Islam. 3) Bahwa meskipun kajian orientalis nampak obyektif dan tanpa interes (kepentingan), namun ia berfungsi untuk tujuan politik.47 Ketiga kesimpulan Edward Said diatas adalah benar adanya, artinya studi Islam di Barat yang ada sekarang ini menggunakan cara pandang (framework) Barat dan oleh sebab itu jika tulisan para orientalis itu dikaji secara kritis maka akan menunjukkan beberapa kerancuan konsep. Gambaran tentang cara pandang (framework) Barat ini sebenarnya sangat kompleks, tapi secara sederhana dapat diartikan sebagai cara mereka memandang Islam dan peradabannya. Cara Barat melihat Islam sebagai din, Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, al-Qur’an sebagai wahyu dan kalam Tuhan, cara memahami hadith, sikap mereka terhadap otoritas ulama berbeda sama sekali dengan cara pandang Islam dan ummat Islam.
46

Perlu dicatat dalam beberapa kasus nama-nama dan bidang kepakaran orientalis terkadang bertumpang tindih (overlap), ada yang menguasai lebih dari satu bidang. Keith Windschuttle “Edward Said’s Orientalism revisited” The New Criterion Vol. 17, No. 5, January 1999, hal. 5)

47

22 Namun, tantangan yang dihadap ummat bukan hanya dari pikiran para orientalis, tapi cencekiawan Muslim yang mengikuti cara berfikir orientalis dalam memahami Islam. Kini yang mengatakan semua agama sama, al-Qu’ran bukan wahyu Allah, Ajaran Islam itu menindas kaum wanita, dan sebagainya bukan lagi orientalis, tapi para cendekiawan Muslim sendiri. Produk dari kuatnya tradisi oritentalisme itu adalah terbitnya karya-karya mereka yang kemudian dirujuk dan bahkan diikuti oleh para cendekiawan Muslim. Akhirnya, oritentalisme juga memproduk cendekiawan Muslim yang tidak kritis terhadap Barat dan bahkan mengikuti saja cara berfikir mereka. Kini muncul cendekiawan Muslim di berbagai Negara Islam yang mengusung ide-ide yang merupakan agenda Barat. Untuk sekedar menyebut beberapa berikut ini nama-nama mereka: Teologi, Filsafat dan Pluralisme agama: Rene Guenon, Fritjhof Schuon, Martin Ling, Syed Hussein Nasr, Muhammad Sachidina, Hasan Askari, Mahmud Ayyub, Farid Eschack Hermeneutika: Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, Gender dan feminisme: Aminah Wadud Muhsin, Fatimah Mernisi, Nawal Sa’dawi Islam Kiri: Hasan Hanafi, Asghar Ali dll. Fiqih: Abdullah Ahmad al-Naim, Muhammad Syahrur. Dsb Sekedar contoh marilah kita lihat bagaimana perjalanan ide orientalis sampai kepada pemikir Muslim. Para orientalis dari generasi ke generasi menyatakan bahwa alQur’an adalah karangan Muhammad. Hal ini dapat dibaca dari pernyataan G.Sale, [dalam bukunya The Qur’an:Commonly called al-Qur’an:Preliminary Discoursei, (1734)], Sir William Muir [dalam bukunya Life of Mahomet (1860)], A.N. Wollaston [dalam bukunya The Religion of The Koran (1905)], H. Lammens, dalam [Islam Belief and Institution (1926)], Champion & Short [dalam buknya Reading from World Religious Fawcett, (1959),] JB. Glubb, [dalam bukunya The Life and Time of Muhammad (1970)] dan M. Rodinson [dalam bukunya Islam and Capitalism (1977)]. Ide ini diterjemahkan oleh Muhammad Arkoun menjadi begini: al-Qur’an adalah wahyu Tuhan tapi ia diucapkan oleh Muhammad dan dengan bahasa Muhammad sebagai manusia biasa. Senada dengan itu seorang cendekiawan Muslim liberal yang diusir dari Mesir bernama Nasr Hamid Abu Zayd menyatakan bahawa karena al-Qur’an turun dalam ruang sejarah Arab maka ia adalah produk budaya Arab (muntaj thaqafi). Implikasi ide ini adalah bahwa al-Qur’an bukan firman Allah yang suci dan perlu disucikan dan disakralkan dank arena itu ummat Islam tidak terlalu fanatic berpegang pada al-Qur’an; dan agar ummat Islam mau menafsirkan al-Qur’an tanpa takut-takut, karena ia hanya perkataan manusia biasa. Namun secara obyektif perlu diakui bahwa selain dari bidang-bidang pemahaman dan penafsiran Islam, para oritentalis ada yang berjasa dalam kerja-kerja ilmiyah lainnya dan cukup dirasakan manfaatnya, seperti misalnya dalam penyusunan lexicon, kamus-kamus, encyclopedia, kompilasi hadith dan sebagainya. Oleh karena itu ummat Islam perlu bersikap bijaksana, tidak melulu apresiatif yang berlebihan dan tidak pula bersikap apriori secara membabi buta. Ummat Islam perlu bersikap kritis dalam mengkaji karya-karya orientalis itu. Dan untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan Islam yang setanding dengan mereka. 3) Kolonialis Seperti disebutkan diatas bahwa orientalis pernah bekerjsama dengan kolonialis dan missionaris. Pengertian kolonialisme dalam hal ini menyesuaikan dengan kondisi paska perang dunia kedua, yang bergeser dari pendudukan menjadi penguasaan dalam bidang-bidang tertentu secara strategis. Kolonialisme kini tidak mesti berarti exploitasi sumber daya manusia dan alam seperti dizaman penjajahan, tapi monopoli dalam

23 perdagangan, penguasaan sistim ekonomi dan politik, liberalisasi perdagangan dsb. Untuk itu kolonialis berkepentingan untuk menyebarkan kultur dan pemikiran Barat, sehingga ide-ide atau pemikiran Islam dan ummat Islam sejalan dengan pemikiran dan kepercayaan Barat. Tujuan akhirnya kepentingan ekonomi dan politik mereka di negara-negara Islam dapat berjalan dengan mulus. Strategi bagaimana agar ide-ide dan pemikran umat Islam sejalan dengan kolonialis, dan bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, sebaiknya kita rujuk sebuah buku yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, (2003). Buku yang ditulis oleh Cheryl Bernard48 ini menjelaskan tentang strategi dan taktik pemikiran yang perlu dilakukan Barat untuk menghadapi umat Islam pasca 11 September. Targetnya untuk melawan apa yang mereka istilahkan dengan “terorisme dan fundamentalisme” dalam Islam. Bahkan setelah menulis buku ini ia menulis buku lain berjudul “U.S. Strategy in the Muslim World After 9/11 (2004), The Muslim World After 9/11 (2004), dan Three Years After: Next Steps in the War on Terror (2005). Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheryl menulis untuk Divisi Riset Keamanan Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja. Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas divisi ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme” dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam. Sebuah saran tentunya berdasarkan pertimbangan dan dasar pemikiran tertentu. Pemikiran mana yang menjadi asasnya, ia pilih sejalan dengan kepentingannya. Berdasarkan pemikiran itu ia memberi masukan kepada pemerintah Amerika, pertama tentang nilai-nilai mana dalam Islam yang bisa diseret kedalam nilai-nilai Amerika. Kedua tentang peta masalah-masalah umat Islam dalam konteks nilai-nilai Amerika. Dan akhirnya muncullah saran-saran agar isu-isu seperti demokrasi dan HAM, poligami, hukuman bagi kriminalitas, keadilan, masalah minoritas, pakaian wanita, hak-hak suami-istri dsb. masuk kedalam pemikiran umat Islam. Saran-saran itu, seperti yang akan lihat dibawah ini, dilaksanakan dengan baik di Indonesia. Untuk membuktikan adanya serangan yang berbentuk politik atau memakai kendaraan politik, berikut ini dipaparkan strategi bagaimana menghadapi Islam yang tertuang dalam buku tersebut. Laporan itu membagi ummat Islam menjadi 4 kelompok dan memberi masukan bagaimana seharusnya sikap pemerintah Amerika terhadap keempat kelompok tersebut:

Cheryl Bernard adalah sosiologis yang pernah menulis novel-novel feminis yang memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi. Suaminya adalah Zalmay Khalilzad, blasteran Afghan-Amerika yang menjadi asisten khusus Presiden George W Bush dan Ketua Dewan Keamanan Nasional (National Security Council (NSC) khusus untuk teluk Persia dan Asia Barat-Daya. Selain itu ia pada tahun 1980 bekerja dibawah Paul Wolfowitz pada Policy Planning Council. Pada saat terjadi perang terhadap Iraq tahun 1991, Zalmay menjadi sekretaris menteri pertahanan.
48

24 a) Fundamentalis, yaitu kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi, dan kultur Barat kontemporer. Mereka menginginkan negara autoritarian dan murni untuk melaksanakan hukum dan nilai-nilai moral Islam, tapi mau menggunakan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka. b) Traditionalis, yaitu kelompok yang menginginkan masyrakat konservatif, curiga terhadap modernitas, innovasi dan perubahan. c) Modernis, yaitu kelompok yang menginginkan agar dunia Islam menjadi bagian dari modernitas global. Mereka ingin memodernisir Islam agar sejalan dengan zaman. d) Sekularis yaitu kelompok yang mengingkan dunia Islam menerima pemisahan gereja dan negara, sebagaimana yang terjadi pada demokrasi industri Barat, dimana agama diposisikan sebagai urusan pribadi Untuk menghadapi kelompok-kelompok tersebut diatas Cheryl Benard memberi saran-saran bagaimana menghadapi masing-masing kelompok. Diakhir saran-saran ia mengingatkan agar kebijakan yang diambil disesuaikan dengan strategis tidaknya isu yang berkembang. Saran-saran untuk menghadapi keempat kelompok tersebut dapat disimak sbb: a) Pertama-tama dukung modernis, dengan mengembangkan visi mereka tentang Islam sehingga mengungguli kelompok tradisionalis. Caranya dengan memberikan arena yang luas agar mereka dapat menyebarkan pandangan mereka. Mereka harus dididik dan diangkat secara ketengah-tengah public sebagai mewakili wajah Islam kontemporer. b) Dukung kelompok sekularis berdasarkan kasus per kasus c) Dorong institusi sipil dan kultural serta program-programnya. d) Dukung kelompok tradisionalis sebatas untuk mengarahkan mereka agar berlawanan dengan kelompok fundamentalis dan untuk mencegah pertalian yang erat diantara mereka. Didalam kelompok tradisionalis kita harus mendukung secara selektif mereka yang lebih sesuai dengan masyarakat sipil modern. Misalnya, beberapa mazhab-mazhab Fiqih lebih dapat disesuaikan dengan pandangan kita tentang keadilan dan hak azazi manusia daripada yang lain. e) Musuhi kelompok fundamentalis secara aktif dengan menghantam kelemahan mereka dalam pandangan keislaman dan ideologi mereka, yaitu dengan mengeskpos hal-hal yang tidak dapat diterima oleh masyarakat baik anak muda yang idealis ataupun pengikut tradisionalis yang saleh, seperti korupsi, kekerasan, kebodohan, pelaksanaan Islam yang bias dan jelas salah dan ketidak mampuan mereka memimpin dan memerintah. Untuk pelaksanaan saran-saran diatas Cheryl memerincikan langkah-langkah yang lebih kongkrit dalam bentuk yang ia sebut “rekomendasi”. Rekomendasinya terdiri dari 5 poin, sbb: a) Hancurkan monopoli fundamentalis dan tradisionalis dalam mendifinisikan, menjelaskan dan menafsirkan Islam. b) Tunjuk cendekiawan modernis yang tepat untuk membuat website yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan menawarkan pandangan hokum Islam kaum modernis.

25 c) Dukung cendekiawan modernis mengembangkan kurikulum. untuk menulis buku-buku teks dan

d) Terbitkan buku-buku pengantar dengan disubsidi agar dapat diperoleh seperti karya-karya penulis fundamentalis. e) Manfaatkan media regional yang popular, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran dan praktek Muslim modernis untuk membuka pandangan internasional tentang apa itu Islam dan dapat berarti apa Langkah-langkah Strategis Selanjutnya berdasarkan rekomendasi diatas maka Cheryl menyarankan agar pemerintah Amerika mengambil 4 langkah-langkah strategis sbb: 1) Membangun kepemimpinan modernis a) Ciptakan role model dan pemimpin. Modernis yang terpojokkan harus di rehabilitasi sehingga bisa tampil sebagai pemimpin pembela hak-hak sipil yang berani. Terdapat preseden dalam soal ini yang menunjukkan bahwa hal ini dapat berjalan. Nawal alSadaawi, telah dikenal didunia internasional karena penhinaan, pelecehan dan upaya yang terus menerus untuk mengadilinya karena prinsipnya sebagai modernis dalam isu yang berkaitan dengan kebebasan berbicara, kesehatan masyarakat, dan status wanita di Mesir. Sima Samar, Menteri Urusan Wanita ad interim Afghanistan, yang telah menginspirasi banyak orang karena keberanian pendiriannya dalam soal HAM, hak-hak wanita, hukum sipil dan demokrasi, yang karena itu ia mendapat ancaman hukuman mati dari kelompok fundamentalis. Di diseluruh dunia Islam masih banyak lagi tokoh-tokoh yang kepemimpinannya dapat disoroti. Masukkan Muslim modernis dalam peristiwa-peristiwa politik, untuk mencerminkan realitas keberadaan mereka secara demografis. Cegah upayaupaya secara berlebihan untuk meng-islamkan umat Islam dan sebagai alternatifnya kenalkan kepada mereka gagasan bahwa Islam hanyalah salah satu bagian dari identitas mereka. Maksud usulan diatas merujuk kepada gagasan al-Azmeh, dari bukunya yang berjudul AlAzmah, Islam and Modernities, London: Verso Publications, 1993. al-Azmeh sendiri adalah seorang “Muslim Eropah” b) Dukung konsep masyakarat sipil (civil society) didunia Islam. Konsep ini menurut Cheryl sangat penting dalam situasi-situasi krisis dan paska konflik dimana masyarakat memerlukan kepemimpinan yang demokratis. Daerah perkotaan dan di organisasi sosial merupakan infrastruktur bagi pendidikan politik dan kepemimpinan yang moderat dan modern. c) Kembangkan gagasan gagasn Islam Barat: Islam Jerman, Islam AS dsb. Ini bukan sekedar sebutan identitas tapi juga memerlukan konsekuensi ideologis yang melibatkan pemikiran dan prakteknya dalam komunitas-komunitas itu. Gagasan yang seperti ini bagi Cheryl sangat menarik dan karena itu perlu didukung agar gagasan ini dapat diekspresikan dan dibukukan. 2). Teruskan serangan terhadap fundamentalis

26

a) Lakukan deligitimasi individu dan kedudukan kelompok ekstrimis Islam. Publikasikan perilaku dan pernyataan amoral dan hipokrit dari apa yang disebut otoritas fundamentalis. Tuduhan amoralitas dan kebejatan orang Barat merupakan bagian dari senjata fundamentalis, tapi mereka sendiri rawan dalam masalah ini. b) Dukunglah jurnalis Arab dalam media populer untuk melakukan laporan investigatif tentang kehidupan dan kebiasaan individu serta korupsi pemimpin fundamentalis. Publikasikan kejadian tentang kebrutalan mereka, seperti peristiwa matinya anak sekolah di Saudi dalam kebakaran ketika polisi moral melarang petugas pemadam kebakaran untuk mengevakuasi anak-anak tersebut dari sekolah mereka yang kebakaran, hanya alasan bahwa anak-anak tersebut tidak mengenakan jilbab. Selain itu juga kemunafikan mereka yang tercermin dari lembaga-lembaga agama Saudi, yang melarang pekerja-pekerja imigran untuk membuat pas foto anak-anak mereka yang baru lahir, atas dasar bahwa Islam melarang gambar manusia, sedangkan di kantor-kantor mereka dihiasi oleh gambar besar Raja Faisal dsb. Peranan organisasi amal dalam membiayai teror dan ekstrimisme telah mulah terkuak seja peristiwa 11 September, tapi masih perlu terus diselidiki secara publik. 3) Promosikan Nilai-nilai Modernitas Demokrasi Barat secara agresif a) Ciptakan dan propagandakan suatu model Islam yang kaya dan moderat dengan mengidentifikasi dan membantu secara aktif negara-negara atau kawasan atau kelompok yang memiliki pandangan yang betul. Publikasikan keberhasilan-keberhasilan mereka. Deklarasi Beirut untuk Keadilan, tahun 1999 (Beirut Declaration for Justice) dan Piagam Aksi Nasional Bahrain (the National Action Charter of Bahrain) misalnya merupakan terobosan baru dalam pelaksanaan hukum Islam dan harus disebar luaskan. b) Kritik kesalahan tradisionalis. Tunjukkan hubungan sebab akibat antara tradisionalisme dan kemunduran, demikian juga hubungan kausalitas antara modernitas, demokrasi, perkembangan dan kemakmuran. Apakah fundamentalisme dan tradisionalisme menawarkan masa depan masyarakat Islam yang sehat dan sejahtera? Apakah mereka berhasil dalam menjawab tantangan masa kini? Apakah mereka membandingkan dengan model struktur masyarakat yang lain? Rencana Pembangunan PBB (United Nation Development Plan- UNDP) secara jelas menunjukkan hubungan antara struktur sosial yang stagnan, penindasan terhadap wanita, rendahnya kualitas pendidikan dan kemunduran. Poin ini harus disebarkan kepada masyarakat Muslim (hal 63) c) Munculkan Pentingnya Sufisme. Dukunglah negara-negara yang memiliki tradisi tasawwuf yang kuat, untuk memfokuskan pada bagian sejarah mereka dan untuk memasukkan kedalam kurikulum sekolah. Berikan perhatian yang lebih banyak kepada Islam Sufi. Hal ini akan menjauhkan mereka dari masalah dunia dan menekankan pada masalah akherat. 4) Fokuskan pada Pendidikan dan Remaja Orang dewasa yang setia dan pengikut gerakan Islam radikal tidak mungkin dipengaruhi dengan mudah untuk merubah pendirian mereka. Tapi, generasi yang akan datang dapat

27 dipengaruhi jika misi demokrasi Islam dapat dimasukkan kedalam kurikulum sekolah dan media masa di negara-negara tertentu. Fundamentalis radikal telah berusaha secara massif untuk memperoleh pengaruh dalam pendidikan dan nampaknya mereka tidak mungkin merubah pendirian mereka tanpa perjuangan. Usaha yang sebanding dengan itu akan sangat dibutuhkan untuk memerangi pendirian mereka ini. Langkah-langkah Praktis Lebih jauh lagi agar langkah-langkah strategis diatas dapat direalisasikan menjadi sebuah gerakan pemikiran maka Cheryl memberi saran-saran praktis seperti hal-hal dibawah ini: 1) Dukunglah pertama-tama kelompok modernis dan sekularis dengan cara sbb: a) menerbitkan dan menyebarkan karya-karya mereka; b) mendorong mereka untuk menulis khusus untuk orang awam dan anak muda; c) perkenalkan pandangan mereka kedalam kurikulum pendidikan Islam; d) berikan ruang publik untuk mereka; e) sebarkan pandangan dan pendapat mereka dalam masalah-masalah yang fundamental dalam penafsiran agama kepada orang awam, agar bersaing dengan pendapat dan pandangan fundamentalis dan tradisionalis, yang telah memilik website, penerbitan, sekolah, institut dan media yang lain untuk menyebarkan pandangan mereka; f) posisikan modernisme sebagai pilihan remaja Islam; g) memberi kemudahan dan mendukung kesadaran tentang sejarah dan kultur sebelum Islam dan non-Islam, melalui media masa dan kurikulum sekolah dinegara-negara tertentu; h) mendorong dan mendukung lembaga-lembaga sekuler dan sipil, serta program-programnya. 2) Dukunglah kelompok tradisionalis melawan fundamentalis dengan cara-cara sbb: a) mempublikasikan kritik-kritik tradisionalis terhadap kekerasan dan ekstrimisme fundamentalis dan mendorong tumbuhnya perselisihan antara tradisionalis dan fundamentalis; b) Cegahlah persatuan antara tradisionalis dan fundamentalis; c) doronglah kerjasama antara modernis dengan tradisonalis yang memiliki pandangan yang lebih dekat kepada modernis, perbanyak literatur tentang figur modernis dalam lembaga-lembaga tradisionalis; d) bedakan sektor-sektor yang terdapat dalam tradisionalisme; e) perkuat dukungan kepada mereka yang mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap modernisme – seperta mazhab Fiqih Hanafi yang bertentangan dengan mazhab lain dalam masalah agama. Dengan mempopulerkan mazhab ini maka kita dapat memperlemah otoritas penguasa agama Wahabi; f) doronglah popularitas dan penerimaan sufisme. 3) Hadapi dan tantang kelompok fundamentalis dengan cara-cara sbb: a) menantang dan mengekspose ketidak akuratan pandangan mereka dalam soal penafsiran Islam; b) bongkar hubungan mereka dengan kelompok dan aktifis illegal; c) Publikasikan akibat dari perilaku kejahatan mereka; d) tunjukkan ketidak mampuan mereka memerintah untuk kepentingan pembangunan masyarakat mereka secara positif; e) arahkan misi ini khusunya untuk anak-anak muda, masyarakat tradisionalis yang saleh, Muslim minoritas di Barat dan kepada wanita; f) hindarkan rasa respek atau pemujaan terhadap tindak kejahatan kelompok fundamentalis, ekstrimis dan teroris, ketimbang menuduh mereka sebagai pahlawan jahat, lebih baik menuduh mereka sebagai orang yang bermasalah dan penakut; g) mendorong para wartawan untuk menyelidika isu korupsi, kemunafikan dan tidak amoral kelompok fundamentalis dan terosis. 4) Dukung sekularis dengan selektif, dengan cara sbb: a) doronglah pengakuan bahwa fundamentalisme adalah musuh bersama; cegahlah persatuan sekularis dengan gerakan

28 anti-kekuatan Amerika, seperti nasionalisme dan ideologi kiri; b) dukunglah ide bahwa agama dan negara itu dalam Islam dapat dipisahkan, dan bahwa hal ini tidak membahayakan keimanan. . Dari strategi diatas jelas sekali bahwa dari keempat kelompok tersebut yang mendapat dukungan adalah kelompok modernis (termasuk mereka yang menamakan diri “Islam Liberal”, karena dianggap sesuai dengan peradaban Barat. Lebih lengkap dinayatakan begini:
Dari semua kelompok, kelompok ini (modernis) adalah yang paling bersahabat terhadap nilai-nilai dan jiwa masyarakat demokratis modern. Modernisme, dan bukan tradisionalisme, adalah yang membantu Barat. (Misi kelompok) ini menyangkut perlunya menyimpangkan, memodifikasi dan mengesampingkan secara selektif elemen-elemen doktrin keagamaan yang orisinal. Kitab Perjanjian Lama tidaklah berbeda dari al-Qur’an dalam menghukumi perilaku dan mengontrol sejumlah peraturan dan nilai-nilai yang tidak dapat dipahami secara literal oleh masyarakat masa kini. Ini tidak masalah, sebab saat ini hanya sedikit sekali orang yang mempertahankan agar kita semua hidup yang secara literal sama dengan Bible. Sebaliknya, kita sepakat pada visi bahwa misi yang sebenarnya dari Yahudi dan Kristen itu mengungguli (makna) literal teks, yang sebenarnya telah kita anggap sebagai sejarah dan legenda belaka. Ini adalah persis seperti pendekatan yang diambil oleh modernist Muslim.49

Yang pasti orientalisme dan kolonialisme Barat mempunyai hubungan dan bahkan kesamaan obyek. Obyek kajian orientalis adalah Negara-negara Timur, khususnya Islam dan sasaran politik kolonialisme adalah juga Negara-negara Islam. Sementara itu Kristen yang gagal di Barat juga mengarahkan misinya ke Timur. Orientalisme sangat berguna bagi memudahkan jalan kolonialisme, dan untuk kepentingan itu Barat membuat program khusus melalui agensi-agensinya, yaitu yayasanyayasan yang bertugas khsusus menjalakan misi tersebut. Diantara yayasan yang aktif saat ini adalah The Asia Foundation (Amerika) yang diantara programnya disebutkan begini:
Recognizing the importance of reinforcing inclusive and pluralist values within Indonesia’s Muslim majority population, The Asia Foundation has been supporting a diverse group of mass-based Muslim groups since 1970s. In the context of an increasingly diverse Islamic society in Indonesia, The Foundation now support over 30 Muslim nonGovernment organization (NGO), in their efforts to promote the concept that Islamic values can the basis for a democratic political system, non-violance, and religious tolerance. In the area of civic education, human right, intercommunity reconciliation, gender equality, and inter-faith dialogue, the Foundation works with these NGO’s and mass-based organization in their effort to make Islam a catalyst for democratization in Indonesia. ……The programs include training for religious leaders, studies examining gender issues and human rights in Islam, civic education course at Islamic institute, Muslim women’s advocacy centers and the strenghthening the pluralist and tolerant Islamic media.50

Terjemahannya bebasnya adalah sbb:

Menyadari akan pentingnya nilai-nilai inklusif dan pluralis dalam masyarakat Muslim Indonesia yang mayoritas, The Asia Foundation telah memberikan bantuan kepada berbagai ormas Islam sejak tahun 1970an. Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia yang semakin berragam, The Asia Foundation kini membantu lebih dari 30 kelompok

49

Cheryl Benard , Civil Democratic Islam, Partners, Resources and Strategies, RAND, National Security Research Division, the RAND Corporation, 2003, hal 53. 50 Lihat http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html

29
LSM dalam upaya mereka mempromosikan konsep bahwa nilai-nilai Islam itu dapat menjadi asas bagi sistim politik demikratis, anti-kekerasan dan toleransi beragama. Dalam kaitannya dengan pendidikan sipil, HAM, penyatuan antar komunitas, persamaan gender, dialog antar agama, Yayasan ini bekerjasama dengan LSM-LSM yang ormas-ormas dalam usaha mereka menjadikan Islam sebagai media untuk demokratisasi di Indonesia…..Program-programnya termasuk training tokoh-tokoh agama, kajian tentang issu gender dan hak azazai manusia dalam Islam, pelajaran tentang pendidikan sipil pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, pusat pembelaan terhadap wanita Muslim dan memperkuat media Islam yang pluralis dan toleran.

Dari pernyataan diatas jelas sekali bahwa program yayasan asing itu adalah untuk memperkenalkan elemen penting dalam peradaban Barat seperti persamaan, persamaan gender, hak azazi manusia, pluralisme agama, demokrasi dan lain-lain yang kesemuanya berdasarkan pada cara berfikir (worldview) Barat. Selain daripada itu, disebutkan pula bahwa The Asia Foundation bersama USAID (US Agency for International Development) juga mempunyai program reformasi pendidikan di seluruh Indonesia baik pendidikan formal maupun informal, termasuk reformasi pendidikan di pesantren. Dalam reformasi itu nanti akan diajarkan mata pelajaran perbandingan agama, pendidikan sipil, pengembangan kurikulum, workshop-workshop, training pedagogi, dan kursus serta tutorial tentang prinsip-prinsip pluralisme dan demokrasi. Semuanya, menurut mereka, disusun berdasarkan pada ajaran Islam, akan tetapi masalahnya berubah menjadi justifikasi Islam terhadap paham-paham tersebut. Sebab dalam Islam tidak terdapat paham pluralisme, yang ada hanyalah pengakuan adanya pluralitas. Islam mengakui adanya kebinekaan agama dan kepercayaan tapi tidak mengakui kebenaran semua itu. VI. Penyebaran pemikiran Liberal Dari proyek gabungan Kristenisasi, Orientalisme dan Kolonialisme terdapat ide-ide dan pemikiran yang sengaja disebarkan ketengah masyarkat Islam. Diantara ide-ide dan pemikiran tersebut adalah liberalisme, pluralisme agama, kawin beda agama, relativisme, persamaan, feminisme (kesetaraan gender), individualisme, demokrasi dan lain-lain. Untuk mengetahuai ide-ide tersebut akan dijelaskan beberapa yang penting sbb: a). Penyebaran paham Liberalisme Agama Salah satu agenda pemerintahan George W Bush dalam menghadapi apa yang ia sebut terorisme adalah liberalisasi dunia Islam. Sebab menjelang pemilihan Presiden Amerika Serikat majalah Times memuji keberhasilan Bush dalam upaya liberalisasi masyarakat Negara-negara Timur Tengah dalam berbagai hal. Yang dapat dirasakan di Indonesia saat ini adalah liberalisasi pemikiran keagamaan. Hal ini sejalan dengan saran-saran Cheryl Benard, dari LSM Coorporation, kepada pemerintah Amerika, seperti yang digambarkan diatas. Liberalisasi pemikiran kegamaan dalam Islam dimaksudkan agar ummat Islam tidak lagi terikat pada doktrin-doktrin keagamaan yang dapat bertentangan dengan pandangan hidup dan kebudayaan Barat. b). Penyebaran paham Pluralisme Agama Makna pluralisme agama paska fatwa MUI banyak diperdebatkan orang. Namun perlu diketahui bahwa menurut definisi resmi mereka pluralisme adalah teori yang seirama dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth). Ia terkadang juga dipahami sebagai doktrin yang berpandangan bahwa disana tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya. (no view is true, or that all view are

30 equally true).51 Dalam aplikasinya terhadap agama maka pandangan ini berpendapat bahwa semua agama adalah sama benarnya dan sama validnya. Paham pluralisme agama memiliki sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda tapi ujungnya sama yaitu: aliran kesatuan transenden agama-agama (transcendent unity of religion) dan teologi global (global theology). Yang pertama lebih merupakan protes terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan pendukung gerakan globalisasi, dan paham yang kedua inilah yang kini ujung tombak gerakan westernisasi. Karena pluralisme agama ini sejalan dengan agenda globalisasi, ia pun masuk kedalam wacana keagamaan agama-agama, termasuk Islam. Ketika paham ini masuk kedalam pemikiran keagamaan Islam respon yang timbul hanyalah adopsi ataupun modifikasi dalam takaran yang minimal dan lebih cenderung menjustifikasi. Akhirnya yang terjadi justru peleburan nilai-nilai dan doktrin-doktrin keagamaan Islam kedalam arus pemikiran modernisasi dan globalisasi. Caranya adalah dengan memaknai kembali konsep Ahlul Kitab dengan pendekatan Barat. Jika perlu makna itu di dekonstruksi dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat modern. Inilah sebenarnya yang telah dilakukan oleh Mohammad Arkoun. Ia mengusulkan, misalnya, agar pemahaman Islam yang dianggap ortodoks ditinjau kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial-historis Barat. Dan dalam kaitannya dengan pluralisme agama ia mencanangkan agar makna Ahl alKitab itu didekonstruksi agar lebih kontekstual. Disitu ayat-ayat tentang Ahlul Kitab dijadikan alat justifikasi, meskipun terkadang dieksploitir tanpa memperhatikan konteks historis dan metodologi tafsir standar. Mindset seperti ini jelas sekali telah terhegomoni oleh pemikiran Barat. Inti doktrinnya adalah untuk menghilangkan sifat ekslusif ummat beragama, khususnya Islam. Artinya dengan paham ini ummat Islam diharapkan tidak lagi bersikap fanatik, merasa benar sendiri dan menganggap agama lain salah. Menurut John Hick, tokoh pluralisme agama, diantara prinsip pluralisme agama menyatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama (Other religions are equally valid ways to the same truth). Di Indonesia faham ini disebar luaskan pertama-tama oleh Sekolah Tinggi Teologi Kristen, dan diikuti oleh para cendekiawan Muslim. Jadi, pengembangan Teologi Pluralis itu sendiri sebenarnya merupakan pelaksanaan dari teori Samuel Zwemmer untuk melemahkan umat Islam. Dengan teologi semacam itu, umat Islam sudah terjebak untuk tidak meyakini kebenaran agamanya. Penyebatan paham pluralisme agama adalah salah satu agenda liberalisasi pemikiran. Pluralisme agama adalah inovasi teologis, yang dibawa oleh agamawan liberal, yaitu bentuk finalnya adalah pluralisme agama. Dalam kaitannya dengan gerakan Postmodernisme, maka jelaslah bahwa paham (Pluralisme agama) ini dianut oleh mereka yang menerima aliran-aliran filsafat postmodern, khususnya dekonstruksionisme Kelompok agamawan Liberal dalam agama-agama ini, tidak lagi mengklaim bahwa agama mereka adalah sempurna dan absolute b. Penyebaran gagasan kawin antar agama

51

Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford University Press, Oxford, lihat “Pluralism”.

31 Dampak yang lebih kongkrit dan berbahaya dari paham pluralisme adalah diplokamirkannya praktek kawin beda agama. Untuk itu para cendekiawan Muslim mencoba merobah konsep ahlul kitab dalam al-Qur'an dan Hadith, dengan memasukkan semua agama sebagai ahlul kitab. Ini dimaksudkan untuk suatu kesimpulan bahwa semua agama adalah sama benarnya. Karena semua agama sama maka muncullah hukum baru yang membolehkan wanita Muslim kawin dengan lakilaki Kristen. Masalah perkawinan beda agama ini tercantum dalam “Universal Declaration of Human Right” pasal 16 ayat 1. Pasal itu berbunyi: “Pria-dan wanita dewasa, tanpa dibatasi oleh ras, kebangsaan, atau agama, memiliki hak untuk kawin dan membangun suatu keluarga. Mereka memiliki hak-hak sama perihal perkawinan, selama dalam perkawinan dan sesudah dibatalkannya perkawinan.” Sebenarnya pasal ini telah ditolak oleh ummat Islm melalui Memorandum Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dalam Memorandum tersebut ditekankan perlunya “kesamaan agama” dalam perkawinan bagi muslimah . Ditegaskan pula: “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah bagi setiap muslim, dan kesamaan agama bagi setiap muslimat.” Jika dilacak lebih jauh maka penerimaan paham pluralisme agama berarti penerimaan agama lain sebagai sama benarnya dengan Islam. Malangnya, gagasan ini mendapat sambutan yang positif dari sekolompok cendekiawan Muslim yang didukung oleh universtias Paramadina. Buku yang berjudul Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan oleh Yayasan Paramadina adalah hasil dari pemikiran pluralisme agama yang disebarkan Barat. Islam mengakui adanya pluralitas agama (keberagaman agama) tapi menolak ide pluralisme agama (kesatuan agama-agama).52 c) Penyebaran doktrin relativisme Doktrin relativisme mulanya berasal dari Protagoras, seorang Sofis yang berprinsip bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. (man is the measure of all things). Doktrin ini berpegang pada prinsip bahwa kebenaran itu sendiri adalah relatif terhadap pendirian subyek yang memutuskan. Relativisme juga dianggap sebagai doktrin global tentang semua ilmu pengetahuan. Disini aspek-aspek sang subyek yang menentukan apa makna kebenaran itu, dapat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, kultural, sosial, linguistik, psikologis.53 Dengan tersebarnya doktrin ini tidak sedikit cendekiawan Muslim yang lalu berkesimpulan bahwa manusia tidak ada yang tahu kebenaran, yang tahu hanya Allah. Bahkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah kalam Allah yang absolut, tapi ucapan Nabi sebagai manusia yang relatif. Doktrin relativisme ini juga berkaitan dengan doktrin sofisme yang mempunyai implikasi yang dalam terhadap epistemologi Islam. Jika doktrin ini diterima oleh seorang Muslim maka struktrur ilmu pengetahuan dalam Islam dan bahkan agama Islam itu sendiri sudah tidak ada artinya apa-apa lagi, karena semua relatif. Beragama menjadi sia-sia belaka, karena tidak ada kebenaran yang pasti yang bisa dipegang. Dengan berpegang pada doktrin ini maka ummat Islam tidak lagi masalah apakah mengikuti cara berfikir Islam atau Barat yang sekuler dan liberal.

52

Untuk lebih jelas tentang kerancuan paham Pluralisme agama ini baca majalah ISLAMIA, edisi 3, September-November, 2004. Simon Blackburn, Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford University Press, 1996, s.v. relativism

53

32 d) Disseminasi paham dan kepercayaan masyarakat Barat yang terdiri dari prinsipprinsip kebebasan (liberalisme), persamaan, feminisme (kesetaraan gender), individualisme, demokrasi dan lain-lain. Paham dan kepercayaan ini di adopsi secara amatiran (baca sesuka hati) tanpa proses epistemologi yang jelas kedalam alam pikiran keagamaan Islam. Hasil dari usaha ini sudah tentu kerancuan pemikiran dan ketidakjelasan struktur konsepnya. VI. Kesimpulan Masalah pemikiran adalah masalah yang berkaitan dengan ilmu, dan masalah ilmu berkaitan dengan ibadah. Jika terjadi kerancuan pemikiran maka mengkounter atau mengislah permikiran tersebut adalah termasuk dalam bab ibadah. Kerancuan pemikiran yang disebabkan oleh masuknya anasir peradaban diluar Islam bukan terjadi pada masa sekarang saja, tapi sejak periode awal peradaban Islam bangkit dan berkembang. Dalam situasi perang pemikiran seperti ini Islam sebagai agama yang salih likulli zaman wa makan telah memiliki mekanisme tersendiri untuk merespon. Namun perlu diingat bahwa perang pemikiran memerlukan rentang waktu yang lebih lama, ia bahkan boleh jadi berlangsung sepanjang satu generasi. Maka dari itu dalam perang pemikiran yang dipicu oleh globalisasi dan westernisasi ini ummat Islam tidak perlu membawanya kepada peperangan fisik. Apa yang harus dilakukan ummat Islam sebaiknya bersifat institusional dan secara praktis dapat diperrincikan sbb: 1. Menanamkan kesadaran dikalangan ummat Islam dan sekaligus menunjukkan bukti-bukti ilmiyah bahwa paham-paham dari peradaban Barat yang berupa sekularisme, liberalisme, feminisme, pluralisme agama, relativisme dsb. yang saat ini sedang melanda dunia Islam tidak sesuai dan bertentangan dengan pandangan hidup Islam. 2. Memperluas tradisi dan materi bahth al-masa’il dari pemikiran para ulama di masa lalu dalam berbagai bidang, kepada pemikiran-pemikiran orientalis dan kalau mungkin pemikiran Barat secara umum yang menjadi tantangannya. 3. Semua lembaga ummat Islam, baik pendidikan, dakwah, ekonomi dan lain-lain perlu memikirkan secara serius langkah kaderisasi ummat dalam bidang agama, agar 20 tahun yang akan datang di Indonesia nanti tidak akan ada lagi cendekiawan Muslim yang berfikir dalam framework Barat sehingga justru menghujat Islam dan ulama’nya. 4. Badan-badan usaha ummat Islam dan juga pengusaha-pengusaha Muslim perlu ikut berjuang dengan hartanya untuk mendukung langkah-langkah yang diambil oleh lembaga pendidikan dan lembaga dakwah Islam. Akhirul kalam, perlu disadari bahwa pemikiran mempunyai peran penting dalam pembangunan peradaban Islam, sebab dalam Islam pemikiran selalu mendahului perilaku individu, ilmu selalu mendahului amal. Rusaknya amal disebabkan oleh rusaknya ilmu. Ilmu tanpa amal adalah gila dan amal tanpa ilmu adalah sombong (al-Ghazzali). Amal tanpa ilmu lebih cenderung merusak daripada memperbaiki. Oleh sebab itu dalam menghadapi perang pemikiran prioritas utama perlu diberikan kepada peningkatan ilmu pengetahuan Muslim dalam berbagai bidang ilmu agama. Tradisi keilmuan yang dikembangkan dari pandangan hidup Islam yang bersumber dari al-Qur’an, Sunnah, dan warisan tradisi intelektual Islam perlu terus dipertahankan dan dikembangkan. Wallahul musta’an. Siman, 12 Maret, 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->