LAPORAN FINAL

PEMETAAN PARTISIPATIF PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI EMPAT KECAMATAN KABUPATEN BOYOLALI

(KEC. AMPEL, BANYUDONO, WONOSEGORO, DAN MUSUK)

Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial Institute for Social Transformation Studies

i

Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial Institute for Social Transformation Studies

Bangunharjo Rt 07/II No. A2 Pulisen Po Box 130 Boyolali - Central Java – INDONESIA Phone: 62-276-324501 Fax: 62-276-324501 Email: information@lkts.org Url: www.lkts.org

© LKTS 2005

i

DAFTAR ISI I. KECAMATAN AMPEL ________________________________________ 1

PENDAHULUAN ___________________________________________________________________1 Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air ___________________________________3 Pemanfaatan, Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air _________________________________5

II.

KECAMATAN BANYUDONO __________________________________ 14

PENDAHULUAN __________________________________________________________________14 KONDISI SOSIAL MASYARAKAT ____________________________________________________14 UMBUL SUNGSANG ____________________________________________________________15 Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air______________________________15 Pemanfaatan, Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air ___________________________15 UMBUL PENGGING ____________________________________________________________17 UMBUL PLANANGAN __________________________________________________________17 UMBUL KENDAT ______________________________________________________________18

III.

KECAMATAN MUSUK _____________________________________ 19

PENDAHULUAN __________________________________________________________________19 WILAYAH / LOKASI PENELITIAN ___________________________________________________22 PROFIL DESA DI KECAMATAN MUSUK ____________________________________________25 DESA CLUNTANG____________________________________________________________25 Potensi dan Keberadaan air _______________________________________________26 Ekosistem _______________________________________________________________27 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________28 DESA SRUNI ________________________________________________________________28 DESA MRIYAN_______________________________________________________________30 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________30 Potensi dan Keberadaan Sumber Air. ______________________________________30 Ekosistem _______________________________________________________________31 DESA SANGUP ______________________________________________________________34 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________34 DESA LANJARAN ____________________________________________________________35 Potensi Sumber Air _______________________________________________________36 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________37 DESA LAMPAR ______________________________________________________________37 Potensi Sumber Air _______________________________________________________37 Air Bersih Masyarakat. ____________________________________________________38 Ekosistem _______________________________________________________________38 DESA DRAGAN ______________________________________________________________39 Ekosistem _______________________________________________________________39 DESA MUSUK _______________________________________________________________39 Potensi sumber air _______________________________________________________39 DESA SUMUR _______________________________________________________________45 Potensi sumber air _______________________________________________________45 DESA SUKORAME____________________________________________________________46 Potensi dan keberadaan sumber air. _______________________________________46 Air Bersih Masyarakat ____________________________________________________46 DESA PAGAR JURANG _______________________________________________________48

ii

Dampak Sosial ___________________________________________________________63 C. DAN EKONOMI _____________________________________62 A. Dampak Ekonomi_________________________________________________________64 UPAYA-UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN DAN CAPAIANNYA __________________________65 iii . Dampak Lingkungan ______________________________________________________62 B. SOSIAL.IV. KECAMATAN WONOSEGORO_______________________________ 49 KONDISI WILAYAH DAN PERSOALAN-PERSOALAN SUMBER DAYA ALAM/AIR _____________49 KONDISI OBYEKTIF WILAYAH SASARAN_____________________________________________49 GEOGRAFIS ___________________________________________________________________49 DEMOGRAFIS __________________________________________________________________50 PERSOALAN KEKERIINGAN DAN KELANGKAAN AIR ___________________________________51 Karakteristik Sumber Air dan Pemanfaatannya ____________________________________51 DESA BENGLE _______________________________________________________________51 DESA REPAKING _____________________________________________________________54 DESA GUNUGSARI____________________________________________________________57 DESA GARANGAN ___________________________________________________________60 EKOSISTEM SEKITAR _____________________________________________________________62 DAMPAK LINGKUNGAN.

7º 71’ Litang Selatan. AMPEL. Dari hasil mapping hari pertama. atau masyarakat menyebutnya dengan tempuran (pertemuan dua arus sungai yang menyatu dan mengalir ke wilayah Desa-Desa di bawah kaki gunung Merbabu) menurut informasi dimanfaatkan oleh PDAM Kab. Komplek Andosol Kelabu Tua dan Litosol mempunyai kontur lereng dengan kemiringan tanah antara 2 – 40%.500 meter diatas permukaan air laut.039. Terutama sekali terkait sumber daya air. Kabupaten Boyolali berada di Propinsi Jawa Tengah.110º 50’ Bujur Timur dan 7º 36’ . KECAMATAN AMPEL PENDAHULUAN Asumsi awal. Latosol Coklat. Batas Administrasi Desa di Kecamatan Ampel 1 . Luas kecamatan Ampel 9. Semarang pada arah Utara dan Barat. terletak antara 110º 22’ . Boyolali dan masyarakat sekitar sebagai sumber untuk men-supply kebutuhan air bersih. Ampel adalah salah satu dari beberapa wilayah di Kab. Letak geografis. Jenis tanah yang terdapat di daerah ini adalah Regosol Kelabu. Andosol Coklat. Boyolali yang mengalami kekeringan. dengan ketinggian antara 75 – 1. Kecamatan Ampel berbatasan dengan Kab. BANYUDONO DAN WONOSEGORO) I. 1. MUSUK. Magelang pada arah Timur dan Kecamatan Cepogo pada arah Selatan.PEMETAAN PARTISIPATIF PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI EMPAT KECAMATAN KABUPATEN BOYOLALI (KEC. lokasi yang diidentifikasi adalah mata air yang berada di Dukuh Pantaran Desa Candisari.1 Ha terdiri dari 20 desa yaitu: No 1 2 3 4 5 Desa Ngangrong Seboto Tanduk Banyuanyar Sidomulya No 6 7 8 9 10 Desa Ngargosari Selodoko Ngenden Godangslamet Ngapon No 11 12 13 14 15 Desa Candi Urut Sewu Kaligentong Gladagsari Kembang No 16 17 18 19 20 Desa Candisari Ngargaloka Sampetan Ngadirojo Jlarem Sumber Boyolali dalam angka Tahun 2003 Gambar 1. Kab. wilayah Kec.

Gambar 1.257 jiwa.Demografi Jumlah penduduk di Kecamatan Boyolali menurut data dari BPS Kab. Peta Sebaran Keluarga Miskin di Kecamatan Ampel Tabel 1. Sebagian besar penduduk bekerja pada sector pertanian tanaman pangan sejumlah 14.156. Sedangkan desa dengan jumlah KK miskin terbesar berada di desa sampetan. Jumlah Keluarga Miskin di Kecamatan Ampel Tahun 2003 Jumlah No Desa KK Klas Miskin 1 Ngangrong 775 banyak 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Seboto Tanduk Banyuanyar Sidomulya Ngargosari Selodoko Ngenden Godangslamet Ngapon 822 844 536 695 603 703 446 366 305 banyak banyak sedang banyak sedang banyak sedang sedikit sedikit 2 .939 orang. Boyolali pada tahun 2003 sebesar 68.584 Kepala keluarga (lihat table 1. Tingkat kesejahteraan masyarakat di kecamatan Ampel menurut data dari pemerintah kabupaten menunjukkan angka yang cukup signifikan.825 yang terbagi antara laki-laki sebanyak 33.1) . peternakan sejumlah 2. Pada tahun 2003 keluarga yang dikategorikan dalam keluarga miskin secara keseluruhan berjumlha 12. 1. 2. kemudian diikuti oleh sector pertanian lainnya dan perkebunan.568 jiwa dan perempuan 35.

lokasi mata air Pantaran1 terletak tepat di salah satu kaki gunung Merbabu.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Candi Urut Sewu Kaligentong Gladagsari Kembang Candisari Ngargaloka Sampetan Ngadirojo Jlarem Total 762 676 653 331 815 471 383 1. Gambar 1.584 banyak banyak sedang sedikit banyak sedang sedikit sangat banyak banyak sedang Sumber Peta Tematik Kecamatan Boyolali Tahun 2003 Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air Secara geografis. walau letak geografis mata air ini tidak tepat berada di wilayah Dukuh Pantaran. Boyolali menyebut dengan mata air Pantaran. Untuk menuju ke lokasi harus di tempuh dengan berjalan kaki dari Dukuh Candisari. Sedangkan masyarakat di sekitar lokasi menyebutnya dengan tempuran. untuk pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Kec. Desa Gladagsari. Ampel. 4 Menurut informasi masyarakat. Boyolali. batu-batu besar yang berada di dasar sungai tersebut sebagai bawaan dari banjir bandang yang terjadi pada tahun 1998. 2 Beberapa Desa yang dilewati dari arah Ampel Kota yaitu. 3. sedangkan jalan menuju ke pemberhentian terakhir ini menanjak dan sudah beraspal kecuali beberapa ratus meter pemberhentian jalan macadam2. tepatnya kendaraan roda dua hanya bisa berhenti sampai areal pemakamaman Syeh Maulana Maqribi. Waktu tempuh ke lokasi mata air dengan berjalan kaki menyusuri dasar sungai yang sudah kering3 – berbatu-batu besar4 dan mendaki kaki gunung + 2 jam. alirannya membentuk sungai yang membelah dua Desa yaitu Candisari yang memiliki ketinggian 1040 dpl dan desa Ngagrong dengan ketinggian 1027 dpl. Letak Dukuh Pantaran secara geografis berada di bawah Dukuh Candisari. 1 3 . Bendungan PDAM di Sumber Air Pantaran Ada perbedaan penyebutan sumber mata air ini.100 771 527 12. pada waktu musim penghujan di sertai dengan angin kencang. Kembang dan yang terakhir Candisari-Ngagrong 3 Sungai ini mengalami kekeringan sejak tahun 1997. bertepatan dengan pembangunan pipa distribusi air oleh PDAM Kab. pihak PDAM Kab.

5 4 . Gambar 1. tidak terdapat tanda-tanda didekatnya ada sumber air6.3). Kedua aliran sungai ini dipisahkan oleh sebuah bukit sebelum menyatu (lihat gambar 1. Sisi kiri atas bendungan terdapat sebuah bangungan dari bambu yang berukuran 2.3 meter x 1. Sedangkan pada bagian atas dari bendungan tersebut terdapat pipa jaringan distribusi air milik masyarakat. Aliran Air Sungai/Sumber Air di Pantaran yang Masuk dalam Pipa Jaringan Distribusi PDAM Kab.2 dan 1.Sumber air yang dimanfaatkan ini berasal dari aliran sungai sisi kanan yang melintasi kaki gunung. Sumber dari aliran sungai ini belum di identifikasi lebih lanjut karena pertimbangan medan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Pada sisi kiri sungai tersebut terdapat bekas aliran sungai yang kondisinya kering.1). Boyolali Bendungan tersebut dibangun oleh PDAM pada tanggal 16 Oktober tahun 1997. terdiri dari pintu air dan terowongan yang terhubung dengan pipa air PDAM ( lihat gambar 1. 6 Kedua aliran sungai yang menyatu tersebut pada tahun 1960-an masih terdapat air. aliran tersebut meresap dalam tanah + 300 meter dari lokasi bendungan yang dibangun oleh PDAM. dan tahun demi mengalami penurunan debit hingga mengering. Bendungan ini dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke pipa jaringan distribusi air milik PDAM.4 meter yang menurut informasi masyarakat diperuntukkan bagi para peziarah yang ingin bertirakat di lokasi.5 akan tetapi aliran air sungai ini tidak sampai setengah perjalanan antara Dukuh Candisari – Lokasi mata air. 4. tinggal satu aliran sungai saja yang masih terdapat airnya yang saat ini dimanfaatkan.

Pintu Air Bendungan PDAM di Sumber Air Pantaran Pemanfaatan.033 2.487 5. Ngargoloka. Kembang.203 1.893 2. Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air Sumber air Pantaran tersebut menjadi tumpuan masyarakat sekitar (Desa Ngagrong. Jumlah Penduduk Tiap Desa yang Memanfaatkan Air dari Mata Air Pantaran Tahun 2000 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Desa Ngagrong Sebolo Tanduk Gladagsari Kembang Candisari Ngargoloka Sempetan Ngadirojo Jlarem Penduduk 2.470 7 Informasi pelayanan distribusi air bersih PDAM dengan memanfaatkan mata air Pantaran sangat minim. dan Seboto) untuk kebutuhan air bersih dengan cara mengelola secara mandiri dari sumber air tersebut. 2. Jlarem. Sempetan.549 5. 5 .378 3. dalam data tersebut disebutkan untuk Kecamatan Ampel Jumlah Sambungan Rumah Aktif yang terpasang sebanyak 516 Rumah. Ngadirojo. dan distribusi air bersih PDAM untuk masyarakat di Kec.930 4.Pintu air menuju ke pipa distribusi air PDAM Pintu air bendungan yang mencegah air meluap ke sungai Gambar 1.837 5. Ampel7. 5.373 2. Tabel 1. Tanduk. Candisari. dokumentasi dan data yang didapatkan dari pihak PDAM hanya terkait Data Produksi dan Sambungan Rumah Tahun 2004. Gladagsari.

Aliran air yang berasal dari atas oleh masyarakat di pecah alirannya sebelum turun ke bawah dan masuk ke pipa jaringan distribusi air milik PDAM. Sedangkan pada sisi kiri kaki bukit gunung masih terdapat dua buah pipa masyarakat yang mendapatkan air bersih dari air terjun Sependok yang kemudian dialirkan ke wilayah Golelo. Jarak antara tebing dan tanah-bebatuan tersebut 1.Gambar 1.5). 6 . Dari hasil identifikasi di sumber air tersebut pada sisi kanan kaki gunung yang telah disebutkan di atas terdapat tiga buah pipa pralon air masyarakat dengan diameter masing-masing 8 cm dan ketebalan 2 inci. Model pemecahan air dengan menaruh tanah dan bebatuan di tengah sungai agar air dapat terbagi dan masuk ke pipa masyarakat. Ngebrak. Pipa Distribusi Air Masyarakat di Sumber Air Pantaran 8 Air terjun ini belum teridentifikasi dengan baik dengan pertimbangan jarak dan waktu yang tidak mencukupi maka tim memutuskan untuk mendapatkan informasi terkait dari masyrakat sekitar.5 dan 1.6).3 meter (lihat gambar 1.8 Tiga buah pipa distribusi air masyarakat Bendungan pemecah aliran air yang dibuat dari tanah dan batu Gambar 1. dan Cengklik (Lihat Gambar 1. 6 Batas Desa di Kecamatan Ampel Masyarakat dari 10 desa tersebut untuk memperoleh air tersebut dengan cara mengambil langsung dari mata air dengan memasang pipa-pipa yang melintasi tebing dan punggung bukit dan kaki gunung. 7.

terlebih dahulu ditampung dalam sebuah bak penampungan (berukuran 3 m x 3 m dengan ketinggian 1. Kembang. kemudian didistribusikan ke bak-bak penampungan di rumah-rumah masyarakat atau bagi mereka yang tidak mampu membangun bak tersebut cukup dengan memasang pipa atau selang dari bak penampungan tetangganya (lihat gambar 1. berjarak 200 meter dari sebuah makam yang dikeramatkan masyarakat. Pipa Distribusi Air Masyarakat di Sumber air Pantaran (nampak dekat) Pipa air sisi kanan diperuntukkan untuk masyarakat di desa Ngargoloko. Sebelum pipa air tersebut masuk ke dukuh Candisari.10). 9.5 m dan ketebalan 30 cm) (lihat gambar 1. Ngagrong.12). 8. Ngadirojo dan Jlarem.Gambar 1. 1. 7 . Sampetan. Pipa Distribusi Air Masyarakat Dari Air Terjun Sependok Model distribusi yang dikembangkan dengan menggunakan gravitasi didukung oleh kontur tanah yang memadai.9 dan 1.8. Pipa distribusi air masyarakat pada sisi kiri dari sungai/ sumber air Pantaran Gambar 1. Sebolo.11). Gladagsari. sedangkan pipa air pada sisi kiri diperuntukkan bagi masyarakat desa Candisari.7 dan 1. dan Tanduk (lihat gambar 1.

15. 11. Bak Penampungan Air Masyarakat dari Sumber Air Pantaran Pipa-pipa tersebut hasil swadaya masyarakat begitu pula dengan tenaga kerja yang memasang pipa di tebingGambar 1. Pipa Distribusi Air tebing gunung. 8 .000.Gambar 1. atau berdasarkan kerelaan dan kemampuan membayar. hanya Pantaran jika ada kerusakan atau pergantian pipa mereka dikenakan biaya sebesar Rp. Masyarakat pemanfaat air tersebut tidak Masyarakat yang berasal dari Sumber Air dikenakan biaya bulanan guna perawatan pipa. 10. 10.000 – Rp.

Gambar 1. Sistem Jaringan Distribusi Air PDAM dan Masyarakat dari Mata Air/Sungai Pantaran Bak penampungan air pertama dari sungai/MA pantaran Aliran sungai Pantaran Pipa jaringan distribusi air ke bak penampungan di rumah-rumah masyarakat Jaringan pipa distribusi air masyarakat Bendungan PDAM di Pantaran Pipa distribusi air PDAM dari MA Pantaran ke rumah masyarakat Bak Penampungan air PDAM dari MA Pantaran yang terletak di Dusun Candisari 9 . 12.

13.Gambar 1. Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih Masyarakat dari Air Terjun Sependok Bak penampungan air pertama dari Air Terjun Sepndok Aliran Terjun Sependok Pipa jaringan distribusi air ke bak penampungan di rumah-rumah masyarakat Jaringan pipa distribusi air masyarakat 10 .

tanah tegalan masyarakat ditanami produk unggulan seperti Kopi. jika warga bagian atas memanfaatkan air tersebut di luar pemenuhan air bersih maka ditakutkan masyarakat bagian bawah kebutuhan air bersih-nya tidak tercukupi. 11 . Sedangkan warga desa yang berlangganan terhitung sedikit.Gambar 1. bahkan kecenderungannya berlimpah. Boyolali memanfaatkan sumber air/sungai Pantaran dengan membuat bendungan. Teh. bahkan sebelum PDAM Kab. seperti contoh di Sebolo hanya 3 KK. Dari debit air mencukupi kebutuhan masyarakat tersebut akan air bersih.5 1145 280 1225 1000 335 1225 560 1910 1070 600 30 0 45 160 230 60 Kapuk 0 350 100 550 600 550 250 350 400 700 250 600 250 250 0 0 0 0 0 0 Kenanga (x10) 0 0 0 450 0 0 0 0 0 0 0 7 290 500 5 0 0 325 0 0 Pola pemanfaatan dan model distribusi air yang demikian sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. 3 Produksi Tanaman Perkebunan Tiap Desa ( Jumlah Pohon ) Kecamatan Ampel tahun 2002 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Desa Ngagrong Seboto Tanduk Banyuanyar Sidomulyo Ngargosari Selodoko Ngenden Ngampon Gondang Slamet Candi Urut Sewu Kali gentong Gladag Sari Kembang Candi sari Ngargoloko Sampetan Ngadirojo Jlarem Kopi (x100) 1221 160 162 90 365 110 85 40 85 90 155 245 1105 150 675 55 1300 265 845 185 The (x100) 1802 40 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 10 1200 1030 2600 600 450 1210 Kelapa (x10) 0 100 820 175. Bak Penampungan Air di Rumah Masyarakat Dengan demikian masyarakat dari 10 desa dan beberapa wilayah lainnya tidak berlangganan air bersih dari PDAM walau pipa PDAM melewati daerah mereka. Alasan atau pertimbangan utama masyarakat tidak memanfaatkan air untuk pengairan tegalan mereka. masyarakat sudah terlebih dahulu memanfaatkannya. Tabel 1. 14. dengan alasan minimnya kemampuan financial mereka untuk membayar retribusi bulanan. Meski demikian model pertanian warga sekitar tadah hujan. Kelapa. Sebengi 5 KK dan Drajut hanya 4 KK. Sedangkan produk lainnya seperti Jagung dan Tembakau. Pengamatan di lapangan. Kenanga dan Kapuk.

16.Sistem distribusi air oleh PDAM dilakukan dengan memanfaat gravitasi mengalirkan air melalui pipa distribusi dari sumber air di Pantaran/tempuran kemudian ditampung dalam bak penampungan terletak di Ngagrong di dekat pemukiman penduduk. Gambar 1. hanya satu sungai saja pada sisi kanan yang aliran air-nya mencapai 1/3 jarak sungai di hitung dari bendungan PDAM hingga Dusun Candisari. 15. Boyolali terkait luas hutan gundul di Gunung Merbabu menyulitkan untuk melakukan analisis tingkat degradasi air dalam relasi dengan menurunnya daya dukung lingkungan sekitar. Perkebunan dan Kehutanan Kab.10 dan 1.13). Hal ini tidak didukung pula oleh konservasi lahan lereng dan kaki gunung merbabu. dalam hal ini hutan di gunung Merbabu 12 . Walaupun masyarakat tidak melakukan perusakan lingkungan.3 dapat dilihat dari tahun ke tahun terjadi penurunan produksi air yang sangat significant dengan kecenderungan tidak adanya hasil produksi seperti pada bulan 9 Tidak adanya database yang memadai dan komprehensif dari Dinas Pertanian. mengapa demikian? Jika ditelusuri sumber aliran air sungai berasal dari gunung Merbabu. Sebagian besar lahan yang berada di kaki gunung dan di punggung gunung Merbabu terlihat gundul dan tandus. Demikian halnya yang terjadi pada sungai-sungai di wilayah Kecamatan Ampel mengalami kering. dalam jumlah yang relative kecil. Selebihnya air tersebut sudah meresap ke tanah. Ekosistem Gunung dan Kaki Gunung Merbabu Kondisi ini secara riil berdampak pada penurunan debit air dari sumber air di Pantaran yang kemudian mempengaruhi produksi air PDAM Kab. Bak penampungan ini difungsikan sekaligus sebagai water treatment sebelum didistribusikan ke pelanggan (lihat gambar 1. sedangkan ekosistem gunung Merbabu tidak mendukung bagi keberlangsungan air bawah tanah dan air permukaan. namun keberlangsungan air sangat ditentukan oleh environment support system. baik itu oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar. Gambar 1. pada bagian atas bukit dan kaki gunung ditumbuhi oleh pohon Pinus dan beberapa pohon besar lainnya. Boyolali.9 Bahkan sungai di tempuran-pun kering. Dari tabel 1. Bak Penampungan Air PDAM dari Sumber Air Pantaran yang Terletak di Dukuh Candisari Ekosistem Sumber Air dan Pelestarian Lingkungan Sekitar Ekosistem sekitar sungai tempuran.

539 2. Tabel 1.222 2.358 162.441 2003 14. Data Produksi Air Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Boyolali (dalam m3) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Pantaran 2001 123.602 1.Oktober – November tahun 2002 dan bulan Juni – November 2003.037 2002 40.687 22.353 31.436 1.637 35.469 13 .260 31.387 163.447 51.895 151.195 24.247 13.906 141.869 128.546 155.203 151.809 753 1.618 12.894 153.057 105.851 146.904 115. 4.

II.

KECAMATAN BANYUDONO

PENDAHULUAN Kec. Banyudono adalah salah satu kecamatan di kab. Boyolali yang letak geografis lebih rendah dibanding dengan kecamatan lain. Letak geografis demikian menjadikan ketersediaan air di wilayah ini cukup, bahkan cenderung supply air berlebihan. Indikasinya terdapat sebaran mata air hampir di semua wilayah. Bahkan dibeberapa mata air, luapan airnya membentuk sungai mengalir hingga ke wilayah Kartasura. Karena berlimpahnya air di kecamatan maka wilayah ini adalah wilayah pertanian (lihat gambar 2.1). Kontur tanah di wilayah ini tidak bergelombang atau berbukit, sehingga akses ke masing-masing sumber air cukup mudah. Kecamatan Banyudono dijadikan salah satu pilot project mempunyai tujuan menjadi perbandingan dengan wilayah kekeringan lainnya. Secara menyeluruh ekosistem sekitar mata air terdiri dari areal persawahan, pemukiman penduduk, pembibitan ikan dan sebagian kecil tegalan.
Gambar 2. 1. Tata Guna Lahan Kecamatan Banyudono Tahun 2003

KONDISI SOSIAL MASYARAKAT Kondisi sosial-ekonomi masyarakat Banyudono berbeda dengan masyarakat di 3 kecamatan lainnya (Musuk, Ampel dan Wonosegoro). Dari data yang ada menunjukkan bahwa jumlah KK miskin di Kecamatan Banyudono lebih rendah dengan jumlah 4593 KK dibandingkan dengan 3 kecamatan lainnya. Karena letak Banyudono yang berbatasan dengan Kartosuro dan Solo, sehingga masyarakat di Banyudono dapat dikategorikan dalam masyarakat urban.

14

Gambar 2. 2. Peta Sebaran KK Miskin di Kecamatan Banyudono Tahun 2003

UMBUL SUNGSANG Letak Geografis dan Kondisi Fisik Lokasi Mata Air Umbul sungsang terletak di tengah areal pemukiman penduduk, dengan kondisi bangunan yang terbagi dalam 4 bagian, 2 ruang tertutup dan dua ruang terbuka. Dua ruang tertutup masingmasing diperuntukkan untuk mandi laki-laki dan perempuan, sedangkan dua ruangan terbuka di peruntukkan untuk aktivitas mencuci (lihat gambar 2.4). Di umbul ini terdapat beberapa titik mata air, sehingga tidak tergantung hanya kepada satu titik saja. Luapan umbul Sungsang membentuk aliran sungai yang mengalir Gambar 2. 3 Aliran Air Sungai yang Berasal dari hingga ke Klewer-Kartasura (lihat gambar Umbul Sungsang 2.3). Pemanfaatan, Pengelolaan dan Sistem Distribusi Air Secara umum umbul ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan non konsumsi, termasuk di dalamnya irigasi pertanian masyarakat Banyudono dan beberapa wilayah lain yang berada di luar Kabupaten Boyolali.

15

Gambar 2. 4 Aktivitas Masyarakat di Umbul Sungsang

Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih, masyarakat sekitar umbul ini (desa Bendan) memanfaatkan sumur gali dengan kedalaman 68 meter, bahkan di beberapa wilayah hanya 4 meter. Kondisi ini berbanding terbalik dengan desa yang bersebelahan dengan desa Bendan, tepatnya arah barat yaitu desa Temple dan ke arah Utara yaitu Desa Ketaon dan Desa Tunjungsari, kedalaman sumur di wilayah tersebut mencapai 28-30 meter sampai pada titik mengeluarkan air. Secara geografis di dua wilayah tersebut memiliki kontur tanah yang lebih tinggi. Semakin ke arah Utara sumber air tidak ditemukan, sehingga PDAM Kab. Boyolali untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat mengolah air Sungai Pepe (lihat gambar 1.14). Kedalaman sumur di wilayah ini

berkisar antara 28-30 meter.

Gambar 2. 5. Proses Water Treatment PDAM Kab. Boyolali dari Sungai Pepe

Air Kotor

Prasedimentasi

Koogulasi

Flokkulasi

Reservoir

Disinfektan

Filtriasi

Sendimentasi

Model pengelolaan umbul ini tidak ada yang istimewa, hanya dengan menjaga kebersihan dan keindahan dari bangunan dan lingkungan sekitar mata air, dana operasional tersebut didapatkan dari kotak amal yang diletakkan di depan pintu masuk umbul. Pada musim kemarau debit air umbul Sungsang memang mengalami penurunan debit, akan tetapi tidak begitu signifikan, sehingga masyarakat masih bisa memanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan non konsumtif. Walau debit air umbul Sungsang cukup besar, namun tidak dimanfaatkan oleh PDAM kab. Boyolali untuk dijadikan salah satu sumber bagi distribusi air bersih masyarakat. Umbul Sungsang berada dalam penguasaan penuh masyarakat, sehingga setiap kebijakan pengelolaan sumber tersebut baik oleh pihak pemerintah maupun swasta harus berdasarkan persetujuan masyarakat. Hal ini berdasarkan pada kejadian tahun 1998, kebijakan pemerintah daerah Kab. Boyolali dan Pemerintah Daerah Solo berencana memanfaatkan

Gambar 2. 6 Areal yang di Sewa oleh PDAM Solo

16

Menurut keterangannya di kolam pembibitan ikan terdapat umbul lainnya. Di areal ini terdapat sekitar 4 sumber. berjarak + 10 kilometer arah timur dari umbul Pengging. Pada musim kemarau. UMBUL PENGGING Sumber ini masih berada diwilayah Bendan Banyudono. jika pipa pralon ditancapkan ke tanah kolam tersebut maka akan mengeluarkan air (lihat gambar 2. Setiap orang yang masuk ke umbul Pengging dikenai retribusi sebesar Rp. Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat diperoleh dari sumur gali yang berada di masing- Gambar 2. Di dalam lokasi ini terdapat bangunan-bangunan permanen seperti kolam renang dan pemancingan. Lahan di sekitar umbul dan sebelum umbul sangat subur yang oleh masyarakat di tanami dengan Padi dan tanaman holtikultura lainnya. Melihat dan mendengar kebijakan tersebut. 7 Bilik di Umbul Planangan yang Dimanfaatkan Masyarakat berada dibangun bilik-bilik yang masingmasing bilik dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berbeda. Berdampingan dengan bangunan bilik tersebut. dan luapan dari umbul ini membentuk sungai yang mengairi areal persawahan di wilayah Banyudono dan Kartasuro. Tempat dimana umbul itu Gambar 2. hanya sekitar meter 100 m arah selatan dari umbul Sungsang. UMBUL PLANANGAN Umbul Planangan terletak di desa Plumbungan. masyarakat sekitar Sungsang melakukan perlawanan dalam bentuk merusak pipa-pipa air milik PDAM yang telah dipasang. 8. umbul tersebut diperuntukkan bagi masyarakat sekitar untuk pemenuhan kebutuhan mencuci dan mandi (lihat gambar 2.umbul Sungsang guna distribusi air bersih bagi masyarakat Solo. dan meski rencana PDAM Solo tidak terealisir. Sementara masyarakat Kec.Teras. dengan pekarangan yang cukup luas. Meski pada saat itu pihak PDAM Solo telah membayar sewa lahan yang akan di eksploitasi airnya selama 10 tahun dengan biaya sebesar 25 juta. Kondisi fisik air nampak jernih dan luapan air dari umbul tersebut mengalir ke areal persawahan dan perkebunan di sekitarnya. sebagian pekarangan tersebut dimanfaatkan oleh pemilik untuk pembenihan ikan. Kecamatan Banyudono. Pada musim kemarau.7).8).1. sehingga tidak banyak berpengaruh kepada lingkungan dan kehidupan social-ekonomi masyarakat. Umbul ini telah dikelola oleh pemerintah kabupaten Boyolali sebagai obyek wisata dan kolam renang. Kelurahan Dukuh. Lokasi dimana umbul di atas tanah milik perorangan. Dana tersebut oleh masyarakat digunakan masyarakat untuk membangun jalan desa. banyak terdapat pohon-pohon peneduh. sumber-sumber air ini tidak pernah mengalami kekeringan hanya debit air serta volumenya berkurang tapi tidak significant. terdapat rumah pemilik tanah umbul tersebut.Banyudono Boyolali sendiri yang menggunakan atau memanfaatkan distribusi air PDAM hanyalah sebagian yaitu daerah Tempel bagian barat hingga Kec. debit air umbul Pengging tidak mengalami penurunan yang signifikan. namun oleh sang pemilik. Kolam Pembenihan Ikan 17 .200.

5 meter dapat diperoleh air. 9 Bak Penampungan Air di Salah satu masyarakat yang berasal dari luar kota Kolam umbul Kendat tersebut. bahkan di wilayah tertentu dengan kedalaman 1. Umbul Kendat mempunyai 3 buah sumber mata air. terdapat sebuah petilasan yang keramatkan karena diyakini masyarakat sebagai petilasan Prabu Brawijaya XI. Gambar 2. Areal sekitar umbul terdapat sawah dan pemukiman penduduk. tidak mengalami kekeringan. Akses jalan menuju lokasi sangat mudah dengan kondisi jalan aspal dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. satu bilik terbuka yang dimanfaatkan untuk mandi laki-laki.6 meter. Justru luapan airnya mengairi sawah dan ladang masyarakat. sama seperti umbul lain di wilayah Banyudono. Walau di sekitar mata air ini didominasi oleh areal persawahan masyarakat dan tanaman holtikultura lainnya. bangunan fisik dan lingkungan sekitar. akan tetapi juga masyarakat dari kota lain. Pemanfaat mata air ini tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar. dan sebuah bangunan distribusi air bersih untuk KOPPASUS di Kartosuro. seperti Solo dan Kartosuro. 10 Ekosistem Sekitar Umbul Kendat 10 Bilik-bilik ini dibangun oleh KOPPASUS pada tahun 1966 18 . Pada musim kemarau. sekitar 300 m arah Utara dari mata air Planangan. Sedangkan untuk pemenuhan air bersih. Pengelolaan mata air dilakukan oleh secara swadaya oleh masyarakat tanpa memungut retribusi bulanan. buah buah bilik yang tertutup diperuntukkan untuk mandi-cuci perempuan. masyarakat sekitar memanfaatkan sumur gali dengan kedalaman berkisar antara 6-8 meter. pengelolaan pada aspek kebersihan. Meski demikian masyarakat sekitar tidak mengenakan retribusi bagi Gambar 2. Distribusi air dari salah satu sumber dengan menggunakan pipa telah berlangsung lama sejak tahun 1965/1966. dan memiliki tiga buah bangunan utama10 yaitu. Jika terjadi penurunan debitpun tidak begitu significant mempengaruhi pemenuhan kebutuhan non konsumsi masyarakat. UMBUL KENDAT Umbul ini terletak tidak jauh dari umbul Planangan. Di dekat umbul tersebut.masing rumah warga dengan rata-rata kedalaman 4 .

6 ha Hutan negara 276.1 ha Tegal/kebun 3830. Dengan luas areal 62. lembah dengan kemiringan yang terjal.4 ha Tanah lainnya 304. KECAMATAN MUSUK PENDAHULUAN Kecamatan Musuk terletak di lereng Gunung Merapi berada di antara Kecamatan Kemalang. 1. Tata Guna Lahan Tahun 2003 19 .277.95 Km² dengan ketinggian antara 500-2941 mdpl. Dengan pemanfaatannya sebagai berikut : Pekarangan 1992. Permukaan tanahnya sebagian besar bergelombang dan banyak terdapat sungai.9 ha Padang gembala 100. Kabupaten Klaten dan Kecamatan Cepogo serta Kecamatan Mojosongo yang berada di Kabupaten Boyolali.III. jurang.1 ha Gambar 3.

Sedangkan sisanya terlihat antara rumah satu dengan yang lainnya saling berjauhan.10813 Sangup 3.882 20 .241 3. Pusporenggo.dan Sukoredjo.69659 17 Kebongulo 1.74014 Keposong 4.Kecamatan Musuk terdiri dari 20 desa yaitu : No 1 2 3.06835 Jemowo 5.480 dengan perbandingan laki-laki 28.47700 Dragan 2. dengan kepadatan penduduk 915 jiwa/km.39728 16 Ringinlarik 3.53987 13 Sruni 3.00773 Karangkendal 2. Regosol kelabu Kependudukan Dari hasil pengamatan di lapangan rumah-rumah penduduk di Kecamatan Musuk terlihat jarang/tidak padat. Musuk 4.03% dengan tingkat kemiskinan penduduk .09636 12 Sukorejo 5. III. Pra sejahtera Sejahtera Alasan ekonomi Alasan non Sejahtera 1 Sejahtera II.724 jiwa.51546 Jumlah Total luas areal Kecamatan Musuk : 62.26155 15 Kembangsari 3. 4 5. 10 Desa Luas (Km²) No Desa Luas (Km²) Lampar 3.990 5.71094 11 Pagerjurang 1. Jumlah penduduk di Kecamatan Musuk pada tahun 2003 sebanyak 59. Sukorame.68239 14 Cluntang 2.19150 Karanganyar 3.664 Sumber data Boyolali dalam angka tahun 2003 Jumlah 16. mempunyai tingkat pertumbuhan sebesar 0. Kompleks Regosol Kelabu dan Litosol 2.927 3. Pusporenggo 2. Kebongulo. Ekonomi III+ 3. Pemukiman padat penduduk dijumpai di Desa Musuk. 6. 7.29063 20.27795 Km² Sumber : Bappeda Kabupaten Boyolali Jenis tanah di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali terdiri dari 2 macam: 1.756 dan perempuan 30.77194 Sumur 2. 8. 9.05440 Mriyan 2.63054 18.69241 19 Sukorame 2.34478 Lanjaran 2.

Potensi pertanian di wilayah Kecamatan Musuk adalah. dan Cengkeh. 2. Tembakau. Kelapa. Jagung. 21 .Gambar 3. Cabai. Dari hasil diskusi dengan masyarakat sebagian besar penduduk wilayah tersebut berprofesi sebagai petani dengan perbandingan sebagai berikut:. Sebaran Penduduk Miskin di Kecamatan Musuk Potensi pertanian dan sumber pendapatan masyarakat Lahan di wilayah Kecamatan Musuk sebagian besar dipergunakan sebagai lahan pertanian masyarakat yang sekaligus juga menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat.

hal ini terungkap setelah terlihat banyak dijumpai sesajen di tempat-tempat yang dianggap keramat.038 liter.835 orang Pertanian lainnya - Komoditi utama pertanian masyarakat wilayah Kecamatan Musuk mayoritas adalah tanaman keras. Sumber pendapatan yang lain penduduk adalah sebagai penambang batu dan pasir.322 ekor Sapi potong 6.083 Ton Cabe 99. Masyarakat penambang batu dan pasir melakukan penambangan11 secara sporadis. Mereka mempercayai bahwa hal-hal yang terjadi secara mendadak/tibatiba.000 ekor Data dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Kabupaten Boyolali produksi susu di Kecamatan Musuk pada tahun 2003 adalah yang terbesar dengan jumlah 9. sungai yang tiba-tiba banjir. yang terletak di lereng Gunung Merapi. Jagung 15.itu terjadi atas kehendak jin penunggu tempat tersebut misal.285 kw Kelapa 1252200 butir Cengkeh 4. Aktifitas penambangan rakyat dilakukan oleh masyarakat setempat sepanjang tahun.331 Ton Ketela 13. Di wilayah Kecamatan Musuk juga memiliki potensi kelangkaan air yang 11 Penambangan dilakukan dengan menggali tanah.4610 kg Pada areal sekitar lahan pertanian juga banyak pohon sengon dan mahoni yang di tebang untuk dijual.975. Masyarakat Musuk adalah masyarakat yang sangat dekat dengan tradisi budaya leluhur yang diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. terutama daerah sungai yang kering. Musuk tidak/lupa memberi sesajen di tempat itu WILAYAH / LOKASI PENELITIAN Kecamatan Musuk secara administrative masuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali.861 ekor Kambing 27. dengan perbandingan hasil pertanian tersebut adalah seperti ditunjukan pada table berikut: Data hasil produksi pertanian Kecamatan Musuk pada tahun 2003. oleh masyarakat setempat dikatakan banjir tersebut karena mereka Gambar 3. di wilayah yang mempunyai kandungan batu dan pasir. Dengan jumlah hewan ternak : Sapi perah 16. 3 Ekosistem Kec.107 ekor Ayam buras 73.801 ekor Itik 720 ekor Puyuh 5. Disamping itu guna menambah penghasilan mereka juga memelihara ternak.021 Ton Padi 4.761 jiwa.267 kw Tembakau 45. tebing jurang dan di dasar sungai.Pertanian tanaman pangan 4. Wilayah tersebut menjadi salah satu sasaran dalam penlitian pemetaan sumber daya air yang didasarkan pada beberapa hal diantaranya yaitu letaknya yang berada di lereng Merapi dimana wilayah Gunung Merapi sebagai salah satu daerah penyangga selain Gunung Merbabu. 22 .018 orang Perkebunan 5. Jumlah penduduk yang bekerja pada sector peternakan sebesar 15.

• Memanfaatkan air dari sumber air yang ada di wilayah dusun/dukuh setempat. Membuat sumur bor. Di tahun 1951 satuan keamanan yang dipimpin oleh Ranu Wiryo ditugaskan memberantas kegiatan gerombolan tersebut. Dampak dari pemasalahan kelangkaan air tersebut memaksa masyarakat untuk bertindak melakukan beberapa langkah antisipasi menghadapi musim kemarau seperti membuat tandon air di setiap rumah. 4 Sumur Bor di Desa Lampar lingkungan. • Memanfaatkan bantuan yang diberikan oleh lembaga lain dan pemerintah. yaitu Desa Musuk dan Pusporenggo. Pada tahun 1952 MMC bubar dan sebagian pengikutnya masuk menjadi anggota partai PKI yang memenangkan pemilu waktu itu. Mereka tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa bagi siapa saja yang menghalangi aksi perampokan dan penjarahan yang mereka lakukan. • Membeli air yang dijual oleh pihak tertentu dengan menggunakan mobil tangki. reservoir. dan belum mencakup upaya praktis kearah pemeliharaan kelestarian Gambar 3. masih berupa langkahlangkah yang bersifat temporer. hanya saja sejak saat itu hasil kejahatan yang mereka lakukan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang kurang mampu. masyarakat diluar kedua wilayah desa tersebut harus mengupayakannya secara swadaya. Sedangkan wilayah pemukiman atau desa-desa yang belum terlayani tersebut terletak pada posisi yang lebih tinggi dari sumber air yang ada. sehingga mengakibatkan biaya produksi air menjadi tinggi. Terutama perubahan yang terjadi pada tahun 1996 dimana masyarakat di beberapa desa berinisiatif untuk mengalirkan air di sumber-sumber yang memiliki debit relative besar ke wilayah pemukiman dengan memanfaatkan efek grafitasi. Kemudian makin merajalela aksi yang dilakukan. Sementara langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyikapi kondisi kelangkaan air yang biasa terjadi. Karena pelayanan PDAM baru mencapai sebagian kecil Kecamatan Musuk. • Memanfaatkan sumber air di lereng Gunung Merapi. Di Kecamatan Musuk12 hanya desa Pusporenggo dan desa Musuk yang mendapatkan pelayanan dari PDAM. maka praktis. Pada tahun 1950 gerombolan tersebut di susupi oleh orangorang PKI Muso yang berbasis di Madiun. penjarahan dan pembunuhan yang dipimpin oleh Suradi Bledek. Sehingga untuk mendistribusikan air tersebut diperlukan fasilitas khusus seperti pompa. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah selama ini diantaranya yaitu : 1. dengan aksi-aksi perampokan. 23 . penurunan tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat setempat. 12 Musuk pada tahun 1949 merupakan basis MMC( Merapi Merbabu Complek ) ini adalah sekelompok penjahat yang meresahkan berbagai kalangan masyarakat. Melakukan dropping air ke wilayah-wilayah tertentu saja dalam jumlah yang sangat terbatas. Menurut PDAM desa-desa yang tidak terjangkau pelayanannya disebabkan oleh kontur tanah di wilayah yang belum terlayani berbukit. Upaya pemenuhan air tersebut oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Musuk mengalami perubahan. • Membeli hak atas mata air. • Membuat sumur gali. Sebagian besar desa dari total sejumlah 20 desa yang berada di dalam wilayah Kecamatan Musuk belum dapat dilayani oleh PDAM dalam hal pemenuhan kebutuhan air bersih.terjadi terutama disetiap musim kemarau yang akhirnya juga potensial membawa pada permasalahan lain sebagai ikutan seperti penurunan hasil panen. 2. Beberapa altenatif yang dilakukan oleh masyarakat dalam upayanya memenuhi kebutuhan air bersih adalah dengan: • Membuat bak penampungan air hujan.

Bakalan. Poko Pelem. Debit airnya pun sangat kecil hanya berupa rembesan-rembesan yang keluar dari tebing batu.Secara geologis. Mriyan. Sumber-sumber air yang teridentifikasi adalah sebagai berikut: No 1 2 Desa Cluntang Mriyan Sumber Air Kali Jelok Sorkaman Kali Celeng Gua Kali Pusung Debit Tetap Tetap Tetap Tetap Kering Tetap Cenderung kering Kering Tetap Tetap Cenderung kering Tetap Cenderung kering Menyusut Tetap Tetap Tetap Kering Kering Lokasi Lereng Lereng Dasar sungai Dasar sungai Dasar sungai Dasar sungai Dasar Sungai Dasar sungai Tebing Dasar sungai Lereng Dasar sungai Lereng Dasar sungai Dasar sungai Dasar sungai Ditengah pemukiman penduduk Ditengah Pemukiman Didaerah tegalan Desa Pengguna Jelok. Bambu. Ekosistem Beringin. Jati. Duren Beringin. Sambirejo Kasut Kasut. Sumber-sumber tersebut tersebar di 8 desa. Ekosistem 24 . Ipik Perdu Beringin. jika hal tersebut tidak dilakukan maka sumber air tidak mengeluarkan air lagi. Beringin. Bambu. Terdapat 16 sumber-sumber air yang dapat di indentifikasi di wilayah Kecamatan Musuk. Durian Beringin . Bambu. Kawengen Kawengen Pandean. Tegal weru Pelem. Mahoni. Kab Klaten Lampar. Aren Beringin. Perdu. Sudimoro Karangrejo Wonokembang. Kab Klaten Lampar.Ketela. Sengon Bulu. Soko. Perdu Beringin. Lanjaran. wilayah Kabupaten Botolali pada umumnya dan secara khusus di Kecamatan musuk memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapat lapisan bantuan yang menyulitkan dalam proses pembuatan sumur gali. Sukun. Beringin. Bambu Beringin Beringin. PDAM. Songgo Bumi Lanjaran. Karanglo Sumur. Selain dari kantong air yang berada jauh di kedalaman. yaitu Clutang. bulan tertentu. Jemowo Kintel. Sengon. Bentuknya adalah dengan pemberian sesajen dan. Bambu. Beringin. Cengkeh. Kab Klaten Lampar. ipik Beringin. Air yang keluar dari sumber tersebut memiliki kecenderungan menyusut secara kuantitas karena pengaruh yang dimunculkan oleh musim kemarau. Diyakini oleh masyarakat. Musuk. Tegalrejo Motong. Bahkan jika terjadi bencana yang melanda desa mereka. Bambu Mahoni. Aren Beringin. Sumur. diyakini juga akibat sesajen yang diberikan kurang lengkap. Bambu Rumput Kolonjono Rumput Kolonjono. Karanglo Wonokembang. Ipik. Keseluruhan sumber air tersebut berada pada tebing dan dasar sungai kering. Nglendang Tegalrejo. Bambu Sengon. 3 4 Lanjaran Sangup Songgo Bumi Kali Lanjaran Kali Bendo Kali Gondang Kali Keduk Lepen Buk Kali Gede 5 6 Sumur Musuk Sumur Sungai Kintel Sungai Karanglo 7 8 Sukorame Lampar Kali Sombo Balong Soko Balong Gebang Balong Randu Kuning Sumber air tersebut oleh masyarakat sebagian masih dimanfaatkan dan dikeramatkan sesuai dengan tradisi dan kepercayaan local. Ipik. melakukan ritual-ritual pada setiap tahun dan. Bambu. Serut. Munggur. Tegalrejo. Sangup. Doyo. Kelapa. Bambu Beringin. Sukorame dan di Lampar. Bakalan Pandean.

Areal hutan lindung tersebut terutama yang terletak di Mriyan dan Sangup. Tingkat Kematian Penduduk di 4 Kecamatan Kabupaten Boyolali Tahun 2003 Penduduk pertengahan tahun 2003 Musuk 59341 Ampel 68763 Banyudono 44987 Wonosegoro 52895 Sumber data Boyolali dalam angka 2003 PROFIL DESA DI KECAMATAN MUSUK DESA CLUNTANG Kecamatan Tingkat kelahiran per seribu penduduk 3.00/perpetak14 selama periode waktu empat tahun. Praktek illegal tersebut berjalan karena adanya kerjasama antara mandor hutan dengan masyarakat dengan system bagi hasil sebagai kompensasinya. tembakau dan rumput kolonjono. tanah yang naik turun. Tersebar di tiga desa yaitu Mriyan seluas 15.000. dimana hutan tersebut merupakan hutan lindung milik Perhutani di wilayah Kecamatan Musuk.0 11.8 6. maka membuat kondisi Musuk menjadi relative gersang dan terbuka. dan Sangup sangat sulit di akses karena terbatasnya petugas kesehatan.00 Ha. Cluntang 125. Sebagai perbandingan : Gambar 3.250.Ekosistem wilayah Kecamatan Musuk dimana sebagian besar lahan didalam wilayah tersebut adalah lahan pertanian (lahan kering).4 Ha.sedangkan untuk ke Puskesmas I mereka harus ke dukuh Drajitan di desa Sruni dengan jarak +/3km.1 8. Setiap desa hanya mempunyai satu Bidan desa dan Polindes ( poliklinik desa ).00 Ha. 2 Satu petak seluas limaratus meter persegi. karena banyak lahan saban yang dijual oleh aparat desa.0 3. seperti jagung. dan ketidak jelasan arus keuangan pembayaran sewa saban dari masyarakat.selain ditumbuhi rumput Kolonjono yang ditanami oleh warga sekitar hutan.9 3. Dari total luas lahan hutan sejumlah 276.0 Tingkat kematian per seribu penduduk 2. tingkat kematian di wilayah Kec Musuk cukup tinggi.8 5. Sarana Kesehatan Sarana kesehatan masyarakat di wilayah Kec Musuk desa Mriyan. Cluntang. 5 Hutan Lindung Condro Geni Tabel 3. 1.4 ha. serta tidak terdapatnya puskesmas keliling. Hutan tersebut didominasi oleh tanaman Pinus dan Akasia.dengan melalui jalan batu. Mekanisme pengelolaan areal saban tersebut dilaksanakan oleh aparat desa dengan cara disewakan pada masyarakat desa seharga Rp.5 Saban adalah istilah yang digunakan masyarakat untuk menyebut tanah kas desa yang berada di dekat hutan lindung. Saban13 ditanami oleh masyarakat dengan tanaman produksi. Sementara wilayah yang tidak diperuntukkan sebagai lahan produksi seperti areal hutan sangat sedikit jika dibandingkan dengan luas Kecamatan Musuk secara keseluruhan. 13 25 . Hingga saat ini pola pengelolaan tersebut masih terjadi kontroversi di kalangan masyarakat desa sejak tahun 1992 terutama di wilayah Mriyan. terutama pada musim kemarau. Menurut informasi yang dikeluarkan dari kantor BKKBN Boyolali. dan Sangup 136. Sedangkan puskesmas ke II berada di Desa Karanganyar. banyak diantaranya dibuka untuk dijadikan lahan pertanian oleh masyarakat.

6 Ekosistem Dukuh Jelok Desa Cluntang ditanami. Desa Cluntang terdapat areal hutan lindung yang berada di dukuh Jelok yang dihuni 44 kepala keluarga.Desa Cluntang terletak di sebelah utara dan sebelah barat Kecamatan Musuk dan terletak pada wilayah yang memiliki ketinggian antara 1000 – 2689 mdpl membuat iklim di wilayah Desa Cluntang sejuk. yang sempat menjadi andalan masyarakat dalam upayanya memenuhi kebutuhan air bersih. terbuat dari tanah dan batu berukuran 2x2 m. bunga mawar. dan sumber air yang digunakan PDAM berada di wilayah bawah. Sedangkan kolam ke dua yang berukuran 0. Menurut keterangan masyarakat setempat. secara fisik terdiri dari 2 bak penampung yang untuk menampung air yang mengalir dari dalam bukit. Lahan pekarangan di rumah-rumah penduduk didominasi tanaman cengkeh. 26 . Jarak yang ditempuh masyarakat di 2 dukuh tersebut menuju mata air Kali Jelok antara 200 m – 1. maka pelayanannya tidak sampai Desa Cluntang Secara singkat. Salah satu sisi desa Cluntang berupa hutan yang berlokasi di Bukit Bibi. hanya ada satu sumber air yaitu mata air Kali Jelok. Sedang pada areal saban rumput ditanam pada batas petak. Potensi dan Keberadaan air Desa Cluntang memiliki potensi air yang relatif minim. meskipun ada yang khusus menanami petaknya dengan rumput.Model penanaman rumput kolonjono dilakukan dengan cara tumpang sari pada areal hutan. Masyarakat juga memelihara sapi perah yang pakannya. tembakau dan sayuran. 15 Dukuh Nglendang terletak di Kecamatan Cepogo dan dukuh Jelok . pada bagian atas adalah lahan tandus yang tidak bisa Gambar 3.Kecamatan Musuk yang hanya dibatasi hutan lindung.5x4m airnya berasal dari sisi tebing bukit Bibi. Posisinya berada di sisi jalan setapak sebagai salah satu jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Musuk dan Kecamatan Cepogo. Pada umumnya masyarakat di desa tersebut bermata pencaharian sebagai petani yang mengolah lahan tegalan yang ditanami tanaman produksi berupa jagung. Desa Cluntang. Air dari sumber tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat di Dukuh Jelok dan Dukuh Nglendang15 untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Dukuh Jelok. berupa dedauanan dan rumput kolonjono yang di dapat dari areal hutan dan tegalan. kondisi mata air Kali Jelok seperti dijelaskan dibawah ini: Mata air : Kali Jelok Kondisi Fisik: Mata air Jelok terletak di lereng Bukit Bibi. tepatnya di Dukuh Jelok. Mata air Kali Jelok terletak di sisi Timur Desa Cluntang.5 km. air berasal dari sela-sela akar pohon Bulu yang terdapat disisi kolam. Areal lahan tandus itu hanya terdapat batu-batuan dan pasir. Hutan tersebut didominasi oleh tanaman pinus dan akasia. yang oleh masyarakat setempat disebut Pasar Bubrah. Fasilitas jalan desa yang ada di wilayah tersebut adalah jalan macadam dan sebagian sudah beraspal. Dengan kontur tanah yang berada di lereng gunung pada umumnya berbukit dan memiliki kemiringan yang tinggi. Jarak antara Pasar Bubrah dengan Dukuh Jelok ±5 km melewati jalan yang hanya bisa di lalui dengan berjalan kaki. Masyarakat juga menanam rumput kolonjono di saban dan hutan. dan jurang. Bukit Bibi dimana letak hutan lindung tersebut. Karena wilayah Desa Cluntang berada pada kontur tinggi. Pada kolam pertama.

8 Hutan lindung yang gundul di Desa Cluntang 27 . akan tetapi pada bagian bawah hanya terdapat tumbuhan perdu. dan baru mendapatkan air pukul 07.00 WIB. Cara pemanfaatannya masih tradisional yaitu dengan mengangsu dengan menggunakan jerigen ukuran 40 liter. yang ditumbuhi pohon jagung. sayur-sayuran dan rumput kolonjono. Sedangkan pohon Bulu dan Kantil Merah tumbuh di tanah atas batu besar yang ada di bak penampung air yang pertama sedangkan.Karena jumlah pengguna air dari masyarakat di 2 dukuh yang cukup banyak. 7 Mata air Kali Jelok (tanah kas desa) Hewan liar kera banyak terdapat pada areal saban. tidak sebanding dengan debit air yang dimiliki mata air Kali Jelok sehingga memaksa masyarakat untuk menghemat penggunaan air. Setiap tahun pada hari Rabu kliwon bulan Rojab menurut kalender Jawa. pada bak kedua pada bagian bawah nya tumbuh pohon Ipik. Saat ini air dari sumber air Jelok hanya sebagai alternatif bagi masyarakat yang digunakan ketika aliran air dari merapi mengalami gangguan biasanya berupa pipa saluran yang pecah. Jurang dibawah sumber air banyak batu batu yang besar. Masyarakat petani ladang jagung biasanya mengusir kera-kera dengan menggunakan anjing peliharaan. Sedangkan rumah warga terdekat berjarak -/+ 200 m dibagian atas sumber air.00 WIB. rumput kolonjono dan tembakau. penduduk setempat masih merawat. Sumber air Jelok berada di wilayah saban Gambar 3. dan hutan lindung yang berada di atasnya didominasi tanaman Pinus dan Akasia. Meskipun sumber tersebut saat ini sudah jarang dipergunakan lagi. dan membersihkan sumber air Jelok. ketela. Warga Dukuh Jelok juga memanfaatkan areal saban dengan ditanami jagung. aktifitas mandi setiap 3 hari sekali dan cuci pakaian setiap satu minggu sekali. macet. hewan tersebut mencari makan di ladang jagung milik penduduk. Ekosistem Ekosistem sumber air Jelok terlihat masih rimbun pada bagian sisi atasnya. Penghematan yang dilakukan masyarakat dengan cara. Kondisi tersebut dikeluhkan oleh penduduk karena kera-kera tersebut memakan jagung petani. Gambar 3. Masyarakat yang akan menggunakan mata air Jelok biasanya mulai mengantri dari pukul 04. Jalan menuju ke lokasi sumber air melewati ladang penduduk.

Meskipun mata pencaharian utama sebasgai petani. Karena terjadi perubahan warna itu pula maka upaya tersebut tidak dilanjutkan. Model distribusi yang diterapkan yaitu dengan menampung air tersebut ke dalam bak penampung utama di dukuh Wonodoyo kecamatan Cepogo selanjutnya. Tidak ada yang mengerti kenapa air berubah warna. Tidak ditemukan satupun mata air di dalam wilayah Desa Sruni sehingga dalam memenuhi kebutuhan air bersih Gambar 3. secara umum. kondisinyapun serupa. akan tetapi air setelah di bawa ke dukuh Condro Bawuk berubah warna mejadi merah. Desa Sruni pernah mencoba mengalirkan sumber air dari dukuh Jelok. DESA SRUNI Desa Sruni terletak berada bersebelahan dengan desa Cluntang. Volume air sejumlah itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat selama 3-4 bulan. memanfaatkan air yang berasal dari sumber air di lereng Gunung Merapi. mereka memanfaatkan bilik yang dibangun menempel pada reservoir. tetapi kondisi kelangkaan air juga diderita oleh masyarakat setempat. 9 Reservoir Penampugan air dari Gunung Merapi penduduk desa Sruni memanfaatkan air hujan yang ditampung menggunakan di Desa Cluntang tandon air. penduduk Jelok dikenai biaya Rp. maka atas inisiatif masyarakat setempat.000/bulan. Air yang yang tertampung di masingmasing reservoir itulah yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan cara mengambilnya dengan menggunakan jerigen berkapasitas 40 liter. Sementara untuk perawatan fasilitas yang ada berupa pipa dan reservoir tersebut. desa terlihat sangat gersang dan panas. Tembakau. dilakukanlah upaya untuk mendekatkan air tersebut ke pemukiman di dukuh Jelok. 28 . Sedangkan untuk aktifitas mandi dan cuci. 1. jaringan pipa dilakukan secara swadaya masyarakat Jelok pada tahun 1994. Pohon pohon tahunan/keras hanyalah pohon cengkeh yang ditanam pada pekarangan rumah-rumah penduduk. Banyak lahan yang tidak dimanfaatkan secara maksimal menyebabkan. Seluruh pembagunan reservoir dan. menuju reservoir pembagi di dukuh Jelok Desa Cluntang. Alternatif lain yang dilakukan oleh masyarakat setempat adalah dengan mengalirkan air yang berasal dari sumber air Pedut. Adapun komoditi pertanian yang mendominasi wilayah tersebut adalah Jagung. sedangkan pengelolaanya dipercayakan pada UPS ( Unit Pengelola Sarana ) dan Tirta Merapi Abadi ( organisasi masyarakat pengguna air dari gunung Merapi ). dialirkan menggunakan pipa PVC ¼ inci. Kondisi Ekosistem desa Sruni relatif serupa dengan wilayah disekitarnya seperti desa Mriyan dan Cluntang. Pada tahun 2000 masyarakat Dukuh Condro Bawuk.Air Bersih Masyarakat Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat Dukuh Jelok. dan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu ±6 jam perjalanan pulang-pergi dengan berjalan kaki. Tandon air tersebut ratarata berukuran 6 x 4 x 3 m atau mampu menampung air sebanyak 72 M³. pada periode sebelumnya memanfatkan aliran Kali Jelok tetapi untuk periode berikutnya hingga saat ini. dimana jarang terdapat pohon besar. Kemudian dialirkan dengan mengunakan pipa menuju ke 4 reservoir di dukuh Jelok. Karena jarak tempuh yang jauh. dengan mengalirkannya melalui pipa PVC pada tahun 2002 .

Gambar 3. 10 Sistem Distribusi Air dari Mata Air Merapi ke Kecamatan Musuk dan Cepogo Mata air Tirta Merapi Abadi Lereng Gunung Merapi Reservoir Dukuh Jelok Reservoir pembagi air di Dukuh Ngelendong Kec. Cepogo Reservoir dukuh Wonosari Kec. Cepogo Reservoir dukuh Kujon Kec. Cepogo Reservoir dukuh Taring Kec. Cepogo Reservoir dukuh Gatakan Kec. Cepogo Reservoir dukuh Ngelendong Kec. Cepogo Reservoir dukuh Wonodoyo Kec Cepogo 29 .

Model pendistribusian air dari sumber Pedut di Desa Mriyan sama seperti yang dilakukan di desa Cluntang. 5. Sejak saat itu masyarakat Dukuh Kawengen membayar Rp 500 / KK untuk biaya perawatan yang dikelola oleh UPS setempat. Sama halnya pada dukuh Jelok warga Kawengen juga mempunyai organisasi pengguna air yang bernama Tirta Merapi I. Desa Mriyan yang terletak pada posisi ketinggian 1155-1838 mdpl digunakan sebagai tempat untuk membangun kolam reservoir pembagi dari air yang berasal dari sumber air Pedut. tidak perlu lagi mengambil air dari sumber air secara langsung cukup berjalan menuju ke reservoir terdekat mereka sudah mendapatkan air yang dibutuhkan. sedangkan dua lainnya cenderung kering pada musim kemarau. Mata air Kali Guo. Meskipun sama-sama mendapatkan pasokan air dari gunung Merapi desa Mriyan mendapatkan air yang berasal dari mata air Pedut16. Desa Mriyan terdapat lima sumber air. Air Bersih Masyarakat Pada awal tahun 1970 masyarakat dukuh Kawengen membangun bak tandon air hujan. 16 Mata air Pedut berada di Dukuh Wonodoyo Kecamatan Cepogo dengan ketinggian 1499mdpl 30 . Mata air Kali Celeng. mata pencaharian penduduk. dan dukungan warga Kawengen berupa dana sebesar Rp 58. memiliki kemiripan kondisi. 000 / KK guna pembelian pipa PVC. Tiga dari lima sumber air tersebut mempunyai debit konstan. Sruni. sebab kebutuhan air bersih mereka telah tercukupi dengan adanya pengaliran air dari mata air Pedut. Tentangan tersebut tidak menyurutkan niat bpk Martono sebagai pemrakarsa proyek. Namun pada awal proyek pengaliran air Pedut ke Kawengen tidak mudah dan. 3. yaitu menampung air terlebih dulu di reservoir utama yang terletak di dukuh Kawengen. 4. Dengan dibangunnya beberapa reservoir tersebut maka warga Kawengen. sebelum di distribusikan ke 4 desa lain yang terletak lebih rendah. Cluntang. Pola distribusi air dari sumber Pedut dapat di lihat pada skema distribusi air dari mata air Pedut. Gambar 3. 11 Mata Air Pedut Potensi dan Keberadaan Sumber Air. untuk menampung persediaan air di musim kemarau. dan komoditi pertanian serta kondisi kelangkaan air bersih yang melanda terutama pada saat musim kemarau. Desa Mriyan. Baik ekosistem wilayah. Sejak tahun 1996 sumber-sumber air tersebut tidak lagi dimanfaatkan oleh masyarakat. Mata air Sorkaman. Mata air Kali Pusung. Mata air Gobumi/Songo Bumi. yang terletak di dukuh Kawengen dan dukuh Gobumi: 1.DESA MRIYAN Seperti telah di tulis pada bagian sebelumnya bahwa desa-desa yang terletak dalam satu kawasan seperti Mriyan. mendapat tentangan dari Camat Cepogo waktu itu. 2.

Motong. Areal hutan lindung dengan vegetasi tanaman Pinus dan Akasia. Sejak masyarakat mengalihkan pemanfaatan air dari mata air local ke pemanfaatan dari reservoir pada tahun 1996. yang tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh penduduk setempat. 12 Mata Air Sorkaman di Desa Mryan bahkan menggenangi Kecamatan Boyolali. dan beberapa ekor kijang. Kali Celeng Kali Guo Kali Pusung Kali Songgo Bumi Lokasi Berada dilereng Dasar kering Dasar kering Dasar kering Dasar kering sungai Sungai Sungai Sungai Kondisi Kualitas Kuantitas Kecoklatan Tetap Jernih Jernih kecoklatan fluktuatif Tetap Kering Tetap Ekosistem Bamboo. tembakau. Bakalan. Tegalrejo. Bambu. Gobumi. Ipik Perdu Beringin. adalah merupakan lahan gundul. Dimana terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu areal dengan vegetasi tanaman hutan. masyarakat tidak perlu lagi menempuh jarak yang jauh untuk mengambil air yang pada saat sebelumnya hal tersebut selalu dilakukan setiap harinya sejak jam 03. Ekosistem Ekosistem di Kawengen hampir sama dengan dukuh Jelok. menurut warga terdapat mata air yang ditutup dengan panci oleh seorang yang sakti. perdu Beringin. Sedangkan empat sumber air di Desa Mriyan terdapat di dasar sungai. sengon. bambu juga terdapat pada areal tersebut dalam jumlah yang sedikit.Tabel 3. Masyarakat justeru memanfaatkan areal hutan Condro Geni untuk berladang. maka akan terjadi banjir yang Gambar 3. dan tembakau yang berada pada bagian lereng dan tebingnya. 2 Tabel sumber air yang terdapat di Desa Mriyan No 1 2 3 4 5 Nama Mata Air Sorkaman. Tegalrejo. yang mereka mencari makan di ladang jagung milik penduduk. Pandean. Satwa liar yang terdapat di hutan Condro Geni didominasi oleh kera. beringin. Beringin Wilayah Pengguna (Dukuh/Dusun) Kawengen. Menurut warga setempat sebelum tahun 1935 pada areal hutan terdapat dukuh yang bernama Condro Geni. Pada daerah dimana kelima sumber air di Desa Mriyan berada. 31 . dan tanaman pertanian.00 pagi. mahoni. dan rumput kolonjono. dan Sangup. Pohon besar seperti beringin. Penduduk tidak ada yang tahu penyebab warga Condro Geni meninggalkan dukuhnya. Menurut mitos yang berkembang apabila mata air tersebut tidak ditutup. ketela. Tegalrejo Kawengen Pandean. yang Ekosistemnya hanya ladang-ladang jagung. dengan sistim bagi hasil dengan mandor hutan. Pada wilayah dimana dukuh Condro Geni berada. Dibawah hutan lindung Condro Geni terdapat saban yang ditanami jagung. Bakalan. dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Condro Geni. Praktek tersebut serupa dengan yang terjadi di Desa Cluntang. Hal ini disebabkan tidak adanya makanan di dalam hutan lindung. Songgo. mindi. Aren Perdu.

13 Lahan gundul di desa Mryan 32 .Gambar 3.

Gambar 3. Cepogo Bak Penampungan air dari mata air sungai Pedut Mata air terletak di dasar sungai Pedut Pipa jaringan distribusi air masyarakat Reservoir pembagian air di Mriyan Reservoir Lanjaran Reservoir Sangup Reservoir Sumur Reservoir Mriyan Masyarakat mengambil air dengan menggunakan jerigen di reservoirreservoir yang ada 33 . 14 Sistem Jaringan Distribusi Air Masyarakat dari Mata Air Sungai Pedut Kec.

Sudimoro Karangrejo Wonokembang. Sengon. Apabila terjadi kemarau panjang seluruh sumber air yang ada di wilayah ini mengering. Terdapat beberapa sumber air alam yang terdapat di wilayah Desa Sangup. Karanglo kasut Kasut. secara kuantitas oleh sebab itu sebagian masyarakat masih ada yang memenuhi kebutuhan air bersihnya dari sumber tersebut. Sumber air air yang berada di wilayah Desa Sangup: No Nama Mata Air Lokasi Kondisi Kualitas Kuantitas Ekosistem Wilayah pengguna (Dukuh/Dusun) 1 2 3 4 5 Kali Buk Kali Bendo Kali Gondang Kali Keduk Kali Gede Lereng Dasar sungai kering Tebing Dasar sungai kering Tetap Kecoklatan Jernih Jernih Jernih Cenderung mengering Kering Tetap Tetap Tetap Beringin. Karangrejo. sehingga air tidak dapat mencapai wilayah dimana dukuh tersebut berada. Air Bersih Masyarakat Dari 19 dukuh di Desa Sangup terdapat 3 dukuh yang terletak pada posisi paling ujung Timur.000/dengan kapasitas 5000 liter. Upaya lain adalah dengan cara membeli air dari mobil tangki yang airnya berasal dari Desa Karang Malang. Ipik. Ipik Beringin. Secara administrative. Desa Sangup terdapat 19 Dukuh dan 4 Rw/27 Rt yang tersebar di 4 Dusun. Bambu Beringin. masih memanfaatkan sumber sumber air di dekat wilayah mereka. 15 Mata Air Kali Buk di Desa Sangup seharga Rp 110. Karanglo Gambar 3. dengan kondisi yang relative baik. Kondisi demikian terjadi karena 3 dukuh tersebut terletak pada posisi yang lebih tinggi ketimbang dukuh-dukuh lainnya. 17 Dari 5 sumber air yang teridentifikasi di dalam wilayah Desa Sangup.DESA SANGUP Desa Sangup terletak di lereng gunung Merapi yang memiliki ketinggian 1541 mdpl dengan suhu udara rata-rata adalah 26ºC. Bambu Beringin Beringin. Jumlah penduduk didesa Sangup adalah 2517 jiwa yang terbagi antara laki-laki 1147dan perempuan 1373 orang terdiri dari 663 KK. Sengon. Bambu Wonokembang. Kali Gondang dan Kali Bendo. Sehingga memaksa masyarakat ketiga dukuh untuk mengambil air di Kali Bebeng17. dan Sudimoro yang tidak terjangkau distribusi air dari reservoir Desa Sangup. hanya 3 yang masih digunakan hingga saat ini yaitu Kali Keduk. Kabupaten Klaten Kali bebeng terletak di Kabupaten Klaten berjarak ± 3 km dari dukuh Kasut desa Sangup 34 . Masyarakat di tiga dukuh tersebut dalam memenuhui kebutuhan air bersih. yaitu Dukuh Kasut.

sedangkan 16 dukuh lainnya mendapatkan aliran air dari Pedut. Meskipun sempat terjadi ketegangan diantara dua desa tersebut.731 Ha dan sisanya adalah fasilitas umum. sama seperti desa Cluntang dan Mriyan. Konflik pernah terjadi terhadap pembagian air dari Pedut. Dropping tersebut hanya sejumlah 8 tangki selama musim kemarau berlangsung. Dari 20 desa di wilayah Kecamatan Musuk hanya Desa Sangup. 16 Saban di Desa Sangup DESA LANJARAN Letak Desa lanjaran berada dibawah Desa Mriyan dan Cluntang pada ketingian ± 600 mdpl. Pohon keras pada wilayah bawah hanya didominasi oleh cengkeh yang ditanam di lahan pekarangan rumah mereka. Desa Sangup berada pada posisi paling bawah di sebelah barat Kecamatan Musuk. Bantuan tersebut di khususkan untuk daerah Kasut. Jumlah tersebut jelas sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan air bersih di ke 3 dukuh tersebut.876 jiwa yang terbagi . tetapi tidak sampai bentrok fisik. Seperti pengguna air dari Pedut lainnya. Jumlah penduduk desa Lanjaran pada Desember 2003 berjumlah 1. tersebar di 15 dukuh dengan mata pencaharian utama sebagai petani. adalah yang terluas jika dibandingkan desa Cluntang dan Mriyan.1486 m2 terdiri dari tegalan . Penanaman bibit pohon miu dan alpokat bertujuan untuk menghijaukan wilayah seluas 25 Ha di desa Sangup. Tetapi apabila dilihat lebih jauh terdapat ladang-ladang jagung dan tembakau di dalam areal hutan. 146.Masyarakat pengguna sumber air di desa Sangup hanya terbatas pada tiga dukuh. langkah yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Boyolali untuk mentikapinya hanya terbatas pada dropping air. hal tersebut disampaikan oleh warga Dukuh Kasut. Desa Mriyan dan Cluntang yang masih mempunyai areal hutan lindung. Gambar 3. 900 laki-laki. masyarakat dikenai beban biaya perawatan masing-masing sebesar Rp 1. Karangrejo dan Sudimoro di desa Sangup. Sedang pada bagian bawah terlihat gersang. penduduk dukuh Wonokembang desa Sangup.9026 Ha. Desa Lanjaran dengan luas 263. Pada tahun 2004 desa Sangup mendapatkan bantuan bibit pohon miu dan alpokat dari pemerintah melalui GN-RLH. Ladang-ladang yang terdapat di areal hutan lindung di Desa Sangup. Dalam kondisi kelangkaan air di wilayah tersebut. dan 976 adalah perempuan. 35 . Pengelolaannya pun diserahkan ke UPS. pekarangan 635.000/bulan. dituduh warga desa Sumur melakukan kecurangan dalam membagi air yang menuju ke wilayah desa Sumur. dan mereka juga memiliki organisasi pengguna air Pedut bernama Tirta Merapi II. Tetapi masyarakat sampai sekarang belum mendapatkan bibit yang dijanjikan pemerintah tersebut.

Mata air Kali Kera yang sampai tahun 1965 masih berjumlah ratusan. Sebenarnya tidak hanya Desa Lanjaran saja yang dilanda angin ribut.dan 1kg paku serta 2 zak semen. Lanjaran di dalam gua Keberadaan kera tersebut cenderung merusak pertanian milik warga masyarakat. karena bencana angin ribut yang paling parah terjadi pada wilayah ini. Bencana angin tersebut bersamaan dengan hujan abu dari gunung Merapi yang datang disertai hujan yang cukup deras. Rumah-rumah yang terdapat di dukuh Sambirejo rata dengan tanah disapu angin. Hujan abu dari gunung merapi berlangsung selama 3 hari membuat jarak pandang tebatas karena terhalang abu. Fauna Fauna liar yang masih ada di wilayah Desa Lanjaran adalah Gambar 3. Mata air Kali Lanjaran Kondisi fisik : Mata air Kali Lanjaran merupakan sebuah kompek sumber-sumber air yang terletak pada dasar sungai. Pada tahun 1984 merupakan meupakan tahun yang terburuk bagi Desa Lanjaran. Kondisi potensi kederadaan sumber air tersebut sama dengan kondisi yang ada pada Desa Cluntang. maka sebagian besar pemanfaatan lahan di wilayah tersebut adalah sebagai lahan pertanian. Tidak adanya vegetasi yang melindungi Desa Lanjaran mejadikan bencana tersebut menjadi sebuah bencana yang besar. Saat ini di Desa Lanjaran hanya tinggal beberapa ekor kera saja. sedangkan masyarakat banyak yang mengalami gangguan pernapasan ringan.Desa Lanjaran pada setiap musim kawolu18di setiap tahunnya mengalami musibah angin ribut. Satu dari empat mata air yang mempunyai debit air cukup bayak. 36 . posisinya terletak didalam sebuah gua di lereng dasar sungai. Sedangkan komoditi pertanian yang banyak di usahakan di wilayah tersebut adalah palawija serutama Jagung dan tembakau. Sedangkan sungai dimana letak mata air Kali Lanjaran pada musim hujan merupakan sebuah sungai yang aliran airnya cukup deras. Kolam penampungan dengan diameter 75cm dan mempunyai kedalaman 120cm. relatif serupa dengan kondisi di wilayah lain. Ekosistem Flora Kondisi ekosistem pada Desa Lanjaran. 18 Musim kawolu adalah bulan perhitungan jawa yang biasanya antara musim hujan dan musim kemarau. terdapat di dalam gua yang dibuat bangsa Jepang pada masa revolusi. Sedangkan tiga kolam kecil yang terletak pada dasar sungai di gali oleh masyarakat. Mengingat sebagian besar warga Desa Lanjaran yang bermata pencaharian sebagai petani. Terdapat 4 mata air yang saling berdekatan satu sama lain yang berjarak 3 meter. Dimana hanya terdapat satu lokasi mata air yang terletak di dukuh Sambirejo. Potensi Sumber Air Seperti kondisi sebagian besar desa-desa di Kecamatan Musuk desa Lanjaran keberadaaan potensi sumber air sangat terbatas. Pemerintah pada waktu itu memberikan bantuan 1000 buah genteng untuk setiap rumah yang roboh. Masyarakat penggunanya hanya terbatas pada masyararakat dukuh Lanjaran dan dukuh Sambirejo. 17. karena desa desa yang lain di Kecamatan Musuk juga mengalami bencana angin ribut yang datang setiap tahun. sehingga masyarakat melakukan upaya untuk mengurangi populasinya dengan cara diracun.dan pohon –pohon tumbang. Air yang terdapat pada ke empat bak penampungan berasal dari rembesan tebing sungai dan mempunyai debit yang cenderung kering pada musim kemarau.

569 dan perempuan 1. dan kondisinya menjadi cenderung terbengkalai. Disamping sebagai petani masyarakat juga memelihara ternak sapi untuk menambah penghasilan mereka. Balong Gebang.00 WIB. 2. 19 Balong adalah sebuah bak/waduk yang digunakan untuk menampung air hujan dan tempat bermuaranya saluran drainase desa. masyarakat memperoleh air dari mata air Kali Lanjaran dengan mengantri sejak pukul 04. dimana terjadi kelangkaan air. dengan perbandingan laki-laki 1. Balong Soko. Yaitu dengan cara membatasi penggunaan mata air yang berada di dalam gua untuk kebutuhan konsumsi saja sedangkan mata air yang diluar gua boleh digunakan untuk kebutuhan non konsumsi. Pada musim kemarau. Dengan jumlah penduduk 3. Saat ini mata air tersebut telah ditinggalkan. 37 . Masyarakat setempat tidak tahu sejak kapan balong-balong tersebut dibuat. Balong Randu Kuning. Sehingga masyarakat tidak lagi mengambil air dari sumber air Kali Lanjaran. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai petani yang berjumlah 2. Sedangkan untuk kebutuhan non konsumsi mereka mengunakan tiga kolam kecil yang terdapat di dasar sungai.538 jiwa.023 jiwa. DESA LAMPAR Desa Lampar yang bebatasan dengan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten pada sisi Selatan dan Barat. Dari ketiga Balong tersebut hanya satu balong yang masih berfungsi baik menampung air yaitu balong Soko dengan luas areal ± 4.000 m². Sedangkan dua balong yang lain tidak terdapat air pada musim kemarau.Gambar 3. 18 Ekosistem Desa Lanjaran Air Bersih Masyarakat Sumber air yang ada di Desa Lanjaran pengelolaannya dilakukan sendiri oleh masyarakat. 3. Pada tahun 1996 masyarakat tidak lagi memanfaat kan mata air Kali Lanjaran dikarenakan pipa jaringan distribusi mata air pedut telah sampai desa mereka. hal tersebut terbukti air di dalam balong tidak pernah kering ataupun merembes keluar.107 jiwa. Masyarakat Desa Lampar cenderung memanfaatkan air balong yang terdapat di Desanya. Untuk memperoleh air. Potensi Sumber Air Desa Lampar dengan daerah yang relative datar tidak ditemukan mata air seperti desa beberapa desa yang lain. masyarakat biasanya mengantri selama 2 jam. Terdapat tiga buah Balong19 yang membuat ke unikan tersendiri pada desa Lampar yaitu : 1.

mereka memanfaatkan jasa dari pihak swasta dengan cara membeli air dari mobil tangki seharga Rp 70.500 Hasil pemeriksaan Berbau 132. sedangkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga masyarakat masih harus melakukan treatment terhadap air tersebut. dengan kedalaman 203 meter dengan debit air 5 liter/detik. memandikan ternak. Ekosistem Kondisi Ekosistem desa Lampar secara umum terlihat lebih hijau dibandingkan dengan desa Mriyan. memelihara ikan Lele dan Mujahir yang dikelola secara kolektif dan dipercayakan kepada Bayan setempat. Hasil dari uji kualitas air Balong Soko adalah sebagai berikut . Sangup. Alternative lain untuk menambah penghasilan masyarakat. Warna air dari balong Soko hijau kekuningan. Kelapa. Selain menggunakan air yang terdapat dalam balong masyarakat juga membuat bak-bak penampung air hujan yang terdapat di halaman rumah warga. banyak pula terdapat pohon Doyo. Dikarenakan biaya perbaikan yang cukup mahal sampai sekarang sumur bor tersebut tidak berfungsi lagi. Masyarakat memanfaatkan air balong untuk memenuhi kebutuhan air sehari-harinya yaitu untuk kebutuhan mandi. dan kerusakan yang terparah pada pertengahan tahun 2001. cuci dan air bersih. cuci pakaian. 17. pepohonan besar relatif mudah dijumpai seperti Mahoni. dan Cluntang. Bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari balong.000. Tabel 3. Jati dan Bambu yang menjadi salah satu tanaman produksi masyarakat untuk diperdagangkan. dan Serut. Cara penjernihan yangdilakukan adalah dengan menggunakan trawas terlebih dahulu. Tanaman lain selain tanaman produksi yang telah disebutkan.Gambar 1. selain diperuntukkan pemenuhan kebutuhan akan mandi.00 No 1 2 Parameter Bau Jumlah zat padat Satuan _ mg / L Keterangan Tidak berbau 38 . Pada tahun 1998 pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan bantuan sumur bor. Namun tidak ada follow up dari hasil penelitian tersebut. Balong Soko di desa Lampar Air Bersih Masyarakat. Dalam perjalanannya sumur bor mengalami tiga kali kerusakan. NGO dari Belanda bekerjasama dengan pihak Universitas Gajah Mada Jogja melakukan penelitiaan terkait dengan sungai bawah tanah di desa Lampar. sehingga perlu dilakukan uji kwalitas untuk mengetahui kandungan unsure lain yang terdapat di dalam air tersebut. Di wilayah tersebut. Kondisi warna kekuningan yang terdapat di balong tersebut cukup mengkhawatirkan terutama berkaitan dengan kelayakan konsumsi. hal ini disebabkan aktivitas masyarakat untuk memandikan ternak di dalam balong. di balong Soko. Pengupayaan kebutuhan air bersih juga datang dari berbagai pihak seperti dari. 3 Hasil uji laboratorium Kualitas Air Balong Soko Kadar Maksimum Yang diperbolehkan _ 1.

Seperti pada Desa Lampar di Desa Dragan juga tidak ditemukan sumber air sehingga masyarakat mengandalkan pada keberadaan air yang terdapat di bak penampungan air hujan yang terdapat di setiap pekarangan rumah.005 12 Kesadahan Ca CO2 mg / L 500 13 Khlorida mg / L 600 14 Kromium. Potensi sumber air Potensi terbesar sumber air di desa Musuk adalah terdapat 2 sungai yang masih mengalirkan air pada musim kemarau.0 19 Zat Organik ( KMn 04 ) mg / L 10 Sumber Laboratorium Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali 2004 DESA DRAGAN terlarut Kekeruhan _ Asin 29. dan sisi sebelah Utara terletak Desa Lampar serta Desa Hogowatu dan Kemalang Kabupaten Klaten.30C 6 Warna Skala 50 TCU 7 Air Raksa mg / L 0. Desa Musuk adalah juga merupakan Ibu Kota Kecamatan Musuk dimana sebagian besar wilayahnya merupakan pemukiman padat penduduk.323 jiwa yang terdiri dari 586 KK. dengan hasil pertanian yang menonjol adalah jagung. pada arah Barat adalah Desa Pusporengo.3 Skala 25 NTU 4 Rasa _ _ Tidak berasa 5 Suhu 0-C +/. Hal tersebut berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya yang kondisi 39 . sedangkan sebelah Selatan terdapat Desa Ringin Larik.134 Desa Dragan terletak di sebelah Selatan Desa Karanganyar dan Jemowo.132 6. Valensi 6 mg / L 0. 0. 0. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat sebagai petani yang berjumlah 826 jiwa. DESA MUSUK Desa Musuk berbatasan dengan desa Kembang Sari yang terletak di sisi Timur.815 0. Kontur tanah pada desa Musuk relative Datar dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Jumlah penduduk Desa Dragan 2. Sebelah Timur terletak Desa Bandungan dan Jatinom Kabupaten Klaten. Luas Desa Dragan 209.001 8 Arsen mg / L 0.8 Ha pohon Randu dan tanaman lain 1.3630 Ha dengan ketinggian ± 550 Mdpl dengan suhu udara rata-rata 30ºC.7 Ha dengan komposisi .2 Ha.046 2000 24. Bambu. Alternatif lain yaitu dengan membeli air dari pihak swasta dengan harga Rp 70.000.5 0.7 Ha ditanami pohon Mahoni. cabai dan kelapa.5 16 Nitrat.0 18 pH mg / L 6.5 43.000C Kuning kehijauan 1.121 0.05 15 Mangan mg / L 0.05 9 Besi mg / L 1.5 – 9. Mahoni. sebagai N mg / L 10 17 Nitrit.0 10 Florida mg / L 1.143 0. Pada areal ladang milik masyarakat juga terdapat pohon Sengon. sebagai N mg / L 1. Mindi dan Nangka yang tumbuh di batas/pematang ladang. Ekosistem Di Desa Dragan terdapat areal hutan rakyat seluas 2.5 11 Kadmium mg / L 0.

namun kontinuitas pasokan air tidak dapat diandalkan untuk selalu ada terutama pada musim kemarau dimana airan air Sungai Kintel akan menurun sampai 30 % dari kondisi normal. Air yang mengalir pada sungai ini merupakan satu aliran dengan sungai Soko Gede yang terletak di Desa Soko Gede Kecamatan Cepogo.001 0.037 40 .00 Keruh 0.51 liter/detik air PDAM megalirkan air dari dukuh Tampir menuju reservoir yang terletak di desa Pusporenggo. selanjutnya air tersebut di alirkan ke Tampir untuk di treatment. Dengan menggunakan pompa yang berkapasitas 7.sungainya mengering pada musim kemarau dan berair pada musim hujan. Dari hasil pantauan di lapangan aliran air dialihkan oleh PDAM yang kemudian ditampung disebuah bak penampungan air dengan ukuran 4x4m.16 liter/detik. Tabel 3. 19 PDAM di sungai Kintel Desa Musuk Pemanfaatan PDAM Kabupaten Boyolali memanfaatkan air dari sunggai Kintel guna menambah pasokan air bersih untuk pelanggan di wilayah IKK (Ibu Kota Kecamatan) Musuk dan desa Pusporengo. Sedangkan pada musim penghujan debit air mencapai 5 . Dukuh Kintel adalah salah satu dusun yang berada dalam wilayah Desa Musuk yang dilalui aliran sunggai Kintel. . Pada musim kemarau tahun 2004 debit air yang ada pada sungai kintel hanya 0. 4 Hasil Uji Laboratorium Kualitas Air Sungai Kintel No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Bau Jumlah zat terlarut Kekeruhan Rasa Suhu Warna Air Raksa Arsen Besi padat Satuan Mg / L Skala NTU 0-C Skala TCU Mg / L Mg / L Mg / L Kadar maksimum yang diperbolehkan 1. 1. melalui sungai kecil yang pada bagian atas ditutup semen.2 liter/detik. Sungai Kintel. Debit air sungai pada musim kemarau hanya aliran air yang kecil dan kondisi air yang keruh berwarna kecoklatan karena buangan limbah pabrik penggolahan cengkeh. Terdapat dua sungai di wilayah ini yaitu sungai Kintel dan sungai Karang Lo.8 liter/detik. Gambar 3.0 Tidak berasa Keterangan Tidak berbau Hasil pemeriksaan Tidak berbau 194.05 1.500 25 -/+ 3 Derajat Celcius 50 0.00 Sedikit asin 28. sebelum tahun 2004 pada musim kemarau debit terendah 1.

sebagai N Mg / L Mg / L Mg / L Mg /L Mg / L Mg / L Mg / L 1. Selain untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat air dari sungai Karang Lo juga dimanfaatkan oleh industri pengolahan cengkeh. 41 .5 0. Tanaman roduksi pertaian yang terdapat di wilayah tersebut relatif sama dengan tanaman yang diusahakan oleh masyarakat yaitu palawija.164 166.00 23. Sungai di karang lo juga digunakan pembuangan limbah pabrik pengolahan cengkeh yang terdapat di dekat sungai hal tersebut membuat air sungai berwarna hitam dan berbau. Mahoni. Pengambilan air dari kedua sungai dengan cara membuat bak penampung air di sisi sungai dan dialirkan menggunakan pipa ke rumah rumah. Sungai Karang Lo.0425 0. Masyarakat yang memanfaatkan sugai Karang Lo dengan cara membangun bak yang penampungan rembesan air dari sisi sungai kemudian dengan mengunakan pipa dialirkan ke rumah-rumah. dan aren yang tumbuh pada bantaran sungai. Pisang dan Singkong milik masyarakat terletak di sisi utara sungai.005 500 600 0. Air yang keluar dari sisi sungai relative kecil debitnya.10 11 12 13 14 15 16 Florida Kadmium Kesadahan CaCO 2 Khlorida Kromium. Durian. mahoni. Selain sungai Kintel terdapat pula sungai Karang Lo di wilayah desa Musuk yang digunakan masyarakat sekitar. Sedangkan pada komplek bangunan penampung PDAM tidak terawat dan banyak ditumbuhi tanaman perdu dan pohon Kalianda. dan Batalyon 408. Pabrik pengolahan cengkeh terdapat di atas areal bak penampungan milik PDAM. dan hanya cukup untuk kebutuhan air bersih masyarakat.22 Ekosistem Ekosistem sungai Kintel sangat didominasi tanaman Bambu terutama pada bagian atas areal bak penampungan PDAM berada. warga dukuh Tegal Sari mengalami gatal.gatal setelah mandi air sungai kintel. sedangkan pada sisi Selatan terdapat jalan yang menghubungkan Kecamatan Musuk dengan Kecamatan Cepogo.05 0. Tetapi pada sungai Karang Lo ini belum ada kasus yang menimpa warga pengguna seperti di sungai Kintel. Ekosistem Kondisi Ekosistem di sungai karang lo masih banyak pohon besar seperti beringin.5 10 0.12 0. 2. Terdapat lahan perkebunan Cengkeh. Valensi 6 Mangan Nitrat.

20 Sistem Distribusi Air dari Sungai Karang Lo di Desa Musuk Sungai Karang Lo di Desa Musuk Bak penampungan air di Karang Lo Pipa distribusi air ke Dukuh Karang Lo Pipa distribusi air ke pabrik Pengolahan Cengkeh di Dukuh Karang Lo Pipa distribusi air ke Batalyon 408 Boyolali 42 .Gambar 3.

desa Pusporenggo ke.Gambar 3. Musuk 2. Desa Musuk Kec. Desa Pulisen Kec. Boyolali 3. 21 Sistem Jaringan Distribusi Air PDAM dari Sungai Kintel Bak penampungan air yang terletak di dasar sungai Kintel Bak water treatment sebelum di distribusi Rumah masyarakat di desa: 1. musuk Pipa distribusi air PDAM rumah masyakrat di beberapa desa 43 .

22 Sistem Jaringan Distribusi Air Masyarakat dari Sungai Sembung Kec. Cepogo Pipa jaringan distribusi air masyarakat Reservoir Kintel Reservoir Cenglik Reservoir Dukuh Jati Reservoir Poko Reservoir Jati Pipa distribusi air ke rumah masyarakat 44 . Cepogo Sungai Sembung yang di bendung Bak Penampungan Air dari mata air Sembung Kec.Gambar 3.

dengan kedalaman 6. Selain bercocok tanam dan memelihara ternak mereka. Untuk pemeliharaan agar air ditempat itu tersebut tidak cepat habis sekaligus menjaga kebesihan air. Kondisi Ekosistem sebelah barat mata air terdapat tebing yang banyak ditumbuhi pohon Randu. 23 Mata air di Desa Sumur Ekosistem. Posisi letak mata air Sumur berada di sebelah barat sungai dengan jarak 5 meter. yaitu sebagian besar berprofesi sebagai petani. Bentuk mata air Sumur seperti layaknya sebuah sumur.5 meter. Sedangkan di antara sumur dan sungai didominasi tanaman Bambu. Sungai Tonoloyo adalah sungai kering pada musim kemarau yang melewati desa Sumur. Sungai Tonoloyo adalah sungai yang menjadi pembatas antara Desa Sumur dan Desa Jemowo. Mata air ini memiliki debit air yang kecil tetapi akan menyusut pada musim kemarau. Mahoni.5 x 2. Gambar 3.40 meter dengan bentuk penampang berbentuk bujur sangkar yang berukuran 2. Membeli air dari penjual air swasta. Kondisi fisik mata air. Hal itu terbukti dengan terdapatnya satu sumber air pada wilayah ini. 45 . Pada dinding bagian dalam terdapat batu-batu yang berbentuk kubus yang diatur mengelilingi dinding. Tidak terdapat cukup data yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kapan mata air Sumur ini ada dan siapa yang membuatnya. pada sisi selatan sumur ditumbuhi sebuah pohon Ipik yang cukup besar. Pengguna air dari mata air ini sebagian bessar adalah masyarakat Desa Sumur dan Desa Jemowo. dan Jati selain tanaman–tanaman liar yang lain. Potensi sumber air Seperti kebanyakan desa-desa yang lain desa Sumur terdapat kandungan air meskipun debit yang dikeluarkan sangat minim.DESA SUMUR Masyarakat Desa Sumur sama halnya dengan masyarakat desa-desa yang lain. Sengon. Untuk memenuhi kebutuhan air berih sehari-hari masyrakan Desa Sumur mengupayakan melalui : 1. Masyarakat tidak diijinkan untuk melakukan aktifitas mandi dan cuci di lokasi mata air. sedangkan pada bagian atas terdapat pipa-pipa yang ditata untuk mencegah tanah masuk kedalam sumur. juga melakukan penambangan pasir dan batu di sungai Tonoloyo yang mayoritas penambangnya adalah kaum perempuan. Memanfaatkan air dari bak penampungan air hujan 2. Mata air Sumur. maka masyarakat membatasi pemanfaatan hanya untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

24 Ekosistem mata air Sumur di Desa Sumur DESA SUKORAME Dengan kontur relatif datar Desa Sukorame berbatasan dengan Desa Musuk. Mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat di wilayah tersenut adlah bertani sekaligus beternak. Masyarakat penguna tidak hanya desa Sukorame tetapi masyarakat yang berdomisili di dukuh Madu dan Tegalweru Kecamatan Mojosongo pun juga memanfaatkan dengan cara mengangsu dari mata air mengunakan jerigen. Pegelolaan air dari Mata Air Kalisombo dilakukan oleh masyarakat pengguna air dengan cara memisahkan pemanfaatan kebutuhan air bersih dapat dilakukan di Mata air Kalisombo. Mata air Kali sombo terletak pada sisi sungai Kali Sombo sebelah Barat. berupa satu buah bak penampungan untuk menampung air yang berasal dari tebing sungai. Seperti salah seorang warga dukuh Pelem yang bernama Mbah Wiryo ini. masyarakat masih mencari air bersih dengan cara membeli air dari sumber yang kemudian dialirkan dengan pipa menuju ke rumah-rumah. bahkan pada musim tersebut air sungan bisa meluap dan membanjiri wilayah sekitar sungai. Pada wilayah ini jarang ditemukan bak tandon air hujan seperti desa lain masyarakatnya pun tidak membutuhkan jasa penjualan air dari mobil tangki. memasang pipa PVC dari Dusun Karang Lo di Desa Musuk menuju ke rumahnya. Sungai Kali Sombo Sungai Kali Sombo yang melintasi desa Sukorame tidak pernah kering mesipun pada musim kemarau. dan Kecamatan Mojosongo.1 juta. Masyarakat memanfaafkan ketersediaan air pada sungai yang melimpah bahkan pada saat musim kemarau. Debit air yang dihasilkan oleh mata air Kali Sombo relative melimpah dan konstan pada musim kemarau. Kebongulo Pusporenggo Kecamatan Musuk. Kandungan batu dan pasir membuat banyak masyarakat yang menggantungkan ekonomi dari sungai tersebut dengan manjadi penambang. Aliran sungai Kali Sombo membuat potensi keberadaan sumber air Desa Sukorame relative melimpah dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Potensi dan keberadaan sumber air. sedangkan untuk kebutuhan mandi dan cuci dilakukan di Sungai. dengan cara pembelian pada awal pemasangan sebesar Rp1. Disamping itu masyarakat juga ada yang bermata pencaharian sebagai penambang pasir dan batu yangdilakukan di sepanjang Kali Sombo. Air Bersih Masyarakat Meskipun ketersediaan air cukup melimpah dari daerah ini. Aktifitas penambangan akan terhenti ketika menghadapai kondisi air sungai yang besar dan deras yang biasanya terjadi pada masa musim penghujan. yang dibayarkan kepada Bayan Kusno 46 .Gambar 3. Mata air Kali Sombo.

25 Ekosistem Kalisombo di desa Sukorame Pada sumber air Kalisombo terdapat Pohon Munggur. mereka melakukan penggalangan dana guna membeli pipa PVC untuk menglirkan air dari mata air Karang Lo.00 Tidak berasa 28. bagian atas. mahoni. Sedangkan ekosistem sungai di kedua sisinya banyak ditumbuhi Pohon Bambu dan Kolang-kaling.00 Tidak berwarna 0.001 0. sengon dan bambu yang dapat dijumpai di sepanjang sungai Kali Sombo. Pada sisi bagian atas terdapat ladang Tembakau milik masyarakat.singkong serta rumput gajah. Kolang-kaling. Ekosistem Seperti daerah Desa Sumur Ekosistem diwilayah ini terbilang rimbun dengan ditumbuhi berbagai jenis pohon besar seperti beringin.0 Keterangan Tidak berbau Tidak berasa Derajat Hasil Pemeriksaan Tidak berbau 221. tetapi pada saat ini pipa warga belum tersambung ke mata air. Kelapa. Selain itu aktifitas penambangan batu oleh masyarakat juga dilakukan dengan cara menggali pada salah satu sisi kali. Adapun proses pembayarannya sama seperti yang dilakukan oleh Mbah Wiryo namun untuk masyarakat dihargai sebesar Rp 2. Tabel 3.05 1. Hal tersebut membuat warga Dusun Pelem mengikuti langkah yang ditempuh Mbah Wiryo.500 25 +/3 Celcius 50 0. 5 Hasil uji laboratorium Kualitas Air Sungai Kali Sombo No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Bau Jumlah zat terlarut Kekeruhan Rasa Suhu Warna Air Raksa Arsen Besi yang Satuan Mg / L Skala NTU 0-C Skala TCU Mg / L Mg / L Mg / L Kadar Maksimum yang diperbolehkan 1. Pada sungai tersebut banyak terdapat batuan berukuran besar dan pasir yang ditambang oleh masyarakat. Sebagian besar besar lahan di wilayah tersebut adalah lahan tegalan yang ditanami tanaman produksi seperti jagung tembakau .5 juta. Gambar 3. dan Pohon Bambu.008 47 .pembayaran selanjutnya sebesar Rp 20.000 pada tiap bulannya.

000 = Rp 135. maka pemerintah propinsi membuat sumur bor di dukuh Sodong Desa Pager Jurang.0 6. Bak tandon air hujan terlihat pada setiap rumah warga dengan ukuran yang berbeda. Kondisi Ekosistem desa Pager Jurang masih cukup rimbun dengan tanaman. yang saat ini dalam tahap penyempurnaan dan dalam waktu dekat siap dioperasikan.000. mempunyai 2 anak dan 1 istri. cengkeh. DESA PAGAR JURANG Tidak jauh berbeda kehidupan Masyarakat Pager jurang dengan desa-desa di Kecamatan Musuk. sebagai N pH Zat Organik ( KMn04 ) Sumber laboratorium Dinas Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L Mg / L 1.00 3.08 0. Valensi 6 Mangan Nitrat.16 211. 48 .725 0.5 10 1. Maka kebutuhan air satu bulan keluarga bapak Sri Waluyo memerlukan : 3 tangki x 35. Areal persawahan dapat dijumpai pada daerah Timur di wilayah kecamatan Musuk. dan kambing. lainnya dalam hal pemenuhan kebutuhan air bersih yaitu dengan enggunakan bak tandon air hujan yang menampung air hujan untuk memasok kebutuhan air masing-masing rumah tangga. 35. untuk cuci dan mandi 4 orang = 400 L/hari.5 – 9. Berangkat dari kondisi ini. mahoni. nangka. sebagai N Nitrit. Dengan kapasitas tangki yang berisi 5000 L. Kebutuhan air pada saat musim kemarau tidaklah cukup meskipun di desa Pager Jurang juga terdapat sumur gali dengan kedalaman 80 m dan tandon air hujan.05 0.0 10 0. dan pohon besar lainnya. durian. Dari hasil diskusi dengan masyarakat setempat pengeluaran mereka akan bertambah dikala musim kemarau tiba. melinjo.000. Pada musim kemarau kebutuhan air minum 2 ekor sapi = 64 L/hari. sengon.074 0.016 7. hanya digunakan untuk sepuluh hari saja. Alternative lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dengan membeli dari mobil tangki seharga Rp. mindi. terdapat pula sebuah balong yang oleh masyarakat dimanfaatkan untuk memandikan hewan ternak sapi. akasia. hal tersebut dikarenakan tambahan biaya untuk memberi minum sapi mereka. dan tembakau.00 dengan kapasitas 5000 L. selain tanaman jagung. dan jurang pada wilayah desa Pager Jurang.00 17.005 500 600 0. Sedangkan tanaman produksi lain adalah padi gogorancah. pete.476 Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali. Tidak ditemukan sungai. = 40 L/hari kebutuhan konsumsi dan cuci piring total kebutuhan air untuk sehari adalah = 504 L. Sebagai contoh bapak Sri Waluyo warga desa Pager Jurang. ketela.10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Florida Kadmium Kesadahan CaCO2 Klorida Kromium.5 0. serta beliau memelihara 2 ekor sapi perah.

Masalah kekeringan dan kelangkaan air bersih ini terjadi di setiap musim kemarau. Sementara langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kelangkaan air bersih di Kecamatan Wonosegoro hanya sebatas melakukan droping air bersih dengan menggunakan tangki air ke wilayah-wilayah desa yang mengalami kekeringan ekstrem. Kecamatan Kemusu Selatan : Kecamatan Karanggede. dan tempat tertentu juga uang) untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehingga berdampak pada beban tambahan bagi masyarakat baik secara ekonomi maupun non-ekonomi. Kecamatan Kemusu Barat : Kabupaten Semarang 20 Sumber: Boyolali Dalam Angka th 2003 49 . Jika air di sebuah sumber telah mengering.5 km dari tempat tinggalnya. tenaga. Keterkaitan antara sebuah sumber dan kepercayaan masyarakat yang tertanam dalam kultur masyarakat. dan mengalami kekeringan air saat musim kemarau. selain menggali sumur-sumur di rumah-rumah. Mekanisme perolehan air yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat masih sangat tradisional yaitu dengan mengambil langsung dari sumbernya dengan menggunakan ember. Sumber-sumber air itulah yang selama ini menjadi andalan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Aspek lainnya berkaitan dengan keberadaan sumber air di wilayah Kecamatan Wonosegoro adalah budaya. Kecamatan Juwangi Timur : Kecamatan Juwangi. berdasarkan survey yang telah dilakukan. yang secara geografis dibatasi oleh : Utara : Kabupaten Semarang. Kondisi demikian memaksa masyarakat di wilayah Kecamatan Wonosegoro untuk mengalokasikan sumber daya tambahan (waktu. sementara pada musim penghujan beberapa desa di wilayah Kecamatan Wonosegoro mengalami banjir karena luapan air sungai. sumber tersebut hanya memiliki debit yang kecil.IV. atau tempayan. mengembangkan sumber air tertentu. Kecamatan Wonosegoro mencakup wilayah seluas 9299. Mitos tersebut berujung pada ketakutan masyarakat setempat untuk membuka. KECAMATAN WONOSEGORO KONDISI WILAYAH DAN PERSOALAN-PERSOALAN SUMBER DAYA ALAM/AIR Wilayah Kecamatan Wonosegoro hingga saat ini belum dapat dilayani kebutuhan air bersihnya oleh PDAM Kabupaten Boyolali. maka masyarakat akan mencari di sumber lainnya yang masih memiliki air meskipun harus dilakukan dengan berjalan kaki sejauh antara 500 m –1. Banyak diantara sumur yang digali dengan kisaran kedalaman antara 3-24 meter dari permukaan tanah tersebut akan mengering. Disamping kenyataan yang dijumpai oleh masyarakat sendiri terhadap perubahan mendadak yang terjadi pada sumber air yang akan diperbaiki yaitu perubahan warna air yang hingga saat ini belum dapat dijelaskan secara ilmiah.8 Ha20 secara administratif membawahi 18 desa yang didalamnya meliputi 55 dusun. Cara itupun belum dapat melayani yang kekeringan seperti wilayah dusun di Desa Gunungsari dan Bengle. Hal tersebut karena keunikan wilayah Wonosegoro dimana hanya terdapat sedikit sumber air alami jikapun ada. KONDISI OBYEKTIF WILAYAH SASARAN GEOGRAFIS Kecamatan Wonosegoro adalah salah satu kecamatan yang berada didalam wilayah administratif Kabupaten Boyolali yang secara keseluruhan membawahi 19 kecamatan. terwujud dalam kepercayaan masyarakat terhadap mitos. Cara mengatasinya pun masih sama yaitu dengan mencari air ke sumber lain jika air di sumber yang terdekat sudah mengering. jerigen. Terletak di bagian Utara Kabupaten Boyolali.

DEMOGRAFIS Dengan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 0.31% dan jumlah penduduk total pertahun 2003 sebesar 53. dengan suhu rata-rata 26.032. Tanah Komplek Regosol kelabu dan Grumosol 3.20%) 11.78%) ALEK 2.203 26. 2 Tabel perbandingan tingkat kesejahteraan keluarga di wilayah Kecamatan Wonosegoro22.298 (79. BKKBN Kab Boyolali 50 .Wilayah Kecamatan Wonosegoro terletak pada ketinggian rata-rata 221 mdpl.maka tingkat kepadatan penduduk di wilayah Kecamatan Wonosegoro adalah sebesar 570 jiwa per Km²21 Untuk lebih detilnya dapat dilihat pada tabel kependudukan sebagai berikut: Tabel 4.119 (81.69%) Keluarga Sejahtera I ALNEK JML 475 (18. terutama saat musim kemarau. 1 Grafik Perbandingan Penduduk Menurut Jenis Kelamin Perbandingan Penduduk Kecamatan Wonosegoro Berdasarkan Jenis Kelamin 28.976 Laki-laki Perempuan Tabel 4.161 ALEK Keluarga Pra Sejahtera ALNEK JML 2. Tanah Mediteran coklat tua.508 (22.32%) 8. Tanah Asosiasi Lisotol dan Grumosol 2. Jumlah KK 14.80%) 21 22 Sumber: Boyolali Dalam Angka th 2003 Sumber: Analisa Pendataan Keluarga Kabupaten Boyolali 2003. Sedangkan proporsi bentuk wilayah secara umum terbagi dalam dua kategori yaitu: Wilayah datar sampai bergelombang : 70% Wilayah bergelombang sampai berbukit : 30% Terdapat variasi jenis tanah yang ada di dalam wilayah Kecamatan Wonosegoro yaitu : 1.594 (18.790 (77.31%) 2.5ºC membuat udara diwilayah tersebut terasa cukup panas.

memiliki keunikan yaitu sebagai satu-satunya wilayah kecamatan di dalamn wilayah Kabupaten Boyolali yang belum terjangkau jaringan distribusi air bersih oleh PDAM. Kontur wilayah yang berbukit sehingga perlu pengadaan pompa dan membangun reservoir di wilayah tersebut. 5.Tabel 4. selain bulan puasa. Upaya inipun tidak membuahkan hasil jika tiba musim kemarau. 3. Upaya lain dari masyarakat adalah dengan membuat sumur gali.00 pagi pada masa puasa. yang kondisi airnya yang cukup baik sehingga dapat di manfaatkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. dengan kedalaman 18 meter di rumah Bpk Marjan. sehabis sahur. 4.00 malam dan 03. 2. 3 Persentase Penduduk berdasarkan Pendidikan yang berhasil diselesaikan Perbandingan Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan 41% PT 21% Akdm SLTA SLTP 22% 15% 1% 0% SD Tdk/blm tmt SD PERSOALAN KEKERIINGAN DAN KELANGKAAN AIR Wilayah Kecamatan Wonosegoro yang merupakan salah satu wilayah sasaran kajian untuk pemetaan sumber daya air di wilayah Kabupaten Boyolali. Minimnya jumlah debit yang diijinkan oleh BKSDA untuk didistribusikan ke masyarakat. Kelangkaan sumber air dan belum adanya aktifitas eksplorasi terhadap keberadaan sumber air menyebabkan kesulitan masyarakat untuk mengetahui letak sumber dan hanya memanfaatkan sumber yang sudah diketahui saja meskipun jauh dari tempat tinggalnya. Sumur lain yang masih mengeluarkan air adalah sumur dengan pompa tangan. aktifitas pengambilan air dilakukan pada pagi hari. Dari informasi tersebut diketahui bahwa desa Bengle mengalami kekeringan setiap tiba musim kemarau. Khusus pada sumur yang memiliki kedalaman 24 meter tersebut memiliki debit air yang sangat minim. Sedangkan pada jarak 100 meter dari titik sumur tersebut. Pengambilan air dilakukan memakan waktu rata 30 51 . Beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi oleh PDAM Kabupaten Boyolali yaitu: 1. Kepercayaan masyarakat setempat yang kental dengan aspek spiritual sehingga ada sumber air yang tidak diijinkan untuk dieksplorasi karena ketakutran masyarakat akan terjadinya banjir. Kesulitan dalam melakukan pencarian sumber air baru. Sumber air yang ada di wilayah Kecamatan Wonosegoro hanya memiliki debit yang kecil sehingga tidak ekonomis untuk didistribusikan. sehingga untuk menarik air kepermukaan perlu dibantu dengan pompa air jet pump. Beberapa sumur gali yang terdapat di sekitar sumber memiliki kedalaman antara 7 hingga 24 meter. Karakteristik Sumber Air dan Pemanfaatannya Beberapa sumber air di wilayah Kecamnatan Wonosegoro yang berhasil diidentifikasi adalah sbb: DESA BENGLE Informasi yang relatif lebih banyak tentang Desa Bengle menjadikan desa tersebut sebagai titik awal. Mekanisme pengambilan air oleh masyarakat adalah dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pukul 10. sumur-sumur lain masih mengeluarkan air seperti sumur yang berada di dekat mesjid yang terletak pada jarak kurang lebih sama.

sehingga tidak ekonomis untuk dimanfaatkan oleh PDAM. Sekeliling sumur dibangun pembatas semen. Jarak penduduk yang terdekat dengan sumber tersebut adalah 500 meter. Vegetasi : Tanaman budidaya milik masyarakat sekitar yaitu palawija. Kecamatan Wonosegoro yaitu: Nama sumber : GONDANG Kondisi fisik sumber: Berupa sumur dengan kedalaman 3 meter berpenampang segi empat.200 meter dan membentuk segitiga. warga petani beralih mata pencaharian dengan mencari bonggol kayu sisa tebangan untuk diproses dan dijadikan arang yang kemudian dijual ke pasar terdekat. Menurut keterangan Budi. Kondisi ekosistem sekitar sumber: Tanah dan batuan : berkapur dengan warna coklat keputih-putihan. Kondisi masyarakat sekitar sumber: Secara umum dapat dikatakan pengguna sumber air Gondang yang terletak diwilayah desa Bengle Kacamatan Wonosegoro adalah juga masyarakat desa Bengle. tetapi dalam satu wilayah tanah yang sama yaitu tegalan. Cara pengambilan adalah secara langsung dari sumber dengan cara tradisional yaitu menggunakan ember. Akhirnya yang dilakukan oleh PDAM pada saat itu hanyalah memberikan bantuan sejumlah kecil dana yang hanya cukup untuk membangun sumur gali yang berlokasi didekat mesjid. hasil yang didapat dari survey tersebut adalah sumber yang diidentifikasi tidak memiliki kecukupan debit. Vegetasi umum diwilayah tersebut adalah tanaman budidaya yang relatif tahan terhadap kelangkaan air seperti jati dan palawija. jati. Tanaman lainnya adalah Kelapa. Adapun beberapa sumber air yang teridentifikasi di wilayah Desa Bengle. Sedangkan kondisi masyarakat wilayah dukuh lain yang juga memanfaatkan air dari sumber Bengle 52 . kelapa. Selain karena masyarakat sendiri belum mampu secara finansial untuk membiayai kebutuhan pembangunan reservoir juga pemerintah kabupaten maupun pihak lain belum ada yang melakukan. Jikapun ada upaya yang mengarah pada pemanfaatan. pemanfaatan air dengan cara menampung air pada reservoir untuk dialirkan ke wilayah atau rumah tangga yang membutuhkan. Secara umum masyarakat Desa Bengle bermata pencaharian sebagai petani. hingga saat ini belum dapat dilakukan di desa Bengle. salah seorang warga desa Bengle. Masih menurut Budi. Pisang. sehingga kondisi masyarakat pengguna sumber tersebut adalah juga kondisi masyarakat Bengle secara umum. dan lantai semen untuk melakukan aktifitas pengambilan air dan mencuci masyarakat. Beberapa sumber air yang teridentifikasi di Desa Bengle : • Cluring • Wareng • Gondang Masing-masing titik sumber terletak pada jarak yang berdekatan +/. Masyarakat yang melakukan pengambilan dengan cara demikian berasal selain dari desa Bengle sendiri juga masyarakat dari wilayah lain hingga jarak 1. sehingga petani mengalami gagal panen. putra mantan lurah Bengle. Pada kondisi tertentu dimana terjadi musim kemarau yeng berkepanjangan. Posisi masing-masing berada pada ketinggian yang berbeda. pisang. Air dari sumber Gondang yang kondisinya agak keruh dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga.5 km dari titik sumber.menit. baru sampai pada survey yang dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi negeri dari Jogjakarta. tempayan dan jerigen.

Kondisi masyarakat sekitar sumber: Karena jarak yang relatif berdekatan antara sumber air Wareng dengan sumber air lainnya. Menurut keterangan Budi seorang warga Bengle. 53 . dan merupakan sumber air alternatif bagi masyarakat ketika sumber lain mengering.500 m. 1 Sumber air Gondang Ds. palawija. masyarakat sebagian besar bertanam palawija karena tidak membutuhkan banyak air seperti padi. Debit air pada kolam tersebut sangat kecil tetapi cenderung konstan dan mengalir hingga keluar dari pembatas kolam. Gambar 4. bahkan kolam Wareng akan tidak terlihat karena tertutup oleh air sungai. 3 Sumber air Wareng. Bengle Gambar 4. 2 Sumber air tanpa nama I Ds Bengle Sumber lain yang terdapat di wilayah tersebut adalah sumber yan oleh masyarakat hanya dikenal dengan Sumber yang terleta di dekat sungai. Bengle Nama sumber : WARENG Kondisi Fisik Sumber: Berupa kolam berukuran kecil 1m x 1m dengan kedalaman 20 cm berada di sisi sungai yang merupakan jalur aliran air yang berasal dari daerah yang berada di atasnya.Gambar 4. Pada saat pengamatan tersebut dilakukan sungai tersebut sudah kering. Dengan mata pencaharian sebagai petani. saat musim penghujan. sungai tersebut berair. Ds. sebagai alternatif lain selain sumber air Gondang yang berjarak +/. Kondisi air pada kolam tersebut agak keruh yang dimanfaatkan juga oleh warga masyarakat di Bengle. pisang. maka pengguna air dari sumber air Wareng adalah juga masyarakat yang sama. Kondisi ekosistem sekitar sumber: Sumber air Wareng berada di lahan tegalan dengan vegetasi tanaman produksi. milik masyarakat yaitu jati.

Desa Repaking merupakan salah satu desa yang diidentifikasi mengalami kekeringan pada sebagian wilayahnya. Demikian pula dengan keadaan tanah yang berwarna lebih gelap ketimbang daerah lain di Kecamatan Wonosegoro sehingga membuat tanaman produksi di wilayah Desa Repaking lebih beragam dan lebih subur. di wilayah desa Repaking ditemukan juga beberapa sumber air dan sumur gali yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebagaimana yang terjadi dengan desa lain. Air yang diperoleh ternyata cenderung stabil dengan kondisi yang jernih meskipun pada musim kemarau ketika sumur lain disekitarnya mengering. Ratarata kedalaman sumur gali yang berada di wilayah Desa Repaking terutama yang berada di rumah warga adalah 3 – 7 m dengan kondisi air yang jernih. sumber air bernama Sendangsono ditutup oleh pihak Kerajaan Mataram dengan menggunakan Kerbau dan Gong. berbatasan dengan Kabupaten Purwodadi. Posisi Desa Repaking berada di ujung Utara Kecamatan Wonosegoro. Selain itu juga sumber-sumber yang menurut mitos pernah ada. 5 Sumur dengan kedalaman 24 meter dituturkan oleh Bpk Tikwiyanto seorang warga Desa Repaking. Air bersih untuk Gambar 4. dan sangat diyakini oleh masyarakat setempat seperti yang Gambar 4. Aspek pembangunan sarana dan prasarana yang berada di Desa Repaking relatif lebih mendapat perhatian. berkaitan dengan keberadaan sumber air. Dengan ukuran 4 m x 4 m dikelilingi pembatas semen dan lantai semen 54 . Sumber tersebut tidak dibuka karena dikhawatirkan limpahan air yang besar dari sumber Sendangsono akan membanjiri wilayah Wonosegoro atau bahkan Boyolali. Beberapa sumber air yang dapat teridentifikasi di Desa Repaking. airnya tetap tidak keluar. baik dari aparat desa maupun masyarakat sendiri. DESA REPAKING Sesuai keterangan yang diperoleh dari pihak kecamatan pada saat diskusi awal. Kecamatan Wonosegoro yaitu: Nama Sumber Air : Sumber Repaking Kondisi Fisik Sumber: Secara fisik sumber tersebut hanya terdiri dari sebuah kolam penampung air yang berada di bawah pohon Beringin. Seperti yang terjadi pada sumur milik Bpk Kasno yang berjarak hanya 100 m yang digali dengan kedalaman 24 meter bahkan meskipun telah menggunakan jetpump yang diletakkan di dasar sumur.Upaya untuk memperoleh air bersih bagi masyarakat wilayah Desa Bengle dilakukan juga dengan membuat sumur bor dengan pompa tangan. masyarakat juga membuat sumur gali dengan kedalaman rata-rata hanya 3 meter. Hal tersebut dapat dilihat dari sarana jalan raya yang sebagian besar sudah beraspal dan denyut kegiatan pertanian dan perekonomian yang lebih terasa karena kondisinya yang lebih beruntung dibandingkan dengan wilayah lain yang mengalami kekeringan di Wilayah Kecamatan Wonosegoro. 4 Sumur bor dengan pompa kebutuhan masyarakat relatif mudah diperoleh selain tangan memanfaatkan sumber air yang ada.

timba.tanpa dinding di salah satu sisinya untuk memudahkan masyarakat pengguna air dalam melakukan aktifitas seperti mandi dan cuci. pada saat musim kemarau tiba. Kesulitan masyarakat dari wilayah desa lain seperti Traban untuk memperoleh air. dimana lahan sekitarnya adalah lahan tegalan yang merupakan sumber utama pendapatan masyarakat Desa Repaking yaitu sebagai petani. 55 . Sedangkan untuk mengangkat air tersebut. pisang. Kondisi masyarakat sekitar sumber : Kondisi yang relatif mudah untuk memperoleh air membuat masyarakat Desa Repaking yang mata pencaharian Gambar 4. masyarakat sekitar menggunakan air yang berasal dari sumur gali karena memiliki kondisi yang lebih jernih. Debit air yang dimiliki oleh sumber tersebut cukup besar. membuat warga hanya menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci saja. seperti pompa tangan. Kondisi demikian terwujud dengan diijinkannya masyarakat dusun lain untuk mengambil air dari sumur warga Desa Repaking jika dibutuhkan. Kondisi ekosistem sekitar sumber Sumber air Repaking terletak di wilayah yang datar. Debit air yang dimilikipun cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kermarau karena debit air di sumur gali relatif lebih stabil. masing-masing warga menggunakan sarana yang sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan jarak sumber air dengan rumah penduduk terdekat adalah 50 mtr. Beberapa diantaranya dibangun. tetapi akan menurun hingga setengah dari kedalaman kolam. sedangkan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. seperti yang terdapat Dsn Candi. Sebagian lahan disekeliling sumber ditanami dengan pohon jati. Kondisi air yang terdapat di sumber air Repaking cenderung keruh dan berwarna kehijauan. memunculkan rasa saling pengertian antara anggota masyarakat. ditambah dengan fasilitas sarana dan prasarana yang baik membuat kehidupan masyarakat Desa Repaking menjadi lebih terasa. Sumur Gali Sumur-sumur gali yang ada di rumah-rumah warga masyarakat rata-rata hanya membutuhkan kedalaman 3 meter untuk bisa memperoleh air. kelapa. Dukuh Traban yang bersebelahan dengan Repaking kondisinya relatif lebih kering. atau jet pump. Masyarakat pengguna air dari sumber tersebut tidak hanya masyarakat Desa Repaking saja terlebih jika musim kemarau yaitu masyarakat dukuh Traban. Mekanisme distribusi lain yaitu dengan membangun kolam penampungan air dari sumber Gambar 4. 7 Sumber mata air Repaking Desa Repaking mendekati wilayah pemukiman warga yang mengalami kelangkaan air. 6 lingkungan sekitar sumber Repaking Dsn Repaking utamanya adalah petani. dan palawija.

8 Kolam penampungan di Dusun Candi Sumur Gali Beberapa sumur gali yang ada. air dari sumur tersebut dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sayuran dan palawija yang ditanam di sekitar posisi sumur ketika musim kemarau. Dsn Repaking Gambar 4. dan tanpa dilengkapi dengan tembok diatas permukaan tanah. Sumber tersebut membentuk gua berukuran Gambar 4. sumur tersebut hanya terbuat dari batu yang tersusun pada dinding sumur bagian dalam mulai dari bibir sumur hingga kedalaman tertentu. Kondisi air cenderung keruh dan berwarna kehijauan. 11 Sumur gali masyarakat di tengah Tegalan. Oleh masyarakat. Secara fisik. 9 sumur dengan kolam penampungannya di Dusun Candi Gambar 4. Selain sumber air yang dikenal warga masyarakat. Sumber tersebut hanya dimanfaatkan oleh satu rumah tangga yasng dialirkan menggunakan pipa PVC berukuran kecil sejauh 150 m dari posisi sumber. 12 Masyarakat memanfaatkan Kali Kijang yang mulai mongering untuk pemenuhan kebutuhan air diameter 35 cm yang menjorok ke dalam bukit. 10 Salah satu sumur pada lahan tegalan Penggalian tanah untuk memperoleh air tidak hanya dilakukan di pemukaan tanah sebagaimana biasa. Kedalaman sumur yang digali didasar sungai beragam antara 25 cm hingga 3 meter dan diameter 30 – 50 cm. seperti yang dilakukan didasar sungai Kali Kidang.Gambar 4. Sumur pertama dengan diameter 1 m kedalaman 3 m (sampai ke dasar ) memiliki kedalaman air 2 m. Gambar 4. bersih 56 . di wilayah Desa Repaking Khususnya di dusun Candi terdapat juga sumber air kecil yang posisinya berada di bawah bukit. terdapat di tengah areal tegalan. Tetapi juga di lakukan di dasar sungai yang mengering.

Upaya masyarakat Desa Gunungsari mengatasi kelangkaan air bersih serupa dengan yang dilakukan di Desa Bengle. Fakta yang ada di lapangan adalah sumur gali dan pompa tersebut debit airnya relatif stabil.Pada langit-langit bagian dalam gua tersebut terdapat stalagtit. Menurut keterangan salah seorang warga. Alternatif lain dari sumber air yang langka itu. Diantaranya mitos tentang ditutupnya satu sumber air yaitu Sendangsono yang diyakini memiliki debit yang cukup besar. kalaupun terjadi pengurangan. tidak semua masyarakat memiliki sumur gali. Kondisi kelangkaan air bersih yang melanda setiap musim kemarau akhirnya juga memunculkan rasa simpati pada pemilik sumur. Desa Garangan di Selatan. Desa Gunungsari telah memiliki sumur gali di rumahnya masing-masing. Pengambilan air yang dilakukan masyarakat dimulai dari sumber yang terdekat jika sumber tersebut terjadi penyusutan. Demikian pula dengan sumber air. tidak terlalu signifikan selain itu kondisi airnya relatif jernih sehingga layak untuk konsumsi rumah tangga. Desa Bengle di sisi Timur. baik keberadaannya yang langka. Pada umumnya. Rasa simpati tersebut terwujud dengan diijinkannya warga masyarakat yang tidak memiliki sumur untuk mengambil air dari sumur milik warga yang lain terutama jika air dari sumber sudah mengering. Tetapi jika musim penghujan air yang masuk ke rumah warga yang memanfaatkan air dari gua tersebut cukup banyak. masyarakat di Dusun Gunungsari. juga kepercayaan-kepercayaan yang berkembang terkait dengan keberadaan sumber air. Dusun Traban. Kondisi umum yang terjadi di Gunungsari tidak jauh berbeda dengan apa yang ditemukan di Desa Bengle. sedangkan sisi Barat berbatasan dengan Kabupaten Semarang. cukup jernih tetapi debitnya kecil. yaitu dengan mengambil langsung dari sumbernya jika air disumur gali sudah menyusut. jati. dan kebanyakan berasal dari dusun lain 57 . karena dikhawatirkan jika airnya meluap akan membanjiri wilayah Wonosegoro atau bahkan Boyolali. jika musim kemarau memang air yang ada sedikit. masyarakat akan mencari alternatif sumber air baru meskipun jaraknya semakin jauh. Hingga saat ini. kelapa. Air yang menggenang dibagian bawah gua terkumpul dari tetesan-tetesan air yang jatuh dari stalagtit tersebut. Gambar 4. ditutup oleh pihak kerajaan Mataram dengan menggunakan Kerbau dan Gong. Kelangkaan air. Sedangkan pengguna air dari sumber adalah masyarakat yang tinggal berdekatan dengan sumber itu sendiri. 14 Kolam penampungan air di rumah warga dari air yang berasal dari gua DESA GUNUGSARI Secara geografis posisi Desa Gunungsari berbatasan dengan dengan Desa Repaking di sebelah Utara. Kondisi air dari gua. karena biaya pembuatan yang cukup mahal bagi masyarakat. masyarakat mengupayakannya dengan membuat sumur gali dan pompa yang memiliki kedalaman berkisar antara 3 m – 12 m dan pompa. Mata pencaharian utama masyarakat Desa Gunungsari adalah petani yang menanami lahan tegalan dengan palawija. 13 Gua alam sebagai sumber air Gambar 4. dan kondisi tanahnya yang berkapur.

Air terjun tersebut berada di sebelah gua yang berukuran kecil dengan tiga pintu gua dengan posisi saling bersebelahan. Mekanisme pengelolaan Mekanisme pengelolaan dilakukan secara sederhana yaitu dengan mengalirkannya dengan selang mengingat jarak dengan rumah warga cukup jauh dan akses yang cukup sulit.45º. dan sebagian Jati. Terbukti dari banyaknya batu di sekitar gua yang berasal dari patahan stalagtit-stalagmit gua. yang sekaligus juga merupakan lahan tegalan milik warga. demikian pula tegalan di Dusun Gambar 4. Aliran tersebut membentuk sungai hingga bertemu dengan tebing di bawahnya dan kembali membentuk air terjun dan akhirnya mengalir menuju sungai. stabil dan kodisi air yang jernih. Air limpahan dari sumber tersebut menyatu dengan air yang mengalir dari air terjun di sebelahnya. Kecamatan Wonosegoro yaitu: Nama sumber : KALI GRINCING Kondisi fisik sumber : Sumber tersebut terletak pada posisi yang cukup tinggi. Kondisi ekosistem: Letak baik sumber air maupun gua terletak di daerah bukit dengan kemiringan. Gambar 4. pisang. sumber tersebut berupa pancuran yang terletak dibawah pohon beringin dengan debit yang cukup besar. Sumber tersebut berada di dalam areal tegalan milik salah seorang warga Dusun Banyuurip. belum tersentuh upaya pengembangan dan penelitian. berada di puncak salah satu bukit. 15 Pipa distribusi air milik Banyuurip yang ditanami palawija.Sumber air yang berhasil diidentifikasi di wilayah Desa Gunungsari. Sebagaimana lahan tegalan di wilayah Kecamatan Wonosegoro. Hingga saat ini terdapat 2 selang yang dihubungkan ke rumah warga. warga dari sumber pancur Sementara kondisi gua. Wilayah dimana terdapat sumber Kali Grincing terdiri dari daerah bergelombang dan berbukit yang cenderung gundul dan dijadikan lahan tegalan. 16 Kondisi ekosistem sekitar sumber pancur 58 . Air limpahan dari sumber tersebut menyatu dengan air yang mengalir dari air terjun yang posisinya bersebelahan. Secara fisik. Akses menuju sumber tersebut berupa jalan pematang dengan kemiringan 20º .

selain juga karena kondisi air yang cukup jernih. Sebagian dari masyarakat sekitar sumber memenuhi kebutuhan airnya dari sumur gali di rumah-rumah. Pisang. 17 Gua Grincing. Pengguna air dari Sendang Ragen ini tidak hanya berasal dari warga yang berada di dekat sumber tetapi juga warga dari dusun-dusun dalam wilayah Desa Gunungsari. dan Pohon yang dikenal oleh masyarakat dengan nama Pohon Lulingan. Secara kuantitas. Bantuan terseebut meliputi : 59 . Kondisi masyarakat disekitar sumber: Mata pencaharian masyarakat Desa Gunungsari adalah petani yang mengusahakan lahan tegalan untuk ditanami jati dan Gambar 4. air yang ada di dalam kolam penampungnya berjumlah sangat sedikit tetapi karena debitnya yang relatif stabil dan tidak kering pada musim kemarau. Tanaman lain yang unik yang terdapat di dekat kedua sudut sendang yaitu Pohon Mangga. Adanya bantuan dari dana APBD melalui sebuah LSM di Solo berupa pencarian sumber air dan pembangunan sumur gali di 8 titik di wilayah Kelurahan Gunungsari.dan kelapa. Menurut keterangan Dasirun. bahkan untuk kebutuhan konsumsi. Langkah yang telah dilakukan untuk memperbaiki kondisi kelangkaan air 1. sebagian lagi memang memanfaatkan air dari sumber untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik untuk mandi mencuci maupun untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Terdiri dari satu kolam penampung air berukuran 50 cm x 50 cm dengan titik terdalamnya memiliki kedalaman 25 cm (pada celah batuan) berbentuk segi empat layang-layang. maka banyak warga memanfaatkan airnya untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci. Sendang tersebut adalah sendang alami terbentuk dari celah batuan.Gambar 4. Kondisi ekosistem sekitar sumber: Sendang Ragen terletak di lahan tegalan yang ditanami dengan tanaman budi daya milik masyarakat seperti Jati. Palawija. Ds Gunungsari Nama sumber : SENDANG RAGEN Kondisi fisik sumber : Sendang yang berukuran kecil ini posisinya berada di celah batuan di lahan tegalan. warga masyarakat setempat bahwa Sendang Ragen pada awalnya hanya sebongkah batu yang dicungkil dengan menggunakan alat sejenis linggis oleh seorang Belanda bernama Mr Pieterz pada jaman kolonial. 18 Sendang Ragen. Dsn Gunungsari palawija.

Selain itu sebagian warga juga memelihara hewan ternak yaitu sapi. Bangunan yang ada hanya satu sumur berukuran 1. karena ditakutkan akan dibarengi dengan penyebaran agama di wilayah tersebut. telah diidentifikasi adanya aliran air bawah tanah. ketika sumur gali di rumah warga sudah mengering. Masyarakat Desa Garangan sama halnya dengan masyarakat lain di wilayah Kecamatan Wonosegoro yang mengalami kekeringan.5 m dengan kedalaman 7 meter terbuat dari susunan batu pada 60 . Mata pencaharian utama masyarakat Desa Garangan adalah petani yang menanami lahan tegalan dengan palawija. yaitu pada tahun 1994-1995.5 m x 2. yang dilakukan oleh sebuah LSM dari Solo. Bantuan dari sebuah yayasan yang akhirnya Gambar 4. Tetapi karena pipa yang digunakan untuk menyalurkan air dari sumber tidak ada. Mencari titik air untuk pembuatan sumur gali.i. yaitu Bengle. Ds sempat menjadi konflik yang berbasiskan interest Gunungsari lembaga. Kondisi geografis dan vegetasinyapun relatif sama dengan kedua desa tersebut. yaitu dengan mengambil air langsung dari sumber. dan Gunungsari. ii. Kecamatan Wonosegoro adalah sebagai berikut: Nama Sumber : NN Kondisi : Sumber air terletak di tengah lahan tegalan yang ditanami palawija. maka kolam tersebut belum dapat difungsikan. DESA GARANGAN Wilayah Desa Garangan berbatasan langsung dengan desa lain yang juga merupakan daerah kekeringan dan rawan air. Fasilitas sarana jalan desa yang masih berupa jalan sebagaimana jalan desa di Desa Bengle dan Gunungsari yaitu jalan Maccadam. Bantuan dari Yayasan Rumah Sakit Islam Solo Bantuan yang diberikan berupa pembangunan sarana kolam penampungan. dan ayam. Gambar 4. 19 Sumur bantuan dari sebuah LSM . pisang. 20 Panorama desa garangan Beberapa sumber air yang dapat diidentifikasi di Desa Garangan. di Desa Garangan. Menurut informasi yang diperoleh dari pihak Kecamatan. Penolakan itu mendapat perlawanan dari masyarakat. Ketika ada bantuan yang akan diberikan dari sebuah yayasan. jati dan diselingi kelapa. Bantuan bahan bangunan berupa: o Semen 6 sak o Pasir o Bis (untuk dinding sumur) 2. yaitu daerah bergelombang hingga berbukit dengan tanah yang berkapur. karena masyarakat sangat membutuhkan bantuan tersebut. Bantuan tersebut ditolak oleh pejabat KUA yang benama Na’ip. Akhirnya bantuan tersebut tetap tidak dapat diterima.

5 m dengan kedalaman +/. Sumur Gali Sumur yang berada diwilayah Desa Garangan terutama yang terletak di wilayah pemukiman memerlukan kedalaman antara 7 m – 14 m. Sumur terbuat dari susunan batu pada dinding bagian dalam dan dinding semen di sekeliling sumur serta lantai semen untuk melakukan aktifitas pengambilan air. Sumur gali yang dimaksud adalah sumur yang berada di tengah lahan tegalan dimana siapa saja boleh mengambil air dari dalamnya. Kondisi Masyarakat Sekitar Sumur Masyarakat Desa Garangan umumnya Gambar 4. Berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan terhadap air. Saat sumur masih mengeluarkan air yaitu pada musim penghujan dan awal musim kemarau. Pada saat survey dilakukan air pada sumur tersebut juga sudah mengering. Kondisi Ekosistem Sekitar Sumber: Sumber air tersebut terletak di tengah areal lahan tegalan yang di tanami palawija.3 meter.75 mtr. 22 Sumber air Getas Krikil tersebut menjadi andalan masyarakat untuk memperoleh air terutama untuk kebutuhan mandi dan cuci. 21 Sumber air dengan kedalaman 7 meter. Sebagian dari masyarakat memiliki sumur gali atau pompa di rumahnya masing-masing. Secara fisik sumnber tersebut terdiri dari satu sumur berbentuk segi empat dengan ukuran 2 m – 1. Pada jarak 100 meter. Pada saat survey dilakukan. Ds bermata pencaharian sebagai petani di Garangan lahan tegalan yang sebagian besar ditanami jagung.bagian dinding didalam sumur. 61 . Tetapi jika sumur di rumah-rumah mengering maka masyarakat akan mencari air pada sumber terdekat. Pada saat pengamatan dilakukan sumur tersebut masih mengeluarkan air sehingga masyarakat selalu mengambil air dari tempat tersebut. air pada sumur tersebut sudah mengering hingga dasar sumur dapat terlihat. Pada saat survey dilakukan. Tanah tegalan di wilayah sekitar sumur berkapur dan berwarna keputihan. dengan pohon jati dan kelapa pada bagian pematangnya. Sumur-sumur tersebut digali dengan kedalaman rata-rata 3 meter dengan diameter 75 cm-100 cm. dinding di permukaan tanah dengan ketinggian 50 cm dan ruang berlantai semen yang diberi sekat untuk memudahkan masyarakat memanfaatkan air. Nama Sumber : SUMBER GETAS KRIKIL Kondisi : Berada di tengah lahan tegalan yang termasuk dalam wilayah administratif Desa Garangan. banyak lahan tegalan tersebut kosong karena baru dipanen dan sebagian lagi baru ditanami jagung yang baru mencapai kettinggian 10-15 cm. seperti yang letaknya bersebelahan dengan mesjid yang memiliki kedalaman 13 meter dan dengan kondisi air yang nyaris mengering. sumur Gambar 4. ditemukan pula sumur milik warga dengan kedalaman 10 meter dan kondisi air yang sama. Terdapat 3 sumur serupa yang terpisah pada jarak masingmasing +/. masyarakat memanfaatkan sumber air yang terdekat dengan tempat tinggalnya.

Tanaman budi daya yang lain adalah Jati. adapula yang jernih terutama jika sumbernya berasal dari gua alam yang terdapat di Kecamatan Wonosegoro. Dampak Lingkungan Kualitas dan Kuantitas Sumber Air Seperti telah ditulis pada bagian sebelumnya bahwa dalam wilayah Kecamatan Wonosegoro. EKOSISTEM SEKITAR Wilayah Kecamatan Wonosegoro yang sebagian besar wilayahnya adalah lahan tegalan dan hutan Gambar 4. Sebagian kecil diantara sumbersumber air tersebut terdapat wilayah perbukitan. dan kelapa. Beberapa sumber air bahkan tidak dapat diidentifikasi kondisinya karena kolam penampung air mengering sama sekali.Kondisi Ekosistem sekitar sumber Wilayah seitar sumber berupa lahan tegalan yang di tanami jagung oleh masyarakat sebagai mata pencaharian utama Masyarakat Desa Garangan. Berkaitan dengan kondisi ekosistem di masingmasing sumber air telah ditulis pada bagian sebelumnya. kacang. dan dengan menggunakan alat sederhana seperti tempayan. Sehingga sumber air yang ada tersebut. 4 Tabel kondisi sumber air Kecamatan Wonosegoro No 1 2 3 1 Nama dan lokasi sumber air Desa Repaking Sumber Repaking Sumur Gali Sumber Desa Gunungsari Kali Grincing Kondisi air Keruh-kehijauan Keruh-kehijauan Jernih Jernih Pengaruh musim kemarau Menyusut Stabil Mengering Posisi Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Di sisi bukit Di atas bukit 62 . sumber air yang ada sedikit sekali jumlahnya. Dari semua sumber air di wilayah tersebut yang berhasil diidentifikasi. seperti yang terjadi pada sumber-sumber air yang berada di wilayah lahan dengan tanah yang berwarna kecpklatan. dan berkapur. pola pemanfaatannya adalah oleh masyarakat sendiri secara tradisional mengingat debitnya yang tidak besar. debit air yang dimiliki tidak cukup besar sehingga tidak ekonomis dimanfaatkan oleh PDAM. DAN EKONOMI A. Sementara tanaman hutan rakyat ditanami dengan tanaman mayoritas jati. DAMPAK LINGKUNGAN. SOSIAL. Dengan cara mengambil langsung yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. umbi-umbian. Sehingga sumber-sumber air yang adapun berada di wilayah lingkungan tegalan. dengan kondisi air yang relatif lebih jernih jika dibandingkan dengan sumber air yang ada di permukaan tanah. dengan tanaman yang umum yang ada di sekitar sumber adalah tanaman produksi tersebut. ember. maka air sumber yang ada di wilayah tersebut juga tampak cenderung keruh. Kondisi air yang keluar dari sumber memiliki variasi yaitu ada air yang cenderung keruh dan berwarna kehijauan. 23 Ekosistem sekitar sumber Getas rakyat yang ditanami tanaman produksi yaitu Krikil tanaman keras berupa palawija terutama jagung. Secara singkat kondisi masing-masing sumber dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. Kelapa dan Pisang. tanaman lainnya yaitu mahoni dan sengon. Keadaan tanah pun turut memberi kontribusi terhadap kondisi air.

Permasalahan pemahaman kesehatan tentang ibu dan anak yang masih minim dikalangan masyarakat. baik sumber air permukaan maupun sumber air dalam. Desa Repaking yang letaknya bersebelahan dengan Desa Bengle. sehingga masyarakat memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap lingkungan. bahkan kekeringan baik pada sumber air maupun sungai. 5 Sungai yang mengering sebagai ikutan. Hal tersaebut juga disampaikan oleh warga Dusun Candi. Sealain juga dampak-dampak lain Tabel 4. penurunan hingga gagal panen pada lahan pertanian masyarakat. sungai. Sebab. Dampak Sosial Aspek Kesehatan Musim (penghujan dan kemarau) yang terjadi di wilayah Kecamatan Wonosegoro memunculkan pengaruh terhadap kondisi kesehatan warga. dan masyarakat itu sendiri. dan biaya. akan muncul permasalahan baru ditingkatan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih. sanitasi dan gizi. mis: perubahan musim akan berdampak secara langsung pada sumber air. B. di Desa Bengle telah ada satu orang bidan desa yang bertugas sejak 3 tahun lalu. Munculnya penyakit-penyakit tertentu masih pada penyakit yang umum terjadi pada musim tertentu misalnya muntaber. Kesehatan ibu dan anak Sementara untuk kasus kesehatan Ibu dan anak. Sehingga beberapa kasus 63 . seperti yang disampaikan oleh Bpk Kasno (mantan lurah Desa Bengle) Belum terjadi wabah penyakit dengan skala besar khususnya di wilayah Desa Bengle. Dengan demikian. perubahan yang terjadi pada swiklus alam dan lingkungan. Musim kemarau yang berkepanjangan membawa dampak penyusutan. misalnya penyakit. Warga baru menghubungi bidan ketika terjadi permasalahan dalam proses kehamilan atau proses kelahiran. ditambah lagi dengan pemahaman yang minim terhadap kesehatan itu sendiri.2 1 2 3 1 2 Sendang Ragen Desa Bengle Gondang Wareng Cluring Desa Garangan NN Getas Krikil Cenderung keruh Cenderung keruh Cenderung keruh Cenderung keruh Cenderung keruh* Cenderung keruh* Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan Ditengah lahan tegalan *Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat sekitar pengguna air sumber tersebut Sebagai wilayah yang pemenuhan kebutuhan air bersihnya dilakukan secara tradisional. demam berdarah. Tetapi hingga saat ini. masyarakat sangat tergantung dari air yang ada pada sumber air bawah tanah. menjadi penyebab para ibu hamil untuk mempercayakan perawatan pada masa kehamilan dan proses kelahiran pada dukun beranak. yang akhirnya menjadi permasalahan baru.

Oleh sebab itu banyak petani palawija yang juga memanfaatkan kayu-kayu bekas tebangan. Yang dijual kepada pengumpul dengan harga Rp 20. kayu yang tidak bernilai jual tinggi untuk di proses menjadi arang.816 Buruh tani 8. Sementara bagi pengguna air sungai. aktifitas mandi dan cuci dilakukan langsung di sungai.924 Buruh Industri 2. membuang limbah buangan mandi dan cuci ke saluran air yang berupa saluran yang menjadi satu juga dengan saluran air di pematang tegalan sebelum berakhir di sungai dan septic tank. kasus kematian bayi tidak banyak yaitu 2 kasus. Sedangkan pada musim kemarau dapat dikatakan tidak ada pekerjaan. Dampak Ekonomi Aspek Perekonomian Sebagian besar warga masyarakat di Desa Bengle adalah bekerja di sektor pertanian yang mengupayakan lahannya dengan bertanam palawija.000 per karung (40 kg) jika musim penghujan. Karena masa tanam dan usia tanaman yang cukup pendek maka petani hanya bisa melakukan penanaman dan panen 2 kali dalam setahun.546 Buruh Bangunan 5. C.000 per karung (40 kg). 23 Sumber: Data Monografi Kecamatan Wonosegoro 64 . mantan lurah Desa Bengle. Tingkat Kematian Menurut keterangan Bpk Kasno. dan kacang. 6 Grafik Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Wonosegoro23 Perbandingan Mata Pencaharian Masyarakat Kecamatan Wonosegoro 0% 1% 1% 4%1%0% Petani pemilik tanah 9.412 8% 6% 29% Pedagang 1. Tabel 4. Harga tersebut bisa berubah menjadi sebesar Rp 27. Sanitasi System sanitasi yang diterrapkan di masing-masing rumah tangga masyarakat Kecamatan Wonosegoro pada umumnya masih sangat sederhana.910 18% 32% Pengrajin/Industri kecil 1.154 Pengangkutan 157 PNS 276 Pensiunan (TNI/PNS) 152 TNI 154 Adapun tanaman utama di wilayah tersebut adalah jagung. Pada kondisi rumah tangga yang memiliki sumur di rumah.kelahiran harus di bawa ke rumah sakit terdekat bahkan beberapa diantara kasus tersebut kelahiran terjadi di perjalanan menuju rumah sakit.

7 Tabel Hasil Hutan Rakyat secara keselurtuhan untuk Kabupaten Boyolali No 1 2 3 4 5 6 7 Komoditi Hasil Hutan Jati Sengon Mahoni Akasia A Formis Akasia Decuren (ton) Suren Bambu (batang) Total Produksi (M³) 2. air akan sangat berkurang. Panen palawija menjadi berkurang karena pada musim hanya mampu paling banyak 2 kali panen. Tabel 4. baik sumber yang airnya menyusut sampai kering sama sekali. Garangan. Proses pemeliharaan pohon jati ini hanya memerlukan perhatian pada 3 tahun pertama. seperti juga di Desa Gunungsari. diawali dengan pemberian bantuan bibit Pohon Jati dari pemerintah yang ditanam di ladang milik warga hingga menjadi hutan rakyat. Hasil dari Pohon Jati yang ditanam warga. hingga saatnya dipanen pada usia rata-rata 15 s/d 25 tahun. Tidak banyak keterlibatan pihak perhutani dalam hal ini hanya membantu petani pada masa awal pertumbuhan.000 per M³. seperti yang disampaikan oleh Mantan Lurah Desa Bengle yaitu: 1. dll di Kecamatan Wonosegoro meliputi sebagian besar areal wilayah administratif Kecamatan. 100 3. 782. 01 1. 750. Hal tersebut membawa pada ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sumber air alam.000 – Rp 2. Luas areal hutan Jati rakyat di wilayah Desa Bengle. dimana pada musim kemarau. 50 1. 2. Salah satu perubahan yang berdampak langsung dan sering terjadi adalah perubahan musim. 769 48. 050.300. Hasil hutan jati rakyat tersebut dijual kepada pengumpul dengan harga berkisar antara Rp 500. Untuk selanjutnya pohon tersebut dibiarkan tumbuh. bahkan bisa tidak panen sama sekali (gagal panen). yaitu mencari air dari sumber yang masih mengeluarkan air meskipun harus menempuh jarak yang semakin jauh. dan ketika pohon tersebut akan dipanen. Permasalahan kelangkaan air di wilayah Kecamatan Wonosegoro selalu terjadi dari waktu ke waktu dengan cara menyikapi yang sama. 036. Upaya lain untuk mendapatkan air dilakukan oleh beberapa elemen diantaranya: 65 . 3. Sehingga perubahan musim. Penjualannya dilakukan melalui pengumpul. maka seperti yan telah disampaikan pada bagian sebelumnya yaitu upaya pemenuhan akan air bersih masyarakat dilakukan secara mandiri dan tradisional. untuk kemudian di jual ke industri pemrosesan kayu. UPAYA-UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN DAN CAPAIANNYA Mengingat Kecamatan Wonosegoro adalah wilayah yang belum dapat dilayani oleh jaringan PDAM. Masyarakat desa pada umumnya menganggur pada musim kemarau sehingga banyak diantaranya yang akhirnya bekerja sebagai buruh bangunan atau pembantu rumah tangga di tempat lain. 400 Sementara dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat karena kelangkaan air tersebut.Selain itu juga ada warga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pengumpul dan penjual kayu jati. perubahan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap kondisi baik kualitas maupun kuantitas air yang ada pada sumber. 500 237. 751 146. buruh dan pegawai swasta dan negeri. Masyarakat harus mengalokasikan waktu tertentu untuk mencari air demi memenuhi kebutuhan air bersih rumah tangganya masing-masing.

2. masyarakat juga secara swadaya melakukan beberapa upaya bagi pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat secara lebih luas. Selain melakukan pengambilan air untuk kebutuhan air bersih masing-masing rumah tangga. III. dan kualitas air yang cenderung keruh. sumber tersebut dijadikan sumur yang berlokasi dekat mesjid di Desa Bengle. Upaya tersebut dilakukan oleh LPTP bekerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Boyolali. Membuka sumber air di wilayah Kecamatan Wonosegoro dilakukan berdasarkan informasi dan kepercayaan masyarakat bahwa terdapat sebuah sumber air dengan debit yang cukup besar tetapi ditutup oleh masyarakat sejak jaman dulu. untuk memudahkan warga Dusun Candi dan Traban dalam memperoleh air bersih. 66 . Membangun sumur gali Sumur gali tersebut dibuat secara swadaya oleh masyarakat desa atau dusun setempat di tempat-tempat tertentu sehingga dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas. II. I. dan Masyarakat Desa Gunungsari. Upaya ini tidak menyelesaikan masalah karena pengiriman dilakukan tidak secara kontinyu. Pihak pemerintah daerah melalui PDAM melakukan upaya pembukaan dengan dibantu oleh seorang juru kunci. Hingga saat ini kolam tersebut masih berfungsi dengan baik tetapi karena air yang menyusut di sumber. Saat ini masyarakat yang akan mengambil air dari Sumber Kali Grincing harus mengambilnya dengan tempaya atau Ember ke pancuran yang ada di sumber tersbeut. maka kolam tidak dapat terisi. Membangun kolam penampungan air dan mengalirkan air dari sumber ke kolam tersebut. Upaya tersebut diantaranya: I. Dropping air bersih Dilakukan dengan menggunakan mobil tangki ke beberapa desa di wilayah Kecamatan Wonosegoro. Masyarakat setempat. II. dan dampaknya dirasakan langsung olehj masyarakat. Upaya ini tidak juga membawa hasil. II. Desa Repaking Kecamatan Wonosegoro. Menentukan titik air dan membangun sumur gali Dilakukan di 6 titik di wilayah Desa Gunungsari. Membuka sumber air. Hal ini terjadi karena penyusutan air yang terjadi pada musim kemarau.1. Lembaga Swadaya Masyarakat I. Oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali. karena hanya ditemukan satu sumber air yang memiliki debit yang kecil sehingga tidak ekonomis untuk dimanfaatkan oleh PDAM. Upaya tersebut berulangkali mengalami kegagalan karena pipa PVC yang digunakan selalu pecah meskipun sudajh dilapisi bambu. Saat ini. Hingga saat ini sumur yang dibangun masih berfungsi dengan baik. Upaya tersebut dilakukan oleh LKTS Boyolali di Dusun Candi. Pipanisasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Gunungsari Pipanisasi dilakukan secara mandiri untuk menyalurkan air dari sumber Kali Grincing yang terletak diatas bukit ke tempat yang lebih rendah. 3. Air dari sumber yang berada di Dsn Candi dialirkan dengan menggunakan pipa PVC ke kolam penampungan yang terletak pada jarak 500 meter dari sumber. Upaya tersebut akhirnya tidak memberikan hasil apapun karena masyarakat setempat takut akan terjadi banjir. Mencari sumber air baru Dilakukan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan perguruan tinggi di Jogjakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful