MAKALAH PENGOLAHAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN (S I L A S E

)

MAKALAH PENGOLAHAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN (S I L A S E)

OLEH : KELOMPOK II

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2010

1. kebutuhan tepung ikan untuk pakan unggas sebesar + 225.5 juta ton (pakan unggas mengandung tepung ikan sebesar 5%). PEMBAHASAN Silase ikan adalah bentuk hidrolisa protein beserta komponen lain dari ikan dalam suasana asam sehingga bakteri pembusuk tidak dapat hidup karena pH berkisar 4.000 ton dan total kebutuhan tepung ikan di Indonesia sebesar + 283. Berdasarkan estimasi yang sering digunakan oleh para pengamat. 1. Dari estimasi tersebut maka kebutuhan tepung ikan per tahun untuk pakan udang/ikan diperkirakan 8. Dan manfaatnya agar menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai silase II. Tujuan dan Manfaat Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui tentang silase dan bahanbahan yang terkandung di dalamnya. Dengan reaksi keasaman dari silase tersebut maka produk ini dapat disimpan dalam relatif lama karena bakteri pembusuk tidak dapat tumbuh. Prosesing Untuk membuat silase tentunya diperlukan bahan yang dapat mengubah reaksi netral dan . a. potongan kepala.000 ton per tahun. 2. Latar Belakang Kebutuhan tepung ikan di Indonesia mengalami peningkatan sejalan dengan pengembangan usaha peternakan unggas dan budidaya hasil perikanan sesuai dengan informasi DirektoratJenderal Peternakan. PENDAHULUAN 1.I.5. Oleh karena itu perlu dipikirkan pengambangan pengolahan tepung ikan dan produk alternatifnya di Indonesia agar dapat membantu kesulitan peternak/petani ikan. Salah satu produk alternatif yang dapat dikembangkan adalah “ silase ikan” atau “tepung silase ikan” (TSI) yang dapat menggunakan bahan baku segala jenis ikan dan sisa pengolahan ikan serta teknologinya sangat sederhana.2. Dalam suasana asam.000 ton yang merupakan salah satu komponen pakan unggas yang diproduksi pada tahun tersebut sebesar + 4. Eropa dan negara Asia termasuk Thailand. Perbedaan bahan baku akan mempengaruhi kandungan protein silase. sisa fillet maupun isi perut ikan baik yang segar maupun yang kurang segar. Untuk bahan baku yang kurang segar akan segera dihentikan reaksi pembusukan begitu proses pembuatan silase dimulai karena menurunnya pH sampai + 4 akan membunuh baktaeri pembusuk yang hanya dapat bertahan minimal pH+ 5.1. kebutuhan tepung ikan untuk pakan ikan/udang sebesar 25% dari kebutuhan tepung ikan untuk pakan unggas. Bahan baku Bahan baku silase berupa ikan utuh. Dari kebutuhan tepung ikan yang sangat besar tersebut ternyata 5-10% baru dapat disuplai dari hasil produksi di Indonesia dan sisanya masih diimpor dari Amerika Latin. Oleh karena itu silase ikan merupakan produk bioteknologi berupa lumatan ikan seperti bubur dengan suasana asam dengan rantai asam amino sebagai penyusun protein menjadi lebih pendek dan bahkan sebagian menjadi asam amino. Hal ini sangat dimungkinkan karena harga tepung ikan impor cukup mahal dan produk dalam negeri menjadi komperatif dan memungkinkan untuk menggunakan bahan baku “By catch”. hanya mikroorganisme yang tahan asam tertentu yang dapat hidup (tumbuh) misalnya Bacillus tertentu yang bukan bersifat pembusuk tetapi dapat menghidrolisa protein dan lemak yang dikenal dengan fermentasi.

asetat dan propionat. Waktu fermentasi biasanya akan berlangsung relatif lama lebih dari 10 hari. Bahan kimia tersebut dapat berfungsi ganda yaitu menumbuhkan bakteri pembusuk dan mulai berfungsi sebagai pemecah rantai asam amino pada protein yang disebut hidrolisa. 2. Setelah 7 hari maka akan menjadi bubur ikan yang disebut silase. 2. ditandai dengan hancurnya daging dan rapuhnya tulang sehingga bentuk akhir menjadi seperti bubur dan tidak berbau busuk.sedikit basa pada bahan baku menjadi asam atau menurunkan pH dan sebelum dimanfaatkan untuk bahan pakan dinetralkan agar reaksinya tidak asam. Biologis Prosesing silase secara biologis murni berarti tidak menggunakan bahan kimia dan disebut maetode fermentasi. Dalam prosesing silase dikenal dua cara yaitu secara biologis murni dan secara kimia. Tulang- . Apabila silase sudah netral maka akan menjadi busuk bila disimpan dalam kondisi basah karena bakteri pembusuk akan hidup dan tumbuh. Apabila silase dibuat dari bagian ikan yang keras (kepala/tulang dll) yang berukuran besar dan tidak rapuh maka disarankan sebelum dikeringkan dipisahkan terlebih dahulu dengan menggunakan serok. asam nitrat dan bahkan asam sulfat atau asam organic misalnya asam formiat. Oleh karenanya harus segera digunakan atau dikeringkan menjadi Tepung Silase Ikan (TSI). biasanya Bacillus tertentu dengan jumlah yang cukup dan di inkubasi pada suhu optimum bakteri tersebut (berkisar 30 oC) pada suhu kamar (tropis) dan kondisi anaerob. 2. Kimiawi Prosesing silase secara kimiawi adalah proses pembuatan silase dengan menambahkan bahan kimia yang bersifat asam ke dalam bahan baku. Oleh sebab itu fungsi bahan kimia taersebut juga dapat dikatakan sebagai starter. Dalam suasana asam maka bakteri tahan asam misalnya Bacillus yang secara alamiah taerdapat di lingkungan kita akan tumbuh berkembang dan menyebabkan fermentasi.4. Netralisasi dapat dilakukan dengan menambahkan larutan Na 2 CO3 (soda api) atau yang lain yang sesuai dengan pH berkisar 5-6. Campuran ikan dan asam formiat ditutup dan didiamkan selama 7 hari dengan dilakukan pengadukan 1-2 x sehari. Proses ini biasanya ditambahkan mikrorganisme tertentu.3. misalnya asam khlorida. Hal ini akan mempercepat waktu proses pembuatan silase menjadi + 7 hari. Kendatipun tidak ditambahkan air tetapi silase akan berbentuk bubur karena bahan bakunya sendiri sudah mengandung air antara 70 –80 % dan tidak berbau karena tidak ada proses pembusukan dan yang terjadi adalah proses fermentasi. Netralisasi Sebelum digunakan dapat dilakukan netralisasi terlebih dahulu agar reaksi asam yang ada tidak merusak saluran pencernaan. Umumnya penggunaan asam mineral tidak disukai karena asam tersebut relatif kurang dapat diterima oleh makhluk hidup yang mengkonsumsi silase khususnya bila berlebihan Teknologi prosesing silase dengan asam formiat sangat sederhana yaitu dengan memasukkan ikan ke dalam wadah (bak) dan bila ikan/sisa ikan terlalu besar perlu dilakukan pencincangan terlebih dahulu penambahan asam formiat saebanyak 3 % dari berat ikan dan dituang sambil diaduk agar merata. Asam yang digunakan dapat berupa asam anorganik .2.

Tepung Silase Ikan (TSI) Untuk mempermudah penyimpanan. Ketersediaan bahan baku.8. Disamping itu juga dipikirkan dampak manfaatnya. TSI adalah salah satu output perekayasaan secara sederhana yang bertujuan untuk memanfaatkan limbah yang terdapat ditempat pendaratan ikan (TPI) agar TPI dapat lebih bersih dan tidak berbau busuk. 2. maka pemanfaatan silase tersebut diteruskan menjadi tepung silase ikan (TSI). Oleh sebab itu perhitungan 5% seperti diatas dimungkinkan dan termasuk perhitungan yang relatif rendah berarti cukup sangat optimis ditinjau dari penyediaan bahan baku. kelayakan teknologi. maka pada tahun 1995 telah didaratkan di TPI sepanjang pantai utara jawa sebesar 554. Penambahan bekatul dapat dilakukan dengan proporsi berat yang sama dengan berat ikan (bahan baku) atau sesuai yang dikehendaki. Dari hasil tangkapan tersebut yang mempunyai mutu baik (konsumsi segar) adalah + 20 % dan mutu sedang (untuk pindang) 40 – 60 % dan sisanya 5 % dari total tangkapan. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan protein ikan saaat ini maka penggunaan TSI menjadi salah satu alternatif yang tentunya sangat dipengaruhi oleh tersedianya bahan baku. tinjauan usaha serta manajemen pengelolaan.553 ton TSI. bagian. Dengan teknologi yang sangat sederhana maka proses pembuatan TSI hanya memerlukan 7 bak perendaman (sehingga tiap hari produksi ) yang dapat berupa bak terbuat dari semen atau plastik dan alat penepung serta tempat penjemuran.tulang tersebut dapat dikeringkan secara terpisah.702 ton dan akan menghasilkan 41. 2. Dalam pembuatan tepung. Apabila kita gunakan contoh di pantai utara jawa dimana + 20 % total hasil tangkapan nasional didaratkan ( Anon 1995b dalam Sunarya. silase yang sudah jadi dinetralkan dengan soda api sampai pH 5-6 dan ditambahkan bahan pembantu yaitu bekatul atau bahan lain yang cocok kemudian dikeringkan. Kelayakan teknologi. Tetapi karena dibeberapa wilayah juga berkembang peternakan unggas. Apabila pengeringan . dll.7. Hal ini sebagai salah satu persyaratan TPI guna ikut memberikan jaminan mutu sejalan dengan penerapan Program manajemen Mutu Terpadu yang mengacu pada HACCP. Aplikasi Tepung Silase Ikan (TSI ).6.5. mutu ikan maka dalam penerapannya selalu berorientasi pada pemanfaatan limbah dan hasil tangkapan yang sudah menurun mutunya. penggudangan dan distribusi serta proses pembuatan pakan maka silase dapat diproses menjadi tepung silase ikan (TSI). Hal tersebut belum termasuk tempat-tempat pendaratan ikan lain seperti diluar jawa khususnya Sumatera.047 ton. Perlu dicatat bahwa kepala dan isi perut ikan rata-rata sebesar 15 % dari ikan utuh. 2. Penambahan bekatul dimaksudkan agar mempermudah pengeringan karena akan memperluas permukaan disamping mengurangi kadar air. 2. Disamping adanya harapan agar TPI lebih bersih. Mengingat bahan baku TSI terdiri dari berbagai jenis. 1996). termasuk yang saat ini menjadi sisa-sisa pengolahan dan lain-lain dimanfaatkan sebagai bahan baku TSI maka bila produksi hasil perikanan sama dengan tahun 1995 diperoleh bahan baku TSI sebesar 27. sisa-sisa ikan tersebut juga dapat bermanfaat sebagai bahan baku pakan ternak misalnya babi.

BBPMHP Jakarta. medium maupun besar. BBPMHP. minyak tanah atau briket batubara. Silase ikan adalah bentuk hidrolisa protein beserta komponen lain dari ikan dalam suasana asam sehingga bakteri pembusuk tidak dapat hidup karena pH berkisar 4. Kajian ilmiah sebagai bahan pertimbangan Ditjen Perikanan. masalah Perikanan Pelagis Kecil di Pantai Utara Jawa dan Upaya Pemecahannya. Perekayasaan teknologi Pengolahan Limbah. Ditjen Perikanan Jakarta. Sunarya dan Nazory D (1998) Pengembangan Tepung Ikan di Indonesia. dimana saja baik dengan skala kecil. Center for Fishery Research and Development. BBPMHP. BBPMHP Jakarta. A(1993) Importance of DHA in organism. Proceeding of the First Indonesian Fishery Symposium. sumbangan pemikiran untuk Ditjen Perikanan. Djazuli N. Sunarya (1996). Karena teknologinya sangat sederhana maka dapat dilakukan oleh siapa saja. 2. Untuk produksi 1 ton/hari secara rutin diperlukan lebih kurang dua tenaga kerja. Dalam prosesing silase dikenal dua cara yaitu secara biologis murni dan secara kimia. DAFTAR PUSTAKA Anon (1993) Statistik Impor Hasil Perikanan 1993.menggunakan sinar matahari maka proses pembuatan TSI akan hemar energi. Untuk membuat silase tentunya diperlukan bahan yang dapat mengubah reaksi netral dan sedikit basa pada bahan baku menjadi asam atau menurunkan pH dan sebelum dimanfaatkan untuk bahan pakan dinetralkan agar reaksinya tidak asam. dkk (1998). KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu : 1. Dalam proses tersebut juga sangat sedikit menggunakan komponen impor yaitu hanya alat penepung sedangkan bahan kimia asam format ataupun soda api sudah diproduksi di Indonesia. Jakarta . Bahan Rapim Deptan. home industri. III. Apabila skala produksi cukup besar dapat digunakan pengering mekanis dengan sumber energi kayu bakar. Jakarta. Anon Tepung Silase sebagai alternatif pakan ternak. hemat tenaga kerja dan tidak memerlukan tenaga kerja dengan keahlian tinggi sehingga teknologinya sangat layak dilakukan ditempat-tempat pendaratan ikan. D Budiyanto. Kanazawa. Jakarta.