SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No.

: 683/Kpts/Um/8/1981 tentang kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung dan hutan produksi

KRITERIA FUNGSI KAWASAN

Lampiran 2

Kriteria Penetapan Fungsi Kawasan

Tiga faktor yang dinilai sebagai penentu kemampuan lahan, yaitu : 1. Kelerengan lapangan 2. Jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi 3. Intensitas hujan harian rata - rata

Informasi tersebut didapatkan dari hasil pengolahan peta topografi, peta tanah, dan data hujan. Klasifikasi dan nilai skor d ketiga faktor di atas berturut – turut ari adalah seperti Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 1 Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Kelerengan Lapangan
Kelerengan (%)
0 - 8 8 - 15 15 - 25 25 - 40 > 40 Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam

Kelas
I II III IV V

Klasifikasi

Nilai Skor
20 40 60 80 100

Kelas
II I

Tabel 2 Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Jenis Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi
Aluvial,Glei, Planosol,Hidromerf, Laterik air tanah Latosol Brown forest soil, non calcic brown mediteran. Andosol, Laterit, Grumusol, Podsol, Podsolic. Regosol, Litosol, Organosol, Rensina.

Kelerengan (%)

Tidak peka Agak peka Peka

Klasifikasi

Nilai Skor
15 30 45 60 75

IV V

III

Kurang peka

Sangat peka

1

Tabel 3 Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Intensitas Hujan Harian Rata - Rata Jenis Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi
I 0 – 13,6 Sangat rendah II 13,6 – 20,7 Rendah III 20,7 – 27,7 Sedang IV 27,7 – 34,8 Tinggi V > 34,8 Sangat Tinggi Sumber : Pedoman Penyusunan Pola RLKT Tahun 1994.

Kelas

Intensitas Hujan (mm/hari)

Klasifikasi

Nilai Skor
10 20 30 40 50

Melalui overlay peta masing - masing faktor diatas, akan didapatkan satuan satuan lahan menurut klasifikasi dan nilai skor dari keti tersebut. Penetapan ga fungsi Kawasan dilakukan dengan menjumlahkan nilai skor dari ketiga faktor yang dinilai pada setiap satuan lahan. Besarnya jumlah nilai skor tersebut merupakan nilai skor kemampuan lahan untuk masing- masing satuan lahan.

Jenis Fungsi Kawasan

Jenis Fungsi Kawasan ditetapkan berdasarkan besarnya nilai skor kemampuan lahan dan kriteria khusus lainnya, sebagaimana kriteria dan tata cara yang ditetapkan dalam Buku Petunjuk Penyusunan Pola RLKT. Fungsi kawasan berdasarkan kriteria tersebut dibagi menjadi : Kawasan lindung (Kode A ) Kawasan Penyangga (Kode B) Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan (Kode C) Kawasan Budidaya Tanaman Semusim (Kode D)

1. Kawasan Fungsi Lindung (A)

Kawasan fungsi lindung adalah suatu wilayah yang keadaan sumberday alam a air, flora dan fauna seperti hutan lindung, hutan suaka, hutan wisata, daerah sekitar sumber mata air, alur sungai, dan kawasan lindung lainnya sebagimana diatur dalam Kepres 32 Tahun 1990. Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi lindu ng, apabila besarnya skor kemampuan lahannya ≥175, atau memenuhi salah satu/beberapa syarat berikut :

a. Mempunyai kemiringan lahan lebih dari 40 % b. Jenis tanahnya sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol, dan renzina) dengan kemiringan lapangan lebih dari 15 % c. Merupakan jalur pengaman aliran air/sungai yaitu sekurang-kurangnya 100 meter di kiri-kanan sungai besar dan 50 meter kiri kanan anak sungai. d. Merupakan perlindungan mata air, yaitu sekurang -kurangnya radius 200 meter di sekeliling mata air. e. Merupakan perlindungan danau/waduk, yaitu 50-100 meter sekeliling danau/waduk. f. Mempunyai ketinggian 2.000 meter atau lebih di atasa permukaan laut.
2

h. Kawasan fungsi budidaya tanaman tahunan adalah kawasan budidaya yang diusahakan dengan tanaman tahunan seperti Hutan Produksi Tetap.2. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Semusim (D) Kawasan fungsi budidaya tanaman semusim adalah kawasan yang mempunyai fungsi budidaya dan diusahakan dengan tanaman semusim terutama tanaman pangan atau untuk pemukiman. secara mikro laha nnya mempunyai kemiringan tidak lebih dari 8%. Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidaya secara ekonomis. Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan dengan fungsi budidaya tanaman tahunan apabila besarnya nilai skor kemampuan lahannya≤ 124 serta mempunyai tingkat kemiringan lahan 15 . Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan penyangga. Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi penyangga apabila besarnya nilai skor kemampuan lahannya sebesar 125-174 dan atau memenuhi kriteria umum sebagai berikut : a. Untuk kawasan pemukiman. Kawasan Fungsi Penyangga (B) Kawasan fungsi penyangga adalah suatu wilayah yang dapat berfungsi lindung dan berfungsi budidaya. pemilihan jenis komoditi harus mempertimbangkan keseuaian fisik terhadap komoditi yang akan dikembangkan. letaknya diantara kawasan fungsi lindung dan kawasan fungsi budidaya seperti hutan produksi terbatas. Tidak merugikan dilihat dari segi ekologi/lingkungan hidup bila dikembangkan sebagai kawasan penyangga Kawasan fungsi Budidaya Tanaman Tahunan (C) 3.buahan. Merupakan kawasan Taman Nasional yang lokasinya telah ditetapkan oleh pemerintah. Untuk memelihara kelestarian kawasan fungsi budidaya tanaman semusim. Hutan Rakyat.40% dan memenuhi kriteria umum seperti pada kawasan fungsi penyangga. b. 3 . Guna keperluan/kepentingan khusus dan ditetapkan sebagai kawasan lindung. c. g. Perkebunan (tanaman keras). Hutan Tanaman Industri. perkebunan (tan aman keras). kebun campur dan lainnya yang sejenis. dan tanaman buah . selain memiliki nilai kemampuan lahan maksimal 124 dan memenuhi kriteria tersebut diatas. 4.

kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 2000 m atau lebih. Garis sempadan sungai yang bertanggul dan tidak bertanggul yang berada di wilayah perkotaan dan sepanjang jalan ditetapkan tersendiri oleh Pejabat yang berwenang. Kriteria kawasan lindung untuk sempadan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf b adalah : a. b. (1) (2) Kriteria kawasan untuk kawas an lindung untuk sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (3) huruf a yaitu daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai.KRITERIA KAWASAN LINDUNG (PP No. (2). Kriteria kawasan lindung untuk kawasan bergambut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b yaitu kawasan tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat dibagian hulu sungai dan rawa. (1). c. Pasal 34 Pasal 33 Pasal 32 4 . Garis sempadan sungai tidak bertanggul ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis dan sosial ekonomis oleh Pejabat yang berwenang. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf a adalah : a. (3) Kriteria kawasan lindung untuk kawasan resapan air seb agaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf c yaitu kawasan bercurah hujan yang tinggi. dan/atau c. 47/1997 Tentang RTRWN) Kriteria kawasan lindung berupa ukuran dan/atau persyaratan yang digunakan untuk penentuan kawasan-kawasan yang perlu ditetapkan sebaga kawasan i berfungsi lindung. jenis tanah dan intensitas hujan setelah masing -masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai (skor) 175 atau lebih. minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat. kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng. Garis sempadan sungai bertanggul ditetapkan dengan batas lebar sekurang-kurangnya 5 (lima) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. b. kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih. berstruktur tanah yang mudah meresapkan air dan mempunyai geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besarbesaran.

(3) (4) (5) Kriteria kawasan lindung untuk kawasan sekitar danau/waduk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf c yaitu daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50 . Kriteria kawasan lindung untuk taman nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (5) huruf a adalah : a. c. wilayah yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami. satu atau beberapa ekosistem yang terdapat didalamnya secara materi atau secara fisik tidak dapat diubah oleh ekploitasi maupun pendudukan oleh manusia. bukan tanaman hias atau herba. jenis tanaman hias untuk kawa san terbuka hijau kota adalah berupa pohon-pohonan dan tanaman hias atau herba. memiliki keindahan alam. baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang sudah berubah.100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat. hutan yang terbentuk dari komunitas tumbuhan yang berbentuk kompak pada satu hamparan. merupakan kawasan yang dapat dibagi kedalam zona inti. b. e. tepi sungai/pantai/ jalan yang berada di kawasan perkotaan. satwa dan gejala alam. b. hutan yang terletak didalam wilayah perkotaan atau sekitar kota dengan luas hutan minimal 0. zona pemanfaatan dan zona lain yang dapat mendukung upaya pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. d. memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam. d. lokasi sasaran kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota antara lain di kawasan permukiman. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan sekitar mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf d yaitu kawasan disekitar mata air dengan jari-jari sekurang-kurangnya 200 meter. 5 (1) Pasal 36 (2) . e. tumbuhan. c. jenis tanaman untuk hutan kota adalah tanaman tahunan berupa pohon-pohonan. dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun jenis asli atau domestik. merupakan wilayah dengan ciri khas baik asli maupun buatan. industri. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan terbuka hijau kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf e adalah : a. berbentuk jalur atau merupakan kombinasi dari bentuk kompak dan bentuk jalur. b.25 hektar. Kriteria kawasan lindung untuk taman hutan raya sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (5) hurf b adalah : a. dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun asli atau domestik. memiliki sumberdaya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami.

areal yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan. mudah dijangkau dan dekat dengan pusat pusat permukiman penduduk. kawasan yang terdapat satwa buru yang dikembangbiakan sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya untuk di anfaatkan bagi pariwisata dan m rekreasi alam. Kriteria kawasan lindung untuk taman wisata alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (5) huruf cadalah : a. gempa bumi dan tanah longsor serta gelombang pasan dan banjir. satwa beserta ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi yang indah. memiliki luas wilayah yang memungkinkan untuk pembangunan koleksi tumbuhan dan/atau satwa baik jenis asli dan/atau bukan asli. dan/atau b. dan/atau binaan. b. kawasan yang mempunyai komunitas alam yang unik. dan indah. Pasal 37 Kriteria kawasan lindung untuk cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (6) yaitu tempat serta ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi. mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. mudah dijangkau dan dekat den gan pusat-pusat permukiman penduduk. langka. olahraga dan kelestarian satwa. kawasan yang mempunyai keperwakilan ekosistem yang masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi. b.(3) c. d. situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. d. unik dan nyaman. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan. kondisi lingkungan disekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam. dan/atau Pasal 39 Pasal 38 (2) 6 . modifikasi. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan cagar biosfer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (8) huruf b adalah : a. g (1) Kriteria kawasan lindung untuk kawasan taman buru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (8) huruf a adalah : a. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (7) yaitu kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi. c.

7 . areal yang memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan. areal yang ditunjuk merupakan daerah kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut. areal dengan luasan tertentu yang memungkinkan kelangsungan proses pertumbuhan jenis plasma nutfah tersebut. b.(3) (4) (5) c. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan pengungsian satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (8) huruf d adalah : a. dan/atau b. areal tempat pemindahan satwa sebagai tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut. merupakan bentang alam yang cukup yang mence rminkan interaksi antar komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis. dan/atau d. tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan -perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan. mempunyai luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupan serta berkembang biaknya satwa tersebut Kriteria kawasan lindung untuk kawasan pantai berhutan bakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (8) huruf e yaitu kawasan minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah darat yang merupak n a habitat hutan bakau. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan perlndungan plasma nutfah i sebagaiman dimaksud dalam Pasal 10 ayat (8) huruf c adalah : a. c.

(1) Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a adalah : a. tanggap terhadap dinamika perkembangan yang meliputi : a) peningkatan pendapatan masyarakat . 8 Pasal 45 . saling menunjang antar kegiatan yang meliputi : a) peningkatan daya guna pemanfaatan ruang serta sumberdaya yang ada di dalamnya guna perkembangan kegiatan sosial ekonomi dan budaya. dan b. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. kriteria ruang. setelah masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai skor 125-174 diluar hutan suaka alam dan hut n a pelestarian alam b. kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng. d) peningkatan ekspor. jenis tanah dan intensitas hujan. kawasan yang secara ruang apabila digunakan untuk budidaya hutan alam dapat memberikan manfaat : 1) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. pada azas-azas sebagai berikut : 1. dan bebas bencana. kesesuaian ruang. yaitu ukuran untuk menentukan bahwa pemanfaatan ruang untuk suatu kegiatan dalam kawasan memenuhi ketentuan -ketentuan teknis.KRITERIA KAWASAN BUDIDAYA (PP No. 2) meningkatkan fungsi lindung. b) peningkatan pendapatan daerah dan nasional c) peningkatan kesempatan kerja. kelestarian fungsi lingkungan hidup yang meliputi : a) jaminan terhadap ketersedian sumberdaya dalam waktu panjang b) jaminan terhadap kualitas lingkungan hidup Pasal 44 3. 3) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya hutan. menghasilkan nilai sinergi terbesar terhadap kesejahteraan masyarakat sekitarnya dan tidak bertentangan dengan pelestarian fungsi lingkungan hidu yang didasarkan p. b) dorongan terhadap perkembangan kegiatan sekitarnya 2. kriteria teknis sektoral. 47/1997 Tentang RTRWN) Kriteria kawasan budidaya merupakan ukuran yang digunakan untuk penentuan suatu kawasan yang ditetapkan untuk berbagai usaha dan/atau kegiatan dan dibagi dalam : a. e) peningkatan peran serta masyarakat dan kesesuian sosial budaya. yaitu ukuran untuk menentukan bahwa pemanfaatan ruang untuk suatu kegiatan budidaya dalam kawasan.

kawasan hutan yang secara ruang dicadangkan untuk digunakan bagi pengembangan transportasi. 5) meningkatkan pendapatan daerah dan nasional. 9 . jenis tanah dan intensitas hujan setelah masing -masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai (skor) 124 atau kurang.(2) Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan hutan produksi tetap sebagaimana dalam Pasal 11 ayat (2) huruf b adalah : a. diluar hutan suaka alam dan hutan pelestarian alam. 8) mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat. kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng. transmigrasi. 7) meningkatkan ekspor. 8) mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat. 7) meningkatkan ekspor. permukiman. 8) mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat. 6) meningkatkan kesempatan kerja terutama untuk masyarakat daerah setempat. kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng. 5) meningkatkan pendapatan daerah dan nasional. industri dan lain-lain apabila dapat memberikan manfaat : 1) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. jenis tanah dan intensitas hujan setelah masing -masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai (skor) 124 atau kurang. 3) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya hutan. 4) meningkatkan pendapatan masyarakat terutama didaerah setempat. 7) meningkatkan ekspor. 2) meningkatkan fungsi lindung. diluar hutan suaka alam dan hutan pelestarian alam. perkebunan. 4) meningkatkan pendapatan masyarak terutama di daerah setempat. 3) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya hutan. 6) meningkatkan kesemptan kerja terutama untuk masyarakat daerah setempat. b. b. 2) meningkatkan fungsi lindung. (3) Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c adalah : a. 4) meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di daerah setempat. pertanian. 6) meningkatkan kesempatan kerja terutama untuk masyarakat daerah setempat. kawasan yang secara ruang apabila digunakan untuk budidaya hutan alam dan hutan tanaman dapat memberi manfaat : 1) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. at 5) meningkatkan pendapatan daerah dan nasional.

Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan pertanian lahan kering sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf b adalah : a. kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk pertanian lahan basah. luas minimal 0. Kawasan yang apabila dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian lahan kering secara ruang dapat memberikan manfaat untuk : 1) Meningkatkan produksi pertanian dan mendayagunakan investasi. 4) meningkatkan kesempatan kerja. 9) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 3) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam.25 hektar dan mempunyai fungsi hidrologis/pelestarian ekosistem. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat. 6) meningkatkan pendapatan daerah dan nasional. b. luas penutupan tajuk minimal 50 per en dan merupakan s tanaman cepat tumbuh. 10 (1) Pasal 46 (2) . 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan s b u sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. a 8) meningkatkan ekspor. Kawasan yang secara teknis dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pertanian lahan kering b. Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan pertanian lahan basah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf a adalah: a. 1) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya.(4) Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan hutan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) huruf adalah : a. 4) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam untuk pertanian pangan. 5) meningkatkan pendapatan. terutama di daerah setempat. 3) meningkatkan fungsi lindung. 7) menciptakan kesempatan kerj . kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan hutan rakyat secara ruang dapat memberikan manfaat . kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan pertanian lahan basah secara ruang dapat memberikan manfaat untuk : 1) meningkatkan produksi pangan dan pendayagunaan investasi 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya 3) meningkatkan fungsi lindung. b. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 2) meningkatkan fungsi lindung. 7) meningkatkan ekspor. 8) mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah setempat.

b. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 4) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam. 4) 5) 6) 7) 8) 9) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam. maupun industri. menciptakan kesempatan kerja. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat.(3) (4) Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan tanaman tahunan/perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf c adalah : a. usaha pokok. (5) Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan peternakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf d adalah : a. 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi seki arnya. 11 . Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan perkebunan b. meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat. 9) meningkatkan kesejahteraan ma syarakat. meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan perkebunan secara ruang dapat memberikan manfaat untuk : 1) Meningkatkan produksi perkebunan dan mendayagunakan investasi. 4) meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam. 7) menciptakan kesempatan kerja. 7) menciptakan kesempatan kerja. meningkatkan pendapatan masyarakat. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan perikanan. cabang usaha. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk usaha peternakan baik sebagai sambilan. b. 8) meningkatkan ekspor. 9) meningkatkan kesejahteraan masyara kat. 3) meningkatkan fungsi lindung. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan peternakan secara ruang dapat memberikan manfaat untuk : 1) Meningkatkan produksi peternakan dan mendayagunakan investasi. t 3) meningkatkan fungsi lindung. 8) meningkatkan ekspor. meningkatkan ekspor. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan perikanan secara ruang dapat memberikan manfaat untuk : 1) Meningkatkan produksi perikanan dan mendayagunakan investasi. Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) huruf e adalah : a. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarny a.

12 Pasal 47 Pasal 48 . 7) menciptakan kesempatan kerja. serta tidak menggangu kelestarian fungsi lingkungan hidup. serta tidak menggangu kelestarian fungsi lingkungan hidup. 3) tidak mengganggu fungsi lindung. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat. 7) meningkatkan kesempatan kerja. 3) tidak mengganggu fungsi lindung. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk pemusatan kegiatan pertambangan. 7) meningkatkan kesempatan kerja. 9) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 8) meningkatkan ekspor. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan indus secara ruang tri dapat memberikan manfaat dalam : 1) meningkatkan produksi hasil industri dan meningkatkan daya guna investasi yang ada di daerah sekitarnya.2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. b. 4) tidak mengganggu upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam. Kriteria kawasan budidaya untuk kawas an pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (5) adalah : a. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan industri. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiata pertambangan secara n ruang dapat memberikan manfaat dalam : 1) Meningkatkan produksi pertambangan 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. 4) tidak mengganggu upaya pelestarian sumberdaya alam. 4) tidak mengganggu upaya pelestarian kemampuan sumberdaya alam. 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. Kriteria kawasan budidaya untuk kawas peruntukan industri sebagaimana an dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) adalah : a. 3) meningkatkan fungsi lindung. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 9) meningkatkan perkembangan masyarakat. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat. 8) meningkatkan ekspor. b. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat.

b. 7) menyediakan kesempatan kerja. 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (8) adalah : a. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat. 3) tidak mengganggu fungsi lindung. serta tidak menggangu kelestarian budaya. 8) melestarikan budaya. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan permukiman dapat memberikan manfaat : 1) Meningkatkan ketersediaan permukiman dan mendayagunakan prasarana dan sarana permukiman. Pasal 50 Pasal 49 13 . 9) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 8) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 9) meningkatkan perkembangan masyarakat. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman yang aman dari bahaya bencana alam maupun buatan manusia. Kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan pariwisata. 3) tidak menggangu fungsi lindung. keindahan alam dan lingkungan. 4) tidak mengganggu upaya pelestarian sumberdaya alam. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 5) meningkatkan pendapatan masyarakat. Kriteria kawasan budidaya untuk kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (7) adalah : a.8) meningkatkan ekspor. 2) meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya. 7) meningkatkan kesempatan kerja. sehat dan mempunyai akses untuk kesempatan berusaha. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan pariwisata secara ruang dapat memberikan manfaat : 1) Meningkatkan devisa dan mendayagunakan investasi. 6) meningkatkan pendapatan nasional dan daerah. 4) tidak mengganggu upaya pelestarian sumberdaya alam. b.

bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi kehidupan dan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan juga mengandung fungsi pelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043). Monumenten ordonantie Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238). Undang .undang Dasar 1945 . 6.undang Nomor 5 Tahun 1950 tentang Peraturan Dasar Pokok . c. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). sumber daya buatan serta nilai sejarah dan budaya bangsa.ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831). 5. Mengingat : 1.undang Nomor 5 tahun 1967 tentang ketentuan .pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104. upaya pengaturan dan perlidungan diatas perlu dituangkan dalam kebijaksanaan pengembangan pola tata ruang. 4. bahwa dengan semakin terbatasnya ruang maka. Pasal 4 (1) dan Pasal 33 ayat (3) Undang .PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MENIMBANG : a. Undang . untuk menjamin terselenggaranya kehidupan dan pembangunan yang berkelanjutan terpeliharanya fungsi pelestarian. 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran 14 . b. yang memerlukan pengaturan bagi pengelolaan dan perlindungannya.undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan . Undang . bahwa dalam rangka kebijaksanaan pengembangan pola tata ruang tersebut perlu ditetapkan adanya kawasan lindung dan pedoman pengelolaan kawasan lindung dan pedoman pengelolaan kawasan lindung yang memberi arahan bagi badan hukum dan perseorangan dalam merencanakan dan melaksanakan program pembangunan.ketentuan pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8.

Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65. Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya sebagai pengatur tata air. 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). 10. 9. 4. KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 MEMUTUSKAN : Menetapkan : Dalam keputusan Presiden ini yang dimaksud dengan : 1. Kawasan bergambut adalah kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa organik yang tertimbun dalam waktu yang lama. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Tambahan Lembaran Negara No mor 3294). 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39. 11. Undang . sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan 2. Negara Tahun 1974 Nomor 38. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046). pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungs utama i melindungi kelestarian linkungan hidup yang mencakup sumber alam. pelestarian dan pengendalian pemanfatan kawasan lindung.undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. 5. 6. Kawasan resapan air adalah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pen gisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai 15 . Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. Pengelolaan Hutan Lindung adalah upaya penetapan. Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 42.7.

16 . dan keunikan alam. Kawasan sekitar danau/waduk adalah kawasan tertentu disekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk. 15. pendidikan dan latihan. pengembangan ilmu pengetahuan. tumbuhan dan satwa serta nilai sejarah dan budaya bangsa b. 10. Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. budaya. 9. yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Sempadan sungai adalah kawasan kiri kanan sungai. pariwisata dan rekreasi. Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan Lainnya adalah daerah yang mewakili ekosistem khas di lautan maupun perairan lainnya. pariwisata dan rerkreasi. Mempertahankan keanekaragaman tumbuhan satwa. iklim. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. tipe ekosistem. 12. jenis asli dan/atau bukan asli. pendidikan.7. 16. 17. Sasaran pengelolaan kawasan lindung adalah : a. Kawasan Rawan Bencana alam adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. BAB II TUJUAN DAN SASARAN Pasal 2 (1) (2) Pengelolaan kawasan lindung bertujuan untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hid up. 11. 14. termasuk su ngai buatan/kanal/saluran irigasi primer. Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian yang terutama dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa. alami atau buatan. Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam darat maupun laut yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. yang merupakan habitat alami yang memberikan tempat maupun perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang ada. 13. air. Kawasan Pantai Berhutan Bakau adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada peri kehidupanpantai dan lautan. Kawasan Sekitar Mata Air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. 8. Kawasan Cagar Budidaya dan ilmu Pengetahuan adalah kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentuk geologi alami yang khas.

Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. 2. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan. sedimentasi. 4. Kawasan Perlindungan Setempat 3. 3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya. Kawasan Bergambut. 2. Kawasan Sekitar Danau/Waduk. Kawasan Suaka Alam. Taman Nasional. Pasal 5 Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 terdiri dari : 1. 4.Kawasan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi : 1. bencana banjir. Kawasan Rawan Bencana Alam. BAB III RUANG LINGKUP Pasal 3 Pasal 4 Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 terdiri dari : 1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya 2. 3. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan Lainnya. POKOK – POKOK KEBIJAKSANAAN KAWASAN LINDUNG BAB IV Pasal 7 Perlindungan terhadap kawasan hutan lindung dilakukan untuk mencegah terjadinya erosi. 4. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. air tanah dan air permukaan. Kawasan Resapan Air. Pasal 6 Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 terdiri : 1. Kawasan Hutan Lindung. dan menjaga fungsi hidrologis tanah untuk menjamin ketersediaan unsur tanah. Sempadan Sungai. 2. 5. 3. Pasal 8 Kriteria kawasan hutan lindung adalah : Bagian Pertama Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya 17 . Kawasan Sekitar Mata Air. Sempadan Pantai.

dan/atau b. dan/atau c. Kawasan Hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 2. Pasal 11 Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pa daerah tertentu untuk keperluan da penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir. Kriteria sempadan sungai adalah : Pasal 16 18 . baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kawasan Hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih. struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. Pasal 9 Perlindungan terhadap kawasan yang bergambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah. curah hujan yang melebihi nilai skor 175. yang berfungsi sebagai penambat air dan mencegah banjir.a. jenis tanah. serta melindungi ekosistemnya yang khas di kawasan yang bersangkutan Pasal 10 Kriteria kawasan bergambut adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa. Pasal 14 Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kearah darat. Kawasan Hutan dengan faktor -faktor lereng lapangan. Pasal 15 Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. Bagian Kedua Kawasan Perlindungan Setempat Pasal 13 Pelindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai. kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan airan sungai. Pasal 12 Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi.000 meter atau lebih.

(1) Pasal 23 Kriteria cagar alam adalah : a. Bagian Ketiga Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya Pasal 21 Perlindungan terhadap kawasan suaka alam dilakukan unt uk melindungi keanekaragaman biota. ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya. daerah perlindungan plasma nutfah dan daerah pengungsian satwa. b. d. Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10. Pasal 20 Kiteria kawasan sekitar mata air adalah sekurang . Mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit. Pasal 22 Kawasan suaka alam terdiri dari cagar alam.kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. suaka marga satwa. 19 .kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman. Pasal 18 Kriteria kawasan sekitar danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50 -100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.unit penyusun. Sekurang .a.15 meter. Mempunyai kondisi alam. b. Pasal 17 Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian fungsi danau/waduk. baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. Pasal 19 Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah. Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dengan daerah penyangga yang cukup luas. tipe ekosistem. hutan wisata. Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistemnya. c.

(2) (3) (4) (5) Pasal 24 Perlindungan terhadap kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya dilakukan untuk melindungi keanekaragaman biota. b. Kriteria Daerah Perlindungan Plasma Nutfah adalah : a. e. Kriteria Hutan Wisata adalah : a. perairan darat. olah raga dan kelestarian satwa. c. Mempunyai luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupan serta berkembang -biaknya satwa tersebut. Areal yang ditunjuk memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan. Mengandung satwa buru yang dapat dikembang -biakan sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi. d. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan perkembang biakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi. keperluan pariwisata dan ilmu pengetahuan. tipe ekosistem. Kawasan yang ditunjuk memiliki k eadaan yang menarik dan indah baik secara almiah maupaun buatan manusia. Mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan. Areal yang ditunjuk merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut. Pasal 26 Perlindungan terhadap kawasan pantai berhutan bakau dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai perlindungan pantai dari pengikisan air laut serta pelindung usaha budidaya di belakangnya. wilayah pesisir. b. Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan sa tu-satunya contoh di suatu daerah serta kebenarannya memerlukan upaya konservasi. c. Kriteria suaka marga margasatwa adalah : a. 20 . c. gugusan karang dan atol yang mempunyai ciri yang khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem. Pasal 25 Kriteria kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya adalah kawasan berupa perairan laut. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut. muara sungai. b. d. Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi. b. gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah. Mempunyai luas cukup dan lapangannya tidak membahayakan Kriteria Daerah Pengungsian Satwa adalah : a. Memenuhi kebutuhan manusia akan rerkreasi dan olahraga serta terletak didekat puast-pusat permukiman penduduk. Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.

leh Pasal 33 Kriteria kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi. arkeologi dan monumen nasional. gempa bumi. situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi unt pengembangan uk ilmu pengetahuan.Pasal 27 Kriteria kawasan berhutan bakau adalah minimal 130 kali nilai rata -rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah darat. bangunan. Pasal 30 Perlindungan terhadap cagar budaya dan ilmu pengetahu dilakukan untuk an melindungi kekayaan budaya bangsa berupa peninggalan -peninggalan sejarah. BAB V PENETAPAN KAWASAN LINDUNG (1) Pasal 34 Pemerintah Daerah Tingkat I menetapkan wilayah -wilayah tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sebagai kawasan lindung daerah 21 . rekreasi dan pariwisata. dan keragaman bentukan geologi. Bagian Keempat Kawasan Rawan Bencana Alam Pasal 32 Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana alam dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung o perbuatan manusia. Pasal 28 Perlindungan terhadap taman nasional. Pasal 29 Kriteria taman nasional. memiliki arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. dan tanah longsor. taman hutan raya dan taman nasional dan wisaa alam t adalah kawasan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam. Pasal 31 Kriteria kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah tempat serta ruang sekitar bangunan bernilai budaya tinggi. serta peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari pencemaran. taman hutan raya dan taman wisata alam dilakukan untuk pengembangan pendidikan. yang berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.

kecuali kegiatan yang berkaitan dengan fungsinya dan tidak mengubah be ntang alam. Pemerintah Daerah Tingkat I harus memperhatikan peraturan perundang . Apabila menurut Analisa Mengenai Dampak Lingkungan kegiatan budidaya mengganggu fungsi lindung harus dicegah perkembangannya. (1) (2) masing-masing dalam suatu Peraturan Daerah tingkat I.(2) (3) (4) Pasal 35 Apabila dalam penetapan wilayah tertentu terjadi benturan kepentingan antar sektor. BAB VI PENGENDALIAN KAWASAN LINDUNG (1) (2) (3) (4) Pasal 37 Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung Di dalam kawasan suaka alam dan kawasan cagar budaya dilarang melakukan kegiatan budidaya apapun. Dalam menetapkan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).000 serta memperhatikan kondisi wilayah yang bersangkutan. a 22 . serta ekosistem alami yang ada.undangan yang berkaitan dengan penetapan wilayah tertentu sebagai bagian dari kawasan lindung. disertai dengan lampiran penjelasan dan peta dengan tingkat ketelitan minimal skala i 1 : 250. Pemerintah Daerah Tingkat I dapat mengajukan kepada Tim Pengelolaan Tata Ruang Nasional untuk memperoleh saran penyelesaian. dan fungsi sebagai kawasan lindung dikembalikan secar bertahap. Pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara terpadu dan lintas sektoral dengan mempertimbangkan masukan dari Pemerintah Daerah Tingkat II. Pemerintah Daerah Tingkat II menjabarkan lebih lanjut kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) bagi daerahnya ke dalam peta dengan tingkat ketelitian minimal sk ala 1 : 100. Pemerintah daerah Tingkat I dan Tingkat II mengumumkan kawasan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 kepada masyarakat. Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan ketentuan -ketentuan yang berlaku sebagaimana dimaksud dalam Peratura Pemerintah Nomor n 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan.000 dalam bentuk Peraturan Daerah Tingkat II. kondisi penggunaan lahan. Pasal 36 Pemerintah Daerah Tingkat II mengupayakan kesadaran masyarakat ak n a tanggung jawabnya dalam pengelolaan kawasan lindung.

wajib diajukan kepada Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional.(1) (2) (3) (4) (5) Pasal 38 Dengan tetap memperhatikan fungsi lindung kawasan yang bersangkutan di dalam kawasan lindung dapat dilakukan penelitian ekplorasi mineral dan air tanah. setiap Pemerintah Daerah Tingkat I sudah harus menetapkan Peraturan Daerah tentang penetapan kawasan lindung. diatur lebih lanjut oleh Menteri yang berwenang. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kegiatan pemantauan. ayat (3) dan ayat (4). Penetapan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Apabila Pemerintah Daerah Tingkat II tidak dapat menyelesaikan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). BAB VII KETENTUAN – KETENTUA LAIN (1) (2) (3) (4) (1) (2) Pasal 40 Selambat-lambatnya dua tahun setelah keputusan Presiden ini ditetapkan. Pengelolaan kegiatan budidaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan yang bersangkutan. penambang bahan galian tersebut wajib melaksanakan upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup dan melaksanakan rehabilitasi daerah bekas penambangannya. dan segera sesudah itu Pemerintah Daerah Tingkat II menjabarkannya lebih lanjut bagi daerah masing-masing. serta kegiatan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana alam. wajib diajukan kepada Gubernur kepala Daerah Tingkat I untuk diproses langkah tindak lanjutnya. 23 . Apabila ternyata di kawasan lindung sebagaimana di maksud dalam ayat (1) terdapat indikasi adanya deposit mineral atau air tanah atau kekayaan alam lainnya yang bila diusahakan dinilai amat berharga bagi Negara. sehingga kawasan lindung dapat berfungsi kembali. Apabila penambangan bahan galian d ilakukan. Apabila Gubernur Kepala Daerah Tingkat I tidak dapat menyelesaikan pengendalian pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). pengawasan dan penertiban. Pasal 39 Pemerintah Daerah Tingkat II wajib mengendalikan pemanfaatan ruang di kawasan lindung. setelah mendapat pertimbangan dari Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional. maka kegiatan budidaya di kawasan lindung tersebut dap diizinkan at sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -undangan yang berlaku. apabila dipandang perlu dapat disempurnakan dalam waktu setiap lima tahun sekali. ayat (2). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Pasal 41 Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 25 juli 1990 PREISIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO Ttd KETENTUAN PENUTUP BAB VII 24 .