ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY.

N P3A0 POST PARTUM MATURUS DENGAN SECTIO CAESAREA HARI KE 1 ATAS INDIKASI CEPHALO PELVIC DISPROPORTIONAL DI RUANG HCU RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG

Disusun Guna memenuhi salah satu tugas Mata kuliah Maternitas

Disusun Oleh : Wargini

UNIVERSITAS ADVENT INDONESIA BANDUNG

2006
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan

kesehatan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat, meliputi bio, psiko, social spiritualyang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Bidang layanan dalam keperawatan sangat luas, salah stunya adalah bidang garap keperawatan maternitas. Keperawatan maternitas merupakan layanan professional yang ditujukan kepada wanita usia subur yang meliputi masa sebelum hamil, masa hamil, masa melahirkan, masa nifas, masa diantara kehamilan, neonatus dan keluarga yang berfokus kepada kebutuhan dasar dalam melakukan adaptasi fisik dan psikososial dengan menggunakan proses keperawatan (Thompson, 1995:218). Asuhan keperawatan pada masa setelah melahirkan atau masa nifas sangat dipengaruhi oleh cara melahirkan, apakah normal (spontan) atau dengan tindakan. Salah satu tindakan yang dilakukan pada proses persalinan adalah tindakan seksio sesaria. Seksio sesaria merupakan peristiwa

pengakhiran kehamilan melalui pembedahan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan rahim. Tindakan seksio sesaria dapat menimbulkan berbagai komplikasi baik terhadap ibu maupun janin. Komplikasi yang mungkin muncul pada ibu dapat terjadi pada masa nifas post seksio sesaria berupa perdarahan, pada infeksi, gangguan kemih dan pembekuan darah, trauma kandung

penurunan fungsi intestinal bagian bawah (colon). Maka dari itu, kelompok merasa tertarik untuk mengangkat kasus dalam laporan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. N P3A0 Post Partum Maturus Dengan Seksio Sesarea Hari Ke 1 Atas Indikasi Cephalo Pelvic Disproportional Di Ruang HCU RS Advent Bandung”.

B. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk Memperoleh gambaran lebih jelas mengenai partus matures seksio sesarea hari ke 1 secara komprehensip dan terintegrasi berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan. 2. Tujuan Khusus 1. Dapat melaksanakan pengkajian pada klien dengan seksio sesarea meliputi : Pengumpulan data, analisa data, menentukan masalah dan merumuskan diagnosa keperawatan. 2. Dapat merencanakan asuhan sesuai kebutuhan klien post partum dengan seksio sesarea.

4. anatomi fisiologi panggul. 5. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. 2. asuhan keperawatan pada klien post partum dengan seksio sesarea atas indikasi CPD.3. observasi langsung pada klien. BAB III : TINJAUAN KASUS Terdiri atas Tinjauan kasus yang merupakan laporan pelaksanaan asuhan keperawatan yang terdiri atas : . Sistematika Penulisan 1. 3. BAB II : TINJAUAN TEORI Terdiri dari konsep dasar masa nifas. C. Dapat mengevaluasi hasil tindakan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. D. Dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. tujuan. BAB I : PENDAHULUAN Terdiri dari latar belakang masalah. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara atau anamnesa secara langsung dari klien. metode dan sistematika penulisan. studi literatur yang berhubungan dengan masalah pada klien dan studi dokumentasi status perkembangan klien yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada klien dengan post partum matures dengan seksio sesarea atas indikasi CPD ( Chepalo Pelvic Disproportion ). pengertian dan penyebab tindakan seksio sesarea.

Pengkajian. Perencanaan. Konsep Dasar Masa Nifas Pengertian . BAB II TINJAUAN TEORI A. Terdiri atas kesimpulan dan Saran. 1. Diagnosa masalah berdasrakan prioritas. BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN. a. implementasi dan Evaluasi 4.

b. Pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa : “Masa nifas disebut juga post partum atau puerperium. . Periode Nifas 1) 2) post Periode Immediate post partum : terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan. dan terjadi perubahan secara bertahap. (Cuningham. Adaptasi Fisiologis post Partum Akhir dari persalinan. Semua perubahan pada ibu post partum perlu dimonitor oleh perawat. Periode post partum (puerperium) adalah jangka waktu 6 minggu. 3) Periode late post partum : terjadi mulai minggu kedua sampai minggu keenam sesudah melahirkan. c. lamanya kira-kira 6 minggu. mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. seperti sebelum hamil. (Hanifa. hampir seluruh sistem tubuh mengalami perubahan secara progresif. dimana resiko sering terjadi pada ibu post partum. 1995 : 281). Post partum adalah masa setelah melahirkan dimana masa ini meliputi beberapa minggu pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan sebelum hamil yang normal. untuk menghindari terjadinya komplikasi. (Bobak. (Muchtar. 2000 : 716). Masa nifas atau post partum adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. 1999 : 237). Periode Early post partum : terjadi setelah 24 jam partum sampai akhir minggu pertama sesudah melahirkan.Masa nifas (puerperium) adalah masa pulihnya kembali. adalah masa penyembuhan dan pulihnya kembali alat-alat reproduksi sejak selesai melahirkan sampai pada keadaan normal. hampir seluruh sistem tubuh mengalami perubahan secara drastic. 1998 : 115). yang dimulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali organ-organ reproduksi seperti sebelum kehamilan.

kedalaman dan pola respirasi. 3) Sistem Gastrointestinal . dapat terjadi hipotensi orthostatik dengan penurunan tekanan systolic kurang lebih 20 mmHg yang merupakan kompensasi pertahanan tubuh untuk menurunkan resistensi vaskuler sebagai akibat peningkatan tekanan vena. Biasanya ini terjadi beberapa saat setelah persalinan.000/mm3 tanpa adanya infeksi. 2) Sistem Cardiovaskuler Selama masa kehamilan dan persalinan sistem cardiovaskuler banyak mengalami perubahan antara lain : a) Cardiak Output Penurunan cardiac output menyebabkan bradikardi (50-70x/menit) pada hari pertama setelah persalinan. Hal ini tidak ditemukan pada anesthesia spinal. Apabila peningkatan lebih dari 30 % dalam 6 jam pertama. dan saat pertama kali melakukan mobilisasi (ambulasi). Pada klien post partum dengan seksio sesarea kehilangan darah biasanya lebih banyak dibanding persalinan normal (600-800 cc). Bila terjadi penurunan secara drastic merupakan indikasi terjadinya perdarahan uteri. Jumlah darah yang hilang selam persalinan sekitar 400-500 ml. kelelahan. Sedangkan peningkatan respirasi mungkin terjadi sebagai respon klien terhadap adanya nyeri. Bila frekuensi denyut nadi cepat mengindikasikan adanya perdarahan. b) Volume dan Konsentrasi Darah Pada 72 jam pertama setelah persalinan banyak kehilangan plasma dari pada sel darah. Selama persalinan erithropoesis meningkat menyebabkan kadar hemoglobin menurun dan nilainya akan kembali stabil pada hari keempat post partum. Jumlah leukosit meningkat pada early post partum hingga nilainya mencapai 30.Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Penggunaan Sistem Respirasi obat-obat anesthesia umum selama proses pembedahan menyebabkan perubahan kecepatan frekuensi. Setelah operasi mungkin terjadi penumpukan secret pada jalan nafas yang menyebabkan perubahan pola nafas. maka hal ini mengindikasikan adanya infeksi. kecemasan. juga suara tambahan berupa rales. infeksi penyakit jantung.

uterus mengalami kontraksi dan retraksi ototnya akan menjadi keras sehingga dapat menutup/menjepit pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas inplantasi plasenta. Sebagai akibatnya klien akan mengalami gangguan pemenuhan asupan nutrisi serta gangguan eliminasi BAB. Keadaan payudara pada dua hari pertama post partum sama dengan keadaan dalam masa kehamilan. Proses involusi uterus terjadi secara progressive dan teratur yaitu 1-2 cm setiap hari dari 24 jam pertama post partum sampai akhir minggu pertama saat tinggi fundus sejajar dengan tulang pubis. maka estrogen dan progesterone berkurang.Pada klien dengan post partum seksio sesarea biasanya mengalami penurunan tonus otot dan motilitas traktus gastrointestinal dalam beberapa waktu. sehingga mampu memproduksi ASI dan merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik. prolaktin akan meningkat dalam darah yang merangsang sel-sel acini untuk memproduksi ASI. Secara spontan mungkin terhambat hingga 2-3 hari. Pada hari ketiga dan keempat buah dada membesar. Laktasi merupakan suatu masa dimana terjadi perubahan pada payudara ibu. Sehingga berpengaruh pada pengosongan usus. saraf dan berbagai macam hormon sehingga ASI dapat keluar. keras dan nyeri ditandai dengan sekresi air susu sehingga akan terjadi proses laktasi. Klien dengan spinal anesthesia tidak perlu puasa sebelumnya. Selain itu klien akan merasa pahit pada mulut karena dipuasakan atau merasa mual karena pengaruh anesthesia umum. Pada . b) Involusi Uterus Segera setelah plasenta lahir. serta mobilitas klien. Pada minggu keenam uterus kembali normal seperti keadaan sebelum hamil kurang lebih 50-60 gram. Pemulihan kontraksi dan motilitas otot tergantung atau dipengaruhi oleh penggunaan analgetik dan anesthesia yang digunakan. 4) a) Sistem Reproduksi Payudara Setelah persalinan behubung lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum.

Perineum pada serviks dan vagina kecuali bila Pada persalinan dengan seksio sesarea tidak terdapat sebelumnya dilakukan partus percobaan serviks akan mengalami peregangan dan kembali normal sama seperti post partum normal. sel-sel . c) berdiferensiasi menjadi Endometrium menjadi dan 2 lapisan. Rasa tidak nyaman karena kontraksi uterus bertambah dengan rasa nyeri akibat luka sayat pada uterus terjadi setelah klien sadar dari narkose dari 24 jam post operasi.seksio sesarea fundus uterus dapat diraba pada pinggir perut. Pada klien dengan seksio sesarea keadaan perineum utuh tanpa luka. Vagina. Lochea merupakan pembersihan uterus setelah melahirkan yang secara mikroskopik terdiri dari eritrosit. Dalam dua hari post partum desidua yang tertinggal dan nekrotik yang terkelupas kelenjar bersama tetap Sedangkan lapisan basah yang bersebelahan dengan miometrium Proses berisi utuh merupakan sumber pembentukan endometrium baru. Lochea dibagi berdasarkan warna dan kandungannya yaitu : (1) partum. d) peregangan Cerviks. e) Lochea Lochea adalah secret yang berasal dari dalam rahim terutama luka bekas inplantasi plasenta yang keluar melalui vagina. Warna Lochea Rubra Keluar pada hari pertama sampai hari ketiga post merah terdiri dari darah. kelupasan desidua. dan cepat. Vulva. lapisan superficial lochea. regenerasi endometrium berlangsung Seluruhnya endometrium pulih kembali dalam minggu kedua dan ketiga. sel-sel epitel dan bakteri yang dikeluarkan pada awal masa nifas.

tidak mengandung darah. 6) Sistem Perkemihan Pada klien seksio sesarea terutama pada kandung kemih dapat terjadi karena letak blass berdempetan dengan uterus. jumlahnya dan baunya. 5) Sistem Endokrin Kaji kelenjar tiroid. Dengan demikian kmungkinan dapat terjadi gangguan pola eliminasi BAK. pengeluaran lochea tertahan. sehingga pengosongan kandung kemih mutlak dilakukan dan biasanya dipasang folly kateter selama pembedahan sampai 2 hari post operasi. berisi sel leukosit. (2) sisa vernik caseosa. sisa mekonium dan sisa-sisa selaput ketuban.desidua. sel-sel epitel dan mukosa serviks. rambut lanugo. Perdarahan lochea menunjukan keadaan normal. 7) Sistem Persarafan Sistem persarafan pada klien post partum biasanya tidak mengalami gangguan kecuali ada komplikasi akibat dari pemberian anesthesia spinal atau penusukan pada anesthesi epidural dapat menimbulkan komplikasi penurunan sensasi pada ekstremitas bawah. Jika pengeluaran lochea berkepanjangan. Kaji warna urine yang keluar. aras nyeri yang berlebihan. post berlangsung partum. terdapat sisa plasenta yang merupakan sumber perdarahan dan terjadi infeksi intra uterin. serum. pembengkakan kelenjar getah bening dan kaji . Lochea Serosa Mengandung sel darah tua. sehingga klien perlu dilakukan bldder training. 195 : 288). adakah pembesaran pada kelenjar tiroid. leukosit dan sisajaringan dengan hari warna kuning kecoklatan. lochea yang prulenta (nanah). Dimulai pada hari ke-10 sampai minggu ke 2-6 post partum (Cuningham. Klien dengan spinal anesthesia perlu tidur flat selama 24 jam pertama. Kesadaran biasanya 8) Sistem Integumen keempat dan kesembilan .juga pengeluaran ASI dan kontraksi uterus. (3) Lochea Alba Berwarna putih kekuningan.

Beberapa adaptasi psikologis anatara lain : Adaptasi parental Proses menjadi orangtua terjadi sejak masa konsepsi. hal ini terjadi bila dilakukan regio anestesi dapat terjadi pula penurunan kekuatan otot yang disebabkan oleh peregangan otot. merupakan komponen pertama dari respon menjadi orangtua dalam perawatan bayi. Untuk menjadi orangtua diperlukan 1) . Pada dinding abdomen sering tampak lembek dan kendur dan terdapat luka/insisi bekas operasi. secara berangsur akan kembali pulih. sebagai akibat dari penurunan hormon progesterone yang mempengaruhi folikel rambut sehingga rambut tampak rontok. hal ini menyebabkan hilangnya kekenyalan otot pada masa post partum. Perasaan emosi yang tinggi menurun dengan cepat setelah kelahiran bayi. kadang ada yang hyperpigmentasi yang menetap. selain itu sensasi ekstremitas bawah dapat berkurang selama 24 jam pertama setelah persalinan. terutama menurunnya tonus otot dinding dan adanya diastasis rektus abdominalis. 9) Sistem Muskuloskletal Selama kehamilan otot abdomen teregang secara bertahap. pada klien post partum dengan seksio sesaria. b) Kemampuan kognitif dan afektif merupakan komponen psikologis dalam perawatan bayi. Perasaan karena ketergantungan penuh bayi pada orangtua. perlu mempersiapkan diri secara psikologis dalam menerima kehadiran anggota keluarga baru.Cloasma/hyperpigmentasi kehamilan sering hilang setelah persalinan akibat dari penurunan hormon progesterone dan melanotropin. Adaptasi psikologis orangtua Ketika kelahiran telah dekat. terjadi perubahan psikologis yang cukup kompleks. Pertumbuhan rambut yang berlebihan terlihat selama kehamilan seringkali menghilang setelah persalinan. Selama periode prenatal. d. klien mengalami kegembiraan dengan kelahiran bayi. Proses menjadi orangtua tidak mudah dan sering menimbulkan konflik dan krisis komunikasi komponen yaitu : a) kemampuan kognitif dan motorik. namun pada beberapa wanita ada yang tidak menghilang secara keseluruhan. Kondisi psikologis ibu dipengaruhi pula oleh respon anggota keluarga terhadap kelahiran bayi. sehingga seluruh keluarga. ibu merupakan bagian pertama yang memberikan lingkungan untuk berkembang dan tumbuh sebelum anak lahir.

bersikap pasif dan tergantungan secara emosional ibu berusaha untuk mengintegrasikan pengalaman persalinan dalam kehidupannya. c) Letting go (fase mampu sendiri) Fase maternal Tiga fase yang terjadi pada ibu post partum yang disebut “Rubin Maternal Fase ini antara dua sampai empat minggu setelah persalinan dimana ibu mulai menerima peran barunya yaitu sebagai ibu dari bayi yang baru lahir. kebapakan. identifikasi jenis kelamin. ayah danbayi disebut bounding attachment melalui touch/sentuhan. mulai mandiri dalam perawatan diri. dan pengalaman awal menjadi orangtua. ibu sangat antusias dalam merawat bayinya. partisipasi saat persalinan. ibu merasa lebih nyaman. Attachment adalah suatu perasaan ksih sayang yang meningkat satu sama lain setiap waktu dan bersifat unik dan memerlukan kesabaran ( Bobak. kontak mata. focus perhatian mulai beralih pada bayi. Kontak dini antara ibu. Ibu melepas bayangan persalinan dengan harapan yang tidak terpenuhi serta mapu menerima kenyataan. Hubungan antara ibu dengan bayinya harus dibina setiap saat untuk memperat rasa kekeluargaan. 3) meningkat) Bounding merupakan suatu hubungan yang berawal dari saling mengikat diantara orangtua termasuk orangtua dan anak. saat yang tepat untuk memberi informasi tentang perawatan bayi dan diri sendiri. tingkat kemampuan dalam penampilan dan latar belakang cultural Adaptasi sibling Bounding attachment (perasaan kasih sayang yang 4) 5) . dan aroma. 2000 : 746). b) Taking hold (fase transisi antara ketergantungan dan kemandirian) Terjadi antara ketiga sampai kesepuluh hari setelah persalinan dalam fasi ini secara bertahap tenaga ibu pulih kembali. terbuka pada pengajaran perawatan. ketika pertama kali bertemu. 2) Phases” yaitu : a) Taking in (periode ketergantungan) Fase ini terjadi antara satu sampai tiga hari setelah persalinan dimana ibu berfokus pada diri sendiri. struktur keluarga. Adaptasi ayah Kemampuan ayah dalam beradaptasi dengna kelahiran bayi dipengaruhi oleh keterlibatan ayah selama kehamilan.keibuan.

2. Kelainan tenaga atau kelainan his. Sedangkan persalinan per vaginam tidak mungkin dilakukan dengan aman. sehingga membawa dampak serius bagi ibu dan janin. misalnya mengedan dapat menjadi rintangan pada pada ibu anemia sehingga kurang kekuatan/tenaga ibu . Indikasi dilakukan seksio sesaria Tindakan seksio sesaria dilakukan bilamana diyakini bahwa penundaan perslinan yang lebih lama akan menimbulkan bahaya yang serius bagi ibu. b) sebagian Plasenta previa atau seluruhnya. 1995 : 511). Beberapa alasan/indikadi untuk dilakukan seksio sesaria yaitu : 1 ) Indikasi ibu a) Cepalo pelvic disproportion / disproporsi kepala panggul yaitu apabila bayi terlalu besar atau pintu atas panggul terlalu kecil sehingga tidak dapat melewati jalan lahir dengan aman. 1999 : 229) Seksio sesaria adalh pembedahan untuk melhirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Seksio sesaria adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin > 1000 gram atau umr kehamilan lebih dari 28 minggu. dapat jalan lahir akibatnya bayi tidak dapat dikeluarkan lewat vagina. Seksio Sesaria a. dapat disimpulkan bahwa “ Seksio sesaria adalah suatu cara persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi) yang masih utuh dengan berat janin > 1000 gram atau umr kehamilan lebih dari 28 minggu. janin atau keduanya. anak pertama le bih ingin mempertahankan dirinya lebih tinggi dari adik barunya.Biasanya kelahiran adik atau bayi dapat menjadi suatu perubahan pada sibling atau saudara. Pengertian Seksio sesaria adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi) (Cunningam. (Sarwono Prawiroharjo . (Ida Bagus Gde Manuaba. hal ini sangat berbahaya bagi ibu maupun janin. yaitu plasenta melekat sehingga ketika serviks pada ujung bawah uterus sehingga menutupi serviks membuka selama persalinan ibu dapat kehilangan banyak darah. c) menghalangi d) untuk Tumor pelvis (obstruksi jalan lahir). 1991 : 863) Pengertian yang dikemukakan para ahli tersebut diatas.

1998 :289)” misalnya ibu dengan riwayat mioma sehingga dilakukan miomektomi. Gawat janin. Janin besar yaitu bila berat badan bayi Kelainan gerak. sehingga sulit melahirkannya ideal persalinan pervaginam adalah dengan kepala ke . presentasi atau posisi lebih dari 4000 gram. miomektomi (Muhtar. Sekarang jarang dilakukan. janin kelelahan dan tidak ada Hidrocepalus dimana terjadi penimbunan kemajuan dalam persalinan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi lebih besar serta terjadi peleberan sutura-sutura dan ubun-ubun. 3) Pertimbangan lain yaitu ibu dengan resiko tinggi persalinan. 3) Seksio sesaria ekstra peritonealis : rongga peritoneum tidak dibuka. bawah/ sefalik c. f) Kegagalan persalinan: persalinan tidak maju dan tidak ada pembukaan. d. b. 2) Seksio sesaria transperitonealis profunda yaitu insisi pada segmen bawah uterus. e) sehingga persalinan mengalami hambatan/kemacetan. kepalka terlalu besar sehingga tidak dapat berakomodasi dengan jalan lahir. sebaiknya persalinan berikutnya dengan seksio sesaria untuk menghindari terjadinya ruptura uteri saat kontraksi uterus pada peresalinan spontan. Jenis-jenis operasi seksio sesaria 1) Seksio sesaria klasik atau korporal yaitu insisi memanjang pada segmen atas uterus. dulu dilakukan pada pasien dengan infeksi intra uterin yang berat. seringterjadi pada ibu primi tua atau jarak persalian yang lama(lebih dari delapan tahun) 2) Indikasi janin a.persalinan. Ruptura uteri imminent (mengancam) yaitu adanya ancaman akan terjadi ruptur uteri bila persalinan dilakukan dengan persalinan spontan. apabila telah mengalami seksio sesaria atau menjalani operasi kandungan sebelumnya “Ruptura uteri bisa terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi seperti seksio sesaria klasik. Teknik ini paling sering dilakukan. b. disebabkan serviks yang kaku.

2) Pada Bayi a) Hipoxia b) Depresi pernapsan c) Sindrom gawat pernapasan d) Trauma persalinan e. plasenta previa. sedang yaitu kenikan suhu lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung. c) Trauma kandung kemih akibat kandung kemih yang terpotong saat melakukan seksio sesaria. Observasi trias komplikasi meliputi : 1) Kesadaran penderita yaitu infeksi atau peradangan pada . infeksi intra uterin yang berat. e) Endometritis endometrium. d) Resiko ruptura uteri pada kehamilan berikutnya karena jika pernah mengalami pembedahan pada dinding rahim insisi yang dibuat menciptakan garis kelemahan yang sangat beresiko untuk ruptur pada persalinan berikutnya. b) Perdarah akibat atonia uteri atau banyak pembuluh darah yang terputus dan terluka pada saat operasi.4) Seksio sesaria histerektomy : setelah seksio sesaria dilakukan histerektomy dengan indikasi atonia uteri. Komplikasi yang sering muncul pada tindakan seksio sesaria Pada Ibu a) infeksi puerperalis/nifas bisa terjadi dari infeksi ringan yaitu kenaikan suhu beberapa hari saja. Perawatan setelah operasi Tindakan seksio sesaria tetap menghadapkan ibu pada trias komplikasi. Kontra indikasi 1) 2) 3) 1) Janin mati Syok. mioma uteri. sehingga memerlukan observasi dengan tujuan agar dapat mendeteksi kejadiannya lebih dini. berat yaitu dengan peritonitis dan ileus paralitik. c. akibat anemia berat yang belum diatasi Kelainan congenital berat d.

infeksi asenden karena manipulasi vagina sehingga pemberian antibiotika sangat penting untuk menghindari terjadinya sepsis sampai kematian. nadi. Pertimbangan pemberian antibiotika : bersifat provilaksis lochea.a) pada anestesi lumbal Kesadaran penderita baik oleh karenanya ibu dapat mengetahui hampir semua proses persalinan b) pada anestesi umum pulihnya kesadaran oleh ahli telah diatur. menandakan berfungsinya usus (dengan adanya flatus) perdarahan local pada luka operasi kontraksi rahim. . 2) Mengukur dan memeriksa tanda-tanda vital a) • • • b) • • edema paru • bising usus. pervaginam atonia uteri : evaluasi meningkatkan pengukuran : tensi. temperatur dan pernapasan keseimbangan cairan melalui produksi urine. dengan perhitungan : produksi urine normal 500-600 cc pernapasan 500-600 cc penguapan badan 900-1000 cc pemberian cairan pengganti sekitar 2000-2500 cc dengan perhitungan 20 tetes/menit (= 1 cc/menit) infus setelah operasi sekitar 2x24 jam Pemeriksaan paru-paru : bersihan jalan napas ronchi basal. dengan memberiokan o2 menjelang akhir operasi. untuk menutup pembuluh darah perdarahan pengeluaran 3) provilaksis antibiotika Infeksi selalu diperhitungkan dari adanya alat yang kurang steril. perdarahan berkepanjangan. untuk mengetahui adanya perdarahan.

Pada panggul picak turunnya belakang-kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala. sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintangan setelah sadar pasien boleh miring berikutnya duduk. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli.Kesempitan panggul dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) kesempitan pintu atas panggul a) Definisi Pintu atas panggul biasanya dianggap menyempit bila konjugata vera yang merupakan ukuran paling pendek panjangnya kurang dari 10 cm atau jika diameter transversa yang merupakan ukuran paling lebar panjangnya kurang dari 12 cm. a. dapat menimbulkan disposia pada persalinan. sehingga pulihnya fungsi alat vital dapat segera tercapai. a) mobilisasi fisik : ketiga b) mobilisasi usus setelah hari pertama dan keadaan baik penderita boleh minum diikuti makan bubur saring dan pada hari kedua ketiga makan bubur hari keempat kelima nasi biasa dan boleh pulang. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lamanya pendataran dan pembukaan servik. Kesempitan pada konjugata vera umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya).4) bersifat terapi karena sudah terjadi infeksi berpedoman pada hasil sensitivitas kualitas antibiotika yang akan diberikan cara pemberian antibiotika. bahkan jalan dengan infus infus dan kateter dibuka pada hari kedua atau . Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bawah kepala tertahan oleh pintu atas panggul. mak dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. mobilisasi penderita Konsep mobilisasi dini tetap memberikan landasan dasar. 3. Cepalo pelvic disproporsi (CPD) Setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul.

diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagian pintu bawah panggul. kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. 3) Kesempitan pintu bawah panggul Kesempitan kecil lagi. dalam hal ini asinklistismus anterior daripada posterior oleh karena pada mekanisme yang terakhir gerakan os parietal posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simpisis sedangkan pada asinklistismus anterior os parietal anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang. Terjadinya distosia pada kesmpitang panggul tengah juga tergantung pada ukuran serta bentuk pelvis bagian depan dan besar kepala janin disamping derajat kesempitang panggul tengah sendiri. Prognosis . yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri rountgenologi ialah distansia interspinarum. Pintu bawah panggul yang sempit tidak banyak mengakibatkan distosia karena kesempitannya sendiri mengingat keadaan ini sering disertai pula dengan kesempitang panggul tengah. Selanjutnya moulage kepala janin dapat dipengaruhi ileh jenis asinklistismus . Apabila ukuran ini kurang dari 9. Supaya kepala janin dapat lahir. Supaya kepala janin dapat lahir b. Kesempitan panggul tengah mungkin lebih sering dijumpai daripada kesempitan panggul atas dan sering menjadi penyebab kemacetan kepala janin dalam posisi melintang (transverse arrest) dan kesulitan dalam melakukan tindakan forsep tengah. Dengan diameter sagitalis posterior yang cukup panjang persalinan pervagianam dapat dilaksanakan walaupun dengan perlukaan luas. 2) Kesempitan panggul tengah Ukuran terpenting.5 cm perlu kita waspada terhadap kemungkinan kesulitan pada persalinan apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. pintu Pintu bawah bawah panggul panggul biasanya secara diartikan dapat sebagai keadaan dimana distansia tuberum 8 cm atau lebih kasar disamakan dengan dua buah segitiga dan distansia tuberum merupakan alas kedua segitiga tersebut.pada semua ukuran .

terjadi sobekan pada tentorium serebeli dan perdarahan intra kranial d. c. 2) Bahaya pada janin a.Apabila persalinan dengan CPD dibiarkan berlangsung sendiri tanpa pengambilan tindakan yang tepat bagi ibu dan janin. Dengan his yang kuat. 1) Bahaya pada Ibu a. Beberapa hari post partum akan terjadi fistula vesico servikalis atau fistula vesico vaginalis atau fistula recto vaginalis. sedang kemajuan janin dalam jalan lahit tertahan. Partus lama yang seringkali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil. akan tetapi apabila batasbatas tersebut dilampaui. Moulage dapat dialami oleh kepala janin tanpa akibat yang jelek sampai batas-batas tertentu. Hal ini menimbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya iskemik dan kemudian nekrosis pada tempat tersebut. b. bahkan dapat pula menimbulkan fraktur pada os parietal. dapat timbul regangan pada segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retaksi patologi. Prolapsus funikuli c. partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal apalagi jika ditambah dengan infeksi intra partum. jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul. KONTRASEPSI MANTAP (KONTAP) . b. Keadaan ini dinamakan ruptur uteri. dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis dan infeksi intra partum. akan timbul bahaya 4. selanjutnya tekanan oleh promotorium atau kadang-kadang oleh simpisis pada panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin. Dengan persalinan tidak maju karena CPD.

Cara Tubektomi Tubektomi dapat dibagi berdasarkan atas i. . Tubektomi pasca persalinan lewat 48 jam akan ipersulit oleh edema tuba. Apabila dilakukan 1-2 hari Saat operasi Cara mencapai tuba Cara penutupan tuba . Cara Mencapai Tuba Cara-cara yabg dilakukan di Indonesia saat ini adalah dengan laparatomi.tubektomi jugadilakukan bersamaan dengan seksio sesaria. Ada dua jenis kontrasepsi mantap : Vasektomi (MOP/ Medis operatif pria) Tubektomi (Medis Operatif Wanita) TUBEKTOMI Yaitu setiap tindakan pada kedua saluran trelur wanita yang memgakibatkan orang/pasangan yang bersangkutan tidak akan mendapat keturunan lagi. 2. . laparatomi mini dan laparoskopi. 1. Laparatomi Cara mencapai tuba melalui laparatomi biasa. infeksi. Tubektomi yang dapat dilakukan ialah mneurut cara Pomeroy dan Kroener. terutama pada masa pasca persalinan. Laparatomi mini laparatomi khusus untuk tubektomi ini paling mudah dilakukan 12 hari pascapersalinan. Saat Operasi Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran. .Sterilisasi dengan cara pembedahan pada salah satu atau kedua parter seks merupakan bentuk kontrasepsi yang paling popular di antara pasangan dalam usia reproduktif. dan kegagalan. iii. atau selambat-lambatnya dalam 48 jam setelah bersalin. Dianjurkan agar tubektomi pasca persalinan sebaiknya dilakukan dalam 24 jam. pasca persalinan. atau masa interval. dimana kehamilan selanjutnya tidak diinginkan lagi. ii.

Komplikasi lain berupa emfisema subkutan dan ferporasi uterus oleh kanula Rubin. Perawatan pasca nifas Setelah sterlisasi yang dilakukan dalam masa nifas. 2) umur istri antara 30-35tahun dengan 2 anak atau lebih. klip filshie.komplikasi yang dapat terjadi pada tubektomi laparoskopi ialah perdarahan mesosalping atau perlukaan. pemasangan Indikasi Tubektomi Konferensi khusus Perkumpulan untuk sterlisasi sukarela Indonesia (1976) menganjurkan agar tubektomi dilakukan pada umur antara 25-40 tahun dengan jumlah anak sebagai berikut : 1) umur istri antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih. perawatannya tidak lebihlama daripada persalinan biasa. dalam waktu 8 jam.umur suami sekurangkurangnya 30 tahun.yang diantara para wanita multipara kadang-kadang bertambah dengan timbulnya nyeri uterus setelah melahirkan. kebanyakan wanita yang menjalani operasi ini diperbolehkan cincin Falope. Cara Penutupan Tuba Cara tubektomi yang dapat dilakukan ialah cara Pomeroy. dan elektrokoagulasi disertai pemutusan tuba. Irving. . Kroener. analgesia harus diberikan untuk mengatasi rasa sakit pada abdomen. kecuali apabila jumlah anaknya telah melebihi jumlah yang diinginkan oleh pasangan itu. Pada masa interval atau pasca keguguran perawatan cukup dilakukan selama6 jam pasca bedah. Laparoskopi laparoskop dimasukkan ke dalam selubung dan alat panggul diperiksa. Perlukaan pada pembuluh darah daerah abdominal dapat pula terjadi. Perkumpulan kontasepsi mantap Indonesi (PKMI) menganjurkan 3 syarat untuk menjadi akseptor kontap yaitu syarat sukarela. 3. Tuba dicari dengan bantuan manipulasi kanul rubin. lalu sterlisasi dilakukan dengan menggunakan cicin falope yang dipasang pada pars ampularis tuba.pasca persalinan. bahagia. cara sehat. dan 3) umur istri antara 3540 tahun dengan 1 anak atau lebih.

dan kehamilan berikutnya. emboli pulmoner yang kadang-kadang dijumpai dan kegagalan untuk menghasilkan kemandulan tanpa didasari. Makan makanan yang biasa dan meneteki bayinya. untuk mengatasi. baik yang ada dalam uterus maupun ekstrauteri. alat-alat mekanis yang dipasang mengalami kegagalan kalau alat tersebut cacat atau ditempatkan secara tidak tepat. koagulasi pada struktur yang penting. (Effedi. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah klien. . Kegagalan metode reseksi paling sering diikuti oleh pembentukan fistula atau reanastomosis yang spontan. sementara kegagalan yang terjadi setelah tindakan elektrokoagulasi unipolar disebabkan oleh pembentukan fistula.untuk berjalan (ambulasi). terhadap masalah yang diatasinya.1995: 3). membuat perencanaan. kerusakan jaringan terlihat nyata tetapi tidak lengkap pada kegagalan yang terjadi setelah tindakan elektrokoagulasi bipolar. sehingga bisa mengakibatkan kehamilan ektopik yang ditangani secara keliru. serta pelaksanaan dan evaluasi keberhasilan secara efektif. Komplikasi pada sterilisasi tuba Problem utama yang menyertai steriklisasi tuba adalah komplikasi estetika. Nasrul.Sodersrom meninjau secara rinci sebab-sebab kegagalan tersebut B. 2. dapat terjadi akibat kegagalan metode itu sendiri atau yaitu : 1. Kegagalan Sterilisasi Tuba Tidak ada diantara metode-metode yang telah disebut di atas dapat dilakukan tanpa kegagalan. akibat pelaksanaan operasi sterlisasi yang tidak baik. 3.

)2 )a Identitas penanggung jawab terdiri dari : umur. diagnosa medis. Proses keperawatan terdiri dari empat tahap yaitu : Pengkajian. Biasanya klien akan mengeluh nyeri pada daerah luka operasi. status marital. pendidikan. Biasanya nyeri akan bertambah bila bergerak/mengubah posisi. b) nama. agama. sosial dan lingkungan (Effendy. hubungan dengan klien. agar dapat mengidentifikasi. pekerjaan. nyeri berkurang jika klien diam atau istirahat. mental. alamat. Perecanaan. nyeri dirasakan seperti diirisiris/disayat-sayat. suku/bangsa. . pendidikan terakhir. kelompok dan masyarakat terhadap perubahan kesehatan baik actual maupun potesial. suku/bangsa. umur. nyeri akan megganggu aktivitas . dimana masing-masing tahap saling berkaitan dan berkesinambungan satu sama lain.a Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan awal dari pengkajian untuk mengumpulkan informasi tentang klien yang akan dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah serta kebutuhan kesehatan klien sehari-hari meliputi : )1 Identitas a) Identitas klien terdiri dari : nama. pekerjaan. mengenali masalah-masalah. agama. golongan darah.Proses keperawatan pada dasarnya adalah metode pelaksanaan asuhan keperawatan yang sistematis yang berfokus pada respon manusia secara individu. Status Kesehatan Keluhan Utama Merupakan keluhan yang dirasakan klien pada saat dikaji. Pengkajian Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien. kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien. )b Riwayat Kesehatan Sekarang Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang dirasakan klien. baik fisik. 1995 : 18). Implementasi dan Evaluasi. 4. alamat.

)c Riwayat Kesehatan Yang Lalu Yang perlu dikaji riwayat kesehatan dahulu pada klien post seksio sesarea. control teratur. ()b Riwayat perkawinan Riwayat perkawinan (suami dan istri) meliputi usia perkawinan. tanpa penyulit.terutma pada hari pertama post operasi. persalinan. ()2 ()a Riwayat obstetri Riwayat kehamilan. rencana KB setelah melahirkan. ()c Riwayat keluarga berencana Apakah klien sudah pernah menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya. penyakit system pernafasan. )e ()1 ()a Riwayat Obstetri dan Ginekologi Riwayat ginekologi Riwayat menstruasi Melalui siklus haid. umur kehamilan. )d Riwayat Kesehatan Keluarga Dikaji dalam keluarga apakah keluarga mempunyai penyakit keturunan seperti diabetes mellitus. diabetes mellitus. sifat darah (warna. melahirkan dimana. apakah pernah mengalami operasi sebelumnya. berapa lama. hypertensi. pernikahan ke berapa. alergi obatobatan. umur klien saat menikah. ditolong oleh siapa. hypertensi. nifas yang lalu Perlu dikaji riwayat kehamilan. penyakit kelainan darah dan riwayat kelahiran kembar dan riwayat penyakit mental. jenis kontrasepsi. skala yer bervsariasi dari 2-4 (0-5). jantung. cair/gumpal). HPHT (Haid Pertama Haid Terakhir) dan taksiran persalinan. apakah kehamilan. lamanya. riwayat penyakit infeksi. dismenorhea. Dijabarkan dengan PQRST. jumlahnya. untk dapat hamil lagi klien post seksio sesarea minimal 3 tahun. bau. jenis . persalinan dan nifas yang lalu.

berat badan. Penyakit kandungan yang pernah dialami. BB biasanya mendekati BB sebelum hamil. masalah yang terjadi dan keadaan anak. panjang badan. muntah. apakah terjadi perdarahan. pernah dilakukan pemeriksaan panggul. ()2 Sistem Respirasi Respirasi kemungkinan meningkat sebagai respon tubuh terhadap nyeri. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan ibu Keadaan Umum Pada klien post operasi seksio sesarea hari kedua biasanya klien masih lemah. jenis operasi seksio sesarea. . berat anak waktu lahir. keadaan panggulnya. keluhan selama hamil terutama yang dirasakan pada trimester pertama biasanya akan mengalami morning sikness. Bagaimana involusi dan konsistensi uterus. ()c Riwayat persalinan sekarang )3 )a (1) Kaji pengetahuan klien tentang tindakan operasi yang dialaminya. Apakah bayi mengalami aspixia. nilai APGAR dalam satu menit pertama dan lima menit selanjutnya. Apakah ibu control secara teratur. apakah keadaan janin selama kehamilan tidak ada kelaian. tigkat kesadaran pada umumnya compos mentis. jumlahnya. lesu dan sering kencing. ()b Riwayat kehamilan sekarang Usia kehamilan. Pada trimester kedua mulai dirasakan gerakan janin. keadaan uterusnya sehingga klien harus menjalani operasi seksio sesarea. kelainan congenital. keadaan ibu saat setelah operasi. Kaji keadaan bayi saat partus.persalinan. perubahan pola nafas terjadi apabila terdapat penumpukan secret akibat anesthesi. jenis anesthesi. riwayat pemberian TT dan obat yang dikonsumsi setiap hari. Kaji jalannya operasi waktu dan lamanya operasi. tingkat emosi mulai stabil dimana ibu mulai masuk dalam fase taking hold. tanda-tanda vital biasanya sudah stabil.

()7 Sistem Reproduksi Kaji bagaimana keadaan payudara. kaji keadaan blass apakah ada distensi. pada hari pertama dan kedua keadaan mulut biasanya kering arena klien puasa pada klien dengan anesthesi umum. kecuali klien merasa tenggorokan terasa kering. apakah klien sudah BAB. putting susu menonjol. Berbeda pada klien dengan anesthesi spinal tidak perlu puasa. kaji ada tidaknya tanda-tanda humans positif dorso fleksi pada kaki. jumlah dan bau urine. kaji warna urine. ()5 Sistem Pencernaan Kaji keadaan mulut. kaji apakah ada peningkatan JVP.()3 Sistem Kardiovaskuler Klien biasanya mengeluh pusing. adakah hyperpigmentasi pada areola. apakah simetris. Bila terjadi peningkatan 30 mmHg systolic atau 15 mmHg diastolic kemungkinan terjadi pre eklampsia dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut. apakah ASI sudah keluar. ()4 Sistem Saraf Kaji fungsi persarafan. kesadaran terutama sensasi pada tungkai bawah pada klien dengan spinal anesthesi. kecuali terpasang kateter. apakah ada tanda distensi pada saluran cerna. kaji apakah konjungtiva anemis sebagi akibat kehilangan darah operasi. berapa kali frekuensinya. tekanan darah biasanya mengalami penurunan. . hangat dan sakit di sekitar betis perasaan tidak nyaman pada ekstremitas bawah. ()6 Sistem Urinaria Bagaimana pola berkemih klien. Pada tungkai bawah kaji adanya tanda-tanda tromboemboli periode post partum. atau flatus. Observasi nadi terhadap penurunan sehingga kurang dari 50x/menit kemungkinan ada shock hypovolemik. bagaimana pola BAK klien. seperti kemerah-merahan. kaji juga fungsi jantung. kaji bising usus. fungsi menelan baik.

()9 Sistem Muskuloskletal Bagaimana keadaan klien apakah lemah. Kaji pengetahua klien tentang cara membersihkannya. kaji keadaan luka operasi. berapa kali mengganti pembalut dalam sehari. karena sejak post operasi klien belum melakukan aktivitas seperti biasa. adakah pergerakan klien kaku. selama dirawat di rumah sakit. terutama karena klien dipuasakan pada saat operasi. ()10 Sistem Endokrin Kaji apakah ada pembesaran tyroid. bagaimana produksi ASI. Pergerakan sendisendi biasanya tidak ada keterbatasan. Biasanya lochea berwarna merah. Kaji apakah ada diastasis rektus abdominalis. )4 Pola Aktivitas Sehari-hari Pola aktivitas yang perlu dikaji adalah : sebelum hamil. tonus otot biasanya normal. Tinggi fundus uteri pada post partum seksio sesarea hari kedua adalah 1-2 jari dibawah umbilicus atau pertengahan antara sympisis dan umbilical. kaji kontraksi uterus. ()8 Sistem Integumen Kebersihan rambut biasanya kurang. Sehingga pada masa ini akan terjadi peningkatan produksi ASI dan akan terjadi pembengkakan payudara bila bay tidak segera diteteki. bau amis dan agak kental (lochea rubra). apakah ekstremitas simetris. Kaji pengeluaran lochea. tapi kekuatan masih lemah. kaji muka apakah ada hyperpigmentasi. . karena pada bagian tengah abdomen terdapat luka. luka balutan biasanya dibuka pada hari ke tiga. kloasma gravidarum. perasaan mulas adalah normal karena proses involusi. pada post partum akan terjadi penurunan hormone estrogen dan progesterone sehingga hormone prolaktin meningkatyang menyebabkan terjadinya produksi ASI dan hormone oksitosin yang merangsang pengeluaran ASI. jumlahnya. warna da baunya. balutan dan kebersihannya.Kaji tinggi fundus uteri pada pinggir abdomen. selama hamil. apakah klien mampu melakukan pergerakan ROM.

b) Persepsi diri Kaji tingkat kecemasan dan sumber yang menjadi pencetus kecemasan. warna. kaji pengetahuan klien tentang kondisi setelah melahirkan/setelah seksio sesarea. keramas dan gunting kuku. )5 a) Aspek Psikososial Pola pikir dan persepsi Yang perlu dikaji adalah hubungan ibu dan bayi. kaji rencana ibu setelah pulang dari rumah sakit untuk merawat bayi dan siapa yang membantunya dalam merawat bayi di rumah. gosok gigi. bagaimana nafsu makan klien. Kaji frekuensi BAK. Dan hal apa yang perlu dilakukan setelah operasi seksio sesarea. e) Ketergantungan fisik Apakah klien suka merokok. b) Eliminasi Kaji frekuensi BAB. minum-minuman keras. jenis makanan yang disukai dan tidak disukai. c) Konsep diri . bau dan kosistensi feses serta masalah yang dihadapi klien saat BAB. Pada klien dengan post partum seksio sesarea hari ke 1-2 masih memerlukan bantuan dalam personal hygiene. respon ibu mengenai kelahiran. warna. porsi makan (jumlah).a) Nutrisi Kaji frekuensi makan. bau dan jumlah urine. kaji pengetahuan klien tentang laktasi. perawatan payudara dan perawatan bayi. d) Personal hygiene Data yang perlu dikaji adalah mandi. serta kaji apakah klien mengkonsumsi obat-obatan terlarang. tapi sering mengalami masalah tidur karena perasaan yeri dan suasana rumah sakit. c) Pola tidur dan istirahat Klien post partum seksio sesarea membutuhkan waktu tidur yang cukup. apakah makanan pantangan atau alergi.

1995 : 24). apakah klien suka menjalankan ibadah selama sakit.Terdiri dari body image. kebiasaan bahasa dan adat yang dianut. hematokrit dan leukosit. peran diri. Biasanya dapat dilakukan setelah melewatiperiode nifas (40 hari). terutama setelah seksio sesarea. identitas diri. yang akan menurunkan tekanan pengisian sistemik rata-rata dan akan menurunkan aliaran balik vena. curah jantung turun dibawah normal dan volume darah berkurang untuk dipompakan ke seluruh tubuh sehingga mengakibatkan sirkulasi darah tidak memadai yang pada akhirnya terjadi hypovolemik. f) Sistem nilai dan kpercayaan Kaji sumber kekuatan klien. e) Kebiasaan seksual Kaji pengetahuan klien tentang seksual post partum. Adapun masalah-masalah yag ditemukan pada klien post seksio sesarea adalah : 1) Resiko perdarahan Adanya tindakan operasi megakibatkan terjadiya perdarahan. b. g) Pemeriksaan penunjang Klien post partum dengan seksio sesarea perlu pemeriksaan hemoglobin. . kepercayaan klien terhadap sumber kekuatan. h) Therapi Biasanya klien mendapatkan antibiotic. Sebagai akibat. kaji agama yang klien anut. Jadi analisa data adalah membuat kesimpulan dari data-data yang terkumpul. Analisa Data Analisa data adalah kemampuan menigkatkan data dengan menghubungkan data tersebut dengan data dari konsep teori serta prinsip yang relevan untuk mebuat kesimpulan dan menentukan masalah kesehatan dan rencana keperawatan pasien (Effendi. harga diri dan ideal diri klien setelah menjalani seksio sesarea. analgetik dan vitamin. d) Hubungan komunikasi Kesesuaian antara yang diucapakan dengan ekspresi.

. sehingga urine tidak dapat keluar dan tertahan di dalam blass yang mengakibatkan blass tegang (distensi). 4) Resiko terjadinya infeksi Gangguan rasa nyaman nyeri pada Dengan adanya luka sayatan pada daerah abdomen merupakan media yang baik untuk invasi mikroorganisme pada daerah luka operasi sehingga resiko untuk terjadinya infeks 5) Resiko gangguan elimiasi : BAK Klien post operasi dilakukan pemasangan kateter. 3) daerah operasi Karena adanya tindakan seksio sesarea menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan sehingga merangsang pengeluaran zat proteolitik : serotonin dan bradikinin kemudian impuls nyeri dihantarkan melalui medulla spinalis ke ganglia radiks posterior (subtansia gelatinosa sebagai reseptor nyeri) diteruskan ke thalamus melalui conue posterior traktus lateral spinothalamikus dan diinterpretasikan oleh kortex. Rangsangan hisapan bay sangat mempengaruhi laktasi. sehingga nyeri dipersepsikan sebagai akibatnya terjadi gangguan rasa nyaman : nyeri. Tidak adanya hisapan bay mengakibatkan tidak ada rangsangan pada hypothalamus sehingga oksitosi tidak terangsag untuk dikeluarkan dan tidak dapat mengalir tetapi membendung dalam duktus laktoferus yang menyebabkan terhambatnya sirkulasi dalam vena dan limfe sehingga proses laktasi terganggu. apabila posisi kateter tidak tepat mengakibatkan pengeluaran urine tidak lancer bahkan tersumbat. 6) Resiko/actual gangguan proses laktasi Klien post seksio sesarea diraat terpisah dengan bayinya utuk sementara.2) Resiko tidak efektifnya jalan nafas Klien yang dioperasi dengan pemberian anesthesia umumpada saat operasi dilakukan pemasangan alat dan obat-obatan yang merangsang mukosa yang mengakibatkan pengeluaran secret dalam jalan nafas yang akan menghalangi jalan nafas sedang pada klien dengan spinal aesthesi hal ini tidak terjsadi.

4. 2001 :381-413). cystitis.7) Resiko gangguan involusi uterus Proses involusi totalnya terjadi dalam 6 minggu yang dimulai segera setelah melahirkan dengan didahului oleh kontraksi uterus yang kuat. diet asupan cairan. terpasang dower kateter. 7. imobilisasi. . nefritis berhubungan dengan luka yang basah. 6. kecapaian otot myometrium akibat persalinan lama. pengaruh oksitosin. endometritis. 2. keterlambatan involusi uterus. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (actual) dan kemungkinan akan terjadi (resiko) dimana pemecahannya dalam batas wewenang perawat. Resiko infeksi : peritonitis. Resiko : syock hypovolemik berhubungan dengan perdarahan akibat tindakan operasi seksio sesarea. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan luka insisi. 5. Pada keadaan subinvolusi yaitu factor yang menyebabkannya antara lain karena ketinggalan sisa-sisa plasenta dalam uterus dan endometritis. distensi abdomen. rupture me. Tidak efektif pola nafas berhubungan dengan pengaruh anesthesi.bran lebih dari 6 jam sebelum seksio sesarea. 3. Resiko tromboemboli berhubungan dengan imobilisasi. imobilisasi. penekanan usus akibat penumpukan gas. sehingga akan menghambat kotraksi uterus yang mengakibatkan gangguan involusi. infeksi paru. haemokonsentrasi akibat kehilangan plasma darah dan peningkatan bekuan darah. Gangguan eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan gerakan usus akibat anesthesia. 2. distensi kandung kemih. Diagnosa keperawatan yag mungkin muncul pada klien seksio sesarea antara 1 jam sampai 5 hari post operasi adalahj sebagai berikut : (Dongoes. 1. Gangguan pemasukan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia. after pains.

Aktivitas intoleran berhubungan dengan efek anesthesia.8. Dengan demikian rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien sesuai dengan kebutuhan berdasarkan diagnosa keperawatan. nafas berhubungan dengan imobilisasi. suara paru vesikuler. pola nafas tidak terganggu. Intervensi Rencana keperawatan merupakan mata rantai penetapan kebutuhan pasien dan pelaksanaan tindakan keperawatan. Rasional Ka Tidak efektifnya pola pengaruh anesthesia. infeksi paru. terpasang infus. Tujuan : Dalam waktu 24 jam pertama post operasi. 10. 1994 : 417). seksual post seksio sesarea. Actual atau potensial gangguan hubungan orang tua anak berhubungan dengan persepsi diri yang negative terhadap kelahiran seksio sesarea. retensi urine. Intervensi - T . gambaran diri rendah berhubungan dengan perasaan tidak adekuat karena melahirkan seksio sesarea. a. 9. Gangguan konsep diri : harga diri rendah. peralihan sebagai orang tua. ambulasi dini berhubungan dengan kurang informasi pada nulipara/primipara. 13. Kurang pengetahuan tentang cara perawatan diri dan bayi : perubahan post seksio sesarea. 3. rencana asuhan keperawatan pada klien post partum dengan seksio sesarea menurut (Dongoes. 11. Criteria Evaluasi : Respirasi rate normal (18-24x/menit). tidak bisa melahirkan pervaginam dan tindakan seksio sesarea. Cemas berhubungan dengan kurang informasi tentang status kesehatan bayi. 12. laktasi. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan terpasangnya kateter.

jurkan nafas dan batuk An efektif setiap 2 sampai 4 jam sekali sambil menekan luka insisi dengan tangan atau bantal. - achikardi dan peningkatan respirasi menandakan hypoksia. dispnea. . sputum mukopurulen. Adanya retraksi otot pernafasan yang berlebih. Tiadaka ada suara menandakan ateleksitasis atau pneumonia. catat adanya rales. Menekan luka insisi supaya tidak Be rikan pasien posisi semi fowler (3045º c) stelah anesthesia hilang. untuk sesuai An meningkatkan dengan berkurang shingga aspirasi dapat meningkatkan pernafasan. ales dalam paru menandakan 24 jam pertama R secret post bertumpuk dan biasanya terjadi seksio sesarea. Ka ji ulang suara nafas tiap 4 jam sekali. serta retraksi interkostalis atau adakah pernafasan cuping hidung. nyeri dada. terjadi regangan luka. N afas dalam dapat meningkatkan volume paru dan batuk efektif dapat mengeluarkan secret dari bronchus atau jalan nafas. ntuk meningkatkan U diameter rikan pasien minum air Be hangat setelah 6 jam post operasi (setelah klien boleh minum) sedikt demi sedikit atau bertahap. dada dan mengurangi penekanan diafragma oleh perut. Ai r hangat dapat mengencerkan secret.ji ulang denyut nadi and frkuensi nafas setiap 4 jam sekali dan bila sudah satbil atau kondisi membaik setiap 8 jam sekali. Setelah 6 jam reaksi atau pengaruh dicegah. ktivitas kebutuhan dapat oksigen A meningkatkan dan obat anesthesia jurkan aktivitas kemampuan.

Hematokrit dalam batas normal (tidak kurang dari 33%). konsentrasi dan kandungannya. catat jam dan tanggal bila perdarahan banyak. diastole tidak kurang dari 60 atau 70 mmHg ).. serta keadaan konjungtiva dan CRT. shock. Keadaan konjungtiva dan CRT menunjukan efektif atau tidaknya • Kaji luka dari perdarahan. • Observasi ulang tanda-tanda vital dan keadaan kulit setiap 4 jam sekali. • Catat jenis dan jumlah lochea yang aliran darah pada perifer. • . • Luka yang berdarah menandakan adanya komplikasi. Haemoglobin normal 12-16 gr/dl. • Kaji riwayat sebelumnya tentang kelelahan klasik. bila stabil setiap 8 jam sekali. myometrium. insisi Rasional • Bila kemih • Incisi klasik biasanya kehilangan darah lebih luas dan lebih besar.b Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan akibat tindakan operasi seksio sesaria Tujuan : Dalam waktu 48 jam syok hipovolemik tidak terjadi Kriteria Evaluasi : Tanda – tanda vital normal ( tensi : Systol tidak kurang dari 100 mmHg. tachichardi atau dehidrasi dalam urine ada darah atau menunjukan saat trauma bedah kandung pemasangan kateter. catat warna urine. Intervensi • Monitor intake output. kulit dingin menandakan hilangnya volume darah 30-50%. • Peningkatan hipotensi menandakan tekanan dan darah menunjukan adanya hipertensi.

d Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan luka insisi. • Anjurkan klien latihan lutut dan kaki dan ambulasi dini. Klien melakukan mobilisasi Intervensi • Kaji ulang ekstremitas bawah dari tanda-tanda thromboemboli yaitu terasa hangat dan merah.keluar. panas. Hemokonsentrasi. . Rasional • Thromboemboli kehilangan immobilisasi • Untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah statis pada ekstremitas menghindarkan bawah untuk resiko plasma terjadi darah bila yang banyak pengaruh anesthesia atau thromboemboli. rasa nyeri berkurang atau hilang Kriteria evaluasi : . plasma darah dari peningkatan darah. distensi kandung kemih. Kontraksi keluar uterus normal yang bebas keras dari berada menandakan perdarahan. bengkak. Tujuan : Dalam waktu 2 hari tidak terjadi thromboemboli Kriteria Evaluasi : Tidak terdapat tanda-tanda kemerahan.c Resiko Thromboemboli berhubungan akibat dengan kehilangan fundus dibawah umbilicus dan kontraksi immobilisasi. Lochea gumpalan. Tujuan : Dalam waktu 3 hari. distensi abdomen. teratur. . after pains.

sehingga persepsi nyeri berkurang/hilang . kegiatan tidak terganggu dengan rasa nyeri. paling baik untuk periode pendek. • Anjurkan menggunakan teknik relaksasi dan nafas dalam serta teknik distraksi (untuk nyeri ringan dan sedang). stimulus mengubah mengganggu intensitas nyeri. tidak meringis.e Resiko Infeksi : Peritonitis. . • Berikan obat analgetik sesuai order intensitas nyeri. infeksi tidak terjadi Kriteria evaluasi : Tanda-tanda vital dalam batas normal (nadi 60-80 x/menit. Insisi kering. Cytitis. respirasi 18-24 x/menit). keterlambatan involusi uterus. berhubungan dengan luka yang basah. tetapi • Anjurkan posisi tidur miring. nadi dan pernafasan setiap 4 jam. rupture membrane lebih dari 6 jam sebelum seksio sesaria Tujuan : Dalam 3 hari post operasi. lochea tidak berbau busuk. • Mempermudah pengeluaran gas • Analgetik bersifat menghambat reseptor nyeri. • klien untuk Relaksasi dan nafas dalam dapat mengurangi ketegangan otot dan menghambat rangsang nyeri serta menambah Distraksi nyeri pemasukan tidak oksigen. Rasional • skala nyeri dan Untuk mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. uterus tidak lembek. pantua tekanan darah.Intervensi • Tentukan Tanda-tanda vital normal (nadi 60-80 x/menit. suhu tidak lebih dari 38 0C). Nefritis.

. vitamin C dan zat besi. rubor dan function laesa. untuk pemeriksaan Rasional • Akan meminimalkan dan mencegah kontaminasi dan atau masuknya mikroorganisme. • Antibiotik bersifat bakterisida dan adanya • Protein dan viatamin C dibutuhkan untuk pertumbuhan jaringan dan zat besi untuk pembentukan hemoglobin. Intervensi • Berikan dan jaga keseimbangan cairan dan elektrolit dengan pemberian infuse • Buatkan makanan sedcara Rasional • Untuk nutrisi memenuhi bila lewat kebutuhan oral belum memungkinkan atau bising usus sangat lemah. • Observasi adanya tanda-tanda infeksi pada daerah luka : dolor. • Anjurkan untuk makan makanan tinggi protein. Tujuan : Dalam Waktu 3 Hari nutrisi terpenuhi Kriteria Evaluasi : Nafsu makan bertambah dan asupan nutrisi adequate. • Berikan antibiotic sesuai order dan kolaborasi leukosit. • Akan lebih memudahkan dini dan intervensi intervensi selanjutnya. leukositosis merupakan salah satu tanda infeksi.Intervensi • Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic dan anti septic. • Bising usus normal antara 6-12 . kalor.f Gangguan pemasukan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat.

Tujuan : .bertahap dari cair . diet asupan cairan. Tujuan : Dalam waktu 3 hari tidak terjadi konstipasi Kriteria Evaluasi : Bising usus normal (6-12 x/menit). . Bila normal tiap 8 jam sekali. sehingga intake adequate. .g Gangguan eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan gerak usus akibat anesthesia. • Anjurkan makanan tinggi serat. dicerna. • Bising usus • Untuk merangsang bising usus • Untuk merangsang mengencerkan usus dan kolon yang dan lemah cairan meningkatkan absorpsi cairan di menghindari faeces yang keras. Rasional • Bising usus menurun pada hari ke 1 post operasi. lunak dan makanan bila bising usus sudah normal • Anjurkan tapi sering. makan sedikit-sedikit x/menit. • Lakukan enema bila tidak dapat BAB. retensi urine. klien dapat BAB pada hari ke 3 post partum. Intervensi • Auskultasi ulang bising usus pada 4 area selama 1 menit setiap 4 jam sekali. Immobilisasi. Faeces.h Gangguan pola eliminasi urine berhubungan dengan terpasang kateter. membaik pada hari ke 2 dan aktif pada hari ke 3. • Berikan Hidrasi (minum) setelah bising usus terdengar. • Untuk makanan baru dapat menghindari mual. penekanan usus akibat penumpukan gas.

sehingga tidak tumbuh bakteri • Klien biasanya bisa buang air kecil setelah duduik 6-8 jam kateter. • Angkat kateter sesuai ketentuan biasanya 6-12 jam post operasi . • Ajarkan seperti teknik siram merangsang kandung kencing setelah diangkat kateter daerah kemih dengan air dan anjurkal klien duduk. anjurkan Rasional • Untuk menghindari komplikasi setelah bedah seperti dekubitus .i Aktifitas intoleran perineum dan kateter secara rutin dan teratur. Kriteria Evaluasi : KLien dapat Buang air kecil setelah diangkat kateter dan terhindar dari infeksi system urine. Rasional • Mencegah agar tidak mendukung pertumbuhan bakteri. berhubungan dengan efek anesthesia. Kriteria Evaluasi : Klien dapat melakukan personal Hygiene (ADL) Intervensi • Rubah posisi klien setiap 1 jam sampai 2 jam sekali.Dalam waktu 2 hari pola eliminasi urine tidak terganggu. • Untuk mencegah refluk. setelah Posisi rasa pengangkatan dapatmenimbulkan penuh sehingga klien terangsang untuk kencing. terpasang infuse. Intervensi • Rawat • Tempatkan kantung kencing bila dipasang kateter lebih rendah dari pasien. Tujuan : Dalam waktu 3 hari aktivitas tidak terganggu. • Untuk menghindari pertumbuhan bakteri.

• Berikan informasi perawatan bayi seperti tali pusat dan memandikan • Berikan • Beri penjelasan dan ajarkan penjelasan kembali tentang seksio sesaria informasi perawatan tentang luka.nafas dalam dan latihan kaki • Bantu dan ajarkan klien dalam memenuhi ADL • Kaji tipe anestesi jika epidural anestesi anjurkan klien tidur 6-8 jam tanpa bantal dan tromboemboli. Intervensi • Berikan vulva. laktasi. dan • Untuk meningkatkan keterlibatan klien dengan bayi • Membantu sesaria • Meningkatkan minat untuk klien mempunyai pandangan positif tentang seksio perawatan diri seperti perawatan kebersihan diri. Criteria evaluasi: Klien mengetahui dan mendemontrasikan tentang perawatan diri dan bayi. • Meningkatkan kemandirian klien dan memenuhi kebutuhan klien • Untuk mencegah komplikasi dan perasaan nyeri . ambulasi dini berhubungan dengan kurang informasi nulipara Tujuan : Setelah dilakukan intervensi berupa penyuluhan dan demonstrasi (minimal 3 kali pertemuan) pengetahuan klien bertambah tentang perawatan diri dan bayi.j Kurang pengetahuan tentang cara perawatan diri dan bayi : perubahan post seksio sesaria. seksual post seksio. Rasional • Untuk mencegah terjadinya infeksi dan mempercepat kesembuhan .

peralihan sebagai orang tua Tujuan : Setelah diberi penjelasan (minimal dalam 2 kali pertemua) rasa cemas berkurang atau hilang. Intervensi • Anjurkan untuk mengungkapkan perasaanya • Berikan penjelasan tentang kondisi klien dan bayinya. • Anjurkan dan bantu koping untuk mengatasi masalah Rasional • Mendukung dan mendorong emosi klien • Memberikan keadaan baik • Membantu berkurang .l Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan perasaan tidak adekuat karena melahirkan melalui seksio sesaria Tujuan Setelah diberi penjelasan dan motivasi selama minimal 3 kali pertemuan harga diri klien tidak terganggu Criteria Evaluasi memfasilitasi peran sebagai ibu baru sehingga cemas perasaan tenang karena kondisinya dan bayi dalam sehingga merasa diperhatikan .tentang • laktasi/menyusui dan memberikan • laktasi dan perawatan payudara Beri penjelasan tentang hubungan seksual post partum dan mencegah gangguan laktasi Mencegah kehamilan terlalu cepat pemakaian alat kontrasepsi .k Cemas berhubungan dengan kurang informasi tentang status kesehatan bayi. Kriteria Evaluasi Klien dan keluarga mengungkapkan perasaannya dan mempunyai cara untuk mengatasinya.

Klien dapat mengungkapkan perasaan dan pandangan terhadap kelahiran.m Actual atau potensial gangguan hubungan orang tua dan anak berhubungan dengan persepsi diri yang negative terhadap kalahiran seksio sesaria Tujuan : Dalam waktu 24 jam tidak ada hubungan antara orang tua dan bayi Criteria Evaluasi : Klien ikut dalam perawatan bayi. Intervensi • Dengarkan klien dan pasangan saat • Dengarkan klien dan pasangan saat • Libatkan • orang tua dalam perawatan bayinya mengungkapkan perasaan negative tentang bayi dan dirinya • Orrsng tua akan menerima bayinya bila sudah siap mengungkapkan perasaan negative Rasional • Untuk bayinya • Untuk meningkatkan hubungan klien dan orang tua membantu memecahkan masalah hubungan orang tua dan respon keluarga dan tentang berikan sesaria Rasional • Seksio • Untuk meningkatkan harga diri klien dengan tidak beranggapan satu kali seksio tetap seksio sesaria dilakukan untuk menolong bayinya penjelasan tentang seksio sesaria . Intervensi • Kaji seksio • Berikan penjelasan setelah seksio pada kelahiran selanjutnya yaitu bisa lewat vagina jika tidak ada komplikasi .

. menerima proses . 6.o Involusi berlanjut secara normal.Hal ini dilakukan agar dapat diketahui bagaimana perkembangan klien tiap harinya. Implementasi Kegiatan pada tahap ini merupakan pelaksaan dari rencana yang telah ditetapkan. rencana maupun tindakan serta evaluasi yang harus dilakukan harus didokumentasikan. Dalam pelaksanaannya perawat menerapkan pengetahuan. perawatan payudara. perawatan tali pusat.q Ibu memahami perawatan luka insisi. . 5.n Ibu pulang dengan keadaan kondisi fisik dan emosi yang baik dengan tidak ada tanda-tanda infeksi. sikap dan keterampilan berdasarkan Ilmu-ilmu keperawatan dan ilmu yang terkait secara terintegrasi.p Bounding telah dilakukan dan dimulai antara ibu dan anak. . Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan untuk mengukur keberhasilan dari tujuan yang ingin dicapai selanjutnya dilakukan penilaian tiap hari melalui catatan perkembangan.Kaji ulang persiapan orang tua dalam persalinan 4. Evaluasi yang diharapkan pada pasien post SC adalah . Dokumentasi Setelah melakukan asuhan keperawatan setiap data.

N : 36 Tahun : Perempuan : SMA : Ibu Rumah Tangga : Islam : Sunda/Indonesia : Menikah : 26 Juli 2011 : 27 Julii 2011 : 00638655 : P3A0 post partum maturus dengan caesaria a. D : 38 Tahun : SMA : Kontraktor : Kelurahan Batukarut Kecamatan Banjaran . cephalopelvic disproportion : Kelurahan Batukarut Kecamatan Banjaran b.BAB III TINJAUAN KASUS A. Nama Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Agama Suku Bangsa Status Marital Tanggal Masuk Rumah sakit Tanggal Pengkajian No. 1. Identitas Penanggung Jawab Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. a.i. Medrec Diagnosa Medis sectio Alamat PENGKAJIAN Pengumpulan Data Identitas Klien : Ny.

Nyeri dirasakan hilang timbul (intermitten). dengan skala nyeri 3 (0-5). didalam keluarganya seperti tidak ada yang dan penyakit keturunan hipertensi merokok. klien mengeluh nyeri pada daerah luka post operasi sectio Caesaria. diabetes mellitus.Hubungan dengan Klien : Suami c. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan utama saat dikaji Nyeri pada daerah luka post operasi sectio caesaria hari ke-1 2) Riwayat penyakit sekarang Pada saat dikaji tanggal 27 Juli 2011. Nyeri dirasakan seperti diiris-iris (linu) dan hanya dirasakan di sekitar luka post operasi. Dan klien tidak memiliki kebiasaan minum alcohol dan obat terlarang 4) Riwayat Kesehatan Keluarga Menurut menderita klien. Klien tampak meringis. 3) Riwayat Kesehatan Dahulu • Pada tahun 1996 klien melahirkan anak pertama dan dilakukan opersi sectio Casaria atas indikasi cephalopelvic disproporsi • Pada tahun 2002 klien melahirkan anak kedua dan dilakukan operasi sectio Caesaria atas indikasi cephalopelvic disproporsi • Klien tidak memiliki alergi terhadap obat-obatan dan makanan. Nyeri bertambah pada saat klien bergerak dan nyeri berkurang jika klien istirahat. Selain itu dikeluarganya juga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC dan hepatitis 5) Riwayat Obstetri dan Ginekologi .

b) Riwayat Ginekologi  Riwayat menstruasi ℵ Menarchoe ℵ Siklus haid : 15 Tahun : 28 hari : 3 – 4 hari : 3 x ganti pembalut / hari Tempat Penolong RS. persalinan dan nifas yang lalu (P3A0) N o 1 2 3 Tahun 31 Mei 1996 23 April 2002 26 Jan 2011 Umur hamil 9 bulan 9 bulan 9 bulan Jenis Kelamin Perempua n Laki-laki Laki-laki Berat Badan 3. 4100 gr. 4000 gr.800 gr. Immanuel RS. Setelah itu klien dilakukan steril di Rumah Sakit Bersalin Astana Anyar tetapi 9 tahun kemudian klien hamil dan melahirkan .Advent Kompli kasi CPD CPD CPD Keadaa n anak saat ini Hidup Hidup Hidup ℵ Lama haid ℵ Banyaknya Riwayat Perkawinan ℵ Usia Pernikahan Istri : 23 tahun Suami : 25 tahun  ℵ Lama Pernikahan : 18 tahun ℵ Pernikahan yang pertama bagi keduanya  Riwayat keluarga berencana Setelah melahirkan anak pertama klien menggunakan KB pil selama 6 tahun.a) Riwayat Obstetri Riwayat kehamilan. Immanuel RS. dikarenakan klien lupa meminumnya maka klien hamil dan melahirkan anak yang kedua.

5) Sistem reproduksi (1) Payudara Bentuk simetris. terdapat hiperpigmentasi areola. CRT kembali kurang dari 3 detik. 2) Sistem kardiovaskuler Konjungtiva tampak pucat. urine out put ± 500 cc/hari.anak ke-3 (kelahiran sekarang). 4) Sistem Perkemihan Terpasang dower catheter. bising usus (-). pada perkusi terdengar suara resonan. d. pada daerah putting dan areola tampak kotor. putting susu tidak menonjol. Klien tidak mengetahui cara perawatan payudara. bentuk bibir simetris. Tekanan darah 120/80 mmHg. Nadi 84x/menit. tidak terdapat pernafasan cuping hidung. pada auskultasi terdengar bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler. respirasi 24x/menit. bentuk dada simetris. 3) Sistem gastrointestinal Mukosa bibir kering. suara paru terdengar vasikuler diseluruh area paru. mukosa hidung lembab. Warna urine kuning pekat. (2) Uterus . pada perkusi area lambung terdengar tympani. terdapat caries pada gigi geraham bawah kanan dan kiri. tidak ada peningkatan JVP. tidak menggunakan otot pernafasan tambahan. 1) Pemeriksaan Fisik Sistem pernafasan Bentuk hidung simetris. tidak ada pmbengkakan pada payudara. Reflek menelan (+). Kemudian klien dilakukan steril yang kedua kalinya di RS Advent.

(3) Vulva dan Perineum Daerah vulva tampak kotor.Pada palpasi fundus uteri teraba 1 jari dibawah pusat. 7) Sistem Persarafan Keadaan umum : klien tampak lemah Tingkat kesadaran :compos mentis. Fungsi mengunyah klien baik. Troklearis dan Klien dapat menggerakan bola mata ke segala arah dengan gerakan yang terkontrol. GCS 15 Fungsi Syaraf Kranial (1) Nervus I ( Olfaktorius ) Klien dapat membedakan bau minyak kayu putih dan kopi dengan mata tertutup. klien dapat merasakan pilinan kapas pada dahi. tidak terdapat oedem dan varices pada vulva. dagu dan kelopak mata. (4) Nervus V ( Trigeminus ) Mata klien berkedip ketika disentuh dengan pilinan kapas. VI ( Okulomotorius. tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid. (3) Nervus III. klien dapat tersenyum dengan memperlihatkan Abdusen) . IV. (2) Nervus II ( Optikus ) Klien dapat membaca papan nama perawat kurang lebih 30 cm tanpa menggunakan kaca mata. terdapat pengeluaran lochea rubra yang memenuhi seluruh bagian pembalut. (5) Nervus VII ( Fasialis ) Kilen mampu menggerakan lidahnya ke segala arah. uterus teraba keras seperti papan. tidak terjadi penyempitan lapang pandang. 6) Sistem Endokrin Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.

turgor kulit kembali dalam 3 detik. klien dapat membedakan rasa asin dan manis pada 2/3 anterior lidah. 9) Sistem Muskuloskeletal ℵ Eksremitas Atas Bentuk dan panjang simetris. reflek bicep ++/++. pada tangan kiri terpasang infus NaCl 0. reflek achiles ++/++. X ( Glasofaringeus dan Vagus) Tampak pergerakan uvula saat klien mengatakan “ah”. Pola aktivitas sehari. e.gigignya. klien dapat mengerakkan lidahnya ke segala arah. ℵ Ekstremitas bawah Bentuk dan panjang simetris. kekuatan otot 4/4.tidak terdapat oedem dan varices. reflek patella ++/++.hari Aktivitas Pola Nutrisi Sebelum hamil Selama nifas . belakang. pada daerah abdomen terdapat luka operasi section caesaria hari pertama dengan arah vertical dan balutan belum dibuka. 8) Sistem Integumen Kulit teraba lengket. (7) Nervus IX. depan dan memutar. kekuatan otot 5/5. babinski --/--. reflek tricep ++/++. suhu tubuh 37. (6) Nervus VIII ( Auditorius ) Klien mampu mendengarkan ucapan perawat dan mampu menjawab pertanyaan perawat dengan benar. (9) Nervus XII ( Hipoglosus ) Posisi lidah simetris. Klien dapat merasakan pahit pada 1/3 posterior lidah.9 % 20 gtt/menit. (8) Nervus XI ( Assesorius ) Klien dapat menggerakkan lehernya ke samping kiri dan kanan. homman sign -/.3 C. akral teraba hangat.

lauk makan Klien masih puasa nasi. Klien minum 7-8 cc/hari. tidak Minum ada makan habis 1 porsi. tidak ada keluhan saat Terpasang dower 2x/hari. Klien belum BAB gelas/hari. apapun dalam keluarga. Gosok gigi kuning jernih. catheter lembek. warna kuning pekat 6-7 jam/hari 1x/ hari di lap pada saat dikaji klien 2x/ hari menggunakan belum sikat gigi sabun mandi Keramas 2x/hari menggunakan Saat dikaji klien belum . setiap pantangan Klien masih puasa jenisnya buah-buahan. Urine output ± 500 cc saat dikaji. Istirahat tidur warna BAK Personal Hygiene Mandi 7-8 jam/hari.Makan Frekuensi 3x/hari. sayuran. kurang lebih 1400-1600 Eliminasi BAB air teh Jenisnya air putih dan BAK Frekuensi konsistensi warna kuning Frekuensi 4-5 x/ hari. pauk.

Dan klien ingin segera sembuh agar dapat merawat anakanaknya kembali. secara mandiri f. . istri dan seorang ibu dari ketiga anakanaknya. ℵ Peran diri Klien adalah seorang istri dan seorang ibu dari ketiga anaknya. Aspek Psikologis dan Spiritual 1) Pola pikir dan persepsi Klien mengatakan walaupun gagal dalam KB yang lalu (steril) dan sekarang melahirkan anak ke-3 tetapi klien tetap merasa bahagia sekali dengan kehadiran anak tersebut. sehingga anaknya sehat. ℵ Ideal Diri Klien mengatakan ingin segera sembuh agar dapat merawat dan membesarkan anak-anaknya. 2) Konsep Diri ℵ Body Image Klien menerima dengan keadaan tubuhnya saat ini. ℵ Harga diri Klien tidak merasa malu dengan keadaan dirinya sekarang. ℵ Identitas diri Klien merasa bahagia karena dirinya adalah seorang perempuan.pasta gigi Aktivitas gerak 1x/3 hari. menggunakan shampoo keramas Sebagian aktivitas klien dibantu oleh keluarga Klien dapat beraktivitas dan perawat.

Yang memegang peranan penting dalam keluarga adalah suami klien. klien sangat kooperatif dan mau diajak kerjasama dalam membantu melaksanakan tindakan keperawatan. bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa sunda.0 31 8600 Normal 12.ribu /mm3 Hasil 8.5 gr/dl .3 – 15. klien merasa bersyukur atas keselamatan diri dan anaknya. 4) Keadaan seksual Klien mengatakan tidak takut untuk melakukan hubungan seksual setelah persalinan sekarang 5) Hubungan sosial Hubungan klien dengan keluarga baik terbukti klien banyak dikunjungi saat jam besuk. serta yang mendorong dan memberi semangat bagi klien. Hubungan klien dengan perawat juga baik. 1) Data Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 26 Juli 2011 Jenis Pemeriksaan Hematologi Hemoglobin Tanggal 27 Juli 2011 Jenis Pemeriksaan Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Hasil 10.5 Normal 12. 6) Sistem Nilai dan Kepercayaan Klien beragama islam.3 – 15.3) Hubungan Komunikasi Klien berbicara dengan jelas dan dapat dimengerti. g.5 gr/dl 37-47 % 4-10.

00 2.C ↓ Merangsang ke subtansia gelatinosa/cornu dorsalis ↓ Traktus spirothalamus ↓ Thalamus ↓ Cortex cerebri ↓ Masalah 1.3 C mengeluh nyeri pada Gangguan rasa nyaman : nyeri . Ceftriaxon 2 x 1 gr (IV) jam 06. Data Senjang Analisa Data Kemungkinan penyebab dan dampak Post partum hari pertama dengan Klien luka post section section caesaria ↓ Terputusnya kontinuitas jaringan ↓ Mengeluarkan bradikinin. N O. serotinin.2) Transfusi 26Juli 2011 1 labu PRC 3) Terapi Infus NaCl 0.9 % 20 gtt/ menit.00 Alinamin. DS :  daerah operasi caesaria DO :  Klien meringis  Skala nyeri 3 (0-5)  Terdapat luka post operasi section caesaria dengan arah vertical pada daerah abdomen  TD = 120/80 mmHg N = 84x/menit R = 24x/menit S = 37.00 dan jam 18.F 1 x 1 amp (IV) jam 08. histamin prostaglandin tampak ↓ Merangsang reseptor nyeri di ujung saraf bebas/Delta A.

Nyeri dipersepsikan

2.

DS :  Klien mengatakan dibantu aktivitasnya dan perawat  Klien mengatakan hanya di lap 1 x/ hari dibantu oleh perawat DO :   Kulit teraba lengket Terpasang 0,9 % infus 20 dower

Post partum hari pertama dengan secsio caesaria ↓ Terdapat luka post operasi dan terpasang infuse dan dower cateter ↓ Keterbatasan dalam beraktivitas

Kurang terpenuhinya kebutuhan ADL

sebagian oleh keluarga

PH

mobilisasi

NaCl

gtt/menit  Terpasang Klien tidak dapat memenuhi kebutuhan ADLnya sendiri ↓ Kurang terpenuhinya lochea bagian ADL catheter   Vulva tampak kotor Terdapat

pengeluaran seluruh pembalut  3

rubra yang memenuhi

Klien belum turun Post partum hari pertama dengan sectio caesaria Resiko pengeluaran ASI tidak adekuat Bayi belum menetek ↓ Putting susu tidak menonjol

dari tempat tidur DS :  Klien mengatakan ASI belum keluar  Klien mengatakan tidak tahu cara perawatan payudara

DO :  Putting susu tampak tidak menonjol  Putting susu dan areola tampak kotor

Rangsangan terhadap payudara berkurang

Resiko pengeluaran ASI tidak adekuat

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS

1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d terputusnya
kontinuitas jaringan 2. Kurang terpenuhinya kebutuhan ADL b/d kelemahan fisik 3. Resiko pengeluaran asi tidak adekuat b/d putting susu tidak menonjol

C. PERENCANAAN N O 1 1

Diagnosa Keperawatan 2 Gangguan rasa nyaman : nyeri dengan kontinuitas ditandai dengan : DS :  klien mengeluh nyeri pada daerah luka post operasi SC.  Klien saat mengatakan klien bergerak nyeri bertambah pada dan nyeri berkurang jika klien istirahat. DO:  klien tampak berhubungan terputusnya jaringan

Tujuan 3 Tupan : Rasa nyaman klien terpenuhi : nyeri hilang Tupen : Setelah dilakukan selama dengan perawatan berkurang criteria :  klien mengatakan nyeri berkurang  skala  Tidak nyeri ada menjadi 1 (0-5) 2. Kaji klien. 1. Bina

Intervensi 4 hubungan saling 1.

Rasional 5 Dengan hubungan terbinanya percaya

percaya dengan klien

saling

dapat memudahkan dalam melakukan intervensi karakteristik nyeri 2. Dengan karakteristik menentukan 3. Observasi vital 4. Atur posisi yang nyaman bagi klien 4. tanda-tanda 3. selanjutnya. Untuk yang terjadi p Dengan posisi yang nyaman dapat mengurangi peregangan pada dinding perut sehingga rasa nyeri mengetahui sedini mungkin perubahan mengetahui nyeri dapat intervensi

3 hari rasa nyeri

Tempat bersih sensori. tenang dan mempengaruhi tidur rapih yang dapat yang dapat saraf auditorius dan tempat tidur dan menjaga sekitar tetap rangsang suasana 8. menghambat nyeri serta pemasukan oksigen. Ajarkan melakukan relaksasi klien napas untuk teknik dalam 5.  Skala nyeri 3 (0-5)  Terdapat luka post operasi dengan arah vertical di daerah abdomen  T : 120/80 mmHg  P : 84 x/menit  R : 24 x/menit  S : 37. bagi klien 7. Ajarkan melakukan distraksi mengajak berkomunikasi 7. tanda-tanda infeksi  TTV normal T mmHg P : 80x/menit R : 16-24 x/menit S : 36-37° C : 120/80 5. Membantu mengalihkan klien perhatian nyeri terhadapa dengan lebih menggunakan saraf pendengaran. 6.3 0C. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi mempengaruhi optikus . Ciptakan lingkungan yang nyaman dengan suasana tenang.meringis. berkurang dan rasa nafas nyaman terpenuhi Relaksasi dalam dapat ketegangan otot mengurangi dan rangsang menambah saat nyeri dirasakan. merapikan klien untuk teknik dengan klien 6.

meningkatkan dan semangat dibantu memenuhi . sehingga mengurangi nyeri. Kaji motivasi melakukan klien tingkat untuk aktifitas 1.analgetik 9. Kurang terpenuhinya kebutuhan ADL berhubungan dengan keterbatasan aktifitas gerak ditandai dengan : DS :  Klien aktivitasnya Tupan : Kebutuhan ADL klien terpenuhi Tupen : Setelah perawatan klien dilakukan selama 1 dapat 1. Berikan tentang penjelasan manfaat mengatakan hari. Dengan mengetahui tindakan diberikan 2. Keluarga membantu mengalihkan klien terhadap nyeri reseptor persepsi dapat dapat nyeri nyeri klien nyeri berkurang atau sebagai untuk perhatian orang terdekat klien dapat 2. Libatkan keluarga untuk melakukan teknik distraksi terhadap klien 8. 9. Anlgetik memblok sehingga hilang. Dapat keyakinan mangkaji kefektifan yang akan ketergantungan klien dan ketergantungan klien dapat sesuai kemampuan 2.

Bimbing melakukan klien untuk yaitu 3. Libatkan keluarga dalam memenuhi ADL klien 6.Klien melakukan mobilisasi bertahap secara dapat mobilisasi dini pada kllien sehingga klien termotivasi melakukan mobilisasi. Keluarga terdekat support adekuat 6.Vulva tampak bersih . Dapat meningkatkan sebagai dapat system orang menjadi yang usus NaCl gtt/menit  Terpasang catheter   Vulva tampak kotor Terdapat lochea bagian belum turun pengeluaran seluruh pembalut  Klien dari tempat tidur rubra yang memenuhi .Klien bersih dan tidak lengket . vulva hygiene 5.sebagian oleh keluarga kebutuhannya dengan dan perawat  Klien mengatakan hanya di lap 1 x/ hari dibantu oleh perawat DO :   Kulit teraba lengket Terpasang 0. Bantu dan fasilitasi klien untuk memenuhi 4. gosok gigi. otot dan diharapkan dapat 4. Memberikan rasa nyaman pada klien kebutuhan ADL :Personal hygiene : Mandi.9 % infus 20 dower criteria : . untuk 3. Untuk mencegah terjadinya tekanan trombosis mengurangi merangsang sendi dan serta ketegangan peristaltic mobilisasi secara bertahap miring kanan dan kiri. Rencanakan klien untuk aktivitas mandiri bersama memulai kebutuhan 5.

motivasi kemnadirian klien 7. Reinforcment positif dapat memacu semangat klien dalam beraktivitas positif bila klien mampu positif secara mandiri 3. Demonstrasikan baik dan benar 4. Teknik merupakan cara Hoffman untuk wawasan klien perawatan perawatan payudara perawatan payudara yang klien tentang perawatan Tupan : payudara mengeluarkan puting susu . Mengetahui evaluasi hasil penyuluhan kesehatan 5. Berikan melakukan reinforcement aktivitas dalam memulai aktivitas 7. Berikan kesehatan 3. Kaji dengan dengan : DS :  Klien mengatakan ASI belum keluar  Klien mengatakan tidak tahu cara perawatan payudara DO :  Putting susu tampak tidak menonjol  Putting susu dan areola tampak kotor putting susu tidak menonjol ditandai pengetahuan klien 1. 2. Metode demonstrasi akan lebih dipahami klien 4. Resiko pengeluaran Asi tidak adekuat berhubungan 1. Membuka tentang payudara 3. Mengetahui sejauh mana mengenai cara merawat payudara. Kaji ulang pengetahuan penyuluhan tentang teknik pengetahuan klien tentang cara perawatan payudara 2.

Redemonstrasikan klien.Proses laktasi lancar Tupen : Setelah dilakukan perawatan selama 2 hari klien mampu melakukan perawatan payudara dengan kriteria :  Putting susu menonjol. kemampuan merawat tentang Hoffman exercise 6.  Klien mengatakan ASInya keluar  Putting susu dan areola tampak bersih 5. perawatan payudara oleh . Ajarkan pada klien cara 6. Mengetahui klien dalam payudara.

3 0 DP 3 1 1. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Nama Tanggal 1 27 Juli 2011 Jam 2 07. ketika mencoba bergerak Mengkaji ketergantungan motivasi klien tingkat klien dan untuk melakukan aktifitas sesuai 1 kemampuan Hasil : aktivitas klien sebagian dibantu keluarga dan perawat . Tindakan Keperawatan 5 Menciptakan yang tidur Hasil : tempat tidur rapih 1 2.3 0 1 1.D. Mengkaji karakteristik nyeri klien. klien tampak meringis 2 2. Hasil : skala nyeri 3 (0-5). Mengatur posisi yang nyaman bagi klien Hasil : posisi tidur klien terlentang mengatakan dank lien merasa nyaman lingkungan bagi klien & Paraf 6 dengan merapikan tempat nyaman dengan posisinya 08.

3 1. Memberikan penjelasan tentang manfaat mobilisasi dini dapat menguatkan otot dan mempercepat proses penyembuhan Hasil : klien mengatakan mengerti tentang apa yang dijelaskan perawat dan klien akan mencoba melakukan .3.0 0 2 1. Mengkaji klien Hasil tidak : pengetahuan cara mengenai klien merawat payudara mengatakan cara mengetahui 1 merawat payudara 2.3 0C. Mengajarkan klien untuk melakukan teknik relaksasi napas dalam saat nyeri dirasakan Hasil : klien tampak melakukan merubah posisi teknik relaksasi nafas dalam saat 10. Mengobservasi tanda vital tanda- Hasil : T : 120/80 mmHg P : 84 x/menit R : 24 x/menit S : 37.

2 mobilisasi dini 2. Membimbing melakukan secara bertahap klien untuk yaitu mobilisasi miring kanan dan kiri 2 Hasil : klien mencoba miring ke kiri dibantu oleh perawat dan keluarga 3. Mendemonstrasikan 3 baik dan benar teknik perawatan payudara yang . Melibatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan ADL klien Hasil : keluarga tampak membantu klien pada saat klien miring kiri 14. Mengkaji perawatan payudara ulang pengetahuan klien tentang 3 Hasil : klien sudah mulai mengerti mengenai perawatan payudara 3. Memberikan kesehatan penyuluhan tentang klien apa tampak yang perawatan payudara Hasil 3 : menyimak disampaikan perawat 2.0 0 3 1.

Mengajarkan pada klien tentang Hoffman exercise Hasil : klien tampak menyimak apa yang diajarkan perawat 16.Hasil : klien tampak memperhatikan apa yang didemonstrasikan perawat 4. N dengan P3 A0 Post Sectio Saesaria a.0 0 2 Melakukan vulva hygiene Hasil : vulva tampak bersih dan klien mengatakan merasa nyaman BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Setelah kelompok melakukan Asuhan Keperawatan pada Ny. CPD di ruang Debora .i.

selain dari itu klien juga terlihat pucat dan terbaring di tempat tidur 2. karena setiap masalah keperawatan sudah ada perencanaan tersendiri.Rumah Sakit Advent Bandung. Maka dapat diambil kesimpulan. Tahap implementasi dalam mengatasi masalah keperawatan yang dialami oleh klien. dan kelemahan fisik. evaluasi yang kami dapatkan adalah masalah belum teratasi. kebutuhan sehari-hari klien dibantu oleh keluarga. Tidak semua intervensi dilakukan. terdapat pembengkakan pada payudara dan klien tidak mengetahui teknik menyusui yang benar. penulis menyusun rencana tindakan untuk mengurangi rasa nyerinya : distraksi dan relaksasi 4. Pada tahap perencanaan. 3. Untuk diagnosa nyeri. Ini tergantung kepada pendekatan proses keperawatannya dan juga kerjasama perawat dan klien. Pada proses pengkajian diperoleh data : terdapat luka operasi yang menimbulkan nyeri. Tahap evaluasi. disesuaikan dengan kondisi pasien dan waktu shift praktek kelompok dilapangan. Gangguan rasa aman nyeri. Misalnya dalam mengatasi masalah rasa nyaman : nyeri pada klien. kelompok menyusun intervensi yang akan dilakukan sesuai masalah yang ditemukan dan berdasarkan teori yang terdapat dalam kepustakaan. yaitu : 1. Dalam tahap perencanaan tidak begitu ada kesenjangan. 5. dapat dikelompokan empat prioritas diagnosa keperawaatan yaitu . . seperti gangguan rasa nyaman nyeri. Berdasarkan data senjang yang kami temukan. terkadang hasil pemecahan masalah ada yang teratasi sebagian dan ada yang belum teratasi. resiko pengeluaran ASI tidak adekuat. ADL tidak terpenuhi. Maka implementasi yang dilakukan yaitu mengajarkan dan membimbing klien teknik manajemen nyeri seperti distraksi dan relaksasi nafas dalam.

perlunya kerjasama yang baik antara perawat ruangan dengan klien dan keluarga. sehingga perencanaan tersebut dapat dilakukan secara sistematis dan dapat memenuhi kebutuhan klien secara optimal. misalnya dalam pelaksanaan membantu klien dalam memenuhi kebutuhan personal hygiene dan mobilisasi 2. luka section saesaria masih tertutup balutan. SARAN 1. maka perlu ditingkatkannya pendidikan kesehatan pada klien maupun keluarga tentang perawatan luka. perawatan diri serta perawatan bayi. sehingga dalam pelaksanaan dapat mengacu pada perencanaan yang ditulis pada status klien. Saran bagi perawat ruangan Klien dengan post section saesaria dapat menimbulkan masalah yang cukup kompleks dibandingkan dengan klien post partum secara normal. B. . Pada tahap perencanaan. aktivitas di rumah. Saran untuk proses asuhan keperawaatan : Pada tahap pengkajian yaitu perlunya pengkajian yang lebih lengkap lagi sesuai dengan teori.dikarenakan klien post partum pada hari ke-1. khususnya pada mahasiswa sebaiknya dapat merencanakan suatu tindakan dengan langsung didokumentasikan pada format. sehingga memerlukan perawatan yang komprehensif. Dalam tahap pelaksanaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful