Terjadinya rupture uteri pada seorang ibu hamil atau sedang bersalin masih merupakan suatu bahaya besar

yang mengancam jiwanya dan janinnya. Kematian ibu dan anak karena rupture uteri masih tinggi. Insidens dan angka kematian yang tinggi kita jumpai dinegara-negara yang sedang berkembang, seperti afrika dan asia. Angka ini sebenarnya dapat diperkecil bila ada pengertian dari para ibu dan masyarakat. Prenatal care, pimpinan partus yang baik, disamping fasilitas pengangkutan dari daerah-daerah periver dan penyediaan darah yang cukup juga merupakan faktor yang penting. Ibu-ibu yang telah melakukan pengangkatan rahim, biasanya merasa dirinya tidak sempurna lagi dan perasaan takut diceraikan oleh suaminya. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat serta tindakan yang jitu juga penting, misalnya menguasai teknik operasi. Menurut waktu terjadinya: 1. Rupture uteri gravidarum Terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada konpus 2. Rupture Uteri durante partum Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang paling terbanyak. Menurut lokasinya: 1. Korpus Uteri Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti; SC klasik (korporal) atau miomektomi. 2. Segmen bawah rahim Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama tambah tegang dan tipis dan akhirnya terjadi rupture uteri. 3. Servik uteri Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versa dan ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap. 4. Kolpoporeksis-kolporeksi Robekan-robekan diantara servik dan vagina. Menurut etiologinya; 1. Rupture uteri spontanea menurut etiologi dibagi menjadi 2: a. Karena dinding rahim yang lemah dan cacat, misalnya pada bekas SC, miomektomi, perforasi waktu kuretase, histerorafia, pelepasan plasenta secara manual b. Karena peregangan yang luar biasa pada rahim, misalnya pada panggul sempit atau kelainan bentuk panggul, janin besar seperti janin penderita DM, hidrops fetalis, post maturitas dan grande multipara. 2. Rupture uteri vioventa (traumatika), karena tindakan dan trauma lain seperti; a. ekstraksi forsef b. Versi dan ekstraksi c. Embriotomi d. Versi brakston hicks e. Sindroma tolakan (pushing sindrom) f. Manual plasenta g. Curetase h. Ekspresi kisteler/cred i. Pemberian pitosin tanpa indikasi dan pengawasan j. Trauma tumpul dan tajam dari luar

Menurut gejala klinis: 1. Rupture uteri imminens (membakat=mengancam): penting untuk diketahui 2. Rupture uteri sebenarnya

Mekanisme rupture uteri Pada umumnya uterus dibagi atas 2 bagian besar corpus uteri dans ervik uteri. Batas keduanya disebut ishmus uteri pada rahim yang tidak hamil. Bila kehamilan sudah kira-kira kurang lebih dari 20 minggu, dimana ukuran janin sudah lebih besar dari ukuran kavum uteri, maka mulailan terbentuk SBR ishmus ini. Batas antara korpus yang kontraktil dan SBR yang pasif disebut lingkaran dari bandl. Lingkaran bandl ini dianggap fisiologi bila terdapat pada 2 sampai 3 jari diatas simpisis, bila meninggi, kita harus waspada terhadap kemungkinan adanya rupture uteri mengancam (RUM). Rupture uteri terutama disebabkan oleh peregangna yang luar biasa dari uterus. Sedangkan uterus yang sudah cacat, mudah dimengerti, karena adanya lokus minoris resisten. Pada waktu inpartu, korpus uteri mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan servik menjadi lunak (efacement dan pembukaan). Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat maju (obstruksi), sedang korpus uteri berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat) maka SBR yang pasif ini akan tertarik keatas, menjadi bertambah reggang dan tipis. Lingkaran bandl ikut meninggi, sehingga sewaktu-waktu terjadi robekan pada SBR tadi. Dalam hal terjadinya rupture uteri jangan dilupakan peranan dari anchoring apparrtus untuk memfiksir uterus yaitu ligamentum rotunda, ligamentum sacro uterina dan jaringan parametra. Diagnosisi dan gejala klinis: Gejala rupture uteri mengancam 1. Dalam tanya jawab dikatakan telah ditolong atau didorong oleh dukun atau bidan, partus sudah lama berlangsung. 2. Pasien nampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan nyeri diperut. 3. Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan, bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan. 4. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya. 5. Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged laboura), yaitu mutut kering, lidah kering dan halus badan panas (demam). 6. His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus menerus. 7. Ligamentum rotundum teraba seperrti kawat listrik yang tegang, tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduannya. 8. Pada waktu datangnya his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan sbr teraba tipis dan nyeri kalau ditekan. 9. Penilaian korpus dan sbr nampak lingkaran bandl sebagai lekukan melintang yang bertambah lama bertambah tinggi, menunjukkan sbr yang semakin tipis dan teregang.sering lingkaran bandl ini dikelirukan dengan kandung kemih yang penuh untuk itu lakukan kateterisasi kandung kemih. Dapat peregangan dan tipisnya sbr didinding belakang sehingga tidak dapat kita periksa. Misalnya terjadi pada asinklintismus posterior atau letak tulang ubun-ubun belakang. 10. Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan teregang keatas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih, maka pada kateterisasi ada hematuria. 11. Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia). 12. Pada pemeriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi, seperti edema portio, vagina, vulva dan kaput kepala janin yang besar.

jadi berada dirongga perut. embriotomi dan lain-lain Diagnosa Banding: 1. Pemeriksaan dalam a. menjerit seolaholah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah. Syok nadi kecil dan cepat. Nyeri tekan pada perut. b. dan di sampingnya kadang-kadang teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa. Mula-mula terdapat defans muskuler kemudian perut menjadi kembung dan meteoristis (paralisis khusus). 3) Sangat penting untuk diingat lakukanlah selalu eksplorasi yang teliti dan hati-hati sebagai kerja tim setelah mengerjakan sesuatu operative delivery. Rupture Uteri Upaya pencegahan (provilaksis) 1. omentum dan bagianbagian janin c. misalnya sesudah versi ekstraksi. Auskultasi Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit setelah rupture. Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tidak begitu banyak. pasien merasa kesakitan yang luar biasa. Bila kepala janin belum turun. Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada dinding rahim dan kalau jari atau tangan kita dapat melalui robekan tadi maka dapat diraba usus. g. apalagi kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk kerongga perut. ekstraksi vakum atau forsef. Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema subkutan b. 2. Catatan 1) Gejala rupture uteri incomplit tidak sehebat komplit 2) Rupture uteri yang terjadi oleh karena cacat uterus biasanya tidak didahului oleh uteri mengancam. h. Panggul sempit (CPD) .Gejala-gejala rupture uteri: 1. 4. Solusio Plasenta 2. takut. Pada suatu his yang kuat sekali. Pernafasan jadi dangkal dan cepat. Anamnesis dan infeksi a. c. Palpasi a. d. kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ketungkai bawah dan dibahu. Plasenta Previa 3. lebih-lebih kalau bagian terdepan atau kepala sudah jauh turun dan menyumbat jalan lahir. Bila janin sudah keluar dari kavum uteri. keluar keringat dingin sampai kolaps. Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun kebawah. terutama pada tempat yang robek 3. Kontraksi uterus biasanya hilang. dengan mudah dapat didorong keatas. kelihatan haus. f. dan ini disertai keluarnya darah pervaginam yang agak banyak b. pucat. maka teraba bagianbagian janin langsung dibawah kulit perut. akan mudah dilepaskan dari PAP c. Kateterisasi hematuri yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung kemih d. Muntah-muntah karena rangsangan peritoneum d. tekanan darah turun bahkan tidak teratur e.

ruptur uteri pada bekas parut lebih baik dari yang traumatika 5. Fasilitas tempat pertolongan. Jenis rupture dan apakah arteri uterina ikut putus 4. Malpresentasi letak lintang atau presentasi bahu. Keadaan umum penderita 3. Hidrosefalus 5. manual uri. Tetania uteri 7. . Rupture uteri karena tindakan obstetrik dapat dicegah dengan bekerja secara legeartis. kalau kiranya sulit dan tidak berhasil. Grandemultipara dan abdomen pendulum 9. Prognosa ibu tergantung dari beberapa faktor: 1. Uterus cacat karena miomektomi. Tumor jalan lahir 8. memperbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian infus cairan dan tranfusi darah. Diagnosa serta pertolongan yang cepat dan tepat 2.Anjurkan bersalin dirumah sakit 2. TANDA dan GEJALA Tanda dan gejala ruptur uteri dapat terjadi secara dramatis atau tenang. Prognesis Rupture uteri merupakan peristiwa yang sangat gawat bagi ibu dan lebih-lebih bagi anak. ( buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal ) Rupture uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya perioneum visceral. ( Obstetri dan Ginekologi ) B. presentasi abnormal ( terutama terjadi penipisan pada segmen bawah uterus ). penyediaan cairan dan darah yang cukup 6. jangan melakukan ekspresi kristeler yang berlebih-lebihan. tindakan selanjutnya adalah melakukan laparatomi dengan tindakan jenis operasi. bidan dilarang memberikan oksitosin sebelum janin lahir Tindakan pertama adalah mengatasi syok. Keterampilan operator dan jenis anestesi . 4. Rigid servik 6. maka dianjurkan bersalin diruma sakit dengan pengawasan yang teliti 11. maupun letak bokong. kardiotonika. Bila keadaan umum mulai baik. ( Helen. Cara terjadinya ruptur. 2001 ) C. induksi dengan oksitosin yang sembarangan atau persalinan yang lama 3. curetage.Perawatan postoperatif PENGERTIAN Ruptur Uteri adalah robekan atau diskontinuita dinding rahim akibat dilampauinya daya regang miomentrium. Pada bekas SC 10. Malposisi kepala Cobalah lakukan reposisi.Antibiotika yang tepat dan cukup . riwayat pembedahan terhadap fundus atau korpus uterus 2. ETIOLOGI 1. antibiotika. pikirkan untuk melakukan SC primer saat inpartu 3. presentasi rangkap.

u. SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya c) Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsipal atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap d) Kolpoporeksis. ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama tidak maju. ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi seperti seksio sesarea klasik ( korporal ). KLASIFIKASI Ruptur uteri dapat dibagi menurut beberapa cara : 1. yang sangat pada abdomen bawah saat kontraksi hebat memuncak • Penghentian kontraksi uterus disertai hilangnya rasa nyeri • Perdarahan vagina ( dalam jumlah sedikit atau hemoragi ) • Terdapat tanda dan gejala syok. u. Tenang • Kemungkinan terjadi muntah • Nyeri tekan meningkat diseluruh abdomen • Nyeri berat pada suprapubis • Kontraksi uterus hipotonik • Perkembangan persalinan menurun • Perasaan ingin pingsan • Hematuri ( kadang-kadang kencing darah ) • Perdarahan vagina ( kadang-kadang ) • Tanda-tanda syok progresif • Kontraksi dapat berlanjut tanpa menimbulkan efek pada servik atau kontraksi mungkin tidak dirasakan • DJJ mungkin akan hilang D.Dramatis • Nyeri tajam. Durante Partum Waktu melahirkan anak Ini yang terbanyak 2. tekanan darah menurun dan nafas pendek ( sesak ) • Temuan pada palpasi abdomen tidak sama dengan temuan terdahulu • Bagian presentasi dapat digerakkan diatas rongga panggul • Janin dapat tereposisi atau terelokasi secara dramatis dalam abdomen ibu • Bagian janin lebih mudah dipalpasi • Gerakan janin dapat menjadi kuat dan kemudian menurun menjadi tidak ada gerakan dan DJJ sama sekali atau DJJ masih didengar • Lingkar uterus dan kepadatannya ( kontraksi ) dapat dirasakan disamping janin ( janin seperti berada diluar uterus ). denyut nadi meningkat. miemoktomi b) Segmen bawah rahim ( SBR ). Gravidarum Waktu sedang hamil Sering lokasinya pada korpus b) R. robekan-robekan di antara serviks dan vagina . Menurut lokasinya a) Korpus uteri. Menurut waktu terjadinya a) R.

Kompleta : robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya ( perimetrium ) .Embriotomi .latum 4. dalam hal ini terjadi hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis b) R.pada panggul sempit atau kelainan bentuk dari panggul . Inkompleta : robekan otot rahim tanpa ikut robek peritoneumnya.dinding rahim tipis dan regang ( gemelli & hidramnion ) 2) Karena peregangan yang luarbiasa dari rahim . Imminens ( membakat = mengancam ) b) Ruptur Uteri ( sebenarnya ) .Pemberian piton tanpa indikasi dan pengawasan 5.Sindroma tolakan . Menurut simtoma klinik a) R. u.3. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas ke lig. Menurut etiologinya a) Ruptur uteri spontanea Menurut etiologinya dibagi 2 : 1) Karena dinding rahim yang lemah dan cacat .pimpinan partus salah b) Ruptur uteri violenta Karena tindakan dan trauma lain : . u.kelainan kongenital dari janin .malposisi dari kepala .Ekspresi kristeller atau crede . u.bekas seksio sesarea .Manual plasenta .Trauma tumpul dan tajam dari luar .bekas pelepasan plasenta secara manual .Kuretase .grandemultipara dengan perut gantung ( pendulum ) .pada gravida dikornu yang rudimenter dan graviditas interstitialis . R.janin yang besar .Versi dan ekstraksi .adanya tumor pada jalan lahir .bekas perforasi waktu keratase .kelainan letak janin .penyakit pada rahim .Ekstraksi forsipal .Braxton hicks version .bekas miomectomia .retrofleksia uteri gravida dengan sakulasi .bekas histerorafia .rigid cervik .kelainan kongenital dari uterus . Menurut robeknya peritoneum a).

DATA OBYEKTIF Pemeriksaan Umum Takikardi dan hipotensi merupakan indikasi dari kehilangan darah akut. kuat dapat berhenti dengan tiba-tiba. Segmen uterus bagian bawah merupakan tempat yang paling lazim dari ruptur. bagian presentasi mengalami regresi dan tidak lagi terpalpasi melalui vagina bila janin telah mengalami ekstrusi ke dalam rongga peritoneum. pembedahan uterus sebelumnya. miomektomi atau reseksi koruna. Pasien mengeluh nyeri uterus yang menetap. Ruptur uteri setelah melahirkan dikenali melalui eksplorasi manual segmen uterus bagian bawah dan kavum uteri. biasanya perdarahan eksterna dan perdarahan intra abdomen Pemeriksaan Abdomen Sewaktu persalinan. jari-jari pemeriksa dapat melalui tempat ruptur langsung ke dalam rongga peritoneum. TES LABORATORIUM Hitung Darah lengkap dan Apusan Darah Batas dasar hemoglobin dan nilai hematokrit dapat tidak menjelaskan banyaknya kehilangan darah. Perdarahan Per Vaginam dapat simptomatik karena perdarahan aktif dari pembuluh darah yang robek. DATA SUBYEKTIF DAN DATA OBYEKTIF DATA SUBYEKTIF Gejala Saat Ini Nyeri Abdomen dapat tiba-tiba. seksio sessaria. jari-jari dan tangan dapat digerakkan dengan bebas F. Golongan Darah dan Rhesus . Riwayat Penyakit Dahulu Rupture uteri harus selalu diantisipasi bila pasien memberikan suatu riwayat paritas tinggi. disertai dengan nyeri lepas mengindikasikan adanya perdarahan intraperitoneum.E. konstruksi uterus yang intermitten. Perdarahan pervaginam mungkin hebat. yang mana dapat di luar proporsi kehilangan darah eksterna karena perdarahan yang tidak terlihat. Adanya usus dan ommentum 3. Nyeri bahu dapat berkaitan dengan perdarahan intraperitoneum. yang dapat dikenali melalui : 1. Pemeriksaan Pelvis Menjelang kelahiran. tajam dan seperti disayat pisau. Sewaktu atau segera melahirkan. Apabila robekannya lengkap. kontur uterus yang abnormal atau perubahan kontur uterus yang tiba-tiba dapat menunjukkan adanya ekstrusi janin. Fundus uteri dapat terkontraksi dan erat dengan bagianbagian janin yang terpalpasi dekat dinding abdomen diatas fundus yang berkontraksi. Gejala-gejala lainnya meliputi berhentinya persalinan dan syok. Apabila terjadi rupture sewaktu persalinan. abdomen sering sangat lunak. Kontraksi uterus dapat berhenti dengan mendadak dan bunyi jantung janin tiba-tiba menghilang. Permukaan serosa uterus yang halus dan licin 2. Urinalisis : Hematuria sering menunjukkan adanya hubungan denga perlukaan kandung kemih.

segmen bawah rahim 5. korpus. Apabila robekan tidak terjadi pada uterus melainkan pada vagina bagian atas hal itu dinamakan kolpaporeksis. ahli anestesi. perdarahan dari luka : sedikit. Ada kemungkinan pula terdapat robekan dinding kandung kencing. pinggir tidak rata dan sudah banyak nekrosis 4. letaknya pada uterus melintang atau membujur atau miring dan bisa agak ke kiri atau ke kanan. yang umumnya terjadi pada persalinan. Bila keadaan umum mulai baik. diantaranya adala : 1. jenis luka robekan : jelek. konserfatif : hanya dengan temponade dan pemberian antibiotika yang cukup. jika tidak ruptur uteri inkompleta. kadang-kadang juga pada kehamilan tua. banyak 6. keadaan umum penderita 2. sampai darah didapatkan ). hal itu dinamakan ruptur uteri kompleta. histerektomi baik total maupun sub total 2. yaitu luka di eksidir pinggirnya lalu di jahit sebaik-baiknya 3. terlalu lebar. dan staff kamar operasi  buat dua jalur infus intravena dengan intra kateter no 16 : satu oleh larutan elektrolit. kardiotinika. dsb. tindakan selanjutnya adalah melakukan laparatomi dengan tindakan jenis operasi : 1. Apabila pada ruptur uteri peritoneum pada permukaan uterus ikut robek. perkiraan jumlah unit dan plasma beku segar yang diperlukan Berikan oksigen Buatlah persiapan untuk pembedahan abdomen segera ( laparatomi dan histerektomi ) Pada situasi yang mengkhawatirkan berikan kompresi aorta dan tambahkan oksitosin dalam cairan intra vena Pendahuluan Ruptur uteri atau robekan uterus merupakan peristiwa yang sangat berbahaya. PENATALAKSANAAN Tindakan pertama adalah memberantas syok. misalnya oleh larutan rimger laktat dan yang lain oleh tranfusi darah. antibiotika. Tindakan yang akan dipilih tergantung pada beberapa faktor. Hubungi bank darah untuk kebutuhan tranfusi darah cito.4 sampai 6 unit darah dipersiapkan untuk tranfusi bila diperlukan G. konsultan. kemampuan dan ketrampilan penolong MANAJEMEN segera hubungi dokter. jenis ruptur incompleta atau completa 3. histerorafia. tempat luka : serviks. ( jaga agar jalur ini tetap tebuka dengan mengalirkan saline normal. Epidemiologi . agak lama. umur dan jumlah anak hidup 7. Pinggir ruptur biasanya tidak rata. Robekan pada uterus dapat ditemukan untuk sebagian besar pada bagian bawah uterus. Pada robekan ini kadang-kadang vagina atas ikut serta pula. memperbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian infus cairan dan tranfusi darah.

Oleh karena itu diagnosis yang tepat serta tindakan yang jitu juga penting. sering berlokasi pada korpus. pimpinan partus yang baik. ruptur uteri dapat dibedakan:  Ruptur Uteri Gravidarum Terjadi waktu sedang hamil. Ibu-ibu yang telah mengalami pengangkatan rahim.rumah sakit besar di Indonesia berkisar antara 1:92 sampai 1:294 persalinan. Insidens dan angka kematian yang tinggi kita jumpai di negara-negara yang sedang berkembang.Terjadinya ruptur uteri pada seseorang ibu hamil atau sedang bersalin masih merupakan suatu bahaya besar yang mengancam jiwanya dan janinnya. Angka-angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan negaranegara maju (antara 1:1250 dan 1:2000 persalinan).  Ruptur Uteri Durante Partum Terjadi waktu melahirkan anak. Prenatal care.  Serviks Uteri Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi. SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri.  Segmen Bawah Rahim Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). biasanya merasa dirinya tidak sempurna lagi dan perasaan takut dicerai oleh suaminya. Hal ini disebabkan karena rumah sakit – rumah sakit di Indonesia menampung banyak kasus darurat dari luar. disamping fasilitas pengangkutan yang memadai dari daerah-daerah perifer dan penyediaan darah yang cukup juga merupakan faktor yang penting. Menurut lokasinya. lokasinya sering pada SBR.  Kolpoporeksis-Kolporeksis Robekan – robekan di antara serviks dan vagina. Angka ini dapat diperkecil bila ada pengertian dari para ibu dan masyarakat. seperti Asia dan Afrika. . seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi. Frekwensi ruptur uteri di rumah sakit. Kematian ibu dan anak karena ruptur uteri masih tinggi. Jenis inilah yang terbanyak. sedang pembukaan belum lengkap. ruptur uteri dapat dibedakan:  Korpus Uteri Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi. Klasifikasi Menurut waktu terjadinya.

rigid cervix: conglumeratio cervicis. ruptur uteri dapat dibedakan:  Ruptur Uteri Kompleta Robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya (perimetrium). 1. misalnya pada bekas SC miomektomi. perforasi waktu kuretase. ruptur uteri dapat dibedakan:  Ruptur Uteri Spontanea Berdasarkan etiologinya. pelepasan plasenta secara manual. postmaturitas dan grandemultipara. atau juga pimpinan partus yang salah. grandemultipara dengan perut gantung (pendulum). atau malposisi dari kepala : letak defleksi. penyakit pada rahim. Juga dapat karena kelainan kongenital dari janin : Hidrosefalus. kelainan kongenital dari uterus seperti hipoplasia uteri dan uterus bikornus. karena tindakan dan trauma lain seperti: Ekstraksi Forsep Versi dan ekstraksi Embriotomi Versi Braxton Hicks Sindroma tolakan (Pushing syndrome) Manual plasenta Kuretase . misalnya mola destruens. Selain itu karena adanya tumor pada jalan lahir. anensefalus dan shoulder dystocia. b). ruptur uteri spontanea dapat dibedakan lagi menjadi: a). hidrops fetalis. Karena peregangan yang luar biasa dari rahim. misalnya pada panggul sempit atau kelainan bentuk panggul. histerorafia. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas sampai ke ligamentum latum. retrofleksia uteri gravida dengan sakulasi. Karena dinding rahim yang lemah dan cacat. adenomiosis dan lain-lain atau pada gemelli dan hidramnion dimana dinding rahim tipis dan regang. hanging cervix.Menurut robeknya peritoneum. Dapat juga pada graviditas pada kornu yang rudimenter dan graviditas interstisialis. kelainan letak janin: letak lintang dan presentasi rangkap. monstrum.  Ruptur Uteri Inkompleta Robekan otot rahim tetapi peritoneum tidak ikut robek. torakofagus. Ruptur Uteri Violenta (Traumatika). letak tulang ubun-ubun dan putar paksi salah. janin besar seperti janin penderita DM. sehingga terdapat hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis. Menurut etiologinya.

- Ekspresi Kristeller atau Crede Pemberian Pitosin tanpa indikasi dan pengawasan Trauma tumpul dan tajam dari luar. penyebab ruptur uteri yang paling sering adalah terpisahnya jaringan parut akibat seksio sesarea sebelumnya dan peristiwa ini kemungkinan semakin sering terjadi bersamaan dengan timbulnya kecenderungan untuk memperbolehkan partus percobaan pada persalinan dengan riwayat seksio sesarea. Lingkaran Bandl ini dianggap fisiologik bila terdapat pada 2-3 jari diatas simfisis. Ruptur Uteri Iminens (membakat=mengancam) 2. bila meninggi maka kita harus waspada terhadap kemungkinan adanya ruptur uteri mengancam. Sedangkan kalau uterus telah cacat. Mekanisme Terjadinya Ruptur Uteri Pada umumnya uterus dibagi atas dua bagian besar: Korpus uteri dan servik uteri. maka mulailah terbentuk SBR ismus ini. uterus yang sebelumnya tidak pernah mengalami trauma dan persalinan berlangsung spontan. dimana ukuran janin sudah lebih besar dari ukuran kavum uteri. Bila kehamilan sudah kira-kira ± 20 minggu. Menurut Gejala Klinis. atau dapat menjadi komplikasi dalam persalinan dengan uterus yang sebelumnya tanpa parut. Stimulasi uterus secara berlebihan atau kurang tepat dengan oksitosin. Etiologi Ruptur uteri dapat terjadi sebagai akibat cedera atau anomali yang sudah ada sebelumnya. yaitu suatu penyebab yang sebelumnya lazim ditemukan. Ruptur Uteri sebenarnya. Faktor predisposisi lainnya yang sering ditemukan pada ruptur uteri adalah riwayat operasi atau manipulasi yang mengakibatkan trauma seperti kuretase atau perforasi. Ruptur uteri terutama disebabkan oleh peregangan yang luar biasa dari uterus. tidak akan terus berkontraksi dengan kuat sehingga merusak dirinya sendiri. Batas keduanya disebut ismus uteri (2-3 cm) pada rahim yang tidak hamil. ruptur uteri dapat dibedakan: 1. Umumnya. Akhir-akhir ini. Batas antara korpus yang kontraktil dan SBR yang pasif disebut lingkaran dari Bandl. mudah dimengerti karena adanya lokus minoris resistens Rumus mekanisme terjadinya ruptur uteri: R=H+O Dimana: R = Ruptur H = His Kuat (tenaga) . tampak semakin berkurang.

His lebih lama. Dalam hal terjadinya ruptur uteri jangan dilupakan peranan dari anchoring apparatus untuk memfiksir uterus yaitu ligamentum rotunda. Sering lengkaran bandl ini dikelirukan dengan kandung kemih yang penuh. disertai dengan perasaan nyeri diperut Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan. partus sudah lama berlangsung Pasien tampak gelisah. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasa. maka SBR yang pasif ini akan tertarik ke atas menjadi bertambah regang dan tipis. lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus. terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih. Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan teregang ke atas. korpus uteri mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan cervix menjadi lunak (effacement dan pembukaan). badan panas (demam). Ada tanda dehidrasi karena partus yang lama (prolonged labor). tebal dan keras terutama sebelah kiri atau keduanya. Diagnosis dan Gejala Klinis Terlebih dahulu dan yang terpenting adalah mengenal betul gejala dari ruptura uteri mengancam (threatened uterine rupture) sebab dalam hal ini kita dapat bertindak secepatnya supaya tidak terjadi ruptur uteri yang sebenarnya. misalnya terjadi pada asinklitismus posterior atau letak tulang ubun-ubun belakang. yaitu mulut kering. . maka pada kateterisasi ada hematuri. Dapat peregangan dan tipisnya SBR terjadi di dinding belakang sehingga tidak dapat kita periksa. Gejala Ruptur Uteri Iminens/mengancam : Dalam anamnesa dikatakan telah ditolong/didorong oleh dukun/bidan. Lingkaran Bandl ikut meninggi.O = Obstruksi (halangan) Pada waktu in-partu. Pada waktu datang his. Diantara korpus dan SBR nampak lingkaran Bandl sebagai lekukan melintang yang bertambah lama bertambah tinggi. ligamentum latum. korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR teraba tipis dan nyeri kalau ditekan. Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat maju (obstruksi). untuk itu dilakukan kateterisasi kandung kemih. ligamentum sacrouterina dan jaringan parametra. lidah kering dan haus. Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang. sedang korpus uteri berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat). ketakutan. sehingga suatu waktu terjadilah robekan pada SBR tadi. menunjukan SBR yang semakin tipis dan teregang.

3. tekanan darah turun bahkan tidak terukur.- Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia) Pada pemriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi. 1. Bila kepala janin belum turun. 2. jadi berada di rongga perut. Kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ke tungkai bawah dan dibahu. Syok.) Anamnesis dan Inspeksi Pada suatu his yang kuat sekali. Bila janin sudah keluar dari kavum uteri. menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah.) Pemeriksaan Dalam . akan mudah dilepaskan dari pintu atas panggul. Muntah-muntah karena perangsangan peritoneum. nadi kecil dan cepat. pucat. maka teraba bagian-bagian janin langsung dibawah kulit perut dan disampingnya kadang-kadang teraba uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa. keluar keringat dingin sampai kolaps. seperti oedem porsio. Pernafasan jadi dangkal dan cepat. Kontraksi uterus biasanya hilang. lebih-lebih kalau bagian terdepan atau kepala sudah jauh turun dan menyumbat jalan lahir. 4. Nyeri tekan pada perut. vulva dan kaput kepala janin yang besar. kelihatan haus.) Auskultasi Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit setelah ruptur. apalagi kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk ke rongga perut. maka suatu saat akan terjadilah ruptur uteri sebenarnya. vagina. Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tak begitu banyak. Gejala Ruptur Uteri Bila ruptur uteri yang mengancam dibiarkan terus. takut. terutama pada tempat yang robek.) Palpasi Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema subkutan. pasien merasa kesakitan yang luar biasa. Mula-mula terdapat defans muskulaer kemudian perut menjadi kembung dan meteoristis (paralisis usus).

Ruptur Uteri Traumatik 1 Ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma dapat terjadi karena jatuh. 5. maka dapat diraba usus. 6. setelah tindakan-tindakan tersebut diatas dan juga setelah ekstraksi dengan cunam yang sukar perlu dilakukan pemeriksaan kavum uteri dengan tangan untuk mengetahui apakah terjadi ruptur uteri. Kemungkinan besar yang lain ialah ketika melakukan embriotomi. dengan mudah dapat didorong ke atas dan ini disertai keluarnya darah pervaginam yang agak banyak Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada dinding rahim dan kalau jari atau tangan kita dapat melalui robekan tadi. Lakukanlah selalu eksplorasi yang teliti dan hati-hati sebagai kerja rutin setelah mengerjakan suatu operative delivery. parut yang terjadi ssesudah seksio sesarea klasik lebih sering menimbulkan ruptur uteri daripada parut bekas seksio sesarea profunda. peristiwa ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi untuk mengangkat mioma (miomektomi) dan lebih jarang lagi pada uterus dengan parut karena kerokan yang terlampau dalam. Kalau jari tangan kita yang didalam kita temukan dengan jari luar maka terasa seperti dipisahkan oleh bagian yang tipis seklai dari dinding perut juga dapat diraba fundus uteri. Di antara parut-parut bekas seksio sesarea.) Catatan Gejala ruptur uteri inkompleta tidak sehebat kompleta Ruptur uteri yang terjadi oleh karena cacat uterus yang biasanya tidak didahului oleh ruptur uteri mengancam. embriotomi dan lain-lain. Robekan demikian itu yang bisa terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. omentum dan bagian-bagian janin.Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun ke bawah.) Kateterisasi Hematuri yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung kemih. Hal itu misalnya terjadi pada versi ekstraksi pada letak lintang yang dilakukan bertentangan dengan syarat-syarat untuk tindakan tersebut. Berhubung dengan itu. Perbandingannya ialah 4:1. ekstraksi vakum atau forsep. jarang terjadi karena rupanya otot uterus cukup tahan terhadap trauma dari luar. kecelakaan seperti tabrakan dan sebagainya. misalnya sesudah versi ekstraksi. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada segmen bawah uterus yang menyerupai daerah uterus yang lebih tenang dalam masa nifas dapat sembuh dengan . Ruptur Uteri pada Parut Uterus Ruptur uteri demikian ini terdapat paling sering pada parut bekas seksio sesarea. Gejala-gejala ruptur uteri violenta tidak berbeda dari ruptur uteri spontan. Di sini karena distosia sudah ada regangan segmen bawah uterus dan usaha vaginal untuk melahirkan janin mengakibatkan timbulnya ruptur uteri. Yang lebih sering terjadi adalah ruptur uteri yang dinamakan ruptur uteri violenta.

Biasanya janin masih tinggal dalam uterus dan his kadang-kadang masih ada. Hal ini disebut Repeat Caesarean Section. Sementara itu penderita merasa nyeri spontan atau nyeri pada perabaan tempat bekas luka. Tumor jalan lahir 8.lebih baik. Hidrosefalus 5. sangatlah penting arti perawatan antenatal (prenatal). Bila panggul sempit (CV 8 cm). Pada peristiwa ini ada kemungkinan arteria besar terbuka dan timbul perdarahan yang untuk sebagian berkumpul di ligamentum latum dan untuk sebagian keluar. Profilaksis Banyak kiranya ruptur uteri yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau sekiranya ada pengertian dari para ibu. presentasi rangkap. janin dalam uterus meninggal pula. tetapi pendapat kita disini adalah Once a Caesarean not necessarily a Caesarean. Disini biasanya peritoneum tidak ikut serta. Dalam hal yang terakhir ini tidak terjadi robekan secara mendadak. sehingga parut lebih kuat. Malpresentasi Letak lintang atau presentasi bahu. Pada keadaan dimana seksio yang lalu dilakukan korporal pasien harus bersalin dirumah sakit dengan observasi . Maka. 4. 3. sehingga terdapat ruptur uteri inkompleta. kecuali pada panggul yang sempit. melainkan lambat laun jaringan disekitar bekas luka menipis untuk akhirnya terpisah sama sekali dan terjadilah ruptur uteri. Lakukan pemeriksaan yang teliti misalnya kalau kepala belum turun lakukan periksa dalam dan evaluasi selanjutnya dengan pelvimetri. lakukan segera seksio sesarea primer saat inpartu. masyarakat dan klinisi. maupun letak bokong. 2. gejala-gejala perdarahan dengan anemia dan syok. Tetania uteri 7. Grandemultipara + abdomen pendulum 9. Jika arteria besar luka. pikirkan untuk melakukan seksio sesarea primer saat inpartu. Rigid cervix 6. akan tetapi bisa juga terjadi tanpa banyak menimbulkan gejala. Panggul sempit atau CPD Anjurkan bersalin di rumah sakit. Malposisi Kepala Coba lakukan reposisi. Pada bekas seksio sesarea Beberapa sarjana masih berpegang pada diktum : Once a Caesarean always a Caesarean. karena sebelumnya dapat kita ambil langkah-langkah preventif. Ruptur uteri pada bekas seksio bisa menimbulkan gejala-gejala seperti telah diuraikan lebih dahulu. 1. kalau kiranya sulit dan tak berhasil.

yang ketat dan cermat mengingat besarnya kemungkinan terjadi ruptur spontan. kepada dukun diberikan penataran supaya waktu memimpin persalinan jangan mendorong-dorong. Kalau perlu lakukan segera repeat c section. selanjutnya dilakukan laparotomi dengan tindakan jenis operasi: (1) (2) (3) Histerektomi. Uterus cacat karena miomektomi. bidan dilarang memberikan oksitocin sebelum janin lahir. tergantung dari beberapa faktor. 1. Penanganan Untuk mencegah timbulnya ruptura uteri pimpinan persalinan harus dilakukan dengan cermat. Histerorafia. Pasien seksio sesaria dengan insisi SBR dibandingkan dengan korporal menurut statistik kemungkinan terjadinya ruptur relatif kecil. dan pada wanita yang pernah mengalami sectio sesarea atau pembedahan lain pada uterus. Perlu ditekankan bahwa syok hipovolemik mungkin tidak bisa dipulihkan kembali dengan cepat sebelum perdarahan arteri dapat dikendalikan. Konservatif. persalinan harus segera diselesaikan. kuretase. Jiwa wanita yang mengalami ruptur uteri paling sering bergantung pada kecepatan dan efisiensi dalam mengoreksi hipovolemia dan mengendalikan perdarahan. Namun demikian partus harus dilakukan di RS dan kalau kepala sudah turun lakukan ekstraksi forsep. 10. maka dianjurkan bersalin di RS dengan pengawasan yang teliti. 11. hanya dengan tamponade dan pemberian antibiotik yang cukup. karena itu keterlambatan dalam memulai pembedahan tidak akan bisa diterima. antara lain: Keadaan umum Jenis ruptur. manual uri. Bila keadaan umum penderita mulai membaik. Tindakan aman yang akan dipilih. Pada distosia harus diamati terjadinya regangan segmen bawah rahim. inkompleta atau kompleta Jenis luka robekan Tempat luka Perdarahan dari luka . yaitu tepi luka dieksidir lalu dijahit sebaik-baiknya. khususnya pada persalinan dengan kemungkinan distosia. Ruptur uteri karena tindakan obstetrik dapat dicegah dengan bekerja secara lege artis. bila ditemui tanda-tanda seperti itu. baik total maupun subtotal. karena dapat menimbulkan ruptura uteri traumatika. jangan melakukan tindakan kristaller yang berlebihan.

ketersediaan darah dalam jumlah yang besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan perbaikan prognosis yang sangat besar bagi wanita dengan ruptura pada uterus yang hamil. satu-satunya harapan untuk mempertahankan jiwa janin adalah dengan persalinan segera. Kelainan bentuk uterus umpamanya uterus bikkornis. Begitu juga angka kematian ibu akibat rupturea uteri masih anak tinggi yaitu berkisar antara 17. Angka kematian anak pada ruptura uteri antara 89. Faktor Prodisposisi 1. Multifaritas / grandimultipara. sehingga dapat menimbulkan disproporsi sifalopelvik.- Umur dan jumlah anak hidup Kemampuan dan keterampilan penolong Prognosis Harapan hidup bagi janin sangat suram. 2. Angka mortilitas yang ditemukan dalam berbagai penelitian berkisar dari 50 hingga 70 persen. Ini disebabkan oleh karena.6 %. kebanyakan wanita akan meninggal karena perdarahan atau mungkin pula karena infeksi yang terjadi kemudian. Like this: Like Be the first to like this post. Angka kejadian ruptura uteri di Indonesia masih tinggi yaitu berkisar antara 1 : 92 sampai 1 : 428 persalinan. 4. dinding perut yang lembek dengan kedudukan uters dalam posisi antefleksi. yang paling sering dilakukan lewat laparotomi. . terjadinya infeksi jaringan fibrotik dalam otot rahim penderia. Angka Kematian Ruptura uteri merupakan suatu komplikasi yang sangat berbahaya dalam persalinan. Pemakaian desitosin untuk indikasi atau stimulasi persalinan yang tidak tepat. Jika tidak diambil tindakan. kendati penyembuhan spontan pernah pula ditemukan pada kasus-kasus yang luar biasa. tindakan operasi segera.9 sampai 62. Tetapi jika janin masih hidup pada saat terjadinya peristiwa tersebut. Kelainan letak dan implantasi plasenta umpamanya pada plasenta akreta. 3. sehingga mudah terjadi ruptura uteri spontan.1 % sampai 100 %. Plasenta inkreta atau plasenta perkreta. Diagnosis cepat.

perdarahan pada kehamilan lanjut dan persalinan. Sejak itu. Penyebab kematian janin dalam rahim paling tinggi oleh karena faktor ibu yaitu ibu dengan penyulit kehamilan ruptur uteri dan penyulit medis diabetes melitus.8%. Insisi klasik menyebabkan risiko tinggi terjadinya ruptur uteri bila wanita tersebut hendak melahirkan spontan pada kehamilan berikutnya. robekan perineum biasanya ringan. Angka itu meroket menjadi 24. Dahulu pada tahun 1916. retensio plasenta 16-17%. Maka dari itu dapat disimpulkan. sedangkan perdarahan pada persalinan adalah perdarahan intrapartum sebelum kelahiran. Penyebab kematian janin dalam rahim paling tinggi yang berasal dari faktor ibu adalah penyulit kehamilan seperti ruptur uteri dan diabetes melitus.5-0. selain plasenta previa. Sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan AKI menjadi 125/100. dilakukan pula evaluasi kasus ruptur uteri di RS Hasan Sadikin dan 3 rumah sakit jejaringnya pada periode 1999-2003. always a cesarean. dan perdarahan pasca persalinan. Saat ini diperkirakan terdapat 1 juta bedah cesar tiap tahunnya di Amerika. “Once a cesarean. Insiden di rumah sakit jejaring sedikit lebih tinggi yaitu 0. kasus ruptur uteri memberi dampak yang negatif baik pada kematian ibu maupun bayi. Dari seluruh persalinan penyebab kematian ibu adalah perdarahan yang disebabkan antara lain : atonia uteri 50 – 60%. solusio plasenta. Di RSHS. Pada kenyataannya.4%. Bandung periode 2000-2002 mendapatkan 168 kasus kematian janin dalam rahim dari 2974 persalinan. Perdarahan pasca persalinan sering disebabkan oleh robekan perineum. Hidramnion. kelainan darah 0. [Tabel 2] Kelahiran spontan pasca kelahiran cesar pada kehamilan sebelumnya (vaginal birth after cesarean/VBAC) dituding berperan besar terhadap kasus ruptur uteri. Salah satu upaya penurunan AKI untuk sektor kesehatan adalah dengan meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan paling sedikit 90% pada tahun 2010.” Kutipan itu dilatarbelakangi metode bedah cesar yang saat itu menggunakan insisi vertikal (klasik).000 kelahiran hidup. Ruptur uteri merupakan salah satu bentuk perdarahan yang terjadi pada kehamilan lanjut dan persalinan. risiko yang mungkin terjadi pada kelahiran lewat bedah cesar . sedangkan di 3 rumah sakit jejaring didapatkan sebesar 0. di samping preeklampsi/eklampsi dan infeksi. insiden kasus ruptur uteri di RS Hasan Sadikin 0. tetapi kadang. tidak didapatkan kematian ibu. Lama kelamaan. Cragin EB dalam New York Medical Journal melontarkan satu kalimat kutipan yang terkenal saat itu. Metode terakhir ini lebih aman dan mulai menggeser metode klasik.5. Perdarahan dalam bidang obstetri dapat dibagi menjadi perdarahan pada kehamilan muda (<22 minggu). Sebaliknya. [Tabel 1] Sebuah kajian deskriptif tentang profil kematian janin dalam rahim di RS Hasan Sadikin. Perdarahan masih merupakan trias penyebab kematian maternal tertinggi. laserasi jalan lahir 4-5%. permintaan bedah cesar terus meningkat.1% (1:996). diantaranya adalah adanya jaringan parut pada uterus (biasanya akibat melahirkan cesar) dan penggunaan obat-obat penginduksi persalinan. kematian perinatal di RSHS mencapai 90% sedangkan di rumah sakit jejaring 100%. sisa plasenta 2324%. Batasan perdarahan pada kehamilan lanjut berarti perdarahan pada kehamilan setelah 22 minggu sampai sebelum bayi dilahirkan. selain atonia uteri.kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya.09% (1 : 1074). Lebih lanjut. metode insisi klasik ditinggalkan dan diganti dengan insisi lintang rendah (low-transverse). Hasilnya. Pada tahun 1970. dan gangguan pembekuan darah.7% tahun 1988. Uterus Berparut Beberapa kondisi yang berhubungan dengan ruptur uteri. hanya 5% kelahiran yang dilakukan lewat bedah cesar.

Selain itu. seperti termuat dalam Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol 1994.8% tahun 1995.Pemeriksaan Fisik: Anamnesis dan inspeksi: pada suatu his yang kuat sekali. insiden rata-rata ruptur uteri pada 288 wanita dengan riwayat bedah cesar yang menggunakan oksitosin untuk augmentasi persalinan adalah 1. Insiden akan meningkat 3-5 x menjadi 3. terkadang timbul perasaan nyeri yang menjalar ke tungkai bawahdan bahu. Sejak itu.764 kelahiran (0.perut kembung dan paralisis usus. Riwayat ANC. [Tabel 3 dan 4] Panduan dari American College of Obstetricians and Gynecologists terbaru melarang penggunaan prostaglandin untuk menginduksi persalinan pada wanita dengan riwayat bedah cesar.0033 %). menjerit seolah-olah perutnya sedang dirobek pasienk e m u d i a n m e n j a d i g e l i s a h . Lydon-Rochelle M dkk dalam N Engl J Med 2001 melaporkan. perdarahan pervaginam. Studi lain yang melibatkan lebih dari 130. VBAC mulai dipertanyakan menyusul adanya laporan outcome ibu dan bayi yang buruk. studi selama 10 tahun oleh Gardeil F dkk.5 %. pasien merasa kesakitan yang luar b i a s a . angka bedah cesar menurun menjadi 20. Ruptur uteri pada insisi klasik dan T-shaped 4-9 % sedangkan insisi lintang rendah 1-7 %. ACOG mulai merevisi kembali kriteria VBAC. Sebagai perbandingan.kontraksi uterus biasanya hilang. .muntah-muntah. risiko ruptur uteri 15. Itu berarti risiko ruptur uteri 4 kali lebih tinggi pada wanita dengan augmentasi oksitosin dibandingkan persalinan normal.lebih besar daripada pervaginam. biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih banyak. T D m e n u r u n b a h k a n m e n j a d i t i d a k teratur. p u c a t . Pendidikan status Kesehatan: Keluhan utama. b a h k a n bisa kolaps. Usia. t a k u t . Status. PENGkAJIAN identitasPasien: Nama.998 primigravida dan hanya 2 kasus pada 39. Rekomendasi itu disusun berdasarkan bukti ilmiah adanya peningkatan risiko ruptur uteri akibat prostaglandin.4 % dibandingkan 0.2-1. American College of Obstetrician and Gynecologist (ACOG) mulai gencar mempromosikan kembali VBAC. menunjukkan bahwa rata-rata insiden ruptur uteri pada uterus yang tidak memiliki jaringan parut adalah 1 per 30. Akhir-akhir ini.529 multigravida.6 % (1 dari 170 wanita). pernafasan menjadi dangkal dan cepat. k e r i n g a t d i n g i n . s y o k .34 % pada 292 wanita yang mengalami persalinan spontan.haus.6 kali lebih tinggi ketika prostaglandin diberikan pada wanita hamil dengan riwayat bedah cesar yang hendak mencoba melahirkan pervaginam. Blanchette H dkk dalam Am J Obstet Gynecol 2001. n a d i k e c i l d a n c e p a t . ACOG melaporkan insiden ruptur uteri pada wanita dengan riwayat satu kali bedah cesar insisi lintang rendah adalah 0. Riwayat persalinan lalu. Oleh karena itu. Melihat fakta-fakta tersebut.000 wanita menemukan rata-rata insiden ruptur uteri adalah 0.9 % pada wanita dengan riwayat 2 atau lebih bedah cesar (1 dari 26 wanita). pun tidak ada kasus ruptur uteri pada 21.

maka teraba bagian -b a g i a n janin langsung dibawah kulit perut.b i l a j a n i n s u d a h k e l u a r d a r i k a v u m u t e r i (berada di rongga perut). . nyeri tekan pada perut.Palpasi teraba krepitasi pada kulit perut.dan disampingnya terkadang teraba uteruss e b a g a i s u a t u b o l a k e r a s d e n g a n u k u r a n sebesar kelapa. terutama pada bagian yang robek.

Jika rongga rahim sudah kosong dapat diraba r o b e k a n p a d a d i n d i n g r a h i m . dan bagian-bagianj a n i n . Pemeriksaan dalam Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun kebawah.Auskultasi D J J t i d a k t e r d e n g a r b e b e r a p a m e n i t s e t e l a h ruptur. dengan mudah dapat didorong keatas. Jika jari tangan yang berada di dalam d i t e m u k a n d e n g a n . b a h k a n d a p a t diraba pula usus. omentum.d a n i n i d i s e r t a i k e l u a r n y a d a r a h p e r v a g i n a m yang agak banyak.

j a r i l u a r . K e k u r a n g a n v o l u m e c a i r a n b e r h u b u n g a n d e n g a n kehilangan volume cairan aktif ditandai dengan k l i e n haus. m a k a t e r a s a s e p e r t i d i p i s a h k a n o l e h b a g i a n y a n g t i p i s sekali dari dinding perut. F u n d u s u t e r i j u g a dapat diraba. dxEPERAWATAN n y e r i a k u t b e r h u b u n g a n d e n g a n a g e n c e d e r a b i o l o g i k ditandaidengan klien mengeluh dan merintih kesakitan. dan nadi meningkat . TD menurun.

Kerusakan integritas jaringan berhubungan denganr o b e k n y a d i n d i n g r a h i m d i t a n d a i d e n g a n a d a n y a perdarahanpervaginam. Ketakutan berhubungan dengan efek perdarahan padak e h a m i l a n d a n b a y i a t a u k e m u n g k i n a n k o m p l i k a s i kehamilan lebih lanjut. Berduka berhubungan dengan antisipasi k e h i l a n g a n kehamilan dan kehilangan anak yang diharapkan. . resti cedera janin berhubungan dengan robeknya dindingrahim ibu resiko harga diri rendah situasional berhubungan denganadanya ruptur uterus.

Intervensi: Observasi tanda-tanda vital (TTV) klien. K o l a b o r a s i d e n g a n d o k t e r t e r k a i t d e n g a n p r o g r a m pengobatan (analgesik). A j a r k a n t e k n i k n a p a s u n t u k mengurangi nyeri. B e r i k a n p e n g e t a h u a n t e r k a i t d e n g a n n y e r i y a n g dialami klien. . d a l a m p a d a k l i e n Berikan dan pertahankan kenyamanan klien.INTERVENSI nyeri akut berhubungan dengan agen cederabiologik ditandai d e n g a n k l i e n m e n g e l u h d a n merintih kesakitan. Lakukan manajemen nyeri pada klien. Observasi skala dan keparahan nyeri klien.

K k e k u r a n g a n v o l u m e c a i r a n b e r h u b u n g a n d e n g a n k e h i l a n g a n v o l u m e c a i r a n a k t i f d i t a n d a i d e n g a n k l i e n haus. pastikan sedikitnya 1000-1500 ml/ 24 jam. . TD menurun. dan nadi meningkat. antau haluaran. p a s t i k a n s e d i k i t n y a 1 5 0 0 m l c a i r a n p e r o r a l setiap 24 jam. Intervensi: a n t a u a s u p a n .

demam. h e m a t o k r i t d a n hemoglobin. Berikan terapi cairan melalui infus serta transfusi darah padaklien. n i t r o g e n u r e a d a r a h .a n t a u k a d a r e l e k t r o l i t d a r a h . osmolalitas urine. dan drein. diare. e r t i m b a n g k a n k e h i l a n g a n c a i r a n t a m b a h a n y a n g berhubungan dengan muntah. d o k t e r t e r k a i t d e n g a n . slang. K o l a b o r a s i d e n g a n t i n d a k a n pengobatan. dan serum kreatinin.