Penyelesaian Sengketa Kontrak Melalui Jalur Nonlitigasi

Primita Anggraeni Ira Chandra Puspita Indah Nailufar Nur Hotimah Yunizar Prajamufti Erry Fitrya Satria Wardhani

maka ADR hanya mencakup mekanisme penyelesaian sengketa yang bersifat konsensus atau kooperatif. Pengertian yang pertama menjadi acuan seluruh penyelesaian sengketa diluar pengadilan. Hal ini tentu saja menimbulkan implikasi yang berbeda. . sedangkan pada pengertian kedua. Secara umum. tidak selalu dengan melibatkan intervensi dan bantuan pihak ketiga yang independent yang diminta membantu memudahkan penyelesaian sengketa tersebut” ADR atau Alternative Dispute Resolution sering diartikan sebagai alternative to litigation dan alternative to adjudication.ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA “Alternatif Penyelesaian Sengketa (termasuk arbitrase) dapat diberi batasan sebagai sekumpulan prosedur atau mekanisme yang berfungsi memberi alternatif atau pilihan suatu tata cara penyelesaian sengketa melalui bentuk arbitrase agar memperoleh putusan akhir dan mengikat para pihak. termasuk arbitrase. konsoliasi dan tidak termasuk arbitrase. seperti negosiasi. mediasi.

Dalam UU No. .Dengan demikian. jelaslah yang dimaksud dengan ADR (Alternative Dispute Resolution) atau Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah suatu pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan kesepakatan para pihak dengan menyampingkan penyelesaian sengketa secara litigasi di pengadilan. 30 Tahun 1999. terdapat sekurangnya ada lima macam cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

. ADR berintikan bahwa para pihak yang bersengketa memiliki niat untuk menyelesaikan permasalahannya di luar pengadilan dengan cara dan ketentuan yang disepakati oleh kedua belah pihak.ADR dan perjanjian Dalam penyelesaian sengketa. Dan kesepakatan para pihak tersebut terdiri atas penyelesaian-penyelesaian sengketa untuk dilaksanakan di kemudian hari dan dituang dalam bentuk perjanjian. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar sengketa “ter-isolasi” untuk menunggu penyelesaiannya yang sudah ditetapkan dengan cara-cara tertentu.

meskipun adakalanya pihak konsultan juga diberikan kesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang dikehendaki oleh para pihak yang bersengketa tersebut. yang untuk selanjutnya keputusan mengenai penyelesaian sengketa tersebut akan diambil sendiri oleh para pihak. Peran konsultan dalam menyelesaikan perselisihan atau sengketa yang ada tidaklah dominan sama sekali. . yang disebut dengan klien dengan pihak lain yang merupakan pihak konsultan. sebagaimana diminta oleh kliennya. pada prinsipnya konsultasi merupakan suatu tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu. Konsultan hanyalah memberikan pendapat (hukum).• Dalam Black’s Law Dictionary yang dikutip oleh Gunawan Widjaja. yang memberikan pendapatnya kepada kliennya untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan kliennya tersebut.

Sampai kepada menyedia negosiator khusus. Negosiasi dilakukan baik karena telah ada sengketa diantara para pihak. Pendekatan dilakukan sebagai ganti dari pendekatan untuk keuntungan salah satu pihak atas pihak lainnya (Rajagukguk. yang dimaksud dengan negosiasi adalah “suatu proses tawar menawar atau pembicaraan untuk mencapai suatu kesepakatan terhadap masalah tertentu yang terjadi di antara para pihak. 2001).Undang yang berlaku dapat diadakan perdamaian dapat pula dinegosiasikan. Suatu negosiasi berhasil apabila terdapat kompromi atas posisiposisi para pihak yang antara lain dapat diukur dengan nilai uang.Pada prinsipnya. Negosiasi dilakukan oleh seorang negosiator. . Mulai dari negosiasi yang paling sederhana dimana negosiator tersebut adalah para pihak yang berkepentingan sendiri. Dalam Pasal 5 UU No. Pendekatan “Problem Solving” dalam negosiasi menekankan pencapaian apa sebenarnya yang dikehendaki kedua belah pihak dan mencari hal-hal yang dapat memuaskan kedua belah pihak. maupun hanya karena belum ada kata sepakat disebabkan belum pernah dibicarakan masalah tersebut”.30 Tahun 1999 dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya segala sesuatu yang menurut Undang. atau memakai lawyer sebagai negosiator.

“Mediasi adalah merupakan suatu proses kegiatan sebagai kelanjutan dari gagalnya negosiasi yang dilakukan oleh para pihak”.30 Tahun 1999.30 Tahun 1999 itu juga dikatakan bahwa atas kesepakatan tertulis para pihak yang bersengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator . Dari ketentuan Pasal 6 ayat (3) UU No. Menurut rumusan Pasal 6 ayat (3) UU No.MEDIASI Menurut Munir Fuady : “Mediasi adalah suatu proses negosiasi untuk memecahkan masalah melalui pihak luar yang tidak memihak dan netral yang akan bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu menemukan solusi dalam menyelesaikan sengketa tersebut secara memuaskan bagi kedua belah pihak” “Mediasi adalah proses negosiasi pemecahan masalah dimana pihak luar yang tidak memihak (impartial) dan netral bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan dengan memutuskan.

Jika mengacu kepada asal kata konsiliasi yaitu “conciliation” dalam bahasa Inggris yang berarti perdamaian dalam bahasa Indonesia.KONSILIASI Seperti halnya konsultasi. Konsiliasi sebagai proses penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga yang netral dan tidak memihak dengan tugas sebagai fasilitator untuk menemukan para pihak agar dapat dilakukan penyelesaian sengketa. UU No. kebiasaan bisnis. maupun mediasi. negosiasi. maka dapat dikatakan bahwa pada prinsipnya konsiliasi merupakan perdamaian. Konsiliator dalam menjalankan tugasnya harus mengetahui hak dan kewajiban para pihak.30 Tahun 1999 tidak memberikan suatu rumusan yang eksplisit atas pengertian atau definisi dari konsiliasi. kepastian dan objektivitas dari setiap kasus tertentu. sehingga dapat mengarahkan penyelesaian sengeta dengan berpegang kepada prinsip keadilan. .

mengarahkan subjek pembicaraan. dan lain-lain.tindakan seperti mengatur waktu dan tempat pertemuan para pihak. . keputusan dan persetujuan terhadap keputusan perkara tetap terletak penuh di tangan para pihak yang bersengketa. Namun. Pihak konsiliator hanya melakukan tindakan.Tugas dari konsiliator seperti juga mediator hanyalah sebagai pihak fasilitator untuk melakukan komunikasi diantara pihak sehingga dapat ditemukan solusi oleh para pihak. membawa pesan dari satu pihak kepada pihak lain jika pesan tersebut tidak mungkin disampaikan langsung. Sementara pihak mediator melakukan lebih jauh dari itu.

Jika upaya ini gagal. Pendapat hukum ini juga bersifat akhir (final) sebagaimana disebutkan dalam Pasal 53 UU NO. .PEMBERIAN PENDAPAT HUKUM Pemberian pendapat hukum yang dalam hal ini adalah Lembaga Arbitrase merupakan suatu masukan bagi para pihak dalam menyusun atau memuat kontrak yang akan mengatur hak-hak dan kewajiban para pihak. para pihak pertama. Para konsultan hukum atau advokat disarankan agar kliennya dalam membuat kontrak dagang selalu mencantumkan cara penyelesaian sengketa dengan memasukkan beberapa pilihan. maupun dalam memberikan penafsiran ataupun pendapat terhadap salah satu atau lebih ketentuan dalam kontrak yang telah dibuat oleh para pihak. Pendapat hukum ini bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kontrak pokok.tama akan mencoba menyelesaikannya dengan cara negosiasi atau mediasi. Pada saat ini sudah harus ditinggalkan pembuatan kontrak yang tradisional dan beralih kepada model-model kontrak modern ynag mencantumkan penyelesaian sengketa melalaui forum non litigasi.30 Tahun 1999 menyatakan bahwa “para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari lembaga arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian. para pihak akan menyerahkan sengketa mereka kepada lembaga arbitrase dengan mengikuti prosedur tertentu.30 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa: “terhadap pendapat yang mengikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 tidak dapat dilakukan perlawanan melalui upaya hukum”. Adanya berbagai alternatif penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang mempermudah para pelaku bisnis dalam menghadapi sengketa dagang. Rumusan Pasa 52 UU No. Misalnya dalam kontrak mensyaratkan bahwa dalam hal timbul sengketa hubungan dengan perikatan tersebut.

.Selain 5 cara diatas. terdapat upaya koordiansi. yaitu upaya yang dilakukan oleh pihak yang memiliki otoritas tertentu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang melibatkan banyak pihak agar terhindar dari penanganan yang tumpang tindih.

Secara umum dalam alinea keempat Penjelasan Umum UU No. kadang kala pertimbangan para pelaku bisnis dalam memilih lembaga arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa para pihak tidaklah sama. umumnya lebih mendayagunakan arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa bisnis yang terjadi diantara para pihak. tentunya banyak pertimbangan yang mendasari para pelaku bisnis untuk memilih arbitrase sebagai upaya penyelesaian sengketa yang akan atau sedang dihadapi. Dalam menentukan cara penyelesaian sengketa tersebut. . Namun demikian. dimana arbitrase merupakan suatu lembaga penyelesaian sengketa yang sedang populer dan paling dianjurkan untuk digunakan dibandingkan dengan lembaga penyelesaian sengketa lainnya. daripada penyelesaiannya melalui lembaga litigasi atau peradilan. Hal ini terjadi karena saat sekarang ini ada suatu tendensi bahwa hampir di setiap kontrak dagang mencantumkan klausul penyelesaian sengketa melalui arbitrase. karena itu perlu diketahui dasar pertimbangan para pihak yang bersengketa dalam memilih arbitrase sebagai alternatif penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dinyatakan dalam lembaga arbitrase mempunyai kelebihan dibandingkan dengan lembaga peradilan.PERJANJIAN ARBITRASE SEBAGAI PILIHAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS Di kalangan dunia bisnis.

pengalaman. serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan. (3) Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan. (5) Putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan. (4) Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalah serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase. jujur dan adil.Kelebihan-kelebihan Arbitrase (1) Dijamin kerahasiaan sengketa para pihak. (2) Dapat dihindarkan kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedur dan administrative. .

Penyelesaian sengketa di pengadilan akan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. (4) (5) .Dasar pertimbangan para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase: (1) (2) (3) Sistem hukum dan pengadilan setempat asing bagi mereka. oleh hakim yang bukan dari negara mereka. Pengusaha-pengusaha negara maju beranggapan hakim-hakim negara berkembang tidak menguasai sengketasengketa dagang yang melibatkan hubungan-hubungan niaga dan keuangan internasional yang rumit. Pengusaha-pengusaha negara maju beranggapan penyelesaian sengketa melalui pengadilan akan memakan waktu yang lama dan ongkos yang besar. Keengganan pengusaha asing untuk menyelesaikan sengketa di depan pengadilan bertolak dari anggapan bahwa pengadilan akan bersikap subjektif kepada mereka karena sengketa diperiksa dan diadili bukan berdasarkan hukum mereka. dan hasilnya akan dapat merenggangkan hubungan dagang diantara mereka. sedangkan putusan melalui arbitrase dianggap dapat melahirkan putusan yang kompromistis yang dapat diterima oleh kedua belah pihak yang bersengketa.

Para pihak dapat memilih hukum mana yang akan diberlakukan oleh arbitrase. 5. 11. 15. Menutup kemungkinan untuk dilakukan “Forum Shopping” Ketidakpercayaan para pihak pada Pengadilan Negeri Prosesnya cepat Merupakan putusan akhir (final) dan mengikat (binding) Biaya lebih murah Bebas memilih hukum yang diberlakukan Eksekusinya mudah Kepekaan arbiter Kecenderungan yang modern . Biaya lebih murah. Dapat dipilih para arbiter dari kalangan ahli dalam bidangnya. 4. 7. 14.Kelebihan arbitrase dibandingkan dengan pengadilan konvensional : 1. 6. 12. Keputusannya umumnya final dan binding (tanpa harus naik 10. Prosedur tidak berbelit dan keputusan dapat dicapai dalam waktu relative singkat. Hukum terhadap prosedur dan pembuktian lebih rileks. Proses/prosedur arbitrase lebih mudah dimengerti oleh masyarakat luas. 17. 9. Keputusan arbitrase umumnya dapat diberlakukan dan dieksekusi banding atau kasasi). 13. Para pihak dapat memilih sendiri para arbiter. 20. 18. Keputusan dapat lebih terkait dengan situasi dan kondisi. 3. Dapat dihindari expose dari keputusan di depan umum. oleh pengadilan dengan sedikit atau tanpa review sama sekali. 2. 16. 19. 8.

saksi. Kemungkinan timbulnya keputusan yang paling bertentangan satu sama lain karena tidak ada system “precedent” terhadap keputusan sebelumnya. Pengingkaran hakim terhadap norma hukum yang sudah dinyatakan secara tegas Undang. tanpa ada norma yang cukup untuk menjaga standard mutu keputusan arbitrase. 10. 14. Klausul arbitrase yang sudah dicantumkan dalam kontrak selalu diingkari salah satu pihak dengan berbagai dalih. Due Process Kurang terpenuhi. Kurangnya power untuk hal law enforcement dan eksekusi keputusan. 16. dan juga karena unsur fleksibilitas dari arbiter.Undang. sering dikatakan “An arbitration is 18. 19. 17.Kelemahan Arbitrase (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Tidak mudah untuk mengajak para pelaku bisnis menyelesaikan sengketanya kepada arbiter. 11. 15. Kurangnya power untuk menggiring para pihak ke settlement. as good arbitrators”. Dalam arbitrase tidak dikenal putusan-putusan yang mengikat arbiter sebelumnya (seperti dalam ilmu hukum dikenal yurisprudensi). Kurangnya power untuk menghadirkan barang bukti. Oleh karena itu. Masih ada keengganan para pihak untuk menyisihkan biaya yang harus dipikul dalam proses arbitrase. Kurangnya unsure Finalty. Berakibat semakin tinggi rasa permusuhan kepada pengadilan (8) (9) . Hanya baik dan tersedia dengan baik terhadap perusahaan-perusahaan bonafide. Kualitas keputusannya sangat bergantung pada kualitas para arbiter itu sendiri. 13. Pelaksanaan putusan arbitrase masih juga berkaitan dengan pengadilan. Tidak dapat menghasilkan solusi yang bersifat preventif. Dalam forum arbitrase internasional masih sulit untuk mempertemukan sengketa hukum yang berbeda sistem hukumnya dari negara msingmasing. Karena itu. dan lain-lain. Berakibat kurangnya upaya untuk mengubah system pengadilan konvensional yang ada. Dapat menyembunyikan dispute dari Public Security. 12. keputusan arbitrase tidak predektif.

3. 5. 6. Tahap persiapan Tahap mempelajari kasus posisi Tahap perundingan Tahap perumusan hasil Tahap pendaftaran Tahap pelaksanaan hasil kesepakatan . 4.Tahap-tahap penyelesaian sengketa di luar pengadilan (secara non-litigasi) 1. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful