KATA BAKU ~ Kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan.

~ Dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat. KATA TIDAK BAKU ~ Kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. ~ Dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur. Penggunaan ragam baku Surat menyurat antarlembaga Laporan keuangan Karangan ilmiah Lamaran pekerjaan Surat keputusan Perundangan Nota dinas 8. Rapat dinas 9. Pidato resmi 10 .Diskusi 11. Penyampaian pendidikan 12. Dan lain-lain. Perbandingan bahasa baku dan bahasa tidak baku. Kalimat baku ~ Kalimat yang secara efektif dapat dipakai untuk menyampaikan gagasan secara tepat. ~ Tujuannya, agar intonasi tersampaikan secara baik. Beberapa kesalahan yang menghasilkan kata tidak baku: 1. Terpengaruh bahasa daerah contoh: Apa kamu sudah makan? Apakah kamu sudah makan? Bukumu ada di saya ~ Bukumu ada pada saya. 2. Terpengaruh bahasa asing contoh: - Orang yang mana berbaju putih itu abangku. - Orang yang berbaju putih itu abangku. 3. Kerancuan contoh: - Di sekolahku mengadakan pesta. - Di sekolahku diadakan pesta. - Sekolahku mengadakan pesta. 4. Kemubaziran Contoh :- Kami semua sudah hadir. - Kami sudah hadir. 5. Terpengaruh bahasa tutur Contoh :- Saya sudah bilang sama dia. - Saya sudah berkata dengan dia. - Emangnya itu bini Tono ? - Apakah itu istri Tono? 6. Salah susunan kata

Aneka kasus kalimat dalam karya tulis ilmiah . karyasiswa dosen. banyak civitas akademika mulai dari pada mahasiswa. Oleh karena itu. Latihan soal-soal ! Orang pertama yang menulis secara sistematis tentang bahaya pertumbuhan penduduk adalah Thomas Maltus. Pemaparan buku ini disajikan dengan menggunakan bahasa yang teknis. para dosen. harus menggunakan ketentuan-ketentuan kebahasan baku. buku ini akan dapat dicerna dengan mudah oleh siapa saja yang berurusan dengan tulismenulis ilmiah.Suratmu sudah kami baca. Buku ini antara lain berisi: . peneliti. Penulisan kata yang benar adalah….Latihan-latihan yang dapat mengasah kemampuan kebahasaan pembaca Selamat mempelajari buku ini.Contoh :.unsur-unsur kalimat . Sistematis Akhli Analisa Sistimatis Kalimat Baku Untuk Menyusun Karya Tulis Ilmiah Buku pendamping referensi-referensi metodologi penelitian untuk para mahasiswa. para peneliti. Istilah-istilah itu. Ada beberapa istilah yang dalam konteks soal tes memiliki pengertian yang sama atau dapat disamakan dengan kalimat baku. silahkan mempraktikkan ilmu yang Anda dapat di dalam buku ini.Kami sudah baca suratmu. kalimat efektif dan kalimat yang baik dan benar. Kalimat baku adalah sebuah kalimat standar yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah. Akan tetapi. Akhli politik dan pendeta ini berasal dari Inggris. dan penulis pada umumnya. buku ini hadir sebagai salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan kebahasaan tersebut. Penulisan karya ilmiah mempergunakan kalimat-kalimat yang secara umum dikenal sebagai . Ia menerbitkan buku Analis kependudukan.Kalimat dan cara pengujiannya . dan para penulis karangan ilmiah pada umumnya. Bahasa ragam ilmiah yang lazimnya digunakan untuk mewadahi perkembangan ke ilmuan. tidak terlampau linguistis-sekalipun disusun oleh seorang linguis dengan harapan. saat ini. dan mempertahankan pendapatnya bahwa hukum alamiah akan mempengaruhi pertumbuhan penduduk. telah banyak mencampurcampurkan bahasa ragam tidak baku pada pemakaian ragam ilmiah. dengan tidak sengaja. misalnya. .Klasifikasi kalimat .

(1) Dalam rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai. SPO Mengubah kata kerja membahas dalam kalimat itu menjadi dibahas sehingga kalimat itu menjadi (1b) Dalam rapat itu dibahas masalah kenaikan gaji pegawai. Meskipun banyak di antara kita pernah membaca atau bahkan menulis karya ilmiah. (3) makna kalimat. kemampuan kita mengenali atau menulis dengan kalimat yang baku masih sedikit yang memilikinya. SK Ternyata kalimat tersebut tidak memiliki P sehingga dapat dianggap sebagai kalimat tidak baku. kalimat tersebut tidak memiliki S. kalimat tersebut tidak merupakan kalimat baku. Analisis unsurnya menunjukkan kelompok kata kecelakaan lalu lintas menempati S. kalimat tersebut tidak dapat disebut kalimat baku. KPO Karena itu.ragam tulis formal. Kelompok kata dalam rapat itu berfungsi sebagai K sebab merupakan frase preposisional yang diawali preposisi dalam. Ketidakhadiran S atau P menyebabkan kalimat tidak baku. dan (4) kaidah ejaan. sedangkan sebab kecerobohan sopir yang merupakan frase preposisional (diawali sebab yang pada kalimat itu menjadi kata depan) dan menempati fungsi K. Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan cara Mengubah sebab menjadi disebabkan sehingga kalimat menjadi (2a) Kecelakaan lalu lintas itu disebabkan kecerobohan sopir. (2) bentukan kata. Berikut ini beberapa kaidah kalimat yang sering diabaikan sehingga kalimat yang kita buat bukanlah sebuah kalimat baku. perbaikan dapat dilakukan sebagai berikut: Menghilangkan preposisinya sehingga menjadi frane nominal. Jika dianalisis unsur-unsurnya. . Jika ada yang tidak terpenuhi. KPS Perhatikan kalimat (2) di bawah ini! (2) Kecelakaan lalu lintas itu sebab kecerobohan sopir. Agar menjadi kalimat baku. Pola kalimat tersebut adalah (1) Dalam rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai. Sebuah kalimat dapat dikategorikan sebagai kalimat baku jika memenuhi syarat-syarat: (1) struktur kalimat. Keempat syarat tersebut harus dipenuhi. Struktur Kalimat Syarat struktur kalimat adalah syarat yang berhubungan dengan kaidah-kaidah kalimat. Kelompok kata masalah kenaikan gaji pegawai adalah O kalimat itu. Memiliki S dan P Kalimat baku harus memiliki S dan P. Kata membahas menempati fungsi P. Dengan demikian. kalimat tersebut berpola (2) Kecelakaan lalu lintas itu sebab kecerobohan sopir. dengan demikian kalimat itu menjadi (1a) Rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.

(3a) Jika ekspedisi tidak menemukan sepotong fosil pun. (3b) Ekspedisi tidak menemukan sepotong fosil pun SPO maka dana ekspedisi harus dikembalikan. yang dapat dilakukan terhadap kalimat tersebut adalah menghilangkan salah satu konjungsinya tergantung pada hubungan antarklausa yang dikehendaki. Konjungsi jika dan maka menandai bahwa klausa yang mengikuti konjungsi tersebut merupakan klausa terikat yang merupakan perluasan unsur K. Di dalam kalimat aktif transitif. Pel. Hubungan P dengan unsur yang mengikutinya. misalnya kata terjadi. K Agar menjadi kalimat baku. Perhatikan kalimat (4) di bawah ini. Jika dipolakan akan terlihat polanya seperti di bawah ini (3) Jika ekspedisi tersebut tidak menemukan sepotong fosil pun. Jadi.. maka dana ekspedisi harus dikembalikan. hubungan P dan O sangat rapat sehingga tidak boleh disisipi preposisi.S P Pel. K Kalimat (3b) juga merupakan hasil perbaikan kalimat (3). berarti dalam kalimat itu tidak ada O atau Pel. yang akan berfungsi sebagai P (2b) Kecelakaan lalu lintas itu terjadi sebab kecerobohan sopir. SPO . K dana ekspedisi harus dikembalikan. atau K bergantung pada jenis kata yang mengisi unsur P itu. SP Kalimat (3a) merupakan perbaikan kalimat (3) dengan menghilangkan konjungsi maka sehingga hubungan antarkalimat yang terjadi adalah hubungan syarat atau pengandaian. Unsur P dapat diikuti O. kalimat tersebut tidak memiliki S dan P sebab unsur yang ada pada kalimat tersebut semuanya K. SPK Perhatikan kalimat (3) di bawah ini! (3) Jika ekspedisi tersebut tidak menemukan sepotong fosil pun. (4) Kami akan mendiskusikan tentang hal itu nanti. Jika P ditempati oleh kata yang bukan kata kerja. Pada kalimat tersebut terdapat konjungsi subordinatif jika dan maka. Menambahkan kata lain. hanya yang dihilangkan adalah konjungsi jika dan hubungan antarklausa yang terjadi adalah hubungan akibat. K maka dana ekpedisi harus dikembalikan.

perlu diingat bahwa dalam kalimat aktif transitif antara P dan O tidak boleh terdapat preposisi. semestinya preposisi tentang pada kalimat itu dihilangkan sehingga kalimat menjadi (4a) Kami akan mendiskusikan hal itu. (5b) Kenaikan tarif listrik sedang kita bicarakan. selain itu tidak dapat dipasifkan. tidak. Pelesapan unsur dalam kalimat majemuk Kalimat majemuk baik setara maupun bertingkat sering mengalami pelesapan unsur yang . Hasil pemasifan dengan cara di atas terlihat pada kalimat di bawah ini. Agar menjadi kata kerja berpartikel.atau tidak akan dijelaskan di bawah ini.Berdasarkan polanya terlihat bahwa kalimat (4) adalah kalimat aktif transitif. Agar menjadi kalimat baku. S kalimat (5) diisi oleh kata kita yang ternyata termasuk ke dalam pronomina persona (kata ganti orang) pertama. …) ke depan pronomina. kata mendiskusikan diubah menjadi berdiskusi sehingga kalimat menjadi (4b) Kami akan berdiskusi tentang hal itu. jika S kalimat aktif ditempati oleh pronomina persona pertama dan kedua. ada bentuk kalimat pasif yang justru tidak boleh mempergunakan kata kerja berawalan di-. (5a) Sedang kita bicarakan kenaikan tarif listrik.pada kata yang menempati P. P kalimat (4) harus diubah menjadi kata kerja berpartikel. Perlu diingat yang dapat dipasifkan adalah kalimat aktif transitif. Langkah pemasifan dengan S berupa pronomina persona pertama dan kedua sebagai berikut Hilangkan awalan me. Jadi. Pemasifan dengan tepat Berbicara tentang kalimat pasif biasanya sebagian besar di antara kita terbayang kalimat dengan P berupa kata kerja berawalan di-. Perhatikan kalimat (5) di bawah ini. (5) Kita sedang membicarakan kenaikan tarif listrik. Bilamana kita menggunakan di.pada predikatnya. kita harus perhatikan dulu kata yang menempati unsur S. Sebelum dilakukan pemasifan. Bila ada adverbia (akan. tetapi kalimat itu menjadi tidak baku sebab antara P dan O-nya terdapat preposisi tentang. sedang telah. Padahal. pemasifan tidak boleh dengan cara mengubah memenjadi di. Dalam kaidah bahasa Indonesia. S P Pel. SPO Bila kita ingin mempertahankan preposisi tentang. SPO Kalimat (5) berdasarkan polanya termasuk ke dalam kalimat aktif transitif sehingga kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat pasif. Bagian O pada kalimat aktifnya dapat diletakkan di awal atau akhir kalimat.

PKSPO Kalimat (7) terdiri atas dua klausa: klausa pertama setelah dijemur seharian dan klausa kedua Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu. sedangkan klausa pertama kehilangan S. kerupuk itu digoreng oleh Ibu Tuti. Jadi. S P K S P Pel. Kedua klausa itu ternyata memiliki S yang sama yaitu Andika. Andika tidak bisa menjawab soal itu. Memperhatikan asas kesejajaran bentuk/paralelisme . Misalnya. yaitu Ibu Tuti.disebabkan satu atau lebih unsur pada klausa-klausanya diisi oleh kata atau frase yang sama. Hasil menghilangkan unsur pada salah satu klausa sebab adanya kesamaan kata/frase yang mengisi unsur yang sama pada dua klausa yang berbeda dalam satu kalimat itu disebut kalimat majemuk pelesapan. Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu. PKSPO Kalimat (6) di atas merupakan kalimat yang mengalami pelesapan S. Jika kita menduga bahwa kalimat (7) merupakan kalimat pelesapan S. Kalaupun kita mengatakan bahwa yang dilesapkan adalah kerupuk itu. Mari kita analisis kalimat (7) di bawah ini. kalimat (7) bukan pelesapan S. Kalimat (7b) mengalami pelesapan S sebab berasal dari kalimat (7c) Setelah kerupuk itu dijemur seharian. (7a) Setelah Ibu Tuti dijemur seharian. kerupuk itu digoreng oleh Ibu Tuti. (6) Sebab tidak belajar semalam. Perubahan yang terjadi pada kalimat (7b) menghasilkan kalimat baku. Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu. (7) Setelah dijemur seharian. SPKSPO Kalimat (6a) terdiri atas dua klausa: klausa pertama sebab Andika tidak belajar dan klausa kedua Andika tidak bisa menjawab soal itu. kata Andika yang mengisi S pada klausa pertama harus dihilangkan agar kalimat lebih hemat. Jika diperbaiki. Klausa pertama tidak memiliki S. itu pun keliru sebab kerupuk itu pada klausa kedua menempati O. SPKSPO Rasanya sulit untuk menerima kalimat (7a) di atas sebab tidak mungkin yang dijemur dalam kalimat tersebut adalah Ibu Tuti. Andika tidak bisa menjawab soal itu. kita akan keliru sebab S pada klausa pertama tidak mungkin Ibu Tuti. kalimat (7) semestinya berbunyi (7b) Setelah dijemur seharian. Asalnya kalimat itu berbunyi (6a) Sebab Andika tidak belajar semalam. sebenarnya kalimat (7) bukanlah kalimat baku sebab pelesapan yang terjadi pada kalimat itu tidak tepat. Sebab itu. Jadi. P K S P Pel. sedangkan klausa kedua memiliki S.

Penerapan imbuhan mempunyai kaidah atau aturan. Asas kesejajaran dipakai sebab berkaitan dengan keruntutan proses berpikir.tidak mengalami nasalisasi jika kata yang dilekati itu berfonem awal berupa konsonan rangkap. sedangkan kata latihan dibentuk dari kata dasar yang diberi akhiran –an. Kalimat (9) di bawah ini juga tidak menerapkan asas kesejajaran. Proses morfologis biasanya berkaitan dengan pemakaian imbuhan.atau pe. Konsonan nasal ada empat buat. dan /s/. semestinya kata latihan diganti menjadi pelatihan. /p/. sedangkan pada perbaikan menggunakan per-an. Sering kita keliru memahami makna imbuhan tersebut sehingga pemakaian kata tersebut dalam kalimat menjadi salah.dan pe. /kr/.+ protes = memprotes . Ketepatan Pengimbuhan Salah satu kaidah yang perlu diingat agar pengimbuhan menjadi tepat adalah proses nasalisasi. Kata pendidikan dibentuk dari kata dasar yang diberi konfiks pe-an. Proses nasalisasi terjadi jika awalan me. (8) Pusat Pendidikan dan Latihan Kelompok kata (8) tidak menerapkan asas kesejajaran. lalu fonem awal tersebut berubah menjadi konsonan nasal. sedangkan proses sintaksis adalah proses penyusunan sebuah kalimat. yaitu /m/. Melekatkankan imbuhan pada kata dasar dapat menyebabkan perubahan bentuk imbuhan bergantung pada kata dasar yang dilekatinyanya agar pengucapannya menjadi lancar. /t/ pada taati berubah menjadi /n/ me. Agar sejajar.+ sontek = menyontek.dilekatkan kepada kata yang berfonem awal /k/. Setelah dilekatkan pada kata dasar. dan perbaikan pintu yang rusak. /t/. menyapu halaman. /p/ pada pesona berubah menjadi /m/ me. Contoh me. /ng/. Proses nasalisasi diambil dari istilah konsonan nasal yaitu konsonan yang dihasilkan sebab udara yang keluar dari paru-paru melalui hidung. /k/ pada kirim berubah menjadi /ng/ me.Asas kesejajaran atau paralelisme dalam kalimat merupakan penerapan peristiwa morfologis dalam proses sintaksis. mengepel dan menyapu menggunakan awalan me-. /tr/. me. Contoh me. imbuhan akan memunculkan makna yang biasanya disebut makna gramtikal.+ kirim = mengirim. (9) Pak Ali mengepel lantai. Perhatikan kelompok kata di bawah ini. (8a) Pusat Pendidikan dan Pelatihan. dan /sk/. /n/.+ pesona = memesona. /s/ pada kata sontek berubah menjadi /ny/ Namun. Bentukan Kata Yang dimaksud bentukan kata adalah proses pengimbuhan dan makna gramatikal imbuhan. Ketidaksejajaran kalimat (9) terlihat pada ketidakkonsistenan pemakaian imbuhan.+ taati = menaati. seperti /pr/. dan /ny/.

yang semestinya memercayai. SPO Kalimat (10) adalah kalimat sempurna. Perbaikan yang tepat untuk kalimat (11) sebagaimana terlihat pada kalimat di bawah ini (11a) Presiden menugasi Mendiknas untuk menyelesaikan kasus itu. kata yang tepat adalah menugasi bukan menugaskan. . Misalnya kalimat (10) di bawah ini (10) Kami tidak mempercayai berita-berita tersebut lagi.+ traktir = mentraktir me. Apakah kata yang berimbuhan me-i ataukah me-kan yang harus dipergunakan dalam sebuah kalimat bergantung kepada makna keseluruhan kalimat yang ingin disampaikan. (11) Presiden menugaskan Mendiknas untuk menyelesaikan kasus itu.+ kritik = mengkritik me. Imbuhan tidak memiliki makna leksikal.me. sebuah imbuhan tidak memiliki arti apa pun sebelum imbuhan itu dilekatkan kepada sebuah kata. Kaitannya dengan kalimat baku adalah kesalahan menggunakan imbuhan akan menyebabkan makna yang terbentuk pada kalimat pun ada kemungkinan keliru. yaitu makna yang muncul setelah imbuhan itu dilekatkan pada sebuah kata. Imbuhan me-i dan me-kan memiliki perbedaan makna meskipun dengan jumlah sedikit ada juga persamaannya. kalimat yang memiliki S-P atau kalimat sempurna tidak bisa disebut kalimat baku apabila dalam kalimat tersebut terdapat kata berimbuhan yang tidak tepat. sesuai dengan kalimat (11). yaitu menugaskan. Seharusnya. yaitu kata mempercayai. Kalimat (11) bukanlah kalimat baku sebab terdapat kata berimbuhan yang tidak tepat.+ skor = menskor Jadi. (11b) Presiden menugaskan penyelesaian kasus itu kepada Mendiknas. (12) Presiden membawahi menteri-menteri. Kalimat (12) di bawah ini juga bukan kalimat baku. Ketepatan makna imbuhan Imbuhan memiliki makna gramatikal. Perhatikan pasangan kata di bawah ini. menugasi = ‘menyerahi seseorang tugas’ menugaskan = ‘menyerahkan tugas. pekerjaan’ membawahi = ‘menempatkan diri di bawah perintah seseorang’ membawahkan= ‘menempatkan (sesuatu) di bawah’ Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini. tetapi kalimat tersebut tidak disebut kalimat baku sebab terdapat kata yang salah.

sedangkan tautologi adalah usaha menjelaskan sebuah gagasan/ide dengan gagasan/ide lain yang memiliki makna yang sama. Pemakaian kata mubazir biasanya terjadi akibat adanya pleonasme atau tautologi dalam kalimat tersebut. . Yang dimaksud dengan pleonasme adalah sebuah usaha menjelaskan sebuah gagasan/ide yang sudah jelas. (12b) Menteri-menteri membawahi Presdien. (14) Saya melihat peristiwa itu dengan mata kepala saya sendiri. Oleh karena itu. Kehematan Kalimat baku pun harus memperhatikan kehematan. yaitu menghindari pemakaian kata yang mubazir. Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.Makna keseluruhan kalimat (12) di atas adalah ‘Presiden menempatkan diri di bawah perintah menteri-menteri” sehingga kalimat itu menjadi tidak baku. (15a) Buku kuliahnya sangat tebal. Perbaikan kalimat-kalimat di atas adalah (13a) Hadirin merasa puas atas penjelasan direktur perusahaan tersebut. (15) Buku kuliahnya sangat tebal sekali. perbaikan untuk kalimat (12) adalah (12a) Presiden membawahkan menteri-menteri. (14a) Saya melihat peristiwa itu. (13) Para hadirin merasa puas atas penjelasan direktur perusahaan tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful