SISTIM PARTAI POLITIK DI INDONESIA

Kemerdekaan berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia yang diakui dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Untuk memperkukuh kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang kuat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, serta demokratis dan berdasarkan hukum. Hak asasi tersebut terwujud dalam institusi partai politik. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik mendefinisikan bahwa Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa partai politik itu pada pokoknya memiliki kedudukan dan peranan yang sentral dan penting dalam setiap sistem demokrasi. Tidak ada negara demokrasi tanpa partai politik. Karena itu partai politik biasa disebut sebagai pilar demokrasi, karena mereka memainkan peran yang penting sebagai penghubung antara pemerintahan negara (the state) dengan warga negaranya (the citizen). Indonesia menganut paham paham demokrasi yang artinya kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Yang selanjutnya dijalankan melalui mekanisme pelembagaan yang bernama partai politik. Kemudian partai politik saling berkompetisi secara sehat untuk memperebutkan kekuasaan pemerintahan negara melalui mekanisme pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden. Dalam demokrasi, partai politik merupakan pilar utama (bukan kedua atau ketiga), karena pucuk kendali roda pemerintahan ada di tangan eksekutif, yaitu presiden dan wakil presiden. Sebagaimana dirumuskan dirumuskan dalam UUD 1945 Pasal 6A ayat (2), bahwa calon presiden dan calon wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Artinya hak itu secara eksklusif─hanya partai politik yang disebut UUD 1945─diberikan kepada partai politik. Karena itulah, semua demokrasi membutuhkan partai politik yang kuat dan mapan guna menyalurkan berbagai tuntutan warganya, memerintah demi kemaslahatan umum serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Sangat rasional argumentasinya jika upaya penguatan partai politik dibangun oleh kesadaran bahwa partai politik merupakan pilar yang perlu dan bahkan sangat penting untuk pembangunan demokrasi suatu bangsa. jadi, derajat pelembagaan partai politik itu sangat menentukan kualitas demokratisasi kehidupan politik suatu negara. Fungsi Partai Politik Pada umumnya, para ilmuan politik biasa menggambarkan adanya empat fungsi partai politik. Keempat fungsi partai politik itu menurut Miriam Budiardjo[6], meliputu: (i) sarana komunikasi politik, (ii) sarana sosialisasi politik (political socialization), (iii) sarana rekrutmen politik (political recruitment), dan (iv) pengatur konflik (conflict management). Sementara dalam istilah Yves Meny dan Andrew Knapp fungsi partai politik mencakup (i) mobilisasi dan integrasi, (ii) sarana pembentukan pengaruh terhadap perilaku memilih (voting patterns), (iii) sarana rekrutmen politik, dan (iv) sarana elaborasi pilihan-pilihan kebijakan.

Sartori juga mengklasifikasikan sistem kepartaian menjadi tiga. partai politik juga berperan penting dalam melakukan sosialisasi politik. Sistem kepartaian memberikan gambaran tentang struktur persaingan di antara sesama partai politik dalam upaya meraih kekuasaan dalam pemerintahan. . dalam suatu sistem tertentu. yakni sistem partai tunggal. (ii) penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat. Pendekatan numerik ini pernah dikembangkan Maurice Duverger (1950-an). yang didasarkan pada tiga hal. Menurut Duverger. Pertama. kini. Ide. Partai mengagregasikan dan mengintegrasikan beragam kepentingan itu dengan cara menyalurkannya dengan sebaik-baiknya untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik kenegaraan. dan kebijakan partai politik yang bersangkutan. dan kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik disosialisasikan kepada konstituen untuk mendapatkan feedback berupa dukungan dari masyarakat luas. (iv) partisipasi politik warga negara Indonesia. yaitu pluralisme sederhana. Fungsi selanjutnya partai politik adalah sebagai sarana rekrutmen politik. yang dapat digolongkan menjadi tiga unit. dan arah perilaku politiknya. Selain itu. 2 tahun 2008 Tentang Partai Politik. jarak diantara kutub (bipolar). partai berada dan beroperasi dalam suatu sistem kepartaian tertentu. pluralisme moderat. sistem kepartaian tidak dapat digolongkan menurut jumlah partai atau unit-unit. bahwa fungsi Partai Politik adalah sebagai sarana: (i) pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas. dan bernegara. Terkait dalam sosialisasi itu partai juga berperan sangat penting dalam rangka pendidikan politik bagi masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. dan sistem multipartai. . Partai dibentuk memang dimaksudkan menjadi kendaraan yang sah untuk menyeleksi kader-kader pemimpin dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan kesetaraan dan keadilan gender. cara lain dapat dijadikan pendekatan yaitu teori yang dikembangkan Giovani Sartori (1976). partai berinteraksi dengan sekurang-kurangnya satu partai lain atau lebih sesuai dengan konstruksi relasi regulasi yang diberlakukan. melainkan jarak ideologi antara partai-partai yang ada. Terkait dengan komunikasi politik itu. Kesemua fungsi partai politik tersebut sama-sama terkait satu dengan yang lainnya. Setelah itu. dan mendatang. Sebagai sarana komunikasi politik. Yves Meny dan Andrew Knapp.Dalam UU No. Sistem kepartaian yang melembaga cenderung meningkatkan stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan. Sistem Kepartaian Dalam demokrasi. partai berperan sangat penting dalam upaya mengartikulasikan kepentingan atau political interests yang terdapat atau kadang-kadang tersembunyi dalam masyarakat. Berbagai kepentingan itu diserap sebaik-baiknya oleh partai politik menjadi ide. berbangsa. ada dua pendekatan yang dikenal secara umum. (iii) penyerap. Fungsi keempat adalah pengatur dan pengelola konflik. ide dan kebijakan atau aspirasi kebijakan itu diadvokasikan sehingga dapat diharapkan mempengaruhi atau menjadi materi[9] dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. penghimpun. yaitu jumlah kutub (polar). dan pluralisme ekstrem. sistem kepartaian dapat dilihat dari pola perilaku dan interaksi antarsejumlah partai dalam suatu sistem politik. visi. ilmuwan politik Italia. ilmuwan politik kebangsaan Prancis. dan penyalur aspirasi politik masyarakat. Kedua pendekatan ini bisa digunakan untuk melihat sistem kepartain Indonesia di masa lalu. dan (v) rekrutmen politik. Peranan ini berupa sarana agregasi kepentingan yang berbeda-beda melalui saluran kelembagaan partai politik. Setiap partai merupakan bagian dari sistem kepartaian yang diterapkan di suatu negara. Untuk melihat sistem kepartaian suatu negara. Menurut Sartori. fungsi pengelola konflik dapat dikaitkan dengan fungsi integrasi partai politik. melihat partai sebagai unit-unit dan sebagai satu kesatuan yang terlepas dari kesatuankesatuan lain. sistem dwi partai. visi.

Setelah dua kali pemilu paska reformasi dengan sistem multipartai. Pemilu dekade 1950-an 1960-an adalah sistem multipartai tanpa ada pemenang mayoritas. yaitu ABRI tidak ikut pemilu dan Golkar belum berpengalaman dalam pemilu. PKI. namun tidak terjadi kompetisi. Setelah dua kali pemilihan umum paska reformasi dengan sistem multipartai. Memasuki dekade 1970-an sampai Pemiliu 1971. hasrat para politisi untuk mendirikan partai politik tersalurkan. Indonesia bisa belajar banyak. menghasilkan anggota legislatif yang imbang antara Jawa dan Luar Jawa. Bila tidak. Pada masa reformasi. untuk pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan pemilu secara langsung. yakni PDI-P. Hal ini dapat dipahami karena selama puluhan tahun kebebasan berekspresi dan berserikat serta berkumpul dikekang. Waktu itu ada sembilan partai politik yang tersisa dari Pemilu 1955. Indonesia telah mempraktikkan sistem kepartaian berdasarkan pada sistem multipartai. PKB. Padahal kalangan partai tidak yakin akan memenangkan pemilu. fenomena menjamurnya partai politik mestinya dilihat sebagai sesuatu yang wajar di tengah masyarakat yang sedang mengalami euforia politik. Keberhasilan pemilu secara langsung telah mendaulat Indonesia sebagai negara paling demokrasi ketiga di dunia setelah Amerika dan India. Pada pemilu pertama tahun 1955─sebagai tonggak kehidupan politik pasca kemerdekaan hingga sekarang―menghasilkan lima partai besar: PNI. Apakah partai-partai paska reformasi telah berperan sebagai pilar demokrasi yang mendorong demokrasi kita lebih efektif dan pemerintahan yang stabil. maupun sistem yang diterapkan. Golkar. Pada era orde baru. Sehingga ketika reformasi memberikan ruang kebebasan. Proses evaluasi diri perlu dilakukan. Fenomena menarik dalam Pemilu 1971 ini adalah faktor kemenangan Golkar yang sangat spektakuler di luar dugaan banyak orang. atau sebaliknya. Sistem kepartaian secara ideal harus mendorong pemerintahan yang stabil dan demokrasi yang semakin efektif. baik partai-partai politik. dan PSI. sistem kepartaian menerapkan sistem multipartai. Pemilu 2004 adalah pesta rakyat yang sangat bersejarah bagi Indonesia. setelah pemilu digelar. Golkar menang mutlak lebih dari 63%. PPP.Dalam sejarahnya. Indonesia masih menganut sistem multipartai sederhana (pluralisme sederhana). PAN. Apakah partai-partai paska reformasi telah berperan sebagai pilar demokrasi yang mendorong demokrasi kita . keluar enam partai besar pemenang pemilu. yaitu Orde Baru. Karena Golkar menjadi partai hegemoni. Proses evaluasi diri perlu dilakukan. yang menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon tertutup (stelsel daftar) diikuti 48 partai peserta pemilu. ternyata justru bertolak belakang. NU. dan tidak ada partai pemenang pemilu yang memperoleh suara mayoritas. Pada masa itu. maka tentu ada yang salah dengan sistem yang diterapkan. Pasalnya. namun antarpartai tidak terjadi persaingan. dan PBB. sistem kepartaian masih disebut sistem multipartai sederhana. di era demokrasi parlementer tersebut telah terjadi tingkat kompetisi yang tinggi. Kesembilan partai ditambah Golkar. baik partai-partai politik. Masyumi. ditambah independen. ikut berlaga dalam Pemilu 1971. Indonesia kembali menerapkan sistem multipartai. Indonesia bisa belajar banyak.[23] Pada Pemilu 1999. Kemenangan itu menandakan Indonesia memasuki era baru. Sistem kepartaiannya multipartai. Memasuki era demokrasi parlementer yang ditandai dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden yang tujuannya untuk mengakhiri konflik ideologi antarpatai. Kenapa? Karena Golkar hanya berjuang demi status quo. Tetapi. Dari jumlah itu. Meski dalam derajat dan kualitas yang berbeda. Sehingga ada pendapat bahwa secara riil sistem kepartaian menjurus ke sistem partai tunggal (single entry). Jumlah partai yang berlaga dalam pemilu itu lebih dari 29 partai. Dengan sistem pemilu proporsional. Namun. Jumlah partai sekitar 140 buah. Hal itu didasari pada dua hal. tetapi lolos verifikasi hanya 48 partai. maupun sistem yang diterapkan. Sebagai sebuah proses pembelajaran.

Setiap distrik akan dipilih satu wakil rakyat. Pembatasan partai politik dilakukan dengan menerapkan berbagai prosedur sistem pemilu. Metode the winner takes all ini akibatnya menjadi insentif negatif bagi partai kecil. sistem distrik ini memang merangsang partai kecil untuk membubarkan diri. dan dengan demikian ia akan mendorong untuk memperjuangkan aspirasi mereka. pilihan untuk . akan mendorong partai-partai untuk menyisihkan perbedaan-perbedaan dan mengadakan kerjasama. Bila tidak. namun tokoh partai lain memperoleh suara yang lebih kecil. Dengan penerapan sistem distrikdapat mendorong ke arah integrasi partaipartai politik dan mendorong penyederhanaan partai tanpa harus melakukan paksaan. Berkaca pada pengalaman hampir sepuluh tahun paska reformasi. Dalam studi perbandingan. Tokoh dari Partai A hanya menang 25%. Dalam perjalanan waktu. Sembilan tokoh lainnya akan tersingkir. Persoalannya. Dalam sistem distrik. Mengingat realitas sosial masyarakat Indonesia yang heterogen sehingga cukup sulit menerapkan sistem distrik. bagaimana mendorong proses penyederhanaan partai harus dilakukan? Alam demokrasi tentu tidak menggunakan larangan secara langsung bagi pendirian partai politik.lebih efektif dan pemerintahan yang stabil. sehingga mempersulit proses pengambilan setiap keputusan di legislatif. Sistem kepartaian secara ideal harus mendorong pemerintahan yang stabil dan demokrasi yang semakin efektif. Kelebihan sistem distrik dalam menyederhanakan jumlah partai karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik (daerah pemilihan) hanya satu. legal. Semetara dalam sistem proporsional cenderung lebih mudah mendorong fragmentasi partai dan timbulnya partai-partai politik baru. sistem pemilu menjadi alat rekayasa yang dapat menyeleksi dan memperkecil jumlah partai politik dalam jangka panjang. Duverger berpendapat. agar menjadi mayoritas. Karena itu. atau sebaliknya. karena itu hak asasi yang harus dihormati. golongan minoritas dikhawatirkan tidak terakomodir. dan demokratis. Alasannya karena sistem multipartai telah mengalami perluasan fragmentasi. demokrasi Indonesia dengan sistem mulltipartai belum signifikan memberikan harapan bagi pengelolaan tata pemerintahan yang efektif dan efisien. namun untuk saat ini sistem tersebut belum menjadi pilihan bagi Indonesia. sistem distrik dapat meningkatkan kualitas keterwakilan karena wakil yang terpilih dapat dikenal oleh penduduk distrik sehingga hubungan dengan konstituen lebih erat. Partai minoritas tidak akan pernah mendapatkan wakilnya. Selain itu. distrik itu akan diwakili oleh tokoh partai A. Meskipun diakui sistem distrik diakui dapat menyederhanakan jumlah partai politik. Karena itu. atau menggabungkan diri dengan partai lain. Katakanlah. sistem ini hanya menyisakan dua partai besar saja. Karena dari golongangolongan yang ada. teritori sebuah negara dibagi menjadi sejumlah distrik.[ Dalam sistem distrik berlaku prinsip the winner takes all. pada gilirannya akan mempermudah terbentuknya pemerintahan yang stabil dan meningkatkan stabilitas nasional. bahwa upaya mendorong penyederhanaan partai politik dapat dilakukan dengan menggunakan sistem distrik. Dengan berkurangnya partai. Partai kecil lainnya terkubur dengan sendirinya. maka tentu ada yang salah dengan sistem yang diterapkan Penyederhanaan Partai Politik Sistem kepartaian yang kita bangun haruslah diarahkan untuk terwujudnya sebuah tata kelola sistem pemerintahan presidensil yang didukung oleh jumlah partai yang sedikit di tingkat suprastruktur. tidak heran bila berbagai pihak mulai mendorong penerapan sistem multipartai sederhana. Banyaknya jumlah distrik itu sebanyak jumlah anggota parlemen yang akan dipilih. Secara sah. dalam sebuah distrik ada sepuluh partai yang ikut serta. Walau hanya mendapatkan suara 25% suara. Sistem ini dianggap mempunyai akibat memperbanyak jumlah partai.

12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum DPR. Sutradara Gintings dan Prof. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum DPR. PKB.tetap menerapkan sistem proporsional merupakan suatu keputusan yang relevan untuk konteks Indonesia saat ini Pertanyaannya. Indonesia menerapkan electoral threshold sebesar 2% dari suara sah nasional. dalam praktiknya tidak demikian. Hal ini dilakukan untuk lebih memperketat partai-partai yang mengikuti Pemilu berikutnya. Jika kita lakukan simulasi dengan data Pemilu 2004. sesungguhnya yang ada dalam sistem pemilu adalah Parliamentary Threshold yang artinya adalah syarat ambang batas perolehan suara parpol untuk bisa masuk ke parlemen. Sehingga dengan Parliamentary Threshold akan terjaring sejumlah partai yang betul-betul legitimate. Electoral Threshold didefinisikan sebagai ambang batas syarat angka perolehan suara untuk bisa mengikuti pemilu berikutnya.5% dari jumlah suara nasional. maka dia berhak menempatkan wakilnya di parlemen. Dr. yaitu Golkar. PAN. Dengan threshold 3%. dan PBB. Sehingga secara teoritis. Partai Demokrat. Jadi. partai yang bisa mengikuti Pemilu 2009 hanya tujuh partai. partai politik yang gagal memperoleh batasan suara minimal berarti gagal untuk mengikuti pemilu berikutnya. Dalam UU No. hanya keenem partai yang berhak mengikuti Pemilu 2004. tanpa mempermasalahkan berapa jumlah kursi hasil konversi suara yang dimiliki partai pololitik tersebut. Artinya penerapan Electoral Threshold ternyata tidak membuat partai mengerucut dan mendukung tata kelola parlemen yang efektif . dan PKS. Sehingga sebelum pemilu diselenggarakan. lalu dibagi dengan jumlah suara secara nasional. PPP. Golkar. Tetapi. Dengan demikian. PPP. Secara prosedural. PDI P. partai yang tidak memenuhi electoral threshold tetap ikut pemilu berikutnya dengan karakter partai serta pengurus partainya tidak berubah. Peserta pemilu yang lolos berdasarkan perolehan suara ada enam partai. dan DPRD. Pemilu 2004 menerapkan angka electoral threshold menjadi 3% dari perolehan suara sah nasional. Penyederhanaan partai politik dalam rangka menghasilkan parlemen dan pemerintahan yang efektif. saya kutip dari saudara Dr. Semangat dari peningkatan threshold yang semakin besar yaitu untuk membangun sistem multipartai sederhana dengan pendekatan yang lebih moderat. DPD. PKB. Hal ini yang mengurangi keefektifan parlemen dalam bekerja karena lambat. yakni PDI P. Pada pemilu 1999. Itulah latar belakang dari Panitia Khusus UU No. DPD. dengan sendirinya partai politik akan mengukur diri sampai sejauh mana dukungan rakyat kepadanya. maka di parlemen hanya akan ada 7 partai. jadi. dan terbukti dari 48 partai politik peserta Pemilu 1999 berkurang menjadi 24 partai politik pada Pemilu 2004. Jika suara partai politik itu mencapai angka 2. dalam era reformasi ini perundang-undangan menerapkan Electoral Threshold pada Pemilu 1999 dan 2004. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik akan berjalan efektif karena sebelum parpol itu melakukan fungsi rekrutmen (penentuan . Ryaas rasyid saat pembahasan UU tersebut. Artinya berapapun kursi yang diperoleh di parlemen. telah mengundang sejumlah pakar dan ahli untuk memberikan pemikiran-pemikiran yang menyatakan bahwa Electoral Threshold itu tidak dikenal di negara manapun. atau menimbulkan anomali. PAN. apakah dengan menerapkan sistem proporsional jumlah partai politik secara alami dapat terkurangi? Sistem proporsional memiliki mekanisme tersendiri untuk menyederhanakan jumlah partai politik. Artinya. Tetapi faktanya di parlemen ada 17 partai. partai-partai di luar keenam partai itu tidak diperkenankan mengikuti Pemilu 2004. Inilah teori untuk menghasilkan parlemen yang efektif. dan DPRD. Hal ini juga akan membuat fungsi-fungsi parpol yang dirumuskan dalam UU No. setelah hasil jumlah suara masing-masing partai politik diketahui seluruhnya. untuk turut kembali dalam pemilihan umum berikutnya harus mencapai angka Electoral Threshold itu. karena partai lama mengubah namanya atau menambah satu kata di belakang nama partai sebelumnya.

dan kelompok kepentingan (interest group). (Budiardjo. pemilihan umum merupakan rangkaian tak terpisahkan antara pemilihan legislatif dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Dan rakyat pun akan kembali menghargai dan menghormati partai politik karena sesungguhnya demokrasi tidak akan mungkin tanpa adanya partai politik. Partai politik gerakan (movement) . Karena dalam sistem presidensil itu tidak dikenal jumlah partai yang banyak. lebih berjangka- . fungsi edukasi. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik dengan UU No. Agar partai politik dibentuk tidak hanya sekadar untuk ikut pemilu tapi partai politik dibuat agar fungsi-fungsi partai politik dapat berjalan sebagaimana mestinya. dan hak partai politik untuk ikut pemilu. Artinya. Tetapi untuk masuk ke parlemen ada mekanisme yang harus ditempuh yaitu Parliamentary Threshold. sebuah keharusan bagi partai politik dan gabungan parpol di parlemen yang mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk masing-masing menyamakan visi dan misinya agar selanjutnya dijadikan dokumen negara yang harus dipertanggungjawabkan dan diumumkan kepada publik. 1982). Kelompok kepentingan: tujuan dan orientasi lebih sempit. dan DPRD. DPD. Selain itu mereka juga akan berkarya dan mengabdi kepada masyarakat. kelompok penekan (pressure group) . adanya sequence (jeda waktu) antara keduanya. Karena hanya partai politik dan gabungan partai politik yang berhasil masuk parlemen-lah yang berhak mengusung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Kesimpulan Tujuan utama pemilihan umum adalah untuk menghasilkan parlemen yang legitimate dan pemerintahan yang kuat. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR. Disinilah adanya korelasi dan hubungan yang sangat signifikan antara UU No. nilai-nilai & cita-cita yg sama. Kegiatan seseorang dlm partai politik merupakan suatu bentuk partisipasi politik. Inilah sistem multipartai yang kita bangun untuk diarahkan menuju terbentuknya sebuah rezim pemerintahan presidensil yang efektif. ingin melakukan perubahan ideologis Kelompok penekan: tujuan terbatas untuk mempengaruhi kebijakan. Selain itu. Gerakan: tujuan yg lebih terbatas. tidak berusaha menempatkan wakil di parlemen.*** Definisi : Suatu kelompok terorganisasi yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi. partai politik pasti akan lebih dulu menjalankan fungsi sosialisasi. karena persoalannya bukanlah di UUD 1945. Hal ini akan mengakibatkan tidak terjadinya hubungan yang signifikan antara parlemen dengan presiden dan wakil presiden sehingga tidak terwujud tata kelola sistem pemerintahan yang stabil. Hal ini menjadi tidak mungkin terwujud jika pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada saat yang bersamaan karena isu keduanya berbeda sehingga perilaku pemilih juga tidak bisa dipastikan. fungsi agregasi dan fungsi kaderisasi. tetapi lebih pada produk dari pemilihan umum yang belum secara signifikan memposisikan dan menempatkan sistem multipartai pada proporsi yang sebenarnya. Adalah hak rakyat untuk membuat partai politik. dalam sistem multipartai di Indonesia. sehingga parpol menjadi sarana dan wahana dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi keniscayaan.calon legislatif). Sehingga keluhan yang menyatakan “presiden terbelenggu” menjadi tidak relevan. adalah untuk memastikan gambaran riil partai politik pendukung di parlemen terhadap pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih.

Pluralisme ekstrem (extreme pluralism) 7. mencari dan mengajak orang berbakat untuk aktif dalam kegiatan politik sbg kader. untuk memilih pemimpin. Memiliki jumlah anggota relatif terbatas. Golkar. Sistem satu partai (one party system) 2. Misal: PAN (Muhammadiyah). partai berusaha mengatasi kemungkinan konflik dg kekerasan Tipologi Parpol (Maurice Duverger. PBB. Partai-partai kecil: non-Islam berbasis agama. sehat. Dua macam partai kader: 1) Konservatif. Perhatian partai bukan pada kaum elit tetapi pada massa. Sistem predominan (predominant system) 4. Sarana sosialisasi politik. PUDI Sistem politik Indonesia telah menempatkan Partai Politik sebagai pilar utama penyangga demokrasi.Bagaimana Sistem Kepartaian di Indonesia? 1. tak ada demokrasi tanpa Partai Politik. tetapi proses rekrutmen anggota bersifat terbuka).regenerasi norma dan nilai. berfungsi memberikan pendidikan politik bagi kelas pekerja. maka sudah selayaknya jika diperlukan sebuah peraturan perundang-undangan mengenai Partai Politik. Sarana komunikasi politik. 3. pegawai pemerintah. Partai kebangsaan yg berwatak pluralisme dan netral agama. dan wartawan. Partai Islam terbuka (berbasis kultur Islam dan organisasi massa Islam. Artinya. industrialis menengah. 4. Catatan: perbedaan antara partai kader dan partai massa seringkali hanya jelas dalam teori. aktivis direkrut secara co-optation dan formal nomination. bankir. . proses yang menentukan sikap dan orientasi seseorang terhadap fenomena politik. kekuatan bersumber pd kualitas. 2. Partai Islam tertutup (keanggotaannya lebih diutamakan penduduk beragama Islam). Misal: Krishna. 1963) 1.Sistem Kepartaian (Giovanni Sartori. Karena begitu pentingnya peran Partai Politik. industrialis besar. Demokrat. Misal: PDIP. agamawan. bukan dlm praktik. pengacara. PKB (NU). Mencari anggota sebanyak-banyaknya. Partai “cabang” atau partai massa. misal: PRD. Disebut juga fungsi interest aggregation dan interest articulation. Partai aliran kiri. 2) Liberal. mementingkan kuantitas dibanding kualitas. Untuk mengelola konflik (conflict management). Partai “kaukus” atau partai kader. Peraturan perundang-undangan ini diharapkan mampu menjamin pertumbuhan Partai Politik yang baik. Misal: PPP. dg kader kaum pedagang. Dasar rekrutmen adalah wide open to all people. efektif dan fungsional. karena persaingan & perbedaan pendapat diasumsikan sebagai hal yang wajar dlm demokrasi. 2. Sarana rekrutmen politik. Sistem dua partai (two party system) 5. Sistem atomisasi (atomized system). menyalurkan beragam pendapat dan aspirasi serta mengaturnya supaya kesimpangsiuran berkurang. 2. bukan kuantitas anggotanya. . 3. Pluralisme terbatas (limited pluralism) 6. dg kader kaum aristokrat. memperjuangkan kepentingan umum. Fungsi Partai 1.panjang jika dibanding kelompok penekan. Sistem hegemoni (hegemonic system) 3. 4. 1996) 1. PKS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful