Tugas ilmu bedah bnu een Kriptorkismus Neuroblaskoma Atresiaani Definisi Etiologi Patofis Gejala Penatalaksanaan Pemeriksaan penunjang

Pendahuluan Kriptorkismus adalah suatu keadaan di mana setelah usia satu tahun1,2 satu atau kedua testis tidak berada di dalam kantong skrotum1-6, tetapi berada di salah satu tempat sepanjang jalur desensus yang normal7-10. Kriptorkismus berasal dari kata cryptos (Yunani) yang berarti tersembunyi dan orchis yang dalam bahasa latin disebut testis8. Nama lain dari kriptorkismus adalah undescended testis36,8,9,11-22 , tetapi mesti dijelaskan lagi apakah yang dimaksud sebagai kriptorkismus murni, testis ektopik8,16 ataupun pseudo kriptorkismus8,21. Testis yang berlokasi di luar jalur desensus yang normal disebut sebagai testis ektopik, sedangkan testis yang terletak tidak di dalam skrotum tetapi dapat didorong masuk ke dalam skrotum dan menaik lagi bila dilepaskan dinamakan pseudokriptorkismus atau testis retraktil.8 Testis yang terletak tidak di dalam skrotum akan mengganggu spermatogenesis, meningkatkan kemungkinan terjadinya torsi dan keganasan9,23. Alasan utama kenapa testis harus diturunkan adalah agar testis ini dan testis kontra lateral yang normal tidak mengalami kerusakan pada tubulus seminiferus sehingga infertilitas dapat dicegah3,5,6,11,15,18,19,24-6. Insidens undescended testis pada bayi baru lahir adalah 3–6%25; 1,8% pada usia satu bulan dan 1,5% pada usia 3 bulan; serta 0,5–0,8% pada anak usia satu tahun8,9. Pada bayi cukup bulan, 3% di antaranya menderita kriptorkismus18,29,30 dan pada bayi kurang bulan insidensnya lebih tinggi, sekitar 33%18,30. Pada bayi berat lahir rendah insidennya juga tinggi. Kriptorkismus unilateral insidensnya lebih banyak daripada yang bilateral dan lokasinya sebagian besar di kiri (52,1% kiri dan 47,9% kanan). Kriptorkismus merupakan gangguan diferensiasi seksual yang paling sering terjadi pada lakilaki, pada penderita defisiensi gonadotropin seperti penderita sindrom Kallman, Prader-Willi, Lawrence-Moon-Biedl, dan pada beberapa sindrom dengan gangguan biosintesis testosteron.

dan kombinasi LHRH dengan HCG9. 3. abnormalnya ukuran kanalis inguinalis atau cincin inguinal superfisial. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan tentang kriptorkismus dan penatalaksanaannya. insidens kriptorkismus meningkat lebih dari 50% pada 1965–1985. serta adanya kelainan epididimis. Dilaporkan desensus testis tidak terjadi pada mamalia yang hipofisenya telah diangkat8.40. kurang panjangnya vas deferens. tergantung dari metode atau protokol pengobatan yang dipergunakan. tetapi testisnya menjadi atrofi/disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan jumlah sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun. karena diduga terapi hormonal dengan HCG memfasilitasi terapi bedah. sebagian besar tidak diketahui penyebabnya22. Ada laporan bahwa tidak aktifnya hormon Insulin-Like Factor 3 (Insl3) sangat mempengaruhi desensus testis pada tikus. Tingginya insidens undescended testis pada bayi prematur. Di Bagian I. Etiologi dan Patogenesis Penyebab kriptorkismus mungkin berbeda antara satu kasus dengan yang lainnya39. Adam Malik Medan dari 1994–1999 didapatkan 15 kasus. Anak FKUSU-RSUP H. Insulin-Like Factor 3 (Insl3) diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi gubernakulum. Namun. Endokrin/hormonal Meliputi kelainan aksis hipotalamus-hifofise testis atau kurang sensitifnya androgen. Amerika Serikat. yaitu : 1. Mekanis/kelainan anatomis lokal Testis yang kriptorkismus sering disertai dengan arteri spermatika yang pendek. Kes. Terapi hormonal pada penderita kriptorkismus telah dilakukan sejak 1930 dengan menggunakan substansi gonadotropin yang berasal dari urine wanita hamil. Diduga terjadinya defisiensi androgen prenatal merupakan faktor yang utama bagi terjadinya kriptorkismus. Kes. hernia. terapi hormonal tetap digunakan sebelum intervensi bedah dilakukan. Luteinizing Hormone Releasing Hormone (LHRH). Baru-baru ini. dilakukan terapi hormonal dan pembedahan. diduga terjadi karena tidak adekuatnya HCG menstimulasi pelepasan testosteron pada masa fetus akibat imaturnya sel leydig dan aksis hipotalamus-hifofise testis. Ada beberapa hal yang berhubungan dengannya. Anak FKUI-RSUPNCM dari 1987–1993 didapatkan 82 anak dengan kriptorkismus9. Disgenesis gonadal Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal saat lahir.23 sedangkan di Bagian I. Hormon yang digunakan untuk terapi kriptorkismus antara lain Human Chorio Gonadotropic Hormone (HCG). terganggunya aliran darah. . dilaporkan meningkatnya angka kejadian kriptorkismus di Inggris. Untuk mereposisi testis ke dalam skrotum. Walaupun masih diperdebatkan. 2. Pengobatan yang dilakukan oleh berbagai ahli memberikan hasil yang bervariasi. dan Amerika Selatan.Di Inggris. kurangnya tekanan abdominal dan tarikan gubernakulum untuk mendorong testis ke cincin inguinal.

organ sasaran androgen kemungkinan adalah gubernakulum. Dilaporkan adanya tiga anak bersaudara dengan kriptorkismus yang disertai dengan defisiensi gonadotropin dan kongenital adrenal hipoplasia Corbus dan O’Conor (1922) melaporkan beberapa generasi dalam satu keluarga yang menderita kriptorkismus. Mekanisme yang berperan dalam proses turunnya testis belum seluruhnya dapat dimengerti. Diagnosis Biasanya. Klasifikasi Kriptorkismus dapat diklasifikasi berdasarkan etiopatogenesis dan lokasi. yang pada minggu-minggu terakhir kehamilan berkontraksi dan menarik testis ke dalam skrotum. dan (5) Retraktil. dan proses degenerasi prosessus vaginalis. dan lain-lain) Endokrin/hormonal (kelainan aksis hipotalamus-hipofise-testis) Disgenetik (kelainan interseks multiple) Herediter/genetik Klasifikasi berdasarkan lokasi: 1. tetapi diduga membantu pembentukan. orang tua membawa anak ke dokter dengan keluhan skrotum anaknya kecil. 3.4. 4. Mekanisme aksi androgen untuk merangsang desensus testis tidak diketahui. (3) Preskrotal. Diduga. kelainan kanalis inguinalis. Adanya bukti bahwa untuk turunnya testis ke dalam skrotum. Klasifikasi berdasarkan etiopatogenesis: 1. (2) Inguinal. . (4) Skrostal. memerlukan aksi androgen yang memerlukan aksis hipotalamus-hipofise-testis yang normal. Skrotal tinggi (supra skrotal) : 40% Intra kanalikular (inguinal) : 20% Intra abdominal (abdominal) : 10% Terobstruksi : 30% Ada juga yang memakai klasifikasi berdasarkan lokasi sebagai berikut : (1) Intra abdominal. suatu pita fibro muskular yang terkait pada testis-epididimis dan pada bagian bawah dinding skrotum. 4. Genetik/herediter Kriptorkismus termasuk di antara gejala-gejala berbagai sindrom malformasi yang berhubungan dengan atau tanpa kelainan kromosom yang bersifat herediter8. Nervus genitofemoralis Berkurangnya “stimulating substances” yang diproduksi oleh nervus genitofemoralis. dan bila disertai dengan hernia inguinalis dijumpai adanya pembengkakan atau nyeri yang berulang20. Perrett dan O’Rourke (1969) menemukan delapan kasus kriptorkismus unilateral kanan pada empat generasi dalam satu keluarga. 2. 2. pembesaran. 5. 3. Mekanik/anatomik (perlekatan-perlekatan.

dan kelainan endokrin lainnya. Pada bayi merupakan risiko tinggi adanya kelainan seperti interseksual. kelainan duktus. interseks. usia 6 minggu. Bisa juga dengan satu tangan berada di kantong skrotum sedangkan tangan yang lainnya memeriksa mulai dari daerah spina iliaka anterior superior (SIAS) menyusuri inguinal ke kantong skrotum. prune belly syndrom. Penentuan Lokasi Testis Pemeriksaan testis pada anak harus dilakukan dengan tangan yang hangat pada posisi duduk dengan tungkai dilipat atau dalam keadaan rileks pada posisi tidur. 3. Bila palpable. diraba sebelumnya di skrotum1. sebagian dari penderita mempunyai testis yang retraktil yang kadang-kadang tidak memerlukan terapi. 2. Penentuan posisi anatomis testis sangat penting dilakukan sebelum terapi. Pemeriksaan Penunjang . dan lain-lain. Pada bayi kurang bulan. testisnya lebih kecil. kecuali bila anaknya dalam keadaan rileks. 4. Karena.Anamnesa ditanyakan: 1. kemungkinannya adalah testisnya bisa berada di intra kanalikular1. Pada testis impalpable. sindrom Prader Willi. atau testisnya tidak ada sama sekali. Biasanya baru diketahui pada usia 8–10 tahun) atau ektopik testis (desensus testisnya hanya normal sampai di kanalis inguinalis. sindrom Kallman. prune-belly syndrom. 1. 3. Kalau impalpable.. Ada/tidak adanya kelainan kongenital yang lain seperti hipospadia. dan sering berdegenerasi menjadi ganas. kemungkinannya adalah retraktil testis. seperti sindrom Kleinefelter. karena pada anak refleks kremasternya cukup aktif. sering disertai hernia. undescended testis. Ada/tidaknya riwayat kriptorkismus dalam keluarga1. usia 8 bulan. tetapi tidak ditemukan di dalam skrotum pada pemeriksaan. Dianjurkan melakukan skrining pada saat lahir. Pemeriksaan Fisik 1. dianjurkan melakukan skrining pada usia 3 bulan karena banyaknya turun testis pada usia 3 bulan dibandingkan dengan bayi yang cukup bulan. di intra abdominal. Kemudian testis diraba dari inguinal ke arah skrotum dengan cara milking. Refleks ini akan menyebabkan testis bergerak ke atas/retraktil sehingga menyulitkan penilaian. tetapi kemudian menjadi letak tinggi karena pendeknya spermatic cord. sindrom Noonan. tetapi kemudian menyimpang ke perineum atau ke the femoral triangle. Hal ini dilakukan supaya testis tidak bergerak naik/retraksi. Testis yang retraktil ini sudah turun pada waktu lahir. dan saat usia 5 tahun. karena berhubungan dengan keberhasilan terapi9. Ini harus segera dirujuk untuk pemeriksaan analisis kromosom dan endokrin. ascending testis syndrom (testisnya di dalam skrotum atau retraktil. Ditentukan apakah testisnya palpable atau impalpable 2. Pemeriksaan teliti dilakukan untuk melihat adanya sindrom-sindrom yang berhubungan dengan kriptorkismus. Pernahkah testisnya diperiksa.

retro peritoneal. penderita diberikan suntikan 1500 IU HCG intramuskular setiap hari selama 3 hari berturut-turut. diperiksa kadar testosteron pada usia 4 bulan. Kes. Firman K51 meneliti dengan memakai USG di subbagian pencitraan I. Pemeriksaan Laboratorium Pada kriptorkismus bilateral yang impalpable50. dan intra abdominal. yang antara lain dilakukan oleh Madrazo B.5%) yang berhasil ditemukan lokasi testisnya. Sebelum dan 24 jam setelah penyuntikan HCG. 1. Angiografi dilakukan terhadap kasus yang telah dilakukan eksplorasi inguinal. karena 10% kasus didapati horse shoe kidney. dan Elisabeth H. Bila didapatkan peningkatan kadar testosteron yang bermakna. dan relatif murah51. Angka keberhasilan ini masih jauh berbeda dengan penelitian di luar negeri. renal hipoplasia. CT scanning Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang lebih tinggi terhadap testis yang lokasinya di intra abdominal dan sudah dibuktikan pada saat operasi53. ureteral duplikasi. MRI Dilakukan bila hasil pemeriksaan USG meragukan51. Erik H. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk testis yang berlokasi di kanalis inguinalis dan terhadap testis yang besar yang terletak di Juxta vesikal30. dan hidronefrosis. hidro ureter. berarti terdapat testis pada penderita. dan Klugo R. Keuntungannya adalah fasilitas pemeriksaan USG mudah didapat. Venografi gonadal selektif dilakukan pada testis impalpable dimana telah dilakukan eksplorasi lokal di inguinal.52 serta Michael K.1. tetapi tidak dijumpai testis.C. (65%). diperiksa kadar testosteron plasma. tetapi tidak ditemukan testis atau spermatic vessel-nya buntu serta pada kasus yang reoperasi. hanya 2 (9. noninvasif. bebas radioaktif. 1. (60%). Ternyata. Pemeriksaan Radiologis Ultrasonografi Sudah digunakan untuk mendeteksi kasus Kriptorkismus oleh ahli radiologi dan klinisi sejak 1970. karena bila lebih dari 4 bulan diperlukan uji stimulasi HCG untuk melihat ada tidaknya testis.. Intravena urografi dikerjakan secara selektif pada kasus yang dicurigai adanya kelainan saluran kemih bagian atas. praktis. Laparoskopi . Pada uji HCG. dicurigai adanya anorchia kongenital.L. Anak FKUI-RSUPNCM selama 6 bulan (Januari 1994 sampai Juni 1994) terhadap 21 pasien. Bila tidak ada respons serta kadar FSH dan LH meningkat. yaitu di daerah inguinal sedangkan pemeriksaan CT Scanning tidak dilakukan.

yang disertai dengan kelainan genitalia eksterna atau kelainan kariotip. 5. Virilisasi dari Hiperplasi adrenal kongenital. merusak epitel germinal20. paling tidak di anulus inguinalis interna30. 3. Testis yang mengalami kriptorkismus pada dekade ke-3 atau ke-42. Sebagai terapeutik untuk mereposisi testis yang abnormal54. didapati peningkatan kadar gonadotropin dengan testosteron yang rendah serta kurangnya respons terhadap stimulasi HCG atau tidak ada sama sekali. Dilakukan saat pembedahan terhadap testis yang berlokasi di intra abdominal. Trauma. 2. Kejadian neoplasma lebih besar terhadap testis intra abdominal yang tidak diterapi. 6. diperlukan pemeriksaan buccal smear. Pada penderita wanita dengan penyakit yang berat. 4. Testis yang terletak di atas pubic tubercle mudah terjadi injuri oleh trauma. ada laporan bahwa biopsi testis saat orchiopexy akan meningkatkan risiko keganasan. Ini terjadi karena hiperaktifnya refleks kremaster pada anak. bila dibandingkan dengan yang intra kanalikular.Dilakukan pada usia 1 tahun2 sebagai diagnostik yang paling akurat28 untuk mengetahui lokasi testis sebagai petunjuk untuk melakukan insisi pembedahan. 2. Biopsi. apakah vas spermatika buntu.28. mempunyai kemungkinan keganasan 20–30 kali lebih besar daripada testis yang normal. Diagnosis Banding 1. Testis yang berlokasi di intra abdominal dan di dalam kanalis inguinalis. 1. terlihat seperti fenotip laki-laki dengan kriptorkismus bilateral. Retraktil testis. 4. 2. Anorchia bilateral. Ektopik testis. . Dilakukan selektif terhadap bayi dengan undescended bilateral yang impalpable21. atau adanya vassa di dalam abdomen30. akan mengurangi spermatogenik. Komplikasi 1. Hernia. Namun. Buccal smear atau analisa kromosom. Infertilitas. Torsi. Biasanya. untuk melihat apakah testisnya normal54. retraktil ini bilateral. Sekitar 90% penderita kriptorkismus menderita hernia inguinalis ipsilateral yang disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus vaginalis. Perasaan rendah diri terhadap fisik atau seksual akibat tidak adanya testis di skrotum16. Kriptorkismus bilateral yang tidak diterapi akan mengalami infertilitas lebih dari 90% kasus. atau yang dikoreksi secara bedah saat/setelah pubertas. Karena itu. 3. sehingga testis bergerak ke kanalis inguinalis. Neoplasma umumnya jenis seminoma. Terjadi karena abnormalnya jaringan yang menjangga testis yang kriptorkismus dan tingginya mobilitas testis16 serta sering terjadi setelah pubertas. Pada keadaan ini. sedangkan yang unilateral 50% kasus7. Neoplasma. Sebagian besar testis impalpable ditemukan pada operasi. Psikologis.

gangguan tubulus. Terapi hormonal HCG secara injeksi tidak dilakukan tiap hari. Dari laporan ini. dan sebaiknya pada usia 10 bulan sampai 24 bulan23. digunakan terapi hormonal HCG dan LHRH untuk pengobatan kriptorkismus. Oleh karena itu. Hal ini untuk mencegah desensitisasi sel leydig terhadap HCG yang dapat menyebabkan steroidogenic refractoriness dan dosisnya jangan terlalu tinggi karena dapat menyebabkan refrakternya testis terhadap stimulasi HCG. menyebabkan germinal hipoplasia dan mengakibatkan hipospermatogenesis. terapi dimulai setelah anak berusia di atas 9 bulan. Di samping itu. diduga meningkatkan ukuran dan panjang vessel spermatic cord. terapi HCG diberikan setelah anak berusia 4–5 tahun dengan dosis 1000-4000 IU. dan Chaussain JL (1982) melakukan penelitian terhadap 153 kasus kriptorkismus dengan rentang usia 6–59 bulan. 30% menjadikan spermatogenesis yang akseptable. Penulis lain menganjurkan untuk kriptorkismus bilateral diberi HCG 3300 units intra muskuler setiap selang sehari (3 X injeksi) dan untuk yang unilateral diberikan 500 units intra muskuler. dan sel Leydig. dan efek toksik pada testis. Tingginya persentase kegagalan terapi didapatkan pada kasus-kasus dimana dosis HCG < 1000 IU/m2 dan tingginya lokasi testis. edema interstisial testis. Di Bagian I. tidak dianjurkan untuk kriptorkismus unilateral. Bila kriptorkismus ini diobati sebelum usia 2 tahun maka fertilitas yang didapatkan berkisar 87%. Mosier H. dan testis yang berlokasi di intra abdominal atau yang letak tinggi. P. terapi hormonal akan meningkatkan rugocity skrotum. Terapi hormonal sebaiknya diberikan pada kriptorkismus yang palpable. Sedangkan bila diturunkan setelah pubertas maka hasilnya hanya 13. memperbaiki suplai darah.5 minggu (20 X injeksi). ukuran testis. (1931) melaporkan keberhasilan terapi HCG terhadap kasus kriptorkismus31.D. terdiri dari 109 unilateral dan 44 bilateral. Human Chorio Gonadotropic Hormone HCG ini mempunyai cara kerja seperti LH merangsang sel leydig untuk memproduksi testosteron yang kemudian secara sendiri atau melalui Dihidro-testosteron (DHT) akan menginduksi turunnya testis9. 3 kali seminggu selama 6.M sebanyak 9 kali dengan selang sehari. Bila diturunkan sewaktu pubertas. diberikan 3 kali seminggu selama 3 minggu60. Dianjurkan agar terapi hormonal dimulai sebelum usia 2 tahun1. serta menimbulkan efek kontraksi otot polos gubernakulum untuk membantu turunnya testis. karena setelah usia 9 bulan hampir tidak didapatkan lagi penurunan testis secara spontan9. Terapi HCG paling baik diberikan pada kriptorkismus bilateral dengan lokasi testis dekat ke skrotum.5%8. Penelitian ini melaporkan kegagalan terapi pada kelompok usia kurang dari 3 tahun dan usia 3–4 tahun masing-masing 81% dan 55%. Schapiro B. Job JC. Kes. Jika tidak diturunkan sebelum pubertas. Anak FKUIRSUPNCM. terlihat bahwa pengobatan dini sangat penting dalam penatalaksanaan kriptorkismus.58 kalau tidak diobati setelah usia 3 tahun maka terjadi penurunan jumlah sel germinal. . diterapi dengan HCG dosis 500–1500 IU I. Garagorri JM. Canlorbe.Dasar Pertimbangan Terapi Hormonal Turunnya testis dipengaruhi oleh aksis hipotalamus hipofise testis. (1984) menganjurkan untuk kasus kriptorkismus inguinal bilateral. vas deferens1. spermatogonia.

Didapatkan penurunan testis sebanyak 86. dan dikatakan parsial bila turunnya testis dari abdomen atau inguinal ring turun ke inguinal middle atau lebih rendah59. Pengobatan dengan LHRH tidak dilakukan karena hasilnya kurang meyakinkan. LHRH intra nasal dengan dosis 1–1. orchiopexy. Ternyata. diperiksa kadar testosteron untuk melihat fungsi sel leydig dalam meningkatkan kadar testosteron plasma yang diperlukan untuk proses penurunan testis. Vliet GV. Hasil penelitian kriptorkismus yang diberi terapi dengan HCG atau LHRH. yaitu 5 kali 250 µg (usia < 2 tahun). dan 5 kali 1000 µg (usia > 5 tahun). Safar A. serta potensinya di bawah HCG37. 6 bulan. Jika tidak ada respons. 5 kali 500 µg (usia 3–5 tahun). Terapi kombinasi ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya relaps pada pengobatan dengan LHRH saja dan untuk kasus yang testisnya di luar external inguinal ring. Kontra indikasi pemakaian HCG adalah kriptorkismus dengan hernia. LHRH dengan dosis 3 x 400 ug intra nasal selama 4 minggu.4% sehingga penderita yang sangat memerlukan tindakan bedah hanya 13. Caufriez A.2 mg/hari selama 4 minggu tidak menimbulkan efek samping. pasca operasi hernia. Kombinasi LHRH dengan HCG Terdapat hipotesis bahwa pemberian HCG dan atau LHRH dapat digunakan pada anak dengan kriptorkismus. Tetapi. Penurunan testis dikatakan komplit bila testis desensus ke dalam skrotum. sebagian penderita mengalami relaps dan penurunan testis ini berkurang menjadi 70. dan testis ektopik30. didapati peningkatan kadar FSH basal dan respons FSH terhadap LHRH sama pada kriptorkismus unilateral dan bilateral. kemudian dilanjutkan dengan pemberian HCG intra muskuler sebanyak 5 kali dengan selang sehari. Job JC.23. EL Dessouky M. 1 bulan kemudian. dan 12 bulan kemudian9. et al tidak mendapatkan manfaat yang berarti pada penggunaan LHRH untuk meningkatkan kadar LH terhadap kasus kriptorkismus pada kelompok usia 4–11 bulan61.6%. tidak tersedianya obat-obat tersebut. Wolter R.5 tahun) dimana tiap anak diberi LHRH (Hoechst.8–8. Luteinizing-Hormone-Releasing-Hormone LHRH diberikan pada penderita kriptorkismus dengan maksud merangsang hipotalamus untuk mengeluarkan LH dan FSH yang kemudian akan merangsang sel Leydig untuk mengeluarkan testosteron yang berfungsi dalam proses penurunan testis.V bolus 1 kali.Sebelum dan sesudah penyuntikan. Evaluasi Pengobatan Evaluasi pengobatan dilakukan pada tahap selama pengobatan. Dosis HCG yang dipakai sesuai dengan anjuran WHO. meneliti 13 anak kriptorkismus unilateral (usia 1. FRG 25 ug/m2) I.6%63. 3 bulan kemudian. Gendrel D. tergantung dari: . pada akhir pengobatan. setelah di-follow-up selama 2 tahun. menurunkan testis secara komplit berkisar 30–64% dari kasus dan desensus parsial antara 25–43% kasus31. Friefer A (1987) memberikan LHRH sebanyak 3 kali sehari 400 µg secara intranasal selama 2 minggu. Robyn C. Waldschmidt J. penyuntikan dapat diulang 6 bulan kemudian.5 tahun) dan 13 anak kriptorkismus bilateral (usia 3–8.

64. Indikasi orchiopexy (testis difiksasi kedalam skrotum) adalah testis yang lokasinya di intra abdominal dengan tingkat kesulitan operasinya kecil16. serta ada yang menganjurkan sebelum usia pubertas5. dengan alasan merupakan saat berhentinya perubahan degeneratif testis17. kemungkinan terjadinya efek samping ini dijelaskan kepada orangtua. Walaupun banyak sekali “controled trial” pemakaian hormonal pada undescended testis dengan hasil yang bervariasi. Umur penderita saat pengobatan. fiksasi testis yang adekuat ke dalam skrotum62. testis yang lokasinya intra abdominal atau letaknya lebih tinggi di atas kanalis inguinalis37. dan dokter bedah anak melakukannya secara elektif pada usia 1–4 tahun28. hernia yang potensial menimbulkan obstruksi1. Efek Samping Sebelum pengobatan dimulai. Action Comitte on Surgery of the Genitalia27 dan sebagain penulis3. Posisi testis sebelum pengobatan. Terapi hormonal lebih berhasil pada penderita dengan lokasi testis di inguinal dibandingkan dengan intra abdominal.15 merekomendasikan bahwa Orchiopexy sebaiknya dilakukan pada usia 12 bulan. menurunkan risiko keganasan. atau dicurigai terjadinya torsi1. pigmentasi30. unilateral65.25.27. Bilateral/Unilateral kriptorkismus.1.5. Efek samping pengobatan HCG antara lain: Bertambahnya volume testis64. 2. Terapi lebih berhasil pada penderita dengan kriptorkismus bilateral. Orchidectomy (testis di eksisi) dilakukan pada testis yang kecil di intra abdominal1. Bila terapi bedah dilakukan pada usia lebih dini. Tindakan bedah dilakukan bisa satu atau dua tahap7. Sedangkan LHRH tidak memberikan efek samping yang berarti9. meningkatnya rugocity skrotum30. Kegagalan terapi hormonal disebabkan 80% kasus karena adanya kelainan anatomis.27. adekuatnya spermatik. ereksi59. Terapi Bedah Terapi bedah dilakukan bila terapi hormonal tidak berhasil1.30. 3. Tujuannya untuk memobilisasi testis.64. Ini didasarkan bahwa pada usia 12 bulan terjadi penurunan spontan testis sebanyak 75% kasus dan minimalnya risiko anestesi. 4. terjadinya obstruksi.28.28. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih banyaknya ditemukan penyebab kelainan anatomi pada kriptorkismus unilateral. terapi hormonal tetap merupakan pilihan utama pengobatan sebelum dilakukan tindakan operasi9.10. dan alasan kosmetik4.31.37. dan bila dilakukan pada usia setelah pubertas akan menurunkan jumlah sperma serta .25. akan meningkatkan risiko iatrogenik atrofinya testis. dilakukan antara usia 10–12 bulan17. kadang-kadang pertumbuhan rambut pubis30.10.23.40. pembesaran penis30. serta gangguan emosi.23.59. Orchiopexy dilakukan untuk memperbaiki spermatogenesis.64. dan yang mengalami atrofi hebat16. tergantung pada spermatic vessels apakah normal atau sangat pendek27. Semua efek samping ini bersifat reversibel9. Hasil terapi lebih baik pada anak-anak dengan usia lebih besar dibanding anak usia lebih rendah.23. dan operasi hernia yang menyertainya7.

Walaupun penyebab kriptorkismus sebagian besar tidak diketahui. serta tidak dijumpai kelainan anatomi dan kontra indikasi terhadap HCG. dan atrofinya testis yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah. walaupun sesudah usia 9 bulan hampir tidak didapatkan lagi penurunan testis secara spontan. lokasi testisnya di inguinal. Terapi bedah dilakukan bila tidak ada respons dengan pengobatan hormonal. Kesimpulan Diagnosis kriptorkismus ditegakkan setelah usia 1 tahun. terapi hormonal dianjurkan terutama terhadap kriptorkismus bilateral. Komplikasi dari terapi bedah berupa trauma vasa sekitar 1– 2% kasus. Dianjurkan diobati antara usia 10 bulan sampai 24 bulan. dan sediaan obat ini belum ada di Indonesia. tetapi ada laporan pada usia 3 bulan desensus testis lebih banyak terjadi dibandingkan dengan bayi cukup bulan. atau dicurigai terjadinya torsi . terjadinya obstruksi.terbentuknya antibodi antisperma. Insiden undescended testis lebih tinggi pada bayi kurang bulan. hernia yang potensial menimbulkan obstruksi.5–0.8%. Bervariasinya dosis dan lama pemberian HCG. diperlukan penelitian untuk menilai mana yang lebih baik. Terapi hormonal LHRH tidak dianjurkan karena potensinya di bawah HCG. Insidens kriptorkismus pada anak usia 1 tahun sebesar 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful