P. 1
MAKALAH STRUKTURALISME

MAKALAH STRUKTURALISME

|Views: 4,433|Likes:
Published by linasofiana45

More info:

Published by: linasofiana45 on Dec 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan kapada Allah SWT, karena atas kharunia-Nya lah Makalah Teori Belajar Verbal ini dibuat atas dorongan untuk menambah pengayaan literature bagi mahasiswa, khusunya yang mengikuti mata kuliah psikologi belajar di perguruan tinggi. Namun karena kandungan makalah ini juga menguraikan tentang teori belajar verbal aspek-aspeknya . makalah ini juga bermanfaat bagi masyarakat (umum) untuk menambah ilmu pengetahuan tentang belajar verbal itu sendiri. Puji syukur, saya ucapkan terimakasih kepada dosen yang teah berperan membantu sehingga makalah ini dapat sempurna. Untuk kesempurnaannya, saya selalu terbuka untuk menerima kritikan dan sumbangan pemikiran. Besar harapan saya semoga laporan ini bermanfaat bagi kemajuan perkuliahan.

Pekanbaru…… Penyusun

Lina Sofiana

Daftar Pustaka

BAB I A. Latar Belakang Teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Unsur-unsur teks secara berdiri sendiri tidaklah penting. Unsur-unsur itu hanya memperoleh artinya di dalam relasi, baik relasi asosiasi ataupun relasi oposisi. Relasi-relasi yang dipelajari dapat berkaitan dengan mikroteks (kata, kalimat), keseluruhan yang lebih luas (bait, bab), maupun intertekstual (karya-karya lain dalam periode tertentu). Relasi tersebut dapat berwujud ulangan, gradasi, ataupun kontras dan parodi (Hartoko, 1986: 135-136).

Istilah kritik strukturalisme secara khusus mengacu kepada praktik kritik sastra yang mendasarkan model analisisnya pada teori linguistik modern. tetapi umumnya strukturalisme mengacu kepada sekelompok penulis di Paris yang menerapkan metode dan istilah-istilah analisis yang dikembangkan oleh Ferdinan de Saussure (Abrams, 1981: 188-190). Strukturalisme menentang teori mimetik, yang berpandangan bahwa karya sastra adalah ( tiruan kenyataan), teori ekspresif, yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang, dan menentang teori-teori yang menganggap sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya.

Teori strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara dinamis. Dalam perkembangan itu terdapat banyak konsep dan istilah yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan. Misalnya, strukturalisme di Perancis tidak memiliki kaftan erat dengan strukturalisme ajaran Boas, Sapir, dan Whorf di

Amerika. Akan tetapi semua pemikiran strukturalisme dapat dipersatukan dengan adanya pembaruan dalam ilmu bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Jadi walaupun terdapat banyak perbedaan antara pemikir-pemikir strukturalis, namun titik persamaannya adalah bahwa mereka semua memiliki kaitan tertentu dengan prinsip-prinsip dasar linguistik Saussure (Bertens, 1985: 379-381). B. RUANG LINGKUP STRUKTURALISME Aliran Strukturalis atau Strukturalisme merupakan suatu pendekatan ilmu humanis yang mencoba untuk menganalisis bidang tertentu (misalnya, mitologi) sebagai sistem kompleks yang saling berhubungan. Ferdinand de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai salah satu tokoh penggagas aliran ini, meskipun masih banyak intelektual Perancis lainnya yang dianggap memberi pengaruh lebih luas. Aliran ini kemudian diterapkan pula pada bidang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, psikoanalisis , teori sastra dan arsitektur. Ini menjadikan strukturalisme tidak hanya sebagai sebuah metode, tetapi juga sebuah gerakan intelektual yang datang untuk mengambil alas eksistensialisme di Perancis tahun 1960-an.

Menurut Alison Assiter, ada empat ide umum mengenai strukturalisme sebagai bentuk ‘kecenderungan intelektual’. Pertama, struktur menentukan posisi setiap elemen dari keseluruhan. Kedua, kaum strukturalis percaya bahwa setiap sistem memiliki struktur. Ketiga, kaum strukturalis tertarik pada ‘struktural’ hukum yang berhubungan dengan hidup berdampingan bukan perubahan. Dan terakhir struktur merupakan ‘hal nyata’ yang terletak di bawah permukaan atau memiliki makna tersirat.

Strukturalisme muncul sekitar paruh kedua abad ke-20 dan berkembang menjadi salah satu pendekatan yang paling populer di bidang akademik berkaitan dengan analisis bahasa, budaya, dan masyarakat. Aktivitas Ferdinand de Saussure yang menggeluti

bidang linguistik inilah yang dianggap sebagai titik awal dari strukturalisme. Istilah Strukturalisme itu sendiri muncul dalam karya-karya antropolog Perancis Claude LéviStrauss, yang menyebabkan gerakan strukturalis di Perancis. Hal ini pula yang mendorong para pemikir seperti Louis Althusser, psikoanalis Jacques Lacan, serta Nicos Poulantzas untuk mengembangkannya sebagai Marxisme struktural. Sebagian besar anggota aliran strukturalisme ini tidak menggambarkan diri sebagai bagian dari setiap gerakan tersebut. Strukturalisme berkaitan erat dengan semiotika. Tidak lama kemudian, aliran baru post strukturalisme muncul dan mencoba untuk membedakan diri dari aliran struktural. Dengan cara memunculkan hal-hal yang kontradiktiv (dekonstruksi), para pengikut aliran ini berusaha untuk menjauhkan diri dari pikiran stukturalis. Beberapa kaum intelektual seperti Julia Kristeva, mengambil strukturalisme (dan formalisme Rusia) untuk titik awal kiprahnya yang kemudian menjadikannya menonjol sebagai salah satu tokoh post strukturalis. Strukturalisme memiliki berbagai tingkat pengaruh dalam ilmu sosial, dan pengaruh sangat kuat dapat terlihat di bidang sosiologi.

Aliran Strukturalis menyatakan bahwa budaya manusia harus dipahami sebagai sistem tanda (system of signs). Robert Scholes mendefinisikannya sebagai reaksi terhadap keterasingan modernis dan keputusasaan. Para kaum strukturalis berusaha

mengembangkan semiologi (sistem tanda). Ferdinand de Saussure adalah penggagas

strukturalisme abad ke-20, dan bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam Course in General Linguistics, yang ditulis oleh rekan-rekan Saussure setelah kematiannya dan berdasarkan catatan para muridnya. Saussure tidak memfokuskan diri pada penggunaan bahasa (parole, atau ucapan), melainkan pada sistem yang mendasari bahasa (langue). Teori ini lalu muncul dan disebut semiologi. Namun, penemuan sistem ini harus terlebih dahulu melalui serangkaian pemeriksaan parole (ucapan). Dengan demikian, Linguistik Struktural sebenarnya bentuk awal dari linguistik korpus (kuantifikasi). Pendekatan ini berfokus pada bagaimana sesungguhnya kita dapat mempelajari unsur-unsur bahasa yang terkait satu sama lain ’sinkronis’ daripada ‘diakronis’. Akhirnya, dia menegaskan bahwa tanda-tanda linguistik terdiri atas dua bagian, sebuah penanda (pola suara dari sebuah kata, baik dalam proyeksi mental – seperti pada saat kita membaca puisi untuk diri kita sendiri dalam hati – atau sebenarnya, realisasi fisik sebagai bagian dari tindak tutur) dan signified (konsep atau arti kata). Ini sangat berbeda dari pendekatan sebelumnya yang berfokus pada hubungan antara kata dan hal-hal di dunia dengan referensinya (Roy Harris dan Talbot Taylor, [1989], hal 178-179).

Pemikiran Saussure ternyata mempengaruhi banyak linguis pada kurun waktu terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Di Amerika Serikat, misalnya, Leonard Bloomfield mengembangkan linguistik structural versinya sendiri. Selain itu, ada pula linguis lainnya seperti Louis Hjlemslev dari Denmark dan Alf Sommerfelt dari Norwegia. Di Perancis, Antoine Meillet dan Émile Benveniste melanjutkan pemikiran Saussure ini. Tapi yang paling penting dan masih tetap relevan hingga saat ini adalah Mahzab Praha dengan

tokoh sentralnya seperti Roman Jakobson dan Nikolai Trubetzkoy, melalui penelitian yang telah dilakukannya.

Salah satu contoh yang dianggap penting adalah dalam hal fonemik.Mahzab Praha ini tidak seperti halnya mahzab yang lain yang hanya menyusun daftar suara yang ada dalam suatu bahasa, melainkan berusaha meneliti bagaimana mereka ada keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Mereka menyatakan, bahwa suara dalam bahasa tertentu hanya dapat dianalisis jika ada pembandingnya. Contohnya adalah dalam bahasa Inggris, bunyi / p / dan / b / dilafalkan berbeda, seperti pada kata « Bat » dan « Pat ». Menganalisis suara dalam hal fitur kontrastif juga membuka ruang lingkup komparatif yang dapat memperjelas kita. Misalnya, kesulitan orang Jepang dalam hal membedakan fonem / r / dan / l / dalam bahasa Inggris. Ini diakibatkan karena kedua fonem ini tidak kontrastif dalam bahasa Jepang. Pendekatan semacam ini pada saat itu menjadi hal yang aktual. Fonologi dapat menjadi dasar paradigmatik untuk strukturalisme dalam sejumlah bidang yang berbeda. BAB III

A. DEFINISI BELAJAR VERBAL Beberapa teoritikus membedakan antara belajar verbal dan perilaku verbal.Belajar verbal adalah proses pemerolehan perilaku verbaldalam seting sedang melakukan proses belajar. Perilaku verbal adalah performarice atau penampakkan dari perilaku verbal yang telah di pelajari dalam seting telah atau sedang melakukan proses belajar.dalam bab ini membahas belajar dan perilaku verbal, tetapi lebih cenderung membahas tentang

acquisition atau perolehan perilaku verbal, dan dibatasi untuk belajar verbal yang dilakukan oleh manusia. Belajar verbal adalah dari munculnya tiga hokum asosiasi, contiguity dal law of contrast yang dikemukakan oleh aristoteles, yang menggambarkan proses pemikiran dan kemampuan manusia dalam mempersepsikan dunianya. Aris toteles menyatakan bahwa pikiran manusia memilki suatu “organizing agent “ untuk menerima, menyimpan dan memanggil kembali atau memakai informasi yang telah disimpan tersebut. Selain itu di latar belakangi pula dengan teori Herman Ebbinghaus. Ebbinghaus tertarik dengan bagaimana manusia menyimpan dan mengoganisasi informasi. Penelitian Ebbinghaus menggunakan silabel tanpa arti (misalnya : dkmdr, dfogb ), sehingga dapat diketahui proses “mengingat dan melupakan” dalam bentuk yang termurni. Dari penelitian ini, Ebbinghaus mencoba mengobservasi tentang acquisition (pemerolehan), storage penyimpan dan retrieval (pemanggilan kembali untuk digunakan ) informasi yang tidak memiliki arti atau asosiasi tertentu.

B. BELAJAR BERSERI Dalam belajar berseri, subyek diberi stimulus berseri (berurutan) dan kemudian diisyaratkan untuk mengulangi (menyatakan kembali) apa yang telah diterima subyek tersebut. Ada empat metode dalam belajar berseri, yaitu: ,) Metode Antisipasi Metode antisipasi memerlukan presentasi secara berurutan suatu daftar yang berupa beberapa sJ!mulus C9apatberupa daftar beberapa "kata"). Pada saat presentasi tersebut, subyek penelitian tidak diminta merespon. Kemudian setelah presentasi, subyek dimintai menyatakan kembali

daftar tersebut secara berurutan. Caranya adalah pertama kali yang muncul adalah tanda asterik atau bintang (sebagai tanda mulai), kemudian subyek disuruh mengantisipasi dan menyatakan "kata" pertama yang akan muncul, demikian seterusnya sampai "kata" yang terakhir. Penilaian didasarkan pada benar tidaknya antisipasi subYC;k.Keberhasilan penyelesaian dari satu tugas belajar berseri adalah bilt! satu percobaan atau lebih dengan keseluruhan "kata" diantisipasi s~cam benar oleh sub~k. Misal:dC dala~-laboratorium~ tugas berseri sering ditampilkan dengan sebuah proyektor atau memory drum yang dapat berisi daftar "kata" (Gambar 10). Jika Drum berputar setiap "n" detik Item (kata nampak di jendela memory drum Gambar 10 39 --metodeantisipasidigunakandalamtugasberseri,daftardimulaidengandiberitandaasterik atau bintang (untuk menunjukkan tanda mulai dan "kata" pertama akan muncul). Dengan melihat jendela di drum dan sebelum drum berputar, subyek diminta mengantisipasi dan merespon secara benar "kata" pertama. Kemudian drum diputar, sehingga "kata" pertama muncul di jendela drum, sehingga dapat dinilai apakah antisipasidan respon subyek tersebut benar atau salah. Demikian seterusnya sampai pada "kata" yang terakhir. ~Metode Serial Recall Metode serial recall memerlukancara presentasi yangsamadengan metode antisipasi di atas. Dansubyektidakmemberikanresponselamapresentasiberlangsung.Hanya setelahpresentasi selesai, secara berurutan, subyek diminta merespon/melaporkan semua "kata" yang subyek pelajari saat presentasi, dan tanpa melihatjendela drum. Misal: metode ini dapat kitajumpai pada seseorang yang sedang berlatih menyanyi. Ia berusaha mengingat lirik lagu yang ia nyanyikan, tanpa ada isyarat secara ekstemal sebagaimana ada dalam metode antisipasi. ~ Metode Presentasi Lengkap I Metode presentasi lengkap memerlukan cara presentasi yang berbeda dengan dua metode di atas.Semua "kata" didalam daftar dipresentasikansecaraserempakkepada subyekpenelitian, sehinggatidakmemerlukanmemorydrum.Setelahselesaipresentasi,subyekdiuji akuisisinya

yaitu melaporkan seluruh "kata" di dalam daftar tersebut. '/Metode Free Recall Metode free recall memerlukan cara presentasi yang-sarna dengan metode antisipasi dan serial recaLLH. anyasetelahpresentasi,tanpaberurutandanbebas (dapatdilaporkan semuanya, dapat pula hanya sebagian, dan sesuka hati subek penelitian), subyek diminta melaporkan daftar "kata" yang telah ia pelajari saat presentasi,dan tanpa melihat drum.Misal: metodefree recall ini, dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bila kita melakukan perjalanan ke beberapa kota. Sekembali dari perjalanan, kita diharapkan menceritakan perjalanan tersebut secara bebas. ~tipe-tipe Asosiasi Satu cara untuk menganalisabelajar berseri adalah mempertimbangkan adatidaknya asosiasi '~ (bonds atau koneksi) diantara item-ternyang dipelajari (dapat berupa "kata" atau yang lain). Analisa tersebut diharapkan untuk mengetahui tiap-tiap item di dalam daftar yang dipelajari mungkin memiliki fungsi ganda, yaitu tidak hanya mewakili respon yang dinyatakan, tetapi juga sebagai isyarat stimulus untuk mempercepat munculnya respon yang lain. Ada tiga macam asosiasi yaitu: -Immediate Forward Association Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A - B - C - D - E - F, immediate forward association akan terjadi antara materi belajar yang berdekatan di depannya (maju ke depan) sesuai di dalam daftar: A - B, B -C, C -D, dan sebagainya. 40 -Immediate Backward Association Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A - B - C- D - E - F, immediate backward association akan terjadi antara materi belajar yang berdekatan di belakangnya (mundur ke belakang) sesuai di dalam daftar: B -A, Cf- B, dan sebagainya. ..?" Remote Association Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A -B-C-D-E- F, remoteassociation akan terjadi diantara materi belajar yang tidak berdekatan dalam asosiasi maju atau mundur (immediateforwardlbackward association) sesuai di dalam daftar: B - E atau D - A. Contoh: mahasiswa matakuliah psikologi faal diminta untuk mengingat nama-nama duabelas syaraf. Syaraf-saraf tersebut telah dinamai secara berurutan (serial) sebagai berikut: olfactory, tic, oculomotor, trochlear, trigeminal, abducens, facial, stato-acoustic, l ss haryngeal, vagus, accessory, dan '!l1!!!{jfosfal. Dari daftar nama-nama s af tersebut, dapat dipakai untuk menJetas1ar{tiga macam asosiasi, misalnya: belajar "optic" mungkin sebagai isyarat untuk "olfactory" atau "oculomotor" (immediate backward danforward association). "Glossopharyngeal" mungkin sebagai isyarat "hypoglossal" (remote association).

C. KURVA POSISI BERSERI Bilamana subyek diminta untuk merespon atau mengingat materi belajar berseri (berurutan), nampak bahwa materi pada awal pelajaran akan lebih cepat untuk dipelajari/diingat (disebut primacy effect), dan pada akhir pelajaran akan lebih cepat dipeIajari/diingat pula (disebut recency effect). Sedangkan pada tengah pelajaran akan lebih sulit untuk dipelajari/diingat. N lumlah kesalahan yang dibuat selama belajar o1N Posisi berseri Gambar 11 Jika subjek diinstruksikan untuk menggunakan menggunakan ingatan bebas (free recall) untuk mengingat materi belajar berseri, kurva posisi berseri akan sedikit berbeda bila dibandingkan dengan kurva posisi berseri tersebut di atas. 41 --- ---lumlah kesalahan yang dibuat selama belajar N free recall ,,-.--/ ... / / / / I I ... """""- " """- " "- " oN Posisiberseri Gambar 12

-I Modifikasi Kurva Posisi Berseri Kurva posisi berseri di atas adalah yang berlaku umum. Dalam beberapa penelitian tentang belajar, kurva posisi berseri dapat dimodifikasi melalui manipulasi instruksi dan materi yang dipelajari. Manipulasi instruksi Kurva posisi berseri dapat dimodifikasi dengan manipulasi instruksi yang diberikan kepada subyek. Misalnya: memberi penekanan instruksi pada bagian tengah materi belajar berseri, sehingga menghasilkan kurva sebagai berikut: N lumlah kesalahan yang dibuat selama belajar Respon intruksi dimanipulasi / / / oN Posisi berseri Gambar 13 -Manipulasi materi Manipulasi materi belajar berseri dapat merubah bentuk dari kurva posisi berseri, khususnya pada kelompok materi belajar. Respon yang ditunjukkan subyek dengan adanya manipulasi ini dapat disebut clustering. Misalnya: suatu penelitian tentang belajar, mempergunakan 36 materi belajar berseri yang dikelompokkan dalam 3 kelompok sehingga setiap kelompok berisikan 12materibelajarberseri.Dalamkurvanampakbahwamanipulasimaterimenciptakan tiga miniatur kurva posisi berseri dalam satu daftar keseluruhan. 42 100 lumlah kesalahan yang dibuat selama belajar o 12 24 36 Posisi berseri Gambar14 Contoh khusus berkenaan dengan manipulasi materi, yang disebut efek von Restorff (sesuai nama peneliti yang mempelajarinya). Efek ini dapat dilihat dengan percobaan sebagai

berikut: subyek diperhadapkan dengan daftar beberapa nama barang, baik nama barang yang telah dikenal umum maupun nama barang yang tidak terkenal. Urutan nama-nama barang tidak terlalu dipentingkan. Dari hasil percobaan nampak bahwa subyek sedikit melakukan kesalahan untuk menyebutkan nama-nama barang yang sudah dikenal dan sebaliknya sering melakukan kesalahan menyebutkan nama-nama barangyang tidak terkenal. Hasil percobaan nampak seperti kurva dibawah ini: (1) FOH, (2) ZOD, (3) XED, (4) KAH, (5) CAT, (6) (7) MUQ, VOR, (8) QUY 100 Prosentrasi kesalahan o I 1 2 3 4 5 6 7 8. Posisi berseri Gambar15 Pengaruh Pengalaman Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar berseri dipengaruhi oleh urutan belajar atau pengalaman belajar sebelumnya. Misal: seseorang mudah sekali mempelajari daftar urutan bulan-bulan dalam satu tahun: januari, pebruari, maret, april, mei, juni, juli, agustus, september, oktober, nopember, desember. Karena ia sudah memiliki pengalaman belajar sebelumnya berkenaan dengan hal tersebut. 43 ---HipotesaBerantai Hipotesa berantai adalah sua!.~ untuk _me!!.er~~anjJe!fQI:man yang.didapat cI;Jlam tugas-tugas berseri (berurutan). Hipotesa tersebut menyarankan bahwa perilaku berurutan dapafaITifiatsebagaIrantai, yang mana masing-masing perilaku saling berhubungan. Misal: seseorang yang sedang-belajardi perguruan tinggi, hasil belajar dari semester pertama sampai semester enam adalah saling berhubungan, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Serial list: A B c D E F Gambar 16 D. KARAKTERISTIKMATERI Karakteristik materi belajar verbal dapat mempengaruhi hasil belajar verbal. Beberapa karakteristik materi tersebut adalah sebagai berikut: Sangat Berarti Sangat berarti merupakan karakteristik materi belajar lisan yang diukur dari jumlah asosiasi rata-rata suatu perolehan unit verbal. Pengertian "sangat berarti" adalah tidak sarna dengan "arti" (yang menunjukkan pada informasi yang mendifinisikan unit verbal). Misal: kata "mama" memiliki karakteristik materi sangat berarti bagi seorang anak dibandingkan kata "komputer" . Nilai Asosiasi Nilai asosiasi adalah presentasi responden tentang beberapa asosiasi dari unit verbal khusus. Karakteristik materi nilai asosiasi memiliki kesamaan dengan karakteristik materi sangat berarti. Familiaritas Karakteristik materi familiaritas adalah materi yang sudah familiar atau dikenal oleh seseorang. Pada umumnya penilaian tentang familiaritas materi dibuat dalam skala 1sampai 7, dari mulai yang tidak familiar sampai sangat familiar. Kemampuan Pengucapan Penilaiankemampuanpengucapanmateribelajar verbalmerupakanpenilaian darikemudahan pengucapan unit verbal. Penilaian tersebut menggunakan skala 1sampai 7, dari materi yang tidak mampu diucapkan sampai sangat mampu diucapkan. 44 Imagery Imagerymerupakankarakteristikmateribelajarverbalyangberupamudahtidaknyaseseorang membuat gambaran mental tentang materi tersebut di dalam dirinya. Berkenaan dengan imagery tersebut digunakan "conceptual-peg hypothesis" (hipotesa taraf konseptual) yaitu dugaanbahwaseseorangmembuatimajinasi(yangberupagambaranmental)atas stimulus yang diterima nya. Misal: hipotesis tarafkonseptual dapat digunakan untuk menduga bahwa pada umumnya pasangan kata: "disck break" lebih sulit dipahami dari pada pasangan kata "coffee break". Alasannya adalah kata "disck" lebih sulit dibayangkan dari pada kata "coffee". Ketergantungan Rangkaian Prinsip ketergantungan rangkaian didasarkan atas pengetahuan bahwa fonim, huruf dan kata tergantung kepada rangkaiannya. Pada umumnya prediksi secara statistik nampak bahwa bila lebih besar ketergantungan pada rangkaiannya maka lebih mudah akuisisi (pemerolehan)

dari unit lisan tersebut. Misal: dalam bahasa Inggris, rangkaian hurufnya sangat ekslusif. Jika huruf "Q" yang dimunculkan, maka dalam penyebutan selanjutnya diharapkan muncul huruf "R". Semen tara huruflainnya tidaklah memiliki ketergantungan rangkaian sebesar huruf "R" bila dirangkaikan dengan huruf "Q". Asosiasi Simetri Prinsip asosiasi simetri merupakan satu prinsip yang telah diusulkan tetapi belum didukung oleh hasil penelitian yang menyakinkan. Prinsip asosiasi simetri menunjukkan bahwa apabila pasangan stimulus (S)-respon (R) dipelajari organisma, maka pasangan R-Sjuga akan sarna kuatnya dipelajari organisma tersebut. Sedangkan konsep belajar yang lain menunjukkan bahwa pasangan S-R akan dipelajari lebih kuat dibandingkan belajar pasangan R-S. Karena organisma tidak memiliki kesiapan yang cepat untuk mempelajari pasangan R-S sebagaimana ia membuat respon yang asli (pasangan S-R). 45 --http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_belajar/bab6_belajar_verbal.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->