P. 1
STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

|Views: 266|Likes:
Published by jiahhhh

More info:

Published by: jiahhhh on Dec 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2014

pdf

text

original

PAPER DARI KELOMPOK 6 Defi Indriani (08121002) Kukuh Suwandi Putro (08121013

)

STRUKTUR TEORI AKUNTANSI
1. Hakikat Dari Struktur Teori Akuntansi Apapun pendekatan dan metodologi yang digunakan dalam formulasi suatu teori akuntansi (deduktif atau induktif, normatif atau deskriptif), kerangka referensi yang dihasilkan didasarkan pada`sekelompok elemen dan hubungan yabg mengatur perkembangan teknik akuntansi. Struktur dari suatu teori akuntansi teerdiri dari elemenelemen berikut ini : 1.Tujuan dari laporan keuangan

2a.Dalil-dalil akuntansi

2b.Konsep teoritis dari akuntansi

3.Prinsip-prinsip akuntansi

4.Teknik-teknik akuntansi

2.

Hakikat Dari Dalil, Konsep Teoritis, Dan Prinsip-Prinsip Akuntansi

A. Dalil Akuntansi (accounting postulate) Dalil akuntansi adalah pernyataan atau aksioma yang sangat jelas, umumnya diterima berdasarkan kesesuaiannya terhadap tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan lengkungan ekonomi, politik, sosial, dan hukum dimana akuntansi harus beroperasi. Dalil-dalil akuntansi antara lain : 1) Dalil Entitas (entity postulate) Dalil Entitas menganggap bahwa setiap perusahaan adalah suatu unit akuntansi yang terpisah dan berbeda dari pemiliknya dan dari perusahaan-perusahaan lain. 2) Dalil Kelangsungan Usaha (going concern postulate) Dalil Kelangsungan Usaha atau dalil kontinuitas menganggap bahwa entitas bisnis akan melanjutkan operasinya cukup lama untuk merealisasikan proyek, komitmen, dan aktivitasnya yang berkelanjutan. 3) Dalil Unit Pengukuran (unit of-measure postulate) Dalil Unit Pengukuran menganggap bahwa akuntansi adalah proses pengukuran dan pengomunikasian aktivitas perusahaan yang dapat diukur dalam satuan uang. 4) Dalil Periode Akuntansi (accounting-period postulate) Dalil Periode Akuntansi menganggap bahwa laporan keuangan yang menggambarkan perubahan dalam kekayaan perusahaan sebaiknya diungkapkan secara periodik.

1

B. Konsep Teoritis Akuntansi (thoeretical concept) Konsep teoritis dari akuntansi juga merupakan pernyataan atau aksioma yang sangat jelas, umumnya diterima berdasarkan kesesuaiannya terhadap tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan hakikat dari entitas akuntansi yang beroperasi dalam suatu perekonomian bebas yang ditandai oleh kepemilikan pribadi atas properti. 1) Teori Kepemilikan (proprietary theory) Tujuan utama dari teori kepemilikan adalah penentuan dan analisis dari “ kekayaan bersih “ (net worth) pemilik,oleh karena itu persamaan akuntansinya adalah :

Aktiva – Kewajiban = Ekuitas Pemilik
2) Teory Entitas (entity theory) Teory Entitas memandang entitas sebagai suatu yang terpisah dan berbeda dari mereka yang menyediakan modal bagi entitas tersebut. Sederhananya unit bisnis dan bukannya pemilik yang menjadi pusat dari kepentingan akuntansi. Unit bisnis memiliki sumber daya perusahaan dan bertanggung jawab atas klaim pemilik maupun klaim kreditor. Oleh karena itu, persamaan akuntansinya adalah :

Aktiva = Ekuitas Pemilik Aktiva = Kewajiban + Ekuitas Pemegang Saham
3) Teory Dana (fund theory) Dalam teori dana, dasar akuntansi bukanlah pemilik entitas, melainkan sekelompok aktiva dan kewajiban serta pembatasan yang terkait, yang disebut dana, yang mengatur penggunaan aktiva tersebut. Dengan demikian teori dana memandang unit bisnis sebagai unit yang terdiri atassumber daya (dana) ekkonomi dan kewajiban serta pembatasan yang terkait dengan penggunaan dari sumber daya ini. Persamaan akuntansinya adalah :

Aktiva = Pembatasan Aktiva

C. Prinsip-Prinsip Akuntansi (accounting principles) Prinsip-prinsip akuntansi adalah aturan pengambilan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan maupun konsep teoritis akuntansi yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi. 1) Prinsip Biaya Menurut prinsip biaya (cost principle), biaya perolehan/akuisisi (acquistion cost) atau biaya historis adalah dasar penilaian yang sesuai untuk mengkui akuisisi dari seluruh barang dan jasa, beban, biaya, dan ekuitas. APB Statement No.4 mendefinisikan biaya sebagai berikut : Biaya (cost) adalah jumlah yang diukur dalam uang, dari kas yang dikeluarkan atau properti lain yang ditransfer, modal saham yang dikeluarkan, jasa yang diberikan, ataukewajiban yang terjadi, dalam hubungannnya dengan barang atau jasa yang telah diterima. Biaya (dan atau aktiva) yang belum habis masa berlakunya adalah biaya (dan atau aktiva) yang berkaitan dengan produksi pendapatan masa depan. Biaya yang sudah habis masa berlakunya tidak berkaitan dengan produksi pendapatan dimasa depan, dan oleh karena itu deperlakukan sebagai pengurang dari pendapatan sekarang atau dibebankan terhadap laba ditahan. 2) Prinsip Pendapatan Prinsip pendapatn (revenue principle) menspesifikasi :

2

  

Hakikat dari komponen-komponen pendapatan Pengukuran pendapatan Penentuan waktu dari pengakuan pendapatan

3) Prinsip Pengaitan Prinsip Pengaitan (matching principle) menganggap bahwa beban sebaiknya diakui dalam periode yang sama dengan pendapatan terkait yaitu pendapatan diakui dalam suatu periode tertentu menurut prinsip pendapatan, dan beban terkait kemudian diakui. 4) Prinsip Objektivitas 5) Prinsip Konsistensi Prinsip Konsistensi (consistency principle) menganggap bahwa kejadian ekonomi yang serupa dicatat dan dilaporkan dengan cara yang konsisten dari periode ke periode. Prinsip konsistensi tidak menghalangi suatu perusahaan untuk mengubah prosedur akuntansinya ketika hal tersebut dibenarkan oleh situasi yang berubah, atau jika prosedur alternatif lebih baik (aturan preferensi). Sesuai dengan APB Opinion No.20 perubahan yang membenarkan perubahan dalam prosedur adalah : • • • Perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi Perubahan dalam estimasi akuntansi perubahan dalam entitas pelaporan

6) Prinsip Pengungkapan Penuh Pengungkapan penuh (full disclousure) mengharuskan laporan keuangan dirancang dan disusun untuk menggambarkan secara akrual kejadia-kejadian ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan selama periode berjalan dan supaya mengandung informasi yang mencukupi guna membuatnya berguna dan tidak menyesatkan bagi investor kebanyakan. 7) Prinsip Konservatisme Prinsip konservatisme (conservatism principle) adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi dalam hal bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan terhadap penyajian data akuntansi yang relevan dan andal. 8) Prinsip Materialitas Prinsip Materialitas adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi. Prinsip tersebut menganggap bahwa Transaksi dan kejadian yang memiliki dampak ekonomi yang tidak signifikan dapat ditangani secara sangat cepat, tanpa mempedulikan apakah hal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau tidak. 9) Prinsip Keseragaman dan Kompabrabilitas Prinsip keseragaman mengacu pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan – perusahaan yang Berbeda . Tujuan yang diinginkan adalah untuk mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keragaman yang diciptakan oleh penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan – perusahaan yang berbeda. 10) Prinsip Ketepatan Waktu Dari Laba dan Konservatisme Akuntansi Ketepatan waktu dari laba akuntansi ( timeliness of accounting earnings ) telah didefinisikan sebagai sejauh mana laba akuntansi periode sekarang memasukkan laba ekonomi periode sekarang. Sementara laba ekonomi ( economic income ) dan laba akuntansi (accounting income) yang dijumlahkan selama umur dari perusahaan adalah identik, keduanya berbeda dalam jangka pendek. Laba ekonomi segera mengakui perubahan dalam perkiraan nilai sekarang atas arus kas masa depan, sementara laba akuntansi menggunakan prinsip “pengakuan” untuk memasukkan perubahan yang sama secara perlahan – lahan sejalan dengan waktu.

3

3. 3.1

Kebenaran Dalam Akuntansi Pemikiran mengenai kebenaran dalam filosofi Jika kita mengetahui suatu proposisi, maka kita mengetahui bahwa hal itu adalah benar. Suatu proposisi

yang benar berkaitan dengan suatu kondisi masalah yang terjadi. Kebenaran berkaitan dengan pelaporan dari kejadian atau terdapatnya kondisi masalah.Hal tersebut dapat : Berupa kebenaran sebagai kesesuaian ketika proposisi tersebut adalah benar jika sesuai dengan fakta. Berupa kebenaran sebagai koherensi ketika proposisi tersebut adalah benar karena koheren dengan proposisi lain. Proposisi tersebut harus saling mendukung satu sama lain. Berupa kebenaran sebagai apa “ yang berlaku “, mengimplikasikan bahwa proporsi yang benar adalah apa yang berlaku. Kebenaran dari proposisi dapat dipastikan dengan tingkat kompleksitas yang berbeda. Proposisi analitis,seperti “ seluruh akuntan Amerika adalah orang Amerika, “ adalah jelas benar tanpa pembuktian lebih lanjut, karena bentuk negative dari proposisi itu adalah “ saling berlawanan “ ( self – contradictory ). Proposisi sintetis ( proposisi yang tidak bersifat analitis ) perlu dibuktikan sebagai benar atau salah. Proposisi sintetis tersebut, “ Tunis adalah ibukota Tunisia “ adalah proposisi sintesis yang benar.

3.2

Kemungkinan akan kebenaran dalam akuntansi

a. Kebenaran sebagai netralitas Untuk dapat melaporkan kebenaran, akuntansi perlu menghindari dimasukkannya bias. Untuk menghindari dimasukkannya bias dalam pengetahuan, gamabaran, dan komunikasi fakta, akuntan diharapkan bersikap netral. Karakteristrik penting dari informasi yang disediakan adalah “ bebas dari bias “ atau netral. Netralitas ( neutrality ) dianggap sebagai karakteristik kualitatif penting dari informasi akuntansi. Netralitas, dalam konteks ini, mengacu pada tiadanya bias dalam penyajian informasi atau laporan akuntansi. b. Kebenaran sebagai objektivitas Untuk menetapkan akurasi dari atribut – atribut yang diukur, akuntan telah mengandalkan prinsip objektivitas sebagai suatu cara untuk membenarkan prosedur pilihan mereka. Tetapi , objektivitas ( objectivity ) telah memperoleh paling tidak empat arti yang mungkin : 1. 2. 3. 4. Pengukuran yang impersonal atau berada di luar pikiran dari orang yang melakukan pengukuran Pengukuran yang didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi Pengukuran berdasarkan suatu kesepakatan dari para ahli yang memiliki kualifikasi Kecilnya penyebaran statistic dari pengukuran atribut ketika dilakukan oleh pengukur yang berbeda.

c. Kebenaran, objektivitas, dan keandalan Dalam konteks kerangka konseptual, supaya dapat diandalkan, informasi harus dapat diverikasi, netral, dan disajikan dengan jujur. Keandalan mengacu pada “ kualitas yang memungkinkan pengguna data untuk mengandalkannya dengan penuh keyakinan sebagai perwakilan dari apa yang diwakili oleh data tersebut. Dengan demikian keandalan informasi tergatung pada tingkat kejujuran dalam penyajian suatu kejadian. Keandalan akan berbeda antar pengguna, tergatung pada tingkat pengetahuan mereka akan aturan - aturan yang digunakan untuk menyusun informasi tersebut. Secara serupa, pengguna yang berbeda mungkin mencari informasi dengan tingkat keandalan yang berbeda. d. Kebenaran, objektivitas, dan kekerasan

4

Bagian sebelumnya dari kebenaran, objektivitas, dan keandalan fokus pada perbandingan antara apa yang dilakukan oleh akuntan dengan apa yang diharapkan pengguna ukuran keuangan untuk dilakukan oleh akuntan. e. Kebenaran dan peran akuntansi Jenis kebenaran yang disampaikan dalam praktik dan wacana akuntansi dapat bersifat kontinjen terhadap peran yang sebenarnya dimainkan oleh akuntansi dalam organisasi. Peran tradisional sebagai alat bantu yang berguna bagi pengambilan keputusan yang rasional dengan pandangan untuk mengukur efisiensi dan efektivitas organisasional. Kebenaran dalam akuntansi pada konteks tradisional ini adalah untuk menyediakan angka – angka akuntansi yang berguna dan diketahui berdasarkan aturan – aturan yang berbasis teknis. f. Mustahilnya kebenaran dalam akuntansi Kebenaran dalam akuntansi mengimplikasikan kebutuhan untuk menghindari kerahasiaan. Kerahasiaan ( secrecy ) adalah tindakan menutupi fakta atau menahan informasi mengenai hal tersebut atau hal tersebut agar tidak sampai ke public yang berkepentingan yang dapat memperoleh manfaat dari mengetahui hal tersebut. Akuntansi diperkecil menjadi scenario di mana kemungkinan – kemungkinan akan kebenaran itu ada jika didekati dengan kriteria- kriteria seperti netralitas, objektivitas, keandalan, dan / atau kekerasan serta beradaptasi dengan peran akuntansi yang berbeda dan scenario di mana kemustahilan kebenaran terdapat dalam kasus – kasus yang melibatkan pengukuran, pemulusan laba, pilihan teknik akuntansi, penilaian aktiva, alokasi biaya, pengandalan terhadap standar bukti, dan penggunaan kebenaran naratif. Disiplin akuntansi benar – benar dibangun secara social, dan tidak memiliki hukum yang abadi atau kebenaran. Aturan yang dibuat oleh manusia dalam akuntansi tergantung pada proses penilaian baik bagi penyusunan maupun penggunaan informasi akuntansi. 4. Kesimpulan Aturan – aturan akuntansi yang ada saat ini didasarkan pada fondasi akuntansi. Fondasi ini terdiri atas elemen- elemen yang bersifat hierarki yang berfungsi sebagai kerangka referensi atau struktur teoretis. Suatu pemahaman atas elemen – elemen ini dan hubungan dari teori akuntansi menjamin suatu pemahaman atas rasional di balik praktik aktual dan masa depan. Laporan keuangan yang disajikan dalam laporan akuntansi formal hanyalah cerminan dari penerapan struktur teoretis akuntansi. Yang paling terdepan dari agenda akuntansi sebaiknya merupakan formulasi dari elemen – elemen teori akuntansi ,yaitu tujuan akuntansi, dalil lingkungan, konsep teoretis, dan prinsip akuntansi.

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->