P. 1
Ilmu Dan Kebudayaan

Ilmu Dan Kebudayaan

|Views: 90|Likes:
Published by Aeolia Scehenberg

More info:

Published by: Aeolia Scehenberg on Dec 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2013

pdf

text

original

ILMU DAN KEBUDAYAAN

MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Sains Yang dibina oleh Dr. Subandi, M.Si

Disusun Oleh: INDAH LANGITASARI BAGUS 110331540666 110331540661

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN KIMIA UNIVERSITAS NEGERI MALANG NOVEMBER 2011

PENDAHULUAN

A. Ilmu Kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti atau mengetahui. Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Ilmu bukan sekedar pengetahuan, tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori yang disepakati dan dapat diuji secara sistematik dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Ilmu merupakan alat bagi manusia untuk menyesuaikan diri dan merubah lingkungannya. Ilmu berkaitan erat dengan kebudayaan. B. Kebudayaan Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) dan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara umum, pengertian kebudayaan adalah jalan atau arah di dalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani. Sementara itu, pengertian kebudayaan menurut para ahli sebagai berikut. 1. E.B. Taylor Kebudayaan yang merupakan keseluruhan yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang yang diperoleh manusia dalam kehidupannya. 2. M. Jacobc dan B.J. Stern Kebudayaan mencakup keseluruhan ynag meliputi teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial. 3. Koentjaraningrat Kebudayaan adalah kesekuluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia.

4. Dr. K. Kupper Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok. 5. William H. Haviland Kebudayaan adalah seperangkat peratran dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterimaoleh semua masyarakat 6. Ki Hajar Dewantara Kebudayaan adalah buah budi manusia artinyahasil perjuangan manusia terhadap dua penggaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kelayakan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagian yang pada lahirnyabersifat tertib dan damai 7. Francis Merill Kebudayaan merupakan: • • Pola-pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi sosial Semua perilakudan semua produk yang dihasilkan oleh seorang sebagai anggota masyarakat yang ditemukan melalui interaksi simbolik. Berdasarkan kumpulan definisi di atas, maka kebudayaan merupakan cara-cara bertingkah laku manusia dalam kehidupannya yang didasari oleh akal budi, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai mahluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, yang kesemuanya ditujukan untuk memebantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Fungsi kebudayaan bagi manusia adalah sebagi pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia. C. Hubungan Ilmu dengan Kebudayaan Ilmu dan kebudayaan keduannya memiliki keterkaitan karena saling mempengaruhi. Ilmu dan kebudayaan juga berkaitan erat dengan manusia, karena manusia inilah yang membentuk kebudayaan, merumuskan ilmu, dan menciptakan teknologi serta mengembangkannya. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan, dan pengetahuan

merupakan unsur dari kebudayaan. Menurut Talcot Parsos dalam Suriasumnatri (1995: 272), ilmu dan kebudayaan saling mendukung satu sama lain; dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembang dengan pesat, demikian pula sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa di dukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Pada satu sisi, perkembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaan, sedangakan di sisi lain, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannnya kebudayaan.

PEMBAHASAN Pembahasan tentang ilmu dan budaya pada makalah ini difokuskan pada tiga hal yaitu manusia dan kebudayaan; ilmu dan pengembangan kebudayaan nasional; dan dua pola kebudayaan. A. Manusia dan Kebudayaan Masalah kebudayaan pada dasarnya adalah masalah tingkah laku manusia, sehingga kebudayaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan cara-cara manusia bertingkah laku baik secara individu maupun dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat, baik dalam kehidupan dan penghidupannya. Manusia dalam kehidupannya mempunyai banyak sekali kebutuhan. Kebutuhan hidup mendorong manusia untuk melalukan berbagai tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Ashley Montagu bahwa kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Dalam hal ini, kebudayaanlah yang memberi garis pemisah antara manusia dan hewan. Menurut Moslow, kebutuhan manusia terbagi kedalam lima kelompok yaitu kebutuhan fisiologi, rasa aman, afialis, harga diri dan pengembangan potensi. Sementara itu, menurut Moslow, binatang kebutuhanya terpusat pada dua kelompok yaitu kebutuhan fisiolgi dan rasa. Binatang memenuhi kebutuhan hidup secara instinktif. Sedangkan manusia tidak mempunyai kemampuan bertindak secara otomatis yang berdasarkan instink tersebut dan oleh sebab itu dia berpaling kepada kebudayaan yang mengajarkan cara hidup. Manusia yang merupakan mahluk sosial tidak bisa terlepas dari kebudayaan, karena dengan kebudayaan manusia dapat mempertahankan, mengembangkan, dan melestarikan kehidupannya sehingga manusia bisa tetap eksis dalam kehidupan ini. Manusia tidak mampu bertindak secara instinktif, namun manusia memiliki kemampuan lain yaitu kemampuan untuk belajar, berkomunikasi, dan menguasai obyekobyek yang bersifat fisik. Dalam hal ini, kebudayaan mempunyai pengaruh penting dalam proses pendidikan manusia. Kebudayaan dan Pendidikan Pendidikan dapat diartikan secara luas sebagai usaha sadar dan sistematis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian dan kemampuan fisik.

Pendididikan berhubungan erat dengan nilai-nilai budaya. Menurut Allport, dkk. (1951) dalam suriasumnatri (1995), kebudayaan memiliki enam nilai dasar, yaitu: a. Nilai teori yang merupakan hakekat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah. b. Nilai ekonomi mencakup kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia. c. Nilai estetika berhubungan dengan keindahan dan segi-segi artistik yang menyangkut antara lain bentuk, harmoni dan wujud kesenian lainnya yang memberikan kenikmatan kepada manusia.
d. Nilai sosial berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan penekanan segi-segi

kemanusiaan yang lugur. e. Nilai politik berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalamkehidupan bermasyarakat maupun dunia politik.
f. Nilai agama berhubungan dengan penghayatan yang bersifat mistik dan

transedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadiranya di muka bumi. Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Berdasarkan penggolongan tersebut, maka permasalahan yang dihadapi oleh pendidikan adalah menetapakan nilai-nilai budaya apa yang harus dikembangkan dalam diri anak didik. Masalah tersebut harus dikaji setiap waktu. Hal tersebut dikarena oleh dua hal, 1) nilai-nilai budaya yang harus dikembangkan dalam diri anak didik harus relevan dengan perkembangan zaman dimana anak tersebut akan hidup kelak, dan 2) usaha pendidikan yang sadar dan sistematis mengharuskan kita untuk lebih eksplisit dan difinitif tentang hakikat nilai-nilai budaya tersebut. Untuk mementukan nilai-nilai mana yang patut mendapat perhatian, maka harus memperkirakan skenario perkembangan masyarakat dimasa yang akan datang. Skenario masyarakat di masa akan datang, memperhatikan indikator dan perkembangan yang ada sekarang yang cenderung mempunyai karakteristik sebagai berikut.
a. Memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional, maka masyarakat

Indonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang rural agraris menjadi masyarakat modern yang urban dan bersifat industri, dan
b. Pengembangan kebudayaan ditujukan ke arah perwujudan peradapan yang bersifat

khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia yakni Pancasila.

Perkembangan zaman mempengaruhi perkembangan kebudayaan, dimana secara bertahap masyarakat tradisional akan beralih menjadi masyarakat medern. Peralihan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern disebut proses modernisasi. Dibandingkan dengan masyarakat tradisional,masyarkat modern mempunyai indikatorindikator sebagai berikut. a. Lebih bersifat analitik di mana sebagian besar aspek kehidupan bermasyarakat didasarkan kepada asas efesiensi baik yang bersifat teknis maupun ekonomis. Sifat tersebut berhubungan dengan nilai teori dan nilai ekonomi, dan
b.

Lebih bersifat individual daripada komunal terutama ditinjau dari segi

pengembangan potensi manusiawi dan masalah survival. Sifat kedua ini berhubungan dengan nilai sosial dan nilai kekuasaan (politik). Perbandingan sifat masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Nilai Kebudayaan Nilai Teori Masyarakat tradisional • Mistik sistemik • pengalaman, perasaan, intuisi • Peralatan primitif • Kebiasaan • Pengalaman • generalis • Status • Kekerabatan • Intensif non-ekonomi • Kerja untuk subsistensi • Pola konsumsi konsumtif • Keputusan sering diambil orang lain • Orientasi pada stabilitas • Menolak perubahan • Fatalisme Masyarakat Modern • Analisis • Bersifat rasional dan ilmiah • Teknologi • Efisien • Pendidikan • Keahlian • Prestasi • Individu • Intensif ekonomi • Kerja keras • Pola konsumsi Produktif • Keputusan diambil sendiri • Orientasi pada kemajuan • Menerima perubahan • Aktif memperbaiki nasib

Nilai Sosial

Nilai Ekonomi

Nilai Politik

Nilai Agama

Proses Modernisasi Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa pendidikan merupakan unsur penopang yang dibutuhkan untuk mensosialisasikan ilmu dan nilai-nilai kebudayaan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan bagian terpenting untuk melestarikan

kebudayaan agar kebudayaan tersebut selalu berdiri diatas ilmu dan nilai-nilai kebaikan yang dijunjung tinggi. B. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Pada satu sisi, perkembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaan, sedangakan di sisi lain, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannnya kebudayaan. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Kebudayaan nasional padat berfungsi; (1) sebagai suatu sistem dan pralambang yang memberi identitas kepada warga negara, dan (2) sebagai suatu sistem gagasan dan pralambang yang dapat dipakai oleh semua warga negara, untuk saling berkomunikasi dan dengan demikian dapat memperkuat solidaritas. Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu memiliki peranan ganda yaitu, (1) ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional, dan (2) ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa. Ilmu sebagai Suatu Cara Berfikir Ilmu merupakan cara berfikir dalam mengahasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini ilmu merupakan produk dari proses berfikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut berfikir ilmiah. Kegiatan berfikir ilmiah harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu harus mempunyai alur berfikir logis dan harus didukung oleh fakta empiris. Dari hakikat berfikir ilmiah tersebut, maka dapat disimpulkan karakteristik dari ilmu sebagai berikut. a. Ilmu merupakan rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. b. Mempunyai alur berfikir yang logis dan konsisten dengan pengetahuan yang telah ada.
c. Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran yang obyektif

d. Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi Berdasarkan karakteristik ilmu tersebut, dapat diketahui nilai dari ilmu yaitu rasional, logis, obyektif dan terbuka serta kritis. Ilmu sebagai Asas Moral

Ilmu merupakan kegiatan berfikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar artinya ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran. Ilmu sebagai asas moral berhubungan dengan kebenaran dari ilmu. Karakteristik dari kriteria kebenaran ilmu adalah sebagai berikut.
a. Meninggikan kebenaran. Kriteria kebenaran pada hakikatnya bersifat otonom dan

terbebas dari struktur kekuasaan di luar bidang keilmuan. Artinya dalam menetapkan suatu pernyataan benar atau tidak, seorang ilmuwan akan mendasarkan penarikan kesimpulannya kepada argumentasi yang terkandung dalam pernyataan itu dan bukan karena pengaruh kekuasaan.
b. Pengabdian secara universal, artinya kebenaran mempunyai kegunaan khusus yakni

kegunaan yang universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat kemanusiaannya. Dalam hal ini, ilmuwan tidak mengabdi pada golongan, politik atau kelompok lain, serta tidak memandang ras, ideologi, dan faktor-faktor pembatas lainnya. Nilai-Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Nilai-nilai ilmu yang terpancar dari hakikat keilmuan antara lain kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menunjang kebenaran dan pengabdian universal. Ketuju sifat tersebut sangat menunjang pengembangan kebudayaan nasional dalam membentuk karakter suatu bangsa. Bangsa yang modern dalam menghadapi permasalah kehidupan berbangsa membutuhkan pemecahan masalah secara kritis, rasional, logis, obyektif dan tebuka. Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional ke arah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi dan tujuan nasional. Demi terlaksananya proses dalam pengembangan nasional, maka diperlukan sifat kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka menjunjung kebenaran dan pengabdian universal. Kearah Peningkatan Peranan Keilmuan Ilmu berperan penting dalam mendukung pengembangan kebudayaan nasional. Oleh karena itu, peran keilmuan dalam kehidupan perlu ditingkatkan. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan adalah sebagai berikut.

a. Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan, sehingga untuk meningkatkan peranan dan kegitan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat. Langkah-langkah tersebut dapat ditempuh dengan pendekatan yang bersifat edukatif dan persuasif dengan menghindarkan konflik-konflik yang tidak perlu. b. Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. Akan tetapi, pendewaan terhadap akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran harus dihindari.
c. Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa

percaya terhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut. salah satu langkah yang dapat ditempuh adalh meninggikan integritas ilmuwan dan lembaga keilmuan. d. Pendidikan keilmjuwan harus selalu dikaitkan dengan pendidikan moral. Makin pandai seseorang dalam bidang keilmuwan, makaharus semakin luhur landasan moralnya.
e. Pengembangan dalam bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam

bidang filsafat terutama yang menyangkut keilmuan. Pengembangan yang seimbang antara ilmu dan filsafat akan bersifat saling menunjang dan saling mengontrol terutama terhadap landasan epistemologi (metode) dan aksiologi (nilai) keilmuan.
f. Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur

kekuasaan. Tetapi tidak berarti bahwa kegiatan keilmuan lepas sama sekali dari kontrol pemerintah dan masyarakat. C. Dua Pola Kebudayaan Terdapat dua pola kebudayaan yang berkembang di masyarakat yaitu kelompok ilmu-ilmu alam dan kelompok ilmu-ilmu sosial. Adanya pola kebudayaan yang demikian dapat menghambat kemajuan di bidang ilmu dan teknologi. Perbedaan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial pada dasarnya hanyalah bersifat tekis dan tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental. Dasar ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari kedua ilmu tersebut adalah sama. Metode yang digunakan dalam mendapatkan pengetahuannya adalah metode ilmiah yang sama., tidak terdapat alasan yang bersifat metodologis yang membedakan antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam. Adanya dua kebudayaan yang terbagi ke dalam ilmu alam dan ilmu sosial sampai saat ini masih terdapat di Indonesia. Hal ini dicerminkan dengan adanya jurusan PastiAlam dan Sosial-budaya dalam sistem pendidikan di Indonesia. Adanya pembagian

jurusan ini merupakan hambatan psikologi dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di Indonesia. Pembagian jurusan ke dalam ilmu alam dan ilmu sosial tersebut karena adanya pengaruh argumentasi yang sering dikemukakan sebagai raison d’etre dimana pembagian jurusan didasarkan pada dua asumsi yaitu:
a.

Manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan yang Menganggap ilmu-ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan

mengharuskan kita mengembangkan pola pendidikan yang berbeda pula
b.

matematika, sehingga dapat memfokuskan keahliannya dibidang ini. Pada kenyataannya tidak demikian, pengembangan ilmu-ilmu sosial membutuhkan bakat-bakat matematika yang baik untuk menjadikannya pengetahuan yang bersifat kuantitatif. Olah karena itu, perlu dipahami apa hakikat matematika dalam kaitannya dengan eksitensi ilmu. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dibedakan dua tujuan pokok dalam pendidikan matematika yaitu:
a. Penguasaan matematika secara teknis dan mendalam dalam rangka penalaran

deduktif untuk menemukan kebenaran b. Penguasaan matematika sebagai alat komunikasi simbolik Bagi tujuan pendidikan yang pertama, yaitu pendidikan analitik, maka hal terpenting adalah penguasaan berfikir matematik yang memungkinkan suatu analisis sampai terbentunya rumus statistika tersebut. Bagi tujuan pendidikan yang kedua, yaitu pendidikan simbolik, maka yang penting adalah pengetahuan mengenai kegunaan rumus tersebut serta penalaran deduktif dalam penyusunan rumus meskipun tidak secara seluruhnya merupakan analisis matematik. Adanya dua pola kebudayaan pada bidang keilmuan bukan saja merupakan sesuatu yang regresif melainkan juga destruktif, bukan saja bagi kemajuan ilmu itu sendiri, melainkan juga bagi pengembangan peradaban secara keseluruhan.

KESIMPULAN

Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Kebudayaan yang merupakan seperangkat nilai yang berlaku di dalam masyarakat harus didasari oleh ilmu, agar kebudayaan tersebut dapat selalu berkembang sesuai dengan jalurnya. Ilmu dan kebudayaan juga berkaitan erat dengan manusia, karena manusia inilah yang membentuk kebudayaan, merumuskan ilmu, dan menciptakan teknologi serta mengembangkannya. Kebudayaan berkiatan erat dengan pendidikan. Pendidikan merupakan bagian terpenting untuk melestarikan kebudayaan agar kebudayaan tersebut selalu berdiri diatas ilmu dan nilai-nilai kebaikan yang dijunjung tinggi. Ilmu juga memiliki peranan penting dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional yaitu, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional, dan ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa. Terdapat dua pola kebudayaan dalam sistem keilmuan, yaitu ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Kedua kelompok ilmu tesebut pada kenyataanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi, sehingga tidak bisa berdiri sendiri. Adanya pola kebudayaan tersebut, bukan saja merupakan sesuatu yang regresif melainkan juga destruktif, bukan saja bagi kemajuan ilmu itu sendiri, melainkan juga bagi pengembangan peradaban secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->