Askep Anak dengan Skabies (infestasi tungau

)

1. Definisi Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi (kepekaan) terhadap Sarcoptes scabiei var. huminis dan produknya (Adhi Djuanda. 2007: 119-120). Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) yang mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyebabnya scabies adalah Sarcoptes scabiei (Isa Ma'rufi, Soedjajadi K, Hari B N, 2005, ¶ 1, http: //journal.unair.ac.id, diakses tanggal 30 September 2008). Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart, 1997: Rosendal, 1997, ¶ 1, http: //journal.unair.ac.id, diakses tanggal 30 September 2008). 2. Epidemiologi Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi scabies. Banyak factor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain social ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas (ganti-ganti pasangan), kesalahan diagnosis dan perkembangan demografi serta ekologi. Selain itu faktor penularannya bias melalui tidur bersama dalam satu tempat tidur, lewat pakaian, perlengkapan tidur atau benda-benda lainnya.

punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. kelas Arachnida. b. animalis yang kadang-kadang menulari manusia. ordo Ackarima. (Adhi Djuanda. misalnya kambing dan babi. berwarna putih kotor dan tidak bermata. terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaannya misalnya anjing. Etiologi Sarcoptes scabiei temasuk filum Arthropoda. bantal dan lain-lainnya. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki. Kontak tak langsung misalnya melalui pakaian. superfamily Sarcoptes. 2007: 120) 3. berbentuk ovale. sprei. tidur bersama dan kontak seksual. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. Selain itu terdapat Sarcoptes scabiei lain. huminis. sedangkan yang jantan lebih kecil yakni 200-240 mikron X 150-200 mikron. Secara morfologi merupakan tungau kecil. Ukurannya yang betina antara 330-450 mikron X 250-350 mikron. . Penularannya biasanya melalui sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. handuk. 2 pasang di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kwdua pada betina berakhir dengan rambut sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.Cara penularan (tranmisi): a. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. Kontak langsung misal berjabat tangan.

dengan garukan dapat timbul erosi. urtika dan lain-lainnya.Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang kira-kira memerlukan waktu sebulan setelah infestasi. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan tetapi dapat juga keluar. jantan dan betina. (Adhi Djuanda. Gejala klinis Diagnosa dapat ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda di bawah ini: . kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Telur akan menetas. 5. Seluruh siklus hidupnya mulai telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. 2007: 120). 2007: 120). Patogenesis Kelaianan kulit tidak hanya disebabkan oleh tungau scabies saja tapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Pada saat ini kelainan kulit menyerupai dermatitis demngan ditemukannya papula. 4. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum. dengan kecepatan 2-3 mili meter per hari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. dengan 4 pasang kaki. krusta (cairan tubuh yang mengering pada permukaan kulit) dan infeksi sekunder (Adhi Djuanda. yang jantan akan mati. biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Setelah kopulasi (pembuahan) yang terjadi di atas kulit. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Setelah 2-3 hari larva akan keluar menjadi nimfa yang mempunyai dua bentuk. ekskoriasi (lecet sampai epidermis dan berdarah). vesikel.

Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). pada ujung terowongan ditemukan papula (tonjolan padat) atau vesikel (kantung cairan). 6. c. d. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya.a. Jika ada infeksi sekunder. Walaupun mengalami infestasi tungau. c. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostic. misalnya dalam keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. lipatan aksila depan. Harus efektif terhadap semua stadium tungau b. timbul poli morf (gelembung leukosit). areola mame. . umbilicus. berbentuk garis lurus atau berkelok. Tidak berbau. d. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. tetapi tidak memberikan gejala. rata-rata 1 centi meter. Pruritus noktural yaitu gatal pada malam hari karena aktifitas tungau yang lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas. Biasanya terjadi pada kulit yang tipis misal sela-sela jari. Pada bayi dapat mengenai tangan dan telapak kaki. b. sebagian tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok. Dikenal keadaan hiposensitisasi yang seluruh anggota keluarganya terkena. Mudah diperoleh dan murah harganya. Adanya kunikulus (terowongan) pada tempat-tempat yang dicurigai berwarna putih atau keabu-abuan. bokong. genetalia eksterna (pria) dan perut bawah.Penatalaksanaan Syarat obat yang ideal adalah a. sikut luar. kotor dan merusak warna pakaian. Harus tidak menimbulkan iritasi ataupun toksik.

Preparat ini berbau.Pengkajian Fokus 1. Dapat menyebabkan iritasi. jarang dipasaran dan kadang-kadang makin gatal setelah pemakaian. diberikan tiap malam selama 3 hari.termasuk obat pilihan karena efektif pada semua stadium. Permatrin 5% dalam krim. efektife pada semua stadium.ASUHAN KEPERAWATAN a. pemakaian sekali dan dihapus setelah 10 jam. Harus dijauhkan dari mulut. Gama benzene heksa klorida (gameksan = gammexane) kadar 1% dalam krim atau losio.Cara pengobatannya adalah seluruh anggota keluarganya harus diobati (termasuk penderita yang hiposensitisasi) Jenis obat topical: a. kurang toksik disbanding gameksan. dan jarang iritasi. mata dan uretra. Pemberian dapat sekali dan dapat diulangi seminggu kemudian. Tidak dianjurkan pada anak kung dari 6 tahun dan pada bumil karena toksik terhadap susunan syaraf pusat. dapat iritasi dan tak dapat digunakan pada stadium telur sehingga pemakaian harus lebih dari 3 hari. merupakan obat pilihan karena berfungsi sebagai anti scabies dan anti gatal. mengotori baju. d. Dapat dipakai pada anak kurang dari 2 tahun b. aktifitas sama. e. Krotamiton 10% dalam krim atau losio. c. Biodata . dapat diulang setelah seminggu dan tidak dianjurkan pada anak kurang dari 2 bulan 7. Emulsi benzyl-benzoat (20-25%). Belerang endap (sulfur presipitalum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim.

Umur : biasanya pada usia pertengahan sampai dewasa muda 2. c. meninggalkan erosi yang lebar Pola persepsi dan konsep diri Terjadinya gangguan body image karena adanya bula/ bula pecah meninggalkan erosi yang lebar serta bau yang menusuk 4. erosi Riwayat penyakit dahulu : Riwayat alergi obat. pola kesehatan fungsional Gordon yang terkait Pola Nutrisi dan Metabolik Kehilangan cairan dan elektrolit akibat kehilangan cairan dan protein ketika bula mengalami ruptur b. Riwayat hipertensi 3. o menurun o menurun N : Dapat meningkat/ Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Baik Tingkat kesadaran : Composmentis Tanda – tanda vital : TD : Dapat meningkat/ Riwayat kesehatan Keluhan utama : nyeri karena adanya pembentukan bula dan . Pola persepsi sensori dan kognitif Pola hubungan dengan orang lain adanya bula atau bekas pecahan bula yang Nyri akibat pembentukan bula dan erosi Terjadinya perubahan dalam berhubungan dengan orang lain karena d. a. riwayat penyakit lain. riwayat penyakit keganasan ( neoplasma ).

menunjukkan peningkatan integritas kulit .Diagnosa Keperawatan & Intervensi 1. Kepala Dada RR S : : Dapat Dapat meningkat/ meningkat/ : Kadang ditemukan bula : Kadang ditemukan bula Punggung : Kadang ditemukan bula dan Ekstremitas: Kadang ditemukan bula dan Pemeriksaan penunjang Klinis anamnesis dan pemeriksaan kulit : ditemukan Laborat darah : hipoalbumin Biopsi kulit : mengetahui kemungkinan maligna didapat penurunan Test imunofluorssen : immunoglobulin b. d.o menurun o menurun luka dekubitus luka dekubitus 5.menghindari cidera kulit Intervensi a. Gangguan integritas kulit bd lesi dan respon peradangan Kriteria hasil : . c. kaji keadaaan kulit secara umum . bula b. a.

beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal b. kurangi pembentukan sisik dengan pemberian bath oil e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal 3. jaga kebersihan kulit pasien e. Gangguan rasa nyaman : gatal bd adanya bakteri / virus di kulit Tujuan : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal Kriteria hasil : .b. mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl d.tidak terjadi lecet di kulit pasien berkurang gatalnya Intervensi a. motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP 2.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hilangnya barier proteksi kulit dan membran mukosa  Tujuan Tidak terjadi infeksi  Intervensi . pertahankan kelembaban kulit d. anjurkan pasien untuk tidak mencubit atau menggaruk daerah kulit c.

menurunkan resiko infeksi c. Rawat luka dengan teknik aseptik R: menurunkan resiko infeksi c.Evaluasi 1. Implementasi teknik isolasi yang tepat sesuai indikasi R: menurunkan resiko terkontaminasi silang atau terpajan pada flora bakteri multiple b. tidak terjadi lecet di kulit 3. R: e. Tidak terjadi infeksi DAFTAR PUSTAKA . Periksa luka setiap hari. Awasi atau batasi pengunjung bila perlu dan jelaskan prosedur isolasi terhadap pengunjung bila perlu R: mencegah kontamiasi silang dari pengunjung d. perhatikan atau catat mengidentifikasi adanya penyembuhan dan perubahan penampakan bau atau kuntitas memberikan deteksi dini adanya infeksi. menunjukkan peningkatan integritas kulit 2.a. Tekankan pentingnya teknik mencuci tangan yang baik untuk semua individu yang kontak dengan pasien R: mencegah kontaminasi silang.

Kapita Selekta Kedokteran. 2001. EGC. Jakarta 2. Mansjoer. EGC. Smelltzer and bars. hal: 29 4.1. 1999. 2002. 1999. Medikal Aesculapis . Dkk. Doengoes Marilynn. hal 188 3. Jakarta 5. Harnowo. Rencana Asuhan Keperawatan . Arif. 2002. Brunner and suddath. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta.