P. 1
Makalah Sejarah Peradaban Islam, Sejarah Peradaban Islam Masa Turki Usmani (1294-1924)

Makalah Sejarah Peradaban Islam, Sejarah Peradaban Islam Masa Turki Usmani (1294-1924)

|Views: 3,414|Likes:
Published by musafir1412

More info:

Published by: musafir1412 on Dec 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2013

pdf

text

original

REVISI SEJARAH PERADABAN ISLAM MASA TURKI USMANI

Makalah Sejarah Peradaban Islam Disusun guna memenuhi tugas MID Semester 6 Dosen Pengampu: Anthin Lathifah, M.Ag.

Kelompok VI:

Disusun oleh: Muhammad Saddam Naghfir (082111087)

PRODI KONSENTRASI ILMU FALAK FAKULTAS SYARIAH IAIN WALISONGO SEMARANG 2011

1

PENDAHULUAN Setelah kemajuan islam pada masa Umayyah dan Abbasiyah, muncullah tiga kerajaan besar islam, yang mampu mengembalikan kembali kejayaan islam yang semula runtuh. Ketiga kerajaan yang terkenal itu adalah Turki Usmani di Turki, Safawi di Persia dan Mughal di India. Dari ketiga dinasti tersebut, dinasti turki usmani kemudian dikenal sebagai dinasti yang paling lama berkuasa, paling luas wilahnya dan sangat berjasa dalam membangkitkan kembali kejayaan islam yang telah runtuh. Salah satu hal yang dikenal dari dinasti Turki usmani adalah perjuangannya melawan pasukan salib romawi dan menaklukkan konstatinopel, yang tidak pernah dikuasai oleh dinasti-dinasti sebelumnya. Namun dibalik kegemilangannya, dinasti ini juga mengalami cobaan dan kemunduran yang terus menerus memporakporandakan dinasti ini, baik dari dalam ataupun dari luar, hingga akhirnya dinasti ini runtuh dan menjadi republic turki, namun bagaimanakah kerajaan ini mampu bertahan selam 6 abad, masa yang cukup lama bagi sebuah dinasti islam, hal yang menurut pemakalah menarik dan perlu dikaji ulang. Makalah ini akan berusaha memaparkan kembali kejayaan dinasti turki umnai berikut kejayaanya, serta usaha-usaha dinasti ini memerangi pasukan salib Romawi sebagai musuh besar islam.

Semarang, 30 Juni 2011 Pemakalah,

M. Saddam Naghfir (082 111 087)

Nb: Yang berwarna biru adalah revisi pemakalah

2

RUMUSAN MASALAH Dalam makalah ini, ada beberapa rumusan masalah: 1. Sejarah berdirinya turki usmani 2. Raja-raja yang berkuasa di turki usmani 3. Kemajuan dan kemunduran turki usmani 4. Penaklukan konstatinopel 5. Runtuhnya Turki Usmani PEMBAHASAN 1. Sejarah berdirinya turki usmani Nenek Moyang bangsa turki Bermula dari wilayah bernama Turkistan, sejarah bangsa turki bermula. Turkistan besebelahan dengan daerah-daerah besar seperti Mongolia dan cina utara di bagian timur, dan Persia di sebalah selatan. Wilayah ini didiami oleh suku Al-Ghizz. Karena factor ekonomi dan kemarau panjang, mereka berpindah ke Asia Tengah pada abad ke-6. Interaksi turki dengan Islam Pada tahun 624 M, tentara islam yang dipimpin oleh Abdur Rahman bin Rabi’ah mengajak raja Turki bernama Syahr Baraz yang mendiami wilayah Bab, untuk bekerjasama menaklukkan Armenia. Ajakan ini disambut baik oleh Syahr. Sehingga islam masuk ke turki dengan perdamaian. Interaksi penduduk turki dengan islam bermula ketika islam telah behasil membuka dan menyebarkan islam di wilayah timur laut Persia. Kekuasaan Persia di wilayah tersebut sebelumnya memang membatasi ruang gerak masyarakat turki, sehingga setelah islam membebaskannya, maka interaksi turki dengan islam dimulai, banyak warganya yang masuk islam dan ikut serta berjiihad, karena memang turki terkenal berdarah militer. Masa pemerintahan usman bin affan, negeri thibirstan ditaklukkan dan umat islam behenti di Turkistan, yang kemudian disambut oleh orang turki, bahkan sebagian dari mereka masuk islam secara sadar. Pada masa muawiyah bin abi sufyan, diteruskan hingga ke Bukhara dan Samarkand, sehingga wilayah asia tengah dikuasai oleh islam. Pada masa abbasiyah, banyak orang turki yang 3

menduduki

pemerintahan

dan

militer.

Saat

Al-Mu’tashim

memerintah

Abbasiyah, jalan turki ke pemerintahan semakin terbuka, hal ini sebenarnya untuk konsolidasi internal abbasiyah agar bisa memerangi Persia. Munculnya kerajaan saljuk Pemerintahan saljuk didirikan pada abad ke-11 M. rajanya yang bernama Thugril Bek sangat berjasa pada kerajaan abbasiyah, karena berkat keberhasilannya memberantas aliran-aliran syiah yang mengancam, semisal syiah buwaihi, Syiah rafidhoh, dan syiah Fathimi al-ubaidi. Atas jasanya yang besar maka kemudian diikatlah hubungan kekeluargaan antara abbasiyah dan saljuk. Masa kejayaannya, Wilayah Turki saljuk meliputi khurasan, Turkistan, iran, irak, syam dan asia tengah. Lalu kemudian berkembang menjadi saljuk kecil di khurasan, saljuk syam, saljuk romawi di asia kecil, yang kesemuanya berpusat pada pemerintahan saljuk di iran dan irak. Akhir kerajaan saljuk Kerajaan saljuk mulai runtuh saat wilayah semakin luas, namun tidak dibarnegi oleh penguasa yang bijak, syahnat Khawarijm sebagai penguasa terakhirnya. Hal ini masih ditambah lagi dengan peperangan-peperangan dengan bangsa barbar, mongol dan pasukan perang salib, yang kemudian berhasil menggulingkan kekuasaan saljuk di Turkistan. Bangsa turki saljuk kemudian terpecah menjadi bebeapa kerajaan kecil yang independen. Kemudian muncul kekuasaan saljuk atibikiyah di irak utara dan syam dan saljuk romawi yang masih mampu membendung serangan tentara salib dan mongol untuk beberapa masa, dan akhirnya mengalami kekalahan oleh serangan yang bertubi-tubi. Nenek moyang turki usmani Turki usmani berasal dari kabilah turkmaniyah yang mendiami Kurdistan pada abad ke-13. Akibat serangan Mongolia di bawah pimpinan jengis khan ke irak dan wilayah asia kecil, Sulaiman, kakek usman bersama kabilahnya hijrah ke Anatolia. Setelah meninggal dan digantikan oleh Erthugul, kabilah ini terus hijrah ke arah barat laut Anatolia bersama 400 penunggang kuda, di sanalah kemudian dia melihat perang antara kaum muslim Saljuk dan kaum Kristen Byzantium, di mana kaum muslim terlihat akan kalah, Erthogul kemudian berinisiatif untuk membantu saudara-saudaranya sesam muslim, dan dimenangkanlah perang tersebut. Atas jasanya yang besar, kemudian erthogul 4

dihadiahkan tanah di perbatasan barat Anatolia, di dekat perbatasan Romawi. Dan disanalah erthogul membentuk kekuasaan yang berkoalisi dengan saljuk yang dipimpin oleh Sultan Salajikoh Alauddin Kaiqobad untuk memerangi Romawi. Lahirnya kerajaan turki Usmani Usman bin Erthogul sebagai Pengganti ayahnya, meneruskan kekuasaan kabilahnya. saat pusat kekuasaan turki saljuk dihancurkan oleh bangsa Mongolia di bawah pimpinan hulagu khan, maka daerah-daerah kekuasaan dan aliansi saljuk pun memisahkan dan memerdekakan dirinya masing-masing, begitu juga kabilah Usman bin Erthogul yang kemudian memplokamirkan pendirian kerajaan turki usmani yang dinisbatkan pada dirinya pada tahun 1299 M. 2. Raja-Raja Yang Berkuasa Di Turki Usmani Tercatat ada 40 raja yang memerintah turki usmani, namun dalam makalah ini akan kami bahas raja-raja yang terkenal dan berjasa atas kejayaan turki Usmani, serta raja terakhirnya, yaitu: Masa Kesultanan A. Sultan Usman bin Ertoghul (699-726 H/ 1294-1326 M) Pada tahun 699 H usman melakukan perluasan kekuasaannya sampai ke Romawi Bizantium setelah ia mengalahkan Alauddin Saljuk. Usman diberi gelar sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga usman), gelar inilah yang dijuliki sebagi Daulah Usmaniyyah. Usman berusaha memperkuat tentara dan memajukan negrinya. kepada raja-raja kecil dibuat suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu: 1) Masuk Islam 2) Membayar Jizyah; atau 3) Berperang Penerapan sistem ini membawa hasil yang menggembirakan, yaitu banyak raja-raja kecil yang tunduk kepada Usman.

5

B. Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M) Sebelum urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah banyak membantu perjuangan ayahnya (Usman bin Erthogul). Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota kerajaannya. Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam. C. Sultan Murad bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M) Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad. selain memantapkan keamanan di dalam negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan bebrapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki. D. Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M) Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan, dan Mutasya di Asia Kecil dan Negri-negri bekas kekuasaan Bani saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan peperangan inilah yang merupakan cikal bakal terjadinya Perang Salib. Tentara Salib ketika itu terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan, sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M. 6

Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani, sehingga penguasa-penguasa Saljuk di Asia Kecil satu persatu melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Hal ini berlangsung sampai pengganti Bayazid muncul. E. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M) Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula. Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang m,engharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksaan itu, pada tahun 824 H (1421 M) Sultan Muhammad I meninggal. F. Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M) Sepeninggalannya Sultan Muhammad I, pemerintahan diambil alih oleh Sulatan Murad II. Cita-citanya adalah melanjutkan usaha perjuangan Muhammad I. Perjuangan yang dilaksanakannya adalah untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hongaria. Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih. G. Sultan Muhammad bin Murad / Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M) Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia 7

diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium. Selanjutnya konstantinopel diganti menjadi Istanbul. Dulunya Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya. Seperti halnya raja-raja dinasti Turki Usmani sebelumnya, Muhammad AlFatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad.Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu: a) Dorongan Islam. b) Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi. c) Negrinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan atau perjuangan. H. Sultan Bayazid II bin Muhammad (1481-1512 M) Berbeda dengan ayahnya, Bayazid II lebih mementingkan kehidupan Tasawuf dari pada penaklukan wilayah, sebab itu muncul kontroversial akhirnya ia mengundurkan diri dan di gantikan putranya Salim. Masa Khilafah Usmaniyah A. Salim bin Bayazid II (1512-1520 M) Unuk menghadapai serangan pasukan salib, salim bertekad menyatukan umat islam di bawah kekuasaan usmaniyah. Dia mengalahkan safawiyah yang berkoalisi denga portugis untuk menyerangnya, dia juga menguasai kerajaan mamluk di syam. Karena khalifah abbasiyah telah melemah disebabkan safawiyah sebagai salah satu bentengnya telah dikalahkan, kekhalifahan abbasiyah di kairo pun diserahkan kepada salim bin bayazid II, sehingga bemula dari Salim ini, sistem pemerintahannya berubah dari kesultanan menjadi Kekhalifahan, dengan Salim sebagai khalifah turki usmani pertama. iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran

8

B. Sulaiman bin Salim (Sulaiman al-Qanuni) (1520-1566 M) Pada masanya, pemerintahan mencapai puncak perluasan dan kebesarannya. Wilayahnya membentang dari Beograd, kepulauan Rodhesia, semenanjung Krym dan ibukotanya Valachie, menerobos Eropa, hingga sampai di Wina ibukota Austria. Menaklukan Hungaria, membunuh orang-orang portugis di pesisir India, dan mengalahkannya pada tahun 943 H. masa sulaiman alqanuni tergolong masa kejayaan turki usmani karena dalam masa ini kekuasaan islam telah meluas, selain itu sulaiman telah membuat aturan hukum (Qonun) untuk mengatur hal ihwal kengaraannya, yang tidak pernah diatur oleh penguasa-penguasa sebelumnya. Aturan-aturan hukum yang pasti itulah yang kemudian membuat kekhalifahannya mengalami kemajuan. Selain karena dia menerapkan sistem pembagian kekuasaan juga untuk mempermudah birokrasi Negara. C. Salim II bin Sulaiman (1566-1574 M) Salim sebenarnya bukan seorang penguasa dan penakluk yang hebat, untungnya dia dibantu oleh menterinya, Muhammad Pasya as-Shuqlali, seorang mujahid dan politikus. Usaha-usaha yang dilakukannya: perjanjian gencatan senjata dengan raja Perancis Charles IX, Penaklukan Cyprus, Peperangan Lepanto dengan orang Kristen yang mengalami kekalahan, pembangunan kembali armada laut usmani, penundukan Tunisia, ekspedisi besar-besaran ke Yaman. Khalifah-Khalifah Terakhir A. Abdul Hamid II bin Abdul Majid (1876-1909 M) Dia adalah khalifah terkuat terakhir dari kekhalifahan usmaniyah. Masanya ditandai dengan kekalahan-kekalahan pemerintahan ini, bangkrutnya militer, karena serangan pasukan gabungan Negara-negara Eropa Nasrani. Maka hilanglah sebagian besar kekayaannya di Eropa, Asia dan Afrika hingga kemudian Pasukan Rusia tiba di ibukota Usmaniyah. Usaha-usaha yang dilakukannya: Undang-Undang Usmaniyah atas prinsip musyawarah, namun hanya berlaku beberapa saat. Munculnya organisasi turki muda karena dibatalkannya undang-undang usmaniyah, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya republic turki. B. Abdul Majid II bin Abdul Aziz (1914 M)

9

Pada masa ini organisasi nasional turki yang dipimpin Mustafa kemal attaturk semakin membesar, bahkan diangkatnya khalifah Abdul majid II hanya upaya mendapat simpati dengan tetap menjaga sistem khalifah, padahal sebenarnya abdul majid II tak lebih dari sebuah boneka yang diperintah olehnya. Namun pada akhirnya Mustafa lah yang mengakhiri dinasti turki usmaniyah dengan menerapkan aturan-aturan: sekulerisme, pemisahan agama dan pemerintahan, penghapusan sistem kekhalifahan yang monarci, mengganti undang-undang turki dengan undang-undang sipil. Dengan demikian berakhirlah masa kekuasaan turki usmani selama kuang lebih 6 abad, dan berdirilah republic turki dengan penguasanya Mustafa kemal Attaturk pada tahun 1924 M. Daftar raja-raja yang mememrintah dinasti turki usmani dan tahun

kekuasannya:

No 1 . 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Nama Khilafah Tahun Utsman I 1281-1324 Pengangkatan Orhan 1324-1306 (Masehi) Murad I 1306-1389 Bayazid I 1389-1402 Peralihan Kekuasaan 1402 Muhammad I 1413-1421 Murad II 1421-1444 Muhammad II 1444-1446 Murad II (menjabat yang kedua 1446-1451 Muhammad II (menjabat ketiga 1451-1481 kalinya) Bayazid II 1481-1512 kalinya) Saim I 1512-1520 Sulaiman I 1520-1566 Salim II 1566-1574 Murad III 1574-1594 Muhammad III 1594-160 Ahmad I 1603-1617 Musthofa I 1617-1618 Utsman II 1618-1622 Musthofa I (menjabat kedua 1622-1623 Murad IV 1623-1640 kalinya) Ibrahim 1640-1648 Muhammad IV 1648-1678

10

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Sulaiman II Ahmad II Musthofa II Ahmad III Mahmud I Utsman III Musthofa III Abdul Hamid I Salim III Musthofa IV Mahmud II Abdul Majid I Abdul Aziz Murad V Abdul Hamid II Muhammad Rasyid V Muhammad Wahid al-Din Abdul Majid II (hanya bergelar sebagai khalifah saja)

1678-1691 1691-1695 1695-1703 1703-1730 1730-1754 1754-1757 1757-1774 1774-1789 1789-1807 1807-1808 1808-1839 1839-1861 1861-1876 1876 (93 hari) 1876-1909 1909-1912 1912-1914 1914-1923

3. Kemajuan dan kemunduran turki usmani  ASPEK KEKUASAAN WILAYAH Sepeninggal Sultan Usman pada Tahun 1326 M, Kerajaan dipimpin oleh anaknya Sultan Orkhan I (1326-1359 M). Pada masanya berdiri Akademi militer sebagai pusat pelatihan dan pendidikan, sehingga mampu menciptakan kekuatan militer yang besar dan dengan mudahnya dapat menaklukan Sebagian daerah benua Eropa yaitu, Azmir (Shirma) tahun 1327 M, Tawasyanli Galliopoli 1356 M. Ketika Sultan Murad I (1359-1389 M) pengganti orkhan naik. Ia memantapkan keamanan dalam negri dan melakukan perluasan ke benua Eropa dengan menaklukan Adrianopel (yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan baru) , Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh bagian utara Yunani. Merasa cemas dengan kesuksesan Kerajaan Usmani, negara Kristen Eropa pun bersatu yang di pimpin oleh Sijisman memerangi 1330 M, Uskandar 1338 M, Ankara 1354 M dan

11

kerajaan, hingga terjadilah pertempuran di Kosovo tahun 1389 M, namun musuh dapat di pukul mundur dan di hancurkan . Pada tahun 1389 M, Sultan Bayazid naik tahta (1389-1403 M), Perluasan berlanjut dan dapat menguasai Salocia, morea, Serbia, Bulgaria, dan Rumania juga pada tahun 1394 M, memperoleh kemenangan dalam perang Salib di Nicapolas. Selain menghadapi musuh-musuh Eropa, Kerajaan juga dipaksa menghadapi pemberontak yang bersekutu dengan Raja islam yang bernama Timur Lenk di samarkand. Pada tahun 1402 M pertempuran hebat pun terjadi di Ankara, yang pada akhirnya Sultan Bayazid dengan kedua putranya Musa dan Erthogrol, tertangkap dan meninggal di tahanan pada tahun 1403 M. Sebab kekalahan ini Bulgaria dan Serbia memproklamirkan kemerdekaannya. Setelah Sultan Bayazid meninggal, terjadi perebutan kekuasaan di antara putra –putranya (Muhammad, isa dan sulaiman) namun di antara mereka Sultan Muhammad I lah yang naik tahta (1403-1421 M), di masa pemerintahannya ia berhasil pada tahun 1405 M. Pada tahun 1421 M, Sultan Muhammad meninggal dan di teruskan oleh anaknya, Sultan Murrad II (1421-1484 M) hingga mencapai banyak kemajuan pada masa Sultan Muhammad II/ Muhammad Al Fatih (14511484 M) putra Murrad II. Pada masa Muhammad II, Tahun 1453 M ia dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstantinopel . Setelah Beliau meninggal di gantikan oleh putranya Sultan Bayazid II Berbeda dengan Ayahnya, Sultan Bayazid II (1481-1512 M) lebih mementingkan kehidupan Tasawuf dari pada penaklukan wilayah, sebab itu muncul kontroversial akhirnya ia mengundurkan diri dan di gantikan putranya Sultan Salim I Pada masa Sultan Salim I (1521-1520 M) terjadi perubahan peta arah perluasan, memfokuskan pergerakan kuasai mamluk. ke arah timur dengan menaklukan Persia, Syiria hingga menembus Mesir di Afrika Utara yang sebelumnya di menyatukan kembali kekuatan dan daerahnya dari bangsa mongol, terlebih setelah Timur lenk meninggal

12

Setelah Sultan Salim I Meninggal , Muncul Putranya Sultan Sulaiman I (1520-1566 M) sebagai Sultan yang mengantarkan Kerajaan Turki Usmani pada masa keemasannya, karena telah berhasil menguasai daratan Eropa hingga Austria, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria dan Rumania, Afrika Utara hingga Mesir, Aljazair, Libia, Dan Tunis. Asia hingga Persia, Amenia, Siria. meliputi lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Tengah, Laut Hitam. juga daerah-daerah di sekitar kerajaan seperti Irak, Belgrado, Pulau Rodes, Tunis, Budapest dan Yaman.  ASPEK PEREKONOMIAN Tercatat beberapa kota yang maju dalam bidang industri pada waktu itu di antaranya :  Mesir sebagai pusat produksi kain sutra dan katun  Anatoli selain sebagai pusat produksi bahan tekstil dan kawasan pertanian yang subur, juga menjadi pusat perdagangan dunia pada saat itu.1  ASPEK ILMU PENGETAHUAN  Tempat pendidikan Secara umum pada masa dinasti usmaniyah tidak terlalu sehingga

memfokuskan

perhatian

terhadap

ilmu

pengetahuan,

mengakibatkan Bidang ilmu pengetahuan

kurang begitu menonjol,

tidak seperti Dinasti islam sebelumnya, akan tetapi ada beberapa titik kemajuan yang terlihat yaitu pada masa sultan Muhammad al-fatih. Pada masa sultan alfatih, ilmu pengetahuan memdapat cukup perhatian, sehingga pada masa itu tampak kemajuannya, terbukti dengan tersebarnya sekolah-sekolah dan akademisi-akademisi di semua kota besar ataupun kecil, demikian pula dengan desa-desa terpencil. Disamping itu semua sekolah-sekolah dan akademisiakademisi telah terorganisir, berjenjang dan memiliki kurikulum serta bersistem jurusan. Disamping pembangunan sekolah-sekolah dan akademisi-akademisi kepedulian akan ilmu pengetahuan juga terlihat dari perpustakaan-

1

Busman Edyar, Ilda Hayati, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta, Pustaka Asatruss,2009) Hal.147

13

perpustakaan yang dibangun di sekitar sekolah dimana pengelolaan perpustakaan tersebut sangat tertib, terbukti dengan keteraturan catatan peminjan.2  Penerjemahan kitab-kitab Pada masa sultan al-fatih telah dilakukan penerjemahan khazanahkhazanah lama dari bahasa yunani, latin, Persia dan arab kedalam bahasa turki, salah satu buku yang diterjemahkan adalah masyahir alrijal (orang-orang terkenal) karya poltark, buku-buku lainnya yang diterjemahkan ke bahasa turki adalah buku karangan abu al-qasim alzaharowi al-andalusi, seorang ahli kedokteran yang berjudul al-tashrif fi al-thibbi. Buku ini kemudian diberi tambahan pembahasan alat-alat untuk bedah dan posisi pasien tatkala terjadi operasi bedah3.

4. Penaklukan Konstatinopel Hal yang perlu pemakalah sampaikan di sini adalah tentang penaklukan konstantinopel, hal ini dikarenakan penaklukan kota konstantinopel tidak hanya dilakukan oleh pasukan usmaniyah saja, namun sejak masa dinasti Umayyah, usaha-usaha penaklukan kota konstantinopel sebagai ibukota bizantium yang dikuasai oleh Romawi Timur, menjadi prioritas utama, selain atas dasar hadits nabi, penaklukan ini juga bermotif politik dan agamis, karena di sanalah tempat yang strategis untuk penyebaran islam selanjutnya, bahkan turki usmani tidak akan mencapai keemasannya tanpa dimulai dengan penaklukan konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih, sehingga kemudian turki usmani bisa menguasai wilayah yang sangat luas semasa sulaiman al-Qanuni. Usaha penaklukan konstantinopel bermula masa dinasti Umayyah, usaha penyerangan pertama pada masa Muawiyah bin Abi sufyan tahun 44 H, namun tidak berhasil, serangan paling besar pada masa dinasti umayyah dilakukan pada masa Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H. pada masa Abbasiyah, berlangsung jihad yang terus menerus melawan pemerintahan Byzantium, namun serangan belum sampai pada konstantinopel, walaupun

2 3

Lihat Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Usmaniyah hal. 180 Lihat Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Usmaniyah hal. 184

14

diakui bahwa Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H mampu menimbulkan gejolak di dalam negeri Byzantium. Masa selanjutnya dilakukan oleh dinasti saljuk pimpinan Alib Arselan yang bmengalahkan Kaisar Rumanos, dan kemudian diadakan perjanjian pembayaran upeti tahunan pada pemerintah saljuk, ini menunjukkan ketundukan sebagian Byzantium pada islam saat itu. Setelah saljuk melemah, muncul dinasti-dinasti saljuk kecil, seperti saljuk-romawi yang mampu melemahkan kekaisaran romawi. Pada masa turki usmani, usaha penaklukan Byzantium untuk pertama kalinya dilakukan oleh sultan Bayazid “sang kilat”, yang dengan kekuatan militernya yang kua berhasil mengepung konstatinopel tahun 1393 M. awalnya sultan melakukan perjanjian damai pada penguasa konstantinopel untuk menyerahkan konstantinopel dengan damai tanpa pertumpahan darah. Namun kaisar romawi mengulur-ulur waktu dan mencari-cari cara untuk melawan kepungannya. Dia kemudian meminta bantuan Negara-negara Eropa. Sebenarnya saat itu konstantinopel sudah melemah, namun pada saat yang bersamaan, muncullah rival turki usmani, yaitu kerajaan Mongolia di bawah pimpinan Timurlenk, yang menyerbu wilayah-wilayah turki usmani. Terpaksa pasukan ditari untuk menghadapi pasukan mongol, yang kemudian terkenal dengan perang Ankara, dimana pihak bayazid kalah. Usaha kedua masa turki usmani dilaksanakan oleh Murad II, usaha dilakukan dengan serangan bertubi-tubi ke konstantinopel sebagai pusat bizantium. Namun siasat kaisar romawi lebih unggul, dia berhasil meminimalisirnya dengan memberikan bantuan-bantuan financial bagi pemberontak yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan turki usmani. Sehingga konsentrasi pasukan terpecah menjadi dua, dan konstantinopel tidak berhasil dikuasai. Masa penaklukan konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih. Atas ajaran dari ustadnya Syaikh Aaq Syamsuddin, yang senantiasa memberikan dasar-dasar islam yang kuat, juga ajaran penyebaran dakwah islam, disamping karena dia teah mengikuti peperangan dengan romawi bersama ayahnya Murad II. Dia kemudian menyusun strategi yang benar-benar kuat. Strategi pertamanya adalah mengamankan wilayah kekuasaannya dengan mengadakan konsolidasi-konsolidasi. Setelah erasa situasi dalam negeri kekuasaannya aman, dia mulai merancang taktik penyerangan ke konstantinopel. Dia melatih 250.000 mujahid siap tempur, jumlah yang sangat banyak dibandingkan jumlah pasukan islam lain semasanya, dengan menanamkan 15

semangat jihad di jalan Allah, dia juga selalu mengingatkan mereka tentang peujian Rasulullah bagi mereka yang mampu membuka konstantinopel. Adapun hadits nabi tersebut berbunyi:

‫لتفتحنّ القسطنطية على يد رجل فلنعم األمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش‬
“Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki, maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara”. Hadis himmah (cita-cita) nabi tersebut mampu menciptakan semangat jihad yang kuat bagi pasukan usmani. Semangat moril itu diperkuat dengan infrastruktur angkatan perang yang mutakhir dan strategi yang canggih. Dimana sultan Muhammad membangun benteng Romali hishar di selatan eropa di selat borphorus sebagai titik strategis untuk melancarkan serangan dan mensuplai peperangan. Tidak hanya itu, sultan Muhammad juga membangun sebuah meriam berbobot ratusan ton untuk menghancurkan benteng konstantinopel. Selain itu angkatan laut juga dipersiapkan dengan membangun 400 kapal, karena kota konstantinopel berdekatan dengan laut. Saat pengepungan dilaksanakan, kaisar romawi telah meminta bantuan kepada Negara-negara Kristen eropa, namun ada beberapa masalah internal Kristen pada saat itu sehingga bantuan kurang maksimal. Konflik yang dimaskudkan adalah bahwasannya Kristen di konstantinopel beraliran orthodox sedangkan Kristen di kekaisaran Byzantium beraliran katolik. Hal ini juga lah yang menjadikan kelemahan tersendiri bagi mereka sehingga, konstantinopel bisa ditaklukkan, dengan strategi yang luar biasa, perpaduan taktik dan strategi angkatan darat dan angkatan laut, dimana angkatan laut menyerang dari belakang benteng sehingga pasukan penjaga benteng konstantinopel terbagi menjadi mudah, sehingga armada darat bisa lebih mudah menghancurkan benteng kota konstantinopel.

5. RUNTUHNYA TURKI USMANI Faktor-Faktor Keruntuhan Khilafah Utsmaniyah (974-1171 H/1566-1757 M) Kenaikan Sultan Salim II (1566-1574) telah dianggap sebagai permulaan keruntuhan Turki Utsmani dan berakhrnya zaman keemasannya.

16

Hal ini ditandai dengan melemahnnya semangat perjuangan prajurit utsmani yang menyebabkan sejumlah kekalahan dalam pertempuran menghadapi mmusuh-musuhnya. Pada tahun 1663 , tentara utsmani menderita kekalahan dalam penyerbuan hongaria. Tahun 1676 turki kalah dalam pertempuran di Mohakez, Hungaria dan menandatangani perjanjian karlowits pada tahun 1699 yang berisi pernyataan seluruh wilayah Hungaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada penguasa Venetia.4 Pada tahun 1774, penguasa Utsmani, Abdul Hamid menandatangani perjanjian dengan Rusia yang berisi pengakuan kemerdekaan Crimenia dan penyerahan benteng-benteng pertahanan di laut hitam serta memberikan izin kepada rusia untuk melintasi selat antara laut hitam dengan laut putih5 Apabila dikategorikan, maka faktor-faktor keruntuhan kerajaan turki usmani adalah:  Faktor internal 1. Karena luas pemerintahan, wilayah kekuasaan serta buruknya system keadilan, banyaknya sehingga hilangnya

korupsi dan meningkatnya kriminalitas. 2. Heterogenitas penduduk dan agama. 3. Kehidupan istimewa yang bermegahan. 4. Merosotnya perekonomian negara akibat peperangan yang pada sebagian besar peperangan turki mengalami kekalahan.

 Faktor Eksternal 1. Munculnya gerakan nasionalisme. Bangsa-bangsa yang tunduk pada kerajaan turki selama berkuasa, mulai menyadari kelemahan dinasti tersebut. Kemudian ketika turki mulai lemah mereka bangkit untuk melawannya.
4 5

Adjit Tohir , loc cit hal. 180 ibid

17

2. Terjadinya kemajuan teknologi di barat khususnya bidang persenjataan. Turki selalu mengalami kekalahan karena mereka masih menggunakan senjata tradisional, sedangkan wilayah barat seperti eropa telah menguunakan senjata yang lebih maju lagi. Melihat faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran turki tersebut, hal ini berawal dari orang-orang arab yang menghadapi orang-orang utsmaniyah, mereka berada dalam dilema yaitu mereka di sisi lain ingin menghormati turki sebagai cerminan persatuan kaum muslimin, di sisi lain mereka mempunyai landasan berfikir ingin memerdekakan diri dari kerajaan turki tersebut.6 ANALISIS Dalam kurun waktu 6 abad berkuasa, kerajaan turki usmani telah diakui oleh sejarah sebagai kerajaan islam terbesar dan terlama disbanding dengan kerajaan islam lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal penting sehingga kerajaan ini mampu bertahan sedemikian lamanya. Penulis ingin menganalisis dari bebagai aspek, yaitu: a. Aliran agama, aliran agama rupanya sangat berpengaruh pada kekuasaan dan pertahanan keamanan Negara. Turki usmani yang menganut aliran sunni akan selalu bentrok dengan aliran syiah yang dianut oleh kerajaan safawi, sehingga wajar bila kedua kerajaan ini terlihat sering berperang dan memerangi satu sama lain. Adalah wajar, karena suatu kelompok sosial akan dapat mempertahankan dan melestarikan kelompoknya bila ada kelompok lain yang bersebrangan dengannya, namun hal negatif yang kemudian terjadi adala kelompok sosial (temasuk aliran agama) yang minoritas akan ditindas oleh mayoritas, sebagaimana turki memerangi aliran syiah. b. Sistem sosial masyarakat, salah satu kunci kesuksesan dan keberhasilan turki usmani adalah adanya persatuan di antara
6

Ahmad al usairy , sejarah islam . hal 370

18

masyarakatnya yang begitu banyak, (pada tahun 1520 jumlah penduduk kerajaan turki usmani adalah 11,692,480 peduduk). Persatuan ini oleh pemerintah diwadahi dalam bentuk organisasi keagamaan bernama millet. Millet adalah kelompok agama yang diperbolehkan membangun komunitasnya sendiri di bawah peraturan dan perlindungan kerajaan turki usmani. pluralitas yang diberikan pada rakyatnya mampu memberikan rasa persatuan bagi rakyat dari berbagai wilayah yang ditaklukannya sehingga, semua masyarakatnya bersatu. Namun pada akhirnya sistem ini runtuh bersamaan dengan munnculnya paham nasionalisme yang disebarkan oleh bangsa barat, yang memang bertujuan menyerang dari dalam masyarakatnya. Sehingga setiap wilayah / kerajaan kecil yang ditaklukannya mulai memberontak dari dalam atas semangat nasionalisme mereka, masyarakat kerajaan turki usmani pun kemudian terpecah belah, setelah sebelumnya bersatu, bahkan kerajaan turki usmani mendapat julukan “The Sickman Europe” (Orang Eropa yang sakit). Hal ini kemudian ingin dihilangkan dengan memberikan paham pan-turkisme, paham untuk menyatukan seluruh masyrakat turki, namun paham ini tidak bisa diterima rakyat, berlanjut dengan paham pan-islamisme oleh Sultan Abdul Hamid II, paham yang menyerukan umat islam bersatu secara politik, persatuan ini diwujudkan berupa pengakuan sultan turki usmani sebagai khalifah umat islam, gagasan ini berhasil mendapat simpati umat islam untuek beberapa tahun. Namun perlawanan barat tidak berhenti sampai di situ, kartu As terakhir mereka adalah mengusung paham demokrasi yang kemudian mengakhiri kerajaan turki usmani dan memunculkan republik turki yang dipelopori oleh Mustafa kemal attaturk. c. Kekuatan Usman militer, raja berbeda dengan kerajaan-kerajaan Al Qanuni, islam lebih sebelumnya, kerajaan turki usmani, mulai dari raja pertamanya hingga terhebatnya Sulaiman memfokuskan pada perkembangan militer. Hal ini dikarenakan bangsa turki terkenal sebaga bangsa yang berdarah militer,
19

sehingga semangat militernya sangat kuat, untuk itu sebagian besar APBN kerajaan dipergunakan untuk membiayai prajurit perang daripada untuk keperluan lain, seperti agama, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Bahkan untuk memperbanyak prajurit, raja kedua turki usmani, Orkhan mengangkat Bangsa-bangsa non-Turki sebagai prajurit, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negeri-negeri non muslim. Hal ini menjadikan kerajaan ini lebih kuat dibandingkan kerajaan-kerajaan lain, sehingga semakin banyak wilayah yang ditaklukkan maka semakin banyak pula prajurit-prajurit baru yang dapat dilatih untuk dijadikan tentara islam. Jadilah kerajaan turki usmani kerajaan yang hebat dan berwilayah yang luas. d. Sistem pemerintahan, saat wilayah semakin luas, tentunya sistem pemerintahan harus hebat juga, dalam mengelola wilayah yang luas sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Sulaiman Al Qanuni menerapkan sistem pemerintahan pembagian wilayah kekuasaan, sehingga dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh shadr al-a’zham (perdana menteri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-’alawiyah (bupati). Hal ini menjadikan kerajaan turki usmani pada masa sulaiman Al-Qanuni bisa mengatur wilayah yang sedemikian besarnya. e. Ilmu pengetahuan, meskipun kerajaan turki usmani hebat dalam hal sistem militer dan sistem pemerintahan, namun mereka tidak terlalu memperhatikan ilmu pengetahuan, yang sebenarnya bisa lebih memperkuat tenaga militer. APBN Negara sebagian besar dipergunakan untuk membiayai pendidikan militer bangsa-bangsa
20

non-turki untuk dijadikan prajurit islam yang kuat, sehingga hanya sedikit yang dipergunakan untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan kelemahan tersendiri bagi mereka. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan barat yang lebih memfokuskan perhatian pada ilmu pengetahuan, sehingga perkembangan ilmu pengetahuannya berkembang pesat, yang kemudian memperkuat militer dengan senjata-senjata api baru, yang tidak dimiliki oleh turki usmani. ketika bangsa turki usmani diserang oleh bangsa barat dengan senjata baru mereka, bangsa turki usmani mulai kekualahan. Sehingga pasca kehebatan dan wilayahnya yang luas, sedikit demi sedikit kerajaan ini mulai digerogoti, baik dari luar kerajaan maupun dari dalam kerajaan (pemberontak). f. Munculnya kaum elit, bahwa raja-raja setelah sulaiman al qanuni, kurang bisa mengatur pemerintahannya, bahkan ditambah lagi munculnya kaum elit kapitalis di wilayah pemerintahan, sehingga individualitas antar pemimpin dan golongan-golongan elit semakin tumbuh, yang berlanjut dengan penumpukan harta umtuk kepentingan masing-masing, hal ini dimanfaatkan oleh Negaranegara yang telah dikuasainya untuk memerdekakan diri, mereka tidak mau lagi dimanfaatkan tenaganya oleh bangsa turki untuk dijadikan tentara, disamping itu serangan-serangan barat pada wilayah terluar kerajaan juga semakin memperburuk suasana pemerintahan, anggaran dana yang seharusnya dipergunakan untuk memperkuata pertahanan militer Negara sebagian besar dikuasai dan dimonopoli oleh kaum elit kerajaan, hal ini mengakibatkan semangat berperang prajurit melemah karena tidak adanya dana untuk peperangan yang memadai, sehingga perlahan-lahan wilayah kerajaan mulai mengalami penyusutan, hingga pada tahun 1924 kerajaan turki usmani berubah menjadi republik turki. KESIMPULAN Bangsa turki patut diacungi jempol karena bisa melahirkan dua dinasti besar yang mampu memporak-porandakan kekuasaan romawi, sebagai
21

rival islam. Bangsa turki yang berdarah militer ditambah dengan semangat jihad yang tinggi menjadi angkatan bersenjata tangguh yang mampu menguasai wilayah-wilayah eropa dan merebut sebagian besar wilayah kekuasaan romawi, sehingga mampu menjadi awal kejayaan islam, dengan dibukanya pintu perluasan dakwah di konstantinopel. Berbicara mengenai fakta, bahwasannya dari ke-40 raja yang memimpin turki usmani, hanya beberapa raja saja yang sanggup menciptakan kedamaian dan membawa armada perangnya untuk berjihad menyebarkan islam dan memerangi musuh islam. Sementara sebagian besar pemimpin turki hidup dalam keadaan glamour menikmati hasil pemimpin pendahulunya, kurang cakap memimpin, sehingga mengakibatkan kemunduran kerajaan. Agaknya sistem monarki yang dipakai dalam dinasti turki usmani ini kurang cocok, karena tida setiap anak mampu mewarisi sifat-sifat ayahnya yang cakap memimpin dan bijak. PENUTUP Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari tentunya makalah ini tak lepas dari kesalahan-kesalahan, baik itu kesalah tulisan atau kesalahan materi, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari segenap pembaca dan dosen pengampu senantiasa kami harapkan, demi kesempurnaan makalah ini.

22

Peta Wilayah Kekuasaan Turki Usmani

23

DAFTAR PUSTAKA
C.E. Bosworth, Dinasti-dinasti Islam,(Bandung: Mizan, 1980), Edyar, Busman dan Ilda Hayati, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, Pustaka Asatruss,2009). Hitti, Philip K. History of the Arabs, (London: The Mac Millan Press, 1974), http://harmanza.wordpress.com/2010/07/01/499/ http://iwanbustomi.blogspot.com/2010/06/turki-utsmani.html http://imronfauzi.wordpress.com/2008/12/10/sejarah-kerajaan-turkiustmani/ http://initialdastroboy.wordpress.com/2010/04/15/kemunduran-tigakerajaan-besar-utsmani-safawi-dan-mughal/ http://kritistransformatif.blogspot.com/2011/01/turki-usmani.html http://orgawam.wordpress.com/2008/11/28/turki-utsmani-kekhalifahanberakhir-abad-kemarin/ http://anneahira.com/sejarah-kerajaan-turki -usmani.html http://www.abdain.com/kerajaan-usmani.html http://www.theottomans.org/english/history/index.asp Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam Imperium Turki Usmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988) Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003

24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->