P. 1
Jenis Puisi Dan Macam Rima

Jenis Puisi Dan Macam Rima

|Views: 4,785|Likes:
Published by arif_iswari
Jenis jenis Puisi baru dan Macam macam Rima
Jenis jenis Puisi baru dan Macam macam Rima

More info:

Published by: arif_iswari on Dec 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2014

pdf

text

original

SMAN 1 BUKITTINGGI Jenis - Jenis Puisi BAHASA INDONESIA

Arif Iswari X.7 2011/2012

1. Balada Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orangorang yang menjadi pusat perhatian. Puisi balada merupakan suatu wadah untuk mengungkapkan tabir kehidupan yang diungkapkan dengan perasaan haru. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh : Balada Pembungkus Tempe Fermentasi asa Mengharap sempurna Bentuk utuh nan kenyal Rasa, karsa tempe Pembungkus yang berjasa Penuh kisah bertulis duka lara Dibuang tanpa dibaca Pembungkus tempe Bukan plastic tapi kertas using tak terpakai Masihkah ada yang membelai sebelum membuangnya ? 2. Elegi Elegi adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kepergian seseorang. Elegi sering disebut juga dengan sajak ratapan. Senja di Pelabuhan Kecil Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)

3. Romansa Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantic berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Serenada Biru Alang-alang dan rumputan bulan mabuk di atasnya. Alang-alang dan rumputan angin membawa bau rambutnya. Mega putih selalu berubah rupa. Membayangkan rupa yang datang derita Ketika hujan datang malamnya sudah tua: angin sangat garang dinginnya tak terkira. Aku bangkit dari tidurku dan menatap langit kelabu. Wahai, janganlah angin itu menyingkap selimut kekasihku! “Empat Kumpulan Sajak” W. S. Rendra (1961) 4. Ode Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu keadaan. Ode untuk Surti perempuan, melangkah sendirian ada merah di matanya menyala pekat menyisir langkahnya

saat matahri terbelah tepat di atas kepalanya perempuan diam tangannya terkepal langkahnya terhenti tepat di gerbang matahari kecewa yang bertumpuk dan terus menumpuk meninggalkan seonggok luka membuatnya menjadi singa

5. Himne Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan HYMNE INDONESIA RAYA DULU DAN KINI Dulu bila berdiri tegak berani dengan hati sepenuhnya utuh perintah apapun takkan menolak hymne Indonesia Raya yang cintanya seluruh kita menyanyi khidmad bersama berdiri meremang bulu tengkuk hati dan jiwa kita adalah laut semangat dan pengorbanan kita adalah langit air mata haru mengaliri pipi nilai butirannya adalah intan dan permata. Tapi kini sudah hilang dan segala sirna ayahku dan abangku bertempur mempertaruhkan nyawa jiwa buatmu Indonesia Raya tapi kini hanya tertinggal luka-luka borok yang menganga membusuk negara dan negeri yang terus terpuruk haru dan berdirinya bulu tengkuk sudah lama hilang tergantikan dengan setiap bayi lahir kontan sudah menanggung hutang hymne Indonesia Raya-ku hanyalah serpihan puing-puing! ( Almere Holland )

6. Satire Satire adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Rokok Pagi hari yang sunyi Kau temani diriku Ku hisap kau pelan-pelan Kau masuki setiap inci paru-paruku Kurelakan tubuhku kau rasuki Ku tahu itu Ku rasakan itu Kopi cinta sebagai pasanganmu Menemani hari-hariku Tak lebih tak kurang Penghancur pelan Dengan nikmat sesaat Makin ku hisap dirimu Makin tak kuasa ku tolak Walau ku sadar kau wahai racun jingga Yang mengotori setiap tetes darahku Aku harus berhenti menjadikanmu teman Kau harus kutinggalkan di hari-hariku kini Walau dalam kesendirianku Dalam kesunyian dan kesepian Aku yakin aku bisa Selamat tinggal racun jingga

RIMA A. PENGERTIAN Rima adalah perulangan bunyi yang sama dalam puisi yang berguna untuk menambah keindahan suatu puisi. Contoh : Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian B. MACAM-MACAM RIMA 1. RIMA BERDASARKAN BUNYI 1.1. Rima Sempurna Seluruh suku akhirnya berirama sama. Contoh : ma – lang ma – ti pa – lang ha – ti 1.2. Rima Tak Sempurna Hanya sebagian suku akhir yang sama. Contoh : pu – lang pa – gi tu – kang ha – ri 1.3. Rima Mutlak Seluruh kata berima. Contoh : Mendatang-datang jua Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua Yang dulu sinau-silau Kata jua yang diulang dua kali pada tempat yang sama itu berima mutlak. 1.4. Rima Terbuka Yang berima adalah suku akhir suku terbuka dengan vokal yang sama. Contoh: bu – ka ba – tu mu – ka pa – lu 1.5. Rima Tertutup Yang berima itu suku akhir suku tertutup dengan vokal yang diikuti konsonan yang sama. Contoh : hi – lang su – sut ma – lang ta – kut 1.6. Rima Aliterasi Yang berima adalah bunyi-bunyi awal pada tiuap-tiap kata yang sebaris, maupun pada baris-baris berlainan. Contoh :

Bukan beta bijak berperi Pandai mengubah madahan syair Bunyi b pada kata-kata dalam baris pertama bait puisi di atas disebut rima aliterasi. 1.7. Rima Asonansi Yang berima adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata, baik pada satu baris maupun pada baris-baris berlainan. Contoh : se – cu – pak tum – bang se – cu – kat mun – dam Yang disebut asonansi ialah vokal-vokal e – u – a dan u – a pada kata-kata tersebut di atas. 1.8. Rima Disonansi Rima ini adalah vokal-vokal yang menjadi rangka kata-kata seperti pada asonansi tetapi memberikan kesan bunyi-bunyi yang berlawanan. Contoh : Tin – dak tan – duk ( i– a / a – u ) Mon – dar man – dir ( o – a / a – i ) 2. BERDASARKAN LETAK KATA-KATA DALAM BARIS 2.1. Rima Awal Apabila kata-kata yang berima terdapat pada awal-awal kata. Contoh : Pemuda kaulah harapan bangsa Pemuda jangan suka berpangku tangan 2.2. Rima Tengah Apabila kata-kata yang berima terletak di tengah. Contoh : Pemuda kaulah harapan bangsa Pemudi kaulah harapan negeri 2.3. Rima Akhir Apabila kata-kata yang berima terletak pada akhir. Bentuk ini banyak digunakan dalam bentuk Pantun, Syair dan Gurindam. Contoh : Tolong – menolong umpama jari Bantu membantu setiap hari Bekerja selalu berlima diri Itulah misal Tuhan memberi 2.4. Rima Tegak Apabila kata-kata yang berima terdapat pada baris-baris yang berlainan. Contoh : Terlipat Terikat Engkau mencari Terang matahari Melambai Melombai Engkau beringin Digerak angin Terhibur Terlipur Engkau bermalam Di tepi kolam

(J.E. Tatengkeng) 2.5. Rima Datar Apabila rima kata-kata yang berima itu terdapat pada baris yang sama. Contoh : Air mengalir menghilir sungai (bunyi ir pada akhir ketiga kata) 2.6. Rima Sejajar Apabila sepatah kata dipakai berulang-ulang dalam kalimat yang beruntun. Contoh : Dapat sama laba Cicir sama rugi Bukit sama didaki Lurah sama dituruni Berat sama dipikul Ringan sama dijinjing Terapung sama hanyut Terendam sama basah. 2.7. Rima Berpeluk (Rima Berpaut) Apabila umpamanya baris pertama berima dengan baris keempat, baris kedua berima dengan baris ketiga. Rima ini terletak pada bentuk Soneta dengan rima a – b – b – a. Contoh : Perasaan siapa ta’kan nyala ( a ) Melihat anak berlagu dendang ( b ) Seorang sajak di tepi padang ( b ) Tiada berbaju buka kepala ( a ) 2.8. Rima Bersilang (Rima Salib) Rima yang letaknya berselang-selang. Misalnya baris pertama berima dengan baris ketiga, dan baris kedua berima dengan baris keempat. Rima ini dapat kita jumpai dalam bentuk Pantun yang berrumus a – b – a – b. Contoh : Burung nuri burung dara ( a ) Terbang ke sisi taman kayangan ( b ) Karangan janggal banyak tak kena ( a ) Daripada paham belum sempurna ( b ) 2.9. Rima Rangkai Apabila kata-kata yang berima terdapat pada kalimat-kalimat yang beruntun. Bentuk ini dapat kita jumpai dalam bentuk syair dengan rumusnya a – a – a – a ; b – b – b –b. Contoh : Hatiku rindu bukan kepalang ( a ) Dendam berahi berulang-ulang ( a ) Air mata bercucuran selang menyelang ( a ) Mengenangkan adik kekasih abang ( a ) Diriku lemah anggotaku layu ( b ) Rasakan cinta bertalu-talu ( b ) Kalau begini datanglah selalu ( b ) Tentulah kanda berpulang dahulu ( b ) 2.10. Rima Kembar Apabila kalimat yang beruntun dua-dua berima sama. Misalnya dengan abjad a – a – b – b atau c – c – d – d – e – e dan seterusnya. Contoh : Sedikitpun matamu tak berkerling ( a ) Memandang ibumu sakit berguling ( a ) Air matamu tak bercucuran ( b ) Tinggalkan ibumu tak penghiburan ( b ) ( J. E. Tatengkeng)

2.11. Rima Patah Apabila dalam bait-bait puisi ada kata yang tidak berima sedangkan kata-kata lain pada tempat yang sama di baris-baris lain memilikinya. Rumus rima patah adalah a – a – b – a atau b – c – b – b. Contoh : Beli baju ke pasar Minggu ( a ) Jangan lupa beli duku ( a ) Beli kemeja ke pasar Senen ( b ) Jangan lupa ajaklah daku ( a ) Beli kemeja ke pasar Senen ( b ) Jangan lupa membesi dasi ( c ) Jangan suka jajan permen ( b ) Lebih baik dibelikan semen ( b ) 2.12. Rima Merdeka Tidak ada yang bersajak. Contoh : Hanya sebuah bintang ( a ) Kelip kemilau ( b ) Tercapak di langit ( c ) Tidak berteman ( d ) (Aoh Kartadimadja) 3. RIMA MENURUT RUPANYA Rima rupa hanya terdapat pada puisi-puisi Melayu Klasik yang ditulis dengan huruf Arab – Melayu. Tulisan ( bentuknya ) tampak sama, tetapi bunyinya berbeda. Contoh: 1. Tulisan kata ramai dengan rami. 2. Tulisan kata lampau dengan lampu. Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat contoh berikut ini. 1. Kota Jakarta yang berpenduduk hampir tujuh juta orang itu sangat ramai. 2. Pada masa lampau kehidupan masyarakat masih sederhana. Kata ramai tentu saja tidak dibaca rami, melainkan ramai, dan kata lampau tidak dibaca lampu melainkan lampau.

PUISI LAMA Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru. A. PUISI LAMA Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain : - Jumlah kata dalam 1 baris - Jumlah baris dalam 1 bait - Persajakan (rima) - Banyak suku kata tiap baris - Irama 1. Ciri-ciri Puisi Lama Ciri puisi lama: a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima 2. Jenis Puisi Lama

Yang termasuk puisi lama adalah a) Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib b) Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka c) Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek d) Seloka adalah pantun berkait e) Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat f) Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-aa, berisi nasihat atau cerita g) Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris 3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Lama a) Mantra Assalammu’alaikum putri satulung besar Yang beralun berilir simayang Mari kecil, kemari Aku menyanggul rambutmu Aku membawa sadap gading Akan membasuh mukamu b) Pantun Kalau ada jarum patah Jangan dimasukkan ke dalam peti Kalau ada kataku yang salah Jangan dimasukan ke dalam hati c) Karmina Dahulu parang, sekarang besi (a) Dahulu sayang sekarang benci (a) d) Seloka Lurus jalan ke Payakumbuh, Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh, Ibu mati bapak berjalan e) Gurindam Kurang pikir kurang siasat (a) Tentu dirimu akan tersesat (a) Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b ) Bagai rumah tiada bertiang ( b ) Jika suami tiada berhati lurus ( c ) Istri pun kelak menjadi kurus ( c ) f) Syair Pada zaman dahulu kala (a) Tersebutlah sebuah cerita (a) Sebuah negeri yang aman sentosa (a) Dipimpin sang raja nan bijaksana (a) g) Talibun Kalau anak pergi ke pekan Yu beli belanak pun beli sampiran Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari isi Induk semang cari dahulu 4. Ciri-ciri dari jenis puisi lama a) Mantra Ciri-ciri: Ø Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde. Ø Bersifat lisan, sakti atau magis Ø Adanya perulangan Ø Metafora merupakan unsur penting Ø Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius

Ø Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan. b) Pantun Ciri – ciri : Ø Setiap bait terdiri 4 baris Ø Baris 1 dan 2 sebagai sampiran Ø Baris 3 dan 4 merupakan isi Ø Bersajak a – b – a – b Ø Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata Ø Berasal dari Melayu (Indonesia) c) Karmina Ciri-ciri karmina Ø Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan. Ø Bersajak aa-aa, aa-bb Ø Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan. Ø Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi. Ø Semua baris diawali huruf capital. Ø Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik. Ø Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah. d) Seloka Ciri-ciri seloka Ø Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, Ø Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris. e) Gurindam Ciri-ciri gurindam Ø Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian Ø baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. f) Syair Ciri-ciri syair Ø Terdiri dari 4 baris Ø Berirama aaaa Ø Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair g) Talibun Ciri-ciri: Ø Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Ø Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. Ø Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi. Ø Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c. Ø Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

B. PUISI BARU Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. 1. Ciri-ciri Puisi Baru a) Bentuknya rapi, simetris; b) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur); c) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain; d) Sebagian besar puisi empat seuntai; e) Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis) f) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata. Jenis-jenis Puisi Baru

Menurut isinya, puisi dibedakan atas : a) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita b) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan c) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa d) Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup e) Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih f) Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan g) Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain: a) Distikon b) Terzina c) Quatrain d) Quint e) Sektet f) Septime g) Oktaf/Stanza h) Soneta

3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Baru Contoh jenis puisi menurut isinya : a) BALADA Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”. b) HYMNE Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri Menggeliat derita pada lekuk dan liku bawah sayatan khianat dan dusta. Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu menitikkan darah dari tangan dan kaki dari mahkota duri dan membulan paku Yang dikarati oleh dosa manusia. Tanpa luka-luka yang lebar terbuka dunia kehilangan sumber kasih Besarlah mereka yang dalam nestapa mengenal-Mu tersalib di datam hati. (Saini S.K) c) ODE Generasi Sekarang Di atas puncak gunung fantasi Berdiri aku, dan dari sana Mandang ke bawah, ke tempat berjuang Generasi sekarang di panjang masa Menciptakan kemegahan baru Pantoen keindahan Indonesia Yang jadi kenang-kenangan Pada zaman dalam dunia (Asmara Hadi) d) EPIGRAM Hari ini tak ada tempat berdiri Sikap lamban berarti mati Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas. (Iqbal) e) ELEGI Senja di Pelabuhan Kecil Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar) f) SATIRE Aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidad penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dl kaki dewi kesenian. (Rendra) Contoh jenis puisi dari bentuknya : a) DISTIKON Contoh : Berkali kita gagal Ulangi lagi dan cari akal Berkali-kali kita jatuh Kembali berdiri jangan mengeluh (Or. Mandank) b) TERZINA Contoh : Dalam ribaan bahagia datang Tersenyum bagai kencana Mengharum bagai cendana Dalam bah’gia cinta tiba melayang Bersinar bagai matahari Mewarna bagaikan sari Dari ; Madah Kelana Karya : Sanusi Pane c) QUATRAIN Contoh : Mendatang-datang jua Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua Yang dulu sinau silau Membayang rupa jua Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu (A.M. Daeng Myala) d) QUINT Contoh : Hanya Kepada Tuan Satu-satu perasaan Hanya dapat saya katakan Kepada tuan Yang pernah merasakan Satu-satu kegelisahan Yang saya serahkan

Hanya dapat saya kisahkan Kepada tuan Yang pernah diresah gelisahkan Satu-satu kenyataan Yang bisa dirasakan Hanya dapat saya nyatakan Kepada tuan Yang enggan menerima kenyataan (Or. Mandank) e) SEXTET Contoh : Merindu Bagia Jika hari’lah tengah malam Angin berhenti dari bernafas Sukma jiwaku rasa tenggelam Dalam laut tidak terwatas Menangis hati diiris sedih (Ipih) f) SEPTIMA Contoh : Indonesia Tumpah Darahku Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung gemunung bagus rupanya Ditimpah air mulia tampaknya Tumpah darahku Indonesia namanya (Muhammad Yamin) g) STANZA ( OCTAV ) Contoh : Awan Awan datang melayang perlahan Serasa bermimpi, serasa berangan Bertambah lama, lupa di diri Bertambah halus akhirnya seri Dan bentuk menjadi hilang Dalam langit biru gemilang Demikian jiwaku lenyap sekarang Dalam kehidupan teguh tenang (Sanusi Pane) h) SONETA Contoh : Gembala Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a ) Melihat anak berelagu dendang ( b ) Seorang saja di tengah padang ( b ) Tiada berbaju buka kepala ( a ) Beginilah nasib anak gembala ( a ) Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b ) Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b ) Pulang ke rumah di senja kala ( a )

Jauh sedikit sesayup sampai ( a ) Terdengar olehku bunyi serunai ( a ) Melagukan alam nan molek permai ( a ) Wahai gembala di segara hijau ( c ) Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c ) Maulah aku menurutkan dikau ( c ) (Muhammad Yamin)

4. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru v Ciri puisi dari Jenis isinya : a) Balada Ciri-ciri balada : Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. b) Hymne Ciri-ciri hymne : Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an. c) Ode Ciri-ciri ode : Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum. d) Epigram Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan. e) Romance Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta

kasih mesra f) Elegi Ciri-ciri elegi : Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang. g) Satire Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu

golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc) v Ciri puisi dari Jenis bentuknya : a) Distikon • 2 baris; sajak 2 seuntai • Distikon (Greek: 2 baris) • Rima – aa – bb b) Terzina Terzina (Itali: 3 irama) c) Quatrain • Quatrain (Perancis: 4 baris) • Pada asalnya ada 4 rangkap • Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N. d) Quint Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/ e) Sextet • sextet (latin: 6 baris) • Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’ • Rima akhir bebas f) Septima • septime (Latin: 7 baris)

• Rima akhir bebas g) Oktav • Oktaf (Latin: 8 baris)

• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’ h) Soneta ciri – ciri soneta : · Terdiri atas 14 baris · Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina · Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav. · Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet. · Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam · Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam

ocvtav , jadi sifatnya subyektif.

· Peralihan dari octav ke sextet disebut volta · Penambahan baris pada soneta disebut koda. · Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata · Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.

PUISI BARU A.MACAM-MACAM PUISI BARU 1. DISTIKON Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama. Contoh : Berkali kita gagal Ulangi lagi dan cari akal Berkali-kali kita jatuh Kembali berdiri jangan mengeluh (Or. Mandank) 2. TERZINA Terzina adalah sanjak 3 seuntai. Contoh : Dalam ribaan bahagia datang Tersenyum bagai kencana Mengharum bagai cendana Dalam bah’gia cinta tiba melayang Bersinar bagai matahari Mewarna bagaikan sari Dari ; Madah Kelana Karya : Sanusi Pane 3. QUATRAIN Quatrain adalah sanjak 4 seuntai Contoh : Mendatang-datang jua Kenangan masa lampau Menghilang muncul jua Yang dulu sinau silau Membayang rupa jua

Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu (A.M. Daeng Myala) 4. QUINT Quint adalah sanjak 5 seuntai Contoh : Hanya Kepada Tuan Satu-satu perasaan Hanya dapat saya katakan Kepada tuan Yang pernah merasakan Satu-satu kegelisahan Yang saya serahkan Hanya dapat saya kisahkan Kepada tuan Yang pernah diresah gelisahkan Satu-satu kenyataan Yang bisa dirasakan Hanya dapat saya nyatakan Kepada tuan Yang enggan menerima kenyataan (Or. Mandank) 5. SEXTET Sextet adalah sanjak 6 seuntai. Contoh : Merindu Bagia Jika hari’lah tengah malam Angin berhenti dari bernafas Sukma jiwaku rasa tenggelam Dalam laut tidak terwatas Menangis hati diiris sedih (Ipih) 6. SEPTIMA Septima adalah sanjak 7 seuntai. Contoh : Indonesia Tumpah Darahku Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung gemunung bagus rupanya Ditimpah air mulia tampaknya Tumpah darahku Indonesia namanya (Muhammad Yamin) 7. STANZA ( OCTAV ) Octav adalah sanjak 8 seuntai Contoh : Awan Awan datang melayang perlahan Serasa bermimpi, serasa berangan Bertambah lama, lupa di diri Bertambah halus akhirnya seri Dan bentuk menjadi hilang Dalam langit biru gemilang

Demikian jiwaku lenyap sekarang Dalam kehidupan teguh tenang (Sanusi Pane) 8. SONETA Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance. CIRI – CIRI SONETA : a. Terdiri atas 14 baris b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav. d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet. e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif. g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta h. Penambahan baris pada soneta disebut koda. i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d Contoh : Gembala Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a ) Melihat anak berelagu dendang ( b ) Seorang saja di tengah padang ( b ) Tiada berbaju buka kepala ( a ) Beginilah nasib anak gembala ( a ) Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b ) Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b ) Pulang ke rumah di senja kala ( a ) Jauh sedikit sesayup sampai ( a ) Terdengar olehku bunyi serunai ( a ) Melagukan alam nan molek permai ( a ) Wahai gembala di segara hijau ( c ) Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c ) Maulah aku menurutkan dikau ( c ) (Muhammad Yamin) B. FUNGSI SONETA Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati. Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti : 1. Pernyataan rindu pada tanah air 2. Pergerakan kemajuan kebudayaan 3. Ilham sukma 4. Perasaan keagamaan C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain : 1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun. Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun. 2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya. 3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.

D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN 1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan. 2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4 baris c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->