DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ A. KONDISI UMUM .................................................................................... B. POTENSI DAN PERMASALAHAN ........................................................ C. DASAR HUKUM .................................................................................... BAB II VISI, MISI DAN TUJUAN ........................................................................... A. VISI ........................................................................................................ B. MISI ....................................................................................................... C. TUJUAN ................................................................................................ D. SASARAN STRATEGIS ........................................................................ BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI TAHUN 2010- 2014 ................................................. 1 1 19 25 29 29 29 30 31

36

A. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DI BIDANG PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI TAHUN 2010-2014 ........................................................................................... 36

B. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TAHUN 2010-2014 ............................................................................................. 40 C. TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI .............................. BAB IV PENUTUP ................................................................................................... LAMPIRAN .............................................................................................................. LAMPIRAN 1 : TARGET PEMBANGUNAN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI LAMPIRAN 2 : KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI 48 52

LAMPIRAN 3 : MATRIKS ARAH KEBIJAKAN DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMANDAN PENEMPATAN TRANSMIGRASITAHUN 2010-2014 LAMPIRAN 4 : RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI
Jalan TMP Kalibata Nomor 17 Jakarta Selatan, 12750 Telpon 7989912-7989919, Faksimile 7989936

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI NOMOR : KEP.19/ P4-TRANS/ III/ 2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI TAHUN 2010 - 2014 DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Diktum KETIGA huruf a Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER. 03/MEN/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tahun 2010-2014, perlu menyusun Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembinaan

Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Tahun 2010 - 2014; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3682) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5050); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3800); 5. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; tentang

6. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014; 7. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009; 8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.05/MEN/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagaimana beberapa kali telah diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan transmigrasi Nomor PER.28/MEN/XII/2008; MEMUTUSKAN Menetapkan KESATU : : Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Tahun 2010 – 2014 yang selanjutnya disebut Renstra Ditjen P4Trans Tahun 2010 –

2014, yang penjabarannya sebagaimana dimaksud dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Keputusan Direktur Jenderal ini. KEDUA : Renstra Ditjen P4Trans Tahun 2010 – 2014 sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU disusun sebagai acuan untuk: a. Penyusunan Renstra Unit Eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi; b. penyusunan rencana kerja Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi; c. penyusunan rencana/program pembangunan daerah di bidang Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi; d. koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor, antar instansi, di pusat dan daerah serta antar daerah; e. pengendalian pembangunan bidang Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi; f. menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi.

KETIGA

:

Renstra sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA huruf a, harus sudah selesai disusun oleh Unit Eselon II, paling lama 1 (satu) bulan sejak ditetapkannya Renstra Ditjen P4Trans Tahun 2010 – 2014 sebagai penjabarannya. Keputusan Direktur Jenderal ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2010 DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI,

KEEMPAT

:

HARRY HERIAWAN SALEH NIP 19550324 198103 1 001

LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI NOMOR : PER 19/P4TRANS/III/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMIGRASI TAHUN 2010-2014 BAB I PENDAHULUAN A. KONDISI UMUM 1. Arahan pembangunan transmigrasi dalam RPJM Nasional 2010-2014 Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 menyatakan bahwa “Indonesia memiliki potensi geografi yang strategis yang ditopang oleh sumber daya alam yang memadai, warisan luhur budaya yang kuat, dan sumber daya manusia yang besar dan mendapat pendidikan makin baik dari waktu ke waktu. Dalam lima belas tahun

1

mendatang, komposisi penduduk usia produktif masih akan meningkat, yang berarti menjadi tantangan dan sekaligus kesempatan bagi Indonesia untuk melakukan investasi sumber daya manusia yang bermutu dan berkesinambungan untuk menciptakan bangsa yang memiliki daya saing yang makin tinggi”1). Menghadapi realitas tersebut, RPJMN 2010-2014 menetapkan bahwa transmigrasi merupakan bagian dari bidang pembangunan Wilayah dan Tata Ruang dengan prioritas bidang pembangunan perdesaan dan pengembangan ekonomi lokal dan daerah untuk mendukung prioritas nasional ke 10, yaitu percepatan pembangunan Daerah Teringgal, Perbatasan, dan Paska Konflik. Sejalan dengan arahan RPJMN tahun 2010-2014 tersebut, maka pembangunan transmigrasi diprioritaskan pada upaya pemanfaatan dan pengelolaan potensi sumberdaya alam melalui pengintegrasian pembangunan dan pengembangan kawasan perdesaan sebagai hinterland dengan pengembangan kawasan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan dalam satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah. Dengan demikian, pembangunan di bidang transmigrasi tidak hanya terbatas pada aspek wilayah dan tataruang secara fisik, melainkan juga pada aspek sumberdaya manusia yang pada gilirannya harus mampu memberikan kontribusi

1)

RPJMN 2010-2014, Bab 4.1.2.

2

secara nyata dan terukur dalam pembangunan perdesaan serta pengembangan ekonomi lokal dan daerah dalam rangka meningkatkan daya saing daerah. 2. Wilayah dan Tata Ruang Wilayah NKRI merupakan kesatuan wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, dan berupa negara kepulauan yang luas sehingga menjadikan Indonesia memiliki nilai strategis. Letaknya berada di antara dua lempeng Australia dan Eurasia sehingga Indonesia juga memiliki kerentanan akan bencana. NKRI juga memiliki keberagaman yang tinggi antarwilayah seperti keberagaman dalam kualitas dan kuantitas sumber daya alam, kondisi geografi dan demografi, agama, serta kehidupan sosial budaya dan ekonomi, sehingga dimensi kewilayahan harus dijadikan pertimbangan utama dalam melaksanakan pembangunan. Dalam pembangunan bidang wilayah dan tata ruang kesenjangan antarwilayah masih merupakan isu strategis yang menonjol. Kesenjangan antarwilayah masih terlihat dari intensitas kegiatan ekonomi yang masih terpusat di Jawa dan Bali. Kontribusi provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Bali terhadap total perekonomian nasional (termasuk migas), adalah 64,78%, sedangkan wilayah Sumatera 20,44%, Sulawesi 6%, Kalimantan 6%, dan Papua, Kepulauan Maluku serta Kepulauan Nusa Tenggara masing-masing kurang dari 2%.

3

Kesenjangan antarwilayah juga terlihat dari aspek sosial. Dari nilai indeks pembangunan manusia (IPM), IPM tertinggi dijumpai di provinsi-provinsi di Pulau Jawa-Bali, yaitu tertinggi Provinsi DKI Jakarta yang mencapai 76.3, sedangkan terendah ditemukan di provinsi-provinsi di luar Pulau Jawa, yaitu di Provinsi Papua dengan IPM sebesar 62,8. Selain itu, masyarakat di luar Pulau Jawa, terutama wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan masih menghadapi permasalahan dalam pemenuhan hak-hak dasar rakyat terutama pangan dan gizi, perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan, pengurangan pengangguran dan kemiskinan, pengurangan kasus pembalakan hutan dan pencurian ikan, serta pencegahan kerusakan lingkungan. Dari aspek kependudukan, kesenjangan antar wilayah juga ditandai oleh sebaran penduduk yang terpusat di wilayah Jawa Bali, yaitu sekitar 60% dengan luas wilayah hanya sekitar 7% dari total wilayah nasional. Sementara jumlah penduduk di Papua hanya sekitar 2% dengan luas wilayah sekitar 22% dari total nasional (Tabel 1) sehingga tantangan dalam lima tahun mendatang adalah mendorong persebaran penduduk secara seimbang dan merata ke seluruh wilayah. Tabel 1 : Persebaran Penduduk Antar Wilayah Tahun 2009

4

Wilayah Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Nusa Tenggara Maluku Papua Nasional
 

Jumlah (ribuan jiwa) 49.615,4 137.711,1 13.065,8 16.767,7 9.053,7 2.314,5 2.841,4 231.369,6

% 21,4 59,5 5,6 7,2 3,9 1,0 1,2 100

Kepadatan (Jiwa/Km2) 103,2 1.018,4 24,0 88,9 134,5 29,3 6,8 121,1

Sumber : RPJMN 2010-2014, hal. III.1-2

Dengan memusatnya penduduk di wilayah Jawa Bali dan Sumatera, jumlah angkatan kerja tertinggi berada di wilayah Sumatera dan Jawa-Bali, sedangkan jumlah angkatan kerja terendah di wilayah Maluku dan Papua. Sementara, tingkat pengangguran tertinggi terdapat di wilayah Maluku dan Jawa Bali sebesar 8,8%. Di luar wilayah Maluku dan Jawa Bali, tingkat pengangguran tertinggi terdapat di Sumatera sebesar 7,7%, Sulawesi sebesar 7,5% dan Kalimantan sebesar 7,0% (Tabel 2) sehingga tantangan dalam lima tahun mendatang adalah menciptakan kesempatan kerja dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan baru di wilayah Jawa5

Bali dan membangun pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tabel 2 : Persentase pengangguran terbuka tahun 2004-2009 Wilayah Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Nusa Tenggara Maluku Papua Nasional   2004 10,0 10,0 12,7 6,0 7,5 9,9 8,0 9,9 2005 10,2 10,6 12,0 7,1 7,4 10,8 7,1 10,3 2006 11,9 10,4 10,7 6,9 8,3 12,5 6,0 10,4 2007 9,6 10,2 9,9 5,8 7,9 11,8 6,6 9,8 2008 9,1 8,8 9,1 4,4 7,3 9,3 5,9 8,6 2009 7,7 8,8 7,5 4,3 7,0 8,8 5,0 8,1

Sumber : RPJMN 2010-2014, hal. III.1-3

Tabel 3 : Jumlah dan %tase Penduduk Miskin di Perdesaan dan Perkotaan Menurut Wilayah Tahun 2005-2008
6

Jumlah penduduk miskin (Juta Jiwa) Wilayah Kota Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Nusa Tenggara Maluku Papua Nasional 2,6 8,7 0,4 0,4 0,7 0,1 0,0 12,8 Desa 4,7 11,5 0,8 2,2 1,5 0,4 0,9 22,2 KotaDesa 7,3 20,2 1,2 2,6 2,2 0,5 1,0 35,0 Kota 13,5 10,2 6,9 9,1 22,5 8,1 6,5 11,0

Persentase Desa 14,8 17,3 11,0 20,9 23,8 25,1 44,9 19,0 KotaDesa 14,4 12,5 8,9 17,6 24,7 20,5 36,1 16,2

Sumber : RPJMN 2010-2014, hal. III.1-4

Kesenjangan antarwilayah juga terlihat dari persebaran jumlah penduduk miskin. Dari jumlah penduduk miskin tahun 2008 sejumlah 34,96 juta jiwa atau 15,4 % dari seluruh penduduk Indonesia, 22,19 juta jiwa diantaranya tinggal di daerah perdesaan dan sisanya 12,77 juta jiwa di daerah perkotaan (Tabel 3). Wilayah Jawa Bali memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.
7

Berdasarkan %tase penduduk miskin, Papua merupakan wilayah dengan angka kemiskinan tertinggi, yaitu sebesar 36,1 %. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa, secara absolut, jumlah penduduk miskin sebagian besar tinggal di wilayah Jawa Bali, yaitu hampir 50 % penduduk miskin, namun %tase kemiskinan di luar wilayah JawaBali jauh lebih tinggi sebagai akibat sulitnya akses masyarakat terhadap pelayanan dasar kesehatan dan pendidikan, air bersih, dan terbatasnya peluang pengembangan kegiatan. Menghadapi kondisi wilayah dan tata ruang yang diwarnai kesenjangan yang cukup besar tersebut, maka pertumbuhan ekonomi harus tersebar ke seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah-daerah yang masih memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Pertumbuhan di seluruh wilayah perlu memperhatikan keterkaitan terhadap pelaku dan sumber daya lokal sehingga masyarakat lebih banyak berperan di dalamnya dan ikut menikmati hasil pertumbuhan, sekaligus nilai tambah yang dinikmati di daerah-daerah. Upaya lain yang perlu dilakukan untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah adalah mengurangi kesenjangan antarpelaku usaha, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tercipta harus dapat memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya dan lebih merata ke sektor-sektor pembangunan, yang banyak menyediakan lapangan kerja. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi melalui

8

investasi harus diarahkan kepada investasi yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. 3. Kawasan Perdesaan Dampak kesenjangan antarwilayah sebagaimana diuraikan pada butir 2, pertumbuhan kawasan perdesaan cenderung tertinggal disbanding dengan kawasan perkotaan. Sementara itu, sejak dilaksanakannya kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, jumlah desa terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan dan desa atau nama lain. Dalam kurun tahun 2005-2008, jumlah desa bertambah 5.802 dari 61.409 tahun 2005 menjadi 67.211 pada tahun 2008 seperti tersebut dalam Tabel 4. Dari aspek kependudukan, kawasan perdesaan yang mencakup sekitar 82 % wilayah Indonesia tersebut, dihuni oleh sekitar 131,8 juta jiwa atau lebih dari 56,86 % penduduk di Indonesia (2009), yang 50.574.685 jiwa (59,82%) diantaranya di pulau Jawa dan Bali. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sumberdaya ekonomi terkonsentrasi di wilayah ini yang luas wilayahnya kurang dari 7 % dari keseluruhan wilayah Indonesia. Tingkat kepadatan penduduk perdesaan tahun 20052008 seperti yang terlihat dalam Tabel 5.

9

Tabel 4 : Perkembangan jumlah Desa 2005-2008 Pulau Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku Nusa Tenggara Papua Jumlah
Sumber : RPJMN 2010-2014

2005 18.657 23.034 5.421 6.455 1.514 3.172 3.156 61.409

2008 21.241 23.046 6.055 7.490 1.781 3.269 4.329 67.211

+/2.584 12 634 1.035 167 97 1.173 5.802

10

Tabel 5 : Jumlah penduduk menurut daerah perdesaan tahun 2005-2008 Pulau Sumatera Jawa dan Bali Kalimantan Sulawesi Maluku Nusa Tenggara Papua Jumlah
Sumber : RPJMN 2010-2014

2005 (jiwa) 30.493.521 67.883.445 7.721.435 11.470.014 1.676.136 6.418.017 1.772.243 127.434.811

% 23,93 53,27 6,06 9,00 1,32 5,04 1,39 100

2008 (jiwa) 18.241.260 50.574.685 3.574.227 4.441.453 5.392.117 1.055.941 1.269.122 84.548.805

% 21,57 59,82 4,23 5,25 6,38 1,25 1,50 100

Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat 60,1 % atau sebesar 37,05 juta pekerja produktif yang ada di perdesaan bekerja di sektor pertanian (Sakernas–BPS, Agustus 2009), yang merupakan kekuatan ekonomi perdesaan yang sangat potensial. Data Sakernas 2009 menunjukkan bahwa jumlah pengangguran terbuka pada bulan

11

Agustus 2009 sebesar 8,96 juta jiwa atau 7,9 % dari total angkatan kerja, sebesar 3,81 juta jiwa atau 5,8 % di antaranya bermukim di perdesaan. Sementara itu, dari jumlah total setengah pengangguran sebesar 31,57 juta jiwa, 23,61 juta jiwa diantaranya juga tinggal di perdesaan, dimana jumlah pekerja pada kegiatan informal mencapai 46,87 juta (75,74%), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja informal di perkotaan yang mencapai 17,97 juta (42,18%). Sebagian besar masyarakat perdesaan umumnya bekerja sebagai buruh dengan upah yang rendah dan menghadapi keterbatasan akses terhadap pelayanan umum. Kondisi tersebut mengakibatkan produktivitas masyarakat perdesaan cukup rendah yang memberikan kontribusi pada tingginya angka kemiskinan di perdesaan. Di pulau Jawa dan Bali, kondisi tersebut diperburuk dengan kepemilikan lahan yang sempit, sementara di luar pulau Jawa dan Bali umumnya dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur yang menyebabkan potensi sumberdaya lahan di perdesaan tidak dapat dikelola secara optimal. Kondisi demikian mengakibatkan dari 32,53 juta (14,15%) penduduk miskin di Indonesia (Maret tahun 2009) lebih dari separuhnya tinggal di perdesaan (20,62 juta). Selain aspek kependudukan dan ketenagakerjaan, kesenjangan antarwilayah juga terjadi antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan yang terlihat dari besarnya peran kawasan perkotaan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi
12

nasional. Kota-kota metropolitan mampu menyumbangkan 23,19% dari total PDRB Nasional tahun 2007, kota-kota besar mampu menyumbangkan 8,83%, sementara kota-kota menengah yang merupakan jenis kota terbanyak di Indonesia hanya mampu menyumbangkan 7,63%. Peran kota-kota besar sebagai engine of growth tidak dapat lepas dari keberadaan sektor-sektor perdagangan besar (formal) dan sektorsektor informal yang ada di kota-kota besar dan metropolitan. Demikian besarnya peran kawasan perkotaan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, berdampak pada kecenderungan terjadinya arus mobilitas penduduk dari kawasan perdesaan ke kawasan perkotaan yang meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut diindikasikan dengan adanya kecenderungan meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan menurunnya penduduk perdesaan dalam kurun 1970-2010 yang diprediksi akan terus berlangsung hingga 2025 seperti tabel 6. 4. Daerah Tertinggal Selain kesenjangan antara kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan, kesenjangan antarwilayah juga ditunjukkan oleh masih tingginya disparitas kualitas sumber daya manusia antarwilayah, perbedaan kemampuan perekonomian antardaerah, serta belum meratanya ketersediaan infrastruktur antarwilayah. Daerahdaerah dengan pencapaian pembangunan yang rendah dikategorikan sebagai daerah
13

tertinggal, dan diperhitungkan memiliki indeks kemajuan pembangunan ekonomi dan sumberdaya manusia di bawah rata-rata indeks nasional. Pada umumnya, kondisi daerah tertinggal masih menghadapi berbagai persoalan yang cukup kompleks akibat (1) pengelolaan potensi sumber daya lokal dalam pengembangan perekonomian daerah tertinggal masih belum optimal, (2) rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tingkat kesejahteraan masyarakat, (3) lemahnya koordinasi antarpelaku pembangunan, (4) belum optimalnya tindakan afirmatif, (5) rendahnya aksesibilitas, dan (6) terbatasnya sarana dan prasarana pendukung ekonomi. Kondisi rendahnya kualitas sumberdaya manusia dicirikan oleh pencapaian indeks pembangunan manusia (IPM) yang pada tahun 2008 sebanyak 85 % IPM daerah tertinggal berada di bawah IPM nasional (71,2), dan sebagian besar IPM kabupaten daerah tertinggal berada di bawah garis nilai IPM nasional. Daerah tertinggal juga masih menjadi konsentrasi adanya kemiskinan, yaitu dengan rata-rata tingkat kemiskinan sebesar 23,4 %. Penyebaran tingkat kemiskinan kabupaten daerah tertinggal sebagian besar (75 %) berada di atas garis tingkat kemiskinan nasional (16,6 %). Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan tingginya kemiskinan tersebut, di antaranya berkaitan dengan permasalahan rendahnya akses masyarakat terhadap pelayanan dasar khususnya pendidikan dan kesehatan, serta

14

rendahnya akses terhadap sumber perekonomian yang dapat mendukung daya beli masyarakat. Tabel 6 : Persentase penduduk perkotaan dan perdesaan Indonesia Tahun 1970-2025 Tahun 1970 1980 1990 1995 2002 2005 2010 2015 2020 2025 Perdesaan (% penduduk) 82,60 77,73 69,10 64,09 56,01 51,70 47,97 43,95 39,61 34,95 Perkotaan (% penduduk) 17,40 22,27 30,90 35,91 43,99 48,30 52,03 56,05 60,39 65,05

Sumber : RPJMN 2010-2014, dengan asumsi growth 1.5 %/thn.

15

Rendahnya akses masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan ditunjukkan dari kabupaten daerah tertinggal yang memiliki lebih dari 25 % dari total desanya sulit hingga sangat sulit mengakses puskesmas, masih mencapai 94 Kabupaten (51 %) dari total daerah tertinggal. Sementara itu, untuk mewujudkan program wajib belajar 9 tahun di daerah tertinggal umumnya dihadapi persoalan dalam mengakses pelayanan sekolah lanjutan (SLTP). Rendahnya akses terhadap pelayanan sekolah lanjutan (SLTP) tersebut, ditunjukkan dari kabupaten daerah tertinggal yang memiliki lebih dari 25 % dari total desanya tidak memiliki SLTP dan berjarak di atas 5 Km menuju SLTP terdekat masih mencapai 110 Kabupaten (60 % dari total daerah tertinggal). Bahkan, wilayah Papua umumnya memiliki %tase desa yang sulit mengakses pelayanan pendidikan (khususnya SLTP) dan pelayanan puskesmas sebagian besar di atas 50 pesen dari total desa di setiap kabupaten. Berdasarkan ukuran PDRB perkapita nonmigas pada tahun 2007, daerah tertinggal baru mencapai rata-rata sebesar Rp 7,6 juta, sedangkan rata-rata PDRB perkapita seluruh kabupaten/kota di Indonesia telah mencapai 12,5 juta. Hal ini mengindikasikan pentingnya akselerasi laju pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal, agar mampu mengurangi kesenjangan dengan daerah yang telah maju. Permasalahan dari berbagai aspek tersebut, umumnya dihadapi daerah-daerah yang belum berkembang dan secara geografis terisolir dan terpencil, termasuk daerah
16

perbatasan antarnegara, pulau-pulau kecil terluar (terdepan), daerah pedalaman, serta kawasan rawan bencana alam dan bencana sosial. 5. Daerah Perbatasan Indonesia berbatasan dengan 10 (sepuluh) negara tetangga, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Australia, Timor Leste, Palau, dan Papua Nugini. Secara keseluruhan kawasan perbatasan dengan negara tetangga tersebar di 12 (dua belas) provinsi yang mencakup 38 kabupaten/kota sebagai prioritas pembangunan nasional yang di dalamnya akan dikembangkan 26 Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai kota utama selama sepuluh tahun kedepan. Pada umumnya, persoalan yang dihadapi dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan perbatasan mencakup (1) belum berkembang kota-kota utama kawasan perbatasan sebagai pusat kegiatan ekonomi kawasan perbatasan, (2) tingginya keluarga miskin sebagai implikasi dari rendahnya kualitas sumberdaya manusia, (3) minimnya infrastruktur sosial ekonomi, (4) rendahnya produktivitas masyarakat dan belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya alam, (5) tingginya perbedaan tingkat kesejahteraan dengan negara tetangga.

17

6. Pencapaian Kinerja Tahun 2005-2009 Periode tahun 2005-2009 merupakan tahun transisi pembangunan transmigrasi dari pendekatan pembangunan permukiman (UPT) ke pembangunan berbasis kawasan. Oleh karena itu, sebagian besar pembangunan transmigrasi pada periode ini merupakan kelanjutan tahun-tahun sebelumnya yang masih berbasis permukiman (UPT). Pembangunan transmigrasi berbasis kawasan baru mulai dirintis tahun 2007 dengan skema Kota Terpadu Mandiri (KTM) yang mengintegrasikan permukiman transmigrasi dengan permuiman penduduk setempat dalam satu kesatuan. Selanjutnya, melalui perubahan UU No. 15 Tahun 1997 dengan UU No. 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian, pembangunan transmigrasi berbasis kawasan dengan sekma KTM dibakukan sebagai upaya mengintegrasikan pembangunan kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan menjadi satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah, baik untuk membentuk Kawasan Perkotaan Baru maupun untuk mendukung Kawasan Perkotaan Baru yang ada atau yang sedang berkembang. Kinerja Penempatan unit Rumah Transmigrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Transmigrasi Tahun 2005-2009 mencakup : (1) pembangunan 42.224 Transmigran dan Jamban Keluarga (RTJK) pada 445 Permukiman sebagai embrio Desa dengan berbagai sarana dan prasarana
18

pendukungnya, (2) fasilitasi perpindahan transmigran terintegrasi dengan penataan persebaran penduduk di permukiman transmigrasi sejumlah 46.053 Keluarga, serta (3) persiapan pembangunan transmigrasi berbasis kawasan dengan skema KTM sejumlah 26 Kawasan, 12 Kawasan diantaranya dalam proses pembangunan fisik, dan 14 Kawasan lainnya dalam proses persiapan. Sebagai upaya mendorong partisipasi Badan Usaha untuk mengembangkan investasi terintegrasi dengan pembangunan kawasan transmigrasi, berhasil difasilitasi pengembangan investasi oleh 21 Badan Usaha bermitra dengan masyarakat transmigrasi dengan nilai investasi Rp.7,078 trilyun. Rincian kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi tahun 2005-2009 disajikan pada Tabel 7.

B. POTENSI DAN PERMASALAHAN Pembangunan yang selama ini cenderung mengabaikan potensi sinergis kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan dalam suatu konsep pengembangan wilayah mengakibatkan pertumbuhan kawasan perdesaan cenderung tertinggal. Ketertinggalan kawasan perdesaan tersebut bahkan mengakibatkan terjadinya aliran sumberdaya
19

manusia dan modal dari perdesaan ke perkotaan yang mengakibatkan semakin besarnya kesenjangan antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan. Dampak kesenjangan antara kawasan perdesaan-perkotaan yang cukup besar tersebut tidak semata kepada aspek ketertinggalan kawasan perdesaan, tetapi juga aspek lain yang kompleks seperti halnya pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, juga dinamika kependudukan.

Tabel 7 : Kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan dan Penempatan Transmigrasi Tahun 2005-2009 Bangkim KIM RTJK (Lok) Bang Kawasan Fisik Persiapan

Permukiman

Tahun

Faspin dan Penataan Penduduk Realisasi Program Sisa (Kel) (Kel) Kel %
20

2005 2006 2007 2008 2009 Jml

73 135 79 75 83 445

4.645 10.973 8.222 9.811 8.573 42.224

0 0 0 3 9 12

0 0 0 23 17 14

9.750 15.748 10.250 11.168 9.330 56.102

4.570 14.398 8.701 9.84 8.800 46.053

47,75 91,21 84,88 85,81 94,31 82,08

5.000 1.386 1.549 1.584 530 11.049

Salah satu indikasi betapa besarnya dampak kesenjangan antara kawasan perdesaan dengan kawasan perkotaan adalah laporan State of World Population 2007, UNFPA yang menyebutkan bahwa pada tahun 2008 lebih dari separuh penduduk dunia (3,3 milyar jiwa) tinggal di daerah urban dan akan naik menjadi 5 milyar pada tahun 2030. Sedangkan BPS (2005) memproyeksikan presentase penduduk di perkotaan di Indonesia tahun 2005 mencapai 58 % dan akan meningkat menjadi 68% pada tahun 2025 (bahkan Jabar, DIY, dan Banten akan lebih dari 80 %. Pertumbuhan penduduk urban di kawasan perkotaan tersebut sebenarnya bisa positif, tetapi juga potensial meciptakan masalah jika tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Beberapa persoalan yang potensial timbul antara lain (1) meningkatnya kemiskinan, permukiman kumuh, dan rendahnya pelayanan publik, (2) meningkatnya pertumbuhan sektor ekonomi informal akibat sektor formal tidak mampu menampung tenaga kerja, (3) potensial
21

memicu konflik antara penduduk urban miskin dengan Pemerintah Kota, dan (4) bertambah kompleksnya masalah sosial, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan lain sebagainya. Dampak dari perkembangan kependudukan tersebut, disatu sisi terdapat Pemerintah Daerah yang menghadapi masalah keterbatasan sumberdaya manusia untuk mengembangkan wilayahnya dan disisi lain juga terdapat Pemerintah Daerah yang menghadapi tekanan kependudukan cukup berat akibat keterbatasan potensi sumberdaya alam wilayahnya. Kondisi demikian pada tahun 2009 telah mendorong minat masyarakat dari kawasan perdesaan di Lampung, pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sekitar 250 ribuan keluarga untuk pindah melalui transmigrasi. Masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah tersebut, pada dasarnya merupakan potensi sinergis yang dapat diintegrasikan melalui kerjasama antar daerah di bidang transmigrasi. Menghadapi realitas tersebut, perubahan UU Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dengan UU Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian mengamanatkan adanya 4 (empat) perubahan pokok. Pertama, pendekatan pembangunan transmigrasi tidak lagi menekankan pada perpindahan penduduk, tetapi lebih menekankan pada pendekatan spasial berbasis pengembangan kawasan. Kedua, peran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang sebelumnya sebatas sebagai pelaksana diubah menjadi inisiator
22

sejak perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pelaksanaan transmigrasi, walaupun fungsi penyelenggaraan tetap Pemerintah. Ketiga, dalam pelaksanaan transmigrasi, Pemerintah dan Pemerintah Daerah diwajibkan untuk memberikan kemudahan kepada Badan Usaha terutama dalam mengembangkan investasi di Kawasan Transmigrasi. Keempat, jenis-jenis Transmigrasi lebih dipertegas perbedaannya antara Transmigrasi Umum (TU), Transmigrasi Swakarsa Berbantuan (TSB), dan Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM). Sejalan dengan itu, maka dalam menghadapi besarnya kesenjangan antar wilayah dan besarnya jumlah penduduk miskin di perdesaan, RPJM Nasional tahun 2010-2014 menempatkan transmigrasi sebagai bagian dari bidang pembangunan Wilayah dan Tata Ruang dengan prioritas bidang Perdesaan dan Pengembangan Ekonomi Lokal dan Daerah. Dalam fokus prioritas RPJM Nasional tahun 2010-2014, transmigrasi merupakan salah satu alternatif solusi untuk mengintegrasikan pembangunan kawasan perdesaan sebagai hinterland dengan kawasan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan dalam satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah dalam rangka peningkatan daya saing daerah. Memperhatikan berbagai potensi dan peluang tersebut, maka pembangunan transmigrasi berbasis kawasan yang diamanatkan UU No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian sebagaimana diubah dengan UU No. 29 Tahun 2009 tentang
23

Perubahan Atas UU No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian merupakan peluang yang cukup besar untuk mengembangkan potensi sumberdaya kawasan perdesaan menjadi kawasan produksi terintegrasi dengan kawasan perkotaan dalam satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah. Kondisi yang dihadapi dalam pengembangan potensi sumberdaya perdesaan dalam lima tahun kedepan adalah : (1) potensi SDA kawasan belum dimanfaatkan secara optimal, (2) terbatasnya sarana dan prasarana, (3) terbatasnya alternatif lapangan kerja, (4) terbatas kapasitas kelembagaan, dan (5) meningkatnya degradasi SDA dan lingkungan hidup. Selain itu, jumlah penduduk perdesaan yang semakin menurun dari tahun ke tahun dengan kualitas relatif rendah yang ditandai dengan rendahnya etos kerja dan usaha, rendahnya kreativitas, dan cenderung permisif, pasif dan mengandalkan bantuan Pemerintah/Pemerintah Daerah semakin memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat perdesaan. Sementara pembangunan perdesaan menghadapi berbagai persoalan yang cukup kompleks, terdapat potensi sumberdaya alam yang sebenarnya dapat diintegrasikan menjadi modal pembangunan. Dampak semakin menurunnya jumlah penduduk perdesaan dan meningkatnya penduduk perkotaan antara lain mengakibatkan semakin luasnya jumlah tanah terlantar di perdesaan. Sampai dengan tahun 2009, BPN telah menginventarisasi tanah-tanah yang diindikasikan terlantar seluas 7,3 juta hektar, diantaranya 3,1 juta hektar tanah terdaftar dan 4,3 juta hektar tanah yang telah ada dasar
24

penguasaannya tetapi belum dilekati hak atas tanah. Dari 3,1 juta hektar tanah terdaftar yang diindikasikan terlantar, seluas 1,3 juta hektar berupa tanah yang telah diterbitkan Hak Guna Usaha (HGU)nya. Selain tanah terlantar dan diindikasikan terlantar, Badan Planologi (Baplan) Kehutanan (2007) menyebutkan bahwa terdapat sekitar 120,35 juta Ha lahan hutan yang telah keluar penunjukannya, yaitu Hutan Lindung seluas 33,52 juta Ha, Hutan Produksi (termasuk HPK) seluas 66,33 juta Ha, dan Hutan Konversi seluas 20,50 juta Ha. Baplan Kehutanan juga menyebutkan bahwa sampai dengan November 2007 terdapat kawasan hutan yang telah dilepaskan untuk kepentingan transmigrasi seluas 1.561.875 Ha yang terdiri atas 605.203 Ha pada tahap ijin prinsip, dan 956.672 Ha pada tahap SK pencadangan. Potensi tanah-tanah terlantar dan diindikasikan terlantar serta potensi kawasan hutan yang telah dilepaskan tersebut merupakan peluang untuk pembangunan Kawasan Transmigrasi menjadi satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah dalam rangka meningkatkan daya saing daerah. C. DASAR HUKUM 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Ketransmigrasian

25

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5050); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana beberapa kali telah diubah terakhir dengan UU No. 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849); 4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan PusatDaerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 5. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Nasional 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
26

7. Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 161 (Lembaran Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5080); 8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3800); 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5004); 11. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014; 12. Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;

27

13. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84 Tahun Pembentukan dan Pengangkatan Kabinet Indonesia Bersatu II;

2009

tentang

14. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.05./MEN/ IV/ 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.28./MEN/ XII/ 2008. 15. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.03./MEN/ I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tahun 2010-2014. BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN A. VISI Sebagai salah satu sub sistem dari pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian, Pembangunan Kawasan Transmigrasi diarahkan untuk mendukung tercapainya Visi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yaitu Terwujudnya Tenaga Kerja dan Masyarakat Transmigrasi Yang Produktif, Berdaya Saing, dan Sejahtera.

28

Sejalan dengan itu, maka Visi Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi ditetapkan sebagai berikut: TERBANGUNNYA PERMUKIMAN DI KAWASAN TRANSMIGRASI TERINTEGRASI DENGAN PUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI B. MISI Untuk mewujudkan visi tersebut, Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi sebagai sub sistem pembangunan ketransmigrasian mengemban misi sebagai berikut: 1. Mendorong peranserta masyarakat dan badan usaha dalam pembangunan transmigrasi 2. Menyediakan tanah yang bebas dari pemilikan dan penguasaan serta memberikan layanan pertanahan transmigrasi 3. Menyusun perencanaan kawasan transmigrasi dan perencanaan SDM transmigrasi. 4. Melaksanakan pembangunan permukiman dan infrastruktur Kawasan Transmigrasi 5. Memfasilitasi perpindahan dan penempatan transmigrasi dalam mendukung penataan keseimbangan persebaran penduduk di daerah asal dan di kawasan transmigrasi.
29

6. Melaksanakan pembinaan teknis dan manajemen Direktorat Jenderal.

C. TUJUAN 1. Meningkatkan peran serta lembaga pemerintah, lembaga non pemerintah dan masyarakat melalui promosi, publikasi dan motivasi serta mediasi. 2. Menyediakan tanah untuk kebutuhan pembangunan permukiman di kawasan transmigrasi melalui fasilitasi pengadaan tanah sampai dengan pengurusan hak atas tanah. 3. Mewujudkan perencanaan kawasan transmigrasi berupa perencanaan WPT atau LPT, perencanaan SKP, perencanaan teknis satuan permukiman, sarana dan prasarana serta perencanaan SDM. 4. Mewujudkan permukiman transmigrasi yang layak dan infrastuktur kawasan yang dapat mengintegrasikan antar permukiman dalam satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi. 5. Mendorong perpindahan dan penempatan transmigrasi yang terarah, tertib, teratur, dan serasi untuk mengurangi tekanan kependudukan daerah asal dan memenuhi kebutuhan SDM di kawasan transmigrasi. 6. Melaksanakan pembinaan teknis dan manajemen Direktorat Jenderal
30

D. SASARAN STRATEGIS 1. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan transmigrasi, dengan indikator pencapaian sebagai berikut : a. Instansi yang bekerjasama yang mendukung program transmigrasi sejumlah 180 lembaga b. Kabupaten/kota yang bersedia sejumlah 1.134 kab/kota. melaksanakan pembangunan transmigrasi

c. Minat masyarakat untuk mengikuti program transmigrasi sejumlah 238.590 keluarga. d. Kesepakatan bersama antar pemerintah provinsi dan perjanjian kerjasama antar pemerintah kabupaten/kota sejumlah 288 kab/kota. e. Nilai rencana investasi yang akan dikembangkan oleh badan usaha sejumlah Rp. 21,3 Trilyun 2. Tersedianya lahan untuk pembangunan kawasan transmigrasi, dengan indikator pencapaian sebagai berikut : a. Lahan seluas 500.000 Ha.

31

b. Lahan yang didukung oleh legalitas seluas 175.900 Ha. c. Lahan yang dibagikan seluas 88.346 Ha. d. Data bidang tanah sejumlah 303 lokasi. e. Jumlah dan jenis dokumen pertanahan sebanyak 30 dokumen. f. Persentase penyelesaian kasus pertanahan dari 78 kasus. 3. Tersedianya rencana pembangunan kawasan transmigrasi dan rencana penataan persebaran penduduk di kawasan transmigrasi, dengan indikator pencapaian sebagai berikut: a. RWPT sejumlah 37 WPT. b. RKSKP sejumlah 82 SKP. c. RTSP sejumlah 253 SP. d. RTSarpras Permukiman sejumlah 46 Sarpras. e. RTSarpras KPB sejumlah 40 DED. f. RTSDM sejumlah 84 SKP. g. Penyusunan data potensi sasaran pengarahan dan perpindahan transmigrasi sejumlah 135 kabupaten.

32

4. Termanfaatkan dan terkelolanya sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui pembangunan kawasan transmigrasi dalam bentu WPT atau LPT yang layak, dengan indikator pencapaian sebagai berikut: a. Lahan yang dibuka seluas 52.561 Ha b. Lahan siap bangun di pusat Kawasan Perkotaan Baru sejumlah 2.082 Ha. c. Jalan antar kawasan transmigrasi dengan kawasan lain sepanjang 64 Km. d. Jalan antar SKP, antar permukiman dan jalan lingkungan permukiman transmigrasi sepanjang 951 Km. e. Rumah transmigran dan jamban keluarga yang dibangun 45.232 unit. f. Rumah penduduk setempat yang dipugar/dikembangkan 6.985 unit. g. Fasilitas umum/fasilitas sosial yang dibangun/dikembangkan sejumlah 170 unit. h. Sarana Air Bersih dan sanitasi yang dibangun sejumlah 11.505 paket. i. Sarana dan prasarana Kawasan Perkotaan Baru yang disiapkan sejumlah 11.441 sarpras.

5. Terwujudnya persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung sumber daya alam dan daya tampung lingkungan hidup di kawasan transmigrasi, dengan indikator pencapaian sebagai berikut:
33

a. Jumlah penduduk yang difasilitasi perpindahannya ke kawasan transmigrasi sejumlah 44.233 keluarga. b. Jumlah penduduk yang tertata terintegrasi dalam kawasan transmigrasi sejumlah 176.843 keluarga. c. Data administrasi kependudukan masyarakat di kawasan transmigrasi sejumlah 44.233 keluarga. d. Jumlah bantuan perbekalan yang diberikan kepada calon transmigran sejumlah 44.233 paket. e. Jumlah fasilitasi pelatihan calon transmigran sejumlah 1.471 angkatan. 6. Tersedianya dukungan manajemen dan teknis terhadap pelaksanaan pembangunan transmigrasi dan perpindahan transmigrasi, dengan indikator pencapaian sebagai berikut: a. Program dan anggaran untuk setiap satuan kerja selama 60 bulan (setara dengan 438 Satuan Kerja) b. Pelaksanaan anggaran dan laporan keuangan selama 60 bulan (setara dengan 438 Satuan Kerja) c. Sarana dan prasarana kerja bagi 6 Satuan Kerja

34

d. Pegawai yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan organisasi selama 60 bulan (setara dengan 2.331 orang). e. Norma, Standar, Kriteria dan Prosedur sejumlah 46 NSPK.

35

BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMGIRASI TAHUN 2010-2014 A. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DIBIDANG PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMGIRASI TAHUN 2010-2014 1. Tahun 2010 a. Kebijakan penyiapan permukiman transmigrasi diarahkan untuk mendukung percepatan pembangunan wilayah tertinggal, wilayah strategis dan cepat tumbuh, dan wilayah perbatasan. Strategi yang ditempuh untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: 1) Meningkatkan kualitas pembangunan permukiman baru yang mengarah kepada pembangunan transmigrasi berbasis kawasan; 2) Mengintegrasikan pembangunan permukiman penduduk setempat; transmigrasi baru dengan pemugaran

36

3) Memprioritaskan kawasan strategis dan cepat tumbuh untuk penempatan transmigran Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM) dan Transmigrasi Swakarsa Berbantuan (TSB); 4) Meningkatkan pelayanan investasi di kawasan transmigrasi. b. Kebijakan fasilitasi perpindahan transmigrasi diarahkan untuk menyediakan sumberdaya manusia berkualitas terintegrasi dengan penataan persebaran penduduk di permukiman transmigrasi. Strategi yang ditempuh untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: 1) Menyempurnakan sistem perencanaan permukiman sebagai acuan kerjasama antar daerah; 2) Meningkatkan kualitas rekrutmen calon transmigran; 3) Meningkatkan kualitas pelatihan calon transmigran.

Arah kebijakan dan strategi bidang ketransmigrasian tahun 2010 akan dilaksanakan melalui 3 (tiga) program yaitu:

37

a. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.157.925.700.000,b. Program Pengembangan Wilayah Tertinggal, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.375.993.580.000,c. Program Pengembangan Wilayah Perbatasan, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.83.766.000.000,d. Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik Rp.29.175.848.000,-

2. Tahun 2011-2014 Kebijakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan ketransmigrasian adalah mengembangkan potensi sumberdaya alam perdesaan terintegrasi dengan pengembangan perkotaan dalam satu kesatuan sistem pengembangan ekonomi wilayah dalam bentuk Wilayah Pengembangan Transmigrasi (WPT) atau Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT), serta fasilitasi perpindahan dan penempatan penduduk untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia dan memberikan peluang usaha di kawasan transmigrasi. Strategi yang ditempuh untuk mendukung kebijakan tersebut adalah:
38

a. Mengintegrasikan pembangunan WPT atau LPT dengan pemugaran permukiman penduduk setempat, pembangunan permukiman pada kawasan potensial, dan revitalisasi permukiman transmigrasi yang ada untuk membentuk atau mendukung kawasan perkotaan baru dengan skema KTM; b. Menetapkan produk unggulan sejak perencanaan dan pembangunan permukiman melalui pola pengembangan agribisnis dan agroindustri; c. Mengembangkan investasi melalui kerjasama kemitraan Badan Usaha dengan masyarakat di kawasan transmigrasi; d. Memberikan akses kepada masyarakat terhadap informasi potensi dan peluang yang tersedia di kawasan transmigrasi; e. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia calon transmigran serta pembekalan mental dan etos kerja; f. Meningkatkan kualitas seleksi calon transmigran; g. Meningkatkan kualitas mediasi kerjasama antar daerah.

Arah kebijakan dan strategi pembangunan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi

bidang Pembinaan Penyiapan dilaksanakan melalui Program
39

Pembangunan Kawasan Transmigrasi dengan dukungan anggaran selama empat tahun sebesar Rp 3.170.000.000.000, meliputi kegiatan: a. Penyediaan Tanah Transmigrasi; b. Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Transmigrasi dan Penempatan Transmigrasi; c. Pembangunan Permukiman di Kawasan Transmigrasi; d. Fasilitasi Perpindahan dan Penempatan Transmigrasi; e. Pengembangan peranserta masyarakat dalam pembangunan transmigrasi; f. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi.

B. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN DAN PENEMPATAN TRANSMGIRASI TAHUN 2010-2014 Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi tahun 2010-2014 diarahkan untuk melaksanakan sebagian Misi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi “Membangun Kawasan serta
40

Memfasilitasi Perpindahan dan Penempatan Transmigrasi” dalam rangka mewujudkan Visi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi “Terwujudnya Tenaga Kerja dan Masyarakat Transmigrasi yang Produktif, Berdaya Saing, Mandiri dan Sejahtera”. Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi tahun 2010 diarahkan mempersiapkan implementasi kebijakan pembangunan transmigrasi berbasis kawasan, sedangkan tahun 2011-2014 secara keseluruhan merupakan implementasi pembangunan transmigrasi berbasis kawasan sesuai dengan perubahan UU No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dengan UU No. 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian, arahan Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014, serta Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.03/MEN/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun 2010-2014. Arah Kebijakan dan Strategi Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi tahun 2010-2014 sebagai berikut:

1. TAHUN 2010

41

Dalam mempersiapkan implementasi pembangunan transmigrasi berbasis kawasan yang mampu mendukung percepatan pembangunan wilayah tertinggal, wilayah strategis dan cepat tumbuh, dan wilayah perbatasan, kebijakan pembangunan permukiman transmigrasi baru diarahkan untuk mengintegrasikan permukiman transmigrasi yang ada dengan permukiman penduduk setempat dan pusat pertumbuhan baru menjadi satu kesatuan kawasan. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, strategi yang ditempuh sebagai berikut: a. Pembangunan Permukiman Transmigrasi 1) Menyusun perencanaan pembangunan kawasan transmigrasi berupa WPT atau LPT terintegrasi dengan permukiman transmigrasi yang ada dan pusat pertumbuhan sesuai dengan RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota. 2) Membangun permukiman transmigrasi baru terintegrasi dengan pemugaran permukiman penduduk setempat sesuai dengan hasil restrukturisasi kawasan yang telah dikembangkan permukiman transmigrasi sebelumnya. 3) Memprioritaskan pembangunan permukiman transmigrasi baru pada wilayah strategis untuk menampung jenis Transmigrasi Swakarsa Mandiri dan Transmigrasi Swakarsa Berbantuan.

42

4) Memberikan layanan kemudahan bagi Badan Usaha untuk mengembangkan investasi di Kawasan Transmigrasi. b. Fasilitasi perpindahan transmigrasi 1) Mengintegrasikan perencanaan SDM calon transmigran dengan perencanaan pembangunan permukiman transmigrasi. 2) Meningkatkan pelayanan kemudahan bertransmigrasi. 3) Meningkatkan kualitas pelatihan permukiman transmigrasi. c. Dukungan Teknis 1) Meningkatkan kualitas rencana, program, dan anggaran berbasis kinerja sesuai dengan fungsi Unit Kerja Pusat dan Daerah. 2) Meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelaporan keuangan serta Barang Milik Negara. 3) Menyiapkan perangkat regulasi sebagai tindak lanjut dari UU No. 15 Tahun 1997 tentang Kertransmigrasian sebagaimana diubah dengan UU No. 29 bagi masyarakat yang berminat SDM di

sesuai

dengan

kebutuhan

43

Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No. 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian. 4) Meningkatkan kualitas SDM pelaksana pembangunan permukiman dan penempatan transmigrasi Pusat dan Daerah. d. Dukungan anggaran Untuk mewujudkan arah kebijakan dan melaksanakan strategi pembangunan Ditjen P4Trans tahun 2010 didukung anggaran sebesar Rp. 646.861.128.000,yang dilaksanakan melalui 3 (tiga) program yaitu: 1) Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.157.925.700.000,2) Program Pengembangan Wilayah Tertinggal, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.375.993.580.000,3) Program Pengembangan Wilayah Perbatasan, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.83.766.000.000,4) Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik Rp.29.175.848.000,-

44

2. TAHUN 2011-2014 Untuk mengimplementasikan pembangunan transmigrasi berbasis kawasan yang telah dipersiapkan tahun sebelumnya, kebijakan Ditjen P4Trans tahun 20112014 diarahkan untuk mengembangkan potensi sumberdaya alam kawasan perdesaan di daerah tertinggal, perbatasan, dan paska konflik, terintegrasi dengan kawasan perkotaan menjadi satu kesatuan dalam bentuk Wilayah Pengembangan Transmigrasi (WPT) atau Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT) yang mampu menarik Badan Usaha mengembangkan investasi. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, strategi yang ditempuh sebagai berikut: a. Pembangunan Kawasan Transmigrasi 1) Membangun permukiman transmigrasi baru dalam skala WPT atau LPT untuk membentuk atau mendukung kawasan perkotaan baru dengan skema KTM melalui: a) pemugaran permukiman penduduk setempat dalam satu kesatuan permukiman dengan pembangunan permukiman transmigrasi baru, b) pembangunan permukiman transmigrasi baru pada kawasan potensial dalam satu kesatuan kawasan dengan pemugaran permukiman penduduk setempat, dan
45

c) revitalisasi sarana dan prasarana permukiman transmigrasi yang ada dalam satu kesatuan kawasan dengan pemugaran permukiman penduduk setempat dan atau permukiman transmigrasi baru. 2) Mengintegrasikan rencana, program, dan pelaksanaan pembangunan kawasan transmigrasi dengan rencana, program, dan pelaksanaan pembangunan lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. 3) Mengintegrasikan rencana, program, dan pelaksanaan pembangunan kawasan transmigrasi dengan rencana, program, dan pelaksanaan kegiatan investasi masyarakat dari kalangan Badan Usaha dan Lembaga Masyarakat. b. Fasilitasi perpindahan, penempatan, dan penataan persebaran penduduk di Kawasan Transmigrasi 1) Mengintegrasikan perencanaan SDM calon transmigran dengan perencanaan pembangunan permukiman transmigrasi. 2) Meningkatkan kualitas mediasi kerjasama antar daerah. 3) Meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat mengenai potensi dan peluang yang tersedia di kawasan transmigrasi serta akses menuju kawasan transmigrasi.

46

4) Meningkatkan pelayanan kemudahan perpindahan ke kawasan transmigrasi.

bagi

masyarakat

dalam

proses

5) Meningkatkan kualitas pelatihan calon transmigran serta pembekalan mental dan etos kerja sesuai dengan kebutuhan SDM di permukiman transmigrasi. 6) Mengintegrasikan penempatan transmigran dengan penataan penduduk di kawasan transmigrasi menjadi satu kesatuan masyarakat transmigrasi. c. Dukungan Teknis 1) Meningkatkan kualitas rencana, program, dan anggaran berbasis kinerja sesuai dengan fungsi Unit Kerja Pusat dan Daerah. 2) Meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelaporan keuangan serta Barang Milik Negara. 3) Meningkatkan kualitas perangkat regulasi sebagai acuan teknis operasional pembangunan kawasan transmigrasi sesuai dengan ketentuan perundangundangan. 4) Meningkatkan kualitas SDM pelaksana pembangunan permukiman dan penempatan transmigrasi Pusat dan Daerah. d. Dukungan Anggaran
47

Untuk mewujudkan arah kebijakan dan melaksanakan strategi pembangunan Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Tahun 2011-2014 didukung anggaran sebesar Rp.3.169.962.000.000,- melalui program pembangunan kawasan transmigrasi yang mencakup kegiatan sebagai berikut: 1) Pengembangan peranserta masyarakat dalam pembangunan transmigrasi, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.108.222.000.000,2) Penyediaan tanah transmigrasi, Rp.160.104.000.000,dengan dukungan anggaran sebesar

3) Penyusunan rencana pembangunan kawasan transmigrasi dan penempatan transmigrasi, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.92.701.000.000,4) Pembangunan permukiman di Kawasan Transmigrasi, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.2.124.102.000.000,5) Fasilitasi perpindahan dan penempatan transmigrasi, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.330.227.000.000,6) Dukungan teknis dan manajemen Direktorat Jenderal, dengan dukungan anggaran sebesar Rp.354.606.000.000,-

48

Matrik rencana tindak Pembangunan Kawasan Transmigrasi Jangka Menengah Tahun 2010-2014 sebagaimana tersebut pada lampiran.

C.

TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : PER05/MEN/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagaimana beberapa kali telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : PER-28/MEN/XII/2008, Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi sebagai salah satu Unit Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan penyiapan permukiman dan penempatan transmigrasi. Dalam melaksanakan tugas Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi menyelenggarakan fungsi : 1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pembinaan perencanaan teknis permukiman dan perpindahan, penyediaan tanah, pembangunan permukiman, fasilitasi perpindahan dan promosi, investasi dan kemitraan;

49

2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan perencanaan teknis permukiman dan perpindahan, penyediaan tanah, pembangunan permukiman, fasilitasi perpindahan dan promosi, investasi dan kemitraan; 3. Penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang pembinaan perencanaan teknis permukiman dan perpindahan, penyediaan tanah, pembangunan permukiman, fasilitasi perpindahan dan promosi, investasi dan kemitraan; 4. Pelaksanaan bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan perencanaan teknis permukiman dan perpindahan, penyediaan tanah, pembangunan permukiman, fasilitasi perpindahan dan promosi, investasi dan kemitraan; 5. Pelaksanaan Administrasi Direktorat Jenderal. Untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Direktorat Jenderal terdiri dari 6 unit eselon II, yaitu : a. Sekretariat Direktorat Jenderal; b. Direktorat Perencanaan Teknis Permukiman dan Perpindahan (Dit. PTPP); c. Direktorat Penyediaan Tanah Transmigrasi (Dit. PTT); d. Direktorat Pembangunan Permukiman (Dit. PP);
50

e. Direktorat Fasilitasi Perpindahan Transmigrasi (Dit. FPT); f. Direktorat Promosi, Investasi dan Kemitraan (Dit. PIK). Tabel 8: Rekapitulasi Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Berdasarkan Jenis Kelamin NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. UNIT KERJA ESELON II Sekretariat Ditjen Direktorat PTPP Direktorat PTT Direktorat PP Direktorat FPT Direktorat PIK JUMLAH JENIS KELAMIN LAKI-LAKI PEREMPUAN 60 35 42 28 45 25 47 25 38 27 36 35 268 175 JML 95 70 70 72 65 71 443

Sumber : Ditjen P4Trans

Sumber daya manusia yang mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi

51

berjumlah 443 orang, terdiri dari 268 orang pegawai laki-laki dan 175 orang pegawai perempuan, sebagaimana tergambar dalam tabel 8. Tabel 9 : Rekapitulasi Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. UNIT KERJA ESELON II Setditjen Dit. PTPP Dit. PTT Dit. PP Dit. FPT Dit. PIK JUMLAH
Sumber : Ditjen P4Trans

PENDIDIKAN
S3 S2 S1 DIPL SLTA SLTP SD

JML 95 70 70 72 65 71 443

0 1 1 0 0 0 2

11 11 9 16 8 9 64

26 16 16 11 12 16 97

3 3 2 2 5 0 15

53 38 41 41 37 39 249

0 1 1 1 1 6 10

2 0 0 1 2 1 6

52

BAB IV PENUTUP

Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Tahun 2010-2014 memuat visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang dijabarkan di dalam kebijakan dan program serta kegiatan untuk kurun waktu lima tahun ke depan. Rencana Strategis ini disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014, Rencana Strategis Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tahun 2010-2014, serta tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi. Rencana Strategis ini merupakan dokumen perencanaan yang menjadi acuan bagi seluruh jajaran organisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi, dengan harapan seluruh unit kerja memiliki visi bersama dalam mencapai tujuan Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi lima tahun ke depan. Dengan komitmen yang telah ditetapkan bersama, Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi Tahun 201053

2014 ini harus dijadikan pedoman dan acuan dalam menyusun Rencana Strategis yang lebih rinci oleh masing-masing unit kerja eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi. Renstra Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi ini juga akan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja (Renja) K/L setiap tahunnya. Dengan adanya Renstra ini, program dan kegiatan harus dilaksanakan sesuai dengan target yang telah ditentukan sehingga mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.

Direktur Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi,

Harry Heriawan Saleh NIP 19550324 198103 1 001

54

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Target Pembangunan 2010-2014 Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi. Lampiran 2 : Kebutuhan Pendanaan Pembangunan Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan

Transmigrasi. Lampiran 3 : Matriks Arah Kebijakan Direktorat Jenderal Pembinaan Penyiapan Permukiman dan Penempatan Transmigrasi. Tahun 2010-2014 Lampiran 4 : Rencana Direktorat Tindak Pembangunan Pembinaan Jangka Menengah 2010-2014 dan

Jenderal

Penyiapan

Permukiman

Penempatan Transmigrasi.

55

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful